logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Raja Pedang Jilid 06


Sungguh patut disayangkan bahwa kesalah pahaman antara Kun-lun Sam-hengte dengan Hoa-san Sie-eng makin membesar dengan adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi antara mereka.

Seperti diketahui, sesudah melaporkan semua peristiwa yang menimpa dirinya di depan gurunya, yaitu ketua Hoa-san-pai Lian Bu Tojin, Sian Hwa serta ketiga orang suheng-nya pergi turun dari Gunung Hoa-san untuk mencari tiga orang bersaudara murid Kun-lun-pai untuk memprotes perbuatan Kwee Sin. Sesuai dengan petunjuk guru mereka, keempat orang murid Hoa-san-pai lalu pergi mengunjungi orang tertua dari Kun-lun Sam-hengte, yaitu Bun Si Teng di Sin-yang.

Kedatangan mereka berempat disambut oleh Bun Si Teng dan adiknya Bun Si Liong yang sudah sembuh dari luka-lukanya. Dua orang saudara Bun ini sudah pernah bertemu dengan Sian Hwa, dan biar pun di antara tiga orang jago Hoa-san yang lain baru Kwa Tin Siong yang pernah mereka lihat, namun dua orang lagi, Thio Wan It dan Kui Keng, pernah mereka mendengar namanya.

Karena yang datang adalah jago-jago ternama dari Hoa-san, dua orang saudara Bun ini menyambut dengan penuh penghormatan. Akan tetapi saat melihat wajah para tamu yang nampaknya mengandung sesuatu yang tidak puas dan marah, mereka menjadi heran dan berlaku hati-hati.

Bun Si Teng beserta Bun Si Liong segera menyambut kedatangan mereka dan memberi hormat. Bun Si Teng sambil menjura berkata, "Ah, kiranya Hoa-san Sie-enghiong (Empat Orang Gagah dari Hoa-san) yang datang mengunjungi gubuk kami yang buruk. Selamat datang! Adik Sian Hwa, mari silakan duduk." Kepada tunangan sute-nya ini, Bun Si Teng bersikap manis. "Liong-te, lekas beri tahu soso-mu (kakak ipar-mu) untuk menemani Adik Sian Hwa."

"Tidak usah repot-repot, Ji-wi tak perlu repot-repot. Kami datang untuk minta keadilan dan minta dibereskannya sebuah urusan besar, bukan datang untuk bercakap-cakap kosong atau minum arak!" Ucapan ini dikeluarkan oleh Thio Wan It, orang ke dua dari Hoa-san Sie-eng yang terkenal berangasan.

Dua orang saudara Bun mengerutkan kening. Benar-benar tak sopan tamu ini, pikir Bun Si Liong sambil memandang kepada orang pendek gemuk berbaju hitam itu dengan mata menaksir-naksir. Akan tetapi Bun Si Teng yang lebih tua dan berpengalaman, segera bisa menduga bahwa tentu sudah terjadi hal yang amat gawat sehingga orang-orang gagah ini bersikap seperti itu.

"Saudara-saudara berempat jauh-jauh datang membawa urusan penting apakah? Tentu kami selalu siap untuk membantu kalian. Harap Sie-enghiong segera menceritakan pada kami berdua," kata Bun Si Teng, masih ramah-tamah.

Bu-eng-kiam Thio Wan It yang sudah sangat tidak sabar karena marahnya menghadapi urusan sumoi-nya, segera melangkah maju dan berkata kasar. "Sekarang ini, Hoa-san Sie-eng berhadapan dengan Kun-lun Sam-hengte sebagai sesama orang gagah yang hendak membereskan urusan penasaran! Kedatangan kami ini adalah karena perbuatan yang sangat tidak patut dan keji dari orang termuda dari Kun-lun Sam-hengte. Kwee Sin harus mempertanggung jawabkan segala perbuatannya dan Ji-wi berdua ini harus pula bertanggung jawab dan dapat segera menyeret Kwee Sin kepada kami!"

Kata-kata ini seperti halilintar menyambar bagi dua orang saudara Bun itu. Bun Si Teng yang lebih sabar menekan dada dan mukanya agak pucat, ada pun Bun Si Liong sudah meraba gagang pedang dan goloknya sambil mengeluarkan suara gerengan bagaikan harimau terluka, matanya tajam menyapu keempat orang tamu itu.

Baiknya Bun Si Teng memberi isyarat kepada adiknya supaya bersabar dan dia sendiri lalu berkata, "Segala urusan dapat diurus, segala penasaran dapat diadili, akan tetapi seharusnya diberi penjelasan lebih dahulu apa sebabnya Sie-wi (Tuan Berempat) seperti marah-marah. Sute kami, Kwee Sin, bukan kami hendak menyombong, tetapi Kwee-sute telah terkenal di empat penjuru langit sebagai orang gagah yang tak pernah meninggalkan sifat-sifat satria. Siapakah yang tak pernah mendengar nama Pek-lek-jiu Kwee Sin murid termuda Kun-lun-pai yang selalu menjunjung tinggi keadilan dan membela kebenaran? Sekarang Sie-wi datang-datang menyatakan sute kami itu melakukan perbuatan yang amat tidak patut dan keji. Hemmm, tentu saja sukar bagi kami untuk dapat mempercayai. Tidak ada perbuatan Kwee-sute yang tidak patut!"

Liem Sian Hwa tidak dapat menahan kemarahannya lagi. "Seorang yang bergaul dengan siluman betina dari Pek-lian-pai, setelah terlihat oleh ayahku kemudian bersama siluman itu datang membunuh ayahku yang tua dan tak berdaya, apakah hal ini kau anggap patut dan tidak keji?"

Bun Si Teng melengak, lalu saling pandang dengan adiknya. Bun Si Liong marah sekali, mulutnya telah bergerak-gerak hendak membantah dan memaki. Akan tetapi orang gagah ini mempunyai sifat yang lucu sekali, yaitu dia sangat takut kalau berhadapan dengan wanita. Andai kata yang mengeluarkan tuduhan itu bukan Sian Hwa melainkan seorang di antara suheng-suheng nona itu, tentu Si Liong sudah memaki dan marah.

Sekarang dia hanya berdiri dengan kedua tangan terkepal, kedua mata melotot, akan tetapi tidak melotot kepada Sian Hwa, melainkan kepada Kwa Tin Siong bertiga! Bun Si Teng sudah dapat menguasai hatinya pula. la kini menghadapi Kwa Tin Siong yang sejak tadi diam saja hanya memandang dengan mata tajam penuh selidik.

"Hoa-san It-kiam, namamu di dunia kang-ouw sudah tersohor sebagai seorang pendekar gagah dan adil. Kuharap saja sekarang kau pun akan bersikap seperti seorang yang adil. Adikku Kwee Sin tertimpa tuduhan yang amat berat. Tetapi setiap tuduhan harus disertai bukti-bukti dan dasar. Tanpa dasar dan bukti maka tuduhan itu adalah fitnah yang amat jahat. Apakah bukti dan dasarnya tuduhan terhadap Kwee-sute itu?"

Hoa-san It-kiam Kwa Tin Siong menarik napas panjang sebelum menjawab.

"Saudara Bun, aku pun merasa menyesal sekali dengan terjadinya hal yang menimpa sumoi-ku. Apa bila kalian merasa penasaran karena sute kalian tertimpa tuduhan berat, bagaimana dengan kami? Sumoi kami tertimpa mala petaka yang lebih berat dan hebat lagi. Karena itu, kita harus berani mempertanggung jawabkan secara adil. Harus berani membela yang benar dan menghukum yang salah. Sikap begini sudah menjadi tugas kita sebagai orang gagah, bukan? Siapa saja yang salah harus dihukum, baik dia itu orang lain mau pun adik sendiri. Sebaliknya siapa saja orangnya, asal dia itu berada di pihak kebenaran, haruslah kita bela. Bukankah begitu juga pelajaran yang kalian terima dari suhu kalian?"

Bun Si Teng mengangguk-angguk. "Kau betul. Hoa-san It-kiam, Kami pun tidak akan membela sute kami sendiri kalau dia betul-betul bersalah. Hanya kami amat sangsikan apakah sute kami bersalah, karena kami percaya, bahkan yakin bahwa Kwee-sute bukanlah seorang yang demikian jahat dan keji. Dia pun sudah membuat nama besar di dunia kang-ouw. Oleh karena itu, tuduhan berat tadi harap kau jelaskan dan kau beri dasar-dasar atau bukti-bukti."

Kwa Tin Siong tersenyum pahit. "Seorang yang sudah mempunyai kepandaian setingkat dengan kita, kalau sudah melakukan sesuatu, bagaimana bisa dicari buktinya? Kadang kala kejadian tanpa sebuah bukti pun sudah jelas, cukup jelas untuk ditarik kesimpulan dan diambil keputusan siapa yang bersalah. Nah, kau dengarlah baik-baik. Pada suatu hari, beberapa pekan yang lalu, ayah dari Liem-sumoi yaitu Liem Ta lopek, pulang ke rumah sambil marah-marah dan menyatakan kepada Liem-sumoi bahwa dia melihat Kwee Sin berpelesir bersama seorang perempuan cabul dari Pek-lian-pai, kemudian Liem-lopek menyatakan hendak memutuskan tali perjodohan antara Liem-sumoi dengan Kwee Sin. Liem-sumoi merasa penasaran dan diam-diam ia pergi ke Telaga Pok-yang di mana Kwee Sin terlihat oleh ayahnya. Sayang ia tidak dapat melihat dengan mata kepala sendiri, akan tetapi dari keterangan tukang-tukang perahu di sana ia mendapatkan keterangan bahwa memang betul Kwee Sin dan seorang perempuan berada di situ beberapa hari lamanya. Dengan hati berat Liem-sumoi pulang ke rumahnya, dan dia mendapatkan ayahnya telah luka-luka hebat. Sebelum meninggal dunia, Liem-lopek masih sempat menyatakan bahwa yang menyerangnya adalah Kwee Sin dibantu seorang perempuan cantik.”

"Penasaran... penasaran...!" Bun Si Liong berteriak-teriak. "Tidak mungkin Kwee-sute bisa melakukan perbuatan semacam itu. Tak mungkin! Mana buktinya bahwa yang melakukan pembunuhan itu adalah Kwee-sute?"

"Twa-suheng!" Kui Keng sudah meloncat maju. "Mengapa Suheng masih simpan-simpan keterangan? Jelaskan saja sekalian. Ehh, Kun-lun Sam-hengte, jangan coba-coba untuk menutupi kesalahan sute kalian. Kesalahannya sudah jelas, karena menurut keterangan Liem-sumoi, di tubuh Liem-lopek itu terdapat paku-paku Pek-lian-ting dan bekas pukulan Pek-lek-jiu! Nah, mau bilang apa lagi? Paku-paku Pek-lian-ting tentulah paku-paku yang dilepas oleh perempuan siluman dari Pek-lian-pai itu dan pukulan Pek-lek-jiu... hemmm, bukankah julukan Kwee Sin adalah Pek-lek-jiu?"

"Bohong! Bukan bukti itu!" Bun Si Liong membanting-banting kakinya. "Siapa saja yang pernah mempelajari Pek-lek-jiu tentu bisa menggunakannya. Apakah hanya sute sendiri? Tentang paku-paku Pek-lian-ting, aku mau percaya kalau Pek-lian-pai memusuhi kalian, karena Pek-lian-pai juga memusuhi kami. Akan tetapi tentang Kwee-sute, tetap aku tidak mau menerima kalau dia dituduh!"

"Ha-ha-ha, rupanya Kun-lun Sam-heng-te mau menang sendiri saja! Agaknya hanya mau mengandalkan kegagahan sendiri dan tak memandang kepada orang lain. Suheng, Sute, dan Sumoi, agaknya urusan ini hanya bisa dibereskan di ujung pedang!" kata Thio Wan It mengejek sambil meraba gagang pedangnya.

"Boleh sekali!" Bun Si Liong berteriak sambil tangannya mencabut sepasang senjatanya, yaitu sebatang pedang dan sebatang golok. “Apakah Hoa-san Sie-eng berempat datang hendak mengeroyok kami berdua? Jangan dikira kami takut! Kun-lun Sam-hengte takkan pernah mundur setapak pun menghadapi pengeroyokan siapa saja!"

"Ho-ho sombongnya! Kami Hoa-san Sie-eng bukanlah tukang keroyok! Untuk menghadapi kalian berdua cukup dengan pedangku saja. Orang she Bun, kalau kau ada kepandaian, keluarlah!" Thio Wan It berkata mengejek dan begitu kakinya bergerak, tubuhnya melesat keluar.
"Baik, hendak kukenal kelihaian Bu-eng-kiam!" berseru Bun Si Liong yang meloncat keluar pula.

Semua orang mengejar keluar dan ternyata bahwa dua orang jago itu sudah bertanding dengan hebat. Suara beradunya senjata tajam berdenting-denting nyaring disusul bunga api berpijar-pijar, gerakan dua orang jago ini gesit dan tangkas dan amat kuat. Di antara debu yang berhamburan berkelebat ujung pedang dan golok mencari nyawa.

Thio Wan It, sesuai dengan julukannya, Bu-eng-kiam (Pedang Tanpa Bayangan) sangat cepat gerak-geriknya. Pedangnya diputar demikian cepat sehingga lenyap dari pandangan mata dan bagi lawan yang telah tinggi ilmunya, pedang ini hanya bisa diduga dari mana datangnya dengan mendengar suara anginnya saja. Gerakan-gerakan Thio Wan It yang mainkan Ilmu Pedang Hoa-san Kiam-hoat, boleh diumpamakan seekor burung walet yang menyambar-nyambar ke sana ke mari, perubahan-perubahan gerakannya sangat sukar diduga.

Di lain pihak, Bun Si Liong adalah murid ke dua Kun-lun-pai. Tentu saja kepandaiannya sudah mencapai tingkat yang tinggi pula. Seperti juga dengan Hoa-san-pai, Kun-lun-pai juga amat terkenal dengan ilmu pedangnya.

Maka yang berhadapan dan bertanding sekarang ini adalah dua orang jago pedang dari dua partai yang mewakili Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai. Thio Wan It hanya menggunakan sebuah pedang saja, pedang panjang tipis yang dapat melengkung pada saat digerakkan secara cepat dan kuat.

Ada pun Bun Si Liong bersenjata pasangan, yaitu sebatang pedang dan sebatang golok. Inilah keistimewaan Bun Si Liong. Dua buah senjata yang berlainan itu akan membuat lawan menjadi bingung, seakan-akan dikeroyok oleh dua orang lawan yang senjatanya tidak sama.

Thio Wan It itu cepat dan lincah, pedangnya menyambar-nyambar. Bun Si Liong tenang dan kokoh kuat kedudukannya seperti seekor banteng sakti yang siap menanti serangan lawan untuk ditangkis dan dibalas dengan serangan-serangan yang tak kalah ampuhnya.

Pedang di tangan Thio Wan It mengancam semua bagian tubuh. Akan tetapi sepasang senjata Bun Si Liong yang jarang bergerak itu selalu dapat menangkis, kemudian kalau ada saat baik membalas dengan tusukan atau bacokan. Dilihat sekelebatan, Thio Wan It seperti menari-nari mengelilingi Bun Si Liong yang berdiri teguh sambil menggeser-geser kakinya untuk mengikuti pergerakan lawan yang amat lincahnya itu.

Pertempuran yang sengit dan seru itu ditonton oleh semua orang dengan hati berdebar. Pertempuran seimbang seperti ini tak mungkin berakhir tanpa membawa korban di satu pihak, hanya dapat diputuskan dengan menggeletaknya salah seorang. Padahal dalam urusan ini, baik Thio Wan It mau pun Bun Si Liong tidak ada sangkutan apa-apa, tidak ada kesalahan apa-apa.

Orang yang langsung tersangkut, Kwee Sin, belum diajak bicara, tapi keduanya sudah main hantam sendiri. Hal ini tidak betul. Demikianlah jalan pikiran Kwa Tin Siong dan juga Bun Si Teng.

"Urusan gelap belum dibikin terang, tidak perlu ditambah keruh dengan lain pertumpahan darah," kata Kwa Tin Siong sambil memandang kepada Bun Si Teng.

Orang tertua Kun-lun Sam-heng-te ini mengangguk. "Betul. Urusan ini harus diselidiki, tak akan beres kalau menurutkan nafsu dan sakit hati."

Dua orang itu seperti telah bermufakat, meloncat maju dan menahan adik masing-masing. Dua orang jago yang sedang bertanding itu terpaksa mundur dengan dada turun naik, mata melotot lebar dan sikap menantang.

"Aku masih belum kalah!" Thio Wan It berkata penasaran.
”Aku juga belum kalah," kata Bun Si Liong.
"Kalau begitu hayo teruskan sampai salah seorang di antara kita mampus!" kata pula Thio Wan It.
"Hayo, majulah!" tantang Bun Si Liong.

Kwa Tin Siong dan Bun Si Teng sibuk mencegah dua orang jago yang sudah panas perutnya itu supaya tidak bertanding lagi.

"Yang menjadi pokok persoalan ini adalah Kwee Sin, sebelum dia ditemukan dan ditanya, amatlah jelek apa bila kita menyerang orang-orang lain," berkata Kwa Tin Siong kepada sute-nya sambil menyabarkan dan memaksa sute-nya menyimpan kembali pedangnya.

"Liong-te, sabarlah," kata Bun Si Teng kepada adiknya. "Simpanlah kembali senjatamu. Urusan ini tidak bisa dibereskan hanya dengan mengangkat senjata. Kwee-sute ternyata telah terkena fitnah yang hebat dan hal ini harus kita bersihkan." Dia lalu membalik dan menghadapi Kwa Tin Siong.

"Hoa-san It-kiam, terus terang saja, aku tidak akan meragukan semua ceritamu tadi. Hanya yang kuragukan bahkan tidak dapat kuterima adalah bahwa sute-ku melakukan semua perbuatan itu. Hal itu tidak mungkin sekali."

"Hemmm, saudara Bun. Urusan sumoi-ku yang ayahnya dibunuh mati orang ini kiranya takkan puas jika hanya kau beri keyakinan bahwa sute-mu tidak mungkin melakukannya. Habis, karena hal ini menyangkut nama baik sute-mu, apa yang selanjutnya hendak kau lakukan? Kami masih memandang muka Kun-lun Sam-hengte, juga memandang muka Kun-lun-pai ciangbunjin (ketua Kun-lun-pai) maka kami tidak tergesa-gesa dan secara sembrono mencari dan mengadili sendiri kepada Kwee Sin."

Bun Si Teng mengangguk-angguk. "Baiklah. Kami akan mencari Kwee-sute dan dalam waktu lima bulan kami bertiga Kun-lun Sam-hengte akan menghadap ke Hoa-san. Kami harus membersihkan nama baik Kwee-sute di depan ketua Hoa-san-pai sendiri."

"Bagus. Lima bulan sesudah hari ini, Hoa-san Sie-eng akan menanti kedatangan Kun-lun Sam-hengte di puncak Hoa-san," kata Kwa Tin Siong yang segera mengajak pergi tiga orang adik seperguruannya, meninggalkan tempat itu.

Setelah ditinggal pergi para tamunya, Bun Si Teng dan Bun Si Liong duduk dengan hati berat.

"Heran sekali mengapa ada peristiwa seperti ini," kata Bun Si Teng. "Kita harus menyusul Kwee-sute ke Kun-lun.”
"Memang urusan ini harus dibikin terang, karena menyangkut nama baik dan kehormatan Kwee Sin," kata Bun Si Liong, mukanya yang hitam makin hitam karena kemarahannya.
“Kau tinggallah di rumah mengurus pekerjaan kita, Liong-te. Biar aku saja yang pergi ke Kun-lun. Lim Kwi akan kuajak serta agar anak itu berdiam dan belajar di sana, dipimpin langsung oleh suhu. Aku akan segera kembali bersama Kwee-sute."

Demikianlah, pada keesokan harinya, Bun Si Teng bersama puteranya, Bun Lim Kwi, berangkat ke Kun-lun-san untuk mencari Kwee Sin dan menitipkan Lim Kwi di Kun-lun-san supaya menerima gemblengan ilmu silat dari ketua Kun-lun-pai sendiri, yaitu Pek Gan Siansu…..

********************
“Minggir, jembel-jembel busuk, minggir!”

Suara kaki banyak kuda berdetakan, didahului bentakan-bentakan dan teriakan-teriakan kasar dari para penunggangnya. Orang-orang dusun yang sedang berjalan menuju ke sawah ladang, cepat-cepat berlari ke pinggir supaya jangan sampai diseruduk kuda yang berlari cepat di jalan dusun yang kecil itu. Ternyata barisan kuda ini adalah sepasukan berkuda tentara negeri yang berpakaian keren dan bersenjata lengkap.

Tinggi besar kuda-kuda itu, gagah dan tinggi besar pula para penunggangnya. Sambil tertawa-tawa para serdadu Mongol ini mempergunakan cambuk untuk secara main-main mencambuk kanan kiri kepada orang-orang desa yang sudah menjauhkan diri sampai ada yang kesakitan dan ketakutan sehingga terjatuh ke dalam selokan sawah!

Seorang kakek kena didorong oleh seorang penunggang kuda dan kakek itu terjengkang roboh ke dalam tanah berlumpur. Ketika dia merangkak bangun, tubuhnya yang kurus itu terbungkus lumpur, menakutkan. Semua kejadian ini disambut gelak terbahak dari pada serdadu itu.

Seorang wanita muda menjerit-jerit ketika tubuhnya disambar oleh tangan yang kuat dan tahu-tahu ia telah berada di atas kuda, dipeluk oleh seorang serdadu yang kurang ajar. Wanita itu meronta-ronta, menjerit-jerit sedangkan serdadu yang menangkapnya itu terus tertawa-tawa menggoda, sikapnya kurang ajar dan tidak ada kesopanan sama sekali. Di depan dan belakang, para serdadu lainnya tertawa-tawa gembira.

Saking takut dan jijiknya, wanita muda itu akhirnya pingsan di atas pangkuan serdadu itu. Setelah wanita itu pingsan, agaknya tidak ada kegembiraan lagi bagi serdadu itu, maka tubuh wanita itu lalu didorong turun dari atas kuda, jatuh berdebuk di atas tanah berdebu.

"Setan! Iblis kejam!" Seorang anak laki-laki berlari menolong wanita itu.
"Jembel cilik, minggir kau!" Seorang serdadu mengayun cambuknya.
"Tarr! Tarr!"

Cambuk menghantam muka anak itu yang berdiri dengan berani dan matanya melotot. Cambukan dua kali itu seperti tak dirasainya dan dia memandang serdadu-serdadu yang melarikan kuda sambil mengepal-ngepalkan tinjunya yang kecil. Wanita itu masih saja menangis terisak-isak di depannya. Akhirnya debu tebal saja yang ditinggalkan serdadu-serdadu itu yang jumlahnya tiga puluh orang lebih.

"Keparat...!” Beng San, anak berpakaian jembel itu, memaki dan membangunkan wanita tadi, "Sudahlah, Cici, jangan menangis dan pulanglah. Masih baik kau tidak mereka culik tadi."

Para penduduk yang melihat sikap Beng San, merasa heran dan juga kagum.

"Anak, kau berani sekali," seorang kakek berkata sambil mengangguk-angguk. "Bila saja pemuda-pemuda kita seperti kau ini, takkan sukar membebaskan tanah air dari penjajah-penjajah keji seperti mereka..." Sambil terbungkuk-bungkuk kakek itu melanjutkan langkah kakinya menuju ke sawah ladang.

Beng San masih terengah-engah saking marahnya. Baru kali ini dia menyaksikan sendiri keganasan serdadu-serdadu Mongol kalau beraksi di dusun-dusun. Seorang petani lain berjalan di sisinya dan bercerita betapa serdadu-serdadu itu menjadi lebih kejam lagi bila bermalam di suatu dusun. Mereka merampoki bahan makan, merampas segala benda berharga, menculik gadis-gadis dusun dan isteri orang, membunuh pemuda-pemuda yang berani melawan.

Pendeknya, rakyat kecil mengalami neraka dunia kalau kedatangan serdadu-serdadu ini. Apa lagi mereka itu biasanya lalu disambut oleh pembesar setempat dan tuan-tuan tanah setempat yang mempergunakan kekuasaan mereka untuk memeras para petani yang sudah amat miskin.

"Keparat," pikir Beng San. "Kalau aku sudah kuat, kuhajar mereka itu."

Setelah meninggalkan perkampungan ini, Beng San lalu berlari cepat mengejar ke arah perginya barisan berkuda tadi. Ia telah berada dekat kaki Gunung Hoa-san dan kebetulan sekali barisan berkuda itu sejurusan dengan dia. Menjelang tengah hari dia memasuki sebuah hutan besar di kaki Gunung Hoa-san.

Ia mendengar suara berisik dari dalam hutan. Ketika dia mendekat, jelas terdengar pekik kesakitan bercampur teriak kemarahan diselingi suara senjata tajam beradu. Jelas bahwa terjadi pertempuran besar-besaran di tengah hutan itu.

Beng San cepat menyelinap di antara pohon-pohon besar, mendekati tempat pertempuran sambil mengintai. Ringkik banyak kuda mengingatkan dia akan barisan serdadu-serdadu Mongol.

Celaka, pikirnya, tentunya setan-setan Mongol itu kembali mengganggu penduduk dekat hutan sini. Akan tetapi, mengapa penduduk berada di dalam hutan besar? Ahh, mungkin pemburu-pemburu.

Dia cepat berindap ke tengah hutan dan akhirnya terlihatlah olehnya pertempuran hebat sudah terjadi di tempat terbuka. Benar saja dugaannya. Para serdadu Mongol itu tengah bertempur melawan sekumpulan orang-orang yang bersikap gagah dan rata-rata pandai ilmu silat. Jumlah orang-orang gagah itu hanya belasan orang sehingga tiap orang harus menghadapi keroyokan dua atau tiga orang serdadu Mongol.

Perang tanding itu hebat sekali. Banyak serdadu Mongol sudah roboh mandi darah. Akan tetapi mereka adalah serdadu-serdadu yang terlatih dan rata-rata sangat kuat sehingga belasan orang gagah itu terdesak juga, malah di antaranya ada yang terluka.

Tiba-tiba terdengar aba-aba keras. Para serdadu Mongol itu mengeluarkan panah tangan, lantas serentak menyerang dengan anak-anak panah mereka yang terkenal berbahaya. Serangan mendadak ini membikin para orang gagah menjadi kacau-balau dan tiga orang terjungkal roboh.

"Anjing-anjing Mongol rasakan pembalasan kami!" Tiba-tiba terdengar bentakan keras dan muncullah seorang pemuda tinggi besar bersama enam orang lain dari jurusan selatan. Mereka datang dan terus menyerbu.

Hebat sekali serbuan pemuda tinggi besar serta kawan-kawannya ini. Sisa orang-orang gagah yang dikeroyok tadi timbul kembali semangat mereka saat melihat datangnya bala bantuan.

Perang tanding makin berkobar dan kini giliran para serdadu Mongol yang dihantam dari kanan kiri sehingga kocar-kacir. Mereka sudah mulai ketakutan dan mencoba-coba untuk melarikan diri. Akan tetapi, tiap seorang serdadu Mongol berhasil meloncat ke punggung kuda dan melarikan kuda itu, tentu dia disambar oleh beberapa buah senjata rahasia paku dan robohlah dia dari atas punggung kuda.

Beng San yang sedang mengintai dan menonton semua pertandingan ini, menjadi girang dan berdebar hatinya ketika melihat pemuda tinggi besar itu.

"Dia adalah Tan Hok," pikirnya gembira. "Benar-benar dia gagah perkasa."

Memang hebat sepak terjang Tan Hok. Dia paling besar di antara teman-temannya dan golok di tangannya mengamuk bagai seekor naga. Mayat serdadu-serdadu Mongol roboh bergelimpangan dan sebentar saja, setelah datang Tan Hok beserta teman-temannya ini, serdadu-serdadu itu dapat dirobohkan semua.

Beberapa orang serdadu dapat melarikan diri dengan kuda mereka yang kuat dan cepat. Biar pun mereka tidak terluput dari luka-luka, akan tetapi mereka tidak mengalami nasib seperti kawan-kawan mereka yang bergelimpangan tak bernyawa lagi di hutan itu.

"Pasukan besar musuh tentu akan segera menyusul ke sini, kita harus cepat-cepat pergi. Lekas kumpulkan teman-teman yang tewas. Cepat, saudara-saudara!" Tan Hok memberi aba-aba.

Dari tempat sembunyinya, Beng San memandang dengan kagum. Kini pemuda raksasa itu tidak kelihatan bodoh lagi, melainkan tangkas dan dihormati teman-temannya.

Semua orang gagah itu bekerja. Ada yang mengubur mayat teman-temannya, ada yang merawat teman-teman yang terluka, ada yang mengumpulkan senjata-senjata rampasan, ada yang mengumpulkan kuda-kuda tinggi besar tunggangan para serdadu tadi. Ada pun Tan Hok sendiri memasang sebuah bendera kecil di batang pohon, bendera kecil tanda perkumpulan Pek-lian-pai, bendera kecil bergambar teratai putih!

"Tan-twako...!" Beng San meloncat keluar dan memanggil.

Semua orang terkejut. Seorang anggota Pek-lian-pai cepat melompat mendekati Beng San dan membentak, "Mata-mata Mongol, tangkap!"

Akan tetapi Tan Hok segera berseru, "Ahh, bukankah kau Adik Beng San?"

Dia berlari menghampiri dan mencegah kawan-kawannya menangkap Beng San, malah segera memperkenalkan, "Inilah anak ajaib Beng San, adikku yang sangat gagah berani. Ehh, Adik Beng San, kau dari mana tiba-tiba muncul di tempat ini?"

"Tan-twako, aku tadi melihat semua kejadian ini. Tadinya aku tidak tahu kenapa kau dan teman-temanmu mencegat dan membunuh serdadu-serdadu ini biar pun aku tahu betapa kejam dan jahatnya mereka. Akan tetapi... jika kau dan teman-temanmu hanya mengubur mayat kawan sendiri ini di sini, kau telah melakukan dua macam kesalahan.”

Semua anggota Pek-lian-pai melengak mendengar ini. Masa seorang anak kecil hendak menasehati orang-orang Pek-lian-pai?

Akan tetapi Tan Hok yang sudah banyak melihat keanehan pada diri anak ini, dengan sabar berkata, "Kau jelaskanlah, Adik Beng San. Kesalahan-kesalahan apakah itu?"
"Pertama, kau melanggar peri kemanusiaan kalau kau tidak mau mengubur mayat para serdadu ini. Bukankah dahulu kau mengubur semua mayat orang-orang kelaparan yang menggeletak di pinggir jalan?"

Tan Hok menarik napas panjang. "Lain lagi. Mereka itu adalah mayat-mayat bangsaku yang sengsara, yang kelaparan karena pemerasan kaum penjajah seperti anjing-anjing Mongol ini. Sebaliknya, mereka ini adalah musuh-musuh besar rakyat, untuk apa aku harus mengubur mereka?"

"Tan-twako, kau keliru. Yang kau benci adalah perbuatan mereka. Sekarang mereka sudah mati, tidak bisa berbuat apa-apa lagi, apakah mayat-mayat itu pun masih dibenci?"

"Kau memang aneh. Di dalam perang, kalau orang harus mengubur mayat musuh, bisa kehabisan waktu untuk mengubur saja! Dalam perang memang begitu, adikku, jangankan mayat musuh, bahkan mayat teman-teman sendiri kadang-kadang tidak ada waktu untuk mengurusnya. Dan apakah kesalahanku yang ke dua?"

"Kalau kau tidak mengubur mayat-mayat ini dan membiarkan mereka berserakan di sini, kau akan membikin celaka Hoa-san-pai pula. Bukankah mayat-mayat serdadu ini berada di kaki Gunung Hoa-san? Kalau sampai terlihat oleh pasukan negeri, sudah tentu mereka akan mengira bahwa Hoa-san-pai yang melakukannya..."

"Kan sudah kuberi tanda bendera kecil di sini," bantah Tan Hok.
"Betapa pun juga, kejadiannya di kaki Gunung Hoa-san, tentu Hoa-san-pai akan terlibat. Kalau mereka ini dikubur, tidak akan ada bekasnya lagi dan Hoa-san-pai akan terbebas dari sangkaan." Sambil berkata demikian Beng San lalu mulai menggali lubang untuk mengubur mayat sebanyak dua puluh orang lebih itu.

Ada pun Tan Hok dan kawan-kawannya, dengan kagum sekali mendengar ucapan Beng San tadi. Akhirnya mereka harus pula membenarkan ucapan itu. Bukankah ada golongan yang memang sengaja hendak memburukkan nama Pek-lian-pai dan kemudian mengadu Pek-lian-pai dengan lain-lain perkumpulan?

Memang tidak baik sekali kalau kelak pemerintah penjajah memusuhi Hoa-san-pai karena urusan perang di kaki Gunung Hoa-san ini. Tidak baik membuat Hoa-san-pai mengalami bencana karena perbuatan Pek-lian-pai.

"Saudara-saudara, hayo bantu Adik Beng San mengubur bangkai-bangkai anjing penjajah ini!" kata Tan Hok dengan suaranya yang keras.

Mereka segera turun tangan dan sebentar saja mayat-mayat itu sudah dikubur semua. Tiba-tiba seorang di antara mereka berlari datang dan berkata. "Sepasukan anjing Mongol sudah datang!"

Mereka semua mendengarkan dan betul saja, dari jauh terdengar derap kaki kuda yang banyak sekali. Tan Hok segera berunding dengan teman-temannya.

"Kita pancing mereka memasuki Lembah Pek-tiok-kok (Lembah Gunung Bambu Putih). Cepat kumpulkan semua kuda!" Akhinya keputusan ini diambil dan beramai-ramai mereka meninggalkan tempat itu.
"Adik Beng San, kau harus ikut kami kali ini!" kata Tan Hok sambil menggandeng tangan anak itu.

Karena Beng San amat tertarik dan kagum kepada rombongan orang-orang gagah ini dan ingin melihat apa yang hendak mereka lakukan terhadap para pengejar, pasukan musuh itu, maka dia menurut saja dan ikut berlari-lari dengan yang lainnya. Hati Beng San lega melihat orang-orang gagah ini berlari meninggalkan Gunung Hoa-san, kemudian mendaki gunung kecil yang gundul dan banyak batu-batu karangnya yang tinggi meruncing.

Derap kaki kuda dari belakang makin lama semakin terdengar dekat dan ketika mereka sudah mulai mendaki bukit, dari atas terlihatlah oleh mereka pasukan berkuda terdiri dari sedikitnya enam puluh orang mengejar mereka dari belakang!

Melihat ini, diam-diam Beng San khawatir. Sisa teman-teman Tan Hok termasuk pemuda raksasa itu sendiri hanya ada dua belas orang. Bagaimana mereka akan dapat melawan enam puluh orang serdadu musuh?

Jalan yang dilalui rombongan Tan Hok amat sukar, banyak lubang-lubang sehingga tak mungkin dilalui kuda. Tan Hok memimpin teman-temannya berloncatan melalui jalan ini dan setelah sampai di tempat yang agak tinggi, baru Beng San tahu bahwa kuda-kuda rampasan tadi tidak ikut dibawa ke tempat itu, entah sudah disembunyikan di mana oleh teman-teman Tan Hok. Anak ini sekarang mengerti, atau demikian dia mengira, bahwa Tan Hok dan teman-temannya memilih jalan ini supaya lawan yang berkuda tidak dapat mengejar mereka.

Akan tetapi, setelah mereka sampai di tempat yang lebih tinggi, Beng San kaget melihat betapa pasukan besar di belakang itu pun kini telah turun dari kuda dan terus mengejar mereka sambil berloncat-loncatan dan berlarian. Dilihat dari atas, enam puluh orang itu seperti semut yang merayap-rayap naik!

"Tan-twako, mereka mulai mengejar tanpa kuda!” kata Beng San khawatir sekali.

Tan Hok hanya tersenyum. "Jangan kau khawatir, Adik Beng San. Kita kaum Pek-lian-pai sudah biasa menghadapi musuh banyak. Musuh yang mengejar itu tidak ada seratus dan kita... bersama kau dan kita ada tiga belas orang. Takut apa?”

Diam-diam Beng San menghitung. Tiga belas orang melawan enam puluh orang lebih. Berarti seorang melawan lima orang musuh! Bagaimana raksasa ini masih bicara begitu enak? Beng San merasa heran, akan tetapi juga kagum.

"Aku jangan dihitung, Twako. Melawan satu orang saja belum tentu aku menang, bagai mana harus melawan lima orang?"

Tan Hok hanya tertawa saja. "Kau lihat saja nanti. Lihat dan pelajarilah cara-cara kaum Pek-lian-pai mengganyang musuh-musuhnya."

"Srrrt! Srrrt!"

Beberapa buah anak panah meluncur dari belakang. Salah satu anak panah hampir saja mengenai tubuh Tan Hok, baiknya raksasa muda ini cepat menangkisnya dengan golok. la nampak kaget ketika merasa telapak tangannya tergetar.

"Teman-teman, cepat! Dan awas, pelepas panah tadi lihai sekali. Kita lari sambil mencari perlindungan. Cepat!" la menarik tangan Beng San dan mendahului rombongannya.

Mereka sudah hampir sampai di puncak bukit. Tadinya anak panah dari belakang masih gencar menyerang, akan tetapi karena perjalanan itu berliku-liku, musuh dari belakang tak dapat melepas anak panah secara ngawur lagi.

Mereka tiba di daerah batu-batu besar yang banyak goanya. Tan Hok segera membawa teman-temannya memasuki goa besar yang ternyata merupakan terowongan batu dan alangkah herannya hati Beng San ketika ternyata olehnya bahwa rombongan itu jalannya menuju... kembali turun! Di tengah-tengah terowongan terdapat lubang-lubang di antara batu dan dari lubang-lubang ini mereka dapat mengintai musuh yang berada di luar.

"Ahh, benar pasukan itu berhenti, tidak mengejar terus," kata Tan Hok setelah mengintai. "Tentu dipimpin oleh orang pandai yang berpengalaman. Kita harus memancing mereka sampai di Pek-tiok-kok. Mari, teman-teman, cepat. Kita menggunakan kecerdikan musuh justru untuk menipu mereka."

Sambil berlari Tan Hok menggandeng tangan Beng San. Mereka memasuki terowongan yang gelap itu, diikuti teman-temannya. Tidak lama kemudian mereka sampai di tempat terbuka, keluar dari terowongan yang merupakan goa besar.

"Serbu mereka sambil berteriak-teriak. Jika mereka melawan pura-pura kalah biar mereka mengejar kita," bisik Tan Hok kepada teman-temannya. "Mungkin di pihak kita akan jatuh korban, akan tetapi ingat, pengorbanan kita itu tidak ada artinya bila akhirnya kita dapat menghancurkan mereka.”

Semua orang mengangguk menyatakan setuju dan rombongan ini kembali merayap naik karena mereka sekeluarnya dari terowongan itu ternyata telah berada di sebelah bawah kedudukan musuh. Mereka melihat barisan musuh memasang kedudukan di lereng, tidak mengejar terus.

Inilah kecerdikan pimpinan barisan itu, karena kalau tadi mereka terus mengejar, tentu mereka itu akan menjadi korban hujan Pek-lian-ting (Paku-paku Teratai Putih) yang tentu akan dilakukan oleh rombongan Tan Hok. Enak saja menyikat mereka dari terowongan, menyerang tanpa dapat diserang kembali dan karena jalanan sempit pasti musuh akan kacau-balau dan banyak jatuh korban.

Pimpinan tentara Mongol itu agaknya menaruh hati curiga, maka menyuruh pasukannya berhenti dan dia hanya menyuruh beberapa orang pengintai untuk merayap mendekati daerah berbatu-batu itu untuk melakukan penyelidikan.

Ketika mendengar bahwa di situ tak ada jejak orang-orang yang mereka kejar, pimpinan barisan itu berkata, "Kita tunggu saja, pasti mereka itu menggunakan siasat. Kita lihat saja apa siasat mereka. Dengan menanti di tempat terbuka ini sambil siap siaga, tak mungkin mereka dapat menipu."

Tiba-tiba mereka mendengar suara sorak-sorai dan paku-paku Pek-lian-ting beterbangan menyambar dari belakang! Kaget sekali barisan itu. Pemimpinnya sendiri pun amat kaget, karena apa pun yang akan dilakukan oleh rombongan pemberontak Pek-lian-pai yang dikejar tadi sama sekali dia tak pernah menduga bahwa yang dikejar itu tahu-tahu sudah muncul di belakangnya!

Mereka tak sempat lagi menggunakan panah, maka pemimpin ini berteriak-teriak memberi komando supaya melawan. Apa lagi ketika dilihatnya bahwa yang muncul hanya belasan orang lawan saja.

"Serbu! Bunuh habis para pemberontak!" teriaknya keras.

Tan Hok dan teman-temannya mengamuk. Dalam sekejap pemuda raksasa ini sedikitnya sudah merobohkan lima orang dan pertempuran yang berat sebelah ini hanya berjalan seperempat jam. Beng San oleh Tan Hok disuruh bersembunyi agak jauh agar jangan tertimpa bencana.

Tiba-tiba Tan Hok memberi aba-aba, "Mundur! Lari... musuh terlampau kuat!"

Teman-teman Tan Hok berlari cerai-berai, nampaknya kacau-balau ketakutan. Pemimpin barisan Mongol tertawa bergelak-gelak.

"Ha-ha-ha-ha-ha, tikus-tikus Pek-lian-pai, mampus kalian semua. Hayo kejar.”

Walau pun kelihatannya kacau-balau, sebenarnya rombongan teman-teman Tan Hok ini melarikan diri secara teratur. Mereka sengaja lari cerai-berai sehingga pengejaran musuh menjadi kacau pula. Dan apa bila ada seorang dua orang musuh terpencil, tiba-tiba yang dikejar muncul dari tempat sembunyinya dan merobohkan satu dua orang musuh dengan Pek-lian-ting. Dan akhirnya, karena memang sudah diatur lebih dulu, semua orang yang lari kacau-balau dan sebetulnya siasat untuk mengacau musuh, telah berkumpul lagi dan melarikan diri ke selatan.

Pimpinan barisan marah bukan main melihat betapa anak buahnya sudah dipermainkan. Seorang anggota Pek-lian-pai yang dapat dirobohkan, segera dia cincang dengan golok besarnya, kemudian dia memberi aba-aba kepada semua barisannya supaya mengejar terus dan membasmi habis rombongan Pek-lian-pai yang hanya terdiri dari belasan orang itu.

Beng San menyaksikan semua ini dengan kagum. Ketika rombongan ini lari ke selatan, ia ikut lari pula di samping Tan Hok, dikejar dan dihujani anak panah. Tiga orang temannya roboh pula terkena anak panah. Mereka tidak mati, hanya terluka parah.

Beng San ingin menolong mereka, tetapi Tan Hok mencegahnya, malah menghampiri tiga orang itu dan berkata, "Saudara-saudara, teruskan siasat kita!"

Tiga orang itu tersenyum lebar. Dengan muka pucat mereka mengangguk dan dengan tubuh mandi darah mereka diam-diam mempersiapkan Pek-lian-ting dan golok di tangan.

Sambil berlari Beng San tak dapat menahan keinginannya untuk menengok ke belakang, melihat ke arah tiga orang teman yang telah terluka itu. Dua orang terluka dadanya yang tertancap anak panah, sedangkan yang seorang lagi terluka parah pahanya karena anak panah menancap dan menembus pahanya.

"Adik Beng San, tak usah menengok. Mereka akan tewas sebagai satria sejati, mereka akan gugur sebagai bunga bangsa, sebagai patriot pahlawan tanah air."
"Apa? Mereka akan mati? Dan kau diamkan saja...?" Beng San tak dapat lagi menahan teriakannya dan dia sekarang mogok betul-betul, tidak mau lari lagi.

Tan Hok tersenyum dan memberi isyarat kepada teman-temannya supaya lari terus. Dia sendiri berkata, "Kau mau menyaksikan kegagahan mereka? Baiklah, mari kita mengintai dari sini." Dia membawa Beng San ke belakang sebuah batu besar dan berlutut di situ, mengintai ke arah tiga orang yang menggeletak tadi.

"Lihat, Adik Beng San. Lihat dan ingatlah selalu kepada kegagahan kaum Pek-lian-pai, patriot-patriot sejati,” bisik Tan Hok.

Barisan itu sudah tiba di tempat di mana tiga orang anggota Pek-lian pai itu menggeletak. Tiba-tiba tiga orang itu meloncat bangun dan menyambit dengan Pek-lian-ting. Terdengar pekik kesakitan dan beberapa orang pengejar terjengkang roboh.

Komandan barisan itu marah sekali. Anak panahnya menyambar dan seorang di antara tiga orang Pek-lian-pai roboh dengan leher tertembus anak panah. Yang dua mengamuk, dikeroyok dan biar pun mereka berhasil melukai dua orang lawan, namun mereka sendiri roboh dengan tubuh hancur dihujani senjata para pengeroyoknya.

Beng San menutupi mukanya, dia merasa ngeri.

"Twako, kenapa mereka tadi tidak dibawa lari saja? Kenapa kau begitu tega membiarkan teman-teman sendiri mati seperti itu?"

Tan Hok menarik tangan Beng San, diajak berlari pergi menyusul kawan-kawannya yang sudah melarikan diri terlebih dahulu. Di belakang mereka, serdadu-serdadu itu bersorak dan pengejaran dilanjutkan.

"Kau dengar itu, Beng San? Kematian tiga orang teman kita tadi selain tidak rugi karena mereka dapat merobohkan beberapa orang musuh, juga merupakan kelanjutan siasat pancingan kita. Karena kita meninggalkan teman-teman yang terluka, tentu para serdadu mengira bahwa kita ketakutan betul-betul dan melarikan diri kacau-balau, bukan sedang menjalankan siasat. Dalam siasat perang, pengorbanan tiga orang teman bukan apa-apa, bahkan kalau perlu, pengorbanan tiga ribu orang pahlawan masih belum terhitung mahal demi tanah air dan bangsa. Kau dengar? Mereka mengejar terus. Hayo cepat, kita sudah dekat Pek-tiok-kok."

Yang disebut Pek-tiok-kok atau Lembah Gunung Bambu Putih itu adalah lembah gunung yang penuh jurang-jurang berbahaya dan di sana-sini terdapat rumpun-rumpun bambu yang berwarna keputihan. Jalan di daerah ini berbahaya sekali, kadang-kadang sempit sekali, hanya dapat dilalui seorang saja dengan jurang-jurang dalam di kanan kiri yang juga penuh dengan rumpun bambu-bambu putih. Memang amat indah, akan tetapi juga amat berbahaya.

Menyambung jalan sempit diapit-apit jurang itu adalah jalan sempit diapit-apit batu karang yang tinggi di kanan kiri. Tan Hok membawa Beng San lari cepat melalui jalan sempit dan tiap kali terdengar suara-suara suitan di kanan kiri jalan, suara dari dalam jurang. Itulah suara teman-teman mereka yang sudah lebih dulu sampai di tempat itu dan memasang barisan pendam!

Tan Hok dan Beng San kemudian mendaki batu karang, menggunakan sehelai tambang besar yang memang sudah dipasang oleh teman-teman mereka. Di atas batu-batu itu, di kanan kiri, sudah menjaga pula beberapa orang teman.

Karena para anggota Pek-lian-pai itu pun sambil berlari membuang senjata golok mereka di sepanjang jalan, maka barisan pengejar makin bernafsu. Mereka merasa yakin bahwa orang-orang Pek-lian-pai yang mereka kejar itu sudah ketakutan setengah mati bahkan sudah lelah, buktinya senjata-senjata golok mereka berserakan di jalan.

Dengan bersemangat mereka memasuki Lembah Gunung Bambu Putih, didahului oleh komandan mereka yang memegang golok besar. Ketika memasuki lereng ini, barisan itu merupakan iring-iringan panjang sekali, karena jalan amat sempit.

Setelah semua serdadu masuk lembah gunung, tepat seperti yang sudah diperhitungkan oleh para pejuang yang berpengalaman itu, tiba-tiba terdengar suara keras dan dari atas batu-batu karang yang mengapit-apit jalan sempit, menggeludung turun batu-batu besar yang setibanya di jalan itu mengeluarkan suara hiruk-pikuk. Debu mengebul dan jalan itu tertutup!

"Celaka, kita terjebak! Mundur!" Komandan itu berseru dengan wajah pucat.

Barisan itu menjadi kacau. Takut kalau-kalau mendapat serangan gelap di jalan yang sempit itu, mereka saling tabrakan lari jatuh bangun untuk kembali melalui jalan sempit. Akan tetapi tiba-tiba di depan tampak asap bergulung-gulung ke atas dan... rumpun-rumpun bambu di kanan kiri jurang ternyata telah dibakar orang!

Api menjilat tinggi sampai di jalan sempit sehingga tak mungkin lagi orang bisa melaluinya. Kini barisan itu sudah terkurung, di depan dihalangi oleh batu-batu besar, dan di belakang dihalang-halangi api.

Selagi mereka kebingungan, tiba-tiba menyambar paku-paku Pek-lian-ting, juga batu-batu besar menggelundung dari atas karang. Teriakan-teriakan kesakitan terdengar, sementara serdadu-serdadu itu mulai roboh dan keadaan menjadi makin panik.


Komandan mencoba memberi perintah supaya semua bersikap tenang dan menghujani anak panah ke arah lawan. Akan tetapi karena lawan tidak kelihatan sedangkan mereka berada di tempat terbuka tanpa perlindungan sama sekali, serdadu-serdadu itu menjadi bingung. Lebih lagi ketika hujan api menyerang mereka, yaitu kayu-kayu terbakar yang dilemparkan ke arah mereka.

Serumpun bambu yang terbakar dilemparkan dari atas, tepat mengenai tubuh komandan pasukan itu. Dia berteriak-teriak dan meloncat-loncat ke sana kemari, bajunya terbakar, demikian pula rambut dan jenggotnya.
Akhirnya komandan ini menggelundung ke dalam jurang, disambut api yang berkobar.....

Beng San yang mengintai dari atas batu karang merasa kagum bukan main. Benar-benar hebat. Hanya sembilan orang saja mampu membasmi puluhan musuh. Akan tetapi selain kekagumannya, juga dia merasa ngeri dan bergidik. Bagaimana sesama manusia dapat melakukan pembunuhan besar-besaran seperti ini?

Beng San cukup tahu bahwa para serdadu Mongol itu mempunyai kebiasaan yang jahat terhadap rakyat, seperti yang pernah dilihatnya baru-baru ini. Akan tetapi menghadapi perang bunuh-bunuhan seperti itu, melihat manusia terpanggang oleh anak panah, orang terbakar hidup-hidup, dan melihat orang ketakutan setengah mati, dia tak kuasa melihat lebih lama lagi dan Beng San membuang muka.

Hanya sebentar saja perang ini terjadi. Siasat gerilya yang dilakukan oleh para anggota Pek-lian-pai benar hebat dan tak seorang pun di antara serdadu Mongol dapat meloloskan diri dari maut. Di pihak Pek-lian-pai, hanya tujuh orang termasuk Tan Hok dan Beng San yang masih hidup. Yang lain tewas terkena anak panah, bahkan ada yang ikut terbakar ketika dia sibuk membakari bambu untuk menjebak musuh. Tan Hok dan teman-temannya lalu berpencaran meninggalkan tempat itu.

"Kau hendak ke mana, Beng San?" tanya Tan Hok ketika melihat anak ini agak pucat dan nampak berduka.
"Aku hendak pergi ke Hoa-san," jawab Beng San singkat.
"Mari kau ikut saja denganku. Kau akan kumasukkan sebagai anggota Pek-lian-pai..."
"Tidak...! Tidak Aku tidak sudi menjadi pembunuh!"

Tan Hok memandang heran, tetapi hanya sebentar saja. la maklum bahwa anak ini tadi merasa ngeri menyaksikan pembunuhan terhadap musuh-musuh itu. Dia menggandeng tangan Beng San.

"Baiklah, kalau kau belum kuat perasaanmu untuk maju berperang. Mari kuantar kau ke Hoa-san. Setelah apa yang terjadi di sini, amat berbahaya melakukan perjalanan seorang diri di daerah ini. Kalau kau berjumpa dengan serdadu, kau akan ditangkap, dipukul dan dipaksa mengaku di mana adanya orang-orang Pek-lian-pai. Mari kau ikut aku, mengambil jalan rahasia untuk menuju ke Hoa-san."

Beng San menurut saja. Wajahnya yang cemberut dan muram dapat dimengerti oleh Tan Hok. Maka pemuda raksasa itu di sepanjang jalan lalu menceritakan keadaan dirinya, dan menceritakan keadaan Pek-lian-pai juga.

"Semenjak kecil, oleh guruku aku sudah diikut sertakan berkecimpung dalam perjuangan melawan pemerintah penjajah Mongol. Guruku yang sudah tidak ada lagi bernama Tan Sam. Dia adalah seorang tokoh terkenal di Pek-lian-pai. Kau tahu, Beng San, Pek-lian-pai merupakan perkumpulan kaum patriot yang anggotanya tersebar di seluruh negeri."

Dengan panjang lebar Tan Hok kemudian menceritakan sepak terjang Pek-lian-pai serta kegagahan para anggotanya yang pantang mundur dan rela mengorbankan nyawa untuk membela bangsa. Beng San yang telah banyak membaca kitab kuno, sudah banyak pula mendengar tentang riwayat para pahlawan, maka dia merasa kagum juga dan simpatinya terhadap Pek-lian-pai menjadi besar.

"Betapa pun juga, perang bunuh-membunuh itu menyakitkan hatiku," katanya sebagai komentar. "Jika membunuh seorang dua orang penjahat masih bisa kuterima. Akan tetapi puluhan orang itu, meski mereka semua orang-orang Mongol atau kaki tangan pemerintah Mongol, apakah mungkin orang sebegitu banyaknya itu jahat-jahat semua?"

Tan Hok tertawa lebar. "Di dalam perang, tidak ada istilah jahat ataukah tidak jahat. Tidak ada permusuhan pribadi. Tentu saja aku sendiri tidak membenci seorang pun serdadu Mongol atas dasar perasaan pribadi karena mengapa aku membenci seorang yang sama sekali tak kukenal? Tentu saja andai kata mereka tadi itu bukan serdadu-serdadu Mongol, aku tak akan sudi mengganggu mereka. Akan tetapi di dalam perang, mereka itu adalah musuh-musuh kita. Musuh rakyat yang harus dibasmi habis. Kalau tidak kita membunuh mereka, tentulah mereka yang akan membunuh kita."

Seorang anak sekecil Beng San yang belum pernah mendengar mengenai politik negara dan kebangsaan, mana bisa mengerti akan hal ini? Apa yang pernah dia pelajari hanyalah tentang peri kemanusiaan dan tentang filsafat-filsafat hidup yang pada umumnya mencela kekerasan dan tidak membenarkan tentang bunuh-membunuh.

Betapa pun juga, semangat Tan Hok saat bercerita membangkitkan rasa suka yang besar dalam hati Beng San, apa lagi setelah raksasa muda itu menjelaskan tentang penjajahan dan kesengsaraan rakyat karena diperas oleh kaum penjajah, yaitu bangsa Mongol.

"Sungguh menggemaskan bila kita pikirkan," demikian antara lain Tan Hok menceritakan, “bangsa kita adalah bangsa yang besar, yang memiliki rakyat banyak sekali. Sebaliknya bangsa Mongol adalah bangsa perantau yang tidak memiliki tempat tinggal yang tertentu, juga rakyatnya hanya sedikit. Akan tetapi bagaimana bisa bangsa kita malah dijajah dan diperbudak oleh bangsa Mongol? Padahal kalau rakyat kita semua bangkit dan melakukan perlawanan, setiap orang Mongol sedikitnya akan berhadapan dengan tiga puluh orang bangsa kita!"

"Kenapa tidak semua rakyat mau bangkit melakukan perlawanan?" tanya Beng San, mulai terbuka matanya dan dia pun merasa heran akan kenyataan ini.

Tan Hok menarik napas panjang. "Sayang di antara bangsa kita banyak yang mudah dan rela dipermainkan, masih banyak orang yang mabuk akan kesenangan diri sendiri tanpa mempedulikan keadaan rakyat jelata yang sengsara. Orang-orang kita yang pandai malah banyak yang menjadi kaki tangan Mongol, malah banyak pengkhianat-pengkhianat seperti ini sengaja memusuhi Pek-Lian-pai untuk membantu pemerintah penjajah. Perbuatan keji dan tidak tahu malu ini dilakukan hanya karena mengejar kesenangan duniawi untuk diri pribadi belaka. Mereka tidak malu menjual bangsa sendiri kepada penjajah. Benar-benar sikap yang memuakkan.”

Tan Hok lalu menceritakan pada Beng San tentang orang-orang dan golongan-golongan yang sengaja digunakan oieh pemenntah Mongol untuk menentang kaum pemberontak.

"Di antara mereka ini, yang paling menjemukan adalah kaum Ngo-lian-kauw. Ketuanya adalah Kim-thouw Thian-li. Dia itulah yang sudah membunuh guruku dan aku bersumpah demi tanah air dan keadilan, pada suatu hari aku pasti akan dapat membunuh siluman betina yang cabul itu!" Teringat akan perbuatan Kim-thouw Thian-li dahulu yaitu setelah membunuh gurunya, lalu hendak membunuhnya pula, dia menjadi merah mukanya dan kebenciannya mendalam.

"Aku telah mengumpulkan banyak keterangan tentang Ngo-lian-kauw, juga tentang semua perbuatan Kim-thouw Thian-li yang tak tahu malu. Perempuan cabul itu memang sengaja digunakan oleh pemerintah Mongol untuk melawan Pek-lian-pai. Dia benar-benar lihai dan jahat sekali, licin bagai belut dan banyak siasatnya."

"Mendengar namanya, Kim-thouw Thian-li (Bidadari Kepala Emas), tentulah dia seorang wanita yang baik. Sebutannya Thian-li (Bidadari), bagaimana bisa jahat? Pula, seorang wanita saja, apa dayanya terhadap Pek-lian-pai yang begitu banyak mempunyai anggota yang terdiri dari orang-orang gagah perkasa?"

Tan Hok tersenyum pahit. "Sebetulnya itu hanyalah nama yang dipilihnya sendiri, bagiku dia lebih patut disebut iblis betina dari pada bidadari. Tidak dapat dibantah bahwa dia memang cantik jelita. Kim-thouw Thian-li adalah murid tunggal dari Hek-hwa Kui-bo yang terkenal jahat dan kejam..."

"Ahhh...!"
"Kau sudah mendengar namanya?"
"Sudah... sudah...," jawab Beng San yang tentu saja sudah mengenal baik nenek itu.

"Meski Kim-thouw Thian-li adalah seorang wanita, jangan kau kira bahwa dia tak berdaya terhadap Pek-lian-pai. Dia licik, dan selain jumlah anggota Ngo-lian-kauw cukup banyak, juga di setiap tempat dia dibantu oleh para pembesar karena ia memiliki tanda kekuasaan dari kaisar sendiri. Sepak terjangnya sangat licin dan curang. Baru-baru ini dia berusaha keras untuk merusak nama baik Pek-lian-pai dengan perbuatan-perbuatan jahat yang dia sengaja lakukan sambil meninggalkan tanda-tanda Pek-lian-pai. Tentu saja perbuatannya ini dimaksudkan untuk merusak nama Pek-lian-pai, agar Pek-lian-pai dijauhi oleh rakyat dan bahkan dia sengaja hendak mengadu domba Pek-lian-pai dengan partai-partai besar lain. Pendeknya, segala usaha tak tahu malu dia jalankan untuk melemahkan perjuangan menentang pemerintah Mongol. Malah aku sudah mendapat keterangan dari penyelidik Pek-lian-pai bahwa dia sudah berhasil dalam usahanya mengacau hubungan baik antara Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai."

Beng San sangat kaget. Dia juga pernah mendengar tentang partai-partai besar di dunia persilatan dari Lo-tong Souw Lee, malah sekarang pun dia membawa surat Lo-tong Souw Lee untuk ketua Hoa-san-pai.

"Kenapa pula dia mengganggu Hoa-san-pai dan Kun-lunpai?"
"Sekarang ini di seluruh negeri, para orang gagah bangkit semangatnya untuk melawan penjajah dan banyak yang menggabungkan diri dengan Pek-lian-pai. Untuk mencegah hal inilah maka Kim-thouw Thian-li berusaha merusak hubungan antara partai-partai besar supaya bertengkar sendiri, terutama sekali agar mereka memusuhi Pek-lian-pai. Sayang sekali, seorang pendekar muda dari Kun-lun-pai sudah kena dipikat olehnya, dijatuhkan oleh kecantikannya."

Tan Hok yang sudah mendengar dari para penyelidik Pek-lian-pai, bahkan sudah melihat dengan mata kepala sendiri betapa penolongnya, yaitu Kwee Sin, terpikat oleh kecantikan Kim-thouw Thian-li, lalu menceritakan apa yang dia ketahui. Betapa Kim-thouw Thian-li dengan bantuan orang-orangnya menyamar sebagai orang-orang Pek-lian-pai, kemudian melakukan pelbagai kejahatan, di antaranya membunuh Liem Ta, ayah Liem Sian Hwa tunangan Kwee Sin.

"Tentu saja maksudnya untuk mengadu domba antara Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai," dia menutup ceritanya, "malah bukan itu saja maksudnya. Ia pun hendak mengadu dombakan kedua partai besar itu dengan Pek-lian-pai. Pernah dia melakukan penyerangan kepada dua saudara, Bun, murid-murid Kun-lun-pai dengan menyamar sebagai orang-orang dari Pek-lian-pai."

Beng San tertarik sekali. "Alangkah kejam dan jahatnya wanita itu."

"Karena itulah aku dan teman-teman selalu memasang mata mencarinya. Awas dia kalau terjatuh ke dalam tangan Pek-lian-pai!"

Karena berjalan sambil bercakap-cakap, tidak terasa lagi mereka sudah sampai di lereng Hoa-san. Tan Hok lalu menyuruh anak itu melanjutkan perjalanannya.

"Kau terus saja mengikuti jalan kecil ini, dan di dekat puncak sana itulah bangunan dari Hoa-san-pai. Mulai dari sini tidak akan ada yang berani mengganggumu lagi. Aku harus kembali kepada teman-temanku. Adik Beng San, selamat berpisah dan mudah-mudahan kelak kita akan bertemu kembali."

Beng San memberi hormat. "Tan-twako, siapa tahu kelak aku pun akan dapat membantu perjuanganmu."

Mereka berpisah dan dengan cerita-cerita Tan Hok masih terbayang dalam benaknya, Beng San mendaki puncak Hoa-san. Akan tetapi segera bayangan ini lenyap ketika dia melihat pemandangan alam yang amat indah dari puncak Hoa-san itu. Hawa udara pun amat segarnya.

Dia menghirup hawa sebanyaknya dan merasa bahwa dia akan betah tinggal di daerah ini…..

********************
Sudah amat lama kita meninggalkan Kwa Hong, gadis cilik putera tunggal Kwa Tin Siong, bocah mungil yang lincah gembira itu. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Kwa Hong diantar oleh Koai Atong menuju ke Hoa-san-pai menyusul ayahnya.

Biar pun usia Koai Atong sudah sebaya dengan Kwa Tin Siong, kurang lebih empat puluh tahun, namun orang ini memang tidak normal jiwanya, dan wataknya kadang-kadang atau sering kali seperti seorang kanak-kanak sebaya Kwa Hong.

Oleh karena wataknya inilah maka Kwa Hong merasa amat senang melakukan perjalanan bersama seorang teman yang cocok dan baik lagi lucu. Di samping ini, juga kelihaian Koai Atong merupakan jaminan bagi keselamatannya.

Seperti juga di partai-partai persilatan besar seperti Kun-lun-pai, Go-bi-pai, Siauw-lim-pai dan lain-lain, juga puncak Hoa-san ini merupakan pusat Hoa-san-pai yang ditinggali oleh banyak anak murid Hoa-san-pai. Mereka adalah tosu-tosu yang selain mempelajari ilmu silat sekedarnya, juga terutama sekali mempelajari ilmu kebatinan yang diturunkan oleh Nabi Locu. Di bawah bimbingan Lian Bu Tojin ketua Hoa-san-pai, para tosu ini rata-rata memiliki kesabaran besar dan bisa menjaga nama baik Hoa-san-pai sebagai orang-orang beribadat.

Kedatangan Kwa Hong menggirangkan para tosu yang menjaga di luar. Mereka ini tentu saja sudah mengenal baik puteri tunggal Kwa Tin Siong yang sering mengajak anaknya mengunjungi Hoa-san. Akan tetapi para tosu ini pun terheran-heran melihat orang yang datang bersama Kwa Hong, seorang laki-laki tinggi besar berusia empat puluh tahun akan tetapi cengar-cengir dan ikut berlari-larian di samping Kwa Hong yang seorang anak kecil!

"Supek (Uwa Guru) sekalian! Aku datang menyusul ayah. Di mana ayah dan bibi guru?" Datang-datang Kwa Hong berteriak-teriak kepada para tosu itu.

Tiga orang tua menghampiri Kwa Hong sambil tersenyum, "Ayahmu dan bibi gurumu tidak berada di sini, belum kembali. Lebih baik segera pergi menghadap kakek gurumu, Hong Hong." Para tosu itu biasa memanggil Kwa Hong dengan sebutan Hong Hong dan mereka amat menyayang bocah yang mungil dan selalu gembira ini.

Memang, di antara para cucu murid Lian Bu Tojin, hanya Kwa Hong yang paling sering berdiam di puncak itu karena dia amat dimanja oleh ayahnya dan sering diajak ikut pergi mengembara bersama ayahnya. Kwa Hong berlari sambil tertawa-tawa hendak memasuki bangunan besar berbentuk kelenteng untuk menghadap sukong-nya (kakek gurunya).

"Enci Hong, jangan tinggalkan aku! Aku ikut!" Koai Atong juga lari mengejar.
"Hong Hong, kenapa kau bawa-bawa orang tolol ini? Ehh, orang gila, jangan kurang ajar kau. Tidak boleh masuk!" Tiga orang tosu itu tentu saja hendak melarang Koai Atong yang seenaknya saja hendak memasuki kelenteng itu. Mereka melangkah maju menghadang dan membentangkan kedua lengan menghalanginya.
"Aku mau ikut Enci Hong... melihat-lihat kelenteng!" Koai Atong membantah dan lari terus.

Tiga orang tosu itu menggerakkan tangan untuk memegangnya. Koai Atong bergerak aneh dan... tahu-tahu dia telah dapat menyelinap masuk, lolos dari tangkapan tiga orang tosu itu.

Tentu saja tiga orang tosu ini saling pandang dengan mulut melongo. Mereka tidak dapat mengikuti gerakan Koai Atong, tidak tahu bagaimana orang itu dapat meluputkan diri dari cengkeraman tiga orang dan tahu-tahu sudah menyelonong masuk. Dari heran mereka menjadi malu dan marah.

"Otak miring, perlahan jalan. Kau tidak boleh masuk!" bentak mereka sambil lari mengejar.

Sekarang mereka mengambil keputusan untuk tidak bersikap lemah lagi, dan kalau perlu orang gila itu harus dipukul. Akan tetapi ketika mereka maju untuk mencengkeram dan memukul, tanpa menoleh Koai Atong menggerakkan kedua lengannya ke arah belakang. Sekaligus dia menangkis tangan tiga orang tosu itu dan... tiga orang tosu itu terjengkang dan roboh!

Hal ini terlihat oleh beberapa orang tosu lain. Mereka menjadi marah dan bersama tiga orang tosu pertama yang sudah bangun lagi, sekarang ada tujuh orang tosu mengejar Koai Atong dengan marah-marah. Baru tosu-tosu ini serentak berhenti mengejar ketika mendengar suara halus dari dalam kelenteng.

"Jangan ganggu dia. Biarkan Koai Atong masuk ke dalam!"

Itulah suara Lian Bu Tojin ketua Hoa-san-pai. Tentu saja para tosu itu sama sekali tidak berani membantah, apa lagi sesudah mendengar bahwa orang tua yang seperti berotak miring itu adalah Koai Atong, seorang kang-ouw yang namanya sudah pernah mereka dengar sebagai seorang yang berilmu tinggi akan tetapi yang berwatak bagaikan bocah! Mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela napas ketika Koai Atong yang mendengar suara Lian Bu Tojin itu kini menoleh kepada mereka, menyeringai dan meleletkan lidah seperti seorang anak nakal mengejek anak-anak lain!

Satu-satunya orang yang agak ditakuti Kwa Hong adalah Lian Bu Tojin. Kakek gurunya ini orangnya sabar sekali, bicaranya halus dan tidak pernah bersikap galak. Akan tetapi bagi Kwa Hong, pandang mata kakek gurunya itu amat tajam dan langsung menjenguk isi hati orang, kadang-kadang berkilat dan membuat hatinya mengkeret.

Maka sekarang ia berlutut dengan hormat di depan kakek gurunya yang duduk bersila di atas lantai bertilam kasur tipis. Koai Atong yang memasuki ruangan itu sambil celingukan dan pringas-pringis, setelah melihat kakek yang berjenggot panjang itu, segera pula turut menjatuhkan diri berlutut di sebelah Kwa Hong.

Lian Bu Tojin mengelus-elus jenggotnya yang panjang, tubuhnya yang tinggi dan kurus itu duduk bersila tegak, tongkat bambunya yang membuat namanya amat terkenal itu terletak di sebelah kirinya. Bibirnya tersenyum dan dia mengangguk-angguk senang.

"Bagus, Hong Hong, kau sudah datang. Ehh, Koai Atong, terima kasih atas jerih payahmu mengantar dia ke sini. Bagaimana dengan gurumu?"

Koai Atong mengangkat mukanya memandang. "Suhu... entah di mana sekarang. Teecu mohon Totiang suka mintakan maaf kepada suhu kalau kelak suhu marah dan menghajar teecu. Tidak mestinya teecu sampai ke Hoa-san."

Dengan sabar Lian Bu Tojin mengangguk-angguk. "Tentu saja, kau tidak perlu khawatir. Gurumu Giam Kong Hwesio tak akan marah apa bila dia tahu bahwa kau mengantar cucu muridku ke sini. Kalau kau kembali dan bertemu padanya, harap kau sampaikan salamku kepadanya."

Koai Atong hanya mengangguk-angguk.

Kwa Hong ingin sekali bertanya tentang ayahnya kepada kakek gurunya itu, akan tetapi di depan kakek itu, entah mengapa, mulutnya sukar sekali dibuka. Tetapi kakek yang sudah kenyang makan asam garam penghidupan itu, sekali pandang saja telah dapat menduga apa yang dipikirkan Kwa Hong.

"Hong Hong, ayahmu bersama kedua susiok dan sukouw-mu pergi turun gunung. Kurasa tidak lama lagi, dalam beberapa hari ini mereka akan datang. Di belakang sana ada tiga orang saudara-saudaramu, anak-anak dari kedua susiok-mu. Kau pergilah ke sana dan bermain dengan mereka."

Wajah Kwa Hong tiba-tiba berseri gembira. "Enci Bwee di situ?"

Ketika kakek itu mengangguk. Kwa Hong lalu bangkit dan lari ke belakang melalui pintu samping.

Koai Atong yang masih berlutut, memandang ke arah larinya Kwa Hong, kemudian ia berkata. "Totiang, perkenankan teecu bermain-main di sini selama beberapa hari dengan Enci Hong."

Lian Bu Tojin tersenyum, akan tetapi suaranya tegas ketika berkata. "Atong, kau boleh bermain-main dengan anak-anak itu di sini selama tiga hari. Tak boleh lebih dari tiga hari. Suhu-mu tentu akan menanti-nanti kembalimu."

Sambil mengangguk-angguk Koai Atong lalu berlari gembira mengejar Kwa Hong yang pergi menuju ke taman bunga di belakang kelenteng. Setibanya di taman bunga yang luas dan indah itu, Koai Atong melihat Kwa Hong sedang bercakap-cakap gembira dengan tiga orang anak lain, yaitu dua orang anak laki-laki yang tampan dan seorang anak perempuan yang cantik seperti Kwa Hong.

Biar pun Kwa Hong tampak yang paling muda di antara mereka, namun jelas bahwa tiga orang anak-anak lain itu mengagumi dan menghormatnya, terlihat dari cara mereka itu mendengarkan kata-kata Kwa Hong yang sedang menyombongkan semua pengalaman dirinya yang hebat-hebat, tentu saja dengan tambahan di sana-sini, agar lebih seram dan menarik.

Seperti kita telah ketahui, tiga orang anak itu bukan lain adalah Thio Ki dan Thio Bwee, putera-puteri Thio Wan It, dan yang seorang lagi adalah Kui Lok putera tunggal Kui Teng. Tiga orang anak itu masih berada di Hoa-san, mereka menanti orang tua mereka sambil memperdalam ilmu silat di bawah asuhan Lian Bu Tojin sendiri. Oleh karena Kwa Hong adalah puteri dari orang pertama dari Hoa-san Sie-eng, apa lagi karena memang Kwa Hong lebih sering dan lebih banyak merantau dari pada mereka, ditambah lagi sifat yang lincah gembira, membuat tiga orang anak itu amat mengagumi Kwa Hong.

Tiba-tiba Kui Lok menudingkan telunjuknya ke arah seorang yang berlari-lari memasuki taman. "Ehh, dari mana datangnya orang gila?"

Semua anak menoleh dan melihat seorang laki-laki tinggi besar berlari datang sambil tertawa-tawa. Pakaian dan sepatu laki-laki tinggi besar ini berkembang-kembang seperti yang biasa dipakai wanita. Tentu saja dia ini adalah Koai Atong yang sangat gembira melihat taman bunga begitu indah dan di situ terdapat banyak teman bermain pula.

Kwa Hong tertawa. "Dia bukan orang gila. Dia itulah Koai Atong yang baru saja aku ceritakan tadi. Dia lihai bukan main, orangnya lucu dan pandai bermain-main. He, Koai Atong, ke sinilah. Banyak teman di sini!"

Sambil berloncat-loncatan Koai Atong mempercepat larinya, congklang seperti seekor kuda besar. "Wah, Enci Hong. Aku senang di sini, banyak bunga indah. Tosu tua itu sudah memberi ijin kepadaku untuk tinggal di sini selama tiga hari. Hore, kita bisa bermain-main sepuasnya!"

Thio Ki dan Kui Lok memandang Koai Atong dengan kening berkerut, sedangkan Thio Bwee memandang orang aneh itu dengan perasaan ngeri dan jijik. Bagaimana mereka bisa bermain-main dengan seorang gila seperti ini?

Tanpa mempedulikan sikap ketiga orang anak yang lain itu, Kwa Hong berkata gembira kepada Koai Atong, "Eh, Atong, kau berkenalan dulu dengan teman-teman ini yang semua adalah orang-orang sendiri."

Dia lalu menyebut nama ketiga orang anak itu seorang demi seorang. Dengan sepasang matanya yang berputaran, Koai Atong memandang tiga orang anak itu seorang demi seorang. Thio Bwee sampai melangkah mundur setindak saking ngerinya.

"Masa orang tua bermain-main dengan anak-anak?" Thio Ki mencela sambil memandang tajam kepada Koai Atong. Dia tidak percaya kepada orang tinggi besar ini yang menurut pandangannya tentu bukan orang baik-baik.
"Benar, Ki-ko (Kakak Ki). Aku pun tidak sudi bermain-main dengan dia. Ihhh, kakek-kakek mau bermain dengan anak kecil!" Thio Bwee memperkuat pendapat kakaknya.

Akan tetapi Kui Lok mendadak berkata sambil memandang Kwa Hong, "Kalau Adik Hong sudah menjadi temannya, mengapa kita tidak? Koai Atong, aku juga suka bermain-main denganmu, sama seperti Adik Hong."

Thio Bwee menoleh kepada Kui Lok. Sepasang matanya seperti berapi. Biasanya anak ini pendiam, akan tetapi entah mengapa, kini agaknya dia marah sekali kepada Kui Lok.

"Kau memang selalu lain dari pada orang lain. Tidak hanya tangan, juga pikiranmu!"

Wajah Kui Lok menjadi merah mendengar sindiran ini. la maklum bahwa Thio Bwee tadi menyindir tangannya yang kidal.

Kwa Hong tertawa, sama sekali tidak marah karena temannya dicela. "Dulu pun aku tidak suka, akan tetapi setelah melihat betapa lihainya Koai Atong, dan betapa dia baik hati dan penurut, aku lalu menjadi suka padanya. Hemmm, kalian ini bertiga menghadapi tangan kirinya saja tak akan mampu mengalahkannya. Dia lihai sekali, mungkin tidak kalah oleh ayah kalian."

"Bohong..,..!" seru Thio Bwee marah.
"Aku tidak percaya...!" kata Thio Ki penasaran.

Kui Lok juga terpukul oleh ucapan Kwa Hong itu. la ragu-ragu, mengerutkan kening dan menggeleng-geleng kepala. "Ahh, agaknya tak mungkin..." akhirnya dia berkata.

"Kalian tidak percaya? Kurasa, dua orang ayah kalian maju bersama masih tidak mampu melawan Koai Atong. Kalian tahu? Dia pernah menolong ayah dan bibi guru. Hebat sekali. Penjahat-penjahat lihai dia kalahkan hanya dengan memutar-mutar tangan kirinya seperti ini..."

Dengan lincah dan lucu Kwa Hong lalu memutar-mutar tangan kiri beberapa lama sambil menggigit bibir, kemudian sambil berseru, "mati...!" tangan kirinya itu mendorong ke depan ke arah batang pohon besar yang tumbuh di situ. Beberapa helai daun pohon gugur dari tangkainya.

"Ahh, Enci Hong, kurang tenaga... kurang tenaga...! Gerakanmu sudah cukup indah, tapi pukulan itu belum mengandung tenaga. Lihat begini Iho!"

Koai Atong lalu memutar-mutar tangan kirinya seperti yang dilakukan Kwa Hong barusan, menggerakkan tangan itu perlahan ke depan, ke arah pohon yang tadi. Hebat sekali akibatnya. Pohon yang jaraknya antara dua meter dari tempat dia berdiri, tidak kelihatan goyang akan tetapi tiba-tiba semua daunnya rontok dari atas seperti hujan. Ketika semua anak memandang, ternyata bahwa pohon itu tiba-tiba menjadi gundul tak berdaun lagi!

Kwa Hong tersenyum girang dan bangga ketika melihat betapa Thio Ki, Thio Bwee, dan Kui Lok memandang dengan muka pucat. Bahkan Kui Lok meleletkan lidahnya saking heran dan kagumnya!

"Nah, bukankah dia hebat dan sangat lucu?, Kalau kalian berbaik kepadanya, kalian juga bisa mempelajari ilmunya, seperti aku. Kelak kita akan menjadi orang-orang yang lebih lihai dari pada ayah. Bukankah hebat?" kata pula Kwa Hong.
"Heee, siapa bikin rontok semua daun pohon itu? Celaka, pohon itu akan mati!"

Seruan ini dibarengi munculnya tiga orang tosu dari pintu taman. Ketika tiga orang tosu itu melihat Koai Atong, mereka makin marah. Mereka ini bukan lain adalah tosu-tosu yang tadi telah dirobohkan Koai Atong.

Seorang di antara mereka, yang matanya juling, melangkah maju dan menudingkan jari telunjuknya ke arah Koai Atong sambil membentak.
"Orang gila ini berada di sini? Hong Hong, jangan biarkan dia di sini. Tentu dialah yang merusak pohon itu. Ahh, celaka, Hoa-san-pai kedatangan iblis gila!"

Kwa Hong melihat Koai Atong cengar-cengir dan mengejek ke arah tiga orang tosu itu dengan mulut dan mata dimain-mainkan, matanya melotot plerak-plerok dan mulutnya kadang-kadang dipencas-penceskan atau lidahnya dikeluarkan dan diulur ke arah ketiga orang tosu itu.

Sambil menahan ketawanya melihat ‘kenakalan’ Koai Atong, Kwa Hong cepat berkata, "Sam-wi Supek (Uwa Guru Bertiga) harap jangan marah. Koai Atong sudah mendapat perkenan sukong (kakek guru) untuk bermain-main di sini selama tiga hari."

Tiga orang tosu itu cemberut dan bersungut-sungut, "Orang gila diperbolehkan mengacau taman, merusak bunga dan merusak watak anak-anak. Celaka...! Biarlah, pinto (aku) akan berdoa selama tiga hari kepada para dewa agar supaya dia dikutuk...!" kata tosu bermata juling sambil mengajak teman-temannya pergi.

Setelah menyaksikan ketihaian Koai Atong tadi, di dalam hati tiga orang anak itu timbul keinginan hendak mempelajari ilmu pukulan tadi.

"Koai Atong, kau memang lihai sekali. Ajarkan ilmu pukulan tadi kepadaku!" kata Kui Lok mendekati.
”Kami pun ingin mempelajarinya," kata Thio Ki dengan sikapnya yang masih angkuh. Thio Bwee diam saja akan tetapi diam-diam dia mengambil keputusan bahwa kalau semua orang mempelajari, dia pun tak akan mau ketinggalan.

Melihat betapa anak-anak itu semua sekarang suka kepadanya, Koai Atong menjadi gembira sekali. Memang dia sudah tua, namun jiwanya memang tidak normal, sifatnya seperti kanak-kanak yang tentu saja merasa bangga dan suka apa bila anak-anak lain kagum kepadanya.

Ia tertawa-tawa dan berkata, "Mau belajar? Boleh, boleh, akan tetapi tidak mudah. Biarlah kita pergunakan pohon-pohon di taman ini sebagai lawan dalam latihan. Lihatlah baik-baik bagaimana kedudukannya kedua kaki, gerakan tangan kiri dan di mana letaknya tangan kanan. Begini."

Koai Atong lalu memberi petunjuk yang diturut oleh tiga orang anak itu. Mula-mula Thio Bwee masih malu-malu, akan tetapi kemudian melihat betapa Kwa Hong juga memberi petunjuk-petunjuk, ia menjadi tertarik dan ikut-ikut juga.

"Sudah bagus, sudah baik. Kalian cucu-cucu murid Hoa-san-pai memang berbakat," kata Koai Atong senang. "Sekarang mari coba memukul pohon-pohon itu. Kalian perhatikan baik-baik."

Koai Atong lalu menghampiri sebatang pohon besar, kemudian dengan sepenuh tenaga dia mendorong dengan gerakan pukulan Jing-tok-ciang. Akan tetapi pada saat itu, dari belakang pohon berkelebat bayangan orang dan di situ telah berdiri Lian Bu Tojin, tangan kiri memegang tongkat bambu sedangkan tangan kanannya diluruskan untuk menyambut dorongan tangan kiri Koai Atong.

"Atong, jangan merusak pohon...," kata tosu tua itu.

Koai Atong yang berwatak kanak-kanak itu pada dasarnya bukan dari kalangan baik-baik, maka setiap kali dilawan, dia tentu akan menggunakan kepandaiannya untuk mencapai kemenangan. Maka begitu dia merasa betapa pukulannya Jing-tok-ciang disambut oleh tangan kakek itu, dia mengerahkan tenaga dan melanjutkan pukulan itu dengan dorongan maut yang penuh hawa Jing-tok-ciang (Racun Hijau).

Kedua tangan itu bertemu dan lengket. Tangan kiri Koai Atong berubah kehijauan. Akan tetapi Lian Bu Tojin hanya berdiri tersenyum sambil memandang tajam. la maklum akan watak seorang seperti Koai Atong yang tentu tidak jauh dengan watak guru anak tua ini, teman baiknya, Ban-tok-sim Giam Kong. Dari julukannya saja, Ban-tok-sim berarti Hati Selaksa Racun. Dapat dibayangkan bagaimana watak guru Koai Atong.

Kwa Hong dan teman-temannya merupakan anak-anak dari para ahli silat Hoa-san-pai. Sebagai anak-anak yang semenjak kecil kenal akan seluk-beluk persilatan tingkat tinggi, tentu saja mereka tahu apa yang sedang terjadi antara Koai Atong dan sukong (kakek guru) mereka, yakni adu kepandaian atau lebih tepat adu tenaga dalam. Mereka semua memandang dengan muka berubah dan mata bersinar-sinar.

Ada dua menit Koai Atong dan ketua Hoa-san-pai itu berdiri tegak sambil meluruskan tangan. Akhirnya Lian Bu Tojin berkata perlahan.
"Koai Atong, kau sudah maju banyak."

Begitu ucapan ini habis dikeluarkan, tiba-tiba tubuh Koai Atong terdorong ke belakang sampai lima langkah tanpa dapat dicegahnya lagi. Mukanya menjadi merah sekali dan tiba-tiba Koai Atong mengeluarkan anak panahnya yang berwarna hijau. Inilah senjatanya yang ampuh dan hebat.

Lian Bu Tojin melihat ini kemudian tertawa. Tentu saja dia tidak bisa menganggap murid temannya ini sebagai musuh atau lawan yang seimbang.

"Aha, Atong, kau hendak memperlihatkan Ilmu Silat anak panah? Silakan, silakan, biar kau nanti dapat melapor kepada gurumu bahwa ketua Hoa-san-pai meski pun sudah tua tetapi belum lemah benar..."

Ucapan ini merupakan perkenan bagi Koai Atong yang tadinya masih ragu-ragu untuk menyerang kakek itu. Mendadak dia berseru keras dan tubuhnya berkelebat ke depan. Sekaligus anak panah di tangannya sudah melakukan serangan susul-menyusul sampai delapan kali banyaknya.

Anak panah itu berubah menjadi segulung sinar hijau menyambar-nyambar ke arah diri kakek itu. Kwa Hong dan teman-temannya memandang penuh kekhawatiran. Akan tetapi Lian Bu Tojin dengan tenang menggerakkan tongkat bambunya.

Terdengar bunyi keras delapan kali ketika anak panah itu selalu terbentur tongkat bambu ke mana pun juga digerakkan. Memang ilmu pedang Hoa-san-pai luar biasa hebat. Jelas kelihatan oleh Kwa Hong dan teman-temannya bahwa kakek gurunya itu hanya mainkan jurus Tian-mo Po-in (Payung Kilat Sapu Awan) dari Ilmu Pedang Hoa-san Kiam-hoat. Tapi cara pergerakannya demikian sempurnanya sehingga delapan macam serangan dari Koai Atong dapat digagalkan!

Kemudian terdengar seruan perlahan dari kakek itu. "Koai Atong, sekarang jagalah jurus dari Hoa-san ini."

Tongkat bambu bergerak perlahan dan... anak panah itu terlepas dari tangan Koai Atong, terlempar ke atas. Akan tetapi Koai Atong lantas memperlihatkan kelihaiannya. la dapat menggulingkan tubuh melepaskan diri dari lingkaran tongkat bambu, kemudian tubuhnya melesat ke atas dan tahu-tahu anak panah itu sudah dipegangnya lagi. la mengeluarkan suara seperti orang menangis kemudian... dia lari tunggang-langgang dan meninggalkan taman seperti seorang anak kecil nakal melarikan diri karena takut mendapat hukuman.

Lian Bu Tojin tertawa, lantas mengerahkan khikang berkata ke arah larinya Koai Atong, "Atong, sampaikan salamku kepada gurumu Giam Kong!"

Setelah Koai Atong pergi, kakek ini berubah mukanya. Kini keren dan sungguh-sungguh. la menghadapi Kwa Hong dan teman-temannya, kemudian terdengar kakek ini berkata, suaranya menahan kemarahan.

"Kwa Hong, bagaimana bunyi larangan ke tiga dari Hoa-san-pai?"

Berubah wajah Kwa Hong, agak pucat. Kalau kakek gurunya sudah memanggil namanya dengan penuh, tidak Hong Hong seperti biasanya, itu bisa diartikan bahwa kakek gurunya benar-benar marah.

Setelah menjura ia pun berkata sambil menundukkan muka, "Larangan ke tiga berbunyi: Setiap orang murid Hoa-san-pai tidak boleh mempelajari ilmu silat dari luar Hoa-san-pai tanpa seijin gurunya.”

"Hemmm, baik kau masih ingat. Tapi, kenapa kau tadi mempelajari Jing-tok-ciang yang amat keji itu dari Koai Atong?"

Suara tosu tua itu kedengarannya makin marah, membuat Kwa Hong kaget dan takut sekali. la memang paling takut kepada kakek gurunya ini. Akan tetapi ia pun merasa heran mengapa orang tua ini marah-marah, padahal biasanya amat sabar.

"Saya... saya mengaku salah, Sukong. Siap menerima hukuman!"

Anak perempuan ini menjatuhkan diri berlutut di depan kakek gurunya. Tiga orang anak yang lain melihat ini menjadi ketakutan pula dan mereka pun serta-merta menjatuhkan diri berlutut dan berkata hampir berbareng.

”Teecu juga mengaku salah dan siap menerima hukuman”.

Melihat cucu-cucu muridnya berlutut siap menerima hukuman dan sikap anak-anak yang penuh ketaatan akan peraturan Hoa-san-pai, sikap yang memang sudah terkenal dari murid-murid Hoa-san-pai, kemarahan ketua Hoa-san-pai ini mereda.

"Kalian tahu," katanya, suaranya masih keren, "apa hukuman bagi murid yang melanggar larangan ke tiga itu?"

Empat orang anak itu mengangguk.

"Si pelanggar harus membuang ilmu yang dipelajarinya di luar Hoa-san-pai, kalau perlu badannya dirusak supaya ilmu itu tidak dapat dipergunakan. Baiknya kalian belum pandai mempergunakan Jing-tok-ciang, kalau sudah pandai, pinto (aku) tidak akan segan-segan mematahkan tangan kiri kalian!"

Jelas tampak betapa empat orang anak itu pucat dan gemetar mendengar ini.

"Hong Hong, kelancanganmu belajar dari Koai Atong masih belum seberapa bahaya jika dibandingkan dengan perbuatanmu membujuk saudara-saudara seperguruan untuk turut mempelajarinya pula. Perbuatan itu buruk sekali."

Biar pun ia dimarahi, namun Kwa Hong yang cerdik menjadi lega mendengar cara kakek itu menyebut namanya. Itu berarti bahwa kakek gurunya tidak marah lagi kepadanya.

"Teecu tidak membujuk, Sukong. Mereka memang suka mempelajari setelah melihat Koai Atong memukul pohon."
"Betul, Sukong. Teecu yang bersalah, ingin belajar, sama sekali tidak dibujuk oleh Adik Hong," kata Kui Lok cepat-cepat.
"Teecu juga tidak dibujuk," sambung Thio Ki. Thio Bwee diam saja, hanya melirik ke arah Kui Lok.

"Sudahlah," kata kakek itu. "Kalian anak-anak harus ingat baik-baik. Sebetulnya bagi aku sendiri yang menjadi ketua Hoa-san-pai, belajar ilmu silat dari golongan lain bukanlah hal yang amat buruk. Akan tetapi mengapa diadakan peraturan dan larangan di Hoa-san-pai? Bukan lain untuk menjaga dan mencegah anak-anak murid Hoa-san-pai menyeleweng mempelajari ilmu yang sesat. Kalau sampai terjadi demikian, apa bila sampai ada anak murid Hoa-san-pai mempelajari ilmu yang sesat kemudian menyeleweng dan melakukan perbuatan jahat, bukankah hal itu akan merusak nama baik Hoa-san-pai?"
"Sukong," kata Kwa Hong yang sekarang sudah timbul keberaniannya. "Apakah ilmu silat dari Koai Atong termasuk ilmu sesat?"

Kakek itu menarik napas panjang dan mengelus jenggotnya. "Sesungguhnya, kalau mau berkata secara jujur, di dunia ini tak ada ilmu yang sesat. Semua ilmu itu baik, tergantung kepada si pemakai ilmu. Ilmu dapat menjadi baik kalau dipergunakan untuk kebajikan. Sebaliknya, biar pun ilmu yang amat bersih, apa bila dipergunakan untuk kejahatan, dapat menjadi ilmu yang kotor dan buruk."

Empat orang anak itu saling pandang tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh sukong mereka.

Kakek ini pun agaknya maklum, karena itu sambil tersenyum dia berkata lagi, "Biarlah aku jelaskan. Misalnya saja ilmu bun (kesusastraan), siapa bilang bahwa ilmu membaca dan menulis ini bersifat buruk? Akan tetapi tetap saja baik buruknya tergantung pada pemakai ilmu. Ilmu ini baik apa bila dipergunakan untuk membuat sajak-sajak indah, menuliskan ilmu-iimu yang tinggi dan sebagainya. Akan tetapi bukankah menjadi ilmu yang sangat buruk dan jahat apa bila dipergunakan orang untuk membuat surat-surat fitnah, membuat laporan-laporan palsu, dan lain-lain seperti yang sekarang ini sering kali dilakukan orang?"

Barulah Kwa Hong dan teman-temannya mengerti. Memang pada waktu itu, sebagian besar rakyat tidak pandai membaca dan menulis. Sepucuk surat fitnah saja cukup untuk mencabut nyawa seorang yang buta huruf. Apa lagi di kota-kota besar dan terutama di kota raja, kepandaian menulis menjadi senjata yang jauh lebih ampuh dari pada selaksa pedang dan lebih jahat dan keji dari pada ular-ular berbisa.

"Nah, jelaskah sekarang? Baru ilmu menulis saja sudah begitu jahat, apa lagi ilmu silat. Aku tidak mau bilang bahwa ilmu yang diajarkan oleh Koai Atong itu jahat, akan tetapi sifat dari Jing-tok-ciang amatlah berbahaya. Ilmu pukulan itu tidak ada ampunnya, sekali saja dipergunakan, kalau yang menerima kurang kuat, bisa merenggut nyawa. Kalau tadi aku tak kuat menahan pukulannya, apakah sekarang aku tidak sudah menggeletak mampus? Ha-ha-ha!"

Kwa Hong dan teman-temannya bergidik dan baru terbuka mata mereka akan perbedaan ilmu silat Hoa-san-pai dan Ilmu Jing-tok-ciang. Dari kata-kata kakek gurunya itu mereka tahu bahwa sebetulnya ilmu silat milik Hoa-san-pai tidak usah kalah oleh Jing-tok-ciang, sungguh pun Jing-tok-ciang kelihatan luar biasa dan mukjijat.

"Kalian yang tekun belajar ilmu silat kita sendiri, yang rajin berlatih, kalau ilmu silat kalian sudah mencapai tingkat setaraf dengan tingkat Koai Atong, kalian takkan kalah olehnya." Kakek ini menarik napas panjang dan berkata lagi, perlahan seperti pada diri sendiri, "Sayangnya... sampai sekarang tidak ada tulang yang cukup baik untuk menjadi ahli waris Hoa-san-pai... bahkan yang sebaik Koai Atong saja tak ada..." Setelah berkata demikian, dengan muka sedih kakek ini meninggalkan taman.

Terbangkit semangat Kwa Hong, Thio Ki, Thio Bwee, dan Kui Lok mendengar wejangan-wejangan Lian Bu Tojin tadi. Sejak saat itu, mereka lalu berlatih dengan giat, setiap saat mereka berempat dapat terlihat berlatih silat di dalam taman atau di lian-bu-thia (ruang berlatih silat) di bawah petunjuk Lian Bu Tojin sendiri.

Tentu saja dalam beberapa bulan saja mereka mendapatkan kemajuan yang luar biasa. Dengan adanya teman-teman berlatih, mereka seakan-akan berlomba untuk melebihi temannya dan hal ini pula yang mempercepat kemajuan mereka.

Akan tetapi, terjadi keganjilan yang menyolok. Hal ini hanya dapat diketahui oleh Kwa Hong dan Thio Bwee. Anak-anak perempuan tentu saja lebih halus perasaannya dan tahu membedakan sikap anak laki-laki. Baik Kwa Hong mau pun Thio Bwee dapat melihat bahwa selain berlomba dalam latihan, agaknya antara Thio Ki dan Kui Lok juga ada lain perlombaan lagi, yaitu berlomba menyenangkan atau merebut perhatian Kwa Hong, si gadis cilik yang lincah gembira, bermata bintang dan agak galak itu!

Kwa Hong menghadapi kenyataan ini dengan bangga dan sikapnya menjadi makin manja, tinggi hati, dan agaknya mempermainkan dua orang anak laki-laki itu. Sebaliknya, Thio Bwee yang pendiam, hanya sering nampak murung kalau melihat Kui Lok bermain-main dengan sikap bermuka-muka di depan Kwa Hong, mencarikan bunga, mernbuat mainan dari rumput dan lain-lain.

Waktu berlalu cepat. Anak-anak itu ditinggal orang tua mereka di puncak Hoa-san-pai sudah ada empat bulan lebih. Ketika Hoa-san Sie-eng datang ke puncak Hoa-san, semua anak-anak itu merasa gembira, akan tetapi ternyata bahwa orang tua mereka itu masih belum mau meninggalkan Hoa-san.

Kwa Tin Siong dan tiga orang adik seperguruannya menceritakan kepada Lian Bu Tojin tentang pertemuan mereka dengan dua orang saudara Bun, malah memberi tahukan pula bahwa Kun-lun Sam-hengte akan datang ke Hoa-san dalam waktu lima bulan lagi.

Lian Bu Tojin rnengelus jenggot dan menggeleng kepala. "Tidak disangka sama sekali akan terjadi hal yang begini tidak menyenangkan," katanya. "Selama puluhan tahun ini, hubunganku dengan Pek Gan Siansu ketua Kun-lun-pai adalah hubungan saudara. Malah kami ingin mempererat hubungan dengan menjodohkan murid-murid kami. Siapa tahu malah mala petaka timbul karena ini."

Dengan air mata berlinang Sian Hwa berkata, "Ampunkan teecu Suhu. Teecu sudah menimbulkan kedukaan dalam hati Suhu, akan tetapi... apakah daya teecu? Ayah teecu dibunuh oleh... oleh... keparat itu..."

Lian Bu Tojin mengangkat tangannya. "Kau tidak salah Sian Hwa, kau tidak salah. Malah pinto yang sesungguhnya merasa berdosa. Pinto yang menjodohkan kau dengan murid Kun-lun-pai, siapa tahu..." Kakek itu berulang kali menarik napas panjang.

"Persoalan ini tentu akan segera dibikin terang setelah Kun-lun Sam-hengte tiba di sini lima bulan lagi, Suhu.” Kwa Tin Siong menghibur. "Biarlah lima bulan lagi teecu bersama datang lagi dan berkumpul di sini untuk menghadapi murid-murid Kun-lunpai."

"Kalian pulanglah, akan tetapi anak-anak itu biarkan di sini saja. Bukankah lima bulan lagi kalian datang? Aku ingin melihat sendiri kemajuan mereka, terutama membimbing watak mereka. Tin Siong dan kau, Wan It dan Kui Keng, tentu rela meninggalkan anak-anak kalian di sini untuk lima bulan lagi, bukan?"
"Tentu saja, Suhu. Malah teecu menghaturkan banyak terima kasih bahwa Suhu sendiri berkenan membimbing mereka," jawab tiga orang murid itu serempak.
"Suheng sekalian, jangan khawatir, aku berada di sini menemani mereka," kata Sian Hwa.

Makin gembira hati mereka, juga Lian Bu Tojin girang sekali mendengar bahwa Sian Hwa yang sudah tidak ada keluarga lagi itu hendak ikut menanti di Hoa-san selama lima bulan.

Demikianlah, Kwa Tin Siong, Thio Wan It, dan Kui Keng turun dari Hoa-san untuk pulang ke rumah masing-masing sedangkan Sian Hwa tinggal di Hoa-san bersama murid-murid keponakannya. Gadis yang sedang menderita tekanan batin ini menghibur hatinya dengan melatih silat kepada keponakan-keponakannya. Sedikit banyak agak terhiburlah hatinya melihat anak-anak yang gembira dan lincah itu.
Apa-lagi terhadap Kwa Hong, Sian Hwa amat menyayangnya.....

********************
Ketika terjadi perang kecil antara serombongan orang Pek-lian-pai yang dipimpin oleh Tan Hok melawan pasukan Mongol yang mengakibatkan musnahnya pasukan Mongol di kaki Gunung Hoa-san, beberapa orang tosu Hoa-san-pai melaporkan hal itu kepada Sian Hwa. Memang gadis ini dianggap orang yang paling pandai di antara para tosu. Lian Bu Tojin sendiri sedang bersemedhi dan sama sekali tak boleh diganggu, maka kepada Sian Hwa mereka itu menuturkan tentang perang di kaki gunung.

Mendengar kejadian ini, dengan dikawani oleh lima orang tosu kepala yang sudah cukup tinggi kepandaiannya, Sian Hwa kemudian berlari turun dari puncak. Kepada anak-anak keponakannya ia berpesan agar supaya jangan meninggalkan taman dan bermain-main di dalam taman saja.

Kedatangan Sian Hwa dan lima orang tosu di tempat pertempuran sudah terlambat. Tan Hok dan teman-temannya, juga termasuk Beng San, sudah lama meninggalkan tempat itu dikejar oleh pasukan Mongol lainnya yang lebih besar jumlahnya dan seperti yang sudah kita ketahui, akhirnya dipancing untuk mengalami kehancuran di Pek-tiok-kok.

Liem Sian Hwa hanya mendapatkan tanah yang baru digali dan ditimbun kembali, yaitu tempat di mana mayat-mayat serdadu Mongol dikubur oleh Beng San dan yang kemudian dibantu oleh Tan Hok dan teman-temannya. Melihat adanya sebuah bendera Pek-lian-pai di pohon, timbul kemarahan dalam hati Sian Hwa.

Bagaimana pun juga, sekarang Pek-lian-pai sudah menjadi musuh besarnya. Bukankah ayahnya telah terbunuh oleh orang Pek-lian-pai dan Kwee Sin? Saking marahnya, ia lalu merenggutkan bendera itu dari pohon dan merobek-robeknya.

Seorang tosu mendekati dan berkata, "Sumoi, kenapa kau merobek-robek bendera milik Pek-lian-pai itu? Bukankah itu bendera orang-orang yang melawan pasukan Mongol?"

"Pek-lian-pai perkumpulan orang-orang jahat! Kalau aku melihat mereka tadi di sini, akan kulawan dan kubasmi semua!” Sian Hwa berseru dengan suara marah. "Suheng sekalian apakah tak ingat bahwa ayahku terbunuh oleh paku Pek-lian-ting milik Pek-lian-pai? Bagai mana aku tidak akan memusuhinya?"
"Bagus, bagus! Memang Pek-lian-pai jahat sekali, patut dibasmi!” tiba-tiba terdengar suara orang.

Pada saat Sian Hwa menengok, ternyata yang bicara adalah seorang laki-laki muda yang tampan, selalu tersenyum dan pakaiannya indah sekali. Muka gadis itu seketika menjadi merah karena sinar mata pemuda ini amat tajam, bersinar-sinar tidak menyembunyikan kekagumannya ketika menatap kepadanya.

Orang muda itu lalu memberi hormat, menjura sambil mengangkat kedua tangan dengan sikap yang halus sekali sehingga tiada kesempatan bagi Sian Hwa untuk marah.

"Maafkan saya, Nona. Saya Souw Kian Bi dan saya merasa sangat cocok dengan pendapat Nona tadi. Memang Pek-lian-pai adalah perkumpulan orang-orang jahat.”

Sungguh pun hatinya tidak senang melihat kelancangan orang ini, Liem Sian Hwa tidak mungkin dapat marah terhadap orang yang bersikap manis dan hormat ini. Terpaksa oleh sopan santun ia balas menjura dan berkata singkat.

"Saya tidak ada urusan dengan Tuan ini, juga tidak mengenal Tuan. Maafkan bahwa saya tidak sempat bercakap-cakap lebih lama lagi." Nona ini membalikkan tubuh hendak pergi.

Souw Kian Bi melangkah maju. "Perlahan dulu, Nona. Apa salahnya kalau kita sekarang berkenalan? Apakah Nona anak murid Hoa-san-pai?"

Lima orang tosu yang mengawani Sian Hwa merasa tidak senang melihat ada seorang muda berani menegur sumoi mereka. Dianggapnya pemuda itu kurang ajar.

Seorang di antara para tosu itu mencela. "Sumoi-ku tidak ada urusan denganmu, orang muda. Harap jangan mengganggu lebih jauh."

Sambil berkata demikian, tosu itu menggerakkan tangan bajunya untuk mendorong orang muda itu minggir karena orang itu menghalangi jalan. Tentu saja dia mengerahkan tenaga untuk memperlihatkan kepandaian dan sekaligus untuk menakut-nakuti orang muda itu.

Orang muda itu sama sekali tidak menangkis atau mengelak, akan tetapi ketika lengan baju tosu itu mengenai dadanya, bukan pemuda itu yang terdorong, namun tosu tadilah yang terpelanting. Tosu itu berseru kaget dan menjadi marah.

"Ehh, kau mau main-main?" bentaknya sambil mencengkeram ke arah pundak.
"Suheng, jangan...!" Sian Hwa memperingatkan tosu itu.

Gadis ini melihat bahwa pemuda ini bukan orang sembarangan, terbukti dari gerakan kakinya ketika terdorong tadi. Namun terlambat, tangan tosu itu terpelanting. Hanya kali ini terpelanting keras sampai terbentur batu dan mengeluarkan darah.

Empat orang tosu yang lain menjadi marah sekali.

"Keparat, berani kau merobohkan saudara kami?"

Serentak empat orang tosu ini menerjang pemuda tadi dengan pukulan-pukulan tangan. Souw Kian Bi, pemuda aneh itu, hanya tersenyum saja tanpa menangkis. Dia hanya menundukkan kepala untuk menghindarkan pukulan yang mengancam mukanya.

Terjadi hal yang aneh sekali. Kepalan tangan empat orang tosu itu dengan jelas kelihatan mengenai tubuh pemuda itu sampai terdengar suara bak-bik-buk, akan tetapi tosu-tosu itu lalu berteriak kesakitan sambil memegangi tangan mereka yang tahu-tahu sudah menjadi bengkak-bengkak. Mereka merasa seperti memukul baja, bukan badan orang!

Sian Hwa tak dapat menahan kesabarannya lagi, di samping merasa heran sekali. Meski pun kepandaian empat orang suheng-nya belum tinggi benar, namun menerima pukulan dengan badan dari empat orang sekaligus seperti pemuda itu dan membuat si pemukul sendiri bengkak-bengkak tangannya, benar membuktikan bahwa pemuda itu berilmu amat tinggi. Tanpa ragu-ragu ia lalu mencabut pedangnya, meloncat dekat dan membentak.

"Manusia sombong, beraninya kau bermain gila di depanku?" la melintangkan pedang di depan dada, lalu menantang. "Hayo keluarkan senjatamu, hendak kulihat sampai di mana kelihaianmu!"

Orang muda yang mengaku bernama Souw Kian Bi itu tersenyum dan pandang matanya makin membayangkan kekaguman.

"Kau hebat, Nona, hebat sekali. Patut menjadi sahabat baikku. Cantik dan gagah perkasa, hemmm..."

Tentu saja muka Sian Hwa menjadi makin merah. Tidak ada wanita di dunia ini yang tidak senang dipuji seorang laki-laki, terutama sekali dipuji akan kecantikannya. Demikian pula Sian Hwa. Akan tetapi di samping rasa senangnya ini, terdapat pula perasaan marah karena dianggapnya laki-laki itu kurang ajar.

"Siapa sudi menjadi sahabatmu? Hayo keluarkan senjatamu, kalau tidak, jangan salahkan aku kalau habis kesabaranku...”

Souw Kian Bi tertawa, dan tampaklah barisan giginya yang putih dan rapi. "Kau hendak main-main dengan pedang? Oho, bagus sekali. Memang kurang mesra perkenalan kita jika tidak melalui ujung senjata. Nah, aku sudah siap, kau perlihatkanlah ilmu pedangmu, Nona Manis."

Pemuda itu sekarang sudah memegang sebuah pedang yang amat indah karena gagang pedang itu dihias dengan banyak batu-batu kumala. Selain indah bentuknya, pedang itu pun nampak amat tajam sampai berkilauan tertimpa cahaya matahari.

Melihat lawannya sudah bersenjata, tanpa mengeluarkan kata-kata lagi Sian Hwa segera menerjang maju dengan gerakannya yang amat lincah dan cepat. Sepasang pedang di kedua tangannya mengeluarkan suara mengaung pada saat dia menghujani Souw Kian Bi dengah serangan-serangan maut. Sepasang pedangnya itu lenyap berubah menjadi dua gulung sinar yang membungkus tubuhnya, amat luar biasa dipandang.

Souw Kian Bi mengeluarkan seruan terkejut menyaksikan kehebatan ilmu pedang gadis itu. Cepat-cepat dia memutar senjatanya melindungi diri sehingga berkali-kali terdengar suara pedang bertemu pedang. Lima menit sudah Souw Kian Bi hanya menangkis dan melindungi diri saja, kemudian tiba-tiba dia meloncat ke belakang sambil berseru.

"Jadi Nona ini Kiam-eng-cu Liem Sian Hwa, orang termuda dari Hoa-san Sie-eng? Pantas begini lihai dan cantik!" Dia tersenyum-senyum lagi, senyum memikat dengan sinar mata kagum.

Kembali wajah Sian Hwa menjadi merah. "Tak usah banyak cakap, kau telah merobohkan lima orang suheng-ku. Kau boleh coba merobohkan aku, baru patut menyombongkan diri!" Kembali gadis ini menubruk maju sambil mainkan sepasang pedangnya.

Souw Kian Bu segera menangkis lagi sambil tertawa. "Alangkah akan senangnya andai kata aku dapat merobohkanmu, Nona, merobohkan hatimu terutama sekali. Alangkah senangnya..."

"Keparat kurang ajar!"

Sian Hwa memperhebat serangannya dan kali ini Souw Kian Bi terpaksa mengeluarkan kepandaiannya untuk melindungi dirinya dari ancaman maut. Gadis itu merasa heran sekali ketika mendapat kenyataan bahwa orang muda yang mengaku bernama Souw Kian Bi ini ternyata memiliki ilmu pedang yang amat aneh gerakannya, akan tetapi juga amat lihai.

Semua serangannya dapat ditangkis dengan mudah, malah setiap kali pedangnya beradu dengan pedang lawannya, dia merasa telapak tangannya tergetar tanda bahwa tenaga dalam pemuda itu juga tidak kalah olehnya. Diam-diam dia mengeluh dan mencurahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya. la akan merasa malu sekali kalau sampai kalah oleh pemuda ceriwis ini.

Di lain pihak, Souw Kian Bi juga amat kagum menyaksikan ilmu pedang gadis lawannya. Tidak percuma gadis ini dijuluki Kiam-eng-cu (Bayangan Pedang) dan menjadi orang termuda dari Hoa-san Sie-eng yang ternama. Rasa sayangnya terhadap gadis ini yang tadinya timbul karena kecantikan Sian Hwa, kini menjadi bertambah-tambah.

Rasa sayang inilah yang membuat Souw Kian Bi tak mau menggunakan kepandaiannya untuk merobohkan Sian Hwa. Dia sengaja hendak membuat gadis ini roboh sendiri karena lelah dan di samping ini dia pun hendak memamerkan kepandaiannya agar betul-betul dapat merebut hati gadis cantik dan gagah ini.

Sementara itu, para tosu yang sudah roboh oleh Souw Kian Bi, menjadi makin khawatir menyaksikan betapa sumoi mereka yang terkenal gagah itu pun belum berhasil pula merobohkan lawan itu dengan sepasang pedangnya. Diam-diam mereka lalu berunding, kemudian seorang di antara lima tosu itu lari naik ke puncak untuk melaporkan hal itu kepada Lian Bu Tojin.

Dapat dibayangkan betapa marah dan kagetnya ketua Hoa-san-pai itu. Belum pernah ada anak murid Hoa-san-pai yang berani mengganggunya di waktu dia sedang bersemedhi. Kali ini tosu itu memaksa dia sadar dari semedhinya dan menceritakan tentang serbuan seorang laki-laki muda yang kurang ajar dan lihai ilmu silatnya.

Walau pun sedang marah, tosu tua itu mengelus jenggotnya dan menahan napas untuk menekan kemarahan sehingga dia tenang dan sabar kembali.

"Kau bilang dia bernama Souw Kian Bi?"

Kakek ini mengingat-ingat, akan tetapi tidak merasa mempunyai musuh ber-she Souw. Jangan-jangan sebangsa jai-hwa-cat (penjahat cabul), pikirnya. Ini sangat berbahaya, apa bila sampai Sian Hwa benar-benar kalah oleh penjahat itu akan celakalah muridnya.

la segera bangkit, menyeret tongkatnya dan berkata, "Antarkan pinto ke sana."

Ketika Lian Bu Tojin tiba di tempat pertempuran, dia menahan seruan kagetnya. Sian Hwa telah terdesak hebat. Pedangnya yang kiri sudah terlepas dan kini gadis itu dengan napas tersengal-sengal mempertahankan diri dari serangan pemuda tampan itu yang selalu tersenyum-senyum sambil mengeluarkan kata-kata menggoda. Jelas sekali terlihat bahwa kepandaian pemuda itu jauh lebih tinggi, malah dengan amat mudahnya akan mampu merobohkan Sian Hwa kalau dia mau.

Ketika diam-diam Lian Bu Tojin memperhatikan ilmu pedang yang dimainkan pemuda itu, dia mengangguk-angguk. Itulah ilmu pedang utara yang sudah tinggi tingkatnya. Juga gerakan-gerakan pemuda itu menyatakan bahwa tenaga dalamnya sudah kuat sekali. Pantas saja Sian Hwa terdesak. Andai kata yang melawan pemuda ini bukan Sian Hwa, melainkan Kwa Tin Siong, mungkin akan seimbang dan lebih ramai.

"Sian Hwa, mundurlah. Orang muda ada urusan boleh dirunding dengan pinto!"

Seruan Lian Bu Tojin ini biar pun perlahan, akan tetapi mengandung tenaga yang amat berpengaruh. Tentu saja sukar bagi Sian Hwa untuk mundur karena dia sudah dikurung sinar pedang lawannya. Kalau bukan lawannya yang menghentikan pertandingan ini, dia sendiri sudah tidak berdaya melepaskan diri.

Sambil mengeluarkan suara ketawa bergelak, Souw Kian Bi menggetarkan pedangnya dan….

"Tringgg...!" pedang kanan Sian Hwa terlepas pula, terlempar ke udara.

Lian Bu Tojin menggerakkan tongkatnya dan tahu-tahu pedang yang terbang itu sudah tertempel oleh tongkat bambunya. Sedangkan Souw Kian Bi melangkah maju mendekati Sian Hwa sambil cengar-cengir dan berkata, "Nona manis, apakah sekarang kau masih belum mau mengaku kalah padaku? Apakah dengan kepandaianku ini kau masih tetap menganggap tak pantas kalau aku menjadi sahabat baikmu?"

Sian Hwa merasa malu sekali. Dengan kemarahan yang membuat dadanya seolah-olah akan meledak, dia kembali menerjang maju, menghantam kepalan tangan kanannya ke dada pemuda itu.

Souw Kian Bi cepat mengelak sambil tertawa dan berkata, "Sayang tanganmu yang halus kalau sampai mengenai dadaku, Manis."

Sekali lagi dia mengelak pada saat pukulan ke dua datang dan kini sambil mengelak dia mempergunakan tangan kirinya untuk mencekal pergelangan tangan kanan Sian Hwa. Gerakan ini amat cepatnya dan sekali melihat saja Lian Bu Tojin tahu bahwa pemuda itu pun mahir sekali akan ilmu tangkap dan ilmu cengkeram semacam Eng-jiauw-kang. Sian Hwa kaget sekali karena percuma saja ia berusaha melepaskan tangannya.

"Orang muda, jangan kurang ajar. Lepaskan!" Tiba-tiba Lian Bu Tojin melangkah maju untuk mencegah kekurang-ajaran pemuda itu terhadap muridnya.

Akan tetapi Souw Kian Bi hanya tertawa. Mana dia mau memandang mata kepada kakek tua ini? Sambil tangan kiri masih memegangi tangan Sian Hwa, pedangnya di tangan kanan bergerak ke arah dada Lian Bu Tojin dan dia membentak.
"Tosu bau jangan ikut campur. Menggelindinglah kau!"

Tetapi kali ini dia telah salah hitung. Pedangnya yang meluncur ke arah dada tosu tua itu tiba-tiba bertemu dengan tongkat bambu, pedangnya menggetar-getar dan...

"Krakkk!"

Pedang itu patah menjadi dua. Tubuhnya sendiri menggigil, pegangannya pada tangan Sian Hwa terlepas dan dia masih terhuyung-huyung ke belakang lima atau enam tindak. Mukanya menjadi pucat sekali.

"Kau... kau siapakah...?” dia memandang kepada kakek tua itu dengan mata terbelalak.

Lian Bu Tojin tak menjawab, hanya berdiri tegak sambil memandang dengan tajam. Souw Kian Bi menggerak-gerakkan biji matanya, memandangi kakek itu dari atas ke bawah. Agaknya jenggot panjang dan tongkat bambu itu yang menarik perhatiannya, kemudian membuat dia dapat menduga siapa yang sedang berhadapan dengannya.

"Ah, kiranya Totiang adalah Lian Tojin sendiri? Pantas saja aku tak dapat melawannya. Kiranya ketua yang terhormat dari Hoa-san-pai sendiri yang telah turun tangan!" Ucapan ini merupakan sindiran hebat.

Memang sebetulnya amat memalukan bagi Lian Bu Tojin, seorang ciangbunjin (ketua) dari partai besar harus turun tangan sendiri menghadapi seorang muda seperti Souw Kian Bi! Mau tak mau kedua pipi kakek itu menjadi merah. Pemuda ini ternyata bukan hanya lihai ilmu silatnya, akan tetapi juga amat tajam kata-katanya.

"Orang she Souw," katanya sabar, "murid-muridku sedang turun gunung maka tidak ada yang menyambutmu sehingga terpaksa pinto sendiri menjenguk ke sini. Tak tahu apakah yang menjadi sebabnya maka engkau mengacau di sini?"

Souw Kian Bi tertawa mengejek. ”Siapa mengacau? Aku lewat di sini, bertemu Nona ini, tertarik dan ingin bersahabat, apa salahnya? Sudahlah, lain kali dia tetap akan menjadi sahabat baikku..." Setelah berkata demikian pemuda itu membalikkan tubuhnya dan pergi.

Sian Hwa yang masih marah sekali cepat menyambar pedangnya yang tadi terpukul jatuh, hendak mengejar. Akan tetapi gurunya mencegahnya.

"Jangan kejar, Sian Hwa. Kulihat orang itu bukan orang sembarangan. Sudah jelas bahwa dia itu dari utara. Akan tetapi mengapa sengaja datang mengacau Hoa-san-pai? Hemmm, kita harus berhati-hati, makin banyak saja musuh-musuh rahasia yang hendak memusuhi kita."

Kakek ini lalu mengajak semua muridnya naik ke puncak Hoa-san lagi sambil memesan kepada para muridnya yang menjadi tosu supaya mulai saat itu melakukan penjagaan yang kuat siang malam, akan tetapi tidak boleh lancang turun tangan menyerang orang luar.

Kalau di kaki Gunung Hoa-san terjadi hal yang aneh ini, di puncak Hoa-san terjadi pula hal yang ganjil. Pada waktu Kwa Hong, Thio Ki, Thio Bwee, dan Kui Lok sedang berlatih silat di dalam taman bunga. Antara Thio Ki dan Kui Lok jelas sekali terjadi perlombaan, bukan hanya untuk kemajuan ilmu silat, akan tetapi terang sekali keduanya berlomba untuk bersikap manis kepada Kwa Hong.

Keduanya memiliki watak yang hampir sama, yaitu gagah dan tabah, tetapi keduanya juga angkuh sekali. Mungkin hal ini timbul karena mereka merasa menjadi putera-putera pendekar Hoa-san-pai. Bahkan pada Thio Bwee yang pendiam juga tampak sifat angkuh ini dan merasa seolah-olah mereka adalah anak-anak orang gagah yang berbeda dengan anak-anak lain. Hanya Kwa Hong seorang yang wataknya tetap lincah jenaka, galak akan tetapi tidak angkuh.

Pada saat itu, tiba giliran Kui Lok untuk bersilat pedang disaksikan oleh ketiga orang temannya. Kui Lok benar-benar memiliki bakat yang amat baik. Selama beberapa bulan ini kepandaiannya sudah meningkat banyak.

Ketika dia bersilat tidak saja gerakan pedangnya mantap dan kuat, akan tetapi juga cepat sekali. Tentu saja dia bersilat pedang dengan tangan kiri, karena memang dia lebih pandai mempergunakan tangan kirinya dari pada tangan kanannya. Setelah dia selesai bersilat, Kwa Hong bersorak.

"Bagus sekali Lok-ko (kakak Lok), kepandaianmu benar-benar sudah maju pesat!" dia memuji dengan sejujurnya.

Thio Bwee juga mengangguk-angguk membenarkan pujian Kwa Hong. Akan tetapi, pujian itu tidak menyenangkan hati Thio Ki.

”Sayangnya pedang itu dimainkan tangan kiri, jadi tentu saja kurang kuat dan kurang tepat seperti kalau dimainkan oleh tangan kanan," Thio Ko berkata dengan lagak seakan-akan seorang yang lebih pandai menilai permainan orang yang lebih rendah tingkatnya.

Ucapan ini diterima oleh Kui Lok dengan muka merah. Dia merasa disindir dan ditegur karena sifat tangannya yang kidal.

"Walau pun dengan tangan kiri kurasa tidak kalah oleh permainan pedang tangan kanan," jawabnya sambil menatap wajah Thio Ki penuh tantangan.
"Phuah...!" Thio Ki mengejek, membuang muka.
"Phuah...!" Kui Lok juga mengeluarkan suara mengejek.

Thio Ki naik darah, dirabanya gagang pedang di punggungnya. "Kalau begitu, mari kita buktikan, siapa lebih pandai, si tangan kanan atau si tangan kidal!"

"Begitu? Baiklah, tapi kau yang menantang, saudara Ki, bukan aku!" Kui Lok menjawab, pedangnya siap ditangan kiri.

Kwa Hong memperhatikan kejadian ini dengan mata berseri.

"Baik sekali begitu!" ia bersorak. "Gembira sekali kalau diadakan pibu persaudaraan."

Yang dimaksudkan dengan pibu (adu kepandaian silat) adalah pertandingan mengadu kepandaian silat untuk menentukan siapa kalah siapa menang.

"Dari pada setiap hari kalian bercekcok saja tentang tingkat kepandaian kalian, lebih baik diputuskan dengan bukti."

Dua orang anak laki-laki itu sekarang sudah berhadapan dengan pedang di tangan. Thio Bwee membelalakkan matanya yang lebar, penuh kekhawatiran.

"Jangan!" teriaknya memohon. "Bagaimana kalau ada yang terluka? Sukong akan marah sekali."

Kwa Hong tertawa dan melangkah di antara dua orang jago muda itu. "Kalian ini sudah bernafsu untuk saling serang," godanya, "jangan begitu, ah! Kita ini kan saudara-saudara seperguruan. Masa mau main tusuk dengan pedang."

"Habis bagaimana untuk menentukan siapa lebih unggul?" tanya Kui Lok.
"Biarkan saja, Hong-moi (adik Hong). Lok-te (adik Lok) ini sombong sekali, tidak mau mengalah terhadap aku yang lebih tua," kata Thio Ki.
"Mana bisa saudara seperguruan saling hantam? Kalau diketahui sukong, apa kau kira aku tidak ikut dipersalahkan? Aku tidak mau! Kalau kalian berkelahi, pergilah jauh-jauh dari sini agar aku tidak terbawa-bawa," kata Kwa Hong.

Dua orang anak laki-laki itu saling pandang. Mereka ingin memperlihatkan di depan Kwa Hong bahwa mereka gagah dan tidak kalah oleh yang lain. Sekarang Kwa Hong tidak mau melihat mereka mengadu kepandaian, untuk apa mereka lanjutkan? Akan tetapi kalau tidak pergi mencari tempat lain, juga dapat dianggap takut atau pengecut.

Kwa Hong yang melihat keraguan mereka lalu tertawa. "Sudahlah, simpan pedang kalian. Kalau mau menentukan siapa yang lebih unggul, mudah saja. Kalian pergunakan ranting yang tidak berbahaya, aku akan menyediakan tinta. Ujung ranting diberi tinta dan ranting itu dimainkan seperti ujung pedang. Siapa yang lebih dulu terkena tinta bajunya dialah yang kalah."

Usul ini didukung oleh Thio Bwee yang tentu saja juga tidak menghendaki pertempuran sungguh-sungguh antara kakaknya dan Kui Lok. Dua orang anak itu pun menyetujui dan masing-masing mencari sebatang ranting yang lembek. Segera mereka membasahi ujung ranting masing-masing dengan tinta dan mulailah mereka bertanding, disaksikan oleh Kwa Hong dan Thio Bwee. Kwa Hong bertindak sebagai wasitnya.

“Tak-tok-tak-tok…!” bunyi dua batang ranting itu beradu dan kedua orang jago muda itu bergerak cepat untuk mendahului lawan, mengirim tusukan untuk menodai baju lawannya dengan tinta di ujung ranting.
"He, Ki-ko! Tidak boleh menyerang mata!" Kwa Hong berseru.

Sebagai wasit, ia harus berlaku adil. Menurut perjanjian tadi, masing-masing hanya boleh menyerang baju untuk memberi tanda dengan tinta.

"Lok-ko, tidak boleh menendang!" Ia kembali berseru.

Mula-mula hanya jarang dia berseru melarang. Akan tetapi kedua orang jago muda itu makin lama menjadi makin penasaran dan panas karena belum juga dapat mengalahkan lawan.

Makin sering mereka melakukan pelanggaran-pelanggaran dan semakin sering pula Kwa Hong berteriak-teriak melarang. Malah sekarang Thio Bwee juga turut berteriak-teriak karena khawatir melihat dua orang jago muda itu mulai menggunakan serangan sungguh-sungguh yang membahayakan lawan. Pertandingan untuk mengadu kepandaian itu sudah menjadi perkelahian yang sungguh-sungguh.

Kwa Hong menjadi marah dan membanting-banting kakinya. "Kalian curang! Kalian tidak memegang janji. Sudah, jangan berkelahi lagi!"

Akan tetapi mana dua orang jago muda yang sudah panas perutnya itu mau berhenti? Mereka malah menyerang lebih hebat. Kwa Hong berteriak-teriak marah.

Tiba-tiba terlihat bayangan orang berkelebat dan tahu-tahu dua orang jago muda itu roboh terguling. Mereka tak terluka karena tadi hanya terdorong saja ke samping. Dengan heran mereka merayap bangun. Juga Kwa Hong dan Thio Bwee terheran-heran memandang.

Ternyata Koai Atong sudah berdiri di situ, cengar-cengir dan berkata, "Kalian tidak boleh bikin marah Enci Hong!"

Lalu dia berpaling kepada Kwa Hong dan berkata, "Enci Hong, aku datang kembali untuk mengajak kau bermain-main seperti dulu. Hayo ikut aku ke hutan sebelah sana itu, tadi aku melihat seekor kijang muda yang amat indah. Akan kutangkap binatang itu untukmu." la melangkah maju hendak menggandeng tangan Kwa Hong.

"Tidak, Koai Atong. Aku tidak mau pergi. Sukong akan marah nanti." Kwa Hong mengelak.
"Tidak marah, biar kalau marah aku yang tanggung jawab." Koai Atong hendak memaksa, sekali tangannya menyambar dia sudah dapat memegang pergelangan tangan Kwa Hong.
"Tidak, tidak, aku tidak mau...”

Mereka berkutetan. Agaknya Koai Atong tidak mau mempergunakan kekerasan terhadap Kwa Hong yang disayanginya sebagai sahabat baik itu, maka mereka berkutetan saling tarik. Kalau Koai Atong mau menggunakan kekerasan, tentu saja dengan mudah dia akan dapat membawa lari Kwa Hong.

Pada saat itu, dari luar taman berjalan masuk seorang anak laki-laki. Jauh di belakang nampak beberapa orang tosu berlari-lari sambil berteriak-teriak.
"Anak setan, tak boleh masuk ke sana!"

Agaknya anak yang masuk itu tadi dapat meninggalkan para tosu yang sekarang berlari mengejarnya. Anak ini bukan lain adalah Beng San!

Seperti sudah diceritakan di bagian depan, Beng San sampai di kaki gunung Hoa-san dan bertemu dengan Tan Hok beserta teman-temannya, para anggota Pek-lian-pai. Setelah berpisah dari Tan Hok, dia segera mendaki gunung itu menuju ke puncak.

Beberapa orang tosu melarangnya naik, akan tetapi Beng San berkeras hendak bertemu dengan ketua Hoa-san pai. Ketika dihalangi anak ini lalu berlari menyelinap cepat sampai para tosu itu tertinggal jauh dan mengejar terus. Akhirnya dia memasuki taman bunga itu.

Melihat betapa seorang gadis cilik ditarik-tarik seorang laki-laki tinggi besar, hati Beng San menjadi penasaran dan marah sekali. Ia tidak mengenal Kwa Hong, juga tidak mengenal Koai Atong sungguh pun pernah dia bertemu dengan kedua orang ini.

Dengan langkah lebar dia menghampiri Koai Atong yang masih berkutetan dengan Kwa Hong, memegang lengan Koai Atong sambil berkata keras.
"Seorang laki-laki dewasa menyeret-nyeret seorang anak perempuan kecil, sungguh tidak patut. Memalukan sekali!"

Suara Beng San amat nyaring sampai terngiang di telinga. Tidak hanya Koai Atong yang kaget, juga Kwa Hong, Thio Ki, Thio Bwee, dan Kui Lok sangat terkejut. Mereka menoleh dan memandang.

Tiba-tiba saja Koai Atong melepaskan pegangannya pada lengan Kwa Hong. Tubuhnya menggigil, wajahnya yang merah berubah pucat sekali, matanya melotot lebar, mulutnya ternganga dan dia pun berdiri seperti orang terserang demam. Tangan kanannya dengan telunjuk menggigil menuding ke arah Beng San, sedangkan bibirnya mengeluarkan suara tidak karuan, akan tetapi masih dapat ditangkap oleh anak-anak itu.

"Ssseeeee... sssssetannn... setan...!"

Tiba-tiba dia meloncat jauh dari situ, lalu lari sekerasnya sambil memekik-mekik, "Setan! Dia roh jahat... hidup lagi... aduhhh setan... ampunkan aku...!" Sebentar saja Koai Atong sudah tidak tampak lagi bayang-bayangnya.

Tentu saja Beng San terlongong keheranan. la tidak tahu bahwa dahulu dalam keadaan tidak sadar karena menelan pil buatan Siok Tin Cii, dia dipukul dan dilukai oleh Koai Atong yang menggunakan Jing-tok-ciang dan anak tua itu menyangka bahwa dia sudah tewas. Tentu saja sekarang tiba-tiba melihat Beng San dengan muka merah kehitaman berdiri di depan kakek yang berwatak anak-anak ini membuat Koai Atong ketakutan setengah mati dan membuat dia lari tunggang-langgang, tak berani lagi kembali ke Hoa-san!

Kwa Hong dan teman-temannya juga terkejut ketika melihat seorang anak laki-laki berdiri di situ. Pakaiannya compang-camping, kakinya tidak bersepatu, rambutnya kusut dan mukanya merah kehitaman.

Muka Beng San menjadi merah karena dia tadi marah melihat Koai Atong menarik-narik tangan Kwa Hong. Mukanya merah hitam, sedang matanya tajam seperti mata harimau, benar-benar merupakan seorang anak yang aneh dan patut kalau dianggap setan.

Akan tetapi Kwa Hong segera mengenal Beng San. Dia melangkah maju, kemudian dia memperhatikan muka Beng San yang sementara itu telah mulai berubah, lenyap warna merah hitam menjadi putih bersih kembali, akan tetapi perlahan-lahan lalu berubah pula menjadi kehijauan. Hal ini adalah karena sepasang mata Kwa Hong sudah mengenalnya, dan ia merasa agak malu berhadapan dengan empat orang anak-anak yang berpakaian indah-indah dan bersikap gagah ini.

"Ehh, kaukah ini? Kau... bunglon?" Kwa Hong menegur sambil tertawa geli.

Setelah mendengar suara Kwa Hong, baru Beng San teringat bahwa gadis cilik berbaju merah inilah yang dahulu pernah bercekcok dengannya di dalam hutan. la pun tersenyum dan berkata. "Kiranya kau di sini... kuntilanak!"

Kui Lok dan Thio Ki menjadi merah mukanya. Mereka memandang kepada Beng San dengan mata melotot, marah sekali mereka mendengar betapa anak jembel ini memaki Kwa Hong kuntilanak. Benar-benar kurang ajar sekali!

Pada saat itu para tosu yang mengejar Beng San, empat orang jumlahnya, sudah tiba di situ dan mereka berteriak-teriak.

"Penjahat cilik itu jangan sampai terlepas! Di larang masuk ke sini!"
"Aku mau berjumpa dengan Lian Bu Tojin," bantah Beng San.

Akan tetapi Kui Lok dan Thio Ki yang sudah marah sekali, melihat para tosu marah-marah pula kepada anak jembel itu, menjadi makin berani. Keduanya lalu melangkah maju dan memaki, "Jembel busuk hayo pergi dari sini!"

Beng San tenang-tenang saja, memandang kepada Kui Lok dan Thio Ki yang berdiri angkuh di depannya. "Aku tidak mau pergi kalau belum bertemu dengan Lian Bu Tojin."

"Keparat! Kau minta dipukul?" bentak Thio Ki marah.

Beng San tertawa dan menggeleng kepalanya. "Siapa yang minta dipukul? Aku tidak! Aku mau bertemu dengan Lian Bu Tojin."

"Macammu ini mau bertemu dengan sukong? Sukong terlalu mulia untuk bertemu dengan segala jembel busuk. Kalau kau tidak lekas minggat dari sini, akan kupukul!" kata Kui Lok galak.

Beng San melengak heran. "Kalian ini cucu murid Lian Bu Tojin? Ahh, kalau begitu aku salah alamat. Orang bilang Lian Bu Tojin ketua Hoa-san-pai seorang yang mulia hatinya, dan bahwa orang-orang Hoa-san-pai adalah orang-orang gagah. Kiranya murid kecilnya saja sudah begini galak."

Kui Lok dan Thio Ki adalah keturunan orang-orang gagah, maka ucapan itu merupakan tamparan bagi mereka. "Kau yang kurang ajar!" bantah Thio Ki membela diri. "Kau berani memaki kuntilanak kepada Hong-moi. Kurang ajar kau!"

Beng San menoleh kepada Kwa Hong sambil tertawa kecil. "Dia memang kuntilanak. Tanyakan saja kepadanya, kami berkenalan sebagai bunglon dan kuntilanak. Betul tidak begitu, kuntilanak?"

Kwa Hong membanting kakinya yang kecil. "Bunglon! Kadal monyet kau! Aku bukanlah kuntilanak!”

"Aku juga bukan bunglon, kadal atau monyet!" bantah Beng San marah.
"Tapi mukamu berubah-ubah seperti bunglon, kau masuk selongsong ular seperti kadal, rupamu buruk cengar-cengir seperti monyet!" maki Kwa Hong dengan muka merah saking marahnya.
"Kau pun galak dan mukamu buruk seperti kuntilanak..."
"Plakkk!"

Tangan Kwa Hong melayang dan pipi kiri Beng San telah ditamparnya. Tubuh Beng San terhuyung mundur.

Pada saat itu, Kui Lok dan Thio Ki sudah menubruk maju dan menghujani tubuh Beng San dengan pukulan-pukulan keras. Beng San terhuyung-huyung dan roboh. Anak ini memang selama meninggalkan tempat persembunyian Lo-tong Souw Lee, selalu mentaati perintah kakek itu dan tidak pernah mau mempergunakan kepandaiannya. Maka ketika ditampar kemudian dipukuli dia diam saja, ‘menyimpan’ tenaga dalam tubuhnya dan membiarkan dirinya dipukuli. Ia merasa kulit dada dan mukanya sakit-sakit.

”Aku mau bertemu dengan Lian Bu Tojin, jangan pukul aku..." dia berkata.

Akan tetapi dua orang jago muda itu tidak mau memberi ampun lagi kepadanya. Thio Ki memukul lagi ketika Beng San mencoba untuk berdiri, pukulan keras mengenai leher Beng San membuat anak itu terpelanting roboh. Kui Lok lalu menubruknya, menduduki dadanya dan memukuli muka Beng San dengan kedua tangan. Kedua pipi Beng San sampai bengkak-bengkak terkena pukulan ini.

"Hayo, kau minta ampun dan berjanji mau pergi dari sini!" kata Kui Lok terengah-engah, menghentikan pukulannya.

Beng San hanya menggeleng kepalanya. "Aku mau bertemu dengan Lian Bu..." Tak dapat dia melanjutkan kata-katanya karena hidungnya dipukul Kui Lok sampai keluar darahnya.

"Lok-te, biar kugantikan engkau!" Thio Ki menarik Kui Lok pergi dan menjambak rambut Beng Sang, menarik anak ini berdiri lalu memukul ke arah dada.
"Blukkk!"

Tubuh Beng San terlempar sampai dua meter lebih. Thio Ki mengejar, menjambak rambut lagi, mendirikan Beng San lalu dipukul lagi lebih keras. Pakaian Beng San yang sudah cobak-cabik itu makin rusak, koyak-koyak di sana-sini.
"Sudah, Ki-ko, Lok-ko, jangan pukul lagi!"

Kwa Hong maju mencegah. Tak tega ia melihat Beng San dipukuli seperti itu. Juga Thio Bwee maju mencegah kakaknya. Akan tetapi para tosu dengan tertawa lebar memuji-muji kepandaian dua orang kongcu muda itu dan berkata menganjurkan.

"Pukul terus! Pukul sampai dia mau minta ampun."
"Hayo lekas berlutut minta ampun!” teriak Kui Lok dan Thio Ki berganti-ganti sambil memukul terus.

Sesabar-sabarnya orang, apa lagi seorang anak kecil seperti Beng San, kalau didesak terus seperti itu dan disiksa, akhirnya tak kuat juga menahan. Sakit pada tubuhnya bukan apa-apa baginya karena dia sudah sering kali menderita sakit. Akan tetapi sakit pada hatinya yang lebih berat ditanggung. Mukanya yang tadinya kehijauan sekarang sudah mulai menjadi merah kehitaman, tanda bahwa dia tak dapat lagi menahan kemarahannya.

Pada waktu itu, Kui Lok memegang tangan kirinya, sedangkan Thio Ki memegang tangan kanannya, keduanya memukul dari kanan kiri sambil membentak-bentak, memaksa dia berlutut minta ampun. Karena tidak dapat lagi menahan kemarahannya, tenaga mukjijat dalam tubuh Beng San bekerja, hawa Yang di tubuhnya membuat mukanya kehitaman itu menolak pukulan-pukulan dari kanan kiri.

Tiba-tiba terdengar pekik kesakitan, Kui Lok sehabis memukul terguling roboh, disusul Thio Ki yang juga roboh setelah memukul leher Beng San. Kedua orang anak itu roboh dan pingsan dengan mata mendelik dan mulut berbusa!

Bukan main kagetnya Kwa Hong dan Thio Bwee. Mereka melihat jelas betapa dua orang jago muda itu yang memukul, kenapa tahu-tahu roboh pingsan dengan mata mendelik? Para tosu juga melihat ini dan mereka yang percaya akan tahyul menjadi ketakutan.

"Dia benar setan... dia iblis jahat... celaka...!" Para tosu itu cepat mengeluarkan senjata masing-masing dan siap hendak mengeroyok Beng San.
”Supek sekalian, jangan turun tangan!" Kwa Hong meloncat mencegah. "Biar sukong nanti yang memutuskan urusan ini."

Para tosu masih bersikap mengancam. Beng San diam-diam mencatat pembelaan Kwa Hong atas dirinya ini di dalam hatinya. Betapa pun juga, kuntilanak cilik ini tidak jahat, pikirnya. la diam saja, hanya menyusuti darah yang tadi mengalir dari lubang hidungnya dan membereskan pakaiannya yang koyak-koyak.

Kebetulan sekali pada waktu itu, Lian Bu Tojin dan Sian Hwa datang memasuki taman. Mereka kaget melihat ribut-ribut di taman.

Sian Hwa berseru kaget. Ia cepat-cepat memeriksa dua orang anak keponakannya yang pingsan dengan mata mendelik. Lian Bu Tojin juga memandang heran.

Setelah memeriksa sebentar, kakek ini bertanya dengan suara terheran-heran. "Mereka pingsan karena terluka hawa pukulan sendiri yang membalik," lalu menoleh kepada Kwa Hong dan Thio Bwee. "Apa yang telah terjadi di sini?”

Beramai-ramai Kwa Hong bersama para tosu yang tadi menghalangi Beng San masuk menceritakan asal mula kejadian itu. Bahwa Beng San memaksa naik ke puncak sampai memasuki taman dan betapa Koai Atong yang hendak membawa pergi Kwa Hong kaget dan lari ketakutan saat melihat kedatangan Beng San. Kemudian Kwa Hong menceritakan betapa Thio Ki dan Kui Lok marah karena Beng San tidak mau pergi, dan kemudian dua anak ini memukuli Beng San.

"Bunglon... ehh, anak ini tidak melawan, Sukong. Teecu sudah mencegah kedua suheng memukulinya, tetapi mereka terus saja memukul. Akhirnya, entah bagaimana, keduanya malah roboh sendiri seperti itu." Setelah berkata demikian, Kwa Hong menoleh kepada Beng San yang kini berdiri menundukkan mukanya yang sudah berubah putih kembali, pulih bersih dengan alisnya yang hitam lebat dan matanya yang seperti mata harimau.

Lian Bu Tojin menghampiri kedua orang muridnya. Dengan beberapa kali mengurut pada punggung mereka, dua orang anak itu waras kembali, bangun dengan muka kemerahan.

Lian Bu Tojin memandang mereka dengan muka keren, membuat dua orang anak itu tunduk ketakutan. Kemudian Lian Bu Tojin menghampiri Beng San, untuk beberapa menit lamanya dia menatap wajah anak itu dan amat terheran-heran menyaksikan sinar mata yang luar biasa dari anak jembel yang berdiri di depannya.

"Kau siapakah, anak muda?" Pertanyaan kakek ini halus tetapi berpengaruh, sedangkan pandang matanya tajam menembus jantung.

Hal ini dirasakan oleh Beng San ketika dia mengangkat muka. Cepat-cepat dia kembali menundukkan pandang matanya agar jangan sampai kakek itu dapat membaca rahasia hatinya.

"Nama teecu Beng San," jawabnya sederhana.
"Apa nama keturunanmu?"
"Ehh... nama keturunan? Hemmm, she (nama keturunan) teecu (aku) adalah... Huang-ho (Sungai Kuning)."
”Apa?” Lian Bu Tojin mengerutkan keningnya. "Di dunia ini, mana ada orang bernama keturunan Huang-ho?"
"Teecu hanya tahu bahwa teecu terbawa hanyut Sungai Huang-ho, karena itu teecu tidak tahu lagi siapa orang tua dan siapa pula she, teecu mengambil keputusan untuk memakai nama keturunan Huang-ho saja. Jadi nama teecu Huang-ho Beng San."

Lian Bu Tojin mengangguk-angguk sambil mengelus-elus jenggot. Diam-diam dia memuji sikap anak ini yang dari kata-katanya menunjukkan bahwa dia seorang anak yang tahu akan sopan santun.

"Kenapa Koai Atong lari tunggang-langgang melihatmu?"
"Siapa itu Koai Atong, Totiang? Teecu tidak mengenalnya."
"Orang tinggi besar yang tadi lari ketakutan melihatmu. Apakah kau tidak pernah bertemu dengannya?"

Beng San menggelengkan kepalanya. "Teecu tidak merasa pernah bertemu dengan orang tadi."

Kembali Lian Bu Tojin mengelus jenggot, sedangkan Sian Hwa, Kwa Hong dan tiga orang temannya, juga para tosu yang berada di situ, mendengarkan dengan heran. Bocah ini benar-benar aneh.

”Ketika kau dipukuli oleh kedua orang anak nakal ini, dengan cara bagaimana kau dapat mengembalikan tenaga dan hawa pukulan mereka? Pernahkah kau belajar silat?"

Kembali Beng San menggelengkan kepala. "Teecu tidak tahu, tidak bisa silat."

Lian Bu Tojin menoleh kepada Kui Lok dan Thio Ki yang berdiri sambil tunduk. Kening kakek ini berkerut.

"Kalian ini anak-anak nakal sungguh tak tahu malu. Mengeroyok dan memukuli seorang anak yang tidak pandai silat? Apakah hal itu termasuk perbuatan gagah? Sungguh amat memalukan kalian ini. Dan katakanlah, apa sebabnya kalian tadi roboh pingsan?"

Kui Lok tidak berani menjawab, Thio Ki juga hanya melirik kepadanya. Setelah Lian Bu Tojin membentak dan mendesak, baru Thio Ki menjawab lirih.
"Tidak tahu, Sukong. Tahu-tahu teecu sudah sadar tadi. Entah apa sebabnya teecu bisa pingsan.”

Sian Hwa merasa kasihan melihat murid-murid keponakannya, maka ia berkata. "Suhu, apakah tidak bisa jadi karena terlampau marah, mereka tidak mengatur tenaga dan hawa kemarahan lantas menyesak ke dada sehingga ketika mereka memukul, tenaga pukulan terpental oleh hawa yang menyesak di dada sendiri itu?"

Lian Bu Tojin mengangguk-angguk. "Mungkin begitu. Tapi hal ini termasuk hal yang luar biasa sekali." Ia menoleh kepada Beng San. "Apakah badanmu sakit-sakit dipukul tadi? Coba kuperiksa, barangkali kau terluka parah, kalau begitu akan kuobati sampai sembuh."

Tanpa menanti jawaban Lian Bu Tojin menyodorkan tangannya dan meraba pundak Beng San. Anak ini merasa betapa dari telapak tangan yang halus lunak itu keluar semacam tenaga dahsyat yang menyerang pundaknya.

la kaget sekali dan hampir saja mengerahkan tenaga. Baiknya dia seorang yang cerdik. Biar pun dia belum perpengalaman, namun pengertiannya dalam ilmu silat tinggi yang dia pelajari dari Lo-tong Souw Lee sudah cukup. la mengerti bahwa dirinya diuji, maka segera dia mengumpulkan semangatnya, memaksa diri diam saja agar hawa di tubuhnya jangan bergerak.

Lian Bu Tojin mendapat kenyataan dari rabaan tangannya pada pundak anak itu bahwa memang anak itu kosong, tubuhnya tidak memiliki tenaga dalam. Karena itu, lenyaplah kecurigaannya bahwa cucu-cucu muridnya roboh oleh penggunaan tenaga dalam yang luar biasa. la tertawa sambil melepaskan tangannya.

"Ha, kau tidak apa-apa, tidak terluka. Beng San, sekarang ceritakan, apa kehendakmu datang ke Hoa-san mencari pinto."
"Teecu datang membawa sepucuk surat dari sahabat lama Totiang. Inilah suratnya."

Beng San menyerahkan surat tulisan Lo-tong Souw Lee dengan mengucapkan kata-kata seperti yang dipesan oleh kakek itu. Memang kakek tua itu memesan kepadanya agar jangan mengucapkan namanya di depan Lian Bu Tojin.

Lian Bu Tojin tersenyum dan menerima surat itu. Jantung kakek ketua Hoa-san-pai ini berdetak keras ketika dia melirik ke arah nama pengirim surat itu. Akan tetapi kekuatan batinnya yang sudah tinggi itu membuat wajahnya tetap tersenyum, sama sekali tidak memperlihatkan keadaan hatinya. Siapa orangnya tidak akan berdetak keras jantungnya ketika membaca nama Lo-tong Souw Lee?

Nama besar Souw Lee dikenal oleh semua orang kang-ouw setelah perbuatannya yang menggemparkan, yaitu setelah dia mencuri sepasang pedang Liong-cu Siang-kiam yang diperebutkan oleh seluruh orang gagah di dunia persilatan.

Sebagai seorang ketua Hoa-san-pai, Lian Bu Tojin sendiri tentu saja merasa malu untuk turut memperebutkan senjata pusaka lain orang. Apa lagi dengan Souw Lee dia dahulu waktu mudanya pernah menjadi sahabat yang amat baik.

Dengan tenang Lian Bu Tojin membaca surat itu. Di dalam suratnya itu, Lo-tong Souw Lee minta pertolongan ketua Hoa-san-pai agar suka melindungi Beng San dari ancaman mara bahaya.

"Anak ini yatim piatu," tulis Lo-tong Souw Lee, "aku amat kasihan dan suka kepadanya. Mungkin akibat kenal denganku, jiwanya menjadi terancam oleh orang-orang jahat. Harap kau lindungi dia sampai saat aku mati dan dia terbebas dari ancaman orang yang hendak memaksanya membawa mereka kepadaku."

Lian Bu Tojin mengangguk-angguk. la mengerti akan maksud Lo-tong Souw Lee. Agaknya anak ini dikasihi kakek itu dan karena anak ini berkenalan dengan Souw Lee, sangat bisa jadi orang-orang kang-ouw akan menculiknya dan memaksanya menunjukkan di mana tempat sembunyi Lo-tong Souw Lee.

"Beng San, sudah lamakah kau kenal dengan penulis surat ini?" Lian Bu Tojin bertanya sambil menyimpan surat itu ke dalam saku jubahnya.
"Belum lama, Totiang, baru beberapa bulan," jawab Beng San sejujurnya.
"Jadi kau tidak tahu tempatnya, ya? Bagus, tentu kau tidak tahu tempatnya," kata ketua Hoa-san-pai ini, membuat Beng San terheran-heran.

Akan tetapi anak yang cerdik ini segera maklum akan maksud Lian Bu Tojin. Tentu kakek ini memperingatkan kepadanya supaya dia tidak mengaku tahu tempat sembunyi Lo-tong Souw Lee kepada siapa pun juga. Maka dia mengangguk dan menundukkan mukanya.

"Apa kau suka belajar silat? Kulihat kau amat berbakat untuk belajar ilmu silat. Kau boleh belajar dari para tosu murid-murid pinto."

Beng San berpikir. Apa artinya dia mempelajari ilmu silat lain? Ilmu-ilmu yang sudah dia hafalkan pun belum matang dia latih. Pula, kalau dia belajar ilmu silat Hoa-san-pai, berarti dia menjadi murid Hoa-san-pai dan ada bahayanya akan diketahui orang rahasianya apa bila dia bergerak dalam bermain silat.

"Teecu lebih senang mempelajari ujar-ujar kuno dan filsafat-filsafat, dalam hal ini mohon petunjuk Totiang."

Lian Bu Tojin menggerak-gerakkan alisnya saking herannya. Di mana di dunia ini ada seorang anak belasan tahun umurnya ingin mempelajari filsafat kebatinan?

"Pernahkah kau mempelajari kebatinan?" tanyanya.
"Teecu pernah bekerja sebagai kacung di dalam kelenteng besar dan para losuhu yang baik dari kelenteng itu kadang-kadang mengajar teecu membaca kitab-kltab kuno."
”Bagus kalau begitu. Beng San, mulai sekarang kau kuserahi tugas menjaga kebersihan pondok pinto dan di waktu senggang kau boleh mempelajari filsafat tentang Agama To."

Beng San menjatuhkan diri berlutut, kemudian menghaturkan terima kasih. Lian Bu Tojin mengangguk-angguk dan mengajak anak itu masuk pondoknya untuk memberi petunjuk tentang tugas pekerjaannya.

Ketika Beng San bangkit berdiri, dia menoleh ke arah Kwa Hong dan tersenyum ramah. Tidak terlupa olehnya betapa tadi Kwa Hong membelanya ketika dia dipukuli dua orang jago cilik murid Hoa-san-pai itu. Juga dia mengerling manis ke arah Thio Bwee yang tadi pun berusaha mencegah Thio Ki.

Akan tetapi dia melihat betapa dua pasang mata jago cilik itu memandang kepadanya penuh kebencian.....
********************
Selanjutnya baca
RAJA PEDANG : JILID-07
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger