logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Hijaunya Lembah, Hijaunya Lereng Pegunungan Jilid 028


“Pantas,” desis Pangeran Singa Narpada, “dengan kekuatan yang luar biasa itulah, maka Kebo Sarik telah dilumpuhkan. Alangkah dahsyatnya ilmu itu, jika kalian berdua kelak mampu mengembangkannya dan mengungkapkannya dengan landasan yang matang. Namun, menilik umur kalian sekarang, maka kesempatan masih sangat luas, sehingga menurut perhitungan, maka kalian pada suatu saat akan menjadi orang-orang yang sulit dicari bandingnya. Namun dengan demikian, maka beban dipundak kalian pun menjadi bertambah berat. Dengan ilmu yang semakin tinggi, maka kalian akan mendapat godaan yang semakin besar. Mungkin dengan ilmu kalian yang sulit dicari bandingnya, kalian akan dapat melawan orang lain yang ingin menyulitkan keadaan kalian, tetapi pada suatu saat kalian akan menghadapi lawan yang sulit untuk dikalahkan. Lawan itu adalah diri sendiri. Dengan kemampuan yang sangat tinggi, maka kalian akan dapat dikuasai oleh ketamakan, oleh kedengkian dan keinginan yang tidak terbatas, serta nafsu untuk berkuasa atas orang lain dengan mempergunakan ilmu dan kemampuan kalian.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk kecil. Meskipun dengan istilah yang berbeda, tetapi maknanya pernah juga didengarnya baik dari ayahnya, dari paman-pamannya Witantra dan Mahisa Agni. Karena itu, keduanya berusaha untuk menyimpan pesan itu didalam hati.

Dengan bahan-bahan yang lengkap atas pengamatannya terhadap kedua orang anak muda itu, maka Pangeran Singa Narpada pun kemudian menyiapkan diri serta menyiapkan kedua orang anak muda itu untuk mulai dengan latihan-latihan. Pangeran Singa Narpada tidak perlu mulai dari tataran pertama, tetapi ia akan dapat langsung sampai pada tahap-tahap terakhir, karena Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memiliki bekal yang cukup.

Latihan-latihan di sanggar maupun di udara terbuka sebagian terbesar dilakukan pada malam hari. Dengan sungguh-sungguh dan sangat berhati-hati Pangeran Singa Narpada memperkenalkan jalur ilmunya kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Sedikit demi sedikit keduanya belajar melihat perbandingan antara ilmu yang telah dikuasainya dengan ilmu yang diperkenalkan oleh Pangeran Singa Narpada. Mereka pun mulai mempelajari persamaan dan perbedaannya, sehingga mereka akan dapat dengan cepat menyadari, di jalur mana mereka berada.

“Jika kalian telah memahaminya dengan baik,” berkata Pangeran Singa Narpada, “maka kalian akan dapat berpindah-pindah seperti meloncat-loncat dari satu sisi ke sisi parit yang lain dengan penuh kesadaran dan tidak akan menjadi tumpang suh lagi. Dengan demikian, maka kalian akan dapat mempergunakan kedua jalur ilmu atau lebih di dalam dirimu bersamaan waktunya dan bahkan pada saatnya akan dapat saling mendukung dan saling mengisi.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk angguk penuh pengertian. Petunjuk-petunjuk yang diterimanya memang menunjukkan kepada mereka, arah yang harus mereka tempuh dalam perjalanan mereka mengarungi dunia olah kanuragan yang kadang-kadang keras dan gawat.

Di siang hari, mereka lebih banyak berada di gandok. Mereka lebih banyak berbicara dan berbincang tentang ilmu yang sedang mereka tekuni. Bahkan kadang-kadang mereka telah membuat gambar di atas rontal atau di atas papan atau bahkan di atas lantai dengan-arang atau alat-alat lain. Mereka menekuni latihan-latihan mereka lewat pembicaraan denggan langkah-langkah yang mereka goreskan dalam gambar.

Namun ternyata bahwa goresan-goresan dan pembicaraan itu banyak bermanfaat bagi keduanya. Dalam latihan-latihan yang sebenarnya, maka yang mereka lakukan itu seakan-akan memberikan banyak tuntunan. Pemecahan persoalan-persoalan yang mungkin timbul dengan tiba-tiba serta kemungkinan-kemungkinan yang tanpa dipersiapkan lebih dulu akan sangat sulit dipecahkan.

Pangeran Singa Narpada memang menjadi heran melihat perkembangan kedua orang anak muda itu. Kecepatan mereka meningkat melampaui perhitungan Pangeran Singa Narpada, sehingga dengan demikian Pangeran Singa Narpada semakin merasa tertarik kepada keduanya dan ia pun menjadi semakin bergairah untuk memberikan latihan-latihan yang semakin hari menjadi semakin berat.

Di antara kerja keras itu, ternyata Pangeran Singa Narpada masih juga menyempatkan diri berbicara dengan orang-orang bertongkat yang telah ditawannya. Namun pembicaraan mereka tidak segera menemukan jalur yang mampu menunjukkan pemecahan atas persoalan yang dihadapinya.

Ternyata bahwa orang-orang bertongkat itu memiliki keteguhan hati untuk tidak mengatakan sesuatu yang mereka anggap rahasia dari lingkungan mereka.

Namun ketika mereka mendengar bahwa guru mereka dan Kebo Sarik benar-benar telah terbunuh, maka rasa-rasanya mereka pun telah kehilangan segala macam cita-cita yang semula bagaikan terbang setinggi bintang.

Meskipun demikian, tidak mudah bagi Pangeran Singa Narpada untuk mengetahui siapakah mereka sebenarnya. Namun dari pembicaraan yang dapat ditangkap oleh Pangeran Singa Narpada dengan ketajaman telinga batinnya, maka orang-orang itu seakan-akan telah menjadi berputus-asa.

“Kita akan tetap menahan mereka,” berkata Pangeran Singa Narpada, “setiap hari kita akan berbicara dengan mereka. Siapakah yang menjadi jemu lebih dahulu. Kita atau orang-orang itu. Jika kita menjadi jemu lebih dahulu, maka kita akan berhenti bertanya sebelum kita mendengar jawabnya Tetapi jika mereka menjadi jemu lebih dahulu, maka merekalah yang akan mengakhiri pembicaraan sehingga mereka akan menjawab segala pertanyaan kita.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Keduanya menyadari, bahwa memang sulit untuk dapat menguasai perasaan keempat orang bertongkat itu.

Namun dalam pada itu, latihan-latihan yang dilakukan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memasuki ke bagian yang gawat. Keduanya harus semakin tekun mengenali kedua jenis ilmu yang akan menjadi bagian dari kemampuan mereka.

Dalam keadaan yang demikian, maka kedua anak muda itu dianjurkan oleh Pangeran Singa Narpada untuk mulai menjalani laku. Mereka harus mulai mengurangi jenis makanan yang mereka makan, meskipun mereka masih belum diharuskan untuk tidak makan nasi menguranginya.

Sementara itu, ternyata bahwa Mahendra menjadi sering berkunjung ke Kediri kerena kesibukan perdagangannya meskipun sekaligus ia harus menengok anak-anaknya.

Suatu kali Mahendra telah mendapat kesempatan untuk melihat apa yang dapat dilakukan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Keduanya mampu menunjukkan kepada Mahendra, bagaimana kedua anaknya itu mampu mempergunakan jalur ilmu yang diterimanya dari ayahnya dan dari Pangeran Singa Narpada hampir berbareng tanpa menimbulkan bentur-benturan di dalam diri mereka. Bahkan dengan demikian maka unsur yang nampak pada kedua anaknya itu menjadi semakin banyak dan meliputi berbagai macam kegunaan.

Namun Pangeran Singa Narpada masih belum mulai dengan ilmu puncaknya, sehingga dengan demikian, maka kedua anak muda itu masih harus bekerja keras dan berbuat banyak.

Namun apa yang dapat disaksikan itu telah membuat Mahendra berbangga. Ia yakin bahwa kedua anaknya akan menjadi orang yang memiliki ilmu yang cukup dihari tua mereka.

Tetapi untuk sampai kepada ilmu puncak yang dimiliki oleh Pangeran Singa Narpada, maka Pangeran Singa Narpada masih harus membicarakannya dengan Mahendra. Selain ilmu yang dapat melontarkan kekuatan yang tidak ada taranya. Pangeran Singa Narpada juga memiliki ilmu yang disebut oleh beberapa orang sebagai ilmu yang licik, meskipun Pangeran Singa Narpada sendiri tidak mengerti, kenapa ilmunya disebut ilmu licik.

Karena itu, sebelum ia mewariskan ilmu itu kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka Pangeran Singa Narpada memerlukan berbicara lebih dahulu dengan ayah anak-anak muda itu.

“Terserah kepada Ki Mahendra,” berkata Pangeran Singa Narpada, “apakah Ki Mahendra keberatan atau tidak. Sebenarnya aku sendiri tidak mengerti, kenapa orang lain menyebutnya sebagai ilmu yang licik.”

“Aku tidak menyebutnya sebagai ilmu yang licik,” berkata Mahendra, “karena itu, aku tidak keberatan jika Pangeran menurunkan ilmu itu kepada anak-anakku. Justru dengan demikian maka aku akan berharap, anak-anak akan memiliki bekal semakin lengkap untuk mengabdi kepada sesama.”

“Aku juga berharap demikian,” berkata Pangeran Singa Narpada, “aku sudah berulang kali mengatakan kepada kedua anak muda itu, bahwa semakin tinggi ilmu yang mereka sandang, maka tanggung jawab mereka terhadap sesama menjadi semakin besar.”

“Bagaimana kesan Pangeran terhadap anak-anak itu?” bertanya Mahendra.

“Aku kira mereka akan dapat memenuhi keinginan ayahnya,” jawab Pangeran Singa Narpada.

“Syukurlah,” jawab Mahendra, “jika demikian, maka aku serahkan kebijaksanaannya kepada Pangeran. Ilmu itu sama sekali bukan ilinu yang licik. Bukan seperti laku seorang pencuri yang mengambil milik orang dengan diam-diam. Tetapi sebagai laku seorang kesatria yang mengambil kejahatan orang lain untuk melindungi sesamanya.”

“Baiklah,” berkata Pangeran Singa Narpada, “jika demikian, maka aku akan memberikan ilmu itu kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, agar di samping ilmu mereka yang dahsyat, yang diterima dari ayahnya, juga memiliki kemampuan untuk mengambil ilmu hitam dari orang lain.”

Dengan demikian maka Pangeran Singa Narpada tidak ragu-ragu lagi. Bahkan keragu-raguannya tentang dirinya sendiri pun menjadi semakin tipis. Ketika gurunya memberikan ilmu itu kepadanya, maka gurunya itu pun telah berpesan, “Jika kau salah langkah, maka ilmu ini akan menjadi ilmu yang sangat licik. Meskipun ditakuti oleh banyak orang, tetapi akan dikutuk oleh orang-orang yang mengabdikan diri kepada kebenaran. Tetapi jika kau mampu mengetrapkan kepada jalan kebenaran itu, maka kau akan menjadi sahabat umat manusia.”

Pesan itulah yang juga harus disampaikan kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pada saatnya.

Untuk menerima puncak ilmu Pangeran Singa Narpada itu, maka mahisa Murti dan Mahisa Pukat benar-benar harus mempersiapkan diri, itu maka dibutuhkan waktu yang cukup panjang.

Yang harus dilakukan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat adalah menjalani laku lahir dan batin. Mereka mulai mengurangi makanan pokok mereka sedikit demi sedikit, sementara itu, di malam hari pada hari-hari tentu mereka mulai berendam di dalam air sungai yang mengalir lambat. Sedangkan di hari-hari lain mereka harus melatih wadag mereka dengan mendaki gunung dan menuruni lereng digelapnya malam. Berlari-lari di sepanjang sungai berbatu-batu.

Namun yang terutama adalah latihan-latihan yang tekun bagi pernafasan. Mengatur keseimbangan kekuatan di dalam dan di luar dirinya, berlatih mengetrapkan kekuatan yang dihirupnya pada jalur pernafasannya, sehingga kekuatan ke seluruh tubuh, kemudian jika dikehendaki telah memusat pada bagian-bagian tubuhnya sesuai dengan maksud dan kegunaannya.

Mahendra tidak dapat menunggui anaknya dalam laku yang dijalani, karena ia harus kembali ke Singasari. Namun ia percayakan kedua anaknya kepada Pangeran Singa Narpada.

Dengan demikian maka kedua anak muda itu benar-benar tlah bekerja keras. Mereka sama sekali tidak mengenal waktu dan lebih. Meskipun sebagian besar waktu yang mereka pergunakan adalah malam hari.

Sementara itu, Kediri semakin lama memang menjadi semakin tenang. Tidak banyak timbul persoalan-persoalan yang dapat menjadikan Sri Baginda resah dan gelisah. Pemerintahan berjalan dengan wajar dan hubungan dengan Singasari masih terjalin sebagaimana seharusnya.

Namun dengan demikian bukan berarti bahwa tidak ada masalah sama sekali yang terjadi di Kediri. Kekuatan-kekuatan yang semula diikat oleh para pemimpinnya yang gagal, dan kemudian terpecah-pecah, telah dibekali dengan dendam dan kebencian.

Mereka memang tidak dapat berbuat banyak atas Kediri dalam keseluruhan. Tetapi mereka akan mampu berbuat sesuatu bagi bagian-bagian kecil dari Kediri.

Meskipun demikian, para prajurit Kediri pada umumnya mampu mengatasi persoalan-persoalan yang timbul itu dengan cepat. Para prajurit Kediri tidak mau mengalami kesulitan sebagaimana pernah terjadi. Jika mereka terlambat, maka kekuatan yang kecil itu akan dapat mekar dan menjadi kiblat dari dendam dan kebencian yang masih terdapat di mana-mana.

Sementara itu, keempat orang bertongkat yang masih tetap ditahan di bagian belakang dari istana Pangeran Singa Narpada ternyata memang tidak dapat memberikan keterangan selain tentang diri mereka sendiri. Yang tertua di antara mereka, yang telah dengan cerdik mempersilahkan Pangeran Singa Narpada membuat peti perak, namun yang ternyata telah terjerumus sendiri kedalam kesulitan, agaknya memang masih menyimpan sesuatu yang belum disebutkannya. Namun agaknya yang mereka lakukan adalah sekedar didorong oleh keinginan mereka sendiri. Tidak sebagaimana dilakukan oleh Ki Ajar Bomantara yang berhubungan dengan Pangeran Lembu Sabdata. Sedangkan sampai saat-saat terakhir, Pangeran Lembu Sabdata masih juga belum benar-benar dapat disembuhkan. Berbagai cara sudah ditempuh. Meskipun keadaannya menjadi semakin baik, tetapi ia masih tetap menutup diri.

Dalam kehidupannya sehari-hari, meskipun masih ditempatkan di tempat yang khusus dan mendapat pengawasan yang kuat, Pangeran Lembu Sabdata sudah dapat melayani dirinya sendiri. Ia mulai sadar tentang kehadirannya. Tetapi orang lain baginya tetap dianggapnya sebagai bahaya yang setiap saat dapat menerkamnya.

Karena itu, maka Pangeran Lembu Sabdata masih belum bersedia bergaul dengan siapa pun juga. Bahkan dengan tabib yang mengobatinya dengan tekun sabar dan bersungguh-sungguh itu pun masih saja terbentang jarak yang sulit untuk ditutup.

Namun dalam pada itu, kehidupan sehari-hari di Kediri telah berangsur menjadi baik dan mapan. Suasana yang demikian ternyata telah dapat dimanfaatkan oleh Mahendra, itu pun masih saja seorang pedagang batu-batu permata, batu bertuah dan benda-benda pusaka.

Sementara itu, kedua anaknya telah menekuni ilmu yang luar biasa yang siap diwariskan oleh Pangeran Singa Narpada.

Untuk itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menjalani laku yang sangat berat. Sehingga akhirnya, Pangeran Singa Narpada memandang bahwa waktunya sudah tiba. Ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah benar-benar siap, karena sebelum ia menjalani laku untuk menerima ilmu yang tinggi dari Pangeran Singa Narpada, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah pernah menjalani laku untuk menerima ilmu puncak dari ayahnya sendiri yang juga menjadi gurunya.

Karena itu, maka untuk menjalani laku sebelum menerima ilmu Pangeran Singa Narpada, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mampu melakukannya dengan baik dalam waktu yang terhitung cepat.

Dengan demikian, maka akhirnya saatnya telah sampai pula bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk menerima ilmu yang sulit dicari bandingnya itu, dan bahkan sudah jarang ditemui duanya.

Menjelang senja Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah melakukan mandi keramas. Mereka telah membersihkan wadag mereka sebelum mereka memasuki sanggar dan menjalani laku hening untuk melihat ke dalam diri mereka sendiri. Tanpa ada orang lain yang menunjuk maka dalam laku hening, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berusaha untuk menilai diri mereka sendiri. Apakah mereka sudah cukup pantas untuk memasuki tataran yang lebih tinggi dalam olah kanuragan. Apakah mereka sudah cukup mampu mempertanggung-jawabkan ilmu yang akan diterimanya.

Dalam laku hening, keduanya seakan-akan telah memisahkan dirinya yang menilai dan dirinya yang dinilai. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang duduk bersila dengan menyilangkan tangan di dadanya, dalam memejamkan matanya, justru seakan-akan mereka melihat diri mereka duduk di hadapan mereka. Dalam kesempatan yang demikian maka keduanya telah menerawang sampai ke pusat jantung, untuk menilai perasaan, dan sampai ke pusat otak untuk menilai penalaran, siapakah mereka itu di dalam keluarga besar umat manusia.

Demikianlah mereka lakukan sampai tengah malam. Baru setelah kentongan tengah malam berbunyi, maka Pangeran Singa Narpada telah memasuki sanggar.

Untuk beberapa saat masih dilakukan laku terakhir. Baru setelah semuanya dilakukan dengan tuntas, maka Pangeran Singa Narpada itu mulai menurunkan ilmunya kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Suasana di istana itu terasa hening. Tidak banyak orang yang tahu apa yang sedang terjadi di dalam sanggar. Dua orang prajurit yang bertugas pada saat mengelilingi halaman istana dan lewat di dekat sanggar, memang telah mendengar sesuatu yang tidak jelas di dalam sanggar itu. Namun mereka menyangka bahwa seseorang sedang mengadakan latihan di dalam sanggar itu. Para prajurit itu tidak mengira, bahwa di dalam sanggar itu telah terjadi sesuatu yang sangat penting. Pangeran Singa Narpada sedang mewariskan ilmunya yang jarang ada duanya kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Seperti juga puncak ilmunya yang diterimanya dari ayahnya, maka yang diturunkan oleh Pangeran Singa Narpada adalah pokok landasan dari ilmunya, sehingga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih berkewajiban untuk mengembangkannya dan mematangkannya di dalam dirinya.

Ketika langit menjadi merah oleh cahaya fajar, maka Pangeran Singa Narpada yang letih telah keluar dari sanggar itu. Untuk menyegarkan tubuhnya, maka Pangeran Singa Narpada langsung pergi ke pakiwan untuk mandi.

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ternyata masih tetap berada di dalam sanggar. Rasa-rasanya tubuh mereka menjadi sangat lemah dan kehilangan tulang belulangnya setelah mereka mengerahkan segenap kemampuan yang ada di dalam diri mereka untuk menerima ilmu yang diturunkan oleh Pangeran Singa Narpada.

Untuk beberapa lama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih duduk bersila di sanggar dengan tangan berada di atas lutut. Mereka masih berusaha mengatur pernafasan mereka yang terengah-engah. Dengan sebulat hati mereka berusaha untuk memulihkan keadaan tubuh mereka, meskipun tidak dengan serta merta dan sepenuhnya.

Demikianlah, perlahan-lahan terasa angin pagi yang menyusup lewat celah-celah dinding mulai menyentuh tubuh mereka, sehingga rasa-rasanya menjadi semakin segar. Darah mereka yang mengalir dengan keras dan degup jantung yang bagaikan berguncang-guncang telah mulai mereda dan bahkan menjadi pulih kembali.

Namun agaknya mereka memerlukan waktu yang agak panjang. Ketika matahari sudah naik, keduanya masih belum nampak keluar dari sanggar.

Tetapi Pangeran Singa Narpada dapat memakluminya. Kedua anak itu jika ditilik dari umurnya masih terlalu muda. Hanya karena keduanya telah pernah menerima puncak ilmu ayahnya sajalah, maka Pangeran Singa Narpada berani memberikan ilmunya kepada kedua orang anak itu. Karena menurut pengertian Pangeran Singa Narpada, jika yang menerima ilmu itu ternyata masih belum memiliki kesediaan badani yang cukup, maka jatungnya justru akan dapat meledak.

Ternyata bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat benar-benar telah siap menerima ilmu yang luar biasa itu, meskipun untuk beberapa saat, keadaan tubuh mereka terasa menjadi lemah. Bahkan mungkin diperlukan waktu yang lebih lama lagi untuk memulihkan seluruh kekuatan tubuh kedua anak muda itu.

Ketika matahari kemudian naik semakin tinggi, bahkan hampir mencapai puncak langit, maka kedua anak muda itu baru merasa keadaan mereka sudah menjadi cukup baik. Karena itu, maka mereka pun telah menghentikan samadi mereka.

Setelah membenahi pakaian mereka, maka kedua orang anak muda itu pun telah keluar dari dalam sanggar dan seperti juga Pangeran Singa Narpada, mereka pun langsung pergi untuk menyegarkan badan. Ketika mereka mulai menyiram tubuh mereka dengan air di pakiwan, rasa-rasanya segalanya memang telah menjadi pulih kembali.

Namun dalam pada itu, meski pun tingkat mewariskan ilmu itu sudah selesai, namun masih ada sesuatu yang harus diberikan oleh Pangeran Singa Narpada.

Karena itu, ketika keduanya telah selesai membenahi diri, maka Pangeran Singa Narpada pun berkata, “beristirahatlah sebaik-baiknya lahir dan batin. Malam nanti kita masih akan berbicara.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk kecil. Sebenarnyalah mereka ingin beristirahat sebaik-baiknya. Karena itu, maka sehari itu, keduanya hampir tidak keluar dari dalam bilik mereka. Mereka telah mempergunakan waktu mereka untuk sejenak tidur. Tetapi karena tidak menjadi kebiasaan mereka tidur di siang hari, maka mereka pun hanya sejenak dapat lenyap.

Ketika malam turun, maka kedua anak muda itu telah bersiap. Bersama Pangeran Singa Narpada mereka memasuki sanggar pula. Namun mereka tidak akan lagi melakukan pewarisan ilmu sebagaimana telah dilakukan semalam, tetapi mereka hanya duduk saja di atas selembar tikar. Di sebelah mereka lampu minyak menyala di atas ajuk-ajuk bambu.

Dalam kesempatan itu, Pangeran Singa Narpada telah memberikan beberapa macam petunjuk sebagaimana diterimanya dari gurunya. Bagaimana Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dapat mengembangkan ilmu mereka. Selebihnya Pangeran Singa Narpada juga memberikan petunjuk-petunjuk apa yang sebaiknya dilakukan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sebagai pewaris ilmunya.

“Agaknya tidak akan berbeda jauh dari pesan-pesan yang pernah kau terima dari ayahmu,” berkata Pangeran Singa Narpada.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sementara itu Pangeran Singa Narpada berkata, “Karena itu, usahakanlah, agar kalian dapat melakukan sebagaimana di harapkan oleh ayahmu.”

“Kami akan berusaha Pangeran,” desis Mahisa Murti.

“Ya,” jawab Pangeran Singa Narpada, “aku yakin akan kejujuran hati kalian. Kalian adalah anak-anak muda yang memiliki bekal yang tidak ada bandingnya. Ilmu dari ayahmu, dan sekarang yang aku wariskan kepadamu, sementara itu, kalian telah memiliki penangkal racun yang dapat menolak racun dan bisa yang bagaimanapun tajamnya.”

Mahisa Murtidan Mahisa Pukat menundukkan kepalanya.

Sementara itu Pangeran Singa Narpada berkata, “Dengan bekal yang kalian miliki, maka pada suatu saat kalian akan menjadi orang yang sulit ada tandingnya. Namun itu bukan berarti bahwa kalian dapat berbuat apa saja, karena sebenarnyalah bahwa yang terkuat itu pun pada suatu saat akan dikalahkan oleh kekuatan baru tanpa di pilih apakah itu kekuatan hitam kekuatan putih. Karena itu, seseorang tidak boleh menjadi sombong karena ilmu-ilmu yang dimilikinya.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih saja menunduk.

Masih banyak pesan-pesan yang diberikan oleh Pangeran Singa Narpada disamping petunjuk-petunjuk apakah yang harus dilakukan dalam waktu dekat dan panjang.

Akhirnya Pangeran Singa Narpada berkata, “Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Jika aku mewariskan ilmuku kepada kalian, itu agaknya bukannya tanpa pamrih. Karena itu, maka aku minta, kalian akan bersedia memenuhi permintaanku.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi tegang sejenak. Namun mereka pun berusaha untuk menghapuskan semua kesan itu dari wajah mereka. Bahkan keduanya pun kemudian berusaha untuk mendengarkan sebaik-baiknya, pesan apakah yang akan diberikan oleh Pangeran Singa Narpada itu.

Untuk beberapa saat Pangeran Singa Narpada justru terdiam. Namun kemudian setelah menarik nafas dalam-dalam ia pun berkata, “Aku terpaksa mengatakannya. Tetapi niatku baik.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak menjawab. Ia menunggu apa yang akan dikatakan oleh Pangeran Singa Narpada itu.

Baru sejenak kemudian Pangeran Singa Narpada berkata, “Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Bukan maksudku untuk mengorek rahasia keluarga sendiri, karena setiap cacad yang terdapat di dalam lingkungan keluargaku adalah cacadku juga.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi semakin berdebar-debar. Sementara itu Pangeran Singa Narpada berkata selanjutnya, “Dengarlah baik-baik, meskipun aku harus mengatakannya sambil menyembunyikan wajahku. Sebenarnyalah aku tidak dapat mempercayai lagi siapa pun juga di dalam lingkungan keluargaku sendiri. Ada beberapa alasan yang dapat aku sebut. Tetapi aku kira aku tidak perlu mengatakan kepadamu. Karena itu, tidak seorang pun di antara mereka yang menurut pendengaranku pantas untuk menerima warisan ilmuku.” Pangeran Singa Narpada berhenti sejenak, lalu, “Namun dengan demikian, aku telah mencemaskan Tanah Kediri. Jika tidak ada orang yang memiliki bekal ilmu yang cukup, maka pada suatu saat, jika datang orang yang ingin mengganggu ketenangan Tanah ini, tidak akan ada seorang pun yang akan dapat mengatasinya. Karena itu, maka aku akan minta tolong kepadamu. Meskipun kau bukan keluarga Kediri, namun aku berharap agar kau bersedia berbuat sesuatu bagi tanah ini.”


Jantung Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terasa berdebar semakin cepat. Namun keduanya dapat merasakan betapa pahitnya perasaan Pangeran Singa Narpada. Ia merasa sendiri di ramainya Tanah Kediri.

Memang ada beberapa Senapati yang dapat dipercayainya. Tetapi mereka tidak mampu menarik kepercayaan Pangeran Singa Narpada sepenuhnya.

Karena itulah, maka beruntung sekali Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang justru telah menerima warisan ilmu yang luar biasa dari Pangeran Singa Narpada.

Tetapi justru karena itu, maka keduanya tentu tidak akan dapat menolak permintaan Pangeran Singa Narpada itu.

“Bagaimanakah kira-kira tanggapan kalian?” bertanya Pangeran Singa Narpada. Namun kemudian katanya, “Tetapi aku tidak memaksakan keinginan ini. Aku pun tidak tergesa-gesa ingin mendengar jawab kalian. Kalian dapat memikirkannya barang satu dua pekan. Pada suatu saat kalian akan dapat memberikan jawaban tanpa ragu-ragu lagi serta tidak akan menyesal di kemudian hari.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak, baru kemudian Mahisa Murti menyahut, “Pangeran. Adalah tidak pantas sama sekali bagi kami apabila kami mengelak satu kewajiban yang dibebankan oleh guru kami kepada kami, apapun ujud dan bentuknya. Namun agaknya Pangeran tidak ingin berbicara selaku guru terhadap murid-muridnya, karena Pangeran merasa bahwa Pangeran tidak membentuk kami sejak permulaan. Namun bagaimanapun juga kami adalah murid-murid yang wajib setia pada gurunya. Meskipun demikian sebagaimana yang Pangeran katakan, kami akan mempertimbangkannya dalam beberapa hari ini, meskipun sebenarnya itu tidak perlu.”

“Terima kasih,” jawab Pangeran Singa Narpada, “aku akan menunggu jawabnya. Tetapi aku akan dapat salah duga. Jika demikian yang terjadi, maka aku tidak akan merasa sangat kecewa, karena semuanya yang memang halus terjadi dan akan terjadi.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi kepala mereka telah tertunduk semakin dalam. Keduanya mencoba untuk menerawang Kediri yang besar. Apakah tidak ada seorang pun di antara para bangsawan yang dapat dipercaya oleh Pangeran Singa Narpada?”

Bahkan diluar sadarnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hampir-hampir telah menyatakan ketidak percayaannya.

Untunglah bahwa hal itu masih belum diucapkannya.

Sementara itu, malam telah menjadi semakin malam. Karena itu maka Pangeran Singa Narpada pun berkata, “sudahlah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Kalian tentu menjadi sangat letih semalam. Mungkin kalian sudah merasa cukup beristirahat. Tetapi biarlah kekuatan kalian pulih kembali seutuhnya. Besok kau tidak harus menjalani laku lagi. Sementara itu waktu kita menjadi bertambah panjang untuk berbicara dengan orang-orang bertongkat yang sudah sangat lama berada di sini. Jika kita memang tidak memerlukan lagi, maka mereka akan aku kirimkan ke penjara istana, agar mereka dapat disimpan saja di sana.

“Sulit untuk mendengar keterangannya Pangeran,” berkata Mahisa Pukat.

“Ya. Namun kita masih akan mencoba. Sementara ini kita tidak dapat memusatkan perhatian kita. Namun agaknya mulai besok kita tidak akan lagi terganggu waktunya. Siang dan malam kita akan dapat melakukannya. Meskipun aku tahu, bahwa apa yang akan kita dengar tidak akan berarti apa-apa.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ia pun mempunyai perhitungan yang demikian. Tetapi memang tidak ada salahnya untuk mencoba sekali lagi berbicara dengan orang-orang bertongkat itu.

Dengan demikian maka sejenak kemudian, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah minta diri untuk kembali ke dalam biliknya. Mereka memang masih ingin beristirahat untuk beberapa saat lagi. Apalagi dimalam itu.

Ketika fajar membayang di hari berikutnya, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berada di luar biliknya sebagaimana dilakukannya sehari-hari. Mereka tidak dapat meninggalkan kebiasaan mereka untuk berbuat sesuatu. Membersihkan halaman atau mengambil air dari sumur untuk memenuhi jambangan di pakiwan atau kerja-kerja yang lain.

Tetapi, karena di istana Pangeran Singa Narpada semuanya itu sudah dilakukan oleh orang-orang tertentu, maka keduanya setiap pagi telah berada di dalam sanggar. Apalagi ketika mereka telah menerima ilmu dari Pangeran Singa Narpada, maka mereka merasa perlu untuk selalu berusaha mengembangkannya bersama-sama dengan ilmu yang diwarisinya dari ayahnya.

Namun mereka tidak dapat melakukannya dengan serta merta. Mereka sadar, bahwa mereka harus melangkah dengan sabar. Hari itu adalah hari-hari permulaan bagi mereka menanggapi ilmu yang diwarisinya dari Pangeran Singa Narpada. Karena itu, maka mereka pun tidak dengan cepat ingin memaksa diri untuk mencapai satu loncatan panjang.

Tetapi sebagaimana di hari-hari lain, maka untuk tidak menimbulkan kesan-kesan tersendiri, maka keduanya tidak terlalu lama berada di dalam sanggar. Di siang hari, mereka adalah tamu yang khusus jika mereka di istana, tetapi jika mereka berada di padang terbuka, maka mereka adalah murid-murid yang bekerja keras untuk mempersiapkan diri mereka. Sedangkan di malam hari, waktu mereka lebih banyak justru berada di dalam sanggar.

Kebiasaan itu akan berlaku untuk waktu berikutnya. Namun dengan langkah-langkah yang berbeda. Mereka tidak lagi mempersiapkan diri untuk menerima ilmu yang jarang ada duanya, tetapi mereka menelusuri langkah-langkah untuk mengembangkan ilmu mereka.

Namun dalam pada itu, ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memerlukan untuk menemui orang-orang bertongkat yang masih saja berada di dalam tahanan.

Kehadiran Mahisa Murti dan Mahisa Pukat selalu diterima dengan penuh kecurigaan oleh oang-orang bertongkat itu, sebagaimana kehadiran Pangeran Singa Narpada. Namun keempat orang itu tidak akan dapat menolak. Mereka harus menerima kedua orang anak muda itu betapapun mereka tidak senang.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang memasuki bilik tahanan keempat orang itu pun kemudian telah berusaha berbicara dengan mereka. Tetapi kedua anak muda itu segera merasakan, bahwa tidak akan banyak persoalan yang dapat mereka simpulkan dari pembicaraan itu sebagaimana yang pernah dilakukan.

Namun Mahisa Pukat masih juga bertanya, “Siapakah di antara kalian yang paling tua?”

Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang wajar, sehingga salah seorang di antara keempat orang itu telah menunjuk orang bertubuh kecil yang duduk di sudut sambil memeluk lututnya.

Mahisa Pukat berpaling ke arah orang bertubuh kecil itu. Sambil tersenyum ia berkata, “Kita sudah pernah bertemu sebelum kalian berada di bilik ini.”

“Ya,” jawab orang bertubuh kecil itu, “kita pernah bertempur. Kalian berdua bersama-sama melawan aku. Waktu itu kalian berdua menang.”

“Aku tidak menyangka bahwa kau termasuk seorang yang licik dan pengecut,” berkata Mahisa Pukat.

Wajah orang bertubuh kecil itu menjadi merah.

“Kami waktu itu menyangka bahwa kau adalah seorang yang baik budi. Kami menyangka bahwa kau telah dengan hati terbuka memberitahukan kepada Pangeran Singa Narpada, bagaimana menyelamatkan benda berharga itu. Ternyata bahwa yang kau lakukan itu merupakan satu langkah dari rencanamu yang sangat rumit dan curang.”

“Adalah salah kalian bahwa kalian, terutama Pangeran Singa Narpada, mempercayainya,” sahut orang itu.

“O, Kau kira Pangeran Singa Narpada mempercayaimu?” bertanya Mahisa Pukat.

Orang bertubuh kecil itu terdiam. Namun sorot matanya masih telah menunjukkan hatinya yang bergejolak menanggapi sikap Mahisa Pukat.

“Sudah berapa lama kalian berada di sini?” bertanya Mahisa Pukat tiba-tiba.

“Kau tahu itu,” jawab orang bertubuh kecil itu.

“Dan kau masih tetap tidak bersedia membantu kami,” berkala Mahisa Pukat.

“Apa yang harus aku bantu?” bertanya orang itu.

“Sampai saat ini kau masih belum menyebutkan, siapakah kalian sebenarnya. Siapakah orang-orang yang telah terbunuh itu? Dan untuk apa kalian berusaha mengambil benda berharga dari Gedung Perbendaharaan itu,” berkata Mahisa Pukat.

“Aku sudah mengatakan semua yang aku ketahui,” berkata orang itu, “apalagi?”

“Masih ada,” jawab Mahisa Pukat, “sebut, dari manakah asal kalian. Di manakah padepokan kalian dan untuk apa kalian mengambil pusaka itu.”

“Sudah kami jawab. Padepokan kami terletak jauh sekali. Kau tidak akan dapat membayangkan di manakah letaknya. Dan padukuhan kami? Sementara itu aku pun sudah menjawab kepadamu, kepada Pangeran Singa Narpada dan kepada siapapun yang bertanya kepada kami, bahwa yang terbunuh itu adalah guruku dan paman guruku. Nah, bukankah sudah jelas? Sedangkan untuk apa pusaka-pusaka itu, hanya guruku sajalah yang tahu. Sedang guruku sudah dibunuh oleh Pangeran Singa Narpada. Dengan demikian, maka pertanyaanmu yang terakhir itu tidak akan pernah dapat dijawab.”

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya pembicaraan itu sudah menjadi buntu sebagimana yang pernah dilakukannya.

Namun tiba-tiba saja ia bertanya, “Siapakah nama gurumu dan gelarnya?”

“Kenapa kau tidak bertanya sendiri ketika guru masih hidup?” bertanya orang bertubuh kecil.

“Tentu aku tidak mendapat kesempatan untuk melakukannya,” berkata Mahisa Pukat, “tetapi agaknya gurumu itu justru tidak begitu berkepentingan dengan pusaka yang kau ambil itu, karena menurut pengamatan kami, ia baru datang setelah pusaka itu diambil oleh paman gurumu.”

Orang bertubuh kecil itu tidak menjawab. Sementara itu Mahisa Pukat berkata, “Menurut pengamatanku, gurumu benar-benar seorang pertapa yang sudah tidak lagi memerlukan kebutuhan duniawi. Tetapi kenapa ia masih demikian tamaknya bahkan gejolak keinginan duniawinya masih sangat besar, karena ia masih berharap untuk menjadi seorang raja?”

“Bohong,” tiba-tiba salah seorang di antara keempat orang bertongkat itu memotong, “guru memang seorang pertapa yang bersih dari nafas keduniawian.”

“Jangan mimpi,” sahut Mahisa Pukat, “setiap orang melihat bahwa gurumu adalah seorang yang tamak sekali. Dalam umurnya yang sudah menginjak ketuaan, apakah sebenarnya yang ingin dicapai?”

“Guru memang tidak menginginkan apa-apa lagi. Yang dilakukannya semata-mata adalah karena cintanya kepada murid-muridnya.”

Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia bertanya, “Siapakah nama guru kalian itu?”

Keempat orang itu terdiam. Tidak seorang pun yang menjawabnya.

“Nah,” berkata Mahisa Pukat, “bukankah kalian malu menyebut nama gurumu? Itu adalah pertanda bahwa kalian memang mengakui, guru kalian adalah orang yang namanya pernah cemar atau tercemar.”

“Tidak,” salah seorang di antara keempat orang itu hampir berteriak, “kalian jangan mengigau.”

“Jangan berteriak begitu,” Mahisa Murti lah yang menyahut, “kamilah yang sepantasnya membentak-bentak kalian. Bukankah kalian adalah tawanan kami?”

Orang bertongkat itu menggeram.

“Kalian harus menerima nasib kalian. Kalian adalah korban ketamakan guru kalian,” berkata Mahisa Murti.

“Tidak. Sama sekali tidak,” sahut orang bertongkat itu.

“Kenapa tidak? Gurumu mati atas ulahnya sendiri. Sekarang kalianlah yang tinggal hidup akan mengalami nasib yang tidak dapat kalian ramalkan. Bukankah hal itu adalah sekedar akibat nafsu gurumu? “ ulang Mahisa Pukat.

Wajah orang-orang bertongkat itu menjadi merah. Tetapi mereka tidak dapat menyangkal bahwa nasib mereka memang menjadi sangat buruk. Tetapi mereka sama sekali tidak rela bahwa gurunyalah yang menjadi sasaran kesalahan itu.

Karena itu, maka salah seorang di antara mereka berkata, “Maaf jika aku berteriak. Tetapi aku tidak dapat menerima sikapmu yang merendahkan guruku.”

“Jadi bagaimana yang sebenarnya terjadi?” bertanya Mahisa Pukat tiba-tiba.

Pertanyaan itu memang mengejutkan. Orang bertubuh kecil itu pun menundukkan kepalanya. Ia tidak akan dapat mengelak lagi pertanyaan-pertanyaan yang tentu akan datang seperti datangnya ombak di tepi laut. Bergulung-gulung susul menyusul tidak henti-hentinya.

Namun orang bertubuh kecil itu tidak menunjukkan kegelisahannya. Meskipun kepalanya tertunduk, namun ia tidak berdesah.

“Bagaimana yang sebenarnya?” Mahisa Pukat mencoba mendesak, “siapakah sebenarnya yang tahu rencana pengambilan pusaka itu? Untuk apa? Jika kalian tidak ingin disebutkan korban ketamakan guru kalian, maka kalian tentu tidak akan menyangkal bahwa bukan guru kalianlah yang bernafsu untuk mengambil mahkota itu. Jika guru kalian terlibat, maka itu adalah karena cinta guru kalian terhadap kalian.”

Keempat orang bertongkat itu tidak menjawab.

“Masih ada kesempatan bagi kalian,” berkata Mahisa Pukat, “atau orang-orang Kediri akan mengambil kesimpulan bahwa seorang pertapa tua dari sebuah padepokan telah mengorbankan murid-muridnya bagi memenuhi ketamakannya.”

Keempat orang itu masih tetap berdiam diri. Wajah-wajah mereka tetap menunduk. Namun hati mereka tetap memberontak jika nama gurunya dicemarkan.

Hal itulah yang diketahui oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Karena itu, maka keduanya berniat untuk mempergunakan hal itu sebagai senjata untuk mendengar keterangan orang-orang bertongkat itu kemudian.

Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak ingin memaksa mereka langsung berbicara. Karena itu, maka Mahisa Pukat pun kemudian berkata, “Baiklah. Aku kira hari ini kalian masih belum siap untuk berbicara. Besok aku akan kembali lagi. Jika besok kalian juga belum siap, maka hari berikutnya dan hari berikutnya dan seterusnya sampai kalian mau berbicara meskipun kami harus menahan diri untuk tidak mengumumkan kenistaan gurumu kepada seluruh rakyat Kediri bahkan seluruh rakyat Singasari.”

Wajah orang-orang itu menjadi merah padam. Tetapi mereka memang tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka adalah tawanan yang terkurung dan dikelilingi oleh kekuatan yang jauh melampaui kekuatan mereka.

Kecuali jika mereka memang berhasrat untuk membunuh diri.

Dengan demikian maka keempat orang itu harus menahan gejolak perasaannya betapapun sakitnya. Bukan saja karena penghinaan terhadap guru mereka, tetapi juga karena keadaan mereka sendiri Tetapi perasaan mereka menjadi semakin sakit jika orang-orang Kediri mengatakan bahwa mereka adalah korban ketamakan gurunya.

Sejenak kemudian maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berada didalam bilik tahanan itu pun telah minta diri. Sikapnya sama sekali tidak menunjukkan kekerasan perasaan mereka. Namun keempat orang bertongkat itu menyadari, bahwa meskipun demikian anak-anak muda itu akan mampu bertindak tegas terhadap mereka.

Beberapa saat kemudian maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun meninggalkan bilik itu. Sehingga dengan demikian maka keempat orang bertongkat itu pun mendapat kesempatan untuk saling berbicara di antara mereka.

Tetapi rasa-rasanya pembicaraan mereka pun terasa hambar. Dengan nada rendah orang bertubuh kecil, saudara tertua di antara keempat orang itu pun berkata, “Anak-anak muda itu berhasil memancing perasaan kita terhadap guru.”

“Kita memang tidak dapat berbuat lain,” jawab salah seorang di antara orang-orang bertongkat itu, “aku tidak tahan mendengar mereka menghinakan guru.”

“Mereka sengaja berbuat demikian untuk, mengikuti perasaan kita,” jawab orang bertubuh kecil itu.

“Apa pun alasannya, tetapi apakah kita akan sampai hati mendengar, bahwa kesalahan ini ditimpakan seluruhnya kepada guru kita? Sementara guru kita ikut terlibat dalam hal ini karena cintanya kepada kita?” sahut salah seorang adik seperguruannya itu.

“Aku mengerti,” berkata orang bertubuh kecil itu, “Tetapi jika seandainya kita ingkar pada kenyataan dan tidak membantah kata-kata pancingan itu, semata-mata juga untuk kepentingan padepokan kita.”

“Tetapi bagaimanapun juga, aku tidak dapat mendengar penghinaan atas guru,” berkata adik seperguruannya yang lain, “Bahkan aku bersedia mengalami apa saja di dalam tahanan ini untuk mempertahankan nama guru.”

“Jika demikian, apakah kita harus berterus terang tentang padepokan kita yang besar itu. Tentang persiapan-persiapan yang sudah kita lakukan, serta tentang salah seorang di antara keluarga kita yang masih mempunyai darah keturunan raja-raja yang besar yang kita harapkan akan dapat merebut kekuasaan Kediri yang goyah?” bertanya orang bertubuh kecil itu.

“Memang hal itu tergantung kepada ketahanan kita untuk tetap membungkam,” jawab adik seperguruannya yang lain, “Jika kita mengalami tekanan, maka kita harus menahankannya. Jika sampai terloncat dari mulut kita bahwa di padepokan kita telah terkumpul kekuatan yang besar, maka Kediri tentu akan mengambil langkah-langkah, terutama Pangeran Singa Narpada, sementara kekuatan di padepokan kita belum siap. Apalagi dengan hilangnya guru dan paman yang sebenarnya akan dapat membantu kekuatan di padepokan kita.”

“Baiklah,” berkata orang bertubuh kecil itu, “kita akan tetap bertahan, apapun yang akan kita alami.”

Dengan tekad itulah, maka orang-orang bertongkat itu akan mempertanggung jawabkan nasib mereka sendiri, sementara orang-orang yang mereka tinggalkan telah menunggu mereka dengan harapan didalam hati mereka.

Demikianlah, maka dengan hati yang selalu berdebar-debar mereka menunggu waktu melintas dengan lambatnya! Ketegangan itu rasa-rasanya telah mencengkam semakin lama semakin kuat.

Dihari berikutnya, sejak matahari terbit, mereka dengan jantung yang berdegupan telah menunggu kehadiran Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang akan bertanya seribu macam persoalan yang harus mereka elakkan jawabnya.

Tetapi ternyata hari itu sampai lewat tengah hari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak nampak datang mengunjungi mereka.

Namun ketika mereka menganggap bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pada hari itu tidak akan datang, tiba-tiba saja pintu bilik tahanan itu terbuka.

“Gila,” orang-orang bertongkat itu mengumpat.

Mereka melihat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berdiri di depan pintu.

Namun orang-orang bertongkat itu merasa heran, bahwa mereka melihat kedua orang anak muda itu mengenakan pakaian lengkap dengan pedang di lambung.

“Selamat sore,” berkata Mahisa Murti.

Orang-orang bertongkat itu menjawab sapa itu dengan malesnya. Meskipun jantung mereka berdebaran, namun mereka berusaha untuk nampak selalu tenang. Keempat orang itu tetap duduk berpencar di dalam ruang itu.

“Maaf, bahwa kami akan mengganggu ketenangan kalian,” berkata Mahisa Murti. Lalu, “Tetapi aku minta salah seorang di antara kalian pergi bersamaku.”

Wajah-wajah itu menjadi tegang.

“Tidak apa-apa. Tetapi para pemimpin prajurit Kediri ingin berbicara dengan salah seorang di antara kalian. Nah, siapakah di antara kalian yang akan pergi bersama kami?” bertanya Mahisa Pukat.

Keempat orang itu saling berpandangan. Namun akhirnya orang yang tertua di antara mereka tidak dapat ingkar. Katanya, “Aku adalah saudara tertua di antara kami berempat. Karena itu, jika hanya seorang saja yang harus ikut, maka biarlah aku yang ikut bersamamu.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mengangguk-angguk. Dengan nada datar Mahisa Pukat berkata, “Bagus. Itu adalah satu tanggung jawab yang pantas dihargai. Marilah, kita akan pergi sejenak.”

Orang bertubuh kecil itu pun kemudian melangkah kepintu. Namun ia masih berhenti sejenak dan berpaling ke arah saudara-saudara seperguruannya. Rasa-rasanya ia ingin memandang mereka sampai tuntas, seolah-olah ia tidak akan bertemu lagi dengan adik-adik seperguruannya itu.

Sejenak kemudian, maka orang bertubuh kecil itu pun telah melangkah pintu dan pintu itu pun tertutup kembali dan diselarak dari luar.

Namun demikian ketegangan masih tetap mencengkam hati ketiga orang yang masih tinggal di dalam bilik itu. Dengan cemas seorang di antara mereka bergumam, “Ke mana ia di bawa!?”

Kedua saudara seperguruannya berpaling ke arahnya. Dengan nada dalam salah seorang di antara keduanya itu menyamhut. “Ia tidak akan pergi terlalu lama. Seperti kata anak-anak muda itu, bahwa para pemimpin prajurit Kediri akan berbicara. Agaknya tidak akan terjadi sesuatu, justru karena ia akan berbicara dengan para pemimpin.”

Saudara-saudara seperguruannya mengangguk-angguk. Namun mereka sadar, bahwa saudara seperguruannya yang mengatakan itu pun tidak yakin akan kebenaran kata-katanya, karena yang diucapkan itu adalah sekedar untuk menenangkan hati saja.

Dengan tegang ketiga orang itu menunggu saudara seperguruannya yang tertua itu kembali. Namun sampai saatnya seorang prajurit menyalakan lampu minyak di dalam ruang itu, orang bertubuh kecil itu belum kembali.

“Kau tahu, ke mana saudaraku itu dibawa?” bertanya salah seorang dari ketiga orang yang menunggu itu.

Prajurit yang menyalakan lampu minyak itu menggeleng. Tetapi ia menjawab juga, “Aku tidak tahu ke mana ia dibawa. Yang aku lihat adalah bahwa saudaramu itu telah diikat di belakang seekor kuda.”

“Apa?“ hampir berbareng ketiga orang itu bertanya.

“Ya. Saudaramu diikat di belakang seekor kuda, harus mengikuti kuda itu meninggalkan istana ini. Mungkin ia akan dibawa menghadap para panglima dan Senapati, “jawab prajurit itu.

“Gila,” geram salah seorang di antara ketiga orang itu, “Apakah kau berkata sebenarnya?”

Prajurit itu memandang orang yang bertanya itu dengan tajamnya. Kemudian ia pun bertanya pula, “Apakah kau kira aku berbohong? Buat apa aku membohongimu?”

Orang-orang bertongkat itu tidak bertanya lagi. Namun jantung mereka menjadi berdentangan. Mereka tidak mengira bahwa saudaranya itu akan diperlakukan demikian oleh para prajurit Kediri.

“Perlakuan yang kejam,” geram salah seorang di antara mereka.

Saudara-saudaranya tidak menjawab. Tetapi rasa-rasanya darah mereka telah mendidih.

Karena itulah, maka hampir semalam suntuk ketiga orang yang berada didalam bilik tahanan itu hampir tidak dapat memejamkan matanya. Hanya sesaat sebelum matahari terbit mereka sempat tidur sejenak.

Ketika matahari terbit, maka mereka telah kembali dicengkam oleh kegelisahan. Mereka telah menunggu dan menunggu. Namun pada hari itu, saudara seperguruannya belum juga kembali kedalam bilik itu.

Dengan demikian maka ketiga orang bersaudara seperguruan itu menjadi semakin gelisah dan tegang. Selain semalam mereka tidak dapat tidur, maka rasa-rasanya mereka pun tidak dapat menelan makan yang dihidangkan bagi mereka hari itu. Makan yang dihidangkan tiga kali dalam sehari, hampir tidak disentuhnya karena jantung mereka yang berdebaran.

Namun disore hari, prajurit yang menghidangkan makan tidak mengambil sisa makan mereka dan membiarkan makan itu tetap didalam bilik itu.

Ternyata ketika tengah malam saudara seperguruan mereka belum pulang dan mereka tidak juga dapat tertidur, makan itu telah mereka makan meskipun hanya sebagian kecil saja.

Malam itu, orang yang mereka tunggu-tunggu itu pun belum juga kembali. Karena itu, maka ketiga orang itu pun telah berusaha untuk tertidur barang sejenak menjelang pagi.

Namun sebelum fajar, mereka telah dikejutkan oleh derak pintu yang terbuka. Ketika mereka membuka mata, maka mereka melihat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berdiri didepan mereka.

“Dimana saudaraku itu,” bertanya salah seorang di antara mereka.

Mahisa Pukat tersenyum. Katanya, “Aku tidak tahu. Aku telah menyerahkannya kepada para panglima dan Senapati yang menghendaki berbicara dengan saudaramu itu.”

“Apakah sekarang ia masih berada di antara para pemimpin? Berapa pekan para pemimpin itu akan berbicara dengan saudaraku?” bertanya yang lain.

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian dilemparkannya sebuah bungkusan kepada ketiga orang itu. Katanya, “Aku mendapat titipan dari para Senapati itu untuk disampaikan kepada kalian.”

“Apa? “ ketiga orang itu menjadi cemas.

“Bukalah,” berkata Mahisa Pukat.

Orang-orang itu menjadi ragu-ragu. Namun kemudian yang tertua di antara mereka pun telah membuka bungkusan itu. Darahnya terasa bagaikan berhenti mengalir ketika ia melihat bahwa didalam bungkusan itu terdapat pakaian saudara seperguruannya yang pergi itu.

Tangannya tiba-tiba telah menjadi gemetar. Wajahnya menjadi pucat dan rasa-rasanya ia tidak mampu lagi untuk membuka bungkusan itu lebih lanjut.

Kedua orang saudara seperguruannya menjadi tidak sabar. Berloncatan mereka menerkam bungkusan itu. Namun mereka pun telah menjadi pucat pula ketika mereka melihat bahwa isi bungkusan itu adalah pakaian saudara mereka yang tertua.

“Apa artinya?” bertanya salah seorang di antara mereka dengan suara gemetar.

“Aku tidak tahu,” jawab Mahisa Pukat, “aku hanya mendapat pesan untak menyampaikan barang-barang itu kepada kalian tanpa mengetahui isinya. Jika aku boleh tahu, apakah isinya? “

“Ini adalah pakaian saudara kami,” jawab salah seorang di antara mereka.

“Pakaian? “ ulang Mahisa Pukat.

“Ya,” jawab orang itu.

Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Sementara itu ketiga orang yang sudah berhasil menguasai perasaannya itu telah mencoba membuka lebih jauh lagi. Mereka mulai membentangkan pakaian-pakaian itu.

Namun dengan demikian keringat dingin telah membasahi seluruh tubuh mereka. Pakaian itu benar-benar membuat mereka menjadi sangat ngeri.

Di beberapa bagian dari pakaian itu terdapat noda-noda darah sementara dibagian yang lain terdapat lubang-lubang karena pakaian itu telah koyak.

“Apa artinya ini Ki Sanak, apa artinya,” tiba-tiba seorang di antara ketiga orang itu berteriak semakin keras sambil mengibas-kibaskan pakaian itu.

“Tenanglah,” berkata Mahisa Murti, “Mundurlah.”

“Tetapi bukankah dengan demikian berarti saudaraku itu telah mati dalam keadaan yang mengerikan? Apakah arti dari pakaiannya yang telah terkoyak-koyak itu dan apa pula artinya noda-noda darah pakaian itu?” bertanya salah seorang di antara ketiga orang itu.

“Tenanglah,” berkata Mahisa Murti, “kami tidak tahu apa yang terjadi. Tetapi kami berjanji untuk menanyakan, apakah arti dari peristiwa ini.”

“Aku tidak percaya bahwa kalian berdua tidak mengetahui apa yang terjadi. Kalian tentu telah ikut dalam pembantaian yang kejam, yang tidak pantas dilakukan oleh orang-orang beradap,” berkata salah seorang dari ketiga orang.

“Yang menjadi tawanan di sini adalah kalian. Jika di antara kita ada perasaan tidak percaya, maka kamilah yang sepantasnya tidak percaya kepada keterangan kalian. Bukan kalian yang memaksa kami untuk mengatakan apa yang sebenarnya menurut pendapat kalian,” jawab Mahisa Pukat.

“Persoalannya tidak pada tawanan atau bukan tawanan,” jawab salah seorang dari mereka bertiga, “tetapi apakah pantas bahwa prajurit dan apalagi para Senapatinya memperlakukan seorang tawanan seperti itu.”

“Kita belum tahu pasti apa yang terjadi,” berkata Mahisa Murti, “karena itu aku berjanji untuk mempersoalkannya besok.”

“Omong kosong. Kalian datang pada saat seperti ini dan menyerahkan kepada kami pakaian yang koyak-koyak dan bernoda darah. Bukankah itu sudah pasti?” geram seorang di antara ketiga orang itu.

Tetapi Mahisa Murti menjawab, “Terserahlah menurut penilaian kalian. Tetapi aku minta diri. Aku ingin beristirahat di sisa fajar ini meskipun barangkali hanya sekejap saja.”

Ketiga orang itu memandang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan sorot mata yang membara. Namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Sejenak kemudian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah keluar dari dalam bilik itu, dan pintu pun kembali ditutup dan diselarak.

Sepeninggal Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, ketiga orang bertongkat itu masih saja merenungi pakaian saudara seperguruannya yang tertua itu. Mereka membayangkan apa yang telah terjadi atasnya. Ketika saudaranya itu dibawa oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, ia telah diikat dibelakang kuda dan dipaksa untuk berjalan mengikutinya.

Kemudian, tentu sesuatu yang mengerikan telah terjadi. Saudaranya itu telah dipaksa untuk berterus terang. Tetapi agaknya saudara seperguruannya yang tertua itu tetap membungkam, sehingga ia mengalami perlakuan diluar batas perikemanusiaan.

Akhirnya yang dapat mereka renungi hanyalah pakaiannya yang koyak dan bernoda darah.

“Besok akan datang saatnya, kita masing-masing mengalami nasib yang sama,” desis salah seorang di antara ketiga orang itu.

“Apaboleh buat,” geram orang yang tertua di antara mereka bertiga. Lalu, “Kita tidak akan dapat berkhianat terhadap perguruan kita.”

“Mati dengan cara yang sangat menyakitkan hati,” desis yang lain. “Bagaimana jika kita membunuh diri saya?”

“Membunuh diri?” bertanya yang tertua, “itu bukan perbuatan terpuji. Kita tidak boleh mengelakkan penderitaan yang datang untuk kepentingan padepokan kita.”

“Bukan membunuh diri dengan menusuk dada kita sampai ke jantung,” jawab saudaranya.

“Jadi apa maksudmu?” bertanya yang tertua di antara mereka.

“Kita melawan para penjaga sampai mati,” jawab saudara seperguruannya, “itu akan lebih baik dari mati dalam keadaan seperti ini.”

Yang tertua mengerutkan keningnya. Lalu katanya,” belum tentu juga kita akan mati. Mungkin kita akan mengalami keadaan yang lebih mengerikan lagi.”

Kedua orang adik seperguruannya menarik nafas dalam-dalam. Namun mereka benar-benar tidak dapat menerima keadaan itu. Karena itu, maka sejenak kemudian seorang di antara mereka berkata, “Kami harus melarikan diri, tanpa mempedulikan apa yang dapat terjadi atas diri kami. Mati pun kami kehendaki.”

Saudara tertua yang tertinggal di antara mereka hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya memang tidak ada pilihan lain.

Tetapi adalah diluar dugaan mereka, bahwa petugas yang mengawasi mereka telah mendengarkan dengan cermat apa yang telah mereka bicarakan. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang berpesan, bahwa sepeninggal mereka mungkin ketiga orang itu akan berbicara tentang pakaian kakak seperguruannya yang baru saja mereka berikan itu.

Dengan demikian maka di antara para petugas itu memang dengan sengaja telah menempel pada dinding bilik itu untuk mendengarkan pembicaraan ketiga orang saudara seperguruan yang marah itu, sehingga mereka tidak mengekang kata-katanya.

Para petugas yang mendengar percakapan itu pun segera telah melaporkannya kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, sehingga keduanya tahu bahwa ketiga orang itu akan berusaha untuk melarikan diri.

“Hal itu dilakukan dalam rangka usaha mereka membunuh diri,” berkata Mahisa Murti kepada Pangeran Singa Narpada ketika kedua anak muda itu melaporkan pula hal itu kepada Pangeran Singa Narpada.

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Kita harus berhati-hati. Kita harus dapat menangkap mereka kembali tanpa membunuh. Karena kematian justru mereka kehendaki. Namun sebelumnya harus dilakukan usaha agar mereka tidak sempat melarikan diri.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sementara itu Pangeran Singa Narpada berkata, “Jika benar mereka keluar dari bilik itu, maka kalian akan bertempur menghadapi dua di antara mereka. Kalian dapat mencoba kemampuan kalian dengan ilmu yang aku wariskan kepada kalian, sehingga akhirnya mereka akan kehilangan kemampuan untuk bertempur tanpa membunuhnya. Serahkan yang seorang kepadaku. Aku tidak akan banyak mengalami kesulitan.”

Demikianlah, maka para petugas yang mengawasi bilik tawanan itu pun menjadi semakin berhati-hati. Pada suatu saat, ketiga orang itu tentu berusaha untuk melarikan diri. Mungkin pada saat-saat para petugas memberikan makan mereka dan mengambil sisa makanan sebelumnya. Atau pada kesempatan lain yang tiba-tiba.

Karena itu, ketika memberikan makan kedalam bilik itu, pengawalan telah dilakukan dengan lebih ketat. Sementara itu yang menyerahkan tiga nampan makanan kedalam bilik itu pun bukan petugas sebagaimana biasanya. Tetapi tiga orang perempuan yang diminta oleh nara pengawal untuk melakukannya. Tiga orang yang biasanya hanya bekerja di dapur.

Mula-mula ketiganya memang takut. Tetapi para pengawal menjamin keselamatan mereka jika terjadi sesuatu.

Sebenarnya lah ketiga orang saudara seperguruan itu mengumpat tidak habis-habisnya. Mereka sebenarnya ingin mempergunakan kesempatan itu untuk melakukan perlawanan. Mereka dapat melumpuhkan orang yang memberikan makan kepada mereka dan meloncat keluar. Kemudian menghadapi para pengawal dengan tekad untuk mati.

Tetapi betapapun buasnya ketiga orang bertongkat itu, ketika mereka melihat tiga orang perempuan memasuki bilik itu sambil membawa nampan berisi makan bagi mereka dengan sikap yang lugu dan kepala tunduk, hati mereka menjadi luluh. Apalagi seorang di antara ketiga orang perempuan itu rambutnya telah separo putih, sementara tangannya menjadi gemetar ketika ia meletakkan nampan itu diatas amben bambu.

“Setan orang-orang Kediri,” geram orang-orang itu, “Mereka ternyata sangat licik, pengecut dan biadab.”

Ketiga orang itu gagal dengan niatnya. Tetapi bukan berarti mati setelah bertempur dengan para pengawal.

Karena itu, maka ketiga orang itu pun sepakat untuk memecahkan dinding kayu yang tidak begitu tebal. Mereka merasa akan mampu melakukannya.

Karena itu, maka mereka pun telah bersepakat untuk mencari waktu yang paling baik untuk melakukannya.

“Lewat tengah hari,” berkata salah seorang di antara mereka.

Yang lain sependapat, sehingga dengan tegang mereka telah menunggu sampai matahari lewat dari puncak langit.

Dengan melihat lubang-lubang yang ditembus cahaya matahari di celah-celah atap dan dinding, maka mereka dapat mengetahui bahwa tengah hari telah datang. Karena itu, maka mereka pun telah bersiap-siap. Mereka tidak menghiraukan lagi makan yang kemudian diberikan kepada mereka juga oleh tiga orang perempuan yang telah memberikan sebelumnya.

Demikianlah, seperti yang mereka rencanakan, maka ketika matahari mulai turun, ketiga orang itu benar-benar telah berusaha memecahkan pintu bilik tawanannya.

Tidak seorang pun berusaha mencegah. Namun demikian dinding itu pecah, maka yang berdiri di hadapan mereka bukannya para pengawal, tetapi Pangeran Singa Narpada sendiri, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Tetapi orang-orang bertongkat itu tidak lagi mau surut. Mereka telah menantang ketiga orang itu meskipun tongkat mereka sudah dirampas.

“Bunuh kami,” geram salah seorang dari ketiga orang itu.

“Apakah kalian memerlukan bantuan kami untuk membunuh diri?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

Pertanyaan itu memang menyakitkan hati. Tetapi salah seorang dari ketiga orang saudara seperguruan itu menjawab, “Apapun yang kalian katakan namun bagi kami sebagai laki-laki tentu akan lebih baik daripada mati sebagaimana saudara kami yang tertua. Mati dengan pakaian yang koyak-koyak penuh noda darah. Mati karena tingkah yang biadab dan tidak berperi kemanusiaan.”

Pangeran Singa Narpada mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Cukup Ki Sanak. Kau tidak usah mengigau terlalu panjang. Apapun yang kalian kehendaki, kalian adalah tawanan kami. Karena itu, maka kamilah yang akan menentukan, apakah yang sebaiknya kami lakukan atas kalian.”

Ketiga orang tawanan itu menggeram. Namun mereka sudah bertekad untuk mati. Karena itu, maka yang tertua dari ketiganya berkata, “Kami akan menentukan apa yang paling baik buat kami. Bukan kalian. Apalagi kami sudah berada di luar bilik tahanan sehingga kami adalah orang-orang yang bebas seperti kalian.”

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kalian tentu tahu pasti, bahwa akulah yang membunuh orang yang kalian sebut dengan guru kalian itu. Dua orang anak muda ini adalah orang-orang yang telah membunuh orang yang kau sebut dengan Kebo Sarik itu. Nah, apakah kalian benar-benar ingin melawan?”

“Semakin tinggi tingkat ilmu kalian, akan menjadi semakin baik buat kami. Karena dengan demikian maka kami akan semakin cepat kalian selesaikan dan mati,” jawab salah seorang dari ketiga orang itu.

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Marilah kita melihat, apakah kalian akan dapat melakukan apa yang kalian inginkan itu.”

Ketiga orang pun segera bersiap. Sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah menghadapi lawan masing-masing. Yang tertua di antara mereka merasa bertanggung jawab untuk memilih lawan yang terbaik, karena itu, maka ia pun telah maju menghadapi Pangeran Singa Narpada. Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ketiga orang itu benar-benar bertekad untuk mati.

Sementara itu, ketiga orang itu pun masih sempat merasa heran. Di sekitar mereka sama sekali tidak nampak seorang prajuritpun. Apalagi sekelompok prajurit yang dapat saja diperintahkan oleh Pangeran Singa Narpada untuk menghancurkan mereka. Tetapi ternyata hal itu tidak dilakukan. Dan prajurit itu sama sekali tidak nampak di sekitar arena itu.

Dengan demikian maka mereka telah berhadapan masing-masing seorang melawan seorang.

Sejenak kemudian, maka mereka pun telah mulai bertempur. Yang tertua di antara mereka, yang bertempur melawan Pangeran Singa Narpada justru merasa heran. Rasa-rasanya ilmunya mampu mengimbangi ilmu Pangeran Singa Narpada yang telah membunuh gurunya. Bahkan beberapa kali Pangeran Singa Narpada telah berloncatan surut. Apalagi ketika lawan Pangeran Singa Narpada itu telah mempergunakan ilmunya yang melontarkan semacam cahaya yang mampu meledakkan sasarannya meskipun mereka tidak mempergunakan tongkatnya. Ilmunya itu seakan-akan memancar dari telapak tangannya. Namun agaknya memang tidak sedahsyat jika ilmunya itu dilontarkan dengan lontaran tongkat-tongkat yang agaknya merupakan senjata khusus mereka.

Dengan demikian maka rasa-rasanya pertempuran itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Beberapa kali Pangeran Singa Narpada yang terpaksa menghindari serangan itu berloncatan mengambil jarak.

Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bertempur melawan kedua orang yang lain. Keduanya bertempur dengan garangnya justru karena keduanya tidak mengharapkan lagi dapat hidup terus. Bagi mereka tidak ada keinginan yang lain daripada mati saja di arena pertempuran itu.

Sebenarnyalah bahwa ketiga orang tawanan itu tubuhnya masih dipengaruhi oleh pertempuran yang mereka lakukan pada saat mereka mengambil pusaka dari Gedung Perbendaharaan. Meskipun hal itu sudah terjadi beberapa lama, namun keadaan mereka masih belum pulih seutuhnya. Karena itu, maka kadang-kadang masih terasa sesuatu yang agak mengganggu.

Namun mereka sama sekali tidak menghiraukannya. Mereka bertempur semakin lama semakin garang. Langkah dan gerak mereka menjadi semakin keras.

Namun dalam keadaannya yang demikian, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru sedang mencoba kemampuan ilmu mereka sendiri. Karena itu, ketika keduanya mulai mengetrapkan ilmu mereka untuk mengimbangi ilmu lawannya yang dilontarkan dari telapak tangannya, maka mereka mulai meyakini akan kemampuan mereka sendiri.

Pertempuran yang meningkat semakin garang itu, kemudian justru sebaliknya. Kemampuan ketiga orang saudara seperguruan itu dengan cepat telah susut, dan bahkan tenaga mereka pun rasa-rasanya tidak lagi mampu mendukung gejolak perlawanan mereka.

“Apa yang terjadi? “ mereka telah bertanya kepada diri sendiri.

Namun mereka tidak segera menemukan jawabnya. Yang terjadi atas mereka adalah bahwa pada satu saat, mereka seakan-akan tidak lagi mempunyai kekuatan untuk berbuat sesuatu.

Pada saat terakhir, barulah mereka sadar, bahwa mereka berhadapan dengan ilmu yang nggegirisi. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mendapat kesempatan untuk mencoba kemampuan ilmunya, yang ternyata memiliki akibat yang sangat menentukan bagi kawan-kawannya.


Dengan demikian, maka ketiga orang saudara seperguruan itu akhirnya kehilangan semua kesempatan untuk melakukan perlawanan, karena kekuatan mereka bagaikan telah terhisap habis.

Ketika pada kesempatan terakhir, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dapat mencengkam tangan lawan-lawannya serta masih dalam lembaran ilmunya, maka kekuatan lawannya benar-benar telah terhisap tanpa tersisa sama sekali, sehingga untuk berdiri saja mereka sama sekali sudah tidak mampu lagi.

Karena itu, ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melepaskan mereka, maka kedua orang itu pun telah terjatuh di tanah. Sementara itu lawan Pangeran Singa Narpada pun sama sekali sudah tidak berdaya untuk berbuat sesuatu. Bahkan untuk membunuh diri sendiri pun ia tidak akan mampu melakukannya seandainya ia mengggenggam senjata di tangan.

Baru setelah ketiga orang itu tidak berdaya, maka terdengar Pangeran Singa Narpada bersuit nyaring.

Sejenak kemudian, beberapa orang prajurit telah bermunculan. Mereka dengan sigapnya berloncatan mendekat. Namun ketika mereka melihat ketiga orang itu sudah tidak berdaya, maka mereka pun telah menarik nafas dalam-dalam.

“Siapkah tempat yang baru bagi mereka,” berkata Pangeran Singa Narpada, “karena tempat mereka sudah mereka pecahkan.”

“Baik Pangeran,” jawab seorang prajurit.

Sementara itu Pangeran Singa Narpada berkata selanjutnya, “setelah tempat itu siap, bahwa ketiga orang itu kedalamnya. Mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa, karena mereka telah kehilangan tenaga mereka sampai tuntas.”

Ketiga orang itu hanya dapat mengumpat didalam hati. Mereka benar-benar menjadi lumpuh seluruh tubuhnya. Karena itu, ketika mereka diangkat oleh para prajurit, mereka memang tidak mampu berbuat sesuatu.

“Dalam waktu tiga hari belum seluruh kekuatan mereka pulih kembali,” berkata Pangeran Singa Narpada.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk, sementara Pangeran Singa Narpada berkata, “Ternyata kalian mendapat kesempatan untuk mencoba kemampuan kalian.”

“Ya Pangeran,” jawab Mahisa Murti, “kami telah mendapat kemurahan hati Pangeran tiada taranya. Dengan kemampuan yang kami warisi dari Pangeran, kami akan dapat memikul beban yang lebih berat bagi kepentingan sesama.”

“Syukurlah jika hal itu kau sadari,” sahut Pangeran Singa Narpada, “mudah-mudahan Yang Maha Agung akan selalu menerangi hati kalian.”

Demikianlah maka Pangeran Singa Narpada telah memberi kesempatan kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk beristirahat. Dalam tiga hari mereka tidak akan berbuat apa-apa terhadap orang-orang yang lumpuh untuk sementara itu. Baru setelah tiga hari, maka mereka baru akan dapat berhubungan lagi.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian telah beristirahat sebaik-baiknya. Namun pada saat-saat tertentu mereka tentu berada didalam sanggar. Dengan atau tidak dengan Pangeran Singa Narpada.

Dengan demikian maka dari hari ke hari kedua orang anak muda itu mampu mengembangkan ilmunya meskipun dengan langkah-langkah kecil sekalipun. Namun ternyata bahwa keduanya tidak pernah tinggal diam.

Dalam tiga hari kedua anak muda itu tidak mengusik tawanan mereka. Baru setelah hari keempat, pagi-pagi benar Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memasuki bilik tahanan yang baru itu.

“Udara lebih nyaman di sini,” berkata Mahisa Pukat.

Ketiga orang bersaudara seperguruan itu masih duduk dengan tubuh yang sangat lemah. Kekuatan mereka masih belum pulih. Bahkan masih jauh dari utuh.

Mereka bertiga hanya memandang saja kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berganti-ganti. Tetapi mereka tidak menjawab.

Hari itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak berbuat apa-apa terhadap mereka bertiga. Mahisa Murti hanya menanyakan tentang kekuatan mereka. Namun jawab ketiga orang itu sama sekali tidak sedap didengar.

“Baiklah,” berkata Mahisa Pukat, “aku mengerti, bahwa dalam usaha kalian membunuh diri, kalian sengaja membuat kami marah. Tetapi kami sudah bertekad untuk tidak akan membantu usaha kalian membunuh diri itu.”

“Persetan,” geram orang tertua di antara ketiga orang itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hanya tersenyum saja. Namun mereka pun segera meninggalkan tempat itu.

Ketiga orang itu mengumpat-umpat didalam hati. Tetapi mereka memang tidak dapat berbuat apa-apa.

Dua hari berikutnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak muncul sementara ketiga orang itu kekuatannya menjadi semakin baik. Bahkan mereka seakan-akan telah mendapatkan kembali seluruh kekuatan dan kemampuan mereka.

Baru pada hari berikutnya, Mahisa Murti dan Mahis Pukat telah muncul. Sambil tersenyum mgreka memandang ketiga orang tawanan yang sudah mampu bergerak dengan tangkas itu.

“Wajah kalian sangat memuakkan,” berkata orang tertua di antara mereka, “aku sudah jemu memandang kalian berdiri didepan pintu itu.”

“Ah jangan begitu,” jawab Mahisa Murti, “Bukankah kami tidak berbuat sesuatu yang dapat menyakiti hatimu?”

“Omong kosong,” geram orang tertua di antara ketiga orang itu, “pergilah.”

“Baiklah Ki Sanak. Kami akan pergi. Tetapi ketahuilah, bahwa aku membawa perintah untuk membawa salah seorang di antara kalian pergi bersamaku menghadap para perwira prajurit Kediri,” jawab Mahisa Pukat.

Jawaban Mahisa Pukat itu bagaikan bunyi petir yang meledak di atas kepala mereka. Sejenak ketiga orang itu justru bagaikan membeku.

“Apakah hal itu mengejutkan kalian?” bertanya Mahisa Pukat.

“Gila,” geram orang tertua di antara mereka, “jadi kebiadaban itu masih akan terjadi lagi.”

“Kebiadaban yang mana?” bertanya Mahisa Pukat.

“Jangan berpura-pura,” geram orang tertua di antara mereka. Namun kemudian katanya dengan nada datar, “Jika kalian akan membawa salah seorang di antara kami, bawalah aku.”

“Ya,” jawab Mahisa Pukat, “siapa pun di antara kalian.”

Ketiga orang tawanan itu saling berpandangan sejenak. Yang termuda di antara mereka berkata, “Jangan kau kakang. Biarlah aku saja.”

“Aku adalah orang tertua di sini,” berkata yang tertua itu, “adalah menjadi kewajibanku mempertanggung jawabkan segala persoalan yang timbul atas kita.”

Kedua adik seperguruannya tidak membantah. Ketika orang tertua di antara mereka itu melangkah keluar, maka rasa-rasanya mereka memang tidak akan bertemu lagi.

Ketika pintu kemudian tertutup dan diselarak dari luar, maka kedua orang yang masih tinggal di dalam bilik itu pun mengumpat.

Tetapi keduanya tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menghentakkan kaki mereka sambil menggeram.

Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah membawa seorang di antara mereka keluar dan meninggalkan bilik itu.

Seperti yang pernah terjadi, maka kedua orang yang berada di dalam bilik itu telah dicengkam oleh ketegangan yang luar biasa. Sehari itu, saudara mereka seperguruan yang tertua itu tidak kembali. Bahkan pada hari kedua. Rasa-rasanya mereka telah menggantungkan tatapan mata mereka ke arah pintu. Namun setiap pintu itu terbuka, maka yang nampak adalah orang-orang yang lain.

Rasa-rasanya kedua orang itu hampir menjadi gila menunggu. Tetapi sampai pada hari ketiga, orang yang mereka tunggu itu tidak juga datang.

Namun ketika senja turun, maka kedua orang yang sudah sampai pada puncak ketegangannya itu melihat pintu terbuka. Jantung mereka bagaikan berhenti berdentang ketika mereka melihat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berdiri dimuka pintu.

Tetapi kedua orang itu justru terbungkam ketika Mahisa Murti itu malahan bertanya, “Apakah kakak seperguruanmu itu sudah kembali?”

“Jangan berpura-pura,” geram salah seorang dari kedua orang itu, “kau tentu tahu tentang itu.”

Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Lampu minyak didalam bilik itu sudah dinyalakan.

“Jangan terlalu berprasangka,” berkata Mahisa Murti

“Kami tidak lebih dari utusan-utusan yang menjalankan perintah. Karena itu, maka kami tidak tahu apa yang telah terjadi atas saudara seperguruan itu.”

“Omong kosong,” jawab salah seorang dari keduanya

“Nah, sekarang apa yang akan kau lakukan.”

“Aku membawa kiriman bagi kalian,” jawab Mahisa Murti.

Wajah kedua orang itu pun telah menjadi pucat. Karena itu, maka seorang di antara mereka telah mendahului menebak dengan suara parau, “Kau membawa pakaian saudaraku?”

“Aku tidak tahu, apakah isinya,” jawab Mahisa Murti sambil melemparkan sebuah bungkusan.

Darah kedua orang itu bagaikan mendidih didalam tubuh mereka. Dalam cahaya lampu minyak mereka langsung dapat mengenali, bahwa pembungkus dari barang-barang yang dilemparkan oleh Mahisa Murti itu adalah ikat kepala saudara seperguruannya.

Dengan tangan gemetar maka salah seorang di antara mereka telah membuka bungkusan itu. Ternyata bahwa isinya sebagaimana mereka duga, adalah pakaian saudara seperguruan yang telah kotor, koyak-koyak dan bernoda darah.

Seorang di antara kedua orang itu pun tiba-tiba menggeram, “Kau akan membawa aku sekarang?”

“Membawa kemana?” bertanya Mahisa Murti.

“Ke tempat pembantaian yang biadab itu,” jawab orang itu dengan tandas.

Mahisa Murti tersenyum. Tetapi senyumannya itu sangat memuakkan bagi kedua orang yang berada didalam bilik itu.

“Ki Sanak,” berkata Mahisa Murti, “aku tidak mendapat perintah apapun juga kecuali menyerahkan bungkusan itu. Karena itu maka aku tidak dapat berbuat lain.”

“Aku ingin mencekik lehermu,” berkata orang yang tertua itu, “aku tahu bahwa kau memiliki ilmu yang lebih tinggi dari aku. Tetapi kau tidak berhak berbuat sewenang-wenang seperti itu.”

“Aku tidak berbuat apa-apa. Aku hanya memanggil saudara seperguruanmu dan membawa kepada para Senapati prajurit Kediri. Sekarang aku mendapat perintah untuk menyerahkan bungkusan itu. Aku sendiri tidak berbuat apa-apa,” jawab Mahisa Murti.

“Wajahmu bagaikan wajah iblis,” geram orang yang marah itu, “senyummu adalah senyum iblis itu pula.”

“Kalian salah sangka,” berkata Mahisa Pukat, “tetapi baiklah. Agaknya kalian tidak akan dapat mempercayai kami. Sedangkan kami tidak dapat berbuat lebih banyak dari yang telah kami lakukan sekarang ini,” Mahisa Pukat berhenti sejenak, lalu, “baiklah kami minta diri.”

“Persetan,” geram kedua orang tawanan itu hampir berbareng.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian telah meninggalkan tempat itu. Sementara kedua orang tawanan yang ditinggal di dalam bilik itu pun merenungi nasib mereka yang paling buruk.

“Akan datang saatnya, kita berdua mengalaminya,” berkata yang tertua dari keduanya.

“Benar-benar tingkah laku iblis,” geram adik seperguruannya. “Tetapi kita tidak dapat mencegahnya.”

Kakak seperguruannya mengangguk-angguk. Namun sebenarnyalah bahwa mereka tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali menunggu kapan datang giliran mereka dibantai dengan cara yang sangat kejam.

Karena itu, maka dari waktu ke waktu, dari hari ke hari keduanya selalu dicengkam oleh ketegangan. Mereka seakan-akan tidak dapat tidur nyenyak dan tidak dapat merasakan asinnya garam manisnya gula.

Tetapi sampai tiga ampat hari, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya, jika pintu terbuka, maka yang nampak adalah perempuan yang membawa makanan bagi mereka. Jika merekalah yang keluar untuk mandi dan keperluan lain, maka beberapa orang pengawal mengawal mereka dengan senjata telanjang.

Dihari-hari berikutnya, maka kedua orang itu hampir-hampir tidak tahan lagi. Meskipun mereka tidak diperlakukan kasar, tetapi mereka seakan-akan telah hampir menjadi gila.

Namun pada hari keenam, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah datang pula kedalam bilik itu. Demikian keduanya melihat wajah itu, maka tiba-tiba yang termuda di antara keduanya telah berteriak keras-keras. Seakan-akan yang dilihatnya adalah wajah-wajah hantu yang sangat menakutkan. Saudaranya yang tertua telah menangkap lengannya dan mengguncangkan sambil berdesis, “He, kau kenapa?”

Untuk beberapa saat orang itu masih berteriak. Namun akhirnya terdengar kata-katanya mengumpat, “Anak iblis, setan alas. Bunuh kami sekarang juga.”

“Siapa yang akan membunuh?” bertanya Mahisa Pukat.

“Kalian yang nampaknya sebagai manusia itu, namun hatimu lebih hitam dan hati iblis yang paling terkutuk,” berkata orang itu.

“Aku tidak akan berbuat apa-apa,” berkata Mahisa Pukat.

“Sudahlah. Tutup mulutmu,” bentak yang tertua di antara kedua orang itu, “kau tentu akan membawa aku. Bawalah dan lakukanlah apa yang ingin kau lakukan atasku.”

“Tidak, tidak,” teriak yang muda, “akulah yang akan pergi bersamanya. Biarlah aku yang diperlakukan dengan biadab. Aku ingin segera mengetahui apa yang dilakukan atas kakak-kakak seperguruanku yang terdahulu.”

“Jangan,” berkata yang tua, “aku lebih tua darimu. Karena itu biarlah aku saja yang pergi. Seandainya akan terjadi juga atasmu kelak, maka tabahkan hatimu. Kita adalah murid-murid dari perguruan yang besar, yang tidak akan gentar menghadapi apapun juga. Jangan tunjukkan kelemahan hatimu agar kita tidak menodai kebesaran jiwa perguruan kita.”

Adik seperguruannya itu memandang kakaknya dengan pandangan yang tajam. Namun kemudian ia pun menarik nafas dalam-dalam. Ternyata kata-kata kakak seperguruannya itu mampu menyentuh hatinya sehingga ia pun telah berusaha untuk memperkuat ketahanan jiwanya menghadapi peristiwa yang sangat menggoncangkan itu.

Demikianlah, maka sejenak kemudian seorang di antara kedua orang itu telah dibawa pergi oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Dengan demikian, maka orang bertongkat yang telah kehilangan tongkatnya itu tinggal sendiri didalam biliknya. Rasa-rasanya ia memang sudah menjadi gila. Ingin ia berteriak keras-keras dan bahkan sekali-sekali ia telah membenturkan kepalanya pada dinding biliknya.

Pada hari berikutnya, ketegangan benar-benar terasa semakin memuncak didalam dadanya. Untunglah bahwa setiap kali ia menjadi teringat kepada pesan saudara seperguruannya.

“Jangan tunjukkan kelemahan hatimu agar kita tidak menodai kebesaran jiwa perguruan kita.”

Dengan perpegang pada pesan itulah, orang bertongkat yang terakhir itu ingin menunjukkan kebesaran jiwanya.

Untuk beberapa hari ia bertahan dengan ketegangan jiwa yang memuncak. Sehingga akhirnya, muncul lagi wajah-wajah yang sangat dibencinya pada hari yang keempat.

Dengan geram orang yang tinggal satu-satunya itu telah meloncat menyerang. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang telah mempersiapkan diri, sehingga serangan itu tidak mengenainya.

Namun ternyata orang itu tidak menyerang terus. Bahkan ia pun kemudian telah terduduk di tanah dengan kepala terkulai.

“Masuklah,” berkata Mahisa Murti.

“Aku tidak mau melihat bungkusan yang kau bawa. Bawa pergi dan bakar saja ditempat sampah. Jangan tunjukkan aku,” geram orang itu.

“Baiklah,” berkata Mahisa Murti dengan nada datar, “aku dapat memaklumi. Aku pun akhirnya dapat menebak isi dari bungkusan ini. Karena itu, maka aku tidak akan memberikan kepadamu.”

“Bakar saja. Jangan kau perlihatkan kepadaku,” berkata orang itu.

“Tidak. Sudah aku katakan, bahwa aku tidak akan memberikan kepadamu,” berkata Mahisa Murti. “Aku akan memenuhi permintaanmu untuk membakarnya. Tetapi masuklah ke dalam bilikmu.”

“Kapan kau akan membawa aku?” bertanya orang itu.

“Aku tidak tahu,” jawab Mahisa Murti, “Biarlah kau menunggu.”

“Aku dapat menjadi gila. Bunuh saja aku sekarang di sini,” teriaknya.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun kemudian terdengar Mahisa Murti berkata, “Silahkan masuk ke dalam bilikmu. Aku tidak mendapat perintah untuk membawamu sekarang. Entah besok atau lusa.”

“Aku tidak mau menunda-nunda kematian dengan cara ini,” berkata orang itu, “Bunuh aku. Semakin cepat semakin baik.”

“Aku tidak pernah mendapat tugas untuk membunuh. Karena itu aku tidak akan dapat melakukannya,” jawab Mahisa Murti.

“Omong kosong. Kalian selalu berpura-pura, sehingga apa yang kau katakan tidak pernah mengandung kebenaran,” jawab orang itu.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya ia berkata, “Sudahlah. Masuklah ke dalam bilikmu.”

“Tidak. Bunuh saja aku,” geram orang itu.

“Sudah aku katakan,” jawab Mahisa Murti, “aku tidak akan membunuhmu. Karena itu, masuklah ke dalam bilikmu. Jika kau tidak mau masuk juga, maka kami dapat menyeretmu seperti menyeret seekor kambing.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Ketika ia mencoba mengangkat wajahnya dan memandang wajah Mahisa Murti, maka darahnya berdesir tajam di dalam jantungnya. Wajah Mahisa Murti benar-benar bagaikan wajah hantu yang siap menerkam tengkuknya dan menghisap darahnya.

Dengan demikian maka rasa-rasanya orang itu tidak akan dapat berbuat lain kecuali menjalankan perintahnya. Betapapun keadaannya, maka orang itu pun kemudian beringsut bangkit dan masuk kembali ke dalam biliknya.

Namun ketika bilik itu ditutup, maka terdengar orang itu berteriak keras-keras. Rasa-rasanya jantungnya sudah tidak dapat lagi menampung perasaannya yang bergejolak itu.

Demikian kerasnya sehingga bilik itu rasa-rasanya telah berguncang sehingga sambungan dan ikatan kayu-kayunya dari tali-tali ijuk bergerak dan bergeser betapapun kecilnya.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang masih berada di luar bilik itu tidak segera meninggalkannya. Keduanya untuk beberapa lama masih berada di antara para penjaga di depan bilik itu. Mereka masih harus mengamati keadaan, jika orang itu tiba-tiba saja kehilangan kesadaran diri dan justru mengamuk tanpa dapat dikendalikan. Dengan ilmunya ia akan dapat berbuat berbagai macam langkah-langkah yang tidak terduga jika ia benar-benar telah dicengkam oleh keputus-asaan.

Tetapi ternyata ketika teriakan-teriakan itu mereda, maka tidak terjadi sesuatu di dalam bilik itu, sehingga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah mohon diri kepada para penjaga.

“Jika terjadi sesuatu yang mencemaskan, beri kami isyarat. Kami akan segera datang. Bahkan mungkin Pangeran Singa Narpada sendiri.”

“Sekarang kalian akan ke mana?” bertanya salah seorang di antara para penjaga itu.

“Aku akan beristirahat,” jawab Mahisa Pukat.

Demikianlah keduanya telah meninggalkan tempat itu dan menuju bilik mereka untuk beristirahat.

Dalam pada itu, orang bertongkat yang tinggal satu-satunya di dalam biliknya itu rasa-rasanya sudah tidak tahan lagi menunggu. Dalam keadaan yang paling menggelisahkan itu, kadang-kadang terdengar ia berteriak nyaring. Benar-benar seperti orang yang sudah menjadi gila. Di hentak-hentakkannya pintu bilik itu, sehingga para penjaga mengawasinya setiap kejap tanpa kehilangan kewaspadaan.

Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang kemudian pergi ke bilik mereka sendiri itu pun masih saja memperbincangkan orang itu.

“Bagaimana jika ia benar-benar menjadi gila?” bertanya Mahisa Pukat.

“Apakah kita harus segera bertindak? Jika ia benar-benar menjadi gila, maka kita memang akan kehilangan kesempatan untuk mendengar keterangannya,” jawab Mahisa Murti.

“Jadi bagaimana?” bertanya Mahisa Pukat pula.

“Baiklah kita biarkan ia semalam ini. Besok kita akan melihat, apakah ia menjadi gila atau tidak,” bertanya Mahisa Murti.

“Besok kita harus mencoba mengoreknya,” desis Mahisa Pukat.

Namun demikian, keduanya masih saja selalu cemas, “Bahwa orang bertongkat itu akan benar-benar menjadi gila dan tidak akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaannya dengan baik.”

Karena itu, maka ketika malam lewat, pagi-pagi benar Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah pergi ke bilik tahanan itu. Dengan cemas keduanya telah membuka pintu bilik. Namun keduanya berada dalam kesiapan tertinggi sehingga apabila orang itu dengan tiba-tiba menyerang, mereka dapat menempatkan diri mereka.

Namun ternyata bahwa orang itu tidak berbuat apa-apa. Ia justru duduk saja di sudut bilik itu sambil memeluk lulutnya.

Tetapi ketika orang itu melihat wajah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka tiba-tiba saja tubuhnya telah menjadi gemetar.

“Selamat pagi Ki Sanak,” sapa Mahisa Pukat.

Orang itu sama sekali tidak menjawab. Namun tubuhnya menjadi semakin gemetar sehingga bahkan terdengar giginya berderik seperti orang kedinginan.

Untuk beberapa saat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berdiri saja memandangi orang itu. Namun bagi orang itu, sikap Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu benar-benar sikap iblis yang paling terkutuk dialasnya neraka.

Sejenak kemudian mereka saling berdiam diri. Saling memandang dengan gejolak perasaan masing-masing.

Namun ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bergerak selangkah maju, maka orang itu pun tiba-tiba telah berteriak, “Jangan mendekat. Jangan mendekat.”

Ketakutan yang sangat telah membayang di wajahnya, sehingga sambil melekat dinding ia menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat maju semakin dekat. Kemudian dengan nada datar Mahisa Pukat pun berkata, “Marilah Ki Sanak. Kami mendapat perintah untuk membawa Ki Sanak menghadap para pemimpin prajurit Kediri.”

“Tidak. Aku tidak mau,” tiba-tiba saja orang itu seakan-akan menjadi liar. Sambil gemetar ia berjongkok melekat disudut bilik itu.

“Jangan takut,” berkata Mahisa Pukat, “tidak ada apa-apa. Kau hanya akan menjawab beberapa pertanyaan saja.”

“Aku tidak mau. Kalian akan memperlakukan aku seperti seekor keledai atau seekor anjing kurapan. Kalau kalian ingin membunuh aku, bunuhlah di sini sekarang,” teriak orang itu.

“Jangan salah paham Ki Sanak,” jawab Mahisa Pukat

“Tidak akan ada tindakan kekerasan sama sekali.”

“Omong kosong. Omong kosong,” teriak orang itu semakin keras.

Mahisa Pukat memandang Mahisa Murti sekilas. Lalu ia pun menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “baiklah Ki Sanak. Jika demikian, maka aku pun tidak akan membawamu menghadap. Tetapi akulah yang akan mewakilimu menjawab beberapa pertanyaan. Namun jawabku harus benar, karena jika jawabku salah, maka bukan aku yang akan mengalami perlakuan yang tidak kita inginkan, tetapi kau.”

“pertanyaan apa yang harus kau jawab? “ justru orang itulah yang bertanya.

“Aku harus menjawab pertanyaan antara lain, “Siapakah kalian sebenarnya, dan darimanakah kalian datang.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun karena orang itu tidak segera menjawab, maka Mahisa pukat berkata, “Tetapi sebaiknya biar kau sajalah yang langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.”

“Tidak. Aku tidak mau. Lebih baik aku kau bunuh saja sekarang,” berkata orang itu.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, tolong, ajari aku menjawab yang sebenarnya, karena mungkin jawabanku itu akan dibuktikan oleh para pemimpin prajurit Kediri.”

Orang itu nampak kebingungan. Betapapun ketakutan mencengkam, namun masih ada juga kebimbangan untuk menyebutnya.

Karena orang itu tidak menjawab, maka Mahisa Pukat-pun berkata, “sebaiknya kau memang harus menghadap sendiri.”

“Tidak. Itu tidak perlu. Aku tidak mau,” orang itu berteriak keras-keras.

“Jika demikian, sebutlah siapakah kalian dan kalian berasal dari padepokan mana,” desak Mahisa Murti.

Orang itu masih saja gemetar. Wajahnya pucat dan nalarnya seakan-akan tidak lagi berjalan dengan wajar.

“jawab, atau aku seret kau menghadap di belakang seekor kuda,” geram Mahisa Pukat.

Orang itu seakan-akan merintih. “Jangan seret aku.”

“Kalau begitu sebut,” sahut Mahisa Pukat.

Ketakutan di hati orang itu benar-benar tidak teratasi sehingga akhirnya ia berkata, “Kami berasal dari padepokan Suriantal.”

Jantung Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terasa bergetar. Nama itu pernah didengarnya meskipun hanya sekilas pada saat-saat ia berbincang dengan orang-orang berilmu tinggi di Singasari maupun di Kediri. Ayahnya pernah menyebutnya, sedangkan Pangeran Singa Narpada pernah juga mengatakan sedikit tentang padepokan yang bernama Suriantal itu. Sebuah padepokan yang namanya cukup menggetarkan dimasa lalu.

Namun, dengan kematian guru orang itu, apakah berarti pemimpin padepokan Suriantal itu sudah tidak ada lagi, sehingga padepokan itu akaan kehilangan ikatannya.

Tetapi hal itu masih belum ditanyakan kepada orang yang masih saja ketakutan itu. Namun yang ditanyakan kemudian adalah, “Jika demikian, maka untuk siapa orang-orang Suriantal itu bekerja.”

Orang itu tidak segera menjawab. Wajahnya yang pucat menjadi semakin pucat, sementara matanya justru bertambah liar.

Dipandanginya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berganti-ganti. Namun tiba-tiba saja ia berdiri dan meloncat menuju ke pintu.

“Tunggu,” cegah Mahisa Pukat.

Tetapi orang itu berlari terus, sehingga akhirnya Mahisa Pukat tidak berbuat lain kecuali dengan tangkasnya ia meloncat memotong langkah orang itu dan sekaligus memukul tengkuknya.

Orang itu terhenti. Namun kemudian ia kehilangan keseimbangannya. Untunglah pada saat ia terhuyung-huyung, Mahisa Murti sempat menangkapnya.

“Kau terlalu keras memukulnya,” berkata Mahisa Murti.

“Tetapi bukanlah ia tidak mati?” Mahisa Pukat benar-benar menjadi cemas.

“Tidak,” Mahisa Murti menggeleng, sementara Mahisa Pukat pun telah menarik nafas dalam-dalam. “Agaknya orang ini hanya pingsan saja.”

Mahisa Pukat memandang orang yang kemudian dibaringkan di lantai itu sambil berdesis. “Kasihan. Ia benar-benar mengalami tekanan batin yang sulit diatasinya.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Ia pun kemudian berkata, “Biarlah orang ini beristirahat. Mudah-mudahan ia tidak kehilangan kesadarannya.”

“Kita sudah menempuh satu cara yang sangat menegangkan syarafnya. Tetapi tanpa dengan cara ini, ia tidak akan menyebut apa pun juga. Bahkan padepokan Suriantal itu sendiri tidak akan pernah diucapkannya,” jawab Mahisa Pukat.

“Mungkin nama padepokan itu akan dapat dijadikan salah satu alas untuk menemukan pemecahan atas persoalan yang lebih luas lagi dari usaha orang-orang ini untuk mendapatkan benda yang paling berharga di Kediri,” berkata Mahisa Murti kemudian.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Marilah. Kita tinggalkan orang ini. Ia akan sadar dan mungkin ada kesempatan baginya untuk beristirahat.”

“Tetapi apakah kita masih memerlukan jawaban-jawaban yang lain? Aku kira ia akan mengatakan apa pun lagi,” berkata Mahisa Murti. “Sementara itu, nama padepokan yang disebutnya merupakan pintu yang dapat kita masuki untuk melihat ke dalam persoalan mereka.”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Jika demikian maka persoalan kita dengan orang ini sudah selesai,” berkata Mahisa Pukat.

“Kita menghadap Pangeran Singa Narpada,” desis Mahisa Murti.

Namun demikian sebelum mereka meninggalkan tempat itu, maka Mahisa Murti masih menitikkan air kebibir orang yang sedang pingsan itu. Katanya, “Mudah-mudahan ia segera sadar.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian meninggalkan tempat itu. Tetapi mereka telah berpesan kepada para petugas untuk menjaga dengan baik, karena itu justru agak terganggu jiwanya oleh ketegangan yang sangat.

Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menghadap Pangeran Singan Narpada. Keduanya telah melaporkan apa yang mereka dengar dari mulut tawanan yang terakhir itu.

“Suriantal,” desis Pangeran Singa Narpada, “bukankah sekali dua kali aku pernah menyebutkan di antara nama beberapa padepokan yang memiliki nama?”

“Ya Pangeran,” sahut Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hampir berbareng. Sementara itu Mahisa Murti berkata selanjutnya, “Namun apakah dengan mengenal nama padepokan itu, kita akan dapat melangkah lebih lanjut.”

“Mungkin kita akan dapat berusaha,” berkata Pangeran Singa Narpada, “tetapi apakah rasa-rasanya orang-orang itu tidak akan dapat berbicara lebih banyak lagi?”

“Sulit Pangeran,” jawab Mahisa Murti, “agaknya mereda benar-benar dilandasi perasaan setia yang berlebihan terhadap guru dan perguruan mereka.”

“Itu adalah sikap yang wajar bagi seorang murid,” berkata Pangeran Singa Narpada.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk kecil. Sebenarnyalah kesetiaan yang demikian memang sepantasnya dilakukan oleh murid-murid sebuah padepokan.

Sementara itu Pangeran Singa Narpada pun kemudian berkata, “Jadi menurut perhitungan kalian, kita sudah tidak akan dapat mengorek lebih dalam?”

“Sulit Pangeran,” sahut Mahisa Pukat, “agaknya nama padepokan itu adalah kemungkinan tertinggi yang dapat kita sadap dari orang itu.”

Pangeran Singa Narpada pun kemudian mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Jika demikian, maka kita tidak memerlukan orang itu lagi.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk kecil. Mereka mengerti maksud Pangeran Singa Narpada.

Namun dalam pada itu, keduanya pun menyadari, bahwa telah terbentang satu kewajiban yang akan dapat menjadi beban mereka. Bagaimanapun juga, sebaiknya mereka mengenal lebih dalam lagi tentang padepokan yang hanya disebut namanya meskipun keduanya tahu, bahwa dengan demikian mereka akan memasuki tugas yang sangat berbahaya.

“Kita harus lebih banyak berusaha mendengar tentang padepokan itu sebelum kita sendiri turun ke lapangan untuk melihat dan mendengar lebih banyak tentang padepokan itu,” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Kita mempunyai banyak waktu. Kita akan dapat berhubungan dengan ayah dan Paman Mahisa Agni dan paman Witantra jika mereka ada di istana.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Agaknya mereka mengenal serba sedikit tentang padepokan itu. Dengan bekal itu pun maka kita akan mendekati padepokan yang mempunyai kedudukan tersendiri itu.”

“Tetapi Pangeran Singa Narpada belum menjatuhkan perintah apa pun juga,” berkata Mahisa Pukat kemudian.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Pangeran Singa Narpada memang belum menjatuhkan perintah. Tetapi agaknya ditilik dari sikapnya, perintah itu akan jatuh juga pada saat. Perintah seorang guru kepada muridnya, karena keduanya memang bukan prajurit Kediri. Namun demikian hal itu tidak akan dapat menghalangi perintah Pangeran Singa Narpada apabila pada suatu saat memang akan diberikan kepada mereka.

Dalam pada itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat-pun telah berusaha untuk menyelesaikan persoalan tawanan mereka yang menurut Pangeran Singa Narpada sudah tidak diperlukan karena tidak akan ada yang dapat disadapnya lagi.

Karena itulah, maka ketika orang yang termuda, yang pingsan terlalu lama itu mulai membuka matanya, maka ia pun telah terkejut bukan buatan.

Mula-mula dilihatnya samar-samar bayangan beberapa orang di sekitarnya. Ketika pandangan matanya menjadi semakin jelas, maka ia pun mulai melihat wajah-wajah. Wajah-wajah itu adalah wajah-wajah kakak seperguruannya. Tiga orang.

“O,” orang itu pun berdesis perlahan. Dengan ragu ia pun kemudian berkata, “apakah kita memang sudah berada di dunia yang lain.”

Ketiga orang itu mengambil nafas hampir berbareng. Sejenak mereka saling berpandangan. Namun kemudian yang tertua di antara mereka berkata, “Kita masih dalam dunia kita. Sadarlah. Kau baru saja pingsan.”

Orang itu berusaha untuk bergerak. Kemudian dibantu oleh ketiga orang saudara seperguruannya, ia berusaha untuk duduk.

“Apakah penglihatanku benar bahwa aku berada di antara saudara-saudaraku,” desis orang itu.

“Ya. Kau berada di antara saudara-saudaramu,” jawab seorang di antara mereka.

“Jadi apa artinya segala sesuatu yang pernah terjadi selama ini atas kita?” bertanya yang termuda di antara mereka.

“Kita adalah korban permainan yang sangat licik,” jawab yang tertua, “akhirnya kita tahu, bahwa cara orang-orang Kediri memeras keterangan kita benar-benar sulit untuk dihindari.”

Orang yang baru sadar dari pingsan itu merenung sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Ya, orang-orang Kediri memang sangat licik. Aku mengerti sekarang. Jadi pakaian-pakaian kalian itu telah ditukar oleh orang-orang Kediri untuk tujuan tertentu.”

“Ya,” jawab yang tertua di antara mereka.

“Jadi kalian sama sekali tidak mengalami sesuatu sebagaimana kita bayangkan sebelumnya?” bertanya yang termuda.

“Secara badani kami tidak mengalami sesuatu,” jawab yang tertua, “tetapi siksaan jiwani, terutama yang kau alami, benar-benar satu siksaan yang kejam. Kami tidak mengalami apapun juga kecuali dipaksa untuk menyerahkan pakaian kami. Baru kemudian aku sadari, bahwa pakaian itu telah dipergunakan untuk menyiksa perasaanmu dengan memberikan pakaian itu dalam keadaan yang mengerikan, sehingga kau mendapat kesan, bahwa kami telah mengalami satu keadaan yang parah.”

“O,” yang termuda di antara orang-orang itu pun mengeluh. Dengan suara lemah ia pun kemudian berdesis, “Ternyata hatiku lemah seperti perempuan. Aku telah mengalami tekanan jiwa yang tidak dapat aku atasi. Aku telah menyerah.”

“Bukan salahmu,” desis yang tertua.

Tiba-tiba orang yang termuda itu telah beringsut ke arah saudara seperguruannya yang tertua. Dengan wajah tegang, ia pun kemudian berdesis, “Kakang, bunuh aku. Aku telah berkhianat terhadap perguruan kita.”

“Ah,” desah saudaranya yang tertua, “apakah yang telah kau lakukan?”

“Aku telah menyebut nama padepokan kita,” jawab yang termuda itu.

Wajah-wajah itu pun menjadi tegang. Namun kemudian yang tertua itu berkata, “Bukan salahmu. Bukankah aku sudah mengatakannya. Kau tentu mengalami tekanan jiwa yang luar biasa. Cara yang ditempuh oleh orang-orang Kediri memang sangat keji.”

“Tetapi seharusnya aku siap menghadapi keadaan yang bagaimanapun juga, sehingga aku tidak melontarkan rahasia yang seharusnya memang tidak aku ucapkan,” berkata yang termuda itu.


“Agaknya memang tidak akan ada seorang pun yang mampu bertahan mengalami siksaan jiwani sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Kediri itu,” berkata yang tertua. Lalu, “Karena itu, sudahlah. Kita tidak usah menyesali apa yang sudah terjadi. Pada saat kita mulai melangkah, maka kemungkinan yang paling buruk itu sudah kita perhitungkan akan dapat terjadi atas kita dan seluruh padepokan kita.”

“Tetapi dengan menyebut nama padepokan kita, maka orang-orang Kediri tentu akan menelusurinya sampai kepadepokan itu,” berkata yang termuda.

“Memang mungkin,” jawab yang tertua, “tetapi kegagalan kita tentu sudah didengar oleh saudara-saudara kita. Kematian guru tentu merupakan sesuatu yang penting dan pantas diperhatikan oleh bukan saja seisi padepokan, tetapi semua orang yang berhubungan dengan padepokan kita. Dengan demikian mereka tentu sudah mempersiapkan diri. Mereka tahu apa yang harus mereka lakukan menanggapi persoalan yang terakhir yang akan sangat berpengaruh atas kehidupan padepokan kita.”

Yang termuda di antara mereka itu pun menarik nafas dalam-dalam. Terbayang kembali betapa ketegangan mencengkam jiwanya pada saat-saat ia melihat pakaian saudara-saudara seperguruannya, terkoyak-koyak dan terpercik noda-noda darah.

Tetapi ternyata bahwa tidak terjadi sesuatu atas sau-dara-saudara seperguruannya itu.

Namun segala sesuatunya memang sudah terlanjur. Ia sudah mengucapkan nama padepokannya, sehingga orang-orang Kediri tentu akan menelusurinya dengan cara yang dianggapnya paling baik. Namun untuk menenangkan hatinya, yang termuda di antara mereka itu kemudian berdesis, “Mudah-mudahan isi padepokan kita sudah siap menghadapi segala kemungkinan.”

“Kita yakin,” berkata saudara yang tertua di antara mereka, “saudara-saudara kita bukan orang-orang kebanyakan yang tidak mampu berpikir.”

Yang termuda di antara keempat orang itu pun mengangguk-angguk. Betapa ia dibebani oleh penyesalan, bahwa ia telah menyebut nama padepokan mereka. Dengan demikian ia telah membuka jalan bagi orang-orang Kediri untuk menelusuri kegiatan mereka.

Tetapi saudara-saudara seperguruan telah dapat mengerti, kenapa hal itu harus terjadi, sehingga ketiga saudaranya yang lain itu tidak menganggapnya bersalah.

Tetapi apakah orang-orang lain di padepokannya juga menganggapnya demikian? Itulah yang tidak diketahuinya.

Demikianlah, selagi mereka berbincang, maka pintu bilik itu telah terbuka. Ketika keempat orang itu berpaling, maka nampaklah wajah-wajah yang mereka anggap wajah-wajah iblis yang paling terkutuk. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

“Setan,” geram yang termuda, “apa lagi yang kau kehendaki dari kami?”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Mahisa Murti lah yang melangkah lebih dahulu memasuki bilik itu, baru kemudian Mahisa Pukat.

“Kami minta maaf,” berkata Mahisa Murti, “Mungkin kami telah membuat perasaan kalian menjadi tegang selama ini. Tetapi kami tidak dapat berbuat lain untuk mendengar sedikit keterangan tentang diri kalian.”

“Kalian memang orang-orang yang tidak berperasaan,” geram yang termuda di antara keempat orang itu.

“Ah, jangan begitu, “jawab Mahisa Murti, “Bukankah kami tidak berbuat apa-apa. Seperti yang berulang kali kami katakan, bahwa kami berdua hanyalah orang-orang yang melaksanakan perintah? Bukankah kami tidak berbuat apa-apa atas ketiga saudara seperguruanmu. Kami hanya memanggil mereka dan menyerahkan kepada orang yang memerlukannya. Bahkan orang yang memerlukannya itu pun agaknya tidak berbuat apa-apa pula atas mereka.”

“Omong kosong,” geram yang termuda, “tetapi dengan langkah-langkah yang sudah kalian perhitungkan dengan cermat itu, membuat aku kehilangan jiwa. Bahkan aku telah menyebut nama padepokanku.”

“Jangan menyesal Ki Sanak,” berkata Mahisa Murti

“Sebenarnyalah kami mengagumi kalian. Ketahanan jiwa kalian sebagai murid dari sebuah padepokan dapat dibanggakan. Dalam keadaan yang menekan, maka satu-satunya yang dapat terlepas dari kerahasiaan kalian adalah nama padepokan kalian. Tetapi nama itu akan menjadi alas usaha kami menemukan persoalan yang sebenarnya yang telah terjadi di padepokan kalian yang bagaimanapun juga telah mengguncang Kediri.”

“Kau tidak usah memuji,” berkata yang tertua, “karena apapun yang kalian lakukan, tentu dengan maksud untuk memeras keterangan kami sebanyak-banyaknya.”

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Mahisa Pukat pun berkata, “Kami dapat mengerti perasaan kalian. Apa pun yang kami lakukan, tentu kalian menjadi curiga. Kami pun mengerti, bahwa yang kami lakukan memang terlalu menegangkan urat syaraf kalian, terutama yang termuda di antara kalian yang diluar kemampuannya menolak, telah menyebut nama padepokan kalian.”

“Kau memang dapat berbangga atas kemenanganmu,” berkata yang termuda itu, “Tetapi yang kalian lakukan memang terlalu keji.”

“Kami memilih jalan yang paling baik yang dapat kami lakukan. Kadang-kadang orang lain mempergunakan cara yang lain pula. Mungkin dengan memeras keterangan dengan memberikan tekanan badani. Penyiksaan diluar batas kemanusiaan sebagaimana kalian bayangkan,” sahut Mahisa Pukat.

“Tetapi tekanan jiwani yang kalian lakukan atas adik seperguruan kami, dan bahkan kami semuanya, juga merupakan tindakan yang paling kejam,” geram yang tertua di antara kalian.

“O, itukah penilaian kalian? Jadi menurut kalian, lebih baik kami lakukan tekanan badani atas kalian daripada apa yang sudah kami lakukan? Bukankah kami seakan-akan tidak pernah menyentuh wadag kalian untuk memaksa kalian menyebut sesuatu? Tetapi jika itu yang kalian maksud, maka kami akan dapat merubah cara kami. Kalian baru menyebut nama padepokan kalian. Masih banyak yang ingin kami dengar dari mulut kalian. Karena itu nampaknya kalian lebih setuju jika kami memberikan tekanan badan. Mungkin dengan salah satu cara penyiksaan yang paling menarik,” jawab Mahisa Pukat.

“Kalian memang iblis buruk,” geram yang tertua, “apa pun yang ingin kau lakukan, lakukanlah.”

“Ada perasaan belas kasihan di dalam dada kami. Tetapi tantangan kalian bukannya kami abaikan sama sekali. Jika perlu kami akan menyawab tantangan kalian, karena kematian kalian tidak akan ada yang dapat menuntut kami. Kalian ditangkap dan langsung dibawa ke istana ini,” suara Mahisa Pukat menjadi agak keras.

Keempat orang itu termangu-mangu sejenak. Bagaimanapun juga mereka lebih senang untuk tidak mengalami tekanan lagi agar mereka menyebut sesuatu. Karena itulah maka mereka sama sekali tidak menjawab lagi, agar tidak memancing sikap kasar dari kedua orang anak muda itu.

Dengan demikian maka untuk sejenak suasana menjadi lengang, tetapi cukup menegangkan. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memandang keempat orang itu berganti-ganti. Namun sekali lagi ia yakin bahwa yang paling lemah di antara mereka adalah orang yang termuda.

Namun agaknya sikap keempat orang itu memang tidak menyenangkan bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Karena itu, maka Mahisa Pukat pun berkata, “Ki Sanak. Sebenarnyalah bahwa kami dapat melakukan apa saja. Bagaimanapun seandainya kami menekan yang termuda di antara kalian dengan cara yang pernah kami lakukan sementara itu kami benar-benar memperlakukan seorang demi seorang sebagaimana yang diduga?”

Wajah keempat orang itu menjadi tegang. Memang kedua orang anak muda itu akan dapat memperlakukan mereka sebagaimana dikatakannya. Karena itu, maka barulah mereka melihat, bahwa kedua orang anak muda itu sudah berusaha untuk membatasi tingkah lakunya.

Dengan demikian maka orang-orang itu pun telah menahan diri untuk tidak mengucapkan kata-kata yang dapat membangkitkan kemarahan kedua anak muda itu semakin menjadi.

Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun melihat bahwa keempat orang itu agaknya telah berusaha menguasai diri. Sehingga kedua anak muda itu pun tidak lagi ingin mengungkit persoalan di antara mereka.

Sejenak kemudian, maka Mahisa Murti itu pun berkata, “Sudahlah Ki Sanak. Sebaiknya kalian berusaha menenangkan diri di bilik ini. Senang atau tidak senang. Persoalan di antara kita agaknya memang sudah hampir selesai. Nama padepokan kalian memang sangat menarik. Karena itu maka persoalannya akan berpindah dari persoalan di antara kita menjadi persoalan antara kami dan padepokan kalian.”

Keempat orang itu sama sekali tidak menjawab. Sementara itu Mahisa Pukat masihjjuga bertanya, “Dengan kematian guru kalian, bagaimana dengan padepokan yang kalian tinggalkan?”

Keempat orang itu sama sekali tidak menjawab, sehingga dengan demikian maka Mahisa Pukat pun bergumam, “Aku sudah mengira bahwa kalian akan tinggal diam. Baiklah. Kami akan mencari sendiri jawabnya. Meskipun kami tahu dengan pasti, bahwa karena kegagalan kalian, maka padepokan kalian tentu telah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan, karena mereka yang masih berada di padepokan akan memperhitungkan, bahwa kalian pada akhirnya akan menyebut juga nama padepokan itu?”

“Tetapi ada kemungkinan lain,” berkata Mahisa Murti

“Jika orang-orang padepokan itu terlalu yakin bahwa tidak seorang pun di antara mereka yang akan pernah mengucapkan sepatah kata rahasia, maka mereka tidak akan bersiap sama sekali,” Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Satu kelengahan.”

Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun segera meninggalkan bilik itu. Ketika mereka berada di pintu, maka mereka masih sempat berpaling.

Keempat orang yang ditinggalkannya memandangi kedua anak muda itu. Namun ternyata mereka mempunyai kesan yang lain dengan keduanya. Keduanya tidak lagi nampak sebagai sosok-sosok hantu yang menakutkan. Tetapi mereka justru melihat bahwa kedua anak muda itu telah berusaha untuk memperlakukan mereka dengan baik, sehingga gambaran-gambaran tentang peristiwa yang keji itu tidak sebenarnya dilakukan, meskipun akibatnya dapat menimbulkan ketegangan jiwa yang luar biasa. Tetapi jika keduanya memang orang-orang yang mempunyai kegemaran melihat darah, maka peristiwa yang keji itu akan benar-benar dilakukan.

Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah menghadap Pangeran Singa Narpada. Mereka melaporkan, bahwa sebagaimana telah mereka perhitungkan, bahwa tidak akan ada persoalan yang dapat mereka sadap lagi dari keempat orang yang tertawan itu.

“Baiklah,” berkata Pangeran Singa Narpada, “tetapi nama padepokan itu akan banyak memberikan petunjuk. Bukankah sangat menarik bagi kita untuk mencari keterangan tentang padepokan itu.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun kemudian Mahisa Murti pun berkata, “Apakah kami berdua diperkenankan untuk mencari keterangan tentang padepokan itu?

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Sebenarnyalah bahwa aku ingin minta kalian melakukannya. Tetapi masih ada sedikit keseganan padaku untuk menjatuhkan perintah. Meskipun kalian adalah murid-muridku, tetapi kalian juga mempunyai guru yang lain yang lebih dahulu menempa kalian menjadi orang-orang yang berilmu tinggi.”

“Pangeran,” berkata Mahisa Murti, “yang ada sekarang adalah Pangeran. Karena itu, bagi kami Pangeran adalah guru kami. Jika Pangeran akan menjatuhkan perintah, maka kami akan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.”

“Aku mengerti,” berkata Pangeran Singa Narpada, “tetapi aku tetap minta kepada kalian untuk menghubungi ayah kalian yang juga guru itu. Alangkah baiknya jika kalian menghubungi pula paman-paman kalian, sehingga dengan demikian maka kalian akan mendapat bekal yang cukup untuk mencari dan menelusuri watak dan tingkah laku padepokan Suriantal?”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan nada dalam Mahisa Murti berkata, “Kami akan melakukannya Pangeran. Meskipun nampaknya persoalan orang-orang bertongkat itu sudah selesai dengan kematian guru mereka dan paman guru mereka, namun kita masih belum menemukan latar belakang dari perbuatan mereka, yang justru mungkin lebih berbahaya dari pemberontakan yang pernah dilakukan oleh Pengeran Kuda Permati,” Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan sangat berterima kasih atas kesediaan kalian, sementara aku akan tetap dapat mengawasi keadaan di Kediri, karena bagaimanapun juga, rasa-rasanya masih ada yang mengancam ketenangan kehidupan.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengang-guk-angguk. Mereka sadar, bahwa Pangeran Singa Narpada memang tidak akan dapat bertindak sebagai guru sepenuhnya, karena ia tahu, bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih mempunyai guru yang lain yang kebetulan adalah ayah kedua anak muda itu sendiri.

Karena itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang tanggap akan kehendak gurunya, telah mendahului menyatakan diri mereka untuk melakukan tugas yang berat itu.

Namun demikian Pangeran Singa Narpada itu pun telah berpesan agar kedua anak muda itu minta diri kepada ayahnya dan paman-pamannya yang juga mempunyai pengaruh didalam hidupnya.

Tetapi Pangeran Singa Narpada tidak tergesa-gesa. Ia masih menahan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk beberapa hari. Karena dalam beberapa hari Pangeran Singa Narpada akan semakin lebar membuka pintu kemungkinan pengembangan ilmu yang pernah diwariskannya kepada kedua orang anak muda itu, sehingga dengan demikian maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan menjadi lebih mudah untuk mengembangkan dan meningkatkan ilmu yang diwariskan dari Pangeran Singa Narpada.

Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih juga sempat berkunjung kepada keempat orang bertongkat itu. Namun tingkah laku kedua anak muda itu benar-benar telah berubah sehingga kesannya pun telah berubah sama sekali sehingga keempat orang bertongkat itu telah mengenal sebenarnya kedua anak muda yang semula mereka kenal lebih kejam dari anak iblis di dasar neraka.

Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak lagi berusaha untuk mendapatkan keterangan apapun juga dari mereka. Jika berdua mereka berada di dalam bilik keempat orang itu, maka yang mereka bicarakan adalah sekedar keadaan mereka serta keinginan-keinginan mereka berempat.

Sehingga akhirnya, ketika sampai saatnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan meninggalkan Kediri, maka disempatkannya untuk minta diri kepada keempat orang itu.

“Kau akan mencari dan kemudian mengerti apa yang sudah terjadi di padepokan Suriantal?” bertanya yang tertua di antara keempat orang itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Baru kemudian Mahisa Murti menjawab, “Kami memang mendapat tugas untuk mencari padepokan kalian. Satu pekerjaan yang sangat berat yang harus kami lakukan, karena kami tidak mempunyai pegangan apapun yang dapat menjadi tuntutan betapapun kecilnya untuk sampai kepada padepokan yang namanya Suriantal itu.”

Orang tertua di antara keempat orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Maaf Ki Sanak. Aku tidak dapat membantu kalian karena janji setiaku kepada padepokan.”

“Kami mengerti,” jawab Mahisa Murti, “kami pun tidak berniat untuk membujuk kalian agar kalian berkhianat. Usaha kami memeras keterangan dari kalian sudah lewat. Segalanya untuk selanjutnya harus kami usahakan sendiri. Namun sementara itu, dengan berat hati, kami masih terpaksa harus menyimpan kalian di dalam tempat yang barangkali tidak menyenangkan bagi kalian.”

“Kami mengerti. Dan kami pun menyadari, bahwa kami tidak akan selalu berada di tempat yang baik dan terpisah seperti ini. Pada suatu saat, jika Ki Sanak sudah meninggalkan Kediri, maka kami tentu akan dilemparkan kedalam tempat yang dihuni oleh banyak orang. Mungkin kami akan menjadi satu bilik dengan para penyamun dan perampok, atau barangkali kami termasuk golongan pemberontak sebagaimana pernah terjadi, sehingga kami akan dilemparkan kedalam ruang yang diperuntukkan bagi para pemberontak. Namun kami tidak akan ingkar, karena yang demikian seharusnya sudah kami sadari sejak kami menentukan langkah kami,” jawab yang tertua di antara mereka.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Pukat pun berkata, “Kami memang akan segera meninggalkan Kediri. Mudah-mudahan kita akan dapat bertemu lagi kelak jika kami datang kembali kemari.”

“Semoga kalian berhasil Ki Sanak,” desis salah seorang di antara orang-orang bertongkat itu.

Sementara yang terkecil di antara keempat orang itu pun berkata, “Maafkan aku Ki Sanak, atas kesan yang pernah tergores di dalam angan-anganku tentang kalian.”

“Kami mengerti,” jawab Mahisa Murti, “semoga untuk selanjutnya kita masing-masing akan selalu dilindungi oleh Yang Maha Agung.”

Keempat orang itu termangu-mangu. Namun kemudian mereka harus melepaskan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat meninggalkan mereka. Keempat orang itu mengerti, bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan meninggalkan Kediri untuk mencari padepokan yang bernama Suriantal. Sementara mereka berempat tahu pasti dimana letaknya dan apa yang sebenarnya ada di dalamnya. Namun mereka tidak dapat mengatakannya Sedangkan jalan menuju ke padepokan itu adalah jalan yang sangat berbahaya.

Tetapi keempat orang itu mengerti, bahwa kedua anak muda itu memiliki ilmu yang sangat tinggi. Keduanya ternyata mampu melawan dan bahkan membunuh paman guru mereka.

Meskipun demikian, kemungkinan lain masih akan dapat terjadi, karena Kebo Sarik yang terbunuh itu bukan seorang yang memiliki ilmu tertinggi.

Namun di hari-hari terakhir, jalan menuju ke peningkatan ilmu bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah terbuka semakin lebar, sehingga kemungkinan-kemungkinan pun akan dapat terjadi atas mereka.

Demikianlah maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah meninggalkan Kediri. Bekal yang mereka bawa cukup memadai untuk memasuki lingkungan yang keras didalam olah kanuragan. Bahkan mereka pun telah mendapat tuntunan untuk memasuki kemungkinan yang lebih luas memperdalam ilmu mereka, mengembangkan dan meningkatkan.

Namun seperti pesan Pangeran Singa Narpada, maka sekali lagi mereka harus kembali ke Singasari. Mungkin mereka akan mendapat sedikit penjelasan tentang padepokan yang bernama Suriantal.

Tidak ada hambatan sama sekali di perjalanan. Bahkan keduanya mendapat kesempatan untuk berlatih di sepanjang jalan. Keduanya ternyata telah memilih jalan yang tidak banyak dilalui orang. Justru mereka telah berjalan menyusuri lereng-lereng pegunungan yang hijau oleh hutan yang tumbuh subur, serta lembah-lembah yang lebat oleh pepohonan dan tanaman di ladang serta menyusuri pematang di antara tanaman padi di sawah.

Di lereng-lereng yang terjal kedua unak muda itu sempat mempertajam ilmu mereka. Tanpa dilihat oleh seorang, mereka telah mencoba kemampuan ilmu mereka. Baik yang mereka terima dari ayah mereka, maupun yang telah mereka terima dari Pangeran Singa Narpada.

Dengan ilmu yang mereka terima dari ayah mereka, maka keduanya mampu menghantam dan menghancurkan batu-batu padas, sementara dengan ilmu yang mereka warisi dari Pangeran Singa Narpada maka mereka mampu menghisap kekuatan dan tenaga lawan-lawan mereka.

Dengan kemungkinan yang telah dibuka oleh Pangeran Singa Narpada, maka kedua anak muda itu berusaha untuk memperdalam ilmu mereka. Bahkan keduanya telah berusaha untuk mampu bukan saja melemahkan kekuatan lawan, namun memanfaatkan kekuatan itu bagi kemampuan mereka.

“Kita tidak akan dapat menemukan jalur itu dengan serta merta,” berkata Mahisa Murti.

“Tetapi aku melihat jalan menuju ke kemungkinan itu,” desis Mahisa Murti.

“Memang mungkin sekali,” jawab Mahisa Murti, “Tetapi kita memerlukan waktu untuk mengamati dan mempelajari kemungkinan-kemungkinannya.”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun kedua anak muda itu yakin bahwa dalam pengembangan ilmu mereka, maka hal itu akan dapat mereka lakukan.

Dengan demikian, maka latihan-latihan yang mereka lakukan di sepanjang jalan-jalan sepi di lereng pegunungan dan dilembah-lembah yang hijau oleh lebatnya hutan, tanpa dilihat oleh orang lain, adalah untuk mencapai kedalaman dari ilmu mereka.

Karena itu, maka perjalanan mereka dari Kediri sampai ke Singasari memerlukan waktu yang berlipat dari perjalanan biasa.

Namun, akhirnya keduanya telah sampai ke rumah mereka. Mahendra menyambut kedua anaknya dengan wajah cerah.

“Hampir saja kita berselisih jalan,” berkata Mahendra, “aku sudah merencanakan untuk pergi ke Kediri. Ada beberapa pesanan wesi aji yang sudah aku dapat, sehingga akan aku serahkan kepada pemesannya. Untunglah aku belum berangkat, sehingga aku masih dapat menerima kedatanganmu.”

“Untunglah,” berkata Mahisa Murti, “Tetapi seandainya kita berselisih jalan, demikian ayah sampai di Kediri dan kembali ke Singasari, agaknya kami masih belum sampai.”

“Kenapa? Meskipun aku berkuda dan kalian berjalan kaki, tetapi selisih itu tentu tidak akan terlalu lama,” berkata Mahendra.

“Tetapi kami berjalan sangat lamban,” sahut Mahisa Pukat, “kami menyusuri lereng-lereng pegunungan dan lembah-lembah berhutan lebat.”

Mahendra mengangguk-angguk. Barulah ia mengerti, bahwa di sepanjang jalan kedua anaknya itu tentu memanfaatkan alam dan kesempatan yang ada untuk memperdalam ilmu mereka.

Setelah kedua anaknya beristirahat, membenahi diri dan makan, barulah menjelang malam Mahendra bertanya, apakah kedua anaknya pulang sekedar menengok keluarganya atau mempunyai keperluan yang khusus.

Kepada ayahnya kedua anak muda itu telah menceriterakan apa yang terjadi pada saat-saat terakhir di Kediri.

Bahwa seorang di antara orang-orang bertongkat yang berhasil mereka tangkap itu telah menyebut nama sebuah padepokan.

“Padepokan mana?” bertanya Mahendra.

“Padepokan Suriantal,” jawab Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hampir berbareng.

Wajah Mahendra menegang sejenak. Dengan nada berat ia mengulang “ Suriantal?”

“Ya,” jawab Mahisa Murti.

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “apakah aku belum pernah menyebut nama padepokan itu?”

“Mungkin ayah pernah menyebutnya diantara sekian banyak padepokan yang pernah ayah sebutkan,” jawab Mahisa Murti, “Tetapi agaknya padepokan ini memiliki kekhususan.”

Mahendra mengangguk-angguk. Katanya, “Sayang sekali. Aku tidak banyak mengetahui tentang padepokan ini. Tetapi kalian akan sempat bertanya kepada kedua pamanmu. Mahisa Agni dan Witantra. Mudah-mudahan keduanya tidak sedang pergi, karena keduanya nampaknya telah mempergunakan hari-hari tuanya untuk melihat cerahnya alam terbuka di padesan dan di sela-sela bukit dan hutan-hutan kecil.”

“Agaknya berbeda dengan yang ayah lakukan?” desis Mahisa Pukat.

Mahendra mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tertawa sambil menjawab, “Tetapi aku pun melakukannya. Menjelajahi padukuhan-padukuhan.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tersenyum. Dengan nada datar ia berkata, “Tetapi jika ayah menjelajahi padukuhan-padukuhan tentu dengan harapan untuk mendapatkan sepotong barang yang akan dapat diperjual belikan, atau sebaliknya membawa barang sesuai dengan pesanan.”

Mahendra tertegun sejanak. Namun ia pun tertawa pula sambil berkata, “Sambil bertamasya, aku dapat memenuhi kebutuhan hidup sekeluarga. Berbeda dengan paman-pamanmu yang memiliki jabatan dalam tatanan keprajuritan Singasari, sehingga mereka tidak memikirkan bagaimana harus mendapatkan uang.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun tertawa pula, sementara Mahisa Murti berkata, “Apakah ayah mau mengajarkan cara yang ayah tempuh itu kepada kami? Selain mendatangkan keuntungan, maka pekerjaan ayah itu merupakan satu cara yang baik untuk melakukan tugas-tugas sandi.”

“Kenapa tidak?” berkata ayahnya, “kau harus belajar mengenali bentuk dan jenis benda-benda yang akan kau jadikan dagangan. Jika kau ingin memperjual belikan jenis-jenis wesi aji, maka kau harus mengenali bentuk dan jenis-jenis pusaka. Atau mungkin kau tertarik pada bebatuan yang disenangi dan bernilai tinggi, maka kau harus mencoba mengenalinya pula. Demikian pula batu permata dan intan berlian.”

“Senang sekali untuk dapat melakukannya ayah,” jawab Mahisa Pukat, “dengan pengetahuan itu, maka kami akan mempunyai ruang gerak yang lebih leluasa.”

“Baik,” berkata ayahnya, “tetapi kau pun harus mempunyai cara lain untuk menjelajahi daerah pengamatanmu, karena jika kau hanya mengenali satu cara, maka jika cara itu mulai dicurigai kau akan kehilangan kesempatan untuk berbuat sesuatu.”

“Tentu ayah,” jawab Mahisa Murti, “jika kau melihat cara sebagaimana pekerjaan yang ayah lakukan, agaknya cara itu mempunyai kemungkinan yang luas dari sekedar berkeliaran sebagaimana kami lakukan sekarang ini. Sementara itu, agaknya kami pun harus belajar, bagaimana caranya bekerja di bidang-bidang tertentu yang lain.”

Mahendra mengangguk-angguk. Katanya, “Ternyata pikiranmu semakin berkembang. Selama ini kau bertualang tanpa pegangan. Namun agaknya pengalaman kalian telah membuka pikiran kalian untuk bekerja lebih cermat, dan dengan cara yang lebih baik dan berencana.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Sementara ayahnya berkata, “Tetapi itu sangat wajar, sejalan dengan umur kalian yang menjadi semakin bertambah.”

“Ya ayah,” desis Mahisa Murti, “Mungkin selama ini kami menganggap bahwa yang kalian lakukan adalah sekedar main-main.”

“Mungkin,” jawab ayahnya, “tetapi juga karena kalian belum mengenal tugas kalian yang sebenarnya. Aku tidak menyangka bahwa kalian senang akan pekerjaan seperti itu. Aku kira pada satu dua bulan kalian akan menjadi jemu dan mulai menetap untuk menekuni satu tugas tertentu sebagaimana kakakmu Mahisa Bungalan.”

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian jawabnya, “Kakang Mahisa Bungalan pun harus dibujuk untuk bersedia menjadi seorang prajurit.”

Ayahnya mengangguk. Katanya, “Ya. Agaknya memang demikian. Aku pun ingin membujuk kalian berdua, bahwa kalian berdua sebaiknya menjadi prajurit sebagaimana kakakmu. Atau menjadi saudagar yang tekun seperti aku lakukan, disamping sawah dan ladang yang terbentang di ngarai yang luas itu.”

“Pada saatnya kami akan memilih ayah,” jawab Mahisa Pukat, “tetapi sebenarnyalah sekarang kami telah menekuni satu kerja yang tidak kalah pentingnya dengan tugas-tugas yang lain di dalam kehidupan ini.”

Mahendra mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Aku mengerti. Tetapi mungkin apa yang kalian inginkan itu akan merupakan luluhnya tugas-tugas yang dapat kau lakukan. Menjadi petugas sandi dan sekaligus bekerja sebagai pedagang sebagaimana aku lakukan.”

Kedua anaknya itu tertawa. Sambil mengangguk-angguk Mahisa Murti menjawab, “Satu rencana yang sangat menarik.”

Namun dalam pada itu, ayahnya pun berkata, “Jika demikian kita akan pergi bersama-sama. Kalian akan aku perkenalkan kepada kawan-kawanku bahwa kalian adalah anak-anakku yang pada suatu saat akan menggantikan pekerjaanku.”

Namun kedua anaknya itu mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Apakah sebaiknya kami dapat dengan mudah dikenali dalam tugas-tugas sandi?”

“Tetapi sebagai seorang pedagang kalian harus mendapat kepercayaan. Jika kalian tidak dikenal, maka kalian akan mendapatkan kesulitan untuk mendapatkan dan menjual dagangan yang tidak ada patokan dan pola jenisnya yang tertentu,” jawab ayahnya.

“Ternyata disinilah letak persoalannya,” jawab Mahisa Murti, “Memang mungkin kami bekerja sebagai pedagang, tetapi dalam batas-batas tertentu kami tidak boleh dengan mudah dikenali siapakah kami sebenarnya.”

“Ya. Aku tahu. Tetapi bukanlah kalian dalam hal ini bekerja untuk Kediri? Sementara orang-orang yang pernah berhubungan dengan kau mengenaliku sebagai orang Singasari,” berkata ayahnya.

“Kadang-kadang kami harus dikenal sebagai orang yang tinggal dekat dari tempat tertentu, atau justru dikenal sebagai orang yang tinggal diluar lingkungan Kediri dan Singasari agar tidak cepat menimbulkan dugaan bahwa kami bekerja untuk Kediri atau Singasari dalam persoalan-persoalan tertentu,” jawab Mahisa Pukat, “Bukankah ayah juga menganjurkan agar aku mengenali beberapa jenis pekerjaan.”

Ayahnya mengangguk-angguk. Tetapi tiba-tiba ia bertanya, “Jadi bagaimana dengan rencana kalian? Aku mengerti keberatan kalian.”

Mahisa Murti danMahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Mahisa Murti pun berkata, “Ayah. Kami memang ingin ikut bersama ayah untuk mengenali cara yang ayah pergunakan serta mengenali lingkungan perdagangan sebagaimana ayah lakukan. Tetapi ayah tidak usah mengaku kami sebagai anak-anak ayah. Bukan karena keseganan kami, tetapi semata-mata untuk mengamankan tugas-tugas yang akan kami lakukan kemudian. Bahkan mungkin juga untuk mengamankan ayah jika pada suatu saat kami dapat dikenali oleh pihak-pihak tertentu. Jika mereka mengetahui bahwa kami adalah anak ayah, maka mungkin ayah akan menjadi sasaran dendam mereka.”

Ayahnya mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Baiklah. Aku memahami keadaan kalian. Aku sependapat dengan cara yang ingin kalian tempuh. Meskipun demikian, kalian harus dengan tekun berusaha mengenali benda-benda yang akan kau perdagangkan itu.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak berkeberatan. Karena itu, maka sebagaimana dianjurkan oleh ayahnya, mereka mulai tekun mempelajari benda-benda berharga yang menjadi sasaran diperjual belikan oleh ayahnya dengan keuntungan yang cukup baik.

Sebagaimana keduanya memperdalam ilmunya, maka mereka pun dengan tekad dan bersungguh-sungguh mencoba mengenali berbagai jenis bebatuan dan besi yang bertuah. Juga beberapa jenis permata dan logam mulia.

Sementara mereka mempelajari cara mengenali benda-benda itu, mereka pun menyempatkan diri untuk bertemu dan berbicara dengan Mahisa Bungalan, bahkan kemudian sekaligus Mahisa Agni dan Witantra yang kebetulan tidak sedang keluar untuk menempuh perjalanan-perjalanan pendek dalam dua tiga hari.

Ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menanyakan sesuatu yang mereka ketahui tentang padepokan Suriantal, maka yang paling terkejut adalah Mahisa Bungalan. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Kenapa dengan padepokan Suriantal?”

Mahisa Murti pun menceriterakan apa yang sudah terjadi di Kediri. Bahkan Mahisa Bungalan pun telah sempat mendengar sebagian dari ceritera itu dari Mahisa Agni dan Witantra.


“Jadi orang-orang yang disebut bertongkat itu adalah orang-orang dari padepokan Suriantal?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Ya. Guru keempat orang bertongkat itu telah terbunuh oleh Pangeran Singa Narpada, sementara kami berdua berhasil membunuh adik seperguruannya, sedangkan paman Mahisa Agni, paman Witantra dan ayah bermain-main dengan orang-orang bertongkat itu” jawab Mahisa Pukat.

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Dengan nada dalam ia berkata, “Satu tugas yang berat. Pihak keprajuritan pernah mendapat keterangan dari petugas sandi bahwa padepokan itu merupakan padepokan yang penuh dengan rahasia. Padepokan yang seakan-akan tertutup bagi kebanyakan orang. Namun bukan berarti bahwa orang-orang di padepokan itu sama sekali tidak berhubungan dengan orang-orang luar. Satu dua di antara mereka juga sering keluar dari padepokan untuk berbelanja atau membeli kebutuhan-kebutuhan lain. Mereka pun membayar dengan tertib barang-barang yang mereka kehendaki. Menurut laporan yang diterima oleh pihak keprajuritan di Singasari, orang-orang padepokan itu tidak mengganggu orang-orang yang hidup di sekitar padepokan itu. Namun tidak seorang pun mengetahui dengan pasti, apa saja yang dikerjakan oleh orang-orang di padepokan yang disebut Suriantal itu.”

“Dan sekarang kalian akan berhadapan dengan padepokan Suriantal,” berkata Mahisa Bungalan.

“Kami ingin mengetahui latar belakang dari perbuatan mereka. Apa yang mendorong mereka berusaha untuk mengambil mahkota yang sangat berharga itu,” berkata Mahisa Murti, “dengan mengetahui latar belakangnya, maka Pangeran Singa Narpada akan dapat menentukan langkah-langkah pengamanan untuk selanjutnya.”

“Baiklah,” berkata Mahisa Bungalan, “Aku akan berusaha untuk mendapat keterangan lebih banyak tentang padepokan itu. Mungkin letaknya, ke mana padepokan itu menghadap, lingkungannya dan mungkin waktu-waktu tertentu orang-orang dari padepokan itu berbelanja.”

“Terima kasih,” jawab Mahisa Murti, “selama itu, aku akan mendapat kesempatan untuk ikut bersama memperjual belikan batu-batu akik, wesi aji, permata dan logam mulia.”

Demikianlah, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mulai dengan perjalanan-perjalanan sebagaimana ditempuh oleh ayahnya. Tetapi ayahnya memang tidak memperkenalkannya sebagai anak-anaknya. Tetapi keduanya disebutnya sebagai pedagang-pedagang muda yang memiliki kemauan keras dalam usahanya untuk maju.

Setelah beberapa kali keduanya mengikuti perjalanan ayahnya pada jarak-jarak yang tidak terlalu jauh, maka keduanya dapat mengerti, meskipun belum terlalu lancar, apa saja yang harus dilakukan oleh pedagang.

“Kau tidak usah menipu calon pembelimu,” pesan ayahnya, “kau katakan sebagaimana adanya dan kau dapat berterus terang bahwa kau mengambil keuntungan atas harga yang kau tentukan itu. Jika kau tidak mengambil keuntungan terlalu besar, maka biasanya calon pembeli itu tidak berkeberatan. Mereka tidak pernah merasa tertipu dan di saat lain jika mereka memerlukan lagi, mereka akan menghubungimu. Tetapi jika sekali mereka merasa tertipu, maka mereka tidak akan lagi mau berkenalan denganmu, karena ada orang-orang lain yang melakukan pekerjaan yang sama dengan yang kita lakukan.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ternyata memiliki bakat ayahnya. Bukan saja dalam olah kanuragan, bahwa mereka telah mewarisi ilmu yang nggegirisi. Namun ternyata mereka pun dengan cepat mampu melakukan sebagaimana dilakukan ayah mereka dalam perdagangan.

Setelah beberapa lamanya kedua anak muda itu mengikuti Mahendra, maka keduanya kemudian telah mampu melakukannya sendiri.

“Tetapi kita tidak boleh melupakan tugas yang dibebankan di pundak kita,” berkata Mahisa Murti.

“Bukankah kita tidak dibatasi waktu?”

“Sementara ini kita menunggu keterangan yang sedang dikumpulkan oleh kakang Mahisa Bungalan tentang padepokan itu,” sahut Mahisa Pukat.

“Jika kita mengharapkan keterangan yang lengkap, maka kita tidak perlu lagi pergi ke padepokan itu. Kita tinggal menyadap keterangan itu dan kita sampaikan kepada Pangeran Singa Narpada,” jawab Mahisa Murti.

“Bukan begitu, “desis Mahisa Pukat, “keterangan yang aku maksud adalah sekedar keterangan yang akan dapat menuntun kita ke dalam persoalan yang lebih dalam lagi.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Besok kita menghadap kakang Mahisa Bungalan. Apakah ia sudah dapat mengumpulkan keterangan lebih banyak.”

Demikianlah, maka dikeesokan harinya, sepengetahuan ayah mereka, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menemui kakaknya untuk menanyakan apakah kakaknya sudah mendapat keterangan lebih banyak tentang padepokan Suriantal.

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku memang sudah bertemu dengan orang yang pernah mendekati daerah yang bernama Suriantal itu. Ia sampai ke padepokan itu dengan tidak sengaja. Namun ia akan dapat memberikan ancar-ancar, jika kalian berdua memang benar-benar ingin sampai ke sana.”

“Baiklah kakang. Ancar-ancar itu tentu akan sangat berarti bagi kami berdua,” jawab Mahisa Murti.

Dengan demikian maka Mahisa Bungalan pun telah mengajak kedua adiknya langsung bertemu dengan petugas sandi Singasari yang pernah tersesat sampai ke padepokan Suriantal.

Beberapa keterangan yang tidak penting memang dan didengar oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Namun yang sangat berarti bagi mereka adalah ancar-ancar jalan menuju ke padepokan itu.

“Aku tidak mampu mengingat, bagaimana aku sampai ke tempat itu. Aku tersesat pada waktu itu. Kebetulan saja aku sampai ke satu daerah yang ternyata berada di bawah pengaruh padepokan yang bernama Suriantal itu,” berkata petugas itu.

“Tetapi bagaimana kau dapat kembali ke Singasari?” bertanya Mahisa Murti.

“Aku ke luar dari daerah yang tidak dikenal itu tanpa tahu jalan mana yang harus aku tempuh. Namun akhirnya aku mengenali satu daerah yang pernah aku datangi dalam tugas sandiku mengikuti seorang perampok yang lolos dari tangkapan prajurit Singasari. Dengan demikian, maka aku mampu menempuh jalan kembali ke Singasari ini.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Agaknya jalan menuju ke padepokan itu memang sulit. Namun bagaimanapun juga kedua anak muda itu sudah bertekad untuk pergi menuju ke tempat itu.

Dari petugas sandi Singasari itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mendapat petunjuk sebuah daerah pemukiman yang agak ramai yang terletak tidak terlalu jauh dari tempat petugas sandi itu mulai mengenali tempat di mana ia tersesat.

“Bagus,” berkata Mahisa Murti, “jadi kota kecil itu, cukup ramai?” bertanya Mahisa Murti.

“Bukan sebuah kota,” jawab petugas sandi itu, “hanya sebuah lingkungan yang dihuni oleh orang-orang yang terdiri dari satu keturunan, yang berkembang semakin banyak. Dari tempat itu masih ada jarak kira-kira tujuh ratus tonggak untuk mencapai ujung pengenalanku itu. Seterusnya aku memang menjadi bingung. Yang aku ngat, aku telah melewati sebatang pohon randu alas. Kemudian sebatang sungai kecil tanpa jembatan dan sesak. Hutan yang lebat meskipun tidak aku masuki. Dan sebuah batu besar berwarna hijau oleh lumut yang tebal. Hanya itulah yang aku ingat. Kemudian aku melihat sebuah pintu gerbang yang ternyata adalah pintu gerbang padepokan Suriantal yang hanya banyak dikenal namanya saja.”

“Nah,” berkata Mahisa Bungalan, “Kalian harus menemukan daerah itu. Ancar-ancar itu pun tidak terlalu banyak menolongmu. Tetapi itulah yang dapat, disampaikan kepada kalian. Tidak lebih.”

“Terima kasih,” berkata Mahisa Murti, “kami akan berusaha dengan segala upaya.”

“Perjalanan yang berbahaya,” berkata petugas sandi itu, “Tetapi aku sependapat dengan kalian. Berjalan terus. Bahkan seandainya kalian tidak berkeberatan, aku bersedia untuk ikut bersama kalian.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan. Namun kemudian Mahisa Murti berkata, “Aku tidak tahu apakah keikutsertaanmu itu akan memberikan arti. Tetapi setidak-tidaknya kau dapat membawa aku sampai ke ujung daerah pengenalanmu itu apabila kakang Mahisa Bungalan tidak mempunyai pikiran lain.”

Mahisa Bungalan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku tidak berkeberatan. Tetapi karena orang itu berada di kesatuan yang bukan menjadi tanggung jawabku, maka diperlukan ijin dari panglimanya.”

“Aku akan melakukannya,” jawab petugas sadi itu, “aku kira Panglima tidak akan berkeberatan, karena jika aku berhasil, maka hasilnya akan berarti juga bagi Singasari.”

Sejenak Mahisa Bungalan termangu-mangu. Namun ia mengenal dengan baik Panglima yang memimpin pasukan sandi itu. Karena itu, maka Mahisa Bungalan berkata, “Baiklah. Tetapi biarlah kami berpikir barang satu dua hari. Apakah aku sependapat dengan usulmu, bahwa kau akan pergi juga kembali ke daerah yang pernah menyesatkanmu itu.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat nampaknya sependapat dengan kakaknya. Mereka mempertimbangkan untung ruginya jika mereka pergi bersama dengan petugas sandi itu. Apakah mereka masih akan dapat memegang tugas rahasia kepergian mereka ke sarang orang-orang bertongkat itu.

“Baiklah,” berkata petugas sandi itu, “jika memang diperlukan, aku siap melakukannya.”

“Terima kasih,” berkata Mahisa Bungalan, “Sebenarnya kami memang sangat memerlukan petunjuk-petunjuk itu. Tetapi seperti kami katakan, kami memerlukan waktu untuk memikirkannya.”

Demikianlah, maka Mahisa Bungalan mendapat kesempatan untuk bertemu dengan pemimpin langsung dari petugas sandi itu. Kepada pemimpin petugas sandi itu Mahisa Bungalan mengemukakan persoalan yang dihadapinya.

“Tetapi aku berterus terang kepadamu, bahwa adikku itu bekerja untuk Kediri. Tentu saja Kediri yang mengerti dengan baik dan benar, hubungannya dengan Singasari.”

Pemimpin pasukan sandi itu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Masalah apa yang paling penting kita persoalkan.”

“Kesetiaan orang itu,” sahut Mahisa Bungalan.

“Orang itu sudah bekerja bersamaku bertahun-tahun, Aku percaya kepadanya,” jawab pemimpin pasukan itu.

“Bagaimana dengan kemampuannya?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Jangan dibanding dengan kemampuanmu,” jawab pemimpin pasukan itu, “aku pun tidak dapat menyamai kemampuanmu. Namun untuk menjaga dirinya, ia cukup mempunyai bekal. Ia tidak menyadap ilmu setelah menjadi prajurit dan apalagi memasuki tugas sandi. Sebelumnya ia memang sudah berguru dan membawa bekal ilmu ketika ia berada didalam lingkungan pasukan sandi.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk pula. Katanya, “Bagaimana pendapatmu atas kesediaannya untuk mengikuti kedua adikku karena ia merasa pernah sampai ke tempat itu meskipun sudah dikatakannya bahwa ia merasa tersesat.”

Panglima pasukan sandi itu termangu-mangu sejenak. Ia mencoba untuk membayangkan, apakah yang mungkin terjadi di perjalanan mereka. Karena itu, maka katanya. “Apakah kau yakin bahwa kedua adikmu itu akan mampu pula menjaga dirinya?”

“Aku kira begitu. Tetapi karena aku belum tahu kemampuan petugas itu, maka belum dapat mengatakan, apakah kedua adikku itu memiliki ilmu setidak-tidaknya setingkat dengan petugas sandi itu,” jawab Mahisa Bungalan.

Namun kemudian pemimpin pasukan sandi itu pun berkata, “Sebenarnya aku cenderung untuk tidak berkeberatan. Mungkin tugas ini akan berarti pula bagi Singasari. Tetapi dengan satu pembicaraan semacam perjanjian, bahwa masing-masing bertanggung jawab tentang dirinya sendiri. Artinya, bahwa masing-masing tidak ada ketergantungan. Bukan berarti bahwa mereka tidak dapat bekerja bersama. Justru mereka harus bekerja bersama. Tetapi jika terjadi sesuatu atas salah seorang dari mereka, maka tanggung jawab berada atas diri mereka masing-masing. Yang lain tidak akan dianggap bersalah karena tidak mampu melindungi kawan-kawannya.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud perwira yang menjabat sebagai Panglima pasukan sandi itu. Agaknya ia tidak mau mempertaruhkan anak buahnya dalam tugas itu. Dan ia pun tidak mau petugas sandi bertanggung jawab atas kedua adik Mahisa Bungalan yang masih sangat muda.

Karena itu, maka Mahisa Bungalan berkata, “Baiklah.”

Karena itu, maka Mahisa Bungalan itu pun berkata, “Baiklah. Aku mengerti. Maksudmu mereka harus bersiap menghadapi segala kemungkinan atas tanggung jawab mereka masing-masing. Yang satu tidak menjadi pelindung yang lain. Namun mereka harus bekerja bersama sebaik-baiknya.”

Panglima pasukan sandi itu mengangguk-angguk. Namun ia masih menjambung lagi, “Bukan maksudku mencurigai kemampuan kedua adik-adikmu yang masih sangat muda itu. Tetapi jika terjadi sesuatu jangan kita saling menyalahkan. Demikian juga jika petugasku itu tidak kembali karena sesuatu hal, maka kau tidak akan dapat menuntut kedua adik-adikmu.”

“Aku setuju, tetapi dengan jaminan bahwa petugasmu itu adalah petugas yang setia dan dapat dipercaya,” berkata Mahisa Bungalan kemudian.

Panglima itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku yakin.”

“Jika demikian, maka kita akan berjanji, bahwa kita akan melepaskan mereka bekerja bersama dalam tugas ini. Kedua adikku dengan petugas sandi itu. Mudah-mudahan mereka akan dapat menyelesaikan tugas mereka dengan baik.”

Panglima itu mengangguk. Namun ia pun kemudian mengerutkan keningnya sambil berdesis, “Apakah kau sudah memberikan sedikit penjelasan kepada kedua adikmu, bahwa banyak kemungkinan dapat terjadi?”

“Ya. Aku sudah berbicara banyak dengan mereka,” jawab Mahisa Bungalan.

“Sebenarnyalah mereka masih sangat muda. Apalagi untuk menangani tugas ini. Aku kurang mengerti, kenapa Kediri tidak memilih petugas yang lebih tua dan berpengalaman,” desis Panglima pasukan sandi itu.

Mahisa Bungalan tersenyum. Katanya, “Aku juga heran bahwa kedua adikku itu telah mendapat kepercayaan yang besar dari para pemimpin di Kediri. Tetapi mungkin juga karena pertimbangan lain. Kediri tidak mau kehilangan orang-orang terbaiknya. Karena Kediri tidak yakin bahwa tugas ini akan dapat diselesaikan dengan baik, dan para petugas yang akan melakukannya sempat kembali dengan selamat, maka Kediri merasa lebih baik mengirimkan orang lain namun yang dapat dipercaya.”

Panglima itu tersenyum. Katanya, “Kau pandai mengada-ada. Tetapi biarlah kedua adikmu itu mendapat pengalaman. Petugas sandi itu akan membantu kedua adikmu untuk menempuh satu perjalanan yang sulit, namun sekali lagi, dalam tanggung jawab masing-masing atas diri sendiri.”

“Baiklah. Besok kita akan berjanji, kapan mereka akan berangkat,” berkata Mahisa Bungalan.

Dengan demikian, maka Mahisa Bungalan pun menemui kedua adiknya. Ia mengatakan apa yang didengarnya dari panglima petugas sandi itu.

“Kakang yakin akan mereka?”

“Aku yakin,” jawab Mahisa Bungalan, “Jika aku keliru, maka yang salah adalah Panglimanya itu.”

Dengan kesediaan kedua belah pihak maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah bersiap-siap untuk berangkat bersama seorang petugas sandi yang memperkenalkan dirinya dengan nama Urawan.

Beberapa pesan telah diberikan kepada mereka bertiga. Panglima petugas sandi itu pun telah memberikan pesan-pesan langkah-langkah terbaik yang harus mereka lakukan sebagai petugas sandi. Kemudian Mahisa Agni, Wirantra dan Mahendra pun telah memberikan pesan-pesannya pula.

“Berhati-hatilah dalam semua langkah yang kalian ambil,” berkata Mahisa Agni, “aku berpengalaman cukup lama selaku seorang perantau. Banyak sekali bahaya yang mengancam diluar dugaan kita. Apalagi kalian telah dengan sengaja mendekati satu daerah yang kurang kalian kenal. Banyak sekali kemungkinan yang akan kalian ketemukan di daerah itu. Mungkin tidak ada apa-apa, tetapi mungkin daerah itu menyambutmu dengan keras dan kasar. Bahkan kejam dan keji.”

Ketiga orang itu mengangguk-angguk. Mereka bertiga mengenal siapakah Mahisa Agni, sehingga apa yang dikatakan itu tentu akan memberikan arti kepada mereka. Demikian pula Witantra dan Mahendra. Apalagi Mahendra yang pekerjaaannya sehari-hari adalah seorang pedagang keliling, maka pengalaman menempuh perjalanan tentu sudah banyak sekali.

Demikianlah maka pada hari yang sudah ditentukan mereka bertiga pun telah berangkat. Untuk tidak menai perhatian orang-orang di Kota Raja, maka mereka bertiga telah berangkat dari rumah Mahendra. Mereka seperti biasanya, berpakaian seperti orang kebanyakan. Mereka tidak membawa bekal yang berlebih-lebihan. Mereka hanya membawa sepengadeg pakaian selain yang mereka pakai. Namun seperti yang telah dilakukannya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat membawa bekal uang yang cukup. Selain mereka dapat dari Pangeran isinga Narpada. karena Pangeran Singa Narpada menyadari tugas itu sangat berat, sehingga mungkin memerlukan uang yang cukup banyak pula selama di perjalanan, mereka pun telah menerima bekal dari ayah mereka. Bahkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah membawa pula beberapa buah batu akik dan batu-batu berharga sebagai dagangan apabila mereka mendapat kesempatan untuk menjualnya.

Di hari-hari pertama dalam perjalanan mereka, petugas sandi itu pun sedang berusaha untuk menemukan jalan yang pernah ditempuhnya pada saat ia mengikuti seorang penjahat, sehingga jika jalan itu diketemukan, maka ia akan dapat menelusuri jalan itu sampai kepada satu tempat yang memang sulit, sehingga mungkin mereka harus bekerja keras untuk menemukan jalan menuju ke padepokan Suriantal.

“Apa yang akan kita lakukan setelah kita berada di sekitar padepokan itu akan kita pikirkan kemudian,” berkata petugas sandi itu.

“Ya,” jawab Mahisa Murti, “kau memiliki pengalaman jauh lebih banyak dari kami. Kami berdua akan mengikut saja apa yang menurut pertimbangan baik.”

“Ah, jangan begitu,” sahut Urawan, “kita akan bersama-sama melakukan tugas ini. Tetapi sudah barang tentu, yang memiliki pengenalan lebih banyak akan dapat menuntun yang lain.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba Mahisa Pukat bertanya, “Sepanjang perjalan, bagaimanakah susunan hubungan kita?”

“Maksudmu?” bertanya Urawan.

“Apakah kita tetap orang lain seperti sekarang, ataukah kita akan menjadi saudara atau hubungan yang lain? Apakah kita akan tetap dengan nama kita masing-masing atau kita akan menentukan nama yang lain bagi kita.”

“Kita bukan orang-orang terkenal,” jawab Urawan, “karena itu, jika kita memakai nama kita pun tidak akan mudah diketahui siapakah kita sebenarnya. Orang-orang di sepanjang jalan yang akan kita lalui tetap tidak akan mengerti, apakah kita bernama seperti nama kita yang sebenarnya atau kita akan mempergunakan nama yang lain. Tetapi dalam hubungan di antara kita aku setuju, bahwa aku menjadi saudara kalian yang tertua. Sehingga kita akan menempuh perjalanan tiga bersaudara.”

“Apa acara kita? Sekedar mengembara atau ada tugas lain yang kita emban dalam perjalanan ini?” bertanya Mahisa Murti kemudian.

Urawan itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Kita adalah pengembara. Tidak ada yang akan kita lakukan selain mengembara dari satu tempat ke tempat lain.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja Mahisa Pukat berdesis sambil tersenyum, “Tetapi nama kita sama sekali tidak bersentuhan. Namun kami berdua adalah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.”

Urawan itu pun tersenyum pula. Jawabnya, “Baiklah. Namaku akan berubah menjadi Mahisa Ura.”

“O,” sahut Mahisa Murti, “kau tahu apa artinya ura?”

“Tahu, Kenapa? Ura adalah satu kerja tanpa tujuan. Asal saja dilakukan. Nah, bukankah aku juga sedang berbuat demikian sekarang,” jawab Urawan yang telah merubah namanya menjadi Mahisa Ura.

“Baiklah,” jawab Mahisa Pukat, “kita adalah tiga bersaudara. Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.”

Ketiganya tertawa. Sementara itu kaki mereka melangkah terus menyusuri jalan yang masih belum dapat dikenali.

Tetapi petugas sandi yang menyebut dirinya Mahisa Ura itu pun mempunyai beberapa ancar-ancar yang dapat meyakinkannya, bahwa pada saat ia akan menemukan jalan yang pernah ditelusurinya, pada satu tugasnya yang berat, mengikuti seorang yang memiliki kemampuan yang tinggi, namun telah dipergunakan untuk melakukan tindakan-tindakan yang sesat. Seorang perampok yang berhasil terlepas dari tangan para prajurit.

“Bagaimana kau berhasil menangkap perampok itu?” bertanya Mahisa Pukat.

“Aku berhasil mengetahui persembunyiannya,” jawab Mahisa Ura, “keterangan dari orang-orang di padukuhan yang aku datangi atas dasar beberapa petunjuk, memberikan jalan kepadaku. Meskipun agaknya setiap orang tidak ada yang berani menyebutkan tempat persembunyiannya itu, namun beberapa patah kata dapat menuntun aku pada satu kepastian, bahwa orang itu akhirnya dapat aku ketemukan.”

“Di rumahnya?” bertanya Mahisa Murti.

“Sama sekali tidak,” jawab petugas sandi itu, “aku menemukan di rumah seorang perempuan yang akan dijadikan isterinya yang ke lima. Menurut keterangannya dua orang isterinya telah dibunuhnya. Sementara ia akan mengawini isteri kelimanya, satu lagi isterinya sudah direncanakannya untuk dibunuh. Tetapi sebelum ia sempat melakukannya, ia sudah tertangkap.”

“Bukan main,” desis Mahisa Pukat, “hukuman apakah yang kemudian diterima dengan segala laku jahatnya itu?”

“Hukuman seumur hidupnya. Ia tidak akan dilepaskan dari sebuah penjara untuk selamanya-lamanya, karena orang seperti perampok itu sudah tidak ada lagi harapan untuk dapat menyembuhkan tabiatnya,” jawab petugas sandi itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka mengerti, mengapa orang itu harus dihukum seumur hidup.

Demikianlah, maka ketiga orang itu telah menelusuri jalan yang diduga akan sampai pada satu jalur yang pernah dikenal oleh petugas sandi itu.

Jika malam turun, maka mereka dapat bermalam dimana saja. Di tengah-tengah bulak, di pategalan atau di hutan. Namun sekali-sekali mereka sempat juga bermalam di sebuah banjar.

Ternyata bahwa akhirnya yang diperhitungkan oleh betugas sandi itu benar juga. Ketika mereka bertiga muncul dari sebuah jalan sempit dan turun ke sebuah jalan yang lebih besar, maka tiba-tiba saja petugas sandi yang berpengalaman melakukan pengembaraan itu melihat sebuah gumuk kecil yang ditumbuhi sebatang pohon preh dan dijalari beberapa batang sejenis rotan yang lebat sehingga pohon preh raksasa itu hampir tidak dapat dikenali lagi.

Yang nampak hanyalah jalur-jalur panjang yang membelit dari ranting dengan daunnya yang lebat.

Petugas sandi itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita sudah sampai ke satu tempat yang dapat aku kenali.”

“O,” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mengangguk. Ketika mereka mengikuti tatapan mata petugas sandi itu, maka mereka pun telah melihat gumuk itu pula.

“Aku tidak akan keliru. Jenis tanaman itu jarang sekali terdapat disini,” berkata Mahisa Ura.

“Bagus,” sahut Mahisa Pukat, “kita akan menemukan sasaran kita. Tetapi jalan masih panjang. Mungkin besok kita baru akan sampai ke padukuhan tempat yang terakkhir aku kenali, karena di padukuhan itu aku berhasil menangkap orang yang aku cari.”

“Ya,” jawab Mahisa Murti, “Mudah-mudahan perjalanan selanjutnya lancar.”

Petugas sandi itu mengangguk-angguk. Sebagaimana dikatakannya maka jarak yang mereka tempuh memang masih panjang.

Namun ketika mereka sedang beristirahat di sebuah kedai, maka tiba-tiba saja telah terjadi sesuatu yang sangat mengejutkan. Dua orang tiba-tiba saja telah muncul di ambang pintu. Wajah mereka kasar sebagaimana sikap mereka. Dengan langkah yang kasar pula keduanya memasuki kedai itu dan duduk dengan tanpa mengenal unggah-ungguh.

Tetapi yang lebih mengejutkan lagi adalah Mahisa Ura yang berdesis, “Gila. Orang itulah yang aku katakan. Apakah ia terlepas dari penjara?”

Sebelum Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjawab, Mahisa Ura telah meloncat ke arah orang itu sambil membentak, “He, apakah kau sempat melarikan diri. Jika demikian, maka aku datang untuk menangkapmu.”

Orang-orang berwajah kasar itu termangu-mangu.

Sementara itu keadaan menjadi tegang. Mahisa telah berdiri di hadapan orang berwajah kasar itu. Dengan sikap yang garang Mahisa Ura siap bertindak jika orang itu berbuat sesuatu.

“He, apakah kau gila Ki Sanak,” geram salah seorang dari keduanya, “agaknya kau belum mengenal kami.”

“Aku mengenal kawanmu ini,” geram Mahisa Ura, “aku sudah menangkapnya beberapa saat yang lain. Tetapi agaknya ia sempat melarikan diri.”

“Aku bunuh kau,” kawan orang yang disebut telah pernah ditangkap itu berteriak.

Tetapi Mahisa Ura pun telah bersiap. Sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah berdiri pula.

Namun tiba-tiba saja orang yang disebut pernah ditangkap itu bersikap lain. Ia justru menggamit kawannya sambil berkata, “Duduklah. Mungkin terjadi salah paham.”

“He?” kawannya merasa heran, “kau membiarkan diri kita diperlakukan seperti ini?”

“Tunggulah,” jawab orang yang disebut pernah ditangkap itu. Lalu katanya kepada Mahisa Ura, “Ki Sanak. Siapakah sebenarnya kalian. Dan kenapa kau menyebut bahwa aku pernah kau tangkap? Selain ini aku tidak pernah berbuat apa-apa yang dapat menjadi alasan untuk menangkapku. Kami memang orang-orang kasar, karena kami adalah tukang blandong yang bekerja sekedar untuk dapat hidup. Apakah seorang tukang blandong memang dapat ditangkap hanya karena ia seorang tukang blandong?”

Mahisa Ura termangu-mangu sejenak. Tetapi menurut penglihatannya orang itu benar-benar orang yang pernah ditangkapnya.

Namun Mahisa Ura memang melihat sikap yang agak berbeda dengan orang yang pernah ditangkapnya. Suaranya pun mempunyai tekanan yang berbeda pula.

“Apakah kau belum pernah ditangkap?” bertanya Mahisa Ura kemudian.

“Menurut ingatanku belum Ki Sanak. Sudah aku katakan, aku adalah seorang tukang blandong yang barangkali memang bersikap dan ujud sangat kasar menurut penglihatanmu,” jawab orang itu.

Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Semakin lama ia memang melihat beberapa kelainan pada orang itu. Orang yang pernah ditangkapnya itu mempunyai cacat dibawah mata kirinya. Sementara orang ini tidak. Betapapun kecilnya cacat itu, tetapi karena pada saat itu ia benar-benar memperhatikan wajah orang yang menjadi buruannya, maka ia dapat melihatnya.

“Kau tidak mempunyai cacat dibawah mata kirimu?” bertanya Mahisa Ura.

“Sebagaimana kau lihat,” jawab orang itu, “aku justru mempunyai cacat di bawah telinga kananku. Satu kecelakaan ketika aku menebang sebatang pohon cangkring di pinggir sungai di ujung padukuhan ini.”

Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Maaf Ki Sanak. Agaknya aku memang bersalah.”

Kawan orang yang dicurigai itu hampir saja membentak dan berteriak. Tetapi orang yang disangka terlepas dari penjara itu justru menggamitnya. Bahkan katanya, “Ah, tidak apa-apa Ki Sanak. Setiap orang pada satu saat akan dapat keliru.”

Mahisa Ura bergeser mundur. Ia pun kemudian duduk kembali di sebelah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang sudah duduk pula.

Namun dalam pada itu, kedua orang kasar itulah yang justru berdiri. Orang yang disangka lari dari penjara itu berkata, “Sudahlah Ki Sanak. Aku merasa berdebar-debar. Biarlah aku mengurungkan niatku untuk makan.”

“Kenapa?” bertanya Mahisa Ura, “silahkan makan. Biarlah aku yang membayarnya.”

“Terima kasih,” jawab orang itu, “Biarlah aku sempat menenangkan hatiku sejenak.”

Mahisa Ura tidak dapat menahannya. Bahkan sekali lagi ia minta maaf kepada kedua orang itu.

Ketika kedua orang itu sudah tidak nampak lagi, maka Mahisa Ura itu pun berkata, “Aku memang keliru. Aku telah melakukan satu kebodohan. Dengan demikian maka perhatian beberapa orang sudah tertuju kepadaku.”

“Ya,” jawab Mahisa Murti, “kau terlalu cepat mengambil sikap.”

“Aku tidak ingin membiarkannya terlepas. Tetapi ternyata aku keliru. Biasanya pengenalanku atas seseorang jarang sekali salah,” desis Mahisa Ura.

“Tetapi kita belum terlambat,” gumam Mahisa Murti

“Kita dapat segera meninggalkan tempat ini. Seterusnya tidak ada lagi orang yang mengenali kita di padukuhan-padukuhan berikutnya.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kita harus segera pergi.”

“Tetapi kita selesaikan dahulu makanan dan minuman kita,” sahut Mahisa Pukat.

Dengan demikian maka mereka masih duduk untuk beberapa saat. Namun setelah makan dan minuman mereka habis, maka mereka pun telah meninggalkan kedai itu setelah mereka membayar harganya.

Ketika mereka berada di luar kedai, tidak terlalu banyak orang yang mereka jumpai melintasi dijalan didepan kedai itu. Yang berjalan melintas itu pun sama sekali tidak menghiraukan mereka. Sehingga dengan demikian mereka merasa bahwa yang terjadi itu tidak menarik perhatian orang, sementara yang berkepentingan pun agaknya telah melupakannya.

Karena itulah, maka ketiga orang itu pun telah berjalan dengan tenang meninggalkan padukuhan itu menuju kepadukuhan berikutnya.

Sementara itu, kedua orang yang telah meninggalkan kedai itu pun telah menghilang di tikungan. Dengan tergesa-gesa mereka berjalan kesebuah rumah di ujung jalan.

“Kenapa kau menjadi bingung seperti itu,” bertanya kawan dari orang yang disangka terlepas dari penjara. “kau tidak biasa berbuat demikian lunak kepada seseorang. Apalagi kau sudah dihina seperti itu.”


Orang itu tersenyum. Katanya, “Satu kebetulan yang tidak pernah aku mimpikan sebelumnya. Orang itu tentu orang yang pernah menangkap saudara kembarku. Saudara kembarku telah diikuti oleh seorang petugas sandi dari Singasari dan tiba-tiba menangkapnya dan membawanya ke Singasari. Calon isterinya mengetahuinya, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Saudara kembarku yang memiliki ilmu yang tinggi itu pun tidak mampu melawannya. Karena itu, aku harus berpikir dua kali untuk bertindak.”

“Tetapi ada aku,” berkata kawannya.

“Mereka bertiga. Mungkin kedua orang kawannya itu pun berilmu tinggi pula,” jawab orang itu.

“Lalu apa maksudmu?” bertanya kawannya.

“Kita memanggil kawan-kawan kita. Kita akan mencegatnya dan aku ingin membalas dendam atas tertangkapnya saudara kembarku.”

“Mudah-mudahan mereka ada di rumah,” sahut kawannya, “karena itu kita harus cepat, sebelum kita kehilangan jejak.”

Sejenak kemudian mereka telah sampai di rumah yang dituju. Dengan tergesa-gesa mereka menceriterakan kepentingan mereka dan dengan tergesa-gesa pula mereka keluar dari rumah itu pula. Ternyata mereka masih juga singgah di dua rumah yang lain, sehingga mereka semua berjumlah lima orang.

“Bantu aku membalas dendam,” berkata orang yang kehilangan saudara kembarnya itu. “Bukankah aku sudah sering membantumu pula.”

“Kau tidak usah berkata begitu, “jawab kawannya, “apakah tanpa kata-kata itu aku akan menolak.”

“Maaf,” berkata orang yang ingin membalas dendam itu, “kita akan menyusulnya sekarang.”

Kelima orang itu pun kemudian telah kembali ke kedai tempat mereka bertemu dengan Mahisa Ura. Namun ternyata kedai itu telah kosong.

“Kemana orang-orang itu pergi?” bertanya orang yang mendendam itu kepada pemilik kedai.

“Aku tidak tahu,” jawab pemilik kedai itu.

Namun pemilik kedai itu tiba-tiba saja menyeringai menahan sakit ketika tangannya terpilih oleh orang yang sedang mendendam itu, “Sebut, atau tanganmu akan patah.”

Pemilik kedai itu tidak dapat mengelak. Karena itu maka ia pun telah menunjukkan arah perjalanan Mahisa Ura. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Kelima orang itu pun dengan tergesa-gesa telah menyusul ketiga orang yang baru saja meninggalkan kedai itu sambil mengancam, “Jika kau berbohong dan aku tidak dapat menyusul mereka, maka kau akan menjadi mayat disini.”

Pemilik kedai itu menjadi gemetar. Tetapi ia tidak dapat menjawab.

Dengan tergesa-gesa kelima orang itu pun berjalan searah dengan perjalanan Mahisa Ura. Orang yang mendendam itu pun berkata, “Aku yakin ia memang berjalan dijalan ini. Mungkin ia ingin menunjukkan kepada kawannya itu, dimana ia berhasil menangkap saudara kembarku.”

“Saudara kembarku mungkin menjadi lengah karena ia berada di rumah calon isterinya, sehingga petugas itu dapat menangkapnya. Menurut penglihatanku, saudaramu itu memiliki ilmu yang cukup tinggi.”

“Kami berguru bersama,” jawab saudara kembar itu. “Kita memiliki tingkat ilmu yang sama. Tetapi nasib saudara kembarku itu memang agak buruk, sehingga ia tertangkap oleh petugas itu memang nasibnya agak buruk, sehingga ia tertangkap oleh petugas yang gila itu.”

Kawan-kawannya mengangguk angguk. Katanya, “Sekarang kita yang akan menangkap mereka bertiga. Kita akan membawa mereka kedalam satu pertemuan di antara kawan-kawan kita. Dengan demikian maka kita akan mendapatkan satu permainan yang mengasyikkan.”

Kelima orang itu tertawa. Orang yang mendendam itu berkata, “Aku akan berbuat apa saja untuk kepuasan hatiku. Kemudian kita menghubungi Singasari lewat jalur apa pun juga. Kita akan menukarkan petugas itu dengan saudara kembarku.”

“Bagaimana mungkin dapat dilakukan,” jawab kawannya, “jika pada satu saat tukar menukar itu benar-benar berlangsung, maka disaat berikutnya kita semuanya justru akan ditangkap oleh pasukan segelar sepapan yang tentu sudah disiapkan.”

“Jadi bagaimana,” bertanya orang yang mendendam.

“Terserah kepada kita. Tetapi tidak untuk dipertukarkan, karena kita justru akan terjebak,” jawab kawannya.

Orang yang mendendam itu mengangguk-angguk yang lain pun ternyata sependapat, sehingga sebaiknya mereka tidak usah berpikir untuk menukarkannya.

Dalam pada itu kelima orang itu pun telah mempercepat langkah mereka. Ketika mereka mendekati regol, maka rasa-rasanya mereka tidak sabar lagi. Karena itu, maka orang yang mendendam itu pun berjalan semakin cepat.

Ia mencapai regol sesaat kemudian. Dengan jantung yang berdebar-debar dipandanginya bulak yang terbentang di hadapan mereka untuk melihat, apakah ketiga orang yang meninggalkan kedai itu masih dapat dilihatnya.

Keempat orang kawannya pun segera berdiri pula di sebelahnya. Mereka berlima berusaha untuk mengamati bulak yang cukup luas.

Sejenak kemudian, orang yang mendendam itu pun berdesis, “Kau lihat bintik-bintik sebelah pohon gayam itu?”

Yang lain mengangguk-angguk. Seorang di antara mereka berdisis, “Ya. Tiga orang. Itu tentu mereka.”

“Kita akan menyusulnya. Kita akan menangkap mereka,” berkata orang yang kehilangan saudara kembarnya.

Mereka berlima pun kemudian dengan tergesa-gesa telah memotong jalan. Mereka memintas lewat pematang yang silang menyilang.

Namun mereka pun sadar, bahwa mereka tidak akan dapat menyusul ketiga orang itu di bulak itu pula. Mereka akan mengikuti ketiganya sampai pada suatu yang memungkinkan bagi mereka untuk membuat perhitungan tanpa diganggu oleh orang lain.

Sejenak kemudian, maka ketiga orang yang disusul oleh kelima orang itu pun telah memasuki padukuhan. Tetapi itu bukan soal. Mereka tentu akan muncul di seberang padukuhan itu dan memasuki bulak di sebelah pula.

“Jalan di bulak sebelah menyeberangi sungai,” berkata salah seorang kelima orang itu.

“Kita cegat saja mereka di sungai itu. Kita akan memaksa mereka untuk bergeser dari jalan sepanjang tepian. Dan kita akan menangkap atau menyelesaikan mereka tanpa diganggu oleh orang lewat,” geram orang yang mendendam karena saudara kembarnya telah ditangkap.

Sebenarnyalah maka Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menembus jalan padukuhan. Tetapi mereka memang tidak berhenti di padukuhan itu. Mereka menembus regol di ujung dan keluar di ujung yang lain.

Kemudian mereka pun menyusuri jalan bulak yang memang akan sampai ke sebuah tepian dan mereka harus menuruninya, karena mereka memang harus menyeberang sebuah sungai yang tidak begitu besar.

Seperti yang diperhitungkan, maka kelima orang yang mengambil jalan memintas itu telah menunggu ketiga orang itu. Mereka bersiap untuk membuat perhitungan. Mereka akan menangkap ketiganya untuk menjadi permainan yang mengasikkan bagi mereka. Namun jika sulit untuk menangkap, maka ketiga orang itu akan dibinasakan saja.

Seorang dari kelima orang itu telah duduk ditebing sungai untuk mengamati keadaan. Demikian ia melihat ketiga orang yang mereka tunggu itu berjalan mendekat, maka ia pun telah memberikan isyarat kepada kawan-kawannya.

Keempat orang yang lain pun segera bersiap-siap. Mereka harus berusaha memancing atau memaksa ketiga orang itu bergeser dari jalan, sehingga mereka akan dapat membuat perhitungan sampai tuntas.

Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak mengira bahwa mereka telah ditunggu. Mereka juga tidak memperhatikan seseorang yang duduk di tebing sambil memberikan beberapa isyarat yang tidak menarik perhatian.

Karena itu, maka keempat orang yang menunggu segera bersiap. Demikian ketiga orang itu sampai ketepian, maka seorang di antara keempat orang itu pun menghampirinya.

“Ki Sanak,” berkata orang itu, “apakah kami dapat berbicara barang sejenak dengan Ki Sanak.”

“Kau siapa?” bertanya Mahisa Ura.

“Aku kawan dari orang yang pernah kau temui disebuah kedai itu,” jawab orang itu.

Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah memperhatikan seseorang yang berdiri agak jauh. Ternyata orang itu benar orang yang telah mereka jumpai dikedai.

“Apa kepentingannya dengan aku?” bertanya Mahisa Ura.

“Tentang salah paham itu,” jawab orang yang mendekati mereka bertiga, “ia ingin menjelaskan lebih jauh. Memang ada hubungan antara orang itu dengan orang yang disebut-sebut pernah ditangkap dan dibawa ke Singasari.”

Mahisa Ura mengerutkan keningnya. Ia melihat orang itu bersama dua kawannya. Seorang ada di hadapannya dan ketika ia berpaling maka orang yang duduk ditepian itu telan melangkah mendekat pula.

Ketiga orang itu segera menangkap suasana. Karena itu, maka mereka pun segera mempersiapkan diri.

“Silahkan Ki Sanak,” berkata orang yang mendekat itu.

Mahisa Ura memang tidak berkeberatan. Ia pun sadar, bahwa mungkin akan terjadi sesuatu yang tidak dikehendakinya. Tetapi jika hal itu harus terjadi apaboleh buat. Apalagi jika benar, orang yang diduganya telah melarikan diri itu, hanyalah seorang blandong. Mungkin ia memiliki kekuatan kewadagan. Tetapi sudah tentu tidak akan banyak berarti.

Mahisa Ura pun telah memberikan isyarat kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk mengikuti orang itu. Beberapa puluh langkah mereka berjalan. Semakin lama semakin jauh dari jalan yang mereka lewati sebagaimana memang dikehendaki oleh kelima orang itu.

Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang mengikuti orang yang mendatanginya itu menyadari bahwa di belakangnya berjalan orang yang duduk di atas tebing itu.

Untuk beberapa saat tidak ada seorang pun yang berbicara. Mereka berjalan saja dengan sikap dan dalam suasana yang kaku mencengkam.

Ketika mereka telah melampaui. beberapa puluh langkah, maka mereka melihat orang yang mereka temui di kedai itu sudah siap menunggu.....

Hijaunya Lembah, Hijaunya Lereng Pegunungan
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger