logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Si Pedang Tumpul Jilid 09


Pertandingan antara Maniyoko dan Koai-tung Lo-kai segera dimulai dan para calon lain kembali ke tempat duduk masing-masing. Maniyoko bertangan kosong saja menghadapi Koai-tung Lo-kai yang menggunakan tongkatnya. Seperti juga dua orang kakek pengemis lainnya, sesungguhnya Koai-tung Lo-kai tidak berambisi untuk menjadi pimpinan kai-pang. Namun Pek-sim Lo-kai yang mereka pandang dan harapkan tidak hadir. Maka terpaksa mereka maju, bukan saja untuk memenuhi pilihan para kai-pang, akan tetapi juga untuk mencegah agar dua orang muda itu tidak sampai merebut kedudukan pemimpin kai-pang!

Tapi Koai-tung Lo-kai yang tingkat kepandaiannya hanya lebih unggul sedikit dibandingkan tingkat para ketua kai-pang ternyata bukan lawan Maniyoko yang lihai itu. Dalam waktu kurang dari dua puluh jurus saja, tongkat di tangan Koai-tung Lo-kai telah dapat dirampas oleh Maniyoko, kemudian sebuah tendangan kilat membuat kakek itu terlempar turun dari panggung! Maniyoko tertawa dan melemparkan tongkat itu ke bawah panggung, di mana Koai-tung Lo-kai dibantu bangkit oleh para pengemis yang mencalonkannya.

"Ha-ha-ha, hanya sebegitu saja kepandaian seorang calon yang hendak memimpin para kai-pang di seluruh negeri? Sungguh lucu! Orang begitu lemah bagaimana akan mampu memimpin seluruh kai-pang? Hayo, silakan calon lain maju karena pertandingan yang tadi sama sekali tidak membuat aku berkeringat!” Maniyoko berkata dengan nada dan lagak sombong.

Mendengar ucapan Maniyoko, Hek-bin Lo-kai yang menjadi sahabat baik Koai-tung Lo-kai dan yang memiliki watak keras, menjadi marah dan dia pun meloncat ke atas panggung. “Engkau ini orang Jepang berani mencampuri urusan kai-pang dan berlagak sombong! Aku yang akan menghadapimu, keparat!"

Kalau saja tidak ingat bahwa di situ hadir dua orang panglima dari pemerintah dan di situ berkumpul pula seluruh pimpinan kai-pang, tentu Maniyoko telah menjadi marah dan akan membunuh kakek bermuka hitam di hadapannya. Akan tetapi dia sudah mendapat pesan gurunya agar tidak menimbulkan kekacauan, maka dia pun tersenyum menghadapi kakek bermuka hitam itu.

"Hek-bin Lo-kai, orang lain boleh merasa gentar melihat mukamu yang hitam menakutkan, akan tetapi aku tidak. Majulah dan perlihatkan kepandaianmu!" Maniyoko menantang. 

Hek-bin Lo-kai mengeluarkan bentakan nyaring, dan dia pun langsung menyerang dengan tangan kosong. Dia terkenal sebagai seorang kakek yang memiliki tenaga besar. 

Namun Maniyoko menyambut dengan gerakannya yang sangat ringan dan gesit sehingga semua terkaman, hantaman serta tendangan kakek bermuka hitam itu tidak pernah dapat menyentuh tubuhnya. 

Kembali belasan jurus lewat dan ketika Hek-bin Lo-kai kembali memukul ke arah kepala lawan, Maniyoko merendahkan tubuhnya dan begitu tangan kakek itu meluncur lewat di atas kepalanya, dia cepat menangkap pergelangan tangan kanan kakek itu dan sekali dia membuat gerakan merendah, membalik dan membanting, tubuh kakek itu telah terlempar keluar panggung dan jatuh terbanting ke atas lantai di bawah panggung! 

Terdengar sorak sorai dari para pimpinan Hwa I Kai-pang dan para kai-pang pengikutnya di daerah timur yang menjagoi Maniyoko.

Maniyoko tertawa, "Masih ada lagikah?" teriaknya dengan lagak semakin sombong.

"Orang Jepang, akulah lawanmu!" terdengar bentakan nyaring dari Ta-kau Sin-kai, kakek pengemis ketiga yang meloncat naik ke atas panggung sambil memutar tongkatnya. Akan tetapi dari lain jurusan nampak bayangan lain berkelebat dan tahu-tahu di situ telah berdiri Lili!
"Nona, biarkan aku menghajar orang Jepang sombong ini!" teriak Ta-kau Sin-kai.

Lili tersenyum. "Kakek pengemis, sungguh pun engkau berjuluk Ta-kau Sin-kai (Pengemis Sakti Pemukul Anjing) dan dia ini memang seperti anjing yang layak dipukul, akan tetapi engkau tidak akan menang dan engkau bahkan akan digigit olehnya. Dia ini anjing gila, kalau menggigit amat berbahaya. Biarlah aku yang akan menghajarnya!"

"Tidak, nona!” kata Ta-kau Sin-kai yang merasa penasaran melihat dua orang rekannya tadi dikalahkan, dan dia sudah memutar tongkatnya menyerang Maniyoko.

Akan tetapi Lili menghadangnya sehingga kini di atas panggung terdapat tiga orang dan suasana menjadi agak kacau. Kakek itu ingin menyerang Maniyoko, akan tetapi gadis itu selalu menghalanginya.

Tiba-tiba terdengar seruan lantang dari seorang panglima yang hadir di situ. "Tidak boleh seperti itu! Calon dari daerah timur harap segera turun karena sudah dua kali bertanding dan biarkan calon dari barat, nona itu bertanding melawan Ta-kau Sin-kai!"

Mendengar ini Maniyoko tertawa kemudian dia pun kembali ke tempat duduknya sehingga Lili berhadapan dengan Ta-kau Sin-kai. Gadis itu cemberut memandang kepada kakek pengemis itu.

"Kek, engkau hanya menghalangi aku untuk menghajar manusia sombong tadi. Mengapa engkau tidak cepat kembali saja ke tempatmu semula dan mengaku kalah!"

Apa bila tadi Ta-kau Sin-kai marah kepada Maniyoko, kini menghadapi Lili dia tersenyum. "Nona, meski pun tua aku telah dipilih oleh beberapa pimpinan kai-pang, jadi bagaimana pun juga aku harus menghargai mereka dan berusaha untuk memenangkan pemilihan ini. Nah, marilah kita menguji kepandaian masing-masing nona."

“Hemm, engkau hanya mencari penyakit. Lihat seranganku!" kata Lili dan tubuhnya sudah bergerak cepat, bagai seekor ular saja tangan kirinya telah meluncur ke depan, tangannya membentuk kepala ular dan tangan itu menyambar ke arah muka Ta-kau Sin-kai.

Kakek itu mengelak dengan kaget, akan tetapi tangan kanan gadis itu segera menyusul dan serangannya bertubi-tubi, bagaikan dua ekor ular yang menyerang bergantian, semua serangan ditujukan ke arah jalan darah dan merupakan totokan yang amat cepat. Saking cepatnya gerakan kedua tangan Lili, kakek itu sama sekali tak mampu membalas, hanya mengelak dan akhirnya terpaksa dia menangkis dengan tongkatnya.

Tak mungkin dia menggunakan ilmunya memukul anjing karena yang dihadapinya adalah lawan yang memiliki gerakan seperti ular! Dan ketika dia menangkis, itulah kesalahannya karena memang Lili menghendaki lawan menangkis.

“Plakkk!"

Tongkat bertemu tangan yang membentuk kepala ular, lalu bagai seekor ular pergelangan tangan gadis itu memutar dan tahu-tahu tongkat itu telah terbelit pergelangan dan tangan, lalu tangan kiri gadis itu menotok ke depan. 

Ta-kau Sin-kai terkejut karena tahu-tahu tubuhnya menjadi kaku tak mampu digerakkan, sedangkan tongkatnya sudah berpindah tangan! Mukanya menjadi pucat, maklum bahwa dia akan menderita malu, akan tetapi gadis itu berseru,

"Terimalah kembali tongkatmu!" dan tongkat itu bergerak cepat memulihkan totokannya dan telah berada di tangannya kembali!

Tentu saja dia menjadi kagum dan maklum bahwa tingkat kepandaian gadis ini luar biasa tingginya, dan sama sekali bukan tandingannya. Dengan muka merah dia cepat memberi hormat.

"Aku mengaku kalah!"

Dia pun melompat turun dari panggung dengan hati bersyukur karena dara muda itu telah menghindarkan dia dari malu. Jika bukan orang yang berniat baik, tentu dia telah dibunuh atau setidaknya dilukai, demikian pikir Ta-kau Sin-kai. 

Pada saat Lili hendak menantang Maniyoko sebagai lawan tunggal, tiba-tiba saja suasana menjadi kacau dan semua orang berdiri memandang ke arah tiga orang yang baru masuk.

“Pek-sim Lo-kai telah tiba!"
"Hidup Thai-pangcu ( Ketua Besar)!" 
"Pimpinan kita telah kembali!"

Teriakan-teriakan penuh kegembiraan menyambut munculnya Bu Lee Ki yang diiringkan Sin Wan dan Kui Siang. 

Wajah Lili berubah merah ketika melihat munculnya Sin Wan. Tadi dia sudah menyatakan bahwa dia mewakili suci-nya yang hanya pantas keluar turun tangan sendiri jika Pek-sim Lo-kai muncul, maka kini dia menjadi bingung dan cepat dia meloncat mendekati suci-nya yang juga menatap tajam ke arah kakek yang memasuki ruangan itu sambil tersenyum-senyum penuh keharuan. Memang hati Bu Lee Ki terharu melihat penyambutan itu, tanda bahwa dia masih dihargai dan diharapkan kepimpinannya.

Sementara itu, melihat kemunculan orang yang tidak diduga-duganya itu, Maniyoko sudah meloncat ke tengah panggung. "Tadi Pek-sim Lo-kai dicalonkan menjadi pemimpin baru, sekarang aku menantangnya untuk tampil ke depan mengadu kepandaian!"

Teriakan ini disambut oleh para pendukungnya. Para pendukung ini adalah mereka yang merasa telah melakukan penyelewengan sehingga mereka khawatir bahwa kalau Pek-sim Lo-kai yang terkenal keras berdisiplin menduduki jabatannya kembali, tentu mereka akan dihukum atau setidaknya tidak akan bebas melakukan apa yang mereka suka.

Melihat pemuda Jepang yang pernah dihadapinya untuk menolong Lili yang tertawan, Sin Wan berbisik kepada Bu Lee Ki. Kakek itu mengangkat muka memandang, kemudian dia mengangguk. Dengan tenang Sin Wan menghampiri panggung dan melompat ke atasnya untuk berhadapan dengan Maniyoko.

Sin Wan menghadap ke arah rombongan tuan rumah, lalu memberi hormat ke sekeliling. Sejak tadi dia bersama sumoi-nya dan kakek Bu Lee Ki mengintai, dan sudah mendengar serta melihat apa yang terjadi, dan baru muncul setelah kakek itu memberi isyarat. 

"Cu-wi (anda sekalian) hendaknya mengenal saya sebagai wakil locianpwe Pek-sim Lo-kai menghadapi pemuda Jepang ini! Kedudukan beliau terlalu tinggi untuk melayani segala macam pengacau seperti ini."

Mendengar ini, Maniyoko menjadi marah sekali.

"Singggg...!" nampak sinar menyilaukan mata pada saat pedang samurai di punggung itu dicabutnya.
"Keparat sombong, cepat keluarkan senjatamu!" bentak Maniyoko sambil mengelebatkan pedangnya yang amat tajam menyeramkan itu. 

Sin Wan yang sudah tahu akan kedahsyatan ilmu pedang lawan, mencabut pedangnya dan semua orang tertegun. Sebatang pedang yang buruk dan tumpul!

Melihat ini para pendukung Maniyoko tertawa dan ada yang berteriak mengejek. "Pedang Tumpul! Pedang Tumpul yang buruk!"

Kakek Bu Lee Ki yang sudah disambut dengan hormat oleh Thio Sam Ki dan Kwee Cin ketua Lam-kiang Kai-pang, juga dipersilakan duduk, kini berseru dari tempat duduknya, "Ha-ha-ha, memang dia adalah Pendekar Pedang Tumpul, tetapi jangan pandang rendah pedangnya itu, heh-heh-heh!"

Akan tetapi Maniyoko segera menggunakan kesempatan yang menguntungkan itu. Selagi para pendukungnya mengejek dan mentertawakan lawan, dengan cepat dia berteriak,

"Sambut pedangku!" dan dia pun menyerang dengan dahsyatnya.

Sin Wan cukup waspada dan dia pun mengelak dengan geseran kakinya. 

Maniyoko sudah pernah menyerang Sin Wan dan tahu akan kecepatan gerakan pemuda ini, maka dia tidak mau memberi kesempatan kepada lawannya. Samurainya menyambar-nyambar, sambung menyambung dan begitu samurainya luput menyambar lawan, pedang itu langsung membalik dengan serangan yang lebih hebat. Dia mempergunakan sepasang tangannya dan mengerahkan seluruh tenaga sehingga terdengar bunyi berdesing-desing ketika samurai itu berubah menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar.
Karena dia belum mengenal ilmu pedang lawan yang aneh, Sin Wan lalu mempergunakan ilmu langkah ajaib yang baru-baru ini dipelajarinya dari kakek Bu Lee Ki, yaitu Langkah Angin Puyuh sehingga membuat tubuhnya berputar-putar dengan cepat akan tetapi selalu dapat menghindar dari sambaran pedang samurai itu.

Setelah lewat belasan jurus, Sin Wan dapat melihat jalannya ilmu pedang lawan, bahkan mengetahui bagian-bagiannya yang lemah. Sesudah yakin bahwa dia dapat mengetahui ilmu pedang lawan, barulah pedang tumpul di tangannya menyambar dari samping.

"Tangggg...!"

Nampak bunga api berpijar dan nampak pula betapa tubuh Maniyoko hampir terpelanting. Dia terhuyung, akan tetapi dengan cekatan dia dapat berjungkir balik tiga kali sehingga dia tidak sampai terbanting roboh. 

Cepat dia memeriksa samurainya dan matanya langsung terbelalak melihat betapa ujung samurainya patah beberapa sentimeter! Samurainya bisa dipatahkan! Hanya oleh pedang tumpul dan buruk saja! Kalau tidak mengalaminya sendiri, pasti dia tidak akan percaya. Tetapi di samping kekagetan dan keheranan ini, Maniyoko menjadi marah bukan main.

“Hyaattttttt...!" Ia mengeluarkan pekik melengking panjang dan tubuhnya telah menerjang dengan cepat, menyerang dengan samurainya yang menyambar ke arah leher Sin Wan.

"Singgg...! Singgg...! Singgg....!"

Pedang samurai itu menyambar-nyambar, dan biar pun ujungnya sudah patah akan tetapi senjata itu masih berbahaya sekali. Jangankan tubuh seorang manusia, meski sebatang pohon yang kokoh pun, sekali terkena sambaran samurai ini tentu akan tumbang!

Namun Sin Wan yang sudah waspada, mempergunakan kecepatan gerakannya mengelak dan ketika dia berhasil berkelebat ke samping kiri Maniyoko, pedang tumpulnya menusuk dan karena pedang itu tumpul, maka dapat dia gunakan untuk menotok punggung lawan.

"Dukkk!"

Maniyoko merasa betapa tubuhnya menjadi kejang-kejang. Dia berusaha membuyarkan pengaruh totokan itu dengan bergulingan. Tubuhnya bergulingan hingga akhirnya dia jatuh ke bawah panggung. Samurainya terlepas ketika dia terjatuh, dan tubuhnya masih lemas sehingga dia perlu dibantu oleh para anak buahnya, dipapah kembali ke tempat duduknya.

Matanya melotot dan mukanya berubah merah, apa lagi ketika terdengar suara sorak dan tepuk tangan meledak, menyambut kemenangan pemuda yang mewakili Pek-sim Lo-kai itu.

"Hidup Pendekar Pedang Tumpul...!” teriak mereka.

Pada saat itu pula nampak bayangan berkelebat dan Lili sudah berdiri di depan Sin Wan. Semua orang memandang dengan hati berdebar penuh ketegangan. Tadi mereka sudah melihat kelihaian gadis cantik itu yang dengan amat mudahnya dapat mengalahkan kakek pengemis Ta-kau Sin-kai yang sudah terkenal.

Sementara itu, Sin-Wan menghadapi Lili dengan alis berkerut pula. Sama sekaii dia tidak menyangka bahwa gadis ini terlibat pula dalam urusan pemilihan pimpinan kai-pang, dan dia pun melihat Bi-coa Sian-li hadir di sana.

"Hemm, ternyata engkau adalah Pendekar Pedang Tumpul yang ingin menjadi pemimpin kaum jembel, ya?" Lili berkata mengejek.
"Lili, mungkin kehadiranku sama saja dengan kehadiranmu, hanya menjadi wakil. Kuharap engkau tidak menentangku karena kiranya kurang pantaslah kalau seorang gadis seperti engkau ikut terlibat dalam pemilihan pemimpin kai-pang seperti ini."
"Sin Wan, tidak perlu banyak cakap lagi!” kata Lili dengan muka merah. "Ada tiga perkara yang mengharuskan aku menentangmu, dan di sinilah kita akan menentukan siapa yang lebih unggul. Pertama, tadi engkau sudah lancang maju melawan si Jepang itu hingga aku kehilangan kesempatan menghajarnya. Ke dua, engkau dan aku sama-sama mewakili calon pemimpin kai-pang, dan ke tiga, karena aku... aku benci kepadamu! Nah, cabutlah pedangmu!" Dara itu telah mencabut sebatang pedang dan tampak sinar putih berkelebat menyilaukan mata.

Tadi Sin Wan sudah menyarungkan kembali pedangnya setelah mengalahkan Maniyoko, sekarang dia ragu-ragu untuk mencabut pedang melawan Lili, gadis yang mendatangkan kesan mendalam di hatinya itu.

Melihat keraguan Sin Wan sedangkan gadis itu sudah mencabut pedang dan siap siaga, Kui Siang yang semenjak tadi memandang penuh perhatian karena dia mengenal gadis itu sebagai gadis yang pernah dilihatnya tertidur di pangkuan Sin Wan, langsung berseru dari tempat duduknya.

"Suheng, kalau engkau lelah, biar aku yang mewakilimu menghadapinya!"

Sin Wan terkejut sekali. Dia teringat betapa sumoi-nya pernah melihat Lili, bahkan sampai cemburu, maka kalau sumoi-nya yang maju, tentu akan terjadi pertandingan mati-matian. Tidak, dia tidak boleh membiarkan dua orang gadis itu berhadapan sebagai lawan, maka cepat dia mencabut pedangnya dan menoleh ke arah Kui Siang.

"Sumoi, tidak perlu engkau turun tangan. Biar aku yang mewakili Bu-locianpwe,” katanya sambil menghadapi Lili dengan sikap tenang. "Kalau engkau mendesak, apa boleh buat. Majulah, aku sudah siap."

"Sin Wan, sekali ini engkau akan mati ditanganku!" gadis itu berseru penuh kemarahan, akan tetapi aneh, suaranya lirih dan mengandung suara serak seperti isak tertahan! Akan tetapi pada saat itu pula sinar putih menyambar-nyambar dan sinar itu bergulung-gulung dengan dahsyat sekali.

Sin Wan bersikap waspada. Dia cepat berloncatan ke belakang sambil mengatur langkah untuk menghindarkan diri. Dia merasa kagum dan terkejut. Pedang putih yang dimainkan gadis itu memang hebat bukan main, seperti gerakan seekor ular yang amat ganas!

Itulah Pek-coa-Kiam-sut (Ilmu Pedang Ular Putih) yang meski pun pada dasarnya sama dengan Ilmu pedang Hek-coa Kiam-sut (Iimu Pedang Ular Hitam) yang dikuasai Cu Sui In, akan tetapi ilmu pedang ciptaan See-thian Coa-ong ini dapat berkembang sesuai dengan watak orang yang menguasainya. Dasarnya adalah gerakan ular cobra, karena itu setelah dikuasai oleh Lili maka gerakan itu mengandung keganasan yang terbuka, sebaliknya Sui In mempunyai gerakan yang penuh tipu muslihat. Bagaimana pun juga, karena diciptakan seorang ahli yang amat lihai, maka ilmu pedang itu dahsyat sekali dan mengejutkan hati Sin Wan.

Namun pemuda ini sudah menerima gemblengan yang matang dari Sam-sian, apa lagi setelah mengusai Sam-sian Sin-kun, maka kini Sin Wan seakan-akan sudah menguasai kepandaian ketiga orang gurunya digabung menjadi satu! Ini semua masih disempurnakan oleh gemblengan kakek Bu Lee Ki yang walau pun hanya mengajarnya selama beberapa hari saja, namun jurus-jurus simpanan yang ampuh telah diajarkan kepada Sin Wan.

Dengan bekal kepandaian yang hebat itu, ditambah lagi sebatang pedang mustika seperti Pedang Tumpul, maka tentu saja tingkat kepandaian Sin Wan sudah mencapai ketinggian yang tidak mampu ditandingi oleh Lili. Akan tetapi hati Sin Wan menjadi gelisah juga. Dia harus memenangkan pertandingan ini demi kakek Bu Lee Ki. Dia harus dapat menangkan Lili, akan tetapi dia tidak ingin menyinggung perasan gadis itu, apa lagi melukainya!

Dia merasa kasihan kepada gadis ini, dan dia dapat merasakan bahwa pada dasarnya Lili bukanlah seorang gadis yang berhati jahat. Dia gagah dan baik, tapi sikapnya ganas dan hal ini mudah dimengerti kalau gadis itu sejak kecil bergaul dengan seorang datuk sesat seperti Bi-coa Sian-li! Dia harus memenangkan pertandingan ini tanpa melukai badan dan perasaan hati Lili, dan inilah yang sukar!

Maka dia lalu memutar pedangnya untuk membuat pertahanan sekuatnya sehingga sinar pedang putih bergulung-gulung itu tidak akan mampu mengenai dirinya sambil diam-diam dia memutar otak menunggu kesempatan dan mencari cara yang sebaiknya agar dapat menang tanpa melukai.

Semua orang menonton dengan hati kagum. Yang nampak hanyalah dua gulungan sinar, yaitu sinar putih yang gerakannya amat lincah, menyambar-nyambar, dan gulungan sinar kehijauan yang membentuk lingkaran. Indah sekali, akan tetapi juga menegangkan hati.

Akan tetapi Lili merasa gemas sehingga hampir menangis! Dia telah memainkan Pek-coa-kiam dengan pengerahan tenaga sekuatnya, akan tetapi dia merasa seperti menghadapi benteng baja yang amat kuat. Ke mana pun sinar pedangnya menyambar selalu bertemu dengan benteng itu, lalu pedangnya membalik setelah terdengar suara berdencing dan dia merasa betapa telapak tangannya panas dan lengan kanannya tergetar hebat!

Tahulah dia bahwa pemuda itu hanya bertahan diri, tidak membalas serangannya, namun dia kehabisan akal karena pedangnya tidak mampu menembus gulungan sinar kehijauan yang membentuk benteng itu. Dia tidak akan merasa begitu gemas hingga ingin menangis kalau saja Sin Wan mau membalas serangannya.

Memang dia sudah tahu bahwa pemuda ini amat lihai, dan dia takkan merasa penasaran kalau kalah. Namun sikap Sin Wan yang hanya bertahan dan membuat dia tidak berdaya itu sungguh dianggapnya terlalu merendahkannya! Sudah hampir lima puluh jurus berlalu tetapi belum juga ujung pedang Lili mampu menyentuh ujung baju Sin Wan!

"Keparat, balaslah!" Lili menghardik dengan suara berbisik, merasa dongkol bukan main. Tubuhnya sudah basah oleh keringat dan napasnya agak memburu karena semenjak tadi dia terus menerus melakukan penyerangan dengan nafsu menggelora, penuh kemarahan.

Sejak tadi Sin Wan sudah mempelajari gerakan yang seperti ular itu, dan dia tahu bahwa hanya dengan gerakan seperti seekor burung dari udara sajalah serangan gadis itu dapat dipatahkannya, kemudian membalas dengan serangan yang akan mengalahkannya tanpa melukainya.

Maka, ketika pedang bersinar putih itu menyambar lagi, tubuhnya melayang ke atas, lalu menukik ke bawah dan dia menyerang dengan dahsyat. Pedang Tumpul di tangannya itu mengeluarkan suara mengaung nyaring.....

Lili terkejut sekali dan cepat dia memutar pedangnya ke atas, bagaikan seekor ular cobra yang mengangkat tubuh atas untuk melawan musuh dari atas.

“Trakkkk!"
Pedang di tangan Lili bertemu dengan Pedang Tumpul dan dia tidak dapat menggerakkan pedangnya yang seolah menempel dan tersedot oleh pedang buruk itu. Pada saat itu pula tangan kiri Sin Wan bergerak cepat ke arah kepalanya, dan rambut gadis yang hitam dan panjang itu segera terlepas dari sanggul dan ikatannya, terurai riap-riapan menutupi kedua pundak dan punggung!

Lili menjerit dan melompat ke belakang, meraba kepalanya. Ternyata tusuk sanggul batu kemala berikut tali suteranya sudah lenyap dan berada di tangan kiri Sin Wan yang sudah meloncat turun dan kini berdiri tegak di hadapannya. Demikian cepat gerakan pemuda itu sehingga jarang ada yang dapat melihat bahwa pemuda ltu telah mencabut tusuk sanggul dan pita. Mereka yang menonton pertandingan itu hanya melihat betapa rambut gadis itu tiba-tiba saja terurai lepas sehingga pertandingan terhenti.

"Maafkan aku, Lili..." kata Sin Wan lirih.

Mula-mula wajah gadis itu berubah pucat karena dia tahu apa yang terjadi, dan kini wajah itu merah sekali. Dia telah memutar pedangnya hendak menyerang lagi. Akan tetapi pada saat itu berkelebat bayangan orang, seperti seekor burung saja bayangan itu melayang ke atas panggung.

"Sumoi, mundurlah...!" Dan tahu-tahu di situ telah berdiri Bi-coa Sian-li Cu Sui In.

Lili memandang suci-nya, tahu bahwa suci-nya memaklumi apa yang sudah terjadi, maka dengan alis berkerut dia menatap wajah Sin Wan, lalu terdengar suaranya yang lirih tetapi ketus.

"Kelak pasti akan kutebus semua ini!" dan dia pun meloncat turun lalu kembali ke tempat duduknya dengan wajah muram.
"Sin Wan, engkau turunlah!" Kakek Bu Lee Ki berjalan perlahan menuju ke panggung itu.

Sin Wan mengangguk, lalu mengundurkan diri. Kini kakek Bu Lee Ki berdiri berhadapan dengan Sui In. Akan tetapi pada saat itu pula dua orang panglima tadi bangkit berdiri dan seorang di antara mereka berseru nyaring.

“Hentikan semua pertandingan!"

Tentu saja Sui In merasa penasaran dan ia memandang kepada mereka itu. Juga kakek Bu Lee Ki memandang kepada mereka. Panglima yang bertubuh tinggi kurus lalu berkata dengan suara lantang.

"Baru saja kami menerima berita. Menurut keputusan yang merupakan perintah dari Raja Muda Yung Lo di Peking, kedudukan pemimpin kai-pang diserahkan kembali kepada Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki. Hal itu mengingat bahwa dialah yang dahulu menjadi pemimpin kai-pang, bahkan dia pula yang memimpin seluruh kai-pang membantu perjuangan mengusir penjajahan Mongol. Terlebih lagi bila melihat hasil pertandingan adu kepandaian, ternyata wakil dari Bu-Locianpwe yang menang. Oleh karena itu, sebagai wakil pemerintah kami memutuskan dan menganjurkan supaya pertandingan dihentikan dan locianpwe Bu Lee Ki diangkat kembali menjadi pemimpin para kai-pang!"

Terdengar sorak sorai menyambut ucapan ini. Panglima itu mengangkat kedua tangan ke atas dan semua orang segera berdiam diri.

"Agar pemilihan ini adil, maka kami minta pendapat empat buah kai-pang yang terbesar, yang mewakili seluruh kai-pang di empat penjuru. Pertama Ang-kin Kai-pang wakil utara, bagaimana pendapat kalian?"

Thio Sam Ki bangkit berdiri lalu mengangkat tangan kanannya. “Kami setuju sepenuhnya kalau locianpwe Bu Lee Ki menjadi pemimpin kai-pang!"

"Sekarang Lam-kiang Kai-pang wakil selatan, bagaimana pendapat kalian?"

Kwee Cin bangkit dan dengan wajah berseri berkata, "Kami setuju!"

"Bagaimana dengan Hek I Kai-pang wakil barat?"

Souw Kiat bangkit, lalu dengan suara lantang yang mengejutkan Sui In dan Lili, ketua Hek I Kai-pang ini berkata, ''Kami juga setujui" Ketua Hek I Kai-pang ini bangkit semangatnya dan tidak takut lagi kepada Sui In setelah melihat munculnya Pek-sim Lo-kai dan Sin Wan yang lihai itu.

"Dan bagaimana dengan Hwa I Kai-pang wakil timur?"

Biar pun dengan terpaksa, Siok Cu juga berseru, "Kami setuju!"

Dia tadi telah melihat kekalahan Maniyoko, maka biar pun dia jeri terhadap guru pemuda itu, akan tetapi sekarang di situ telah ada Pek-sim Lo-kai yang tentu akan melindungi Hwa I Kai-pang kalau diganggu oleh Tung-hai-liong dan anak buahnya.

"Bagus, kalau begitu dengan suara bulat locianpwe Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki ditetapkan menjadi pemimpin besar para kai-pang kembali!" kata panglima itu.

Semua orang bersorak. Wajah Sui In menjadi merah sekali karena marahnya. Akan tetapi dia maklum bahwa jika sekarang dia menyatakan tidak setuju, maka bukan saja dia akan dimusuhi oleh seluruh kai-pang, bahkan pihak pemerintah juga akan mencapnya sebagai pengacau. Hal ini tentu saja tidak dikehendaki gurunya. Maka dia pun berkata kepada Bu Lee Ki dengan suara lirih namun penuh tantangan,

"Pek-sim Lo-kai, lain kali aku akan membuat perhitungan denganmu!" Sesudah berkata demikian dia pun melompat turun sambil memberi isyarat kepada Lili untuk meninggalkan tempat itu.

Semua kai-pang menyambut pengangkatan kembali Bu Lee Ki sebagai pemimpin mereka dengan gembira dan Hwa I Kai-pang yang kini sepenuhnya mendukungnya, mengadakan pesta untuk merayakan peristiwa ini. Baru sekarang semua ketua kai-pang berkumpul dan makan minum bersama dalam suasana yang akrab.

Dua hari kemudian kakek Bu Lee Ki menemani Sin Wan mengantar Kui Siang ke kota Nan-king, di mana gadis itu akan menemui keluarganya sebelum kembali ke Peking untuk memenuhi permintaan Raja Muda Yung Lo, yaitu menjadi pengawal keluarga raja muda itu…..


********************


Mereka semua berkumpul di gedung yang dahulu menjadi tempat tinggal pembesar Lim Cun. Tiga orang paman dan dua orang bibi dari ayah dan ibu Kui Siang datang bersama isteri dan suami mereka, bahkan juga anak-anak mereka sehingga di situ berkumpul tidak kurang dari dua puluh lima orang anggota keluarga Kui Siang!

Ketika Kui Siang menghadap Ciang-Ciangkun dan memperkenalkan diri, Ciang-Ciangkun yang sebelas tahun silam diserahi oleh Dewa Arak untuk menjaga serta mengurus rumah dan harta peninggalan Lim-Taijin (pembesar Lim) untuk Kui Siang, menyambut gadis itu dengan gembira bukan main.

Dia seorang perwira yang jujur dan amat menghormati Dewa Arak, maka selama sebelas tahun ini dia menjaga rumah keluarga Lim dengan baik, malah mempertahankan pelayan-pelayan lama di rumah itu serta menyimpan semua harta peninggalan keluarga itu untuk Kui Siang. Ciang-Ciangkun pula yang memberi kabar kepada keluarga Kui Siang tentang pulangnya gadis itu sehingga pada malam hari itu, mereka semua datang berkunjung dan berkumpul di rumah gedung yang kini menjadi milik Kui Siang.

Selain para anggota keluarga, di situ hadir pula Ciang-Ciangkun yang menerima undangan Kui Siang sebagai tamu kehormatan yang sudah berjasa besar, dan hadir pula Sin Wan serta kakek Bu Lee Ki. Kui Siang lalu menyuruh para pelayan yang juga menyambutnya dengan gembira untuk mengatur sebuah pesta untuk merayakan perjumpaan kembali ini.

Gadis yang kini menjadi dewasa dan cantik itu dihujani pertanyaan oleh para paman dan bibinya yang di dalam pandangan Sin Wan jelas menunjukkan sikap kebangsawanannya! Rata-rata mereka bersikap angkuh, penuh sopan santun dan semua gerak gerik mereka terkendali dan teratur, membuat dia merasa sungkan dan rikuh. Tidak demikian dengan Bu Lee Ki yang bersikap biasa saja, minum sesenangnya sambil tersenyum-senyum dan mengacuhkan mereka.

Kui Siang yang mulai merasa kewalahan menghadapi hujan pertanyaan, akhirnya berkata dengan suara lantang kepada mereka semua. "Para paman dan bibi, juga saudara sepupu dan saudara misan, aku sampai lupa untuk memperkenalkan dua orang tamu yang datang bersamaku, bahkan yang mengantar aku sampai ke rumah. Perkenalkan, locianpwe ini adalah Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki. Beliau seperti guruku sendiri dan beliau ini adalah pemimpin besar seluruh perkumpulan pengemis di empat penjuru!"

Bu Lee Ki yang diperkenalkan tersenyum-senyum saja, mengangkat cawan arak kepada mereka semua lalu minum tanpa mempedulikan kenyataan bahwa tidak ada seorang pun yang menyambutnya.

"Pengemis...?!" terdengar seruan-seruan tertahan, kemudian semua anggota keluarga itu memandang ke arah Bu Lee Ki dengan alis berkerut. Mereka kelihatan jijik kepada kakek yang berpakaian tambal-tambalan itu.

Diam-diam Sin Wan memperhatikan mereka dan dia merasa perutnya panas. Alangkah sombongnya keluarga ini, pikirnya. Kakek Bu Lee Ki bahkan pernah menjadi tamu yang dijamu makan minum oleh Raja Muda Yung Lo, pangeran dan putera kaisar! Akan tetapi orang-orang ini, yang mungkin hanya merupakan bangsawan-bangsawan kecil, bersikap demikian angkuh dan tinggi hati!

Apakah selalu demikian sikap orang yang tanggung-tanggung? Yang mempunyai sedikit kedudukan menjadi besar kepala, yang mempunyai sedikit kepandaian menjadi sombong dan merasa diri paling pintar, dan seterusnya?

Tentu saja Kui Siang juga melihat dan mendengar sikap dan ucapan para keluarganya itu, akan tetapi dia tak peduli. "Dan ini adalah suheng-ku bernama Sin Wan. Dialah yang telah banyak membantuku selama ini."

Berbeda dengan Bu Lee Ki yang pada saat diperkenalkan tadi tetap duduk saja dan hanya mengangkat cawan ke arah mereka semua, Sin Wan bangkit berdiri, mengangkat ke dua tangan memberi hormat kepada mereka semua. Hal ini dia lakukan terutama sekali untuk menghargai Kui Siang yang memperkenalkan dia kepada keluarga gadis itu.

Akan tetapi hanya beberapa orang saja yang membalas penghormatan Sin Wan, itu pun hanya dengan anggukan kepala atau senyuman. Bahkan Sin Wan melihat banyak pasang mata pria-pria muda yang menjadi saudara misan Kui Siang menatap kepadanya dengan pandangan tidak senang.

“Adik Kui Siang," kata seorang pemuda yang berusia kurang lebih dua puluh lima tahun, tampan dan pesolek, "kulihat suheng-mu ini seperti bukan orang Han, benarkah?"

Kui Siang tersenyum. "Penglihatanmu benar-benar tajam, toako (kakak). Memang suheng seorang bersuku Bangsa Uighur."

Kembali banyak di antara mereka saling pandang dan terdengar seruan tertahan seperti tadi, dan terdengar pula kata penuh ragu, "Uighur...?!”

Tiba-tiba kakek Bu Lee Ki tertawa bergelak sehingga semua orang menoleh kepadanya dengan alis berkerut. "Ha-ha-ha-ha, aku sudah makan minum sampai kenyang, Kui Siang. Karena semua keluargamu kini berkumpul, aku ingin berbicara dengan mereka mengenai urusanmu dengan Sin Wan."

Tiba-tiba wajah Kui Siang berubah kemerahan, kemudian dia pun menundukkan mukanya, mengangguk dan suaranya terdengar lirih, "Silakan, locianpwe."

Ia melirik ke arah suheng-nya dan melihat betapa Sin Wan juga menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan, akan tetapi sepasang alis Sin Wan berkerut karena pemuda ini merasa sangat khawatir. Bagaimana kakek itu berani membicarakan urusan perjodohan kepada keluarga yang jelas sekali memperlihatkan sikap angkuh dan tidak suka kepada dia dan kakek itu?

Kini Bu Lee Ki bangkit berdiri. Sesudah mengamati wajah mereka yang duduk di ruangan itu, dia lalu tersenyum dan terdengarlah suaranya yang lantang. "He-he-he, tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang merasa menjadi wakil orang tua Lim Kui Siang yang sudah tiada, dalam hal ini aku menjadi wali dari Sin Wan muridku untuk mengajukan pinangan, yaitu kami ingin menjodohkan Kui Siang dengan Sin Wan. Kami mengharap persetujuan anda sekalian sebagai pengganti keluarga Kui Siang."

Suasana menjadi amat gaduh setelah kakek itu selesai bicara. Semua mata dibelalakkan, terdengar seruan-seruan protes dan bahkan ucapan-ucapan yang disertai kemarahan.

"Gila betul! Berani melamar keponakan kita?”
"Tak tahu diri!"
"Kui Siang dijodohkan dengan seorang Uighur? Tidak!"

Kakek itu terkekeh. "He-heh-heh, kenapa begini kacau balau? Aku minta jawaban diwakili seorang saja, kalau mungkin paman tertua dari Kui Siang, agar tidak simpang siur seperti di dalam pasar!"

Seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih segera bangkit dari duduknya. Sejenak dia memandang ke arah Kui Siang dengan alis berkerut, lalu menghadapi kakek Bu Lee Ki. Dia seorang laki-laki tinggi kurus yang pakaiannya nampak mewah dan sikapnya seperti bangsawan tulen, dahinya lebar dan ketinggian hatinya membayang pada lekuk bibir dan gerakan cuping hidungnya.

"Kami seluruh keluarga nona Lim Kui Siang menyatakan sepenuhnya menolak pinangan ini!"

Kui Siang mengangkat muka dengan sepasang alis berkerut, akan tetapi dia tidak dapat mengeluarkan suara karena tidak ingin memancing keributan di depan Sin Wan dan kakek Bu. Pek-sim Lo-kai terkekeh lagi.

"He-he-he, tegas dan jelas sekali penolakan itu, akan tetapi setiap penolakan sepatutnya disertai alasannya. Mengapa anda sekalian menolak pinangan kami? Ingat, kedua orang muda itu saling mencinta dan mereka sudah bersepakat hendak hidup bersama sebagai suami isteri."
"Tidak!" kata laki-laki itu dengan angkuh. "Kami menolak. Pertama, keponakan kami Kui Siang telah kami jodohkan dengan seorang keponakan kami yang lain. Ke dua, Kui Siang tidak akan menikah dengan seorang yang tidak sederajat dengannya. Ke tiga, muridmu itu adalah seorang Suku Bangsa Uighur, suku asing yang tentu tidak mengenal peradaban Bangsa Han kami! Sebetulnya masih banyak lagi alasan kami menolak, akan tetapi sudah cukuplah dan harap jangan bicarakan lagi urusan pinangan yang tak masuk akal itu!"

"Cia-Supek (Uwa Ciu), engkau benar-benar melewati batas!" Tiba-tiba Kui Siang berteriak marah. "Aku tidak pernah minta engkau atau siapa pun mewakili orang tuaku!”
"Sumoi...!” Sin Wan cepat memperingatkan sumoi-nya agar tidak bersikap kasar kepada keluarga sendiri.

Teringat akan hal ini, Kui Siang lalu menghadapi Sin Wan dan kakek Bu Lee Ki. "Harap locianpwe dan suheng suka meninggalkan kami. Malam ini aku akan berurusan dengan mereka ini, dan besok pagi aku akan menemui kalian di rumah penginapan Lok-an."

"Baiklah, sumoi, akan tetapi harap engkau bersabar. Mari, locianpwe, kita pergi mencari kamar di hotel Lok-an!" Sin Wan mengajak kakek yang tersenyum-senyum itu keluar dari tempat itu, diikuti pandang mata penuh kebencian oleh para keluarga Kui Siang.

Sesudah dua orang itu pergi, Kui Siang menyuruh semua pelayan agar keluar dari dalam ruangan itu. Kemudian dia menutup daun pintu ruangan itu dan dengan mata mencorong dia memandang kepada semua keluarga yang berkumpul di situ.

"Kalian ini sungguh orang-orang yang tidak sopan! Apakah hak kalian untuk menentukan jalan hidupku? Aku masih menghargai kalian maka malam ini mengumpulkan kalian di sini sebagai keluarga dan tamu yang kuhormati. Tetapi ternyata kalian menyia-nyiakan itikad baikku dengan bersikap lancang dan tidak sopan terhadap orang yang kuhormati seperti Bu-locianpwe dan orang yang kucinta seperti suheng-ku! Kalian tidak berhak mewakili aku menolak secara kasar pinangan mereka terhadap diriku!"

Kui Siang yang biasanya pendiam dan halus itu kini menjadi galak karena merasa sakit hati dan marah, timbul dari perasaan iba terhadap Sin Wan yang mengalami penghinaan dari mereka ini.

"Tetapi, Kui Siang! Engkau adalah puteri tunggal mendiang kakanda Lim Cun yang dahulu mempunyai kedudukan tinggi, seorang bangsawan yang berdarah bersih! Bagaimana kami tidak marah mendengar engkau dilamar seorang pemuda dusun Bangsa Uighur? Itu suatu penghinaan namanya! Suku Uighur tidak ada bedanya dengan suku-suku liar dan biadab lainnya seperti Mongol, Kasak dan lain-lain. Bukankah dulu ayahmu juga dibunuh oleh si Tangan Api, orang Kasak?”
"Paman Lui!" bentak Kui Siang kepada adik ayahnya ini. "Baik buruknya seseorang bukan ditentukan oleh bangsanya, kedudukannya, kepandaiannya atau kekayaannya! Suku atau bangsa apa pun berdarah sama, darah manusia, kotor atau pun bersihnya ditentukan oleh sepak terjangnya dalam hidup! Jangan kalian menghina seorang manusia karena keadaan lahiriahnya! Banyak sekali bangsawan yang terhormat, pintar dan kaya raya tetapi busuk hatinya, sebaliknya rakyat kecil yang dianggap bodoh dan miskin, berhati mulia!"

Para paman dan bibi itu menjadi ribut-ribut hingga suasana menjadi gaduh sekali. Mereka menganggap Kui Siang anggota keluarga yang menyeleweng dan merendahkan keluarga bangsawan sendiri. Melihat ini, Ciang-ciangkun yang menjadi tamu kehormatan dan bukan anggota keluarga, segera bangkit berdiri dan berkata dengan nyaring sehingga mengatasi semua kegaduhan.

"Kami mohon diri karena tidak mempunyai sangkut paut dengan urusan keluarga. Banyak terima kasih atas undangan dalam pesta kekeluargaan ini, dan sebagai ucapan selamat tinggal, harus kami nyatakan bahwa kami amat menghormat semua pendapat dalam kata-kata nona Kui Siang tadi. Mendiang ayahnya, sahabat baikku Lim Cun, tentu akan merasa bangga sekali kalau mendengar ucapannya tadi, Selamat malam!" Perwira tinggi itu lalu memberi hormat dan meninggalkan ruangan tamu itu.

Keluarga itu masih terus ribut. Tak seorang pun di antara mereka yang dapat menyetujui pendapat Kui Siang dan mereka semua berkeras menolak kalau Kui Siang akan berjodoh dengan pemuda Uighur itu. Satu demi satu para paman dan bibi itu memberikan nasehat panjang lebar kepada Kui Siang.

Gadis ini merasa penasaran, sedih dan juga marah. Dia membiarkan mereka itu berbicara sampai habis yang memakan waktu berjam-jam. Kemudian, setelah semua orang merasa lelah, Kui Siang berkata kepada mereka dengan suara yang tenang karena dia berusaha menguasai hatinya, namun suaranya amat tegas dan terdengar nyaring.

"Para paman dan bibi, terima kasih untuk semua nasehat dan anjuran kalian yang tentu dilakukan karena rasa sayang kalian kepadaku. Akan tetapi maaf, tak mungkin aku dapat menyetujui. Bagiku perjodohan haruslah didasari cinta, dan suheng Sin Wan mencintaku seperti juga aku mencintanya. Cinta tidak mengenal suku, tidak mengenal bangsa, tidak mengenal derajat dan pangkat, kaya atau miskin, pintar atau bodoh. Tentu para paman dan bibi yang sudah lebih tua dan berpengalaman, maklum akan hal itu."
"Budak Uighur itu mengaku cinta? Hemm, Kui Siang, cintanya itu pasti palsu! Tentu saja dia cinta kepadamu karena engkau cantik, dan terutama karena engkau adalah seorang gadis bangsawan yang kaya raya. Dia mengaku cinta untuk dapat menguasai hartamu!" 

Perlahan-lahan Kui Siang bangklt berdiri, wajahnya berubah pucat dan sepasang matanya mencorong. Tidak mungkin dia dapat menahan kesabarannya lagi. Orang-orang ini terlalu menghina Sin Wan.....!

"Paman, hentikan ucapan kotor itu!" bentaknya, lantas dia memandang kepada mereka semua, satu demi satu dengan sinar mata mencorong. "Kalian mengukur watak orang lain dengan watak kalian sendiri! Apakah kalian tidak menyadari bahwa sejak dahulu aku telah tahu benar bahwa sesungguhnya kalianlah yang mengincar harta kekayaan warisan orang tuaku? Kalianlah yang menginginkan harta warisan ayahku, bukan suheng Sin Wan!"
"Kui Siang!" pamannya membentak dan menudingkan telunjuknya ke arah muka gadis itu. "Pendeknya, apa pun yang terjadi, kami tak sudi menyetujui perjodohanmu dengan budak Uighur itu. Kalau kami tidak sudi menjadi walimu, hendak kami lihat apakah engkau akan menikah secara liar tanpa restu keluarga? Berarti engkau akan mencemarkan nama baik mendiang orang tuamu!”
"Tidak peduli! Aku tidak membutuhkan restu kalian!" Kui Siang menjerit dan kini dia tidak dapat menahan berlinangnya air matanya. "Pergi kalian dari sini! Pergi!" Dia menuding ke arah pintu.

Semua paman dan bibinya tertegun dan seorang paman menghampiri Kui Siang dengan marah. "Kui Siang! Berani engkau mengusir kami, paman-paman dan para bibimu sendiri? Beginikah yang kau dapatkan dalam mengejar ilmu selama ini?"

"Kenapa tidak berani? Kalian bukan manusia! Pergi kataku!"

Tangan Kui Siang menyambar sumpitnya yang tadi tergeletak di atas meja, lantas sekali tangan itu bergerak, sepasang sumpit itu meluncur dan menancap pada dinding, amblas hampir seluruhnya.

Semua orang terbelalak. Kalau sambitan itu mengenai tubuh mereka, tentu akan tembus! Bergegaslah mereka berlari keluar dari ruangan itu, meninggalkan Kui Siang yang duduk seorang diri bertopang dagu. Akhirnya dia hanya dapat menangis, kemudian dia pergi ke kamar sembahyang di mana terdapat meja abu ayah dan ibunya, dan dia pun berlutut di depan meja itu dan menangis, dalam hati dia melaporkan nasibnya kepada orang tuanya.

Akhirnya gadis itu menggeletak tertidur di atas lantai depan meja sembahyang. Seorang pelayan wanita tua yang merasa kasihan kepada nonanya, tidak berani membangunkan, hanya mengambil selimut dan menyelimuti tubuh nonanya.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kui Siang sudah keluar dari rumahnya, pergi ke rumah penginapan Lok-an. Pagi itu masih gelap, cuaca remang-remang. Ketika dia tiba di jalan raya luar rumah penginapan itu, dia melihat Sin Wan berhadapan dengan belasan orang dan agaknya mereka bercekcok. Hatinya tertarik dan cepat Kui Siang menyelinap mendekat lalu mengintai.

Dilihatnya Sin Wan berdiri tegak dan bersikap tenang, dihadapi oleh tiga belas orang pria berusia antara empat puluh sampai lima tahun lebih yang kelihatan menyeramkan. Tiga belas orang itu dipimpin seorang kakek tinggi kurus yang usianya tentu sudah mendekati enam puluh tahun. Pada punggung pria ini nampak sepasang pedang dan yang lain pun semua membawa senjata di punggung atau pinggang.

"Hemm, kiranya kalian adalah kaki tangan pemuda Jepang Maniyoko itu, ya? Nah, lekas katakan, apa kehendak kalian pagi-pagi begini mencariku di sini," kata Sin Wan dengan sikap tenang.
"Ehhh, toako (kakak)! Aku seperti pernah melihat bocah ini!" Seorang di antara tiga belas orang itu, yang berkepala botak dan bertubuh pendek, pada kanan kiri mulutnya terdapat bekas luka seolah mulut itu pernah terobek, tiba-tiba maju lantas menuding ke arah Sin Wan. "Tidak salah lagi, ini tentu bocah itu, anak Iblis Tangan Api Se Jit Kong!"
"Ahh, benar dia! Kita mana bisa melupakan iblis kecil ini?" teriak yang lain.

Si tinggi kurus yang memimpin gerombolan itu menatap Sin Wan dengan pandang mata penuh perhatian. "Benarkah engkau putera Iblis Tangan Api Se Jit Kong?" tanyanya.

Sekarang Sin Wan teringat. Dahulu pernah ada tiga belas orang menyerbu rumah ayah tirinya untuk merampas pusaka istana yang dicuri ayah tlrinya. Dialah yang pertama kali menyambut kunjungan mereka ini, bahkan si pendek botak itu lalu menyerangnya dengan sambitan pisau terbang, kemudian mulut si botak ini dihancurkan oleh ayah tirinya karena menghina ibunya.

"Ahh, kiranya kalian Bu-tek Cap-sha-kwi (Tigabelas Iblis Tanpa Tanding) itu? Tidak salah penglihatan kalian. Aku Sin Wan adalah putera mendiang Se Jit Kong. Habis, kalian mau apa?”

Di tempat persembunyiannya, wajah Kui Siang mendadak menjadi pucat dan jantungnya berdebar keras. Sin Wan, suheng-nya itu, putera Se Jit Kong? Tidak mimpikah dia? Sin Wan itu putera dari musuh besarnya, yang telah membunuh ayahnya dan menyebabkan kematian ibunya pula? Se Jit Kong yang menghancurkan keluarganya, dan selama ini dia bergaul dengan putera musuh besarnya itu? Sin Wan, suheng-nya yang dicintanya!

Hampir dia tak percaya. Suheng-nya memang tak pernah menceritakan riwayat hidupnya atau asal usulnya dengan jelas, hanya menceritakan bahwa ayah ibunya adalah Bangsa Uighur dan keduanya sudah meninggal dunia. Kiranya dia adalah putera Iblis Tangan Api Se Jit Kong! Menggigil rasanya kedua kaki gadis itu, dan tubuhnya gemetar.

"Bagus!" Si tinggi kurus mencabut sepasang pedangnya. "Kalau begitu kami bukan hanya akan membalaskan kekalahan Maniyoko darimu, akan tetapi juga kami dapat membalas kekalahan kami dahulu kepadamu, karena ayahmu sudah mampus!” Tiga belas orang itu sudah mencabut senjata mereka masing-masing dan mengepung Sin Wan.

Pemuda ini maklum bahwa dia berhadapan dengan tokoh-tokoh sesat yang lihai dan amat kejam, yang mungkin semenjak kalah dari Se Jit Kong sudah memperdalam ilmu mereka sehingga menjadi lihai sekali, maka dia pun segera menghunus senjatanya.

Melihat sebatang pedang yang buruk dan tumpul, si botak pendek tertawa. "Ha-ha-ha-ha, lihat, bocah setan ini mempergunakan sebatang pedang buruk dan tumpul. Ha-ha-ha!"

"Bodoh kau!" bentak si tinggi kurus yang berjuluk Bu-tek Kiam-mo (Setan Pedang Tanpa Tanding). "Itu adalah pedang pusaka yang disebut Pedang Tumpul, sebuah mustika yang langka, satu di antara benda-benda pusaka istana!"
"Wahh...! Kalau begitu kita harus merampas pedang itu!" kata si botak dan dia pun sudah menyerang dengan ganas, mempergunakan goloknya.

Namun dengan mudah Sin Wan mengelak dan sekarang para pengeroyoknya menyerbu serentak sehingga Sin Wan dihujani senjata yang rata-rata digerakkan dengan ganas dan kuat sekali. Namun Sin Wan tidak menjadi gentar atau gugup, dengan tenangnya dia pun menggerakkan Pedang Tumpul dan nampak sinar kehijauan bergulung-gulung.

Pemuda yang pantang membunuh ini mengerahkan sinkang-nya sambil memainkan ilmu Sam-Sian Sin-kun. Gulungan sinar hijau itu menyambar-nyambar dan terdengarlah suara berkerontangan yang disusul teriakan-teriakan kaget ketika tiga belas orang itu terpaksa melepaskan senjata masing-masing.

Mereka tidak kuat menahan getaran tenaga dahsyat yang membuat tangan mereka terasa nyeri dan banyak pula senjata mereka yang langsung patah begitu beradu dengan pedang di tangan Sin Wan! Mereka terkejut sekali karena selama ini mereka sudah memperdalam ilmu kepandaian mereka. Tapi siapa kira, sekarang pemuda itu bahkan tak kalah lihainya dibandingkan Iblis Tangan Api Se Jit Kong sendiri!

"Lari!" teriak si tinggi kurus memberi aba-aba dan tiga belas orang yang tidak terluka itu, segera melarikan diri cerai berai karena takut kalau sampai dirobohkan.

Sin Wan tidak mengejar, bahkan cepat menyimpan kembali pedangnya. Untung pagi itu masih sunyi sehingga agaknya tidak ada orang yang melihat perkelahian singkat itu. Akan tetapi langkah-langkah yang lembut membuat dia menengok.

"Sumoi...!" Sin Wan berseru dan lari menghampiri.

Akan tetapi ketika dia hendak memegang tangan gadis itu, Kui Siang menarik tangannya dan pandang mata gadis itu membuat Sin Wan mundur selangkah.

"Sumoi, kau kenapakah?”
"Jadi engkau adalah putera Iblis Tangan Api Se Jit Kong?!"

Mendengar pertanyaan itu, Sin Wan terkejut sekali dan mengertilah dia bahwa tadi Kui Siang telah mendengar percakapan antara dia dan Cap-sha-kwi. "Sumoi, aku..."

Tiba-tiba terdengar suara orang di depan rumah penginapan itu. "Orang muda, sebaiknya engkau berterus terang! Apakah engkau putera Se Jit Kong?"

Sin Wan menoleh dan terkejut melihat bahwa yang mengajukan pertanyaan itu bukan lain adalah Pek-sim Lo-kai Bu Lee Ki! Dan suaranya itu, sungguh berbeda dari biasanya yang lembut, kini suara itu tegas dan ketus!

"Locianpwe, sumoi, agaknya perlu aku memberi penjelasan. Marilah kita bicara di dalam saja agar tidak terdengar oleh orang lain," kata Sin Wan dan sikapnya masih tetap tenang karena dia tidak merasa bersalah atau menyembunyikan sesuatu.

Kakek itu mengangguk, lantas tanpa bicara mereka bertiga memasuki rumah penginapan dan rnenuju ke kamar Bu Lee Ki. Sesudah mereka masuk kamar, kakek itu menutupkan daun pintu dan mereka pun duduk menghadapi meja. Sin Wan menghadapi kedua orang itu, merasa seperti seorang tertuduh dihadapkan kepada dua orang hakim!

"Maafkan bahwa selama ini aku tidak berterus terang karena aku ingin melupakan semua pengalaman hidup yang teramat pahit itu." Sin Wan memulai.
"Katakan, benarkah engkau putera Se Jit Kong!?" tanya Bu Lee Ki, sinar matanya tajam penuh selidik menatap wajah Sin Wan.
"Bukan anak kandung, melainkan anak tiri. Harap locianpwe dan sumoi dengarkan dahulu baik-baik, aku akan menceritakan segalanya. Se Jit Kong bukan ayah kandungku, bahkan dialah yang sudah membunuh ayah kandungku yang bernama Abdullah. Kemudian ibuku terpaksa menjadi isteri Se Jit Kong dan sejak terlahir sampai berusia sepuluh tahun, aku dirawatnya dan aku menganggap dia ayah kandungku sendiri."
"Ayahmu dibunuh dan ibumu malah menjadi isteri Se Jit Kong?" tanya Bu Lee Ki dengan muka membayangkan kejijikan.

Wajah Sin Wan berubah merah. "Harap locianpwe tidak salah sangka dan kasihanilah ibuku. Ibu pasti membunuh diri begitu ayah kandungku dibunuh Se Jit Kong. Tetapi ketika hal itu terjadi, aku berada dalam kandungan ibu. Demi untuk menyelamatkan diriku, anak tunggalnya, maka ibu terpaksa mengorbankan diri. Dengan batin menderita ibu menjadi isteri Se Jit Kong dengan syarat bahwa Se Jit Kong tidak akan menggangguku, bahkan menganggap aku anaknya sendirl. Memang dia sayang kepadaku dan ketika itu aku pun sayang kepadanya yang kuanggap ayah kandung sendiri."

"Hemmm, lalu bagaimana engkau dapat mengetahui bahwa dia bukan ayah kandungmu bahkan dialah yang membunuh ayahmu?" Bu Lee Ki mendesak.
"Ketika Se Jit Kong tewas di tangan Sam-sian, ibuku yang merasa bahwa aku sudah tidak terancam lagi dengan kematian Se Jit Kong itu, lalu menebus dosa dan membunuh diri, setelah membuka rahasia itu kepadaku. Pada saat Cap-sha-kwi menyerang Se Jit Kong, aku masih merasa sebagai anak Se Jit Kong. Nah, demikianlah riwayatku. Ketika Sam-sian mengetahui riwayatku, maka Sam-sian lantas mengambilku sebagai murid. Terserah kepadamu, sumoi, dan kepadamu locianpwe, bagaimana kalian akan menilai diriku."

"Ya Tuhan, siapa sangka...?" Bu Lee Ki bangkit, mondar-mandir di kamar dan berulang kali menggeleng kepala dan menghela napas panjang. Kemudian dia berhenti dan duduk kembali di depan Sin Wan, menatap pemuda itu dengan sinar mata tajam dan suaranya terdengar sungguh-sungguh.
"Aku percaya bahwa Sam-sian tidak akan salah memilih engkau sebagai murid, Sin Wan. Tetapi bagaimana pun juga engkau dikenal sebagai putera Se Jit Kong, berarti namamu sudah tercemar lumpur kejahatan. Cap-sha-kwi tentu tak akan tlnggal diam. Mereka akan menyiarkan bahwa Sin Wan adalah putera Se Jit Kong! Engkau akan dimusuhi seluruh pendekar. Hanya ada satu jalan bagimu, yaitu sebagai Pendekar Pedang Tumpul, engkau harus mencuci kecemaran namamu itu dengan perbuatan-perbuatan yang nyata. Engkau harus dapat membuktikan bahwa dirimu tidak jahat seperti Se Jit Kong walau pun engkau anaknya atau anak angkatnya. Sedangkan aku... ahh, engkau tahu bahwa aku dipercaya menjadi pimpinan para kai-pang, kalau diketahui bahwa aku bergaul dengan putera Se Jit Kong, sebelum engkau mencuci namamu, aku akan kehilangan muka. Terpaksa kita akan berpisah di sini, sekarang juga. Nah, kalian jaga diri kalian baik-baik, aku akan pergi."

Kakek itu lalu menyambar buntalannya dan meninggalkan kamar itu dengan cepat. Sin Wan bangkit berdiri seperti juga Kui Siang, mukanya pucat ketika dia memandang kepada Kui Siang.

"Sumoi, bagaimana dengan engkau?" tanyanya penuh harap.

Kui Siang mengusap kedua matanya untuk menghapus beberapa butir air mata yang tadi jatuh di atas pipinya. "Engkau tahu bahwa keluargaku hancur oleh kejahatan Se Jit Kong. Dan ternyata engkau... puteranya, walau pun putera tiri. Aku... aku... bagaimana mungkin berdekatan denganmu? Suheng, maafkan aku ini... aku... aku akan ke Peking dan aku... ahhh..." Gadis itu terisak dan cepat berlari keluar.

Sin Wan berdiri seperti patung. Mukanya pucat sekali. Jantungnya seperti diremas-remas rasanya. Kedua tangannya menekan meja dan dia memejamkan matanya.

"Engkau benar, sumoi, engkau memang benar. Aku hanya seorang suku biadab Uighur, keturunan orang jahat, aku hanyalah seorang dusun yang pandir dan miskin, berlepotan nama busuk Iblis Tangan Api Se Jit Kong. Memang sebaiknya engkau menjauhkan diri dariku, sumoi, agar jangan ikut tercemar..." Dia menjatuhkan diri duduk di atas kursi dan merebahkan kepala di meja. Sampai lama dia berdiam dalam keadaan seperti itu.

Sesosok bayangan berkelebat memasuki kamar itu, gerakannya ringan sekali. Akan tetapi tidak cukup ringan bagi Sin Wan untuk tidak mengetahuinya. Dia menoleh dan ternyata seorang gadis cantik telah berdiri di kamar itu. Timbul harapannya ketika dia menyangka bahwa gadis itu sumoi-nya. Akan tetapi ketika dia memandang lebih jelas, ternyata gadis itu adalah Lili!

"Lili, kau...?"

Lili tersenyum, lalu duduk di atas kursi yang tadi diduduki oleh Kui Siang. Memang ada persamaan di antara kedua orang gadis itu. Sama cantiknya!

"Sin Wan, kenapa engkau harus berduka! Seorang gagah tidak akan mudah membiarkan diri terbenam dalam duka. Kalau mereka pergi meninggalkanmu, biarkanlah. Di sini masih ada aku, Sin Wan. Aku akan siap menerimamu sebagai sahabatmu. Marilah kita berdua bertualang di dunia yang luas ini. Dengan kepandaian kita berdua, kita akan dapat berbuat banyak!"

Sin Wan bangkit, kemarahannya timbul. Dia hendak diajak oleh gadis ini ke dalam dunia sesat? Dia akan diajak mengikuti jejak ayah tirinya? Sebelum mati, ibunya berpesan agar dia tidak mengikuti jejak Se Jit Kong.

"Tidak!" bentaknya kepada Lili lalu dia menuding ke arah pintu. "Pergilah kau, dan jangan bujuk aku lagi. Pergi...!"

Lili bangkit berdiri, tersenyum manis. "Sekarang engkau sedang dalam keadaan kacau dan berduka. Baiklah, aku pergi, akan tetapi aku selalu menantimu di Puncak Bukit Ular, di Pegunungan Himalaya. Datanglah ke sana kalau kelak engkau teringat kepadaku dan suka menerimaku sebagai sahabatmu. Selamat tinggal! Jangan terlalu bersedih, Sin Wan. Orang berduka cepat menjadi tua!” Gadis itu terkekeh lalu pergi dari situ.

Sin Wan kembali menjatuhkan diri duduk di atas kursi. Habislah sudah! Kakek Bu Lee Ki yang dihormatinya sebagai gurunya, sumoi-nya yang dicintanya dan dianggapnya sebagai calon isteri, kini memisahkan diri, meninggalkannya dan menjauhinya. Kinii dia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Lili?! Tidak, dia tidak mau terseret ke dalam dunia sesat! Dan tiba-tiba dia meloncat berdiri.

"Suhu Ciu-sian!" dia berseru. Ah, kenapa dia sampai melupakan gurunya itu? Di dunia ini masih ada gurunya, Si Dewa Arak. Dia akan pergi ke Pek-in-kok, lembah Gunung Ho-lan-san itu.

Dia pun teringat akan pesan Raja Muda Yung Lo di Peking. Akan diterimakah kedudukan panglima yang ditawarkan raja muda itu? Mengapa tidak? Dengan kedudukannya itu dia akan dapat berbuat banyak untuk bangsa dan negara sehingga dia akan dapat mencuci noda yang dicemarkan oleh nama busuk Se Jit Kong. Akan tetapi di sana ada Kui Siang! Sungguh tidak enak kalau harus bekerja dekat sumoi-nya, juga kekasihnya yang kini telah menjauhkan diri darinya itu.

Dia akan menghadap gurunya dulu, Si Dewa Arak yang periang, dan mohon nasehatnya. Yang pasti, dia akan menunjukkan kepada dunia, bahwa hldupnya tidaklah sia-sia. Tuhan sudah menciptakan dia, menurunkan dia ke dunia bukan hanya untuk menjadi permainan nasib, bukan untuk membenamkan diri di dalam duka.

Dia harus menjadi seorang manusia yang berguna agar hidupnya tidak sia-sia Tuhan telah menciptakannya. Sekarang dia harus mengabdi kepada Tuhan kalau ingin membuktikan penyerahannya yang tulus ikhlas dan tawakal. Dan mengabdi kepada Tuhan hanya dapat dibuktikan dengan pengabdian kepada manusia, kepada dunia, dengan membela keadilan dan kebenaran. Dia hendak membuktikan kepada dunia bahwa dia adalah putera ibunya yang dia tahu berhati mulia, bahwa dia tidaklah sama dengan Se Jit Kong yang menjadi hamba nafsu-nafsunya dan menjadi tokoh sesat, bahkan datuk sesat!

"Suhu Ciu-sian, tunggulah teecu (murid) yang akan menghadapmu!" Sin Wan berteriak lalu dia meninggalkan kamar itu.

Kini malam telah berganti pagi. Kegelapan mulai ditembusi cahaya terang. Sinar matahari menjanjikan hari yang cerah bagi mereka yang pagi-pagi telah terbangun dari tidurnya.....

T A M A T

Bagian Ke-02 SERIAL SI PEDANG TUMPUL
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger