logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Hijaunya Lembah, Hijaunya Lereng Pegunungan Jilid 031


“Baiklah,” jawab suara itu, “sekarang kemarilah. Aku berada di sini. Apakah kau belum menemukan tempatku?”

Mahisa Pukat termangu-mangu. Sementara itu Mahisa Murti pun berkata, “Marilah. Kita akan mendekat.”

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Kata-kata Mahisa Murti itu adalah pertanda bahwa ia telah menemukan arah suara yang tidak mereka lihat orangnya itu.

Namun keduanya yakin, bahwa orang itu bukannya orang bertongkat yang pernah mereka jumpai dan yang pernah datang ke banjar. Bahkan mereka menduga bahwa orang itu mempunyai landasan ilmu yang berbeda pula menilik sentuhan getar suaranya yang berbeda. Juga cara orang itu menyinggung sasarannya. Meskipun getaran itu terasa, tetapi sama sekali bukanlah merupakan serangan yang menyakitkan jantung. Getaran yang menyentuh sasaran terasa lunak yang tidak bersifat permusuhan meskipun kata-kata yang terlontar merupakan tantangan bagi mereka.

Meskipun demikian, ketiga orang itu tidak kehilangan kewaspadaan. Segala kemungkinan dapat terjadi pada keadaan seperti itu. Mungkin yang mereka hadapi termasuk sejenis jebakan yang berbahaya, sebagaimana tempatnya yang nampak sangat asing.

Mahisa Murtilah yang kemudian berjalan dipaling depan. Agak di belakang di sisi kanan berjalan Mahisa Pukat, sementara di sisi lain Mahisa Ura yang telah mengerahkan segenap kemampuan di dalam diri, yang setiap saat akan dapat dilepaskannya.

Dengan sangat berhati-hati ketiganya maju selangkah demi selangkah. Mahisa Murti telah menemukan arah suara itu. Di bawah pohon benda raksasa itu, agak di sebelah kanan, di dekat sebongkah batu yang sangat besar.

Beberapa langkah dari batu itu ketiganya berhenti. Dengan suara datar Mahisa Murti berkata, “Silahkan Ki Sanak. Kami telah datang.”

Yang terdengar adalah desah nafas. Dalam kegelapan malam mereka melihat seseorang yang bergeser keluar dari balik batu yang besar itu.

“Luar biasa,” berkata orang itu yang masih belum nampak jelas wajahnya, “kalian mampu menemukan tempatku bersembunyi.”

Mahisa Murtilah yang menjawab, “Kami tidak dapat mengerti, bagaimana kalian dapat melihat kehadiran kami dalam gelap seperti ini pada jarak yang cukup jauh.”

Orang itu tertawa lembut. Beberapa langkah ia maju, sehingga jarak di antara mereka pun menjadi semakin dekat.

Dalam pada itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun melihat bahwa orang itu sama sekali tidak membawa tongkat sebagaimana orang pernah dijumpainya dan yang bahkan telah datang ke banjar.

“Aku melihat kalian datang,” berkata orang itu, “Baru kemudian aku bersembunyi di balik batu ini. Bukan sesuatu yang aneh yang dapat menjadi pangeram-eram.”

“Baiklah,” berkata Mahisa Murti, “kami telah datang. Apakah yang Ki Sanak kehendaki?”

Orang itu memandang ketiga orang yang datang itu berganti-ganti. Dalam kegelapan malam, Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura dapat melihat, orang itu memang bukan orang yang pernah dijumpainya dan yang kemudian datang ke banjar.

Justru karena itu, maka Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura masih harus meraba-raba. Apa saja yang dikehendaki oleh orang ini, yang agaknya mempunyai sifat dan watak yang berbeda dengan orang yang datang bertongkat dan bersikap kasar itu.

Dalam pada itu, maka orang itu pun kemudian bertanya, “Nah, Ki Sanak. Seperti aku katakan, aku ingin menjajagi kemampuan kalian. Sebelum kalian memasuki padepokan itu, maka kalian harus menunjukkan kepadaku, bahwa kalian memang pantas untuk memasukinya. Karena jika tidak, maka kalian akan dibantai anak-anakku dan kalian akan kehilangan segala-galanya, mati sia-sia sama sekali tidak berarti.”

Mahisa Murti lah yang kemudian melangkah maju sambil menjawab, “Baiklah Ki Sanak. Aku tidak berkeberatan. Aku sadari bahwa kau tentu tidak sekedar menjajagi. Jika anak-anakmu berbuat sebagaimana kau katakan, maka segalanya itu dilakukan atas tuntutanmu. Mustahil bahwa mereka melakukannya tidak sebagimana dilakukan oleh pemimpinnya. Apalagi gurunya. Dengan demikian, maka kau pun akan berbuat sebagaimana kau katakan itu.”

Orang itu nampak termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Apakah kau mendapat kesan bahwa aku akan berbuat seperti itu?”

“Ya.” berkata Mahisa Murti tegas, “menilik sikap dan perbuatan anak-anakmu sebagaimana kau katakan sendiri.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Mungkin aku memang akan berbuat seperti itu. Karena itu bersiapkah. Aku akan mulai dengan orang pertama. Tetapi jika kemudian kalian merasa perlu, maka aku tidak akan berkeberatan jika kalian bersama-sama bertempur melawan aku.”

“Baiklah,” sahut Mahisa Murti, “sebelum kita mulai, aku sudah mulai merendahkan kami. Tetapi kami memang ingin menghormati orang-orang yang lebih tua dari kami. Karena itu, maka apa pun yang kau katakan, kami tidak akan pernah merasa sakit hati.”

“Bagus,” berkata orang itu, “satu permulaan yang baik bagimu anak muda. Kau memang tidak boleh cepat marah. Orang yang marah kadang-kadang kehilangan kecermatannya menghadapi satu persoalan.”

“Nah, sekarang akulah orang yang pertama akan menghadapimu,” berkata Mahisa Murti.

“Bagaimana jika aku memilih yang lain?” bertanya orang itu.

“Kalau kau silau melihat aku berdiri di sini, silahkan. Tidak ada perbedaan di antara kami bersaudara,” jawab Mahisa Murti.

Yang terdengar adalah suara tertawa yang lunak. Orang itu pun kemudian berkata, “Kau memang seorang anak muda yang masak menghadapi keadaan yang manapun. Aku senang kepadamu. Karena itu, biarlah kau akan menjadi lawanku yang pertama. Seandainya kau dapat membunuhku, maka kau tidak akan menyesalinya, justru karena kau memiliki kematangan jiwa seorang kesatria.”

“Jangan memuji,” berkata Mahisa Murti, “aku tahu. Ada dua hal yang harus aku perhatikan. Apakah lawanku berusaha membuatku marah, atau ia akan memujiku sehingga aku menjadi lengah.”

“Bagus,” sahut orang itu, “kau memiliki bekal yang cukup. Bukan saja ilmu, tetapi juga ketahanan nalar budimu.”

“Aku sudah siap Ki Sanak,” berkata Mahisa Murti, “apakah kita akan mulai.”

Orang itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku juga sudah siap.”

Mahisa Murti pun bergeser beberapa langkah. Ia memilih tempat yang tidak terlalu dekat dengan lumpur yang basah.

Meskipun jika ia terpaksa harus bertempur di dalam rawa-rawa ia pun tidak akan ingkar, meskipun bukan kebiasaannya.

Sesaat kemudian kedua orang itu pun telah bersiap. Namun sebelum benturan terjadi, Mahisa Murti bertanya, “Siapa namamu?”

“Ooo,” orang itu tertawa, “kau sempat bertanya tentang nama?”

“Mungkin ada gunanya,” jawab Mahisa Murti.

“Namaku Tatas Lintang,” berkata orang itu kemudian.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Desisnya, “Nama yang aneh.”

“Jangan terpancang pada nama,” berkata orang itu pula, “namaku memang aneh. Tetapi marilah, apakah kau sudaha benar-benar siap.”

“Ya,” jawab Mahisa Murti pendek.

Orang itu pun kemudian bergeser pula. Ketika ia kemudian mulai menyerang, maka Mahisa Murti pun meloncat menghindarinya. Namun ia pun kemudian mulai menggapai lawannya dengan serangan kakinya.

Tetapi serangan Mahisa Murti pun belum bersungguh-sungguh sehingga karena itu, ketika lawannya memiringkan tubuhnya kaki Mahisa Murti tidak mengenainya.

Demikianlah, maka pertempuran antara keduanya pun telah mulai. Semakin lama semakin cepat. Namun masih terbatas pada kekuatan dan kemampuan wadag. Meskipun keduanya telah mengerahkan tenaga cadangan mereka, tetapi pertempuran itu masih belum merambah pada kekuatan dan kemampuan ilmu mereka yang paling dalam.

Mahisa Murti dengan sengaja masih belum melepaskan ilmunya. Ia berusaha untuk mempergunakan kemampuan olah kanuragan yang beralaskan pada ketrampilan wadag dan landasan kekuatan cadangan di dalam dirinya.

Namun dalam pada itu, maka tata gerak mereka pun semakin lama menjadi semakin cepat. Keduanya berloncatan menyerang dan menghindar.

Mahisa Pukat dan Mahisa Ura menyaksikan pertempuran itu dengan tegang. Keduanya melihat, bahwa baik Mahisa Murti maupun lawannya masih dalam tataran permulaan.

Namun justru pada tataran itu, keduanya nampak mengerahkan segenap kekuatan dan kecepatan gerak pada landasan unsur kewadagan dan tenaga cadangan yang diungkit dari dalam diri mereka masing-masing. Benturan-benturan yang terjadi terasa keras sekali. Keduanya berloncatan berputaran. Serang menyerang dan desak mendesak.

Semakin lama pertempuran itu pun menjadi semakin cepat. Di luar kesadaran mereka, arena pertempuran itu pun telah bergeser. Pohon-pohon perdu dan batang-batang kayu yang tumbuh di sekitar arena itu pun telah berguncang terbentur kekuatan kedua orang yang sedang bertempur itu.

Dalam pada itu, baik Mahisa Murti maupun lawannya yang menyebut namanya Tatas Lintang itu ternyata memiliki kekuatan yang sangat besar atas landasan tenaga cadangan mereka.

Bahkan tenaga cadangan mereka itu pun telah mampu mendorong tubuh-tubuh mereka yang bertempur itu sehingga tata gerak mereka pun nampaknya menjadi semakin cepat. Tubuh-tubuh mereka menjadi ringan dan kaki-kaki mereka bagaikan tidak lagi berpijak di atas tanah.

Mahisa Pukat mengamati pertempuran itu dengan saksama, sementara itu Mahisa Ura menjadi semakin tegang. Ia sudah melihat kekuatan yang terlontar dari kedua belah pihak tidak lagi dapat diimbanginya. Apalagi jika mereka sampai ke puncak ilmu mereka.

Dalam kegelapan malam keduanya saling menyambar Penglihatan mereka atas lawan-lawan mereka tidak lagi semata-mata atas dasar kemampuan mata wadag mereka, tetapi juga atas dasar pengamatan batin mereka berlandaskan kepada perhitungan dan unsur naluriah yang sudah mendapat lambaran yang matang.

Karena itulah, maka betapapun gelapnya malam, namun mereka mampu mengamati setiap langkah lawannya.

Dengan demikian maka pertempuran pun semakin lama menjadi semakin cepat dan keras. Benturan-benturan telah terjadi dan serangan pun dibalas pula dengan serangan.

Sebenarnyalah orang yang menyebut dirinya bernama Tatas Lintang itu menjadi sangat heran. Anak yang melawannya itu masih muda. Namun sudah memiliki kekuatan dan ketrampilan yang sangat mengagumkan.

Bahkan dalam beberapa hal, Tatas Lintang itu merasa dirinya tidak lagi dapat mengimbanginya. Ia tidak dapat bergerak lebih cepat lagi, sementara itu Mahisa Murti masih berusaha untuk meningkatkan kecepatan geraknya.

Namun pengalaman Tatas Lintang ternyata mampu menutup kekurangannya. Sesuatu yang tidak terpikirkan oleh Mahisa Murti sering kali telah mematahkan perhitungannya. Namun demikian, Mahisa Murti berusaha untuk dapat mengimbangi kemampuan lawannya dengan tenaga dan kecepatan gerak.

Tenaga dan kekuatannya yang dipanasi oleh darah mudanya, ternyata mempunyai kelebihan dari lawannya. Tetapi Mahisa Murti pun menyadari, bahwa lawannya yang jauh lebih tua daripadanya itu, pada suatu saat tentu akan memasuki kekuatan ilmunya yang mungkin sangat nggegirisi.

Mahisa Murti memang harus berhati-hati. Tetapi ia tidak menjadi gentar karenanya. Apapun yang terjadi, hal itu merupakan bagian dari tugas yang dibebankan kepadanya.

Dalam pertempuran yang menjadi semakin keras itu, Mahisa Murti nampaknya memang berhasil mendesak lawannya. Namun seperti yang diperhitungkannya itu pun terjadilah.

Lawan Mahisa Murti tidak saja membiarkan dirinya terdesak oleh kesegaran tenaga wadag Mahisa Murti yang muda itu serta darahnya yang panas dan menggelegak di dalam dirinya. Namun ia pun mulai merambah ke dalam ilmunya yang perlahan-lahan dilepaskan.

Mahisa Murti mulai merasakan kekuatan ilmu lawannya ketika mulai terasa gerak lawannya menjadi semakin lamban. Sekali-sekali Tatas Lintang meloncat mengambil jarak. Namun kemudian ketika Mahisa Murti menyerang, orang itu sama sekali tidak menghindar. Tetapi dengan lambaran ilmunya Tatas Lintang telah menangkis serangan lawannya yang masih muda itu.

Mahisa Murti yang membentur kekuatan lawannya merasakan perbedaannya. Bukan saja kekuatan wadag yang dilandasi dengan tenaga cadangan yang ada di dalam diri orang itu. Tetapi tubuh orang itu terasa seakan-akan mulai mengeras. Sentuhan tubuh Mahisa Murti pada benturan-benturan yang terjadi terasa justru menjadi sakit. Bahkan ketika dengan kemampuan kecepatan geraknya Mahisa Murti berhasil memukul lengan orang itu, rasa-rasanya tangannya telah menyentuh batu hitam.

Mahisa Murti mengerti, bahwa ia tidak akan dapat bertempur sekedar dengan tenaga wadag dan tenaga cadangan di dalam dirinya. Meskipun demikian Mahisa Murti tidak tergesa-gesa. Ia ingin mendapatkan kepastian, apa yang terjadi pada lawannya itu.

Sebenarnyalah, tubuh lawannya benar-benar bagaikan mengeras. Setiap kali, pada saat lawannya menangkis serangannya, maka Mahisa Murti pun telah berdesis menahan sakit.

“Apakah kemampuannya itu sejalan dengan ilmu kebal?” bertanya Mahisa Murti di dalam dirinya.

Namun ia masih harus mengujinya. Apakah orang itu memang mampu membuat dirinya kebal, atau sekedar membuat dirinya menjadi sekeras batu namun tanpa dapat menghindari perasaan sakit dalam setiap benturan.

Namun Mahisa Murti merasa kelembutan sikap orang itu. Orang itu tidak meningkatkan ilmunya dengan serta merta dan berusaha menghabisinya dalam waktu dekat. Tetapi yang dilakukan oleh orang itu rasa-rasanya memang seperti yang dikatakannya, sekedar menjajagi kemampuannya.

“Tetapi sesudah menjajagi lalu bagaimana? “ pertanyaan itu telah timbul di dalam hatinya.

Tetapi sementara itu pertempuran itu pun masih berlangsung terus. Mahisa Murti tidak banyak mendapat kesempatan untuk merenung. Lawannya bukan saja mampu menjadikan tubuhnya semakin keras sehingga menjadi sekeras batu, namun rasa-rasanya orang itu pun bergerak semakin cepat. Kakinya tidak lagi berpijak di atas tanah. Satu sentuhan kecil, telah mampu melemparkan tubuhnya beberapa langkah.

“Ada semacam pertentangan yang terjadi di dalam diri orang itu,” berkata Mahisa Murti, “Tubuhnya menjadi sekeras batu, sehingga seharusnya ia menjadi semakin berat. Tetapi menilik tata geraknya, seolah-olah orang itu menjadi tidak berbobot lagi.”

Dengan demikian maka Mahisa Murti pun harus bekerja lebih keras lagi untuk mengimbangi peningkatan kemampuan lawannya yang sudah mulai merambah ke dalam ilmunya yang tinggi.

Dalam pada itu, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura yang menyaksikan pertempuran itu pun menjadi berdebar-debar. Sesaat mereka melihat Mahisa Murti mendesak lawannya. Namun kemudian setiap kali mereka justru melihat Mahisa Murti bergeser surut.

“Apa yang terjadi?” bertanya Mahisa Ura di dalam dirinya.

Namun Mahisa Pukat telah melihat bahwa tata gerak orang yang menyebut dirinya bernama Tatas Lintang itu mulai berubah.

Dengan demikian maka Mahisa Murti tidak dapat bertahan untuk tetap beralaskan kemampuan wadagnya serta kekuatan cadangan di dalam dirinya. Ia harus mulai mempergunakan ilmu yang dikuasainya, baik yang diterimanya dari ayahnya, maupun yang diterimanya dari Pangeran Singa Narpada.

Namun sebagaimana dilakukan oleh orang yang tubuhnya menjadi semakin mengeras itu, Mahisa Murti pun tidak melakukannya dengan serta merta. Ia meningkatkan ilmunya perlahan-lahan. Ia tidak menghentakkan segenap kemampuan ilmunya, menghantam lawannya dan menghancurkannya. Tetapi ia justru mempergunakan ilmunya dalam ujudnya yang lunak.

Ketika Mahisa Murti melontarkan ilmunya ke arah lawannya yang tubuhnya mengeras itu, lawannya terkejut. Ia bergeser surut. Betapapun tubuhnya keras bagaikan batu, namun ilmu lawannya yang masih muda dalam ujudnya yang lunak itu telah membuatnya dicengkam oleh udara dingin.

“Inti dari kekuatan api dalam bentuk yang berlawanan,” berkata orang itu di dalam hatinya, “menurut dugaanku, satu ujud dari ilmu Bajra Geni.”

Orang itu harus bergeser lagi ketika serangan berikutnya mengejarnya.

Sambil meloncat menyamping orang itu berdesis, “Bagus anak muda. Kau benar-benar seorang yang luar biasa. Kau telah melepaskan satu jenis ilmu yang sulit dicari bandingnya. Justru dalam bentuk yang berlawanan dari inti kekuatan yang kau hisap.”

“Darimana kau mengetahuinya Ki Tatas Lintang?” bertanya Mahisa Murti.

Orang itu tertawa. Namun ia pun harus meloncat menghindari serangan Mahisa Murti yang bergulung menghampirinya.

Mahisa Murti memang menjadi heran. Ilmunya adalah ilmu yang sangat khusus. Namun orang itu dapat menebaknya meskipun tidak menyebut namanya. Bahkan ia mampu menghindarkan diri dari inti kekuatan ilmunya itu sehingga ia tidak membeku karenanya.

Ketika Mahisa Murti meningkatkan ilmunya, maka udara-pun menjadi semakin dingin. Tidak saja terbatasnya arus serangannya, namun udara di sekitarnya pun menjadi terasa membeku.

Namun Mahisa Murti telah siap dengan kekuatan dan kemampuannya yang dilambari dengan ilmunya. Karena itu, lawannya pun menjadi semakin berhati-hati.

Pada saat Mahisa Murti berhasil menembus kecepatan gerak lawannya dengan memotong langkahnya, serta berhasil menyentuh tubuh lawannya dengan ilmunya, maka Mahisa Murti mendengar lawannya itu berdesah.

Mahisa Murti memang belum mempergunakan segenap kekuatan ilmunya. Karena itu, maka sentuhannya pun masih belum menentukan. Meskipun benturan dengan lawannya yang bertubuh sekeras batu itu masih membuatnya sakit, tetapi ia sadar, bahwa kekuatan ilmunya pun mampu juga menyakiti lawannya meskipun belum menunjukkan pengaruh yang nyata.

Dengan demikian maka Mahisa Murti pun telah meningkatkan ilmunya pula selapis. Ia ingin sampai pada satu tingkatan yang mungkin mampu menghentikan pertempuran itu. Meskipun sentuhan-sentuhan yang terjadi menyakitinya, tetapi lawannya pun harus merasakan kesakitan melampuai dirinya.

Tetapi ternyata bahwa lawannya pun telah mempergunakan kelebihannya yang lain untuk mengimbangi kekuatan ilmu Mahisa Murti. Orang itu mampu bergerak lebih cepat dari Mahisa Murti. Dengan demikian maka serangan-serangan Mahisa Murti jarang sekali, bahwa hampir tidak pernah dapat mengenainya. Sebaliknya orang itu semakin lama semakin sering menembus pertahanan Mahisa Murti dan menyakitinya.

“Bukan main,” geram Mahisa Murti di dalam hatinya. “Ia mampu bergerak seperti bayangan iblis.”

Sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti memang mengalami kesulitan untuk mengatasi kecepatan gerak lawannya. Betapapun ia berusaha, namun lawannya selalu berhasil mendahuluinya. Sekali-sekali serangannya mengenai dadanya. Namun kemudian mengenai punggungnya. Perasaan sakit pun semakin lama semakin menghentak-hentak tubuhnya. Kemampuan serangan orang itu ternyata melampaui kemampuan daya tahan ilmu Mahisa Murti.

Mahisa Pukat dan Mahisa Ura ikut menjadi cemas. Mereka melihat bahwa Mahisa Murti agaknya semakin terdesak. Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat pun menjadi tegang. Mahisa Murti masih saja bertahan dalam keadaannya. Meskipun ia meningkatkan ilmunya, tetapi karena kemungkinan untuk mampu mengenai lawannya dengan serangan yang dilambari dengan ilmunya semakin kecil, maka Mahisa Murti seharusnya mulai menyesuaikan dirinya.

“Luar biasa,” berkata orang itu, “aku kira kemampuanmu masih terbatas pada kemampuan dasar. Ternyata kau sudah mampu mengembangkannya, bahkan jauh melampaui dugaanku. Tetapi baiklah. Biarlah aku berusaha untuk menghangatkan tubuhku, agar aku tidak menjadi beku karenanya.”

Sebenarnyalah, orang itu mampu membuat dirinya menjadi hangat. Tatas Lintang itu tidak membalas serangan Mahisa Murti dengan jenis ilmu yang berlawanan, tetapi ia sekedar menyelamatkan dirinya sendiri dengan ilmunya.

Namun dalam pada itu, maka Tatas Lintang itu pun telah meningkatkan serangannya pula. Tubuhnya yang menjadi ringan itu menjadi semakin ringan pula. Ia bergerak sangat cepat dan yang meresahkan adalah sentuhan tangan orang itu bagaikan sentuhan batu yang sangat keras.

Sementara itu, orang itu mampu menghindari serangan-serangan ilmu Mahisa Murti dalam bentuknya yang lunak.

Karena itu, maka Mahisa Murti pun telah merubah ujud serangan-serangannya. Ia tidak lagi mempergunakan ilmunya dalam ujudnya yang lunak. Tetapi ia telah mempergunakan ilmunya dalam bentuknya yang sesungguhnya, dalam ujud yang keras.

Mahisa Murti menggosokkan kedua telapak tangannya yang satu dengan yang lain. Sesaat ia terpaksa meloncat surut untuk mengambil jarak.

Sementara itu Mahisa Pukat menjadi semakin berdebar-debar. Ia merasakan udara yang dingin, sehingga ia sadar, bahwa Mahisa Murti telah meningkatkan ilmunya sampai ketataran yang lebih tinggi. Namun kemudian udara yang dingin itu dengan cepat menyusut. Ketika ia melihat tata gerak Mahisa Murti, maka ia pun menyadari bahwa Mahisa Murti telah merubah ujud ilmunya dari yang lunak ke sebaliknya. Ujud yang keras.

Mahisa Ura kurang mengerti akan kekuatan ilmu itu. Tetapi ia pun merasakan udara menjadi dingin membeku. Namun ti-ba-tiba udara telah berubah pula sebagaimana tata gerak Mahisa Murti.

“Agaknya Mahisa Murti mengalami kesulitan sehingga ia harus merubah-rubah ujud ilmunya,” berkata Mahisa Pukat di dalam hatinya. Tetapi ia pun ikut cepat juga menyaksikan kemampuan bergerak lawan Mahisa Murti itu. Demikian cepatnya, melampaui kemampuan yang dapat dicapai oleh Mahisa Murti.

Sebenarnyalah Mahisa Murti pun memang tidak mempunyai jalan lain. Semakin lama ia semakin menyadari bahwa ia tidak akan mampu mengatasi kemampuan lawannya jika ia masih bertahan dalam tatarannya. Karena itu, maka Mahisa Murti pun telah semakin meningkatkan ilmunya. Dengan landasan kekuatan ilmunya, maka Mahisa Murti pun telah memperhitungkan langkah dan sikap yang harus diambilnya.

Dengan cermat Mahisa Murti memperhitungkan setiap langkah lawannya yang mampu bergerak dengan sangat cepat itu. Sekali dari sekian banyak serangan, Mahisa Murti harus berhasil menangkisnya dan membenturkan kekuatan ilmunya yang semakin meningkat.

Ternyata bahwa perhitungan Mahisa Murti yang cermat itu telah berhasil dilakukan. Pada saat-saat Mahisa Murti diburu oleh serangan lawannya yang meluncur dengan cepatnya, Mahisa Murti sama sekali tidak berusaha untuk menghindar. Namun dengan sengaja ia telah membenturkan ilmunya yang tinggi kepada kekuatan serangan lawannya.

Yang terjadi adalah satu benturan yang dahsyat. Kekuatan ilmu orang yang menyebut dirinya Tatas Lintang itu telah membentur ilmu Mahisa Murti yang nggegirisi. Dan kekuatan ilmu yang tinggi yang saling berbenturan itu benar-benar telah berakibat dahsyat.


Orang yang mempergunakan ilmunya yang menggetarkan itu ternyata terpental beberapa langkah surut. Ilmu Mahisa Murti bagaikan telah memecahkan dadanya. Udara panas telah menembus kulitnya dan merambat sampai ke jantung, seakan-akan telah menghanguskan isi dadanya, karena itulah, maka ia pun tiba-tiba saja telah terduduk. Dengan serta merta ia telah menyilangkan tangannya. Kemudian memusatkan nalar budinya dan mengetrapkan daya tahan ilmunya setinggi-tingginya untuk mengatasi benturan yang baru saja terjadi.

Sementara itu, Mahisa Murti pun telah terlempar pula beberapa langkah surut dan bahkan hampir saja kehilangan keseimbangannya. Dengan susah payah Mahisa Murti bertahan agar ia tidak benar-benar lepas dari keseimbangannya dan jatuh di tanah.

Meskipun kemudian Mahisa Murti berhasil mempertahankan keseimbangannya, tetapi ia tidak dapat segera menyerang lawannya yang sedang membenahi dirinya dengan pemusatan nalar budinya, karena untuk beberapa saat, tubuh Mahisa Mur-ti pun bagaikan telah menjadi retak-retak dalam benturan ilmu itu.

Ternyata beberapa saat kemudian, hampir berbareng pula keduanya mampu memperbaiki keadaan mereka. Tatas lintang-pun telah bangkit berdiri pula. sementara Mahisa Murti telah mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.

Namun Mahisa Murti tidak mau mengalami keadaan yang serupa. Benturan dengan tubuh lawannya yang mengeras bagaikan besi baja telah membuatnya hampir tidak mampu menahan diri dari guncangan keseimbangan. Karena itu, maka ia pun harus meningkatkan ilmunya sampai ke puncak. Jika terjadi lagi benturan, maka biarlah lawannya yang mengalami keadaan yang lebih parah.

Sementara itu, Tatas Lintang pun menarik nafas dalam-dalam Di dalam hati ia berkata, “anak ini benar-benar luar biasa. Ia sudah memiliki ilmunya yang berkembang dengan pesat. Bahkan agaknya anak itu masih mampu meningkatkan lagi kemampuan ilmunya.”

Karena itu, maka Tatas Lintang pun menjadi semakin berhati-hati. Ia sadar, jika ia membentur kemampuan puncak ilmu yang dimiliki oleh lawannya, maka ia akan benar-benar mengalami kesulitan.

Karena itu, Tatas Lintang telah mempergunakan kemampuannya untuk bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi. Dengan kemampuannya itu, Tatas Lintang tidak akan dapat membentur kekuatan lawannya. Meskipun Mahisa Murti selalu berusaha, tetapi Tatas Lintang mampu untuk selalu mengurungkan setiap benturan. Bahkan dengan loncatan-loncatan yang melampaui kecepatan gerak Mahisa Murti Tatas Lintang mampu mengenainya dari arah samping bahkan arah belakang.

“Licik,” geram Mahisa Murti, “kau tidak berani membentur beradu dada.”

“Kita sedang bertempur,” jawab Tatas Lintang, “kita tidak sedang binten atau jotosan, yang memberi kesempatan kita berganti-ganti menyerang tanpa ada kesempatan untuk menghindar atau menangkis serangan itu.”

“Persetan,” sahut Mahisa Murti sambil menyerang. Tetapi lawannya telah meloncat mendahului serangannya.

Dalam keadaan yang demikian ipaka Mahisa Murti pun sampai pada satu keputusan untuk mempergunakan ilmunya yang lain. Meskipun setiap kali ia merasa ragu, bahwa ilmunya itu akan dapat dianggap sebagai ilmu yang licik, sebagaimana setiap kali selalu mengganggu perasaan Pangeran Singa Narpada yang mewariskan ilmu itu kepadanya.

Namun menghadapi lawannya yang mampu bergerak terlalu cepat itu, ia tidak mempunyai pilihan lain. Lawannya itu pun akan dapat disebut licik, karena ia tidak pernah membenturkan kekuatan dan kemampuan berhadapan. Tetapi selalu menghindari benturan dan kemudian dengan cepat berusaha menyerang dari arah belakang atau dari sisi.

Karena itu, maka sejenak kemudian Mahisa Murti pun telah mengambil jarak dari lawannya untuk mendapat kesempatan membangunkan ilmunya yang lain.

Mahisa Pukat dan Mahisa Ura benar-benar menjadi cemas melihat keadaan Mahisa Murti. Namun bagi Mahisa Pukat, usaha Mahisa Murti untuk mengambil jarak ternyata telah sedikit melapangkan dadanya, meskipun bagi Mahisa Ura, segala sesuatu masih belum jelas. Tetapi Mahisa Pukat melihat kemungkinan bahwa Mahisa Murti akan mempergunakan ilmunya yang lain.

“Ia harus segera mulai,” berkata Mahisa Pukat di dalam hatinya, “Jika ia terlambat, maka ia tidak akan mampu menyusul lagi.”

Sebenarnyalah Mahisa Pukat sudah tidak sabar lagi. Seandainya ia sendiri yang harus melawan orang yang menyebut dirinya bernama Tatas Lintang itu, maka ia sudah berada di dalam ilmunya sejak tadi. Namun agaknya Mahisa Murti lebih cermat mengamati kemampuan lawannya.

Demikianlah, maka Mahisa Murti pun telah mengetrapkan ilmunya yang lebih sesuai untuk melawan kemampuan ilmu Tatas Lintang.

Dalam pada itu Tatas Lintang sendiri tidak mengetahui apa yang terjadi di dalam diri lawannya yang masih muda itu. Namun ketika ia melihat sesuatu yang berbeda pada langkah lawannya itu, maka orang yang memiliki pengalaman yang sangat luas itu, mulai mengerti, bahwa Mahisa Murti akan mempergunakan kemampuannya yang masih tersimpan.

“Apa lagi yang dapat dilakukan oleh anak itu?” bertanya Tatas Lintang di dalam hatinya.

Sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti telah dengan tidak sadar, merubah sikap dan tata geraknya. Ia tidak lagi terlalu berusaha untuk menghindari serangan lawannya.

Namun ketika Tatas Lintang berhasil menyentuh pundaknya, maka Mahisa Murti menyeringai menahan sakit. Meskipun demikian, ia sama sekali tidak merubah langkah-langkahnya.

Beberapa kali lawannya berhasil mengenainya, sementara itu Mahisa Murti merasa seluruh tubuhnya bagaikan menjadi memar.

Namun pada saat yang demikian, maka Mahisa Murti pun telah membangunkan kedua macam ilmunya sekaligus. Pada saat-saat tulang-tulangnya bagaikan retak.

Yang terjadi kemudian adalah pertempuran yang sangat seru. Mahisa Murti berusaha untuk dapat membentur kekuatan lawannya. Namun lawannya selalu berusaha menghindarinya.

Lawannya berusaha untuk dapat mengenai tubuh Mahisa Murti dari arah yang lain.

Meskipun orang itu berhasil karena kemampuannya bergerak terlalu cepat, namun sesuatu telah terasa asing di dalam dirinya. Ada yang terasa terlepas dari padanya. Seakan-akan memang ada yang hilang.

Karena itulah, maka Tatas Lintang yang memiliki pengalaman yang luas itu pun berusaha untuk mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.

Beberapa kali orang itu dengan sengaja menyentuh tubuh Mahisa Murti, meskipun ia masih selalu berusaha menghindari benturan. Namun dengan beberapa kali sentuhan, maka Tatas Lintang pun segera mengetahui, apakah sebenarnya yang terjadi.

Sejenak kemudian, maka Tatas Lintang itu pun telah berusaha mengambil jarak. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya orang itu kemudian berkata, “Bukan main anak muda. Kau memiliki seperangkat ilmu yang sangat dahsyat. Kau mampu membentur kekuatan lawan dengan ilmumu yang nggegirisi dalam bentuknya yang keras. Namun kau mampu juga membuat lawanmu membeku jika ilmumu kau lontarkan dalam bentuknya yang lunak. Di samping itu kau ternyata juga memiliki kemampuan untuk menghisap kekuatan ilmu lawanmu pada setiap sentuhan. Dengan demikian semakin sering kau tersentuh oleh serangan lawan, maka lawanmu itu pun akan menjadi semakin lemah.”

Mahisa Murti berdiri termangu-mangu. Seluruh tubuhnya terasa nyeri. Beberapa kali tubuhnya telah dikenai oleh serangan lawannya yang tubuhnya bagaikan sekeras batu, sehingga tulang-tulangnya bagaikan menjadi berpatahan.

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti pun merasa yakin, bahwa kekuatan dan kemampuan ilmu lawannya pun telah berkurang.

Untuk beberapa saat orang yang menyebut dirinya Tatas Lintang itu masih berdiri termangu-mangu. Bahkan ia pun kemudian berkata, “Anak muda, kau memiliki satu jenis ilmu yang mengalir dari perguruan yang jarang sekali didengar namanya. Namun menurut pendengaranku, ilmu itu pernah menjamah keluarga istana Kediri.”

Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Orang yang menyebut dirinya Tatas Lintang itu tentu orang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang sangat luas. Seakan-akan ia mampu menebak ilmu yang ada di dalam diri Mahisa Murti itu. Baik yang diwarisinya dari ayahnya, maupun yang diwarisinya dari Pangeran Singa Narpada.

Namun dalam pada itu, maka Tatas Lintang itu pun berkata, “Anak muda. Selama empat puluh hari aku akan mengalami kesulitan, karena baru setelah itu kekuatan dan kemampuan ilmuku akan pulih kembali setelah sebagian berhasil kau hisap. Jika dalam waktu itu aku menjumpai lawan yang berilmu tinggi, maka aku akan kehilangan kesempatan untuk mengimbangi kemampuannya dan bahkan mungkin aku akan digilasnya sampai mati.”

Mahisa Murti menggeram. Dengan nada datar ia menjawab, “Aku tidak mempunyai cara lain. Tetapi aku tidak mau kau bunuh dengan cara apapun. Aku yakin, bahwa kau tentu tidak sekedar menjajaki ilmuku. Tetapi kau tentu akan membunuhku dengan atau tidak dengan anak-anakmu dari padepokan itu.”

“Bukan salahmu jika timbul kesan yang demikian. Tetapi baiklah. Meskipun sebagian dari kekuatan dan kemampuan ilmuku telah kau hisap, tetapi aku masih memiliki kemampuan yang cukup untuk mengalahkanmu,” berkata orang yang menyebut dirinya Tatas Lintang itu.

“Baiklah,” berkata Mahisa Murti, “aku sudah siap. Lakukan apa yang paling baik buatmu.”

Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya kepada diri sendiri, “Bagaimanapun juga aku harus menunjukkan bahwa aku memiliki kelebihan dari padanya.”

Karena itu, maka sejenak kemudian orang yang menyebut dirinya Tatas Lintang itu pun segera bersiap. Dengan suara bergetar ia berkata, “Aku akan menyerangmu dengan tanpa menyentuh tubuhmu.”

Mahisa Murti tidak menjawab. Tetapi ia sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Demikianlah, maka orang yang bernama Tatas Lintang itu-pun telah menghentakkan tangannya terjulur ke depan.

Dengan ketajaman penglihatan batinnya, Mahisa Murti melihat semacam getaran sinar yang meluncur dari telapak tangan orang itu.

Meskipun hampir di seluruh tubuh Mahisa Murti masih terasa nyeri namun Mahisa Murti masih mampu bergerak dengan tangkas menghindari serangan itu.

Demikian getaran itu menyentuh tanah, maka seakan-akan telah terjadi ledakan yang mengejutkan. Asap bagaikan tersembur dari dalam bumi menghembus dan bahkan memancar dengan garangnya.

Tetapi Mahisa Murti sama sekali tidak tersentuh serangan itu. Namun yang terjadi itu benar-benar telah menggetarkan jantungnya. Sementara itu, Tatas Lintang itu pun mengeluh dengan nada berat, “Anak muda. Yang terjadi benar-benar menyulitkan kedudukanku. Ternyata seranganku datang terlalu lamban setelah sebagian tenagaku terhisap oleh ilmumu. Tidak seorang pun yang mampu menghindari seranganku jika aku dalam keadaan yang wajar. Aku menyesal bahwa aku tidak mempergunakan ilmuku ini sebelum kau berhasil melumpuhkan sebagian dari kekuatanku.”

Mahisa Murti memang menjadi berdebar-debar. Ia dengan demikian harus memperhitungkan orang itu sebaik-baiknya. Jika tenaganya yang terhisap itu masih mampu menunjukkan kekuatan yang sedemikian besarnya, maka Mahisa Murti dapat membayangkan, betapa besarnya tenaga dan kemampuan ilmunya, jika ilmunya masih utuh sepenuhnya.

Namun dalam pada itu, Tatas Lintang tidak menunggu lebih lama lagi. Sekali lagi ia menghentakkan tangannya dengan kedua telapak tangannya menghadap ke depan. Ia telah mengulangi serangannya kembali.

Sekali lagi Mahisa Murti meloncat menghindar, sehingga serangan itu tidak menyentuhnya.

Meskipun demikian Mahisa Murti merasakan satu kesulitan. Ia akan sukar sekali dapat membenturkan serangannya sehingga menyentuh tubuh lawannya.

Karena itu, maka Mahisa Murti pun telah mempergunakan ilmunya dalam ujudnya yang lunak. Dengan demikian ia akan mampu mengurangi kemampuan serangan lawannya. Sementara itu, ia masih tetap siap mempergunakan kemampuan yang diwarisinya dari Pangeran Singa Narpada.

Ternyata usaha Mahisa Murti berpengaruh juga. Udara yang dingin itu mampu menusuk ke dalam tubuh Tatas Lintang yang kekuatan daya tahannya pun telah susut. Sementara itu, lawannya pun tidak lagi mampu bergerak secepat sebelum ia termakan oleh hisapan ilmu Mahisa Murti.

Meskipun demikian, namun serangan-serangan orang itu masih saja sangat berbahaya bagi Mahisa Murti. Setiap kali Mahisa Murti harus bergeser surut. Meloncat ke samping dan sekali-sekali mengambil jarak.

Mahisa Pukat dan Mahisa Ura menyaksikan pertempuran itu dengan jantung yang berdebaran. Mahisa Pukat pun kemudian mengerti bahwa Mahisa Murti telah merubah lagi ujud ilmunya dengan ujud yang lunak, sehingga udara pun terasa menjadi dingin. Apalagi jalur serangan ilmu Mahisa Murti yang melihat lawannya. Seandainya lawannya tidak memiliki ilmu yang sangat tinggi dan daya tahan yang sangat kuat, maka ia pun tentu telah membeku.

Demikianlah pertempuran itu berlangsung dengan sengitnya. Ilmu yang terpancar dari kedua belah pihak telah beradu.

Meskipun pada saat-saat terakhir Mahisa Murti masih tetap merasa dalam kesulitan, tetapi ia masih mampu menyelamatkan dirinya sendiri.

Bahkan kadang-kadang Mahisa Murti masih juga mampu menembus ilmu lawannya dengan serangan-serangan wadagnya dan menyentuh lawannya itu. Namun pada saat-saat terakhir, agaknya lawannya benar-benar ingin mengakhiri pertempuran itu. Dengan demikian, maka tiba-tiba saja ilmu lawannya itu bagaikan tercurah dari dirinya. Bukan saja getaran cahaya yang meluncur dari kedua telapak tangannya yang mengembang, namun tiba-tiba semacam kabut yang berwarna keputih-putihan bagaikan telah melibat tubuh Mahisa Murti.

Semula Mahisa Murti tidak merasakan akibat dari libatan kabut putih yang tipis itu. Namun semakin lama rasa-rasanya kabut itu telah membuat matanya menjadi sangat pedas. Seakan-akan matanya itu telah tersentuh oleh asap arang yang basah.

“Gila,” geram Mahisa Murti, “ilmu apa lagi yang ditrapkan oleh orang itu?”

Namun Mahisa Murti tidak sempat berpikir terlalu panjang. Serangan demi serangan datang beruntun.

Ketika matanya menjadi semakin pedih oleh asap yang keputih-putihan maka ia pun merasa semakin sulit untuk dapat menghindari serangan-serangan Tatas Lintang yang lain, yang rasa-rasanya semakin cepat memburunya.

Dalam keadaan yang demikian, Mahisa Pukat pun melihat kesulitan yang semakin mencengkam Mahisa Murti. Bahkan kabut yang keputih-putihan itu agaknya telah menebar dan menyentuhnya pula, sehingga Mahisa Pukat dapat mengerti akibat yang ditimbulkan dari kabut putih itu, karena matanya pun menjadi pedih.

Yang lebih cemas lagi adalah Mahisa Ura. Ia pun melihat kesulitan yang dialami oleh Mahisa Murti. Bahkan ia menjadi semakin berdebar-debar karena kabut putih itu.

Untuk beberapa saat Mahisa Pukat dan Mahisa Ura menyaksikan pertempuran itu dengan jantung yang berdegupan. Namun ketika Mahisa Murti menjadi semakin terdesak, maka rasa-rasanya Mahisa Pukat tidak lagi dapat berdiam diri.

“Amati apa yang terjadi,” desis Mahisa Pukat, “aku akan turun ke arena. Orang itu memiliki ilmu yang luar biasa. Kami akan menghadapinya berdua. Agaknya kami masing-masing tidak akan mampu melawannya.”

“Aku ikut bersama,” berkata Mahisa Ura.

“Jangan. Kau harus mengamati keadaan. Siapa tahu orang itu pun tidak sendiri,” berkata Mahisa Pukat.

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Ia mengerti tugas apakah yang harus dilakukannya.

Dalam pada itu, maka Mahisa Pukat pun telah bersiap untuk memasuki arena. Ia tidak dapat membiarkan saudaranya mengalami cidera dan bahkan mungkin parah, bahkan lebih dari itu, Mahisa Murti akan dapat terbunuh di dalam pertempuran itu.

Sementara itu Mahisa Murti masih bertempur dengan segenap kemampuan yang ada padanya. Lawannya itu telah berhasil disentuhnya, justru pada saat-saat orang itu menyerang dan mengenainya, sehingga kemampuannya sebagian tentu saja sudah terhisap. Tetapi ternyata bahwa dalam keadaan yang demikian, ia masih mampu melontarkan ilmunya yang dahsyat dan nggegirisi. Seandainya ilmunya itu masih utuh, maka tentu lebih banyak lagi yang dapat dilakukannya.

Mahisa Murti tidak dapat mengingkari kenyataan itu. Karena itu ketika melihat Mahisa Pukat bersiap, Mahisa Murti sama sekali tidak mencegahnya. Ia memang masih berada di bawah kemampuan orang yang menyebut dirinya Tatas Lintang itu.

Namun ketika Mahisa Pukat kemudian benar-benar meloncat ke medan maka orang itu justru meloncat menjauh. Dengan nada dalam ia bertanya, “Apakah kau juga akan memasuki arena?”

“Ya,” jawab Mahisa Pukat, “kami harus mengakui kelebihanmu. Karena itu, kami telah memberikan satu penghormatan yang sangat tinggi kepadamu. Kami akan bertempur berpasangan.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya dengan nada merendah, “Anak-anak muda. Baiklah aku berterus terang aku tidak dapat mengingkari satu kenyataan, bahwa aku tentu tidak akan mampu melawan kalian berdua. Untuk melawan salah seorang di antara kalian, aku sudah merasa sangat sulit, apalagi jika aku harus berhadapan dengan dua orang sekaligus. Karena itu, maka baiklah aku menghentikan perlawananku.”

Mahisa Pukat termangu-mangu. Namun sebenarnyalah, bahwa orang itu telah melepaskan serangan-serangannya. Kabut yang berwarna keputih-putihan itu tidak lagi nampak melibat Mahisa Murti atau bahkan menyentuh Mahisa Pukat. Dalam keremangan malam, nampak orang itu melangkah beberapa langkah maju. Namun sikapnya bukan lagi sikap seseorang yang siap untuk bertempur.

“Sudahlah,” berkata orang itu, “sejak semula aku sudah mengatakan bahwa aku hanya sekedar menjajagi kemampuan kalian bertiga. Kini aku tahu, bahwa kalian memiliki ilmu yang sangat tinggi. Apalagi menilik umur kalian yang masih sangat muda, sehingga dengan demikian maka pada masa-masa mendatang, kalian akan dapat menjadi orang yang jarang ada tandingnya.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu. Sementara itu Mahisa Ura pun telah bergeser mendekat pula.

Namun dengan nada berat Mahisa Murti kemudian bertanya, “Lalu, apa yang akan kau lakukan kemudian?”

“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengatakan bahwa layaklah jika kalian berani mendekati padepokan itu dan apalagi melihat apa yang terdapat di dalamnya,” jawab orang itu.

“Dan kau akan memanggil anak-anakmu dan siap mencincang kami bertiga?” bertanya Mahisa Pukat.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku sebenarnya orang lain. Aku tidak berasal dari padepokan itu.”

“Jadi siapakah sebenarnya kau?” bertanya Mahisa Pukat dengan serta merta.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Namaku memang Tatas Lintang. Memang nama yang aneh. Tetapi itu memang namaku yang sebenarnya. Dan aku memang tidak menjadi penghuni padepokan itu, apalagi pemimpinnya.”

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura berdiri mematung sejenak, namun kemudian Mahisa Pukat melangkah maju sambil bertanya, “Jadi apakah maksudmu sebenarnya?”

Orang itu termangu-mangu. Lalu katanya, “Apakah aku kalian perkenankan untuk bergabung dengan kalian? Mungkin aku akan dapat berceritera serba sedikit tentang padepokan itu.”

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura tertegun sejenak. Namun mereka melihat kesungguhan pada nada bicara orang itu.

“Aku dapat mengerti bahwa kalian menjadi ragu-ragu,” berkata Tatas Lintang, “kita baru saja bertemu, justru dengan cara yang mungkin tidak wajar. Namun dengan demikian aku sempat mengetahui bahwa ilmu dari dua perguruan yang besar mengalir di dalam tubuh kalian. Meskipun sejak semula aku memang sudah menduga, tentu kalian mempunyai bekal yang cukup, sehingga kalian berani mendekati padepokan Wirabala.”

Mahisa Murti, Mahisa Pukat, dan Mahisa Ura terkejut mendengar nama padepokan itu. Hampir diluar sadarnya Mahisa Ura menyahut, “Apakah kau tidak salah menyebut nama padepokan itu?”

Orang itu berpaling ke arah Mahisa Ura. Namun kemudian ia-pun tersenyum sambil berkata, “Tidak. Aku tidak salah sebut. Padepokan itu adalah padepokan Wirabala. Mungkin yang kau maksud adalah padepokan Suriantal, sehingga kau mengira aku salah sebut.”

“Ya. Padepokan Suriantal,” ulang Mahisa Ura.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Ada benturan terjadi di dalam padepokan itu. Padepokan itu semula memang bernama Suriantal. Namun kemudian yang berkuasa adalah orang-orang dari padepokan Wirabala.”

“O,” Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun bertanya, “Kau mengetahui banyak tentang padepokan itu. Tetapi bagaimanakah peristiwa pengambilan Mahkota yang gagal itu? Agaknya ceritera itu akan sangat menarik.”

“Tidak begitu jelas,” jawab Tatas Lintang, “namun Pangeran Singa Narpada bersama beberapa orang berhasil menggagalkannya. Dan aku melihat ilmu Pangeran itu mengalir di dalam dirimu.”

Jantung Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi semakin berdebar debar. Demikian pula Mahisa Ura. Namun debar jantungnya justru karena ia semakin mengenali kedua anak muda yang diakunya sebagai adiknya itu.

“Baiklah,” berkata Mahisa Murti, “kau melihat bahwa aku mewarisi ilmu sebagaimana dimiliki oleh Pangeran Singa Narpada. Tetapi apakah maksudmu sebenarnya. Kami akan mempertimbangkan niatmu untuk bergabung dengan kami, jika kami dapat mengerti penjelasanmu tentang sikapmu itu.”

“Aku adalah seorang pengembara,” berkata orang itu, “Tetapi aku mempunyai hubungan yang sangat erat dengan orang-orang dari perguruan Suriantal. Sejak di padepokan itu terjadi perpecahan, aku tidak mau mencampurinya. Aku justru menjauhinya dan menunggu sampai terjadi satu pengendapan atas persoalan yang terjadi sebagaimana dikehendaki oleh orang-orang Suriantal sendiri. Namun ternyata bahwa ada pihak lain yang ikut mencampurinya. Orang-orang dari padepokan Wirabala telah mengambil keuntungan dari perselisihan yang terjadi di padepokan Suriantal itu.”

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura mengangguk-angguk. Sementara itu orang itu pun berkata, “Bagaimana menurut pendapatmu? Apakah kalian setuju aku bergabung dengan kalian?”

Mahisa Murti memandang Mahisa Pukat sekilas. Mereka berdua ternyata merasakan kesungguhan keterangan Tatas Lintang itu, sehingga ketika Mahisa Murti mengangguk kecil, maka Mahisa Pukat pun mengangguk pula.

Dalam pada itu, Mahisa Ura tidak lagi terlalu banyak menentukan sikap. Diserahkannya segala sesuatunya kepada kedua orang kakak beradik itu yang ternyata memiliki kelebihan dihampir segala hal daripadanya.

Karena itulah, maka Mahisa Murti pun kemudian menjawab, “Baiklah Ki Sanak. Kami tidak berkeberatan. Tetapi sebagaimana kau, kami pun pengembara yang tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap.”

“Aku justru ingin mempersilahkan kalian singgah di pondokku,” berkata orang yang menyebut dirinya Tatas Lintang itu.

“Kau mempunyai pondok di dekat tempat ini?” bertanya Mahisa Pukat.

“Ya Aku tinggal di sebuah gubug kecil di padukuhan yang tidak terlalu jauh dari tempat ini,” berkata Tatas Lintang, “aku berhasil mendapatkan sebidang kecil tanah karena aku sempat menolong seorang anak yang tergelincir masuk ke dalam jurang yang tidak dapat memanjat naik. Pertolonganku memang tidak seberapa. Aku menggendongnya naik dan membawanya kembali kekeluarganya. Namun keluarganya yang agaknya berkecukupan itu telah memberikan hadiah kepadaku. Dan aku minta untuk diperkenankan tinggal di sudut pategalannya yang berhimpitan dengan dinding padukuhan.”

“Kau mendapatkan apa yang kau inginkan?” bertanya Mahisa Pukat.

“Ya,” jawab orang itu.

“Dan kau berhasil tinggal, dekat padepokan Suriantal?” bertanya Mahisa Murti pula.

“Ya. Sebagaimana kau lihat,” jawab orang itu.

Mahisa Murti mengangguk-angguk, Lalu katanya, “Baiklah. Kami akan bersedia memenuhi undanganmu.”

“Jika kau sudah melihat pondokku, maka kau tidak akan mencurigai aku lagi. Aku berkata sebenarnya,” desis orang itu.

“Baiklah. Aku akan membiasakan diri untuk tidak curiga lagi kepadamu,” jawab Mahisa Murti.

Dengan demikian maka mereka berempat pun kemudian, meninggalkan lingkungan yang basah itu. Mereka melintasi daerah berlumpur beberapa ratus langkah. Kemudian mereka naik ke sebuah tebing yang tidak terlalu tinggi. Setelah menyeberangi padang perdu, maka mereka mulai merambah tanah persawahan.

Meskipun malam gelap, tetapi Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura berusaha untuk mengenali lingkungan yang dilaluinya. Dengan ketajaman pengamatan seorang pengembara, maka mereka dapat mengingat beberapa ciri yang berkesan yang terdapat di sepanjang perjalanan mereka.

Untuk beberapa saat mereka telah menelusuri jalan bulak. Mereka menghindari padukuhan di hadapan mereka, sehingga karena itu, maka mereka telah melalui pematang yang menyilang di tengah sawah.

Baru beberapa saat kemudian, maka mereka telah memasuki sebuah pategalan.

“Pategalan ini bergandengan dengan padukuhan,” berkata orang yang menyebut dirinya Tatas Lintang, “tetapi aliran air agak kurang baik, sehingga sawah di lingkungan ini telah dirubah menjadi pategalan. Ada rencana untuk perluasan padukuhan.”

“Apakah tidak dikhawatirkan bahwa sumber bahan makanan akan menjadi susut. Jika sawah berubah menjadi pategalan, dan pategalan kemudian menjadi daerah berpenghuni, maka akhirnya tidak ada lagi tempat untuk menanam padi dan jagung,” berkata Mahisa Murti.

“Tidak anak muda,” jawab Tatas Lintang, “beberapa orang telah menebang hutan dan menjadikannya tanah persawahan.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan. Mereka teringat kepada usaha beberapa pihak di Kediri untuk menghancurkan masa depan dengan menebangi pepohonan bahkan di lereng-lereng pegunungan sehingga tidak ada lagi yang dapat menahan arus air jika hujan turun. Kecuali banjir, maka kulit pegunungan akan terkelupas dan di musim kering, maka tanah di kaki bukit akan kering dan merekah.

Agaknya orang yang bernama Tatas Lintang itu melihat kebimbangan di wajah anak-anak muda itu menanggapi keterangannya. Karena itu, maka katanya, “Tetapi orang-orang padukuhan itu melakukannya dengan cukup berhati-hati. Mereka tidak menebas hutan sehingga buminya kehilangan nafas kesegarannya.”

“Syukurlah,” desis Mahisa Pukat, “mudah-mudahan mereka tetap pada pendiriannya meskipun lingkungannya menjadi semakin sempit. Jika mereka ingin membuka hutan, maka sebaiknya mereka mengambil jarak.”

“Aku kira mereka akan berbuat seperti itu,” berkata Tatas Lintang, “seseorang akan menjadi cikal bakal dan akan selalu dikenang oleh anak keturunannya jika ia berhasil mengembangkan satu lingkungan baru.”

“Kau akan melakukannya?” bertanya Mahisa Pukat tiba-tiba.

“Tidak anak muda,” jawab Tatas Lintang, “aku tinggal di daerah yang sudah lama dibuka menjadi padukuhan. Aku tidak akan disebut cikal bakal, justru karena aku tidak lebih dari seorang yang mendapat belas kasihan dari salah seorang penghuni padukuhan itu.”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk, sementara itu mereka menyuruk lebih dalam mendekati dinding padukuhan.

Sebenarnyalah, ketika mereka sampai di sudut pategalan, mereka mendapatkan sebuah gubug yang tidak begitu besar. Dibatasi oleh secabik halaman yang berpagar kayu dan potongan dahan-dahan. Tidak ada regol halaman dan tidak ada bagian-bagian yang biasanya terdapat pada lingkungan sebuah rumah.

“Inilah,” berkata orang itu, “Bukankah benar-benar sebuah gubug kecil, sebagaimana gubug untuk menunggui burung di sawah.”

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura tidak menjawab. Mereka mengikuti saja orang itu memasuki halamannya. Namun demikian mereka bertiga tidak kehilangan kewaspadaan.

Orang itulah yang kemudian membuka pintu dan memasuki ruang rumahnya yang gelap.

“Tunggulah,” katanya, “aku akan membuat api.”

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura menunggu di halaman ketika Tatas Lintang membuat api dengan batu thithikan yang digesek dengan potongan baja. Bunga api yang timbul telah membakar amput aren yang dikeringkan.

Dengan menghembus-hembus amput aren itu membara semakin besar sehingga ketika diletakkan biji jarak, maka biji jarak itu pun kemudian menyala menerangi ruang yang tidak terlalu luas.

“Kemarilah,” berkata Tatas Lintang kepada ketiga orang yang menunggu di luar. Ia pun kemudian telah menyalakan oncor biji jarak yang dirangkainya cukup panjang dengan lidi dan diselipkan pada sebuah ajug-ajug bambu.

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun telah memasuki pondok orang yang menyebut dirinya Tatas Litang itu. Sejenak mereka termangu-mangu memandang sekeliling ruangan itu.


Yang terdapat di ruang itu hanyalah sebuah amben yang besar, sebuah sosok untuk menempatkan gendi yang agaknya berisi air minum, sebuah tudung kepala dari anyaman bambu yang lebar dan beberapa alat untuk bekerja di sawah dan di pategalan.

“Aku adalah seorang petani yang bekerja untuk pemilik pategalan ini. Aku sendiri tidak mempunyai tanah kecuali halaman ini, yang merupakan pemberian dari orang yang anaknya telah aku tolong itu,” berkata Tatas Lintang.

Ketiga orang tamu Tatas Lintang itu mengangguk-angguk. Mereka melihat kesederhanaan hidup Tatas Lintang itu. Namun mereka pun telah melihat apa yang ada di balik kesederhanaannya itu.

“Orang yang memberikan tanah ini tidak melihat apa yang sebenarnya tersimpan di dalam diri Tatas Lintang ini,” berkata Mahisa Murti di dalam hatinya.

Demikianlah maka mereka bertiga telah berada di rumah seorang yang baru saja dikenalnya dengan cara yang aneh. Dengan nada datar Tatas Lintang itu pun kemudian berkata, “Aku hanya mempunyai sebuah amben yang besar itu. Kita berempat akan tidur di amben itu. Apakah kalian berkeberatan?”

Mahisa Murti lah yang menjawab, “Kami adalah pengembara. Kami terbiasa tidur di atas rerumputan kering. Berselimut awan beratapkan langit.”

Tatas Lintang tersenyum. Katanya, “Baiklah. Dengan demikian maka tempat pembaringan tidak menjadi persoalan kita. Nah, jika demikian, tidurlah. Atau barangkali kalian akan pergi ke pakiwan lebih dahulu? Masih ada sisa malam untuk beristirahat. Aku akan merebus air. Mungkin kalian tidak terbiasa minum air putih dari dalam gendi.”

“Sudah aku katakan, kami adalah pengembara. Kami dapat meneguk air dari belik. Apalagi dari gendimu,” jawab Mahisa Murti pula.

Tatas Lintang tersenyum. Katanya, “Bagus. Kalian benar-benar pengembara yang baik.”

Namun mereka masih juga pergi ke pakiwan untuk mencuci kaki dan tangan sebelum mereka naik ke pembaringan.

Namun bagaimana pun juga, Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura tetap berhati-hati. Dengan menggamit Mahisa Pukat, Mahisa Murti memberikan isyarat, agar mereka bergantian tidur.

Pada sisa malam Mahisa Pukatlah yang tertidur lebih dahulu. Baru menjelang pagi Mahisa Murti menggamitnya dan kemudian bergantian tidur untuk sekejap.

Ketika udara menjadi terang, Mahisa Murti masih dibiarkan saja tidur meskipun Mahisa Pukat dan Mahisa Ura sudah terbangun. Mereka tidak melihat Tatas Lintang di tempatnya. Namun mereka mendengar suara perapian yang menyala di belakang rumah, sementara asap mengepul menerobos lubang-lubang dinding.

“Agaknya Tatas Lintang sedang menjerang air,” desis Mahisa Ura.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan pergi ke pakiwan. Kau kawani Mahisa Murti.”

Mahisa Ura mengangguk. Namun ketika Mahisa Pukat bangkit berdiri, derit amben telah membangunkan Mahisa Murti.

“Aku kesiangan,” desis Mahisa Murti.

“Tidak. Matahari belum terbit,” jawab Mahisa Pukat.

Dengan demikian, maka Mahisa Ura tidak lagi harus menunggui Mahisa Murti yang sudah bangun. Bahkan mereka bertiga pun segera keluar dari pondok itu untuk pergi ke pakiwan.

Di siang hari, mereka bertiga dapat melihat dengan jelas, halaman rumah Tatas Lintang yang tidak terlalu luas. Tetapi di bagian belakang, kebun Tatas Lintang itu penuh ditanami jagung, sedang di sepanjang pagar halaman yang hanya dibuat dari potongan-potongan dahan kayu itu telah ditanami ketela pohon.

Sejak hari itu, maka Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura telah menjadi tamu seorang yang bernama Tatas Lintang, yang tinggal di sebuah pondok kecil di sudut pategalan.

Kepada ketiga orang itu Tatas Lintang berkata, “Kalian mulai hari ini adalah tamu-tamuku. Jika orang-orang di padukuhan itu bertanya, maka aku akan mengatakan, bahwa kalian adalah kemanakanku dari padukuhan asalku, sebelum aku pergi mengembara.”

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura mengangguk. Tetapi pada wajah mereka nampak keragu-raguan.

“Apakah ada sesuatu yang membuat kalian berkeberatan?”

“Kenapa aku?” bertanya Tatas Lintang.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun telah menceriterakan kepada Tatas Lintang tentang orang bertongkat yang pernah dijumpainya. Tentang harimau yang mencurigakan dan kehadiran orang bertongkat itu di banjar tempat Mahisa Murti tinggal untuk beberapa hari.

“Apakah kau tidak berkeberatan?” bertanya Mahisa Murti, “Tempat ini terletak tidak terlalu jauh dari daerah yang mungkin dijangkau oleh orang bertongkat itu atau para pengikutnya.”

Tatas Lintang itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “orang itu adalah orang yang luar biasa.”

“Aku tidak tahu kekuatan ilmunya yang sebenarnya,” berkata Mahisa Murti, “Tetapi aku pun yakin bahwa ia mempunyai kelebihan.”

“Aku pernah juga bertemu dengan orang itu tanpa menarik perhatiannya,” berkata Tatas Lintang.

“Berbeda dengan kami,” jawab Mahisa Murti, “kami telah berdiri berseberangan. Antara lain karena batu yang berwarna kehijauan itu.”

“Biarlah,” berkata Tatas Lintang, “jika kehadiran kalian di tempat ini menarik perhatiannya. Bukankah kita sudah bertekad untuk berbuat sesuatu? Tetapi mudah-mudahan segalanya itu tidak terjadi sebelum ampat puluh hari ampat puluh malam.”

“Kenapa dengan ampat puluh hari ampat puluh malam?” bertanya Mahisa Pukat.

Orang itu menarik nafas. Namun kemudian ia pun tersenyum sambil menjawab, “Salahku. Aku terlambat menyadari, bahwa kalian memiliki ilmu yang sama dengan ilmu Pangeran Singa Narpada. Meskipun masih dalam hitungan sebagian kecil, tetapi kemampuanku benar-benar telah susut. Baru setelah ampat puluh hari ampat puluh malam, kekuatan dan kemampuan ilmuku itu akan pulih kembali sebagaimana sebelumnya. Sehingga apabila aku harus bertemu dengan orang bertongkat itu aku sudah membawa bekal sepenuhnya. Jika dengan demikian aku akan dikalahkannya, maka sebenarnyalah aku memang belum mencapai tataran yang sama dengan orang bertongkat itu. Namun saat ini aku mempunyai ganti dari kekurangan di dalam diriku itu. Kehadiran kalian memberikan ketenangan di dalam diriku, karena kalian mempunyai kemampuan yang sangat tinggi.”

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura justru termangu-mangu. Bahkan Mahisa Murti pun kemudian menjawab, “Kau jangan memuji. Kau akan kecewa menghadapi kenyataan tentang kami yang tidak memiliki kemampuan apapun juga.”

“Jangan kau kira aku sekedar berbasi-basi. Aku sudah menjajagi ilmumu. Bahkan sehingga ilmuku sendiri susut dan baru akan pulih kembali setelah ampat puluh hari ampat puluh malam,” sahut Tatas Lintang, “aku berkata sebenarnya. Namun aku pun berpendapat, jika kalian setuju dan tidak tergesa-gesa, selama ampat puluh hari ampat puluh malam kita tidak mendahului mengambil langkah atas padepokan itu. Biarlah kalian berada di sini dan membantuku menggarap sawah. Sementara itu aku sempat memulihkan kekuatan dan kemampuanku. Sokurlah jika aku dapat mempercepat pemulihan itu sehingga kita pun akan semakin cepat pula menyelesaikan tugas kita. Kecuali jika pada waktu sebelum ampat puluh hari ampat puluh malam, merekalah yang bertindak lebih dahulu. Apa boleh buat.”

Mahisa Murti memandang Mahisa Pukat sejenak. Kemudian dipandanginya Mahisa Ura yang termangu-mangu. Agaknya mereka pun ternyata masing-masing tidak mempunyai keberatan. Karena itu, maka ketika Mahisa Murti bertanya, Mahisa Pukat pun dengan serta merta menjawab, “Kita tidak tergesa-gesa.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan menunggu sampai kau siap.”

“Terima kasih,” berkata Tatas Lintang, “dengan demikian maka aku semakin yakin, bahwa kalian benar-benar telah cukup masak untuk mengemban tugas yang sangat berat ini. Kecuali bekal kalian yang cukup lengkap, sikap jiwani kalian pun cukup meyakinkan.”

“Sekali lagi aku minta, kau tidak usah memuji,” jawab Mahisa Murti, “apa yang aku lakukan adalah sekedar didorong oleh keinginan untuk mendapatkan kawan dalam tugas ini meskipun mungkin pada akhirnya, kita akan berselisih jalan.”

“Tidak. Kita tidak akan berselisih jalan,” berkata Tatas Lintang, “kelak aku akan membuktikannya.”

“Terima kasih,” berkata Mahisa Murti, “kami adalah saksi dari setiap kata-katamu.”

“Sementara itu, biarlah kalian menyesuaikan diri dengan cara hidupku. Aku adalah seorang petani yang tidak memiliki tanah sendiri. Aku bekerja kepada orang lain, kepada pemilik pategalan ini. Dengan kerja itu aku mendapat upah yang dapat aku pergunakan untuk menunjang hidupku di samping hasil tanamanku disecuwil tanah ini,” berkata Tatas Lintang.

“Aku tidak yakin,” berkata Mahisa Pukat.

“Apa yang tidak meyakinkan?” bertanya Tatas Lintang.

“Kau tidak memerlukan upah itu. Juga hasil tanah yang hanya setelapak kakimu itu,” jawab Mahisa Pukat, “kau tentu seorang yang berada di tempat ini dengan bekal, selain ilmu, juga bekal kebutuhan hidupmu.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia-pun tersenyum. Dengan nada datar ia pun bergumam, “Dengan demikian aku pun yakin bahwa kalian melakukan hal yang sama.”

“Kami adalah pedagang batu berharga dan wesi aji, bahkan juga emas dan hasil kerajinan logam yang lain,” jawab Mahisa Pukat, “karena itu, maka kami dapat hidup dalam pengembaraan.”

Tetapi Tatas Lintang tertawa. Katanya, “Selama kau mengembara berapa buah barangmu yang laku? Wesi aji atau batu berharga? Atau barangkali kau sudah berhasil menjual batu berwarna kehijauan di bukit kecil itu?”

Mahisa Pukat pun tertawa. Bahkan Mahisa Murti dan Mahisa Ura pun tertawa pula.

Demikianlah, maka sejak hari itu, ketiga orang tamu Tatas Lintang yang diakunya sebagai kemanakannya itu telah diperkenalkan kepada orang yang memberinya sebidang tanah di sudut pategalan itu, dan memberi tahukan bahwa mereka untuk beberapa pekan akan tinggal bersamanya.

“Mereka adalah anak-anak petani. Mereka akan dapat membantu aku mengerjakan pategalan dan sawah di sebelah pategalan,” berkata Tatas Lintang.

“Aku tidak mempunyai keberatan,” berkata pemilik tanah, “jika ternyata mereka juga mampu bekerja dengan baik, aku akan memberikan upah sebagaimana aku berikan kepadamu.”

“Terima kasih,” jawab Tatas Lintang sambil mengangguk hormat, “jika ada kemurahan itu, maka mereka tidak akan menjadi beban yang sangat berat bagiku, karena mereka akan dapat makan dari kerja mereka sendiri.”

“Beruntunglah mereka, karena justeru pada musim tanam palawija seperti ini mereka berada di rumahmu,” berkata pemilik tanah itu.

Sejak saat itu, maka Mahisa Murti, dan Mahisa ura telah ikut bersama Tatas Lintang pergi ke sawah di siang hari. Namun di malam hari Tatas Lintang telah melakukan pemusatan nalar budi untuk memulihkan kekuatan dan kemampuan ilmunya yang terhisap oleh ilmu Mahisa Murti.

Namun pada hari yang ketiga, Tatas Lintang itu pun berkata, “Anak-anak muda. Sebenarnyalah bahwa aku ingin pertemuan ini bukanlah satu peristiwa kebetulan yang sia-sia. Aku mengerti, bahwa kalian adalah murid dari seorang yang mewarisi ilmu Bajra Geni dan murid dari pewaris ilmu sebagaimana dimiliki oleh Pangeran Singa Narpada. Aku mengerti bahwa kedua ilmu itu apabila telah berkembang dan menjadi masak di dalam diri kalian, maka kalian akan menjadi orang yang jarang ada bandingnya,” orang itu berhenti sejenak, lalu, “tetapi meskipun demikian, jika kalian tidak berkeberatan, apakah kalian bersedia untuk menerima beberapa petunjukku untuk mengembangkan ilmu yang telah ada di dalam diri kalian. Waktu yang tersedia adalah ampat puluh hari ampat puluh malam dikurangi beberapa hari yang telah kita lewati. Aku kira, kita mempunyai waktu yang cukup. Sementara itu, sebenarnyalah bahwa aku sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi.”

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Mahisa Murti pun bertanya, “Apakah kau berkata dengan jujur?”

“Aku berkata dengan jujur,” jawab orang itu, “Biarlah kita akan saling menguntungkan. Jika kalian bersedia, maka mudah-mudahan aku dapat memberikan arti bagi masa depan kalian bertiga.”

“Apakah yang akan kami dapatkan?” bertanya Mahisa Pukat.

“Mudah-mudahan aku akan dapat ikut membuka kemungkinan bagi ilmu kalian. Kalian telah mampu mengembangkan ilmu kalian dalam ujudnya yang lunak dan yang keras. Namun kalian masih belum memperlihatkan, atau barangkali belum saja kalian pergunakan, bahwa kalian mampu mengetrapkan kemampuan ilmu itu untuk sasaran yang dipisahkan oleh jarak beberapa langkah dari kalian,” jawab orang itu. “bukan saja ilmu kalian dalam ujudnya yang lunak, tetapi juga dalam ujudnya yang keras. Kalian dapat melontarkan kekuatan ilmu kalian untuk menyerang lawan kalian dengan kemampuan dan kekuatan sebagaimana wadag kalian langsung menyentuhnya.”

“Apakah yang kau maksud, kemampuan melakukannya sebagaimana kau lakukan?” bertanya Mahisa Pukat.

“Ya. Namun dengan lambaran ilmu yang berbeda, sehingga dengan demikian akan mempunyai akibat yang berbeda pula. Jika kalian mampu melakukannya, maka ilmu yang kalian miliki akan mempunyai akibat yang lebih dahsyat dari dasar ilmu yang aku miliki. Baik dalam ujudnya yang lunak, maupun dalam ujudnya yang keras,” jawab orang itu.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Tetapi ia pun bertanya, “Apakah dengan demikian ilmu yang telah ada di dalam diriku itu tidak akan terpengaruh?”

“Aku tidak akan menyentuh ilmu dan kemampuan yang telah ada di dalam dirimu. Aku hanya ingin menunjukkan satu cara sehingga kau dapat mengetrapkan ilmumu atas sasaran yang berjarak dari kemungkinan sentuhan wadagmu. Kau telah mempunyai dasar dengan melepaskan ilmumu dalam ujudnya yang lunak. Namun kau belum mengetrapkannya pada ujudnya yang keras sebagaimana menurut penglihatanku. Mungkin kau mampu memancarkan jalur panas dari dalam dirimu sebagaimana jalur yang dapat melibat seseorang dalam kebekuan. Tetapi kemampuannya masih belum memadai, sehingga bagi mereka yang memiliki daya tahan yang kuat, maka serangan itu tidak akan banyak berarti. Namun jika kalian mampu mempergunakan kemampuan dan ilmu itu menurut kemungkinan yang dapat kau kembangkan sebagaimana aku lakukan, maka kemungkinannya akan menjadi lebih baik. Sedangkan jika ternyata kalian tidak merasa perlu untuk memperdalam lagi, maka apapun yang terjadi, tidak akan mempengaruhi apa yang telah ada di dalam dirimu.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu. Namun ternyata bahwa Mahisa Ura tidak tahan lagi menekan perasaannya, sehingga karena itu, maka tiba-tiba saja ia berkata, “Ki Sanak, aku tidak akan dapat ikut dalam pengembangan ilmu itu. Aku mempunyai dasar ilmu dan kemampuan yang jauh berbeda.”

Tatas Lintang mengerutkan keningnya. Dilihatnya kegelisahan yang sangat telah mencengkam perasaan Mahisa Ura.

“Apa sebenarnya yang terjadi?” bertanya Tatas Lintang.

Mahisa Murtilah yang menjawab, “Kakakku yang tertua itu tidak sempat memiliki ilmu sebagaimana aku miliki. Ia tidak berguru pada guru yang sama, sehingga karena itu, ia membawa bekal yang berbeda dari bekal yang ada pada diri kami berdua.”

Tatas Lintang mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian menjawab, “Tidak apa-apa. Pada dasarnya dengan bekal ilmu yang manapun juga, serangan sebagaimana aku lakukan itu dapat dilakukan. Yang berbeda adalah kekuatan serangan itu sendiri.”

Sebelum Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menyahut, Mahisa Ura telah mendahuluinya, “bekal ilmuku jauh berada di bawah kemampuan kedua adikku itu. Aku sama sekali tidak memiliki dan mewarisi ilmu sebagaimana diwarisinya.”

Tatas Lintang mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan mencoba, apa saja yang mungkin kau lakukan.”

Mahisa Ura masih tidak puas mendengar jawaban Tatas Lintang. Itulah sebabnya maka ia pun telah mengatakan apa yang ada di dalam dirinya. Batas kemampuan yang dimilikinya dan kelemahan-kelemahan yang ada padanya.

Tatas Lintang mengangguk-angguk. Namun dengan keterangan itu, ternyata bahwa Mahisa Ura pun memiliki kemampuan ilmu betapapun panjang jaraknya dengan kemampuan dan ilmu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Namun dengan bekal yang kecil itu, Mahisa Ura pun akan dapat melakukannya.

“Tetapi daya dan kekuatan serangan itu pun tidak akan dapat sama dan seimbang dengan daya dan kekuatan ilmu kedua saudaramu,” berkata Tatas Lintang.

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Katanya, “Jika memang aku mendapat kesempatan, maka aku akan sangat berterima kasih. Tentu saja aku harus menyadari alas yang ada di dalam diriku.”

“Kita akan mencobanya,” berkata Tatas Lintang.

Demikianlah, maka untuk malam-malam berikutnya, Tatas Lintang tidak saja menghabiskan waktunya untuk bersamadi agar mendapatkan kemampuannya kembali seutuhnya. Namun ia pun telah membawa ketiga orang tamunya ke tempat yang tidak pernah didatangi oleh seseorang.

“Lakukanlah,” berkata Tatas Lintang kepada ketiga orang itu.

Perlahan-lahan Tatas Lintang telah memberikan beberapa petunjuk kepada ketiga orang itu. Setapak demi setapak. Bahkan tidak terasa adanya kesulitan sama sekali.

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahira Ura pun mengikuti segala petunjuk orang yang menyebut dirinya Tatas Lintang itu. Namun terutama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, melangkah dengan sangat berhati-hati. Setiap laku diperhitungkannya baik-baik. Jika mereka yakin tidak akan mempengaruhi ilmu yang telah ada di dalam dirinya apalagi kemungkinan terjadinya benturan, maka mereka baru melakukannya.

Pada hari pertama keduanya telah menemukan keyakinan di dalam diri, bahwa Tatas Lintang melakukannya dengan jujur. Tidak ada persoalan sama sekali dengan ilmu yang ada di dalam dirinya. Yang diberikan oleh Tatas Lintang adalah laku untuk memusatkan kemampuan ilmunya untuk dengan satu hentakan kekuatan melepaskannya ke arah satu sasaran.

Meskipun demikian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tetap berhati-hati pada hari-hari berikutnya.

Dengan tuntunan Tatas Lintang, maka setapak demi setapak mereka bertiga mengalami kemajuan dari ke hari ke hari. Terutama Mahisa Murti dan Mahisa-Pukat. Pada hari ke lima belas, mereka telah mampu melontarkan kekuatan ilmunya, baik dalam ujudnya yang lunak, maupun dalam ujudnya yang keras ke arah sasaran tertentu.

Pada saat yang sama, mulai nampak pula kemampuan Mahisa Ura meskipun baru pada tataran permulaan. Namun tanda-tandanya telah nampak, bahwa ia pun akan berhasil untuk melakukannya.

Demikianlah, tanpa mengenal lelah, ketiga orang itu menempa diri dalam laku yang ditunjukkan oleh Tatas Lintang. Sejak matahari terbenam, sampai saatnya matahari akan terbit lagi.

Sementara pada hari-hari berikutnya, Tatas Lintang sudah tidak perlu menuntun mereka lagi. Tatas Lintang telah membiarkan ketiga orang itu menyempurnakan laku mereka untuk mencapai satu tataran yang mapan dari penguasaan ilmu yang diajarkan oleh Tatas Lintang itu. Sedangkan Tatas Lintang sendiri dapat memusatkan waktu-waktu yang tertinggal untuk memulihkan tingkat kemampuannya pada tataran sebagaimana dimiliki semula.

Meskipun pada malam hari mereka mempergunakan hampir seluruh waktu mereka untuk kepentingan penempaan diri, namun di siang hari mereka pun bekerja dengan baik sebagaimana seharusnya, sehingga sama sekali tidak menumbuhkan kesan, bahwa di malam hari mereka hampir semalam suntuk tidak penah tidur selama ampat puluh malam.

Hanya menjelang senja, kadang-kadang mereka sempat tidur barang sejenak bergantian. Setelah kerja di sawah selesai, maka mereka dapat beristirahat sebelum pada malam harinya, begitu matahari terbenam mereka akan tenggelam di dalam laku yang berat.

Namun setelah hari ke ampat puluh mereka lewati, ternyata Tatas Lintang masih memerlukan waktu beberapa hari lagi untuk memulihkan kemampuannya sepenuhnya. Waktu yang ampat puluh malam baginya telah disusut bagi kepentingan Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura.

Namun dengan senang hati Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun memenuhinya, karena mereka menganggap bahwa kehadiran Tatas Lintang di dalam lingkungan mereka, telah memberikan kemajuan yang sangat berarti bagi ilmu mereka. Meskipun yang mereka sadap dari Tatas Lintang tidak meningkatkan ilmu yang ada di dalam diri mereka, tetapi mereka telah mendapatkan satu kemungkinan baru dalam penguasaan ilmu mereka. Mereka memiliki kemampuan untuk melontarkan ilmu pada sasaran yang terpisah dari sentuhan wadag mereka.

Meskipun pada saat-saat tertentu, Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura teringat pula kepada batu yang berwarna kehijauan serta orang tua bertongkat, namun karena mereka justru sedang meningkatkan penguasaan ilmu yang mereka sadap dari Tatas Lintang, maka mereka seolah-olah telah melupakannya.

Namun pada satu saat Mahisa Pukat pun sempat bertanya, “Bagaimana dengan batu itu?”

“Jika batu itu telah disingkirkan, apa boleh buat. Sasaran utama kita adalah padepokan orang-orang bertongkat serta orang tua itu yang ternyata memiliki ceritera yang sangat menarik sebagaimana dikatakan oleh Tatas Lintang,” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kita tidak terlalu berkepentingan dengan batu itu, meskipun jika mungkin dapat kita manfaatkan.”

Mahisa Murti tersenyum. Katanya, “Sebagai pedagang batu berharga, maka batu itu sangat menarik. Tetapi sebagai seorang petugas yang mendapat beban tugas dari Kediri, kita harus dapat memalingkan kepentingan kita.”

Mahisa Pukat tidak menjawab. Ia memang sependapat dengan Mahisa Murti.

Dalam pada itu, setelah lima puluh malam lewat, barulah Tatas Lintang berkata kepada ketiga orang yang tinggal di dalam pondoknya itu, “Nah, agaknya aku telah mencapai puncak kemampuanku kembali. Sementara itu, aku lihat, kalian pun telah menguasai kemampuan sebagaimana aku tunjukkan kepada kalian. Karena waktu kita telah cukup tersita untuk kepentingan kita masing-masing, maka kita harus segera kembali kepada tugas kita.”

“Aku sependapat,” berkata Mahisa Murti, “selebihnya aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas nama kami bertiga.”

“Kita akan saling mendapat keuntungan,” jawab Tatas Lintang, “kalian beruntung karena kalian mendapatkan yang belum kalian miliki, sementara.aku pun beruntung bahwa aku mendapat kawan yang benar-benar tangguh menghadapi segala kemungkinan. Bagiku padepokan itu adalah sarang kekuatan dan ilmu yang garang dan tanpa belas kasihan. Karena itu, kita harus benar-benar mempersiapkan diri untuk memasukinya.”

“Terima kasih,” jawab Mahisa Murti, “Terserah kepadamu, kapan kita akan mulai.”

“Malam nanti kita kita akan menguji kemampuan kita. Semalam lagi kita akan pergi ke tempat kita berlatih di setiap malam,” berkata Tatas Lintang kemudian.

Demikianlah, seperti yang dikatakan oleh Tatas Lintang, maka pada malam harinya, mereka berempat telah pergi ke tempat mereka menempa diri. Mereka masih akan menguji kemampuan mereka dan mereka masih harus melakukan laku terakhir untuk mematangkan keyakinan mereka, bahwa mereka benar-benar telah menguasai ilmu yang sedang mereka dalami.

Demikian malam menjadi semakin gelap, maka mereka-pun mulai dengan laku yang terakhir yang harus mereka jalani, yang juga akan merupakan ujian bagi mereka yang sedang menekuni ilmu yang diturunkan oleh Tatas Lintang kepada ketiga orang yang mengaku bersaudara itu.

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura telah duduk berjajar pada jarak beberapa langkah. Mereka telah menempatkan sasaran yang akan mereka jadikan alat penguji kemampuan mereka. Pada jarak beberapa langkah, mereka menempatkan batu-batu padas yang cukup besar.

Tatas Lintang sudah mengetahui bahwa akibat dari hentakkan ilmu yang dilontarkan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan berbeda dari Mahisa Ura, karena Tatas Lintang memang sudah mengetahui latar belakang kemampuan mereka masing-masing.

“Marilah,” berkata Tatas Lintang, “kita akan mulai dengan pemusatan nalar budi. Kita akan memandang sasaran serta mulai membangkitkan ilmu di dalam diri kita masing-masing, memusatkannya pada tangan kita dan dengan daya kekuatan getaran di dalam diri kita maka ilmu itu kita lontarkan. Getaran itu akan merambat lewat udara dan akan membentur sasaran. Dengan demikian, maka kita telah memanfaatkan kekuatan yang ada di dalam udara di sekitar kita untuk meniti ilmu yang kita trapkan mencapai sasaran itu. Namun getaran itu tidak merambat sebagai seekor siput merambat. Tetapi kecepatan gerak getaran itu melampaui kecepatan mata wadag kita.”

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun segera bersiap. Latihan-latihan yang mereka lakukan selama itu dengan mengenali diri mereka sendiri, mengenali ilmu mereka lebih dalam serta menguasai sifat serta wataknya, mengenali udara di sekitarnya serta getaran yang akan merambat mencapai sasaran, merupakan kemampuan dasar untuk menguasai ilmu yang diturunkan oleh Tatas Lintang.

Demikianlah, setelah memusatkan segenap nalar budi serta mengetrapkan ilmunya, maka mereka mulai dengan memusatkan kekuatan ilmu mereka pada tangan mereka.. Pada telapak tangan sebagaimana latihan latihan selama mereka menjalani laku. Pada tataran pertama dari penguasaan ilmu itu, rasa-rasanya mereka masih harus berbuat terlalu banyak untuk mencapai satu pemusatan kekuatan ilmunya pada telapak tangannya. Namun akhirnya mereka pun mencapainya juga. Sejenak mereka mengungkit inti kekuatan ilmu yang telah terpusat di telapak tangannya itu, kemudian dengan getaran yang bagaikan memancar dari dalam diri oleh kekuatan ilmu itu pula, maka mereka pun telah menghentakkan inti kekuatan ilmunya dengan mengembangkan telapak tangannya dan menghadap ke arah sasaran.

Sejenak kemudian, maka dari telapak tangan ketiga orang itu telah meluncur getaran yang tidak dapat dilihat oleh mata wadag, namun dapat ditangkap oleh kekuatan pengamatan mata orang berilmu. Karena itu, tnaka orang yang memiliki ilmu yang memadai, mampu menghindarkan diri dari serangan yang demikian, sebagaimana dilakukan oleh Mahisa Murti, pada saat ia bertempur melawan Tatas Lintang ketika Tatas Lintang itu menjajagi ilmunya. Tingkat kepekaan naluripun dapat mempengaruhi gerak yang serta merta pula dari orang-orang yang me miliki ilmu yang tinggi, sehingga dengan demikian maka mereka mempunyai peluang untuk membebaskan diri dari serangan yang demikian.

Namun tingkat kecepatan serangan itu pun dapat bergerak pula. Semakin mapan seseorang menguasai ilmunya, maka ia-pun akan mampu semakin cepat mengungkit dan melontarkan kekuatan ilmu itu lewat telapak tangannya, merambat meniti udara dan menghantam sasaran.

Ternyata bahwa kemampuan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat benar-benar nggegirisi. Sasaran serangan mereka, gumpalan batu padas, ternyata telah hancur berserakan. Sebuah ledakan telah terjadi meskipun tidak menimbulkan bunyi yang terlalu keras. Tetapi justru percikan kekuatan yang meledakkan batu pada itu bagaikan percikan bunga api yang memancar di sekitarnya.

Sementara itu, Mahisa Ura pun berhasil pula melontarkan ilmunya. Meskipun ilmunya ketinggalan dari ilmu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, namun Mahisa Ura pun berhasil menghantam batu padas itu sehingga pecah di beberapa bagian.


Namun dalam pada itu, meskipun ternyata hasilnya masih beberapa lapis di bawah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, namun Mahisa Ura merasa bahwa dirinya telah mendapatkan satu keberuntungan yang sangat besar. Dengan demikian ia telah memiliki satu kemampuan untuk melakukan serangan tanpa menyentuh dengan wadagnya.

Tatas Lintang yang menyaksikan ketiga orang itu menguji kemampuan mereka mengangguk-angguk. Beberapa kali ia melihat hal yang serupa dilakukan oleh mereka bertiga dalam latihan-latihan yang berat. Namun pada saat ia menyaksikan ketiga orang itu mempergunakan segenap kemampuan yang ada pada diri mereka, maka Tatas Lintang itu pun menjadi sangat kagum.

“Kalian ternyata berhasil melakukannya melampaui kekuatan yang dapat aku lontarkan. Seandainya aku harus beradu kekuatan dengan membenturkan ilmuku dengan ilmu kalian berdua, seorang demi seorang, maka kekuatan ilmuku akan kalah,” berkata Tatas Lintang.
“Ah, jangan begitu,” sahut Mahisa Murti, “agaknya yang aku kuasai belum seberapa.”

“Aku berkata sebenarnya. Yang perlu kau lakukan adalah mempercepat arus pemusatan kekuatan ilmumu serta mengungkit getaran di dalam dirimu, sebelum kau menghentakkan,” berkata Tatas Lintang kemudian. “Jika kalian berhasil, maka kalian akan dapat mendahului usaha lawan kalian untuk menghindari serangan-serangan kalian, meskipun mereka mampu melihat atau memperhitungkan arah serangan kalian.”

Ketiga orang yang sedang menguji kemampuannya itu mengangguk-angguk. Namun untuk mengembangkan kemampuannya itu tentu memerlukan waktu, bukan dengan serta merta. Sementara itu tugas mereka yang berat telah menunggu.

Namun dalam pada itu, Tatas Lintang pun berkata, “Malam ini kalian mendapat kesempatan untuk melakukan beberapa kali. Dengan demikian maka kalian akan semakin mengenali kemungkinan yang ada di dalam diri kalian, sehingga memungkinkan pelepasan ilmu kalian akan menjadi semakin rancak.”

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun mengangguk-angguk. Dengan nada dalam Mahisa Pukat berkata, “Aku akan mengulanginya. Terus menerus hingga menjelang dini hari.”

“Baiklah. Lakukankah. Aku pun akan melihat, apakah keadaanku benar-benar sudah mapan,” berkata Tatas Lintang.

Dengan demikian maka orang-orang itu pun seakan-akan telah berpencar. Mereka mencari tempat yang paling baik bagi diri mereka sendiri. Baru sejenak kemudian, maka mereka pun telah mulai menenggelamkan diri ke dalam latihan-latihan yang berat. Mereka dengan teliti melihat apa yang terjadi dalam gejolak ilmu mereka. Tingkatan-tingkatan dalam perkembangan kemampuan mereka untuk melontarkan kekuatan ilmu mereka lewat getaran yang meniti udara. Serta kemungkinan-kemungkinan lain yang mendukung kekuatan ilmu mereka itu.

Ternyata bahwa kemampuan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk melakukannya, memang terpaut dengan apa yang dapat dilakukan oleh Mahisa Ura. Namun meskipun demikian, pada Mahisa Ura itu pun terdapat pula kemajuan atas pengenalannya sendiri terhadap kemampuannya yang diperolehnya itu, serta meningkatkannya.

Bagi Mahisa Ura, apa yang diterimanya dari petunjuk-petunjuk Tatas Lintang itu sudah cukup banyak. Bahkan ia pun merasa akan dapat berbangga jika ia sempat kembali dan berada di antara kawan-kawannya.

Ternyata bahwa mereka berempat telah mempergunakan waktu hampir semalam suntuk. Dalam waktu yang singkat itu, maka mereka telah mengenali diri masing-masing beserta perkembangan ilmunya lebih dalam lagi. Mereka sempat mengatur dan meningkatkan kemungkinan-kemungkinan sejauh dapat mereka jangkau. Namun yang semalam itu, ternyata telah memberikan manfaat yang sangat besar bagi mereka.

Tetapi dalam pada itu, ketika malam mendekati dini hari, mereka seakan-akan telah kehabisan tenaga. Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura telah berhenti dengan sendirinya. Bukan karena langit menjadi merah, tetapi mereka seakan-akan telah terkapar tanpa tenaga.

Tatas Lintang mendekati mereka seorang demi seorang dan membantunya berkumpul di dekat sebuah batu yang besar.

Ketiga orang itu diletakkannya duduk bersandar batu yang besar itu. Sementara sambil tersenyum Tatas Lintang itu berkata, “Kalian telah memaksa diri untuk berlatih. Mungkin kalian mencapai satu tingkat sebagaimana kalian kehendaki dalam usaha kalian mengenali ilmu yang baru saja kalian pahami. Tetapi dengan demikian kalian telah kehabisan tenaga. Coba, bayangkan, apa yang akan terjadi jika pada saat yang demikian ini datang seorang musuh yang betapapun lemahnya. Kalian yang seakan-akan telah tidak mampu lagi untuk duduk tegak, tentu tidak akan mampu melawan. Musuh itu akan dengan mudah mendekati kalian seorang demi seorang dan menghunjamkan pedang ke dada kalian.”

Wajah Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura menjadi tegang. Dipandanginya wajah Tatas Lintang yang berdiri tegak di hadapan mereka bertiga. Sebenarnyalah jika Tatas Lintang yang kekuatan ilmunya sudah pulih kembali ingin membunuh mereka, maka ia telah mendapat kesempatan itu. Sebagaimana dikatakan oleh Tatas Lintang, mereka benar-benar telah lebih dan kehabisan tenaga, sehingga anak-anak pun akan dapat membunuh mereka jika dikehendakinya.

“Apakah ini satu cara Tatas Lintang memperlemah kami bertiga, sehingga kami tidak akan mampu melawan sama sekali?” berkata mereka bertiga di dalam hati.

Namun ternyata Tatas Lintang berkata, “Mudah-mudahan sebagaimana yang pernah kita jalani, bahwa sampai sekarang tidak seorang pun yang melihat tempat ini dan mengetahui latihan-latihan yang kita jalani. Meskipun demikian kalian telah membebani aku dengan tanggung jawab yang sangat besar. Keselamatan kalian.”

Tidak seorang pun yang menjawab. Rasa-rasanya mulut ketiga orang itu menjadi sangat berat untuk mengucapkan kata-kata.

Tetapi Tatas Lintang itu pun kemudian berkata pula, “Baiklah. Masih ada kesempatan untuk memusatkan nalar budi serta mengatur pernafasan kalian sebaik-baiknya. Aku akan menunggu sampai tenaga kalian pulih kembali.”

Ketiga orang itu masih tetap berdiam diri. Namun Tatas Lintanglah yang kemudian bergeser menjauh. Ia pun kemudian duduk di sebuah batu untuk mengamati keadaan. Sementara itu, Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura-pun telah berusaha dengan sisa tenaganya untuk memusatkan nalar budinya, mengatur pernafasan mereka untuk mendapatkan kekuatan mereka kembali.

Ketiganya pun kemudian duduk bersila, tanpa bersandar lagi betapapun beratnya. Dengan tangan bersilang di dada, mereka mulai mengatur pernafasan mereka sebaik-baiknya.

Dengan bekal ilmu yang ada di dalam diri mereka, maka perlahan-perlahan pernafasan mereka pun mulai teratur. Darah mereka pun mengalir dengan wajar dan dada mereka tidak lagi bergejolak. Meskipun demikian kekuatan mereka masih belum pulih kembali. Tetapi perlahan-lahan rasa-rasanya tubuh mereka mulai menjadi segar. Angin dini hari, pernafasan yang mengalir lancar, ketenangan dan titik-titik embun agaknya membantu mereka untuk perlahan-lahan mendapatkan kekuatannya kembali.

Dengan demikian, maka sebelum fajar, keadaan mereka pun telah berangsur baik. Bahkan ketiga orang itu telah mampu meskipun agak memaksa diri untuk berdiri.

“Kita harus segera kembali sebelum matahari terbit,” berkata Tatas Lintang.

Ketiga orang itu tidak dapat menunda waktu. Mereka memang sebaiknya berada di rumah kecil itu sebelum matahari terbit, sehingga mereka tidak akan banyak berpapasan dengan, orang-orang yang pergi ke pasar.

Meskipun keadaan mereka masih lemah, namun Mahist Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun terpaksa mengayunkan langkah kembali ke sudut pategalan di sebelah padukuhan.

Jalan yang sulit kadang-kadang memaksa Tatas Lintang membantu mereka seorang demi seorang, sehingga akhirnya, mereka berempat dapat mencapai jalan datar yang rata.

Namun akhirnya mereka berempat pun mencapai pondok kecil itu pada saat matahari telah mulai mengintip di balik punggung bukit. Beberapa orang telah menelusuri jalan menuju ke pasar sambil membawa hasil kebun dan pategalan mereka.

Ketika seorang yang berpapasan bertanya, maka dengan senyum di bibir Tatas Lintang menjawab, “Dari sungai Ki Sanak. Mandi mumpung masih pagi.”

Yang bertanya itu pun tersenyum pula. Orang itu mengenal Tatas Lintang sebagai seorang petani yang rajin, yang menjual tenaganya untuk menggarap tanah orang lain, karena ia sendiri tidak memiliki tanah garapan.

Demikian mereka berempat sampai di dalam pondpk kecil itu, maka Tatas Lintang pun telah mempersilahkan ketiga orang yang masih lemah itu untuk beristirahat. Katanya, “berbaringlah. Tenaga kalian akan cepat pulih kembali. Sementara itu, aku akan merebus air.”

Ketiga orang itu tidak menolak. Keletihan yang mencengkam tubuh mereka memang mendorong mereka untuk bermalas-malasan. Sementara Tatas Lintang berada di dapur merebus air.

Ketika air menjadi masak dan dihidangkan sebagai air sere yang panas dengan gula kelapa, maka Tatas Lintang itu pun berkata, “Minumlah. Kita menyanggupi untuk menyelesaikan dua kotak sawah hari ini. Kita masih harus mencangkul betapapun letihnya tubuh kita.”

Ketiga orang yang sempat berbaring beberapa saat itu pun kemudian bangkit. Saat yang sejenak itu ternyata sangat berarti bagi mereka. Apalagi setelah mereka meneguk air sere dengan gula kelapa. Sementara itu, Tatas Lintang berkata, “Nasi jagung kita yang kemarin masih ada. Kita sempat makan sejenak, sebelum turun ke sawah. Matahari sudah menjadi semakin tinggi.”

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura itu pun sem pat pula makan pagi. Nasi jagung dengan sambal bawang, meskipun hari masih terasa dingin. Tetapi panasnya air sere telah membuat mereka berkeringat, sehingga tajamnya gigitan sambal di perut mereka tidak terasa mengganggu.

Setelah makan pagi, maka tubuh mereka terasa benar-benar menjadi segar. Meskipun tenaga mereka masih belum pulih sepenuhnya, tetapi rasa-rasanya sudah cukup kuat untuk bekerja di sawah menyelesaikan kesanggupan mereka.

Sejenak kemudian, maka mereka berempat telah meninggalkan pondok kecil itu menuju ke sawah. Seorang yang bertemu mereka di jalan bertanya, “He, apa kerja kalian semalam sehingga kalian agak terlambat? Biasanya kalian berangkat ke sawah lebih pagi.”

Karena itu, maka asal saja Tatas Lintang menjawab, “Kayu di rumah masih basah, sehingga rasa-rasanya terlalu lama untuk menyalakannya. Bahkan setiap kali api pun mati, sehingga air lambat mendidih. Padahal sebelum minum minuman panas, aku belum dapat pergi ke sawah.”

Tatas Lintang tertawa. Ketika ia menengadahkan wajahnya memandang matahari, maka terasa matahari memang sudah agak tinggi dibanding dengan kebiasaan mereka berangkat ke sawah.

Orang yang bertanya itu sempat tertawa juga. Katanya, “Bohong. Agaknya semalam kalian ikut adu cengkerik sampai menjelang pagi.”

Hari itu, ke empat orang itu telah berhasil menyelesaika kesanggupan mereka meskipun Mahisa Murti, Mahisa Puka dan Mahisa Ura harus mengerahkan sisa-sisa tenaga mereka. Namun keletihan yang timbul karena kerja mereka di sawah tidak terasa mencengkam sebagaimana keletihan mereka setelah mengerahkan tenaga dan kemampuan mereka, melontarkar kekuatan ilmu untuk membentur sasaran tanpa sentuhan wadag.

Tengah hari, mereka sempat berbaring di bawah gubug di sudut sawah yang sedang mereka kerjakan. Dari pemilik sawah itu, mereka mendapat kiriman minum air dingin di dalam gendi yang terasa sangat segar di saat terik matahari membakar tengkuk. Nasi kuluban dan teri goreng gelepung.

Di belahan kedua hari itu, kerja mereka menjadi semakin cepat, sehingga tugas mereka pun dapat terselesaikan.

“Kita akan menerima upah kerja kita,” berkata Tatas Lintang, “tetapi tentu upahku yang paling banyak, karena aku adalah orang yang paling berpengalaman di antara kalian.”

Mahisa Murti tertawa. Katanya, “Upahku tentu akan terpotong untuk membayar makan dan minumku selama aku tinggal di rumahmu.”

Yang lain pun tertawa pula. Namun kemudian Tatas Lintang berkata, “Kita masih sempat tertawa hari ini. Entah besok pagi.”

“Mudah-mudahan kita masih sempat tertawa untuk hari-hari yang panjang,” sahut Mahisa Pukat.

Tatas Lintang tertawa pula. Sementara Mahisa Ura nampak agak termangu-mangu. Setiap kali ia merasa bahwa ilmunyalah yang paling rendah di antara mereka berempat. Kemungkinan yang paling buruk akan dapat terjadi atasnya, dibandingkan dengan mereka yang memiliki ilmu yang lebih tinggi.

Namun yang kadang-kadang mengganggu perasaannya bukan kemungkinan yang paling buruk itulah. Tetapi justru ia mencemaskan bahwa ketiga orang itu justru terganggu pemusatan nalar budinya dalam keadaan tertentu karena berusaha untuk melindunginya.

“Aku harus meyakinkan mereka, bahwa mereka harus lebih memperhatikan keberhasilan tugas mereka daripada memperhatikan keadaanku,” berkata Mahisa Ura di dalam hatinya.

Dalam pada itu, selagi Mahisa Ura masih termangu-mangu, Tatas Lintang pun berkata, “Marilah. Kita akan pergi ke rumah pemilik tanah itu. Kita akan mengambil uang upah kerja kita. Mungkin sejak besok kita akan mendapatkan kerja yang lain, karena besok tanah itu sudah akan ditanami. Beberapa hari lagi, kita tentu akan mendapat tugas untuk menyiangi tanaman itu. Namun sementara itu, aku tidak tahu, apa yang harus kita lakukan.”

“Jadi, apakah kita harus melakukan kerja itu di samping tugas kita terhadap padepokan yang asing itu?” bertanya Mahisa Pukat.

“Tergantung sekali akan keadaan padepokan itu,” jawab Tatas Lintang. “Tetapi untuk sementara tugas-tugas itu harus kita sanggupi. Apalagi dalam hari-hari yang dekat, kalian masih harus mempersiapkan diri. Keletihan yang kalian alami hari ini tentu belum pulih seutuhnya.”

“Tetapi malam nanti tentu sudah,” berkata Mahisa Pukat.

“Jika malam nanti keadaan kita benar-benar telah pulih, maka besok kita dapat menentukan sikap,” berkata Tatas Lintang, “mudah-mudahan kita tidak terjebak ke dalam mulul seekor harimau yang garang.”

“Apakah kau takut berhadapan dengan harimau?” bertanya Mahisa Pukat.

“Seekor harimau yang mempunyai landasan ilmu yang tinggi memang perlu diperhitungkan,” jawab Tatas Lintang.

Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling ke arah Mahisa Murti, maka Mahisa Murti pun berkata, “Memang kita akan sampai ke mulut harimau. Tetapi jika harimau itu menggigit, maka kita pun akan menggigit pula. Mudah-mudahan kita mempunyai gigi yang cukup tajam. Sokur melampaui tajamnya gigi harimau.”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk, sementara Tatas Lintang pun menarik nafas dalam-dalam. Suasana tiba-tiba telah berubah menjadi sungguh-sungguh.

“Tetapi kita sudah bertekad,” berkata Tatas Lintang, “namun kita masih belum saling mengetahui kepentingan kita masing-masing. Apakah kalian tidak curiga bahwa kepentingan kita kelak akan bertentangan sehingga kita akan saling berbenturan?”

“Apakah perlu kita bicarakan sebelumnya, atau kita akan membiarkan terjadi kelak?” bertanya Mahisa Murti.

Tatas Lintang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Kalian mempunyai kelebihan dari aku. Apalagi jika kalian bertindak bersama-sama, maka aku tidak akan berarti apa-apa bagi kalian. Karena itu, maka segalanya biarlah ditentukan oleh keadaan kita kelak. Yang penting, kita akan melihat padepokan itu dalam ujudnya yang sekarang.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun terdapat kesan di dalam hatinya, sebagaimana pada Mahisa Pukat dan Mahisa Ura, bahwa Tatas Lintang bukanlah orang yang berniat buruk.

Dalam pada itu, maka tiba-tiba saja Tatas Lintang telah berubah suasana dan berkata, “Sudahlah. Jangan menjadi gelisah. Tidak ada gunanya kita memikirkannya sekarang. Yang penting kita akan pergi ke rumah pemilik tanah itu dan minta upah kerja kita. Sesudah itu kita akan pergi ke kedai di ujung padukuhan. Kita akan sempat makan dan minum sepuas-puasnya.”

Mahisa Murti tersenyum. Katanya, “Marilah. Kita akan pergi sekarang. Jangan menunggu kedai itu tutup.”

Demikianlah, maka mereka berempat pun telah pergi ke rumah pemilik tanah yang mereka garap. Sebelum mereka mengatakan sesuatu, pemilik tanah garapan itu sudah mengetahui maksud kedatangan mereka.

“Marilah. Duduklah,” pemilik tanah itu mempersilahkan.

Keempat orang itu pun kemudian duduk di atas tikar panan yang dibentangkan di pringgitan, sementara pemilik rumah itu masuk untuk berbenah diri.

Ternyata pemilik tanah itu adalah orang yang ramah dan baik hati. Sebelum orang itu keluar lagi, maka yang lebih dahulu muncul di pintu adalah anaknya laki-laki yang membawa minuman panas dan beberapa potong makanan.

“Silahkan paman,” anak itu mempesilahkan, “ayah baru berpakaian sebentar.”

Ketika anak itu masuk, Mahisa Murti berdesis, “Apakah kita ini dianggap tamu terhormat?”

“Bukan begitu. Ia sama sekali tidak membenahi pakaiannya untuk menghormati kita. Tetapi yang benar adalah, bahwa ia baru menghitung uang untuk kita,” sahut Tatas Lintang.

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun tertawa tertahan. Tetapi mereka pun percaya, bahwa orang itu tentu baru mengambil uang dan menghitungnya.

“Marilah,” desis Tatas Lintang, “bukankah kita sudah dipersilahkan?”

Tetapi sebelum Tatas Lintang meraih sepotong makanan, maka mereka pun mendengar desir langkah kaki di dalam dinding rumah itu, sehingga tangannya pun telah ditariknya kembali.

“Sial,” desisnya.

Yang lain tertawa. Namun mereka pun telah menahan diri, karena langkah itu pun telah sampai di pintu.

Sebenarnyalah, maka sejenak kemudian pemilik tanah yang dikerjakan oleh Tatas Lintang itu pun telah keluar dari ruang dalam. Sambil tertawa ia pun berkata, “Nah, silahkan. Minuman dan makanan telah tersedia.”

Tatas Lintang memandang Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura. Sambil tersenyum ia pun berkata, “Marilah. Silahkanlah.”

Tatas Lintanglah yang pertama-tama mengambil mangkuk minumannya. Baru kemudian Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura.

Setelah meneguk minuman dan mengunyah makanan, barulah pemilik tanah itu memberikan uang sebagai upah kerja Tatas Lintang.

“Aku tidak akan memerinci berapa bagian kalian masing-masing. Aku akan menyerahkan uang dengan perhitungan luas tanah yang kalian garap. Berapa kalian masing-masing akan menerima, terserahlah kepada kalian, karena aku tidak tahu, berapa bagian kerja yang telah kalian lakukan masing-masing,” berkata pemilik tanah itu.

Tatas Lintang pun telah mengira bahwa memang demikianlah yang akan diterimanya. Karena itu, maka ia pun menjawab, “Terima kasih. Kami akan menentukan bagian kami masing-masing.”

“Aku yakin bahwa tidak akan timbul persoalan di antara kalian,” berkata pemilik tanah itu.

Tatas Lintang tertawa. Katanya, “Tentu tidak. Mereka adalah kemenakan-kemenakanku. Jika mereka nakal, maka aku akan menarik telinganya.”

Pemilik tanah serta mereka yang ada dipringgitan itu pun telah tertawa pula.

Namun dalam pada itu, maka pemilik tanah itu pun kemudian berkata, “Dengan demikian kerja kalian di sawah sudah selesai. Jika kalian tidak berkeberatan, maka aku akan minta tolong kalian untuk mengerjakan pategalan. Bukan pategalan yang kalian tempati, karena di pategalan itu baru saja ditanam ketela pohon, tetapi pategalan di ujung padukuhan. Aku ingin menanam beberapa jenis pohon di pategalan itu. Terutama pohon buah-buahan.”

“Tentu kami tidak berkeberatan. Mumpung kemenakan-kemenakanku masih ada di sini. Jika kerja itu cukup banyak, aku akan menahan mereka, agar mereka tidak tergesa-gesa meninggalkan aku,” jawab Tatas Lintang.

“Pategalan di ujung padukuhan itu akan aku tanami beberapa jenis pohon buah-buahan, di samping pohon melinjo, kelapa dan gori yang sudah ada,” berkata pemilik tanah itu.

“Kapan kami akan mulai?” bertanya Tatas Lintang.

“Dalam dua tiga hari ini aku akan mencari bibitnya. Baru kemudian kalian akan menanamnya,” jawab pemilik tanah itu, “karena itu kalian akan menunggu sampai aku memberikan kabar selanjutnya.”

“Baiklah,” berkata Tatas Lintang, “kami akan sempat beristirahat dalam dua atau tiga hari ini.”

Demikianlah, maka sejenak kemudian Tatas Lintang telah minta diri bersama orang-orang yang diakunya sebagai kemenakannya itu.

“Kami akan memanfaatkan uang yang baru saja kami terima,” berkata Tatas Lintang.

Orang itu tertawa. Katanya, “Sebaiknya besok pagi saja. Jika kalian sempat pergi ke pasar, maka apa yang kalian perlukan akan kalian dapatkan.”

“Ya. Sebaiknya memang besok pagi saja,” desis Tatas Lintang.

Namun sejenak kemudian Tatas Lintang bersama ketiga orang yang diakunya sebagai kemenakannya itu pun telah meninggalkan rumah pemilik tanah yang dianggap Tatas Lintang cukup baik itu. Mungkin karena ia dianggap pernah menolong dan menyelamatkan anaknya. Namun agaknya ia memang menghargai tenaga orang lain yang telah bekerja kepadanya.

Dengan uang yang mereka terima, maka keempat orang itu pun kemudian meninggalkan rumah pemilik tanah itu. Beberapa saat kemudian mereka telah berada di jalan padukuhan menuju ke pondok Tatas Lintang di sudut pategalan di pinggir padukuhan itu.

“Nah,” berkata Tatas Lintang, “aku sekarang mempunyai uang.”

“Termasuk uangku,” sahut Mahisa Murti.

Tatas Lintang tertawa. Katanya, “Akan kita pergunakan untuk apa uang ini?”

Mahisa Pukat lah yang menyahut, “beli tanah.”

“Ah,” desah Tatas Lintang, “kau kira uang ini cukup untuk membeli sejengkal tanah?”

“Kau tambah dengan sepuluh kali lipat,” jawab Mahisa Pukat, “uangmu tentu lebih dari seribu kali lipat dari uang yang kau terima itu.”

“Dan uang kalian tentu lebih banyak lagi,” sahut Tatas Lintang sambil tersenyum.

Mahisa Pukat tidak menyahut. Tetapi ia pun tersenyum pula.

Namun tiba-tiba saja Mahisa Murti berkata, “Kedai yang mana yang kau sebut?”

“Besok kita pergi ke pasar saja,” berkata Tatas Lintang, “sekarang kita akan beristirahat. Tubuh kalian masih belum pulih kembali, sementara hari ini kita telah bekerja keras. Sementara itu agaknya kedai itu pun sudah tutup pula.”

Ternyata ketiga orang yang diakunya sebagai kemenakannya itu pun setuju. Mereka akan langsung kembali ke pondok di sudut pategalan itu.

Namun ketika mereka sampai ke pondok itu, mereka menjadi sangat terkejut. Mereka melihat isi pondok mereka yang tidak seberapa banyak itu berserakkan. Amben bambu yang besar satu-satunya telah rusak. Galarnya berpatahan dan wewatonnya telah terlepas yang satu dengan yang lain. Gendi yang selalu berisi air bersih itu pun telah pecah pula.

“Apa yang telah terjadi?” bertanya Tatas Lintang.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya. “Apakah hal ini ada hubungannya dengan padepokan orang-orang bertongkat itu?”

Sebelum Tatas Lintang menjawab, mereka tertegun karena mereka mendengar langkah di belakang rumah kecil itu.

Untuk beberapa saat keempat orang yang berada di dalam pondok yang berserakan itu menunggu. Baru sejenak kemudian muncul dari pintu butulan dua orang yang bertubuh tegap kekar.

Namun Tatas Lintang itu pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Hampir tidak terdengar ia berdesis lambat, “Mereka adalah petani dari padukuhan ini.”

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun mengangguk-angguk kecil. Ketegangan di hati mereka pun mulai mereda. Meskipun mungkin memang ada persoalan sehingga pondok mereka itulah menjadi berserakan.

“Nah kau itu Tatas Lintang,” geram salah seorang di antara kedua orang itu.

“Ki Sanak,” suara Tatas Lintang terdengar gemetar, “apa yang telah terjadi? “

“Jangan berpura-pura,” geram orang itu pula, “kau sudah merampas sumber penghidupanku.”

“Aku tidak mengerti,” jawab Tatas Lintang.

“Sejak kau tinggal di gubugmu ini, sebagian dari penghasilanku sudah kau rampas. Dan aku tidak menegurmu. Tetapi kini kesabaranku sudah habis. Semua tanah garapanku sudah kau rampas. Pategalan di ujung padukuhan itu pun ternyata telah dicadangkan bagimu dan cindil-cindilmu itu. Dengan demikian maka habislah tanah garapanku itu,” berkata salah seorang dari kedua orang yang bertubuh tinggi tegap itu.

“Ki Sanak,” berkata Tatas Lintang, “jika aku menerima pekerjaan itu, sebenarnya karena aku mengira bahwa kau telah menolaknya. Bukankah kau sudah mempunyai tanah garapan yang luas, bahkan sebagian telah dikerjakan oleh orang lain pula?”

“Persetan,” geram orang itu, “aku memang mengambil beberapa orang pembantu. Seharusnya kau juga aku perlakukan seperti itu. Akulah yang disebut penggarap tanah itu, meskipun kalian yang mengerjakan. Dengan demikian maka upah yang akan kau terima terserah kepada kebijaksanaanku.”

Tatas Lintang mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti sekarang. Kau akan dapat mengambil keuntungan dari tanah garapan itu.”

“Nah, ternyata kau cukup cerdas juga,” desis orang itu. Lalu katanya pula, “Jika demikian, maka sebaiknya kau urungkan kesangupanmu jika kau sudah menyatakannya. Akulah yang akan menggarapnya, meskipun kalian yang akan mengerjakan.”

“Aku sudah terlanjur menyanggupinya Ki Sanak,” jawab Tatas Lintang, “aku tidak tahu bahwa kau berminat untuk mengambilnya meskipun hanya sekedar namanya saja.”

“Terlanjur atau belum terlanjur,” geram orang itu, “nanti, meskipun sudah gelap, kau harus datang kepadanya untuk mencabut kesediaanmu itu.”

Tatas Lintang termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Tetapi dengan demikian, kata-kataku untuk selanjutnya akan sulit dipercaya.”

“Aku tidak peduli,” bentak orang itu.

Tatas Lintang menjadi gemetar. Tetapi ia menjawab. “Maaf Ki Sanak. Jangan paksa aku berbuat demikian. Biarlah aku tetap melaksanakan kesanggupanku. Jika kau memerlukan uang pungutan dari hasil itu, aku tidak berkeberatan.”

“Diam,” bentak orang itu.

Tatas Lintang terkejut. Bahkan Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun terkejut pula.

Ketika orang itu kemudian maju selangkah, Tatas Lintang-pun telah bergeser surut. Dengan nada keras orang bertubuh tegap kekar itu bertanya, “Kau mau mencabut kesanggupanmu atau tidak?”

“Maaf Ki Sanak. Aku sudah terlanjur,” jawab Tatas Lintang.

Namun tiba-tiba saja Tatas Lintang telah terdorong selangkah mundur. Hampir saja ia jatuh terjerembab ketika tangan orang bertubuh tinggi tegap itu memukulnya.

“Jawab,” bentak orang itu, “kau bersedia mencabut atau tidak.”

Tatas Lintang tidak menjawab. Namun sekali lagi orang itu memukulnya pada perutnya, sehingga Tatas Lintang terbungkuk karenanya. Sebelum ia tegak, maka orang itu telah memukul tengkuk Tatas Lintang, sehingga Tatas Lintang telah jatuh terjerembab.

Mahisa Ura yang tidak tahan melihat perlakukan itu hampir saja meloncat. Tetapi Mahisa Murti yang tanggap akan keadaan itu telah menggamitnya dan memberi isyarat agar Mahisa Ura tidak melakukan sesuatu.

“Ayo, bangkit,” bentak orang itu.

Tetapi Tatas Lintang tidak mampu untuk segera bangkit berdiri. Pada waktu ia mulai berjongkok, orang bertubuh tinggi itu telah menggenggam rambutnya sambil berkata, “Kau bersedia atau tidak?”


Tatas Lintang tidak segera menjawab. Namun tiba-tiba saja orang itu telah menggucang kepala Tatas Lintang dan membenturkannya pada tiang bambu pondoknya yang kecil itu.

Bagaimanapun juga ketiga orang yang diakunya sebagai kemenakannya itu pun tergetar juga hatinya. Namun sementara itu, orang yang bertubuh kekar yang seorang lagi telah mendekati mereka sambil berkata, “Ayo, siapa yang akan ikut serta?”

“Jangan perlakukan mereka dengan kasar,” suara Tatas Lintang semakin bergetar, “biarlah aku yang menanggungnya.”

“Kau harus menjawab, apakah kau akan pergi untuk mencabut kesanggupanmu atau tidak? Atau kepalamu akan aku pecahkan sekarang juga,” orang itu menggeram semakin kasar.

Ketika orang itu mengguncang kepala Tatas Lintang sekali lagi, maka Tatas Lintang pun mengeluh, “Ampun Ki Sanak. Kepalaku menjadi pening dan perutku menjadi mual.”

“Tidak hanya pening dan mual,” jawab orangitu, “Tetapi kepalamu benar-benar akan aku pecahkan jika kau menolak untuk mencabut kesediaanmu menggarap tanah pategalan di ujung padukuhan.”

Untuk sesaat suasana menjadi tegang. Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun menjadi termangu-mangu.

Mereka mulai goyah untuk tidak berbuat sesuatu melihat keadaan Tatas Lintang.

“Aku harus yakin, bahwa Tatas Lintang adalah seorang yang berilmu tinggi,” geram Mahisa Murti di dalam dirinya, sebagaimana Mahisa Pukat dan Mahisa Ura meyakinkan diri mereka sendiri. Sehingga dengan demikian mereka masih dapat mengekang diri untuk tidak berbuat sesuatu.

Ketika orang bertubuh tinggi kekar itu menggapai rambut Tatas Lintang dan mengangkatnya sehingga wajah Tatas Lintang menengadah, maka terdengar Tatas Lintang itu merintih, “Ampun. Jangan kau patahkan leherku.”

“Katakan, apakah kau akan mencabut kesediaanmu menggarap tanah itu atau tidak?” bentak orang bertubuh tinggi kekar itu.

“Ya, ya. Aku akan mencabutnya,” jawab Tatas Lintang.

Orang bertubuh tinggi kekar itu menarik nafas dalam-dalam. Namun masih sekali lagi ia menghentakkan kepala Tatas Lintang ke tiang bambu petung. Sekali lagi terdengar Tatas Lintang merintih.

“Aku akan menunggu,” berkata orang itu, “jika sampai besok kau tidak memenuhi janjimu, maka kau akan aku gantung di sudut padukuhan. Kau tahu, bahwa tidak seorang pun yang berani melawan aku.”

Tatas Lintang menjawab dengan suara gemetar, “Aku akan memenuhinya.”

Orang itu pun kemudian melepaskan rambut Tatas Lintang. Dengan kakinya ia menendang lambung Tatas Lintang sambil berkata, “Aku akan pergi. Tetapi ingat, jangan membuat aku marah dan menggantungmu serta membakar gubugmu ini.”

Tatas Lintang tidak menjawab. Sementara itu kedua orang itu pun melangkah meninggalkan ruang pondok Tatas Lintang yang telah berserakan itu.

Demikian kedua orang itu hilang dibalik pintu, Tatas Lintang pun bangkit berdiri sambil tersenyum, “Gila orang itu.”

“Kau biarkan dirimu diperlakukan seperti itu?” bertanya Mahisa Ura.

“Biarlah untuk kali ini,” jawab Tatas Lintang, “Aku masih ingin bersembunyi di sini. Tetapi ini untuk yang terakhir kali. Nanti malam kalian telah pulih seutuhnya, sehingga sejak besok, kita akan membuka diri. Seandainya dengan demikian kehadiran kita diketahui oleh orang padepokan itu, kita tidak akan berkeberatan.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk kecil. Ia pun mengerti maksud Tatas Lintang. Karena itu katanya, “Jadi kau tidak akan mencabut kesediaan kita menggarap tanah itu?”

Tatas Lintang tersenyum sambil menjawab, “Tentu tidak. Biar saja mereka datang kemari. Seperti yang aku katakan, sejak besok kita tidak akan bersembunyi lagi meskipun kita akan tetap tinggal di pondok ini.”

Mahisa Mtitti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Tetapi dengan nada geram Mahisa Ura berkata kepada diri sendiri, “orang-orang seperti itu perlu mendapat sedikit pelajaran.”

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura yang ingin beristirahat, harus membenahi isi pondok itu lebih dahulu bersama Tatas Lintang. Amben besar yang rusak itu pun telah dilepas sama sekali dan dibawa keluar. Hanya tikarnya sajalah yang kemudian dibentangkannya dilantai.

“Di manapun aku dapat tidur nyenyak,” desis Mahisa Pukat.

Sebenarnyalah ketika malam menjadi gelap, maka mereka pun telah berbaring di atas tikar pandan yang dibentangkan dilantai pondok kecil yang masih berserakan itu. Namun demikian mereka masih juga merasa perlu untuk menutup dan menyelarak pintu.

Malam itu, Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura benar-benar sempat beristirahat, sehingga segenap kekuatan dan kemampuan mereka pun telah pulih kembali.

Karena itu, ketika kemudian matahari terbit, tubuh mereka pun telah terasa cukup segar dan utuh.

Berganti-ganti mereka mandi di pakiwan, sehingga ketika matahari mulai naik, mereka pun telah selesai. Dengan demikian maka mereka pun mulai membenahi seluruh isi pondok mereka.

Namun dalam pada itu, mereka pun menyadari, bahwa kedua orang itu, bahkan mungkin bersama kawan-kawannya yang lain tentu akan datang lagi, karena Tatas Lintang tidak benar-benar mencabut kesediaannya menggarap tanah pategalan di ujung padukuhan.

Sebenarnyalah seperti yang mereka tunggu, baru saja mereka selesai membenahi isi rumah kecil mereka yang berserakan, maka orang yang bertubuh tinggi kekar itu telah nampak memasuki pintu pagar. Bukan hanya dua orang. Tetapi lima orang.

Tatas Lintang memberi isyarat kepada ketiga orang yang diakuinya sebagai kemenakannya itu. Sambil menggelengkan kepalanya ia berdesis, “Biarlah aku mengurusi mereka.”

“Sendiri?” bertanya Mahisa Murti.

Tatas Lintang termangu-mangu. Namun ia pun kemudian tersenyum.

Sementara itu, kelima orang itu telah berada di depan pondok kecil itu. Dengan nada geram orang bertubuh kekar itu berkata, “Kau mencoba menipu aku he?”

“Maaf Ki Sanak,” berkata Tatas Lintang, “aku baru memperbaiki pondok kecilku yang rusak, sehingga aku belum sempat menemui pemilik pategalan itu.”

“Persetan,” geram orang itu, “kau tidak akan dapat menyebut alasan apapun juga. Kesabaranku sudah habis, sehingga hukuman itu akan kau terima sekarang tanpa ampun.”

“Tetapi, bukan maksudku menentangmu,” jawab Tatas Lintang.

“Aku tidak peduli,” jawab orang itu.

Tatas Lintang termangu-mangu. Sementara kelima orang itu pun kemudian telah menebar.

Keadaan pun menjadi semakin tegang. Wajah orang yang bertubuh tegap kekar itu benar-benar bagaikan menyala. Dengan geram ia berkata, “Kau bukan orang asli dari padukuhan ini Tatas Lintang. Kau adalah pendatang. Jika kau hilang dari padukuhan ini, maka orang-orang padukuhan ini tidak akan merasa kehilangan. Lihat, orang-orang yang datang bersamaku. Mereka adalah orang-orang asli dari padukuhan ini. Mereka telah sepakat untuk menyingkirkan kau dan kemenakan-kemenakanmu. Seadainya bangkaimu hanyut di sungai atau menjadi makanan anjing liar, tidak seorang pun yang akan mempersoalkannya.”

“Tetapi, apakah tindakan itu tidak bertentangan dengan perikemanusiaan?” bertanya Tatas Lintang.

“Ooo. Kau mulai merajuk he?” orang bertubuh tinggi kekar itu tertawa, “aku mulai senang melihat keadaanmu. Semakin kau menjadi ketakutan, maka aku menjadi semakin senang. Apalagi jika kami sudah mulai memasang tali gantungan di dahan pepohonan itu, maka wajahmu tentu akan menjadi semakin menarik.”

“Kenapa kau menjadi senang jika aku ketakutan?” bertanya Tatas Lintang.

Satu pertanyaan yang tidak diduga. Namun orang bertubuh kekar itu menjawab juga, “Aku memang ingin membuat kau ketakutan untuk kepuasan hatiku yang sudah kau sakiti. Melihat kau ketakutan menjelang mati, rasa-rasanya sakit hatiku menjadi berkurang. Pada saat kau mati itulah sakit hatiku menjadi sembuh.”

Tatas Lintang termangu-mangu sejenak. Sementara itu orang bertubuh kekar itu berkata kepada kawan-kawannya, “Marilah. Kita bawa saja mereka ke pategalan yang akan digarapnya. Kita beri kesempatan mereka melihatnya sekali lagi. Kemudian kita terus membawa mereka ke kedung yang sepi itu. Nah, kita akan dapat berbuat apa saja atas mereka tanpa diketahui orang lain.”

Kelima orang itu mulai bergerak. Dengan nada kasar orang bertubuh kekar itu mulai berkata, “Kau tidak akan dapat mengajukan permintaan apapun karena sudah terlambat. Tetapi kami masih memberimu sedikit kemurahan hati di saat matimu. Jika kau tidak melawan, maka kau dan kemenakanmu itu akan kami gantung di pinggir kedung. Tetapi jika kau menimbulkan kesulitan, maka jalan kematianmu akan menjadi semakin sulit pula. Mungkin kalian akan bertahan hidup untuk dua atau tiga hari sambil menahan penderitaan yang sangat.”

“Kau lucu sekali Ki Sanak,” berkata Tatas Lintang tiba-tiba.

Namun kata-kata itu benar-benar mengejutkan. Bahkan kemudian orang bertubuh kekar itu melihat Tatas Lintang tertawa.

“Orang itu menjadi gila karena ketakutan,” desis salah seorang dari kelima orang itu.

Orang bertubuh kekar itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun telah tertawa pula sambil berkata, “Jika benar, menyenangkan sekali. Ia akan menjadi permainan yang mengasyikkan.”

Tetapi orang itu terkejut ketika mendengar Tatas Lintang berkata, “Jangan salah sangka Ki Sanak. Aku tidak menjadi gila. Tetapi aku menjadi geli melihat kelakuan kalian.”

“Apa katamu?” bentak orang bertubuh tinggi kekar.

“Maaf bahwa kali ini aku tidak ingin menyenangkan hatimu. Jika kau senang melihat orang ketakutan, maka sebaiknya aku tidak perlu menjadi ketakutan, karena aku memang tidak ingin membuat kau senang seperti yang sudah aku katakan,” berkata Tatas Lintang.

Wajah orang bertubuh kekar itu menjadi tegang. Dengan heran ia bertanya, “Aku tidak mengerti sikapmu. Tetapi agaknya kau memang sudah menjadi gila.”

“Ki Sanak,” berkata Tatas Lintang, “sebaiknya aku berterus terang. Aku memang tidak ingin mencabut kesediaanku menggarap pategalan itu. Aku akan melakukannya dan akan mempertahankan kesediaanku. Seterusnya aku memang tidak menjadi takut melihat sikapmu yang garang itu. Karena itu, maaf, bahwa agaknya kau tidak akan mendapatkan kesenangan.”

“Anak setan,” geram orang bertubuh kekar itu, “kau tahu siapa aku?”

Tatas Lintang tidak segera menjawab. Tetapi ketika ia melihat ketiga orang yang diakunya sebagai kemenakannya itu, maka ketiga orang itu hampir bersamaan telah menarik nafas panjang.

Tatas Lintang tersenyum. Lalu ia pun baru menjawab, “Aku tahu Ki Sanak. Aku mengenal kalian berlima meskipun aku bukan orang padukuhan asli. Tetapi aku sudah beberapa lama berada di sini, sehingga aku sudah mengenal hampir semua orang di padukuhan ini.”

“Jika demikian, kenapa kau berani berlaku deksura kepadaku dan kepada kawan-kawanku?” bertanya orang bertubuh kekar itu.

“Aku tidak tahu,” jawab Tatas Lintang, “tetapi karena tingkah lakumu, aku justru menjadi tidak takut lagi kepadamu.”

“Setan,” geram orang itu, “jika demikian, maka kalian benar-benar akan kami gantung di pinggir kedung itu.”

“Kau atau kamilah yang akan melakukannya,” berkata Tatas Lintang, “jika kalian benar-benar ingin membunuh kami, maka kami pun telah digelitik oleh keinginan yang sama. Kami pun akan mampu menghilangkan jejak sehingga tidak seorang pun yang akan menduga, bahwa kamilah yang telah membunuh kalian.”

“Anak iblis. Orang ini benar-benar telah menjadi gila.”

Namun orang bertubuh kekar itu semakin terkejut ketika salah seorang di antara mereka yang diaku sebagai kemenakannya itu berkata, “Aku hampir tidak tahan melihat tingkah lakumu sejak kemarin. Bukan karena ketakutan, tetapi seperti paman Tatas Lintang, tingkah laku kalian menang menggelikan.”

“Kau juga anak iblis. Aku remas mulutmu,” teriak salah seorang kawan orang bertubuh kekar itu.

Tetapi Mahisa Murti masih tertawa. Katanya, “Jangan berteriak-teriak. Nanti terdengar dari padukuhan sebelah.”

Kelima orang itu benar-benar menjadi heran, marah dan geram bercampur baur. Mereka sama sekali tidak menduga, bahwa Tatas Lintang dan ketiga orang kemenakannya justru bersikap demikian beraninya. Dan bahkan menunjukkan ketenangan tanpa rasa takut sama sekali.

Tetapi mereka tidak dapat menganggap keempat orang itu menjadi gila, karena agaknya akal mereka masih utuh.

Namun Tatas Lintang itu pun akhirnya sampai pada satu kesimpulan bahwa ia akan segera bertindak. Bahkan jika perlu benar-benar membunuh orang-orang yang tidak tahu diri itu.

Karena itu, maka ia pun telah memberikan isyarat kepada kawan-kawannya sambil berkata, “Marilah, kita giring mereka ke pategalan. Siapa di antara mereka yang melawan, kita akan memaksa dengan kekerasan. Kemudian kita bawa mereka ke tepi kedung. Kita dapat membenamkan mereka seorang demi seorang meskipun tidak sampai mati. Mengikatnya dan berbuat apa saja atas mereka.”

Kawan-kawannya pun segera bergerak. Seorang di antara mereka membentak, “Cepat, berjalan ke pategalan sebelum kami memukuli kepalamu.”

Yang menjawab adalah Mahisa Pukat, “jangan terlalu kasar Ki Sanak. Jangan seperti menggiring lembu.”

“Persetan. Cepat,” orang itu berteriak pula.

Tetapi Mahisa Pukat justru telah bergeser dan duduk di atas sebongkah batu padas sambil berdesis, “Segarnya udara di halaman pondok kecil ini.”

Orang yang membentaknya ternyata tidak sabar lagi. Dengan serta merta orang itu telah mengayunkan kakinya mengarah ke kening Mahisa Pukat.

Orang itu tidak melihat Mahisa Pukat bergerak. Tetapi ternyata kakinya tidak menyentuhnya. Bahkan di luar dugaannya, kakinya itu telah didorong dengan kuatnya, sehingga orang itu terhuyung-huyung beberapa langkah. Namun akhirnya ia tidak mampu lagi menguasai keseimbangannya sehingga orang itu telah jatuh terguling di tanah.

Mahisa Pukat yang kemudian bangkit berdiri tertawa pendek. Katanya, “berhati-hatilah. Halaman rumah ini memang licin.”

“Persetan,” geram orang itu. Kemarahannya tidak lagi dapat dikekangnya sehingga demikian ia bangkit, maka ia pun segera meloncat menerkam Mahisa Pukat. Namun orang itu telah mendapatkan satu pengalaman sehingga karena itulah, maka ia pun menjadi lebih berhati-hati.

Tetapi petani yang telah menjadi pengikut orang bertubuh kekar itu sekali lagi membentur ilmu yang sama sekali tidak dimengertinya. Karena itulah, maka tangannya sama sekali tidak menyentuh sasaran. Tangannya itu bagaikan menerkam angin.

Namun di luar tangkapan nalarnya, bahwa ia pun tiba-tiba telah terputar dan terbanting jatuh sekali lagi. Bahkan justru punggungnya hampir menjadi patah karenanya.

Yang terjadi itu benar-benar telah membingungkan kelima orang yang ingin memaksa Tatas Lintang dan ketiga orang yang diakunya sebagai kemenakannya itu untuk meninggalkan halaman pondoknya. Dan bahkan kelima orang itu memang berniat untuk menyingkirkan mereka, agar kelima orang itu mendapat kesempatan lebih banyak untuk menggarap tanah di padukuhan itu.

Namun kelima orang itu masih belum yakin atas apa yang terjadi. Karena itu, maka mereka pun kemudian benar-benar telah menyiapkan diri untuk dengan segenap kekuatan mereka memaksa keempat orang itu menurut perintah mereka.

“Jangan menganggap bahwa kalian mampu melawan kami,” berkata orang yang bertubuh kuat dan kekar itu, “aku akan membuktikan bahwa kami akan dapat melakukan apa yang kami kehendaki.”

Tatas Lintanglah yang kemudian menjawab, “Sudahlah Ki Sanak. Marilah kita sudahi permainan kita. Tinggalkan kami dalam ketenangan. Biarlah kami tak saling mengganggu.”

“Persetan,” geram orang itu, “kami akan menunjukkan kepadamu bahwa kami mampu melakukan sebagaimana kami katakan.”

Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya kepada ketiga orang yang diakunya sebagai kemenakannya itu, “Marilah kita layani tamu-tamu kita. Kita lakukan sebagaimana mereka lakukan. Kita hanya melayani saja, sehingga kita biarkan sampai seberapa jauh mereka mampu berbuat atas kita.”

“Tutup mulutmu,” bentak orang bertubuh kekar itu.

Tetapi Tatas Lintang masih berbicara terus, “Pakailah saja ilmu kalian yang paling dasar, karena jika kalian mempergunakan selapis lebih tinggi dari kemampuan dasar kalian, maka kelima orang itu akan terlalu cepat mati. Kita ingin melihat mereka ketakutan, karena akan menyenangkan sekali melihat wajah-wajah orang ketakutan.”

Orang bertubuh tinggi tegap dan kekar itu tidak menahan diri lagi. Ia pun dengan serta merta telah meloncat menyerang Tatas Lintang.

Tetapi Tatas Lintang yang dihadapinya itu bukan Tatas Lintang yang kemarin. Seperti yang dikatakan, maka Tatas Lintang pun hanya melayaninya. Dengan gerak yang sederhana Tatas Lintang telah menghindarkan dirinya, sehingga serangan itu sama sekali tidak mengenainya.

Namun Tatas Lintang tidak segera membalasnya menyerang. Ia justru menunggu lawannya itu dengan tergesa-gesa memperbaiki keadaannya. Bahkan sejenak kemudian lawannya itu pun dibiarkannya bersiap untuk menyerangnya.

Seperti serangannya yang terdahulu, maka serangannya yang kemudian pun lawannya itu tidak menyentuhnya. Gerak Tatas Lintang nampaknya memang tidak meyakinkan. Tetapi ternyata tidak dapat disentuhnya.

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura yang melihat tata gerak Tatas Lintang itu pun berusaha untuk menyesuaikan diri. Mereka sama sekali tidak menyerang lawan-lawan mereka, kawan-kawan orang bertubuh tinggi tegap dan kekar itu yang telah bergerak pula serentak, bahkan orang yang telah terbanting-banting jatuh.

Dengan demikian, maka Tatas Lintang dan ketiga orang yang diakunya sebagai kemenakannya itu kemudian hanyalah berloncat-loncatan menghindari serangan lawan-lawan mereka masing-masing.

Dengan demikian maka pertempuran itu nampaknya menjadi berat sebelah. Tatas Lintang dan ketiga orang yang diakunya sebagai kemenakannya itu hanya berloncat-loncatan menghindari serangan lawan-lawannya. Namun pada saat-saat tertentu, jika serangan-serangan lawan-lawan mereka mengendor, maka mereka pun telah berusaha memancing agar mereka mengerahkan lagi kemampuan mereka untuk menyerang, namun yang sama sekali tidak pernah mampu menyentuh sasaran.

Seperti yang diharapkan oleh Tatas Lintang, maka kelima orang yang datang untuk memaksa mereka meninggalkan tempat itu untuk pergi ke pategalan di ujung padukuhan serta ke tepi kedung, telah mengerahkan kemampuan mereka. Yang mereka lihat adalah lawan-lawan mereka yang nampaknya selalu terdesak dan tidak sempat membalas menyerang, sehingga dengan demikian mereka pun menjadi semakin yakin akan dapat memaksa keempat orang itu untuk pergi. Bahkan orang yang telah terbanting jatuh oleh Mahisa Pukat pun merasa bahwa kedudukannya menjadi semakin baik.

Namun, seperti yang diperhitungkan oleh Tatas Lintang, maka oleh pengerahan kekuatan yang berlebih-lebihan, maka kelima orang itu telah kehilangan banyak sekali keringat dan tenaganya.

Bahkan tanpa mereka sadari, maka perlahan-lahan mereka menjadi letih dan kegarangan mereka pun mulai menjadi surut. Sementara itu, Tatas Lintang dan ketiga orang yang diakunya sebagai kemanakannya itu pun masih selalu memancing mereka untuk bergerak lebih banyak.

Mahisa Murti yang berloncatan kian kemari melihat lawannya telah kehilangan sebagian besar dari tenaganya, sehingga kadang-kadang ia tidak lagi mampu menyerang meskipun Mahisa Murti berada pada jarak jangkauannya.

Melihat keadaan lawannya, Mahisa Murti tersenyum. Bahkan katanya dengan nada lunak, “Marilah Ki Sanak. Bukankah kita masih mempunyai banyak waktu untuk bermain-main.”

“Persetan,” geram lawannya, “kau akan digantung di pinggir kedung.”

“Apakah kau tidak dapat mengucapkan kata-kata yang lain?” bertanya Mahisa Murti, “Mungkin kita dapat berbicara agak panjang jika kau tidak terikat kepada inggauanmu itu.”

“Persetan,” geram lawannya. Ia pun kemudian memaksakan sisa tenaganya untuk menyerang. Karena Mahisa Murti tidak pernah membalas menyerang, maka orang itu pun telah melupakan kemungkinan itu terjadi.

Tetapi Mahisa Murti memang tidak menyerangnya. Ia hanya mengelak dan menghindar. Tetapi yang demikian itu ternyata sudah cukup untuk memeras tenaga lawannya.

Mahisa Pukatlah yang sekali kali memang mengganggu lawannya. Adalah kebetulan bahwa ia harus melawan dua orang, seorang di antaranya adalah orang telah dibantingnya jatuh.

Namun karena ada seorang kawannya, maka ia telah memberanikan diri untuk melawan Mahisa Pukat lagi. Bahkan ia bermaksud apabila mungkin untuk membalas dendam sakit hatinya.

Tetapi kedua orang itu sama sekali tidak berhasil berbuat sesuatu atas Mahisa Pukat. Bahkan sekali-sekali Mahisa Pukat justru telah berhasil menyentuh tubuh mereka. Tidak membuat tubuh mereka sakit, namun sentuhan-sentuhan Mahisa Pukat kadang-kadang membuat mereka menjadi sangat marah. Sekali-sekali Mahisa Pukat telah dengan sengaja menyentuh lawannya di atas lehernya, yang dapat dianggap sebagai penghinaan. Dengan demikian maka lawannya yang menjadi semakin marah telah mengerahkan kekuatan yang masih tersisa untuk menyerangnya. Namun yang terjadi adalah sebagaimana dikehendaki oleh Mahisa Pukat. Kedua lawannya itu benar-benar telah kehabisan tenaga dan tidak lagi mampu berbuat apa-apa. Ketika Mahisa Pukat bergeser ke dekat salah seorang di antara kedua lawannya, maka dengan sisa tenaganya lawannya itu telah mengayunkan tangannya ke arah kening Mahisa Pukat. Namun ketika tangannya itu tidak menyentuh lawannya, maka ia pun telah terhuyung-huyung dan bahkan kemudian hampir saja terjatuh.

“Gila,” geram orang itu, “kau jangan menghina aku dengan cara ini.”

Tetapi orang itu menjadi semakin marah ketika justru Mahisa Pukatlah yang telah menangkapnya dan menjaganya untuk tidak terjerembab.

Mahisa Pukat melepaskannya meskipun orang itu masih terhuyung-huyung. Katanya, “Jangan marah Ki Sanak. Bukankah sudah menjadi kewajiban kita masing-masing untuk saling menolong?”

“Persetan,” geramnya, “aku sobek mulutmu.”

“Jangan terlalu garang. Kau tidak pantas menyobek mulut seseorang. Tetapi lebih baik mencangkul di sawah atau menggembala kerbau di padang rumput.”

Orang itu mengumpat, sementara kawannya yang seorang lagi telah mendekati Mahisa Pukat. Dengan geram ia mengayunkan tangannya pula untuk memukul dada anak muda itu.

Tetapi Mahisa Pukat bergeser selangkah, sehingga pukulan itu tidak mengenainya. Dengan demikian, maka orang itu pun telah terseret oleh kekuatannya sendiri pula.

Namun seperti lawannya yang pertama, maka Mahisa Pukat pun telah menangkapnya, sehingga ia tidak jatuh terjerembab.

“Hati-hatilah,” berkata Mahisa Pukat.

Orang itu pun mengumpat. Tetapi ketika Mahisa Pukat melepaskannya ia pun telah memegangi lambungnya sambil berdesis, “Anak yang sombong.”

Mahisa Pukat tersenyum. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Kenapa pinggangmu?”

“Aku bunuh kau,” geram orang itu.

Mahisa Pukat melangkah mendekat. Katanya, “Kau sudah terlalu lemah. Demikian pula kawanmu itu. Ia pun sudah terlalu lemah dan tidak berdaya lagi untuk berkelahi.”

“Persetan,” orang itu memandang Mahisa Pukat dengan mata yang menyala. Tetapi tenaganya benar-benar telah terkuras habis. Demikian pula kawannya yang seorang.

Yang bertempur melawan Mahisa Ura pun justru telah jatuh terduduk. Mahisa Ura yang hanya dengan lemah mendorong dadanya dengan ujung jari-jarinya, telah membuat orang itu terhuyung-huyung dan jatuh, meskipun kemudian ia berusaha untuk tidak terbaring di tanah. Namun duduk pun kedua tangannya harus membantu menahan agar tubuhnya tidak roboh.

Orang yang bertempur melawan Tatas Lintang yang bertubuh tinggi, tegap dan kekar, sama sekali tidak mampu berbuat sesuatu. Ketika kemudian Tatas Lintang memegang tengkuknya, orang itu hanya dapat berdesah menahan sakit.

“Ingat, apa yang kau lakukan atas aku kemarin?” bertanya Tatas Lintang, “kau genggam rambutku, kepalaku kau benturkan pada tiang bambu petung. Nah, marilah, aku juga akan mencoba membenturkan dahimu dengan bambu wulung.”

“Jangan, jangan,” minta orang bertubuh kekar itu, “aku minta maaf.”

“Sesudah kau memperlakukan aku seperti memperlakukan seekor anjing, kau minta maaf?” bertanya Tatas Lintang.

“Aku kemarin khilaf,” jawab orang itu.

“Dan pagi ini kau akan menggiring kami ke padukuhan di ujung pategalan, kemudian membawa kami ke tepi kedung. Aku kira kau benar-benar ingin membunuhku. Bahkan ketiga kemenakanku,” bentak Tatas Lintang.

“Tidak. Aku tidak bersungguh-sungguh. Aku hanya menakut-nakutimu saja,” suara orang itu menjadi gemetar.

“Omong kosong,” geram Tatas Lintang, “namun jika kau tidak bersungguh-sungguh pun aku tidak peduli. Aku ingin membawamu ke pinggir kedung. Aku dengar masih ada buaya-buaya kerdil di kedung itu yang sering menangkap ayam yang mencari minum di kedung itu. Nah, aku ingin mengikatmu dan meninggalkanmu di pinggir kedung. Aku tidak peduli apakah akan ada buaya kerdil yang menemukanmu atau tidak.”

“Jangan,” minta orang itu.

Tetapi Tatas Lintang berkata, “Marilah anak-anakku. Kita bawa mereka ke pinggir kedung. Bawa tali lulup atau serat nanas. Kita akan mengikat mereka. Yang beruntung, tentu akan selamat. Tetapi siapa di antara kalian yang malang, tentu akan menjadi mangsa buaya-buaya kerdil itu.”

“Jangan,” kelima orang itu menjawab hampir berbareng.

“Aku tidak peduli. Seperti kemarin kalian juga tidak peduli,” jawab Tatas Lintang. Lalu katanya, “Cepat. Kita akan membawa mereka. Jika mereka berkeberatan, kita pukuli mereka biar punggung mereka patah. Aku yakin bahwa mereka telah kehabisan tenaga dan tidak akan dapat melawan.”

Wajah-wajah mereka pun menjadi tegang. Kelima orang itu benar-benar menjadi ketakutan. Apalagi orang yang bertubuh tinggi kekar yang merasa sudah memperlakukan Tatas Lintang semena-mena.

Namun sejenak kemudian Tatas Lintang berkata sambil tertawa, “Ternyata aku sependapat dengan kalian. Melihat wajah-wajah yang ketakutan itu memang menyenangkan sekali. Karena itu aku ingin melihat kalian lebih ketakutan lagi dengan mengikat kalian di pinggir kedung.”

“Jangan,” minta orang bertubuh tinggi kekar itu, “aku mohon.”

Tatas Lintang tertawa semakin keras. Sementara itu Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun tertawa pula. Bahkan Mahisa Pukat pun berkata, “Aku dapat menyeret kedua orang itu jika mereka menolak berjalan sendiri sepanjang jalan pedukuhan. Aku pun sanggup berjalan sambil berteriak menceritakan apa yang ingin dilakukan kelima orang ini atas diri kita dalam hubungannya dengan penggarapan tanah. Aku yakin, bahwa banyak orang yang akan mengumpatinya dan membenarkan sikap kita. Bahkan mungkin orang-orang yang merasa dirugikan oleh sikapnya tetapi tidak berani mengambil langlah-langkah yang perlu, akan membantu kita, mengikatnya di pinggir kedung.”

“Aku mohon. Jangan lakukan itu,” minta orang bertubuh kekar itu.

“Semakin kau ketakutan, maka aku semakin senang aku melihat wajahmu,” berkata Tatas Lintang.

Orang itu mengumpat, tetapi hanya di dalam hatinya. Ia sama sekali tidak berani berbuat apa-apa. Bahkan semacam penyesalan telah bergejolak di dalam dadanya. Ia tidak menyangka sama sekali, bahwa pada suatu saat ia akan membentur kekuatan yang tidak dimengertinya. Apalagi biasanya orang itu tidak pernah menunjukkan sikap yang demikian.

Tetapi Tatas Lintang memang tidak bermaksud bersembunyi lagi. Seandainya dengan demikian orang-orang dari padepokan yang ingin diketahui isinya itu mengetahui, ia pun tidak berkeberatan lagi. Bahkan dalam waktu dekat ia sudah berniat untuk mendahului membuat persoalan dengan padepokan itu, jika orang-orang padepokan tidak melihat kehadirannya di padukuhan yang tidak terlalu jauh dari padepokan itu.

Namun yang tidak diduganya telah terjadi. Ternyata Tatas Lintang tidak melakukan sebagaimana dikatakannya. Ketika kelima orang itu benar-benar telah menggigil ketakutan dan tidak berpengharapan lagi, maka Tatas Lintang pun berkata, “Nah Ki Sanak. Kini kalian telah merasakan betapa pedihnya seseorang yang dicengkam ketakutan itu, sementara kalian menganggap bahwa ketakutan pada seseorang merupakan tontonan yang menyenangkan.”

Kelima orang itu tidak menjawab. Tetapi mereka masih saja menggigil. Ketika tangan Tatas Lintang menyentuh orang bertubuh tinggi kekar itu, ia pun telah terkejut bukan buatan, sehingga tergeser selangkah ke samping. Nafasnya pun tiba-tiba menjadi serasa sesak di dalam dadanya.

Tatas Lintang tidak dapat menahan senyumnya. Katanya, “Kenapa kalian tiba-tiba telah menjadi pengecut. Padahal sebelumnya kalian datang sebagai pahlawan yang menang di medan perang.”

“Kami mohon maaf,” berkata orang yang bertubuh tinggi kekar.

Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Baiklah. Kali ini kalian kami maafkan. Tetapi kalian jangan membuat persoalan sekali lagi. Bukan hanya dengan kami, tetapi dengan siapa pun di padukuhan ini. Aku tahu apa yang pernah kau lakukan. Karena kau seorang yang disegani dan ditakuti, maka kau telah berbuat sewenang-wenang terhadap sesamamu. Orang-orang yang bekerja dengan memeras tenaganya, telah kau peras penghasilannya. Sementara kau hanya berjalan mondar mandir dari pategalan dan persawahan di sebelah Utara padukuhan ke sebelah Selatan, dari sebelah Barat ke sebelah Timur. Namun kau telah mendapatkan penghasilan yang terbesar.”

“Aku mengerti,” jawab laki-laki itu, “aku berjanji untuk tidak melakukannya lagi.”

“Baiklah,” berkata Tatas Lintang, “tinggalkan kami hidup tenang di pondok kecil ini. Jangan ganggu kami dan jangan ganggu orang-orang yang bekerja seperti kami. Ingat, sejak besok aku akan lebih banyak memperhatikan kalian. Jika kalian masih memeras tenaga orang-orang seperti kami, maka kami akan bertindak atas kalian. Mungkin dengan sikap yang lebih keras, bahkan kasar.”

“Kami berjanji Ki Sanak,” jawab orang itu, “kami tidak akan mengganggu Ki Sanak lagi.”

“Bukan hanya kami,” jawab Tatas Lintang, “berjanjilah. Bukan hanya kami berempat, tetapi orang-orang yang bekerja seperti kami.”

Orang itu termangu-mangu. Namun ketika Tatas Lintang maju selangkah orang itu dengan tergesa-gesa menjawab, “Baik. Baik Ki Sanak. Kami akan menghentikan tingkah laku kami.”

“Terima kasih,” berkata Tatas Lintang, “kami akan melihat kebenaran kata-katamu. Jika ternyata kalian berbohong dan masih ada orang yang mengeluh karena tingkah laku kalian, maka jangan menyesal karena kami akan benar-benar melakukan seperti yang kami katakan. Dengan sikap yang lebih keras.”

“Baik Ki Sanak. Kami akan membuktikan kata-kata kami,” berkata orang itu.

“Sekarang pergilah,” berkata Tatas Lintang kemudian.

Kelima orang itu pun kemudian dengan wajah tunduk telah meninggalkan tempat itu. Sebuah pondok kecil yang terdapat di sudut pategalan, sehingga seakan-akan terpisah dari rumah-rumah di padukuhan.

“Sial sekali,” geram orang bertubuh tinggi kekar itu, “seandainya kita tahu tentang mereka.”

“Setan mereka,” sahut yang lain. Lalu, “Tetapi bukankah kemarin kau telah datang menemui mereka?”

“Mereka sengaja menghina kita,” jawab orang bertubuh tinggi kekar itu, “kemarin orang yang bernama Tatas Lintang itu sama sekali tidak melawan. Aku telah membenturkan kepalanya pada tiang bambu petung.”

“Kau yang bodoh,” geram kawannya yang lain. “seharusnya kau dapat menjajagi kemampuan seseorang. Sekarang kita telah terjebak ke dalam satu penghinaan yang tidak mungkin ditebus lagi.”

“Sudahlah,” berkata orang yang agak lebih tua, “satu pelajaran yang mahal dan sangat berharga. Kita harus bersukur bahwa mereka adalah orang-orang baik dan tidak berbuat sebagaimana pernah kita lakukan atas mereka.”

Orang bertubuh tinggi kekar itu mengangguk. Katanya, “Ya. Sebenarnya mereka dapat berbuat apa saja atas kita. Mereka benar-benar memiliki kemampuan. Bukan sekedar kesombongan. Mereka mengalahkan kita tanpa berbuat sesuatu. Me reka membiarkan kita kehabisan tenaga dan tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Dalam keadaan yang demikian, maka sebenarnya mereka benar-benar dapat menyeret kita ke kedung sekaligus dipertontonkan kepada orang-orang padukuhan. Tentu banyak orang yang akan menyoraki kita.”

“Ya. Kita memang telah terlalu banyak melakukan kesalahan. Sehingga pada suatu saat kita akan membentur batu,” berkata kawannya, “tentu satu isyarat, bahwa kita harus berhenti dengan cara-cara kita.”

Yang lain tidak menjawab lagi. Namun mereka semuanya telah menyesali peristiwa yang baru saja terjadi. Mereka yang selama itu merasa orang-orang yang paling disegani, tiba-tiba harus melihat kenyataan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak berarti di hadapan Tatas Lintang dan tiga orang kemenakannya.

Namun orang yang bertubuh tinggi kekar itu bukan orang yang dungu. Kehadiran orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi, dan tingal di sebuah pondok kecil di sudut pategalan tentu bukannya tidak mempunyai maksud.

Tetapi orang itu tidak merasa perlu untuk mencampurinya karena ia merasa tidak mempunyai kemampuan untuk melindungi dirinya jika ia harus terlibat dalam persoalan orang yang tinggal di sudut pategalan itu.

Dalam pada itu, sepeninggalan orang yang bertubuh tingg kekar itu Tatas Lintang berkata, “Kita sudah mulai. Ada banyak kemungkinan terjadi. Tetapi kita sudah siap. Bukankah begitu?”

“Ya. Orang itu tentu akan berceritera tentang pengalamannya,” berkata Mahisa Murti, “Tetapi biarlah. Mungkin orang-orang itu justru akan membuka persoalan yang menghubungkan kita dengan padepokan yang kita kehendaki.”

“Ya,” sahut Mahisa Pukat, “namun itu merupakan isyarat, bahwa kita harus bersiap-siap. Mungkin mereka akan datang kepada kita. Tetapi mungkin dengan tiba-tiba mereka menyerang.”

Tatas Lintang mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Kau benar. Karena itulah, maka kita harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Kita masih belum tahu pasti kekuatan yang tersimpan di dalam padepokan itu.”


Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia bergumam seakan-akan kepada diri sendiri, “Tetapi kami masih belum tahu, dalam persoalan apa kau ingin mengetahui isi dan barangkali malahan menjajagi isi padepokan itu?”

“Kita memang belum mengetahui kenapa kita masing-masing menaruh perhatian atas padepokan itu, “jawab Tatas Lintang, “tetapi apakah hal itu perlu kita persoalkan sekarang?”

Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Kita sepakat untuk tidak mempersoalkannya sekarang.”

“Terima kasih,” desis Tatas Lintang, “kita akan berada dalam keadaan seperti sekarang, sehingga langkah-langkah kita tidak akan terganggu. Meskipun kita tidak akan dapat menghindari prasangka baik maupun buruk di antara kita.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Mudah-mudahan kita akan dapat bersama-sama menyelesaikan kewajiban kita masing-masing tanpa berbenturan kepentingan.”

Tatas Lintang tidak menjawab. Namun kemudian katanya, “Nah kita sudah membenahi pondok kita yang rusak. Marilah kita memperbaikinya sama sekali. Kita memerlukan sebuah amben yang baru untuk menggantikan amben yang rusak itu.”

“Apakah kita boleh mengambil bambu di sudut pategalan itu?” bertanya Mahisa Ura.

“Boleh saja. Lingkungan kecil ini sudah diserahkan kepadaku termasuk rumpun bambu apus itu. Kita dapat menebangnya seberapa kita butuhkan untuk membuat amben baru,” berkata Tatas Lintang.

“Dan sebuah lincak yang dapat kita letakkan di emper depan. Di sore hari mungkin kita mendapat waktu untuk duduk-duduk sambil menikmati waktu-waktu istirahat,” berkata Mahisa Pukat.

“Tentu,” jawab Tatas Lintang. Namun kemudian katanya, “Tetapi bukankah kita akan pergi ke pasar pagi ini untuk membelanjakan uang kita yang kita terima dari pemilik tanah ini?”

Mahisa Pukatlah yang menjawab pertama-tama, “Baiklah. Ada juga keinginanku untuk melihat-lihat pasar. Nanti sesudah dari pasar kita baru akan membuat amben dan lincak.”

Ternyata semuanya sependapat, sehingga mereka pun kemudian telah membersihkan diri di pakiwan serta membenahi pakaian mereka yang kusut.

Baru beberapa saat kemudian mereka berempat keluar dari halaman rumah kecil mereka menuju ke pasar.

“Kita sudah kesiangan,” berkata Mahisa Pukat, “apa masih ada orang berjualan nasi kuluban.”

“Tentu masih ada kedai yang buka,” jawab Tatas Lintang, “jika tidak ada kuluban tentu masih ada nasi asem-asem dengan serundeng kelapa yang belum terlalu tua.”

Mahisa Pukat tersenyum. Sambil mengangguk-angguk ia-pun berkata, “Kedai yang biasanya itu tentu masih buka. Marilah. Kita akan dapat membeli wedang sere dengan gula kelapa.”

“Atau legen aren,” sahut Mahisa Murti.

Tatas Lintang hanya tertawa. Namun mereka pun telah bersiap-siap untuk pergi ke pasar sebagaimana mereka rencanakan.

Sebenarnyalah bahwa mereka memang agak kesiangan. Pasar yang cukup ramai itu pun sudah mulai berkurang riuhnya. Beberapa orang yang berbelanja telah pulang sementara beberapa orang penjual hasil kebun pun telah kembali karena barang dagangan mereka telah habis terjual.

Tetapi kedai yang biasanya dikunjungi oleh keempat orang itu memang masih buka. Karena itu, maka mereka berempat-pun langsung menuju ke kedai yang tidak begitu banyak lagi dikunjungi pembeli.

Namun keempat orang itu terkejut. Demikian mereka sampai di pintu maka pemilik kedai itu tidak bersikap sebagaimana kebiasaannya. Dengan ramah yang berlebih-lebihan pemilik kedai itu mempersilahkan keempat orang itu masuk dan duduk di amben panjang.

“Silahkan. Silahkan Ki Sanak,” berkata pemilik kedai itu.

Tatas Lintang dan ketiga orang yang diakunya sebagai kemenakannya itu pun saling berpandangan sejenak. Bukan kebiasaan pemilik kedai itu bersikap demikian ramahnya. Sebagai penjual makanan pemilik itu memang banyak tersenyum. Tetapi tidak melampaui kewajaran. Bahkan keempat orang itu di anggap sebagai orang-orang yang tidak banyak memberikan keuntungan kepadanya, sehingga sikapnya kepada keempat orang itu terasa agak dingin. Namun tiba-tiba sikap itu telah berubah sama sekali.

“Apakah yang Ki Sanak inginkan? Minuman panas? Wedang sere atau wedang jahe? Masih ada beberapa jenis makanan yang sengaja kami simpan, karena kami sudah menduga bahwa kalian akan datang ke warung kami,” berkata pemilik kedai itu.

Hijaunya Lembah, Hijaunya Lereng Pegunungan
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger