logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Hijaunya Lembah, Hijaunya Lereng Pegunungan Jilid 036


Prajurit itu termangu-mangu. Namun dengan kurang meyakinkan ia menjawab, “Ya. Ya. Aku masih berhutang kepadamu.”

“Nah, di mana cincinku itu he? Apakah sudah kau jual sementara kau belum membayar aku?“ berkata prajurit yang menyambut kedatangan kawannya itu.

Tetapi prajurit yang baru datang itu memang menjadi agak kebingungan. Tiba-tiba saja ia menunjukkan cincin di jarinya, “Ini cincinmu itu.”

“Cincin itu cincin emas dengan mata akik yang terpilih,“ berkata kawannya, “bukan cincin tembaga yang karatan itu.”

Kawannya yang baru datang itu menjadi agak bingung. Namun ia berusaha menjawab, “Aku ingat sekarang. Cincin itu memang diambil oleh orang-orang padepokan, karena cincin itu emas bermata batu akik yang sangat baik.”

Kawannya yang mempunyai cincin itu terbelalak. Dengan nada tinggi ia bertanya, “He, jadi cincin emas dengan mata akik yang mahal itu cukup kau jawab hilang begitu saja?”

“Bukan salahku. Aku tertawan dalam peperangan,“ jawab prajurit yang luka itu.

Pemilik cincin itu masih akan bertanya lagi. Tetapi kawannya mencegahnya, “Ia terluka dan ia baru saja menempuh usaha pelarian yang berat. Biarkan ia beristirahat.”

Pemilik cincin itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi jawaban kawannya itu tidak memuaskan. Meskipun alasannya dapat dimengerti, tetap justru bahwa kawannya itu mula-mula nampak lupa terhadap miliknya yang berharga itu, telah membuatnya agak tersinggung.

Namun prajurit yang memiliki cincin itu tidak mendesak lagi ia memang harus membiarkan kawannya itu beristirahat.

Tetapi dalam pembicaraan selanjutnya dengan para prajurit yang lain, bahkan dengan kawan-kawannya terdekat, orang itu kadang-kadang tidak dapat menanggapi. Beberapa pertanyaan telah membuatnya gagap dan akhirnya orang itu berkata, “Maaf saudara-saudaraku. Betapa baiknya orang-orang padepokan itu, namun aku pun mengalami perlakuan yang keras dan kasar. Pada saat aku ditangkap, dengan tubuhku yang terluka parah, kepalaku telah dipukul dengan landean tombak. Dengan demikian maka aku menjadi pingsan. Ketika aku sadar, maka ada sesuatu yang tidak wajar di kepalaku. Aku kadang-kadang melupakan sesuatu yang pernah aku ketahui. Bahkan melupakan orang-orang yang pernah aku kenal. Mula-mula aku tidak tahu di mana aku berada pada waktu itu. Dan kenapa aku berada di tempat itu. Namun perlahan-lahan aku berhasil mengingatnya kembali. Dan kini banyak yang agaknya aku lupakan dan tidak dapat aku kenali lagi. Namun mudah-mudahan dalam dua tiga hari aku sudah dapat mengingat seluruhnya.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Seorang pemimpin kelompok berkata, “Baiklah beristirahatlah sebaik-baiknya meskipun di tempat yang sederhana ini.”

“Terima kasih. Bagaimanapun juga aku telah merasa tenang berada di tengah-tengah kawan sendiri.“ berkata prajurit yang baru datang itu.

“Ya.“ sahut kawannya, “dalam ketenangan maka ingatanmu akan segera pulih kembali.”

Sementara itu maka kehadiran orang itupun telah dilaporkan kepada Akuwu Tatas Lintang. Seorang prajurit yang terluka yang tertinggal di padepokan. Namun yang kemudian berhasil meloloskan diri meskipun ia berada dalam keadaan yang khusus.

Akuwu Tatas Lintang diikuti oleh Pangeran Singa Narpada telah datang menengok orang yang terluka itu. Namun pembicaraan mereka ternyata sebagian besar tidak dapat pula ditanggapi oleh prajurit yang terluka itu. Namun dengan alasan yang sama maka prajurit itu mengatakan, bahwa benturan di kepalanya telah membuatnya tidak dapat mengingat-ingat lagi dengan baik. Banyak kejadian yang telah dilupakannya. Banyak kawan-kawannya yang tidak dapat dikenalinya lagi.

Akuwu Tatas Lintang mengangguk-angguk. Namun ia menjadi agak heran, bahwa tidak nampak sama sekali kelainan di dalam sikap dan perbuatannya selain kelupaannya itu.

“Baiklah,“ berkata Akuwu Tatas Lintang, “beristirahatlah, Mudah-mudahan kau menjadi lekas sembuh.”

Ketika kemudian Tatas Lintang meninggalkan orang itu, maka iapun berkata kepada Pangeran Singa Narpada, “Sikap dan keadaan orang itu sangat menarik perhatian.”

“Ya,“ jawab Pangeran Singa Narpada, “aku justru sedang berpikir, apakah orang itu dapat juga dipengaruhi oleh semacam ilmu gendam, sehingga ia telah kehilangan kepribadiannya. Bukan sekedar kendali nalurinya yang dirusakkannya.”

Akuwu Lemah Warah itupun mengangguk-angguk. Tiba-tiba saja ia teringat kepada kemampuan salah seorang pemimpin dari Tanah Perdikan itu. Katanya, “Salah seorang dari mereka memiliki ilmu yang luar biasa. Orang itu dapat melepaskan pribadinya dari wadagnya dan mempergunakan wadag orang lain yang memiliki kepribadian yang tidak sekuat pribadi orang itu. Dengan mendesak pribadi seseorang yang lemah, maka orang itu dapat menguasai dan mempergunakan wadag itu.”

Pangeran Singa Narpada sangat tertarik kepada keterangan itu. Dengan nada dalam ia berkata, “Apakah hal itu terjadi pada prajurit yang terluka itu? Agaknya orang-orang padepokan itu telah menangkap dan berusaha mengobati luka-luka prajurit Lemah Warah. Namun wadag itu kemudian telah dipergunakannya untuk kepentingan tugas sandi atau tugas-tugas yang lain. Dengan wadag prajurit Lemah Warah, maka ia akan dapat berada di lingkungan pasukan Lemah Warah ini sendiri tanpa dicurigai. Namun karena itu, maka pengenalannya atas lingkungan prajurit itu sendiri ternyata tidak dapat diingatnya lagi, justru karena pribadi yang menguasai wadag itu adalah pribadi yang lain.”

Tatas Lintang mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Kita akan membicarakannya dengan Mahendra. Ia belum dikenal oleh orang yang memiliki kemampuan menguasai wadag orang lain. Biarlah ia mengawasi prajurit yang aneh itu. Mungkin ia dapat menangkap sesuatu.

Pangeran Singa Narpada menyetujuinya pula. Karena itu, maka keduanya pun kemudian telah menemui Mahendra dan menyampaikan persoalan yang dihadapi oleh para prajurit Lemah Warah.

“Baiklah,“ berkata Mahendra, “aku akan mengawasinya.”

Tatas Lintang pun kemudian memberitahukan kemampuan yang dimiliki oleh orang yang dapat menguasai wadag orang lain itu jika mereka harus terlibat ke dalam satu pertempuran melawannya.

Mahendra mengangguk-angguk. Dengan demikian maka ia mempunyai gambaran betapa beratnya melawan orang itu jika ia pada suatu saat harus menghadapinya.

Namun sebagai seorang yang berilmu tinggi pula Mahendra tidak akan mengingkari tugas-tugas yang berat itu.

Dengan demikian, maka disertai dengan kedua orang anaknya Mahendra telah mendatangi gubug yang dipergunakan oleh prajurit yang terluka itu.

Ketika orang itu melihat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, ia nampak menjadi tegang sejenak. Namun ketegangan itu pun segera tidak nampak lagi di wajahnya.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian mendekati orang yang terluka itu. Beberapa saat mereka berbincang. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mempertanyakan terlalu banyak hal yang dapat membuat orang itu menjadi bingung. Sementara itu Mahendra yang belum banyak dikenal oleh orang-orang Lemah Warah telah berada di tempat itu untuk mengawasi orang yang masih terbaring untuk beristirahat itu.

Namun dalam kesempatan itu Mahendra dapat berbincang agak banyak dengan para prajurit Lemah Warah. Mahendra tidak menyembunyikan dirinya, bahwa ia adalah ayah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

“Jadi Ki Sanak adalah saudara Akuwu?“ bertanya salah seorang prajurit.

“Kenapa?“ bertanya Mahendra.

“Bukankah kedua anak muda itu kemanakan Akuwu Lemah Warah?“ sahut salah seorang di antara para prajurit.

Mahendra mengerutkan keningnya. Namun iapun telah tersenyum sambil berkata, “Ya. Kami masih bersaudara meskipun bukan saudara kandung.”

Para prajurit itu mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak bertanya lebih banyak lagi. Namun demikian para prajurit itu agaknya telah membuat penilaian terhadap Mahendra yang rambutnya telah mulai memutih itu.

“Agaknya ia memang memiliki kelebihan, ia berada di sisi Pangeran Singa Narpada sebagai di sisi saudaranya pula. Mungkin ia saudara seperguruan dengan Pangeran Singa Narpada.“ desis seorang prajurit di telinga kawannya.

Demikianlah maka Mahendra telah berada di antara para prajurit Lemah Warah dengan akrab. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang telah lebih dahulu berada di antara para prajurit itupun tidak lagi merasa canggung.

Dalam tugasnya, maka Mahendra pun telah berada di dalam kelompok prajurit yang merawat kawannya yang terluka itu. Namun para prajurit itu memang merasa heran, bahwa prajurit yang terluka itu tidak lagi tahu di mana kelompoknya dan siapakah pemimpin kelompoknya pada saat ia ikut menyerang padepokan itu. Ketika pemimpin kelompoknya itu datang kepadanya dan mengatakan bahwa ialah memimpin kelompok termasuk prajurit yang terluka itu, maka prajurit itu tidak segera dapat mengenalinya.

Kecurigaan-kecurigaan memang telah timbul. Namun setiap orang yakin bahwa orang itu adalah prajurit yang terluka dan tertinggal di padepokan.

Namun sebagian dari mereka percaya bahwa benturan di kepala orang itulah yang menyebabkan ia menjadi kehilangan ingatannya.

Tetapi tiba-tiba saja seorang prajurit bertanya, “Tetapi kenapa ia dapat mengingat pada saat kepalanya terkena benturan? Dan kenapa ia teringat bahwa ia adalah prajurit Lemah Warah.“

Tidak seorang pun yang menjawab. Mereka menunggu beberapa lama sehingga akhirnya pada suatu saat orang itu akan menunjukkan kesadarannya atau justru ia tetap menjadi orang asing.

Beberapa orang prajurit tidak lagi memperhatikannya meskipun masih ada juga yang merasa heran. Namun Mahendra yang bertugas mengawasinya dengan hati-hati berusaha melakukan tugasnya tanpa diketahui oleh prajurit yang terluka yang diawasinya itu.

Demikianlah ketika kemudian malam tiba, para prajurit-pun telah beristirahat di tempat yang menebar. Mereka tidak seluruhnya berada di dalam gubug. Sebagian dari para prajurit itu justru telah berada di tempat terbuka dan tidur di atas ketepe yang terbuat dari daun kelapa. Sementara yang lain bertugas di sekitar tempat itu. Yang bertugas bukan saja mengamati kemungkinan orang-orang padepokan berlaku curang, tetapi mereka juga harus mengamati jika beberapa ekor ular atau binatang lain memasuki lingkaran para prajurit yang tertidur nyenyak itu.

Dengan bergantian, para prajurit itu telah mengatur diri dalam kelompok masing-masing. Sementara prajurit yang terluka itu masih juga berbaring ditempatinya dan tidak ada niatnya dengan segera kembali ke kelompoknya. Bahkan pemimpin kelompoknya pun tidak memerintahkannya untuk segera kembali karena prajurit itu nampaknya masih lemah.

Di antara para prajurit yang berada di tempat terbuka, diamati oleh beberapa orang petugas. Mahendra berbaring di atas ketepe sebagaimana para prajurit yang lain. Ia telah memerintahkan kedua anaknya kembali ke gubug mereka semula. Namun setiap saat Mahendra mungkin akan memberikan isyarat untuk memanggil mereka.

Ketika malam menjadi semakin kelam, tidak nampak tanda-tanda yang mencurigakan. Prajurit yang terluka itu masih berbaring di tempatnya. Sekali-sekali ia bangkit untuk minum. Nampaknya keadaannya telah membuatnya selalu merasa haus.

Sementara itu, malam pun menjadi semakin sepi. Beberapa orang yang bertugas sudah tidak lagi terdengar suaranya. Mereka duduk sambil bertahan dari kantuk yang kadang-kadang datang mengganggu. Bahkan kadang-kadang menjadi hampir tidak terlawan lagi. Namun dalam keadaan yang demikian, maka para petugas itu telah bangkit dan berjalan-jalan mengitari kawan-kawannya yang tertidur di tempat terbuka.

Pada saat yang demikian, ternyata orang yang terluka itu telah bangkit. Ketika ia melangkah ke pintu, seorang prajurit yang kebetulan terbangun bertanya, “Kau akan ke mana?”

“Udara panas sekali,“ jawab prajurit itu, “aku akan keluar sebentar untuk menghirup udara segar.”

Prajurit yang terbangun itu tidak bertanya lebih lanjut. Ia-pun kemudian telah tertidur lagi. Malam itu tidak mendapat giliran bertugas, sehingga karena itu, maka ia dapat tidur sepuas-puasnya.

Ketika prajurit yang terluka itu kemudian keluar dari gubugnya, maka prajurit yang bertugas di luar pun bertanya pula, “Kau akan pergi ke mana malam-malam begini?“

“Perutku sakit. Aku akan pergi ke sungai kecil sebelah,“ jawab prajurit yang terluka itu.

Prajurit yang bertugas itupun tidak bertanya lebih lanjut. Tetapi justru prajurit yang bertugas yang lain bertanya, “Kau perlu kawan?”

“Tidak. Kenapa harus dikawani?“ ia justru bertanya.

“Nanti kau bingung. Kau lupa jalan kembali,“ berkata prajurit yang bertugas itu.

“Tidak. Mudah-mudahan ingatanku menjadi lebih baik,“ jawabnya.

Prajurit itupun kemudian telah meninggalkan gubug itu menuju ke sungai kecil.

Sementara itu, Mahendra pun tiba-tiba telah bangkit pula dan berkata kepada prajurit yang bertugas, “Mumpung ada kawannya, aku juga akan pergi ke sungai.”

Para prajurit yang bertugas tidak menaruh curiga sama sekali. Baik kepada prajurit yang terluka itu maupun kepada Mahendra yang juga akan pergi ke sungai.

Namun dalam pada itu, ternyata Mahendra tidak menyusul prajurit itu dan bersama-sama pergi ke sungai, ia justru berusaha mengamati prajurit itu dari kejauhan. Dalam gelapnya malam Mahendra mempunyai banyak kesempatan. Juga karena ilmunya yang tinggi, maka ia mampu melakukannya dengan baik tanpa diketahui oleh prajurit yang diikutinya.

Sementara itu Mahendra sudah menempatkan dirinya seakan-akan ia berhadapan dengan orang yang berilmu tinggi. Jika benar dugaannya sebagaimana diduga oleh Tatas Lintang dan Pangeran Singa Narpada, maka orang yang diikutinya itu tentu juga orang yang berilmu tinggi.

Namun agaknya orang yang diikutinya itu sama sekali tidak menduga bahwa telah timbul kecurigaan di antara orang-orang Lemah Warah. Nampaknya beberapa orang prajurit dapat diyakinkannya, bahwa benturan di kepalanya telah membuatnya menjadi pelupa.

Beberapa langkah di belakang orang itu, Mahendra dengan hati-hati mengikutinya. Ternyata orang itu memang tidak pergi ke sungai, tetapi ia telah menuju ke satu tempat yang banyak ditumbuhi pohon-pohon perdu.

Mahendra menjadi semakin curiga. Dan ternyata kecurigaannya itu beralasan. Beberapa saat kemudian, di antara batang-batang perdu, prajurit yang terluka itu telah menemui seseorang.

Mahendra yang berada beberapa langkah dari orang-orang itu bersembunyi di belakang sebatang pohon perdu yang rimbun. Ia telah berusaha untuk tidak menimbulkan bunyi yang dapat menarik perhatian, karena ia yakin, yang dihadapinya itu adalah orang-orang berilmu tinggi.

Dalam pada itu, maka dengan ketajaman pendengarannya Mahendra sempat mendengar percakapan mereka. Dengan berdebar-debar Mahendra mendengar prajurit itu tertawa dan kemudian berkata, “Orang-orang Lemah Warah memang orang-orang yang dungu.”

“Mereka tidak mencurigaimu?“ bertanya suara yang lain.

“Tidak. Memang mula-mula timbul kesulitan dengan pertanyaan-pertanyaan mereka. Namun akhirnya mereka dapat aku yakinkan, bahwa pukulan landean tombak itu telah membuatku lupa segala-galanya.”

Keduanya tertawa. Orang yang menunggu prajurit itu telah bertanya pula, “Apa kata mereka, pada saat kau meninggalkan mereka sekarang ini?”

“Aku mengatakan kepada mereka, bahwa aku akan pergi ke sungai kecil di sebelah,“ jawab prajurit itu.

“Baiklah, kemudian apa rencanamu?“ bertanya orang yang menunggu di gerumbul itu.

“Aku akan memasuki gubug yang dihuni oleh Akuwu Tatas Lintang,“ berkata prajurit itu, “bahkan ternyata dalam pembicaraan yang aku dengar kemudian, Pangeran Singa Narpada ada juga di sini. Aku akan membunuh keduanya dalam satu gerakan yang cepat sebelum mereka menyadari apa yang terjadi. Jika kemudian wadag ini dibunuh, apa peduliku. Aku akan dengan segera meninggalkan wadag ini dan kembali ke wadagku sendiri.”


Beberapa saat tidak terdengar jawaban. Namun kemudian terdengar suara orang yang telah menunggunya itu, “Baiklah. Terserah kepadamu. Mana yang baik kau lakukan, lakukanlah. Tetapi sebaiknya kau memilih waktu yang paling baik yang akan dapat mencapai hasil yang setinggi-tingginya.”

“Besok aku akan pergi ke gubug itu. Aku akan mencari alasan yang paling baik untuk menemui Akuwu. Mungkin aku dapat mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin aku laporkan secara langsung kepada Akuwu, sehingga dengan demikian, maka aku harap bahwa aku dapat diterima oleh Akuwu dan orang-orang terpenting dari Lemah Warah. Dengan demikian, mungkin sekali aku dapat membunuh beberapa orang sekaligus.”

“Baiklah,“ berkata orang yang menunggunya, “besok aku akan datang ke tempat ini lagi jika wadagmu masih belum bangun. Tetapi juga jangan terlalu lama. Kasihan wadagmu sendiri.”

“Baiklah. Mudah-mudahan cara ini dapat berhasil,“ jawab prajurit itu.

Demikianlah maka prajurit yang terluka itupun kemudian meninggalkan tempat itu dan kembali ke gubugnya. Sementara itu, orang yang telah menunggunya di padang itupun telah kembali pula ke padepokan.

Sejenak Mahendra termangu-mangu. Siapakah yang akan diikuti selanjutnya. Namun ternyata Mahendra lebih tertarik untuk mengikuti orang yang telah menunggu di padang perdu itu dari pada prajurit yang terluka yang jelas akan kembali ke gubugnya dan masih tidak akan melakukan sesuatu malam itu.

Seperti orang yang mempergunakan wadag prajurit yang terluka itu, maka orang yang kembali ke padepokan itupun tidak mengetahui bahwa seseorang telah mengikutinya. Orang itu sendiri harus sangat berhati-hati, karena ia harus menembus kepungan prajurit Lemah Warah.

Namun agaknya, daerah yang banyak ditumbuhi perdu itu memberikan banyak kemungkinan untuk menyusup menembus kepungan yang memang tidak serapat anjang-anjang kacang panjang.

Namun Mahendra pun telah ikut pula menyusup kepungan dan memasuki lingkungan di sekitar dinding padepokan. Namun Mahendra harus berhenti beberapa langkah di belakang orang itu, ketika ternyata ada tiga orang lain yang menunggunya.

“Apa yang terjadi dengan orang itu?“ bertanya salah seorang dari ketiga orang yang menunggunya.

Orang yang baru saja menemui prajurit yang terluka itu tertawa. Katanya, “Semuanya akan berjalan baik. Setidak-tidaknya Akuwu Lemah Warah yang disebut Tatas Lintang itu akan terbunuh. Bahkan karena di tempat itu hadir juga Pangeran Singa Narpada, maka Pangeran Singa Narpada itupun harus mati pula.”

“Pangeran Singa Narpada adalah orang yang paling berbahaya di Kediri. Ia adalah orang yang setia kepada Sri Baginda sebagai Raja Kediri, yang justru takluk kepada Singasari. Kesetiaan Pangeran Singa Narpada kepada Kediri yang takluk kepada Singasari adalah kesetiaan yang beku, yang tidak mengingat pergolakan jiwa Rakyat Kediri sendiri,“ berkata orang itu.

“Kebetulan sekali jika ia berada di sini,“ berkata yang lain, “kita akan menghancurkannya. Cara yang ditempuh untuk membunuh Tatas Lintang dan apabila mungkin Pangeran Singa Narpada itu adalah cara yang sangat baik. Ia akan dapat langsung memasuki satu lingkungan bersama dengan sasaran. Agaknya lebih baik ia mempergunakan senjata daripada ilmunya karena sulit baginya untuk mengetrapkan ilmunya dalam pertempuran yang kecuali sempit, juga keadaan wadag yang mendukungnya tidak menguntungkannya, karena wadag itu adalah wadag seorang prajurit yang terluka meskipun lukanya sudah menjadi agak baik.”

“Ya,“ berkata orang yang baru datang menemui prajurit yang terluka itu, “jika besok pembunuhan itu belum terjadi, ia akan menjumpai aku di tempat yang tadi.”

Tetapi kawannya yang menunggunya itu menyahut, “Kau memang bodoh. Kau lebih senang meniti bahaya daripada mengambil jalan yang paling mudah.”

“Jalan apa?“ bertanya orang yang baru menemui prajurit yang terluka itu.

“Kau tunggu saja wadag yang tidur itu terbangun beberapa saat. Kau tidak usah merayap di antara gerumbul-gerumbul dan alang-alang seperti malam ini. Kau tinggal menunggu di dalam bilik pada saat yang dijanjikan,“ jawab kawannya.

“Justru itu jalan yang sangat gawat,“ jawab orang yang baru datang itu, “jika pada saat wadag prajurit yang terluka itu ditinggalkan, maka ia akan dapat berbuat lain karena pribadi prajurit yang terluka itu akan hadir lagi menguasai wadagnya setelah beberapa lamanya ia terdesak dan tidak mampu mengatasi pribadi yang mendesaknya ke pinggir. Dalam keadaan yang demikian, maka segala rahasia akan dapat terungkap.”

Ketiga orang yang menunggu itu mengangguk-angguk. Seorang di antara mereka berkata, “Ya. Agaknya memang begitu.”

“Baiklah,“ berkata yang lain, “kita akan memasuki padepokan. Kita akan berbicara lagi di dalam.”

Keempat orang itupun kemudian meninggalkan tempatnya. Mereka melangkah menuju ke gerbang padepokan. Sejenak kemudian, maka keempat orang itupun telah hilang di balik regol yang kemudian tertutup rapat-rapat.

Mahendra termangu-mangu sejenak. Dipandanginya regol yang tertutup rapat itu. Namun kemudian dengan sangat berhati-hati iapun telah bergeser surut, berlindung di balik gerumbul-gerumbul perdu dan menghilang di gelapnya malam.

Dengan tergesa-gesa Mahendra kembali ke lingkungan kelompok yang berada di sekitar gubug tempat prajurit yang terluka itu beristirahat. Ketika ia kembali dan duduk di atas ketepe daun kelapanya, maka seorang bertanya, “Kau lama sekali? Kawan yang terluka itu sudah dari tadi kembali.”

“Aku tidak menemukannya,“ jawab Mahendra.

Sebenarnyalah prajurit yang terluka, dan berbaring di dalam gubug itu mendengar pembicaraan itu. Iapun kemudian keluar dan meyakinkan, “Kau tadi mencari aku?”

“Ya,“ jawab prajurit yang lain, “sesaat setelah kau pergi, orang ini pun ikut pergi mumpung ada kawannya ke sungai.”

“Tetapi akhirnya aku tetap sendiri, karena aku tidak menemukanmu,“ sahut Mahendra.

Prajurit itu tertawa. Katanya, “Sungai itu begitu panjang. Aku pergi agak ke udik.”

“Pasti tidak ketemu,“ desis Mahendra, “aku agak ke hulu.”

Keduanya tertawa. Yang lain pun tertawa pula.

Namun akhirnya prajurit yang terluka itupun kembali ke pembaringannya untuk beristirahat.

Pada sisa malam itu, memang tidak terjadi sesuatu. Prajurit yang terluka itu tidur dengan nyenyak tanpa merubah kedudukan pribadi yang ada di dalamnya.

Mahendra lah yang tidak segera dapat tidur. Ia tidak dapat dengan serta merta melaporkan kepada para pemimpin Lemah Warah, karena hal itu akan dapat menimbulkan kecurigaan prajurit yang terluka itu apabila ia mengetahuinya.

Karena itu, maka Mahendra akan melaporkannya pagi-pagi, tetapi ia tidak boleh terlambat.

Meskipun prajurit itu nampaknya tertidur nyenyak, namun jika terbangun dan mengetahuinya tidak ada di tempat, persoalannya akan dapat menjadi lain.

Ketika kemudian langit menjadi merah, maka prajurit yang terluka itu sudah terbangun. Dengan sengaja Mahendra mengatakan kepada prajurit yang berada di dalam gubug agar didengar oleh prajurit yang terluka itu, bahwa ia akan pergi ke sungai.

“Semalam kau sudah pergi ke sungai,“ berkata prajurit itu.

“Semalam aku tidak mandi,“ jawab Mahendra.

Prajurit itu tersenyum. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu lagi.

Sementara itu ketika Mahendra telah melangkah menjauhi gubug itu dan sempat berpaling, ia melihat prajurit yang terluka itu berdiri di depan pintu.

Sebenarnyalah kehadiran Mahendra di tempat itu memang menarik perhatian prajurit yang terluka itu. Seolah-olah ada firasat padanya, bahwa Mahendra sengaja mengawasinya.

“Apakah semalam orang itu mengikuti aku?“ bertanya prajurit yang terluka itu di dalam hatinya. Namun iapun kemudian menggeleng, “Aku sudah lama memasuki gubug, ia baru datang. Jika ia memang mengikuti dan menemukan aku, jarak yang diperlukan tidak akan memakan waktu yang demikian panjangnya.”

Sementara itu, Mahendra memang pergi ke arah sungai. Namun ia tidak pergi ke sungai. Ketika ia sudah menjadi semakin jauh dari tempat sekelompok prajurit yang merawat prajurit yang terluka itu, maka iapun segera mengambil jalan lain menuju ke gubug yang dihuni oleh para pemimpin prajurit Lemah Warah.

Kepada Akuwu Lemah Warah dan Pangeran Singa Narpada, Mahendra menceriterakan apa yang ditemuinya semalam.

Para pemimpin Lemah Warah itu mengangguk-angguk. Dengan nada datar Tatas Lintang berkata, “Terima kasih. Mudah-mudahan kami dapat mengatasinya.”

“Berhati-hatilah. Agaknya orang itu memang orang yang berilmu tinggi,“ berkata Mahendra.

“Aku pernah menemuinya dan sedikit bermain-main dengan orang itu dalam wadagnya sendiri. Tetapi waktu itu aku belum dapat meyakini kemampuannya yang sebenarnya,“ sahut Tatas Lintang.

“Baiklah,“ berkata Mahendra, “aku akan kembali ke gubug itu sebelum orang itu mencurigai aku bahwa aku mengamatinya atau bahkan mengetahui rahasianya.”

Tatas Lintang mengangguk-angguk. Demikian pula Pangeran Singa Narpada.

“Kita memang harus berhati-hati,“ berkata Pangeran Singa Narpada.

Mahendra pun kemudian meninggalkan gubug itu dan kembali ke gubug tempat prajurit itu berbaring. Namun Mahendra sempat juga membasahi dirinya di sungai kecil di sebelah padang perdu itu.

Sebenarnyalah ketika ia kembali, prajurit itu mendekatinya dan bertanya, “Kau benar-benar mandi?”

Orang itu menjadi yakin ketika ia melihat tubuh dan rambut, bahkan sebagian pakaian Mahendra menjadi basah.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian iapun kembali untuk berbaring, karena luka-lukanya yang masih belum sembuh sepenuhnya. Meskipun ia sudah dapat pergi ke sungai pula, tetapi ia masih memerlukan perawatan seperlunya.

Namun ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka prajurit yang terluka itu telah menemui pemimpin kelompok prajurit Lemah Warah itu, bahwa ia ingin menghadap Akuwu Tatas Lintang atau Pangeran Singa Narpada.

“Untuk apa?“ bertanya pemimpin kelompok itu.

“Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan,“ jawab prajurit yang terluka itu.

“Katakan, nanti aku akan menyampaikannya,“ jawab pemimpin kelompok itu.

Tetapi prajurit itu menggeleng. Katanya, “Aku ingin menyampaikannya sendiri. Keterangan ini sangat rahasia. Bukan aku tidak percaya kepadamu, tetapi agar keterangan yang ingin aku sampaikan tidak salah ucap.”

Pemimpin kelompok itu termangu-mangu. Namun akhirnya iapun menyahut, “Baiklah. Akan aku sampaikan permohonanmu itu kepada Akuwu.”

Prajurit itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Marilah. Aku ikut bersamamu, sementara kau menyampaikan permohonan itu kepada Akuwu, aku akan menunggunya di luar.”

Pemimpin kelompok itu termenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Agar aku tidak mondar-mandir. Tetapi jika permohonanmu ditolak jangan menyalahkan aku.”

“Aku tidak akan menyalahkan siapa-siapa,“ berkata prajurit yang masih luka itu.

Demikianlah, maka prajurit itupun telah pergi bersama dengan pemimpin kelompok menuju ke gubug Akuwu Lemah Warah. Namun ia ternyata menjadi berdebar-debar juga, karena ia mengetahui bahwa di gubug itu berkumpul orang-orang yang berilmu tinggi. Di samping Akuwu Lemah Warah terdapat Pangeran Singa Narpada dan ketiga orang anak muda yang diakunya sebagai kemanakan Akuwu Lemah Warah.

Ketika mereka mendekati gubug itu, maka jantungnya menjadi semakin berdebar-debar karena kesiagaan prajurit Lemah Warah yang sangat tinggi.

Beberapa orang prajurit yang pernah mendengar kedatangan prajurit yang terluka itu, tetapi belum pernah menemuinya, segera mengerumuninya. Namun mereka sudah mendengar bahwa prajurit itu telah kehilangan ingatannya. Karena itu, maka yang mereka tanyakan bukan hal-hal yang memerlukan pengenalan kembali.

Sementara itu pemimpin kelompok yang membawanya, telah meninggalkannya di antara para prajurit, sementara pemimpin kelompok itu sendiri telah memasuki gubug untuk menghadap Akuwu Tatas Lintang.

“Ampun Akuwu,“ berkata pemimpin kelompok itu, “hamba datang untuk menyampaikan permohonan prajurit yang terluka, yang berhasil melarikan diri dari padepokan itu, untuk menghadap.”

Di luar sadar Akuwu dan Pangeran Singa Narpada telah saling berpandangan. Mereka segera teringat pada laporan yang telah disampaikan oleh Mahendra tentang prajurit yang terluka itu.

Beberapa saat Akuwu termangu-mangu. Namun akhirnya ia bertanya, “Di manakah orang itu sekarang?”

“Orang itu ada di luar, Akuwu,“ jawab pemimpin kelompok itu.

Akuwu mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Baiklah. Suruh orang itu masuk jika ia memang mempunyai satu kepentingan yang tidak dapat dipesankan kepada orang lain.”

“Ia ingin menyampaikan langsung kepada Akuwu,“ berkata pemimpin kelompok itu.

“Sementara itu, kau jangan kembali ke kelompok lebih dahulu. Kau sebaiknya menunggu saja di luar,“ perintah Akuwu.

“Hamba Akuwu,“ berkata pemimpin kelompok itu yang kemudian bergeser keluar.

Di luar, prajurit yang terluka itu menunggunya dengan gelisah. Semakin lama ia berbicara dengan para prajurit, maka semakin banyak kejanggalan-kejanggalan yang terjadi. Namun ia tetap berpegangan kepada keterangannya, bahwa keadaan itu disebabkan karena benturan yang telah terjadi di kepalanya.

Ketika pemimpin kelompok itu kemudian keluar dari gubug yang dipergunakan oleh para pemimpin pasukan Lemah Warah itu, maka dengan tergesa-gesa ia menyongsongnya.

“Bagaimana dengan permohonanku? Apakah kau mengatakan bahwa ada rahasia yang ingin aku sampaikan?“ bertanya prajurit itu.

“Ya,“ jawab pemimpin kelompok itu, “kau sudah mendapat ijin untuk menghadap.”

Prajurit itu merasa gembira. Tetapi bagaimanapun juga, ia merasa cemas juga karena ia tahu, bahwa di dalam gubug itu terdapat orang-orang berilmu tinggi.

“Tetapi kenapa aku harus cemas,“ berkata prajurit itu di dalam hatinya, “jika ia ingin membunuh, biar wadag inilah yang mati. Aku tidak akan tersentuh sama sekali.”

Namun kemudian iapun mengerti, bahwa kecemasannya disebabkan karena ia tidak mau gagal dalam tugasnya. Ia tidak mau kehilangan kesempatan untuk membunuh Akuwu Lemah Warah dan bahkan Pangeran Singa Narpada.

Karena itu maka dengan hati yang berdebar-debar prajurit itu memasuki gubug itu. Namun ia sadar, bahwa yang berdegupan itu adalah hati wadag yang dipergunakan meskipun oleh pengaruh kegelisahannya yang mendesak pribadi prajurit yang terluka itu.

Demikian prajurit itu masuk, maka iapun segera berjongkok di hadapan para pemimpin Lemah Warah. Sambil berjongkok ia bergeser maju dan duduk bersila beberapa langkah dihadapan Akuwu Lemah Warah yang duduk berjajar dengan Pangeran Singa Narpada. Namun di dalam hati prajurit itu mengumpat, karena dua orang anak muda yang diketahuinya juga berilmu tinggi itupun duduk justru agak di depan kedua orang pemimpin tertinggi itu, sementara seorang lagi yang disebut Mahisa Ura ada pula di antara mereka, duduk agak di belakang Akuwu Lemah Warah. Di sampingnya Panglima pasukan khusus Lemah Warah duduk dengan kesiagaan yang tinggi.

Prajurit yang terluka itu mengumpat di dalam hati. Ia tidak mendapat kesempatan untuk lebih mendekat lagi kepada Akuwu Lemah Warah atau Pangeran Singa Narpada.

Meskipun demikian, prajurit itu tidak kehilangan harapan. Meskipun dalam jarak yang agak jauh, namun ia akan mampu membunuh kedua orang itu. Ia akan bergerak dengan serta merta tanpa diduga oleh siapapun. Karena itu, maka semua usaha untuk mencegah tentu terlambat.

Dengan hati-hati, tanpa diketahui oleh siapapun juga, prajurit itu meraba kain panjangnya. Ia menyimpan pisau di bawah kain panjangnya itu. Setiap saat ia dapat mencabut pisau itu dan mempergunakannya. Baginya lebih baik mempergunakan pisau itu dari pada mengetrapkan ilmunya dengan meminjam wadag prajurit yang luka itu. Apalagi prajurit itu tentu belum pernah mengalami tempaan kewadagan untuk mendukung lontaran ilmunya. Karena itu jika ia melontarkan ilmunya, mungkin sekali tidak akan berhasil, bahkan justru wadagnya itulah yang lebih dahulu akan dirusakkannya.

Dalam pada itu, terdengar Akuwu Lemah Warah bertanya, “Menurut pemimpin kelompok itu, kau ingin mengatakan sesuatu. Nah, jika hal itu memang perlu sekali, katakanlah.”

Prajurit itu termangu-mangu. Ia tidak mempunyai rahasia apapun yang ingin dikatakannya. Namun ia harus menjawab pertanyaan itu. Karena itu, maka katanya, “Ampun Akuwu. Hamba mendengar pembicaraan orang-orang padepokan itu, bahwa justru merekalah yang akan menyerang kedudukan kita di luar padepokan ini. Begitu tiba-tiba dan di luar dugaan.”

Akuwu Lemah Warah itu mengangguk-angguk.

“Kapan hal itu akan dilakukan?“ bertanya Akuwu Lemah Warah.

“Hamba kurang tahu Akuwu. Tetapi tentu dalam waktu dekat ini. Telah diselenggarakan persiapan-persiapan untuk itu.”

Akuwu Lemah Warah mengangguk-angguk. Namun ia masih juga bertanya,“ benarkah kekuatan orang-orang di padepokan itu seluruhnya? Bagaimanakah perbandingannya dengan para prajurit kita di sini?”

Prajurit itu menjadi bingung. Namun ia berusaha untuk menjawab, “Jumlah mereka lebih banyak Akuwu. Para cantrik, serta para pengikut orang-orang berilmu tinggi di padepokan itu telah siap untuk mengorbankan apa saja yang mereka miliki. Mereka ternyata adalah orang-orang yang seakan-akan telah kehilangan penalaran mereka. Mereka berbuat apa saja yang diperintahkan oleh para pemimpin mereka. Mereka tidak pernah mempertimbangkan apakah yang mereka lakukan itu berbahaya atau tidak.”

Akuwu Lemah Warah mengangguk-angguk. Katanya, “Luar biasa. Tetapi aku menjadi kasihan kepada mereka.”

“Kenapa kasihan ?“ bertanya prajurit itu.

“Ternyata para pemimpin padepokan itu tidak lagi menganggap para cantrik dan para pengikut mereka sebagai manusia,“ jawab Akuwu Lemah Warah.

Prajurit itu termangu-mangu. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Kenapa begitu Akuwu ?”

“Ternyata para cantrik dan para pengikut mereka telah berubah. Mereka tidak lagi dapat mempergunakan perasaan dan penalaran mereka yang bening. Yang mereka lakukan kemudian adalah sekedar naluri kesetiaan tanpa keyakinan.”

“Mereka justru melakukannya dengan penuh keyakinan,“ jawab prajurit itu, “bukan sekedar naluri. Akuwu tidak dapat menganggap mereka tidak lebih dari seekor binatang.”

“Tetapi mereka tidak menyadari, apa yang sebenarnya mereka lakukan? Setiap orang yang mampu mempergunakan nalar budinya akan membuat pertimbangan-pertimbangan sebelum mengambil langkah. Tetapi seperti yang kau katakan sendiri, bahwa mereka seakan-akan telah kehilangan penalaran mereka dan berbuat apa saja yang diperintahkan oleh para pemimpin mereka.”

Prajurit yang terluka itu mengerutkan keningnya. Jawaban Akuwu itu memang mengejutkannya. Ia memang telah mengatakannya sebagai prajurit Lemah Warah. Tetapi sebagai salah seorang pemimpin dari padepokan itu yang kebetulan meminjam wadag prajurit Lemah Warah ia memang merasa tersinggung.

Namun ia harus menahan perasaannya jika ia tidak ingin terbuka rahasianya.

Karena itu, maka iapun telah mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Hamba Akuwu. Agaknya memang demikian.”

“Nah, bukankah mereka termasuk orang-orang yang paling malang di dunia ini?“ bertanya Akuwu Lemah Warah, “karena itu kita harus menghentikan kerja para pemimpin padepokan yang tidak mengenal perikemanusiaan itu, yang telah memperlakukan sesamanya sebagai seekor binatang saja.”

Prajurit yang menghadap Akuwu Lemah Warah itu termangu-mangu. Ternyata justru Akuwu mempunyai niat untuk membebaskan orang-orang yang disebutnya diperlakukan diluar perikemanusiaan.

Namun prajurit itu harus menahan diri. Ia tidak boleh melakukan langkah yang salah, sehingga rahasianya terbuka. Jika demikian maka usaha selanjutnya akan menjadi semakin sulit.

Untuk beberapa saat, prajurit itu harus membuat perhitungan. Apakah ia akan melakukannya saat itu atau pada kesempatan lain. Namun ia sudah terlalu lama meninggalkan wadagnya, sehingga dapat terjadi kemungkinan-kemungkinan buruk atas wadag yang ditinggalkannya itu.

Karena itu, maka prajurit itupun telah mengambil keputusan, ia harus bertindak pada saat itu. Ia harus dengan cepat menarik pisaunya dan meloncat menyerang Akuwu, menikamnya dan kemudian menikam Pangeran Singa Narpada. Pada saat yang demikian, maka ia harus dengan cepat meninggalkan wadag itu dan kembali ke wadagnya. Ia tidak peduli apa yang akan terjadi dengan wadag yang ditinggalkannya itu.

Setelah ia bulat dengan niatnya, maka iapun telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Namun demikian terasa juga jantungnya berdebaran.

Pada saat itu, Akuwu Lemah Warah, Pangeran Singa Narpada, serta orang-orang yang ada di ruang itu, yang sebenarnya telah mengetahui rencana kedatangan prajurit itu menjadi semakin berhati-hati. Mereka melihat kebimbangan sesaat memancar di wajah prajurit itu, sudah memperhitungkan bahwa saat yang mereka tunggu itupun akan segera datang.

Sebenarnyalah, prajurit itu tidak mau menunggu lebih lama lagi. Dikuatkannya hatinya dan diperhitungkannya keadaan dengan cermat. Kemana ia harus meloncat dan bagaimana ia harus menikam kedua orang pemimpin tertinggi dari pasukan Lemah Warah itu.

Ketika saat yang diperhitungkan paling baik itu datang, maka prajurit itupun telah bangkit. Dengan cepat ia menarik pisau belatinya dan dengan cepat pula ia meloncat menikam Akuwu Tatas Lintang. Tidak menembus jarak antara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tetapi ia telah meloncat ke samping dan menerkam Akuwu dari sisi pula.

Satu serangan yang memang tidak terduga. Tetapi karena Akuwu Lemah Warah telah memperhitungkannya bahwa serangan itu akan datang, iapun sempat berguling di tanah untuk menghindari serangan itu.

Prajurit itu terkejut. Serangannya ternyata telah gagal. Karena itu maka iapun telah meloncat sambil mengacukan pisau itu ke dada Pangeran Singa Narpada yang masih duduk di tempatnya seakan-akan keheranan melihat apa yang telah terjadi. Sementara itu Mahisa Murti, Mahisa Pukat, Mahisa Ura dan panglima pasukan Khusus Lemah Warah itupun segera tanggap apa yang telah terjadi.

Namun prajurit itu bergerak sangat cepat. Sebelum orang-orang itu sempat berbuat sesuatu, ia telah meloncat menerkam Pangeran Singa Narpada.


Namun Pangeran Singa Narpada pun seorang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Apalagi sebelumnya ia memang sudah mengetahui bahwa serangan yang demikian itu mungkin akan datang.

Karena itu, maka Pangeran Singa Narpada itu cepat bergeser. Pisau itu hanya meluncur selapis tipis dekat keningnya. Namun Pangeran Singa Narpada cukup sigap. Ia sempat menangkap pergelangan tangan prajurit itu. Kemudian diputarnya tangan itu dengan cepat sehingga tangan itu terpilin kebelakang. Pisau itu sempat terlepas dari tangannya.

Namun sebenarnyalah pribadi yang mempergunakan wadag itupun seorang yang berilmu tinggi pula. Karena itu ia membiarkan tangannya terputar, namun putaran itupun kemudian justru dihentakkannya. Pangeran Singa Narpada tidak menduganya. Karena itu, tangan itu terlepas dari genggamannya.

Tetapi Pangeran Singa Narpada tidak membiarkannya. Dengan tangkas pula ia telah menyapu kaki prajurit yang terlepas dari tangannya itu. Demikian kerasnya sehingga prajurit itu jatuh berguling. Namun dengan cepat pula ia mencoba melenting berdiri.

Tetapi pada saat yang demikian, beberapa orang yang lain telah siap pula. Mereka hampir bersamaan telah meloncat menangkap prajurit itu.

Pribadi yang berada di dalam wadag itu memang berilmu tinggi. Tetapi ternyata bahwa wadag yang dipergunakannya tidak akan mampu mendukung tingkat ilmunya yang tinggi. Wadag itu adalah wadag seorang prajurit yang terluka. yang masih belum sembuh benar meskipun mengalami perawatan yang sungguh-sungguh.

Karena itu, maka pribadi yang ada di dalam wadag itupun akhirnya harus mengakui, bahwa ia tidak akan mungkin dapat mengatasi orang-orang yang ada di ruang itu yang kemudian berusaha menangkapnya. Karena itu, maka betapa penyesalan dendam dan kebencian bergejolak di dalam dada itu karena kegagalannya, maka mau tidak mau, ia harus mengakui kenyataan yang dihadapinya.

Demikianlah, maka akhirnya pribadi yang ada di dalam wadag itupun memutuskan untuk melepaskan diri meninggalkan wadag itu dan kembali ke dalam wadagnya sendiri.

Karena itu, maka orang-orang yang menangkap prajurit yang terluka itu terkejut ketika prajurit itu tiba-tiba menjadi lemah. Tenaganya bagaikan lenyap dan sama sekali tidak berdaya.

Dengan serta merta Akuwu Tatas Lintang yang telah ikut pula menangkapnya berkata, “Kendorkan. Orang itu telah pergi.”

Orang-orang yang semula memegangi tubuh itupun kemudian melepaskannya. Justru mereka menjadi hati-hati meletakkannya dan dibaringkannya di atas tanah.

Beberapa saat tubuh itu terbaring diam. Namun kemudian tubuh itu mulai bergerak perlahan-lahan. Namun yang terdengar kemudian adalah keluhan tertahan.

Akuwu Lemah Warah menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian berjongkok dekat di sisi prajurit yang terbaring diam itu sambil berdesis, “Bagaimana keadaanmu?”

Prajurit itu kemudian membuka matanya. Ketika dilihatnya Akuwu Lemah Warah, maka ia berusaha untuk bangkit. Tetapi Akuwu itu menahannya sambil berkata, “Kau masih terlalu lemah. Berbaring sajalah.”

Prajurit itu memang berbaring. Bahkan kemudian iapun berdesis, “Di mana aku sekarang?”

“Kau berada di antara kita, di antara para prajurit Lemah Warah, “jawab Akuwu.

“Oo, ampun Akuwu. Hamba tidak mengerti, bagaimana hamba dapat sampai di sini?“ bertanya orang itu.

Akuwu Lemah Warah menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Sudahlah. Jangan kau pikirkan. Kelak kau akan dapat mendengar ceriteranya.”

Prajurit itu mencoba memperbaiki letak tubuhnya. Namun semua sendi-sendinya terasa nyeri sekali.

“Marilah. Kau beristirahat di tempat yang lebih baik,“ berkata Akuwu.

Panglima pasukan khusus itupun kemudian memanggil beberapa orang prajurit. Mereka harus mengangkat prajurit yang terluka itu dan meletakkan di pembaringan di dalam gubug itu pula.

Sementara itu Mahendra telah datang pula ke tempat itu. Dari Mahisa Murti ia mendengar apa yang telah terjadi. Karena itu, maka Mahendra pun telah memanggil pemimpin kelompok yang membawa prajurit itu menghadap dan memberitahukan pula apa yang telah dilakukannya.”

“Jadi prajurit itu palsu? Bagaimana mungkin seseorang dapat membuat dirinya mirip sekali dengan orang lain yang bukan saudara kembarnya,“ bertanya pemimpin kelompok itu.

“Bukan palsu,“ jawab Mahendra, “orang itu sebenarnyalah prajurit Lemah Warah. Ia sekarang terbaring di dalam gubug itu dalam keadaan yang nampaknya jauh lebih parah daripada sebelumnya.”

“Jadi yang benar bagaimana?“ bertanya pemimpin kelompok itu.

Mahendra tersenyum, ia berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi dengan prajurit itu.

Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Ia baru sadar, bahwa prajurit Lemah Warah telah berhadapan dengan ilmu yang sangat tinggi.

“Nah,“ berkata Mahendra, “kita harus sangat berhati-hati.”

“Ya.”

“Kita memang harus sangat berhati-hati,“ jawab Mahendra.

Sementara itu, di padepokan, wadag yang terbaring di dalam sebuah bilik dan dijaga oleh pengikutnya yang paling terpercaya itupun telah bangkit. Ketika tubuh itu kemudian keluar dari dalam biliknya, maka kepercayaannya itupun dengan serta merta telah bertanya, “Bagaimana Ki Lurah? Apakah Ki Lurah berhasil?”

Orang yang keluar dari dalam bilik itu tidak segera menjawab. Tetapi iapun bertanya, “Di mana pemimpin-pemimpin padepokan ini yang lain?”

Mereka berada di rumah induk,“ jawab kepercayaannya yang menjaga tubuh itu.

Orang yang baru bangkit itupun kemudian telah pergi ke induk padepokan itu. Beberapa orang pemimpin yang lain memang berada di sana. Ketika mereka melihat kedatangannya, maka dengan serta merta mereka pun telah menyambutnya.

“He, siapa saja yang berhasil kau bunuh?“ bertanya orang bertongkat itu.

Orang itu mengumpat kasar. Kemudian sambil duduk di antara para pemimpin itu ia telah menceriterakan kegagalannya.

Para pemimpin yang lain termangu-mangu. Namun orang bertongkat itupun telah tertawa pula.

“Kenapa kalian tertawa? Apakah kalian menganggap permainanku lucu?“ bertanya orang itu.

Orang yang mampu mempengaruhi binatang dengan ilmunya itupun berkata, “Apakah artinya rencana yang kau susun dengan banyak membuang waktu dan tenaga itu he?”

“Setiap usaha memang mempunyai kemungkinan berhasil atau tidak berhasil. Dan sekarang aku tidak berhasil? He, apakah harimau atau ular-ularmu itu juga selalu berhasil? Bahkan pada saat Tatas Lintang masih belum bersama pasukannya? Dan apa arti tongkatmu itu, serta batu yang berwarna kebiru-biruan atau kehijau-hijauan itu? Apapula artinya para pemimpin yang lain dengan ilmu mereka yang dahsyat.”

“Apakah kau juga menyebut tentang kabut itu?“ bertanya orang yang memiliki ilmu gendam.

Orang yang mampu menyusup pada pribadi wadag yang lain itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak mengatakannya. Tetapi bukankah kalian yang telah mencemoohkan rencanaku? Dengar, meskipun aku gagal membunuh Tatas Lintang yang sebenarnya adalah Akuwu Lemah Warah itu, serta Pangeran Singa Narpada, namun aku dapat membunuh semua prajurit Lemah Warah.”

“He?“ orang-orang yang mendengarnya menjadi heran.

Sementara orang itu berkata selanjutnya, “Lihat saja. Aku akan menghancurkan pasukan Lemah Warah perlahan-lahan, tetapi pasti.”

Sebelum para pemimpin yang lain menyahut, maka orang itu telah bangkit dari tempatnya dan meninggalkan tempat itu. Katanya, “Aku letih. Aku akan beristirahat.”

“Kau biarkan wadagmu tertidur terus. Bagaimana mungkin kau merasa letih?”

“Jangan seperti kanak-kanak. Apakah letih hanya berarti kewadagan?“ orang itu justru bertanya.

Kawan-kawannya tidak bertanya lagi. Dibiarkannya orang yang kecewa itu pergi. Namun orang bertongkat itu kemudian berkata dengan sungguh-sungguh, “Satu rencana yang dahsyat. Aku percaya bahwa ia akan dapat membunuh prajurit-prajurit Lemah Warah. Mungkin sehari ia akan dapat membunuh lebih dari satu dua orang. Jika itu dilakukan setiap hari, maka akibatnya akan sangat mengerikan bagi orang-orang Lemah Warah.”

“Kenapa kita tidak membuat rencana bersama? Aku mengerti maksudnya. Ia akan memasuki tubuh para prajurit untuk saling membunuh. Pada saat-saat yang demikian, aku dapat melepaskan ular-ularku.”

“Bicarakan dengan orang itu,“ berkata orang bertongkat itu, “mungkin ia setuju.”

“Ialah yang harus membicarakannya dengan aku. Bukan aku yang datang kepadanya menawarkan rencanaku,“ jawab orang itu.

Orang bertongkat itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kesombongan kalianlah yang telah membuat semua rencana kita banyak yang pecah tanpa menghasilkan sesuatu.”

“Bukan aku yang sombong. Tetapi bukan berarti bahwa aku tidak mempunyai harga diri,“ jawab orang yang memiliki ilmu gendam itu.

Orang bertongkat itu tidak mengatakan sesuatu. Tetapi ia justru bangkit dan melangkah pergi, “terserah kepada kalian. Bagiku, tidak ada persoalan apapun dengan siapapun.”

Orang yang memiliki ilmu gendam itu tidak menjawab.

Sebenarnyalah bahwa orang yang mampu menyusup ke dalam wadag orang itu menaruh dendam yang luar biasa. Ia memang merasa sulit untuk dapat mengulangi kesempatan yang sangat baik itu. Sejak saat itu, orang-orang yang berada di sekitar Akuwu Lemah Warah tentu hanya orang-orang yang berkepribadian tinggi. Orang yang tidak akan mungkin didesak kepribadiannya untuk berbuat sesuatu dengan keinginannya.

Namun dendam orang itu akan dilimpahkannya kepada para prajurit Lemah Warah.

Memang satu rencana yang sangat bengis dari seorang yang telah dibakar oleh dendam dan kebencian.

Sementara itu Akuwu Lemah Warah telah memerintahkan kepada para prajuritnya untuk berhati-hati. Lewat para pemimpin kelompok mereka mendapat penjelasan apa yang dapat dilakukan oleh para pemimpin padepokan itu.

Di hari berikutnya setelah peristiwa yang menggemparkan itu, tidak terjadi sesuatu. Orang yang mampu menyusup ke wadag orang lain itu masih ingin beristirahat dan tidur sehari-harian. Ia tidak mau diganggu oleh siapapun juga.

Sementara para prajurit Lemah Warah telah mempertinggi kesiagaan. Segala sesuatu dapat terjadi dengan tiba-tiba dan tidak terduga sebelumnya. Bahkan ketika matahari mulai menyusup di balik punggung bukit, para prajurit masih tetap dalam kesiapan tertinggi.

Namun agaknya malam itupun tidak terjadi sesuatu. Tidak ada seekor ular pun yang menyerang para prajurit, apalagi seekor harimau. Tetapi para prajurit di satu sisi telah dikejutkan karena dari dalam semak-semak muncul beberapa ekor kera yang bersikap bermusuhan. Kera-kera itu berteriak-teriak dengan riuhnya. Namun kera-kera itu tidak menyerang.

Pemimpin kelompok prajurit yang berada di sisi terdekat telah memerintahkan semua prajurit untuk siap dengan senjata mereka.

Yang mendapat giliran beristirahat pun harus siap bertempur setiap saat.

“Jika kera itu datang lagi dengan kawan-kawan mereka, maka kita akan mendapat tugas yang sangat berat,“ berkata pemimpin kelompok itu.

“Tentu kera-kera itu tidak berbuat sewajarnya,“ berkata salah seorang prajurit, “seperti harimau dan mungkin akan terjadi jenis-jenis binatang yang lain lagi.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Seorang yang berwajah buram berdesis, “Satu pengalaman yang menarik. Selama menjadi prajurit baru kali ini aku merasa terancam oleh garangnya seekor binatang.”

Tidak seorang pun yang menjawab. Namun kawan-kawannya pun mengiakan didalam hati.

Tetapi ternyata sampai saatnya matahari terbit tidak terjadi pula sesuatu yang penting. Menjelang pagi, para prajurit bahkan sempat beristirahat dengan tenang. Yang bertugas pun tidak lagi merasa sangat tegang karena dugaan-dugaan yang sangat mengganggu.

Namun ketika matahari terbit, terdapat pula ketegangan-ketegangan yang lain. Mungkin orang-orang padepokan itukah yang justru berloncatan keluar padepokan, dan menyerang kedudukan para prajurit Lemah Warah.

Tetapi sampai matahari sepenggalah tidak nampak seorang pun yang keluar dari padepokan.

Namun ternyata hari itu telah terjadi sesuatu yang sangat mengejutkan. Dalam ketegangan itu, tiba-tiba seorang prajurit di salah satu kelompok prajurit Lemah Warah, saja telah mengamuk tanpa sebab. Tiba-tiba saja ia menarik pedangnya dan menyerang kawannya yang tidak menduga sama sekali akan mendapat serangan yang tidak pernah diperhitungkan sebelumnya.

Dua orang telah ditikamnya. Namun ketika ia menikam orang ketiga, maka orang yang ditikamnya sempat mengelak. Sementara itu, kawan-kawannya yang lain, yang memang dalam kesiagaan sepenuhnya dengan cepat berusaha untuk melerai. Tetapi prajurit yang mengamuk itu justru telah menyerang siapa saja tanpa kekangan.

Kawan-kawannya yang menjadi kehilangan cara untuk menjinakkannya, akhirnya telah mengambil langkah-langkah kekerasan pula. Beberapa ujung senjata akhirnya telah menghunjam ke dalam tubuhnya, sehingga akhirnya orang itu telah terjatuh dengan darah yang memerah di tubuhnya.

Beberapa orang kawannya yang marah hampir saja tidak dapat menahan diri lagi. Tetapi pemimpin kelompok mereka telah berusaha mencegah ketika beberapa pucuk senjata hampir saja menghunjam lagi ke dalam tubuh yang sudah tidak berdaya itu.

Sejenak kemudian terdengar orang itu mengerang. Bahkan kemudian terdengar suaranya gemetar tersendat-sendat, “Kenapa dengan aku ini? Kenapa aku?”

Pemimpin kelompok itu telah berjongkok di sisinya. Dengan nada rendah ia justru bertanya, “Apa yang kau maui, he? Kenapa tiba-tiba saja kau mengamuk?”

“Siapa yang mengamuk?“ orang itu justru bertanya.

“Kau telah membunuh dua orang diantara kawan-kawan kita dan hampir saja membunuh orang ketiga,“ jawab pemimpin kelompok itu.

“Membunuh ? Aku tidak membunuh. Aku tidak membunuh,“ suaranya meninggi. Namun kemudian menurun dan bergetar.

Peristiwa itu memang telah menggemparkan. Dengan cepat pemimpin kelompok itu telah melaporkan hal itu kepada Akuwu Lemah Warah.

“Gila,“ geram Akuwu Lemah Warah, “tentu orang itu yang telah mempergunakan wadagnya untuk membunuh kawan-kawannya.

Pemimpin kelompok itu tidak segera mengerti. Namun Akuwu pun segera berbicara dengan Pangeran Singa Narpada, Mahendra dan kedua anaknya serta Mahisa Ura.

Beberapa saat mereka berbicara. Namun kemudian mereka pun telah mengambil langkah yang paling cepat untuk mengatasi persoalan meskipun hanya untuk sementara.

Akuwu telah memerintahkan bahwa semua prajurit Lemah Warah harus bergerombol sedikitnya lima orang. Mereka harus saling mengawasi dan saling menjaga. Akuwu pun menjelaskan lewat para pemimpin kelompok, bahwa persoalannya bukannya tidak ada kepercayaan lagi diantara mereka. Tetapi lawan yang berilmu tinggi mampu mempergunakan wadag diantara para prajurit itu untuk membunuh kawan-kawannya. Karena itu, hal itu harus segera dicegahnya.

Perintah itupun dengan cepat telah menjalar pula beserta penjelasannya, sehingga karena itu, maka para prajurit pun segera telah menempatkan diri ke dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil. Mereka saling mengawasi dan menjaga agar tidak terjadi peristiwa yang mengerikan itu lagi.

Prajurit itupun telah melakukan dengan penuh kesadaran, sehingga mereka tidak merasa tersinggung karenanya.

Setiap lima orang telah berkelompok dengan penuh pengertian. Mereka masing-masing telah menyerahkan diri mereka untuk mendapat pengawasan dari kawan-kawannya, karena mereka telah mendapat keterangan apa yang mungkin terjadi atas diri mereka. Pada satu saat yang tidak terduga, maka setiap orang akan dapat kehilangan kesadaran dan melakukan sesuatu di luar kehendak mereka sendiri.

Ternyata usaha itu dapat mengurangi kemungkinan buruk antara para prajurit itu. Sebenarnyalah telah terjadi yang dicemaskan itu. Dalam salah satu di antara kelompok-kelompok kecil itu, tiba-tiba salah seorang di antara mereka telah meloncat bangkit sambil menarik pedang mereka.

Namun karena mereka memang berkelompok, maka keempat kawannya pun serentak melihat gelagat itu. Karena itu, maka serentak mereka telah menerkam dan memegangi orang itu, sehingga akhirnya orang itupun jatuh lemah dan tidak berdaya.

Namun karena yang terjadi itu hanya beberapa saat, maka keadaan orang itupun cepat menjadi pulih kembali dan segera iapun bangkit sambil mengusap keringat di dahinya.

“Aku telah merasakannya,“ desis orang itu, “tiba-tiba saja aku memang telah kehilangan ingatan.”

“Kami melihat seolah-olah angin yang lembut lamat-lamat berputar di atas kepalamu,“ berkata yang lain.

“Pertanda itulah yang harus kita sebar luaskan. Dengan demikian maka jika kita melihat pertanda itu, maka kita cepat dapat mengambil langkah-langkah pengamanan,“ berkata yang lain.

“Pertanda itu tidak jelas. Tetapi jika kita mengenalinya, itu lebih baik daripada tidak sama sekali,“ berkata yang lain.

Dengan demikian, maka suasana para prajurit Lemah Warah memang selalu dalam ketegangan. Setiap saat mereka diintai oleh kemungkinan yang tiba-tiba dan tidak diketahui lebih dahulu.

Usaha yang bersifat sementara itu, memang dapat mengurangi kemungkinan buruk. Tetapi tidak memecahkan persoalan dan tidak menghapuskan ketegangan yang mencengkam.

Karena itu, para pemimpin Lemah Warah itupun telah berusaha untuk dapat mencari jalan keluar yang paling baik untuk mengatasi kesulitan itu.

“Kita harus menemukan orang yang mampu membuat kabut itu,“ berkata Akuwu Lemah Warah, “aku tidak yakin, bahwa di balik kemampuannya itu ia akan dapat mengalahkan salah seorang di antara kita dalam perang tanding.”

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Sebaiknya kita memang mencoba untuk sekali lagi menyerang padepokan itu. Tetapi kita harus memperhitungkan semua kemungkinan yang dapat terjadi. Kita tidak boleh terjebak ke dalam kesulitan karena kita kurang berhati-hati.”

“Kabut, ular dan mungkin jenis binatang-binatang lain,“ berkata Akuwu Lemah Warah. Namun kemudian katanya, “Baiklah Pangeran. Aku akan mempersiapkan pasukanku. Ternyata tidak terlalu mudah untuk memecahkan padepokan itu.”

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Tetapi memang tidak ada pilihan lain. Bahkan katanya kemudian, “Kalian akan bertempur sebagaimana terjadi sebelumnya. Biarlah aku mencari arah kabut sebagaimana kau katakan. Memang mungkin aku tidak menemukannya. Namun kita sudah berusaha. Jika usaha itu gagal, apa boleh buat.”

“Besok pasukanku sudah siap Pangeran,“ jawab Akuwu Lemah Warah.

“Kita akan tetap merahasiakannya sampai saatnya pasukan ini berangkat, meskipun aku dapat mempersiapkannya dengan alasan apapun juga,“ berkata Pangeran Singa Narpada.

“Kenapa harus dirahasiakan?“ bertanya Akuwu Lemah Warah.


“Siapa tahu, di antara para prajurit itu terdapat seseorang yang hanya wadagnya saja,“ jawab Pangeran Singa Narpada.

Akuwu Lemah Warah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku mengerti Pangeran.”

Demikianlah, maka Akuwu Lemah Warah pun telah mempersiapkan pasukannya. Namun setiap kali alasannya tidak lebih dari kemungkinan pasukan dari padepokan itu menyerang. Dengan cara yang kasar, atau dengan cara yang halus.

Namun pada saat yang ditentukan oleh para pemimpin pasukan Lemah Warah, maka mereka akan benar-benar menyerang.

Di hari berikutnya, orang yang mampu menyusup ke dalam wadag orang lain itupun merasa segan untuk melakukannya. Ketika seorang pengikutnya bertanya, maka iapun menjawab, “Orang-orang Lemah Warah memang licik. Mereka bergerombol dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari lima orang. Dengan demikian mereka dapat saling mengawasinya,“ jawab orang yang memiliki ilmu yang tinggi itu.

“Apakah rahasia Ki Lurah sudah diketahui?“ bertanya pengikutnya.

“Sudah sejak lama,“ jawab orang itu.

Pengikutnya hanya mengangguk-angguk saja. Namun orang berilmu tinggi itu berkata, “Aku akan memikirkan cara yang terbaik besok. Aku akan tidur.”

Tetapi ketika matahari mulai melemparkan cahaya pertamanya, pasukan Lemah Warah telah berbaris dengan senjata terhunus mendekati padepokan itu. Para prajurit memang telah mendapat perintah dengan tiba-tiba untuk menyerang. Pada saat dini hari, para pemimpin Lemah Warah telah memerintahkan para prajurit untuk makan pagi.

“Makan sudah siap sepagi ini?“ bertanya salah seorang prajurit.

Sebenarnyalah bahwa para petugas di dapur telah mendapat tugas khusus untuk menyiapkan makan para prajurit pagi-pagi, karena ada tanda-tanda bahwa pasukan dari padepokan akan menyerang. Agar para prajurit tidak bertempur dengan perut lapar, maka makan mereka harus dipersiapkan.

Namun ternyata bahwa bukan orang-orang padepokan yang menyerang kedudukan para prajurit Lemah Warah, tetapi justru sebaliknya.

Kehadiran mereka memang mengejutkan. Para pengawas di padepokan itupun telah dengan serta merta membunyikan isyarat ketika mereka melihat kehadiran prajurit Lemah Warah dari segala penjuru.

“Gila,“ geram orang-orang padepokan itu, “agaknya orang-orang Lemah Warah itu tidak juga mau melihat kenyataan, bahwa mereka tidak akan mampu berbuat banyak di padepokan ini.”

Namun adalah satu kenyataan bahwa pasukan Lemah Warah itu telah berada di hadapan hidung mereka.

Suara isyarat yang memenuhi padepokan itu memang telah mengejutkan para pemimpin di padepokan itu. Dengan tergesa-gesa mereka memberikan perintah kepada para pengikut masing-masing untuk mengambil tempat yang sudah ditentukan. Isi padepokan itu sengaja tidak membagi diri, siapakah di antara mereka yang harus berada di sisi sebelah timur, siapa di sebelah barat dan sebagainya, karena mereka menganggap bahwa pengikut mereka telah menjadi satu. Jika kedudukan mereka dibagi-bagi, maka setiap kegagalan di satu sisi tentu akan menimbulkan persoalan antara para pengikut itu. Mereka tentu akan saling menyalahkan dan akan timbul permusuhan.

Ternyata bahwa isi padepokan itupun memiliki kemampuan yang cukup. Dalam waktu singkat mereka telah menempatkan diri mereka di tempat yang sudah ditentukan. Mereka telah siap dengan senjata telanjang sehingga mereka pun telah siap untuk bertempur kapan pun juga.

Sejenak kemudian, maka para prajurit Lemah Warah itupun telah mulai mendekati dinding. Mereka mulai menyerang para pengamat di sudut-sudut padepokan di atas panggungan dengan anak panah.

Namun dalam pada itu, orang-orang padepokan itupun telah berloncatan pula ke atas panggungan itu dan di atas dinding padepokan. Merekapun telah membalas serangan anak panah itu dengan anak panah pula.

Untuk beberapa saat kedua belah pihak telah bertempur dengan anak panah. Namun pada saat yang demikian beberapa orang prajurit Lemah Warah telah berusaha untuk memasuki padepokan itu dengan cara lain. Di depan pintu gerbang beberapa orang telah menggotong sebatang kayu yang besar. Bersama-sama mereka berlari dan membenturkan batang kayu itu ke pintu gerbang padepokan.

Beberapa kali para prajurit Lemah Warah melakukannya. Membawa batang kayu itu di atas pundak mereka dan menjauh untuk mengambil ancang-ancang. Namun kemudian mereka pun telah berlari-lari dan membenturkan balok itu ke pintu gerbang. Demikian mereka lakukan berkali-kali, sementara beberapa orang kawannya melindunginya dengan serangan-serangan anak panah pula atas orang-orang padepokan itu yang menghujani orang-orang yang memanggul kayu itu dengan anak panah pula.

Perlahan-lahan selarak pintu yang besar itu menjadi semakin longgar. Dan bahkan akhirnya selarak itu sendiri telah menjadi retak.

“Awas,“ teriak seseorang, “selarak pintu gerbang akan patah.”

Para penghuni padepokan yang berada di atas dinding sebelah menyebelah pintu gerbang itupun telah memperderas serangan anak panah mereka atas orang-orang yang telah memanggul kayu dan berusaha memecahkan regol. Namun di luar padepokan, prajurit Lemah Warah pun telah menyerang semakin deras pula. Anak-anak panah yang terlepas dari busur telah menghujani orang-orang yang berada di atas dinding.

Ketika dua kali lagi, balok kayu yang besar itu membentur pintu gerbang, maka selarak itupun telah patah.

Para prajurit Lemah Warah pun segera mendesak pintu gerbang itu sehingga terbuka.

Maka kedua pasukan itupun segera saling berbenturan. Para prajurit Lemah Warah dengan cepat telah mendesak para penghuni padepokan itu. Sementara itu, beberapa kelompok prajurit pun telah meloncati dinding pula.

Dengan demikian maka para prajurit Lemah Warah pun telah berhasil memasuki padepokan itu. Mereka cepat menyusun diri dan menyerang kubu-kubu pertahanan para penghuni padepokan itu.

Seperti yang pernah terjadi, maka pertempuran pun segera membakar padepokan itu.

Para pemimpin padepokan itupun segera mengambil sikap. Merekapun telah mempergunakan kemampuan mereka masing-masing. Yang memiliki kemampuan bertempur dan memiliki kelebihan dalam olah kanuragan telah membawa senjata dan melangkah menuju ke arena pertempuran. Sementara itu, orang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi binatang dengan ilmu gendamnya telah dengan tergesa-gesa menuju ke biliknya. Di dalam bilik itu tersimpan sekotak ular berbisa yang akan dapat dipergunakannya untuk melawan para prajurit Lemah Warah.

Yang memiliki kemampuan untuk mempergunakan wadag orang lain, tidak dapat mempergunakannya dalam perang brubuh. Lebih baik ia turun sendiri ke medan dan membunuh lebih banyak daripada meminjam wadag orang lain yang belum tentu mampu mendukung kemampuan ilmunya.

Demikianlah pertempuran itu menyala di seluruh padepokan. Para prajurit Lemah Warah telah memencar. Dan sebagaimana terdahulu maka jumlah para prajurit yang lebih besar itu dengan cepat telah membuat mereka berhasil di beberapa bagian mendesak lawannya.

Namun di beberapa bagian, ternyata bahwa orang-orang padepokan itu telah mampu mempertahankan diri. Dengan keberanian yang luar biasa mereka mampu menahan arus para prajurit dari Lemah Warah sehingga para prajurit itu tidak dapat mendesak mereka. Namun para prajurit itu telah menghadapi perlawanan yang gigih, sehingga pertempuran pun menjadi semakin lama semakin dahsyat.

Yang pernah terjadi itu agaknya telah terulang kembali. Sementara itu, orang-orang padepokan ternyata mempunyai kesempatan lebih baik, karena mereka sempat menyiapkan binatang berbisa untuk diterjunkan ke medan perang.

Demikianlah beberapa ekor ular telah menelusuri keluar dari sebuah bilik menuju ke medan. Ular-ular itu seakan-akan mampu mengenali, yang manakah kawan mereka dan yang manakah lawan mereka. Mereka seakan-akan dapat mengenali pakaian para prajurit Lemah Warah yang turun ke medan perang.

Ketika beberapa ekor ular itu sampai ke medan, maka binatang berbisa itu ternyata mempunyai pengaruh yang sangat besar. Para prajurit Lemah Warah harus menghadapi dua jenis lawan yang sama-sama berbahayanya. Orang-orang padepokan itu dengan ujung senjata yang siap menusuk dada dan bisa ular yang akan dapat membuat darah mereka menjadi beku.

Namun tentang ular yang sempat menggemparkan medan itu telah terdengar pula Mahisa Pukat, dan Mahisa Murti dan Mahisa Ura yang telah sempat minum obat penawar racun meskipun hanya untuk sementara. Karena itu, maka mereka pun dengan sigap telah turun pula ke medan. Mereka terutama telah berusaha untuk menangkap dan membunuh binatang-binatang berbisa itu.

Dalam pada itu, selain Mahisa Murti sibuk membunuh beberapa ekor ular, ternyata beberapa orang telah berusaha untuk menjebaknya. Namun ternyata Mahisa Murti memang memiliki ilmu yang tinggi. Untuk sementara dilepaskannya ular-ular yang sangat berbisa itu. Meskipun ia tetap tidak ingin digigit ular walaupun gigitan itu tidak akan membunuhnya, namun ia lebih dahulu harus menghadapi beberapa orang yang berusaha untuk menjebaknya itu.

Lima orang telah mengepung Mahisa Murti. Senjata mereka terayun-ayun mengerikan. Orang-orang padepokan itu mengenali Mahisa Murti sebagai seorang anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi.

Untuk melawan lima orang sekaligus, Mahisa Murti memang merasa terlalu berat apabila ia hanya bertopang kepada kemampuannya olah kanuragan serta tenaga cadangan yang ada padanya. Karena itu, maka Mahisa Murti pun kemudian telah terpaksa mempergunakan ilmunya. Tetapi Mahisa Murti tidak mempergunakan ilmunya dalam bentuknya yang keras, tetapi dalam bentuknya yang lunak.

Karena itu, maka sejenak kemudian lawan-lawan Mahisa Murti yang mengepungnya itu telah disentuh oleh udara dingin. Semakin lama rasa-rasanya menjadi semakin membeku.

Beberapa orang di antara mereka yang mengepung Mahisa Murti itu merasa tubuh mereka seakan-akan menjadi hampir membeku. Darah mereka seakan-akan telah berhenti mengalir dan mengeras di dalam pembuluhnya.

Dalam keadaan yang paling sulit, maka kelima orang itu-pun telah berloncatan mundur. Semakin jauh mereka dari Mahisa Murti, rasa-rasanya udara menjadi semakin hangat.

Namun Mahisa Murti yang marah tidak membiarkan mereka lepas dari tangannya. Dengan sigapnya Mahisa Murti pun telah memburu mereka.

Yang kemudian mengakhiri beberapa orang lawannya bukan kemampuan puncak ilmu Mahisa Murti dalam bentuknya yang keras. Tetapi di medan itu, ia ingin membunuh lawannya dengan cara sebagaimana dilakukan oleh para prajurit yang lain.

Karena itu, maka Mahisa Murti pun telah menusuk lawannya dengan pedangnya pada saat lawannya kehilangan kemampuan untuk menghindar atau menangkis serangan itu.

Dua orang telah terlempar dari arena. Sementara itu, ketika seorang yang lain berusaha untuk meloncat menjauh, maka justru punggungnyalah yang tergores oleh pedang Mahisa Murti.

Namun dalam pada itu, ketika Mahisa Murti siap dengan tusukan pedangnya pada lawan berikutnya, terdengar seseorang berkata, “Kau lagi anak manis.”

Mahisa Murti mengangkat wajahnya ke arah orang itu. Ternyata orang itu adalah orang bertongkat yang pernah bertempur melawannya pada saat pasukan Lemah Warah memasuki padepokan itu beberapa saat berselang.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Marilah Ki Sanak. Kita ternyata mendapat kesempatan lagi untuk bertemu.”

“Bagus,“ berkata orang bertongkat itu, “marilah kita bertempur sebagaimana keadaan kita. Kita tidak dapat bertempur berdesak-desakan dengan para prajurit. Marilah kita mencari tempat yang lebih luas.”

“Aku dapat bertempur di mana saja. Di tempat yang luas atau di tempat yang sempit. Aku bersedia bertempur dengan mengandalkan kemampuan menyerang pada jarak jauh. Tetapi aku pun tidak gentar bertempur beradu senjata,“ jawab Mahisa Murti. “nah kau boleh memilih. Aku tahu, bahwa kau mempunyai kelemahan. Kau tidak berani bertempur pada jarak dekat. Mungkin kau tidak cukup mempunyai ketrampilan menggerakkan tongkatmu yang kau bangga-banggakan itu.”

“Persetan,“ geram orang itu, “jangan sombong anak muda. Kau memang luar biasa. Tetapi kau jangan menyangka bahwa kau adalah orang yang tidak terkalahkan di dunia ini.”

“Tentu tidak,“ jawab Mahisa Murti, “aku sadar, bahwa banyak orang yang memiliki kelebihan dari aku. Tentu ada beratus, bahkan beribu. Tetapi semuanya itu. yang beribu itu, tentu tidak termasuk kau.”

“Anak iblis,“ geram orang itu. Tiba-tiba saja ia mengangkat tongkatnya.

Mahisa Murti sadar apa yang akan terjadi. Karena itu, maka iapun dengan tangkasnya meloncat menghindari serangan itu.

Sebenarnyalah sinar yang tajam memancar dari ujung tongkat itu menyambar Mahisa Murti. Tetapi Mahisa Murti telah berhasil melepaskan diri dari sasaran.

Sekali ia berguling, namun ketika ia duduk kembali, maka tangannya telah teracu dan sebelum lawannya menyerang dengan sinar yang memancar dari ujung tongkatnya, serangan Mahisa Murti telah meluncur mendahuluinya.

Demikianlah pertempuran sebagaimana pernah terjadi itu terulang kembali. Segalanya seakan-akan tidak berbeda dari yang pernah membakar padepokan itu beberapa saat sebelumnya.

Namun ternyata bahwa ular-ular berbisa itu telah banyak mengganggu. Beberapa orang prajurit memang telah dipatuk-nya. Sementara itu yang lain lagi telah kehilangan keseimbangan pertempuran sehingga ujung pedang lawannya telah menembus jantungnya justru karena seekor ular.

Dalam pada itu, Mahisa Pukat yang masih mempunyai kesempatan bersama Mahisa Ura dan Tatas Lintang sendiri telah berusaha untuk membunuh ular itu sebanyak-banyaknya. Mereka sama sekali tidak gentar akan bisa ular itu. Namun seorang demi seorang mereka telah bertemu dengan lawan-lawan mereka, sehingga pertempuran sebagaimana pernah terjadi telah terulang kembali.

Tetapi ternyata bahwa ular-ular yang dilepaskan itu sudah tidak lagi terlalu banyak berkeliaran. Meskipun demikian, namun ular-ular itu tetap merupakan bahaya bagi para prajurit dari Lemah Warah.

Namun dalam pada itu, sebagaimana yang pernah terjadi, maka orang terpenting dari padepokan itu telah melihat dengan ketajaman penglihatan batinnya, apa yang telah terjadi. Meskipun ia juga melihat ular yang berkeliaran serta pengaruhnya, namun menurut perhitungannya, para prajurit Lemah Warah akan dapat menguasai keadaan.

Tetapi dalam pada itu, ternyata bahwa ular-ular masih saja meluncur dari dalam sebuah bilik, seakan-akan tidak ada habis-habisnya.

Mahisa Pukat yang melihat ular-ular itu menjalar terus memasuki medan, akhirnya berusaha untuk dapat menemukan sumbernya.

Tetapi Mahisa Pukat tidak yakin, bahwa ular-ular itu keluar dari bilik yang sama dengan yang pernah dipergunakannya sebelumnya. Menurut perhitungan Mahisa Pukat, orang itu tentu telah berpindah tempat.

Namun Mahisa Pukat telah menelusuri jalan yang ditempuh oleh ular-ular itu. Sekali-sekali ia melihat ular meluncur dari satu arah, maka iapun telah mengikuti arah itu setelah ia membunuh ular yang ditemuinya itu. Dengan demikian maka sedikit demi sedikit Mahisa Pukat berhasil mendekati bilik yang dicarinya.

Akhirnya Mahisa Pukat memang menemukannya. Ia melihat dua ekor ular keluar dari pintu bilik itu. Disusul oleh dua ekor yang lain.

Dengan cepat Mahisa Pukat membunuh ular-ular itu. Kemudian dengan hati-hati ia mendekati pintu yang terbuka.

Mahisa Pukat sadar, bahwa orang yang memiliki ilmu Gen-dam itu mempunyai kemampuan yang sangat tinggi. Karena itu, maka demikian ia memasuki bilik itu, jika tidak berhati-hati. maka ia akan menjadi sasaran ujung keris orang yang berilmu tinggi dan mampu mempengaruhi binatang dengan ilmu gendamnya itu.

Selagi ia menunggu, seekor ular yang besar telah meluncur keluar. Namun ular itu terkejut ketika ia melihat seseorang berdiri melekat sisi pintu. Dengan serta merta ular itu telah menyerang Mahisa Pukat.

Mahisa Pukat terkejut. Ular itu terlalu besar.

Namun sebelum Mahisa Pukat sempat mengelak, ular itu ternyata telah menyambarnya. Mahisa Pukat memang dapat bergerak tangkas. Meskipun ia tidak dapat mengelak, tetapi pedangnya dengan cepat telah menyambar leher ular itu. Betapapun juga ular itu terhitung ular yang besar, namun leher ular itu-pun dapat ditebas putus oleh pedang di tangan Mahisa Pukat.

Demikian leher ular itu terputus, pada saat tubuh ular itu masih menggeliat, Mahisa Pukat telah meloncat memasuki ruang itu. Tetapi ia tidak melihat seorang pun.

Sesaat ia termangu. Namun orang yang dicarinya tidak ada lagi di ruang itu. Yang dilihatnya hanyalah ular-ularnya yang berusaha keluar dari kotak dan menjalar ke medan perang.

“Orang itu termasuk dungu meskipun berilmu tinggi,“ berkata Mahisa Pukat, “ia telah melakukan kerja yang sama di tempat yang sama.”

Namun agaknya barak itu adalah barak yang diperuntukkan baginya dan para pengikutnya, sehingga ia memang tidak mempunyai tempat lain untuk melakukannya.

Untuk beberapa saat, Mahisa Pukat membunuh beberapa ekor ular di dalam bilik itu. Namun tiba-tiba saja ia mendengar sesuatu. Agaknya beberapa orang berada di luar bilik itu.

Dengan cepat Mahisa Pukat meloncat ke pintu. Namun yang dilihatnya adalah beberapa orang bersenjata berdiri di luar pintu.

Mahisa Pukat sadar, bahwa ia memang telah terjebak. Tetapi ia tidak menjadi gentar. Perlahan-lahan ia turun dari tangga bilik itu yang rendah sambil menggerakkan pedangnya.

“Menyerahlah,“ berkata seorang yang berwajah garang dengan beberapa luka di kening dan pelipisnya, “kau masih terlalu muda untuk mati.”

Mahisa Pukat menggeram. Namun ia tidak menjawab.

Ketika Mahisa Pukat bergeser, maka orang-orang itupun telah bergeser pula. Mereka telah menutup kemungkinan bagi Mahisa Pukat untuk keluar dari kepungan mereka.

Tetapi Mahisa Pukat sama sekali tidak menjadi gemetar. Bahkan anak muda itu telah menggeretakkan giginya.

Ketika pedangnya mulai berputar, Mahisa Pukat pun telah bergerak selangkah maju, justru mendekati orang-orang yang mengepungnya.

Orang-orang yang mengepungnya itupun menjadi heran melihat sikap anak muda itu. Sama sekali ia tidak menunjukkan keragu-raguan. Apalagi ketakutan.

Namun justru karena itu, maka orang-orang itupun telah memutuskan untuk membunuh saja anak muda itu tanpa ampun.

Demikianlah sejenak kemudian, maka orang yang memimpin sekelompok orang itupun telah memerintahkan untuk dengan segera membunuh anak muda yang sombong itu.

Tetapi Mahisa Pukat pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Karena itu, maka ketika orang-orang itu mendekatinya, maka meskipun ia tidak berjanji dengan Mahisa Murti, maka Mahisa Pukat pun telah mengetrapkan ilmunya dalam ujudnya yang lunak.

Semula orang-orang yang mengepung dan bahkan kemudian mulai menyerang Mahisa Pukat itu tidak merasakan sesuatu. Namun kemudian gerak mereka terasa terganggu. Udara terasa menjadi sangat dingin sehingga gerak mereka pun menjadi sangat lamban.

Mahisa Pukat lah yang kemudian menerjang mereka tanpa ampun. Justru karena ia sadar, bahwa padepokan itu merupakan kumpulan dari orang-orang yang sangat membahayakan. Apalagi mereka berilmu tinggi.

Karena itu, selagi orang-orang itu termangu-mangu karena udara yang terasa dingin dan bahkan semakin dingin, maka Mahisa Pukat telah menyerang mereka dengan segenap kemampuan ilmu pedangnya.

Beberapa orang terlempar dari arena, sementara itu yang lain pun menjadi kebingungan menghadapi kenyataan itu.

Namun dalam pada itu, kawan-kawannya pun bertempur dengan gigihnya. Tidak seorang pun yang melarikan diri dari arena atau melepaskan senjata mereka, betapapun mereka merasa bahwa ujung pedang lawannya itu akan segera menghunjam ke dadanya.

Dalam pada itu, selagi di seluruh padepokan itu terjadi pertempuran, maka atas dasar keterangan Akuwu Tatas Lintang, Pangeran Singa Narpada bersama Mahendra telah berusaha untuk menemukan sumber dari ilmu yang tertinggi itu. Karena itu, maka untuk beberapa saat, mereka tidak menghiraukan pertempuran. Mereka telah menyusup di antara barak-barak yang kosong karena para penghuninya sedang bertempur.

Yang mula-mula mereka dekati adalah bangunan induk padepokan itu. Namun mereka tidak menemukan apapun juga. Karena itu, maka mereka pun berniat untuk pergi ke barak-barak yang lain, untuk dapat bertemu dengan yang berilmu paling tinggi di antara para penghuni padepokan itu.

Namun untuk beberapa saat, mereka tidak menemukannya. Bahkan kemudian terjadilah yang mereka cemaskan.

Orang yang sedang dicari itu memang telah melihat, bahwa orang-orang padepokan itu tidak akan dapat memenangkan pertempuran itu. Karena itu, maka seperti yang telah terjadi, maka tidak ada pilihan lain baginya, untuk membuat padepokan itu menjadi gelap, sehingga orang-orang Lemah Warah tidak akan dapat melihat sesuatu. Seperti yang pernah terjadi, maka mereka pun dengan segera meninggalkan padepokan itu.

Demikianlah maka orang itupun telah memusatkan nalar budinya untuk mengetrapkan ilmunya. Seperti yang pernah terjadi, maka di atas padepokan itu, kabut mulai nampak. Tipis sekali. Tetapi semakin lama menjadi semakin tebal.


Mahendra dan Pangeran Singa Narpada terkejut. Mereka tidak melihat sumber dari kabut itu. Mereka tidak melihat pusat dari kekuatan ilmu yang tersebar di atas padepokan itu, yang semakin lama semakin memberat dan kemudian menyelimuti padepokan itu.

“Luar biasa,“ berkata Pangeran Singa Narpada.

“Ya, Luar biasa,“ desis Mahendra, “kita gagal menemukan pusar dari pelepasan ilmu itu.”

“Jadi, apakah yang sebaiknya kita lakukan? Apakah kita sekedar menyaksikan saja kabut itu menutup padepokan ini dan anak-anak Lemah Warah itu berloncatan keluar dari dinding padepokan?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Kita masih mampu mencobanya,“ berkata Mahendra.

“Mencoba apa?“ bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Kita hembus kabut ini,“ berkata Mahendra. Lalu, “kita tidak mempunyai ilmu yang mampu menimbulkan prahara. Tetapi kita memiliki kekuatan yang dapat memancarkan cahaya panas dan dingin.”

Pangeran Singa Narpada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Apa maksudmu? Apakah kita akan melepaskan kemampuan ilmu kita?”

“Ya, Kita lepaskan kemampuan ilmu kita. Kita lawan kabut ini dengan cara kita masing-masing,“ berkata Mahendra.

Pangeran Singa Narpada termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja ia mengangguk-angguk sambil berkata, “Marilah. Kita akan membenturkan ilmu kita.”

Sejenak kemudian Mahendra dan Pangeran Singa Narpada telah memusatkan nalar budi mereka pula. Dengan sikap yang besar, mereka telah mengetrapkan kemampuan ilmu mereka.

Mahendra yang memiliki ilmu yang dapat dilontarkannya dengan ujud yang keras dan ujud yang lunak, telah menggeram sambil mengayunkan tangannya. Dianggapnya kabut itu adalah getaran ilmu seseorang yang berilmu sangat tinggi. Karena itu, maka iapun telah melawan getaran itu dengan getaran ilmunya yang dahsyat.

Dalam pemusatan nalar budi, maka rasa-rasanya tangannya memang menyentuh sesuatu. Memang bukan wadag seseorang, tetapi kemampuan ilmu yang telah terlontarkan dari kekuatan ilmu seseorang tetapi kemampuan ilmu yang telah terlontar dari kekuatan ilmu seseorang.

Begitu dahsyatnya hentakkan ilmu Mahendra. maka rasa-rasanya kabut yang menyelubungi padepokan itu telah bergetar seluruhnya.

Dalam pada itu, maka Pangeran Singa Narpada pun telah melakukan hal yang serupa dengan ilmunya pula. Satu hentakkan kekuatan dari seseorang yang berilmu sangat tinggi.

Ternyata bahwa usaha kedua orang itupun berhasil. Getaran yang memancar dari kekuatan ilmu seseorang yang sangat tinggi telah membentur getaran-getaran dari ilmu yang sangat tinggi pula. Namun tidak berujud dan tidak berwarna sebagaimana kabut yang berwarna gelap.

Itulah sebabnya kabut yang semakin tebal memberat jatuh di atas tanah itu telah menggelepar. Kabut itu seakan-akan telah terangkat ke atas beberapa lapis.

Orang-orang Lemah Warah yang sudah mulai kebingungan itupun rasa-rasanya sempat bernafas. Mereka tidak lagi dicekik oleh kegelapan dan tidak ada kesempatan untuk berbuat sesuatu. Apalagi di bawah kaki mereka, beberapa ekor ular masih berkeliaran.

Melihat akibat dari hentakkan ilmu mereka, maka Mahendra dan Pangeran Singa Narpada itupun telah melakukannya kembali. Akibatnya menjadi semakin jelas. Kabut itu terangkat lagi, sebagaimana ada dorongan kekuatan dari dalam bumi.

“Kita berhasil Pangeran,“ berkata Mahendra, “kita akan mencoba lagi.”

Mahendra telah mengulangi serangannya pula. Ia sadar, bahwa ia sekedar melontarkan getaran ke udara. Ia berharap bahwa lontaran getarannya itu akan mengenai dan membentur getaran yang sudah ada di atas padepokan itu.

Ketika Mahendra dan Pangeran Singa Narpada mengulanginya beberapa kali, maka terasa seakan-akan di padepokan itu telah terjadi kekuatan dorong mendorong antara kekuatan ilmu seseorang tentang kabut yang telah mapan, melawan kekuatan-kekuatan yang sangat besar, namun tidak mempunyai jalur yang terbiasa dilakukan menghadapi ilmu tentang kabut itu.

Meskipun demikian, kekuatan Mahendra dan Pangeran Singa Narpada itu tetap berpengaruh. Getaran-getarannya yang sangat besar telah mendorong kabut itu seakan-akan menjadi semakin ringan dan terbang dibawa angin.

Tetapi karena sumbernya masih juga bekerja keras untuk menjadikan padepokan itu gelap gulita, maka kabut yang terangkat perlahan-lahan itu telah menekan kembali jatuh di atas bumi.

Namun Mahendra dan Pangeran Singa Narpada tidak menyerah. Merekapun telah mengerahkan kekuatan didalam diri mereka untuk mengangkat kabut itu.

Namun akhirnya ternyata bahwa Mahendra dan Pangeran Singa Narpada berhasil. Meskipun kabut itu tidak terangkat seluruhnya, namun kabut itu rasa-rasanya menjadi semakin tipis. Para prajurit Lemah Warah sebenarnya telah bersiap-siap untuk keluar dari padepokan itu. Namun mereka masih tetap bertahan.

Apalagi ketika mereka melihat bahwa ada getaran lain yang telah melawan kabut yang turun di padepokan itu. Satu hal yang baru yang tidak terjadi pada pertempuran yang telah berlangsung beberapa saat yang lalu.

Para prajurit Lemah Warah memang berharap, bahwa para pemimpin mereka menemukan cara untuk melawan kabut yang terasa sangat mengganggu pertempuran itu.

Dengan demikian maka yang terjadi adalah pertempuran yang semakin seru. Pertempuran antara para prajurit Lemah Warah dengan orang-orang seisi padepokan itu, dan pertempuran ilmu yang tinggi antara kekuatan yang menebarkan kabut itu dengan kekuatan yang berusaha mengangkatnya.

Namun bagaimanapun juga, para prajurit Lemah Warah masih tetap mampu mendesak lawannya. Kabut yang turun dan terangkat naik itu tidak menutup penglihatan para prajurit itu sepenuhnya. Mereka masih dapat menembusnya dan menjulurkan pedangnya ke arah jantung.

Orang yang menebarkan kabut itupun merasakan perlawanan yang kuat sekali atas ilmunya. Ia merasakan hentakan-hentakan yang rasa-rasanya sampai ke pusat dadanya. Kekuatannya yang terpancar pada ilmunya di setiap hentakkan telah menekan kembali ke dalam dirinya.

Untuk beberapa saat orang itu masih mencoba untuk bertahan. Ia masih tetap pada sikapnya. Meskipun terasa kekuatan yang mendorong kembali kekuatan ilmunya ke dalam dirinya sendiri, namun ia masih percaya akan kemampuannya.

Karena itu, maka ia telah mengerahkan segenap kekuatannya. Sambil duduk bersila dan menyilangkan tangannya di dada orang itu memusatkan nalar budinya untuk menekan kekuatan orang-orang yang berusaha melawan ilmunya.

Sementara itu, Pangeran Singa Narpada dan Mahendra juga masih tetap berjuang untuk menyingkap kabut yang tebal itu.

Demikian dahsyatnya pertempuran antara dua getaran kekuatan itu, sehingga dari ubun-ubun orang yang melepaskan kabut itu telah mengepul asap pula.

Namun getaran yang melawan kabutnya itu semakin lama semakin terasa menekan dadanya. Rasa-rasanya nafasnya mulai menjadi sesak. Bahkan kemudian getaran yang menghentak-hentak itu mulai menyusup ke sumber kekuatannya.

Orang itu tidak mempunyai pilihan lain. Dalam keadaan yang demikian, orang itupun melihat, bahwa kabutnya benar-benar telah tersingkap dan para prajurit Lemah Warah dapat bertempur dengan garangnya. Sisa-sisa kekuatannya hanyalah hamparan kabut tipis yang tidak berarti.

Ketajaman penglihatan orang itu telah melihat pula kehadiran orang-orang berilmu tinggi yang mampu melawan ilmunya. Meskipun yang dilihatnya tidak lebih dari sekedar bayangan yang buram. Namun orang itu pasti, bahwa ia akan berhadapan dengan kekuatan yang tidak dapat diabaikannya.

Karena itu, maka orang itupun akhirnya tidak lagi dapat sekedar melawan orang-orang Lemah Warah dari tempat persembunyiannya. Karena itu, maka iapun telah memutuskan untuk melepaskan tebaran ilmu kabutnya dan langsung menghadapi orang-orang yang mampu melawan getaran ilmunya itu.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian kabut itupun telah lenyap sama sekali. Udara pun menjadi cerah dan pertempuran pun berlangsung semakin seru. Orang-orang padepokan yang merasa kehilangan perlindungan itupun seakan-akan menjadi berputus-asa sehingga dengan demikian mereka pun justru menjadi semakin garang. Mereka tidak lagi memperhitungkan apapun juga. Yang nampak di hadapan mata mereka adalah ujung-ujung senjata yang akan menghunjam ke dalam diri mereka sehingga dengan demikian maka mereka tidak mempunyai pilihan lagi. Karena itu, daripada mereka harus mati sendiri, maka mereka harus berusaha untuk membawa lawan mereka mati bersama sebanyak-banyaknya.

Tetapi para prajurit Lemah Warah pun mempunyai perhitungan yang mapan. Demikian kabut itu terangkat dan lenyap bagaikan disapu angin, maka mereka pun menjadi yakin, bahwa mereka akan dapat memenangkan pertempuran itu.

Namun dalam pada itu, seorang yang berambut putih telah membuka pintu biliknya. Ketika ia keluar dari bilik itu dan turun ke ruang dalam, maka seorang yang lain telah mendekatinya sambil berjongkok, “Ampun Panembahan. Apakah yang akan Panembahan lakukan kemudian?”

“Aku akan turun ke medan,“ jawab orang berambut putih itu.

“Ampun Panembahan. Apakah Panembahan turun dengan hati yang gelap?“ bertanya orang itu.

“Apa maksudmu?“ bertanya orang berambut putih yang dipanggil Panembahan itu.

“Apakah Panembahan akan menghancurkan lawan Panembahan seperti menggilas sarang semut dengan segumpal batu hitam?“ bertanya orang itu.

“Aku telah dihinakan,“ jawab Panembahan itu, “ada orang yang berhasil mengangkat kabutku.”

“Bukan satu penghinaan Panembahan,“ jawab orang itu, “di medan pertempuran, seseorang akan berusaha untuk mengalahkan lawannya. Orang-orang itu sama sekali tidak ingin menghina Panembahan. Tetapi mereka berusaha menyelamatkan dirinya sendiri atau menyelamatkan kelompoknya.”

“Jadi bagaimana menurut pendapatmu?“ bertanya orang yang disebut Panembahan itu.

“Jangan pergi Panembahan. Jika Panembahan berada di medan, maka Panembahan akan dapat melakukan satu kerja yang sangat mengerikan. Panembahan dapat menyapu lawan itu dengan tanpa kekang sama sekali,“ minta orang itu.

“Aku tidak akan menghiraukan para prajurit Lemah Warah. Tetapi aku ingin bertemu dengan dua orang yang berilmu sangat tinggi,“ jawab orang itu.

Orang yang menunggui Panembahan yang sudah berambut putih itu menarik nafas dalam-dalam. Namun dengan nada rendah ia berkata, “Panembahan memiliki sesuatu yang luar biasa. Jika Panembahan turun ke medan dan bertemu dengan prajurit Lemah Warah yang dengan serta merta menyerang, maka Panembahan tentu akan menghapus mereka dengan ilmu yang Panembahan miliki tanpa dapat dilawan sama sekali.”

“Kakek,“ berkata Panembahan itu, “kau adalah orang yang memiliki pandangan yang sangat sempit. Kau selalu menyangka bahwa aku adalah orang yang memiliki ilmu tertinggi di dunia. Tetapi kau salah. Ada orang-orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi kini berada di sini. Bahkan seandainya aku membunuh semua prajurit Lemah Warah itupun termasuk rangkuman peperangan seperti yang kau katakan, bahwa di medan pertempuran orang selalu berusaha untuk mengalahkan lawannya.”

Orang yang menunggui Panembahan itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Ampun Panembahan. Hamba selalu dibayangi oleh kecemasan, bahwa Panembahan akan menyapu orang-orang Lemah Warah itu tanpa ampun.”

“Dan kau melihat bahwa orang-orang padepokan inilah yang telah disapunya tanpa ampun,“ jawab Panembahan itu.

“Tetapi mereka berdiri di atas alas kemampuan yang setingkat Panembahan,“ jawab orang itu.

“Jika aku memiliki kelebihan, apakah itu salah? Aku melihat orang-orang berilmu dari Lemah Warah pun telah menyapu lawan-lawan mereka,“ jawab Panembahan.

“Tetapi Panembahan bukan mereka,“ orang itu telah bersujud di kaki orang yang disebutnya Panembahan.

“Aku mengerti kakek,“ jawab orang yang disebut Panembahan, “satu isyarat bagiku.”

Orang yang bersujud itu mengangkat wajahnya.

“Jika kau melihat saat kematian itu memang akan tiba, jangan halangi aku. Bukankah lebih baik aku mati di peperangan dari pada mati di dalam bilik ini?“ berkata orang yang disebut Panembahan itu.

“Tidak Panembahan,“ orang yang bersujud itu menjawab gagap, “tetapi setiap kematian akan menambah beban di hati Panembahan.”

Orang berambut putih yang disebut Panembahan itu berkata perlahan-lahan, “Biarkan aku keluar. Orang-orang padepokan ini semakin berkurang. Bukan hanya seorang demi seorang. Tetapi tusukan demi tusukan dari sepasukan prajurit telah membunuh semakin banyak.”

Orang yang bersujud itu tidak dapat lagi menahan Panembahan yang berambut putih itu. Selangkah demi selangkah ia bergeser, dan kemudian menuju ke pintu barak kecil itu.

Demikian pintu itu terbuka, maka dilihatnya lorong-lorong yang lengang. Yang nampak adalah barak-barak yang membeku di sekitar barak kecilnya. Namun dari tempatnya terdengar riuhnya pertempuran di padepokan itu.

Orang yang disebut Panembahan itupun melangkah keluar. Dengan tergesa-gesa orang yang menemuinya itu menyusulnya sambil menyerahkan sebilah pedang yang masih berada di dalam wrangkanya.

Tetapi orang itu menggeleng. Katanya, “Aku tidak memerlukannya. Aku akan mempergunakan bagian dari tubuhku.”

“Tetapi Panembahan,“ berkata orang itu, “pedang ini akan dapat membatasi kematian yang mungkin Panembahan timbulkan di peperangan. Tanpa pedang, Panembahan tidak akan mungkin dapat membatasi diri.”

Orang yang disebut Panembahan itu tidak menjawab lagi.

Orang yang membawa pedang itu masih berjalan di belakangnya. Namun matanya telah menyorotkan keputus-asaan yang mencengkam isi dadanya.

Sejenak kemudian, maka orang yang disebut Panembahan itu telah turun ke medan. Ketika ia muncul dari lorong di sela-sela barak, maka dilihatnya prajurit Lemah Warah sedang mendesak orang-orang padepokan itu.

Panembahan itu menjadi ragu-ragu. Tetapi ketika ia melihat seorang penghuni padepokan itu tertusuk pedang di dadanya, maka iapun menggeretakkan giginya. Tiba-tiba saja prajurit yang telah menusuk dengan pedang itupun bagaikan terlempar dan jatuh di tanah dengan tubuh yang bagaikan terbakar hangus.

“Panembahan,“ desis orang yang mengikutinya, “apa yang Panembahan lakukan?”

“Aku membunuh orang yang memang harus dibunuh,“ jawab Panembahan itu, “ia telah menusuk lawannya dengan pedang dan mati seketika.”

“Panembahan harus membunuhnya dengan cara yang sama,“ berkata orang itu, “inilah pedang Panembahan.”

Tetapi Panembahan itu menggeleng.

Untuk beberapa saat orang yang disebut Panembahan itu berdiri di tempatnya. Ia telah membunuh dengan pancaran api dari matanya jika ia melihat seorang prajurit Lemah Warah yang membunuh seorang penghuni padepokan itu dari golongan yang manapun juga.

Orang yang mengikutinya dengan membawa pedang itu menjadi semakin tegang. Namun ia sudah tidak dapat mencegah lagi. Panembahan itupun telah membunuh prajurit Lemah Warah seorang demi seorang.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja terdengar suara, “Inikah agaknya orang yang tersembunyi itu?”

Suara itu tidak mengejutkan Panembahan yang berambut putih itu. Tanpa berpaling ia menjawab, “Siapakah yang kau cari? Aku?”

“Apakah kau orang yang telah bertempur dengan caramu yang licik itu? Menebarkan kabut tanpa hadir di medan?“ terdengar suara itu bertanya.

“Ya,“ jawab Panembahan itu.

“Tetapi itu bukan sikap yang licik,“ jawab orang yang membawa pedang itu, “dengan demikian Panembahan telah menghentikan pertempuran tanpa menebarkan kematian.”

Orang yang menyapa Panembahan itupun kemudian menjadi ragu-ragu. Namun kemudian katanya, “Dengan siapakah sebenarnya aku berhadapan?”

Panembahan itu baru memutar diri menghadap kepada orang yang menyapanya. Dua orang yang sudah cukup masak menghadapi keadaan yang bagaimanapun juga gawatnya.

Orang yang disebut Panembahan itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Jadi kalian berdualah yang telah berhasil melawan ilmuku?”

“Maksudmu, kabut yang menyelimuti padepokan ini?“ bertanya orang yang datang berdua itu.

“Ya Pangeran,“ jawab orang itu.

“Darimana kau tahu tentang aku?“ bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Aku menerima laporan bahwa Pangeran Singa Narpada ada di daerah ini,“ jawab Panembahan itu, “karena itu, maka dengan serta merta aku menebak, bahwa di antara kalian berdua tentu terdapat Pangeran Singa Narpada.”

“Baiklah,“ jawab Pangeran Singa Narpada, “aku tidak akan ingkar. Akulah Singa Narpada dan kawanku ini adalah Mahendra.”

“Terima kasih Pangeran,“ jawab orang yang disebut Panembahan itu, “jika Pangeran ingin mengenalku, maka aku mempunyai seribu macam sebutan. Ada yang memanggilku Panembahan, ada yang memanggilku guru dan ada yang memanggilku Ki Lurah. Bahkan ada yang menyebutku Ki Ajar.”

“Kau sendiri mengenali dirimu sebagai siapa?“ bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Itu justru tidak penting,“ jawab Panembahan itu, “bagi orang lain, aku adalah sebagaimana mereka menyebutnya. Sedangkan aku tidak mempunyai persoalan dengan diriku sendiri.”

“Kau tidak jujur,“ jawab Pangeran Singa Narpada, “justru kau merasa ketakutan melihat pada dirimu sendiri yang sebenarnya, sehingga kau lebih senang menjadi seseorang bagi orang lain, tetapi tidak dikenal oleh dirinya sendiri. Ki Sanak, kau tidak akan dapat melarikan diri dari pengenalanmu atas dirimu. Atau barangkali pernah terjadi satu peristiwa pada dirimu yang ingin kau lupakan?”

“Sudahlah Pangeran,“ berkata orang itu, “jangan mempersoalkan diriku saja. Sekarang kita berada di medan. Apakah kita akan bertempur?”

“Kami datang untuk menghancurkan padepokan ini,“ berkata Pangeran Singa Narpada.

“Pangeran,“ berkata orang berpedang itu, “kenapa Pangeran mempergunakan cara ini untuk menghentikan satu kegiatan yang dilakukan oleh padepokan ini? Apakah tidak ada cara yang lebih baik tanpa saling membunuh?”

“Akuwu Tatas Lintang sudah menawarkan penyelesaian cara itu,“ jawab Pangeran Singa Narpada.

“Akuwu hanya menawarkan penyerahan,“ jawab orang itu.

“Itu adalah satu-satunya kemungkinan yang dapat dilakukannya,“ jawab Pangeran Singa Narpada, “seharusnya isi padepokan ini harus menyerah, karena Akuwu adalah penguasa tunggal di daerah ini. Baru kemudian Akuwu akan menentukan langkah-langkah berikutnya.”

“Itu tidak adil,“ jawab orang yang membawa pedang itu.

“Sudahlah,“ berkata orang yang disebut Panembahan, “sekarang apa yang kalian kehendaki?”

“Ki Sanak,“ berkata Pangeran Singa Narpada, “aku menghendaki seisi padepokan ini menyerah. Kami akan memilih di antara kalian, siapakah yang bersalah dan siapakah yang tidak. Siapakah di antara kalian termasuk perguruan orang-orang bertongkat dan siapa yang tidak.”

Orang yang disebut Panembahan itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Caramu tidak menarik. Karena itu, biarlah aku menentang. Aku tidak mau menyerah.”


“Jika demikian, maka kita akan bertempur,“ berkata Pangeran Singa Narpada.

“Baiklah Pangeran,“ jawab orang itu, “tetapi jika aku membunuh, bukan salahku. Apalagi yang aku bunuh adalah orang yang memiliki landasan ilmu yang tinggi, sehingga tidak ada orang yang dapat menuduhku bertindak sewenang-wenang.”

“Ya. Tindak sewenang-wenang sebagaimana yang baru saja kau lakukan. Membunuh prajurit yang tidak berdaya menghadapi ilmumu yang nggegirisi itu, yang tidak terlawan oleh seorang yang berilmu tinggi sekalipun.”

“Aku terpaksa membunuh mereka yang telah membunuh lebih dahulu di hadapan mataku,“ berkata Panembahan itu. Lalu, “Tetapi sekarang aku akan membunuh orang yang memang pantas aku bunuh.”

“Apakah yang sebenarnya terjadi antara Panembahan dan Pangeran Singa Narpada? Apakah persoalannya sehingga kalian harus saling membunuh?“ bertanya orang yang membawa pedang itu, “apakah tidak dapat dibicarakan dengan baik dan wajar?”

“Mereka telah menginjak harga diriku, harga diri padepokan ini dan harga diri seisi Tanah Kediri,“ berkata Panembahan itu.

“Panembahan berpegangan teguh pada sikap itu?“ bertanya orang yang membawa pedang itu.

“Ya,“ jawab orang yang disebut Panembahan.

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku mengerti sekarang. Setiap kali aku berhadapan dengan mereka yang tersinggung karena Kediri berada dalam satu keluarga dengan Singasari.”

“Singasari sekarang sudah tidak berdaya sepeninggal Sri Rajasa,“ berkata Panembahan itu, “dan ternyata yang menjadi tumpuan harapan di Kediri justru masih tertidur nyenyak tanpa bangkit kembali untuk mengetrapkan harga diri seorang kesatria sejati.”

“Kau tahu jawabnya,“ berkata Pangeran Singa Narpada, “apakah aku harus menjelaskan?”

Orang yang disebut Panembahan itu mengerutkan keningnya. Dengan nada datar ia berkata, “Pangeran. Bagaimana mungkin aku tahu jawabnya. Aku menyaksikan dengan kecewa. Aku menunggu hingga kesabaranku tidak tersisa lagi. Dan Pangeran mengatakan bahwa aku tahu jawabnya.”

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Semua orang yang menentang kebijaksanaan Sri Baginda berdiri pada alasan yang sama seperti Ki Sanak katakan. Aku yakin, bahwa Ki Sanak tahu jawaban dari persoalan yang Ki Sanak kemukakan. Soalnya Ki Sanak setuju atau tidak setuju?”

Orang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Jika demikian maka persoalan di antara kita sudah jelas. Sementara itu, para prajurit Lemah Warah masih saja membunuhi orang-orang padepokan ini. Karena itu, maka sebaiknya kita pun segera menyelesaikan persoalan kita dan kemudian segalanya akan menjadi jelas. Apakah isi padepokan ini yang akan hancur di sini, atau para prajurit Lemah Warah yang akan tumpas di padepokan ini.”

Pangeran Singa Narpada pun segera mempersiapkan diri. Sedangkan Mahendra pun telah mengambil tempat pula. Ia sadar bahwa orang yang disebut Panembahan itu mampu menyerang dengan sorot matanya dan membakar lawannya. Ilmu yang juga dimiliki oleh Pangeran Singa Narpada dengan cara yang sedikit berbeda. Sedangkan Mahendra menebarkan ilmunya dengan cara yang lain lagi.

Sementara itu, maka orang yang membawa pedang itupun sekali lagi mencoba memberikan pedangnya kepada orang yang disebutnya Panembahan. “Panembahan. Inilah pedang Panembahan.”

“Terima kasih,“ jawab Panembahan itu, “untuk melawan kedua orang ini aku justru tidak memerlukan pedang itu.”

“Panembahan harus membatasi diri dengan pedang ini agar Panembahan tidak kehilangan kendali,“ minta orang itu.

Orang yang disebut Panembahan itu termangu-mangu. Namun iapun kemudian menerima pedang itu dan menariknya dari wrangkanya. Namun kemudian dengan sorot matanya, maka orang yang disebut Panembahan itu telah menghancurkan pedangnya sendiri. Dengan tatapan matanya yang memancarkan ilmunya, maka Panembahan itu telah meluluhkan daun pedangnya yang terbuat dari besi baja pilihan itu.

“Panembahan,“ orang yang menyerahkan pedang itu menjerit dan kemudian jatuh berlutut di hadapan orang yang disebut Panembahan itu.

“Panembahan telah menghancurkan kendali yang selama ini mampu menahan gejolak api di dalam diri Panembahan Tanpa pedang itu, maka Panembahan adalah orang yang paling berbahaya di muka bumi. Panembahan akan selalu mempergunakan ilmu Panembahan yang tidak terlawan itu. Apalagi di dalam perang brubuh. Maka yang akan Panembahan lakukan akan lebih kejam daripada membakar sarang semut,“ berkata orang yang membawa pedang itu.

“Minggirlah,“ berkata orang yang disebut Panembahan itu, “segalanya akan berakhir. Dan kau tidak akan selalu cemas lagi, bahwa aku akan menghancurkan sasaran kemarahanku tanpa pertimbangan perasaan.”

“Apa maksud Panembahan?“ bertanya orang itu.

“Menyingkirlah,“ berkata orang yang disebut Panembahan itu, “aku akan menghadapi dua orang yang memiliki ilmu yang tidak ada duanya di Kediri. Karena itu, maka jangan ganggu aku.”

Orang itu memandangi wajah Panembahan dengan tatapan mata yang buram. Namun kemudian katanya, “Panembahan. Panembahan dapat berbuat apa saja.”

“Tidak di hadapan kedua orang ini,“ sahut Panembahan itu, “karena itu minggirlah.”

Orang itu tidak dapat berbuat lain. Dengan ragu-ragu ia-pun kemudian bergeser mundur.

“Kita akan berhadapan Pangeran,“ berkata orang itu, “aku tahu Pangeran memiliki ilmu yang tinggi. Namun kita akan menguji, siapakah di antara kita yang akan memenangkan pertempuran ini. Aku sama sekali tidak menuntut perang tanding di dalam medan pertempuran. Karena itu, maka aku siap menghadapi kalian berdua.”

Mahendra memang telah mengambil jarak dari Pangeran Singa Narpada. Keduanya telah siap menghadapi kemampuan ilmu yang sangat tinggi dari orang yang disebut Panembahan itu.

Sementara itu pertempuran masih saja berlangsung di seluruh padepokan, terutama di kebun-kebun, di halaman samping dan di tempat-tempat yang lapang. Kaki-kaki para prajurit Lemah Warah dan para penghuni padepokan itu sendiri telah menginjak-injak tanaman yang tumbuh di kebun padepokan itu, yang biasanya dipelihara dengan tekun agar pada saatnya dapat menghasilkannya buah yang baik. Tetapi pada saat perang terjadi di padepokan itu, maka tanaman-tanaman itupun telah hancur terinjak-injak kaki.

Namun keseimbangan pertempuran masih belum berubah. Pasukan Lemah Warah masih tetap berhasil mendesak isi padepokan itu di mana-mana. Meskipun orang-orang berilmu tinggi dari padepokan itu telah berjuang dengan sekuat tenaga. Namun mereka masih dibatasi kemampuannya oleh orang-orang yang berilmu tinggi dari Lemah Warah.

Sementara itu, orang yang disebut Panembahan itupun ternyata tidak lagi mampu melindungi padepokan itu dengan kabutnya. Dua orang dari Kediri dan Singasari berhasil membatasi kemampuannya, sehingga kabut yang dibangunnya telah terangkat dan tidak berhasil menghentikan pertempuran sebagaimana pernah terjadi sebelumnya. Bahkan orang yang disebut Panembahan itu, telah berhadapan langsung dengan dua orang yang juga berilmu tinggi, yang telah mampu mengangkat kabut tebalnya.

Untuk beberapa saat orang yang disebut Panembahan itu berdiri tegak menghadapi dua lawannya yang berdiri pada jarak yang semakin panjang. Mahendra sadar, bahwa mereka harus mampu membelah perhatian orang yang disebutnya Panembahan itu.

Untuk beberapa saat, kedua belah pihak masih belum mulai berbuat sesuatu. Namun kedua belah pihak telah bersiap dalam kesiagaan tertinggi.

Ketika terdengar sorak gemuruh di medan pertempuran, maka orang yang disebut Panembahan itupun menggeram. Kemudian katanya, “Aku tidak dapat membiarkan orang-orang Lemah Warah membantai orang-orangku. Karena itu, maaf jika kalian cepat-cepat aku selesaikan.”

Pangeran Singa Narpada dan Mahendra tidak menjawab. Tetapi keduanya benar-benar telah bersiap.

Sebenarnyalah orang yang disebut Panembahan itu tidak menunggu lebih lama lagi. Tiba-tiba saja ia berpaling ke arah Mahendra yang dianggapnya lebih mudah dihancurkan karena ia tidak menunjukkan sikap apapun sebagaimana dilakukan oleh Pangeran Singa Narpada. Baru kemudian Panembahan itu akan menghadapi Pangeran Singa Narpada sepenuhnya, seorang lawan seorang.

Tetapi Mahendra cukup tanggap. Di luar dugaan orang yang disebut Panembahan itu, maka ketika cahaya yang memancarkan ilmunya meluncur dari matanya, Mahendra dengan cepat dan tangkas telah meloncat ke samping, sehingga serangan itu telah menghantam tiang barak di belakangnya.

Terdengar suara gemeretak. Tiang itu telah patah berderak dan bahkan nampak menjadi hangus bagaikan terbakar.

Orang yang disebut Panembahan itu terkejut melihat cara Mahendra menghindar. Ternyata orang itu memiliki kemampuan jauh lebih tinggi dari yang disangkanya, sehingga ia tidak dapat dengan serta merta menghancurkannya dengan ilmunya yang memancar lewat pandangan matanya.

Tetapi orang itu tidak mau melepaskan Mahendra. Ia akan menyerangnya dengan serangan berikutnya.

Namun orang yang disebut Panembahan itu justru telah terkejut pula. Ia melihat gerak Pangeran Singa Narpada. Ketika tangannya terjulur ke depan dengan telapak tangannya menghadap ke arahnya, maka Panembahan itupun menyadari, bahwa Pangeran itu mampu juga melontarkan serangan sebagaimana dilakukan, lewat telapak tangannya.

Karena itu, maka dengan cepat pula Panembahan itu harus meloncat menghindar. Serangan Pangeran Singa Narpada ternyata meluncur menyambarnya. Namun ketika Panembahan itu menghindar dan tidak mengenai sasarannya, maka serangan itu telah terbang dan menghantam sebatang pohon yang tumbuh di sela-sela barak. Terdengar suara gemeretak ranting berpatahan dan daun pun menjadi hangus pula.

“Bukan main,“ geram orang yang disebut Panembahan itu, “inilah agaknya tingkat kemampuan Pangeran Singa Narpada. Agaknya kawannya itupun memiliki kemampuan serupa.”

Pangeran Singa Narpada tidak menjawab. Tetapi ia berdiri tegak dengan kaki renggang, sementara Mahendra pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

“Ki Sanak,“ berkata Pangeran Singa Narpada, “kami bersiap melakukan sebagaimana kau lakukan. Cara apapun yang kau kehendaki, maka aku tidak pernah merasa gentar. Adalah tugasku untuk mengatasi segala kemelut di Kediri, termasuk kemelut yang disebabkan oleh orang-orang padepokan ini.”

“Bagus Pangeran,“ berkata orang yang disebut Panembahan itu, “ternyata pertempuran pada jarak panjang tidak akan segera mengakhiri pertempuran. Kita akan saling menyerang dan menghindar. Bahkan barak-barak itulah yang mungkin akan terbakar dan pepohonan akan menjadi kering.”

“Lalu apa maksud Ki Sanak?“ bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Kita bertempur dengan kemampuan ilmu pada wadag kita,“ jawab orang yang disebut Panembahan itu.

“Bagus,“ berkata Pangeran Singa Narpada. “Apakah kau akan memilih aku atau saudaraku ini untuk melawanmu?”

“Sudah aku katakan,“ jawab orang itu, “kalian harus bertempur berdua agar pekerjaanku cepat selesai.”

“Baiklah,“ berkata Pangeran Singa Narpada, “aku tidak merasa tersinggung karenanya, karena aku juga berharap bahwa pertempuran ini cepat selesai sebelum semua isi padepokan ini terbunuh.”

“Jangan terlalu sombong Pangeran,“ berkata orang itu, “jika Pangeran mampu melepaskan serangan sebagaimana aku lakukan dengan cara yang berbeda, bukan berarti bahwa kemampuan Pangeran dapat mengimbangi kemampuanku. Bahkan kalian berdua.”

“Marilah kita lihat,“ berkata Pangeran Singa Narpada yang kemudian berpaling ke arah Mahendra, “kita akan bertempur dengan mempergunakan wadag kita.”

Mahendra tidak menjawab. Namun iapun sadar, bahwa orang yang disebut Panembahan itu tentu mempunyai alas kekuatan ilmu yang luar biasa.

Namun Mahendra pun bukan kanak-kanak lagi di dalam dunia olah kanuragan. Ia memiliki alas ilmu yang sulit dicari bandingnya, bukan saja mampu ditebarkan dalam bentuknya yang keras dan yang lunak, namun ilmunya mampu juga dibenturkannya langsung ke sasaran.

Demikianlah, maka Pangeran Singa Narpada dan Mahendra telah menerima tantangan orang yang disebut Panembahan itu. Merekapun segera bersiap dan memasuki pertempuran yang mempergunakan alas wadag mereka yang dilambari dengan ilmu yang sangat tinggi.

Panembahan itu sama sekali memang tidak memerlukan sebilah pedang untuk menghadapi Pangeran Singa Narpada dan Mahendra berbareng. Ia yakin bahwa wadagnya yang telah ditempa dan menjalani laku yang berat akan dapat mengatasi kemampuan kedua orang lawannya.

Beberapa saat kemudian, maka Mahendra dan Pangeran Singa Narpada pun telah bergeser mendekati lawannya. Namun bagaimanapun juga keduanya harus berhati-hati, jika orang yang disebut Panembahan itu menjadi curang.

Tetapi Panembahan itu benar-benar ingin bertempur dengan mempergunakan wadagnya dalam lambaran ilmunya. Karena itu, maka ia memang tidak melepaskan serangan dengan kemampuan tatapan matanya. Karena ia menganggap bahwa bertempur dalam jarak jauh tidak akan segera dapat menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah, karena lawan-lawannya pun memiliki kemampuan serupa meskipun dengan cara yang berbeda.

Beberapa saat kedua belah pihak mempersiapkan diri. Mereka bergeser semakin lama menjadi semakin dekat.

“Bagus,“ berkata Panembahan itu, “ternyata kalian benar-benar kesatria Kediri yang tangguh tanggon, meskipun kalian berdiri di sisi yang lemah.”

“Maaf Ki Sanak,“ sahut Pangeran Singa Narpada, “sisi yang kau maksudkan adalah sisi sebagaimana kau bayangkan. Kau melihat kebenaran dari sudut hatimu yang buram. Karena itu maka sikap yang lahir dari ungkapan penglihatanmu itupun menjadi buram.”

Orang yang disebut Panembahan itu tidak menjawab. Namun tiba-tiba saja ia telah meloncat menyerang. Ayunan tangannya bagaikan ayunan bandul timah yang berat dan didorong oleh tenaga yang tidak terkira besarnya, langsung mengarah ke dada Pangeran Singa Narpada.

Namun Pangeran Singa Narpada yang telah bersiap sepenuhnya itu tidak membiarkan dadanya dihancurkan oleh serangan orang yang disebut Panembahan itu. Karena itu. maka iapun telah bergeser selangkah menghindarinya.

Ternyata Pangeran Singa Narpada mampu bergerak secepat ayunan tangan orang yang disebut Panembahan itu, sehingga karena itu, maka serangan itu tidak mengenainya.

Namun orang yang disebut Panembahan itu telah meloncat memburunya. Sebelah kakinya melangkah jauh ke depan sementara tangannya terjulur lurus dan sekali lagi mengarah dada.

Pangeran Singa Narpada melihat pula gerak orang yang disebut Panembahan itu. Karena itu, maka iapun telah meloncat ke samping, demikian cepatnya, sehingga tangan lawannya itu tidak mengenainya.

Tetapi ternyata bahwa tangan Panembahan itu telah menghantam dinding barak di belakang Pangeran Singa Narpada yang bergeser. Suaranya berderak dan dinding bambu itupun telah koyak dan roboh pula ke bagian dalam. Beberapa buah tiang bambu telah ikut roboh pula menimpa perabot yang ada di dalam barak.

Pangeran Singa Narpada menjadi berdebar-debar. Ternyata kekuatan tangannya tidak ubahnya sebagaimana sorot matanya yang nggegirisi. Karena itu, maka ia harus sangat berhati-hati menghadapinya.

Sementara itu Mahendra masih belum berbuat sesuatu. Namun dengan demikian ia telah melihat sebagian dari kemampuan orang yang disebut Panembahan itu pada tumpuan wadagnya.

Karena itu, maka Mahendra harus benar-benar mempersiapkan diri menghadapinya.

Namun Mahendra memang merasa canggung bahwa ia harus bertempur berpasangan dengan Pangeran Singa Narpada. Ia tidak terbiasa melakukannya. Namun karena orang yang disebut Panembahan itu menghendakinya dan nampaknya pertempuran di padepokan itupun telah berlangsung dalam perang brubuh, maka tidak ada salahnya jika ia membantu Pangeran Singa Narpada. Tentu saja dengan satu usaha untuk menangkap orang yang disebut Panembahan itu hidup-hidup. Meskipun Mahendra sadar, bahwa kemungkinan yang lebih buruk akan dapat saja terjadi karena seorang yang memiliki kemampuan ilmu sebagaimana orang yang disebut Panembahan itu tentu tidak akan membiarkan dirinya tertangkap hidup.

Dalam pada itu, selagi Mahendra merenung, tiba-tiba saja ia melihat Pangeran Singa Narpada mulai menyerang, dengan sigap Pangeran Singa Narpada bergeser selangkah. Namun kemudian dengan berputar pada sebelah kakinya, maka kakinya yang lain telah terayun mendatar. Cepat dan keras sekali, mengarah ke lambung orang yang disebut Panembahan itu.

Orang itupun dengan tangkas pula mengelak. Bahkan demikian mengejutkan, tiba-tiba saja orang yang disebut Panembahan itu tidak saja mengelak, tetapi ia telah menyerang pula Mahendra. Kakinya telah terangkat menyamping. Serangan kaki datar meluncur dengan derasnya.

Tetapi Mahendra pun cukup cepat menanggapi keadaan, iapun sudah siap menghadapi keadaan yang demikian. Karena itu, maka iapun telah meloncat ke samping, sehingga serangan lawannya itu meluncur tanpa menyentuhnya. Bahkan demikian kaki lawannya terjulur di sebelahnya. Mahendra telah merendahkan dirinya dan dengan sapuan yang cepat berusaha menjatuhkan lawannya dengan menyerang kaki lawannya yang sebelah.

Tetapi ternyata orang yang disebut Panembahan itu cukup tangkas, sapuan kaki Mahendra tidak mengenai sasarannya, karena sambil menggeliat, maka orang yang disebut Panembahan itu telah meloncat pula, justru dengan langkah panjang, karena ia harus juga memperhatikan Pangeran Singa Narpada.

Namun agaknya Pangeran Singa Narpada merasa segan pula sebagaimana Mahendra. Ia sama sekali tidak mengganggu ketika orang yang disebut Panembahan itu tengah bertempur melawan Mahendra.

Sejenak kemudian orang yang disebut Panembahan itu telah berdiri tegak beberapa langkah dari Mahendra dan Pangeran Singa Narpada, sementara kedua orang lawannya itupun berdiri saja termangu-mangu.

Untuk beberapa saat mereka saling memandang. Namun orang yang disebut Panembahan itupun menyadari, bahwa kedua lawannya agaknya masih merasa segan untuk bertempur berpasangan melawannya. Sehingga karena itu agaknya keduanya telah saling menunggu dan membiarkan masing-masing bertempur sendiri.

Dalam pada itu Pangeran Singa Narpada menyadari, bahwa agaknya ia telah berhadapan dengan orang yang memegang kemudi dari seluruh gerakan dari isi padepokan itu dari manapun mereka berasal. Apakah mereka orang-orang yang sejak semula penghuni padepokan ini, yang disebut orang-orang dari perguruan Suriantal dan mempunyai ciri senjata yang khusus, sebuah tongkat, atau orang-orang dari perguruan lain yang berdatangan kemudian.

Karena itu, maka bagi Pangeran Singa Narpada orang itu tentu sangat berharga. Namun Pangeran Singa Narpada pun menyadari bahwa orang itu berilmu sangat tinggi, sehingga mungkin justru bukan orang itulah yang ditangkapnya hidup-hidup, tetapi justru Pangeran Singa Narpada sendiri.....

Hijaunya Lembah, Hijaunya Lereng Pegunungan
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger