logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Hijaunya Lembah, Hijaunya Lereng Pegunungan Jilid 042


Pertanyaan itu justru telah membuat ia mengetahui lebih banak tentang lawannya. Itulah sebabnya, maka pada saat berikutnya, Mahisa Pukat telah berusaha menangkis serangan lawannya. Meskipun ia tidak membentur serangan itu seutuhnya, tetapi dengan memukul serangan itu menyamping, Mahisa Pukat berhasil sekali lagi mengetahui satu kemampuan yang luar biasa pada lawannya. Tubuh itu memang bagaikan menjadi sekeras batu hitam.

“Bukan main,” geram Mahisa Pukat, “ternyata ia mempunyai ilmu yang mampu membuat dirinya bagaikan baja. Itulah sebabnya ia mampu memecahkan pintu gerbang.”

Dengan menyadari kemampuan lawannya, Mahisa Pukat benar-benar harus berhati-hati. Tubuhnya jangan sampai dihancurkan oleh kekuatan dan kekerasan tubuh lawannya itu.

Karena, itu maka Mahisa Pukat pun harus mengerahkan kemampuannya untuk mengatasi lawannya.

Ketika serangan-serangan lawannya menjadi semakin deras, maka Mahisa Pukat tidak dapat mengelak lagi. Ia harus menahan arus serangan itu, agar ia tidak hancur dalam pertempuran itu.

Karena itu, maka Mahisa Pukat pun telah mempergunakan ilmunya pula. Sebagaimana pernah di sadapnya dari Akuwu Lemah Warah. Ia harus berusaha agar lawannya tidak mampu mendekatinya dan menghancurkan tubuhnya.

Dalam keadaan yang semakin sulit, maka Mahisa Pukat-pun kemudian telah menghentakkan tangannya. Kedua telapak tangannya menghadap ke arah lawannya.

Sebuah getaran kekuatan bagaikan meloncat dari tangan itu menyambar Ki Buyut Bapang.

Namun Ki Buyut benar-benar seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Ia melihat gerak tangan Mahisa Pukat. Karena itu, maka dengan kecepatan yang hampir tidak kasat mata, Ki Buyut telah melenting menghindar. Bahkan diluar perhitungan Mahisa Pukat, tiba-tiba saja Ki Buyut telah berguling justru mendekat. Demikian Ki Buyut melenting, ia tidak memberi kesempatan kepada Mahisa Pukat, untuk menyerangnya sekali lagi. Bahkan tiba-tiba saja orang itu sempat menyambar kaki Mahisa Pukat yang sedang bergeser menyamping, dengan sapuan kaki pula.

Demikian kerasnya sehingga Mahisa Pukat justru telah terpelanting dan jatuh berguling. Namun demikian ia melenting berdiri, lawannya telah datang pula menyerangnya.

Tidak ada cara lain lagi bagi Mahisa Pukat, kecuali menjatuhkan diri ketika tangan lawannya menyambar keningnya dengan serangan mendatar.

Serangan itu berhasil dielakkan. Tetapi lawannya tidak mau melepaskannya. Tetapi ketika ia siap meloncat menyerang tubuh Mahisa Pukat yang masih terbaring itu dengan kakinya, Mahisa Pukat telah mengambil sikap yang lain. Ia tidak berusaha untuk bangkit. Tetapi justru sambil berbaring ia mengacukan tangannya menyerang lawannya yang siap menerkamnya.

Lawannya itu pun terkejut. Dengan serta merta ia meloncat menghindar ketika kekuatan ilmu Mahisa Pukat menyambarnya.

Orang itu terlepas dari sambaran ilmu Mahisa Pukat. Sambil mengumpat ia telah mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Sementara itu, Mahisa Pukat pun telah berdiri pula menghadap ke arah lawannya itu.

Dalam pada itu, Mahisa Murti pun telah bertempur dengan sengitnya. Ketika mereka mulai memasuki kemampuan ilmu mereka, maka Empu Sepada telah mempergunakan kekuatannya yang luar biasa yang disadapnya dari kekuatan udara. Setiap kali angin yang kencang telah menerpa tubuh Mahisa Murti sehingga ia harus berjuang untuk tidak hanyut karenanya.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Empu Sepada itu telah melenting menyerang dengan wadagnya, selagi Mahisa Murti sibuk bertahan atas dorongan angin. Namun setiap kali ia memang terkecoh oleh lawannya. Dorongan hampir jatuh tertelungkup. Namun pada saat yang demikian itu lawannya telah menyerang dengan dahsyatnya.

Mahisa Murti harus berusaha untuk mengatasi kecepatan gerak lawannya jika serangan itu datang. Bahkan Mahisa Murti harus berguling beberapa kali dan dengan cepat melenting berdiri.

Namun setiap kali lawannya, Empu Sepada tidak mau melepaskannya. Ia pun memburu ke mana Mahisa Murti bergeser atau berguling.

Untuk beberapa saat Mahisa Murti memang mengalami kesulitan. Namun ketika angin itu datang lagi menghembus dengan kekuatan raksasa, maka Mahisa Murti tidak membiarkan kesempatan yang mungkin akan dapat ditemukannya.

Mahisa Murti itu pun telah menjatuhkan diri dan menelungkupkan badannya, sehingga angin itu tidak terlalu kuat mendorongnya sebagaimana jika ia berdiri.

Lawannya menjadi sangat marah melihat sikap Mahisa Murti. Seolah-olah Mahisa Murti cukup dengan cara yang memuakkan itu akan dapat menghindari serangannya.

Karena itu, Empu Sepada telah menghentikan serangan praharanya. Namun demikian serangannya itu berhenti, Empu Sepada pun telah meloncat menyerang dengan garangnya. Kakinya terjulur lurus, siap menghancurkan tubuh Mahisa Murti yang terbaring itu.

Namun Mahisa Murti tidak menunggu lebih lama lagi. Tiba-tiba saja ia memiringkan tubuhnya. Ketika ia mengacukan tangannya, maka kemampuan ilmunya telah meluncur lewat getar dari telapak tangannya menyambar Empu Sepada.

“Gila,” Empu Sepada itu berteriak keras sekali sambil menggeliat, menghindari serangan itu, “ternyata kau memiliki ilmu iblis he?”

Empu Sepada itu pun kemudian bagaikan terpelanting oleh dorongan geraknya sendiri pada saat ia tergesa-gesa melenting. Namun dengan cepat Empu Sepada telah bangkit kembali.

Tetapi pada saat yang demikian Mahisa Murti telah berdiri tegak. Kedua tangannya tiba-tiba saja telah terjulur ke depan dengan telapak tangannya menghadap ke sasaran.

Sekali lagi Empu Sepada harus meloncat menghindari serangan itu. Namun ia tidak mau menjadi sasaran serangan Mahisa Murti yang datang beruntun. Karena itu, demikian ia meletakkan kakinya, maka sekali lagi angin prahara telah menghembus ke arah Mahisa Murti. Namun pada saat yang bersamaan, Mahisa Murti telah menghentakkan kekuatan ilmunya pula.

Kedua ilmu itu ternyata bagaikan berbenturan. Memang tidak terduga, bahwa ilmu dalam ujud yang berbeda itu ternyata telah saling membentur.

Satu ledakan telah terjadi. Angin prahara itu bagaikan terangkat dan pecah berserakan di udara.

Mahisa Murti dan Empu Sepada itu untuk sesaat justru termangu-mangu menyaksikan benturan yang dahsyat itu. Namun dengan demikian keduanya saling mengetahui bahwa lawan masing-masing adalah orang yang berilmu tinggi.

Dalam pada itu, pertempuran di padepokan itu pun berlangsung semakin lama semakin menggetarkan jantung. Darah semakin banyak mengalir, sementara erang kesakitan terdengar dari segala sudut. Orang-orang terluka terbaring di sepanjang dinding padepokan. Kawan-kawan mereka yang sempat telah menarik mereka menepi. Sedangkan orang-orang padepokan itu yang terluka telah dibawa ke serambi-serambi barak yang menebar di seluruh padepokan itu.

Namun dalam pada itu, batu yang berwarna kehijauan itu masih tetap berada di tempatnya. Tidak ada orang lain lagi yang berani menyentuh batu itu. Mereka sadar, bahwa meraba batu itu akan dapat berarti kematian.

Mahisa Pukat pun pada saat itu sedang bertempur dengan sengitnya melawan Ki Buyut Bapang. Setiap kali ia melontarkan serangannya, Ki Buyut Bapang selalu berhasil menghindarinya. Ki Buyut pun selalu berusaha untuk selalu dekat dengan lawannya. Ia menganggap bahwa kemampuannya membuat tubuhnya sekeras baja itu akan dapat mengakhiri persoalan.

Sebenarnyalah, setiap kali terjadi benturan langsung, maka tulang-tulang Mahisa Pukat bagaikan berpatahan.

Karena itu, maka akhirnya Mahisa Pukat pun terdesak. Tubuhnya terasa sakit di bagian-bagian tertentu. Bahkan menjadi merah biru. Dalam keadaan yang sulit itulah, maka Mahisa Pukat tidak mempunyai pilihan lain. Betapa berat hatinya, karena beberapa orang menganggap ilmunya sebagai ilmu yang licik. Namun ia tidak mempunyai cara lain untuk melawan Ki Buyut yang menjadi bagaikan berkulit baja.

Demikianlah maka untuk selanjutnya, betapa tubuh dan tulang-tulang Mahisa Pukat serasa patah sementara kulitnya bagaikan terkelupas, namun Mahisa Pukat memang selalu ingin membenturkan kekuatannya kepada lawannya yang memang memiliki ilmu yang tinggi.

Lawannya memang menjadi heran melihat perubahan cara Mahisa Pukat bertempur. Jarang sekali ia mengelak, dan bahkan semakin sering pula ia menyerang dan mengenainya.

Tetapi Ki Buyut itu setiap kali terkena serangan Mahisa Pukat hanya tersenyum saja. Tubuhnya yang sekeras baja itu tidak mudah ditembus oleh kekuatan yang bagaimanapun besarnya. Bahkan setiap kali terjadi benturan, Mahisa Pukat harus menyeringai kesakitan.

Namun Mahisa Pukat tidak merubah cara bertempurnya. Benturan demi benturan telah terjadi. Setiap kali Mahisa Pukat harus menyeringai menahan sakit.

“Tetapi anak ini benar-benar anak iblis,” geram Ki Buyut di Bapang, “ia sama sekali tidak bergeser dari arena betapapun ia didera oleh perasaan sakit. Tetapi agaknya ia memang menunggu sampai tulangnya patah.”

Tetapi pertempuran itu masih belum berubah. Benturan demi benturan telah terjadi. Tubuh Mahisa Pukat benar-benar bagaikan menjadi retak tulang-tulangnya. Namun Mahisa Pukat sama sekali tidak menjadi jera.

Meskipun demikian, Mahisa Pukat itu bergumam, “Ternyata orang ini memiliki ketahanan yang sangat tinggi.”

Demikianlah maka pertempuran itu masih berlangsung dengan sengitnya. Serangan demi serangan. Dan benturan demi benturan.

Namun dalam keadaan yang paling sulit, maka Mahisa Pukat kadang-kadang masih juga mempergunakan kemampuannya untuk menyerang dari jarak jauh. Tetapi orang yang disebut Ki Buyut Bapang itu ternyata cukup tangkas untuk menghindarinya.

Sementara itu pertempuran antara Mahisa Murti dan Empu Sepada pun berlangsung dengan sengitnya. Mahisa Murti ternyata telah berusaha pula untuk bertempur pada jarak jangkau wadagnya. Ia tidak lagi menyerang dengan kekuatan ilmunya yang meluncur dari telapak tangannya.

Empu Sepada memang agak menjadi heran. Tetapi ia menduga bahwa Mahisa Murti ingin mempergunakan ilmunya yang dahsyat, yang akan langsung dikenakan kepada tubuhnya.

Sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti memiliki ilmu yang luar biasa. Berlandaskan pada ilmu itu pulalah maka Mahisa Murti mampu menyerang pada jarak tertentu, karena tuntunan Akuwu Lemah Warah. Namun dengan ilmu itu pulalah maka Mahisa Murti, anak Mahendra ini, menjadi seorang yang disegani.

Tetapi lawannya adalah orang berilmu tinggi pula. Itulah sebabnya, maka Mahisa Murti tidak mudah untuk mengetrapkan ilmunya dan memenangkan pertempuran itu.

Pertempuran diantara mereka pun berlangsung semakin seru. Sekali-sekali Empu Sepada menyerang Mahisa Murti dengan angin praharanya sebagaimana Mahisa Murti sering pula menyerang dengan melontarkan ilmunya dengan menghentakkan tangannya.

Namun dalam pertempuran yang semakin sengit, maka keduanya kadang-kadang telah membenturkan wadag mereka.

Sementara Mahisa Murti sedang berjuang untuk mengatasi lawannya, maka Mahisa Pukat benar-benar menjadi semakin lemah karena tulang-tulangnya bagaikan menjadi berpatahan.

Namun sebagaimana diperhitungkannya, bahwa tubuhnya masih akan lebih baik dari keadaan lawannya meskipun lawannya mampu membuat dirinya sekeras baja.

Setelah keduanya bertempur beberapa lama, dan tulang-tulang Mahisa Pukat bagaikan berpatahan, maka ia mulai melihat perubahan terjadi pada lawannya. Namun ia masih harus bertempur terus, membenturkan tubuhnya. Dengan lambaran ilmunya yang diwarisinya dari ayahnya, maka pukulan Mahisa Pukat benar-benar merupakan lontaran kekuatan yang luai biasa. Namun tubuh lawannya menjadi sekeras baja, sehingga tubuh Mahisa Pukat sendiri menjadi kesakitan karenanya. Tetapi ia juga mewarisi ilmu dari Pangeran Singa Narpada dan sekaligus dari Akuwu Lemah Warah yang mula-mula dikenalnya bernama Tatas Lintang.

Karena itu, maka beberapa saat kemudian, Mahisa Pukat itu melihat hasil dari lontaran-lontaran ilmunya. Baik yang disadapnya dari ayahnya dengan benturan wadag, maupun dilontarkannya sebagaimana ia mewarisi ilmu Akuwu Lemah Warah, namun juga dengan ilmu yang diterimanya dari Pangeran Singa Narpada.

Ki Buyut Bapang itu pun lambat laun mulai merasa perubahan di dalam dirinya. Tubuhnya memang masih sekeras baja. Tetapi kemampuannya terasa dengan cepat susut. Bukan karena kelelahan. Tetapi sesuatu memang tidak wajar telah terjadi pada dirinya.

Ketika Ki Buyut menyadari apa yang telah terjadi pada dirinya, maka agaknya memang sudah terlambat. Ia sudah kehilangan sebagian besar dari kekuatan dan kemampuannya. Ia tidak lagi mampu bergerak dengan cepat, dan bahkan ilmunya yang mampu membuat tubuhnya sekeras baja itu pun telah jauh susut pula.

Meskipun Mahisa Pukat kemudian juga menjadi lemah dan merasa nyeri di seluruh tubuhnya, bahkan sendi-sendinya rasa-rasanya hampir saling terlepas, namun pada suatu saat, ia benar-benar mampu menguasi Ki Buyut yang tidak berdaya lagi berbuat sesuatu. Pada saat Mahisa Pukat membenturkan kekuatan ilmunya terakhir, maka Ki Buyut tidak mampu lagi bertahan. Ia telah terhuyung-huyung beberapa langkah surut dan kehilangan keseimbangannya pula. Sehingga akhirnya Ki Buyut itu pun telah terjatuh.

Mahisa Pukat tidak melepaskan kesempatan untuk meyakinkan apakah Ki Buyut itu benar-benar tidak berdaya. Karena itu, maka ia pun telah berjongkok di sisinya sambil memegang tangannya. Karena ia masih tetap mengetrapkan ilmunya, maka untuk beberapa saat terakhir, Ki Buyut benar-benar telah kehilangan segenap kekuatannya.

Namun demikian Mahisa Pukat yakin akan keadaan lawannya, maka ia pun telah menjatuhkan dirinya pula duduk di sebelah Ki Buyut itu. Sambil menyeringai Mahisa Pukat sempat merasa beberapa bagian dari tubuhnya yang bagaikan pecah itu. Perasaan sakit dan nyeri masih saja mencengkamnya.

Sementara itu, Mahisa Murti pun telah mengetrapkan ilmunya yang sama dengan Mahisa Pukat. Pada saat ia tidak berpengharapan untuk dapat mengalahkan lawannya dengan ilmunya yang lain, maka ia pun harus mengetrapkan ilmu yang diwarisinya dari Pangeran Singa Narpada. Meskipun Pangeran Singa Narpada sendiri merasa ragu jika seseorang menyebutnyam bahwa ilmu itu adalah ilmu yang licik.

“Tidak,” geram Mahisa Murti, “bukan langkah licik, karena ilmu itu ditrapkan sebagaimana ilmu yang lain.”

Sebenarnyalah, Empu Sepada ketika menyadari apa yang terjadi atas dirinya telah mengumpat, “Kau pergunakan ilmu iblis yang licik itu?”

Mahisa Murti memang menjadi berdebar-debar. Tetapi ia pun kemudian menggeram, “Apa salahnya? Apakah kau juga tidak licik bahwa kau telah menghembus wajahku dengan debu sehingga mataku telah kemasukan pasir?”

“Persetan,” geram Empu Sepada sambil menyerang.

Tetapi tenaganya memang sudah terlalu lemah. Itulah sebabnya, maka ia pun justru telah tersandar pada tubuh Mahisa Murti yang memang tidak menghindar. Namun dengan demikian akibatnya menjadi semakin parah bagi Empu Sepada. Tenaganya bagaikan terhisap habis, sehingga akhirnya hampir saja ia terjatuh seperti sebatang pohon pisang yang ditebang. Namun Mahisa Murti telah menahannya. Ia memang bermaksud menolong Empu Sepada dengan membaringkannya perlahan-lahan.

Namun di luar sadarnya, bahwa Mahisa Murti masih mengetrapkan ilmunya, sehingga karena itu, keadaan Empu Sepada justru menjadi semakin parah.

Baru kemudian, tiba-tiba saja Mahisa Murti telah melepaskannya. Namun tubuh Empu Sepada itu terbaring diam dengan mata terkatub rapat.

“Pingsan,” desis Mahisa Murti.

Namun Mahisa Murti tidak mempunyai kesempatan untuk menungguinya lebih lama lagi. Beberapa orang lawan, dipimpin oleh murid-murid Empu Sepada tiba-tiba sudah mengurungnya.

“Setan,” geram murid Empu Sepada, “kau ciderai guruku,”

“Bukan maksudku,” jawab Mahisa Murti, “tetapi kita berada di medan perang. Kemungkinan seperti itu memang dapat saja terjadi.”

“Baik,” jawab murid Empu Sepada, “kita memang berada di medan perang. Karena itu, maka cara yang aku pergunakan untuk membunuhmu juga sah. Pasukan kecil ini akan membuat tubuhmu arang keranjang.”

Mahisa Murti termangu-mangu. Ia memang melihat sekelompok orang mengepungnya. Karena itu, maka Mahisa Murti harus melawan mereka dengan segenap kemampuan yang ada di dalam dirinya.

“Ki Sanak,” berkata Mahisa Murti, “aku sudah menciderai gurumu. Jika ia sampai terlanjur kehilangan nyawanya, aku ikut menyesal. Hanya satu nyawa. Tetapi jika kita berhadapan dengan cara ini, maka aku akan membunuh banyak nyawa.”

“Kau mulai menjadi ketakutan. Tetapi kami tidak akan dapat kau kelabui. Kau sudah membunuh, setidak-tidaknya melukai guruku. Karena itu, maka kau harus mati,” geram murid Empu Sepada itu.

Mahisa Murti memang tidak dapat mengelak. Ia bertanggung jawab atas tindakannya terhadap Empu Sepada. Karena itu, maka ia pun telah siap melontarkan ilmunya yang paling dahsyat. Dengan satu hentakkan, maka beberapa orang tentu akan terbunuh seketika. Apalagi para pengikut Empu Sepada yang tidak memiliki landasan ilmu. Tetapi jika Mahisa Murti tidak mempergunakan ilmunya itu, maka mungkin sekali ia sendirilah yang akan tersapu dalam pertempuran itu.

Namun selagi Mahisa Murti dalam keragu-raguan, maka tiba-tiba beberapa orang nampak berlari-lari mendekati. Mereka terdiri dari tiga orang prajurit Lemah Warah dan beberapa orang penghuni padepokan itu.

“Biarlah, kami yang menyelesaikannya,” berkata salah seorang di antara orang-orang padepokan itu.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Bukan karena ia merasa mendapat kawan cukup banyak meskipun tidak sebanyak lawannya. Tetapi dengan demikian ia tidak harus membunuh sekelompok orang sebagaimana ia menginjak sarang semut dengan tumitnya.

Karena itu, maka sejenak kemudian telah terjadi pertempuran yang sengit antara dua kelompok yang bermusuhan. Meskipun Mahisa Murti juga melibatkan diri, namun ia telah mempergunakan pula sebatang pedang. Ia tidak merasa perlu mempergunakan kemampuannya untuk menghadapi lawan-lawannya itu.

Sementara itu, Mahisa Pukat pun telah berusaha untuk mengatasi kesulitan di dalam dirinya. Tulang-tulangnya memang terasa retak. Tetapi dengan pemusatan nalar budi, maka Mahisa Pukat telah berusaha mengatasi keadaannya.

Namun Mahisa Pukat itu menjadi berdebar-debar ketika ia melihat dua orang yang berlari-lari ke arahnya justru pada saat ia masih berusaha memperbaiki keadaannya.

Namun Mahisa Pukat itu menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat bahwa dua orang itu adalah dua orang prajurit Lemah Warah.

“Apa yang terjadi?” bertanya salah seorang diantara kedua orang prajurit itu.

Mahisa Pukat memandang keduanya dengan tatapan matanya yang tajam. Dengan nada dalam ia berkata, “Luar biasa. Ki Buyut mampu meremukkan tubuhku. Mudah-mudahan aku cepat menjadi baik. Apakah kalian mau membantu?”

“Membantu apa?” bertanya prajurit itu.

“Jagalah aku sejenak. Hanya untuk mengatasi perasaan sakit. Mudah-mudahan aku sempat berbuat sesuatu kemudian,” berkata Mahisa Pukat.

“Silahkan, kami akan tetap di sini,” jawab prajurit itu.

Demikianlah, maka Mahisa Pukat pun telah mengatur pernafasannya. Dipusatkannya nalar budinya dan disempurnakannya jalan darahnya.

Ia memang tidak memerlukan waktu yang lama. Beberapa saat kemudian maka keadaan dirinya menjadi berangsur baik. Perasaan sakitnya perlahan-lahan bagaikan terdesak keujung-ujung rambutnya untuk didorong meloncat keluar dari tubuhnya.

Namun kedua orang prajurit itu menjadi berdebar-debar. Beberapa orang murid Ki Buyut telah berlarian datang kepada kedua orang prajurit itu.

“Kita lindungi anak muda itu,” desis salah seorang diantara kedua prajurit itu.

Sebenarnyalah beberapa orang telah datang dengan wajah yang tegang. Apalagi ketika mereka melihat Ki Buyut terbaring diam.

Dengan kemarahan yang membakar jantung, seorang diantara mereka berkata lantang, “Apa yang kalian lakukan di sini? Dan apa pula yang telah terjadi dengan Ki Buyut?”

Kedua orang prajurit itu tidak menyahut. Namun mereka telah bersiaga sepenuhnya untuk menghadapi segala kemungkinan.

Dalam pada itu, para pengikut Ki Buyut itu pun telah mengepung keduanya. Seorang diantara mereka berkata lantang, “Jika kedua orang itu tidak mau mengatakan sesuatu, maka mereka sajalah yang harus kita bantai di sini. Kemudian orang yang duduk tepekur itu akan kita bunuh juga bersama kedua orang ini. Agaknya anak muda itu sudah kehilangan kemampuannya untuk berbuat sesuatu.”

Kedua orang prajurit itu masih tetap diam. Namun senjata mereka telah merunduk, siap untuk menebas orang yang bergerak mendekati mereka atau mendekati Mahisa Pukat.

Karena kedua orang itu masih tetap berdiam diri, maka para pengikut Ki Buyut itu pun telah kehilangan kesabaran mereka. Sejenak mereka berputaran. Namun sejenak kemudian, mereka telah mulai meloncat menyerang.

Bagaimanapun juga kedua orang prajurit itu pun menjadi berdebar-debar. Bukan karena mereka mencemaskan nasib mereka. Sebagai seorang prajurit, keduanya sudah menyadari bahwa kemungkinan yang paling buruk itu akan dapat terjadi atas diri mereka.

Namun keduanya justru mencemaskan nasib Mahisa Pukat. Kedua orang prajurit itu mengerti, bahwa Mahisa Pukat adalah seorang anak muda yang berilmu tinggi. Keduanya mengagumi anak muda yang dapat mengalahkan Ki Buyut Bapang itu. Karena itu, adalah sayang sekali, bahwa justru pada saat ia tidak sempat melawan, maka sekelompok orang telah membunuhnya.

Karena itu, maka kedua orang prajurit itu pun kemudian telah bertempur dengan segenap kemampuan mereka untuk mengatasi sekelompok orang yang menyerang itu.

Tetapi ternyata bahwa pekerjaan itu sangat berat bagi mereka berdua. Semakin lama ujung-ujung senjata sekelompok orang itu rasa-rasanya menjadi semakin dekat ke tubuhnya.

Namun bagaimanapun juga kedua orang itu telah bertempur dengan sengitnya.

Pada saat yang sangat gawat itu Mahisa Pukat selesai dengan pemusatan nalar budinya untuk memulihkan kekuatannya. Pernafasannya pun telah berjalan teratur, sementara urat nadinya terasa telah menjadi pulih kembali. Meskipun tulang-tulangnya masih terasa nyeri-nyeri sedikit, tetapi sebagian besar keadaannya telah pulih kembali.

Karena itu, maka ketika ia membuka matanya, maka ia pun segera melihat apa yang telah terjadi di sekitarnya. Dua orang prajurit yang bertempur melawan sekelompok orang yang tidak dikenalnya, yang tentu para pengikut Ki Buyut atau Empu Sepada yang akan merampas batu itu bahkan dengan seluruh padepokannya.

Karena itu, maka ia pun kemudian bergegas mempersiapkan dirinya dan berdiri. Dengan lantang ia pun kemudian berkata, kepada kedua prajurit itu, “Kita bertempur bersama-sama.”


Kedua prajurit itu menarik nafas lega. Rasa-rasanya beban yang terberat telah dapat mereka letakkan. Karena itu ia tidak lagi merasa sangat tegang menghadapi lawan-lawannya.”

Dalam pada itu Mahisa Pukat pun telah terjun pula ke arena. Ternyata seperti Mahisa Murti, ia tidak dengan serta merta mempergunakan ilmu pamungkasnya meskipun ia harus berhadapan dengan sekelompok orang. Namun dengan meningkatkan tenaga cadangan di dalam dirinya, maka ia mampu bergerak sangat cepat. Dengan tangkasnya, tiba-tiba saja ia telah merampas sebatang tombak bertangkai pendek. Kemudian dengan tombak itu ia pun telah bertempur dengan sangat dahsyatnya. Tombak itu telah berputaran dan melanda sekelompok lawannya itu sebagai angin prahara yang menakutkan.

Demikianlah, maka kedua orang prajurit yang hampir saja terhimpit oleh kekuatan para pengikut Ki Buyut itu merasa terbebas dari kematian. Namun belum berarti bahwa mereka telah terbebas sama sekali, karena pertempuran masih terjadi di mana-mana.

Namun dalam pada itu, ternyata bahwa prajurit Lemah Warah dan isi padepokan itu lambat laun mampu mendesak lawan-lawan mereka. Meskipun orang-orang yang menyerang padepokan itu jumlahnya lebih banyak, tetapi ternyata bahwa mereka tidak memiliki kemampuan setingkat dengan isi padepokan itu dan apalagi para prajurit Lemah Warah, sehingga semakin lama mereka pun menjadi semakin mengalami kesulitan.

Apalagi ketika mereka menyadari bahwa Ki Buyut Bapang dan Empu Sepada telah tidak berdaya sama sekali. Bahkan Empu Sepada telah terluka diluar kemauan Mahisa Murti, Empu Sepada telah menderita karena tenaganya yang terhisap habis, sementara itu keadaannya benar-benar telah menjadi sangat lemah.

Para pengikutnya menyadari bahwa mereka tidak lagi mempunyai pemimpin yang dapat mereka banggakan, bahkan para pengikut Ki Buyut Bapang dan Sempada pun merasa kesulitan untuk mengatasi mereka yang juga terbunuh di peperangan itu. Mereka merasa kehilangan pegangan. Itulah sebabnya, maka bagi mereka tidak ada jalan lain yang dapat mereka tempuh daripada berusaha untuk mencari hidup mereka masing-masing.

Itulah sebabnya, maka sejenak kemudian maka para prajurit Lemah Warah dan seisi padepokan itu telah berhasil mendesak dan bahkan memecahkan perlawanan para pengikut Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang. Mereka pun berlarian bercerai berai untuk mencari hidup mereka masing-masing.

Dengan demikian, maka mereka pun telah berlarian meninggalkan padepokan itu secepat dapat mereka lakukan.

Namun beberapa orang terpaksa mereka tinggalkan. Bukan saja yang terluka dan terbunuh di peperangan, tetapi ada di antara mereka yang tertangkap dan memang tidak mempunyai kesempatan untuk melarikan diri.

Ketika mereka yang menyerah dan tertangkap itu dikumpulkan, maka di wajah mereka telah membayang sikap pasrah. Tidak ada pikiran lain pada mereka kecuali bahwa mereka harus menjalani hukuman mati. Yang mereka lakukan kemudian tidak lebih dari berharap agar cara untuk membunuh mereka adalah cara yang terbaik. Bukan cara yang pernah dilakukan oleh beberapa orang di antara mereka terhadap tawanan-tawanan mereka.

Ternyata bahwa isi padepokan itu cukup berhati-hati. Para tawanan itu telah diikat tangannya dan dibawa ke pendapa. Kepada mereka diperintahkan untuk duduk berjajar saling membelakangi.

“Maaf Ki Sanak,” berkata Mahisa Murti, “untuk sementara kalian terpaksa kami minta untuk bersikap demikian.”

Orang-orang itu tidak menjawab. Tetapi satu diantara mereka telah mengumpat kasar, meskipun hanya didengarnya sendiri.

Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, serta para Senapati dari Lemah Warah dan pemimpin padepokan itu telah memimpin langsung pembenahan atas padepokan yang menjadi berserakkan karena pertempuran. Sementara itu yang lain tengah sibuk mengumpulkan kawan-kawan mereka mau pun lawan yang terluka dan terbunuh dipeperangan.

Empu Sepada ternyata benar-benar telah terbunuh oleh ilmu Mahisa Murti yang masih muda itu. Nampaknya Empu Sepada memang menganggap anak muda itu terlalu rendah tataran ilmunya, sehingga ia terlambat menyadari apakah yang sebenarnya dihadapinya. Ketika timbul kesadaran tentang kenyataan yang dihadapinya, ia sudah terlambat.

Beberapa orang telah mengangkut tubuh Empu Sepada itu ke pendapa. Beberapa pengikutnya hampir tidak percaya bahwa Empu Sepada terbunuh oleh anak yang masih muda itu.

Sementara itu tubuh yang lain pun telah dibawa pula ke pendapa. Namun ternyata di dalam tubuh itu masih mengalir nafas. Seorang tua yang sebaya dengan Empu Sepada.

Seperti para pengikut Empu Sepada, maka para pengikut Ki Buyut pun hanya dapat menundukkan kepalanya. Namun mereka masih mempunyai harapan, bahwa Ki Buyut akan sembuh dan dapat membantu mereka berbuat sesuatu, atau justru Ki Buyut itu adalah orang yang pertama kali akan dipenggal kepalanya.

“Baginya lebih baik, bahwa ia tidak sadar lagi sampai saat pemenggalan itu tiba,” berkata salah seorang pengikutnya di dalam hatinya, “atau ia justru mati sebelum sadarkan diri. Itu jauh lebih baik daripada ia akan menjadi permainan kedua anak muda itu apabila kelak ia menjadi sadar.”

Dengan demikian maka para pengikut Ki Buyut dan Empu Sepada itu hanya dapat menunggu. Apapun yang akan terjadi atas diri mereka.

Namun bagaimanapun juga, jantung mereka pun terasa berdebaran.

Sementara itu, maka orang-orang yang terluka pun telah dikumpulkan. Para pengikut Empu Sepada dan pengikut Ki Buyut dikumpulkan dalam satu barak. Beberapa orang menjaganya dengan senjata di tangan. Meskipun mereka terluka, tetapi dalam keadaan tertentu mereka masih merupakan orang-orang yang berbahaya.

Demikianlah, maka padepokan itu pun kemudian menjadi sibuk. Bukan sibuknya pertempuran, tetapi justru sebaliknya. Orang-orang yang ada di padepokan itu menjadi sibuk merawat akibat perang yang garang.

Beberapa orang yang dianggap memiliki pengetahuan tentang pengobatan telah bekerja dengan segenap kemampuan mereka untuk merawat mereka yang terluka. Bukan hanya kawan-kawan mereka saja, tetapi juga para pengikut Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang.

Sebenarnyalah para pengikut Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang merasa heran. Kenapa mereka masih juga dikumpulkan kemudian dirawat luka-luka mereka.

Namun beberapa orang diantara mereka justru menjadi sangat cemas. Mungkin orang-orang padepokan itu dengan sengaja membuat mereka sembuh atau agak sembuh, agar mereka mempunyai kepuasan untuk memperlakukan mereka menurut kehendak mereka. Sebab jika mereka menghukum atau membunuh orang yang memang sudah terluka apalagi parah, mereka tidak akan mendapat kepuasan karenanya.

Tetapi orang-orang itu memang tidak dapat menentukan pilihan. Mereka harus menurut saja perlakuan yang diberikan kepada mereka. Apapun yang dilakukan oleh orang-orang padepokan yang pernah disebut sebagai perguruan Suriantal itu, mereka tinggal menjalani.

Sementara itu, orang-orang yang terbunuh pun telah dikumpulkan pula. Pada dasarnya tubuh-tubuh membeku itu juga mendapat perlakuan yang sama. Tetapi bagaimana pun juga, orang-orang padepokan itu telah memberikan penghormatan khusus bagi kawan-kawan mereka yang gugur. Bahkan termasuk beberapa orang prajurit Lemah Warah.

Semuanya itu mereka selesaikan tanpa mengingat waktu. Meskipun malam telah turun, namun mereka menyelesaikan tugas itu. Mereka telah memasang oncor di beberapa tempat. Juga ditempat mereka menguburkan kawan-kawan mereka dan beberapa puluh langkah disebelah lain adalah orang-orang yang telah menyerang padepokan mereka. Sebagaimana jumlah mereka yang datang berlipat, maka ternyata korban pun berlipat pula. Orang-orang padepokan itu, apalagi para prajurit memang memiliki ketrampilan yang lebih tinggi dari lawan-lawan mereka.

Namun lambat laun, ketika semua kerja telah diselesaikan, padepokan itu mulai menjadi lengang. Para penghuni padepokan itu pun kemudian tinggal merasakan kelelahan yang sangat mencengkam tubuh mereka.

Tetapi semua kerja sudah selesai. Mereka tidak mau menunda, karena mereka menyadari, jika ada kerja yang tersisa, maka mereka akan menjadi sangat malas untuk memulainya kembali.

Karena itu, maka mereka telah menyelesaikan tugas-tugas mereka sehingga mereka dapat beristirahat tanpa terganggu ke-‘ cuali yang bertugas berjaga-jaga. Baik yang bertugas di dinding-dinding padepokan, di regol yang rusak, maupun mereka yang mengawasi para tawanan.

Sementara itu, yang lain benar-benar beristirahat sepenuhnya. Mereka begitu saja menjatuhkan dirinya dan tidur nyenyak. Jarang di antara mereka yang sempat membersihkan dirinya dari keringat dan debu.

Namun ada juga di antara mereka yang sibuk di dapur. Setelah kerja keras, maka perut pun terasa menjadi sangat lapar. Demikian perut mereka merasa kenyang, maka mereka pun mendengkur seperti tidak akan mempunyai keinginan untuk bangun lagi.

Dalam keadaan yang demikian, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tetap dalam keadaan siaga lahir maupun batin. Apalagi nereka menyadari, bahwa pada suatu saat Ki Buyut itu akan menjadi baik lagi dan mungkin akan melakukan satu perbuatan yang dapat merugikan mereka.

Karena itu, maka di antara mereka yang harus diawasi, yang paling banyak mendapat perhatian adalah Ki Buyut Bapang. Namun nampaknya keadaannya memang cukup parah. Meskipun orang yang dianggap memiliki pengetahuan tentang obat-obatan sudah bekerja keras, tetapi ternyata bahwa orang itu masih juga belum sadarkan diri.

Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian telah membagi tugas. Di malam yang tersisa, maka sebagaimana para prajurit Lemah Warah dan para penghuni padepokan, maka keduanya telah menentukan untuk beristirahat bergantian. Seandainya mereka tidak lagi sempat tidur, setidak-tidaknya mereka sempat membaringkan tubuh mereka yang memang terlalu penat. Apalagi Mahisa Pukat, yang tulang-tulangnya serasa menjadi retak.

Karena itu, maka Mahisa Murti telah memberikan kesempatan kepada Mahisa Pukat untuk beristirahat lebih dahulu, sementara itu, ia berada diantara para petugas yang mengawasi para tawanan di pendapa.

Ternyata ketika padepokan itu tidak lagi terasa sangat kisruh, maka ikatan pada tangan para tawanan itu pun telah dilepas. Namun itu berarti bahwa para petugas harus benar-benar mengawasi mereka sebaik-baiknya. Di antara para petugas itu adalah Mahisa Murti. Justru karena di antara para tawanan itu terdapat Ki Buyut Bapang.

Dengan demikian maka para tawanan itu pun telah mendapat kesempatan untuk berbaring di atas tikar di pendapa itu. Bagaimanapun juga mereka juga merasa sangat lelah. Tetapi karena tekanan perasaan maka mereka tidak mudah untuk dapat tidur nyenyak. Sesaat-sesaat saja mereka lelap oleh kelelahan. Tetapi mereka pun segera terbangun kembali. Jika mereka lelap lagi sejenak, maka mereka pun akan segera terbangun lagi.

Di hari berikutnya, maka segala sesuatunya mulai diakui menjadi lebih baik. Para tawanan telah dimasukkan ke dalam satu barak yang telah dipersiapkan lebih dahulu.

Namun dalam pada itu, Ki Buyut Bapang pun telah mendapat tempat yang khusus. Perlahan-lahan keadaan Ki Buyut itu berangsur baik. Ketika ia sadar, maka ia pun telah mengumpat kasar. Apalagi ketika ia melihat Mahisa Pukat mendekatinya.

“Anak setan kau,” berkata Ki Buyut, “ilmu iblis itu telah kau pergunakan untuk melawan aku.”

“Jika ilmu itu kau sebut ilmu iblis, lalu apakah nama ilmumu yang mampu membuat tubuhmu sekeras batu?” bertanya Mahisa Pukat.

“Persetan,” geram Ki Buyut, “jika aku mendapat kesempatan sekali lagi melawanmu dan tahu pasti, bahwa kau memiliki ilmu iblis itu, maka aku tentu akan mempergunakan kemampuanku untuk menghancurkanmu.”

“Tidak ada gunanya Ki Buyut,” berkata Mahisa Pukat, “aku sudah mengalahkanmu. Kau tidak akan dapat berbuat apapun juga.”

“Pada saatnya aku akan bangkit, dan kau akan menyesal. Kecuali jika dengan penuh ketakutan kau bunuh aku sekarang,” berkata Ki Buyut.

Mahisa Pukat justru tertawa. Katanya, “jangan aneh-aneh Ki Buyut. Menyerahlah kepada nasib dan kau harus mengakui kenyataan yang terjadi atas dirimu.”

Ki Buyut menggeretakkan giginya. Namun tubuhnya memang masih sangat lemah. Hanya tiba-tiba saja ia bertanya, “Di mana Empu Sepada? Jika ia sempat menghindar dari medan, maka ia akan datang lagi dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari yang pernah dibawanya.”

Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Maaf Ki Buyut. Aku terpaksa mengatakannya. Empu Sepada terbunuh di medan.”

Wajah Ki Buyut berkerut. Nampak perasaannya menjadi tegang. Tetapi kemudian katanya, “jangan kelabui aku seperti anak-anak.”

“Kenapa?” bertanya Mahisa Pukat, “untuk apa aku harus berbohong? Bukankah wajar, bahwa seseorang mati di medan perang dalam pertempuran yang seru?”

“Tetapi tidak Empu Sepada,” jawab Ki Buyut Bapang, “Ia tidak akan mati di sini.”

Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Dengan nada datar ia berkata, “Kenapa Empu Sepada tidak akan mati di sini?”

“Tidak ada orang yang mampu membunuhnya,” berkata Ki Buyut Bapang.

“Empu Sepada bukan orang yang berilmu tinggi,” jawab Mahisa Pukat, “ternyata kenyataan tentang dirinya dan namanya berjarak terlalu jauh. Namanya yang besar sama sekali tidak didukung oleh kemampuannya.”

“Tidak,” Ki Buyut yang lemah itu membentak, “ia berilmu tinggi. Kemampuannya tidak berada di bawah kemampuanku. Aku mengenalnya dengan baik.”

“Jadi kemampuannya setingkat dengan kemampuanmu?” bertanya Mahisa Pukat.

“Ya,” jawab Ki Buyut pendek.

“Karena itukah ia tidak akan mati di sini?” bertanya Mahisa Pukat pula.

“Ya. Ia akan mampu menggulung padepokan ini jika ia mau,” geram Ki Buyut.

“Jika kemampuannya seimbang dengan kemampuan Ki Buyut, bagaimana dengan Ki Buyut sendiri?” bertanya Mahisa Pukat.

Wajah Ki Buyut menegang. Katanya, “Gila. Aku pun akan mampu menggulung padepokan ini nanti jika kekuatanku sudah pulih kembali. Kita akan berhadapan lagi, setelah aku menyadari bahwa kau memiliki ilmu iblis. Karena itu, maka aku akan mampu menghancurkan ilmu iblismu itu.”

Mahisa Pukat menggeleng. Katanya, “Tidak Ki Buyut. Kau tidak akan mampu mengalahkan aku dengan jenis ilmu apapun. Kau kira disamping ilmuku yang mampu menghisap tenagamu itu, aku tidak mempunyai landasan ilmu yang lain?”

“Persetan,” Ki Buyut itu hampir berteriak, “mari kita lihat.”

Ki Buyut itu berusaha untuk bangkit. Tetapi tenaganya masih lemah sekali. Bahkan dadanya terasa semakin sesak dan pedih.

“Umurmu sudah mencapai tataran pengendapan. Tetapi kau masih mudah dibakar oleh perasaanmu,” berkata Mahisa Pukat, “sebenarnya kau mau apa?”

Ki Buyut itu menggeram. Tubuhnya yang lemah itu telah terbaring lagi di pembaringannya. Rasa-rasanya justru menjadi semakin lemah.

“Sudahlah,” berkata Mahisa Pukat, “berbaringlah dengan tenang.”

Ki Buyut tidak menjawab. Tetapi ia pun telah mengumpat kasar.

Dalam pada itu, di seluruh padepokan itu, para penghuninya tengah sibuk memperbaiki kerusakan-kerusakan yang terjadi setelah pertempuran itu. Beberapa orang telah memperbaiki pagar di sekitar batu yang berwarna kehijauan itu. Yang lain memperbaiki bagian-bagian dinding yang rusak, sementara beberapa orang telah membuat pintu gerbang yang baru untuk nenggantikan pintu gerbang yang telah dirusakkan oleh Ki Buyut Bapang.

Bukan hanya selaraknya yang patah, tetapi daun pintunya yang besar dan kuat itu pun telah pecah pula.

Dengan demikian, maka di padepokan itu telah terjadi kesibukan yang lain dari kesibukan perang yang menyita banyak kerugian. Bukan saja harta benda dan perlengkapan yang ada di padepokan itu, tetapi juga korban jiwa.

Namun dalam pada itu, lima orang berkuda telah mendekati padepokan itu. Lima orang yang membawa pertanda keprajuritan Lemah Warah. Mereka memakai pertanda yang lengkap sehingga justru menunjukkan bahwa mereka adalah dalam tugas keprajuritannya. Siapa yang berani mengganggu mereka, berarti akan berhadapan dengan Pakuwon Lemah Warah.

Beberapa saat kemudian, maka kelima orang prajurit itu menjadi semakin dekat. Meskipun kuda mereka tidak dapat berlari kencang karena jalan yang sulit di beberapa bagian, namun berkuda mereka menempuh jarak dari Lemah Warah ke padepokan Suriantal itu lebih cepat dari perjalanan pasukan yang tidak berkuda.

Kedatangan kelima orang prajurit itu memang mengejutkan. Ketika para petugas yang mengawasi keadaan di luar dinding padepokan melihat lima orang berkuda, maka mereka-pun segera memberikan isyarat.

Pemimpin padepokan itu pun segera menghubungi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat serta para Senapati prajurit Lemah Warah. Namun ketika mereka naik ke atas panggung, pada dinding padepokan ternyata bahwa mereka telah melihat kelima orang berkuda itu adalah prajurit Lemah Warah.

Dengan serta merta para Senapati Lemah Warah yang telah berada di padepokan itu pun telah menyongsong mereka Pintu yang dibangun untuk sementara itu pun telah dibuka.

Kelima orang prajurit itu pun kemudian dipersilahkan memasuki padepokan. Seorang Senapati yang memimpin kelima orang itu, berdesis, “Sesuatu agaknya telah terjadi.”

“Ya,” jawab salah seorang Senapati yang sudah ada di padepokan itu.

“Perang,” desis Senapati yang baru datang.

“Ya,” jawab Senapati yang datang terdahulu.

Kelima orang prajurit yang baru datang itu mengangguk-angguk. Ketika mereka sudah naik ke pendapa, maka mereka-pun telah bertemu pula dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Dengan singkat kelima orang prajurit itu mendengarkan laporan tentang peristiwa yang telah terjadi. Baru kemudian Senapati yang baru datang itu berkata, “Aku memang mendapat tugas untuk melihat, apa yang telah terjadi. Seharusnya pasukan yang diganti dengan pasukan yang baru sudah kembali ke Lemah Warah. Akuwu memang menjadi cemas, bahwa sesuatu telah terjadi di sini. Dan ternyata dugaan itu benar. Di sini telah terjadi perang yang sengit.”

“Ya. Untunglah bahwa segalanya telah lewat. Yang Maha Agung masih melindungi padepokan ini.” sahut Mahisa Murti.

Para prajurit itu mengangguk-angguk. Tetapi sebagai prajurit yang berpengalaman, maka mereka dapat membaca apa yang telah terjadi di padepokan itu. Kerusakan pada beberapa bagian dan terutama pada pintu gerbang, menunjukkan, bahwa kekuatan yang besar telah melanda padepokan itu. Namun kelima orang prajurit itu juga mengetahui, bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat adalah anak-anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi. Adalah jarang sekali bahwa anak muda seumur mereka telah menyimpan ilmu di dalam dirinya sebagaimana kedua anak muda itu.

“Syukurlah jika semuanya telah teratasi,” berkata Senapati yang datang berlima itu, “Akuwu memang mencemaskan kemungkinan sebagaimana telah terjadi.”

“Kemungkinan seperti ini masih dapat terjadi lagi,” berkata Mahisa Murti, “tetapi kita akan selalu siap.”

“Jika kami kembali ke Lemah Warah, maka segala sesuatunya akan kami laporkan,” berkata Senapati itu.

“Tetapi apakah satu di antara kedua kelompok pasukan yang ada di sini harus kembali?” bertanya Mahisa Murti.

“Tidak tergesa-gesa,” berkata Senapati itu, “jika keadaan di sini sebagaimana yang aku lihat, maka pasukan itu masih diperlukan di sini.”

“Bagaimana dengan mereka yang sudah terlalu lama bertugas di sini?” bertanya Mahisa Murti.

“Sebenarnya mereka belum terhitung terlalu lama bertugas di padepokan ini. Tetapi biarlah aku mohon Akuwu mengirimkan sekelompok pasukan baru untuk menggantikan kelompok yang sudah terdahulu berada di sini,” jawab Senapati itu.

“Batu itu,” berkata Mahisa Pukat kemudian, “nampaknya memang masih akan mengundang orang-orang baru. Tetapi batu itu tidak akan kita lepaskan.”

“Ya,” jawab Senapati itu, “agaknya Akuwu pernah menyinggungnya.”

“Yang menjadi persoalan kemudian adalah, kami berdua memerlukan waktu untuk mencari seorang atau dua orang pemahat yang baik untuk membentuk batu itu menjadi sebuah patung,” berkata Mahisa Pukat.

“Baiklah,” berkata Senapati itu, “jika besok kami kembali, maka hal itu akan kami sampaikan kepada Akuwu. Mungkin Akuwu dapat memberikan jalan sehingga kalian akan mendapat kesempatan untuk itu.”

“Terima kasih,” berkata Mahisa Murti, “kami memerlukan waktu barang satu bulan untuk menghubungi seorang pemahat. Aku belum tahu, siapakah yang dapat dan sanggup melakukannya di tempat yang terpencil ini. Seorang pemahat yang biasa hidup di tempat yang ramai, agaknya harus berpikir ulang untuk bersedia datang ke tempat ini. Bukan saja karena tempat ini sepi dan terpencil, namun tempat ini akan selalu menjadi sasaran orang-orang yang menginginkan batu itu pula.”

Senapati itu mengangguk-angguk. Katanya, “mudah-mudahan Akuwu dapat memberikan jalan yang paling baik yang dapat kita tempuh.”

Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Agaknya mereka benar-benar mengharapkan kesempatan itu. Sementara itu mereka sempat melaporkah pula tentang Ki Buyut Bapang yang dalam keadaan lemah.

“Tetapi jika keadaannya menjadi baik, maka ia merupakan orang yang berbahaya,” berkata Mahisa Murti.

Senapati itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kita serahkan saja kepada Akuwu. Seperti orang yang terdahulu, maka ia telah kehilangan sebagian besar dari ilmunya. Mungkin Akuwu dapat atau mempertimbangkan untuk berbuat demikian jika orang itu memang tidak mungkin lagi diharapkan untuk menjadi seorang yang baik.”

“Jadi, apakah menurut pertimbangan Ki Sanak, Ki Buyut sebaiknya dibawa ke Pakuwon Lemah Warah?” bertanya Mahisa Pukat.

“Sebaiknya demikian. Jika ia tetap berada di sini, maka seisi padepokan ini akan mengalami kesulitan untuk tetap menahannya. Apapun yang akan dilakukan oleh Akuwu, terserahlah kepadanya,” berkata Senapati itu.

“Kami akan menunggu,” berkata Mahisa Pukat.

“Besok kami akan kembali. Akuwu menunggu laporan kami, karena selama ini Akuwu memang merasa gelisah,” berkata Senapati itu, “di Lemah Warah, aku akan sempat melaporkan semuanya, termasuk Ki Buyut Bapang.”


Demikianlah kelima orang prajurit itu tetap berada di padepokan sampai hari berikutnya. Mereka sempat tinggal di padepokan itu dan merasakan betapa sepinya di malam hari. Meskipun demikian panasnya peperangan masih membekas di padepokan itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan tetap menunggu di padepokan itu sampai saatnya Akuwu memberikan jalan kepada mereka untuk meninggalkan padepokan itu barang sebulan.

Seperti yang direncanakan maka di hari berikutnya kelima orang prajurit itu telah meninggalkan padepokan Suriantal kembali ke Lemah Warah. Mereka telah membawa beberapa persoalan yang harus segera mereka sampaikan kepada Akuwu Lemah Warah.

Beberapa saat sebelum berangkat, mereka sempat bertemu dengan Ki Buyut Bapang. Agaknya Ki Buyut pun seorang yang keras kepala seperti tawanan sebelumnya. Dengan demikian, maka Senapati yang memimpin kawan-kawannya yang sekelompok kecil itu berdesis, “Sebaiknya ia mengalami perlakuan seperti orang yang terdahulu. Orang seperti Ki Buyut ini memang tidak akan mungkin dapat dirubah lagi.”

“Tetapi ia adalah seorang Buyut,” berkata Mahisa Murti, “ia memerintah satu daerah tertentu. Kabuyutan Bapang.”

“Apalagi ia seorang Buyut,” berkata Senapati itu, “Namun Bapang tidak termasuk Pakuwon Lemah Warah.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun mereka masih juga memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat terjadi.

Dengan nada datar Mahisa Murti berkata, “Tetapi, karena Ki Buyut Bapang adalah seorang pemimpin dari satu lingkungan, apakah persoalannya tidak akan mekar? Permusuhan ini akan menjadi permusuhan antara Kabuyutan Bapang dengan padepokan ini. Sementara itu apakah Ki Buyut tidak akan menyeret lingkungan yang lebih luas untuk melibatkan diri dalam persoalan ini? Jika demikian maka Akuwu Lemah Warah akan dapat bermusuhan dengan Akuwu yang memerintah daerah Bapang.”

Tetapi Senapati itu menggeleng. Katanya, “Mudah-mudahan tidak. Akuwu yang memerintah Ki Buyut Bapang tentu mempunyai kebijaksanaan. Mungkin ia justru akan menghukum Ki Buyut yang telah menyimpang dari jalan yang benar itu.”

“Jika Akuwu mendengar kenyataan tentang Ki Buyut itu,” sahut Mahisa Pukat.

“Adalah menjadi kewajibannya untuk mengetahui persoalan yang sebenarnya itu, “jawab Senapati itu.

Dengan demikian maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi semakin tenang menghadapi kemungkinan-kemungkinan buruk yang berkembang karena keterlibatan Ki Buyut di Bapang.

Namun demikian, keduanya harus bertanggung jawab jika terjadi sesuatu kemudian. Seandainya di luarperhitungnan mereka, Akuwu yang memerintah Ki Buyut Bapang melibatkan diri, maka apapun yang terjadi, kedua anak muda itu tidak akan ingkar.

Dalam pada itu kelima orang prajurit Lemah Warah itu-pun telah menempuh perjalanan kembali ke Lemah Warah. Jalan yang mereka tempuh bukan jalan yang lapang. Tetapi kuda kuda mereka kadang-kadang harus justru dituntun melintasi jalan setapak yang sulit.

Tetapi bagaimanapun juga perjalanan berkuda itu menjadi lebih cepat dari pada jika mereka berjalan kaki.

Demikianlah, ketika mereka kemudian telah sampai ke Pakuwon Lemah Warah, setelah perjalanan yang berat dan panjang maka mereka mendapat kesempatan pertama untuk menghadap Akuwu, agar mereka segera dapat beristirahat.

Senapati yang memimpin kelompok kecil itu pun telah memberikan laporan terperinci tentang padepokan Suriantai sehingga sekelompok pasukan Lemah Warah yang seharusnya kembali, terpaksa tertahan di padepokan itu untuk beberapa lama. Senapati itu juga sempat menyampaikan keinginan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk meninggalkan padepokan itu untuk kira-kira sebulan untuk dapat berhubungan dengan seorang pemahat yang baik dan yang bersedia untuk tinggal di padepokan itu.

Akuwu Lemah Warah yang mendengar laporan itu mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata, “Kedua anak muda itu tidak sampai hati meninggalkan padepokan itu. Keduanya merasa bahwa keduanya bertanggung jawab atas padepokan itu. Apalagi setelah mereka membawa batu yang kehijauan itu ke padepokan. Dengan demikian mereka telah terikat oleh padepokan itu. Sehingga mereka tidak sempat berbuat yang lain.”

“Hamba Akuwu. Mereka selalu dibayangi oleh kemungkinan-kemungkinan buruk, bahwa seseorang atau sekelompok orang datang untuk mengambil batu itu. Mereka bukan saja cemas kehilangan batu itu. tetapi mereka juga memikirkan nasib orang-orang yang tinggal di padepokan itu,” jawab Senapati itu.

Akuwu Lemah Warah itu pun mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Kita akan memikirkannya. Kita akan mengambil jalan yang paling baik untuk memberinya kesempatan pergi barang sebulan untuk menghubungi seorang pemahat atau lebih.”

“Apakah kita akan mengirimkan pasukan yang kuat untuk melindungi padepokan itu?” bertanya Senapati itu, “Mahisa Murti dan Mahisa Pukat juga mencemaskan kemungkinan ikut campurnya Pakuwon yang memerintah Ki Buyut di Bapang.”

Akuwu Lemah Warah mengerutkan keningnya. Namun ia-pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Tentu tidak. Seandainya ada seorang Buyut di lingkungan Pakuwon Lemah Warah ada yang berbuat seperti Ki Buyut Bapang, maka aku kira aku tidak akan melindunginya.”

“Tetapi jika Akuwu itu tidak mengetahui latar belakang dari tingkah lakunya? Memang di antara pengikutnya terdapat orang-orang Bapang. Namun belum tentu bahwa rahasia kehidupannya yang kelam itu diketahui oleh Akuwu,” jawab Senapati itu.

Akuwu Lemah Warah mengangguk-angguk. Katanya, “Memang banyak kemungkinan dapat terjadi. Tetapi biarlah kita memikirkan cara itu, sehingga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dapat dengan tenang meninggalkan padepokan itu dan kembali bersama seorang pemahat yang baik.”

“Semuanya terserah kepada Akuwu,” jawab Senapati itu.

Akuwu Lemah Warah mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja ia bergumam, “Aku pun telah pernah tinggal di sekitar padepokan itu untuk waktu yang lama. Karena itu, apa salahnya jika aku berada di padepokan itu untuk sebulan lagi.”

Senapati itu mengerutkan keningnya. Dengan ragu ia bertanya, “Lalu, bagaimana dengan pemerintahan di Pakuwon ini?”

“Bagaimana dengan saat aku pergi dahulu? “ justru Akuwu pun bertanya pula.

Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mengenal sifat Akuwunya. Sehingga karena itu maka katanya, “Semuanya terserah kepada Akuwu.”

“Jika aku berada di padepokan itu sementara Akuwu yang memerintah meliputi Bapang itu akan mengambil langkah-langkah penting, aku dapat berbicara dengannya. Aku kira Bapang termasuk daerah Pakuwon Sangling.”

Senapati itu tidak menjawab Akuwu Lemah Warah memang pernah meninggalkan Pakuwon itu untuk waktu yang cukup lama, karena Akuwu Lemah Warah mengemban tugas dari Sri Baginda di Kediri melalui Pangeran Singa Narpada untuk menyelesaikan padepokan Suriantal bersama dua orang anak muda yang juga dikirim oleh Pangeran Singa Narpada langsung dari Kediri tanpa saling mengenal lebih dahulu.

Namun demikian Akuwu Lemah Warah itu masih juga berkata, “Tetapi aku tidak mengambil keputusan sekarang. Besok aku akan berbicara dengan para pemimpin Pakuwon ini.”

Senapati itu pun kemudian telah mohon diri. Bagaimanapun juga setelah melakukan perjalanan yang lama dan berat, mereka menjadi letih, sehingga mereka memerlukan waktu untuk beristirahat.

Demikianlah, maka Akuwu Lemah Warah telah merenungkan laporan Senapati itu. Namun semakin dalam ia merenunginya, maka keinginannya untuk pergi ke padepokan itu menjadi semakin besar. Apalagi jika ia mengingat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang pernah diakunya sebagai kemenakannya. Kedua anak muda itu benar-benar sangat menarik baginya, sehingga keduanya benar-benar diperlakukan sebagai kemenakannya sendiri.

Di hari berikutnya Akuwu telah memanggil para pemimpin Lemah Warah. Diutarakannya niatnya untuk meninggalkan Lemah Warah dan berada di sebuah padepokan terpencil untuk waktu yang tidak terlalu lama.

“Sekitar dua bulan saja,” berkata Akuwu Lemah Warah.

Para pemimpin Lemah Warah yang sudah mengenal watak dan sifat Akuwu, serta hubungan Akuwu dengan Kediri dan Padepokan Suriantal tidak mencegah keinginan Akuwu. Namun yang penting mereka bicarakan, apa yang harus mereka lakukan di Lemah Warah sendiri sepeninggal Akuwu.

Namun ternyata tidak terlalu sulit untuk menemukan pemecahannya, karena hal seperti itu pernah terjadi sebelumnya.

“Aku akan segera berangkat,” berkata Akuwu.

“Berapakah hamba harus menyiapkan pasukan?” bertanya Panglima prajurit dan pengawal Lemah Warah.

“Aku hanya memerlukan pasukan pengawal khusus,” jawab Akuwu, “mereka akan menyertai aku.”

“Hamba Akuwu,” sembah Panglima itu, “hamba akan memerintahkan Panglima pasukan pengawal khusus itu.”

“Ia pernah pergi ke padepokan itu pula,” berkata Akuwu.

Demikianlah maka di hari berikutnya, sepasukan prajurit pengawal khusus telah disiapkan, sementara Akuwu berbenah diri. Sebelum Akuwu meninggalkan istana, maka ia pun telah menyampaikan beberapa pesan khusus. Juga tentang pengawasan para tawanan.

“Aku tidak akan pergi terlalu lama sebagaimana pernah aku lakukan,” berkata Akuwu.

Ketika segalanya telah disiapkan, maka Akuwu pun siap pula untuk berangkat.

Di pagi hari, sebelum matahari terbit, maka sepasukan pasukan pengawal khusus Lemah Warah telah siap. Beberapa saat kemudian, maka Akuwu pun telah siap pula berangkat. Sebagian dari pasukan itu memang berkuda. Tetapi hanya sebagian kecil saja. Yang lain menempuh perjalanan dengan berjalan kaki meskipun mereka harus menempuh perjalanan di malam hari atau bermalam di perjalanan.

Namun mereka adalah prajurit yang terlatih. Sebagaimana juga Akuwu sendiri, maka perjalanan yang berat dan panjang itu bukannya masalah bagi mereka.

Pada saatnya, maka iring-iringan itu telah mendekati padepokan Lemah Warah. Kehadiran iring-iringan itu benar-benar mengejutkan bagi seisi padepokan. Ketika para petugas di dinding padepokan memberikan isyarat, maka dengan serta merta, para pemimpin padepokan itu telah naik ke atas panggungan di sebelah menyebelah pintu gerbang.

“Akuwu,” Mahisa Murti hampir berteriak.

“Buka pintu gerbang,” Mahisa Pukat lah yang benar-benar berteriak.

Pintu gerbang yang sudah diperbaiki itu pun kemudian telah dibuka. Iring-iringan dari Lemah Warah itu pun telah memasuki padeookan Suriantal, disambut oleh Mahisa Murti. Mahisa Pukat dan para Senapati prajurit Lemah Warah yang berada di padepokan itu serta pemimpin padepokan itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang muda itu, tiba-tiba menjadi sangat gembira, seolah-olah benar-benar paman mereka telah datang.

Hari itu padepokan Suriantal menjadi sangat gembira. Kedatangan Akuwu Lemah Warah rasa-rasanya telah menitikkan embun di teriknya matahari. Dalam kegelisahan, ketidak pastian bahwa rencana Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk menghubungi seorang pemahat dapat terujut serta keragu-raguan yang lain, maka Akuwu telah datang.

Namun mereka tidak segera membicarakan masalah-masalah yang penting bagi padepokan itu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ingin mempersilahkan tamunya untuk beristirahat.

Akuwu pun tidak tergesa-gesa, ia tanggap akan keinginan kedua orang anak muda itu, sehingga Akuwu pun tidak dengan serta merta mengatakan kepentingannya datang ke padepokan itu.

Tetapi agaknya semua pihak sudah dapat menduga, apakah sebenarnya keinginan Akuwu. Apalagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sendiri.

Setelah beristirahat, maka Akuwu telah melihat-lihat isi padepokan itu. terutama batu yang berwarna kehijauan itu. Di sekitar batu itu telah dibuat pagar yang baru setelah pagar yang lama rusak pada saat peperangan terjadi di padepokan itu.

Meskipun di sana-sini telah dibenahi, namun Akuwu masih melihat bekas-bekas dari pertempuran yang seru itu. Sehingga serba sedikit Akuwu dapat membayangkan apa yang telah terjadi.

“Kau simpan Ki Buyut itu?” bertanya Akuwu kepada Mahisa Murti.

“Ya Akuwu,” jawab Mahisa Murti, “keadaannya sudah membaik. Setiap kali kami masih harus mengurangi memperlemah kekuatannya yang tumbuh kembali.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun sempat menceriterakan apa yang dapat dilakukan oleh Ki Buyut itu, sehingga mereka harus memperlakukannya secara khusus.

“Tanpa perlakuan demikian, maka kami berdua terikat sekali pada bilik Ki Buyut itu,” berkata Mahisa Pukat.

Akuwu pun tertawa. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Aku mengerti. Tetapi apakah aku dapat menemuinya?”

“Silahkan Akuwu. Orang itu akan menyadari kekecilannya jika ia bertemu dengan Akuwu,” berkata Mahisa Murti.

“Jika Ki Buyut itu belum mengenal aku, maka aku kira ia tidak mempunyai tanggapan apapun atasku” berkata Akuwu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Apalagi jika mereka mengingat kesombongan Ki Buyut itu sehingga agaknya ia akan bersikap sombong pula dihadapan Akuwu.

Sejenak kemudian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah membawa Akuwu Lemah Warah itu ke sebuah bilik khusus. Ketika mereka membuka pintu bilik itu, maka mereka melihat seorang yang duduk terpekur. Kehadiran orang-orang itu sama sekali tidak menarik perhatiannya. Bahkan berpaling-pun Ki Buyut itu merasa segan.

“Ki Buyut,” panggil Mahisa Murti yang sudah berada di dalam bilik itu pula, sementara Mahisa Pukat dan Akuwu masih berdiri di pintu.

Ki Buyut sama sekali tidak berpaling, la masih tetap duduk tepekur di atas amben bambu.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dipersilahkannya Akuwu untuk masuk pula ke dalam bilik itu diikuti oleh Mahisa Pukat.

“Aku ingin mempekenalkan diri Ki Buyut,” berkata Akuwu Lemah Warah.

Ki Buyut itu menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia pun telah berpaling. Dilihatnya Mahisa Murti berdiri bersilang tangan di dada. Kemudian seorang lagi yang sangat dibencinya. Mahisa Pukat. Namun kemudian dilihatnya seorang yang lain yang tidak dilihatnya sebelumnya.

“Kau,” tiba-tiba Akuwu Lemah Warah itu berdesis.

Ki Buyut Bapang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian desisnya, “Apakah benar aku telah bertemu dengan Akuwu Lemah Warah?”


“Ya,” jawab Akuwu Lemah Warah, “aku memang Akuwu Lemah Warah. Jadi kaulah agaknya yang telah menyebut dirimu Buyut di Bapang itu?”

“Ampun Akuwu,” tiba-tiba saja Ki Buyut itu turun dari amben bambu dan berjongkok sambil berdesis lemah, “hamba memang telah menjadi Buyut di Bapang.”

“Satu jabatan yang baik bagimu he?” bertanya Akuwu Lemah Warah, “bagaimana mungkin kau dapat menjadi Buyut di Bapang?”

“Satu perjalanan yang panjang. Tetapi hamba memang telah menjadi Buyut di Bapang,” jawab Ki Buyut.

“Apakah benar Bapang termasuk daerah Sangling?” bertanya Akuwu.

Ternyata Ki Buyut menjadi ragu-ragu. Namun keragu-raguan itu telah memastikan bagi Akuwu Lemah Warah, bahwa Kabuyutan Bapang itu termasuk lingkungan Pakuwon Sangling.

Karena itu, maka Akuwu itu pun berkata, “Ki Buyut, aku dapat mengambil beberapa langkah untuk menyelesaikan persoalanmu. Aku dapat menghubungi Akuwu Sangling atau aku dapat bertindak sendiri atasmu, karena kau pernah berada di Pakuwon Lemah Warah.”

Ki Buyut itu menundukkan kepalanya. Dengan nada berat ia berkata, “Hamba mohon ampun Sang Akuwu. Hamba tidak tahu, bahwa Akuwu akan datang ke tempat ini.”

“Mustahil,” berkata Akuwu, “kau tentu tahu, bahwa aku pernah memecahkan perlawanan orang-orang Suriantal dan beberapa perguruan yang ada di padepokan ini belum lama berselang.”

“Hamba memang mendengarnya Akuwu,” jawab Ki Buyut, “tetapi hamba tidak mengira, bahwa demikian erat hubungan Akuwu dengan padepokan ini, sehingga pada satu saat Akuwu telah kembali lagi ke padepokan ini. Apalagi setelah beberapa waktu yang lalu, beberapa pihak menganggap bahwa padepokan ini merupakan lingkungna yang tidak ada pemiliknya.”

“Kau tidak usah mengada-ada,” berkata Akuwu, “bagaimanapun juga agar tidak timbul salah paham, maka aku harus berhubungan dengan Akuwu Sangling. Aku akan mengatakan bahwa seorang Buyut di wilayahnya telah berada di padepokan ini.”

“Jangan Akuwu,” minta Ki Buyut, “dengan demikian maka hamba akan kehilangan semuanya.”

Akuwu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ki Buyut. Kau adalah seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi ternyata sejak semula kau telah menyalah gunakan ilmumu itu. Bahkan setelah kau mendapat kedudukan yang baik sebagai Buyut di Bapang. Kau masih saja hidup dalam dunia gelapmu itu. Adalah kebetulan sekali bahwa kau telah bertemu dengan kedua kemenakanku, sehingga mereka dapat mengatasi semua. Seandainya kedua kemenakanku itu tidak ada di sini, apakah yang kira-kira akan kau lakukan?”

“Hamba sama sekali tidak tertarik kepada padepokan ini. Jetapi batu itu memang sangat hamba kagumi,” jawab Ki Buyut.

Akuwu Lemah Warah menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Ki Buyut masih berkata, “Tetapi sebenarnya hamba tidak akan terlibat langsung dalam persoalan ini seandainya Empu Sepada tidak memaksa hamba untuk menyertai orang-orang hamba.”

“Langsung atau tidak langsung tidak banyak bedanya Ki Buyut. Sebenarnya sekarang aku mendapat kesempatan menyelesaikan persoalan yang terjadi di Lemah Warah itu, karena memang sudah lama orang-orang Lemah Warah mencarimu,” berkata Akuwu.

“Ampun Akuwu. Hamba sudah merasa bersalah. Hamba tidak pernah mengulangi kesalahan hamba. Sementam itu hamba memilih untuk meninggalkan Lemah Warah,” berkata Ki Buyut.

“Tetapi ditempat lain kau berlaku sebagaimana di Lemah Warah.” sahut Akuwu, “jika kau tidak melakukan sesuatu, aku kira kau tidak akan mungkin dapat menjadi Buyut di Bapang.”

Ki Buyut menundukkan kepalanya. Sementara itu Akuwu Lemah Warah berkata, “Aku akan menghubungi Akuwu Sangling.”

“Jangan, jangan Akuwu,” minta Ki Buyut Bapang. “Hamba mohon.”

“Kenapa?” bertanya Akuwu Lemah Warah. “aku ingin meyakinkan Akuwu Sangling agar ia selalu mengamati tingkah lakumu.”

“Ampun Akuwu. Hamba berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Jangan singkirkan hamba dari kedudukan hamba yang sekarang,” minta Ki Buyut Bapang.

Akuwu Lemah Warah termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Masih ada waktu untuk memikirkannya. Untuk sementara kau tetap menjadi tawanan di sini. Ingat Ki Buyut, aku memiliki kemampuan untuk menghancurkan simpul-simpul syarafmu, sehingga kau tidak akan memiliki kemampuan apapun lagi jika kau berkeras melakukan langkah-langkah sebagaimana kau tempuh sampai saat ini.”

“Aku berjanji,” desis Ki Buyut Bapang.

Akuwu Lemah Warah pun kemudian bersama-sama dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat meninggalkan bilik itu.

Sementara itu Ki Buyut telah membanting dirinya duduk di pembaringan.

“Gila,” geramnya, “kenapa Akuwu itu datang lagi ke padepokan ini? Demikian besar perhatiannya kepada kedua orang anak muda itu yang diakunya sebagai kemanakannya, sehingga ia meninggalkan tugasnya untuk berada dipadepokan ini.”

Namun Ki Buyut itu pun mempunyai dugaan lain. Menurut pendapatnya Akuwu Lemah Warah itu tentu sangat tertarik pula kepada batu yang berwarna kehijauan itu.

Namun ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa ia dalam keadaan yang lemah dan tidak mampu berbuat apa-apa. Itu akan berlangsung terus, karena dalam keadaan yang demikian ia tidak dapat mencegah kedua anak muda itu berganti-ganti menyentuh tubuhnya dengan kekuatan ilmunya yang dapat menghisap tenaga dan kemampuannya.

Dalam pada itu, Akuwu yang kemudian berada di barak induk bersama dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat serta beberapa orang pemimpin prajurit Lemah Warah serta pemimpin padepokan itu, telah mulai membicarakan rencana-rencana yang akan dilakukan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Namun sementara itu, kedua anak muda itu masih sempat bertanya serba sedikit tentang Ki Buyut Bapang yang ternyata telah dikenal oleh Akuwu Lemah Warah.

“Ia memang seorang yang berilmu tinggi,” berkata Akuwu Lemah Warah, “tetapi ia justru mengagungkan ilmunya itu untuk tindakan-tindakan yang tidak bertanggung jawab. Ia banyak merugikan orang-orang Lemah Warah. Namun ketika sekelompok orang datang kepadanya untuk minta pertanggungan jawab, maka ia telah menunjukkan bahwa ia adalah orang yang berilmu tinggi.”

“Apa yang dilakukannya?” bertanya Mahisa Pukat.

“Ia banyak merugikan orang lain. Bahkan kadang-kadang ia dengan terang-terangan merampas milik tetangga-tetangganya sendiri,” berkata Akuwu Lemah Warah, “namun yang paling menyakitkan hati orang adalah bahwa ia merasa berkuasa di sebuah Kabuyutan. Ia memaksa Ki Buyut untuk tunduk kepada perintahnya dan melakukan apa saja sesuai dengan keinginannya. Sehingga akhirnya laporan itu sampai kepadaku. Dengan cepat aku mengambil tindakan. Namun ia sempat melarikan diri, meskipun ia masih juga sempat membawa sejumlah harta bendanya yang didapatkannya dengan cara yang tidak sewajarnya.”

“Apakah ia menyadari bahwa ia tidak akan mampu mengalahkan Akuwu meskipun ia merasa bahwa ia berilmu tinggi?” bertanya Mahisa Pukat.

“Mungkin ia sempat memperbandingkan kemampuannya dengan kemampuanku secara tidak langsung,” jawab Akuwu, “namun tidak mustahil bahwa ia tidak pernah merasa dapat aku kalahkan sampai saat ini. Jika waktu itu ia menghindar, bukan karena ia merasa ilmunya dibawah tingkat ilmuku. Tetapi semata-mata karena ia menyadari bahwa aku tentu tidak datang sendiri. Mungkin ia akan bersikap lain jika ia benar-benar berhadapan dengan aku seorang dengan seorang.”

“Tetapi ia nampaknya demikian takutnya kepada Akuwu,” desis Mahisa Murti.

“Karena orang itu berada dalam keadaan lemah. Ia tidak akan dapat berbuat apa-apa jika saat ia melakukan kejahatan, pada saat-saat ia berbuat berbagai macam kesalahan di Lemah Warah. Tetapi tentu berbeda jika ia dalam kedudukan yang lebih baik dari saat ini,” sahut Akuwu Lemah Warah.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Keduanya sadar bahwa sikap Ki Buyut itu masih perlu diragukan, apakah ia bersikap jujur atau tidak terhadap Akuwu Lemah Warah.

Namun dalam pada itu, Akuwu Lemah Warah itu pun kemudian berkata, “Sudahlah. Biarlah aku mengurus orang itu. Aku memang ingin berhubungan dengan Akuwu Sangling untuk berbicara tentang Ki Buyut Bapang. Jika bagi Sangling ia merupakan orang yang berarti, maka aku hanya ingin memberikan peringatan bagi Akuwu, agar ia lebih banyak mengawasi Ki Buyut Bapang itu, serta memberikan sedikit contoh tingkah lakunya. Antara lain di padepokan ini.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hanya mengangguk-angguk saja. Sementara itu Akuwu Lemah Warah pun bertanya, “Nah, sekarang bagaimana dengan rencanamu?”

“Kami akan meninggalkan padepokan ini barang satu bulan Akuwu,” berkata Mahisa Murti, “kami akan menghubungi seorang pemahat yang bersedia bekerja bersama kami. Selain kemampuannya juga kesediaannya tinggal di tempat yang terasing ini untuk waktu yang cukup lama. Baru setelah patung itu siap, kami akan membawanya ke Singasari.”

Akuwu Lemah Warah mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Tetapi aku minta kalian bersedia menunda kepergian kalian barang sepekan. Selama itu aku akan pergi ke Sangling untuk membicarakan persoalan Ki Buyut Bapang dengan Akuwu di Sangling. Aku mengenal Akuwu Sangling dengan baik. Secara pribadi, maupun karena kami sering berhubungan dalam tugas-tugas kami meskipun tidak terlalu akrab.”

“Baiklah Akuwu,” berkata Mahisa Murti, “kami akan menunggu sampai Akuwu menyelesaikan persoalan Ki Buyut Bapang itu.”

“Terima kasih,” jawab Akuwu, “sesudah aku bertemu dengan Ki Buyut Bapang, maka kalian dapat pergi dengan tenang dan tidak tergesa-gesa. Aku akan menunggu sampai sebulan. Tetapi jika dalam waktu yang disediakan kalian belum dapat kembali, maka aku akan menunggu kalian di sini. Menurut perhitunganku, Lemah Warah sekarang dalam keadaan tenang. Tidak ada gejolak yang perlu dicemaskan. Karena itu, maka aku-pun dapat meninggalkan Pakuwon itu dengan tenang pula.”

Demikianlah, maka mereka telah mengambil satu sikap tentang rencana yang akan mereka lakukan. Yang justru akan meninggalkan padepokan adalah Akuwu Lemah Warah, karena dengan tidak terduga-duga, ia telah bertemu dengan Ki Buyut Bapang yang sebelumnya pernah berada di Pakuwon Lemah Warah dan melakukan perbuatan yang tercela.

Setelah Akuwu beristirahat sehari di padepokan itu, maka ia pun telah bersiap-siap untuk pergi ke Pakuwon Sangling. Dari beberapa orang pengikut Ki Buyut yang tertangkap, maka Akuwu Lemah Warah telah mendapat beberapa petunjuk tentang jalan yang harus dilaluinya menuju ke Pakuwon Sangling.

Diiringi oleh sekelompok pengawal maka Akuwu Lemah Warah pun telah meninggalkan padepokan itu menuju ke Pakuwon Sangling. Jaraknya memang cukup jauh sebagaimana Akuwu menempuh perjalanan dari Lemah Warah.

Namun sebagai seorang prajurit maka Akuwu telah menempuh perjalanan itu dengan cepat. Meskipun jalan agak sulit, tetapi Akuwu dan pengiringnya memilih berkuda daripada berjalan kaki. Selain sedikit menghemat waktu, maka perjalanan berkuda itu pun sedikit mengurangi keletihan.

Kedatangan Akuwu Lemah Warah di Pakuwon Sangling memang mengejutkan. Bagi Akuwu Sangling kedatangan Akuwu Lemah Warah itu merupakan satu peristiwa yang tidak diduganya, karena Akuwu Lemah Warah telah datang tanpa pemberitahuan lebih dahulu.

Dengan berdebar-debar Akuwu Sangling telah mempersilahkan Akuwu Lemah Warah untuk naik ke pendapa. Beberapa orang pengiringnya telah dipersilahkan untuk beristirahat di serambi gandok.

Setelah serba sedikit mereka saling mempertanyakan keselamatan dan kesejahteraan masing-masing, maka Akuwu Sangling yang ingin segera mengetahui maksud kedatangan Akuwu Lemah Warah itu pun bertanya, “Kakanda Akuwu di Lemah Warah. Kedatangan Sang Akuwu sangat mengejutkan hatiku. Kakanda tidak terlebih dahulu memberikan kabar atau pesan akan kedatangan kakanda itu.”

Akuwu Lemah Warah tersenyum. Katanya, “Sebenarnya aku tidak khusus datang ke Pakuwon Sangling. Aku sedang berada di padepokan Suriantal. Tiba-tiba timbul keinginanku untuk datang berkunjung ke Pakuwon Sangling.”

“Terima kasih,” jawab Akuwu Sangling, “sokurlah jika kakanda masih sempat mengunjungi adinda di sini. Namun demikian, rasa-rasanya aku ingin tahu niat kakanda sebenarnya. Apakah memang benar kakanda hanya sekedar menengok Pakuwon Sangling atau kakanda mempunyai maksud yang barangkali kakanda bawa beserta kunjungan kakanda ini?”

Akuwu Lemah Warah termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Memang ada sedikit persoalan yang ingin aku sampaikan.”

“Tentang padepokan Suriantal?” bertanya Akuwu Sangling, “aku memang sudah mendapat laporan lengkap tentang serbuan kakanda ke padepokan Suriantal mengemban perintah Sri Baginda di Kediri. Kakanda melakukannya atas nama Sri Baginda di Kediri.”

“Tentu, karena bersamaku hadir Pangeran Singa Narpada yang datang atas nama Sri Baginda di Kediri,” jawab Akuwu di Lemah Warah.

“Syukurlah.” sang Akuwu Sangling mengangguk-angguk, “jadi laporan yang aku dengar itu benar. Laporan itu tidak dibuat-buat sekedar untuk menghangatkan suasana.”

“Benar adinda. Aku datang bersama Pangeran Singa Narpada. Dan adinda pun mengenal siapa Pangeran Singa Narpada itu, “sahut Akuwu Lemah Warah.

Akuwu Sangling menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia berkata, “begitu besar perhatian Pangeran Singa Narpada terhadap padepokan itu, sehingga ia memerlukan untuk datang sendiri. Kenapa Pangeran Singa Narpada tidak memerintahkan satu atau dua Senapatinya untuk datang ke padepokan itu? Apakah di padepokan itu terdapat orang yang berilmu sangat tinggi sehingga tidak ada orang lain yang akan mampu mengatasinya?”

“Bukan begitu,” jawab Akuwu Lemah Warah, “tetapi agaknya Pangeran Singa Narpada ingin melihat sendiri apa yang ada di padepokan itu.”

Akuwu Sangling mengangguk-angguk. Tetapi pada bibirnya nampak senyum yang aneh.

“Baiklah,” berkata Akuwu Sangling, “mungkin Pangeran Singa Narpada memang tertarik sekali terhadap padepokan itu. Tetapi sekarang Pangeran Singa Narpada telah tidak ada lagi di padepokan itu. Sementara itu Akuwu Lemah Warah lah yang menguasai padepokan Suriantal.”

“Bukan aku,” jawab Akuwu Lemah Warah, “tetapi dua kemenakanku tinggal di padepokan itu.”

Akuwu Sangling tersenyum. Katanya, “Apa bedanya dengan Akuwu sendiri?”

Akuwu Lemah Warah mengerutkan keningnya. Nampaknya sikap Akuwu Sangling tidak bersahabat. Rasa-rasanya ada sesuatu yang telah membatasi mereka meskipun Akuwu Lemah Warah masih belum mengatakan keperluannya.

Akuwu Sangling melihat sesuatu telah menyentuh perasaan Akuwu Lemah Warah. Karena itu, maka sebelum Akuwu Lemah Warah mengatakan persoalannya, maka Akuwu Sangling telah mendahului berkata, “Agaknya padepokan Suriantal kini telah berubah menjadi sebuah tempat yang gawat. Tidak ubahnya seperti sebuah barak tempat orang yang tidak disukai disimpan sebagai tawanan.”

“Apa maksud adinda?” bertanya Akuwu Lemah Warah.

“Tentu kakanda sudah mengetahuinya,” jawab Akuwu Sangling, “bukankah Akuwu baru saja singgah di padepokan itu.”

Akuwu Lemah Warah menjadi ragu-ragu. Apakah yang dimaksud Akuwu Sangling itu adalah justru Ki Buyut Bapang? Mungkin Akuwu telah mendengar laporan tentang Ki Buyut Bapang yang berada di padepokan Suriantal.

Sebenarnyalah sebelum Akuwu Lemah Warah mengatakan sesuatu, maka Akuwu Sangling telah meneruskannya, “Kakanda, kenapa salah seorang Buyut dari Sangling telah berada di padepokan Suriantal?”

Akuwu Lemah Warah menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia berkata, “Itukah sebabnya, maka sikap adinda terasa asing?”

“Aku sudah mengira bahwa kedatangan Akuwu adalah dalam hubungannya dengan Ki Buyut di Bapang.”

“Ya,” jawab Akuwu Lemah Warah, “aku memang datang untuk berbicara tentang Buyut di Bapang itu.”

“Bukankah Ki Buyut sekarang ada di padepokan Suriantal?” berkata Akuwu Sangling.

“Ya. Apakah yang Akuwu dengar tentang Ki Buyut di Bapang? Atau laporan yang barangkali sampai kepada adinda?” bertanya Akuwu Lemah Warah.

“Biasa saja,” jawab Akuwu Sangling, “kecurigaan dan barangkali semacam dendam.”

Akuwu Lemah Warah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah aku mengatakan apa yang aku ketahui tentang Ki Buyut di Bapang.”

“Tentu sebagaimana kakanda dengar dari orang-orang yang menangkap Ki Buyut,” berkata Akuwu Sangling.

“Dari siapapun, tetapi sebaiknya Akuwu mempertimbangkannya,” Akuwu Lemah Warah mulai digelitik oleh perasaan jengkel. Sikap Akuwu Sangling telah menyinggung perasaannya meskipun ia masih berusaha untuk menahan diri.

Akuwu Sangling mengerutkan keningnya. Namun tanpa menunggu lagi Akuwu Lemah Warah itu pun segera menceriterakan tentang Ki Buyut Bapang. Sejak ia masih berada di Lemah Warah serta usahanya untuk mengambil batu yang telah lebih dahulu dikuasai oleh padepokan Suriantal.

Tiba-tiba saja Akuwu Sangling tertawa. Katanya, “Bagaimana mungkin Ki Buyut Bapang itu pernah tinggal di Lemah Warah. Ia sudah lama berada di Kabuyutannya, sehingga ia mendapat kepercayaan untuk memegang jabatan itu.”

“Itulah yang aku heran,” berkata Akuwu Lemah Warah, “bagaimana mungkin orang itu dapat menjadi Buyut di Bapang. Apakah tidak ada keturunan yang pantas menggantikan kedudukan Buyut di Bapang itu?”

“Sudahlah,” jawab Akuwu Sangling, “Akuwu tidak perlu mempersoalkan kedudukannya. Ia adalah tanggung jawabku karena aku telah mengesahkannya.”

“Apakah maksud Akuwu juga ingin mengatakan bahwa yang dilakukan di padepokan Suriantal itu juga tanggung jawab Akuwu?” bertanya Akuwu Lemah Warah.

Akuwu Sangling menjadi tegang. Namun ia pun kemudian tersenyum. Katanya, “Tidak semua yang dilakukannya adalah tanggung jawabku. Tetapi ia adalah orangku. Aku wajib untuk berbuat sesuatu untuk meyakinkan setiap kejadian yang menyangkut orang-orangku.”

“Aku sudah mencoba untuk meyakinkan,” jawab Akuwu Lemah Warah. “Tetapi agaknya Akuwu tidak percaya.”

“Kakanda,” berkata Akuwu Sangling, “apakah sebenarnya hak orang-orang Suriantal atas siapa pun juga untuk mengambil batu yang berwarna kehijauan itu?”

“Bukankah batu itu tidak ada pemiliknya?” jawab Akuwu Lemah warah.

Akuwu Sangling memandang Akuwu Lemah Warah dengan tajamnya. Dengan nada datar ia berkata, “Batu itu memang tidak ada pemiliknya. Jadi orang-orang Suriantal juga tidak berhak memilikinya. Sebenarnya biarlah batu itu berada di tempatnya. Semua orang akan dapat melihat dan mendapatkan kesan tersendiri daripadanya.”

“Tetapi orang-orang yang berada di padepokan Suriantal itu akan memberikan arti yang lebih besar pada batu itu. Mereka akan membuat sesuatu yang dapat mereka persembahkan kepada Sri Maharaja di Singasari. Bukankah dengan demikian batu itu tidak hanya sekedar terletak di pinggir hutan dikerumuni oleh berbagai jenis ular dan binatang berbisa?”

“Berbagai jenis ular dan binatang berbisa itu justru telah mengamankan batu itu. Jika aku mau, maka sebenarnya aku dapat mengambilnya lebih dahulu. Tetapi aku membiarkan batu itu berada di tempatnya,” berkata Akuwu Sangling.

“Kenapa kita kemudian berbicara tentang batu itu?” bertanya Akuwu Lemah Warah, “semula aku hanya ingin berbicara tentang Ki Buyut Bapang.”


Akuwu Sangling itu termangu-mangu sejenak. Namun ia-pun kemudian menjawab, “Jika kita berbicara tentang Ki Buyut Bapang, maka kaitannya adalah karena ia menginginkan batu itu yang telah berada di padepokan Suriantal. Itulah sebabnya aku ingin menanyakan, apakah yang dilakukan oleh Ki Buyut itu terlalu salah?”

“Apakah maksud Akuwu?” bertanya Akuwu Lemah Warah, “tetapi bukankah kehadiran Ki Buyut itu bukan atas restu Akuwu?”

“Tidak,” jawab Akuwu Sangling, “aku tidak mempunyai sangkut paut dengan kepergiannya untuk mengambil batu itu. Tetapi aku mempunyai sangkut paut dengan kedudukannya. Bagaimanapun juga ia adalah salah seorang diantara Buyut di Sangling ini.”

“Aku mengerti. Itulah sebabnya aku datang kemari. Aku justru ingin bertanya, apakah yang akan Akuwu lakukan terhadap salah seorang diantara para Buyut yang telah melakukan satu tindakan yang salah,” bertanya Akuwu Lemah Warah.

“Aku akan menghukumnya,” berkata Akuwu Sangling, “tetapi jika Akuwu bertanya sikapku atas Ki Buyut di Bapang, maka aku tidak dapat menyalahkannya.”

“Mungkin dalam hubungannya dengan batu itu,” sahut Akuwu Lemah Warah, “tetapi langkah-langkah yang telah dilakukannya? Mungkin juga apa yang pernah dilakukan oleh para pengikutnya. Kali ini para pengikutnya yang kemudian menyeret Ki Buyut serta, bertindak kasar terhadap padepokan Suriantal. Mungkin di kesempatan lain Ki Buyut melakukan di tempat lain pula.”

“Akuwu jangan terlalu mudah berprasangka.” sahut Akuwu Sangling, “Sudah aku katakan, bahwa Ki Buyut Bapang bukan orang seperti yang Akuwu maksudkan. Ia orang yang baik bagiku dan orang yang sangat aku perlukan di sini. Karena itu Akuwu, hamba justru mohon agar Ki Buyut itu dilepaskan.”

Akuwu Lemah Warah menjadi tegang. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “jadi, Akuwu tidak mau melihat kenyataan tentang Ki Buyut itu? Akuwu, coba Akuwu bayangkan, bahwa kematian yang tidak berarti telah terjadi di padepokan Suriantal itu. Sekelompok kuat orang-orang bersenjata menyerangnya tanpa mengekang diri. Dengan demikian maka orang-orang padepokan harus bertahan. Juga terhadap Ki Buyut Bapang. Dan jika Akuwu ingin tahu, siapakah kawan Ki Buyut Bapang saat ia memasuki padepokan itu, maka agaknya Akuwu telah mengenalnya, setidak-tidaknya pernah mendengar namanya, Empu Sepada.”

“Empu Sepada?” ulang Akuwu Sangling.

“Ya. Bukankah Akuwu pernah mengenalnya?” bertanya Akuwu Lemah Warah pula.

“Aku tidak banyak mengenalnya,” jawab Akuwu Sangling, “aku hanya pernah mendengar namanya. Tidak lebih.”

Akuwu Lemah Warah menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Apakah Akuwu baru mendengar bahwa Ki Buyut datang bersama Empu Sepada?”

“Ya. Aku baru mendengarnya,” jawab Akuwu Sangling.

“Apakah laporan itu tidak menyebut nama Empu Sepada?” bertanya Akuwu Lemah Warah pula.

Akuwu Sangling termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian berkata, “Mungkin akulah yang kurang memperhatikan laporan itu.”

Akuwu Lemah Warah menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia berkata, “Kau menyembunyikan sesuatu. Ada yang tidak Akuwu sebut meskipun Akuwu mengetahuinya.”

“Jangan terlalu curiga begitu,” sahut Akuwu Sangling, “tetapi baiklah. Itu adalah hak Akuwu untuk mencurigai siapa-pun. Namun sekali lagi aku minta, agar Ki Buyut Bapang itu dilepaskan.”

“Itulah yang sulit aku lakukan,” jawab Akuwu Lemah Warah, “bagaimana pertanggungjawaban Ki Buyut dengan kematian yang telah terjadi di padepokan itu?”

“Apakah kita harus menelusur siapakah yang harus bertanggungjawab?” bertanya Akuwu Sangling, “coba pikirkan, seandainya batu itu tidak diambil dan dibawa ke padepokan Suriantal.”

“Jadi dari sanalah Akuwu berpikir? Jika demikian, maka pembicaraan kita sulit untuk bertaut. Baiklah, aku mohon diri. Aku akan memberitahukan sikap Akuwu kepada seisi padepokan Suriantal,” jawab Akuwu Lemah Warah, “semuanya terserah kepada isi padepokan itu. Namun satu hal yang harus Akuwu sadari, bahwa letak batu itu tidak berada di daerah Pakuwon Sangling.”

Wajah Akuwu Sangling menjadi tegang. Sementara itu Akuwu Lemah Warah berkata, “Renungkan itu. Dan Akuwu tahu, di mana batu itu terletak.”

Tanpa menunggu lagi, Akuwu Lemah Warah telah bangkit dan berkata, “Aku mohon diri.”

Akuwu Sangling tidak mendapat kesempatan untuk berkata lebih banyak karena Akuwu Lemah Warah benar-benar telah meninggalkan istana Akuwu Sangling itu.

Tetapi Sikap Akuwu Lemah Warah itu tidak melemahkan pendirian Akuwu Sangling. Bahkan ia merasa dirinya direndahkan. Seakan-akan ia tidak berhak sama sekali berbicara tentang Ki Buyut Bapang. Salah seorang Buyut di Pakuwon Sangling. Padahal menurut penilaiannya, Ki Buyut di Bapang adalah seorang Buyut yang baik, yang selalu memberikan upeti lebih banyak dari Buyut-buyut yang lain.

Memang terbersit satu pertanyaan di dalam dirinya bahwa apakah kemampuan Ki Buyut memberikan upeti itu berasal dari usahanya yang sesat sebagaimana dikatakan oleh Akuwu Lemah Warah.

“Tetapi Ki Buyut adalah orangku,” berkata Akuwu Sangling, “biarlah aku yang mengadilinya. Akuwu Lemah Warah tidak mempunyai hak untuk menahannya dan apalagi memutuskan hukuman baginya.”

Meskipun demikian, Akuwu Sangling harus menyadari, bahwa di padepokan itu tentu ada seorang yang mempunyai ilmu yang tinggi, sehingga penghuni padepokan itu dapat mengalahkan Ki Buyut Bapang dan Empu Sepada sekaligus. Hanya orang-orang berilmu tinggi sajalah yang dapat melakukannya.

Tetapi Akuwu Sangling tidak gentar menghadapi kemungkinan itu. Ia memiliki kemampuan yang tidak kalah dari Ki Buyut Bapang. Bahkan seorang saudara seperguruannya yang memiliki ilmu yang setingkat dengan Akuwu Sangling akan dapat membantunya.

Akuwu Sangling pun merasa sakit hati atas pernyataan Akuwu Lemah Warah, bahwa batu itu tidak teletak di daerah Sangling.

“Persetan,” geram Akuwu Sangling, “tidak ada yang dapat mengatakan batas Pakuwon Sangling secara pasti, sebagaimana tidak ada orang yang dapat mengatakan batas Pakuwon Lemah Warah secara pasti pula. Karena itu, apa pula hak Akuwu Lemah Warah atas padepokan Suriantal? Apakah hanya karena waktu itu Pangeran Singa Narpada bersama dengannya? Sehingga dengan demikian ia berhak untuk merambah sampai ke mana pun juga?”

Kemarahan Akuwu Sangling itu ternyata tidak dapat diendapkannya. Bahkan kemudian telah timbul niatnya untuk dengan sengaja menantang Akuwu Lemah Warah dengan menuntut dikembalikannya Ki Buyut Bapang.

“Aku tidak akan mengulangi kesalahan Ki Buyut Bapang. Aku harus tahu, berapa besar kekuatan Ki Buyut Bapang dan Empu Sepada yang gagal itu, dan seberapa besar kekuatan padepokan Suriantal itu,” geram Akuwu Sangling. Lalu, “Kepada Sri Baginda di Kediri aku akan mempertanggung jawabkannya. Aku akan menerima akibat apapun yang terjadi.”

Tetapi Kediri tentu tidak akan berani bertindak, karena Kediri sendiri tentu sudah menjadi semakin lemah. Ia tidak akan menambah lawan, apalagi Pakuwon yang kuat seperti Sangling. Tentu Kediri akan selalu ingat, bahwa Pakuwon Tumapel yang nampaknya kecil itu pada suatu saat mampu memecahkan kebesarannya dan berdirilah Singasari yang kemudian telah justru menguasai Kediri. Pengalaman itu tentu akan membuat Kediri tidak akan berbuat sewenang-wenang terhadap Pakuwon yang manapun juga. Apalagi Pakuwon yang besar seperti Pakuwon Sangling ini.”

Dengan demikian, maka luapan kemarahannya itu pun telah melahirkan perintah dari Akuwu Sangling kepada Panglima pasukannya untuk mempersiapkan diri.

“Kita akan pergi ke Suriantal,” berkata Akuwu Sangling, “kita akan membuktikan, bahwa Sangling tidak dapat dikesampingkan begitu saja oleh Lemah Warah. Kita akan memaksa Akuwu Lemah Warah untuk menyerahkan Ki Buyut Bapang. Seandainya memang benar Ki Buyut melakukan kesalahan, maka biarlah aku yang menjatuhkan hukuman kepadanya.”

Perintah itu disambut dengan berbagai tanggapan. Para prajurit Sangling sudah terlalu lama tidak turun ke medan. Karena itu, maka rasa-rasanya mereka mendapat kesempatan untuk berlaku sebagai prajurit yang sebenarnya. Bukan sekedar duduk-duduk di barak terkantuk-kantuk, latihan dan berjaga-jaga di pintu gerbang atau di istana Pakuwon.

Dengan demikian maka perintah itu telah dilaksanakan dengan cepat. Pasukan Sangling telah bersiap-siap untuk melakukan perintah Akuwu kapan pun datangnya.

Sementara itu Akuwu Lemah Warah pun merasa kedatangannya di Pakuwon Sangling tidak disambut dengan wajar. Kekecewaan Akuwu Lemah Warah membuatnya semakin curiga kepada Akuwu Sangling. Bahkan Akuwu Lemah Warah menduga, bahwa Akuwu Sangling tidak akan tinggal diam.

Itulah sebabnya, maka Akuwu Lemah Warah telah memerintahkan beberapa orang diantara pengawalnya untuk mendahului dan langsung menuju ke Lemah Warah.

“Siapkan prajurit. Bawa pasukan segelar sepapan ke padepokan Suriantal. Tetapi jangan semata-mata,” berkata Akuwu Lemah Warah.

“Maksud Akuwu?” bertanya prajurit yang mendapat tugas itu. “Jika kalian sudah mendekati Suriantal, maka pasukan itu harus berhenti. Satu atau dua orang supaya segera memberitahukan kepadaku. Biarlah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengatur mereka,” jawab Akuwu Lemah Warah.

Demikianlah maka beberapa orang prajurit yang mengawalnya itu telah memacu kudanya mendahului Akuwu Lemah Warah. Betapapun sulitnya jalan, namun mereka secepatnya harus sampai di Pakuwon dan menyampaikan perintah itu kepada para pemimpin prajurit Lemah Warah.

“Nampaknya persoalannya telah berkembang,” berkata salah seorang diantara para prajurit itu.

“Apa boleh buat.” sahut yang lain, “tetapi Akuwu Lemah Warah yang sudah terlanjur melangkah, tentu pantang surut. Apa pun yang terjadi. Dan kita harus memantapkan keputusan Akuwu.”

Demikianlah, maka para prajurit itu pun berusaha untuk secepatnya mencapai Lemah Warah. Tetapi jarak itu cukup jauh, sehingga mereka harus menempuh perjalanan yang berat. Bahkan sekali-sekali jalan menjadi sangat sulit untuk dilalui. Dengan demikian maka perjalan pun menjadi sangat lambat, bagaikan siput yang merayap di pematang.

Sementara itu Akuwu Lemah Warah telah kembali ke padepokan Suriantal. Ia pun dengan segera memberitahukan hasil perjalanannya kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat serta pemimpin padepokan itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Meskipun mereka tidak mengatakan sesuatu, Akuwu dapat menangkap getaran kekecewaan hatinya, karena dengan demikian mereka tidak sampai hati meninggalkan padepokan itu.

Tetapi Akuwu pun berkata, “Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Aku kira kalian tidak terikat dengan persoalan ini. Aku kira aku sendiri akan dapat menangani persoalan yang akan timbul di padepokan ini. Aku sudah memerintahkan beberapa orang prajurit untuk kembali ke Lemah Warah. Mereka harus mengambil sepasukan prajurit untuk dibawa ke padepokan ini.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya peristiwa seperti itu harus terulang beberapa kali sejak pasukan Lemah Warah menyergap isi padepokan itu.

Pertempuran demi pertempuran susul menyusul. Dan kini agaknya Akuwu Sangling pun akan menyerang padepokan ini, sehingga sebagaimana pernah terjadi, maka pertempuran pun akan berkobar lagi. Pertempuran antara orang-orang yang mengepung padepokan itu dan orang-orang yang berada di dalam padepokan itu.

“Akuwu,” berkata Mahisa Murti, “kenapa hal seperti ini akan terjadi lagi. Apakah batu itu memang memiliki kekuatan yang mengutuk orang-orang yang dianggap mengganggunya sehingga akan timbul bencana atau semacamnya. Jika pertempuran itu terjadi lagi, maka korban akan jatuh pula sebagaimana pertempuran yang baru saja berakhir itu. Orang yang bernama Empu Sepada itu pun harus menjadi korban dan beberapa nyawa yang lain pun telah lepas dari wadagnya, karena batu yang berwarna kehijauan itu. Apakah memang sedemikian mahal harga batu itu?”

“Persoalannya tidak semata-mata terletak pada batu itu,” jawab Akuwu Lemah Warah, “tetapi juga karena harga diri. Jika Akuwu Sangling itu memindahkan tugu yang memuat ketentuan batas antara Pakuwon Sangling dan Pakuwon Lemah Warah di ujung bukit itu dipindah, meskipun hanya sejengkal, maka persoalannya bukan harga sejengkal tanah. Tetapi harga diri Pakuwon Lemah Warah telah tersinggung. Sedumuk bathuk, senyari bumi, maka akan dipertahankan sampai mati. Juga seperti batu itu. Batu itu sudah kita ambil dan kita simpan di padepokan ini. Persoalannya bukan lagi harga batu itu. Atau bukan pula karena batu itu dapat mengutuk orang yang dianggap mengganggunya. Tetapi persoalannya sudah bergeser pada harga diri. Jika Akuwu Sangling tidak berpegang pada harga diri, maka ia tidak akan menuntut Ki Buyut Bapang dilepaskan. Akuwu Sangling tentu merasa berhak mengambil keputusan atas Ki Buyut itu. Apapun yang akan diputuskannya.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ternyata bahwa mereka tidak akan dapat menghindarkan diri dari perselisihan yang menjadi semakin luas.

Namun Mahisa Murti masih bertanya, “Apakah Kediri tidak dapat mencegahnya, atau barangkali Singasari?”

“Jika ada waktu mungkin bisa melakukan,” jawab Akuwu Lemah Warah, “tetapi agaknya kita sudah tidak mempunyai waktu lagi kecuali berbenah diri. Mempersiapkan pasukan yang kuat dan cara yang pating baik untuk melawan pasukan Sangling.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Agaknya mereka memang tidak mempunyai pilihan lain kecuali bersiap untuk menghadapi Akuwu Sangling yang ternyata mempunyai harga diri yang berlebihan, yang tidak mau mengerti kenyataan tentang Ki Buyut Bapang itu.

Demikianlah, sebelum pasukan Lemah Warah itu datang, maka isi padepokan itu harus bersiap-siap dengan kekuatan yang ada, sementara itu, mereka masih harus mengamati beberapa orang tawanan mereka, termasuk Ki Buyut Bapang itu sendiri.

Namun sebagaimana dipesankan oleh Akuwu, bahwa Ki Buyut Bapang tidak boleh mengetahui rencana Akuwu Sangling untuk mengambilnya. Karena Ki Buyut Bapang sendiri ternyata memang merasa telah bersalah, sehingga ia menjadi ketakutan di saat Akuwu Lemah Warah mengatakan akan pergi menemui Akuwu Sangling.

Jika ia mengetahui sikap Akuwu Sangling, maka ia akan merasa dirinya mendapat dukungan yang kuat, sehingga ia akan menjadi sombong meskipun keadaannya sangat sulit.

Dalam pada itu maka ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak sampai hati untuk meninggalkan padepokan itu. Meskipun ia tidak tahu pasti, kapan Akuwu Sangling dan pasukannya akan datang. Atau apakah Akuwu Sangling benar-benar akan datang seperti yang dikatakannya. Namun menilik sikapnya sebagaimana dikatakan oleh Akuwu Lemah Warah, maka Akuwu Sangling benar-benar merasa tersinggung karena seorang diantara Buyut di lingkungan Pakuwon Sangling telah ditangkap dan ditawan di dalam padepokan Suriantal.

Dengan demikian maka ketegangan telah mencengkam Padepokan Suriantal itu. Kekuatan di padepokan itu terlalu kecil jika dibanding dengan kekuatan Pakuwon Sangling. Tetapi apakah Sangling akan mengerahkan prajuritnya, atau sekedar mempergunakan kekuatan secukupnya untuk mengatasi kekuatan di padepokan itu, masih merupakan teka-teki sebagaimana kebenaran perhitungan mereka, bahwa Akuwu Sangling itu akan datang ke padepokan Suriantal.

Namun sementara itu, maka utusan Akuwu Lemah Warah yang kembali ke Lemah Warah telah mencapai dinding kota.

Dengan tergesa-gesa mereka telah langsung menuju ke rumah Panglima pasukan berkuda Lemah Warah. Panglima itu akan membicarakan dengan orang-orang yang ditugaskan melaksanakan pemerintahan di Lemah Warah.

Perintah Akuwu yang dibawa oleh beberapa orang prajurit itu memang mengejutkan. Tetapi Panglima pasukan berkuda itu tidak mempunyai banyak waktu. Karena itu, maka ia pun telah bertemu dengan beberapa orang Panglima dari berbagai pasukan yang ada di Lemah Warah.

Mereka kemudian harus memperhitungkan seluruh kekuatan yang ada di Lemah Warah. Berapa bagian di antara mereka yang akan pergi ke padepokan Suriantal dan berapa bagian yang harus tetap berada di pusat pemerintahan Lemah Warah.

Namun para pemimpin di Lemah Warah itu bertindak cepat sebagaimana dikehendaki oleh Akuwu. Dalam waktu dekat, mereka telah berhasil menentukan, pasukan yang manakah yang akan menuju ke padepokan Suriantal. Para pemimpin di Lemah Warah, termasuk para Panglima prajurit, pada umumnya memahami nilai prajurit Sangling yang tinggi. Karena itulah, maka yang akan berangkat ke padepokan Suriantal adalah orang-orang terpilih. Jumlahnya tidak perlu terlalu banyak. Tetapi dengan satu keyakinan bahwa secara pribadi masing-masing memiliki kemampuan diatas kebanyakan prajurit.

“Kita akan segera siap untuk berangkat,” berkata Panglima pasukan berkuda.

“Berkuda?” bertanya prajurit yang membawa perintah Akuwu.

“Tidak,” jawab panglima itu, “kita berjalan kaki. Bukankah Akuwu berpesan sebagaimana kau katakan?”

“Ya. Pasukan ini harus berhenti sebelum mencapai padepokan itu sendiri. Mungkin Akuwu mempunyai rencana lain dengan pasukan ini,” jawab prajurit itu.

Demikianlah, maka ketika segala persiapan telah diselesaikan dengan cepat, serta bekal yang sudah disediakan, maka pasukan pilihan itu pun segera berangkat.

Ternyata pasukan itu benar-benar pasukan yang pilihan.

Mereka berjalan tanpa berhenti meskipun malam turun. Dalam kegelapan pasukan itu tetap berjalan mendekati padepokan Suriantal.

Pada saat yang bersamaan, sepasukan yang kuat pula telah dipersiapkan di Pakuwon Sangling. Ternyata Akuwu Sangling tidak hanya mengancam. Ia benar-benar mempersiapkan pasukannya. Akuwu Sangling memang merasa tersinggung. Seorang Buyut yang dianggapnya cukup baik telah ditangkap dan ditahan di padepokan Suriantal. Kemudian Akuwu Lemah Warah telah mengatakan, bahwa batu itu tidak terletak di daerah Pakuwon Sangling.

Dari beberapa orang yang pernah melaporkan tentang pertempuran di padepokan, Akuwu mampu menilai kekuatan yang ada di padepokan itu. Namun Akuwu Sangling sudah memperhitungkan bahwa saat itu Akuwu Lemah Warah masih belum hadir. Sehingga dengan demikian maka Akuwu Sangling harus memperhitungkan tambahnya kekuatan di padepokan itu. Namun Akuwu pun harus yakin bahwa kekuatannya benar-benar akan mampu mengalahkan kekuatan yang ada di padepokan Suriantal itu.

Pada saat yang ditentukan, maka Akuwu Sangling sendirilah yang memimpin pasukannya menuju ke padepokan yang telah menyimpan batu berwarna kehijauan itu. Seorang saudara seperguruannya telah ikut serta pula bersama Akuwu Sangling.

Karena menurut perhitungan mereka, Akuwu Lemah Warah tentu masih berada di padepokan itu pula. Bahkan mungkin sengaja menunggu kedatangannya.

Namun ternyata bahwa pasukan Lemah Warah lah yang lebih dahulu sampai di padepokan itu. Tetapi seperti perintah Akuwu, maka pasukan itu tidak langsung memasuki padepokan, selain dua orang penghubung.

“Kenapa?” bertanya Mahisa Murti.

Akuwu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku yakin bahwa sejak saat ini Akuwu Sangling tentu sudah memasang orang-orangnya untuk mengamati padepokan ini. Karena itu, maka kita harus mengambil satu langkah yang akan dapat menjebaknya.”


“Maksud Akuwu?” desis Mahisa Pukat.

“Apakah mungkin untuk menitipkan para prajurit itu di padukuhan terdekat?” bertanya Akuwu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun segera mengetahui maksudnya. Karena itu, maka Mahisa Murti pun berkata, “Mungkin dapat dicoba. Aku akan menghubungi Ki Bekel yang pernah meminjamkan sepuluh ekor kerbau itu. Mudah-mudahan ia dapat menerima para prajurit itu tinggal untuk beberapa lama diantara mereka.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun tidak membuang waktu. Mereka segera menemui Ki Bekel di padukuhan terdekat.

Ki Bekel memang tidak dapat menolak. Apalagi ketika ia mendapat keterangan bahwa yang akan datang itu adalah sepasukan prajurit Lemah Warah. Bukan sekelompok perampok atau penyamun, atau sebagaimana penghuni padepokan Suriantal itu sebelumnya.

Ki Bekel lah yang kemudian mengatur, menempatkan para prajurit itu di rumah-rumah sepadukuhan. Semuanya itu dilakukan dengan cepat.

“Mereka akan datang berurutan. Tidak bersama-sama dalam barisan,” berkata Mahisa Murti kepada Ki Bekel.

Semuanya itu dilakukan dimalam hari. Sekelompok-sekelompok kecil telah memasuki padukulten terdekat, ternyata tidak hanya di satu padukuhan. Tetapi di dua padukuhan.

“Jangan takut, bahwa mereka akan mengganggu,” berkata Mahisa Murti, “mereka pun tidak perlu diberi makan kecuali jika yang dihuni oleh prajurit itu kebetulan orang berada. Para prajurit itu sudah dilengkapi dengan bekal mereka masing-masing.”

Ki Bekel di kedua padukuhan itu mengangguk-angguk. Tetapi mereka percaya bahwa para prajurit itu memang tidak akan mengganggu.

Dengan demikian, maka disetiap rumah tinggal dua atau tiga orang prajurit. Bahkan dirumah yang besar dapat tinggal lima orang bersama-sama. Mereka tidak akan tinggal terlalu lama di padukuhan-padukuhan itu.

Sebenarnyalah bahwa Akuwu Sangling memang sudah menugaskan orangnya untuk mengamati pintu gerbang. Apakah ada pasukan yang baru datang memasuki padepokan.

Sampai saat terakhir, orang-orang yang bertugas untuk mengamati pintu gerbang itu tidak melihat hadirnya pasukan baru. Mereka tidak melihat iring-iringan atau kelompok-kelompok kecil yang memasuki pintu gerbang. Karena itu, maka mereka berkesimpulan bahwa tidak ada pasukan baru yang datang ke padepokan Suriantal.

Karena itu, ketika kemudian pasukan Akuwu Sangling datang mendekati padepokan Suriantal, maka orang-orang yang bertugas itu, telah datang kepadanya untuk melaporkan hasil pengamatannya.

“Apakah pintu gerbang, itu tidak pernah dibuka?” bertanya Akuwu.

“Tentu saja dibuka. Sekali-sekali satu dua orang keluar masuk pintu itu. Mungkin mereka akan berbelanja atau untuk keperluan lain bagi kebutuhan mereka sehari-hari,” jawab pengamat itu.

“Apakah tidak mungkin mereka memasuki padepokan itu seorang demi seorang,” bertanya Akuwu.

“Tidak Akuwu,” jawab pengamat itu, “jika demikian maka akan berlangsung iring-iringan yang panjang yang memerlukan waktu yang lama. Itu pun jumlahnya tidak akan banyak.”

Akuwu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya, “Apakah mungkin mereka memasuki padepokan dengan meloncati dinding?”

“Juga tidak,” jawab pengamat itu, “jika demikian salah seorang diantara kita akan melihatnya.”

Akuwu Sangling mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Agaknya Akuwu Lemah Warah memang sombong sekali. Ia menganggap bahwa dengan pasukannya yang kecil ia akan dapat mengalahkan pasukanku. Biarlah ia menyesal. Jika ia nanti melihat pasukanku yang mengepung padepokan itu, maka ia akan menyesali kesombongannya. Baru ia menyadari bahwa, aku tidak sekedar bermain-main. Aku benar-benar akan melakukan sesuatu untuk menegakkan harga diriku. Ki Buyut Bapang akan aku ambil dalam keadaan yang baik. Jika ia mengalami cidera, maka biarlah Akuwu Lemah Warah mempertanggung-jawabkannya. Aku akan menangkapnya dan membawanya ke Sangling. Aku tidak takut bahwa pasukannya akan datang menyusulnya ke Sangling. Pasukan itu harus, menyerah dengan melepaskan segala senjatanya jika mereka mengharap Akuwunya selamat.”

Perwira yang mendapat tugas mengamati keadaan itu mengangguk-angguk. Katanya, “Rencana selanjutnya terserah kepada Akuwu. Namun ada baiknya jika Akuwu mulai mengepung padepokan itu.”

“Aku setuju,” berkata Akuwu Sangling, “aku sudah menunda keberangkatanku kemari. Menurut perhitunganku, jika Lemah Warah memanggil pasukan, maka mereka tentu sudah sampai dan sudah berada di dalam padepokan. Namun agaknya Akuwu Lemah Warah memang merasa dirinya terlalu kuat. Bahkan secara pribadi, sehingga ia tidak memerlukan pasukan dalam jumlah yang memadai.”

Demikianlah, maka Akuwu Sangling pun telah memerintahkan pasukannya untuk mengepung padepokan itu. Meskipun belum ada perintah untuk bergerak, namun kepungan itu harus menutup padepokan itu sehingga mereka tidak akan dapat berhubungan dengan siapapun.

Dengan wajah tengadah Akuwu Sangling melihat pasukannya yang menebar, mengelilingi padepokan itu. Dalam kelompok-kelompok maka pasukan Akuwu Sangling itu telah membangun semacam gubug-gubug kecil yang akan dapat mereka pergunakan.

Para prajurit itu pun telah menebangi bambu dan kekayuan yang banyak terdapat di gerumbul-gerumbul dan hutan perdu tidak terlalu jauh dari padepokan itu. Mereka dapat mempergunakannya untuk membangun gubug-gubug kecil yang kemudian diberi beratap ilalang yang banyak terdapat di sekitar padepokan itu pula.

Prajurit-prajurit Sangling itu bekerja dengan tenang tanpa menghiraukan orang-orang padepokan itu. Seakan-akan mereka menganggap bahwa orang-orang padepokan itu sama sekali tidak membahayakanya. Karena itu, hari-hari pertama kehadiran mereka, mereka telah melakukan kerja itu.

Dalam waktu dua hari, telah dapat dibangun gubug-gubug kecil yang cukup untuk berteduh dari teriknya panas dan dinginnya titik embun. Beberapa buah diantara gubug-gubug yang agak besar telah mereka pergunakan sebagai dapur untuk menyiapkan makan dan minum seisi pasukan itu.

Sementara itu orang-orang yang berada di dalam padepokan itu hanya memperhatikan saja tingkah laku orang-orang Sangling itu. Namun demikian, mereka pun menjadi berdebar-debar Jika pada suatu saat, orang-orang Sangling itu mengetahui bahwa di dua padukuhan terdekat terdapat pasukan Lemah Warah yang cukup kuat, yang berbaur dengan penduduk.

Dalam pada itu, karena Akuwu Sangling masih belum berbuat apa-apa, maka Akuwu Lemah Warah pun tetap menduga. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang menunda kepergiannya itu pun hampir kehilangan kesabaran. Apalagi setelah memasuki hari keempat. Seakan-akan kedua belah pihak sama sekali tidak saling berkepentingan.

Namun ternyata dugaan Akuwu Sangling keliru. Akuwu Lemah Warah sama sekali tidak menjadi cemas ketika ia melihat kekuatan Sangling yang mengepung padepokan itu. Bersama Mahisa Muri dan Mahisa Pukat, maka Akuwu Lemah Warah telah menyaksikan pasukan yang mengepung padepokan itu di segala arah. Akuwu telah mengamati pasukan induk dari Sangling dan berada di bagian depan dari padepokan itu. Kemudian yang berada di sisi kanan, di bagian belakang dan di sebelah kiri.

Ternyata bagi Akuwu Lemah Warah, pasukan itu memang tidak menggetarkan, meskipun tidak dapat dianggap tidak berbahaya.

Karena itu, maka Akuwu pun telah memerintahkan pasukannya untuk bersiaga sebaik-baiknya.

Sementara itu, prajurit Lemah Warah yang berada di padepokan telah mengetahui kehadiran Akuwu Sangling. Setiap kali mereka mengirimkan dua atau tiga orang yang harus mengamati pasukan yang mengepung padepokan itu. Mereka kadang-kadang berpakaian sebagai gembala yang sedang mencari rumput. Meskipun mereka berusaha untuk tidak berurusan langsung dengan para prajurit Sangling.

Orang-orang Lemah Warah yang berpakaian seperti gembala itu mengamati padepokan dari jarak yang cukup jauh. Hanya jika keadaan memaksa, maka orang-orang Sangling mudah-mudahan akan menganggap mereka sebagai gembala yang sebenarnya.

Namun sampai sekian jauh tidak ada seorang pun diantara pengamat itu yang langsung diketahui dan apalagi ditangkap oleh prajurit Sangling.

Dalam pada itu, setelah beberapa hari pasukan Sangling mengepung padepokan itu, maka Akuwu Sangling dengan dikawal oleh beberapa orang prajurit terpilihnya telah datang mendekati regol padepokan. Dengan pertanda khusus, mijka Akuwu itu menyatakan bahwa ia ingin berbicara dengan Akuwu Lemah Warah.

Regol itu memang dibuka. Akuwu Lemah Warah berdiri di regol yang sudah terbuka itu menunggu Akuwu Sangling yang mendekat. Sementara itu pada jarak beberapa puluh langkah, pasukan Sangling telah bersiap untuk melakukan perintah.

Dalam pada itu Akuwu Sanglinglah yang lebih dahulu berkata, “Yang mulia Akuwu Lemah Warah. Meskipun barangkali Akuwu telah mengetahuinya, tetapi baiklah aku sekarang mengatakannya lagi, bahwa aku datang untuk mengambil Ki Buyut Bapang. Aku minta Akuwu menyerahkan Ki Buyut Bapang dalam keadaan sebagaimana ia sehari-hari. Tanpa cidera dan tanpa cacat. Aku berjanji untuk mengusut persoalannya sebaik-baiknya sesuai dengan keadilan. Kemudian aku minta Akuwu mencabut pernyataan Akuwu bahwa letak batu itu semula tidak termasuk Pakuwon Sangling. Atau Akuwu juga membuat pernyataan bahwa batu itu juga tidak terletak di Pakuwon Lemah Warah.”

Akuwu Lemah Warah menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian jawabnya, “Aku tidak berkeberatan untuk memenuhi permintaan Akuwu yang kedua. Meskipun aku tetap mengatakan bahwa batu itu tidak terletak di Sangling, namun aku bersedia membuat pernyataan bahwa batu itu tidak juga terletak di Lemah Warah. Karena itu, maka hak Akuwu atas batu itu sama dengan hakku atas batu itu.”

“Baik,” jawab Akuwu Sangling. Namun kemudian, “sekarang serahkan Ki Buyut Bapang.”

“Itulah yang aku berkeberatan,” jawab Akuwu Lemah Warah, “sebaiknya Akuwu tidak menuntut agar kami mengembalikannya kepada Akuwu. Tetapi jika Akuwu bersedia, maka kita akan bersama-sama mengusutnya. Sebenarnyalah aku kecewa terhadap Akuwu. Aku mengira Akuwu berterima kasih kepadaku, bahwa aku telah memberikan keterangan yang berguna bagi Akuwu tentang salah seorang Buyutnya yang tidak berlaku pantas.”

Tetapi Akuwu Sangling menggeleng sambil menjawab, “Tidak. Buyut Bapang adalah orangku. Hitam putihnya ada di tanganku.”

“Maaf Akuwu. Aku tetap pada pendirianku. Aku akan mengadilinya dan akan menentukan hukuman apa yang pantas dilakukannya, ia sudah melakukan kesalahan dua kali. Sebelum ia melarikan diri dari Lemah Warah dan atas padepokan ini. Ia telah menimbulkan kematian dan goncangan-goncangan atas padepokan ini,” jawab Akuwu Lemah Warah.

“Akuwu,” jawab Akuwu Sangling, “apakah Akuwu tidak melihat bahwa aku datang dengan pasukanku? Seharusnya Akuwu dapat memperhitungkan kekuatan yang ada di dalam padepokan ini dengan pasukan yang aku bawa. Karena itu aku memperingatkan, sebaiknya Akuwu Lemah Warah tidak menantang Sangling untuk melakukan kekerasan.”

“Terima kasih atas peringatan itu,” jawab Akuwu Lemah Warah, “tetapi aku pun memperingatkan, bahwa di padepokan ini terdapat kekuatan yang terlalu besar bagi prajurit Sangling yang ada di sekitar padepokan itu. Karena itu, sebaiknya Akuwu Sangling tidak berbuat apa-apa disini yang hanya akan menjerat Akuwu sendiri. Sebab jika kekerasan telah dimulai, maka akan sulit untuk dihentikan.”

“Akuwu. Kita bukan baru berkenalan kemarin. Tetapi ternyata aku salah duga. Aku kira Akuwu Lemah Warah bukan seorang yang sangat sombong. Kini ternyata bahwa Akuwu adalah orang yang sangat sombong. Dan kesombongan itu akan dapat menyeret Akuwu ke dalam kesulitan dan penyesalan.”

“Apapun yang kau katakan, tetapi aku akan mempertahankan Ki Buyut. Bukan karena Ki Buyut adalah orang besar yang pantas dipertahankan dengan mengorbankan beberapa orang yang akan mati, tetapi semata-mata karena aku berpegang pada berlakunya paugeran di Lemah Warah,” berkata Akuwu Lemah Warah.

“Kita mempunyai dasar pegangan yang sama. Soalnya adalah harga diri. Dan kematian-kematian yang bakal terjadi bukannya harga Ki Buyut Bapang. Tetapi nilai dari harga diri kami.” sahut Akuwu Sangling.

“Nah,” berkata Akuwu Lemah Warah, “jika demikian kita bertolak dari dasar pendirian yang sama. Harga diri. Nah, aku sudah siap mempertahankan harga diri Lemah Warah.”

Akuwu Sangling itu menggeretakkan giginya. Kemarahannya nampak pada wajahnya yang merah dan sorot matanya yang menyala. Dengan suara yang bergetar, Akuwu itu berkata, “Baiklah kakanda Akuwu Lemah Warah. Jangan salahkan aku yang dianggap lebih muda jika aku berani menentang keputusan Akuwu itu. Aku akan memasuki padepokan ini besok dan mengambil Ki Buyut. Jika terpaksa jatuh korban, sudah aku katakan, itu adalah nilai dari harga diri kami.”

“Kami sudah siap,” jawab Akuwu Lemah Warah.

Akuwu Sangling itu pun kemudian telah memberikan isyarat kepada para pengawalnya untuk meninggalkan regol padepokan itu. Sementara itu Akuwu Lemah Warah masih berdiri di regol untuk beberapa saat sambil memandangi Akuwu Sangling yang menjauh bersama para pengawalnya. Namun terkesan pada wajah dan sikapnya, bahwa Akuwu Sangling benar-benar menjadi marah dan akan melakukan sebagaimana dikatakan.

Akuwu Lemah Warah menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia kemudian surut beberapa langkah, maka regol itu pun telah ditutup dan diselarak.

“Agaknya Akuwu Sangling tetap tidak mau mengerti, “desis Akuwu Lemah Warah.

“Dan akan terjadi lagi seperti yang pernah terjadi.” sahut Mahisa Murti, “sekelompok pasukan bersiap disebelah menyebelah regol dan dibeberapa panggungan. Mereka bersiap dengan anak panah dan busur. Kemudian yang lain akan melontarkan lembing ke arah pasukan yang datang mendekati dinding.”

“Mahisa Murti,” berkata Akuwu Lemah Warah, “jika kau mendengar keterangan Akuwu Sangling, maka kau tentu akan sependapat. Soalnya adalah harga diri. Karena itu, maka kita pun harus mempertahankan harga diri itu. Bukan sekedar batu itu.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti. Tetapi seandainya kami tidak mengambil batu itu, maka aku kira Ki Buyut yang menjadi sasaran Akuwu Sangling itu tidak akan berada di sini.”

“Tetapi batu itu sudah ada di sini. Dan Ki Buyut itu pun sudah berada di sini pula,” jawab Akuwu.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Pukat pun berkata, “Apa boleh buat. Kita harus mempertanggung jawabkan apa yang telah kita lakukan.”

Mahisa Murti memandang Mahisa Pukat sekilas. Sementara itu Mahisa Pukat berkata selanjutnya, “Kita tidak dapat sekedar menyesali langkah-langkah yang sudah kita ambil. Tetapi kita harus menentukan langkah selanjutnya.”

Hijaunya Lembah, Hijaunya Lereng Pegunungan
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger