logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Raja Pedang Jilid 07


Satu bulan sesudah Beng San bekerja di Hoa-san. la bekerja rajin, tidak saja menjaga bersih pondok tempat kediaman ketua Hoa-san-pai, juga taman bunga menjadi bersih dan terjaga baik setelah Beng San berada di situ. Satu-satunya hal yang membuat dia sering kali merasa tersiksa adalah sikap Thio Ki dan Kui Lok.

Dua orang anak ini masih saja benci kepadanya, dan setiap kali terdapat kesempatan, pasti kedua orang anak ini mengejeknya, memaki dan menyebutnya jembel busuk, setan cilik, dan lain-lain. Thio Bwee yang pendiam tidak pernah berterang menghinanya, akan tetapi pandang mata anak perempuan ini pun selalu dingin dan selalu menghindarinya, seakan-akan memandang rendah.

Hanya Kwa Hong yang tidak berubah sikapnya. Anak perempuan ini tetap galak, lincah dan suka menggoda seperti dahulu, akan tetapi sama sekali tidak pernah menghinanya. Hanya kadang-kadang kalau bertemu Kwa Hong suka menggoda.

”Heiii, bunglon. Coba perlihatkan muka hijau!" Sambil tertawa-tawa, atau kadang-kadang berkata, "Bunglon, sudah lama aku tak pernah melihat muka hitammu!"

Beng San hanya tertawa saja kalau digoda oleh Kwa Hong, akan tetapi sekarang dia tidak berani lagi memaki ‘kuntilanak’ setelah tahu bahwa anak ini adalah cucu murid terkasih dari Lian Bu Tojin. Terhadap Kui Lok dan Thio Ki pun Beng San bersikap sabar sekali. Sudah beberapa kali dua orang anak ini sengaja mencari-cari dan menantangnya, namun Beng San tidak mau melayaninya.

Pada suatu hari menjelang senja, karena pekerjaannya sudah habis, Beng San memasuki taman dengan maksud untuk beristirahat. la melihat empat orang anak itu sedang giat berlatih silat. Biasanya kalau mereka berlatih silat, dia hanya melihat dari jauh saja, sama sekali tidak tertarik karena dia tahu bahwa kepandaian mereka itu sama sekali tidak ada artinya.

Selama beberapa bulan ini setelah latihan-latihan yang dia lakukan semakin matang, dia merasa betapa mudah dia menguasai hawa dan tenaga di dalam tubuhnya dan sangat mudahnya dia mainkan ilmu-ilmu silat yang sudah dia pelajari. Terutama sekali Im-yang Sin-kiam-sut dapat dia mainkan dengan mudah dan tepat. Penggunaan tenaga dalam dapat dia atur sekehendak hatinya. Semua ini adalah hasil dari latihan-latihan napas dan semedhi seperti yang diajarkan oleh Lo-tong Souw Lee.

Dengan pandang matanya yang sudah tajam berkat tenaga dalamnya, Beng San dapat melihat betapa gerakan empat orang anak itu amat lemah dasarnya dan sungguh pun ilmu silat mereka indah dipandang, terutama ilmu pedangnya, akan tetapi dia anggap tidak ada gunanya dalam pertandingan.

Karena dia sudah memasuki taman, Beng San tidak mau keluar lagi dan malah duduk di atas sebuah batu hitam dekat kolam ikan, menonton mereka yang bersilat. Pada saat itu, Kwa Hong sedang bermain pedang. Sekali lirik saja gadis cilik ini melihat kedatangan Beng San dan aneh sekali, tiba-tiba saja timbul di dalam pikirannya untuk bersilat lebih hebat.

la mempercepat gerakannya sehingga tubuhnya yang berpakaian merah itu melayang ke sana ke mari merupakan bayangan merah, diselingi berkelebatnya pedang yang bergerak menyambar-nyambar. Setelah ia berhenti bersilat, tiga orang kawannya bertepuk tangan memuji.

Tanpa terasa lagi Beng San juga ikut bertepuk tangan karena dia harus mengakui bahwa permainan Kwa Hong itu betul-betul indah dipandang. Kwa Hong menoleh ke arah Beng San dan matanya berseri gembira, akan tetapi Kui Lok dan Thio Ki melirik ke arah kacung itu sambil berjebi mengejek.

"Dia tahu apa tentang ilmu silat?" kata Kui Lok.
"Seperti monyet saja. Orang lain bertepuk dia juga ikut bertepuk," sambung Thio Ki.
“Dia memuji aku, apa salahnya?" Kwa Hong berkata, agak marah. Dua orang anak lelaki itu segera diam dan tidak mau mencela Beng San lagi.

Sementara itu Thio Bwee sudah meloncat maju dan bersilat pedang pula. Agaknya seperti juga Kwa Hong atau semua anak perempuan, Thio Bwee pun tak terluput dari sifat ingin dipuji. Pujian yang dia terima dari ketiga orang kawannya sudah membosankan hatinya, sekarang terdapat Beng San di situ yang telah memuji Kwa Hong, tentu saja ia pun ingin memancing pujian.

Diam-diam Beng San memperhatikan. Dalam gerakan-gerakan ilmu pedang Hoa-san-pai itu, ternyata Kwa Hong jauh lebih mahir, lebih cepat dan lebih ringan gerakannya. Akan tetapi dalam gerakan menyerang, harus dia akui bahwa Thio Bwee ini lebih kuat, lebih ganas dan lebih berbahaya. Setelah Thio Bwee selesai bermain pedang, kembali Beng San tanpa ragu-ragu ikut memuji, malah berkata.
"Bagus... bagus...!"

Mendadak terdengar suara pujian lain, "Bagus, bagus Nona-nona kecil yang manis."

Ketika anak-anak itu menengok mereka melihat seorang laki-laki yang berpakaian indah berjalan menghampiri tempat itu sambil tersenyum-senyum. Lalu, sebelum anak-anak itu dapat menduga apa yang akan terjadi, laki-laki ini sudah meloncat ke depan dan sekali sambar saja dia sudah menangkap Kwa Hong dan Thio Bwee dengan kedua tangannya dan mengempit pinggang dua orang anak perempuan itu.

Kwa Hong dan Thio Bwee tentu saja tidak tinggal diam. Mereka berusaha untuk meronta dan memberontak, namun percuma saja, dalam kempitan yang amat kuat dari laki-laki itu mereka tidak mampu melepaskan diri. Kui Lok dan Thio Ki sudah dapat mengatasi kekagetan hati mereka. Dengan marah mereka mencabut pedang dan menerjang maju.

"Penjahat busuk, lepaskan mereka!” bentak dua orang anak ini sambil menyerang dengan pedang.

Laki-laki itu tertawa bergelak. Dua kakinya bergerak cepat melakukan tendangan berantai dan tubuh Kui Lok dan Thio Ki terlempar, pedang mereka terlepas dan pegangan. Sambil tertawa-tawa orang itu lalu keluar dari taman dengan langkah yang amat cepat. Dua orang gadis cilik itu tetap meronta-ronta di dalam kempitannya.

Sebentar saja laki-laki itu sudah lenyap dari situ, meninggalkan Kui Lok dan Thio Ki yang meringis dan mengeluh kesakitan ketika mereka merayap bangun. Beng San sudah tidak kelihatan lagi bayangannya, entah ke mana perginya anak itu.

Akan tetapi tentu saja Kui Lok dan Thio Ki tidak menaruh perhatian terhadap Beng San, sebaliknya mereka lalu dengan wajah pucat berlari-lari memasuki pondok Lian Bu Tojin untuk melaporkan tentang penculikan itu. Dapat dibayangkan betapa kaget hati Lian Bu Tojin, dan terutama sekali Sian Hwa.

”Bagaimana macamnya orang itu?" tanya Lian Bu Tojin, sementara itu Sian Hwa sudah berkelebat keluar untuk melakukan pengejaran.
“Dia laki-laki, pakaiannya indah...,” kata Thio Ki yang masih gugup dan pucat.
"Masih muda, wajahnya tampan, pesolek dan tersenyum-senyum?"

Ketika Kui Lok dan Thio Ki membenarkan, tahulah Lian Bu Tojin bahwa penculik dua orang muda cucu muridnya itu bukan lain adalah orang muda yang pernah mengganggu Sian Hwa dan yang mengaku bernama Souw Kian Bi. Ah, berbahaya kalau dibiarkan Sian Hwa mengejar sendiri, pikirnya.

Kakek ini sudah maklum akan kelihaian orang she Souw itu, maka terpaksa dia lantas bangkit dari tempat duduknya dan segera melakukan pengejaran sendiri, bukan saja untuk merampas kembali dua orang cucu muridnya, juga untuk menjaga keselamatan Sian Hwa. Ketika kakek ini turun dari puncak, dia melihat beberapa orang muridnya, yaitu para tosu yang berjaga, sudah menggeletak karena tertotok orang jalan darahnya. Ini membuktikan bahwa orang she Souw itu memasuki Hoa-san-pai dengan menggunakan kekerasan.

Dugaan Lian Bu Tojin memang tidak keliru. Laki-laki yang menculik Kwa Hong dan Thio Bwee itu memang bukan lain orang adalah orang yang pernah mengganggu Sian Hwa dan mengaku bernama Souw Kian Bi. Siapakah dia ini?

Souw Kian Bi bukanlah orang sembarangan. Dia ini sebetulnya seorang putera pangeran bangsa Mongol yang selain tinggi ilmu silatnya, juga amat nakal. Dengan menggunakan kekuasaannya sebagai putera pangeran, ditambah dengan kepandaiannya yang tinggi, anak bangsawan yang menggunakan nama Han, yaitu Souw Kian Bi ini mengumbar nafsunya.

Dia seorang pemuda hidung belang, terkenal suka mengganggu anak isteri orang lain. Entah berapa banyaknya keonaran dia sebabkan, dan entah berapa banyak anak-anak dan isteri orang lain dia ganggu. Akan tetapi siapa berani menentangnya? Andai kata ada yang tidak takut menghadapi kedudukannya, setidaknya orang akan segan bermusuhan dengan putera pangeran yang tinggi ilmu silatnya ini.

Ayahnya seorang bangsawan Mongol, tentu saja telah mendengar tentang sepak terjang puteranya yang amat tercela itu. Maka dia lalu memanggil Souw Kian Bi, memaki-makinya habis-habisan, kemudian untuk menjaga kebersihan nama keluarga, dia memerintahkan Souw Kian Bi untuk ikut bekerja kepada pemerintah. Karena Souw Kian Bi pandai silat, maka dia lalu diberi tugas untuk membantu pemerintah dalam membasmi pemberontak-pemberontak, terutama sekali dalam usahanya membasmi Pek-lian-pai.

Inilah sebabnya mengapa Souw Kian Bi sampai tiba di daerah Hoa-san, daerah yang dianggap menjadi tempat persembunyian sebagian dari para pemberontak Pek-lian-pai. Akan tetapi dasar pemuda bermoral rendah, di samping menjalankan tugasnya memimpin pasukan besar untuk menumpas pemberontak, Souw Kian Bi tidak pernah melupakan kesenangannya. Di mana-mana, terutama di desa-desa, dia menggunakan kekuasaannya untuk menculik wanita-wanita cantik.

Akhirnya, seperti telah dituturkan di bagian depan, dia bertemu dengan Liem Sian Hwa. Kecantikan jago muda Hoa-san-pai ini membangkitkan semangatnya dan meski pun dia telah diusir oleh Lian Bu Tojin, akan tetapi hatinya masih penasaran kalau dia belum bisa berkenalan dengan Sian Hwa.

Selain ini, juga rombongannya menaruh curiga terhadap Hoa-san-pai dengan adanya kenyataan bahwa beberapa pasukan Mongol telah dihancurkan dan tewas di daerah ini. Maka sambil melakukan penyelidikan akan keadaan Hoa-san-pai, Souw Kian Bi sekalian mencari kesempatan untuk mendapatkan diri Liem Sian Hwa!

Ketika memasuki taman Hoa-san-pai dan melihat Kwa Hong dan Thio Bwee, timbul pikiran Souw Kian Bi untuk memancing keluar Sian Hwa. Kalau bukan untuk akal ini, kiranya dia tidak akan mau menculik dua orang bocah perempuan itu. Souw Kian Bi memang tinggi kepandaiannya, maka biar pun dua orang bocah itu sudah mempelajari ilmu silat, di dalam kempitan kedua tangannya mereka tidak berdaya.

Di samping ini, Souw Kian Bi masih mampu berjalan dengan cepat sekali, turun dari puncak melalui sebelah utara. Cepat dia meloncati jurang-jurang, mendaki batu-batu, nampak tubuhnya ringan dan enak saja melalui jalan yang sukar itu. Ketika sudah jauh dia berlari dan menengok ke belakang, dari jauh dia melihat bayangan seorang anak kecil melakukan pengejaran.

"Hemmm, sudah kutendang masih berani mengejar?" Souw Kian Bi berpikir penasaran.

la melepaskan Thio Bwee dan cepat menotok jalan darah anak ini sehingga menggeletak tak dapat bergerak lagi. Tangan kanannya yang kini bebas merogoh saku, mengeluarkan sebuah pelor besi. la menanti sampai bayangan anak yang mengejar itu agak dekat, lalu menyambit. Jelas sekali sambitannya ini, tepat mengenai sasaran karena anak itu roboh terguling.

Sambil tertawa-tawa Souw Kian Bi mengempit lagi tubuh Thio Bwee dengan tangan kanannya, lalu kembali melanjutkan larinya. Siapakah bocah yang dia sambit tadi? Bukan lain adalah Beng San!

Beng San yang pada saat Souw Kian Bi menculik Kwa Hong dan Thio Bwee berada pula di taman, diam-diam melakukan pengejaran. Biar pun jalan itu sukar sekali, namun bagi Beng San yang sekarang bukan Beng San dahulu lagi, sudah memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, bukanlah merupakan jalan yang sukar.

Akan tetapi dia sengaja tidak mau menyusul Kian Bi, hanya mengikuti dari jauh untuk melihat ke mana dibawanya dua orang anak perempuan itu. Dia memang bermaksud menolong Kwa Hong dan Thio Bwee, akan tetapi secara diam-diam agar jangan diketahui orang bahwa dia seorang yang memiliki kepandaian.

Ketika Souw Kian Bi menyerang dengan pelor baja yang disambitkan, tentu saja Beng San dapat melihat dengan jelas datangnya pelor. Dengan mudah tangannya menyambar dan menangkap pelor itu, akan tetapi dia pura-pura menggulingkan tubuh agar jangan dicurigai lawan.

Benar saja, Kian Bi terpedaya dan mengira dia roboh binasa, tidak memeriksa lebih lanjut. Setelah Kian Bi melanjutkan larinya, Beng San mengejar lagi, kini berhati-hati sekali agar jangan kelihatan oleh orang yang dikejarnya.

Kurang lebih dua puluh li jauhnya Kian Bi membawa lari dua orang anak perempuan itu. Akhirnya dia tiba di sebuah hutan yang berada di kaki Gunung Hoa-san sebelah utara. Dalam hutan ini terdapat perkemahan yang besar, dan terjaga kuat oleh tentara Mongol. Di tengah-tengah berkibar bendera Mongol yang ditandai oleh gambar naga hitam. Para penjaga tertawa ketika melihat putera pangeran ini datang menggondol dua orang bocah perempuan yang mungil-mungil.

"Aduh, Souw-kongcu, kau mendapatkan dua tangkai bunga yang belum mekar? Sayang bunga-bunga masih kuncup sudah dipetik," demikian komentar seorang kepala jaga.
"Hushhh, diam kau! Kau tahu apa?" Souw Kian Bi membentak, akan tetapi mulutnya tersenyum sambil menurunkan Kwa Hong dan menotoknya pula. "Nih, kau bawalah dua orang bocah mungil ini ke kamar di kemahku, jaga baik-baik jangan sampai lari atau ada yang menolongnya. Aku menggunakan mereka untuk memancing datangnya seseorang yang kunanti-nanti. Awas, penjagaan harus diperkuat di sebelah depan. Sebelah belakang boleh kalian kosongkan, karena tidak akan mungkin bocah-bocah itu lari melalui jalan belakang yang penuh dengan rawa."

Setelah menyerahkan dua orang anak itu kepada penjaga yang segera membawa mereka ke tempat yang dimaksud, Souw Kian Bi memasuki perkemahan terbesar di mana berkumpul beberapa orang panglima dan tokoh-tokoh penting dalam usaha pembasmian Pek-lian-pai. Sementara itu, hari telah menjadi gelap karena senja lewat terganti malam. Di dalam kemah terbesar itu dipasangi penerangan yang besar pula, terjaga kuat-kuat oleh belasan orang serdadu di sekelilingnya.

Souw Kian Bi memasuki kemah itu dari depan, langsung menuju ke dalam, di mana terdapat ruangan yang lebar dan di sini berkumpul lima orang mengelilingi sebuah meja. Hidangan arak dan makanan nampak mengebul di atas meja, dilayani oleh wanita-wanita cantik.

Ketika Kian Bi masuk, orang-orang itu segera berdiri dari tempat duduk masing-masing, kecuali seorang laki-laki tinggi besar bermuka hitam berkepala gundul dan berpakaian seperti seorang hwesio. Hwesio tinggi besar ini tetap acuh tak acuh, malah ketika Kian Bi memasuki ruangan dia segera menyumpit sepotong daging besar dan dimasukkannya ke dalam mulut, terus dikunyah sambil mengeluarkan suara seperti babi makan.

Di dekat bangkunya bersandar sebuah dayung perahu yang sangat besar, terbuat dari logam hitam kebiruan. Usia hwesio ini tentu tidak kurang dari lima puluh tahun, mungkin sudah enam puluh, akan tetapi tubuhnya masih tetap tegap kuat. Kepalanya yang licin belum nampak putih, sepasang matanya lebar bundar seperti mata kerbau.

Ada pun empat orang yang lainnya adalah panglima-panglima Mongol yang bertugas mengadakan ‘pembersihan’ di daerah ini terhadap para pemberontak, terutama orang orang Pek-lian-pai.

"Souw-kongcu baru datang?" berkata seorang di antara para panglima. "Silakan duduk. Kebetulan sekali, sambil makan-makan kami sedang berunding dengan Losuhu untuk mengambil sikap terhadap Hoa-san-pai."

Hwesio tinggi besar itu melirik ke arah Souw Kian Bi, lalu mengeluarkan suara melalui hidung seperti orang mengejek, kemudian disusul suaranya yang kasar, parau dan keras, "Souw-kongcu selalu pergi mencari kesenangan dengan perempuan. Kalau berlarut-larut, tugas bisa kacau kesehatan rusak dan menurun. Kau tersesat, Kongcu."

Souw Kian Bi tertawa bergelak sambil menghempaskan tubuhnya di atas sebuah kursi yang berhadapan dengan hwesio itu. Dengan lagak gembira dia menerima sebuah cawan arak yang dihidangkan oleh seorang nona pelayan manis sambil mencolek pipi pelayan itu, kemudian dia berkata.

"Losuhu, di dalam bersenang saya tidak pernah melupakan tugas. Kali ini saya berhasil membawa dua orang cucu murid Hoa-san-pai, hal ini perlu untuk memancing datangnya orang-orang Hoa-san-pai dan melihat bagaimana sikap mereka, baik terhadap kita mau pun Pek-lian-pai." Souw Kian Bi lalu menjelaskan maksudnya yang merupakan siasat untuk menjauhkan Hoa-san-pai dari para pemberontak itu.
"Bagus sekali, Kongcu!" Seorang komandan berseru girang memuji akal putera pangeran ini.

Juga hwesio itu mengangguk-angguk. Akan tetapi karena otaknya tidak biasa berpikir tentang hal yang ruwet-ruwet, dia lalu minum araknya dengan lahap. Siapakah hwesio tua ini? Dia bukan lain adalah Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang, seorang tokoh besar dari timur yang berilmu tinggi.

Seperti juga para tokoh kang-ouw yang besar, misalnya Hek-hwa Kui-bo, Song-bun-kwi dan Siauw-ong-kwi, juga seperti yang lain, dia ingin mendapatkan Liong-cu Siang-kiam. Begitu turun dari pertapaannya, dia bertemu dengan anak perempuan yang menangisi mayat Thio Sian, tokoh Pek-lian-pai. Kemudian hwesio ini yang tertarik oleh bakat baik dalam diri anak perempuan itu, lalu membawa pergi anak itu bersama mayat Thio Sian.

Anak itu bernama Thio Eng, puteri tunggal Thio Sian yang semenjak saat itu ia jadikan muridnya. Hal ini sudah dituturkan di bagian depan, yaitu pada waktu kakek hwesio yang membawa lari Thio Eng ini dilihat oleh Kun-lun Sam-hengte.

Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang adalah seorang sakti, akan tetapi dia amat jujur dan mudah sekali dihasut atau dibujuk orang. Akhirnya dia bertemu dengan putera pangeran yang bernama Souw Kian Bi ini.

Souw Kian Bi yang amat licin dan cerdik segera dapat membujuk Swi Lek Hosiang untuk membantunya. Memang sebelumnya dia sudah mengenal Swi Lek Hosiang yang dahulu adalah seorang sahabat dari pamannya, yaitu Lo-tong Souw Lee.

Tentunya para pembaca masih ingat kepada Lo-tong Souw Lee, pencuri pedang Liong-cu Siang-kiam itu. Memang, Souw Lee bukanlah orang biasa, melainkan dia juga seorang bangsawan Mongol yang sakti dan yang tak suka melihat kelakuan bangsanya menindas orang-orang Han. Karena itu Souw Lee mencuri sepasang pedang Liong-cu Siang-kiam dan melarikan diri.

Dalam percakapan ketika keduanya bertemu, Souw Kian Bi dengan cerdik menjanjikan bantuan kepada Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang untuk mencarikan Souw Lee yang masih terhitung saudara kakeknya, malah memberi janji bahwa kelak akan memberi kedudukan tinggi kepada Swi Lek Hosiang di depan kaisar. Hwesio yang jujur tetapi kurang cerdik ini masuk dalam perangkap, apa lagi ketika diceritakan mengenai adanya pemberontakan-pemberontakan yang jahat dan yang mengacau rakyat, hwesio ini serta merta menjanjikan bantuannya.

Demikianlah sebab-sebabnya mengapa orang sakti ini sekarang berada di dekat Kian Bi untuk membantu pemerintah Mongol menindas para pemberontak. Untuk keperluan ini, Swi Lek Hosiang ikut pergi ke Hoa-san di mana banyak tentara Mongol sudah menjadi korban gempuran orang-orang Pek-lian-pai. Thio Eng yang sudah menjadi muridnya dia titipkan pada sebuah kelenteng di kota Tiong Kwan.

"Yang berbahaya adalah Lian Bu Tojin," kata Souw Kian Bi sambil mengerling ke arah hwesio yang masih lahap makan daging dan arak itu. "Hoa-san Sie-eng sih mudah untuk menghadapinya, Ketua Hoa-san-pai itulah yang membikin khawatir, dia lihai sekali..."
"Hemmm, berapa sih kuatnya Lian Bu Tojin? Kalau betul tosu bau itu memihak kepada pemberontak dan hendak mengacau, biar pinceng (aku) lawannya!" Suara Tai-lek-si Swi Lek Hosiang mengguntur.

"Saya bukan kurang percaya akan kepandaian Losuhu, akan tetapi tosu tua itu tak boleh dipandang sebelah mata. Pedang pusakaku sekali bertemu dengan tongkat bambunya patah menjadi dua. Wah, bukan main lihainya dia!" Souw Kian Bi berkata memperlihatkan sikap kekhawatiran besar. Dia cerdik sekali, kata-kata dan sikapnya ini sengaja membakar hati kakek yang jujur dan polos itu.
"Suruh dia datang! Suruh ketua Hoa-san-pai datang! Pinceng hendak melihat sampai di mana kelihaiannya!" Suara hwesio itu makin keras.

Tiba-tiba terdengar suara dari luar kemah, "Tai-lek-sin, tak perlu kau berteriak-teriak, pinto (aku) sudah datang!" Suara ini lirih dan sangat halus, akan tetapi dari dalam terdengar seolah-olah yang bicara berada di dalam ruangan itu.

"Nah, itu dia Hoa-san-pai ciangbujin (ketua)," Souw Kian Bi berbisik, kini dia benar-benar ketakutan karena orang sudah bisa berada di luar kemah tanpa diketahui para penjaga, itu saja sudah membuktikan betapa lihainya orang yang datang ini.

Tak-lek-sin Swi Lek Hosiang menggerakkan tangan kirinya ke depan, ke arah pintu tenda. Angin pukulan menyambar dan pintu itu terbuka dengan sendirinya. la berkata sambil tertawa.

"Ketua Hoa-san-paikah yang datang? Harap masuk, pintu terbuka lebar-lebar!"

Semua orang memandang ke pintu yang terbuka. Cuaca di luar remang-remang karena pada malam itu hanya diterangi bintang-bintang. Dengan tenang berjalanlah kakek ketua Hoa-san-pai, Lian Bu Tojin, masuk sambil bersandar pada tongkatnya.

Di belakangnya bukan hanya Liem Sian Hwa yang mengikutinya, tetapi lengkap dengan Kwa Tin Siong, Thio Wan It, dan Kui Keng. Ternyata Hoa-san Sie-eng sudah lengkap datang ke situ di belakang guru mereka! Bagaimana tiga orang murid Hoa-san-pai itu dapat muncul di saat itu?

Hal ini adalah suatu kebetulan belaka. Ketika Liem Sian Hwa dan kemudian Lian Bu Tojin melakukan pengejaran terhadap penculik Kwa Hong dan Thio Bwee, berlari turun dari puncak, di tengah jalan Sian Hwa dapat disusul gurunya dan pada saat itulah munculnya Kwa Tin Siong, Thio Wan It, dan Kui Keng yang sedang menuju ke puncak. Tiga orang ini memang bersama datang untuk memenuhi janji dengan pihak Kun-lun-pai yang hendak datang di Hoa-san.

Dengan singkat mereka mendengar dari Sian Hwa bahwa Kwa Hong dan Thio Bwee telah diculik orang, maka cepat-cepat mereka beramai melakukan pengejaran. Demikianlah, sekarang Hoa-san Sie-eng lengkap empat orang, mengiringkan guru mereka memasuki perkemahan barisan Mongol yang bermarkas di tempat itu.

Melihat Sian Hwa, putera pangeran itu memandang penuh kasih sayang dan tersenyum sambil berkata, "Nona Sian Hwa, alangkah gembira hatiku bahwa kau sudah sudi datang menjenguk tempat kediamanku..."

Mulut Sian Hwa sudah gatal-gatal hendak memaki, akan tetapi karena gurunya berada di situ pula, dia tidak berani membuka mulut mendahului suhu-nya, melainkan memandang dengan mata melotot penuh kemarahan.

Ada pun Lian Bu Tojin ketika menyaksikan bahwa Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang berada di situ, segera berkata.
"Siancai (seruan pendeta), kiranya Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang yang menjadi agul-agul di sini. Tidak heran apa bila manusia she Souw ini lalu berani bersikap kurang ajar dan tidak memandang mata kepada Hoa-san-pai..." Setelah berkata demikian dia mendekat ke arah hwesio tinggi besar itu dan melanjutkan kata-katanya dengan suara yang berubah keren, "Tai-lek-sin, kalau kau dan teman-temanmu benar hendak memusuhi Hoa-san-pai, akulah orangnya yang bertanggung jawab. Kenapa kau membiarkan saja manusia she Souw itu mengganggu dua orang cucu muridku?"

Tai-lek-sin tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, Lian Bu Tojin tosu tua bangka. Pernahkah kau mendengar Tai-lek-sin manusia tiada guna seperti aku mengotorkan tangan mencampuri dunia? Hanya karena penjahat-penjahat merajalela, pemberontak-pemberontak semacam Pek-lian-pai telah mengotori suasana dan mengganggu rakyat dan pemerintah, terpaksa pinceng harus turun tangan. Hoa-san-pai selamanya memiliki nama bersih, sayang sekali sekarang bersekongkol dengan Pek-lian-pai, terpaksa pinceng tidak dapat menyalahkan Souw-kongcu mengganggu cucu murid Hoa-san-pai!"

Lian Bu Tojin merasa dadanya panas sekali, namun kakek ini masih dapat menyabarkan hati, suaranya tetap lemah lembut ketika dia berkata.
"Bagus sekali sikapmu, hwesio! Sudah terang-terangan bahwa kau menjadi begundal pemerintah, hal itu bukanlah urusan pinto. Terserah siapa saja yang akan menjadi penjilat. Akan tetapi tuduhanmu bahwa Hoa-san-pai bersekongkol dengan Pek-lian-pai, sungguh tak berdasar sama sekali. Selamanya Hoa-san-pai tak pernah sudi bersekongkol dengan siapa saja, apa lagi dengan Pek-lian-pai..."

"Fitnah bohong!" tiba-tiba Sian Hwa tak dapat menahan kemarahannya lagi. "Pek-lian-pai bahkan memusuhiku, membunuh ayahku..."
"Sian Hwa, diamlah kau," Lian Bu Tojin mencela muridnya yang segera diam dengan muka merah.
"Pinceng tidak tahu urusannya, akan tetapi kalau hendak jelas biarlah Souw-kongcu yang menerangkan."

Hwesio itu kembali menghadapi hidangan di atas meja, makan minum tanpa pedulikan lagi orang-orang lain yang berada di situ. Para tamu itu kini menghadapi Souw Kian Bi yang berdiri sambil tersenyum tenang.

"Totiang, aku hanya membawa dua orang anak cucu muridmu main-main di tempat kami yang indah ini dan kalian pihak Hoa-san-pai sudah menyerbu datang dan mengatakan aku jahat. Sebaliknya, Hoa-san-pai bersekongkol dengan Pek-lian-pai para pemberontak itu, membunuh puluhan bahkan ratusan orang tentara pemerintah yang bertugas menjaga keamanan. Manakah yang lebih jahat dan keji?"
"Orang she Souw, tutup mulutmu yang busuk sebelum aku memaksa kau menutupnya!" tiba-tiba Thio Wan It yang terkenal berangasan membentak. "Kami dari Hoa-san-pai tak pernah bersekongkol dengan Pek-lian-pai!"

Souw Kian Bi memandang sambil tersenyum mengejek. "Hemm, untuk menutup mulutku kiranya tidak akan semudah kau membuka mulut, Sobat. Sekarang dengarlah lebih dulu. Banyak pasukan tentara pemerintah sudah terjebak dan tewas di kaki Gunung Hoa-san, di sekitar daerah yang dikuasai Hoa-san-pai. Kalau bukan kalian orang-orang Hoa-san-pai bersekongkol dengan Pek-lian-pai, mana dapat terjadi hal itu?"

"Kau boleh mengoceh dan berkata apa saja, pokoknya kami tak pernah berhubungan dengan Pek-lian-pai. Pendeknya lekas kau bebaskan puteriku, kalau tidak...," kata Thio Wan It yang merasa khawatir sekali atas nasib anaknya, Thio Bwee.
"Betul, bebaskan anak-anak kami jangan bersikap pengecut. Urusan boleh diurus, kalau perlu di ujung pedang, tapi jangan mengganggu anak-anak kecil yang tidak tahu apa-apa!" Baru kali ini Kwa Tin Siong berkata, suaranya tenang dan mantap, tetapi matanya penuh ancaman.

Akan tetapi Lian Bu Tojin berpikir lain. Sekarang kakek ini mengerti bahwa orang she Souw itu ternyata adalah seorang yang penting dalam pemerintah Mongol, maka amatlah tidak baik kalau Hoa-san-pai tersangkut dalam urusan pemberontakan Pek-lian-pai.

Andai kata Pek-lian-pai benar-benar merupakan perkumpulan patriotik yang bersih, tentu saja Hoa-san-pai akan senang sekali menggabungkan diri. Akan tetapi pada waktu itu dia sendiri masih sangsi terhadap Pek-lian-pai yang seolah sedang memusuhi Hoa-san-pai, maka kurang baik kalau Hoa-san-pai dianggap bersekongkol dengan Perkumpulan Teratai Putih itu.

la kemudian melangkah maju, menghalangi kedua pihak yang sudah panas. Kalau terjadi pertempuran, agaknya pihaknya akan mengalami kerugian, pikir ketua Hoa-san-pai ini. Dia sendiri mendapat lawan berat, yaitu Tai-lek-sin yang dia tahu tentu memiliki ilmu yang tak boleh dipandang ringan. Empat orang muridnya sungguh pun boleh diandalkan, akan tetapi bagaimana kalau mereka itu dikurung dan dikeroyok oleh ratusan orang tentara Mongol? Apa lagi selain Souw Kian Bi, empat orang komandan dan yang duduk di situ pun agaknya bukan orang-orang lemah.

"Tai-lek-sin, mengapa kau diam saja? Apakah sengaja kami dipancing datang hendak diajak bertanding? Ataukah berdamai? Apa maksud kalian memancing kami datang?"
"Aku benar-benar tidak tahu apa-apa. Bicaralah dengan Souw-kongcu," jawab hwesio itu sambil tertawa-tawa.

Biar pun sungkan bicara dengan orang muda pesolek itu, terpaksa ketua Hoa-san-pai menghadapinya. "Saudara Souw, katakanlah terang-terangan apa yang tersembunyi di balik segala perbuatanmu ini. Sudah jelas bahwa kau menculik dua orang cucu muridku dengan maksud memancing kami datang. Nah, sekarang setelah kami datang, apa yang kau kehendaki?"

Souw Kian Bi tetap tersenyum-senyum. "Senang sekali bercakap-cakap dengan Totiang yang lebih sabar dan luas pandangan," katanya melirik ke arah Hoa-san Sie-eng yang marah-marah. "Ucapan seorang ketua Hoa-san-pai tentu saja kami dapat percaya penuh. Sesungguhnya bagaimanakah, Totiang, apakah tidak ada persekongkolan jahat antara Hoa-san-pai dan Pek-lian-pai?"

"Tidak ada sama sekali," jawab kakek itu mendongkol.
"Bagus, kalau begitu dugaan kami telah keliru dan dua orang anak itu tentu saja harus dibebaskan sekarang juga. Akan tetapi, kami tetap akan ragu-ragu apa bila Totiang tidak menyatakan janji lebih dulu. Totiang berjanji dan kami melepaskan dua orang anak kecil itu dan... beres!"

Lian Bu Tojin mengerutkan alisnya. Bukan main licinnya orang muda ini, pikirnya. Licin, berbahaya dan penuh tipu muslihat.

"Janji apa yang kau kehendaki dari pinto?"
"Janji bahwa Hoa-san-pai tidak akan bersekongkol dengan Pek-lian-pai untuk memusuhi pemerintah."

Lian Bu Tojin tersenyum. "Baik. Pinto berjanji bahwa Hoa-san-pai tak akan bersekongkol dengan Pek-lian-pai untuk memusuhi pemerintah."

Souw Kian Bi mengerutkan kening. Mengapa begini mudah ketua ini berjanji? Ia memutar otak dan tiba-tiba dia berkata lagi, "Dan berjanji bahwa Hoa-san-pai tak akan memusuhi pemerintah."

"Orang muda she Souw, kenapa kau begini cerewet? Hoa-san-pai telah berjanji menuruti permintaanmu, berjanji tidak akan bersekongkol dengan Pek-lian-pai untuk memusuhi pemerintah. Hanya sekian dan habis. Kalau kau terlalu mendesak, pinto tak sudi berjanji lagi."
"He, Souw-kongcu. Tosu tua ini sudah berjanji takkan bersekongkol dengan Pek lian-pai, bukankah itu sudah cukup? Hayo lekas keluarkan dua orang bocah perempuan itu," kata Tai-lek-sin dengan suara keras.

Memang sesungguhnya inilah yang dikehendaki oleh para pimpinan Mongol. Mereka amat khawatir kalau-kalau partai persilatan besar mengadakan kerja sama dengan Pek-lian-pai. Mereka berusaha sekuatnya untuk memisahkah partai-partai ini dari Pek-lian-pai supaya kedudukan Pek-lian-pai kurang kuat, malah kalau mungkin memecah-mecah para partai itu agar mereka saling serang sendiri. Kalau sekarang ketua Hoa-san-pai berjanji takkan bersekongkol dengan Pek-lian-pai, hal ini sudah merupakan sebuah kemenangan bagi pemerintah.

Souw Kian Bi bukan seorang bodoh, Bukan maksud pemerintah untuk memusuhi setiap partai persilatan, apa lagi partai sebesar Hoa-san-pai yang kuat. Seorang musuh saja, Pek-lian-pai sudah cukup memusingkan, jangan sampai ditambah musuh ke dua.

la harus mengorbankan perasaannya sendiri, biar pun dia ingin sekali kalau bisa menukar kedua orang tawanannya itu dengan nona Sian Hwa yang menggetarkan hatinya, atau setidaknya dia pun akan suka mendapatkan dua orang nona cilik itu untuk menghibur hatinya. Akan tetapi kepentingan tugasnya harus dia dahulukan. Apa lagi, kiranya bodoh sekali kalau main-main dengan Hoa-san-pai!

Sambil tertawa dia memberi perintah kepada seorang di antara para komandan pasukan. "Bawalah dua orang nona cilik itu ke sini."

Komandan itu pergi dengan cepat, masuk ke perkemahan belakang. Tak lama kemudian dia sudah kembali dengan muka pucat dan suaranya gugup.

"Celaka, Kongcu. Dua ekor burung itu sudah terbang!"

Souw Kian Bi membanting-banting kaki. "Apa kau bilang?"

Cepat tubuhnya berkelebat dan lari memburu ke tempat ditahannya dua orang anak itu. Yang lain, termasuk orang-orang Hoa-san-pai, ikut pula mengejar ke belakang.

Ke manakah perginya Kwa Hong dan Thio Bwee? Betulkah dua orang anak perempuan yang sudah ditotok tak berdaya dan dikurung dalam kamar tahanan itu dapat melarikan diri?

Memang kenyataannya betul demikian. Akan tetapi tentu saja ada orang menolongnya. Penolong ini bukan lain adalah Beng San yang diam-diam terus mengikuti larinya Souw Kian Bi sampai memasuki perkemahan pasukan Mongol.

Menggunakan kecepatan dan keringanan tubuhnya, dilindungi pula oleh gelapnya malam, Beng San berhasil membobol pagar yang mengelilingi perkemahan tanpa dilihat oleh para penjaga. la berhasil pula mendengarkan pesan Souw Kian Bi kepada para penjaga. Mendengar bahwa bagian belakang perkemahan itu tidak terjaga kuat, dia pun mendapat pikiran untuk menolong dua orang nona kecil itu melarikan diri melalui bagian belakang perkemahan.

Dapat dibayangkan betapa herannya hati Kwa Hong dan Thio Bwee ketika mereka berada di dalam kamar tanpa dapat bergerak itu, tiba-tiba mereka melihat munculnya Beng San! Anak ini memberi tanda agar supaya Kwa Hong dan Thio Bwee jangan mengeluarkan suara. Alangkah lucunya. Tak usah dilarang sekali pun memang dua orang nona cilik itu tak dapat bersuara lagi. Lalu Beng San memberi isyarat supaya mereka ikut, akan tetapi bagaimana mereka bisa ikut kalau mereka tidak mampu bergerak?

Melihat keadaan mereka, Beng San curiga. la sudah mempelajari secara teliti tentang jalan darah ini, dahulu diajar oleh Lo-tong Souw Lee. Karena keadaan mendesak, tanpa ragu-ragu, dia mendekati Kwa Hong dan meraba lehernya. Benar saja dugaannya, Kwa Hong telah terkena totokan yang luar biasa.

Beng San mengeluh. Walau pun dia sudah mempelajari tentang jalan darah, namun dia sendiri belum bisa menotok, apa lagi membebaskan. Ketika itu di luar kemah terdengar suara serdadu-serdadu tertawa.

Beng San gugup dan tanpa berpikir panjang lagi dia lalu menangkap dua orang nona cilik itu dan memanggul tubuh mereka di atas pundaknya, satu di kanan dan satu di kiri! Dengan beban ini dia menyelinap keluar melalui jalan belakang. Tanpa ia sadari sendiri, Beng San telah memiliki tenaga yang luar biasa sehingga memanggul dua orang anak perempuan itu seperti tidak terasa sama sekali olehnya, begitu ringan!

Benar sekali seperti yang diperintahkan oleh Souw Kian Bi tadi, jalan belakang ini sama sekali tidak terjaga. Mula-mula Beng San merasa girang sekali dan juga heran mengapa serdadu-serdadu itu begitu bodoh. Akan tetapi baru saja dia lari sejauh satu li, dia kaget sekali karena di depannya terbentang rawa yang amat luas.

la mencari jalan agar jangan melalui rawa, akan tetapi setelah berlari ke sana ke mari, dia tidak dapat menemukan jalan yang lebih baik. Selain melalui rawa, dia terhadang oleh jurang yang tak mungkin dapat dilewati saking lebarnya, juga menghadapi dinding karang yang menjulang tinggi. Tanpa membawa beban pun belum tentu dia akan dapat mendaki dinding karang ini dengan selamat, apa lagi memanggul kedua orang anak itu. Sungguh berbahaya.

"Celaka...," pikir Beng San.

la menjadi serba salah. Kembali tak mungkin, terus juga bagaimana? Akhirnya ia menjadi nekat. Hati-hati dia memasuki rawa yang gelap dan mengerikan itu, dengan airnya yang dalam serta bercampur tanah dan rumput. Hanya suara katak yang memenuhi rawa itu terdengar amat menyeramkan.

Ia menjadi lega ketika kakinya menginjak tempat dangkal, hanya selutut dalamnya. Ia melangkah maju, hati-hati sekali karena dasar rawa itu penuh batu licin. Sampai sepuluh langkah lebih dia selamat karena tempat itu dangkal.

Tiba-tiba dia tergelincir pada batu yang licin. Beng San cepat mengerahkan tenaga dan mengatur keseimbangan tubuh. Ia selamat tak sampai roboh, akan tetapi dua orang anak perempuan yang dia panggul menjadi basah dan kotor oleh lumpur. la berjalan terus, maju bermaksud menyeberangi rawa.

Akan tetapi segera dia mendapat kenyataan kenapa para serdadu sengaja tidak menjaga tempat itu. Memang bukan main sukar dan berbahayanya jalan ini. Segera dia tiba di bagian air yang berlumpur dan air di tempat ini pun tidak sedangkal tadi, sudah mencapai pinggangnya.

Sukar sekali untuk maju melalui lumpur yang ditumbuhi rumput ini, apa lagi di bawah amat licinnya. Yang paling mengerikan adalah kalau memikirkan apa isi rawa-rawa itu, binatang mengerikan apa yang berada di bawah rumput dan di dalam lumpur itu. Akan tetapi Beng San tidak ingat akan ini semua, melainkan melangkah terus maju dengan tabah.

"Lepaskan aku! Aku bisa beralan sendiri!"

Tiba-tiba Kwa Hong yang dipanggul di pundak kanannya bergerak dan berseru. Juga Thio Bwee di atas pundak kirinya mulai bergerak-gerak.

"Syukur kalian sudah bisa bergerak lagi," kata Beng San sambil menurunkan Kwa Hong dari pundaknya.

Akan tetapi karena tidak dapat bergerak dan tubuh Kwa Hong masih lemas, ketika dia diturunkan berdiri di dalam air berlumpur, hampir saja ia terguling roboh kalau tidak cepat-cepat disambar pinggangnya oleh Beng San. Thio Bwee juga minta turun dan diturunkan dengan hati-hati.

"Beng San, kau hendak membawa kami ke mana?" Kwa Hong bertanya, suaranya agak marah. Tadi dengan jengkel dan mendongkol bukan main dia hanya dapat melihat tanpa berdaya betapa tubuhnya dirangkul dan dipanggul oleh bocah ini.

Tentu saja ia sudah marah dan memaki-makinya kalau saja tidak sedang berada dalam keadaan seperti ini. Malah diam-diam ia merasa bersyukur bahwa Beng San datang untuk menolongnya. Mengapa bukan bibi gurunya atau kakek gurunya, atau setidaknya kenapa bukan Kui Lok dan Thio Ki?

"Pergi ke mana? Tentu saja pulang ke puncak Hoa-san. Kalau saja kita dapat melewati rawa-rawa yang berbahaya ini. Heee... hati-hati, Nona Bwee.,...!"

Thio Bwee tergelincir dan lenyap dari permukaan air. Ternyata ia telah menginjak bagian yang amat dalam sehingga tak dapat dicegah lagi ia tenggelam ke dalam air berlumpur itu!

"Celaka!"

Beng San cepat menubruk maju dan dia pun kena injak tempat yang dalam itu sehingga dia pun lenyap dari permukaan air.

Kwa Hong menggigil ketakutan dan ingin dia menjerit-jerit kalau saja tidak teringat bahwa dia sedang melarikan diri dari musuh. la tidak berani sembarangan bergerak, takut jika mengalami nasib seperti Beng San dan Thio Bwee. Akan tetapi hatinya takut bukan main, gelisah melihat hilangnya dua orang teman itu tanpa dapat menolongnya sama sekali.

Keadaan amat gelap dan Kwa Hong sudah mulai menangis. Mendadak air di depannya bergerak dan muncullah kepala Beng San. Anak ini berenang ke tempat dangkal di dekat Kwa Hong sambil menyeret Thio Bwee yang sudah pingsan. Cepat-cepat Kwa Hong menyusuti muka Thio Bwee yang penuh lumpur itu. Setelah dipijat-pijat pundaknya dan digoyang-goyang, akhirnya Thio Bwee siuman kembali. Anak ini menangis dan berkata ketakutan.

“Bawa aku ke darat... bawa aku pulang..." la menangis ketakutan.

Selama hidupnya, baru kali ini ia mengalami kejadian yang begini menakutkan. Siapa orangnya yang tidak takut kalau melihat sekelilingnya hanya air lumpur ditumbuhi rumput, gelap pekat dan di sekeliling situ, tidak diketahui dengan pasti di mana terdapat lubang-lubang jebakan yang amat dalam?

”Lebih baik kalian kupanggul seperti tadi. Biarlah aku yang mencari jalan keluar dari rawa ini...," berkata Beng San setelah berhasil membersihkan lumpur dari mulut, hidung serta matanya.

Saking takutnya dan mengharapkan pertolongan, Thio Bwee tanpa ragu-ragu lagi lalu merangkul Beng San sambil berkata, "Tolonglah, Beng San... tolong keluarkan aku dari tempat neraka ini..."

Dia menurut saja ketika dipanggul oleh Beng San, tidak seperti tadi, sekarang disuruh duduk di atas pundak kirinya. Thio Bwee agak besar hatinya setelah duduk di pundak itu, duduk sambil merangkul kepala Beng San, masih menggigil ketakutan.

"Jangan khawatir, Nona Bwee. Memang aku datang untuk menolong kalian," kata Beng San, suaranya dibikin setenang mungkin, akan tetapi sebetulnya dia sendiri masih sangsi apakah dia akan berhasil menyeberangi rawa-rawa yang amat berbahaya ini.
"Nona Hong, kau pun sebaiknya duduklah di pundakku yang sebelah ini."

la pikir, lebih baik dua nona muda itu duduk di pundaknya agar jangan sampai tergelincir dan masuk ke dalam lubang dalam seperti yang dialami Thio Bwee tadi. Kalau terjadi demikian, amat berbahaya. Tadi secara kebetulan saja di dalam air keruh itu dia dapat menangkap tubuh Thio Bwee, kalau tidak, bukankah nyawa nona Thio itu akan terancam bahaya maut?

"Apa...?! Tidak sudi aku!" bentak Kwa Hong yang sudah kumat lagi kegalakannya.

Akan tetapi agaknya ia segera teringat bahwa Beng San berusaha menolongnya, maka segera disambungnya dengan suara yang tidak galak lagi, "Aku bisa jalan sendiri dan pula... memanggul Enci Bwee seorang saja sudah berat, aku tidak mau memberatkan engkau lagi...”

Di dalam gelap Beng San tersenyum. la tidak marah karena memang dia sudah mulai mengenal watak Kwa Hong, malah watak semua yang berada di puncak Hoa-san. Biar pun Kwa Hong tidak mau dipanggul, malah tidak mau digandeng tangannya, namun dia selalu siap menjaga dan melindungi gadis galak ini.

“Baiklah sesukamu, Nona Hong. Sekarang marilah kita maju lagi. Hati-hatilah..." katanya sambil melangkah perlahan, meraba-raba dengan ujung kakinya sebelum menginjak agar tidak terjeblos ke dalam lubang dalam.

Thio Bwee masih menangis kecil di atas pundaknya sambil memeluk lehernya, amat ketakutan dan kedinginan karena ia tadi basah kuyup dari kaki sampai kepala.

Langit bersih dari awan. Bintang-bintang penuh bertaburan di langit biru, mendatangkan cahaya yang lumayan sehingga keadaan tidak segelap tadi. Ketiga orang anak itu dapat melihat ke depan, sungguh pun tidak amat jauh, akan tetapi cukuplah untuk mengurangi keseraman.

Tiba-tiba Kwa Hong mengeluh. "Aduh kakiku... apa ini gatal-gatal?"

la mengangkat kaki kirinya ke atas sampai melewati permukaan air dan... dalam cuaca yang remang-remang itu kelihatan seekor lintah menempel pada betis kakinya, mengisap darahnya melalui kain celana yang tipis. Lintah itu gemuk bulat, agaknya sudah banyak juga darah Kwa Hong diisapnya.

"Hiiii... apa itu...? Hiiiii!" Kwa Hong menggigil saking jijiknya dan ia menubruk Beng San, merangkul lehernya dengan ketakutan.

Beng San sudah tahu apa adanya binatang itu. "Tenanglah, Nona Hong. Itu adalah lintah, binatang penghisap darah. Dia sudah penuh darah, kalau sudah kenyang akan terlepas sendiri..."

Hampir pingsan Kwa Hong oleh kengerian dan kejijikan. "Buanglah... cepat lepaskan dari betisku... huiii..."

"Kalau diambil secara paksa, kulit betismu akan terluka, Nona. Biarkan sebentar."

Tanpa ragu-ragu Beng San memegang kaki Kwa Hong yang diangkat itu, melihat lintah dari dekat. Betul saja dugaannya, lintah itu segera melepaskan kaki Kwa Hong karena sudah kekenyangan, jatuh ke dalam air dan lenyap.

Meremang bulu tengkuk Kwa Hong. Ia ketakutan sekali dan tanpa diminta lagi ia segera meloncat ke pundak Beng San, duduk di atas pundak kanan dan tangannya memegangi leher Beng San.

"Binatang celaka, binatang menjijikkan, terkutuk..." ia memaki-maki, akan tetapi ia masih menggigil ketakutan.

Beng San merangkul kaki dua orang nona itu supaya tidak jatuh dari atas pundaknya, kemudian dia melangkah maju lagi. Setelah dua orang nona itu duduk di atas pundaknya, dia lebih lancar bergerak maju, tidak usah menjaga orang lain di sisinya seperti tadi. Air sekarang sudah mencapai dadanya.

Celaka, pikir Beng San. Kalau air itu makin dalam, bagaimana? Tentu saja dia dapat berenang, akan tetapi bagaimana dengan dua orang nona ini? Dengan berenang sukar kiranya membawa mereka itu.

Ia memutar-mutar otaknya mencari akal untuk menghadapi kemungkinan ini. Begini saja, pikirnya, untuk sementara kutinggalkan dulu mereka di tempat yang tidak dalam, lalu aku berenang melalui tempat dalam mencari tempat berpijak lainnya yang dangkal. Kemudian kubawa mereka seorang demi seorang menyeberangi ke tempat itu. Lalu pergi mencari lagi. Kukira dengan demikian akhirnya kita akan sampai juga ke seberang.

la berbesar hati dan melanjutkan langkahnya, hati-hati agar jangan sampai tergelincir ke dalam lubang dalam.

”Hong-jiiiii...!"
"Bwe-jiiiii...!"

Suara panggilan ini terdengar keras, bergema sampai ke tengah rawa.

"Ayah memanggilku!" seru Kwa Hong gembira.
"Itu suara ayahku!" Thio Bwee juga berseru.
"Hong-ji! Bwee-ji! Kembalilah ke sini, ayah kalian menanti di sini!" terdengar suara Sian Hwa yang tinggi nyaring.
"Ah, semua orang sudah menyusul di sana Beng San, hayo kita kembali saja. Ayah dan bibi sudah di sana, kita sudah aman sekarang," Kwa Hong mendesak.
"Betul, hayo antar aku ke sana, Beng San. Ayah menanti di sana," kata pula Thio Bwee dengan gembira. Hilanglah kekhawatiran dan ketakutan dua orang anak perempuan itu setelah mereka mendengar suara ayah mereka.

Beng San ragu-ragu. "Tapi... apakah tidak lebih baik terus saja mendahului dan menanti di rumah ? Jalan kembali lebih jauh..."

"Ehh, kau berani membantah? Kalau tidak mau antar, biar aku jalan sendiri!" Kwa Hong merosot turun dari atas pundak Beng San, juga Thio Bwee. Dua orang anak ini mendadak timbul keberaniannya.
Beng San menarik napas panjang. Sebetulnya dia keberatan untuk kembali karena takut kalau-kalau dia akan mendapat marah. Tetapi dia tidak tega pula kalau harus membiarkan kedua orang nona ini kembali berdua saja. Bagaimana nanti apa bila Thio Bwee tergelincir seperti tadi? Bagaimana kalau kaki Kwa Hong digigit lintah lagi seperti tadi? Jika sampai seberang di antara dua orang nona ini terkena celaka, bukankah tanggung jawabnya akan lebih besar pula dan lebih berat?

"Baiklah," akhirnya dia berkata. "Mari kita kembali."

Da kemudian menggandeng tangan kedua orang nona cilik itu yang tidak menolak. Sambil bergandengan tangan, Beng San ditengah-tengah, tiga orang anak itu menyeberang dan kembali ke tempat tadi.

"Ayah...! Tunggulah, kami kembali ke sana...!" Kwa Hong berteriak keras-keras ke arah tepi rawa.

Mendadak mereka melihat lampu penerangan dipasang di tepi rawa itu sehingga semakin mudahlah bagi mereka karena sekarang tempat yang dituju kelihatan nyata.

Setelah dekat tepi rawa, dengan heran mereka melihat Hoa-san Sie-eng lengkap bersama Lian Bu Tojin. Tokoh-tokoh Hoa-san ini bersama Souw Kian Bi si penculik, serta seorang hwesio tinggi besar dan beberapa orang panglima Mongol! Bagaimana mereka bisa rukun seperti itu setelah Souw Kian Bi menculik mereka?

Kwa Hong dan Thio Bwee terheran, akan tetapi juga girang sekali. Setelah tiba di tempat dangkal, mereka berlari meninggalkan Beng San untuk menjumpai ayah masing-masing. Pakaian mereka, bahkan muka mereka kotor berlumpur. Apa lagi Beng San!

Ketika anak ini tiba di tempat dangkal, baru dia melihat bahwa lebih dari tujuh ekor lintah menempel di tubuhnya, di kaki kanan kiri dan di paha dan perut! Ia marah sekali dan andai kata mukanya tidak berlumpur, tentu muka itu akan kelihatan merah.

la cepat mengerahkan hawa di tubuhnya dan seketika itu lintah-lintah itu bergelimpangan, terlepas dari tubuhnya dalam keadaan mati! Tak ada seorang pun memperhatikan hal ini karena lintah-lintah yang penuh lumpur itu pun tidak kentara.

"Keparat, berani kau mengganggu nona-nona tawananku?"

Mendadak Souw Kian Bi meloncat dan sebelum lain orang dapat mencegahnya, putera pangeran ini sudah menjambak rambut Beng San dan diseretnya ke pinggir rawa sambil dipukulinya sekehendak hatinya.

Beng San marah sekali, akan tetapi ketika merasa betapa pukulan orang itu mengandung hawa panas, dia cepat-cepat mengerahkan tenaga dalamnya dan menggunakan tenaga Im untuk melawannya. Pada saat itu, Kwa Hong dan Thio Bwee sudah meloncat dan menerjang Souw Kian Bi sambil berteriak-teriak.

"Jangan pukul Beng San!" bentak Kwa Hong.
"Kau yang jahat menculik kami, dia penolong kami!" bentak Thio Bwee.

Menghadapi serbuan dua orang nona cilik yang hendak membalas dendam ini, Souw Kian Bi tentu saja tidak takut. Namun dia merasa tidak enak sendiri untuk melayani anak-anak kecil, maka setelah sekali lagi memukulkan tangannya ke arah dada Beng San, dia lantas meloncat mundur.

"Bleeek!"

Pukulan itu keras sekali, Beng San sampai terpental ke belakang, akan tetapi dia tidak terluka.

"Dia adalah kacung Hoa-san-pai, tidak boleh diganggu orang luar!" tiba-tiba Lian Bu Tojin berkata dengan suaranya yang berpengaruh.

Mula-mula kakek ini marah sekali kepada Beng San yang dianggapnya lancang sekali. Pertama, lancang karena berani meninggalkan puncak Hoa-san, ke dua, lancang karena berani mencoba-coba menolong dua orang cucu muridnya sehingga hal ini mendatangkan malu kepadanya.

Masa kedua cucu muridnya harus ditolong oleh seorang kacungnya? Padahal di situ ada Hoa-san Sie-eng lengkap dan ada dia pula. Maka ketika tadi melihat Beng San dipukuli, kakek ini diam saja dengan keputusan hati akan diobati kelak kalau terluka.

Akan tetapi ketika melihat betapa dua orang cucu muridnya menyerbu, kakek ini baru ingat bahwa betapa pun juga, Beng San sudah berjasa dan memperlihatkan pribudi yang baik dalam usahanya menolong tanpa memperhitungkan bahaya untuk diri sendiri yang tiada kepandaian. Maka dia kemudian mengeluarkan kata-kata itu untuk mencegah pihak Mongol menyerang Beng San.

Lian Bu Tojin kemudian memberi tanda kepada murid-muridnya untuk pergi meninggalkan tempat itu. Juga Beng San berjalan di sebelah belakang sambil menundukkan mukanya.

Apa lagi Hoa-san Sie-eng atau dua orang gadis cilik itu, bahkan Lian Bu Tojin sendiri tidak tahu betapa sepergi mereka, Souw Kian Bi terguling roboh dan muntah-muntah darah, mukanya berubah kehijauan seperti orang keracunan. Tentu saja keadaan di situ segera menjadi geger. 

Swi Lek Hosiang segera memeriksa dan hwesio tua ini terkejut setengah mati. Ternyata bahwa putera pangeran itu telah menderita luka dalam yang cukup hebat juga. Cepat dia memberi pengobatan dan tak habis heran bagaimana Souw Kian Bi bisa menderita luka seperti ini.

Setelah putera pangeran itu sembuh tiga hari kemudian, Swi Lek Hosiang lalu minta penjelasan. "Siapakah yang melukaimu?"

Souw Kian Bi sendiri juga tidak mengerti. "Aku tidak bertempur dengan siapa pun juga. Hanya kupukul dada anak kotor itu... ahhh, benar dia! Aku sudah merasa aneh sekali mengapa ketika aku memukul dadanya, aku merasa seakan-akan memukul benda yang lunak sekali dan terasa sakit pada dadaku!"

Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak mungkin. Anak itu kelihatannya tidak tahu apa-apa, lagi pula dia hanya kacung di Hoa-san-pai, masa bisa memiliki kepandaian yang tinggi seperti itu? Aneh sekali!"

"Betul, Losuhu. Aku ingat sekarang. Anak itu tentu mempunyai sesuatu yang luar biasa. Siapa tahu kalau-kalau dia sudah menerima warisan kepandaian dari Lian Bu Tojin. Dia kacungnya, bukan? Siapa tahu diam-diam kakek tosu bau itu menurunkan ilmunya..."
"Mungkin, akan tetapi tetap saja aneh." Hwesio itu merenung karena dia teringat akan murid angkatnya yang ditinggalkan di kelenteng.

Muridnya itu biar pun hanya seorang anak perempuan, namun juga memiliki bakat yang luar biasa dalam ilmu silat. Apakah anak laki-laki kotor itu sedemikian baik bakatnya sehingga sekecil itu sudah menyimpan tenaga dalam yang mampu menangkis pukulan Souw Kian Bi bahkan melukainya? Agaknya tak mungkin…..
********************
Lima bulan telah lewat sejak Kun-lun Sam-hengte berjanji hendak mengunjungi Hoa-san Sie-eng di puncak Hoa-san. Kini Hoa-san Sie-eng sudah berkumpul di puncak Gunung Hoa-san, setiap hari menanti kedatangan tiga orang murid Kun-lun-pai, terutama Kwee Sin, dengan hati tak sabar lagi.

Sesudah melihat Beng San, Kwa Tin Siong segera mengenalinya sebagai bocah aneh yang pernah dia jumpai dahulu di tengah hutan. la segera memberi tahukan hal ini kepada adik-adik seperguruannya, juga kepada suhu-nya dan menyatakan kecurigaannya.

"Sekarang ini jamannya sedang kacau-balau, banyak terjadi fitnah dan musuh rahasia di sekeliling kita. Siapa tahu kalau-kalau anak ini seorang mata-mata yang sengaja dilepas oleh pihak lawan untuk menyelidiki keadaan kita." Demikian kata-katanya dan adik-adik seperguruannya membenarkan wawasan ini.

Hanya Lian Bu Tojin yang tidak setuju di dalam hatinya karena adanya surat pengenal dari Lo-tong Souw Lee. Tiba-tiba berpikir sampai di sini, ketika teringat kepada Lo-tong Souw Lee, sekaligus kakek ini teringat pula kepada Souw Kian Bi. Dua orang she Souw itu. apakah tidak ada hubungan apa-apa? Souw Kian Bi dihormati panglima-panglima Mongol, sedangkan dia tahu benar bahwa Lo-tong Souw Lee berasal dari keluarga bangsawan Mongol pula.

Ahh, jangan-jangan benar kecurigaan muridnya yang tertua, siapa tahu kalau-kalau antara Beng San dan Souw Kian Bi memang ada permainan sandiwara! Kakek ini mengerutkan keningnya. Besar sekali kemungkinannya.

Beng San tidak mengerti ilmu silat, akan tetapi kenapa ketika dipukul oleh Souw Kian Bi tidak terluka? Bukankah itu menandakan bahwa Souw Kian Bi hanya pura-pura memukul saja? Ataukah Beng San yang tahu akan ilmu silat akan tetapi sengaja berpura-pura tidak tahu?

"Ucapanmu berdasar juga, Tin Siong. Akan tetapi tanpa bukti tak mungkin kita menuduh Beng San yang bukan-bukan. Dia hanya seorang anak kecil, kita lihat-lihat sajalah. Kalau betul dia kaki tangan orang jahat, dia bisa berbuat apa terhadap kita," demikian kakek ketua Hoa-san-pai ini berkata.

Selanjutnya kakek ini kemudian memanggil Beng San dan memesan kepada anak itu agar supaya jangan mencampuri lagi urusan luar dan selalu berada di dalam kelenteng serta melakukan tugas pekerjaannya baik-baik.

Hari yang dinanti-nantikan dengan hati berdebar tiba juga. Pada suatu hari, saat matahari belum naik tinggi benar….

Seorang tosu berlari-lari melaporkan bahwa Kun-lun Sam-hengte sudah datang mendaki puncak Hoa-san! Karena urusan yang dihadapi adalah urusan besar dan karena tidak ingin melihat murid-muridnya berlaku lancang, Lian Bu Tojin sendiri berkenan menerima kedatangan tiga orang jago dari Kun-lun-pai itu.

Liang Bu Tojin dengan diikuti oleh empat orang muridnya melakukan penyambutan di luar tempat kediamannya, di halaman depan yang bersih dan lapang, halaman yang dikelilingi pohon-pohon besar, amat sejuk dan enak untuk dijadikan tempat perundingan soal yang amat pelik dan penting itu.

Kun-lun Sam-hengte datang berjalan dengan langkah tegap. Kwee Sin kelihatan tampan akan tetapi mukanya putih sekali seperti pucat, pedangnya tergantung di pinggang kiri. la berjalan di tengah-tengah diapit oleh Bun Si Teng dan Bun Si Liong.

Bun Si Teng yang tinggi besar dan gagah itu benar-benar menarik perhatian. Pedangnya di pinggang dan busurnya terselip di sebelah kanan. Bun Si Liong yang bermuka hitam itu berjalan dengan langkap tegap, mukanya berseri dan matanya yang bersinar-sinar seperti orang sedang gembira, mukanya lebih menunjukkan kegembiraan seorang yang sedang pelesir dari pada kesungguhan seorang menghadapi urusan besar. Sepasang senjatanya, golok dan pedang, tergantung di kanan kiri.

Dari jauh tiga orang gagah itu sudah mengangkat tangan memberi hormat. Mereka agak tercengang, akan tetapi juga bangga pada saat melihat bahwa ketua Hoa-san-pai sendiri menyambut kedatangan mereka.

Ketika bertemu pandang dengan tunangannya dan melihat sepasang mata tunangannya itu berapi-api tetapi berlinangan air mata, Kwee Sin merasa hatinya seperti tertusuk. Dia sudah mendengar dari para suheng-nya bahwa ayah tunangannya itu terbunuh orang dan si nona menyangka bahwa dialah yang membunuhnya.

Kepanasan hatinya ketika menyaksikan tunangannya menangis di dada Kwa Tin Siong dahulu itu menjadi dingin karena sekarang dia dapat menduga bahwa nona itu sedang berduka hatinya dan dihibur oleh Kwa Tin Siong. la merasa menyesal sekali telah terburu nafsu. Juga dia diam-diam merasa malu sekali kalau teringat akan hubungannya dengan Coa Kim Li si cantik jelita.

"Kami bertiga saudara jauh-jauh sengaja datang memenuhi janji kami terhadap Hoa-san Sie-eng. Tidak nyana bahwa Hoa-san-ciangbunjin (ketua) juga sudah turut menyambut. Sungguh telah membikin lelah pada orang tua yang terhormat," kata Bun Si Teng mewakili rombongannya.

"Kun-lun Sam-hengte kini datang, itulah bagus. Memang murid Pek Gan Siansu terkenal gagah dan takkan mungkir janji, juga adil dan jujur. Pinto orang tua hanya menjadi saksi saja dalam urusan ini, harap kalian bertiga berurusan dengan murid-murid pinto secara langsung." Kakek ini lalu melangkah ke pinggir, membiarkan tiga orang jago Kun-lun itu menghadapi empat orang muridnya.

Kwa Tin Siong mewakili rombongannya melangkah maju. Ia mengangkat tangan memberi hormat. "Kami merasa lega sekali bahwa ternyata Kun-lun Sam-hengte memenuhi janji dan penjahat Kwee Sin sudah diajak pula datang ke sini untuk menebus dosa.”

Bun Si Teng tersenyum sedangkan Kwee Sin menjadi makin pucat mukanya.

"Harap Hoa-san It-kiam suka bersabar dan jangan datang-datang sute-ku dijatuhi fitnah yang bukan-bukan. Sebelumnya aku sendiri sudah memeriksa Sute dan ternyata bahwa semua yang dituduhkan kepada Kwee-sute hanyalah fitnah kosong belaka. Kwee-sute tak pernah melakukan pembunuhan terhadap ayah Kiam-eng-cu Liem Sian Hwa seperti telah kalian katakan," kata Bun Si Teng, senyumnya mengeras. Kwee Sin mengangguk-angguk membenarkan ucapan suheng-nya.

"Lidah memang tak bertulang!" tiba-tiba Sian Hwa membentak, dia tidak dapat menahan kemarahannya lagi. "Tidak ada pencuri yang mengaku, dan menyangkal adalah pekerjaan yang paling mudah. Akan tetapi aku tidak sudi menjatuhkan fitnah kepada siapa pun juga. Bukti-bukti jelas menunjukkan bahwa ayahku telah dibunuh secara pengecut oleh pukulan Pek-lek-jiu dan paku Pek-lian-ting, di samping ini masih ada saksi utama, yaitu almarhum ayahku sendiri!"

Kwee Sin makin pucat mendengar kata-kata dan melihat sikap tunangannya itu.

"Biarlah aku bersumpah disaksikan oleh langit dan bumi, kalau aku membunuh ayahmu, Thian semoga menghukumku dengan kematian yang mengerikan!" seru Kwee Sin dengan muka pucat dan suara lemah.

Kwa Tin Siong tertawa mengejek. "Urusan pembunuhan sekeji dan sebesar ini mana bisa diselesaikan dengan segala macam sumpah? Sumoi, agar persoalannya bisa dibicarakan dari awalnya, harap kau ulangi lagi ceritamu tentang kematian ayahmu."

Dengan lantang Sian Hwa mengisahkan kembali semua yang dialami ayahnya dan dia sendiri, matanya tajam menantang Kwee Sin yang tunduk dan muka pemuda ini sebentar merah sebentar pucat. Akan tetapi ketika dia menceritakan bagian ayahnya yang terluka dan meninggalkan kesaksian terakhir bahwa yang membunuhnya adalah Kwee Sin dan perempuan Pek-lian-pai, Sian Hwa tak dapat menahan air matanya yang mengucur deras. Setelah selesai menuturkan semua ini, ia menggerakkan tangannya dan….

"Sraaattt!" pedangnya yang sepasang itu sudah tercabut di kedua tangan.
"Ayah terbunuh secara keji. Kalau penasaran ini tidak dibalas, aku Liem Sian Hwa tidak mau hidup lagi di muka bumi!"

Kwee Sin hanya mengangkat muka dan memandang sedih, tapi sama sekali dia tidak mengeluarkan pedangnya.

Bun Si Teng melangkah maju dan berkata, suaranya mengandung ejekan. "Bagus! Apa Hoa-san-pai hendak menghukum orang tanpa memberikan kesempatan membela diri dan tanpa bukti-bukti yang sah dan saksi-saksi yang masih hidup?"

"Sudah terang jahanam Kwee Sin ini pembunuh ayahku, aku harus membalas dendam!" bentak Sian Hwa.
"Enak saja orang bicara! Andai kata Kwee-sute segan untuk melawan, apakah kami akan mendiamkan saja orang membunuh sute kami tanpa dosa?" Bun Si Teng meraba gagang pedangnya, siap melawan.

Juga Bun Si Liong meraba gagang golok dan pedangnya. Pendeknya, kakak beradik she Bun ini tidak nanti akan membiarkan sute mereka dibunuh orang begitu saja. Mereka kini datang justru untuk membuktikan kebersihan diri Kwee Sin, bukan untuk mengantar sute mereka dihukum bunuh!

"Manusia Kun-lun sombong! Sudah terang bahwa jahanam she Kwee main gila dengan perempuan jalang dan telah bersekongkol membunuh ayah Sumoi, masih hendak dibela? Kalau memang begitu, sudah kewajiban orang-orang gagah untuk membasmi gerombolan orang jahat!" Thio Wan It sudah mengeluarkan pedangnya dan meloncat maju.
"Keparat, siapa takut kepada Bu-eng-kiam?" bentak Bun Si Liong.

Dengan amarah yang meluap-luap, Sian Hwa sudah berhadapan dengan Bun Si Teng, sedangkan Thio Wan It sudah saling melotot dengan Bun Si Liong. Pertempuran agaknya tidak akan dapat dicegah lagi.

"Twa-suheng, Ji-suheng... jangan... ah, siauwte yang menjadi gara-gara semua ini..., Ji-wi Suheng, simpanlah pedangmu..." Kwee Sin bicara dengan suara yang mengandung isak tertahan.

Kwa Tin Siong juga maju menahan dua orang adik seperguruannya yang hendak turun tangan itu. "Ji-sute, Sumoi, tahan dulu senjata kalian! Tidak semestinya kalau urusan ini harus diakhiri dengan pertempuran tanpa sebab-sebab yang jelas. Kita berpegang kepada keadilan dan kebenaran, maka seharusnya kita juga memberi kesempatan kepada Kwee Sin untuk membela diri dan memberi keterangan-keterangan."

Biar pun sedang marah sekali, Thio Wan It dan Liem Sian Hwa terpaksa mundur juga ketika ditahan oleh twa-suheng mereka ini.

"Kwee Sin!" kata Kwa Tin Siong dengan suara keras dan tegas. "Sudah kau dengar baik semua keterangan sumoi-ku yang menuduhmu sebagai pembunuh ayahnya dan sudah mengadakan persekongkolan dengan perempuan jahat dari Pek-lian-pai. Lalu bagaimana jawabmu? Kalau memang kau melakukan hal itu, bagaimana tanggung jawabmu dan apa bila kau tidak melakukan, bagaimana pula keterangan pembelaanmu? Ingat, sudah jelas bahwa sebelum meninggal dunia, ayah Sumoi terang-terangan menyatakan bahwa kau dan seorang perempuan yang menyerang dan melukainya.”

Muka Kwee Sin pucat sekali, kedua matanya agak basah dan merah menahan air mata yang hendak mengucur. Dia maklum bahwa dirinya kena fitnah. Tentu saja dia percaya bahwa Hoa-san Sie-eng takkan mau memfitnahnya kalau tidak ada dasarnya. Dia tahu bahwa dia sudah difitnah oleh orang-orang yang memusuhinya, entah siapa orang-orang itu. Bagaimana dia harus menjawab?

"Hoa-san Sie-eng," katanya, tidak berani langsung kepada Sian Hwa, "apa yang harus kukatakan lagi? Aku sudah bersumpah bahwa aku sama sekali tidak merasa melakukan pembunuhan terhadap ayah Nona Liem Sian Hwa. Sebagai orang termuda dari Kun-lun Sam-hengte, aku selamanya tak pernah membohong. Aku tidak melakukan pembunuhan itu dan kalian percaya atau tidak, terserah. Aku hanya mengharapkan kebijaksanaan dan keadilan dari Hoa-san-ciangbunjin." la menjura ke arah Lian Bu Tojin yang semenjak tadi berdiri di pinggiran sambil menundukkan mukanya.

Hoa-san It-kiam Kwa Tin Siong tertawa lirih. "Ha-ha-ha-ha, lagi-lagi Kwee Sin yang dijuluki orang Pek-lek-jiu, orang termuda dari Kun-lun Sam-hengte yang terkenal gagah perkasa, lari bersembunyi di balik sumpah-sumpahnya. Orang she Kwee, tidak perlu bersumpah keras-keras. Sebaliknya kau menjawab pertanyaan-pertanyaanku agar jelas."

Kwee Sin sebetulnya mendongkol sekali menyaksikan sikap Hoa-san Sie-eng yang amat menghinanya. Akan tetapi dia tidak ingin melihat persoalan ini menjadi semakin panas, maka dia menjawab tenang.

"Tanyalah, Hoa-san It-kiam, aku akan menjawab."
"Awal mula terjadinya urusan ini, ayah Sumoi, Liem-lopek, melihat kau bersama seorang perempuan muda cantik berpelesir di Telaga Pok-yang sehingga menimbulkan marahnya. Betulkah pada waktu itu kau memang berpelesir bersama seorang perempuan cantik dari Pek-lian-pai di Telaga Pok-yang?"

Wajah Kwee Sin menjadi merah sekali, lalu pucat dan merah lagi. la menundukkan muka, menggigit-gigit bibir dan sampai lama tidak dapat menjawab! Semua mata memandang kepadanya, bahkan Lian Bu Tojin yang semenjak tadi tunduk saja, sekarang juga sudah mengerling ke arahnya. Apa lagi Sian Hwa, gadis ini memandang dengan sepasang mata berapi-api.

Kwee Sin benar-benar merasa bingung. Bagaimana dia harus menjawab? Tidak dapat disangkal lagi bahwa dahulu dia telah berpelesir di Telaga Pok-yang bersama Coa Kim Li! Dan tentu pada saat itu, celaka sekali baginya, ayah Liem Sian Hwa melihat dia bersama Coa Kim Li dan pulang sambil marah-marah. Bagaimana dia harus menjawab?

Untuk berterus terang mengaku bahwa dia memang berpelesir bersama seorang wanita muda cantik, tentu saja ia amat malu. Akan tetapi juga bukan wataknya untuk berbohong. Oleh karena berada dalam keadaan yang terjepit inilah Kwee Sin tidak dapat menjawab, hanya menunduk dengan bingung dan malu.

"Kwee Sin, bagaimana jawabanmu? Mengapa kau diam saja?" Kwa Tin Siong bertanya dengan nada mengejek.
"Kwee-sute jawablah, jangan diam saja!" Bun Si Teng juga menegur sute-nya karena dia amat mendongkol melihat sikap Kwa Tin Siong.

Setelah berulang kali menarik napas panjang, baru Kwee Sin bisa menjawab, meski tanpa mengangkat mukanya, "Memang benar aku berada di Telaga Pok-yang pada beberapa bulan yang lalu..."

"Berpelesir bersama seorang perempuan muda cantik anggota Pek-lian-pai,” desak Kwa Tin Siong.
"Bersama seorang teman perempuan..." lanjut Kwee Sin, tetapi segera terpotong.
"Siapa dia? Hayo katakan terus terang, bukankah dia itu yang kau ajak membunuh ayah Sumoi?" Kwa Tin Siong mendesak lagi, penuh amarah. Kwee Sin diam saja.
"Kwee-sute, mengapa kau diam saja. Siapakah perempuan itu?" Bun Si Teng bertanya, suaranya mengandung kekecewaan.
"Aku tidak bisa bilang dia itu siapa, sudah kukatakan temanku, cukuplah. Akan tetapi, dia dan aku tidak bersekongkol membunuh siapa pun juga."
"Hah?!" Kwa Tin Siong sekarang marah sekali, merasa yakin bahwa pemuda ini tentulah pembunuh ayahnya Sian Hwa. "Kau berpelesir dengan seorang perempuan rendah dari Pek-lian-pai, lalu terlihat oleh calon mertua yang menjadi marah-marah melihat kelakuan calon mantunya yang hina. Kau merasa khawatir kalau-kalau namamu akan dinodai oleh perbuatan itu, khawatir kalau-kalau ayah Sumoi mengabarkan kelakukanmu yang tidak patut, lalu menyusul bersama perempuan rendah itu dan... dan membunuhnya..."
"Tidak!" Kwee Sin berteriak keras. "Tidak sama sekali."
"Kalau tidak, lekas katakan siapa perempuan jalang itu!" Sian Hwa juga berteriak marah, pedangnya sudah dicabut lagi.

Kwee Sin melangkah mundur tiga langkah, wajahnya pucat sekali. Bun Si Teng dan Bun Si Liong saling pandang, lalu mereka menghampiri adik seperguruannya. "Sute, urusan ini bukan urusan remeh. Betapa pun juga kau harus berani mendatangkan wanita itu untuk menjadi saksi bahwa kau tidak melakukan pembunuhan dan...”

"Apakah Suheng tidak percaya kepadaku?"
"Akulah yang akan melawan orang yang mendakwa kau berbuat jahat, Kwee-sute. Aku selalu percaya penuh kepadamu, akan tetapi kalau tidak diberi saksi hidup, tentu Hoa-san Sie-eng masih penasaran..."
"Ha-ha-ha-ha, Kun-lun Sam-hengte benar-benar bagus!" Thio Wan It menyindir. "Seorang keedanan perempuan dan melakukan pembunuhan keji, dan kini kakak-kakaknya hendak membela. Wah, seperti merasa gagah sendiri saja. Kalau perlu, Hoa-san Sie-eng sanggup membasmi sampai ke akar-akarnya!"
"Bagus sekali! Kami Kun-lun Sam-hengte, biar pun hanya bertiga, takkan mundur setapak biar pun dikeroyok di sini!" Bun Si Liong juga mengeluarkan kata-kata mengejek.

Kedua pihak lagi-lagi sudah panas, dan apa bila mendapat dorongan sedikit saja pasti akan saling gempur.

"Bagaimana, Kwee Sin? Kalau kau hendak menyangkal, kau harus bisa sebutkan nama perempuan yang menjadi kekasihmu itu, yang terlihat oleh ayah Sumoi. Kalau kau tetap menyembunyikan namanya, berarti dia itu betul seorang Pek-lian-pai dan kau bersama dia membunuh ayah Sumoi." Kwa Tin Siong mendesak.

Muka Kwee Sin pucat sekali. Tak mau dia menodai nama Coa Kim Li, seorang gadis yang cantik lagi gagah, apa lagi yang sudah menjatuhkan hatinya. Di lain sudut, hatinya juga merasa sangat kasihan kepada bekas tunangannya yang kematian ayah, terbunuh oleh orang-orang yang agaknya sengaja hendak memfitnahnya. Dan semua ini kesalahannya sendiri. Andai kata dia tidak tergila-gila kepada Coa Kim Li, kiranya takkan terjadi hal ini.

Sekarang dia tidak saja sudah membikin hancur penghidupan Liem Sian Hwa, juga dia merupakan ancaman bagi nama baik Coa Kim Li. Lebih dari pada ini malah, sekarang dia menjadi biang keladi pertumpahan darah, biang keladi permusuhan antara Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai. Hal terakhir inilah yang lebih hebat dan menghancurkan hatinya.

"Hoa-san Sie-eng!" akhirnya dia berkata dengan suara keras. "Sekali lagi aku tekankan bahwa aku tidak membunuh ayah Nona Liem! Tapi kalian tidak percaya dan mendesakku membawa-bawa nama orang yang tidak berdosa. Suheng sekalian! Kun-lun-pai jangan sampai bermusuhan dengan Hoa-san-pai, dan semua bahaya permusuhan ini adalah gara-gara tindakan siauwte yang bodoh. Oleh karena itu, biarlah siauwte menebus dosa. Heee, Hoa-san Sie-eng, kalau kalian tidak percaya kepadaku dan ingin melihat Kwee Sin mampus, biarlah kalian puas saat ini dan jangan merembet-rembetkan Kun-lun-pai dalam urusan ini!"

Secepat kilat Kwee Sin menggerakkan pedangnya, dibabatkan ke lehernya sendiri!

"Trangg…!"

Pedang itu terlempar, tubuh Kwee Sin lenyap dan sebagai gantinya di situ menggelinding sebuah kepala orang.

"Siluman betina, jangan lari!" tiba-tiba saja Lian Bu Tojin berseru dan tubuhnya berkelebat lenyap pula.

Kwa Tin Siong dan ketiga orang adik seperguruannya kaget memandang ke arah kepala yang menggelinding tadi. Alangkah marahnya hati mereka ketika melihat bahwa kepala itu adalah kepala salah seorang tosu Hoa-san-pai yang entah bagaimana sudah dipenggal dan dilemparkan ke tempat itu.

"Keparat jahanam orang-orang Kun-lun!" bentak Kwa Tin Siong. "Orang she Bun berdua, sekarang kalian mau bilang apa? Sudah nyata Kwee Sin si keparat bersekongkol dengan orang jahat, buktinya dia ditolong dan bahkan murid Hoa-san-pai dibunuh. Kalian tentu bukan manusia baik-baik dan ikut sekongkol pula!"

Dengan kemarahan meluap-luap Kwa Tin Siong lalu menerjang dua orang saudara Bun itu, dibantu oleh Thio Wan It, Kui Keng, beserta Liem Sian Hwa. Empat orang saudara Hoa-san Sie-eng ini mengamuk dan mengeroyok Bun Si Teng dan Bun Si Liong.

Kasihan sekali dua orang saudara Bun ini. Mereka sesungguhnya tidak tahu apa-apa dan tadi pun ketika Kwee Sin hendak membunuh diri, mereka sudah tak berdaya. Tahu-tahu Kwee Sin lenyap. Cara lenyapnya demikian ajaib sampai tidak terlihat oleh mereka.

Sudah jelas bahwa Kwee Sin ditolong orang pandai. Akan tetapi siapa penolongnya dan kenapa melemparkan kepala seorang tosu Hoa-san-pai? Mereka tak dapat membersihkan diri pula. Tentu saja orang Hoa-san-pai akan menganggap mereka ikut bersekongkol.

Terpaksa Bun Si Teng dan Bun Si Liong mencabut senjata dan membela diri. Akan tetapi oleh karena dikeroyok empat orang dan pihak lawan lebih kuat, di samping itu karena memang mereka tidak dapat berkelahi dengan penuh semangat karena merasa pihak sute-nya bersalah, maka akhirnya Bun Si Teng dan Bun Si Liong terdesak, dan menderita luka-luka. Namun orang gagah dari Kun-lun-pai ini dengan ilmu silat mereka yang tinggi masih terus melakukan perlawanan, atau lebih tepat disebut melakukan pembelaan diri yang gigih dan kuat.

Pada saat itu, Kwa Hong berlari-larian menuju tempat Beng San bekerja. Dengan napas terengah-engah Kwa Hong menarik tangan Beng San yang sedang menyapu lantai.

"Beng San, marilah lihat. Ayah dan semua orang sedang bertengkar dengan orang-orang dari Kun-lun-pai. Tentu akan bertempur!"

Kaget sekali hati Beng San. Anak ini sudah mendengar dari Tan Hok tentang usaha jahat yang dilakukan Ngo-lian Kauwcu yang berjuluk Kim-thouw Thian-li untuk memecah belah antara Pek-lian-pai, Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai.

"Kenapa mereka bertengkar? Apa sebabnya mereka bertempur?" tanyanya, masih kurang mengacuhkan karena dipikirnya bahwa hal itu bukanlah urusannya, apa lagi kalau diingat bahwa apa yang dia dapat lakukan terhadap urusan itu?
"Kabarnya seorang Kun-lun-pai, tunangan bibi Sian, telah membunuh ayah bibi Sian Hwa. Sekarang dia datang bersama dua orang lagi dan cekcok dengan ayah dan semua paman guru. Juga sukong berada di sana. Hayo kita lihat!"
"Nona Hong, kau lihatlah sendiri. Aku dilarang oleh sukong-mu keluar dari sini, kalau aku berani keluar tentu akan mendapat marah pula." Beng San melanjutkan pekerjaannya, tak peduli lagi.
"Beng San, mereka sedang ribut-ribut, mana memperhatikan kau? Marilah kau temani aku keluar menonton."

Beng San menggelengkan kepala dan memandang kepada Kwa Hong, mengagumi sinar mata yang demikian tajam namun halus dan indah.

"Nona Hong, mengapa kau selalu datang kemudian mengajak aku bercakap-cakap dan bermain-main? Sudah berapa kali kau dimarahi oleh ayahmu? Lebih baik jika kau seperti anak-anak yang lain, menjauhi aku karena aku hanyalah seorang kacung dan kau dilarang mendekati aku."
"Apa salahnya? Kalau aku suka bermain-main dan bicara denganmu, siapa melarang? Biar ayah marah, biar sukong mengamuk, aku tidak takut!" Gadis cilik ini membusungkan dada dan kepalanya tegak, matanya bersinar-sinar.

Beng San memegang tangan Kwa Hong, terharu sekali. "Nona Hong, kenapa demikian? Amat tidak baik kalau kau dimarahi ayahmu dan sukong-mu... mengapa kau begini baik terhadapku seorang kacung, seorang jembel busuk, mengapa sikapmu tidak seperti yang lain yang selalu menghinaku?"

Untuk beberapa saat sepasang mata dara cilik itu menatap wajah Beng San, lalu berkata lirih, "Entahlah... aku merasa amat berkasihan kepadamu, Beng San..."

Keduanya hanya berpegang tangan dan saling pandang tanpa mengerti apa yang mereka rasakan. Kemudian timbul kenakalan Kwa Hong yang memecahkan hikmat kesunyian itu sambil tertawa. "Agaknya karena kau seperti bunglon itulah yang membuat aku suka bermain denganmu, hi-hi-hi..."
"Kuntilanak!" Beng San balas memaki. la mendongkol kalau dimaki bunglon.

Kwa Hong tertawa sambil melepaskan tangannya. Pada saat itu tampak Kui lok, Thio Ki, dan Thio Bwee berlari-lari. Muka mereka agak pucat.

"Mereka sudah bertempur!" kata Thio Ki terengah-engah. "Tadi bekas tunangan bibi Sian Hwa itu lenyap secara aneh, seorang supek yang menjadi tosu dibunuh orang, kepalanya dilempar ke depan sukong. Sukong mengejar orang jahat. Hebat...”

Tanpa menunggu sampai cerita ini berakhir, Kwa Hong sudah berlari-lari keluar hendak menonton, diikuti oleh tiga orang anak itu. Para tosu Hoa-san-pai juga kelihatan berlari-lari sambil membawa senjata tajam. Keadaan Hoa-san-pai kacau-balau.

Setelah ditinggal seorang diri, Beng San termenung. la bisa mendengar suara beradunya senjata tajam, dan telinganya yang sudah memiliki pendengaran luar biasa itu mendengar angin sambaran senjata yang amat mengerikan itu.

Dia tahu persoalannya. Mereka sedang berhantam, saling bunuh tanpa mereka sadari bahwa mereka sedang diadu domba oleh pemerintah Mongol yang menggunakan pihak Ngo-lian-kauw sebagai kaki tangannya. Ahhh, perlukah orang-orang itu saling membunuh hanya menurutkan nafsu amarah belaka? Saling bunuh karena fitnah, padahal mereka itu adalah saudara-saudara sebangsa sendiri?

Tidak mungkin aku mendiamkan saja, menonton orang sebangsa saling bunuh, padahal kedua belah pihak adalah orang-orang gagah yang telah mempunyai nama besar sebagai pendekar-pendekar! Beng San kemudian melempar sapunya dan berlari cepat ke tempat pertempuran.

la melihat betapa dua orang laki-laki yang melakukan perlawanan dengan gagah berani telah mandi darah dan terdesak hebat oleh pengeroyokan Kwa Tin Siong, Thio Wan It, Kui Keng, dan Liem Sian Hwa. Di atas tanah tergeletak kepala seorang tosu Hoa-san-pai. Keadaan benar-benar amat mengerikan.

Mudah Beng San menduga siapa adanya dua orang gagah itu. Mereka tentu orang-orang Kun-lun-pai seperti yang tadi diceritakan oleh Kwa Hong. Dia melihat Kwa Hong berdiri agak jauh dengan Thio Bwee, agak pucat dan hanya menonton saja. Akan tetapi Kui Lok dan Thio Ki bertepuk-tepuk dan bersorak kalau dua orang itu terkena sambaran senjata seorang di antara Hoa-san Sie-eng.

Di dalam hati Beng San timbul rasa penasaran. Kenapa main keroyok? la dapat menilai tingkat enam orang yang bertempur itu. Apa bila pertempuran dilakukan satu lawan satu, barulah akan seimbang dan ramai. la melihat pedang di tangan Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa amat berbahaya. Sudah beberapa tempat di tubuh kedua orang Kun-lun-pai itu luka-luka.

"Hoa-san Sie-eng... jangan lanjutkan pertempuran. Orang-orang Kun-lun tidak bersalah!" tiba-tiba Beng San tak dapat menahan dirinya lagi, berteriak-teriak dan melompat ke dekat pertempuran.

Semua orang kaget sekali melihat ini, akan tetapi yang bertempur terus saja bertempur. Kui Lok dan Thio Ki marah sekali melihat sikap Beng San. Mereka berdua ini memang sudah merasa amat iri hati kepada Beng San ketika mendengar pujian Kwa Hong dan Thio Bwee betapa Beng San dengan ‘gagah berani’ telah menyusul dan menolong dua orang dara cilik itu ketika diculik orang.

Sekarang mereka melihat Beng San berteriak-teriak, mereka mendapat kesempatan untuk melampiaskan kemarahan mereka. Dua orang jago cilik ini lalu menerjang maju ke arah Beng San.

"Kacung busuk! Mau apa kau berteriak-teriak? Hayo kembali ke tempat kerjamu!"

Dua orang jago cilik ini lalu memukuli Beng San, diturut oleh beberapa orang tosu yang juga tidak suka kepada Beng San.

Terjadi keanehan ketika dua orang anak dan beberapa orang tosu ini memukul Beng San. Kui Lok dan Thio Ki menjerit kesakitan dan tangan kanan mereka patah tulangnya ketika memukul tubuh Beng San. Para tosu yang memukulnya kurang keras, juga berjingkrak kesakitan karena tangan mereka sudah menjadi merah bagaikan terbakar dan bengkak-bengkak!

Tanpa mempedulikan mereka semua, Beng San langsung berjalan menuju ke gelanggang pertempuran. Dua orang saudara Bun itu sudah roboh bermandikan darah dan Beng San menubruk mereka sambil berseru.

"Mereka tidak bersalah... ahhh, pertumpahan darah terjadi hanya karena fitnah! Alangkah bodohnya, bermata tetapi seperti buta" Dengan sedih Beng San mengusapi darah yang mengucur keluar dari dada Bun Si Teng dan Bun Si Liong. "Dua orang pendekar gagah harus melepaskan nyawa hanya karena menurutkan nafsu belaka, hanya karena fitnah..."

Bun Si Teng dan Bun Si Liong belum tewas, akan tetapi mereka sudah terluka parah dan hanya berkat jiwa mereka yang gagah perkasa saja yang membuat mereka roboh tanpa mengeluarkan keluhan sakit sedikit pun juga!

Melihat sikap dan kata-kata Beng San, Kwa Tin Siong kaget dan heran sekali. Apa lagi ketika dia melihat betapa cucu-cucu murid Hoa-san, yaitu Kui Lok dan Thio Ki menderita patah tulang tangan sedangkan beberapa orang tosu lagi bengkak-bengkak tangannya.

Dia semakin curiga akan dugaannya bahwa Beng San bukanlah anak sembarangan dan mungkin sekali dari pihak musuh. Sekarang terbukti betapa Beng San merasa sedih atas jatuhnya dua orang Kun-lun-pai dan kata-katanya yang tidak karuan.

"Beng San, apa maksud kata-katamu barusan?" Kwa Tin Siong membentak sambil maju menghampiri dengan pedang di tangan.

Beng San yang melihat bahwa dua orang Kun-lun-pai itu tak mungkin dapat tertolong lagi, segera bangkit berdiri dengan tegak. Matanya bersinar tajam menakutkan dan mukanya menjadi merah kehitaman. la membanting kaki ke atas tanah dan berkata.

"Hoa-san Sie-eng, apakah kalian tidak melihat bahwa kalian telah membunuh orang-orang tidak berdosa? Kalian telah kena fitnah. Kwee Sin bukan orang yang berdosa, dia tidak membunuh ayah Nona Liem Sian Hwa. Semua ini memang diatur oleh pemerintah Mongol dengan bantuan Ngo-lian-kauw! Kwee Sin hanya punya sebuah kesalahan kecil, yaitu dia roboh oleh kecantikan ketua Ngo-lian-kauw. Akan tetapi yang membunuh ayah Nona Liem adalah para kaki tangan Ngo-lian Kauwcu yang menyamar sebagai Kwee Sin dan sebagai orang-orang Pek-lian-pai. Ahh, sayang orang-orang gagah sampai mudah tertipu!"

"Bohong! Kau anak kecil tahu apa? Kau berpihak kepada Pek-lian-pai dan Kun-lun!" Kwa Tin Siong membentak marah.

Tiba-tiba Bun Si Teng dan Bun Si Liong bergerak. Bun Si Liong tertawa terbahak-bahak lalu... dia berhenti bernapas, mukanya masih tersenyum. Bun Si Teng dengan napas yang terengah-engah mengulurkan tangan, merangkul Beng San.

"Aku puas... kau benar anak... kau benar. Siapa namamu...?”
"Aku Beng San," kata Beng San yang sudah berlutut di dekat Bun Si Teng.
"Kau telah membersihkan nama Kwee-sute sekaligus Kun-lun-pai. Terima kasih. Alangkah bodohku... Ha-ha-ha-ha, bukan hanya Kun-lun Sam-hengte yang bodoh... malah Hoa-san Sie-eng juga goblok, hanya menurutkan nafsu belaka... Beng San, anak baik, kau anak luar biasa... kau berjanjilah bahwa kelak kau akan mengamat-amati putera tunggalku... Bun Lim... Kwi..." Orang gagah itu menjadi lemas dan rohnya menyusul roh adiknya.

Hoa-san Sie-eng berdiri terlongong. Mereka masih terpukul oleh keterangan Beng San, walau pun merasa ragu-ragu.

Pada saat itu tampak bayangan orang berkelebat dan Lian Bu Tojin sudah berdiri di situ. "Ahhh, dia hebat... tak terkejar olehku..." Tiba-tiba kakek ini mengeluarkan seruan kaget ketika melihat tubuh Bun Si Teng dan Bun Si Liong rebah mandi darah dalam keadaan tak bernyawa pula.

"Apa... apa yang telah terjadi...?" tanyanya, memandang kepada empat orang muridnya.

Hoa-san Sie-eng tidak dapat menjawab, masih bingung dan sangat khawatir kalau-kalau keterangan Beng San tadi itu benar. Berarti mereka sudah membunuh orang-orang yang tidak berdosa!

"Beng San, kau lagi di sini? Apa yang kau lakukan di sini?" Lian Bu Tojin membentak lagi ketika melihat Beng San berlutut di depan mayat kedua orang saudara Bun itu.
"Locianpwe, dua orang gagah dari Kun-lun-pai yang tidak berdosa ini telah dikeroyok dan dibunuh oleh murid-muridmu yang gagah!" kata Beng San dengan suara keras.

Kemudian dia mengulangi lagi penuturannya yang tadi di depan ketua Hoa-san-pai. Kakek ini berubah air mukanya mendengar keterangan itu, akan tetapi dengan bengis dia lalu bertanya.

"Bocah, dari mana kau tahu semua itu?"
"Saya bertemu dengan orang-orang Pek-lian-pai dan merekalah yang sudah menceritakan semua itu kepadaku."
"Bohong kalau begitu. Orang-orang Pek-lian-pai itu jahat dan berbohong!" seru Kwa Tin Siong penuh harap.

Tentu saja dia tidak mengharapkan kebenaran keterangan Beng San, karena kalau benar terjadi hal demikian, berarti pihak Hoa-san-pai telah melakukan perbuatan yang kurang patut terhadap Kun-lun-pai.

Lian Bu Tojin meraba-raba jenggotnya yang panjang. "Urusan ini sangat berbelit-belit dan amat penuh rahasia. Keterangan bocah ini mungkin sekali benar, akan tetapi juga bukan mustahil dia dipergunakan oleh Pek-lian-pai untuk mengacau kita. Betapa pun juga, kalian telah terburu nafsu membunuh dua orang Kun-lun-pai ini. Keadaan sudah terlanjur begini, sungguh tidak menyenangkan sekali. Pinto sendiri masih ragu-ragu siapakah yang benar siapa yang salah. Kwee Sin ditolong dan dibawa pergi oleh seorang iblis wanita jahat, Hek-hwa Kui-bo. Terang bahwa ada pihak yang bersekongkol dengan Kwee Sin, tapi..." Tiba-tiba kakek itu berseru, "He, bocah, kau hendak lari ke mana?" Tubuhnya berkelebat ke depan dan di lain saat kakek ini sudah memegang lengan tangan Beng San yang tadi hendak lari.

"Aku mau pergi saja. Selain Hoa-san-pai tidak baik karena membunuh orang tak berdosa, Hek-hwa Kui-bo sudah datang, aku bisa celaka...," bantah Beng San.
"Kau dicari Hek-hwa Kui-bo?" Lian Bu Tojin bertanya heran.
"Semua orang jahat mencariku."
"Kenapa?" Ketua Hoa-san-pai ini sudah menduga bahwa pasti ada rahasia aneh pada diri anak yang mencurigakan ini, maka dia takkan melepaskannya sebelum dapat mengetahui rahasianya.

Tentu saja Beng San tidak mau menceritakan tentang dirinya, apa lagi tentang Im-yang Sin-kiam-sut. Tapi dia anak yang cerdik, dapat menghubung-hubungkan persoalan, maka dengan suara berbisik dia berkata.

"Tosu tua, apa kau lupa akan Lo-tong Souw Lee? Siapa yang tidak akan mencari tempat persembunyiannya? Hek-hwa Kui-bo tentu akan senang sekali kalau mendengar bahwa aku dan Totiang mengetahui tempat tinggal kakek tua she Souw itu!"

Lian Bu Tojin cepat melepaskan tangan yang dipegangnya. "Hushh, gila kau! Siapa yang tahu tempat sembunyinya orang itu?"

Orang tua ini celingukan ke kanan kiri, nampaknya berkhawatir sekali. Siapa yang tidak khawatir kalau dikatakan mengetahui tempat sembunyi Lo-tong Souw Lee? Semua orang jahat di dunia mencari-cari tempat sembunyi pencuri pedang Liong-cu Siang-kiam itu, dan apa bila dia disangka mengetahui tempat sembunyinya, bukan mustahil kalau dia akan dimusuhi semua tokoh kangouw!”

Beng San tersenyum. "Totiang, aku hanya membawakan suratnya kepada Totiang, dan kiranya tidak aneh kalau orang yang sudah bersurat-suratan saling mengetahui tempat tinggalnya, bukan?"

"Hush, jangan main gila kau! Pinto tidak tahu tempat sembunyinya!"
"Kalau begitu biarkanlah aku pergi mencarinya, Totiang. Aku sudah tidak suka tinggal di Hoa-san."
"Pergilah, pergilah cepat!" Kakek itu kini malah mendesak supaya supaya anak itu pergi, karena kalau dibiarkan saja di situ bicara tentang Lo-tong Souw Lee, jangan-jangan dia bisa terbawa-bawa dalam urusan perebutan Liong-cu Siang-kiam.

Beng San lalu menoleh ke arah anak-anak yang melihat semua itu dari jauh, kemudian dia melambaikan tangan dan berkata, "Nona Hong, Nona Bwee, selamat tinggal!"

Beng San lalu membalikkan tubuh dan lari menuruni puncak Hoa-san-pai. Semua orang memandang bayangan anak aneh ini sampai lenyap di belakang batu-batu besar.

Lian Bu Tojin menghela napas panjang. "Ah, sungguh celaka terjadi hal seperti ini. Lekas kalian kuburkan baik-baik jenazah kedua orang murid Kun-lun-pai ini. Pinto harus berani mempertanggung jawabkannya terhadap pertanyaan Pek Gan Siansu..."

la menarik napas panjang berkali-kali sambil menggeleng kepala, penasaran sekali bahwa dalam usia setua itu dia masih harus menghadapi urusan pertumpahan darah yang terjadi antara murid-muridnya dan murid-murid Kun-lun-pai.

Kemudian ia meninggalkan para muridnya, memasuki pondoknya untuk bersemedhi. Tapi begitu memasuki pondok, dia mendapatkan kekecewaan lain dengan tidak adanya Beng San. Bocah itu begitu rajin dan amat cerdik dalam mempelajari filsafat-filsafat To. Bocah yang aneh.

Sepak terjang bocah tadi diam-diam membangkitkan keheranan dan kekaguman hatinya. Seorang anak kecil yang bekerja sebagai kacung, dahulu sudah berani mempertaruhkan nyawa untuk menolong Kwa Hong dan Thio Bwee. Tadi telah berani mencela Hoa-san-pai dan mengeluarkan kata-kata yang gagah.

Kalau kelak anak itu menjadi seorang yang pandai, dia tak akan merasa heran.....

********************
Selanjutnya baca
RAJA PEDANG : JILID-08
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger