logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Hijaunya Lembah, Hijaunya Lereng Pegunungan Jilid 023


Pangeran Singa Narpada bergeser surut. Tetapi kedua orang itupun bergeser pula.
Bagaimanapun juga terasa sesuatu bergetar di dada Pangeran Singa Narpada.

“Jika berbuat sesuatu yang akan dapat menyulitkanmu. Serahkan saja kampilmu itu apapun isinya,” berkata Sadkala itu kemudian.
“Lalu kenapa? Kenapa aku harus berteriak?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
“Baiklah. Aku akan mengatakan niatku. Aku minta kampilmu,” berkata orang yang disebut Sadkala itu dengan tegas.
“Ki Sanak,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Tampil ini berisi bekalku selama aku mengembara. Jika kampil ini kau minta, aku akan kehabisan bekal.”
“Jangan menentang keinginanku. He, kau tahu, siapa aku?” bertanya Sadkala.

Pangeran Singa Narpada menggeleng. Jawabnya, “Aku belum mengenal Ki Sanak.”

“Aku adalah Sadkala. Setiap orang tentu pernah mendengar namaku,” berkata orang itu.

Tetapi Pangeran Singa Narpada menggeleng. Katanya, “Aku belum pernah mendengarnya.”

“Persetan,” bentak Sadkala itu pula, “Semua orang sudah mendengar. Kau tentu juga sudah mendengarnya. Aku adalah orang yang paling ditakuti. Karena itu, jangan mencoba mempertahankan milikmu itu jika kau tidak ingin kehilangan nyawamu.”
“Kedua-duanya tidak,” jawab Pangeran Singa Narpada, ”Nyawaku tidak. Kampilku pun tidak.”
“Setan alas,” orang itu mengumpat, ”Kau memang belum pernah mendengar namaku? He, kau berasal dari nama?”
“Gunung Lawu,” jawab Pangeran Singa Narpada asal saja menjawab.

Kedua orang itu memandang Pangeran Singa Narpada dengan tajamnya, sementara Sadkala pun berkata, “Pantas kau orang Gunung Lawu, bahwa kau berani menolak keinginanku. Tetapi aku peringatkan bahwa jika kau tidak mau menyerahkan kampilmu, maka yang akan aku ambil adalah jiwamu. Bagiku justru akhirnya sama saja. Kampilmu akan jatuh juga ke tanganku.”

“Jangan suka membunuh,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”yang pantas dibunuh adalah penjahat-penjahat seperti kalian. Seharusnya Kediri dan Singasari bersih dari penjahat-penjahat seperti kalian itu.”

Wajah kedua orang itu menjadi merah. Dengan suara gemetar Sadkala menggeram menahan marah, “Kau memang sudah gila. Kau memang harus dibunuh.”

Pangeran Singa Narpada pun telah menjadi muak. Karena itu, iapun menjawab, “Ketahuilah, aku adalah prajurit Kediri yang mendapat tugas untuk menemukan orang yang bernama Sadkala dimanapun ia berada. Aku harus memenggal kepalanya dan melemparkannya kepada anak-anak muda di gerbang padukuhan itu.”

“Setan,“ geram Sadkala. Tetapi ia justru melangkah surut untuk mengambil jarak.

Pengakuan Pangeran Singa Narpada bahwa ia adalah seorang prajurit Kediri telah menimbulkan tanggapan tersendiri bagi Sadkala. Dengan demikian ia menduga bahwa petugas sandi itu dengan sengaja telah menunjukkan uang di dalam kampilnya untuk memancingnya.

Karena itu, maka iapun justru menjadi berhati-hati. Sementara kawannya pun telah bergeser pula sambil berkata, “Kau kira, jika kau menggertak kami dengan menyebut dirimu sebagai prajurit dalam tugas sandi, kami akan menjadi ketakutan?”

“Tidak. Aku justru mengharap kalian melawan. Barulah kalian dapat disebut perampok yang jantan. Jika kalian menyerah, maka kalian tidak lebih dari seekor kelinci pengecut,” jawab Pangeran Singa Narpada.

Kedua orang itu ternyata tidak dapat menahan diri lagi. Merekapun segera bersiap untuk memaksa Pangeran Singa Narpada menyerahkan kampilnya yang berisi uang.

“Siapapun kau, tetapi kampilmu berisi uang,” geram Sadkala.

Pangeran Singa Narpada pun segera bersiap. Ia sadar, bahwa orang yang ingin merampok uangnya adalah perampok yang agaknya ditakuti orang. Sehingga mereka tentu mempunyai kemampuan yang dapat dibanggakannya.

Sejenak kemudian, maka Sadkala pun mulai menyerangnya sambil menggeram, “Aku akan berbangga bahwa aku telah membunuh seorang petugas sandi dari Kediri.”

Pangeran Singa Narpada yang memang sudah bersiap itupun dengan tangkasnya mengelak, Tetapi ia belum sempat membalas dengan serangan ketika perampok yang lain telah menyerangnya pula.

Demikianlah, maka pertempuran pun segera berkobar diantara kedua orang perampok itu melawan Pangeran Singa Narpada.

Namun dalam pada itu, Pangeran Singa Narpada memang tida dapat melepaskan diri dari sifat dan wataknya. Baginya kedua penjahat itu memang harus dimusnahkan agar mereka tidak dapat lagi mengganggu orang-orang lain. Bahkan kedua orang itu telah sampai hati merampok seorang pengembara sebagaimana Pangeran Singa Narpada pada waktu itu.

Namun ternyata kedua perampok itu memang memiliki bekal yang cukup untuk dapat menakut-nakuti orang.

Dengan demikian, maka pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin seru. Kedua orang perampok itu mulai merasa, bahwa mereka ternyata telah membentur satu kekuatan yang tidak mereka duga. Bahkan kedua perampok itu. mulai meyakini, bahwa lawannya memang seorang prajurit yang tangguh.

Dalam pada itu, sambil membawa kampilnya yang talinya diikatkannya di pinggangnya, Pangeran Singa Narpada bertempur dengan tangkasnya. Untuk beberapa saat Pangeran itu masih berusaha untuk manjajagi kemampuan lawannya.

Namun akhirnya Pangeran Singa Narpada, seorang Panglima yang ditakuti di Kediri bukan saja oleh prajurit-prajuritnya, tetapi juga oleh orang-orang yang dianggap berilmu tinggi itu, mulai menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya.

Dengan tata gerak yang mengejutkan, Pangeran Singa Narpada mulai mendesak kedua lawannya yang bertempur semakin lama menjadi semakin kasar.

Dengan demikian, maka Pangeran Singa Narpada pun menyadari, bahwa kedua perampok itu tentu murid dari salah satu perguruan yang memang menyebarkan ilmu yang sesat dan kasar. Sehingga dengan kemampuan yang mereka dapatkan, maka mereka telah melakukan kejahatan tanpa belas kasihan.

“Tidak ada tempat bagi kalian untuk tetap hidup, baik di Kediri maupun di Singasari,“ geram Pangeran Singa Narpada setelah ia mulai melihat kekasaran tata gerak lawannya.

“Persetan,“ Sadkala itu tiba-tiba saja berteriak, “Jangan menyesali kematianmu.”

Justru dengan demikian, maka Sadkala itupun telah menghentakkan ilmunya. Ilmu yang semakin keras dan kasar. Kedua orang perampok itu bertempur sambil berteriak dan mengumpat-umpat. Apalagi ketika mereka tidak lagi menahan diri untuk mempergunakan senjata mereka.

Ternyata Sadkala telah mempergunakan senjatanya yang dibanggakan, sebaliknya keris yang sangat besar, sementara kawannya telah mempergunakan sebilah golok yang berwarna kehitam-hitaman.

Pangeran Singa Narpada bergeser surut. Sebagai seorang pengembara, Pangeran Singa Narpada tidak nampak membawa senjata apapun.

Namun menghadapi kedua orang kasar yang bersenjata itu, maka Pangeran Singa Narpada telah melepas ikat pinggang kulitnya yang tebal dan besar.

Ternyata ikat pinggang Pangeran Singa Narpada itu merupakan senjata yang menggetarkan bagi lawan-lawannya. Ketika Sadkala mengayunkan kerisnya ke kening Pangeran Singa Narpada, maka Pangeran Singa Narpada telah merentangkan ikat pinggangnya. Demikian sentuhan terjadi, Pangeran Singa Narpada telah mengendorkan ikat pinggangnya itu, namun dengan tiba-tiba saja ia telah menghentakkannya.

Hampir saja keris Sadkala itu terlempar. Hentakan ikat pinggang Pangeran Singa Narpada mempunyai kekuatan yang tidak terduga.

Dengan demikian, maka kedua orang perampok itupun semakin yakin, bahwa yang dihadapi memang seseorang yang berilmu tinggi.

Dengan demikian maka pertempuran pun semakin lama menjadi semakin seru. Kedua perampok dengan senjata mereka masing-masing bergerak semakin cepat. Menyerang dari arah yang berbeda dengan mengayunkan senjata-senjata mereka yang mengerikan.

Tetapi ikat pinggang Pangeran Singa Narpada yang nampaknya dibuat dari kulit itu, ternyata merupakan senjata yang aneh. Ikat pinggang itu mampu melawan pedang dan keris. Dalam benturan-benturan yang terjadi, kedua perampok itu merasa seolah-olah senjata mereka telah membentur senjata yang terbuat dari baja yang terpilih. Namun kadang-kadang ikat pinggang itu mampu menggapainya sebagai senjata yang lentur.

“Anak setan,“ Sadkala menggeram. Namun ia tidak dapat ingkar dari kenyataan bahwa yang dihadapinya adalah seorang yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi.

Sebenarnyalah Pangeran Singa Narpada menguasai senjatanya dengan sebaik-baiknya. Meskipun ujud dari senjata itu adalah sebuah ikat pinggang kulit, tetapi penggunaannya ternyata melampaui kemampuan keris yang dipergunakan oleh Sadkala maupun golok kawannya. Bahkan kemudian ikat pinggang itulah yang bergerak menyambar-nyambar, sehingga kedua perampok itu sulit untuk dapat berbuat lain kecuali sekedar menangkis dan menghindar.

Tetapi Pangeran Singa Narpada telah mengambil keputusan sebagaimana yang sering diambil pada saat-saat ia berada di Kediri. Ia adalah seorang Pangeran yang sangat membenci kejahatan sebagaimana dilakukan oleh kedua orang itu. Dan orang-orang Kediri pun selalu dapat menebak, apa yang akan dilakukan oleh Pangeran yang keras hati itu.

Apalagi menghadapi kedua orang perampok itu Pangeran Singa Narpada telah dengan langsung membenturkan senjatanya. Sehingga dengan demikian, maka upaya untuk mengatasi gejolak perasaannya agak sulit dilakukannya.

Karena itulah, maka kedua orang perampok itu kemudian harus menghadapi kenyataan yang sangat pahit.

Setelah mereka bertempur beberapa saat, maka sampailah Pangeran Singa Narpada pada batas kesempatan yang diberikannya kepada kedua orang itu untuk berusaha membela diri.

Ketika kedua orang itu bertempur semakin keras dan kasar, maka Pangeran Singa Narpada pun telah menjadi jemu karenanya. Dengan demikian, maka iapun berusaha untuk segera mengakhiri permainan itu.

Menghadapi Pangeran Singa Narpada yang menjadi bersungguh-sungguh, maka kedua orang itu benar-benar telah kehilangan kesempatan. Keris yang besar, yang merupakan kebanggaan Sadkala dan golok yang berat, senjata andalan kawannya, sama sekali tidak berarti menghadapi senjata Pangeran Singa Narpada yang asing itu.

Sementara itu, Pangeran Singa Narpada yang sudah muak dengan tingkah laku yang keras dan kasar itupun, telah mengambil sikap terakhir terhadap keduanya.

Karena itulah maka ikat pinggangnya pun telah berputaran. Namun ketika sekali menebas, menyusup pertahanan salah seorang dari kedua perampok itu, maka akibatnya benar-benar telah mengejutkan. Sentuhan sisi ikat pinggang kulit yang mengenai lengan perampok itu telah mengoyak kulit dagingnya, sebagaimana sebilah mata pedang yang sangat tajam.

Kawan Sadkala yang ditakuti itu melompat surut. Terasa tangannya yang disentuh oleh ikat pinggang itu dicengkam oleh perasaan sakit dan pedih.

Namun orang itu masih sempai mengumpat dan meneriakkan kata-kata kotor. Darah yang mengalir dari lukanya menandai tingkat ilmu pengembara yang disangkanya tidak lebih dari orang-orang lemah yang akan mati dengan sekali hentak di tengkuknya.

Meskipun lengannya sudah terluka, tetapi ternyata perampok itu masih beringsut maju dengan golok yang teracung, sementara Sadkala sendiri telah mengambil kesempatan dan meloncat menyerang dengan garangnya. Kerisnya yang besar terayun dengan derasnya menyambar dada Pangeran Singa Narpada.

Namun ternyata Pangeran Singa Narpada sempat merentangkan ikat pinggangnya. Demikian keris itu mengenai ikat pinggangnya, maka Pangeran Singa Narpada telah menghentakkannya. Tetapi Sadkala sudah mendapatkan satu pengalaman, sehingga karena itu, maka iapun dengan kuatnya telah mempertahankan kerisnya dan justru masih sempat memutar dan dengan langkah panjang ia meloncat maju dengan ujung keris mematuk lurus ke depan mengarah ke lambung.

Tetapi segalanya sudah saatnya berakhir. Pangeran Singa Narpada sebagaimana dilakukan di Kediri, telah mengambil keputusan untuk menjatuhkan hukuman yang paling keras terhadap kejahatan.

Demikian keris itu mematuknya, maka dengan tangkas ia bergeser menghindar. Namun demikian ia meloncat selangkah, tangannya telah mengayunkan ikat pinggangnya.

Ternyata ikat pinggang itu mampu menebas seperti pedang langsung mengoyak dada Sadkala yang masih berusaha untuk memutar kerisnya dan menyerang lawannya.

Terdengar Sadkala mengumpat dengan kasarnya. Namun iapun telah terhuyung-huyung beberapa langkah surut, sementara kawannya yang terluka di lengannya berusaha untuk melindunginya.

Tetapi Pangeran Singa Narpada bergerak terlalu cepat. Sambil merendah ia menyerang lawannya tepat pada lambungnya, sehingga sebuah luka yang dalam dan panjang telah menganga.

Kedua orang perampok itu ternyata tidak mampu berbuat sesuatu lagi. Luka-luka itu terlalu berat untuk diatasi. Darah menyembur tanpa dapat terbendung.

Sejenak kemudian, maka keduanya telah terjatuh di tanah. Sadkala masih menggeliat. Tetapi kemudian, iapun telah menghembuskan nafasnya yang terakhir, sementara kawannya sama sekali tidak berdaya untuk berbuat apapun juga. Untuk beberapa saat orang itu masih sempat memandangi pengembara itu dengan penuh kebencian. Namun sejenak kemudian, mata itu menjadi redup dan tertutup sama sekali.

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Kematian kedua orang perampok itu akan dapat mengurangi ketegangan-ketegangan yang terjadi di Kediri dan Singasari, yang masih saja dilanda pertentangan yang nampaknya tidak berkeputusan. Hilangnya Pangeran Lembu Sabdata, kemudian disusul hilangnya mahkota yang menjadi tempat semayam wahyu keraton.

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya kedua sosok tubuh yang kemudian tidak bergerak sama sekali itu.

Namun Pangeran Singa Narpada tidak membiarkan tubuh itu silang melintang di jalan. Tetapi iapun kemudian menempatkan tubuh yang membeku itu dibawah sebatang pohon perindang di pinggir jalan.

“Anak-anak muda di padukuhan itu akan segera menemukannya dan menyelenggarakannya,” berkata Pangeran Singa Narpada di dalam hatinya. Bahkan kemudian seakan-akan ia bergumam diluar sadarnya, “Jangan menambah beban para prajurit Kediri yang sedang disibukkan oleh pemberontakan yang belum dapat teratasi sampai tuntas.”

Demikianlah, setelah membenahi pakaiannya, maka Pangeran Singa Narpada pun telah melanjutkan perjalanannya. Ia masih saja selalu dibayangi oleh kemungkinan-kemungkinan yang dapat meledak di Kediri. Tetapi jika mahkota yang hilang itu dapat diketemukan, maka kemungkinan itu akan dapat dikuranginya.

Tetapi hambatan itu tidak terlalu banyak menyita waktu Pangeran Singa Narpada. Iapun segera melanjutkan perjalanannya. Namun ia tidak sekedar berjalan saja. Tetapi ia juga berusaha mendengar dan melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat menuntunnya untuk mendapat petunjuk jejak sasaran yang dicarinya.

Namun tidak ada yang dapat memberikan sedikit petunjuk pun tentang Pangeran Lembu Sabdata maupun mahkota yang hilang. Semakin jauh ia meninggalkan Kota Raja, maka semakin jauh pula ia dari kemungkinan untuk mendapatkan petunjuk itu.

Karena itu, maka yang kemudian menjadi tujuan Pangeran Singa Narpada satu-satunya adalah Singasari.

Tidak ada hambatan yang berarti yang mengganggu perjalanan Pangeran Singa Narpada selanjutnya. Sehingga kemudian iapun dengan selamat telah memasuki Kota Raja Singasari. Sebagaimana yang direncanakan, maka Pangeran Singa Narpada tidak akan menghubungi Singasari sebagai satu kekuasaan yang membawahi kekuasaan di Kediri, tetapi ia lebih condong untuk menghubungi orang-orang yang akan dapat diajak untuk bekerja bersama dengan tidak banyak diketahui oleh pihak lain.

Tujuan utamanya adalah untuk menemui Mahisa Bungalan lewat Mahisa Agni. Orang-orang yang telah banyak berbuat sesuatu untuk kepentingan Singasari dan Kediri.

Karena itu, maka sebagai seorang pengembara, maka Pangeran Singa Narpada yang tidak ingin banyak terganggu karena kedudukannya di Kediri jika ia dikenalinya sebagaimana ia sebenarnya, iapun telah berusaha untuk datang langsung ke tempat tinggal Mahisa Agni.

Tidak terlalu sulit untuk menemukannya. Sehingga karena itu, maka pada satu pagi, kedatangannya telah mengejutkan Mahisa Agni yang berada di lingkungan istana Singasari.

Seorang prajurit yang mengantarkannya menjadi curiga, ketika ternyata Mahisa Agni nampak belum mengenalnya. Sementara itu, kepada prajurit itu Pangeran Singa Narpada mengakunya bahwa ia adalah masih mempunyai hubungan darah dengan Mahisa Agni.

“Apakah orang ini berbohong?” bertanya prajurit itu.

Tetapi bukan kebiasaan Mahisa Agni untuk dengan begitu saja mengambil sikap yang dapat menyulitkan orang lain. Karena itu maka katanya, “Biarlah aku berbicara.”

Prajurit itu termangu-mangu. Namun kemudian iapun menarik nafas dalam-dalam. Mahisa Agni adalah orang yang memiliki kematangan sikap dan ilmu, sehingga seandainya orang itu ingin berbuat jahat, maka ia akan terlalu mudah untuk dapat berhasil.

Apalagi Mahisa Agni sendiri kemudian mempersilahkan prajurit itu untuk meninggalkannya, “Jika aku memerlukanmu aku akan memanggilmu.”

Prajurit itupun kemudian minta diri. Meskipun demikian sekali-sekali ia masih juga berpaling ke arah pengembara yang berdiri termangu-mangu.

Sepeninggal prajurit itu, maka Mahisa Agni pun segera mempersilahkan pengembara itu memasuki ruang dalam. Dengan nada datar ia bergumam, “Jika tidak penting sekali, kau tentu tidak akan menemui aku. Siapakah kau sebenarnya?”

Pangeran Singa Narpada pun kemudian bertanya, “Apakah kau benar-benar lupa kepadaku?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Namun kemudian tiba-tiba saja ia berdesis, “Apakah kau seorang Pangeran dari Kediri?”

Pangeran Singa Narpada tersenyum. Katanya, “Kau tentu masih dapat mengingat, siapakah aku?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak mengira, bahwa Pangeran mengenakan pakaian seperti itu. Aku benar-benar tidak dapat langsung mengenal karena aku sama sekali tidak menyangka. Tetapi akhirnya aku dapat juga mengenalimu. Bukankah aku berhadapan dengan Pangeran Singa Narpada?”

“Ya,” jawab Pangeran Singa Narpada.

“Tetapi kenapa kau datang dengan mengenakan pakaian dan melakukan penyamaran seperti itu? Kenapa kau tidak datang dalam kedudukanmu, Pangeran?” bertanya Mahisa Agni.

Pangeran Singa Narpada pun kemudian menceriterakan apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan iapun mengatakan dengan terus terang, keinginannya untuk minta bantuan Mahisa Bungalan atau siapapun yang menurut Mahisa Agni dapat dihubunginya.

“Kediri memang tidak melakukannya dengan resmi karena kehilangan itu masih dirahasiakan. Jika kehilangan mahkota itu diketahui oleh orang banyak, maka akan terjadi keresahan di Kediri, karena banyak orang yang mengungkap bahwa mahkota itu adalah tempat bersemayam wahyu keraton Kediri,” berkata Pangeran Singa Narpada kemudian, “Karena itu, aku datang dalam penyamaran ini. Aku tidak dapat berbuat banyak bersama orang-orang Kediri sendiri, karena aku mengira masih ada orang-orang yang tidak dapat dipercaya di lingkungan kami. Tetapi aku pun tidak dapat minta bantuan Singasari dengan terus terang, karena kami orang-orang Kediri tidak ingin menggantungkan diri kepada Singasari. Karena itu, maka aku telah menempuh jalan tersendiri.”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti rencana Pangeran Singa Narpada. Pangeran Singa Narpada ingin satu atau dua orang kawan untuk bersama-sama menemukan mahkota yang hilang. Adalah lebih baik apabila mereka sekaligus dapat menemukan Pangeran Lembu Sabdata.

“Keduanya hilang dengan cara yang sama. Karena itu, maka di belakang hilangnya keduanya, tentu ada kekuatan yang sangat besar yang menggerakkan peristiwa itu.“ berkata Pangeran Singa Narpada.

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Seseorang yang berilmu sangat tinggi telah mencampuri persoalan pertentangan antara keluarga Kediri itu.”

“Ya,” sahut Pangeran Singa Narpada, ”Tetapi persoalannya lebih luas dari pertentangan antara keluarga di Kediri. Tetapi jika aku boleh berterus-terang, persoalannya menyangkut hubungan antara Kediri dan Singasari.”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti. Agaknya Pangeran sudah bertindak dengan bijaksana, bahwa Pangeran tidak langsung melaporkan dan minta bantuan Singasari. Karena itu, maka biarlah kami akan membantu sejauh dapat kami lakukan. Jika Pangeran menghendaki, seorang yang masih termasuk tataran yang masih muda, maka aku sependapat bahwa Pangeran berhubungan dengan Mahisa Bungalan. Aku akan mempertemukan Pangeran dengan orang muda itu. Aku akan berusaha agar ia mendapat ijin untuk melakukan tugas khusus seperti ini.”

“Terima kasih,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Mudah-mudahan ia bersedia.”

“Jika demikian silahkan Pangeran tinggal disini barang satu dua hari sambil menunggu ijin khusus itu,” berkata Mahisa Agni, “Karena ia baru saja minta ijin untuk satu kepentingan pribadi.”

“Terima kasih,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Aku akan tinggal disini dengan senang hati. Bahkan rasa-rasanya aku lebih senang untuk tinggal disini saja, jika aku tidak mengingat tanggung jawabku atas Kediri.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ungkapan itu menunjukkan betapa kelelahan jiwani telah mencengkam Pangeran Singa Narpada. Tetapi ia tidak dapat mengingkari kewajiban dan tanggung jawabnya. Karena itu, maka Mahisa Agni merasa wajib untuk memberikan bantuan kepada Pangeran yang letih itu.

Dengan demikian maka Pangeran Singa Narpada itu telah berada di Singasari untuk beberapa hari. Sementara itu, Mahisa Bungalan pun telah dipertemukannya pula dengan Pangeran Singa Narpada.


“Aku sama sekali tidak berkeberatan,” berkata Mahisa Bungalan, “Tugas itu adalah tugas kita semuanya. Tetapi aku mohon paman mempergunakan pengaruh paman, agar aku mendapat ijin untuk meninggalkan tugasku di Singasari.”

“Aku akan berusaha,” berkata Mahisa Agni, “Dalam satu dua hari ini, aku akan dapat mengatakan, apakah kau diijinkan atau tidak.”

“Jika paman yang memberikan penjelasan, maka aku justru akan mendapat tugas untuk membantu Pangeran Singa Narpada. Satu tugas yang berat, tetapi akan dapat memberikan arti kepadaku, bahwa aku telah melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi Tanah yang aku huni ini,” sahut Mahisa Bungalan.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sependapat dengan Mahisa Bungalan, sehingga iapun kemudian berusaha dengan sungguh-sungguh untuk dapat menjelaskan bahwa Mahisa Bungalan akan melakukan satu tugas yang penting tanpa menyebutkan rencana yang sebenarnya ingin dilakukannya.

“Tugas yang sebenarnya itu masih perlu dirahasiakan,” berkata Mahisa Agni kepada Mahisa Bungalan, “Sebagaimana orang-orang di Kediri, mungkin orang-orang di Singasari pun mempunyai sikap yang lain dengan sikap kita. Jika hal ini diketahui oleh orang-orang yang berwatak keras, maka mungkin sekali mereka akan melakukan langkah-langkah yang tidak sesuai dengan rencana kita. Mungkin Singasari akan menggerakkan satu kesatuan petugas sandi dalam jumlah yang besar, yang justru akan dapat mengacaukan suasana.”

“Segalanya aku serahkan kepada kebijaksanaan paman. Aku akan melakukannya dengan sebaik-baiknya,“ jawab Mahisa Bungalan.

Sementara itu, apalagi Mahisa Agni berusaha mempergunakan pengaruhnya, untuk memberikan kesempatan kepada Mahisa Bungalan membantu Pangeran Singa Narpada, maka tidak seorang pun yang mengetahui bahwa seorang Pangeran dari Kediri telah berada di dalam lingkungan istana Singasari. Dengan sangat hati-hati Pangeran Singa Narpada menjaga dirinya, karena jika ia salah langkah, maka ia tentu akan segera dikenal oleh beberapa orang Pangeran di Singasari yang memang pernah mengenalnya sebelumnya.

Ternyata Mahisa Agni berhasil mempergunakan pengaruhnya sehingga Mahisa Bungalan justru mendapat tugas dalam tugas sandi untuk mencari keterangan yang lebih mendalam tentang sikap orang-orang Kediri terhadap Singasari setelah pemberontakan Pangeran Kuda Permati dapat diatasi setelah kematian Pangeran Kuda Permati itu sendiri.

“Satu tugas yang berat. Kau harus melakukan keduanya. Tugas yang memang dibebankan kepadamu, dan tugas yang harus kau lakukan bagi kepentingan Pangeran Singa Narpada.“ pesan Mahisa Agni.

“Aku akan mencoba melakukannya dengan sebaik-baiknya,” berkata Mahisa Bungalan.

“Kau harus melakukannya segera. Pangeran Singa Narpada sudah terlalu lama berada di Singasari,” berkata Mahisa Agni yang mengerti bahwa Pangeran Singa Narpada sangat diperlukan kehadirannya di Kediri pada saat-saat yang penting.

Demikianlah, maka pada saat yang ditentukan, menjelang fajar menyingsing, Mahisa Bungalan dan Pangeran Singa Narpada telah meninggalkan lingkungan istana di Singasari. Tetapi mereka tidak langsung pergi ke Kediri. Mereka masih akan singgah di rumah Mahendra. Mahisa Bungalan ingin minta diri kepada ayahnya sekaligus melihat perkembangan kedua adiknya dalam olah kanuragan, karena Mahisa Bungalan pun mengetahui, bahwa kedua adiknya sedang dalam puncak usahanya untuk mewarisi ilmu ayahnya dan pamannya Witantra yang seperguruan, meskipun ada perbedaan tekanan dalam pengembangan ilmunya.

Ketika mereka sampai di rumah ayahnya Mahisa Bungalan, ternyata bahwa kedua adiknya tengah berada dalam puncak laku yang sangat berat. Karena itu, maka Mahisa Bungalan tidak ingin mengganggunya agar kedua adiknya dapat menyelesaikan usahanya dalam waktu yang direncanakan. Namun demikian Mahisa Bungalan memerlukan untuk minta diri kepada ayahnya Mahendra dan Pamannya Witantra.

“Hati-hatilah,” berkata Mahendra dengan sungguh-sungguh, “Kau akan melakukan satu kewajiban yang sangat berat. Kau akan memasuki daerah kegelapan yang belum kau ketahui apa yang ada didalamnya. Mudah-mudahan Pangeran Singa Narpada akan dapat menuntunmu.”

“Aku akan berhati-hati ayah,” jawab Mahendra. Namun sementara itu Pangeran Singa Narpada berkata, “Bukan aku yang akan dapat menuntunnya. Justru aku akan tergantung kepadanya.”

“Pangeran selalu merendahkan diri,” sahut Witantra, ”Semua orang tahu tentang Pangeran Singa Narpada. Mudah-mudahan Mahisa Bungalan akan dapat membantu Pangeran dan tidak justru mengecewakan.”

“Aku yakin akan kemampuannya,” berkata Pangeran Singa Narpada. Bahkan kemudian, “Apalagi bahwa dalam waktu singkat kedua adiknya pun akan dapat menyelesaikan laku yang berat untuk mencapai ilmu puncaknya.”

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih memerlukan beberapa waktu lagi. Mudah-mudahan mereka dapat menyelesaikannya dengan tuntas.”

“Mungkin pada saatnya kami memerlukan bantuan mereka,” berkata Pangeran Singa Narpada.

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jika mereka dapat melakukannya, maka mereka tentu akan dengan senang hati memenuhinya.”

“Suatu waktu aku akan datang lagi,” berkata Pangeran Singa Narpada.

Demikianlah, maka Pangeran Singa Narpada pun telah minta diri bersama Mahisa Bungalan untuk melakukan tugas mereka yang tidak mereka ketahui, kapan akan dapat mereka selesaikan atau justru sebaliknya, mereka akan hilang dalam arus tugas mereka itu.

Setelah minta diri kepada adik-adiknya pula, maka Mahisa Bungalan pun meninggalkan rumah ayahnya untuk satu tugas yang berat.

“Kalian harus bekerja dengan sungguh-sungguh,“ pesan Mahisa Bungalan kepada adik-adiknya, “Kalian akan dapat membantu kami, karena kalian telah mempunyai hubungan dengan jalur yang mungkin kita perlukan dalam tugas ini di Kediri.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk. Mereka memang menyadari sepenuhnya bahwa mereka harus bekerja keras apalagi justru pada saat-saat terakhir.

Demikianlah, maka Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan pun segera menuju ke Kediri. Pada saat sebagaimana Pangeran Singa Narpada meninggalkan istananya, maka iapun kembali pada saat tidak ada orang yang dapat melihatnya. Dengan diam-diam Pangeran Singa Narpada telah mengetuk pintu bilik kepercayaannya yang merupakan satu-satunya orang yang mengetahui bahwa Pangeran Singa Narpada meninggalkan istananya. Para petugas yang berada di istana itupun tidak mengetahui sama sekali, bahwa yang keluar pintu gerbang di malam hari beberapa hari yang lalu adalah Pangeran Singa Narpada karena pakaian yang dikenakannya. Mereka menganggap bahwa yang keluar saat itu adalah seorang abdi yang akan pulang di malam hari.

Ketika pintu itu terbuka, maka kepercayaannya itupun terkejut. Hampir saja ia menyapanya, namun Pangeran Singa Narpada segera berdesis, “Tidak ada orang yang melihat aku memasuki halaman.”

“Apakah para petugas di regol tidak menyapa sebagaimana saat Pangeran keluar? Tetapi agaknya bagi mereka yang akan memasuki regol, akan lebih cepat mengundang kecurigaan daripada mereka yang keluar. Apalagi saatnya sudah terlalu malam.”

“Aku tidak memasuki halaman lewat regol,” jawab Pangeran Singa Narpada.

“Jadi, Pangeran memasuki halaman lewat mana?” bertanya kepercayaannya.

“Aku telah meloncati dinding.“ jawab Pangeran Singa Narpada.

Kepercayaannya itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun mengangguk-angguk. Tetapi sekilas dipandanginya Mahisa Bungalan yang datang bersama Pangeran Singa Narpada.

“Ini adalah saudaraku,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Kami bersama-sama telah menempuh laku prihatin dalam sepinya samadi.”

“O.” Kepercayaannya itu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Marilah silahkan Pangeran. Dan apakah yang Pangeran kehendaki sekarang? Mungkin ada sesuatu yang harus aku kerjakan?“

“Sekarang tidak ada. Besok pagi-pagi saja sediakan aku air abu merang. Aku akan mandi keramas, karena aku sudah keluar dari samadiku di dalam sanggar.“ Pangeran Singa Narpada berhenti sejenak lalu, “Apakah ada seseorang yang menanyakan aku pada saat pergi?”

“Sri Baginda memanggil Pangeran,” jawab kepercayaannya itu, “Tetapi aku memberikan jawaban sebagaimana Pangeran kehendaki. Namun agaknya Sri Baginda tidak sabar. Jika dalam dua hari ini Pangeran masih belum melepaskan samadi, maka Sri Baginda akan memerintahkan membuka pintu sanggar dengan paksa.”

“O, apakah ada berita dari istana?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Tidak ada selain panggilan Sri Baginda,” jawab kepercayaannya.

Demikianlah, maka dengan diam-diam Pangeran Singa Narpada memasuki istananya lewat pintu butulan. Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Besok pagi, orang-orang seisi istana itu, bahkan para pengawal akan menduga, bahwa Pangeran Singa Narpada telah keluar dari sanggarnya dan menyucikan diri dengan air abu merang untuk mandi keramas.

Mahisa Bungalan pun dipersilahkannya masuk pula ke dalam istana itu. Ia akan menjadi tamu Pangeran Singa Narpada. Tetapi dengan satu penyamaran, seolah-olah Mahisa Bungalan akan mengabdikan diri pula di istana itu.

Kepada kepercayaannya ia berkata, “Saudaraku yang mengalami masa prihatin bersama ini, telah aku bawa kemari dan agaknya iapun ingin mengabdikan diri di istana ini, setelah ia mengenali aku bahwa aku adalah seorang Pangeran. Dan aku akan menempatkannya sebagai seorang pelayan dalam.”

Kepercayaannya itu mengangguk-angguk. Tetapi ia mengerti, bahwa setiap langkah Pangeran Singa Narpada telah dipikirkannya masak-masak. Karena itu, maka ia tidak mempersoalkannya lagi. Bahkan kepercayaannya itu menduga, bahwa dalam samadinya, agaknya Pangeran Singa Narpada telah mendapat petunjuk tentang orang itu yang mungkin akan dapat membantu menjernihkan kekalutan pikiran Pangeran Singa Narpada.

Demikianlah, sejak hari itu, Mahisa Bungalan berada di istana Pangeran Singa Narpada sebagai seorang pelayan dalam. Dengan demikian ia akan lebih banyak berada dekat dengan Pangeran Singa Narpada. Namun dengan bijaksana Pangeran Singa Narpada tidak membuat kepercayaannya menjadi kecewa, karena hadirnya seorang yang lain di dalam istana itu. Demikian pula para pelayan dalam yang lain serta para pemimpin pengawalnya. Namun pada saat-saat tertentu keduanya sempat berbicara tanpa diketahui oleh orang lain.

“Maaf, bahwa aku harus bermain dengan agak kasar, sehingga kau terpaksa menjalani peran yang barangkali tidak menyenangkan,” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Ah, tidak,” jawab Mahisa Bungalan, “Aku senang dengan perananku. Tetapi dalam keadaan seperti ini, maka langkah kita akan terhenti.”

“Aku akan menghadap Sri Baginda,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Jika aku datang, maka mungkin Sri Baginda benar-benar akan marah. Baru kemudian kita akan menentukan langkah-langkah.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Agaknya Sri Baginda mempunyai kepentingan yang mendesak Pangeran Singa Narpada.

Ketika Pangeran Singa Narpada menghadap, maka wajah Sri Baginda nampak terlalu marah. Dengan nada datar Sri Baginda itu bertanya, “Apa yang kau lakukan selama ini.”

“Ampun Sri Baginda. Hamba mencoba untuk mencari jalan dengan cara yang lain dari yang hamba tempuh selama ini. Hamba berada di dalam sanggar,” jawab Pangeran Singa Narpada. Lalu, “Selama ini hamba merasa kehilangan jalan. Hamba telah dicekam oleh perasaan yang belum pernah hamba rasakan sebelumnya. Hamba hampir berputus asa. Sementara itu perhitungan hamba melihat akan timbulnya satu kemungkinan yang sangat gawat bagi Kediri. Karena itu, hamba tidak ingin terjebak dalam keputus asaan. Hamba telah mencoba untuk mencari ketenangan di dalam sanggar, agar hamba tetap dapat berdiri teguh dalam kewajiban hamba.“ Pangeran Singa Narpada berhenti sejenak, lalu iapun bertanya, “Apakah ada sesuatu yang sangat mendesak Sri Baginda?”

Sri Baginda menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara berat Sri Baginda berkata, “Aku tidak dapat menyingkir dari belitan kegelisahan. Ternyata aku memerlukan tempat untuk menampung kegelisahan ini. Selama ini kau dapat menyelamatkan Kediri yang sudah goyah dan lemah ini. Karena itu, ketika kau untuk beberapa hari tidak nampak di paseban, aku menjadi gelisah. Jika di saat-saat yang demikian datang bencana, maka Kediri benar-benar akan tumbang.”

“Hamba mohon maaf,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Tetapi sebenarnyalah bahwa hamba pun sedang berusaha untuk memecahkan kegelisahan di hati hamba. Namun sementara itu, jika terjadi sesuatu yang gawat, maka para Panglima di perbatasan telah mampu untuk bertindak cepat. Terutama Panji Sempana Murti. Pengalaman telah menempa mereka menjadi prajurit yang lebih baik.”

Sri Baginda menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun bertanya, “Tetapi, apakah kau sama sekali belum menemukan jejak tentang benda pusaka yang hilang itu?”

“Belum Sri Baginda,” jawab Pangeran Singa Narpada, ”Justru karena itu hamba berusaha untuk menemukan keheningan budi, agar hamba dapat menelusuri jejak mahkota yang hilang itu.”

“Sampai kapan kau memerlukan waktu untuk itu?” bertanya Sri Baginda.

“Hamba tidak dapat menyebut Sri Baginda. Satu perjuangan yang harus hamba lakukan tanpa dapat memperhitungkan waktu. Namun hamba menyadari, bahwa hamba harus melakukannya dengan sekuat tenaga. Sebesar kemampuan hamba dan dengan taruhan yang paling berharga yang hamba miliki, nyawa hamba.”

Sri Baginda menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah pada saat-saat Pangeran Singa Narpada tidak kelihatan di paseban, hati Sri Baginda menjadi sangat cemas. Seakan-akan ia telah kehilangan perisai yang akan dapat menjaga tegaknya tahta Kediri, meskipun Sri Baginda menyadari, bahwa para Panglima di perbatasan justru telah ditempa oleh pengalaman. Para prajurit pun menjadi semakin dewasa menanggapi keadaan.

Namun Sri Baginda pun justru percaya, bahwa mahkota yang hilang itu adalah tempat semayam wahyu keraton Kediri.

Tetapi demikian Pangeran Singa Narpada menghadap, maka rasa-rasanya hati Sri Baginda menjadi tenang. Seakan-akan perlindungan yang selama beberapa saat bagaikan lenyap, telah kembali sebagaimana sebelumnya.

Dalam keadaan yang demikian, Pangeran Singa Narpada justru menjadi bimbang. Seharusnya ia berterus terang kepada Sri Baginda, bahwa untuk menemukan jejak mahkota yang hilang itu ia memerlukan waktu dan bahkan harus meninggalkan Kota Raja.

Jika ia tidak berbuat apa-apa dan hanya menunggui istana dan Sri Baginda, maka seperti yang dikatakan oleh Mahisa Bungalan, semua usaha akan terhenti sampai sekian. Dan mahkota yang hilang itu apalagi Pangeran Lembu Sabdata tidak akan mungkin dapat diketemukan.

Tetapi Pangeran Singa Narpada tidak sampai hati untuk dengan serta merta menyampaikan maksudnya meninggalkan Kota Raja. Sri Baginda yang baru saja menemukan ketenangannya akan menjadi gelisah kembali.

Karena itu, maka Pangeran Singa Narpada telah menunda kepergiannya. Kepada Mahisa Bungalan Pangeran Singa Narpada setibanya di istananya menjelaskan, “Aku tidak sampai hati untuk meninggalkan Kota Raja dalam satu dua hari ini. Bahkan mungkin dalam dua tiga pekan. Sri Baginda benar-benar berada dalam kecemasan.”

“Kita akan dapat menunggu,” berkata Mahisa Bungalan, “Tetapi sudah barang tentu, bahwa tanpa berbuat sesuatu, kita tidak akan dapat menemukan apapun juga.”

“Aku menyadari,” jawab Pangeran Singa Narpada, ”Namun demikian, aku akan dapat melakukannya di Kota Raja satu usaha yang setidak-tidaknya akan dapat membantu merintis jalan.”

“Apa yang dapat Pangeran lakukan?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Aku akan melanjutkan usahaku untuk mengetahui, siapakah yang telah berhubungan dengan Pangeran Kuda Permati pada masa pemberontakannya dan sebelumnya.

Aku akan dapat menghubungi orang-orangnya yang terdekat yang berhasil ditangkap dan dipenjarakan oleh para prajurit Kediri. Dengan demikian kita akan mendapatkan nama-nama dari orang-orang yang pernah berdiri di belakangnya dan mungkin, hanya satu kemungkinan, bahwa orang yang telah mengambil Pangeran Lembu Sabdata dan kemudian mahkota itu adalah salah seorang diantara mereka meskipun kita harus mengamatinya dengan sangat cermat,” jawab Pangeran Singa Narpada.

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Memang hal itu dapat dilakukan oleh Pangeran Singa Narpada sebagai penunjuk arah, langkah yang manakah yang pertama-tama dapat dilakukan meskipun mungkin langkah itu tidak akan sampai ke sasaran, tetapi mungkin juga akan dapat membuka tirai yang menyelubungi rahasia hilangnya Pangeran Lembu Sabdata dan mahkota yang dipercaya menjadi tempat semacam Wahyu Keraton itu.

“Pangeran dapat mencobanya,” berkata Mahisa Bungalan.

“Ya. Namun aku harus melakukannya sendiri. Seandainya aku sempat menemukan nama yang aku perlukan, hanya aku sajalah yang mengetahuinya. Aku memang mencurigai orang-orang Kediri.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Tetapi tidak ada salahnya bahwa Pangeran Singa Narpada bekerja dengan cermat dan berhati-hati dalam kemelut yang ternyata masih belum padam. Sepercik api yang tersisa dari pemberontakan Pangeran Kuda Permati itu masih akan dapat menjadi besar dan kembali membakar Kediri dengan api pemberontakan yang semakin besar dan berbahaya.

Dengan demikian, sambil menunggu kesempatan untuk dapat meninggalkan Kota Raja, maka Pangeran Singa Narpada yang sudah menghentikan pemeriksaan terhadap para pengikut Pangeran Kuda Permati, telah mulai lagi dengan caranya.

Pangeran Singa Narpada telah memanggil orang-orang yang dianggapnya dekat dengan Pangeran Kuda Permati dan bertanya kepada mereka. Siapa sajalah yang pernah berhubungan dan dekat dengan Pangeran Kuda Permati yang mempunyai kemampuan yang tinggi dan tidak tertangkap sampai saat terakhir dari pemberontakan Pangeran Kuda Permati itu.

Orang-orang itu sudah mengenal dengan baik, siapakah Pangeran Singa Narpada. sehingga demikian seorang diantara mereka memasuki ruangan seorang diri berhadapan dengan Pangeran Singa Narpada, maka rasa-rasanya orang itu tidak lagi mempunyai kesempatan untuk keluar dengan kaki tegak.

Karena itu sebagian dari mereka tidak lagi berusaha untuk menyembunyikan sesuatu. Meskipun Pangeran Singa Narpada tidak berbuat apa-apa, namun setiap orang diantara mereka merasa, setiap cercah bagian dari tubuh mereka seolah-olah telah mulai meremang.

Tetapi yang disebut oleh sebagian besar dari mereka adalah para Senapati yang hampir seluruhnya telah tertangkap atau terbunuh di peperangan. Jika ada juga satu dua orang Senapati yang disebut namanya dan tidak diketahui apakah mereka masih hidup sudah mati, maka Pangeran Singa Narpada yakin bahwa Senapati itu tidak akan mampu melakukan sebagaimana pernah terjadi atas Pangeran Lembu Sabdata dan mengambil mahkota di Gedung Perbendaharaan itu.

Ketika Pangeran Singa Narpada berhadapan dengan seorang perwira yang terdekat dengan Pangeran Kuda Permati yang justru pada saat-saat setelah kematian Pangeran Kuda Permati dan isterinya yang membunuh diri telah menghentikan perlawanannya meskipun sebagian besar dari para pengikut Pangeran Kuda Permati masih bertempur terus, maka ia berusaha untuk mendapat keterangan yang lain dari yang selalu didengarnya dari orang-orang yang pernah dihadapkan kepadanya sebelumnya.

“Aku tidak memerlukan lagi nama-nama orang-orang yang berada di dalam lingkungan keprajuritan Kediri yang telah memberontak itu,” berkata Pangeran Singa Narpada, “Nama itu sudah cukup lengkap aku ketahui. Aku menginginkan nama-nama orang yang pernah berhubungan dengan Pangeran Kuda Permati diluar lingkungan keprajuritan. Mungkin ia pernah berhubungan dengan satu padepokan atau siapapun juga.”

“Siapakah nama pertapa itu?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Tidak seorang pun yang tahu. Tetapi kami hanya mendengar Pangeran Permati memanggilnya Guru,” jawab Senapati itu. Lalu, “Tetapi meskipun ia seorang pertapa, namun ia bukan orang yang terasing. Ia mengetahui banyak hal tentang hubungan antara Kediri dan Singasari, serta tata pemerintahan yang ada di Singasari.”

“Aku akan berhubungan dengan Arya Rumpit,” berkata Pangeran Singa Narpada. Namun iapun kemudian bertanya, “Apakah ia juga tahu orang ketiga?”

“Entahlah,” jawab Senapati itu, “Mudah-mudahan ia mengetahuinya.”

“Sulit lagi orang ketiga itu,“ minta Pangeran Singa Narpada.

“Empu Lengkon,” jawab Senapati itu, “Aku tidak tahu apakah itu memang namanya atau sekedar sebutan. Orang itu telah memberikan sipat kandel kepada Pangeran Kuda Permati berupa sebilah keris. Agaknya keris itu adalah keris bertuah yang mampu menopang kemampuan Pangeran Kuda Permati yang memang sudah berada diatas kemampuan orang kebanyakan.”

“Apakah kau dapat membuka sedikit kemungkinan untuk dapat menemuinya dimanapun?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Aku sama sekali tidak tahu. Entahlah dengan Arya Rumpit yang banyak mendapat tugas sebagai penghubung daripada aku sendiri. Justru karena ia seorang perwira dari pasukan berkuda,” jawab Senapati itu.

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Ia percaya sepenuhnya apa yang dikatakan oleh Senapati itu. Justru karena itu maka Pangeran Singa Narpada sama sekali tidak berusaha mendesak tentang orang yang disebut terakhir, mPu Lengkon. Namun demikian ia berkata di dalam hatinya, “Mudah-mudahan Arya Rumpit pun mengetahui pula.”

Dengan demikian, maka Senapati itupun segera dikembalikan ke bilik tahanannya. Sementara itu, Pangeran Singa Narpada telah berusaha untuk dapat menemukan seorang tahanan yang bernama Arya Rumpit.

Usaha Pangeran Singa Narpada tidak terlalu sulit. Ternyata bahwa Arya Rumpit itu tidak menjadi bebanten di medan perang. Sehingga dengan demikian, maka ia akan dapat menjadi sumber keterangan bagi Pangeran Singa Narpada.

“Pada pemeriksaan yang terdahulu, orang ini justru terlampaui, atau ia dapat ingkar di hadapan orang yang memeriksanya,” berkata Pangeran Singa Narpada di dalam hatinya. Namun seingat Pangeran Singa Narpada, bukan ialah yang telah memeriksa Arya Rumpit itu.

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Ia percaya kepada keterangan Senapati itu, bahwa Pangeran Kuda Permati memang tidak pernah mempergunakan ilmu seperti itu. Bahkan seandainya Pangeran Kuda Permati memilikinya, maka ia akan lebih senang datang dengan dada tengadah, kemudian bertempur untuk mencapai sasaran dengan membunuh lawan-lawannya.

Namun demikian, Pangeran Singa Narpada akhirnya bertanya juga tentang ketiga orang yang dimaksud itu.

Senapati itupun kemudian berkata, “Aku hanya dapat menyebut beberapa hal tentang mereka. Tetapi belum satu-pun padepokan mereka yang aku ketahui.”

Pangeran Singa Narpada termenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Sebut apa yang kau ketahui.”

Senapati itu termangu-mangu. Namun kemudian ia mulai mengingat-ingat, orang-orang yang pernah berhubungan dengan Pengeran Kuda Permati. Namun diantara sekian banyak orang yang dikenalnya, tiga orang yang telah menarik perhatian.

“Ulangi, siapakah tiga orang yang kau sebut terakhir,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Nampaknya mereka perlu mendapat perhatian.”

“Itulah sebabnya, mereka aku sebut terakhir, karena menurut pendapatku mereka jugalah yang paling berpengaruh atas Pangeran Singa Narpada,” jawab Senapati itu. Yang kemudian mengulangi menyebut tiga orang yang dikatakannya dalam urutan terakhir. “Seorang yang disebut Panembahan Bajang. Seorang Panembahan yang bertubuh kecil. Namun memiliki ilmu yang sulit dicari duanya. Menurut pendengaranku. Panembahan ini datang dari Timur. Aku belum tahu, dimanakah Padepokannya. Namun seorang pengawal Pangeran Kuda Permati pernah datang ke padepokan itu.”

“Kau tahu, siapakah pengawal itu?” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Seorang Senapati dari pasukan berkuda. Menurut pengertianku, ia tidak terbunuh dalam peperangan, karena aku pernah melihatnya juga tertawan,” jawab Senapati itu, “Namanya Arya Rumpit.”

“O.“ Pangeran Singa Narpada mengangguk angguk. ”Aku mengenalnya, Arya Rumpit. seorang Senapati dari pasukan berkuda.”

“Ya. Arya Rumpit pernah datang ke padepokan Panembahan Bajang,” berkata Senapati itu pula. Lalu, “Arya Rumpit pulalah yang pernah datang kepada orang Kedua. Seorang pertapa yang jarang nampak bersama Pangeran Kuda Permati. Tetapi Pertapa itu pulalah yang telah banyak memberikan ilmu kepada Pangeran Kuda Permati. Ialah penganjur yang paling gigih agar Pangeran Kuda Permati melepaskan diri dari ikatan hubungan dengan Singasari yang dianggapnya telah menghina Kediri.”

Perwira Pangeran Kuda Permati itu menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti maksud Pangeran Singa Narpada. Tetapi ia ragu-ragu untuk mengatakannya.

“Ki Sanak,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Aku minta kau menyadari keadaan yang dihadapi oleh Kediri. Aku memang dapat memaksamu untuk berbicara. Tetapi aku kira, aku tidak bermaksud demikian. Aku berharap bahwa kau yang telah mengalami perang yang berakhir dengan kehancuran dimana-mana itu dapat membuat pertimbangan-pertimbangan yang jernih menghadapi keadaan sekarang ini.”

Perwira itu mengangguk-angguk. Sebenarnya iapun tidak ingin melihat lagi mereka sebagaimana yang pernah dibuat oleh Pangeran Kuda Permati semasa hidupnya.

Sementara itu Pangeran Singa Narpada, ”Aku minta kesadaranmu Ki Sanak. Bagaimanapun juga ternyata kau adalah putra Kediri. Bahkan dalam jenjang keprajuritan, kau adalah seorang perwira yang pernah menjadi Senapati terdekat dengan Pangeran Kuda Permati. Apakah kau tidak menjadi iba melihat Kediri dibakar api pertempuran dan mengorbankan putra-putra terbaiknya.”

Perwira itu mengangguk-angguk. Katanya, “Sebaiknya keadaan yang parah itu tidak terulang lagi.”

“Kau dapat membantu menciptakan satu suasana yang lebih baik, jika kau dapat menyebut nama orang-orang yang pernah berhubungan dengan Pangeran Kuda Permati,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Sebab hilangnya Pangeran Lembu Sabdata akan dapat menumbuhkan satu keadaan sebagaimana pernah terjadi. Dan kau melihat, akibat dari peristiwa itu bagi Kediri.”

Perwira itu mengangguk-angguk. Ada satu beban yang terasa memberati hatinya. Ia memang dapat mengelak sebagaimana seharusnya dilakukan. Perwira itu tahu pasti, dengan siapa ia berhadapan. Tetapi sebenarnyalah, sebagai seorang Senapati yang tangguh, ia tidak gentar seandainya ia harus menghadapi tekanan kekerasan. Dan iapun akan sanggup untuk tetap membungkam bahkan sampai nyawanya terlepas dari tubuhnya.

Namun yang membebaninya bukan perasaan gentar menghadapi tekanan kekerasan. Sebagaimana pernah dilakukan oleh isteri Pangeran Kuda Permati sendiri dengan mengorbankan orang yang paling dicintainya bahkan menuntut kematiannya sendiri, maka seharusnya iapun melakukannya. Ia harus membantu memadamkan sumber api itu sendiri.

Tetapi sebenarnyalah Senapati itu tidak tahu pasti, orang-orang yang manakah yang pantas untuk dicurigai mengambil Pangeran Lembu Permati. Namun demikian, agaknya jika ia memang menghendaki membantu mencegah timbulnya lagi bantuan kekerasan dan pembunuhan, maka ia dapat menyebut beberapa nama. Meskipun ada kemungkinan bahwa nama-nama yang disebutnya itu ternyata tidak ada hubungannya dengan hilangnya Pangeran Lembu Sabdata.

“Nah, kemudian terserah kepadamu,” berkata Pangeran Singa Narpada selanjutnya, “Tetapi satu hal yang ingin aku katakan, aku tidak akan memaksa lagi seseorang untuk berbicara, kecuali atas kesadarannya sendiri.“

“Tidak seorang pun yang akan dapat memaksa aku berbicara Pangeran,” berkata Senapati itu, “Tetapi sebagaimana telah aku alami sendiri, betapa parahnya Kediri jika terjadi lagi permusuhan seperti pada masa hidupnya Pangeran Kuda Permati. Lepas dari salah dan benar, namun Kediri benar-benar telah menjadi neraka. Karena itu, alangkah terpujinya langkah yang diambil oleh isteri Pangeran Kuda Permati dipandang dari satu segi, meskipun akan berlawanan jika dinilai dari segi lain.”

“Kau bebas untuk memilih,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”yang manakah yang baik dan dipandang dari segi mana menurut kehendakmu sendiri.”

Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku akan menyebut beberapa nama Pangeran.”

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam.

Sebenarnyalah bahwa Senapati itu telah menyebut beberapa nama orang-orang berilmu yang pernah dihubungi oleh Pangeran Kuda Permati menurut pengetahuannya.

“Apakah mereka tidak terlibat dalam pertempuran?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Ada diantara mereka yang langsung memasuki medan dengan para pengikutnya, tetapi ada diantara mereka yang tidak, yang sekedar membantu dengan cara yang lain. Bahkan ada dua tiga orang yang memberikan bantuan dengan cara yang sangat khusus. Mereka adalah orang-orang berilmu tinggi yang seakan-akan telah menggabungkan kemampuan mereka dan melimpahkannya kepada Pangeran Kuda Permati,” berkata Senapati itu.

“Maksudmu dua tiga orang itu bersama-sama memberikan ilmu mereka masing-masing kepada Pangeran Kuda Permati?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Ya,” jawab Senapati itu.

“Tetapi apakah kau tahu, siapakah diantara mereka yang memiliki ilmu sirep yang sangat tajam?” bertanya Pangeran Singa Narpada mendesak.

Senapati itu menggeleng. Katanya, “Sayang, aku tidak mengetahuinya. Namun ternyata Pangeran Kuda Permati sendiri sampai akhir hidupnya tidak pernah mempergunakan ilmu seperti itu.”

Sebenarnyalah bahwa Arya Rumpit baru untuk pertama kali berhadapan langsung dengan Pangeran Singa Narpada. Namun demikian bukan berarti bahwa Arya Rumpit tidak mengenal Pangeran Singa Narpada. Sebagai seorang Senapati maka ia telah mengenal Pangeran Singa Narpada dengan baik, bahkan Pangeran Singa Narpada pun telah mengenalnya.

“Marilah,“ Pangeran Singa Narpada mempersilahkan, ”Kita bertemu lagi.”

“Sayang, dalam keadaan yang kurang memadai Pangeran,“ jawab Arya Rumpit. Seorang Senapati dari pasukan berkuda.

“Keadaan telah menentukan, cara yang paling baik bagi pertemuan kita kali ini adalah cara ini,” jawab Pangeran Singa Narpada.

Arya Rumpit mengerutkan keningnya. Namun ia masih juga menjawab, “Pangeran lah yang menentukan.”

“Ya, karena kau adalah seorang tawanan,” berkata Pangeran Singa Narpada dengan tegas.

Arya Rumpit mengangguk. Jawabnya, “Pangeran benar. Aku sekarang seorang tawanan dan Pangeran adalah orang yang menawan aku.”

“Karena itu, maka kau harus menyadari apa yang mungkin terjadi,” berkata Pangeran Singa Narpada.

Arya Rumpit memandang Pangeran Singa Narpada dengan wajah yang membayangkan ketabahan hati seorang Senapati. Namun dengan penuh kesadaran akan kedudukannya pada pertemuan itu. Bahwa ia memang berhadapan dengan seorang Pangeran yang berhati singa.

“Arya Rumpit,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Aku yakin bahwa kau mengetahuinya. Karena itu, maka aku minta kau dapat menjawab sebagaimana kau ketahui.”

“Silahkan Pangeran,” berkata Arya Rumpit, ”Aku tidak akan dapat berbuat lain kecuali menjawab semua pertanyaan dengan sebaik-baiknya.”

“Terima kasih,” desis Pangeran Singa Narpada, ”Dengan demikian kau akan membantu menghindarkan Kediri dari malapetaka yang lebih besar.”

Arya Rumpit mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Aku mengerti. Kematian-kematian yang telah terjadi di Kediri sekarang menjadi tanpa arti. Selama masih ada orang-orang yang menentang penempatan kembali tataran derajat Kediri, maka selama itu usaha untuk hal itu tidak akan berhasil.”

“Tepat,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”langkah yang diambil oleh Pangeran Kuda Permati tidak lebih dari penyebaran kematian yang sia-sia. Tidak ada apapun yang akan dicapai meskipun seandainya Pangeran Kuda Permati berhasil merebut Kediri dengan caranya, karena Singasari akan dapat melakukan satu langkah yang akan menyebabkan keadaan Kediri semakin parah. Mungkin Kediri akan dimusnahkan sampai ke akar-akarnya dan tidak akan mungkin bangkit kembali.”

Arya Rumpit mengerutkan keningnya. Ia kurang sependapat dengan Pangeran Singa Narpada. Sebagai senapati yang berjuang atas dasar satu sikap yang diyakini, maka Arya Rumpit pun berkata, “Jika Kediri utuh dan bulat, maka Singasari tidak akan dapat menindas kekuatan Kediri.”

“Satu mimpi yang buruk,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Seolah-olah kita tidak mengetahui kekuatan Singasari yang sebenarnya. Tetapi jika memang demikian, maka adalah satu kebodohan yang tidak dapat dimanfaatkan, karena kebodohan itu ternyata akan dapat memusnahkan Kediri.“

Arya Rumpit termangu-mangu sejenak. Tetapi iapun menyadari bahwa perbedaan sikap itu memang sulit untuk dipertemukan. Dalam kedudukannya maka agaknya tidak ada gunanya baginya untuk membantah. Pangeran Singa Narpada tentu juga mempunyai landasan sikap yang kuat.

Karena Arya Rumpit tidak menjawab, maka Pangeran Singa Narpada pun berkata selanjutnya, “Arya Rumpit. Sebenarnya aku mengharap bantuanmu dalam kedudukannya. Dalam pertempuran yang telah berlangsung sekian lama dengan menelan korban sekian banyaknya, ternyata kita masih belum mencapai satu penyelesaian yang tuntas. Kami ingin berhubungan dengan orang-orang yang pernah menjadi landasan kekuatan Pangeran Kuda Permati. Aku ingin berbicara dengan mereka sehubungan dengan hilangnya Pangeran Lembu Sabdata. Jika hilangnya Pangeran Lembu Sabdata itu merupakan atau persiapan bagi satu kekuatan sebagaimana pernah dilakukan oleh Pangeran Kuda Permati, maka kau akan dapat membayangkan, bahwa yang pernah terjadi akan terulang kembali. Mungkin akan menjadi lebih dahsyat lagi dari neraka yang pernah diciptakan oleh Pangeran Kuda Permati.”

Arya Rumpit menarik nafas dalam-dalam. Meskipun ia berbeda sikap, tetapi iapun mengakui bahwa jika Pangeran Lembu Sabdata kemudian mengambil langkah seperti Pangeran Kuda Permati, maka yang terjadi tidak akan lebih berarti dari langkah yang pernah diambil oleh Pangeran Kuda Permati itu.

Seperti Senapati yang mendampingi Pangeran Kuda Permati pada saat terakhirnya dan menghentikan perlawanannya terhadap kekuatan Pangeran Singa Narpada, maka Arya Rumpit pun tidak melihat bahwa langkah-langkah yang sama akan dapat memberikan arti. Bahkan ia telah menduga, bahwa langkah yang diambil oleh Pangeran Singa Narpada dengan mencari keterangan tentang orang-orang yang pernah melandasi kekuatan Pangeran Kuda Permati itu adalah karena telah tercium adanya usaha ke arah itu.

Untuk beberapa saat lamanya Arya Rumpit itu termangu-mangu. Ada beberapa macam pertimbangan yang bergejolak di dalam hatinya. Bagaimanapun juga rasa-rasanya sangat berat baginya untuk mengkhianati setiap pengikut Pangeran Kuda Permati. Apalagi orang-orang yang pernah melandasi perjuangan Pangeran Kuda Permati dengan ilmu dan sipat kandel.

Namun keterangan Pangeran Singa Narpada memang masuk di akalnya. Orang-orang yang telah memberikan bekal ilmu dan pusaka kepada Pangeran Kuda Permati itu, seakan-akan tidak ikut mengalami betapa pahitnya perjuangan. Seperti seorang penyabung ayam yang memasang taji di kaki ayam jantannya Namun yang kemudian masuk ke arena dan bertarung sampai mati adalah ayam itu sendiri.

Sementara itu penyabung ayam itu akan mencari ayam yang lain yang akan dilemparkan pula ke arena untuk mati atau menang dan memberikan keuntungan yang besar baginya.

“Apakah kau melihat kemungkinan bahwa pusaka Pangeran Lembu Sabdata atau orang-orang yang berdiri di belakangnya sebagaimana pada masa Pangeran Kuda Permati itu akan mencapai satu hasil sebagaimana diharapkan, atau sekedar menambah angka kematian yang sia-sia?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

Arya Rumpit menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Cara Pangeran memeras keterangan kali ini ternyata tidak sebagaimana aku duga. Tetapi justru karena itu agaknya Pangeran telah berhasil. Aku justru merasa ingin menyebut orang-orang yang Pangeran anggap landasan perjuangan Pangeran Kuda Permati itu, karena mereka seakan-akan membiarkan Pangeran Kuda Permati tenggelam dalam gejolak perjuangannya tanpa berbuat apa-apa selain menonton sebagaimana menonton ayam sabungannya yang mati di arena. Dan kini mereka telah mengambil Pangeran Lembu Sabdata untuk dijadikan ayam sabungan mereka yang baru dan kemudian membiarkannya mati sebagaimana Pangeran Kuda Permati.”

Pangeran Singa Narpada mengerutkan keningnya. Agaknya Arya Rumpit pun mempunyai penilaian yang hampir sama meskipun tanpa mengorbankan keyakinannya, karena sebenarnyalah bahwa Arya Rumpit seakan-akan telah menuntut kepada orang-orang yang melepaskan Pangeran Kuda Permati berjuang sampai batas kematiannya.

Karena itu, Pangeran Singa Narpada tidak mendesaknya. Ia menunggu saja sampai saat Arya Rumpit mengucapkan karena dorongan kehendaknya sendiri. Karena Pangeran Singa Narpada menyadari, bahwa apabila orang itu tersinggung, mungkin ia akan membatalkan niatnya. Jika demikian maka tidak akan ada cara untuk dapat memeras keterangannya bahkan sampai kematiannya sekalipun.

Justru karena Pangeran Singa Narpada tidak menyahut atau bahkan mendesaknya, maka Arya Rumpit telah bercerita tentang orang-orang yang telah mendorong dan kemudian memberikan bekal ilmu kepada Pangeran Kuda Permati.

Katanya kemudian, “Nah, jika Pangeran ingin bertindak atas mereka, lakukan.”

Pangeran Singa Narpada termangu-mangu. Keterangan yang diberikan oleh Arya Rumpit itu sesuai dengan keterangan Senapati yang pada saat pergolakan terjadi dekat dengan Pangeran Kuda Permati, yang telah menghentikan perlawanan setelah Pangeran Kuda Permati terbunuh justru oleh isterinya sendiri.

Arya Rumpit pun telah menyebut pula tiga orang sebagaimana pernah dikatakan oleh Senapati itu. Dan Arya Rumpit pun telah menunjukkan padepokan mereka masing-masing.

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku percaya sepenuhnya kepadamu Arya Rumpit. Aku berterima kasih karena kau telah bersedia membantu aku, meskipun dengan tujuan yang lain. Tetapi keteranganmu itu telah memberikan batasan, kemana sebaiknya aku bergerak, meskipun kemungkinan justru bukan ketiga orang itu yang telah melakukannya.”

“Memang mungkin Pangeran. Tetapi jika yang melakukannya orang lain, maka aku tidak akan dapat memberikan petunjuk apapun juga,” berkata Arya Rumpit.


“Baiklah. Aku akan mulai dengan ketiga orang itu,” jawab Pangeran Singa Narpada.

“Tetapi Pangeran harus berhati-hati. Aku tahu bahwa Pangeran Singa Narpada memiliki ilmu yang sulit dicari bandingnya. Tetapi ketahuilah Pangeran, bahwa ketiga orang itu, atau seorang-seorang diantara mereka, adalah orang-orang yang melampaui tataran orang kebanyakan. Mereka seakan-akan memiliki ilmu iblis yang nggegirisi.” berkata Arya Rumpit.

“Aku akan mencobanya,” sahut Pangeran Singa Narpada, “mudah-mudahan aku dapat menemukannya.”

“Iblis-iblis itu tidak sendiri di dalam padepokan mereka. Mungkin ada putut atau cantrik terpercaya yang juga memiliki ilmu. Karena itu, Pangeran jangan membawa pengawal biasa, atau jika Pangeran membawa pengawal prajurit, bawalah pasukan segelar sepapan. Kepung padepokan itu satu demi satu dan hancurkan mereka sampai ke akarnya,” berkata Arya Rumpit.

“Nampaknya kau mendendam,” desis Pangeran Singa Narpada yang baru dapat diucapkannya setelah Arya Rumpit menyebut ketiga orang yang dimaksud.

Wajah Arya Rumpit menegang. Namun ia menjawab dengan jujur. “Ya. Justru mereka tidak melibatkan diri langsung setelah Pangeran Kuda Permati terseret oleh arus pemberontakannya, sehingga kematiannya,“ jawab Arya Rumpit.

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Tugas yang terbentang di hadapannya ternyata akan merupakan beban yang memang berat dan sulit untuk diselesaikan. Tetapi tidak ada tugas yang diingkari oleh Pangeran Singa Narpada.

Sejenak kemudian maka katanya kemudian, “Aku berterima kasih kepadamu, Arya Rumpit. Barangkali kau dapat memperalat aku untuk melepaskan dendammu. Tetapi sebenarnya aku sendiri sangat berkepentingan. Mungkin salah seorang diantara merekalah yang telah mengambil Pangeran Lembu Sabdata.“

“Silahkan Pangeran,” berkata Arya Rumpit kemudian, ”Mudah-mudahan Pangeran berhasil, sehingga Pangeran Lembu Sabdata tidak akan menjadi ayam sabungan yang kedua yang akan dilemparkan sampai mati ke arena.”

Dengan demikian, maka Arya Rumpit pun telah dikembalikan ke dalam bilik tahanannya, sementara Pangeran Singa Narpada sempat berbincang dengan Mahisa Bungalan ketika ia berada di istananya kembali.

“Apakah kita akan pergi ke padepokan-padepokan itu?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Ya. Kita akan pergi. Tidak banyak padepokan yang harus kita datangi. Hanya tiga. Mudah-mudahan kita akan berhasil,” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Mudah-mudahan Pangeran Lembu Sabdata ada di salah satu diantara ketiga padepokan yang disebut itu,” jawab Mahisa Bungalan.

“Tetapi aku harus berbicara dengan Sri Baginda. Mudah-mudahan Sri Baginda tidak berkeberatan jika aku meninggalkan Kediri. Mungkin tidak terlalu lama, tetapi mungkin kita tidak akan kembali,” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Kenapa?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Arya Rumpit telah mengatakan, bahwa padepokan-padepokan itu merupakan tempat-tempat yang sangat berbahaya bagi orang-orang yang tidak dikehendaki. Orang-orang yang disebut oleh Arya Rumpit dan Senapati yang terdekat dengan Pangeran Kuda Permati itu adalah orang-orang yang sangat berbahaya.” Jawab Pangeran Singa Narpada, ”Tetapi itu adalah tanggung jawab seorang prajurit.”

Mahisa Bungalan pun menarik nafas dalam-dalam. Ia pun menyadari bahwa salah satu kemungkinan yang dapat terjadi dengan tugasnya adalah kematian.

Demikianlah keduanya telah bersepakat untuk mencari orang-orang yang sudah disebut oleh Arya Rumpit. Meskipun mungkin yang akan mereka dapatkan sekedar keterangan, namun jika keterangan itu dapat memberikan kejelasan mengenai masalah yang dihadapi oleh Kediri, maka keterangan itu akan menjadi sangat berarti.

Namun yang harus dilakukan lebih dahulu oleh Pangeran Singa Narpada adalah mohon diri kepada Sri Baginda, sementara itu ia harus menghubungi para Panglima di perbatasan Kota Raja untuk bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.

Ketika Pangeran Singa Narpada menghadap Sri Baginda, maka seperti yang diduganya, Sri Baginda merasa agak berkeberatan untuk memberikan ijin kepada Pangeran Singa Narpada untuk meninggalkan Kota Raja.

“Jika terjadi sesuatu, maka tidak ada orang yang dapat aku ajak berbincang sekarang ini,” berkata Sri Baginda.

“Sebenarnya Sri Baginda tidak perlu mencemaskan keadaan sekarang ini. Suasananya menjadi semakin baik. Sementara itu kesiagaan prajurit di daerah perbatasan menjadi semakin mantap.“ Pangeran Singa Narpada berusaha meyakinkan. “Panji Sempana Murti adalah seorang Senapati yang dapat dipercaya, sementara itu Senapati yang lain di perbatasan juga telah menjadi semakin baik dalam tugasnya.”

Sri Baginda masih juga ragu-ragu. Namun Pangeran Singa Narpada menjelaskan, “Sri Baginda. Sementara ini hamba telah mengamati perkembangan keadaan. Sudah tentu jika terjadi satu gerakan, maka hal itu tidak akan dapat dilakukan dengan tiba-tiba. Satu kekuatan tentu harus disusun, sehingga baru kemudian gerakan itu dapat dilakukan. Sementara kekuatan itu disusun, maka para petugas sandi Kediri yang semakin tajam mengamati keadaan setelah pengalaman pahit yang terjadi baru-baru ini, tentu akan dapat menciumnya.”

Sri Baginda mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Aku mengerti. Tetapi aku pun mencemaskan dalam tugasmu yang berat itu. Apakah tidak ada orang lain yang dapat kau percaya untuk pergi. Sementara kau bersiap-siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi sepeninggal Pangeran Lembu Sabdata?”

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Sri Baginda. Dalam tugas yang berat ini, hamba tidak akan dapat sekedar mempercayakan kepada orang lain. Memang mungkin hamba tidak akan dapat kembali karena hamba gagal keluar dari tugas ini dengan selamat. Tetapi masih ada beberapa orang Senapati yang dapat dipercaya. Pangeran-pangeran yang lain, jika Sri Baginda menunjuknya dengan dukungan para Senapati akan dapat menyelesaikan persoalan. Sedangkan jika Sri Baginda tidak lagi mampu mengatasi persoalan yang timbul dengan dukungan para Senapati, maka Sri Baginda dapat berhubungan dengan Singasari.”

Sri Baginda termangu-mangu. Tetapi ia menyadari, bahwa yang akan dilakukan oleh Pangeran Singa Narpada itu adalah sebagian dari satu usaha untuk ketenangan Kediri. Karena itu, maka tidak ada pilihan lain bagi Sri Baginda selain mengijinkannya.

Karena itu, setelah dipertimbangkan masak-masak, maka Sri Baginda pun kemudian berkata, “Pangeran Singa Narpada. Aku memang tidak dapat mencegahmu. Kepergianmu juga merupakan salah satu usaha untuk ketenangan Kediri. Namun pesanku, kau harus sangat berhati-hati. Jika kau merasa bahwa usahamu tidak akan berhasil, maka lebih baik usahamu itu kau lepaskan. Kau kembali ke Kota Raja dan membuat persiapan-persiapan seperlunya.”

“Hamba Sri Baginda,” jawab Pangeran Singa Narpada, ”hamba akan selalu membuat perhitungan-perhitungan, yang manakah yang paling menguntungkan untuk dilakukan.”

Demikianlah, maka Sri Baginda pun akhirnya telah mengijinkan Pangeran Singa Narpada untuk pergi. Namun dengan berbagai macam pesan dan permintaan-permintaan.

Sementara itu, Pangeran Singa Narpada pun berpesan, agar kepergiannya dirahasiakan. Tidak ada orang lain yang perlu diberitahukan tentang kepergiannya itu.

“Jika perlu, justru Sri Baginda hamba mohon untuk memberikan kesan bahwa hamba kembali memasuki sanggar sebagaimana hamba lakukan beberapa waktu yang lewat.” Mohon Pangeran Singa Narpada.

Dengan penuh pengertian Sri Baginda mengangguk-angguk sambil menjawab, “Aku akan melakukannya.”

Karena itulah, maka ketika Pangeran Singa Narpada meninggalkan Kota Raja, tidak ada seorang pun yang mengetahui kecuali kepercayaannya. Seperti pada waktu ia memasuki halaman istananya, maka Pangeran Singa Narpada pun meninggalkan istananya dengan meloncati dinding.

Tetapi Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan yang menyertainya menjadi terkejut. Demikian mereka turun ke dalam kegelapan, diluar dinding halaman mereka mendengar desir di belakang mereka. Ketika mereka dengan cepat memperhatikan arah suara itu, maka mereka telah melihat dua sosok bayangan yang meloncat turun.

Jantung Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan pun menjadi berdegupan. Dengan serta merta keduanya telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Kedua sosok tubuh itu harus ditangkapnya agar tidak membuka rahasia kepergian Pangeran Singa Narpada.

Namun tiba-tiba saja terdengar seorang diantara keduanya berdesis, “Aku kakang.”

“Siapa?“ Mahisa Bungalan menegaskan.

“Mahisa Murti dan Mahisa Pukat,“ jawab suara itu.

“O, anak itu,“ geram Mahisa Bungalan. ”Kenapa kau membuat kami terkejut. Dan apa kerjamu disini?”

“Aku ingin menyusul kakangmas,” jawab Mahisa Murti, “Mungkin kakang memerlukan bantuan kami.”

“Tetapi caramu bukan cara yang baik,” jawab Mahisa Bungalan.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan. Baru kemudian Mahisa Murti menjawab, “Kami ingin melihat-lihat suasananya. Kami tidak yakin, bahwa kami akan dapat memasuki lingkungan istana Pangeran Singa Narpada melalui jalan yang lain.”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata, “Aku memohonkan maaf bagi keduanya Pangeran.“

“Baiklah,” jawab Pangeran Singa Narpada yang sebenarnya kurang senang juga atas tingkah kedua anak muda itu.

Sementara itu, Mahisa Bungalan pun bertanya, “Kenapa kau tinggalkan rumah? Apakah kau sudah selesai dengan langkah terakhir daripada laku yang harus kau jalankan dengan ilmumu!”

“Sudah kakang. Pada saat kakang meninggalkan rumah, maka aku sudah mendekati laku terakhir itu. Demikian kami berdua menyelesaikan laku terakhir dalam tuntunan ayah dan paman Witantra maka kami mohon diri untuk menyusul kakang.“ jawab Mahisa Murti.

“Bagaimana jika kalian tidak dapat bertemu dengan aku?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Kami dapat menempuh dua jalan. Kembali pulang atau kembali ke tugas-tugasku dengan pertanda cincin sandi ini,” jawab Mahisa Pukat.

Mahisa Bungalan termangu-mangu sejenak. Kemudian ia-pun bertanya pula, “Kapan kau memasuki halaman ini?”

“Sejak senja. Kami merasa bingung, bagaimana caranya untuk dapat menemui kakang. Kami telah menunggu beberapa lama. Tetapi kami tidak melihat kakang sama sekali. Baru kemudian kami melihat kakang keluar dari pintu samping dan justru keluar dari halaman istana ini.”

“Sudahlah,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Sekarang kita bicarakan, bagaimana dengan kedua adikmu. Bahwa keduanya bukan anak-anak lagi, telah ternyata bahwa keduanya mampu menyelesaikan laku terakhir dari puncak ilmunya. Karena itu menurut perhitunganku, maka keduanya telah memiliki bekal yang cukup untuk memasuki dunia olah kanuragan dengan segala macam semak dan durinya.”

“Ya. Jika tidak, maka ayah tentu tidak akan melepaskannya,” sahut Mahisa Bungalan. Namun kemudian ia masih bertanya kepada kedua adiknya, “He, apakah kalian berhasil dengan baik melampaui hambatan terakhir dalam laku yang kalian jalani.”

“Ya. Kakang,” jawab Mahisa Murti, “Kami berhasil dengan baik menurut keterangan ayah dan paman Witantra.”

“Baiklah. Marilah, kita keluar dari Kota Raja. Baru kemudian kita menentukan langkah-langkah,” berkata Mahisa Bungalan kemudian.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mengangguk-angguk. Sementara itu, Mahisa Bungalan dan Pangeran Singa Narpada pun segera beringsut dari tempatnya dan meninggalkan istana kepangeranan untuk waktu yang tidak ditentukan.

Dalam perjalanan keluar kota itu Mahisa Bungalan masih bertanya, “Laku yang kalian jalani nampaknya begitu tergesa-gesa. Hanya berselisih sedikit saja dari keberangkatanku. Apakah ayah dan paman Witantra memang mempercepat laku yang harus kau jalani?”

“Tidak,” sahut Mahisa Murti, “Kami menjalani laku sebagaimana direncanakan. Tidak ada yang dipercepat.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Agaknya karena ia sendiri sibuk dengan usaha untuk mencapai puncak ilmu yang diwarisinya dari Mahisa Agni, maka Mahisa Bungalan kurang dapat mengikut tahap-tahap laku yang ditempuh adiknya, sehingga terasa begitu cepat selesai.

Namun Mahisa Bungalan pun menyadari, bahwa dalam waktu pengembaraannya, kedua adiknya itu dengan tekun di dalam sanggar untuk mempersiapkan diri.

Demikianlah, maka dengan sangat hati-hati mereka telah keluar dari dinding kota. Untuk menghindari bermacam-macam masalah, maka mereka tidak keluar melalui pintu gerbang yang dijaga oleh para pengawal. Tetapi mereka telah meloncati dinding.

Malam itu juga maka keempat orang itu telah menjadi semakin jauh dari dinding Kota Raja, melintasi daerah kuasa para Panglima di perbatasan dan ketika fajar menyingsing, mereka tengah menyusuri jalan yang semakin jauh.

“Kita langsung menuju ke sasaran. Kita memerlukan waktu dua hari perjalanan,” berkata Pangeran Singa Narpada.

Mahisa Bungalan mengangguk. Namun kemudian ia berdesis di telinga Pangeran Singa Narpada, ”Bagaimana dengan kedua adikku?”

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Bukankah kau percaya kepada kedua adikmu?”

“Ya. Aku percaya kepada mereka. Apalagi mereka sebenarnya memiliki pertanda cincin petugas sandi dari Singasari,” jawab Mahisa Bungalan.

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian kita tidak mempunyai keberatan. Tetapi mereka harus mengerti, bahwa kita menempuh satu perjalanan yang berbahaya. Yang harus aku pertanyakan adalah justru kau dan kedua adikmu. Kalian adalah tiga orang bersaudara.”

“Kenapa jika kami bersaudara?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Aku kadang-kadang menasehatkan kepada prajurit-prajuritku yang akan pergi ke medan perang. Jika ada diantara mereka kakak beradik, aku memberi kesempatan kepada mereka untuk tinggal salah seorang diantaranya.”

Mahisa Bungalan lah yang kemudian mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Pangeran Singa Narpada. Katanya, “Aku mengerti Pangeran. Jika terjadi bencana, biarlah kami tidak digulung bersama-sama.”

“Ya.“ Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk.

“Mudah-mudahan kami tidak mengalami nasib buruk, sehingga ayah kami akan kehilangan ketiga anaknya sekaligus,” berkata Mahisa Bungalan. ”Tetapi ayah pun adalah seorang pengembara pada masa mudanya, bahkan pekerjaan ayah pun menuntut agar ayah sebagai pedagang wesi aji dan batu-batuan masih juga harus mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Karena itu ayah tentu menyadari, bahaya yang mengancam kami, sementara ayah justru telah mengirimkan kedua adikku itu kepadaku. Maksudnya tentu berlawanan dengan kecemasan Pangeran. Ayah bermaksud agar kami dapat saling menolong.”

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah jika demikian. Tetapi kalian bertiga harus dapat membagi tugas dan kewajiban kalian sehingga kemungkinan yang paling buruk akan dapat dihindari.”

“Baiklah Pangeran. Kita akan melihat suasana pada saat-saat kita sudah mendekati sasaran. Pangeran lah yang akan memilih, yang manakah yang akan kita datangi lebih dahulu.”

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan berjalan beberapa ratus patok lagi. Kita akan dapat beristirahat karena semalam-malaman kita berjalan terus.”

Mahisa Bungalan tidak menjawab. Tetapi iapun berpaling juga kepada kedua adiknya. Kedua orang itu tentu merasa letih juga karena mereka menempuh perjalanan sejak hari sebelumnya, sehingga ketika senja turun keduanya telah memasuki halaman istana Pangeran Singa Narpada.

Tetapi Mahisa Bungalan tidak menanyakannya. Meskipun letih, tetapi kedua adiknya tentu telah mampu mengatur kemampuan tubuh mereka karena latihan-latihan yang mereka jalani sebelumnya.

Namun bagaimanapun juga, Mahisa Bungalan memang menganggap perlu bahwa mereka harus beristirahat. Apalagi perjalanan mereka sudah cukup jauh, serta dengan pakaian yang mereka kenakan, maka tidak seorang pun akan mengenali mereka lagi sebagai orang-orang dari lingkungan istana dan keprajuritan.

Keempat orang itu masih berjalan sampai matahari naik sepenggalah. Ketika mereka melintasi sebuah pasar yang ramai, maka Pangeran Singa Narpada mengajak mereka untuk berhenti barang sebentar.

“Kita singgah di salah sebuah warung. Tiba-tiba saja aku ingin minuman-minuman panas sebagaimana kebiasaanku tiap pagi,” berkata pangeran Singa Narpada.

Demikianlah, maka keempat orang itupun telah singgah di sebuah warung diluar pasar yang ramai itu. Keempat orang itu sudah tidak perlu lagi mencemaskan tentang kehadirannya, bahwa akan ada orang yang mengenalnya.

Dengan gaya sebagaimana para petani, maka keempat orang itupun telah memesan makanan dan minuman.

Pada kesempatan itu pula Mahisa Bungalan telah memberitahukan kepada kedua adiknya, apa yang harus mereka lakukan? Dengan perlahan-lahan dan hati-hati Mahisa Bungalan menyebut arah kepergian mereka.

“Kami belum pernah melihat padepokan-padepokan itu,” berkata Mahisa Bungalan, “Kami mendapat petunjuk arah dan ciri-ciri orang yang akan kita temui.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka menyadari bahwa tugas mereka adalah tugas yang cukup berat. Mencari Pangeran Lembu Sabdata dan mahkota yang hilang itu.

“Bukankah kalian pernah mengenal Pangeran Lembu Sabdata?” bertanya Mahisa Bungalan, “Mungkin ada perubahan-perubahan pada dirinya. Umurnya pun semakin tua seperti umur kalian yang memanjat pula. Tetapi mungkin juga Pangeran Lembu Sabdata dengan sengaja telah berusaha untuk berubah.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Mahisa Murti menyahut, “Kami akan berusaha untuk dapat mengenalinya jika kami menemuinya. Mudah-mudahan kami tidak dikelabui oleh usaha yang memang mungkin dilakukannya.”

“Kita bersama-sama akan berusaha,” sahut Pangeran Singa Narpada, ”ia adalah saudaraku. Aku mengenalnya sebagaimana aku mengenal diriku sendiri. Tetapi memang ada satu kemungkinan bahwa dengan sengaja ia berusaha untuk berubah. Karena itu, maka diperlukan daya ingat yang kuat jika kita bertemu dengan Lembu Sabdata.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk pula. Sementara itu, makanan dan minuman yang mereka pesan-pun telah tersedia. Pangeran Singa Narpada pun telah meneguk minuman panasnya. Badannya yang terasa dingin telah menjadi segar.

Setelah meneguk beberapa teguk dan makan beberapa kerat makanan, maka Pangeran Singa Narpada pun kemudian berkata hampir berbisik, ”Mungkin kita dapat datang ke padepokan Panembahan Bajang. Menurut keterangan Pangeran, jalan ke Panembahan Bajang adalah jalan yang paling mudah ditelusuri.”

“Ya,” jawab Pangeran Singa Narpada, ”Demikianlah menurut Arya Rumpit.”

“Tetapi bukankah Pangeran percaya kepada Arya Rumpit?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Ya. aku percaya kepada Arya Rumpit. Senopati itu agaknya telah dibakar dendam pula di hatinya,” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Dengan demikian maka keterangannya dapat kita jadikan pedoman,” berkata Mahisa Bungalan.

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya, kita memang akan berpegangan kepada keterangannya.”

Dengan demikian, maka setelah mereka selesai dan membayar minuman dan makanan, mereka pun telah meninggalkan warung itu.

Untuk beberapa saat mereka masih beristirahat di sebelah pasar itu sambil memperhatikan orang-orang yang hilir mudik untuk mendapatkan kebutuhan masing-masing.

Ternyata keadaan di pedesaan sudah berangsur tenang. Tidak nampak sama sekali bekas-bekas pertempuran yang membakar Kediri, yang ajangnya memang sebagian terbesar adalah daerah-daerah perbatasan.


Setelah beristirahat beberapa lamanya, dan setelah mereka membeli bekal yang dapat mereka makan sambil berjalan untuk sekedar mengisi waktu dan kejenuhan di perjalanan pada saat-saat mereka letih berbicara, maka mereka pun telah melanjutkan perjalanan mereka yang masih panjang.

Demikianlah, maka sebagai pengembara yang berpengalaman, maka keempat orang itu menempuh perjalanan mereka dengan rancak. Tidak ada hambatan yang terasa mengganggu. Panas matahari, debu yang mengepul, haus dan kelelahan sama sekali tidak dapat menahan perjalanan mereka. Latihan-latihan yang berat serta laku yang pernah mereka jalani pada saat-saat mereka menuntut ilmu sampai ke puncak, telah membentuk mereka menjadi orang-orang yang memiliki kelebihan dari orang lain. Namun demikian, bagaimanapun juga, mereka adalah orang-orang yang memiliki keterbatasan.

Sebagaimana telah mereka ketahui, mereka memerlukan waktu perjalanan dua hari, jika mereka memang ingin menu-juke padepokan Panembahan Bajang.

Perjalanan itu dapat mereka tempuh tanpa kesulitan yang berarti. Seperti petunjuk yang diberikan oleh Arya Rumpit, maka padepokan yang dihuni oleh Panembahan Bajang terletak tidak terlalu jauh dari padukuhan-padukuhan yang terbesar di sekelilingnya.

“Kita harus mengetahui medan yang akan kita hadapi,” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Maksud Pangeran, kita tidak akan langsung memasuki padepokan itu?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Ya. Kita akan melihat suasana padepokan itu,“ jawab Pangeran Singa Narpada, ”Meskipun barangkali kehadiran kita akhirnya diketahui juga oleh Panembahan Bajang yang memiliki ilmu yang tinggi. Namun dengan demikian, kita sudah dapat mengetahui serta sedikit tentang padepokan itu. Mungkin Pangeran Lembu Sabdata ada pula di padepokan itu.”

Namun mereka harus berhati-hati, karena padepokan itu merupakan padepokan yang berada diantara padukuhan-padukuhan yang barangkali telah terjalin satu kehidupan yang akrab.

Mungkin Panembahan Bajang justru merupakan orang yang sangat dihormati dan disukai oleh orang-orang di padukuhan-padukuhan di sekitarnya.

Tetapi segala sesuatunya masih harus diamati dengan cermat.

Demikianlah, maka Pangeran Singa Narpada dan ketiga orang yang datang bersamanya telah berusaha untuk mendapatkan tempat bersembunyi yang baik yang dapat mereka pergunakan untuk segala keperluan. Tidur, beristirahat sambil makan dan minum, berbincang dan merayap mendekati padepokan itu.

“Kita tidak mungkin membuat api disini,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Asap yang mengepul akan menarik perhatian.”

“Jadi?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Kita membeli makanan dan kita minum air belik yang mungkin terdapat di sekitar tempat ini,” jawab Pangeran Singa Narpada.

Mahisa Bungalan hanya mengangguk-angguk saja. Ia mengerti bahwa Pangeran Singa Narpada sebagai seorang Pangeran, telah membawa bekal uang yang cukup banyak, sementara Mahisa Bungalan sendiri juga membawa bekal uang. Bahkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah membawa pula.

Dalam pada itu, maka Pangeran Singa Narpada berkata, “Aku yakin, bahwa pada salah satu padukuhan yang banyak terdapat di sekitar padepokan itu, tentu terdapat satu atau bahkan lebih pasar.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Tetapi pasar itu masih harus dicari.

Dengan demikian, maka ketika fajar menyingsing di hari berikutnya, Mahisa Bungalan lah yang mendapat tugas untuk menemukan sebuah pasar, karena orang yang paling sedikit pernah bersentuhan dengan Pangeran Lembu Sabdata. Jika benar Pangeran Lembu Sabdata ada di daerah itu, maka mungkin sekali mereka bertemu. Baik Mahisa Bungalan maupun Pangeran Lembu Sabdata tentu tidak akan saling mengenal.

Dengan ujud seorang pengembara Mahisa Bungalan telah menyelusuri jalan-jalan yang menghubungkan padukuhan yang satu dengan padukuhan yang lain. Dengan pengalaman seorang pengembara maka Mahisa Bungalan tidak terlalu sulit untuk menemukan yang dicarinya. Diikutinya orang-orang yang agaknya membawa dagangan untuk dijual. Mereka pada umumnya akan pergi ke pasar atau tempat yang kegunaannya seperti pasar.

Sebenarnyalah dengan mudah akhirnya Mahisa Bungalan memang menemukan sebuah pasar. Memang pasar yang kecil saja, tetapi di dalamnya terdapat kebutuhan yang diperlukan.

Kecuali mendapat apa yang diperlukan, maka Mahisa Bungalan pun telah mendapat satu keyakinan bahwa ia tidak datang ke tempat yang salah. Bangunan yang berada diantara padukuhan-padukuhan itu memang benar sebuah padepokan yang dihuni oleh Panembahan Bajang. Padepokan itu benar bernama Padepokan Tegal Karang.

Ketika ia kembali ke tempat persembunyiannya, maka iapun telah memberitahukan hal itu kepada Pangeran Singa Narpada, bahwa mereka telah datang di tempat yang benar.

“Bangunan itu memang padepokan Tegal Karang,” berkata Mahisa Bungalan.

“Arya Rumpit tidak berbohong,” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Kita akan menyelidiki padepokan itu,” berkata Mahisa Bungalan, “Mungkin padepokan itu merupakan padepokan tempat persembunyian Pangeran Lembu Sabdata.”

“Ya. Kita harus mengamatinya,“ jawab Pangeran Singa Narpada.

Dengan demikian, maka mereka pun telah menyusun satu rencana yang akan mereka lakukan bergantian. Setiap hari mereka akan mengamati pintu gerbang padepokan itu. Pangeran Singa Narpada yang mengenal dengan baik Pangeran Lembu Sabdata akan mengamati bersama Mahisa Bungalan, sementara di hari berikutnya akan mengamati padepokan itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sudah mengenal Pangeran Lembu Sabdata pula.

Dengan telaten mereka melakukan tugas itu. Tetapi mereka-tidak pernah melihat orang yang mereka cari lewat pintu gerbang itu keluar maupun masuk. Bahkan mereka pun tidak pernah melihat seorang yang bertubuh kerdil keluar masuk pintu gerbang itu.

“Kita harus melihat lebih dekat lagi,” berkata Pangeran Singa Narpada.

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Dengan hati-hati mereka mencoba mendekati padepokan itu dan bahkan mereka telan berada di depan pintu gerbang.

Ketika seorang cantrik kebetulan keluar dari pintu gerbang maka Mahisa Bungalan dalam pakaian seorang pengembara telah menemuinya. Dengan suara memelas iapun berkata, “Ki Sanak, apakah aku dapat minta seteguk air?”

Cantrik itu mengerutkan keningnya. Kemudian ditunjuknya sebuah genthong yang berisi air yang memang diletakkan di sisi gerbang.

“Kami memang sudah selalu menyediakan air bersih. Silahkan minum Ki Sanak.”

“O, terima kasih,” jawab Mahisa Bungalan, “Tetapi siapakah yang menghuni tempat ini? Agaknya sebuah padepokan.”

“Ya. Sebuah padepokan. Aku adalah salah seorang cantriknya. Padepokan ini dipimpin oleh Panembahan Bajang,” jawab cantrik itu.

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Lalu iapun bertanya, “Apakah setiap orang boleh menghadap?”

Cantrik itu mengerutkan keningnya. Dipandangi Mahisa Bungalan dengan tajamnya. Kemudian iapun bertanya, “Kau siapa Ki Sanak?”

“Aku seorang pengembara,” jawab Mahisa Bungalan, “Aku sudah lama mengembara. Sebenarnya aku ingin berhenti. Semisal burung yang terbang di udara, aku menjadi kelelahan. Aku ingin mendapat tempat untuk hinggap.”

“Kau dapat beristirahat di padepokan ini Ki Sanak,” jawab cantrik itu.

“Apakah pemimpin padepokan ini tidak akan marah?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Tidak. Tentu tidak. Panembahan Bajang adalah seorang Panembahan yang sangat baik. Ia suka menolong orang-orang yang mengalami kesulitan,” jawab cantrik itu.

“Jadi aku juga diperkenankan menghadap?” bertanya Mahisa Bungalan itu pula.

“Tentu Ki Sanak jika Panembahan kebetulan ada,” jawab cantrik itu, “Tetapi sayang, Panembahan sedang tidak ada di tempat.”

“O.“ Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. “jadi Panembahan Bajang itu sedang pergi?”

“Ya,” jawab cantrik itu.

“Kemana?” bertanya Mahisa Bungalan, “Dan kapan Panembahan Bajang itu akan pulang?”

“Panembahan Bajang sedang mengunjungi kawan-kawannya. Ia mungkin berada di padepokan Lemah Teles, tetapi mungkin berada di padepokan Ara-ara Lawang,” jawab cantrik itu.

“O.“ Mahisa Bungalan mengangguk-angguk pula. “Siapakah yang tinggal di kedua padepokan itu.“

Di Lemah Teles tinggal Ki Ajar Bomantara, sedangkan di padepokan Ara-ara Lawang tinggal mPu Lengkon,” jawab cantrik itu.

“Keduanya sahabat Panembahan Bajang?” bertanya Mahisa Bungalan pula.

“Ya. Mereka adalah orang-orang yang paling akrab dengan Panembahan Bajang,” jawab cantrik itu.

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Tetapi Ki Sanak, selain Panembahan Bajang, apakah ada orang lain yang berpengaruh di padepokan ini dan dapat memberikan perlindungan kepadaku jika aku berada di padepokan ini?”

“Kenapa kau bertanya begitu? Tidak akan ada apa-apa. Aku bertanggung jawab. Jika terjadi sesuatu atasmu pada saat Panembahan Bajang pulang, biarlah leherku dipenggal. Kau tidak perlu perlindungan apapun juga,” jawab cantrik itu. “Apalagi di padepokan ini memang tidak ada orang lain. Panembahan Bajang memimpin padepokan ini seorang diri,” jawab cantrik itu.

“Dan ia juga pergi seorang diri?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Ya. Panembahan Bajang pergi seorang diri. Sudah menjadi kebiasaannya pergi seorang diri kemanapun,” jawab cantrik itu. Namun tiba-tiba cantrik itulah yang bertanya, “Kau terlalu banyak ingin mengerti Ki Sanak.”

“O, tidak.” Dengan serta merta Mahisa Bungalan menjawab, “Aku hanya ingin berbicara. Apa saja.”

“Baiklah. Silahkan, bukankah kau ingin minum dan kemudian ingin berteduh di padepokan kami?” bertanya cantrik itu.

“Aku memang ingin minum Ki Sanak. Tetapi apakah aku akan berteduh di padepokan ini atau tidak, akan aku bicarakan dengan kawanku. Tetapi karena Panembahan Bajang tidak ada, mungkin aku akan singgah kemudian,“ jawab Mahisa Bungalan.

Cantrik itu mengerutkan keningnya. Namun terbersit kesan pada wajahnya, bahwa cantrik itu justru ingin lebih banyak tahu tentang Mahisa Bungalan itu.

Namun dalam pada itu, dengan sikap seorang yang sangat letih, iapun melangkah mendekati genthong yang berisi air. Dengan sebuah siwur dari batok kelapa ia mengambil air dari genthong itu dan meneguknya. Alangkah segarnya.

Pangeran Singa Narpada pun kemudian mendekat pula ketika Mahisa Bungalan memanggilnya dan minum pula sepuas-puasnya.

Melihat betapa kedua orang itu minum, maka seakan-akan kecurigaan cantrik itu menjadi hilang. Karena itu, maka iapun bertanya, “Jadi, apakah kalian akan singgah atau tidak?”

“Terima kasih Ki Sanak,” jawab Mahisa Bungalan, “Aku akan datang lagi pada saat Panembahan Bajang ada di padepokan.”

Cantrik itu mengangguk-angguk. Katanya, “Terserahlah. Sebenarnya tidak akan terjadi sesuatu meskipun Panembahan tidak ada. Tetapi jika kalian ragu-ragu, apa boleh buat.”

“Terima kasih Ki Sanak. Tetapi sebenarnyalah kami ingin singgah di kesempatan lain,” jawab Mahisa Bungalan.

Cantrik itupun kemudian melangkah pergi. Agaknya ia akan pergi ke sawah atau ke pasar untuk membeli kebutuhan mereka sehari-hari di padepokan itu.

Dengan demikian, maka baik Mahisa Bungalan maupun Pangeran Singa Narpada mengambil kesimpulan, bahwa Pangeran Lembu Sabdata tidak ada di tempat itu. Seandainya ia ada di padepokan itu, maka ia tidak lebih dari cantrik kebanyakan. Karena itu, maka keduanya menganggap bahwa untuk sementara padepokan itu dapat ditinggalkan.

“Jika kita singgah di padepokan itu, dan Lembu Sabdata ada diantara mereka yang disebut para cantrik, maka ia akan segera mengenal aku,” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Jika ia mengenal aku lebih dahulu daripadanya, maka ia tentu akan dengan diam-diam meninggalkan padepokan ini dan bersembunyi di tempat yang lebih rumit lagi.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Dengan demikian maka tugasnya bersama Pangeran Singa Narpada akan menjadi semakin sulit.

Sementara itu Pangeran Singa Narpada melanjutkan. “Sedangkan jika Lembu Sabdata tidak ada di padepokan itu, maka waktu kita pun akan terampas jika kita singgah.”

“Ya Pangeran,” jawab Mahisa Bungalan yang memang tidak ingin singgah di tempat itu, “Karena itu, maka kita akan berjalan terus, ke padepokan berikutnya.”

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita kembali ke tempat kita bersembunyi untuk menemui Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Kita akan segera bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Dari Arya Rumpit aku sudah mendapat ancar-ancar kedua padepokan itu. Mudah-mudahan kita akan dapat menemukannya.”

Dengan demikian maka keduanya pun telah meninggalkan padepokan yang sedang ditinggalkan oleh pemimpinnya itu. Mereka yakin bahwa Pangeran Lembu Sabdata tidak ada di padepokan itu. Selain keterangan cantrik itu, memang tidak ada seorang-pun yang pantas dicurigai sebagai Pangeran Lembu Sabdata yang hilir mudik dan keluar masuk padepokan itu.

Namun demikian Pangeran Singa Narpada masih ingin meyakinkan lagi untuk barang sehari. Dari tempat yang tersembunyi menjelang matahari terbit, Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan mengamati isi padepokan itu dari sebatang pohon di luar dinding, sementara di sore harinya, menjelang senja, pengamatan itupun diulanginya. Namun hasilnya, mereka memang tidak melihat orang yang mirip atau dapat disangka sebagai Pangeran Lembu Sabdata.

Karena itulah, maka di hari berikutnya, ketika sisa malam masih gelap, maka Pangeran Singa Narpada bersama-sama dengan kelompoknya telah meninggalkan tempat persembunyiannya dan melangkah menuju ke padepokan yang lain.

“Kita mau kemana?” bertanya Pangeran Singa Narpada, ”Kepada Ki Ajar yang dipanggil guru oleh Pangeran Kuda Permati atau ke padepokan mPu Lengkon?”

“Terserahlah kepada Pangeran,” jawab Mahisa Bungalan, “bagi kita agaknya sama saja. Seandainya kita tahu kemana Panembahan Bajang itu pergi, maka kita akan memilih mengunjungi padepokan yang dikunjungi oleh Panembahan Bajang itu. Tetapi karena kita tidak tahu, maka yang manapun akan sama saja bagi kita.”

“Ya. Beruntunglah jika kita sampai ke padepokan yang kebetulan dikunjungi pula oleh Panembahan Bajang,” berkata Pangeran Singa Narpada.

Dengan demikian maka mereka akan menuju ke padepokan yang paling dekat diantara padepokan Ki Ajar dan padepokan mPu Lengkon.

“Kita hanya memerlukan waktu kira-kira dua hari untuk sampai ke padepokan mPu Lengkon. Sedangkan jika kita pergi ke padepokan Ki Ajar, kita memerlukan waktu tiga hari. Meskipun demikian masih juga tergantung apakah kita selalu berada di jalan yang benar. Jika kita salah memilih jalan, mungkin waktunya akan dapat menjadi lebih panjang,” berkata Pangeran Singa Narpada.

“Sebagaimana orang yang pernah mengembara maka mudah-mudahan kita tidak terlalu banyak mengalami kesulitan untuk mengenali jalan yang sudah diancar-ancarkan. Tetapi memang tidak mustahil bahwa kita salah memilih jalan sehingga kita akan memakan waktu yang lebih panjang,” jawab Mahisa Bungalan.

Namun baik Pangeran Singa Narpada, Mahisa Bungalan, maupun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat adalah orang-orang yang sudah terbiasa melakukan pengembaraan sehingga bagi mereka perjalanan yang mereka tempuh saat itu bukanlah perjalanan yang akan sampai kepada batas jalan buntu, karena mereka akan mungkin memecahkan kesulitan-kesulitan untuk sampai ke tujuan.

Dengan tidak banyak kesulitan di perjalanan mereka mencari pertanda-tanda yang pernah disebut oleh Arya Rumpit yang akan membawa mereka sampai ke padepokan mPu Lengkon. Ternyata bahwa pertanda-pertanda itu cukup meyakinkan sehingga keempat orang itu merasa bahwa mereka akan dapat sampai ketujuan sesuai dengan waktu yang diperkirakan atau seandainya menjadi bertambah panjang, tentu tidak akan sampai menjadi dua kali lipat.

Seperti perjalanan yang pernah ditempuh, baik oleh keempat orang itu ketika mereka pergi ke padepokan Panembahan Bajang, maupun perjalanan-perjalanan yang lain dari Pangeran Singa Narpada sendiri, maka mereka tidak perlu cemas mengalami kesulitan tentang makan dan minum di perjalanan, karena Pangeran Singa Narpada memang membawa bekal uang yang cukup. Sehingga kadang-kadang justru telah menimbulkan berbagai tanggapan dari orang-orang yang bersamaan berada di dalam sebuah warung. Bahkan ada juga pemilik warung yang ragu-ragu, apakah ia akan memenuhi semua pesanan keempat orang itu. Ada pemilik warung yang berprasangka bahwa keempat orang itu akan tidak membayar pesanan mereka dan begitu saja pergi sebagaimana memang pernah terjadi bahwa sekelompok orang-orang yang tidak bertanggung jawab memesan makanan dan minuman serta menghabiskannya, namun tidak mau membayar harganya.

Tetapi Pangeran Singa Narpada tidak pernah merugikan orang lain dengan cara yang demikian. Namun justru karena itu, maka orang-orang yang melihatnya menjadi heran, bahwa sekelompok pengembara nampaknya membawa bekal yang cukup banyak.

Namun agaknya bekal yang cukup itu memang selalu menarik perhatian. Ternyata keempat orang pengembara itu telah terjebak ke dalam sebuah padukuhan yang dihuni oleh sekelompok perampok yang garang.

Ketika keempat orang itu mohon untuk diijinkan bermalam di banjar, maka dengan ramah orang yang menjaga banjar itu mempersilahkan. Bahkan keempat orang itu telah mendapatkan pelayanan yang sangat baik.

Tetapi dalam pada itu, penjaga banjar itu telah menghubungi Ki Bekel dari padukuhan itu dan menceriterakan bahwa empat orang pengembara bermalam di banjar.

“Apakah mereka membawa sesuatu yang berharga?” bertanya Ki Bekel.

“Aku tidak tahu Ki Bekel. Tetapi Ki Subra siang tadi berceritera tentang empat orang pengembara yang dijumpainya di sebuah warung dan ternyata menurut pengamatannya, membawa uang yang cukup banyak,” jawab penjaga banjar itu.

“Hubungi Subra dan tanyakan kepadanya, apakah benar orang-orang itu yang dimaksud. Jika benar, maka malam nanti, kalian dapat bertindak,” jawab Ki Bekel.

“Jika bukan?” bertanya penjaga itu.

“Biarkan mereka bermalam dengan tenang dan tidur dengan nyenyak di Banjar ini. Biarlah mereka menceriterakan kepada orang-orang yang mereka jumpai bahwa padukuhan kita adalah padukuhan yang sanggup memberikan tempat bagi orang yang kemalaman, memberikan minum bagi orang yang kehausan dan memberi makan kepada orang yang kelaparan,” berkata Ki Bekel. ”Tetapi jika benar keempat orang itu memiliki bekal yang berarti bagi kita, maka keempatnya nanti malam harus dikubur di tempat yang sudah disediakan bagi mereka yang mengalami nasib buruk di padukuhan ini.”

Penjaga banjar itu mengangguk-angguk. Dengan tergesa-gesa iapun kemudian pergi ke rumah Ki Subra untuk meyakinkan apakah keempat orang itu benar orang-orang yang dimaksud.

Ketika orang yang disebut Ki Subra dihubungi oleh penjaga banjar itu, maka iapun segera pergi ke banjar untuk melihat apakah benar keempat orang itu adalah orang yang dilihatnya di warung dengan bekal uang yang cukup banyak.

“Ya. Mereka,” berkata Ki Subra.

“Menurut Ki Bekel, kita dapat bertindak malam nanti,” berkata penjaga banjar itu.

Ki Subra mengangguk-angguk. Katanya, “berikan isyarat kepada orang-orang padukuhan ini, bahwa malam ini kita menjebak empat orang yang harus kita selesaikan.”

Penjaga banjar itu mengangguk-angguk. Karena itulah, maka sejenak kemudian, maka penjaga banjar itu telah memukul kentongan dengan irama dara muluk, tetapi dengan beberapa isian yang tidak terbiasa terdengar pada irama dara muluk. Isian dengan pukulan ganda empat, dua kali berturut-turut.

Orang-orang lain dari penghuni padukuhan itu tidak tahu apakah arti dari bunyi kentongan itu. Nadanya memang tidak jauh berbeda dengan nada dara muluk biasa, sehingga dalam sekilas, orang-orang yang mendengarkannya menganggap bahwa bunyi kentongan itu memang bernada dara muluk. Bahkan ada yang menganggap bahwa pemukul kentongan itu telah membuat beberapa kesalahan yang tidak disengaja.

Tetapi bagi penghuni padukuhan itu, maka suara kentongan itu merupakan satu perintah, agar penghuni padukuhan itu bersiap-siap. Ada empat orang di banjar yang akan mereka jadikan mangsa, sehingga sebidang tanah yang memang mereka sediakan di pinggir padukuhan itu akan bertambah dengan empat orang penghuni baru di dalam selimut tanah yang merah. Tanah yang di dalamnya telah disimpan berpuluh bahkan beratus mayat orang-orang yang terjebak dan bermalam di padukuhan itu. Bahkan mereka yang lewat di siang hari pun, jika mereka dianggap membawa bekal yang cukup, akan dapat diseret masuk ke dalam lubang yang digali di tempat itu.

Namun karena seisi padukuhan itu telah menceburkan diri dalam kerja yang kotor itu, maka justru rahasia mereka menjadi sangat rapat. Jika terjadi seseorang yang hilang di perjalanan maka orang tidak akan mengira bahwa orang itu telah hilang di padukuhan itu. Siang maupun malam.

Tetapi ternyata keempat orang yang berada di banjar saat itu, telah tertarik dengan bunyi kentongan itu. Bahkan Mahisa Pukat telah berdesis di telinga Mahisa Murti, “Kau dengar irama yang aneh itu?”

“Ya, irama dara muluk. Tetapi ada perbedaan dari irama yang biasa kita dengar. Mungkin padukuhan ini memang mempunyai kebiasaan yang berbeda,” sahut Mahisa Murti.

Namun agaknya Pangeran Singa Narpada pun telah merasa tergelitik oleh bunyi kentongan itu. Pengalamannya ketika ia pergi ke Singasari telah memperingatkannya, bahwa ia harus berhati-hati.

“Mungkin seseorang telah melihat bekal yang aku bawa sebagaimana pernah terjadi,” berkata Pangeran Singa Narpada yang kemudian menceriterakan apa yang pernah dialami di perjalanan ke Singasari. “Mungkin kita akan berhadapan dengan sekelompok orang, bahkan mungkin lebih luas lagi. Irama suara kentongan itu memang sangat menarik perhatian.”

Mahisa Bungalan pun mengangguk-angguk. Katanya, “Kita agaknya harus berhati-hati. Keramahan penjaga banjar itu memang agak berlebihan terhadap kita, empat orang pengembara. Mungkin dibalik sikapnya itu memang terdapat maksud yang kurang baik.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menangkap kesan dari ceritera Pangeran Singa Narpada tentang orang yang menginginkan uang yang dibawanya. Memang tidak mustahil bahwa orang-orang padukuhan itupun menghendaki uang yang dibawa oleh Pangeran itu pula. Ditambah dengan bekal Mahisa Bungalan dan kedua adiknya.

Bagaimanapun juga keempat orang itu menjadi berdebar-debar. Bukan karena mereka menjadi ketakutan. Tetapi jika terjadi benturan kekuatan, maka mungkin akan jatuh korban karenanya. Orang-orang padukuhan itu mungkin telah salah menilai keempat pengembara yang berada di banjar itu. Jika keempat orang itu tersudut ke dalam keadaan yang sulit, maka sengaja atau tidak sengaja mereka akan dapat melepaskan kemampuan ilmu mereka yang nggegirisi.

Namun demikian mereka juga tidak menganggap bahwa isi padukuhan itu adalah orang-orang yang lemah. Memang mungkin saja ada diantara mereka yang memiliki kemampuan yang tinggi, yang memimpin kawan-kawannya melakukan pekerjaan yang kelam itu.

Tetapi mereka harus menunggu. Mungkin semua yang buram itu tidak lebih dari sekedar prasangka. Sehingga dengan demikian maka mungkin tidak akan terjadi sesuatu atas mereka.

Ketika kemudian malam menjadi semakin dalam, maka beberapa orang anak muda telah berada di gardu di depan banjar.

Agaknya memang sesuatu yang wajar. Anak-anak muda itu sebagaimana padukuhan yang lain, sedang mendapat giliran meronda. Bahkan semakin malam, seperti juga di padukuhan-padukuhan lain, gardu itu menjadi semakin penuh. Yang ada di gardu ternyata bukan hanya mereka yang meronda saja, tetapi anak-anak muda yang tidak segera dapat tidur, juga keluar rumah dan berada di gardu untuk mencari kawan bergurau dan kadang-kadang bertengkar.

Namun semuanya itu tidak terlepas dari pengamatan keempat orang yang mendapat kesempatan bermalam di banjar. Mereka dengan seksama memperhatikan setiap perkembangan keadaan diluar banjar. Bahkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sempat menjadi semakin berdebar-debar ketika kemudian mereka melihat beberapa orang yang duduk-duduk di serambi banjar itu.

“Orang diluar menjadi semakin banyak,” desis Mahisa Pukat.

“Kita memang harus berhati-hati,” sahut Mahisa Murti sambil berbaring di tempatnya.

Sementara itu Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan nampaknya sudah tertidur nyenyak, karena mereka sama sekali tidak bergerak dan nafas mereka beredar dengan sangat teratur.

Namun sebenarnyalah mereka tidak tertidur. Mereka masih tetap memperhatikan suasana dengan cara mereka. Meskipun demikian setiap peristiwa diluar banjar itu tidak luput dari perhatian mereka. Juga kehadiran orang-orang yang semakin lama menjadi semakin banyak. Baik di gardu maupun di serambi banjar.

Mendekati tengah malam, maka Ki Bekel pun telah datang pula di banjar. Yang terdengar dari dalam banjar hanyalah percakapan yang tidak jelas maknanya. Namun keempat orang pengembara itu menduga, bahwa yang diucapkan oleh seseorang yang memiliki pengaruh diantara orang-orang yang lain adalah perintah-perintah. Keempat orang yang berada di dalam banjar itu tidak mengetahui, siapakah sebenarnya yang baru datang itu.

Untuk beberapa saat keadaan justru menjadi sepi. Namun kemudian keempat orang yang berada di dalam banjar itu mendengar desir-desir langkah kaki tidak hanya di bagian depan dari banjar itu. Tetapi menurut tangkapan mereka, beberapa orang justru telah berada di sisi dan di belakang banjar.

Karena itu maka keempat orang yang berada di dalam banjar itu semakin menyadari keadaan mereka.

Keempat orang itu terkejut, ketika mereka mendengar kentongan yang tiba-tiba saja berbunyi. Juga dalam irama dara muluk dengan isian bunyi pukulan ganda empat, dua kali berturut-turut.

Pangeran Singa Narpada telah menggamit Mahisa Bungalan yang berbaring di sebelahnya, sementara Mahisa Bungalan telah menggamit Mahisa Murti dan selanjutnya Mahisa Pukat. Mereka menganggap bahwa bunyi kentongan itu tentu satu isyarat yang harus mereka perhatikan dengan saksama.

Karena itu, maka Mahisa Pukat dan Mahisa Murti pun telah bergeser menjauh dari Mahisa Bungalan. Rasa-rasanya detak jantung mereka pun menjadi semakin cepat berdetak.

“Kita telah dijebak,” desis Mahisa Murti di telinga Mahisa Pukat.

“Ya,” jawab Mahisa Pukat, “Jika kita dipaksa mempergunakan kekerasan apa boleh buat. Meskipun sebenarnya kita tidak ingin.”

Mahisa Murti tidak menyahut lagi. Namun mereka menyadari, bahwa orang-orang yang berada di luar banjar itu menjadi semakin banyak.

Sebenarnyalah, diluar Ki Bekel telah mengatur orang-orangnya. Banjar yang dibangun di tengah-tengah halaman dan kebun itu memang sudah diatur, bahwa orang-orang padukuhan itu akan dapat mengepung dengan rapat.

Dengan ketajaman pendengarannya, keempat orang yang berada di dalam banjar itupun menyadari, bahwa banjar itu memang sudah dikepung rapat. Sentuhan senjata tanpa sengaja telah menimbulkan kesan bahwa orang-orang yang berada di halaman di sekeliling banjar itu bersenjata.

Dengan demikian maka keempat orang yang berada di banjar itu telah dicengkam oleh ketegangan. Tanpa melihat dengan mata kewadagan, mereka sudah dapat mengetahui betapa rapatnya banjar itu telah dikepung.

Karena itulah, maka Pangeran Singa Narpada pun kemudian justru telah bangkit dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Sementara itu Mahisa Bungalan pun telah berdiri pula sambil berjalan hilir mudik, sedangkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah duduk pula di bibir pembaringan mereka yang besar.

Beberapa saat kemudian, maka mereka pun mendengar langkah orang mendekati pintu bilik mereka. Perlahan-lahan mereka pun kemudian mendengar bahwa pintu bilik itu telah diketuk.

“Siapa?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Aku. Ki Bekel,” jawab suara diluar pintu.

Pangeran Singa Narpada tidak dapat berbuat lain. Iapun kemudian membuka pintu bilik itu.

Diluar pintu seorang yang rambutnya telah mulai memutih berdiri termangu-mangu. Di belakangnya berdiri empat orang anak muda yang bersenjata tombak pendek justru telah teracu.

“Apakah aku berhadapan dengan Ki Bekel?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Ya Ki Sanak,” jawab Ki Bekel, ”Aku adalah Bekel yang memerintah di padukuhan ini.”

“O, marilah Ki Bekel,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Aku mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan Ki Bekel yang telah memberikan tempat kepada kami untuk bermalam di sini.”

“Banjar ini memang aku peruntukkan bagi mereka yang membutuhkan di samping bagi kepentingan rakyat padukuhan ini sendiri. Orang yang kemalaman akan dapat tidur disini dengan nyenyak seperti yang kami harapkan dapat terjadi pula atas kalian.”

“Ya Ki Bekel. Kami telah tertidur nyenyak disini,” jawab Pangeran Singa Narpada.

“Tetapi tentu saja banjar ini jangan di salah gunakan,” berkata Ki Bekel.

“Disalah-gunakan bagaimana maksud Ki Bekel?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Ternyata kalian adalah orang-orang yang menjadi buruan prajurit Singasari maupun Kediri karena kalian terlibat dalam pemberontakan Pangeran Kuda Permati yang telah terbunuh,” berkata Ki Bekel.

Pangeran Singa Narpada mengerutkan keningnya. Lalu ia-pun bertanya, “Bagaimana mungkin Ki Bekel dapat menuduh kami termasuk para pengikut Pangeran Kuda Permati?”

“Kami sudah mendapat keterangan tentang kalian berempat. Karena itu, kalian tidak usah ingkar. Sekarang berikan semua yang kalian bawa untuk kami periksa apakah isinya. Mungkin kalian membawa sesuatu yang menjadi larangan atau kalian memang sengaja menyembunyikan sesuatu milik para pengikut Pangeran Kuda Permati.”

Pangeran Singa Narpada termangu-mangu sejenak. Sekali ia berpaling ke arah Mahisa Bungalan. Sementara Mahisa Bungalan telah berdiri pula di sisinya sambil berkata, “Barang-barang apakah yang dimaksud dengan barang larangan Ki Bekel.”

“Sudahlah,“ potong Ki Bekel. “Kami sudah berbuat baik kepada Ki Sanak berempat dengan memberikan tempat untuk bermalam. Tetapi ternyata bahwa kalian bukannya orang yang pantas mendapat tempat yang baik. Sekarang berikan kampil yang kalian bawa untuk kami lihat apa isinya.”

Pangeran Singa Narpada berpaling ke arah kampilnya yang diletakkannya di pembaringan. Kampil itu berisi beberapa lembar pakaian dan uang.

Karena itu, maka Pangeran Singa Narpada pun menjawab, “Ki Bekel. Kampil itu berisi bekal kami di perjalanan. Beberapa lembar pakaian dan sedikit uang. Kami tidak membawa apa-apa lagi.”

”Berikan kampil itu. Bukan hanya sebuah, tetapi semua yang kalian bawa. Kami pun ingin melihat kantong-kantong ikat pinggang kalian dan semua yang ada pada kalian sekarang ini,” suara Ki Bekel menjadi semakin keras.


Maka sadarlah Pangeran Singa Narpada, bahwa ia berhadapan dengan seluruh isi padukuhan. Padukuhan yang aneh, yang jarang ditemuinya. Ternyata bahwa seisi padukuhan itu telah terlibat ke dalam satu perbuatan yang tidak terpuji. Bahkan telah dipimpin oleh Ki Bekel dari padukuhan itu sendiri.

Pangeran Singa Narpada, Mahisa Bungalan, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun akhirnya menyadari bahwa mereka tidak akan dapat berbuat lain kecuali dengan kekerasan.

Karena itu, maka mereka pun telah bersiap-siap menghadapi kemungkinan yang dapat terjadi.

Dalam pada itu, karena keempat orang pengembara itu tidak segera menyerahkan barang-barang mereka, maka Ki Bekel itu-pun menjadi semakin keras berkata, “Cepat. Kami ingin melihat apa yang kalian bawa. Jika kalian tidak merasa bersalah dan memang bukan pengikut Pangeran Kuda Permati, maka kalian tentu tidak akan berkeberatan untuk menyerahkan barang-barang kalian sekedar kami lihat.”

Tetapi adalah diluar dugaan, bahwa Mahisa Pukat telah bertanya, “Ki Bekel. Apakah Ki Bekel juga mengetahui serba sedikit tentang pemberontakan Pangeran Kuda Permati? Apakah daerah ini juga tersentuh oleh gejolak pemberontakan itu?”

Wajah Ki Bekel menjadi tegang. Lalu katanya, “Kami adalah kawula yang setia dari Singasari yang harus ikut menumpas semua pemberontakan yang menentang Singasari. Karena Pangeran Kuda Permati memberontak kepada Kediri untuk melepaskan Kediri dari ujud kesatuannya dengan Singasari, maka pemberontakan itu harus ditumpas.”

Jawaban itu memang menarik perhatian. Seolah-olah Ki Bekel memang telah berbuat sesuatu bagi kesatuan Singasari. Namun ternyata yang diajak berbicara oleh Ki Bekel itu adalah Pangeran Singa Narpada. Orang yang telah dengan susah payah memadamkan pemberontakan itu sendiri.

Tetapi Pangeran Singa Narpada tidak akan dapat mengatakan tentang dirinya yang sebenarnya, untuk kepentingan tugasnya yang lebih besar. Demikian pula Mahisa Bungalan.

Karena itu, maka Pangeran Singa Narpada pun berkata, “Ki Bekel. Kami adalah pengembara yang tidak mempunyai sangkut paut dengan persoalan yang bergejolak antara Kediri dan Singasari. Meskipun gelombang pemberontakan itu terasa juga oleh kami dalam pengembaraan kami, tetapi bukankah pemberontakan itu sendiri sudah ditumpas sekarang ini? Karena itu, maka adalah janggal jika Ki Bekel masih juga menuduh kami, atau setidak-tidaknya menduga kami mempunyai hubungan dengan pemberontakan itu.”

“Jangan banyak bicara,” bentak Ki Bekel, ”berikan kampil itu kepadaku. Keputusan tentang kalian, tergantung dari hasil pemeriksaan kami atas barang-barang yang kalian bawa. Jika barang-barang yang kalian bawa tidak mencurigakan, maka kalian tidak perlu gelisah. Kalian akan kami bebaskan. Tetapi jika yang ada di dalam kampil kalian itu barang-barang terlarang, maka kalian harus mempertanggung jawabkannya. Hukuman bagi seorang pengkhianat adalah hukuman gantung di halaman banjar, disaksikan oleh orang-orang padukuhan ini.”

“Apakah Ki Bekel berhak menjatuhkan hukuman itu kepada seseorang dengan alasan bahwa orang itu telah terlibat ke dalam satu pemberontakan?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Kenapa tidak,” jawab Ki Bekel.

“Apakah Ki Bekel dalam hal ini tidak melampaui kuasa Akuwu yang membawahi padukuhan ini? Setidak-tidaknya Ki Buyut dari Kabuyutan ini?”

“Dalam keadaan seperti ini aku berhak mengatasi segala kemelut yang terjadi di padukuhanku,” jawab Ki Bekel.

“Tetapi bukankah kami tidak berbuat apa-apa? Bukankah dengan demikian Ki Bekel tidak mempunyai alasan untuk bertindak atas kami berempat?” bertanya Mahisa Bungalan pula.

Wajah Ki Bekel menjadi merah. Dari pembicaraan itu, ki Bekel Justru telah mendapat kesan lain tentang keempat orang itu. Keempatnya bukan sekedar pengembara sebagaimana para pengembara yang lain. Tetapi keempat orang itu adalah orang-orang yang memiliki bekal pengertian tentang peristiwa yang telah terjadi di atas tanah yang mereka huni itu.

Namun ternyata bahwa telah tumbuh pula dugaan yang justru berlawanan dengan keadaan keempat orang itu yang sebenarnya. Ki Bekel yang mengetahui dari laporan salah seorang penghuni padukuhannya bahwa keempat orang pengembara itu membawa banyak uang di dalam kampilnya, telah dihinggapi dugaan bahwa bukannya pengembara, tetapi mereka adalah orang-orang yang berkelakuan jahat. Mereka adalah perampok dan penyamun.

Karena itulah, maka Ki Bekel menganggap perlu untuk lebih berhati-hati menghadapi mereka. Karena biasanya para perampok dan penyamun memiliki bekal kemampuan olah kanuragan.

Tetapi seisi padukuhan itupun adalah perampok dan penyamun. Mereka sudah terbiasa membantai korban-korban mereka. Baik mereka yang bermalam di banjar itu, ataupun mereka yang sekedar lewat di padukuhan itu. Orang-orang yang terjebak ke dalam tangan-tangan penghuni padukuhan itu, biasanya telah hilang tanpa memberikan bekas. Tetapi kuburan yang tersembunyi di pinggir padukuhan itu telah bertambah lagi dengan penghuni yang baru.

Menghadapi keempat pengembara itu, Ki Bekel ternyata bersikap lebih berhati-hati. Dengan tajam ia kemudian berkata. ”Ki Sanak. Sebaiknya kalian tidak usah mempersoalkan sikap kami. Kami menghendaki kalian menyerahkan barang-barang yang kalian bawa. Jangan banyak bicara lagi, karena kesabaran kami akan sampai kepada batasnya.”

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Ia bukan termasuk orang yang dapat bersabar menghadapi persoalan-persoalan yang demikian. Namun demikian, ia masih berusaha untuk mengekang diri. Dengan menahan perasaannya ia berkata, “Ki Bekel. Baiklah, jika Ki Bekel berkeberatan kami tinggal di banjar ini, biarlah kami meneruskan perjalanan meskipun hari belum pagi.”

“Tidak. Kami tidak berkeberatan siapapun bermalam di banjar ini. Tetapi serahkan barang-barang kalian untuk kami lihat, apakah ada barang-barang yang menjadi barang larangan,” jawab Ki Bekel.

Pangeran Singa Narpada mengatupkan giginya untuk menahan gejolak perasaannya. Namun yang kemudian menjawab ternyata adalah Mahisa Pukat. Katanya, “Ki Bekel. Barang-barang kami adalah milik kami. Meskipun demikian, jika Ki Bekel ingin melihat, marilah, masuklah ke dalam bilik ini tanpa ada orang lain. Silahkan melihat isinya. Tetapi jangan bawa kampil kami keluar dari bilik ini.”

Ki Bekel memandang Mahisa Pukat dengan sorot mata yang memancarkan gejolak perasaannya. Dengan nada keras ia berkata, “Serahkan. Aku akan membawa barang-barang kalian ke gardu untuk melihat isinya disaksikan oleh para peronda.”

“Tidak. Ki Bekel hanya dapat melihat isinya disini, di hadapan kami para pemiliknya. Jika ada barang-barang terlarang, silahkan menunjukkan dan mungkin Ki Bekel dapat berbuat sesuatu atas penemuan barang-barang terlarang itu,” jawab Mahisa Pukat.

Wajah Ki Bekel menjadi semakin tegang. Agaknya keempat orang itu bukan pengembara yang dengan mudah dapat diancamnya dan menjadi ketakutan. Tetapi keempat orang itu tentu memiliki bekal yang cukup sehingga mereka berani menentang perintahnya.

Karena itu, maka dalam kemarahannya Ki Bekel itu memberi isyarat kepada orang-orangnya untuk bersiap dan berhati-hati.

“Ki Sanak,“ geram Ki Bekel, ”Kau tidak akan dapat berbuat apa-apa disini. Di luar banjar ini telah berkumpul semua laki-laki dari padukuhan ini. Mereka datang untuk menjaga nama baik padukuhannya dari sentuhan para pemberontak.”

Pangeran Singa Narpada ternyata juga sudah kehilangan kesabarannya sehingga katanya dengan nada yang menjadi keras, “Ki Bekel. Jangan mengada-ada. Katakan saja maksudmu yang sebenarnya. Apakah kau dan seisi padukuhan ini ingin merampok kami?”

Wajah Ki Bekel menjadi merah membara. Ia yakin, bahwa keempat pengembara itu bukan pengembara kebanyakan. Mungkin mereka pun memang perampok-perampok yang menyamar sebagai pengembara. Karena itu, maka katanya, “Dengan kekasaran sikapmu itu, aku yakin bahwa kalian memang pemberontak atau perampok-perampok yang memanfaatkan keadaan yang kalut ini untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri. Jika demikian, maka menyerahlah. Kalian akan kami tangkap.”

“Ki Bekel,” berkata Pangeran Singa Narpada, ”Ternyata dibalik keramahan orang-orangmu yang mempersilahkan kami bermalam di banjar ini tersembunyi niat yang sangat jahat. Tetapi jangan mengharap bahwa kami akan menyerahkan barang-barang kami. Kami akan mempertahankannya dengan kemampuan dan tenaga yang ada pada kami.”

“Kalian akan melawan semua orang laki-laki di padukuhan ini?” bertanya Ki Bekel.

“Ya,” jawab Pangeran Singa Narpada tegas, ”Siapapun yang tersangkut dalam usaha perampokan ini, akan kami hancurkan. Jangan menyesal bahwa banjar ini akan menjadi karang abang. Bahkan mungkin seisi padukuhan ini akan ditelan oleh amuk api yang menyalakan kemarahan hati kami.”

“Gila,“ geram Ki Bekel, ”Kau jangan mengigau seperti itu. Kau kira bahwa kau akan dapat menakut-nakuti kami?”

“Kaulah yang menakut-nakuti kami. Tetapi kami akan menunjukkan bahwa kami bukan kelinci-kelinci yang ketakutan melihat moncong serigala,” jawab Pangeran Singa Narpada yang marah.

Bahkan Mahisa Pukat pun kemudian telah berteriak nyaring, “Minggirlah. Aku akan turun ke halaman. Aku akan keluar dari tempat ini. Siapa yang berusaha mencegah aku, maka aku akan membunuhnya.”

Mahisa Pukat tidak menunggu jawaban. Iapun kemudian mengambil seikat barang-barangnya. Kemudian mengikatkannya pada lambungnya. Kepada Mahisa Bungalan ia berkata, “Marilah kakang. Jangan menunggu lebih lama lagi.”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu, Pangeran Singa Narpada pun telah mengambil kampilnya pula. Seperti Mahisa Pukat, maka iapun mengikatkan kampil itu dengan tali pada lambungnya.

Mahisa Murti dan Mahisa Bungalan pun melakukannya pula hal yang serupa. Sehingga mereka berempat kemudian telah siap untuk keluar dari banjar itu dan turun ke halaman yang dipenuhi oleh orang-orang padukuhan itu. Mereka ternyata telah siap menunggu dengan senjata-senjata mereka.

Yang justru berada di paling depan adalah Mahisa Pukat. Ketika ia melangkah maju, maka Ki Bekel pun telah melangkah surut.

Empat orang anak muda yang menyertai Ki Bekel telah mengacukan tombak mereka untuk mencegah keempat orang itu melangkah terus. Bahkan Ki Bekel pun telah menarik pula senjatanya. Sebilah keris yang besar yang diselipkannya di punggungnya.

“Kami akan menghabisi jiwa kalian,“ geram Ki Bekel.

Namun sama sekali tidak diduga, bahwa Mahisa Bungalan tanpa menjawab telah mulai dengan serangannya. Terlalu cepat untuk dapat diikuti dengan mata wadag. Namun yang terjadi sangat mengejutkan Ki Bekel dan anak-anak muda yang mengawalnya.

Tiba-tiba saja sebuah diantara tombak pendek itu telah beralih ke tangan Mahisa Bungalan. Bahkan kemudian dengan gerak yang tidak diketahui ujung pangkalnya, maka ketiga tombak yang lain pun telah terlepas pula. Sementara itu terdengar Mahisa Bungalan berkata, “Pergunakan semata untuk mengurangi Kematian.”

Pangeran Singa Narpada mengerutkan keningnya. Tetapi ia-pun sadar, bahwa kedua adik Mahisa Bungalan yang baru saja menyelesaikan laku untuk mencapai ilmu puncaknya itu akan lebih berbahaya jika ia tidak memegang senjata. Jika keduanya melepaskan ilmunya dengan tangannya yang tidak memegang senjata, maka mungkin justru akan menelan korban lebih banyak dari antara orang-orang padukuhan itu yang tidak memiliki ketahanan tubuh yang memadai. Namun jika mereka menggenggam tombak, maka keadaannya akan berbeda. Keduanya akan terikat dalam permainan senjata. Jika mereka sudah merasa aman dengan perlindungan senjata itu, maka mereka tidak akan sampai ke puncak ilmu mereka yang nggegirisi.

Sementara itu, Ki Bekel yang melihat peristiwa yang tidak diduganya, bahkan di dalam mimpi sekalipun, dengan serta merta telah meloncat berlari ke halaman sambil meneriakkan aba-aba, “Mereka adalah iblis-iblis terkutuk. Bersiaplah. Kita akan membunuh mereka beramai-ramai.”

Mahisa Murti, Mahisa Bungalan dan bahkan Pangeran Singa Narpada pun telah mengambil senjata-senjata yang terlepas dari tangan anak-anak muda yang mengawal Ki Bekel. Sehingga dengan demikian maka anak-anak muda itu telah berlari pula mengikuti Ki Bekel turun ke halaman.

Keempat orang yang berada di banjar itupun telah maju selangkah demi selangkah melintasi pendapa. Mahisa Bungalan lah yang kemudian berada di paling depan. Ketika ia berdiri di tangga pendapa, maka sambil mengedarkan pandangan matanya ke seluruh halaman dan memperhatikan orang-orang padukuhan itu yang berpencar dengan senjata di tangan, maka Mahisa Bungalan itupun berkata, “Ki Sanak. Apakah yang sebenarnya kalian kehendaki dari kami? Mungkin kalian menyangka bahwa kami membawa bekal yang cukup banyak, sehingga kalian telah bersusah payah berusaha untuk merampok kami, justru dipimpin oleh Ki Bekel sendiri. Apakah dengan demikian berarti bahwa kalian telah kehilangan martabat kemanusiaan kalian dan sampai hati melakukan tindak terkutuk itu bersama-sama?”

“Persetan,“ Ki Bekel lah yang menjawab, “Kalian adalah orang-orang yang terlibat ke dalam pemberontakan Pangeran Kuda Permati. Karena itu, maka kalian harus mati. Barang-barang yang kalian bawa akan menjadi bukti dari pengkhiatan kalian itu.”

“Apakah yang kami bawa?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Ternyata kalian berkeberatan memperlihatkan barang-barang yang kalian bawa kepada kami,” teriak Ki Bekel.

“Bohong,“ Mahisa Pukat pun berteriak pula, “Kalian akan merampas bekal kami. Jangan banyak bicara. Kami sudah siap. Jangankan seisi padukuhan ini, seisi Pakuwon ini pun kami tidak akan gentar.”

Wajah-wajah di halaman itu menjadi tegang. Keempat orang itu nampaknya benar-benar tidak merasa gentar menghadapi laki-laki seisi padukuhan. Dengan tombak pendek yang berhasil mereka rampas, keempat orang itu nampaknya benar-benar bersiap untuk melawan.

Namun dalam pada itu Ki Bekel masih berkata, “Masih ada kesempatan bagi kalian. Jika kalian menyerah dan menyerahkan barang-barang terlarang yang kalian bawa, maka kalian akan mendapat pengampunan. Kalian akan mengalami nasib yang lebih baik daripada nasib kalian jika kalian berusaha untuk melawan kami.”

Mahisa Pukat pun telah turun dari tangga pendapa diikuti oleh Mahisa Murti. Mereka telah bersiap menghadapi orang-orang yang mulai bergerak. Dengan teriakan-teriakan nyaring Ki Bekel memerintahkan orang-orangnya untuk mengepung dan menyerang keempat orang pengembara yang bermalam di banjar mereka itu.

Sementara itu, dari halaman di samping pendapa itupun beberapa orang telah menjadi semakin dekat. Bahkan dari sisi sebelah menyebelah beberapa orang telah naik pula ke pendapa dengan senjata teracu.

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Ia sama sekali tidak mengira bahwa ia harus terlibat dalam perkelahian melawan orang-orang padukuhan. Tetapi ketika ia mengingat bahwa padukuhan itu adalah sarang perampok yang dapat menjebak orang-orang yang lewat di padukuhan itu, maka timbul pula niatnya untuk membuat seisi padukuhan itu jera, meskipun mungkin harus ada pula korban yang jatuh.

“Cukup,“ potong Mahisa Pukat, “Marilah. Siapakah yang akan mati lebih dahulu. Bukan salah kami jika separuh dan kalian akan mati, dan yang separuh lagi akan berlari terbirit-birit.“

Wajah-wajah di halaman menjadi semakin tegang. Namun ketika Ki Bekel meneriakkan aba-aba, maka mereka pun mulai bergerak juga mendekati tangga pendapa banjar.

Dengan demikian maka Pangeran Singa Narpada itupun telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan, sementara Mahisa Bungalan pun telah bergeser menjauhi Pangeran Singa Narpada dan bersiap menghadapi orang-orang yang datang dari arah yang lain, yang telah mulai menaiki pendapa itu pula.

Namun menurut penglihatan keempat orang pengembara itu, ada semacam keragu-raguan yang mengekang orang-orang padukuhan itu. Agaknya sikap keempat orang yang sama sekali tidak menunjukkan kegentarannya itu justru membuat mereka menjadi ragu-ragu.

Tetapi teriakan-teriakan Ki Bekel telah mendorong mereka untuk maju mendekat. Sementara itu, Ki Bekel telah mendekati dua orang kepercayaannya sambil berkata, “Apakah kau hanya akan menonton saja seperti biasanya.”

“Kita akan melihat Ki Bekel,” jawab salah seorang dari keduanya, “Jika agaknya mereka memang memiliki kemampuan untuk membela diri, biarlah keempatnya aku selesaikan.”

“Tetapi kau lihat, bahwa keempat orang itu nampaknya sangat meyakinkan,” berkata Ki Bekel.

“Menghadapi orang-orang yang sebanyak ini memang memerlukan kemampuan yang tinggi. Jika mereka mampu, maka barulah mereka pantas untuk melawan kami berdua. Aku kira tidak sepenginang, keempatnya akan terkapar di halaman ini,” berkata salah seorang dari keduanya.

“Sebaiknya kau tidak usah menunggu beberapa orang terbunuh,” berkata Ki Bekel.

Keduanya mengangguk-angguk. Seorang diantaranya berkata, “Baiklah. Aku akan melihat dahulu apa yang dapat mereka lakukan. Baru kemudian aku akan mengambil sikap.”

Ki Bekel tidak menjawab. Perhatiannya mulai terikat kepada orang-orangnya yang telah terlibat ke dalam pertempuran.

Sebenarnyalah, bahwa pertempuran telah berkobar. Sejumlah laki-laki dari satu pedukuhan bertempur melawan empat orang yang dianggapnya empat orang pengembara. Namun yang kemudian pendapat Ki Bekel pun telah berubah. Keempat orang itu tentu empat orang perampok yang menyamar sebagai pengembara. Ternyata dari kemampuan mereka bertempur.

Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru telah turun ke halaman. Mereka bertempur sambil beradu punggung menghadapi lawan yang mengepung mereka.

Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat memang menjadi ragu-ragu. Karena itu, maka ia masih sempat berbisik kepada Mahisa Murti, “Bagaimana jika aku dengan tidak sengaja telah membunuh.”

“Kita tidak bermaksud membunuh,” berkata Mahisa Murti, “Tetapi kita pun tidak ingin dibunuh.”

Mahisa Pukat mengerti maksud Mahisa Murti. Karena itu, maka geraknya pun kemudian menjadi lebih mantap. Dengan sigapnya ia memutar tombak pendeknya untuk melindungi serangan-serangan yang datang beruntun. Namun sekali-sekali ujung tombaknya juga mematuk lawan.

Sebenarnyalah dengan memegang tombak di tangan, keempat orang yang dianggap pengembara itu merasa dirinya terlindungi. Karena itu, mereka tidak mempergunakan ilmu puncaknya yang dapat sekaligus membakar sekelompok orang yang tidak mempunyai daya tahan yang memadai itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang kadang-kadang masih saja dicengkam oleh keragu-raguan. Namun ketika serangan-serangan datang beruntun seperti datangnya ombak di lautan, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah didera oleh satu keinginan untuk mengurangi jumlah lawannya.

“Bukan maksudku untuk membunuh orang-orang yang tidak berdaya ini,” berkata keduanya di dalam hatinya. Tetapi mereka tidak dapat ingkar, bahwa mereka harus mempertahankan diri dari serangan yang datang bergelombang itu.

Karena itulah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mulai menjulurkan tombaknya. Tidak sekedar menangkis serangan. Tetapi ujung tombak itu mulai mematuk lawannya.

Tiba-tiba saja terdengar seorang diantara lawan-lawannya yang berteriak kesakitan. Ujung tombak Mahisa Pukat lah yang telah mengoyak lengan seorang lawannya, sehingga orang itu telah berteriak kesakitan..

Dengan serta merta orang itu telah meloncat keluar dari arena dengan darah yang meleleh dari lukanya.

Tetapi belum lagi gema suaranya hilang, terdengar seorang yang lain telah mengaduh. Ujung tombak Mahisa Pukat lah yang telah mengenai lambung lawannya. Tidak terlalu dalam, tetapi luka yang menganga itu telah memancarkan pula darah dari tubuhnya. Sentuhan ujung tombak Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu memang telah mempengaruhi pertempuran. Namun karena jumlah lawan yang banyak, maka mereka pun telah menyerang dalam gelombang-gelombang yang tiada berkeputusan.

Namun ujung tombak Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun bergerak lebih cepat. Ketika lawan datang beruntun semakin cepat, maka kedua orang anak muda itu mulai menjadi jengkel.

Karena itulah, maka setiap kali keduanya seakan-akan diluar kehendak sendiri, telah menggerakkan ujung tombaknya terlalu cepat, sehingga telah menyentuh tubuh salah seorang diantara lawan-lawan mereka. Bahkan dalam keadaan yang mendesak oleh beberapa ujung senjata yang berbareng menyerang, kadang-kadang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat kehilangan kemampuan untuk mengekang juluran tombaknya.

Dalam serangan yang cepat dari beberapa orang, maka tiba-tiba saja seorang diantara mereka telah meloncat keluar. Tetapi ia tidak mampu melangkah lagi lebih dari tiga langkah. Sejenak kemudian iapun terhuyung-huyung dan jatuh di tanah. Seorang kawannya berusaha menahannya. Tetapi terlambat, karena tubuh itu telah terjatuh berguling di tanah.

Sejenak kawannya mengamatinya. Namun tiba-tiba ia berteriak, “Mati! Kawan kita telah terbunuh!”

Orang-orang padukuhan itu telah dicengkam oleh dua jenis perasaan yang berlawanan. Kemarahan yang meluap-luap karena seorang diantara kawan mereka telah terbunuh. Namun juga karena itu mereka menjadi ketakutan bahwa nasib seperti itu akan dapat menimpa diri mereka.

Meskipun demikian ada juga diantara orang-orang padukuhan itu yang berani menghadapi akibat yang betapapun juga. Mereka adalah orang-orang yang memang menjadi bebahu padukuhan itu, serta sudah beberapa kali menangani perampokan seperti yang sedang terjadi itu, justru di paling depan. Bahkan mereka jugalah yang dengan tanpa merasa menyesal telah membantai beberapa orang yang sebenarnya tidak pernah melakukan perlawanan.

Tetapi mereka jugalah yang biasanya menghabisi nyawa orang-orang yang menentang kehendak Ki Bekel. Bahkan perampok-perampok yang tersesat memasuki padukuhan itu dengan hasil rampokannya, telah menjadi korban mereka pula.

Seorang diantara mereka dengan suara geram berkata, “Kalian akan mengalami nasib yang sangat buruk. Kalian telah menimbulkan kematian di padukuhan ini. Perampok-perampok yang namanya ditakuti orang pun terbunuh di padukuhan ini. Apalagi pengemis-pengemis buruk seperti kalian.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang mendengar kata-kata itu sama sekali tidak menjawab. Tetapi mereka sadar, bahwa ke matian akan membuat orang-orang itu menjadi semakin buas.

Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sadar, bahwa orang-orang itu harus dihadapi dengan kekerasan pula.

Karena itu, maka dengan tombak pendek yang berputar di tangan masing-masing, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat siap menghadapi segala kemungkinan. Merekapun melihat beberapa orang yang menyibak diantara laki-laki padukuhan itu. Mereka adalah orang-orang yang berwajah garang. Di tangan mereka terdapat berbagai jenis senjata yang agak lain dari senjata-senjata laki-laki padukuhan itu yang lain.

Seorang laki-laki berjambang dan berkumis panjang dengan sebuah bindi di tangannya mendorong seorang laki-laki kurus sambil berdesis, “Minggir sajalah daripada tanganmu dipatahkan oleh pengemis-pengemis itu.”

Orang bertubuh kurus itu bergeser. Sebenarnyalah hatinya sudah menjadi kecut ketika seorang kawannya terbanting mati karena luka-lukanya.

Mahisa Murti melihat orang bersenjata bindi itu mendekatinya. Disusul oleh seorang yang bertubuh tinggi kekar dengan tongkat baja yang panjang, hampir sepanjang tombak pendek. Pada ujung tongkat baja itu terdapat sebuah bulatan baja pula sebesar kepalan tangan.

Sementara itu, beberapa orang yang lain telah mendekati Mahisa Pukat. Seorang yang bertubuh pendek dengan wajah yang kasar berjalan disela-sela laki-laki padukuhan itu. Di tangannya tergenggam sepasang golok yang tidak begitu panjang, tetapi cukup besar. Sementara seorang yang berkepala botak dengan mengikatkan ikat kepalanya di lambung telah mendekatinya pula. Senjatanya nampak agak aneh, tetapi berbahaya. Semacam tombak yang sangat pendek, tetapi berujung di sebelah menyebelah. Bahkan dengan kaitan semacam kail di pangkal mata senjata itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi lebih berhati-hati. Mereka sadar, bahwa orang-orang itu tentu orang-orang yang memiliki tataran yang lebih tinggi dari pada orang-orang yang telah bertempur sebelumnya.

Sementara itu, dua orang kepercayaan khusus Ki Bekel masih saja berdiri sambil menyilangkan tangannya di dadanya. Seorang diantara mereka berdesis, “Agaknya pengemis-pengemis itu memang memiliki kelebihan. Aku condong kepada pendapat Ki Bekel. Agaknya mereka adalah perampok-perampok yang menyamar sebagai pengembara. Dengan demikian maka mereka dapat melakukan pekerjaan mereka dengan leluasa.”

“Tetapi di padukuhan ini mereka membentur batu,” sahut yang lain, “Mereka tidak akan dapat mempertahankan dirinya betapapun tinggi ilmu mereka. Seandainya mereka lolos dari tangan para bebahu, maka kita akan dapat menyelesaikannya.”

Kawannya tidak segera menjawab. Tetapi terdengar ia tertawa. Sementara itu yang lain melanjutkan, “Sebenarnya aku lagi segan membunuh malam ini, karena hari ini adalah hari kelahiranku. Aku sudah berjanji kepada isteriku yang ketiga untuk makan-makan bersama sanak kadang. Sedangkan isteriku yang keempat sudah membuat bancakan siang tadi.”

“He, kau tidak mengirimkan bancakan itu kepadaku?” bertanya kawannya.

“Hanya untuk orang sebelah menyebelah. Isteriku hanya menyembelih tujuh ekor ayam,” jawab yang lain.

“Tujuh ekor dan kau tidak memberi aku seekor pun dari ayam yang kau sembelih itu,“ gumam kawannya.

Yang lain tertawa. Namun katanya, “Saat makan bersama sanak kadang itu sudah lewat.”

“Semua orang ada disini. Siapa yang akan datang ke rumahmu untuk makan-makan? Jika isterimu yang ketiga itu memang sudah masak bagi sebuah pertemuan bujana andra-wina, biarlah kami datang setelah keempat orang itu terbunuh,“ berkata kawannya.

“Siapa yang berkata akan diselenggarakan bujana,” sahut yang lain, “isteriku yang ketiga hanya menyembelih seekor kambing saja.”

“Kau memang gila. Lalu apa yang disembelih oleh isterimu yang pertama dan kedua?” bertanya kawannya.

“Akulah yang mungkin akan menyembelih keempat pengembara yang gila itu,“ jawab yang lain.

Kawannya tidak menjawab. Diamatinya pertempuran yang berlangsung semakin seru, sementara Ki Bekel mendekati lagi mereka berdua sambil berkata, “Kau menunggu sampai pagi?”

Sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bergeser. Tetapi sama sekali bukan karena mereka terdesak. Orang-orang yang kemudian memasuki gelanggang itu ternyata memang memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari laki-laki kebanyakan di padukuhan itu, sehingga karena itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang harus lebih mapan lagi menghadapi mereka.

Namun demikian memang mulai terasa oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, bahwa orang-orang padukuhan itu benar-benar berusaha untuk menekan mereka semakin ketat. Tetapi kedua orang anak muda itu adalah anak-anak muda yang telah menyelesaikan laku untuk mendalami ilmu mereka sampai tuntas.

Tekanan yang semakin berat, hanya menggugah gejolak perasaan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saja, sehingga justru semakin lama mereka menjadi semakin marah. Dengan demikian maka putaran tombak mereka pun menjadi semakin cepat. Setiap kali tombak itu telah mematuk menyerang orang-orang yang mengepung mereka. Kadang-kadang demikian cepatnya, sehingga sasarannya sama sekali tidak mampu bergeser sejengkal pun.

Ujung tombak Mahisa Murti dan Mahisa Pukat semakin lama semakin menggetarkan jantung lawan-lawannya. Karena itu, maka orang-orang kebanyakan dari padukuhan itu menjadi semakin bergeser menjauh. Para bebahu yang merasa memiliki kelebihan sajalah yang kemudian mengepung mereka semakin rapat. Lebih dari enam orang telah terluka diantara mereka yang melawan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Bahkan ada diantara mereka yang menjadi sangat parah dan seorang yang terbunuh. Sementara itu ujung tombak kedua anak muda itu masih saja selalu mematuk-matuk dengan cepatnya, sehingga lawan-lawannya menjadi ngeri karenanya.

Tetapi para bebahu merasa bahwa mereka memiliki kelebihan. Karena itu, maka mereka pun kemudian berada di paling depan diantara laki-laki yang telah bertempur bersama-sama melawan keempat orang pengembara itu.

Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan masih berusaha untuk membatasi gerak mereka sendiri. Namun agaknya Pangeran Singa Narpada bukan orang yang sabar. Hanya dengan susah payah ia berhasil mengendalikan diri sehingga ia tidak membunuh lawan-lawannya meskipun sekali-sekali ujung tombaknya telah menyentuh lawannya, sehingga telah menggoreskan luka. Beberapa orang lawan Pangeran Singa Narpada pun telah terluka pula. Bahkan ada diantara mereka yang terluka berat. Memang sulit untuk mengendalikan diri diantara lawan yang semakin banyak dan semakin rapat mengepungnya. Apalagi ketika kemudian diantara mereka terdapat para bebahu yang memang memiliki kemampuan mempermainkan senjata.

Bahkan akhirnya Pangeran Singa Narpada tidak dapat menghindarkan diri dari kemungkinan menimbulkan kematian. Pada saat kemarahannya sulit untuk dikekang lagi, tiba-tiba saja tangannya seakan-akan diluar sadarnya telah memutar tombaknya dengan sangat cepat. Tiga senjata lawannya terlempar dan ujung tombak yang berputar itu telah mengoyak beberapa sosok tubuh di seputarnya. Dua diantara mereka mengalami luka yang sangat parah, sehingga ketika kawan-kawannya membawa mereka menepi, keduanya sudah tidak bernyawa lagi.

Mahisa Bungalan pun sebenarnya mengalami kesulitan untuk tidak melakukan pembunuhan dalam keadaan yang demikian. Namun dengan susah payah Mahisa Bungalan berusaha untuk melindungi dirinya dan tidak membunuh lawannya yang memang bukan orang yang memiliki kemampuan cukup untuk berkelahi.

Tetapi ketika kemudian para bebahu memasuki arena dan mulai menekannya, maka Mahisa Bungalan pun mengalami kesulitan untuk tetap dalam keadaannya. Para bebahu yang melawannya memiliki kecepatan gerak dan permainan senjata yang cukup berbahaya, sehingga karena itu, maka Mahisa Bungalan pun harus bergerak semakin cepat.

Dengan demikian maka pertempuran di halaman itupun menjadi semakin lama semakin seru. Hampir semua laki-laki di padukuhan itu yang mampu memainkan senjata telah berada di banjar. Namun ternyata bahwa tidak semua orang dapat ikut dalam pertempuran yang terjadi di tiga lingkaran, karena Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bertempur berpasangan dan saling membelakangi.

Namun ternyata bahwa keempat orang pengembara itu tidak dengan mudah dapat mereka tundukkan. Bahkan satu-satu orang-orang padukuhan itu telah terjatuh dan terluka parah.

Dalam pada itu Ki Bekel yang menyaksikan pertempuran itupun telah berkata di telinga kedua orang kepercayaannya, “Sudah ada lima orang yang terbunuh. Mungkin lebih. Apakah kau masih akan membiarkannya saja? Seorang dari bebahu padukuhan ini pun telah terbunuh pula melawan kedua orang anak muda yang bertempur berpasangan itu.”

Kedua orang itu saling berpandangan. Seorang diantara mereka kemudian berkata sambil tertawa, “Baiklah Ki Bekel. Aku akan membunuh kedua anak muda yang gila itu. Tetapi aku minta agar Ki Bekel juga membantu aku.”

“Membantu apa?” bertanya Ki Bekel, ”Bukankah aku sudah memberikan kesempatan kepadamu untuk hidup baik di padukuhan ini dan aku pun telah memberikan tanah yang cukup luas bagi kalian.”

“Bukan itu,“ jawab kepercayaannya itu, “Aku ingin anak si Rempit itu.”

“Setan,“ geram kawannya, “Baru saja kau katakan bahwa kau sudah beristeri empat.”

“Apa salahnya tambah seorang lagi?” bertanya orang itu.

“Anak Rempit masih terlalu kanak-kanak,” berkata Ki Bekel, ”Bukankah maksudmu Rempit di ujung lorong?”

“Mana mungkin masih kanak-kanak,” jawab orang itu, “umurnya sudah menjelang tiga belas.”

“Umurmu?” bertanya kawannya.

“Ah, bukankah kita sebaya?” sahut orang itu.

“Jika demikian umurmu sudah menjelang lima puluh tahun,” jawab kawannya.

“Belum. Aku baru empat puluh lima,” jawab orang itu.

“Gila,“ geram Ki Bekel, ”Jika kau mampu membunuh empat orang itu, anak Rempit akan dapat kau ambil. Aku yang bertanggung jawab.”

Orang itu tertawa. Lalu katanya kepada kawannya, “Marilah, kita selesaikan kedua anak iblis itu.”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia bergumam, “Ternyata kali ini korban akan terlalu banyak dibandingkan dengan apa yang akan kita dapatkan dari orang-orang itu.”

“Tetapi mereka harus dibunuh. Jika mereka berempat tidak mati dan dicincang di halaman ini, maka akibat dari peristiwa ini akan membuat hati seisi padukuhan ini menjadi kecil menghadapi peristiwa yang serupa di masa depan.”

Kedua orang itu tertawa. Tetapi mereka pun sependapat dengan Ki Bekel. Keempat orang itu memang harus dibunuh. Dengan demikian maka kebanggaan orang-orang padukuhan itu atas pekerjaan yang selama ini mereka lakukan tidak akan pudar.

Sejenak kemudian maka kedua orang itupun mulai bergerak. Seorang diantara mereka pun berkata, “Kita selesaikan kedua orang anak muda yang memiliki kemampuan iblis itu. Agaknya mereka memang sudah membunuh beberapa orang lagi, atau setidak-tidaknya melukai mereka.“

“Marilah,” sahut kawannya, “Sesudah kita membunuh mereka berdua maka dua orang yang lain akan segera dapat kita selesaikan pula.”

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih berkesempatan bertempur melawan para bebahu. Pada saat-saat yang gawat, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang sulit untuk menjaga diri, agar ujung tombaknya tidak melukai atau bahkan membunuh lawan-lawannya.

Bahkan beberapa saat kemudian, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah dipengaruhi oleh pertempuran dalam jumlah yang tidak seimbang itu. Meskipun ujung senjatanya beberapa kali menggores lawan, tetapi ternyata kepungan itu masih saja tetap pepat dengan senjata teracu.

Keadaan itu ternyata mempengaruhi gejolak perasaan ke dua orang anak muda itu. Rasa-rasanya mereka menjadi jemu menghadapi keadaan yang demikian itu. Ada dorongan di dalam hati mereka, bahwa pertempuran yang demikian itu harus segera diakhiri.

Karena itu, meskipun tidak saling bersepakat, keduanya telah digelitik untuk mempergunakan ilmu pamungkas mereka. Dengan demikian, maka perkelahian yang menjemukan itu akan segera dapat diakhiri.

Namun sebelum mereka sampai pada langkah yang demikian, tiba-tiba saja dua orang telah menyibak orang-orang yang mengepung Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Seorang telah menuju ke arah Mahisa Murti sedang yang lain melangkah ke arah Mahisa Pukat.

Orang-orang padukuhan itupun segera menyibak. Kedua orang itu sudah dikenal dengan baik oleh seisi padukuhan karena keduanya memang orang yang memiliki ilmu tidak terlawan di padukuhan itu. keduanya adalah kepercayaan Ki Bekel dan keduanya adalah orang-orang yang akan mampu menyelesaikan segala pekerjaan yang sulit bagi orang-orang padukuhan yang lain.

Namun agaknya kedua orang itu memiliki kesombongan pula. Ketika keduanya sudah berdiri di hadapan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka salah seorang diantara mereka berteriak, “Hentikan pertempuran ini.”

Orang-orang padukuhan itu ternyata telah mengerti maksud keduanya. Karena itu, maka mereka pun telah menghentikan pertempuran dan bergeser surut.

“Tetapi jangan urai kepungan ini, agar mereka tidak dapat melarikan diri,” berkata orang yang lain.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu. Pertempuran itupun telah berhenti dengan sendirinya karena lawan-lawan kedua anak muda itu telah bergeser surut. Agaknya mereka memang lebih senang berbuat demikian setelah beberapa orang kawan mereka terbunuh di medan.

Kedua orang itupun kemudian masing-masing telah menghadapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Dengan suara lantang seorang diantara mereka berkata, “Agaknya aku memang terlambat. Kalian telah berhasil membunuh beberapa orang kawan kami. Karena itu, maka tidak ada hukuman lain yang pantas bagi kalian kecuali hukuman picis di halaman banjar ini.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak menjawab. Tetapi mereka pun menyadari, bahwa kedua orang ini adalah orang-orang dalam tataran puncak bagi orang-orang padukuhan itu. Karena itu, maka mereka pun harus sangat berhati-hati. Mungkin keduanya memang memiliki bekal yang cukup untuk memasuki arena tanpa seorang kawan pun bagi masing-masing.

Namun sementara itu, Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan telah terpaksa membunuh pula. Tidak ada cara yang dapat mereka lakukan untuk menghindari pembunuhan dalam pertempuran seperti itu.

Meskipun demikian, dalam kesibukan itu keduanya juga mendengar suara seseorang yang berdiri menghadapi Mahisa Marti atau Mahisa Pukat. Seolah-olah mereka benar-benar seorang yang akan dapat menyelesaikan persoalan yang sudah berkepanjangan menjadi benturan kekerasan itu.

Tetapi keduanya tidak sempat memperhatikan keadaan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan baik, karena mereka harus melayani sekelompok orang bersenjata. Bahkan diantara mereka terdapat beberapa orang bebahu padukuhan itu.

Namun keduanya mengerti, bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan menghadapi orang-orang dalam jumlah yang terbatas. Bahkan mereka akan berhadapan seorang melawan seorang.

Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang sudah berhadapan seorang dengan seorang. Bahkan dengan lantang orang yang berdiri di hadapan Mahisa Murti berkata, “Aku akan menangkapmu hidup-hidup, agar kami, orang-orang padukuhan ini dapat menjatuhkan hukuman atasmu. Bukan hanya kau sendiri, tetapi juga ketiga orang kawanmu itu.”

Mahisa Murti tidak menjawab. Tetapi ia sudah siap dengan tombak pendeknya untuk menghadapi lawannya yang baru itu.

Sejenak kemudian orang itupun telah menarik sebilah pedang yang panjang. Namun kemudian tangan kirinya juga menarik sebuah pedang pendek yang ternyata dipergunakannya sebagai perisai.

Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Orang itu ingin menangkapnya hidup-hidup. Tetapi ia justru menggenggam sepasang senjata.

Namun Mahisa Murti tidak bertanya apapun juga. Ujung tombaknya sajalah yang bergetar siap untuk mematuk lawan.

Tetapi lawannya masih juga berbicara, “Jika kau meletakkan tombakmu, maka kami akan dengan cepat membunuhmu. Tetapi jika tidak, maka sekali lagi aku peringatkan, bahwa kau harus menjalani hukuman picis.”

Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Tetapi ia masih tetap berdiam diri.

Sementara itu, lawannya telah mulai menggerakkan ujung pedangnya. Sekali-kali berputar, namun tiba-tiba dengan loncatan panjang ujung pedang itu telah mematuk dadanya.

Namun Mahisa Murti sempat bergeser surut. Ujung pedang itu sama sekali tidak menyentuh. Ketika lawannya memburu dengan loncatan panjang, maka Mahisa Murti bergerak menyamping. Namun ia sempat memberikan isyarat kepada Mahisa Pukat yang membelakanginya.

“Hati-hatilah,” desis Mahisa Murti, “Mungkin kau diserang oleh orang yang justru berada di belakangmu.”

“Kita mengambil jarak,” desis Mahisa Pukat.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian telah berusaha mengambil jarak meskipun tidak terlalu jauh. Apalagi ketika mereka berada di arena seorang melawan seorang. Orang-orang padukuhan itu yang semula mengepungnya, telah berdiri melingkar, membentuk sebuah arena.

Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menyadari, bahwa pagar yang terdiri dari ujung-ujung senjata orang-orang padukuhan itu, setiap saat dapat bergerak dan menyerangnya bersama-sama. Sehingga dengan demikian maka kedua orang anak muda itu masih saja sangat berhati-hati menghadapi perkembangan pertempuran itu.

Namun untuk sementara, mereka akan berhadapan seorang melawan seorang.

Orang yang bertempur melawan Mahisa Pukat ternyata telah terkejut ketika senjatanya yang berupa sebuah bindi yang besar menyentuh tombak Mahisa Pukat. Ternyata Mahisa Pukat sudah jemu dengan permainan yang kasar itu. Karena itu, maka iapun telah berusaha untuk dengan cepat mengatasi lawannya.

Tombak pendeknya berputaran dan sekali-sekali terjulur, menyusup, di celah-celah pertahanan lawannya.

Lawannya benar-benar tidak menduga, bahwa anak muda itu memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Ia menyangka bahwa ia akan dapat dengan mudah membunuhnya dan membunuh kawan-kawannya.


Namun ternyata bahwa anak muda itu justru telah mendesaknya pada benturan-benturan pertama.

“Anak ini agaknya mempunyai ilmu iblis,“ geram lawan Mahisa Pukat di dalam hatinya.

Namun iapun kemudian telah mengerahkan kemampuannya. Sebagai seorang yang merasa dirinya menjadi tumpuan harapan seisi padukuhan dalam benturan ilmu seperti yang terjadi pada saat itu, maka ia harus mampu mengatasi lawan yang betapapun tinggi ilmunya.

Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Lawannya memang memiliki bekal untuk terjun ke dalam dunia kanuragan. Tetapi sudah barang tentu tidak untuk bertempur melawan orang-orang yang sudah berada dalam tataran puncak.

Karena itu, berhadapan dengan Mahisa Pukat, maka orang itu tidak banyak dapat berbuat sesuatu. Bindinya yang besar ternyata tidak mengejutkan anak muda yang membawa tombak pendek yang dirampas dari orang-orang padukuhan itu sendiri. Bahkan ketika orang itu mengayunkan bindinya ke arah ubun-ubun Mahisa Pukat, Mahisa Pukat menangkisnya dengan menyilangkan landean tombaknya diatas kepalanya.

Benturan yang terjadi benar-benar seram dan gemeretak gigi memastikan bahwa landean tombak itu akan patah.

Tetapi yang terjadi benar-benar mengejutkannya. Bindinya bagaikan membentur dinding baja. Landean tombak yang terbuat dari kayu itu sama sekali tidak patah, bahkan retakpun tidak.

“Benar-benar kekuatan iblis,“ geram orang itu.

Mahisa Pukat memandang orang itu dengan tajamnya. Ia melihat kegelisahan yang membayang di wajah itu. Orang itu sama sekali tidak menyangka bahwa Mahisa Pukat mampu mengalirkan kekuatan ilmunya pada senjata yang tersentuh tangannya, sehingga dengan demikian landean tombak itupun telah menjadi sekuat besi baja yang tidak dapat dipatahkan oleh kekuatan lawannya yang dihentakkannya lewat ayunan bindinya.

Dengan demikian maka kecemasan mulai merambat di hati lawannya. Ternyata orang itu tidak dapat berbuat banyak menghadapi Mahisa Pukat.

Sementara itu, Mahisa Murti masih juga sempat bermain-main dengan lawannya. Ujung tombaknya telah memancing lawannya untuk berjuang menangkis dan menghindarinya meskipun ia bersenjata rangkap. Dengan demikian maka keringat telah mengalir membasahi seluruh tubuhnya.

Di lingkaran pertempuran lain, Mahisa Bungalan dan Pangeran Singa Narpada masih sibuk dengan lawan-lawannya. Tetapi semakin lama orang-orang padukuhan itu menjadi semakin cemas tentang diri mereka sendiri. Setiap kali seorang kawannya telah memekik kesakitan, dan terlempar keluar arena. Ada yang hanya tergores kecil, tetapi ada pula yang terluka parah.

Yang benar-benar berhasrat dengan cepat menyelesaikan lawannya adalah Mahisa Pukat. Dengan cepat ia melihat bin-di lawannya dengan serangan-serangan yang membingungkan. Bindinya yang berat ternyata tidak mampu bergerak setangkas ujung tombak yang ringan, meskipun orang itu merasa mempunyai kekuatan yang sangat besar, sehingga orang kebanyakan menganggap bahwa bindi baginya tidak lebih berat dari sebatang lidi.

Namun menghadapi Mahisa Pukat orang-orang itu benar-benar menjadi kebingungan. Apalagi ketika ujung tombak itu telah beberapa kali menyentuh dan bahkan menggores kulitnya.

Kegelisahan yang sangat telah membayang di matanya. Geraknya pun bagaikan tertahan-tahan oleh kebimbangan menghadapi kecepatan gerak lawannya.

Dalam keadaan yang demikian Mahisa Pukat semakin mendesaknya. Bukan saja ujung tombaknya yang mengenai lawannya, bahkan sekali-sekali pangkal landeannya telah menghantam tubuh orang itu. Ketika lututnya terkena pangkal tangkai tombak Mahisa Pukat, rasa-rasanya tulang lututnya telah pecah karenanya, sehingga kakinya pun telah menjadi timpang.

Kemarahan yang membakar jantung orang itu telah diwarnai pula dengan kegelisahan. Agaknya ia telah menyadari bahwa ia tidak akan dapat mengimbangi kemampuan lawannya yang masih muda itu. Tetapi mengingat kedudukannya yang dianggap sebagai orang yang tidak terkalahkan, maka rasa-rasanya ia tidak mempunyai jalan keluar dari kesulitannya.

Sementara itu, Mahisa Pukat pun tiba-tiba saja telah bertanya, “Apakah kau akan melawan terus? Aku sudah jemu dengan permainan seperti.ini. Jika kau masih akan terus melawan, maka aku akan berkelahi dengan sungguh-sungguh. Tidak ada sepenginang, maka kau pun akan terkapar mati di halaman banjar ini. Sementara itu, jika orang-orang lain masih juga akan bertempur terus, maka seperti yang telah terjadi, seorang demi seorang mereka akan terbunuh sampai orang yang terakhir.”

Orang itu meloncat mundur. Sejenak ia mendapat kesempatan untuk memandangi wajah Mahisa Pukat. Pada kerut keningnya nampak bahwa Mahisa Pukat agaknya memang bersungguh-sungguh.

Berbeda dengan Mahisa Murti, maka ia agaknya masih merasa mempunyai banyak kesempatan. Dengan demikian maka ia tidak dengan tergesa-gesa menyelesaikan lawannya itu. Ia justru ingin menunjukkan kepada orang-orang padukuhan itu, bahwa orang yang mereka banggakan, yang telah mencoba melawannya seorang dengan seorang itu, tidak banyak memberikan arti dalam keseimbangan pertempuran itu.

Karena itulah, maka seperti anak yang sedang bermain-main saja Mahisa Murti melayani lawannya. Sekali meloncat sambil tertawa. Kemudian menangkis serangan lawannya dan memutar pedangnya sehingga pedang itu terlepas. Namun kemudian dengan tangkai tombaknya Mahisa Murti mendorong pedang itu ke arah lawannya yang kebingungan.

Dengan demikian, maka dua lingkaran pertempuran telah diwarnai oleh nafas yang berbeda. Tetapi memberikan kesan yang hampir sama.

Orang-orang padukuhan itupun melihat, bahwa lawan Mahisa Pukat yang bersenjata bindi itu sama sekali tidak berdaya melawan anak yang masih muda itu. Luka-lukanya menjadi semakin banyak meskipun Mahisa Pukat belum sampai pada satu kesimpulan untuk membunuhnya. Ia masih terikat kepada satu keinginan, apabila tidak terpaksa, ia tidak akan membunuh lawannya. Tetapi luka-luka yang kemudian timbul, bagaikan memenuhi seluruh permukaan tubuhnya.

Sedangkan lawan Mahisa Murti, meskipun dengan tangkasnya mempermainkan pedang rangkapnya, tetapi ia tidak lebih sebagaimana seekor kelinci di tangan seekor harimau atau seekor cicak di tangan seekor kucing. Tidak ada kesempatan sama sekali untuk melawan. Meskipun lawannya belum dengan sungguh-sungguh, tetapi semua orang yang menyaksikan pertempuran itu mengerti, bahwa orang berpedang rangkap itu memang bukan lawan anak muda yang bersenjata tombak, yang diambilnya dari antara para pengawal itu sendiri.

Dalam pada itu, Mahisa Bungalan dan Pangeran Singa Narpada menjadi semakin gelisah. Diluar kehendaknya maka mereka telah melukai orang semakin banyak. Bahkan ada yang terpaksa harus mengalami luka-luka berat, dan satu dua diantara mereka, sulit untuk dapat ditolong lagi jiwanya.

Dalam kegelisahan itu, maka tiba-tiba saja terdengar Mahisa Bungalan berteriak, “He, orang-orang padukuhan ini, serta Ki Bekel yang aku kira masih berada pula di halaman.ini. Apakah kalian memang masih ingin meneruskan pertempuran ini? Dengar. Kami sudah menjadi jemu. Dengan demikian kalian dapat membayangkan apa yang akan aku lakukan dalam kejemuan itu. Aku minta Ki Bekel membuat pertimbangan sekali lagi sebelum mengambil keputusan. Kami akan tetap mempertahankan milik kami meskipun kami harus dengan terpaksa membunuh kalian semuanya.”

Ki Bekel memang masih berada di halaman itu. Mendengar suara salah seorang dari keempat pengembara itu, hatinya menjadi kecut. Selama ini belum pernah terjadi kegagalan yang sangat menyinggung perasaan seperti ini. Menurut perhitungan nalarnya, tidak akan ada sekelompok kecil orang yang hanya terdiri dari empat orang akan dapat melawan seisi padukuhan.

Karena itu, maka akibat yang timbul pada Ki Bekel justru bukan yang diharapkan. Tiba-tiba saja ia berteriak, “Jangan berkelahi seorang melawan seorang. Selesaikan tugas kalian dengan cepat bersama semua orang padukuhan ini.”

Perintah itu memang menggerakkan setiap laki-laki yang ada di halaman banjar. Namun mereka pun dibayangi pula oleh keragu-raguan. Ternyata mereka tidak dapat ingkar menyaksikan kenyataan tentang kawan-kawan mereka yang terluka dan terbunuh.

Mahisa Pukat yang mendengar perintah Ki Bekel itu menjadi semakin marah. Dengan lantang iapun berteriak, “Marilah. Siapakah yang akan maju bersama orang yang sudah hampir mati ini? Selama ini kami tidak bertempur dengan mata gelap. Kami masih berusaha menghindari korban sejauh dapat kami lakukan. Tetapi kalian sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, sehingga kalian masih saja berusaha untuk menangkap dan membunuh kami. Tetapi kesabaran kami ada batasnya. Pada saatnya maka kami tidak akan mengekang diri lagi, seperti yang dikatakan oleh salah seorang diantara kami, apa saja yang dapat kami lakukan jika kami mulai menjadi jemu dengan permainan kalian. Dengan kebodohan kalian dan dengan kesombongan kalian. Terutama karena ketamakan kalian.”

Orang-orang padukuhan itu menjadi semakin ragu-ragu. Bahkan mereka yang sedang bertempur melawan Pangeran Singa Narpada dan Mahisa Bungalan pun telah mengurangi tekanan mereka dan satu dua diantara mereka mulai dibayangi oleh kebimbangan.

Ki Bekel pun menjadi semakin gelisah. Tetapi ia tidak mau gagal. Meskipun iapun menyadari, bahwa apa yang akan didapatkannya tentu tidak akan seimbang dengan korban yang jatuh, tetapi ia tidak ingin rakyatnya menjadi kehilangan keberanian sehingga pada saat lain rakyatnya itu tidak berani lagi bertindak sesuai dengan pekerjaan yang telah mereka lakukan untuk waktu yang lama.

Karena itu, maka sejenak kemudian Ki Bekel itupun berteriak pula, “Jangan takut. Orang-orang itu hanya membual saja. Jika kalian bersungguh-sungguh, maka mereka tentu akan segera dapat kalian selesaikan.”

Sekali lagi Mahisa Pukat kehilangan pengekangan diri sendiri. Dalam gejolak perasaan yang gemuruh, tiba-tiba saja ia telah menyerang lawannya yang bersenjata bindi itu. Demikian cepatnya sehingga orang itu sama sekali tidak sempat berbuat apa-apa. Ia masih berusaha menangkis ketika Mahisa Pukat menyerang dadanya. Tetapi Mahisa Pukat mengurungkan serangannya itu dan justru ujung tombak pendeknya kemudian berputar melibat bindi lawannya. Dengan sekali sentak, maka bindi itupun telah terlepas dari genggaman. Demikian mudahnya, sehingga orang-orang yang menyaksikannya menjadi sangat heran. Namun, sementara itu, kemarahan Mahisa Pukat yang memuncak telah mendorongnya untuk mengayunkan ujung tombaknya ke arah leher.

Tetapi pada saat terakhir, ternyata masih ada sepercik kekangan yang menghambat tangannya, sehingga ia justru telah menahan ujung tombaknya yang hampir saja mengoyak leher lawannya dengan ayunan mendatar. Namun Mahisa Pukat kemudian telah mendorong ujung tombaknya ke arah pundak lawannya.

Lawannya tidak sempat berbuat apa-apa. Bindinya yang terlepas dari tangannya telah membuatnya bagaikan kehilangan kesadaran. Ujung tombak yang terayun mendatar ke arah lehernya membuatnya justru memejamkan matanya. Tetapi ujung tombak itu tidak mengoyak lehernya dan memotong kerongkongan dan jalan pernafasannya, tetapi yang kemudian disengat oleh perasaan sakit adalah justru pundaknya.

Orang itu terdorong surut. Ketika ia membuka matanya, maka dilihatnya Mahisa Pukat berdiri dekat di hadapannya. Belum sempat ia berbuat sesuatu, maka dengan tangan kirinya Mahisa Pukat telah menghantam keningnya.

Orang itu terhuyung-huyung. Namun malang baginya, bahwa ketika ia tidak mampu lagi mempertahankan keseimbangannya, maka iapun telah terjatuh. Kepalanya menimpa bindinya yang terjatuh dari tangannya.

Mata orang itu menjadi berkunang-kunang. Ia tidak sempat berbuat sesuatu. Perlahan-lahan semua yang nampak di matanya menjadi kabur.

Ternyata sejenak kemudian orang itupun menjadi pingsan. Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Ia tidak tahu pasti apa yang terjadi pada lawannya. Mungkin pingsan tetapi mungkin juga mati.

Namun ia tidak dapat termenung untuk waktu yang lama. Ia, harus dapat mengambil satu sikap. Justru ketika lawannya telah kehilangan kemampuan untuk melawannya.

Karena itu, maka sambil mengangkat tombaknya yang ujungnya berlumuran darah, Mahisa Pukat berkata keras-keras, “Lihat. Inikah orang kebanggaanmu yang telah dengan sombong menantang aku berkelahi seorang melawan seorang. Ia bagiku tidak lebih dari seorang kanak-kanak yang merengek minta permainan. Namun aku tidak akan berbelas kasihan kepadanya dan kepada siapapun juga yang telah berusaha merampok dan membunuh kami berempat. Mungkin ketiga orang kawanku masih sempat bersabar. Tetapi aku tidak. Aku akan membunuh sebanyak-banyaknya.”

Wajah orang-orang padukuhan itu menjadi tegang. Sementara itu lawan Mahisa Murti telah kehilangan senjatanya lagi yang terlepas dari tangannya. Tetapi Mahisa Murti tidak lagi mendorong pedang itu dengan tangkai tombaknya kepada lawannya itu lagi. Bahkan daun pedang itu telah diinjaknya dengan kakinya.

Orang-orang padukuhan itu termangu-mangu. Bahkan mereka yang sedang bertempur melawan Mahisa Bungalan dan Pangeran Singa Narpada pun telah semakin dicengkam oleh kebimbangan. Beberapa orang diantara mereka telah tidak lagi berani menyerang. Bahkan bergeser selangkah surut.

Orang-orang padukuhan itupun menjadi semakin menyadari kenyataan yang mereka hadapi. Empat orang itu ternyata bukannya orang-orang sebagaimana pernah mereka bantai di padukuhan itu dan mayatnya mereka kubur di pinggir padukuhan. Tetapi mereka justru harus bersiap-siap untuk mengubur kawan: kawan mereka sendiri yang terbunuh dalam pertempuran itu.

Apalagi ketika dua orang kebanggaan mereka sama sekali sudah tidak berdaya. Seorang diantaranya sudah terbaring diam, yang seorang lagi kehilangan senjata rangkapnya dengan cara yang sangat menyakitkan hati. Seolah-olah orang yang dianggap tidak terkalahkan itu tidak lebih dari seorang yang pantas dipermainkan dalam benturan kanugaran.

Ki Bekel pun melihat keadaan yang tidak diduganya sama sekali itu. Dua orang kepercayaannya yang sanggup membunuh keempat orang itu ternyata tidak berdaya menghadapi anak-anak yang masih sangat muda dibandingkan dengan dua orang yang lain.

Dalam pada itu, Mahisa Pukat telah berkata lantang, “Ki Sanak dari padukuhan ini. Masih ada kesempatan. Jika kalian meletakkan senjata kalian, maka kami akan mengakhiri pembunuhan yang dapat kami lakukan sekehendak kami. Siapa yang masih memegang senjata akan kami anggap sebagai musuh yang harus dibinasakan. Tetapi siapa yang melepaskan senjatanya, akan kami anggap telah menghentikan permusuhan sehingga kami akan memperlakukan mereka dengan baik.”

Halaman banjar itu menjadi tegang. Setiap orang berada dalam kebimbangan. Apakah mereka akan meletakkan senjata mereka atau tidak.

Ternyata Mahisa Pukat menjadi tidak sabar. Dengan suara yang bergetar ia berteriak, “Aku akan menghitung sampai sepuluh. Siapa yang tidak meletakkan senjatanya akan kami binasakan dengan tanpa ampun. Tidak akan ada kesempatan lagi setelah hitungan keselupuh itu.”

Hijaunya Lembah, Hijaunya Lereng Pegunungan
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger