logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Rajawali Emas Jilid 10


Semenjak pemberontak-pernberontak dibasmi belasan tahun yang lalu, keadaan di kota raja aman dan tenteram. Namun hal ini hanya berjalan beberapa tahun saja karena kini timbullah persaingan baru yang lebih ganas. Persaingan antara putera-putera Kaisar, juga termasuk keluarganya yang tentu saja merindukan kursi singgasana untuk menggantikan Kaisar yang sudah tua. Para pangeran itu mulai saling bermusuhan dalam usaha mereka menarik hati Kaisar agar mereka dijadikan calon pengganti Kaisar.

Demikian hebat persaingan ini yang kadang-kadang tidak dilakukan secara diam-diam melainkan secara terbuka, sehingga masing-masing mempunyai jagoan-jagoan sendiri. Persaingan mencapai puncaknya ketika putera mahkota, yaitu putera sulung dari Kaisar, akhirnya tewas menjadi korban persaingan itu. Tak seorang pun tahu siapa pembunuhnya dan dengan apa dibunuhnya. Namun ahli silat tinggi maklum bahwa putera mahkota ini dibunuh oleh seorang ahli silat yang memiliki kepandaian luar biasa.

Seperti juga halnya dengan kaisar-kaisar lain atau hampir semua pemimpin dan pembesar yang menduduki kemuliaan serta memegang kekuasaan, Kaisar Tai-tsu juga mempunyai banyak isteri sehingga anaknya pun banyak pula. Hal ini membingungkan hatinya sebab dia harus memilih salah seorang pangeran untuk dijadikan putera mahkota setelah putera sulungnya meninggal dunia.

Dia maklum akan persaingan serta permusuhan di antara putera-puteranya, selir-selirnya dan keluarganya. Oleh karena Kaisar pun dapat menduga bahwa putera sulungnya itu terbunuh orang, maka ia lalu menjatuhkan pilihannya pada anak dari putera sulungnya itu yang bernama Hui Ti atau Kian Bun Ti untuk menjadi pengganti putera mahkota. Hui Ti atau Kian Bun Ti ini adalah cucu Kaisar.

Pada waktu itu Kian Bun Ti ini telah menjadi seorang pemuda yang tampan dan cerdik bukan main. Ia maklum akan bahayanya kedudukannya, maklum bahwa banyak paman pangeran lain merasa iri hati akan kedudukannya. Maka dengan sangat pandainya Kian Bun Ti mendekati Kaisar, berhasil menguasai hati dan kasih sayang kakeknya ini.

Adalah atas bujukan pemuda cerdik inilah maka seorang pamannya yang dianggap paling berbahaya, yaitu Pangeran Yung Lo yang jujur dan keras, oleh Kaisar dihalau dari kota raja, diberi tugas pertahanan di utara, di kota raja lama, Peking.

Memang pada waktu itu tiada hentinya bangsa Mongol, Mancu, dan lain-lain suku bangsa dari utara selalu berusaha menyerang Kerajaan Beng yang baru ini. Pangeran Yung Lo tentu saja mentaati perintah dan berangkatlah dia ke utara menjalankan tugas berat ini.

Biar pun telah berhasil menghalau saingannya yang paling berbahaya, namun Kian Bun Ti masih belum lega karena ia maklum bahwa yang melihat kepadanya dengan mata penuh dengki masih banyak sekali. Maka ia pun lalu mengumpulkan orang-orang pandai untuk menjaga dirinya, bahkan dia sendiri mempelajari ilmu silat.

Di samping kesukaannya mendekati ahli-ahli silat dan para jagoan, Pangeran yang masih muda ini pun terkenal sebagai seorang yang tidak boleh melihat wanita cantik. Entah berapa banyak wanita-wanita cantik dan muda, jatuh hati dan menjadi korbannya, tertarik oleh ketampanannya atau kedudukannya mau pun harta bendanya. Memang wanita mana yang takkan tertarik oleh seorang pemuda yang tampan, cerdik, malah seorang pangeran calon kaisar pula?

Di dalam usahanya menguasai keadaan dunia kang-ouw, Pangeran ini tidak segan-segan untuk mempergunakan perkumpulan-perkumpulan seperti Hek-kaipang (Pengemis Hitam) dari mana ia bisa mendapatkan sumber berita mengenai gerakan orang-orang kang-ouw sehingga ia dapat tahu siapa yang menjadi jagoan-jagoan baru dari para saingannya.

Pangeran Kian Bun Ti menjadi tertarik sekali ketika ia menerima laporan dari beberapa anggota perkumpulan pengemis yang menjadi kaki tangan dan penyelidiknya tentang dua orang gadis cantik jelita anak murid Hoa-san-pai yang menggegerkan pertemuan Hwa-i Kaipang. Pangeran ini tidak hanya tertarik oleh kecantikan dua orang dara remaja itu, melainkan terutama sekali tertarik oleh cerita tentang kehebatan ilmu silat mereka.

Diam-diam ia mempunyai maksud hati yang baik sekali, maksud hati yang jadi perpaduan antara seleranya terhadap dara ayu dan kebutuhannya akan pengawal yang lihai. Cepat ia memanggil beberapa orang kepercayaannya dan membagi-bagi perintah…..
********************
Sementara itu, Kun Hong dan dua orang dara remaja telah memasuki kota raja dengan gembira. Tiga orang muda yang semenjak kecilnya bertempat tinggal di pegunungan yang sunyi ini sekarang berjalan perlahan di atas jalan raya, dengan mata terbelalak dan mulut tiada henti mengeluarkan seruan-seruan kagum dan memuji ketika mereka menyaksikan gedung-gedung terukir indah dl sepanjang jalan.

Apa lagi Li Eng yang amat lincah itu, ia sangat bergembira dan berlarian ke kanan kiri mendekati setiap penglihatan yang baru dan asing baginya. Setiap ada bangunan indah dan besar ia berdiri terlongong di depannya, dan benda-benda yang diperdagangkan di sepanjang jalan dalam toko-toko pun tak lepas dari perhatiannya.

Hui Cu yang lebih pendiam dan alim hanya merupakan. pengikut saja. Biar pun gadis ini juga amat kagum dan terheran-heran, namun ia dapat menekan perasaannya dan hanya tampak bibirnya yang kecil mungil mengulum senyum serta sepasang matanya bersinar-sinar menambah indah wajah yang berseri itu.

Pada waktu itu, orang-orang wanita berada di atas jalan raya bukanlah hal aneh. Banyak wanita berjalan di atas jalan raya, akan tetapi semua itu adalah wanita-wanita pekerja kasar dan pedagang kecil, pendeknya wanita yang agak tua atau yang agak buruk rupa. Puteri-puteri bangsawan yang cantik-cantik hanya menampakkan diri di atas jalan raya dalam kendaraan tertutup.

Memang ada kalanya tampak pula berjalan-jalan wanita-wanita kang-ouw atau anak-anak penjual obat keliling yang memperlihatkan ilmu silat pasaran, namun hal ini jarang terjadi. Oleh karena itu, ketika dua orang dara remaja ini memasuki kota raja, di sepanjang jalan mereka lantas menjadi tontonan orang, terutama laki-laki muda dan tua yang tidak hanya mengagumi kecantikan dua orang gadis itu, akan tetapi terutama sekali mengagumi sikap mereka berdua yang begitu bebas.

Dua orang gadis ini mudah saja menimbulkan dugaan bahwa mereka adalah gadis-gadis kang-ouw yang berkepandaian silat, terbukti dari pedang yang tergantung di pinggang mereka. Mudah juga diduga bahwa mereka berdua tentulah memiliki ilmu silat yang lihai, karena kalau tidak demikian, bagaimana dua orang gadis remaja yang begitu cantik jelita bisa melakukan perjalanan dengan aman dan selamat sampai ke kota raja?

Kecantikan mereka yang luar biasa itu tentu akan menjadi sebab kemalangan mereka, tentu mereka telah ditahan dan diambil oleh orang-orang jahat. Karena dugaan inilah maka walau pun banyak mata laki-laki melotot dan mulut tersenyum-senyum, sejauh itu belum ada yang berani sembrono mengeluarkan kata-kata teguran atau godaan.

Kun Hong membuat banyak orang heran. Pemuda ini pakaiannya seperti seorang siucai, seorang terpelajar, akan tetapi pakaian itu sudah lapuk sehingga menimbulkan dugaan bahwa dia tentulah seorang pelajar yang tidak lulus ujian dan jatuh miskin seperti banyak terdapat pada masa itu.

Yang mengherankan orang, mengapa seorang siucai miskin seperti ini berjalan bersama dua orang dara remaja kang-ouw? Biasanya gadis-gadis kang-ouw yang cantik seperti ini tentu melakukan perjalanan dengan laki-laki yang hebat pula, yang luar biasa, aneh, atau yang gagah perkasa. Kenapa sekarang pengiringnya hanya seorang siucai jembel yang hanya tersenyum-senyum, berjalan perlahan seperti kehabisan tenaga?

Lebih-lebih herannya orang-orang yang berada dekat dengan mereka ketika mendengar Li Eng dengan lincah menyebut siucai muda itu ‘paman’. Heran sekali, usianya sepantar mengapa disebut paman?

Bila dua orang dara itu mengagumi keindahan ukir-ukiran, bangunan, benda-benda aneh yang diperdagangkan orang, apa lagi melihat sutera-sutera beraneka warna yang halus dan mahal, adalah Kun Hong kembang-kempis hidungnya serta berkeruyukan perutnya karena mencium bau masakan yang gurih dan sedap keluar dari banyak rumah makan di sepanjang jalan.

Wangi sedap dari masakan daging, bawang dan bumbu-bumbu lain menusuk hidungnya, membuat semua yang dilihat Li Eng dan Hui Cu tidak seindah mangkok berisi masakan yang mengebul panas-panas di atas meja! Akan tetapi pemuda ini menekan seleranya, maklum bahwa tak mungkin ia dapat membeli masakan-masakan yang mahal itu.

Jika Li Eng tidak ada perhatian lain kecuali terhadap barang-barang indah dan bangunan-bangunan megah yang tak pernah dilihatnya itu, adalah Hui Cu yang pendiam dan selalu tanpa diketahui orang lain memperhatikan pamannya, segera dapat menduga bahwa pamannya itu merasa lapar dan ingin makan.

Hui Cu lalu menyentuh tangan Li Eng dan berbisik di dekat telinganya. Li Eng tersenyum, menoleh kepada Kun Hong yang tidak tahu apa yang dibicarakan antara dua orang gadis itu.

"Paman Hong, apakah kau lapar dan ingin makan?" tiba-tiba saja Li Eng yang tak pernah menaruh hati sungkan-sungkan itu bertanya.
"Apa...? Betul... ehh, tidak apa..." Kun Hong gagap karena pertanyaan yang tiba-tiba itu memang cocok sekali dengan pikirannya.

Li Eng segera menyambar tangannya dan digandeng menuju ke sebuah rumah makan. "Kalau lapar mengapa diam saja? Di sini banyak rumah makan, boleh kita pilih masakan yang enak!"

"Hush, jangan main-main." Kun Hong menahan. "Aku tidak punya uang, mana berani masuk rumah makan?"
“Untuk apa uang? Kita tak usah beli, bisa minta," kata lagi Li Eng.
"Ihh, memalukan!" Kun Hong mencela.

Li Eng tertawa ditahan. "Hi-hi-hi-hik, kau lihat, Enci Hui Cu! Tidakkah aneh bukan main paman kita ini? Paman Hong, kau ini seorang kai-ong (raja pengemis) kenapa harus malu minta-minta?"

Digoda begini oleh Li Eng, gemas juga hati Kun Hong. "Sudah, jangan terlalu menggoda orang kau, bocah nakal. Kujewer telingamu nanti!"

Li Eng hanya tertawa manja dan Hui Cu pun berkata, "Susiok, harap jangan kuatir, kami membawa bekal uang dan andai kata kurang, aku masih mempunyai gelang emas, dapat kita jual." Berbeda dengan Li Eng, suara nona ini sungguh-sungguh dan sama sekali tidak bermain-main.

"Nah, punya keponakan yang begini mencintai seperti Enci Cu, kau takut apa, Susiok?" Lagi-lagi Li Eng menggoda dan kali ini ia benar-benar menerima cubitan, bukan dari Kun Hong, melainkan dari Hui Cu sehingga ia menjerit mengaduh-aduh.

Wajah Kun Hong sama merahnya dengan wajah Hui Cu. Dia merasa tidak enak sekali dengan godaan Li Eng itu, maka ia segera berkata dengan lagak seorang tua, "Sudahlah, di tengah jalan jangan bergurau-gurau. Tidak patut dilihat orang!" Kemudian ditambahnya, "Kalau memang kalian membawa uang, mari kita makan di rumah makan itu."

Tiga orang muda ini lalu memasuki rumah makan yang besar dan mewah, juga kelihatan menarik sekali karena pintu, jendela dan meja bangkunya dicat merah dan kuning. Melihat ketiga orang muda ini memasuki rumah makan, pelayan kepala menyambutnya sendiri, terbungkuk-bungkuk menyambut dengan seluruh muka bulat itu tersenyum lebar.

"Silakan... silakan Sam-wi (Tuan Bertiga) masuk. Selamat datang dan silakan. Sam-wi tak akan kecewa memasuki rumah makan kami yang tersohor di seluruh negeri!"

Apa bila Li Eng dan Hui Cu menerima sambutan yang amat menghormat ini dengan anggukan kepala angkuh, adalah Kun Hong yang menjadi sibuk membalas penghormatan orang. Ia melihat pelayan kepala ini orangnya gemuk, pakaiannya bersih dan rapi sekali, maka ketika ia melirik ke arah pakaiannya sendiri, ia pun menjadi malu dan sungkan. Pakaiannya lapuk dan kotor seperti pakaian jembel, bagaimana dia merasa enak hati menerima sambutan penghormatan sedemikian dari pengurus rumah makan ini?

Setelah ketiganya memilih sebuah meja di sudut dan mengambil tempat duduk, pelayan kepala ini seperti seekor burung kakatua nerocos terus, "Sam-wi hendak menikmati apa? Arak wangi dari selatan, arak buah dari Tung-to, atau arak ketan dari pantai? Kami ada masakan-masakan istimewa, khusus untuk Sam-wi. Daging naga di tim, jantung hati burung sorga goreng setengah matang, kepala burung Hong dipanggang bumbu merah, kaki gajah masak sayur, buntut singa masak jamur, atau masih banyak macamnya.”

Tiga orang itu segera saling pandang. Li Eng dan Hui Cu hanya tersenyum-senyum untuk menutupi perasaan malu karena semua nama masakan itu merupakan nama asing dan baru bagi mereka. Akan tetapi tanpa menyembunyikan keheranannya, Kun Hong terus mendengarkan dengan mata terbelalak dan mulut melongo.

Tidak main-mainkah pelayan ini? Bagaimana orang bisa memasak daging naga, jantung burung sorga, burung Hong, gajah, singa dan lain-lain itu? Dia sampai menjadi bingung dan tidak sanggup memilih. Bagaimana ia harus memilih antara masakan yang memang selama hidupnya baru kali ini ia dengar namanya itu?

"Kalau Sam-wi sukar memilih, biarlah kami sediakan semua yang ada agar Sam-wi dapat makan seenaknya."

Pelayan kepala itu kemudian mengundurkan diri dan tak lama kemudian berdatanganlah pelayan-pelayan, ada yang membawa arak, juga ada yang mengantarkan mangkok dan cawan, ada pula yang mulai mengeluarkan masakan-masakan panas.

Para tamu lain yang berada di situ memandang heran. Bagi orang kota ini, tidaklah aneh apa bila ada orang memborong masakan-masakan mahal. Akan tetapi kecantikan serta kebebasan dua orang dara remaja itu ditambah keadaan Kun Hong yang seperti jembel, benar-benar mendatangkan keheranan.

"Aku rela menghabiskan semua uang bekalku untuk dapat makan daging naga, burung Hong dan lain-lain binatang aneh itu," bisik Li Eng.

Hui Cu mengangguk. "Selama hidupku baru kali ini aku menjumpai masakan yang aneh. Untuk merasai daging naga aku pun rela mengorbankan gelangku."

Hanya Kun Hong yang bengong terlongong, setengah tidak percaya akan masakan yang aneh-aneh itu. Tidak lama kemudian masakan yang berbau lezat dan sedap gurih telah tersedia di atas meja. Dengan selera besar tiga orang muda yang memang sudah lapar sekali ini mulai makan.

Li Eng menggunakan sumpit menjumputi daging dari tiap masakan untuk dicoba rasanya. Ia terkikik lalu berkata, "Kurang ajar pelayan itu. Yang begini disebut daging naga ditim? Aku pernah makan daging ular kembang. Dan ini? Burung sorga apa? Ini kan hati burung dara? Dan kepala burung Hong? Setan, ini hanya kepala ayam biasa. Kaki gajah? Hi-hik, kaki babi dan buntut singa ini tentulah buntut kambing!"

Hui Cu juga tertawa kecil. “Tidak salah kata-katamu, Adik Eng. Akan tetapi harus diakui bahwa masakan ini bumbunya lengkap dan enak sekali."

Kun Hong juga tak sungkan-sungkan menggasak makanan-makanan lezat itu. Mendengar percakapan dua orang dara itu ia memberi komentar, "Memang penggantian nama-nama itu hanya siasat untuk menarik perhatian tamu, apa lagi yang datang dari luar kota raja."

"Tetapi dia kurang ajar, berani menipu kita," kata Li Eng. "Awas, orang itu patut dipukul kepalanya. Kita tak usah bayar!"
"Hush, omongan apa yang kau keluarkan itu, Li Eng?" Kun Hong membentak. "Jangan kau mencari gara-gara. Apa tidak malu sudah makan malah membayar pukulan? Tidak boleh kau begitu!"

Li Eng bersungut-sungut.

"Biarlah gelangku ini untuk membayar," kata Hui Cu.
"Tentu aku akan bayar, tapi juga akan kumaki karena dia telah menipu kita," kata pula Li Eng yang segera memberi isyarat kepada pelayan kepala yang memandang dari jauh.

Dengan terbungkuk-bungkuk pelayan kepala ini datang menghampiri. Mukanya berseri dan mulutnya segera berkata, "Tidakkah Sam-wi puas dengan masakan kami?"

"He, muka babi! Kau anggap aku ini orang apa? Berani kau mempermainkan kami dan membohong? Daging ular kau katakan daging naga, burung dara kau katakan burung sorga dan ayam biasa kau sebut burung Hong. Mana ada kaki gajah? Kaki babi! Kau benar-benar muka babi berani mempermainkan kami, apakah kau sudah bosan hidup?"

Muka yang tadinya berseri-seri itu mendadak berubah pucat. Ia cepat menjatuhkan diri berlutut di depan tiga orang muda itu dan suaranya yang gemetar sukar sekali ditangkap maksudnya. Namun Li Eng dapat mendengar bahwa orang itu minta-minta ampun dan mohon supaya jangan dilaporkan kepada Thaicu (Pangeran).

Kun Hong dan dua orang gadis itu terheran-heran. Jelas bahwa pelayan kepala ini bukan takut kepada mereka, tetapi takut kalau-kalau mereka melaporkannya kepada Thaicu.

"Mana siauwte berani menghina tamu-tamu dari Thaicu? Memang nama masakan itu begitu...," demikian antara lain kata-kata Si Pelayan Gemuk ini.
"Hemm, kau menyebut-nyebut Thaicu segala? Siapa itu?" akhirnya Kun Hong bertanya karena ia dapat menduga bahwa tentu terjadi kesalah pahaman.

Pada saat itu pula, dari luar masuklah dua orang yang berpakaian indah dan penutup kepalanya menandakan bahwa mereka adalah orang-orang berpangkat. Semua pelayan segera memberi hormat kepada dua orang yang datang ini dan ketika mereka berdua berhadapan dengan Kun Hong, Li Eng, dan Hui Cu yang juga memandang dengan penuh perhatian, dua orang ini membungkuk-bungkuk dengan sikap menghormat.

"Sam-wi yang terhormat dipersilakan datang ke Istana Kembang di mana Putera Mahkota sudah menanti. Kendaraan tamu siap menanti di luar."

Karuan saja Kun Hong beserta dua orang dara itu terlongong heran dan tidak mengerti. "Apakah yang kalian maksudkan?" tanya Kun Hong. "Kami tidak mempunyai hubungan dan janji-janji dengan siapa pun juga, tidak mengenal putera mahkota..."

Dua orang tua itu membungkuk lagi. “Thaicu amat tertarik kepada Sam-wi dan mulai saat beliau mendengar tentang Sam-wi, beliau menganggap Sam-wi sebagai tamu."

Li Eng segera berkata kepada Kun Hong. "Paman Hong, lebih baik kita lekas pergi dari tempat ini, di sini banyak yang aneh-aneh dan membingungkan." Ia lalu mengeluarkan uang bekalnya dan bertanya kepada pelayan kepala, "Lekas hitung, berapa kami harus bayar makanan palsu ini."

Pelayan ini buru-buru menggerakkan tangannya menolak. "Ah, bagaimana Siocia (Nona) hendak membayar? Semua sudah terbayar lunas, malah berikut persennya, semua sudah beres oleh Thaicu."

Tiga orang muda itu kembali melengak. Lagi-lagi orang menyebut Thaicu. Kenapa putera mahkota begitu memperhatikan mereka? Sejak kapankah mereka kenal dengan putera mahkota?

"Li Eng, putera mahkota telah berlaku baik kepada kita, tidak seharusnya kita menolak kebaikan orang. Dia menghendaki kita datang ke Istana Kembang, bukankah kau tadi menyatakan keinginanmu untuk dapat kesempatan melihat keadaan istana dari dalam? Nah, kesempatan ini sekarang tiba, kenapa kita tidak menerimanya?"
"Pendapat yang bijaksana sekali!" seorang di antara dua pembesar itu berkata girang. "Marilah, Kongcu dan Ji-wi Siocia (Nona Berdua), mari menggunakan kendaraan yang sudah menanti di luar rumah makan."

Kun Hong mengajak dua orang keponakannya keluar dan benar saja, sebuah kereta yang amat indah dengan dua ekor kuda sudah menunggu di depan. Seorang di antara dua pembesar itu membukakan pintunya dan mempersilakan tiga orang ‘tamu agung’ itu memasuki kereta.

Tanpa ragu-ragu lagi Kun Hong naik, diikuti oleh dua orang gadis yang masih ragu-ragu dan hanya terpaksa menurut karena didahului oleh paman mereka. Andai kata tidak ada Kun Hong di situ, sudah pasti Li Eng dan Hui Cu tidak akan sudi menerima undangan orang.

Sesudah mereka semua duduk di dalam kereta, salah seorang ‘pembesar’ itu segera mengambil tempat kusir dan orang ke dua di belakang. Kiranya mereka itu adalah kusir kereta dan keneknya!

Merah muka Kun Hong kalau teringat betapa tadi di dalam rumah makan ia mengira bahwa mereka adalah dua orang ‘pembesar’ dari istana. Kiranya hanya kusir bersama keneknya! Malu ia kalau melirik kearah pakaiannya sendiri yang patut membuat ia disebut orang jembel.

Di dalam kereta yang serba indah dan bersih itu, ketiga orang muda ini duduk saling berpandangan dan sampai lama tidak membuka mulut. Betapa pun tenangnya, hati Kun Hong berdebar-debar juga kalau mengingat bahwa dia akan berhadapan dengan putera mahkota! Apa lagi dua orang gadis itu yang tampak gelisah sekali.

"Paman Hong," akhirnya Li Eng berkata dengan suara berbisik, "Mengapa kau menerima undangan ini? Jangan-jangan orang bermaksud buruk dan jahat terhadap kita..."
"Jangan curiga yang bukan-bukan, Li Eng. Tempat ini adalah kota raja dan sudah tentu saja Kaisar sekeluarganya adalah tuan rumah. Kalau putera mahkota mengundang kita, berarti kita sebagai tamu diundang tuan rumah dan kehormatan besar ini sekali-kali tidak baik kalau kita tolak. Pula, apa buruknya kalau kita mendapat kesempatan bertemu dan bercakap-cakap dengan putera mahkota, dan berkesempatan pula melihat-lihat keadaan kota dari dalam Istana Kembang? Ah, kelak tentu kalian akan bercerita banyak di rumah tentang pengalaman ini."

Li Eng dan Hui Cu tidak berkata-kata lagi, terbenam dalam lamunan masing-masing.....

Memang bagi Li Eng dan Hui Cu perjalanan ini menegangkan hati sekali, tetapi mereka berdua juga merasa bahwa perjalanan ini amat berbahaya dan mencurigakan. Persamaan pendapat ini hanya mereka utarakan dengan pertukaran pandang mata. Hanya Kun Hong yang duduk enak-enakan, nampaknya ayem dan tenang saja, malah sepasang matanya yang tajam itu bersinar-sinar gembira.

Istana Kembang berada di lingkungan istana yang paling pinggir, termasuk pinggir kota yang sunyi. Di sekitar istana itu penuh hutan-hutan yang ditanami banyak pohon-pohon yang indah, pohon-pohon buah dan pohon-pohon kembang. Sekeliling istana merupakan taman bunga yang besar dan luas, di mana ditanam segala macam bunga. Di sana-sini terdapat empang ikan yang selain menjadi tempat peliharaan ikan-ikan emas yang indah-indah, juga menjadi tempat tumbuhnya bunga teratai yang berwarna-warni.

Kereta berhenti di depan gedung yang tidak begitu besar, akan tetapi bentuknya mungil dan seluruh bagian bangunan ini penuh dengan hasil-hasil seni ukir dan seni lukis. Begitu turun dari kereta, ketiga orang muda yang berasal dari pegunungan ini berdiri ternganga. Istana dan keindahan sekitarnya bagi mereka begitu aneh dan begitu indah yang biasanya hanya dapat mereka bayangkan dalam alam mimpi saja.

Beberapa orang pelayan yang pakaiannya juga seperti pembesar-pembesar cepat-cepat datang menyambut, "Sudah sejak tadi putera mahkota menanti kedatangan Sam-wi yang terhormat. Sam-wi (Tuan Bertiga) dipersilakan langsung menuju ke ruangan istirahat di mana Thaicu sudah menanti," begitulah kata mereka.

Seperti dalam mimpi tiga orang muda itu mengikuti para pelayan menuju ke pintu depan istana. Begitu memasuki pintu ini, tiga orang muda itu tiada habisnya mengagumi segala keindahan yang terdapat di situ.

Lukisan-lukisan kuno, ukir-ukiran yang menghiasi ruangan dalam, perabot-perabot yang terbuat dari kayu harum, sutera-sutera yang berkilauan, batu-batu kemala dalam bentuk hiasan-hiasan, permadani halus yang menghias dinding dan lantai. Bukan main!

Li Eng yang biasanya bebas dan tidak mau tunduk itu kini merasa dirinya kecil sehingga tanpa ia sadari lagi berpegang erat-erat pada lengan kanan Kun Hong. Malah Hui Cu yang biasanya agak pemalu dan juga masih sungkan-sungkan bersikap terlalu intim terhadap pamannya, kini pun tanpa ia sadari lagi menggandeng tangan kiri Kun Hong.

Sungguh sikap tiga orang muda ini seperti tiga ekor kelinci memasuki goa macan! Hanya Kun Hong yang biar pun tampak kagum sekali, masih dapat bersikap tenang, sedikit pun tidak ada perasaan takut seperti yang terdapat dalam pikiran dua orang dara remaja itu. Di setiap lorong atau ruangan baru, berganti pelayan yang bertugas mengantar mereka.

Istana itu dari luar tampaknya kecil mungil, akan tetapi setelah dimasuki ternyata luas dan ruangan istirahat yang dimaksudkan itu ternyata jauh juga dari pintu depan. Kiranya ruang itu ada di sebelah belakang, merupakan ruangan terbuka dengan atap berbentuk payung besar, tanpa dinding sehingga kelihatannya seperti dikelilingi oleh kembang-kembang. Di empernya terdapat empang ikan yang lebar dan di tengah-tengahnya terdapat air mancur yang keluar dari mulut seekor naga batu. Benar-benar ruangan istirahat ini sangat indah dan berhawa sejuk, tepat menjadi tempat beristirahat menghilangkan lelah.

Seorang lelaki muda duduk menghadapi empang, kelihatannya sedang melamun. Usianya sebaya Kun Hong, wajahnya tampan dan pakaiannya indah sekali, terbuat dari sutera dan berlukiskan burung Hong. Topinya juga aneh dan bersulamkan gambar naga, akan tetapi agaknya pemuda itu sedang kurang gembira sehingga rambut hitamnya yang keluar dari bawah topi didiamkannya saja.

"Yang Mulia, tiga orang tamu yang dinanti-nantikan sudah datang menghadap!" seorang pelayan melapor sambil menjatuhkan diri berlutut.

Pelayan lain sebelum berlutut berbisik kepada Kun Hong bertiga, "Harap Sam-wi berlutut memberi hormat."

Akan tetapi Kun Hong, apa lagi Li Eng juga Hui Cu, tidak mengerti akan bisikan ini, dan hanya memberi hormat seperti biasanya mereka memberi hormat kepada orang lain yang sebaya usianya, yaitu dengan membungkuk dan mengangkat kedua tangan ke dada. Orang muda itu cepat bangkit dari duduknya dan gerakannya cepat sekali sehingga Hui Cu dan Li Eng segera dapat menduga bahwa orang itu tentu mempunyai kepandaian ilmu silat yang lumayan juga.

Setelah berhadapan, ternyata bahwa laki-laki muda itu lebih berwajah gagah dari pada tampan. Terutama sepasang matanya membuat orang tidak berani menentang pandang matanya lama-lama, penuh wibawa dan gerak-geriknya agung. Hal ini mungkin sudah ia biasakan untuk disesuaikan dengan kedudukannya, putera mahkota! Inilah dia Kian Bun Ti, putera mahkota yang sebetulnya adalah cucu dari Kaisar, putera dari mendiang Putera Mahkota atau putera sulung dari Kaisar.

Berdebar keras hati Li Eng dan Hui Cu ketika melihat betapa sepasang mata yang agak lebar itu memandang kepada mereka penuh perhatian, lalu terpancar sinar kagum dari mata itu sebelum mulutnya tersenyum dan suaranya terdengar ramah,

"Ahhh, Taihiap yang menjadi Sin-kai Pangcu (Ketua Perkumpulan pengemis baru) serta kedua Lihiap (Pendekar Wanita)! Girang sekali hatiku karena Sam-wi suka datang untuk bercakap-cakap!"

Ia melangkah maju dan pandang matanya bergantian menelan wajah Li Eng dan Hui Cu. Kemudian dia menoleh kepada pelayan dan berkata dengan suara yang jauh berbeda, yaitu suara memerintah yang berpengaruh dan angker.

"Sediakan arak Sian-ciu (Arak Dewa) dan daging kering, kemudian enyahlah dari sini, beri tahu para cianpwe supaya menunggu dan tidak boleh menghadap sebelum dipanggil!"

Pelayan-pelayan itu sambil merangkak mengundurkan diri dan tak lama kemudian mereka datang membawa hidangan yang diminta, lalu mengundurkan diri lagi.

Pangeran Kian Bun Ti dengan ramah lalu mempersilakan tiga orang muda itu mengambil tempat duduk di dekat empang. Sikapnya yang ramah serta budi bahasanya yang manis mengusir rasa sungkan dari tiga orang itu. Malah Li Eng dengan cepat menguasai kembali kelincahan dan kebebasannya.

"Aduh, indahnya ikan-ikan ini... Enci Cu, kau lihatlah yang di sudut itu... yang di sana itu... hi-hi-hi, seperti ada jenggotnya!" Ia menarik tangan Hui Cu dan menuding-nuding dengan telunjuknya yang kecil runcing.

Pangeran Kian Bun Ti memandang kagum kepada dua orang gadis itu, terutama kepada Li Eng. Ia mendengar bahwa dua orang gadis itu mempunyai kepandaian ilmu silat yang hebat.

Tadi begitu bertemu, ia sudah heran bukan main karena sama sekali di luar dugaannya bahwa dua orang wanita kang-ouw yang menjadi ‘jagoan’ ternyata adalah dua orang dara remaja yang begini manis cantik jelita dengan bentuk tubuh yang tidak kalah oleh puteri-puteri istana. Apa lagi sekarang, melihat mereka tertawa-tawa senang melihat ikan-ikan dengan sikap bebas dan sewajarnya, jauh bedanya dengan sikap puteri-puteri istana atau selir-selirnya, benar-benar menggugah rasa sayang di hati Pangeran ini.

Akan tetapi diam-diam ia pun meragukan dan sangsi, apakah benar-benar dua orang dara remaja jelita ini memiliki kepandaian ilmu silat yang tinggi? Rasa-rasanya tidak mungkin kalau melihat kehalusan sifat mereka dan usia mereka yang masih amat muda.

Pangeran mahkota ini lalu mengalihkan perhatiannya kepada Kun Hong. Seorang pemuda sederhana yang halus budi dan bersikap sopan, begitu penilaiannya. Akan tetapi ketika Pangeran ini mengajak tamunya bicara tentang ketata negaraan, ia amat kecewa karena ternyata bahwa pemuda aneh yang baru saja dipilih sebagai ketua baru dari perkumpulan Hwa-i Kaipang yang baru itu, ternyata sama sekali buta politik kenegaraan. Kata-katanya penuh mengandung inti dari filsafat dan kebatinan sebagai penuntun manusia ke arah kebajikan.

Hemm, orang muda yang berbakat menjadi pendeta, pikirnya kecewa. Orang seperti ini sama sekali tiada gunanya bagiku, demikian Pangeran Mahkota itu berkata kepada dirinya sendiri. Perhatiannya kemudian diarahkan kembali kepada Li Eng dan Hui Cu yang masih mengagumi keindahan kembang-kembang, ikan-ikan dan arca serta ukiran indah yang menghias taman.

"Pangcu, apakah kedua orang Lihiap itu benar-benar keponakanmu? Kau masih begini muda, tidak akan jauh selisihnya usiamu dengan mereka, bagaimana bisa menjadi paman mereka?" akhirnya Pangeran itu bertanya kepada Kun Hong.

Pemuda ini sebetulnya merasa kurang enak mendapat sebutan pangcu itu. Akan tetapi karena memang kenyataannya ia telah menerima kedudukan ketua Hwa-i Kaipang, maka ia pun tidak dapat membantah.

Mendengar pertanyaan ini, Kun Hong tersenyum. "Sebenarnya bukan keponakan dalam hubungan keluarga, Pangeran, melainkan dalam hubungan perguruan. Ayah saya adalah supek (uwa guru) dari ayah ibu mereka, oleh karena itulah maka saya terhitung sebagai paman guru mereka."

Pangeran Mahkota itu mengangguk-angguk. "Kalau begitu, Pangcu sebagai putera Ketua Hoa-san-pai dan sebagai paman dari kedua orang lihiap ini, tentu memiliki ilmu silat yang tinggi sekali."

Li Eng dan Hui Cu yang kini sudah duduk kembali di dekat Kun Hong, menahan senyum mereka mendengar ucapan ini.

Kun Hong sendiri menjadi merah mukanya ketika ia menjawab, "Ah, saya seorang yang bodoh, mana tahu akan ilmu silat? Ayah dan Ibu pun melarang saya untuk belajar ilmu silat semenjak kecil. Berbeda dengan kedua orang keponakanku ini, sedikit-sedikit mereka mengerti ilmu silat, Pangeran."

Pangeran Kian Bun Ti memandang pada dua orang dara itu. Li Eng menentang pandang mata itu dengan sinar mata yang terbuka dan berani, sebaliknya Hui Cu hanya membalas tenang-tenang kemudian menundukkan pandang matanya.

"Alangkah senangnya memiliki kepandaian siiat tinggi seperti Ji-wi Siocia ini dan alangkah akan merasa aman di hati kalau mempunyai teman seperti Ji-wi Lihiap," demikian kata Pangeran itu penuh kekaguman dan sepasang matanya memancarkan cahaya ganjil.

Akan tetapi Li Eng masih terlalu muda dan tidak ada pengalaman sehingga pandang mata seperti ini dianggapnya bukan apa-apa. Hui Cu lebih tajam dan perasa sehingga gadis ini berdebar-debar dan tidak berani lagi menentang pandang mata Pangeran muda itu.

"Ah, Pangeran terlalu memuji!" Li Eng malah berani membantah. "Sedikit ilmu silat seperti yang kami miliki ini apakah artinya dibandingkan dengan keadaan Pangeran? Tinggal di tempat begini indah, terjaga oleh pasukan penjaga yang sangat kuat, setan pun tidak ada yang berani mengganggu!"

"Ha-ha-ha-ha, Nona pintar sekali bicara!" Pangeran itu gelak terbahak. "Kau sama sekali tidak tahu betapa kedudukan seorang pangeran tidaklah seenak yang orang kira. Bahaya selalu mengancam dari kanan kiri, nyawa pun selalu dalam bahaya. Sebab itulah tadi aku mengatakan betapa akan senang dan amannya jika dapat selalu berteman dengan Nona berdua yang pandai ilmu silat dan yang tentu akan dapat menghalau setiap orang jahat yang datang hendak mengambil nyawaku!"

Kun Hong mengerutkan keningnya. Di dalam hatinya ia tidak senang mendengar ucapan yang mengandung maksud hati seorang pria terhadap wanita ini. Akan tetapi ia tidak mau sembarangan mengeluarkan ketidak senangannya, apa lagi karena Li Eng dan Hui Cu agaknya sama sekali tidak dapat menangkap maksud sebenarnya yang bersembunyi di balik pujian-pujian Pangeran itu.

Pada saat itu mendadak terdengar bentakan keras, "Hendak kami lihat siapa akan dapat membelamu, Pangeran! Kematianmu sudah di depan mata, siaplah!"

Dan tahu-tahu dua orang laki-laki setengah tua dengan gerakan ringan dan cepat sekali telah datang melayang ke tempat itu, masing-masing tangan mereka memegang sebatang pedang dan langsung mereka itu menerjang Pangeran Kian Bun Ti.

"Celaka...!" Pangeran itu menjadi pucat dan ketakutan.
"Bangsat hina jangan menjual lagak!"

Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan Li Eng sudah melompat ke depan, diikuti oleh Hui Cu yang juga telah mencabut pedangnya. Terdengar suara nyaring ketika dua pasang pedang itu bertemu di udara dan dua orang laki-kaki itu berteriak kaget sambil melangkah mundur satu tindak.

"Li Eng, Hui Cu, jangan membunuh orang!" Kun Hong dalam kagetnya berteriak kepada dua orang keponakannya itu.

Sementara itu, dua orang itu sudah menerjang maju, sekarang sasaran mereka bukanlah Pangeran Kian Bun Ti yang sudah lari bersembunyi di belakang pilar. Penyerang yang seorang, bertubuh pendek berkepala besar, dilayani oleh Hui Cu karena Li Eng sudah mendahuluinya menerjang orang ke dua yang kurus kering berusia lima puluh tahun lebih.

Li Eng bermata tajam. Begitu melihat gerakan dua orang ini ketika menyerang Pangeran tadi segera dapat tahu bahwa orang ke dua yang kurus kering inilah yang terlihai di antara keduanya. Maka, ia mendahului Hui Cu memapaki orang ini.

Memang tidak salah dugaan Li Eng. Orang kurus kering itu selain lihai dan cepat ilmu pedangnya, juga memiliki tenaga lweekang yang tinggi sehingga pedang di tangannya itu tergetar-getar mengeluarkan hawa pukulan yang dahsyat.

Pedangnya berkelebat seperti burung elang menyambar-nyambar menjadi gulungan sinar putih. Tangan kirinya tak hanya digunakan untuk mengimbangi gerakan pedang di tangan kanan, bahkan kadang-kadang masih membantu serangan pedang dengan melancarkan pukulan-pukulan dengan telapak tangan yang mengandung tenaga dalam yang berhawa panas! Pendeknya, orang ini adalah ahli silat kelas tinggi yang hanya dapat digolongkan dengan tingkat para busu pengawal pribadi kaisar.

Namun kali ini ia ketemu batunya dalam menghadapi Li Eng. Dengan jurus-jurus gerakan Tian-mo Po-in (Payung Kilat Menyapu Awan) dari Hoa-san-pai gadis ini dapat memapaki gulungan sinar pedang lawannya sehingga gulungan sinar pedang itu menjadi buyar dan kacau. Ada pun pukulan-pukulan lawan dengan tangan kirinya itu dapat ia elakkan dengan mengandalkan kegesitannya.

"Ehh, mengapa gerakan Tian-mo Po-in begini hebat?" tiba-tiba laki-laki itu berseru keras. "Jurus ini adalah jurus Hoa-san Kiam-hoat yang paling hebat, tapi kenapa begini aneh? Ayaaa!" Dia berseru makin kaget ketika pedang gadis itu hampir saja menusuk lehernya kalau ia tidak lekas-lekas membuang diri ke belakang.

Aneh sekali sikap lawan ini, pikir Li Eng. Agaknya orang ini mengenal baik ilmu pedang Hoa-san-pai, akan tetapi mengapa berkata keras-keras seperti hendak memberi tahukan kepada seseorang? Dengan gemas Li Eng lalu merubah ilmu pedangnya dan menyerang dengan dahsyat. Kembali orang itu berteriak keras sambil memutar-mutar pedang untuk menjaga diri.

"Ehh, Hoa-san Kiam-hoat mengapa begini ganas? Kau campur dengan ilmu pedang dari manakah? Kau murid siapa?"

Panas juga perut Li Eng ketika mendengar betapa orang ini agaknya mengenal baik ilmu pedangnya. Sambil mengirim tusukan bertubi-tubi ia berseru, "Orang macam kau perlu apa bicara tentang ilmu silat Hoa-san-pai? Kalau memang gagah, kau hadapi ini!"

Tiba-tiba sinar hitam berkelebat dari tangan kiri Li Eng. Ternyata dia sudah mengeluarkan sabuk sutera hitamnya dan kini pedang dan sutera hitam itu menyambar-nyambar dahsyat sekali, mengurung lawan itu dari segala penjuru!

Orang itu lagi-lagi mengeluarkan seruan kaget, masih mencoba untuk menyebutkan satu per satu semua jurus yang dimainkan Li Eng. Akan tetapi akhirnya ia tak dapat membuka mulut lagi karena sibuk menghadapi serangan yang membuat dia harus memeras tenaga dan kepandaian untuk melindungi tubuhnya.

Sementara itu, lawan yang menghadapi Hui Cu juga ikut berteriak-teriak, "Bocah ini ilmu pedangnya Hoa-san Kiam-hoat tidak berapa tinggi, akan tetapi ilmu pedang apa ini yang begini indah?"

"Tidak usah banyak mulut, terimalah ini!" Hui Cu membentak dan menyerang lebih hebat lagi.

Akan tetapi orang itu ternyata memiliki kepandaian yang tinggi juga sehingga ia mampu menangkis dan membalas. Malah ia masih terus berkata keras-keras, "Eh, mengingatkan aku akan ilmu pedang dari Bu-tek Kiam-ong! He, bocah, kau pernah apa dengan Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan?"

Ketika nama guru ibunya itu disebut, Hui Cu kaget juga. Akan tetapi tanpa menjawab ia menyerang terus bertubi-tubi dengan ilmu pedangnya yang amat indah.

"Hebat... hebat...!" Orang itu lagi-lagi memuji dan terpaksa berlaku lebih hati-hati karena menghadapi dara remaja yang lihai ini ia maklum tak boleh bersikap sembrono.

Ada pun Kun Hong yang bangun berdiri dan menonton dari pojok, maklum bahwa Li Eng dengan mudah akan mampu mengalahkan lawannya, sedangkan kepandaian Hui Cu juga seimbang dengan lawan yang seorang lagi. Tanpa dia sadari, Kun Hong sudah memiliki pengertian mendalam mengenai ilmu silat dan terutama sekali Hoa-san Kiam-hoat yang pernah dibacanya sampai tamat.

Ia juga melihat betapa gerakan-gerakan Li Eng amat berbeda dengan ilmu yang pernah dibacanya, lebih ganas dan juga aneh. Sedangkan ilmu pedang yang dimainkan oleh Hui Cu adalah Hoa-san Kiam-hoat yang bercampur dengan ilmu pedang yang indah gerakan-gerakannya. Betapa pun juga, melihat gerakan kaki gadis ini ia terheran-heran karena ia merasa pernah mengenal gerakan-gerakan ini.

Tiada hentinya pemuda ini berseru penuh kekuatiran, "Li Eng! Hui Cu! Hati-hati jangan kalian membunuh orang!"

Ia sama sekali tak menguatirkan keselamatan dua orang keponakannya itu karena di luar kesadarannya ia telah dapat mengikuti pertandingan itu dan melakukan penilaian. Akan tetapi ia amat kuatir kalau-kalau kedua orang keponakannya itu melakukan pembunuhan, perbuatan yang amat dibenci-nya.

Pangeran Kian Bun Ti dengan mata berseri-seri memperhatikan dua orang gadis yang amat lihai itu, akan tetapi keningnya berkerut sebentar ketika dia menyaksikan sikap Kun Hong. Pikirnya, "Orang muda itu cerdik luar biasa, aneh dan baik budinya, tentu jujur dan setia. Akan tetapi sayang, hatinya lemah. Mana bisa aku memakai orang seperti ini?"

Biar pun wataknya jenaka dan nakal, namun entah bagaimana, Li Eng amat taat kepada pamannya atau lebih tepat lagi, dia tidak mau membikin marah atau susah kepada Kun Hong. Kalau menurut wataknya, orang yang jahat datang menyerang Pangeran ini patut ia bunuh kedua-duanya.

Akan tetapi mendengar suara Kun Hong dan mengingat akan watak yang amat aneh dari pamannya ini, dia lalu memperhebat permainan sabuk suteranya sedangkan pedangnya hanya dipakainya untuk menangkis atau mengancam saja. Akhirnya lawannya tidak dapat menahan lagi.

“Tar-tar-tar!” terdengar bunyi nyaring bertubi-tubi.

Orang itu memekik kesakitan, pedangnya terlepas dari tangannya dan ia meloncat tinggi kemudian berjungkir-balik ke belakang. Muka, lengan dan lehernya penuh luka-luka bekas cambukan sabuk sutera sedangkan beberapa bagian bajunya pecah-pecah.

"Si-te, lari!" teriaknya kepada temannya.

Akan tetapi temannya pun amat bingung karena sedang didesak hebat oleh Hui Cu. Biar pun ia mampu mempertahankan diri, namun ia sama sekali tidak dapat mendesak gadis yang ilmu pedangnya indah dan lihai itu.

"Enci Cu, kata Paman tidak boleh dia dibunuh. Biarkan aku membagi hadiah kepadanya!" kata Li Eng sambil tertawa-tawa tanpa mengejar lawannya yang sudah kalah. Sebaliknya sabuk suteranya menyambar dan kini yang dijadikan bulan-bulanan adalah lawan Hui Cu.

"Tar-tar-tar!"

Orang ini pun menjerit dan pedangnya terlepas, muka dan badannya babak-belur dimakan cambuk. Karena Hui Cu tidak menyerangnya lagi dan gadis nakal itu hanya menggunakan sabuk sutera untuk menghajarnya, ia lalu melompat jauh mengikuti temannya yang sudah lari terlebih dulu, meloncat pagar taman dan menghilang.

"Hebat! Bagus sekali...!” Pangeran Kian Bun Ti bertepuk tangan memuji sambil keluar dari belakang pilar, terus menghampiri Li Eng dan Hui Cu yang masih memegang pedang di tangan. Ia mengangguk-angguk dan berkata dengan wajah berseri,
"Nona berdua telah menyelamatkan nyawaku, entah dengan cara apa aku bisa membalas budi kalian!"

Dua orang dara remaja itu hanya tersenyum. Wajah mereka juga berseri girang. Mereka tidak saja telah menolong tuan rumah yang amat ramah, akan tetapi lebih dari itu, telah menolong Pangeran, Pangeran Mahkota lagi!

Akan tetapi Kun Hong mengerutkan keningnya! Perasaannya yang halus dan tajam dapat menangkap nada tersembunyi di dalam kata-kata itu tadi. Segera dia maju dan menjura kepada Pangeran Kian Bun Ti sambil berkata, "Harap Pangeran jangan berkata demikian. Sudah semestinya bila dua orang keponakan saya membela Pangeran dari penyerangan orang-orang jahat tadi. Dua orang keponakan saya tidak menanam budi dan Paduka tidak perlu berterima kasih."

Pangeran Kian Bun Ti menatap pandang mata pemuda ini dan untuk sejenak keduanya berpandangan, seakan-akan hendak menjenguk isi hati masing-masing dan seperti orang ‘mengukur tenaga’. Pangeran itu hendak marah, dadanya sudah panas, akan tetapi dia menekan perasaannya lalu bertepuk tangan tiga kali. Sambil tersenyum ia berkata,

"Kegagahan dua orang Nona ini yang amat hebat, sepatutnya dihormati dengan pesta dan perkenalan dengan para pembantuku."

Selagi tiga orang muda itu terheran-heran dan tidak mengerti, dari pintu dalam tiba-tiba bermunculan beberapa orang, setelah berkumpul semua ternyata mereka berjumlah tujuh orang. Ada yang berpakaian seperti pendeta, ada yang bertubuh gagah tinggi besar, ada pula yang lemah-lembut, akan tetapi semua orang ini segera memberi hormat kepada Pangeran Mahkota dengan cara masing-masing. Melihat bahwa semua membawa senjata di pinggang atau di punggung, dapat diduga bahwa tujuh orang ini tentulah orang-orang yang pandai ilmu silat.

Pangeran Kian Bun Ti memperkenalkan tujuh orang pembantunya itu dan menyebut nama mereka, akan tetapi Kun Hong dan dua orang keponakannya tidak memperhatikan biar pun mereka menjura dengan hormat. Hati dua orang dara itu mulai tidak senang karena pandang mata tujuh orang ini mengandung sikap kurang ajar.

"Ha-ha-ha, kalian lihatlah. Dua orang Nona inilah baru patut disebut pendekar wanita yang gagah perkasa dan cantik jelita! Pernahkah kalian melihat dua orang dara remaja sehebat ini? Dengan tangkas dan mudahnya mereka berdua berhasil mengusir dua orang jagoan lari tunggang-langgang!"

Seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam dan tadi dikenalkan sebagai Souw Ki berjuluk Tiat-jiu Busu (Jagoan Tangan Besi), tersenyum pada waktu dia berkata, "Pilihan Paduka tepat sekali, Pangeran. Hamba menghaturkan selamat!"

"Ha-ha-ha! Benar-benar menggirangkan hati, Pangeran. Dengan adanya dua orang siuli (puteri-puteri istana) segagah ini, pinto dan teman-teman tidak akan begitu kuatir lagi apa bila tidak sedang berada dekat Paduka!"

Orang yang tertawa-tawa ini adalah seorang berpakaian pendeta tosu berambut panjang yang tadi diperkenalkan dengan nama Thian It Tosu. Ia mengelus-elus jenggotnya yang panjang pula sambil memandang kepada Li Eng dan Hui Cu dengan mata berkedip-kedip seperti seorang yang mengajak bermain mata.

Bukan main sebalnya hati dua orang dara itu melihat kakek ini beraksi seperti monyet mencium terasi. Sebelum Li Eng dan Hui Cu mengerluarkan suara untuk mengatakan kesebalan hati mereka, tiba-tiba terdengar suara berisik dan dari pintu yang menembus ke dalam gedung mungil itu berlari-larian keluar lima orang wanita muda yang cantik-cantik.

Wanita-wanita ini masih muda, usianya tidak akan lebih dari dua puluh lima tahun dan pakaian mereka benar-benar membuat Li Eng dan Hui Cu memandang bengong. Pakaian mereka itu mencolok sekali, terbuat dari sutera halus tipis sehingga samar-samar tampak pakaian dalam mereka yang berwarna-warni. Selain tipis membayang, juga amat ketat menempel pada tubuh mereka.

Mereka ini rata-rata cantik jelita, ditambah dengan hiasan dan riasan pada muka dengan warna penghitam dan pemerah. Lima orang wanita muda ini semua memegang sebatang pedang terhunus yang mengkilap saking tajamnya! Munculnya lima orang wanita cantik berlenggang genit ini langsung membuat tujuh orang tokoh jagoan itu tersenyum-senyum dan melirik-lirik.

Sementara itu, Pangeran Kian Bun Ti segera menegur, juga sambil tersenyum, "Eh-ehh, kalian ini Lima Macan Cantik datang-datang membawa pedang telanjang mau apakah?"

Seorang yang agaknya tertua di antara mereka berlima, menjawab dengan sikap manja dan genit kepada Pangeran Mahkota itu, "Hamba berlima mendengar bahwa Paduka telah menerima dua orang baru yang dibanggakan berkepandaian tinggi. Karena selama ini kami berlima yang menjadi selir-selir pengawal, maka dengan diterimanya selir pengawal baru, kami ingin sekali mengukur kepandaian mereka." Setelah berkata demikian, dia dan empat orang temannya menoleh serta memandang kepada Li Eng dan Hui Cu dengan pandang mata tajam dan marah.

Pangeran Mahkota itu tertawa bergelak, juga tujuh orang pembantunya tertawa. Mereka baru mengerti bahwa Lima Macan Cantik ini ternyata menjadi cemburu dan iri hati setelah mendengar perihal dua orang pendekar wanita tu.

"Ha-ha-ha, meski pun kalian cukup lihai, tak mungkin kalian dapat menangkan dua orang Nona perkasa ini."

Kata-kata ini bagi lima orang wanita itu merupakan ijin, maka cepat mereka bergerak menghadapi Li Eng dan Hui Cu yang berdiri berdampingan dan yang memandang serta mendengar semua ini dengan kening berkerut. Ketika lima orang wanita yang indah-indah pakaiannya itu menghampiri mereka, keduanya juga balas memandang tajam dan penuh selidik. Mereka berdua harus mengakui bahwa lima orang ini benar-benar cantik dan bergaya lembut tapi angkuh seperti lagak puteri-puteri bangsawan.

Setelah berdiri sejajar di depan dua orang gadis ini dengan pedang melintang di depan dada, yang tertua lantas menudingkan telunjuk tangan kiri kepada mereka berdua sambil membentak, "Dua bocah dari gunung, kalian mengandalkan apa berani memikat perhatian Pangeran? Coba kalian hadapi pedang kami!"

Li Eng dan Hui Cu saling pandang. Gilakah perempuan ini? Siapa yang memikat perhatian Pangeran? Sementara itu, Kun Hong sudah melangkah maju dan menjura ke depan lima orang wanita itu.

"Ngo-wi Toanio (Nyonya Besar Berlima), harap sudi bersabar dan tidak salah duga. Dua orang keponakanku ini sama sekali tidak hendak memikat perhatian siapa-siapa dan kami percaya penuh bahwa Ngo-wi tentu paling cantik dan paling pandai. Dua keponakanku ini tidak berani melawan Ngo-wi..."

Li Eng dan Hui Cu tidak senang sekali mendengar kata-kata paman mereka yang amat merendah ini. Akan tetapi lima orang wanita-wanita itu jelas kelihatan bangga dan juga girang.

Akan tetapi, untuk menyatakan bahwa mereka berlima bukanlah wanita-wanita yang boleh dipermainkan, wanita yang tertua segera menudingkan ujung pedangnya ke arah Kun Hong sambil membentak,

"Kau ini siucai jembel tidak tahu aturan! Apa kau kira kami berlima ini adalah perempuan-perempuan sembarangan yang boleh diajak bicara oleh segala macam laki-laki seperti kau? Untuk dosamu ini seharusnya kupenggal kepalamu, tapi karena Pangeran terkenal sebagai seorang besar yang budiman dan pengampun, biarlah kupotong telingamu yang kiri agar kau tahu bahwa kami tidak boleh dibuat main-main!" Setelah berkata demikian, pedang ditangannya berkelebat ke arah telinga kiri Kun Hong.

Pemuda ini di dalam hatinya terkejut sekali akan sikap yang berlebihan dari wanita-wanita ini. Terpaksa dia melangkah mundur terhuyung-huyung menurutkan gerak langkah ajaib. Wanita itu makin penasaran karena sabetannya luput. Cepat ia melangkah maju lagi dan kembali mengayunkan pedangnya ke arah telinga kiri Kun Hong. Pemuda ini tetap saja terhuyung-huyung ke belakang, tetapi sabetan-sabetan pedang itu tak pernah mengenai telinganya.

"Toanio, telinga adalah alat untuk mendengar, mana boleh dipotong?" berkata Kun Hong, suaranya tetap tenang-tenang saja.

Dan inilah yang lucu karena suaranya demikian tenang, akan tetapi ia terhuyung-huyung dan kelihatan gerak-geriknya seperti kebingungan. Memang, bagi yang tidak tahu, gerak langkah ajaib dari Kim-tiauw-kun memang lebih mirip gerakan orang yang ketakutan atau kebingungan. Maka tertawalah tujuh orang jagoan yang berdiri di situ.

Mendengar suara ketawa ini, wanita itu salah duga, mengira bahwa dialah yang sedang ditertawai, maka naiklah darahnya. Kini pedangnya tak hanya ditujukan untuk memotong telinga Kun Hong, malah digunakan untuk menyerang membabi-buta untuk merobohkan pemuda itu. Kelihatannya makin repotlah Kun Hong, terjengkang-jengkang dan terhuyung-huyung, namun tak pernah tersentuh pedang yang menyambar-nyambar itu.

"Tranggg!"

Wanita itu memekik kaget dan melompat ke belakang, tangannya terasa gemetar dan sakit. Kiranya Hui Cu sudah berdiri menghadapinya dengan pedang di tangan dan dengan sikap marah.

"Perempuan tak tahu malu! Berani kau menghina pamanku yang tak bersalah apa-apa?"

Wanita itu hanya sebentar saja kaget, lalu ia tersenyum sambil menoleh kepada empat orang temannya. "Adik-adik, lihat baik-baik. Perempuan ini mengakui keparat itu sebagai pamannya, Hi-hi-hi, siapa orangnya dapat dibohongi begitu saja? Orang muda itu usianya tidaklah tua, sebaya dengannya, juga biar pun jembel dan kotor, mukanya tidaklah buruk bagi seorang laki-laki. Hemm… hemm, bocah gunung, bilang saja dia itu kekasihmu, kami akan percaya sepenuhnya, jangan bilang pamanmu."

"Tutup mulutmu yang kotor!" Hui Cu yang memang tak pandai bicara itu memaki, matanya yang bening berkilat bercahaya akan tetapi kedua pipinya merah karena jengah.
"Adik-adik, mari kita beramai menghajar bocah gunung ini!" wanita itu berseru dan berlima mereka siap menerjang Hui Cu dengan pedang mereka. Gerakan mereka cukup kuat dan pasangan kuda-kuda mereka ternyata serupa, tanda bahwa mereka adalah sealiran.
"Bagus, kalian sudah bosan hidup!" Hui Cu menggetarkan pedang di tangannya.

Akan tetapi tiba-tiba di belakangnya Kun Hong membentak, "Hui Cu, tahan! Mundurlah dan simpan pedangmu. Li Eng, kaulah yang maju menghadapi kelima orang nyonya besar ini, akan tetapi ingat, jangan sekali-kali membunuh orang!"

Hui Cu kecewa, akan tetapi dia tidak berani membantah kehendak pamannya. Dengan mata berkilat ia menarik kembali pedangnya, menyimpannya dan melangkah mundur. Li Eng sambil tersenyum-senyum kini menggantikannya maju. Gadis lincah jenaka ini sudah tahu apa maksud pamannya menyuruh dia menggantikan Hui Cu.

Memang sesungguhnya melihat Hui Cu yang sudah marah sekali itu, Kun Hong menjadi sangat kuatir kalau-kalau Hui Cu salah tangan membunuh orang. Apa lagi dalam sebuah pertempuran yang ramai, sukarlah untuk mengalahkan lawan tanpa membunuh. Berbeda dengan Li Eng yang ia tahu memiliki kepandaian jauh lebih tinggi dari Hui Cu. Apa lagi Li Eng memiliki senjata istimewa, yaitu sabuk sutera yang lemas, maka lebih mudahlah bagi Li Eng untuk mengalahkan lawannya tanpa membunuhnya.

Anehnya, melihat pertempuran yang akan pecah ini, baik Pangeran Kian Bun Ti mau pun tujuh orang jagoannya sama sekali tidak mencampurinya. Malah mereka berdiri menonton dengan wajah berseri, seakan-akan yang terjadi di depan mereka adalah sebuah adegan sandiwara yang menyenangkan dan menarik.

Hal ini saja menimbulkan kerut di kening Kun Hong dan pemuda ini mengambil keputusan bahwa kalau Li Eng sudah berhasil mengalahkan lima orang wanita galak itu, ia segera akan minta pamit kemudian mengajak dua orang keponakannya meninggalkan tempat ini. Malah harus cepat-cepat meninggalkan kota raja dengan segalanya yang serba aneh.

Li Eng yang dapat menangkap maksud hati pamannya, dengan gerakan tenang sekali lalu meloloskan sabuk suteranya yang hitam panjang dan menggulungnya di tangan kanan. Dengan senyum dikulum dan mata berseri dia memandang kepada lima orang puteri di depannya itu, menatap seorang demi seorang, kemudian berkata dengan suaranya yang nyaring dan mengandung ejekan,

"Eh, lima orang nenek siluman betina, sungguh kau tak tahu diri. Kalau tidak paman kami yang menaruh kasihan, bukankah sekarang kalian berlima sudah rebah menjadi bangkai di bawah pedang enci-ku?"

Li Eng memang berani bersikap demikian karena ia sudah tahu pasti bahwa lima orang ini bukanlah lawan Hui Cu, apa lagi lawan dia. Dari gerakan orang pertama ketika menyerang Kun Hong tadi saja tahulah dia bahwa lima orang wanita ini hanya lagaknya saja hebat, pada hakekatnya tidak memiliki kepandaian berarti.

Dimaki sebagai nenek apa lagi siluman betina, karuan saja lima orang selir Pangeran itu menjadi marah bukan main. Tanpa banyak cakap lagi mereka berlima segera menerjang maju sambil menggerakkan pedang menyerang Li Eng.

Li Eng tak mau berlaku sungkan lagi. Kedua tangannya bergerak, sinar hitam berkelebat.

“Tar-tar-tar-tar!” terdengarlah bunyi nyaring berulang kali.

Lima orang pengeroyoknya itu selama hidupnya belum pernah mengalami pertempuran seperti ini. Mereka merasa seakan-akan ada petir menyambar-nyambar di atas kepala dan berturut-turut lima batang pedang melayang jauh terlepas dari pegangan lima orang wanita itu.
Li Eng menggerakkan sabuk suteranya yang menyambar-nyambar dari atas ke bawah mengeluarkan bunyi melecuti muka dan tubuh kelima orang pengeroyoknya.

"Tar-tar-tar-tar-tar!"

Lima orang wanita itu menjerit-jerit, perih dan sakit kulit mereka yang terkena cambukan. Lalu, sambil menutupi muka dengan tangan, mereka lari meninggalkan tempat itu kembali ke dalam. Amat lucu melihat mereka lari sambil dikejar sabuk sutera yang masih sempat mencambuki tubuh belakang mereka, membuat mereka memindahkan tangan dari muka ke tubuh belakang yang sakit semua akibat dihajar cambuk!

"Cukup, Li Eng!" Kun Hong berteriak dan Li Eng menyimpan kembali sabuknya, lalu dia berdiri di dekat pemuda ini.
"Harap Paduka memaafkan keponakanku." Kun Hong menjura. "Dan perkenankan kami bertiga mohon diri, kami hendak melanjutkan perjalanan."

Pangeran Kian Bun Ti menggerak-gerakkan tangan, lalu tertawa, "Ah, Saudara Kun Hong apakah marah karena peristiwa tadi? Mereka berlima hanyalah selir-selirku yang bodoh, yang merasa diri sendiri pintar. Kalau mereka tadi bersikap kurang ajar, biarlah sekarang juga kusuruh masukkan ke dalam penjara."

Mendengar ini terkejutlah Kun Hong. "Ah, tidak... tidak... mereka tidak apa-apa, Pangeran. Tak usah dihukum..."

"Baik, dan untuk menebus kelancangan mereka, biarlah mulai sekarang mereka berlima menjadi pelayan dua orang keponakanmu ini."

Pucatlah muka Kun Hong sedangkan Hui Cu dan Li Eng saling pandang, masih belum mengerti apa sebetulnya maksud hati dan kehendak Pangeran yang tampan dan selalu tersenyum-senyum itu.

Lagi-lagi Kun Hong menjura dan bicara seperti orang yang belum mengerti akan maksud pangeran itu, "Banyak terima kasih atas anugerah Paduka kepada dua orang keponakan saya, juga terima kasih atas penyambutan dan kehormatan besar yang kami bertiga telah terima dari Paduka. Akan tetapi terpaksa kami bertiga mohon diri, Pangeran. Perjalanan kami masih jauh dan harus kami lanjutkan sekarang juga."

"Perjalanan itu boleh dibatalkan atau ditunda!" Suara Pangeran itu sekarang terdengar sungguh-sungguh dan ketus. "Saudara Kun Hong, mulai saat ini aku mengangkat Li Eng sebagai selir pertama dan Hui Cu sebagai selir ke dua dan kedudukan mereka merangkap sebagai selir pengawal pribadiku!"

Baru sekaranglah dua orang dara remaja itu tahu akan maksud hati Pangeran itu. Muka mereka otomatis menjadi merah bagai udang direbus, mata mereka berkilat saking marah dan jengah. Keduanya tanpa terasa telah meraba gagang pedang.

Dengan dahi berkerut-kerut saking gelisah dan bingungnya, Kun Hong pun berulang-ulang menjura kepada Pangeran Mahkota itu, lalu bertanya,

"Pangeran, sejak jaman nenek moyang kita dahulu, bangsa kita selalu memegang teguh peraturan dan kesopanan. Dua orang keponakanku ini masih mempunyai orang tua, maka kiranya untuk urusan ini sebaiknya kalau Paduka berurusan dengan ayah bunda mereka seperti lazimnya. Sekarang, karena kami bertiga masih mempunyai tugas yang penting sedangkan perjalanan masih sangat jauh, perkenankanlah kami untuk mengundurkan diri dan keluar dari sini."

"Ha-ha-ha, Saudara Kun Hong benar-benar mengagumkan, hafal akan segala pelajaran filsafat dan ujar-ujar kuno. Aku sama sekali tidak melanggar peraturan, karena bukankah kau adalah paman dari mereka? Dalam hal ini, seorang paman boleh menjadi wakil dan pengganti orang tua. Oleh karena itulah, di hadapanmu aku mengajukan pinangan untuk menjadikan dua orang nona ini sebagai selir-selirku yang terkasih. Ada pun kau sendiri, sesuai dengan bakat serta kepintaranmu, kuangkat menjadi pembesar yang mengurus perpustakaan istana!"

Tujuh orang jagoan itu mengeluarkan seruan kagum dan mereka segera menjura kepada Kun Hong sambil bersuara saling tunjang,

"Kionghi, kionghi (selamat)! Begini muda sudah menerima anugerah pangkat yang tinggi. Juga kionghi kepada dua orang Lihiap ini!"

Akan tetapi Kun Hong cepat mengangkat kedua tangannya dan menggoyang-goyangnya tanda bahwa ia menolak kesemuanya itu. Juga Li Eng dan Hui Cu sudah hampir tak dapat menahan kemarahan mereka. Mereka merasa terhina sekali oleh sikap Pangeran ini yang begitu mau menang sendiri, mengambil orang sebagai selirnya tanpa bertanya dulu, baik kepada yang bersangkutan mau pun kepada orang tuanya. Apakah dikiranya mereka itu seperti lima orang wanita tadi, dan dianggap sebagai perempuan murahan belaka?

"Terpaksa saya tidak dapat menerima semua itu, Pangeran. Pertama, saya yang muda mana berani mewakili orang tua mereka? Apa lagi dalam soal perjodohan. Sama sekali saya tidak berani! Ke dua, saya merasa amat bodoh dan tidak terpelajar, bagaimana saya berani menerima kedudukan dari Paduka? Tidak, meski pun saya berterima kasih sekali, akan tetapi terpaksa saya menolak dan harapan saya hanya perkenan Paduka agar kami bertiga dapat pergi dari sini."

Merah wajah Pangeran Mahkota Kian Bun Ti. Selama hidup baru kali ini ia menghadapi orang-orang yang tidak lekas-lekas berlutut menghaturkan terima kasih setelah dia beri anugerah seperti itu. Wanita mana yang tidak ingin, bahkan saling berebut untuk menjadi selir terkasih dari Pangeran Kian Bun Ti yang terkenal muda, tampan, halus budi, dan calon kaisar? Laki-laki mana yang tidak ingin menjadi pembesar dan kedudukannya diberi sendiri oleh Pangeran Mahkota?

Akan tetapi, pandang matanya tidak buta, pendengarannya tidak tuli. Kali ini benar-benar dua orang dara muda, yang hendak diambil menjadi selirnya itu malah berdiri dengan muka marah sedangkan orang yang hendak diangkatnya menjadi pembesar perpustakaan malah terang-terangan menampik pula! Saking heran, marah dan kecewanya, Pangeran ini hanya berdiri dengan muka merah dan mata terbelalak.

Seorang di antara tujuh jagoan pengawal Pangeran itu melompat maju. Orang ini usianya sudah lewat lima puluh tahun, mukanya merah dan matanya jelas membayangkan bahwa ia adalah seorang yang pemarah dan sombong. Dia inilah yang terkenal dengan julukan Sin-toa-to (Golok Besar Sakti) bernama Liong Ki Nam. Di daerah Selatan namanya sudah amat terkenal dan ilmu goloknya memang hebat, boleh dibilang belum pernah ia menemui tandingan.

Watak orang ini memang paling berangasan dari teman-temannya, maka melihat sikap tiga orang muda dan mendengar jawaban Kun Hong tadi, ia segera memaki,

"Bocah! Kau diberi hati tetapi makin melonjak. Pangeran telah berlaku amat baik hati dan menghormat, kau malah makin besar kepala. Kau berani membantah perintah Pangeran, berarti memberontak! Apakah kau sudah bosan hidup?"

Sementara itu, Pangeran Kian Bun Ti nampak kesal, lalu ia berkata kepada tujuh orang jagoannya, "Harap para busu membereskan ini, aku menanti kabar."

Tanpa menoleh lagi kepada Kun Hong atau kepada dua orang dara remaja itu, Pangeran ini membalikkan tubuh dan dengan langkah yang membayangkan keagungan seorang calon kaisar, Pangeran ini memasuki rumah gedung.

Setelah Pangeran itu pergi, tosu rambut panjang, Thian It Tosu, mendekati Kun Hong dan berkata dengan suara halus, "Orang muda, harap kau pikirkan baik-baik dan janganlah membawa kemauan sendiri yang tidak wajar. Ingatlah, semua orang muda, bahkan yang tua-tua sekali pun, di seluruh negeri akan mengiri bila melihat peruntunganmu yang amat bagus ini. Kau diangkat menjadi pembesar dalam istana dan dua orang keponakanmu ini dapat merebut hati Pangeran Mahkota. Siapa tahu kelak kalau Pangeran sudah menjadi kaisar, dua orang keponakanmu itu akan tetap menjadi kekasih, tentu kau akan diangkat menjadi menteri!"

Kun Hong tersenyum lemah dan menggerakkan kepala. "Tidak bisa, Totiang. Sama sekali aku tidak bermaksud membantah Pangeran, apa lagi memberontak. Akan tetapi sungguh-sungguh aku tidak dapat menerima jabatan itu karena aku memang tidak suka menjadi pembesar. Ada pun tentang persoalan jodoh, kedua orang keponakanku ini mempunyai orang tua-orang tua, bagaimana aku berani melancangi mereka?"

"Eh, bocah goblok. Kau masih berkepala batu?" Sin-toa-to Liong Ki Nam membentak lagi dengan mata melotot. "Tidak usah banyak cerewet, pilih mana. Kau dan dua orang nona ini menurut dan menerima kemuliaan ataukah kalian ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara, mungkin dihukum penggal kepala!"

Tentu saja Kun Hong tidak takut mendengar ancaman maut ini. Baginya, di dunia ini tidak ada sesuatu apa pun yang bisa menimbulkan takut dalam hatinya asalkan ia yakin akan kebenarannya. Dan dalam hal ini ia sama sekali tidak merasa telah melakukan sesuatu kesalahan.

Ia menarik napas panjang dan berkata, "Belum pernah aku mendengar tentang pinangan dan pemberian anugerah yang bersifat paksaan. Baru saja dua orang keponakanku telah menolong pangeran dari bahaya maut akibat penyerangan dua orang jahat, akan tetapi sekarang dua orang keponakanku hendak dipaksa untuk menjadi selir dengan ancaman hukuman penjara kalau tidak mau menurut. Benar-benar di tempat yang mewah ini tidak dikenal lagi kebenaran dan keadilan!"

Tujuh orang jagoan itu tertawa, agaknya geli mendengar ucapan ini. Malah Thian It Tosu lalu berkata, "Orang muda, kau benar-benar seperti katak di dalam tempurung, berlagak pintar akan tetapi bodoh. Kau tidak tahu sampai di mana kekuasaan Pangeran Mahkota. Beliau adalah calon kaisar, tahukah kau? Mana bisa orang jahat sembarangan hendak menyerang dan membunuh beliau? Kau kira kedua keponakanmu tadi sudah menolong Pangeran dari penyerangan orang jahat? Ha-ha-ha! Sebenarnya hanya karena Pangeran yang suka melihat dua orang gadis ini ingin menguji sampai di mana tinggi kepandaian kedua Nona ini."

Tosu itu bertepuk tangan dan dari luar berlari datang dua orang yang lalu menjatuhkan diri berlutut di depan tujuh orang jagoan itu. Ketika Kun Hong dan dua orang keponakannya memandang, mereka ini terkejut sekali karena mengenal bahwa kedua orang yang baru datang ini bukan lain adalah... dua orang ‘penjahat’ yang tadi menyerang Pangeran dan dihajar oleh Li Eng dan Hui Cu.....

Kun Hong bengong. Tahulah dia sekarang bahwa kiranya Pangeran hanya ingin menguji kepandaian dua orang keponakannya. Selagi ia kebingungan mengingat urusan sulit yang dihadapinya, terdengar Li Eng membentak keras dan mencabut pedangnya.

"Aturan dari mana semua ini? Biar Pangeran sekali pun, tidak boleh memaksa orang lain sesuka hatinya. Kami tidak sudi menuruti kehendak Pangeran, habis kalian ini mau apa?" Dengan gagah gadis ini berdiri tegak dengan pedang di tangan kanan dan sabuk sutera di tangan kiri, memasang kuda-kuda dan perbuatannya ini segera diturut oleh Hui Cu.
"Li Eng, jangan...!" Kun Hong mencegah.
"Paman Hong, betapa pun baik dan sabarnya hati orang, tidak mungkin bisa memenuhi kehendakmu, mau dan diperhina oleh orang lain. Kita menolak paksaan mereka dan kalau mereka hendak menggunakan kekerasan, boleh kita lihat. Orang-orang dari Hoa-san-pai bukanlah sebangsa pengecut yang takut mati demi membela kebenaran!" Suara Lie Eng penuh semangat dan baru kali ini terhadap Kun Hong ia bicara sungguh-sungguh, walau pun dengan nada keras dan menentang.

"Kalian tidak boleh membunuh orang!" kata pula Kun Hong ketika melihat dua orang dara remaja itu sudah siap dengan pedang mereka dan tujuh orang jagoan itu pun tampaknya sudah siap untuk turun tangan.
"Kalau orang lain hendak mencelakakan kita, masa kita harus diam saja? Kalau orang lain hendak membunuh kita, masa kita harus mandah saja?" kata pula Li Eng penasaran.
"Lebih baik dibunuh dari pada membunuh!" Kun Hong tetap membantah.

Sementara itu, ketujuh orang jagoan itu saling pandang. Mereka ini rata-rata memandang rendah terhadap Li Eng dan Hui Cu. Harus diketahui bahwa tujuh orang ini merupakan tokoh-tokoh besar yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Mereka bukanlah jago-jago biasa macam dua orang yang tadi pura-pura menyerang Pangeran, melainkan tokoh-tokoh yang benar-benar termasuk ahli silat kelas tinggi.

Tiat-jiu Souw Ki yang bermuka hitam dan tinggi besar adalah seorang bajak tungal yang dahulu namanya bahkan lebih tenar dari pada nama Ho-hai Sam-ong, tiga raja bajak di Huang-ho itu. Sesuai dengan nama julukannya, Tiat-jiu berarti Kepalan Besi, tenaga luar dari tubuhnya hebat sekali, kepalan tangannya juga sekeras besi sehingga orang kata sekali pukul ia mampu membikin remuk kepala seekor harimau. Di samping kedahsyatan pukulan tangannya ini, ia pun seorang ahli bermain silat ruyung dengan ruyung bajanya yang besar dan berat.

Thian It Tosu adalah seorang tosu yang tingkatnya di perkumpulan Ngo-lian-kauw sudah tinggi, boleh dibilang ia merupakan tangan kanan dari Ketua Ngo-lian Kauwcu Kim-thouw Thian-li. Thian-It Tosu ini selain ilmu silatnya tinggi, tenaga dalam di tubuhnya amat kuat, juga sebagai seorang tosu ia mahir ilmu sihir dari Ngo-lian-kauw.

Semenjak dulu perkumpulan Ngo-lian-kauw ini memang selalu mencari kesempatan baik untuk menempel pihak yang menang, merupakan perkumpulan yang bersifat plin-plan. Sekarang, melihat betapa Pangeran Kian Bun Ti merupakan satu-satunya orang terkuat untuk menjadi calon pengganti Kaisar, perkumpulan ini tidak menyia-nyiakan kesempatan, lalu menempel Pangeran ini. Sebagai tokoh besar Ngo-lian-kauw, bahkan Thian It Tosu sendiri masuk menjadi pengawal Pangeran Kian Bun Ti.

Orang ke tiga dan ke empat dari tujuh jagoan istana ini adalah sepasang saudara kembar dari Ho-pak. Dua orang yang usianya empat puluh lima tahun ini mempunyai muka yang sama bentuknya sehingga orang luar akan sukar untuk membedakan mereka kalau saja muka mereka tidak berbeda warnanya.

Bu Sek yang lebih tua bermuka kuning, sedangkan Bu Tai yang ke dua bermuka merah. Mereka berdua ini terkenal dengan sebutan Ho-pak Siang-sai (Sepasang Singa Ho-pak). Ilmu pedang mereka amat terkenal sebagai ilmu pedang warisan dari keluarga Bu yang sudah turun-temurun menjadi panglima perang.

Apa lagi kalau sepasang saudara kembar ini maju bersama, ilmu pedang mereka menjadi ilmu pedang pasangan yang amat sukar dilawan. Sebagai saudara kembar, mereka tidak hanya memiliki persamaan dalam segala gerak-gerik, juga mereka mempunyai hubungan rasa yang sangat erat sehingga permainan ilmu pedang mereka dapat digabung menjadi satu seolah-olah hanya seorang saja yang mainkan dua buah pedang.

Orang kelima adalah seorang kakek yang memegang sebuah tongkat bengkok, tongkat hitam yang terbuat dari kayu yang aneh dan kelihatan seperti sebatang tongkat pengemis. Kakek ini pendiam sekali dan kelihatan selalu seperti orang yang kurang semangat dan mengantuk, sama sekali tidak patut kalau disebut seorang jagoan. Usianya sudah enam puluh lima tahun lebih.

Akan tetapi jangan dikira bahwa dia itu kurang bersemangat atau lemah. Apa bila orang mendengar namanya, apa lagi orang-orang kang-ouw, tentu akan terkejut setengah mati karena dia ini bukan lain adalah Bhong Lo-koai yang terkenal disebut Koai-tung (Tongkat Gila). Ilmu tongkatnya, untuk bagian tenggara tidak ada yang dapat menandingi!

Orang keenam adalah orang yang paling berangasan dan sombong, yaitu si ahli golok Sin-toa-to Liong Ki Nam. Usianya sudah lima puluh tahun akan tetapi ia terkenal pemarah dan bertenaga amat besar. Juga dia ini mempunyai ilmu golok tunggal yang tidak dikenal asal-usulnya.

Dahulunya Sin-toa-to Liong Ki Nam ini adalah seorang guru silat bayaran. Akan tetapi ternyata ia hanya memeras uang dari orang-orang kaya dan tidak pernah menurunkan ilmunya yang terkenal, yaitu ilmu goloknya. Ia hanya menurunkan ilmu silat pasaran saja sehingga tak pernah ia mempunyai murid yang berarti.

Betapa pun juga, tak ada orang berani mengganggu murid-muridnya itu, karena biar pun Si Murid ini tidak memiliki kepandaian berarti, sebaliknya Liong Ki Nam ini benar-benar seorang yang tangguh dan kosen, sukar dikalahkan. Akhirnya dia ditarik oleh Pangeran Kian Bun Ti dan dijadikan pengawal.

Orang ke tujuh adalah orang yang paling kuat, usianya sudah enam puluh tahun lebih dan dialah yang paling aneh di antara tujuh jagoan ini. Orangnya tinggi kurus, sudah tua tapi pakaiannya selalu serba merah!

Melihat mukanya yang terus menerus tersenyum-senyum dan kalau bicara lucu, orang lain tak akan menyangka bahwa dia seorang tokoh yang dihormati di istana. Kiranya lebih patut kalau ia dianggap orang yang miring otaknya. Namun kalau ada yang mendengar namanya, yaitu Ang-moko (Setan Merah), orang lalu akan bergidik mengingat kekejaman kakek kurus ini yang bisa membunuh orang sambil tersenyum seperti orang menyembelih ayam saja!

Jangan dikira bahwa Ang-moko ini tidak lihai dan kalah oleh enam orang yang lain itu. Biar pun tidak pernah kelihatan membawa senjata namun ilmu kepandaiannya ternyata malah paling tinggi di antara mereka yang berada di situ. Dalam hal kekejaman dan ketenaran namanya dia hanyalah di bawah tokoh-tokoh besar seperti Song-bun-kwi, Siauw-ong-kwi, Swi Lek Hosiang dan Hek-hwa Kui-bo, yaitu empat besar di dunia persilatan!

Demikianlah kedaan tujuh orang pengawal atau pembantu Pangeran Kian Bun Ti, maka juga tidaklah terlalu mengherankan apa bila mereka ini sebagai tokoh tua memandang rendah kepada Li Eng dan Hui Cu yang masih belum ada nama. Kemenangan dua orang dara ini atas diri dua orang yang tadi pura-pura menyerang Pangeran, tidaklah berkesan apa-apa pada mereka karena tingkat kepandaian dua orang ini pun hanya patut menjadi murid mereka.

Mendengar ucapan Li Eng dan melihat pula sikap dua orang gadis yang menantang itu, Sin-toa-to Liong Ki Nam yang berangasan itu tak dapat menahannya lagi. Ia melangkah maju dan membentak, "Bocah cilik, kalian sombong sekali! Lebih baik lekas kau berlutut dan mentaati perintah Pangeran, jangan sampai membuat guru besarmu ini marah dan kehabisan kesabaran, lalu turun tangan kepadamu.”

Li Eng adalah seorang yang juga memiliki kekerasan hati. Dengan mata berkilat ia lantas memandang Liong Ki Nam, lalu mengeluarkan dengus mengejek dan berkata, "Keledai sombong! Keluarkan golok babimu itu, kutanggung dalam beberapa jurus kau akan minta ampun kepadaku!"

Berdiri alis Liong Ki Nam. "Keparat, gadis liar! Kau tidak tahu siapa aku? Akulah Sin-toa-to Liong Ki Nam! Bila sudah kucabut, golok saktiku ini harus membikin melayang jiwa orang, dan kau berani menyebutnya golok babi?"

"Hi-hi-hik, mungkin untuk menyembelih babi juga masih kurang tajam. Entah kalau untuk memotong leher ayam. Ehh, manusia sombong, tentu sudah banyak jiwa ayam kau bikin melayang dengan golokmu itu, ya? Asal jangan ayam tetangga masih boleh juga," Li Eng melampiaskan kemarahannya dengan cara mengejek dan menghina.

"Setan perempuan!"

Tampak sinar berkelebat disusul gulungan sinar yang menyambar ke arah Li Eng. Kiranya dengan amat cepat Si Golok Sakti ini sudah mencabut senjatanya dan membacok ke arah Li Eng. Memang gerakannya hebat dan luar biasa cepatnya, namun kini ia menghadapi Li Eng, dara perkasa yang sudah mewarisi ilmu sakti dari Im-kan-kok (Lembah Akhirat).

"Trangg! Tar-tar!"

Bunga api berpijar. Terpaksa Si Golok Sakti ini meloncat ke belakang untuk menghindari serangan ujung sabuk sutera hitam itu.

Sebaliknya diam-diam Li Eng terkejut sekali karena telapak tangannya terasa menggetar ketika ujung sabuk suteranya menangkis golok lawan tadi. Ia pun maklum bahwa lawan ini benar-benar tak boleh dibuat main-main. Akan tetapi ia masih mengejek, "Hi-hik, kenapa mundur? Takutkah?"

Di pihak Sin-toa-to Liong Ki Nam yang sudah banyak pengalaman, ia pun terkejut karena mendapat kenyataan bahwa dara remaja ini benar-benar lihai, tidak saja dapat menangkis serangan goloknya, bahkan mampu membalas dengan serangan sabuk sutera hitam yang aneh itu. Namun tentu saja ia tidak takut. Ia mengeluarkan suara menggereng pada saat mendengar ejekan ini, lalu ia membentak,

"Siluman betina, kau tunggu golokku menamatkan riwayatmu!" Goloknya lalu diputar-putar di atas kepalanya, berubah menjadi gulungan sinar mengerikan yang mengeluarkan suara mendesing-desing.

Tiba-tiba tampak sebatang sinar hitam berkelebat memasuki gulungan sinar putih itu dan tahu-tahu terdengar Liong Ki Nam berseru tertahan disusul loncatannya ke belakang dan ia berjungkir-balik lalu memandang kepada Bhong Lo-koai yang sudah berdiri di depannya bersandarkan tongkat hitam, matanya penuh pertanyaan dan teguran mengapa temannya ini tadi menahannya.

"Liong-kauwsu, sudah sering kali aku memberi tahu bahwa amatlah tidak baik menurutkan nafsu amarah karena membuat orang lupa diri. Kau pun tadi tak mampu mengendalikan kemarahan sampai kau lupa bahwa yang hendak kau serang itu adalah siuli-siuli pilihan Pangeran. Andai kata kau dapat membunuh mereka, apakah yang akan dikatakan kelak oleh Pangeran?"

Muka yang merah dari Liong Ki Nam tiba-tiba berubah pucat dan ingatlah ia bahwa tadi ia sudah menurutkan nafsu dan sama sekali tidak ingat bahwa hampir saja dia mencelakai dirinya sendiri. Memang, sudah jelas bahwa Pangeran tergila-gila kepada dua orang gadis manis ini dan Pangeran menyerahkan persoalan ini, yaitu agar supaya dua orang gadis ini dapat menjadi selir-selir terkasih.

Apa bila sampai dia salah tangan membunuh mereka, bukankah ia akan mendapat marah dari Pangeran? Bukan tak mungkin karena sudah mengecewakan dan menyusahkan hati Pangeran, lehernya sendiri akan terpenggal tanpa ia sanggup mempertahankannya lagi. Karena ini ia cepat mundur, menyimpan goloknya dan tidak berani berkata apa-apa lagi.

Sementara itu Bhong Lo-koai sudah melangkah maju. Tongkatnya yang hitam dan buruk itu bergerak perlahan ke arah Li Eng dan Hui Cu.

Dua orang gadis ini adalah ahli-ahli silat tinggi. Mereka tidak dapat ditipu dengan gerakan yang tampaknya lemah dan lembut ini, segera keduanya mengangkat pedang menangkis. Dua batang pedang di tangan gadis itu bertemu dengan tongkat dan... tanpa sedikit pun mengeluarkan suara dua batang pedang itu menempel pada tongkat, tak dapat dilepaskan lagi seperti dua batang jarum menempel pada besi sembrani yang amat kuat.

"Nona berdua, lebih baik menyerah saja. Tiada gunanya memberontak terhadap perintah Pangeran, kalian akan berdosa besar," kata kakek aneh itu, matanya yang sipit itu makin meram.

Diam-diam kakek ini mengerahkan seluruh tenaga lweekang-nya, karena selain ia harus menempel pedang dua orang gadis itu, juga ia berusaha menarik dan merampasnya. Tapi alangkah terkejutnya ketika dia menghadapi perlawanan tenaga lweekang yang juga tidak lemah, apa lagi dari pihak Li Eng.

Demikianlah, walau pun tampaknya tiga orang ini tidak bergerak dengan senjata mereka yang saling tempel, sebetulnya mereka sedang mengadu hawa sakti dalam tubuh untuk mencapai kemenangan. Suasana hening mencekam karena tiga orang itu diam tiada yang bergerak.

Li Eng tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Orang-orang ini menganggap dia orang apakah maka mereka berani main gila? Dengan seruan nyaring dan merdu tangan kirinya bergerak dan sinar hitam menyambar ke leher Bhong Lo-koai. Cepat sekali sambaran ini dan dengan jitu mengarah jalan darah yang amat berbahaya bagi keselamatan kakek itu.

Bhong Lo-koai mengeluarkan seruan tertahan saking kaget dan marahnya. Tiba-tiba saja tongkatnya melepaskan tempelannya pada dua batang pedang, lalu bergerak menangkis sabuk sutera itu. Ia mengalami kekagetan hebat namun berhasil menyelamatkan diri.

Ada pun Li Eng terkejut ketika merasa betapa sabuk suteranya terbetot dan lengannya kesemutan ketika tongkat itu menangkisnya. Malah Hui Cu terhuyung sedikit pada waktu pedangnya terlepas dari tempelan tongkat. Ini saja sudah membuktikan bahwa tenaga lweekang dari kakek ini luar biasa.

Sekarang maklumlah Li Eng dan Hui Cu bahwa mereka berdua menghadapi lawan-lawan tangguh. Baru dua orang itu saja, Sin-toa-to Liong Ki Nam dan terutama kakek ini, Bhong Lo-koai, memiliki kepandaian yang tinggi, malah Li Eng dapat menduga bahwa tingkat dua orang ini lebih tinggi dari tingkat Hui Cu, dan agaknya kakek aneh ini bukan merupakan lawan ringan baginya. Apa lagi kalau tujuh orang itu semuanya maju, siapa tahu di antara mereka malah ada yang lebih lihai dari Bhong Lo-koai.

Akan tetapi urusan ini menyangkut kehormatan mereka, tidak mungkin mereka menyerah menjadi selir Pangeran! Walau pun mereka harus mempertaruhkan nyawa, mereka akan melawan sekuat tenaga. Dengan mata berkilat-kilat Li Eng dan Hui Cu cepat memasang kuda-kuda dan Lie Eng berteriak marah,

"Anjing-anjing penjilat! Majulah kalian, majulah semua. Jangan harap kami akan menyerah sebelum leher kami putus!"

Ang-moko, yaitu seorang di antara para jagoan, yang tertua dan yang sejak tadi hanya tersenyum saja, kini berkata, "Kalau kalian tidak berhasil menawan dua ekor kuda betina liar ini, tidak saja Pangeran akan marah kepada kalian, juga nama kalian akan menjadi rusak. Masa tua bangka-tua bangka seperti kalian ini tidak mampu menangkap dua ekor kuda betina yang muda ini? Heh-heh-heh, memalukan sekali!"

"He, Ang-moko kakek tua! Kau hanya membuka mulut saja tapi tidak mau turun tangan. Habis apa kerjamu di sini?" teriak Souw Ki kasar.

Ang-moko tertawa lagi terpingkal-pingkal. "Aku suka mengurus pekerjaan besar, bukan segala macam usaha menangkap kuda betina yang liar. Kau lebih patut untuk pekerjaan macam ini."

"Sudahlah, untuk apa melayani kegilaan Ang-moko?" kata Sin-toa-to Liong Ki Nam. "Kita beramai tangkap dan tawan dua orang gadis ini, tangkap hidup-hidup jangan sampai lolos atau terluka." Enam orang itu memasang kuda-kuda, ada pun Ang-moko hanya menonton sambil tertawa-tawa.
"Paman Hong, kalau nanti aku mati di sini, tolong sampaikan kepada Ayah dan Ibu bahwa anaknya mati sebagai seorang gagah!" berkata Li Eng tanpa mengalihkan perhatiannya kepada para jagoan yang sudah siap hendak menerjangnya itu.
"Sampaikan hormatku kepada ayah ibuku, Hong susiok," kata Hui Cu, berbeda dengan Li Eng suaranya agak terharu dan sungguh-sungguh.

Kun Hong menjadi gelisah sekali, seperti diremas rasa hatinya. Dia tak kuasa mencegah pertempuran yang pasti akan berlangsung hebat ini, karena ia maklum bahwa dua orang keponakannya itu sudah tentu lebih baik berjuang sampai mati dari pada menyerah untuk menjadi selir Pangeran mata keranjang itu.

Akan tetapi tidak benar ini, pikirnya. Melawan pemerintah, sama pula memberontak. Biar pun tidak salah, dunia akan mengecapnya sebagai pemberontak dan pengkhianat dan hal ini juga akan menyeret nama baik seluruh keluarga. Tidak boleh ia membiarkan dua orang keponakannya itu melakukan dosa seperti ini.

Dikumpulkannya tenaga batinnya yang gelisah, dipusatkan hawa sakti di tubuhnya, semua ditarik ke pusat pandangan mata kemudian dia membentak, "Li Eng dan Hui Cu! Simpan pedangmu dan jangan melawan."

Ketika ia berteriak demikian itu, para jagoan sudah mulai bergerak maju mengeroyok Li Eng dan Hui Cu. Suara beradunya senjata sudah terdengar bertubi-tubi dan tubuh kedua orang gadis itu sudah lenyap terbungkus gulungan sinar pedang mereka sendiri. Namun begitu teriakan ini terdengar, dua orang gadis itu melompat ke dekat Kun Hong seperti ditarik oleh tenaga gaib.

"Baiklah, Paman Hong," kata keduanya seperti dari satu mulut. Berbareng pula keduanya menyimpan pedang dan berdiri tegak menghadapi para jagoan itu yang saling pandang dan merasa terheran-heran.

Hanya dua orang gadis itu saja yang merasakan betapa hebat dan ampuhnya pengaruh suara Kun Hong tadi, suara yang tak mungkin terbantah oleh mereka, suara yang harus mereka turut dan taati karena seakan-akan adalah suara dari hati mereka sendiri yang melumpuhkan seluruh daya kemauan.

Kun Hong sendiri sama sekali tidak tahu bahwa dalam keadaan yang menggelisahkan dan tegang tadi, ia sudah menggunakan tenaga batin dari ilmu hoat-sut yang ia baca dari kitab pemberian Sin-eng-cu Lui Bok sehingga ia telah ‘menyihir’ dua orang keponakannya sendiri sampai dua orang dara itu menuruti perintah tanpa syarat lagi!

"Ha-ha-ha-ha, bagus sekali! Kiranya tidak keliru Pangeran memilih kau sebagai pengurus perpustakaan. Agaknya kau tidak sebodoh yang kami kira," kata Thian It Tosu. "Memang jauh lebih baik menyerah kemudian hidup penuh kemuliaan di sini dibandingkan melawan kekuasaan Pangeran karena akan membuang nyawa sia-sia belaka."
"Kami bertiga menyerah untuk ditawan, bukannya menyerah untuk menerima kedudukan," jawab Kun Hong dengan suara dingin.

Kembali tujuh orang itu saling pandang, lalu Thian It Tosu mengangkat pundak.

"Kalian orang-orang aneh, tapi urusan kami sudah selesai, biarlah selanjutnya Tan-taijin yang akan mengurus kalian. Serahkan senjata!"

Li Eng dan Hui Cu tidak melawan ketika pedang mereka dan sabuk sutera Li Eng dilucuti, sedangkan pedang di pinggang Kun Hong tidak ada yang menganggap karena memang tidak ada yang tahu. Siapakah orangnya dapat menduga bahwa pemuda yang lemah ini membawa-bawa pedang?

Mereka ditahan dalam tempat terpisah dan sebelum berpisah, Kun Hong berkata kepada dua orang gadis itu, "Jangan kalian kuatir, aku akan berdaya upaya untuk menginsyafkan Pangeran agar kita dibebaskan kembali. Kita tidak berdosa. Jangan kalian menggunakan kekerasan. Percayalah, orang yang benar pasti dilindungi Tuhan Yang Maha Adil."

Akan tetapi alangkah kaget hati Kun Hong ketika tiba-tiba Ang-moko dan Bhong Lo-koai bergerak ke depan menggerakkan tangan menyerang dua orang gadis itu. Karena Li Eng dan Hui Cu sama sekali tidak mengira akan datangnya serangan mendadak ini, mereka tak dapat mengelak dan roboh lemas dalam keadaan tertotok.

Kiranya dua orang jagoan tua ini telah saling memberi tanda-tanda. Karena mereka tidak ingin melihat dua orang gadis yang kosen ini akan menimbulkan kerewelan lagi, keduanya lalu turun tangan menotok jalan darah mereka.

"He, apa yang kalian lakukan ini?" Kun Hong berteriak-teriak. "Akan kulaporkan ini, kalian akan dihukum! Kami sudah menyerah, kenapa kalian masih tetap merobohkan dua orang keponakanku? Jahat sekali kalian..."

Akan tetapi tujuh orang itu tidak mempedulikannya lagi, malah ia segera diseret ke lain jurusan sedangkan dua orang gadis yang sudah lemas tidak berdaya lagi itu dibawa ke tempat lain. Percuma saja Kun Hong berteriak-teriak sampai suaranya serak.

Ia dilempar ke dalam sebuah kamar kosong yang berjendela kecil beruji besi. Hanya ada sebuah bangku panjang dan sebuah meja kecil di kamar ini, selebihnya kosong. Dengan hati risau Kun Hong melempar diri ke atas bangku dan dengan gelisah memikirkan nasib kedua orang keponakannya.

Pembesar yang oleh Kaisar dikuasakan untuk mengatur semua urusan yang timbul dan terjadi di lingkungan istana, adalah Tan-taijin. Tan-taijin ini orang yang berwatak jujur dan setia, orangnya tinggi besar seperti raksasa dan mempunyai wibawa besar.

Kiranya para pembaca masih ingat akan tokoh dalam cerita ini yang bernama Tan Hok, pemimpin kaum Pek-lian-pai yang berjasa amat besar terhadap perjuangan. Malah dalam pergolakan belasan tahun yang lalu saat para bekas pejuang saling berebutan kedudukan malah ada yang memberontak kepada Kaisar, kembali Tan Hok memperlihatkan jasanya dan menolong Kaisar dari serbuan kaum petualang yang hendak merebut kekuasaan.

Akhirnya, Tan Hok yang tubuhnya tinggi besar dan gagah ini diangkat oleh Kaisar menjadi pengawal pribadinya. Kemudian malah diberi pangkat untuk mengurus segala persoalan yang terjadi di lingkungan istana.

Karena ini maka Tan Hok yang sekarang disebut Tan-taijin ini mempunyai pengaruh yang amat besar. Semua kata-katanya dipercaya oleh Kaisar dan sebagai seorang jujur dan keras hati, ia ditakuti dan disegani oleh seluruh kerabat istana.

Seperti telah kita ketahui dalam bagian depan dari cerita ini, antara Tan Hok dan Tan Beng San terdapat pertalian persahabatan yang sangat erat, malah pendekar sakti Tan Beng San menganggap raksasa ini sebagai kakak angkatnya. Oleh karena inilah maka semenjak Tan Beng San bersama isterinya, Cia Li Cu, tinggal di Thai-san, kedua orang gagah ini sering kali mengadakan hubungan.

Tan-taijin sering kali pergi mengunjungi Thai-san, malah sudah beberapa kali Tan Beng San sekeluarganya berkunjung ke kota raja dan bermalam di gedung Tan-taijin. Karena Tan-taijin sendiri yang menikah dengan seorang gadis kota raja tidak memiliki keturunan, maka sering kali puteri tunggal Tan Beng San tinggal di situ sampai berbulan-bulan.

Malah atas anjurannya, juga karena terlalu disayang oleh ayah bundanya, puteri tunggal ini mempelajari segala kerajinan tangan wanita di kota raja sehingga selain mewarisi ilmu silat sakti dari ayah ibunya, gadis ini pun memiliki kepandaian puteri-puteri istana seperti sastra, menyulam, bermain musik, bermain catur dan lain-lain.

Urusan Kun Hong dan dua orang keponakannya pun otomatis terjatuh ke dalam tangan Tan-taijin, karena urusan itu merupakan urusan dalam. Para jagoan sudah maklum akan kelihaian Tan-taijin dalam menyelesaikan urusan yang sulit-sulit, maka sesudah mereka menjebloskan Kun Hong ke dalam penjara di dalam istana dan memasukkan dua orang gadis itu ke dalam kamar para selir Pangeran, mereka kemudian melaporkannya kepada Tan-taijin.

Mula-mula Tan-taijin mengomel pada saat mendengar bahwa secara mendadak Pangeran Mahkota mengangkat seorang pemuda menjadi pengurus perpustakaan serta dua orang gadis begitu saja menjadi selir. Watak orang muda omelnya, segala serba tergesa-gesa menurutkan nafsu hati.

Tetapi dia segera tertarik sekali mendengar bahwa ‘pemuda kepala batu’ yang menolak anugerah besar ini ternyata adalah seorang dari Hoa-san-pai, demikian pula dua orang gadis yang katanya menolak pula anugerah Pangeran. Tadinya ia pun hampir tak dapat percaya kalau ada dua orang gadis muda yang menolak diangkat sebagai selir Pangeran Mahkota, akan tetapi setelah ia mendengar bahwa dua orang dara remaja itu adalah orang-orang Hoa-san-pai, ketidak percayaannya berubah dan ia tertarik sekali.

Ia cukup mengenal watak pendekar-pendekar wanita yang tak boleh disamakan dengan wanita-wanita biasa. Kalau yang menolak anugerah tertinggi itu adalah para pendekar wanita dari Hoa-san-pai, hal itu bukanlah hal yang aneh. Dia harus dapat mengurus hal ini, mengatasinya dan mencari jalan pemecahannya yang baik.

Karena ia mendengar bahwa pemuda yang diangkat menjadi pengurus perpustakaan itu adalah paman dari kedua gadis tadi, maka ia segera memberi perintah agar supaya pemuda bandel itu malam itu juga diantar ke gedungnya, akan ditemui dan diperiksa. Diam-diam ia menduga-duga siapakah pemuda ini dan putera siapa karena ia mengenal semua tokoh Hoa-san-pai.

Sebagai seorang tawanan, biar pun orang-orang tahu bahwa dia seorang laki-laki yang lemah, dua tangan Kun Hong dibelenggu ketika orang membawanya untuk menghadap Tan-taijin di ruangan tengah. Pada waktu itu hari sudah gelap dan di ruangan itu dipasangi lampu yang amat terang.

Tan-taijin sendiri duduk menghadapi meja besar dalam pakaian kebesarannya karena ia sedang memeriksa seorang tahanan. Pembesar ini amat gagah dalam pakaiannya yang mentereng seperti Kwan Kong saja. Sunguh-sungguh berwibawa! Setiap orang pesakitan tentu akan tunduk dan takut kalau diperiksa oleh seorang seperti Tan-taijin ini.

Melihat seorang pemuda kurus dan tampaknya lemah digiring masuk, Tan-taijin langsung merasa kecewa. Tak patut pemuda ini menjadi murid Hoa-san-pai. Tadinya ia menduga akan bertemu dengan seorang pemuda yang gagah perkasa, seorang kesatria keturunan pendekar besar. Akan tetapi pemuda itu mempunyai keistimewaan pada matanya, yang mengingatkan Tan-taijin kepada sahabat dan saudara yang tercinta, pendekar besar Tan Beng San Si Raja Pedang!

Banyak persamaan antara mata kedua orang itu, pikirnya, begitu tajam, begitu cemerlang dan berani menentang segalanya. Setelah pemuda itu berlutut di depan meja, Tan-taijin memberi isyarat kepada dua orang pengawal untuk meninggalkan ruangan itu.

Ia ingin bicara empat mata dengan pemuda ini, ingin melakukan pemeriksaan mendalam tanpa disaksikan orang lain. Sejenak ia melihat kepala yang menunduk itu, lalu terdengar suaranya yang besar, tetap dan nyaring,

"Orang muda, kau berdirilah!"

Kun Hong bangkit berdiri dan mereka berpandangan. Sejenak sinar mata mereka saling mengukur, saling menentang, kemudian meragu dan masing-masing seperti sadar bahwa mereka berhadapan dengan seorang lawan yang tidak mudah menyerah kalah.
"Orang muda, siapakah namamu, dari mana asalmu dan mengapa kau sampai ke kota raja sehingga menjadi seorang tahanan. Ceritakanlah semua dari awal sejelasnya, siapa tahu dari pengakuanmu itu aku akan dapat membebaskanmu."

Suara Tan-taijin jelas, lambat, keras dan sekata demi sekata berkesan di dalam hati Kun Hong. Akan tetapi, saat pemuda ini tadi melihat pakaian yang indah mentereng, ruangan yang angker serta sikap yang agung dari pembesar yang memeriksanya, diam-diam dia mengeluh dan tidak dapat banyak mengharapkan keadilan.

Mendengar pertanyaan yang sekaligus dapat mencakup seluruh persoalan yang harus ia ceritakan itu, Kun Hong menjawab singkat tanpa mengangkat mukanya yang menunduk memandang lantai.

"Nama saya Kwa Kun Hong dan berasal dari Hoa-san, tidak sengaja sampai ke kota raja karena bersama dua orang keponakanku hanya hendak melihat-lihat saja. Tapi kebetulan terdengar oleh Pangeran dan kami menerima undangan. Siapa tahu, Pangeran hendak memaksa dua keponakan saya untuk menjadi selirnya sedangkan saya menjadi pengurus perpustakaan. Kami tidak mau dan ditahan.”

Melihat sikap pemuda yang tenang-tenang dan sama sekali tak merasa takut ini, Tan-taijin diam-diam kagum juga. Apa lagi mendengar nama keturunan pemuda ini Kwa. Pernah apakah dengan Kwa Tin Siong?

Pada saat itu, pintu sebelah dalam terbuka dan muncullah seorang pemuda yang tampan sekali, dengan sepasang mata bersinar-sinar bagai bintang. Kun Hong sejenak terbelalak kagum, akan tetapi segera timbul ketidak senangannya karena ia melihat bahwa pemuda yang tampan itu ternyata hanya pemuda pesolek yang terlalu halus gerak-geriknya.

Sebaliknya pemuda tampan itu seakan-akan tak melihat kehadiran Kun Hong yang berdiri dengan kedua tangan terbelenggu, langsung berkata kepada Tan-taijin.

"Pek-hu (uwa), kau tolonglah... aku mendengar ada dua orang gadis muda jelita berasal dari Hoa-san-pai sedang ditahan dan hendak dipaksa menjadi selir oleh Pangeran!"

Tan-taijin dengan gerak matanya memberi isyarat bahwa di situ ada orang lain. Pemuda itu mencari dan melihat Kun Hong, maka ia segera melanjutkan, "Pangeran sudah terlalu banyak selir-selirnya. Yang sudah punya banyak ingin tambah terus, dan aku yang belum punya seorang pun tidak kebagian!"

Semakin muak perasaan Kun Hong terhadap pemuda tampan itu, maka ia memandang dengan mata melotot, terang-terangan ia menyatakan kemarahannya.

Pemuda itu balas memandang, mengerutkan alisnya kemudian bertanya, "Ahh, kiranya aku mengganggu Pek-hu. Bajingan apakah yang Pek-hu periksa malam-malam begini? Apakah dia tukang colong ayam istana? Ataukah tukang copet? Jangan-jangan dia maling kuda, kabarnya banyak kuda hilang secara aneh dari kandang istana. Tapi dia tidak patut menjadi pencuri kuda, pantasnya menjadi maling ayam!" Jelas bahwa pemuda ini sedang sengaja menghina Kun Hong yang melotot marah itu.

Begitu pemuda tampan itu muncul wajah Tan-taijin yang tadinya bersungguh-sungguh berubah terang berseri. Ia segera menggerakkan tangannya dan berkata, "Kau duduklah, Tan-ji (Anak Tan) dan justru dua gadis yang kau bicarakan itu ada hubungannya dengan orang ini. Kau duduk dan dengarlah."

Pemuda itu duduk tak jauh dari meja, duduk di atas bangku dan menumpangkan paha kiri di atas paha kanannya, dengan sikap angkuh memandang Kun Hong yang menjadi makin gemas. Tiba-tiba pemuda itu tampak terkejut, turun dari bangku, menghampiri Kun Hong dan begitu tangannya bergerak ia telah mengambil pedang di balik baju Kun Hong.

"Ih, dia menyembunyikan pedang, Pek-hu!" katanya memperlihatkan pedang itu.

Diam-diam Kun Hong terkejut dan kecewa. Tadinya ia sudah merasa girang bahwa tidak ada orang menaruh curiga padanya. Kiranya pemuda ini dapat melihat pedangnya, malah kini pedang itu dirampasnya.

Kening pembesar itu berkerut. "Hemmm, menurut laporan kau adalah seorang pemuda sastrawan yang lemah. Mengapa kau menyembunyikan pedang?"

Sekarang marahlah Kun Hong. Ia menentang pandang mata pembesar itu dan menjawab, "Pedang tetap pedang, benda yang tak berdosa. Tergantung tangan yang memegangnya. Pedang itu adalah pemberian orang suci kepadaku, mengapa takkan kubawa? Tapi sama sekali bukan untuk... membunuh orang atau untuk beraksi seperti dia itu!"

Matanya memandang pemuda yang kini sudah mencabut pedang itu dari sarungnya dan memegang serta memandanginya seperti seorang ahli!

"Hemmm, sebuah po-kiam (pedang pusaka) yang baik. Eh, dari mana dia mencuri pusaka ini?"

Pemuda tampan itu menoleh dan pandang matanya tajam penuh selidik, mengiris jantung, bukan karena keindahannya namun karena penghinaannya yang bagi Kun Hong terasa amat perih. Saking marahnya Kun Hong sampai tak dapat mengeluarkan suara.

Dia sendiri merasa heran mengapa terhadap pemuda pesolek yang terlalu tampan ini ia mudah sekali tersinggung dan marah, padahal menghadapi segala sesuatu biasanya ia tenang dan sabar saja. Pada saat bertemu pandang, sengaja ia membuang muka seperti orang melihat binatang yang menjijikkan.

Sementara itu, Tan-taijin tidak begitu heran melihat Kun Hong menyembunyikan pedang di balik jubahnya. Sebagai seorang murid Hoa-san-pai sudah tentu saja soal membawa pedang bukan merupakan soal yang aneh lagi. Yang aneh hanya karena pemuda ini tak pandai ilmu silat, mengapa membawa pedang segala?

"Kwa Kun Hong," berkata pula pembesar itu dengan suara kereng, "Pangeran Mahkota begitu baik kepadamu, belum kenal telah diundang, diadakan pesta, kemudian malah kau diberi anugerah pangkat. Mengapa kau menolaknya? Penolakanmu itu berarti kau tidak kenal budi, berarti kau tidak taat dan tidak menghormat kepada putera Kaisar. Padahal aku mendengar laporan bahwa kau menerima ketika diangkat menjadi ketua perkumpulan pengemis, kenapa sekarang kau malah menolak ketika diberi kedudukan betul-betul oleh Pangeran Mahkota. Bukankah itu menunjukkan bahwa kau tidak setia kepada junjungan dan punya hati memberontak?"
"Eh-ehh, orang macam ini jadi raja pengemis?" lagi-lagi terdengar suara pemuda tampan itu yang membuat kedua telinga Kun Hong serasa dibakar.

Kun Hong mengangkat muka, berdiri tegak dan suaranya menggeledek ketika menjawab pembesar itu, jawaban yang diselimuti oleh kemarahannya yang bangkit karena sikap dan kata-kata Si Pemuda Tampan tadi.

"Taijin, saya ingin bicara terus terang, kalau menyinggung harap Taijin suka maafkan atau mau hukum, terserah. Setelah melihat keadaan di dalam istana-istana kerajaan, melihat kerajaan, melihat pembesar-pembesar istana, selaksa kali saya lebih suka menjadi ketua pengemis jembel dari pada menjadi pembesar di istana! Menjadi ketua pengemis paling tidak masih mengingat akan nasib para pengemis, meski tampak hina namun merupakan pekerjaan yang mulia. Akan tetapi sebaliknya, orang-orang yang menyebut dirinya sendiri pembesar, yang hidup bergelimang dengan kemewahan, kemuliaan, dan kesenangan, apakah jasa mereka terhadap rakyat jelata? Pembesar-pembesar seperti Taijin ini, yang sangat banyak jumlahnya di kota raja, pernahkah memikirkan nasib si kecil? Pernahkah mimpi bahwa kalau Taijin sedang tidur nyenyak di dalam gedung istana indah, ratusan ribu rakyat di gunung-gunung kedinginan karena dinding gubuk bobrok dan atap daun bocor? Kalau Taijin sedang makan masakan kota raja yang enak dan lezat, ingatkah akan ratusan ribu rakyat yang mengerang kelaparan, bahkan ada yang mati karena perutnya kosong? Kalau setiap pagi dan sore berganti pakaian-pakaian indah dan mempersolek diri seperti Tuan Muda ini, pernahkah ingat akan ratusan ribu rakyat yang telanjang dan harus kedinginan? Padahal..." Sampai di sini Kun Hong menarik napas panjang, kemudian dia menyambung lebih bersemangat lagi,

"padahal kalau tidak ada rakyat, takkan ada raja, takkan ada pembesar seperti Taijin ini, tak akan ada istana-istana indah ini. Hemmm, sudah banyak kubaca tentang orang-orang yang menyebut diri sendiri pemimpin dan pembesar seperti Taijin dan sebangsanya. Di waktu perang? Ahh, ada rakyat yang maju! Di waktu banjir? Musim kering panjang? Ada rakyat yang menanggulangi. Tetapi kalau sudah mabuk penghidupan mewah dan enak, segera rakyat dilupakan!"

Saking kaget, heran dan kagumnya, wajah Tan-taijin berubah-ubah dan wajah pemuda tampan itu kini menjadi merah sekali. Melihat wajah pembesar itu, Kun Hong menjadi semakin bersemangat.

"Ah, Taijin terheran? Ha-ha, aku berani bertaruh bahwa orang seperti Taijin ini tak pernah keluar dari kota raja, setiap hari hanya mencium wangi masakan sedap, melihat wanita cantik dan memakai pakaian indah. Cobalah Taijin tengok ke dusun-dusun, dan juga ke gunung-gunung, ke pinggir-pinggir laut, tengoklah kehidupan rakyat kecil di sana. Mungkin mata Taijin akan terbuka dan tidak berani lagi menari-nari di atas kemelaratan rakyat, berlaku sewenang-wenang, menangkap orang-orang tak berdosa, merampas gadis-gadis begitu saja..."
"Tutup mulutmu! Kau tak tahu dengan siapa kau bicara!"

Tiba-tiba pemuda tampan itu melompat maju dan…

"Plak! Plak!" kedua pipi Kun Hong ditamparnya kanan kiri.

Mata pemuda tampan itu berapi-api, marah sekali ia rupanya.

"Jangan, Tan-ji...! Mundurlah! Bagaimana pun juga, dia bicara tentang kenyataan, tentang kebenaran dan keadilan!"
"Tapi ia kurang ajar, Pek-hu. Ahh, muak perutku melihatnya!" Pemuda tampan itu dengan marah lalu meninggalkan ruangan.

Tan-taijin lalu bangkit dari bangkunya dan maju melepaskan belenggu tangan Kun Hong. Pemuda ini tidak merasa girang atau heran, hanya mengangkat kedua tangan mengusap kedua pipinya yang masih ada tanda lima jari merah bekas ditampar tadi. Panas tamparan tadi, tapi lebih panas lagi hatinya.

"Huh, laki-laki macam apa dia? Pesolek dan galak, seperti banci saja!" gerutu Kun Hong dengan hati mengkal.

Tan-taijin tersenyum ketika berkata, "Kau maafkanlah dia, dia itu masih seperti anak kecil saja. Kwa-sicu, semua omonganmu tadi memang tepat, akan tetapi kau hanya tahu ekor tak melihat kepalanya, tahu satu tidak tahu dua. Kau mengaku dari Hoa-san dan she Kwa, sebetulnya kau masih ada hubungan apakah dengan Ketua Hoa-san-pai, Kwa Tin Siong Taihiap?"

"Saya... anaknya..." jawab Kun Hong agak gagap, sama sekali dia tidak mengira bahwa agaknya pembesar ini mengenal ayahnya.
"Ha-ha-ha-ha, sudah kuduga!" kata Tan-taijin girang, kemudian ia mengelus jenggot dan menarik napas panjang. "Kau bersemangat seperti ayahmu. Hemm, tapi sebagai putera Ketua Hoa-san-pai, bagaimana kau tidak pandai ilmu silat? Tapi, hal itu bukan urusanku. Sekarang tentang dua orang gadis itu, kau bilang mereka itu adalah keponakanmu. Kalau begitu..." Pembesar itu mengingat-ingat, "apakah mereka itu keturunan dari Saudara Thio Ki ataukah Saudara Kui Lok!"

Makin heranlah Kun Hong. Kiranya pembesar ini banyak mengenal keluarga Hoa-san-pai!

"Dugaan Taijin tidak keliru, Li Eng adalah puteri Paman Kui Lok, sedangkan Hui Cu ialah puteri Paman Thio Ki," katanya cepat dan kini mulai memperhatikan wajah yang tampan dan gagah dari pembesar bertubuh raksasa itu.

Bukan main kagetnya hati Tan-taijin. "Ahh, aku harus cepat membebaskan mereka! Kwa Kun Hong, ketahuilah, aku adalah sahabat baik dari ayahmu beserta semua orang-orang Hoa-san-pai, bahkan sahabat seperjuangan. Sekarang terpaksa kau berdiam dulu dalam kamar tahanan, aku perlu pergi ke Istana Kembang membebaskan dua orang gadis itu."

Kun Hong merasa girang sekali, tetapi sebelum ia sempat menyatakan terima kasihnya, pembesar itu menepuk tangan dan masuklah beberapa orang pengawal.

"Antarkan kembali pemuda ini ke dalam kamar tahanan, akan tetapi jangan dibelenggu dan perlakukan sebagai tamuku!"

Para pengawal itu memberi hormat dan dengan halus Kun Hong digandeng pergi dari ruangan itu. Dengan sudut matanya Kun Hong berusaha mencari pemuda tampan yang tadi menampar pipinya, akan tetapi tidak terlihat dan diam-diam ia berjanji kelak akan membalas tamparan ini. Baru kali ini bisa timbul dendam di hati Kun Hong, suatu hal yang baginya sendiri teramat aneh.

Tergesa-gesa Tan-taijin malam hari itu juga pergi menuju ke Istana Kembang dengan maksud membebaskan Li Eng dan Hui Cu dari tahanan. Ia kuatir sekali kalau-kalau kedatangannya terlambat. Kalau sampai dua orang gadis itu diganggu oleh Pangeran, hal ini akan mempunyai akibat yang hebat sekali.

Mereka adalah putera-puteri tokoh Hoa-san-pai, kalau terjadi hal ini berarti Pangeran telah menodai nama baik Hoa-san-pai. Tidak saja pihak Hoa-san-pai takkan dapat menerima hal itu, malah dunia kang-ouw akan geger karenanya, terutama sekali saudara angkatnya, Si Raja Pedang Tan Beng San yang memiliki hubungan erat dengan Hoa-san-pai, tentu akan menyesal bukan main.

Paling perlu ia membebaskan dua orang gadis itu dahulu, baru pada keesokan harinya ia boleh bicara dengan Pangeran Mahkota. Jika ia menceritakan keadaan yang sebenarnya dan tentang jasa-jasa Hoa-san-pai, kiranya Pangeran Mahkota takkan menyesal dengan dibebaskannya dua orang gadis itu. Andai kata Pangeran tetap menyesal, ia masih dapat menggunakan pengaruh Kaisar untuk meredakannya atau kalau perlu, demi kepentingan ini, ia rela mengundurkan diri, kembali ke dusun.

Kata-kata Kun Hong tadi membangkitkan semangatnya, membuat ia terkenang akan keadaan dahulu dan diam-diam ia harus mengaku bahwa selama bertahun-tahun ia hidup di istana, memang hampir terlupa olehnya bahwa rakyat hingga sekarang masih banyak yang menderita!

Akan tetapi, setibanya ia di Istana Kembang, ternyata kedatangannya telah terlambat! Bukan terjadi seperti yang ia kuatirkan. Pangeran Mahkota tidak sempat mengganggu dua orang gadis itu karena belum datang malam itu, masih di istana. Akan tetapi terjadi lain hal yang hebat, yaitu, dua orang gadis itu telah berhasil melarikan diri.

Seluruh penghuni Istana Kembang itu, dua orang selir Pangeran yang bertugas membujuk dua orang gadis itu, empat orang pelayan wanita yang bertugas melayani, dan lima orang perajurit pengawal yang tinggi juga kepandaiannya, semua telah tewas! Dua orang gadis Hoa-san-pai itu lenyap dan sebelas orang manusia terbunuh. Istana Kembang yang indah, yang biasanya menjadi tempat peristirahatan Pangeran, sekarang malah menjadi tempat menyeramkan dengan darah berceceran dan mayat bergelimpangan!

Tan-taijin kaget sekali, membanting-banting kedua kaki. Ia menyesal mengapa Pangeran begitu gegabah, bermain kasar terhadap murid-murid Hoa-san-pai. Juga dia menyesal sekali mengapa dua orang gadis itu setelah berhasil melarikan diri, berlaku begini ganas dan kejam? Cepat ia melakukan pemeriksaan dan sebentar saja para jagoan dari istana berdatangan ketika mendengar peristiwa hebat itu. Sebetulnya apakah yang telah terjadi?

Seperti telah kita ketahui, karena sama sekali tidak menyangka akan diserang dan juga karena memang kepandaian Ang-moko dan Bhong Lo-koai amat tinggi, Li Eng dan Hui Cu secara tiba-tiba tertotok roboh dan mereka ini sama sekali tidak melawan ketika dibawa ke dalam Istana Kembang dan ditahan di dalam sebuah kamar yang indah dan mewah.

Sebelum meninggalkan dua orang gadis tawanan ini kepada dua orang selir Pangeran yang diserahi tugas untuk membujuk secara halus, lebih dahulu Bhong Lo-koai mengikat tangan nona itu agar kalau nanti kembali dari totokan, takkan mengamuk. Kemudian para jagoan meninggalkan Istana Kembang untuk memberi laporan kepada Pangeran yang tadi pulang terlebih dulu.

Pada malam hari itu juga, selagi Tan-taijin memeriksa Kun Hong dan Pangeran Mahkota dengan girang mendengarkan laporan para jagoannya bahwa kedua orang dara remaja yang dirindukannya itu sudah tertawan, terjadilah hal yang hebat di Istana Kembang itu.

Sesosok bayangan berjalan lambat memasuki pekarangan istana itu. Orang ini sudah tua, tubuhnya tinggi besar dan kokoh kekar, jalannya sempoyongan sedang tenggorokannya mengeluarkan suara meringik-ringik atau merintih-rintih bagaikan orang sedang menangis. Akan tetapi mulutnya terdengar menggerutu, "Anak murid Hoa-san-pai? Ha, anak murid Hoa-san-pai..."

Lima orang perajurit pengawal yang bertugas menjaga Istana Kembang pada malam itu, terheran-heran ketika melihat datangnya seorang kakek berpakaian putih di situ. Mereka mengira bahwa tentulah kakek ini seorang pengemis gila, karena itu salah seorang dari mereka segera membentak,

"Hee! Kakek gila, keluar kau!"

Akan tetapi kakek berpakaian putih ini seperti tidak mendengar bentakan itu. Dia terus melanjutkan perjalanannya melewati pekarangan menuju ke pintu depan.....

Tentu saja lima orang pengawal itu menjadi marah dan juga amat curiga. Dengan gerakan cepat mereka melompat dan tahu-tahu mereka sudah berdiri menghadang di depan kakek itu.

"He, Kakek! Apa kehendakmu dan siapa kau?" tegur seorang di antara mereka dengan sikap mengancam.

Kakek itu tetap tidak mengacuhkan mereka, memandang pun tidak, hanya menggumam, "Anak murid Hoa-san-pai..."

Lima orang itu semakin curiga, malah mereka sudah meraba gagang golok dan pedang. Jangan-jangan orang ini adalah teman gadis-gadis yang ditahan dan hendak merampas mereka, pikir mereka.

"Siapa kau?! Jangan main-main di sini, orang gila. Lekas keluar atau kau akan merasakan tajamnya golokku!" seorang di antara mereka berseru sambil mencabut goloknya. Empat orang yang lain juga sudah mencabut senjata masing-masing.

Akan tetapi kakek itu agaknya benar-benar gila. Rengek tangis di tenggorokannya masih terdengar terus dan bibirnya tiada henti-hentinya berkata, "Serahkan padaku anak murid Hoa-san-pai..."

Sementara itu kedua kakinya masih terus melangkah ke arah pintu, agaknya dia hendak memaksa memasuki istana itu.

"Orang gila sudah bosan hidup!" teriak para pengawal marah.

Berbareng mereka menggerakkan senjata, ada yang menusuk paha, ada yang membacok pundak, pendeknya mereka hendak merobohkan orang tua itu tanpa membunuhnya. Akan tetapi semua bacokan itu hanya mengenai angin belaka, padahal kakek itu kelihatannya tidak mengelak sama sekali!

Para pengawal itu terkejut bukan main dan mereka sadar bahwa orang gila ini bukanlah orang sembarangan. Namun kesadaran mereka terlambat karena dengan sekali renggut saja kakek itu sudah mencabut sebatang pohon bunga di depan istana. Pohon sebesar paha orang itu tercabut berikut akar-akarnya, kemudian tanpa banyak cakap lagi ia pun menghajar lima orang pengawal dengan pohon ini!

Kelima orang pengawal itu mencoba sedapat mungkin untuk menangkis atau mengelak, meloncat ke sana ke mari, namun sia-sia belaka. Tidak sampai lima menit mereka semua telah roboh dengan kepala pecah dan tulang-tulang patah tanpa nyawa lagi!

Setelah merobohkan lima orang ini, kakek gila tadi melemparkan batang pohon itu secara sembarangan, lalu berjalan terus dengan langkah lebar menuju pintu. Pintu itu terpalang dari depan, tapi sekali dorong daun pintu yang tebal itu terbuka, palangnya patah-patah. Sambil mengomel panjang pendek dan rengek tangisnya masih terdengar jelas, kakek ini melangkah masuk.

Dua orang pelayan wanita muncul dengan kaget dari dalam. Mereka menjerit ngeri ketika melihat seorang kakek aneh berjalan masuk dan daun pintu telah roboh dan pecah.

Kakek itu agaknya marah mendengar jeritan mereka. Tangannya cepat bergerak ke arah mereka dan pelayan itu roboh terjungkal, mati tanpa dapat bersambat lagi. Lalu kakek ini melangkah terus.

"Anak murid Hoa-san-pai, mana anak murid Hoa-san-pai?" demikian terdengar ia bicara perlahan. Semua pintu kamar dibukanya dan ia mencari terus sampai ke kamar di sebelah belakang.

Pada waktu itu, dengan lagak genit dan centil sekali dua orang selir Pangeran sedang membujuk Li Eng dan Hui Cu yang terbelenggu di atas pembaringan. Mereka membujuk terus agar supaya dua orang gadis itu menurut saja menjadi selir Pangeran, malah tanpa malu-malu lagi dua orang wanita yang sudah tidak lagi mengenal kesusilaan ini mulai menceritakan hal-hal yang tak patut didengar telinga sopan, memuji-muji Pangeran yang muda dan tampan itu dan betapa senangnya menjadi selirnya.

Mula-mula Li Eng dan Hui Cu memaki-maki, akan tetapi lama-lama mereka lelah sendiri dan meramkan mata, sama sekali tidak mau melihat atau mendengar lagi. Kalau saja tangan mereka tidak terbelenggu, pasti sekali pukul mereka merobohkan dua orang yang tak tahu malu ini. Sementara itu, dua orang pelayan wanita juga berada di dalam kamar untuk melayani dua orang selir tadi.

Tiba-tiba pintu kamar itu terdorong dari luar, dan setelah terbuka masuklah Si Kakek tadi. Dua orang selir Pangeran itu bukanlah wanita-wanita lemah, segera mereka melompat dan menyambar pedang masing-masing.

"Siapa kau...?" Belum habis gema suara ini, dua orang selir itu telah terlempar dan kepala mereka terbentur tembok hingga pecah dan tewaslah mereka.

Diam-diam terkejut sekali hati Li Eng dan Hui Cu melihat betapa dengan gerakan kedua tangannya, kakek ini melakukan pukulan jarak jauh yang dapat membinasakan dua orang selir itu. Ada pun dua orang pelayan yang menjadi ketakutan segera menjerit-jerit. Akan tetapi dua kali tendangan menamatkan hidup mereka.

Sekaligus kakek ini telah membunuh empat orang di dalam kamar itu, dua orang lagi di luar kamar dan lima orang di luar rumah. Kemudian ia menghampiri Li Eng dan Hui Cu, memandang sejenak lalu terdengar ia berkata,

"Anak murid Hoa-san-pai...?"

Li Eng dari Hui Cu tidak tahu siapakah kakek ini dan apa gerangan maksudnya dengan perbuatannya yang mengerikan itu, tidak tahu pula apa maksudnya bertanya tentang anak murid Hoa-san-pai. Akan tetapi karena dapat menduga bahwa kakek itu tentulah seorang tokoh luar biasa di dunia kang-ouw dan tentu mengenal baik Hoa-san-pai, Li Eng yang lebih tabah itu menjawab,

"Benar, Locianpwe, kami berdua adalah murid Hoa-san-pai..."

Tiba-tiba kakek itu menggerakkan kedua tangan dan pada lain saat tubuh Li Eng dan Hui Cu telah dipanggulnya di kanan kiri atas pundaknya, kemudian bagaikan terbang ia berlari keluar dari istana yang penghuninya telah dibunuhnya semua itu!

Ketika kota raja geger dan pintu pintu gerbang kota raja sudah ditutup dan dijaga keras, kakek ini telah lama meninggalkan kota raja dengan memanggul dua tubuh gadis itu. Ia berlari terus secepat angin menembus gelap malam dan menjelang tengah malam tibalah ia di sebuah hutan, langsung memasuki hutan itu dan menuju ke sebuah kelenteng kuno yang sudah kosong.

Ia masuk di ruangan belakang kelenteng itu yang ternyata bersih. Melihat betapa di dalam gelap ia dapat bergerak leluasa, dapat diduga bahwa ia sudah hafal akan tempat ini. Sambil merengek-rengek terus dia melepaskan dua tubuh dara itu ke atas lantai secara kasar, mulutnya tiada hentinya berbisik, "Anak murid Hoa-san-pai... hemmm, anak murid Hoa-san-pai..."

Li Eng dan Hui Cu sudah terbebas dari totokan dan kini mereka berusaha melepaskan belenggu yang mengikat kedua tangan mereka. Tentu saja mereka dapat menggerakkan kaki dan andai kata menghadapi seorang biasa saja, dengan kaki mereka dua orang dara perkasa ini sanggup merobohkannya. Akan tetapi kini mereka menghadapi seorang kakek aneh yang sakti, tentu saja mereka tak berani berlaku sembrono menyerang dengan kaki saja!

Mereka mendapat kenyataan bahwa lantai itu licin dan bersih, dan mereka menduga-duga apa yang akan dilakukan oleh kakek itu terhadap diri mereka. Tiba-tiba terdengar bunyi benda-benda nyaring dan terjadilah api. Tak lama kemudian ruangan itu menjadi terang oleh sebatang lilin yang dipasang oleh kakek itu di atas sebuah meja sembahyang yang sudah butut.

Ngeri juga hati dua orang gadis itu melihat wajah kakek yang tua dan menyeramkan tadi tersinar cahaya lilin. Kakek itu kini tertawa terkekeh-kekeh sambil memandang mereka.

"Heh-heh-heh-heh! Anak-anak murid Hoa-san-pai! Muda-muda dan cantik, tetapi semua anak murid Hoa-san-pai genit-genit, cabul dan tidak tahu malu!"

"Kakek tua bangka gila!" Li Eng tak dapat menahan kemarahannya mendengar kata-kata yang sangat menghina nama baik Hoa-san-pai ini. "Mulutmu kotor, kau manusia ataukah iblis? Kami orang-orang Hoa-san-pai selalu memegang tinggi kesopanan dan juga pribudi kebijaksanaan, jangan sembarangan kau menuduh!"

Kakek itu tertegun kaget mendengar suara ini dan melihat sikap Li Eng yang berani. Akan tetapi hanya sebentar karena ia terkekeh kembali.

"Heh-heh-heh! Sama saja semua. Kelihatannya memang sopan-sopan, lagaknya seperti pendekar-pendekar, akan tetapi begitu dekat laki-laki lalu menjadi cabul. Mempunyai anak di luar pernikahan, coba bilang, apakah itu tidak cabul dan tak tahu malu?"
"Keparat! Tua bangka! Lepaskan belenggu ini dan mari kita bertanding untuk membela pendirian kita. Kau akan mampus di tanganku untuk menebus ucapanmu yang menghina Hoa-san-pai!" kata pula Li Eng.
"Heh-heh-heh, hendak kulihat kau akan mampu berbuat apa nanti. Tetapi nanti, sekarang kau harus mengalami penghinaan lebih dahulu. Semua wanita-wanita Hoa-san-pai harus mengalami penghinaan, sesuai dengan watak Hoa-san-pai yang hinal" Ucapan ini disusul gerakan tangannya menyambar ke arah tubuh Li Eng.

"Brettt!"

Baju yang menempel di bagian atas tubuh Li Eng hancur berkeping-keping, kemudian bertaburan seperti daun-daun kering tertiup angin.

Li Eng menjerit dan cepat menggunakan kaki menggulingkan tubuh sehingga yang hancur hanya pakaian bagian pundak dan leher saja, namun cukup banyak sehingga membuat tubuh bagian atasnya setengah telanjang. Mula-mula ia memaki-maki marah, akan tetapi makiannya berubah menjadi jerit mengerikan ketika dia melihat kakek itu mendekatinya dengan muka seperti iblis dan dari pandang matanya jelas tampak nafsu untuk menghina, untuk membikin malu dan merendahkan dua orang gadis itu.

Sementara itu, Hui Cu sudah bangkit berdiri dan memandang dengan muka pucat. Gadis ini belum diganggu, mungkin karena semenjak tadi ia diam saja, tidak seperti Li Eng yang memaki-maki sehingga agaknya kemarahan kakek aneh itu ditumpahkan kepada Li Eng semua.

Melihat kakek itu seperti gila, Li Eng menjadi nekat. Ia maklum bahwa akan sia-sia saja membujuk kakek ini agar tidak melakukan hal-hal yang tidak patut. Pada waktu kakek itu bergerak maju hendak mencengkeramnya, secepat kilat Li Eng mengangkat kaki kanan menendang. Tendangannya amat hebat dan cepat, yang diarah adalah pusar tempat yang paling berbahaya.

Tapi sambil terkekeh-kekeh kakek itu menangkis ke bawah dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menjangkau ke depan. Li Eng segera membuang dirinya ke belakang, bergulingan untuk menghindarkan diri dari serangan kakek itu.

"Heh-heh-heh, anak murid Hoa-san-pai, kau hendak lari ke mana?" katanya sambil terus mengejar.

Pada saat itu pula, dari belakangnya menyambar angin tendangan Hui Cu yang tak bisa berdiam diri saja melihat Li Eng terancam. Tetapi tubuh Hui Cu malah terpental dan gadis ini roboh terguling ketika tangan yang amat kuat menangkis kakinya.

"Enci Cu, lari...!"

Tiba-tiba lilin di atas meja padam. Ternyata Li Eng sudah mempergunakan kesempatan ketika Hui Cu menyerang kakek itu tadi untuk melompat ke dekat meja dan meniup padam lilin di atas meja, kemudian ia berteriak mengajak Hui Cu lari.

Hui Cu maklum bahwa usaha itu tidak banyak harapannya, tapi itulah jalan satu-satunya, yakni mencoba untuk melarikan diri ke dalam hutan yang lebat itu. Ia pun lalu meloncat berdiri dan secepat kilat ia lari menerobos pintu, keluar kelenteng.

Dua orang gadis itu lari tersaruk-saruk dan jatuh bangun di dalam kegelapan. Akan tetapi akhirnya mereka sampai juga di luar kelenteng dan ternyata keadaan di situ tidak segelap di dalam karena bulan sudah muncul.

Namun, alangkah mendongkol, gelisah dan kecewanya mereka ketika mereka tiba di luar kelenteng, kakek gila tadi sudah berada di situ pula, berdiri tegak sambil terkekeh-kekeh mengejek. Entah kapan kakek itu keluar, dan hal ini saja menambah bukti betapa saktinya kakek aneh yang seperti orang gila ini.

"Locianpwe, harap kau jangan menganggu kami," Hui Cu yang sejak tadi diam saja kini mendadak mengeluarkan suara, menurutkan pikirannya yang mendapatkan sebuah akal. "Kami sedang dalam perjalanan menuju Thai-san untuk memberi hormat kepada paman kami Raja Pedang Tan Beng San. Harap kau orang tua memandang muka Paman Tan Beng San dan suka membebaskan kami berdua!"

Hui Cu mendapatkan akal ini untuk membawa-bawa nama Tan Beng San yang tentu saja dikenal oleh semua tokoh persilatan, agar kakek itu menjadi sungkan dan mundur. Siapa kira, mendengar kata-kata ini kakek itu menjadi makin menggila.

Ia membanting-banting kakinya dan berteriak, "Tan Beng San si keparat jahanam? Mana dia, biar kuhancurkan kepalanya seperti ini!" Ia menghantam ke kiri dan sebatang pohon sebesar paha orang segera tumbang dengan sekali pukul.

Kemudian dia terkekeh-kekeh lebih menyeramkan. "Jadi kau keponakan Tan Beng San? He-he-heh kebetulan sekali, kau harus merasakan bagaimana dihina dan disakiti orang!" Kalau tadi ia menumpahkan kemarahannya kepada Li Eng yang memaki-makinya kini ia mulai menubruk ke arah Hui Cu.

Gadis ini terkejut dan mengelak ke kiri. Akan tetapi karena kedua tangannya terbelenggu, ia pun terhuyung-huyung sehingga cengkeraman kakek itu mengenai tali rambutnya dan membuat rambutnya terlepas, terurai ke atas pundaknya. Sambil terkekeh-kekeh kakek itu menubruk lagi, namun kini Li Eng maju menolong Hui Cu, mengirim tendangan berantai dari belakang.

Betapa pun lihainya gadis ini, tetapi dengan kedua tangan yang terbelenggu ke belakang, keseimbangan tubuhnya sukar diatur, maka tendangan berantai yang mestinya cepat dan dahsyat itu menjadi kurang daya serangan. Apa lagi yang diserang adalah seorang kakek yang sakti. Dengan sedikit miringkan tubuhnya dan membabat dengan tangan kiri, tubuh Li Eng kena dibikin terpelanting dan untuk sekian kalinya gadis ini rebah mencium tanah!

Kakek itu kini melangkah perlahan mendekati Hui Cu yang sudah berdiri dengan tubuh gemetar saking lelah dan gelisahnya. Dia sudah mengambil keputusan nekat, kalau tidak dapat menghindarkan diri dari kakek gila ini, ia akan menyerang dengan kepalanya untuk membunuh atau terbunuh!

Pada saat yang amat berbahaya bagi Hui Cu ini, tiba-tiba saja berkelebat bayangan hitam disusul bentakan keras. "Kakek jahat, pergilah!"

Bayangan itu menyambar ke arah kakek itu.

"Dukkk!"

Dua tangan bertemu dan keduanya sama-sama terhuyung ke belakang, disusul seruan kaget bayangan itu dan seruan heran Si Kakek tadi. Agaknya pertemuan dua tangan itu membuat mereka kaget bukan main karena ternyata bahwa lawan amatlah tangguh.

Dengan gerakan yang luar biasa cepat bayangan itu kembali menyambar. Tangan kirinya menghantam, akan tetapi segera disusul tangan kanan yang memukul sedangkan tangan kiri ditarik pulang.

"Plak! Plak!"

Kembali keduanya terhuyung hampir roboh karena telah saling bertukar pukulan. Pukulan bayangan itu tepat mengenai sasaran, tapi pada saat yang sama Si Kakek berhasil pula memukulnya!

Di samping kekagetannya, bayangan itu marah sekali. Terdengar ia mengeluarkan bunyi melengking keras, lalu tubuhnya berkelebat menyerang kakek itu dengan dahsyat sekali. Kakek itu pun tidak tinggal diam. Dia menggereng dan menyambut serangan ini, malah kemudian kakek ini mengeluarkan suara melengking juga seperti orang menangis.

Dua lengkingan aneh bercampur menjadi satu dan Hui Cu pun cepat-cepat mengerahkan lweekang-nya untuk menahan guncangan pada jantungnya. Demikian pula Li Eng segera maklum bahwa dua orang itu adalah ahli-ahli Iweekeh yang amat tinggi kepandaiannya.

Tiba-tiba terdengar bunyi melengking dari jauh, lengking meninggi seperti tangisan, persis lengking yang keluar dari tenggorokan kakek itu.

"Ha, anak baik, lekas datang!" kakek itu berseru girang.

Bayangan yang melawan kakek itu tampak gelisah, kemudian menyerang dahsyat lagi. Serangan yang amat aneh, kedua lengan memukul, tubuh menerjang seperti terbang dan kedua kakinya menendang di udara.

Kakek itu berteriak keras dan menghadapi terjangan ini dengan keempat kaki tangannya pula. Akibatnya kakek ini terguling karena ia telah terkena sebuah pukulan dan sebuah tendangan, tetapi sebaliknya bayangan itu pun terhuyung karena pukulan keras Si Kakek. Namun bayangan itu tidak memberi kesempatan lagi, cepat ia menyambar Hui Cu pada pinggangnya dan membawa pergi gadis ini seperti burung terbang cepatnya.

Kakek itu yang agaknya maklum pula akan kelihaian lawan yang berhasil menculik atau merampas seorang tawanannya. Ia tidak mengejar, sebaliknya, ia lalu menangkap Li Eng dan menyeret gadis ini kembali ke dalam kelenteng.

Setelah melempar gadis itu ke atas lantai, ia menyalakan lilin yang tadi padam. Kemudian ia berbalik memandang Li Eng yang sudah bangkit berdiri kembali, sikapnya mengancam dan berkata dengan suara parau,

"Kau anak murid Hoa-san-pai, sekarang kau akan merasai penghinaan yang sebesarnya, setelah itu kau mampus!" Ia melangkah mendekat.

Li Eng melejit dan hendak lari, namun sekali sambar tangan gadis itu telah dipegangnya. Li Eng mengangkat kaki menendang, namun tidak mengenai sasaran. Gadis ini tak dapat melepaskan diri lagi, menjerit dan meronta.

"Kongkong (Kakek), apa yang kau lakukan ini?" tiba-tiba terdengar suara nyaring sekali dan tahu-tahu seorang pemuda gagah telah berdiri di dalam kamar itu.

Kakek itu melepaskan tubuh Li Eng yang menjadi lemas dan terpelanting saking lelah dan ngerinya tadi, kemudian kakek itu tertawa dan berkata,

"Aku pun muak dan sebal karena terpaksa harus melakukan perbuatan ini. Kalau saja dia bukan anak murid Hoa-san-pai, tentu sekali pukul sudah kubikin remuk kepalanya, habis perkara. Tapi dia anak murid Hoa-san-pai. Ha-ha-ha, Kong Bu, kau tahu apa artinya itu. Anak murid Hoa-san-pai, terutama yang perempuan, semua merupakan orang-orang hina. Pembunuh ibumu! Uh-uh, satu demi satu harus dibasmi, dihina lebih dahulu baru dibelek dadanya dan dikeluarkan jantungnya."

Pemuda itu melangkah maju, memandang kepada Li Eng lebih tajam penuh perhatian, kemudian ia mendengus penuh kebencian. "Hemmm, Kongkong, seperti dia inikah anak murid Hoa-san-pai pembunuh mendiang ibuku?"

"Ya ya, seperti ini. Cantik menarik, muda belia, lihai ilmu silatnya, tapi berhati palsu dan berwatak hina. Kong Bu, kau sudah datang, kebetulan sekali. Kuserahkan dia kepadamu, lakukanlah sesukamu terhadap dia, kau boleh hina dia, boleh permainkan dia, kemudian bunuhlah. Aku akan mengejar yang seorang lagi, yang tadi dirampas orang lain. Nah, aku pergi... heh-heh, kebetulan kau datang, aku... aku muak dan sebal kalau harus menyentuh wanita... aku sudah tua." Sekali berkelebat kakek itu sudah meluncur lewat dan lenyap.

"Kongkong, di mana kita dapat bertemu kembali?"

Dari jauh terdengar jawaban sayup-sayup, "...di Thai-san..."

Siapakah kakek aneh dan sakti ini? Siapa pula pemuda yang menjadi cucunya bernama Kong Bu ini? Kiranya pembaca telah dapat menduga siapa adanya kakek itu. Dia bukan lain adalah Song-bun-kwi Kwee Lun Si Setan Berkabung, tokoh nomor satu di dunia barat, seorang sakti yang berwatak aneh bukan main dan kadang-kadang dapat bersikap kejam melebihi iblis.

Ada pun pemuda gagah dan tampan bernama Kong Bu itu bukan lain adalah anak dari Kwee Bi Goat dan Tan Beng San. Seperti telah diceritakan di bagian depan dari cerita ini, bayi itu dibawa lari Song-bun-kwi dan dipeliharanya baik-baik, diajarkan ilmu silat hingga menjadi seorang pemuda yang tinggi ilmu silatnya.

Tentu saja mudah diketahui sebabnya, kenapa Song-bun-kwi bersikap demikian kejamnya terhadap Li Eng dan Hui Cu. Secara kebetulan sekali Song-bun-kwi sedang berada di kota raja dan ia mendengar dari para pengemis bahwa ada dua orang gadis anak-anak murid Hoa-san-pai diundang oleh Pangeran Mahkota.

Di dalam hati Song-bun-kwi, semenjak ia kematian anaknya, timbul dendam yang hebat terhadap Hoa-san-pai. Bukankah Kwa Hong yang menyebabkan kematian anaknya itu anak murid Hoa-san-pai? Oleh karena inilah, begltu mendengar tentang dua orang gadis anak murid Hoa-san-pai di kota raja, ia menggunakan kesempatan ini untuk menawan dua orang gadis itu untuk dihina dan dibunuhnya sebagai pembalasan dendamnya terhadap Hoa-san-pai!

Memang jalan pikiran seorang seperti Song-bun-kwi amat aneh dan kadang-kadang lebih ganas dari iblis sendiri.

Kong Bu semenjak kecil hidup bersama Song-bun-kwi, tentu saja ia pun memiliki watak aneh seperti kakeknya. Namun pada dasarnya ia tidak mempunyai watak kejam seperti Song-bun-kwi, malah agak pendiam seperti ibunya, keras hati pula.

Semenjak kecil pemuda ini dijejali rasa dendam oleh kakeknya. Diceritakan bahwa ibunya yang tercinta mati karena kekejian anak murid Hoa-san-pai. Diceritai pula bahwa ayahnya bernama Tan Beng San telah meninggalkan ibunya, karena tergoda oleh siluman cantik murid Hoa-san-pai, sehingga ibunya ‘makan hati’ dan meninggal dunia. Ditanamkan bibit kebencian dan dendam sejak kecil sehingga pemuda ini mau tidak mau membenci apa pun yang ‘berbau’ Hoa-san-pai, malah selalu ditekan oleh kongkong-nya, bahwa kelak ia harus dapat membalaskan sakit hati ibunya dengan jalan membunuh ayahnya yang telah berdosa terhadap ibunya!

Demikianlah, kini Kong Bu dihadapkan dengan seorang gadis dari Hoa-san-pai. Di bawah penerangan api lilin, dia menatap wajah Li Eng yang kini perlahan-lahan bangkit berdiri dan balas memandangnya.

Bukan main cantik jelitanya gadis ini. Pakaian sebelah atas yang koyak-koyak sebagian itu menambah hebatnya daya tarik sehingga Kong Bu tak kuat memandang lebih lama lagi. Kong Bu membuang muka dan merasa betapa bulu tengkuknya berdiri, meremang dan terasa dingin pada tulang punggungnya.

Cantik jelita, muda belia, lihai ilmu silatnya, tapi berhati palsu dan berwatak hina. Itulah kata-kata kakeknya yang berkumandang dalam telinganya dan kembali Kong Bu bergidik. Sifat siluman betina adalah merupakan iblis di dalam tubuh seorang wanita cantik.

Banyak sudah ia melihat wanita cantik, terutama kalau ia diajak kakeknya menyusup ke dalam istana untuk sekedar melihat-lihat atau mencuri makanan. Akan tetapi harus diakui bahwa belum pernah selama hidupnya ia berhadapan atau melihat seorang gadis seperti ini!

Dan kakeknya sudah menahan gadis ini, sekarang memberikannya kepada dia. Dia boleh berbuat sesuka hatinya terhadap gadis ini, lalu membunuhnya. Dia boleh menghinanya, mempermainkannya, hemm, apakah maksud kakeknya?

Sungguh pun pikiran Kong Bu tidak sampai ke situ, namun perasaannya membuat dia dapat menduga, penghinaan apakah yang paling hebat bagi seorang gadis. Melihat baju yang koyak-koyak itu, yang memperlihatkan sebagian dari kulit yang halus, jantungnya berdebar tidak karuan membuat ia membuang muka dan tidak berani lagi memandang kulit di balik baju yang koyak itu.

Di lain pihak, Li Eng merasa agak lega karena ia telah terlepas dari ancaman yang lebih mengerikan dari pada maut di tangan kakek gila tadi. Malah kini ia mendapatkan harapan untuk terlepas pula dari tangan pemuda ini. Tak mungkin pemuda ini selihai kakek tadi.

Kalau saja ada kesempatan bagiku, pikir Li Eng dan pandang matanya mengukur-ukur sementara kedua kakinya menegang, siap mengirim tendangan yang mematikan. Tetapi bagaimana kalau tendangannya tak berhasil? Li Eng ragu-ragu.

Kalau saja dua tanganku bebas. Ataukah lebih baik ia merayu pemuda ini dan membujuk dia agar suka membuka belenggunya? Kalau sudah bebas kedua tangannya, kiranya tak akan sukar membunuhnya!

Tapi pikiran ini membuat mukanya menjadi merah dan jantungnya berdebar. Sampai mati sekali pun tak mungkin ia dapat melakukan pekerjaan itu, membujuk rayu seorang lelaki! Ia teringat kepada pamannya, Kwa Kun Hong. Biar pun lemah, pamannya itu cerdik. Apa yang akan dilakukan pamannya dalam keadaan begini? Apakah dia masih terus hendak mengalah saja?

Ahh, bagaimana nasib pamannya? Bagaimana pula nasib Hui Cu yang tadi dilarikan oleh seorang laki-laki yang luar biasa pula? Aku harus bebas dulu, baru dapat menolong Enci Cu dan Paman Hong, pikirnya.

Tiba-tiba Li Eng berseru keras dan kaki kanannya melayang menendang pusar pemuda yang sedang berdiri bengong, Li Eng menahan seruannya ketika kakinya bertemu dengan benda yang keras sekali, tetapi tubuh Kong Bu terlempar seperti tertiup angin, terbanting pada dinding dan terpelanting jatuh. Akan tetapi seperti karet saja, dia sudah berdiri lagi dan memandang kepada Li Eng dengan alis terangkat. Ia tidak apa-apa.

Celaka, Li Eng mengeluh dalam batin, kiranya pemuda ini tidak kalah lihainya dari kakek tadi. Tendangannya tepat sekali, akan tetapi pemuda itu hanya terlempar, luka sedikit pun tidak, malah kelihatannya tidak merasa sakit.

Kini pemuda itu berjalan lambat-lambat menghampiri, dengan mata memandang tajam dan alisnya yang tebal itu bergerak-gerak.

"Kenapa kau menendangku? Benar-benar berhati curang, kenapa kau menendangku?"

Li Eng tertegun. Biar pun sama lihai, pemuda itu agaknya tidak seliar kakek tadi, sungguh pun sama pula anehnya. Pertanyaan yang aneh pula, bagaimana ia bisa menjawab?

"Hemmm," katanya dengan nada mengejek dan mengumpulkan semangat supaya jangan kelihatan rasa takut dan gelisahnya, "kenapa aku menendangmu? Jawab dulu, mengapa kau menawanku?"

Kening pemuda itu semakin berkerut. "Karena kau anak murid Hoa-san-pai, yang cantik, muda belia, lihai, tapi berhati palsu dan berwatak hina. Orang yang membikin celaka ibuku adalah anak murid Hoa-san-pai seperti kau. Karena itu sekarang kau harus mati setelah mengalami siksaan dan hinaan lebih dulu."

Terbelalak mata Li Eng. Ancaman penghinaan lebih hebat dari maut baginya. Biar pun ia sendiri belum mengerti benar penghinaan apa yang dimaksudkan, akan tetapi seperti juga keadaan pemuda itu sendiri, gadis ini dengan perasaannya dapat menduga-duga yang membuat ia ketakutan dan ngeri setengah mati.

"Kau... kau adalah pengecut besar!" tiba-tlba saja Li Eng berteriak dalam kengerian dan kebingungannya. Makiannya ini ternyata tepat mengenai sasaran, memukul kelemahan pemuda itu.

Mendengar makian pengecut, Kong Bu meloncat dengan kedua tangan dikepal keras dan matanya seakan-akan hendak membakar diri Li Eng. Ia akan menerima dan masih dapat menahan dimaki apa saja, akan tetapi makian pengecut merupakan pantangan baginya. Dalam anggapannya, tidak ada sifat yang lebih rendah dari sifat pengecut!

"Apa kau bilang tadi? Pengecut? Aku... pengecut?" Suaranya gemetar saking marahnya. "Buktikan... setan kau, hayo buktikan kalau aku... pengecut!"

Li Eng yang cerdik itu menahan gejolak hatinya yang girang karena akalnya berhasil. Ia sengaja menjebirkan bibirnya dengan lagak mengejek dan menghina.

"Seorang laki-laki yang mengganggap diri sendiri gagah, beraninya berlagak hanya kalau menghadapi lawan wanita yang dibelenggu kedua tangannya. Huh! Andai kata aku tidak terbelenggu, kiranya kau sudah lari jatuh bangun ketakutan. Apa lagi namanya kalau bukan pengecut paling rendah?"

Kong Bu tidak sanggup menahan kemarahannya lagi. Ia mengeluarkan suara melengking tinggi yang membuat Li Eng amat kaget dan seram. Tiba-tiba pemuda ini mendekatinya, menggerakkan kedua tangan dan... belenggu yang mengikat Li Eng lantas putus menjadi beberapa potong!

"Nah, putus sudah! Kau tidak terbelenggu lagi. Hayo, kau mau apa sekarang? Setan betina, tarik kembali makianmu pengecut tadi. Setan, kau menghinaku, ya? Hayo, cepat tarik kembali kata-kata pengecut tadi!"

Saking girangnya karena telah bebas, Li Eng untuk sejenak tidak dapat menjawab, hanya menggosok-gosok pergelangan dua tangannya yang masih kaku-kaku untuk memulihkan jalan darahnya. Matanya bersinar-sinar, mulutnya tersenyum manis, serta timbul kembali keberaniannya dan kepercayaan kepada diri sendiri.

"Sudah bebas kedua tanganku! Ehh, kau belum juga lari jatuh bangun?"
"Tidak sudi! Mengapa harus lari? Aku bukan pengecut! Hayo cepat katakan, aku bukan pengecut!" teriak Kong Bu makin marah.

Li Eng memandang dengan senyum ejekan yang amat menyakitkan hati pemuda itu.

"Apa? Kau tidak mau lari? Larilah, aku tidak akan mengejarmu sebagai upahmu sudah membebaskan tanganku dari belenggu."
"Tidak sudi!"
"Ah, kalau begitu ternyata kau sudah bosan hidup. Terpaksa kedua tanganku mengantar nyawamu ke neraka!"

Li Eng cepat sekali menerjang maju dengan kedua tangannya memukul, susul-menyusul ke arah pelipis dan lambung. Kong Bu yang marah sekali cepat menangkis kedua pukulan itu dan balas menyerang dengan sama keras dan dahsyatnya.
Tadinya Li Eng memandang rendah dan mengejek, sedangkan Kong Bu juga memandang rendah dan marah-marah. Akan tetapi makin lama mereka bertempur, makin lenyaplah perasaan merendahkan lawan, lenyap pula rasa mengejek dan marah, terganti oleh rasa keheranan besar dan sedikit kekaguman. Ternyata bahwa keduanya sama tangguhnya, atau hanya sedikit selisihnya!

Kong Bu sama sekali tidak pernah menyangka bahwa gadis ini sedemikian hebat ilmu silatnya, memiliki gerakan yang cepat bukan main bagaikan burung walet saja sehingga kadang-kadang matanya berkunang. Di lain pihak, meski pun maklum bahwa pemuda itu bukan orang lemah, namun sama sekali di luar sangkaan Li Eng bahwa ternyata pemuda itu memiliki ilmu silat yang aneh, yang dapat mengimbangi Hoa-san Kun-hoat, dan malah memiliki tenaga dahsyat sehingga lengannya sakit-sakit dan panas tiap kali mereka harus beradu tangan.

Mulailah ia merasa menyesal mengapa ia tidak bersenjata. Dengan pedang di tangan, kiranya ia takkan terdesak seperti ini. Mulailah nona yang cerdik ini mencari akal.

Pada saat terdapat kesempatan baik, Li Eng berseru keras dan kedua kakinya bergerak dengan Ilmu Tendangan Soan-hong-tui (Tendangan Angin Puyuh), yaitu yang merupakan tendangan berantai dengan dua kaki seperti kitiran angin. Yang dijadikan sasaran adalah pusar lawan.

Menghadapi tendangan berantai yang amat berbahaya ini, Kong Bu berseru keras dan melompat mundur. Kesempatan inilah yang dipergunakan oleh Li Eng untuk melompat ke dekat meja dan menendang meja itu sehingga terbalik. Seketika keadaan menjadi gelap pekat karena lilin di atas meja itu terlempar dan apinya padam.

Inilah yang dihendaki oleh Li Eng. Ia mempunyai pendengaran tajam dan lweekang yang sudah tinggi, maka ia hendak mengandalkan dua kelebihan ini untuk melawan Kong Bu di dalam gelap!

Akan tetapi, sekali lagi ia kecele. Pemuda ini berseru keras, "Kau hendak lari ke mana?"

Dan dari angin gerakannya tahulah Li Eng bahwa pemuda itu menerjang ke arahnya seakan-akan memiliki mata yang dapat menembus kegelapan. Terpaksa ia mengerahkan ketajaman pendengarannya untuk menghadapi serbuan dalam gelap ini.

Kembali mereka bertempur, kini di dalam gelap dan ternyata malah makin seru dari tadi. Karena keadaan gelap sama sekali, kedua orang muda yang berilmu tinggi itu bertempur hanya mengandalkan ketajaman pendengaran dan kegesitan gerakan saja.

Makin lama makin terasa oleh Kong Bu akan kelihaian dara itu dan diam-diam ia merasa heran bagaimana kakeknya mampu menangkap gadis selihai ini dengan mudah. Apa lagi berdua dengan gadis lain yang tidak ia ketahui sampai di mana tinggi kepandaiannya. Kalau dilihat keadaannya sekarang agaknya biar pun kakeknya sendiri, belum tentu dapat mengalahkan gadis ini dengan mudah.

Dengan penasaran sekali Kong Bu menggereng dan mengeluarkan ilmu yang paling ia andalkan, yaitu Yang-sin-hoat. Ilmu ini adalah inti sari ilmu Yang-sin Kiam-sut yang dulu didapatkan oleh Song-bun-kwi dan telah diturunkan kepada pemuda ini.

Yang-sin-hoat mengandalkan tenaga kasar dan ketika pemuda ini mainkan Yang-sin-hoat, Li Eng menjadi kewalahan. Sebagai seorang wanita, oleh kedua orang tuanya Li Eng dilatih dengan ilmu-ilmu yang berdasarkan kehalusan, disesuaikan dengan keadaan tubuh dan sifat wanita.

Maka ketika tadi lawannya menggunakan lweekang, ia masih sanggup melayani dengan baik. Sekarang, begitu lawannya berkelahi secara kasar dan keras, di mana pertemuan tenaga mungkin dapat mematahkan tulang dan melecetkan kulit, Li Eng menjadi sibuk sekali. Ia mencari kesempatan dan begitu terdapat lowongan gadis ini melompat keluar dari kamar terus lari keluar dari kelenteng.

"He, kau hendak lari ke mana?"

Kong Bu mengejar dengan lompatan keras sekali sehingga sekaligus ia dapat menyusul Li Eng. Dengan lompatan yang amat cepat ini ia telah menubruk tubuh Li Eng dari belakang. Segera ia menggunakan kedua lengan untuk menangkapnya dan dua orang itu terguling roboh di luar kelenteng, bergumul di atas tanah.

Namun Li Eng kalah tenaga, juga ia disikap dari belakang dengan mendadak, maka ia tidak berdaya dan Kong Bu berhasil menotok punggungnya, membuat gadis itu lemas tak dapat menggerakkan kaki tangannya lagi. Li Eng hanya dapat memandang dengan mata bersinar marah.

Kong Bu melepaskan Li Eng dan bangkit berdiri, mengatur napas. Ia terengah-engah dan lelah, juga tubuhnya sakit di sana-sini. Harus diakui bahwa baru kali inilah ia betul-betul berkelahi melawan seorang yang amat tangguh. Sekali lagi ia memandang ke arah di mana Li Eng rebah miring tak bergerak, di bawah sinar bulan nampak seperti seorang gadis sedang tidur saja, ataukah seekor harimau betina sedang mendekam?

"Gadis liar!" gerutunya sambil mengelus lehernya yang mengeluarkan darah, terluka oleh kuku-kuku tangan Li Eng ketika bergumul tadi.

Kong Bu kemudian lari mengambil tali pengikat tangan Li Eng, lalu keluar lagi dan setelah menyambung-nyambung tali yang kuat itu. Dia membelenggu lagi kedua tangan Li Eng. Setelah itu ia membebaskan totokannya dan membentak,

"Hayo bangun berdiri!"

Begitu terbebas dari totokan, dengan kemarahan meluap-luap Li Eng meloncat bangun dan langsung kedua kakinya yang bebas itu mengirim tendangan berantai!

Kong Bu kaget sekali dan dengan gugup ia mengelak ke sana ke mari karena tendangan-tendangan itu betul-betul mengarah bagian-bagian tubuh yang berbahaya dan mematikan. Akhirnya ia dapat menyambar kaki kiri Li Eng dan sekali dorong tubuh Li Eng roboh lagi.

"Gadis liar!" lagi-lagi ia memaki.

Li Eng sudah meloncat bangun lagi, berdiri tegak, kepala dikedikkan, mata berapi-api, gigi digeget, kemarahan memenuhi dadanya.

"Hayo jalan, ikut denganku!" kata Kong Bu lagi.
"Tidak sudi! Mau bunuh boleh bunuh!" balas Li Eng, tak kalah ketus.
"Kepala batu!" Kong Bu memaki lagi.

Mendadak, sebelum Li Eng sempat menduga apa yang akan dilakukannya, pemuda ini menubruk ke depan, langsung menangkap dua kaki gadis itu dan mengangkat tubuhnya, terus dipanggul di atas pundaknya.

Li Eng meronta-ronta, menendang-nendang, akan tetapi karena kedua tangannya diikat dan kedua kakinya dipeluk keras-keras oleh pemuda yang besar sekali tenaganya itu, ia tak berhasil melepaskan dirinya. Akan tetapi, dengan menggerak-gerakkan tubuh bagian atasnya, mulutnya berhasil mendekati pundak dan dengan gemas dia menggigit pundak pemuda itu.

"Aduh... perempuan liar!"

Kong Bu terpaksa melepaskan tubuh Li Eng yang terpelanting ke atas tanah. Pemuda ini memegangi dan mengusap-usap pundaknya yang luka berdarah dan bajunya yang robek tertembus gigi yang kecil-kecil putih akan tetapi kuat bukan main itu. Pundaknya sakit sekali, perih dan panas.

Dengan marah ia maju lagi, mengangkat tangan hendak memukul pecah kepala Li Eng. Akan tetapi entah bagaimana, pada saat bertemu pandang dengan sepasang mata yang berapi-api dan penuh keberanian itu, kepalannya berubah menjadi totokan dan kembali Li Eng telah tertotok jalan darahnya, lemas dan tak dapat bergerak lagi.

"Hemmm, perempuan liar. Anak murid Hoa-san-pai, cantik jelita, muda belia, lihai namun berhati palsu dan berwatak hina. Kau harus disiksa dulu sebelum dibiarkan mati. Keparat, rasakan kau nanti!" Ia lalu mengangkat tubuh Li Eng yang sekarang tidak mampu meronta lagi itu, lalu memanggulnya.

Tiba-tiba ia berseru, "Ihhhh!" dan melepaskan tubuh Li Eng yang untuk kesekian kalinya lagi-lagi terbanting di atas tanah.

Apa yang membuat pemuda itu berseru kegelian dan melepaskan tubuh gadis itu? Li Eng sendiri tidak mengerti.

Sebetulnya adalah karena ketika memanggul, kebetulan sekali sebagian pundak Li Eng yang tidak tertutup bajunya yang sudah koyak-koyak itu menumpang pada pundak dan leher Kong Bu, tepat di bagian baju yang robek oleh gigitan Li Eng tadi. Sentuhan kulit halus hangat pada kulit leher dan pundaknya itulah yang membuat Kong Bu kaget dan geli. Tubuhnya serasa dimasuki aliran listrik yang membuat ia menggigil dan seketika membanting tubuh Li Eng ke atas tanah.

Pemuda itu kini berdiri dengan leher terasa tebal dan tengkuknya berdiri semua. Akan tetapi mukanya terasa panas dan jantungnya berdebar keras. Perlahan-lahan dilepasnya baju luarnya, lalu diselimutkan pada tubuh atas Li Eng. Setelah melihat bahwa pundak gadis itu yang telanjang telah tertutup rapat, barulah ia membungkuk dan memanggul gadis itu kembali, dibawa lari secepatnya dari tempat itu, memasuki hutan.

Sementara itu, tanpa terasa selama dua orang ini ribut-ribut tadi, malam terganti fajar dan ketika Kong Bu memanggul Li Eng berlari-lari, ayam hutan sudah mulai berkokok. Namun pemuda itu berlari terus, menuju ke arah tertentu.

Pemuda itu tidak berkata apa-apa, juga Li Eng tidak mengeluarkan suara sungguh pun kemarahan gadis itu membuat kedua matanya meneteskan air mata. Ia tidak takut, hanya marah dan penasaran mengapa ia tidak mampu mengalahkan laki-laki gila ini.

Tiba-tiba terdengar suitan saling bersahutan di dalam hutan itu. Pada saat itu cuaca mulai remang-remang karena dalam hutan penuh embun yang dingin menyusupi tulang-tulang. Tak lama kemudian suara suitan makin sering dan makin keras.

Pada saat tiba di dalam hutan yang penuh pohon-pohon besar, mendadak belasan orang berlompatan dari balik batang pohon sehingga Kong Bu terkurung oleh enam belas orang laki-laki yang tinggi besar, bercambang bauk dan membawa senjata tajam. Melihat sikap mereka yang kasar, mudah diduga mereka tentulah sebangsa perampok.

Kong Bu sedikit pun tidak menjadi gugup. Ia menurunkan tubuh Li Eng setelah lebih dulu membebaskan totokannya pada punggung gadis itu. Tadinya saking marah dan lelahnya, Li Eng hampir pulas dalam panggulan pemuda itu. Sekarang ia terkejut dan sadar ketika merasa tubuhnya terguling di atas tanah.

Cepat Li Eng menggerakkan kaki dan girang mendapat kenyataan bahwa dia tidak lemas tertotok lagi, maka ia meloncat berdiri. Ia terheran-heran melihat belasan orang laki-laki kasar itu berdiri di situ dengan menyerigai dan sikap mengancam.

“Ada keperluan apa kalian menghadang perjalananku?” Kong Bu membentak dan alisnya yang tebal menghitam itu berkerut tanda kesal hati menghadapi gangguan ini.

Salah seorang di antara mereka yang tubuhnya paling tinggi melangkah maju dan tertawa bergelak sambil memandang ke arah Li Eng yang berdiri dengan dua tangan terbelenggu.

“Ha-ha-ha, kiranya saudara seorang ahli pemetik bunga! Wah, kawan-kawan, kita kecele kali ini!”

Belasan orang laki-laki itu mengeluarkan suara kecewa, akan tetapi ada pula beberapa orang yang ketawa-tawa dan memuji-muji kecantikan Li Eng.

“Sebetulnya kalian ini mau apakah?” Kong Bu membentak lagi.

Hati Kong Bu tak senang mendengar pujian-pujian tentang kecantikan Li Eng. Dia lebih tidak senang lagi melihat sikap mereka yang ceriwis terhadap gadis tawanannya.

“Hai, saudara muda, karena kita sealiran, kami tidak akan mengganggu. Kau boleh pergi melanjutkan perjalananmu, akan tetapi kau tinggalkan bunga ini untuk kami, hitung-hitung tanda mata dan tanda persahabatan kita,” berkata pula pemimpin gerombolan itu sambil memandang kepada Li Eng dengan mata berminyak.

“Apa maksudmu? Bunga apa yang kau minta?” Kong Bu yang masih belum mengerti itu membentak lagi.
“Aih… aihh… kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu!” Seorang perampok lainnya berolok-olok, “Tentu saja perempuan ini yang ditinggal…” Baru saja sampai sini ia bicara, mendadak tubuhnya terlempar jauh, lalu terbanting ke atas tanah dan tidak dapat bangun kembali!

Bukan main marahnya para perampok ketika melihat orang muda yang mereka sangka lemah itu sekali tangkap sanggup melemparkan kawan tadi. Apa lagi kepalanya, dengan marah berteriak, “Kawan-kawan, bunuh anjing jantan ini, biar aku tangkap yang betina!”

Terjadilah pengeroyokan hebat. Akan tetapi, alangkah kaget hati para pengeroyok itu saat pemuda itu menggerakkan kaki tangan, empat orang perampok langsung roboh kemudian mengaduh-aduh. Lebih-lebih kekagetan mereka ketika melihat pemimpin mereka begitu mendekati gadis yang terbelenggu itu tiba-tiba saja dadanya tertendang oleh gadis itu dan roboh sambil muntahkan darah segar.

Tidak berhenti sampai di situ saja. Gadis yang terbelenggu ini menggerak-gerakkan kedua kakinya dan sebentar saja empat orang perampok roboh pula tak dapat bangun kembali. Juga Kong Bu yang sudah marah menghajar para perampok itu. Sebentar saja beberapa orang roboh lagi.

Mereka bagaikan rombongan laron mengeroyok api lilin. Setelah lebih setengah jumlah mereka yang roboh, yang lain lalu melarikan diri menyelinap di antara gerombolan pohon.

Kong Bu tidak memperdulikan mereka, kemudian memandang kepada Li Eng. Sejenak ia bengong terlongong, menatap wajah gadis itu yang juga memandang kepadanya dengan mata terbelalak. Aduh hebatnya mata itu, demikian kesan pertama dihati Kong Bu.

Malam tadi dia tidak dapat melihat wajah Li Eng dengan terang, tidak sejelas sekarang. Wajah yang luar biasa dan terutama matanya, seperti sepasang bintang pagi. Tetapi ia teringat kembali akan kenyataan bahwa gadis ini adalah anak murid Hoa-san-pai, maka kemarahannya timbul pula. Apa lagi bila teringat betapa dengan susah payah malam tadi ia mengalahkan gadis ini, malah masih perih dan panas pundaknya yang digigit.

Sebaliknya, Li Eng juga tercengang ketika menyaksikan wajah yang tampan dan ganteng, yang sama sekali jauh berlainan dengan wajah kakek malam tadi. Pemuda ini betul-betul gagah. Mukanya lebar bulat, matanya jeli, alisnya hitam tebal, mulutnya membayangkan kekerasan hati.

Akan tetapi kalau dia teringat akan perlakuan pemuda ini kepadanya, hatinya marah dan mendongkol bukan main. Dan dia telah dipanggul setengah malaman oleh pemuda ini!

Tiba-tiba saja Li Eng merasa mukanya panas dan ia berkata ketus. “Aku tidak sudi kau… pondong lagi!”

Kedua pipi Kong Bu langsung berubah merah. Dengan ketus pula dia menjawab, “Siapa yang sudi memondongmu? Kalau kau tidak rewel dan mau jalan sendiri, aku pun tak sudi memanggulmu!”

Sejenak keduanya diam, saling pandang penuh kemarahan. Kong Bu marah mengapa gadis ini begini kasar dan galak. Andai kata sikapnya halus dan penurut, agaknya ia tak akan tega memperlakukannya seperti tadi.

Li Eng marah mengapa pemuda itu bersikap sombong dan memandang rendah padanya. Andai kata tidak demikian sikap pemuda itu, tentu dia akan menerangkan bahwa mereka mempunyai musuh yang sama, yaitu Kwa Hong. Dia merasa yakin bahwa yang membuat pemuda ini dan kakeknya membenci anak murid Hoa-san-pai terutama yang perempuan, tentulah Kwa Hong.

“Kau hendak memaksaku pergi ke mana?”
“Akan kau lihat sendiri nanti!”
“Akan kau apakan aku?”
“Hemm, kau akan lihat sendiri!”
“Iblis kau! Kalau hendak bunuh padaku, bunuhlah. Siapa takut mampus?”
“Terlalu enak kalau kau dibunuh begitu saja. Kata kakek, semua anak murid Hoa-san-pai terutama yang perempuan adalah siluman-siluman jahat, harus disiksa dan dipermainkan dulu sebelum dibunuh.”
“Kakekmu gila!”
“Mungkin, tetapi tidak palsu dan hina seperti murid Hoa-san-pai yang menggoda ayahku dan membunuh ibuku!”
“Ahhh, kau juga gila!”

Kong Bu memandang dengan mata berapi, kemudian ia balas memaki, “Kaulah seorang gadis gila!”

“Kau hanya bisa meniru-niru!”
“Tidak, kau memang gila. Gadis normal tentu akan menangis dan minta ampun, tidak seperti kau yang begini nekat menantang maut.”
“Aku tidak takut!”
“Ha, ingin aku melihat nanti apakah betul-betul kau tidak mengenal takut.”
“Mau kau apakan aku?”

Kong Bu tersenyum dan karena ia ingin melihat gadis ini membayangkan ketakutan pada wajah yang cantik dan selalu menantang penuh keberanian itu, ia berkata, “Aku hendak melepaskan kau di tempat yang penuh dengan anjing-anjing hutan, biar kau dikeroyok oleh anjing hutan!”

Akan tetapi keinginan hatinya tidak terpenuhi, malah gadis itu menjebikan bibirnya yang merah sambil mengejek, “Phuhh, siapa mau percaya omong kosongmu? Anjing kaki dua seperti kau saja aku tidak takut, apa lagi segala macam anjing hutan!”

Kong Bu kalah bicara, kemudian berkata marah, “Sudah jangan cerewet! Hayo jalan, ikut denganku!”

“Tidak sudi!” Li Eng berjebi lagi.
“Kepala batu!” Kong Bu menerjang maju, disambut tendangan oleh Li Eng.

Untuk kesekian kalinya dua orang ini saling serang. Li Eng berusaha merobohkan dengan tendangan-tendangannya yang amat dahsyat, sedangkan Kong Bu berusaha merobohkan gadis itu untuk dapat dipanggulnya seperti malam tadi.

Tentu saja dengan kedua tangan terbelenggu dan tubuh lemas dan lelah, Li Eng tak dapat melakukan perlawanan berarti. Akhirnya dia kena diringkus kedua kakinya, diangkat dan dipanggul oleh Kong Bu yang lalu berlari cepat.

Li Eng memaki-maki, meronta-ronta dan mencoba untuk menggigit lagi, namun Kong Bu tidak pedulikan semua itu dan lari secepatnya menuju ke tengah hutan. Akhirnya Kong Bu berhenti di sebuah lereng dan berkata,

“Nah, kau lihat ke bawah!”

Li Eng yang masih dipanggul itu melirik ke bawah. Di depannya terdapat sebuah lembah yang curam dan di dalam lembah itu tampaklah puluhan ekor anjing yang berkeliaran. Mereka nampak buas. Begitu melihat dua orang di atas lereng, mereka menggonggong dan menyalak dengan muka ganas.

Ngeri juga hati Li Eng, akan tetapi ia mengeraskan hati dan berkata, “Aku tidak takut!”

Kong Bu mengeluarkan suara ketawa getir, hatinya kecewa kenapa gadis ini belum juga menyerah kalah dan mengaku takut. Dengan mendongkol ia menurunkan Li Eng, menotok jalan darahnya hingga gadis itu lemas kaki tangannya. Kemudian dengan menggunakan sebuah pedang dia memutuskan tali belenggu kedua tangan Li Eng.

“Aku tak sudi membunuhmu dengan kedua tangan sendiri, karena aku bukan pembunuh murahan. Aku pun tak sudi menghina dan mempermainkanmu seperti yang dimaksudkan kakek, karena aku bukanlah seorang manusia rendah dan hina. Akan tetapi karena kau seorang anak murid Hoa-san-pai, untuk membalas sakit hati mendiang ibuku, kau akan ku lempar ke dalam jurang lembah itu. Kau boleh melawan anjing-anjing itu, bila kau menang dan dapat naik kembali dengan selamat, aku tak akan mengganggumu.”

Tanpa memberi kesempatan kepada gadis yang pandai itu untuk menjawab, Kong Bu menggerakkan kedua tanggannya, yang kanan menotok punggung membebaskan aliran jalan darah, yang kiri mendorong tubuh gadis itu ke dalam lembah yang curam itu.

Tanpa dapat menahan diri lagi tubuh Li Eng terdorong ke bawah. Tubuhnya melayang ke tempat yang dalamnya lima enam meter itu. Segera ia mampu menguasai diri dan cepat mengatur keseimbangan tubuhnya, lalu berjungkir balik dan dapat turun ke dasar lembah dalam keadaan berdiri.

Suara hiruk pikuk binatang-binatang itu menyambut kedatangannya. Puluhan ekor anjing yang bermata merah dengan lidah terjulur keluar segera mengurungnya, menggonggong dan memperlihatkan gigi dan taring yang runcing mengerikan.

Gadis itu menyedot napas dalam-dalam, mengumpulkan semangat dan tenaga, mengusir rasa jijik dan takut, kemudian ia mendahului anjing-anjing itu, menendang dan memukul. Makin berisiklah keadaan di lembah itu. Ada anjing yang terpukul mati seketika, hanya dapat berkelojotan sebentar, ada yang berkuik-kuik, ada pula yang meraung-raung.

Anjing-anjing yang lain semua mengonggong dan menyalak marah. Mereka ini kemudian menyergap dan mengeroyok Li Eng. Akan tetapi dengan gagahnya gadis ini mengamuk. Tangan dan kakinya bergerak-gerak menghindar ke sana ke mari sambil memukul serta menendang, lalu meloncat untuk mengelak.

Di atas tebing lereng itu, Kong Bu berdiri tegak menonton. Mula-mula mulutnya tersenyum mengejek dan matanya membayangkan kekerasan hatinya. Tetapi ketika ia menyaksikan sepak terjang Li Eng, senyumnya menghilang dan matanya berubah membayangkan rasa kekaguman yang besar.

Bukan main gadis ini pikirnya. Belum pernah selama hidupnya dia melihat seorang gadis demikian gagah beraninya. Jangankan melihat, malah mimpi pun belum pernah. Sukarlah, malah tak mungkin kiranya, membayangkan seorang dara seperti ini hebatnya! Dadanya berdebar dan kini ia memandang penuh perhatian.

Betapa pun gagah dan lihainya Li Eng, gadis itu semalam suntuk tidak tidur, lagi pula tubuhnya amat lelah dan berkali-kali ia harus mengerahkan tenaga menghadapi Kong Bu. Kini dikeroyok puluhan ekor anjing yang liar itu, perlahan-lahan ia mulai kehabisan tenaga dan berkuranglah kegesitannya.

Sudah dua belas ekor anjing menggeletak jadi bangkai oleh pukulan dan tendangannya, namun yang mengeroyoknya masih berpuluh-puluh! Pukulannya kini mulai kurang keras, gerakannya juga sudah lemah dan limbung. Namun sedikit pun juga semangatnya tidak pernah berkurang, dan tidak sedikit pun juga ia nampak takut atau bingung.

Tiba-tiba lima ekor anjing menyerangnya dengan serentak, menubruk dari kanan kiri dan depan. Li Eng melompat mundur untuk menghindarkan diri. Akan tetapi malang baginya, kebetulan sekali di sebelah belakang ada seekor anjing pula sehingga kakinya terhalang dan ia terjengkang ke belakang. Serempak lebih dari sepuluh ekor anjing menubruknya dengan moncong terbuka lebar!

Wajah Kong Bu menjadi pucat seketika. Akan tetapi dia kagum bukan main ketika gadis itu dengan kegesitan luar biasa telah menggulingkan tubuhnya cepat-cepat ke kiri terus melompat berdiri. Namun ia tak dapat menghindar serangan seekor anjing dari sebelah belakang yang menubruk kakinya dan menggigit betisnya. Kain celana pada bagian betis robek berikut kulit betisnya.

Li Eng menjerit tertahan, membalikkan tubuh dan sekali tangan kanannya menghantam maka pecahlah kepala anjing itu! Demikian hebat amarahnya sehingga seketika timbul kembali tenaganya, namun kini ia merasa kakinya yang tergigit tadi kaku dan sakit-sakit.

Sekilas ia mengerling ke atas dan melihat pemuda itu masih berdiri tegak. Kemarahannya bangkit, sampai mati ia tidak akan memperlihatkan rasa takut dan takkan mau menyerah, biar pemuda gila itu terbuka matanya bahwa dia adalah seorang dara berdarah pendekar sejati.

Ia melawan terus, memukul menendang, tapi pandang matanya mulai berkunang-kunang, tubuhnya terhuyung-huyung dan kepalanya pening. Ia masih dapat melihat berkelebatnya sosok bayangan orang diikuti sinar pedang yang membabati anjing-anjing yang sedang mengeroyoknya, kemudian Li Eng mengeluh dan roboh pingsan!

Dalam keadaan setengah sadar Li Eng merasa seolah-olah dunia di sekelilingnya sedang terbakar. Warna merah dan kuning menyelubungi dirinya, dan suara gonggongan anjing terngiang-ngiang di telinganya. Kemudian ia juga melihat kepala-kepala banyak anjing liar dengan moncong terbuka hendak menggigitnya. Ia merasa ngeri sekali, kemudian kepala-kepala anjing ini menyuram, terganti kepala seorang pemuda yang gagah dan ganteng.

“Kenapa kau begini benci kepadaku…?” Li Eng berbisik, hatinya sakit sekali.
“Diamlah…” ia tiba-tiba mendengar suara perlahan, “biar kuhisap keluar racun anjing itu. Siapa tahu anjing tadi gila…” Lalu ia merasa amat sakit pada betis kaki kirinya.

Li Eng membuka mata. Ternyata ia sedang rebah terlungkup di bawah sebatang pohon, beralaskan rumput hijau yang sangat sedap dan segar. Ia menggerakkan lehernya dan melihat… pemuda ‘gila’ itu duduk di dekatnya, mengangkat kaki kirinya dan… menyedot betisnya yang terasa panas dan sakit.

“Kurang ajar! Kau! Lepaskan kakiku, lepaskan!” Li eng berteriak keras sekali. Meremang seluruh bulu di badannya ketika mendapat kenyataan kakinya telah telanjang sampai ke lutut dan betapa betisnya di ‘cium’ oleh mulut pemuda itu.

Kong Bu, pemuda itu, menunda pekerjaannya, menoleh dengan kening berkerut.

“Rewel benar kau!” bentaknya. “Kalau anjing yang menggigit betismu tadi gila, sebentar lagi kau yang menjadi gila, tahukah kau? Aku sedang berusaha untuk menyedot keluar racun dari luka di betismu, mengapa kau banyak cerewet?”

Li Eng terkejut, takut, dan juga heran. Alangkah ngerinya kalau betul ucapan itu, dan dia menjadi gila! Akan tetapi benar-benar amat mengherankan kenapa pemuda ini menolong dirinya keluar dari lembah, malah sekarang hendak mengobatinya?

“Biarkan aku duduk menyandar pohon, tak enak terlungkup begini…” akhirnya ia berkata.
“Sesukamulah, tapi kalau terlalu lama penyedotan racun tertunda, aku tidak tanggung lagi kalau kau menjadi gila, lebih gila dari pada anjing yang menggigitmu.”

Li Eng menarik kakinya dan duduk, menyandarkan diri di batang pohon itu. Ia melonjorkan kakinya yang agak parah bekas gigitan anjing. Rasa ngeri menyelinap dalam hatinya.

“Apakah… apakah… anjing yang menggigitku tadi benar-benar gila?” tanyanya perlahan, tanpa memandang pemuda itu.
“Mudah-mudahan tidak, tapi siapa tahu. Anjing-anjing hutan itu liar, hampir semua seperti gila,” jawab pemuda itu. “Cara pengobatan satu-satunya harus menyedot racun keluar dari luka itu.”

Setelah berkata demikian, tanpa minta izin lagi ia kemudian mengulangi usahanya tadi, membungkukkan badan, mendekatkan mulut kepada kaki Li Eng yang sudah diangkatnya, lalu ia menempelkan mulutnya pada luka itu dan menghisapnya.

Li Eng meramkan kedua matanya, mukanya merah padam. Celaka, ia telah menerima penghinaan yang hebat dan terus-menerus dari pemuda ini. Ia sudah dikalahkan dalam pertempuran, itu penghinaan pertama, kemudian ia dimaki-maki, itu penghinaan kedua, lalu ia dipanggul sebagai tawanan, penghinaan ke tiga. Kemudian ia dilempar ke dalam lembah anjing hutan, itu penghinaan ke empat dan sekarang ini, penghinaan ke lima, yang paling hebat!

Pemuda itu secara kurang ajar sekali telah menyentuh betis kakinya, memegangnya, dan tidak itu saja, malah… di cucupnya betis kakinya dengan mulut. Inilah penghinaan yang tak dapat diampuni lagi.

Ia membuka kedua matanya. Melihat pemuda itu membungkuk dengan penuh perhatian dan pengerahan tenaga Iweekang menyedot luka untuk mengeluarkan racun, tiba-tiba Li Eng menggerakan tangan kanannya, dipukulkan ke arah tengkuk Kong Bu dengan jari-jari terbuka.

“Bukkk!”

Tanpa dapat bersambat lagi pemuda itu roboh terguling dalam keadaan pingsan! Pukulan Li Eng hebat sekali dan tidak dapat ditangkis oleh pemuda itu yang sama sekali tidak pernah menyangka dirinya akan diserang ini.

Li Eng meloncat bangun, meringis karena betis kaki kirinya terasa perih sekali, namun ditahannya. Cepat ia menotok punggung Kong Bu untuk mencegah pemuda itu bergerak bila siuman nanti, kemudian ia mencari akar pohon dan dengan akar ini ia membelenggu tangan Kong Bu ke belakang. Setelah ini ia membebaskan pemuda itu dari pada totokan dan dengan merobek sedikit tali pinggang yang panjang ia membalut luka betisnya.

Tidak lama kemudian Kong Bu siuman dari pingsannya. Ia cepat meloncat berdiri, akan tetapi sebuah tendangan membuat dia terjungkal lagi. Ia rebah miring dan mengangkat kepala memandang kepada gadis yang berdiri sambil tersenyum mengejek dengan amat manisnya itu. Lenyap kebingungan dan keheranan Kong Bu. Mengertilah ia kini kenapa ia tadi pingsan dan kenapa pula kedua tangannya terbelenggu.

“Mengapa…?” Kong Bu menahan kembali pertanyaannya kerena dari senyum dan sinar mata itu ia sudah mendapat jawaban sejelasnya.
“Hi-hi-hik, ada ubi ada talas, ada budi ada balas!” kata Li Eng, suaranya bening karena kini dia telah bebas dan malah sudah pulih kembali kejenakaannya dan keriangannya.

Berbeda dengan sikap Kong Bu yang hanya memandang dengan penuh kagum. Entah bagaimana, setelah Li Eng tidak galak dan pemarah seperti pada saat menjadi tawanan, setelah gadis itu mendapatkan kembali sifat pribadinya yang lucu jenaka, dalam pandang matanya gadis itu berubah menjadi sangat manis dan jelita.

"Kau boleh bunuh aku. Memang aku patut dibunuh karena kebodohanku, bisa saja diakali oleh seorang gadis liar macam kau. Hemmm, betul Kakek, gadis Hoa-san-pai mana boleh dipercaya? Aku kurang hati-hati. Bunuhlah."
"Enak saja dibunuh! Pemuda sombong dan gila seperti kau harus mengalami siksaan dan penghinaan lebih dulu sebelum dibunuh!"

Kong Bu tak dapat berkata apa-apa lagi karena ia maklum bahwa gadis ini tentu akan terus meniru kata-katanya, ketika masih menjadi tawanannya.

"Sudahlah, kau boleh lempar aku ke lembah itu biar dikeroyok anjing gila," katanya.

Li Eng menjebirkan bibirnya, luar biasa manisnya dalam pandangan Kong Bu.

"Huh, kau mau akali aku, ya? Biar digigit kakimu lalu biar aku menolongmu?"
"Habis, apa yang hendak kau lakukan dengan diriku?"

Li Eng meloncat bangun. "Hayo, bangun berdiri, dan ikut aku!"

Kini tiba giliran Kong Bu untuk mempermainkan gadis itu, seperti ia dipermainkan ketika menawannya.

"Aku tidak sudi!" jawabnya. Baru kali ini pemuda itu memperlihatkan senyumnya, senyum mengejek dan menggoda.

Wajah yang tampan itu kelihatan berseri terang ketika tersenyum, lenyap sama sekali bayangan watak keras dan aneh. Li Eng menggigit bibir dan membanting kaki.

"Kau tidak mau turut perintahku?"

Kong Bu menggeleng kepala. "Aku tidak sudi ikut kau, hendak kulihat kau mau apa?"

Celaka, pikir Li Eng dan wajahnya tiba-tiba menjadi merah sekali ketika pandang matanya bertemu dengan mata pemuda itu. Dari sinar mata pemuda itu ia dapat membaca pikiran orang. Kiranya pemuda itu hendak melihat apakah dia juga akan memanggulnya!

"Awas, aku pun bisa menggigit pundakmu!" Kong Bu sengaja mengejek gadis itu sambil tersenyum.

Li Eng semakin merah mukanya. Dasar setan alas, sudah menjadi tawanan masih bisa mempermainkan dirinya. Ia lupa betapa ketika ia sendiri menjadi tawanan, ia pun tiada sudahnya mengejek dan memaki pemuda itu.

"Kau kira aku akan sudi memanggulmu? Cih, tak punya malu!"

Li Eng lalu menggunakan akar yang panjang dan kuat, diikatkan pada pinggang pemuda itu dan... ia menyeret pemuda itu pergi dari situ! Kong Bu adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi. Diseret seperti itu ia masih enak-enak saja telentang dengan mata merem-melek, kelihatan keenakan sekali.

"Kau akan membawaku ke mana?" beberapa kali ia mengajukan pertanyaan ini.

Karena pertanyaan itu diulang-ulang, akhirnya Li Eng dengan gemas menjawab, "Aku bukan seorang gila seperti engkau dan kakekmu. Karena kau menghina dan memusuhi Hoa-san-pai, aku akan membawamu sebagai tawanan ke Hoa-san-pai, biar Supek yang akan memberi keputusan apakah kau harus dilempar ke jurang ataukah digantung pada pohon pek!"

"Ha-ha-ha-ha, bocah sombong, jangan kau hendak membodohi aku," kata Kong Bu yang masih diseret-seret. "Hoa-san-pai bukan di sebelah sana letaknya, kau mengambil arah yang bertentangan."
"Huh, aku bukan pembohong seperti kau. Aku mempunyai urusan ke Thai-san lebih dulu, mungkin di Thai-san kau sudah bisa mendapat pengadilan dari Paman Tan Beng San."

Pemuda itu nampak terkejut sekali. "Ke... ke Thai-san...?"

"Sudahlah, jangan banyak cerewet! Pendeknya kau sekarang menjadi tawananku. Kalau kakekmu atau teman-temanmu tidak melepaskan Enci Hui Cu yang tertawan, kau pun tak akan kulepaskan. Apa bila kalian mengganggu Enci Hui Cu, awas kau, takkan kuampuni lagi!"

Kali ini Kong Bu betul-betul kelihatan gelisah. Ia tidak tahu siapakah itu Hui Cu dan siapa pula yang menawan gadis itu. Menurut kakeknya, seorang gadis lain dirampas orang dan kakeknya tengah mengejar orang itu. Karena itu ia pun diam saja dan membiarkan dirinya diseret-seret sepanjang jalan.....
********************
Selanjutnya baca
RAJAWALI EMAS : JILID-11
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger