logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Raja Pedang Jilid 12


Kaki gunung sebelah utara itu sangat indah pemandangannya. Penuh pohon berkembang dan rumput menghijau, juga di situ mengalir sebuah sungai kecil yang amat jernih airnya, penuh batu-batu hitam yang beraneka macam bentuknya. Kalau di pandang dari lereng, tampak betapa indah dan suburnya tanah kaki gunung ini, menggirangkan hati Beng San yang menuruni lereng dengan cepat sekali.
Akan tetapi, setelah tiba di kaki gunung, dia merasa bulu tengkuknya berdiri. Keadaannya memang indah, akan tetapi amat menyeramkan. Begitu sunyi. Sunyi melengang melebihi sunyinya kuburan.

Daun-daun pohon bergoyang-goyang tertiup angin, kembang-kembang memenuhi ranting, rumput-rumput hijau yang tidak pernah terinjak kaki nampak subur menggemuk, suara air gemercik seperti dendang lagu yang tak kunjung henti. Akan tetapi, kesunyian itu adalah kesunyian yang mencekam dan amat menyeramkan.

Tak ada seekor pun burung kelihatan terbang, tiada seekor pun binatang kelihatan berlari, bahkan tidak ada seekor pun jengkerik berbunyi. Tempat yang indah, namun seakan-akan tempat yang mati, tempat yang terkutuk di mana hawa maut selalu mengancam semua yang hidup!

Hanya sebentar saja keseraman mencekam hati Beng San. Segera dia dapat menguasai dirinya dan melangkah maju dengan tenang dan cepat. Dari atas tadi dia sudah melihat ada sebuah pondok kayu di antara pohon-pohon dekat sungai dan sekarang dia tujukan langkahnya ke arah pondok itu. Ia berjalan, makin dekat dengan pondok makin banyaklah dia mendapatkan bukti yang menyebabkan keadaan daerah itu demikian sunyi.

Di sepanjang jalan, dan banyak yang sudah tertutup oleh rumput-rumput hijau, ia melihat banyak sekali tulang-tulang berserakan, kerangka-kerangka binatang besar mau pun kecil seakan-akan semua penghuni hutan itu telah tewas karena bencana yang maha dahsyat. Makin dekat dengan pondok, dia mulai melihat kerangka-kerangka manusia yang sudah kering, sudah rusak dan ada pula yang masih baru. Beng San menekan debar jantungnya dan melangkah terus sampai ke depan pintu pondok.

Dilihatnya asap keluar dari jendela pondok itu dan tercium bau yang amat aneh menusuk hidungnya. Bau yang luar biasa, disebut wangi namun ada bau tak enaknya, seperti bau obat-obatan yang sedang dimasak.

"Teecu Tan Beng San mohon untuk bertemu dengan Locianpwe keturunan Yok-ong yang budiman.” Beng San berseru tanpa mengerahkan khikang-nya, dengan suara biasa saja.

Terdengar suara cekikikan di dalam pondok itu. "Hi-hi-hik! Tidak ada keturunan Yok-ong (Raja Obat) yang budiman di sini. Yang ada Setan Obat, dan sama sekali tidak budiman! Hi-hi-hik!"

Suara itu menyeramkan sekali terdengar di tempat sesunyi itu.

"Teecu mohon pertolongan locianpwe Setan Obat untuk menolong nyawa sahabat teecu yang terluka dan terkena racun."

Kembali terdengar suara ketawa seperti tadi, disusul kata-kata yang parau, "Tidak ada Setan Obat penolong nyawa di sini, yang ada Setan Obat Pencabut Nyawa (Toat-beng Yokmo)! Hi-hi-hik!"

Mendongkol hati Beng San, juga dia merasa gelisah. Terang bahwa orang di dalam itu adalah seorang yang mempunyai sifat suka mempermainkan nyawa orang pula.

"Kalau begitu, biarlah teecu mohon bertemu dengan Toat-beng Yok-mo untuk bicara."

Pintu pondok yang tertutup tiba-tiba terbuka mengeluarkan suara berderit, dan seorang kakek bongkok berkepala botak keluar sambil membawa sebuah panci yang mengebulkan uap. Panci itu dari besi dan di bawahnya sampai merah membara, akan tetapi kakek itu memegang panci begitu saja, padahal dapat dibayangkan betapa panasnya. Dari sini saja sudah dapat diketahui betapa lihainya kakek buruk rupa ini.

Matanya yang besar sebelah, sebelah lagi sipit seperti meram, memandang kepada Beng San yang masih terus berdiri di depan pintu sambil memondong tubuh Bun Lim Kwi yang pingsan.
"Hi-hi-hi, orang muda nekat. Sudah tahu aku Setan Obat Pencabut Nyawa, masih nekat hendak bertemu. Apakah kau mau menyerahkan jantungmu dan jantung temanmu yang sudah hampir mati karena racun itu untuk kutambahkan ke dalam panci ini?"

Dia menggerak-gerakkan panci sehingga isinya berlompatan ke atas. Beng San bergidik ketika melihat isi panci itu adalah potongan-potongan daging berwarna merah kebiruan. Benarkah itu jantung-jantung manusia?

"Toat-beng Yok-mo locianpwe, aku datang ke sini untuk mohon pertolonganmu mengobati temanku yang sakit ini," kata Beng San.
"Goblok! Siapa mau mengobati? Aku hendak mengambil jantungmu dan jantung temanmu itu. Aku mau lihat siapa berani menghalangi Setan Obat Pencabut Nyawa!" kata orang itu sambil tertawa-tawa.

Beng San memutar otaknya. Jelas sudah baginya bahwa orang ini apa bila bukan orang yang luar biasa anehnya, tentulah seorang yang miring otaknya. Kalau melihat sikap dan mendengar kata-katanya, tentu orang ini sombong bukan main dan selalu mengandalkan kepandaiannya sendiri. Maka dia lalu mengambil keputusan untuk memanaskan hatinya.

"Hemmm, kiranya aku salah alamat. Ternyata kau bukanlah Yok-mo seperti yang sudah didengung-dengungkan orang kang-ouw. Kau hanyalah tukang membunuh, sama sekali tak becus mengobati orang. Janganlah kau pura-pura menggunakan dan memalsu nama keturunan Yok-ong. Tak tahu malu.”

Mata kanan yang lebar itu makin terbelalak sedangkan yang kiri semakin sipit. Mulutnya menyeringai memperlihatkan gigi yang tinggal tiga buah atas bawah itu.

"Orang muda, aku memang keturunan Yok-ong dan akulah Toat-beng Yok-mo. Mengobati orang ini saja apa susahnya? Dia terkena racun kelabang yang digunakan orang di ujung senjata rahasia. Tentu dia sudah terluka di punggungnya. Kemudian..." la mengarahkan pandangnya kepada muka Bun Lim Kwi, “kemudian masih ditambah lagi dengan racun Ular Merah, hebat sekali, tidak saja racun itu memasuki perutnya, juga memasuki seluruh tubuh melalui luka. Hihh, tiga hari lagi dia bakal mampus!"

Sampai ternganga mulut Beng San mendengarkan kata-kata yang cocok ini. Dia mulai percaya bahwa orang di depannya ini benar-benar seorang ahli dalam pengobatan. Sekali melihat saja dia sudah dapat membuka rahasia penyakit yang diderita Lim Kwi. Tetapi pemuda yang cerdik ini sengaja memperlihatkan senyum mengejek.

"Ahh, kau hanya ngawur saja. Semua orang juga bisa bicara sesukanya tentang penyakit orang. Tetapi aku tetap tidak percaya kalau kau dapat mengobati penyakitnya. Apa lagi penyakit karena keracunan begini hebat, sedangkan orang masuk angin biasa saja aku sangsi apakah kau bisa mengobati sampai sembuh!"

Kakek bongkok ini membanting-banting kaki, marah sekali. "Anak setan! Jangankan baru sakit macam ini, orang mati pun aku bisa bikin hidup lagi!"

"Uhh, siapa percaya omongan ini? Jika kau bisa buktikan, bisa menyembuhkan temanku ini, aku mau berlutut padamu dan mengakui bahwa kau benar-benar keturunan Yok-ong yang pandai seperti dewa. Tetapi kalau kau tidak becus, kau tidak lain hanyalah penjual lagak yang kosong melompong belaka.”
"Bawa dia masuk, bawa dia masuk... buka matamu dan lihat bagaimana dalam waktu singkat Toat-beng Yok-mo menyembuhkannya sama sekali!" kakek itu membentak sambil terbongkok-bongkok masuk ke dalam pondoknya membawa panci itu.

Diam-diam Beng San tersenyum girang. Akalnya sudah berhasil. Segera dia melangkah masuk ke dalam pondok tanpa ragu-ragu lagi. Pondok itu ternyata cukup lega dan terang karena bagian atapnya dapat dibuka sehingga cahaya matahari dapat menyinar masuk. Akan tetapi kotor sekali, penuh dengan tulang belulang, daun kering, akar-akaran yang bertumpuk di meja, di lantai dan di semua tempat. Di pojok terdapat sebuah dipan bambu.

"Letakkan di sini!"

Beng San menurunkan tubuh Lim Kwi di atas dipan itu dan berdiri agak menjauhi untuk memberi kesempatan kepada orang aneh itu memeriksa.

Akan tetapi, kakek itu sama sekali tidak melakukan pemeriksaan. Dia bahkan langsung membuka pakaian atas pemuda itu dengan cara kasar, yakni merobek baju yang dipakai Lim Kwi begitu saja seperti orang merobek kertas tipis. Dengan kasar juga kakek ini lalu membalikkan tubuh Lim Kwi sehingga tubuh pemuda itu menelungkup.

Sebentar dia memeriksa luka-luka di punggung, kemudian mengeluarkan satu bungkusan dari saku bajunya yang lebar. Ternyata itu adalah bungkusan jarum-jarum panjang terbuat dari emas dan perak. Setelah memandang sejenak penuh perhatian, kakek ini kemudian menusuk-nusukkan tujuh belas batang jarum di leher, kedua pundak sepanjang punggung dan di antara tulang iga.

Beng San memandang penuh perhatian. Dia kagum bukan main melihat cara kakek itu menusuk-nusukkan jarum yang demikian cepat, bertenaga dan tepat mengenai jalan-jalan darah tertentu.

Kakek bongkok itu melangkah tiga tindak ke belakang, kemudian dari situ dia melompat ke depan dan menggunakan jari telunjuknya menotok belakang kepala Lim Kwi. Dengan gerakan cepat sekali kakek itu melangkah mundur lagi, melompat menotok lagi lain jalan darah berkali-kali. Makin lama makin cepat dia bergerak sehingga dalam waktu beberapa menit saja dia sudah menotok hampir semua jalan darah yang tidak tertusuk jarum-jarum emas dan perak di bagian belakang tubuh Lim Kwi.

Sesudah melakukan totokan-totokan selama setengah jam, dia terengah-engah serta dari ubun-ubun kepalanya mengepul uap putih. Dengan lemas dia lalu mencabuti jarum-jarum itu, lalu membalikkan tubuh Lim Kwi hingga telentang.

Beng San berdecak kagum. Sekarang muka Lim Kwi sudah mulai merah, napasnya tidak lemah seperti tadi.

Setelah kakek bongkok itu beristirahat sejenak, kembali ia menggunakan jarum-jarumnya menusuk-nusuk dan menancap-nancapkan seperti tadi di tujuh belas tempat, akan tetapi kini di bagian depan badan Lim Kwi. Seperti tadi pula, dia menotok terus-menerus dengan gerakan cepat.

Setelah selesai dan mencabuti semua jarum, kakek itu terengah-engah menghadapi Beng San, lalu berkata parau, "Hi-hi-hik, kau lihat? Penyakitnya sudah sembuh, sebentar lagi semua racun di badannya akan keluar!"

Beng San masih belum percaya, akan tetapi tiba-tiba terdengar Lim Kwi mengeluh dan muntah-muntah. Yang dimuntahkan hanya cairan racun dan seluruh tubuhnya seolah-olah mengebul panas. Anehnya, keringat yang keluar dari tubuhnya berwarna agak biru, itulah racun yang keluar bersama keringatnya!

Dengan tenang kakek itu lalu menjejalkan tiga buah butir pil hijau ke dalam mulut Lim Kwi, mendorongnya dengan jari telunjuknya sehingga tiga butir pil itu terus memasuki perut. Tidak sampai satu jam kemudian, Lim Kwi sudah tenang, mukanya merah dan membuka matanya! la nampak heran sekali, akan tetapi ketika hendak bangun duduk, dia pusing dan meramkan mata.

"Saudara Bun Lim Kwi, kau rebahlah saja dulu. Baru saja kau disembuhkan oleh tabib dewa Toat-beng Yok-mo keturunan Yok-ong!" seru Beng San girang bukan main. Akan tetapi kegirangannya lenyap seketika terganti kekagetan ketika melihat kakek itu sudah memegang sebatang pedang yang tajam dan runcing sambil tertawa-tawa.

"Ehh, ehh... kau mau apa dengan pedang itu?" Beng San bertanya dan merasa seram.
"Hi-hi-hik! Toat-beng Yok-mo namaku. Setan Obat Pencabut Nyawa Aku mengobati untuk bertanding dengan penyakit, bukannya untuk menyembuhkan orang. Siapa yang sembuh oleh obatku, harus kucabut nyawanya dengan pedangku. Tadi aku mengobati, sekarang aku mencabut nyawa, hi-hi-hik, nyawamu dan nyawa dia."

"Kakek yang baik, mengapa begitu? Mengobati orang sakit artinya memberi pertolongan dan hal ini sudah menjadi kewajiban setiap manusia yang hidup di dunia ini, harus saling tolong-menolong! Ada pun urusan mencabut nyawa, kurasa ini bukanlah urusan manusia. Hanya Thian yang menitahkan Giam-lo-ong (Raja Maut) yang mempunyai hak mencabut nyawa manusia. Kau sudah menolong temanku dari bahaya maut, kenapa malah hendak membunuhnya sekarang?"

"Hi-hi-hik, belum pernah ada orang yang kusembuhkan lalu kubiarkan tetap hidup. Tidak terkecuali dia ini."
"Janganlah, Locianpwe. Biarlah aku yang menjadi penggantinya. Jangan kau bunuh dia."

"Hi-hi-hik! Aneh, aneh... tapi kebetulan. Aku membutuhkan jantung orang, dan jantung dia ini kurang bersih setelah tadi terserang racun. Jantungmu lebih bersih dan baik, bagus! Boleh diganti, boleh ditukar. Dia boleh hidup, kau penggantinya dan jantungmu harus kau berikan kepadaku. Eh, orang muda, selama hidupku belum pernah aku mendengar orang mau menukar diri mewakili orang mati. Apakah betul-betul kau mau menggantikan orang ini untuk kuambil jantungnya?" Ujung pedang itu sudah menodong dada Beng San.

Beng San tenang-tenang saja. Ia tersenyum dan berkata, "Ucapan seorang laki-laki tidak akan ditarik kembali, Locianpwe. Aku sudah bersusah payah berusaha menolong dia ini, maka tak akan kulakukan setengah-setengah. Kalau memang kau membutuhkan jantung, biarlah aku mewakilinya. Kau harus berjanji akan melepaskan dan tidak lagi mengganggu orang ini dan kau boleh mengambil jantungku, yaitu kalau kau bisa."

Ucapan terakhir dari Beng San ini rupa-rupanya tidak diperhatikan oleh kakek yang sudah terheran-heran dan juga kegirangan itu. "Baik, boleh... aku berjanji tak akan mengganggu orang ini. Nah, bersiaplah kau menghadiahkan jantungmu yang segar kepadaku!"

"Kau ambillah sendiri kalau dapat!" jawab Beng San, dan seluruh urat syaraf di tubuhnya sudah menegang, siap untuk melawan kakek ini dengan seluruh tenaga dan kemampuan yang dimilikinya.
"Hi-hi-hik, orang muda yang aneh, yang sinting..."

Pedangnya diayun-ayun ke atas seperti orang menakut-nakuti. Mendadak Bun Lim Kwi meloncat dari dipan itu dan menyerang kakek bongkok dengan pukulan-pukulan hebat.

"Siluman tua! Tak boleh kau membunuh penolongku!"

Dari gerakan-gerakannya, ternyata pemuda Kun-lun-pai ini sudah sembuh sama sekali. Serangannya hebat bukan main dan terpaksa kakek bongkok itu meloncat mundur sambil terkekeh-kekeh tertawa.

"Hi-hi-hik, bukankah manjur sekali pengobatanku?"
"Saudara Bun, jangan serang dia. Dia adalah penolongmu, tadi telah mengobatimu," kata Beng San mencegah.
"Aku tahu, tapi dia siluman jahat, hendak membunuhmu. Tidak bisa aku berpeluk tangan saja!"
"Hi-hi-hik, anak Kun-lun-pai, hi-hi-hik. Biarlah aku mencoba sampai di mana kehebatan latihan dari Pek Gan Siansu si mata putih!" Sambil berkata begitu kakek ini menyimpan pedangnya dan melompat keluar. "Marilah, mari sini orang muda Kun-lun-pai, boleh kau coba-coba, hi-hi-hik!"

Bun Lim Kwi yang tadi telah sadar dan melihat betapa kakek ini hendak membunuh Beng San, segera turun tangan menolong. Sekarang dia melompat keluar untuk melayani kakek aneh itu. Beng San berdebar dan ikut lari keluar.

"Siluman jahat, aku tidak rela diwakili oleh saudara ini. Jika kau hendak membunuh dan mengambil jantungku, kau cobalah. Mati dalam pertempuran bukanlah apa-apa dan kau baru gagah kalau membunuh seorang yang dapat melawanmu. Saudara ini tidak pandai silat, bagaimana kau punya muka untuk membunuhnya begitu saja?"

"Hi-hi-hik, orang muda. Kau seperti orok kemarin sore yang masih merah berani mencoba aku? Hi-hi-hik, kau sambutlah ini."

Biar pun bongkok dan gerak-geriknya seperti orang tua lemah, akan tetapi tiba-tiba kakek itu sudah mengirim serangan yang luar biasa cepatnya. Lim Kwi kaget sekali, akan tetapi sebagai murid Kun-lun yang sudah matang kepandaiannya, dia cepat mengelak kemudian membalas dengan serangan yang tak kalah dahsyatnya.

Beng San memandang cemas. la maklum bahwa biar pun Lim Kwi cukup pandai, namun kiranya tak akan mungkin dapat menangkan kakek itu yang ternyata adalah seorang ahli Iweekeh dan ahli totok yang lihai sekali. la sendiri merasa sangsi dan ragu-ragu apakah dia harus membantu Lim Kwi ataukah tidak.

Bingung dia menghadapi peristiwa ini dan tidak dapat cepat-cepat mengambil keputusan bagaimanakah dia harus bertindak. Dia memang harus menolong Lim Kwi seperti pernah dulu dipesankan oleh mendiang ayah pemuda itu, akan tetapi dengan melawan kakek bongkok ini, bukankah hal itu merupakan suatu perbuatan yang tidak bijaksana?

Kakek itu betapa pun juga sudah menolong Lim Kwi, tanpa ragu lagi dia mau mengakui bahwa kakek itu telah merenggut nyawa Lim Kwi dari cengkeraman maut. Kalau sekarang mereka melawan kakek itu, bukankah itu berarti seorang rendah budi yang tak ingat akan budi kebaikan orang?

Tapi sebaliknya kalau dipikirkan lagi, kakek itu hendak membunuhnya dan Lim Kwi justru melawan untuk menolongnya. Karena itu, apakah sekarang dia harus diam saja melihat Lim Kwi terdesak? Benar-benar Beng San menjadi bingung sekali. Pemuda ini mengambil keputusan untuk menolong Lim Kwi apa bila keselamatan pemuda itu terancam.

Bun Lim Kwi benar-benar telah bertekad bulat untuk membela Beng San dengan taruhan nyawanya. Tadi ketika dia sadar dari pingsan, dia mendengar semua pembelaan Beng San kepadanya dan dia pun segera dapat menarik kesimpulan bahwa setelah dia roboh dalam pertandingan dengan Thio Eng di dalam hutan, tentu telah ditolong oleh Beng San dan dibawa ke rumah tabib setan ini.

Dia merasa amat terharu mendengar betapa Beng San rela mewakilinya untuk mati di tangan kakek setan itu dan diam-diam Lim Kwi pun kagum akan pandangan gurunya yang sangat tepat tentang diri Beng San. Memang pemuda luar biasa. Biar pun tidak memiliki kepandaian silat, namun nyalinya besar dan budinya luhur.

Maka sekarang dia hendak membalas budi itu, kalau perlu dia rela berkorban, mati dalam tangan kakek bongkok untuk menolong Beng San. Lim Kwi maklum bahwa lawannya ini tangguh bukan main, memiliki tenaga Iweekang yang luar biasa besarnya sedangkan ilmu silatnya juga amat aneh.

Pertempuran berlangsung makin hebat. Kakek itu selalu tertawa-tawa dan seakan-akan mempermainkan Lim Kwi. Dengan rasa penasaran pemuda Kun-lun ini lalu mengeluarkan pukulan-pukulan Pek-lek-jiu (Tangan Kilat) yang dia warisi dari gurunya. Kedua tangannya menyambar-nyambar, tulangnya berkerotokan dan angin pukulannya terasa panas!

"Hi-hi-hik! Inikah Pek-Iek-ciang-hoat dari Kun-lun-pai?" Kakek itu tertawa mengejek sambil memapaki pukulan kedua tangan Lim Kwi dengan tangan terbuka.

Dua pasang tangan bertemu dan saling tempel, tak dapat dilepaskan lagi. Dua orang itu, seorang pemuda dan seorang kakek bongkok, kini mengadu tenaga Iweekang.

Sebentar saja Lim Kwi merasa betapa telapak tangannya tergetar dan makin lama makin dingin. Tenaga Pek-lek Ciang-hoat yang dia miliki terasa makin lemah dan hampir buyar. Keadaannya sangat berbahaya karena sebagai seorang ahli, pemuda ini maklum bahwa setelah tenaganya habis, dia akan terluka hebat di dalam tubuhnya, luka yang mungkin akan merenggut nyawanya. Akan tetap dia mengerahkan seluruh tenaganya dan berlaku nekat.

"Yok-mo, jangan bunuh dia...!"

Beng San menghampiri dua orang yang sedang adu tenaga secara mati-matian itu, lalu menepuk pundak Lim Kwi dua kali sambil berkata, "Saudara Bun, dia penolongmu, jangan serang dia!"

Meski hanya merupakan dua tepukan perlahan, akan tetapi sebenarnya Beng San sudah mengerahkan hawa tenaga Yang dari tubuhnya. Tenaga yang maha dahsyat ini tersalur melalui pundak Lim Kwi, terus melaju ke arah kedua lengannya. Akibatnya hebat sekali. Dua pasang lengan yang saling tempel itu langsung terlepas seperti direnggutkan tenaga yang tak tampak.

Lim Kwi tak dapat mempertahankan diri dan roboh terguling di atas lantai, pingsan! Tadi dia mengerahkan tenaga Iweekang seluruhnya dan setelah secara mendadak tenaganya tidak mendapatkan sasaran, dia kehabisan tenaga dan pingsan. Ada pun kakek bongkok itu terdorong mundur terhuyung-huyung.

"Ayaaa...!" seru kakek itu terheran-heran dan kaget bukan main.

Pada saat itu terdengar bunyi lengking tinggi dan tiba-tiba berkelebat bayangan putih yang menyambar ke arah Toat-beng Yok-mo! Bayangan itu ternyata adalah bayangan seorang gadis remaja berpakaian serba putih yang menggunakan sebatang pedang mengkilap dan langsung menyerang kakek bongkok itu.

Toat-beng Yok-mo mengeluarkan suara gerengan keras. Hanya dengan menggulingkan tubuh di atas tanah dia dapat menyelamatkan diri dari serangan yang luar biasa hebatnya dari gadis itu. Gadis itu terus melanjutkan serangannya yang membuat Beng San berdiri melongo karena gerakan-gerakan itu adalah Yang-sin Kiam-sut yang dimainkan dengan amat hebat dan mendekati kesempurnaannya!

Ada pun Toat-beng Yok-mo yang tadi belum hilang kagetnya karena serangan tenaga yang luar biasa, sekarang menjadi makin kaget lagi menyaksikan ilmu pedang gadis ini. Ia memang mempunyai musuh yang amat dibencinya sejak dahulu, yaitu Song-bun-kwi dan sekarang melihat gadis yang menyerangnya itu, dia maklum bahwa kalau Song-bun-kwi muncul dia bisa celaka. Sambil berseru keras seperti binatang liar, kakek ini meloncat jauh lalu pergi dengan amat cepatnya.

Gadis itu berdiri tegak, tidak mengejar, menyimpan pedangnya kembali lalu membalikkan tubuh memandang ke arah Beng San. Juga pemuda ini berdiri terpaku memandang gadis baju putih itu. Keduanya seperti terpesona.

Tadi Beng San tidak mengenal gadis ini karena pakaiannya yang serba putih. Sekarang setelah mereka berhadapan, dengan jelas dia melihat sepasang mata itu, sepasang mata yang takkan pernah terlupa olehnya selama dia hidup. Hidung itu, mulut itu... Bi Goat, si bocah gagu!

"Bi Goat...?!" Beng San setengah berlari menghampiri.

Gadis itu yang tadinya masih agak ragu-ragu setelah mendengar suara ini lalu lari pula menghampiri Beng San. Kini mereka berhadapan, Beng San yang merasa terharu dan bahagia memegang kedua pundak gadis itu.

"Bi Goat... benar kau Bi Goat,” katanya dengan napas memburu.

Gadis itu tersenyum, nampak giginya yang berderet rapi dan berkilauan, tapi kedua mata yang indah itu bercucuran air mata. Kemudian Bi Goat menubruk dan merangkul leher Beng San sambil menangis di atas dada pemuda itu!

"Bi Goat... ahh, tak dinyana kita bertemu di sini... kenapa kau begini sedih? Kenapa? Dan kau... kau berkabung? Bi Goat, apakah yang terjadi...?" Beng San bertanya dengan suara gemetar.

Inilah orang yang selama ini menjadi kembang mimpinya, yang tidak pernah lepas dari ingatannya, orang yang sejak kecilnya sudah mau berkorban untuknya. Melihat gadis ini menangis terisak-isak sehingga baju di bagian dadanya basah oleh air mata gadis itu, Beng San terharu sekali dan tak dapat menahan turunnya dua butir air mata.

"Bi Goat... anak baik, sayang... jangan menangis..."

Beng San makin terharu ketika mengingat bahwa gadis ini tidak dapat bicara, maka dia lalu mengelus-elus rambut yang hitam panjang itu. Tidak karuan rasa hati Beng San. la menduga bahwa tentu telah terjadi sesuatu yang hebat maka gadis ini memakai pakaian berkabung.

Seingatnya, Bi Goat paiing suka mengenakan pakaian berwarna merah, kenapa sekarang berpakaian serba putih? Apakah ayahnya, Song-bun-kwi telah mati? Teringat akan ini, dia makin sedih dan hatinya terharu. Dia memeluk gadis itu penuh kasih sayang.

Bi Goat mereda tangisnya, kemudian diambilnya sehelai sapu tangan putih dari saku baju sebelah dalam dan diberikannya sapu tangan sutera putih itu kepada Beng San. Di atas sapu tangan sutera putih ternyata ada tulisan, huruf-huruf memakai benang hitam yang disulam indah dan berbunyi:

Kau hanyut...
sungai membawamu pergi jauh,
entah mati ataukah masih hidup.
Aku berkabung untukmu...
sampai kita bertemu kembali,
entah di dunia ataukah di akhirat.

Membaca tulisan ini, Beng San makin terharu. Dipeluknya Bi Goat, didekapnya kepala itu ke dadanya, dibisikkan mulutnya ke telinganya, "Bi Goat, alangkah mulia hatimu... ahhh, alangkah suci cinta kasihmu..."

Sampai lama dua orang muda ini diam, kediaman penuh bahagia, menikmati kebahagiaan yang bergelora di dalam hati masing-masing. Beng San seakan-akan lupa akan diri Bun Lim Kwi yang masih pingsan di atas tanah.

Tiba-tiba Bi Goat melepaskan diri dari pelukan, memegang kedua tangan Beng San, lalu tertawa-tawa dengan mata masih basah oleh air mata. Dipandangnya Beng San dari atas sampai ke bawah, berkali-kali seperti masih belum percaya bahwa dia betul-betul sudah bertemu dengan Beng San!

Sikap kekanak-kanakan ini makin mengharukan hati Beng San, mengingatkan dia bahwa gadis ini tidak dapat bicara. Akan tetapi, juga telah membuyarkan cekaman rasa keharuan tadi, membuat dia teringat akan keadaannya.

Kemudian Bi Goat sambil tertawa-tawa memberi isyarat kepada Beng San supaya tinggal saja di situ dan dia sendiri segera lari memasuki pondok Toat-beng Yok-mo. Entah apa yang dilakukan di dalam, akan tetapi ketika dia keluar kembali ternyata ia telah berganti pakaian!

Buntalan kecil yang tadi menempel pada punggungnya ternyata adalah pakaian berwarna merah berkembang-kembang indah sekali, yang sekarang dipakainya sebagai pernyataan bahwa perkabungannya telah berakhir! Kedua orang itu kembali saling berpegang tangan dan saling berpandangan.

"Kau jelita, Bi Goat... kau hebat...,” hanya demikian Beng San dapat berkata lirih.

Bi Goat tidak bisa bicara, akan tetapi jari-jari tangan mereka yang saling remas itu cukup mewakili kata-kata, menyatakan perasaan hati yang hanya dimengerti dan hanya mampu dirasakan oleh mereka berdua.

"Bi Goat, bagaimana kau bisa datang ke sini dan kenapa pula kau memusuhi Toat-beng Yok-mo?" Beng San bertanya.

Mendengar ini Bi Goat seperti kaget, seperti baru teringat akan hal penting. Dia menarik tangannya dan menggurat-gurat dengan jari telunjuk ke atas tanah. Ternyata ia menulis beberapa huruf sebagai pengganti kata-katanya.

‘Kami tinggal di lereng Min-san. Kini aku harus mengejar Yok-mo. Kita pasti akan bertemu kembali. Selamat berpisah!’

Demikianlah bunyi tulisan itu dan sebelum Beng San sempat berkata-kata, gadis itu sudah merangkul lehernya sekali lagi, lalu tertawa dan berlari cepat sekali pergi dari situ. Sekejap mata saja sudah tidak kelihatan lagi.

"Bi Goat...!"

Beng San hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba dia mendengar suara orang mengeluh. Ketika dia menengok, ternyata Bun Lim Kwi telah sadar kembali dan bangkit berdiri.

"In-kong (Tuan Penolong), syukur bahwa Thian masih melindungi kita..." kata Bun Lim Kwi sambil menjura dengan hormat. "Tadi ada seorang gagah menolongku, di manakah dia sekarang dan siapakah dia gerangan?"

Melihat sikap pemuda itu demikian menghormatnya, dengan gugup Beng San membalas hormatnya dan berkata, "Saudara Bun, kuharap dengan sangat jangan kau menyebutku tuan penolong. Sudah sepatutnya jika manusia hidup di dunia ini saling tolong menolong, maka apa artinya kita meributkan soal pertolongan? Kalau kita hendak berbicara tentang pertolongan, maka takkan ada habisnya. Katakanlah aku menolongmu, kemudian Yok-mo menolongmu pula, lalu kau juga menolongku dari ancaman Yok-mo, dan terakhir sekali pendekar wanita murid Song-bun-kwi tadi menolong kita. Sebutlah saja aku Beng San... ehhh, Tan Beng San."

Bun Lim Kwi nampak terheran-heran. "Murid Song-bun-kwi...? Sungguh aneh, bagaimana muridnya mau menolongku... "

Beng San tidak suka banyak bicara mengenai Bi Goat, maka dia segera membelokkan percakapan, "Saudara Bun, aku mendapatkan kau menggeletak di hutan dalam keadaan terluka hebat di punggungmu. Siapakah yang melukaimu?”

Bun Lim Kwi menghela napas panjang, nampak berduka sekali. "Aku sendiri tidak tahu, tapi yang jelas bukan dia..."

"Dia siapakah?"

Kembali pemuda Kun-lun-pai itu menarik napas panjang.

"Saudara Beng San yang budiman, aku benar-benar berterima kasih kepadamu dan aku tidak akan menyimpan rahasia terhadapmu. Setelah aku dan suhu pergi dari Hoa-san, suhu terus pulang ke Kun-lun dan aku... hemmm, terus terang saja aku ingin mencari bekas susiok-ku Kwee Sin. Tiba-tiba muncul nona baju hijau yang menyerangku di puncak Hoa-san itu. Dia menuduh bahwa mendiang ayahku dan pamanku membunuh ayahnya dan berkeras hendak membalas kepadaku. Ahhh..." Lim Kwi menghela napas, kelihatan berduka sekali. "Aku tidak ingin bermusuhan dengannya, aku sudah mengalah... tapi dia mendesak terus, aku lari, dia mengejar. Terpaksa aku mempertahankan diri. Setelah itu ada orang menyerangku dari belakang secara menggelap, entah siapa karena aku roboh tak ingat lagi. Tahu-tahu sudah berada di sini."

Beng San mengerutkan keningnya dan hatinya diam-diam lega bahwa ternyata sekarang bukan Thio Eng yang melakukan penyerangan menggelap menggunakan senjata rahasia mengandung racun yang demikian keji. Ia sayang kepada Thio Eng, kasihan kepada nona itu, maka dia senang mendengar bahwa bukan gadis itulah yang melakukan penyerangan curang dan keji.

"Tentu ada orang ke tiga yang berbuat curang," katanya. "Saudara Bun, aku melihat kau menggeletak di hutan itu. Lalu kubawa kau kembali ke Hoa-san dan Lian Bu Tojin sudah berusaha keras menolongmu, menggunakan ular-ular pemberian Giam Kin. Celaka sekali, ular-ular itu sama sekali bukanlah Ngo-tok-coa yang mengandung obat pemunah racun, malah sebaliknya. Setelah diobati dengan ular-ular itu, kau bertambah payah. Ternyata Giam Kin yang jahat itu telah menipu Hoa-san-pai."

Tercengang juga Bun Lim Kwi mendengar ini. "Ah, memang tepat sekali wawasan suhu... sebenarnya Hoa-san-pai adalah tempat orang-orang baik. Aku yang dianggap musuh masih mereka usahakan untuk menolong... hemmm, kenyataan ini makin menguatkan hasrat hatiku hendak mencari Kwee Sin sampai dapat. Dialah yang bertanggung jawab menerangkan segala keruwetan ini, termasuk urusanku dengan nona Thio Eng..."

"Tapi akulah yang sudah berjanji untuk mencari Kwee Sin..."
"Tidak, saudara Beng San. Kau sudah terlalu banyak menanam budi serta melakukan kebaikan terhadap Kun-lun-pai dan kami berterima kasih sekali. Akan tetapi untuk mencari Kwee Sin adalah tanggung jawabku karena dia adalah bekas murid Kun-lun-pai juga. Aku hanya mohon petunjuk-petunjukmu."

Beng San menjadi tertegun. la tidak tahu bahwa Lim Kwi teringat akan pesan suhu-nya agar supaya mendengarkan nasihat Beng San. Dia sendiri menganggap Beng San hanya sebagai seorang pemuda sastrawan yang berhati mulia dan sudah memberi pertolongan kepadanya dengan taruhan nyawanya sendiri. Tentu saja Beng San terheran mengapa seorang pemuda segagah Lim Kwi sampai tidak malu-malu minta petunjuknya.

"Saudara Bun, aku seorang lemah dan bodoh dapat memberi petunjuk apakah? Hanya kuharap saja kau berlaku hati-hati. Penyerangan gelap atas dirimu itu sudah membuktikan bahwa kau diincar oleh musuh-musuh gelap. Menurut kabar, Kwee Sin sudah memihak pemerintah penjajah yang sedang hendak digulingkan oleh para pejuang, maka mencari dia sama artinya dengan memasuki goa harimau dan lubang naga. Apa lagi kalau mereka mengetahui bahwa kau anak murid Kun-lun-pai yang hendak menangkap Kwee Sin, tentu kau dikurung bahaya."

Bun Lim Kwi menjura dan memberi hormat. "Nasihat-nasihatmu akan kuingat selalu. Dan semoga saja kelak Thian memberi kesempatan kepadaku untuk membalas semua budi kebaikanmu, saudara Beng San. Perkenankan sekarang aku melanjutkan perjalanan."

Beng San menjadi semakin suka kepada pemuda Kun-lun-pai yang sangat sopan dan merendah ini. Diam-diam dia membenarkan dirinya sendiri yang hendak memenuhi pesan terakhir dari ayah pemuda ini. Mereka berpisah dan Beng San tidak menahannya lebih lama lagi.

Beng San masih selalu gelisah jika memikirkan perginya Bi Goat yang sedang mengejar Toat-beng Yok-mo. la sendiri menghadapi banyak urusan penting. Di samping dia harus mencari Kwee Sin, juga dia berkewajiban merampas kembali Liong-cu Siang-kiam dan di sana masih ada pula orang yang dia duga adalah kakaknya dan yang sekarang agaknya menjadi kaki tangan Mongol pula. Apa lagi sekarang muncul Bi Goat yang melakukan pengejaran terhadap seorang berbahaya seperti Toat-beng Yok-mo. Dia harus membantu dan melindungi gadis gagu itu.

Dengan cepat Beng San berlari mengejar untuk menyusul Bi Goat. Akan tetapi sampai berjam-jam dia tidak melihat bayangan gadis itu mau pun bayangan Toat-beng Yok-mo. Tentu dua orang yang berkejaran itu telah mengambil jalan lain.

Beng San kecewa. Rindu hatinya terhadap Bi Goat masih menebal, karena pertemuan yang hanya sebentar itu tidak mencukupi baginya. Aku harus ke sana, pikirnya. Harus ke Min-san.

Dia teringat akan Song-bun-kwi dan menjadi ragu-ragu. Bukankah orang sakti itu selalu memusuhinya? Bahkan bermaksud membunuhnya apa bila tidak dapat merampas Im-sin Kiam-sut? Akan tetapi, dia sekarang bukanlah dia dahulu. Dia tidak takut, kalau perlu dia akan melawan Song-bun-kwi, asal dia bisa dapat bertemu dengan Bi Goat!

"Ah, tugasku masih banyak. Kenapa aku selalu teringat dia? Setelah semua tugas selesai dikerjakan, baru aku akan mencari Bi Goat."

Setelah mencela diri sendiri Beng San menghentikan usahanya mencari dan mengejar Bi Goat. Urusan untuk merampas kembali Liong-cu Siang-kiam bukan urusan yang terlalu mendesak, tak perlu dia tergesa-gesa. Akan tetapi urusan mencari Kwee Sin adalah yang paling mendesak, kemudian urusan tentang kakaknya, Tan Beng Kui. Dan dia maklum bahwa untuk mencari dua orang ini dia harus berani memasuki kota raja.

Kwee Sin kabarnya bekerja sama membantu Ngo-lian-kauw, yang menjadi kaki tangan Mongol. Ada pun orang yang dia duga kakaknya itu datang ke Hoa-san-pai bersama Pangeran Mongol Souw Kian Bi.

Setelah menetapkan hatinya, Beng San lalu mulai melakukan penyelidikan untuk mencari Kwee Sin.....
********************
Di masa itu, perjuangan rakyat yang berupa pemberontakan-pemberontakan di sana-sini terhadap pemerintah penjajah makin lama semakin berkembang luas. Pemerintah Goan yang didirikan oleh bangsa Mongol mulai goyah kedudukannya. Hampir di seluruh daerah pedalaman selalu terjadi perang gerilya yang dilakukan para petani di bawah pimpinan orang-orang gagah.

Pemberontakan-pemberontakan ini bagaikan api yang makin lama semakin besar, makin lama makin menjalar ke dekat kota raja. Oleh karena ini maka keluarga Kerajaan Goan berkhawatir sekali dan tak dapat enak makan nyenyak tidur.

Penjagaan di sekitar wilayah kota raja diperketat, mata-mata pun disebar di seluruh kota dan desa. Orang-orang dengan kepandaian tinggi yang dapat ditarik ke pihak pemerintah Mongol dengan pancingan harta benda dan kedudukan tinggi, dikumpulkan di kota raja sebagai pelindung keselamatan keluarga Kerajaan Goan.

Sunyi malam itu di sebuah dusun yang letaknya di pinggiran kota raja sebelah selatan. Malam belum larut benar, belum pukul sembilan. Akan tetapi keadaan sudah amat sunyi dan ketegangan seperti biasanya menyelubungi semua tempat yang berada dekat kota raja. Hal ini tidak mengherankan karena sejak terjadinya pemberontakan-pemberontakan, di sekitar kota raja selalu terjadi hal-hal yang hebat.

Seakan-akan terjadi pertentangan antara petugas-petugas keamanan dan para pejuang yang keduanya secara rahasia melakukan tugasnya masing-masing. Semacam perang rahasia antara para mata-mata pemerintah kontra para mata-mata pejuang. Para pejuang yang berahasia itu sangat gagah berani dan entah sudah berapa banyaknya pembesar Mongol dan perwira yang tahu-tahu telah kedapatan mati di dalam kamar masing-masing. Akan tetapi tidak sedikit pula mata-mata pejuang itu tertangkap dan diseret ke depan pengadilan yang cepat memutuskan hukuman mati bagi mereka ini.

Dua bayangan manusia berkelebat cepat sekali di dalam kegelapan malam itu. Dengan ginkang yang tinggi kedua orang ini berlompatan menuju ke sebuah rumah yang tua dan buruk, tapi cukup besar. Kiranya rumah ini adalah sebuah rumah penginapan merangkap warung nasi yang sederhana, sebagai tempat menginap para saudagar dan pelancong yang hendak memasuki kota raja.

Dua bayangan itu memasuki rumah dengan jalan aneh, yaitu melalui belakang dengan melompati pagar tembok. Di luar sebuah jendela mereka berhenti dan mengetuk jendela itu perlahan tiga kali. Dari dalam ada jawaban ketukan dua kali lalu jendela terbuka. Dua orang itu sekali melompat sudah melayang masuk.

Kamar itu cukup luas. Di dalamnya sudah duduk tiga orang, yaitu seorang berpakaian tentara berusia empat puluh tahun, seorang laki-laki pengemis yang berpakaian jembel bertubuh kurus dan pucat berusia kurang lebih lima puluh tahun dan yang seorang adalah seorang nenek tua bongkok berambut putih.

Ada pun dua orang yang baru datang ini ternyata adalah dua orang kakek berpakaian seperti petani bercaping topi tani lebar. Yang hebat adalah barang yang dibawa oleh dua orang itu. Ternyata sekarang di bawah penerangan lampu bahwa dua orang kakek petani ini masing-masing menjambak rambut sebuah kepala manusia! Begitu masuk, keduanya tertawa dan melemparkan dua buah kepala orang di atas meja.

Tiga orang itu segera bangkit dan memandang penuh perhatian ke arah dua buah kepala itu. Mereka mengenal dua buah kepala itu sebagai kepala dua orang perwira pemerintah Mongol yang berkuasa di kota tak jauh dari situ.

Segera nenek itu bangkit dan menyambar dua buah kepala tadi, dimasukkan ke dalam keranjang lalu dia berkata, "Lebih dahulu kusingkirkan kepala anjing ini." Setelah berkata demikian dia menyelinap ke belakang dan menghilang.

Tentara dan pengemis itu menjura kepada dua orang petani yang baru datang.

"Tentulah ji-wi (saudara berdua) ini dua saudara Phang dari Hun-lam, bukan?" bertanya pengemis itu.

Dua orang kakek petani itu menjura dan yang tertua menjawab, "Benar, siauwte adalah Phang Khai dan ini adikku Phang Tui. Karena tergesa-gesa, kami tak dapat memilih tanda pengenal yang lebih berharga, harap maafkan."

Nenek yang tadi pergi ke belakang membawa dua buah kepala, kini sudah datang kembali sambil mengomel, "Kepala perwira atau kepala pembesar sama saja, dapat mengurangi jumlah musuh cukup baik. Sayangnya ji-wi terlampau sembrono. Ji-wi adalah tokoh-tokoh terkenal di Hun Lam, mengapa datang ke sini tanpa menyamar?"

Phang Khai tersenyum memandang nenek itu, lalu berkata, "Aku sudah lama mendengar bahwa orang kepercayaan Si-enghiong (pendekar ke empat) adalah seorang wanita muda yang gagah dan lihai. Kau menyamar sebagai nenek, itu bagus sekali, akan tetapi bagai mana seorang nenek dapat memiliki sepasang mata sejeli ini?"

Nenek itu kelihatan terkejut. "Ah, Phang-lohiap benar-benar bermata tajam sekali. Apakah penyamaranku masih kurang sempurna?" Suara nenek itu yang tadi parau dan gemetar bagaikan suara orang tua, sekarang berubah menjadi nyaring dan seperti suara wanita muda.

Phang Khai tertawa. "Ah, tidak, sama sekali tidak, Nona. Hanya aku mau menyatakan bahwa jika menyamar malah lebih berbahaya dan mencurigakan karena tidak sewajarnya. Bentuk dan suara dapat disamar, akan tetapi bagaimana dengan warna dan sinar mata? Sudahlah, andai kata anjing-anjing Mongol itu mengetahui kedatangan kami, apa sih yang kami takuti? Paling-paling kalau tidak bisa membasmi mereka, kita yang akan kehilangan nyawa! Bukankah sudah lama kita menyerahkan nyawa kita yang tak berharga ini kepada tanah air dan bangsa? Ha-ha-ha!"

Tentara itu yang sejak tadi diam saja sekarang mencela, "Ucapan Phang-twako tak dapat kuterima. Memang bagi seorang pejuang, mati hidupnya sudah tak berarti lagi asal demi perjuangan. Akan tetapi Phang-twako harus ingat bahwa tugas kita dalam perjuangan ini agak berbeda dengan tugas pejuang yang bertempur melawan musuh. Kalau kita sedang bertugas di bidang itu, tentu saja aku yang bodoh takkan ragu-ragu buat mempertaruhkan nyawa. Akan tetapi dalam kedudukan kita sekarang yang bertugas sebagai mata-mata, mengumpulkan keterangan dan dalam hal ini, mengabdi kepada Si-enghiong, tentu saja segala hal harus kita lakukan secara rahasia agar supaya gerakan kita ini jangan sampai terbongkar. Seorang saja tertangkap maka bisa membahayakan seluruh anggota gerakan. Bukankah celaka kalau begini?

Phang Khai dan Phang Tui memandang tajam kepada ‘tentara Mongol’ itu, lalu Phang Tui menjura. "Betul sekali ucapan ini," katanya kagum.

Phang Khai tiba-tiba berkata, "Saudara, maafkan aku!"

Dan tahu-tahu dia telah mengirim serangan, tiga pukulan bertubi menyerang leher, dada dan perut orang berpakaian tentara Mongol itu. Orang itu kaget juga karena dia maklum betapa lihainya petani tua ini. Akan tetapi secepat kilat kedua tangannya diputar dalam lingkaran untuk menangkis, malah dia segera dapat mencengkeram pergelangan tangan kanan Phang Khai sambil berseru, "Phang-twako harap jangan main-main!"

Phang Khai menarik tangannya sambil tertawa bergelak. "Aha! Kiranya Bouw-enghiong yang menyamar sebagai tentara. Aduh, penyamaranmu benar-benar hebat, tentu dapat mengelabui musuh!"

Orang itu pun tertawa. Memang dia adalah Bouw Hin jago Bi-nam yang berjuluk Kang-jiu (Tangan Baja). Kiranya tadi Phang Khai sengaja menyerangnya untuk memancing agar ilmunya Kang-jiauw-ciang (Tangan Cakar Baja) tadi dikeluarkan. Segera Phang Khai bisa mengenal siapa sebetulnya teman seperjuangan yang menyamar sebagai tentara musuh ini.

"Bagus, Phang-twako memang cerdik”, kata Bouw Hin sambil tertawa. "Tapi Phang-twako tentu belum mengenal dia ini.” Ia menuding kepada pengemis tadi. ”Biarlah kuperkenalkan dia kepada ji-wi Phang-twako. Dia ini adalah she Lim."
"Aha, bukankah Lim Seng yang berjuluk Kim-mouw-sai (Singa Bulu Emas) dan Kwi-bun?" kata Phang Tui.

Pengemis itu berdiri dan menjura. “Ji-wi Phang-enghiong benar-benar bermata tajam."

Nona yang menyamar sebagai seorang nenek itu berkata, "Maaf, aku sendiri tidak boleh memperkenalkan diri. Tidak tahu ada urusan penting apakah yang hendak ji-wi sampaikan kepada Si-enghiong?"

"Hemm, urusan ini penting sekali. Kami harus berjumpa sendiri dengan Sienghiong," kata Phang Khai.

‘Nenek’ itu mengerutkan kening, lalu menggeleng kepalanya. "Phang-lopek apakah tidak pernah mendengar dari teman-teman bahwa adalah hal yang amat tidak mungkin orang menemui Si-enghiong? Si-enghiong, seperti juga Sam-enghiong (pendekar ke tiga) adalah tokoh-tokoh rahasia yang tak boleh bertemu teman seperjuangan di kota raja ini, karena hal itu sangat berbahaya. Sekali saja musuh membongkar rahasia pribadi Sam-enghiong dan Si-enghiong, akan rusak binasalah semua usaha kita yang berjuang di bawah tanah di kota raja ini. Segala kepentingan harap Lopek beri tahukan aku saja karena akulah satu-satunya orang yang dapat menghubungi Si-enghiong."

Phang Khai menghela napas. "Aku sudah mendengar akan hal itu, tapi ini adalah urusan yang amat penting." la tampak ragu-ragu.

Melihat keraguan ini, Kang-jiu Bouw Hin yang berpakaian tentara Mongol itu berkata, nada suaranya tegas, "Siapa pun juga jangan harap dapat bertemu dengan Si-enghiong, malah aku sendiri pun belum pernah bertemu dengannya, apa lagi melihatnya atau mengenal siapa dia. Kalau ada urusan yang menyangkut kepentingan perjuangan, lekas ji-wi Twako memberi tahu kepada Nyonya Liong ini. Kalau berkeras hendak menemui Si-enghiong, lebih baik berita itu kalian bawa pergi lagi saja." Biar pun kata-katanya keras, akan tetapi lucu juga nenek yang nyata-nyata adalah penyamaran seorang nona muda ini disebut sebagai ‘nyonya Liong’.

Phang Khai menjadi merah mukanya. "Maaf kalau tadi aku ragu-ragu. Sesungguhnya ada banyak hal yang akan kusampaikan. Pertama-tama adalah mengenai pertemuan antara Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai di puncak Hoa-san. Kami berdua menghadiri pertemuan itu dan..."

Nyonya Liong tersenyum, aneh kalau tersenyum karena seorang nenek setua itu giginya putih berjajar rapi.

"Phang lopek tidak perlu menceritakan hal ini. Ketahuilah bahwa Si-enghiong sendiri juga hadir dalam pertemuan itu."

Kedua orang saudara Phang ini tertegun dan saling pandang. Mereka adalah dua orang petani yang ketika dalam pertemuan itu mendapat tempat sebagai tamu kehormatan, akan tetapi tidak melihat adanya orang yang patut menjadi Si-enghiong, pemimpin ke empat dari pasukan mata-mata di kota raja. Mungkin dia bersembunyi di antara rombongan para tamu yang tidak penting sehingga sukar dikenal, pikir mereka.

"Ahh, kalau begitu hal itu tak perlu kami kemukakan lagi," kata Phang Khai.

"Sekarang soal ke dua. Aku ingin memberi tahukan mengenai kedudukan teman-teman seperjuangan kita. Saudara-saudara kita Su Souw Hwee beserta Tan Yu Liang sekarang telah mendapat kemajuan dan memperluas gerakan pemberontakan di sepanjang Sungai Huang-ho. Thio Si Cen sudah menyeberang Sungai Hui dan pasukan saudara Tan Hok sudah mendekati kota raja dari pergerakannya di sepanjang Sungai Yang-ce. Akan tetapi, aku mendapat berita bahwa gerakan Pek-lian-pai di sebelah barat kota raja mendapat pukulan hebat dari bala tentara musuh dan membutuhkan bantuan segera."

Nyonya Liong mengangguk-angguk. "Kami sudah mengetahui sebagian besar beritamu. Gerakan Pek-lian-pai di sebelah barat kota raja memang sengaja dijadikan umpan agar musuh mengerahkan banyak tenaga ke sebelah sana. Nanti kalau sudah tiba saatnya, pasukan-pasukan kita dari selatan dan timur akan menyerbu."

Phang Khai kagum sekali. "Ahh, sama sekali tidak pernah kusangka bahwa kalian dapat bekerja sesempurna itu. Benar-benar menggembirakan sekali. Akhirnya, harap kau dapat sampaikan kepada Si-enghiong bahwa kedatangan kami berdua ini selain menyampaikan berita dan menerima tugas baru, juga bahwa kami mengambil keputusan untuk mencari tahu tempat tinggal Kwee Sin murid Kun-lun-pai yang menyeleweng itu. Harap saudara-saudara memberi tahu di mana kami dapat menemukannya. Kami percaya bahwa Sam-wi (saudara bertiga) sudah pasti akan dapat memberi petunjuk."

Nyonya Liong tersenyum sambil memandang tajam. "Tentu saja kami tahu di mana murid Kun-lun-pai itu yang sekarang sudah menjadi pembantu pemerintah dan bekerja sama dengan orang-orang Ngo-lian-kauw. Akan tetapi, pada saat seperti sekarang ini, di mana tenaga semua rakyat dibutuhkan untuk perjuangan menghalau penjajah, bagaimana Ji-wi masih ada kesempatan untuk mencampuri segala macam urusan pribadi?

"Keliru... keliru pendapat seperti itu!" Phang Tui yang sejak tadi membiarkan kakaknya bicara mewakili mereka berdua, sekarang berkata dengan sungguh-sungguh.
"Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai bertengkar terus sampai-sampai tidak ada waktu membantu kita. Semua ini gara-gara si Kwee Sin seorang. Kami berdua berpendapat bahwa apa bila kami dapat menangkap Kwee Sin, mati atau hidup dan membawanya ke Hoa-san, tentu pihak Hoa-san mau pun pihak Kun-lun akan menghabisi permusuhan mereka dan apa bila dua golongan itu sudah berdamai lalu suka membantu kita, bukankah pekerjaan ini juga merupakan pekerjaan yang amat berguna bagi perjuangan?"

Nyonya Liong mengangguk-angguk, sedangkan kedua orang temannya juga menyatakan kebenaran ucapan Phang Tui. “Jadi ji-wi berkeras hendak menangkap Kwee Sin terlebih dulu?"

Ketika dua orang kakek petani itu mengangguk, Nyonya Liong lalu berkata, "Baiklah kalau begitu. Tempat tinggal Kwee Sin adalah di gedung ke lima sebelah barat perempatan jembatan Naga, rumah yang di atasnya ada hiasan ukiran naga. Harap jiwi berhati-hati karena selalu dia bersama dengan ketua Ngo-lian-kauw yang berkepandaian tinggi. Ji-wi kerjakan dulu maksud hati ji-wi, setelah itu baru kita mengadakan pertemuan lagi, tiga hari kemudian pada waktu seperti ini dan bertempat di sini pula, dan pada waktu itulah saya akan menyampaikan tugas-tugas baru bagi ji-wi. Nah, selamat berpisah."

Mereka lalu berpisah dan keluar dari rumah secara diam-diam. Hanya nyonya Liong dan Kang-jiu Bouw Hin yang berpakaian tentara itu keluar secara biasa saja, dari pintu depan tanpa ada yang menaruh curiga.

Ketika dua orang saudara Phang itu melompat ke dalam gelap keluar dari tembok yang mengeliingi rumah, mereka melihat bayangan berkelebat di dekat mereka. Mereka kaget, akan tetapi bayangan itu berbisik,

"Selamat sampai bertemu kembali, ji-wi Phang-twako."

Ternyata bayangan itu adalah si pengemis tadi, yaitu Kim-mouw-sai Lim Seng yang cepat meloncat ke kiri dan menghilang di dalam gelap. Dua orang saudara Phang itu merasa sangat kagum karena ginkang dari orang she Lim itu ternyata hebat juga…..
********************
Lima orang rahasia yang berkumpul dan mengadakan pertemuan rahasia di malam hari itu sama sekali tidak tahu bahwa semenjak tadi gerak-gerik mereka telah diintai oleh Beng San. Pemuda ini dalam usahanya untuk mencari Kwee Sin, telah pula sampai di kota raja dan kebetulan sekali bermalam di rumah penginapan sederhana itu.

Malam tadi secara kebetulan dia yang berada di kamarnya mendengar desir angin yang hanya terdengar oleh seorang yang memiliki Iweekang setinggi dia. Dia terkejut dan tahu bahwa ada orang mempergunakan ilmu ginkang bergerak di luar rumah, maka cepat dia keluar dari kamarnya secara diam-diam dan melihat ada dua bayangan berkelebat, yaitu bayangan kedua orang saudara Phang. Demikianlah, secara diam-diam dia mengintai dan mendengar segala percakapan yang dilakukan oleh lima orang itu.

Hatinya kagum bukan main ketika mendapat kenyataan bahwa lima orang itu adalah pejuang-pejuang, orang-orang gagah seperti Tan Hok yang rela mengorbankan nyawanya demi perjuangan bangsa untuk menghalau penjajah. Akan tetapi, lebih girang lagi hatinya karena tanpa sengaja dia mendapat petunjuk di mana dia bisa mencari Kwee Sin.

Malam berikutnya Beng San sudah mengikuti lagi perjalanan dua orang saudara Phang yang menuju ke rumah gedung Kwee Sin seperti yang telah ditunjuk oleh nyonya Liong pada kemarin malam. la mengenal dua orang ini sebagai tamu terhormat di Hoa-san-pai, maka diam-diam dia tidak mau mengganggu mereka.

"Betapa pun juga, mengajak Kwee Sin datang ke Hoa-san-pai adalah tugasku," pikirnya. "Aku yang sudah berjanji dan akulah yang harus memenuhi janji itu."

Dengan ginkang mereka yang sudah tinggi, dua orang saudara Phang itu dapat memasuki halaman rumah gedung itu dengan mudah. Mereka melompati pagar tembok dan merasa girang karena ternyata rumah gedung ini tidak ada yang menjaga.

Di lain saat mereka sudah mengintai ke sebuah kamar di mana duduk seorang laki-laki yang tampan dan gagah, berusia tiga puluh tahun lebih. Wajah yang tampan itu angker dan agung, sedang menulis sesuatu di atas meja.

Tak jauh dari situ duduk pula seorang perempuan cantik berpakaian mewah, memandang kepada lelaki itu sambil tersenyum dan mengebut-ngebut tubuhnya dengan sebuah kipas. Laki-laki itu bukan lain adalah Pek-jiu Kwee Sin, orang termuda dari Kun-lun Sam-hengte, jago muda Kun-lun-pai yang telah mengakibatkan keributan antara Hoa-san dan Kun-lun. Ada pun perempuan cantik yang pesolek dan bersikap genit itu bukan lain adalah Ngo-lian Kauwcu (ketua Ngo-Lian kauw) yang berjuluk Kim-thouw Thian li (Dewi Kepala Emas) dan yang oleh Kwee Sin dikenal dengan nama Coa Kim Li, gadis yang sudah merayu dan merobohkan hatinya.

”Sin-ko (kanda Sin),” Kim-thouw Thian-li berkata dengan suara merdu, "malam ini kau harus menemani aku. Di rumah amat sunyi, jangan kau sibuk dengan pekerjaanmu. Tak usah kau membanting tulang, para pembesar sampai Hong-siang (kaisar) sendiri cukup maklum betapa besarnya jasamu kepada pemerintah."
"Aku banyak pekerjaan, Li-moi (adik Li). Biarlah besok siang kalau aku pulang dari kantor, aku akan mengunjungi rumahmu. Kau adalah seorang ketua perkumpulan besar seperti Ngo-lian-kauw, bagaimana bisa kesepian?" Kwee Sin tertawa dan menunda tulisannya.
"Biar pun ada seribu orang teman, mana bisa dibandingkan dengan kau seorang?" Coa Kim Li berkata genit lalu menarik bangkunya mendekat.

Pintu kamar diketok dari luar. Cepat-cepat Kim-thouw Thian-li menjauhkan bangkunya lagi. Ketika pelayan masuk, Kwee Sin sudah bersikap kereng seperti tadi.

"Kwee-ciangkun, di luar ada Lee-siocia (nona Lee) yang memohon menghadap Ciangkun (Panglima)," pelayan itu memberi laporan dengan sikap hormat dan tanpa mengangkat muka.
"Baik, minta nona Lee masuk ke ruangan ini," jawab Kwee Sin.

Pelayan itu memberi hormat dan mengundurkan diri keluar dari ruangan.

"Huh, Sin-ko, awas kau kalau di belakangku kau berani main gila dengan nona muda itu!" tiba-tiba Kim-thouw Thian-li berkata lirih, matanya bersinar penuh cemburu.

Kwee Sin tersenyum pahit. "Kim Li-moi apa-apaan cemburu ini? Kau tahu aku bukan... bukan mata keranjang dan kau tahu pula bahwa Lee-siocia adalah orang yang mendapat kepercayaan semua panglima di kota raja, juga lihai ilmu silatnya. Pertemuanku dengan dia tentu hanya berhubungan dengan pekerjaan, mengapa kau malah menyangka yang bukan-bukan? Dia datang, kau pun di sini. Boleh kau saksikan sendiri apa yang hendak dia sampaikan kepadaku!"

"Huh, biar dia lihai, siapa takut padanya? Dan siapa sudi bertemu dengannya? Melihat mukanya yang muda, jangan-jangan timbul seleraku untuk mencakar mukanya! Aku akan bersembunyi di belakang pintu. Awas kau, sekali saja kau dan dia main gila, kalian akan kubunuh!”

Dengan gerakan cepat sekali tubuhnya berkelebat dan menghilang di balik pintu samping. Kwee Sin menarik napas lega. Wajahnya nampak girang dan tersenyum pada saat pintu depan terbuka dan seorang nona berpakaian kuning berjalan masuk.

"Nona Lee, kau membawa kabar penting apakah?" Kwee Sin menyambut kedatangan nona ini dengan suara nyaring gembira. "Apakah kali ini kau diutus oleh Pangeran Souw? Ataukah Tan-ciangkun yang mengutusmu?"
Nona berpakaian kuning itu sangat dikenal di kalangan atas kota raja. Dia bernama Lee Giok, puteri dari seorang bangsawan di kota raja. Usianya baru sembilan belas tahun. Wajahnya yang cantik itu nampak muram dan seperti diliputi kesedihan, matanya tajam dan gagang pedang menonjol di pinggangnya. Biar pun ia masih muda, namun ia sudah terkenal sebagai seorang yang amat berjasa dalam menindas kaum pemberontak berkat ilmu silatnya yang tinggi dan otaknya yang cemerlang.

Menghadapi pertanyaan Kwee Sin, nona itu menghela napas, memandang kepada Kwee Sin dengan matanya yang tajam, lalu katanya perlahan, "Kwee ciangkun, kalau memang Kim-thouw Thian-li sudah berada di sini, mengapa ia malah bersembunyi dan mengintai? Kuharap Ciangkun suka mempersilakan dia keluar karena kedatanganku ini toh bukan hendak mengadakan pertemuan yang bukan-bukan!"

Tentu saja Kim-thouw Thian-li merasa kaget sekali. Akan tetapi dia pun seorang wanita yang cerdik. Dengan tenang ia muncul dari balik pintu dan tertawa.

"Hebat benar kecerdikan nona Lee! Tadi memang saudara Kwee dan aku sengaja hendak menguji kecerdikanmu yang sudah lama kudengar dibicarakan orang, kiranya benar-benar kau cerdik. Hanya aku yang tolol, tidak ingat bahwa kepergianku dari sini meninggalkan ganda harum. Ehm, benar lihai!"

Diam-diam nona itu, Lee Giok terkejut juga. la dipuji cerdik, namun ketua Ngo-lian-kauw itu dengan sendirinya telah pula membuktikan bahwa otaknya juga tidak kalah cerdiknya. Memang tepat sekali kata-katanya tadi, dia dapat mengetahui bahwa Kim-thouw Thian-li baru saja meninggalkan ruangan itu karena tercium olehnya ganda harum seperti yang biasa ia cium kalau ia bertemu dengan ketua Ngo-lian-kauw itu.

Setiap wanita sudah tentu memiliki kesukaan masing-masing tentang wangi-wangian yang dipakainya dan wangi-wangian yang dipakai oleh Kim-thouw Thian-li mempunyai aroma yang khas.

"Kwee-ciangkun, kedatanganku tak lain hanya untuk menyampaikan peringatan padamu. Ada berita sampai kepadaku bahwa pada waktu ini di kota raja datang dua orang saudara Phang dari Hun-lam yang sengaja mencari Kwee-ciangkun dan hendak memaksa supaya Kwee-ciangkun, mati atau hidup, agar ikut mereka pergi ke Hoa-san."

Berubah wajah Kwee Sin mendengar berita ini. "Nona, apakah kau maksudkan Phang Khai dan Phang Tui Sepasang Naga dari Hun-lam?" katanya setengah berbisik.

Nona itu mengangguk. Wajahnya tampak makin murung, kemudian ia membalikkan tubuh dan berkata, "Tugasku sudah selesai, Ciangkun. Aku tak dapat lama-lama di sini, khawatir kalau-kalau membuat orang lain mendongkol saja."

Tanpa melirik kepada Kim-thouw Thian-li yang disindirnya itu, nona ini segera keluar dari ruangan itu dengan langkah ringan dan cepat sekali.

"Hi-hi-hi, baru mendengar ada dua orang tua bangka dari Hun-lam datang saja, kau sudah kelihatan gelisah," kata Kim-thouw Thian-li.

Li Moi, jangan kau anggap ringan dua orang kakek itu. Nama besar Phang-hengte (kakak beradik Phang) dari Hun-lam sudah lama aku dengar. Aku memang tidak takut, hanya sebab-sebab mengapa mereka hendak menangkapku inilah yang menggelisahkan hati."

"Sin-ko, mengapa kau begini bodoh? Mudah sekali diduga. Mereka tentunya bergabung dengan para pemberontak maka hendak memusuhimu, atau mungkin sekali mereka itu disuruh oleh perempuan she Liem yang tak tahu malu itu untuk...”
"Li-moi, kau berjanji tidak akan menyebut-nyebut namanya!" Tiba-tiba Kwee Sin berkata, jidatnya berkerut tak senang.
"Hi-hi-hi, sudahlah. Hanya dua ekor anjing tua dari Hun-lam itu untuk apa diributkan? Biar saja mereka datang, masih ada aku di sini, mereka bisa berbuat apa terhadap dirimu?"

Phang Khai dan Phang Tui adalah dua orang kakek ternama di Hun-lam. Mendengar mereka dimaki anjing-anjing tua oleh wanita itu, tentu saja mereka tidak dapat menahan kemarahan mereka lagi. Serentak mereka meloncat dan menerobos masuk ke dalam ruangan itu.

"Kwee Sin, kami dua saudara Phang dari Hun-lam datang ke sini untuk menjemput kau ke Hoa-san!" kata Phang Khai sambil melirik penuh kemarahan ke arah Kim-thouw Thian-li yang sudah berdiri dengan alis berkerut marah.

Kwee Sin juga berdiri dan menjawab, "Ji-wi Phang-enghiong, dengan maksud apakah ji-wi hendak mengajak siauwte pergi ke sana?"

"Murid Kun-lun-pai yang murtad. Kau yang telah menjadi biang keladi permusuhan antara Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai. Kau harus mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu terhadap Hoa-san-pai!" kata Phang Tui tak sabar lagi.

Kwee Sin menghela napas. “Ji-wi Phang-enghiong, urusan itu adalah urusan pribadiku, harap ji-wi sebagai orang luar jangan mencampurinya. Mengingat ji-wi adalah tokoh-tokoh terkemuka dari Hun-lam, maka siauwte persilakan ji-wi pergi dengan baik-baik."

"Setan, siapa takut kepadamu? Kami sudah bersumpah untuk mebawamu ke Hoa-san, hidup atau mati. Tui-te (adik Tui), kau tangkap dia, biar aku menjaga siluman ini!"

Phang Tui maju dan menubruk Kwee Sin dengan Ilmu Kim-na-jiu-hoat. Kedua lengannya bergerak-gerak, yang kanan mencengkeram ke arah pundak kiri sedangkan tangan kirinya menotok jalan darah di leher. Terpaksa Kwee Sin cepat menggeser kaki ke belakang dan memutar lengan untuk menangkis. Tentu saja jago muda Kun-lun-pai ini tidak mau begitu saja membiarkan dirinya ditangkap.

Sambil mengeluarkan suara ketawa mengejek Kim-thonw Thian-li menggerakkan kedua tangannya dan tangan kanannya sudah memegang sebuah golok tipis kecil yang sangat indah bentuk dan gagangnya, sedangkan tangan kirinya sudah meloloskan sehelai sapu tangan merah yang panjang.

Phang Khai maklum bahwa menghadapi wanita ketua Ngo-lian-pai ini tak perlu dia berlaku sungkan lagi. Maka sekali dia menggereng, dia telah melakukan serangan dengan pedang di tangan.

Melihat sinar pedang yang menyambarnya dari tiga jurusan, diam-diam Kim-thouw Thian-li kaget juga dan maklum bahwa ilmu pedang lawannya ini sama sekali tak boleh dipandang ringan. Cepat dia menangkis dengan gojoknya.

"Traaanggg...!"

Phang Khai lantas terdorong mundur satu langkah, sedangkan Kim-thouw Thian-li merasa tangannya tergetar. Bukan main herannya Phang Khai. Seorang wanita yang bertubuh lemah gemulai dan halus itu kenapa bisa memiliki tenaga Yang-kang demikian besarnya? Dia sendiri adalah seorang ahli tenaga Yang, ehhh, siapa kira sekarang dia menghadapi seorang wanita yang lebih besar tenaganya. la berlaku hati-hati dan mengerahkan seluruh ilmu kepandaiannya untuk mendesak.

Ilmu pedang dari dua orang saudara Phang itu adalah ilmu pedang keturunan warisan nenek moyang mereka. Memang asalnya satu sumber dengan ilmu pedang Hoa-san-pai, hanya sudah banyak perubahan. Oleh karena itulah maka dalam hal urusan Hoa-san-pai, dua orang kakek ini tidak mau melupakan sumbernya dan ingin membantu Hoa-san-pai.

Seperti juga ilmu pedang Hoa-san-pai, ilmu pedang Phang Khai amat indah dan cepat, hanya bedanya apa bila ilmu pedang Hoa-san-pai mengutamakan tenaga Im, sebaliknya ilmu pedang keluarga Phang ini mengutamakan tenaga Yang.

Ketua Ngo-lian-pai itu, Kim-thouw Thian-yi, adalah murid dari Hek-hwa Kuibo, tentu saja kepandaiannya hebat. Sayangnya, pada tahun-tahun terakhir ini Kim-thouw Thian-li telah hidup dalam kesenangan, selalu menurutkan nafsu untuk mengejar kesenangan duniawi, sehingga dia malas untuk berlatih dan memperkuat tenaga dalamnya.

Sekarang menghadapi seorang tokoh ilmu pedang seperti Phang Khai, biar pun tak akan kalah dalam waktu singkat, juga amat sukar untuk mencapai kemenangan. Pertempuran ini pun berlangsung makin hebat di ruangan itu.

Kwee Sin juga sudah mencabut pedangnya ketika Phang Tui yang merasa penasaran itu menyerangnya dengan pedang juga. Tadinya Phang Tui hendak menangkap Kwee Sin hidup-hidup, maka dia bertangan kosong dan menggunakan ilmu yang amat dia andalkan, yaitu ilmu tangkap Kim-na-jiu. Siapa kira, Kwee Sin selalu mampu membuyarkan ilmu ini dengan pukulan-pukulan Pek-lek-jiu, semacam ilmu pukulan Kun-lun-pai yang dahsyat sekali. Desakan-desakan ilmu tangkap itu selalu didesak mundur oleh pukulan Pek-lek-jiu, bahkan dia sendiri yang terancam bahaya, maka dia lalu mempergunakan pedang. Kwee Sin juga seorang ahli pedang Kun-lun-pai, maka pertempuran ini pun hebat sekali.

Tiba-tiba Kim-thouw Thian-li mengeluarkan suara bersuit panjang sekali.

"Li-moi, kau jangan mencelakai mereka..." Kwee Sin menegur lalu berkata nyaring, "Ji-wi Phang-enghiong, harap sudahi pertempuran ini dan pergilah ji-wi (kalian) dengan aman!"

Akan tetapi dua orang jago kawakan seperti dua saudara Phang itu, sekali bekerja mana mau berhenti setengah jalan? Kini mereka malah mendesak semakin hebat dalam usaha mengalahkan musuh dengan segera dan dapat membawa Kwee Sin dari situ, baik dalam keadaan hidup mau pun sudah mati! Tidak seperti Kwee Sin, mereka tidak tahu apa artinya suitan yang dikeluarkan oleh Kim-thouw Thian-li tadi.

Kiranya suitan itu adalah tanda rahasia bagi ketua Ngo-lian-kauw untuk memanggil anak buahnya. Di mana ketuanya berada di situ pasti berkeliaran banyak para pembantunya yang setia. Maka pada waktu itu, belasan orang tokoh Ngo-lian-kauw memang sudah berkeliaran di sekitar rumah gedung tempat tinggal Kwee Sin, bersiap untuk menghadap sewaktu-waktu ketua mereka memanggil.

Akan tetapi sekali ini, walau pun Kini-thouw Thian-li bersuit sampai tiga empat kali, tidak ada seorang pun anak buahnya yang muncul. la menjadi marah bukan main akan tetapi juga gelisah. Celaka, pikirnya, kiranya dua orang kakek itu datang dengan banyak teman dan agaknya anak buahnya telah dirobohkan di luar!

Cepat dia mengeluarkan sebuah sapu tangan yang beraneka warna, sapu tangan sutera yang berbau harum sekali. Pada saat itu, pedang Phang Khai sudah menyambar cepat ke arah lehernya. Kim-thouw Thian-li membuang tubuh ke kiri karena tak sempat menangkis lagi sehingga pedang meluncur di atas pundaknya. Tangan kirinya yang mencabut keluar sapu tangan tadi bergerak cepat, serangkum bau yang amat harum menyambar.

Phang Khai mencium ganda yang harum luar biasa. Seketika kepalanya terasa pening, pandang matanya berkunang.

"Celaka...!"

Dia berseru dan berusaha mengerahkan lweekang-nya untuk melawan hawa beracun itu. Akan tetapi sia-sia saja. Tubuhnya limbung dan kakek gagah perkasa ini roboh terguling dengan pedang masih di tangan!

Kim-thouw Thian-li tidak berhenti sampai di situ saja. Cepat dia melompat ke dekat Phang Tui yang masih saling gempur dengan Kwee Sin sambil mengebutkan sapu tangannya. Phang Tui juga tidak dapat menahan, roboh terguling dan pingsan.

Kim-thouw Thian-li sudah menggerakkan pedang hendak membacok mati dua orang itu, namun Kwee Sin cepat berseru, "Jangan bunuh mereka!"

Kiranya Kwee Sin tidak terpengaruh oleh racun itu, mengapa? Hal ini tidak aneh. Sudah bertahun-tahun Kwee Sin berhubungan dengan Kim-thouw Thian-li, tentu saja dia sudah banyak pula mengenal senjata-senjata rahasia wanita ini dan juga tahu bagaimana cara menolaknya.

Kim-thouw Thian-li amat marah. "Dua cacing tua ini datang hendak membunuhmu, masa sekarang kau melarangku membunuh mereka?" Pedangnya masih tetap diayun hendak dibacokkan.

Pada saat itu dari luar menyambar angin keras. Dua sinar hitam melesat cepat mengenai dua buah lampu di dalam ruangan itu. Seketika penerangan menjadi padam dan keadaan di dalam ruangan itu menjadi gelap gulita.

"Ehh, apa ini...?" Kwee Sin berseru kaget.
"Aduh...!"

Kim-thouw Thian-li mengeluh dan roboh tanpa dapat bergerak lagi. Ternyata hiat-to (jalan darah) di tubuhnya sudah kena ditotok orang dalam kegelapan itu dan ia pun roboh tanpa bergerak lagi.

Kwee Sin merasa tangannya dipegang orang. Cepat dia mengibaskan pegangan itu, tapi mendadak kedua tangannya lemas tak bertenaga lagi. la pun sudah terkena totokan orang yang amat lihai itu, kemudian dia merasa tubuhnya melayang dan berada di atas pundak orang yang memanggulnya.

Biar pun tubuhnya tidak mampu bergerak, pikiran Kwee Sin masih terang dan tahulah dia bahwa dia telah dibawa lari orang, sudah diculik oleh seorang yang berkepandaian tinggi. Berkali-kali orang yang memanggulnya itu meloncat tinggi, melalui genteng rumah orang dan akhirnya melompati tembok kota raja. Orang ini terus lari keluar dari kota raja dengan kecepatan yang mengagumkan.

Ada pun Phang Khai serta Phang Tui yang tadinya roboh pingsan dengan tangan masih mencengkeram gagang pedang masing-masing, merasa ada hawa dingin menyambar ke muka mereka. Phang Khai lebih dulu siuman dari pingsannya. la merasa terheran-heran ketika mendapatkan dirinya telah berada di kebun belakang kelenteng tua di mana dia dan adiknya bersembunyi selama bertugas di kota raja.

Dilihatnya Phang Tui juga menggeletak di rumput. Pedang mereka terletak di situ pula. Cepat Phang Khai menolong adiknya dan mereka berdua tiada habisnya terheran-heran bagaimana mereka yang tadinya roboh oleh hawa beracun Kim-thouw Thian-li sekarang tahu-tahu sudah berada di kebun kelenteng dalam keadaan baik-baik saja.

"Ahh, tentu ada orang menolong kita," kata Phang Khai kagum.
"Twa-ko, jangan-jangan Kwee Sin yang menolong kita! Beberapa kali dia telah mencegah Kim-thouw Thian-li membunuh kita. Kiranya orang muda itu masih memiliki watak setia kawan terhadap orang kang-ouw, tapi kenapa dia terjerumus ke dalam lumpur kehinaan membantu pemerintah dan bersekongkol dengan iblis macam ketua Ngo-lian-kauw itu?"

Phang Khai menggeleng kepala. "Tak mungkin jika Kwee Sin yang menolong kita, malah dalam hal ini terjadi sesuatu yang aneh. Kalau Kwee Sin yang menolong kita, bagaimana dia bisa tahu bahwa kita bermalam di tempat ini? Padahal tempat kita ini adalah rahasia kita sendiri. Selain itu tidakkah kau lihat betapa Kwee Sin sangat takut kepada Kim-thouw Thian-li? Mana bisa dia menolong kita?"

"Memang amat aneh." Phang Tui mengangguk-angguk mengerutkan kening. "Akan tetapi, Twako, yang membikin aku hampir mati penasaran adalah gadis yang bernama nona Lee itu. Kau tentu tahu pula apa yang kumaksud, bukan?"
"Tentu saja. Dia boleh menyamar dengan bentuk bagaimana pun juga, tapi mana bisa dia mengubah matanya? Nona Lee adalah si dia itulah. Hemmm, dia telah mengkhianati kita, memberi tahu kepada Kwee Sin mengenai maksud kita. Orang semacam itu mana bisa dijadikan kepercayaan Si-enghiong? Terang berbahaya sekali. Dengan pengkhianatannya ini jelas membuktikan bahwa dia adalah seorang pengkhianat, seorang antek Mongol tak bedanya seperti Kwee Sin. Biarlah kau lihat saja sikapku besok lusa malam pada saat kita bertemu dengan mereka."

Tiba-tiba Phang Tui yang tadi termenung menepuk pahanya. "Waah, kenapa aku sampai lupa?"
"Apa maksudmu?" kakaknya bertanya.
"Twako, terang bahwa tadi ada orang pandai menolong kita sehingga dalam keadaan pingsan di ruangan gedung Kwee Sin kita bisa terbebas dari kematian. Siapakah kau kira yang telah menolong kita tadi?"
"Mana aku tahu? Aku pun pingsan seperti kau."
"Twako, sudah lama kita mendengar bahwa dua orang pemimpin pejuang yang bertugas di kota raja, yaitu Ji-enghiong (Pendekar ke dua) dan Si-enghiong (Pendekar ke empat) memiliki ilmu yang amat tinggi. Apakah bukan mereka yang telah menolong?"
"Ahhh, benar juga kata-katamu ini. Yang menolong kita tentulah orang yang mengerti keadaan dan tugas kita. Siapa pula kalau bukan mereka? Tapi yang manakah di antara kedua enghiong itu? Dan siapa pula sebenarnya mereka ini yang selalu bekerja penuh rahasia?"

Dua orang kakak beradik itu berhadapan dengan sebuah rahasia dan betapa pun mereka memutar otak menduga-duga, tetap mereka tidak dapat memecahkannya.....

********************
Selanjutnya baca
RAJA PEDANG : JILID-13
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger