logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Raja Pedang Jilid 10


Dengan bekal pakaian dan uang pemberian orang-orang Pek-lian-pai kepadanya, Beng San dapat melakukan perjalanan sebagai seorang pelancong yang pantas. Benar saja, dengan berpakaian seperti seorang pemuda terpelajar, dia sama sekali tidak mengalami gangguan-gangguan di tengah perjalanan.

Lima belas hari kemudian dia telah sampai di daerah Hoa-san dan beberapa hari mendaki pegunungan, dia akhirnya tiba di puncak Hoa-san yang dijadikan pusat dari perkumpulan Hoa-san-pai. Hatinya berdebar pada saat dia melihat tempat yang sudah dikenalnya baik ketika delapan tahun yang lalu itu.

Dari jauh dia melihat betapa tempat itu sudah mulai dihias. Banyak sekali tosu mendirikan bangunan darurat yang besar. Ramai orang bekerja. Beng San sengaja mengambil jalan memutar. la hendak memasuki Hoa-san-pai dari belakang, menuju ke taman bunga di mana dahulu dia bermain-main dengan Kwa Hong, Thio Ki, Thio Bwee, dan Kui Lok.

Apakah mereka berada pula di sini? Dan bagaimana dengan ketua Hoa-san-pai? Ah, di antara Hoa-san Sie-eng, hanya tinggal dua orang yang hidup, yaitu ayah Kwa Hong, Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa. Bagaimana nanti sikap mereka jika mereka melihat aku? Bermacam pikiran dan dugaan berkecamuk dalam pikiran Beng San, membuat hatinya berdebar tegang ketika dia mendekati taman bunga di belakang kelenteng Hoa-san-pai.

Tiba-tiba Beng San melompat ke belakang pohon, lalu menyelinap menyembunyikan diri. Dengan gerakan yang tanpa menimbulkan suara sama sekali dia pindah bersembunyi ke atas sebatang pohon besar yang sangat lebat daunnya. Dia bukan seorang yang suka mengintai orang lain, akan tetapi apa yang terlihat oleh matanya yang tajam luar biasa itu memaksa dia bersembunyi dan mengintai.

Di tengah taman yang sunyi dia melihat seorang gadis yang cantik sekali tengah duduk di atas bangku dekat kolam ikan yang penuh teratai merah. Di depannya berdiri seorang pemuda tampan yang menundukkan mukanya. Gadis itu kelihatan cerah sekali mukanya, bibirnya tersenyum akan tetapi sepasang matanya bergerak-gerak setengah marah.

Pemandangan yang membuat Beng San terheran-heran dan cepat bersembunyi sambil berwaspada adalah ketika matanya yang tajam dapat melihat adanya seorang gadis lain yang juga berada di taman itu. Akan tetapi gadis ini kelakuannya sangat mencurigakan, yaitu ia sedang mengintai sepasang muda-mudi itu dari balik rumpun kembang dan batu penghias taman!

Diam-diam Beng San memperhatikan tiga orang itu. Si pemuda adalah seorang pemuda yang wajahnya tampan, matanya tajam dan mukanya membayangkan keangkuhan dan kegembiraan sekaligus. Pakaiannya indah, akan tetapi serba putih seperti orang sedang berkabung. Bentuk tubuhnya sedang dan dia nampak gagah dengan topi bulu di kepala serta sebatang pedang yang tergantung di pinggang.

Ada pun dara jelita yang dihadapinya itu adalah seorang dara yang memiliki bentuk tubuh langsing tinggi. Gerakannya lemah gemulai tetapi mengandung kegesitan dan kekuatan yang tidak terlepas dari pandang mata seorang ahli. Mukanya bulat telur, kulitnya putih sekali, putih kemerahan serta halus terpelihara. Sepasang matanya seperti mata burung hong yang kadang-kadang dapat menyinarkan kemesraan dan kehalusan akan tetapi kadang-kadang nampak tajam menusuk dan galak.

Pakaiannya berkembang indah, akan tetapi dasarnya merah sehingga mudah diduga bahwa dia memang menyukai warna merah. Juga gadis cantik jelita ini membawa pedang yang dipasang di belakang punggungnya sehingga di balik segala kecantik jelitaannya ini membayang keangkeran dan kegagahan.

Setelah melihat dengan teliti, hampir Beng San tak dapat menahan ketawanya. Mudah saja dia mengenal pemuda itu yang bukan lain adalah Kui Lok. Telinganya yang lebar itu takkan dia lupakan. Dan gadis cantik jelita yang nampak manja ini siapa lagi kalau bukan si kuntilanak? Kwa Hong, tak bisa lain orang. Mana ada lain orang memiliki mata seperti itu?

Juga gadis ke dua yang bersembunyi sambil mengintai, yang tadinya menimbulkan rasa kecurigaan di hati Beng San, setelah dia pandang dengan teliti, dia merasa yakin bahwa gadis ini tentulah Thio Bwee. Gadis ini juga memiliki bentuk tubuh yang padat langsing, kulitnya halus dan tak seputih Kwa Hong, akan tetapi juga tak dapat dikatakan hitam. Kulit berwarna kegelapan yang malah menambah kemanisannya.

Wajahnya juga cantik sekali, hidungnya membayangkan hati yang keras. Seperti Kui Lok, gadis ini juga berpakaian serba putih, tapi tidak putih polos, melainkan putih berkembang. Di punggungnya, seperti juga Kwa Hong, dia membawa sebatang pedang yang dironce putih pula.

"Hemmm, seperti menonton sandiwara wayang saja," pikir Beng San geli.

Apakah yang sedang terjadi dengan anak-anak yang dahulu nakal-nakal ini? Teringat dia bahwa dia sendiri pun memperlihatkan kenakalannya, buktinya dia mengintai seperti yang dilakukan oleh Thio Bwee. Mengingat ini, tak terasa lagi Beng San tertawa lebar tanpa mengeluarkan bunyi, sambil menekan perutnya.

Kui Lok mengangkat mukanya yang tampan. Mulutnya yang selalu tersenyum mengejek itu berkata, "Hong-moi, sekali lagi kutegaskan bahwa sejak dulu aku selalu mencintamu, bukan sebagai saudara seperguruan, bukan sebagai kakak beradik, akan tetapi sebagai seorang pria terhadap seorang wanita pujaan hatinya. Hong-moi, aku cinta...”
"Sudahlah, Lok-ko, jangan kau ulang-ulang lagi," Kwa Hong berkata sambil memandang tajam, kemudian mendadak matanya bersinar nakal ketika dia berkata, "Tak enak bicara cara begini, kau berdiri dan aku duduk. Kau duduklah di rumput supaya aku tidak selalu berdongak kalau bicara denganmu."

Kui Lok memandang ke bawah. Tidak bersih tanah itu, biar pun ditumbuhi rumput hijau, tentu akan mengotorkan pakaiannya. Akan tetapi tanpa ragu-ragu dia menjatuhkan diri duduk di depan Kwa Hong, di atas tanah. Karena dara itu duduk di depannya dan dia duduk di tanah, kelihatan dia seperti berlutut di depan orang yang lebih tinggi tingkatnya!

Wajah Kwa Hong yang jelita itu nampak berseri ketika memandang ke bawah, kepada muka yang tampan dan penuh penyerahan, penuh harapan dan penuh ketaatan itu. Dan sebaliknya, Kui Lok yang sekarang harus menengadah memandang wajah cantik jelita di sebelah atasnya.

"Lok-ko," kata Kwa Hong sambil tersenyum semanis-manisnya, "aku tak suka bila setiap kali bertemu kau selalu menyatakan rasa cinta kasihmu. Aku jadi bosan mendengarnya. Sudah kukatakan kepadamu, sekarang belum tiba saatnya bagiku untuk memikirkan soal itu. Kau bersabarlah karena aku belum dapat memastikan siapa yang akan kupilih kelak. Kau sendiri tahu, ayahku bermaksud menjodohkan aku dengan Ki-ko, tapi itu pun kutolak mentah-mentah. Aku akan memilih sendiri, tetapi kelak!"

"Baiklah, Moi-moi (Adinda), baiklah. Aku tak akan mengulang lagi, tapi perbolehkan aku memujamu... alangkah cantik jelitanya engkau, Hong-moi. Kalau kupandang dari bawah, wajahmu mengalahkan kecemerlangan matahari di waktu pagi atau bulan di waktu senja. Aku sudah akan merasa hidup ini bahagia kalau dapat memandangi mukamu yang indah, mendengar suaramu yang merdu bagaikan..."
"Sssttttt... ada orang...!" Kwa Hong yang amat tajam pendengarannya itu bangkit berdiri dari duduknya.

Sebetulnya dalam hal ini Kui Lok takkan kalah olehnya, akan tetapi karena pemuda itu tadi baru mabuk asmara, maka menjadi kurang hati-hati. Mereka berdua meloncat ke satu arah, yaitu arah gerombolan kembang dan sempat melihat tubuh Thio Bwee berlari pergi sambil menutupkan kedua tangan di depan muka.
Keduanya berdiri bengong, dan keduanya memerah muka.

"Celaka, Enci Bwee melihat dan mendengar semua tadi!" Kwa Hong membanting-banting kaki kanannya. "Semua ini salahmu, Lok-ko! Kau tentu tahu betapa dia mencintamu dan sekarang kau suguhi ia adegan seperti ini. Bukankah ini berarti kau menyiksa batinnya?"

Kui Lok tunduk dan berkata membela diri, "Apa dayaku, Hong-moi? Apa dayaku apa bila tidak ada wanita lain di dunia ini yang merobohkan hatiku?"

"Bodoh kau! Enci Bwee cantik manis, lihai ilmu silatnya, sungguh amat cocok menjadi... ehhh... menjadi jodohmu."
"Tapi kau lebih cantik, Hong-moi. Kau lebih..."

Kembali Kwa Hong membanting kakinya dengan gemas. "Sudah cukup! Kau pergilah dari sini, Lok-ko. Setelah Enci Bwee melihatnya, apakah kau ingin lain orang melihat sikapmu yang memalukan tadi? Sudah cukup kataku!"

Kui Lok menarik napas panjang, lalu ia berkata lemah, "Aku hanya mengharapkan belas kasihanmu..." dan dia pun pergi dari situ dengan tubuh lemas. Kwa Hong juga menarik napas panjang, kelihatan tak senang dan duduknya gelisah.

Semua ini dilihat dan didengar oieh Beng San yang menghadapi semua ini dengan hati tidak karuan rasanya. Dia merasa geli dan ingin tertawa keras-keras, akan tetapi juga merasa terharu dan khawatir. la yang selama hidupnya belum pernah mimpi tentang cinta kasih orang muda, sekarang dihadapkan dengan pemandangan yang amat mengharukan hatinya.

Ah, betapa membingungkan, pikirnya tanpa bergerak di tempat duduknya, di atas cabang dalam pohon itu. Kui Lok dicintai Thio Bwee, sebaliknya pemuda ini mencinta Kwa Hong yang agaknya tidak menerimanya! Dan menurut pendengarannya tadi, ayah Kwa Hong malah bermaksud menjodohkan Kwa Hong dengan Thio Ki. Alangkah berbelit-belit cinta asmara menggoda hati muda.

Selagi dia berpikir bagaimana dia harus berbuat selanjutnya di tempat itu, dia mendengar suara orang mendatangi. Hampir meledak ketawanya ketika dari jauh dia melihat seorang pemuda dengan tergesa-gesa memasuki ke taman itu.

Pemuda ini tinggi kurus. Wajahnya tampan membayangkan kekerasaan dan keangkuhan hati. Pada pinggang kirinya tergantung sebatang pedang pula dan pakaiannya juga serba putih seperti yang dipakai Kui Lok dan Thio Bwee tadi. Sekali pandang saja, Beng San mengenalnya sebagai Thio Ki.

"Aduh, akan ramai kali ini..." Beng San tersenyum.

Sementara itu, Thio Ki berjalan terburu-buru menuju ke tempat duduk Kwa Hong. Setelah menengok ke kanan kiri dengan hati-hati, pemuda ini segera menjatuhkan diri berlutut di depan Kwa Hong! Gadis itu membelalakkan kedua matanya, memandang pemuda yang tak mengucapkan sepatah pun kata di depannya itu.

"Ehh, ehhh... apa-apa kau ini, Ki-ko (Kakak Ki)?"
"Kwa Hong-moi, jangan kau menyiksa hati kami kakak beradik yang sudah tak berayah lagi."

Kwa Hong mengerutkan keningnya. “Aihhh... apa maksudmu, Ki-ko? Apakah kesalahanku terhadap kau atau terhadap enci Bwee?"

Dengan muka membayangkan kekerasan hatinya, biar pun dia sedang berlutut, Thio Ki memandang tajam kepada gadis itu. "Kau tahu betapa aku mencintamu dan bahwa Kwa Supek juga sudah setuju akan perjodohan antara kau dan aku. Dan kau pun tahu bahwa adikku Bwee-moi mencinta Lok-te (adik Lok)."

Kwa Hong tersenyum mengejek, keningnya masih berkerut. "Hemmm, habis mengapa?” Suaranya penuh tantangan.

"Janganlah kau merusak hatiku dan hati adikku dengan bermain cinta dengan Kui Lok."

Kwa Hong menjadi marah, berdiri dan membanting kakinya. Agaknya kebiasaan di waktu kecil ini, yaitu membanting kaki kalau marah, masih melekat pada diri Kwa Hong. "Ah, enci Bwee setelah tak tahu malu mengintai orang, lalu lari merengek-rengek kepadamu minta bantuan?"

Thio Ki juga bangun berdiri, menghadapi gadis itu. Sikapnya keras akan tetapi suaranya mengandung kasih sayang, "Hong-moi, adikku sudah tak berayah lagi, kini aku sebagai kakaknya menjadi pengganti ayah."

"Hemmm, apa saja yang ia ceritakan padamu?"
"Tadi dia melihat Kui Lok menyatakan cintanya kepadamu di sini. Betulkah itu? Ingatlah, Hong-moi. Aku mencintamu sepenuh jiwaku sedangkan adikku mencinta Kui Lok dengan sepenuh hatinya pula. Bukankah sudah tepat sekali kalau di antara kita para cucu murid Hoa-san-pai terjalin ikatan ini? Kau dengan aku sedangkan Kui Lok dengan adik Bwee? Bukankah ikatan ini akan memperkuat kedudukan Hoa-san-pai yang selalu diganggu oleh musuh?"
"Ki-ko! Enak saja kau bicara. Urusan perjodohan mana ada aturannya main paksa? Kalian semua goblok dan yang dipikir hanya urusan asmara saja. Aku... seujung rambut pun tak pernah memikirkan urusan begitu. Aku lebih suka memikirkan pembasmian musuh-musuh besar kita. Cih, sungguh tidak tahu pribudi kalian bertiga!"

"Hong-moi... katakanlah sejujurnya... apakah kau mencinta Lok-te?"
"Kalau memang aku mencinta siapa pun juga, kau dan semua orang peduli apa?" Kwa Hong membentak dengan kedua pipi merah dan dua titik air mata membasahi pipinya itu. "Akan tetapi aku tidak mencinta siapa-siapa! Lok-ko boleh datang di sini dan seperti gila menyatakan cinta, apakah itu salahku? Aku sendiri tidak mencinta siapa-siapa, kau pun tidak, Lok-ko pun tidak. Nah, jelaskah sekarang?"

Thio Ki menjadi agak pucat mukanya. "Begitukah? Jadi kalau begitu, Kui Lok yang sudah merusakkan semua ini. Aku harus mencarinya dan memberi hajaran kepadanya!" Dengan sigap Thio Ki membalikkan tubuh dan pergi dari situ meninggalkan Kwa Hong.

Untuk beberapa saat Kwa Hong berdiri melongo. Matanya bergerak liar dan mukanya menjadi agak pucat, kemudian gadis ini pun berlari meninggalkan taman bunga.

Tinggal Beng San yang kini termenung seorang diri di atas pohon. la masih merasakan ketegangan semua yang telah dia dengar dan lihat dari tempat persembunyiannya. Hebat, pikirnya. Urusan orang-orang muda ini bisa mengakibatkan hal yang amat hebat!

Mengingat akan sikap Thio Ki yang keras hati itu, mudah diduga bahwa tentu akan terjadi pertempuran antara saudara seperguruan sendiri, antara Thio Ki dan Kui Lok yang secara kasarnya memperebutkan Kwa Hong! Masih ada kemungkinan buruk lagi, yaitu bukan hal yang aneh kalau Thio Bwee memusuhi Kwa Hong pula karena dianggap merampas pria yang dicintainya.

Berkali-kali Beng San menarik napas panjang dan berkata kepada diri sendiri. "Nah, kau sudah tahu sekarang? Hatimu mudah tertarik wajah cantik. Baru saja turun gunung sudah terpikat oleh gadis yang bernama Eng itu. Sekarang melihat Kwa Hong dan Thio Bwee hatimu berdebar dan amat tertarik. Kau lihat kesengsaraan mereka itu? Lihat Thio Ki dan Kui Lok, dua orang muda gagah perkasa, tidak kekurangan sesuatu, sekarang sebagai saudara seperguruan menjadi saling bermusuhan. Semua ini hanya gara-gara hati lemah menghadapi wajah cantik."

Akan tetapi perhatiannya segera tertarik oleh bergeraknya daun-daun di pohon-pohon. Pergerakan bukan oleh meniupnya angin biasa, melainkan tiupan angin yang ditimbulkan oleh kepandaian seseorang yang bergerak cepat sekali, melintas tak jauh dari depannya. Sekali lagi dia dikejutkan oleh kepandaian yang tinggi dari orang baru ini.

Ah, sudah banyak dia melihat orang-orang muda berkepandaian tinggi. Pertama kali nona Eng, kedua kalinya orang muda yang sekarang lewat ini. la juga merasa seakan pernah melihat orang muda ini, entah di mana.

Seorang pemuda yang bertubuh kecil berwajah tampan sekali, kulit mukanya pucat putih, pakaiannya kuning. Muka yang pucat itu, mata yang selalu memandang rendah, mulut yang tidak pernah berhenti tersenyum lebar, angkuh dan sombong. Di mana dia pernah melihat orang ini?

Dengan hati penuh kecurigaan, Beng San lalu melesat, diam-diam mengikuti bayangan orang itu yang berlari cepat ke depan. la mengikuti terus orang muda yang berjalan cepat itu, setelah keluar dari taman lalu membelok ke kanan dan menuju ke sebuah lereng yang sunyi.

Lereng ini indah sekali, penuh dengan padang rumput menghijau dan di sana-sini terdapat pohon yang kembangnya berwarna kuning dan merah. Inilah sebuah taman alam yang luas dan sunyi, dan bagi Beng San bahkan lebih indah dari pada taman bunga yang baru ditinggalkannya tadi.

Dengan hati-hati dia terus mengikuti orang itu. Di tempat yang agak terbuka ini ia harus berhati-hati karena yang diikuti adalah orang yang berkepandaian tinggi. Ia mengikuti dari jauh dan terpaksa berhenti untuk menyelinap di belakang pohon apa bila yang diikutinya itu melintasi tempat yang terbuka.

Akhirnya dia melihat orang itu berhenti di tempat yang penuh pohon kembang dan orang itu mengintai. Beng San cepat menyelinap mendekati dan kini dia pun dapat melihat apa yang diintai oleh pemuda yang di depannya itu.

Ternyata bahwa Thio Bwee, gadis yang tadi mendengarkan percakapan antara Kui Lok dan Kwa Hong, duduk di atas sebuah batu besar hitam di tempat sunyi itu dan menangis terisak-isak dengan amat sedihnya. Beng San menjadi terharu juga.

Ia telah mengenal Thio Bwee ketika kecil, malah pernah dia menggendong Thio Bwee dan Kwa Hong ketika terculik oleh orang jahat. la maklum sedalamnya apa yang dirisaukan oleh hati gadis muda itu. Siapa orangnya takkan merasa sedih dan malu kalau melihat laki-laki yang dicintainya berlutut memohon cinta kasih seorang gadis lain?

"Nona yang baik, harap kau jangan menangis, jangan bersedih. Dunia ini bukan hanya setelapak tangan lebarnya dan tidak kurang banyaknya pria yang baik dan setia, bahkan lebih baik dari orang she Ku itu..."

Mendengar suara ini, tangis Thio Bwee makin menjadi-jadi. Akan tetapi tiba-tiba gadis itu mengangkat muka dengan kaget, memandang pemuda yang sudah muncul di depannya. Ia meloncat berdiri dan menudingkan telunjuknya ke muka orang sambil membentak.

"Siapa kau...?! Kurang ajar, berani lancang mulut? Pergi dari sini!" la mengusir pemuda tampan yang bermuka pucat dan tersenyum-senyum itu.
"Kita orang segolongan, Nona Thio, jangan kau menyangka yang bukan-bukan. Aku pun bukannya orang sembarangan. Kalau kau adalah cucu murid Hoa-san-pai, aku pun murid seorang sakti. Namaku Giam Kin, dan nama guruku kiranya tak kalah besarnya oleh nama kakek gurumu, Lian Bu Tojin." Pemuda tampan yang pucat itu berkata sambil tersenyum memikat. "Aku datang dengan hati suci, tidak bermaksud jahat, aku hanya kasihan melihat nasibmu dan ingin menghibur hatimu, nona manis. Percayalah, aku akan menjadi sahabat yang lebih baik dan lebih setia dalam cinta dari pada Kui Lok..."
"Tutup mulut! Pergi kau dari sini, kalau tidak jangan anggap aku keterlaluan. Daerah ini termasuk wilayah kekuasaan kami dari Hoa-san-pai, kau sudah masuk tanpa ijin. Pergilah sebelum pedangku bicara!" Mendadak Thio Bwee bersikap gagah dan dengan gerakan yang sebat sekali tahu-tahu pedangnya sudah terhunus dan berada di tangan kanannya, sikapnya angkuh dan galak, namun gagah berani.

Ada pun Beng San yang sejak tadi diam saja, tercengang ketika mendengar pemuda itu menyebutkan namanya. Giam Kin? Pernah dia mendengar nama ini dan pernah pula dia melihat muka yang pucat itu, tapi bila dan di mana?

la memandang terus, siap untuk menolong Thio Bwee yang dia duga tentu berada dalam bahaya berhadapan dengan pemuda seperti itu. Akan tetapi dia pun ingin menyaksikan sampai di mana kepandaian Thio Bwee dan terutama kepandaian pemuda aneh itu.

Melihat Thio Bwee menghunus pedang, Giam Kin hanya tertawa mengejek. "Bagus sekali! Memang betapa pun cantik jelitanya seorang dara, dia tidak berharga menjadi sahabat baikku kalau tidak pandai mainkan pedang. Nona Thio yang manis, biarlah kita main-main sebentar. Hendak kulihat sampai di mana kelincahanmu bermain pedang, apakah cocok dengan keindahan wajahmu yang manis itu..."

"Keparat, lihat pedang!" Begitu teriakan keluar dari mulut Thio Bwee segulung sinar putih menyambar ke arah dada Giam Kin.

Diam-diam Beng San kaget dan kagum juga. Ilmu pedang Hoa-san Kiam-hoat yang baru dimainkan oleh nona ini betul-betul tak boleh dipandang ringan. Demikian pula agaknya pendapat Giam Kin karena pemuda ini cepat melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik beberapa kali. Setelah terhindar dari ancaman pedang dan dapat kembali berdiri tegak, wajah yang pucat itu kelihatan semakin pucat.

"Bagus! Kau benar-benar nona manis yang berkepandaian lihai. Pantas kulayani dengan senjata pula!" Sambil berkata begitu pemuda ini meraba pinggangnya dan mengeluarkan sebatang benda yang aneh.

Tak salah lagi, benda ini tentulah sebuah suling karena ada lubang-lubangnya, juga ada tempat peniupnya, akan tetapi bentuknya bagaikan ular! Giam Kin memegang di bagian yang runcing, yaitu bagian ekor ular dengan cara seperti memegang gagang pedang.

"Ahh, diakah...??" Beng San tiba-tiba teringat.

Terbayanglah dia akan ratusan ekor ular yang datang mengeroyok dia dan Tan Hok ketika seorang bocah bermuka pucat meniup sulingnya. Inilah dia, Giam Kin bocah yang dulu pernah dia pukul, bocah yang mengerikan, pandai memanggil datang ratusan ekor ular berbisa. Seketika kebenciannya timbul. Inilah musuh besarnya!

Pada waktu kecil pun dia sudah amat jahat, dengan ular-ularnya membunuh para petani kelaparan secara kejam sekali. Apa lagi sekarang. Orang semacam ini harus menjadi musuhnya.

Akan tetapi Beng San tak mau lancang turun tangan. la melihat bahwa Thio Bwee bukan seorang yang lemah. Berarti memandang rendah kalau dia turun tangan sekarang. Apa lagi, bukankah dia sedang berusaha menyembunyikan kepandaiannya?

la dengan tenang menonton pertandingan antara Thio Bwee dan Giam Kin itu, akan tetapi selalu siap menolong apa bila gadis itu terancam bahaya. Betapa pun juga dia merasa yakin bahwa tak mungkin Giam Kin mau mencelakai gadis ini, apa lagi membunuhnya. Dari sikapnya tadi jelas bahwa Giam Kin tergila-gila akan kecantikan Thio Bwee, mana dia mau melukai atau membunuhnya?

Pedang di tangan Thio Bwee lihai sekali. Gerakannya cepat dan ganas dan teringatlah Beng San ketika dia melihat gadis ini di waktu kecilnya sudah memperlihatkan bakat ilmu pedangnya.

Akan tetapi jika gadis itu lihai, ternyata Giam Kin lebih lihai lagi. Gerakan-gerakan suling berbentuk ular yang dimainkan sebagai pedang itu benar-benar hebat dan aneh, penuh dengan gerak tipu yang sukar dijaga. Tidak mengherankan apa bila perlahan-lahan Thio Bwee terdesak hebat, terkurung oleh gulungan sinar yang diakibatkan oleh gerakan suling ular.

Betul saja dugaan Beng San. Giam Kin tidak bermaksud merobohkan Thio Bwee. Kalau dia kehendaki, kiranya sudah sejak tadi dia dapat merobohkan gadis itu. Sebaliknya, dia hanya main-main dan tidak ada hentinya mulutnya tersenyum sambil terus mengeluarkan ucapan-ucapan menggoda.

"Kau lihatlah, nona manis. Bukankah aku juga cukup lihai untuk menjadi sahabat baikmu. Simpanlah pedangmu dan aku Giam Kin bersedia mengaku kalah, bahkan aku pun suka berlutut asal kau mau menjadi sahabat baikku..."

Mendengar ini, Beng San diam-diam merasa geli. Alangkah lucunya kalau laki-laki sudah jatuh oleh kecantikan wajah seorang wanita. Lucu dan tak waras lagi otaknya, lebih patut disebut edan!

Beng San masih terlalu hijau untuk mengenal watak laki-laki seperti Giam Kin. Dikiranya bahwa Giam Kin juga jatuh hati dan mencinta Thio Bwee, sama sekali tidak tahu bahwa memang pemuda muka pucat itu berwatak mata keranjang dan tentu dia akan ‘mencinta’ setiap orang wanita yang cantik dan manis, apa lagi seperti Thio Bwee!

Apa bila ucapan Giam Kin itu menggelikan hati Beng San, sebaliknya amat memanaskan hati Thio Bwee. Biar pun ia terdesak hebat, gadis ini mengertak giginya, menggenggam gagang pedang dengan lebih erat lalu menyerang nekat sambil membentak.

"Murid Hoa-san-pai pantang mengaku kalah sebelum putus lehernya!"

Pedang di tangannya meluncur cepat ke depan, tergetar sehingga sukar diketahui bagian tubuh lawan yang mana hendak ditusuknya, dada ataukah leher. Terkesiap juga Giam Kin menghadapi jurus ini. Inilah jurus dari Hoa-san Kiam-hoat yang disebut jurus Kwan-kong Sia-ciok (Kwan Kong Memanah Batu). Ujung pedang di tangan Thio Bwee tergetar dan agaknya kali ini ia akan berhasil kalau saja tidak menghadapi lawan yang demikian lihai seperti Giam Kin.

Sebagaimana telah kita ketahui, Giam Kin adalah murid dari Siauw-ong-kwi, itu orang sakti dan jagoan nomor satu dari daerah utara. Tidaklah mengherankan apa bila Giam Kin memiliki ilmu silat yang amat tinggi.

Menghadapi serangan jurus Kwan-kong-sia-ciok tadi, hanya sedetik saja dia terkesiap dan terkejut, akan tetapi ia segera dapat menenangkan hatinya dan sempat menggulingkan tubuhnya ke belakang. Tubuhnya menggelundung terus ke sana ke mari seperti seekor binatang trenggiling dan dengan akal seperti ini, jurus Kwan-kong Sia-ciok yang dimainkan Thio Bwee menjadi gagal sama sekali.

Tiba-tiba tubuh Giam Kin itu menggelundung ke arah lawannya sedangkan suling ularnya bergerak menyambar-nyambar dari bawah mengarah pada kaki Thio Bwee. Serangan dari bawah ini berbahaya sekali, terpaksa Thio Bwee harus meloncat-loncat ke atas. Giam Kin tertawa-tawa dan menyerang terus, kadang-kadang menyerang kaki, kadang meloncat ke atas menyerang pundak.

Thio Bwee menjadi makin terdesak dan kewalahan. Jalan satu-satunya baginya hanya mengeluarkan jurus ilmu pedangnya yang khusus untuk mempertahankan diri, yaitu jurus Tian-mo Po-in (Payung Kilat Sapu Awan). Dengan jurus ini sinar pedangnya berkelebatan merupakan segulungan cahaya yang melindungi seluruh tubuhnya.

"Ha-ha-ha-ha, nona manis. Mana aku tega memutuskan lehermu? Memutuskan sehelai rambut pun aku tidak mau, apa lagi lehermu. Lebih baik kita sudahi saja main-main ini dan kau suka menerima aku menjadi sahabatmu, bukanlah itu baik sekali?" Sambil berkata demikian, dengan gerakan aneh sekali suling itu dapat menahan pedang Thio Bwee, dan kedua buah senjata ini saling tempel tak dapat terlepas lagi!

Thio Bwee mengerahkan tenaga dan berusaha membetot pedangnya, akan tetapi sia-sia, pedangnya seperti berakar pada senjata lawannya. Diam-diam Beng San yang menonton pertempuran ini mengangguk-angguk, maklum dan kagum akan kehebatan Iweekang dari pemuda pucat itu.

"Ha, nona jelita. Kau lihat, sedangkan senjata-senjata kita begini rukun, saling melekat tak mau lepas. Bukankah baik sekali kalau kita meniru mereka...?" kata pula Giam Kin dengan nada suara ceriwis sekali. Tangan kirinya bergerak maju dan secara kurang ajar dia lalu mengelus-elus lengan kanan Thio Bwee yang berkulit halus!

Gadis itu marah, membentak keras dan memukulkan tangan kirinya. Namun ia memang sudah kalah tenaga, begitu mengeluarkan bentakan tiba-tiba pedangnya dapat terbetot oleh lawan dan terlepas dari tangannya. Betapa pun juga, murid Hoa-san-pai ini tidak mau menyerah begitu saja. la cepat menubruk maju mengirim pukulan-pukulan dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya merampas pedangnya kembali.

Memang Thio Bwee amat hebat, dalam keadaan demikian ia masih mampu memperbaiki kedudukannya yang sudah hampir kalah. Kenekatan gadis ini sama sekali tidak pernah terduga oleh Giam Kin yang masih memandang rendah, maka begitu melihat datangnya pukulan-pukulan yang amat berbahaya, terpaksa ia melangkah mundur sehingga pedang rampasannya dapat dirampas kembali oleh Thio Bwee.

Pada saat itu berkelebat dua sosok bayangan dan terdengar bentakan.
"Siapa berani bermain gila di Hoa-san?!"

Giam Kin melangkah mundur dua tindak dan mengangkat kepala, lalu tersenyum nakal memandang kepada dua orang yang baru datang.

Yang seorang adalah seorang laki-laki yang gagah perkasa, sikapnya keren sekali. Biar pun sudah lebih empat puluh tahun usianya, namun masih nampak muda dan gagah. Yang seorang wanita, belum tiga puluh tahun, cantik berpakaian sederhana, juga wajah yang cantik ini keren dan berpengaruh.

Sekali pandang saja Beng San dengan girang dapat mengenal bahwa laki-laki itu adalah Hoa-san It-kiam Kwa Tin Siong sedangkan yang wanita adalah Kiam-eng-cu Liem Sian Hwa, dua orang dari Hoa-san Sie-eng yang tersohor.

Yang tadi membentak adalah Liem Sian Hwa yang terkenal keras wataknya. Sebaliknya Kwa Tin Siong bermata tajam, dapat melihat bahwa orang muda itu meski pun mukanya pucat dan tersenyum-senyum selalu, namun bukanlah orang sembarangan.

Di lain pihak Giam Kin memperhatikan dua orang itu, lalu tertawa dan berkata seenaknya, "Siapa berani main gila? Tidak ada yang bermain gila kecuali orang-orang Hoa-san-pai sendiri. Suheng-nya gagah perkasa dan tampan, sumoi-nya cantik jelita dan lihai, aihhh… benar-benar mengagumkan..." Ia tertawa lagi dan aneh sekali, wajah Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa menjadi merah ketika mereka saling lirik.

Kwa Tin Siong maju menghampiri Giam Kin dan berkata. "Sahabat di depan siapakah, dari partai mana dan apa alasannya bermain-main senjata dengan murid keponakanku?"

Kini Giam Kin mengangkat kedua tangan menghormat, tetapi sikapnya masih penuh sifat main-main dan mengejek. "Aku yang muda bernama Giam. Aku memenuhi pesanan suhu untuk menghadiri ulang tahun Hoa-san-pai dan melihat-lihat. Siapa tahu begitu sampai di sini belum ada apa-apa. Kebetulan bertemu dengan nona cilik murid Hoa-san-pai, ingin berkenalan secara baik-baik..."

Liem Sian Hwa sudah marah sekali, akan tetapi Kwa Tin Siong memberi tanda dengan kedipan mata, lalu berkata lagi, "Orang muda she Giam, siapakah nama gurumu yang mulia?"

"Ha-ha-ha, orang-orang Hoa-san-pai, kalian bermata tajam. Memang guruku orang mulia, kecil-kecil dia masih raja di utara... Ha-ha-ha..."

Kalau Liem Sian Hwa menjadi makin mendongkol, adalah Kwa Tin Siong yang menjadi kaget betul. Cepat dia menjura, memberi hormat sambil berkata, "Apakah yang dijuluki orang Siauw-ong-kwi...?"

Giam Kin tersenyum lagi sambil memutar-mutar biji matanya. "Kau juga berani menyebut suhu-ku Setan Kecil? Awas kau, Hoa-san It-kiam, kalau guruku mendengar kau tak akan berkepala lagi!"

Kwa Tin Siong tersenyum masam. "Kurasa Siauw-ong-kwi locianpwe tidak berpandangan sesingkat kau, orang muda. Kau datang terlampau pagi, perayaan baru akan diadakan satu pekan lagi. Harap kau nanti datang pada waktunya dan sementara itu harap jangan main-main dan membikin takut pada anak-anak murid Hoa-san-pai. Bukankah kau datang dengan maksud baik?"

"Baik sekali, tentu, maksudku baik sekali. Sayang terlampau pagi, biar sepekan kemudian aku datang lagi. Sampai berjumpa kembali, nona manis." Giam Kin lantas membalikkan tubuhnya, kemudian meniup sulingnya secara aneh.

Tiba-tiba Kwa Tin Siong, Liem Sian Hwa, dan Thio Bwee membelalakkan mata saking kagetnya pada saat dari mana-mana datang ular-ular besar kecil mengikuti di belakang pemuda aneh itu. Makin lama makin banyak sehingga Giam Kin diikuti puluhan ekor ular seperti bebek-bebek mengikuti penggembalanya!

"Hebat... berbahaya sekali dia...,” terpaksa Sian Hwa mengakui.

Kwa Tin Siong menarik napas panjang pula. "Sudah lama aku mendengar nama gurunya, Siauw-ong-kwi. Baru muridnya saja sudah demikian lihainya, apa lagi gurunya. Apa sih kehendak Setan Raja Kecil dari utara itu dengan mengirim muridnya ke sini?"

Kemudian dia menoleh kepada Thio Bwee yang berdiri dengan muka pucat. "Bwee-ji, kau seorang diri di sini sedang mengerjakan apa? Bagaimana bisa bertempur dengan dia?" Di dalam suara Kwa Tin Siong terkandung kasih sayang dan perhatian, biar pun suaranya terdengarnya kereng dan galak.

"Aku... aku sedang berlatih, Supek. Dia datang dan bicaranya kurang ajar, ingin belajar kenal. Aku... aku lalu menyerangnya."

Hemmm, pikir Beng San yang mendengar jawaban ini. Urusan asmara memang runyam! Sampai-sampai Thio Bwee berani membohong kepada supek-nya. Setelah berpikir begitu, tubuhnya melesat pergi mengejar Giam Kin yang sudah tidak kelihatan lagi, hanya suara sulingnya yang aneh itu masih terdengar sayup-sayup sampai.

Giam Kin berjalan seenaknya sambil meniup suling. Hatinya senang. la telah melihat Kwa Hong dan Thio Bwee. Cantik-cantik dan manis-manis cucu murid Hoa-san-pai, pikirnya. Apa lagi Kwa Hong! Tidak rugi aku mewakili suhu ke Hoa-san. Seorang di antara mereka harus kudapatkan.

Tiba-tiba pemuda ini menunda sulingnya, lalu menari-nari dan berloncat-loncatan di antara ular-ular yang kini menjadi bingung dan lari ke sana ke mari. Anehnya, ular-ular itu yang terinjak-injak, bahkan ada yang terinjak sampai mati sekali pun, tidak ada yang berani menggigit Giam Kin.

Seperti orang gila pemuda tampan bermuka pucat ini menari-nari dan tertawa-tawa, pasti akan menimbulkan rasa seram dan ngeri pada yang melihatnya. Siapa tak akan merasa seram melihat seorang pemuda yang mukanya pucat seperti muka mayat itu menari-nari di antara ular-ular yang buas dan tertawa-tawa seperti setan?

"Giam Kin, kau benar-benar sudah gila!" terdengar suara teguran, suara yang besar dan bergema di seluruh tempat itu.

Giam Kin terkejut, menghentikan tariannya dan menengok ke arah suara datang. Matanya terbelalak kaget dan mulutnya ternganga ketika dia melihat seorang laki-laki berdiri tak jauh dari situ dengan kedua kaki terpentang lebar dan kedua tangan bertolak pinggang, Yang membuat dia kaget setengah mati adalah muka orang itu, muka yang hitam seperti pantat kwali, tidak kelihatan apa-apanya kecuali sepasang matanya yang tajam seperti mata iblis!

"Ssseeeee... tan… kau… setan..." Giam Kin tergagap.

Laki-laki itu tertawa. "Kau dan perkatanmu yang patut disebut setan!"

Dalam kaget dan gugupnya, Giam Kin kemudian meniup sulingnya. Ular-ular yang tadinya kacau-balau, mendadak menjadi marah dan menyerbu ke arah laki-laki bermuka hitam itu. Ular besar kecil, sebagian besar ular-ular berbisa yang amat berbahaya, mendesis-desis dan berlenggak-lenggok menyerbu.

Laki-laki muka hitam itu menggerak-gerakkan kedua tangannya ke depan dan... seperti daun-daun kering disapu ular-ular itu bergulung-gulung menjadi satu dan terlempar ke belakang, seekor pun tidak ada yang dapat mendekatinya!

Giam Kin mengeluarkan pekik mengerikan dan tubuhnya melayang ke depan. Sekaligus pemuda murid Siauw-ong-kwi ini mengirim serangan maut dengan suling ularnya, secara berturut-turut menikam leher dan menotok ulu hati.

"Heh-heh-heh, bocah nakal dan gila, jangan kau berani lagi mengacau di sini." Orang itu berkata perlahan.

Dengan sekali tangkis saja dia membuat suling itu menyeleweng dan tubuh Giam Kin terhuyung-huyung. Sebelum Giam sempat mempertahankan diri, tangan kira orang itu melayang.

"Plakk…!" pipi kanan Giam Kin sudah ditamparnya.

Giam Kin menjerit, merasa pipinya bagai terbakar. Pada pipi itu tampak jelas membayang bekas jari tangan menghitam! Sambil memaki-maki dan menjerit-jerit Giam Kin kemudian meloncat dan lari pergi dari tempat itu tanpa menoleh lagi, diikuti suara ketawa orang bermuka hitam yang menyeramkan tadi.

Setelah Giam Kin pergi jauh, muka yang tadinya hitam seperti pantat kwali itu perlahan-lahan berubah menjadi putih dan biasa kembali. Beng San tersenyum seorang diri. la tadi memang sengaja menggunakan hawa dalam tubuhnya yang mengandung Yang-kang untuk mendatangkan warna hitam pada mukanya agar tidak dikenal oleh Giam Kin dan sengaja dia menakut-nakuti pemuda edan itu agar tidak berani lagi mengganggu Thio Bwee.

Setelah melihat Giam Kin pergi, dia pun meloncat dan tubuhnya melesat ke arah puncak Hoa-san…..

********************
Pada bagian lain dari puncak itu, dua orang pemuda saling berhadapan dengan muka merah. Mereka ini adalah Thio Ki dan Kui Lok. Setelah pertemuannya dengan Kwa Hong di dalam taman, Thio Ki yang memiliki watak keras hati langsung mengejar dan mencari Kui Lok. Sekarang kedua orang jago muda Hoa-san-pai ini berhadapan muka di tempat sunyi, sikap mereka saling mengancam.

"Thio-heng (kakak Thio), apakah keperluanmu mencari aku ke sini hanya untuk menegur yang bukan-bukan itu?" Kui Lok bertanya dengan nada suara penuh ejekan.

"Sudah tentu!" jawab Thio Ki marah. "Kui-te (adik Kui), kita ini masih terhitung saudara seperguruan dan karena aku lebih tua, maka sudah sepatutnya kalau aku yang memberi peringatan apa bila kau menyeleweng dari kebenaran! Sungguh tidak patut apa bila kau mencoba untuk membujuk dan menggoda hati Hong-moi, sungguh tidak pantas sekali hal ini dilakukan oleh seorang murid Hoa-san-pai!"

Kui Lok tersenyum mengejek, malah sengaja tertawa masam. "He-heh-heh, bagus sekali ucapanmu, Suhengl Di dunia ini, mana ada orang berhak melarangku bersikap manis kepada Hong-moi? Ha-ha-ha, kau sendiri pun selalu bermuka-muka dan bersikap manis bukan main terhadap Kwa Hong. Mengapa aku tidak boleh?” Kui Lok menantang.

"Aku lain!" bentak Thio Ki. "Aku cinta kepadanya dan... dan... Kwa Supek agaknya setuju kalau aku berjodoh dengan Hong-moi."

Kui Lok tertawa mengejek. “Apa hanya engkau seorang di dunia ini yang boleh mencinta? Dan mengenai persetujuan Kwa Supek, hemmm... kita lihat dulu nanti, Suheng. Kurasa Hong-moi sendiri belum tentu setuju, dan kau belum bertunangan secara resmi."

Thio Ki yang berwatak keras itu tidak dapat lagi mengendalikan kemarahan hatinya yang dibangkitkan oleh rasa cemburu, "Kui Lok! Pendeknya mulai sekarang aku melarang kau mengaku mencinta Hong-moi, kularang kau bersikap terlalu manis!"

Kui Lok adalah seorang anak yang biasanya nakal dan gembira. Akan tetapi dalam urusan ini dia pun tidak mau mengalah dan sudah menjadi marah pula.

"Thio-heng, kau sungguh keterlaluan sekali. Ada hak apa kau melarang aku? Kau adalah suheng dari Hong-moi, aku pun demikian. Harapan kita masih setengah-setengah. Marilah kita berlomba secara jujur, siapa yang akhirnya bisa menjatuhkan hati Hong-moi, dialah yang beruntung. Kenapa kau bersikap begini kasar dan hendak main menang sendiri?"
"Cukup! Di sana ada Bwee-moi yang mengharapkanmu, kau malah mengganggu orang yang menjadi cahaya harapanku. Pendeknya, aku melarang kau mendekati Kwa Hong."
"Ehh..ehh..ehhh, enaknya bicara! Kalau aku tetap mendekatinya, kau mau apa?"

Thio Ki mencabut pedangnya. "Terpaksa aku melupakan persaudaraan!"
"Bagus! Orang she Thio, kau kira aku takut padamu?"

Kui Lok juga sudah mencabut pedang dengan tangan kirinya. Dua orang muda itu sudah saling berhadapan dengan pedang terhunus, bersiap untuk saling serbu, saling tikam dan saling bunuh.

Beginilah orang-orang muda kalau sudah dimabuk cinta. Lupa akan persaudaraan, lupa kewaspadaan dan tak tahu malu. Ya, tak tahu malu. Bukankah terang-terangan Kwa Hong menyatakan bahwa gadis ini tidak memilih seorang di antara mereka? Namun, tetap saja mereka memperebutkannya dengan persiapan mengorbankan nyawa.

"Bagus... bagus... Saudara Thio Ki dan Kui Lok, lekaslah kalian bertari pedang. Biarkan aku menontonnya, tentu indah dilihat." Beng San muncul dari balik sebatang pohon sambil bertepuk tangan dan tertawa-tawa.

Kui Lok dan Thio Ki yang tadinya sudah tegang dan siap untuk saling serang, menjadi terkejut dan menengok. Mereka melihat seorang pemuda tampan berpakaian sutera biru seperti seorang pemuda pelajar. Tentu saja mereka tidak mengenal Beng San yang dulu mereka kenal sebagai seorang anak yang berpakaian seperti jembel.

Namun karena mereka ini memang jago-jago muda Hoa-san-pai yang berwatak angkuh dan merasa diri sendiri paling gagah dan paling lihai, mereka segera merasa tidak senang dengan datangnya seorang asing ini.

"Kau siapa? Mau apa lancang masuk ke sini?" tanya Thio Ki mengerutkan keningnya. Juga Kui Lok memandang tajam dengan mata dipelototkan untuk memperlihatkan ketidak senangan hatinya.

Beng San tertawa, wajahnya berseri-seri. "Saudara-saudara Thio dan Kui agaknya sudah lupa lagi kepadaku. Padahal belum ada sepuluh tahun kita berpisah. Aku Beng San."

Thio Ki dan Kui Lok saling pandang, untuk detik itu lenyap permusuhan di antara mereka. Terang bahwa mereka heran melihat Beng San yang sekarang sudah berubah menjadi seorang pemuda yang bertubuh tegap dan berwajah tampan.

"Uuuhhhhh... Beng San...?" Thio Ki berkata dengan suara menghina.
"Hemmm, kau di sini? Mau apa kau ke sini? Kau mengintai kami, ya?" berkata Kui Lok dengan nada mengancam.
"Ah, tidak. Aku datang dan melihat kalian hendak bermain pedang, sungguh aku jadi ingin melihatnya. Dahulu pun kalian sangat pandai, apa lagi sekarang, tentu indah permainan pedang kalian."

Kembali Kui Lok dan Thio Ki saling pandang dan keduanya menjadi curiga. Tentu Beng San sudah mendengar pertengkaran mereka tadi!

"Kau tadi sudah lama mengintai kami? Juga mendengar apa yang kami bicarakan?" Thio Ki menuntut.

Beng San tersenyum. "Tidak tahu, agaknya kalian bicara tentang angin atau burung."

la sengaja mengatakan demikian tanpa menyinggung nama Kwa Hong, sedangkan kata ‘Hong’ dapat diartikan sebagai angin atau juga nama burung hong!

Thio Ki yang keras hati itu timbul kembali keangkuhannya. "Beng San, kau sangat kurang ajar. Orang macam kau ini mengapa berani muncul di sini tanpa ijin? Kau patut dipukul."

"Benar, Suheng. Kita pukul saja jembel ini biar dia minggat dari sini!" kata Kui Lok yang teringat betapa dahulu bersama Thio Ki dia pernah memukuli Beng San.

Dua orang pemuda itu melangkah maju dan tangan mereka melayang untuk menampar pipi dan memukul pundak Beng San. Bagaimana pun juga, sebagai jago-jago muda dari Hoa-san mereka tidak sudi membunuh orang yang lemah, hanya memukul untuk memberi hajaran saja dan untuk mengusir Beng San.

"Ehh, ehh, ehhh... kenapa main pukul? Aku tidak bersalah apa-apa..."

Beng San terhuyung-huyung ke belakang setelah terkena gamparan dan pukulan. Tentu saja serangan-serangan yang dilakukan tidak untuk membunuhnya ini sama sekali tidak dia rasakan, akan tetapi dia pura-pura kesakitan dan terhuyung-huyung ke belakang.

Thio Ki dan Kui Lok tidak peduli. Mereka mendesak terus hendak memukuli Beng San sampai pemuda itu melarikan diri.

Beng San pura-pura mengangkat kedua tangan melindungi kepala dan mukanya sambil berteriak-teriak, ”Jangan pukul... jangan pukul!"

"Ki-ko dan Lok-ko, siapa yang kalian pukuli itu?" Tiba-tiba Kwa Hong sudah berdiri di situ. Wajah dara ini agak pucat, apa lagi ketika ia melihat bahwa di tangan Thio Ki dan Kui Lok masih memegang pedang terhunus.

Memang ketika memukuli Beng San, Kui Lok masih memegang pedang dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanan Thio Ki juga masih memegang pedang.....


Kedatangan Kwa Hong itu sebetulnya karena ia merasa amat gelisah, takut kalau-kalau dua orang pemuda itu mengadu nyawa. Maka pada waktu melihat mereka memegang pedang, ia menjadi khawatir sekali. Hanya ia merasa terheran-heran mengapa dua orang pemuda itu malah memukuli seorang pemuda yang kelihatan lemah dan tidak pandai ilmu silat.

Thio Ki dan Kui Lok dengan muka merah karena jengah lalu meloncat mundur. Setelah dua orang pemuda yang keranjingan itu mundur, barulah Beng San berani menurunkan kedua tangan dari mukanya. la memandang Kwa Hong, sebaliknya gadis itu memandang kepadanya. Dua pasang mata bertemu, dari pihak Beng San penuh kekaguman.

Sekarang dia dapat melihat jelas keadaan Kwa Hong. Benar-benar melebihi yang sering kali dia bayangkan. Cantik molek dan gagah perkasa. Sepasang mata yang beningnya melebihi mata ikan emas, rambut yang hitam mengkilap, alis yang panjang kecil dan hitam sekali di atas kulit muka yang putih kemerahan, hidung yang kecil, mulut yang manis, ah... bukan main, sekarang Kwa Hong si kuntilanak itu sudah berubah menjadi seorang dara yang jelita.

Di pihak Kwa Hong, sinar mata gadis ini perlahan-lahan berseri-seri, mulutnya tersenyum lucu ketika ia mengenal Beng San, lalu terbukalah bibirnya berkata setengah tertawa.

"Kau... kau... ehh, si bunglon...!"

Beng San cemberut. "Benar," katanya dingin, "dan kau si kuntilanak masih tetap galak..."

Thio Ki dan Kui Lok melangkah maju, hendak memukul lagi. Akan tetapi Kwa Hong yang sudah maklum akan maksud mereka, segera mendahului.

"Aha, Beng San. Benar-benar kaukah ini? Eh, Ki-ko dan Lok-ko, apakah kalian lupa? Dia ini Beng San. Hi-hi-hi, benar Beng San...!" Serta merta Kwa Hong melangkah maju dan memegang tangan Beng San, mengamat-amati wajah pemuda itu yang seketika menjadi agak kemerahan.
"Hi-hi-hi, kau Beng San yang bisa berubah-ubah mukamu. Benar, kau sudah menjadi... orang sekarang. Ahh, hampir aku pangling kalau tidak melihat matamu. Kau dari mana? Hendak ke mana? Ada keperluan apa datang ke sini?"

Bingung juga Beng San dihujani petanyaan dari mulut yang manis itu.

"Aku... aku sengaja datang, mendengar bahwa Hoa-san-pai akan mengadakan perayaan seratus tahun. Aku datang sampai ke sini, lalu melihat dua saudara Thio dan Kui bertari pedang. Mereka agaknya tidak mengenalku, dan menyangka aku orang jahat maka aku hendak dipukuli. Baiknya kau keburu datang... ehhh, Nona Hong...”

Kwa Hong tertawa. Lega bahwa dua orang suheng-nya itu tidak jadi mengadu nyawa. la seorang yang cerdik sekali. Tentu dua orang suheng itu tadinya memang sudah hendak bertempur, buktinya sudah mencabut pedang. Kalau hanya menghadapi seorang lemah seperti Beng San, tidak mungkin kedua jago muda itu menghunus pedang. Tentu selagi mereka hendak bertempur, tiba-tiba datang Beng San, kemudian membuat mereka marah dan memukulinya.

"Bagus sekali kau datang, Beng San. Apakah kau sudah bertemu dengan ayah? Dengan sukong? Mereka tentu terheran-heran melihat kau datang. Baik sekali kau mau datang, jadi tidak melupakan hubungan lama." Dengan ramah-tamah Kwa Hong bicara.

Dua orang kakak seperguruannya memandang dengan hati penuh cemburu dan iri hati. Tak pernah Kwa Hong memperlihatkan sikap demikian manis terhadap mereka.

"Ki-ko dan Lok-ko, masa kalian tidak mengenalnya. Lihat itu sepasang matanya, mana ada orang lain bermata seperti dia? Mestinya kalian mengenalnya dan tidak memukulnya. Dia jauh-jauh sudah datang untuk menghadiri perayaan, menjadi seorang tamu, masa harus dipukuli? Kalian benar-benar sembrono sekali. Apa bila terdengar oleh ayah atau sukong, bukankah kalian mendapat marah?"

Tiba-tiba Kwa Hong berhenti bicara karena mendengar suara kaki mendatangi, dan tidak lama kemudian muncullah Thio Bwee, Kwa Tin Siong, dan Liem Sian Hwa. Mereka bertiga ini baru saja kembali dari tempat di mana mereka bertemu dengan Giam Kin.

Karena baru saja ada seorang pemuda membuat onar, kini melihat bahwa tiga orang anak murid Hoa-san-pai berdiri berhadapan dengan seorang pemuda asing lagi, segera Kwa Tin Siong menjadi curiga dan cepat menghampiri sambil memandang tajam.

"Siapakah saudara muda yang asing ini?" tanyanya.

Kwa Hong lari menghampiri ayahnya, memegang tangan ayahnya dengan sikap manja. "Ki-ko dan Lok-ko, jangan beri tahu ayah dulu! Ayah, coba lihat baik-baik, dan Bibi juga. Kau pun lihatlah baik-baik Enci Bwee, perhatikan dia dan coba katakan, siapa dia ini?"

Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa memandang penuh perhatian, akan tetapi dua orang anggota Hoa-san Sie-eng ini tak dapat mengenali pemuda tampan berbadan tegap yang berpakaian seperti seorang pelajar itu. Terlalu banyak persoalan dan urusan yang sangat meruwetkan pikiran, membuat mereka sama sekali tak dapat ingat lagi kepada Beng San.

Akan tetapi tidak demikian dengan Thio Bwee. Seperti juga Kwa Hong, gadis ini dahulu pernah ditolong oleh Beng San. Biar pun ia tak pernah mengenangkan Beng San, namun kiranya wajah pemuda ini tak dapat ia lupakan begitu saja.

"Bukankah kau... kau saudara Beng San?" tanyanya penuh ragu karena biar pun ia masih mengenal pemuda yang bermata tajam dan aneh ini, namun dia tetap ragu-ragu melihat pemuda ini seperti seorang terpelajar.

la tidak ingat bahwa Beng San yang dulu, yang berpakaian buruk itu, memang semenjak kecil adalah seorang yang pandai baca tulis, jauh lebih pandai dari pada dia sendiri mau pun para murid Hoa-san-pai yang lain. Karena itulah sukong-nya, Lian Bu Tojin, sayang kepada Beng San dan dijadikan kacungnya dan diberi pelajaran tentang kebatinan To.

Kwa Hong tertawa. "Enci Bwee masih ingat." la memuji.

Beng San juga tersenyum sambil menjura kepada Thio Bwee sebagai penghormatan.

"Ahh, benar... kau Beng San...!" Kwa Tin Siong juga teringat sekarang setelah mendengar kata-kata Thio Bwee. Juga Liem Sian Hwa teringat dan memandang kagum ketika Beng San menjura untuk memberi hormat kepada mereka.

Kwa Tin Siong lalu teringat akan peristiwa dahulu, ketika kedua orang saudara Bun dari Kun-lun-pai tewas di Hoa-san-pai dan bagaimana sikap Beng San yang membela pihak Kun-lun. Walau pun ucapan bocah ini dahulu ternyata cocok dengan keadaannya, yakni bahwa Ngo-lian-kauw yang melakukan fitnah sehingga dua partai besar itu bermusuhan, akan tetapi sikap bocah ini dahulu sudah mencurigakan. Kenapa ia membela Kun-lun-pai sedangkan bocah itu mondok di Hoa-san?

"Beng San, kau dulu yang sudah meninggalkan kami, sekarang kau datang ke sini dengan maksud apakah?" tanya Kwa Tin Siong, suaranya membayangkan kecurigaan.

Kwa Hong memandang ayahnya dengan kening berkerut dan dia menoleh ke arah Beng San, pandang matanya penuh kekhawatiran. Akan tetapi pemuda itu tersenyum penuh arti kepadanya, meminta supaya dara itu jangan khawatir. Kemudian dia menjura kepada Kwa Tin Siong dan berkata.

"Kwa-enghiong, mohon maaf sebanyaknya bila kedatangan saya ini merupakan gangguan terhadap Lo-enghiong sekalian. Sesungguhnya kedatangan saya ke Hoa-san ini memiliki dua maksud. Pertama, karena saya merasa amat rindu kepada Lian Bu Totiang dan para Lo-enghiong sekalian, kedua kalinya, karena dalam perjalanan saya mendengar bahwa sebentar lagi Hoa-san-pai hendak merayakan ulang tahun, maka saya sengaja datang hendak memberi selamat dan menonton keramaian. Betapa pun juga, saya masih belum lupa akan kebaikan budi Lian Bu Totiang sekalian yang dulu sudah sudi menerima saya menjadi kacung di sini." Ucapan Beng San terang sekali amat merendahkan diri.

Dua orang pemuda Hoa-san-pai mendengarkan sambil bersikap angkuh. Hanya bekas kacung, perlu apa diladeni? Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa mendengarkan dengan hati senang menyaksikan sikap yang amat sopan santun dari Beng San, sedangkan Thio Bwee dan Kwa Hong memandang dengan mata berseri. Dua orang dara ini mana bisa melupakan ketika Beng San memanggul mereka seorang satu di kedua pundak ketika menyeberangi rawa-rawa?

Dan sekarang Beng San telah menjadi seorang pemuda yang tampan dan tegap, bahkan bagi Kwa Hong, di dalam lubuk hati kecilnya, dia mengakui bahwa dibandingkan dengan dua orang suheng-nya, dalam hal ketampanan Beng San jauh lebih menang!

Dulu, dalam pergaulannya dengan Beng San, Kwa Hong memandang Beng San sebagai seorang anak perempuan nakal memandang seorang bocah laki-laki yang dianggapnya nakal pula. Akan tetapi sekarang, pandang matanya adalah pandang mata seorang dara remaja terhadap seorang jejaka. Tentu jauh berbeda.

"Bagus sekali kalau kau masih ingat kepada kami, Beng San. Tetapi kedatanganmu agak terlampau pagi. Perayaan baru diadakan sepekan kemudian. Biarlah sementara itu kau berada di sini. Mari kubawa kau pergi menghadap suhu."

Beramai-ramai mereka semua kembali ke puncak. Hanya Thio Ki beserta Kui Lok yang merasa tidak puas. Pertama karena urusan di antara mereka belum juga diselesaikan, kedua kalinya mereka merasa iri hati dan cemburu menyaksikan Beng San anak jembel itu sebagai tamu, apa-lagi ketika melihat sikap Kwa Hong yang tersenyum-senyum dan amat manis terhadap Beng San.

Beng San dengan hati terharu melihat bahwa Lian Bu Tojin, kakek tua ketua Hoa-san-pai yang baik hati itu sekarang kelihatan sangat tua. Mukanya berkerut-kerut tanda bahwa di hari tuanya kakek ini menderita tekanan batin yang hebat. Beng San dapat menduga bahwa yang menyebabkan ini semua tentulah pertentangan dengan pihak Kun-lun-pai itu. la cepat menjatuhkan diri berlutut memberi hormat.

"Totiang yang mulia, teecu Beng San datang menghadap dan memberi hormat, semoga Totiang selalu bahagia dan panjang usia."

Lian Bu Tojin, ketua Hoa-san-pai, kelihatan lebih tinggi dan lebih kurus dari pada delapan tahun yang lalu. Tongkat bambu yang butut masih selalu dipegangnya dan tangan kirinya mengelus-elus jenggotnya yang panjang, dan yang sekarang sudah hampir putih semua. la mengangguk-angguk dan tersenyum senang.

"Ah, Beng San, kau mengingatkan pinto akan kejadian dahulu." la menarik napas panjang. "Ternyata kau jauh lebih waspada dari pada pinto. Kalau saja pinto dahulu mendengarkan omonganmu ketika kau masih kecil... ahh, kau benar, memang Hoa-san-pai telah menjadi kotor, menanam permusuhan. Baiknya kau pergi dari sini, kalau tidak, kiranya kau pun akan terseret." Tosu itu menarik napas berulang-ulang dan nampaknya berduka.

Beng San merasa kasihan sekali.

"Totiang, tidak baik kalau bersedih dalam usia tua! Teecu teringat akan ujar-ujar dalam To-tek-keng yang berbunyi: ‘Aku menderita karena memiliki diri. Andaikan tak memiliki diri, penderitaan apa yang dapat kualami?’ Bukankah demikian, Totiang?”

Tosu tua itu tertawa. “Bagus! Kalimat dalam ujar-ujar nomor tiga belas! Memang demikian adanya, Beng San. Mala petaka menimpa manusia hanya semata-mata karena manusia selalu mementingkan diri sendiri. Karena manusia mementingkan diri pribadi maka selalu hendak menang, selalu ingin senang sendiri, enak sendiri tanpa mempedulikan keadaan lain orang. Ingatkah kau akan beberapa kalimat dalam ujar-ujar nomor dua puluh tiga?"

Beng San berpikir dan menghubungkan kalimat-kalimat dalam ujar-ujar yang dulu sudah dihafalnya baik-baik itu dengan keadaan yang dihadapi oleh tosu in. la lalu menjawab,

"Apakah yang Totiang maksudkan itu kalimat-kalimat yang berbunyi:
‘Angin keras takkan berlangsung sepenuh pagi,
hujan lebat takkan berlangsung sepenuh hari.
Siapakah penyebab ini selat edar pada langit dan bumi?
Kalau langit dan bumi pun tidak dapat berbuat tanpa henti,
apa lagi seorang manusia?’
Demikian yang teecu ingat, Totiang."

"Ha-ha-ha, bagus sekali, Beng San. Ahh, memang kau lebih benar. Seribu kali lebih baik mempelajari filsafat tetapi mengerti, sadar, serta menuruti inti sarinya disesuaikan dalam hidup, dari pada mempelajari segala macam ilmu kasar seperti ilmu silat yang akhirnya hanya mendatangkan mala petaka dan permusuhan belaka...” Kembali dia menarik napas panjang. Kemudian wajahnya kembali berseri ketika dia bertanya, "Bagaimana, anak yang baik, bagaimana kabarnya dengan Lo-tong Souw Lee? Apakah jago tua yang sakti itu pun masih kuat menentang kehendak alam?"
"Tidak ada kekekalan di dunia ini, Totiang. Lo-tong Souw Lee sudah kembali ke tempat asalnya, beberapa bulan yang lalu."
"Ahhh, ke sanalah jua tujuan akhir dari hidup. Siapa kuat melawannya? Baik dia raja mau pun jembel, semua akan berakhir sama. Pertentangan? Pertempuran mati-matian? Yang kalah akan mati, apakah kiranya yang menang akhirnya takkan mati juga? Menang kalah hanyalah soal sementara, kalau sudah seperti Lo-tong Souw Lee, di mana pula letaknya kemenangan dan kekalahan? Aaahhh, kalau manusia ingat akan hal ini..."

Beng San merasa betapa kata-kata ini amat mendalam artinya dan dia yang sejak kecil memperhatikan filsafat, jadi termenung. Keadaan di ruangan itu menjadi sunyi. Pada saat menghadap ini, Beng San menghadap seorang diri, karena semua murid Hoa-san-pai pun maklum bahwa tanpa diundang mereka sama sekali tidak boleh mengganggu kakek itu.

"Kedatanganmu ini apakah hanya untuk menengok kami?" mendadak kakek itu bertanya setelah sadar dari lamunannya.
"Teecu mendengar berita bahwa Hoa-san-pai hendak merayakan ulang tahunnya yang ke seratus, maka teecu sengaja datang ke mari untuk memberi selamat dan juga menonton keramaian."

"Tidak diperingati berarti tidak menghormati kepada pendiri Hoa-san-pai. Diperingati pasti akan memancing datangnya kekeruhan. Pada jaman yang keruh ini, setiap peristiwa akan memancing datangnya peristiwa lain yang selalu memusingkan. Beng San, pinto memiliki firasat bahwa dalam perayaan sepekan kemudian ini pasti akan terjadi hal-hal yang tidak enak. Pertentangan antara kami dan Kun-lun-pai semakin menjadi-jadi, makin diperpanas oleh para anak murid kedua pihak. Aku mendengar desas-desus bahwa Pek Gan Siansu sendiri akan datang. Baik sekali kalau demikian, kami orang-orang tua tentu akan dapat membikin perhitungan secara damai. Kau seorang anak yang mendalam pengertianmu, Beng San. Pinto girang sekali kau datang, kau tinggallah di sini dan kau menjadi saksi dari usaha kami orang-orang tua mencari jalan damai. Dengan hadirmu di sini, pinto merasa lebih tenang."

Beng San merasa heran sekali. Apa gerangan yang mendatangkan perasaan ini di dalam hati Lian Bu Tojin? la merasa bangga dan juga berterima kasih sekali, karena itu tanpa ragu-ragu dia berkata, "To-tiang, percayalah, teecu yang bodoh pasti akan membantu dan menyokong pendirian Totiang yang mulia ini.”

"Beng San, apakah kau sudah mewarisi kepandaian Lo-tong Souw Lee?" pertanyaan ini tiba-tiba diajukan.

Ketika Beng San mendongak, ia terkejut sekali melihat sepasang mata tua itu mencorong dengan tajamnya memandang matanya penuh selidik.

Celaka, pikirnya. la hendak menyembunyikan kepandaiannya, dan dia pun tidak mungkin dapat berbohong kepada kakek ini.

"Semenjak kecil teecu amat suka mempelajari filsafat. Selama teecu berkumpul dengan Lo-tong Souw Lee, kiranya semua petuah dan wejangan orang tua itu telah teecu pelajari dengan baik." Jawabannya menyimpang dan dia berpura-pura tidak tahu menahu tentang maksud pertanyaan tadi yang tentu saja dimaksudkan pelajaran ilmu silat.
"Kau tidak mempelajari ilmu silat?" Sifat pertanyaan ini menggirangkan hati Beng San. la tak usah berbohong lagi sekarang.
"Teecu memang pernah mempelajari satu dua macam pukulan, akan tetapi tidak pantas disebut-sebut di depan Totiang."

Kakek itu menarik napas panjang. "Kau benar. Ilmu silat tidak patut dibicarakan, karena pada akhirnya hanya mendatangkan keributan belaka. Andai kata Hoa-san-pai dulu tidak mengembangkan ilmu silat, kiranya sampai sekarang pun Hoa-san-pai takkan mempunyai musuh..."

Mulai hari itu, Beng San diperkenankan tinggal di Hoa-san, malah mendapat kehormatan untuk tinggal satu rumah dengan Lian Bu Tojin. Kakek ini sangat suka bercakap-cakap dengan Beng San yang juga amat rajin. tidak melupakan pekerjaannya yang dahulu, yaitu dia dengan tekun membersihkan tempat tinggal kakek itu, melayani segala keperluan Lian Bu Tojin.

Pada suatu hari, Lian Bu Tojin yang melihat Beng San mencuci lantai rumahnya, menarik napas panjang, mengelus-elus jenggotnya dan berkata.

"Sayang kau tidak suka ilmu sitat, Beng San. Kalau kau suka, pinto tentu akan merasa senang dan lega sekali menarik kau menjadi murid pinto. Kau memenuhi syarat-syarat untuk menjadi murid terbaik. Kau mengenal bakti, mengenal pribudi, mengenal kesetiaan dan wawasanmu tepat, pandanganmu jauh dan luas. Pinto benar-benar mengharapkan bantuanmu dalam menghadapi cobaan pada beberapa hari yang akan datang ini. Kiranya pandanganmu dan kata-katamu akan dapat membantu banyak untuk meredakan semua ketegangan.”
"Akan teecu coba sekuat tenaga teecu, Totiang," demikian jawaban Beng San, jawaban yang keluar dari lubuk hatinya.

Sementara itu, sikap Thio Ki dan Kui Lok masih tetap angkuh sekali terhadap Beng San. Kwa Hong dan Thio Bwee bersikap manis, akan tetapi juga kelihatan memandang rendah. Tentu hal ini karena mereka berempat merasa menjadi murid-murid Hoa-san-pai yang mempunyai ilmu silat tinggi, sedangkan Beng San itu pemuda apakah?

Lemah dan ‘hanya pandai membersihkan lantai’, kata Thio Ki. Bahkan Kui Lok pernah menyatakan kekhawatirannya bahwa Beng San yang pandai menjilat-jilat itu kelak akan membujuk Lian Bu Tojin untuk menurunkan ilmunya.

"Ha-ha-ha, andai kata dia pandai menjilat dan berhasil membujuk, tanpa memiliki dasar ilmu silat, mana dia bisa berlatih?"

Kadang-kadang kalau Beng San berada di taman, keempat orang murid Hoa-san-pai ini berlatih silat dengan sungguh-sungguh. Memang hebat ilmu pedang mereka, setiap orang memiliki gaya masing-masing dan keampuhan tersendiri. Agaknya mereka sengaja ingin memamerkan kepandaian mereka di depan Beng San dan pemuda ini cukup cerdik untuk memperlihatkan muka kagum. Malah pada suatu hari, setelah melihat Thio Ki dan Kui Lok bermain pedang, dia berkata.

"Aduh... aduh, sampai silau mataku, pening kepalaku... tarian pedang saudara Thio dan saudara Kui hebat bukan main! Hebat, seperti kilat menyambar-nyambar!"

Thio Ki dan Kui Lok girang juga mendengar pujian ini. Biar pun mereka kadang-kadang masih merasa iri hati dan cemburu melihat sikap Kwa Hong yang manis terhadap Beng San, namun mereka tidak berani memukuli lagi karena Kwa Hong mengancam demikian.

"Kalau kalian berani mengganggu Beng San lagi, aku akan melaporkan kepada sukong. Kalian tahu, sukong amat sayang kepadanya!"

Bangunan darurat yang didirikan oleh para tosu Hoa-san-pai sudah hampir selesai. Waktu yang ditentukan kurang dua hari lagi. Beng San selalu turun tangan membantu para tosu sehingga para tosu juga merasa suka kepada pemuda yang sopan, merendah dan ringan tangan ini.

Sore hari itu sebelum gelap bulan sudah muncul, merupakan bola merah yang amat besar dan indah. Beng San baru saja mandi setelah sehari sibuk membantu para tosu menghias halaman depan.

"Beng San, mengapa kau sembunyi saja?" tiba-tiba dia mendengar suara. Ternyata Kwa Hong yang datang, lalu gadis ini bisik-bisik, "Di mana sukong?" Gadis ini memang paling takut terhadap Lian Bu Tojin.

"Totiang berada di dalam, sedang siulian," bisik Beng San kembali.

Kwa Hong menaruh jari di depan bibirnya, lalu memberi isyarat supaya Beng San keluar. Setibanya di luar ia berkata, "Beng San, semenjak datang kau sibuk dengan sukong atau dengan para supek menghias puncak. Kau sama sekali tidak peduli kepadaku. Kenapa?"

Beng San tersenyum. la lalu menatap wajah yang hebat itu, wajah yang sekarang agak cemberut memandang kepadanya, sepasang mata yang bening bercahaya memandang penuh selidik.

"Nona Hong..."
"Apa itu nona-nonaan segala? Sudah kukatakan beberapa kali, aku memanggil kau Beng San saja, kau pun tidak boleh pakai nona-nonaan segala macam!"
"Habis, bagaimana?"
"Semua orang memanggil aku Hong Hong, kau pun harus begitu."
”Baiklah Hong Hong... tentang pertanyaanmu tadi, sebagai tamu tentu saja aku harus melayani totiang dan membantu para tosu di sini. Tentang kau... bukankah kau sudah ada tiga orang teman baik? Aku... aku bodoh dan lemah, mana kau suka bicara dengan aku?"
"Rendah hati! Selalu rendah hati, ke mana kenakalanmu yang dulu? Aku lebih suka kau seperti dulu. Berani dan sombong! Eh, Beng San, tahukah kau?" Gadis itu mendekat dan bicaranya bisik-bisik, "Menghadapi perayaan seratus tahunan ini, sukong dan ayah telah menganjurkan kami semua ciak-jai (makan sayur pantang barang berjiwa). Wah, setengah mati aku. Harus satu bulan penuh ciak-jai, mana aku kuat? Tadi aku melihat di sana... ada kelinci gemuk sekali. Hayo kau temani aku ke sana, aku yang tangkap kelinci, kau yang memanggangnya, aku yang makan."

Menghadapi seorang dara seperti ini, mana bisa orang bersikap dingin dan pendiam? Demikian pun Beng San. Timbul kenakalannya yang dahulu. Kalau dituruti saja gadis ini, bisa-bisa dia disuruh menggunduli kepalanya sendiri!

"Enaknya kau ini! Kalau kau ingin makan daging, pergi kau tangkap sendiri, kau masak sendiri. Sesudah matang, barulah kau panggil aku dan beri bagian. Sebagai tamu sudah sepantasnya aku menerima jamuanmu."

"Eh, banyak bantahan, bodoh kau! Bukannya karena aku tidak bisa memanggang sendiri. Aku minta bantuanmu karena kalau sampai ketahuan sukong, aku tidak akan mendapat marah. Bukankah kau yang memanggang daging dan bukan aku? Kau tolonglah aku, aku sudah kemecer (ingin sekali)...!"

Beng San tersenyum menggoda "Kalau aku tidak mau...?"

Mulut yang manis itu cemberut. "Kalau tak mau, aku akan maki kau... bung..." la berhenti dan tidak melanjutkan makiannya. Beng San tahu bahwa dia akan dimaki bunglon, maka dia tertawa.

"Nona... ehh, Adik Hong. Kau ini aneh. Punya teman baik tiga orang di sini, kenapa tidak mengajak mereka? Kenapa kau mengajak aku bersekongkol. Ajaklah mereka bertiga itu."

"Huh, kau tahu apa? Mereka bertiga itu tidak mempunyai nyali."

"Tidak punya nyali? Apa maksudmu?"

"Mana mereka berani untuk melanggar larangan sukong? Hayolah, kau jangan putar-putar omongan. Kau mau atau tidak?"

Tentu saja tidak mungkin bilang ‘tidak mau’ terhadap desakan seorang dara seperti Kwa Hong.

"Baiklah... baiklah..." Beng San berkata dan serentak Kwa Hong memegang lengannya terus menariknya dan mengajaknya lari cepat sekali.
"Ehh... ehh... bagaimana ini... ihh, Nona... ehh, Hong Hong, aku jatuh nanti..." Beng San berteriak-tenak lirih.
"Cepat sedikit kenapa sih? Kau ini laki-laki atau perempuan?"

Jantung Beng San berdebar. Teringat dia akan gadis baju hijau bernama Eng. Kenapa sama benar pendapat Eng dan Hong? Eng dahulu juga bertanya seperti itu.

"Kau lihat saja sendiri. Aku ini laki-laki atau perempuan?" balasnya seperti dulu pula ketika dia menjawab pertanyaan Eng.

Gadis baju hijau itu dahulu mengatakan bahwa dia bukan laki-laki bukan perempuan, tapi banci. Apa yang akan dikatakan Kwa Hong?

Kwa Hong tertawa, lalu membetot lagi tangan Beng San diajak lari melalui tempat yang tersembunyi. "Tentu saja kau laki-laki, tapi laki-laki yang lemah melebihi perempuan."
"Kau tidak suka? Kau kecewa melihat aku lemah seperti perempuan?"
"Tidak... tidak...! Aku malah suka melihat kau lemah seperti ini. Laki-laki yang memiliki kepandaian selalu banyak tingkah, berlagak pandai dan gagah sendiri. Cih, menjemukan malah. Kalau kau berkepandaian tentu kau pun akan berubah tingkahmu, tentu berlagak dan sombong seperti... seperti..."
"Seperti Kui Lok dan Thio Ki?" Beng San menyambung.

Kwa Hong melepaskan tangannya. Kini mereka berdiri berhadapan di bawah sinar bulan purnama, saling pandang.

"Kenapa kau berkata begitu?" tuntut Kwa Hong.
"Mudah saja. Kau hanya melihat dua orang itu di sini, tentu merekalah yang kau jadikan perbandingan. Akan tetapi kau keliru, Adik Hong yang manis. Banyak di dunia ini laki-laki berkepandaian yang tidak sombong seperti mereka."
"Coba ulangi lagi..."
"Ulangi apa?"
"Sebutanmu terhadapku tadi..."
"Adik Hong yang manis?"

Kwa Hong tertawa girang, matanya berseri memandang kepada Beng San. Pemuda ini merasa kagum dan heran akan kepolosan hati gadis ini. Masih seperti kanak-kanak saja, begitu girang kalau dipuji. Ia tidak ingat sama sekali betapa Kwa Hong tidak senang, malah nampak marah dan bosan ketika dipuji-puji oleh Kui Lok dan Thio Ki. Kini gadis itu tertawa-tawa memandang padanya, dengan mukanya yang menjadi merah dan matanya yang bersinar-sinar.

"Beng San, tidak bohongkah kau?"
"Bohong tentang apa?"
"Bahwa aku manis... betulkah itu?"

Beng San merasa geli. Wanita memang amat aneh, kadang-kadang seperti kanak-kanak, sewaktu-waktu malah seperti kaum ibu. "Tentu saja kau manis, kau cantik sekali, Hong Hong. Ketika melihatmu, hampir aku tidak mengenalmu lagi."

"Kau dulu bilang aku seperti kuntilanak...”

Beng San tertawa ditahan. "Habis, kau pun memaki aku seperti bunglon sih. Apa mukaku benar-benar seperti bunglon? Hayo katakan!"

Kwa Hong berhenti melangkah, menoleh dan memandang kepada Beng San.

"Tidak, dulu memang kau buruk sekali, lebih buruk dari pada seekor bunglon! Akan tetapi sekarang... hemmm, jika saja kau pandai silat, kiranya kau lebih gagah dan ganteng dari pada Lok-ko atau pun Ki-ko.”

Muka Beng San menjadi merah juga menerima pujian yang begini terus terang dari Kwa Hong. Gadis ini memang polos dan jujur bukan main. Mereka berlari lagi.

”Hayo cepatan sedikit, takut kemalaman," kata Kwa Hong sambil mempercepat larinya.
”Nah, itu dia...”

Mata Kwa Hong yang tajam sudah melihat beberapa ekor kelinci berlari-larian menyusup rumpun ilalang. Cepat ia mengejar. Akan tetapi binatang-binatang itu meski pun kakinya pendek-pendek, ternyata dapat berlari cepat dan gesit sekali. Ditubruk sana menyusup sini, dicegat sini lari ke sana. Sambil tertawa-tawa Kwa Hong seperti anak kecil mengejar-ngejar kelinci dan memilih yang paling gemuk.

Beng San menjadi gembira juga melihat ini. Timbul sifat kanak-kanaknya dan dia pun ikut tertawa-tawa serta mengejar ke sana-sini. Tetapi kelinci yang paling gemuk lari ke tengah hutan, dikejar Kwa Hong. Beng San juga mengejarnya. Kelinci itu memang amat gemuk lagi pula masih muda dan bulunya putih bersih. Tentu enak lunak dan sedap dagingnya.

Di bawah sebatang pohon besar Kwa Hong berhasil menangkap kelinci, dipegang pada dua telinganya. Gadis itu tertawa-tawa gembira, sambil tangannya memegangi binatang yang meronta-ronta itu.

"Nah, akhirnya dapat yang gemuk ini. Beng San, nih kau bawa dan kau yang bertugas menyembelih dan memanggangnya!”

Sambil tertawa Beng San menerima kelinci itu. Tiba-tiba terdengar auman keras sekali sampai bumi yang mereka pijak seakan bergetar, daun-daun pohon bergoyang-goyang dan yang kering rontok berhamburan. Kwa Hong menjadi pucat dan segera mencabut pedangnya.

"Beng San... cepat kau panjat pohon ini," la mendorong-dorong tubuh Beng San arah batang pohon, dia sendri menjaga keselamatan Beng San dengan pedang di tangan.
”Kenapa aku mesti memanjat pohon?"
"Rewel kau! Ada harimau... biar aku melawannya, tetapi kau... kau harus memanjat pohon. Susah kalau melawan dan sekaligus melindungimu..." Gadis itu berbisik, matanya tetap memandang ke arah gerombolan alang-alang yang sudah mulai bergerak-gerak.

Beng San tersenyum geli dan juga kagum disertai terima kasih. Betapa pun galaknya, gadis ini ternyata berhati baik terhadapnya. Seorang diri hendak menghadapi harimau, sedangkan dia disuruh menyelamatkan diri di atas pohon! Gadis mana segagah ini? 

Karena Kwa Hong sedang mencurahkan perhatiannya ke arah gerombolan alang-alang, gadis ini tidak melihat betapa dengan amat mudahnya, sambil membawa kelinci itu, Beng San sebentar saja sudah duduk di atas dahan pohon yang tinggi.

Dugaan Kwa Hong segera terbukti. Seekor harimau perlahan-lahan muncul dari belakang gerombolan alang-alang itu. Beng San sampai terkejut melihatnya. Harimau yang besar sekali, sebesar anak sapi. Kepalanya besar, matanya sipit berkilauan, taringnya sengaja diperlihatkan dan kulitnya loreng-loreng agak putih.

"Hati-hatilah kau... Hong-moi (adik Hong)...!" kata-kata ini keluar dari hati Beng San.

Pemuda ini belum pernah menghadapi seekor harimau yang kelihatan begitu mengerikan, tentu saja dia menjadi gelisah sekali. Biar pun dia sudah maklum bahwa dirinya memiliki bekal ilmu yang tinggi dan tenaga yang hebat, namun karena belum pernah berhadapan dengan binatang buas sebesar itu, dia merasa khawatir akan keselamatan Kwa Hong.

Kwa Hong mengangkat tangan kiri ke arah Beng San dengan maksud supaya pemuda itu tenang dan jangan khawatir. Hatinya lega mendengar suara Beng San dari atas, tanda bahwa pemuda itu sudah berada di atas pohon.

Akan tetapi, agaknya gerakan tangan kirinya itu menjadi isyarat bagi sang harimau untuk bergerak. Dengan suara geraman hebat, tubuhnya yang tadi agak mendekam sekarang meloncat tinggi menerkam ke arah Kwa Hong dengan tenaga yang dahsyat.

”Awas...!” Beng San berseru, seluruh urat di tubuhnya menegang.

Dia sudah siap dengan kelinci di tangan untuk turun tangan menolong seandainya gadis itu terancam bahaya. Akan tetapi, lega hatinya ketika dia melihat betapa dengan gerakan yang amat lincah gadis itu sudah dapat meloncat ke samping dan tubuh harimau yang besar itu lewat cepat menubruk tempat kosong. Pedang gadis itu berkelebat, tapi meleset tidak dapat menusuk perut harimau karena ekor harimau yang panjang itu menyabet dan menangkis!

Dengan geraman mengerikan harimau itu sudah membalik dan kembali menubruk, lebih dahsyat dari pada tadi. Akan tetapi, begitu melihat gerakan Kwa Hong tadi, Beng San lantas lenyap kekhawatirannya. Sekarang dia malah memandang kagum. Dia mendapat kenyataan bahwa gerakan gadis ini benar-benar lincah dan cepat sekali.

Dari gerakan-gerakan itu dia bisa mendapat kenyataan bahwa kepandaian Kwa Hong tidak kalah oleh Thio Bwee mau pun Kui Lok dan Thio Ki. Namun, walau telah diserang empat lima kali, belum juga Kwa Hong mampu menusuk harimau itu. Tusukannya selalu meleset saking cepatnya harimau itu mengelak, atau menangkis dengan cakar atau pun ekornya.

"Bacok kaki belakangnya...!" Beng San yang mulai khawatir lagi memberi nasihat.

Harimau melompat lagi. Gadis itu yang agaknya sadar akan akal yang diteriakkan Beng San, tidak meloncat ke pinggir untuk mengelak seperti tadi, malah menerobos ke depan, ke bawah tubuh harimau yang sedang melompat tinggi menubruknya. Kemudian, sebelum tubuh harimau tiba di tanah, gadis ini sudah menggerakkan kaki membalik, pedangnya berkelebat dan... harimau itu roboh dengan paha belakang sebelah kanan robek oleh sabetan pedang!

la menggereng, mencoba untuk merangsek lagi, tapi karena luka itu gerakannya menjadi kurang cepat. Dengan mudah Kwa Hong mengelak dan mengirimkan bacokan-bacokan bertubi-tubi ke arah kedua kaki belakang.

Setelah binatang buas itu roboh tak berdaya karena dua kaki belakangnya hampir putus, dengan mudahnya Kwa Hong menusukkan leher dan perutnya. Harimau itu mengeluarkan auman terakhir, tubuhnya berkelojotan lalu diam tak bergerak lagi. la mati mandi darah di depan kedua kaki dara perkasa itu!

Beng San melorot turun, lalu bertepuk tangan. "Hebat... hebat... kau gagah sekali, Hong Hong..."

"Kau tadi menyebutku Hong-moi..."

Beng San mengingat-ingat. Betul saja, dalam kekhawatirannya tadi dia sudah menyebut adik Hong kepada gadis itu. Wajahnya langsung memerah.

"Memang aku lebih tua, sudah pantas menyebutmu Hong-moi. Boleh, kan?"
"Tentu saja boleh. Kau malah sudah berjasa. Kalau tidak kau ingatkan untuk menyerang kaki belakangnya, agaknya akan lama untuk dapat merobohkannya. Ehhh, mana kelinci tadi?"

Beng San mengambil kelinci yang tadi dikempitnya di antara kedua pahanya ketika dia bertepuk tangan. Gadis itu tertawa dan membersihkan pedang pada bulu harimau.

"Hayo kita pulang, sudah hampir gelap dan perutku makin lapar saja oleh perkelahian tadi."
"Bangkai harimau itu... kan dagingnya enak sekali dan dapat menambah kuat tubuh. Pula, kulitnya juga indah sekali, sayang kalau dibiarkan saja membusuk di sini."
"Bawalah kalau kau mau. Tapi... terlalu banyak daging itu, tidak akan habis. Kalau sukong melihatnya, bukankah akan terbuka rahasiaku?"
"Jangan khawatir, kau yang membunuhnya karena diserang harimau, aku yang makan dagingnya."
"Dan aku akan mendapat bagian dengan diam-diam." Kwa Hong tertawa-tawa. "Kau amat cerdik, Beng San... ehhh, tidak enak juga kalau kau menyebutku adik tapi aku menyebut namamu begitu saja. Kau bilang leblh tua, sebetulnya berapa sih usiamu? Aku sudah delapan belas tahun!"

Beng San tertawa. "Sedikitnya aku dua tahun lebih tua dari padamu. Kau seharusnya menyebut kakak kepadaku."

"Hemmm, San-ko (kakak San)... hemmm, enak juga terdengarnya. Baiklah Beng San koko, kau bawa bangkai harimau itu. Tapi dagingnya terlalu banyak, tidak akan termakan habis olehmu biar pun dibantu olehku secara diam-diam."
"Jangan khawatir, selebihnya dapat kubuat dendeng. Kau punya banyak garam, kan?"
"Bisa kucuri dari dapur para supek tukang masak!" Kwa Hong tertawa nakal.
"Aha, kulihat kau hanya maju dalam ilmu silat, Agaknya segala petuah sukong-mu tentang kebajikan tak pernah kau taati, buktinya kau mau nyolong garam."

Keduanya tertawa lagi dan Beng San segera memanggul bangkai harimau itu setelah menyerahkan kelinci kepada Kwa Hong.

"Ehh, tidak kusangka kau kuat juga. Bangkai harimau ini sedikitnya ada lima puluh kilo!” Kwa Hong memandang kagum.

Beng San terhuyung-huyung, kelihatan keberatan. Baru kini ia teringat bahwa ia hendak menyembunyikan kepandaian. Hampir saja dia lupa kalau Kwa Hong tidak memujinya. la cepat-cepat beraksi dan kelihatan amat berat menggendong bangkai itu.

"Wah, berat sekali..."

Kwa Hong tersenyum, "Tapi kau kuat menggendongnya. Hemmm, kiranya kau tak begitu lemah seperti yang kukira. Sayang kau tidak belajar ilmu silat."

"Tadi kau bilang lebih baik aku tidak bisa silat," Beng San memperingatkan.

Kwa Hong mengangkat kedua pundaknya, gerakan yang manis dipandang.

"Bukan begitu maksudku... entahlah, yang tak kusuka adalah sikap angkuh dan jumawa, menganggap diri sendiri paling pandai dan kuat. Sikap inilah yang tak kusuka, sikap yang banyak terdapat di kalangan orang kang-ouw."
"Kau benar," Beng San nnengangguk-angguk, "dan kiranya sikap yang demikian itu pula, sikap mau menang sendiri dan tidak mau mengalah sedikit pun juga, yang menimbulkan keributan-keributan dan permusuhan-permusuhan di antara golongan yang satu dengan golongan yang lainnya."

Dua orang muda itu makin lama merasa makin cocok. Watak Beng San yang sederhana, jujur, sabar dan kadang-kadang dapat pula lincah jenaka dapat mengimbangi watak Kwa Hong yang lincah, gembira dan ada kalanya keras tapi ada kalanya halus lembut penuh kemesraan. Tidak mengherankan bahwa dalam beberapa hari itu mereka nampak makin akrab dalam pergaulan.

Kwa Hong yang mempunyai hati terbuka, secara terang-terangan memperlihatkan rasa sukanya bergaul dengan Beng San sehingga tentu saja dua orang pemuda Hoa-san-pai, Kui Lok dan Thio Ki, merasa dada mereka seperti mau meledak saking panas hatinya. Akan tetapi, Beng San adalah seorang tamu di Hoa-san-pai, lebih lagi agaknya sukong mereka suka kepada Beng San, juga Kwa Hong selalu ‘melindunginya’.

Di lain pihak, Thio Bwee bernapas lega melihat bahwa Kwa Hong ternyata tidak menaruh perhatian kepada Kui Lok, pemuda idaman hatinya itu…..
********************
Beng San mendapat kenyataan betapa cocok kata-kata Tan Hok ketika menceritakan tentang keadaan Hoa-san-pai dalam permusuhannya dengan Kun-lun-pai. Tidak saja dia melihat banyaknya tosu Hoa-san-pai yang berkumpul di gunung itu, mendekati seratus jumlahnya, akan tetapi menjelang datangnya hari perayaan ulang tahun ke seratus dari Hoa-san-pai, berturut-turut datang murid-murid Hoa-san-pai yang tinggal jauh dari gunung Hoa-san. Tiga hari sebelum hari perayaan, di sana sudah berkumpul seluruh anggota Hoa-san-pai yang jumlahnya mendekati seratus dua puluh orang!

Keadaan Hoa-san-pai sungguh angker sekali. Tosu-tosu dengan pakaian seragam putih melakukan penjagaan dengan sikap mereka yang alim dan amat gagah. Jalan kecil yang menuju ke pendakian puncak itu, dihias dengan bunga-bunga kertas, setiap seperempat kilometer dijaga oleh tiga orang tosu di pinggir jalan, merupakan tiang-tiang hidup. Hal ini diadakan bukan hanya untuk memberi penghormatan kepada para tamu, tetapi kiranya terutama sekali untuk ‘unjuk gigi’ kepada para tamu yang datang dengan maksud-maksud buruk tertentu.

Sebagai sebuah partai besar yang sudah terkenal namanya di seluruh dunia kang-ouw, kali ini Hoa-san-pai mengadakan persiapan besar-besaran. Beberapa hari sebelumnya, para tosu sudah sibuk berbelanja, menyediakan segala bahan makanan dan minuman untuk menjamu para tamu. Ratusan bangku baru dibuat dan diatur di ruangan depan.

Ruangan ini menjadi luas sekali karena diberi bangunan tambahan darurat. Ruangan yang amat luas ini dibagi-bagi, untuk para tamu kehormatan di sebelah dalam dan menghadap keluar, untuk tamu wanita di sebelah kiri dan agak tertutup, dan untuk yang muda-muda di sebelah kanan.

Di belakang ke tiga tempat ini yang paling luas, disediakan bangku-bangku panjang untuk tempat para tamu lain yang dianggap sebagai pengikut-pengikut saja. Pihak tuan rumah mengambil tempat di ruangan yang mepet dinding dalam, dekat tempat tamu kehormatan, membelakangi pintu besar yang dapat menuju ke dalam ‘rumah besar’. Di tengah-tengah ruangan merupakan tempat terbuka yang cukup luas untuk memberi tempat bagi para pelayan hilir-mudik.

Menurut berita yang dibawa oleh para tosu penjaga kaki gunung, dua hari sebelum pesta dimulai, sudah banyak sekali tamu yang datang sampai di kaki Gunung Hoa-san. Mereka menginap di kampung-kampung, menanti datangnya hari yang ditentukan untuk mendaki puncak. Tentu saja para tosu itu di antaranya ada yang bertugas menyelidiki siapa-siapa yang akan datang, kawan ataukah lawan!

Pada hari itu, pagi-pagi sekali sudah kelihatan para tamu berbondong-bondong mendaki puncak Hoa-san. Banyak sekali tamu yang datang. Para tosu Hoa-san-pai yang menjaga di sepanjang jalan sampai ke puncak, mewakili ketua mereka, melihat dengan hati kaget betapa partai-partai lain datang lengkap dengan para anak murid yang pilihan. Bahkan partai-partai Khong-tong-pai, Bu-tong-pai, dan Bu-eng-pai datang dengan puluhan orang anak murid masing-masing sehingga merupakan pasukan yang kuat!

Lian Bu-Tojin memang tidak mau memperlihatkan diri lebih dahulu, malah dia sengaja melarang Kwa Tin Siong, Liem Sian Hwa dan cucu-cucu muridnya untuk keluar lebih dulu sebelum para tamu lengkap. Kakek ini amat berhati-hati. la mau melihat murid-murid dan cucu-cucu muridnya muncul lalu dipancing oleh pihak lawan untuk mengacaukan pesta ulang tahun perkumpulannya.

Setelah ruangan tamu di depan penuh oleh para tamu, barulah Lian Bu Tojin diiringkan oleh Kwa Tin Siong, Liem Sian Hwa, Kwa Hong, Thio Bwee, Thio Ki dan Kui Lok, keluar dari dalam menuju ke tempat duduk yang disediakan untuk pihak tuan rumah. Para tamu segera berdiri memberi hormat yang dibalas oleh Kwa Tin Siong sebagai wakil pihak tuan rumah. Lian Bu Tojin sebagai seorang yang tingkatnya lebih tinggi, hanya mengangguk dan hanya mengangkat kedua tangan membalas penghormatan para tamu yang duduk di bagian terhormat.

Walau pun baru sekarang Lian Bu Tojin keluar, namun kakek ini sudah tahu siapa saja tamu-tamunya yang hadir. Tadi Kwa Tin Siong mengintai dari dalam dan memberi tahu kepada gurunya tentang para tamu yang sebagian besar dikenal oleh jago pertama dari Hoa-san-pai ini.

Yang amat mengherankan hati Lian Bu Tojin dan Kwa Tin Siong adalah ketidak hadiran orang-orang Kun-lun-pai. Padahal mereka melihat bahwa Khong-tong-pai dan Bu-eng-pai, dua partai yang selalu memperlihatkan sikap membela Kun-lun-pai, sudah lengkap hadir di situ. Diam-diam mereka juga merasa gembira bukan main dengan hadirnya jago-jago dari Bu-tong-pai, karena partai ini selalu memperlihatkan sikap baik kepada Hoa-san-pai.

Banyak terdapat jago-jago silat yang sudah terkenal namanya hadir di ruangan itu. Nama Hoa-san-pai sudah terlalu terkenal sehingga kali ini dapat menarik kedatangan jago-jago silat dari seluruh negeri. Tapi yang paling penting disebutkan di sini hanyalah beberapa orang saja.

Di antaranya pemimpin rombongan Khong-tong-pai, seorang lelaki gemuk pendek berusia lima puluh tahun. Dia adalah murid pertama dari Khong-tong-pai bernama Liu Ta, seorang ahli Iweekeng dan ahli golok. Karena terlalu dipercaya oleh gurunya yang sudah tua, Liu Ta ini sering kali bertindak mewakili Khong-tong-pai tanpa setahu gurunya.

Dari pihak Bu-eng-pai, rombongan ini dipimpin oleh dua orang jago Bu-eng-pai yang telah terkenal namanya, yaitu Ang Kim Seng yang tinggi kurus berusia empat puluh tahun lebih dan adiknya, Ang Kim Nio yang cantik genit berusia tiga puluh tahun lebih. Kakak beradik ini terkenal sebagai ahli pedang dari Bu-eng-pai. Seperti juga pihak Khong-tong-pai, kakak beradik ini lebih condong membantu Kun-lun-pai dari pada Hoa-san-pai.

Beng Tek Cu, seorang tosu yang tinggi besar serta bermata lebar adalah seorang tokoh Bu-tong-pai, usianya lima puluh lima tahun. Orangnya jujur dan keras hati, akan tetapi kepandaiannya tinggi dan namanya ditakuti orang-orang jahat karena tosu Bu-tong-pai ini tak pernah menaruh kasihan kepada para penjahat. la menjadi sahabat Kwa Tin Siong, maka dalam urusan antara Hoa-san dan Kun-lun, tosu tinggi besar ini dan rombongannya berpihak kepada Hoa-san-pai.

Masih banyak tokoh-tokoh besar yang hadir di pertemuan itu, akan tetapi agaknya akan terlalu panjang kalau disebut satu persatu. Apa lagi karena mesti pindah jilid.....

Selanjutnya baca
RAJA PEDANG : JILID-11
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger