logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Hijaunya Lembah, Hijaunya Lereng Pegunungan Jilid 044


“Tetapi bukan karena tuah atau kutuk dari batu itu,” berkata Akuwu, “yang terjadi itu adalah karena ketamakan orang-orang itu sendiri. Seandainya mereka tidak bernafsu untuk merebut batu itu, sebagaimana dilakukan oleh Ki Buyut Bapang, maka tidak akan terjadi malapetaka ini. Karena itu kesalahannya terletak kepada ketamakan mereka. Bukan pada batu itu.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sementara itu Akuwu Lemah Warah pun berkata, “Sebagaimana kau ketahui, bahwa pertumpahan darah itu tidak terjadi kali ini, atau pada saat Ki Buyut Bapang menyerang padepokan ini. Ketamakan yang lain, saat sekelompok orang merasa berhak menguasai padepokan ini pun telah menimbulkan malapetaka pula.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih mengangguk-angguk. Sementara itu Akuwu Lemah Warah masih berkata pula, “Nah. Dengan demikian kau tidak perlu menghiraukan apakah itu tuah atau kutuk dari batu itu. Lakukan rencana kalian. Aku yakin bahwa maksud kalian yang baik itu akan dapat kalian laksanakan.”

“Baiklah Akuwu,” jawab Mahisa Murti, “mudah-mudahan kami dapat menyelesaikan rencana kami.”

Akuwu Lemah Warah tersenyum. Katanya, “Tetapi kau tidak dapat tergesa-gesa pergi. Kau masih harus menyembuhkan luka-lukamu lebih dahulu.”

“Ya. Akuwu. Kami memang tidak tergesa-gesa. Masih banyak waktu yang tersedia. Apalagi rencana ini tidak terikat oleh waktu,” berkata Mahisa Murti.

Akuwu Lemah Warah menepuk bahu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Katanya, “Jika ada yang sanggup memahat batu itu, maka batu itu tentu akan menjadi patung yang bagus sekali. Namun justru karena itu kau tidak boleh salah memilih. Kau harus menemukan seorang pemahat yang memiliki kecakapan yang memadai.”

“Kami akan berusaha Akuwu,” jawab Mahisa Murti.

Akuwu Lemah Warah mengangguk-angguk. Namun kemudian dengan nada berat ia berkata, “Tetapi kita tidak dapat menentukan bahwa yang terjadi ini adalah yang terakhir kalinya, sebagaimana Pangeran Singa Narpada tidak dapat memastikan, bahwa tidak akan ada orang lain lagi yang menginginkan mahkota yang pernah hilang itu.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Tetapi sementara itu Akuwu pun berkata, “Tetapi kalian akan mendapat kesempatan itu. Berapa pun waktu yang kau perlukan untuk menemukan seorang pemahat. Sebulan, dua bulan, tiga bulan atau lebih. Aku akan dapat memerintah Lemah Warah dari padepokan ini. Para prajuritku akan menjadi penghubung antara Lemah Warah dan padepokan ini.”

“Tetapi Akuwu sebaiknya tidak meninggalkan Lemah Warah terlalu lama,” desis Mahisa Pukat.

Akuwu Lemah Warah tertawa. Katanya, “Saat ini Lemah Warah tidak mempunyai persoalan yang berat. Para pemimpin Lemah Warah akan dapat melakukan tugas mereka sebaik-baiknya, sementara itu setiap pekan akan ada sekelompok penghubung yang datang kemari. Sebenarnyalah aku merasa bertanggung jawab atas batu itu. Apalagi setelah aku mendengar rencanamu, membuat patung sepasang Naga dalam satu sarang.”

Kedua anak muda itu mengangguk-angguk pula.

“Sudahlah,” berkata Akuwu itu kemudian, “kalian masih memerlukan banyak sekali waktu untuk beristirahat. Dengan demikian maka keadaan kalian akan segera pulih kembali.”

“Baiklah Akuwu,” jawab keduanya hampir berbareng.

Akuwu Lemah Warah itu pun kemudian telah meninggalkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang masih tetap duduk merenungi batu yang berwarna kehijau-hijauan itu.

Sementara itu Akuwu Lemah Warah telah melangkah satu-satu di seputar padepokan itu. Seorang Senapati telah menemaninya melihat-lihat setiap barak yang ada di padepokan itu. Dilihatnya orang-orang yang terluka sedang mendapat perawatan. Orang-orang Lemah Warah sendiri, tetapi juga orang-orang Sangling. Kemudian dilihatnya pula orang-orang yang tertawan lebih dahulu, serta dijenguknya pula Ki Buyut di Bapang.

Meskipun hanya sepercik kecil, ternyata timbul pula pertanyaan di hati Akuwu, apakah segala sesuatunya itu ada hubungannya dengan kekuatan yang tersimpan di dalam batu itu.

Namun kemudian ia pun menggeleng sambil berdesis, “Tentu tidak. Peperangan dapat terjadi di mana-mana. Kediri yang ditundukkan oleh Tumapel. Kemudian usaha untuk menguasai mahkota yang dianggap dapat menjadi persemayaman wahyu keraton. Para Pangeran yang memberontak. Kemudian orang-orang yang berebut padepokan ini dan masih banyak persoalan yang terpaksa diselesaikan dengan perang. Bukan sekedar persoalan batu itu.”

“Apa yang Akuwu katakan?” bertanya Senapati yang mengiringinya.

Akuwu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Perang yang disusul dengan perang. Nah, cobalah kau ingat-ingat. Seumurmu berapa kali telah terjadi peperangan besar dan kecil. Agaknya kita masih berpijak pada satu sikap bahwa perang merupakan cara yang paling baik untuk menyelesaikan persoalan.”

Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kadang-kadang kita memang tidak dapat menghindarkan diri dari peperangan.”

“Ya,” berkata Akuwu, “tetapi seharusnya kita turun ke medan perang jika memang tidak ada jalan lain yang dapat kita tempuh. Justru untuk mempertahankan kepentingan-kepentingan yang bertentangan dengan watak perang itu sendiri. Sebagaimana telah aku coba untuk berbicara dengan Akuwu Sangling. Tetapi ternyata bahwa aku sudah disudutkan ke medan perang, karena agaknya Akuwu Sangling menganggap bahwa perang adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan persoalan.”

Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Namun Akuwu Lemah Warah itu berkata, “Tetapi itu menurut sudut pandanganku. Mungkin Akuwu Sangling menganggap bahwa akulah yang telah memaksakan terjadinya perang.”

Senapati itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu.

Dalam pada itu, Akuwu Lemah Warah telah sampai ke barak para prajurit Lemah Warah yang sedang beristirahat. Beberapa orang diantara mereka berbaring diatas amben bambu. Sedang yang lain duduk bersandar dinding sambil menggosok-gosok senjata mereka. Nampaknya mereka memang harus membersihkan darah yang masih melekat pada ujung senjata mereka.

Demikian, di hari-hari berikutnya padepokan itu memang terasa mulai tenang. Masing-masing berusaha menempatkan diri mereka dalam keadaan dan kedudukan mereka. Para tawanan nampaknya harus menerima kenyataan itu, bagaimanapun juga hati mereka bergejolak. Karena memang tidak ada pilihan lain yang dapat mereka lakukan.

Sementara itu, para tabib baik dari Lemah Warah maupun dari Sangling telah berusaha sejauh dapat mereka lakukan untuk menolong mereka yang terluka. Tetapi untuk menjaga segala kemungkinan maka para tabib dari Sangling tidak diberi kesempatan untuk merawat para prajurit Lemah Warah. Bagaimanapun juga masih terdapat kecurigaan, bahwa para tabib itu akan dapat melakukan sesuatu yang dapat memperlemah kedudukan para prajurit Lemah Warah.

Disamping para tabib, maka yang bekerja di dapur pun semuanya terdiri dari orang-orang Lemah Warah. Demikian pula segala sumber makanan dikuasai sepenuhnya oleh orang-orang Lemah Warah.

Dari hari ke hari, maka yang terluka pun menjadi berangsur baik. Ki Buyut Bapang sebenarnya telah menjadi pulih kembali, seandainya Mahisa Murti atau Mahisa Pukat tidak setiap kali masih saja memperlemah kedudukannya.

Namun pada suatu saat, Akuwu Lemah Warah memang memerlukannya.

Sementara itu, keadaan Akuwu Sangling pun berangsur menjadi baik. Meskipun ia masih harus berbaring di pembaringan karena tenaganya yang masih lemah sekali. Tetapi kesadarannya telah menjadi semakin utuh.

Ketika Akuwu Lemah Warah datang kepadanya, maka Akuwu Sangling itu pun bertanya, “Kenapa tidak kau bunuh saja aku?”

Akuwu Lemah Warah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah kau anggap aku bijaksana jika aku melakukannya?”

“Terserah kepadamu,” jawab Akuwu Sangling.

“Sebenarnya aku dapat juga melakukannya,” berkata Akuwu Lemah Warah, “aku sanggup mempertanggung jawabkan kepada Sri Baginda di Kediri atau bahkan kepada Sri Maharaja di Singasari. Aku mempunyai alasan yang cukup kuat untuk melakukannya. Apalagi hal itu terjadi disini. Tidak di Sangling, sehingga setidak-tidaknya aku dapat membuktikan bahwa kau telah melakukan serangan. Bukan aku datang menyerang Sangling.”

“Aku tidak peduli apa yang akan kau katakan atau apa yang akan kau pakai sebagai alasan,” berkata Akuwu Sangling, “bagiku akan sama saja artinya. Namun sekali lagi aku bertanya, kenapa tidak kau bunuh saja aku.”

“Tidak,” jawab Akuwu Lemah Warah yang mulai tergelitik perasaannya, “aku memang ingin membiarkan kau hidup. Setidak-tidaknya untuk sementara, karena jika kau memang menghendaki kematianmu, tidak mustahil bahwa akhirnya akan dapat dipenuhi.”

“Persetan,” geram Akuwu Sangling, “tetapi apa sebabnya kau tunda kematian itu?”

“Aku ingin kau mendengar pengakuan Ki Buyut Bapang. Aku ingin kau mendengar dan mengerti, kesia-siaan tingkah lakumu dengan mengorbankan para prajuritmu dan juga prajurit Lemah Warah dan isi padepokan ini. Untuk membebaskannya kau telah sampai hati mengorbankan banyak nyawa. Apakah Ki Buyut itu demikian berharga bagimu? Atau kau memang merupakan salah seorang pelindungnya, atau sebaliknya Ki Buyut Bapang merupakan sumber kekayaan Pakuwon Sangling.”

“Cukup,” bentak Akuwu Sangling. Namun kemudian ia-pun memegangi dadanya yang terasa sakit sekali.

“Kau tidak perlu membentak-bentak,” berkata Akuwu Lemah Warah, “dalam keadaanmu, maka kedudukanmu sangat lemah dihadapanku. Juga orang yang memiliki ilmu serupa dengan ilmumu itu. Mungkin saudara seperguruanmu. Ia pun mengalami kesulitan yang cukup gawat.”

Akuwu Sangling tidak menjawab. Tetapi ia berusaha mengatasi perasaan sakit yang menyengat dadanya. Dalam keadaan yang masih sangat lemah, maka setiap hentakkan akan berakibat buruk bagi luka-luka di dalam tubuhnya.

Karena itu, maka Akuwu Sangling pun tidak lagi mendengarkan ketika Akuwu Lemah Warah kemudian berkata, “Sudahlah. Beristirahatlah sebaik-baiknya.”

Ketika Akuwu Lemah Warah meninggalkannya, maka Akuwu Sangling itu pun menggeram. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa.

Sementara itu, ketika Akuwu Lemah Warah melihat keadaan Ki Buyut Bapang, maka Ki Buyut itu pun berkata, “Akuwu, kenapa Akuwu membiarkan kedua anak muda itu selalu menyiksa hamba? Kenapa mereka tidak membiarkan keadaan hamba pulih kembali. Setiap kali mereka datang untuk memperlemah keadaan hamba dengan ilmu iblis mereka. Dalam keadaan terluka bakar di kulit dagingnya, keduanya masih juga mampu dengan rabaannya menghisap sebagian dari kekuatan dan kemampuan hamba.”

“Kau mempunyai dua pilihan Ki Buyut,” berkata Akuwu Lemah Warah, “kau harus menerima kenyataan itu.”

Ki Buyut tidak menjawab. Tetapi terdengar satu tarikan nafas yang panjang.

“Ki Buyut,” berkata Akuwu Lemah Warah, “pada satu saat, jika Akuwu Sangling telah menjadi semakin baik, kau akan aku bawa menemuinya.”

Ki Buyut termangu-mangu. Sementara Akuwu Lemah Warah pun berkata, “Kau harus dapat mengatakan yang sebenarnya tentang dirimu. Tentang keadaanmu ketika kau berada di Lemah Warah, dan tentang apa saja. Dengan demikian maka kau akan memberikan satu kesadaran baru bagi Akuwu Sangling yang keadaannya kini masih payah. Kami sudah bertempur dalam dua tataran. Ketika pertama kali kami terpaksa membenturkan ilmu kami, maka kami berdua sama-sama mengalami kesulitan dibagian dalam tubuh kami. Namun kami telah mengulanginya dengan kesiagaan yang lebih tinggi dan mengerahkan ilmu sampai ke puncak. Maka keadaannya menjadi berbeda. Tetapi Akuwu Sangling telah membuat kesalahan, sehingga akibatnya menjadi sangat parah baginya.”

Ki Buyut memandang Akuwu Lemah Warah dengan wajah yang tegang. Bahkan kemudian dengan nada rendah ia berkata, “Ampun Akuwu. Hamba jangan dipaksa untuk menemui Akuwu Sangling di sini.”

“Akuwu Sangling ada di sini sekarang,” berkata Akuwu Lemah Warah, “jika tidak di sini, di mana kau akan bertemu?”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kenapa hamba harus bertemu dengan Akuwu Sangling? Akuwu, beri hamba kesempatan untuk menghindar. Biarkan hamba menyingkir.”

“Tidak,” Akuwu Lemah Warah menggeleng. Lalu, “Kau harus menemuinya. Apapun yang akan kau katakan. Dan apapun yang akan dikatakan oleh Akuwu Sangling.”

Ki Buyut Bapang merasa bahwa ia tidak akan dapat menolak. Dalam keadaan yang sangat lemah itu, ia hanya dapat melakukan segala perintah. Jika tidak, maka kedua anak muda itu akan dapat menyiksanya lebih parah lagi. Ia akan dapat menghisap tenaganya sampai kering sama sekali.

“Sudahlah,” berkata Akuwu Lemah Warah, “biarlah keadaan Akuwu Sangling menjadi lebih baik. Baru kemudian kau akan aku bawa menemuinya.”

Ki Buyut tidak menjawab. Meskipun demikian terasa kegelisahan semakin mencengkam jantungnya. Pertemuan dengan Akuwu Sangling tidak menguntungkannya dan juga tidak bagi Akuwu Sangling sendiri. Tetapi Ki Buyut tidak kuasa untuk menolaknya.

Seperti dikatakan oleh Akuwu Lemah Warah, Ki Buyut tidak tergesa-gesa dibawa menghadap Akuwu Sangling. Akuwu Lemah Warah masih menunggu keadaan Akuwu Sangling semakin baik.

Namun yang lebih dahulu menjadi baik adalah justru saudara seperguruan Akuwu Sangling. Tetapi seperti Ki Buyut, maka setiap kali kekuatan telah disusut oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat karena bagi mereka, orang itu adalah orang yang sangat berbahaya.

Tetapi itu lebih baik daripada jika Akuwu Lemah Warah yang bertindak. Akuwu Lemah Warah akan mampu menghapus kekuatan dan kemampuan seseorang.

Di hari-hari berikutnya, tidak terjadi hal-hal yang menarik perhatian di padepokan itu. Dari waktu ke waktu kehidupan di padepokan itu diwarnai dengan usaha menyembuhkan yang dilakukan oleh para tabib atas mereka yang terluka. Juga usaha untuk menyembuhkan luka di dalam tubuh Akuwu Sangling.

Ternyata usaha itu betapapun lambatnya, namun akhirnya berhasil juga. Akuwu Sangling lambat laun menjadi berangsur baik. Pernafasannya tidak lagi terganggu, sementara peredaran darahnya telah berjalan dengan wajar.

Tetapi ternyata ada yang kurang wajar pada Akuwu Sangling. Meskipun keadaannya berangsur baik, tetapi anggauta badannya memang terasa kurang wajar. Tangan dan kakinya masih terasa berat meskipun bukan berarti tidak dapat digerakkan.

Tabib yang merawatnya juga merasa heran, bahwa ada kelainan pada perkembangan tubuh Akuwu Sangling. Agaknya benturan ilmu yang terjadi benar-benar telah merusakkan jaringan pada tubuhnya sehingga pada saat kesembuhannya menjadi semakin baik justru nampak menjadi semakin jelas.

Namun dengan usaha yang tidak kenal putus asa, maka kesulitan pada tubuh Akuwu Sangling itu dapat diatasi sedikit demi sedikit. Meskipun demikian, keadaannya tidak dapat pulih utuh sebagaimana sebelumnya.

Meskipun demikian menurut para tabib, Akuwu Sangling akan mendapatkan kembali sebagian besar dari kekuatan dan kemampuannya.

Pada saat-saat keadaannya menjadi semakin baik, maka Akuwu Lemah Warah telah berkunjung kedalam biliknya. Sebuah bilik kecil yang memang khusus diperuntukkan baginya.

Ketika Akuwu Lemah Warah memasuki bilik itu, ternyata bahwa Akuwu Sangling telah duduk di bibir pembaringannya. Dengan kerut di kening Akuwu Sangling itu pun telah menyapanya dengan nada keberatan, “Untuk apa Akuwu datang kemari?”

Akuwu Lemah Warah memandang Akuwu Sangling dengan tajamnya. Tetapi menghadapi Akuwu Sangling, maka Akuwu Lemah Warah harus mempergunakan cara yang sama.

Karena itu maka jawabnya, “Aku dapat datang ke sudut manapun di dalam padepokan ini. Padepokan ini, meskipun bukan milikku, tetapi sudah seperti rumahku sendiri. Aku telah ikut mempertahankannya dari ketamakan beberapa orang yang datang menyerang padepokan ini dengan seribu macam alasan sebagaimana kau lakukan.”

Akuwu Sangling menggeretakkan giginya. Tetapi ia masih terlalu lemah untuk berbuat sesuatu. Karena itu, maka katanya, “Kenapa kau tidak membunuhku.”

Akuwu Lemah Warah termangu-mangu. Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan ia bertanya, “Apakah kau sudah siap untuk menerima Ki Buyut Bapang. Ia akan aku bawa menemuimu. Biarlah ia mengatakan sendiri kepadamu, tentang kelakuannya sebelum ia berada di Sangling.”

Akuwu Sangling menjadi tegang. Namun kemudian jawabnya, “Aku tidak memerlukannya. Jika kau mau membunuhnya bunuh sajalah sebagaimana jika kau ingin membunuhku.”

“Kau kira aku adalah seorang pembunuh yang dapat membunuh siapa saja tanpa alasan yang mapan? Tidak Akuwu. Aku tidak akan membunuhnya. Tetapi aku akan mempertemukannya dengan Akuwu, agar semuanya menjadi semakin jelas.” berkata Akuwu Lemah Warah.

“Kau hanya ingin menunjukkan bahwa sikapmulah yang benar. Sikapku untuk membebaskan Ki Buyut Bapang adalah salah dan sia-sia. Demikian juga korban yang jatuh itu adalah kesia-siaan belaka. Kau hanya ingin mengatakan bahwa kematian-kematian itu berada dalam tanggung jawabku. Bukankah begitu?” bertanya Akuwu Sangling.

Apapun tanggapan Akuwu Sangling, agaknya Akuwu Lemah Warah tetap pada pendiriannya. Karena itu maka katanya, “Kau dapat berpikir apa saja. Dan kau dapat menanggapi rencanaku dengan cara yang paling buruk sekalipun. Tetapi aku akan tetap membawa Ki Buyut itu kemari. Aku ingin melihat tanggapanmu atas segala keterangan Ki Buyut itu.”

Akuwu Sangling itu pun menggeram. Tetapi ia tidak dapat mencegah Akuwu Lemah Warah membawa Ki Buyut Bapang kepadanya. Dalam keadaan yang sangat lemah, maka ia hanya dapat menerima apa saja yang bakal terjadi.

Namun yang dibawa ke bilik khusus Akuwu Sangling itu adalah saudara seperguruannya. Keadaannya memang sudah lebih baik. Tetapi ia seakan-akan tidak bertenaga dan tidak mempunyai kemampuan untuk berbuat sesuatu.

“Kau kenapa?” bertanya Akuwu Sangling.

“Anak-anak iblis itu,” geram saudara seperguruan Akuwu Sangling, “mereka mempermainkan aku seperti mempermainkan golek kayu.”

“Kau biarkan dirimu dipermainkan sementara keadaanmu menjadi semakin baik?” bertanya Akuwu Sangling.

“Aku tidak dapat berbuat apa-apa terhadap ilmu iblisnya itu. Keduanya memiliki ilmu yang mampu menghisap tenaga orang lain. Jika keadaanku nampak menjadi baik, maka mereka telah datang dan memperlemah lagi tenaga dan kemampuanku. Demikian mereka lakukan tanpa henti-hentinya,” berkata saudara seperguruannya itu.

“Bagaimana anak-anak itu tahu bahwa tenagamu telah mulai tumbuh kembali?” bertanya Akuwu Sangling.

“Mereka datang setiap pagi,” jawab saudara seperguruan Akuwu Sangling, “Mereka mengusap tubuhku. Kadang-kadang mereka hanya menyentuh jari-jari kakiku dengan ujung jari telunjuknya. Sungguh menyakitkan hati. Sementara itu aku harus menerima perlakuan itu tanpa dapat melawan sama sekali.”

“Bagaimana keadaanmu sekarang?” bertanya Akuwu.

“Aku hanya mampu berjalan. Mereka menunggu aku di luar bilik ini,” jawab saudara seperguruannya.

Akuwu Sangling menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia bergumam lirih, “Ternyata padepokan ini merupakan sarang iblis jahaman.”

Saudara seperguruannya tidak menyahut. Namun mereka benar-benar merasa terjerumus kedalam lingkungan yang paling menyakitkan hati.

Beberapa saat kemudian, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memasuki bilik itu. Kedua anak muda itu mengangguk hormat. Kemudian mempersilahkan saudara seperguruan Akuwu meninggalkan bilik itu.

“Kenapa keduanya tidak kau bunuh saja waktu itu,” geram Akuwu Sangling, “aku melihat luka-luka itu di kulit mereka.”

Saudara seperguruan Akuwu Sangling tidak menjawab. Tetapi ia pun telah berdiri dengan tenaganya yang lemah. Kemudian berjalan tertatih-tatih keluar bilik itu.

Sepeninggal saudara seperguruannya, Akuwu Sangling memang harus berpikir ulang. Ia tidak akan dapat mengingkari kenyataan, bahwa kekuatan di padepokan itu ternyata memang tidak mudah untuk diatasi. Kedua anak yang masih muda itu ternyata memiliki ilmu yang sudah jarang sekali dimiliki orang.

Dengan sentuhan-sentuhan dan benturan-benturan dalam pertempuran, kedua anak muda itu mampu melemahkan kekuatan dan kemampuan lawannya. Bahkan kemampuan ilmunya pun menjadi surut.

Mereka pun harus mengakui kelebihan ilmu Akuwu Lemah Warah yang luar biasa. Sehingga dengan demikian maka meskipun hanya sepercik namun terasa ada juga penyesalan. Tetapi sulit bagi Akuwu Sangling untuk dengan terus-terang mengakui kelebihan isi padepokan itu. Bagaimanapun juga Akuwu Sangling masih diikat oleh harga dirinya yang tinggi.

Sementara itu, keadaan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah pulih kembali seutuhnya. Namun bekas-bekas luka itu masih nampak dikulitnya. Agaknya untuk menghilangkan bekas luka-luka bakar itu diperlukan waktu yang cukup. Namun Akuwu Lemah Warah telah memberikan reramuan yang terbuat dari dedaunan untuk mempercepat pulihnya kembali noda-noda kehitaman di kulit kedua anak muda itu.


Dalam pada itu, ketika Akuwu Lemah Warah menganggap bahwa keadaan Akuwu Sangling sudah menjadi semakin baik, maka ia pun telah memberitahukan bahwa esok Ki Buyut akan dibawa menghadap Akuwu Sangling.

Seperti setiap kali hal itu disampaikan oleh Akuwu Lemah Warah, maka Ki Buyut itu pun menjadi sangat gelisah. Namun justru semakin keras Ki Buyut menolak, maka Akuwu Lemah Warah pun semakin mendesaknya pula untuk bertemu dengan Akuwu Sangling.

Namun akhirnya Ki Buyut tidak dapat menolak lagi. Ketika Akuwu Lemah Warah bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memasuki biliknya, maka Ki Buyut itu pun menjadi berdebar-debar.

Sebenarnyalah Akuwu Lemah Warah pun kemudian berkata kepada Ki Buyut, “Ki Buyut bersiaplah. Kita akan pergi ke bilik khusus Akuwu Sangling. Aku tidak akan banyak mencampuri persoalanmu dengan Akuwu Sangling. Namun aku hanya minta kau berkata sebenarnya tentang dirimu sendiri. Kau tidak akan dapat mendustainya karena aku tahu pasti apa yang telah kau lakukan ketika kau masih berada di Lemah Warah.”

“Apakah aku benar-benar tidak dapat memohon ?” bertanya Ki Buyut.

“Untuk membatalkan pertemuan ini?,” Akuwu itu ganti bertanya.

Ki Buyut mengangguk kecil sambil berdesis, “Sebenarnyalah aku sangat berkeberatan.”

“Kau harus menemuinya dan mengatakannya,” desak Akuwu Lemah Warah.

Ki Buyut agaknya memang tidak akan dapat mengelak lagi. Betapapun hatinya berat bagaikan dibebani timah, namun ia harus pergi menemui Akuwu Sangling.

Perlahan-lahan Ki Buyut bangkit dari pembaringannya. Ia memang sudah memiliki sebagian kecil dari kekuatannya, meskipun rasa-rasanya tubuhnya masih sangat lemah. Namun Ki Buyut ternyata mampu melangkah meninggalkan pembaringan-nya menuju ke bilik Akuwu Sangling.

Tetapi dalam perjalanan menyusuri barak-barak di padepokan itu Ki Buyut masih sempat bertanya, “Apakah hamba benar-benar tidak diperkenankan untuk menghindar?”

Akuwu Lemah Warah nampaknya sudah jemu untuk memberikan jawaban, karena jawabnya akan selalu sama. Karena itu, maka ia pun justru mempercepat langkahnya.

Tetapi Ki Buyut tidak dapat berjalan lebih cepat. Ia melangkah satu-satu diikuti oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Bahkan dengan nada datar ia berdesis kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, “Kalian benar-benar telah menyiksa aku tanpa belas kasihan. Kalian membuat tubuhku selalu lemah. Kemudian Akuwu menyiksa aku dengan menghadapkan aku kepada Akuwu Sangling. Apakah kalian tidak dapat berbuat lebih baik? Lebih berperikemanusiaan?”

“Pertanyaanmu aneh Ki Buyut,” jawab Mahisa Murti, “apakah yang sebenarnya telah kau lakukan? Apakah kau sama sekali tidak sempat melihat kepada dirimu sendiri? Ki Buyut, jika aku harus melakukannya atasmu, maka aku justru mempunyai pertimbangan sebagaimana aku maksudkan. Tetapi jika aku berbuat demikian, maka aku akan berbuat untuk kepentingan yang jauh lebih luas dari kepentinganmu sendiri Ki Buyut. Apakah kau tahu maksudnya?”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Sambil melangkah satu-satu ia berkata, “Jadi bagi kalian, aku sudah tidak mempunyai peluang lagi untuk berbuat kebajikan?”

“Dapatkah perkataanmu atau agaknya janjimu itu kami percaya dengan serta merta?” bertanya Mahisa Murti.

Ki Buyut memang tidak dapat menjawab. Ia tidak dapat menunjukkan atau menyatakan satu jaminan yang dapat dipercaya bahwa ia akan melakukannya sebaik-baiknya sebagaimana dikatakan itu.

Untuk beberapa saat mereka berjalan sambil berdiam diri. Ki Buyut yang lemah itu berjalan sambil menundukkan kepalanya. Ia tidak tahu, apakah yang akan dikatakannya nanti dihadapan Akuwu Sangling.

Dalam pada itu, Akuwu Lemah Warah sudah berdiri dihadapan pintu bilik Akuwu Sangling. Ketika ia berhenti dan berpaling, maka ternyata Ki Buyut masih berada beberapa langkah dibelakang diiringi oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Akuwu Lemah Warah menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar bahwa Ki Buyut tidak dapat berjalan secepat ia berjalan. Karena itu maka ia harus menunggu dengan sabar.

Beberapa saat kemudian maka barulah Ki Buyut yang tertatih-tatih itu mendekat dengan segannya, sehingga karena itu maka langkahnya menjadi semakin lambat.

Namun akhirnya Ki Buyut itu tidak dapat berbuat apa-apa lagi ketika ia sudah berdiri di muka pintu. Karena sejenak kemudian maka Akuwu Lemah Warah pun telah mendorongnya memasuki bilik itu.

Akuwu Sangling yang meskipun keadaannya sudah berangsur baik namun masih tetap berbaring di pembaringannya itu pun menarik nafas dalam-dalam. Apapun alasannya, ia tidak akan dapat menolak lagi kehadiran Ki Buyut Bapang.

“Duduklah Ki Buyut,” berkata Akuwu Lemah Warah yang mempersilahkan Ki Buyut duduk di sebuah amben kecil di sebelah pembaringan Akuwu Sangling.

Ki Buyut itu pun kemudian duduk dengan jantung yang berdeguban. Dipandanginya Akuwu Sangling yang berbaring itu dengan sorot mata yang gelisah.

“Ampun Akuwu,” berkata Ki Buyut, “hamba telah datang untuk menghadap Akuwu, atas perintah Akuwu Lemah Warah.”

Akuwu Sangling memandanginya sekilas. Namun kemudian ia pun berpaling sambil berdesis, “Untuk apa kau datang menghadap aku? Kita sama-sama tawanan disini.”

“Akuwu Lemah Warah lah yang memerintahkan hamba untuk menghadap,” jawab Ki Buyut.

“Aku tahu,” geram Akuwu Sangling, “Lemah Warah ingin mengatakan kepadaku lewat pengakuanmu, bahwa yang aku lakukan adalah sia-sia. Bahkan akan ditekankannya, bukan saja sia-sia, tetapi satu kesalahan besar. Sebab Akuwu Lemah Warah pernah mengatakan kepadaku, bahwa kau pernah berada pula di Lemah Warah. Kau pernah melakukan tindakan yang bertentangan dengan paugeran di Lemah Warah, sehingga akhirnya kau lari keluar dari Pakuwon. Tiba-tiba saja kau menjadi seorang Buyut di daerah Sangling, sehingga Akuwu Lemah Warah telah menganggap aku melindungi seorang penjahat seperti kau.”

Ki Buyut menundukkan kepalanya. Namun kemudian katanya, “Akuwu. Hamba tidak dapat ingkar. Hamba memang pernah melakukan kejahatan di Lemah Warah.”

“Nah, agaknya Akuwu Lemah Warah sudah puas mendengar pembicaraan ini?” berkata Akuwu Sangling.

“Hanya itu yang kalian katakan?” bertanya Akuwu Lemah Warah.

“Ya hanya itulah lingkaran persoalannya. Lalu apa lagi yang kau kehendaki?” bertanya Akuwu Sangling.

“Bagus,” berkata Akuwu Lemah Warah, “jika demikian aku akan mengambil kesimpulan. Ternyata Ki Buyut merupakan orang penting di Pakuwon Sangling.”

“Kenapa Akuwu berpendirian demikian?” bertanya Akuwu Sangling.

Akuwu Lemah Warah mengerutkan keningnya. Namun kemudian dengan nada dalam ia berkata, “Bukan Ki Buyut Bapang yang memberikan pengakuan. Tetapi Akuwu Sangling lah yang mengucapkan pengakuan yang seharusnya dikatakan oleh Ki Buyut Bapang.”

“Hanya karena itu maka Akuwu menganggap bahwa Ki Buyut Bapang merupakan orang penting di Sangling?” bertanya Akuwu Sangling.

“Dengan pengakuan yang kau ucapkan itu, agaknya kau memang bermaksud membatasi pengakuan yang mungkin diucapkan oleh Ki Buyut Bapang. Dengan demikian maka Ki Buyut tidak mengatakan bagaimana ia lari dari Lemah Warah dan datang menghadap Akuwu Sangling untuk mendapat perlindungan.”

“Kau jangan berprasangka begitu buruk,” geram Akuwu Sangling, “aku hanya ingin memancing agar Ki Buyut tidak merasa takut untuk mengucapkan pengakuannya.”

“Jangan kelabui aku demikian kasar, dengan menganggap aku berlaku bodoh,” berkata Akuwu Lemah Warah, “aku menang ingin melihat apa yang terjadi disini. Jika Ki Buyut Bapang yang mengucapkan pengakuan, kemudian Akuwu Sangling menjadi menyesal bahwa ia telah berusaha untuk menolong Ki Buyut, bahkan telah jatuh pula korban, maka aku yakin bahwa Ki Buyut benar-benar orang yang mampu menyelundup dan mengelabui Akuwu di Sangling. Tanpa sepengetahuan Akuwu Sangling Ki Buyut di Bapang mampu merebut kedudukan.” Akuwu Lemah Warah berhenti sejenak, lalu “tetapi yang aku lihat dan aku dengar bukan hal seperti itu.”

“Apa yang Akuwu lihat?” bertanya Akuwu Sangling.

“Seperti yang sudah terjadi,” berkata Akuwu Lemah Warah, “dengan cerdik Akuwu Sangling telah membatasi sikap dan pengakuan Ki Buyut Bapang. Namun dengan demikian aku melihat jelas, bahwa sebenarnya sejak kehadiran Ki Buyut di Sangling, Akuwu sudah tahu siapa Ki Buyut dan apa yang pernah dilakukannya di Lemah Warah.”

“Bohong,” wajah Akuwu Sangling menjadi tegang. Tetapi ia memang tidak dapat berbuat apa-apa. Tubuhnya terlalu lemah. Bahkan untuk bangkit dan duduk saja ia masih mengalami kesulitan. Sementara itu Ki Buyut Bapang pun sama sekali masih belum memiliki kemampuannya kembali.

Akuwu Lemah Warah yang berdiri di sebelah pembaringan Akuwu Sangling itu pun kemudian berkata, “Jika demikian, maka aku akan dapat menebak kenapa Akuwu Sangling telah bersusah payah untuk bertempur dengan mengorbankan orang-orangnya untuk membebaskan Ki Buyut Bapang.”

“Dugaanmu tentu buruk,” berkata Akuwu Sangling.

“Selama ini kalian berdua masing-masing telah menolak untuk bertemu. Karena dalam pertemuan itu, aku akan dapat menarik kesimpulan atas sikap kalian berdua,” berkata Akuwu Lemah Warah.

“Pikiranmulah yang sudah dikotori dengan prasangka-prasangka buruk,” berkata Akuwu Sangling.

“Jangan ingkar Akuwu Sangling. Bahkan aku dapat semakin jauh melihat hubunganmu dengan Ki Buyut Bapang. Ki Buyut dengan keras menolak untuk bertemu denganmu, karena Ki Buyut akan mengalami kesulitan jika aku bertanya kepadanya, apakah kehadirannya di Sangling memang benar-benar tidak kau ketahui asal-usulnya.”

Ki Buyut menundukkan kepalanya. Pergolakan yang seru telah terjadi di dalam dirinya. Ia tidak dapat ingkar kepada dirinya sendiri atas apa yang sebenarnya telah terjadi pada dirinya.

“Nah, kenapa kau begitu keras menuntut agar Ki Buyut aku serahkan kembali kepadamu? Apakah kau takut bahwa Ki Buyut akan membuka rahasia yang selama ini kau sembunyikan? Atau barangkali rahasia kalian bersama?” desak Akuwu Lemah Warah.

“Cukup,” Akuwu Sangling memotong dengan kasar. Tetapi oleh hentakan suaranya itu, maka nafasnya justru menjadi terengah-engah.

Akuwu Lemah Warah termangu-mangu sejenak melihat keadaan Akuwu Sangling. Ia tidak dapat menganggap sikap itu sekedar sikap pura-pura. Tetapi sikap itu benar-benar dilakukan karena ia memang dicengkam lagi oleh kesakitan.

Untuk beberapa saat Akuwu Sangling berusaha mengatasi sendiri keadaan pernafasannya. Namun agaknya hal itu sulit dilakukannya, sehingga akhirnya Akuwu Lemah Warah berkata kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, “Panggil tabib yang merawatnya.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menunggu lebih lama lagi. Mereka segera memanggil dua orang tabib yang merawatnya.

“Kenapa dengan Akuwu Sangling?” bertanya seorang diantaranya tabib-tabib itu.

“Nafasnya terengah-engah. Nampaknya ia sangat kesakitan,” berkata Mahisa Murti.

“Bukankah keadaannya sudah berangsur baik?” desis tabib yang lain.

“Tiba-tiba saja ia mengalaminya,” jawab Mahisa Pukat.

Kedua tabib itu pun kemudian bergegas untuk pergi ke bilik Akuwu Sangling. Mereka menemukan Akuwu Lemah Warah dan Ki Buyut Bapang berada di tempat itu.

“Lihatlah,” berkata Akuwu Lemah Warah, “tiba-tiba saja pernafsannya terganggu.”

“Hamba Akuwu,” jawab kedua tabib itu hampir berbareng.

Akuwu Lemah Warah itu pun kemudian berkata kepada Ki Buyut, “Kita tinggalkan Akuwu Sangling. Biarlah ia dirawat dengan baik. Kita memerlukannya.”

Meskipun Akuwu tidak mengatakannya kepada kedua tabib itu, namun keduanya sadar, bahwa mereka harus berusaha sebaik-baiknya untuk mengobati Akuwu Sangling, karena menurut Akuwu Lemah Warah, ia adalah orang yang diperlukan.

Sementara itu Akuwu Lemah Warah, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah membawa Ki Buyut Bapang ke dalam biliknya. Namun mereka tidak segera meninggalkannya. Untuk beberapa saat Akuwu Lemah Warah masih tetap berada di dalam bilik itu.

Meskipun demikian ketika ia melihat Ki Buyut itu dalam keadaan yang letih, maka Akuwu itu pun berkata, “Berbaringlah Ki Buyut. Kau memang masih terlalu lemah.”

“Sebenarnya hamba sudah tidak lagi dalam keadaan seperti ini,” berkata Ki Buyut, “tetapi kedua anak muda itu selalu membuat hamba seperti ini,” berkata Ki Buyut.

“Hanya satu cara untuk memperingan beban mereka yang bertugsa menjagamu,” berkata Akuwu Lemah Warah. Lalu, “Karena jika tidak demikian maka kau akan dengan mudah melarikan diri. Para penjaga tentu tidak akan mampu menahanmu. Apalagi jika kau sudah tenggelam dalam kekuatan ilmumu yang dapat membuat tubuhmu sekeras batu.”

“Tetapi tindakan ini telah menyiksa hamba tanpa henti-hentinya,” berkata Ki Buyut.

“Sampai satu saat, maka hal ini akan dihentikan. Tetapi masih akan merupakan pertanyaan, apakah kau masih akan memiliki ilmumu itu atau tidak,” berkata Akuwu Lemah Warah.

“Akuwu,” desis Ki Buyut, “apakah artinya itu?”

“Kau sudah melakukan kesalahan yang menurut pendapatku sulit untuk diampuni. Kau lari dari Lemah Warah, berada di Sangling dan bahkan kemudian telah menimbulkan kesulitan bagi kedua kemenakanku. Kau telah berusaha untuk merebut padepokan ini,” berkata Akuwu Lemah Warah.

“Akuwu,” berkata Ki Buyut, “sudah hamba katakan, sebenarnya hamba tidak bermaksud melakukannya. Tetapi hamba telah terseret ke dalam langkah-langkah yang justru telah menjebak hamba disini.”

“Tetapi bukankah tingkah lakumu dapat ditelusuri?” bertanya Akuwu Lemah Warah, “dan apakah kau akan ingkar seandainya aku menyebutkan bahwa kau bukan orang baik-baik selama kau berada di Sangling?”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Akuwu berkata selanjutnya, “Ki Buyut. Sebenarnya apa yang kau lakukan selama ini telah cukup memusingkan kepalaku. Karena itu seandainya jatuh hukumanku kepadamu, maka sepantasnya bahwa kau tidak lagi memiliki ilmu yang akan dapat kau pergunakan untuk memperpanjang tingkah lakumu yang bertentangan dengan paugeran itu.”

“Ampun Akuwu,” minta Ki Buyut dengan suara sendat. “jangan perlakukan aku seperti itu. Hidupku tentu sudah tidak akan berarti lagi.”

“Tentu tidak Ki Buyut,” berkata Akuwu, “orang-orang yang tidak pernah memiliki ilmu apapun juga, merasa bahwa hidupnya cukup berarti.”

“Tetapi hamba merasa bahwa hanya dengan ilmu itulah hamba mampu berbuat sesuatu yang berarti,” berkata Ki Buyut Bapang.

“Berarti bagi siapa?” bertanya Akuwu Lemah Warah.

Ki Buyut itu pun menjadi bingung, sehingga justru karena itu maka ia pun telah terdiam.

Dalam pada itu Akuwu Lemah Warah pun telah bertanya pula, “Ki Buyut. Apakah hubunganmu yang sebenarnya dengan Akuwu Sangling he?”

Wajah Ki Buyut menjadi tegang. Namun dengan gagap ia berkata, “Hamba adalah seorang Buyut, Akuwu Sangling adalah pemimpin hamba.”

“Seperti hubunganmu dengan aku ketika kau berada di Lemah Warah meskipun kau bukan seorang Buyut?” bertanya Akuwu Lemah Warah.

Wajah Ki Buyut menjadi pucat. Dengan lemah ia berdesis, “Ampun Akuwu.”

“Nah, kau tidak usah mengatakannya. Aku sudah dapat mengetahuinya. Itulah sebabnya maka Akuwu Sangling berkeras untuk melepaskanmu dari tangan kami, karena kau akan dapat membuka rahasia itu. Sehingga dengan demikian maka aku akan dapat menentukan bahwa Akuwu Sangling bukan seorang Akuwu yang baik sebagaimana aku duga selama ini,” berkata Akuwu Lemah Warah.

Ki Buyut tidak dapat ingkar lagi. Bahkan hampir di luar sadarnya ia berkata, “Hamba bukan satu-satunya orang yang menjadi kaki tangannya.”

“Aku sudah menduga. Jika ada satu saja diantara orang-orangnya diperlakukan seperti kau, maka agaknya ada pula orang lain dalam kedudukan yang serupa,” berkata Akuwu Lemah Warah. Namun kemudian ia bertanya, “Tetapi bukankah hal ini tidak diketahui oleh para Senapatinya?”

Ki Buyut menggeleng. Katanya, “Tidak Akuwu. Hanya beberapa orang sajalah yang mengetahuinya. Itu pun tidak sepenuhnya, sebagaimana hamba hanya mengetahui sebagian dari seluruh warna hidupnya.”

Akuwu Lemah Warah mengangguk-angguk. Namun ia tidak sempat berkata sesuatu lagi, karena mereka telah dikejutkan oleh seorang prajurit Lemah Warah yang dengan tergesa-gesa berkata, “Akuwu Sangling pingsan.”

“He,” Akuwu Lemah Warahlah yang menyahut, “bukankah ada dua orang tabib yang menungguinya.”

“Ya. Sudah diusahakan dengan sekuat tenaga dan kemampuan kedua tabib itu. Tetapi keadaan kesehatannya yang sudah baik itu telah turun dengan serta merta.”

Akuwu Lemah Warah pun kemudian dengan tergesa-gesa telah meninggalkan Ki Buyut Bapang diikuti oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Namun Ki Buyut Bapang itu tidak dapat keluar dari biliknya karena dua orang penjaga telah berada di pintu demikian Akuwu Lemah Warah bersama anak muda itu pergi.

Dalam pada itu, Akuwu Lemah Warah bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan langkah-langkah panjang menuju ke bilik Akuwu Sangling.

Ketika mereka sampai di pintu bilik, maka keduanya melihat dua orang tabib itu dengan tegang berdiri di sebelah pembaringan Akuwu Sangling. Sementara itu Akuwu Sangling berbaring dengan mata yang tertutup.

Dengan cemas Akuwu Lemah Warah kemudian memasuki bilik itu. Ketika ia merasa dada Akuwu Sangling, maka rasa-rasanya dada itu bagaikan membeku.

“Bagaimana?” bertanya Akuwu Lemah Warah.

Kedua tabib itu berpaling kearahnya. Namun kemudian dengan wajah yang buram keduanya menggeleng. Seorang di antara mereka berkata, “Agaknya sudah tidak ada dapat ditolong lagi Akuwu, kecuali terjadi satu keajaiban.”

Wajah Akuwu Lemah Warah menjadi tegang. Dengan nada datar ia bertanya, “Apakah kau tidak dapat berusaha sama sekali?”

“Kami sudah berusaha sejauh kemampuan kami,” berkata tabib itu, “tetapi agaknya usaha kami sia-sia. Akuwu Sangling sendiri sama sekali tidak membantu setiap usaha untuk mengobatinya.”

“Apa yang dilakukan?” bertanya Akuwu Lemah Warah.

“Akuwu Sangling menolak setiap jenis obat yang kami berikan. Akuwu sama sekali tidak mau menelannya. Ketika kami berusaha memaksa disemburkannya obat itu kembali,” jawab tabib itu.

Akuwu Lemah Warah termangu-mangu. Ditempelkannya telinganya ke dada Akuwu Sangling. Ternyata nafasnya tidak lagi teratur, demikian pula detak jantungnya. Bahkan rasa-rasanya semakin lama menjadi semakin lambat.

Kecemasan telah mencengkam hati Akuwu Lemah Warah. Bahkan penyesalan telah mulai menusuk jantungnya. Agaknya kehadiran Ki Buyut Bapang di bilik itu telah membuat Akuwu Sangling semakin terpukul perasaannya, sehingga karena itu, maka ia telah memilih jalan yang gelap itu.

Namun para tabib itu memang tidak dapat berbuat apa-apa. Keadaan Akuwu Sangling memang sudah menjadi semakin parah. Nafasnya semakin jarang dan bahkan kadang-kadang telah terhenti.

Akuwu Lemah Warah pun telah menggelengkan kepalanya pula. Perlahan-lahan ia melangkah keluar dari bilik itu. Sejenak ia berdiri di luar pintu sambil menengadahkan kepalanya, seakan-akan memandang mega-mega yang lewat dengan tanpa berkedip.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berdiri termangu-mangu. Meskipun keduanya tidak bertanya, tetapi keduanya dapat meraba, apa yang telah terjadi dengan Akuwu Sangling.

Bahkan sejenak kemudian seorang dari kedua tabib itu telah berdiri di pintu itu pula. Dengan nada rendah ia berkata, “Ampun Akuwu. Tidak ada yang dapat mencegah datangnya kematian.”

“Akuwu Sangling?” bertanya Akuwu Lemah Warah.

Tabib itu mengangguk kecil sambil berdesis, “Hamba Akuwu.”

Akuwu Lemah Warah pun kemudian bergegas masuk kembali. Namun seperti yang dikatakan oleh tabib itu. Akuwu Sangling telah menghembuskan nafasnya yang penghabisan.

Akuwu Lemah Warah hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Bagaimanapun juga ia telah merasa, bahwa dirinyalah yang telah membunuh Akuwu Sangling. Ia telah melukainya. Kemudian justru pada saat lukanya mulai susut, maka ia telah membawa Ki Buyut Bapang menemuinya.

Agaknya persoalan selanjutnya dianggap akan menjadi sangat gelap bagi Akuwu Sangling. Apalagi jika Akuwu Lemah Warah itu kemudian menyampaikan persoalannya kepada Sri Baginda di Kediri, maka ia akan semakin mengalami kesulitan. Karena itu bagi Akuwu Sangling tidak ada jalan lain yang dipilihnya kecuali mengakhiri segala-galanya sampai kebatas itu.

Dengan wajah yang muram Akuwu Lemah Warah memandang tubuh Akuwu Sangling yang terbaring diam. Tangannya sudah disilangkan di dadanya.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah memasuki bilik itu pula. Namun tubuh itu telah terbujur diam.

“Sudahlah,” desis Akuwu Lemah Warah, “ia telah sampai ke batas. Apapun yang kita lakukan, tidak akan dapat menolongnya.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Namun keduanya pun telah menundukkan wajahnya pula.

Akuwu Lemah Warah pun kemudian telah memerintahkan kepada seorang prajurit untuk bersamaa-sama dengan beberapa orang mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyelenggara-kan tubuh Akuwu Sangling itu.

Namun dalam pada itu, Akuwu Lemah Warah telah memberi kesempatan kepada kedua orang prajurit Sangling untuk kembali ke Pakuwonnya, memberitahukan kematian Akuwu Sangling. Jika keluarganya menghendaki, maka tubuhnya akan dapat dibawa kembali ke Pakuwon untuk dilakukan upacara yang lebih baik.

“Pakailah kuda yang ada di sini,” berkata Akuwu Lemah Warah.

“Terima kasih Akuwu,” sembah salah seorang dari kedua prajurit Sangling itu.


Sejenak kemudian kedua orang prajurit Sangling itu telah berpacu kembali ke Pakuwon untuk memberitahukan keadaan Akuwu Sangling kepada keluarganya dan kepada para pemimpin Pakuwon yang ditinggalkan di Sangling.

Namun dalam pada itu, diam-diam Akuwu Lemah Warah telah memerintahkan prajuritnya untuk bersiap-siap. Bagaimana pun juga kedua orang prajurit itu akan dapat berkata lain kepada para pemimpin Sangling yang tinggal, meskipun kemungkinan Sangling akan berbuat sesuatu memang sangat tipis. Apalagi setelah Akuwu Sangling itu tidak ada lagi. Tetapi bagi Akuwu Lemah Warah, tidak ada salahnya jika ia berbuat lebih berhati-hati.

Demikianlah, maka dua ekor kuda telah berpacu meninggalkan padepokan Suriantal itu menuju Sangling.

Dalam pada itu, maka para prajurit Lemah Warah yang ada di padepokan itu pun telah mulai mempersiapkan diri lagi. Sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat meskipun masih nampak dilekati oleh noda-noda pada kulitnya, namun kekuatan dan kemampuan ilmunya telah pulih seutuhnya.

Dalam kesiagaan itu, para prajurit Lemah Warah dan para penghuni padepokan Suriantal itu telah menempatkan para tawanan di tempat yang paling mapan. Tawanan yang jumlahnya cukup besar. Bahkan barak-barak di padepokan itu sebagian besar justru telah dipergunakan untuk menyimpan para tawanan. Sedangkan para prajurit Lemah Warah dan para penghuni padepokan itu sendiri justru berada di luar atau di tempat-tempat yang disiapkan dengan tergesa-gesa. Barak-barak kecil dan gubug-gubug sederhana di sekitar barak-barak yang dipergunakan oleh para tawanan, sekaligus mengamati dan menjaga, agar para tawanan tidak melakukan sesuatu yang tidak diharapkan.

Untuk menjaga segala kemungkinan, maka tawanan yang cukup banyak itu harus benar-benar dapat dikendalikan seandainya para pemimpin Sangling benar-benar datang untuk menuntut kematian Akuwunya. Atau kemungkinan lain yang dapat terjadi, setelah Akuwu Sangling itu terbunuh, maka tidak akan ada lagi gairah untuk melakukan perlawanan.

Namun banyak hal yang akan dapat terjadi.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah sibuk pula dian-tara para prajurit Lemah Warah dan terutama di antara para penghuni padepokan itu.

Panggungan di dinding padepokan telah diperbaiki, sehingga dapat dipergunakan dengan lebih baik dari sebelumnya. Panggungan itu menjadi lebih panjang dan diberi beratap. Panggungan itu bukan saja untuk berjaga-jaga mengamati daerah di sekitar padepokan, namun sekaligus dapat dipergunakan sebagai tempat untuk tidur sebagian prajurit Lemah Warah dan para penghuni padepokan itu yang tidak mendapat tempat-tempat di barak-barak dan gubug-gubug yang dibuat kemudian. Kehadiran mereka di panggung-panggung penjagaan itu justru memberikan gairah kepada mereka yang sedang bertugas, meskipun akhirnya mereka akan tertidur juga.

Para tawanan tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Mereka tidak mempunyai perhitungan seperti orang-orang Lemah Warah, bahwa kawan-kawan mereka mungkin akan datang untuk menyerang.

Sepeninggal Akuwu, rasa-rasanya segalanya memang sudah selesai.

Dalam pada itu, saudara seperguruan Akuwu Sangling pun menjadi sangat berduka. Kematian Akuwu Sangling merupakan pukulan yang sangat berat bagi perasaannya. Karena itu, maka ia pun telah jatuh kedalam satu sikap yang tidak berkepastian. Seakan-akan apa yang dilakukannya kemudian tidak memberikan arti apapun juga bagi hidupnya.

Yang menjadi lebih parah adalah Ki Buyut Bapang. Ia merasa ikut bersalah. Jika ia tidak terlibat dalam perebutan batu yang sudah berada di padepokan itu yang kemudian justru telah menjeratnya, maka Akuwu Sangling mungkin tidak akan datang ke padepokan itu pula.

Dalam pada itu, kedua orang yang telah berangkat menuju ke Sangling dengan berkuda, setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, telah berada di Pakuwon. Ia telah menemui para pemimpin Pakuwon yang tinggal. Termasuk para pemimpin prajurit Sangling.

Laporan itu memang membuat telinga para Senapati menjadi merah. Seorang Senapati muda dengan serta merta berkata, “Beri aku prajurit segelar sepapan. Aku akan menghancurkan padepokan itu.”

Seorang Senapati yang lebih tua dan sempat berpikir lebih cermat berkata, “Apa yang dapat kau lakukan di padepokan itu? Dalam pasukan yang hancur itu terdapat dua orang yang ilmunya sulit untuk dicari bandingnya. Akuwu dan seorang saudara seperguruannya. Pasukan yang dibawanya pun merupakan pasukan yang besar. Namun Akuwu tidak dapat memenangkan perang itu. Ilmu Akuwu telah membentur ilmu Akuwu Lemah Warah sementara ilmu saudara seperguruan Akuwu itu telah di hancurkan oleh dua orang anak muda kemanakan Akuwu Lemah Warah. Memang tidak masuk akal bahwa dua orang anak muda mampu mengimbangi ilmu saudara seperguruan Akuwu itu. Namun itulah yang terjadi. Bukankah begitu?”

Kedua orang prajurit yang telah melaporkan peristiwa di padepokan itu mengangguk-angguk. Namun Senapati muda itu bertanya lantang, “Apakah benar begitu?”

“Seperti yang sudah kami laporkan,” jawab salah seorang dari keduanya.

“Kita kerahkan semua kekuatan yang ada di Pakuwon ini,” katanya pula.

Tetapi Senapati yang tertua yang ada di Pakuwon itu menggeleng. Katanya, “Apakah kita tidak akan dapat melihat kenyataan itu? Apakah kita masih harus memberikan korban lagi?”

Senapati muda itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara Senapati yang lebih tua itu berkata pula, “Kau tidak akan dapat mengimbangi satu saja diantara kedua orang anak muda yang telah mampu mengalahkan saudara seperguruan Akuwu itu.”

Senapati muda itu tidak menjawab lagi. Ia memang harus mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi. Jika ia membawa prajurit ke padepokan itu, maka agaknya akan sia-sia sajalah usahanya itu. Apapun yang dilakukannya, Akuwu Sangling sudah tidak ada lagi.

“Jadi apa yang harus kita lakukan?” suara Senapati muda itu merendah.

“Mengambil tubuh Akuwu,” jawab Senapati yang tua itu. “kemudian menghadap ke Kediri. Apa yang akan diperintahkan oleh Sri Baginda di Kediri?”

Senapati muda itu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia harus menerima seluruh kenyataan itu.

Karena itu, maka akhirnya Senapati muda itu memang harus menyesuaikan pendapatnya. Senapati yang lebih tua itu akhirnya memerintahkan kepada para Senapati yang lain untuk bersiap-siap.

“Kita akan berangkat. Tetapi tidak dalam jumlah yang besar, agar tidak terjadi salah paham. Kita tidak akan bertempur lagi. Tetapi kita memenuhi pesan Akuwu Lemah Warah untuk mengambil tubuh Akuwu,” berkata Senapati yang lebih tua itu.

Demikianlah, maka dengan cepat, telah bersiap sepasukan kecil prajurit Sangling. Senapati yang lebih tua itu sendirilah yang akan pergi ke padepokan Suriantal untuk mengambil Akuwu Sangling yang telah gugur. Mereka tidak menunggu lebih lama lagi, karena mereka sadar bahwa tubuh Akuwu itu tidak akan dapat bertahan terlalu lama.

Karena itulah, maka sejenak kemudian sebuah iring-iringan berkuda telah berderap menuju ke Suriantal. Namun iring-iringan itu memang tidak dapat berpacu terlalu cepat, karena diantara mereka terdapat sebuah kereta. Sangling memang memiliki kereta yang siap ditarik oleh dua ekor kuda. Bukan pedati yang ditarik oleh dua ekor lembu. Karena jika mereka mengambil dengan pedati, meskipun lebih kuat, tetapi mereka akan memerlukan waktu terlalu lama.

Meskipun demikian, namun kereta itu pun tidak dapat berjalan secepat orang-orang berkuda. Jika kuda-kuda yang menarik kereta itu dipaksa untuk berpacu secepat orang-orang berkuda, maka roda-roda kereta itu akan dapat berpatahan. Karena itu, maka orang-orang yang berkudalah yang harus menyesuaikan diri.

Namun bagaimanapun juga, perjalanan mereka jauh lebih cepat daripada jika mereka berjalan kaki. Meskipun kadang-kadang kereta itu pun harus merambat seperti siput di jalan-jalan yang sulit. Tetapi di jalan-jalan yang rata, kereta itu pun dapat berpacu cukup cepat.

Ketika iring-iringan itu di hari berikutnya mendekati padepokan, maka mereka yang bertugas di padepokan itu pun segera melihat mereka. Karena itu, maka mereka pun segera memberikan isyarat kepada mereka yang bertugas di belakang regol.

Tetapi para petugas itu tidak segera membuka selarak dan pintu regol, tetapi mereka menunggu perintah Akuwu Lemah Warah.

Akuwu Lemah Warah bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memanjat dinding dan berdiri di panggungan yang tersedia di sebelah pintu gerbang. Dengan hati-hati Akuwu Lemah Warah menilai suasana. Agaknya yang datang memang sepasukan kecil, sehingga menurut perhitungan mereka tidak akan berbuat sesuatu selain hanya sekedar mengambil tubuh Akuwu.

Karena itu, agaknya Akuwu tidak berkeberatan jika selarak pintu itu dibukakan.

Namun sebelum Akuwu memerintahkan untuk membuka pintu itu, mereka semuanya dikejutkan oleh kehadiran seorang tua yang seakan-akan dengan tiba-tiba saja berdiri tidak terlalu jauh dibelakang iring-iringan yang datang itu.

Dengan demikian maka Akuwu telah mengurungkan niatnya untuk memerintahkan seorang pengawal untuk membuka selarak pintu gerbang itu. Bahkan dengan suara lantang Akuwu itu pun kemudian bertanya, “Apakah maksud kalian datang kemari?”

Senapati yang memimpin pasukan Sangling itu menjawab, “Ampun Akuwu. Hamba datang memenuhi pesan Akuwu.”

“Siapa orang tua itu?” bertanya Akuwu Lemah Warah.

Senapati itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Hamba tidak mengenalnya Akuwu.”

“Apakah kau berkata sebenarnya?” bertanya Akuwu pula.

“Hamba berkata sebenarnya,” jawab Senapati itu.

Akuwu Lemah Warah termangu-mangu sejenak. Namun menilik sikapnya Senapati itu tidak berhobong. Karena itu, maka Akuwu telah meneriakkan pertanyaan kepada orang tua itu, “Ki Sanak. Siapakah kau dan apakah kau mempunyai kepentingan dengan kami disini.”

Sejenak orang itu berdiri tegak sambil berdiam diri. Namun kemudian semua orang menjadi heran melihat sikapnya. Juga para prajurit Sangling yang berpaling ke arah orang tua itu.

Menurut penglihatan mata wadag orang-orang itu, orang tua itu sama sekali tidak menggerakkan mulutnya. Namun terdengar suara bergulung-gulung seolah-olah bergema di seluas langit, “Akuwu Lemah Warah. Ternyata kau adalah seorang yang memiliki kemampuan ilmu tiada taranya. Kau berhasil mengalahkan muridku, Akuwu Sangling. Bahkan kedua orang anak muda itu pun telah mampu mengalahkan muridku yang lain.”

Ketegangan telah mencengkam jantung semua orang yang mendengarnya. Demikian pula Akuwu Lemah Warah, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Sebelum mereka menjawab, maka orang itu pun telah melanjutkan kata-katanya yang bergaung di udara, “Bahkan saat ini muridku, Akuwu Sangling, telah terbunuh. Karena itu, maka aku telah datang kemari.”

Akuwu Lemah Warah termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Untuk apa kau datang kemari? Dan siapakah nama Ki Sanak?”

“Nama tidak penting bagimu. Tetapi aku benar-benar guru Akuwu Sangling,” jawab orang itu.

“Jika demikian, untuk apa Ki Sanak datang kemari? Aku tidak ingkar, bahwa Akuwu Sangling telah terbunuh disini. Saudara seperguruannya terluka berat. Demikian pula Ki Buyut Bapang,” berkata Akuwu Lemah Warah dengan lantang.

Orang itu tidak segera menjawab. Namun tiba-tiba saja orang itu telah menggerakkan tangannya. Yang mengejutkan itu terjadi lagi. Dari kedua telapak tangannya itu seakan-akan telah memancar api yang menjilat-jilat.

Semua orang menjadi tegang. Yang ada di dalam dinding padepokan, tetapi juga yang berada di luar dinding padepokan.

Dalam pada itu, Akuwu Lemah Warah pun berdesis, “Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Mendekatlah. Jika orang itu menyerang, maka kita akan melawannya bersama-sama. Aku tidak tahu, apakah ilmu kita bersama-sama akan dapat mengimbanginya. Namun aku yakin, bahwa kalian telah mendapatkan satu hentakan peningkatan ilmu dalam loncatan yang panjang. Karena itu, maka kita akan melawannya. Apapun yang akan terjadi.”

Namun sementara itu, para prajurit Sangling yang berada di luar padepokan itu menjadi bingung. Apakah yang sebaiknya mereka lakukan.

Dalam keadaan yang demikian, maka Akuwu Lemah Warah pun itu pun berkata lantang, “Nah, para prajurit Sangling. Kau dengar pengakuan orang itu? Sekarang, apakah yang akan kalian lakukan?”

“Akuwu,” berkata pemimpin pasukan itu, “kami tidak mengenal orang itu. Meskipun ternyata ilmunya telah menggetarkan jantung, namun kedatangan hamba adalah dalam rangka usaha hamba untuk membawa tubuh Akuwu kembali ke Pakuwon Sangling.”

“Bagus,” terdengar suara orang yang berdiri di belakang para prajurit Sangling, “bawalah tubuh muridku itu kembali ke Pakuwon. Aku akan mengambil saudaranya dan membawanya kembali ke padepokan.”

Senapati itu berpaling. Namun ia masih tetap termangu-mangu.

Dalam pada itu, Akuwu Lemah Warah pun kemudian berkata lantang, “Ki Sanak. Kau tidak akan dapat berbuat sekehendak hatimu. Aku adalah Akuwu Lemah Warah. Akulah yang berkuasa di sini. Aku yang mengatur segalanya. Bukan kau.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Desah itu terdengar seperti suara angin prahara yang bertiup kencang. Tetapi tidak sehelai daun pun yang telah bergetar karenanya.

“Sang Akuwu yang mulia,” berkata orang itu.

Namun Akuwu Lemah Warah tidak berhasil memperhatikan gerak bibirnya, “aku mohon maaf. Seharusnya aku memang mohon lebih dahulu kepada Akuwu.”

Akuwu Lemah Warah tidak menduga bahwa orang itu tidak bertahan pada sikapnya. Justru orang itu telah minta maaf kepadanya, meskipun barangkali hanya sekedar basa-basi.

Namun kemudian orang itu pun berkata selanjutnya, “Akuwu. Aku memang tidak akan berbuat apa-apa. Aku hanya datang untuk mohon diijinkan mengambil muridku yang seorang itu.”

Tetapi Akuwu Lemah Warah menjawab, “Muridmu itu adalah tawananku. Ia telah membuat banyak kesalahan, sehingga aku tidak akan melepaskannya.”

“Aku akan menjelaskannya,” berkata orang itu.

“Tidak ada gunanya,” jawab Akuwu Lemah Warah.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Sementara itu Akuwu Lemah Warah berkata kepada para prajurit Sangling, “Jika demikian, maka masuklah kalian. Aku percaya bahwa kalian tidak mempunyai hubungan dengan orang itu.”

Akuwu Lemah Warah pun kemudian telah memberikan isyarat kepada para prajurit yang berada di regol untuk membuka pintu.

Para prajurit itu pun kemudian telah membuka selarak. Demikian pintu terbuka, maka Akuwu pun berkata, “Masuklah.”

Senapati itu pun kemudian telah memerintahkan para prajuritnya untuk bergerak masuk. Meskipun pada umumnya mereka ragu-ragu, tetapi karena Senapati mereka telah menggerakkan kudanya memasuki pintu gerbang itu, maka yang lain-pun telah masuk pula bersama dengan kereta yang telah mereka bawa.

Namun dalam pada itu, demikian pasukan kecil itu bergerak, maka orang yang berdiri agak jauh di belakang pasukan itu pun mulai bergerak pula. Ia pun berjalan menuju ke pintu gerbang. Namun demikian orang terakhir, memasuki gerbang itu, maka pintu itu pun telah tertutup pula.

“Kenapa pintu itu ditutup?” bertanya orang yang mengaku guru Akuwu Sangling itu, “bukankah aku sudah memohon agar aku diijinkan membawa muridku yang seorang itu?”

“Sudah pula aku jawab,” jawab Akuwu Lemah Warah, “bahwa aku berkeberatan.”


“Kenapa? Yang bersalah adalah Akuwu Sangling. Aku tidak akan menuntut kematiannya. Tetapi saudara seperguruannya hanya sekedar terseret oleh ketamakan Akuwu Sangling. Ia merasa bahwa ikatan perguruannya telah mewajibkannya untuk ikut terlibat dalam persoalan yang dihadapi oleh Akuwu Sangling tanpa mengerti duduk persoalan yang sebenarnya. Aku terlambat datang untuk mencegahnya. Ketika aku sampai di Sangling, maka semuanya telah terjadi di sini,” berkata orang itu.

Akuwu Lemah Warah mengerutkan keningnya. Dengan ragu ia bertanya, “Apakah menurut Ki Sanak, Akuwu Sangling memang bersalah?”

“Ya. Aku memang berpendapat demikian,” jawab orang itu, “tetapi aku pun juga bersalah. Aku tidak dapat mencegahnya.”

Akuwu Lemah Warah termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Biarlah orang itu tetap disini sampai aku yakin bahwa ia tidak akan mampu berbuat kesalahan lagi.”

“Jangan kau korbankan orang itu. Orang itu adalah orang yang baik meskipun kasar,” berkata orang itu.

“Aku telah menawannya,” sahut Akuwu Lemah Warah.

“Apakah aku harus memaksanya?” bertanya orang itu.

“Jadi kau semburkan api dari tanganmu sekedar untuk menakut-nakuti kami?” bertanya Akuwu Lemah Warah.

“Aku dapat memecahkan pintu gerbang itu,” berkata orang yang mengaku guru Akuwu Sangling itu.

“Apakah kita harus saling menunjukkan kemampuan kita?” bertanya Akuwu Lemah Warah pula.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya pintu gerbang yang tertutup rapat itu. Namun sambil mengerutkan keningnya ia berkata, “Bagaimana menurut pendapatmu jika aku memecahkan pintumu?”

Akuwu menggeleng. Katanya, “Kau tidak akan pernah berhasil melakukannya. Aku akan membenturkan kekuatanku atas kemampuanmu. Kita akan melihat siapakah yang lebih kuat diantara kita.”

“Kau sendiri atau kau bertiga?” bertanya orang itu.

“Untuk meyakinkan kemenangan di pihak kami, maka kami akan melakukan bersama,” jawab Akuwu.

Orang itu memandang Akuwu dengan tajamnya. Nampak keragu-raguan memancar di sorot matanya.

Sementara itu Akuwu Lemah Warah, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan.

“Ki Sanak,” berkata Akuwu Lemah Warah, “marilah. Jika memang itu yang kau kehendaki. Aku telah melihat betapa dahsyatnya apimu. Tetapi kau tidak dapat menundukkan kami hanya dengan cara seperti itu. Menakut-nakuti saja. Kita harus benar-benar meyakinkan apakah kami akan hancur, atau malahan kau yang hancur.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku adalah guru Akuwu Sangling. Kau tentu dapat mengira-irakan, bahwa aku memiliki kemampuan setidak-tidaknya sebagaimana dimiliki oleh Akuwu Sangling.”

“Dan kau harus mengerti, bahwa baik Akuwu Sangling maupun saudara seperguruannya telah dihancurkan disini,” berkata Akuwu Lemah Warah.

“Bagus,” berkata orang itu, “tetapi ketahuilah, bahwa Akuwu Sangling dan saudaranya yang mengalami kesulitan disini adalah murid-muridku yang terhitung muda. Memang tidak ada yang lebih tua dari mereka. Tetapi sebenarnyalah bahwa mereka mulai berguru kepadaku, belum terlalu lama, sehingga ilmu mereka memang belum matang.”

“Kenapa tidak kau bawa murid-muridmu yang lebih baik dari kedua orang itu sekarang?” bertanya Akuwu Lemah Warah.

“Sudah aku katakan,” jawab orang itu, “aku tidak mempunyai murid yang lebih tua dari kedua muridku yang terhitung masih muda itu.”

Akuwu Lemah Warah mengangguk-angguk. Katanya,” jadi kau ingin mengatakan, bahwa jarak kemampuan antara guru dan kedua muridmu itu jauh sekali. Sebagaimana ciri guru yang kurang baik, yang tidak yakin bahwa muridnya tidak akan melawannya atau ingkar akan kewajibannya di mata gurunya.”

“Kau jangan membuat aku benar-benar marah dan menghancurkan dinding padepokanmu,” berkata orang itu, “kedatanganku hanya untuk mengambil muridku yang seorang, yang aku harapkan tidak akan menjadi seorang yang tamak seperti Akuwu Sangling itu.”

Akuwu Lemah Warah menjadi ragu-ragu. Nampaknya orang itu bersungguh-sungguh. Namun Akuwu Lemah Warah tidak dapat begitu saja mempercayainya. Apalagi kedatangan orang yang mengaku guru Akuwu Sangling itu bersamaan dengan kedatangan para prajurit Sangling untuk mengambil tubuh Akuwunya.

Sementara itu di dalam padepokan, iring-iringan prajurit Sangling telah mengalami pemeriksaan yang ketat. Beberapa orang prajurit Lemah Warah telah memeriksa kereta yang dibawa oleh para prajurit Sangling. Bagaimanapun juga kecurigaan masih tetap ada pada prajurit Lemah Warah. Jika di dalam kereta itu terdapat senjata-senjata yang tersembunyi, maka akan dapat menumbuhkan kesulitan bagi prajurit Lemah Warah di padepokan itu, karena di padepokan itu terdapat tawanan yang cukup besar jumlahnya.

Tetapi para prajurit Lemah Warah tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan pada para prajurit Sangling itu. Karena itu, maka para prajurit Lemah Warah telah membawa mereka ke pendapa padepokan.

Di luar orang yang mengaku guru Akuwu Sangling itu pun masih berdiri beberapa langkah dari pintu gerbang. Nampaknya ia sedang ragu-ragu, apakah yang sebaiknya dilakukan. Sementara itu Akuwu Lemah Warah, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

Akuwu Lemah Warah memang mempunyai keyakinan, meskipun kemampuan ilmu orang itu benar-benar jauh melampaui Akuwu Sangling, namun mereka bertiga tentu akan mampu mengimbanginya.

Namun orang itu tidak segera berbuat apa-apa. Ia berdiri saja seperti membeku. Dari tempatnya berdiri, ia memandangi pintu gerbang yang tertutup itu. Seakan-akan orang itu memang ingin berbuat sesuatu atas pintu gerbang itu.

Tetapi orang itu tidak berbuat apa-apa. Bahkan ia pun kemudian melangkah mundur sambil berkata, “Aku akan menunggu sampai Akuwu mengijinkan aku mengambil muridku yang seorang itu. Jika Akuwu memerintahkan aku menunggu sampai tubuh Akuwu Sangling diambil, maka aku pun tidak berkeberatan. Tetapi aku memang tidak ingin mempergunakan kekerasan. Sudah cukup banyak kematian terjadi di sini. Karena itu aku tidak akan menambahnya lagi. Apalagi jika yang akan mati itu Akuwu Lemah Warah atau kedua anak muda yang mengagumkan itu. Yang dalam usianya yang masih sangat muda mampu mengalahkan salah seorang dari kedua muridku itu.”

“Apakah kau akan menempa muridmu agar ia kelak mampu membalas dendam?” bertanya Akuwu Lemah Warah.

“Tidak. Tidak ada dendam dihatiku dan dihati muridku.” orang itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “sudahlah, aku akan menunggu. Sudah aku katakan, aku tidak ingin korban jatuh lagi. Lebih-lebih jika korban itu diriku sendiri.”

Akuwu Lemah Warah pun termangu-mangu melihat orang itu berbalik dan melangkah menjauh. Namun ia pun kemudian duduk bersandar sebatang pohon yang rindang.

Untuk beberapa saat Akuwu Lemah Warah mengawasi orang itu. Namun agaknya orang itu tidak berbuat apa-apa. Orang itu benar-benar menunggu sambil duduk bersandar.

Akuwu justru tidak segera mengerti apa yang sebaiknya dilakukan. Apakah ia akan memanggil orang itu atau membiarkannya saja duduk di bawah pohon itu atau apa?

Namun sebagai seorang pemimpin ia pun kemudian menemukan keseimbangannya kembali. Katanya, “Biar sajalah orang itu berbuat apa saja asal tidak melakukan kekerasan. Jika ia akan duduk di sana sampai sepekan, itu bukan persoalan kita.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun bagi mereka orang itu perlu selalu mendapat pengawasan. Karena itu maka Mahisa Murti pun berkata, “Tetapi Akuwu. Orang itu dapat bangkit dari duduknya setiap saat. Kemudian berjalan mendekati dinding padepokan ini dan menyerang dengan apinya yang berbahaya itu.”

Akuwu mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan dapat mengawasinya bergantian. Namun kita harus bersikap tegas menghadapinya. Agaknya orang itu memang berilmu sangat tinggi.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sementara itu Akuwu berkata, “Jika orang itu bangkit dan melangkah mendekati dinding padepokan ini, maka kita akan melawannya bersama-sama. Jika kita belum utuh bertiga, maka lebih baik kita tidak menampakkan diri.”

“Orang itu akan dapat merusak dinding dan barangkali pintu gerbang,” berkata Mahisa Pukat.

“Lebih baik dinding atau pintu gerbang yang dirusakkannya daripada kita,” jawab Akuwu Lemah Warah.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka memang sependapat dengan Akuwu Lemah Warah, bahwa orang itu memang memiliki ilmu sangat tinggi, sehingga dengan demikian maka mereka tidak akan dapat berbuat banyak jika mereka berdiri sendiri-sendiri.

“Nah,” berkata Akuwu, “awasilah orang itu. Aku akan menyelesaikan penyerahan tubuh Akuwu Sangling kepada pasukannya. Jika orang itu bangkit dan mulai melangkah, beri aku isyarat. Mungkin kentongan kecil akan cepat sampai kepadaku.”

“Baik Akuwu,” jawab Mahisa Murti, “kami akan mengawasinya.”

“Ingat,” pesan Akuwu pula, “tanpa aku, kalian lebih baik tidak menampakkan diri. Kita harus berbuat bersama-sama melawannya agar kita tidak mengalami cidera.”

“Baik Akuwu,” jawab Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hampir berbareng.

Demikianlah, maka Akuwu pun kemudian meninggalkan panggungan itu untuk menemui para prajurit Sangling yang akan mengambil tubuh Akuwu yang terbunuh di padepokan itu.

Nampaknya tidak ada yang mencurigakan pada sikap para prajurit Sangling. Agaknya mereka benar-benar hanya ingin mengambil tubuh Akuwu.

Karena itu, maka persoalannya pun tidak menjadi sulit. Akuwu telah memerintahkan kepada para Senapatinya untuk menyerahkan tubuh Akuwu Sangling. Bahkan kemudian Akuwu memberikan kesempatan kepada para prajurit itu untuk bermalam di padepokan itu jika dikehendakinya.

“Terima kasih Akuwu,” berkata Senapati dari Sangling, “kami mohon diri untuk segera kembali ke Sangling.”

“Menurut pendapatmu, bagaimanakah sebaiknya dengan para prajurit Sangling yang kini tertawan disini?” bertanya Akuwu Sangling.

“Maksud Akuwu?” bertanya Senapati dari Sangling itu.

“Mereka merupakan beban yang berat bagi padepokan ini. Tetapi aku belum menemukan cara yang paling baik untuk mengatasinya,” berkata Akuwu.

“Apakah maksud Akuwu, biarlah hamba membawa mereka?” bertanya Senapati itu.

“Maaf,” jawab Akuwu, “aku masih belum dapat meyakinkan diriku sendiri, apakah kalian dan para prajurit yang tertawan itu benar-benar tidak akan mengganggu kami disini.”

“Akuwu Sangling sudah tidak ada lagi,” berkata Senapati itu, “apakah yang dapat kami banggakan sekarang ini untuk melawan Akuwu Lemah Warah serta kedua kemenakan Akuwu itu?”

“Orang yang berada di luar itu?” jawab Akuwu Sangling.

“Kami tidak mengenal orang itu Akuwu,” jawab Senapati itu.

Akuwu Lemah Warah termangu-mangu. Namun ia tidak dapat begitu saja mempercayainya. Karena itu maka katanya, “Bukan berarti aku diliputi oleh kecurigaan. Tetapi kehadirannya yang tepat bersamaan dengan kedatangan kalian memang pantas dicurigai.”

Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Segalanya terserah kepada Akuwu. Tetapi sebenarnyalah bahwa kami tidak mengenali orang itu.”

Akuwu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah untuk sementara kami akan menyerahkan tubuh Akuwu Sangling. Kemudian kami akan membuat pertimbangan-pertimbangan baru tentang para prajurit kalian.”

Senapati itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kami dapat mengerti Akuwu. Akuwu memang dapat membayangkan, bahwa sekelompok kecil prajurit Sangling telah bersiap di tengah-tengah hutan dengan senjata yang akan dapat dibagikan kepada kawan-kawan mereka jika para tawanan itu kami bawa kembali. Akuwu tentu membayangkan bahwa bersama dengan orang itu, kami akan kembali mengepung padepokan ini,” orang itu berhenti sejenak, lalu, “tetapi jika demikian Akuwu, orang itu justru tidak akan menampakkan dirinya lebih dahulu seperti sekarang ini.”

Akuwu Lemah Warah mengerutkan keningnya. Katanya, “Panggraitamu cukup tajam. Tetapi aku harus berpikir lebih dahulu.”

Senapati Sangling itu hanya dapat mengangguk-angguk, ia memang tidak dapat memaksakan kehendaknya kepada Akuwu Lemah Warah. Apalagi Senapati itu memang pernah mendengar sikap dan pendirian Akuwu Lemah Warah.

Karena itu, maka ia pun hanya akan menerima saja apa yang akan diserahkan oleh Akuwu Lemah Warah kepadanya.

Ternyata Akuwu Lemah Warah hanya akan menyerahkan tubuh Akuwu Sangling. Agaknya Akuwu Lemah Warah masih merasa kurang mapan jika ia harus menyerahkan para prajurit Sangling yang tertawan yang jumlahnya cukup banyak. Meskipun kehadiran para tawanan itu terasa mengganggu, setidak-tidaknya Lemah Warah harus menyediakan makan yang cukup banyak untuk mereka.

Senapati Sangling itu tidak menolak. Dengan penuh penghormatan tubuh Akuwu Sangling itu diterimanya. Kemudian dibaringkannya didalam keretanya.

Senapati itu ternyata sebagaimana dikatakannya, akan segera meninggalkan tempat itu. Tubuh Akuwu Sangling itu harus segera diselenggarakan sebagaimana seharusnya.

“Jadi kalian akan segera meninggalkan tempat ini ?” bertanya Akuwu Lemah Warah.

“Ampun Akuwu,” berkata Senapati itu, “hamba tidak dapat menunda lagi.”

“Baiklah,” berkata Akuwu, “lakukanlah yang baik bagi tubuh Akuwu Sangling itu,” Akuwu Lemah Warah itu pun berhenti sejenak. Lalu, “Senapati. Apa rencanamu kemudian ?”

Senapati itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Apa yang baik menurut pertimbangan Akuwu? Menurut pendapat hamba, maka hamba harus segera menyampaikan laporan kepada Sri Baginda di Kediri.”

Akuwu Lemah Warah itu mengangguk-angguk. Katanya, “Nampaknya kau jujur. Hal itulah yang seharusnya aku lakukan. Jangan ada yang kau sembunyikan. Jika kau datang lebih dahulu dari aku, tolong, katakan dengan jujur apa yang kau ketahui.”

“Memang tidak ada yang lebih baik daripada mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan hamba memang akan melakukannya,” berkata Senapati itu.

Akuwu Lemah Warah mengangguk-angguk. Sebenarnya ia pun berpendapat, bahwa peristiwa ini harus segera dilaporkannya. Tetapi ia tidak akan dapat meninggalkan padepokan itu segera. Apalagi dengan kehadiran orang yang mengaku guru Akuwu Sangling itu.

Namun ia yakin bahwa di Kediri hal itu akan sampai kepada Pangeran Singa Narpada pula. Akuwu Lemah Warah berharap, bahwa Pangeran Singa Narpada akan berusaha untuk melihat keadaannya tidak sekedar dari laporan Senapati Sangling.

Demikianlah, maka sejenak kemudian maka sekelompok kecil prajurit itu pun telah minta diri. Mereka pun kemudian mulai bergerak meninggalkan padepokan itu.

Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih berada di panggungan disebelah pintu gerbang mengawasi orang yang mengaku guru Akuwu Sangling itu.

Ternyata orang itu masih tetap duduk di bawah sebatang pohon yang rindang. Bahkan orang itu agaknya sedang terkantuk-kantuk.

Ketika pintu gerbang dibuka, maka perhatian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang tertuju kepintu gerbang itu. Untuk beberapa saat mereka tidak memperhatikan orang yang duduk dibawah pohon dan terkantuk-kantuk itu.

Dalam pada itu maka iring-iringan yang terdiri dari prajurit Sangling yang jumlahnya tidak begitu banyak itu pun kemudian telah keluar dari pintu gerbang. Mereka membawa tubuh Akuwu Sangling yang dibaringkannya di dalam kereta yang ditarik dengan kuda.

Demikian prajurit terakhir keluar dari regol, maka pintu itu pun telah ditutup dan diselarak kembali.

Akuwu Lemah Warah setelah melepas pasukan kecil dari Sangling itu pun segera naik ke panggungan pula. Selain untuk melihat iring-iringan itu meninggalkan pintu gerbang, maka Akuwu pun ingin melihat orang yang duduk bersandar pohon agak jauh dari dinding padepokan.

Tetapi Akuwu itu terkejut ketika ia melihat orang yang mengaku guru Akuwu Sangling itu menghentikan iring-iringan itu.

Dengan serta merta ia bertanya kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, “Apa yang dilakukannya?”

“Entahlah,” jawab Mahisa Murti terbata-bata.

“Kami tidak melihat kapan orang itu berdiri dan melangkah mendekati iring-iringan itu,” berkata Mahisa Pukat, “tiba-tiba saja ia sudah berada didepan iring-iringan itu.

“Mungkin pada saat perhatian kami tertuju kepada iring-iringan itu selagi masih berada di dalam pintu gerbang,” berkata Mahisa Murti.

“Memang mungkin,” desis Mahisa Pukat.

Ketiganya pun kemudian diam. Perhatian mereka tertuju sepenuhnya kepada orang yang menghentikan iring-iringan itu. Demikian pula para prajurit Lemah Warah dan penghuni padepokan Surtantal yang berada diatas panggungan.

Mereka tidak mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan oleh orang yang menghentikan iring-iringan itu. Namun agaknya terjadi sedikit ketegangan di antara mereka.

Namun akhirnya mereka yang berada diatas panggungan didalam dinding padepokan itu mendengar, “Jika kalian berkeberatan, maka aku akan membakar kalian semuanya menjadi abu.”

Senapati yang memimpin prajurit Sangling itu termangu-mangu. Namun dengan lantang pula ia menjawab, “Kami tidak akan takut seandainya kami semua harus menjadi abu. Meskipun demikian, aku akan memberimu kesempatan. Tetapi jangan kau sentuh tubuh itu.

Orang yang mengaku guru Akuwu Sangling itu termangu-mangu. Sejenak ia terdiam. Namun kemudian katanya, “Aku minta ijin untuk merabanya, karena aku gurunya. Aku tidak akan berbuat apa-apa.”

Senapati yang memimpin pasukan Sangling itu menjadi ragu-ragu. Namun kemudian katanya, “jangan kau langgar kata-katamu. Meskipun kau berilmu setinggi langit, tetapi kami adalah abdi yang setia, yang dapat mengorbankan apa saja meskipun Akuwu sudah meninggal.”

Orang itu tidak menjawab. Tetapi didekatinya kereta yang membawa tubuh Akuwu Sangling itu. Beberapa orang prajurit telah siap dengan senjata mereka di tangan.

Orang itu kemudian menyingkap kain yang menutup tubuh Akuwu Sangling pada wajahnya. Dipandanginya wajah yang pucat dan membeku itu. Tidak ada kata yang terucapkan.


Akuwu Lemah Warah, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mempertajam penglihatan mereka. Meskipun mereka tidak melihat dengan jelas, namun mereka dapat menangkap ungkapan kepahitan perasaan orang itu. Bahkan ketiganya melihat orang itu mengusap matanya.

Sebenarnyalah para prajurit Sangling yang berdiri dekat dengan orang itu melihat air yang mengembun di matanya. Bahkan mereka yang berdiri di sebelah menyebelah mendengar orang itu berkata, “Kenapa kau berkisar dari kebenaran.”

Tubuh yang membeku itu tetap membeku. Orang itu kemudian meletakkan telapak tangannya pada dahi tubuh yang membeku itu sambil berkata, “Semoga ada juga yang baik yang pernah kau lakukan.”

Orang itu pun kemudian melangkah surut. Sekali lagi ia mengusap matanya. Katanya kepada Senapati, “Cukup. Bawalah Akuwumu. Aku tidak pernah mengajarinya berbuat sebagaimana dilakukannya.”

Tiba-tiba saja Senapati yang memimpin pasukan kecil itu mengangguk hormat. Katanya, “Maaf Ki Sanak. Jika benar Ki Sanak guru dari Akuwu, doakan agar hari-harinya cerah di seberang kehidupan yang fana ini.”

“Bawalah,” desis orang itu.

Sekali lagi Senapati itu mengangguk hormat. Kemudian ia-pun memberikan perintah kepada pasukannya untuk bergerak.

Sejenak kemudian maka kaki-kaki kuda itu pun mulai berderap. Tetapi tidak terlalu cepat. Semakin lama iring-iringan itu menjadi semakin jauh dan akhirnya hilang di balik batang-batang perdu di kejauhan.

Yang masih berdiri di tempatnya adalah orang yang mengaku guru Akuwu Sangling itu. Namun beberapa saat kemudian orang itu telah melangkah menjauhi pintu gerbang, kembali ke tempat ia duduk bersandar di bawah sebatang pohon.

“Nampaknya orang itu berkata sebenarnya,” berkata Akuwu Lemah Warah.

“Apapun dapat dilakukannya,” desis Mahisa Pukat, “ia dapat mempergunakan cara yang kasar dan yang halus. Namun menilik sikap Senapati itu, agaknya orang itu memang bersikap jujur.”

“Nampaknya memang demikian,” sahut Mahisa Murti, “tidak ada tanda-tanda ia berbuat sesuatu atas tubuh Akuwu. Namun yang nampak adalah penyesalan.”

Akuwu Lemah Warah termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Kita tunggu saja, apa yang dilakukannya.”

“Ia pun agaknya menunggu,” desis Mahisa Murti.

“Jika ia sekali lagi datang untuk minta saudara seperguruan Akuwu, maka kita akan memberikannya,” berkata Akuwu itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun ketiga orang itu terkejut. Orang yang duduk dikejauhan itu seolah-olah mendengar pembicaraan mereka. Karena itu, maka tiba-tiba saja orang itu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke pintu gerbang.

Bagaimanapun juga Akuwu Lemah Warah harus berhati-hati. Demikian pula Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Mereka dengan segera telah mempersiapkan segenap ilmu yang ada di dalam diri mereka.

Namun orang itu sama sekali tidak memberikan kesan untuk melakukan kekerasan. Ia berjalan dengan lesu. Sekali-sekali kepalanya justru tertunduk.

Beberapa langkah dari pintu gerbang ia berdiri. Ia pun kemudian telah menengadahkan kepalanya sambil berkata, “Akuwu. Apakah Akuwu sudah mengambil keputusan tentang muridku yang seorang.”

Akuwu Lemah Warah termangu-mangu. Lalu ia pun bertanya, “Kenapa kau begitu bersungguh-sungguh ingin melepaskan muridmu yang seorang itu?”

“Ia tidak bersalah meskipun ia kasar seperti yang pernah aku katakan kepadamu. Aku yakin hal itu. Ia tentu terpengaruh oleh Akuwu Sangling yang sesat itu.”

“Bagaimanapun juga ia sudah melakukan kesalahan disini,” berkata Akuwu Lemah Warah pula.

“Aku mengerti,” jawab orang itu, “tetapi jika ia berada ditanganku, aku sanggup untuk memperbaikinya selagi belum terlambat. Tetapi jika ia tidak berada ditanganku, sekali ia terperosok ke dalam langkah yang sesat sadar atau tidak sadar, maka biasanya akan sulit untuk mencari jalan kembali. Orang yang demikian akan mencari keseimbangan hidupnya dengan langkah-langkah yang kurang diperhitungkannya. Mungkin karena dendam, mungkin karena harga diri atau mungkin karena ia tidak melihat jalan lain yang pantas ditempuhnya. Kadang-kadang orang yang demikian akan merasa dirinya tidak berharga lagi dan merasa tersisih. Karena itu, maka ia berusaha membalas dendam kepada sasaran yang manapun, juga sasaran yang salah.”

Akuwu Lemah Warah termangu-mangu. Diluar sadarnya ia berpaling kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Namun agaknya kedua anak muda itu pun tidak tahu keputusan apakah yang sebaiknya dijatuhkan menanggapi permintaan orang itu. Apalagi mereka menyadari, bahwa kewenangan sepenuhnya ada di tangan Akuwu.

Orang itu pun kemudian bangkit dengan susah payah. Selangkah demi selangkah ia berjalan. Tubuhnya memang masih terlalu lemah. Namun ia berjalan terus. Ia memang ingin menyongsong satu keadaan baru. Apakah itu akan menjadi lebih baik atau lebih buruk. Ia sudah merasa jemu dengan keadaannya itu.

Diiringi oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka orang itu telah dibawa ke regol padepokan. Beberapa orang prajurit mengamatinya dengan pertanyaan yang meloncat di dalam hati, untuk apa orang itu dibawa ke regol.

Namun meskipun agak lama, orang itu telah mencapai regol padepokan. Mahisa Murtilah yang kemudian naik ke panggungan lebih dahulu dan melaporkan bahwa saudara seperguruan Akuwu Sangling telah dibawanya.

“Apakah ia dapat naik kemari?” bertanya Akuwu.

“Tubuhnya masih lemah Akuwu,” jawab Mahisa Murti.

Akuwu termangu-mangu. Namun kepercayaannya kepada guru Akuwu Sangling itu menjadi semakin tebal.

Karena itu, maka ia pun kemudian memerintahkan, “Buka pintu regol. Aku akan bertemu dengan orang itu.”

“Akuwu,” desis Mahisa Murti.

“Amati aku,” berkata Akuwu, “tetapi aku yakin bahwa orang itu tidak akan berbuat apa-apa.”

Mahisa Murti tidak menjawab lagi. Ia pun kemudian mengikuti Akuwu itu turun dari panggungan di sebelah regol.

Ketika ia berada di belakang regol, ternyata prajurit yang mendapat perintah untuk membuka itu pun ragu-ragu. Tetapi sekali lagi Akuwu berkata, “Buka pintu itu.”

Prajurit yang bertugas tidak membantah. Pintu regol itu pun kemudian telah dibukakannya.

“Marilah,” berkata Akuwu Lemah Warah kepada saudara seperguruan Akuwu Sangling. Lalu ditunjukkan orang yang berada di luar regol itu sambil bertanya, “Apakah kau mengenal orang itu?”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian bibirnya berdesis, “Guru.”

Akuwu Lemah Warah menarik nafas dalam-dalam. Ternyata orang itu memang guru Akuwu Sangling.

Orang yang berdiri di luar regol itu memandanginya dengan perasaan iba. Bahkan kemudian ia pun melangkah maju menyongsong muridnya yang lemah itu. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengawasi peristiwa itu dengan sikap yang berhati-hati sekali.

Ketika orang yang berada di luar regol itu berdiri selangkah dihadapan saudara sepergururuan Akuwu Sangling, maka orang itu pun telah menjatuhkan dirinya dan berjongkok dihadapan gurunya itu sambil berdesis, “Ampun guru. Aku tidak tahu apa yang telah aku lakukan sebenarnya. Aku tidak tahu apakah langkahku ini benar atau salah. Tetapi aku telah berusaha membela kakangmas Akuwu.”

Untuk beberapa saat Akuwu Lemah Warah membuat pertimbangan di dalam hatinya. Namun agaknya nuraninya tidak berkeberatan jika ia menyerahkan saudara seperguruan Akuwu Sangling. Menurut pengamatannya, orang yang mengaku gurunya itu telah mengatakan dengan sikap terbuka yang jujur.

Karena itu, tiba-tiba saja Akuwu itu berdesis, “Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Bagaimana pendapatmu jika aku serahkan saja orang itu kepada gurunya.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berpandangan sejenak. Namun kemudian Mahisa Murti pun berkata, “Apakah Akuwu percaya sepenuhnya kepada orang itu?”

Akuwu Lemah Warah mengangguk. Katanya, “Ya, aku percaya kepadanya. Nampaknya ia bukan orang yang jahat. Ia bukan pula orang yang mempunyai keinginan yang tamak.”

“Tetapi apakah ia tidak berbahaya,” bertanya Mahisa Pukat, “apalagi jika saudara seperguruan Akuwu Sangling itu telah mendapatkan kembali kekuatannya.”

“Aku kira ia cukup jantan,” jawab Akuwu Lemah Warah. Lalu, “Memang semua perhitungan akan dapat keliru. Namun mudah-mudahan perhitungan kita kali ini benar.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akhirnya hanya mengangguk-angguk saja. Sementara itu, Akuwu Lemah Warah berkata, “Bawa orang itu kemari.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah turun dari panggungan dan pergi ke bilik yang dipergunakan untuk menyimpan saudara seperguruan Akuwu itu. Kepada prajurit Lemah Warah yang bertugas menjaga orang itu, Mahisa Murti berkata, “Perintah Akuwu Lemah Warah, kami harus membawanya ke panggungan diatas regol.”

“Apakah ia mampu berjalan sampai ke regol?” bertanya penjaganya.

“Agaknya ia akan dapat berjalan sendiri sampai di regol,” jawab Mahisa Murti.

Prajurit itu tidak bertanya lebih lanjut. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memasuki bilik orang itu dan mengatakan apa yang harus dikerjakan, “Ki Sanak. Akuwu Lemah Warah minta Ki Sanak datang kepadanya.”

Orang itu memandang kedua anak muda itu dengan tajamnya. Bahkan kemudian dengan nada rendah ia bertanya, “Untuk apa?”

“Akuwu akan menjelaskan,” jawab Mahisa Murti.

“Apakah aku akan dihukum mati?” desak orang itu.

Mahisa Murti menggeleng. Dengan nada rendah ia berkata, “Tidak ada hukuman yang akan dijatuhkannya. Tetapi semuanya tergantung kepada Akuwu.”

“Hukuman mati bagiku akan lebih baik dari pada mengalami kehidupan yang sangat pahit seperti ini,” geram orang itu.

“Marilah,” Mahisa Murti sama sekali tidak menanggapinya.

Orang yang mengaku guru Akuwu Sangling telah menarik orang yang berjongkok itu untuk berdiri. Dengan suara lembut ia berkata, “Kau sudah berusaha untuk membantu saudara seperguruanmu. Itu adalah sikap yang baik. Namun ternyata saudara seperguruanmu itulah yang telah mengecewakan kau.”

“Apakah, yang sebenarnya sudah dilakukannya guru? Sejak semula memang sudah terasa pada penggraitaku bahwa ada sesuatu yang kurang mapan. Tetapi aku tidak melihatnya langsung. Karena itu aku menyangka bahwa penggraitaku itu hanya sekedar gambaran yang kabur dari seorang saudara seperguruan,” desis muridnya itu, “namun agaknya memang ada yang tidak wajar pada Akuwu Sangling.”

“Sudahlah,” berkata gurunya, “kita tidak perlu mempersoalkannya di sini. Kita akan minta diri. Akuwu Lemah Warah ternyata seorang Akuwu yang baik. Tanpa kebesaran jiwanya, maka kau tidak akan dilepaskannya.”

Muridnya mengangguk-angguk. Ketika ia berpaling, maka dilihatnya dua orang anak muda yang berdiri tegak memandanginya pula.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Anak-anak muda yang luar biasa. Ternyata mereka memiliki berbagai ilmu yang jarang ada bandingnya. Keduanya mampu menghisap tenagaku sehingga rasa-rasanya aku memang menjadi lumpuh. Meskipun aku sempat membakar beberapa bagian dari kulitnya, namun keduanya masih dapat mengatasinya. Bahkan keduanya sengaja membiarkan dirinya tersentuh oleh apiku. Meskipun apiku membakar kulitnya, tetapi kekuatanku pun dengan cepat surut, sehingga akhirnya aku jatuh tanpa mampu untuk bangkit lagi.”

Gurunya mengangguk-angguk. Katanya, “Keduanya pantas mendapat pujian dengan jujur.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menyahut sama sekali. Tetapi seperti Akuwu Lemah Warah, maka orang itu memang benar-benar memujinya. Bukan sekedar begitu saja meluncur dari bibirnya karena ia sudah mendapat kebebasan.

Sementara itu, guru Akuwu Sangling itu pun berkata kepada Akuwu Lemah Warah, “Sudahlah Akuwu. Aku mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga. Akuwu telah menyerahkan kembali muridku yang satu ini. Mudah-mudahan aku belum terlambat.”

“Silahkan Ki Sanak,” berkata Akuwu Lemah Warah, “aku akan ikut berdoa, semoga Ki Sanak berhasil.”

Guru Akuwu Sangling itu pun kemudian minta diri. Dengan nada rendah ia berkata, “Aku minta diri. Mudah-mudahan kita dapat bertemu lagi dalam keadaan yang lebih baik tanpa nafas permusuhan sama sekali.”

“Baiklah Ki Sanak. Tempatku jelas, Lemah Warah,” jawab Akuwu Lemah Warah itu.

Sejenak kemudian, maka kedua orang itu pun telah siap untuk berangkat. Namun orang yang masih lemah itu sempat juga berbicara kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, “Aku kagum akan kelebihan kalian dalam umur kalian yang masih sangat muda.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi wajah mereka tidak lagi membayangkan ketegangan dan apalagi permusuhan.

Demikianlah maka kedua orang itu telah bergeser meninggalkan padepokan itu setelah sekali lagi minta diri kepada Akuwu Lemah Warah. Dengan sabar guru Akuwu Sangling itu memapah muridnya yang masih sangat lemah. Namun nampaknya keduanya sama sekali tidak mendendam, meskipun telah terjadi sesuatu yang pahit di padepokan itu.

Untuk beberapa saat Akuwu Lemah Warah masih tetap berdiri tegak. Dipandanginya kedua orang yang berjalan semakin lama semakin jauh itu. Bahkan kemudian katanya, “Orang itu memang merasa kehilangan Akuwu Sangling. Tetapi kehilangan itu tidak saja baru terjadi saat Akuwu terbunuh.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak begitu mengerti maksudnya, sehingga Akuwu itu menjelaskan, “Orang itu merasa kehilangan sejak Akuwu Sangling telah meninggalkan jalan yang benar sesuai dengan ajaran gurunya. Sejak Akuwu Sangling terjerumus kedalam kesesatan, maka gurunya merasa kehilangan.”

Demikianlah, maka ketika kedua orang itu telah hilang, Akuwu Lemah Warah telah melangkah memasuki pintu, gerbang padepokan diikuti oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Para prajurit yang bertugas di pintu gerbang itu pun telah menutup pintu itu kembali.

Akuwu Lemah Warah yang berjalan semakin dalam memasuki padepokan itu tiba-tiba telah berhenti. Dipandanginya sebuah barak yang panjang yang dijaga oleh sekelompok prajurit dengan senjata telanjang. Barak itu berisi tawanan prajurit Sangling yang cukup banyak jumlahnya, sehingga diperlukan kekuatan yang memadai untuk menjaganya. Dengan demikian maka sebagian kekuatan prajurit Lemah warah telah terikat pada barak itu. Seandainya ada bahaya yang mendatangi padepokan itu, maka tidak semua kekuatan dapat dikerahkan, karena sebagian dari mereka harus menjaga para tawanan. Kareka itu para tawanan yang cukup banyak jumlahnya itu akan dapat merupakan kekuatan yang harus diperhitungkan. Jika mereka pada suatu saat dengan serta merta berusaha untuk melepaskan diri, maka mereka akan dapat menjadi bahaya yang sebenarnya.

Dalam pada itu Akuwu Lemah Warah pun berkata, “Mereka akan aku serahkan kembali kepada para Senapati dari Sangling. Nampaknya guru Akuwu Sangling itu tidak akan memanfaatkan mereka. Dengan demikian kita akan bebas dari beban menyediakan makan untuk mereka.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Mahisa Murti berkata, “Agaknya itu merupakan satu sikap yang paling baik Akuwu.”

Karena bagaimanapun juga mereka tidak akan dapat ingkar dari satu kenyataan, bahwa pasukan Lemah Warah ternyata jauh lebih kuat dari pasukannya. Apalagi tanpa Akuwu Sangling dan saudara/perguruannya yang kedua-duanya sudah dikalahkan. Akuwu Sangling justru telah gugur dalam pertempuran itu.

Dengan demikian maka Akuwu Lemah Warah pun telah mengambil keputusan di dalam hatinya, bahwa para tawanan itu pun akan dilepaskan. Namun mengenai Ki Buyut Bapang, agaknya Akuwu masih mempunyai pertimbangan tersendiri.

Hampir di luar sadarnya, maka Akuwu Lemah Warah telah melangkah ke arah barak yang panjang itu. Dua orang prajurit yang ada di sebelah menyebelah pintu pun mengangguk hormat.

“Buka pintunya,” berkata Akuwu Lemah Warah.

“Akuwu akan masuk?” bertanya prajurit yang bertugas itu.

“Ya. Aku akan menemui Senapati yang tertinggi yang ada diantara mereka,” berkata Akuwu.

Kedua prajurit yang bertugas itu saling berpandangan. Namun mereka memang tidak akan dapat membantah. Karena itu, maka mereka pun telah mengangkat selarak pintu dan membukanya.

Beberapa orang yang berada di dalam dan kebetulan dekat dengan pintu yang tiba-tiba terbuka itu telah bersiap. Naluri keprajuritan mereka telah membuat mereka bersiaga menghadapi segala kemungkinan.

Namun ketika mereka melihat Akuwu Lemah Warah memasuki barak itu bersama dengan dua orang anak muda yang memiliki kemampuan yang jarang ada duanya itu, maka mereka pun telah bergeser surut.

Sejenak Akuwu Lemah Warah memandangi orang-orang yang tertawan itu. Keadaan mereka memang tidak begitu baik. Para prajurit Lemah Warah tidak mempunyai cukup persediaan pakaian seandainya ingin memberikannya kepada prajurit Sangling yang pakaiannya terkoyak dalam pertempuran.

Karena itu maka Akuwu semakin berketetapan hati untuk menyerahkan kembali para prajurit Sangling itu kepada pemimpin tertinggi yang masih ada di Sangling mewakili Akuwu yang telah terbunuh itu.

Setelah melihat-lihat keadaan para tawanan itu sejenak, maka Akuwu pun berkata kepada prajurit Sangling yang berdiri dihadapannya, “Siapakah Senapati tertinggi dari prajurit Sangling yang ada di sini?”

“Senapati dari pasukan ketiga,” jawab prajurit itu.

“Katakan kepadanya, bahwa Akuwu Lemah Warah ingin berbicara,” perintah Akuwu.

Prajurit itu pun kemudian meninggalkan Akuwu dan melangkah mencari Senapati dari pasukan ketiga seperti yang dikatakannya.

Ternyata Senapati yang baru duduk merenungi nasibnya itu terkejut ketika prajurit itu memberitahukan bahwa Akuwu Lemah Warah berada di barak itu dan memanggilnya menghadap.


Senapati itu membenahi dirinya. Kemudian ia pun mendapati Akuwu Lemah Warah yang sudah berada di luar pintu.

Senapati itu memang ragu-ragu untuk melangkah keluar ketika dilihatnya dua orang penjaga di luar pintu. Namun Akuwu telah memberikan isyarat kepadanya, agar Senapati itu datang kepadanya.

Senapati itu pun mendekat dengan dada yang berdebar-debar. Tetapi bagaimanapun juga ia adalah seorang Senapati besar bagi Sangling. Karena itu, maka ia pun masih juga bersikap sebagai seorang prajurit.

Ketika Senapati itu telah berdiri dihadapan Akuwu, maka ia pun telah mengangguk hormat.

“Aku memerlukan kau,” berkata Akuwu Lemah Warah.

“Hamba Akuwu,” jawab Senapati itu, “apakah yang dapat hamba lakukan.”

“Senapati,” berkata Akuwu Lemah Warah, “aku ingin minta pertolonganmu untuk pergi ke Sangling sebagaimana dua orang prajurit yang pernah aku perintahkan ke Sangling pula. Tetapi tugasmu tidak sekedar memberitahukan kepada pemimpin yang kini memegang pemerintahan, di Sangling siapa pun orangnya sebelum diangkat Akuwu yang baru. Kau harus berbicara dengan pemimpin di Sangling itu untuk tugas yang cukup berat.”

Senapati itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Tugas apakah yang harus hamba emban?”

“Senapati,” suara Akuwu menjadi rendah, “aku berniat untuk menyerahkan para tawanan itu kepada pemimpin pemerintahan tertinggi Sangling sekarang. Aku kira sudah tidak ada lagi persoalan antara Lemah Warah dan Sangling, setelah Akuwu Sangling terbunuh. Setelah para tawanan itu kami serahkan, maka kami akan memberikan laporan kepada Sri Baginda di Kediri.”

Senapati itu terkejut. Seakan-akan ia tidak yakin akan pendengarannya. Namun Akuwu Lemah Warah berkata lebih lanjut, “Karena itu, aku ingin memerintahkan kau dan satu atau dua orang prajuritmu yang paling kau percaya untuk pergi ke Sangling membicarakan rencana ini. Tetapi ingat, bahwa kau adalah seorang prajurit. Karena itu maka kau harus dapat memegang rahasia keprajuritan. Penyerahan ini masih dalam tataran pembicaraan. Karena itu, kau tidak perlu memberitahukan kepada seorang pun diantara kalian. Namun segala sesuatunya terserah kepadamu, apakah kau masih tetap berpegang pada martabat keprajuritanmu atau tidak.”

Senapati itu mengangguk hormat. Katanya dengan suara bergetar, “Kemurahan hati Akuwu benar-benar tidak hamba sangka. Apa yang Akuwu titahkan, hamba akan melakukannya. Sementara itu hamba akan tetap berpegang pada laku seorang prajurit. Hamba akan memegang rahasia ini sampai saatnya rahasia ini dapat dibuka bagi kawan-kawan hamba.”

“Terima kasih,” berkata Akuwu. Lalu, “Mungkin kalian telah mendengar bahwa tubuh Akuwu Sangling telah dibawa kembali oleh para prajurit Sangling yang masih berada di Pakuwon.”

Senapati itu mengangguk-angguk.

Namun dari wajahnya memancar harapan bagi satu keadaan yang lebih baik dari yang mereka sandang pada saat itu, sejalan dengan kekagumannya terhadap kebesaran jiwa Akuwu Lemah Warah.

Dalam pada itu maka Akuwu Lemah Warah itu pun kemudian berkata, “Baiklah. Kembalilah ke barakmu. Besok kau dapat berangkat bersama dua orang yang kau tunjuk. Tetapi kau harus menunggu aku memanggilmu.”

“Hamba Akuwu,” jawab Senapati itu, “hamba akan menjalankan segala perintah Akuwu.”

“Perjalanan pasukan yang membawa tubuh Akuwu Sangling itu tentu tidak akan dapat terlalu cepat. Jika kau besok berkuda menyusul iring-iringan itu, maka kau akan sampai ke Pakuwon Sangling dengan selisih waktu yang tidak akan terlalu lama,” berkata Akuwu Lemah Warah.

“Tetapi agaknya iring-iringan itu tidak akan berhenti di perjalanan,” sahut Senapati itu.

Akuwu Lemah Warah mengangguk. Jawabnya, “Ya. Mereka tentu akan berjalan terus meskipun malam hari, justru karena mereka membawa tubuh Akuwu Sangling. Namun demikian agaknya akan lebih baik bagimu. Kau datang setelah iring-iringan itu mapan di Pakuwon Sangling. Karena kau akan menyampaikan persoalan baru kepada para pemimpin Sangling.”

“Hamba Akuwu,” jawab Senapati itu, “hamba akan menjalankan perintah yang manapun.”

“Sekarang kembalilah kepada kawan-kawanmu. Ingat, belum waktunya kau mengatakan kepada siapa pun juga sebelum semuanya selesai dibicarakan dan mendapat kesimpulan,” pesan Akuwu.

Demikianlah, maka Senapati itu pun telah kembali masuk ke dalam baraknya. Beberapa orang memang ingin segera mengetahui, apakah yang dibicarakannya dengan Akuwu. Namun Senapati itu menjawab, “Keadaan kita pada umumnya. Akuwu ingin mendengar jika ada keluhan-keluhan diantara kita.”

“Banyak sekali,” sahut seorang prajurit.

“Ya,” desis Senapati itu, “aku sudah menyampaikannya. Juga tentang keadaan pakaian kita. Tetapi prajurit Lemah Warah sendiri tidak memiliki pakaian rangkap disini.”

Para prajurit itu termangu-mangu. Seorang diantara mereka berkata, “Lalu apa artinya keluhan-keluhan kita itu?”

“Setidak-tidaknya Akuwu Lemah Warah sudah mendengarnya,” jawab Senapati itu.

Beberapa orang masih akan menanyakan beberapa hal tentang pertemuan itu. Tetapi Senapati itu berkata, “Sudahlah. Aku akan tidur sambil menunggu putaran nasib.”

“Kita akan menyerah kepada nasib?” bertanya seorang perwira muda yang memimpin sekelompok prajurit.

Senapati yang sudah mulai melangkah itu tertegun. Katanya, “Bagus. Nada pernyataanmu itu adalah salah satu gejolak perjuangan yang tinggi. Tetapi kita tidak boleh menolak kenyataan yang berlaku atas kita sekarang ini. Apakah yang dapat kita lakukan?”

“Berbuat sesuatu,” jawab perwira muda itu.

“Kita akan memikirkannya. Jika kesempatan itu datang, kita akan berbuat sesuatu. Tetapi sesuatu itu apa?” bertanya Senapati itu.

“Setidak-tidaknya kita tidak berpangku tangan menunggu ajal kita di sini tanpa berbuat dan berusaha,” berkata perwira muda itu. Lalu, “Apakah tidak pernah melintas di dalam benak kita untuk berusaha melarikan diri atau memberontak melawan prajurit Lemah Warah yang sombong itu.”

“Kita menyerah pada saat kita masih menggenggam senjata,” jawab Senapati itu.

“Satu langkah yang salah. Saat itu kita tidak sempat membuat perhitungan yang cermat dan mapan. Sekarang kita berkumpul di barak ini. Kita dapat berbicara dengan tenang untuk menemukan satu tindakan yang paling baik yang dapat kita lakukan,” berkata perwira itu.

“Satu usaha yang sia-sia,” jawab Senapati itu.

“Tetapi kita sudah berusaha. Apakah yang kita dapatkan dengan duduk bertopang dagu atau berbaring sambil berangan-angan?” bertanya perwira muda itu.

“Memang tidak ada. Tetapi apakah kita melupakan satu kemungkinan yang tidak dapat diperhitungkan oleh seseorang?” bertanya Senapati itu.

“Apa?” bertanya perwira muda itu.

“Kemurahan Yang Maha Agung atas kita,” jawab Senapati itu.

“Itu adalah pangkal kelemahan kita. Itu tidak ada bedanya dengan pasrah kepada nasib,” jawab perwira itu, “kita harus berusaha. Tidak ada sesuatu yang kita dapatkan tanpa berusaha.”

Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Kau benar. Tetapi tidak tergesa-gesa. Kita harus melihat suasana.”

“Menunggu sampai saatnya mereka memenggal leher kita?” sahut perwira muda itu.

Senapati itu tidak menjawab. Ia pun kemudian meninggalkan perwira muda yang kecewa itu.

Para prajurit yang mendengar pembicaraan itu mempunyai tanggapan yang berbeda-beda. Sebagian dari mereka menganggap bahwa betapapun juga, mereka tidak dapat melepaskan diri dari keadaan yang memang membelenggu mereka. Jika mereka berbuat sesuatu untuk melepaskan diri, maka hal itu tidak lebih dari satu tindakan bunuh diri karena keputus asaan. Namun beberapa orang yang lain menganggap, bahwa hanya karena kekuatan mereka serta usaha mereka sajalah keadaan mereka akan berubah. Memang sudah diperhitungkan, bahwa akibat yang lain adalah kematian. Namun kematian bukan sesuatu yang harus ditakutkan oleh seorang prajurit.

Tetapi ketika sebuah pertanyaan muncul di lubuk hati mereka kenapa mereka menyerah, hati mereka pun menjadi hambar.

Namun demikian, ia masih tetap merahasiakan kepada si apapun sebagaimana dipesankan oleh Akuwu Lemah Warah.

Dalam pada itu Senapati dari pasukan ketiga yang merupakan Senapati tertinggi diantara pasukan Sangling yang tertawan itu, tengah mempersiapkan dirinya untuk pergi ke Sangling. Ia sedang memilih diantara para prajuritnya yang paling baik untuk mengawaninya pergi ke Sangling. Kecuali orang itu harus prajurit yang baik, orang itu pun harus masih tetap bersikap sebagai seorang prajurit pula.

Akhirnya Senapati itu menemukan beberapa orang yang akan dipilihnya besok jika saatnya sudah tiba. Sementara ia sempat mengamati mereka di saat-saat terakhir menjelang jatuhnya pilihan.

Namun dalam pada itu, seakan-akan perwira muda itu telah mengungkit persoalan diantara para tawanan. Ia telah menumpahkan perasaan kecewanya kepada semua orang yang ditemuinya.

“Kenapa kita tidak berusaha untuk lari,” beberapa kali hal itu dikemukakan kepada beberapa orang kawannya.

Seorang perwira lain yang lebih tua ternyata tidak senang mendengar ajakan itu. Dengan hati-hati agar tidak menimbulkan persoalan, perwira itu berusaha menghentikan hasutan itu. Katanya, “Sudahlah. Mungkin sikapmu itu benar. Tetapi kau tidak akan dapat melakukannya dengan cara seperti itu.”

“Aku tidak mau menyerah kepada nasib seperti ini,” berkata perwira muda itu.

“Aku pun tidak,” berkata perwira yang lebih tua, “tetapi kita tidak dapat ingkar dari kenyataan. Di sekeliling barak ini, prajurit Lemah Warah berjaga-jaga dengan ketat. Sementara itu di setiap sudut halaman, di setiap pintu dan di setiap lorong diawasi pula dengan keras. Bagaimana mungkin kita akan dapat lolos. Sedangkan seekor lalat pun tidak akan dapat lepas dari setiap pengawasan.”

“Itu adalah sikap putus asa,” geram perwira yang masih muda itu, “aku tidak mau menyerah dalam keputus-asaan. Meskipun seandainya aku akan mati dalam usaha melarikan diri itu.”

Perwira yang lebih tua itu pun berusaha menjelaskan, “Bukan watak seorang prajurit untuk bertindak tergesa-gesa tanpa perhitungan. Seseorang yang mempertimbangkan langkah-langkahnya bukan berarti berputus-asa. Sedangkan mereka yang bertindak dengan tergesa-gesa sekedar karena dorongan perasaan, maka mereka tidak ubahnya seperti sedang membunuh diri.”

“Aku tidak peduli,” sahut perwira muda itu, “aku akan melakukannya. Terserah kepada kalian, apakah kalian akan ikut bersama aku atau tidak.”

Perwira yang lebih tua itu pun menjadi jengkel. Karena itu maka katanya, “Jika kau memang ingin membunuh diri, jangan membawa orang lain serta. Kecuali mereka yang dungu atau kehilangan akal seperti kau.”

Perwira yang muda itu menjadi marah. Tiba-tiba saja ia berdiri tegak di hadapan perwira yang lebih tua itu sambil membentak, “Tidak ada hakmu mengatur tingkah lakuku.”

Tetapi perwira yang lebih tua itu pun menjadi marah pula. Tidak kalah garangnya ia pun membentak, “Lihat dengan matamu. Siapa aku he?”

Ternyata perwira yang masih muda itu menyadari dengan siapa ia berhadapan. Perwira itu bukan saja lebih tua umurnya, tetapi juga pangkat dan kedudukannya. Meskipun mereka telah menjadi tawanan, tetapi tataran keprajuritan tidak dapat mereka tinggalkan begitu saja.

Karena itu, maka perwira yang lebih muda itu pun segera menganguk hormat sambil berkata, “Aku minta maaf.”

Perwira yang lebih tua itu tidak menjawab. Tetapi dari tatapan matanya ia seakan-akan mengatakan bahwa perwira muda itu perlu mendapat peringatan yang lebih keras.

Perwira yang muda itu pun kemudian beringsut meninggalkan perwira yang lebih tua itu. Meskipun ia sudah minta maaf, tetapi bukan berarti bahwa sikapnya berubah. Ia masih tetap ingin melarikan diri dari tempat itu.

Namun betapapun perwira yang masih muda itu didorong oleh gejolak perasaannya, namun ternyata ia masih juga harus membuat perhitungan-perhitungan. Ketika kemudian malam turun, maka dengan cermat ia memperhatikan keadaan di luar dinding baraknya.

“Setan alas,” geramnya ketika ia mendengar langkah mondar-mandir di luar dinding barak, “Kenapa mereka tidak diterkam iblis pada kepalanya.”

Seorang prajurit yang mendengarnya mengerutkan keningnya. Namun ia tidak mengatakan apa-apa, karena ia tahu, apa yang akan dilakukan oleh perwira itu bersama beberapa orang prajurit yang dapat dihasutnya.

Tetapi ternyata sampai menjelang pagi, perwira itu tidak mendapat kesempatan sama sekali. Para prajurit Lemah Warah di luar barak itu ternyata tidak pernah lengah sekejappun.

Perwira itu mengumpat kasar. Malam itu tidak ada jalan baginya. Sehingga karena itu, maka ia harus menunggu lagi.

Dan menunggu adalah sesuatu yang sangat menjemukan. Bahkan seolah-olah ia telah membenarkan pendapat perwira yang lebih tua itu, bahwa mereka yang bertindak terge-gesa tidak ubahnya sebagaimana sedang membunuh diri.

“Persetan,” geram perwira muda itu, “tetapi mereka akan melihat bahwa pada suatu saat aku akan berteriak dalam kebebasan dengan suara tanpa terkekang.”

Dalam pada itu, Senapati dari pasukan ketiga yang ikut tertawan telah bersiap-siap pula. Ia telah menentukan siapa yang akan dibawanya ke Sangling hari itu.

Menjelang matahari terbit, maka ia telah bersiap-siap. Tetapi ia masih belum memberitahukan kepada orang yang telah dipilihnya.

Sebenarnyalah, maka sejenak kemudian Akuwu telah memanggilnya. Dua orang prajurit telah memasuki barak itu untuk menemui Senapati dari pasukan ketiga.

Perwira muda yang melihat dua orang prajurit memasuki barak itu tiba-tiba timbul gejolak didalam hatinya. Rasa-rasanya kedua orang itu akan dapat dipergunakannya landasan untuk melarikan diri dari barak itu. Karena itu, maka ia pun telah mengikutinya.

Tetapi ia telah terbentur lagi pada satu kenyataan bahwa ia tidak akan dapat melakukannya. Beberapa orang prajurit Sangling yang melihat sikapnya sama sekali tidak tertarik untuk melakukannya. Beberapa orang prajurit Sangling yang melihat sikapnya sama sekali tidak tertarik untuk melakukannya pula. Kedua prajurit Lemah Warah itu pun ternyata membawa senjata terhunus. Jika ia berbuat sesuatu dengan tiba-tiba atas kedua prajurit itu dengan licik dan berhasil membunuhnya, maka apakah ia akan dapat keluar dari barak itu.

Sekali lagi ia terbentur pada satu keharusan untuk membuat perhitungan.

Perwira muda itu mengumpat. Tetapi ia tidak dapat menghindar. Ia memang harus membuat perhitungan untuk menentukan langkah-langkahnya. Sebagai seorang prajurit, maka hal itu merupakan bagian dari setiap langkahnya. Namun dalam kegelapan nalar, maka perwira muda itu telah mencoba untuk ingkar, bahwa perhitungan itu perlu bagi setiap tindakannya. Ia menganggap perhitungan merupakan sikap yang lemah. Tetapi akhirnya ia sendiri tidak dapat meninggalkan perhitungan itu. Senang atau tidak senang.

Saat itu pun ternyata perwira muda itu harus mengurungkan niatnya. Dan terngiang kembali kata-kata perwira yang lebih tua daripadanya, “Bukan watak seorang prajurit untuk bertindak tergesa-gesa tanpa perhitungan.”

“Persetan,” geramnya. Namun ia tidak berbuat apa-apa. Bahkan ia tidak mengikuti kedua prajurit Lemah Warah itu lebih jauh.

Sementara itu, kedua prajurit itu telah menemui Senapati dari pasukan ketiga. Ia pun segera menyampaikan perintah Akuwu Lemah Warah, bahwa Senapati itu telah dipanggilnya.

“Sekarang ?” bertanya Senapati itu.

“Ya, sekarang,” jawab salah seorang prajurit Lemah Warah itu.

Senapati itu memang sudah siap. Karena itu, maka tanpa banyak persoalan Senapati itu pun mengikuti keduanya keluar dari barak.

Disebelah barak yang lain Akuwu Lemah Warah sudah menunggu. Ketika Senapati itu menghadap dan mengangguk hormat, maka Akuwu itu pun kemudian bertanya, “Apakah kau sudah menemukan orang-orang yang pantas kau bawa serta?”

“Hamba Akuwu. Dua orang prajurit yang menurut pendapat hamba akan dapat mengawani hamba. Bukan saja sekedar kawan perjalanan. Tetapi rasa-rasanya pendapat mereka-pun akan banyak yang sejalan dengan pendapatku dalam beberapa hal. Dalam hubungan keprajuritan mereka bersikap sebagai prajurit yang baik dan patuh.”

Akuwu Lemah Warah mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Biarlah keduanya dipanggil.”

Senapati itu pun kemudian telah memberikan dua nama dari pasukan ketiga kelompok dua. Seorang diantara prajurit itu adalah seorang perwira yang memimpin kelompok itu.

Ternyata bahwa ketika kedua orang prajurit itu dipanggil, agaknya telah menarik banyak perhatian. Beberapa orang kawan-kawannya saling bertanya-tanya. Kenapa kedua orang itu juga dipanggil sebagaimana Senapati dari pasukan ketiga.

Kedua orang prajurit itu sendiri telah terkejut pula karenanya. Tetapi mereka tidak dapat mengelak. Ketika pemimpin kelompok itu bertanya untuk apa mereka dipanggil, prajurit Lemah Warah itu menjawab sambil menggelengkan kepalanya, “Entahlah. Aku tidak tahu.”

Dengan jantung yang berdebar-debar maka keduanya telah mengikuti kedua prajurit Lemah Warah itu untuk menghadap Akuwu. Apalagi ketika mereka melihat Akuwu telah menunggunya bersama Senapatinya.

Demikian keduanya mengangguk hormat, maka Akuwu Lemah Warah pun telah memerintahkan kepada Senapati dari pasukan Ketiga dari Sangling itu, “Katakan kepada mereka, apa yang harus mereka lakukan.”

Kedua orang prajurit itu menjadi semakin berdebar-debar. Namun Senapati itu pun kemudian telah menjelaskan tugas yang dibebankan kepada mereka.

Seperti Senapati itu pada saat pertama kali ia mendengar rencana itu, maka rasa-rasanya kedua orang prajurit itu tidak yakin akan pendengarannya. Namun Senapati itu agaknya dapat menangkap kebimbangan di hati kedua prajurit itu. Karena itu maka ia pun dengan hati-hati telah menjelaskan maksud Akuwu Lemah Warah.

Hijaunya Lembah, Hijaunya Lereng Pegunungan
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger