logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Si Bangau Merah Jilid 12


Memang benar sekali apa yang telah dikemukakan Gan Seng, isterinya dan puterinya. Sungguh tak mudah, bahkan berbahaya sekali untuk melakukan penyelidikan ke dalam gedung tempat tinggal Panglima Coan itu.

Gedung itu besar dan dikelilingi pagar tembok yang tebal dan tinggi seperti sebuah benteng kecil. Memang pantas menjadi tempat tinggal seorang panglima tinggi yang memimpin pasukan besar. Di pintu gerbang terdapat sebuah gubuk penjagaan di mana berkumpul belasan orang prajurit penjaga, dan masih ada lagi pengawal yang selalu meronda di sekaliling pagar tembok itu.

Yo Han maklum bahwa di waktu siang hari, tak mungkin menyelundup masuk ke dalam gedung itu. Andai kata dia dapat mengelabui para penjaga di luar dan dapat masuk ke dalam, masih ada bahaya ketahuan di bagian dalam gedung yang tentu dijaga ketat.

Siang hari itu dia tidak berani masuk, hanya mengelilingi bangunan itu di luar pagar tembok dan melihat-lihat keadaan. Ketika dia melihat sebuah pohon yang tumbuh di bagian belakang, agak jauh dari bangunan, dia dapat menduga, bahwa pohon itu tentu tumbuh di kebun belakang, dekat dengan pagar tembok dan dia pun memilih tempat ini untuk menyelinap masuk malam nanti kalau sudah gelap.

Siang itu dia kembali ke rumah penginapan, menanti datangnya malam. Setelah malam tiba, dia menanti sampai gelap benar barulah meninggalkan rumah penginapan secara sembunyi, melalui jendela dan meloncat ke atas genteng agar kepergiannya dari situ tidak ketahuan orang lain.

Tidak lama kemudian, dia sudah tiba di luar pagar tembok sebelah belakang di mana siang tadi dia melihat ada pohon di sebelah dalam pagar. Dia menanti sampai peronda lewat, lalu dia melompat ke atas pagar tembok. Benar dugaannya, pohon itu tumbuh di kebun belakang dan dia pun melompat ke pohon itu, menanti sambil meneliti keadaan.

Dari atas pohon dia dapat melihat beberapa orang penjaga di kanan kiri rumah dan di sebelah belakang rumah. Di luar pintu belakang terdapat lagi dua orang penjaga tengah bercakap-cakap. Di atas mereka terdapat sebuah lampu minyak gantung yang cukup terang.

Bukan main, pikir Yo Han. Agaknya panglima itu telah melakukan penjagaan diri dengan sangat ketat. Hal ini saja sudah mencurigakan. Hanya orang yang menjaga diri terhadap penyerbuan dari luar saja yang menyuruh pasukan pengawal menjaga rumah demikian ketatnya. Tentu ada sesuatu yang perlu dijaga!

Makin tebal dugaannya bahwa Panglima Coan inilah yang sengaja mencuri pusaka itu untuk memaksa Gan Seng menyerahkan anak gadisnya! Bagi seorang panglima yang mengepalai pasukan, kiranya tidak begitu sulit untuk melakukan pencurian itu. Seorang atau dua orang penjaga keamanan gudang pusaka itu tentu telah dapat dipengaruhinya, untuk mencurikan pusaka itu untuknya! Pusaka yang sangat penting bagi istana, yang kehilangannya akan mendatangkan dosa besar bagi Gan Taijin, akan tetapi yang tidak ada gunanya bagi Si Pencuri!

Setelah melihat suasana semakin sunyi dan yang menghalanginya masuk ke gedung besar itu hanya dua orang penjaga di luar pintu belakang, Yo Han meloncat turun dari atas pohon, kemudian berindap-indap mendekati dua orang penjaga yang masih duduk berhadapan di bangku, kini tidak lagi bercakap-cakap melainkan sedang bermain catur.

Yo Han mengambil dua buah kerikil dan setelah membidik dengan hati-hati, dua kali tangannya bergerak. Dua buah batu kerikil melayang dan dengan beruntun, dua orang pemain catur itu terpelanting dari tempat duduk mereka dalam keadaan lemas tanpa mampu bergerak akibat jalan darah mereka sudah tertotok oleh kerikil yang disambitkan tadi.

Dengan cepat Yo Han meloncat mendekati mereka, lalu menotok pangkal leher mereka sehingga sekarang mereka juga tak mampu bersuara. Dia menyeret tubuh mereka dan menyembunyikan tubuh mereka di bagian yang gelap, kemudian dengan hati-hati dia membuka daun pintu belakang. Dia tiba di taman bunga belakang gedung yang amat indah.

Tak lama kemudian, Yo Han sudah mengintai sebuah ruangan di tengah gedung itu. Ada kesibukan di sana dan ketika dia mengintai, dia melihat seorang panglima, hal ini dapat ia ketahui dari pakaiannya, sedang dihadapi oleh tiga orang kakek berusia antara lima puluh sampai enam puluh tahun yang berpakaian preman, akan tetapi nampaknya kuat.

Dia menduga bahwa tiga orang itu tentulah jagoan-jagoan dan mungkin sekali panglima itu yang bernama Coan. Usianya kurang lebih empat puluh tahun, tinggi besar bermuka hitam dengan bopeng bekas cacar. Seorang pria yang wajahnya kasar dan buruk sekali. Tak mengherankan bila Bi Kim dan ayah ibunya menolak pinangannya. Sudah memiliki banyak selir mukanya buruk pula! Padahal Bi Kim demikian cantik jelita dan masih amat muda.

Empat orang itu bercakap-cakap dan Yo Han mengerahkan kepekaan telinganya untuk menangkap percakapan mereka.

“Akan tetapi, bagaimana kalau dia menolak, Ciangkun?” tanya salah seorang di antara tiga jagoan yang mukanya kuning dan matanya sipit.
“Hemmm, kalau dia menolak, dia akan dijatuhi hukuman berat, juga keluarganya. Dia pasti tidak akan menolak uluran tanganku untuk menyelamatkan keluarganya,” berkata pembesar itu sambil menyeringai sehingga nampaklah giginya yang besar-besar. Makin buruk orang itu kalau menyeringai, pikir Yo Han.

“Kalau begitu, semua jerih payah kita tidak akan ada gunanya, Ciangkun!” kata orang ke dua yang perutnya gendut sehingga kancing bajunya bagian bawah terlepas semua dan nampak kulit perut yang buncit itu.
“Benar, kalau begitu, apa artinya semua jerih payah ini? Terbasminya keluarga itu sama sekali tidak membawa keuntungan, Ciangkun,” kata orang ke tiga yang tinggi kurus dan hidungnya seperti hidung burung kakatua yang melengkung panjang ke bawah hingga matanya nampak agak juling.

Panglima itu terbahak. “Ha-ha-ha, apa kalian kira aku begitu bodoh untuk membuang tenaga sia-sia belaka? Kalau mereka itu bersikeras tidak mau menerimaku, aku akan menghadap Sri Baginda. Aku akan mencarikan pusaka itu sampai dapat, tentu dengan imbalan anugerah, yaitu supaya gadis jelita itu diserahkan kepadaku. Kalau Kaisar yang memerintahkan, mustahil orang she Gan itu berani membantah lagi. Ha-ha-ha!”

Tiga orang itu pun tertawa gembira dan memuji kecerdikan majikan mereka. Yo Han yang mengintai tidak ragu-ragu lagi. Sudah pasti panglima inilah yang bernama Coan Ciangkun dan tiga orang itu tentu anak buahnya, atau jagoan-jagoannya.

Inilah kesempatan terbaik, pikirnya. Kalau dia harus mencari pusaka-pusaka itu, tentu akan sukar sekali karena panglima itu tentu menyembunyikannya. Amat sukar mencari pusaka yang disembunyikan di gedung sebesar itu, apa lagi yang dipenuhi penjagaan ketat.

Sekali dorong saja, jendela yang terkunci dari dalam itu terbuka dan kuncinya jebol. Sebelum empat orang itu hilang kaget mereka, mendadak mereka melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang pemuda.

“Engkaukah yang disebut Coan Ciangkun?” tanya Yo Han dengan suara tenang sambil memandang panglima itu.

Setelah hilang kagetnya dan melihat bahwa yang masuk secara lancang itu hanyalah seorang pemuda yang tidak memegang senjata dan hanya berpakaian sederhana saja, bangkitlah kemarahan Coon Ciangkun.

“Sudah tahu aku Coan Ciangkun dan engkau berani masuk seperti maling? Apakah nyawamu sudah rangkap lima? Tangkap dia!” bentak panglima itu sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka Yo Han.

Mendengar ini, Si Perut Gendut tertawa bergelak. “Ha-ha-ha-ha, cacing tanah, berani sekali engkau lancang masuk ke sini! Hendak mencuri apakah? Hayo cepat berlutut, atau akan kupatah-patahkan tulang kedua kakimu supaya engkau berlutut dan minta ampun kepada Coan Ciangkun!”

Yo Han bersikap tenang dan matanya masih terus memandang kepada panglima itu. “Aku tidak ingin mencuri apa-apa, bahkan hendak menangkap pencuri dua buah benda pusaka dari gedung pusaka istana!”

Tentu saja ucapannya ini mengejutkan empat orang itu.

“Tong Gu, cepat kau tangkap dia!” bentak panglima itu kepada Si Gendut yang bernama Tong Gu.
“Haiiiittt...!”

Tong Gu menerjang ke depan, gerakannya seperti sebuah bola menggelundung menuju ke arah Yo Han dan agaknya dia benar-benar hendak mematahkan kedua tulang kaki Yo Han karena begitu menerjang, dia sudah membuat gerakan menyapu dengan kaki kanannya yang pendek namun besar. Biar pun berperut gendut, gerakannya gesit sekali dan kaki kanannya sudah menyambar ke arah kedua kaki Yo Han.

Namun, Yo Han sama sekali tidak mengelak, juga tidak menangkis, melainkan berdiri tegak dan masih memandang kepada Coan Ciangkun. Karena itu, tanpa dapat dicegah lagi, kaki kanan Tong Gu menyambar kedua kakinya dengan amat kuatnya.

“Bresss...!”

Bukan tulang kedua kaki Yo Han yang patah-patah, melainkan justru Si Gendut yang berteriak-teriak kesakitan, meloncat-loncat dengan tumpuan kaki kiri sambil mencoba untuk memegangi kaki kanan dengan kedua tangannya. Tetapi karena kedua lengannya pendek, sedangkan kaki kanan itu pun pendek, maka sulit baginya agar bisa memegang kaki itu.

Dan dia pun berjingkrak menari-nari dengan sebelah kaki. Matanya terbelalak, mulutnya ngos-ngosan seperti orang makan merica saking nyerinya, karena kakinya terasa kiut miut seperti pecah-pecah tulangnya. Akan tetapi, dua orang kawannya menjadi marah dan mereka pun siap untuk menerjang.

Yo Han tidak mempedulikan mereka. Dia melihat panglima itu pun terkejut dan bangkit dari tempat duduknya, siap hendak melarikan diri. Sekali tubuhnya berkelebat, Yo Han sudah meloncat ke dekat panglima itu dan jari tangannya menotok. Tubuh panglima itu menjadi lemas dan dia pun jatuh terduduk kembali ke atas kursinya. Dia hanya dapat memandang dengan mata terbelalak karena Yo Han sudah menghampiri ketiga orang tukang pukul itu dengan sikap tenang.

Kini Tong Gu Si Gendut sudah mencabut golok besarnya. Tulang kakinya tidak patah, akan tetapi membengkak dan kebiruan, nyeri sekali. Si Muka Kuning bermata sipit yang bernama Cong Kak juga sudah mencabut sepasang pedangnya, sedangkan Si Hidung Kakatua mencabut rantai baja. Mereka bertiga mengepung Yo Han, namun pemuda ini bersikap tenang.

Dia tidak suka berkelahi, tidak suka menggunakan kekerasan, akan tetapi sekarang dia bisa melihat kebenaran pendapat mendiang gurunya. Kepandaian silat memang penting sekali, untuk menghadapi orang-orang yang sewenang-wenang seperti ini! Bukan untuk berkelahi, bukan untuk menggunakan kekerasan, melainkan untuk menundukkan yang jahat untuk menegakkan kebenaran dan keadilan!

“Lebih baik kalian membujuk majikan kalian untuk menyerahkan dua benda curian itu kepadaku. Jika kalian menggunakan kekerasan, maka kalian sendiri yang akan menjadi korban kekerasan kalian itu!” Yo Han masih coba menasehati, karena kalau dapat, dia hendak menyelesaikan masalah itu tanpa harus melawan tiga orang ini.

Tentu saja nasehatnya itu menggelikan bagi orang-orang yang biasa menggunakan kekerasan itu. Mereka sudah marah sekali dan tanpa dikomando lagi, ketiganya sudah memutar-mutar senjata dan menggerakkan senjata mereka dengan kuat dan cepat, menerjang ke arah Yo Han.

Pemuda ini sudah mewarisi ilmu-ilmu yang sangat tinggi, akan tetapi belum pernah dia menggunakannya dalam perkelahian. Meski demikian, melihat gerakan tiga orang yang bagi orang lain nampak cepat itu, baginya kelihatan lamban sekali dan dia dapat melihat jelas ke arah mana senjata mereka itu menyambar. Dengan kelincahan tubuhnya yang sudah mempelajari segala macam ilmu tari dari Thian-te Tok-ong yang sebenarnya merupakan ilmu-ilmu silat tinggi, dengan amat mudahnya dia mengelak ke sana sini dan semua serangan senjata itu sama sekali tidak mampu menyentuhnya.

Yo Han tidak ingin membunuh orang, bahkan melukainya pun dia tidak tega, walau pun dia tahu bahwa tiga orang ini biasanya menggunakan kekerasan untuk menindas orang lain. Dia harus bekerja cepat agar urusan itu segera dapat diselesaikannya dengan baik.

Maka, begitu tangan kakinya bergerak dengan kecepatan yang tak bisa diikuti pandang mata tiga orang pengeroyoknya, tiba-tiba tiga orang itu berturut-turut jatuh terpelanting dalam keadaan lemas tertotok. Senjata mereka lepas dari pegangan dan mengeluarkan suara berisik ketika terjatuh ke atas lantai.

Akan tetapi, agaknya suara ribut-ribut itu telah terdengar oleh para pengawal panglima itu. Sebelas orang prajurit pengawal lalu berserabutan memasuki ruangan yang luas itu dengan senjata di tangan dan begitu masuk, mereka sudah dapat menduga apa yang terjadi, melihat majikan mereka duduk tak bergerak dan tiga orang jagoan itu roboh dan tak mampu bergerak pula. Maka, serentak mereka mengepung Yo Han dan langsung menyerangnya dengan senjata mereka.

Yo Han maklum bahwa jika ia tidak bertindak cepat, akan makin sukarlah keadaannya. Dia pun mengeluarkan kepandaiannya dan bagaikan seekor burung walet beterbangan, tubuhnya menyambar-nyambar sehingga kembali para pengeroyoknya roboh tertotok seorang demi seorang. Tubuh mereka berserakan, juga ada yang bertumpuk dan dalam waktu yang singkat, sebelas orang itu pun sudah roboh semua tanpa mengalami luka, hanya tertotok dan lemas tak mampu bergerak.
Sebelum datang lagi pengeroyok, sekali loncat Yo Han telah mendekati Coan Ciangkun yang marah duduk tertotok dan tak mampu bergerak. Yo Han membebaskan totokannya terhadap pembesar itu dan Coan Ciangkun dapat pula bergerak. Akan tetapi dia tidak berani bangkit berdiri karena pemuda yang lihai itu sudah mengancamnya dengan jari tangan di leher!

“Mau apa engkau? Engkau akan dihukum mati untuk ini!” kata Coan Ciangkun dengan nada marah. “Pasukanku akan menangkapmu!”
“Sebelum aku di tangkap, aku akan dapat membunuhmu lebih dulu, Ciangkun!” Yo Han mengancam.

Wajah yang marah itu seketika menjadi pucat karena Sang Panglima maklum bahwa pemuda yang dengan mudahnya merobohkan empat belas orang pengawalnya, tentu tidak hanya menggertak, akan tetapi benar-benar akan mampu membunuhnya dengan mudah.

“Apa yang kau inginkan?” tanyanya dan meski pun nadanya masih membentak, namun suara itu gemetar.

Yo Han mendengar suara ribut-ribut di luar ruangan, suara banyak orang dan dia tahu bahwa tentu pasukan penjaga sudah datang mengepung ruangan itu.

“Pertama, kau perintahkan agar supaya pasukanmu mundur dan jangan mengganggu percakapan kita di ruangan ini. Hayo cepat lakukan!” Sengaja Yo Han menyentuh leher panglima itu dengan jari-jari tangannya.

Panglima itu bergidik dan dia pun berseru dengan suara nyaring.

“Pasukan jaga, semua mundur dan jangan ganggu aku. Kami sedang bicara dan siapa pun tidak boleh mengganggu kami!”

Suaranya dikenal oleh para penjaga. Meski merasa heran, mereka semua mendengar dan tidak berani mendekati ruangan itu biar pun di sebelah sana mereka tetap mengatur pengepungan karena mereka tahu bahwa ada seorang asing bersama majikan mereka, dan bahwa belasan orang pengawal telah dirobohkan orang asing itu.

“Bagus, Ciangkun. Kalau engkau berkenan memenuhi semua permintaanku, aku akan membebaskanmu dan tidak akan mengganggumu lagi. Sekarang, keluarkan dua buah benda mustika yang kau curi dari dalam gedung pusaka istana itu!”

Wajah itu semakin pucat. “Apa... apa maksudmu? Pusaka... yang mana...?”

“Engkau tidak perlu berpura-pura lagi, Ciangkun. Aku sudah tahu semuanya. Engkau mendendam kepada keluarga Gan akibat lamaranmu ditolak, dan untuk membalas sakit hati itu, engkau sengaja menyuruh orang mencuri dua buah benda pusaka dari dalam gedung pusaka istana agar Gan Taijin menerima hukuman. Dan engkau menjanjikan kepada Gan Taijin untuk mendapatkan kembali pusaka-pusaka yang hilang itu asal dia mau menyerahkan puterinya kepadamu!”

Sepasang mata itu terbelalak. “Tidak…! Tidak…! Mana buktinya bahwa aku melakukan semua itu?”

Yo Han memandang ke arah meja di depan panglima itu. Sebuah meja yang terbuat dari papan yang tebal. Dia menggerakkan tangan kirinya mencengkeram ke arah ujung meja.....
“Krekk-krekk...!” Dan ujung meja itu hancur menjadi bubuk dalam cengkeramannya.

Wajah panglima itu menjadi pucat sekali dan matanya terbelalak ketakutan.

“Ciangkun, apakah lehermu lebih keras dari pada papan meja ini?”
“Jangan... jangan bunuh aku... apa yang kau inginkan?” pembesar itu berkata, suaranya kehilangan keangkuhannya, bernada menyerah.

“Coan Ciangkun, engkau adalah seorang laki-laki dan memegang jabatan tinggi sebagai panglima. Semestinya engkau seorang yang gagah perkasa. Akan tetapi perbuatanmu ini sungguh memalukan sebagai seorang laki-laki. Kalau pinanganmu ditolak, itu berarti bahwa nona Gan Bi Kim bukan jodohmu. Kenapa engkau hendak memaksanya dengan cara yang begini curang dan pengecut? Kedudukanmu tinggi, akan tetapi watakmu amat rendah. Sekarang, aku hanya ingin engkau memperbaiki kesalahanmu, mengembalikan dua buah benda pusaka itu kepadaku. Cepat, atau aku akan kehilangan kesabaranku dan tanganku yang gatal-gatal ini akan mencengkeram lehermu atau kepalamu!”

Sengaja Yo Han meraba-raba leher itu dan Coan Ciangkun bergidik.

“Jangan bunuh... baik, akan kukembalikan...! Tapi... dua buah benda itu disimpan oleh Tong Gu itu...” Dia menunjuk ke arah tubuh gendut Tong Gu, salah seorang di antara tiga jagoannya tadi, dengan telunjuk yang menggigil.

Yo Han dapat menduga bahwa panglima itu tidak main-main atau hendak menipunya. Bagaimana pun juga, panglima itu telah berada di dalam kekuasaannya dan tidak akan mampu berbuat apa pun.

“Akan kusadarkan dia dan lekas perintahkan dia untuk mengambil dua buah pusaka itu!” katanya dan sekali tangannya bergerak, dia telah membebaskan totokan Tong Gu.

Begitu Si Gendut itu dapat bergerak, dia meloncat dengan sikap hendak menyerang. Akan tetapi Coan Ciangkun menghardiknya.

“Tolol, apa yang akan kau lakukan?!”

Coan Ciangkun memang mendongkol sekali melihat ketidak becusan para jagoannya. Hanya melawan seorang pemuda saja, mereka bertiga roboh, bahkan belasan orang pengawalnya juga roboh. Dan sekarang, masih berlagak hendak melawan!

Tong Gu terkejut dan membungkuk di depan pembesar itu. “Maafkan hamba... hamba kira...”

“Tidak usah banyak cakap. Cepat kau ambil kedua buah pusaka itu dan bawa ke sini!” perintah Coan Ciangkun.
“Baik, Ciangkun!” kata Tong Gu.

Sebelum Tong Gu pergi, Yo Han berkata, “Tong Gu, jangan coba untuk main gila. Ingat, nyawa majikanmu berada di dalam tanganku. Dia akan mati sebelum engkau dapat melakukan sesuatu terhadap diriku!”

“Kalau engkau berani main gila, akan kusuruh hukum siksa sampai mati!” bentak Coan Ciangkun yang agaknya ingin cepat-cepat terbebas dari tangan pemuda yang lihai itu. “Cepat pergi dan ambil benda-benda itu!”

Tong Gu keluar dari ruangan itu dan tentu saja dia disambut oleh hujan pertanyaan dari para rekannya di luar ruangan. Akan tetapi, dia memberi isyarat dengan telunjuknya di depan mulut.

“Gawat Ciangkun telah dikuasai iblis itu. Kalau kita bergerak, tentu Coan Ciangkun akan dibunuhnya. Kita tidak boleh bergerak sebelum Ciangkun dibebaskan. Kepung saja dari luar dan jangan sampai ada yang lolos. Aku harus mengambilkan pusaka itu sekarang juga,” bisiknya kepada para pimpinan pasukan.

Sekarang seluruh penghuni gedung itu telah terbangun dan suasananya menjadi panik. Namun, pasukan itu hanya mengepung di luar gedung, dan keluarga Coan Ciangkun berkumpul di sebelah dalam, dijaga oleh pasukan pengawal dengan ketat.

Tong Gu tidak berani mengabaikan perintah Coan Ciangkun. Dia maklum sepenuhnya bahwa nyawa majikannya dalam ancaman bahaya maut. Dia pun tahu betapa lihainya pemuda yang menawan majikannya itu. Bukan saja dia dan dua orang rekannya yang terkenal jagoan roboh di tangan pemuda itu, juga belasan orang pengawal roboh dalam waktu singkat. Kepandaian pemuda itu tidak wajar, tidak seperti manusia biasa!

Tong Gu muncul kembali ke dalam ruangan itu. Keadaan di sana masih seperti tadi. Coan Ciangkun masih duduk menghadapi meja yang patah ujungnya, dan pemuda itu masih tetap berdiri di belakang panglima dengan sikap tenang sekali. Justru ketenangan sikap pemuda itu yang membuat Tong Gu merasa seram.

Dia meletakkan bungkusan dua buah benda itu di atas meja depan Coan Ciangkun. Yo Han lalu membuka bungkusan itu dan melihat bahwa memang itulah dua benda pusaka yang hilang. Dia sudah mendapat keterangan jelas dari Gan Seng bagaimana bentuk dan rupa dua buah benda pusaka itu. Tanpa ragu lagi, dia mengambil benda-benda itu dan menyimpannya ke dalam saku jubahnya.

“Kami sudah menyerahkan dua buah benda pusaka itu. Sekarang bebaskan kami dan pergilah, jangan ganggu kami lagi!” kata Coan Ciangkun menuntut.
“Nanti dulu, Ciangkun,” kata Yo Han dan dia memandang kepada Tong Gu lalu berkata, “Tong Gu, cepat kau sediakan kertas dan alat tulis untuk Coan Ciangkun!”

Tong Gu tidak berani membantah dan di dalam ruangan itu memang tersedia alat tulis dan kertasnya. Setelah perlengkapan itu berada di atas meja, Yo Han lalu berkata, “Ciangkun, sekarang tulislah surat pengakuanmu bahwa engkaulah yang melakukan pencurian itu!”

Sepasang mata itu lantas terbelalak. “Akan tetapi... engkau hendak melaporkan aku dan mencelakakan aku...?”

Yo Han tersenyum. “Kami bukanlah orang-orang macam engkau yang suka bertindak curang, Ciangkun. Surat itu perlu untuk pegangan Gan Taijin supaya engkau tidak lagi mengganggunya. Kalau engkau berani mengganggunya, maka tentu surat pengakuan itu akan diserahkannya kepada Sri Baginda Kaisar.”

Panglima Coan itu menjadi lemas. Kalau tadinya dia masih mengandung harapan kelak akan membalas semua ini kepada Gan Seng, kini harapannya itu membuyar bagai asap tertiup angin. Dia sudah kalah mutlak dan sebagai seorang ahli perang, dia pun tahu bahwa ada waktu menang dan ada pula waktu kalah. Dan kali ini, dia benar-benar kalah dan tidak berdaya.

Maka, tanpa banyak cakap lagi dia segera mengambil pena bulu dan menuliskan surat pengakuan seperti yang dikehendaki oleh Yo Han. Yo Han mendikte dan diturut oleh panglima itu. Setelah selesai, Yo Han mengambil surat itu dan membacanya sekali lagi.

Saya yang bertanda tangan di bawah ini mengakui sudah mencuri dua benda pusaka, yaitu cap kebesaran dan bendera lambang kekuasaan dari dalam gudang pusaka istana. Perbuatan itu saya lakukan untuk membalas dendam dan mencelakai keluarga Gan Seng, karena lamaran saya terhadap puterinya telah ditolaknya. Kemudian, karena menginsyafi perbuatan saya yang jahat, saya mengembalikan dua buah benda pusaka itu dan berjanji tidak akan mengganggu keluarga Gan lagi.

Tertanda saya,
PANGLIMA COAN.

Yo Han menggulung surat pengakuan itu dan memasukkannya ke dalam saku jubahnya pula. Diam-diam Coan Ciangkun mengepal tinju. Masih ada harapan untuk menebus kekalahannya, yaitu dengan menghadang pemuda ini, mengerahkan pasukan kemudian menangkapnya sebelum pemuda itu menyerahkan kedua buah benda pusaka itu dan surat pengakuannya kepada Gan Seng. Kalau pemuda ini dapat ditangkapnya, semua itu dapat dirampasnya kembali, maka saat itu dia dapat menebus kekalahannya.

Akan tetapi, harapan terakhir ini pun membuyar seperti gantungan terakhir pada sehelai rambut yang putus ketika pemuda itu memegang lengan kanannya dan berkata dengan lembut tapi nadanya memerintah, “Mari, Ciangkun. Kau antar aku keluar dari gedung ini!”

Tentu saja hatinya protes karena perintah itu merupakan tanda kekalahan terakhir baginya, akan tetapi dia tidak berani membantah dan dengan kepala menunduk, dia pun melangkah keluar dari ruangan itu. Pergelangan tangan kanannya digandeng Yo Han, seperti dua orang sahabat baik berjalan bersama, seakan-akan panglima itu mengantar seorang tamu yang akrab keluar meninggalkan rumahnya!

Para prajurit dan pengawal yang tadinya sudah mengepung gedung itu, kini hanya bisa melongo saja tidak berani bertindak apa-apa karena komandan mereka pun diam dalam seribu bahasa, tidak berani mengeluarkan komando untuk melakukan penyergapan!

Setelah sampai di pintu gerbang depan, Yo Han berkata kepada panglima itu. “Coan Ciangkun, terima kasih atas segala kebaikanmu. Mudah-mudahan saja engkau tidak melakukan kekeliruan-kekeliruan selanjutnya. Selamat tinggal!”

Sekali berkelebat, pemuda itu sudah lenyap ditelan kegelapan malam. Beberapa orang perwiranya langsung berloncatan keluar dengan pedang di tangan, hendak melakukan pengejaran. Akan tetapi Coan Ciangkun mengangkat tangan kanan ke atas. Dia maklum bahwa pemuda itu terlalu lihai dan kalau dia salah langkah lagi, mungkin dia tidak akan tertolong. Surat pengakuannya tadi merupakan ujung pedang yang sudah ditodongkan di depan dadanya!

“Jangan kejar dia! Biarkan pergi, aku telah kalah,” katanya dengan lemas dan dia pun memasuki gedungnya.

Tentu saja anak buahnya tak ada yang berani melanggar perintah ini. Apa lagi pemuda itu sudah lenyap dan mereka tidak tahu harus mencari dan mengejar ke mana.....

********************
Pada saat Yo Han menyerahkan dua buah benda pusaka itu bersama surat pengakuan yang dibuat Coan Ciangkun, Gan Seng dan isterinya menjadi demikian gembira dan terharu sehingga kalau tidak dicegah oleh Yo Han, mau rasanya mereka menjatuhkan diri berlutut di depan kaki pemuda itu!

Yo Han bukan saja sudah menyelamatkan Gan Seng, tetapi juga seluruh keluarganya dari mala petaka yang amat besar! Gan Seng merangkulnya dan kedua matanya basah, sedangkan isterinya sudah menangis saking harunya, dirangkul puteri mereka, Gan Bi Kim, yang juga merasa gembira bukan main.

“Yo Han, engkau sungguh merupakan bintang penolong dan penyelamat keluarga kami. Entah bagaimana keluarga kami akan dapat membalas budimu ini, Yo Han.”
“Aihh, Paman Gan, mengapa bicara seperti itu? Saya hanya melaksanakan tugas saya, yaitu memenuhi perintah dan pesan terakhir dari mendiang Suhu. Kalau Paman hendak berterima kasih, semestinya berterima kasih kepada Suhu Ciu Lam Hok karena saya hanya mewakili beliau saja.”

Nenek Ciu Ceng juga seketika sembuh pada saat mendengar hasil baik yang diperoleh Yo Han dalam menyelamatkan keluarga puteranya. Ketika diberi tahu tentang kematian kakaknya, nenek ini menangis dan menuntut kepada puteranya supaya malam itu juga diadakan sembahyang terhadap arwah kakaknya, mendiang kakek Ciu Lam Hok, yang telah mengirim muridnya dan menyelamatkan mereka.

Melihat ini, Yo Han merasa tidak tega untuk menceritakan keadaan kakek Ciu Lam Hok yang buntung kedua kaki tangannya itu. Biarlah mereka menganggap bahwa suhu hidup sampai saat terakhir dalam keadaan sehat dan berbahagia, pikirnya.

Tetapi, betapa kagetnya ketika dia mendengar nenek Ciu Ceng yang bersembahyang di depan meja sembahyang itu menangis sambil berkata dengan suara sungguh-sungguh, seolah-olah suhu-nya masih hidup dan berdiri atau duduk di situ.

“Hok-ko, kami sekeluarga berhutang budi dan nyawa kepada muridmu! Oleh karena itu, ijinkanlah kami untuk mempererat ikatan antara muridmu dengan keluarga Gan Seng, keponakanmu. Kami mohon persetujuanmu agar muridmu dapat menjadi jodoh cucuku Gan Bi Kim.”

Tentu saja Yo Han terkejut bukan main. Dia tidak dapat mengeluarkan kata apa pun dan diam-diam dia lalu menyingkir dari ruangan itu, menuju ke kamar yang sudah disiapkan untuk dia bermalam di rumah keluarga Gan itu. Dia tidak tahu bahwa gadis cantik itu pun menjadi merah sekali wajahnya dan seperti juga dia, Bi Kim cepat lari memasuki kamarnya.

Malam itu Yo Han tidak dapat tidur pulas. Gelisah dia memikirkan ucapan nenek Ciu Ceng. Ucapan itu bagaikan terdengar terus dan bergema di dalam telinganya. Dia akan dijodohkan dengan Bi Kim!

Terjadi semacam pertempuran di dalam hatinya. Ada suara yang seolah memaksanya untuk membayangkan kesenangan-kesenangan yang akan dinikmatinya bila ia menjadi suami Bi Kim. Dia seorang pemuda yatim piatu yang miskin dan tidak punya apa-apa, mendadak akan menjadi suami seorang gadis puteri bangsawan!

Bi Kim seorang gadis yang cantik jelita, berdarah bangsawan dan kaya raya. Kalau dia menjadi suaminya, maka sekaligus derajatnya akan terangkat naik tinggi sekali! Ia akan mempunyai seorang isteri yang cantik jelita, dari keluarga bangsawan yang terhormat dan menurut penglihatannya adalah gadis yang baik budi.

Dia akan menjadi orang yang dimuliakan, yang dihormati dan kaya raya. Bahkan besar kemungkinan dia akan mendapatkan kedudukan yang tinggi. Dan yang lebih dari semua itu, Bi Kim adalah cucu keponakan dari mendiang suhu-nya! Mau apa lagi? Belum tentu selama hidup dia akan mendapat kesempatan sebaik itu, menerima anugerah sebesar itu. Demikian terdengar bisikan di dalam hatinya yang menonjolkan segi-segi yang akan mendatangkan kesenangan bagi hidupnya.

Akan tetapi, ada suara lain lagi yang menentangnya. Suara ini menonjolkan hal-hal yang sebaliknya. Mengingatkan dia bahwa kalau dia menerima perjodohan itu, maka dia akan kehilangan kebebasannya. Dia akan terikat di situ. Dan tiba-tiba saja bayangan seorang anak perempuan yang mungil dan berpakaian merah muncul dalam benaknya. Sian Li!

Bayangan anak ini selalu saja muncul setiap kali hatinya mengalami guncangan atau dalam keadaan kesepian atau gelisah seperti sekarang ini. Sian Li yang manis, yang mungil, yang lincah jenaka, yang amat sayang kepadanya dan amat disayangnya! Dia ingin bertemu kembali dengan Sian Li!

Kalau dia menjadi mantu keluarga Gan di kota raja, dia terpaksa harus tinggal di situ, padahal dia masih harus melaksanakan tugas lain yang dipesan oleh suhu-nya, yaitu mencari mutiara hitam pusaka milik gurunya yang hilang dan kabarnya dibawa seorang kepala suku bangsa Miao! Ah, inilah yang dapat dia jadikan alasan! Mendapatkan jalan untuk digunakan sebagai alasan penolakannya, hatinya tenang dan dia pun dapat tidur pulas menjelang pagi.

Dia hanya tidur selama dua jam saja karena pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ketika terdengar kokok ayam jantan, dia sudah bangun kembali. Tubuhnya terasa segar. Jauh lebih menyehatkan tidur selama dua jam dengan pulas dari pada tidur semalaman suntuk dalam keadaan gelisah.

Dia segera mandi karena di dalam gedung besar itu selalu tersedia air secukupnya di kamar mandi. Tubuhnya terasa makin nyaman dan ia pun berganti pakaian. Dan melihat bahwa rumah itu masih sunyi, agaknya penghuninya masih tidur, dia pun keluar melalui pintu belakang menuju ke taman bunga yang berada di belakang.

Agaknya, tiap rumah gedung seorang bangsawan atau hartawan pasti memiliki sebuah taman bunga yang indah. Taman bunga milik keluarga Gan itu pun luas dan amat indah, terdapat kolam ikan yang lebar dan anak sungai buatan yang selalu mengalirkan air yang jernih. Ada beberapa buah jembatan yang cantik sekali, dibuat dengan seni indah dan dicat merah kuning. Ada pondok kecil tempat berteduh kalau hawa sedang panas.

Yo Han mengagumi keindahan taman itu dan karena pada waktu itu musim berbunga sedang mulai, maka sebagian besar tanaman di situ mulai berkuncup dan berbunga. Bahkan teratai merah dan putih di kolam ujung juga mekar meriah.

Tiba-tiba Yo Han terkejut dari lamunannya ketika dia melihat seorang wanita berdiri di dekat kolam bunga teratai, berdiri membelakanginya. Tadi dia tidak melihatnya karena serumpun mawar menutupinya dan sekarang dia melihatnya, tetapi sudah terlampau dekat dan selagi dia hendak cepat membalikkan tubuh pergi dari situ, orang itu sudah membalikkan tubuh memandangnya dan menegur.

“Yo-twako (Kakak Yo)...”

Yo Han merasa serba salah. Hendak pergi dapat menimbulkan kesan tidak ramah dan sombong, kalau tinggal di situ dapat dianggap kurang sopan karena bertemu dengan gadis puteri tuan rumah di pagi buta dalam taman. Apa lagi mengingat bahwa semalam, nenek gadis itu menjodohkan dia dengan Bi Kim. Dia cepat merangkap kedua tangan depan dada dan membungkuk untuk memberi hormat.

“Kim-moi (Adik Kim), selamat pagi! Aku tidak tahu bahwa engkau sedang berada di sini, maafkan aku kalau mengganggu ketenanganmu.”

Wajah gadis itu berubah kemerahan dan ia menahan senyumnya sambil memandang dari bawah dengan kepala menunduk. Kerling matanya sungguh amat menarik, kerling sopan dan malu-malu.

“Ahh, Yo-toako mengapa bersikap amat sungkan? Tentu saja tidak mengganggu. Akan tetapi, kulihat sepagi ini engkau sudah bangun, sudah mandi dan berpakaian rapi!”
“Benar, Kim-moi, karena aku hanya menanti sampai orang tuamu dan nenekmu bangun untuk berpamit dari mereka.”

Bi Kim mengangkat muka dan menatap wajah Yo Han sepenuhnya dengan kedua mata terbelalak. Diam-diam Yo Han terpesona. Mata itu demikian indahnya ketika terbelalak. Seperti lukisan! Nampak betapa sepasang alis yang hitam kecil melengkung itu sedikit terangkat menjauhi mata, dan betapa bulu mata yang halus lebat itu bergerak-gerak menimbulkan bayang-bayang gelap di sekitar mata, dan biji mata itu nampak lebih lebar dari biasanya, begitu bening dan lembut, mengkilat basah.

“Toako... kau... kau mau berpamit? Mau pergi...?”

Sejenak dua pasang mata bertemu dan mata yang terbelalak itu akhirnya menunduk kembali, terbawa muka yang ditundukkan. Dalam suara itu terkandung getaran seperti orang yang menangis sehingga Yo Han menjadi terheran-heran.

Yo Han menganggukkan kepala dan kalau gadis itu masih memandangnya, tentu dia tidak akan mengeluarkan suara, cukup dengan mengangguk saja. Akan tetapi karena gadis itu menunduk dan tidak memandangnya, tentu saja anggukan kepalanya sebagai jawaban itu tidak akan terlihat, dan sikap gadis itu jelas menuntut jawaban.

“Benar, Kim-moi. Aku akan pergi melanjutkan perjalananku,” katanya lirih dan singkat.

Gadis itu mengangkat mukanya dan Yo Han merasa semakin heran. Gadis itu jelas menangis, atau setidaknya berlinang air mata! Sungguh aneh!

“Akan tetapi, semalam nenek...” Tiba-tiba ia menghentikan ucapannya dan menunduk makin dalam, agaknya baru teringat bahwa ia telah mengeluarkan ucapan yang sama sekali tidak pantas.

Ia tidak sengaja berkata demikian. Ucapan neneknya semalam yang menjodohkan dia dengan pemuda ini terngiang di telinganya sepanjang malam, membuat ia tidak dapat tidur dan pagi-pagi ini ia keluar ke taman dengan suara neneknya masih terus mengiang di telinganya. Oleh karena itulah, tanpa disadari dan tanpa disengaja, perasaannya itu terucapkan oleh mulutnya dan biar pun ditahannya, namun ia telah menyebut neneknya dan tentu pemuda itu dapat mengerti. Betapa memalukan!

Memang Yo Han mengerti dan dia pun tertegun. Kiranya seperti juga dia, usul nenek Ciu Ceng itu membuat gadis ini menjadi gelisah!

“Maksudmu, pernyataan nenek Ciu Ceng tentang... perjodohan itu, Kim-moi?

Mendengar betapa ucapan pemuda itu terdengar wajar dan santai saja, perlahan-lahan kecanggungan yang dirasakan gadis itu pun berkurang dan ia berani mengangkat muka memandang wajah Yo Han.

Bi Kim mengangguk dan bertanya lirih, “Bagaimana pendapatmu tentang usul nenek itu?”

Hemm, gadis ini cukup tabah, pikir Yo Han. Dan dia merasa girang sekali.

Memang jauh lebih baik membicarakan urusan ini dengan hati terbuka, dari pada harus menyimpannya dalam hati dan kelak menjadi ganjalan. Dia tahu bahwa Bi Kim adalah seorang gadis terpelajar dan mampu berpikir jauh dan berpandangan luas, tidak sempit seperti gadis-gadis yang tiada pendidikan yang baik.

“Nanti dulu, Kim-moi. Karena usul itu datang dari pihak keluargamu, maka aku ingin sekali mendengar dahulu bagaimana pendapatmu dengan pertanyaan nenek itu. Lebih baik kita bicara dengan terus terang, karena hal ini menyangkut kehidupan kita berdua di masa mendatang. Nah, katakan bagaimana pendapatmu?"

Kembali wajah gadis itu memerah. Biar pun dia bukan gadis dusun dan berpendidikan, akan tetapi bicara tentang urusan perjodohan tentu saja membuat ia merasa kikuk dan malu. Ia kembali menunduk dan suaranya terdengar gemetar dan canggung, juga lirih.

“Apa yang dapat kukatakan, Toako? Engkau telah menyelamatkan keluarga kami. Kalau tidak ada bantuanmu, tentu Ayahku dihukum dan kami yang menjadi keluarganya juga tidak akan lolos dari hukuman. Lebih lagi, kalau tidak ada engkau yang menundukkan panglima jahanam itu, dia tentu akan terus merongrong dan menggangguku. Kini kami bebas dan merasa lega. Semua ini karena pertolonganmu. Tentu saja aku... aku... ahh, bagaimana aku akan dapat menolak? Aku... ehhh… setuju sekali.”

Yo Han mengerutkan alisnya. Dia mengerti akan isi hati gadis itu. Tidak hanya karena ingin balas budi! Memang gadis itu agaknya suka padanya. Hal ini mudah diketahuinya dari pandang matanya dan sikapnya, dan jantungnya sendiri berdebar tegang. Betapa akan senangnya disayang oleh seorang gadis secantik jelita Bi Kim!

Tetapi, kembali wajah seorang anak perempuan berpakaian merah muncul di benaknya, mengusir bayangan menyenangkan dari Bi Kim. Wajah Sian Li! Dan teringatlah dia akan tugasnya yang penting, yaitu mencari mutiara hitam gurunya. Maka, dia pun diam saja, termangu-mangu dan tidak tahu harus bicara apa.

Karena pemuda itu tidak menanggapi pengakuannya tadi, Bi Kim lalu memberanikan diri melawan rasa canggung dan malu, mengangat muka memandang. Dia melihat pemuda itu bengong saja, maka dia pun balik bertanya.

“Bagaimana dengan pendapatmu sendiri, Yo-toako?” suaranya terdengar penuh harap, matanya bersinar-sinar, dan mulutnya membayangkan senyum dikulum. Mulut gadis itu memang hebat, begitu penuh daya tarik, menggairahkan dan menantang.

“Aku...? Ehh, pendapatku? Ahh, bagimana, ya? Kim-moi, pemuda mana yang tidak akan berbangga hati dan merasa bahagia sekali menjadi jodohmu? Engkau seorang gadis bangsawan yang cantik jelita dan orang tuamu berkedudukan tinggi, bangsawan dan hartawan. Selain kecantikanmu, engkau pun berpendidikan dan berbudi baik sekali. Apa lagi yang dikehendaki seorang pemuda dari seorang gadis? Dan sebaliknya, aku hanya seorang pemuda yatim piatu yang tidak memiliki apa-apa, tidak berpendidikan, bodoh dan miskin. Aku bagaikan seekor burung gagak di samping engkau yang seperti burung dewata! Bagaimana aku berani menjajarkan diriku yang hina dan papa ini dengan dirimu yang begitu mulia dan anggun?”

“Yo-toako!” Bi Kim berseru penuh penasaran dan alisnya yang hitam kecil panjang serta melengkung itu berkerut. “Janganlah engkau merendahkan diri seperti itu! Orang boleh rendah hati, itu baik sekali. Akan tetapi rendah diri? Tidak ada gunanya, Toako. Apa lagi kenyataan menunjukkan bahwa engkau seorang pemuda yang amat lihai, berilmu tinggi, dan di dekatmu orang akan merasa aman tenteram, tidak takut menghadapi ancaman apa pun juga. Dibandingkan dengan engkau, aku seorang gadis yang lemah sekali dan sama sekali tak berdaya menghadapi kejahatan yang merajalela di dunia ini. Aku hanya bertanya mengenai pendapatmu, bukan keadaan dirimu yang kau rendahkan seperti itu, Toako.”

Yo Han tersenyum. Tepat dugaannya. Gadis ini memang pandai dan cerdik, amat pintar berbicara. “Maafkan aku, Kim-moi. Aku bukan merendahkan diri, melainkan menyatakan pendapatku berdasarkan kenyataan. Akan tetapi bukan keadaan itu yang membuat aku terpaksa tidak berani menerima usul dari nenekmu, melainkan karena aku masih harus melaksanakan tugas yang dipesankan mendiang Suhu kepadaku, yaitu mencari sebuah benda pusaka milik Suhu yang dulu hilang dicuri orang.”

Gadis itu nampak kecewa, akan tetapi menutupi perasaannya dengan bertanya serius. “Pusaka apakah yang hilang itu, Toako?”

“Sebuah benda pusaka milik Suhu yang disebut Mutiara Hitam, kabarnya kini berada di tangan seorang kepala suku bangsa Miao. Karena itu, tugas ini harus kulaksanakan dulu sampai berhasil.”

“Dan kalau engkau sudah berhasil dengan tugas itu?” Bi Kim mengejar.
“Kalau sudah berhasil... bagaimana nanti saja. Kelak masih banyak waktu untuk bicara tentang urusan pribadi, Kim-moi. Bukankah jodoh berada di tangan Tuhan? Bila Tuhan menghendaki agar kita... berjodoh, pasti hal itu akan terjadi. Sebaliknya, kalau Tuhan tidak menghendaki, walau direncanakan pun akan gagal. Karena itu, terus terang saja, sebelum aku selesai menunaikan tugas dari mendiang Suhu, aku tidak akan memikirkan soal perjodohan. Maaf, Kim-moi,” katanya dan cepat-cepat menutup ucapannya dengan permintaan maaf karena dia tak ingin menyinggung perasaan gadis itu. Apa lagi melihat wajah gadis itu berubah agak muram.

Sampai lama keduanya tidak bicara, kemudian gadis itu membalikkan tubuhnya hingga membelakangi Yo Han dan terdengar suaranya yang lirih, “Seorang lelaki akan mudah bicara seperti itu, Toako. Akan tetapi bagaimana mungkin seorang perempuan memiliki pendapat seperti itu? Jika belum ada ikatan dengan seseorang, maka setiap saat orang tua akan menjodohkan seorang gadis dengan pria mana saja yang dianggap baik dan cocok. Dan engkau tentu tahu, sebagai seorang anak yang berbakti, tidak mungkin aku dapat menolaknya. Berbeda halnya kalau seorang gadis sudah terikat, biar pun menanti sampai beberapa tahun pun tidak ada halangannya...”

Yo Han merasa betapa jantungnya berdebar keras. Dari ucapan gadis ini saja sudah mengandung arti pengakuan bahwa gadis itu menginginkan mereka terikat! Ini berarti bahwa gadis ini berharap menjadi calon jodohnya, bahwa gadis ini menaruh harapan kepadanya dan cinta padanya!

Yo Han merasa kasihan. Tidak boleh dia menyia-nyiakan harapan seorang gadis sebaik ini, tidak boleh dia menghancurkan hatinya. Dia harus dapat mencari alasan yang lebih tepat. Teringatlah dia akan Sian Li, akan ayah ibu anak itu, yaitu suhu dan subo-nya, guru-gurunya yang pertama sejak dia kecil sampai dia berusia dua belas tahun!

Bukankah suhu dan subo-nya itu dahulu juga amat sayang kepadanya, bahkan sudah menganggapnya seperti anak mereka sendiri? Sudah lama, sejak menjadi murid Kakek Ciu Lam Hok, dia menyadari sikap suhu dan subo-nya yang tidak ingin melihat Sian Li ketularan sikapnya yang dulu sama sekali tidak suka belajar ilmu silat.

Ia dapat merasakan kekhawatiran kedua orang suami isteri pendekar itu yang tentu saja prihatin sekali melihat murid mereka tidak mau belajar silat, dan melihat betapa mungkin saja Sian Li juga mengikuti jejaknya, tidak mau belajar silat. Karena pengertian inilah sudah lama dia tidak pernah merasa kecewa atau menyesal. Dia meninggalkan suhu dan subo-nya itu bukan karena tidak suka, melainkan karena tidak ingin menyusahkan mereka, tidak ingin mengecewakan mereka kerena Sian Li mencontoh dia, tidak suka belajar ilmu silat.

“Adik Bi Kim. Aku mengerti perasaanmu. Dan ketahuilah bahwa aku akan berbohong kalau tidak mengatakan bahwa setiap orang pemuda akan berbahagia sekali menjadi calon jodohmu. Akan tetapi untuk aku sendiri, aku tidak berani memutuskan, karena aku harus bertanya kepada mereka yang berhak menentukan. Aku pun ingin seperti engkau, menjadi seorang yang berbakti...”

“Yo-toako! Bukankah kau pernah mengatakan bahwa engkau yatim piatu, tidak memiliki ayah dan ibu lagi? Dan gurumu, yaitu kakak dari Nenek juga sudah meninggal dunia, lalu siapa lagi yang berhak menentukan?”

“Belum kuceritakan semua tentang riwayatku kepadamu, Kim-moi. Sebelum menjadi murid mendiang Kakek Ciu Lam Hok, aku sudah mempunyai guru-guru yaitu sepasang suami isteri yang bukan saja mendidikku, akan tetapi juga merawatku sejak aku kecil ditinggalkan orang tuaku. Merekalah yang membesarkan aku, sejak aku berusia tujuh tahun ditinggal oleh ayah ibuku, sampai aku berusia dua belas tahun. Lima tahun aku seolah-olah menjadi anak mereka sendiri dan aku telah menerima budi yang berlimpah dari mereka. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kalau aku menganggap mereka sebagai pengganti orang tuaku dan menyerahkan kepada mereka untuk urusan perjodohanku. Nah, sekarang sudah kau ketahui semua, Kim-moi. Aku mohon diri, hari ini aku akan melanjutkan perjalanan mencari pusaka mendiang Guruku. Selamat tinggal dan semoga kelak kita dapat bertemu kembali.”

“Selamat jalan, Toako.” Gadis itu cepat membalikkan tubuh dan pergi meninggalkan Yo Han, akan tetapi pemuda itu masih sempat mendengar tangisnya.

Yo Han lalu berpamit kepada Nenek Ciu Ceng, Gan Seng dan isterinya. Gan Seng dan isterinya menyambut dengan ramah dan berterima kasih, akan tetapi Nenek Ciu Ceng tanpa sungkan kemudian bertanya, “Yo Han, engkau murid kakakku yang baik. Sebelum engkau pergi, engkau harus lebih dulu menyatakan kesediaanmu menerima permintaan kami.”

Berdebar rasa jantung dalam dada Yo Han. Tadinya dia mengira bahwa nenek itu lupa akan ucapannya ketika bersembahyang di depan meja sembahyang untuk gurunya. Kiranya pada saat ini, nenek itu mengajukan desakan yang membuat dia merasa serba salah. Dia melirik kepada Bi Kim yang berdiri di sudut sambil menundukkan mukanya, karena baik dia dan gadis itu tahu apa yang dimaksudkan oleh nenek itu. Tetapi, untuk memberi kesempatan baginya menenangkan hatinya yang terguncang karena tegang dia berkata,

“Permintaan apakah yang Nenek maksudkan?”
“Apa lagi, Yo Han? Engkau telah menyelamatkan keluarga kami, dan kami tidak berani minta apa-apa lagi. Hanya satu, yaitu kami harap engkau suka menerima cucuku Bi Kim menjadi jodohmu...”
“Nenek...!” Bi Kim terisak dan lari ke dalam kamarnya.

Melihat ulah gadis itu, Nenek Ciu Ceng terkekeh. “Heh-heh-heh, malu-malu berarti mau. Bagaimana, Yo Han? Engkau harus memberi keputusan dulu supaya hati kami merasa lega.”

Melihat pemuda itu termenung, hati Gan Seng yang merasa tidak enak melihat ibunya seperti mendesak dan memaksa, lalu berkata dengan suara lembut. “Yo Han, tentu saja kami tidak memaksamu. Kami tentu akan merasa berbahagia sekali kalau engkau suka menerima anak kami sebagai calon isterimu, akan tetapi andai kata engkau tidak suka, kami pun tidak dapat memaksamu.”

Justru ucapan yang lembut dari pembesar ini lebih berat rasanya bagi Yo Han. Bagai mana mungkin dia mengatakan tidak suka dan menolaknya? Dia cepat memberi hormat kepada tiga orang itu.

“Nenek, Paman dan Bibi yang baik, harap maafkan saya. Sungguh saya tak akan berani menolak, bahkan merasa terharu dan berterima kasih sekali atas kebaikan penghargaan Sam-wi (Anda Bertiga) yang sudi mencalonkan saya yang yatim piatu dan papa ini sebagai anggota keluarga. Akan tetapi maafkan, saya belum dapat memberi keputusan sekarang. Pertama, saya harus menyelesaikan tugas yang diberikan mendiang Suhu, yaitu menemukan kembali pusaka milik Suhu yang dulu dicuri orang. Ke dua, mengenai perjodohan, saya harus menyerahkannya kepada Suhu dan Subo saya yang pertama yang sudah menjadi seperti pengganti orang tua saya sebelum saya berguru kepada mendiang Suhu Ciu Lam Hok.”

“Baiklah, Yo Han,” kata Gan-taijin (Pembesar Gan) mendahului agar ibunya tak sempat mengeluarkan ucapan yang sifatnya memaksa atau menyudutkan pemuda itu. “Kami sekeluarga akan menanti berita darimu setelah engkau dapat membuat keputusan.”
“Terima kasih, Paman. Sekarang saya mohon diri untuk melanjutkan perjalanan saya.”

Setelah memberi hormat lagi, Yo Han mulai melangkah keluar. Akan tetapi terdengar suara nenek Ciu Ceng, “Ingat, Yo Han. Kami sudah menganggapmu sebagai calon suami cucuku Bi Kim. Kami akan menolak pinangan dari mana pun juga datangnya dan selalu menunggumu!”

Gan Seng dan isterinya tidak sempat mencegah dan ucapan itu berkesan dalam sekali di hati Yo Han. Mereka sudah menganggap dia tunangan Bi Kim dan ini berarti bahwa gadis itu tidak bebas lagi! Dia ingin membantah, akan tetapi merasa tidak enak, maka merasa lebih aman tidak menjawab dan melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan rumah keluarga pembesar tinggi itu.

Setelah Yo Han pergi, sampai dua hari lamanya Gan Bi Kim tidak pernah meninggalkan kamarnya. Ia merasa semangatnya melayang ikut pergi bersama pemuda yang sangat dikaguminya dan yang telah menjatuhkan cinta hatinya itu. Ia merasa kehilangan, apa lagi karena jawaban pemuda itu membuat dia tidak yakin akan perjodohannya dengan pemuda itu.

Setelah dapat menenteramkan hatinya, ia lalu menghadap ayahnya dan merengek agar ia dicarikan guru-guru silat yang pandai karena ia ingin belajar ilmu silat.

“Ahhh, engkau ini aneh-aneh saja, A-kim,” kata ayahnya sambil mengerutkan alisnya. “Engkau seorang puteri bangsawan, engkau sudah mempelajari semua ilmu kepandaian yang sepatutnya dimiliki seorang puteri. Apa lagi yang hendak kau pelajari? Apa lagi dari seorang guru silat? Ilmu silat hanya akan membuat telapak tanganmu yang halus menjadi kasar, tubuhmu yang lembut menjadi kaku!”

“Ayah, lupakah Ayah akan mala petaka yang baru saja menimpa keluarga kita? Semua itu terjadi karena kita lemah! Untung ada Han-ko datang menolong. Andai kata tidak, bagaimana? Coba andai kata aku pandai ilmu silat, tentu sudah kuhajar Coan Ciangkun yang jahat itu. Ayah, kalau aku pandai ilmu silat, setidaknya aku akan dapat menjaga keamanan keluarga kita.”
“A-kim,” kata ibunya membujuk. “Aku ingin anakku menjadi seorang wanita yang halus lembut dan bijaksana, bukan menjadi tokoh rimba persilatan yang kaku dan kasar!”

“Tetapi Ibu agaknya lupa bahwa Koko Yo Han juga seorang tokoh rimba persilatan, seorang pendekar yang mempunyai ilmu silat yang amat tinggi. Bagaimana kalau aku dijodohkan dengan dia lalu sama sekali aku tidak tahu ilmu silat, bahkan hanya seorang gadis yang sangat lemah? Ingatlah, Ayah. Bukankah Uwa kakek Ciu Lam Hok adalah seorang sakti? Masa aku sebagai cucu keponakannya tidak mengerti ilmu silat? Ayah, carikan guru silat yang lihai untukku!”

Alasan-alasan yang dikemukakan puteri mereka yang setiap hari merengek itu akhirnya menggerakkan hati Gan Seng. Sebagai seorang pejabat tinggi yang dekat dengan istana, Gan-taijin mengenal para jagoan istana yang memiliki ilmu silat tinggi. Dia lalu menghubungi para jagoan itu dan mulai hari itu, Gan Bi Kim belajar ilmu silat dan ternyata gadis ini memiliki bakat yang baik di samping ketekunan yang luar biasa. Ketekunan itu timbul setelah keluarga tertimpa mala petaka, setelah dara ini bertemu dengan Yo Han yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Dengan bayaran tinggi yang dapat dipenuhi oleh Gan Seng, guru-guru silat jagoan istana itu bertambah gembira melihat betapa gadis puteri bangsawan itu ternyata memiliki bakat yang amat baik dan dapat menjadi murid yang akan menambah tinggi derajat mereka. Bahkan banyak jagoan istana seperti berlomba untuk mengajarkan ilmu-ilmu mereka kepada gadis bangsawan yang berbakat dan amat rajin ini.....

********************
Bangau Merah terbang di angkasa
disengat terik matahari senja
betapa ingin aku menjadi awan
untuk melindunginya,
dari sengatan!

Bangau Merah melayang di angkasa
hujan lebat datang menimpanya
betapa ingin aku menjadi goa
tempat berteduh bangau jelita!

Bangau Merah meluncur di angkasa
letih dan lapar datang menggoda
betapa ingin aku menjadi ranting berbuah
tempat ia istirahat dengan makanan berlimpah

Bangau Merah...

“Heiiii! Engkau sedang mengapa di situ, Suheng? Dari tadi kudengar menyebut-nyebut nama samaranku. Engkau dari tadi menyebut Bangau Merah!”

Gadis itu muncul dan memang dia berpakaian serba merah dengan garis-garis kuning dan biru. Pakaian itu ringkas, sederhana bentuknya, tetapi terbuat dari sutera merah yang membuat penampilannya amat cerah dan wajahnya nampak lebih manis, kulitnya menjadi semakin mulus.

Dia seorang gadis berusia tujuh belas tahun, baru manis-manisnya, bagai bunga mulai mekar dan bagaikan buah sedang meranum. Dara ini memang cantik jelita, dengan wajah yang berbentuk bulat telur, matanya lebar dan jeli, hidungnya mancung dengan ujung menantang, mulutnya yang kecil dengan bibir tipis lembut yang selalu kemerahan tanda sehat itu selalu tersenyum mengejek sehingga sering kali lesung kedua pipinya nampak memikat.

Memang sejak kecil ia disebut Bangau Merah karena ia suka sekali memakai pakaian berwarna kemerahan dan ia puteri tunggal Pendekar Bangau Putih Tan Sin Hong yang sangat terkenal itu. Kalau ayahnya hampir selalu mengenakan pakaian putih, dara ini selalu mengenakan pakaian berwarna merah. Namanya Tan Sian Li.

Seperti telah kita ketahui, Sian Li diminta oleh paman kakeknya, yaitu pendekar sakti Suma Ceng Liong dan isterinya, Kam Bi Eng, untuk mewarisi ilmu silat mereka. Suma Ceng Liong adalah adik dari nenek Sian Li yang bernama Suma Hui, yaitu nenek dari ibunya.

Meski pun ayah Sian Li sendiri seorang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian hebat, bahkan tidak kalah dibandingkan ilmu kepandaian Suma Ceng Liong, namun dia dan isterinya merasa tidak enak untuk menolak niat baik paman mereka itu. Apa lagi, Suma Ceng Liong merupakan keturunan dari keluarga Pendekar Pulau Es dan memiliki ilmu kepandaian yang khas, sedangkan isterinya juga seorang pendekar wanita sakti, puteri dari Pendekar Suling Emas Kam Hong.

Telah lima tahun Sian Li digembleng oleh suami isteri itu di dusun Hong-cun, luar kota Cin-an di Propinsi Shantung. Setiap satu tahun sekali, jatuh pada hari tahun baru, ayah ibunya, yaitu Tan Sin Hong dan Kao Hong Li, selalu datang berkunjung.

Melihat bakat yang baik dari Sian Li, apa lagi karena dara ini sejak kecil telah mendapat pendidikan dasar yang amat kuat dari ayah ibunya, maka suami isteri itu mengajarkan ilmu-ilmu silat simpanan mereka kepada dara itu sehingga selama belajar lima tahun lamanya, Sian Li sudah menjadi seorang gadis yang amat lihai. Bahkan kelihaiannya melampaui tingkat yang dimiliki suheng-nya, yaitu Liem Sian Lun.

Pemuda berusia dua puluh tahun yang bersajak tadi adalah Liem Sian Lun, suheng-nya. Sian Lun kini telah menjadi seorang pemuda dewasa yang bertubuh tinggi besar, gagah dan tampan. Wajahnya selalu cerah dan dia pun pendiam tidak banyak bicara, kecuali kalau diajak bicara tentang sajak. Dia amat suka dan pandai membuat sajak.

Suma Ceng Liong dan isterinya, Kam Bi Eng, memang tidak mengabaikan pendidikan sastra terhadap Sian Lun dan Sian Li. Mereka mengundang guru sastra yang pandai untuk mengajarkan ilmu sastra yang lebih mendalam kepada dua orang murid itu.

Senja itu memang cerah dan indah. Sejak tadi sebelum Sian Li mancari, Sian Lun sudah duduk termenung seorang diri di lereng bukit yang berada di luar dusun Hong-cun itu. Tempat ini merupakan tempat kesayangannya, di mana dia dan sumoi-nya sering kali bermain-main sejak Sian Li berusia dua belas tahun dan datang ke tempat itu.

Bukit yang tidak besar, namun berada di lereng bukit itu, pemandangan alamnya amat indah. Mereka dapat melihat dusun Hong-cun di kaki bukit dan mereka dapat menikmati keindahan senja kala di situ karena lereng bukit itu berada di sebelah barat.

Ketika tadi melihat keindahan senja yang cerah, melihat burung-burung bangau terbang melayang di angkasa melintasi matahari senja, agaknya hendak pulang ke sarangnya, teringatlah Sian Lun kepada sumoi-nya. Sumoi-nya itu diberi julukan Bangau Merah oleh suhu dan subo-nya. Julukan yang tepat sekali oleh karena sumoi-nya selalu berpakaian merah. Sumoi-nya juga puteri Pendekar Bangau Putih dan jika sudah bersilat, gerakan sumoi-nya demikian indah, seindah gerakan burung bangau yang sedang terbang.

Maka, keindahan dan lamunan telah membuat dia bersajak tentang bangau merah dan tentang keinginan hatinya untuk menjadi pelindung bagi Sang Bangau Merah! Sajak ini merupakan cetusan hatinya karena diam-diam Liem Sian Lun telah jatuh cinta setengah mati kepada sumoi-nya, Si Bangau Merah!

Walau pun dia belum berani menyatakan isi hatinya secara berterang kepada Sian Li, namun dia sudah yakin bahwa sumoi-nya tentu tak akan menolak cintanya. Dia bahkan sudah yakin bahwa kelak sumoi-nya pasti akan menjadi isterinya, dan diam-diam dia menganggap sumoi-nya telah menjadi tunangannya!

Keyakinan ini diperkuat ketika secara tidak sengaja dia mendengar percakapan antara suhu dan subo-nya dari luar kamar mereka. Ketika itu, pada malam hari, dia lewat di depan kamar mereka dan suara mereka menembus jendela kamar sehingga tertangkap oleh pendengarannya.

“Kebetulan nama mereka juga mirip. Sian Lun dan Sian Li! Akan tetapi bagaimana kalau orang tuanya tidak setuju?” terdengar suhu-nya berkata. Mendengar namanya disebut, Sian Lun memperlambat langkahnya dan mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Aku percaya keponakanku tentu akan setuju. Apa lagi kalau kita jamin bahwa Sian Lun adalah seorang anak yang baik sekali. Kulihat mereka itu berjodoh.”
“Aihh, jodoh di tangan Tuhan. Jangan mendahului kehendak Tuhan,” kata suhu-nya dan mereka pun tidak bicara lagi.

Sian Lun tidak berani berhenti, hanya memperlambat jalannya sehingga andai kata suhu dan subo-nya mendengar tangkahnya, tentu mereka tidak akan menduga bahwa dia ikut mendengarkan percakapan mereka. Dan sejak mendengar percakapan itu, beberapa bulan yang lalu, dia merasa yakin bahwa Sian Li kelak pasti akan menjadi isterinya!

Akan tetapi, Sian Li amat manja dan lincah galak. Apa lagi ia tahu betapa suheng-nya amat menyayangnya, juga kakek dan nenek yang menjadi gurunya. Terhadap Sian Li, Sian Lun agak takut dan penurut, dan hal ini membuat Sian Li semakin manja. Sikap manja yang di dalam pandangan Sian Lun bahkan membuat dara itu menjadi semakin menggemaskan dan menarik hati.

Cinta birahi kalau sudah mencengkeram hati seseorang, membuat orang itu menjadi badut. Ulah tingkahnya menjadi lucu dan tidak wajar lagi. Mulut cemberut seorang yang dicinta akan nampak semakin manis, bahkan ada pula kelakar yang kasar mengatakan bahwa kentut seorang kekasih berbau sedap! Sebaliknya, senyum ramah seorang yang dibenci akan nampak mencemooh dan dianggap senyum itu mengejek dan mentertawai sehingga menimbulkan amarah!

Sian Lun terkejut ketika dia sedang melamun dan membaca sajak yang timbul di saat yang romantis itu, tiba-tiba dia ditegur oleh Sian Li yang kemunculannya tidak diduga sebelumnya. Saking kagetnya dia hanya menoleh dan memandang kearah dara yang nampak lebih cantik dari pada biasanya itu, segar habis mandi seperti setangkai bunga bermandikan embun.

Melihat pemuda itu tak menjawab pertanyaannya dan hanya bengong memandangnya, Sian Li cemberut.

“Heiii, Suheng, engkau ini kenapa sih? Tadi menyebut-nyebut Bangau Merah berulang kali, sekarang engkau hanya bengong tanpa menjawab pertanyaanku!”
“Sumoi... aihh, engkau... engkau demikian cantik... indah sekali, ahh, pantasnya engkau seorang dewi kahyangan yang baru turun melalui cahaya yang keemasan...”

Kalau saja tidak timbul kebanggaan oleh pujian ini, tentu Sian Li sudah tertawa geli. “Ahhh, yang benar, Suheng!” katanya memancing pujian lebih banyak.

Sian Lun benar terpesona dan matanya menatap tanpa pernah berkedip, seolah takut kalau berkedip, keindahan di depannya itu akan lenyap. Dara itu berdiri menghadap matahari senja, sepenuhnya diselimuti cahaya keemasan.....

“Sungguh, Sumoi... rambutmu yang hitam itu kini dilingkari sinar kekuningan, wajahmu mencorong oleh sinar keemasan, engkau tampak begitu segar, begitu hidup, berkilauan, matamu bercahaya, senyummu... duhai, Sumoi, betapa cantik jelita engkau...” Sian Lun tidak biasa merayu, akan tetapi kali ini dia terpesona dan seperti dalam mimpi rasanya.

“Ahhh, masa...?” Sian Li berseru manja, haus pujian selanjutnya.
“Sumoi, engkau laksana dewi yang bermandikan cahaya keemasan, cantik jelita, amat mempesona dan...”
“Aiih, sudah-sudah! Bisa terbang melayang ke angkasa aku oleh pujianmu. Mengapa sih tiba-tiba kau memuji-mujiku seperti ini? Engkau tadi bersajak tentang Burung Bangau Merah, sekarang engkau merayuku setengah mati. Apa engkau mabok Suheng?”

Sian Lun menghela napas panjang. Sikap dan ucapan Sian Li membuyarkan suasana romantisnya, menariknya dengan kasar kembali ke bumi yang keras. Dia menarik napas panjang dan wajahnya berubah merah karena mengenangkan sikap dan kata-katanya tadi membuat dia merasa rikuh dan malu. Kalau dia masih terpesona seperti tadi, tentu akan dijawabnya bahwa dia memang mabok akan kecantikan sumoi-nya itu. Akan tetapi sekarang dia sudah sadar dan dia takut kalau-kalau sumoi-nya menjadi marah.

“Aku tidak mabok, Sumoi. Semua itu kulakukan saking sayangnya aku kepadamu.”

Sian Li tersenyum. Gadis berumur tujuh belas tahun yang sejak kecil digembleng ilmu silat dan kurang berpengalaman ini masih belum sadar dan belum mengerti akan cinta kasih antara pria dan wanita. Yang dikenalnya hanya rasa sayang kepada orang-orang yang dekat dan akrab dengannya.

“Tentu saja engkau sayang padaku, Suheng. Bukankah aku ini sumoi-mu? Kalau tidak sayang, percuma engkau menjadi Suheng-ku.”

Jawaban ini demikian wajar dan Sian Lun merasa betapa kecewa hatinya. Gadis ini belum tahu! Belum tahu bahwa sayangnya bukan seperti suheng terhadap sumoi, bukan seperti kakak terhadap adiknya, melainkan sayang yang disertai dendam rindu, disertai birahi seorang pria terhadap wanita!

“Aku sangat sayang padamu, Sumoi, entah apakah engkau pun sayang padaku.”
“Tentu saja! Kenapa engkau masih bertanya lagi, Suheng? Kurasa engkau tidak begitu bodoh untuk mengetahui hal itu. Sejak lima tahun yang lalu kita bersama-sama latihan silat di sini, belajar sastra, dan bermain bersama-sama. Nah, sekarang kalau memang engkau sayang kepadaku...”
“Apa yang harus kulakukan? Katakanlah, Sumoi,” kata Sian Lun dengan penuh gairah dan harapan. Untuk menunjukkan rasa sayang, disuruh apa pun dia mau, apa lagi kalau disuruh memondong tubuh itu, biar sehari penuh pun dia bersedia.
“Aku haus dan ingin makan buah leci, Suheng. Kau carikanlah untukku, di lereng utara sana banyak pohon lecinya.”
“Baik, akan kucarikan, Sumoi. Kau tunggu saja sebentar di sini.”

Sian Lun lalu meloncat jauh dan berlari cepat melintasi bukit menuju ke utara di mana terdapat kebun pohon leci yang amat luas, milik seorang hartawan yang tinggal di kota Cin-an. Ia sudah mengenal baik penjaga kebun itu dan pasti akan diberi kalau dia minta buah leci sekedar untuk dimakan.

Setelah pemuda itu pergi, Sian Li duduk termenung sambil tersenyum-senyum. Hatinya merasa gembira sekali oleh pujian-pujian tadi. Ia merasa bangga. Suheng-nya memang seorang kakak seperguruan yang amat baik kepadanya.

Semenjak dia berada di situ, lima tahun yang lalu, suheng-nya selalu bersikap baik dan mengalah kepadanya. Suheng-nya itulah yang membuat ia tak merasa kesepian tinggal di rumah paman kakeknya, membuat ia tidak merasa bosan mempelajari ilmu silat dari suami isteri yang sakti itu. Bersama suheng-nya itu dia dapat berlatih silat, mempelajari sastra, dan bermain-main.

Suheng-nya adalah seorang pemuda yang tinggi besar, gagah dan tampan, dan selalu melindunginya. Bahkan pernah suheng-nya itu mengejar beberapa orang pemuda kota yang berkunjung ke dusun Hong-cun dan bersikap kurang ajar kepadanya. Dia sendiri tidak mau melayani mereka, akan tetapi suheng-nya marah-marah dan menghajar lalu melempar-lemparkan tujuh orang pemuda kota itu ke dalam air Sungai Kuning! Ia sama sekali tidak tahu bahwa perbuatan Sian Lun itu terdorong oleh cemburu!

Tiba-tiba perhatiannya tertarik kepada sesosok tubuh orang yang tertatih-tatih mendaki lereng itu. Seorang pria yang sudah tua sekali. Tadinya dia mengira paman kakeknya Suma Ceng Liong yang mencarinya. Akan tetapi setelah agak dekat, ternyata bukan.

Dia seorang kakek yang usianya tentu sudah tujuh puluh tahun lebih. Pakaiannya model pakaian sastrawan akan tetapi pakaian itu penuh tambalan walau pun amat bersih. Dia mendaki lereng itu dibantu sebatang tongkat. Rambut dan cambang serta jenggot dan kumisnya sudah putih semua, membuat dia nampak tua dan lemah.

Dalam jarak dua puluh meter, kakek itu berhenti, berdiri menekan tongkat dengan kedua tangan, mengangkat muka memandang ke arah Sian Li dan berkata dengan nada suara lembut gembira, “Ahh, tidak salah lagi. Engkau tentu Ang-ho-li (Nona Bangau Merah)!”

Sian Li mengerutkan alisnya. Tidak banyak orang tahu bahwa ia diberi nama julukan itu. Yang mengetahuinya hanyalah ayah ibunya, paman kakeknya berdua, juga suheng-nya. Bagaimana kakek ini begitu muncul menyebutkan nama julukannya itu?

“Kek, siapakah engkau dan dari mana engkau tahu bahwa aku disebut Bangau Merah?” Suaranya terdengar galak dan pandang matanya penuh selidik.
“Siancai...! Dahulu engkau seorang bocah yang mungil lincah, sekarang sudah menjadi seorang gadis yang lincah dan galak! Hei, Dewi Baju Merah, apakah engkau benar telah lupa kepadaku? Beberapa tahun yang lalu kita pernah saling jumpa di rumah kakekmu, di Pao-teng.”

Sian Li memandang penuh perhatian dan wajahnya berubah seketika. Wajahnya kini cerah dan berseri-seri, senyumnya menghias wajah yang manis itu, membentuk lesung mungil di kedua pipinya.

“Aihh, kiranya Locianpwe Yok-sian Lo-kai...!” Ia pun bangkit dan cepat memberi hormat kepada kakek tua renta yang pakaiannya penuh tambalan itu.

“Ha-ha-ha, memang aku adalah Lo-kai (Pengemis Tua) itu! Dan aku telah mencarimu ke rumah ayah ibumu di Ta-tung, lalu menyusul ke Hong-cun. Kakek dan nenekmu yang kini menjadi guru-gurumu mengatakan bahwa engkau tentu berada di lereng bukit ini. Aku segera menyusul ke sini. Siancai... engkau telah menjadi seorang gadis yang lihai dan manis. Dan aku datang untuk menagih janji, ingat?”

“Tentu saja aku ingat, Locianpwe. Dan aku sudah siap sedia untuk menerima pelajaran ilmu pengobatan dirimu.”

Kakek itu tertawa gembira dan pada saat itu muncullah Sian Lun yang membawa buah leci yang sudah masak dan cukup banyak. Melihat sumoi-nya tertawa-tawa dengan seorang kakek yang tidak dikenalnya, dia mengerutkan alisnya.

“Sumoi, siapakah kakek jembel ini?” tanyanya tak senang. Entah mengapa, setiap kali melihat sumoi-nya beramah tamah dengan seorang laki-laki, tidak peduli laki-laki itu tua atau muda, dia merasa tidak senang, merasa cemburu!

“Hushhh, Suheng, jangan sembarangan engkau memanggil orang! Locianpwe ini adalah guruku, tahu engkau?” bentak Sian Li marah.

Sian Lun cepat memberikan buah-buah leci itu kepada sumoi-nya, lalu dia memberi hormat kepada kakek itu. Dia terkejut bukan main, juga amat heran mendengar ucapan sumoi-nya.

“Ahhh, harap Locianpwe suka memaafkan saya yang bersikap tidak sopan,” katanya. Bagaimana pun juga, Sian Lun bukan hanya mempelajari ilmu silat, akan tetapi juga sastra dan tata susila.

Kakek itu tersenyum sambil mengangguk-angguk. “Siancai... kiranya Taihiap (Pendekar Besar) Suma Ceng Liong dan isterinya yang gagah perkasa mempunyai seorang murid yang begini gagah. Tidak mengapa, orang muda. Hanya lain kali jangan terburu nafsu menyangka buruk kepada orang lain.”

Wajah Sian Lun berubah merah dan sekali lagi dia memberi hormat. “Maafkan saya, Locianpwe. Sumoi, engkau tidak pernah bercerita kepadaku tentang suhu-mu yang satu ini. Siapakah beliau ini?”

Sian Li menyodorkan buah-buah leci itu kepada Yok-sian Lo-kai dan berkata, “Suhu, silakan makan. Buah-buah leci ini baru saja dipetik, masih segar dan manis.”

Kakek itu tanpa sungkan lagi mengambil beberapa butir buah leci.

Sian Li lalu menghadapi suheng-nya. “Suheng, Suhu-ku ini ialah Yok-sian Lo-kai. Lima tahun yang lalu Suhu ini berjanji akan mengajarkan ilmu pengobatan kepadaku dan hari ini dia datang memenuhi janjinya.”

Kembali Sian Lun terkejut. Tentu saja ia sudah pernah mendengar nama besar Yok-sian Lo-kai (Pengemis Tua Dewa Obat) ini, yang terkenal bukan hanya karena pandai ilmu pengobatan, akan tetapi juga karena ilmu silatnya, terutama ilmu totok jalan darah yang amat lihai.

“Locianpwe, sekali lagi maafkan atas sikapku tadi. Sumoi, harap kau maafkan aku dan jangan sampaikan kepada Suhu dan Subo tentang sikapku yang tidak benar tadi.”

Sian Li cemberut. “Tentu saja akan kuberi tahukan kepada Kakek dan Nenek. Engkau tadi sudah berani menyebut Guruku kakek jembel!” Sian Li yang amat manja terhadap suheng-nya itu mengancam.

Yok-sian Lo-kai tertawa.

“Ha-ha-ha-ha, engkau keliru, Sian Li. Engkau tidak boleh melapor kepada siapa pun juga. Suheng-mu sudah mengakui kesalahannya dan minta maaf, hal itu menunjukkan bahwa dia berani bertanggung jawab serta menyesali dan menyadari kesalahannya. Selain itu, juga aku lebih suka disebut Jembel Tua dari pada Dewa Obat, heh-heh-heh! Memang julukanku Jembel Tua, kenapa engkau harus marah mendengar aku disebut Jembel Tua oleh suheng-mu? Ha-ha-ha!”

“Baiklah, melihat muka Suhu, aku mau menyudahi perkara ini sampai di sini saja. Nah, sekarang cepat kau beri tahukan kepada Kakek dan Nenek bahwa aku sudah bertemu Suhu Yok-sian Lo-kai dan akan pulang belakangan.”

“Baik, Sumoi. Locianpwe, saya pergi dulu,” kata Sian Lun dengan hati lega.

Kalau sumoi-nya itu mengadu kepada suhu dan subo-nya, tentu dia akan mendapatkan teguran keras. Dia lalu berlari cepat turun dari lereng bukit, diikuti pandang mata kakek itu yang masih tersenyum.

“Suheng-mu sudah memiliki kepandaian yang tinggi, ilmunya berlari cepat cukup hebat,” kakek itu memuji.
“Ahhh, dia masih terlalu lambat,” kata Sian Li.

Jawaban ini menunjukkan bahwa gadis ini tentu dapat berlari lebih cepat dibandingkan suheng-nya dan diam-diam kakek itu kagum. Dia percaya bahwa di bawah gemblengan suami isteri sakti seperti Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng, apa lagi mengingat bahwa ia puteri Pendekar Bangau Putih, tentu gadis berpakaian merah ini menjadi lihai bukan main. Dia pun bangga kalau dapat menurunkan ilmu-ilmunya kepada dara ini.

“Sian Li, aku ingin memberi tahu sedikit kepadamu tentang suheng-mu itu.”

Sian Li yang sedang makan leci menghentikan gerakan mulutnya dan segera menoleh, memandang kepada kakek itu. “Apa yang Suhu maksudkan? Suheng sudah bersikap kasar, dan dia memang pantas ditegur dan...”

“Hal itu sudah lewat dan tidak perlu dibicarakan lagi, Sian Li. Hanya satu hal yang ingin kuperingatkan padamu tentang suheng-mu itu. Engkau berhati-hatilah dengan sikapmu, karena dia amat sayang kepadamu.”

“Tentu saja dia sayang padaku, Suhu. Bukankah dia itu Suheng-ku? Kenapa aku harus berhati-hati dengan sikapku?”
“Dan bagaimana dengan engkau sendiri? Sayangkah engkau kepada suheng-mu?”

Dara itu memandang Yok-sian dengan sinar mata keheranan. Pertanyaan yang aneh, pikirnya.

“Tentu saja aku sayang kepada Suheng, Suhu. Bukankah hal itu sudah sewajarnya? Dia berlatih bersamaku, belajar bersamaku dan bermain bersamaku sejak lima tahun yang lalu dan dia amat baik kepadaku.”

Kakek itu tersenyum maklum. Dara ini masih hijau, masih amat polos dan belum pernah mengalami cinta birahi, maka kasih sayangnya terhadap suheng-nya itu adalah kasih sayang seorang adik terhadap kakaknya.

“Maksudku, dia pencemburu besar. Jangan bersikap terlalu ramah kepada laki-laki lain kalau engkau tidak ingin melihat dia marah-marah.”

“Aihhh, itulah yang aneh, Suhu! Pernah ada beberapa orang pemuda menggodaku dan Suheng demikian marahnya sampai dia mengamuk dan hampir saja membunuhi orang-orang itu kalau tidak kularang...“

Kakek itu merasa heran. Dari sikap pemuda itu tadi saja dia sudah mengerti bahwa pemuda itu sudah jatuh cinta kepada sumoi-nya, dan agaknya cintanya berkobar-kobar panas sekali, membuat dia menjadi seorang pencemburu besar sehingga ketika melihat sumoi-nya beramah tamah dengan seorang kakek seperti dia pun pemuda tadi sudah tidak senang.

“Itu namanya cemburu, maka engkau harus dapat menjaga sikapmu.”

Sian Li mengangguk, padahal dia tidak mengerti mengapa suheng-nya bersikap seperti itu. ”Mari kita pulang, Suhu.”

Mereka lalu menuruni lereng dan agaknya Yok-sian sengaja hendak menguji ilmu berlari cepat muridnya. Dia sendiri lalu mengerahkan tenaganya, menggunakan ginkang (ilmu meringankan tubuh) sehingga larinya cepat sekali, sungguh tak sesuai dengan usianya yang sudah demikian lanjut.

Namun, walau pun baru berusia tujuh belas tahun, Sian Li sejak kecil digembleng dan ditangani orang-orang sakti. Mula-mula oleh ayah ibunya sendiri, kemudian oleh Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng, suami isteri yang pernah menggegerkan dunia persilatan dengan kelihaian mereka. Maka tidak terlalu mengherankan kalau dara itu bukan saja mampu mengimbangi kecepatan lari Yok-sian Lo-kai, bahkan pada waktu tiba di rumah kakeknya, Dewa Obat itu tertinggal beberapa ratus meter di belakangnya!

Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng menyambut mereka di depan rumah sambil tertawa melihat dara dan kakek itu berlari-larian, juga Sian Lun telah berada di dekat gurunya. Yok-sian Lo-kai terkekeh sambil terengah ketika tiba di depan mereka.

“Aihhh... aku sudah tua, bagaimana mungkin dapat menandingi kecepatan Si Bangau Merah?”
“Aihh, janganlah merendahkan diri, Suhu!” berkata Sian Li. “Suhu datang bukan untuk mengajarkan ilmu lari kepadaku, melainkan ilmu pengobatan!”

Semua orang tertawa mendengar ini, juga Sian Lun tersenyum. Baru terasa olehnya betapa dia tadi telah terburu nafsu, merasa iri hati atau cemburu melihat sumoi-nya beramah tamah dengan kakek itu.

Demikian, mulai hari itu, Yok-sian Lo-kai mulai mengajarkan ilmu pengobatan kepada Sian Li. Bukan saja pengetahuan tentang ramuan obat untuk berbagai penyakit, juga kakek itu mengajarkan pengobatan dengan tusuk jarum, dengan totokan dan pijatan. Dan yang amat menggembirakan hati Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng, juga tentu saja Sian Li sendiri, kakek itu bahkan juga mengajarkan It-yang Sin-ci, yaitu ilmu totok dengan sebuah jari yang pernah membuat nama kakek itu terkenal di dunia persilatan.

Sian Li amat berbakat, dan sudah memlliki dasar yang kuat, maka dalam waktu tiga bulan saja dara ini telah dapat menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan oleh Yok-sian Lo-kai kepadanya.

Kakek itu merasa kagum dan juga girang bukan main melihat kecerdasan muridnya. Dia merasa puas bahwa akhirnya ada seorang murid yang cocok untuk mewarisi ilmunya. Setelah memesan kepada muridnya agar kelak mempergunakan ilmu-ilmunya itu untuk kebaikan, untuk menolong orang sakit di samping tugasnya sebagai pendekar wanita penentang kejahatan, Yok-sian Lo-kai lalu pergi meninggalkan rumah Suma Ceng Liong untuk bertapa ke Liong-san dan menghabiskan sisa hidupnya dalam ketenangan. Dia memberikan jarum emas dan peraknya kepada Sian Li.

Suami isteri Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng mengantar kepergian Dewa Obat itu dengan perjamuan sederhana namun meriah, dan atas nama cucu keponakan mereka, suami isteri ini mengucapkan terima kasih mereka.

Biar pun ia sudah menguasai ilmu totok It-yang Sin-ci, namun tentu saja Sian Li hanya baru menguasai cara dan teori penggunaan ilmu itu saja, belum matang karena ia harus banyak berlatih untuk mematangkan ilmu totokan yang dahsyat itu. Demikian pula ilmu pengobatan dengan tusuk jarum dan pijatan jari tangan, harus ia latih. Namun, ia telah menguasai cara berlatih untuk ilmu-ilmu itu.....
********************
Liem Sian Lun harus mengerahkan seluruh tenaga, kecepatan gerak dan mengeluarkan semua kemampuannya untuk bisa mengimbangi sumoi-nya. Gerakan Sian Li luar biasa cepatnya, bagai seekor burung merah yang cekatan sekali berkelebat, bahkan kadang lenyap dan yang nampak hanya bayangan merah diselimuti gulungan sinar pedangnya.

Kalau ada orang lain melihat pertandingan pedang itu, dia tentu akan mengira bahwa pemuda dan dara itu berkelahi mati-matian. Demikian cepat permainan pedang mereka, dan kadang nampak bunga api berpijar kalau dua batang pedang itu bertemu di udara. Namun, sesungguhnya mereka hanya berlatih ilmu pedang setelah tadi dalam berlatih silat tangan kosong Sian Lun terpaksa mengakui keunggulan sumoi-nya. Dalam ilmu pedang Sian Lun memang berbakat sekali, maka dia mampu mengimbangi permainan pedang sumoi-nya.

Bagi dua orang muda itu yang sudah menguasai benar ilmu pedangnya, tidak mungkin mereka akan saling melukai. Pedang yang mereka pegang itu seolah telah menjadi satu dengan tangan, bagaikan anggota badan sendiri sehingga mereka sudah menguasai sepenuhnya. Setiap detik mereka akan mampu menghentikan tusukan atau bacokan pedang mereka sehingga tidak akan melukai lawan berlatih.

Keduanya berlatih ilmu pedang Liong-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Naga), yaitu gabungan ilmu pedang Suling Emas dan Naga Siluman yang mereka pelajari dari Kam Bi Eng. Ilmu pedang ini memang hebat. Dari gerakan-gerakan pedang di tangan mereka ternyata bahwa di situ terkandung gerakan yang lembut seperti tiupan suling akan tetapi dahsyat dan ganas bagai seekor naga mengamuk. Karena senjata suling adalah senjata yang khas dari keluarga Suling Emas, maka Kam Bi Eng telah mengganti suling dengan pedang dan mengajarkan mereka memainkan ilmu itu dengan sebatang pedang.

Dengan kelebihan dalam kecepatan gerakan, kini Sian Li mulai mendesak suheng-nya. Andai kata mereka itu bertanding sungguh-sungguh dalam suatu perkelahian, tentu Sian Li akan dapat merobohkan suheng-nya karena dia mempunyai beberapa ilmu yang tidak dipelajari Sian Lun, seperti ilmu totok It-yang Sin-ci dari Yok-sian Lo-kai, dan terutama sekali Ilmu Silat Bangau Putih yang sejak kecil dipelajarinya dari ayahnya, dan lain-lain.

Sekarang, karena mereka sengaja berlatih ilmu pedang Liong-siauw Kiam-sut, mereka hanya menggunakan ilmu itu saja. Karena keduanya sudah menguasai ilmu pedang itu dengan baik, maka sukarlah untuk saling mengalahkan.

Sian Li berhasil mendesak hanya karena mengandalkan kecepatannya dan memang ia lebih cekatan sehingga akhirnya Sian Lun menjadi repot sekali. Sian Lun hanya mampu menangkis saja, tidak ada kesempatan lagi untuk membalas. Akan tetapi, dia mengenal semua jurus yang dlpergunakan sumoi-nya untuk menyerangnya, maka tentu saja dia tahu bagaimana caranya untuk menghindarkan diri.

“Cukup, Sumoi. Engkau terlalu cepat bagiku!”

Akhirnya Sian Lun mau mengakui kekalahannya. Pemuda ini tidak merasa iri atau malu, bahkan merasa bangga bahwa sumoi-nya demikian hebatnya.

“Suheng, engkau memang kalah cepat akan tetapi kalau engkau mengerahkan seluruh tenagamu, tentu engkau akan dapat mengimbangi aku karena dalam hal penggunaan tenaga tulang dan otot, aku masih kalah.”
“Bagus sekali! Ilmu pedang yang hebat, orang-orang muda yang mengagumkan!” Tiba-tiba terdengar pujian orang.

Cepat Sian Lun dan Sian Li membalikkan tubuh dan mereka melihat dua orang yang tahu-tahu sudah berada di situ, di dalam taman di mana mereka berlatih ilmu pedang tadi. Kalau dua orang itu dapat muncul demikian tiba-tiba tanpa mereka ketahui, hal ini menunjukkan bahwa dua orang ini tentu bukan orang sembarangan.

Sian Li memandang dengan teliti. Seorang kakek dan seorang nenek. Kakek itu tentu sudah enam puluh tahun lebih usianya, tapi masih tampak tampan dan jantan dengan kulit sedikit gelap dan muka bulat yang tidak asing bagi Sian Li. Di punggung kakek ini terdapat sepasang pedang dengan ronce biru.

Nenek itu yang sama sekali asing bagi Sian Li. Seorang nenek yang usianya sekitar enam puluh juga, namun masih cantik dan anggun. Ia berpakaian serba kuning, dengan kerudung kepala kuning pula. Pada rambutnya yang sudah bercampur uban itu terhias burung merak dari emas yang masih nampak di bawah kerudung suteranya yang tipis. Wajah wanita ini asing, bukan wajah seorang bangsa Han. Meski wajah kakek itu tidak asing bagi Sian Li, namun ia tidak tahu siapa kakek itu.

“Kakek dan Nenek yang baik, siapakah Jiwi (Anda Berdua)? Dan ada kepentingan apa maka jiwi masuk ke dalam taman kami ini?” Sian Li bertanya dengan lembut.

Kakek itu menoleh kepada nenek di sebelahnya sambil tersenyum gembira. “Kau lihat, bukankah ia mirip sekali dengan ibunya?” Lalu dia menghadapi Sian Li lagi dan berkata, “Aku yakin bahwa engkau tentu Tan Sian Li, bukan? Engkau Si Bangau Merah, bukan?”

Sian Li membelalakkan matanya. “Bagaimana engkau bisa mengenalku, Kek? Siapakah engkau? Dan siapa pula Nenek ini?”

“Ha-ha-ha-ha,” kakek itu tertawa. “Pernah aku berkunjung ke rumah orang tuamu ketika engkau masih kecil, pernah pula engkau membasahi bajuku, ha-ha-ha. Engkau tentu lupa, Sian Li. Aku adalah Suma Ciang Bun dan ini isteriku, Gangga Dewi.”

Sian Li membelalakkan matanya lagi. Mukanya berubah kemerahan mengingat ucapan kakek tadi bahwa dia pernah ngompol ketika masih kecil dipondong kakek itu sehingga membasahi bajunya. Kini dia teringat. Kakek ini adalah adik kandung neneknya, Suma Hui. Berbeda dengan paman kakeknya yang kini menjadi gurunya, Suma Ceng Liong yang hanya adik sepupu neneknya, kakek yang berada di depannya ini bahkan adalah adik kandung neneknya.

“Aihhh, kiranya Ku-kong (Paman Kakek) Suma Ciang Bun!” Sian Li berseru gembira. “Selamat datang, Kakek. Dan Nenek ini, isteri Kakek... namanya aneh. Nenek Gangga Dewi? Tentu bukan orang Han...” Sian Li lalu memberi hormat kepada dua orang tua itu.
“Suheng, ini adalah kakak sepupu dari Kakek Suma Ceng Liong!” Dara yang lincah itu memberi tahu Sian Lun yang cepat mengangkat tangan memberi hormat kepada Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi.

Gangga Dewi mendekati dan memeluk Sian Li. “Anak manis, engkau cantik bukan main, Aku memang datang dari Bhutan, dan aku bukanlah orang lain. Seorang di antara guru ayahmu yang bernama Wan Tek Hoat atau Tiong Khi Hwesio adalah mendiang Ayah kandungku.”

Sian Li menjadi makin gembira dan balas merangkul sambil memandang kagum. Tentu saja ia sudah pernah mendengar cerita ayahnya tentang pendekar Wan Tek Hoat yang berjuluk Si Jari Maut itu, yang telah menikah dengan seorang puteri Kerajaan Bhutan.

“Aih, Nenek yang baik. Pantas saja engkau masih kelihatan begini cantik dan anggun. Kiranya engkau adalah seorang puteri Kerajaan Bhutan!”

Karena Sian Li memang lincah jenaka dan gembira, maka sebentar saja ia sudah akrab dengan kakek dan nenek itu, dan mereka lalu memasuki rumah untuk bertemu dengan Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng. Pertemuan itu tentu saja amat menggembirakan. Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi pernah satu kali berkunjung ke situ sebelum Sian Li tinggal bersama Suma Ceng Liong dan isterinya, bahkan sebelum Sian Lun menjadi murid mereka.

Setelah makan bersama, kedua orang tamu itu lalu menceritakan pengalaman mereka yang didengarkan dengan penuh perhatian oleh Suma Ceng Liong, Kam Bi Eng, Liem Sian Lun dan terutama sekali Tan Sian Li. Ketika Suma Ciang Bun mengatakan bahwa dia bersama Gangga Dewi akan pergi ke Bhutan, Sian Li segera berkata penuh gairah.

“Ku-kong aku ikut!”

Semua orang terkejut. Suma Ceng Liong memandang cucu keponakan itu. “Aih, Sian Li, kau kira Bhutan itu dekat? Perjalanan ke sana berbulan-bulan!”

“Aku tidak takut perjalanan jauh, Ku-kong! Aku sudah sering mendengar dari Ayah dan Ibu mengenai Bhutan yang indah. Dan dari Kongkong Kao Cin Liong aku pun sering mendengar cerita tentang dunia bagian barat. Aku ingin meluaskan pengetahuan dan pengalaman, Ku-kong. Kebetulan sekali kini ada Ku-kong Suma Ciang Bun dan Nenek Gangga Dewi yang akan menjadi penunjuk jalan. Aku ingin sekali ikut, Ku-kong!”

Suma Ceng Liong diam-diam tersenyum dalam hatinya. Dia tidak merasa heran akan sikap cucu keponakan ini. Memang keluarga mereka semua berdarah pendekar, darah petualang. Dahulu ia sendiri pun merupakan seorang petualang, demikian pula isterinya. Ayah dan ibu Si Bangau Merah ini pun petualang-petualang besar.

“Akan tetapi, bagaimana kalau ayah ibumu datang, Sian Li? Kami tentu akan merasa tidak enak kalau mereka datang dan engkau tidak berada di sini,” kata Kam Bi Eng.
“Akan tetapi Ayah dan Ibu masih enam bulan lagi baru akan datang ke sini, seperti biasa setiap tahun baru mereka datang. Dan aku akan berusaha supaya sebelum tahun baru dapat pulang ke sini. Aku ingin sekali pergi, kebetulan ada Ku-kong dan isterinya yang akan menemaniku. Tentu saja kalau mereka ini tidak keberatan aku ikut...”

Dia memandang kepada Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi yang saling pandang dan tersenyum.

Gangga Dewi mendekat dan merangkulnya. “Tentu saja aku akan senang sekali kalau engkau ikut ke Bhutan, Sian Li. Akan tetapi, tanpa perkenan Adik Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng, kami tidak akan berani.”

Suma Ciang Bun berkata, “Kami telah membeli sebuah kereta. Jika kami menggunakan perjalanan dengan kereta atau berkuda, tentu akan lebih cepat dan kiranya sebelum tahun baru Sian Li akan dapat pulang ke sini.”

Suma Ceng Liong memandang kepada kakaknya. Jika dia membolehkan Sian Li pergi, dan andai kata dara itu belum pulang ketika ayah ibunya datang, dia merasa tidak enak kepada mereka. Tetapi kalau dia melarangnya, dia akan merasa tidak enak kepada Sian Li, juga kepada Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi. Seolah-olah dia tidak percaya pada mereka.

“Ku-kong Suma Ceng Liong, kalau aku tidak diberi ijin, aku akan pergi sendirian, tidak bersama Ku-kong Suma Ciang Bun juga tidak apa-apa. Aku ingin merantau ke barat,” Sian Li berkata dan Suma Ceng Liong tertawa.
“Hemmm, engkau memang memiliki hati membaja dan kepala membatu. Orang seperti engkau ini mana mungkin bisa dilarang? Sian Lun, engkau temani sumoi-mu pergi ke barat.”
“Baik, Suhu!” berkata Sian Lun tanpa menyembunyikan suaranya yang mengandung kegembiraan besar.
“Sian Li, kami membolehkan engkau pergi, akan tetapi harus ditemani suheng-mu agar ada yang menemani pada waktu engkau pulang. Selain itu, kalau orang tuamu datang sebelum engkau pulang, kami dapat menggunakan alasan bahwa Sian Lun juga pergi menemanimu.”

Sian Li girang sekali. Ikut sertanya Sian Lun bahkan semakin menggembirakan hatinya sebab suheng-nya itu dianggap sebagai kawan seperjalanan yang akan menyenangkan sekali dan juga amat membantu. Ia bersorak, kemudian menghampiri Kam Bi Eng dan merangkul nenek itu.

“Terima kasih! Aku tahu bahwa kalian tentu akan membolehkan, karena kalian adalah orang-orang tua yang terbaik di dunia ini!”

Suma Ceng Liong dan isterinya hanya tersenyum. Suma Ciang Bun menggeleng-geleng kepalanya melihat sikap Sian Li. Mereka lalu berkemas dan tiga hari kemudian, mereka berempat berangkat meninggalkan dusun Hong-cun.

Suma Ciang Bun menjual keretanya dan sebagai gantinya, dia membeli empat ekor kuda yang baik. Mereka berempat lalu melakukan perjalanan menunggang kuda. Suma Ceng Liong dan isterinya yang mengantar mereka sampai ke luar dusun, diam-diam ikut girang dan terharu melihat betapa Sian Li, seperti anak kecil, kelihatan gembira bukan main, melambai-lambaikan tangan kepada mereka.

Dara itu memang berbakat sekali menjadi seorang pendekar. Baru dua hari ia diajarkan menunggang kuda oleh Gangga Dewi dan sekarang sudah pandai dan bahkan berani membalapkan kudanya! Bahkan Sian Lun juga kalah sigap.

Mereka yakin bahwa Tan Sin Hong dan isterinya, Kao Hong Li, takkan marah andai kata mereka datang sebelum Sian Li kembali. Mereka juga merupakan pendekar-pendekar yang biasa bertualang. Apa lagi kepergian Sian Li ini bersama kakeknya Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi, dan bahkan ditemani pula oleh Liem Sian Lun.

Gangga Dewi menjadi penunjuk jalan dan memimpin rombongan itu. Mereka melakukan perjalanan cepat dan hanya berhenti di tempat yang cukup indah untuk mereka nikmati. Karena mereka berempat adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi dan bertubuh kuat, maka perjalanan itu dapat dilakukan dengan cepat.

Kalau kuda mereka sudah terlalu lelah, Suma Ciang Bun lalu menukarkan kuda mereka dengan kuda yang masih segar dengan menambah uang. Dengan cara demikian maka mereka dapat melakukan perjalanan lebih cepat lagi.....

********************
Selanjutnya baca
SI BANGAU MERAH : JILID-13
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger