logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Rajawali Emas Jilid 13


Kong Bu berlari cepat keluar masuk hutan. Bayangan Li Eng terbayang-bayang di pelupuk mata, tak mau lenyap biar pun ia berusaha mengusirnya. Ah, anak murid Hoa-san-pai, mengapa harus diingat-ingatnya? Tapi senyumnya, sinar mata yang indah itu... ahhh!

Tiba-tiba ia berhenti, lalu merenung memandang daun-daun di depannya. Hatinya serasa kosong dan sunyi. Aneh sekali, sekelilingnya tampak sunyi tak berarti, alangkah bedanya dengan perasaan ketika ia masih diseret-seret tadi.

Ia menepuk kepala sendiri. "Bodoh kau! Dia benci dan tidak suka kepadamu, kau adalah musuhnya, kenapa dipikir-pikir? Tolol… celaka!" Dan ia lalu lari lagi cepat-cepat.

Mendadak ia melihat ada bayangan berkelebat di sebelahnya dan terdengar suara orang berseru, "Sahabat, berhenti dulu!"

Kong Bu tidak lari secepat ia bisa, akan tetapi cukup cepat sehingga gerakan bayangan yang menyusulnya itu cukup membuat ia terkejut dan maklum bahwa orang ini memiliki ilmu lari yang hebat juga. Ia berhenti dan memandang.

Seorang pemuda, masih amat muda, tampan sekali, berdiri di depannya. Mata yang tajam memandangnya penuh selidik. Pakaian pemuda ini amat indah dan rapi, juga kuku-kuku tangannya terpelihara baik-baik, segalanya begitu bersih, sedangkan dirinya sendiri begini kotor. Kong Bu menghela napas.

"Kau siapa dan mau apa menahan perjalananku?" tanyanya, suaranya penuh kecurigaan dan ketidak senangan. Memang hatinya sedang risau, sedang tak senang karena ia tidak puas dengan keadaan hatinya sendiri.
"Apakah Song-bun-kwi itu kakekmu?" pemuda tampan yang bukan lain adalah Cui Bi itu bertanya.
"Tak perlu aku sembunyikan hal itu. Benar, Song-bun-kwi adalah kakekku. Kau siapa dan mau apa?"
"Orang tuamu... apakah mendiang ibumu bernama Kwee Bi Goat dan ayahmu bernama Tan Beng San?" Pemuda tampan itu bertanya terus tanpa mempedulikan pertanyaan Kong Bu sama sekali.

Kong Bu terkejut sekali. "Bagaimana kau bisa tahu?"

"Tak peduli bagaimana aku bisa tahu. Cucu Song-bun-kwi, cabutlah pedangmu, hendak kulihat sampai di mana kelihaian cucu dari Song-bun-kwi!" setelah berkata demikian, Cui Bi menggerakkan tangan kanannya dan…
"Srattt!" pedangnya telah berada di tangan.

Kong Bu membelalakkan matanya, membusungkan dadanya yang bidang. "Sombong kau! Tanpa sebab kau menantangku, kau kira aku takut kepadamu?"

Dengan marah ia pun lalu mencabut pedangnya. Diam-diam ia bersyukur bahwa Li Eng gadis liar itu tidak merampas pedangnya ketika gadis itu menawannya.

Cui Bi tersenyum mengejek, "Hendak kukenal dengan ilmu pedangmu. Lihat pedangku!"

Tanpa banyak rewel lagi pemuda tampan ini lalu menggerakkan pedangnya menusuk. Melihat datangnya tusukan yang cepat dan kuat seperti kilat menyambar, Kong Bu sangat terkejut. Itulah gerakan yang sangat hebat dan ia tidak berani memandang ringan. Cepat ditangkisnya sepenuh tenaga.

"Trangggg!"

Bunga api berpijar dan Cui Bi merasa tangannya tergetar. Diam-diam ia memuji tenaga dari pemuda gagah itu. Akan tetapi dia tidak memberi hati dan segera bersilat pedang dengan amat cepat dan indahnya.

Kong Bu kagum sekali. Amat indah gerakan-gerakan ilmu pedang ini, lagi pula cepat dan berbahaya. Ujung pedang itu berkembang menjadi banyak, dan setiap bayangan ujung pedang mengarah jalan darah yang penting. Ia pun berseru keras dan tanpa ragu-ragu lagi lalu mainkan ilmu pedang yang paling ia andalkan, yaitu warisan dari kakeknya, Ilmu Pedang Yang-sin Kiam-hoat.

Sampai mengaung-ngaung suara pedangnya memecah udara, menimbulkan tiupan angin di sekeliling tubuhnya. Pedangnya berubah menjadi sinar bergulung-gulung yang hendak menelan lawan.

"Yang-sin Kiam-hoat! Bagus, hayo keluarkan semua kepandaianmu!" seru Cui Bi sambil menangkis dan balas menyerang tak kalah hebatnya.

Sekali lagi Kong Bu terkejut. Pemuda tampan itu tidak hanya segera bisa mengenal ilmu pedangnya yang jarang dikenal oleh orang-orang kang-ouw itu, bahkan sekaligus dapat mengimbanginya, agaknya mengenal pula jurus-jurus Yang-sin Kiam-hoat.

Heran benar, semuda ini tapi sudah begitu lihai, siapa dia? Namun pikiran ini tidak lama mengganggunya karena ia harus mencurahkan seluruh kepandaiannya untuk menghadapi lawan yang benar-benar berat ini.

Begitu cepat gerakan kedua orang muda itu sehingga tubuh mereka lenyap terbungkus gulungan pedang mereka yang saling membelit. Makin lama Kong Bu menjadi semakin terheran-heran.

Tidak saja semua jurus Yang-sin Kiam-sut yang ia mainkan itu dapat dihindarkan oleh lawan, malah setiap jurusnya tertindih oleh tangkisan Yang-sin Kiam-sut juga yang disusul serangan jurus-jurus yang asing baginya, akan tetapi merupakan kebalikan dari Yang-sin Kiam-sut.

Sama sekali Kong Bu tidak pernah mimpi bahwa pemuda tampan ini ternyata memiliki Ilmu Pedang Im-yang Sin-kiam-sut. Jadi artinya kalau ia hanya mengenal setengahnya, pemuda itu telah mengenal selengkapnya! Tentu saja ia kalah angin dan segera terdesak hebat.

Namun, Kong Bu adalah seorang anak gemblengan yang sejak kecil sudah digembleng secara hebat oleh Song-bun kwi. Tidak hanya Yang-sin Kiam-hoat yang ia warisi, tetapi semua kepandaian kakeknya yang banyak sekali macamnya. Selain ini, dalam hal tenaga, ternyata Kong Bu lebih menang setingkat sehingga dengan mengandalkan kesemuanya ini, ia masih dapat mempertahankan diri dan sengaja ia hendak mengadu pedang untuk memukul jatuh pedang lawan.

Siapa kira, pemuda tampan itu walau pun usianya lebih muda darinya, ternyata memiliki kecerdikan tinggi. Buktinya, pemuda tampan itu sama sekali tidak mau mengadu pedang karena agaknya maklum bahwa tenaganya kalah besar. Ia mengandalkan kegesitan di samping kelihaian llmu pedangnya untuk terus mendesak hebat.

Yang membuat Kong Bu terheran-heran, setelah tiga ratus jurus lebih mereka bertempur, mulailah ia merasa bahwa andai kata pemuda tampan itu menghendaki, ia tentu sudah terkena sasaran pedang lawan. Anehnya, pemuda tampan itu agaknya tidak bertempur sungguh-sungguh, atau setidaknya, tidak mempunyai maksud buruk untuk merobohkan dia, lebih tepat disebut menguji kepandaiannya.

Hal ini malah mendatangkan rasa penasaran di hatinya karena dia merasa terhina dan dipermainkan. Sambil mengeluarkan lengking meninggi seperti orang menjerit menangis, Kong Bu memutar pedangnya dan melakukan tekanan-tekanan dengan serangan maut!

"Wah, ganas... ganas...!" Cui Bi berseru.

Ia merasa tergetar jantungnya mendengar lengking yang dikeluarkan dengan pengerahan tenaga khikang serta lweekang ini. Ia harus mengempos semangat dan hawa murni di dalam tubuhnya agar jangan terpengaruh.

Memang hebat sekali Kong Bu. Setelah mengeluarkah lengking yang aneh ini, tenaga serangannya seakan-akan menjadi jauh lebih kuat dan walau pun tadi ia sudah terdesak hebat terkurung oleh ilmu pedang lawan yang sangat luar biasa itu, sekarang ia dapat mengimbangi lagi permainan lawan. Cui Bi dapat merasa betapa dalam jarak satu meter jauhnya, pedang lawannya itu sudah mengeluarkan tenaga pukulan yang kuat!

Lima ratus jurus telah lewat, dan kedua orang muda itu sudah mulai berkeringat. Tiba-tiba Cui Bi membentak nyaring, pedangnya berkelebat dengan gerakan bergelombang, sukar sekali ditangkis dan tahu-tahu sudah menyambar ke arah pusar Kong Bu.

Kong Bu berseru keras saking kagetnya karena dia melihat betapa pedang lawan yang sedianya sudah menusuk lambung itu tiba-tiba menyeleweng dan…

"Brettt!" ujung bajunya yang terbabat putus.

Saking kagetnya melihat pedang itu tadi hendak menusuk lambungnya, ia mengerahkan seluruh tenaga, menangkis dari bawah ke atas dan…

"Tranggg!"

Cui Bi menjerit lirih, pedangnya terlepas dari pegangan, melayang ke atas. Bagai seekor burung walet, pemuda tampan ini sudah meloncat ke atas dan pada lain detik pedangnya yang ‘terbang’ tadi sudah ditangkapnya kembali.

Kini mereka berhadapan, saling pandang, pedang melintang di tangan. Diam-diam Kong Bu harus mengakui di dalam hatinya bahwa ia sudah kalah. Bahwa lawannya tadi telah memperlihatkan kelebihannya dan sekaligus membuktikan bahwa lawan ini tidak memiliki maksud jahat. Kalau demikian halnya tentu ia telah roboh dengan pusar tertusuk pedang.

Cui Bi memandang tajam, matanya bersinar-sinar sedangkan wajahnya berseri-seri, lalu ia menyimpan kembali pedangnya.

"Kau... kau hebat, patut menjadi putera Raja Pedang di Thai-san!" katanya.

Merah sekali wajah Kong Bu. Ia pun menyarungkan pedangnya, menarik napas panjang beberapa kali.

"Lebarnya dunia tidak dapat diukur, dalamnya lautan sukar dijajaki, kepandaian manusia sukar dibatasi. Sahabat, aku benar-benar takluk padamu, belum pernah seumur hidupku aku bertemu dengan tandingan seperti kau. Siapakah kau dan apa maksudmu menahan aku dan mengajakku main-main seperti ini?"
"Kau... kau puteranya... kenapa kau memusuhi orang-orang Hoa-san-pai, dan... mengapa kau tidak mencari ayahmu...?" Cui Bi berkata perlahan, suaranya gemetar.

Kong Bu terheran. Ia menduga-duga siapa adanya pemuda aneh ini. Akan tetapi ia tidak dapat mengirakannya.

"Untuk apa kau bertanya-tanya? Apa pedulimu dengan urusanku?"
"Ada hubungannya erat sekali dan aku ingin sekali tahu. Ahh... agaknya kau tidak berani mengaku," Cui Bi menarik napas panjang.

Memang ia cerdik. Begitu bertemu dia sudah dapat menduga bahwa pemuda gagah ini tentu memiliki jiwa gagah juga, dan biasanya orang yang menghargai kegagahan, paling pantang jika disebut ‘tidak berani’. Maka barusan ia sengaja mengatakan demikian untuk membakar hati orang.

Akalnya berhasil baik. Kong Bu menjadi merah mukanya, matanya terbelalak mendelik dan suaranya menggeledek, "Siapa tidak berani? Bocah, jangan kau sombong. Biar pun harus kuakui bahwa kepandaianmu hebat sekali, namun aku belum mampus di tanganmu dan sewaktu-waktu takkan mundur menghadapi kau atau siapa pun juga. Kau bilang aku tidak berani mengaku? Baik dengarlah! Ibuku meninggal karena seorang anak perempuan Hoa-san-pai, karena itulah maka semua perempuan murid Hoa-san-pai kumusuhi! Nah, tahukah kau sekarang?"

"Hemm, kau tentu maksudkan perempuan Hoa-san-pai bernama Kwa Hong itu, bukan? Sayangnya kau ngawur dan membabi buta, sampai-sampai dua orang gadis yang tidak ikut apa-apa kau ganggu juga. Hemm, kau tersesat. Kenapa kau tidak mencari ayahmu di Thai-san?"

Kong Bu tercengang. Bagaimana bocah ini dapat mengetahui segalanya? Ingin ia balas bertanya, akan tetapi karena tidak mau dianggap ‘tidak berani’ ia mengaku, "Ayahku Tan Beng San di Thai-san adalah seorang laki-laki yang sudah menghancurkan penghidupan mendiang ibuku. Dia telah tergila-gila kepada perempuan Hoa-san-pai siluman betina itu. Mengapa aku harus mencarinya? Huh, aku bahkan ingin bertemu untuk menantangnya bertempur, untuk membalaskan sakit hati ibuku!"

Tiba-tiba Cui Bi membentak marah, "Jangan mengacau! Kau agaknya sudah dirusak oleh kebohongan dan fitnahan-fitnahan Song-bun-kwi. Kau menurutkan nafsu yang dikobarkan oleh kakekmu yang jahat itu. Kau mau tahu duduknya perkara yang betul? Nah dengarlah aku bercerita."

Cui Bi lalu duduk di atas sebuah akar pohon yang menonjol keluar dari pohon. Kong Bu tidak peduli, tetap berdiri dan memandang penuh curiga. Bocah ini tahu banyak sekali, entah apa kehendaknya, akan tetapi karena ingin tahu ia diam saja, mendengarkan.

"Kau tidak adil sekali menyumpahi dan memaki ayahmu sendiri. Dia seorang pendekar besar, seorang gagah perkasa, seorang berbudi mulia yang nasibnya buruk dan patut dikasihani. Akan tetapi kau puteranya, kau malah memaki-makinya dan bahkan hendak menantangnya. Cih, sungguh memualkan perutku! Kau mau mendengar kenyataan? Nah, dengarlah. Tan Beng San sama sekali tidak tergila-gila kepada perempuan Hoa-san-pai, atau kepada perempuan yang mana pun juga, kecuali kepada Kwee Bi Goat, mendiang ibumu. Biar pun kakekmu telah memperlakukannya dengan jahat, tetap saja dia mencinta Kwee Bi-Goat dengan sepenuh jiwa raganya. Memang tak dapat disangkal bahwa Tan Beng San pernah mengadakan hubungan dengan Kwa Hong, akan tetapi hal itu terjadl sebelum ia menjadi suami ibumu, pula hal itu terjadi karena muslihat musuh, karena dia keracunan dan dalam keadaan tidak sadar. Biar pun sudah terjadi hal itu, dia menolak menjadi suami Kwa Hong dan tetap mencari ibumu lalu menikah dengan ibumu atas dasar saling cinta yang suci murni..."

Cui Bi berhenti sebentar dan Kong Bu sudah menjadi begitu tertarik sehingga tanpa terasa lagi ia pun duduk di atas batu, di depan pemuda tampan itu. Belum pernah ia mendengar cerita tentang ayah bundanya sejelas ini. Biasanya kakeknya hanya mengatakan secara singkat bahwa ayahnya sudah tergila-gila kepada wanita lain sehingga ibunya mati karena duka.....

Melihat perhatian Kong Bu itu, Cui Bi melanjutkan ceritanya penuh semangat, matanya berapi-api, kedua pipinya merah.

"Kemudian terjadilah mala petaka menimpa. Kwa Hong ternyata sudah mengandung dari hubungan yang berlangsung di luar kesadaran Tan Beng San itu. Malah Kwa Hong yang tak tahu malu itu mengunjungi ibumu di Min-san, dan melahirkan anaknya di sana. Hal itu terjadi ketika kakekmu sedang merantau dan ayahmu, Tan Beng San itu, sedang sibuk pula membantu perjuangan. Setelah Kwa Hong pergi bersama anaknya, ibumu menjadi berduka sekali, maklumlah hati wanita, penuh sakit hati, penuh iri dan cemburu, merasa bahwa cinta kasihnya yang mendalam itu dicemarkan. Dan... saking tak kuasa menahan kesedihan hatinya, ia meninggal dunia setelah melahirkan kau..." Sampai di sini suara Cui Bi terdengar serak. Isaknya dalam dada jelas membayangkan keharuan hatinya.

Kong Bu merasa dadanya sesak, sedu-sedan naik ke kerongkongannya. Akan tetapi dia menguatkan hati, menggigit bibirnya sehingga hanya kedua matanya saja yang nampak menjadi merah, sikapnya menakutkan.

"Kau tahu bagaimana keadaan ayahmu ketika dia mendengar tentang kematian isterinya yang tercinta itu? Dia menjadi... menjadi gila..." kembali suara itu parau dan lirih, dan Cui Bi terpaksa berhenti karena terbatuk-batuk, agaknya menahan keharuan hatinya.
"Gi... gila...?" Kong Bu sempat bertanya di antara sedu-sedan yang kembali naik lagi ke kerongkongannya.
"Ya, gila, atau hilang ingatan. Pada waktu itu... hemm, di antara dia dan... Cia Li Cu..." 
“Isterinya yang sekarang?"
"Ya, di antara mereka itu terjalin persahabatan yang amat erat, akan tetapi jangan salah artikan. Tan Beng San tetap tidak dapat mencinta lain orang kecuali isterinya, ini terbukti ketika mendengar kematian isterinya dia lalu lupa segalanya, yang diingat hanya isterinya itu. Melihat hal ini, Cia Li Cu amat terharu. Harus diakui Cia Li Cu mencintanya sepenuh jiwa. Ia hendak menghibur pendekar ini, namun apa yang terjadi? Dalam pandangan Tan Beng San yang sudah hilang ingatan itu, Li Cu terlihat seperti ibumu yang telah meninggal dan seterusnya menganggap bahwa Cia Li Cu adalah Kwee Bi Goat!"

"Ahh..." Kong Bu menahan napas, amat tertarik dia dan keharuan bergumul di hatinya.
"Cia Li Cu, puteri Raja Pedang Tanpa Tanding Cia Hui Gan, demi cintanya mengorbankan nama baiknya, malah nekat menantang ayahnya, memelihara Tan Beng San dengan hati hancur karena melihat orang yang dicintanya itu menganggapnya sebagai wanita lain. Adakah pengorbanan lebih besar dari ini? Adakah cinta kasih yang lebih besar dari ini?" Cui Bi nampak bangga.

Kong Bu mulai bingung. Kalau betul begini jalan ceritanya, ahh, ayahnya tidak bersalah, malah patut dikasihani.

"Nah, kau tahu, sampai sekarang pun Cia Li Cu yang kini sudah menjadi isteri sah dari Tan Beng San yang akhirnya mendapatkan kembali ingatannya dan mengawini Cia Li Cu, sama sekali tidak ada hati yang memusuhi mendiang Kwee Bi Goat ibumu, apa lagi kau sebagai putera suaminya yang semenjak kecil dibawa lari oleh kakekmu. Kau dicari-cari oleh ayahmu, tetapi tidak bertemu dan kakekmu hendak mengadu kau dengan ayahmu sendiri."

Kong Bu menundukkan mukanya, mukanya merah sekali dan ia berusaha keras menahan sedu-sedan yang sudah hampir meledak di dadanya.

"Ibu... Ayah...," bisiknya, keadaannya mengharukan sekali.

Pemuda itu teringat betapa ia tidak pernah melihat ibunya yang sudah mati, juga tidak pernah melihat ayahnya yang harus diakui sangat mendatangkan rasa rindu di hatinya. Tapi bujukan-bujukan kakeknya membuat ia membenci ayahnya yang disangkanya telah menyeleweng dan menyakiti hati ibunya. Siapakah yang benar? Cerita kakeknya ataukah cerita orang ini? Siapakah orang ini? Apakah dia tidak berbohong?

Ia cepat mengangkat kepala memandang dan kagetlah dia, pemuda tampan di depannya itu memandang kepadanya dengan mata merah, air mata membanjir di kedua pipinya, dan bibirnya yang gemetar itu dikatupkan menahan isak tangis!

Wajah Kong Bu pucat sekali. Mukanya membayangkan hati yang hancur. Seorang yang bagaimana pun keras hatinya sekali pun tentu akan kasihan melihatnya pada saat itu.
Makin deras air mata mengalir sepanjang pipi Cui Bi dan tiba-tiba pemuda tampan ini memegang kedua tangan Kong Bu, bibirnya berbisik perlahan dan menggetar.

"Aduh..., kasihan sekali kau... Koko..."

Kong Bu tersentak kaget dan balas memegang tangan pemuda itu.

"Kau... kau siapakah?" Tentu saja ia heran dan kaget mendengar pemuda itu memanggil dirinya koko (kakak).

Dengan lengan bajunya pemuda tampan itu mengusap air matanya pada kedua pipinya sebelum menjawab, akan tetapi air matanya mengalir terus.

"Aku... aku adalah adik tirimu... aku... aku anak dari ayahmu dan ibuku adalah Cia Li Cu..."

Kong Bu merenggutkan tangannya terlepas, meloncat mundur sambil berdiri dan berseru, suaranya keras sekali, "Bohong! Kau penipu, pembohong! Sudah sering aku mendengar bahwa... Ayah dan Cia Li Cu hanya mempunyai seorang anak tunggal, seorang anak perempuan... bagaimana kau ini...?"

Cui Bi sudah berdiri pula, air matanya masih membasahi kedua pipinya.

"Koko, tidak tahukah kau bahwa aku...?"

Ia menggosok kedua anak telinganya sehingga tampak lubang anak telinga yang tadinya ditutup semacam bedak, dibukanya penutup kepala sehingga terurailah rambutnya yang panjang dan halus berombak.

Muka Kong Bu makin pucat. "Kau... kau seorang gadis...?"

"Koko, tidak dapatkah kau melihat bahwa ilmu pedangku adalah warisan Ayah dan Ibu? Koko, Ayah banyak menderita kalau memikirkan kau, kau amat dirindukan Ayah... juga Ibu, percayalah, Ibu sama sekali tidak menganggap kau sebagai orang lain, demikian pula aku... kau sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri..."

Tak dapat tertahan lagi, air mata yang sejak tadi sudah menekan di kedua mata Kong Bu, kini berlinang jatuh menetes. Pemuda itu menutupkan kedua tangan di depan muka untuk menyembunyikan tangis, namun air mata yang tak banyak itu tetap menetes keluar dari celah-celah jari tangannya, sedangkan sedu-sedan yang ditahan-tahannya membuat dua pundaknya yang bidang itu bergerak-gerak.

"Koko...," suara halus itu dekat sekali karena gadis itu sudah mendekatinya.

Kong Bu menurunkan kedua tangan, melihat wajah yang memandang penuh iba, penuh permohonan agar diakui sebagai saudara, dengan air mata membasahi pipi.

"Moi-moi (adik perempuan)..."

Kong Bu memeluk dan mendekap kepala gadis itu ke dadanya, kepalanya berdongak dan kedua matanya meram, air matanya bertetesan ke atas rambut Cui Bi.

"Ibu... semoga kau mengampuni anakmu..."

Sampai beberapa lamanya kedua orang muda seayah ini saling peluk dan bertangisan. Akhirnya keduanya mampu menguasai hati masing-masing dan dengan agak malu-malu mereka melepaskan pelukan, kemudian saling pandang.

Setelah keharuan mereda, mereka saling memandang kagum. Perlahan-lahan tersembul senyum di bibir Cui Bi yang ternyata adalah seorang gadis yang amat cantik jelita itu.

"Koko, alangkah bahagianya hatiku. Ayah dan Ibu setiap hari menangis kalau mengingat kau. Mereka amat kuatir kalau-kalau hatimu sudah diracuni, kuatir kalau-kalau kau akan datang dan mengganggu Ayah Ibu sebagai musuh besar. Syukur bahwa kau ternyata memiliki jiwa ksatria, seperti yang diharapkan ayah karena kata Ayah, ibumu pun seorang yang berbudi halus."

"Aku pun bahagia sekali dapat bertemu dengan kau, Moi-moi. Ah, alangkah bodohku..." ia menghela napas panjang. "Aku memang tahu akan watak Kakek yang keras dan aneh... dan diam-diam aku sudah tidak cocok. Baiknya aku bertemu dengan kau dan insyaf. Ah, kalau tidak... bagaimana mungkin aku dapat menjual lagak memamerkan kebodohanku di depan ibumu, sedangkan terhadap kau saja aku sudah kalah jauh?"

Cui Bi tertawa dan memegang tangan kanan kakaknya. "Iihh, kau memang amat pandai merendah. Siapa bilang kau akan kalah jauh? Hemmm, sedangkan kau belum menerima apa-apa dari Ayah saja, sudah setengah mampus aku melawanmu, apa lagi kalau kau sudah menerima warisan dari ayah, pendeknya aku bukan apa-apa bagimu."

"Moi-moi, kau manis sekali, ahhh, alangkah bangga hatiku mempunyai adik seperti kau!" Kong Bu meraba dagu gadis itu dengan hati penuh kasih sayang.

Cui Bi melengos, manja. "Ahh, bisa saja kau, siapa tidak tahu bahwa aku jelek? Kaulah yang gagah perkasa, benar-benar Ayah akan menari kegirangan kalau nanti melihatmu. Ehhh, Koko, bagaimana kita ini? Kakak beradik tetapi tidak saling mengetahui namanya!" Keduanya berpandangan lalu tertawa bergelak!

Memang, dua orang ini adalah keturunan orang sakti dan aneh, maka watak mereka juga aneh. Lebih-lebih jiwa muda mereka membuat mereka mudah merasa gembira.

"Namaku Kong Bu, Tan Kong Bu. Namamu siapa, adikku yang manis?"
"Aku Cui Bi, Tan Cui Bi."
"Bi-moi, mengapa kau menyamar sebagai seorang pemuda? Ha, hampir saja aku kena terpedaya olehmu. Benar-benar tidak dapat diduga bahwa kau seorang gadis yang manis, pandai benar kau menyamar sebagai seorang pemuda tampan dan ganteng lagi pesolek. Sampai-sampai lubang daun telingamu dapat kau tutupi dengan baik, tidak kentara sama sekali."

Heran sekali, Kong Bu melihat wajah adiknya yang tadinya berseri-seri itu tiba-tiba saja menjadi muram.

"Menyamar sebagai pria sudah biasa kulakukan, Ko-ko, dan dalam hal ini Ayah dan Ibu memberi nasehat-nasehatnya. Memang kalau melakukan perjalanan di dunia kang-ouw, aku lebih leluasa kalau menyamar sebagai seorang laki-laki. Akan tetapi kali ini... ah, tidak apa aku berterus terang, bukankah kau kakakku sendiri? Dan siapa tahu, kau akan dapat membantu aku meringankan penderitaan yang amat membingungkan hatiku ini, Bu-ko."
"Ehh, semuda ini, segembira ini dapat menderita kesusahan? Ada apakah, Bi-moi? Apa yang kau susahkan? Tentu saja aku siap sedia menolongmu."

Gadis ini menarik tangan kakaknya, diajaknya duduk di tempat yang teduh. Lalu menarik napas panjang, kelihatan berduka.

"Kau tidak tahu, Bu-ko. Kali ini aku bukan melakukan perjalanan untuk bersenang-senang seperti biasa, melainkan... aku telah lari dari Thai-san, pergi meninggalkan rumah tanpa pamit!"
"Heee?! Kenapa? Kau dimarahi ayah ibumu?"
"Bukan, bukan mereka yang marah, melainkan akulah yang marah kepada mereka."
"Aaiiih, kenapa kau ini? Tak baik marah-marah kepada orang tua, durhaka kau nanti."
"Panjang ceritanya, Bu-ko. Tapi biar kusingkat saja. Kau tahu, Koko, selama aku berada di Thai-san bersama orang tuaku, entah sudah berapa belas kali, bahkan mungkin puluhan kali selama dua tahun ini, orang tuaku menerima lamaran orang atas diriku."

Gadis yang masih berpakaian pria itu merah sekali wajahnya, akan tetapi Kong Bu justru tertawa tergelak.

"Mengapa kau tertawa-tawa?" tanyanya cemberut.
"Ha-ha-ha, kau gadis cantik jelita dan manis, usiamu juga tentu ada tujuh belas tahun, apa anehnya jika menerima banyak lamaran? Andai kata bukan kakakmu, aku sendiri mau melamar. Ha-ha-ha!"
"Iihh, ceriwis kau!" Wajah itu semakin merah. "Jangan mentertawakan aku, Koko, hatiku benar-benar baru resah, nih!"

"Ya sudahlah, kau teruskan ceritamu."
"Ayah dan Ibu sudah merasa jengkel sekali karena aku selalu menolak keras kalau ada pinangan orang. Akhirnya, Ayah dan Ibu menerima pinangan putera Ketua Kun-lun-pai, katanya puteranya seorang she Bun yang menjadi Ketua Kun-lun-pai dan yang menjadi sahabat baik Ayah. Malah menurut cerita Tan-pek-hu di kota raja yang dahulunya adalah tokoh Pek-lian-pai yang terkenal dalam perjuangan, orang she Bun itu adalah keturunan pendekar besar dari Kun-lun-pai sedangkan isterinya merupakan keturunan dari patriot pemimpin Pek-lian-pai, she Thio."

"Waduh, kiong-hi... kiong-hi (selamat, selamat), adikku...!"
"Selamat hidungmu!" Cui Bi memotong dan melerok, mulutnya cemberut marah. "Orang berkeluh-kesah, berduka dan bingung, kok justru diberi selamat. Bukankah kau ini malah memperolok aku, Koko? Bagus benar ya menjadi kakak orang begini kejam!"

"Lho-lho-lho, nanti dulu, jangan marah-marah tidak karuan. Orang muda she Bun itu dilihat dari keturunannya, baik dari ayah mau pun dari ibunya, benar-benar hebat. Kalau ayah bundamu sudah menerima pinangan itu, bukankah berarti pemuda she Bun itu menjadi calon adik iparku? Tentu saja aku senang sekali mempunyai calon adik ipar keturunan orang-orang ternama dan gagah begitu. Apakah kau tidak senang menjadi... eh, anunya?"

Dengan gemas Cui Bi mengulur tangan dan mencubit lengan kakaknya sampai Kong Bu mengaduh-aduh kesakitan.

"Kau nakal benar, Bu-ko. Benci aku kalau begini. Kau mau menolong adikmu atau tidak?"
"Tentu, tentu... tapi lepaskan dulu cubitanmu, ahh, bisa pecah-pecah kulit lenganku nanti. Teruskanlah ceritamu, aku berjanji tak akan menggodamu lagi."

Kong Bu yang baru sekarang merasakan kenikmatan bergurau dengan seseorang yang mendatangkan rasa sayang, benar-benar gembira sekali, akan tetapi juga kuatir melihat betapa adiknya itu bersungguh-sungguh.

"Tentu saja aku menolak keras. Aku tidak sudi menikah apa lagi dengan orang yang sama sekali belum pernah kulihat. Ayah dan Ibu marah-marah, aku pun marah dan akhirnya aku lari meninggalkan rumah tanpa pamit. Aku bersembunyi di rumah Pek-hu di kota raja. Nah, Bu-ko, sukakah kau menolongku kalau nanti kau bertemu dengan Ayah dan Ibu. Kau bujuklah mereka supaya jangan memaksa aku menikah, supaya pinangan yang sudah diterima itu dibatalkan saja dan katakan bahwa aku masih kecil."

Mau tak mau Kong Bu menahan ketawanya. Senang dan sayang benar ia kepada adiknya yang lucu ini.

"Usiamu berapa sih, Moi-moi."
"Kata Ayah, hanya selisih dua tahun denganmu."
"Nah, kalau begitu sudah tujuh belas tahun. Mana bisa dibilang masih kecil?"
"Kau menggoda lagi. Mau tidak membantuku?"
"Ya, baik... baik... biar kelak aku membujuk orang tuamu."

Cui Bi memegang tangan kakaknya dan ditarik bangun, menari-nari seperti orang yang kegirangan sekali. "Terima kasih, terima kasih... wah, aku percaya bahwa Ayah pasti akan meluluskan permintaanmu, kau seorang anak yang disayang, dan baru saja bertemu. Eh, Bu-ko, kau nakal sekali, ya? Gadis Hoa-san-pai yang cantik manis itu, hemmm, kau telah pura-pura kena ditawan. Hemmm, senang sekali, ya? Hi-hi-hik, kau pembohong besar. Katanya benci perempuan murid Hoa-san-pai, tetapi yang satu ini, aku berani bertaruh potong kepala bebek bahwa kau suka kepadanya!"

Kong Bu merenggut lepas tangannya, melotot. "Gila kau! Jangan main-main, ya? Siapa suka perempuan galak seperti setan itu?"

"Galak-galak tetapi manis, seperti setan tetapi menarik hati, bukan begitu? Ah, Koko, aku tidak boleh kau bohongi, ya? Biarlah aku berjanji, kelak kalau kau benar-benar sudah menolongku sehingga ikatanku dengan pemuda Ku-lun-pai itu dapat dibatalkan, aku akan membalas budimu. Aku akan menjadi perantara, akan kubujuk Ayah agar supaya pergi mengajukan pinangan ke Hoa-san!"
"Hush, jangan ngaco!" Kong Bu mendelik dan membentak-bentak, akan tetapi ia sendiri merasa aneh mengapa jantungnya jadi berdebar begini macam?
"Bimoi, aku heran sekali kenapa kau dapat melihat kedatanganku di kuil dengan... ehm, gadis Hoa-san-pai itu? Kulihat tadi yang berada di kuil itu hanyalah seorang pemuda dari Hoa-san-pai yang bijaksana dan halus budi, seorang pemuda lemah akan tetapi bicaranya menusuk perasaan benar, tepat dan bijaksana. Menurut pengakuannya dia adalah paman dari gadis Hoa-san-pai itu."
"Ahh, kau maksudkan Hong-ko?"
"Ehh, Hong-ko siapa? Kau kenal dia?"

Cui Bi tersenyum. "Seorang kutu buku, tetapi dia itu putera tunggal Ketua Hoa-san-pai, pandai ilmu surat tidak pandai ilmu silat. Memang dia orang yang luar biasa. Tentu saja aku kenal dia, malah berhari-hari aku melakukan perjalanan bersama dia."

"Hee...?"
"Jangan memandang seperti itu. Ihhh, pikiranmu agaknya penuh dengan dugaan yang bukan-bukan dan fitnah-fitnah keji. Sampai sekarang dia menganggap aku sebagai laote (adik laki-laki)." Cui Bi tertawa geli dan Kong Bu juga tertawa.

"Sudahlah, mari kita cepat-cepat pulang ke Thai-san, Bu-ko. Kalau bersamamu aku berani pulang. Akan tetapi karena Ayah hendak merayakan pendirian perkumpulan Thai-san-pai, lebih baik kita melihat-lihat di kaki Gunung Thai-san dulu dan menyelidiki kalau-kalau ada orang jahat hendak datang mengacau. Kau tahu, sudah terlalu banyak Ayah membasmi golongan-golongan jahat sehingga dapat diduga bahwa akan banyak musuh yang datang mengacau dan berusaha menggagalkan pendirian Thai-san-pai. Sudah menjadi kewajiban kita untuk membantu Ayah."

Kong Bu hanya mengangguk-angguk. Berangkatlah dua orang kakak beradik ini. Mereka sengaja menguji kepandaian masing-masing dan berlari cepat. Betapa kagum hati mereka karena dalam kemahiran ilmu lari cepat ini mereka berimbang.

Cui Bi menang ringan tubuhnya dan menang gesit gerakannya, akan tetapi ia kalah napas melawan kakak tirinya itu…..
********************
"Apa kau bilang, Li Eng? Jadi pemuda gagah tadi punya sakit hati terhadap Hoa-san-pai? Mengapa demikian?" tanya Kun Hong.
'Dia cucunya Song-bun-kwi dan Song-bun-kwi agaknya benci sekali kepada Hoa-san-pai karena... hmmm, apakah kau belum pernah dengar tentang... Enci (Kakak Perempuan) tirimu, Paman Hong?"
"Enci tiri? Mana aku mempunyai Enci tiri? Ayah dan Ibu tak pernah bercerita tentang itu!"

Sebetulnya Li Eng juga tidak berani lancang bercerita, akan tetapi keterangan Kun Hong ini malah membangkitkan keinginan hatinya untuk menyampaikan rahasia itu. Dia sendiri merasa heran mengapa orang tidak menceritakan hal Kwa Hong kepada pamannya ini.

"Paman Hong, dulu sebelum ayahmu menikah dengan ibumu yang menjadi sumoi sendiri dari ayahmu, ayahmu sudah memiliki seorang anak perempuan bernama Kwa Hong. Nah, Bibi Kwa Hong inilah yang menimbulkan permusuhan hebat di mana-mana, karena sepak terjangnya yang... hemmm, malah orang tuaku sendiri pun mendendam sakit hati kepada Bibi Kwa Hong yang betul-betul seperti iblis wanita itu."
"Li Eng, yang betul kau bicara. Kalau memang benar dia itu kakak tiriku, berarti dia itu masih bibimu. Bagaimana kau bisa bicara tentang bibimu sendiri?"
"Ah, ternyata kau tidak tahu apa-apa, Paman Hong. Nah kau dengarlah aku bercerita, tapi jangan tersinggung, ya? Aku hanya menceritakan apa yang kudengar dari Ayah dan Ibu. Ingatkah dahulu ketika kau bercerita kepada aku dan Enci Hui Cu tentang burung rajawali emas dan kami bertanya kepadamu tentang dia, siluman betina? Nah, yang kami maksud dahulu itu bukan lain adalah Kwa Hong, enci-mu itulah!"

"Hemmm, kau benar-benar kurang ajar. Kalau benar aku mempunyai kakak perempuan berarti dia bibimu."
"Memang betul, akan tetapi bibi macam bagaimana? Kau dengarlah!"

Li Eng lalu menceritakan tentang Kwa Hong. Betapa wanita ini karena jebakan musuh, mengadakan hubungan dengan Tan Beng San dan betapa wanita ini lalu berubah seperti Siluman, naik burung rajawali emas dan mengacau ke mana-mana. Bahkan Kwa Hong hampir membunuh ayah bunda Li Eng, mengusirnya dan menduduki Hoa-san-pai sebagai ketua. Ia menceritakan pula kenapa Song-bun-kwi mendendam, yaitu dalam hubungannya dengan puterinya, Kwee Bi Goat yang menjadi nyonya Tan Beng San dan yang akhirnya meninggal dunia karena berduka.

"Dia jahat luar biasa, Paman Hong. Dia seperti iblis betina, naik burung rajawali menyebar maut di mana-mana. Entah bagaimana, menurut Ayah dan Ibu, kepandaiannya hebat sekali sampai-sampai Sucouw Lian Bu Tojin, guru ayahmu, juga tewas di tangannya. Dia telah menyakitkan hati isteri Paman Tan Beng San sehingga tak kuat menahan dan tewas setelah melahirkan... heeiii! Tentu dia orangnya!" Tiba-tiba Li Eng meloncat berdiri dan termenung.
"Dia siapa? Apa maksudmu?" tanya Kun Hong.

Li Eng menepuk-nepuk pahanya.

"Siapa lagi kalau bukan dia?! Pemuda itu, cucu Song-bun-kwi, si keparat itu, siapa lagi kalau bukan putera Kwee Bi Goat, putera Paman Tan Beng San."
"Apa?! Pemuda gagah perkasa tadi putera Paman Tan Beng San yang lahir dari Bibi Kwee Bi Goat itu?"

Kun Hong tertarik sekali akan cerita tadi dan diam-diam ia merasa menyesal bukan main bahwa semua hal yang sekarang menimbulkan permusuhan hebat itu adalah gara-gara kakak perempuannya, Kwa Hong. Tahulah dia sekarang mengapa ayahnya begitu keras kepadanya, melarang dia berlatih ilmu silat. Kiranya di sinilah letak rahasianya. Ayahnya sudah kapok, tidak ingin melihat anaknya rusak lagi karena kepandaian silat! Wajahnya pun menjadi muram.

"Ahh, nasib Ayah yang buruk... ahhh, ingin aku bertemu dengan Enci Kwa Hong, ingin aku nasehatkan padanya agar minta ampun kepada ayah, kepada semua orang yang pernah disakiti hatinya."
"Hemmm, aku sangsi apakah dia akan mau... haiii, di sana ada orang bertempur?"

Li Eng menunjuk ke depan. Ketika Kun Hong memandang, benar saja ia melihat seorang pemuda dengan hebatnya bertempur dikeroyok oleh dua orang lawannya. Cepat-cepat ia mengikuti Li Eng yang sudah lari lebih dulu ke tempat pertempuran itu.

"Enci Hui Cu...!" Di lain saat Li Eng sudah berpelukan dengan Hui Cu.
"Eng-moi...!" Paman Hong...!"

Saking girangnya, Hui Cu menangis dalam rangkulan Li Eng. Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa dua orang itu berada dalam keadaan selamat, malah dapat bertemu dengannya di situ. Mereka belum dapat bicara banyak karena perhatian mereka kembaii tertuju kepada pertempuran hebat yang masih berlangsung.

Hebat sekali pemuda itu. Akan tetapi kedua orang pengeroyoknya pun luar biasa, yaitu seorang nenek tua sekali dan seorang wanita tua yang masih berwajah cantik. Siapakah mereka ini? Pemuda itu tak lain adalah Sin Lee, ada pun pengeroyoknya adalah Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li!

"Adik Eng..., lekas, kau bantulah dia..." berkata Hui Cu kepada Li Eng. "Aku... aku sendiri sudah terluka..."

Semenjak tadi Kun Hong bengong karena menyaksikan sesuatu yang membuat dia amat terheran-heran, yaitu gerakan pemuda gagah yang dikeroyok itu. Ilmu silat pemuda itu! Bukankah gerakan kaki itu mirip benar dengan Kim-tiauw-kun? Kaki yang meloncat-loncat itu, kedua lengan yang dikembangkan seperti sayap burung. Ahh, meski pun menyimpang dari aslinya, namun tidak salah lagi, pemuda itu tentu pernah mempelajari Kim-tiauw-kun. Inilah yang membuat dia bengong dan membuat dia lengah, tidak melihat bahwa Hui Cu telah terluka.

Sekarang mendengar ucapan ini, cepat ia memandang dan berseru, "Ahhh, Hui Cu. Kau terluka dengan senjata beracun!"

Cepat ia memegang tangan kiri gadis itu dan menariknya dekat. Tanpa ragu-ragu lagi ia merobek lengan baju bagian atas dan benar saja, di balik lengan baju yang sudah sedikit robek dan berdarah itu tampak kulit pangkal lengan dekat pundak hitam membengkak!

Li Eng mengeluarkan seruan tertahan, namun ia segera bertanya, "Enci, ia siapakah dan kenapa harus dibantu?"

"Lekas... dua orang itu, Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li. Mereka amat jahat dan lihai. Tolong bantulah dia... dia itu... ehhh, dia penolongku."

Li Eng tak usah diperintah dua kali. Mendengar bahwa pemuda gagah itu adalah penolong Hui Cu, apa lagi sesudah mendengar bahwa nenek buruk rupa saking tuanya itu adalah Hek-hwa Kui-bo dan wanita tua yang cantik itu Kim-thouw Thian-li, Li Eng cepat mencabut pedang dan menyerbu ke dalam kalangan pertempuran sambil berseru,

"Bagus sekali! Hek-hwa Kui-bo dan Kim-thouw Thian-li, sudah lama aku mendengar nama kalian yang busuk, lihat, aku Kui Li Eng dari Hoa-san-pai datang untuk menagih semua hutang-hutangmu kepada Hoa-san-pai!"

Memang gadis ini sudah mendengar dari ayah bundanya mengenai kejahatan dua orang tokoh ini, terutama tentang perbuatan Kim-thouw Thian-li yang dulu banyak berbuat jahat terhadap Hoa-san-pai.

Hek-hwa Kui-bo dan muridnya kaget sekali melihat serbuan seorang gadis cantik yang mengaku sebagai murid Hoa-san-pai itu. Tadinya mendengar suara Li Eng, mereka tidak pandang sebelah mata, karena apa sih kepandaian seorang anak murid Hoa-san-pai yang masih begitu muda? Namun begitu pedang di tangan Li Eng berkelebat, mereka menjadi terkejut sekali.

Menghadapi pemuda ini saja, walau pun mereka berhasil mendesak dengan keroyokan mereka, akan tetapi tak mudah untuk merobohkannya. Apa lagi sekarang muncul seorang gadis yang demikian ganas ilmu pedangnya.

"Kau bereskan anak iblis ini, biar kubunuh gadis liar ini!" kata Hek-hwa Kui-bo kepada muridnya.

Ia percaya bahwa Kim-thouw Thian-li akan dapat menahan Si Pemuda sedangkan ia akan cepat-cepat membunuh gadis itu sebelum dua orang muda yang lain itu dapat membantu. Akan tetapi, bicara memang mudah.

Kepandaian Sin Lee hebat sekali dan sekarang menghadapi Kim-thouw Thian-li seorang diri saja, segera keadaan berubah hebat. Bila tadi Sin Lee terdesak, hal itu tidaklah amat mengherankan.

Hek-hwa Kui-bo adalah seorang tokoh yang memiliki kepandaian tinggi, setingkat dengan tokoh-tokoh besar seperti Song-bun-kwi dan lainnya. Lebih-lebih nenek ini mengandalkan ilmu pedangnya yang sakti, yaitu Im-sin Kiam-hoat. Apa lagi karena nenek ini dibantu oleh muridnya yang hampir sama lihainya, Kim-thouw Thian-li ketua dari Ngo-lian-kauw.

Betapa pun lihainya Sin Lee, dia terdesak hebat juga oleh dua orang pengeroyoknya itu. Kim-touw Thian-li hebat permainan goloknya yang dibantu sehelai selampai merah yang mengandung racun. Gurunya, Hek-hwa Kui-bo juga menggunakan dua buah senjata, yaitu sebatang pedang serta sehelai sapu tangan beraneka warna yang racunnya lebih jahat lagi.

Juga Hek-hwa Kui-bo kecele apa bila tadi ia memandang rendah gadis muda belia yang cantik murid Hoa-san-pai ini. Sejak dahulu Hek-hwa Kui-bo memandang rendah kepada Hoa-san-pai, sama sekali ia tak tahu bahwa di Hoa-san-pai telah terjadi perubahan besar.

Hoa-san-pai sekarang jauh bedanya dengan Hoa-san-pai pada dua puluh tahun yang lalu. Setelah Kui Lok dan isterinya, Thio Bwee, dua orang anak murid Hoa-san-pai ini mewarisi ilmu silat Hoa-san-pai asli dari Lian Ti Tojin, yang sekarang diwarisi pula oleh Kui Li Eng, hebatlah ilmu silat Hoa-san-pai itu.

Baru kini Hek-hwa Kui-bo mendapat kenyataan bahwa sama sekali salah bila memandang rendah golongan lain. Begitu mulai serang menyerang dengan Li Eng, nenek itu kaget dan terpaksa segera mengeluarkan ilmu pedangnya yang ampuh, Im-sin Kiam-hoat dibantu permainan sapu tangan aneka warna yang mengeluarkan bau yang memuakkan.

Li Eng harus mengerahkan seluruh kepandaiannya dan menjaga diri dari pengaruh racun itu dengan hawa murni. Beberapa kali selama perjalanannya, dia sudah bertemu dengan orang-orang sakti. Hal ini membuat Li Eng berhati-hati kali ini.
Sementara itu, setelah memeriksa sebentar, Kun Hong pun berkata, "Hui Cu, jahat benar orang yang melepas Hwa-tok-ciam (Jarum Racun Bunga) ini. Jarum yang halus itu masih berada di lenganmu. Kau diamlah, kendurkan semua urat dilengan kananmu!"

Hui Cu memandang pamannya dengan keheranan, akan tetapi mentaati permintaan ini. Kun Hong lalu menggunakan jari telunjuknya menotok beberapa jalan darah di siku serta pundak dan seketika gadis itu merasa lengannya lumpuh!

"Diam saja, sakit sedikit, hendak kuambil keluar jarum itu," kata Kun Hong dan pemuda ini segera memijit-mijit lengan yang luka itu.

Tidak lama kemudian, ujung jarum dari luka itu mulai tersembul. Hui Cu menggigit bibir menahan sakit. Sekali lagi Kun Hong memencet, jarum itu keluar dari luka. Jarum yang amat lembut, sebesar ujung rambut.

"Nah, sekarang sudah tidak berbahaya lagi, tunggu kelak kita akan mencari obat untuk menyembuhkannya sama sekali. Biar kukeluarkan dulu sebagian darah yang teracun."

Ia mengurut lengan itu dari atas ke bawah dan dari luka itu keluarlah darah menghitam. Setelah itu ia membebaskan totokannya.

"Aih, Paman Hong. Tidak kusangka... ternyata kau begini pandai..." Hui Cu berkata, penuh kekaguman.
"Pandai apa? Hanya sedikit ilmu pengobatan yang kuketahui dari membaca kitab-kitabnya Yok-mo. Lihat, Li Eng dan penolongmu itu masih bertempur hebat."

Keduanya lalu memandang ke arah pertempuran. Ternyata Sin Lee kini dapat mendesak Kim-thouw Thian-li dengan hebatnya. Pedang pemuda ini amat kuat dan aneh gerakannya dan sekali lagi Kun Hong tertegun karena ia mengenal ilmu pedang ini yang mengandung inti Ilmu Silat Kim-tiauw-kun. Akan tetapi sifatnya sudah berubah, ganas dan merupakan tangan maut mengintai korban.

"Ahh, ganas... ganas...," katanya penuh kekuatiran.

Ia semakin terheran-heran ketika mengenal bahwa inti sari Ilmu Silat Kim-tiauw-kun yang dimainkan pemuda itu bercampur dengan ilmu pedang Hoa-san-pai sehingga merupakan ilmu silat kombinasi yang tidak menyerupai Hoa-san Kiam-hoat mau pun Kim-tiauw-kun lagi.

Desakan-desakan Sin Lee terhadap Kim-thouw Thian-li semakin dahsyat. Kini wanita itu benar-benar merasa kewalahan menghadapi serangan-serangan yang banyak memakai gerak-gerak tipu ini. Mulailah ia ketakutan setelah pundaknya tercium oleh ujung pedang lawannya.

Hebat serangan Sin Lee. Mula-mula pedangnya menyambar ke arah pusar. Pada waktu Kim-thouw Thian-li menangkis sambil mengebutkan sabuk merah ke arah muka Sin Lee, pemuda ini mengibaskan tangan kiri menangkis dengan hawa pukulannya, melanjutkan dengan tusukan pedang yang diputar-putar di depan muka wanita itu.

Mata Kim-thouw Thian-li menjadi silau dan cepat-cepat menarik pedang untuk menangkis lagi. Siapa kira, serangan ini hanya pancingan belaka supaya ia mengangkat pedangnya karena tahu-tahu pemuda itu mengirim pukulan keras ke arah ulu hati, menggunakan tangan kiri yang diputar-putar lebih dulu.

Kim-thouw Thian-li mengeluarkan jeritan kaget karena hawa pukulan tangan kiri pemuda itu mendatangkan angin dingin yang luar biasa, membuat tubuhnya menggigil dan lemas. Cepat-cepat wanita itu mengerahkan lweekang-nya sambil membanting tubuh ke kanan untuk menghindarkan diri dari pukulan dahsyat itu, namun ujung pedang Sin Lee sudah menyambar datang memenggal leher!

"Celaka!"

Kim-thouw Thian-li menggerakkan kepalanya menjauh, akan tetapi pundaknya masih saja tercium ujung pedang, bajunya robek berikut kulit pundak dan sedikit dagingnya. Mulailah ia menjadi gentar, apa lagi ketika Sin Lee terus menerus mendesaknya dengan serangan pedang yang gencar diselingi pukulannya yang dahsyat itu.

Kun Hong yang menyaksikan pukulan dengan tangan lebih dulu diputar-putar ini, menjadi bingung. Di dalam Kim-tiauw-kun tidak ada pukulan macam itu.

Memang, ilmu pukulan ini merupakan ilmu dari kaum sesat yang hanya dipergunakan oleh golongan hitam. Inilah ilmu pukulan Jing-tok-ciang (Pukulan Racun Hijau) yang Sin Lee warisi dari ibunya dan di lain pihak Kwa Hong ibunya itu dahulu menerimanya dari Koai Atong. Dahsyat bukan main Jing-tok-ciang ini karena baru angin pukulannya saja sudah mengandung hawa luar biasa yang dapat mematikan lawan.

Dengan marah sekali Kim-thouw Thian-li mengebutkan sabuk merahnya sambil berseru nyaring. Debu kemerahan langsung menyambar ke arah Sin Lee. Inilah racun berbahaya yang keluar dari dalam sabuk itu, yang dipergunakan Ketua Ngo-lian-kauw hanya kalau menghadapi lawan yang tangguh. Debu merah ini berbau harum sekali, begitu harumnya sampai dapat merampas ingatan dan semangat orang!

Namun sudah banyak Sin Lee mendengar tentang Ketua Ngo-lian-kauw ini dari ibunya, dan sudah tahu pula ia apa artinya debu merah ini. Ia tidak berani memandang rendah, terdengar dia melengking tinggi dan tubuhnya meloncat ke atas dengan kedua tangan dikembangkan.

Hebatnya, dari udara dia dapat melakukan gerakan menerjang ke depan bawah sambil memutar dari kiri sehingga tidak bertemu dengan awan debu merah. Pedangnya cepat dikerjakan dan tangan kirinya juga diputar-putar, siap melakukan pukulan.

Kim-thouw Thian-li berhasil menangkis tusukan pedang Sin Lee, namun sebuah pukulan Jing-tok-ciang yang tak tersangka-sangka datangnya, mengenai pundak kirinya. Perlahan saja pukulan itu, namun ketika jari-jari tangan pemuda itu menyentuh pundaknya, wanita ini memekik keras dan terhuyung-huyung lalu roboh!

Dengan sekuat tenaga dia menghimpun hawa Im-sin-kang di tubuhnya untuk melawan pukulan yang membuat seluruh isi dadanya terasa membeku. Pada saat itu Sin Lee sudah tidak mau memberi hati lagi, menerjang dengan pedang diputar lalu ditusukkan seperti lagak seekor burung mematuk mangsanya.

"Heee, jangan bunuh orang...!" Kun Hong sudah sampai di situ dan menyelinap di antara sinar pedang Sin Lee.

Hui Cu kaget sekali dan hendak menarik tangan pamannya ketika dia melihat pamannya dengan gerakan tidak karuan dan kacau menubruk Sin Lee. Akan tetapi secara aneh sambarannya meleset dan tubuh Kun Hong terus menyerbu ke depan.

Hui Cu hampir menjerit karena kuatir kalau-kalau pamannya itu yang tidak pandai silat terkena senjata Sin Lee. Akan tetapi ia melihat Sin Lee mencelat mundur sambil berseru.
"Kau…?!"

Kuatir kalau-kalau Sin Lee akan menyerang Kun Hong, Hui Cu segera lari menghampiri dan berkata, "Jangan... dia adalah pamanku."

Sin Lee tertegun. Tadi dia terpaksa harus menarik kembali pedangnya dan meloncat ke belakang karena pemuda aneh itu yang menyelinap masuk sudah memasang dua jari tangannya memapaki tangannya yang memegang pedang sehingga kalau ia meneruskan tusukannya kepada Kim-thouw Thian-li, sudah tentu pergelangan tangannya akan tertotok dan pedangnya akan terlepas.

Heran ia bagaimana paman dari Hui Cu dapat mengenal kelemahan pergerakannya tadi? Dan sama sekali ia tidak pernah mengira bahwa ‘paman’ ini masih seorang muda sebaya dia!

"Dia... dia pamanmu yang bernama Kun Hong itu?" tanyanya memandang ke arah Kun Hong yang menghampiri Kim-thouw Thian-li yang sudah duduk bersila dan mengerahkan lweekang untuk melawan hawa dingin yang menyerang isi dadanya.
"Ya, maklumlah dia... dia paling anti bunuh membunuh, karena itu maka tadi mencegah kau membunuh Kim-thouw Thian-li..."
"Kau... tidak apa-apa?" tanya Sin Lee memandang penuh perhatian.
"Tidak, Paman Hong sudah mengobatiku, tidak kusangka dia pandai. Saudara Tiauw, kau tolong bantulah adik Li Eng melawan Hek-hwa Kui-bo."

Pada saat itu pertempuran antara Li Eng dan Hek-hwa Kui-bo masih berjalan seru sekali. Akan tetapi, betapa pun lihainya Li Eng, menghadapi tokoh sakti ini dia jadi terdesak juga. Apa lagi pedang nenek itu menyambar-nyambar ganas dengan ilmu pedangnya Im-sin Kiam-sut.

Mendengar permintaan Hui Cu, Sin Lee cepat melompat dan langsung menerjang nenek itu dengan pedangnya.

"Iblis tua, kau mampuslah!"

Pedangnya menyambar-nyambar bagai kilat dan Hek-hwa Kwi-bo terpaksa mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk menghadapi pengeroyokan dua orang muda yang memiliki kepandaian tinggi itu.

Li Eng diam-diam merasa lega bahwa dia mendapat bantuan seorang yang begini kuat. Diam-diam ia membandingkan pemuda ini dengan cucu Song-bun-kwi.

Ada persamaan wajah serta bentuk badan di antara dua orang pemuda ini, hanya cucu Song-bun-kwi itu lebih kekar dan lebih tampan dalam pandangannya. Juga dalam ilmu kepandaian, keduanya sama-sama hebat.

Kun Hong menghampiri Kim-thouw Thian-li yang duduk bersila. Wajah wanita itu muram, mengandung cahaya kehijauan yang aneh. Kun Hong tahu bahwa wanita ini telah terluka berat, luka dalam yang mengandung hawa pukulan beracun. Ia pernah bertemu dengan Ketua Ngo-lian-kauw ini dan ia dapat menduga bahwa orang ini bukanlah orang baik-baik, tetapi hatinya yang penuh welas asih membuat ia berkasihan melihat orang itu terluka dan bermaksud untuk mengobatinya.

"Kauwcu, kau terluka hebat"

Tanpa ragu-ragu ia memegang pergelangan tangan kiri wanita tua itu. Beberapa detik ia memeriksa keadaan orang melalui ketukan jalan darahnya, dan ia kaget sekali.

"Kauwcu, kau telah terkena racun hawa pukulan yang mengandung daya Im-kang. Jangan kerahkan tenaga keluar, jangan pula kau melawan dari dalam. Aku akan berusaha untuk menolongmu." Setelah berkata demikian, Kun Hong menotok ke bagian pundak dan mengurut bagian punggung.

Kim-thouw Thian-li membuka matanya. Dia kaget bukan main melihat bahwa orang yang bicara hendak menolongnya adalah orang Hoa-san-pai yang pernah datang ke tempatnya kemudian dibawa pergi Song-bun-kwi. Orang ini terang pihak musuh, mana ia percaya hendak mengobatinya? Tentu hendak menipunya dan hendak mencelakainya. Ia cepat mengangkat tangan mengirim pukulan keras.

"Eh, jangan kerahkan tenaga, berbahaya!” Kun Hong berseru namun terlambat, tubuhnya mencelat dan bergulingan sampai beberapa meter jauhnya!
"Paman Hong... kau... kau tidak apa-apa?" Hui Cu mendekati, melupakan lukanya sendiri.

Dia terheran-heran melihat pamannya ini merangkak bangun, sama sekali tidak terluka, hanya keningnya yang bertumbukan dengan batu pada saat ia terlempar tadi agak benjol setengah telur besarnya.

Pemuda ini menggeleng kepala dan memandang ke arah Kim-thouw Thian-li, lalu menarik napas panjang.

"Kehendak Thian tak dapat diubah... dia seperti membunuh diri..."

Hui Cu tidak mengerti dan menengok ke arah Ketua Ngo-lian-kauw dan... ternyata wanita itu telah rebah telentang dengan wajah kehijauan. Ketika dia mendekati, ternyata bahwa Kim-thouw Thian-li telah tewas! Diam-diam Hui Cu girang sekali, karena ia benci wanita Ketua Ngo-lian-kauw yang terkenal jahat dan yang dahulu sudah banyak membikin susah orang-orang tua di Hoa-san-pai.

Hek-hwa Kui-bo benar-benar hebat sekali. Nenek ini usianya sudah amat tua, mukanya sudah penuh keriput dan matanya cekung seperti mata tengkorak. Dilihat begitu saja, ia merupakan seorang nenek yang sudah mendekati lubang kubur.

Namun dalam pertempuran dia benar-benar bagaikan iblis betina. Tenaga lweekang-nya masih mengatasi kedua orang muda yang mengeroyoknya itu, juga ilmu pedangnya yang berdasarkan ilmu sakti Im-sin Kiam-sut bercampur dengan ratusan macam gerakan ilmu silat yang dimilikinya, membuat dua orang pengeroyoknya itu harus mengerahkan seluruh kepandaian untuk menekannya. Kali ini nenek ini benar-benar menghadapi lawan berat.

Sin Lee adalah putera Kwa Hong yang telah mewarisi kepandaian ibunya yang luar biasa, kepandaian campuran antara ilmu silat Hoa-san-pai, Ilmu Silat Jing-tok-ciang ditambah lagi ilmu silat yang dipelajari oleh Kwa Hong dari rajawali emas. Ada pun Kui Li Eng mempunyai ilmu silat Hoa-san-pai yang asli, yang tadinya masih merupakan rahasia bagi Hoa-san-pai sendiri sebelum ayah bundanya bertemu dengan Lian Ti Tojin. Ilmu Pedang Hoa-san Kiam-hoat yang asli ini berlipat kali lebih lihai dari ilmu pedang Hoa-san-pai yang dimiliki oleh tokoh-tokoh Hoa-san-pai lainnya.

Perlahan tapi tentu, Hek-hwa Kui-bo mulai terdesak. Dua buah pedang di tangan dua orang muda itu benar-benar membuat dia sebentar-sebentar memekik marah dan heran. Akan tetapi ketika nenek ini melihat bahwa muridnya yang terkasih itu tewas sebagai akibat pukulan pemuda yang sekarang mengeroyoknya, ia menjadi marah sekali dan juga kuatir.

Sambil memekik keras, sabuknya lalu dikebut-kebutkan sehingga mengepullah debu yang bermacam-macam warnanya dan di antara kepulan debu ini berkelebatan sinar-sinar yang menyembunyikan jarum-jarum lembut yang mengandung racun sama hebatnya dengan racun debu beraneka warna itu! Inilah penyerangan hebat luar biasa yang jarang dapat dihindarkan oleh lawan yang bagaimana tangguh pun.

"Awas...!" teriakan ini sekaligus keluar berbareng dari mulut Li Eng dan Sin Lee.

Dan berbareng pula seperti mendengar komando, dua orang muda ini membanting tubuh ke belakang, berjungkir balik dan menggelundung pergi seperti binatang trenggiling turun gunung.

Kiranya keduanya sudah mendengar dari orang tua masing-masing mengenai kelihaian Hek-hwa Kui-bo dan tentang senjata rahasia yang amat ampuh dari nenek iblis ini, yaitu debu beracun yang disebut Ngo-hwa Tok-san (Bubukan Racun Lima Kembang) dan juga jarum-jarum beracun Ngo-hwa Tok-ciam.

Karena inilah maka mereka berdua tidak berani menyambut atau menangkis, melainkan membuang diri dengan cara pengelakan yang paling tepat untuk menghindarkan diri dari serangan debu dan jarum-jarum itu. Biar pun begitu, kedua orang muda ini merasa angin berseliweran di atas punggung mereka, hanya beberapa senti meter saja jauhnya, tanda bahwa jarum-jarum beracun itu hampir saja mengenai tubuh mereka.

Setelah menggelundung jauh, keduanya lalu berloncatan bangun dengan keringat dingin mengucur. Hampir saja mereka menjadi korban. Keduanya segera memutar tubuh untuk menghadapi nenek yang ganas itu, akan tetapi nenek itu sudah tidak kelihatan lagi.

Kiranya ketika melihat dua orang pengeroyoknya bergulingan tadi, Hek-hwa Kui-bo yang tahu betul bahwa melanjutkan pertempuran melawan kedua orang muda itu merupakan bahaya sedangkan muridnya telah tewas, cepat melompat kemudian menyambar jenazah Kim-thouw Thian-li dan membawanya lari secepat terbang dari tempat itu.

Kun Hong dan Hui Cu yang melihat ini, hanya dapat memandang saja. Bagi Hui Cu yang maklum akan tingkat kepandaiannya, tidak berani dia menghalangi, ada pun Kun Hong memang tidak mau menghalangi, malah ia bersyukur bahwa jenazah Ketua Ngo-lian-kauw itu ada yang membawa pergi dan mengurusnya.

Hui Cu dengan muka gembira memperkenalkan Sin Lee kepada Li Eng dan Kun Hong. Li Eng yang berwatak lincah gembira itu menjura dan berkata,

"Tiauw-enghiong benar-benar gagah perkasa dan lihai sekali, membuat aku kagum sekali. Apa lagi karena Tiauw-enghiong telah menolong Enci Hui Cu dari tangan Song-bun-kwi, benar-benar merupakan budi yang tak akan pernah dilupa oleh... Enci Hui Cu." Setelah berkata demikian ini, dengan sinar mata yang nakal sekali Li Eng mengerling kepada Hui Cu yang menjadi merah dadu warna pipinya.

"Menyesal sekali bahwa dahulu itu aku tidak sempat pula menolongmu dari tangan kakek itu, Nona, karena kakek itu memang lihai sekali. Terpaksa aku hanya dapat mengajak Nona Hui Cu pergi," jawab Sin Lee yang tadi merasa tersindir mengapa dahulu itu yang ditolongnya hanya Hui Cu seorang.

Sementara itu, Kun Hong memandang kepada Sin Lee dengan mata tajam penuh selidik. Ia mengenal ilmu silat pemuda ini. Oleh karena otaknya yang cerdik, dia lalu membuat rangkaian dan dugaan.

Gurunya, Bu-beng-cu sudah lama meninggal dunia. Kiranya sampai mati pun guru besar itu tidak pernah menerima murid, buktinya ilmunya ditinggalkan dalam bentuk kitab. Kalau ada orang lain mampu mewarisi Kim-tiauw-kun, tentulah melalui burung rajawali emas itu. Dan Kim-tiauw-kun yang dimainkan oleh pemuda ini kacau-balau dan tercampur dengan ilmu-ilmu silat lain, malah ada pula ilmu silat dari Hoa-san-pai di dalamnya. Satu-satunya orang selain dia, yang ada hubungannya dengan rajawali emas, seperti yang ia dengar dari dua orang murid keponakannya, hanyalah Kwa Hong, kakak perempuannya lain ibu itu.

Jadi pemuda ini... kiranya tak akan terlalu ngawur kalau ia menduga bahwa pemuda ini tentulah anak dari Kwa Hong.....

"Saudara Sin Lee she Tiauw, bukan? Bagus, she yang bagus akan tetapi juga jarang ada. Membikin aku teringat akan burung rajawali raksasa. Ehh, Saudara Tiauw Sin Lee, apa kau pernah melihat seekor burung rajawali emas raksasa yang memakai kalung mutiara?"

Wajah Sin Lee segera berubah. Jantungnya berdebar keras. Tadi ketika diperkenalkan, ia mendengar bahwa orang muda yang halus gerak-gerik serta tutur sapanya ini bernama Kwa Kun Hong, putera Ketua Hoa-san-pai. Ini saja sudah membuat ia berdebar-debar karena Kwa Kun Hong yang berdiri di depannya ini adalah adik ibunya! Adik lain ibu, jadi adik tirinya, berarti Kwa Kun Hong ini adalah paman tirinya sendiri.

Akan tetapi tentu saja dia tidak berani memperkenalkan diri dengan sesungguhnya. Dia adalah anak Kwa Kun Hong dan kepergiannya ke Thai-san mempunyai maksud menyeret Tan Beng San ke hadapan ibunya. Orang-orang muda ini sedang menuju ke Thai-san, agaknya mempunyai hubungan baik dan erat sekali dengan Ketua Thai-san-pai.

Apa bila ia mengaku dan menceritakan maksudnya, sudah tentu akan terjadi hal-hal yang tidak enak sekali. Oleh karena itu ia harus tetap memalsukan shenya. Siapa kira di sini ia bertemu dengan paman tirinya, yang entah dengan cara bagaimana, agaknya mengetahui rahasianya!

Bagaimana paman tirinya ini tahu tentang kim-tiauw pula? Sudah tentu saja ia mengenal rajawali emas yang berkalung mutiara. Siapa tidak mengenal kalau kalung yang berada di leher burung itu adalah dia sendiri yang memasangnya?

Mendengar ini, baik Hui Cu mau pun Li Eng menjadi kaget dan heran, lalu memandang kepada Sin Lee. Terutama sekali Li Eng. Sebagai seorang gadis yang cerdik sekali, ia pun dapat menghubung-hubungkan sesuatu.

"Kalau pernah melihat kim-tiauw berkalung mutiara tentu pernah melihat... dia!" Li Eng memandang tajam.

Mendengar ini Hui Cu mengeluarkan seruan tertahan. Benarkah dugaan Li Eng bahwa pemuda penolongnya dan yang sekaligus perampas hatinya ini ada hubungan dengan... dia yang dimaksudkan tentu Kwa Hong?

Ada pun Sin Lee ketika mendengar ucapan Kun Hong dan kemudian Li Eng, melihat pula pandang mata Hui Cu dan yang lain-lain, berubah air mukanya. Tidak mengakui tentang kim-tiauw bukanlah hal yang sukar baginya, akan tetapi bagaimana ia bisa tidak mengakui tentang ibunya sendiri? Ia menjadi gugup dan gelisah karena merasa rahasianya hampir terbongkar.

"Aku... aku... ah, tidak tahu siapa yang kalian maksudkan... setelah Nona Hui Cu bertemu dengan kalian, biarlah aku pergi!" Setelah berkata demikian, tubuhnya berkelebat dan dia sudah melompat jauh sekali.
"Saudara Sin Lee...!" Tak terasa lagi Hui Cu berseru memanggil dan lari mengejar, namun ia segera menahan kakinya dan mukanya berubah merah ketika teringat bahwa sikapnya ini benar-benar telah membuka perasaan hatinya, sedangkan di situ terdapat Kun Hong dan Li Eng!

Dari jauh, lapat-lapat terdengar suara pemuda yang telah menjatuhkan hatinya itu, "Nona Thio Hui Cu, selamat tinggal, kelak kita pasti akan saling bertemu kembali..."

"Enci Hui Cu, jangan kuatir, aku yakin kau akan bertemu lagi dengan dia. Hemm, dia baik sekali kepadamu, Cu-cici." Li Eng lalu tertawa dan Hui Cu menjadi makin merah mukanya.
"Adik Eng, jangan kau main-main!"
"Siapa main-main? Memang dia... ehh, hebat sekali, bukan begitukah pendapatmu?"
"Kau... nakal...!"

Hui Cu maju sambil mengulur tangan hendak mencubit pipi Li Eng yang menggodanya. Li Eng mengelak dan menjerit-jerit.
"Ehh... ehhh, jangan... uhh, kenapa marah-marah? Lihat, tuh dia datang kembali!"

Seketika Hui Cu berhenti dan menengok ke arah perginya pemuda tadi. Ketika dia tidak melihat siapa-siapa, Hui Cu menjadi semakin jengah, maklum bahwa sekali lagi ia digoda oleh adik misan yang nakal itu.

"Sudahlah, jangan bergurau saja. Kita harus bersyukur bahwa akhirnya kita bertiga dapat berkumpul kembali dengan selamat."

Sambil melanjutkan perjalanan, tiga orang muda ini lalu saling menuturkan pengalaman mereka masing-masing…..
********************
Puncak Thai-san yang sangat tinggi menjadi tempat tinggal Raja Pedang Tan Beng San dan isterinya Cia Li Cu. Seperti telah kita ketahui dalam permulaan cerita Rajawali Emas, Tan Beng San setelah mengalami banyak sekali derita hidup, dipermainkan oleh asmara yang membuatnya banyak mengalami pahit getir penghidupan, akhirnya berjodoh dengan Li Cu dan hidup sebagai suami isteri yang penuh kebahagiaan di Thai-san ini.

Tentu saja, sebagai sepasang pendekar yang berjiwa gagah, mereka tidak dapat terus menerus menyembunyikan diri di tempat sunyi ini. Kadang-kadang mereka bersama sama atau Tan Beng San seorang diri, turun gunung untuk menjalankan tugas sebagai seorang pendekar pembasmi kejahatan serta penegak kebenaran dan keadilan, sehingga nama sepasang pendekar itu makin terkenal di seluruh dunia.

Tan Beng San adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, pewaris dari Ilmu Silat Im-yang Sin-hoat. Ada pun isterinya Li Cu, adalah puteri tunggal Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan. Dengan keadaan demikian, tentu saja sepasang suami isteri ini mempunyai cita-cita untuk mengembangkan kepandaian mereka, membentuk sebuah partai persilatan di Thai-san yang akan menyebar luaskan ilmu dari mereka dan dijadikan sebagai modal untuk membantu usaha pembasmian kejahatan di dunia ini.

Cita-cita inilah yang membuat mereka akhirnya sepakat untuk mendirikan partai persilatan Thai-san-pai. Mereka lalu memilih orang-orang atau lebih tepat anak-anak yang berbakat, diambil dari dusun-dusun dan dipilih anak-anak yang telantar untuk dididik dan dijadikan murid mereka.

Kebahagiaan hidup mereka terasa meningkat ketika setahun kemudian terlahir seorang anak perempuan yang mereka beri nama Tan Cui Bi. Tentu saja anak kesayangannya ini mendapat gemblengan dari kedua orang tuanya sehingga sesudah berusia tujuh belas tahun, Cui Bi menjadi seorang gadis yang selain cantik jelita, juga berkepandaian tinggi.

Namun, sebagai anak tunggal, Cui Bi amat manja. Darah ayah bundanya, darah ksatria, mengalir dalam tubuhnya dan semenjak berusia lima belas tahun tanpa dapat ditahan lagi oleh kedua orang tuanya, anak ini kadang-kadang melakukan perantauan seorang diri dan melakukan perbuatan-perbuatan gagah berani yang menggemparkan dunia kang-ouw.

Dalam setiap perjalanan ia selalu berpakaian sebagai laki-laki. Hal ini adalah nasehat dari ayahnya yang maklum bahwa betapa pun tingginya kepandaian puterinya, namun dalam pakaian laki-laki Cui Bi akan dapat melakukan perjalanan lebih leluasa, dari pada sebagai seorang gadis cantik dan muda.

Semestinya Tan Beng San serta isterinya akan merasa sangat bahagia setelah mereka mendapatkan murid-murid yang cukup banyak untuk dapat dijadikan anggota Thai-san-pai yang akan mereka resmikan pendiriannya. Akan tetapi, sebagaimana lajimnya kehidupan manusia di dunia ini, selalu tidak mungkin sempurna, tidak ada kebahagiaan sempurna selama manusia masih hidup, pasti ada saja gangguan.

Hal yang sangat menggelisahkan hati dua orang gagah ini adalah sikap Cui Bi dalam hal perjodohan. Telah banyak sekali datang pinangan-pinangan, baik dari putera orang-orang berpangkat, putera tokoh-tokoh kenamaan di dunia kang-ouw, atau pendekar-pendekar muda yang sepak terjangnya benar-benar mengagumkan. Akan tetapi semua pinangan itu selalu ditolak mentah-mentah oleh Cui Bi, sampai akhirnya datang pinangan dari Ketua Kun-lun-pai yang menjadi sahabat baik dari Tan Beng San sendiri.

Pembaca kiranya masih ingat kepada Bun Lim Kwi, pendekar Kun-lun-pai yang terjodoh dengan Thio Eng puteri tokoh Pek-lian-pai dan murid Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang. Setelah Ketua Kun-lun-pai yang sudah tua meninggal dunia, Bun Lim Kwi diangkat menjadi ketua baru dari Kun-lun-pai. Bun-paicu ini mempunyai seorang putera tunggal dan diberi nama Bun Wan.

Bun Wan seorang pemuda yang ganteng dan gagah, bertubuh tinggi besar dan berwatak jujur, ilmu silatnya pun amat tinggi. Ketika dalam perantauan, Tan Beng San dan isterinya pernah singgah di Kun-lun dan pernah melihat Bun Wan ini yang mendatangkan kesan baik dalam hati mereka.

Oleh karena itulah, ketika datang lamaran dari Kun-lun, serta merta Tan Beng San dan isterinya setuju karena dalam pandangan mereka, sudah patut sekali kalau puteri mereka menjadi isteri pemuda Bun Wan itu. Bun Wan tampan dan gagah, keturunan orang-orang gagah, putera Ketua Kun-lun-pai yang besar dan terkenal, mau apa lagi? Sukar kiranya mencari mantu yang melebihi Bun Wan ini.

Maka, setelah bersepakat, suami isteri Thai-san ini menerima pinangan itu, tanpa pernah bertanya lagi kepada Cui Bi karena gadis ini sedang merantau. Bun Lim Kwi yang datang sendiri ke Thai-san menjadi girang dan amat berterima kasih, lalu kembali ke Kun-lun-pai setelah mendapat keterangan dari suami isteri Thai-san bahwa persoalan itu selanjutnya akan ditentukan hari pernikahannya sehabis peresmian pendirian Thai-san-pai.

Akan tetapi alangkah mengkal dan duka hati suami isteri ini ketika Cui Bi datang dan diberi tahu tentang ikatan jodoh ini. Gadis itu marah-marah, bahkan pada malam harinya lari pergi dari Thai-san tanpa memberi tahukan ayah bundanya.

"Hemm, anak itu terlalu manja!" Beng San membanting kaki dan mendongkol sekali. “Kali ini ia mau tidak mau harus menurut kehendak kita! Aku akan menyusul dan mencarinya."

Li Cu memegang tangan suaminya. "Jangan, terburu nafsu. Ingatlah bahwa Cui Bi baru berusia tujuh belas, mungkin perkawinan merupakan hal asing yang menakutkan hatinya. Tidak perlu disusul dan dipaksa, jangan-jangan ia akan semakin keras kepala dan nekat menolak. Tunggulah, aku yakin sekali dia akan pulang menjelang pendirian Thai-san-pai dan perlahan-lahan nanti kita bujuk. Serahkan saja kepadaku untuk membujuknya."

Beng San mengerutkan keningnya. "Ahh, kau selalu memanjakan dia, maka sekarang dia begitu keras kepala, selalu hendak membantah kehendak orang tua."

"Suamiku, bagaimana takkan begitu jadinya kalau Bi-ji itu merasa bahwa dia adalah anak tunggal kesayangan kita? Aku memang bersalah," ia menundukkan mukanya. "Aku terlalu memanjakan dia. Tapi... tapi kiraku kalau adiknya ini sudah terlahir, dia tidak akan begitu manja lagi..." Li Cu meraba perutnya yang sudah mengandung empat bulan lebih itu.

Beng San berubah mukanya. Cepat ia memegang kedua tangan isterinya dan dibawanya ke muka, diciuminya. "Ahh, maafkan aku... Li Cu, kau tahu, aku tidak menyalahkan kau, bukan begitu maksudku... ahh, aku hanya terlalu bingung dan gelisah memikirkan Cui Bi. Kita sudah menerima pinangan dari Kun-lun-pai, bagaimana jika kelak dia tetap berkeras menolaknya?"

Li Cu menarik kedua tangannya, memandang pada suaminya dengan penuh cinta kasih. "Kau selalu baik sekali. Percayalah, aku akan membujuk Bi-ji (Anak Bi)."

Suami isteri ini mengatur persiapan perayaan yang dilakukan oleh para anggota Thai-san-pai. Murid Thai-san-pai jumlahnya ada tiga puluh orang lebih dan mereka ini rata-rata sudah berusia tiga puluh tahun lebih. Malah mereka yang sudah berumah tangga dan tinggal di luar, sekarang pada datang untuk membantu.

Ramai dan gembira keadaan di puncak Thai-san ini. Selain mengatur hiasan-hiasan, juga pada beberapa tempat dibangun pondok-pondok darurat untuk para tamu yang diduga akan membajiri Thai-san-pai.

Para murid ini telah menerima pelajaran ilmu silat yang cukup tinggi juga, yaitu Ilmu Silat Thai-san Kun-hoat yang diciptakan oleh Tan Beng San dengan jalan menggabung ilmu silatnya dan ilmu silat isterinya yang mengutamakan keindahan, kecepatan dan cara yang praktis untuk merobohkan lawan tanpa membunuh, sesuai dengan jiwa Beng San yang tidak suka membunuh orang.

Telah dituturkan di bagian depan cerita ini bahwa Beng San dan isterinya melanjutkan usaha Cia Hui Gan, yaitu membuat jalan rahasia yang menuju ke puncak tempat tinggal mereka. Hanya mereka berdua, anak mereka, dan para murid saja yang tahu akan jalan rahasia yang amat sulit ini.

Jika dilihat dari jauh, agaknya tak mungkin mendatangi puncak di mana terdapat tempat tinggal mereka atau yang menjadi pusat dari Thai-san-pai, karena puncak itu dikurung jurang-jurang yang amat terjal dan tak mungkin dilalui manusia, kecuali kalau manusia itu dapat terbang seperti burung. Bahkan anak murid yang belum tamat, tidak diberi tahu tentang jalan rahasia ini dan karenanya mereka tak dapat meninggalkan puncak sebelum pelajaran mereka tamat. Karena adanya jalan rahasia inilah maka musuh-musuh besar suami isteri itu, di antaranya Song-bun-kwi, tidak berdaya menyerbu Thai-san-pai.

Jalan rahasia ini setiap saat bisa dirubah-rubah sehingga andai kata ada seorang musuh yang berhasil mendapatkan rahasia pada hari itu, pada lain harinya pengetahuannya itu akan sia-sia belaka karena setelah dirubah, rahasia itu akan jauh berlainan dengan yang sudah-sudah.

Untuk menjaga rahasia gunungnya, Beng San sengaja hendak mengadakan perayaan pendirian Thai-san-pai itu di bawah puncak, sehingga ia tidak usah mendatangkan para tamu ke puncak dan karenanya tidak perlu pula ia membuka rahasia itu.

Para anak murid Thai-san-pai sudah siap siaga di bawah puncak. Sebelum hari ditetapkan tiba, kurang satu minggu anak murid sudah siap menyambut para tamu, mewakili ketua mereka. Beng San sendiri tidak mau turun dari puncak sebelum hari yang ditentukan tiba. Ia dan isterinya sedang menanti datangnya para anak murid yang bertempat tinggal jauh, juga menanti datangnya puteri mereka, Tan Cui Bi.

Para tamu mulai berdatangan dan sibuklah anak murid Thai-san-pai menyambut mereka. Yang mewakili Beng San mengadakan penyambutan dan menyampaikan maaf ketuanya karena sibuk sehingga baru akan muncul pada hari yang sudah ditetapkan, adalah Oei Sun, murid tertua, seorang laki-laki bertubuh tinggi kurus berusia empat puluh tahun.

Macam-macam sikap para tamu saat menerima penyambutan yang hanya dilakukan oleh murid tertua Thai-san-pai ini. Mereka ini kesemuanya amat menghormat dan mengagumi Raja Pedang Tan Beng San, namun apakah artinya murid Thai-san-pai yang baru saja berdiri ini?

Ada yang menerima penyambutan dengan hormat, ada yang berterima kasih dan berdiam diri saja, akan tetapi ada pula yang bersungut-sungut, mereka menganggap bahwa Ketua Thai-san-pai tidak memandang mata kepada mereka. Akan tetapi, karena sungkan kalau mendatangkan keributan, mereka menerima saja dan mendiami tempat masing-masing, yaitu bangunan-bangunan darurat yang sudah disediakan untuk mereka.

Seorang di antara para tamu, Lai Tang yang berjuluk Cakar Naga, seorang guru silat dari kota raja yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa dan berwatak kasar pongah, ketika mendapat sambutan ini segera berkata sambil berjalan ke arah pondok yang ditunjukkan baginya.

"Hemm, hemm, Thai-san-pai Ciangbunjin (Ketua) sedang sibuk dan tidak ada kesempatan menyambut kedatanganku? Membikin kakiku terasa berat saja menaiki Thai-san."

Semua tamu mendengar ini dan beberapa orang di antaranya lalu berseru kagum ketika melihat betapa jejak kaki guru silat tinggi besar ini tercetak di tanah dan memperlihatkan bekas sedalam sepuluh sentimeter lebih pada tanah yang keras itu!

Demonstrasi yang diperlihatkan Lai Tang itu menunjukkan bahwa tenaga lweekang-nya cukup hebat, agaknya sengaja ia perlihatkan untuk mengejek bahwa seorang anak murid Thai-san-pai yang tidak ada nama itu tak cukup berharga untuk menyambut seorang tamu yang berkepandaian selihai dia!

Terdengar Oei Sun tertawa ramah, lalu berkata, "Maaf, maaf, Lai-kauwsu (Guru Silat Lai), Suhu telah memesan agar menyampaikan maafnya dan memesan supaya siauwte dapat melayani semua tamu dengan hormat. Biarlah siauwte yang meringankan kalau Kauwsu merasa berat kaki."

Setelah berkata demikian, dengan tenang dia berjalan pula melangkah di dekat jejak kaki guru silat itu dan... bekas kaki yang amblas sepuluh senti meter itu segera lenyap karena tanahnya sudah rata kembali!

Semua tamu kembali berseru memuji dan guru silat Lai itu menengok, melihat apa yang dilakukan oleh Oei Sun. Mukanya segera menjadi merah dan ia cepat-cepat membalikkan tubuh dan mengangkat tangan memberi hormat kepada Oei Sun.

"Panglima yang pandai mempunyai prajurit yang hebat pula! Sahabat, dengan kepandaian seperti yang kau miliki ini, tentu saja aku sudah merasa cukup terhormat bisa mendapat penyambutanmu!"

Sesudah berkata demikian, Lai Tang berjalan menuju ke pondoknya sambil tertawa tulus. Senang hati Oei Sun karena meski pun pongah dan kasar, kiranya guru silat she Lai itu cukup jujur dan terbuka hatinya.

Di kaki puncak itu telah dibuat tanah datar yang amat luas dan di tengah dibangun teratak tinggi, setinggi dua meter dengan bentuk persegi empat berukuran lima meter. Di ujung teratak yang lantainya terbuat dari papan tebal dan tiang-tiangnya di bawah dari balok besar-besar ini dipasangi meja sembahyang.

Teratak tanpa atap inilah yang nanti akan menjadi tempat dilakukannya upacara pendirian Thai-san-pai dan sengaja dibuat dalam bentuk seperti biasa orang membuat panggung lui-tai di mana orang akan dapat bermain silat cukup leluasa. Bukan hal aneh kalau setiap pertemuan di antara para jago-jago silat atau dalam partai-partai persilatan, dibuat teratak semacam ini untuk memberi kesempatan orang bermain silat atau bertanding kepandaian silat.

Banyak juga tamu yang datang, sampai tak kurang dari lima puluh orang yang mendapat tempat istirahat di pondok-pondok darurat di kaki puncak. Namun rombongan-rombongan besar dari partai-partai terkenal seperti dari Kun-lun-pai, Bu-tong-pai, Siauw-lim-pai dan lain-lain, adalah partai-partai yang dipimpin oleh orang-orang terkenal.

Mereka adalah orang-orang tahu diri dan tidak suka mendesak-desak, maka sebelum tiba hari yang ditentukan, mereka tidak mau naik ke kaki puncak, tapi berhenti di lereng-lereng dan mencari tempat peristirahatan di dalam hutan-hutan yang pemandangannya indah dan hawanya sejuk. Juga tokoh-tokoh besar perorangan belum ada yang muncul ke kaki puncak karena orang-orang seperti mereka ini pun tentu saja bersikap ‘jual mahal’ dan tidak muncul sebelum Ketua Thai-san-pai keluar dari sarangnya.

Pendeknya, biar pun yang terlihat berkumpul di kaki puncak hanya ada lima puluh orang, namun di lereng-lereng Thai-san telah datang banyak orang yang masih menyembunyikan diri di tempat peristirahatan masing-masing, di dalam hutan-hutan yang banyak terdapat di seluruh permukaan Pegunungan Thai-san itu.

Selama menunggu datangnya hari penentuan itu, mereka yang datang ke Thai-san, baik yang sudah diterima oleh murid kepala mau pun yang masih berdiam menanti di lereng, setiap hari berjalan-jalan menikmati pemandangan alam yang indah bukan main. Mereka yang datang dari gunung-gunung lain lalu membandingkan pemandangan di situ dengan tamasya alam di tempat masing-masing.

Rata-rata mereka memuji akan keindahan Thai-san dan diam-diam menyatakan kagum kepada Raja Pedang Tan Beng San yang pandai memilih tempat untuk dijadikan pusat perkumpulannya. Ada pula yang memuji nasib baik Raja Pedang itu karena telah menjadi mantu Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan yang dahulu merajai daerah pegunungan ini. Namun, banyak pula di antara tamu yang merasa penasaran melihat bahwa tempat upacara dan pertemuan tidak diadakan di puncak, melainkan di kaki puncak.

"Hemmm, Ketua Thai-san-pai sungguh tidak memandang kepada kita!" beberapa orang di antara mereka berkata, "Apakah puncak tempat tinggal mereka itu terlalu bersih sehingga takut dikotori kaki kita?"

Ada pula yang mengomel, "Kabarnya jalan rahasia Thai-san-pai benar-benar amat hebat dan yang paling sukar dipecahkan di antara tempat-tempat rahasia di dunia ini. Aku ingin mendapat kesempatan ini untuk melihatnya. Siapa tahu, Ketua Thai-san-pai begini pelit sehingga tidak mau memperlihatkan puncak. Apakah dia takut kalau kita akan mencuri barang-barang yang berharga?"

Macam-macam pendapat orang, pada pokoknya banyak yang merasa penasaran. Malah perasaan ini mendatangkan bermacam-macam kejadian, bahkan ada pula yang hebat akibatnya. Beberapa kelompok bahkan berusaha untuk mencari sendiri jalan rahasia itu, bermaksud untuk mendaki puncak dan mencari jalannya. Akan tetapi akibatnya, mereka ini berkeliaran di hutan-hutan, sesat tidak karuan dan selama dua hari baru dapat keluar dari hutan-hutan yang sulit dilalui, dengan tubuh lemas dan perut lapar, malah ada yang hampir mati dikeroyok ular atau binatang lain!

Lebih celaka lagi, ada yang pergi seorang diri, diam-diam mempergunakan kepandaian menawan seorang anak murid Thai-san-pai, menyeretnya ke dalam hutan dan memaksa anak murid itu untuk mengaku dan membuka rahasia jalan ke puncak. Orang ini terlalu memandang rendah anak murid Thai-san-pai.

Biar pun murid yang ia lawan itu tidak sanggup melawannya karena kalah tinggi tingkat kepandaiannya, tetapi setiap orang murid Thai-san-pai adalah orang pilihan yang memiliki kesetiaan luar biasa. Murid Thai-san-pai itu tidak mau membuka rahasia pertanyaannya, biar pun ia disiksa oleh Si Penawannya, malah kemudian sampai tewas dan ditinggalkan mayatnya begitu saja di dalam hutan itu.

Si Penawan ternyata gagal mendapatkan rahasia Thai-san-pai dan dengan hati kecut ia meninggalkan tawanannya yang sudah menjadi mayat, takut kalau-kalau akan ketahuan rahasianya. Dengan wajah biasa dan sikap tenang orang ini kembali di antara para tamu. Ributlah para anak murid Thai-san-pai ketika mereka mendapatkan seorang saudaranya tewas di dalam hutan. Namun mereka tidak memperlihatkan kegugupannya.

Oei Sun yang mendengar tentang ini, dengan tenang menyuruh seorang murid melapor kepada suhu-nya serta membawa mayat saudara seperguruannya itu naik ke puncak pula untuk diperiksa oleh ketua mereka. Kejadian ini berlangsung tanpa banyak menimbulkan keributan, namun tentu saja berita ini tersiar luas di antara para tamu sehingga mereka ini diam-diam menjadi tegang karena menduga bahwa tentu akan terjadi pertandingan hebat antara Thai-san-pai dengan orang-orang yang memusuhinya, di antaranya orang-orang yang telah membunuh anak murid Thai-san-pai itu!

Lima hari sebelum bulan pertama, yaitu hari pendirian Thai-san-pai, datanglah Tan Cui Bi bersama Tan Kong Bu ke tempat penyambutan. Para anak buah murid Thai-san-pai tentu saja menyambut kedatangan Cui Bi dengan gembira.

Akan tetapi Oei Sun memandang sumoi-nya (adik perempuan seperguruan) ini dengan mata diliputi kemuraman, lalu menarik tangan sumoi-nya masuk ke dalam pondok. Sambil tertawa Cui Bi memberi tanda kepada Kong Bu untuk turut pula ke dalam. Ketika Oei San melihat ini, keningnya berkerut, akan tetapi Cui Bi berkata,

"Oei-suheng, dia ini bukan orang luar. Dia... hemm, belum waktunya kau mengetahui hal ini. Aku dan Kong Bu-koko ini tidak akan segera naik menemui Ayah Ibu, karena kami berdua hendak menanti datangnya tiga orang murid Hoa-san-pai. Aku sendiri yang harus menyambut mereka dan setelah mereka mendapat pondokan yang baik, barulah aku akan menghadap Ayah Ibu. Eh, Suheng, kenapa kau kelihatan tak senang dan gelisah? Apakah yang terjadi?"

Walau pun Cui Bi merupakan adik seperguruan, namun tentu saja Oei Sun menganggap gadis muda ini seperti atasannya karena gadis ini adalah puteri gurunya dan dia maklum bahwa dalam hal kepandaian, ia tidak ada setengahnya sumoi-nya yang nakal ini.

"Sumoi, aku merasa agak kecewa bahwa kau sama sekali tidak muncul lebih siang untuk membantu keperluan kita. Kau tahu, baru saja kemarin terjadi hal yang menggemaskan."

Lalu murid tertua ini bercerita tentang tewasnya seorang murid Thai-san-pai secara aneh itu.

"Ternyata di antara para tamu terdapat musuh-musuh curang dari Suhu sehingga mereka itu melakukan pembunuhan sebelum Suhu sendiri turun dari puncak. Bukankah ini amat menggemaskan?" berkata Oei Sun sambil membanting-banting kaki. "Thai-san-pai belum diresmikan pendiriannya saja sudah harus menelan penghinaan ini. Hemmm, ingin sekali aku mengetahui siapa yang melakukan perbuatan ini dan ingin aku berhadapan dengan dia!"

Tentu saja Cui Bi juga marah mendengar ini. "Benar-benar jahat dan curang sekali! Kalau memang mau mencari perkara dengan kita, kenapa tidak terang-terangan saja? Hemmm, coba dia berani memperkenalkan diri, tak akan mau sudah aku kalau belum kupenggal batang lehernya. Suheng, sambil menanti datangnya teman-teman dari Hoa-san-pai, aku akan memasang mata. Kurasa, orang yang membunuh itu tentu telah menculik saudara kita itu untuk dipaksa memberi tahu tentang rahasia jalan ke puncak. Apakah di tubuh Suheng itu terdapat tanda luka-luka berat?"

Oei Sun memandang kagum. Memang harus ia akui bahwa sumoi-nya ini biar pun masih muda, akan tetapi memiliki kecerdikan luar biasa. "Kau benar, Sumoi. Memang begitulah agaknya, akan tetapi derita yang dialami oleh Sute itu hebat, seperti ditusuk benda panas, tentu sebelum meninggal dia menderita sekali."

Cui Bi lalu minta disediakan sebuah pondok yang letaknya agak jauh dan tersembunyi karena dia hendak melakukan pengintaian selama menanti kedatangan Kun Hong dan Li Eng. Juga ia mengharapkan kedatangan Hui Cu yang sampai sekarang belum ia ketahui bagaimana nasibnya itu.

Sebentar saja kedukaan akan kematian seorang suheng-nya telah tak berbekas pula. Di dalam pondok ia menggoda kakak tirinya.

"Bu-ko, hatimu tentu berdebar-debar, bukan?"
"Apa maksudmu? Mengapa kita harus menanti di sini? Bukankah lebih baik terus saja ke puncak menemui... Ayah?" Kaku juga pemuda ini menyebut ayah yang selamanya belum pernah ia lihat itu.
"Hishh, benarkah kau begitu terburu-buru? Ataukah kau diam-diam ingin segera melihat kedatangan... dia?"
"Bi-moi, kau selalu menggodaku tentang Nona Kui Li Eng itu. Hmmm, tahukah kau apa yang akan terjadi apa bila aku dan dia bertemu? Kami berdua sudah saling menantang, kalau sekali lagi bertemu akan mengadu pedang!"

Akan tetapi Cui Bi tidak heran malah tertawa manis. "Tentu saja, maksud dia itu hendak menjatuhkan hatimu, bukan pedangmu. Padahal, tanpa usaha itu pun kau sudah jatuh. Bukan begitu?"

Kong Bu benar-benar merasa bohwat (tak berdaya) menghadapi adik tirinya yang nakal ini. "Sudahlah... sudahlah, Moi-moi. Siapa tidak tahu, bahwa kaulah yang rindu kepada... kutu buku itu?"

Seketika wajah Cui Bi berubah, matanya membelalak. Seakan-akan hal ini merupakan hal yang baru baginya, atau sesuatu yang baru saja teringat olehnya. Hatinya berdebar keras, membuat wajahnya seketika menjadi merah sekali.

Ia seorang gadis yang jujur, tak suka berpura-pura, apa lagi terhadap kakak tirinya yang baginya sudah dianggap sebagai kakak kandungnya sendiri itu. Ia menunduk, termenung, tak dapat berkata-kata lagi, seakan-akan lupa bahwa kakak tirinya berada di situ.

Melihat adiknya tiba-tiba menunduk dan termenung itu, Kong Bu kuatir kalau ia membuat adiknya tidak senang. Ia menyentuh pundaknya dan berkata, "Kau kenapa? Aku hanya main-main, jangan marah. Kau tukang menggoda orang, tapi jika digoda sedikit saja, lalu ngambek!"

Akan tetapi ketika adiknya itu mengangkat muka memandangnya, hati Kong Bu tertegun. Adiknya ini tidak ngambek, tidak pula marah, tetapi kelihatan terharu dan bingung!

"Bu-ko, apakah kau pikir betul-betul aku rindu kepadanya?"

"Lho, mengapa urusan begitu kau bertanya kepadaku? Habis, kau sendiri bagaimana?"

"Aku... aku tidak tahu, Bu-ko, aku tak tahu. Hanya terus terang saja, aku memang... ingin sekali melihatnya. Lucunya ia mengira aku seorang laki-laki. Ah, Bu-ko, aku meragu. Apa yang harus kulakukan?"

Kong Bu terharu. Adik tirinya ini benar-benar seorang yang berhati polos, dan terhadap dia tidak mau menyimpan rahasia apa-apa, begitu jujur dan menaruh kepercayaan yang besar sekali. Hal ini membuatnya terharu dan makin mendalam rasa sayangnya kepada adik tiri ini.

“Aku harus membelanya, harus melindunginya. Aku ingin melihat dia berbahagia, adikku sayang ini,” pikirnya.
"Bu-ko, kau lihat orang she Kwa itu orang yang bagaimana?" tanya pula Cui Bi dengan mendadak.
"Hemm, mana aku tahu? Hanya sebentar aku bertemu dengan dia. Dia memang orang aneh, semuda itu kata-katanya mengandung filsafat-filsafat tinggi. Kau... kau yang sudah cukup lama melakukan perjalanan bersama dia tentu lebih mengenal sifat-sifatnya. Tetapi dia itu... kutu buku yang lemah, seperti yang kau katakan sendiri. Apakah sifat ini sesuai dengan kau... seorang gadis yang memiliki kepandaian tinggi dan jiwa gagah perkasa?"

Cui Bi menggeleng kepalanya berkali-kali. "Entahlah... entahlah... dia aneh, Koko. Ah, aku bingung..."

Kedatangan dua orang itu tidak menarik perhatian para tamu. Siapa memperhatikan dua orang muda yang bersahaja itu? Hanya dua orang pemuda yang ganteng, tidak ada apa pun yang aneh. Tentu saja tidak ada di antara mereka yang tahu bahwa seorang di antara dua pemuda itu adalah puteri dari Ketua Thai-san-pai dan tidak ada yang tahu pula bahwa pemuda yang seorang lagi adalah cucu yang tergembleng dari Kakek Song-bun-kwi!

Alangkah girangnya hati Cui Bi, dan diam-diam juga hati Kong Bu, ketika pada keesokan harinya tiba tiga orang muda yang bukan lain adalah Kun Hong, Li Eng, dan Hui Cu di kaki puncak itu! Lebih besar lagi kegirangan Cui Bi karena melihat bahwa Hui Cu juga sudah berada dengan pemuda itu dalam keadaan selamat.

Berlari-larian dia menyambut kedatangan tiga orang itu, diikuti oleh Kong Bu yang agak meragu berjalan di belakangnya.

"Adik Cui Bi...!" Kun Hong berseru dan tanpa ragu-ragu lagi dia memegang kedua tangan sahabat ini. "Alangkah girangku melihat kau di sini! Ahh, adik yang nakal, kenapa tempo hari kau pergi begitu saja tanpa pamit? Aku... aku hendak memperkenalkan kau dengan keponakan-keponakanku. Ini dia Li Eng yang sering kali kuceritakan kepadamu, dan ini Hui Cu. Anak-anak, inilah pemuda aneh murid Thai-san-pai yang sering kali kuceritakan kepada kalian. Dia hebat!"

Diam-diam Cui Bi yang mukanya menjadi merah sekali itu bertukar pandang dengan Kong Bu yang juga sudah sampai di situ.

"Ehhh, kau juga di sini? Bersama-sama Bi-laote?" Kun Hong menegur kaget dan heran melihat Kong Bu berada pula di situ dengan sahabatnya itu.

Akan tetapi yang ditegur hanya mengerling kepada Li Eng yang sebaliknya memandang kepadanya dengan mata marah!

Panas rasa dada Li Eng. Tentu saja panas melihat pemuda yang dibencinya itu berada bersama Cui Bi! Hemm, dia tidak sebodoh pamannya. Akan tetapi terpaksa ia menahan panas hatinya itu karena Cui Bi sudah merangkapkan kedua tangan dan memberi hormat kepadanya serta kepada Hui Cu.

"Syukur kalian sudah datang!" Cui Bi berseru gembira. "Aku sudah menyediakan sebuah pondok yang besar untuk kalian. Mari, marilah silakan ke pondok untuk beristirahat sambil bercakap-cakap. Hong-ko kita masih banyak waktu, masih empat hari lagi dari hari yang ditentukan. Kalian bisa beristirahat sambil menikmati keindahan tempat kami."

Cui Bi kemudian menggandeng tangan Kun Hong ke pondok besar yang agak menyendiri letaknya, berdekatan dengan pondok Cui Bi sendiri. Memang untuk sahabat-sahabatnya dari Hoa-san-pai dia sengaja memilih dua pondok berjajar yang agak terpisah jauh dari pondok-pondok para tamu itu.

Pada saat melihat bahwa pondok itu tidak mempunyai kamar-kamar terpisah. Kun Hong menjadi agak bingung. "Ahhh, mengapa pondok ini tanpa kamar? Habis, bagaimana kita bisa bermalam di sini?” Ia memandang kepada dua orang keponakannya.

Li Eng tertawa, lalu berkata, "Mengapa bingung? Aku dan Enci Hui Cu tentu saja tidur sepondok dengan dia! Hayo, Saudara Cui Bi, kita mengobrol di pondok yang satunya."

Tanpa ragu-ragu lagi Li Eng menggandeng tangan Cui Bi, ditariknya memasuki pondok kedua diikuti oleh Hui Cu yang tersenyum-senyum.

Kun Hong melongo, kemudian membentak, "Eng-ji, apa kau gila...?!"

Akan tetapi alangkah herannya ketika dia melihat Cui Bi tidak menjadi marah atau malu, malah tertawa-tawa sambil merangkul Li Eng, juga Hui Cu lalu mendekat dan merangkul sehingga tiga orang itu, Cui Bi di tengah-tengah, dirangkul oleh dua gadis keponakannya, memasuki pondok sambil tertawa-tawa!

"Gila...! Mereka gila semua... ataukah aku yang gila...?" Kun Hong berkata seorang diri dengan mata tetap terbelalak.

Diam-diam Kong Bu memperhatikan pemuda Hoa-san-pai itu dan ia menjadi geli hatinya. Pemuda Hoa-san-pai ini benar-benar tidak berpura-pura dan memang tak pernah mengira bahwa Cui Bi adalah seorang wanita. Ia tidak terlalu menyalahkannya karena dia sendiri juga tadinya tertipu oleh adik tirinya yang nakal itu.

Agaknya dua orang gadis Hoa-san-pai itu, oleh karena sama-sama wanita, begitu bertemu sudah dapat mengenal keadaan sesungguhnya dari Cui Bi.

"Saudara Kwa Kun Hong, bukan mereka yang gila, juga kau tidak gila, hanya kau itu telah tertipu. Adik Cui Bi bukanlah seorang pria, melainkan seorang gadis, puteri tunggal Ketua Thai-san-pai."
"Ohhh..." Kun Hong makin melongo, kemudian mukanya tiba-tiba berubah merah sekali.

Dia teringat betapa tadi dalam pertemuan itu dia begitu girang dan memegang kedua tangan ‘pemuda’ itu begitu mesra. Kalau ia tahu ia seorang gadis…!

Kalau tahu mau apa? Ia pernah ditempeleng, pernah dihina dimaki. Tapi, mengapa gadis itu mau melakukan perjalanan bersama dia? Mau membelanya? Ahhh, apa artinya semua ini…?

Kong Bu tertawa dan menepuk-nepuk Kun Hong.

"Tidak usah heran, aku sendiri pun pernah tertipu olehnya. Sudahlah, kau kelihatan lelah sekali, sekarang kau mengasolah. Malam ini aku mempunyai tugas penting, tak usah kau menunggu aku. Nanti akan ada anak murid Thai-san-pai yang mengantarkan hidangan untukmu.”

Sebelum Kun Hong sempat bicara, pemuda itu telah pergi meninggalkannya, keluar dari pondok. Kun Hong tidak berani mencegah karena ia belum mengenal betul pemuda cucu Song-bun-kwi itu.

Otaknya diputar. Banyak hal menimbulkan keheranan dan kebingungannya. Banyak hal hendak dia tanyakan kepada pemuda itu, namun pemuda itu telah meninggalkannya dan betul-betul ia merasa lelah setelah melakukan perjalanan jauh itu.

Benar saja, menjelang malam, seorang anak murid Thai-san-pai yang gagah dengan sikap hormat sekali mengantarkan hidangan sederhana. Anak murid ini pendiam sekali dan penuh hormat sehingga Kun Hong merasa tidak enak bahwa sebagai seorang tamu ia banyak bertanya-tanya, apa lagi mengenai diri puteri Ketua Thai-san-pai.

Ia makan seorang diri, lalu merebahkan diri di atas pembaringan kayu yang berada di dalam pondok. Mengapa Hui Cu atau Li Eng tidak muncul? Apakah mereka juga lelah? Ahh, aku harus mencari mereka.

Tidak enak sekali rasa hatinya. Kalau ia teringat akan pengalamannya dengan Cui Bi yang selama ini disangkanya seorang pria itu, ia merasa amat malu. Bagaimana ia akan berani berhadapan dengan Paman Tan Beng San? Ke mana ia harus menaruh mukanya kalau nanti bertemu dengan Cui Bi?

Malam itu terang bulan, akan tetapi banyak awan hitam di angkasa raya yang sebentar-sebentar menutupi bulan. Kun Kong keluar dari pondoknya. Memang pondok ini agak jauh dari pondok-pondok lain yang penuh tamu. Pondok-pondok lain itu tidak kelihatan dalam kegelapan malam, hanya sinar api penerangan yang berkelap-kelip nampak dari jauh.

Siapa tahu kalau-kalau dua orang keponakannya itu lagi berada di luar pondok mereka, pikirnya. Dia berjalan hati-hati menghampiri pondok yang hanya terpisah beberapa puluh meter itu dari pondoknya. Sunyi sekali di pondok itu, malah api penerangannya juga telah padam. Agaknya tiga orang itu sudah tidur.

Hati-hati sekali Kun Hong menghampiri. Ketika bulan menyinarkan cahayanya menembus awan tipis, hatinya girang melihat bayangan seorang gadis duduk di belakang pondok, di atas sebuah batu besar.

Tak salah lagi, itulah Hui Cu, seorang diri melamun! Hui Cu duduk membelakanginya dan dengan hati-hati tapi cepat Kun Hong menghampirinya.

"Ssttt, Hui Cu, kau belum tidur?" bisiknya menghampiri.

Hui Cu diam saja, seakan-akan tidak mendengarnya.

"Cu-ji (Anak Cu), celaka sekali..." Kun Hong kini mendekat dan berdiri di belakang gadis itu. "Kita harus lekas-lekas pergi meninggalkan tempat ini! Ahhh, celaka, tak mungkin aku dapat menghadap Paman Tan Beng San setelah semua kejadian ini. Tak mungkin dapat aku berhadapan dengan... dia. Ahh, siapa tahu, kiranya ia seorang gadis..."

Terdengar Hui Cu tertawa perlahan, ditahan-tahan, tubuhnya bergerak sedikit akan tetapi mukanya tidak kelihatan jelas karena bulan tertutup awan hitam.

"Hui Cu, kau malah mentertawakan aku? Kau tidak tahu, betapa memalukan dan tak patut kelakuanku terhadap dia. Aku maki dia pemuda pesolek, aku mengatakan dia banci, aku marah dan dia agaknya benci kepadaku, lalu dia menampar pipiku, memaki aku pemuda sombong. Ahh, kau tidak tahu, Hui Cu, aku tidak ada muka untuk bertemu dengannya. Lekas kau beri tahukan Li Eng, bangunkan perlahan-lahan dan kita pergi meninggalkan tempat ini. Kalau kau dan Li Eng tidak mau, terpaksa aku sendiri akan pergi, aku tidak berani bertemu dengan dia dan orang tuanya."

Hui Cu sudah turun dari batu dan berdiri di depannya. Melihat keponakannya ini diam saja, Kun Hong memegang kedua tangannya diguncang-guncang dan ia berkata penuh permintaan, "Hui Cu, jangan anggap hal ini sebagai main-main. Aku benar-benar malu, kenapa kau acuh tak acuh? Lekas masuk ke pondok dan beri tahu Li Eng, malam ini juga aku akan pergi."

Perlahan-lahan awan hitam tertiup angin meninggalkan bulan sehingga perlahan-lahan sinar bulan menerangi tempat itu.

"Hui Cu, mengapa kau diam saja? Mengapa... aihhhh, kau ini siapa... ahhh..." Kun Hong terbelalak dan mulutnya ternganga memandang wajah gadis yang disangkanya Hui Cu itu.

Wajah yang seperti bulan purnama itu sendiri, gilang gemilang dengan sepasang mata bening bersinar-sinar. Hidungnya kecil mancung, di atas sepasang bibir yang setengah tersenyum mengejek, yang manis luar biasa, yang pernah membuat dia kehilangan rasa bencinya… wajah seorang gadis cantik jelita melebihi bidadari kahyangan, wajah... Cui Bi!

"Aduh, celaka... aduh... aku tolol... ah..." Kun Hong gagap-gugup akan tetapi lupa bahwa sejak tadi ia masih memegangi kedua tangan gadis itu!
"Hong-ko..." suara merdu yang sudah amat dikenalnya, terlalu dikenalnya, suara yang dahulu pun ketika gadis ini dikiranya pria, sering mendatangkan rasa nikmat dan nyaman di hatinya.
"Hong-ko, kenalkah kau padaku?"
"Hemm, ehh, tentu saja, kau... ehh, kau Bi-laote (adik laki-laki Bi)."

Cui Bi tertawa, suara ketawanya perlahan, ditahan-tahan menyatakan bahwa ia merasa geli sekali. "Bi-laote...?" ia mengulang, matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri tertimpa cahaya bulan keemasan. Bibirnya tersenyum lebar sehingga nampak gigi putih berkilau sebentar.
"Eh... Oh... bagaimana aku ini...? Kau... Nona Tan..." Kemudian Kun Hong yang hendak mengangkat tangan memberi hormat baru sadar bahwa sejak tadi dia memegangi kedua tangan orang!
"Maaf... maaf sebanyak-banyaknya..." ia cepat melepaskan pegangannya dan menjura sambil membungkuk-bungkuk, "maafkan aku, Nona."
"Hong-ko, apa-apaan kau ini? Mendadak sontak menyebut nona-nonaan segala? Kalau begitu lebih baik kau seterusnya menyebut aku laote (adik laki-laki) saja!" Suara Cui Bi terdengar merajuk dan manja. Juga sikap ini amat dikenal oleh Kun Hong dan suara inilah yang dahulu membuat ia memaki Cui Bi sebagai anak manja, anak pesolek!
"Maaf... habis, bagaimana...?"
"Kau lebih tua dari pada aku. Kalau aku laki-laki, kau memanggil laote, kalau perempuan, masa kau tidak tahu harus memanggil apa? Kau menyebut ayahku paman, bukankah aku ini adik perempuanmu, adik misanmu?"
"Ohh, ya... ya, baiklah Siauw-moi (Adik Perempuan Cilik)."
"Hei, aku sudah berusia tujuh belas kau masih menyebut siauw-moi? Apakah kau anggap aku ini masih bocah?"
"Bi-moi-moi...," Kun Hong membetulkan kesalahannya.

Cui Bi nampak puas, lalu tiba-tiba ia menyambar tangan Kun Hong, dipegangnya seperti tadi Kun Hong memegang tangannya, seperti dahulu sebagai ‘Cui Bi pria’ ia memegang tangan sahabatnya.

"Hong-ko, marahkah kau kepadaku? Aku sudah menipumu."
"Tidak, tidak... kenapa mesti marah? Aku yang tolol."
"Tidak senangkah hatimu mendapat kenyataan bahwa sahabat baikmu itu ternyata adalah seorang wanita?"
"Tentu, senang... senang sekali, ehhh, aku..." Bingung Kun Hong teringat akan semua ucapannya tadi.
"Kau... apa? Kau datang ini hendak ke manakah? Hendak mencari Enci Hui Cu? Atau Li Eng?" Cui Bi melihat kebingungan pemuda itu sengaja menggoda.
"Tidak. Aku... aku tadi hendak... ehh, mencari tempat buang air..."

Mendengar jawaban yang tidak tersangka-sangka ini, Cui Bi menahan gelak tawanya, membuat Kun Hong makin bingung.

"Aiih, perutmu sakit, Hong-ko? Di sana itu, di belakang kelompok pohon kate itu, ada sebatang anak sungai, di sana kau bisa buang air. Hendak ke sanakah?"
"Ahh, tidak... maksudku, ehh, tidak jadi sakit Aku... aduh, Bi-moi, kenapa menggodaku? Bukankah kau sudah mendengar semua tadi? Aku malu, lebih-lebih sekarang aku malu sekali, Moi-moi..."

Cui Bi mempererat genggaman tangannya. "Hong-ko, kenapa malu? Seharusnya akulah yang malu kepadamu, karena aku yang banyak berbuat tak baik terhadapmu."

"Tidak, tidak! Akulah yang bodoh, yang buta, bagaimana aku berani kurang ajar terhadap puteri Paman Tan Beng San?"
"Aku sudah pernah menampar pipimu. Hong-ko, kau sudah berjanji takkan melaporkan hal itu kepada ayahku, tapi aku masih merasa salah kepadamu. Kau boleh menampar aku sekarang sebagai pembalasan."
"Wah, mana bisa? Malah aku akan girang kalau kau mau mengulang tamparanmu itu, untuk semua ucapanku yang kurang patut."

Cui Bi melepaskan pegangannya, berkata lembut, "Hong-ko duduklah."

Kun Hong dengan kikuk duduk di atas batu, gadis itu duduk di depannya. Mereka saling pandang di antara cahaya bulan yang kadang-kadang terang kadang-kadang gelap. Kun Hong merasa seakan-akan kerongkongannya tersumbat, hatinya berdebar tidak karuan dan dia tidak tahu harus berkata apa. Kikuk sekali rasanya sesudah berhadapan dengan sahabat baiknya yang ternyata seorang gadis itu.

"Hong-ko, sore tadi kau menyatakan amat girang bertemu denganku. Apakah sekarang kau juga masih merasa girang?"
"Aku girang sekali."
"Hong-ko, kau... sukakah kau kepadaku?"

Bukan main gadis ini, pikir Kun Hong. Gadis yang jujur dan terbuka hatinya. Pertanyaan itu seperti todongan pedang tajam di depan ulu hatinya.....

Kun Hong menggigit bibir, kemudian menekan debar jantungnya dan menjawab, suaranya bersungguh-sungguh,
"Bi-moi, aku suka kepadamu, aku suka sekali kepadamu. Entah mengapa, dahulu ketika kau menampar pipiku dan merampas pedangku, aku benci sekali kepadamu. Aku benci dan selalu mendongkol kepadamu. Setelah itu aku terheran sendiri mengetahui bahwa kebencian dan kemarahanku kepadamu itu bukan karena pribadimu, melainkan karena aku merasa bahwa kau tidak suka kepadaku! Aku tidak senang karena kau tidak suka padaku, begitu perkiraanku dahulu. Setelah kita saling jumpa kembali, dan kau... kelihatan suka kepadaku, tidak membenciku, malah membelaku, aku... ahh, sejak itu lenyap semua kebencianku kepadamu, menjadi suka sekali. Ketika kau pergi, ahh... memalukan sekali, aku merasa rindu, ingin bertemu, ingin berdekatan. Kuanggap kau sebagai sahabat yang luar biasa, entah mengapa, rasa sayang memenuhi hatiku. Setelah sekarang ternyata kau seorang wanita, ahhh... tak tahu aku, aku bingung, Moi-moi."

Bulan bersembunyi di balik awan sehingga Kun Hong tidak melihat betapa mata gadis itu menjadi basah air mata, tapi mulut gadis itu tersenyum bahagia.

"Hong-ko, katakan terus terang, apakah kau sekarang, setelah melihat bahwa sahabatmu ini seorang wanita, masih sayang kepadaku?"
"Ahh, soal itu... itu... ahh, mana aku berani begitu kurang ajar, Moi-moi? Mana aku berani menyatakan hal demikian kurang ajar? Kau adalah puterinya Paman Tan Beng San, kau berkepandaian tinggi, kau cantik jelita, sedangkan aku..."
"Kau seorang pemuda luar biasa, Hong-ko, Belum pernah selama hidupku aku bertemu dengan seorang seperti kau. Kau hebat, kau mengagumkan hatiku dan aku... aku amat suka kepadamu, Hong-ko. Hanya sayang..."
"Sayang... apakah, Moi-moi?"
"Hong-ko, apakah kau benar-benar tidak mengerti ilmu silat? Enci Hui Cu dan Enci Li Eng bercerita banyak tentang kau, katanya kau mengerti banyak teori ilmu silat, tetapi tidak pernah melatihnya. Betulkah?"
"Hemm, agaknya betul begitu."
"Kalau begitu, mudah saja kau berlatih silat. Kau berbakat baik sekali. Aku yakin, apa bila kau sudah berlatih, aku sendiri pun tak akan mampu melawanmu!" Cui Bi tampak gembira sekali.
"Sstttt...!" Tiba-tiba Kun Hong berdiri dan menoleh. Cui Bi juga menoleh dan masih dapat melihat bayangan orang berkelebat cepat sekali, menghilang di dalam gelap.
"Ada orang...," kata Cui Bi, terheran-heran mengapa ia kalah dulu oleh Kun Hong melihat orang itu tadi.

Kun Hong juga sadar bahwa tanpa terasa dia telah memperlihatkan kelihaian matanya, maka cepat-cepat ia berkata, "Aku kebetulan menengok dan melihat bayangannya. Adik Cui Bi, lebih baik kita berpisah, biarlah besok masih banyak waktu bercakap-cakap. Tidak baik orang melihat kita bicara berdua di sini."

Cui Bi mengangguk. "Dan... Hong-ko, apakah kau masih tetap bersikeras hendak pergi meninggalkan aku?"
"Tidak, tidak nanti!" kata Kun Hong.
"Selamanya?" desak Cui Bi.

Makin berdebar hati Kun Hong, apa lagi melihat gadis itu berdiri amat dekat. Tanpa terasa lagi ia pun memegang kedua tangan gadis itu, ditekannya erat-erat untuk beberapa detik sambil berkata, "Selamanya tidak akan kutinggalkan kau..."

Begitu Kun Hong melepaskan pegangan tangannya, gadis itu lari memasuki pondoknya, meninggalkan suara keluhan panjang, setengah tertawa setengah menangis.

Untuk beberapa menit Kun Hong berdiri mematung di tempat itu, lalu perlahan berjalan pulang ke pondoknya dengan wajah berseri-seri. Wajahnya berubah dan menjadi merah ketika dia memasuki pondok. Dia melihat Kong Bu sudah berbaring di atas dipan sambil memandang kepadanya dengan tersenyum.

"Kau sudah pulang...?" Kun Hong bertanya untuk menyembunyikan kegugupannya.

Kong Bu tersenyum lebar, "Sudah semenjak tadi aku menantimu. Ke manakah kau pergi, Saudara Kun Hong?"

"Aku... aku pergi buang air ke anak sungai di sana..."
"Ohh, begitukah?"

Kun Hong tak mau banyak bicara lagi dan segera merebahkan diri di atas dipan yang lain, lalu pura-pura tidur. Padahal sampai jauh tengah malam ia tidak dapat tidur. Wajah yang cantik itu terbayang-bayang terus di depan matanya. Lewat tengah malam barulah dapat tidur.

Pagi-pagi sekali Kun Hong telah terbangun akibat mendengar suara orang di luar pondok. Ketika ia bangkit duduk, ia tidak melihat lagi Kong Bu, maka ia segera memburu keluar. Tersipu-sipu pemuda ini ketika melihat Cui Bi sudah berada di luar dengan pakaian pria. Ia tidak jadi keluar dan berhenti di belakang daun pintu. Ia mendengar Cui Bi berkata,

"Kalau kau tidak melayaninya dan mengalahkannya, dia akan selalu memandang rendah kepadamu, Bu-ko."
"Aihh, kau ini ada-ada saja. Bagaimana kalau terlihat oleh seorang tamu?"
"Tidak mungkin," jawab Cui Bi, "aku yang akan membawa kalian ke tempat rahasia. Kau ikutlah."

Kong Bu mengomel tidak jelas dan agaknya ragu-ragu, akan tetapi mereka lalu berjalan meninggalkan pondok. Kun Hong tertarik sekali, lalu diam-diam ia mengintai dan setelah dua orang itu pergi jauh, ia cepat menyelinap keluar dan mengikuti dari belakang.

Udara amat dingin dan keadaan masih agak gelap, memudahkan ia mengikuti mereka itu. Dua orang itu berhenti sebentar di depan pondok ke dua di mana Li Eng dan Hui Cu telah menunggu. Empat orang muda itu lalu berjalan cepat ke arah utara, menjauhi kelompok pondok para tamu.

Kun Hong makin terheran-heran dan diam-diam ia terus mengikuti mereka. Ia melihat Cui Bi memimpin perjalanan, memasuki hutan. Heran betul ia melihat cara gadis itu membawa teman-temannya pergi.

Pertama-tama masuk hutan, baru lewat seratus meter membelok ke kanan dan... keluar lagi dari hutan, lalu masuk lagi dan keluar lagi dari sebelah kiri. Kun Hong amat cerdik. Ia tadi sudah amat curiga ketika Cui Bi bicara tentang tempat rahasia, maka diam-diam ia menaruh perhatian dan selalu mengikuti jejak mereka. Karena perhatiannya itu maka ia mendapat kenyataan bahwa gadis itu selalu berbelok sesudah mereka melewati sembilan buah pohon besar.

Setelah keluar masuk hutan sembilan kali, sampailah mereka di tempat terbuka, sebuah padang rumput yang luas. Cui Bi dan teman-temannya berhenti. Kun Hong juga berhenti tak jauh dari situ dan bersembunyi dalam segerombol pohon kembang. Ia berjongkok dan mengintai.

Ia melihat Cui Bi membuat guratan di atas tanah, guratan yang merupakan garis kurung selebar sepuluh meter. Hebat gadis ini. Dengan jari telunjuk ia menggurat dan rumput di atas tanah seperti dicabuti, tampak nyata garis lingkaran itu seperti dipacul saja!

"Nah, kalian sudah berjanji kalau bertemu kembali akan mengadu kepandaian. Keduanya penasaran dan hal ini harus dilakukan untuk menentukan siapa di antara kalian yang lebih pandai. Aku tidak suka melihat kalian saling mendendam dan penasaran. Sekarang kalian bertandinglah, lapangan luas tidak ada yang mengganggu. Siapa yang pedangnya jatuh terlempar atau badannya terdesak dari lingkaran ini dianggap kalah. Setuju?"

Tanpa menjawab Li Eng mengangguk dan mencabut pedangnya, dilintangkan di depan dada dan memandang tajam kepada Kong Bu. Pemuda ini mula-mula nampak ragu-ragu, lalu dengan sikap ‘apa boleh buat’ dari menggeleng-geleng kepala serta menarik napas panjang, mencabut keluar pula pedangnya dan memasang kuda-kuda.

Kun Hong terheran-heran dan mendongkol. Kenapa Cui Bi seolah-olah hendak mengadu keponakannya itu dengan Kong Bu?

Semua ini adalah gara-gara Cui Bi. Di dalam pondok, gadis ini menggoda Li Eng yang dikatakannya menyukai Kong Bu. Li Eng menyangkal, malah menyatakan bahwa ia akan menantang pemuda itu yang dijawab oleh Cui Bi dengan memanaskan hati. Katanya Li Eng tak akan menang. Demikianlah, dengan perantaraan Cui Bi lalu diajukan tantangan pertandingan ini.

Kun Hong tidak tahu akan kecerdikan Cui Bi yang bermata tajam itu. Gadis ini sudah dapat menduga bahwa kakak tirinya dan Li Eng ini saling mencinta, akan tetapi keduanya berkeras kepala menyangkal. Maka jalan satu-satunya untuk ‘saling menemukan’ mereka hanyalah memancing mereka bertanding!

Kedua orang muda itu sudah mulai menggerakkan pedang masing-masing dan terjadilah pertandingan pedang yang bukan main hebat dan serunya. Bayangan keduanya lenyap ditelan sinar pedang masing-masing dan sebentar kemudian terdengarlah angin bersuitan diseling suara nyaring kalau pedang itu bertemu mengeluarkan suara berdenting disusul muncratnya bunga api.

Tadinya Kun Hong hendak melompat keluar untuk mencegah, akan tetapi maksud hatinya ini ia batalkan. Ia melihat sesuatu yang aneh dalam pertandingan itu. Ia memasang mata dan memperhatikan.

Tidak salah lagi! Dua orang muda yang tampaknya bertempur mati-matian itu sebetulnya saling mengalah dan tidak rnenyerang dengan sungguh-sungguh! Li Eng menang cepat, kalau ia mau mempergunakan kecepatannya, kiranya ia akan dapat melakukan serangan maut yang akan membahayakan keselamatan Kong Bu. Sebaliknya, dengan ilmu pedang yang ganas, yaitu Yang-sin Kiam-sut, pemuda ini sebetulnya menang setingkat.

Dengan geli hatinya Kun Hong melihat betapa setiap kali Kong Bu melancarkan serangan ganas dan ujung pedangnya sudah mengancam lawan, akan tetapi tiba-tiba pedangnya itu menyeleweng ke samping, tidak melanjutkan serangan. Kalau hanya terjadi sekali dua kali saja hal ini kiranya tidak akan kentara, akan tetapi karena terlalu sering, jelas bahwa hal itu ia sengaja karena ia tidak mau melukai lawannya!

Demikian pula di pihak Li Eng. Kecepatan pedangnya pada saat ditangkis lawan, demikian hebat sehingga kalau ia mau, menurut penglihatan Kun Hong yang tajam, pedang itu bisa dilanjutkan untuk terus menusuk lawan, namun kerap kali Li Eng hanya menarik pedang yang tertangkis, sama sekali tidak mau mencelakai lawan.

Dua ratus jurus telah lewat dan agaknya sikap mengalah itu diketahui juga oleh keduanya, buktinya muka mereka menjadi merah akan tetapi sinar mata mereka berseri. Ketika Kun Hong melirik ke arah Cui Bi, gadis ini pun tertawa-tawa, hanya Hui Cu yang tidak setinggi itu tingkatnya, memandang penuh kekuatiran dan tentu saja berdoa untuk kemenangan Li Eng!

Kong Bu mulai mundur teratur dan Li Eng dengan girang mendesaknya. Memang maksud keduanya sama sekali tidak mau melukai lawan yang mereka ‘benci’, melainkan hendak mencari kemenangan dengan mendesak lawan mundur dari lingkaran atau memukul jatuh pedangnya.

Terdesaknya Kong Bu ini bukanlah pura-pura lagi, karena memang saking terus-menerus mengalah dan memang kalah dalam kegesitan, akhirnya Kong Bu yang terdesak. Hui Cu berseri mukanya akan tetapi Cui Bi mengerutkan kening.

Ia maklum bahwa kakak tirinya sebetulnya tidak kalah, kalau sampai keluar dari lingkaran, bukankah akan memalukan dia juga? Ia mengepal tangan menggigit bibir dan pada saat itu Kong Bu sudah tinggal selangkah lagi keluar dari lingkaran.

Li Eng gembira, mendesak dengan tusukan digetarkan yang mengancam leher terus ke pusar lawan. Kali ini mau tidak mau Kong Bu harus melompat keluar lingkaran!

"Tranggg!"

Kong Bu benar-benar keluar lingkaran, akan tetapi pedangnya secepat kilat menangkis dari atas ke bawah sambil mengerahkan tenaga sehingga pedang itu terlepas dari cekalan tangan Li Eng.

Kong Bu cepat mengambil pedang dan mengembalikan kepada Li Eng sambil berkata, "Aku menyerah kalah, aku keluar dari lingkaran. Hebat benar ilmu pedangmu, Nona."

Merah wajah Li Eng namun wajahnya berseri. Ia menerima pedang dan menjura berkata, "Bukan, akulah yang kalah. Pedangku terpukul jatuh."

Cui Bi bertepuk-tepuk tangan sambil menari-nari. "Hi-hi-hi, bagus... bagus! Kalian sudah saling mengalah, hi-hi-hi, bagus! Lenyaplah benci, muncullah perasaan suci!"

"Idihhh... kau... ceriwis...!"

Li Eng melompat dan mencubit bibir Cui Bi, namun sekali mengelak serangan ini luput. Li Eng lalu lari meninggalkan tempat itu.

"Eng-moi, tunggu...!" Hui Cu yang kuatir kalau-kalau adiknya itu marah-marah lalu segera mengejar.
"Heiii, kalian jangan pergi, nanti tersesat jalan. Tidak mudah jalan pulang!" Cui Bi berseru.

Akan tetapi dua orang gadis Hoa-san-pai itu tidak mempedulikan seruannya dan terus berlari, Li Eng lebih dulu, dikejar Hui Cu.

"Biarlah, anak-anak nakal itu tidak kapok kalau belum kebingungan dan tersesat di sini. Hemmm, biar mereka melihat kelihaian jalan rahasia Thai-san-pai!" kata Cui Bi. "Jangan kuatir," katanya kepada Kong Bu, "nanti mereka akan kucari."

Setelah berkata demikian, Cui Bi menghampiri Kong Bu, menggandeng tangan pemuda itu diajak duduk dl bawah pohon yang besar, agak jauh dari tempat sembunyi Kun Hong. Pemuda ini kini hanya dapat memandang dari jauh akan tetapi tidak dapat mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Dia hanya melihat mereka bercakap-cakap, kadang-kadang Cui Bi tertawa, kadang-kadang menggelengkan kepala dan kelihatan berduka.

Apakah yang dipercakapkan oleh dua orang muda itu?

"Hi-hi-hik Bu-koko, sekarang apakah kau mau menyangkal lagi? Jelas kau mengalah dan tidak tega melukai Enci Li Eng, itu hanya berarti bahwa kau sama sekali tidak membenci dia, sebaliknya kau... mencintanya. Nah, coba kalau berani menyangkal sekarang!" kata Cui Bi sambil tertawa-tawa menggoda.

Kong Bu menarik napas panjang. "Sudahlah, aku mengaku. Memang dia itu amat menarik hatiku, aku... aku kagum kepadanya."
"Katakanlah cinta, masa hanya kagum?" desak Cui Bi.
"Kau anak nakal! Ya, baiklah, aku cinta kepadanya. Akan tetapi, jangan kau kira aku tidak tahu bahwa kau pun mencinta... kutu buku itu! Hayo, coba kalau kau berani menyangkal setelah pertemuan kalian malam tadi."

Berubah merah wajah Cui Bi ketika dengan mata terbelalak dia memandang kakak tirinya. "Heee...?! Jadi bayangan itu... kaukah itu?"

Tiba-tiba saja Cui Bi menutupi muka dengan kedua tangan dan terdengar dia menangis terisak-isak.

Kong Bu kaget dan memegang tangan adik tirinya itu, "Eh, Bi-moi, kenapa kau menangis? Maafkan, aku tidak sengaja hendak menyakiti hatimu, maafkan godaanku tadi."

Sambil menangis tersedu-sedu Cui Bi menggeleng-gelengkan kepala, "Tidak... kau tidak menggodaku... Bu-ko, memang aku... aku cinta kepadanya... tetapi, ahhh, bagaimana tak akan hancur hatiku karena aku dipaksa berjodoh dengan orang lain...?"

Saking sedih dan hancur hatinya Cui Bi menjatuhkan diri, menubruk Kong Bu kemudian menangis di atas dada kakak tirinya itu. Ayah dan ibunya hendak memaksa dia berjodoh dengan lain orang, dan sekarang hanya ada kakak tirinya ini yang menjadi satu-satunya orang yang kiranya dapat ia sambati, dapat ia mintai tolong.

"Tenanglah, Moi-moi, tenanglah... nanti di depan Ayah, aku pasti akan bilang untukmu..." Kong Bu dengan terharu mengusap-usap rambut kepala adiknya dan membiarkan gadis itu menangis dan menyembunyikan muka di atas dadanya.

Di tempat persembunyiannya, Kun Hong yang hanya dapat melihat adegan ini dari jauh tanpa dapat mendengar pembicaraan mereka, seketika menjadi pucat. Seluruh tubuhnya gemetar, kepalanya terasa berputar dan matanya berkunang-kunang. Hampir ia tak dapat mempercayai adegan yang dilihatnya.

Dua orang itu berpeluk-pelukan. Ahh, jahat benar cucu Song-bun-kwi, sejahat kakeknya. Dan keji benar Cui Bi, setelah malam tadi demikian mesra sikapnya. Hemm, gadis keji ini hendak mempermainkannya rupanya. Hati Kun Hong sakit sekali. Belum pernah selama hidupnya ia merasa sakit hati seperti ini. Kedua matanya yang berapi-api meneteskan dua butir air mata.

Kong Bu, kau keparat...! Sudah jelas bahwa kau berusaha menarik hati Li Eng, terang dalam pertandingan tadi kalian saling mengalah. Bahkan Cui Bi mengucapkan kata-kata menyindir tentang perasaan Kong Bu dan Li Eng. Tapi sekarang... ahh, kalian dua orang berhati binatang. Tak bermalu!

Hampir Kun Hong tak kuat menahan hatinya, hampir ia melompat dan menerjang mereka dengan kata-kata pedas. Akan tetapi dia menahan hatinya ketika melihat dua orang itu bangkit berdiri, berjalan bergandengan tangan sampai dekat tempat ia bersembunyi.

"Bu-ko, biar sekarang kususul Enci Li Eng dan Enci Hui Cu. Akan kubawa kalian semua menghadap Ayah."

Kong Bu hanya mengangguk. Cui Bi lalu lari dari tempat itu, tubuhnya lenyap di antara pohon-pohon. Kun Hong yang sudah tak dapat menahan hatinya lagi, melompat keluar.

Kong Bu memandang kaget, "Ehh, Saudara Kun Hong, kau di sini?"

Kekagetan Kong Bu bukan hanya disebabkan munculnya Kun Hong yang tidak disangka-sangkanya itu, akan tetapi terutama sekali karena melihat pemuda ‘kutu buku’ ini beringas mukanya, matanya berapi-api dan tangannya memegang sebatang pedang yang sinarnya kemerahan.

Pemuda yang biasanya sopan santun dan lemah lembut ini kelihatannya bengis sekali. Wajahnya tersinar cahaya matahari pagi yang kini mulai menerobos dari celah-celah daun pohon.

"Kong Bu, cabut pedangmu!" tiba-tiba saja Kun Hong berkata, suaranya menggeledek tak seperti biasanya.

Kong Bu makin kaget dan heran.

"Ehh, apa maksudmu, Saudara Kun Hong?" tanyanya bingung.
"Jangan kau berpura-pura lagi. Aku sudah melihat semua perbuatanmu yang tak senonoh dengan... Nona Tan Cui Bi. Kau... kau manusia rendah! Kau memikat hati Li Eng dengan kepandaianmu, kau memperlihatkan sikap mengalah di dalam pertandingan sehingga dia jatuh dan mengira bahwa kau cinta kepadanya. Kiranya kau hanya mempermainkannya, diam-diam kau main gila dengan Nona Cui Bi! Hemmm, Kong Bu, aku seorang penyabar, akan tetapi kali ini kita harus mengadu nyawa! Bersiaplah!"

Melihat semua ini, melihat sikap menantang dari Kun Hong, melihat pula cara Kun Hong memegang pedang seperti orang memegang pisau dapur, mendadak Kong Bu tak dapat menahan gelak tawanya yang bergema di sekitar tempat itu.

"Keparat, tak usah mentertawakan! Kalau kau memang jantan, cabut pedangmu!" Makin panas hati Kun Hong, "Tak dapat aku membiarkan kau merusak hati Li Eng!"
"Ha-ha-ha, Saudara Kun Hong. Hebat benar kau! Aku kagum melihat keberanianmu. Akan tetapi kenapa kalau aku merusak hati Nona Li Eng? Katakanlah saja aku merusak hatimu, kau anggap aku merampas Cui Bi darimu! Ha-ha-ha, apa kau kira aku tidak tahu akan pertemuanmu dengan Cui Bi malam tadi? Kau mencinta Cui Bi dan kini kau cemburu kepadaku."

Wajah Kun Hong menjadi merah sekali. "Hemm, apa lagi kalau sudah tahu akan hal itu, berarti makin jahatnya hatimu dan rendahnya Bi-moi."

"Tak boleh kau memaki Cui Bi!"
"Aku tidak memaki, kenyataan yang amat rendah membuktikan."
"Ehh, Kun Hong, kau makin menghina. Kau kira aku takut padamu?" Kong Bu mencabut pula pedangnya. "Mari, mari... kalau kau ingin main-main denganku, boleh!"
"Majulah, tak usah banyak cakap!" Kun Hong menantang.

Melihat betapa pemuda Hoa-san-pai itu memegang pedang dengan ujung pedang terseret di atas tanah, Kong Bu makin geli dan ia menggertak, "Awas pedang!"

Cepat seperti kilat menyambar pedangnya menusuk ke arah dada Kun Hong. Akan tetapi secepat itu pula dia menarik kembali pedangnya ketika melihat betapa Kun Hong sama sekali tidak melakukan gerakan untuk menangkis mau pun mengelak.

"Ehh, benar-benarkah kau hendak mengadu pedang denganku?"
"Siapa mau main-main denganmu?" jawab Kun Hong.
"Kenapa kau tidak menangkis atau mengelak?"
"Hemmm, pedangmu belum menyentuh bajuku, kau sudah ribut-ribut? Hayo seranglah, kalau kau memang laki-laki!"

Kong Bu kembali menggerakkan pedangnya, kali ini membacok ke arah leher lawannya itu. Ketika pedangnya tinggal beberapa sentimeter lagi dari leher Kun Hong dan kali ini juga Kun Hong tidak menangkis mau pun mengelak, Kong Bu terkejut sekali dan cepat merubah arah pedang sehingga membabat atas kepala Kun Hong.

Kun Hong tersenyum. Tentu saja dia sudah siap sedia dan dia dapat mengikuti gerakan pedang itu dengan baik sekali sehingga dia tidak perlu menangkis atau mengelak sebelum benar-benar dia terancam.

"Mengapa tidak jadi menyerang? Apakah kau takut?" ejeknya.

Kong Bu benar-benar kagum sekali. Belum pernah ia menemui seorang yang begini besar keberaniannya, menanti datangnya pedang dengan mata tidak berkedip sedikit pun.

"Hebat! Kau benar-benar gagah berani, Saudara Kun Hong. Biarlah tak perlu lebih lama lagi aku menggodamu."

Kong Bu menyimpan pedangnya. "Ketahuilah, kau yang gagah dan cerdik ini, kali ini kau seakan-akan buta karena cinta kasih mengeruhkan hati dan pikiranmu sehingga kau tidak melihat kenyataan bahwa apa yang kau lihat antara aku dan Cui Bi itu bukanlah hal yang perlu kau ributkan. Ketahuilah, dia dan aku adalah saudara tiri, kami sama-sama anak Ayah Tan Beng San, dia lahir dari Ibu Cia Li Cu dan aku dari Ibu Kwee Bi Goat. Kau tahu apa yang kami bicarakan tadi? Dia menangis karena cintanya kepadamu!"

Lemas seluruh sendi tulang di tubuh Kun Hong. Cepat-cepat ia menyimpan pedangnya dan memegang lengan Kong Bu yang kuat, "Ahh, Saudaraku, aku benar-benar buta! Aku layak kau maki, layak kau pukul. Hemmm, orang macam aku ini mana ada harga untuk mencintanya?"

Kong Bu tertawa gembira. "Sudahlah, Saudara Kun Hong, tak perlu kau merendahkan diri. Salah mengerti ini sudah dapat dilenyapkan, itu bagus sekali. Tentang adikku Cui Bi, tak usah kau kuatir, dia benar-benar mencintamu. Hanya aku masih sangsi apakah cintamu kepadanya betul-betul sebesar perasaannya terhadapmu."

"Saudara Kong Bu," kata Kun Hong bernafsu. "Biarlah bumi dan langit menjadi saksi, dan dengarlah sumpahku bahwa aku mencinta Bi-moi sepenuh jiwaku dan aku rela berkorban nyawa untuknya!"
"Bagus! Aku menjadi saksi!"
"Jangan mau menang sendiri, Saudara Kong Bu. Sikapmu terhadap keponakanku Li Eng juga tidak berterus terang. Dahulu kau mengalah dan membiarkan dirimu ditawan, lalu tadi kau sengaja berlaku mengalah dalam pertandingan. Apa artinya? Seorang laki-laki sejati tidak akan ragu-ragu untuk menyatakan perasaannya secara jujur."

Merah muka Kong Bu, akan tetapi sambil tersenyum ia mengangkat dada berkata, "Kau telah memberi contoh. Aku pun bersumpah bahwa aku betul-betul mencinta Nona Kui Li Eng dengan sepenuh jiwaku."

Tiba-tiba terdengar orang bertepuk tangan dan tertawa, "Bagus, bagus... sudah kudengar sumpah dua orang. Awas, aku menjadi saksi utama!"

Muncullah Hui Cu dari balik sebatang pohon. Gadis ini dengan wajah berseri-seri berkata sambil menoleh ke belakang. "Adik Eng, Adik Cui Bi, keluarlah, kenapa malu-malu kucing bersembunyi saja?"

Dengan muka merah dan ditundukkan, dua orang gadis itu membiarkan mereka tertarik keluar oleh Hui Cu. Kun Hong dan Kong Bu sangat terkejut dan tentu saja menjadi malu sekali, wajah mereka merah sampai ke telinga.

Kiranya tempat rahasia itu hebat sekali sehingga di tempat ini ada tiga orang gadis muncul tanpa mereka ketahui sama sekali! Tentu mereka bertiga tadi telah melihat dan sekaligus mendengar segala-galanya.

Terdengar Li Eng berkata malu-malu kepada Cui Bi sambil merangkul gadis berpakaian pria itu, "Adik Bi, maafkanlah aku..."

Apakah yang terjadi? Seperti telah kita ketahui, Cui Bi pergi menyusul Hui Cu dan Li Eng. Karena jalan rahasia itu memang sulit sekali, akhirnya Li Eng tersesat, malah Hui Cu yang mengejarnya juga tersasar sehingga dua orang gadis ini terpisah, makin lama makin jauh. Cui Bi yang mengenal jalan rahasia itu mengejar Li Eng dan... tanpa disadari oleh Li Eng sendiri, sebetulnya Li Eng telah mengambil jalan memutar kembali ke tempat semula.

Karena inilah maka tadi ia sempat menyaksikan, seperti juga Kun Hong, adegan mesra antara Cui Bi dan Kong Bu. Begitu melihat Cui Bi hendak mencarinya, Li Eng sengaja menunggu dan segera memaki setelah melihat Cui Bi muncul di depannya,

"Bagus, kau perempuan tak tahu malu! Kau mendorong-dorongku kepada Kong Bu, kau sendiri menyatakan cintamu kepada Paman Hong, akan tetapi apa yang kau lakukan tadi? Benar-benar tak tahu malu!"

Tentu saja Cui Bi kaget sekali. Akan tetapi dia segera dapat menduga apa yang menjadi sebabnya, maka ia tersenyum manis.

"Enci Li Eng, kemarahanmu ini malah menggirangkan hatiku, tanda bahwa rasa cemburu di hatimu ini membuktikan betapa besar cinta kasihmu kepada kakak tiriku Kong Bu."
"Kakak tiri? Apa maksudmu?"
"Dia putera Ayah, dari Ibu Kwee Bi Goat, tentu saja dia kakak tiriku. Nah, apa kau masih cemburu?"

Bukan main menyesal dan malunya hati Li Eng maka ia hanya bengong saja dan tidak membantah ketika Cui Bi menarik tangannya untuk menyusul Hui Cu. Setelah bertemu, mereka bertiga kembali ke tempat tadi melalui jalan rahasia yang sangat dekat sehingga mereka sempat menyaksikan keributan antara Kun Hong dan Kong Bu, bahkan sempat pula mendengar sumpah cinta kasih mereka. Kini tibalah giliran Hui Cu untuk menggoda mereka dan menyatakan kegembiraannya.

Pada pertemuan yang serba menggembirakan ini, Kun Hong agak gelisah melihat betapa wajah kekasihnya itu muram seperti matahari tertutup awan. Akan tetapi tentu saja ia tidak berani untuk bertanya.

Di lain pihak, Cui Bi yang masih amat sungkan dan likat, segera berkata, "Sekarang tiba waktunya kita naik ke puncak menghadap Ayah. Hati-hati, jalan rahasia ini amat sulit, dan aku kuatir kalau-kalau perjalanan kita ini ada yang mengikuti. Kong Bu-koko, aku menjadi penunjuk jalan di depan dan biarlah kau jalan paling belakang sambil meneliti kalau-kalau ada musuh yang mengikuti perjalanan kita ke puncak."

"Adik Bi, apakah kau melihat sesuatu yang mencurigakan?" Kong Bu bertanya.
"Agaknya selama ini ada orang yang memata-matai kita. Malam itu..." Cui Bi melirik ke arah Kun Hong yang juga teringat akan bayangan semalam.
"Apakah itu bayanganmu Bu-koko?"

Kong Bu menggeleng kepala, wajahnya serius. "Aku hanya melihat dari jauh dari belakang pondok, mana bisa kau melihat bayanganku?"

"Hemm, agaknya orang lain. Mari, jangan membuang waktu," berkata Cui Bi yang segera memimpin perjalanan itu dengan hati-hati dan perlahan.

Jalan rahasia itu memang amat sukar. Kalau bukan orang Thai-san-pai, takkan mungkin dapat mencarinya. Jalan yang luas dihindari, akan tetapi gerombolan pohon yang sangat lebat malah dimasuki, semua ini memakai perhitungan, dan sebagai tanda-tanda hanyalah pohon-pohon yang tumbuh malang melintang tidak teratur di sekitar puncak.

Cui Bi membawa mereka menyusupi celah antara dua batang pohon yang berdampingan sehingga mereka hanya dapat bergerak maju dengan tubuh miring, melewati tetumbuhan penuh duri dan akhirnya mereka terhalang oleh sebuah rawa yang lebarnya tidak kurang dari lima puluh meter.

Di atas rawa ini dipasangi jembatan bambu melintang, terdiri dari dua batang bambu yang disambung-sambung tanpa pegangan. Jembatan itu sempit dan kalau dilalui orang tentu memerlukan ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Pendeknya, orang biasa takkan mampu melewati jembatan yang cukup panjang ini.

Akan tetapi, para muda itu terheran-heran melihat Cui Bi tidak mengajak menyeberangi rawa melalui jembatan itu, melainkan langsung turun ke dalam rawa!

"Ehh, ada jembatan mengapa menyeberang rawa yang airnya begitu kotor, dan siapa tahu kalau membuat kita tenggelam?" teriak Li Eng yang berjalan di belakang Cui Bi.

Cui Bi berhenti, menoleh dan tertawa. "Di antara seratus orang, tentu tak ada seorang pun yang tidak mengira bahwa perjalanan selanjutnya tentu melalui jembatan yang sukar ini. Akan tetapi ini hanya perangkap bagi musuh yang mencoba-coba memasuki jalan rahasia ini. Siapa yang menyeberang melalui bambu ini, akan tersesat jauh dan akan menghadapi bahaya yang hebat di sebelah sana. Sekarang ikutilah saja bekas jejak kakiku dan jangan sampai terpeleset!"

Dengan perlahan supaya dapat diikuti dengan seksama oleh kawan-kawannya, Cui Bi lalu melangkahkan kaki ke dalam rawa dan... kiranya di dekat permukaan air rawa yang hitam itu dipasangi patok-patok tertentu yang cukup lebar sebagai injakan kaki. Patok-patok ini dipasang sedemikian rupa sehingga hanya mereka yang telah hafal saja yang akan dapat mencarinya.

Cui Bi melangkah, ke kanan sembilan langkah, memutar ke kiri sembilan langkah, lurus sembilan langkah lalu membelok lagi ke kanan dan kemudian melalui bawah jembatan bambu itu, sama sekali tidak menyeberang, tapi menyusur sepanjang rawa itu memanjang ke kiri. Dilihat dari jauh, lima orang muda itu seakan-akan berjalan di atas air rawa! Sama sekali bukan seberang di mana jembatan itu berakhir yang dituju oleh Cui Bi, melainkan membelok dan lenyap di tikungan yang penuh dengan tetumbuhan liar.

Setelah melangkah sebanyak sembilan puluh sembilan langkah, mereka tiba di seberang sana dan meloncat ke daratan yang indah, penuh kembang dan rumput hijau.

"Kita berhenti di sini, di sebelah sana ada terowongan yang menuju ke puncak. Biarlah aku sendiri yang akan naik melapor kepada Ayah. Biasanya Ayah kalau hendak menemui para murid tentu keluar dari terowongan itu. Tak sembarang orang diperbolehkan melalui terowongan. Nah, kalian tunggu sebentar, aku segera kembali bersama Ayah."

Lin Eng, Hui Cu, Kun Hong dan Kong Bu terpaksa menanti di situ sungguh pun Kong Bu dan Li Eng yang keras hati itu tidak sabar dan tidak puas mengapa diadakan peraturan seperti ini. Mereka tentu saja tidak tahu betapa dulu Beng San mempunyai banyak sekali musuh-musuh yang sangat lihai, yang selalu berusaha menyerbu tempat tinggalnya untuk membalas dendam. Untuk menjaga keselamatan keluarganya, terpaksa pendekar ini lalu membuat tempat yang penuh rahasia ini.

Baru saja Cui Bi lenyap di sebuah tikungan, tiba-tiba Kun Hong yang kebetulan menengok ke belakang berseru, "Ada orang datang!"

Semua orang segera menengok dan cepat meloncat berdiri dari tempat duduk mereka di atas tanah. Benar saja, sesosok bayangan dengan gerakan yang gesit dan ringan sekali berloncatan dari patok ke patok, persis seperti yang mereka lakukan dengan hati-hati dan perlahan tadi.

"Wah, ia tentu mengikuti kita sejak tadi dan diam-diam memperhatikan jalan rahasia untuk menyeberangi rawa!" Kata Li Eng sambil siap untuk menghadapi lawan.

Empat orang muda ini maklum bahwa yang datang adalah seorang yang mempunyai ilmu meringankan tubuh hebat sekali. Kong Bu melompat ke dekat rawa.

"Dia lihai, biarlah aku menghadapinya!" dengan kata-kata demikian dia hendak mencegah kekasihnya itu berhadapan dengan lawan yang demikian lihainya.

Orang yang berloncatan itu tiba-tiba berhenti, agaknya menjadi ragu-ragu melihat bahwa orang-orang yang diikutinya itu ternyata berhenti dan telah melihatnya. Tetapi agaknya ia sudah merasa kepalang dan kini malah meloncat-loncat lagi dengan cekatan dan lebih cepat dari tadi.

Kedua lengannya berkembang ke kanan kiri, pakaian di tubuhnya berkibar, dipandang dari jauh seperti seekor burung besar. Kun Hong hampir berseru kaget karena dia mengenal bahwa langkah-langkah dan gerakan itu mirip betul dengan langkah ajaib Kim-tiauw-kun.

"Dia bukan musuh...!" Tiba-tiba Hui Cu berseru. “Dia... dia Saudara Tiauw...!"

Memang benar dugaan gadis ini yang tak pernah dapat melupakan pemuda penolongnya itu sehingga dari jauh saja dia sudah mengenalnya. Bayangan yang datang berlompatan seperti terbang itu bukan lain adalah Sin Lee!

Akan tetapi seruan Hui Cu tidak berpengaruh bagi Kong Bu yang tidak mengenal pemuda itu. Dia membiarkan Sin Lee melakukan loncatan terakhir hingga berada di darat, lalu dia memapaki dan berkata, suaranya ketus,

"Siapa kau dan apa maksudmu mengikuti kami?"

Sin Lee adalah seorang pemuda yang berwatak kasar, juga jujur dan tidak pernah merasa takut terhadap siapa pun juga. Ia dapat merasakan ketusnya suara pemuda tampan yang menyambutnya, maka ia menjawab sama ketusnya, "Tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu sobat, perlu apa kau banyak bertanya?"

Lalu ia menoleh ke arah Hui Cu, mengangkat tangan memberi hormat pula kepada Kun Hong sambil berkata, "Maafkan aku, sengaja aku menyusul ke sini sebab aku ingin sekali bertemu dengan Ketua Thai-san-pai."

Di sini sudah tidak ada Cui Bi dan tiga orang muda Hoa-san-pai itu termasuk tamu, tentu saja mereka tidak berhak melarang orang lain yang juga hendak bertemu dengan Ketua Thai-san-pai. Apa lagi Kun Hong dan dua orang keponakannya itu seperti orang kesima melihat betapa dua orang muda yang sama gagah sama tampan itu benar-benar mirip satu dengan yang lain!

Tetapi, Kong Bu yang merasa bahwa sebagai putera Ketua Thai-san-pai ia pun berhak melindungi kehormatan Thai-san-pai, segera membentak,

"Kau datang memata-matai kami. Kau mengikuti kami dengan diam-diam, perbuatanmu ini saja sudah cukup menyakinkan bahwa kau tentulah seorang jahat! Hayo mengaku kau siapa dan apa maksud kedatanganmu?"
"Saudara Kong Bu, dia bukan orang jahat!" serta merta Hui Cu membela, nada suaranya mengandung kemarahan. "Dialah yang menolong aku ketika kakekmu menculikku!"

Karena panas mendengar penolongnya dimaki, Hui Cu tak dapat mengendalikan hatinya dan sengaja ia mencela kakek Kong Bu. Hal ini tentu saja membuat Kong Bu makin tak senang kepada pendatang ini.

Hemmm, kiranya inilah orangnya yang oleh kakeknya dianggap lihai dan yang ternyata berhasil merampas Hui Cu dari tangan kakeknya. Ia memandang tajam, sinar matanya berapi-api.

Ada pun Sin Lee ketika mendengar pembelaan Hui Cu, diam-diam merasa puas sekali, kemudian dia bertanya, suaranya mengandung ejekan, "Sobat, kau bersikap seolah-olah kau raja tempat ini. Apa hubunganmu dengan Ketua Thai-san-pai dan betulkah kata-kata Nona Hui Cu bahwa kau cucu iblis tua Song-bun-kwi?"

Segera Kong Bu memandang dengan mata melotot, "Keparat, tutup mulutmu yang kotor! Song-bun-kwi memang kakekku dan Ketua Thai-san-pai ayahku, kau mau apa?"

"Bagus! Kiranya kau si keparat, keturunan para pembunuh ayahku! Hemm, setelah kita bertemu di tempat ini, jangan harap kau mampu lepas dari tanganku!" Sin Lee mencabut pedangnya dan memandang penuh kebencian.
"Ho-ho-ho, manusia sombong, bukan aku yang akan roboh, melainkan kau yang akan menggeletak tak bernyawa di depan kakiku! Hayo, jika kau memang jantan katakan siapa namamu dan mengenai kematian ayahmu. Memang entah sudah berapa ratus manusia jahat yang tewas di tangan Ayah dan kakekku, agaknya termasuk ayahmu itulah!" Kong Bu mengejek dan mencabut pula pedangnya.

Sin Lee menggerakkan pedangnya, lalu menerjang sambil berkata, "Ibuku Kwa Hong dan ayahku terbunuh oleh kakekmu. Mampuslah kau!"

Terjangan ini hebat sekali, seperti seekor burung menyerbu. Akan tetapi Kong Bu sudah waspada. Pemuda ini sudah mengerti bahwa kini ia menghadapi lawan yang tidak boleh dipandang ringan. Cepat ia mengeluarkan suara melengking dan pedangnya menangkis, tubuhnya menggeliat dan tiba-tiba ia sudah balas menyerang tidak kalah cepatnya. Akan tetapi, serangan yang biasanya sukar dihindarkan oleh lawan ini ternyata dengan mudah dielakkan oleh Sin Lee yang menggeser kakinya secara aneh.

Segera dua orang muda ini bertanding dengan hebat sekali. Pedang di tangan mereka bersuitan, mengeluarkan angin yang kadang-kadang panas kadang-kadang dingin. Mata pedang menyambar-nyambar mencari mangsa dan di antara mereka terdengar lengking-lengking saling bersahut, suara yang menggetarkan jantung karena suara ini dikeluarkan dengan pengerahan tenaga dalam.

Melihat ‘kekasihnya’ bertempur, Li Eng sudah mencabut pedangnya pula, siap untuk maju membantu. Akan tetapi Hui Cu menyentuh lengannya dan ketika Li Eng menengok, dia terheran melihat bahwa Hui Cu menangis!

"Adik Eng..., jangan... jangan serang dia... dia itu penolongku..."

Li Eng bingung sekali. "Tapi... tapi... pertandingan ini begini hebat, salah seorang tentu akan celaka..." katanya penuh kekuatiran. Tentu saja kuatir kalau-kalau Kong Bu yang terluka.

Sementara itu, Kun Hong sangat tertarik, terheran-heran melihat gerakan pedang serta gerakan kaki yang dimainkan Sin Lee. Itulah Kim-tiauw-kun, pikirnya. Kim-tiauw-kun yang tidak sempurna dan tidak lengkap namun dilengkapi dengan ilmu silat lain yang aneh.

Melihat cara dua orang pemuda itu bertanding, Kun Hong segera maklum bahwa dengan pedangnya dia sanggup memisahkan mereka, sanggup melerai. Akan tetapi karena dia melihat bahwa keduanya setingkat dan seimbang kepandaiannya, dia tidak terburu-buru melerai. Dia ingin melihat lebih lama lagi ilmu silat yang dimainkan oleh Sin Lee.

"Kalian tak usah kuatir, mereka takkan celaka, keduanya sama tangguh, kita nonton saja," katanya.

Li Eng mengerutkan kening, juga Hui Cu. Entah mengapa, ada sesuatu perasaan yang membuat mereka saling menjauhi! Memang keduanya terpisah oleh perasaan yang saling bertentangan, yang seorang memihak Kong Bu yang seorang lagi memihak Sin Lee. Biar pun mereka berdua merasa sungkan untuk membantu namun diam-diam mereka sudah mengambil keputusan, terutama Li Eng, bahwa kalau sampai orang yang dicintai terluka, tentu dia akan menyerbu dan menuntut balas.

Pertandingan itu benar-benar seru sekali. Ketika di antara permainan pedangnya Sin Lee kelihatan memutar-mutar tangan kiri, diam-diam Kun Hong menjadi gelisah dan otomatis dia mengambil beberapa buah batu kecil siap untuk disambitkan ke arah pergelangan tangan kiri Sin Lee andai kata ia melihat Kong Bu terancam bahaya.

Ia sudah mengenal kehebatan pukulan tangan kiri dengan tangan diputar-putar ini. Pernah ia melihat Sin Lee merobohkan Kim-thouw Thian-li dengan pukulan semacam ini yang mengakibatkan luka dalam yang hebat dan mengandung hawa beracun.

Benar saja, setelah memutar-mutar tangan kiri beberapa kali, Sin Lee lalu mengeluarkan seruan dan mendorongkan tangan kirinya itu ke depan. Kun Hong sudah menegang urat tangannya, akan tetapi dia menjadi lega ketika melihat Kong Bu mengeluarkan seruan keras sekali, tangan kirinya juga mendorong ke depan dengan jari tangan terbuka. Dua hawa pukulan yang sama hebatnya bertemu dan... akibatnya keduanya terjengkang ke belakang!

"Ahh... kau tidak apa-apa...?" Li Eng memburu Kong Bu.
Sedangkan Hui Cu memburu Sin Lee, juga bertanya, "Kau tidak apa-apa...?"

Kedua orang pemuda itu menggeleng kepala, lalu dengan beringas menerjang maju lagi, bertanding lebih hebat dari pada tadi.

Li Eng dan Hui Cu sudah mencabut pedang, agaknya sudah gatal-gatal tangan mereka hendak membantu kekasih masing-masing. Tapi Kun Hong segera mendatangi mereka, menarik tangan mereka diajak duduk di bawah pohon, menjauhi pertempuran.

"Kalian bocah-bocah nakal, untuk apa mesti turut-turut? Yang seorang anak Bibi Bi Goat dan paman Beng San, yang seorang lagi anak Enci Kwa Hong dan Paman Beng San, mengapa turut-turut? Kulihat mereka sama pandai, sama kuat, nanti kalau memang ada yang terdesak, barulah kita maju untuk melerai sebelum ada yang terdesak. Kalau kita memisah, tentu mereka penasaran dan tidak mau menerima. Biarlah saja, kita nonton di sini."

Sin Lee yang selama ini belum pernah menemui tandingan berat kecuali pada waktu dia bergebrak sejurus saja dengan Kakek Song-bun-kwi, menjadi penasaran sekali. Ia lantas memekik-mekik dan tubuhnya kadang-kadang meloncat tinggi, kadang-kadang menerjang dari kanan kiri seperti orang terhuyung-huyung, beberapa kali mempergunakan gerakan seperti rajawali emas, menyerang dengan pedang akan tetapi yang betul-betul merupakan serangan adalah pukulan tangan kiri, kadang-kadang menerjang hebat dengan pedang, pukulan tangan kiri dan tendangan bertubi-tubi dengan kedua kakinya! Ia mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya.

Akan tetapi Kong Bu benar-benar kuat sekali penjagaannya. Juga cucu Song-bun-kwi ini merasa sangat penasaran sampai mukanya menjadi merah, matanya mendelik marah. Selamanya, kecuali ketika bertanding melawan Li Eng, belum pernah ia bertemu tanding sehebat pemuda ini.

Kadang kala ia dibikin bingung oleh gerakan-gerakan yang aneh dan ajaib, namun berkat gemblengan kakeknya yang amat hati-hati mengajar cucunya, Kong Bu dapat menangkis semua serangan lawan, bahkan dia pun mampu membalas tak kalah hebatnya. Ia malah mengeluarkan Yang-sin Kiam-sut yang berhawa panas, dan setelah dia memainkan ilmu pedang ini, benar saja ia mampu mendesak lawan.

Namun Sin Lee dengan langkah ajaib yang ia warisi dari ibunya, dapat menghindarkan kurungan-kurungan Ilmu Pedang Yang-sin Kiam-sut ini, sehingga walau pun dia terdesak oleh ilmu pedang aneh ini, namun belum pernah pedang lawan dapat menyentuh ujung bajunya.

Sudah empat ratus jurus lebih dua orang muda itu bertanding seperti dua ekor naga atau dua ekor singa. Kun Hong sudah mulai ragu-ragu dan sudah timbul niat di hatinya untuk turun tangan melerai. Kalau ia turun tangan, tentu saja berarti ia membuka rahasia sendiri, karena kalau bukan seorang yang memiiiki ilmu silat tinggi tak mungkin dapat mendekati dua orang muda yang sedang bertanding itu, apa pula memisah.

Pada saat Kun Hong meragu itu, tiba-tiba berkelebat bayangan orang. Kun Hong melihat bahwa orang ini adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, memelihara jengot pendek, pakaiannya sederhana dan tubuhnya sedang, matanya berkilat-kilat bagai mata harimau, di punggungnya tergantung pedang.

Bayangan orang ini langsung menyerbu ke dalam gelanggang pertandingan, gerakannya gesit dan luar biasa sekali sehingga sukar diikuti oleh pandangan mata. Tetapi tahu-tahu dua orang yang bertanding tadi seperti terdorong oleh angin yang mengandung kekuatan tak terlawan, keduanya terpental ke belakang, terhuyung-huyung mundur masing-masing lebih dari tujuh langkah!

Beberapa detik kemudian muncullah seorang wanita cantik, usianya juga hampir empat puluh, dandanannya sederhana pula, ringkas dan rambutnya yang hitam itu digelung ke atas, sebatang pedang menempel pula di punggung. Biar pun sudah setengah tua wanita ini masih tangkas dan cantik, sepasang pipinya masih segar kemerahan dan gerakannya tangkas biar pun melihat perutnya yang agak besar itu mudah diketahui bahwa ia sedang mengandung muda.

Di belakang wanita ini berlari-lari Cui Bi yang kini berpakaian sebagai seorang gadis cantik sehingga untuk sejenak Kun Hong memandang dengan muka merah dan mata melotot sukar dikejapkan!

Mudah diduga bahwa laki-laki yang memisah pertandingan itu bukan lain adalah Si Raja Pedang Tan Beng San sendiri, sedangkan wanita cantik yang mengandung itu adalah Cia Li Cu.....

Setelah berhasil memisah dua orang muda yang bertanding hebat itu, Beng San berdiri memandang dengan penuh kekaguman dan keheranan. Ia bingung juga karena menurut puterinya, Cui Bi, di sini ia akan bertemu dengan puteranya, putera Bi Goat yang bernama Kong Bu. Tidak tahunya sekarang ada dua orang pemuda yang bertanding sedemikian hebatnya, sama-sama muda, sama-sama gagah dan yang aneh, ia merasa seakan-akan sudah mengenal wajah keduanya!

Cui Bi serta merta menghampiri Kong Bu dan menarik tangan kakak tirinya ini, dibawa mendekat kepada ayahnya. "Bu-ko, inilah Ayah. Ayah, inilah Kakak Kong Bu!"

Keduanya berdiri saling pandang seperti terpesona. Beberapa detik kemudian, menitiklah dua air mata dari mata Beng San. Dia seakan-akan melihat Bi Goat dalam diri Kong Bu, mulut itu, mata itu...

"Ayah...!" Kong Bu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Beng San.
"Anakku... kau anakku...!"

Beng San lalu memeluk pundaknya, mendekap kepala puteranya itu seperti ia mendekap kepala Bi Goat, isteri yang amat dikasihinya dahulu.

"Terima kasih, Tuhan. Kau telah mempertemukan kami dalam keadaan begini..."

Memang selama ini Beng San selalu berkuatir kalau-kalau anak-anaknya dari Bi Goat dan Kwa Hong akan dididik orang untuk membenci dan memusuhinya.

"Ayah, terus terang saja, memang tadinya anak datang mengandung pikiran yang tak baik terhadap Ayah. Syukur anak bertemu dengan Adik Cui Bi...," kata Kong Bu yang jujur.

Berseri wajah Beng San. "Cui Bi anak baik!"

Ia berdiri dan Li Cu lalu mendekati Kong Bu, memandang dengan wajah berseri.

"Kong Bu-koko, ini ibuku," kata Cui Bi memperkenalkan.

Kong Bu memandang sejenak, melihat wajah cantik berseri-seri, lalu ia pun menjatuhkan diri berlutut. "Anak Kong Bu menghaturkan hormat."

Sepasang mata yang bening itu menjadi basah. Suaranya menjadi serak karena terharu ketika wanita ini merangkul Kong Bu sambil berkata, "Kau anakku! Belasan tahun aku menanti-nanti datangnya saat ini. Ayahmu sangat banyak menderita karena memikirkan kau, Anak."

Diam-diam Kong Bu terharu sekali. Sama sekali tak pernah ia membayangkan bahwa ibu tirinya adalah seorang wanita yang selain cantik jelita dan gagah, juga demikian baik hati dan mau menerimanya sebagai anak dengan tulus ikhlas. Hal ini tak dapat disangkal lagi, tidak mungkin sikap seperti ini dibuat-buat dan diam-diam ia makin bersyukur bahwa ia telah percaya akan segala omongan adik tirinya, Cui Bi.

Dalam kegirangan dan keharuannya, Kong Bu teringat kepada lawannya, maka ia segera berkata kepada ayahnya, "Ayah, dia adalah anak... siluman betina Kwa Hong yang telah merusak hidup mendiang ibuku! Harap Ayah jangan kuatir, biar kubinasakan dia!"

"Hemm, Kong Bu bocah sombong, kau ingin mengandalkan teman banyak untuk menjual lagak? Kau kira aku takut? Boleh maju mengeroyok, aku Sin Lee takkan mundur setapak!"

Sementara itu, ketika Beng San dan Li Cu mendengar kata-kata Kong Bu tadi, suami isteri ini berdiri terkesima dan mereka memandang kepada Sin Lee seperti patung. Anehnya, wajah Beng San pucat sekali dan air mata makin deras mengalir dari sepasang mata Li Cu.

"Thian Yang Maha Adil!" Beng San akhirnya mengeluh. "Sudah terasa di hatiku tadi, aku... aku seperti mengenali wajahnya..."

Beng San melangkah mendekati Sin Lee yang memandang dengan mata tajam curiga.

"Kau... kau anak Hong Hong? Kau... kau juga anakku... anakku...!" Dengan kedua lengan dikembangkan, Beng San hendak memeluk Sin Lee.

Pucat seketika wajah Sin Lee dan ia cepat-cepat menghindarkan diri. "Bohong! Aku bukan anakmu! Bukankah kau yang bernama Tan Beng San?"

Berseri wajah Raja Pedang ini, girang bahwa puteranya, keturunan Kwa Hong, ternyata mengenal namanya. Dengan penuh gairah dia menjawab, "Betul, anakku, betul... akulah Tan Beng San!"

Muka Sin Lee mengeras. "Bagus, memang kedatanganku ini hendak bertemu dengan Tan Beng San Ketua Thai-san-pai. Menurut ibuku, engkaulah salah seorang di antara mereka yang menjadi sebab kematian ayahku dan sebab kesengsaraan hidup ibuku. Tan Beng San, kau harus ikut dengan aku ke Lu-liang-san untuk menghadap Ibuku dan menerima hukuman yang akan diputuskan oleh Ibu sendiri!"

Semuanya kaget mendengar ini, kecuali Beng San yang mendengarnya dengan senyum duka.

"Kanda Sin Lee...!" Tiba-tiba Hui Cu berseru dan mendekati pemuda ini. Dalam sedih dan bingungnya nona ini sampai lupa diri dalam panggilannya yang demikian penuh perasaan dan mesra. "Jangan... jangan kau memusuhi Paman Tan Beng San... ahh, kenapa jadi begini...?" Gadis itu lalu menangis terisak-isak.

Kening Sin Lee berkerut. Kekerasaan hatinya tertusuk dan kelemahannya tersinggung. Akan tetapi ia mengeraskan perasaan, menyentuh tangan Hui Cu yang diulurkan. Hanya sedetik saja tangan mereka bersentuhan, dan pemuda ini berkata, suaranya halus namun penuh ketegasan,

"Dinda Hui Cu... menjauhlah kau... urusan ini tak dapat dirubah lagi. Ini kehendak Ibu dan aku harus berbakti kepada Ibu, biar untuk itu aku harus berkorban nyawa sekali pun. Ibu selamanya hidup menderita, ditinggal Ayah dan dihina banyak orang, kalau aku sebagai putera tunggalnya tidak berbakti kepadanya, habis apa balasku terhadap Ibu yang telah melahirkan aku? Dinda, jangan kau turut-turut, jangan beratkan hatiku, mundurlah..."

"Kalau begitu. kau memang patut mampus!" Tiba-tiba Kong Bu membentak dan pemuda ini mengirim pukulan keras sekali.

Sin Lee mendengus dan mengangkat tangan menangkis.

"Dukkk!"

Dua lengan tangan yang sama kuatnya bertemu, membuat tubuh keduanya terpental ke belakang tiga langkah. Kong Bu masih hendak menyerang lagi namun Beng San segera berseru,

"Kong Bu, tahan! Jangan kau serang dia! Sin Lee, kau adalah anakku, kau mau mengaku atau tidak, kau adalah anakku!" Beng San berseru dengan suara parau.

Kong Bu terpaksa melompat mundur dengan hati gemas, akan tetapi dia tidak berani membantah kehendak ayahnya. Juga Cui Bi yang sudah tahu akan semua hal ini karena ia pernah mendengar dari ibunya tentang Kwa Hong, sekarang mendekati Kong Bu dan memegang tangannya, memberi isyarat agar supaya kakak tirinya ini tidak ikut campur.

Melihat betapa suaminya meratap-ratap dengan hati hancur, sementara Sin Lee berdiri tegak dan tegap, sikapnya angkuh membayangkan sikap Kwa Hong dahulu, Li Cu dapat merasakan betapa hancurnya hati suaminya itu, betapa suaminya saat ini seperti ditampar mukanya, seperti dibuka matanya akan akibat dari perbuatannya yang lalu.

Li Cu adalah seorang wanita bijaksana, seorang yang berpandangan luas dan memang pada dasarnya berbudi mulia. Ia tidak hanya berkasihan kepada suaminya yang tercinta, akan tetapi juga kasihan kepada Sin Lee yang tidak berdosa apa-apa tetapi seakan-akan sekarang memikul akibat dari dosa yang dilakukan ayah bundanya.

"Aku tidak percaya kau ayahkul" Sin Lee membentak. "Ayah sudah mati dan kau adalah seorang di antara mereka yang menyebabkan kematiannya. Aku harus percaya kepada ibuku seorang dan kau mau tidak mau harus ikut aku menghadap ibuku!"

Li Cu bergerak ke depan dan menghadapi Sin Lee. Ia menahan-nahan keluarnya air matanya. Memang harus dikasihani wanita ini. Kalau ada wanita yang merasa perih dan tertusuk hatinya menghadapi semua peristiwa ini dialah orangnya.

Pada waktu yang sama, dia harus menyaksikan pertemuan antara suami dan dua orang anak yang terlahir dari dua orang isteri suaminya yang lain. Akan tetapi dasar ia berwatak baik, ia tidak merasa sakit hati malah merasa kasihan sekali, baik kepada suaminya mau pun kepada anak-anaknya itu.

"Sin Lee, aku adalah Cia Li Cu, isteri Tan Beng San. Akulah saksi utama bahwa kau adalah benar-benar anak suamiku ini, kau anak Tan Beng San dan Kwa Hong, jangan kau melawan ayahmu sendiri, Nak. Kau anak suamiku, juga anakku, meski pun anak tiri tapi kuanggap kau anakku sendiri. Majulah, berilah hormat kepada ayahmu, Sin Lee, seperti yang kau lihat tadi dilakukan oleh Kong Bu, juga anak kami yang lahir dari Kwee Bi Goat. Berdosa melawan orang tua sendiri, Sin Lee."

Pemuda itu memandang dengan mata terbelalak tajam. "Hanya Ibu yang kupercaya! Ibu menyatakan bahwa Tan Beng San adalah musuh Ibu, yang harus kuseret ke depan Ibu di Lu-liang-san. Malah Ibu bepesan, wanita yang bernama Cia Li Cu adalah musuh besarnya dan harus kubunuh."

Terdengar jerit kemarahan dan Cui Bi sudah melompat maju menerjang dengan pedang terhunus.

"Traangggg!"

Pedang gadis ini terangkis oleh pedang Sin Lee. Demikian keras pertemuan senjata ini sampai keduanya mundur tiga langkah, saling pandang dengan mata berapi-api. Dengan pedangnya Cui Bi menuding ke arah muka Sin Lee sambil berseru marah, 

"Keparat kau! Sombong dan jahat, seperti orang yang menjadi ibumu! Ketahuilah, ibumu itulah yang jahat, bagaikan iblis betina. Dunia kang-ouw tahu belaka akan hal ini. Ibunya iblis, anaknya pun setan!"

"Cui Bi... diam kau...!" Li Cu membentak dan menarik tangan anaknya.

"Memang betul ucapan Cui Bi!" Tiba-tiba saja Li Eng berteriak dan gadis ini pun sudah mencabut pedang. "Siluman betina Kwa Hong orang terjahat di dunia, anaknya pun bukan orang baik! Aku masih ada perhitungan dengan siluman Kwa Hong yang belum kutagih!"

Seperti juga Cui Bi tadi, Li Eng saking marah melihat anak musuh besarnya, menerjang dengan pedang diputar. Hebat sekali serangan ini, sinar pedang itu sampai menyerupai payung lebar yang mengurung diri Sin Lee. Kembali Sin Lee menggerakkan pedangnya menangkis dan dua orang muda itu terpental ke belakang.

"Adik Li Eng, jangan...!" Hui Cu mengejar sambil terisak-isak dan menarik tangan Li Eng mundur. "Janganlah... kau jangan serang dia..." bisik Hui Cu dengan muka pucat dan pipi basah air mata.

Menghadapi Kong Bu, Cui Bi, dan Li Eng yang memandang padanya seolah-olah hendak menelannya bulat-bulat itu, Sin Lee tersenyum mengejek, "Hemmm, ada kabar akan didirikannya Thai-san-pai, yang katanya diketuai seorang ahli pedang yang berkepandaian tinggi. Kiranya hanya tukang keroyok. Hayo Tan Beng San, kalau memang kau tidak suka kuseret ke Lu-liang-san, terpaksa aku menggunakan kekerasan. Ataukah engkau hendak menggunakan anak-anakmu untuk mengeroyok? Majulah kalian, siapa takut kepadamu?"

"Jahanam jangan sombong kau!" Kong Bu yang berdarah panas itu tak dapat menguasai hatinya lagi, segera ia menerjang dengan pedang di tangannya.

Gerakan Kong Bu ini otomatis disusul oleh Cui Bi dan Li Eng, sehingga sekaligus Sin Lee menghadapi serangan tiga orang muda itu! Tingkatnya adalah tak berbeda jauh dengan seorang di antara mereka, bahkan dibandingkan Cui Bi, kiranya sukarlah dia mengatasi gadis ini. Akan tetapi Sin Lee memiliki keberanian yang tak kenal batas dan ketabahan hatinya membuat dia nekat. Pedangnya diputar dan…

“Trang-trang-trang!” terdengar suara nyaring disusul muncratnya bunga api.

Li Cu dan Beng San berteriak-teriak melarang, juga Hui Cu berteriak-teriak memanggil nama Li Eng. Hanya Kun Hong yang berdiri seperti patung, tak tahu harus berbuat apa. Ia sudah mulai mengerti akan duduknya perkara, dan ia benar-benar merasa bingung.

Kun Hong menarik napas panjang dan berkata seorang diri, "Hukum karma... orang tua yang menanam, anak-anak yang memetik buahnya!"

Mendadak berkelebat bayangan orang yang didahului oleh lengking tinggi, sinar pedang menderu dan bunyi cambuk berdetar-detar di udara sehingga membuat tiga orang muda yang mengeroyok Sin Lee terkejut dan cepat meloncat mundur sambil melindungi tubuh dengan pedang masing-masing karena entah dari mana datangnya, ujung cambuk yang ada anak panahnya menyerang bagian-bagian berbahaya tubuh mereka.

"Hi-hi-hi, Beng San pengecut! Melepaskan anjing-anjing cilik untuk mengeroyok Sin Lee. Anakku Sin Lee, jangan takut! Ibumu datang!"

Tahu-tahu di situ telah berdiri seorang wanita cantik dan bermata liar, memegang cambuk yang berekor lima batang anak panah hijau. Kwa Hong, wanita yang selama belasan tahun menyembunyikan diri itu sekarang muncul tiba-tiba di tempat itu dengan sinar mata penuh mengandung nafsu membalas dendam, sepasang mata yang masih bening akan tetapi amat liar dan ganas!

"Hong-moi...!" Beng San berseru.

Akan tetapi suaranya terhenti karena lehernya serasa tercekik. Ia sudah melangkah maju dua tindak lalu berdiri seperti patung, sinar matanya membayangkan kedukaan hebat.

"Ha-ha-ha-ha, Beng San, masih merdu suaramu memanggil aku. Hong-moi... alangkah merdunya. Ahh, Beng San, kau masih pandai merayu, hik-hik-hik!"
"Hong-moi, apakah kau tidak dapat menyudahi saja urusan lama? Lihat, anak kita sudah begitu besar, Hong-moi, dan demi Tuhan, janganlah kau bawa anak kita terseret-seret ke dalam urusan kita...," kata pula Beng San dengan suara menggetar.

Kembali Kwa Hong tertawa. "Beng San, apakah kau tidak ingat betapa dahulu kau selalu menyakiti hatiku, menolakku dan membiarkan aku hidup merana sendiri? Membiarkan aku berubah menjadi iblis? Hi-hi-hik, sejak kecil kupelihara, kugembleng supaya setelah besar dapat membalaskan sakit hatiku terhadapmu, sekarang tibalah saatnya. Sin Lee, anakku, inilah orangnya yang sudah merusak hidup ibumu. Kau turun tanganlah, bunuh dia. Kau jangan takut, ada ibumu di sini!"

Tangan Sin Lee yang memegang pedang menegang, lalu menggetar, akan tetapi bibirnya bertanya, lirih, "Ibu..., benarkah dia itu ayahku?"

"Tak peduli dia itu apamu, dia seorang yang jahat melebihi binatang, patut kau binasakan. Dia menyia-nyiakan kau. Dia makhluk jahat, perusak hati wanita. Bunuh dia!"

Tiba-tiba Li Eng yang sejak tadi memandang marah kepada Kwa Hong, menerjang maju menggerakkan pedangnya mengancam Kwa Hong, "Kwa Hong, kau siluman betina jahat, dengarlah! Aku Kui Li Eng dari Hoa-san-pai! Ingatkah kau betapa kau mengusir ayah dan ibuku memasuki Im-kan-kok, membiarkan mereka mati tidak hidup pun tidak? Sekarang kau hendak mengacau lagi di Thai-san, ahhh... dosamu sudah bertumpuk-tumpuk, hari ini aku akan membalaskan sakit hati orang tuaku!"

Pedang gadis ini menyerang seperti kilat cepatnya sehingga Kwa Hong menjadi terkejut juga dan cepat mengelak. Untuk sejenak wanita ini tercengang, dan hanya mengelak ke sana ke mari atas desakan Li Eng.

"Kau... kau... anak Thio Bwee dan Kui Lok? Kau lahir di Im-kan-kok? He-he, lucu sekali... kau berani melawan aku?" Mulailah ia menangkis dan balas menyerang.

Sementara itu, Sin Lee sudah memandang kepada Beng San dengan mata mendelik. Dan melihat ibunya sudah bertempur, ia melempar semua keraguan dan menganggap bahwa dia dan ibunya sedang berada di tempat musuh. Maka, cepat ia menusukkan pedang ke arah dada Beng San sambil berseru,

"Kau musuh ibuku, harus kubunuh!"

Beng San mengeluarkan keluhan panjang. Peristiwa yang terjadi di hadapan matanya ini membuat seluruh tubuhnya lemas, matanya berkunang dan hatinya rusak, maka serangan Sin Lee puteranya sendiri itu tak dihiraukan.

"Trangggg!"

Pedang Sin Lee membentur sebatang pedang lain yang digerakkan secepat kilat. Cui Bi sudah menangkis pedang itu dengan mata berapi-api.

"Keparat, jangan ganggu Ayahl"

Pedangnya terus menyerang dan di lain detik Sin Lee sudah bertanding hebat melawan Cui Bi.

Tadinya Kong Bu hanya menonton saja. Biar pun munculnya Kwa Hong mendatangkan rasa panas di hatinya karena teringat bahwa wanita inilah yang menyebabkan ibunya mati ngenes, namun karena Kwa Hong sedang berhadapan dengan ayahnya, dia tidak berani mencampuri dan menanti saat baik.

Sekarang saat itu tiba, yaitu setelah Kwa Hong bertempur melawan Li Eng, kekasihnya. Tentu saja ia tidak bisa tinggal diam, apa lagi karena maklum bahwa wanita itu lihai sekali dan Li Eng bisa berbahaya kalau melawannya seorang diri saja.

"Kwa Hong wanita busuk, ibuku Kwee Bi Goat meninggal dunia akibat merana karena kejahatanmu. Lihat pedangku menamatkan riwayatmu!" bentaknya sambil menerjang.

Tidak heran hati Kwa Hong mendengar ini karena memang ia sudah tahu akan pemuda ini. Sudah lama juga ia mengikuti puteranya sehingga ia tadi mendengar bahwa pemuda gagah ini adalah putera Kwee Bi Goat. Tanpa berkata apa-apa ia segera menangkis dan menghadapi Kong Bu dan Li Eng dengan gerakan aneh dari pedang dan cambuknya.

Beng San susah sekali hatinya melihat pertempuran-pertempuran itu. Beberapa kali Li Cu hendak mencabut pedang dan ikut menerjang maju, akan tetapi melihat betapa suaminya menjadi amat sedih, ia pun tidak tega. Li Cu dapat menyelami sepenuhnya kesedihan hati suaminya. Siapa tak akan sedih melihat kedatangan seorang putera yang datang-datang menjadi musuh?

Kun Hong yang bingung juga melihat Hui Cu dengan muka pucat berdiri memandang Sin Lee, merasa bahwa enci tirinya itu memang keterlaluan. Kalau ada urusan lama, mengapa diteruskan sampai sekarang, malah seorang anak disuruh melawan ayahnya sendiri. Tak terasa lagi kakinya melangkah mendekati pertempuran, langsung ia mendekati Kwa Hong dan berkata, suaranya lantang,

"Enci Kwa Hong, kalau Ayah melihat kelakuanmu hari ini, tentu akan marah sekali!"

Kwa Hong kaget dan melirik heran. Biar pun dikeroyok dua oleh Kong Bu dan Li Eng, ia masih sempat memperhatikan pemuda tampan yang aneh, yang berani menegurnya dan memanggil enci ini.

"Bocah, kau siapa?"
“Aku adalah adik tirimu, ayahku Kwa Tin Siong ibuku Liem Sian Hwa! Kelakuanmu hari ini sungguh tidak patut. Seharusnya kau mempertemukan anakmu dengan Tan Beng San Taihiap sebagai anak dan ayah dengan mengubur persoalan-persoalan lama."
"Keparat, tutup mulut kau!"

Sebuah anak panah hijau di ujung cambuk menyambar pundak Kun Hong. Akan tetapi anehnya, anak panah itu tidak mengenai sasaran biar pun tadi kelihatan sudah jitu. Kwa Hong terkejut, apa lagi ketika melirik ke arah gerak kaki Kun Hong yang tidak karuan itu.

"Siapa namamu?"
"Kwa Kun Hong. Enci, kau turutlah permintaanku...," kata Kun Hong girang.
"Kun Hong, kau adikku, seharusnya kau membantuku. Tan Beng San itu orang jahat, dia harus membayar hutangnya."

Terpaksa Kwa Hong memutar cepat cambuknya untuk mendesak Li Eng dan Kong Bu karena selagi dia bercakap-cakap, dua orang muda itu mendapatkan kesempatan untuk menekannya.

"Tidak bisa, Enci Hong. Kau yang tidak patut..."
"Setan, mampuslah!"

Kini dua batang panah menyambar, satu ke ulu hati satu lagi ke arah kepala Kun Hong. Serangan ini hebat sekali dan memang amat keji hati Kwa Hong, menyerang adik tirinya sendiri secara mendadak seperti itu. Akan tetapi kembali ia melengak karena dua batang anak panahnya tidak mengenai sasaran, sedangkan Kun Hong hanya terhuyung-huyung saja.

Semakin kuatir hati Kwa Hong. Baru orang-orang muda ini saja sudah begini hebat. Kalau sampai Beng San dan Li Cu turun tangan, jangan harap ia akan dapat membalas dendam, malah-malah sangat boleh jadi ia dan puteranya akan tewas di tempat itu!

Sementara itu, melihat Kwa Hong dan puteranya terdesak, Beng San tak dapat menahan lagi. Betapa pun lihainya, tapi menghadapi Cui Bi yang marah itu Sin Lee mulai terdesak, sedangkan Kwa Hong juga payah menanggulangi kemarahan Kong Bu dan Li Eng yang amat lihai ilmu pedangnya. Tentu saja ia tidak ingin melihat pertumpahan darah terjadi di antara keluarganya sendiri.

"Berhenti...! Tahan senjata, hentikan pertempuran...!" serunya berkali-kali.

Ketika orang-orang muda itu nekat tidak mau berhenti, Beng San menggerakkan kedua lengannya berkali-kali dan... angin dingin yang luar biasa kuat menyambar ke depan dan membuat mereka yang bertempur itu terhuyung-huyung ke belakang.

Kwa Hong mengeluarkan bunyi lengking marah dan kecewa. "Sin Lee anakku, hayo kita pergi saja!" Ia menyambar tangan Sin Lee dan membawanya pergi melompat dari tempat itu.

Setetah bayangan dua orang ini lenyap, terdengar suara Kwa Hong, melengking nyaring, "Beng San manusia tak berjantung! Boleh kau tertawa atas kemenanganmu, akan tetapi tunggu saja pada hari pembukaan, hendak kulihat apakah kau masih ada muka menjadi Ketua Thai-san-pai, hi-hi-hik!"

"Bu-ko mari kita kejar dan bunuh mereka!" Cui Bi berseru.
"Hayo!" Kong Bu menjawab dan keduanya berlari maju hendak mengejar, malah Li Eng juga tidak ketinggalan.
"Kong Bu...! Kenapa kau tidak melakukan perintahku?!"

Mendadak sesosok bayangan melayang turun dan tahu-tahu seorang kakek tinggi besar bermuka bengis sudah berdiri menghadang. Li Eng sampai mengeluarkan teriakan saking kagetnya karena ia segera mengenal kakek ini yang pernah menculik dia dan Hui Cu.

"Kongkong...!" Kong Bu juga berseru, girang dan kaget.

Sementara itu, ketika Beng San melihat munculnya kakek ini, wajahnya berubah. Cepat ia mengangkat tangan menjura dan berkata, "Gak-hu (Ayah Mertua)..."

Song-bun-kwi, kakek itu, tertawa bergelak, "Ha-ha-ha, sebutan palsu itu masih saja kau pakai? Siapa yang tidak tahu akan kepalsuan hatimu? Eh, Kong Bu, kenapa kau berbaik dengan mereka ini?"

"Kakek, aku mengejar Kwa Hong, bukankah dia musuh besar kita?"
"Betul, akan tetapi kau melupakan laki-laki ini." Dia menuding ke arah Beng San. "Dialah yang membuat ibumu tidak panjang usia. Dia tergila-gila pada wanita lain, meninggalkan ibumu sampai ibumu mati merana. Kita harus memusuhi dia!"
"Kakek... akan tetapi dia… ayahku..."
"Huh! Ayah macam apa! Kau kena dibujuk orang!" Matanya liar menyapu ke kanan kiri. "Hayo pergi, tempat ini tak patut untukmu."
"Tapi... Kongkong..." Kong Bu meragu dan menoleh kepada ayahnya.
"Tidak ada tapi, hayo kau ikut aku pergi! Kau berat ayah keparat yang baru saja kau lihat sekarang ini ataukah kakekmu yang memelihara dan mendidikmu sejak kau masih bayi?" Suara Song-bun-kwi menggeledek dan matanya melotot.

Terjadi pertarungan dalam hati Kong Bu. Baru saja dia mengalami kebahagiaan bertemu dengan ayahnya, terutama sekali dengan Li Eng di tempat yang penuh damai itu. Baru saja hatinya dipenuhi dengan kebanggaan akan ayahnya, yang menyentuh hati baktinya untuk membela ayah dan memusuhi Kwa Hong.

Akan tetapi kemunculan kakeknya ini sekaligus membuyarkan segala yang indah-indah itu, membuka matanya bahwa di sana masih ada arwah ibunya yang menghendaki dia menuntut balas, tidak hanya kepada Kwa Hong, akan tetapi juga kepada Beng San yang meninggalkan ibunya. Hati dan perasaan Kong Bu ketika itu terbelah-belah, terbagi-bagi, sebagian besar condong kepada Li Eng, sebagian lagi pada ayahnya dan sebagian pula kepada kakeknya.

"Kong Bu...!" Suara Song-bun-kwi menggetar penuh kemarahan. "Jika kau tidak mau pergi bersamaku, biarlah mulai saat ini juga aku Song-bun-kwi bukan kakekmu lagi, melainkan musuh besarmu, biarlah lain saat aku mengadu nyawa denganmu!"
"Kongkong..."

Tetapi Song-bun-kwi sudah tidak mau menjawab lagi, melainkan membalikkan tubuh dan melompat pergi dari situ. Dengan muka pucat dan wajah sedih sekali Kong Bu terpaksa melompat juga, kemudian mengikuti kakeknya meninggalkan tempat yang disenanginya, orang-orang yang disayanginya.

Sunyi keadaan di situ setelah kakek dan cucunya itu lenyap bayangannya. Li Eng dan Hui Cu saling pandang dengan muka sedih dan kecewa. Kun Hong sejenak berpandangan dengan Cui Bi, akan tetapi Cui Bi segera menundukkan muka, ngeri melihat wajah Beng San yang berdiri di situ dengan kedua kaki terpentang, kedua lengan bertumpang di atas dada. Li Cu memandang suaminya dengan mata basah.

Orang gagah ini berdiri tegak. Mukanya yang tampan dan gagah itu merah sekali, malah hampir hitam. Alisnya terangkat, matanya menakutkan seperti mengeluarkan api dan kilat. Sebuah tangan yang halus menyentuh pundak kirinya.

Beng San melirik dan melihat wajah isterinya yang berusaha tersenyum membesarkan hatinya. Perlahan-lahan warna merah kehitaman pada mukanya itu berubah menjadi putih lalu kehijauan. Ia menarik napas berulang-ulang. Barulah ia menurunkan dua tangannya dan memandang ke arah Kun Hong, Li Eng dan Hui Cu yang sudah menghadap dengan sikap hormat.

"Inikah mereka anak-anak Hoa-san-pai?" terdengar dia bertanya, suaranya masih agak gemetar karena pukulan batin tadi.

Cui Bi segera maju dan memperkenalkan tiga orang muda Hoa-san-pai itu kepada ayah bundanya. Ketiga orang itu, dipimpin oleh Kun Hong, segera menjura dan menghaturkan penghormatan mereka.

Kalau saja Beng San tidak baru saja menderita pukulan batin yang sangat hebat, kiranya pertemuan ini akan menggembirakannya sekali. Mereka ini adalah anak-anak para tokoh Hoa-san-pai yang dikenalnya dengan baik. Akan tetapi karena perasaannya sudah terluka oleh peristiwa tadi, ia hanya berkata kepada Cui Bi,

"Kau ajaklah mereka masuk dan beristirahat di puncak."

Cui Bi maklum akan keadaan hati ayahnya, maka ia lalu mengajak tiga orang muda itu melalui jalan terowongan menuju ke puncak, tempat tinggal ayahnya. Ada pun Beng San dan Li Cu yang ditinggalkan mereka, saling pandang penuh pengertian dan keharuan.

"Aku harus menyusul mereka, aku harus dapat merubah kekerasan hati Hong-moi...," kata Beng San kemudian, seperti kepada diri sendiri.

Li Cu mengerutkan keningnya. "Hatinya keras sekali, juga puteranya. Aku kuatir kau tak akan berhasil. Kenapa tidak menanti sampai selesainya ucapara pendirian Thai-san-pai?"

Beng San menggeleng kepala. "Justru aku tidak mau dia muncul di waktu upacara. Tentu dia akan mempergunakan urusan itu untuk merusak nama dan menggagalkan pendirian Thai-san-pai, Soal namaku, aku tidak peduli, akan tetapi kalau Thai-san-pai gagal berdiri, hal ini lebih hebat dari pada kehilangan nyawa."

Li Cu memegang tangan suaminya. "Akan tetapi, bagaimana kalau kau gagal? Kau akan dihina, kau... kau... biarlah aku ikut bersamamu."

Beng San cepat memegang kedua lengan istrinya. "Tidak! Jangan kau mencampurinya. Ini urusan antara aku dan Kwa Hong. Kalau perlu aku pun bisa menggunakan kekerasan. Kukira aku masih dapat mengatasi mereka ibu dan anak. Kau tak boleh banyak bergerak, isteriku, kau ingatlah kandunganmu. Kau tunggu saja di rumah dan percayalah padaku."

Li Cu menatap wajah suaminya, terisak dan menjatuhkan kepala pada pundak suaminya yang lalu mengelus-elus rambutnya. Awan gelap menyelubungi sepasang suami isteri ini, awan gelap yang timbul dari urusan-urusan lama. Beberapa kali Beng San menarik napas panjang, hatinya penuh penyesalan kepada diri sendiri. Akan tetapi, sesal kemudian tiada guna…..

********************
Selanjutnya baca
RAJAWALI EMAS : JILID-14
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger