logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Raja Pedang Jilid 02


“Aduh...! Aduh, berhenti... berhenti aku tidak bisa bernapas...! Kui-bo, berhenti...!”
Beng San berteriak-teriak dengan napas sengal-sengal. Bukan main cepatnya tubuhnya dibawa pergi sampai angin menyesakkan pernapasannya dan tangannya yang terbelit ujung sapu tangan juga amat sakitnya.

Mendadak Hek-hwa Kui-bo berhenti dan begitu melepas sapu tangannya, ia menangkap tangan kanan Beng San dan membentak. “Kau pernah belajar silat kepada siapa?”

Aneh sekali, kalau tadi ia bersikap manis dan genit di depan Beng San, kini dia berubah menjadi galak dan suara serta pandang matanya penuh ancaman.

Beng San seorang bocah tabah dan ndugal (nakal) mana ia kenal takut? Ia mengerahkan tenaga dan berusaha menarik tangannya, tetapi tidak berhasil, malah cekalan wanita itu makin erat.

“Aku tak pernah belajar silat,” jawab Beng San akhirnya karena tangannya yang dipegang terasa sakit.
“Bohong! Kalau tidak mengaku akan kupatahkan tanganmu!”

Ia memijat makin keras sehingga terdengar bunyi ‘Kretekk…’ pada tangan Beng San.

Anak itu meringis kesakitan. Baiknya wanita itu tidak sampai mematahkan tulang-tulang tangannya, akan tetapi tangannya terasa sakit sekali. Anehnya wanita itu nampak sangat terheran-heran dan memandang tajam.

“Iblis cilik, kalau tak pernah belajar silat, kau tentu sudah mampus. Di tubuhmu ada hawa panas, dari mana kau peroleh?”

Diam-diam Beng San terheran-heran. Wanita ini aneh sekali, juga kepandaiannya seperti iblis. Mungkin betul-betul kuntilanak, bukan manusia. Kalau manusia, bagaimana agaknya bisa tahu segala hal?

“Aku pernah disiksa makan sebuah pil oleh seorang tosu bau bernama Siok Tin Cu…”

Wanita itu melepaskan pegangannya dan dengan terheran-heran ia menatap wajah Beng San, kemudian kembali ia memegang tangan yang tadi dicengkeram dan kini tangan itu diperiksanya baik-baik.

“Aneh... aneh… kau dipaksa makan pil oleh Siok Tin Cu? Lalu bagaimana?”
“Badanku terasa panas seperti dibakar, selanjutnya aku pingsan dan ketika sadar kembali, aku merasa tubuhku dingin sekali seperti direndam dalam es!”
“Bohong....!” Hek-hwa Kui-bo menampar dan Beng San terjungkal.

Akan tetapi anak itu bangun lagi, membuat Hek-hwa Kui-bo makin heran. Kenapa anak ini
memiliki daya tahan yang begini luar biasa?

“Kau bilang badanmu panas sampai pingsan, bagaimana setelah sadar menjadi dingin?”

Sekarang Beng San marah-marah. Perempuan atau siluman ini keterlaluan sekali. Sambil bertolak pinggang dia berdiri dan membentak, “Kau ini jahat benar! Mau bertanya atau mau tak percaya? Kalau tidak percaya, jangan bertanya. Pukul boleh pukul, mau bunuh boleh bunuh, mengapa membuat capai mulut? Buat apa tanya-tanya segala, kalau tidak percaya?!”

Hek-hwa Kui-bo makin terheran dan kagum. Belum pernah ia bertemu dengan seorang bocah seaneh ini. Dia sendiri seorang tokoh besar yang sering kali diherani dan dikagumi orang, akan tetapi sekarang ia malah heran dan kagum kepada seorang bocah!

Hal ini memang ada sebab-sebabnya. Hek-hwa Kui-bo adalah seorang tokoh besar yang jarang mau berurusan dengan dunia ramai, apa lagi mempedulikan seorang bocah seperti Beng San ini. Hanya saja, ketika tadi melihat Beng San ia menyaksikan hawa kemerahan yang terang sekali terbit dari hawa Yang-kang yang amat kuat dari tubuh bocah ini, maka ia pun mengerti bahwa anak ini adalah seorang ahli Yang-kang atau setidaknya di dalam tubuh anak ini terkandung sesuatu yang mengeluarkan hawa itu.

Oleh karena sudah menjadi wataknya tidak suka melihat orang-orang lihai di dunia ini di samping dia sendiri dan muridnya, maka timbul maksud hatinya untuk membunuh Beng San. Maka tadi ia sengaja membawa lari Beng San dengan cepat untuk membunuhnya, karena pegangannya tadi mengandung saluran tenaga mematikan.

Alangkah herannya ketika melihat Beng San hanya tersengal-sengal saja dan tidak mati. Lebih-lebih lagi herannya ketika ia meremas tangan Beng San, ada daya tahan yang luar biasa yang mencegah tulang-tulang anak itu remuk. Inilah luar biasa! Dia sendiri seorang ahli Yang-kang, masa tak dapat menguasai hawa di tubuh anak ini? Demikianlah, maka Hek-hwa Kui-bo jadi ingin sekali mengetahui keadaan Beng San.

Di samping ini, ada juga rasa sukanya kepada bocah ini. Bocah aneh yang pemberani sekali, bahkan yang suara cegahannya sudah membuat ia menurut, yaitu ketika ia hendak membunuh Kwa Tin Siong dan puterinya. Ada pengaruh yang amat ganjil dalam suara anak ini ketika mencegahnya tadi.

“Anak baik, mau bunuh kau apa sukarnya? Akan tetapi aku ingin tahu lebih dulu, kau ini murid siapa?”
“Aku bukan murid siapa-siapa,” jawab Beng San tak acuh.
“Siapa namamu?”
“Beng San.”
“Siapa orang tuamu?”
“Orang tuaku...? Orang tuaku adalah... Huang-ho (sungai Kuning).”

Kembali Hek-hwa Kui-bo melengak. Siapa tak akan heran mendengar jawaban aneh ini. “Jangan main-main! Di mana kedua orang tuamu? She apa?”

“Orang tuaku dimakan banjir Huang-ho, siapa she-nya aku tak tahu. Ehh, kuntilanak, mau apa kau main tanya-tanya terus? Pergilah!”

Makin kagum Hek-hwa Kui-bo. Ia melihat muka Beng San kotor sekali sehingga agak sulit baginya untuk melihat cahaya muka anak ini yang agak kehijauan dan agak kemerahan.

“Kau kotor sekali. Pergilah mencuci muka.”
“Tidak mau!”

Akan tetapi, kembali ujung sapu tangan panjang di tangan Hek-hwa Kui-bo bergerak dan tahu-tahu tubuh Beng San terlempar jauh dan... jatuh ke dalam sebuah anak sungai tak jauh dari situ.

Beng San gelagapan dan meronta-ronta. Akan tetapi kemudian dia mendapat kenyataan bahwa air anak sungai itu amat jernih, maka timbul kegembiraannya dan dia malah mandi tanpa membuka pakaian! Dia tidak mempedulikan lagi kepada Hek-hwa Kui-bo.

Tak lama kemudian ia merasa tubuhnya dingin bukan main. Beng San menjadi ketakutan, khawatir kalau-kalau penyakit kedinginan seperti kemarin menyerangnya lagi. Cepat-cepat dia merayap naik dari anak sungai itu. Ternyata Kui-bo masih menunggu di situ sambil memandang kepadanya dengan mata tak berkedip.

Setelah muka dan tubuh Beng San bersih dari debu dan kotoran, apa lagi akibat dinginnya air membuat hawa Im-kang menyerangnya kembali dan kulit mukanya menjadi kehijauan, Hek-hwa Kui-bo menjadi bingung. Sama sekali itu bukan tanda bahwa di dalam tubuh anak ini terkandung hawa Yang, melainkan sebaliknya, kini penuh hawa Im yang aneh! Bukan main, luar biasa sekali ini! Tanpa terasa Hek-hwa Kui-bo menggaruk-garuk rambut di kepalanya.

Beng San masih merasa dongkol. Tubuhnya dingin betul dan pakaiannya semua basah kuyup. Semua ini adalah karena perbuatan kuntilanak itu. Maka dia lalu menghampiri dan memaki.

“Kuntilanak galak, kau pun harus mandi!”

Merah muka Hek-hwa Kui-bo, merah karena malu! Memang orang aneh, disuruh mandi begitu saja timbul pikiran bahwa alangkah memalukan kalau ia harus mandi di depan anak laki-laki ini.

“Kurang ajar, aku sudah cukup bersih. Tak perlu mandi.”

Tiba-tiba Beng San tertawa bergelak. Ia merasa mendapat kesempatan untuk membalas menghina orang atau siluman ini. “Bersih katamu? Ha-ha-ha-ha! Rambutmu penuh kutu busuk, masih berani bilang bersih?”

Merupakan pantangan bagi Hek-hwa Kui-bo kalau dia dicela orang, apa lagi kalau yang dicela tentang kebersihan atau kecantikannya. Entah sudah berapa banyaknya orang mati di tangannya hanya karena kesalahan mulut menyatakan bahwa ia sudah tua, tidak cantik dan lain celaan lagi. Sekarang ia pun amat marah, akan tetapi karena pribadi Beng San menimbulkan keheranan dan kekaguman, ia tidak segera turun tangan, hanya bertanya dengan suara dingin.

“Kau bilang rambutku penuh kutu busuk? Apa buktinya?”

Beng San masih tertawa-tawa. “Kau tadi menggaruk-garuk kepalamu, itulah tanda bahwa rambutmu banyak mengandung kutu busuk! Aku berani bertaruh bahwa di situ bersarang banyak kutu busuk dengan telur-telurnya...”

Sapu tangan di tangan Hek-hwa Kui-bo bergerak dan tahu-tahu ujungnya sudah melibat leher Beng San! Baiknya wanita aneh ini hanya menakut-nakuti saja, jika ia menggunakan tenaga, dalam sedetik leher itu akan putus!

Namun Beng San maklum bahwa nyawanya terancam, maka cepat dia pun mengerahkan tenaga dan berseru.
“Membunuh anak kecil, huh, mana bisa dibilang gagah? Mengalahkan musuh tangguh baru bisa dibilang gagah, akan tetapi mengalahkan diri sendiri lebih gagah lagi!” saking takutnya dia mengeluarkan ujar-ujar Khong Hu Cu yang dicampur dengan kata-katanya sendiri.

Ujung sapu tangan itu mengendur dan Hek-hwa Kui-bo tertawa. “Siapa sudi mengambil nyawa tikusmu? Hayo buktikan omonganmu, kau carilah kutu busuk itu di rambutku. Kalau tidak ada seekor pun, hidungmu akan kupotong, tak perlu kuambil nyawamu!”

Bukan main kagetnya hati Beng San. Dipotong hidungnya lebih celaka dari pada diambil nyawanya. Apa nanti jadinya apa bila dia seterusnya harus hidup tanpa hidung, menjadi manusia yang menakutkan dan menjijikkan? Dan biar pun dia masih kecil, dia tahu bahwa wanita kuntilanak ini pasti akan membuktikan omongannya.

“Hayo cepat!” Hek-hwa Kui-bo membentak sambil duduk di atas rumput.

Terpaksa Beng San lalu berlutut di belakangnya dan mulai mencari kutu busuk di antara rambut yang hitam, halus dan bersih serta berbau harum kembang itu. Mana ada kutu busuk di antara rambut yang begitu terpelihara rapi dan bersih?

“Enak saja,” ia menggerutu, “Taruhan yang tidak adil. Kalau tidak ada kutu busuknya, kau akan memotong hidungku. Bagaimana jika ada kutu busuknya? Aku tidak punya apa-apa, hidungku adalah barang yang paling kusayang, kalau itu kupertaruhkan, habis apa yang menjadi taruhanmu? Apakah kau juga mempertaruhkan hidungmu?”

Hek-hwa Kui-bo tak terasa lagi meraba hidungnya yang mancung. Tak mungkin ia hendak mengorbankan hidungnya. Ia berpikir-pikir, lalu berkata sambil tertawa mengejek, “Yang paling berharga padaku adalah kepandaianku. Aku pertaruhkan kepandaianku. Setiap kali kau memperoleh kutu busuk, kuhadiahkan sebuah ilmu silat kepadamu.”

“Hah, untuk apa ilmu silat?” Beng San berkata.

Perempuan aneh itu menengok dan matanya berapi. “Anak tolol! Kalau kau menerima satu macam saja ilmu silatku, apa kau kira orang-orang macam ayah anak Hoa-san-pai itu mampu mengganggu dan menghinamu?”

Beng San memutar otaknya. Betul juga. Wanita ini lihai bukan main. Alangkah baiknya kalau dia bisa memiliki kelihaian seperti wanita ini. Dia sebatang kara di dunia ini, sudah sering kali dihina orang. Jangan kata lagi orang-orang kota yang sering kali mengusirnya seperti anjing, padahal dia tidak mengganggu mereka. Dan bukti yang baru saja terjadi, tosu bau Siok Tin Cu itu menghinanya, kemudian Kwa Hong...

“Baik,” katanya, dan tidak lama kemudian jari-jari tangannya mencabut sesuatu di antara rambut Hek-hwa Kui-bo.
“dapat seekor...!” katanya gembira setengah bersorak.

Hek-hwa Kui-bo tersentak kaget, cepat memutar tubuh. Ia melihat di antara jari telunjuk dan ibu jari tangan Beng San terjepit seekor kutu hitam kemerahan yang amat menjijikan. Kakinya banyak dan jalannya miring-miring. Meremang bulu tengkuk Hek-hwa Kui-bo.

Seorang perempuan seperti dia, yang sejak kecil jangan kata mempunyai kutu rambut, melihat pun belum, mana bisa dia membedakan antara kutu rambut dan kutu baju? Sama sekali dia tidak pernah mimpi bahwa ia kena ditipu oleh anak nakal ini.

Beng San yang tadi merasa tidak berdaya dan putus asa melihat rambut yang bersih itu, diam-diam mendapatkan akal. Pada bajunya banyak terdapat kutu, hal ini dia tahu betul, dan dia tahu pula di mana kutu-kutu itu paling senang bersembunyi. Oleh karena bajunya memang hanya sebuah, tak pernah dicuci, maka banyak kutunya. Dan karena kebiasaan, dengan sangat mudahnya dia mengambil seekor kutu baju, lalu pura-pura mengambil itu dari rambut Hek-hwa Kui-bo.

Walau pun perempuan ini adalah seorang yang sakti dalam ilmu silat, tetapi karena dia duduk membelakangi Beng San dan tidak menduga sama sekali akan tipu muslihat ini, ia percaya penuh. Wajahnya agak pucat dan matanya melebar ketika ia melihat kutu kecil itu dijepit jari tangan Beng San.

“Celaka, dari mana datangnya kutu busuk? Memalukan sekali. Hayo lekas bunuh dan cari lagi!”

Beng San tertawa dan memasukkan kutu busuk itu ke mulutnya. Ketika giginya menggigit terdengar suara,
“Tesss!” dan dia meludahkan bangkai kutu busuk itu.

Hek-hwa Kui-bo mengkirik penuh kengerian.

“Jahanam benar, dari mana dia bisa datang ke rambutku?” tiba-tiba ia merasa kepalanya gatal-gatal sekali dan terpaksa ia menggaruk-garuk lagi, “Hayo cari terus, sampai bersih betul. Jahanam...”
“Ehhh, nanti dulu, jangan lupa taruhannya. Sudah dapat seekor.”

Hek-hwa Kui-bo melotot. “Siapa lupa? Cerewet benar. Aku hutang kepadamu sebuah ilmu silat. Hayo teruskan sampai bersih rambutku. Nanti berapa dapatnya tinggal hitung berapa hutangku kepadamu.”

Beng San mencari lagi dan seperti tadi, dia mengambil kutu baju dan berseru girang lagi.

Hek-hwa Kui-bo makin mengkirik. “Bagaimana bisa begini banyak? Celaka, jangan-jangan sudah bertelur!”

Beng San tertawa. Anak cerdik ini cepat berkata. “Aku belum melihat telurnya, mungkin sudah menetas semua. Sudah dua ekor, Kui-bo. Jangan lupa.”

“Siapa lupa? Hayo lekas cari lagi!”
“Kui-bo, aku tidak khawatir kau lupa, hanya khawatir kau melanggar janji. Ada yang bilang bahwa mengikat kerbau adalah di hidungnya, akan tetapi manusia diikat pada bicaranya. Sekali mengeluarkan ludah tidak akan dijilat kembali, sekali mengeluarkan sepatah kata, sampai mati tak akan dipungkiri. Itulah manusia gagah dan…!”
“Cerewet! Bocah ingusan macammu mau memberi pelajaran padaku? Aku tak akan lupa, juga tak akan melanggar janji. Hayo lekas habiskan kutu-kutu itu, gatal semua kepalaku!” Dan melihat kutu busuk kedua itu, terasa makin gatal kepala Hek-hwa Kui-bo.

Tadinya Beng San hendak mengeluarkan kutu sebanyak-banyaknya. Akan tetapi ketika ia ingat bahwa belum tentu ilmu-ilmu silat yang akan diajarkan padanya itu menyenangkan, dia berbalik khawatir kalau-kalau malah akan menyusahkan saja.

Maka setelah mendapatkan tiga ekor kutu busuk, dia berhenti dan berkata. “Sudah habis, sudah bersih. Sekarang aku berani mempertaruhkan kepalaku bahwa di rambutmu sama sekali tidak ada kutunya seekor pun.”

Hek-hwa Kui-bo menarik napas lega, lalu membetulkan rambutnya yang tadi diawut-awut oleh anak itu. Kemudian ia memandang kepada Beng San dan tiba-tiba tertawa mengikik. Beng San sudah khawatir kalau-kalau perempuan kuntilanak ini hendak menipunya.

“Hi-hi-hi-hi-hi, aku berhutang tiga ilmu silat kepadamu? Bocah siapa namamu tadi?”
“Namaku Beng San.”
“Bocah, aku akan mengajarkan tiga macam ilmu silat kepadamu dan andai kata kau dapat mewarisi tiga ilmu silat ini, sepuluh orang anak murid Hoa-san-pai juga tak akan mampu menangkan kau. Ehhh, tadi kau bilang kau dijejali obat oleh seorang tosu yang membuat tubuhmu panas semua? Apa betul kau belum pernah belajar silat?”
“Belum pernah selama hidupku.”
“Coba kau pukul telapak tanganku ini, di waktu memukul meniupkan hawa dari mulut.”

Beng San menurut karena mengira bahwa demikian memang caranya belajar silat. Ia lalu memukul telapak tangan wanita itu dengan tangan kanannya sambil meniupkan hawa dari mulutnya.

“Plakkk!”

Hek-hwa Kui-bo merasa telapak tangannya dijalari hawa panas. Terang yang keluar dari kepalan Beng San adalah tenaga Yang-kang.

“Hemmm, sekarang kau pukul lagi dengan tangan kiri sambil menahan napas.”

Beng San menurut, memukulkan kepalan tangan kiri ke arah telapak tangan itu sambil dia menahan napas. Hek-hwa Kui-bo merasa telapak tangannya menerima hawa dingin yang lebih kuat dari pada hawa panas tadi. Diam-diam ia terheran-heran.

Bagaimana di dalam tubuh anak ini terdapat dua macam hawa Yang-kang dan Im-kang tanpa diketahui oleh anak itu sendiri. Dan kenapa seorang anak yang tidak pernah belajar silat bisa mempunyai dua macam hawa ini dan tidak mati karenanya?

Hek-hwa Kui-bo semakin bingung, apa lagi karena harus pindah jilid.....

Di dalam tubuh setiap orang manusia memang pada dasarnya sudah terdapat dua macam hawa yang bertentangan itu, akan tetapi tidak sehebat ini.

“Dengarkan baik-baik. Kau akan kuberi pelajaran tiga macam ilmu silat. Akan tetapi ada syarat-syaratnya. Pertama, kau tidak boleh mengaku Hek-hwa Kui-bo sebagai gurumu.”

Beng San merengut. “Siapa yang kepingin mengakui kau sebagai guru? Syarat ini cocok dengan pikiranku.”

“Kedua, kau harus berdiam terus di dalam hutan ini sebelum kau hafal benar tiga macam ilmu silat itu. Tergantung kepada otakmu. Kalau kau berotak udang dan beku, dan sampai sepuluh tahun belum hafal, kau tetap tidak boleh keluar. Begitu keluar akan kubunuh jika kau belum hafal.”

Beng San segera memprotes, “Aturan apa ini? Aku tak sudi. Kalau begitu, sudahlah, siapa yang kegilaan akan ilmu silat? Aku tidak usah belajar saja.”

Hek-hwa Kui-bo tertawa mengejek dan sapu tangannya bergerak-gerak. “Kau boleh tidak belajar, akan tetapi nyawamu kucabut. Kau kira aku seorang yang suka menjilat ludah sendiri? Aku sudah berjanji, kau harus menerima tiga macam pelajaran ilmu silat dan kau harus pula memenuhi syarat-syarat itu atau... kau boleh mampus.”

Beng San memang bocah yang nakal dan berani, akan tetapi dia pun cerdik bukan main. Sekarang sedikit banyak ia telah mengenal watak kuntilanak ini yang selalu membuktikan omongannya, maka dia lalu berkata, “Baiklah, mempelajari ilmu silatmu atau tidak adalah sama saja! Apa sih gunanya? Kukira ilmu silatmu itu pun tidak akan ada artinya bagiku!”

Hek-hwa Kui-bo kena dibakar perutnya.

“Tarrr!!”

Sapu tangannya berkelebat menyambar, mengeluarkan suara keras. Ujungnya melewati kepala Beng San dan menghantam sebuah batu di dekatnya. Alangkah kagetnya anak itu ketika melihat betapa pinggir batu itu gompal dan remuk seperti dihantam palu besar yang kuat dengan keras sekali.

“Kau bilang tidak ada gunanya? Apa kepalamu lebih keras dari pada batu itu?” Hek-hwa Kui-bo berkata sambil mendelik.

Beng San kagum sekali dan mulailah timbul keinginan dalam hatinya untuk dapat memiliki kepandaian seperti ini. Akan tetapi dia memperlihatkan sikap acuh tak acuh menyaksikan kehebatan wanita itu. Dia malah menarik napas panjang dan berkata,

“Apa artinya kelihaian ilmu silat kalau toh aku takkan mungkin dapat mempelajarinya? Aku tidak pernah belajar silat, bagaimana sekarang bisa mempelajari ilmu silatmu kalau tidak kau pimpin sendiri?”

Hek-hwa Kui-bo tertawa mengikik, “Kau tentu bisa, pasti bisa. Aku memiliki tiga macam ilmu silat yang mudah dipelajari, biar pun oleh seorang tolol seperti kau. Pertama, adalah ilmu siulian (semedhi) yang disebut Thai-hwee (api besar) untuk mendatangkan kekuatan tenaga dalam berdasarkan Yang-kang. Dalam menjalankan ilmu ini tubuhmu akan terasa panas sekali seperti terbakar, kau harus dapat menahan ini. Dan yang kedua adalah ilmu pernapasan yang disebut Siu-hwee (memelihara api) untuk membikin hawa Yang-kang di badanmu memasuki semua pembuluh darah dan membikin badanmu kebal.”

“Apa artinya semua ini?” Beng San mencela. “Masa orang harus belajar supaya diri kuat dan tahan dipukul? Apa selanjutnya aku hanya disuruh menjadi bahan pukulan? Aku ini kau ajari cara memukul batu seperti tadi.”

Hek-hwa Kui-bo tertawa, “Tolol kau. Dua macam pelajaran itu adalah pokok dari semua pelajaran silat. Yang ketiga, adalah ilmu pukulan yang kusebut Ci-hwee (keluarkan api), terdiri dari tiga jurus pukulan yang mengandung hawa Yang-kang. Nah, kau perhatikanlah sekarang semua petunjukku dan pelajari baik-baik. Aku hanya sudi memberi kesempatan belajar sehari semalam saja, setelah itu kau harus belajar sendiri.”

Demikianlah, wanita aneh ini sengaja menurunkan cara semedhi dan latihan pernapasan yang semata-mata hanya dapat untuk memperbesar daya Yang-kang di tubuh Beng San. Perbuatan ini sebetulnya amat licik dan jahat. Bagi orang lain, mungkin sekali ilmu-ilmu ini akan mendatangkan tenaga dalam tubuh yang luar biasa.

Akan tetapi seperti telah diketahui, dalam tubuh Beng San pada saat itu sedang mengalir hawa panas yang luar biasa akibat ditelannya tiga butir pil buatan tosu Siok Tin Cu. Hawa panas ini tentu akan menghanguskan jantungnya, kalau saja dia tidak terkena pukulan Jing-tok-ciang dan terkena racun hijau akibat serangan Koai Atong.

Hek-hwa Kui-bo tak tahu akan serangan Koai Atong ini. Akan tetapi wanita sakti ini cukup maklum bahwa tiga butir pil Yang-tan itu secara aneh sekali sudah ditahan kekuatannya oleh semacam hawa Im yang berada di tubuh Beng San. Melihat ini, walau pun dia tidak mampu memaksa Beng San mengaku, wanita ini mempunyai dugaan bahwa tentulah Beng San ini murid seorang sakti lain.

Hal ini sangat tidak disukainya. Sudah menjadi watak Hek-hwa Kui-bo untuk tidak mau mengalah terhadap orang lain. Siok Tin Cu adalah cucu muridnya, karena guru tosu itu, ketua Ngo-lian-kauw, yaitu yang bernama Kim-thouw Thian-li (Dewi Kepala Emas) adalah murid tunggalnya.

Pada saat mendengar bahwa Yang-tan yang ditelan bocah ini tidak mematikannya, timbul perasaan benci dan iri di hati Hek-hwa Kui-bo. Maka ia sekarang sengaja mengajarkan dua macam ilmu itu untuk memperbesar dan memperkuat hawa Yang di tubuh anak ini agar pertahanan hawa Im di tubuhnya kalah.

Tentu saja Beng San yang tidak tahu apa-apa tidak mengandung hati curiga dan dengan penuh ketekunan dan ketelitian ia memperhatikan segala petunjuk wanita itu. Dasar bocah ini berotak cerdas dan terang sekali, menjelang senja hari, jadi baru saja setengah hari Hek-hwa Kui-bo memberi petunjuk, dia sudah mengerti baik bagaimana harus melakukan latihan Thai-hwee, Siu-hwee, dan Ci-hwee.

Diam-diam Hek-hwa Kui-bo terkejut bukan main dan kagum sekali. Belum pernah dia melihat bocah secerdas ini otaknya. Akan tetapi memang Hek-hwa Kui-bo yang aneh. Hal ini bukan menimbulkan rasa sayang kepadanya, melainkan dia makin membenci dan iri hatinya. Dia sendiri dulu tidak memiliki kecerdasan seperti ini.

“Nah, kau boleh tekun melatih diri dengan tiga macam ilmu ini. Jangan sekali-kali berani keluar dari hutan kalau belum menguasai ilmu yang kuajarkan. Kalau kau melanggar, kau akan kubunuh!” Setelah berkata demikian, sekali berkelebat wanita ini telah lenyap dari depan Beng San.

Anak ini berhati lega. Mungkin ia akan menjaga di luar hutan, pikirnya. Akan tetapi kalau sampai dua tiga hari, apakah ia akan sabar menjaga terus? Pula hutan ini begini besar, kalau aku keluar dari lain jurusan, bagaimana mungkin dia bisa tahu?

Dengan pikiran ini, dia enak-enak saja tidak mau melatih diri. Dia bahkan segera memilih tempat untuk tidur yang aman dan enak, yaitu di atas sebatang pohon yang amat besar.

Pada keesokan harinya, dia juga tidak melatih diri, namun berjalan-jalan di dalam hutan, memilih tempat yang banyak ditumbuhi pohon-pohon berbuah supaya tidak sukar lagi dia mencari apa bila perutnya terasa lapar. Sampai dua hari Beng San hanya berkeliaran di dalam hutan, tidak mau melatih diri.

Pada malam ketiga, malam yang amat gelap, dia berjalan keluar dari hutan, mengambil jurusan yang berlawanan agar tidak diketahui oleh Hek-hwa Kui-bo. Hutan itu amat lebat sehingga menjelang fajar dia baru bisa keluar dari hutan.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika tiba-tiba saja dia mendengar suara ketawa nyaring dan cekikikan, suara tawa kuntilanak! Sebelum dia sempat melihat dari mana datangnya suara itu, tiba-tiba orangnya sendiri telah berkelebat dan berdiri di depannya dengan sapu tangan panjang itu diputar-putar dengan sikap mengancam sekali.

Beng San takut bukan main, akan tetapi dia cerdik. Cepat-cepat dia pun berkata “Hek-hwa Kui-bo, perutku lapar sekali. Semalaman penuh aku putar-putar di dalam hutan mencari makanan, tetapi tidak ada. Aku tersesat sampai sini...”

Hek-hwa Kui-bo memandang tajam, “Kau bukannya hendak lari?”

“Tiga macam ilmu itu belum kuhafal sempurna, bagaimana aku berani mati meninggalkan tempat ini? Seorang laki-laki sudah berjanji....” Ia tidak melanjutkan kata-katanya karena memang tadinya dia bermaksud hendak lari.

Hek-hwa Kui-bo tertawa ganjil, sepasang matanya bersinar-sinar. “Kau terus pelajari saja baik-baik, dalam beberapa hari lagi tidak akan sukar bagimu menangkap binatang hutan untuk dimakan.”

Beng San memasuki hutan kembali dan dia mendengar dari jauh wanita itu menggerutu, “Anak tahan uji...”

Sekarang yakinlah hati Beng San bahwa tak mungkin dia dapat pergi tanpa diketahui oleh wanita sakti yang aneh itu. Nyawanya terancam bahaya maut kalau dia berani pergi. Tidak ada lain pilihan lagi baginya, kecuali mulai mempelajari tiga macam ilmu itu.

Mula-mula dia melakukan semedhi untuk meyakinkan ilmu Thai-hwee seperti yang sudah dia pelajari dari wanita itu. Dan benar saja, baru setengah malam dia duduk semadhi, dia merasa ada hawa panas sekali berkumpul di perutnya, makin lama makin panas sampai dia tak dapat menahan lagi dan akhirnya terguling pingsan! Ketika dia siuman kembali, dia menderita hawa dingin yang luar biasa, membuat tubuhnya seakan-akan menjadi beku.

Teringatlah dia semua pengalamannya di dalam hutan ketika dia bertemu dengan Kwa Hong. Begini pula penderitaannya. Mengapa setelah sekarang mulai melatih diri dengan ilmu yang dia pelajari dari Hek-hwa Kui-bo, agaknya penyakit aneh itu timbul kembali?

Beng San memiliki ketabahan dan kenekatan. Daya tahannya, lahir batin amat kuat. Biar pun dia menderita banyak siksaan dari latihan pertama ini, dia lanjutkan terus. Tiga empat hari pertama, setiap kali siulian paling lama satu malam dia tentu roboh pingsan.

Akan tetapi pada hari kelima dia tidak pingsan lagi. Dia tidak tahu bahwa akibatnya, kulit mukanya makin lama menjadi semakin merah dan akhirnya menjadi hitam seperti pantat kwali. Namun dia yang tak pernah melihat bayangan mukanya sendiri, tidak tahu akan hal ini!

Sebulan kemudian dia mulai dengan pelajaran kedua. Ketika ia mulai melatih pernapasan menurut ilmu Siu-hwee (simpan api), dia merasa bahwa hawa panas yang dia dapat dari ilmu pertama itu berkumpul di pusarnya, lalu berpindah-pindah ke dadanya dan terasalah dada kirinya sakit seperti di tusuki jarum. Ia nekat terus dan akhirnya rasa sakit hebat itu menghilang. Setelah satu bulan, dia hanya merasa seakan-akan dalam dadanya tertekan sesuatu.

Bulan ketiga dia pergunakan untuk melatih diri dengan ilmu pukulan yang disebut Ci-hwee (Mengeluarkan Api). Ilmu pukulan ini terdiri dari tiga jurus gerakan saja. Gerakan pertama menghantam kedua tangan dengan jari-jari terbuka ke arah tanah di depan kakinya, lalu gerakan kedua menghantam ke depan dan gerakan ketiga menghantam ke atas. Semua gerakan ini dilakukan dengan pemindahan kaki kanan kiri, yang satu di depan yang lain di belakang. Sederhana sekali akan tetapi ternyata amat sukar dilakukannya.

Baiknya Beng San sudah memperhatikan dengan teliti sekali dan akhirnya dia dapat juga melakukan gerakan-gerakan ini dengan baik pula setelah selama satu bulan berlatih siang dan malam. Tiap kali dia melakukan pukulan-pukulan dengan jari-jari tangan terbuka, dia merasa dadanya yang tertekan agak enakan, seakan-akan agak berkurang tekanannya.

Ia tidak tahu bahwa hal itu disebabkan karena adanya hawa Yang-kang yang keluar dari dalam tubuhnya. Perginya sebagian hawa ini mengurangi tekanan hawa mukjijat yang kini berkumpul dan seolah terkurung di dadanya sehingga mengancam pekerjaan isi dadanya.

Empat bulan lewat ketika Beng San memberanikan diri keluar dari hutan. Dia tidak tahu di mana batas kesempurnaan mempelajari ilmu-ilmu itu, maka dia berlaku untung-untungan saja. Kalau nanti ketemu Hek-hwa Kui-bo dan dia diuji, dia akan mainkan sebaik-baiknya. Andai kata dinyatakan belum sempurna, bagaimana nanti sajalah.

Selama empat bulan dia sudah merasa seperti terhukum. Tubuhnya tidak pernah terasa enak lagi, selalu dia diserang hawa panas yang kadang-kadang membuatnya seperti gila. Dengan latihan-latihan itu, Hek-hwa Kui-bo sudah menambah hawa Yang-kang di dalam tubuhnya.

Kalau dulu tenaga Im-kang akibat serangan Koai Atong lebih kuat, sekarang setelah dia berlatih, di dalam tubuhnya yang lebih kuat adalah tenaga Yang-kang. Maka dia tidak lagi terserang hawa dingin, tetapi selalu kepanasan. Ia seperti seorang yang selalu menderita demam panas, akan tetapi bukan panas biasa, melainkan panas yang takkan tertahankan orang biasa. Dia tentu sudah mati lebih dulu jika di badannya tidak terkandung racun dari jing-tok yang mengandung hawa Im.

Agaknya memang nasib Beng San harus menderita hebat pada waktu kecilnya. Memang agak aneh apa yang dia alami semua ini.

Tiga butir pil buatan Siok Tin Cu itu sebetulnya cukup untuk membunuh nyawa tiga orang, tapi kekuatan hawa Yang-kang dari tiga butir pil itu bahkan semuanya kini terkandung di dalam tubuh Beng San. Seharusnya dia mati karena ini, akan tetapi siapa kira secara kebetulan sekali dia diserang oleh Koai Atong yang berotak miring sehingga tubuhnya kemasukan hawa Im-kang yang malah lebih kuat dari pada hawa Yang-kang itu.

Dan sekarang, Hek-hwa Kui-bo yang tidak tahu mengenai penyerangan Koai Atong dan bermaksud membunuhnya dengan cara memperkuat hawa Yang dengan latihan-latihan itu, ternyata hanya menambah hawa panas sehingga bisa mengimbangi hawa dingin dari racun hijau. Karena itu, walau pun mukanya menjadi gosong hitam dan dadanya seperti terbakar, biar pun keselamatan nyawanya tetap terancam, namun Beng San masih hidup dan dapat bertahan sampai sekian lamanya!

Alangkah girangnya hati Beng San ketika dia tidak melihat munculnya Hek-hwa Kui-bo. Sesudah keluar dari hutan itu, hatinya berdebar saking girangnya. Benar-benar dia tidak melihat bayangan wanita itu. Akan tetapi, di samping rasa gembiranya, dia pun merasa mendongkol sekali.

“Dasar siluman kuntilanak jahat,” gerutunya. “Aku sudah ditipunya. Disuruh mempelajari ilmu siluman selama berbulan-bulan dan dia ternyata tidak menjaga di sini. Dasar bodoh, kalau tahu begini, siapa sudi berbulan-bulan menjadi monyet di dalam hutan?”

Sambil memaki-maki Hek-hwa Kui-bo di dalam hatinya, Beng San melanjutkan perjalanan. Karena dia sedang berada di daerah pegunungan dan di situ tidak terlihat adanya dusun atau orang lewat, dia lalu berjalan ke mana saja tanpa tujuan tertentu.

Akan tetapi semua pengalamannya itu mendatangkan keinginan di dalam hatinya untuk mempelajari ilmu silat yang betul-betul dan yang bermutu tinggi agar dia dapat mencegah orang lain melakukan penghinaan atas dirinya. Apa bila teringat kepada Kwa Hong, dia masih merasa mendongkol sekali.

Pada hari ketiga, ketika dia merasa sangat haus dan dia minum air, dia menjadi terkejut setengah mati pada saat melihat mukanya di dalam air. Aduh celaka, kenapa mukanya menjadi hitam seperti setan? Beng San tidak percaya, lalu pindah ke air yang lebih jernih untuk melihat mukanya sendiri. Akan tetapi tetap saja, nampak jelas bahwa mukanya memang hitam seperti pantat kwali.

“Celaka... ah, mukaku jadi begini...” tak terasa lagi anak ini menangis tanpa mengeluarkan suara, hanya air matanya mengucur deras.

Setelah memutar otak, dia mencela diri sendiri. “Ah, kenapa aku harus menangis? Kenapa bersedih? Menilai orang bukan melihat dari warna kulit mukanya, demikianlah kata para pujangga. Ada lagi yang bilang bahwa roman muka tidak mencerminkan keadaan hati dan watak. Aku boleh buruk, aku boleh hitam, mengapa pusing? Malu...? Malu kepada siapa? Huh...!”

Dan tiba-tiba dia mendengar suara cecowetan. Ketika dia memandang, dia melihat agak jauh, di atas pohon terdapat dua ekor lutung hitam. Sepasang binatang itu sedang duduk dan saling mencumbu, kelihatan akur dan saling mencinta.

Beng San tertawa, “Mukaku pun hitam seperti muka lutung. Siapa bilang mukaku jelek? Lihat itu, bagi mereka akan jeleklah andai kata muka kawannya itu putih tidak hitam. Hitam atau putih apakah perbedaannya? Baik dan buruk, di mana garis pemisahnya?”

Tanpa disengaja Beng San sudah mengeluarkan ujar-ujar dan filsafat-filsafat kuno yang pernah dibacanya di dalam kelenteng Hok-thian-tong ketika dia masih menjadi kacung kelenteng. Akan tetapi, biar pun ujar-ujar itu tentu saja belum dapat dimengerti oleh anak yang baru berusia sepuluh tahun ini, sedikitnya pada saat itu menjadi hiburan baginya, melenyapkan rasa duka dan kecewanya melihat bayangan mukanya yang hitam seperti muka lutung. Setelah puas minum dan mencuci muka, dia melanjutkan perjalanan lagi.

Pada suatu pagi dia tiba di lereng sebuah gunung yang hijau. Ketika dia sedang berjalan hati-hati sekali di jalan kecil yang amat sunyi itu, tiba-tiba dia mendengar suara dua orang yang bercakap-cakap jelas di sebelah depannya. Ia mengangkat muka, akan tetapi tidak melihat ada orang. Ia berjalan cepat dan tibalah dia di sebuah jalan kecil.

Di kanan kiri jalan itu terdapat jurang yang panjang dan curam. Dan di tempat inilah dia mendengar suara dua orang sedang bercakap-cakap dengan jelas sekali, akan tetapi tak kelihatan orangnya! Biar pun hari sudah terang tanah, matahari sudah naik tinggi, namun bulu tengkuk Beng San berdiri juga saking seramnya.

Bagaimana ada dua orang bercakap-cakap di depannya, sepertinya di kanan kirinya, akan tetapi dia tidak melihat orangnya! Ia berdiri seperti patung dan mendengarkan dua suara orang yang saling jawab di kanan kirinya itu.

“Phoa Ti, kalau saja tidak keburu terjerumus di sini, sekali mengenal pukulanku ilmu silat Pat-hong-ciang (Ilmu Silat Delapan Penjuru Angin), kau tentu mampus!” terdengar suara dari sebelah kiri Beng San, suara yang terbawa angin dari kiri tanpa kelihatan orangnya.

Segera suara dari kanan menjawab. “Ha-ha-ha, orang she The, dari sini pun telah tercium mulutmu yang bau. Kalau tadi aku berlaku hati-hati sedikit dan tidak sampai terjerumus ke sini, dengan ilmu silatku Khong-ji-ciang (Ilmu Silat Hawa Kosong) yang belum sempat aku keluarkan, kau akan mampus lebih dulu.”

Beng San bingung sekali. Suara dari kiri terdengar kecil melengking, sedangkan yang dari kanan besar dan parau. Suara apa lagi kalau bukan suara setan atau iblis? Apa bila ada orangnya, masa tidak kelihatan sedangkan suaranya begitu jelas terdengar olehnya.

Atau jangan-jangan semacam kuntilanak yang kejam itu, cuma kali ini pria. Beng San yang sudah mengalami hal-hal tidak enak dengan Hek-hwa Kui-bo, menjadi ketakutan dan segera dia berlari pergi.

Tiba-tiba dari sebelah kanan terdengar suara yang parau tadi, “Ehh siapa di atas?”

Beng San mempercepat larinya. Mendadak dari sebelah kanannya menyambar semacam hawa yang amat kuat dan tak tertahankan lagi tubuh Beng San tergelincir ke dalam jurang di sebelah kiri jalan!

Tubuh anak itu bergulingan ke bawah. Untung baginya tidak ada batu-batu di sana dan jurang itu ternyata merupakan tanah lembek sehingga meski pun tubuhnya sakit-sakit, dia tidak menderita luka parah.

“Ha-ha-ha!” terdengar suara melengking tinggi tadi tertawa, kini dekat sekali. “Kau benar lihai, Phoa Ti, dalam keadaan terluka parah masih mampu memukul roboh orang. Akan tetapi kau akan malu kalau melihat bahwa yang kau robohkan hanya seorang anak kecil berusia sepuluh tahunan. Ha-ha-ha-ha!”

Beng San cepat menengok dan terlihatlah olehnya seorang yang bertubuh tinggi besar dan bermuka merah sedang duduk bersimpuh di dasar jurang.

Benar-benar menggelikan melihat seorang bertubuh begini besar akan tetapi suaranya luar biasa tinggi dan kecil seperti suara perempuan. Orang itu sudah tua sekali, mukanya penuh keriput dan agaknya terluka hebat, buktinya sukar menggerakkan kedua kakinya.

Tiba-tiba terdengar suara yang jelas, suara parau tadi, tanpa kelihatan orangnya sehingga Beng San melupakan sakit-sakit di tubuhnya dan mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Orang she The, tidak perlu kau mengejek. Kalau betul kau masih mempunyai ilmu silat cakar bebek yang disebut Pat-hong-ciang itu, kau datanglah ke sini, biar aku melihatnya.”

Orang tinggi besar itu menjawab lantang, “Kau saja yang turun ke sini kalau memang masih memiliki ilmu silat Khong-ji-ciang, siapa takut menghadapinya?”

Tidak terdengar jawabannya. Sampai lama tak ada suara lagi dan Beng San hanya duduk sambil mengurut-urut kakinya yang terasa sakit ketika dia bergulingan tadi. Kemudian si tinggi besar itu berkata lagi.

“He, Phoa Ti, di mana kau?”
“Di sini!” terdengar jawaban parau.
“Kenapa tidak turun ke sini? Kau takut padaku?”
“Muka merah, tak perlu menjual omongan busuk. Kau saja yang ke sini, apakah kau tidak becus?”

Kali ini si tinggi besar yang duduk bersimpuh di dalam jurang itu tidak menjawab, sampai lama juga. Tiba-tiba dia melambaikan tangannya kepada Beng San.

Anak itu segera menghampiri. Akan tetapi, alangkah kagetnya Beng San ketika tiba-tiba tangannya dicengkeram oleh orang itu yang berbisik, “Kau lihat keadaannya bagaimana?”

Sebelum Beng San maklum apa maksudnya, tiba-tiba saja orang itu menggerakkan kedua tangannya sambil berteriak, “He, Phoa Ti, kau terimalah anak yang kau pukul roboh tadi.”

Hampir Beng San menjerit kaget ketika tiba-tiba saja tubuhnya melayang ke atas seperti terbang cepatnya. Ternyata dia sudah dilontarkan orang sedemikian kerasnya sehingga tubuhnya melewati jalan kecil di atas jurang tadi dan langsung tubuhnya melayang turun ke jurang sebelah kanan jalan tanpa dia dapat mencegahnya lagi.

Beng San menyangka bahwa tubuhnya tentu akan hancur, maka dia menutupkan kedua matanya, menerima nasib. Akan tetapi, tiba-tiba tubuhnya berhenti melayang dan ketika dia membuka matanya, ternyata dia telah ditahan oleh sebuah tangan yang amat kuat. Ia diturunkan dan pada saat dia memandang, ternyata bahwa yang menahan jatuhnya tadi adalah seorang laki-laki tua sekali yang bertubuh tinggi kurus.

Seperti kakek besar tadi, kakek ini pun terluka hebat, buktinya tidak dapat menggerakkan kedua kakinya pula, malah kakek ini hanya merebahkan diri saja di atas dasar jurang yang penuh rumput hijau. Sekarang mengertilah Beng San bahwa kedua orang kakek aneh ini saling bicara dari tempat masing-masing, yaitu yang seorang di dasar jurang sebelah kiri jalan sedangkan yang kedua di dasar jurang sebelah kanan jalan.

Benar-benar aneh bukan main, bagaimana dari tempat sejauh ini seseorang bisa saling bercakap-cakap dengan orang lainnya di seberang sana? Apa lagi kalau mengingat akan pengalamannya tadi ketika dilempar dari jurang sebelah dan diterima di jurang ini, dia lalu bergidik. Celaka, pikirnya, iblis-iblis ini kiranya tidak kalah aneh dan hebatnya dari pada Hek-hwa Kui-bo.

Ketika kakek itu menggerakkan tangan kanannya yang menyangga tubuh Beng San, anak ini terguling ke atas rumput. Beng San mulai memperhatikan kakek ini. Kakek yang amat tua, sedikitnya enam puluh tahun usianya. Tubuhnya kurus seperti cecak kering, kedua kakinya tak dapat bergerak, malah tangan kirinya buntung.

Si tangan buntung ini segera berbisik “Ehh, bocah sial. Bagaimana keadaan si tinggi besar itu?”

Diam-diam Beng San merasa mendongkol juga. Betapa pun lihainya dua orang aneh ini, dia merasa sudah dipermainkan seperti sebuah bola, dilempar ke sana ke mari. Maka dia menjawab sambil merengut. “Tak lebih buruk dari pada engkau. Dia duduk bersimpuh tak dapat berdiri.”

Tiba-tiba si tinggi kurus yang tangan kirinya buntung ini tertawa meledak dengan suaranya yang parau dan keras sampai terngiang dalam telinga Beng San. “Ha-ha-ha-ha, The Bok Nam! Kiranya pukulanku tadi membuat kau tak berdaya di dalam jurang situ. Ha-ha-ha!”

Dari seberang sana terdengar jawaban, “Tak usah banyak cerewet kalau anak itu sudah mengobrol yang bukan-bukan. Kalau kau memang masih punya ilmu kepandaian, segera datanglah ke sini, aku tidak takut!”

Mendengar ini, si tinggi kurus yang bernama Phoa Ti itu terdiam. Tiba-tiba saja matanya bersinar-sinar aneh ketika dia memandang Beng San.

“Bagus,” katanya perlahan, matanya tidak pernah lepas dari tubuh Beng San, “Tulang dan darahmu cukup baik. Kau bisa menjadi penguji dan penentu kalah menang antara aku dan The Bok Nam.”

Setelah berkata demikian dia berteriak lagi. “He, orang she The. Seorang gagah tak perlu berpura-pura. Kau terluka tak dapat keluar dari jurang, aku pun demikian. Akan tetapi kita masih seri, belum ada yang kalah atau menang. Sekarang ada saksi bocah tolol ini. Mari kita adu kepandaian melalui bocah ini!”

Dari sana sampai lama baru terdengar jawaban yang merupakan pertanyaan, “Apa pula maksudmu?”

“Ha, kau tolol seperti bocah ini. Aku akan ajarkan dia beberapa jurus Khong-ji-ciang, lalu dia datang padamu, menyerangmu dengan jurus itu, hendak kulihat apakah kau mampu memecahkannya. Demikian pula kau boleh turunkan Pat-hong-ciang, ilmu cakar bebek itu kepadanya, untuk kupecahkan. Siapa yang tidak mampu memecahkan sejurus serangan, dia boleh mengaku kalah disaksikan setan-setan jurang. Bagaimana?”

Terdengar sorak gembira dari sebelah sana.

“Bagus! Memang betul, burung yang mau mati suaranya paling indah. Engkau pun yang sudah hampir mampus ternyata mampu mengeluarkan kata-kata bagus. Hayo lekas, kau turunkan ilmumu Khong-ji-ciang cakar ayam itu.”

Beng San yang mendengar ini pula tentu saja dapat menangkap maksud mereka. Dalam hatinya, sebetulnya dia merasa girang juga karena hendak diajari dua macam ilmu yang pasti hebat ini. Akan tetapi karena sebetulnya keinginannya belajar silat itu hanya karena marah kepada mereka yang sudah menghinanya, maka keinginan itu tidak berapa besar.

Sekarang dalam keadaan marah kepada dua orang kakek yang tadi mempermainkannya seperti bola dan sekarang hendak menggunakan dia untuk bertempur, dia menjadi makin dongkol. Beng San lalu berkata keras.

“Aku tidak sudi mempelajari ilmu cakar bebek dan cakar ayam!” setelah berkata demikian, dia hendak keluar dari jurang itu, mendaki tebingnya yang licin oleh rumput basah.

Akan tetapi baru naik setinggi semeter lebih, dia merasa tubuhnya bagai ditarik orang dan tanpa dapat ditahan lagi terpelantinglah dia ke bawah. Ia menoleh, tak melihat ada orang di dekatnya kecuali kakek buntung yang masih rebah miring, namun jatuhnya empat lima meter dari tempatnya.

Ia mendaki lagi, tetapi kembali terpelanting dan bahkan lebih keras dari tadi. Tiga empat kali dia terpelanting tanpa mengetahui sebabnya. Kakek itu tertawa mengejek dan makin panas hati Beng San.

Sekarang dia mendaki lagi, akan tetapi mukanya menoleh memandang ke arah kakek itu. Sampai hampir dua meter dia memanjat dan terlihatlah kakek itu menggerakkan tangan kanannya ke arahnya dan... dia tertarik lalu terpelanting ke bawah.

Bukan main marahnya Beng San. Dihampirinya kakek itu dan dibentaknya. “Kau orang tua menghina anak-anak, apa tidak malu? Punya kepandaian hanya untuk mengganggu anak kecil, apa ini bisa dibilang gagah?”

Tiba-tiba kakek itu mengulur tangannya dan tahu-tahu leher Beng San sudah dijepitnya. “Anak bodoh, anak setan. Kalau kau tidak mau membantu kami mengadu ilmu, kau boleh tinggal di sini menemani aku mampus.”

Beng San anak yang cerdik akan tetapi dia pun bandel bukan main. Diancam mati anak ini tidak takut, malah menantang, “Kakek bau, kau mau bikin mampus aku? Hemmmm, mau bunuh boleh bunuh, kalau kalian ini dua orang kakek bau tidak takut mampus, apakah aku pun takut mati? Kau sudah tua tidak mencari jalan terang, tua-tua mau memupuk dosa, rasakan saja nanti di neraka jahanam!”

Phoa Ti tercengang dan cengkeramannya pada leher anak itu mengendur. Dua matanya terbelalak kaget dan heran. “Apa? Kau anak masih begini kecil tidak takut mati? Hemmm, agaknya lebih banyak kesengsaraan yang kau derita dari pada kesenangan.”

“Senang apa? Hidupku hanya menjadi permainan orang, malah sekarang menjadi korban kegilaan dua orang kakek yang sudah mau mati,” jawab Beng San.

Tiba-tiba Phoa Ti tertawa bergelak, suara ketawanya begitu keras sampai bergema di atas jurang.

“He, orang she Phoa. Kau malah tertawa-tawa dan tidak cepat-cepat mengirim anak itu ke sini memamerkan ilmu cakar bebekmu, apa sudah miring otakmu?”
“Ha-ha-ha, The Bok Nam. Anak ini sama sekali tidak tolol atau gila, malah dia lebih gila dari pada yang gila. Anak yang aneh sekali, dan kau tidak ada sepersepuluh anak ini… he-he-he-he!”

Beng San hanya melongo menyaksikan kelakuan yang aneh itu dan lebih lagi keherannya ketika ia melihat kakek buntung itu tiba-tiba menangis! Di dasar hati Beng San terpendam sifat welas asih yang amat besar, yang dulu dihidupkan oleh pelajaran-pelajaran di dalam kelenteng oleh para pendeta Buddha. Sekarang melihat kakek itu menangis, tanpa terasa lagi matanya menjadi merah dan dia menyentuh lengan yang tinggal sebelah itu.

“Orang tua, kenapa kau menangis sedih? Apa kau takut mati?”
“Sudah berani hidup kenapa takut mati? Yang kutakuti bukan matinya, akan tetapi… ahhh, di seberang kematian yang penuh rahasia...”

Anak sekecil Beng San, mana tahu akan segala perasaan seperti ini? Dia hanya dapat merasa bahwa kakek ini benar-benar amat gelisah dan berduka. Makin tebal rasa kasihan di hatinya.

“Kakek, apa yang dapat kulakukan untuk menolongmu? Katakanlah, barangkali aku dapat menolong...”

Akan tetapi Phoa Ti masih menangis terus. Beng San sudah berlutut sambil menghibur. Tiba-tiba kakek itu menghentikan tangisnya dan wajahnya memperlihatkan harapan besar.

“Anak baik, kau bisa menolongku! Yang membuat aku takut menghadapi kematian adalah The Bok Nam. Dia juga terluka dan mau mati. Aku tidak ada muka bertemu dengan dia di seberang kematian kalau aku belum bisa mengalahkannya. Maka kau tolonglah aku, Nak, tolonglah supaya aku bisa menang dalam pertarungan ini dan mendapat muka terang.”

Beng San terheran-heran. Akan tetapi melihat sinar mata yang penuh permohonan itu dia tidak tega menolak, “Baiklah akan kucoba. Tapi bagaimana caranya?”

Seketika itu kakek itu bangkit semangatnya. Biar pun dia sudah tidak dapat bangun lagi, namun tangan kanannya membuat gerakan-gerakan penuh gairah.

“Kau perhatikan baik-baik. Sekarang aku akan menurunkan tiga jurus lihai dari ilmu silatku Khong-ji-ciang. Lihat ini, dua buah jariku ini adalah gerakan-gerakan kaki yang harus kau lakukan dalam jurus pertama.”

Kakek itu lalu menekuk tiga jari tangannya dan mendirikan jari telunjuk dan tengah seperti sepasang kaki. Kedua jari itu, laksana sepasang kaki bergerak-gerak maju mundur secara teratur sekali.

“Nah, lebih dulu kau lakukan gerakan kaki ini, jurus pertama yang disebut jurus Khong-ji Khai-bun (Hawa Kosong Membuka Pintu).”

Karena bersungguh-sungguh hendak menolong kakek ini, Beng San lalu memperhatikan dengan seksama, kemudian dia berdiri dan meniru gerakan-gerakan itu. Mula-mula tentu saja kaku dan keliru, akan tetapi dengan tekun dia mempelajari dengan petunjuk kakek itu.

Kemudian, setelah gerakan kakinya mulai benar, dia diberi tahu tentang gerakan tangan dan tubuhnya. Kakek itu nampak bersemangat sekali, berkali-kali memuji, “Tulang bersih, bakat-bakat baik...”

Pujian ini memperbesar semangat Beng San dan membuat kakek itu tak mengenal lelah. Setelah dapat melakukan jurus pertama dengan baik, dia mendapat petunjuk tentang cara bernapas dalam melakukan jurus ini dan cara menyimpan hawa dalam tubuh.

Kemudian, dia diberi pelajaran jurus kedua yang disebut Khong-ji Twi-san (Hawa Kosong Mendorong Bukit). Jurus ketiga disebut Khong-ji Lo-hai (Hawa Kosong Mengacau Lautan). Untuk mempelajari tiga jurus ini dengan baik mereka telah berlatih sehari penuh.

“Phoa Ti, mana jago mudamu?” berkali-kali suara di seberang lain bertanya.
“Orang she Tek, ajalmu sudah dekat. Tunggulah sampai besok pagi, pasti kau beres oleh tiga jurusku dari Khong-ji-ciang.”

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Beng San sudah diberi makan oleh Phoa Ti. Apa makannya? Hanya tiga helai daun muda! Akan tetapi anehnya, begitu makan daun-daun itu, Beng San merasa perutnya langsung kenyang dan tenaganya penuh, membuat dia semakin kagum. Ternyata kakek ini membawa bekal banyak daun semacam ini.

“Anak baik, sekarang kau pergilah ke seberang sana dan kau boleh perlihatkan tiga jurus penyerangan ini. Jika dia tidak mampu memecahkannya satu saja dari yang tiga jurus ini, berarti dia kalah.”

Beng San mengangguk dan hendak memanjat tebing. Akan tetapi tiba-tiba saja kakek itu memegang lengannya dan berkata.

“Terlalu lambat... terlalu lambat... bersiaplah!” sekali tangannya mendorong tubuh Beng San melayang melewati jalan kecil dan meluncur ke dalam jurang di sebelah kiri.
“The Bok Nam, terimalah kedatangan penguji kita.”

Ketika Beng San merasa betapa tubuhnya ditahan dua buah tangan, dia mulai merasakan tubuhnya ringan dan enak. Rasa panas di tubuhnya yang selalu mengganggunya selama ini agak berkurang. Maka dia menjadi gembira dan begitu dia dilepaskan dan berdiri di depan kakek tinggi besar yang duduk bersimpuh itu, dia berkata.
“Kakek yang baik, apa betul kata kakek Phoa Ti itu bahwa kau sudah hampir tewas?”

Kakek tinggi besar yang suaranya melengking itu mendelikkan matanya dan membentak, “Kalau betul begitu, bukan aku sendiri yang mati, dia pun sudah hampir mati!”

“Kau betul, karena itu aku hendak mengajukan sebuah usul padamu?”
“Hemmm, apa maksudmu?”
“Kalau kalian berdua sudah mendekati mati, kenapa tidak melakukan perbuatan baik yang terakhir? Kakek Phoa Ti itu menghendaki supaya kau mengaku kalah. Lakukanlah itu, kau mengalah saja, mengaku kalah dan membiarkan aku keluar dan pergi dari sini. Bukankah dengan begitu sedikit banyak kau telah meringankan dosamu?”

Memang aneh mendengar seorang anak berusia sepuluh tahun bicara seperti ini. Akan tetapi tidak aneh lagi kalau diketahui bahwa dia besar di dalam kelenteng, dari usia lima sampai sembilan tahun.

Tentu saja kakek The Bok Nam yang tak mengetahui asal usul anak ini menjadi melongo mendengar ucapan ini. Namun hanya sebentar dia tertegun, lalu dia tertawa melengking dan tahu-tahu dia telah mencengkeram baju Beng San di bagian dada.

“Apa katamu? Jangan mencoba untuk membujuk dan menipuku. Aku masih belum mau mati sebelum menundukkan kakek tua bangka she Phoa itu! Hayo cepat kau keluarkan tiga jurus ilmu cakar bebek itu, hendak kulihat bagaimana buruknya!”

Mendongkol juga hati Beng San. Oleh karena kakek tinggi besar ini memperlihatkan sikap kasar, berbeda dengan Phoa Ti yang menangis ketika minta bantuannya, sekaligus dia lalu berpihak kepada kakek Phoa Ti.

Dengan penuh semangat dia lalu mengeluarkan jurus-jurus itu satu demi satu dengan gerakan sebaik mungkin. Anehnya, kali ini tiap kali bergerak dia merasa dadanya tidak begitu tertekan lagi oleh gangguan hawa panas di tubuhnya yang timbul setelah dahulu dia melatih diri selama tiga bulan dengan ilmu silat yang dia pelajari dari Hek-hwa Kui-bo. Maka dia menjadi makin bersemangat dan melanjutkan tiga jurus itu sampai habis.

Setelah selesai mainkan tiga jurus yang dia latih sehari semalam itu, dia lalu berkata dengan wajah puas karena melihat muka The Bok Nam nampak kaget dan kagum.

“Ha, mana bisa kau memecahkan tiga jurus serangan lihai dari kakek Phoa Ti. Sudahlah, lebih baik mengaku kalah.”

Perlu diketahui bahwa gerakan tiga jurus ini memang hebat. Dan anehnya, ketika mainkan tiga jurus ilmu silat ini, Beng San hanya menggunakan sebelah tangan saja, yaitu tangan kanan sedangkan tangan kirinya dia selipkan di antara tali pinggangnya. Hal ini adalah karena yang mengajarkan ilmu ini hanya mempunyai sebelah tangan kanan. Karena itu, ketika kemarin melatih ilmu silat ini Beng San selalu salah gerak dan canggung karena tidak boleh menggunakan tangan kirinya.

Akan tetapi Phoa Ti yang memberi nasehat supaya dia menyelipkan tangan kirinya di ikat pinggangnya supaya tidak menjadi pengganggu kesempurnaan gerakannya. Justru tidak adanya tangan kiri inilah yang menjadi inti kelihaian ilmu silat Phoa Ti, karena orang atau lawan dibikin bingung oleh tangan kanan yang bergerak seperti dua tangan, kadang kala seperti tangan kanan akan tetapi ada kalanya menggantikan kedudukan tangan kiri. Dan ini pula mengapa diberi nama Khong-ji-ciang (ilmu silat hawa kosong), karena memang di dalam ‘kekosongan’ tangan kiri itulah terletak kelihaiannya.

Sampai beberapa lamanya The Bok Nam tak berkata apa-apa. Kedua matanya mendelik tanpa berkedip tetapi otaknya diputar-putar. Dia terus mencari kelemahan dalam tiga jurus tadi. Akhirnya dia tertawa melengking.

“Ho-ho-ho, tua bangka Phoa Ti. Segala ilmu cakar bebek ini mana bisa digunakan untuk menggertakku? Mudah cara memecahkannya. Nah, kau lihat baik-baik bocah tolol. Jurus pertama kuhancurkan dengan gerakan ini!”

Kakek itu menggerakkan tangannya, tepat seperti menghadapi gerak serangan pertama dari Khong-ji-ciang, malah sambil membalas dengan gerak memunahkan dan mematikan.

“Kau mengerti?”

Tentu saja Beng San tidak mengerti! Ia menggeleng dan matanya yang lebar itu menjadi makin lebar.

“Ahh, memang kau tolol. Hayo perhatikan baik-baik dan ikuti kedua tanganku.”
“Mana mungkin bisa sambil duduk bersimpuh menghadapi serangan orang hanya dengan menggerak-gerakkan kedua tangan?” Beng San membantah.
“Tolol!”
“Tolol, tolol, kau memaki siapa? Enak saja memaki anak orang!” Beng San marah-marah.

Mendadak kakek itu mencengkeram pundaknya. Beng San merasa seakan-akan tulang pundaknya hendak remuk dan sakit menembus sampai ke jantungnya. Akan tetapi dia mempertahankan dan berkata mengejek.

“Sekali kau bunuh aku, berarti kau kalah oleh kakek Phoa Ti dan karena kalah maka kau bunuh aku.”

Cengkeraman itu dilepas lagi. “Memang kau tolol. Tentu saja disertai gerakan kedua kaki. Nah, lihat garis-garis ini!”

Dengan telunjuknya The Bok Nam menggurat-gurat tanah sambil menerangkan letak dua kaki dan gerakan-gerakannya dalam jurus itu.

“Jurus pertama untuk melawan jurus pertama dari ilmu silat cakar bebek ini namanya...”
“Jurus cakar ayam kurus!” sambung Beng San mengejek.
“Namanya jurus Nam-hong Jip-te (Angin Selatan Masuk Bumi),” kata The Bok Nam tanpa menghiraukan ejekan itu. “Hayo kau pelajari baik-baik dan nanti perlihatkan kepada kakek mau mampus she Phoa, suruh dia memecahkannya kembali.”

Demikianlah, terpaksa sekali dan dengan hati mendongkol Beng San mulai mempelajari jurus Nam-hong Jip-te itu. Setelah hafal betul, dia lalu disuruh mempelajari dan melatih gerakan jurus kedua yang diberi nama Tung-hong Tong-hwa (Angin Timur Menggetarkan Bunga) dan jurus ketiga See-hong Cam-liong (Angin Barat Membunuh Naga).

Satu hal yang membuat Beng San merasa gembira dan bersemangat adalah betapa gerakan-gerakan ini pun membuat rasa sakit di dadanya berkurang banyak dan kini dia mendapat kenyataan betapa makin lama serasa makin mudah melatih dengan jurus-jurus yang sukar ini. Seperti halnya Phoa Ti, kakek tinggi besar ini pun kagum sekali melihat cara Beng San melatih diri.

“Bocah tolol, tulangmu bersih, bakatmu besar, sayang otakmu tolol!”

Tiga macam jurus yang memecahkan sekaligus membalas tiga jurus serangan Phoa Ti ini juga makan waktu sehari penuh dan ditambah setengah malam barulah Beng San dapat menggerakkan dengan baik.

“Aku lapar!”

Menjelang tengah malam dia berhenti dan merebahkan diri di atas tanah, perutnya perih dan lapar. Dia tidak minta makanan, seperti biasa dia tidak sudi minta-minta. Celakanya, tidak seperti kakek Phoa Ti, kakek tinggi besar ini diam saja.

Juga Beng San tidak melihat kakek ini makan apa-apa, maka dia pun diam saja menahan lapar.....
Pada keesokan harinya, yaitu pada hari ketiga, kembali dia dilemparkan keluar oleh The Bok Nam dan diterima oleh kakek Phoa Ti.

“Bagaimana....?” Kakek kurus itu bertanya penuh gairah. “Bisakah dia memecahkan tiga seranganku?”

Beng San hanya mengangguk, tubuhnya lemas.

“Kenapa kau?”
“Lapar...,” jawab Beng San menelan ludahnya.
“Manusia tidak punya jantung si tua bangka itu!” Phoa Ti memaki. “Masa menyuruh anak berlatih silat tanpa diberi makan?”

“Dia sendiri pun tidak makan,” Beng San membela, lalu menerima beberapa helai daun dan memakannya. Setelah kenyang dia lalu berkata. “Kakek The Bok Nam itu melawan tiga jurusmu dengan tiga jurus pula yang sekaligus memecahkan jurusmu dan berbalik menjadi serangan tiga kali.”

Phoa Ti mengerutkan kening. “Begitu cepat?” ia menggeleng-geleng kepala tidak percaya. “Coba kau mainkan jurus-kurusnya.”

Beng San lalu menggerakkan tiga jurus yang baru dia pelajari itu dengan gerakan-gerakan yang sudah cepat dan baik sekali, malah tiap kali dia melakukan gerakan-gerakan itu dia merasa tubuhnya ringan dan enak.

Sesudah dia selesai bersilat dan duduk di atas rumput, dia melihat Phoa Ti berkali-kali menarik napas panjang dan menggeleng-geleng kepalanya.

“Hebat..., hebat tua bangka itu...”

Sampai matahari sudah naik tinggi, Phoa Ti masih duduk termenung saja dan berkali-kali menarik napas panjang.

“Bagaimanakah? Apakah kau tidak bisa memecahkan tiga serangannya?” Beng San yang merasa kasihan bertanya.

Melihat keadaan kakek ini seperti terdesak, timbul keinginannya hendak membantu, maka dia juga mencurahkan pikiran dan ingatannya, menghafal lagi enam macam jurus yang dia pelajari dari dua orang kakek itu. Namun, karena dia tidak mempunyai kepandaian dasar, tentu saja dia tidak melihat bagaimana tiga jurus kakek Phoa Ti itu sampai dikalahkan oleh tiga jurus kakek The Bok Nam.

Menjelang senja, setelah berkali-kali terdengar pertanyaan penuh ejekan, barulah Phoa Ti sadar dari lamunannya dan nampak harapan bersinar pada mukanya.

“Dapat…! Dapat olehku sekarang...!” katanya girang.

Cepat-cepat dia memberi pelajaran tiga jurus ilmu silat lagi kepada Beng San yang sudah siap menanti.

Bukan main girangnya hati Beng San dan kagumnya hati Phoa Ti ketika kali ini, hanya dalam waktu setengah malam saja Beng San sudah dapat mainkan tiga jurus ini dengan baik! Anak ini ternyata memang memiliki bakat luar biasa sehingga kaki tangannya lincah dan tepat sekali melakukan segala gerakan ilmu silat.

“Besok pagi-pagi kau sudah boleh mendatangi kakek The,” kata Phoa Ti girang.
“Nanti dulu, kakek Phoa Ti yang baik. Aku sudah berjanji membantumu, dan aku sudah menuruti segala kehendak kalian dua orang kekek tua. Akan tetapi, sudah sepatutnya kalau aku mendengar pula apa sebabnya maka kalian bermusuhan, bahkan di tepi lubang kubur masih bertanding ilmu?”

Kakek itu menarik napas panjang. “Lekas kau berlutut, hanya sebagai muridku kau boleh mendengar ini. Lekas sebelum berubah lagi pendirianku.”

Karena merasa suka kepada kakek ini, Beng San tidak keberatan untuk menjadi murid, maka dia lalu memberi hormat. “Teecu Beng San, mulai saat ini menjadi murid suhu Phoa Ti,” katanya.

Agaknya kakek itu tidak begitu menaruh perhatian, buktinya dia tidak heran mendengar anak ini tidak menyebutkan she (nama keturunan). Lalu dia menceritakan keadaannya dan keadaan The Bok Nam yang sampai mati tidak mau mengalah terhadapnya itu.

“Aku dan kakek The Bok Nam itu sebelumnya dahulu adalah dua sekawan yang sangat karib dan kami berdua di dunia kang-ouw pada dua puluhan tahun yang lalu terkenal dengan julukan Thian-te Siang-hiap (Sepasang Pendekar Langit dan Bumi),” demikian kakek Phoa Ti mulai dengan ceritanya. Lalu ia melanjutkan ceritanya seperti berikut….

Dua orang sekawan ini memiliki kepandaian tinggi sekali dalam ilmu silat. The Bok Nam adalah seorang tokoh dari selatan, sudah mempelajari segala macam ilmu silat selatan, sebaliknya Phoa Ti adalah ahli silat dari utara yang juga sudah mempelajari seluruh ilmu silat utara.

Setelah keduanya bertemu dan menjadi sahabat yang amat karib, keduanya lalu bertukar ilmu silat, saling mengajar sehingga keduanya akhirnya menjadi sepasang jago silat yang jarang tandingannya di dunia kang-ouw. Karena kedua orang ini tukar menukar ilmu silat, maka dalam hal kepandaian mereka dapat dikatakan setingkat.

Pada masa mereka masih jaya, di dunia kang-ouw tak ada orang yang berani menentang Thian-te Siang-hiap. Tentu saja ada kecualinya, yaitu tokoh-tokoh besar ilmu silat yang jarang muncul di dunia kang-ouw yang pada waktu itu sampai sekarang di kenal sebagai empat datuk persilatan dari barat, timur, utara dan selatan.

Mereka ini adalah Hek-hwa Kui-bo sebagai siluman dari daerah selatan. Dari utara adalah Siauw-ong-kwi (Setan Raja Kecil) yang sangat jarang dilihat manusia lain. Jagoan nomor satu dari timur adalah Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang, yang seperti julukannya Tai-lek-sin (Malaikat Geledek) merupakan tokoh yang ditakuti. Ada pun orang keempat sebagai raja tokoh barat adalah Song-bun-kwi (Setan Berkabung) yang seperti juga yang lain kecuali Swi Lek Hosiang, tidak diketahui nama aslinya.

Empat orang ini semenjak puluhan tahun tidak pernah memasuki dunia ramai. Akan tetapi harus diakui bahwa di antara tokoh-tokoh besar persilatan, belum pernah ada yang berani mengganggu mereka dan mereka selalu masih dianggap sebagai empat tokoh besar yang tak terlawan.

Barulah pada dua puluh tahun yang lalu, empat orang tokoh besar ini keluar dari tempat pertapaan atau tempat persembunyian mereka untuk memperebutkan sebuah kitab yang berisi pelajaran ilmu pedang peninggalan dari guru besar Bu Pun Su (Tiada Kepandaian) Lu Kwan Cu, si pendekar sakti pada jaman lima ratus tahun yang lalu.

Pendekar sakti Bu Pun Su ini adalah pewaris asli dari ilmu silat yang tiada bandingannya, yaitu kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Pada lima ratus tahun yang lalu, pendekar sakti ini sebelum meninggal dunia sudah meninggalkan sebuah kitab ilmu pedang yang bernama Im-yang Sin-kiam-sut. Kitab ini tak pernah terjatuh ke tangan orang lain karena disimpan di dalam sebuah goa dalam bukit yang tersembunyi.

Setelah bukit itu longsor pada dua puluhan tahun yang lalu, barulah batu-batu besar penutup goa itu ikut runtuh ke bawah dan tampak goanya. Seorang penggembala domba memasuki goa itu dan mendapatkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng tadi tanpa mengerti apa isi kitab dan apa pula gunanya.

Akhirnya, secara kebetulan sekali seorang jago silat dari golongan penjahat mendapatkan kitab ini. Kepandaiannya masih terlampau rendah untuk dapat mempelajari ilmu pedang sakti ini, akan tetapi Lui Kok, jago silat yang sombong ini, membual dan memamerkan penemuannya itu di dunia kang-ouw. Hal ini sama dengan mencari penyakit sendiri bagi Lui Kok.

Mulailah para jago silat memperebutkan kitab ini. Hal ini tidaklah aneh. Siapakah di antara para jago silat yang tidak pernah mendengar nama besar pendekar sakti Bu Pun Su Lu Kwan Cu?

Bahkan empat tokoh besar dari timur, barat, utara dan selatan itu pun sampai keluar dari tempat persembunyian mereka ketika mereka mendengar bahwa sudah ditemukan kitab pelajaran ilmu pedang dari Bu Pun Su. Padahal urusan besar apa pun juga yang terjadi di dunia kang-ouw, tak mungkin akan menarik hati empat tokoh besar itu.

Akan tetapi kedatangan empat besar ini terlambat. Kitab di tangan Lui Kok telah dirampas orang lain dan Lui Kok sudah terbunuh. Tidak seorang pun tahu siapa pembunuh Lui Kok dan siapa yang merampas kitab itu. Dengan kecewa empat besar itu kembali ke tempat masing-masing, tentu saja selama itu mereka selalu mendengar-dengar kalau ada orang muncul dengan kitab yang ingin mereka miliki itu.

Siapakah pembunuh Lui Kok? Bukan lain orang adalah Thian-te Siang-hiap, dua sekawan itulah. Kitab itu mereka rampas setelah Lui Kok mereka bunuh. Kebetulan sekali kitab itu terdiri dari dua jilid, yaitu bagian Im-sin-kiam dan bagian Yang-sin-kiam.

Karena tahu bahwa empat besar yang sangat mereka takuti itu juga sedang mencari-cari kitab peninggalan Bu Pun Su, mereka lalu membagi kitab itu menjadi dua bagian, seorang memegang sejilid. Dan selama ini mereka diam saja, tak pernah mengeluarkan kitab-kitab itu.

Memang sudah menjadi watak setiap orang manusia di dunia ini, selalu merasa berat dan sayang pada diri sendiri, tidak mau kalah dan mengharapkan bahwa dirinya akan menjadi orang yang paling pandai, paling mulia, dan sebagainya.

Demikian pula watak ini juga dimiliki oleh The Bok Nam dan Phoa Ti. Diam diam mereka mempelajari isi kitab, The Bok Nam mempelajari bagian yang disimpannya yaitu bagian Yang-sin-kiam, sedangkan Phoa Ti mempelajari Im-sin-kiam.

Sampai bertahun-tahun mereka mempelajari kitab masing-masing, akan tetapi alangkah kecewa mereka bahwa di antara dua kitab itu ada hubungannya yang amat dekat. Hanya mengetahui Yang-sin-kiam saja tanpa mempelajari Im-sin-kiam, tidak akan dapat mereka memperoleh inti sari dari pelajaran Im-yang Sin-kiam-sut yang hebat itu.

Memang betul bahwa dari kitab-kitab itu masing-masing telah memperoleh kemajuan yang pesat sekali dalam ilmu silat mereka. Akan tetapi, kepandaian Im-yang Sin-kiam sut yang mereka inginkan itu tidak dapat mereka pelajari tanpa kitab yang satu lagi. Demikianlah, saat itu mulai timbul persaingan di antara mereka yang tadinya menjadi sahabat karib. 

Hal ini pun sudah menjadi watak manusia. Banyak sudah peristiwa dalam hidup terjadi, di mana dua orang yang tadinya bersahabat karib, kemudian persahabatan mereka dapat menjadi retak oleh karena perebutan harta, kedudukan, kepandaian mau pun cinta kasih. Padahal semua itu hanyalah merupakan akibat, akibat dari sifat ingin senang sendiri dan ingin menang sendiri. Pendeknya sifat egoistis yang menempel pada diri setiap manusia.

Mula-mula Phoa Ti yang mendatangi sahabatnya dan minta pinjam kitab. Akan tetapi The Bok Nam tidak mau memberikan, hanya mau kalau kitab di tangan Phoa Ti itu diberikan dulu kepadanya untuk dipinjam, baru sesudah itu dia akan meminjamkan kitabnya.

Phoa Ti mengusulkan agar kitab itu saling ditukar saja supaya keduanya bisa mempelajari bersama. Akan tetapi The Bok Nam yang tidak ingin dikalahkan oleh sahabatnya itu tidak setuju. Akhirnya terjadilah pertengkaran dan bahkan timbul persetujuan di antara mereka bahwa siapa yang lebih tinggi ilmunya, dialah yang berhak membaca kedua kitab lebih dulu. Mulai saat itulah mereka sering kali mengadu ilmu, sampai berhari-hari.

Akan tetapi tingkat mereka memang sama persis. Walau pun Phoa Ti sudah mempelajari Im-sin-kiam, akan tetapi The Bok Nam juga sudah mempelajari Yang-sin-kiam sehingga kepandaian mereka sama-sama memperoleh kemajuan yang hebat.

Hal ini terjadi sampai dua puluh tahun, sampai mereka sudah menjadi kakek-kakek tetap saja tidak ada yang mau mengalah. Pada hari itu, mereka kembali mengadu kepandaian di atas jalan kecil yang diapit-apit oleh dua jurang.

Akibatnya, saking hebatnya pertempuran mereka, keduanya terluka dan roboh terguling ke dalam jurang, seorang di kanan seorang di kiri. Akhirnya Beng San datang dan anak ini kemudian mereka pergunakan untuk melanjutkan ‘adu kepandaian’ itu.

“Demikianlah, Beng San, muridku,” Phoa Ti menutup ceritanya kepada muridnya yang baru dia angkat, yaitu Beng San yang mendengarkan dengan penuh perhatian.
“Baru sekarang aku merasa menyesal sekali mengapa sampai terjadi persaingan seperti ini. The Bok Nam adalah seorang sahabat yang baik. Sayang, dia membiarkan keinginan timbul di hatinya, keinginan untuk menjadi orang yang terpandai.”
“Suhu (guru), apakah selama ini tokoh-tokoh besar dari empat penjuru itu tidak pernah datang untuk merampas kitab?” tanya Beng San.
“Tidak, kami sangat rapat menyimpan rahasia ini, karena kami tahu betul bahwa kalau sampai empat tokoh besar itu muncul mengganggu kami, kami akan celaka. Hanya kalau kami atau seorang di antara kami sudah dapat mempelajari Im-Yang Sin-kiam-sut, kiranya kami baru akan kuat menghadapi mereka.”

Beng San teringat akan Hek-hwa Kui-bo, maka dia lalu berkata, “Suhu, belum lama ini teecu (murid) bertemu dengan Hek-hwa Kui-bo dan....”

Tiba-tiba pucatlah muka Phoa Ti mendengar ini. Dengan tangannya yang hanya sebelah itu dia memegang pundak Beng San dengan erat, lalu katanya,
“Apa...? Dia...? Celaka... tentu dia sudah mendengar akan hal kitab itu. Kalau tidak, tak mungkin dia muncul... coba kau ceritakan tentang pertemuan itu.”

Dengan singkat Beng San lalu menceritakan semua pengalamannya semenjak ia bekerja di dalam kelenteng sampai dia bertemu dengan berbagai pengalaman pahit itu. Gurunya mendengarkan dengan hati tertarik, kadang kala sambil menggeleng kepala. Kemudian dia berkata sambil menarik napas panjang.

“Tidak salah lagi, tentu setelah aku dan The Bok Nam mengeluarkan ilmu silat Im-sin-kiam dan Yang-sin-kiam untuk mengadu kepandaian, kuntilanak itu tentu telah mendengar dan menduga bahwa kami berdua yang menyimpan kitab Bu Pun Su thai-sucouw. Lekas, hari sudah akan pagi. Kau harus usahakan betul supaya jurus-jurus yang kau pelajari itu dapat menangkan The Bok Nam agar dia suka memberikan kitab Yang-sin-kiam itu kepadaku. Lekas jangan sampai terlambat. Kalau seorang di antara empat setan itu muncul, maka celakalah.....”

Demikianlah, Beng San melanjutkan tugasnya sebagai penguji kedua orang kakek itu.

The Bok Nam benar-benar hebat. Semua jurus yang dikeluarkan oleh Phoa Ti dia dapat memecahkannya, padahal jurus dari ilmu silat Khong-ji-ciang itu adalah jurus-jurus yang diciptakan oleh Phoa Ti berdasarkan kitab Im-sin-kiam.

Sebaliknya, Phoa Ti juga mampu memecahkan semua jurus yang dikeluarkan The Bok Nam, jurus-jurus ilmu silat Pat-hong-ciang yang inti sarinya diambil oleh orang she The itu dari kitabnya, Yang-sin-kiam.

Beng San adalah seorang anak yang cerdik bukan main. Sampai sepuluh hari dia menjadi penguji dan selama sepuluh hari itu dia sudah melatih diri dengan lima belas jurus dari Khong-ji-ciang serta lima belas jurus dari Pat-hong-ciang! Dia melihat betapa makin hari kedua orang kakek itu makin lemah karena luka mereka dalam pertempuran itu memang hebat sekali. Apa lagi sekarang dalam memberikan petunjuk kepada Beng San, mereka harus mengerahkan tenaga Iweekang.

Yang membuat senang hati Beng San adalah karena untuk menjalankan semua pelajaran jurus-jurus yang harus dia bawa ke sana ke mari ini mengandung hawa-hawa murni dari Yang-kang dan Im-kang, maka tentu saja kedua macam hawa yang memenuhi dadanya itu makin kuat dan makin dapat diatur. Gerakan-gerakan dalam melakukan jurus-jurus ilmu silat itu telah membuka jalan darahnya sehingga makin lama dia merasa tubuhnya makin enak dan kuat, bahkan kekurangan tidur dan makan tidak mengganggunya sama sekali.

Pada hari kesebelas dia melihat suhu-nya sudah amat lemah, sampai jatuh pingsan ketika memberi petunjuk kepadanya. Beng San bingung. Ia tidak suka kepada Phoa Ti seperti juga ketidak sukaannya kepada The Bok Nam. Akan tetapi dia merasa kasihan kepada Phoa Ti yang sudah mengangkat dia sebagai murid, karena memang sikap Phoa Ti lebih baik dan lebih lemah lembut dari pada sikap The Bok Nam.

Di samping tubuh suhu-nya yang masih pingsan itu, Beng San duduk termenung, memutar otaknya. Tanpa sengaja dia mengingat-ingat kembali semua jurus yang sudah pernah dia pelajari dari kedua pihak dan tiba-tiba dia melihat persamaan-persamaan tersembunyi di dalam jurus-jurus kedua pihak itu. Jika dipandang sepintas lalu dan dimainkan, jurus-jurus ilmu silat itu nampaknya seperti saling bertentangan, namun sebetulnya dapat disatukan dan dapat disesuaikan.

Phoa Ti siuman kembali menjelang fajar. Beng San segera mengemukakan pendapatnya. “Suhu, malam tadi teecu teringat akan persamaan-persamaan yang aneh antara beberapa jurus ilmu silat suhu dan kakek The itu. Contohnya jurus yang kemarin itu, betapa sama gerakannya, hanya dibalik saja. Jika jurus suhu menggunakan tangan kanan, adalah jurus kakek itu menggunakan tangan kiri. Kalau dalam jurus suhu harus menyedot napas pada waktu memukul, dalam jurus kakek itu sebaliknya, harus meniupkan napas. Bukankah ada persamaannya yang tepat, hanya terbalik saja?”

Sejenak kakek yang sudah payah keadaannya itu termenung. Tiba-tiba dia mengeluarkan suara seperti jeritan dan... dia memuntahkan darah segar dari mulut!

Beng San cepat-cepat mengurut punggung kakek itu. Setelah agak reda napasnya, kakek itu berkata lemah, “Aduh... kau hebat... aduh, aku bodoh sekali, Beng San. Kau benar... kau benar... itulah sebabnya mengapa sekaligus harus mempelajari kedua kitab itu, tidak boleh satu-satu. Bagus...! Sekarang kau pergilah ke sana, gunakan jurus yang kau latih kemarin, hanya sejurus saja, tapi cukup... kau balikkan kedudukan tangan dan tubuh, tapi kakimu kau ubah seperti yang pernah kau pelajari dari Hek-hwa Kui-bo, atau kau bikin kacau sesuka hatimu. He-he-he... hendak kulihat apakah dia masih mampu memecahkan serangan dari jurusnya sendiri yang dibikin rusak...”

“Andai kata dia tidak dapat memecahkan jurus ini, lalu bagaimana suhu?”
“Dia... uhhh... uhhh... dia harus menyerahkan kitabnya.....” sukar sekali bagi Phoa Ti untuk mengeluarkan kata-kata karena napasnya amat sesak. “Lekaslah kau pergi...”

Kakek Phoa Ti hendak melontarkan tubuh Beng San ke jurang sebelah sana seperti yang sudah-sudah, akan tetapi tenaganya sudah habis dan dia hanya dapat memberi isyarat dengan tangannya supaya Beng San memanjat sendiri ke tempat kakek The Bok Nam.

Beng San lalu memanjat tebing jurang dan dengan girang dia mendapat kenyataan bahwa tubuhnya ringan dan mudah saja baginya memanjat tebing itu. Ketika dia tiba di atas, di jalan kecil yang dulu dilaluinya, dia telah bebas.

Apa sukarnya kalau dia melarikan diri dari situ? Baik kakek Phoa Ti mau pun kakek The Bok Nam takkan dapat lagi menghalanginya. Kedua orang tua itu sudah terlampau lemah karena luka-luka mereka yang amat parah.

Akan tetapi aneh, sekali ini tak ada keinginan di hati Beng San untuk melarikan diri. Malah dia ingin sekali melanjutkan tugasnya sebagai penguji, karena dia mulai merasa tertarik dengan ilmu silat. Apa lagi karena hasrat hatinya telah dibangkitkan oleh cerita suhu-nya tentang kitab Im-yang Sin-kiam-sut yang kini diperebutkan oleh semua ahli silat, termasuk empat besar itu.

Ketika menuruni jurang di mana The Bok Nam berada, dia melihat kakek ini keadaannya tidak lebih baik dari pada kakek Phoa Ti. Kakek itu menyambut kedatangan Beng San dengan mata terbelalak, lalu dia memaksa tertawa.

“Ha-ha-ha, tua bangka Phoa Ti sudah tak bertenaga lagi untuk melemparmu ke sini, Beng San?” biar pun mulutnya tertawa, namun diam-diam dia bersyukur juga.

Andai kata kakek Phoa Ti masih sanggup melemparkan Beng San, kiranya dia sendiri yang takkan kuat menerima tubuh itu. Kemarin saja ketika dia menerima Beng San, kedua tangannya terasa pegal dan sakit-sakit karena terlampau banyak dia memakai tenaganya yang sebenarnya sudah hampir habis.

“Bukan dia tidak bertenaga,” kata Beng San membela suhu-nya, “Hanya aku sendiri yang mau memanjat, tak suka aku dilempar-lemparkan ke sana ke mari seperti bola.”

Kembali The Bok Nam tertawa dan dari sikap ini saja Beng San bisa mengetahui bahwa keadaan suhu-nya lebih buruk dari pada kakek tinggi besar ini.

“Nah, ilmu cakar bebek apa lagi yang kau bawa sekali ini? Lebih baik Phoa Ti mengaku kalah dan memberikan kitabnya kepadaku.”

Pada saat itu terdengar suara Phoa Ti, suara yang parau sekali seperti babi mengorok, “The Bok Nam, seorang gagah sejati takkan menarik kembali janjinya. Kalau engkau tidak bisa memecahkan jurusku, kau harus memberikan kitab itu...” Tiba-tiba suara itu berhenti seakan-akan yang bicara dicekik lehernya.

The Bok Nam menjadi pucat. “Celaka,” katanya. “Kakek Phoa Ti diserang....” Tiba-tiba dia mengeluh dan tubuhnya yang tadinya duduk bersimpuh terguling roboh.

Beng San terkejut sekali karena tadi samar-samar dia melihat cahaya putih berkelebat. Sekarang tahu-tahu di situ telah berdiri seorang laki-laki tua bertubuh kecil kurus seperti tengkorak hidup. Orang ini usianya sudah enam puluhan tahun, mukanya pucat bagaikan mayat sedangkan pakaiannya pun putih semua seperti orang sedang berkabung. Orang itu tertawa-tawa seperti orang gendeng.

Beng San benar-benar heran sekali karena dia tadi tidak melihat orang itu melayang masuk, bagaimana tahu-tahu bisa berdiri di situ? Ketika dia melirik ke arah The Bok Nam, kakek tinggi besar ini memandang dengan mata terbelalak kepada mayat hidup itu.

“Song... bun kwi (Setan Berkabung), kau... kau curang... menyerang orang yang terluka...”

Akan tetapi The Bok Nam tak dapat melanjutkan kata-katanya lagi karena tiba-tiba orang tinggi kurus yang bermuka mayat itu sekali bergerak sudah sampai di dekatnya, langsung mengguling-gulingkan tubuh The Bok Nam, dan kedua tangannya mencari-cari.

Sebentar saja tangannya mencari-cari, dia sudah mendapatkan apa yang dicarinya dan mencabut keluar sebuah kitab kecil dari dalam saku baju orang she The yang sudah tak berdaya itu. Semua ini berjalan cepat sekali hingga Beng San hampir tak dapat mengikuti dengan matanya.

Melihat betapa secara kejam dan kurang ajar sekali si muka mayat itu mempermainkan The Bok Nam, timbul kemarahan dalam hati Beng San. Dengan mata berkilat ia melompat maju dan menudingkan telunjuknya ke hidung si muka mayat.

“Menyerang dan merampas barang orang yang sedang sakit, tindakan begitu mana bisa disebut perbuatan gagah? Sungguh tidak tahu malu sekali engkau, Song-bun-kwi!” Sikap dan kata-kata Beng San seperti sikap seorang tua memarahi orang muda, maka tampak lucu sekali.

Akan tetapi Song-bun-kwi terbelalak dan nampak mengerikan sekali. Matanya mendadak hanya kelihatan putihnya saja bagaikan mata iblis! Beng San sampai bergidik ketakutan menyaksikan muka yang bukan seperti muka manusia lagi itu.

Tiba-tiba setan berkabung itu tertawa, disusul suara orang seperti orang menangis dan akhirnya dia benar-benar menangis! Namun hanya sebentar saja. Tangisnya lalu terhenti dan dia berkata kepada Beng San, “Dua puluh tahun lebih tidak mendengar orang memaki dan memarahiku, tidak mendengar orang mencelaku. Ha, anak baik. Orang seperti kau inilah baru patut disebut orang.” Setelah berkata demikian, dia menggerakkan dua kakinya dan melesatlah sinar putih keluar dari jurang itu.

Beng San melongo. Gerakan yang demikian cepat sampai seperti menghilang ini segera mengingatkan dia kepada Hek-hwa Kui-bo. Diam-diam dia bergidik. Mengapa di dunia ini ada orang-orang berkepandaian sehebat itu sampai seperti iblis-iblis saja?

Beng San mendengar The Bok Nam mengeluh. Ketika menengok, dia melihat orang tua itu napasnya empas-empis. Tersentuh perasaan welas asihnya.

Beng San segera berlutut, mengeluarkan daun obat yang sering kali dia dapatkan dari suhu-nya, memeras daun itu dan memasukkannya ke dalam mulut The Bok Nam. Kakek itu nampak heran, akan tetapi makan daun itu dan warna merah menjalar ke pipinya yang sudah pucat. Kemudian dia menghela napas panjang.

“Dua puluh tahun berkukuh tak mau memperlihatkan kepada sahabatku Phoa Ti, dan kini terampas oleh Song-bun-kwi.... Hemmm, ini namanya hukuman bagi si orang yang tidak ingat kepada sahabat baiknya....”

Ia terengah-engah dan dari kedua matanya bercucuran air mata. Baru kali ini Beng San melihat kakek yang keras hati ini menangis dan dia menjadi terharu.

“Orang tua, dua puluh tahun kitab itu berada di tanganmu, tentu sudah kau pelajari semua isinya. Terampas orang lain apa ruginya?”

Tiba-tiba kakek itu tampak bersemangat, matanya bercahaya. “Kau betul... ehhh, Beng San, kau betul... bantu aku duduk... ehh, pukulan Setan Berkabung itu hebat...”

Beng San membantu kakek itu duduk bersila seperti tadi sebelum dia roboh terguling oleh pukulan jarak jauh Song-bun-kwi.

“Lekaslah kau berlutut, kau sekarang menjadi muridku. Kau akan kuwarisi seluruh isi kitab Yang-sin-kiam.”

Karena merasa kasihan kepada kakek ini yang dia tahu dari perasaannya tak akan dapat hidup lebih lama lagi, Beng San lalu berlutut dan menyebut.

“Suhu…!”
“Dengar baik-baik. Yang-sin-kiam hanya terdiri dari delapan belas pokok gerakan yang lalu dapat dipecah menjadi ratusan jurus menurut bakat dan daya cipta orang yang telah mempelajarinya. Nah, kauhafalkan satu demi satu.”
“Nanti dulu, The-suhu. Teecu hendak melihat dulu keadaan Phoa Ti suhu di sana…”

The Bok Nam tercengang. “Kau menjadi muridnya.....? Ahhh, betul sekali sahabatku she Phoa itu. Engkau harus pula mewarisi Im-sin-kiam, begitu baru lengkap sehingga kelak si Setan Berkabung ada tandingannya...”

Setelah mendapat persetujuan kakek itu, Beng San lalu memanjat ke atas untuk melihat kakek Phoa Ti. Akan tetapi dia mendengar suara aneh yang melengking-lengking seperti suara orang menangis. Ketika dia tiba di atas dia melihat dua bayangan berkelebat di atas jalan kecil. Ternyata bahwa Song-bun-kwi sedang bertanding melawan Hek-hwa Kui-bo!

Song-bun-kwi bersenjata sebuah suling yang mengeluarkan suara seperti menangis itu, sedangkan Hek-hwa Kui-bo bersenjata sapu tangan suteranya. Pertempuran itu berjalan seru seperti dua ekor kupu-kupu beterbangan. Meski pun gerakan mereka begitu ringan seperti terbang saja, tapi angin dari pukulan mereka menyambar-nyambar sehingga Beng San tak kuat menahan. Anak ini terguling dan dengan ketakutan dia bersembunyi di balik sebuah batu besar sambil mengintai.

Pertandingan itu berlangsung tidak lama karena keduanya berkelahi sambil berlari-lari dan sebentar saja lenyaplah dari pandangan mata. Hanya suara tangis suling itu lapat-lapat masih terdengar dari jauh.

Setelah suara suling itu lenyap, barulah Beng San berani muncul dan berlari-lari menuruni jurang. Hatinya berdebar penuh kegelisahan ketika dia melihat Phoa Ti telah menggeletak dengan napas senin kemis. Ia cepat menubruk dan menolong, tetapi ternyata keadaan kakek ini sama dengan keadaan The Bok Nam, telah terluka hebat oleh pukulan Hek-hwa Kui-bo.

“Bagaimana, suhu.....?” Beng San berbisik ketika melihat suhu-nya membuka mata.
“Ahhh, celaka... celaka... Kitab Im-sin-kiam dirampas Hek-hwa Kui-bo.....” Phoa Ti berkata lemah sambil meramkan mata, mukanya berduka sekali, “Beng San, nyawaku tidak akan dapat tinggal lebih lama lagi di tubuhku yang rusak dan terluka berat. Lekas kau bersiap, hendak kuturunkan padamu seluruh isi Im-sin-kiam yang terdiri dari delapan belas pokok gerakan...”

Beng San tak mau banyak membantah. Melihat bahwa keadaan Phoa Ti lebih payah, dia cepat-cepat mempelajari ilmu silat pedang yang diturunkan kakek itu kepadanya. Tentu saja dia hanya dapat menghafalnya, tidak dapat melatih secara baik karena tidak ada waktu baginya. Namun dengan mudah dia dapat mempelajari inti sarinya.

Hal ini bukan hanya karena Beng San memang seorang anak yang cerdas, akan tetapi terutama sekali karena dia pernah mempelajari jurus-jurus Khong-ji-ciang yang inti sarinya memang bersumber kepada Im-sin-kiam sehingga mudahlah baginya untuk menghafal pokok-pokok gerakan yang inti sarinya sudah dikenalnya itu.

Betapa pun juga, untuk menghafal delapan belas pokok gerakan itu dengan baik, ia harus mempergunakan waktu setengah bulan. Setelah tamat, keadaan suhu-nya sudah payah sekali.

Sebetulnya Beng San tidak tega meninggalkan suhu-nya ini. Maka setelah tamat, biar pun hatinya ingin sekali pergi ke The Bok Nam untuk menerima warisan Yang-sin-kiam, namun dia tidak mau pergi, melainkan terus menjaga dan merawat suhu-nya.

“Ahh... Puas hatiku... Im-sin-kiam telah kau hafalkan semua... sayang… alangkah baiknya kalau kau pun dapat menghafal Yang-sin-kiam.”
“Suhu, sebetulnya suhu The Bok Nam juga sudah mengangkat teecu sebagai murid dan hendak menurunkan Yang-sin-kiam, akan tetapi... teecu tidak tega meninggalkan suhu seorang diri...”
“Bagus! Anak bodoh, mengapa tidak bilang dari kemarin? Hayo kau lekas pergi ke sana. Lekas...!” Beng San tidak dapat membantah lagi dan ketika dia dengan gerakan ringan memanjat tebing, dia mendengar di bawah suhu-nya itu tertawa-tawa gembira.

The Bok Nam menerima kedatangan Beng San dengan merengut. “Hemmm, murid apa kau ini? Kenapa begitu lama tidak muncul?”

Beng San menjatuhkan diri berlutut. “The-suhu, harap ampunkan teecu yang lama tidak datang karena teecu harus menghafalkan Im-sin-kiam dari Phoa Ti suhu.”

Wajah yang muram itu menjadi terang. “Aha, kiranya sahabatku Phoa Ti juga sudah sadar dan insyaf. Siapa yang merampas kitabnya?”

Diam-diam Beng San merasa kagum. Tanpa melihat kakek ini sudah tahu bahwa Phoa Ti diserang orang dan dirampas kitabnya. “Hek-hwa Kui-bo yang merampasnya, suhu.”

Lalu dia menceritakan secara singkat apa yang dilihatnya ketika dia keluar dari jurang ini setengah bulan yang lalu.

The Bok Nam menghela napas panjang. “Dunia kang-ouw akan geger akibat terampasnya kitab-kitab itu. Lekas, Beng San, kau pelajari Yang-sin-kiam..., aku sudah hampir tak kuat lagi.”

Demikianlah, sekali ini Beng San mempelajari Yang-sin-kiam dari gurunya yang kedua. Mungkin karena dia sudah menghafal Im-sin-kiam, kali ini dia mempelajari ilmu itu secara lebih mudah. Baru sepuluh hari dia sudah dapat menghafal delapan belas pokok gerakan Yang-sin-kiam.

Sementara itu, pada hari kesebelasnya dia mendapati The Bok Nam sudah kaku dalam keadaan duduk bersila, sudah tidak bernyawa lagi! Beng San kaget dan terharu sekali, dia menangis dengan sedihnya.

Segera dia menggali lubang di jurang itu dengan kedua tangannya. Baiknya dia sudah melatih silat dan gerakan-gerakan itu menambah besar tenaga di tubuhnya, sudah dapat mempersatukan hawa Yang dan Im di tubuhnya, maka tak begitu sukarlah baginya untuk menggali lubang di tanah dasar jurang yang tidak keras itu.

Setelah mengubur jenazah The Bok Nam dan berlutut beberapa lama, anak itu kemudian meninggalkan jurang, lalu menuruni jurang di seberang untuk menghadap gurunya yang seorang lagi. Ia melihat orang tua itu rebah miring seperti biasa.

“Phoa-suhu, teecu sudah berhasil mempelajari...” ia menghentikan kata-katanya karena melihat keadaan suhu-nya yang diam tidak bergerak. Cepat dia melompat mendekatinya dan....
“Suhu...!” untuk kedua kalinya Beng San menangisi kematian seorang lagi yang sangat disayang dan dihormatinya. Phoa Ti ternyata sudah meninggal dunia pula, agaknya belum lama dia mati karena tubuhnya masih baik.

Seperti yang dia lakukan pada jenazah The Bok Nam, Beng San juga mengubur jenazah Phoa Ti di dasar jurang itu. Dia memberi hormat di depan makam suhu-nya itu, lalu dia memanjat jurang keluar dari situ. Diambilnya sebuah batu besar dan diletakkannya di tepi jalan sebagai tanda pengenal. Tanpa tanda ini akan sukar sekali mencari di mana adanya jurang yang menjadi kuburan kedua orang tua itu.

Barulah anak ini sadar bahwa dia tadi telah mengangkat sebuah batu yang amat besar dengan mudah saja! Ia pun kaget berbareng girang bukan main. Karena maklum bahwa pelajaran-pelajaran yang dia dapatkan dari kedua orang kakek itulah yang mendatangkan tenaga besar dalam tubuhnya, dia lalu mengingat-ingat semua pelajaran itu dengan baik.

Sambil berjalan meninggalkan tempat itu dia berjanji kepada diri sendiri untuk melatih diri dengan semua jurus itu setiap kali ada kesempatan baginya…..
********************
Pada malam hari terang bulan, seorang gadis cantik yang bepakaian sederhana duduk seorang diri di belakang sebuah losmen. Taman bunga kecil milik losmen itu lumayan juga dan keadaan tentu akan amat menyenangkan dan indah apa bila orang tidak mendengar isak tangis perlahan, isak tangis yang tertahan-tahan.

Gadis yang menangis perlahan itu bukan lain adalah Liem Sian Hwa, orang termuda dari empat orang gagah dari Hoa-san-pai. Memang aneh apa bila melihat gadis perkasa ini menangis. Sebagai seorang pendekar wanita yang sangat terkenal namanya, walau pun seorang wanita, tangis merupakan sebuah hal yang dipantangnya, yang amat memalukan baginya.

Oleh karena itu, semua kedukaan hatinya ditahan-tahan selama ia melakukan perjalanan bersama twa-suheng-nya, yaitu Kwa Tin Siong. Baru pada malam hari ini, ketika mereka bermalam di losmen kecil di kota Leng-ki ini, ia mendapat kesempatan pada malam hari itu untuk keluar losmen, duduk di taman bunga yang sunyi meratapi nasibnya yang buruk. 

Siapakah orang yang takkan merasa berduka? Ayahnya telah dibunuh orang dan menurut bukti-bukti, pembunuhnya itu bukan lain adalah tunangannya sendiri, bersama seorang perempuan kekasih tunangannya itu!

Tunangannya itu adalah pilihan gurunya dan sudah disetujui ayahnya, maka tentu saja ia sudah menganggapnya sebagai seorang yang akan menjadi pelindung atau kawan hidup selamanya. Siapa duga, orang itu pula yang membunuh ayahnya. Sekaligus ia kehilangan ayah dan calon suami, dan sebagai gantinya ia mendapatkan seorang musuh besar yang lihai, yaitu Kwee Sin jago muda dari Kun-lun-pai itu.

Ia tidak gentar menghadapi Kwee Sin atau siapa pun juga untuk membalas sakit hatinya. Akan tetapi mengingat betapa justru tunangannya sendiri yang menjadi musuh besarnya, yang membunuh ayahnya, sekaligus berantakanlah mimpi muluk-muluk yang selama ini memenuhi tidurnya. Hancur hati gadis cantik itu dan di dalam taman yang sunyi ia dapat menuangkan semua kesedihannya melalui air matanya yang bercucuran deras seperti air sungai yang meluap-luap.

Sunyi di sekeliling tempat itu. Sian Hwa begitu terbenam dalam tangis dan kesedihannya sehingga ia tidak melihat atau mendengar datangnya Kwa Tin Siong ke dalam taman.

Pendekar ini mendekati sumoi-nya dan menegur halus.
“Sumoi, harap kau suka menenangkan pikiranmu. Tiada gunanya ditangisi dan disedihi, paling perlu engkau harus dapat menjernihkan kekeruhan itu. Dan percayalah, sumoi. Aku senantiasa menyediakan tenaga dan nyawa untuk membantumu. Pasti kita berdua akan dapat membongkar rahasia kematian ayahmu dan membalas dendam ini.”

Sian Hwa terisak-isak, hatinya makin perih dan terharu. Dengan sedu-sedan ia menubruk kakak seperguruannya.

“Twa-suheng..., ahhh..., alangkah buruk nasibku, suheng...” Sian Hwa menangis sedih di dada Kwa Tin Siong yang memeluk pundaknya dan menghiburnya.
“Sudahlah sumoi, mari kita masuk ke dalam. Kalau terlihat orang lain engkau menangis seorang diri di sini, nanti bisa menimbulkan dugaan yang bukan-bukan.”

Tiba-tiba Kwa Tin Siong mendorong tubuh adik seperguruannya ke samping dan pada lain saat tangannya menyambar ke depan.

“Keparat pengecut!” bentaknya sambil melompat ke depan.

Sian Hwa yang tadi dikuasai kesedihannya kurang waspada. Dia tidak mendengar dan tak melihat menyambarnya benda itu. Sekarang ia maklum bahwa ada orang jahat, maka ia cepat melompat mengejar suheng-nya.

Akan tetapi Kwa Tin Siong sudah kembali lagi. “Dia menghilang di dalam gelap,” katanya. “Mari kita masuk, sumoi. Entah benda apa yang dilemparkan ke arah kita tadi.”

Di dalam ruangan losmen, di bawah penerangan lampu, mereka berdua melihat benda itu. Sian Hwa mengeluarkan seruan kaget. Benda itu adalah sebuah sisir rambut dari perak. Sisir rambutnya sendiri yang dahulu dipergunakan sebagai tanda pengikat perjodohannya dengan Kwee Sin! Sekarang sisir rambut itu dikembalikan kepadanya dengan tambahan sedikit tulisan pada kertas yang membungkus sisir.

‘Putus karena berlaku serong’.

Wajah Sian Hwa menjadi merah sekali, merah karena jengah dan kemarahannya yang memuncak. Sudah jelas sekarang bahwa yang menyambit dengan sisir peraknya tadi adalah Kwee Sin, tunangannya yang melihat dia menangis dalam pelukan Kwa Tin Siong! Dan tunangannya itu, yang membunuh ayahnya, yang bermain gila dengan perempuan Pek-lian-kauw, sekarang malah menuduh dia bermain gila dengan suheng-nya sendiri.

Dengan isak ditahan-tahan Sian Hwa lari masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Kwa Tin Siong yang berdiri terlongong di ruangan itu. Pendekar ini menarik napas berulang kali, hatinya berdebar-debar tidak karuan, pikirannya kusut. Baru kali ini semenjak dia ditinggal mati isterinya, hati dan pikirannya digoda oleh persoalan wanita, dan wanita itu adalah sumoi-nya sendiri.

Kemudian dia teringat akan puterinya, Kwa Hong. Diam-diam di dalam hati ayah ini pun timbul kekhawatiran besar, bukan hanya kekhawatiran memikirkan anaknya itu sekarang pergi bersama seorang aneh seperti Koai Atong, juga khawatir akan nasib anaknya itu kelak.

Sebenarnya, di dalam hatinya sudah ada rencana untuk mengikat tali perjodohan antara Kwa Hong dengan putera sulung sute-nya, Thio Wan It. Akan tetapi setelah sekarang dia menghadapi kenyataan pahit dalam ikatan jodoh sumoi-nya, dia pun merasa berkhawatir. Khawatir kalau-kalau kelak anaknya juga menghadapi kekecewaan dalam pertunangan seperti apa yang dialami oleh sumoi-nya itu.

Semalam itu Kwa Tin Siong tak dapat tidur dan ketika pada keesokan harinya dia bertemu dengan Sian Hwa, dia melihat sumoi-nya itu pun merah sepasang matanya, tanda bahwa sumoi-nya ini pun tidak tidur dan banyak menangis. Mereka tidak dapat mengeluarkan kata-kata lagi karena peristiwa malam tadi masih menggores hati dan perasaan mereka.

Setelah sarapan, dengan cepat mereka melanjutkan perjalanan ke Hoa-san yang tak jauh lagi letaknya, hanya perjalanan setengah hari.....

Lian Bu Tojin, ketua Hoa-san-pai yang kini sudah berusia enam puluh tahun ini, seorang kakek tinggi kurus, berjenggot panjang, bertongkat bambu, duduk di atas bangku sambil mengusap-usap jenggotnya dan memandang murid bungsunya yang berlutut di depan kakinya. Beberapa lama dia membiarkan muridnya itu menangis tersedu-sedu. Sesudah melihat tangis Sian Hwa agak reda barulah dia berkata dengan suaranya yang halus dan sabar.

“Sian Hwa, kau tenangkanlah hatimu dan pergunakanlah pikiranmu. Dalam menghadapi segala macam peristiwa, baik yang menyenangkan mau pun yang menyedihkan, kau harus dapat menggunakan pikiranmu. Terlampau menuruti perasaan dapat menggelapkan pikiran. Hati boleh sepanas-panasnya, akan tetapi kepala harus dingin sehingga pikiran tidak dikuasai hati dan dapat mempertimbangkan segala sesuatu dengan sebaiknya.”

“Teecu menurut petuah suhu, akan tetapi, suhu... manusia she Kwee itu betul-betul keji. Hanya karena ayah teecu melihat perbuatannya yang tidak tahu malu itu, mengapa dia sampai hati membunuh ayah? Ahh..., teecu mohon perkenan suhu untuk mencarinya dan membalas dendam ini.”

Lian Bu Tojin tersenyum dan mengangguk-angguk. “Darah muda..., darah muda…! Sian Hwa, persoalanmu ini mengandung rahasia yang meragukan. Lagi pula, tak percuma kau menjadi muridku. Bukankah dahulu sudah sering kuajarkan padamu bahwa di balik segala peristiwa yang terjadi di dunia ini, terdapat kekuasaan tertinggi yang mengatur segalanya? Apa yang terjadi pada diri ayahmu sekali pun adalah hal yang sudah semestinya begitu, tepat menurut kehendak kekuasaan itu. Manusia yang melakukannya hanyalah menjadi lantaran belaka. Karena itu tugasmu memang harus memegang kebenaran, menegakkan keadilan, memberantas kejahatan dan penyelewengan, akan tetapi jangan sekali-kali kau dipengaruhi dan ditunggangi oleh nafsu kebencian, nafsu membalas dendam, karena jika terjadi hal demikian, namanya sudah bukan penegak keadilan dan pemberantas kejahatan lagi, melainkan menjadi budak nafsu sendiri yang termasuk kejahatan pula.”

“Teecu menyerahkan urusan ini kepada suhu...,” Sian Hwa berkata lemah, terpukul oleh petuah suhu-nya yang tentu saja sudah dimengertinya baik-baik itu.
“Sekarang biarlah suheng-mu yang menuturkan semua apa yang telah terjadi.”

Kwa Tin Siong lalu menceritakan kepada suhu-nya tentang semua pengalamannya sejak dia berniat membantu Pek-lian-pai untuk menentang pemerintah penjajah, juga betapa dia bertemu dengan Koai Atong yang membawa pergi anaknya dan mengenai penyerangan orang-orang yang mengaku anggota Pek-lian-kauw terhadap dia dan Sian Hwa.

Sebagai penutup dia mengemukakan bahwa keadaan Kwee Sin memang mencurigakan sekali, dan sangat boleh jadi Kun-lun Sam-hengte, yaitu Bun Si Teng, Bun Si Liong, dan Kwee Sin sudah pula mengadakan hubungan dengan kaum Pek lian pai.

“Hanya sebuah hal yang teecu tidak mengerti, yaitu mengenai hubungan antara saudara Kwee Sin dengan wanita Pek-lian-pai yang sangat mencurigakan itu, benar-benar teecu tidak mengerti...” Demikian Kwa Tin Siong menutup penuturannya.

Dalam penuturannya tadi, ia sengaja tidak menceritakan tentang kejadian di taman bunga belakang losmen. Kwa Tin Siong adalah seorang gagah yang sudah banyak pengalaman, maka mendengar bahwa tadi sumoi-nya pun tidak bercerita tentang hal ini, dia tidak mau menyebut-nyebutnya pula karena dia tidak ingin menyinggung perasaan Sian Hwa.

Ketua Hoa-san-pai mengangguk-angguk, lalu dia berkata. “Memang keadaan Kwee Sin itu mencurigakan sekali. Sekarang begini saja baiknya, Kwa Tin Siong dan Sian Hwa. Segala urusan yang menyangkut diri sahabat-sahabat, harus diselesaikan secara musyawarah, secara damai dan seadil-adilnya. Tunggulah sampai Wan It dan Kui Keng datang. Kalian juga boleh pergi mengunjungi Kun-lun Sam-hengte untuk minta penjelasan langsung dari Kwee Sin. Dengan demikian, maka segala hal akan dapat diselesaikan.”

Setelah berkata demikian, ketua Hoa-san-pai ini bertanya lebih lanjut tentang Kwa Hong yang pergi bersama Koai Atong.

“Itulah yang sangat menggelisahkan hati teecu, Suhu. Koai Atong adalah seorang yang amat aneh kelakuannya, seperti anak kecil atau seperti orang yang miring otaknya. Teecu tidak tahu ke mana anak teecu itu dibawa pergi."

Lian Bu Tojin tersenyum. "Tak usah khawatir. Kalau Koai Atong sudah berkeliaran di sini, berarti bahwa gurunya, Ban-tok-sian Giam Kong juga sudah meninggalkan Tibet dan kini berada di sini pula. Asal saja anakmu itu mengaku bahwa dia cucu murid Hoa-san-pai, kiranya dia tidak akan mendapat kesukaran karena Ban-tok-sim Giam Kong tentunya akan memandang muka pinto."

Tidak lama Kwa Tin Siong dan Sian Hwa menanti di Hoa-san. Hanya empat hari kemudian berturut-turut datanglah Bu-eng-kiam Thio Wan It bersama dua orang anaknya, yaitu yang sulung Thio Ki, anak laki-laki berusia dua belas tahun dan yang ke dua Thio Bwee, anak perempuan berusia sepuluh tahun. Toat-beng-kiam Kui Keng yang juga datang bersama anaknya laki-laki bernama Kui Lok Si, berusia sebelas tahun.

Dua orang pendekar Hoa-san ini sengaja datang bersama-sama anak-anak mereka untuk menghadap Lian Bu Tojin, sekalian mengenalkan anak-anak itu dan memberi tambahan pengalaman kepada anak-anak itu yang mereka harapkan kelak akan menjadi pendekar-pendekar Hoa-san pengganti mereka.

Pertemuan antara empat Hoa-san Sie-eng itu tentu akan menggembirakan sekali kalau saja yang baru datang tidak mendengar tentang peristiwa kemalangan yang menimpa diri Liem Sian Hwa dan Kwa Tin Siong. Tin Siong kehilangan anak perempuannya dan Sian Hwa kematian ayahnya.

Dua orang pendekar Hoa-san itu, Thio Wan It dan Kui Keng, menyambut berita duka ini sesuai dengan watak mereka masing-masing. Thio Wan It yang julukannya Bu-eng-kiam (Pedang Tanpa Bayangan) ini berwatak pendiam dan berangasan mudah marah, akan tetapi jujur dan keras, berlawanan dengan perawakannya yang pendek dan gemuk, muka bundar, bajunya selalu serba hitam.

Dengan kedua tangan terkepal dia berkata. "Mari kita pergi mencari Kwee Sin, ingin aku menghajar bocah kejam yang kurang ajar itu!"

Kui Keng si Pedang Pencabut Nyawa, wajahnya tampan tubuhnya kecil, sikapnya selalu gembira dan pakaiannya serba putih. Dia menyambut berita itu sambil tertawa.

"Urusan Sumoi perlahan-lahan dapat diurus, kurasa yang lebih penting adalah mencari puterinya Twa-suheng, siapa tahu anak nakal gila itu akan mengganggu Hong-ji. Urusan dengan Kwee Sin itu berbelit-belit, mungkin ada hubungannya dengan Pek-lian-pai, harus diselidiki dengan seksama.”

Sian Hwa yang mencoba untuk menghibur kesedihannya, menyerahkan perundingan itu kepada tiga orang suheng-nya, dia sendiri lalu menggandeng Thio Bwee, Thio Ki, dan Kui Lok diajak ke lian-bu-thia (ruangan belajar silat) sambil berkata,
"Mari anak-anak, hendak Bibi lihat sampai di mana kemajuan kalian di bawah asuhan ayah-ayah kalian."

Memang terhibur juga hati Sian Hwa bertemu dengan keponakan-keponakannya yang menyenangkan itu. Thio Ki berwajah bundar seperti ayahnya, tampan dan sikapnya sudah membayangkan kegagahan walau pun dia baru berusia dua belas tahun, pendiam dan dadanya selalu terangkat.

Thio Bwee yang berusia sepuluh tahun itu mewarisi kecantikan ibunya, juga pendiam dan manis sekali. Sepasang matanya tajam serius, dagu di bawah bibirnya yang manis itu membayangkan kekerasan hatinya. Segera ia senang sekali dekat dengan bibinya yang sering kali dipuji-puji ayahnya sebagai seorang pendekar wanita Hoa-san-pai yang hebat iimu pedangnya.

Ada pun Kui Lok, anak tunggal Kui Keng, berusia sebelas tahun, memiliki watak seperti ayahnya, gembira dan agak nakal, akan tetapi juga bersifat angkuh, hal ini mudah dilihat dari bentuk mulut dan matanya. Ketiga orang anak Ini nampak gagah-gagah, cocok benar menjadi keturunan dari Hoa-san Sie-eng, empat orang gagah dari Hoa-san-pai.

"Sayang," katanya kepada tiga orang anak itu, "kalau Hong-ji tidak dibawa pergi oleh Koai Atong dan berada di sini bersama kalian, alangkah akan gembiranya.”
“Bibi, sebagai anak Twa-supek, tentu kepandaian adik Hong hebat sekali, bukan?" Thio Bwee bertanya kepada bibi gurunya.

Sian Hwa mengangguk. "Tentu saja, akan tetapi kau pun tentu sudah banyak mempelajari ilmu silat dari ayahmu. Coba, Bwee-ji, kau perlihatkan padaku."

Thio Ki sangat sayang kepada adiknya dan pemuda pendiam ini dapat mengerti isi hati adiknya, maka dia lalu berkata kepada Sian Hwa sambil memandang ke arah Kui Lok,

"Sukouw, tentu adikku malu karena menurut sepatutnya, saudara Kui Lok ini yang harus memperlihatkan kepandaiannya lebih dulu."

Dengan kata-kata ini, Thio Ki yang baru berusia dua belas tahun itu telah memperlihatkan sikapnya yang sungguh-sungguh dan memegang aturan. Kui Lok adalah putera dari orang ketiga Hoa-san Sie-eng, maka kalau dihitung urutan atau tingkatnya, masih lebih rendah dari pada mereka yang menjadi putera-puteri Thio Wan It, yaitu orang kedua dari Hoa-san Sie-eng.

Diam-diam Sian Hwa tidak senang menyaksikan sikap yang angkuh ini, akan tetapi karena dia pun mengenal watak ji-suheng-nya yang keras dan jujur, ia anggap saja bahwa sikap Thio Ki ini adalah warisan ayahnya.

"Betul juga, Lok-Ji. Hayo kau yang mendahului, lekas kau perlihatkan apa yang sudah kau pelajari dari ayahmu," katanya sambil tersenyum.

Kui Lok tersenyum dan berkata merendah, tapi nada suaranya mengandung kebanggaan, "Kepandaianku masih amat dangkal mana dapat disamakan dengan pewaris kepandaian ji-supek (Uwak Guru ke Dua)?" Meski pun mulutnya berkata demikian, akan tetapi tangan kirinya lantas bergerak dan tahu-tahu dia sudah mencabut sebatang pedang pendek dari pinggangnya.

Memang tiga orang anak pendekar Hoa-san-pai ini ke semuanya membawa pedang pada punggung masing-masing. Itulah kiranya yang membuat mereka nampak gagah sekali.

Melihat gerakan ini, Sian Hwa tersenyum dan bertanya heran. "Kau menggunakan tangan kiri untuk bermain pedang?"

Agak merah kedua pipi Kui Lok yang tadinya putih itu. "Betul, Sukouw, semenjak kecil saya lebih enak menggunakan tangan kiri dari pada kanan, maka ayah sengaja melatih ilmu pedang dengan tangan kiri."

"Kidal...," Thio Bwee berkata mencemooh karena gadis ini agak mendongkol juga melihat lagak anak itu.
"Akan tetapi, Sukouw...," sambung Kui Lok cepat-cepat untuk menjawab cemoohan gadis cilik itu, "meski pun tangan kiri, kiranya tidak akan kalah dengan tangan kanan..., ehhh, maksudku, tangan kananku sendiri, tentunya."

Sian Hwa kembali tersenyum. Gadis ini maklum akan ejekan-ejekan itu, dan diam-diam ia menyesal mengapa para suheng-nya itu hanya melatih ilmu silat, namun agaknya kurang memperhatikan pendidikan watak sehingga anak-anak ini tak pandai menguasai perasaan dan mudah tersinggung.

"Kau mainlah, biar kami melihatnya."

Setelah memberi hormat kepada Sian Hwa dan mengerling penuh tantangan kepada Thio Ki dan Thio Bwee, Kui Lok mulai bersilat dengan pedangnya. la mainkan pedang tunggal dan caranya memainkan pedang itu memang hebat, apa lagi karena dia menggunakan tangan kiri sehingga menjadi kebalikan dari ilmu pedang yang aslinya.

Diam-diam Sian Hwa memperhatikan dan kagum juga akan kecepatan gerakan anak ini. Memang permainan pedang Hoa-san-pai sangat mengutamakan kecepatan. Yang paling mengagumkan hatinya adalah kekuatan yang digunakan dalam setiap serangan, demikian sungguh-sungguh dan selalu mematikan. Tidak percuma anak ini menjadi putera tunggal suheng-nya, Toat-beng-kiam si Pedang Pencabut Nyawa!

Setelah Kui Lok menghentikan permainan pedangnya, Sian Hwa berseru, "Bagus sekali, Lok-ji, kau tidak memalukan ayahmu!"

Gadis ini bertepuk tangan sambil memberi pujian. Akan tetapi Thio Bwee dan Thio Ki diam saja, tidak mau memberi pujian.

Tentu saja Kui Lok maklum akan hal ini, maka sambil menyarungkan pedangnya dia pun berkata, “Harap saja sekarang saudara Thio Ki dan nona Thio Bwee tidak pelit-pelit lagi mengeluarkan kepandaian mereka."
"Mana aku bisa melawan engkau? Kau hanya menggunakan tangan kiri, dan kalau aku pun menggunakan tangan kiri, aku tak dapat bersilat, sebaliknya kalau aku menggunakan tangan kanan, berarti aku licik, tentu saja tangan kanan lebih baik dari pada tangan kiri," Thio Bwee menjawab sambil merengut.

Sian Hwa tertawa. "Hi-hi-hi, Bwee-ji, jangan kau bicara begitu. Lok-ji menggunakan tangan kiri karena memang semenjak kecil dia melatih dirinya dengan tangan kiri. Tangan kirinya sama dengan tangan kananmu, sebaliknya tangan kanannya sama dengan tangan kirimu. Hayo lekas kau memperlihatkan kepandaianmu kepada bibimu, anak manis."

Thio Bwee tidak berani membantah bibi gurunya. Gadis cilik ini pun kemudian mencabut pedangnya dan bersilat secepat ia bisa untuk memamerkan kelincahannya di depan bibi gurunya, terutama sekali di depan Kui Lok! Dan dia berhasil!

Memang, dalam hal kelincahan, yakni dalam hal ilmu ginkang (meringankan tubuh), gadis ini menang setingkat kalau dibandingkan dengan Kui Lok. Hal ini pun tidak aneh karena sebagai puteri Bu-eng-kiam (Pedang Tanpa Bayangan) yang mengandalkan ilmu ginkang, tentu saja ayahnya juga telah menggembleng kedua anaknya itu dalam ilmu ini.

Ilmu Pedang Hoa-san Kiam-hoat memang tepat sekali jika dimainkan secepatnya. Tubuh gadis cilik ini berloncatan ke sana ke mari bagaikan seekor burung walet saja, dan pedang diputar sedemikian cepatnya sampai hampir tidak kelihatan.

Setelah Thio Bwee berhenti bersilat, kembali Sian Hwa bersorak memuji. Tetapi sebagai seorang ahli silat Hoa-san-pai, tentu saja gadis ini cukup maklum bahwa kepandaian gadis cilik ini masih tidak mampu melawan ilmu pedang yang dimainkan dengan tangan kiri oleh Kui Lok. Gerakan Kui Lok lebih matang, pula tenaga bocah ini jauh lebih besar.

"Sekarang kau, Ki-ji, kau mainlah beberapa jurus agar puas hatiku."

Thio Ki orangnya pendiam dan serius sekali. la memberi hormat kepada Sian Hwa dan berkata, "Jika ada kekeliruan, mohon Sukouw memberi petunjuk."

Terang bahwa kata-kata ini hanya sebagai basa-basi atau sopan-santun belaka karena tanpa menanti jawaban anak ini pun sudah mencabut pedangnya dan di lain saat dia pun sudah bermain pedang dengan kecepatan yang sama dengan adiknya tadi. Hanya kali ini Sian Hwa melihat bahwa kepandaian Thio Ki lebih unggul dari pada adiknya, juga kalau dibandingkan dengan Kui Lok, Thio Ki menang kecepatan biar pun tenaganya seimbang, maka kalau ditarik kesimpulannya, di antara tiga orang anak itu, Thio Ki yang paling tinggi tingkatnya.

"Bagus, bagus! Wah, kalian memang hebat!" Sian Hwa memuji setelah Thio Ki berhenti bersilat pedang.
"Ahhh, Sumoi! Kalau kau pun terlalu tinggi memuji anak-anak itu, mereka bisa menjadi besar kepala." Mendadak terdengar Kui Keng berseru gembira sambil tertawa-tawa. Kui Keng memasuki ruangan itu bersama Thio Wan It dan Kwa Tin Siong.
"Kui-susiok (Paman Guru Kui), saudara Lok puteramu ini memandang rendah aku dan kakak Ti!" tiba-tiba Thio Bwee berseru.

Semua orang terkejut, termasuk Thio Wan It, akan tetapi Kui Keng hanya tersenyum, dan sepasang matanya berseri. "Memandang rendah bagaimana?"

"Habis, dia sengaja memamerkan kepandaian dan bermain pedang dengan tangan kiri, bukankah itu menghina sekali?" kata gadis cilik itu.
"Ha-ha-ha-ha-ha! Dia bermain dengan tangan kirinya karena memang dia itu kede (kidal)! Ha-ha-ha!"

Semua orang di situ tertawa dan Thio Bwee sengaja memperlihatkan muka heran.

"Aaah, jadi dia ini kidal? Habis kalau makan, apakah juga menggunakan tangan kiri juga, Susiok?" tanya pula Thio Bwee.
“Ha-ha-ha, tentu saja tidak. Kalau makan tangan kanan dan kalau... membersihkan tubuh pakai tangan kiri."

Kui Keng tertawa-tawa lagi, karena memang orang ini sifatnya gembira sekali. Kui Lok yang tadinya mendongkol karena ejekan Thio Bwee, sekarang ikut tertawa-tawa seperti ayahnya dan kalau anak perempuan itu memandang kepadanya, secara diam-diam dia menjulurkan lidahnya mengejek!

"Sudahlah, anak-anak semua supaya pergi menghadap Sukong (Kakek Guru)," kata Thio Wan It. "Ki-ji, kau yang paling tua, kau harus dapat memimpin dua orang adikmu. Kalian bertiga tinggal baik-baik di Hoa-san, dan taati setiap petunjuk serta perintah Sukong. Kami orang-orang tua akan turun gunung untuk waktu kurang lebih dua bulan."
"Lok-ji, kau harus yang akur bermain-main dengan kedua saudaramu, jangan nakal," Kui Keng memesan kepada puteranya pula.

Setelah berpamit kepada Lian Bu Tojin, empat orang pendekar Hoa-san-pai ini lalu turun gunung, meninggalkan ketiga orang anak itu di bawah pengawasan ketua Hoa-san-pai. Pada waktu turun gunung, Kwa Tin Siong menjelaskan kepada Liem Sian Hwa tentang keputusan perundingan mereka tadi, yaitu bahwa untuk membereskan urusan Sian Hwa dengan Kwee Sin yang gerak-geriknya amat mencurigakan, mereka akan langsung pergi mendatangi orang tertua dari Kun-lun Sam-hengte, yaitu Bun Si Teng yang kini menjadi pedagang kuda dan tinggal di Sin-yang.

"Sesuai dengan pesan suhu," demikian Kwa Tin Siong menutup penjelasannya, "kita tidak boleh bertindak sembrono terhadap Kun-lun Sam-hengte yang selama ini sudah memiliki nama baik sebagai pendekar-pendekar gagah dari Kun-lun. Oleh karena itu, sebelum kita mengambil tindakan terhadap Kwee Sin, kita harus terlebih dahulu rnemberi tahu kepada kedua saudara Bun Si Teng dan Bun Si Liong tentang kesesatan sute mereka Kwee Sin. Dengan cara demikian berarti kita sudah cukup menghormat dan memandang muka pada Kun-lun-pai."

Sian Hwa hanya mengangguk-angguk saja. Di dalam hati gadis ini merasa tidak cocok, karena dia merasa gemas dan sakit hati sekali kepada bekas tunangannya yang selain sudah membunuh ayahnya, juga sudah amat menghinanya itu. Kalau bisa, ingin ia sekali berjumpa terus menyerang dan mencincang tubuh Kwee Sin…..

********************
Selanjutnya baca
RAJA PEDANG : JILID-03
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger