logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Hijaunya Lembah, Hijaunya Lereng Pegunungan Jilid 029


Ternyata Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat jantungnya menjadi berdebar-debar juga menghadapi orang-orang yang tidak dikenalnya serta tidak diketahui dengan jelas maksudnya.

“Marilah Ki Sanak,” berkata orang yang dikiranya telah terlepas dari penjara itu.

Mahisa Ura lah yang berdiri dipaling depan. Dengan nada datar ia bertanya, “Apakah maksud kalian menghentikan perjalanan kami?”

Orang yang mengaku sebagai tukang blandong itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun berkata, “Ki Sanak. Agaknya lebih baik jika aku berkata langsung pada persoalannya.”

“Ya,” jawab Mahisa Ura, “dengan demikian persoalan kita cepat selesai, dan kami akan dapat dengan segera meninggalkan tempat ini.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mudah-mudahan kalian dapat segera pergi. Tetapi aku sangsi apakah kalian akan dapat pergi.”

“Apa maksudmu?” bertanya Mahisa Ura.

Tiba-tiba saja orang yang mempunyai saudara kembar itu tertawa. Dengan nada tinggi ia berkata, “Ki Sanak. Betapapun tinggi kemampuan ilmu dan bekal pengetahuan seseorang, pada suatu saat akan tergelincir juga.”

“Apa maksudmu?” tiba-tiba saja Mahisa Ura bertanya.

“Seorang petugas sandi pun suatu saat tidak mampu merahasiakan dirinya,” berkata orang itu.

Wajah Mahisa Ura tiba-tiba menjadi tegang. Ia mulai curiga bahwa orang itu benar-benar orang yang telah pernah ditangkapnya. Namun demikian ia masih bertanya, “Aku tidak tahu arah bicaramu.”

“Baiklah Ki Sanak. Aku memang tidak ingin melingkar-lingkar. Ki Sanak tentu seorang petugas sandi yang telah menangkap orang yang Ki Sanak kira adalah aku. Betapapun tajamnya penglihatan Ki Sanak, namun Ki Sanak telah salah sangka,” berkata orang yang mendendam itu, “Tetapi itu adalah wajar. Aku adalah saudara kembar dari orang yang telah kau tangkap itu. Karena itu, adalah satu kebetulan bahwa kita telah bertemu. Selama ini aku hanya dapat menahan dendamku di dalam hati. Tiba-tiba saja kau datang sendiri kepadaku, dan melaporkan diri bahwa kaulah orang yang selama ini aku cari.”

Mahisa Ura menarik nalas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Aku harus mengakui kekeliruanku. Tetapi aku belum terlambat, karena kau juga telah menempatkan dirimu sendiri pada kemungkinan yang buruk. Aku masih mempunyai kesempatan untuk menangkapmu sekarang.”

“O,” orang yang mendendam itu tertawa. Katanya, “Kau lihat bahwa aku tidak sendiri?”

“Aku juga tidak sendiri,” jawab Mahisa Ura, “aku datang bersama adik-adikku.”

“Nampaknya kau sedang membawa adik-adikmu untuk mendengarkan bualanmu, bahwa di satu tempat kau telah berhasil menangkap seorang yang tentu kau sebut sebagai seorang penjahat besar,” berkata orang itu.

“Ya. Aku memang sudah berhasil menangkap seorang penjahat besar. Nah, apakah kau menyadari, bahwa saudara kembarmu itu tidak mampu melawanku pada waktu itu, karena aku pun datang seorang diri,” berkata Mahisa Ura. “sekarang, apakah kau kira kau akan dapat berbuat sesuatu atasku dan adik-adikku.”

“Mungkin kau akan berjuang untuk menyelamatkan dirimu. Tetapi bagaimana dengan anak-anak ingusan itu? Meskipun mungkin kau mampu bertahan, tetapi jika kedua adikmu itu terancam jiwanya, maka apakah kau akan sampai hati membiarkannya,” bertanya orang yang mendendam itu.

“Tentu tidak,” jawab Mahisa Ura, “aku tidak akan membiarkannya. Karena itu, siapa yang berani mengganggu adik-adikku, ia akan aku bunuh lebih dahulu.”

Orang yang mendendam itu tertawa. Kawan-kawannya pun tertawa pula. Kelima orang itu telah berdiri mengitari Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Seorang di antara mereka berkata, “Seorang petugas sandi yang berani. Tetapi pada suatu saat seperti ini, kau akan mati terkapar di tepian.”

“Bukankah kita akan menangkapnya, “desis yang lain.

“O, ya,” jawab yang lain, “Kita akan menangkap ketiga-tiganya. Kita akan memeliharanya untuk memperlengkap ternak di kandang.”

Mahisa Pukat mulai bergeser mendengar kata-kata itu. Tetapi Mahisa Murti menggamitnya, sehingga Mahisa Pukat hanya dapat menggeretakkan giginya.

Sementara itu petugas sandi itu pun menjawab, “Baiklah. Kau nampaknya yakin sekali akan dapat menangkap kami bertiga. Marilah kita buktikan, siapakah yang akan berhasil melakukannya.”

“Kami akan menangkap kalian hidup-hidup. Tetapi jika itu sulit kami lakukan karena kalian melawan, maka mungkin sekali kalian akan mati di sini. Tetapi barangkali mati akan menjadi pilihan kalian daripada kalian harus tetap hidup di antara kawan-kawan kami yang semuanya membenci para petugas sandi dan para prajurit mana pun juga,” berkata orang yang mendendam itu.

Mahisa Ura mengerutkan keningnya. Dengan suara tajam ia berkata, “Jika demikian maka kau ternyata lebih jahat dari saudara kembarmu. Ia hanya perampok dan penyamun. Mungkin membunuh. Tetapi tidak ada niat di hatinya untuk menyiksa seseorang seperti yang pernah kau angankan itu.”

“O,” orang itu tertawa keras-keras, “kau menjadi cemas. Tetapi mungkin aku memang lebih jahat dari saudara kembarku. Namun kejahatanku didukung oleh kemampuanku yang juga lebih tinggi dari saudara kembarku. Karena itu jika kalian ingin melawan tentu akan sia-sia saja.”

Sekali lagi Mahisa Murti terpaksa menggamit Mahisa Pukat yang hampir kehilangan kesabaran. Bahkan Mahisa Murti pun berdesis, “Biarlah ia berbicara sampai puas.”

Ternyata orang yang mendendam itu mendengarnya juga. Dengan wajah yang tegang ia berpaling ke arah Mahisa Murti, “Apa yang kau katakan? “ ia bertanya dengan nada keras.

“Yang aku katakan adalah, biar kau berkicau sampai puas. Saudaraku hampir kehilangan kesabarannya mendengar suaramu yang bagaikan guntur meledak di langit,” jawab Mahisa Murti. Lalu, “tetapi aku cegah ia berbuat sesuatu. Bukankah kau mengatakan bahwa perlawanan kami akan sia-sia?”

Wajah orang itu menjadi merah. Ternyata bahwa kata-kata Mahisa Murti itu pun merupakan ungkapan dari kemarahan yang tertahan di dalam dadanya.

Bahkan sebelum orang itu menjawab, Mahisa Ura telah mendahuluinya, “Nah, kau dengar apa kata adik-adikku? Pertimbangkan. Apakah kau akan melawan, atau kau akan menyerah dan sekaligus aku bawa ke Singasari agar kau dapat berkumpul dengan saudaramu yang kembar denganmu itu.”

Orang yang mempunyai saudara kembar itulah yang justru lebih dahulu tidak dapat menahan kemarahannya Dengan suara lantang ia pun kemudian berkata kepada kawan-kawannya, “Kita akan bersiap melakukan rencana kita. Jangan seorang pun dari ketiga kelinci ini yang melarikan diri.”

“O,” geram Mahisa Pukat yang tidak dapat menahan hati, “jika kalian sebut kami sebagai kelinci, maka kalian adalah tikus-tikus celurut yang tidak ada artinya sama sekali. Cepat, berlutut sajalah. Biar mudah kami mencekik lehermu.”

“Gila,” teriak orang yang mendendam itu, “kaulah yang akan mati untuk pertama kali.”

“Jangan banyak bicara. Jika kau memang mendendam karena saudara kembarmu tertangkap, berbuatlah sesuatu. Bukan sekedar berbicara, menyindir, mengancam dan menakut-nakuti. Kami bukan kanak-kanak lagi yang akan menjadi cemas, gelisah dan takut.”

“Bagus,” orang itu berteriak semakin keras, “kita akan bertempur. Kita tangkap mereka hidup-hidup. Kita dapat mengikatnya seperti seekor beruk dan berbuat apa saja sesuka hati.”

Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak menjawab lagi. Ketika kelima orang itu bersiap, maka mereka bertiga pun telah bersiap pula. Mereka berdiri saling membelakangi.

Dalam pada itu, Mahisa Ura berbisik, “Aku belum pernah melihat bentuk dan ungkapan ilmu kalian sebagaimana kalian juga belum pernah melihat ilmuku. Mudah-mudahan kita akan dapat saling mengisi.”

“Kita masing-masing akan berusaha,” jawab Mahisa Murti.

Sejenak mereka menunggu, sementara kelima orang lawan mereka telah bersiap pula.

“Aku akan memilih lawan,” berkata orang yang mendendam itu, “aku akan melawan orang yang telah menangkap saudara kembarku. Aku ingin tahu, apakah ia mampu melawan aku.”

Kawan-kawannya berusaha untuk menyesuaikan diri. Tetapi Mahisa Pukat tiba-tiba saja menjawab, “Siapa yang memberi hak kepadamu untuk memilih lawan? Kau tidak boleh melawan kakang Mahisa Ura. Tetapi kau harus melawan aku.”

Jantung orang yang mendendam itu bagaikan akan meledak. Dengan nada lantang ia menjawab, “Bagus. Aku akan membunuhmu lebih dahulu.”

Mahisa Pukat justru tersenyum. Katanya, “Nah, ternyata kau jantan juga berani melawan aku. Apakah kau tidak gentar melihat tampangku.”

Orang itu benar-benar tidak mampu lagi menahan diri. Tiba-tiba saja ia telah meloncat menyerang Mahisa Pukat.

Tetapi Mahisa Pukat sudah bersiaga. Ia memang ingin memancing orang itu untuk melawannya. Sejak orang itu membual Mahisa Pukat sudah merasa jengkel dan sangat benci kepadanya.

Mahisa Ura tidak dapat mencegahnya, meskipun sebenarnya ia ingin juga bertempur melawan orang itu. Ia ingin menangkap orang itu sebagaimana ia menangkap saudara kembarnya. Karena Mahisa Ura belum yakin akan kemampuan Mahisa Pukat, maka ia merasa cemas juga bahwa Mahisa Pukat akan mengalami kesulitan dan orang itu akan terlepas dari tangannya.

Namun sejenak kemudian Mahisa Pukat telah bertempur melawan orang itu. Orang yang didorong oleh perasaan dendam dan kemarahan.

Mahisa Ura tidak sempat memperhatikan pertempuran antara Mahisa Pukat melawan orang yang bersaudara kembar itu, karena salah seorang di antara kelima orang itu telah menyerangnya.

Yang masih berdiri bebas adalah Mahisa Murti. Sementara itu ketiga orang yang berpihak kepada orang yang mendendam itu pun masih berdiri termangu-mangu.

“Nah,” berkata Mahisa Murti, “aku tinggal sendiri dan kalian masih bertiga. Ayo, kita akan bertempur. Kalian bertiga dan aku sendiri. Kita akan melihat, siapakah yang akan menang di antara kita.”

“Persetan,” geram salah seorang di antara mereka, “aku akan melawanmu seorang dengan seorang.”

Tetapi Mahisa Murti masih menjawab, “jika demikian, lalu dua di antara kalian akan berbuat apa?”

“Tutup mulutmu,” teriak seorang di antara mereka.

Mahisa Murti tidak sempat menjawab. Orang itu tiba-tiba saja telah menyerangnya dengan garang.

Dengan demikian maka tiga orang di antara kelima orang itu telah bertempur. Dua orang di antara mereka masih berdiri termangu-mangu. Namun keduanya telah bersiap untuk turun kegelanggang apabila diperlukan.

Ternyata orang yang terkuat di antara kelima orang adalah saudara kembar dari orang yang pernah ditangkap oleji Mahisa Ura. Seperti yang dikatakannya, ia memang memiliki kelebihan dari saudara kembarnya yang tertangkap itu.

Namun yang ternyata pertama-tama mendapat perhatian dari petugas di Singasari adalah justru saudara kembarnya, bukan karena saudara kembarnya itu lebih berbahaya dari padanya.

Berita tentang perampok dan penyamun yang ganas itu memang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Pada saat yang bersamaan ia mampu berada didua tempat dan melakukan kejahatan yang serupa. Karena itulah, maka perampok itu sangat ditakuti, sehingga Singasari telah secara khusus mengirimkan seorang petugas sandinya untuk melacaknya.

Sampai pada saat orang itu diketemukan, ternyata para petugas tidak mengetahui bahwa ia mempunyai saudara kembarnya. Bahkan untuk menjaga kebesaran namanya, maka saudara kembarnya itu untuk sementara tidak melakukan kejahatan agar tidak ada orang yang kemudian menyadari, bahwa ilmu yang sangat tinggi itu sebenarnya nampak karena penjahat itu adalah dua orang kembar. Ia sama sekali tidak mampu berada didua tempat pada saat yang sama jika mereka berdua tidak mengaturnya.

Saat itu yang mendapat kehormatan untuk melawannya adalah Mahisa Pukat.

Mahisa Ura sendiri memang mendapat lawan yang cukup kuat, meskipun tak sekuat orang kembar itu. Dengan demikian maka Mahisa Ura tidak terlalu banyak mengalami kesulitan. Dengan tangkasnya ia menempatkan dirinya sebagai lawan yang mendebarkan jantung, karena sikap dan gerak Mahisa Ura sangat meyakinkan.

Sementara itu, Mahisa Murti pun harus bertempur melawan seorang yang ilmunya tidak terlalu tinggi. Tetapi Mahisa Murti sengaja menempatkan dirinya sejajar dengan kemampuan orang itu, agar kemampuannya tidak justru mengejutkan, termasuk bagi Mahisa Ura.

Dalam pada itu, Mahisa Ura ternyata masih saja mencemaskan keadaan Mahisa Pukat. Ia pernah bertempur melawan saudara kembar lawan Mahisa Pukat itu dan dengan susah payah telah menangkapnya. Jika benar pengakuan orang itu, bahwa ia memiliki kelebihan dari saudara kembarnya, maka ia tentu seorang yang memang memiliki ilmu yang tinggi.

“Ia berani menantangku,” berkata Mahisa Ura di dalam hatinya, “jika ia tidak yakin akan kemampuannya, tentu ia tidak berani melakukannya karena ia tahu bahwa aku mampu menangkap saudara kembarnya.”

Sebenarnyalah pertempuran antara Mahisa Pukat dan lawannya itu menjadi semakin seru. Namun Mahisa Ura tidak menyadari, bahwa sebenarnya Mahisa Pukat pun masih belum sampai pada puncak kemampuannya. Ia masih mempergunakan dasar ilmunya berdasarkan atas kekuatan kewadagannya didukung oleh kekuatan tenaga cadangannya. Dengan demikian maka seakan-akan tata geraknya menjadi semakin tangkas dan cepat. Tetapi Mahisa Pukat sama sekali masih belum sampai pada ilmu andalannya dalam bentuk lunak atau keras, karena kedua-duanya akan dapat membunuh lawannya.

Namun Mahisa Ura benar-benar seorang yang keras ke para. Ia merasa bahwa dirinya memang memiliki ilmu yang sangat tinggi, sehingga karena itu, maka tidak mudah baginya untuk melihat kenyataan, bahwa ia tidak akan mampu mengalahkan anak muda yang bernama Mahisa Pukat itu.

Demikianlah pertempuran pun semakin lama menjadi semakin seru. Mereka saling mendorong, saling menyerang dan saling mendesak. Dalam permainannya, Mahisa Murti pun kadang-kadang harus bergeser surut, agar pertempuran itu nampak menjadi sangat seru.

Mahisa Ura yang kurang memahami kemampuan Mahisa Pukat yang sebenarnya, memang menjadi cemas. Ia merasa betapa lawannya tidak terlalu kuat sebagaimana saudara kembar orang yang bertempur melawan Mahisa Pukat yang pernah ditangkapnya itu.

Karena itu, maka tiba-tiba saja ia berteriak, “Mahisa Pukat, serahkan orang itu kepadaku.”

“Aku masih mampu melawannya,” jawab Mahisa Pukat.

“Soalnya bukan mampu atau tidak mampu. Tetapi ia sudah mengenali aku. Apalagi ia telah mengaku sebagai seorang penjahat. Karena itu adalah menjadi kewajibanku untuk menangkapnya,” berkata Mahisa Ura.

“Persetan,” yang berteriak adalah lawan Mahisa Ura, “kau akan mampus sejenak lagi.”

Tetapi Mahisa Ura tidak banyak menghiraukannya. Ia tidak mengalami banyak kesulitan ketika orang itu meloncat menyerangnya dengan garang. Bahkan ia masih sempat berbicara terus, “Yang penting adalah kewajibanku untuk menangkapnya. Ia tentu merasa senang bahwa ia mendapat kesempatan untuk menghindari aku.”

“Omong kosong,” orang yang mempunyai saudara kembar itulah yang kemudian berteriak, “kau akan mati.”

“Bagaimana mungkin kau mampu membunuhku, karena kau tidak bertempur melawan aku,” sahut Mahisa Ura..

Ternyata Mahisa Ura berhasil menyinggung perasaan lawan Mahisa Pukat itu. Karena itu, maka ia pun telah berkata kepada kawannya yang bertempur melawan Mahisa Ura, “Kita bertukar lawan. Tangkap anak muda ini, karena ia pun akan dapat kita jadikan bahan permainan sebagaimana orang yang telah menangkap saudara kembarku itu.”

Lawan Mahisa Ura tidak membantah. Namun Mahisa Ura dengan sengaja telah melepaskannya dan dengan cepat menempatkan diri di hadapan lawan Mahisa Pukat. Sementara itu, lawan Mahisa Ura itulah yang kemudian menjadi lawan Mahisa Pukat.

Mahisa Pukat tidak mencegahnya. Ia pun justru ingin menyerahkan tanggung jawab atas orang itu kepada Mahisa Ura yang sebenarnya adalah petugas sandi yang bernama Urawan.

Demikianlah maka pertempuran antara Mahisa Ura dan orang yang bersaudara kembar itu menjadi semakin sengit. Mahisa Ura, memang merasa bertangung jawab untuk menangkap orang itu, sementara orang itu telah didera oleh perasaan dendamnya kepada petugas sandi yang telah menangkap saudara kembarnya itu.

Kedua orang itu telah mengerahkan segenap kemampuannya, sehingga benturan-benturan kekuatan yang kemudian terjadi benar-benar telah mengguncangkaan kedua belah pihak.

Mahisa Ura merasakan bahwa orang itu memang memiliki kelebihan dari saudara kembarnya. Orang itu memilliki kekuatan yang lebih besar dan kecepatan gerak yang lebih tinggi. Karena itu, maka Mahisa Ura harus bekerja lebih keras untuk dapat menundukkan lawannya.

Mahisa Pukat yang kemudian melihat Mahisa Ura bertempur dengan sengitnya melawan saudara kembar dari orang yang pernah ditangkapnya itu pun serba sedikit dapat menduga, seberapa tinggi kemampuan Mahisa Ura yang sebenarnya.

Demikianlah maka pertempuran di tiga lingkaran itu semakin lama menjadi semakin seru. Sementara itu, dua orang yang lain dari kelima orang yang mencegat perjalanan Mahisa Ura bertiga masih berdiri termangu-mangu.

Namun sejenak kemudian, maka mereka pun mulai melihat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mulai mendesak lawannya. Dua di antara kelima orang yang mencegat perjalanan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu meniadi cemas, bahwa kawannya yang bertempur melawan dua orang anak-anak muda itu akan terdesak semakin jauh.

Karena itu, sambil menunggu perkembangan selanjutnya, mereka berniat untuk turun ke gelanggang. Keduanya akan membantu dua orang kawannya, masing-masing seorang.

“Apa pun yang akan terjadi, jika aku dapat dengan cepat membantu menyelesaikan pertempuran itu, maka tugas kami akan menjadi semakin ringan. Mungkin kami akan segera dapat menyelesaikan ketiga orang itu seluruhnya dan membawa mereka kepada kawan-kawan kami,” berkata kedua orang itu didalam hati.

Dengan demikian maka dengan saling memberikan isyarat, maka keduanya telah meloncat ke arah yang berbeda. Seorang telah turun karena untuk melawan Mahisa Murti, sementara yang seorang telah membantu kawannya yang berhadapan dengan Mahisa Pukat.

Dalam pertempuran berikutnya, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masing-masing harus bertempur melawan dua orang.

Mahisa Ura kembali menjadi cemas. Meskipun mereka sudah berjanji untuk melindungi diri mereka masing-masing, tetapi bagaimanapun juga ia tidak dapat berdiam diri jika terjadi sesuatu dengan kedua orang anak muda itu. Kedua anak muda yang diakuinya sebagai adiknya itu bagi Mahisa Ura merupakan sahabat yang sangat baik.

Seakan-akan keduanya mampu menyesuaikan diri dengan sifat dan watak Mahisa Ura. Apalagi nampaknya keduanya memang memiliki bekal yang cukup untuk melakukan tugasnya.

“Tetapi apakah keduanya mampu bertempur melawan masing-masing dua orang?” bertanya Mahisa Ura didalam hatinya.

Tetapi Mahisa Ura itu tidak dapat mengelakkan diri dari kenyataan, bahwa lawannya memiliki kemampuan yang tinggi, sehingga karena itu, maka Mahisa Ura tidak segera dapat menundukkannya.

Namun, ketika ia sempat sedikit mengikuti kedua anak muda yang bertempur itu, nampaknya keduanya tidak dalam keadaan yang berbahaya.

“Mudah-mudahan mereka dapat bertahan sampai aku dapat melumpuhkan orang kembar yang tinggal seorang ini,” berkata Mahisa Ura di dalam hatinya. Bahkan ia pun berharap, bahwa orang-orang yang bertempur melawan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu bukan orang-orang yang berilmu tinggi seperti orang kembar yang mendendam itu.

Seorang di antara mereka telah bertempur melawannya. Agaknya orang itu juga berilmu, tetapi tidak sekuat lawannya yang kemudian itu.

Dengan mengerahkan segenap kemampuannya Mahisa Ura ingin segera mengalahkan lawannya. Tetapi lawannya pun telah mengerahkan ilmunya pula. Ia merasa memiliki ilmu yang sangat tinggi, sehingga karena itu, ia pun berharap akan dapat membalaskan dendam saudara kembarnya itu.

Ternyata bahwa kedua orang itu telah bertempur dengan serunya tanpa dapat diduga sebelumnya, siapakah yang akan memenangkan pertempuran. Bahkan keduanya tidak lagi bertempur dengan tangannya, tetapi keduanya telah mempergunakan senjatanya masing-masing.

Dalam loncatan-loncatan yang semakin cepat, maka senjata mereka telah saling berbenturan. Namun sekali-sekali mereka telah meloncat mundur apabila ujung senjata lawannya hampir saya mengoyak kulit.

Tetapi dalam putaran selanjutnya, mereka tidak selalu dapat menghindari ujung senjata lawan. Kecepatan gerak mereka yang seimbang itu, kadang-kadang telah menimbulkan kesulitan dikedua belah pihak karena perhitungan yang kurang tepat.

Karena itulah, maka pertempuran di antara kedua orang yang memiliki ilmu seimbang itu banyak tergantung kepada kemampuan mereka menanggapi tata gerak lawan dan kecepatan mereka mengambil sikap dan menentukan langkah-langkah berikutnya.

Karena itulah maka pada satu saat, orang yang mempunyai. saudara kembar itu mengumpat habis habisan ketika senjata Mahisa Ura menyentuh lengannya. Tetapi sejenak kemudian Mahisa Ura lah yang berdesis karena ujung senjata lawan menyentuhnya pula.

Dengan demikian maka kedua orang yang bertempur dengan sengitnya itu telah terluka. Tetapi luka-luka itu sama sekali tidak mereka hiraukan. Luka-luka itu tidak berpengaruh sama sekali atas kecepatan gerak dan kegarangan mereka.

Karena itulah, maka pertempuran itu masih saja berlangsung dengan cepat. Benturan-benturan kekuatan masih terjadi. Senjata mereka yang beradu telah memercikkan bunga api di udara. Serangan demi serangan terjadi beruntun balas membalas. Sekali-sekali Mahisa Ura terdesak selangkah surut. Namun kemudian ia pun telah memaksa lawannya untuk meloncat menghindari ujung senjatanya.

Pertempuran itu pun semakin lama justru menjadi semakin seru. Jika kulit mereka mulai dibasahi oleh darah yang mengalir dari luka, serta hulu senjata mereka telah basah oleh keringat, maka hal itu justru telah membakar jantung mereka dan mendidihkan darah mereka.

Karena itulah, maka pertempuran itu pun terus. Keduanya benar-benar telah mengerahkan kemampuan dan kekuatan mereka. Segenap ilmu mereka telah mereka tumpahkan dilandasi dengan segenap kemampuan tenaga cadangan yang ada di dalam diri mereka.

Dalam pada itu, Mahisa Ura pun telah berkata di dalam hatinya, “Ternyata yang dikatakan oleh orang ini bukan sekedar membual. Ia benar-benar memiliki kelebihan dari saudara kembarnya. Untunglah bahwa aku telah mengambil alih orang ini dari Mahisa Pukat, sehingga anak muda itu tidak banyak mengalami kesulitan, karena lawannya yang kemudian, meskipun berdua, tidak memiliki bekal ilmu yang cukup.”

Demikianlah pertempuran antara Mahisa Ura dan lawannya itu masih berlangsung terus. Masih belum nampak tanda-tanda kemenangan di antara mereka, karena keduanya masih saling mendesak dan bertahan.

Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun masing-masing masih harus bertempur melawan dua orang. Tetapi sebenarnya mereka sama sekali tidak mengalami kesulitan. Meskipun demikian mereka tidak dengan serta merta mengakhiri pertempuran.

Untuk beberapa saat baik Mahisa Murti maupun Mahisa Pukat telah menyesuaikan dirinya. Seakan-akan mereka telah berjanji, untuk sementara mereka merasa belum perlu menunjukkan kemampuan mereka yang sebenarnya, juga di hadapan Mahisa Ura.

Namun demikian kedua orang lawannya tidak juga mampu menundukkannya. Betapapun juga dua orang lawan bagi masing-masing itu bertempur dengan segenap kemampuan mereka, namun anak-anak muda itu rasa-rasanya memang sangat liat, sehingga lawan mereka itu justru kadang-kadang menjadi bingung.

Tetapi yang kemudian tidak telaten adalah Mahisa Pukat. Apalagi ketika ia mulai melihat Mahisa Ura telah terluka meskipun lawannya juga terluka.

Namun dengan demikian Mahisa Pukat dapat menilai bahwa kedua orang yang bertempur itu memiliki ilmu yang benar-benar seimbang.

“Agaknya pada saat Mahisa Ura menangkap saudara kembar lawannya, ia juga mengalami sedikit kesulitan meskipun ia akhirnya dapat menyelesaikan tugasnya,” berkata Mahisa Pukat di dalam hatinya.

Berbeda dengan Mahisa Pukat, Mahisa Murti tidak terlalu tergesa-gesa. Meskipun ia juga melihat Mahisa Ura terluka, tetapi ia pun melihat lawannya terluka.

Dengan demikian maka Mahisa Murti tidak begitu mencemaskan keadaan Mahisa Ura. Mahisa Murti yakin bahwa Mahisa Ura tentu memiliki daya penalaran yang lebih baik dari lawannya. Meskipun keduanya mempunyai bekal yang sama, tetapi ungkapannya tentu akan lebih baik pada Mahisa Ura.

Sebenarnyalah ketika Mahisa Ura sudah terluka ia pun menjadi semakin cemas mempergunakan perhitungannya.

Meskipun darahnya menjadi mendidih karenanya, tetapi ia tejlah mengerahkan bukan saja kemampuan dan ilmunya, tetapi juga daya penalarannya.

Mahisa Ura telah berusaha untuk mencairi titik-titik kelemahan pada lawannya. Ia mulai mencari sebab, kenapa ia pada suatu saat mampu melukai lawannya yang memiliki kekuatan dan kecepatan gerak mengimbangi kemampuannya.

Dengan berbagai cara dan sekali-sekali mencoba, akhirnya Mahisa Ura menemukan satu kelemahan pada lawannya. Pertahanan lawannya pada sisi sebelah kiri nampaknya agak lemah. Senjatanya yang digenggamnya dengan tangan kanannya, kadang-kadang terlambat untuk melindungi tubuhnya dibagian kiri, meskipun lawan Mahisa Ura kadang-kadang mempergunakan kecepatan loncatan kakinya untuk menghindar.

Dengan perhitungan itulah, maka Mahisa Ura telah berusaha untuk menyerang lawannya semakin cepat dan keras.

Sebenarnyalah, bahwa orang yang mendendam karena saudara kembarnya tertangkap itu sekali-sekali mulai menjadi bingung oleh serangan-serangan yang semakin mendesak. Bahkan untuk melepaskan diri kejaran ujung senjata lawannya, orang itu harus berloncatan beberapa langkah surut.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah melihat perubahan keseimbangan itu. Karena itu Mahisa Murti justru menjadi semakin tenang dalam permainannya. Tetapi Mahisa Pukat sudah terlanjur menjadi jemu dengan permainannya, sehingga ia pun telah berniat untuk mengakhiri.

Karena itu, maka meskipun tidak dengan serta merta, Mahisa Pukat pun telah meningkatkan kemampuan perlawanannya. Setapak demi setapak. Tetapi dengan pasti Mahisa Pukat menuju ke arah penyelesaian pertempuran yang sudah berlangsung beberapa saat lamanya itu.

Mahisa Murti pun melihat apa yang dilakukan oleh Mahisa Pukat tetapi ia sendiri belum berniat untuk berbuat demikian.

Karena itulah, maka telah terjadi perubahan keseimbangan pertempuran antara Mahisa Pukat dengan kedua lawannya. Jika semula Mahisa Pukat hanya sekedar melayani, maka kemudian Mahisa Pukat mulai membuat kedua lawannya berkeringat di seluruh tubuhnya. Bukan hanya karena mereka harus memeras keringat, tetapi juga karena mereka menjadi gelisah.

Dengan segenap kemampuan dan ilmu yang ada pada mereka, keduanya telah memberikan perlawanan yang tertinggi. Namun kemampuan Mahisa Pukat masih sanggup setingkat lebih tinggi.

Dengan demikian maka kedua orang itu mulai terdesak. Selangkah demi selangkah mereka terdorong mundur, meskipun sekali-sekali mereka berdua berhasil mengejutkan Mahisa Pukat dengan serangan beruntun dan berbareng. Tetapi dalam keadaan yang demikiaan Mahisa Pukat pun dengan cepat mampu menguasai keadaan sehingga keseimbangan pun kembali sebagaimana sebelumnya.

Kedua lawan Mahisa Pukat itu semakin lama menjadi semakin gelisah. Mereka benar-benar kehilangan akal, bagaimana caranya untuk mengatasi tekanan anak yang masih sangat muda itu menurut ukuran mereka.

Kegelisahan kedua orang lawan Mahisa Pukat itu ternyata telah menjalari perasaan lawan Mahisa Ura. Bukan karena ia cemas oleh kemampuan lawannya yang meningkat, tetapi jika kedua orang lawan Mahisa Pukat itu dapat dikalahkan, akan berarti bahwa ia harus melawan dua orang yang menurut dugaannya adalah dua orang kakak beradik, disamping saudaranya yang seorang lagi.

Tetapi juga karena itu maka orang yang mempunyai saudara kembar itu telah menghentakkan kemampuannya. Ia harus dapat mengalahkan lawannya itu lebih dahulu sebelum Mahisa Pukat bebas dari kedua lawannya dalam keadaan menang, dan membuat kedua lawannya itu cidera atau bahkan akan dibunuhnya.

Namun orang itu pun tidak dapat mengelak dari kenyataan bahwa ilmu orang yang menyebut dirinya Mahisa Ura itu sangat tinggi dan selapis diatas ilmunya. Apalagi Mahisa Ura dapat memanfaatkan penalarannya dengan baik dan cermat, sesuai dengan tugasnya sebagai prajurit sandi.

Dalam keadaan yang demikian, maka orang yang mempunyai saudara kembar itu tidak sempat membuat perhitungan lain daripada mempergunakan senjata anehnya. Senjata yang jarang sekali dipergunakan, meskipun bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bukan lagi senjata yang aneh, karena mereka pernah mengalaminya. Namun karena itu, maka justru mereka telah mendapat penangkalnya sehingga bagi mereka senjata tidak terlalu merisaukannya.

Namun Mahisa Ura benar-benar terkejut ketika ia melihat lawannya itu meloncat mundur. Kemudian dengan tangkasnya ia mengambil sebuah bumbung kecil, dengan tangan kirinya. Demikian ia membuka tutup bumbungnya dengan mulutnya maka ia pun telah mengibaskan bumbungnya itu dengan menghentakkan yang keras.

Sesuatu telah meluncur dari dalam bumbung kecil itu. Namun lawan Mahisa Ura itu ternyata cukup cerdik. Ia pun telah melemparkan bumbung itu pula ke arah Mahisa Ura, sehingga perhatian Mahisa Ura terbagi pada dua benda yang meluncur ke arahnya.

Namun benda-benda itu meluncur dengan kecepatan yang sangat tinggi, sehingga Mahisa Ura tidak sempat berbuat banyak. Ia memang berusaha mengelak, tetapi ia tidak berhasil terlepas dari sambaran senjata aneh lawannya.

Mahisa Ura terkejut ketika tiba-tiba sesuatu telah melekat di lengannya. Seekor ular.


Mahisa Ura pun segera menyadari, bahwa lawannya telah mempergunakan senjata racun ular yang sangat tajam. Dalam keadaan yang demikian Mahisa Ura telah mengambil satu keputusan yang sangat cepat, melampaui kecepatan berpikir lawannya. Demikian ular itu menggigit dan melekat di lengannya, maka Mahisa Ura pun telah meloncat dengan garangnya. Senjatanya terjulur lurus ke depan sehingga seakan-akan loncatannya itu pun menjadi semakin cepat dan semakin panjang jangkaunnya.

Lawannya pun terkejut melihat kecepatan gerak Mahisa Ura. Lawannya itu mengira, bahwa Mahisa Ura akan kehilangan akal dan tidak mampu lagi berbuat sesuatu menghadapi kenyataan, bahwa dengan demikian umurnya sudah hampir sampai kebatas.

Namun lawan Mahisa Ura masih sempat mengelak. Dengan tergesa-gesa ia bergeser ke samping sehingga ia telah terlepas dari ujung senjata Mahisa Ura.

Tetapi kemarahan Mahisa Ura telah mendorongnya bergerak lebih cepat. Ketika ujung senjata Mahisa Ura tidak menyentuh tubuh lawannya yang bergeser menyamping, maka Mahisa Ura pun telah menggerakkan senjata ke samping mendatar setinggi lambung dengan sisa tenaganya. Demikian cepatnya sehingga lawannya yang sudah terlempar ke samping itu sama sekali tidak sempat mengelak. Dengan senjatanya lawannya itu mencoba menangkis serangan Mahisa Ura. Namun serangan itu demikian kerasnya dan tiba-tiba serta lawannya dalam keadaan lengah, sehingga senjata itu justru telah terlepas dari tangannya.

Mahisa Ura yang mulai terasakan akibat dari gigitan ular yang masih melekat di lengannya, tidak mau melepaskan kesempatan yang terakhir itu. Ketika lawannya berusaha untuk bergeser setelah ia kehilangan senjatanya, maka Mahisa Ura pun telah meloncat sekali lagi. Sebuah tikaman yang kuat tidak berhasil dihindari oleh lawannya. Ujung senjata Mahisa Ura telah membelah dada lawannya menghunjam sampai ke jantung.

Terdengar desah tertahan. Kemudian mulut lawannya itu masih mampu mengumpat dan berdesis, “Kau juga akan mati karena racunku.”

Mahisa Ura berdiri dengan wajah yang tegang. Ia sadar sepenuhnya bahwa ular yang menggigitnya itu tentu ular yang sangat berbisa sehingga ia tidak dapat mengelakkan diri dari kematian.

Mahisa Pukat dan Mahisa Murti pun terkejut melihat peristiwa yang terjadi demikian cepatnya itu. Namun mereka pun menjadi sangat cemas, bahwa gigitan ular di lengan Mahsa Ura itu akan dapat membunuhnya.

Karena itu, maka kedua orang anak muda itu tidak dapat berbuat lain daripada berusaha menolongnya. Meskipun Mahisa Murti mula-mula tidak ingin menyelesaikan kedua lawannya dengan cepat, tetapi peristiwa yang terjadi atas Mahisa Ura itu ternyata telah merubah keputusannya.

Tiba-tiba saja Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menghetakkan kemampuannya. Diluar sadarnya Mahisa Murti telah menyerang kedua lawannya dengan kekuatan ilmunya dalam bentuknya yang lunak. Mahisa Murti tidak menghentakkan tangannya dan memecahkan kepala kedua lawannya. Tetapi kemampuannya bermain dengan panasnya tenaga api yang memancar dari Adji Bajra Geni telah menghentikan perlawanan kedua lawannya. Udara panas bagaikan membakar kedua lawannya yang menjadi bingung. Namun Mahisa Murti tidak berniat membunuh mereka, sehingga ia pun telah mengendalikan ilmunya, sekedar untuk menghentikan perlawanan kedua orang lawannya. Sementara itu, maka ia pun telah menyentuh kedua lawannya dengan ujung jarinya ditengkuk masing-masing selagi kedua lawannya itu kebingungan.

Kekuatan dan tenaga kedua orang lawannya itu bagaikan terhisap habis. Keduanya tiba-tiba saja telah terbaring di tanah dengan lemahnya. Meskipun mereka masih mampu menggerakkan bibirnya dan jari-jari tangannya, tetapi yang dapat mereka lakukan hanyalah mengeluh dan mengumpat.

Tetapi ternyata bahwa lawan Mahisa Pukat mengalami keadaan yang lebih buruk. Kemarahan Mahisa Pukat tidak dapat tertahankan lagi. Justru pada saat ia sudah meningkatkan ilmunya karena ia memang sudah menghendaki permainan itu berhenti, ia dikejutkan oleh keadaan yang gawat pada Mahisa Ura.

Dengan demikian maka Mahisa Pukat telah menghentakkan kekuatannya tanpa dilambari puncak ilmunya. Namun hentakkan tenaganya atas lembaran tenaga cadangannya telah menghantam dada kedua lawannya, sehingga keduanya merasa bagaikan tertimpa sebongkah batu karang. Dada mereka menjadi sesak, dan tulang-tulang iga mereka serasa berpatahan.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat kemudian tidak menghiraukan lagi lawan-lawannya. Keduanya segera berlari ke arah Mahisa Ura yang sudah menjadi sangat lemah karena bisa ular itu mulai menggigit bagian dalam seluruh tubuhnya. Bahkan menyusuri darah telah hampir mencapai jantungnya.

Ternyata Mahisa Murti bergerak lebih cepat. Ia sesaat lebih dahulu sampai kepada Mahisa Ura yang terbaring.

“Mahisa Murti dan Mahisa Pukat,” desisnya ketika ia melihat kedua anak muda itu yang datang dan berjongkok disisinya, “ternyata aku tidak dapat mengantar kalian sampai ke tujuan.”

“Aku akan mencoba mengobatinya,” berkata Mahisa Murti, “Tenanglah.”

“Racun ini sangat kuat,” desis Mahisa Ura.

Mahisa Murti tidak menjawab. Tetapi ia sudah melepas cincinnya yang bermata sebuah batu yang mampu menangkal racun yang betapapun kuatnya.

Meskipun agak terlambat, tetapi Mahisa Murti masih akan mencobanya.

Batu pada cincin tidak sekedar dikenakan di jarinya. Tetapi batu itu telah dilekatkan pada luka gigitan ular, sementara ularnya telah terjatuh pada saat Mahisa Ura menghentakkan kemampuannya untuk membunuh lawannya. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terkejut ketika terdengar Mahisa Ura itu mengaduh. Namun Mahisa Murti tidak melepaskan batu yang melekat pada luka itu.

Yang dilihatnya kemudian adalah tubuh Mahisa Ura yang menggigil setelah lukanya bagaikan disengat bara.

Beberapa saat Mahisa Ura merasakan tubuhnya bagaikan diguncang oleh berbagai perasaan yang berbaur. Sakit, panas dan dingin rasa-rasanya telah menjalari urat-urat darahnya.

Mahisa Murti masih bertahan. Bahkan kemudian Mahisa Pukat pun berkata, “Apakah aku dapat membantunya?”

Mahisat Murti termangu-mangu. Meskipun Mahisa Pukat juga mempunyai gelang yang mampu menangkal racun dan bisa, tetapi apakah keduanya dapat bergabung dan bekerja bersama. Jika cara kerja kedua benda itu berbeda, maka justru akan dapat menimbulkan kesulitan.

Namun sebelum Mahisa Murti menjawab, Mahisa Ura nampak menjadi semakin baik. Ia tidak lagi menyeringai menahan sakit dan keluhan-keluhan tertahan merembes dari sela-sela bibirnya. Tetapi ia nampak menjadi lebih tenang meskipun tubuhnya masih menggigil.

“Kita tunggu saja sebentar,” jawab Mahisa Murti, “Mungkin batu ini mampu mengatasi kesulitan didalam dirinya.”

Mahisa Murti tidak mendesaknya. Ia pun masih menunggu beberapa saat.

Sementara itu, dari luka di lengan Mahisa Ura nampak darah mulai mengalir. Darah yang berwarna kehitam-hitaman.

Dengan hati-hati Mahisa Murti memijat perlahan-lahan daging disekitar luka itu. Meskipun terasa sakit, tetapi dengan demikian darah menjadi semakin banyak mengalir bagaikan dihisap oleh batu di cincin Mahisa Murti itu. “Mudah-mudahan kau sembuh,” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Ura masih diam saja. Kepalanya masih terasa sangat pening. Namun perasaan sakit di seluruh tubuhnya mulai berkurang.

Untuk beberapa saat, Mahisa Murti membiarkan darah mengalir dari luka itu. Sementara itu, cincinnya tidak lagi dilekatkan pada lukanya, tetapi dikenakan pada jari-jarinya.

Demikianlah, ternyata bahwa keadaan Mahisa Ura semakin lama menjadi semakin baik. Darahnya yang mengalir tidak lagi nampak kehitam-hitaman, tetapi darahnya telah menjadi merah.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun keduanya yakin bahwa keadaan Mahisa Ura akan menjadi baik.

Untuk beberapa saat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menunggui Mahisa Ura yang terbaring. Namun pada wajah itu tidak lagi nampak penderitaan yang sangat, meskipun tubuh itu masih nampak sangat lemah.

Beberapa saat kemudian, maka Mahisa Murti pun bertanya, “Bagaimana keadaanmu kakang?”

Mahisa Ura mencoba menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku merasa keadaanku menjadi bertambah baik. Tetapi tulang-tulangku seakan-akan telah terlepas dari sendi-sendinya.”

“Untuk beberapa saat keadaanmu akan begitu,” sahut Mahisa Pukat, “tetapi nanti kau akan menjadi baik.”

“Tetapi apakah kita akan tetap di sini,” bertanya Mahisa Ura.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Kemudian Mahisa Murti pun berkata, “Kita akan pergi ke padukuhan terdekat. Mungkin kita akan mendapat tempat bermalam di banjar padukuhan itu.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Kita akan mencoba pergi ke padukuhan sebelah. Tetapi bagaimana dengan orang-orang itu?”

“Lawanmu telah kau bunuh,” berkata Mahisa Murti.

“Ia adalah pemimpin dari yang lain,” jawab Mahisa Ura.

“Apakah kita dapat membiarkan yang lain untuk hidup dan bahkan menyelenggarakan kawannya yang terbunuh itu,” bertanya Mahisa Murti.

Mahisa Ura menarik nafas. Dadanya terasa menjadi semakin lapang. Katanya, “Biarlah yang lain hidup meskipun kita harus mengancam mereka agar mereka tidak melakukan tindakan-tindakan terlarang.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Kematian seorang di antara mereka akan menjadi alat untuk menakut-nakuti yang lain. Dalam keadaan yang memaksa, maka yang lain itu pun akan dapat dibunuh pula seperti kawannya yang terbunuh itu.

Untuk beberapa saat, Mahisa Ura masih terbaring. Sementara Mahisa Murti telah membebaskan kedua orang lawannya dari sentuhan tangannya pada simpul-simpul sarafnya sehingga keduanya mendapatkan kembali kekuatannya.

“Aku dapat membunuh kalian,” geram Mahisa Murti.

Kedua lawannya hanya menundukkan kepalanya saja.

Tetapi dari sikapnya, keduanya sama sekali tidak akan berani lagi berbuat apa-apa.

Sementara itu dua orang lawan Mahisa Pukat masih saja merasa dicengkam oleh perasaan sakit meskipun sudah agak berkurang. Namun dengan memaksa diri keduanya dapat juga bangkit berdiri.

Kepada keempat orang itu, Mahisa Murti berkata, “Seorang di antara kalian telah mati. Itu adalah akibat wajar dari tingkah laku kalian yang tidak diperhitungkan dengan cermat. Untunglah bahwa seorang kawanku yang telah dilukai dengan curang oleh kawanmu yang terbunuh itu dapat bertahan dan yakin akan sembuh. Jika ia juga terbunuh karena racun ular, maka kalian berempat akan aku bunuh.”

Keempat orang itu tidak menjawab.

“Nah, aku serahkan seorang kawanmu yang mati itu. Selenggarakan sebaik-baiknya. Kami akan meneruskan perjalanan,” berkata Mahisa Murti.

Keempat orang itu mengangguk hampir berbareng. Seorang di antara mereka menyahut, “Kami mohon maaf. Kami akan melakukan sebagaimana kau katakan.”

Mahisa Murti memandang orang itu sejenak. Lalu katanya, “Tetapi ingat, jangan memancing kami untuk membunuh kalian juga seperti kawanmu itu.”

Keempat orang itu termangu-mangu. Namun sebenarnyalah mereka tidak mengira bahwa mereka akan tetap dibiarkan hidup. Karena itu, mereka justru berjanji di dalam hati, bahwa mereka akan melakukan sebagaimana dikatakan oleh anak-anak muda itu.

Dalam pada itu, Mahisa Murti telah kembali kepada Mahisa Ura yang tidak lagi terancam jiwanya karena racun. Karena itu, maka Mahisa Murti telah mengambil cincinnya kembali dan bersama Mahisa Pukat membantu Mahisa Ura untuk meninggalkan tempat itu.

Ternyata keadaan Mahisa Ura masih sangat lemah, sehingga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harus memapahnya.

Ketika mereka sampai ke padukuhan terdekat maka mereka bertiga telah minta ijin untuk dapat bermalam di banjar.

Kepada orang-orang bersaudara yang mengembara. Sedangkan Mahisa Ura yang lemah itu, dikatakan oleh Mahisa Murti, telah digigit ular ketika mereka berada di tepian.

“Agaknya ular itu bukan ular yang berbisa tajam,” berkata orang-orang padukuhan itu.

“Mungkin, Kami berhasil memeras darah saudara kami sehingga yang mengalir kemudian adalah darah yang bersih,” jawab Mahisa Murti.

Orang-orang padukuhan itu ternyata merasa kasihan juga kepada ketiga orang pengembara itu, sehingga mereka mendapat kesempatan untuk bermalam di banjar sehingga keadaan salah seorang yang digigit ular itu menjadi baik.

Kesempatan itu ternyata sangat berharga bagi Mahisa Ura yang lemah itu, karena dengan demikian ia sempat untuk memulihkan keadaannya.

Oleh orang-orang padukuhan itu, Mahisa Ura dan kedua orang yang diakuinya sebagai adiknya itu telah ditempatkan di serambi banjar. Mereka mendapat ijin untuk tinggal diserambi banjar itu sampai keadaan Mahisa Ura menjadi baik. Bahkan orang-orang padukuhan itu telah memberi mereka makan dan minum selama mereka berada di banjar itu, karena orang-orang padukuhan itu menganggap mereka benar-benar pengembara yang perlu dibelas kasihani.

Meskipun demikian ada juga orang padukuhan itu yang memberi mereka nasehat, “Anak-anak muda. Sebenarnya kalian masih cukup muda untuk memulai dengan satu usaha yang dapat memberi kalian hidupan. Apakah sebenarnya yang menarik kalian untuk menjadi pengembara? Kalian tidak akan melihat hari depan kalian menjadi cerah. Karena itu, jika kalian mau mendengarkan nasehatku, maka sebaiknya kalian kembali saja kepada keluarga kalian untuk memulai dengan satu kehidupan yang wajar. Bekerja, mungkin di sawah atau di pategalan atau kerja apapun juga, karena nampaknya kalian adalah anak-anak muda yang kuat.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Sementara itu Mahisa Ura masih berbaring di sebuah amben yang cukup besar di serambi banjar.

Orang yang memberi nasehat itu adalah orang yang dianggap memiliki pengetahuan yang cukup di antara orang-orang di padukuhan itu. Karena itu, maka orang-orang lainnya kemudian telah ikut pula memberi mereka petunjuk untuk memulai dengan satu kehidupan baru yang lebih bermanfaat bagi masa depan mereka.

“Kami kasihan melihat kalian bertiga dalam keadaan seperti ini,” berkata orang yang memiliki pengetahuan yang melampaui tetangga-tetangganya itu, “Tetapi kami tidak dapat menolong kalian dengan memberikan pekerjaan yang patas. Tetapi menilik sikap, tingkah laku dan ujud kalian, maka kalian tidak sebaiknya menjadi pengembara yang tidak mempunyai harapan apapun juga bagi masa depan kalian.”

Anak-anak muda itu masih tetap berdiam diri. Sementara Mahisa Ura yang terbaring itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.

Tetapi orang itu tidak berbicara berkepanjangan tentang masa depan. Sekali-sekali ia meraba Mahisa Ura sambil berkata, “Tubuhmu tidak terasa panas. Mudah-mudahan kau lekas sembuh dan pulih kembali.”

Dengan suara sendat Mahisa Ura menjawab, “Terima kasih. Nampaknya aku pun akan segera menjadi baik.”

Orang itu mengangguk-angguk. Sambil bangkit dari duduknya orang itu berkata, “Cepat menjadi sembuh. Nanti malam aku akan datang lagi.”

“Terima kasih,” jawab Mahisa Murti, “Tetapi kami jangan membuat Ki Sanak menjadi sibuk.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tersenyum. Katanya, “Tidak. Mungkin kewajibanku untuk berbuat sesuatu bagi sesama. Mungkin nasehat-nasehatku akan berarti bagi masa depan kalian.”

“Terima kasih,” jawab Mahisa Murti.

Sepeninggal orang itu dan beberapa orang lain yang melihat keadaan Mahisa Ura yang terluka itu, maka sambil menarik nafas Mahisa Murti berkata, “Dadaku serasa menjadi sesak.”

Mahisa Ura mengangguk kecil. Katanya, “Untunglah orang itu tidak berada di sini lebih lama lagi. Tetapi malam nanti ia akan datang lagi. Ia tentu akan memberi nasehat-nasehat lagi. Lebih panjang dan lebih banyak.”

“Aku tidak mendengar apa yang dikatakannya,” desis Mahisa Pukat.

“Aku tidak menyalahkannya,” berkata Mahisa Ura sambil berbaring, “orang-orang tua dan terpandang karena pengetahuannya, memang merasa berkewajiban untuk memberikan petunjuk-petunjuk tanpa mempertimbangkan sasarannya. Tetapi bukankah kita di mata mereka memang pengembara-pengembara yang tidak mempunyai masa depan.”

“Kita diterima sebagai pengembara di sini,” berkata Mahisa Pukat, “tetapi di perjalanan berikutnya, aku akan menjadi pedagang batu akik dan wesi aji.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Kita dapat mencoba. Tetapi dalam keadaan seperti ini, kita memang tidak akan dapat melakukannya. Kita memang pantas sebagai pengembara. Sementara itu ujud kita memang masih muda, sehingga apa yang dikatakan oleh orang itu memang benar.”

“Tetapi kenapa dadamu menjadi sesak?” bertanya Mahisa Pukat.

Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum sambil menjawab, “Ya. Dadaku memang menjadi sesak mendengar nasehat-nasehatnya meskipun dengan nalar aku menganggap bahwa yang dikatakan itu benar.”

“Justru karena kita mengerti keadaan kita yang sebenarnya,” desis Mahisa Ura, “seandainya kita sendiri tidak mengerti keadaan kita yang sebenarnya, dan menganggap kita ini memang pengembara, maka nasehat-nasehat itu perlu sekali bagi kita.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sebenarnyalah bahwa orang itu menganggap mereka benar-benar pengembara yang tidak mempedulikan masa depan mereka, sementara itu mereka masih cukup muda untuk mulai dengan pekerjaan yang lebih berarti daripada menyusuri jalan-jalan, pedukuhan-pedukuhan dan hutan-hutan.

“Dan malam nanti kita akan mendengarkan lagi ia berbicara tentang nasib kita di masa depan,” berkata Mahisa Pukat.

Tetapi mereka tidak akan dapat menolak sementara keadaan Mahisa Ura masih lemah.

Sebenarnyalah bahwa ketika malam turun, orang yang dianggap memiliki pengetahuan yang luas itu telah datang lagi. Seperti pada siang harinya, maka ia pun mulai dengan nasehat-nasehat yang berkepanjangan.

Namun dalam pada itu, Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memaksa diri untuk mendengarkannya.

Betapapun mereka menjadi jenuh namun mereka tidak dapat memaksa orang itu untuk berhenti berbicara tentang sikap dan tingkah laku, tentang pandangan hidup dan penghayatannya dan tentang hari ini, kemarin dan masa depan.

Tetapi ternyata bahwa yang datang seperti sebelumnya, bukan hanya orang itu saja. Beberapa orang telah berada di banjar itu pula untuk berbincang, berbicara dan berkelakar sambil berjaga-jaga.

Betapapun kesalnya hati ketiga orang yang bermalam di banjar itu, namun mereka mengakui bahwa penghuni padukuhan itu adalah orang-orang yang ramah dan baik hati. Orang yang dianggap berpengetahuan itu pun sebenarnya berniat baik meskipun ia kurang dapat menempatkan diri. Namun ketiga orang yang bermalam di banjar itu pun menyadari, bahwa hal itu dilakukan karena ketiganya telah mengaku sebagai pengembara.

Malam itu, Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah dipersilahkan makan bersama-sama dengan orang-orang padukuhan itu yang sedang berada di banjar. Namun agaknya Mahisa Ura masih terlalu lemah, sehingga ia tidak dapat duduk bersama orang-orang padukuhan itu terlalu lama.

Demikianlah, betapapun ada hal-hal yang kurang sesuai dengan perasaan Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, namun ketiganya merasa mendapat tempat yang baik untuk memulihkan keadaan Mahisa Ura. Tidak ada seorang pun yang merasa keberatan, dan apalagi keinginan untuk mengusir mereka.

Bahkan pada saat-saat Mahisa Ura sudah sembuh dan kekuatannya sudah pulih kembali, orang-orang padukuhan itu masih memberinya kesempatan untuk tinggal apabila mereka berniat demikian.

Tetapi Mahisa Ura itu pun berkata, “Terima kasih. Kami adalah pengembara yang selalu menjelajahi hutan dan padesan, lembah dan bukit-bukit. Adalah menjadi panggilan hidup kami untuk bergaul akrab dengan alam.”

Akhirnya ketiga orang itu pun meninggalkan padukuhan itu setelah mereka mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga.

Dengan demikian, maka ketiga orang itu pun telah melanjutkan perjalanan mereka. Mahisa Ura telah membawa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memasuki sebuah padukuhan, di mana ia telah menangkap saudara kembar dari orang yang terbunuh dalam perkelahian, namun yang berhasil melukai Mahisa Ura dengan seekor ular, sehingga dengan demikian perjalanan mereka pun telah terhambat beberapa saat.

Seperti yang diperhitungkan oleh Mahisa Ura, maka ketika ia memasuki padukuhan itu, maka ia tidak dikenali lagi meskipun pada saat ia menangkap buruannya beberapa orang telah menyaksikannya. Bahkan ia sempat bermalam di padukuhan itu. Ternyata bahwa penghuni padukuhan itu pun sebagian besar adakah orang-orang yang baik seperti penghuni padukuhan yang telah ditinggalkannya.

Ketika mereka berada di banjar, Mahisa Pukat sempat berkata, “Bagaimana? Apakah kita akan tetap menjadi pengembara seperti ini, atau kita akan menjadi pedagang batu akik? Aku telah menyediakan beberapa buah batu akik yang bagus yang memang pantas untuk diperdagangkan.”

Tetapi Mahisa Murti pun menjawab, “Jika kita akan menjadi pedagang di sini dengan menjual batu-batu akik yang memang bagus itu, siapakah yang kira-kira akan membelinya. Di padukuhan ini agaknya tidak ada orang yang cukup kaya yang mau melepaskan uangnya hanya untuk membelinya. Di padukuhan.”

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun ia mengakui sebagaimana dikatakan oleh saudaranya. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Ya. Ki Bekel pun tidak akan membeli batu akik. Mungkin padukuhan yang lebih besar dari padukuhan ini.”

Mahisa Ura memotong, “Ya. Kita memang akan memasuki beberapa padukuhan lagi. Aku akan mencoba mengingat, jalan manakah yang pernah aku lalui sampai pada suatu saat aku menemukan padukuhan yang telah aku kenal ini.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun mengangguk-anggguk. Namun dengan demikian mereka menyadari bahwa perjalanan mereka memang masih panjang. Mungkin Mahisa Ura akan segera dapat mengenali jalan yang pernah dilaluinya, tetapi mungkin ia memerlukan waktu yang lama untuk dapat mengingat, kemana saja ia pernah lewat.

Di hari yang cerah, ketiga orang itu mulai dengan perjalanan yang sulit. Bukan karena mereka berjalan melalui rawa-rawa atau lereng pegunungan yang terdiri dari batu-batu karang yang runcing, tetapi mereka masih harus menemukan jalan yang menuju ke arah yang benar.

Demikianlah mereka telah berjalan melampaui satu padukuhan ke padukuhan berikutnya. Mahisa Ura telah mencoba untuk mengingatnya, jalan manakah yang telah pernah dilaluinya. Pada saat ia menempuh perjalanan itu, ia sama sekali tidak berpikir bahwa ia akan mengulangi perjalanannya itu. Karena itu, maka ia tidak begitu memperhatikan, tanda-tanda yang terdapat di sepanjang jalan yang pernah dilaluinya.

Namun ketajaman ingatan dan penglihatannya sebagai seorang petugas sandi agaknya telah menolongnya sehingga ia masih juga sempat melihat beberapa macam pepohonan, bukit dan ujud-ujud lain yang menarik perhatian.

“Aku yakin, bahwa aku telah menempuh jalan yang benar,” berkata Mahisa Ura.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang belum pernah menempuh perjalanan melalui tempat itu, tidak dapat ikut menentukan. Namun mereka pun percaya akan ketajaman ingatan Mahisa Ura. Agaknya mereka memang menempuh jalan yang benar. Meskipun lamban, tetapi agaknya mereka memang mendekati jalan menuju kesasaran.

Ketika mereka memasuki sebuah bulak yang panjang antara dua padukuhan yang agak jauh, terasa bahwa seseorang atau lebih telah mengikuti mereka, meskipun mereka tidak dapat langsung melihat. Setiap kali mereka berhenti dan berpaling, mereka sama sekali tidak melihat seorang pun. Namun naluri mereka telah menangkap sesuatu yang menggetarkan perasaan mereka.

Mahisa Murti yang tanpa disengaja telah memandang ke sisi sebelah kiri dari arah perjalanan mereka, tiba-tiba saja telah melihat batang-batang jagung yang tumbuh subur itu bergerak-gerak. Bukan oleh angin, karena tidak semua batang-batang jagung itu bergerak.

Dengan demikian Mahisa Murti mengambil kesimpulan, bahwa tentu ada seseorang atau lebih yang telah mengamati perjalanan mereka.

“Tidak aneh,” berkata Mahisa Murti di dalam hatinya, “tiga orang yang berjalan bersama-sama di daerah yang terpencil ini memang dengan mudah akan menarik perhatian.”

Namun agaknya Mahisa Pukat pun mempunyai perasaan yang sama. Ia pun telah melihat keadaan yang serupa dengan yang dilihat oleh Mahisa Murti, meskipun di arah yang berbeda. Namun Mahisa Pukat tidak hanya tinggal diam untuk meyakinkan apakah yang dilihatnya itu benar. Tiba-tiba saja ia pun telah berkata, “Aku melihat sesuatu yang menarik perhatian.”

“Apa,” Mahisa Murti bertanya dengan serta merta, karena ia sudah menduga bahwa Mahisa Pukat pun melihat apa yang dilihatnya.

“Seseorang di dalam rimbunnya batang-batang jagung itu,” jawab Mahisa Pukat.

“Di sebelah mana,” bertanya Mahisa Murti.

“Di sebelah kanan jalan,” jawab Mahisa Pukat.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam, ia pun kemudian berkata, “Jika demikian, maka tentu lebih dari seorang yang telah mengamati perjalanan kita.”

“Aku tidak melihat apa-apa,” berkata Mahisa Ura.

“Aku pun hanya kebetulan melihatnya,” sahut Mahisa Murti, dan Mahisa Pukat pun berkata, “Aku juga. Aku tidak sengaja memandang batang-batang jagung yang subur itu. Agaknya aku telah melihat ujung batang-batang jagung itu bergerak-gerak, tentu bukan oleh tiupan angin yang betapapun lembutnya.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Kita memang harus berhati-hati.”

“Jika demikian, apakah aku dapat memberikan kesan lain dari perjalanan ini,” bertanya Mahisa Murti.

“Kita adalah pedagang akik dan wesi aji. Kita tidak saja akan menjual barang-barang dagangan, tetapi kita juga mau membeli jika ada di antara milik orang-orang padukuhan yang baik dan harganya memadai,” berkata Mahisa Pukat.

“Tidak akan banyak bedanya,” jawab Mahisa Ura, “tidak ada seorang pun yang pernah berbuat demikian di sini.”

“Kita dapat menjadi perintis dari perdagangan itu di daerah ini,” jawab Mahisa Pukat.

“Bagaimanapun juga kehadiran kita akan menarik perhatian. Mungkin oleh para penghuni padukuhan-padukuhan itu tidak memberikan kesan lebih dari menarik perhatian. Tetapi mungkin oleh orang lain, kesannya akan lain pula,” jawab Mahisa Ura.

“Tetapi manakah yang lebih baik. Kita melewati padukuhan-padukuhan itu sebagai pengembara yang memasuki daerah ini tanpa alasan apapun juga, atau kita memasuki daerah ini dengan satu maksud untuk membeli batu-batu berharga dan wesi aji. Kita dapat memberikan alasan apapun juga. Mungkin kita telah melihat wahyu yang turun di daerah ini, sehingga kita yakin bahwa di sini ada seorang yang memiliki atau mungkin wesi aji yang tidak dimiliki oleh siapa pun juga, yang mempunyai nilai yang sangat tinggi.” berkata Mahisa Pukat.

Mahisa Ura termangu-mangu. Namun sambil memandang Mahisa Murti ia bertanya, “Bagaimana pendapatmu?”

“Kita dapat mencobanya. Namun kita harus bersiap-siap mengalami akibat yang bagaimanapun juga,” jawab Mahisa Murti.

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita adalah pedagang batu-batu bertuah dan wesi aji. Tetapi aku tidak tahu menahu sama sekali tentang batu-batu akik dan wesi aji.”


“Kami sudah belajar kepada ayah,” jawab Mahisa Pukat, “karena itu, kami dapat mengetahui yang sebenarnya tentang batu-batu akik, batu-batu berharga dan wesi aji.”

“Baiklah,” berkata Mahisa Ura, “Jika seseorang ingin menguji kita, maka kalian akan dapat menyelesaikannya. Kecuali jika memang ada orang yang mencari persoalan.”

“Kita sudah siap,” jawab Mahisa Pukat, “sejak kita berangkat kita sudah memperhitungkan apa yang mungkin dapat terjadi atas kita.”

Dengan demikian, maka mereka bertiga telah bertekad bulat untuk memperkenalkan diri dengan orang-orang padukuhan yang ada di ujung bulak panjang itu sebagai tiga orang bersaudara pedagang batu akik yang mengembara untuk menjual dan mencari dagangan.”

“Dengan demikian kita tidak akan menghiraukan orang-orang yang membayangi perjalanan kita, asal mereka tidak mengganggu kita secara langsung,” berkata Mahisa Pukat kemudian.

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Tetapi ia sendiri menang belum melihat seorang pun yang mengikut mereka.

Demikianlah mereka masih saja berjalan dengan tenang tanpa terhenti sama sekali, meskipun mereka bertiga tidak kehilangan kewaspadaan.

“Kita masih akan melalui beberapa padukuhan,” berkata Mahisa Ura, “ada padukuhan yang cukup besar, sebelum kita memasuki daerah yang benar-benar sulit untuk diingat. Tetapi aku akan berusaha meskipun tidak banyak tanda-tanda yang dapat dilihat di hutan-hutan yang pepat, yang seakan-akan dimana-mana sama saja. Suram, lembab dan pepat dengan dedaunan dan pepohonan.”

“Baiklah,” berkata Mahisa Murti, “di padukuhan di ujung bulak ini, kita akan mulai dengan usaha kita memperjual belikan batu akik dan wesi aji. Mudah-mudahan kita dapat meneguk air sambil mandi.”

Tetapi Mahisa Pukat menyahut, “Tetapi dengan demikian kita akan minum air yang kotor.”

Mahisa Murti tersenyum. Demikian juga Mahisa Ura yang mengangguk-angguk.

Ketiga orang itu masih berjalan tanpa terhambat meskipun mereka masih saja merasa diikuti, setidak-tidaknya diawasi. Namun mereka seakan-akan tidak menyadarinya. Mereka masih saja berjalan dengan wajah menghadap ke arah jalan panjang di hadapan mereka.

Ternyata perjalanan mereka benar-benar tidak terganggu cara langsung. Menjelang gerbang padukuhan, ternyata ketiga orang itu telah membenahi diri mereka. Mereka tidak datang kepadukuhan itu dengan kepala tunduk dan punggung terbungkuk-bungkuk sebagai pengembara yang memerlukan belas kasihan. Tetapi mereka datang sebagai tiga orang kakak beradik yang sedang berdagang.

Ketika ketiga orang itu memasuki gerbang padukuhan, mereka merasa bahwa berpasang-pasang mata memandang dengan penuh kecurigaan. Namun ketiga orang itu tidak menghiraukannya. Bahkan ketika di tikungan mereka bertemu dengan seorang yang berjalan berlawanan arah, mereka telah bertanya, dimana rumah Ki Bekel dari padukuhan itu.

“Untuk apa?” orang itu justru bertanya.

“Kami ingin berdagang di padukuhan ini,” jawab Mahisa Ura.

“Berdagang apa?” bertanya orang itu.

“Kami berdagang batu akik, batu-batu berharga lainnya termasuk permata dan wesi aji. Kami dapat menjual dan dapat juga membeli,” jawab Mahisa Ura.

Orang itu mengerutkan keningnya. Dengan nada tinggi ia berkata, “Kami tidak pernah berurusan dengan batu-batu akik dan apalagi batu permata yang tentu mahal harganya. Tetapi kami kadang-kadang memang berbicara tentang wesi aji.”

“Nah, tunjukkan dimana rumah Ki Bekel. Aku ingin minta ijin untuk bermalam di banjar barang satu dua malam, sambil berdagang batu-batu akik dan wesi aji,” sahut Mahisa Ura.

Orang itu masih saja ragu-ragu. Namun kemudian ia pun berkata, “Pergilah ke simpang tiga itu. Jika kau menghadap kekanan, maka kau akan melihat sebuah regol yang agak besar. Nah, rumah di dalam dinding itulah rumah Ki Bekel.”

“Terima kasih,” jawab Mahisa Ura, “kita akan pergi kesana. Mudah-mudahan Ki Bekel ada di rumah.”

“Ki Bekel jarang sekali meninggalkan rumahnya kecuali jika ada persoalan yang sangat penting,” jawab orang itu.

“Mungkin ke sawah atau pekerjaan lain,” desis Mahisa Ura.

“Ki Bekel sudah terlalu tua untuk bekerja. Anaknyalah yang melakukan semua pekerjaan atas namanya. Hanya untuk mengambil satu keputusan persoalan yang gawat, maka masih diperlukan Ki Bekel itu sendiri.”

Mahisa Ura mangangguk-angguk. Katanya kemudian, “Terima kasih. Aku akan mengunjunginya.”

Orang itu mengangguk kecil. Tetapi ia tidak menjawab.

Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian melangkah menuju simpang tiga. Sebagaimana dikatakan oleh orang yang bertemu di tikungan, ketika mereka berpaling ke kanan, maka mereka telah melihat sebuah pintu gerbang rumah Ki Bekel.

Sementara itu, orang yang di tikungan itu masih saja berdiri termangu-mangu. Ia sadar, ketika ia mendengar seseorang menyapanya.

Orang itu berpaling. Dilihatnya di sebuah regol kecil yang terbuka sebuah kepala tersembul.

“Siapakah orang-orang itu tadi?” bertanya orang yang muncul dari balik regol itu.

Orang yang berada di tikungan itulah yang kemudian justru masuk ke dalam regol.

“Pedagang batu akik, permata dan wesi aji,” jawab orang yang ditanya.

Orang yang bertanya itu mengangguk-angguk. Namun ia pun bertanya pula, “Aku dengar dari dalam dinding, orang itu akan pergi ke rumah Ki Bekel.”

“Ya. Segala sesuatunya tentu tergantung Ki Bekel,” jawab orang yang semula berada di tikungan, “tetapi agaknya mereka memerlukan untuk dapat bermalam di banjar.”

Orang yang berada di halaman itu mengangguk-angguk.

Dalam pada itu, maka Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah berada di depan regol rumah Ki Bekel. Tidak ada seorang pun yang ada di regol itu. Karena itu, maka Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun telah memasuki halaman dengan sikap yang ragu.

“Marilah,” berkata Mahisa Ura, “kita akan mengetuk pintu seketeng.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk.

Mereka bertiga pun kemudian melintasi halaman menuju ke pintu seketeng. Halaman itu benar-benar sepi.

Tidak seorang pun, apalagi penjaga yang berada di halaman itu.

Untuk sesaat Mahisa Ura berdiri termangu-mangu di depan pintu seketeng. Namun ia pun kemudian mengetuk pintu itu perlahan-lahan.

Tetapi baru setelah beberapa kali Mahisa Ura mengetuk dan semakin keras, terdengar jawaban dari dalam. Terdengar langkah kecil-kecil menuju ke pintu seketeng itu.

“Seorang perempuan” desis Mahisa Ura.

Sebenarnyalah bahwa seorang perempuan separo baya telah membuka pintu itu. Dengan wajah keheranan ia bertanya, “Siapakah kalian?”

Mahisa Ura mengangguk-angguk hormat. Demikian juga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Dengan demikian, maka sikap mereka sedikit dapat memberikan ketenangan di hati perempuan itu. Agaknya ketiga orang itu bukan orang-orang yang garang.

“Kami ingin bertemu dengan Ki Bekel” berkata Mahisa Ura.

“Siapakah kalian?” sekali lagi perempuan itu bertanya.

“Kami tiga bersaudara. Kami adalah pedagang keliling,” jawab Mahisa Ura.

Perempuan itu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Silahkan menunggu di pendapa. Akan aku sampaikan kepada Ki Bekel.”

“Terima kasih,” jawab Mahisa Ura.

Ketiganya pun kemudian telah pergi ke pendapa. Mereka duduk diatas tikar yang memang sudah terbentang. Beberapa saat mereka menunggu sambil memperhatikan keadaan disekelilingnya.

Rumah Ki Bekel bukanlah rumah yang terlalu besar. Tetapi kelihatan terawat dan teratur. Halamannya bersih dinaungi oleh beberapa jenis pepohonan. Sebatang pohon sawo, sebatang pohon jambu air dikedua sudutnya, sementara di dekat regol terdapat sepasang pohon kemuning. Di halaman samping terdapat beberapa batang pohon nyiur seperti yang terdapat di halaman samping belakang, sebagaimana mereka lihat, ketika mereka datang.

Ketika pintu pringgitan berderit, maka mereka bertiga pun segera berpaling. Mereka melihat seorang laki-laki yang mulai memasuki hari-hari tuanya. Namun tubuhnya masih nampak kuat dan tegap. Wajahnya memancar cerah. Sementara itu, dengan langkah yang pasti ia pun kemudian menuju ketiga orang tamu yang telah duduk lebih dahulu.

“Maaf Ki Sanak,” berkata Ki Bekel, “kalian terpaksa menunggu sejenak.”

“O, tidak apa Ki Bekel,” jawab Mahisa Ura. Namun tiba-tiba ia bertanya, “Bukankah aku berhadapan dengan Ki Bekel?”

“Ya, ya. Aku adalah Bekel di padukuhan ini,” jawab Ki Bekel, “bukankah kalian memang ingin bertemu dengan aku?”

“Ya Ki Bekel,” jawab Mahisa Ura, “kami bertiga bersaudara memang ingin menghadap Ki Bekel.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Menurut Nyi Bekel, kalian bertiga adalah pedagang keliling. Apakah benar begitu?”

“Ya Ki Bekel,” jawab Mahisa Ura, “kami adalah tiga orang bersaudara. Kami memang pedagang keliling. Kami memang ingin mohon ijin untuk berdagang di padukuhan ini. Apabila Ki Bekel mengijinkan, kami ingin berada di padukuhan ini barang satu dua hari.”

Ki Bekel mengerutkan keningnya. Ia pun kemudian bertanya, “Apakah yang kalian jual belikan? Hasil bumi atau binatang ternak?”

“Bukan Ki Bekel,” jawab Mahisa Ura, “bukah hasil bumi dan bukan binatang ternak. Tetapi kami adalah pedagang batu akik dan wesi aji.”

Ki Bekel mengerutkan keningnya. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Batu akik?”

“Ya, batu akik,” jawab Mahisa Ura.

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “orang-orang di padukuhan ini tidak pernah merasa perlu dengan batu akik itu. Memang ada juga satu dua orang di padukuhhan ini yang memiliki batu akik. Tetapi yang lain tidak pernah berpikir untuk berusaha memilikinya. Tetapi kalau wesi aji, mungkin ada satu dua orang yang sering membicarakannya.”

“O,” Mahisa Ura mengangguk-angguk, “jika demikian biarlah kami memberikan pelayanan tentang kebutuhan wesi aji.”

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak akan menghalangi usaha kalian Ki Sanak. Tetapi aku kira kalian tidak akan mendapat kepuasan berdagang di tempat ini. Padukuhan ini bukan padukuhan yang kaya. Satu dua orang diantaranya memang memungkinkan untuk membeli sesuatu diluar kebutuhan sehari-hari. Tetapi aku tidak dapat mengatakan, apakah kalian akan mendapat kesempatan yang baik untuk berdagang di sini. Meskipun demikian, aku akan mempersilahkan kalian untuk tinggal di banjar barang satu dua hari.”

“Terima kasih Ki Bekel,” jawab Mahisa Ura, “kami juga baru sekedar menjajagi. Jika ada kemungkinan untuk berdagang, aku akan mendapatkan pasaran baru. Tetapi jika tidak, ini adalah sekedar penjajagan. Mudah-mudahan aku berhasil di sini dan di padukuhan-padukuhan di sekitarnya. Mungkin di seluruh Kabuyutan.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Silahkan. Aku tidak dapat mengatakan apa-apa.” Ki Bekel itu berhenti sejenak, lalu, “tetapi siapakah nama kalian bertiga?”

“Namaku Mahisa Ura. Kedua adikku ini bernama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat,” jawab Mahisa Ura.

Ki Bekel mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Jika demikian, biarlah kalian diantar ke banjar. Kalian akan diserahkan kepada penunggu banjar atas ijinku.”

Mahisa Ura mengangguk hormat sambil berkata, “Terima kasih Ki Bekel. Kemurahan hati Ki Bekel akan sangat berarti bagi usaha kami bertiga.”

“Tunggulah. Aku akan memanggil anakku,” berkata Ki Bekel kemudian.

Sejenak kemudian, maka Ki Bekel pun bangkit dan masuk ke dalam lewat pintu pringgitan. Beberapa saat kemudian, maka ia pun telah datang kembali bersama dengan seorang laki-laki muda yang tubuhnya tegap sebagaimana Ki Bekel. Wajahnya nampak bersungguh-sungguh sebagaimana tatapan matanya yang tajam.

Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Di dalam hati ia berkata, “Anak muda yang cerdas.”

Ki Bekel pun kemudian memperkenalkan laki-laki muda itu kepada ketiga orang yang mengaku pedagang batu akik itu, sebagai anaknya.

“Namanya Waditra,” berkata Ki Bekel.

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura mengangguk hormat. Mereka pun telah memperkenalkan nama mereka masing-masing.

Waditra yang berwajah tenang dan bersungguh-sungguh itu ternyata seorang yang ramah. Sambil tersenyum ia berkata, “Kalian telah mengunjungi satu padukuhan yang sepi dan miskin.”

“Kami sedang menjajagi kemungkinan untuk dapat berhubungan dengan isi padukuhan ini,” berkata Mahisa Ura.

“Ayah sudah mengatakan kepadaku, apakah yang sedang kalian lakukan sekarang ini di padukuhanku. Aku tidak tahu, apakah kalian akan berhasil atau tidak,” berkata Waditra.

“Apapun yang akan kami alami, tidak akan mengecewakan kami. Setidak-tidaknya kami telah mendapat sahabat-sahabat baru yang akan dapat menjadi tempat bernaung diwaktu hujan, dan tempat mencari air diwaktu haus dalam perjalanan seperti yang sedang kami lakukan,” berkata Mahisa Ura.

Waditra tersenyum. Katanya, “Baiklah. Marilah, aku antar kalian ke banjar dan aku serahkan kalian kepada penunggu banjar, agar kalian mendapat tempat untuk bermalam barang satu dua malam.”

“Terima kasih,” sahut Mahisa Ura.

Sejenak kemudian maka Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah minta diri kepada Ki Bekel. Sambil sekali lagi mengucapkan terima kasih, maka mereka pun meninggalkan regol halaman itu menuju ke banjar, bersama dengan anak Ki Bekel yang berwajah dalam dan bersungguh-sungguh itu.

Ternyata banjar itu tidak terlalu jauh. Namun demikian sebagaimana saat mereka memasuki padukuhan itu, maka semua orang telah memperhatikan mereka meskipun mereka telah diantar oleh Waditra, anak laki-laki Ki Bekel dari padukuhan itu.

Di banjar mereka diterima oleh seorang laki-laki separo baya. Rambutnya sudah mulai berwarna dua.

“Orang inilah yang menunggu banjar,” berkata Waditra.

Mahisa Ura dan kedua orang yang diakuinya sebagai adiknya itu pun mengangguk sambil memperkenalkan diri mereka pula.

“Nah, terserahlah kepadamu,” berkata Waditra kepada penunggu banjar itu, “kau dapat mengatur, bahwa ketiga orang ini akan dapat bermalam di banjar.” Namun kemudian Waditra pun berpaling kepada Mahisa Ura, “Tetapi Ki Sanak. Karena kedatangan kalian adalah untuk berdagang, maka kami mohon maaf, bahwa kami tidak dapat menyediadakan makan dan minuman kalian. Kami hanya dapat menyediakan tempat untuk sekedar beristirahat. Itu pun apa adanya sebagaimana kau lihat sekarang.”

Mahisa Ura dengan serta merta menjawab, “Apa yang kami terima jauh dari cukup. Soal makan dan minum kami, jangan dirisaukan. Memang kami tidak akan dapat membebani padukuhan ini dengan kebutuhan-kebutuhan kami yang seharusnya kami tanggung sendiri. Tetapi apa yang disediakan buat kami telah jauh dari cukup.”

Waditra mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Sudahlah. Aku masih tugas lain. Tetapi apakah aku diijinkan untuk sekedar melihat apa yang kalian perdagangkan?”

“O,” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Mahisa Pukat pun menyahut, “Aku membawa beberapa batu akik yang paling bagus pada masa sekarang. Batu akik yang dapat mempengaruhi sikap dan tingkah laku seseorang, sehingga ia akan mendapat perhatian yang sangat besar dari pihak lain. Anak-anak muda akan diperhatikan oleh gadis-gadis sebaliknya gadis-gadis akan dikerumuni oleh anak-anak muda. Tetapi tuah yang lain adalah, siapa yang memakai batu akik itu sebagai mata cincin atau mata bandul kalungnya, maka ia akan dapat melakukan semua tugas-tugasnya dengan baik.”

Waditra itu mengerutkan keningnya, tetapi ia tidak menjawab.

Dalam pada itu Mahisa Pukat pun telah mengeluarkan beberapa batu akik dari kantong ikat pinggangnya. Batu akik yang memang sudah dipersiapkan, dan seandainya batu akik itu dilihat oleh seorang yang ahli sekalipun sebagaimana Mahendra, maka akan mengatakan bahwa batu akik itu memang batu akik yang bagus.

Selain batu akik, maka Mahisa Pukat pun telah mengeluarkan pula dari kantong ikat pinggangnya yang sebelah, beberapa butir batu permata yang sudah ada pada embannya. Cincin dan gelang.

Waditra menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Agaknya kami di sini tidak banyak tertarik terhadap batu akik. Apalagi permata yang harganya tentu sangat mahal. Tetapi bukankah kalian juga membawa wesi aji?”

“Ya,” jawab Mahisa Murti, “Tetapi yang ada pada kami sekarang bukan wesi aji dalam ujud senjata pakai.”

“Aku ingin melihat” berkata Waditra.

Mahisa Murti lah yang kemudian mengambil dari kantong ikat pinggangnya beberapa jenis benda kecil berwarna kuning kehitam-hitaman, tetapi ada juga yang berwarna hijau.

Yang mirip dengan sebilah pisau yang kecil kemudian dipisahkannya sambil berdesis, “Wesi kuning.”

Anak Ki Bekel itu termangu-mangu. Dipandanginya benda kecil itu sambil mengangguk-angguk. Menurut penglihatannya, maka benda itu agaknya memang memiliki sesuatu yang dapat mempengaruhi pemiliknya.

“Apakah kau akan membelinya?” bertanya Mahisa Murti.

Waditra termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku akan memberitahukan kepada ayah. Mungkin ada satu di antaranya yang menarik perhatiannya. Mungkin benda yang kau tunjukkan kepadaku itu.”

“Baiklah yang ini aku sisihkan,” berkata Mahisa Murti.

Waditra mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Aku akan minta diri. Segala sesuatunya tergantung kepada ayah.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk hormat. Katanya, “Silahkan. Sementara itu, sekali lagi kami mengucapkan terima kasih.”

Waditra itu pun kemudian meninggalkan ketiga orang yang akan berada di banjar itu barang satu dua hari. Namun ia sudah melihat, bahwa mereka benar-benar membawa barang-barang yang mereka sebut sedang diperjualbelikan. Dengan demikian kecurigaan Waditra atas ketiga orang itu pun telah hilang. Mereka bukan sekedar orang-orang yang mengaku sebagai pedagang, tetapi mereka mempunyai maksud yang lain.

Dalam pada itu, Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun menyadari, bahwa Waditra bukannya ingin membeli sesuatu dari mereka. Yang dilakukannya adalah sekedar melihat, apakah benar mereka memang mempunyai barang-barang yang akan mereka perjual belikan sebagaimana mereka katakan.”

Tetapi mereka bertiga sama sekali tidak berkeberatan. Dengan demikian maka mereka pun telah dapat meyakinkan, bahwa mereka tidak perlu dicurigai.

Waditra yang tidak lagi mencurigai ketiga orang itu, justru telah memberitahukan bukan saja kepada ayahnya, tetapi kepada beberapa orang yang dijumpainya, bahwa di banjar ada tiga orang pedagang keliling yang membawa beberapa jenis batu akik, permata dan wesi aji.

Meskipun orang-orang padukuhan itu bukannya orang-orang yang kaya, tetapi ada juga minat di antara mereka untuk melihat-lihat barang-barang yang dibawa oleh Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Karena itulah, maka beberapa saat kemudian, maka beberapa orang telah datang ke banjar untuk bertemu dan berkenalan dengan mereka bertiga.

“Seandainya kalian tidak jadi membeli apapun juga, kami sudah merasa beruntung,” berkata Mahisa Ura, “setidak-tidaknya kami telah mendapatkan sahabat-sahabat yang baik di daerah ini.”

Orang-orang padukuhan itu pun mengangguk-angguk. Ternyata bahwa sikap dan pelayanan ketiga orang itu dapat memberikan kesenangan kepada orang-orang padukuhan itu. Meskipun masih belum ada di antara orang-orang padukuhan itu yang membeli sepotong bendapun, namun kedatangan mereka telah menunjukkan sikap yang ramah dari orang-orang padukuhan itu.

Dalam waktu sehari saja, maka Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengenal sebagian besar dari penghuni padukuhan itu, terutama orang-orang laki-laki dan anak-anak mudanya.

“Jika kita berada di sini untuk dua tiga hari, maka kita akan mengenali seluruh isinya,” berkata Mahisa Ura.

“Tetapi bukahkah itu tidak penting,” berkata Mahisa Murti, “yang penting bagi kami adalah mengetahui, mendengar atau melihat kemungkinan-kemungkinan untuk menemukan jalan menuju ke padepokan orang-orang bertongkat itu.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk, sementara Mahisa Pukat berkata, “mudah-mudahan kita akan mendengar seseorang di sini menyebut padepokan itu.”

“Ya mudah-mudahan,” berkata Mahisa Ura, “jika tidak, maka kita masih mungkin untuk berhubungan dengan padukuhan-padukuhan di sekitar padukuhan ini, sementara kita akan memohon kepada Ki Bekel untuk tetap berada di banjar ini lebih lama lagi. Jika tidak terjadi sesuatu, maka aku kira, Ki Bekel tidak akan berkeberatan.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk.

Dalam waktu yang singkat, maka hubungan ketiga orang itu dengan penghuni padukuhan itu pun menjadi semakin akrab. Ternyata di antara sekian banyak penghuni padukuhan itu, ada juga yang menaruh minat atas barang-barang yang dibawa oleh Mahisa Murti. Wesi aji yang berupa benda-benda kecil itu, dapat juga menarik perhatian seorang yang terhitung kaya di padukuhan itu untuk memiliki.

Mahisa Murti yang mengemban tugas yang lain, yang bukan sekedar berdagang, tidak memberikan harga terlalu tinggi. Ia tidak mengharapkan keuntungan yang banyak. Tetapi yang penting, baginya adalah kesan bahwa mereka memang seorang pedagang.

Tetapi Mahisa Murti pun tidak memberikan harga semena-mena. Jika yang membeli itu benar-benar mengetahui serba sedikit tentang wesi aji, maka jika ia memberikan harga terlalu murah, maka tentu akan menimbulkan pertanyaan pula.

Karena itu, Mahisa Murti memberikan harga sewajarnya meskipun ternyata harga itu dianggap terlalu tinggi bagi orang yang ingin membelinya.

Ternyata telah terjadi tawar menawar. Namun akhirnya Mahisa Murti lah yang mengalah. Meskipun sebenarnya ia masih rugi, tetapi karena tidak seberapa, maka diberikannya juga wesi aji yang di kehendaki oleh orang padukuhan dengan harga sebesar sebagaimana ia menawar.

“Buka dasar,” berkata Mahisa Murti.

Sementara itu, ternyata bahwa Ki Bekel dari padukuhan itu pun telah memerlukan mengunjungi banjar dan melihat beberapa jenis wesi aji sebagaimana dikatakan oleh anak laki-lakinya. Ki Bekel memang tertarik kepada sebuah di antaranya yang bentuknya mirip dengan sebilah pisau, tetapi terlalu kecil dan warnanya memang kuning agak kehitam-hitaman.

Ternyata bahwa Ki Bekel pun memiliki pengetahuan serba sedikit tentang wesi aji. Ia pun agaknya mampu menilai wesi aji yang disebutnya sebagai wesi kuning itu.

“Apakah pengaruh wesi aji yang satu ini?” bertanya Ki Bekel.

“Ki Bekel dapat menayuhnya,” jawab Mahisa Murti

“Mungkin semalam, tetapi mungkin tiga malam.”

“Aku mengerti. Tetapi bagaimana menurut pendapatmu?” bertanya Ki Bekel pula.

“Menurut pendapatku, wesi aji ini mempunyai pengaruh yang sejuk. Wataknya tenang dan damai,” jawab Mahisa Murti.

Ki Bekel mengangguk-angguk sambil mengamati wesi aji itu. Katanya, “agaknya aku sesuai dengan pendapatmu. Tetapi apakah aku diperbolehkan meyakinkannya?”

“Maksud Ki Bekel?” bertanya Mahisa Murti.

“Seperti yang kau katakan, aku akan menayuhnya barang tiga malam. Tetapi dengan demikian aku akan menghambat jika kalian akan meninggalkan tempat ini,” berkata Ki Bekel.

“O, tidak apa-apa Ki Bekel. Kami tidak mempunyai batasan waktu. Jika perlu kami dapat berada di satu tempat sampai sepekan. Seperti Ki Bekel ketahui, kami adalah pedagang keliling. Di mana memungkinkan barang-barang kami terjual, maka kami akan berada di tempat itu,” jawab Mahisa Murti.

“Tetapi tentu dengan perhitungan,” sahut Ki Bekel, “kalian di sini harus makan dan minum. Jika keuntungan yang kalian dapat di sini tidak seimbang dengan pengeluaran kalian, maka kalian tentu merasa dirugikan.”

Mahisa Murti tersenyum. Ki Bekel adalah seorang tua yang tentu memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas, sehingga pengamatannya terhadap mereka bertiga pun didasari atas pengenalannya yang luas itu. Tentu ada di antara orang-orang padukuhan itu yang juga menjadi pedagang. Meskipun mungkin pedagang ternak atau yang lain.

Namun dalam pada itu Mahisa Murti pun menjawab, “Benar Ki Bekel. Kami tentu mengharapkan mendapat keuntungan. Tetapi seandainya perjalanan kami untuk memperkenalkan diri ini tidak mendapat keuntungan sebagaimana kami harapkan, namun kami telah mendapatkan keuntungan yang lain, sebagaimana pernah kami katakan sebelumnya. Di sini kami mendapatkan sahabat-sahabat. Bukan berarti tidak ada pamrih, sebab kami akan dapat datang pada kesempatan yang lain dengan membawa barang-barang yang lebih banyak lagi, sehingga keuntungan kami pada kesempatan lain itu akan dapat menutup kekurangan yang kami alami sebelumnya.”

Ki Bekel mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum. Katanya, “Aku senang. Kau berkata dengan jujur.”

Mahisa Murti pun tersenyum pula. Katanya, “Aku tidak dapat berkata lain kecuali apa adanya.”

“Baiklah,” berkata Ki Bekel, “aku akan mencoba menayuh wesi kuning ini. Tetapi aku memerlukan waktu tiga malam sejak malam nanti.”

“Silahkan Ki Bekel. Jika ternyata di dalam tayuh itu terdapat ketidak sesuaian, maka kami tidak akan kecewa jika rencana pembelian itu diurungkan,” berkata Mahisa Murti.

Ki Bekel pun kemudian telah membawa wesi aji itu untuk ditayuh selama tiga malam.

Ketika banjar itu kemudian menjadi sepi, maka Mahisa Murti pun berkata, “Untunglah bahwa Ki Bekel memberikan alasan kepada kita untuk berada di tempat ini lebih lama.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Dalam waktu yang tiga hari itu, kita akan dapat melihat-lihat keadaan di sekeliling padukuhan ini. Mungkin aku dapat mengenali sesuatu yang akan dapat menuntun kita ke padepokan orang-orang bertongkat itu.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan demikian mereka tidak perlu membuat alasan-alasan apapun untuk memperpanjang kesempatan mereka berada di banjar itu.

Demikianlah selain melayani orang-orang padukuhan itu yang kebanyakan hanya sekedar melihat-lihat saja, maka ketiga orang itu sempat keluar dari padukuhan.

“Kami ingin sekedar melihat-lihat,” berkata Mahisa Ura kepada orang-orang padukuhan itu, “kami masih harus menunggu Ki Bekel yang menayuh salah satu di antara wesi aji yang kami bawa.”

Tidak ada seorang pun yang mencurigai mereka. Ketika mereka keluar dari padukuhan itu, tidak seorang pun yang berniat untuk mengawasinya.

Namun ketiga orang itu tertegun ketika mereka terhenti di luar regol padukuhan itu, karena seseorang telah menghentikan mereka.

“Ki Jagabaya,” desis Mahisa Ura.

“Ya Ki Sanak,” jawab orang yang disebut Ki Jagabaya itu.

“Apa ada sesuatu yang ingin Ki Jagabaya katakan kepada kami?” bertanya Mahisa Ura.


Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun bertanya, “Ki Sanak bertiga akan pergi ke mana?”

“Hanya sekedar melihat-lihat,” jawab Mahisa Ura, “kami tidak mempunyai tujuan tertentu.”

“Apakah Ki Sanak bertiga akan melihat-lihat sampai jarak yang jauh?” bertanya Ki Jagabaya.

Mahisa Ura termangu-mangu. Namun kemudian ia pun bertanya, “Apakah ada sesuatu yang penting atau merupakan pantangan di daerah ini?”

Ki Jagabaya termangu-mangu. Tiba-tiba saja ia memandang berkeliling. Wajahnya nampak tegang dan sikapnya nampak gelisah.

Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat merasa heran melihat sikap Ki Jagabaya itu. Karena itu maka Mahisa Ura pun kemudian bertanya pula, “Ada apa sebenarnya Ki Jagabaya?”

Ki Jagabaya itu menarik nafas. Lalu katanya, “Marilah. Kita masuk kedalam regol padukuhan. Nanti aku persilahkan kalian bertiga untuk melanjutkan perjalanan.”

Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak membantah. Meskipun mereka merasa heran, namun mereka pun kemudian mengikuti Ki Jagabaya masuk kembali kedalam regol.

Baru setelah mereka berada didalam regol, maka Ki Jagabaya itu berkata, “Ki Sanak. Kami ingin sedikit memberikan peringatan bagi Ki Sanak bertiga. Mungkin Ki Sanak bertiga belum mengetahui lingkungan ini dengan baik.”

Mahisa Ura yang mengangguk-angguk bertanya, “Kami memang belum mengetahui apa pun juga tentang lingkungan ini Ki Jagabaya. Yang kami ketahui barulah padukuhan ini, karena kami berada di sini. Namun menurut penilaian kami, para penghuni padukuhan ini adalah orang-orang yang baik dan ramah, sehingga karena itu maka kami merasa seakan-akan kami berada di rumah sendiri.”

“Ki Sanak benar,” jawab Mahisa Ura, “tetapi itu adalah orang-orang padukuhan ini dan padukuhan-padukuhan sebelah menyebelah. Karena itu, aku bertanya, apakah Ki Sanak akan berjalan jauh atau tidak.”

Mahisa Ura memandang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sejenak. Namun kemudian dengan nada datar ia bertanya, “Kami kurang mengerti ukuran yang Ki Jagabaya maksudkan. Jarak yang disebut jauh itu sampai seberapa. Mungkin seratus patok, mungkin lebih.”

Ki Jagabaya termangu-mangu Sejenak. Sejenak ia memandang ke arah regol. Namun masih ada kesan padanya, bahwa Ki Jagabaya itu menjadi gelisah.

“Ki Sanak,” berkata Ki Jagabaya, “karena Ki Sanak berada di padukuhan ini atas ijin Ki Bekel, maka di sini Ki Sanak adalah tamu kami. Karena itu, maka bagaimanapun juga, kami merasa ikut bertanggung jawab atas keselamatan Ki Sanak bertiga.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih Ki Jagabaya. Kami memang merasa tenang di padukuhan ini.”

“Karena itu, maka kami ingin memberi peringatan kepada Ki Sanak bertiga,” berkata Ki Jagabaya kemudian, “Ki Sanak jangan salah mengerti. Percayalah bahwa aku bermaksud baik.”

“Ya, ya Ki Jagabaya. Kami percaya,” sahut Mahisa Ura.

Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Sebenarnya aku ingin memperingatkan agar Ki Sanak jangan berjalan-jalan terlalu jauh ke Utara.”

Mahisa Ura mengerutkan keningnya. Sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Sementara itu Ki Jagabaya pun berkata selanjutnya, “Sebenarnya daerah itu bukan daerah yang pantang dikunjungi pada mulanya. Tetapi akhir-akhir ini daerah tersebut sering menjerat orang-orang yang sedang lewat. Bahkan kecemasan telah mulai tumbuh di padukuhan-padukuhan disekitar tempat ini. Sedangkan padukuhan-padukuhan itu terletak di Kabuyutan yang sama dengan daerah ini.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Terima kasih atas peringatan ini Ki Jagabaya. Tetapi seberapa jauh dari padukuhan ini tempat yang Ki Jagabaya maksudkan itu.”

“Ada beberapa padukuhan. Padukuhan ini adalah padukuhan di ujung Kabuyutan. Sedangkan padukuhan yang mulai dibayangi oleh orang-orang yang kadang-kadang mengganggu itu, adalah padukuhan di ujung yang lain dari Kabuyutan ini,” jawab Ki Jagabaya.

“Lalu bagaimana dengan Kabuyutan di sebelah lagi?” bertanya Mahisa Murti tiba-tiba.

“Kabuyutan itu mengalami keadaan yang lebih parah. Jika keadaan tidak berubah, maka Kabuyutan sebelah, akan menjadi daerah mati. Orang-orangnya akan berpindah tempat ke Kabuyutan yang lain sehingga akhirnya Kabuyutan itu akan menjadi kosong,” sahut Ki Jagabaya.

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Tetapi ia pun kemudian bertanya, “Ki Jagabaya. Apakah sebabnya, maka perubahan itu tiba-tiba saja telah terjadi? Jika semula tidak ada kesulitan bagi Kabuyutan sebelah, kini tiba-tiba keadaan telah berubah.”

Ki Jagabaya termangu-mangu sejenak. Setiap kali ia memandang ke arah regol. Bahkan kemudian dipandanginya lingkungan disekelilingnya. Namun yang nampak olehnya adalah seorang perempuan yang lewat memasuki gerbang halaman rumahnya tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Perempuan itu memang memperhatikan mereka sejenak. Tetapi kemudian ia pun tidak menghiraukannya lagi.

Sementara itu Ki Jagabaya pun kemudian berkata, “Masih belum jelas bagi kami. Tetapi sudah terasa kesulitan akan membentang di hadapan kami. Pada bulan terakhir, kami sudah mengalami beberapa kali tindak kekerasan terjadi di lingkungan ini Kabuyutan kami, sedangkan di Kabuyutan sebelah, jumlah itu lebih besar lagi.”

“Kekerasan yang bagaimana yang telah terjadi? Perkelahian, atau mungkin perampokan?” bertanya Mahisa Pukat.

“Agaknya memang mengarah kekerasan yang berlatar belakang kejahatan. Tetapi kami kurang pasti, apakah sebenarnya yang telah terjadi, karena pernah kami ketemukan korban yang sebenarnya sudah dapat diduga sebelumnya, bahwa ia tidak memiliki sesuatu yang dapat dirampok,” berkata Ki Jagabaya.

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Terima kasih atas keterangan ini Ki Jagabaya. Dengan demikian maka kami tidak akan tersesat ke daerah yang berbahaya itu.”

“Hal ini aku lakukan karena kalian adalah tamu-tamu kami,” berkata Ki Jagabaya kemudian. “karena itu, sebaiknya Ki Sanak jangan mendekati daerah yang berbahaya itu.”

Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan nada dalam Mahisa Ura menyahut, “Terima kasih Ki Jagabaya. Jika Ki Jagabaya tidak memberi tahu kepada kami, maka aku kira kami mungkin sekali akan tersesat ke daerah yang berbahaya itu.”

“Aku hanya ingin menghormati tamuku,” berkata Ki Jagabaya, “sebenarnya aku tidak boleh memberitahukan hal ini kepada Ki Sanak bertiga. Jika diketahui bahwa aku telah mencegah seseorang melalui daerah gawat itu, maka aku tentu akan diancam oleh orang-orang yang sering melakukan kejahatan itu, karena aku di anggap telah membendung arus mangsa yang seharusnya diperuntukkan bagi mereka.”

Ketiga orang itu pun mengangguk-angguk. Itulah agaknya Ki Jagabaya bersikap aneh.

“Tidak ada seorang pun yang berani memperingatkan kepada Ki Sanak bertiga,” berkata Ki Jagabaya, “Ki Bekel- pun tidak memperingatkan Ki Sanak agar tidak berjalan ke arah Utara. Mungkin Ki Bekel memang lupa atau barangkali Ki Bekel merasa tidak berkepentingan dengan Ki Sanak bertiga. Tetapi ternyata bahwa baik Ki Bekel, maupun anaknya tidak memberi peringatan kepada Ki Sanak bertiga.”

“Baiklah Ki Jagabaya,” berkata Mahisa Ura kemudian, “aku akan berjalan-jalan di lingkungan Kabuyutan ini, tetapi tidak sampai ke ujung, sehingga aku tidak akan terjerumus kedalam kesulitan sebagaimana Ki Jagabaya katakan.”

Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Katanya, “berhati-hatilah. Tetapi sebaiknya Ki Sanak tidak keluar dari padukuhan ini. Atau sejauh-jauhnya padukuhan sebelah.”

“Aku akan memperhatikan pesan Ki Jagabaya,” jawab Mahisa Ura.

Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan kalian tidak menemui kesulitan di perjalanan.”

Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian meninggalkan Ki Jagabaya yang termangu-mangu. Sekali lagi mereka keluar dari regol padukuhan untuk melihat-lihat keadaan disekitar padukuhan itu.

Beberapa puluh langkah dari regol, setelah mereka tidak lagi melihat Ki Jagabaya, maka Mahisa Ura pun berkata, “Untunglah, kita mendapat peringatan daripadanya. Ada juga orang yang berani berkata kepada kita tentang orang-orang itu.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun kemudian Mahisa Pukat pun bertanya, “Apakah kita tidak akan berani mendekati daerah yang dikatakan gawat itu?”

“Tentu tidak,” berkata Mahisa Ura, “semakin gawat keadaan suatu tempat, maka tempat itu akan menjadi semakin menarik bagi kita.”

“Aku sependapat,” sahut Mahisa Murti, “kita akan menyelidiki tempat itu. Mungkin ada hubungannya dengan orang-orang bertongkat atau justru padepokan.”

“Menarik sekali,” berkata Mahisa Pukat, “mudah-mudahan kita mendapat petunjuk serba sedikit tentang orang-orang bertongkat atau padukuhan.”

“Tetapi kita tidak akan melakukannya sekarang,” berkata Mahisa Ura.

“Kenapa?” bertanya Mahisa Pukat.

“Kita wajib menghormati pesan Ki Jagabaya,” jawab Mahisa Ura, “jika kita pergi sekarang, sementara ada orang lain yang menyampaikannya kepada Ki Jagabaya, maka Ki Jagabaya akan sangat tersinggung. Seolah-olah kita dengan sengaja melanggar pesannya.”

“Apa bedanya jika kita melakukannya pada kesempatan lain?” bertanya Mahisa Pukat.

“Ada bedanya,” jawab Mahisa Ura, “kita akan dapat menjawab, bahwa kita sangat tertarik kepada keadaan padukuhan-padukuhan disekitar tempat ini sehingga kita terlupa pesan itu. Keasyikan kita berbicara tentang batu akik dan wesi aji membuat kita kehilangan kewaspadaan. Kesalahan kita adalah kita kurang berhati-hati, bukan dengan sengaja melanggar pesannya atau bahkan menjajagi kebenaran pesan itu.”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak membantah.

Karena itu, maka ketika mereka sampai disimpang tiga, mereka memang tidak menuju ke Utara. Tetapi mereka telah berbelok ke Selatan.

Sebenarnyalah, saat itu Ki Jagabaya masih memperhatikan mereka meskipun ia berdiri di belakang dinding di sebelah regol. Karena itu Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berpaling sekaligus tidak melihatnya.

Ketika Ki Jagabaya itu melihat ketiga orang itu berbelok ke Selatan, maka ia menarik nafas dalam-dalam. Ketegangan di wajahnya pun bagaikan larut, sehingga sejenak kemudian ia pun telah bergeser meninggalkan tempatnya.

Dengan nada dalam ia berkata kepada dirinya sendiri, “Sokurlah, bahwa mereka mau mendengarkan petunjuk-petunjukku.”

Sementara itu, Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menyusuri jalan bulak yang panjang. Dengan ketajaman ingatan seorang petugas sandi, Mahisa Ura mencoba mengingat, tanda-tanda manakah yang pernah dilihatnya. Namun ada semacam keyakinan bahwa pada saat-saat ia tersesat, ia memang melewati jalan itu.

“Aku sedang mencoba mengingat, apakah aku melewati tempat ini setelah aku kehilangan jalan,” berkata Mahisa Ura.

“Kau adalah seorang petugas sandi,” sahut Mahisa Pukat, “ingatanmu tentu cukup tajam.”

“Apakah seorang petugas sandi pada suatu saat tidak akan kehilangan jejak pada ingatannya?” berkata Mahisa Ura, “mungkin aku kehilangan jejak itu. Tetapi mungkin aku akan mampu mengingatnya kembali.”

Mahisa Murtilah yang kemudian tersenyum sambil berkata, “Usahakan, agar kau dapat mengingatnya kembali.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak segera dapat mengingat jalan yang pernah dilaluinya.

Namun demikian ia berkata, “besok kita pergi ke Utara. Mungkin ada sesuatu yang dapat mengingatkan aku kepada jalan yang menuju ke padepokan orang-orang bertongkat itu.”

Hari itu Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat benar-benar hanya melihat-lihat. Mereka memasuki sebuah padukuhan dan berbicara dengan Bekel di padukuhan itu. Ternyata Ki Bekel pun tidak berkeberatan jika ketiga orang itu akan sekedar berjual beli batu-batu akik dan wesi aji. Bahkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menunjukkan contoh-contoh dari barang-barang yang dijual belikan.

“Kami menunggu Ki Bekel di padukuhan sebelah sedang melakukan tayuh atas sebuah dari wesi aji yang kami bawa. Sementara itu, kami mulai hubungan kami dengan padukuhan-padukuhan sebelah menyebelah,” berkata Mahisa Ura.

“Baiklah,” berkata Ki Bekel, “singgahlah di sini. Jika kalian ingin bermalam di banjar padukuhan, kami tidak berkeberatan. Tetapi sebagaimana kalian katakan, bahwa kami hanya dapat menyediakan tempat sekedar untuk tidur saja, seperti di padukuhan tempat kalian bermalam sekarang.”

“Terima kasih,” berkata Mahisa Ura, “tetapi jika barang-barangku sudah habis, maka aku akan kembali lebih dahulu untuk mengambil barang-barang dagangan baru. Kemudian aku akan kembali lagi ke padukuhan ini.”

“Kapan pun Ki Sanak datang, kami akan menerima kalian dengan senang hati,” berkata Ki Bekel.

Ketika ketiga orang itu meninggalkan rumah Ki Bekel, maka baik Ki Bekel maupun orang-orang lain, tidak seorang- pun yang memberitahukan apa pun tentang kemungkinan yang buruk jika mereka menempuh perjalanan ke Utara.

Karena itu, ketika mereka kembali ke penginapan, mereka pun telah memperbincangkannya.

“Apakah benar kata Ki Jagabaya, bahwa tidak seorang pun yang berani menyebut tentang padepokan itu,” berkata Mahisa Ura.

“Tetapi rasa-rasanya tidak ada sesuatu yang tidak wajar pada Ki Bekel dan para bebahunya. Seandainya memang ada sesuatu, maka tentu salah seorang di antara mereka akan memberitahukan kepada kita,” berkata Mahisa Murti.

Namun Mahisa Pukatlah yang menyahut, “Mungkin mereka memang mendapat ancaman. Tetapi dengan demikian justru akan menjadi semakin menarik untuk mencari hubungan dengan orang-orang di padukuhan itu. Karena itu, besok kita akan pergi ke Utara untuk menemukan jalan menuju ke padepokan itu.”

“Baiklah,” berkata Mahisa Ura, “besok kita pergi ke Utara tanpa diketahui oleh Ki Jagabaya.”

“Kita akan berangkat pagi-pagi benar, sementara kita akan keluar dari padukuhan di regol sebelah Barat. Regol yang tentu tidak akan dilewati, jika seseorang pergi ke Utara. Mudah-mudahan Ki Jagabaya tidak melihatnya kemana kita akan pergi,” berkata Mahisa Murti.

Dengan demikian, maka pada hari itu, ketika mereka bertemu dengan Ki Jagabaya telah menceriterakan apa yang mereka lakukan di padukuhan sebelah.

Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Katanya, “Sokurlah jika kalian tidak mengalami sesuatu. Padukuhan yang kalian datangi itu juga masih termasuk satu Kabuyutan dengan padukuhan ini.”

Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja Ki Jagabaya bertanya dengan berbisik, “Ki Sanak. Apakah kalian juga mendapat peringatan ketika kalian bertemu dengan Ki Bekel di padukuhan sebelah, agar kalian tidak pergi ke Utara.”

Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu.

Namun Mahisa Uralah yang menjawab perlahan-lahan sambil menggeleng, “Tidak. Tidak Ki Jagabaya.”

“Nah, yakinlah sekarang, bahwa yang aku katakan benar,” desis Ki Jagabaya.

“Ya,” jawab Mahisa Ura, “kami percaya. Karena itu, kami tidak pergi ke Utara.”

Tetapi ketiga orang itu sama sekali tidak melepaskan rencananya. Mereka benar-benar berniat esok pagi pergi ke Utara justru karena Ki Jagabaya telah melarangnya.

Malam itu, ketiga orang itu pun berusaha untuk beristirahat sebanyak-banyiskaya. Di sore hari mereka telah berada di sebuah warung disudut padukuhan itu. Namun tidak seorang pun di antara orang-orang yang berada di warung itu, bahkan juga penjualnya, yang berbicara tentang daerah Utara itu, meskipun ketiga orang itu telah memancingnya.

Karena itulah, ketika mereka sudah berbaring di sebuah amben yang besar dibilik di serambi banjar padukuhan, maka Mahisa Pukat pun berkata, “Nampaknya akan terjadi satu perjalanan yang menarik.”

“Mungkin,” jawab Mahisa Ura, “mudah-mudahan aku pun mampu mengenali sesuatu yang dapat menjadi petunjuk arah.”

“Atau bahkan kita justru akan terperosok kedalamnya. Kedalam padepokan orang-orang bertongkat itu,” sahut Mahisa Murti.

Namun ketiganya tidak membicarakannya lagi. Mereka berusaha untuk dapat tidur dengan baik. Namun justru karena pesan Ki Jagabaya sertai kesadaran mereka, bahwa kedatangan mereka di padukuhan itu telah diawasi oleh orang-orang yang tidak mereka ketahui, maka mereka telah mengatur waktu, agar mereka tidak tidur bersama-sama. Seorang di antara mereka akan bergantian berjaga-jaga, meskipun barangkali yang bertugas berjaga-jaga itu juga berbaring bersama kedua orang yang lain.

Dengan tertib mereka telah mengatur, siapakah yang mendapat giliran untuk tidur untuk waktu tertentu.

Namun Mahisa Pukat yang mendapat giliran pertama lebih senang duduk saja bersandar pintu yang sudah diselarak.

Ketika angin berhembus lewat celah-celah dinding bambu, maka terasa mata Mahisa Pukat menjadi sangat berat. Namun ia harus bertahan untuk bangun sampai saatnya ia membangunkan Mahisa Murti yang akan menggantikannya. Menjelang dini hari, Mahisa Uralah yang akan berjaga-jaga sampai mereka terbangun seluruhnya menjelang hari yang akan datang.

Namun ketika hampir saatnya Mahisa Pukat membangunkan Mahisa Murti, tiba-tiba saja ia mendengar desir lembut di luar pintu. Karena itu, maka Mahisa Pukat itu pun telah mengatur pernafasannya serta berusaha untuk tidak bergerak.

Desir lembut itu lewat didalam pintu. Sejenak langkah itu berhenti, namun kemudian langkah itu bergeser terus dan hilang di ujung serambi.

Mahisa Pukat termangu-mangu. Namun ia pun kemudian berkata kepada diri sendiri, “Mungkin seorang peronda yang bertugas di banjar.”

Namun sejenak kemudian, ia mendengar langkah itu kembali dan bahkan berhenti sejenak di muka pintu uu. Sehingga dengan demikian maka Mahisa Pukat harus menahan diri dan sekali, lagi mengatur pernafasannya, sehingga tarikan nafasnya yang teratur mengesankan orang-orang yang sedang tidur nyenyak.

Tetapi langkah itu tidak terlalu lama berhenti. Terdengar lagi desir menjauh dan kemudian hilang pula dari pendengarannya.

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, maka waktu yang menjadi tanggung jawabnya sudah lewat. Karena itu, maka ia pun kemudian menyentuh Mahisa Murti yang segera terbangun pula.

“Akulah sekarang yang bertugas?” bertanya Mahisa Murti.

“Ya. Aku sudah menyelesaikan tugasku. Tetapi tiba-tiba aku sama sekali tidak merasa mengantuk,” jawab Mahisa Pukat perlahan.

“Kenapa?” bertanya Mahisa Murti hampir berbisik.

Mahisa Pukat termangu-mangu. Sejenak ia memperhatikan keadaan diluar bilik itu. Ketika ia yakin bahwa tidak ada sesuatu yang mencurigakan, maka ia pun telah menceriterakan apa yang dialaminya.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Lalu katanya lirih, “Baiklah. Aku akan berhati-hati. Kau tidur sajalah. Seandainya ada seseorang yang membayangi kita, maka ia tidak akan melakukan sesuatu di banjar ini.”

“Apakah hal ini ada hubungannya dengan orang-orang yang membayangi perjalanan kita pada saat kita mendekati padukuhan ini?” bertanya Mahisa Pukat.

“Kita masih belum tahu,” jawab Mahisa Murti, “kita pun belum dapat menghubungkan hal itu dengan sikap Ki Jagabaya. Menurut pendapatku, seandainya di daerah Utara ada orang-orang yang pantas ditakuti, mereka agaknya tidak akan sampai ke banjar ini.”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sementara itu sekali lagi Mahisa Murti berkata, “Tidurlah. Tidak akan terjadi sesuatu.”

“Aku tidak mengantuk,” jawab Mahisa Pukat.

“Berbaringlah,” desis Murti pula, “kau akan mengantuk dan kemudian tertidur. Besok kita akan melakukan sesuatu yang mungkin gawat. Tetapi mungkin juga tidak ada apa-apa. Tetapi sebaiknya kau beristirahat. Aku sudah cukup lama beristirahat, sehingga seandainya aku tidak tertidur lagi, aku sudah cukup segar.”

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian telah berbaring diamben yang besar itu di sebelah Mahisa Ura. Ternyata derit amben itu telah membangunkan Mahisa Ura. Tetapi agaknya Mahisa Ura tidak berminat untuk bangun. Ia hanya membuka matanya sejenak sambil berdesis, “Kalian akan bergantian tugas?”

“Ya,” jawab Mahisa Pukat yang sudah berbaring, sementara Mahisa Murti pun kemudian duduk bersandar pintu sebagaimana dilakukan oleh Mahisa Pukat sebelumnya.

“Kenapa kau duduk disitu?” bertanya Mahisa Ura.

“Tidak apa-apa,” jawab Mahisa Murti, “jika aku masih dipembaringan aku akan mengantuk lagi.”

Mahisa Ura tidak bertanya lagi. Bahkan matanyalah yang kemudian terpejam.

Sementara itu Mahisa Pukat pun berdesis, “Jika saatnya ia berjaga-jaga kau beritahukan apa yang aku dengar atau mungkin kau juga akan mendengarnya.”

“Baiklah,” jawab Mahisa Murti.

Namun sambil matanya masih tetap terpejam Mahisa Ura berdesis, “Ada apa?”

“Tidurlah,” sahut Mahisa Pukat, “aku pun akan tidur.”

Mahisa Ura memang tidak bertanya lagi. Ia pun segera tertidur lagi.

Berbeda dengan Mahisa Ura, ternyata Mahisa Pukat memerlukan waktu yang lebih lama untuk dapat tertidur.

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti masih saja duduk bersandar pintu. Beberapa lama ia menunggu. Tetapi ia tidak mendengar sebagaimana didengar oleh Mahisa Pukat. Bahkan sampai saatnya ia menyelesaikan tugasnya, ia sama sekali tidak mendengar apa-apa.

Menjelang dini hari, Mahisa Murti telah membangunkan Mahisa Ura yang telah tidur dengan nyenyak. Karena itu, ketika tangan Mahisa Murti menyentuhnya, ia pun segera terbangun dan berkisar turun dari pembaringan.

Dalam pada itu ternyata Mahisa Pukat pun terbangun pula, sehingga dengan demikian bersama Mahisa Murti ia memberikan beberapa pesan kepada Mahisa Ura yang bertugas terakhir untuk malam itu.

“Sebentar lagi kita akan bangun dan akan menuju ke tempat yang justru dilarang oleh Ki Jagabaya,” berkata Mahisa Murti, “karena itu, mungkin aku masih sempat memanfaatkan waktu yang sedikit ini untuk tidur lagi. Tidurlah kalian,” sahut Mahisa Ura, “aku akan duduk pula seperti kalian, bersandar pintu.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian telah berbaring pula. Mereka ingin mempergunakan waktu yang tinggal sedikit untuk tidur lagi barang sejenak, sementara Mahisa Uralah yang bertugas berjaga-jaga.

Ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih dapat mempergunakan sisa waktu yang pendek itu untuk tidur nyenyakTetapi tidak terlalu lama. Sejenak kemudian telah terdengar ayam jantan berkokok bersahut-sahutan.

Mahisa Ura yang berjaga-jaga pun telah membangunkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Mereka dengan cepat berbenah diri dan kemudian keluar dari dalam bilik mereka.

Ketika para penjaga banjar itu bertanya, maka keti-ganya pun menjawab, “Kami akan pergi ke sungai. Mungkin kami akan langsung pergi ke pasar.”

Para penjaga sama sekali tidak mencurigai mereka. Mereka membiarkan Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura untuk keluar dari halaman banjar.

Ketika mereka keluar dari regol padukuhan, maka mereka masih bertemu dengan anak-anak muda yang pulang dari ronda. Ketika anak-anak muda itu bertanya, maka jawab Mahisa Ura pun tidak ubahnya dengan jawaban yang diberikannya kepada para penjaga di regol halaman banjar.

Demikian maka ketiga orang itu pun telah keluar dari regol padukuhan. Mereka memang menuju kesungai. Tetapi mereka tidak terlalu lama berada di sungai kecil di sebelah padukuhan itu. Namun mereka pun kemudian justru telah pergi ke arah yang tidak dikehendaki oleh Ki Jagabaya.

Dengan hati-hati mereka menuju ke Utara. Setiap jengkal yang mereka lalui telah mereka perhatikan dengan seksama, sementara langit pun telah menjadi merah.

Namun ketiga orang itu yakin, bahwa tidak seorang pun yang memperhatikan perjalanan mereka. Mereka pun berharap bahwa Ki Bekel kemudian dan apalagi Ki Jagabaya tidak mengetahui bahwa mereka telah menuju ke arah Utara.

Ketika langit menjadi terang, maka mereka telah berada cukup jauh dari padukuhan yang menjadi tempat tinggal mereka.

Dengan cermat mereka memperhatikan jalan yang mereka lalui. Mereka memperhatikan setiap ujud yang menarik perhatian. Mungkin pepohonan yang besar, mungkin batu-batu besar, apalagi batu besar yang berwarna hijau sebagaimana pernah diceriterakan oleh Mahisa Ura pada saat ia tersesat.

Untuk beberapa lama mereka sama sekali tidak menemukan sesuatu yang dapat dipergunakannya untuk menemukan jalan yang pernah ditempuh oleh Mahisa Ura.

Namun mereka tidak menjadi berputus asa. Mereka masih saja berjalan melampui beberapa padukuhan. Namun mereka tidak mengetahui, apakah mereka telah berada di ujung Kabuyutan yang lain.

Beberapa orang yang berpapasan dengan mereka bertiga memang berpaling dan melihat mereka. Tetapi ketiga orang itu memang tidak begitu menarik untuk diperhatikan. Mereka datang ujud memang tidak lebih dari orang kebanyakan. Bahkan Mahisa Ura ketika melewati sebuah paSar yang mulai banyak didatangi orang setelah matahari membayang, telah membeli sebuah cambuk lembu sebagaimana dibawa oleh kebanyakan belantik lembu atau pembawa pedati.

Dengan demikian maka mereka bertiga telah dikira belantik lembu dan kerbau bahkan mungkin juga kambing yang datang dari tempat yang agak jauh.

Namun akhirnya mereka pun tertegun ketika mereka sampai kesebuah tugu batu yang tidak terlalu besar yang merupakan batas antara kabuyutan yang disebut oleh Ki Jagabaya.

“Kita sudah sampai di ujung Kabuyutan,” berkata Mahisa Ura, “ternyata kita tidak mengalami sesuatu. Bahkan sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa di daerah ini merupakan daerah yang berbahaya. Jalan ini masih saja banyak orang lewat sebagaimana di Kabuyutan yang baru saja ditinggalkannya. Di Kabuyutan berikutnya pun tanda-tanda kehidupan ubahnya seperti Kabuyutan sebelah. Sawah-sawah juga nampak hijau dan para petani pun telah mengerjakannya dengan rajin.

Hal itu telah mendorong Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk memasuki Kabuyutan tetangga itu lebih dalam lagi.

Untuk beberapa saat mereka berjalan, memang tidak ada yang menarik. Mereka sengaja melalui beberapa padukuhan. Namun sikap orang-orang padukuhan itu pun nampaknya ramah sebagaimana padukuhan tempat mereka menginap.

“Aku tidak mengerti, kenapa Ki Jagabaya telah melarang kita memasuki daerah ini,” gumam Mahisa Ura.

“Ya. Nampaknya daerah ini tidak terlalu gawat. Semuanya berjalan lancar, baik, tenang dan sebagaimana kita lihat di padukuhan tempat kita menginap,” desis Mahisa Murti.

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Katanya pula, “Jika benar seperti yang didengar oleh Mahisa Pukat tentang langkah-langkah didepan bilik kita, serta dugaan kita bahwa ketika kita datang telah diikuti oleh orang-orang yang tidak kita kenal, maka tempat yang gawat justru tidak di sini. Tetapi di padukuhan tempat kita menginap meskipun nampaknya juga tenang dan baik seperti ditempat ini.”

“Aku memang kurang mengerti tentang sikap Ki Jagabaya. Kenapa ia sama sekali tidak berkata apapun juga, ketika kita berbicara dengan Ki Bekel dan anaknya. Bahkan tidak seorang pun di padukuhan itu, di pasar dan dimana saja, yang pernah mengatakan bahwa daerah yang kita masuki sekarang adalah daerah yang berbahaya sebagaimana dikatakan oleh Ki Jagabaya,” berkata Mahisa Pukat.

“Apakah kau justru menjadi curiga?” bertanya Mahisa Ura.

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak dapat mengatakannya demikian. Tetapi aku hanya kurang mengerti maksudnya. Mungkin ia tidak berniat kurang baik.”

“Ya,” sambung Mahisa Murti, “kita belum dapat dengan serta merta mencurigainya. Kita harus melihat lebih dahulu persoalan-persoalan yang berkembang kemudian.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu. Ia kemudian lebih memperhatikan lingkungan yang mereka lalui.

Namun tiba-tiba Mahisa Ura itu memejamkan matanya. Kemudian dipandanginya keadaan alam disekelilingnya. Lalu tiba-tiba saja ia berkata, “Bukan dalam mimpi. Aku pernah melihat hutan perdu itu. Di sebelah hutan perdu itu terdapat hutan yang meskipun tidak begitu liar, tetapi temasuk hutan yang cukup lebat.

“Ada apa?” bertanya Mahisa Murti yang mulai berharap bahwa Mahisa Ura akan dapat mengingat sesuatu.

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Apakah kalian membawa barang-barang dagangan kalian?”

“Ya,” jawab Mahisa Pukat dan Mahisa Murti hampir berbareng.

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Sebaiknya kita singgah di padukuhan sebelah. Kita bertemu dengan Ki Bekel dan minta untuk mendapat kesempatan sebagaimana kita dapatkan di padukuhan yang sekarang. Kita juga akan menawarkan barang-barang dagangan seperti yang kita tawarkan itu.”

Tetapi Mahisa Murti menyahut, “Bagaimana dengan Ki Bekel yang sedang menayuh wesi aji itu? Jika kita berada di sini, maka berarti kita sudah melanggar pesan Ki Jagabaya. Mungkin Ki Bekel pun akan marah.”

“Bukankah kita tidak menyesal seandainya Ki Bekel itu mengurungkan niatnya untuk membeli wesi aji itu,” bertanya Mahisa Ura.

“Memang tidak apa-apa. Tetapi mungkin ki Bekel bukan hanya tidak jadi membeli. Tetapi wesi aji itu tidak akan dikembalikan kepada kita,” jawab Mahisa Murti.

“Tidak apa-apa. Kau akan dapat minta ganti kepada orang-orang Kediri yang memberikan tugas kepada kalian,” berkata Mahisa Ura.

“Bukan hanya itu,” sahut Mahisa Pukat, “hubungan kita dengan Ki Bekel dan orang-orang padukuhan itu akan terputus.”

Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan nada rendah, “Aku mengerti. Tetapi tempat ini sangat menarik perhatianku. Hutan perdu itu. Dan aku membayangkan di belakangnya akan terdapat sebuah hutan yang cukup lebat. Kemudian di belakangnya akan terdapat sebatang randu alas raksasa. Jika kita pergi lebih jauh lagi, maka kita akan sampai kesebuah batu besar berwarna hijau.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah Mahisa Murti berkata, “Kau mulai mengenalinya?”

“Mudah-mudahan aku benar,” berkata Mahisa Ura.

“Aku yakin akan ketajaman penglihatan dan ingatannya sebagai petugas sandi,” desis Mahisa Pukat.

Mahisa Ura berpaling ke arah Mahisa Pukat sambil berdesis, “Jika kau mulai memujiku, maka segalanya akan gagal.”

“Baik-baik,” dengan serta merta Mahisa Pukat menyahut, “aku tidak akan memujimu. Sepantasnya kau memang tidak dipuji.”

Mahisa Ura tersenyum sebagaimana Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Namun kemudian katanya, “Jadi kita akan kembali dahulu, baru setelah lewat saat tayuh itu, kita kembali lagi kemari?”

Dengan demikian maka ketiga orang itu pun memutuskan untuk kembali lagi ke padukuhan tempat mereka menginap untuk menyelesaikan persoalan wesi aji yang sedang ditayuh oleh Ki Bekel.

Ketika mereka bertiga sampai ke banjar, maka seorang petugas telah bertanya, “Kemana saja kalian sehari ini?”

“Berjalan-jalan,” jawab Mahisa Ura, “kami melihat-lihat isi Kabuyutan ini. Kami melihat padukuhan demi padukuhan. Mungkin kami akan dapat menemukan tempat yang subur bagi sawah kami.”

Petugas itu tersenyum. Katanya, “Kalian adalah pedagang yang ulet. Dengan demikian maka kalian akan cepat menjadi kaya.”

“Kenapa. Bukankah yang kami lakukan adalah sebagaimana dilakukan oleh para pedagang yang lain?” bertanya Mahisa Ura.

“Ya. Tetapi jarang sekali ada pedagang yang pernah mencapai tempat ini. Tempat yang dianggap terpencil dan jarang sekali, bahkan hampir tidak ada seorang pun yang memiliki uang cukup untuk membeli kebutuhan-kebutuhan sampingan seperti yang kalian jual belikan itu,” jawab petugas itu, “Namun ternyata kalian berhasil menggelitik mereka yang beruang sedikit itu untuk membeli barang-barang kalian yang jarang sekali lihat di sini.”

“O, kenapa kau berkata begitu? Sampai sekarang baru ada seorang yang membeli barang daganganku,” jawab Mahisa Ura.

“Bukankah Ki Bekel juga akan membeli?” bertanya petugas itu.

Mahisa Ura tersenyum. Katanya, “Ki Bekel baru melakukan tayuh. Jika hasilnya sesuai, maka Ki Bekel akan membelinya. Tetapi jika tidak, maka rencana pembelian itu pun batal.”

“Tetapi bagaimanapun juga, kalian sudah menarik perhatiannya. Dan jika Ki Bekel jadi membelinya, maka kau akan cepat menjadi kaya. Orang-orang padukuhan ini akan menjadi latah dan membeli seperti apa yang dibeli oleh Ki Bekel,” berkata petugas itu.

Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Dengan tajamnya diperhatikannya petugas itu. Namun kemudian ia segera menyadari, sehingga ia pun telah berusaha agar orang itu tidak merasa diperhatikannya.

Bahkan Mahisa Ura pun berkata, “Jika orang-orang padukuhan ini menjadi latah, apakah kau juga akan latah dan membeli batu akik atau wesi aji?”

“Seharusnya juga demikian, tetapi aku tidak mempunyai cukup untuk itu. Karena itu, aku menjadi iri hati dan selalu mengumpat-umpat jika ada orang lain yang mendapat kesempatan untuk membelinya,” jawab petugas itu.

Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Hampir saja ia mengambil kesimpulan lain dari sikap petugas sandi itu dari sekedar iri hati. Karena itu, maka Mahisa Ura itu pun mengangguk-angguk kecil.

“Sudahlah,” berkata Mahisa Ura kemudian, “kami akan beristirahat.”

“Silahkan,” petugas itu mempersilahkan, “aku berada di sini sampai malam.”

Mahisa Ura bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat- pun kemudian telah menuju ke bilik mereka.

Namun ternyata bukan hanya Mahisa Ura sajalah yang merasa heran melihat sikap petugas itu. Nampaknya petugas itu tidak begitu senang terhadap Ki Bekel yang telah memilih satu di antara barang-barang Mahisa Murti untuk dibeli apabila dalam tayuhnya ia menemukan persesuaian.

Adalah diluar dugaan Mahisa Ura, bahwa Mahisa Murti telah bertanya kepadanya, “Apa katamu tentang petugas itu?”

“Petugas yang mana?” bertanya Mahisa Ura.

“Petugas yang mengeluh karena tidak mampu untuk membeli apapun juga dari kita,” jawab Mahisa Murti.

Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Ternyata sikapnya itu hanya dilandasi oleh perasaan iri hati.”

“Mungkin,” jawab Mahisa Murti, “Tetapi aku mempunyai dugaan lain. Mungkin orang itu memang iri hati, tetapi mungkin ia memang tidak begitu senang terhadap Ki Bekel karena sebab lain.”

“Aku sependapat,” jawab Mahisa Pukat, “agaknya orang itu memang tidak begitu senang terhadap Ki Bekel. Mungkin karena cara Ki Bekel memerintah. Tetapi mungkin karena sebab-sebab lain.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Katanya, “Semula aku juga berpikir begitu. Tetapi setelah orang itu berterus terang bahwa ia merasa iri karena ia tidak akan mungkin dapat membelinya, maka aku tidak berprasangka lagi.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk, katanya, “Baiklah kita menunggu sebagaimana kita menunggu perkembangan keadaan menghadapi Ki Jagabaya. Mungkin ia justru benar-benar berniat baik meskipun akibatnya dapat berakibat lain.”

Mahisa Ura dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun semuanya itu telah memaksa mereka untuk lebih berhati-hati.

Ketika kemudian saatnya tiba, maka Ki Bekel pun telah datang ke banjar pagi-pagi sekali. Pada saat matahari masih belum terbit. Dengan wajah yang cerah ia pun berkata, “Ki Sanak. Nampaknya aku sesuai dengan wesi aji itu. Wesi kuning itu memberikan harapan-harapan baik jika aku memilikinya. Ujudnya pun menarik. Seperti sebilah pisau kecil yang dapat dimasukkan kedalam kantong ikat pinggang dan dengan demikian maka akan dapat aku bawa kemana-mana. Wesi kuning itu menurut tayuh yang aku lakukan, memberikan isyarat bahwa wesi kuning itu mempunyai pengaruh yang sejuk, tenang dan tidak berangasan.”

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun dengan demikian ia pun sadar, bahwa Ki Bekel memang memiliki kemampuan untuk menilai wesi aji.

Dengan demikian maka mereka mulai membicarakan harga dari wesi kuning itu. Seperti yang sudah, maka Mahisa Murti tidak membuat harga terlalu tinggi, tetapi juga tidak terlalu rendah, karena jika demikian justru akan dapat mengundang kecurigaan.

Beberapa lamanya terjadi tawar menawar. Namun akhirnya, harga demikian Mahisa Murti telah mendapat keuntungan meskipun tidak terlalu banyak.

Dalam kesempatan itu, maka Mahisa Murti yang telah menerima uang dari Ki Bekel itu pun tiba-tiba saja berkata, “Ki Bekel apakah aku diperkenankan untuk bertanya sesuatu? Mumpung di sini sekarang tidak ada orang lain.”

“Bertanya apa?” Ki Bekel menjadi heran. “tentang wesi aji?”

“Tidak Ki Bekel,” jawab Mahisa Murti, “Tetapi sebelumnya kami minta maaf. Mungkin pertanyaan kami tidak menyenangkan bagi Ki Bekel. Kami pun sama sekali tidak bermaksud untuk mengadu bahkan ingin menumbuhkan kesan yang kurang baik. Jika pertanyaan nanti kami ajukan, semata-mata karena kami telah menerima kebaikan Ki Bekel di padukuhan ini.”

Ki Bekel jadi termangu-mangu. Dengan nada datar ia pun berkata, “Silahkan Ki Sanak. Apa yang ingin kalian tanyakan?”

“Ki Bekel, apakah benar bahwa di arah utara dari Kabuyutan ini merupakan daerah yang pantang didatangi oleh orang luar?” bertanya Mahisa Murti.

Ki Bekel mengerutkan keningnya. Ia merasa heran atas pertanyaan itu. Bahkan kemudian dengan curiga Ki Bekel ganti bertanya, “Siapa yang mengatakannya?”

“Seseorang,” jawab Mahisa Murti.

“Sebutlah,” desak Ki Bekel, “aku adalah Bekel di padukuhan ini. Aku tahu kewajibanku dan aku tahu, apa yang harus aku lakukan menghadapi persoalan-persoalan yang betapapun rumitnya bagi padukuhan ini.”

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun berkata, “Maaf Ki Bekel. Yang memberitahukan kepadaku akan hal tersebut adalah Ki Jagabaya.”

Mahisa Murti pun kemudian menirukan pesan-pesan yang pernah diberikan oleh Ki Jagabaya kepadanya ketika mereka akan keluar dari padukuhan itu untuk melihat-lihat keadaan.

Ki Bekel menjadi tegang sejenak. Namun kemudian wajahnya telah pulih kembali. Dengan cepat Ki Bekel berhasil menguasai gejolak perasaannya.

Sambil mengangguk-angguk Ki Bekel pun berkata, “Mungkin Ki Jagabaya mengetahui banyak tentang daerah tersebut sesuai dengan tugas pengamanannya atas padukuhan ini. Tetapi sepanjang pengetahuanku, di daerah Utara itu tidak pernah terjadi sesuatu.”

“Tetapi dari mana Ki Jagabaya mendapatkan keterangan tentang hal itu?” bertanya Mahisa Murti.

“Entahlah,” jawab Ki Bekel, “aku kurang tahu. Tetapi hal itu bukannya tidak perlu diperhatikan. Bahkan bagiku hal itu merupakan sesuatu yang sangat menarik.”


Mahisa Murti mengangguk-angguk. Sementara Ki Bekel berkata pula, “Hal ini memang perlu dipelajari.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hampir berbareng berpaling ke arah Mahisa Ura. Namun agaknya Mahisa Ura tidak menaruh perhatian terlalu besar terhadap keterangan Ki Bekel itu. Sehingga karena itu maka Mahisa Murti pun terpaksa bertanya terus terang, “Ki Bekel. Apakah sudah seharusnya Ki Bekel berhubungan langsung dengan Ki Jagabaya tentang persoalan ini?”

Ki Bekel mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun telah bertanya, “Jadi apakah sebaiknya yang aku lakukan? Tingkah laku Ki Jagabaya memang menimbulkan pertanyaan yang harus dijawab. Karena itu, maka pada suatu saat, aku akan berhubungan dengan Ki Jagabaya.”

“Tetapi bukankah segala sesuatunya masih perlu mendapatkan kejelasan?” bertanya Mahisa Pukat.

“Jika kau berbicara dengan Ki Jagabaya, maksudnya adalah untuk mendapatkan penjelasan itu,” jawab Ki Bekel.

Mahisa Ura ternyata kemudian dapat menangkap maksud Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu. Karena itu, maka katanya, “Ki Bekel. Sebaiknya aku berkata terus terang. Jika kedua adikku mempersoalkan apakah Ki Bekel harus berterus terang kepada Ki Jagabaya atau tidak maka maksudnya adalah, sebaiknya Ki Bekel membiarkan untuk tidak membicarakannya dengan Ki Jagabaya. Sebab jika Ki Bekel menanyakan kepadanya, maka persoalannya akan terputus. Maksudku jika benar ada sesutu yang kurang wajar pada Ki Jagabaya, biarlah itu berlangsung. Selama itu, kita akan dapat mengadakan penyelidikan untuk mengetahui apakah sebenarnya yang dilakukan oleh Ki Jagabaya,” Mahisa Murti terdiam sejenak, lalu, “tetapi kami minta maaf Ki Bekel. Apakah selama ini Ki Bekel menaruh kepercayaan sepenuhnya atau tidak?”

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Selama ini aku percaya kepadanya. Tetapi itu bukan berarti bahwa sesuatu tidak dapat terjadi. Mungkin ada sesuatu diluar pengamatanku sehingga kepercayaanku itu justru akan dapat menjerumuskan langkah-langkahku dan aku menjadi kurang berhati-hati.”

“Ki Bekel,” berkata Mahisa Ura, “jika masih ada setitik saja keragu-raguan di hati Ki Bekel, maka aku mohon agar hal ini sebaiknya tidak Ki Bekel sampaikan kepada Ki Jagabaya. Biarlah Ki Bekel dan barangkali kami bertiga, akan dapat membantu Ki Bekel, melihat apa yang sebenarnya dikehendaki oleh Ki Jagabaya.”

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya. “Baiklah Ki Sanak. Aku tidak akan menanyakannya kepada Ki Jagabaya. Tetapi aku akan mengikuti tingkah lakunya, sehingga pada suatu saat, kita dapat menjawab pertanyaan yang timbul karena tingkah lakunya.”

“Baiklah Ki Bekel,” berkata Mahisa Ura kemudian, “besok aku akan meninggalkan padukuhan ini. Aku akan berada di banjar, di padukuhan di ujung Kabuyutan ini. Tempat yang disebut oleh Ki Jagabaya sebagai tempat yang berbahaya. Aku harap Ki Bekel akan datang kepadaku, atau mengirimkan pesuruhnya menemui aku.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan kita akan dapat bersama untuk memecahkan teka-teki ini.”

“Tetapi Ki Bekel apakah Ki Bekel mengetahui sesuatu atau kemungkinan yang menarik perhatian di ujung Kabuyutan ini?” bertanya Mahisa Ura.

Ki Bekel menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak melihat sesuatu.”

“Baiklah Ki Bekel,” jawab Mahisa Ura, “kami besok akan mohon diri. Mudah-mudahan kita akan menemukan sesuatu.”

“Tetapi kenapa kalian tiba-tiba saja menjadi tergesa-gesa meninggalkan padukuhan ini,” bertanya Ki Bekel.

“Sebenarnya aku akan berada ditempat ini lebih lama lagi. Tetapi agaknya sesuatu telah memaksa kami untuk pergi meskipun kita untuk selanjutnya akan tetap berhubungan,” jawab Mahisa Ura.

Demikianlah maka di hari berikutnya, maka Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah minta diri kepada Ki Bekel dan para bebahu padukuhan itu. Dengan sengaja Mahisa Ura mengatakan, bahwa ia telah berhubungan dengan seseorang yang tinggal di padukuhan di ujung Kabuyutan itu.

Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Wajahnya menjadi tegang sesaat. Tetapi ia pun kemudian tersenyum sambil bertanya, “Kenapa kalian memilih untuk bergeser ke arah Utara?”

Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Bagaimana juga, jantung Mahisa Ura memang terasa berdebar-debar. Namun demikian ia menjawab, “Sudah aku katakan Ki Jagabaya. Seseorang telah menyatakan keinginannya untuk melihat barang-barang kami.”

“Apakah orang orang padukuhan ini tidak ada lagi yang ingin membeli barang-barang dagangan Ki Sanak?” bertanya Ki Jagabaya.

“Aku sudah berada ditempat ini beberapa hari. Jika ada, maka aku kira mereka sudah menghubungi kami sampai hari ini,” jawab Mahisa Ura.

Ki Jagabaya termangu-mangu sejenak. Tetapi ia pun tersenyum lagi sambil menjawab, “Mungkin seseorang sedang mengumpulkan uangnya atau mungkin ada sebab-sebab lain.”

Mahisa Ura pun kemudian menjawab, “Aku tidak akan berada ditempat yang terlalu jauh. Jika uang itu benar telah terkumpul, maka kami masih tetap berada di Kabuyutan ini. Jika pada suatu saat kami akan meninggalkan Kabuyutan init maka kami akan melaporkannya kepada Ki Bekel di sini.”

Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Mungkin aku akan mendapat kesempatan untuk menengok kalian.”

“Terima kasih Ki Jagabaya. Kami akan tetap menunggu. Kami akan berada di padukuhan itu untuk tiga atau ampat hari saja. Kecuali jika terjadi perkembangan yang menguntungkan dari perdagangan kami,” jawab Mahisa Ura.

Keduanya kemudian terdiam. Sementara itu Ki Bekel- pun yang berkata, “Nah, segalanya terserah kepada kalian, kapan saja kita kalian kehendaki, maka kalian akan dapat kembali ke banjar ini dan mempergunakan bilik itu untuk waktu yang tidak terbatas.”

Dengan demikian, maka Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah meninggalkan padukuhan itu dan pergi ke padukuhan di Ujung Kabuyutan, justru yang oleh Ki Jagabaya disebut sebagai daerah yang sangat berbahaya.

Ketika mereka sampai di tengah bulak diluar padukuhan yang-telah mereka tinggalkan, maka Mahisa Murti pun bertanya, “Apakah yang akan kita lakukan, jika ternyata kita tidak diterima untuk bermalam di banjar itu?”

Mahisa Ura tiba-tiba saja tersenyum. Katanya, “Bukankah kita tidak mempunyai niat buruk?”

“Apakah kita akan menjelaskan persoalan yang kita hadapi kepada orang-orang padukuhan yang belum pernah kita kenal sama sekali?” bertanya Mahisa Pukat.

Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tentu tidak. Tetapi jika kita tidak dibenarkan untuk bermalam di banjar, kita akan mencoba mencari tempat di banjar padukuhan yang lain. Bahkan mungkin kita akan berhubungan dengan Ki Buyut. Tetapi seandainya kita benar-benar tidak mendapat tempat dimanapun, bukankah kita terbiasa tidur dimanapun juga?”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk pula. Katanya, “Kau benar. Kita dapat bermalam dimana saja.”

Mahisa Murti pun mengangguk-angguk juga sambil mengayunkan langkahnya satu-satu. Katanya, “Ya. Kita bukan saudagar-saudagar besar. Kita tidak lebih dari pengembara.”

Mahisa Ura dan Mahisa Pukat pun kemudian telah tertawa tertahan.

Demikianlah ketiganya berjalan ke arah yang tidak dikehendaki oleh Ki Jagabaya. Tetapi mereka memang sudah bertekad untuk melakukannya justru untuk memancing sikap Ki Jagabaya yang menurut ketiga orang itu, memang memerlukan perhatian yang khusus.

Beberapa saat lamanya mereka berjalan. Mereka justru telah melintasi beberapa buah padukuhan. Tetapi mereka memang berniat untuk berada di padukuhan di ujung Kabuyutan.

Namun ketiga orang itu tiba-tiba saja telah merasa terganggu bahwa ketika mereka sampai ke bulak yang terakhir sebelum mereka memasuki padukuhan yang berada di ujung Kabuyutan, maka mereka telah merasa bahwa seseorang atau lebih telah mengamati mereka dari jarak yang agak jauh, di antara yang tumbuh subur di sawah. Sekali-sekali mereka melihat seseorang berada di pematang beberapa puluh langkah dari jalan yang mereka lalui. Namun kadang-kadang orang itu tidak dapat mereka lihat lagi.

“Apakah kau melihatnya?” bertanya Mahisa Murti kepada Mahisa Pukat.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk sambil menjawab, “Ya. Aku melihatnya. Justru menarik sekali.” Lalu ia pun berpaling kepada Mahisa Ura, “Kau melihatnya.”

“Justru sekarang orang itu nampak di pematang,” jawab Mahisa Ura.

Sementara justru berpaling meskipun dengan hati-hati, agar tidak mengejutkan dan disadari oleh orang yang di pematang itu.

“Ya,” desis Mahisa Murti, “orang itulah yang aku maksud.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Mungkin orang itu pula yang telah mengawasi kita pada saat kita datang kepadukuhan pertama.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dalam pada itu Mahisa Ura pun menjawab, “Agaknya memang ada hubungannya dengan Ki Jagabaya meskipun dalam dua kemungkinan yang bertolak belakang. Mungkin orang itu adalah orang yang memang dipasang ojeh Ki Jagabaya, tetapi mungkin Ki Jagabaya benar bahwa kita seharusnya tidak usah pergi ke tempat ini.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun Mahisa Pukat pun berkata, “Biar sajalah. Jika orang itu ingin mengganggu kita, kita akan mencekiknya sampai hitam matanya hilang.”

“Ah, kau,” desis Mahisa Murti.

Mahisa Ura tersenyum. Katanya, “Kita akan menunggu apa yang akan terjadi dengan kita kelak.”

Mahisa Pukat dan Mahisa Murti tidak menjawab. Tetapi langkah mereka rasa-rasanya menjadi semakin berat ketika mereka mendekati padukuhan di ujung Kabuyutan.

“Sebelah padukuhan itu adalah batas antara dua Kabuyutan,” berkata Mahisa Ura.

“Ya. Tugu batas itu,” jawab Mahisa Murti kemudian.

Perlahan-lahan mereka maju semakin dekat. Namun akhirnya Mahisa Ura berkata, “Mau tidak mau kita akan pergi ke rumah Ki Bekel untuk menyatakan keinginan kami bermalam di padukuhan ini.”

“Ya,” sahut Mahisa Pukat, “marilah. Kita langsung pergi ke rumah Ki Bekel. Mudah-mudahan ia berada di rumah.”

Demikian ketiga orang itu pun telah pergi langsung ke rumah Ki Bekel. Untunglah bagi mereka, bahwa Ki Bekel masih ada di rumah.

Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengerutkan kening ketika mereka kemudian ditemui oleh Ki Bekel. Ternyata Ki Bekel masih muda juga seperti tamu-tamunya.

Ki Bekel yag berwajah cerah itu tersenyum. Seolah-olah ia mampu membaca perasaan tamu-tamunya. Karena itu maka katanya, “Akulah Bekel di padukuhan ini. Mungkin aku masih terlalu muda menurut Ki Sanak. Tetapi sebenarnyalah aku memang Bekel di padukuhan ini.”

“O, maaf Ki Bekel,” berkata Mahisa Ura, “kami memang heran melihat bahwa Ki Bekel masih terlalu muda untuk jabatan yang sedang Ki Bekel pangku sekarang.”

“Satu gambaran yang salah tentang seorang Bekel,” berkata Ki Bekel, “seolah-olah jika kita mendengar tentang seorang Bekel, kita membayangkan seorang yang sudah berjanggut dan berkumis putih, berjalan terbongkok-bongkok batuk.”

“Ah,” Mahisa Ura menjawab, “Bukan begitu Ki Bekel. Tetapi aku kira seorang Bekel yang muda pun wajar sekali.”

Ki Bekel tersenyum. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Baiklah. Mungkin kita memang mempunyai gambaran masing-masing.”

Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun tersenyum pula. Sementara itu, Ki Bekel yang masih muda itu-pun bertanya, “Apakah keperluan Ki Sanak datang ke padukuhan ini? Menurut penglihatanku Ki Sanak bukan orang padukuhan ini, karena aku mengenal setiap orang di sini.”

Mahisa Uralah yang menjawab, “benar Ki Bekel. Kami adalah tiga bersaudara yang mengembara sambil melakukan jual beli beberapa jenis benda. Kami bermaksud melakukan jual beli itu di padukuhan ini apabila ada yang berminat. Dengan demikian, apabila diijinkan kami mohon untuk dapat menginap di banjar barang satu dua malam.”

“Ooo,” Ki Bekel mengangguk-angguk. “apa yang kalian jual belikan?”

“Wesi aji dan batu permata serta batu akik dan sebangsanya,” jawab Mahisa Ura.

“Batu?” Ki Bekel bertanya, “batu permata memang mempunyai nilai yang tinggi untuk diperjual belikan. Tetapi batu akik adalah permainan orang-orang yang khusus karena sulit untuk memberi penilaian atas kegunaannya.”

“Kami juga membawa batu permata,” berkata Mahisa Ura, “jika Ki Bekel ingin melihat, kami dapat menunjukkannya.”

“Ah,” berkata Ki Bekel, “aku bukan seorang Bekel yang kaya. Memang ada niat untuk membeli batu permata. Tetapi aku sekarang tidak mempunyai uang untuk itu. Tetapi entahlah orang-orang lain dari padukuhan ini. Tetapi menurut penilaianku, orang-orang dari padukuhan ini bukan orang-orang kaya. Meskipun demikian aku tidak tahu jika ada di antara mereka yang telah menabung, sehingga jika Ki Sanak akan mencoba aku tidak berkeberatan memberikan kesempatan kepada Ki Sanak menginap barang satu dua malam di banjar.”

“Terima kasih Ki Bekel,” jawab Mahisa Ura, “aku dan kedua adik kami mengucapkan terima kasih atas kesempatan ini. Mudah-mudahan kami mendapat kesempatan untuk dapat melayani kebutuhan penghuni padukuhan ini.”

Ki Bekel pun kemudian memanggil seorang pembantunya dan berkata, “Bawa ketiga orang ini ke banjar. Mereka minta ijin untuk bermalam. Beritahukan kepada orang-orang padukuhan ini, bahwa jika mereka memerlukan wesi aji, batu permata dan batu akik, maka mereka dapat berhubungan dengan ketiga orang yang bermalam di banjar ini.”

Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian minta diri. Diantar oleh pembantu Ki Bekel, mereka bertiga pergi banjar padukuhan.

“Ki Bekel masih sangat muda,” berkata Mahis Ura kepada orang yang mengantarkannya.

“Ya.” jawab orang itu, “Ki Bekel yang sekarang belum lama menggantikan Ki Bekel yang terdahulu.”

“Ooo,” Mahisa Ura mengangguk-angguk, “bagaimana dengan Ki Bekel yang dahulu?”

“Ki Bekel telah meninggal,” jawab pembantu itu, “Ki Bekel yang sekarang adalah menantunya, karena Ki Bekel tidak mempunyai anak laki-laki.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya anak muda ini memang pantas menjadi seorang Bekel. Nampaknya ia cerdas dan tangkas.”

Pembantunya itu mengiakannya. Katanya, “Ya. Ki Bekel yang sekarang memang lebih trampil dari Ki Bekel yang terdahulu. Ki Bekel yang terdahulu adalah orang yang sederhana dan lugu. Ia tidak banyak berbuat sesuatu selain melakukan apa yang selalu dilakukan oleh para Bekel sebelumnya. Tetapi Ki Bekel yang sekarang telah melakukan hal-hal yang terasa baru dan segar meskipun ia selalu memanggil orang-orang tua untuk diajak berbicara.”

Mahisa Ura masih mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia menyahut, “Mudah-mudahan ia berhasil dalam tugasnya.”

Pembantu Ki Bekel itu tidak menjawab. Mereka berjalan saja menyusuri jalan padukuhan. Ketika seorang muncul dari regol halaman rumahnya, maka pembantu Ki Bekel itu berkata, “Mereka adalah saudagar permata dan wesi aji. Mereka akan berada di banjar untuk satu dua malam. Nah, apakah kau memerlukan wesi aji atau permata?”

“Ah,” Mahisa Ura menyela, “kami bukan saudagar. Kami hanya pedagang yang tidak berarti. Kami akan mencoba melayani kebutuhan beberapa jenis batu. Bukan hanya permata, tetapi juga jenis batu akik yang ujudnya menarik tetapi harganya sangat murah. Bahkan jika sesuai, akan dapat memberikan pengaruh bagi pemakainya.”

Orang itu mengangguk-angguk. Namun katanya, “Menarik sekali. Tetapi sayang, aku tidak mempunyai simpanan uang untuk membelinya.”

Pembantu Ki Bekel itu tersenyum. Katanya, “Mulailah menabung sedikit demi sedikit. Pada saatnya kau akan dapat membeli jenis bebatuan atau wesi aji.”

Orang itu tersenyum. Jawabnya, “Kita sama-sama tahu, apakah kita mungkin akan dapat menabung.”

“Ya,” pembantu Ki Bekel itu mengangguk-angguk. Tetapi kemudian katanya, “Namun di padukuhan ini aku kira ada juga satu dua orang yang akan membelinya.”

“Mungkin,” jawab orang itu, “Mudah-mudahan barang dagangan kalian akan dapat laku di sini.”

“Mudah-mudahan,” berkata Mahisa Ura, “tetapi seandainya tidak seorang pun yang membeli barang-barangku, kita pun tidak apa apa. Satu keuntungan sudah aku dapatkan. Mempunyai sahabat-sahabat baru di padukuhan ini.”

“Ya,” pembantu Ki Bekel itu menyahut, sementara orang yang keluar regol itu pun mengangguk-angguk pula.

Demikianlah, maka sejak dari itu Mahisa Ura dan kedua orang yang diakunya sebagai adiknya itu telah berada di banjar padukuhan di ujung Kabuyutan, yang justru menjadi tempat yang disebut sangat berbahaya oleh Ki Jagabaya di padukuhan yang baru saja mereka tinggalkan. Di tempat itu Mahisa Ura mengharap akan dapat mengetahui keadaan di sekitarnya lebih cermat lagi.

Namun setelah mereka berada di padukuhan itu, sama sekali tidak ada tanda-tanda sebagaimana dikatakan oleh Ki Jagabaya. Penghuni padukuhan itu nampaknya tidak merasakan tekanan ketakutan sama sekali. Jalan-jalan disekitar padukuhan itu pun nampaknya tidak menjadi sepi. Orang lewat pun nampaknya seperti juga jalan-jalan di padukuhan-padukuhan yang lain. Bahkan jalan-jalan di bulak panjang pun dilewati orang yang pergi dan pulang dari pasar.

Dengan demikian maka pertanyaan pun semakin mendesak di hati Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Apakah maksud Ki Jagabaya memberikan peringatan kepada mereka untuk tidak pergi ke daerah Utara itu.

Di hari kedua setelah mereka bertiga berada di banjar padukuhan di ujung Kabuyutan itu, maka mereka bertiga pun telah minta diri kepada penjaga banjar untuk melihat-lihat keadaan disekitar padukuhan itu.

“Kapankah kalian akan kembali?” bertanya penunggu bajar itu.

“Siang nanti,” jawab Mahisa Ura.

“Jadi apa jawabku jika ada orang yang menanyakan kalian untuk melihat wesi aji atau batu akik?” bertanya penjaga banjar itu pula.

“Sore nanti aku ada di banjar. Pagi ini aku ingin mencari kemungkinan pemasaran di padukuhan-padukuhan lain,” jawab Mahisa Ura.

Penjaga banjar itu tidak bertanya lagi. Tetapi ia pun berpesan, “Jangan kembali terlalu malam.”

“Kenapa?” bertanya Mahisa Ura curiga.

“Tidak apa-apa. Jika kalian datang terlalu malam, maka aku tidak akan dapat menunggu oleh-oleh yang mungkin kau bawa,” jawab penjaga itu.

Mahisa Ura dan kedua orang yang diakuinya sebagai adiknya itu menarik nafas dalam-dalam. Bahkan dengan nada rendah Mahisa Ura berdesis, “Aku kira ada sesuatu yang sejalan dengan peringatan Ki Jagabaya.”

“Peringatan apa?” bertanya penjaga banjar itu.

“Tidak apa-apa,” jawab Mahisa Ura.

Penjaga itu termangu-mangu. Namun kemudian justru Mahisa Pukatlah yang bertanya, “Jangan tidur jika kami belum datang. Kami akan membawa oleh-oleh bagimu.”

Penjaga banjar itu tersenyum. Katanya, “aku menunggu. Tetapi jika kalian tidak membawa apa-apa, kalian tidak boleh mempergunakan pekiwan.”

“Baik,” jawab Mahisa Pukat, “kami akan membawa oleh-oleh yang tentu kau sukai.”

Penjaga banjar itu tertawa. Tetapi ia tidak menjawab lagi.

Demikian, maka Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun telah meninggalkan padukuhan itu. Mereka menyusuri jalan menuju ke arah Utara. Dengan demikian maka mereka telah memasuki Kabuyutan tetangga.

Tetapi karena ketiga orang itu tidak menunjukkan.sijkap maupun pakaian yang menarik perhatian, maka tidak;ada orangang memperhatikan mereka secara khusus.

Namun dalam pada itu, Mahisa Ura, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat merasa perlu untuk selalu berhati-hati karena ketika mereka datang ke Kabuyutan itu, dan ketika mereka berpindah dari padukuhan yang satu ke padukuhan di ujung Kabuyutan itu telah diikuti oleh mungkin seorang, mungkin lebih.

Sementara itu, Mahisa Ura mulai memperhatikan tanda-tanda dari lingkungan yang mereka lewati. Ketika mereka mendekati sebuah hutan yang dipisahkan dari sebuah padang rumput dan kemudian padang perdu dari daerah padukuhan dan pategalan, maka Mahisa Ura merasakan dengan ketajaman penggraitannya, bahwa ia pernah melewati tempat itu.

“Kita melingkari ujung hutan itu,” berkata Mahisa Ura.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mengangguk. Mereka mulai yakin bahwa Mahisa Ura telah menemukan sesuatu yang dapat dipergunakannya sebagai petunjuk.

Demikianlah mereka bertiga berjalan meninggalkan jalan yang menghubungkan padukuhan yang satu dengan padukuhan yang lain.Mereka telah mengikuti sebuah jalan yang lebih kecil. Namun mereka pun telah memilih jalan yang lebih kecil lagi, bukan yang menuju ke pategalan, tetapi menuju ke pinggir hutan.

Tidak banyak orang yang pergi ke hutan. Hanya mereka yang mempunyai kepentingan yangsangat mendesak. Beberapa orang memang pergi kehutan untuk mendapatkan jenis dedaunan yang dapat dipergunakannya sebagai obat, atau jenis kayu yang khusus yang diketahui berada di hutan itu. Itu pun dilakukan oleh beberapa orang yang akan dapat melawan jika mereka diserang oleh binatang buas yang ada di hutan itu. Tetapi di padukuhan yangterakhir ketiga orang itu sama sekali tidak pernah mendengar ada bahaya lain yang dapat mengancam orang-orang yang datang kehutan itu kecuali binatang buas.

Ketika mereka sudah berada disisi lain dari hutan itu, maka tiba-tiba saja Mahisa Ura tertegun. Sejenak ia memandang ke arah sesuatu.

“Apa yang menarik perhatianmu?” bertanya Mahisa Murti.

Mahisa Ura memandang ke arah sebuah gumuk kecil. Dengan suara bergetar ia berkata, “Sebuah batu besar diatas gumuk kecil itu. Kau lihat batu itu berwarna hijau?”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Hampir diluar sadarnya Mahisa Murti berdesis, “Sejenis batu akik raksasa.”

Mahisa Pukat pun mengangguk-angguk, “Menarik sekali. Kenapa tidak seorang pun yang mengambilnya?”

Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Aku pernah melihatnya, tetapi tentu dari sisi yang lain. Bentuknya agak berbeda dan latar belakang penglihatanku pun berbeda.”

“Kita lingkari batu itu,” berkata Mahisa Murti, “kemudian kita akan mendekat dan melihat, apakah benar batu itu sejenis batu berharga yang cukup keras atau bukan?”

Ketiga orang itu pun kemudian berjalan melingkari batu yang dari jauh nampaknya ke hijau-hijauan itu. Bahkan dicahaya matahari nampak berkilat dalam warna yang kadang-kadang nampak gelap, tetapi kadang-kadang nampak sedikit cerah.

Dengan mengungkapkan seluruh ingatannya Mahisa Ura mencoba mengenang apa yang pernah dilihatnya, sehingga tiba-tiba saja ia berhenti. “Di sini. Aku pernah berdiri di sini.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar Mahisa Murti bergumam, “Akhirnya kau ingat kembali apa yang pernah kau lupakan itu.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Katanya, “Aku telah menemukan kembali ingatanku. Aku tentu akan dapat membawa kalian menuju ke pintu gerbang perguruan yang kau cari itu.”

“Ya,” Mahisa Murti mengangguk-angguk, “kita akan membicarakan cara yang paling baik untuk melakukan sesuatu atas perguruan itu.”

“Sementara kita belum menentukan sikap, maka sebaiknya kita melihat-lihat batu yang aneh itu. Memang sangat menarik bahwa batu itu masih tetap berada disitu,” berkata Mahisa Pukat.

“Aku tidak berkeberatan,” berkata Mahisa Ura, “tetapi untuk sementara batu itu jangan dipindahkan atau jangan dirubah letaknya. Aku masih memerlukannya untuk selalu mengingat lingkungan ini sebagaimana pernah aku lihat.”

“Baiklah,” berkata Mahisa Pukat, “mungkin kita memerlukan batu itu, tetapi mungkin juga tidak. Tetapi seandainya kita ingin mengambilnya, apakah tidak ada orang, atau padukuhan atau Kabuyutan yang akan merasa kehilangan?”

“Kita pun perlu berbicara dengan orang-orang Kabuyutan sebelah menyebelah. Mungkin seorang, atau satu lingkungan, memang merasa memilikinya. Jika demikian, maka kita harus menempuh jalan yang wajar sehingga tidak akan timbul persoalan di kemudian hari dengan orang atau lingkungan yang merasa berhak,” berkata Mahisa Ura.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Mahisa Murti berkata, “Apakah mungkin peringatan Ki Jagabaya ada hubungannya dengan batu itu?”

“Mungkin,” jawab Mahisa Ura, “ia mencurigai setiap orang asing yang memasuki Kabuyutan ini. Apalagi setelah Ki Jagabaya itu mendengar bahwa kita adalah pedagang batu akik.”

“Tetapi satu atau dua orang telah mengawasi saat itu kita memasuki Kabuyutan ini,” berkata Mahisa Pukat, “sejak Ki Jagabaya belum mengetahui bahwa kita adalah pedagang jenis batu-batuan.”

“Mungkin yang mengawasi kita waktu itu orang-orang Ki Jagabaya tetapi mungkin juga orang lain,” jawab Mahisa Murti, “Mungkin sekelompok orang tidak menyukai orang-orang baru yang memasuki lingkungan Kabuyutan ini.”

Mahisa Ura menganggpk-angguk. Jawabnya, “Memang mungkin. Karena itu, jika kita ingin mendekati batu itu, kita harus berhati-hati. Mungkin tidak akan terjadi sesuatu. Tetapi mungkin seperti yang kau katakan, ada pihak-pihak yang sedang mengamati kita. Mereka adalah orang-orang yang merasa berkepentingan dengan batu itu.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan nada datar Mahisa Murti berkata, “Tidak ada salahnya untuk selalu berhati-hati.”

Mahisa Ura masih ingin menyahut. Namun mereka tertegun ketika mereka melihat beberapa orang yang muncul di kejauhan.

“Kau lihat, sekelompok orang datang mendekati kita,” berkata Mahisa Ura.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Memang ada semacam kecurigaan bahwa orang-orang itu datang dalam hubungannya dengan rencana mereka melihat batu berwarna hijau itu.

Namun orang-orang yang datang itu mengenakan pakaian yang sangat sederhana dan sama sekali tidak membawa senjata.

Ketika mereka menjadi semakin dekat, maka seorang di antara mereka mendekati Mahisa Ura sambil bertanya, “Ki Sanak. Apa yang kalian lakukan di sini?”

“Tidak apa-apa,” jawab Mahisa Ura, “kami hanya melihat-lihat. Tetapi Ki Sanak ini akan pergi ke mana?”

“Kami akan pergi ke hutan,” jawab orang itu, “seorang keluarga kami sakit. Kami harus mencari sehelai daun pandan eri sungsang.”

“Pandan eri sungsang,” desis Mahisa Ura, “apakah mungkin akan kalian dapatkan di hutan itu?”

“Tentu,” jawab orang itu, “kami sudah pernah mengambilnya sebulan yang lalu, ketika seseorang menderita sakit serupa.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Silahkan Ki Sanak. Mudah-mudahan yang sakit itu lekas sembuh.”

“Terima kasih,” jawab orang itu. Tetapi orang itu tiba-tiba saja telah bertanya lagi, “Apakah Ki Sanak tertarik kepada batu hijau itu?”

Mahisa Ura termangu-mangu. Namun katanya, “Batu itu memang agak lain dengan batu kebanyakan. Kebetulan saja kami melihatnya ketika kami berjalan-jalan sekarang ini.”

“Nampaknya Ki Sanak bukan orang padukuhan di dekat tempat ini? Bukan pula orang Kabuyutan dari kedua Kabuyutan yang bertetangga itu,” berkata orang yang akan pergi ke hutan itu.

“Bukan Ki Sanak,” jawab Mahisa Ura, “kami adalah tamu di padukuhan di ujung Kabuyutan sebelah. Kami sedang melihat-lihat dan tanpa kami sengaja, kami telah sampai ditempat ini.”

“Batu itu memang menarik,” berkata orang itu, “Tetapi tidak seorang pun yang dapat mendekatinya. Gumuk kecil, tempat batu itu penuh dengan berbagai jenis ular. Dari yang kecil sampai yang sebesar paha Ki Sanak. Karena itu, maka orang-orang sebelah menyebelah tempat ini tidak ada yang berani mengambilnya, bahkan menyentuhnya.”

“Ular,” desis Mahisa Murti.

“Ya Ular,” jawab orang itu, “Banyak sekali. Seorang yang pergi ke gumuk itu akan digigit tiga empat ekor ular sekaligus.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Tetapi diluar kehendaknya ia telah berpaling kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, karena Mahisa Ura mengetahui bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memiliki benda-benda yang dapat menjadi penangkal bisa yang betapapun tajamnya.

Namun sejenak kemudian Mahisa Ura itu pun menjawab. “Terima kasih atas peringatan Ki Sanak. Kami akan memperhitungkan semua kemungkinan,” Mahisa Ura berhenti sejenak, lalu, “Tetapi Kabuyutan yang manakah yang seharusnya memiliki gumuk tempat batu itu?”

Orang-orang itu termangu-mangu sejenak. Seorang di antara mereka kemudian menjawab, “Kedua Kabuyutan itu merasa berhak. Tetapi atas kesepakatan mereka, biarlah batu itu tetap berada ditempatnya.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Sementara itu salah seorang dari orang-orang itu berkata, “Kami akan melanjutkan perjalanan Ki Sanak.”

“Silahkan,” jawab Mahisa Ura, “semua pesan Ki Sanak akan kami perhatikan.”

Demikianlah maka orang-orang itu pun telah meneruskan perjalanan memasuki hutan. Mereka agaknya memang akan mencari daun pandan berduri sungsang. Namun agaknya mereka memerlukan beberapa orang kawan agar mereka tidak menjadi korban binatang buas.

Sepeninggal orang-orang itu, maka Mahisa Murti pun berkata, “marilah akan melihat-lihat batu itu. Mungkin memang banyak terdapat ular yang berbahaya. Tetapi kita dapat berhati-hati. Kadang-kadang ular tidak dengan serta merta menyerang jika kita tidak mengganggunya. Bahkan mungkin ular-ular itu akan menyingkir.”

“Kalian mempunyai penangkal racun dan bisa. Tetapi bagaimana dengan aku?” bertanya Mahisa Ura.

“Kita bergantian,” berkata Mahisa Pukat, “aku dan Mahisa Murti akan naik ke gumuk itu. Kemudian aku akan turun, dan kau dapat mempergunakan penangkal bisa milikku jika memang diperlukan.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Mudah-mudahan warna hijau itu bukan sekedar warna lumut atau sejenisnya yang danat memantulkan cahaya matahari.”

“Mungkin dapat juga demikian,” sahut Mahisa Murti, “tetapi sebaiknya kita mendekatinya apapun yang akan kita ketemukan.”

Ketiga orang itu pun kemudian berjalan menuju langsung ke gumuk kecil itu. Namun perasaan yang aneh telah menggetarkan dada mereka. Ada sesuatu yang rasa-rasanya menghambat langkah-langkah mereka.

Namun ketiga orang itu berjalan terus. Bahkan Mahisa Ura pun berkata, “Agaknya kita sudah dipengaruhi oleh pesan orang-orang itu. Aku merasa berdebar-debar.”

“Ya,” jawab Mahisa Pukat, “aku pun berdebar-debar. Tetapi ini adalah satu pendadaran, apakah jiwa kita cukup kuat menghadapi pengaruh pesan orang-orang itu.”

“Tetapi kita jangan terlalu berprasangka. Mungkin memang ada pengaruhnya. Mungkin batu itu benar-benar batu berharga. Tetapi mungkin juga batu itu tidak berharga sama sekali. Tetapi kita pun jangan mengabaikan pesan orang-orang itu. Mungkin orang-orang itu dengan jujur memberitahukan kepada kita, bahwa di gumuk itu memang banyak terdapat ular berbisa.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita akan memperhatikan semua pesan dan kita akan melihat semua kemungkinan.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dan sejenak kemudian maka mereka bertiga telah menjadi semakin dekat dengan gumuk kecil itu. Dengan demikian maka batu yang kehijau-hijauan itu pun menjadi semakin jelas.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang mengenal jenis bebatuan sebagaimana dipelajarinya dari ayahnya sekilas melihat bahwa batu itu memang memiliki ciri-ciri sebagai batu akik raksasa. Tetapi mereka masih harus mendekat dan melihatnya dengan teliti.

Namun mereka pun tidak mengabaikan pesan orang-orang yang baru saja mereka jumpai, bahwa di gumuk itu banyak terdapat ular berbisa.

Karena itulah maka ketika mereka sudah berada beberapa langkah saja dari gumuk itu, mereka pun telah berhenti.

“Aku akan melihatnya,” berkata Mahisa Murti.

“Aku bersamamu,” sahut Mahisa Pukat. Lalu katanya kepada Mahisa Ura, “kau tunggu di sini. Nanti kau akan mendapat giliran.”

Mahisa Ura menarik nafas. Tetapi ia menyadari bahwa ia tidak memiliki penangkal bisa sebagaimana Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Demikianlah maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mulai memanjat gumuk kecil itu. Mereka menyibakkan rerumputan dan batang-batang ilalang. Mereka pun menyusup di antara semak-semak yang rimbun. Sementara itu, mereka dengan hati-hati memperhatikan apakah mereka menjumpai ular yang berbisa.

Mahisa Pukat tertegun ketika ia melihat seekor ular berleher merah tiba-tiba saja telah menelusur didepan kaki mereka. Tetap ular itu tidak menggigitnya. Bahkan berpaling pun tidak.

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Bahkan ia pun berdesis, “Agaknya di gumuk ini memang banyak terdapat ular.”

“Kita baru melihat seekor,” jawab Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mengangguk. Katanya, “Ya. Baru seekor. Tetapi tidak mustahil bahwa di gumuk seperti ini memang terdapat beberapa ekor ular.”

Mahisa Murti pun mengangguk-angguk. Tetapi ternyata bahwa ketika melangkah semakin mendekati batu berwarna hijau itu, mereka telah melihat lagi seekor ular yang lebih besar. Tetapi ular tidak berwarna merah di lehernya, tetapi ular itu berwarna kehitam-hitaman.

“Bandotan,” desis Mahisa Murti, “ular yang paling berbisa.”

Mahisa Pukat mengangguk. Tetapi ia pun menyahut, “Ular itu juga tidak terlalu buas.”

Mahisa Murti mengangguk kecil. Ular bandotan itu pun sama sekali tidak menghiraukan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berdiri diam.

“Marilah,” berkata Mahisa Murti kemudian.

Batu hijau tinggal beberapa langkah saja dari keduanya. Namun tiba-tiba saja mereka telah dikejutkan suara-suara hentakan dibawah gumuk kecil itu.

Keduanya dengan serta merta telah berpaling. Mereka melihat disela-sela daun perdu dan semak-semak, Mahisa Ura sedang bertempur melawan beberapa orang. Dalam penglihatan sekilas, maka nampaknya Mahisa Ura benar-benar berada dalam kesulitan.

“Kita turun,” geram Mahisa Murti.

Keduanya pun kemudian berlari menghambur, menerobos semak-semak turun kembali.

Keduanya datang tepat pada waktunya. Hampir saja Mahisa Ura berhasil ditangkap, dan bahkan mengalami nasib yang buruk sekali.

Kedatangan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah benar-benar merubah keseimbangan. Mahisa Ura seakan-akan telah terlepas dari maut ketika beberapa orang yang mengeroyoknya telah berpaling kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang datang, dan langsung menyerang membadai.

“Terima kasih,” desis Mahisa Ura.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Namun mereka justru sedang memperhatikan orang-orang yang telah bertempur melawan Mahisa Ura.

Mereka adalah orang-orang yang mengenakan pakaian yang aneh. Mereka mempergunakan ikat kepala untuk menutup wajah-wajah mereka, sedangkan yang mereka kenakan selain celana hitam, ikat pinggang yang besar, juga kain panjang yang dililitkan di pinggang.

“Siapakah kalian?” bertanya Mahisa Murti.

“Kami adalah penunggu batu hijau ini,” jawab salah seorang di antara mereka, “dalam ujud kami yang biasa, kami adalah ular-ular belang dan ular bandotan.”

Mahisa Pukatlah yang menyahut, “Adalah ada di antara kalian ular Dakgrama yang berleher merah. Aku baru saja menemuinya.”

“Aku adalah ular Dakgrama,” jawab salah seorang yang mengenakan tutup muka itu.

“Tetapi lehermu tidak merah,” jawab Mahisa Pukat sambil bertempur.

“Persetan kau,” geram orang itu, “jika aku berujud ular, maka leherku memang merah.”

Mahisa Pukat justru tertawa. Katanya, “Kalian memang dungu. Kebanyakan orang lebih takut kepada seekor ular daripada seseorang seperti kalian ini. Karena itu, jika kalian adalah ular-ular penunggu gumuk itu, maka kembalilah dalam ujudmu semula. Kami tentu akan ketakutan dan lari menjauh.”

Orang-orang itu terdengar mengumpat. Namun mereka tidak berubah ujud. Mereka masih saja seperti semula dan bertutup wajahnya dengan ikat kepala yang berwarna kehitam-hitaman.

“Nah,” berkata Mahisa Pukat kemudian, “ternyata kalian adalah pembual-pembual yang tidak berarti. Kalian kira kami percaya bahwa ular-ular penunggu gumuk itu dapat beralih ujud menjadi seperti kalian ini?”

Kemarahan orang-orang bertutup wajah itu justru memuncak. Karena itu maka mereka pun menyerang semakin garang.

Ternyata ada satu dua orang di antara mereka yang benar-benar memiliki kemampuan ulah kanuragan, sementara yang lain adalah orang-orang yang sekedar memilikinya secarik saja.

Menghadapi orang-orang yang memang memiliki sedikit ilmu, maka Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura harus berhati-hati. Jumlah lawan ternyata terlalu banyak.

Dengan demikian maka arena pertempuran telah berubah menjadi tiga lingkaran. Mahisa Ura melawan beberapa orang, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang masing-masing juga melawan beberapa orang.

Dalam pada itu, Mahisa Murti yang bertempur dengar, tangkasnya menjadi heran melihat cara Mahisa Pukat menempatkan dirinya. Beberapa kali ia terdesak mundur. Bahkan kadang-kadang Mahisa Pukat seakan-akan tidak mampu lagi mempertahankan diri.

Namun Mahisa Murti pun menarik nafas melihat permainan Mahisa Pukat. Tanpa disadari ia berhasil memancing lawan-lawannya untuk mendesaknya terus, sehingga beberapa langkah Mahisa Pukat telah naik keatas gumuk kecil itu. Sekali-kali Mahisa Pukat telah berlari-lari mengelilingi semak-semak, seakan-akan ia sudah tidak lagi mempunyai keberanian menghadapi lawan-lawannya.

Mahisa Uralah yang kurang mengerti, apa yang telah terjadi dengan Mahisa Pukat. Menurut penglihatannya, Mahisa Pukat dan Mahisa Murti memiliki kemampuan yang serupa. Namun ternyata Mahisa Pukat telah terdesak beberapa langkah dan bahkan sudah naik pula ke gumuk kecil.

Namun beberapa saat kemudian, setelah mereka melingkari beberapa buah semak-semak, serta setiap kali Mahisa Pukat berhasil dicegat oleh lawan-lawannya sehingga tidak dapat melingkar-lingkar lagi, maka seorang lawannya telah terpekik keras sekali. Dengan serta mereka ia pun berteriak, “Ular. Aku telah menginjak dan digigit ular.”

Mahisa Pukat tertawa. Katanya, “Nah, bukankah kalian adalah penunggu gerumbul dan gumuk ini. Bukankah kalian adalah ular-ular belang dan ular bandotan?”

Tidak ada seorang pun yang menjawab. Bahkan tiba-tiba seorang lagi telah terpekik pula karena kakinya juga telah menginjak ular dan digigitnya pula.

Mahisa Pukat tertawa semakin keras. Ternyata bahwa lawan-lawannya yang lain telah menjadi ketakutan dan berlari menghambur turun dari gumuk kecil itu. Sementara kedua orang yang digigit ular itu pun berusaha untuk turun pula dengan tergesa-gesa.

Tetapi Mahisa Pukat tidak dapat tertawa terlalu lama. Ternyata orang-orang yang melarikan diri itu telah bergabung dengan kawan-kawannya yang bertempur dengan Mahisa Murti dan Mahisa Ura.

Karena itu, maka Mahisa Pukat pun harus segera turun pula dari gumuk itu dan berusaha untuk membantu Mahisa Ura dan Mahisa Murti.

Sementara itu, kedua orang yang telah digigit ular itu pun berusaha untuk mengobati diri mereka sendiri. Ternyata orang-orang yang menyebut dirinya ujud dari ular-ular penunggu gumuk itu agaknya memiliki kemampuan untuk mengobati serangan racun dan bisa.

Meskipun demikian, kedua orang itu sudah tidak dapat lagi untuk ikut bertempur. Mereka harus duduk dengan tenang agar obat mereka mampu melawan kerasnya bisa ular yang ada di gumuk kecil itu.

Namun dalam pada itu, salah seorang di antara mereka berkata, “Luar biasa. Kenapa anak itu sama sekali tidak takut kepada ular yang berkeliaran di gumuk itu.”

“Memang aneh. Nampaknya ia pun tidak digigit ular sebagaimana kita alami,” desis yang lain.

“Memang mungkin. Kebetulan ia tidak menginjak ular. Tetapi bahwa anak itu tidak merasa takut itu pun tentu ada alasannya,” berkata yang pertama.

Kawannya mengangguk-angguk. Katanya, “Memang tentu ada sebabnya. Dua orang di antara mereka berani naik keatas gumuk, sementara yang seorang menunggu dibawah. Agaknya kedua orang yang berani naik keatas gumuk itu memang mempunyai bekal tertentu. Mungkin mereka adalah orang-orang yang kebal akan bisa ular.”

Yang pertama mengangguk-angguk pula. Dengan nada datar ia berkata, “Ya. Tetapi bagaimana dengan kita? Apakah kita akan mampu bertempur membantu kawan-kawan kita?”

“Kita harus menunggu agar obat kita tidak sia-sia. Baru kemudian kita akan menentukan sikap,” jawab kawannya.

Namun mereka memang tidak dapat berbuat sesuatu. Jika mereka melibatkan diri kedalam pertempuran, mungkin terjadi gejolak didalam darah mereka, sehingga bisa ular yang mengalir dari luka tidak dapat dijangkau sepenuhnya oleh penawarnya. Karena itu, mereka harus menunggu untuk beberapa saat. Tetapi dalambeberapa saat memang dapat terjadi perubahan didalam petempuran itu.

Sebenarnya pertempuran yang terjadi itu pun menjadi semakin kacau. Ketika orang-orang yang menghambur dari atas gumuk itu melibatkan diri kedalam lingkaran pertempuran di antara kawan-kawan mereka melawan Mahisa Ura dan yang melawan Mahisa Murti, maka Mahisa Pukat pun telah datang pula menyusup ke arena.

Karena Mahisa Pukat menganggap bahwa Mahisa Murti memiliki ilmu yang lebih tinggi dari Mahisa Ura, maka Mahisa Pukat pun telah memasuki putaran pertempuran antara beberapa orang bertutup wajah itu melawan Mahisa Ura.

Mahisa Murti sendiri memang tidak merasakan tekanan yang terlalu berat dari orang-orang yang datang menyerang dalam kelompok yang semakin besar itu. Mahisa Murti memiliki kecepatan gerak yang tinggi, dan ilmunya pun menjadi semakin lengkap karena Pangeran Singa Narpada yang tertarik kepada kedua kakak beradik itu telah memberikan ilmunya pula.

Sebaliknya, Mahisa Ura memang merasa sedikit mengalami kesulitan ketika beberapa orang dari gumuk itu telah berlari-lari turun dan bergabung dengan kawan-kawannya yang bertempur bersamanya.

Namun kehadiran Mahisa Pukat ternyata telah memperingan tugasnya menghadapi orang-orang bertutup wajah itu.Demikianlah pertempuran itu menjadi semakin seru. Orang-orang bertutup wajah itu telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Namun ternyata mereka menghadapi lawan yang sulit untuk ditundukkan.

Memang satu hal yang sulit untuk dimengerti. Mereka berada dalam satu kelompok yang cukup banyak untuk melawan tiga orang. Tetapi ternyata bahwa yang tiga orang itu benar-benar orang pilihan, sehingga yang sekelompok itu bahkan mulai terdesak karenanya.

“Siapa yang berani bertempur diatas gumuk itu,” tiba-tiba saja Mahisa Pukat berteriak, “jika kalian mengaku sebagai penunggu bukit, maka kalian tentu berani melakukannya, karena kalian tidak akan takut digigit ular. Bukankah menurut kalian ular-ular itu sebenarnya adalah kalian sendiri.”

“Persetan,” geram salah seorang di antara mereka yang bertutup wajah, “apapun katamu, maka kau akan mati di sini.”

“Begitu mudahnya,” desis Mahisa Pukat, “seharusnya kau mampu melihat keadaanmu dan kawan-kawanmu. Karena itu, menyerah sajalah. Kita dapat berbicara dengan baik. Jika kalian berkeberatan melihat kehadiran kami di sini, maka katakan saja berterus terang, apa sebabnya.”

“Persetan,” geram orang bertutup wajah itu, “Tidak ada pembicaraan. Kalian akan mati. Itu saja.”

“Jangan terlalu garang Ki Sanak,” jawab Mahisa Pukat, “kegarangan kalian tidak lebih dari satu lelucon saja. Tetapi jika kalian keras kepala, maka kami akan menjadi garang pula.”

“Jika kau akan menyerang, menyeranglah. Kami akan mencincang kalian sampai lumat,” bentak orang bertutup wajah itu. Tetapi belum lagi mulutnya terkatup, maka seorang di antara kawannya bagaikan terlempar dari arena pertempuran melawan Mahisa Murti. Yang terdengar kemudian adalah suara Mahisa Murti, “Satu orang kawanmu terlempar keluar dari arena. Satu demi satu akan terjadi seperti itu. Apakah kau tidak akan menyadari keadaan.”

Orang-orang bertutup wajah itu terdiam. Meskipun mereka masih bertempur terus, namun mereka tidak dapat selalu mengelak dari kenyataan yang terjadi. Bagaimanapun juga, mereka harus mengakui keunggulan ketiga orang yang seakan-akan sama sekali tidak mengalami kesulitan melawan mereka seluruhnya.

Sementara itu, Mahisa Pukat bertempur seolah-olah seenaknya saja. Sekali ia bergeser mendekati Mahisa Ura, namun kemudian ia berada dekat dengan Mahisa Murti. Namun demikian, Mahisa Pukat dianggap oleh orang-orang bertutup wajah itu sebagai seorang yang paling berbahaya di antara ketiga orang lawan mereka.

Dalam pada itu, sebagaimana dikatakan oleh Mahisa Murti, maka seorang lagi di antara orang-orang bertutup wajah itu telah terlempar jatuh. Tetapi orang itu masih mampu berusaha untuk bangkit. Namun adalah malang baginya, karena tiba-tiba saja ia pun telah terdorong dan jatuh terjerembab ketika seorang kawannya yang terlempar telah menimpanya.

“Setan,” geram orang itu.
“Maaf Ki Sanak,” yang menjawab adalah Mahisa Pukat yang ternyata telah melemparkan salah seorang lawannya.

Hijaunya Lembah, Hijaunya Lereng Pegunungan
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger