logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Si Tangan Sakti Jilid 05


Sebagai hasil percakapan dengan Siangkoan Kok, pada keesokan harinya Yo Han telah memperoleh keterangan dari ketua Pao-beng-pai itu bahwa penyelidikan anak buahnya berhasil!

"Penculik anak Pendekar Suling Naga Sim Houw itu ialah Tiat-liong Sam-heng-te (Tiga Kakak Beradik Naga Besi). Mereka adalah orang-orang yang sejak dahulu bermusuhan dengan Pendekar Suling Naga, dan mereka membalas dendam dengan menculik puteri pendekar itu."

Dapat dibayangkan betapa besar kegirangan hati Yo Han mendengar keterangan itu. Tidak disangkanya akan semudah itu dia mendapatkan jejak penculik puteri bibinya!

"Di mana mereka bertiga, Paman? Ingin sekali aku menemui mereka untuk bisa kuajak bekerja sama! Dan apakah anak itu masih ada pada mereka? Kalau masih ada, dapat kita pergunakan untuk memeras dan memaksa orang tuanya! Hemm, sekali ini aku akan berhasil membalas dendam orang tuaku!"

Melihat kegembiraan Yo Han, Siangkoan Kok tertawa, "Kebetulan sekali mereka tinggal tidak terlalu jauh dari sini. Dalam waktu setengah hari engkau akan tiba di tempat tinggal mereka. Menurut keterangan anak buah Pao-beng-pai yang melakukan penyelidikan, anak perempuan yang dahulu mereka culik masih hidup dan tinggal bersama mereka."

Hampir Yo Han bersorak saking gembiranya. Ia hanya cukup menekan dan mengurangi saja luapan rasa girang itu. Dalam perannya sebagai musuh bibinya, ia pun sepatutnya bergembira karena memperoleh sekutu yang dapat dipercaya serta menemukan anak perempuan yang akan dapat dipergunakan sebagai sandera yang amat berharga.

Siangkoan Kok lalu memberi keterangan tentang tempat tinggal Tiat-liong Sam-heng-te, yaitu di sebuah lereng di bukit yang tidak jauh dari situ, di mana terdapat sebuah goa terowongan yang mereka bangun menjadi tempat tinggal tiga bersaudara itu.

Dengan tulus hati Yo Han mengucapkan terima kasih kepada Siangkoan Kok, kemudian pamit untuk melanjutkan perjalanan mencari tempat itu. Siangkoan Kok mengucapkan selamat jalan sambil berpesan agar pemuda itu tidak melupakan hubungan baik antara mereka dan kelak dapat membantunya dengan bekerja sama antara Pao-beng-pai dan Thian-li-pang. Yo Han menyanggupi, lalu berangkat.

Di pekarangan depan, Yo Han berjumpa dengan Cia Ceng Sun dan Siangkoan Eng yang nampak berjalan berdampingan dalam suasana yang akrab sekali. Yo Han dapat melihat bahwa ada apa-apa di antara keduanya, maka dia pun tersenyum.

Memang mereka merupakan pasangan yang pantas sekali, pikirnya. Namun diam-diam dia menyayangkan bahwa seorang pemuda yang hebat seperti Cia Ceng Sun itu kini terlibat dalam keluarga pimpinan pemberontak, bahkan yang memusuhi tiga keluarga besar. Ah, itu bukan urusannya, pikirnya sambil menggerakkan pundak.

Karena mereka berdua sudah sama-sama tinggal di situ sebagai tamu Pao-beng-pai, tentu saja dua orang pemuda ini sudah saling berkenalan walau pun hubungan mereka tidak akrab sekali. Yo Han lebih sering bercakap-cakap dengan Siangkoan Kok, namun sebaliknya Cia Ceng Sun lebih sering berduaan dengan Siangkoan Eng.

"Ehhh, engkau hendak pergi, saudara Yo?" tanya Cia Ceng Sun ketika melihat pemuda itu hendak pergi meninggalkan pekarangan sambil menggendong buntalan pakaiannya di punggung.

Eng Eng hanya mengangguk saja ketika bertemu pandang dengan Yo Han. Biar pun dia merasa kagum kepada Yo Han, namun ia selalu merasa curiga. Karena bagaimana pun juga dia tahu, bahwa pemuda sederhana itu adalah seorang yang sangat tangguh dan menurut ayahnya, tenaga sinkang pemuda itu seimbang dengan ayahnya!

Apa lagi pemuda ini pernah membuat nama besar dengan julukan Pendekar Tangan Sakti. Menghadapi orang yang lebih lihai, tentu saja ia merasa khawatir dan juga curiga.

“Benar, saudara Cia. Aku sudah berpamitan kepada Paman Siangkoan Kok dan harus melanjutkan perjalananku hari ini juga. Nah, selamat tinggal dan semoga saja engkau berhasil dalam segala cita-citamu. Selamat tinggal, Nona Siangkoan, dan terima kasih atas kebaikan keluarga Nona selama aku tinggal di sini."

Dengan sikap tidak terlalu menghormat dan ugal-ugalan seperti tokoh yang perannya dia mainkan, Yo Han tersenyum lalu membalikkan tubuh meninggalkan mereka, diikuti pandang mata sepasang orang muda itu.

"Hemmm, dia seorang pendekar yang hebat! Masih begitu muda tetapi sudah memiliki kesaktian yang dahsyat," Cia Ceng Sun memuji.
"Tapi aku tidak terlalu percaya kepadanya, bahkan aku mencurigainya, Koko," kata Eng Eng.
"Ehhh? Mengapa? Bukankah dia tokoh Thian-li-pang dan kini bersahabat baik dengan ayahmu? Bahkan tadi dia menyebut paman kepada ayahmu. Hemmm, aku jadi berpikir jangan-jangan ayahmu lebih condong memilih dia sebagai calon mantu dari pada aku!"

Eng Eng mencubit tangan kekasihnya dengan gemas. "Ihhh! Aku akan minggat kalau ayah memaksa aku menikah dengan pria lain kecuali engkau. Apakah engkau masih belum percaya kepadaku, Koko?"

"Maaf, aku hanya bergurau. Sekarang juga aku akan menghadap ayah dan ibumu untuk menyatakan keinginan kita, menceritakan hati kita, dan kalau ayah ibumu mengijinkan, aku segera akan pergi dan mencari seorang wakil untuk kukirim ke sini dan melakukan pinangan."
"Nah, begitu lebih baik daripada membicarakan orang lain. Sebaiknya nanti saja, setelah mereka sarapan baru engkau mengatakan isi hatimu kepada mereka. Akan kuusahakan agar engkau diundang sarapan sehingga kita berempat dapat berkumpul dan bercakap-cakap."

Demikianlah, tidak lama kemudian mereka sudah makan pagi bersama, Cia Ceng Sun, Siangkoan Eng, Siangkoan Kok dan isterinya, Lauw Cu Si. Setelah makan pagi yang agaknya dilakukan oleh Siangkoan Kok dengan sikap tergesa-gesa karena dia hendak bepergian, Cia Ceng Sun mempergunakan kesempatan itu untuk bicara.

"Locianpwe (Orang Tua Gagah), saya ingin mohon sedikit waktu untuk bicara dengan Locianpwe berdua, bersama Eng-moi juga," katanya dengan sikap sopan dan tenang. Bagaimana pun juga, dia seorang pangeran dan tentu saja memiliki wibawa yang besar sehingga menghadapi ketua Pao-beng-pai itu pun dia dapat bersikap tenang.

"Hemmm, soal apakah yang hendak kau bicarakan, Cia sicu?"
"Soal saya dan adik Eng Eng. Harap Locianpwe berdua mengetahui bahwa kami berdua sudah bersepakat untuk mengaku terus terang kepada Ji-wi (Anda Berdua) sekarang ini bahwa kami saling mencinta dan juga telah mengambil keputusan untuk hidup bersama sebagai suami isteri. Saya segera akan pergi, kemudian mengirim seorang wali untuk melakukan pinangan kepada Ji-wi secara resmi."

Mendengar pinangan yang diajukan begitu tiba-tiba dengan pengakuan bahwa pemuda itu sudah saling mencinta dengan puteri mereka dalam waktu tidak lebih dari tiga hari, suami dan isterinya itu saling pandang. Siangkoan Kok menoleh kepada puterinya yang juga sedang memandang kepadanya dengan sikap yang tenang pula.

"Eng Eng, benarkah apa yang dikatakan Cia Ceng Sun barusan? Bahwa kalian saling mencinta dan engkau sudah setuju untuk menjadi isterinya?"

Dengan sikap gagah dan penuh tanggung jawab, Eng Eng mengangguk dan berkata, "Benar, Ayah. Kurasa usiaku sudah lebih dari cukup untuk berumah tangga sekarang, dan dialah pilihan hatiku."

Siangkoan Kok tertawa bergelak. Sukar menduga apakah suara tawa itu karena girang atau karena geli atau untuk mengejek.

"Ha-ha-ha-ha! Orang muda she Cia! Engkau tahu bahwa Eng Eng adalah puteri tunggal kami yang sangat kami sayang. Ia puteri ketua Pao-beng-pai, cantik dan tinggi ilmunya, masih lebih tinggi dari pada ilmu yang kau kuasai. Kalau ia menghendaki jodoh seorang pangeran sekali pun, hal itu bukan mustahil akan dapat terlaksana. Eng Eng kaya raya, berilmu tinggi dan cantik! Dan engkau ini siapakah berani hendak berjodoh dengannya? Dari keturunan apa? Engkau memang cukup tampan, dan biar pun tidak selihai puteriku, kepandaianmu lumayan dan tidak memalukan. Akan tetapi selain itu, apa lagi yang bisa kau berikan kepada puteri kami?"

Panas juga rasanya perut Cia Ceng Sun mendengar ucapan laki-laki yang akan menjadi ayah mertuanya itu. Betapa dia diremehkan dan dipandang rendah!

"Apakah yang Locianpwe minta? Kalau Locianpwe mengajukan syarat, tentu akan saya coba untuk memenuhinya," katanya sederhana, namun sikapnya tegas.

Mendengar ucapan yang nadanya menantang itu, Eng Eng mengerutkan alisnya dan merasa khawatir. Bahkan ia lalu mengerling ke arah kekasihnya dan mengedipkan mata mencegah, namun sia-sia karena pemuda itu sudah mengeluarkan kata-katanya.

"Ha-ha-ha-ha, bagus, bagus! Seorang gadis seperti Eng Eng memang tidak sepatutnya didapatkan dengan amat mudah seperti orang memetik buah apel dari pohon saja! Nah, permintaanku tidak banyak. Pertama engkau harus bisa memberi tanda mata yang patut bagi seorang calon isteri macam Eng Eng, dan ke dua, dalam pesta pernikahan kalian nanti, aku minta agar keluarga Kaisar menjadi tamunya!"

"Ayah! Permintaan itu keterlaluan!" teriak Eng Eng, dan Ibunya juga berseru kaget.
"Aihhh, mana ada permintaan seperti itu? Yang pertama mungkin dapat dilaksanakan, akan tetapi yang ke dua mustahil! Kita ini apa dan siapa, minta keluarga kaisar menjadi tamu dalam pesta pernikahan anak kita?" kata Lauw Cu Si.
"Sudahlah, kalian jangan ribut-ribut. Semua ini kulakukan demi menaikkan derajat anak kita, dan itu berarti naiknya derajat kita pula! Bagaimana, Cia-sicu, sanggupkah engkau memenuhi kedua permintaan itu?"

"Saya sanggup!" berkata Cia Ceng Sun dengan suara yang lantang dan tegas sehingga mengejutkan tiga orang itu yang sekarang memandang pada pemuda itu dengan mata terbelalak.
"Sun-koko! Bagaimana engkau berani menyanggupi syarat yang mustahil itu?" teriak Eng Eng.
"Tenanglah, Eng-moi. Demi cintaku kepadamu, aku akan berani menyeberangi lautan api sekali pun. Akan aku usahakan sedapat mungkin untuk kelak mengundang keluarga kaisar. Aku mempunyai banyak kenalan di antara para pembesar dan juga penghuni istana!"

"Ha-ha-ha, bagus sekali! Setidaknya, kesanggupanmu telah membuktikan adanya cinta kasihmu yang besar terhadap anak kami, Cia-sicu. Dan sekarang, tanda mata apa yang pantas kau berikan kepada Eng Eng sebelum engkau pergi dan mengirirm wakil untuk melakukan pinangan resmi?"
"Harap Locianpwe sekalian menunggu sebentar, akan saya ambil dari kamar saya."

Pemuda itu lalu bangkit dan meninggalkan ruangan makan. Pada saat Eng Eng hendak mengejar, baru saja ia bangkit, ayahnya sudah melarang.

"Eng Eng, engkau harus pandai menghargai diri sendiri. Tunggu saja di sini, kita lihat bersama apa yang mampu dia berikan kepadamu. Engkau tidak ingin kelak kecewa dengan pilihanmu, bukan? Biarkan Ayah yang mengujinya!"

Eng Eng tidak jadi bangkit. Ia pun tahu bahwa sikap ayahnya yang begitu keras bukan karena ayahnya tidak suka mempunyai mantu Cia Ceng Sun, namun karena ayahnya ingin mendapatkan mantu yang benar-benar mencintainya, seorang mantu yang berani dan pandai.

Agak lama pemuda itu pergi. Ketika dia masuk kembali ke dalam ruangan itu, ternyata dia telah berganti pakaian dan telah pula membawa buntalan pakaiannya.

"Sun-koko! Engkau... kau hendak pergi...?" Eng Eng terkejut sekali karena sebelumnya kekasihnya tidak mengatakan hendak pergi sekarang juga.
"Benar, Eng-moi. Aku harus cepat berusaha untuk memenuhi permintaan ayahmu, yaitu mengirim wali untuk meminang, dan mempersiapkan agar kelak keluarga istana dapat menghadiri pesta pernikahan kita."

Dia lalu menghadapi Siangkoan Kok dan mengeluarkan sebuah benda dari dalam saku bajunya. "Locianpwe, untuk sementara ini, saya tidak mampu memberikan sesuatu yang lebih berharga dari pada ini. Harap Locianpwe sekalian tidak merasa kecewa dengan pemberian tanda mata yang tidak berharga ini."

Ketika Siangkoan Kok menerima benda itu, dia dan isterinya yang duduk di dekatnya terbelalak kagum.

"Tidak berharga?!" Lauw Cu Si berseru. "Wah! Belum pernah selama hidupku melihat kalung mutiara seindah ini!"

Siangkoan Kok yang merupakan seorang keturunan bangsawan, juga terbelalak kagum. Dia mengenal barang yang amat berharga dan langka sehingga terlontar pertanyaannya penuh keheranan. "Dari mana engkau memperoleh benda mustika seperti ini?"
"Locianpwe, sudah saya katakan bahwa saya mewarisi harta kekayaan orang tua saya, dan itu merupakan satu di antara benda-benda peninggalan itu."
"Nah, Ayah jangan memandang rendah kepada Sun-koko!" Eng Eng juga berseru.

Ia bangga sekali walau pun diam-diam ia juga merasa heran bahwa kekasihnya memiliki simpanan benda yang sedemikian langka dan berharga, yang dikatakannya tadi ‘tidak berharga’. Kalau kalung seperti itu tidak berharga, lalu bagaimana yang berharga itu?

Sesudah memeriksa benda berharga itu, Siangkoan Kok lalu menyerahkannya kepada isterinya yang kini mendapat giliran mengaguminya bersama Eng Eng, lalu dia berkata kepada pemuda itu. “Baik, tanda mata itu kami terima dan kami anggap cukup pantas. Sekarang pergilah untuk mengirim utusan dan wali untuk melakukan pinangan resmi, kemudian aturlah supaya dalam pesta pernikahannya, keluarga kaisar dapat hadir. Apa bila engkau membohongi kami, awas, aku tidak akan mengampunimu."

"Baik, Locianpwe. Nah, saya minta diri. Eng-moi, aku pergi dulu dan doakan saja agar usahaku berhasil."
"Selamat jalan, Koko, dan jangan terlalu lama membiarkan aku menunggumu di sini," kata gadis itu.

Setelah memberi hormat, Cia Ceng Sun lalu pergi meninggalkan rumah itu.
Tiba-tiba Siangkoan Kok berkata kepada puterinya, "Eng Eng, aku mempunyai urusan penting, karena itu engkau harus dapat mewakill aku. Kau bawa beberapa anak buah yang boleh diandalkan, dan kau bayangi pemuda itu."

"Ayah! Apa artinya ini? Kami sudah saling mencinta!"

"Anak bodoh! Justru karena engkau mencintanya, engkau harus mengenal betul siapa dia! Bayangi dia dan buktikan sendiri bagaimana cara dia berusaha untuk kelak dapat menghadirkan keluarga istana di dalam pesta pernikahanmu. Lebih baik kita waspada, jangan sampai kita dibohongi dan ditipu. Mengerti? Jangan percaya dulu sebelum kita melihat buktinya, betapa pun besar cintamu kepadanya. Engkau tidak ingin kelak hidup sengsara, bukan? Dan ingat, engkau bayangi dia, jangan bantu dan jangan perlihatkan diri, jangan khianati ayahmu karena semua ini demi kebaikan masa depanmu sendiri."

Eng Eng mengerti dan dia mengangguk. Bahkan diam-diam dia merasa gembira karena dengan membayangi Cia Ceng Sun, berarti dia selalu dekat dengan kekasihnya itu, biar pun dia tidak boleh memperlihatkan diri. Dan memang perlu untuk mengetahui siapakah sebenarnya kekasihnya itu yang menyanggupi ayahnya untuk menghadirkan keluarga kaisar dalam pesta pernikahannya!

Dia pun cepat berkemas, lalu mengajak empat orang pelayannya yang ia percaya, yaitu empat orang gadis yang berpakaian kuning, merah, biru dan putih. Mereka berlima lalu segera meninggalkan perkampungan Pao-beng-pai dan dengan mudah mereka dapat menyusul Cia Ceng Sun dan membayangi pemuda itu dari jauh.

Cia Ceng Sun sudah keluar dari Ban-kwi-kok (Lembah Selaksa Setan) melalui jalan keluar yang sudah diberi tanda-tanda sehingga dia tidak akan tersesat ke dalam daerah yang berbahaya penuh rahasia, dan dia kini tiba di lereng paling rendah dari Kwi-san (Bukit Setan). Sunyi saja di situ. Matahari sudah naik tinggi dan sinarnya mulai terasa hangat di badan.

Tiba-tiba Cia Ceng Sun yang penglihatan dan pendengarannya tajam dan peka, melihat berkelebatnya bayangan di balik semak-semak di sebelah kirinya. Dia berhenti, menoleh ke kiri dan membentak.

"Siapa mengintai di sana?! Keluarlah dan jangan bersembunyi seperti binatang liar!"

Sesosok bayangan melompat keluar dari kiri, disusul bayangan lain melayang dari sisi kanan dan dia sudah berhadapan dengan dua orang laki-laki yang berusia kurang lebih empat puluh lima tahun. Dua orang itu cepat-cepat memberi hormat kepadanya dengan berlutut sebelah kaki.

"Mohon maaf kalau hamba berdua mengejutkan hati Pangeran," kata seorang di antara mereka yang kumisnya tebal.
"Hamba berdua diutus ayah Paduka, Pangeran Cia Yan, untuk menjemput Paduka dan mengawal Paduka pulang sekarang juga karena ada urusan penting," kata orang ke dua yang kepalanya botak.
"Ssttttt!" Pangeran Cia Sun atau Cia Ceng Sun menaruh telunjuk ke depan bibir untuk memberi isyarat agar dua orang itu menahan kata-kata mereka, kemudian menoleh ke sekeliling.
"Harap Paduka jangan khawatir, Pangeran. Kami berdua telah melakukan pemeriksaan dan tempat ini sangat sunyi," kata si kumis tebal.
"Andai kata ada yang melihatnya juga, siapa yang akan berani mengganggu Paduka?" sambung si botak.

Tentu saja kedua orang pengawal istana ini merasa heran melihat sikap sang pangeran. Mengapa mesti bersikap begitu hati-hati dan takut? Dia seorang pangeran. Siapa akan berani mengganggunya tentu akan berhadapan dengan pasukan pemerintah!

Pangeran Cia Sun mengerutkan alis. "Ada urusan penting apakah sampai kalian diutus mencari aku? Aku bisa pulang sendiri!" katanya tidak senang. "Pula, bagaimana kalian dapat tahu bahwa aku berada di sini?"

Si kumis tebal tersenyum bangga. "Pangeran, tak percuma kami berdua menjadi jagoan istana, pengawal-pengawal yang dipercaya. Pada waktu Paduka pergi, ayah Paduka Pangeran Cia Yan memerintahkan kami berdua untuk membayangi Paduka dari jauh dan menjaga keselamatan Paduka. Tugas ini amat mudah karena Paduka memiliki ilmu kepandaian tinggi dan cukup kuat untuk mampu membela diri sendiri. Maka kami hanya menyebar anak buah supaya membayangi dari jauh. Kami mengetahui bahwa Paduka hadir pula dalam pertemuan Pao-beng-pai, walau pun kami tidak mungkin dapat masuk ke tempat berbahaya itu."

"Untung kalian tidak masuk. Bila hal itu terjadi, selain kalian celaka, tentu penyamaranku akan gagal pula. Lalu bagaimana?" tanya sang pangeran.

Kini si Botak yang melanjutkan. "Kami merasa sangat khawatir karena setelah semua tamu keluar dari Ban-kwi-tok, Paduka tidak keluar-keluar. Kami merasa bahwa tentu ada sesuatu yang terjadi, maka cepat kami mengirim laporan kepada ayah Paduka. Kami menerima perintah agar menjemput Paduka dan mengajak Paduka pulang secepatnya. Ayah Paduka tidak berkenan mendengar Paduka bergaul dengan orang-orang kangouw yang mencurigakan itu, juga Paduka ditunggu karena ada tamu penting."

"Siapa tamu penting itu?"

Dua orang pengawal itu saling pandang dan tersenyum penuh arti. "Paduka tentu akan senang sekali kalau tiba di rumah. Tunangan Paduka sudah menunggu bersama orang tuanya."

"Tunanganku ? Jangan bicara sembarangan!"
"Hamba tidak berbohong. Pendekar wanita Si Bangau Merah….”
“Ahhh! Sudahlah, kalian ini sungguh menjengkelkan. Bukankah kalian juga tahu bahwa aku pandai menjaga diri sendiri? Seperti anak kecil saja, di jemput dan dikawal!"

Tiba-tiba sang pangeran terkejut dan membalikkan tubuh dengan cepat, juga dua orang pengawalnya memutar tubuh ke kanan dan terbelalak. Di situ, di hadapan mereka, telah berdiri lima orang gadis yang cantik-cantik, yang empat orang berpakaian empat macam warna, dan yang berdiri paling depan luar biasa cantiknya.

Pakaiannya berkembang, rambutnya digelung ke atas dengan dihias sebuah tiara kecil, tangan kirinya memegang sebatang hudtim atau kebutan berbulu merah dengan gagang emas. Sepasang matanya mencorong memandang kepada Pangeran Cia Sun seperti mengeluarkan api!

"Hmmm… Pangeran Cia Sun!" terdengar suaranya dingin sekali. "Menyerahlah engkau untuk menjadi tawanan kami!"
"Eng-moi !" Pangeran Cia Sun berseru sambil melangkah maju untuk mendekati gadis kekasihnya itu.
"Diam! Engkau tak berhak menyebutku seperti itu!" bentak Siangkoan Eng marah.

Si kumis tebal dan si botak menjadi marah. Mereka meloncat ke depan Pangeran Cia Sun seperti melindunginya dan menghadapi lima orang gadis cantik itu.

"Apakah kalian telah menjadi gila? Beliau ini adalah Pangeran Cia Sun, cucu Sribaginda Kaisar! Beranikah kalian bersikap kurang hormat kepada beliau? Apakah kalian sudah bosan hidup?" Sebelum selesai berkata, kedua orang pengawal itu sudah mencabut pedang mereka untuk melindungi sang pangeran.
"Bereskan mereka!" kata Siangkoan Eng.

Empat orang pelayannya telah berloncatan menghadapi dua orang pengawal itu sambil mencabut pedang mereka.

"Kalian yang sudah bosan hidup!" bentak nona baju kuning.

Nona baju kuning itu lalu memimpin penyerangan kepada dua orang jagoan istana itu. Terjadilah pertandingan seru dan hebat. Dua orang jagoan istana itu terkejut setengah mati karena mendapat kenyataan bahwa empat orang gadis cantik itu lihai bukan main dalam menggerakkan pedang mereka, dan sebentar saja mereka berdua terdesak dan terkepung, harus memutar pedang secepatnya untuk melindungi diri.

Sementara itu, Siangkoan Eng melangkah maju menghampiri Pangeran Cia Sun, lantas membentak lagi. "Menyerahtah atau terpaksa aku akan menggunakan kekerasan!"

"Eng-moi, ingatlah aku…aku.."
"Tidak perlu banyak cakap lagi!" bentak Siangkoan Eng.

Siangkoan Eng sudah menyerang dengan kebutannya, menotok ke arah leher Cia Sun. Pangeran ini mengelak, akan tetapi Eng Eng menyerang terus, bahkan semakin hebat.

"Eng-moi… ahh, engkau keterlaluan, tidak memberi kesempatan kepadaku," kata sang pangeran yang terus mengelak sampai beberapa kali.
"Engkau mata-mata busuk, pengkhianat, manusia berhati palsu, tidak perlu bicara lagi!"

Sekarang penyerangan semakin hebat sehingga terpaksa Pangeran Cia Sun menangkis cengkeraman tangan kanan gadis itu. Begitu kedua lengan saling bertemu, dia hampir terjengkang! Cia Sun amat terkejut dan baru dia yakin benar bahwa dalam pertandingan tempo hari, gadis itu selalu mengalah. Sekarang buktinya, pertemuan tenaga mereka membuktikan bahwa gadis itu jauh lebih kuat dari padanya.

Kini Cia Sun melawan setengah hati, tidak mau membalas serangan, hanya mengelak dan menangkis saja. "Engkau keliru, Eng-moi. Aku memang pangeran yang menyamar menjadi orang biasa untuk dapat leluasa memperdalam pengetahuan dan pengalaman. Aku tidak berniat buruk, aku bertemu denganmu dan jatuh cinta."

Karena berbicara, maka pertahanan pangeran itu kurang kuat dan sebuah totokan jari tangan kanan Eng Eng membuat dia terkulai dan roboh lemas tak mampu bergerak lagi! Dan pada saat itu pun, dua orang pengawal itu roboh mandi darah dan tewas di ujung pedang empat orang gadis pelayan Eng Eng.

"Belenggu kedua tangannya dan bawa pulang, masukkan ke dalam kamar tahanan dan jangan ganggu dia sampai ayah pulang," katanya kepada empat orang gadis pelayan itu.

Empat gadis pelayan itu segera meringkus Cia Sun yang sudah tidak mampu bergerak, membelenggu kedua tangannya ke belakang, lalu menggotongnya seperti seekor kijang yang baru saja ditangkap oleh sekawanan pemburu. Mayat kedua orang pengawal itu ditinggalkan begitu saja oleh mereka.

Sekitar sepuluh menit kemudian, barulah beberapa orang muncul dan membawa pergi dua jenazah jagoan istana itu. Mereka adalah anak buah yang tadi tidak berani muncul. Sang pangeran yang perkasa bersama dua orang jagoan istana itu saja tidak mampu menandingi lawan, apa lagi mereka yang hanya anak buah biasa.....
********************
Dari jauh goa itu nampak hitam gelap, walau pun pada saat itu matahari telah tinggi dan bersinar seterang-terangnya. Tengah hari itu, Yo Han tiba di depan goa di lereng bukit yang menjadi tempat tinggal Tiat-liong Sam-heng-te seperti yang sudah diceritakan oleh Siangkoan Kok kepadanya.

Dengan sinar matahari yang sangat terang, maka setelah tiba di depan goa, ternyata tidak begitu gelap seperti nampaknya dari jauh. Inilah salah satu goa yang terbesar dan merupakan sebuah ruangan depan, oleh karena di situ terdapat perabot-perabot seperti bangku dan kursi. Goa itu seperti sebuah rumah besar saja. Di sebelah dalam terdapat sebuah pintu kayu yang memisahkan ruangan depan dengan ruangan dalam.

Beberapa kali Yo Han memanggil-manggil ke arah dalam goa, akan tetapi tidak terdapat jawaban. Dia tidak berani lancang memasuki tempat tinggal orang lain tanpa diketahui oleh pemiliknya. Mungkin goa ini merupakan terowongan yang dalam dan penghuninya berada di bagian belakang sehingga tidak mendengar panggilannya, pikirnya. Dia lalu mengerahkan khikang dan berseru dengan suara yang seperti menembus ke seluruh ruangan di dalam goa terowongan itu.

"Tiat-liong Sam-heng-te! Harap suka keluar untuk bicara dengan aku, Yo Han."

Suara itu bergema dan gemanya terdengar dari luar. Akan tetapi tetap saja tidak ada jawaban. Tentu saja sedang keluar, pikir Yo Han. Ia teringat bahwa anak yang diculik itu kabarnya masih hidup dan berada di sini pula. Kebetulan! Kalau Tiat-liong Sam heng-te keluar, tentu anak itu berada seorang diri saja! Inilah kesempatan yang amat baik untuk mengajaknya pergi dari sini, kembali kepada orang tuanya.

"Sim Hui Eng! Apakah engkau berada di dalam?" ia berteriak lagi dengan pengerahan khikang.

Dan sekarang ada tanggapan dari dalam! Ada suara langkah kaki menuju keluar. Daun pintu itu terbuka sedikit dan nampaklah wajah seorang gadis cantik mengintai dari balik daun pintu itu.

"Nona, aku ingin bicara denganmu!"

Yo Han berseru. Akan tetapi wajah itu segera lenyap dari balik pintu dan Yo Han cepat meloncat ke dalam goa lalu lari mengejar. Gadis itu kini berhenti di ruangan tengah dan tidak lari lagi, melainkan memandangnya dengan amat heran ketika Yo Han masuk ke ruangan itu.

"Mengapa engkau masuk ke sini ?" Kini gadis itu menegur, suaranya mengandung rasa takut. "Jangan masuk, nanti ketiga orang ayahku marah!"

Tiga orang ayah! Yo Han merasa kasihan sekali. Agaknya gadis itu seperti orang yang bingung, bahkan mengaku mempunyai tiga orang ayah. Mana mungkin seorang gadis mempunyai tiga orang ayah? Sudah jelas, pasti ini yang namanya Sim Hui Eng, puteri bibinya. Hatinya pun terharu.

"Aku mau bicara denganmu," kata pula Yo Han sambil mendekat.
"Jangan masuk, nanti ayah marah. Dan aku tentu akan dihukum!"

Yo Han mengerutkan alisnya dan mengepal tinju. Tentu tiga orang penculik itu bersikap kejam terhadap gadis ini, pikirnya.

"Kalau begitu, mari kita keluar dan bicara di luar supaya ayahmu tidak marah," katanya.

Gadis itu mengangguk dan ketika Yo Han melangkah keluar, ia mengikuti. Akan tetapi, kembali gadis itu berhenti, bahkan kini masuk ke dalam sebuah ruangan yang berada di sebelah kiri. Yo Han menengok, dan melihat gadis itu berhenti lagi bahkan memasuki sebuah ruangan yang agak lebih terang, dia pun melangkah kembali menghampiri.

"Nona, kenapa engkau berhenti?"

Gadis itu kelihatan gelisah dan mengerutkan alisnya, pandang matanya tidak percaya dan curiga. "Mau bicara apa sih dengan aku? Aku tidak mengenalmu!"
"Akan tetapi aku mengenalmu. Engkau tentu Sim Hui Eng."

Gadis yang manis itu menggeleng kepala. "Namaku bukan Sim Hui Eng dan aku tidak mengenalmu.”

"Mungkin engkau sendiri tidak tahu bahwa namamu yang sebenarnya adalah Sim Hui Eng karena engkau diculik orang sejak kecil. Nona, aku hampir yakin bahwa engkaulah gadis yang kucari, dan aku dapat membuktikan kebenaran hal itu."
"Hemmm, apakah bukti itu?"
"Kalau engkau mau memperlihatkan pundak kirimu dan tapak kaki kananmu kepadaku, di sana ada tanda-tandanya."
"Ihhh, engkau orang yang kurang ajar! Bagaimana mungkin aku dapat memperlihatkan pundak dan kakiku kepadamu?" Gadis itu berseru marah sehingga mukanya berubah kemerahan.

Yo Han berpikir. Memang sulit juga. Akan tetapi, agaknya Tiat-liong Sam-heng-te, tiga orang yang oleh gadis itu disebut ayah, sedang tidak berada di situ dan ini merupakan peluang yang baik sekali. Dia harus dapat melihat bukti itu dan kalau gadis itu tidak mau memperlihatkannya, dia harus memaksanya. Tidak ada lain jalan. Kalau tiga orang yang diakui ayah gadis itu berada di situ, tentu hal ini akan lebih sulit untuk dilaksanakan. Dia harus memeriksa pundak dan kaki gadis itu agar yakin apakah dugaannya bahwa gadis itu Sim Hui Eng itu benar.

"Nona, aku tidak bermaksud kurang ajar. Akan tetapi aku harus dapat melihat bukti Itu, apakah pundak dan kakimu ada tanda-tanda, kelahiran itu ataukah tidak," katanya dan dia pun cepat memasuki ruangan yang terang itu.

Gadis itu menyambutnya dengan serangan pisau yang tadi disembunyikan di belakang tubuhnya. Yo Han tidak merasa heran. Tentu gadis ini salah paham dan menganggap dia hendak kurang ajar.

Akan tetapi karena dia tahu bahwa tanpa paksaan, sukar untuk dapat melihat kaki dan pundak seorang gadis, dia pun mengelak dan begitu tangan yang memegang pisau itu menyambar lewat, dia sudah menangkap lengan kanan yang memegang pisau itu dan secepat kilat jari tangan kanannya menotok sehingga gadis itu tidak mampu bergerak lagi! la tentu roboh kalau saja Yo Han tidak cepat merangkulnya dan merebahkannya di atas lantai.

Pada saat dia merangkul itulah, dia mendengar suara yang aneh di belakangnya. Dia menoleh dan terkejut melihat betapa jalan masuk ke ruangan itu, tiba-tiba saja tertutup oleh jeruji besi yang meluncur dari atas. Karena dia sedang merangkul tubuh gadis itu, maka dia tidak sempat lagi untuk meloloskan diri, dan dia pun terkurung dalam ruangan itu bersama gadis yang masih tertotok.

Celaka, tentu mereka yang disebut Tiat-liong Sam-heng-te itu yang menjebaknya, sebab mengira dia akan kurang ajar terhadap puteri mereka. Akan tetapi dia dapat memberi penjelasan nanti dan begitu kedua tangannya bergerak, baju di pundak kiri gadis itu dan sepatu di kaki kanannya telah terbuka. Bajunya dia robek dan sepatunya dia lepaskan.

Akan tetapi, matanya terbelalak ketika melihat kulit pundak dan kulit telapak kaki yang putih mulus tanpa cacat sedikit pun! Wah mungkin dia lupa, pikirnya. Jangan-jangan terbalik, pundak kanan dan kaki kiri yang harus dia periksa!

Tanpa banyak ragu lagi, Yo Han kembali merobek baju di pundak kanan dan melepas sepatu yang kiri dan dia tertegun. Kulit pundak kanan dan kaki kiri itu pun putih mulus, tidak terdapat tanda apa pun seperti yang diharapkan dan disangkanya. Dia telah keliru!

Kalau begitu, Siangkoan Kok telah berbohong kepadanya. Dan ini tentu berarti suatu tipuan, suatu jebakan! Cepat ia meloncat berdiri untuk mencoba keluar dari situ dengan menjebol jeruji besi, akan tetapi pada saat itu juga, dari arah pintu, kanan kiri dan atas, menyembur masuk asap yang kekuningan.

Yo Han menahan napas dan memaksa diri mendekati jeruji besi untuk menjebolnya. Akan tetapi, di balik asap tebal nampak orang-orang yang menggunakan tombak yang ditusukkan ke dalam melalui celah-celah jeruji sehingga terpaksa dia mundur lagi.

Cepat ia memeriksa ke belakang, kanan dan kiri, akan tetapi dinding goa itu merupakan dinding batu alam, entah berapa tebalnya. Tidak ada jalan lari! Dan dia pun tak mungkin menahan napas terus-terusan. Dia mulai bernapas dan asap sudah memenuhi goa itu. Yo Han terbatuk-batuk, lalu mencium bau yang masam yang menyesakkan dada dan ia pun terguling roboh. Pingsan.....

********************
Yo Han bermimpi. Dalam mimpi itu ia mengejar-ngejar seorang gadis cantik yang dapat berlari kuat sekali, juga kecepatan larinya luar biasa sekali. Akan tetapi akhirnya, di puncak sebuah bukit, dia dapat menyusul dan menangkap gadis itu, dirangkulnya dari belakang, kemudian dia merobek baju gadis itu! Bukan untuk apa-apa melainkan untuk melihat pundaknya! Dia melihat sepasang pundak yang putih mulus, kemudian gadis itu menendangnya dan dia jatuh terjungkal ke dalam jurang yang dalam sekali!

Dia membuka matanya. Tidak, dia tidak mati, tidak jatuh ke jurang. Lalu dia teringat. Heran, dia tidak berada di lantai batu, tidak berada di ruangan goa lagi, walau pun masih ada pintu jeruji besi di depannya. Dia rebah di atas lantai ubin, di sebuah kamar yang cukup luas, kamar yang tidak berjendela, akan tetapi pintunya berjeruji amat kuat dan di luar pintu terdapat banyak penjaga dengan senjata tajam dan runcing di tangan. Dia berada dalam tahanan!

Yo Han bangkit duduk dan terdengar gerakan orang di belakangnya, disusul suara tawa orang itu, tawa kecil yang bukan mengejek, bukan pula mentertawakan, tetapi tertawa karena merasa lucu. Ia cepat-cepat menengok dan melihat orang yang dikenalnya, yaitu pemuda bernama Cia Ceng Sun yang pernah bersama dia menjadi tamu kehormatan keluarga Siangkoan atau perkumpulan Pao-beng-pai!

"Kiranya engkau juga di sini, saudara Cia Ceng Sun. Dan kenapa pula engkau tertawa? Melihat tempat ini, jelas bahwa kita berada di dalam kamar tahanan. Mengapa engkau malah tertawa?"

Yo Han bangkit berdiri dan menghampiri pemuda itu yang duduk di depan kayu panjang, lalu duduk di sampingnya.

Cia Ceng Sun menahan tawanya dan menepuk pundak Yo Han. "He-heh-heh, Yo-toako, lucu akan tetapi menyenangkan melihat engkau dibawa masuk dalam keadaan pingsan ke kamar ini. Berarti aku mempunyai teman yang menyenangkan. Lucunya, kita berdua yang dipilih oleh Pao-beng-pai menjadi tamu kehormatan dan sekutu, dan kita berdua pula yang kini menjadi tawanan. Bukankah itu lucu sekali?"

Yo Han kagum melihat betapa pemuda itu dalam tawanan masih mampu berkelakar dan tertawa demikian gembira. Wajah yang tampan itu sedikit pun juga tak membayangkan perasaan takut, bahkan agaknya pengalaman ini amat menyenangkan hatinya.

"Saudara Cia, kenapa engkau sampai ditawan? Bukankah Siangkoan Kok dan terutama sekali Siangkoan Siocia (Nona Siangkoan) amat suka padamu?"

Cia Ceng Sun menarik napas panjang, namun wajahnya masih cerah. "Ini merupakan rahasia besar yang sukar untuk aku ceritakan kepadamu. Akan tetapi mengapa engkau sendiri yang memiliki ilmu kepandaian hebat sekali sampai dapat tertawan mereka? Ini baru aneh!"

Yo Han memandang dengan serius. "Saudara Cia, kita ini senasib. Bahkan mungkin sekali kita berdua akan terancam bahaya maut. Jika kita tidak bekerja sama, bagaimana mungkin akan mampu lolos dari ancaman bahaya? Dan untuk dapat bekerja sama, kita lebih dulu haruslah dapat saling percaya, bukan?"

Cia Ceng Sun mengangguk. "Engkau benar sekali, Yo-toako."

"Nah, aku percaya padamu, apakah engkau tidak percaya padaku sehingga tidak dapat menceritakan keadaanmu padaku? Dengan mengetahui keadaan kita masing-masing, barulah kita dapat bekerja sama."
"Kalau engkau percaya padaku, nah, ceritakanlah mengapa engkau ditawan, Yo-toako."

Yo Han menghela napas. Pemuda ini selain cerdik, juga agaknya hendak merahasiakan dirinya. Dia harus memperlihatkan kejujuran dulu supaya pemuda itu benar-benar dapat percaya padanya.

"Baiklah. Namaku memang Yo Han dan seperti telah kau ketahui dalam pertemuan itu, memang aku adalah seorang tokoh Thian-li-pang, bahkan dianggap sebagai pimpinan. Hanya sikapku memusuhi tiga keluarga besar para pendekar Pulau Es, Gurun Pasir dan Lembah Siluman adalah palsu. Aku sengaja memperlihatkan sikap bermusuhan karena sedang menyelidiki hilangnya seorang anak dari ketiga keluarga besar itu yang terjadi dua puluh tahun yang lalu."

Ceng Sun tertarik sekali. "Wah, sungguh menarik dan aneh. Bagaimana mungkin dapat mencari anak hilang yang sudah lewat dua puluh tahun? Anak siapa yang hilang itu dan bagaimana caranya engkau hendak mencarinya, Yo-toako?"

Yo Han lalu bercerita mengenai hilangnya puteri dari Pendekar Suling Naga Sim Houw dan isterinya, yaitu bibi gurunya yang bernama Can Bi Lan, yang hilang diculik orang dua puluh tahun yang lalu.

"Itulah sebabnya aku sengaja menyatakan permusuhanku terhadap suami isteri itu, karena aku menduga bahwa penculiknya tentulah musuh mereka dan musuh mereka itu siapa lagi kalau bukan tokoh kang-ouw, tokoh sesat yang lihai? Aku sengaja memancing untuk mencari penculik itu. Pada waktu kuceritakan hal ini kepada Siangkoan Kok, dia mengatakan bahwa yang menculik puteri dari suami isteri pendekar itu adalah Tiat-liong Sam-heng-te, dan memberi tahu di mana tiga orang tokoh sesat itu tinggal. Aku segera ke sana dan bertemu seorang gadis yang tentu saja kukira anak yang hilang itu. Aku mengajak ia bicara dan kepadanya aku mengaku terus terang bahwa aku mencari anak yang hilang dua puluh tahun yang lalu. Aku bahkan memaksa membuka bajunya dan sepatunya untuk menemukan tanda kelahiran di pundak dan kaki. Akan tetapi ternyata gadis itu bukan anak yang kucari, dan ternyata ia adalah umpan yang sengaja dipasang oleh Pao-beng-pai untuk menjebak dan menangkap aku."

Ceng Sun tertawa geli. "He-he-heh, orang-orang Pao-beng-pai memang cerdik dan licik bukan main. Lalu bagaimana cara mereka dapat menangkap dan membuatmu pingsan, Toako?"

Yo Han lalu menceritakan betapa dia dijebak dan ruangan dalam goa tertutup jeruji besi, kemudian ada asap bius yang menyerangnya sehingga dia akhirnya roboh pingsan.

"Agaknya Siangkoan Kok memang sudah mencurigaiku atau mendengar tentang sepak terjangku sebagai Pendekar Tangan Sakti, maka dia memasang jebakan itu. Aku terlalu yakin bahwa gadis itu benar puteri Paman Sim Houw, maka aku ceroboh dan bodoh, menceritakan maksudku hingga aku ketahuan dan dijebak. Kini aku telah menceritakan semua dengan terus terang kepadamu, Saudara Cia. Engkau sudah mengetahui siapa aku dan mengapa aku berada di sini, mengapa pula aku ditangkap. Tiba giliranmu untuk menceritakan siapa adanya engkau dan mengapa pula engkau berada di sini sehingga akhirnya ditawan juga."

"Yo-toako, ini merupakan rahasia besar yang amat gawat dan hanya dapat kuceritakan kepada orang yang benar-benar dapat kupercaya."

Yo Han mengerutkan alisnya. "Saudara Cia! Apakah engkau tidak percaya kepadaku, padahal aku sudah menceritakan segala rahasiaku kepadamu yang berarti aku percaya padamu?"

"Bukan begitu, Yo-twako. Akan tetapi karena rahasiaku amat besar dan gawat, aku tidak boleh bercerita kepada orang lain kecuali seorang saudaraku. Nah, kalau engkau mau mengangkat saudara dengan aku, barulah aku mau bercerita."

Yo Han mengerutkan alisnya. Ia kagum dan suka kepada pemuda ini, akan tetapi sama sekali tak pernah bermimpi akan mengangkat saudara! Akan tetapi, mereka berdua kini menjadi tawanan dan nyawa mereka terancam, kalau tak ada saling percaya dan saling pengertian, maka akan sukar bekerja sama. Padahal, dengan kerja sama pun belum tentu mereka akan dapat lolos menghadapi Pao-beng-pai yang memiliki banyak anggota dan amat kuat itu, apa lagi memiliki pimpinan yang berilmu tinggi.

“Baiklah," akhirnya dia berkata.
"Bagus, marilah kita bersumpah di sini saja, Toako," Ceng Sun berkata dan mereka pun berlutut di atas pembaringan.

Yo Han segera mengucapkan sumpahnya. "Saya, Yo Han, bersumpah bahwa mulai saat ini, saya menganggap saudara Cia Ceng Sun…"

"Namaku yang sebenarnya Cia Sun, Yo-twako," pemuda itu memotong.

Yo Han membuka mata dan menoleh. Temannya itu juga berlutut di sebelahnya. Nama Cia Sun ini tidak berarti apa-apa baginya. Dia tidak mengenal nama Cia Sun seperti juga dia tidak mengenal nama Cia Ceng Sun. Akan tetapi dia merasa seolah-olah ada sesuatu yang aneh pada kedua nama itu, entah apanya. Dia tak peduli dan mengulang.

"Saya, Yo Han, bersumpah bahwa mulai saat ini saya menganggap saudara Cia Sun sebagai adik angkat saya, akan saling memberi dan saling mengasihi seperti kakak dan adik kandung."

Cia Sun mengangguk-angguk, kemudian ia pun mengucapkan sumpahnya seperti yang diucapkan Yo Han. Setelah itu, mereka lalu turun dari pembaringan dan saling memberi hormat.

Cia Sun berkata lebih dulu sambil memberi hormat. "Yo-toako, terimalah hormat adikmu Cia Sun."

"Cia-siauwte, aku merasa berterima kasih sekali. Nah, sekarang, kau ceritakanlah apa yang sebenarnya terjadi dengan dirimu supaya kakakmu ini mengetahui segalanya dan kita dapat saling membantu."

"Mari kita duduk kembali di pembaringan itu."

Mereka kemudian duduk di tepi pembaringan dan Cia Sun mulai dengan pengakuannya. "Namaku memang benar Cia Sun dan kalau engkau tidak mengenal nama ini adalah karena aku hanyalah putera Pangeran Cia Yan yang tidak begitu terkenal di luar istana."

"Ahhh, pantas…!" Yo Han berkata sambil menepuk pahanya.
"Apanya yang pantas?"
"Ketika mendengar she Cia, aku sudah merasa aneh, seperti ada sesuatu yang kukenal atau yang menarik. Kiranya Paduka adalah cucu Sribaginda Kaisar!"
"Hushhh! Begitukah sikap seorang kakak terhadap adiknya? Yo-toako, aku akan merasa terhina kalau kakakku sendiri menyebutku paduka. Bagimu aku adalah adik Cia Sun, tanpa embel-embel pangeran dan sebagainya!"

Melihat sikap pangeran itu yang kelihatan tidak senang, Yo Han cepat-cepat memegang lengannya. "Maafkan aku, siauwte. Aku hanya bergurau. Nah, coba lanjutkan ceritamu, mengapa engkau sampai tersesat ke tempat ini dan mengapa pula engkau ditawan oleh Pao-beng-pai?"
"Aku memang sedang merantau, Toako. Aku bosan di istana dan karena sejak kecil aku gemar belajar silat, maka aku ingin sekali mengenal dunia persilatan, mengenal dunia kang-ouw. Aku lalu mohon pada orang tuaku untuk merantau meluaskan pengalaman. Demikianlah, aku tiba di sini sesudah mendengar akan pertemuan yang diadakan oleh Pao-beng-pai."
"Hemmm, apakah engkau merantau sekalian hendak menyelidiki tentang gerakan anti pemerintah?"
"Tidak sama sekali. Hanya kebetulan saja aku mendengar. Akan tetapi, begitu bertemu dengan nona Siangkoan, seketika aku jatuh cinta!"

Yo Han tersenyum, akan tetapi sikapnya bersungguh-sungguh. "Aku tak merasa heran, Cia-te (adik Cia), karena ia memang seorang gadis yang luar biasa. Ilmu silatnya tinggi, wajahnya cantik jelita dan anggun, tidak kalah oleh puteri yang mana pun."

"Akan tetapi, tentunya engkau mengetahui sendiri betapa cintaku kepadanya itu bahkan menyiksa perasaanku mengingat bahwa ayahnya adalah ketua Pao-beng-pai yang tentu saja memusuhi keluargaku."
"Hemmm, memang liku-liku cinta kadang amat membingungkan. Akan tetapi bagaimana dengan perasaan nona itu sendiri kepadamu, Cia-te?"
"Dia pun tidak menolak cintaku, bahkan setuju ketika aku mengajukan pinangan secara langsung kepada ayahnya."

Yo Han memandang kaget dan kagum. "Engkau berani langsung meminangnya, Cia-te? Itu membutuhkan keberanian hebat! Meminang puteri orang yang baru saja dikenalnya! Dan bagaimana tanggapan orang tuanya?"

"Eng-moi dan ibunya setuju, dan ayahnya mengajukan syarat, minta tanda ikatan dan juga kelak dalam pesta pernikahan harus dihadiri Kaisar."
"Gila…!"
"Engkau tahu siapa aku sebenarnya, Twako. Kalau aku menikah, sudah pasti kakekku, Sri baginda Kaisar, akan menghadirinya. Oleh karena itu, aku menerima syarat itu dan sebagai tanda pengikat, aku lalu memberikan seuntai kalung mutiara yang amat mahal harganya."
"Jadi engkau mengaku sebagai pangeran?"
"Aku tidak sebodoh itu. Tentu saja aku tidak mengaku sebagai pangeran. Dan Eng-moi sudah berjanji kepadaku bahwa kelak setelah menikah dengan aku, dia tidak akan lagi mencampuri urusan pemberontakan dan permusuhan."
"Aihhh, siauwte! Jika engkau tak mengaku sebagai pangeran, akan tetapi menyanggupi untuk mendatangkan Sribaginda Kaisar dalam pesta pernikahanmu, hal itu tentu akan membuat mereka curiga sekali!"

Cia Sun menghela napas panjang. "Itulah kesalahanku. Aku tidak menduga sedemikian jauhnya. Aku kemudian berpamit kepada mereka, berjanji untuk mengirim utusan dan meminang secara resmi. Dalam perjalanan, muncul tanpa kusangka-sangka dua orang perwira pengawal yang diutus ayah untuk memanggil aku pulang karena aku ditunggu oleh tunanganku dan keluarganya."

"Ahh, engkau sudah bertunangan dan engkau masih meminang nona Siangkoan Eng?" Yo Han bertanya dengan suara mengandung teguran.

Dia mulai memandang pemuda tampan dan halus itu sebagai adiknya sendiri, maka dia secara otomatis menegurnya.....

"Ahhh, engkau tidak tahu, Twako. Aku ditunangkan oleh orang tuaku dengan gadis itu, akan tetapi bagaimana aku bisa mencinta seorang gadis yang baru sekali kumelihatnya, itu pun ketika ia masih kecil? Aku tidak berani menentang kehendak orang tuaku, akan tetapi biar pun aku sudah ditunangkan, namun aku masih merasa bahwa hatiku bebas. Anehkah kalau aku jatuh cinta kepada Eng-moi? Sudah jelas Eng-moi mencintaku dan aku mencintanya, sedangkan Si Bangau Merah itu, belum tentu ia suka kepadaku atau aku suka kepadanya."

Sepasang mata Yo Han terbelalak. "Si Bangau Merah...?"

Pangeran itu tersenyum. "Ya, tunanganku adalah seorang gadis pendekar yang berjuluk Si Bangau Merah, namanya Tan Sian Li. Ayahnya adalah Pendekar Bangau Putih Tan Sin Hong dan ibunya adalah puteri bekas panglima Kao Cin Liong. Ia masih keturunan keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir. Kenalkah engkau kepadanya, Twako?"

Yo Han dapat menenangkan kembali hatinya yang terguncang keras mendengar bahwa tunangan pangeran ini adalah Tan Sian Li, kekasihnya! Ia mendengar keterangan orang tua Sian Li bahwa kekasihnya itu sudah ditunangkan dengan seorang pangeran, akan tetapi siapa dapat menduga bahwa pangeran itu adalah pemuda ini, Cia Sun yang kini menjadi adik angkatnya?

"Aku mengenal nama besarnya. Cia-te, apakah engkau pernah melihatnya sekarang?" tanyanya.

Diam-diam dia membandingkan antara Sian Li dan Siangkoan Eng. Memang keduanya cantik jelita, keduanya memiliki ilmu silat tinggi. Akan tetapi bagi dia, tentu saja Sian Li lebih hebat, lebih segala-galanya. Biar pun demikian, dia yakin bahwa jika pangeran ini sebelumnya telah melihat Sian Li, belum tentu dia akan mudah terpikat oleh gadis lain yang secantik Siangkoan Eng sekali pun.

"Sudah kukatakan tadi bahwa aku baru bertemu satu kali dengannya, itu pun saat kami masih remaja. Bahkan aku sudah hampir lupa bagaimana wajahnya, dan tidak tahu pula bagaimana wataknya."
"Cia-te, lanjutkanlah ceritamu. Sesudah engkau bertemu dengan kedua orang perwira pengawal itu, lalu bagaimana?"

"Selagi mereka bercakap-cakap dengan aku, mendadak saja muncul Eng-moi bersama empat orang pelayannya. Aku terkejut dan mencoba untuk memberi penjelasan. Akan tetapi dia sudah marah sekali, menganggap aku sebagai pangeran yang menjadi mata-mata dan tentu akan memusuhi Pao-beng-pai. Ia lalu merobohkan aku dan menawanku, sedangkan dua orang perwira itu diserang oleh empat orang pelayannya. Mereka tentu telah tewas. Nah, segala penjelasanku tidak diterima oleh ketua Pao-beng-pai mau pun Siangkoan Eng sendiri, dan aku lalu dimasukkan ke dalam kamar tahanan ini. Eh, belum lama aku berada di sini, engkau digotong masuk dalam keadaan pingsan."

Setelah saling mendengar pengalaman mereka yang diceritakan dengan sejujurnya itu, segera dua orang pemuda yang mengangkat saudara dalam keadaan aneh itu menjadi akrab sekali. Mereka bercakap-cakap saling menceritakan riwayat mereka.

Akan tetapi ada satu hal yang masih tetap dirahasiakan oleh Yo Han, yaitu mengenai hubungannya dengan Tan Sian Li, Si Bangau Merah yang menjadi tunangan pangeran itu. Dia merahasiakan hal ini karena dia tidak ingin menimbulkan suasana yang tak enak di antara mereka.

Kenyataan bahwa pangeran ini tidak saling mencinta dengan Sian Li, bahkan pangeran itu kini jatuh cinta kepada Siangkoan Eng, menimbulkan perasaan senang dan harapan baru dalam hatinya. Dan timbul pula tekad dalam hatinya untuk membantu pangeran itu supaya dapat melangsungkan perjodohannya dengan Siangkoan Eng. Tentu saja, tanpa dia sadari, tanpa dia sengaja, dibalik sikapnya ini terdapat dasar kuat dari hasrat hatinya agar pangeran itu dapat terlepas dari ikatannya dengan Sian Li.....
********************
Tengah malam telah lewat, akan tetapi Siangkoan Eng masih belum juga tidur. Ia sejak sore tadi mondar-mandir dalam kamarnya dengan wajah muram. Ia menderita tekanan batin dan kebingungan semenjak ia menangkap Cia Ceng Sun dan memasukkannya ke dalam kamar tahanan, kemudian melapor kepada ayahnya bahwa Cia Ceng Sun itu sebenarnya adalah seorang pangeran Mancu. Ayahnya marah bukan main.

"Jahanam, aku sudah curiga! Pantas dia enak saja menerima syaratku bahwa dalam pesta pernikahan harus hadir kaisar! Kiranya kaisar adalah kakeknya sendiri! Dia tentu datang untuk memata-matai kita! Celaka! Kalau begitu, bagus sekali bila engkau sudah menawannya, anakku. Kita dapat mempergunakannya sebagai sandera penting untuk melindungi diri kalau-kalau ada penyerangan dari pemerintah. Dan kalau dia sudah tidak ada gunanya lagi, akan kusiksa dia sampai mampus!"

Setelah Siangkoan Eng berada di dalam kamarnya sendiri, ucapan terakhir ayahnya itu selalu terngiang di telinganya. Cia Ceng Sun yang ternyata adalah Pangeran Cia Sun itu akan disiksa ayahnya sampai mati! Dan dia tidak dapat menipu diri. Dia tetap mencinta pemuda itu, pangeran atau pun bukan!

Apa lagi kalau ia teringat akan percakapannya dengan Cia Sun, teringat betapa pemuda itu berjanji akan membawanya ke dalam kehidupan yang tenteram penuh kedamaian, tak mau terlibat dalam pemberontakan dan permusuhan. Ia bahkan hampir yakin bahwa pemuda itu bukan datang untuk memata-matai Pao-beng-pei.

Akan tetapi, karena terkejut dan marah mendengar pemuda itu seorang pangeran yang menyamar sebagai pemuda biasa, ia telah menangkapnya. Sekarang pemuda itu sudah menjadi tawanan ayahnya, tawanan penting dan dia tidak mungkin dapat minta kepada ayahnya untuk mengampuni atau membebaskan Cia Sun.
Image result for SI TANGAN SAKTI
Kini Siangkoan Eng menjatuhkan diri duduk di tepi pembaringan, wajahnya muram dan sedih hampir menangis. Dia bertepuk tangan dua kali, dan sesudah seorang pelayan menjawab dengan ketukan pada pintu dalam, dia memerintahkan pelayan itu memasuki kamar. Pelayan itu kelihatan heran melihat nonanya belum tidur.

"Panggil Sui Lan ke sini!" katanya singkat.

Pelayan itu mengangguk dan cepat keluar. Tak lama kemudian, terdengar ketukan daun pintu sebelah luar dan suara pelayan tadi melapor bahwa Nona Sui Lan telah datang.

"Sui Lan, masuklah!" berkata Siangkoan Eng.

Daun pintu depan terbuka dan masuklah seorang gadis cantik berusia dua puluh satu tahun. Gadis itu kelihatan baru bangun tidur, agaknya tadi sedang tidur ketika pelayan memanggilnya. Gadis bernama Tio Sui Lan ini adalah seorang murid yang pandai dari Siangkoan Kok dan merupakan teman bermain bagi Siangkoan Eng, juga menjadi orang kepercayaannya, bahkan juga sumoi-nya (adik seperguruan).

"Suci, tengah malam begini memanggilku, ada kepentingan apakah gerangan yang bisa kulakukan untukmu?" Dan karena mereka memang bergaul akrab, ia pun menghampiri lalu duduk di tepi pembaringan, di sebelah suci-nya itu.

"Duduklah, dan maaf kalau aku mengganggu tidurmu, Sui Lan."
"Aih, Suci, kenapa sungkan kepadaku? Engkau kelihatannya belum tidur, dan wajahmu kusut serta muram seperti orang bersedih. Ada apakah, Suci?"

Siangkoan Eng memegang lengan gadis manis itu. "Sumoi, engkau adalah orang yang paling kupercaya. Kini hatiku sedang risau. Engkau tahu sendiri bahwa pemuda yang tadinya kita kenal sebagai Cia Ceng Sun itu sudah ditunangkan denganku. Kami saling mencinta. Akan tetapi kemudian ternyata bahwa dia seorang pangeran dan aku sendiri yang telah menawannya sehingga kini dia dikurung di dalam tahanan."

"Akan tetapi, itu sudah benar, Suci. Bukankah dia dapat menjadi orang berbahaya sekali dan sudah merugikan kita? Dia memata-matai kita dan dia bahkan sudah menipu Suci. Aku yakin bahwa cintanya pun hanya pura-pura."

"Diam! Jangan lagi berkata demikian atau aku akan lupa bahwa engkau sumoi-ku dan akan kuhajar kau!" mendadak Siangkoan Eng membentak dan gadis itu memandang dengan wajah pucat.
"Maafkan aku, Suci..."

Siangkoan Eng menghela napas panjang dan kembali dia memegang lengan gadis itu. "Engkaulah yang harus memaafkan aku. Aku begini bingung sehingga sangat mudah tersinggung. Ketahuilah, sampai detik ini aku tak dapat menghilangkan cintaku padanya, apa lagi membencinya. Aku yakin bahwa dia bukan mata-mata, dan dia benar-benar mencintaiku. Aku menyesal sekali telah terburu nafsu sehingga menangkapnya."

Diam-diam Siu Lan terkejut, akan tetapi ia tidak berani menyatakan pendapatnya, takut salah. Dia terharu karena suci-nya atau juga nonanya yang biasanya keras hati itu kini menjadi lemah oleh cinta!

"Akan tetapi, Suci sudah terlanjur menangkap dia, lalu hal apa yang dapat aku lakukan untukmu?"
"Engkau adalah satu-satunya murid ayah yang dipercaya oleh ayah. Semua anggota Pao-beng-pai juga tunduk padamu. Apa lagi baru saja engkau berjasa dalam menjebak dan menangkap Pendekar Tangan Sakti Yo Han, tokoh pimpinan Thian-li-pang itu. Nah, karena Cia Sun ditahan dalam satu kamar tahanan dengan Yo Han, maka aku minta engkau suka berkunjung ke sana dan melihat keadaan Cia Sun."

Sui Lan membelalakkan matanya. "Malam-malam begini? Saat ini sudah tengah malam, Suci. Lalu apa alasanku tengah malam begini berkunjung ke tempat tahanan?"

"Katakan saja kepada penjaga bahwa engkau sedang mendapat tugas dari ayah untuk mengamati penjagaan supaya kedua orang tahanan itu tidak sampai lolos. Perhatikan apakah Cia Sun telah diperlakukan dengan baik oleh para penjaga seperti yang sudah aku perintahkan kepada mereka, apakah ia mendapatkan makanan sepantasnya, bagai mana keadaannya. Kemudian, engkau harus dapat menyerahkan ini kepada Cia Sun tanpa diketahui penjaga." Siangkoan Eng menyerahkan sebuah surat yang dilipat-lipat menjadi kecil kepada sumoi-nya.

"Suci, engkau melibatkan aku dalam pekerjaan yang amat berbahaya, sebab kalau suhu tahu tentu aku akan dibunuhnya. Setidaknya, aku berhak mengetahui, apa yang akan kau lakukan agar aku dapat menyesuaikan sikapku. Aku pasti akan membantumu, Suci. Akan tetapi, apakah maksudmu memberiku tugas ini? Apa artinya semua ini dan apa rencanamu?"

Siangkoan Eng merangkul sumoi-nya. "Sumoi, kalau engkau berkhianat kepadaku dan melaporkan kepada ayah, aku akan celaka. Engkau saja yang dapat kupercaya. Aku memberi surat kepada Cia Sun, minta supaya dia bersiap-siap menyambut rencanaku malam ini."

"Dan apa rencanamu itu, Suci?"

Siangkoan Eng mengusir semua keraguannya. Memang berbahaya sekali. Kalau dia memberi tahu kepada sumoi-nya dan gadis itu melaporkan kepada ayahnya, bukan saja rencananya gagal, akan tetapi bahkan amat membahayakan keselamatan Cia Sun dan dia sendiri. Akan tetapi, dia tidak melihat jalan lain.

"Sumoi, setelah larut malam nanti, aku akan membebaskan Cia Sun."

Gadis itu terbelalak, kaget dan heran.

"Suci! Engkau yang menangkapnya dan melaporkannya kepada suhu, dan engkau pula yang kini akan membebaskannya. Bagaimana pula ini?"
"Sudahlah, Sumoi. Ini demi cintaku, dan untuk itu aku siap mempertaruhkan nyawaku. Maukah engkau membantuku? Atau engkau akan melaporkan kepada ayah?"

Sui Lan merangkul suci-nya. "Suci, engkau tahu bahwa aku menganggapmu bagaikan kakak sendiri. Aku hidup sebatang kara dan di dunia ini hanya engkaulah satu-satunya sahabatku, juga saudaraku. Percayalah, aku akan melaksanakan tugasmu dengan baik. Akan tetapi, dia satu kamar dengan orang she Yo itu. Bagaimana?"

"Justru aku ingin memanfaatkan dia. Kita tahu, ilmu silat Si Tangan Sakti itu amat hebat. Kalau mereka berdua melarikan diri bersama, aku yakin ayah sendiri tidak akan mampu menangkap mereka dan Cia Sun tentu akan dapat terbebas." Siangkoan Eng lalu turun dari pembaringan. "Nah, lakukanlah tugasmu, Sumoi. Hati-hati, jangan ada yang melihat ketika engkau menyerahkan surat itu karena kalau ketahuan penjaga, semua rencanaku dapat gagal sama sekali!"

"Percayalah padaku, Suci." Sui Lan meninggalkan kamar suci-nya dan setelah Sui Lan pergi, Siangkoan Eng duduk termenung.

Sementara itu, dengan langkah biasa Sui Lan pergi ke sebuah bangunan khusus yang berada di perkampungan Pao-beng-pai itu, bangunan yang digunakan sebagai tempat tawanan. Para penjaga tentu saja tidak melarang dia masuk, bahkan memberi hormat, apa lagi ketika Sui Lan mengatakan bahwa ia mendapat tugas khusus dari ketua untuk memeriksa keadaan tawanan.

Juga para penjaga sebelah dalam yang berlapis-lapis, semuanya mengenal baik siapa gadis ini. Murid tersayang dari Siangkoan Kok, sekaligus orang kepercayaan pimpinan Pao-beng-pai. Bahkan semua orang tahu bahwa Pendekar Tangan Sakti Yo Han, tokoh Thian-li-pang, dapat ditawan berkat pancingan nona ini.

Diam-diam Sui Lan meragukan kemungkinan berhasilnya rencana yang dibuat suci-nya. Bagaimana mungkin tawanan dapat lolos dari tempat ini? Selain penjagaan ketat yang berlapis-lapis, juga satu-satunya jalan keluar harus melalui rintangan-rintangan berupa jebakan-jebakan rahasia yang sukar ditembus.

Akhirnya tibalah ia di depan kamar tahanan yang berjeruji tebal itu. Dan ia melihat dua orang tawanan itu sedang duduk bersila, saling berhadapan dan mengobrol! Kelihatan mereka demikian tenangnya! Pangeran itu bahkan nampak gembira. Ketika ia berdiri di depan jeruji kamar itu, mereka berdua menoleh kemudian memandang dirinya.

Melihat Sui Lan, Yo Han lalu tersenyum masam. "Nah, itulah dia gadis lihai yang sudah digunakan sebagai umpan sehingga aku terjebak," kata Yo Han tanpa terdengar suara atau pandang mata yang membenci gadis itu.

Sesuai dengan perintah suci-nya, Sui Lan memperhatikan keadaan dua orang tawanan itu, terutama Cia Sun. Dia melihat betapa mereka dalam keadaan sehat, bahkan wajah mereka sama sekali tidak memperlihatkan rasa takut atau murung. Jelas bahwa mereka diperlakukan dengan baik oleh para penjaga seperti yang telah diperintahkan suci-nya.

Sui Lan memberi isyarat kepada para penjaga untuk menjauh. Mereka mentaati, akan tetapi tentu saja memandang dari jauh sambil mendengarkan. Sui Lan mengambil sikap seperti orang mengejek.

"Hemmm, kalian sudah tertangkap seperti dua ekor tikus, masih berlagak. Akuilah saja bahwa kalian sudah memata-matai Pao-beng-pai. Benar, tidak? Kalian menyamar dan berpura-pura, sungguh licik dan pengecut!"

Sui Lan sengaja mengejek dan memaki dengan suara nyaring sehingga terdengar oleh para petugas yang melakukan penjagaan di bagian terdalam tempat itu.

Yo Han tersenyum. Dia seorang yang cerdik dan dia melihat sikap yang tidak wajar dari gadis itu, bahkan dapat merasakan betapa suara gadis itu sengaja ditinggikan supaya terdengar oleh semua orang. Apa yang tersembunyi di balik sikap yang disengaja itu? Pasti ada! Karena itu, dia segera menanggapi, disesuaikan dengan sikap gadis itu yang sengaja menghina mereka. Kesengajaan yang dapat dia lihat dari suara dan sikap gadis itu yang tidak sewajarnya.

"Aha, kiranya engkau gadis palsu, gadis licik dan curang! Bukannya kami yang curang, melainkan Pao-beng-pai. Kalau tidak licik, pengecut dan curang, coba bebaskan kami dan mari kita bertanding sampai seribu jurus!"

Sui Lan semakin marah. "Jahanam! Engkau telah merobek bajuku, engkau pun melepas sepatuku. Engkau laki-laki mesum dan kurang ajar! Kalau tidak dihalangi suhu, tentu engkau sudah kubunuh!"

"Ha-ha-ha, engkau mampu membunuhku? Kita lihat saja!" kata Yo Han.

Cia Sun memandang kakak angkatnya itu dengan mata terbelalak. Ia mengenal Yo Han tidak seperti itu! Begitu kasar kata-katanya terhadap seorang gadis!

"Keparat busuk, rasakan dan makan jarumku ini!"

Tangan kiri gadis itu bergerak dan sinar lembut meluncur ke dalam kamar tahanan itu melalui celah-celah jeruji yang cukup lebar. Jika dipandang oleh para penjaga dari jauh, jelas bahwa gadis itu menyerang Yo Han dengan jarum rahasia yang ampuh!

Akan tetapi, Yo Han menangkap sinar putih yang menyambarnya, dan menyimpannya ke dalam saku bajunya dengan kecepatan yang tidak dapat terlihat oleh para penjaga. Memang jarum yang disambitkan Sui Lan, namun jarum yang membawa lipatan kertas kecil!

Melihat sambitannya tidak mengenai sasaran, Sui Lan memaki-maki lalu meninggalkan tempat itu, memesan kepada para penjaga agar menjaga dengan ketat. "Kecuali Suhu sendiri, suci Siangkoan Eng, dan aku sendiri, siapa pun dilarang memasuki tempat ini! Mengerti?!" bentaknya kepada para penjaga sebelum ia pergi dari situ.

Dua jam kemudian, malam sudah sangat larut dan hawa yang dingin membuat semua orang mengantuk. Demikian pula para penjaga di bangunan tempat tahanan itu. Akan tetapi mereka tidak berani tidur dan melakukan penjagaan ketat secara bergantian.

Ketika Siangkoan Eng muncul dan membentak para penjaga yang sedikit mengantuk, mereka terkejut dan cepat mengambil sikap tegak dan siap. Sikap Siangkoan Eng galak terhadap para penjaga. Dia memarahi setiap orang penjaga yang kelihatan mengantuk atau habis tidur.

"Kalian tak boleh lengah sedikit pun! Dua orang tawanan ini amat lihai dan amat penting. Kini aku harus memeriksa segala kemungkinan, jangan sampai mereka lolos!" katanya dengan suara galak.

Suaranya terdengar sampai kamar tahanan di mana kedua orang pemuda itu sedang duduk bersila. Mendengar suara ini, berubah wajah Cia Sun dan jantung kedua orang tawanan itu berdebar tegang.

Tidak lama kemudian, setelah memeriksa di sepanjang jalan, tibalah Siangkoan Eng di lorong terakhir yang menuju ke kamar-kamar tahanan. Dua belas orang penjaga lorong itu menyambut dengan sikap yang tegak dan siap.

"Tidak ada yang tertidur di antara kalian?" bentak Siangkoan Eng.
"Tidak, Nona."
"Bagus! Siapa yang memegang kunci kamar tahanan?” bentaknya pula. "Ia mempunyai tanggung jawab yang amat penting!"

"Saya, Nona!" kata seorang di antara para penjaga yang bertubuh tinggi besar, bermuka bopeng, yaitu kepala regu yang menjaga kamar tahanan dan lorong itu. "Apakah sudah kau periksa benar bahwa pintu itu terkunci rapat?"
"Sudah, Nona."
"Berikan kuncinya kepadaku. Hendak aku periksa sendiri!" kata Siangkoan Eng. "Awas kau kalau menguncinya tidak benar!"
"Silakan, Nona!" kata si bopeng sambil menyerahkan sebuah kunci yang besar.

Karena sikap Siangkoan Eng yang amat galak dan keras itu, para penjaga nampak takut kepadanya, tak berani mendekat sehingga ketika gadis itu menghampiri pintu jeruji besi kamar tahanan, para penjaga hanya melihat dari jarak sepuluh meter.

Pada saat gadis itu menghampiri pintu jeruji, mereka melihat betapa dua orang tawanan itu tidur di lantai, di tengah kamar, agak mendekat pintu. Mereka tidur mendengkur, dan Siangkoan Eng mencoba kunci pintu, apakah terkunci dengan benar atau tidak.

Pada saat itu, dua orang tawanan itu bergerak cepat bagaikan kilat dan Yo Han sudah menotok gadis itu melalui celah jeruji, lantas mencengkeram pundaknya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya mengancam lehernya. Cia Sun juga cepat mencabut pedang yang terselip di pinggang Siangkoan Eng, lalu menghardik kepada para penjaga yang berloncatan mendekat.

"Semua berhenti dan jangan ada yang bergerak. Kalau ada yang bergerak, kami akan membunuh Siangkoan Eng!"

Bentakan itu berpengaruh karena para penjaga yang dua belas orang banyaknya itu tak berani berkutik, seperti telah berubah menjadi arca di tempat masing-masing. Tentu saja mereka tidak menghendaki nona mereka dibunuh.

Nampaknya nona mereka memang sama sekali tidak dapat menyelamatkan diri. Sudah ditotok, dicengkeram lagi. Dan mereka semua juga tahu atau sudah mendengar betapa lihainya dua orang tawanan itu, terutama sekali Yo Han yang kini mencengkeram nona mereka.

Cia Sun merampas kunci dan melalui celah jeruji, dia membuka kunci pintu, lalu mereka berdua keluar. Yo Han menelikung kedua lengan gadis itu ke belakang punggung, lalu membebaskan totokannya.

"Hayo antar kami keluar. Bergerak sedikit saja melawan, lehermu akan kupatahkan!" katanya geram.

Siangkoan Eng kelihatan terkejut dan marah, akan tetapi dia pun tahu bahwa dia tidak berdaya. Ketika melihat para penjaga memandangnya dengan bingung, dia pun berkata gemas, “Biar mereka lewat. Lain kali masih ada kesempatan bagi kita untuk menangkap mereka kembali dan kalian akan mendapat bagian menyiksa mereka!"

Para penjaga terpaksa membiarkan gadis itu digiring keluar oleh dua orang tawanan itu. Demikian pula para penjaga di tengah dan di luar, tidak ada yang berani berkutik melihat nona mereka diancam seperti itu. Siangkoan Eng juga menyuruh mereka mundur dan membiarkan dua orang tawanan itu lewat sambil mengeluarkan ancaman bahwa kelak mereka semua pasti akan dapat menangkap kembali dan membalas kedua orang itu.

Karena menggiring Siangkoan Eng, tentu saja para penjaga tidak berani menggunakan alat rahasia untuk menjebak. Nona mereka terancam dan sekali menggerakkan tangan, kedua orang tawanan itu dapat membunuhnya dengan mudah. Tentu saja mereka tidak berani berkutik, bahkan membunyikan tanda bahaya pun tidak berani. Apa lagi nona mereka sudah memerintahkan agar mereka tidak melawan dan membiarkan dua orang tawanan itu lewat.

Karena tidak ada penjaga yang berani menghalangi, dengan sangat mudahnya Yo Han dan Cia Sun dapat keluar dari perkampungan Pao-beng-pai itu menggiring Siangkoan Eng. Setelah mereka keluar dari pintu gerbang, barulah para penjaga berani berlari-lari untuk memberi laporan kepada Siangkoan Kok.

Akan tetapi, ketika Siangkoan Kok terbangun dan terkejut, juga marah sekali mendengar betapa kedua orang tawanan itu lolos bahkan menggiring Siangkoan Eng yang dibuat tidak berdaya, kedua orang tawanan itu telah lari jauh.

Setelah tiba di luar pintu gerbang, agak jauh di tempat sepi, Yo Han melepaskan kedua tangan Siangkoan Eng.

"Eng-moi..." Cia Sun memegang kedua lengan gadis itu.

Siangkoan Eng memandang dengan muka sedih, kemudian berkata dengan suara lirih, "Engkau pergilah..."

"Eng-moi, mengapa engkau tidak ikut kami saja pergi meninggalkan neraka itu?" bujuk Cia Sun.
"Neraka itu tempat tinggal ayah ibuku, Koko. Bagaimana aku dapat meninggalkan ibuku begitu saja? Tidak, kalian pergilah cepat sebelum ayah dan para anggota Pao-beng-pai datang."
"Eng-moi, aku bersumpah akan kembali dan membawamu sebagai isteriku. Aku cinta padamu, Eng-moi."
"Aku pun cinta padamu, tidak peduli engkau ini pangeran atau pengemis...,” Siangkoan Eng berkata dalam isaknya, akan tetapi isaknya terhenti ketika Cia Sun, tanpa sungkan dan malu di depan Yo Han, merangkul dan menciumnya.

Pada saat itu terdengar suara ribut-ribut yang datangnya dari perkampungan itu hingga mereka berdua saling melepaskan rangkulan.

"Pergilah sebelum terlambat," kata Siangkoan Eng.
"Benar, Cia-te, kita harus cepat-cepat pergi. Nona, maafkan kami, terpaksa aku harus menotokmu."
"Silakan," kata Siangkoan Eng.

Yo Han cepat menotok gadis itu sehingga lemas tak mampu bergerak, bahkan dia pun menotok mulutnya sehingga gadis itu tidak dapat bersuara pula. Cia Sun menyambut tubuh yang lemas itu agar tidak terjatuh, lalu merebahkannya telentang di atas rumput. Setelah menciumnya sekali lagi, Cia Sun terpaksa melompat dan mengejar Yo Han yang sudah lari terlebih dahulu karena kini terdengar langkah kaki orang-orang berlari datang dan nampak pula mereka membawa obor.

Siangkoan Kok dan isterinya yang memimpin para anak buah Pao-beng-pai melakukan pengejaran, menemukan puteri mereka dalam keadaan telentang di atas rumput, tanpa dapat bersuara mau pun bergerak. Dengan marah Siangkoan Kok memerintahkan anak buahnya mencari dan melakukan pengejaran sampai ke bawah bukit, sementara dia dan isterinya membebaskan totokan pada diri Siangkoan Eng.

Dengan muka merah dan mata berkilat menahan kemarahannya, Siangkoan Kok yang tak mau ribut-ribut memarahi puterinya di tempat terbuka, kemudian mengajak isteri dan puterinya kembali ke rumah mereka, dan memerintahkan semua anak buahnya untuk terus mencari.

Sekarang mereka bertiga berada di dalam rumah, di ruangan dalam di mana tidak ada pelayan yang boleh masuk. Semua pelayan diperintahkan untuk keluar dari ruangan itu, dan mereka menanti di luar dengan wajah pucat karena mereka maklum bahwa ketua mereka marah bukan main.

"Nah, sekarang katakanlah terus terang, apa yang sudah kau lakukan!" Siangkoan Kok membentak puterinya yang telah duduk di samping ibunya.

Siangkoan Eng mengangkat muka menatap wajah ayahnya, sedikit pun tidak merasa takut walau pun ia tahu bahwa ayahnya marah sekali karena kedua orang tawanan itu dapat meloloskan diri.

"Apa yang harus kukatakan, Ayah? Tadi, untuk merasa yakin bahwa dua orang tawanan itu tidak dapat melarikan diri, aku memeriksa tempat tawanan itu. Mendadak, ketika aku memeriksa kunci pintu kamar tahanan itu, Pendekar Tangan Sakti yang tadinya kukira tidur pulas, meloncat dan telah menyergapku melalui celah jeruji besi. Gerakannya tak terduga dan cepat bukan main sehingga aku dapat ditotoknya. Mereka membuka piritu dengan kunci setelah membuat aku tidak berdaya, dan mengancam para penjaga untuk membunuhku apa bila mereka mencoba menghalangi larinya kedua orang tawanan itu. Nah, setelah berhasil keluar dari pintu gerbang, mereka lalu menotok dan meninggalkan aku, sampai Ayah menemukanku."

"Kau bohong! Kau pembohong besar!" Siangkoan Kok membentak dan matanya melotot lebar.

Dalam kemarahannya, pria yang tinggi besar dan gagah ini kelihatan semakin besar dan garang menyeramkan. Akan tetapi Siangkoan Eng tenang-tenang saja.

"Ayah, kenapa Ayah mengatakan aku bohong? Untuk apa aku berbohong? Kenapa aku harus membohongi Ayah?"
"Mengapa…?! Karena engkau sudah jatuh cinta kepada pangeran Mancu itu! Karena engkau sudah tergila-gila padanya! Tak tahu malu, merendahkan diri tergila-gila kepada seorang pangeran Mancu!"
"Hemmm, apa alasan Ayah menuduhku berbohong?"

"Apa alasannya…?! Bocah murtad, pengkhianat! Seumur hidupku, belum pernah aku melihat engkau sedemikian penakut dan bodoh sehingga dapat dikelabui musuh, dapat disergap dan ditundukkan dari dalam kamar tahanan, lalu sedemikian penakut sehingga ketika engkau ditawan dan digiring keluar, engkau memerintahkan para anak buah kita untuk membiarkan kedua orang itu pergi! Kau boleh mengelabui orang lain, akan tetapi tidak mungkin mampu membohongi aku! Aku sudah sangat mengenal watakmu. Engkau tak mengenal takut, engkau cerdik, tak mungkin dapat ditundukkan dua orang tawanan semudah itu, kecuali kalau engkau memang sengaja hendak membantu mereka lolos!"

"Itu hanya dugaan Ayah belaka. Mana buktinya?" tantang Siangkoan Eng yang memang sejak kecil digembleng oleh ayah ibunya agar tidak mengenal takut.
"Bocah setan. Engkau masih mau menantangku untuk menunjukkan bukti? Kau kira aku belum melakukan penyelidikan dan belum membongkar rahasiamu yang busuk dan memalukan?" Siangkoan Kok membentak ke arah pintu memanggil pelayan dan ketika seorang pelayan wanita masuk dengan sikap takut-takut, dia membentak, "Panggil Sui Lan ke sini! Cepat!!"

Pelayan itu lari tunggang langgang dan diam-diam Siangkoan Eng terkejut. Apakah Sui Lan telah mengkhianatinya dan melapor kepada ayahnya? Rasanya hal itu tak mungkin terjadi. Ia hampir yakin akan kesetiaan sumoi-nya itu kepadanya.

Tidak lama kemudian Sui Lan masuk dan memberi hormat kepada suhunya. Dengan suara biasa ia berkata seperti orang melapor, "Maaf, Suhu. Sudah teecu (murid) dengar dari laporan anak buah bahwa pencarian itu tidak berhasil..."

“Diam kau!" Siangkoan Kok membentak. "Jangan bicara kalau tidak kutanya, dan setiap jawaban harus kau jawab sejujurnya!"
"Baik, Suhu."

Gadis itu pun lalu duduk di atas bangku yang ditunjuk oleh gurunya. Berbeda dengan Siangkoan Eng yang nampaknya masih tenang, Tio Sui Lan kelihatan agak pucat dan matanya mengandung kegelisahan ketika melihat kemarahan gurunya.

Setelah melihat muridnya yang sebenarnya merupakan murid yang paling disayangnya itu duduk, Siangkoan Kok lalu menghadapi puterinya lagi. Dia tetap berdiri, bagaikan gunung karang di depan puterinya yang duduk di samping ibunya. Lauw Cu Sin, wanita berusia empat puluh lima tahun yang masih cantik itu, mengerutkan alisnya dan hanya mendengarkan, pandang matanya juga gelisah.

"Nah, sekarang Sui Lan telah berada di sini. Eng Eng, apakah engkau masih tidak mau mengakui pengkhianatan terhadap Pao-beng-pai dan bahwa engkau sudah membantu kedua orang itu membebaskan diri?"
"Ayah hanya menuduh tanpa bukti," kembali Siangkoan Eng atau Eng Eng membantah, sikapnya tetap berani.
"Brakkkk…!!"

Meja di samping kirinya dihantam tangan kiri Siangkoan Kok sehingga papan meja itu hancur berkeping-keping.

"Engkau masih berani mengatakan aku menuduhmu tanpa bukti? Anak durhaka, dengar baik-baik. Aku telah menyelidiki dan menanyai para penjaga. Dua jam sebelum engkau muncul, si iblis cilik Sui Lan ini sudah datang lebih dahulu ke tempat tahanan, memasuki tempat tahanan dan mengatakan kepada para penjaga bahwa aku sengaja memerintah dia agar menjaga para tawanan. Para penjaga lalu melihat Sui Lan cekcok dengan para tahanan, kemudian ia menyambitkan jarum ke arah para tahanan. Para penjaga melihat berkelebatnya sinar putih halus! Sui Lan, jawab. Benarkah itu?"

"Benar, Suhu. Teecu marah dan menyerang orang she Yo dengan jarum teecu dan..."
"Bohong! Ingin kau kurobek mulutmu? Mana mungkin jarum rahasiamu bersinar putih? Tentu bukan jarum yang kau sambitkan, melainkan surat, gulungan kertas atau alat lain untuk mengirim pesan!"
"Suhu..."
"Diam!"

Tangan Siangkoan Kok menyambar ke arah muridnya sehingga gadis itu terpelanting dari bangkunya dan bajunya robek lebar memperlihatkan sebagian dadanya. Sui Lan bangkit dan berlutut sambil membetulkan letak bajunya. Untung gurunya tidak berniat membunuhnya sehingga ia tidak terluka.

"Eng Eng, engkau masih hendak membantah? Engkau sudah mengirim pesan lewat Sui Lan kepada pangeran Mancu itu. Kemudian, dua jam setelah itu, engkau sendiri yang datang berkunjung ke sana, berpura-pura melakukan pemeriksaan dan sengaja engkau membiarkan dirimu dibuat tak berdaya! Engkau bahkan membantu mereka lolos karena engkau sudah tergila-gila kepada seorang pangeran Mancu. Tak tahu malu!"

Kini tahulah Eng Eng bahwa Sui Lan tidak berkhianat. Rahasianya terbongkar semata-mata karena kecerdikan ayahnya yang memang luar biasa. Ia menghela napas panjang. 
"Ayah, aku melakukan hal itu demi menjaga baik nama Ayah."

Mata itu melotot. "Apa kau bilang? Menjaga nama baikku?" Karena heran, maka untuk sementara kemarahannya tertunda.

"Ayah adalah ketua Pao-beng-pai yang baru saja mengenalkan diri kepada para tokoh kang-ouw, dikenal sebagai pemimpin perkumpulan patriot yang gagah perkasa. Akan tetapi, Ayah sudah menawan Pendekar Tangan Sakti secara curang. Bagaimana kalau sampai terdengar dunia persilatan? Apa lagi aku yakin bahwa Pangeran Cia Sun bukan seorang mata-mata Mancu. Biar pun dia pangeran Mancu, akan tetapi dia bukan mata-mata, melainkan seorang pemuda yang ingin meluaskan pengetahuan dan pengalaman di dunia kang-ouw. Mana mungkin seorang pangeran melakukan pekerjaan mata-mata yang berbahaya? Tentu keluarganya tidak akan menyetujuinya."

"Cukup! Katakan saja engkau tergila-gila kepada pangeran Mancu itu!"

Siangkoan Eng yang yakin bahwa ayahnya amat menyayangnya dan tidak mungkin dia sampai terancam malapetaka oleh tangan ayahnya, kemudian menjawab dengan sama lantangnya, "Tidak kusangkal, Ayah. Memang aku mencinta Cia Sun dan dia pun amat mencintaku. Akan tetapi, bukankah Ayah juga sudah menerima pinangannya, menerima pula tanda pengikat perjodohannya, dan bahkan Ayah mengajukan syarat yang sudah disanggupinya? Apakah Ayah ingin menarik kembali janji dan ucapan Ayah?"

"Jahanam kau! Kau ingin Ayah mempunyai mantu seorang pangeran Mancu?"
"Mengapa tidak, Ayah? Dia pangeran biasa, bukan calon kaisar!"
"Keparat, anak durhaka, engkau memang patut dihajar!" bentak Siangkoan Kok dan dia pun menerjang ke depan, tangannya terayun memukul ke arah kepala Eng Eng.

Gadis itu terkejut. Ia sama sekali tak pernah menduga bahwa ayahnya akan sedemikian marahnya sehingga mau memukulnya, hal yang selama ini belum pernah dilakukan oleh ayahnya. Yang mengejutkan hatinya adalah ketika melihat betapa tangan ayahnya itu memukul ke arah kepalanya. Pukulan maut!

Kalau kepalanya terkena pukulan itu, tentu akan pecah dan ia pun akan tewas seketika! Otomatis, sebagai seorang ahli silat yang gerakannya serba otomatis, dengan cepat dia menggerakkan lengan ke atas untuk menangkis karena untuk mengelak, ia tidak berani dan hal itu tentu akan membuat ayahnya menjadi semakin marah.

"Desss...!!"

Meski ia telah menangkis, karena ia tidak berani pula mengerahkan seluruh tenaganya, hantaman ayahnya itu tetap saja hebat bukan main. Tenaga yang dahsyat menerpa dan menerjang dirinya sehingga membuat kursi yang didudukinya patah-patah dan tubuhnya terjengkang sampai berguling-guling. Sungguh hal ini tidak disangkanya sama sekali.

Kepalanya terasa pening, dadanya pun nyeri karena hawa pukulan itu menerjang masuk lewat lengannya. Dari mulutnya keluar darah segar dan Eng Eng yang kemudian rebah menelungkup itu, menggerakkan tubuh telentang dan ia bertopang pada siku kanannya. Ia kemudian mengangkat tangan kiri ke arah ayahnya, bibirnya berdarah dan matanya terbelalak.

"Ayah...?!" terkandung penasaran, keheranan dan kekagetan dalam suara itu.

Melihat keadaan Eng Eng, kemarahan Siangkoan Kok bukan mereda, namun menjadi semakin marah karena tangkisan puterinya tadi dianggapnya sebagai perlawanan.

"Engkau memang patut dibunuh!" bentaknya lagi dan dia sudah mencabut pedangnya, menerjang ke depan dan mengayun pedangnya untuk memenggal leher Eng Eng yang masih bertopang pada sikunya.
"Singgg...! Tranggg...!"

Pedangnya tertangkis pedang lain dan dia cepat meloncat ke belakang. Mukanya merah sekali saat ia melihat bahwa yang menangkis pedangnya adalah isterinya sendiri, Lauw Cu Si! Wanita cantik itu berdiri dengan pedang di tangan, dan dengan mata mencorong ia menghadapi suaminya.

"Engkau harus melangkahi mayatku terlebih dulu jika hendak membunuhnya!" katanya, suaranya tenang akan tetapi mengandung ancaman yang mengerikan.

Kalau saja yang menantang itu orang lain, tanpa banyak cakap lagi tentu Siangkoan Kok akan membunuhnya. Akan tetapi, isterinya adalah keturunan Beng-kauw. Biar pun Beng-kauw telah hancur, namun di dunia persilatan masih terdapat banyak sekali bekas tokoh Beng-kauw yang lihai sekali. Kalau dia membunuh isterinya, apa lagi tanpa sebab yang kuat, tentu dia akan berhadapan dengan banyak musuh yang amat berbahaya dan ini berarti akan melemahkan Pao-beng-pai.

Melihat keraguan ayahnya, Eng Eng yang masih merasa sesak dadanya dan kini sudah bangkit duduk berkata memelas. "Ayah, bukankah aku ini anakmu, darah-dagingmu? Seekor binatang buas sekali pun tidak akan membunuh anak sendiri..."

"Dia bukan ayahmu! Engkau bukan anaknya!" Tiba-tiba Lauw Cu Si berkata dan wajah Eng Eng seketika pucat sekali, matanya terbelalak dan hampir ia jatuh pingsan.
"Ibu... dia... dia bukan ayahku...?" Ia berbisik-bisik berulang-ulang. Ibunya sudah berlutut dan merangkulnya.
"Tenanglah, tidak akan ada manusia di dunia ini dapat membunuhmu tanpa melangkahi mayatku!" kata ibu itu sambil merangkul puterinya dan memandang suaminya dengan sinar mata menantang.

Siangkoan Kok menjadi merah sekali mukanya. "Baiklah, kalian ibu dan anak memang jahanam! Memang kau bukan anakku! Ketika menjadi isteriku, ibumu telah membawa engkau! Seorang gadis sudah mempunyai anak tanpa ayah. Huh, perempuan macam apa itu! Dan sekarang, kalian hendak mengkhianati aku!"

Setelah berkata demikian, Siangkoan Kok menyarungkan pedangnya, kemudian hendak melangkah keluar. Akan tetapi dia melihat Sui Lan yang masih berlutut dengan muka pucat dan baju robek.

"Engkau juga mengkhianatiku. Mestinya engkau kubunuh! Akan tetapi, aku tidak akan membunuhmu, tetapi mulai sekarang, engkau menggantikan perempuan laknat itu dan melayaniku sebagai isteriku!" Sekali tangannya bergerak dia telah menyambar tubuh Sui Lan dan memondongnya keluar dari kamar itu.
"Tidak, Suhu...! Jangan, Suhu...! Tidaaaaakkk...!"

Gadis itu menjerit-jerit, namun Siangkoan Kok tidak peduli dan melangkah lebar menuju ke kamarnya sendiri, menutupkan daun pintu dengan keras dan tangis Sui Lan semakin sayup terdengar.

"Ibu... ahh, Ibu... aku… aku harus menolong sumoi...," Eng Eng mencoba untuk bangkit berdiri, akan tetapi ia terhuyung dan jatuh ke dalam rangkulan ibunya.
"Hemmm, apa yang dapat kau lakukan, Eng Eng? Marilah kurawat lukamu, kita masuk ke kamarmu. Aku tidak sudi lagi memasuki kamar yang tadinya menjadi kamar kami itu. Mulai sekarang aku pindah ke kamarmu."
"Tapi, Ibu...! Kasihan Sui Lan. Ibu, tolonglah sumoi. Setidaknya, ayah... ahh, suami Ibu masih memandang muka Ibu. Tolonglah, cegahlah agar sumoi tidak menjadi korban."

Ibunya menggoyang kedua pundak, sikapnya acuh saja. Ia adalah seorang bekas tokoh besar Beng-kauw, sebuah perkumpulan sesat. Ia adalah seorang tokoh sesat sehingga peristiwa seperti itu tidak ada artinya baginya. Ia tidak peduli seujung rambut pun.

"Tidak ada sangkut pautnya dengan aku. Kalau dia hendak membunuhmu, barulah aku akan bangkit. Akan tetapi Sui Lan? Huh, aku tahu bahwa sudah lama Siangkoan Kok memandang padanya penuh birahi. Agaknya sekarang ini kesempatan baginya. Sui Lan bersalah, kalau aku mencegahnya sekali pun, tentu dia akan dibunuh gurunya. Biarlah, jangan ambil peduli!" Ibu itu menarik Eng Eng ke kamar puterinya yang berada agak jauh di samping kiri.

Eng Eng menangis karena merasa tidak berdaya. "Lebih baik dia mati... lebih baik dia mati..." Ia berulang-ulang berbisik, akan tetapi ibunya tidak mempedulikannya dan tetap melanjutkan membawanya ke kamar.

Eng Eng mencoba untuk mengusir bayangan sumoi-nya yang meronta-ronta dalam pondongan pria yang selama ini dianggapnya ayahnya, ditaatinya dan disayangnya.

"Ibu, kenapa selama ini Ibu tidak pernah memberi tahu kepadaku bahwa dia itu bukan ayahku?" tanya Eng Eng ketika ibunya memeriksa tubuhnya, lalu menyalurkan tenaga sinkang untuk menyembuhkan luka di dalam tubuhnya karena terguncang hawa pukulan Siangkoan Kok yang kuat. Kemudian ia pun minum obat yang diberikan ibunya.

Setelah puterinya menelan obat, barulah Lauw Cu Si menjawab. "Untuk apa? Selama ini dia menyayangmu seperti anak sendiri. Baru setelah kalian bertentangan dalam urusan gerakan Pao-beng-pai, dia hampir membunuhmu. Engkau masih terlalu kecil ketika aku menjadi isterinya, maka kupikir sebaiknya tak perlu kau tahu bahwa dia bukan ayahmu, sampai tadi ketika dia hampir membunuhmu."

"Kalau begitu... nama keluargaku bukan Siangkoan?"
"Tentu saja bukan!"
"Lalu siapa? Siapakah nama ayah kandungku dan di mana dia, Ibu?"
"Hemmm, dia sudah mati. Kalau engkau tidak suka nama marga Siangkoan boleh kau pakai nama keluargaku, yaitu Lauw. Namaku Lauw Cu Si dan kalau engkau tidak suka nama Siangkoan, boleh kau ganti Lauw, jadi namamu Lauw Eng."

"Tapi, siapa nama ayah kandungku, Ibu? Aku ingin menggunakan nama marganya!"
"Sudahlah aku tidak mau bicara tentang dia. Aku tak suka mengingatnya!" Suara wanita itu mulai terdengar ketus sehingga Eng Eng merasa heran sekali.
"Akan tetapi, kenapa, Ibu? Kalau pun ayah kandungku sudah mati, kenapa Ibu tak mau memberi tahukan namanya? Dan di manakah kuburannya? Aku ingin bersembahyang di depan kuburannya."
"Cukup! Aku tidak sudi menyebut namanya. Aku juga sudah lupa namanya. Aku benci padanya!" Suara itu semakin galak.

Eng Eng terkejut dan semakin heran. "Tapi, dia sudah mati, Ibu..."

"Dia sudah mati atau masih hidup, tetap saja aku paling benci kepadanya. Sudah, kalau engkau bicara tentang dia lagi, aku akan marah sekali!"

Eng Eng tidak berani melanjutkan lagi. Dia sudah kehilangan ayahnya, atau orang yang selama ini dianggap ayahnya yang disayangnya dan ditaatinya, dan kini dia tidak ingin kehilangan ibunya pula. Pasti pernah terjadi sesuatu yang hebat, sesuatu yang sangat menyakitkan hati ibunya yang telah dilakukan ayah kandungnya sehingga ibunya begitu membencinya setengah mati. Kalau benar demikian, berarti ayah kandungnya juga telah melakukan sesuatu yang amat jahat.

Hatinya terasa perih dan nyeri sekali. Orang yang selama ini dianggap ayahnya sendiri akan tetapi ternyata hanya ayah tiri itu seorang jahat, dan ayah kandungnya sendiri pun dahulunya orang jahat. Ketika ia terkenang kepada Pangeran Cia Sun, Eng Eng merasa jantungnya seperti ditusuk. Ia merasa rendah diri.....

********************
Dua orang pemuda itu berhasil meninggalkan Ban-kwi-kok (Lembah Selaksa Iblis) yang berada di bagian barat Kwi-san (Bukit Iblis), bahkan kini mereka mulai turun dari bukit itu. Setelah jauh, menjelang tengah hari, mereka lalu duduk beristirahat di bawah pohon besar di dalam sebuah hutan kecil yang sunyi.

Melihat betapa wajah Cia Sun agak murung, Yo Han lantas berkata, "Mengapa engkau kelihatan murung, Cia-te? Bukankah sepatutnya kita bersyukur karena sudah terhindar dari ancaman maut di sana?"

Pangeran itu memandang kakak angkatnya. "Yo-twako, aku takut. Aku khawatir sekali apa yang akan terjadi dengan Eng-moi. Aku amat mencintanya..."

Yo Han tersenyum. "Engkau aneh sekali, Cia-te. Ketika engkau dan aku berada dalam tahanan dan dalam keadaan tidak berdaya, setiap saat dapat saja kita dibunuh, engkau sama sekali tidak merasa takut, bahkan selalu nampak gembira. Akan tetapi sekarang, setelah terbebas dari bahaya, engkau malah begitu takut."

Cia Sun menghela napas panjang. "Biasanya aku tidak pernah takut, Yo-twako. Akan tetapi sekarang, aku gelisah sekali dan aku tidak tahu bagaimana caranya aku dapat menghilangkan perasaan takut atau gelisah ini."

"Tidak ada cara untuk menghilangkan takut, Cia-te. Takut adalah perasaan kita sendiri, dan yang ingin menghilangkan itu pun perasaan kita sendiri. Takut timbul karena ulah pikiran, dan keinginan menghilangkan juga ulah pikiran, Cia-te. Kalau kita tidur, pikiran kita tidak bekerja, maka takut pun tidak ada. Pikiran menimbulkan rasa takut, duka, dan sebagainya. Namun, kesadaran akan rasa takut itu sendiri, tanpa adanya usaha untuk melenyapkan, akan mendatangkan perubahan, mendatangkan kesadaran dan dengan sendirinya takut pun tidak nampak bekasnya."

Apa yang dikatakan Yo Han bukanlah teori, melainkan pengalaman yang sudah dialami sendiri oleh pemuda itu.

Takut bersumber dari pikiran, dan pikiran bergelimang nafsu, membentuk aku. Keakuan inilah yang menjadi sumber segala perasaan. Aku terancam, pikiran membayangkan segala hal buruk yang dapat menimpa diriku, maka timbullah takut.

Aku yang mengaku-aku adalah pikiran bergelimang nafsu. Nafsu membuat kita selalu ingin senang, tidak mau susah. Maka, membayangkan kesusahan yang akan menimpa diri inilah yang kemudian menimbulkan rasa takut.

Takut adalah ulah pikiran yang membayangkan hal yang belum terjadi, membayangkan hal buruk yang mungkin menimpa kita. Yang sehat takut sakit. Bila sudah datang sakit, bukan sakit lagi yang ditakuti, melainkan mati, lalu takut akan keadaan sesudah mati dan selanjutnya. Membayangkan hal-hal yang belum terjadi, itulah penyebab rasa takut. Kalau pikiran tidak membayangkan hal-hal yang belum terjadi, takut pun tidak ada.

Iblis menggoda kita manusia melalui nafsu-nafsu kita sendiri. Sebenarnya nafsu adalah anugerah Tuhan yang disertakan pada kita sejak kita lahir. Nafsu diikut sertakan untuk menjadi alat kita, menjadi budak kita yang membantu kita dalam kehidupan di dunia lain. Tuhan Maha Murah, Tuhan Maha Asih.

Dengan memiliki nafsu, kita bisa menikmati kehidupan di dunia ini melalui panca indera kita, melalui semua alat tubuh kita lahir batin. Iblis melihat ketergantungan kita kepada nafsu, mempergunakan nafsu untuk menyeret kita sehingga kita bukan lagi memperalat dan memperbudak nafsu, melainkan kita yang diperalat dan diperbudak. Dan jika sudah begitu, kita tidak berdaya, menjadi permainan nafsu yang akan menyeret kita ke dalam kesengsaraan, menjadi seperti kanak-kanak yang diberi makanan enak, tidak mengenal batas makan sebanyaknya untuk kemudian menderita sakit yang menyengsarakan.

Kalau sudah menderita akibat menuruti nafsu, barulah timbul penyesalan, dan alat lain dalam tubuh memprotes, akal sehat melihat betapa merugikan dan tidak menyenangkan akibat dari menuruti dorongan nafsu tadi. Akan tetapi, usaha menghentikan pengaruh nafsu itu tak akan berhasil, atau sukar sekali mendatangkan hasil.

Usaha itu datang dari hati akal pikiran pula, padahal hati akal pikiran sudah bergelimang nafsu. Bagaimana mungkin nafsu meniadakan nafsu, atau nafsu mengalahkan dirinya sendiri? Tidak mungkin! Bahkan akal pikiran yang sudah dipengaruhi nafsu daya rendah itu membela pekerjaan nafsu.

Contohnya banyak kalau kita mau membuka mata melihat kenyataan dalam kehidupan kita ini. Adakah manusia yang tidak menyadari akan perbuatannya yang benar? Adakah seorang pencuri yang tidak tahu bahwa mencuri itu buruk? Adakah seorang koruptor yang tidak tahu bahwa korupsi itu jahat dan buruk? Semua tahu belaka!

Seperti contoh terdekat dan teringan, adakah seorang perokok atau pemabuk yang tidak tahu bahwa merokok atau bermabukan itu tidak baik? Tentu tidak ada! Setiap orang pasti tahu, akan tetapi apa daya? Pengetahuan ini tidak mampu menghentikan ikatan pengaruh nafsu.

Yang berjudi, walau tahu benar bahwa berjudi itu tidak baik, tidak mampu menghentikan kebiasaannya berjudi! Demikian pula halnya dengan perampok, pencuri, koruptor dan sebagainya! Kenapa begitu? Karena pengetahuan itu ada di pikiran, dan pikirannya pun sudah bergelimang nafsu. Bahkan hati akal pikiran yang sudah bergelimang nafsu akan membela perbuatan-perbuatan itu.

Seorang pencuri dibela pikirannya sendiri bahwa ia mencuri karena terpaksa, karena tak ada pekerjaan, karena ia ingin menghidupi keluarga, dan sebagainya. Seorang koruptor dibela oleh pikirannya sendiri bahwa ia korupsi karena semua orang pun melakukannya, karena gajinya tak mencukupi, karena keluarganya ingin hidup mewah, dan seribu satu macam alasan lagi.

Jika semua usaha sudah gagal, lalu apa yang harus kita lakukan untuk menanggulangi pengaruh nafsu kita sendiri? Di dalam pertanyaan ini sudah terkandung jawabannya. Selama kita berusaha melakukan sesuatu, kita tak akan berhasil, karena yang berusaha menundukkan nafsu adalah nafsu itu sendiri. Bila kita sudah ingin menundukkan nafsu, kita hanya waspada mengamati gejolak nafsu kita, tanpa ada keinginan mengubahnya, maka baru akan terjadi perubahan!

Tanpa adanya si-aku yang berusaha, tanpa adanya si-aku alias nafsu melalui pikiran yang merajalela, nafsu menjadi bagaikan api yang tidak ditambah minyak. Kekuasaan Tuhan akan bekerja!

Dalam urusan kehidupan sehari-hari, mencari sandang, pangan, papan, hidup sebagai manusia yang berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, tentu saja kita harus mempergunakan hati akal pikiran. Akan tetapi dalam urusan rohanian, alat-alat jasmani kita tidak berdaya. Hanya kekuasaan Tuhan yang mutlak berkuasa. Maka, kita hanya menyerah! Kekuasaan Tuhan yang akan mengembalikan nafsu-nafsu kita pada kedudukan asalnya, yaitu menjadi peserta dan alat kita, bukan sebaliknya kita yang diperalat.....

Selanjutnya baca
SI TANGAN SAKTI : JILID-06
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger