logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Si Bangau Merah Jilid 18


Perkampungan dalam rimba itu terdiri dari beberapa buah bangunan yang cukup besar dan dikelilingi pagar bambu yang runcing dan dijaga ketat. Yo Han termenung di dalam kamarnya, memikirkan jalan baik untuk dapat menyelamatkan Sian Li dan Sian Lun.

Pemuda ini merasa prihatin sekali. Dia maklum bahwa serbuan orang-orang kang-ouw dan terutama sekali para pendeta Lama dan pasukan Tibet akan menimbulkan perang atau pertempuran yang mati-matian di tempat itu. Dia membayangkan dengan hati sedih bahwa pertempuran itu tentu akan mengakibatkan tewasnya banyak orang.

Dia sendiri tak pernah mau menggunakan ilmu kepandaiannya untuk membunuh orang lain. Dia tak pernah menilai jahat kepada orang lain karena dia maklum bahwa seorang yang dianggap jahat dan melakukan perbuatan yang jahat, sebetulnya hanyalah orang yang sedang menderita penyakit saja.

Orang yang menyeleweng dari pada kebenaran adalah orang sakit. Bukan badannya yang sakit, melainkan batinnya. Akan tetapi, seperti juga penyakit badan, penyakit batin ini suatu waktu akan dapat sembuh pula. Sedangkan orang yang sehat batinnya, sekali waktu mungkin saja jatuh sakit.

Setiap orang mengakui bahwa tidak ada seorang pun manusia yang sempurna. Yang sempurna hanyalah Tuhan. Setiap orang manusia sudah pasti mempunyai kesalahan, setiap orang manusia berdosa. Dan kita sendiri, setiap orang dari kita, juga seorang manusia, karenanya kita masing-masing ini adalah orang berdosa dan bersalah.

Oleh karena itu, pantaskah kita mencela orang lain yang bersalah? Orang itu sama saja dengan kita, hanya macam kesalahan atau macam dosanya saja yang berbeda, ada yang kadarnya besar ada yang kecil. Akan tetapi, kita ini senasib sependeritaan, takkan dapat lepas dari pada kesalahan, dari pada dosa.

Seyogianya kalau melihat orang lain berdosa, kita membantunya dengan petunjuk dan peringatan, seperti melihat orang lain sakit, sepatutnya kita memberi obat dan hiburan. Jangan melihat orang lain terperosok ke dalam lumpur, malah kita injak lagi kepalanya! Uluran tangan untuk menariknya keluar dari lumpur merupakan kewajiban yang luhur.

Yo Han teringat kembali akan ancaman pertempuran. Ia menghela napas panjang. Apa yang dapat dia lakukan?

Di dunia ini penuh dengan perang. Perang merupakan korban api besar yang timbul dari percikan api kecil. Dimulai dari konflik atau pertentangan dalam batin setiap manusia sendiri. Konflik yang timbul karena adanya keinginan-keinginan yang tak ada habisnya.

Konflik dalam batin sendiri ini mencuat keluar menimbulkan konflik antar pribadi, karena bentrokan kepentingan, bentrokan keinginan, saling berebut kebenaran, berebut nikmat sendiri. Konflik-konflik antar pribadi ini bisa membengkak menjadi konflik antar keluarga, antar golongan, kemudian berkobar menjadi konflik antar bangsa dan antar negara yang menimbulkan perang.

Yo Han telah memesan pada para orang kang-ouw untuk membantunya membebaskan Sian Lun dan Sian Li. Dia pun sudah minta kepada mereka agar jangan membunuh dan setelah kedua orang muda itu dapat diselamatkan, supaya para orang kang-ouw tidak mencampuri perang yang terjadi antara pasukan Tibet dan para pemberontak. Ia sendiri pun tidak akan ikut campur dengan pertempuran itu. Dia hanya ingin melindungi Sian Li dan Sian Lun agar dapat lolos dari tempat itu dengan selamat.

Setelah Ki Bok melaporkan tentang Yo Han yang berkunjung sebagai utusan Sin-ciang Taihiap dan sekarang pemuda itu tidak mau pergi karena menuntut dibebaskannya Sian Li, Lulung Lama segera memanggil semua pimpinan dan pembantunya untuk diadakan perundingan. Mereka semua berkumpul di bangunan induk, di suatu ruangan yang luas di mana selalu dipergunakan untuk mengadakan pertemuan.

Mereka semua berkumpul dan karena waktu itu sedang terjadi perkabungan kematian Dobhin Lama, maka seluruh pimpinan dan pembantu yang tadinya bertugas di luar, telah berkumpul pula untuk berkabung. Lengkaplah mereka yang kini berada di ruangan itu.

Lulung Lama yang ditemani muridnya, Cu Ki Bok, duduk di kursi pimpinan. Belasan orang pendeta Lama jubah hitam yang menjadi pembantu-pembantunya ikut hadir pula. Gulam Sing, Pangeran dari Nepal itu pun hadir bersama para pembantunya, termasuk Badhu dan Sagha. Dari pihak Pek-lian-kauw, selain Pek-lian Sam-li juga hadir tiga orang tosu Pek-lian-kauw yang datang melayat. Hek-pang Sin-kai juga hadir bersama empat orang rekannya. Jumlah mereka yang berada di ruangan itu tak kurang dari empat puluh orang. Di dekat Pek-lian Sam-li duduk pula Liem Sian Lun.

Wajah tampan Sian Lun yang biasanya cerah itu kini nampak agak muram. Kerut merut di antara kedua alisnya, pandang matanya yang sayu, mulutnya yang agak cemberut itu menggambarkan betapa dia tidak tenang dan tidak senang.

Pek-lian Sam-li agaknya sudah salah perhitungan terhadap pemuda ini. Memang dalam kesempatan pertama, Sian Lun yang masih hijau dalam hal pengalaman itu mudah saja mereka rayu dan mereka jatuhkan. Sian Lun dibakar oleh nafsunya sendiri. Apa lagi tiga orang wanita Pek-lian-auw itu menggunakan kekuatan sihir.

Pemuda itu bertekuk lutut dan melakukan apa saja yang mereka kehendaki. Bahkan dia mentaati saat mereka menyuruh dia menawan sumoi-nya sendiri, wanita pertama yang pernah menjatuhkan hatinya! Dan ia bahkan menganggap perbuatan itu sebagai bagian dari perjuangan mereka, karena para pimpinan itu menghendaki agar dia menawan dan membujuk Sian Li sehingga gadis itu mau pula membantu perjuangan mereka.

Kesalahan perhitungan Pek-lian Sam-li adalah bahwa mereka mengira Sian Lun sudah benar-benar setia kepada mereka, mengira bahwa mereka sudah dapat menundukkan pemuda itu dengan kecantikan mereka sehingga mereka menjadi lengah dan tidak lagi mempergunakan kekuatan sihir untuk menguasai Sian Lun. Dan dalam keadaan sadar sepenuhnya inilah Sian Lun mulai merasa menyesal.

Nafsu bagaikan gelembung sabun. Kesenangan yang didatangkannya hanya selewatan saja, disusul kebosanan karena nafsu mendorong kita mengejar yang baru, yang belum kita miliki. Kita dipermainkan nafsu bagaikan anak kecil dipermainkan mainan-mainan. Mainan lama yang dahulunya amat disenangi, mendatangkan bosan dan diganti mainan baru yang mengasyikkan.

Daya tarik tiga orang wanita Pek-lian-kauw itu berkurang kekuatannya sehingga Sian Lun mulai dapat melihat betapa perbuatanaya selama ini amat memalukan. Dia telah membiarkan dirinya menjadi boneka, menjadi permainan tiga orang wanita itu. Bahkan dia begitu buta sehingga tidak melihat bahwa dia diperalat.

Ia mau saja melakukan penipuan untuk menawan Sian Li secara amat curang. Padahal dia amat mencinta sumoi-nya itu. Dia merasa malu, malu kepada Sian Li, malu kepada diri sendiri dan kalau dia membayangkan betapa guru-gurunya akan mendengar tentang dirinya, betapa kedua orang gurunya yang sudah melepas budi besar kepadanya, yang menganggap dia seperti anak sendiri, akan merasa berduka, kecewa dan menyesal, ingin Sian Lun menjerit-jerit dan menangis. Namun, semua telah terlambat.

Ia telah mengkhianati sumoi-nya. Perjuangan menentang penjajah Mancu memang baik dan tiap pendekar sepatutnya bangga bila membantu perjuangan membebaskan rakyat dan tanah air dari cengkeraman penjajah Mancu. Tapi, bagaimana mungkin perjuangan itu dapat melalui jalan yang benar kalau dipimpin orang-orang sesat seperti Pek-lian Sam-li dari Pek-lian-kauw, para pemberontak Nepal dan pemberontak Tibet?

Malam tadi, walau pun ada Pek-lian Sam-li yang menemaninya, dia tidak dapat tidur memikirkan Sian Li. Dia merasa bersalah kepada sumoi-nya itu dan merasa menyesal sekali. Ia harus bisa membebaskan sumoi-nya, dan sudah mengambil keputusan untuk minta kepada Lulung Lama agar Sian Li dibiarkan bebas. Kalau permintaannya ditolak, dia pun akan menyatakan tidak mau lagi membantu mereka! Dan sore hari ini, Lulung Lama memanggil semua sekutunya untuk mengadakan pertemuan di ruangan luas itu.

Setelah memberi salam kepada semua orang, Lulung Lama berkata dengan suara yang lantang, “Kita telah mengadakan persiapan dan penjagaan untuk menyambut datangnya Sin-ciang Taihiap yang pasti akan datang ke sini untuk membebaskan Nona Tan Sian Li. Akan tetapi sampai hari ini, dia tidak muncul dan mengirim utusan untuk menuntut supaya nona itu kita bebaskan. Padahal, seperti kalian ketahui, kita menghendaki agar Nona Tan Sian Li dan juga kalau mungkin Sin-ciang Taihiap sendiri, suka bekerja sama dengan kita menentang penjajah Mancu. Bila dia tak mau kita tidak bisa membebaskan Nona Tan Sian Li karena ia sudah mengetahui semua rahasia pergerakan kita. Bagai mana pendapat anda sekalian?”

Melalui penterjemahnya Pangeran Gulam Sing lalu berkata, “Siapakah utusan Sin-ciang Taihiap itu? Di mana dia sekarang? Seharusnya dia itu ditangkap ketika datang ke sini.”

“Suhu, biarlah teecu (saya) yang menjelaskan, karena teecu mengetahui dengan jelas,” kata Cu Ki Bok kepada Lulung Lama yang mengangguk setuju.

Setelah mendapat persetujuan gurunya, Ki Bok mulai memberi keterangan. “Utusan itu bernama Yo Han dan dia adalah kakak misan Nona Tan Sian Li. Dia pula yang menjadi perantara ketika aku mengajukan tantangan kepada Sin-ciang Taihiap untuk bertanding melawan ketua kita mendiang Dobhin Lama. Ketika dia mendengar bahwa kita tidak akan membebaskan Nona Tan Sian Li, Yo Han berkeras tidak mau pergi dan hendak menemani Nona Tan Sian Li di sini. Sekarang, dia masih berada di sini, di pondok yang menjadi tempat tinggal nona itu. Aku juga sudah memesan kepada para penjaga agar melakukan pengawasan yang ketat.”

Gulam Sing yang masih merasa penasaran karena dia gagal memperkosa Sian Li, berkata, “Kalau begitu, Yo Han itu dan juga gadis itu harus dihadapkan ke sini sekarang juga! Kita paksa nona itu bekerja sama, dan kita paksa pula utusan itu untuk membujuk Sin-ciang Taihiap agar mau datang ke sini dan bekerja sama pula. Kalau mereka tidak mau, kita bunuh saja mereka!”

Karena pendapat ini dianggap benar, dan demi keselamatan serta kepentingan mereka agar rahasia persekutuan mereka tidak sampai terbongkar, semua orang mengangguk setuju. Juga Lulung Lama mengangguk-angguk.

Tentu saja Cu Ki Bok menjadi khawatir sekali. Dia tahu bahwa akan sulit bahkan hampir tidak mungkin membujuk Sian Li supaya mau bekerja sama. Nasib gadis itu sekarang terancam bahaya maut. Dan mungkin saja untuk menyenangkan hati Pangeran Gulam Sing, sekutu yang dianggap kuat dan dapat diandalkan itu, gurunya akan menyerahkan Tan Sian Li kepadanya.

Dia dapat membayangkan betapa ngerinya nasib gadis yang dicintanya itu bila terjatuh ke tangan Gulam Sing. Akan tetapi, sebelum dia sempat menemukan kata-kata untuk membantah dan membela Sian Li, tiba-tiba Sian Lun sudah bangkit berdiri.

“Losuhu, biar aku yang memanggil mereka ke sini!” tanpa menanti jawaban, Sian Lun sudah melangkah cepat, keluar dari ruangan itu.

Cu Ki Bok sudah tahu bahwa Sian Lun telah mengkhianati Sian Li dan dia amat dibenci gadis itu. Kalau Sian Lun yang pergi memanggil Sian Li dan Yo Han, tentu akan terjadi keributan, apa lagi dia tidak suka dan tidak percaya kepada pemuda yang begitu mudah terjatuh ke dalam bujuk rayu tiga orang wanita seperti Pek-lian Sam-li.

“Dia tidak semestinya pergi. Dia belum dapat dipercaya benar!” serunya.
“Ha-ha-ha, biarlah aku saja yang memanggil mereka!” kata Pangeran Gulam Sing yang segera berlari keluar, diikuti oleh Badhu, Sagha dan beberapa orang pembantunya.

Pek-lian Sam-li yang juga mengkhawatirkan Sian Lun yang kini sudah tidak lagi mereka pengaruhi dengan sihir, bangkit dan berdiri keluar pula. Setelah mereka semua tiba di luar, ternyata Sian Lun sudah tidak nampak. Agaknya pemuda itu berlari cepat untuk meninggalkan tempat itu.

Segera mereka semua melakukan pengejaran ke tempat pemondokan Sian Li. Melihat para pimpinan yang tadi mengadakan pertemuan rapat itu kini berlarian ke arah pondok tawanan, para petugas yang melakukan penjagaan menjadi terkejut dan mereka pun mengikuti dari belakang.

Sian Lun memang berlari secepatnya ke pondok di mana Sian Li berada. Dia sudah mengambil keputusan nekat. Dia harus membebaskan Sian Li. Jika dia berterus terang kepada Lulung Lama, tidak mungkin permintaannya akan dikabulkan.

Tadi dia sudah mendengar sendiri rencana mereka. Kalau Sian Li tidak mau menyerah dan bekerja sama, mereka akan membunuhnya supaya gadis itu tidak membocorkan rahasia persekutuan mereka. Tidak ada jalan lain. Dia harus segera membebaskan Sian Li atau memberi kesempatan kepada Sian Li untuk melarikan diri selagi kesempatan itu ada, selagi para pimpinan yang lihai mengadakan pertemuan di ruangan itu. Dia akan melindunginya, menjadi perisai, kalau perlu mempertaruhkan nyawa menghadapi para penjaga yang mengejar agar Sian Li dapat lari. Dia sudah melakukan dosa besar dan dia harus menebusnya sekarang juga selagi masih ada kesempatan.

Sian Li dan Yo Han terkejut ketika mereka mendengar orang mendorong pintu pondok terbuka dan ketika mereka berdua keluar dari dalam kamar masing-masing, mereka melihat Sian Lun dengan wajah pucat telah berada di situ.

“Hemm, jahanam busuk, mau apa engkau ke sini?!” Sian Li membentak, dan seketika kemarahannya berkobar begitu dia melihat Sian Lun. Bahkan dia sudah bergerak maju hendak menyerang pemuda itu.
“Li-moi, jangan terburu nafsu, dengarkan dulu apa kehendaknya,” Yo Han mencegah dan menghampiri mereka.

Sian Lun memandang pada Yo Han, tidak mengenal pemuda itu akan tetapi dia dapat menduga bahwa tentu pemuda inilah yang tadi dibicarakan sebagai utusan Sin-ciang Taihiap. Dia tidak peduli dan memandang kembali kepada Sian Li.

“Sumoi, cepat. Engkau larilah sekarang juga, biarkan aku yang akan menghadapi para pengejar. Cepat, selagi para pimpinan sedang sibuk mengadakan rapat pertemuan di bangunan induk. Cepat, mereka akan membunuhmu kalau engkau tidak mau membantu mereka. Aku telah bersalah, Sumoi, tetapi biarlah kesempatan terakhir ini kugunakan untuk menebus dosa. Cepat larilah engkau dari tempat ini, Sumoi.”

Melihat sikap dan mendengar ucapan suheng-nya itu, Sian Li tertegun. Ia masih sangsi. Benarkah suheng-nya itu telah sadar dan hendak menolongnya? Ataukah ini pun hanya siasat busuk belaka? Agaknya Sian Lun maklum pula akan kesangsian sumoi-nya.

“Lihat, Sumoi. Aku telah membunuh empat orang penjaga di depan. Engkau larilah melalui pintu belakang, langsung ke pagar bambu sebelah selatan dan lolos dari sana. Kalau ada yang mengejar, biar aku yang akan menghadapi mereka.”

Sian Li berlari ke depan. Ia melihat betapa empat orang penjaga di situ benar-benar sudah menggeletak mandi darah. Diam-diam ia terkejut. Kiranya Sian Lun benar-benar tidak membual.

Ia menoleh kepada Yo Han untuk minta pendapatnya. Yo Han juga sejenak tertegun melihat perubahan tiba-tiba pada diri Sian Lun itu. Akan tetapi, Yo Han segera dapat menduga bahwa tentu kini Sian Lun telah sadar, menyesal dan ingin menebus dosanya! Maka dia pun diam-diam merasa girang sekali.

“Kalau memang hendak meloloskan diri, marilah kita bertiga lari bersama selagi ada kesempatan!” kata Yo Han.

Akan tetapi pada saat itu, rombongan para pimpinan yang tadi melakukan pengejaran sudah tiba pula di depan pondok, dipimpin oleh Pangeran Gulam Sing dan tiga orang Pek-lian Sam-li.

Melihat ini, Sian Lun terkejut dan dia pun cepat berkata, “Sumoi, pergilah ke belakang. Cepat!”

Dia sendiri sudah melompat keluar untuk menyambut para pengejar. Dia tahu bahwa bicara dengan mereka pun tidak ada gunanya lagi. Dia sudah membunuh empat orang penjaga. Tentu mereka tidak akan mengampuninya, apa lagi kini melihat dia berusaha membantu Sian Li melarikan diri. Dengan pedang di tangan dia pun menyerbu ke arah Pangeran Gulam Sing yang berada paling depan.

“Kalian hendak memberontak?” Pek-lian Sam-li membiarkan pemuda bekas kekasihnya itu dihadapi Gulam Sing yang mereka yakin akan mampu menundukkan pemuda itu. Mereka sudah meloncat ke depan Sian Li dan Yo Han, diikuti oleh para pimpinan lain.

Sian Li sudah siap untuk melawan, walau pun ia tidak memegang senjata. Akan tetapi Yo Han maklum bahwa keadaan mereka tidak menguntungkan. Kini agaknya terpaksa dia harus membuka rahasianya. Dia harus melindungi Sian Li walau pun agaknya sudah terlambat untuk melindungi Sian Lun.

Jarak di antara mereka terlalu jauh dan kalau dia meloncat untuk melindungi pemuda itu, berarti dia harus meninggalkan Sian Li dan hal ini berbahaya sekali. Karena mereka berpisah, maka dia tidak mungkin dapat melindungi keduanya dan tentu saja dia lebih memberatkan Sian Li dari pada pemuda itu. Dia sudah siap membela Sian Li dan telah melangkah maju untuk menghadapi pengeroyokan orang-orang lihai dari persekutuan pemberontak itu.
Sementara itu, tanpa mengeluarkan kata apa pun. Sian Lun sudah menyerang Gulam Sing dengan pedangnya. Kalau tadinya dia memandang Gulam Sing sebagai rekannya, sebab keduanya menjadi kekasih Pek-lian Sam-li, sekarang ia memandangnya sebagai musuh dan serangan-serangan yang dilancarkan Sian Lun adalah serangan maut yang dimaksudkan untuk membunuh.

Tetapi Gulam Sing ternyata lihai sekali. Tingkat kepandaian pangeran Nepal ini memang lebih tinggi dibandingkan Sian Lun. Dia menggunakan goloknya yang melengkung untuk membendung gelombang serangan pedang Sian Lun. Tiap kali golok bertemu pedang, Sian Lun merasakan tangannya tergetar dan pedangnya terpental. Dia kalah tenaga dan sebentar saja dia mulai terdesak hebat.

“Kalian hendak melarikan diri? Jangan harap bisa keluar dari tempat ini dalam keadaan bernyawa!” kata Ji Kui sambil tersenyum mengejek, kemudian, setelah memberi isyarat kepada dua orang adiknya Ji Kui yang sudah mengerahkan kekuatan sihir dibantu dua orang adiknya, membentak nyaring. “Tan Sian Li dan Yo Han pandanglah kami dan kalian berdua harus mentaati perintah kami! Berlututlah kalian! Hayo, berlutut!”

Sian Li merasa ada kekuatan aneh yang seperti hendak menariknya untuk menjatuhkan diri berlutut. Akan tetapi karena ia sudah siap siaga sebelumnya, ia dapat mengerahkan sinkang dan melawan. Tiba-tiba saja kekuatan aneh yang menariknya itu lenyap seperti disapu angin dan tiga orang wanita Pek-lian-kauw itu mengeluarkan suara terkejut dan heran. Mereka agak terhuyung ke belakang dan terengah-engah.

Pengerahan tenaga sihir mereka membalik dan menghantam isi dada mereka sendiri! Kini mereka siap untuk menyerang, dan ketiganya sudah mencabut pedang. Gerakan itu diikuti oleh kawan-kawannya yang sudah mengepung Yo Han dan Sian Li.

Akan tetapi, sebelum para pengepung itu bergerak maju menyerang, tiba-tiba terdengar bentakan, “Tahan semua senjata!”

Pek-lian Sam-li menengok dan mereka melihat bahwa yang membentak itu adalah Cu Ki Bok. Tiga orang wanita ini diam-diam merasa tak suka kepada pemuda ini. Pertama, mereka tidak mampu mempermainkan Ki Bok, dan ke dua mereka juga tidak berani menentangnya mengingat bahwa Ki Bok adalah murid dan kepercayaan Lulung Lama.

“Cu-enghiong (Orang Gagah Cu), dua orang ini jelas hendak melarikan diri, mengapa engkau melarang kami membunuhnya? Mereka hendak memberontak!” kata Ji Kim.
“Itu fitnah belaka,” kata Ki Bok. “Suhu membutuhkan bantuan mereka, juga bantuan dari Sin-ciang Taihiap. Bagaimana kalian dapat lancang membunuh mereka? Pula, mereka sama sekali tidak melarikan diri. Liem Sian Lun itu yang hendak berkhianat.”

“Empat orang penjaga telah mereka bunuh!” kata Ji Kui.
“Tidak mungkin. Lihatlah, Nona Tan Sian Li dan saudara Yo Han ini sama sekali tidak memegang senjata, sedangkan keempat orang penjaga itu jelas tewas karena bacokan dan tusukan pedang. Yang memegang pedang hanyalah Sian Lun, jadi ialah yang telah membunuh para penjaga, bukan dua orang tamu ini. Atas nama Suhu, aku melarang kalian mengganggunya. Suhu perlu bicara dengan mereka.”

Sikap Cu Ki Bok keras dan tegas sehingga para anak buah Hek-I Lama tidak berani melanggar, juga para tamu tentu saja tidak berani menentang tuan rumah. Apa lagi karena apa yang dikemukakan pemuda itu memang benar. Empat orang penjaga itu tewas karena terluka pedang, sedangkan dua orang itu sama sekali tidak memegang senjata.

“Suheng...!” tiba-tiba Sian Li berseru, terbelalak dan ia pun meloncat dari situ.

Ternyata Sian Lun telah terkena tendangan Gulam Sing yang disusul bacokan golok melengkung. Bacokan itu merobek perutnya dan pemuda itu roboh sambil kedua tangan menekan perutnya yang terluka parah untuk menahan agar isi perutnya tidak terburai keluar! Pangeran Gulam Sing tertawa bergelak dengan bangga sambil membersihkan goloknya, dan Sian Li sudah berlutut di dekat tubuh suheng-nya.

Sian Lun mendekap perut dan darah membasahi seluruh tubuhnya. Akan tetapi ia masih sempat memandang Sian Li dan berkata lemah, “Sumoi, kau maafkanlah... aku... dan mintakan ampun… untukku... dari Suhu dan Subo... aku... aku berdosa...” Kepala itu terkulai, kedua tangan terlepas dari perut dan ususnya terburai.

“Suheng...!” Sian Li menjerit ngeri melihat keadaan suheng-nya.

Dan ia pun melompat berdiri, membalik dan menghadapi Pangeran Gulam Sing dengan mata melotot dan muka merah.

“Kau... kau... jahanam busuk... kau telah membunuhnya!”

Sian Li menerjang dengan nekat, menggunakan tangan kosong sambil mengerahkan sinkang dingin dari Pulau Es. Sambil tertawa dan memandang ringan, pangeran Nepal itu menangkis dan hendak menangkap kedua tangan gadis itu. Dia terlalu memandang rendah, tidak tahu bahwa dalam serangan itu, Sian Li mengerahkan seluruh tenaga Swat-im Sinkang dari Pulau Es.

Maka, begitu dua pasang tangan bertemu, Pangeran Gulam Sing terdorong ke belakang dan ia pun menggigil kedinginan! Dia terkejut setengah mati dan terpaksa dia melempar tubuh ke belakang dan bergulingan agar tidak menerima serangan susulan lawan.

Akan tetapi hal itu sebenarnya tidak perlu karena Yo Han sudah berada di dekat Sian Li, menyabarkan gadis itu. “Hentikan seranganmu, Li-moi. Serahkan saja urusan ini kepada Sin-ciang Taihiap.”

Ucapan itu selain dapat menyabarkan Sian Li, juga membuat para pengepung menjadi gentar karena Yo Han menyebut-nyebut nama Sin-ciang Taihiap yang tentu akan marah sekali karena Sian Lun sudah dibunuh. Sian Li kembali menghampiri mayat suheng-nya dan menangis.

Ki Bok cepat mendekatinya. “Sudahlah Sian Li, tak ada gunanya lagi ditangisi. Aku akan menyuruh orang-orangku mengurus jenazah suheng-mu baik-baik dan memperabukan jenazah itu agar abunya bisa kau bawa kalau kau menghendakinya. Sebaiknya engkau dan Yo-toako berdiam saja di pondokmu malam ini dan jangan keluar.”

Sian Li mengangguk dan merasa berterima kasih sekali. Kalau tak ada Ki Bok, mungkin dia dan Yo Han juga sudah dikeroyok banyak orang dan entah bagaimana akibatnya. Agaknya, murid Lulung Lama ini memang benar-benar jujur dan hendak menolongnya, tentu saja tidak berani berterang karena kalau hal itu diketahui Lulung Lama, tentu dia sendiri akan celaka dan dianggap sebagai seoretng pengkhianat.

Yo Han agaknya mengerti akan keadaan Ki Bok, maka dia pun cepat mengajak Sian Li memasuki kembali pondok mereka.

Peristiwa kematian Sian Lun itu tentu saja menimbulkan perubahan pada rencana yang tadi telah diputuskan, yaitu untuk menghadapkan Sian Li dan Yo Han dan minta mereka menentukan sikap. Bagaimana pun juga, Sin-ciang Taihiap yang pernah mengadu ilmu melawan Dobhin Lama menuntut dibebaskannya Sian Lun dan kini pemuda itu sudah tewas. Tentu akan terjadi hal yang lebih gawat, maka atas permintaan Ki Bok, Lulung Lama menunda keputusan itu.

Penjagaan diperkuat karena mereka khawatir kalau Sin-ciang Taihiap telah mendengar akan kematian Sian Lun itu dan akan datang menyerbu malam itu.

Sementara itu, di dalam pondok Sian Li masih duduk termenung. Wajahnya agak pucat dan kedua matanya berlinang air mata. Biar pun tadinya ia marah dan membenci Sian Lun yang mengkhianatinya dan melihat suheng-nya itu bermain gila dengan tiga orang wanita Pek-lian-kauw, namun pada akhir hidupnya suheng-nya itu telah bersikap gagah, bahkan telah mengorbankan nyawa sendiri demi membelanya.

Sian Lun telah bertekad untuk membebaskannya dengan pengorbanan nyawanya. Biar pun usaha membebaskannya itu gagal karena keburu ketahuan para tokoh persekutuan itu, namun tidak urung nyawanya menjadi korban. Akan tetapi pada akhir hidupnya Sian Lun sudah menebus kesalahannya dengan perbuatan gagah dan membuktikan cintanya kepadanya.

Terkenanglah ia akan masa lalunya, ketika ia dan Sian Lun masih sama-sama belajar ilmu di bawah pimpinan Kakek Suma Ceng Liong dan isterinya, selama lima tahun lebih. Teringatlah ia betapa Sian Lun selalu bersikap manis dan baik kepadanya, betapa Sian Lun selalu menyayangnya dan teringat akan semua ini, air matanya runtuh kembali.

“Suheng...!” Ia mengeluh.

Yo Han menghampirinya dan duduk di depannya, terhalang oleh meja. “Li-moi, tak ada gunanya menangisi kematian Sian Lun. Bagaimana pun juga, dia sudah tewas sebagai seorang pendekar yang gagah dan tidak mengecewakan!”

Sian Li mengusap air matanya dan menghela napas. “Dia patut dikasihani, Han-ko.” 

Yo Han mengangguk. “Sudah kuduga. Kesesatannya tentu tidak wajar. Dia masih terlalu muda dan kurang pengalaman sehingga mudah saja dikuasai musuh dengan ilmu sihir. Akan tetapi dia telah menebus kesalahannya, telah menghapus dosanya dengan darah dan dia... dia ternyata amat mencintamu, Li-moi.”

Sian Li mengangguk. Teringat akan pengalamannya di perahu dengan Sian Lun, ketika pemuda itu menyatakan cinta kepadanya dan ia bahkan mendorong suheng-nya hingga tercebur di air!

“Memang Suheng pernah menyatakan cintanya kepadaku, akan tetapi aku menolaknya karena aku menyayanginya sebagai kakak seperguruan, tidak lebih dari pada itu.”

Yo Han menarik napas panjang, melihat kenyataan yang membuat nuraninya mencela diri sendiri. Kenapa hatinya merasa senang mendengar bahwa Sian Li tidak membalas cinta kasih Sian Lun?

“Kita harus waspada malam ini. Kalau tidak meleset perhitunganku, malam inilah akan terjadi penyerbuan itu. Karena Sian Lun sudah tidak ada, sekarang kita hanya mencari kesempatan untuk melarikan diri saja dari tempat ini. Aku sendiri tak ingin terlibat dalam pertempuran nanti antara persekutuan ini melawan pasukan Tibet. Mengertikah engkau, Li-moi?”

Gadis itu mengerutkan alisnya. “Tetapi aku harus membunuh pangeran Nepal jahanam itu, Han-ko!”
Yo Han menatap tajam wajah Sian Li. “Kenapa harus, Li-moi?”

“Pertama, dia pernah hampir memperkosaku, dan untung waktu itu ada Cu Ki Bok yang menolongku. Ke dua, dia telah membunuh Suheng. Tidak pantaskah bila aku membalas dendam dan membunuhnya?”
“Li-moi, siapakah kita ini maka boleh membunuh sesama manusia begitu saja? Li-moi, kita mempelajari ilmu bukan untuk menjadi pembunuh. Kurasa ayah ibumu sendiri, juga guru-gurumu tentu telah memberi tahu akan kebenaran itu. Kita sebagai manusia tidak berhak untuk membunuh manusia lain, dengan alasan apa pun juga.”
“Tapi, Han-ko. Bukankah dia juga sudah membunuh Suheng? Bukankah dia hampir saja memperkosaku dan hal-hal itu saja sudah membuktikan betapa jahatnya dia? Dia layak dihukum, dibunuh supaya jangan menambah kejahatannya lagi dan mengganggu orang lain.”

Yo Han menggelengkan kepalanya. “Katakanlah dia jahat dan dia pun telah membunuh suheng-mu. Kalau kini kita membalas dan membunuhnya, lalu apa bedanya antara dia dengan kita?”

“Jelas bedanya, Han-ko! Kita membunuhnya untuk memberantas kejahatan sedangkan dia membunuh Suheng untuk melakukan kejahatan...”
“Tidak begitu, Li-moi. Kalau kita tanya kepadanya, tentu dia memiliki alasan yang cukup kuat mengapa dia membunuh suheng-mu. Setiap orang yang melakukan sesuatu tentu akan mempunyai alasan untuk membela diri. Padahal yang mendorong pembunuhan adalah sama, yaitu balas dendam, kebencian dan permusuhan. Kalau engkau hendak membunuhnya, maka jelas dasarnya adalah dendam kebencian.”

“Aih, sekarang aku mengerti mengapa Ayah dan Ibu mengatakan engkau seorang yang baik hati akan tetapi aneh, Han-ko.”
“Apa yang dikatakan ayah ibumu tentang diriku?” Yo Han ingin sekali mendengarnya.
“Ayah dan Ibu pernah bercerita kepadaku bahwa engkau memiliki bakat ilmu silat yang luar biasa, akan tetapi anehnya, engkau sama sekali tidak mau mempelajari ilmu silat karena engkau selalu berpendapat bahwa ilmu silat ialah ilmu memukul dan membunuh orang. Sekarang, setelah engkau memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, engkau pantang membunuh orang, betapa pun jahatnya orang itu. Aku pun telah mendengar akan sepak terjangmu sebagai Sin-ciang Taihiap. Han-ko, kalau begitu, untuk apa engkau belajar ilmu silat sampai begitu tinggi?”

“Untuk apa? Selain untuk membela diri dari ancaman bahaya, untuk menyehatkan dan menguatkan tubuh, untuk menguasai gerakan yang mengandung seni tari yang indah, juga kepandaian itu dapat kupergunakan untuk menolong orang lain yang terancam bahaya. Bahkan dengan kepandaian ini dapat kita pakai untuk menekan orang tersesat agar mereka kembali ke jalan yang benar. Bagaikan obat bagi orang sakit, obat yang keras namun manjur, ilmu silat dapat kita pergunakan menyembuhkan orang sakit batin sehingga dia jera menjadi penjahat dan kembali ke jalan benar.”

Sampai beberapa lamanya, Sian Li berdiam diri, memikirkan apa yang dikatakan Yo Han, lalu ia menghela napas panjang. “Kalau begitu, dalam pertemuan nanti, aku tidak boleh mencari Gulam Sing dan tidak boleh menyerangnya?”
“Dia lihai sekali, Li-moi.”
“Aku tidak takut, dan aku tidak gentar biar terancam maut melawannya!” kata gadis itu dengan sikap gagah.

Yo Han tersenyum. “Aku percaya, Limoi. Dan aku pun tidak akan membiarkan engkau menghadapi dia seorang diri. Akan tetapi, ingatlah bahwa dia akan memimpin orang-orangnya untuk melawan pasukan Tibet. Kalau kita ikut bertempur berarti kita sudah terlibat dalam perang antara mereka. Padahal, aku minta bantuan kepada orang-orang kang-ouw hanya agar kita mendapat kesempatan untuk melarikan diri saja, bukan untuk bertempur dan saling bunuh.”

“Jadi berarti... aku harus membiarkan saja Gulam Sing itu melakukan kejahatan tanpa dihukum?”
“Li-moi, tak ada perbuatan tanpa akibat yang menimpa Si Pembuat sendiri. Tiada orang yang tidak menuai dan memakan hasil tanamannya sendiri. Tuhan Maha Adil, Li-moi. Ingatlah, seorang yang berjiwa pendekar pantang untuk mendendam, karena perbuatan apa pun yang didasari dendam dan kebencian, maka perbuatan itu sudah pasti sesat dan jahat. Kita menentang perbuatan jahat tanpa dendam kebencian pada orang yang melakukan kejahatan itu. Sekali engkau menurutkan perasaan hati dalam tindakanmu, maka engkau juga akan melakukan hal yang bagi orang lain akan dianggap jahat pula. Musuh yang paling berbahaya bukan terdapat di luar diri kita, melainkan di dalam diri sendiri. Musuh itu adalah kalau nafsu sudah merajalela di dalam hati akal pikiran.”
“Aihh, aku menjadi pening, Han-ko. Terserah kepadamu sajalah. Aku ingat bahwa Ayah dan Ibu menganggap engkau seorang yang berbudi mulia, karena itu, apa pun yang kau katakan tentu benar.”

Dua orang ini sama sekali tak mengira bahwa pada saat itu, para pimpinan gerombolan itu pun sedang bersiap siaga. Mereka pun mengadakan pertemuan dan membicarakan kematian Sian Lun dan akibatnya.

“Biarlah Sin-ciang Taihiap datang kalau dia marah karena aku membunuh pemuda itu,” kata Pangeran Gulam Sing. “Aku tidak takut kepadanya. Dan kita begini banyak. Kalau kita maju bersama menghadapinya, apakah seorang saja ia akan mampu mengalahkan kita?”
“Ada satu hal yang aneh sekali dan membuat kami berpikir-pikir,” berkata Ji Kui, orang tertua dari Pek-lian Sam-li.
“Apakah yang kau maksudkan?” Lulung Lama bertanya karena barusan suara wanita itu terdengar penuh rahasia dan penuh kesungguhan. Sekarang semua orang memandang kepadanya.
“Tentu kalian telah melihat sendiri betapa kami bertiga mempergunakan kekuatan sihir untuk memaksa Sian Li dan Yo Han berlutut kepada kami. Akan tetapi, mereka berdua sama sekali tidak jatuh berlutut, bahkan kami terhuyung oleh pukulan tenaga kami yang membalik. Bukanlah ini aneh sekali?”
“Apanya yang aneh?” kata Lulung Lama mendongkol. “Gadis itu adalah keturunan dari keluarga Pendekar Pulau Es dan Naga Gurun Pasir. Kalau ia dapat menolak kekuatan sihir kalian, tidak dapat dibilang aneh.”

Melihat Ketua Hek-I Lama yang baru itu marah-marah, Pek-lian Sam-li hanya berdiam diri. Juga semua orang diam. Suasana menjadi sunyi sampai tiba-tiba Pangeran Gulam Sing menggebrak meja.

“Memang aneh!” katanya melalui penterjemahnya. “Aku sudah mengenal kekuatan sihir Pek-lian Sam-li, cukup kuat bahkan lebih kuat dari pada kekuatan sihirku. Tak mungkin nona itu akan dapat bertahan menghadapi serangan sihir mereka, apa lagi menolak dan bahkan membuat tenaga mereka membalik. Menghadapi sihirku saja, ia tidak tahan dan tunduk...” Dia menoleh kepada Cu Ki Bok, teringat betapa dia sudah hampir berhasil menguasai Sian Li akan tetapi muncul pemuda itu yang menggagalkannya.

“Itulah yang membuat kami terus berpikir-pikir,” kata Ji Kui yang mendapat angin oleh pertanyaan Gulam Sing itu. “Kami pun tahu akan kemampuan gadis itu. Jelas bukan ia yang menolak kekuatan sihir kami, akan tetapi Yo Han, kakak misannya itu…”
“Hemmm, rasanya tidak mungkin,” kata Cu Ki Bok, “Yo Han itu hanya utusan Sin-ciang Taihiap, dan sepanjang pengetahuanku, dia seorang pemuda yang lemah dan...”
“Kami sudah mempertimbangkan semua itu dan kami hampir merasa yakin bahwa Yo Han itu adalah Sin-ciang Taihiap sendiri!” kata pula Ji Kui dan sekali ini semua orang terlonjak saking kaget hati mereka.
“Omitohud...! Apa maksudmu? Dia... dia Sin-ciang Taihiap?” teriak Lulung Lama.

“Kami hampir yakin akan hal itu,” berkata pula Ji Kui sambil menoleh ke arah Pangeran Gulam Sing. “Pangeran, ingatkah engkau betapa mudahnya engkau menundukkan Sian Li dengan sihirmu? Rasanya tak mungkin jika sekarang ia bukan saja mampu bertahan terhadap pengaruh sihir kami, bahkan membuat tenaga kami membalik. Jelaslah bahwa yang memiliki kekuatan dahsyat itu tentu pemuda bernama Yo Han itu. Siapa di antara kita yang sudah membuktikan sendiri bahwa pemuda itu lemah? Dan biar pun selama ini Sin-ciang Taihiap menutupi mukanya, dan biar pun mungkin suaranya yang diubah, akan tetapi bentuk tubuhnya serupa benar dengan Yo Han itu. Kalau dia pemuda biasa yang lemah, lalu bagaimana dia dapat bersikap sedemikian beraninya, bukan saja dia mengunjungi adik misannya di sini, bahkan minta ditahan pula di sini dengan alasan menemani gadis itu! Hemm, siapa lagi dia kalau bukan Sin-ciang Taihiap?”

“Omitohud...! Kalau begitu, celakalah, kita sudah kebobolan! Ki Bok, bagaimana hal ini sampai dapat terjadi?” Lulung Lama menegur muridnya.

Wajah Cu Ki Bok berubah, matanya terbelalak. Pendapat Pek-lian Sam-li itu sungguh masuk di akal dan dia sendiri pun baru sekarang menyadari kemungkinan itu. Yo Han adalah Sin-ciang Taihiap! Kenapa dia tidak memikirkan kemungkinan itu? Biasanya dia amat cerdik dan tidak mudah ditipu.

Inilah akibatnya kalau dia tergila-gila! Karena mencinta Sian Li, dia tidak ingat apa-apa lagi kecuali untuk melindungi gadis itu. Dia bangkit berdiri. “Suhu, kalau benar demikian, teecu yang akan menangkap Yo Han itu!”

Dia pun berlari keluar, namun dari luar dia masih mendengar teriakan-teriakan mereka yang berada di dalam.
“Kalau dia Sin-ciang Taihiap, maka kita harus menyerbu beramai-ramai, sekarang juga!” terdengar teriakan suhu-nya.

Ki Bok maklum bahwa inilah saat dia harus bertindak cepat. Dia harus menyelamatkan Sian Li terlebih dulu. Mengenai Yo Han, jika benar dia Sin-ciang Taihiap dan tidak mau bekerja sama, dia sendiri akan membantu untuk mengeroyok dan membunuh pendekar yang berbahaya itu.

Akan tetapi, yang paling penting baginya, sekarang juga sebelum terlambat dia harus menyingkirkan Sian Li dari situ, harus dapat membiarkan gadis itu lolos. Dia tidak tahu betapa ketika semua orang menyerbu keluar, Ji Kui, orang pertama dari Pek-lian Sam-li, mendekati Lulung Lama kemudian membisikkan sesuatu yang membuat Lulung Lama mengerutkan alisnya dan nampak terkejut serta marah.

Ki Bok mengerahkan seluruh kepandaiannya, berloncatan dengan cepat sekali dan dia mengetuk daun pintu pondok di mana Sian Li dan Yo Han tinggal. Enam orang petugas jaga segera menghampirinya dari tempat penjagaan, juga ada belasan orang muncul dari tempat persembunyian.

Ternyata pondok itu dijaga sangat ketat sehingga kalau penghuninya hendak melarikan diri, maka tentu usaha itu akan ketahuan. Akan tetapi ketika para petugas itu mengenal Ki Bok, mereka memberi hormat dan segera mundur kembali setelah Ki Bok memberi isyarat.

Sian Li dan Yo Han tidak tidur. Di kamar masing-masing mereka sedang duduk bersila dan menghimpun tenaga, menanti datangnya saat penyerbuan seperti yang diharapkan Yo Han. Pada saat mereka mendengar ketukan pada daun pintu depan, keduanya yang memang selalu siap siaga, segera keluar dari dalam kamar.

Yo Han memberi isyarat kepada Sian Li untuk membuka daun pintu, sedangkan dia menyelinap kembali ke dalam kamarnya. Sian Li maklum bahwa Yo Han ingin mengintai apa yang akan terjadi.

“Siapa di luar?” Sian Li bertanya dari balik daun pintu.

“Sian Li, ini aku, Ki Bok. Cepat buka ada urusan penting sekali,” terdengar suara Ki Bok berbisik dari luar pintu.

Mendenger ini, Sian Li cepat membuka daun pintu. Ki Bok masuk dan memandang ke sekeliling, wajahnya cemas.

“Ki Bok, ada apakah? Apa yang terjadi?" tanya Sian Li, memandang tajam.
“Di mana Yo-toako?” tanyanya lirih.

Sian Li menoleh ke arah kamar Yo Han. “Dia masih tidur, ada apakah?”
“Sian Li, keadaan mulai gawat. Mereka hendak datang memaksamu bekerja sama dan kalau engkau menolak, mereka akan membunuhmu. Aku... aku tidak mungkin mampu menolongmu, tak mungkin mencegah mereka. Sekarang, kau ambillah keputusan, Sian Li. Maukah engkau membantu kami dan bekerja sama dengan kami?”

Sian Li mengerutkan alisnya. “Engkau sudah tahu akan watakku, Ki Bok. Aku tidak mau bekerja sama dengan siapa pun juga.”

“Kalau begitu, Sian Li, engkau harus cepat lari, sekarang juga. Marilah kubantu engkau lolos dari sini. Cepat, mereka akan mengejar kita!” Ki Bok menyambar tangan Sian Li. “Kita melalui jalan belakang!”

Tetapi Sian Li merenggutkan tangannya hingga terlepas. “Aku akan bertanya kepada Han-ko lebih dulu,“ katanya.

Pada saat itu, terdengar suara gaduh di luar pondok, suara banyak orang datang ke tempat itu. Wajah Ki Bok berubah. “Celaka, mereka sudah datang. Sian Li mari cepat kita lari!”

Pada saat Sian Li meragu, Yo Han muncul dari dalam kamarnya.

“Pergilah menyelamatkan diri, Li-moi, biarlah aku yang akan menghadapi mereka dan menghadang mereka yang akan mengejarmu.”

Tadinya Yo Han sudah siap untuk mengajak Sian Li melarikan diri begitu penyerbuan tiba dan menggunakan kesempatan selagi terjadi pertempuran sehingga mereka dapat meloloskan diri tanpa harus menghadapi pengeroyokan banyak orang pandai. Tapi kini agaknya keadaan berubah. Sebelum serbuan itu tiba, keselamatan Sian Li terancam.

“Tidak Han-ko. Aku akan tinggal di sini membantumu menghadapi mereka,” kata Sian Li.
“Li-moi, jangan bodoh! Musuh terlampau banyak Larilah duluan, aku akan menghalang mereka dan nanti akan menyusulmu. Saudara Ki Bok, kalau benar engkau mencintanya, cepat selamatkan adikku itu!”

Setelah berkata demikian, Yo Han berlari keluar sambil cepat-cepat mengenakan caping lebarnya yang tadi dia lipat dan sembunyikan di balik baju ketika dia akan memasuki perkampungan itu. Caping lebar yang bertirai itu menyembunyikan mukanya.

Ki Bok mencabut sabuk baja yang kedua ujungnya berpisau, kemudian menodongkan sebatang pisaunya ke punggung Sian Li sambil berkata, “Engkau berpura-pura menjadi tawananku supaya kita lebih mudah mengelabui mereka!” bisiknya. Tangan kanannya menodongkan pisau dan tangan kirinya memegang pergelangan tangan Sian Li.

Gadis itu maklum. Ia tidak dapat membantah lagi karena Yo Han telah berlari keluar dan ia mengerti akan maksud Ki Bok. Biar pun hatinya amat mengkhawatirkan keselamatan Yo Han, namun ia harus mentaati keinginan Yo Han. Kalau ia membangkang dan nekat melawan, tentu hal itu bahkan membuat Yo Han harus repot melindunginya. Maka, ia pun menurut saja ketika Ki Bok menariknya melarikan diri keluar dari pondok itu melalui jendela kamar Yo Han yang berada di sudut belakang.

Saat mereka meloncat keluar dari rumah itu, mereka melihat betapa di belakang rumah itu pun sudah penuh dengan anak buah Hek-I Lama yang memegang senjata. Melihat Cu Ki Bok, mereka tertegun, akan tetapi pemuda itu dengan tenang segera berkata,

“Kalian kepung dan jaga rumah ini, jangan biarkan siapa pun keluar. Aku harus cepat mengamankan tawanan ini supaya dia jangan sampai lolos!” Setelah berkata demikian, dengan sikap kasar dia menarik lengan Sian Li sambil menodongkan pisaunya ke arah tengkuk gadis itu.

Para anak buah perkumpulan pendeta Lama yang memberontak terhadap Tibet itu saling pandang, akan tetapi mereka tidak berani mencegah Cu Ki Bok, apa lagi mereka masih belum tahu apa artinya semua keributan itu. Mereka hanya melihat para pimpinan berlari menyerbu ke rumah pondok itu dari depan dan mereka mendapat perintah untuk mengepung pondok itu.

Tadi mereka hanya mendengar bahwa Sin-ciang Taihiap sudah menyelundup ke sarang mereka. Hal ini saja sudah cukup membuat mereka tegang. Siapa yang takkan merasa gentar mendengar bahwa Sin-ciang Taihiap, pendekar yang sudah mengalahkan dan mengakibatkan tewasnya Dobhin Lama itu, sekarang berada di antara mereka?

Sin-ciang Taihiap atau Yo Han telah membuka daun pintu depan pondok itu, tepat pada saat semua orang yang tadi berlari dari bangunan induk itu ke situ telah tiba di depan pondok. Banyak anak buah Hek-I Lama memegang obor sehingga tempat itu menjadi terang. Suara berisik mereka itu seketika lenyap dan mereka terdiam, bahkan ada yang menahan napas saking tegang dan juga jeri.

Mereka melihat pria bercaping lebar yang mukanya tersembunyi di balik tirai caping itu berdiri tegak di depan pintu, menentang mereka. Sesosok tubuh yang mendatangkan ketegangan dan kegentaran itu sebetulnya biasa saja. Tubuh yang sedang dan tegap, dengan pakaian sederhana pula, tidak memegang senjata apa pun.

Rambut hitam panjangnya terurai lepas. Mukanya sama sekali tak nampak, akan tetapi sepasang mata di balik tirai tipis itu seperti mencorong menembus tirai tertimpa sinar obor yang bergerak-gerak. Sosok tubuh yang tidak mengesankan, akan tetapi karena semua orang tahu bahwa pendekar ini baru saja menyebabkan Dobhin Lama tewas, maka mereka menjadi gentar.....

Dari balik tirainya, Yo Han melihat bahwa pondok itu sudah didatangi sedikitnya tiga puluh orang dan masih ada puluhan orang anak buah Hek-I Lama berada di belakang rombongan itu.

Dia melihat Pangeran Nepal Gulam Sing bersama Badhu dan Sagha, juga beberapa orang tosu Pek-lian-kauw, Hek-pang Sin-kai dan para anak buahnya, beberapa Pendeta Lama yang agaknya menjadi pimpinan. Akan tetapi dia tidak melihat adanya Lulung Lama, juga tidak melihat Pek-lian Sam-li.

Dia tahu bahwa dia sedang berhadapan dengan lawan yang sangat berbahaya karena selain mereka itu rata-rata memiliki kepandaian tinggi, memiliki pula ilmu sihir dan ahli menggunakan racun, juga mereka berjumlah banyak. Kiranya tak mungkin dia seorang diri saja akan mampu mengalahkan mereka. Akan tetapi, kalau Sian Li sudah lolos, agaknya bukan tak mungkin baginya untuk melarikan dan meloloskan diri dari kepungan mereka.

“Omitohud... kiranya Sin-ciang Taihiap yang terkenal itu tidak datang baik-baik melalui pintu gerbang depan seperti seorang gagah, tetapi secara curang menyelundup masuk seperti maling!” kata seorang pendeta Lama, seorang di antara para pembantu Lulung Lama sambil memegang sebatang tongkat pendeta berkepala naga yang lebih panjang dari pada tubuhnya yang tinggi.

“Losuhu, siapa yang curang agaknya perlu diteliti lebih jauh, aku ataukah perkumpulan Hek-I Lama yang terdiri dari pendeta-pendeta yang sudah sepantasnya bersikap jujur, adil dan mengharamkan perbuatan-perbuatan sesat. Ketua kalian, Dobhin Lama, sudah menantangku untuk mengadu ilmu dengan taruhan bahwa kalau dia kalah, dia akan mengembalikan mutiara hitam dan membebaskan Liem Sian Lun. Kami bertanding dan Tuhan membimbingku sehingga ketua kalian kalah. Dobhin Lama telah dengan gagah mengakui kekalahan dan mengembalikan mutiara hitam, tapi kalian tidak membebaskan Liem Sian Lun, bahkan secara curang sekali sudah menawan Tan Sian Li. Nah, siapa yang curang?”

Tiba-tiba Gulam Sing mencabut goloknya yang melengkung, mengangkat goloknya itu tinggi di atas kepalanya. Setelah mendengar ucapan Yo Han melalui penterjemahnya, dia pun berteriak dalam bahasanya sendiri.

“Sin-ciang Taihiap, engkau ini manusia sombong! Engkau sudah mengalahkan Dobhin Lama, tetapi hal itu terjadi karena dia sudah tua dan kehabisan tenaga. Kini engkau berani lancang menyusup ke sini seperti pencuri, jangan harap akan dapat keluar lagi hidup-hidup!”

Ketika ucapan itu hendak diterjemahkan, Yo Han mendahului. “Aku mengerti apa yang kau katakan, Pangeran Gulam Sing. Dan aku sudah mengerti pula kenapa engkau dan gerombolanmu keluar dari Nepal sebagai orang-orang pemberontak pelarian. Sekarang engkau bergabung dengan Lama Jubah Hitam yang juga tengah memberontak terhadap pemerintah Tibet, tentu hanya untuk mencari kawan saja agar kelak dapat membalas budi dan membantumu memberontak terhadap pemerintah Nepal!”

“Sin-ciang Taihiap, mati hidupmu ada di tangan kami dan engkau masih membuka mulut besar? Kepung dan keroyok!” teriak seorang pemimpin Hek-I Lama.

Pangeran Nepal itu sudah mendahului dengan serangan golok melengkung yang amat tajam itu, disusul rekan-rekannya sehingga dalam beberapa detik saja hujan senjata telah menyerang ke arah tubuh Yo Han.

Yo Han maklum bahwa dia diserang oleh banyak orang pandai, maka dia mengerahkan ginkang-nya. Tubuhnya berkelebat bagaikan seekor burung walet cepatnya, berloncatan dan mengelak dari hujan senjata yang menyambar dari segenap penjuru itu.

Dia harus memberi waktu kepada Sian Li untuk dapat lolos terlebih dahulu sebelum dia sendiri melarikan diri. Sebaiknya dia memancing datangnya semua tokoh di tempat itu supaya pelarian Sian Li dapat berjalan lancar. Sian Lun sudah tewas dan tidak perlu dipikirkan lagi.

Sambil berloncatan mengelak, kaki tangannya bergerak dengan tamparan-tamparan dan tendangan. Beberapa orang pengeroyok terpelanting, usahanya memang berhasil. Semua tokoh yang dirinya memiliki kepandaian yang tinggi saja yang hanya mengepung dengan senjata di tangan, tanpa berani lancang ikut mengeroyok.

Akan tetapi Yo Han tetap merasa khawatir karena belum juga nampak Lulung Lama dan Pek-Sian Sam-Li turut mengeroyok. Dia khawatir kalau-kalau empat orang yang paling lihai itu menjadi penghalang bagi lolosnya Sian Li yang tadi dibantu oleh Cu Ki Bok.

Kekhawatiran Yo Han itu memang terbukti benar. Cu Ki Bok berhasil membawa Sian Li lari sampai ke dekat pagar bambu runcing dan tidak pernah ada penjaga yang berani menghalanginya. Mereka berhenti di bawah pagar bambu runcing.

“Nah, engkau loncatlah ke atas dan cepat tinggalkan tempat ini, Sian Li,” berkata Cu Ki Bok, suaranya agak gemetar.

Sian Li memegang tangan pemuda itu. Ia dapat mendengar getaran suara itu dan ia pun terharu. “Akan tetapi bagaimana dengan engkau sendiri, Ki Bok? Mereka akan tahu bahwa engkau telah membebaskan aku, dan tentu engkau akan celaka...”

Ki Bok tersenyum dan menggeleng kepala. ”Aku cukup penting bagi perjuangan Suhu dan kawan-kawan. Kesalahanku itu kecil saja karena engkau bukanlah orang Mancu, bukan musuh yang penting. Sudahlah, aku pasti dapat menjaga diriku sendiri, Sian Li. Kau pergilah...!”

Sian Li melepaskan pegangan tangannya, melangkah ke arah pagar bambu, akan tetapi terhenti lagi dan menengok. “Ki Bok...” ia meragu.

“Ada apa lagi, Sian Li? Cepat-cepatlah, jangan sampai mereka datang mengejar.”
“Aku hanya ingin minta maaf padamu...”
“Minta maaf? Untuk apa?” Ki Bok memandang heran.
“Engkau begitu mencintaiku dan sudah kau buktikan dengan pertolongan ini, akan tetapi aku... aku tidak dapat membalas cintamu. Maafkan aku, Ki Bok.”

Cu Ki Bok tertawa, namun suara ketawanya sumbang, “Sudah nasibku Sian Li, cinta tak dapat bertepuk sebelah tangan. Engkau tidak bersalah. Cinta tidak dapat dipaksakan, hanya aku yang tidak tahu diri. Nah, pergilah dan jangan pikirkan aku lagi...”

Mendadak mereka melihat beberapa bayangan berkelebat. Mata Ki Bok terbelalak pada saat melihat bahwa gurunya, Lulung Lama, ketiga Pek-Lian Sam-li dan belasan orang pembantu mereka telah mengepung tempat itu!

“Omitohud, tidak kusangka bahwa muridku yang paling kupercaya, sekarang bahkan mengkhianatiku! Sungguh seperti memelihara anak harimau, ketika kecil dan lemah dirawat dan dipelihara, setelah besar dan kuat hendak menubruk pemeliharanya sendiri. Engkau murid murtad!”

“Suhu, teecu hanya hendak membebaskan Nona Tan Sian Li karena dia tidak bersalah dan karena teecu tidak tega melihat dia celaka. Suhu, Nona Tan bukan musuh kita, dan membebaskannya tak ada sangkut pautnya sama sekali dengan perjuangan kita. Bagai mana Suhu dapat mengatakan bahwa teecu murtad dan pengkhianat? Suhu, kalau Suhu menghendaki supaya perjuangan kita mendapat dukungan para pendekar di dunia kang-ouw, sebaiknya Suhu membebaskan Nona ini.”

Terdengar suara tertawa merdu, disambung suara Ji Kim, orang ke tiga dari Pek-lian Sam-li yang cantik manis dan lincah. “Hi-hi-hik, apakah Losuhu masih belum mengerti? Muridmu itu telah tergila-gila kepada gadis ini, dan orang yang tergila-gila seperti dia itu mau berbuat apa saja untuk orang yang dicintainya. Kalau perlu melawan guru sendiri demi membela wanita yang dicintainya, heh-heh!”

“Benar sekali, Losuhu. Muridmu ini tidak ada harganya sama sekali, bahkan berbahaya karena sewaktu-waktu dia dapat mengkhianati kita,” kata Ji Kui.

Cu Ki Bok marah sekali dan dia menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka tiga orang wanita itu. “Pek-Lian Sam-li, kalian ini hanya tamu akan tetapi tidak tahu diri! Aku tahu kenapa kalian membenciku, karena aku tak sudi melayani rayuan kalian, bukan? Kalian sungguh menjemukan, kalian perempuan-perempuan hina yang berkedok pejuang!”
“Ki Bok tutup mulutmu!” Lulung Lama membentak.

Sian Li yang sejak tadi mendengarkan saja, kini melangkah maju dan ia pun berseru nyaring. “Ucapan Ki Bok benar! Tiga orang wanita jalang ini tak tahu malu! Ki Bok seribu kali lebih berharga dari pada mereka ini, Losuhu.”
“Hi-hik, engkau sudah mau mampus masih banyak lagak!” bentak Ji kui, dan bersama adiknya ia sudah menyerang ke arah Sian Li.

Gadis berpakaian merah ini bergerak cepat. Dia mengelak, dan meski pun ia bertangan kosong, ia membalas dengan serangan yang dahsyat.

“Ki Bok, pinceng tidak mungkin dapat membiarkan engkau kelak mengkhianatiku. Nah, terimalah hukuman dariku ini!’ Pendeta Lama itu menerjang ke depan dan menghantam dengan tangan kanan ke arah kepala murid sendiri.
“Suhu...!” Ki Bok berseru.

Dia cepat melempar tubuhnya ke belakang. Biar pun dia sudah mengelak cepat, namun angin pukulan itu masih menyambar dahsyat dan tubuhnya terjengkang dan terguling-guling sampai lima meter lebih.

“Ki Bok...! Losuhu engkau tidak boleh membunuhnya!” Sian Li berteriak.

Akan tetapi tiga orang wanita Pek-lian-kauw itu sudah menyerangnya dari tiga penjuru dan walau pun ia dapat menangkis dan mengelak, tetap saja ia terhuyung ke belakang. Seorang penjaga yang memegang pedang menyambutnya dengan tusukan pedangnya.

Sian Li adalah seorang gadis gemblengan. Walau pun dia kurang pengalaman dan ilmu-ilmunya belum masak benar, namun ia telah mewarisi ilmu-ilmu hebat. Ketika ada angin tusukan pedang menyambar tubuh bagian iga dari samping, dia masih dapat menekuk tubuhnya sehingga pedang lewat di dekat iganya. Kakinya menendang dan pergelangan tangan yang memegang pedang itu terkena sambaran ujung kakinya. Tangannya juga cepat merenggut dan pada lain detik pedang itu sudah berpindah ke tangannya! Begitu memegang pedang, senjata itu langsung menyambar sehingga penyerangnya tadi pun roboh oleh pedangnya sendiri.

Dengan pedang di tangan, Sian Li lantas mengamuk, memainkan Liong-siauw Kiam-sut dengan pedang rampasan itu. Namun Pek-lian Sam-li yang juga sudah menggunakan pedang, mengepung dan mengeroyoknya, membuat Sian Li tidak mungkin lagi dapat mendekati Ki Bok lagi.

Pemuda itu bangkit berdiri setelah tadi terguling-guling, hanya untuk melihat suhu-nya sudah berdiri di depannya, kini dengan sepasang senjata gelang roda besar di kedua tangan, serta matanya mencorong marah, penuh nafsu membunuh.

“Suhu, ampunkan teecu...” Cu Ki Bok meratap.

Dia tidak takut mati konyol di tangan gurunya sendiri, walau pun hanya untuk kesalahan sekecil itu. Kalau diingat betapa semenjak kecil ia diperlakukan dengan baik oleh Lulung Ma, sungguh penasaran bila sekarang terancam maut di tangan orang yang selama ini dianggap sebagai pengganti orang tuanya, yang menyayang dan disayangnya.

Agaknya Lulung Lama juga tak tega untuk membunuh pemuda yang selama ini menjadi tumpuan harapan dan yang disayangnya, yang selama ini setia kepadanya itu, maka dia nampak ragu-ragu.

“Losuhu, ingat, ia agaknya pun berbaik dengan Sin-ciang Taihiap. Dia amat berbahaya, seperti musuh dalam selimut!” teriak Ji Kim yang merasa kecewa dan sakit hati karena selamanya baru sekali ia dan encinya ditolak pria, yaitu ketika mereka gagal merayu Ki Bok.

Mendengar teriakan ini, bangkit kembali kemarahan Lulung Lama. Memang muridnya ini yang menerima Yo Han.

“Mampuslah...!” bentaknya dan dia pun menyerang dengan sepasang rodanya.

Ki Bok terkejut bukan main dan berusaha untuk mengelak. Dia tetap tidak mau melawan gurunya dan hanya mengandalkan kegesitan tubuhnya untuk menghindarkan diri dari cengkeraman maut. Akan tetapi, tingkat kepandaiannya masih kalah jauh dibandingkan gurunya, maka sebuah tendangan kaki Lulung Lama mencium lutut kanannya dan dia pun terpelanting.

“Sian Li, larilah... cepat...!” Dia masih sempat berteriak sebelum sebuah roda di tangan kiri Lulung Lama menghantam kepalanya dan pemuda itu tewas seketika.

Lulung Lama berdiri seperti patung, memandang ke arah pemuda yang kepalanya retak dan tewas itu, dan baru dia merasa menyesal bukan main.

“Ki Bok... omitohud... apa yang kulakukan ini? Ki Bok...,” dia mengeluh.

Seolah menjawab kata-katanya, terdengar sorak-sorai riuh sekali dan nampak obor-obor dinyalakan di luar pagar bambu, kemudian terdengar suara hiruk pikuk pada saat pagar bambu yang mengelilingi perkampungan itu dijebol orang dari luar. Perkampungan itu diserbu orang dari luar.

Dapat dibayangkan alangkah kagetnya rasa hati Lulung Lama ketika pagar itu jebol. Dia melihat banyak pendeta Lama di antara para penyerbu yang terdiri dari pasukan Tibet!

“Celaka...!” serunya.

Dia maklum bahwa sarangnya diserbu oleh pasukan pemerintah Tibet bersama anak buah Dalai Lama. Dia pun cepat lari ke bangunan induk untuk memimpin anak buahnya mengadakan perlawanan. Akan tetapi, dengan kaget Lulung Lama melihat bahwa para penyerbu bukan hanya terdiri dari pasukan Tibet dan para pendeta Lama saja, tetapi juga puluhan orang kang-ouw.

Orang-orang kang-ouw itu kini membantu Yo Han yang dikeroyok dan yang tadi sedang mengamuk. Maklumlah Lulung Lama bahwa dia harus melawan mati-matian. Karena itu, sambil mengeluarkan teriakan menantang, dia sudah menyerbu ke arah Yo Han yang kini dia ketahui adalah Sin-ciang Taihiap sendiri. Yo Han menyambut senjata roda di tangan Lulung Lama dan terjadilah perkelahian hebat di antara mereka.

Sementara itu, pada waktu melihat serbuan pasukan Tibet dan para pendeta Lama, juga orang-orang kang-ouw, Sian Li menjadi girang sekali dan ia pun tidak jadi melarikan diri. Bahkan ia lalu menggunakan suling emasnya yang tadi ia terima kembali dari Cu Ki Bok untuk membantu para penyerbu, mengamuk sambil mencari-cari Pangeran Gulam Sing yang amat dibencinya untuk membalas kematian suheng-nya.

Gadis ini menerima sebuah suling berselaput emas dari Kam Bi Eng, nenek yang telah menggemblengnya. Meski pun ia juga pandai memainkan pedang, namun ia lebih suka kalau memegang suling ini sebagai senjatanya.

Akhirnya Sian Li menemukan orang yang dicari-carinya. Ternyata Pangeran Gulam Sing yang tinggi besar brewok dan gagah perkasa itu, dengan senjatanya yang mengerikan, yaitu golok melengkung yang amat tajam, sedang bertanding malawan Gak Ciang Hun dan ibunya.

Pangeran Nepal itu memang tangguh, dan terutama sekali dia memiliki tenaga raksasa yang membuat Ciang Hun dan ibunya kewalahan. Setiap kali senjata ibu dan anak itu bertemu dengan golok melengkung itu, tentu pedang mereka terpental. Hanya setelah Ciang Hun mengerahkan tenaga sinkang-nya, barulah dia berani beradu senjata. Akan tetapi ibunya tidak berani mengadu senjata secara langsung, hanya mempergunakan kecepatan gerakannya untuk mengeroyok.

“Pangeran jahanam!” Sian Li berseru dan sekali lompat, tubuhnya menjadi bayangan merah dan suling emasnya mengeluarkan bunyi melengking ketika ia menotok ke arah leher pangeran yang tinggi besar itu.
“Ha-ha-ha-ha, Si Bangau Merah datang. Bagus, marilah kita main-main sebentar, nona manis!” kata pangeran itu dalam bahasa yang patah-patah.

Goloknya digerakkan dengan pengerahan tenaga, dihantamkan ke arah suling emas yang menusuk lehernya, dengan maksud agar senjata di tangan nona pakaian merah itu terpental dan lepas. Akan tetapi Sian Li bukan seorang gadis bodoh. Dia sudah tahu bahwa lawannya ini mempunyai tenaga yang sangat besar, maka dia menarik kembali sulingnya dan secepat kilat, sulingnya yang lepas dari tangkisan lawan itu sudah balas menotok ke arah ulu hati lawan!

Pada saat yang bersamaan, Gak Ciang Hun dan ibunya, Souw Hui Lian atau Nyonya Gak, sudah menyerang pula dengan pedang mereka dari kanan kiri.

Melihat dirinya diserang oleh tiga orang lawan yang kesemuanya tidak boleh dipandang ringan, Pangeran Gulam Sing lantas mengeluarkan bentakan nyaring, bentakan yang mengandung kekuatan sihir.

Tiga orang lawan itu tergetar seperti kehilangan tenaga dan di lain saat, kaki Pangeran Nepal itu sudah merobohkan Nyonya Gak dengan tendangan kakinya yang mengenai paha. Goloknya menyambar ke arah Gak Ciang Hun yang masih sempat melempar diri ke belakang sehingga serangan itu luput, sementara tangan kiri pangeran Nepal itu mencengkeram ke arah kepala Sian Li!

Gadis ini terkejut. Tadi ketika Pangeran Nepal itu mengeluarkan bentakan, ia pun ikut tergetar dan seperti kehilangan tenaga sehingga tusukan sulingnya gagal. Kini tiba-tiba lengan yang panjang itu telah terjulur secepat kilat dan telapak tangan yang besar itu sudah mencengkeram ke arah kepalanya!

Sian Li cepat miringkan kepala mengelak. Akan tetapi tangan itu terus menyambar dan mencengkeram ke arah pundak kirinya dan terdengar pangeran itu tertawa bergelak.
“Ha-ha-ha, Nona merah, akhirnya engkau jatuh juga ke tanganku... ehhh...!” Dia terkejut karena mendadak saja cengkeraman tangannya itu tertolak ke belakang oleh tenaga dahsyat dari sinar emas yang menyambar ke arah tangannya itu.

Dia cepat meloncat ke belakang dan ketika dia mengangkat muka, dia melihat bahwa di situ telah berdiri seorang lelaki yang usianya sudah lima puluh tahun lebih, berpakaian sederhana. Melihat pria ini sama sekali tidak mengesankan, tetapi sepasang matanya mencorong penuh wibawa.

Pria itu memandang kepada Sian Li yang tadi terkejut dan juga lega bahwa ada orang yang menyelamatkannya. Terdengar dia berkata, “Nona, biarlah aku yang menghadapi orang Nepal ini.”

Pangeran Gulam Sing yang menjadi marah tidak memberi kesempatan kepada lawan yang tangguh itu untuk banyak bicara. Dengan geram dia telah mengeluarkan bentakan nyaring yang disertai kekuatan sihirnya sambil menggerakkan golok melengkung untuk menyerang.

Akan tetapi pria itu bersikap tenang saja, agaknya sama sekali tidak terpengaruh oleh bentakan itu dan dia sudah mencabut kembali sebatang suling dari ikat pinggangnya. Suling itu terbuat dari kayu, akan tetapi mengkilap sepeti emas, dan ketika dia gerakkan, maka terdengar suara melengking seolah suling itu ditiup orang.

Golok melengkung itu tertolak keras ketika bertemu suling, membuat Pangeran Gulam Sing menjadi terkejut. Dia pun mengamuk dan menyerang membabi buta, dilayani oleh pria yang sederhana itu.

Sian Li, Nyonya Gak, dan Ciang Hun memandang kagum. Terutama sekali Sian Li yang sekarang melongo dan terheran-heran. Ia dapat melihat dengan jelas bahwa suling itu dimainkan oleh Si Pria tiada bedanya sama sekali dengan permainannya sendiri, itulah Liong-siauw-kiam-sut (ilmu Pedang Suling Naga)! Dimainkan dengan gerakan perlahan saja, namun anehnya, golok melengkung itu sama sekali tidak mampu banyak berlagak lagi setelah berhadapan dengan permainan suling pria itu!

Sian Li teringat akan neneknya, yaitu Kam Bi Eng, istri kakek Suma Ceng Liong. Seperti itulah kalau Nenek Kam Bi Eng memainkan sulingnya! Dan meski pun ia sendiri telah digembleng nenek itu dan sudah menguasai Liong-siauw Kiam-sut, namun tentu saja tingkatnya masih jauh. Mungkin ia telah menguasai gerakannya, namun ‘isinya’ belum matang sehingga tenaga yang dikandung dalam gerakannya masih belum begitu kuat.

Akan tetapi, Sian Li tak sempat banyak melamun karena seperti juga Ciang Hun dan ibunya, dia sudah harus berkelahi lagi dengan anak buah Pangeran Gulam Sing, yaitu orang-orang Nepal yang juga terpaksa harus menggerakkan senjata menyambut para penyerbu. Terjadilah pertempuran hebat pada malam itu.

Pria yang baru tiba itu memang hebat. Pangeran Gulam Sing yang gagah perkasa itu pun tidak mampu menandinginya. Belum juga lima puluh jurus, setelah Pangeran Nepal itu mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, dia sudah terdesak dan terhimpit oleh gulungan sinar suling di tangan orang itu.

Maklum bahwa dia tidak akan mampu mengalahkan lawan ini, tiba-tiba Pangeran Gulam Sing mengeluarkan teriakan nyaring dan kakinya yang panjang dan besar itu melakukan tendangan-tendangannya yang sungguh ampuh. Kedua kaki itu bertubi-tubi melakukan tendangan, menyambar dari bawah ke atas, dari kanan kiri dan mendatangkan angin yang menyambar-nyambar.

Namun, lawannya agaknya tidak menjadi terkejut melihat ilmu tendangan yang sangat dahsyat itu. Tubuhnya mencelat ke atas dan setelah berjungkir balik, dia pun meluncur turun dan didahului oleh sinar sulingnya, menyambut tendangan kaki Gulam Sing!

“Tukk! Tukk!” Gulam Sing terjengkang, kedua kakinya roboh.

Saat itu dipergunakan oleh Sian Li yang sejak tadi mengamati jalannya perkelahian itu sambil menjaga diri dari serangan para anak buah Gulam Sing, untuk meloncat ke dekat Gulam Sing. Sulingnya menyambar dan sebelum Pangeran Nepal itu sempat mengelak, suling di tangan Sian Li telah menotok tengkuknya dari samping dan pangeran Nepal itu pun terkulai.

“Awaaas...!”

Pria itu cepat menyambar lengan Sian Li dan ditariknya. Untunglah dia bertindak cepat karena saat itu pula, dalam keadaan sekarat Gulam Sing masih mampu melontarkan goloknya ke arah Sian Li. Demikian kuat dan cepatnya lemparan golok itu sehingga andai kata Sian Li tidak ditarik orang tadi, tentu dara ini akan menjadi korban sambaran golok.

Melihat robohnya Gulam Sing, anak buahnya menjadi panik dan mereka lari cerai berai, disambut oleh pasukan Tibet.

“Gak-twako dan Bibi, mari kita bantu Han-ko!” kata Sian Li dan ia pun menghadapi pria itu sambil memberi hormat. ”Paman yang gagah perkasa, terima kasih atas pertolongan Paman. Kalau Paman suka, kami harap Paman suka membantu kami sampai selesai!”

Pria itu tersenyum. “Aku hanya kebetulan lewat dan mendengar keributan di sini. Aku datang dan melihat engkau tadi terancam, Nona. Mari, aku ikut di belakang kalian.”

Sian Li, Ciang Hun, Nyonya Gak dan diikuti pria itu lalu mencari Yo Han.

Sementara itu, Yo Han yang tadi bertanding melawan Lulung Lama, tidak menggunakan waktu terlalu lama. Biar pun Lulung Lama dibantu oleh Pek-lian Sam-li namun Yo Han dapat mendesak mereka dengan gerakan yang aneh.

Ia menggunakan ilmu Bu-kek Hoat-keng. Begitu empat orang lawannya menyerangnya, mereka itu bahkan terjengkang sendiri. Makin hebat mereka menyerang, semakin kuat pula mereka tertolak dan terbanting!

Memang ilmu yang diwarisi Yo Han dari mendiang Kekek Ciu Lam Hok ini merupakan ilmu yang luar biasa. Ilmu ini dapat menghimpun tenaga sakti yang mengandung daya tolak yang luar biasa sehingga setiap orang penyerang, apa lagi kalau hatinya dibakar kebencian dan kemarahan, tentu akan langsung terpukul sendiri oleh serangannya yang membalik.

Ketika itu, para pendeta Lama telah berdatangan dan melihat Lulung Lama terjengkang berkali-kali setiap menyerang Yo Han, maka para pendeta Lama itu lalu menubruk dan meringkus pemberontak itu. Akan tetapi terhadap Pek-lian Sam-li, baru pendeta Lama dan pasukan tidak memberi ampun. Tiga orang wanita ini dikeroyok dan di bawah hujan senjata, mereka pun tewas. Demikian pula kedua orang pembantu Gulam Sing, yaitu Badhu dan Sagha, juga para tosu Pek-lian-lauw yang menjadi kawan-kawan Pek-lian Sam-li semua tewas.

Pada saat Yo Han melihat Sian Li, Ciang Hun dan Nyonya Gak, juga ada seorang pria sederhana datang hendak membantunya, dia yang sedang meneriaki orang kang-ouw untuk menghentikan pertempuran, segera berkata kepada mereka. “Mari kita tinggalkan tempat ini. Kita tidak perlu mencampuri pertempuran antara pasukan Tibet yang sedang menangkapi para pemberontak.”

Orang-orang kang-ouw itu kemudian meninggalkan tempat itu, lari cerai berai setelah mendengar perintah dari Sin-ciang Taihiap yang mereka taati. Ada pun Sian Li, Ciang Hun dan ibunya, juga pria itu, segera mengikuti Yo Han melarikan diri keluar dari kancah pertempuran itu.

Mereka lari menuruni bukit itu. Setelah mereka tiba di kaki bukit, malam mulai berganti pagi dan mereka berhenti di tempat sunyi untuk istirahat.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Sian Li untuk sekali lagi menghaturkan terima kasih kepada pria yang telah menolongnya. “Paman, terima kasih atas bantuan Paman. Kalau tidak ada Paman, mungkin aku telah menjadi korban golok Pangeran Gulam Sing yang lihai.”

Ia mengamati wajah pria itu dengan kagum dan heran sekali. “Permainan senjata suling dari Paman begitu hebatnya, padahal gerakannya serupa benar dengan permainanku. Kalau boleh aku mengetahui, siapa nama Paman yang terhormat?”

Tiba-tiba Nyonya Gak berkata, “Sian Li, apakah engkau tak pernah mendengar tentang pendekar sakti yang berjuluk Suling Naga? Aku berani bertaruh bahwa kita semua kini sedang berhadapan dengan pendekar Suling Naga yang bernama Sim Houw. Benarkah dugaanku itu, saudara yang gagah perkasa?”

Mendengar itu, pria yang sederhana itu lalu mengangkat kedua tangan ke depan dada, memberi hormat kepada Souw Hui Lian atau Nyonya Gak. “Toanio memiliki penglihatan tajam dan pandangan luas. Saya yang rendah memang bernama Sim Houw. Dan kalau boleh saya mengenal, siapakah Toanio dan siapa pula orang-orang muda yang gagah perkasa ini?”

Mendengar bahwa pria itu bernama Sim Houw yang berjuluk Pendekar Suling Naga, Sian Li mengeluarkan seruan girang dan cepat ia lalu memberi hormat. “Aihhh, kiranya Locianpwe yang nama besarnya sudah sering kudengar dari Bibi Nenek Kam Bi Eng!”

Kini Sim Houw tersenyum lebar. “Aha, kiranya engkau menguasai Liong-siauw Kiam-sut dari Sumoi Kam Bi Eng! Nona berbaju merah, siapakah engkau dan siapa pula orang tuamu?” Sim Houw memandang dengan wajah berseri-seri karena hatinya girang bukan main.

“Locianpwe, sekarang kita semua berada di antara orang sendiri. Mungkin Locianpwe tidak mengenal Ayahku. Ayahku bernama Tan Sin Hong...!”
“Ayahnya berjuluk Pek-ho-eng (Pendekar Bangau Putih), murid Istana Gurun Pasir!” kata nyonya Gak gembira.
“Hebat!” Sim Houw berseru girang, “Kiranya ayahmu pendekar yang namanya terkenal itu. Sungguh girang sekali aku dapat bertemu denganmu, Nona baju merah!”
“Locianpwe, namaku Sian Li. Tan Sian Li. Ada pun ibuku bernama Kao Hong Li...”
“She Kao...? Apa hubungannya dengan bekas Panglima Kao Cin Liong di Pao-teng?”
“Dia adalah Kakekku!” Sian Li berseru gembira.

Sim Houw tertawa bergelak, bukan main girang rasa hatinya. Tiba-tiba dia mengambil sulingnya dan meniup suling kayu berbentuk naga itu. Terdengarlah suara suling yang melengking-lengking, merdu dan halus, akan tetapi mengandung getaran yang sangat kuat sehingga menimbulkan gelombang suara yang mencapai tempat jauh.

Dan tiba-tiba terdengar suara suling yang lebih lembut dan melengking tinggi. Meski pun tidak sekuat suara suling yang ditiup oleh Sim Houw, namun cukup jelas terdengar dari tempat itu. Suara suling yang menjawab itu dengan cepat terdengar semakin dekat dan tidak lama kemudian, muncullah seorang wanita cantik. Wanita itu berusia empat puluh tahun, namun nampak manis dan jauh lebih muda, matanya membayangkan kelincahan dan kejenakaan, juga kecerdikan.

“Aihh, aku sudah mulai tidak sabar menunggumu dan ternyata di sini terdapat banyak orang. Siapakah mereka ini?” tanya wanita itu sambil memandang kepada semua orang satu demi satu.
“Lihatlah, Nona baju merah ini adalah puteri dari Pendekar Bangau Putih, dan ibunya adalah puteri bekas panglima Cin Liong. Juga, ia telah menguasai Liong-siauw Kiam-sut yang dipelajarinya dari Sumoi Kam Bi Eng. Hebat tidak?” kata Sim Houw kepada wanita itu yang bukan lain adalah isterinya yang bernama Can Bi Lan.

Can Bi Lan yang berwatak jenaka dan gembira itu segera maju dan memegang lengan Sian Li. “Aihh, betapa gagahnya kau! Siapa namamu, Nona merah?”

Gembira sekali hati Sian Li bertemu dengan suami isteri yang namanya sudah pernah ia dengar dari Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng itu. “Bibi yang gagah dan cantik jelita, namaku Tan Sian Li dan orang memberi julukan kepadaku Si Bangau Merah!”

“Si Bangau Merah? Puteri Pendekar Bangau Putih? Heh-heh-heh, sungguh tepat sekali, Sian Li, siapakah orang-orang yang lain ini? Perkenalkan mereka kepadaku.”
“Aku sendiri pun belum sempat berkenalan dengan yang lain,” kata Sim Houw kepada isterinya. “Pertama-tama saya harap Toanio suka mengenalkan diri. Agaknya Toanio mengenal keadaan keluarga kami, akan tetapi kami tidak tahu siapa Toanio.”
“Kukira Paman dan Bibi tentu sudah mengenal Bibi Gak. Suaminya adalah mendiang Beng-san Sian-eng. Dan ini adalah puteranya Gak Ciang Hun.”
“Aih, kiranya isterinya sepasang Locianpwe kembar, Sepasang Garuda dari Beng-san?” seru Sim Houw, “Maafkan kalau kami bersikap kurang hormat.”

Juga Can Bi Lan memberi hormat kepada Nyonya Gak yang cepat-cepat membalas penghormatan itu, diturut oleh puteranya.

“Dan siapakah pemuda ini? Sepintas lalu tadi aku melihat betapa hebatnya dia ketika melawan pengeroyokan lawan-lawannya yang lihai. Aku yakin dia ini pun bukan orang sembarangan!” kata Sim Houw sambil memandang kepada Yo Han yag sejak tadi diam saja.

Akan tetapi diam-diam Yo Han mengamati wajah Can Bi Lan. Pernah dia mendengar cerita mendiang ibunya ketika dia masih kecil tentang seorang Sumoi dari ibunya yang berjuluk Siauw Kwi (Setan Cilik). Mendiang ibunya sendiri pernah menjadi seorang tokoh sesat berjuluk Bi Kwi (Setan Cantik), dan Sumoi dari ibunya itu kalau tidak salah ingat bernama Can Bi Lan. Wanita ini adalah Sumoi dari mendiang ibunya!

Sian Li yang merasa sangat bangga dan suka pamer segera memperkenalkan Yo Han. “Pernahkah Paman dan Bibi dalam perantauan kalian mendengar nama besar Sin-ciang Taihiap di daerah ini? Nah, inilah orangnya. Namanya Yo Han!”

“Tentu saja kami pernah mendengarnya!” kata Can Bi Lan kagum. “Seorang pendekar yang tidak pernah membunuh, seorang pendekar budiman yang menalukkan orang-orang jahat dan menyadarkan mereka. Masih begini muda? Sungguh tak kusangka!”
“Sin-ciang Taihiap, engkau masih begini muda, namun sudah membuat nama besar. Tentu gurumu seorang yang sakti dan terkenal sekali!” kata Sim Houw.
“Dan ayah ibumu tentu juga tokoh-tokoh dunia persilatan!” sambung Can Bi Lan.

Yo Han memberi hormat kepada suami isteri itu dan kemudian berkata kepada Can Bi Lan, “Bibi Guru, teecu Yo Han menghaturkan hormat. Mendiang Ibu adalah Ciong Siu Kwi...”

“Aihhh...!” Bi Lan berseru dan matanya terbelalak memandang kepada pemuda putera suci-nya itu. “Suci...? Aku mendengar bahwa Suci menikah dengan seorang pemuda sederhana she Yo... dan mereka tewas bersama sebagai orang-orang gagah di tangan para pemberontak. Kiranya engkau... ahhh, engkau keponakanku...!” Bi Lan maju dan memegang kedua tangan pemuda itu, penuh rasa kagum dan juga bangga. “Syukurlah, akhirnya Suci meninggalkan seorang keturunan yang begini gagah perkasa dan berjiwa pendekar! Aku ikut merasa bangga, Yo Han!”

Rombongan itu lalu duduk di atas akar dan batu, dan bercakap-cakap dengan gembira, saling menceritakan pengalaman masing-masing. Karena mereka adalah orang-orang segolongan, bahkan di antara mereka masih ada hubungan, baik kekeluargaan mau pun perguruan, maka tentu saja suasana menjadi akrab sekali.

Nyonya Gak atau Souw Hui Lin menceritakan betapa kedua orang suaminya, Si kembar Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong yang dikenal dengan julukan Beng-san Sian-eng, telah meninggal dunia dan ia hidup berdua dengan putera tunggalnya yaitu Gak Ciang Hun yang kini sudah berusia dua puluh delapan tahun.

“Pertemuan dengan kalian semua membuat aku terkenang kembali kepada kampung halaman,” kata Nyonya Gak sambil menghela napas panjang. “Sejak kematian suamiku, aku mengajak Ciang Hun merantau, karena aku merasa hidupku kosong. Ternyata aku hanya mengejar bayangan belaka. Kelahiran dan kematian merupakan kodrat Tuhan yang tidak dapat dimengerti oleh kita. Kita hanya menerima dan menjalani saja, tidak kuasa mengatur, maka kematian merupakan hal wajar yang tidak perlu disedihkan terus menerus. Aku sudah mengambil keputusan untuk pulang ke Beng-san.”

Gak Ciang Hun memandang kepada ibunya dengan mata bersinar dan wajah berseri. Selama ini dia menghibur hati ibunya yang menjadi berduka sekali karena kematian kedua orang ayahnya. Namun betapa pun dia membujuk, ibunya tidak mau kembali ke Beng-san yang katanya hanya akan membuat ia berduka dan teringat kepada ayah-ayahnya. Akan tetapi sekarang, ibunya sudah menyadari dan bahkan ingin kembali.

Tentu saja Ciang Hun menjadi girang bukan main. Kalau ibunya sudah mau kembali ke Beng-san, tentu dia dapat memikirkan untuk berumah tangga. Tidak seperti sekarang ini, selama hampir dua tahun hanya merantau ke sana sini tanpa tempat tinggal yang tetap.

“Bagaimana dengan engkau, Sian Li?” tanya Can Bi Lan kepada gadis itu.

Sian Li bercerita tentang pengalamannya, betapa ia bersama mendiang Sian Lun yang menjadi suheng-nya meninggalkan rumah Suma Ceng Liong untuk pergi berkunjung ke Bhutan bersama Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi. Betapa kemudian dia bersama suheng-nya bertemu dengan Lulung Lama sehingga mengalami banyak hal yang hebat.

“Dan di mana sekarang suheng-mu itu?” tanya Sim Houw.

Sian Li mengerutkan alisnya dan memandang kepada Yo Han. Berat rasa hatinya untuk menceritakan penyelewengan yang sudah dilakukan suheng-nya itu, apa lagi mengingat bahwa dalam saat-saat terakhir hidupnya, Sian Lun telah menyadari kesesatannya dan bahkan mengorbankan nyawa untuknya.

Melihat gadis itu memandang kepadanya seperti orang meminta bantuan, Yo Han lalu menjawab untuknya.

“Sayang sekali, dalam pertentangan menghadapi persekutuan pemberontak itu, Liem Sian Lun telah tewas di tangan para pimpinan penjahat yang lihai.”

Gak Ciang Hun dan ibunya menunduk. Mereka dapat menduga bahwa suheng dari Si Bangau Merah itu telah menyeleweng, namun mereka tak ingin mencampuri urusan itu dan diam saja.

Sim Houw menghela napas panjang. “Memang demikianlah resiko menjadi seorang pendekar yang membela kebenaran dan keadilan. Kalau pihak penjahat lebih kuat, mungkin saja seorang pendekar akan mengorbankan nyawanya, mati muda. Akan tetapi kematian seperti itu tidaklah sia-sia, karena dia mati dalam membela kebenaran, dia seorang pahlawan kemanusiaan.”

“Lalu sekarang engkau hendak pergi ke mana Sian Li?” tanya Can Bi Lan yang terlihat amat sayang kepada gadis berpakaian merah itu.
“Aku ingin segera pulang ke rumah Paman Suma Ceng Liong, Bibi, karena sudah lama meninggalkan dusun Hong-cun. Ayah dan Ibu tentu akan merasa khawatir kalau mereka datang menjemputku dan aku belum pulang. Dan Han-ko akan ikut denganku karena dia pun sudah merasa rindu kepada Ayah Ibuku.”

Mereka semua memandang pada Yo Han dan pemuda ini mengangguk membenarkan. ”Kasihan kalau adik Sian Li harus pulang seorang diri, padahal ketika pergi ia bersama mendiang suheng-nya. Selain itu, saya ingin bertemu dengan ayah ibunya, yaitu guru-guru saya yang pertama.”

“Paman dan Bibi sendiri hendak pergi ke manakah?” Sian Li bertanya kepada suami isteri itu.

Dan mereka semua merasa heran karena pertanyaan itu agaknya membuat suami isteri itu seperti termenung, bahkan ada bayangan kesedihan meliputi wajah mereka. Tetapi Can Bi Lan memiliki dasar watak yang lincah dan gembira, maka ia tidak membiarkan wajahnya muram terlalu lama.

Segera ia tersenyum lagi dan setelah menghela napas panjang, ia lalu berkata, “Biarlah kami ceritakan keadaan kami karena kalian bukan orang luar, melainkan masih terhitung anggota keluarga sendiri. Mungkin kalian sudah mendengar tentang nama kami, tetapi tentu merasa heran mengapa selama ini kami berdua tidak pernah memperlihatkan diri, bahkan seperti mengasingkan diri dari dunia persilatan. Sesunguhnya ada musibah besar menimpa keluarga kami. Terjadinya kurang lebih dua puluh tahun lalu. Ketika itu, anak tunggal kami, seorang anak perempuan yang baru berusia tiga tahun, telah lenyap dari rumah kami.”

“Ahhh...!” Mereka yang mendengarkan cerita itu berseru kaget. “Apakah sampai kini belum juga dapat ditemukan, Bibi?” tanya Sian Li.

Can Bi Lan menggeleng kepala sambil menghela napas.

“Adik Bi Lan, bagaimana mungkin peristiwa seperti itu dapat menimpa suami isteri yang sakti seperti kalian berdua? Apakah yang telah terjadi dengan puterimu?” tanya Nyonya Gak dengan terkejut, penasaran dan heran. Sukar membayangkan ada orang berani menculik puteri dari suami isteri Pendekar Suling Naga!

Bi Lan kembali menghela napas. “Ketika itu, anak kami Sim Hui Eng yang baru berusia tiga tahun sedang diasuh oleh seorang pelayan di taman belakang rumah dan tiba-tiba kami mendengar jeritan pelayan kami di taman belakang. Kami cepat lari ke sana dan mendapatkan pelayan kami sudah tewas tanpa luka. Setelah kami memeriksa dengan teliti, ternyata ia telah tewas oleh tepukan pada ubun-ubun kepalanya yang merusak isi kepala tanpa menimbulkan luka, dan anak kami lenyap tanpa bekas. Di atas tanah terdapat tulisan yang mungkin sudah ditulis lebih dahulu, yang menyatakan bahwa kalau kami melakukan pengejaran, anak kami akan dibunuhnya seperti orang itu membunuh pelayan kami.” Bi Lan menghentikan ceritanya dan memejamkan mata, agaknya masih ngeri membayangkan apa yang terjadi pada diri anaknya.

“Terkutuk! Bibi, siapakah pelaku yang jahat itu?” Gak Ciang Hun berseru marah.

Sekarang Sim Houw yang menjawab, suaranya tetap tenang walau pun terdengar jelas bahwa pendekar ini pun menahan kesedihan hatinya. “Sampai sekarang kami belum dapat menduga siapa pelakunya. Kami berdua dengan sangat hati-hati melakukan pencarian, takut kalau ancamannya itu dilaksanakan penculik itu. Akan tetapi, ternyata orang itu memang lihai bukan main karena sampai sekarang, dua puluh tahun telah lewat dan kami berdua belum juga berhasil menemukan Hui Eng. Kami tidak tahu pria atau wanita yang menculik anak kami itu, apa lagi namanya. Semua masih gelap bagi kami. Namun kami menduga bahwa perbuatan ini tentu merupakan balas dendam. Di waktu muda kami banyak menentang para tokoh sesat dan tentu mereka itu ada di antaranya yang mendendam kepada kami. Akan tetapi karena banyak sekali tokoh sesat yang pernah kami tentang, kami tidak tahu benar siapa penculik itu. Kami sudah menyelidiki di seluruh penjuru, sampai ke tempat ini, namun tidak pernah berhasil.” Suami isteri itu menunduk dan jelas bahwa mereka menderita tekanan batin yang amat hebat.

“Luar biasa!” Sian Li berseru. ”Kenapa sama benar dengan yang telah terjadi padaku? Paman dan Bibi, ketika aku masih kecil, berusia empat tahun, aku pun diculik orang dari taman! Akan tetapi untung ada Han-ko ini, kalau tidak, mungkin nasibku sama dengan puteri Paman dan Bibi, sampai sekarang tidak dapat bertemu lagi dengan orang tuaku!”

Sim Houw dan Bi Lan memandang kaget dan heran. “Siapa yang menculikmu ketika itu?” tanya mereka hampir berbareng karena tentu saja mereka merasa tertarik sekali mendengar terjadinya peristiwa yang serupa dengan apa yang terjadi pada diri anak mereka.

“Yang menculik aku adalah Ang-I Moli Tee Kui Cu, puteri dari mendiang Tee Kok dari Yunan, ketua Ang-I Mo-pang. Akan tetapi Ang-I Moli juga menjadi tokoh Pek-lian-kauw dan sekarang ia telah mati dihukum pemerintah karena bersekutu dengan pemberontak. Nah, ketika aku diculik, Han-koko masih tinggal bersama orang tuaku dan dia inilah yang membebaskan aku dari tangan Ang-I Moli dengan cara menggantikan aku dengan dirinya sendiri.”
“Aihh, Li-moi. Ketika engkau diculik, engkau sedang bermain-main denganku, maka aku merasa bertanggungjawab,” kata Yo Han ketika semua mata memandang kepadanya dengan kagum.

Cerita Sian Li itu membuat suami isteri itu saling pandang dan berpikir. “Hemmm, kami kira memang ada persamaannya. Tentu penculik itu juga mendendam kepada orang tuamu,” kata Sim Houw. “Akan tetapi, kami tidak berhasil menemukan kembali anak kami, padahal kini ia tentu telah berusia dua puluh tiga tahun dan kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengannya.”

“Yang membuat hatiku terasa hancur kalau membayangkan adalah keadaannya yang tidak menentu itu. Kami akan merasa lebih bersedih kalau ia sampai dibawa sesat oleh penculiknya, lebih sedih dari pada kalau andai kata ia sudah terbunuh,” kata Bi Lan dan nyonya ini nampak berduka sekali.

Yo Han yang semenjak tadi mendengarkan merasa iba sekali. “Maaf, Paman dan Bibi, peristiwa itu telah berlalu selama dua puluh tahun. Kini puteri Jiwi (Kalian) tentu sudah merupakan seorang gadis dewasa berusia dua puluh tiga tahun. Namanya pun mungkin sudah diganti nama baru oleh penculiknya. Bagaimana Paman dan Bibi akan dapat mengenalnya andai kata bertemu dengannya, apa lagi kalau dia menggunakan nama baru?”

Bi Lan memandang kepada pemuda itu. “Kami pun sudah berpikir demikian. Nama memang bisa saja diganti, akan tetapi ada dua buah tanda pada tubuh anak kami itu yang tidak mungkin dipunyai oleh anak lain. Di pundak kirinya terdapat sebuah tahi lalat hitam yang jelas dan di telapak kaki kanannya terdapat tanda noda merah sebesar ibu jari kaki. Dengan adanya dua tanda itu, kami tentu akan dapat mengenal anak kami.”

Tanpa mengeluarkan sepatah pun kata, Yo Han mencatat semua itu di dalam hatinya. Dia akan merasa berbahagia sekali kalau dapat menemukan Sim Hui Eng untuk suami isteri yang sudah menderita duka selama dua puluh tahun itu.

Tak lama kemudian, mereka terpecah menjadi tiga rombongan. Sim Houw dan Can Bi Lan meninggalkan tempat itu, untuk kembali ke Lok-yang, tempat tinggal mereka, sebab sudah terlalu lama mereka meninggalkan rumah dalam perantauan mereka mencari anak mereka dan juga untuk menghibur diri.

Nyonya Gak dan puteranya, Gak Ciang Hun, juga pergi kembali ke Beng-san di mana mereka masih mempunyai sebuah rumah peninggalan mendiang Beng-san Siang-eng yang makamnya juga berada di puncak gunung itu.

Ada pun Sian Li diantar Yo Han melakukan perjalanan pulang ke dusun Hong-cun di luar kota Cin-an.....

********************
Selanjutnya baca
SI BANGAU MERAH : JILID-19
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger