logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Hijaunya Lembah, Hijaunya Lereng Pegunungan Jilid 059


Ki Sardapa mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Baiklah. Jika demikian apa pun yang terjadi, aku datang ke rumah paman tertua itu.”

Ki Panonjaya merenung sejenak. Tetapi katanya, “Jangan pergi sendiri. Biarlah aku mengawanimu. Orang itu mengenal aku. Mungkin aku dapat ikut memberikan penjelasan, sehingga tidak akan lagi tersimpan dendam yang pada satu saat akan meledak.”

Ki Sardapa termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Baiklah paman Aku akan sangat berterima kasih. Kedua kawanku yang masih muda ini pun tentu akan dengan senang hati pergi bersamaku.”

Ki Panonjaya mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Nah, kau dapat bersiap-siap. Besok pagi-pagi aku datang ke rumahmu. Kita akan berangkat bersama-sama. Mudah-mudahan kita dapat mencapainya dalam sehari.”

Ki Sardapa pun kemudian telah minta diri. Hatinya menjadi sedikit terhibur, karena pamannya, adik ayahnya, bersikap agak baik kepadanya. Namun demikian, ia masih juga menyimpan pertanyaan, dari siapa pamannya itu mendengar tentang kematian ibu tirinya, sehingga tuduhannya yang pertama adalah sama seperti tuduhan yang pernah dilontarkan oleh pamannya yang lain, adik ibu tirinya.

“Agaknya paman Panonjaya mendapat keterangan yang salah” berkata Ki Sardapa.

Namun untuk menanyakan hal itu langsung kepada pamannya, ia memang merasa agak segan.

Demikianlah, Ki Sardapa justru mendapat kesempatan untuk berbicara dengan Kiai Patah di rumahnya. Agaknya Kiai Patah pun cenderung untuk berpesan, agar Ki Sardapa berhati-hati menghadapi sikap paman-pamannya itu.

Sampai larut malam Ki Sardapa masih berbincang dengan Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Kiai Patah.

Menjelang tengah malam, mereka terkejut ketika seorang peronda mengetuk pintu pringgitan.

“Siapa?” bertanya Ki Sardapa.

“Aku, peronda Ki Bekel. Ada seorang tamu yang ingin bertemu dengan Ki Bekel” jawab peronda itu.

Ki Sardapa memang menjadi ragu-ragu. Tetapi jika yang datang itu hanya seorang, ia tentu tidak akan dapat berbuat apa-apa di tempat itu. Apalagi di rumah itu terdapat kedua anak muda berilmu tinggi itu serta Kiai Patah.

Karena itu, maka Ki Sardapa pun tidak merasa keberatan untuk menerimanya, justru kepentingan orang itu akan bersangkut paut dengan kesulitan yang sedang dihadapinya.

Dengan nada datar Ki Bekel itu kemudian menjawab, “Bawalah orang itu kemari.”

“Baik Ki Bekel” jawab peronda itu.

Ketika peronda itu kembali lagi setelah menjemput orang yang akan bertemu dengan Ki Bekel itu di gardu, maka Ki Bekel telah membuka pintu.

Sebenarnyalah Ki Bekel itu terkejut. Ia merasa pernah melihat orang itu. Wajah orang itu justru sangat mirip dengan wajah ibu tirinya.

“Apakah kau lupa kepadaku?” suara orang itu ternyata terasa lunak.

Ki Bekel termangu-mangu. Namun akhirnya ia dapat mengingatnya kembali. Orang itu adalah salah seorang di antara saudara-saudara ibu tirinya.

“Kau benar-benar tidak ingat lagi?” desak orang itu.

Ki Bekel mengangguk kecil. Dengan nada yang bimbang ia menjawab, “Tidak. Aku tidak lupa.”

“Nah. Jika demikian, apakah aku boleh masuk?” bertanya orang itu.

Ki Bekel menjadi berdebar-debar. Tiba-tiba saja terbayang lagi salah seorang yang mengaku pamannya telah datang mengumpatinya, bahkan kemudian telah mengancamnya.

Namun karena Ki Bekel tidak sendiri, maka dipersilahkan orang itu masuk, meskipun sikapnya cukup berhati-hati.

Agar tamu-tamunya juga dapat bersikap hati-hati, maka Ki Bekel langsung memperkenalkannya, bahwa tamunya itu adalah adik ibu tirinya.

Sebenarnyalah bahwa Kiai Patah, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun menjadi lebih berhati-hati menghadapi orang itu. Meskipun demikian mereka berusaha untuk tidak memberikan kesan yang demikian kepada paman Ki Bekel itu.

Setelah paman Ki Bekel itu duduk, maka Ki Bekel pun telah bertanya, “Paman, apakah keperluan Paman datang kemari?”

Pamannya mengerutkan keningnya. Dengan nada rendah ia menjawab, “Aku ingin menengok kemanakanku.”

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Terima kasih Paman.”

Pamannya pun termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun bertanya, “Sardapa. Apakah sebenarnya yang terjadi atasmu? Sikapmu terlalu dingin. Bahkan terasa penuh kecurigaan. Mungkin karena aku datang pada malam hari atau mungkin karena persoalan lain?”

Ki Sardapa memang tersentuh hatinya mendengar pertanyaan pamannya itu. Tetapi ia tidak mau mengalami kesulitan karena kedatangannya. Karena itu, maka dipaksanya mulutnya berkata, “Paman. Aku telah mendapat kesulitan karena peristiwa yang baru saja terjadi beberapa waktu yang lalu. Aku mendapat bermacam-macam tuduhan sehingga aku menjadi curiga kepada setiap orang yang menemui aku. Apalagi dari keluarga ibu. Maksudku, saudara-saudaranya.”

Paman Sardapa itu mengangguk-angguk. Lalu dengan nada yang agak meninggi ia bertanya, “Siapa yang pernah menyulitkanmu?”

“Beberapa orang pamanku” jawab Ki Sardapa.

“Kenapa mereka menyulitkanmu?” pamannya bertanya lagi.

Ki Sardapa menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ialah yang kemudian bertanya, “Bagaimana tanggapan Paman tentang peristiwa yang menimpa ibu?”

“Kau bunuh ibumu yang membesarkanmu” jawab orang itu.

“Bukankah seperti yang aku duga” desis Ki Sardapa.

“Apa yang kau duga?” bertanya pamannya.

“Paman akan mengatakan bahwa aku telah membunuh ibu, memfitnah kakang Bekel untuk dapat mengusirnya dari kedudukannya. Kemudian mengambil kedudukannya itu, bukankah begitu?”

Orang itu tersenyum. Dengan nada yang datar ia berkata, “Aku sudah mendapat keterangan tentang hal itu. Tepat seperti yang kau katakan. Aku pun tahu, bahwa pamanmu yang termuda telah datang kepadamu dan bahkan telah mengancammu. Bukankah begitu?”

Ki Sardapa mengerutkan keningnya. Dengan serta merta ia bertanya, “Jadi yang datang itu Paman yang termuda?”

“Ya. Sekarang paman-pamanmu telah berkumpul. Mereka sepakat untuk membuat perhitungan denganmu” jawab pamannya itu.

“Paman datang untuk menyampaikan ancaman itu?” bertanya Ki Bekel.

Orang itu menggeleng. Katanya, “Tidak. Aku adalah salah seorang di antara mereka. Aku mengenal sifat dan watak mereka sebaik-baiknya. Tetapi justru karena itu, maka aku tidak begitu saja mempercayai mereka. Aku sengaja datang kepadamu untuk mendengar keteranganmu tentang keadaan yang sebenarnya. Setidak-tidaknya aku dapat mendengar peristiwa ini dari sisi pandangan yang berbeda untuk mengambil kesimpulan.”

Ki Sardapa menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun berkata, “Biarlah anak-anak muda ini yang berceritera. Ia tahu benar apa yang terjadi disini. Mungkin akan lebih berarti bagi Paman daripada akulah yang berceritera.”

Paman Ki Sardapa itu memandangi ketiga orang yang ada di ruang dalam itu berganti-ganti. Lalu jawabnya, “Silahkan. Siapa pun yang akan berceritera.”

Ki Sardapa pun kemudian berpaling ke arah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sambil berkata, “Aku minta tolong, ceriterakan apa yang terjadi. Mungkin Paman akan lebih percaya kepada kalian daripada kepadaku.”

Kedua anak muda itulah yang kemudian saling berpandangan. Namun kemudian Mahisa Murti lah berbicara kepada paman Ki Bekel itu. Diceriterakannya apa yang terjadi menurut pengertiannya tentang padukuhan itu, tentang diri mereka berdua yang diusir Ki Buyut dari banjar, tentang Ki Bekel yang lama, dan tentang keputusan Ki Buyut untuk menunjuk penggantinya. Bukan sekedar menunjuk, tetapi Ki Buyut berusaha untuk menemukan orang yang terbaik dan memenuhi syarat-syarat yang wajar. Jika ternyata tidak ada, maka barulah Ki Buyut akan mengambil satu kebijaksanaan.

Adik ibu tiri Ki Bekel itu mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Aku percaya. Aku memang lebih percaya kepada kalian daripada kepada adikku yang termuda itu.”

Ki Sardapa menjadi berdebar-debar. Memang ada semacam kecurigaan. Tetapi ia masih saja tetap berusaha menyembunyikannya.

Namun dalam pada itu, Ki Sardapa mempunyai perhitungan lain. Besok pagi-pagi Ki Panonjaya akan datang. Jika kedua pamannya itu bertemu, maka tentu ada pembicaraan yang cukup menarik.

Karena itu, maka Ki Sardapa pun berkata, “Paman. Hari telah larut malam. Aku ingin mempersilahkan paman beristirahat dahulu. Jika Paman belum makan, biarlah dihidangkan makan untuk Paman.”

“Aku sudah makan di perjalanan. Jangan repot. Aku memang ingin beristirahat saja” berkata paman Ki Bekel itu.

Tetapi ketika seorang pelayan menyuguhkan minuman panas, maka orang itu pun meneguknya pula, sehingga rasa-rasanya tubuhnya menjadi segar.

Tetapi Ki Sardapa kemudian telah mempersilahkan orang itu bermalam di gandok kanan. Di sebuah bilik yang memang diperuntukkan bagi para tamu Ki Bekel yang bermalam.

Namun Ki Bekel tidak melepaskan kewaspadaan. Kepada dua orang peronda ia minta agar orang yang bermalam di gandok itu diawasi.

“Jika orang itu meninggalkan halaman ini, maka kalian harus memberitahukan kepadaku” berkata Ki Bekel kepada peronda itu.

“Baik Ki Bekel” jawab salah seorang dari keduanya.

Ki Bekel pun kemudian telah kembali ke ruang dalam. Kiai Patah, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih berada di ruang itu pula. Untuk beberapa saat mereka masih berbincang. Namun kemudian mereka pun telah pergi beristirahat pula.

Tetapi untuk menjaga segala kemungkinan, maka ketiga orang itu telah tidur di sebuah amben yang besar di ruang tengah. Agaknya mereka masih dicengkam oleh keadaan yang menggetarkan jantung mereka. Seorang yang mengaku berniat baik itu, mungkin saja akan melakukan satu tindakan yang mengejutkan.

Ternyata ketika ayam jantan berkokok di dini hari, ketiga orang yang tidur di ruang tengah itu telah terbangun tanpa terganggu apa pun juga. Ketika mereka membuka pintu pringgitan, di luar masih nampak remang-remang, meskipun induk-induk ayam telah membawa anak-anaknya turun ke halaman.

Sejenak kemudian, maka ketiga orang itu telah mandi dan berbenah diri. Sejenak kemudian Ki Sardapa telah keluar pula dari biliknya. Demikian pula pamannya yang tidur di gandok.

Ketika matahari terbit, semuanya telah selesai berbenah diri dan duduk di pendapa. Seorang pelayan telah menghidangkan minuman hangat serta beberapa potong makanan.

Ki Sardapa telah mempersilahkan tamu-tamunya untuk meneguk minuman hangat itu serta makan makanan yang sudah disediakan.

Namun dalam pada itu, seorang petugas di regol halaman telah memberitahukan, bahwa ada seorang tamu yang mencari Ki Sardapa.

“Siapa?” bertanya Ki Sardapa.

“Orang itu menyebut dirinya Ki Panonjaya” jawab petugas itu.

“Paman Panonjaya. Silahkan ia masuk” sahut Ki Sardapa dengan serta merta.

Ternyata pamannya itu telah memenuhi janjinya. Justru lebih pagi dari yang disangkanya.

Ketika Ki Panonjaya naik ke pendapa, maka dilihatnya paman Ki Sardapa yang seorang lagi. Adik ibu tirinya.

Ternyata keduanya telah saling mengenal. Bahkan dengan nada ramah keduanya telah saling bertegur sapa.

Ketika Ki Panonjaya mendengar dari Ki Sardapa bahwa pamannya itu datang semalam serta niatnya untuk mendengar penjelasan Ki Sardapa tentang peristiwa yang telah terjadi itu, maka Ki Panonjaya pun mengangguk-angguk.

Dengan nada dalam Ki Panonjaya berkata, “Sardapa. Orang inilah salah seorang dari mereka yang aku katakan baik. Maksudku di antara semua paman-pamanmu.”

Ki Sardapa mengangguk-angguk. Dengan sungguh-sungguh ia berkata, “Terima kasih atas kesediaan paman untuk datang. Juga aku mengucapkan terima kasih kepada paman Panonjaya. Sekarang aku justru mohon petunjuk, apa yang sebaiknya aku lakukan? Apakah kita akan tetap pada rencana semula? Pergi ke rumah paman tertua untuk memberikan penjelasan?”

“Jadi kalian memang sudah merencanakannya?” bertanya adik ibu tiri Ki Sardapa.

“Ya” jawab Ki Panonjaya.

“Tetapi menurut pengetahuanku, saudara-saudaraku telah siap untuk membalas dendam. Aku pun telah dipanggilnya dan mendapat beberapa keterangan yang bertentangan dengan keterangan yang aku dengar dari Sardapa serta kawan-kawannya” jawab saudara ibu tiri Ki Sardapa itu.

“Jadi bagaimana menurut pertimbanganmu?” bertanya Ki Panonjaya.

“Agaknya mereka tidak dapat diajak berbicara dengan baik. Mereka telah mengambil keputusan. Justru itu aku datang untuk memberi peringatan kepada Sardapa, karena aku memang sudah mengira, bahwa ia tidak bersalah” berkata orang itu.

Ki Panonjaya menarik nafas dalam-dalam. Ia memang sudah mengira bahwa sulit untuk menjelaskan keadaan sebenarnya kepada paman-paman Sardapa itu. Bahkan seandainya mereka mengerti keadaan sebenarnya sekali pun mereka tentu akan tetap mengatakan sesuai dengan kepentingan mereka atas Sardapa.

Namun demikian Ki Panonjaya itu berkata, “Jika demikian, maka biarlah aku saja yang menemui saudaramu yang tertua. Aku akan dapat menjajagi rencana yang sebenarnya yang akan dilakukannya.”

“Aku sudah tahu,” sahut adik ibu tiri Ki Sardapa itu, “mereka akan membuat perhitungan dengan Sardapa.”

“Mungkin keputusan mereka akan berubah jika aku berhasil meyakinkan mereka” berkata Panonjaya.

Adik ibu tiri Sardapa itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Terserah kepadamu. Tetapi berhati-hatilah.”

“Paman tidak dapat pergi sendiri,” berkata Sardapa kemudian, “aku akan menemani paman.”

Tetapi Ki Panonjaya menggeleng. Katanya, “Justru setelah aku tahu rencana mereka, maka aku berpendapat, bahwa kau tidak usah pergi bersamaku.”

“Tetapi bagaimana jika terjadi sesuatu dengan paman?” bertanya Ki Sardapa.

“Tidak akan terjadi sesuatu atasku. Tentu aku dapat mengatakan, bahwa sekelompok orang telah bersiap untuk menuntut balas jika aku tidak keluar dari lingkungan mereka. Menurut perhitunganku, untuk sementara mereka tidak akan membuka permusuhan dengan pihak-pihak lain karena sasaran utama mereka belum dapat mereka selesaikan” jawab Ki Panonjaya.

Ki Bekel merenungi kata-kata itu. Sementara adik ibu tirinya itu berkata, “Agaknya kakang Panonjaya benar. Mereka tentu akan menahan diri agar mereka tidak terlibat dalam perkelahian dengan pihak lain lagi sebelum mereka menyelesaikan kau.”

“Nah,” berkata Ki Panonjaya, “biarkan aku berangkat sendiri. Mudah-mudahan besok aku sudah kembali. Tetapi jika besok lusa aku tidak kembali, terserah langkah-langkah apa yang akan kau ambil.”

Ki Sardapa mengangguk. Ia memang tidak mempunyai cara lain. Sementara itu pamannya telah bertekad bulat untuk melakukan rencananya itu. Seorang diri.

Demikianlah, maka Ki Panonjaya telah meninggalkan rumah Ki Sardapa. Ia telah meletakkan beban yang sangat berat diatas pundaknya sendiri. Namun Ki Panonjaya memang tidak mau Sardapa terbunuh, ia adalah satu-satunya keturunan Ki Bekel tua yang tinggal. Ki Panonjaya yang ternyata adalah adik Ki Bekel tua itu, tidak akan membiarkan keluarga ibu tiri Sardapa menghancurkan keberhasilan Sardapa menggantikan kedudukan kakaknya.

Ternyata bahwa Ki Panonjaya benar-benar memerlukan waktu sehari dalam perjalanan. Tetapi karena Ki Panonjaya tidak tergesa-gesa maka ia tidak berniat untuk mempercepat.

Bahkan ia akan merasa lebih tenang untuk bertemu dan berbicara dengan saudara tertua iparnya itu.

Sebenarnyalah Ki Panonjaya memasuki regol halaman rumah saudara tertua iparnya itu pada saat menjelang senja.

Kedatangan Ki Panonjaya memang diterima dengan penuh kecurigaan. Dipersilahkannya untuk duduk di pendapa, serta menunggu untuk waktu yang cukup lama.

Ki Panonjaya cukup sabar. Ia mengerti bahwa saudara-saudara iparnya itu tentu tengah berunding. Agaknya ada di antara mereka yang sedang berada di rumah itu.

Ternyata bukan saja beberapa. Namun kemudian Ki Panonjaya itu melihat mereka lengkap berada di rumah itu. Ketika tiga orang di antara mereka menemuinya, maka yang lain telah berkeliaran di halaman. Termasuk adik yang termuda, yang memang pernah diusir oleh ki Bekel tua, ayah Ki Sardapa.

“Ki Panonjaya,” desis saudara tertua iparnya itu. “apakah keperluanmu datang kemari? Apakah kau ingin bergabung dengan kami?”

“Untuk apa?” bertanya Ki Panonjaya, “apakah kalian mempunyai satu rencana tentang sesuatu?”

“Jangan pura-pura,” jawab saudara tertua iparnya itu, “kau tentu sudah tahu apa yang dilakukan oleh Sardapa. Nah, kami, saudara-saudara ibu tirinya akan menuntut balas. Seharusnya anak itu berterima kasih kepada ibu tirinya itu yang sudah mengasuhnya sebagaimana mengasuh anak sendiri. Namun akhirnya, ketika Sardapa mendekati saat-saat peresmiannya menjadi seorang Bekel, ia sudah membunuh ibunya itu.”

“Apakah kalian percaya kepada ceritera itu?” bertanya Ki Panonjaya.

“Bukan sekedar ceritera,” jawab yang tertua, “sebenarnyalah telah terjadi seperti itu. Semua orang menjadi saksi.”

Tetapi Ki Panonjaya menggeleng. Katanya, “Jangan memutar balikkan keadaan. Aku berkata sebenarnya, bahwa ceritera itu adalah fitnah. Memang ada dua kemungkinan. Kalian benar-benar tidak tahu apa yang terjadi, atau kalian sebenarnya sudah tahu, tetapi dengan sengaja mengaburkan kenyataan itu?”

“Ki Panonjaya,” berkata yang tertua, “aku menaruh hormat kepadamu. Tetapi jika kau mencoba untuk mengaburkan kenyataan ini, maka kami akan menentangmu.”


“Aku minta kalian berpikir bening” berkata Ki Panonjaya.

“Aku sudah mempertimbangkan tiga empat kali bersama saudara-saudaraku,” berkata saudara tertua itu, “karena itu maka jangan berusaha untuk mempengaruhi kami.”

“Tidak,” jawab Ki Panonjaya, “aku sebenarnya hanya ingin tahu, keuntungan apakah yang akan kalian peroleh dari usaha pembalasan dendam ini? Tentu sekedar permusuhan. Sardapa mempunyai banyak pengikut, di samping perlindungan dari Ki Buyut.”

Saudara tertua dari ibu tiri Sardapa itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Pertanyaanmu aneh. Apa yang aku peroleh jika aku membalas dendam? Bukankah kau tahu, bahwa harga diri seorang laki-laki adalah sama dengan nyawanya? Katakanlah, seorang di antara saudara kami telah dibunuh oleh Sardapa. Bukankah kami berhak untuk membalas dendam? Apalagi jika kami berbicara tentang hubungan Sardapa dengan perempuan yang dibunuhnya. Perempuan yang mengasuhnya sejak kecil dan mengasihinya melampaui anaknya sendiri.”

“Kau tidak perlu berkata begitu,” jawab Ki Panonjaya, “kita sama-sama tahu apa yang telah dilakukan oleh Nyai Demang itu atas Sardapa di masa kecilnya bahkan sampai ia menginjak dewasa. Apakah kau dapat mengatakan, bahwa Nyai Bekel telah mengasihi Sardapa melampaui anaknya sendiri? Kau tentu mengetahui bagaimana cara Nyai Bekel menghajar Sardapa. Kau tentu tahu, bahwa Sardapa pernah dikurung dalam lumbung selama tiga hari sehingga anak itu menjadi hampir gila karena ketakutan? Kau tentu tahu sikap Nyai Bekel itu sehari-hari atas Sardapa. Itukah yang kau maksud dengan mengasihinya melampaui anaknya sendiri? Kau dapat berkata seperti itu kepada orang lain. Tetapi tidak kepadaku.”

“Persetan,” geram saudara tertua itu, “aku tidak peduli. Tetapi kematian saudara perempuanku telah membangkitkan dendam di hati kami sesaudara. Kami sudah berjanji untuk membunuh Ki Sardapa. Kapan pun dan dengan cara apapun.”

“Kau tidak akan berhasil,” berkata Ki Panonjaya, “jika Sardapa tahu, bahwa kalian masih mendendamnya, maka ialah yang akan mencari kalian dan membinasakan kalian sebelum kalian sempat mencarinya.”

“Persetan,” geram saudara tertua itu, “aku disini bersama semua saudara kami. Seandainya Sardapa membawa orang sepadukuhan, ia tidak akan dapat mengalahkan kami.”

“Kau salah menilai Ki Sardapa dan orang-orangnya,” berkata Ki Panonjaya, “mereka adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Kau tahu apa yang dilakukan Sura bersama lima orang kawannya? Mereka adalah orang-orang yang ditakuti. Tetapi kau lihat, bahwa mereka tidak berdaya apa-apa menghadapi Ki Sardapa dan para pengikutnya.”

“Kau berbicara tentang Sura? Apa yang dapat dibanggakan pada Sura? Ketamakannya? Atau barangkali ilmu sirepnya?” bertanya saudara tertua ipar Ki Panonjaya itu.

“Bukankah dengan ilmu sirepnya ia mampu memperlemah kekuatan lawan? Itu pun akhirnya Sura tidak berdaya” berkata Ki Panonjaya.

“Jangan kau samakan kami dengan Sura,” berkata saudara tertua itu, “sepuluh Sura tidak akan dapat menyamai kami seorang demi seorang.”

Ki Panonjaya tersenyum. Katanya, “Kau tidak akan mempunyai cara untuk membunuhnya.”

Tetapi orang itu pun tertawa. Semakin lama semakin keras. Kemudian ia pun berkata kepada saudara-saudaranya yang ikut menemui Ki Panonjaya, “Kalian dengar? Ki Panonjaya menyangsikan, apakah kami akan dapat membunuh Sardapa.”

Saudara-saudaranya pun tertawa. Bahkan terdengar tertawa pula di halaman.

Tetapi Ki Panonjaya sengaja membuat hati mereka panas. Katanya, “Kalian dapat tertawa sekarang disini. Tetapi kalian akan menangis jika kalian telah melihat sendiri apa yang dapat dilakukan oleh Ki Sardapa dan para pengikutnya. Apalagi perlindungan Ki Buyut.”

“Jangan takut Ki Panonjaya,” berkata saudara tertua itu, “aku akan segera membunuhnya.”

Ki Panonjaya menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Memang mungkin dapat kalian lakukan. Tetapi mungkin sebulan atau bahkan setahun lagi.”

“Tidak,” saudara tertua itu hampir berteriak, “aku akan membunuhnya sebelum sepekan. Jika aku gagal membunuhnya sebelum sepekan ini, maka kami mengaku kalah.”

Ki Panonjaya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Baik. Aku sampaikan tantanganmu kepada Ki Sardapa. Dalam sepekan ini akan bersiap-siap.”

“Seharusnya kau tidak perlu menyampaikan rencana kami kepada Sardapa. Kau akan dapat menggagalkan rencana itu. Ia dapat bersembunyi di segala tempat. Bahkan mungkin ia akan bersembunyi di rumah Ki Buyut” berkata saudara tertua itu.

“Itu haknya,” berkata Ki Panonjaya, “ia dapat berbuat apa saja untuk memenangkan taruhan ini. Aku kira memang lebih baik ia bersembunyi. Dengan demikian ia dapat memenangkan taruhan ini tanpa ada korban yang jatuh.”

Tetapi saudara tertua itu menggeleng. Katanya, “Aku tidak ingin terjadi taruhan licik seperti itu. Aku ingin rencanaku berhasil baik.”

“Lakukanlah. Tetapi aku pun akan melakukan rencanaku pula” jawab Ki Panonjaya.

Tetapi saudara tertua itu menggeleng. Katanya, “Kau tidak akan dapat berbuat apa-apa.”

“Kenapa? Bukankah itu hakku” berkata Ki Panonjaya.

“Kau tidak akan sempat keluar dari tempat ini” ancam saudara tertua itu.

Ki Panonjaya tertawa. Katanya, “Siapa yang licik dalam hal ini? Kau atau Sardapa?”

“Persetan. Tetapi kau akan ditahan disini sampai pekerjaan kami selesai. Kami akan membunuh Sardapa dalam pekan ini. Kepalanya akan kami bawa kembali dan kami tunjukkan kepadamu. Dengan demikian kami akan dapat membalaskan sakit hati saudara perempuan kami. Kematian Sardapa adalah hukuman yang paling pantas disandangnya” berkata saudara tertua itu.

Wajah Ki Panonjaya menjadi tegang. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Jadi kau benar-benar akan menahanku disini?”

“Ya” jawab saudara tertua ibu tiri Sardapa itu.

Ki Panonjaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau tahu bahwa aku juga tidak sendiri? Kau tahu bahwa aku juga mempunyai sanak kadang?”

“Tentu kami mengetahui,” jawab orang itu, “tetapi kami memang berniat untuk menahanmu. Aku tidak yakin bahwa sanak kadangmu tahu bahwa kau ada disini?”

“Tentu mereka tahu,” jawab Panonjaya, “mereka tahu aku pergi ke rumah ini. Jika besok aku tidak kembali, maka mereka tentu akan mencariku.”

Tetapi saudara tertua itu berkata, “Aku tidak peduli. Tetapi kau harus tinggal disini sampai saatnya kami membawa kepala Sardapa itu kemari. Kami akan membuat pertimbangan-pertimbangan baru tentang kau. Jika kau tidak berbahaya bagi kami, maka kau akan kami lepaskan. Tetapi jika kau ternyata berbahaya bagi kami, maka kau akan mengalami nasib seperti Sardapa.”

Panonjaya sama sekali tidak menjadi ketakutan. Katanya, “Aku pun tidak peduli apa yang kau rencanakan. Aku akan pergi dan memberitahukan kepada Sardapa bahwa ia ada dalam bahaya. Sebenarnya kedatanganku hanya ingin mencegah kemungkinan buruk yang dapat terjadi. Aku ingin menghilangkan salah paham antara kalian dengan Ki Sardapa. Tetapi jika kalian berkeras untuk melakukannya, maka aku akan memberikan peringatan kepada kemanakanku itu.”

“Ia memang kemanakanmu. Tetapi bukan kemanakanku,” geram saudara tertua itu. Lalu katanya, “Tetapi aku peringatkan sekali lagi, bahwa kau tidak akan dapat pergi dari tempat ini.”

Ki Panonjaya menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang berkeliling maka dilihatnya beberapa orang laki-laki berdiri menebar di halaman rumah itu.

Dengan demikian maka Ki Panonjaya menyadari, bahwa ia memang tidak akan dapat lari. Meskipun Ki Panonjaya akan dapat melawan dua atau tiga orang di antara mereka, namun ia memang tidak akan mampu melawan mereka semuanya.

“Nah,” berkata saudara tertua itu, “kau harus tunduk kepada perintah kami agar kami tidak berbuat kasar kepadamu.”

Ki Panonjaya memang tidak membantah. Ia menyadari keadaannya. Tetapi ia sama sekali tidak menunjukkan kegelisahannya.

“Ikutlah kami” berkata saudara tertua.

Ki Panonjaya tidak dapat ingkar lagi! Ia pun kemudian telah dibawa ke sebuah bilik yang kuat. Dengan nada berat saudara tertua itu berkata, “Tinggalah disini sampai kepala Sardapa aku lemparkan kedalam bilik ini.”

Ki Panonjaya tidak menjawab. Ia pun telah memasuki bilik yang disediakan untuknya. Beberapa saat ia mengamati bilik itu dari sudut ke sudut.

Sementara itu saudara tertua itu berkata, “jangan berusaha untuk melarikan diri. Tidak ada gunanya. Meskipun dalam sepekan ini kami pergi mengambil Sardapa, namun disini sanak kadang kami yang lain akan menjagamu. Kami sudah berpesan, jika kau berusaha untuk melarikan diri, maka kau akan dibunuh tanpa banyak pertimbangan.”

Ki Panonjaya tidak menjawab. Ia memang tidak melihat kesempatan apa pun yang dapat dilakukannya pada saat itu. Karena itu, ia harus mempergunakan otaknya, bukan sekedar perasaan.

Beberapa saat kemudian, maka pintu bilik itu pun telah tertutup. Ki Panonjaya mendengar selarak yang berat telah dipasang di pintu itu. Beberapa orang terdengar berbicara di luar.

Agaknya saudara tertua itu sedang memberikan beberapa pesan kepada orang-orang yang ditugaskan untuk menjaganya.

Ki Panonjaya yang berada didalam bilik itu telah meraba-raba dinding biliknya. Tidak terlalu rapat. Tetapi bilik itu tentu satu bilik yang kuat.

Namun Ki Panonjaya tidak berputus asa. Ia masih saja berniat untuk dapat berbuat sesuatu. Jika mungkin, maka ia akan berusaha untuk keluar dari bilik itu.

Dalam pada itu, maka saudara-saudara ibu tiri Sardapa itu- pun telah berbicara di pendapa. Mereka sepakat untuk segera melakukan rencana mereka. Namun demikian, mereka masih akan menunggu beberapa orang yang telah mereka ajak mengambil Sardapa, hidup atau mati.

“Dalam dua hari ini mereka akan datang” berkata salah seorang di antara mereka.

“Kita menunggu,” berkata yang tertua. Namun ia pun kemudian bertanya, “Berapa orang yang akan datang itu?”

“Tiga orang. Mereka bersama-sama dengan kita mengambil Sardapa dan membunuhnya. Kepalanya akan kita bawa kembali ke rumah ini untuk ditunjukkan kepada Ki Panonjaya.”

Dengan demikian maka mereka harus bersabar untuk dua hari. Orang-orang yang berjanji bersama mereka membunuh Sardapa baru akan kembali dalam waktu dua hari mendatang.

Hari itu Panonjaya harus tinggal didalam bilik yang sempit dan tertutup dengan kuat. Di malam hari, sebuah lampu minyak yang redup diletakkan diatas ajug-ajug di sudut bilik itu.

Sebenarnya Panonjaya memang menunggu malam itu datang. Tetapi ternyata bahwa ia tidak dapat berbuat sesuatu. Ia mendengar di sekitar bilik itu telah dijaga oleh beberapa orang yang berjalan hilir mudik.

Di hari berikutnya, Ki Panonjaya masih tetap berada didalam bilik itu. Ia mendapat kesempatan di pagi hari untuk pergi ke pakiwan. Kemudian dalam sehari ia mendapat makan tiga kali, meskipun tidak sebaik makan di rumah sendiri.

Di rumah, Ki Sardapa menunggu. Ki Panonjaya berpesan, jika di hari berikutnya ia tidak datang, maka Ki Sardapa harus mengambil sikap.

Sebenarnyalah bahwa Ki Sardapa menjadi gelisah karena Ki Panonjaya ternyata tidak kembali pada saat yang dijanjikan. Karena itulah maka Ki Sardapa telah menemui Kiai Patah, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, untuk membicarakan, apa yang sebaiknya mereka lakukan.

“Apa kata pamanmu?” bertanya Kiai Patah.

“Maksud Kiai, adik ibu tiriku itu?” bertanya Ki Sardapa pula.

“Menurut Paman, saudara tertuanya yang keji itu tentu akan menangkap Paman Panonjaya. Bahkan mungkin jika saudara-saudaranya sudah berkumpul, mereka akan kehilangan kendali dan bahkan mungkin telah membunuhnya. Aku menyesal, bahwa aku tidak mencegahnya pergi saat itu. Tetapi saat itu aku masih berharap bahwa paman-pamanku tidak akan melibatkan Ki Panonjaya” berkata Ki Sardapa.

“Jika demikian maka apa yang baik kita lakukan?” bertanya Kiai Patah.

Ki Sardapa termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Kita temui Paman. Marilah. Aku mohon kalian datang ke rumah.”

Kiai Patah, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang sedang berada di rumah Kiai Patah itu pun kemudian telah mengikuti Ki Sardapa. Di rumah Ki Sardapa mereka membicarakan langkah-langkah yang akan mereka ambil.

Akhirnya mereka mengambil keputusan, bahwa mereka harus menyusul ke rumah saudara ibu tiri Ki Sardapa yang tertua. Apa pun yang akan terjadi.

Namun adik ibu tirinya yang ada di rumah Ki Sardapa itu sempat memberikan beberapa peringatan akan kelicikan saudara-saudaranya.

“Berhati-hatilah. Mereka benar-benar akan membunuh Sardapa. Karena itu, maka jika kalian memang ingin pergi ke sana, maka kalian harus benar-benar bersiap menghadapi segala kemungkinan” pesan pamannya itu.

Seperti Ki Sardapa, maka pamannya itu pun merasa menyesal bahwa ia membiarkan Ki Panonjaya untuk pergi seorang diri. Ternyata bahwa saudara-saudaranya benar-benar orang-orang yang tidak mengenal perikemanusiaan sama sekali.

“Baiklah,” berkata Kiai Patah, “kita akan menyusul Ki Panonjaya. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu atasnya.”

“Apakah kalian akan menghimpun kekuatan?” bertanya adik ibu tiri Ki Sardapa itu.

“Kita akan pergi berempat,” jawab Kiai Patah, “mudah-mudahan kita tidak memancing persoalan yang lebih parah. Jika kita pergi dengan sekelompok orang, maka mungkin akan dapat menimbulkan persoalan dengan orang-orang yang tidak berkepentingan.”

“Tetapi apa yang dapat kalian lakukan berempat?” bertanya adik ibu tiri Sardapa itu, “mereka telah berkumpul sembilan orang. Bahkan mungkin ada orang-orang lain yang telah membantu mereka untuk membunuh Sardapa.”

Kiai Patah menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun berkata, “Aku masih mempunyai harapan, bahwa mereka akan dapat diajak berbicara.”

“Aku pun berpendapat demikian,” berkata paman Sardapa itu, “karena itu aku tidak menghalangi kakang Panonjaya untuk pergi seorang diri. Justru karena seorang diri, maka tidak akan segera timbul kesan permusuhan. Tetapi ternyata bahwa saudara-saudaraku telah berpendapat lain. Kakang Panonjaya tidak kembali pada saat yang telah ditentukannya. Dengan demikian maka aku harap bahwa kalian tidak hanya berempat pergi ke rumah kakang tertua itu.”

Tetapi Kiai Patah menggeleng sambil berkata, “Tidak. Aku tidak dapat membawa sekelompok orang seperti hendak pergi berperang.”

“Jika demikian, aku akan ikut kalian” berkata adik ibu tiri Sardapa itu.

“Jangan dengan semata-mata melakukannya dihadapan saudara-saudaramu. Bagaimana pun juga mereka adalah saudara-saudaramu. Karena itu maka sebaiknya kau menunggu saja disini. Jika kami tidak kembali dalam dua tiga hari, maka kau dan para bebahu akan dapat melaporkannya kepada Ki Buyut. Mungkin Ki Buyut mempunyai cara lain untuk menyelesaikan persoalan ini.”

Adik ibu tiri Sardapa itu tidak dapat memaksa untuk ikut dan tidak pula dapat mencegahnya.

Demikianlah setelah mempersiapkan diri sebaik-baiknya, maka keempat orang itu pun telah meninggalkan padukuhan itu untuk menyusul Ki Panonjaya yang ternyata telah ditahan oleh saudara-saudara ibu tiri Sardapa.

Dengan petunjuk dan ancar-ancar dari salah seorang adik ibu tiri Ki Sardapa itulah, maka mereka menyusuri jalan-jalan yang panjang menuju ke rumah saudara tertua.

Dengan sengaja mereka menunggu sampai malam menjadi semakin dalam ketika mereka memasuki padukuhan. Dengan sangat berhati-hati mereka mendekati rumah yang disebut oleh adik ibu tiri Ki Sardapa yang tidak setuju dengan sikap saudara-saudaranya itu.

Ternyata rumah itu tidak mendapat penjagaan yang cukup.

Agaknya para penghuninya tidak akan mengira sama sekali, bahwa akan ada beberapa orang yang akan datang mencari Panonjaya, meskipun Ki Panonjaya sendiri telah mengatakan bahwa kemungkinan seperti itu akan dapat terjadi.

Tetapi saudara tertua dari ibu tiri Sardapa itu menganggap cukup untuk memperkuat penjagaan di bilik tahanan itu saja, dengan pesan, jika terjadi sesuatu, mereka harus segera membunyikan kentongan.

Karena itulah, maka mereka dengan aman telah meloncat memasuki halaman lewat dinding belakang. Dengan hati-hati mereka telah merayap mendekati bangunan induk.

“Kau menunggu disini,” pesan Kiai Patah kepada Ki Sardapa, “kami akan melihat-lihat keadaan rumah itu.”

Bertiga, Kiai Patah merayap mendekati bangunan induk, sementara Ki Sardapa bersembunyi di balik gerumbul yang gelap. Ki Sardapa memang menyadari, bahwa ia tidak akan dapat berbuat sebagaimana Kiai Patah serta kedua orang anak muda itu. Karena itu, maka ia pun sama sekali tidak membantah.

Ketika mereka mendekati bangunan induk, maka mereka- pun mulai berpencar. Sambil berbisik Kiai Patah berkata, “Kita lihat, apakah Ki Panonjaya ditahan disini atau ada kesan-kesan lain.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk kecil.

“Kita akan berada disini setelah kita melihat-lihat seluruh bangunan induk. Jika kita perlu bertemu segera, maka jangan lupa, kita akan membunyikan isyarat. Kita akan menyuarakan suara burung hantu” pesan Kiai Patah kemudian.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mengangguk. Dengan hati-hati ketiga orang itu berpencar. Mereka berusaha untuk melihat segala ruangan dan bilik yang ada di bangunan induk itu. Barangkali mereka menemukan ruang tempat Ki Panonjaya disimpan.

Dalam pada itu, maka Mahisa Murti lah yang secara kebetulan menuju ke arah yang sebenarnya mereka cari. Ketika ia melihat beberapa orang berjaga-jaga, maka ia pun segera menduga, bahwa di tempat itu Ki Panonjaya telah ditahan.

Dengan sangat berhati-hati Mahisa Murti telah bergeser justru menjauh. Dengan sangat berhati-hati pula ia memanjat sebatang pohon. Kemudian meloncat keatas genting, merayap perlahan-lahan menuju ke atas bilik yang sedang dijaga itu.

Dari atas atap, maka Mahisa Murti berusaha untuk dapat melihat apa yang ada didalam bilik yang dijaga ketat itu.


Sebenarnyalah, maka Mahisa Murti dapat melihat dari sela-sela atap bilik itu, seseorang yang tersimpan didalamnya. Ia pun segera mengetahui bahwa orang itu tentulah Ki Panonjaya.

Mahisa Murti tidak ingin bertindak sendiri, la tidak mau melakukan kesalahan yang dapat berakibat buruk, baik bagi Ki Panonjaya, maupun bagi diri sendiri. Karena itu, maka ia pun telah turun kembali dan sebagaimana mereka sepakati, maka ia pun telah menirukan bunyi burung hantu.

Sejenak kemudian maka mereka bertiga telah berkumpul. Mahisa Murti pun segera memberikan laporan tentang penemuannya.

“Kita harus membebaskannya,” berkata Kiai Patah, “baru kemudian kita berbicara dengan paman-paman Ki Sardapa itu. Mudah-mudahan mereka masih membuka kesempatan barang sepatah kata pun untuk menceriterakan tentang peristiwa yang sebenarnya terjadi.”

Mereka pun kemudian telah menyusun tugas mereka masing-masing. Mereka akan menyergap tempat itu dengan tiba-tiba. Dengan demikian maka para pengawal yang berjaga-jaga itu tidak akan sempat berbuat sesuatu.

“Jangan ada yang lolos” berkata Kiai Patah.

“Kita apakan mereka?” bertanya Mahisa Pukat.

“Kita buat mereka pingsan,” jawab Kiai Patah, “tetapi hati-hati. Jangan terlanjur mati. Mereka mungkin sekali tidak tahu persoalannya.”

Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Ia memang tidak yakin bahwa ia tidak akan membunuh orang-orang yang sedang bertugas di sekitar bilik tempat Ki Panonjaya ditahan.

Demikianlah maka mereka pun kemudian mulai bergerak. Mereka mendekati bilik itu dari beberapa arah. Dari tempat masing-masing mereka melihat beberapa orang yang bertugas.

Ada di antara mereka yang sedang mendapat giliran beristirahat, sehingga yang terdengar adalah dengkur mereka yang tertidur.

Ketika mereka sudah mapan, serta sempat menghitung orang yang bertugas, maka Kiai Patah telah memberikan istirahat. Suara burung hantu yang diulang dua kali.

Suara burung hantu itu tidak menimbulkan kecurigaan. Bahkan para petugas itu tidak memperhatikannya sama sekali.

Namun ternyata bahwa suara itu telah mengisyaratkan satu sikap yang menentukan atas mereka.

Sebenarnyalah dalam waktu yang sekejap, Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Kiai Patah telah meloncat menyergap mereka. Pukulan yang tidak sempat mereka hindari atau mereka tangkis telah mengenai tengkuk mereka, sehingga orang-orang yang bertugas itu pun telah menjadi pingsan karenanya.

Dengan hati-hati Kiai Patah telah membuka selarak pintu bilik Ki Panonjaya yang terkejut karenanya. Apalagi ketika ia melihat siapa yang kemudian memasuki bilik itu.

Kiai Patah memberikan isyarat agar Ki Panonjaya tidak berbicara dan bertanya tentang keadaan itu. Karena itu, maka Ki Panonjaya pun telah ditarik oleh Kiai Patah agar ia mengikutinya.

Beberapa saat kemudian, Ki Panonjaya telah berkumpul dengan Ki Sardapa pula. Dengan singkat mereka berbincang tentang sikap yang akan mereka ambil. Namun Kiai Patah kemudian berkata, “Ada baiknya kita menjumpai pamanmu tertua sekarang.”

“Aku sependapat,” berkata Ki Sardapa. Lalu ia pun bertanya kepada Ki Panonjaya, “Bagaimana pendapat Paman?”

“Aku setuju,” jawabnya, “apa pun yang terjadi, aku sudah siap.”

Kiai Patah mengangguk-angguk. Katanya, “Marilah. Tetapi kita harus bersiap untuk bertempur.”

Ki Panonjaya sempat berkata, “Aku memerlukan senjata. Aku akan mengambil senjata salah seorang yang menjaga bilikku itu.”

Demikianlah, maka mereka berlima pun telah menuju ke pendapa. Demikian mereka naik, maka ternyata mereka telah terlihat oleh dua orang petugas yang ada di regol. Agaknya untuk menjaga segala kemungkinan, saudara tertua ibu tiri Ki Sardapa itu telah menyiapkan penjagaan di regol, meskipun penjagaan itu tidak akan banyak berarti.

Dengan tergesa-gesa kedua orang penjaga di regol itu- pun telah mendekati Kiai Patah dan kawan-kawannya. Salah seorang di antara mereka itu pun menyapa dengan garangnya, “Siapa kalian, he?”

Kiai Patah tersenyum. Katanya, “Sabarlah Ki Sanak. Jangan terlalu garang seperti itu.”

“Kau belum menjawab, siapa kau?” geram orang itu.

“Kami adalah tamu-tamu disini. Tolong, sampaikan kepada pemilik rumah ini, bahwa aku ingin bertemu dengan mereka” berkata Kiai Patah.

“Tetapi kau belum menyebut siapa dirimu” bentak orang itu.

Kiai Patah menarik nafas dalam-dalam. Tetapi jawabnya benar-benar mengejutkan, “Katakan, Ki Panonjaya ingin bertemu.”

Wajah orang itu menjadi tegang. Tetapi Kiai Patah justru menarik Ki Panonjaya selangkah maju. Katanya, “Kau tidak percaya?”

Para penjaga di regol itu benar-benar merasa bingung. Menurut pengertiannya, Ki Panonjaya itu telah ditawan di dalam bilik yang khusus. Namun tiba-tiba ia kini berada di halaman bersama-sama dengan orang-orang yang tidak dikenal.

“Sudahlah,” berkata Kiai Patah, “panggil pimpinanmu. Atau bunyikan isyarat jika memang kalian harus melakukannya.”

Kedua orang itu benar-benar kebingungan. Ternyata lima orang itu sama sekali tidak nampak gentar meskipun kedua penjaga itu sempat melihat mereka, sehingga keduanya akan dapat membunyikan isyarat. Bahkan seakan-akan mereka telah menantang para penjaga itu agar mereka membunyikan isyarat untuk memanggil para pemimpin mereka.

“Apakah orang-orang ini orang gila” bertanya para penjaga itu didalam hatinya.

Tetapi mereka memang tidak ingin dipersalahkan oleh para pemimpin mereka. Karena itu, maka salah seorang di antara mereka pun dengan tergesa-gesa telah pergi ke sebuah kentongan kecil yang tergantung di dalam regol.

Kiai Patah dan kawan-kawannya sama sekali tidak berusaha untuk menghalanginya. Bahkan seakan-akan mereka tengah menunggu sahabatnya yang sedang dipanggil keluar dari dalam rumahnya. Tidak menunjukkan ketegangan dan kegelisahan sama sekali, meskipun mereka dapat menghadapi satu bencana.

Sejenak kemudian, suara kentongan telah bergema di halaman rumah itu. Memang tidak terlalu keras. Tetapi suara itu telah membangunkan seisi rumah yang nampaknya lengang itu.

Sejenak kemudian, beberapa orang telah berlari-larian keluar lewat beberapa buah pintu. Ada yang lewat pintu pringgitan, ada yang lewat pintu samping dan bahkan ada yang lewat pintu dapur. Sembilan orang laki-laki yang garang, ditambah lagi dengan beberapa orang pengikutnya. Dengan serta merta mereka telah mengepung kelima orang yang berada di halaman.

Sementara itu saudara tertua dari ibu tiri Ki Sardapa itu memandang Ki Panonjaya dengan mata yang bagaikan menyala.

“Bagaimana kau dapat keluar dari bilikmu?” geram orang itu.

Ki Panonjaya berpaling kepada Kiai Patah. Namun ketika Kiai Patah itu mengangguk, maka Ki Panonjaya itu pun melangkah maju. Dengan nada datar ia berkata, “Bukankah aku telah nengatakan, jika kau menangkap aku, maka aku tentu akan dicari. Sekarang hal itu telah terjadi. Sardapa dan beberapa orang kawannya telah mencari aku dan bahkan melepaskan aku dari bilik tahananku.” Ki Panonjaya berhenti sejenak, lalu “Tentu kau bertanya, kenapa aku tidak melarikan diri saja tanpa menunggu kalian?” Pertanyaan itu dijawabnya sendiri, “Aku memang ingin bertemu dengan kau.”

“Persetan,” geram saudara tertua itu, “ternyata kesombonganmu akan dapat menjeratmu sekarang. Bukan hanya kau yang akan masuk ke dalam tahananku. Tetapi kalian semua. Bahkan agaknya kalian semua harus menyaksikan, bagaimana aku memenggal kepala Sardapa dan aku tanjir di regol rumahku ini.”

Ki Panonjaya tertawa. Katanya, “Apakah kita bukan orang-orang beradab?”

“Apakah Sardapa yang membunuh ibunya, meskipun ibu tirinya, tetapi yang sudah memeliharanya sejak bayi, membesarkannya dan mengasihinya itu pantas diperlakukan sebagaimana orang beradab?” bertanya saudara tertua itu.

“Kau dapat saja memutar balikkan kenyataan,” jawab Ki Panonjaya, “tetapi sekali lagi kami nyatakan, bahwa kedatangan kami justru bermaksud menghilangkan kesalah-pahaman. Mudah-mudahan hal ini dapat kalian mengerti.”

“Tutup mulutmu,” bentak saudara tertua itu, “sekarang, aku minta agar kalian merelakan kepala Sardapa. Jika kalian merelakan kepala Sardapa maka kalian akan mendapat pengampunan. Kecuali Panonjaya yang lain akan kami beri kesempatan untuk meninggalkan tempat ini.”

“Kenapa dengan aku?” bertanya Panonjaya.

“Kau termasuk orang yang pantas dimusnahkan sebagaimana Sardapa,” berkata saudara tertua itu, “kaulah yang telah mengembangkan persoalan ini sehingga menjadi semakin besar.”

“Kau masih saja mengigau,” jawab Ki Panonjaya, “bukankah kau yang telah menangkapku justru pada saat aku ingin menyelesaikan persoalan ini dengan baik?”

“Persetan,” geram saudara tertua, “kau dan Sardapa harus dipenggal lehernya di sini.”

Ki Sardapa pun kemudian melangkah maju sambil berkata,” jadi, apakah memang tidak ada jalan yang dapat ditempuh selain saling membunuh?”

“Tidak saling membunuh.” potong saudara tertua itu, “kamilah yang akan membunuh kalian.”

“Jadi niat Paman sudah bulat? Apakah Paman tidak ingin mendengar penjelasanku?” bertanya Ki Sardapa.

Wajah saudara tertua itu benar-benar menjadi tegang. Kemarahannya sudah tidak tertahankan lagi, sehingga ia pun kemudian berkata, “Jika kau masih berbicara lagi, maka mula-mula akan aku potong lidahmu. Baru aku penggal kepalamu.”

Namun Kiai Patah lah yang tertawa. Katanya, “Nampaknya kau memang terlalu garang. Tetapi baiklah. Jika kau tidak lagi dapat diajak berbicara, maka kita akan berkelahi. Ki Sardapa dan Ki Panonjaya tentu tidak akan dengan suka rela menyerahkan lehernya, sementara itu kami kawan-kawannya akan membelanya. Jika ada di antara kami yang harus mati, maka setiap orang akan bernilai sembilan orang di antara kalian.”

“Setan,” geram saudara tertua. Dengan isyarat ia pun memanggil saudara-saudaranya serta orang-orang yang membantunya untuk mendekat. Katanya kepada mereka, “Kita tidak mempunyai pertimbangan lain lagi. Kalian sudah mendengarnya, bahwa semuanya akan kita bunuh atas permintaan mereka sendiri.”

Kesembilan orang saudara ibu tiri Ki Sardapa itu pun segera bersiap. Mereka memang menebar di segala penjuru halaman itu, sedangkan orang-orang lain yang akan membantu mereka telah mengepung halaman itu pula.

Dalam keremangan cahaya obor di pendapa dan di regol, maka Ki Sardapa memang melihat orang yang pernah mengaku pamannya dan datang ke rumahnya.

Sejenak kemudian maka kedua belah pihak pun telah bersiap. Namun jumlah mereka ternyata tidak seimbang. Jika Sardapa hanya datang bersama tiga orang ditambah Ki Panonjaya, maka saudara tertua ibu tirinya ternyata telah bersiap dengan jumlah yang berlipat ganda. Di samping sembilan orang bersaudara, maka beberapa orang kawannya telah hadir pula di samping pengikut mereka yang cukup banyak pula. Mereka adalah orang-orang upahan yang menjadi alat dalam tugas-tugas mereka yang kasar. Bukan hanya menghadapi tingkah laku Sardapa yang mereka anggap sebagai tantangan terhadap mereka bersaudara, tetapi juga dalam kerja mereka sehari-hari yang oleh Ki Panonjaya disebut sebagai kerja yang tidak sewajarnya.

Namun bagaimanapun juga saudara tertua itu merasa heran juga melihat sikap Ki Panonjaya dan kawan-kawannya yang sama sekali tidak menunjukkan kegelisahan, apalagi ketakutan.

Demikian pula saudara-saudaranya yang lain.

Tetapi mereka menduga, bahwa sikap itu adalah sikap yang pura-pura saja. Meskipun sebenarnya mereka menjadi gemetar, tetapi mereka berusaha untuk menyembunyikan perasaan itu.

Dalam pada itu, muka saudara tertua serta saudara-saudaranya pun telah bergerak semakin mendekat. Di tengah-tengah halaman Kiai Patah berdesis, “Kita bertempur dalam lingkaran. Jangan sampai kita terpecah. Ki Sardapa dan Ki Panonjaya harus berada di antara kita. Jumlah mereka terlalu banyak.”

Ki Sardapa dan Ki Panonjaya mengerti maksud Kiai Patah. Meskipun mereka juga tidak gentar menghadapi apa pun juga dengan akibat yang paling parah sekalipun, namun mereka tidak dapat menolak petunjuk Kiai Patah itu.

Demikianlah, maka kelima orang itu pun telah berada didalam lingkaran menghadap ke segala arah. Ki Panonjaya telah mengacukan senjata yang dipungutnya dari orang-orang yang pingsan di luar bilik tahanannya, sementara yang lain pun lelah bersenjata pedang pula.

Sejenak kemudian, maka sembilan orang saudara, bersama dengan kawan-kawannya telah mulai bergerak. Mereka memang memancing agar lingkaran yang terdiri dari kelima orang itu bertempur terpisah. Tetapi kelima orang itu ternyata tidak terurai lagi.

Dengan demikian maka orang-orang yang ingin membunuh Ki Sardapa dan Ki Panonjaya itulah yang mulai menyerang.

Satu-satu mereka meloncat dengan senjata terjulur. Mereka berusaha menyerang dari beberapa arah pula. Namun serangan-serangan itu dengan tangkasnya dapat ditangkis oleh kelima orang yang berdiri dalam satu lingkaran itu.

Demikianlah, maka serangan-serangan itu datang semakin lama menjadi semakin sering. Ujung-ujung senjata mematuk susul menyusul. Namun usaha itu tidak pernah berhasil. Kelima orang yang berdiri dalam satu lingkaran itu ternyata memiliki ilmu pedang yang tinggi.

Meskipun Ki Sardapa bukan seorang yang berilmu tinggi sedangkan Ki Panonjaya memiliki ilmu setingkat lebih tinggi dari Ki Sardapa, namun di antara Kiai Patah, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, seakan-akan mereka pun menjadi cukup tangkas, karena serangan-serangan lawan tidak pernah mampu menembus pertahanannya.

Kesembilan saudara dan kawan-kawannya itu menjadi kebingungan. Mereka harus menemukan jalan untuk memecah pertahanan kelima orang dalam satu lingkaran itu. Tetapi mereka tidak pernah berhasil memancing salah seorang di antara mereka. Ternyata kelima orang itu tidak pernah berusaha memburu lawan-lawannya yang bergerak mundur. Mereka hanya melangkah setapak maju dan sejauh jangkauan ujung pedang mereka. Selebihnya, mereka justru kembali ke dalam lingkaran itu lagi.

Kesembilan saudara dan kawan-kawannya itu memang menjadi kebingungan untuk beberapa saat. Namun akhirnya saudara mereka yang tertua itu pun berkata, “jangan serang mereka dari semua penjuru lingkaran. Kita serang mereka dari arah setengah lingkaran. Kita harus menyerang mereka berturut-turut, tanpa henti-hentinya di satu sisi. Betapa pun kerasnya, pertahanan itu tentu akan pecah.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Karena itu, maka bersama dengan saudara-saudaranya yang lain, mereka bergeser. Tidak lagi mengepung dalam satu lingkaran. Mereka telah bersiap-siap untuk menyerang mereka dari satu sisi.

Tetapi Kiai Patah pun tanggap akan keadaan itu. Lingkaran itu pun tiba-tiba telah berubah pula. Tidak lagi merupakan lingkaran, tetapi kelima orang itu berdiri dan satu baris dan menghadap ke arah lawan mereka akan datang.

“Setan,” geram saudara tertua. Meskipun demikian, ternyata mereka pun telah mencoba. Mereka telah menyerang kelima orang itu dari satu sisi.

Yang kebetulan berdiri di ujung adalah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, sementara Kiai Patah berada di tengah-tengah diapit oleh Ki Sardapa dan Ki Panonjaya.

Dengan tangkasnya kelima orang itu telah menangkis semua serangan yang datang beruntun susul menyusul. Senjata yang teracu dan ayunan yang kuat. Namun tidak seorang pun di antara mereka yang berhasil mengenai tubuh lawannya.

Beberapa saat pertempuran itu berlangsung dengan keras dan garang. Sembilan orang bersaudara yang mendendam Sardapa dan Panonjaya sesuai dengan keinginan mereka yang dilandasi oleh dendam dan kebencian.

Tetapi ternyata bahwa mereka tidak segera dapat berhasil. Tidak mudah bagi mereka untuk menembus pertahanan kelima orang itu. Terutama kedua anak-anak muda yang berdiri di ujung dan orang tua yang berada di tengah. Sementara itu, Ki Panonjaya dan Ki Sardapa pun telah menunjukkan pula kemampuan mereka dalam ilmu pedang.

Untuk beberapa saat pertempuran itu berlangsung, justru semakin lama semakin sengit. Namun ternyata sembilan orang saudara itu sama sekali tidak dapat berbuat banyak.

Dengan demikian, maka mereka pun tidak lagi mau bersabar. Saudara tertua mereka pun kemudian berkata, “Kita tidak mempunyai pilihan lain. Kita hancurkan mereka menjadi debu.”

“Tunggu,” berkata yang termuda, “aku ingin mendapatkan mereka hidup-hidup. Jika mereka mati sebelum tertangkap, maka kita akan kehilangan permainan yang mengasyikkan.”

“Aku sudah menjadi muak,” geram saudaranya yang lain, “biarlah mereka mati dan tubuhnya hancur menjadi debu.”

“Kita masih akan mencoba” berkata yang lain lagi.

Beberapa saat, sembilan orang saudara itu masih belum menentukan sikap. Namun tiba-tiba saja yang tertua berkata kepada para pengikutnya, “Kepung lagi mereka. Jangan beri kesempatan seorang pun di antara mereka melepaskan diri.”

Sejenak para pengikutnya termangu-mangu. Perintah saudara tertua itu ternyata telah berubah-ubah.

Namun yang tiba-tiba berteriak adalah Mahisa Pukat. Katanya, “Lakukan perintahnya. Ia sedang kebingungan. Mungkin ia tidak lagi mempunyai keyakinan diri, sehingga perintahnya berubah-ubah tanpa pegangan sama sekali.”

“Persetan,” geram saudara tertua itu. Namun ia pun kemudian berteriak, “Minggirlah. Kami bersaudara akan menyelesaikan dengan cara kami.”

Para pengikut sembilan orang bersaudara itu pun telah menepi. Namun mereka telah membuat lingkaran di seputar arena itu, sementara kesembilan saudara ibu tiri Ki Sardapa yang sejalan itu telah berkumpul.

“Kita akan melakukannya. Jika mereka dapat bertahan hidup, maka kita akan menangkapnya hidup-hidup” berkata yang tertua.

Yang lain mengangguk-angguk. Sejenak kemudian terdengar salah seorang berkata, “Kitalah yang harus berhati-hati agar mereka tidak cepat mati.”

“Marilah,” berkata yang tertua, “kita jangan banyak kehilangan waktu.”

Kesembilan orang bersaudara itu pun tiba-tiba telah menebar. Tetapi mereka mulai mengepung kelima orang yang akan mereka hancurkan itu. Beberapa saat mereka seakan-akan menyiapkan diri dengan pemusatan nalar budi. Namun tiba-tiba terdengar orang tertua di antara mereka itu berteriak, “Sekarang.”

Dalam sekejap, maka kesembilan orang itu tiba-tiba telah berputar. Semakin lama semakin cepat. Sementara itu, orang tertua itu masih juga berkata, “Pergunakan senjatamu lebih dahulu.”

Sebenarnyalah bahwa sembilan orang itu pun telah mengacukan senjatanya. Sambil berputaran mereka menyerang berganti-ganti, bahkan kadang-kadang dua atau tiga orang menyerang berbareng dengan sasaran yang berbeda.


Kiai Patah pun kemudian memberikan isyarat kepada kawan-kawannya termasuk Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk berhati-hati. Namun bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hal itu bukannya yang pertama kali dihadapinya. Mereka pernah bertemu dengan ungkapan ilmu yang demikian. Putaran yang semakin cepat, sehingga akhirnya seperti angin pusaran yang bergerigi tajam di bagian dalam, senjata-senjatanya, sementara lingkaran pun semakin lama menjadi semakin kecil.

Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjadi cemas. Yang mereka lakukan kemudian adalah mempersiapkan tenaga cadangan mereka sebaik-baiknya. Keduanya tidak mau memandang rendah lawan-lawan mereka karena memang belum mengetahui tingkat kemampuan kesembilan orang itu. Dengan demikian maka mereka telah menyediakan tenaga cadangan mereka sebaik-baiknya agar mereka tidak mengalami kesulitan karena kelengahan mereka.

Untuk beberapa saat, kelima orang itu masih belum bertindak selain menangkis setiap serangan yang terjulur ke arah mereka. Kiai Patah memang berbisik kepada Ki Sardapa dan Ki Panonjaya, “jangan bingung. Perhatikan setiap serangan yang ditujukan kepada kalian masing-masing. Setiap orang supaya memperhatikan keselamatan diri mereka sendiri lebih dahulu. Jika kalian menjadi bingung, maka kesempatan itu justru akan dipergunakan oleh orang-orang yang sedang berputar itu.”

Ki Panonjaya dan Ki Sardapa mengangguk-angguk sambil memutar pedangnya. Mereka mengerti bahwa yang dimaksud oleh Kiai Patah bukannya mereka tidak akan saling menolong, tetapi untuk menghindari kemungkinan buruk bagi Ki Sardapa dan Ki Panonjaya yang mengakui bahwa ilmu mereka jauh lebih lemah dibandingkan dengan ketiga orang yang lain, maka mereka harus memusatkan perhatian kepada setiap serangan yang ditujukan kepada mereka masing-masing.

Sebenarnyalah bahwa putaran itu semakin lama menjadi semakin cepat, sementara kelima orang yang menjadi sasaran itu pun berdiri melingkar pula beradu punggung.

Namun dengan cara sebagaimana diberitahukan oleh Kiai Patah, maka Ki Sardapa dan Ki Panonjaya selalu dapat menangkis setiap serangan yang terjulur ke arah mereka. Mereka berusaha dengan sekuat tenaga untuk tidak menjadi bingung dan kehilangan pegangan. Mereka memperhatikan setiap ujung senjata yang berputar secepat putaran kesembilan orang bersaudara itu.

Beberapa saat pertempuran yang aneh itu berlangsung. Tetapi serangan-serangan mereka yang berputaran itu sama sekali tidak mengenai sasaran. Apalagi Kiai Patah, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akhirnya berdiri agak lebih maju dari Ki Sardapa dan Ki Panonjaya ketika putaran itu menjadi semakin cepat.

Dengan demikian, maka ketiga orang itulah yang telah menyapu setiap serangan.

Bahkan, ketika Mahisa Pukat menjadi jemu dengan putaran itu berkata kepada Mahisa Murti, “Marilah, kita akhiri permainan yang memuakkan ini.”

Mahisa Murti tidak menjawab. Namun tiba-tiba ia melihat satu gerakan yang aneh pada Ki Sardapa, sehingga ia pun telah bertanya, “Kau kenapa Ki Sardapa?”

“Kepalaku pening. Perutku serasa menjadi mual dan bahkan isi perutku akan tumpah” sahut Ki Sardapa.

“Nah,” gumam Mahisa Pukat sambil menangkis serangan yang terjulur ke arahnya, “bukankah permainan ini pantas diakhiri?”

“Ya,” yang menjawab adalah Kiai Patah, “kita akhiri permainan ini sebelum Ki Sardapa dan Ki Panonjaya jatuh pingsan.”

Dengan demikian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat- pun segera bersiap dengan pedang-pedang mereka. Untuk sesaat mereka masih memperhatikan ujung-ujung senjata yang bagaikan gerigi lingkaran di bagian dalam yang berputar semakin lama semakin cepat dan semakin sempit. Bahkan kemudian ujung-ujung senjata itu teracu pada letak yang tetap dalam putaran yang cepat.

Dalam pada itu, Kiai Patah yang juga sudah bersiap itu pun segera berkata lantang, “Permainan kalian yang memuakkan itu sudah cukup. Jika sampai hitungan ketiga kalian tidak berhenti, maka kamilah yang akan memaksa kalian berhenti.”

“Persetan,” terdengar jawaban, “sampai hitungan ketiga kalian sudah akan mati.”

Tetapi Kiai Patah tidak menghiraukannya. Dengan suara lantang ia mulai menghitung, “satu, dua, tiga.”

Tepat pada hitungan ketiga, maka terjadilah sesuatu yang tidak terduga sama sekali. Kiai Patah, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru bergeser maju. Meskipun mereka harus bertindak dengan sangat berhati-hati karena ancaman lawan mereka, bahwa dihitungan ketiga mereka akan mati.

Namun Kiai Patah, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat lah yang ternyata bertindak lebih cepat. Dengan tangkasnya mereka memutar pedang mereka. Dalam sekejap, maka sembilan orang dalam putaran itu telah terguncang, sehingga putaran itu dengan tiba-tiba telah melebar karena mereka yang berada di dalam putaran itu berloncatan menjauh. Di luar sadar maka putaran itu pun berhenti, sementara tiga orang di antara mereka telah kehilangan senjata mereka, sedangkan dua orang yang lain telah tergores pedang di lengannya.

Terdengar suara Kiai Patah tertawa. Katanya, “Nah, siapakah yang berkata benar? Kalian atau kami? Ternyata dihitungan ketiga kalian tidak dapat membunuh kami, tetapi kami dapat memaksa kalian berhenti.”

“Anak iblis,” geram yang tertua. Dengan gigi yang gemeretak ia pun kemudian berkata, “kalian memang pantas dilumatkan menjadi debu.”

“Kau hanya bicara saja sejak semula,” berkata Kiai Patah, “kenapa kau tidak bersungguh-sungguh melakukan apa yang kau katakan itu?”

Wajah saudara-saudara ibu tiri Ki Sardapa itu menjadi merah. Seorang di antara mereka berkata, “Kita lumatkan saja mereka.”

“Jangan menunggu sampai matahari terbit,” berkata yang lain. “kita akan membuang sisa-sisa tubuh mereka yang hancur selagi masih gelap.”

Saudara tertua di antara mereka pun itu pun tiba-tiba telah memberikan isyarat. Dengan bunyi yang asing, maka ia pun telah memerintahkan adik-adiknya untuk melingkari lawannya lagi. Namun tiba-tiba saja mereka telah menyarungkan senjata mereka.

Kiai Patah pun kemudian menyadari, apa yang akan dilakukan oleh kesembilan orang itu. Karena itu, maka ia pun kemudian berbisik kepada Ki Sardapa dan Ki Panonjaya, “Agaknya mereka akan melepaskan sejenis ilmu yang didukung oleh kesembilan orang itu. Karena itu, lebih baik kalian berada di tengah. Kalian tidak perlu memikirkan bagaimana melawan orang-orang itu. Pusatkan nalar budi kalian untuk membangunkan daya tahan di tubuh kalian, agar ilmu yang akan dilepaskan oleh kesembilan orang itu tidak melukai kalian. Bahkan mungkin serangan itu akan dapat menyusup ke bagian dalam tubuh kalian.”

Ki Sardapa dan Ki Panonjaya tidak menjawab. Mereka pun kemudian berdiri beradu punggung sambil menyilangkan tangan mereka di dada.

Sementara itu Kiai Patah, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bergeser maju selangkah. Mereka berdiri tegak menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi.

Beberapa saat kemudian maka saudara tertua di antara kesembilan orang itu telah mengisyaratkan perintah pula, sehingga lingkaran itu pun telah mulai bergerak pula. Kesembilan orang itu mulai berputar melingkari kelima orang yang ada di dalamnya, namun dua di antara mereka seakan-akan telah terlindung didalamnya.

Beberapa saat kemudian, maka putaran kesembilan orang bersaudara itu pun menjadi semakin cepat. Tetapi mereka tidak lagi mengacukan senjata-senjata mereka.

Namun dengan demikian orang-orang yang ada didalam lingkaran itu menjadi semakin berhati-hati. Jika sembilan orang itu bersama-sama melontarkan ilmu ke arah mereka, maka keadaan mereka pun akan menjadi gawat.

Sebenarnyalah beberapa saat kemudian, maka orang-orang yang berlari-lari dalam putaran itu mulai berdesis. Kemudian suara desis itu segera berubah menjadi seperti gaung yang panjang. Semakin lama menjadi semakin keras. Sehingga udara yang seakan-akan ikut berputar seperti angin pusaran itu pun mulai menggelepar. Tekanan yang kuat seakan-akan mulai menghentak-hentak di dada mereka.

Ki Sardapa dan Ki Panonjaya merasa nafas mereka semakin sesak. Rasa-rasanya dada mereka telah terhimpit oleh batu-batu padas yang berat. Dengan sekuat tenaga mereka berusaha untuk meningkatkan daya tahan mereka, agar dada mereka tidak pecah karenanya.

Kiai Patah, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih belum begitu banyak terpengaruh oleh ilmu yang mulai dilepaskan oleh kesembilan kakak beradik itu. Meskipun demikian mereka pun menyadari, bahwa Ki Sardapa dan Ki Panonjaya tentu sudah mulai mengalami kesulitan. Meskipun Ki Panonjaya memiliki kelebihan dari Ki Sardapa, tetapi ternyata bahwa ilmu yang dilontarkan oleh kesembilan orang bersaudara itu merupakan serangan yang sangat berat pula baginya.

Untuk beberapa saat Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Kiai Patah bertahan. Namun ketika mereka menyadari, bahwa Ki Sardapa mulai menggigil, maka mereka harus segera mengambil sikap.

Namun justru pada saat yang demikian, kesembilan orang itu telah menghentakkan ilmunya. Udara didalam lingkaran itu seakan-akan benar-benar telah terguncang. Getaran yang dahsyat melanda setiap dada, sehingga seakan-akan isi dada mereka pun telah terhimpit oleh kekuatan yang sulit dilawan.

Dalam keadaan yang demikian, maka Ki Sardapa ternyata sudah tidak mampu lagi bertahan lebih lama. Perasaan sakit yang menghentak-hentak di dadanya telah menghempaskannya ke dalam ketidak sadaran. Karena itu, maka Ki Sardapa itu pun perlahan-lahan telah jatuh pada lututnya, namun kemudian ia- pun telah terguling di tanah dalam keadaan pingsan.

Ki Panonjaya masih dapat bertahan sambil berdiri. Namun ia pun kemudian telah jatuh pula terduduk, meskipun tidak segera menjadi pingsan.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi cemas. Mereka- pun merasakan tekanan yang semakin berat. Jika mereka tidak berbuat sesuatu, maka kemungkinan yang parah dapat terjadi atas Ki Sardapa dan Ki Panonjaya.

Karena itu, maka Mahisa Murti pun kemudian berkata kepada Kiai Patah, “Kiai, tolong jaga kedua orang itu. Aku akan Mahisa Pukat akan menghentikan mereka.”

“Apa yang akan kalian lakukan?” bertanya Kiai Patah.

“Serahkan kepada kami” jawab Mahisa Pukat.

Kiai Patah tidak menjawab. Ia menyadari bahwa kedua anak Mahendra itu mempunyai ilmu yang tinggi. Karena itu, maka ia tidak mencegahnya. Namun sementara itu, ia bertanggung jawab atas kedua orang yang sudah tidak berdaya itu. Ia harus melindungi keduanya jika ada di antara lawan mereka yang datang menyerang atau bahkan mempergunakan senjata.

Dalam pada itu, putaran kesembilan orang itu pun menjadi semakin cepat. Sementara itu, dengung di mulut mereka pun menjadi semakin keras, sehingga udara pun bergetar semakin keras pula. Dengan demikian maka tusukan serangan ilmu kesembilan orang itu pun menjadi semakin tajam pula menghunjam ke dalam dada mereka.

Karena itulah maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menunggu lebih lama lagi, agar Ki Sardapa dan Ki Panonjaya tidak mengalami bencana yang lebih parah. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih membatasi diri dengan tidak melepaskan serangannya dari jarak tertentu untuk melontarkan udara panas yang dapat membakar mereka. Jika kedua anak muda itu benar-benar kehilangan kesabaran, maka mereka akan dapat melakukannya sehingga kemungkinan bahwa kesembilan orang itu menjadi korban seluruhnya, akan dapat terjadi.

Dengan isyarat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bertekad untuk mempergunakan ilmu mereka yang lain.

Agaknya kesembilan orang itu dapat menangkap isyarat, bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan memberikan perlawanan khusus atas mereka bersembilan. Dengan penjagaan sebelumnya, kesembilan orang itu menyadari bahwa kedua orang itu tentu termasuk orang berilmu tinggi. Karena itu, maka kesembilan orang itu pun telah meningkatkan pelepasan ilmu mereka. Putaran serta gaung dari mulut mereka pun semakin lama menjadi semakin cepat dan keras.

Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengambil keputusan bulat, bahwa mereka harus menghentikan tingkah laku kesembilan orang itu. Apalagi ketika serangan kesembilan orang itu telah mulai pula menyakiti isi dada mereka.

Dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melangkah semakin maju meskipun putaran dari kesembilan orang itu menjadi semakin sempit.

Kedua anak muda itu telah meningkatkan daya tahan tubuh mereka. Suara yang bergaung semakin keras itu rasa-rasanya memang semakin tajam menusuk kedalam jantung. Namun kedua anak muda itu masih mampu mengatasinya sehingga mereka tidak kehilangan kemampuan mereka.

Beberapa saat kemudian, maka Mahisa Murti pun telah memberikan isyarat kepada Mahisa Pukat, sehingga dengan kesiagaan tertinggi keduanya maju semakin dekat dengan lingkaran. Ketika orang-orang yang berlarian dalam putaran itu menghentak-hentakkan suaranya sehingga dada kedua anak muda itu pun terasa bagaikan dihentak-hentakkan, maka keduanya tiba-tiba saja telah meloncat menyerang.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mau dikelabui oleh sasarannya yang bergerak sehingga orang yang di belakangnya justru dapat menyerangnya. Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memilih sasaran, dan untuk menyerangnya mereka ikut pula dengan putaran itu.

Kesembilan orang yang ada didalam putaran itu mengumpat didalam hati. Namun mereka tidak mau membiarkan lingkaran mereka terputus. Karena itu, maka mereka kesembilan orang itu telah bertindak hampir serentak terhadap kedua orang anak muda itu.

Dengan hentakkan, maka sembilan orang itu telah menghempaskan ilmu mereka dengan puncak kekuatan mereka. Mereka berteriak sekuat tenaga mereka.

Akibatnya memang mencemaskan. Bukan saja Ki Sardapa, bahkan Ki Panonjaya pun telah jatuh terbaring di tanah. Sementara itu isi dada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun merasa semakin tajam tertusuk ilmu lawan-lawan mereka.

Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bertindak. Keduanya tetap ikut dalam putaran yang semakin cepat. Namun kemampuan kedua anak muda itu memang lebih tinggi dari lawan-lawannya, sehingga keduanya mampu bergerak lebih cepat dari kesembilan orang bersaudara itu.

Ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi semakin dekat dengan sasarannya, maka hentakkan-hentakkan ilmu kesembilan orang itu masih pula menyerang kedua anak muda itu.

Namun tiba-tiba saja kedua anak muda itu telah menyerang dengan dahsyatnya. Mahisa Pukat lah yang lebih dahulu meluncur dengan derasnya sejalan dengan putaran kesembilan orang bersaudara itu. Kakinyalah yang terjulur lurus mengarah ke pundak sasarannya.

Dua orang di belakang sasarannya telah ikut pula melawan serangan Mahisa Pukat. Tiga orang berusaha menangkis serangan itu. Tetapi Mahisa Pukat berhasil memanfaatkan dorongan gerak putaran itu, sehingga tiga orang di antara sembilan orang itu telah terdorong dan terlempar dari putaran.

Sementara itu, Mahisa Murti telah melakukan serangan pula.

Berbeda dengan Mahisa Pukat, maka Mahisa Murti justru telah menerkam lawannya dengan tangannya. Seperti sasaran serangan Mahisa Pukat, maka seorang yang berada di belakang sasaran serangan Mahisa Murti pun telah membantu menangkis serangan Mahisa Murti. Namun Mahisa Murti pun dengan kuatnya telah mendorong lawannya, sejalan pula dengan putarannya sendiri, sehingga mereka terpelanting keluar lingkaran yang berputar itu pula.

Dengan demikian, maka lingkaran itu telah terputus. Lima orang telah terlempar dan jatuh berguling-guling. Sementara itu dengan tangkasnya mereka pun telah melenting berdiri.

“Anak iblis,” geram yang tertua yang kebetulan terdorong oleh kekuatan Mahisa Murti, “kau benar-benar ingin mati.”

Mahisa Murti tidak menjawab. Tetapi ia pun telah meloncat menyerang lawannya yang menjadi semakin marah.

Dengan isyarat, maka saudara tertua itu telah memanggil seorang lagi di antara adiknya. Sehingga dengan demikian, maka kesembilan orang itu masing-masing bertiga berhadapan dengan seorang lawan.

Agaknya setiap tiga orang itu pun mencoba untuk mengetrapkan ilmu mereka pula. Mereka berusaha untuk dapat berputar melingkar sambil melontarkan ilmu mereka lewat gaung suara mereka dalam putaran yang dapat membuat lawan mereka pening.

Tetapi ternyata mereka tidak sempat berbuat demikian.

Dengan tangkasnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bertempur dengan serangan-serangannya yang keras dan kuat.

Karena itulah maka lawan-lawan mereka pun harus bertempur pula sebagaimana dilakukan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Namun dalam pada itu, maka saudara tertua itu telah memberikan isyarat kepada para pengikutnya untuk segera melibatkan diri.

Dengan senjata terhunus maka para pengikut dari sembilan orang bersaudara itu telah menerjunkan diri kedalam lingkaran-lingkaran pertempuran.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berusaha mengambil jarak agar mereka tidak merasa bertempur dalam ruang yang berhimpitan. Dengan arena yang lebih luas, maka kedua anak muda itu dapat bertempur dengan lebih baik.

Dalam pada itu, maka pertempuran yang terjadi kemudian adalah pertempuran bersenjata. Sembilan orang bersaudara yang telah menyarungkan pedang, dan bahkan kehilangan senjatanya, telah menggenggam senjata pula.

Karena itu, maka sejenak kemudian telah terjadi pertempuran yang sengit. Benturan-benturan senjata berdentangan, sementara bunga api pun telah berloncatan di udara.

Namun sangat mengherankan. Meskipun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak dengan semena-mena melukai lawan-Untuk beberapa saat, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berloncatan dengan tangan terkembang. Pedangnya pun menyambar-nyambar mengerikan. Keduanya bagaikan burung elang yang terbang-berputaran. Namun sekali-sekali telah menukik menyambar mangsanya.

Tetapi sebenarnyalah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat merasa tidak perlu menghunjamkan pedang mereka ke dada lawan-lawannya. Lebih-lebih para pengikut kesembilan orang bersaudara yang ingin membunuh Ki Sardapa dan Ki Panonjaya itu.

Bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, cukup berusaha untuk membentur senjata lawan dengan senjata mereka. Atau bahkan hanya menyentuh senjata lawan yang menyerang susul menyusul.

Sembilan orang bersaudara itu tidak dapat mengerti, kenapa satu-satu para pengikutnya bagaikan menjadi lumpuh. Mereka merangkak menepi agar mereka tidak terinjak oleh mereka yang masih bertempur.

“Apa yang terjadi” pertanyaan itu telah mengganggu sembilan orang bersaudara itu.

Sementara itu, tiga di antara mereka, mencoba mempergunakan kesempatan itu untuk menyelesaikan Ki Sardapa dan Ki Panonjaya. Namun ternyata mereka telah membentur kemampuan ilmu Kiai Patah. Dengan ilmunya yang tinggi, maka Kiai Patah tidak banyak menjumpai kesulitan untuk melindungi Ki Sardapa dan Ki Panonjaya yang ternyata telah menjadi pingsan.

Getaran-getaran ilmu yang menghentak-hentak dadanya ternyata tidak teratasi oleh daya tahan mereka.

Namun dengan keadaan terakhir, ketika sembilan orang bersaudara itu telah terpecah, maka lontaran ilmu yang mereka lakukan bersama itu pun telah mengendor dan bahkan akhirnya pudar sama sekali. Pada saat-saat mereka bertempur, maka mereka tidak lagi mampu secara bersama-sama menyerang dengan getaran yang menghentak karena kemampuan ilmu mereka.

Apalagi setelah mereka terpecah dalam kelompok-kelompok yang terpisah.

Karena itu, maka Ki Sardapa dan Ki Panonjaya yang tidak berdaya itu perlahan-lahan telah terlepas dari himpitan ilmu yang seakan-akan menyesak di dada mereka.

Ketika Kiai Patah kemudian sibuk bertempur mengusir orang-orang yang ingin langsung membunuh Ki Sardapa, maka Ki Sardapa dan Ki Panonjaya pun mulai bergerak.

Ki Panonjaya lah yang lebih dahulu menyadari keadaannya. Karena itu maka ia pun telah berusaha untuk bangkit. Sejenak Ki Panonjaya berusaha untuk memulihkan segenap kesadarannya dan menghimpun kembali kekuatannya.

Ketika Ki Panonjaya kemudian bangkit sambil menggenggam pedang, maka Ki Sardapa pun mulai bergerak-gerak pula.

“Bangunlah,” Ki Panonjaya lah yang kemudian mengguncangnya, “kita harus bertempur.”


Perlahan-lahan Ki Sardapa pun mulai bangkit. Ia pun berusaha untuk menghimpun kembali kekuatannya yang bagaikan telah lenyap.

Sejenak kemudian maka keduanya pun telah berdiri sambil menggenggam senjata di tangan.

Tetapi seakan-akan keduanya memang tidak memperoleh lawan. Kiai Patah telah mengusir setiap orang yang akan mendekati mereka.

Namun ketika Kiai Patah kemudian melihat keduanya telah bangkit sambil menggenggam senjata, maka ia pun tidak menjadi terlalu cemas lagi.

Sementara itu, lawan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun semakin lama menjadi semakin berkurang. Para pengikut sembilan orang bersaudara itu sama sekali tidak mampu untuk melepaskan diri dari kekuatan ilmu kedua anak muda itu. Satu-satu mereka jatuh dan harus merangkak menepi. Tulang-tulang mereka menjadi bagaikan terlepas sehingga tubuh mereka tidak lagi mempunyai kekuatan.

“Apa yang terjadi, he?” saudara tertua di antara sembilan orang itu berteriak.

Tidak seorang pun yang dapat menjawab. Namun korban- pun telah berjatuhan. Sehingga akhirnya tinggallah sembilan orang bersaudara yang harus menghadapi tiga orang yang berilmu tinggi.

Ki Sardapa dan Ki Panonjaya, yang telah menemukan kembali kemampuan dan kekuatan mereka, sempat bertempur bersama-sama dengan Kiai Patah. Mereka sempat melawan masing-masing seorang di antara kesembilan bersaudara itu.

Ternyata Ki Panonjaya memiliki kemampuan untuk mempertahankan dirinya. Namun Ki Sardapa masih memerlukan bantuan Kiai Patah karena ternyata bahwa paman-pamannya memang memiliki kemampuan lebih besar.

Tetapi perlawanan kesembilan orang bersaudara itu tidak lagi berbahaya bagi Kiai Patah, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Tidak pula memungkinkan lagi untuk membunuh dan apalagi memenggal kepala Ki Sardapa dan Ki Panonjaya.

Ketiga orang yang bertempur melawan Mahisa Murti yang dengan keras menyerangnya beruntun susul menyusul seperti debur ombak yang membentur batu karang, sama sekali tidak melukainya. Bahkan dengan kebingungan mereka merasakan betapa tenaga mereka semakin lama menjadi semakin susut. Begitu cepatnya, sehingga rasa-rasanya sesuatu yang tidak wajar telah terjadi.

Sementara itu, Kiai Patah yang mempergunakan cara yang lain untuk menundukkan lawan-lawannya, ternyata telah mempergunakan cara yang lebih keras. Satu-satu tiga orang bersaudara yang bertempur melawannya, telah dilukainya. Yang berusaha menyerang Ki Sardapa dan Ki Panonjaya pun telah terluka pula oleh senjata Kiai Patah.

Sebenarnya bahwa Kiai Patah telah berusaha membatasi dirinya dengan mempergunakan senjata. Tanpa senjata ia akan menjadi lebih berbahaya. Apalagi jika ia tidak sempat menjangkau lawan karena jarak yang panjang. Maka ia akan dapat mempergunakan ilmunya yang akan dapat menghancurkan tubuh lawan-lawannya.

Demikianlah, maka pertempuran di halaman rumah saudara tertua dari ibu tiri Ki Sardapa itu semakin lama telah menjadi semakin susut. Lawan Kiai Patah yang telah terluka pun tidak lagi mampu berbuat banyak. Semakin banyak mereka bergerak, maka darah pun semakin deras pula mengalir dari tubuh mereka.

Menjelang fajar, maka semua lawan Kiai Patah, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah dilumpuhkan. Ketiga orang lawan Kiai Patah yang kehilangan banyak darah itu pun seakan-akan sudah tidak mampu lagi menggerakkan pedangnya. Sementara itu lawan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat benar-benar telah kehilangan tenaga. Sedangkan para pengikutnya tidak ada yang mampu lagi berbuat sesuatu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat benar-benar telah membuat mereka menjadi seakan-akan lumpuh seluruh tubuhnya. Dengan menyentuh mereka seorang demi seorang, maka sisa-sisa tenaga mereka telah benar-benar terhisap sampai kering.

Dalam pada itu, Kiai Patah pun kemudian telah membawa Ki Sardapa dan Ki Panonjaya untuk berdiri di depan saudara tertua ibu tiri Ki Sardapa itu. Dengan lemahnya saudara tertua itu telah didudukkan di tangga pendapa bersama dua orang saudaranya.

“Ki Sanak,” berkata Kiai Patah, “apakah kau masih juga berkeberatan untuk mendengarkan penjelasan Sardapa tentang kematian ibu tirinya? Atau barangkali kami harus membawamu menghadap Ki Buyut untuk mendapatkan penjelasannya.”

“Buyut yang berkuasa di padukuhanmu bukan Buyut yang berhak memerintah aku. Aku tidak tinggal di kabuyutanmu” suaranya masih tetap garang.

Tetapi Mahisa Murti pun berkata, “Baiklah. Sekarang dengarkan penjelasan Ki Sardapa yang sekarang telah menjabat sebagai seorang Bekel menggantikan kakaknya yang ditangkap oleh Ki Buyut karena pembunuhan yang tidak berperikemanusiaan.”

“Aku tidak memerlukan penjelasannya. Aku sudah tahu segala-galanya” berkata orang itu.

Tetapi Mahisa Murti pun kemudian mendekatinya sambil berkata, “Ki Sanak. Kau tidak akan dapat menolak. Kau tidak akan dapat pergi dari tempatmu itu.”

“Persetan” geram orang itu.

Namun Mahisa Murti pun berkata kepada Ki Sardapa, “Bicaralah. Biarlah ia mendengarkan.”

Saudara tertua ibu tiri Ki Sardapa itu mencoba untuk beringsut. Betapa pun lemahnya, namun ia telah naik ke pendapa dan berusaha untuk bangkit. Tertatih-tatih ia melangkah menjauh.

Tetapi Mahisa Murti berkata, “jangan mempersulit dirimu sendiri. Jika kau tidak menghiraukan kami, maka sisa tenaga yang ada padamu itu pun segera akan lenyap pula. Dan kau tidak akan lebih dari seorang yang lumpuh. Hal itu akan dapat terjadi jika kami menghendaki.”

“Persetan,” geram saudara tertua, “jika kalian ingin membunuh aku, bunuhlah. Tetapi kau tidak akan mau mendengarkan pembicaraanmu.”

“Jangan keras kepala,” berkata Mahisa Murti, “kau hanya tinggal mendengarkan. Kau boleh percaya atau tidak.”

“Aku tidak mau” orang itu hampir berteriak.

Tetapi ia tidak dapat melarikan diri ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menangkapnya dan membawanya kembali ke tangga pendapa.

“Duduklah dan dengarlah. Kau tidak akan dapat mengelak lagi” berkata Mahisa Murti.

Ketika orang itu kemudian duduk kembali, maka sekali lagi ia berusaha untuk bangkit. Tetapi ternyata bahwa kekuatannya bagaikan telah terhisap habis. Saudara tertua ibu tiri Ki Sardapa itu, tidak lagi sempat bangkit berdiri dan bergeser dari tempatnya. Bahkan merangkak pun rasa-rasanya tidak mungkin lagi.

“Ilmu iblis yang manakah yang kalian pergunakan” geramnya.

“Sudahlah,” berkata Kiai Patah, “biarlah Ki Sardapa memberikan keterangan. Kemudian terserah kepadamu. Apakah kau percaya atau tidak. Tetapi satu hal yang pasti, bahwa kau tidak akan mungkin lagi membunuh Ki Sardapa. Peristiwa yang terjadi kali ini merupakan peringatan bagimu, karena jika sesuatu terjadi atas Ki Sardapa, maka sembilan orang akan mati. Kemana pun kalian berusaha untuk lari, kami akan memburu dan membunuh kalian di manapun.”

Wajah saudara tertua itu menjadi merah. Tetapi ia benar-benar tidak mampu bergeser dari tempatnya. Rasa-rasanya tulang-tulangnya telah terlepas dari tubuhnya.

Karena itu, maka mau tidak mau, ia harus tetap berada di tempatnya. Sementara itu Kiai Patah pun berkata kepada Ki Sardapa, “Jelaskan apa yang terjadi.”

Ki Sardapa pun kemudian mulai berbicara. Ternyata ia tidak hanya berbicara kepada saudara tertua ibu tirinya. Tetapi ia pun berbicara dengan sembilan orang saudara ibu tirinya itu, termasuk mereka yang terluka.

Sambil berjalan mendekati mereka seorang demi seorang, Ki Sardapa berkata lantang, sehingga terdengar dari seluruh halaman, “Kalian harus tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

Namun sangat mengherankan. Meskipun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak dengan semena-mena melukai lawan-lawannya, namun para pengikut kesembilan orang bersaudara itu rasa-rasanya dengan cepat kehilangan tenaga mereka.

Betapa pun kesembilan orang pamannya itu ingin menolak, tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka tidak dapat beranjak pergi karena mereka sudah tidak mempunyai tenaga lagi. Sehingga dengan demikian, maka mau tidak mau mereka harus mendengar apa yang dikatakan oleh Ki Sardapa dengan suara yang lantang.

Satu dua orang di antara mereka berusaha memalingkan wajahnya. Tetapi suara Ki Sardapa itu masih tetap mereka dengar menusuk-nusuk telinga dan rasa-rasanya menyakiti jantung.

Dalam pada itu Ki Sardapa sama sekali tidak peduli apakah orang-orang itu mendengarkannya atau tidak. Tetapi dengan lantang ia menceriterakan apa yang sebenarnya telah terjadi di padukuhannya.

“Aku sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya dilakukan oleh kakang Bekel. Karena itu, sudah barang tentu aku tidak berbuat apa-apa sebelumnya. Baru ketika kemudian rahasia tentang kecurangannya terbuka, maka aku terlibat kedalam tindakan-tindakan berikutnya. Karena itu, adalah fitnah yang amat menyakitkan hati jika dikatakan, aku telah berusaha merebut kedudukan kakang Bekel. Sebenarnya hal ini dapat ditanyakan kepada setiap orang di padukuhanku. Kepada Ki Buyut yang terkenal tegak pada paugeran. Apalagi ia adalah bekas seorang prajurit sebelum ia harus memangku jabatan yang diwariskan oleh ayahnya. Dan kalian dapat bertanya kepada Kiai Patah yang dengan tekun dan hati-hati menyelidiki peristiwa yang telah terjadi beberapa tahun yang lalu, karena perampokan itu menyangkut keluarganya,” berkata Ki Sardapa dengan kata-kata yang mengalir dari mulutnya seperti banjir.

Kesembilan orang pamannya itu berusaha untuk tidak mengacuhkannya. Namun mereka memang terpaksa mendengarkan kata-kata Ki Sardapa yang berkepanjangan. Namun yang kemudian dikatakannya bahwa kematian ibu tirinya sama sekali bukan salahnya.

“Kalian akan dapat berbicara dengan orang-orang yang diupah oleh ibu untuk membunuhku,” berkata Ki Sardapa, “sehingga dengan demikian kalian akan mengetahui, siapakah sebenarnya yang telah berniat untuk membunuhku.”

Tidak seorang pun di antara kesembilan orang saudara ibu tiri Ki Sardapa yang menjawab. Sementara itu Ki Sardapa berkata selanjutnya, “Nah, kemudian terserah kepada kalian. Percaya atau tidak percaya. Tetapi kali ini, kami memang tidak berniat untuk membunuh kalian, meskipun hal seperti itu sudah kalian rencanakan untuk kalian lakukan atasku dan paman Panonjaya. Bahkan kami berlima. Tetapi jika sekali lagi terjadi benturan, maka kalian tentu tidak akan dimaafkan oleh Kiai Patah yang sudah kehilangan hampir seluruh keluarganya karena kejahatan kakang Bekel. Sekarang, Kiai Patah masih bersedia memaafkan kalian dan tidak akan membunuh seorang pun di antara kalian. Tetapi jika lain kali yang terjadi tentu akan berbeda. Kiai Patah tentu akan menuntut kematian saudara-saudaranya yang dibunuh dan dirampok oleh kakang Bekel dengan cara yang licik. Nah, jika demikian halnya, terserah atas penilaian kalian.”

Halaman itu masih saja dicengkam kesenyapan. Namun dalam pada itu langit pun mulai menjadi terang. Perlahan-lahan cahaya matahari mulai nampak memancar di langit.

Dengan demikian maka keadaan sembilan orang saudara ibu tiri Ki Sardapa itu menjadi semakin jelas. Mereka bertebaran di halaman dalam keadaan yang pahit. Bahkan ada di antara mereka yang tidak berdaya karena darah yang terlalu banyak mengalir dari tubuh mereka yang terluka.

“Nah,” berkata Ki Sardapa kemudian, “aku sudah mengatakan yang sebenarnya. Terserah kepada kalian, apakah kalian akan percaya atau tidak. Tetapi satu hal telah aku kerjakan. Berusaha menunjukkan kebenaran kepada kalian. Jika mata kalian buta akan kebenaran, maka kalian memang tidak akan pernah menegakkan kebenaran itu.”

Masih tidak ada jawaban. Sementara itu Kiai Patah lah yang berkata, “Kalian telah mendengar apa yang sebenarnya telah terjadi itu. Yang ingin kami lakukan telah kami lakukan. Karena itu maka tugas kami telah selesai. Ki Panonjaya yang datang mendahului kami pun sebenarnya juga hanya ingin menyampaikan kenyataan itu. Tetapi kalian telah berlaku kasar atasnya dan bahkan kalian kemudian telah memutuskan untuk membunuhnya.”

Kesembilan orang itu masih tetap berdiam diri. Karena itu, maka Kiai Patah pun kemudian berkata, “Baiklah. Tugas kami sudah selesai. Kalian dengar atau tidak, tetapi Ki Sardapa sudah menyampaikan peristiwa yang sebenarnya telah terjadi di padukuhannya serta kematian ibu tirinya. Karena itu, kami akan meninggalkan rumah ini. Beberapa orang yang kehilangan kekuatannya, perlahan-lahan akan timbul dan bahkan pulih kembali. Yang terluka sebaiknya segera diobati. Mungkin dalam waktu beberapa hari, barulah semuanya akan kembali seperti sediakala. Namun dengan satu pengertian, jika kalian tidak merubah tanggapan kalian atas peristiwa yang telah terjadi, maka jangan menyesali nasib kalian yang akan menjadi jauh lebih buruk lagi.”

Kiai Patah pun kemudian berkata kepada Ki Sardapa dan Ki Panonjaya, “Apakah masih ada yang ingin kalian katakan?”

Ki Sardapa menggeleng sambil berkata, “Tidak. Yang aku katakan sudah cukup banyak. Terserah kepada mereka.”

Sedang Ki Panonjaya pun berkata, “Memang tidak ada lagi yang perlu dikatakan kepada mereka.”

“Jika demikian, marilah. Kita tinggalkan tempat ini” berkata Kiai Patah.

Ki Sardapa menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia memandangi wajah-wajah pamannya. Namun kemudian ia pun berdesis, “Marilah. Kita biarkan mereka hidup. Mudah-mudahan aku tidak berubah pikiran.”

Wajah saudara tertua di antara kesembilan saudara itu menjadi semakin tegang. Namun ia tidak mengatakan sesuatu. Sesak di dadanya seakan-akan mencekiknya.

Dalam pada itu, Ki Sardapa, Ki Panonjaya dan ketiga orang lainnya pun telah meninggalkan halaman rumah itu. Sementara langit telah menjadi semakin panas oleh sinar matahari yang memanjat semakin tinggi.

Sepeninggal kelima orang itu, maka halaman rumah itu pun masih saja menjadi lengang. Orang-orang yang terbaring terbujur lintang di halaman itu belum segera beringsut dari tempatnya. Ternyata mereka memang tidak mempunyai kekuatan sama sekali untuk bergeser dari tempatnya.

Beberapa orang memang masih berhasil merangkak menepi, mendekati tangga pendapa. Namun yang lain benar-benar bagaikan seonggok pelepah pisang yang tergolek di halaman.

Dalam pada itu, ketika suasana benar-benar telah menjadi tenang, beberapa orang pelayan mulai memberanikan diri menengok ke halaman. Ketika mereka melihat orang-orang yang bertebaran di halaman, maka mereka pun menjadi kebingungan. Bahkan ada di antara mereka yang berteriak-teriak memanggil kawan-kawannya.

Halaman rumah itu telah menjadi gelisah lagi. Bukan oleh pertempuran. Tetapi oleh mereka yang kebingungan. Para pelayan, laki-laki dan perempuan, serta isteri sembilan orang bersaudara yang memang sudah berkumpul di rumah itu. Mereka berlari-larian menolong terutama sembilan orang bersaudara yang menjadi sangat lemah, bahkan di antara mereka telah terluka.

Satu-satu mereka telah diangkat dan didudukkan di pendapa. Namun sembilan orang itu telah minta disandarkan pada dinding pringgitan karena mereka hampir tidak lagi kuat untuk duduk tanpa sandaran. Apalagi mereka yang terluka.

“Apa yang telah terjadi?” bertanya isteri saudara tertua itu.

“Obati yang luka itu” berkata saudara tertua di antara mereka.

Beberapa orang telah berusaha untuk mengobati yang terluka itu lebih dahulu dengan obat yang ditunjukkan oleh saudara yang tertua itu.

“Ambil minuman buat kami semuanya” bentak saudara tertua itu kepada seorang pelayan.

Pelayan yang ketakutan itu pun kemudian berlari-lari menemui beberapa orang untuk segera membuat minuman bagi orang-orang yang bagaikan lumpuh di pendapa.

Saudara tertua itu berharap bahwa dengan minuman hangat, maka tubuhnya akan menjadi segar lagi. Namun ternyata meskipun ia telah minum minuman hangat, bahkan dengan susah payah, tetapi tubuhnya masih saja bagaikan lumpuh dan tidak berdaya.

Akhirnya saudara tertua di antara sembilan orang saudara itu menyadari, bahwa mereka telah berhadapan dengan orang-orang yang berilmu sangat tinggi.

Itulah sebabnya, maka mulailah timbul pertanyaan di dalam diri saudara tertua itu, “Kenapa mereka tidak membunuh kami.”

Ternyata pertanyaan itu telah berkembang didalam dirinya. Bukan saja tentang kenapa orang-orang itu tidak membunuh mereka, tetapi juga tentang keterangan yang dikatakan oleh Ki Sardapa. Meskipun pada saat Ki Sardapa mengucapkan, saudara tertua itu dan juga yang lain-lainnya tidak berusaha mendengarkan sama sekali, namun mau tidak mau mereka telah mendengarnya pula, sehingga keterangan itu mulai bergejolak di dalam diri mereka.

Tetapi saudara tertua itu masih menyimpan persoalan itu didalam dirinya.

Sementara itu, kelima orang yang meninggalkan rumah itu- pun telah menyusuri jalan padukuhan. Mereka tidak menghiraukan beberapa pasang mata yang memandang mereka dengan pertanyaan di dalam hati.

Namun akhirnya, ada juga orang menjadi curiga. Di halaman regol yang tertutup rapat itu terdengar kesibukan. Bahkan seorang tetangga mengatakan, bahwa mereka telah mendengar suara-suara ribut bukan saja setelah matahari terbit. Tetapi sejak dini di halaman itu terdengar keributan namun yang tidak jelas.

“Apa tidak ada yang menjenguknya?” bertanya seseorang.

Tetangga itu menggeleng. Katanya, “Rumah itu adalah rumah yang khusus di padukuhan ini. Jarang orang yang berani masuk. Di dalamnya tinggal seorang yang berilmu tinggi. Menurut beberapa orang, mereka telah melihat saudara-saudaranya berkumpul di rumah itu bersama dengan beberapa orang pengikut mereka.”

Dengan demikian maka tidak seorang pun yang mencoba untuk menjenguk ke dalam halaman itu. Orang-orang yang betapa pun ingin melihat, namun mereka tidak mau dipersalahkan oleh para penghuninya, bahwa mereka telah mencampuri persoalan yang terjadi di dalam lingkungan halaman rumah itu.

Karena itu, maka apa yang terjadi di halaman itu tetap tidak diketahui oleh orang-orang di sekitarnya. Jangankan untuk membantu atau kepentingan yang lain, menjenguk pun tidak seorang pun yang berani melakukannya.

Dalam pada itu kelima orang yang meninggalkan rumah sembilan orang bersaudara itu pun telah menjadi semakin jauh. Di perjalanan Kiai Patah itu pun berkata, “Aku kira, mereka akan menghentikan kegiatan mereka untuk selanjutnya.”

“Mudah-mudahan,” berkata Ki Sardapa, “sebenarnya, di hati kecil memang terbersit keinginan untuk membunuh saja mereka, agar tidak akan menjadi duri dalam kehidupanku selanjutnya. Tetapi ternyata serasa ada yang mencegahnya di dalam hati ini.”


Kiai Patah menarik nafas dalam-dalam. Sambil menepuk bahu Ki Sardapa ia berkata, “Jika masih ada yang terasa mencegah di hati Ki Bekel, itu berarti bahwa Ki Bekel masih belum kehilangan perasaan. Ki Bekel masih menyimpan landasan kemanusiaan di dalam hati. Mudah-mudahan landasan itu tidak akan larut dalam jabatan Ki Bekel kemudian.”

Ki Sardapa menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak akan melupakan bagaimana aku merayap mencapai kedudukan yang sebelumnya tidak pernah aku impikan itu. Namun ketika beban itu berada di pundak, maka aku pun berusaha untuk mengangkatnya. Namun aku tidak pula akan pernah melupakan, bagaimana aku dapat tegak dalam kedudukan ini. Aku tidak akan dapat ingkar, bahwa aku tidak dapat berdiri sendiri.

Kiai Patah mengangguk-angguk. Katanya, “Kesadaranmu akan hal itu, akan membantumu, menuntunmu lewat jalan yang benar.” Kiai Patah berhenti sejenak, lalu katanya kepada Ki Panonjaya, “Ki Panonjaya akan dapat menjadi pendampingnya yang baik. Meskipun barangkali Ki Panonjaya tidak dapat terlalu sering mengunjunginya, namun pada saat-saat tertentu Ki Panonjaya akan dapat memberikan beberapa tuntunan yang berarti bagi Ki Bekel.”

“Di samping barangkali aku yang merasa diri orang tua, maka beberapa orang paman Ki Bekel yang sebenarnya tidak terlibat akan dapat membantunya” berkata Ki Panonjaya.

“Ya,” sahut Kiai Patah, “setidak-tidaknya, seorang di antara saudara ibu tirinya yang sedang menunggu kita sekarang ini.”

Ki Panonjaya mengangguk sambil berkata, “sebenarnya ia tidak sendiri. Mungkin saudara-saudaranya yang lain tidak memiliki keberanian bertindak seperti pamannya yang satu itu.”

“Mungkin paman,” desis Ki Sardapa, “namun aku akan senang sekali jika paman-paman yang mana pun akan bersedia membantuku dalam segala segi tugas-tugasku.”

Kiai Panonjaya tersenyum. Baginya, Ki Sardapa adalah orang yang tepat untuk jabatannya. Meskipun ilmunya tidak begitu tinggi, tetapi ia akan dapat bekerja dengan sungguh-sungguh dan nampaknya ia bukan orang yang mementingkan diri sendiri.

Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berjalan di belakang ketiga orang yang sibuk berbincang di depan mereka.

Keduanya tidak lagi berbicara tentang peristiwa yang baru saja mereka alami. Tetapi mereka mulai cemas, bahwa usaha mereka mendapatkan seseorang untuk mewarisi kemampuan mereka masih belum akan terpenuhi.

“Tetapi kita memang tidak boleh tergesa-gesa,” berkata Mahisa Murti, “kita lebih mementingkan nilai dari seseorang yang mungkin akan dapat mewarisi ilmu kita dan selanjutnya ikut membina perguruan kita daripada waktu.”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Apakah pada saat kita mulai sudah nampak pada kita, bahwa kita akan dapat menjadi pewaris yang baik?”

Mahisa Murti tersenyum. Dengan nada datar ia menjawab, “Sebaiknya kita tanyakan kepada ayah. Apakah ayah melihat bahwa ada kelainan pada kita.”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tetapi tiba-tiba saja ia berkata, “Ayah sudah terlalu lama berada di padepokan. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu.”

“Jadi kapan kita akan kembali?” bertanya Mahisa Murti.

“Setelah suasana di padukuhan ini menjadi tenang,” jawab Mahisa Pukat, “siapa tahu, ada peristiwa lain yang akan menyusul.”

“Tetapi sudah barang tentu kita tidak akan dapat terikat pada padukuhan ini” berkata Mahisa Murti.

“Tentu tidak. Tetapi rangkaian peristiwa ini memang menarik untuk diikuti terus” jawab Mahisa Pukat.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Tetapi ia kemudian lebih banyak memandangi sawah yang terhampar dihadapan mereka. Lereng-lereng pegunungan di kejauhan. Alangkah hijaunya.

Namun jika terbayang pertentangan, kekerasan dan apalagi perang, maka dahinya pun telah berkerut. Peperangan yang ganas akan dapat menjadi berserakan dilindas kaki-kaki para prajurit yang bertempur tanpa memperhitungkan medan. Apalagi kaki-kaki kuda dari pasukan berkuda yang tegar. Sementara itu, beberapa pihak dengan licik pernah berusaha menghancurkan satu lingkungan untuk jangka panjang dengan menebangi pepohonan di lereng pegunungan.

Dalam pada itu, maka udara pun menjadi semakin panas. Matahari beredar terus melingkari langit. Sementara leher pun rasa-rasanya menjadi kering.

Tetapi mereka tidak perlu merasa cemas, bahwa mereka akan kehausan dan kelaparan di perjalanan, karena mereka pun membawa bekal yang cukup. Uang di padukuhan Ki Sardapa cukup banyak untuk bekal perjalanan berapa orang pun untuk berapa hari sekalipun.

Karena itu, maka ketika haus dan lapar semakin terasa mengganggu, maka mereka pun telah singgah di sebuah kedai yang cukup besar di sebuah padukuhan yang besar, yang nampaknya di padukuhan itu terdapat jalan silang antara pusat-pusat perniagaan di sekitar padukuhan itu.

Beberapa saat lamanya mereka beristirahat. Setelah tenaga mereka yang terperas semalam dan di perjalanan telah terasa menjadi segar kembali, mereka pun telah melanjutkan perjalanan mereka yang masih panjang.

Di perjalanan, mereka sama sekali tidak menemui hambatan yang berarti, sehingga akhirnya mereka kembali ke padukuhan yang agaknya telah menunggu dengan berdebar-debar, justru di malam hari.

Dengan singkat Ki Sardapa memberikan penjelasan kepada salah seorang saudara ibu tirinya yang tidak sejalan dengan saudara-saudaranya yang lain. Namun ia pun menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar akhir dari perselisihan itu.

“Aku berdoa, bahwa tidak ada korban yang jatuh dalam perselisihan ini,” berkata orang itu. Lalu “Ternyata doaku itu terpenuhi. Aku mengucapkan terima kasih kepada kalian yang masih berpegang pada landasan kemanusiaan. Meskipun dengan demikian masih banyak kemungkinan dapat terjadi.”

“Memang Paman,” jawab Ki Sardapa, “tetapi aku berharap bahwa paman-paman itu akan dapat mengerti arti dari sikap kami ini.”

Saudara ibu tiri Ki Sardapa itu mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan pada satu kesempatan aku dapat membantu meredakan suasana. Tetapi apa yang terjadi atas mereka tentu merupakan pengalaman yang sangat berarti.”

Ki Sardapa menarik nafas dalam-dalam. Ia pun berharap bahwa untuk selanjutnya tidak akan terjadi apa-apa lagi.

Namun dalam pada itu, maka Ki Sardapa pun berkewajiban untuk memberikan laporan kepada Ki Buyut apa yang telah dilakukannya untuk mengatasi persoalan yang menyangkut dirinya dengan keluarga ibu tirinya.

“Kami berharap bahwa mereka tidak akan mengganggu tugas-tugasku,” berkata Ki Sardapa. Namun katanya kemudian, “Tetapi aku mohon perkenan Ki Buyut untuk mempergunakan kekuatan anak-anak muda di padukuhanku, bahkan para pengawal Kademangan untuk mengatasi kesulitan jika mereka ternyata masih belum jera dan berusaha menggangguku.”

“Tentu,” jawab Ki Buyut yang menerima laporan itu, “Kabuyutan ini merupakan satu kesatuan. Karena itu maka apa yang terjadi pada salah seorang warganya, akan menyentuh setiap orang di Kabuyutan ini.”

“Terima kasih,” desis Ki Sardapa, “mungkin aku memang memerlukannya. Tetapi aku berharap bahwa mereka tidak akan mengganggu aku lagi.”

“Jangan lengah,” pesan Ki Buyut, “untuk sementara anak-anak muda di padukuhanmu masih harus berjaga-jaga. Bukan saja di banjar, tetapi juga di rumah Ki Bekel.”

“Terima kasih atas pengertian Ki Buyut,” berkata Ki Sardapa, “sementara masih berada di padukuhan, maka Kiai Patah dan kedua anak muda itu akan sangat berarti bagi kita.”

“Usahakan agar mereka kerasan tinggal di padukuhanmu Ki Bekel” berkata Ki Buyut.

“Aku akan berusaha. Tetapi nampaknya kedua anak muda itulah yang sulit untuk ditunda kepergian mereka. Namun untuk beberapa hari mungkin aku masih akan dapat minta mereka tinggal” jawab Ki Bekel.

Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya, “Keduanya mengaku pengembara. Tetapi aku berharap bahwa keduanya, yang pernah berada di lingkungan keprajuritan di Kediri dalam tugas sandi itu akan mengerti dan bersedia membantumu selama masih belum ada kejelasan sikap dari saudara-saudara ibu tirimu itu.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan Ki Buyut.”

“Cobalah” desis Ki Buyut.

Ki Bekel yang kemudian telah berada di padukuhannya kembali, memang berusaha untuk mengadakan persiapan-persiapan. Ia sadar, bahwa saudara-saudara ibu tirinya itu telah berjanji untuk berbicara dengan kesembilan saudaranya yang lain.

Dalam pada itu, ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih bersedia untuk tinggal beberapa waktu lagi. Tetapi mereka sudah mengatakan, bahwa pada suatu saat mereka akan meninggalkan padukuhan itu untuk melanjutkan perjalanan pengembaraan mereka.

Dalam beberapa hari, padukuhan itu sama sekali tidak mendapat gangguan apapun. Agaknya bahwa kesembilan orang bersaudara itu tidak memiliki kemampuan atau oleh siapa pun juga, untuk memulihkan kekuatan mereka atau setidak-tidaknya mempercepat usaha memulihkan kekuatan itu. Tetapi kemungkinan yang lain memang dapat terjadi pada kesembilan orang bersaudara itu. Mereka agaknya memang tidak ingin memperpanjang permusuhan mereka dengan Ki Bekel.

Sebenarnyalah, ketika kelima orang yang datang, di antaranya terdapat Sardapa, meninggalkan rumah itu, saudara tertua dari sembilan orang bersaudara itu mulai menilai kembali langkah-langkah yang telah diambilnya.

Itulah sebabnya ketika perlahan-lahan kekuatan dan kemampuan ilmunya pulih kembali di hari-hari berikutnya, ia mulai berbicara dengan adik-adiknya tentang sikap mereka terhadap Ki Sardapa.

“Aku tetap pada keinginan kita sejak semula” berkata yang paling muda.

“Kau harus menilai sikap Sardapa. Kenapa ia tidak membunuh kita meskipun ia dapat melakukannya di saat-saat kita kehilangan kemampuan kita untuk melindungi diri kita” berkata yang tertua.

Seorang lagi di antara mereka berkata, “Permusuhan itu ternyata tidak ada gunanya. Sementara itu kita tahu, siapakah yang sebenarnyalah bersalah.”

Tetapi yang termuda nampaknya tetap pada pendiriannya. Katanya, “Dengan atau tidak dengan siapa pun juga, aku akan tetap membunuhnya. Sardapa bertumpu pada kekuatan para pendatang di padukuhannya yang pada suatu saat akan meninggalkan padukuhan itu.”

Saudara tertua itu menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu bahwa hati adiknya itu sekeras batu. Itulah sebabnya, maka ia tidak dapat hidup sebagaimana layaknya. Adiknya itu terlalu banyak mempunyai musuh. Meskipun pada dasarnya mereka berada di dunia yang sama-sama buram, tetapi saudaranya yang bungsu ini mempunyai sifat yang jauh lebih kelam dari saudara-saudaranya.

Namun dalam pada itu, saudara tertua itu masih juga berusaha untuk meyakinkan adiknya. Katanya, “Soalnya bukan lagi tentang kekuatan. Aku pun tahu, bahwa Sardapa sendiri bukan apa-apa bagi kita. Aku sendiri akan dapat membunuhnya. Tetapi agaknya Sardapa memang bersungguh-sungguh untuk tidak bermusuhan dengan kita. Pada saat yang paling menguntungkan baginya, ia tidak membunuh kita. Meskipun seandainya ia melakukannya, maka ia telah membebaskan dirinya dari gangguan mimpi-mimpi buruk, karena Sardapa tentu menyadari bahwa kita akan merupakan bahaya bagi kehidupannya di masa-masa datang.”

“Ia bukan seorang yang jujur. Juga kepada diri sendiri. Meskipun ia menyadari kemungkinan yang buruk itu, tetapi ia adalah seorang yang selalu ingin mendapatkan pujian sebagaimana kakang memujinya sekarang. Seolah-olah ia adalah seorang yang baik hati. Orang yang tidak mendendam dan berniat tidak bermusuhan” berkata saudara termuda itu.

“Tetapi ia benar-benar tidak berbuat sesuatu atas kita. Jika ia sekedar ingin mendapat pujian, maka di hari berikutnya ia dapat datang sendiri dengan orang-orang yang paling lemah sekalipun untuk membunuh kita yang tidak berbahaya” berkata saudara tertua itu.

Adiknya yang sulung itu ternyata masih juga menjawab, “Ia tidak akan berani melakukannya. Namun bagiku, bagaimanapun juga kesalahan Sardapa tidak dapat dimaafkan lagi.”

“Apakah sebenarnya kesalahan Sardapa? Bukankah kita tidak dapat menipu diri kita sendiri, bahwa kitalah yang telah mengarang ceritera tentang tingkah lakunya? Bukankah kita sebenarnya sudah mengetahui peristiwa yang sebenarnya terjadi, sebagaimana diceriterakan oleh Sardapa itu?” berkata saudara yang tertua itu.

“Aku tidak peduli,” jawab yang termuda, “bagaimanapun juga Sardapa harus mati.”

Saudara yang tertua itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Bagaimanapun juga aku berpendirian, halnya permusuhan ini harus dihentikan sementara harga diri kita masih belum dihancurkannya.”

“Jangan berusaha mengekang aku lagi. Jika kakang sudah jera hanya karena kekalahan kecil ini, maka biarlah aku yang melanjutkan perjuangan ini” berkata yang bungsu.

“Perjuangan apa? Kita sudah mengalami kekalahan. Bukan sekedar kekalahan dalam benturan kewadagan. Tetapi ternyata jiwa kita jauh lebih kecil dari jiwa Sardapa itu. Aku memang mempercayainya bahwa ia akan mendapat perlindungan dari Ki Buyut yang bekas seorang prajurit itu seandainya orang-orang yang membantunya datang kemari itu pada suatu saat meninggalkannya” berkata yang tertua.

Tetapi meskipun kemudian saudara-saudaranya yang lain membenarkan keterangan saudara tertuanya itu, namun yang bungsu itu ternyata masih saja tetap pada pendiriannya.

“Aku hanya akan menunggu kekuatanku pulih kembali,” berkata yang bungsu, “kemudian aku akan pergi dan berbuat sendiri.”

“Aku tidak yakin bahwa Sardapa akan dapat memaafkan kita untuk kedua kalinya” berkata yang tertua.

Tetapi adiknya tidak mau mendengarkannya. Sehingga akhirnya saudara-saudaranya yang lain pun tidak lagi berusaha untuk mencegahnya.

Tetapi yang bungsu itu pun tidak segera dapat berbuat sesuatu karena ia masih menunggu kekuatannya pulih kembali.

Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ternyata masih belum meninggalkan padukuhan itu. Tetapi atas permintaan Ki Sardapa yang masih meragukan kesediaan paman-pamannya untuk menghentikan permusuhan telah minta agar Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak tinggal di rumah Kiai Patah, tetapi tinggal di rumahnya.

Kiai Patah tidak berkeberatan. Sementara Kiai Patah sendiri akan dapat melindungi dirinya sendiri, siapa pun yang akan datang ke rumahnya.

Namun hari-hari yang pendek itu telah dipergunakan oleh Ki Sardapa sebaik-baiknya selagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih tinggal. Dimintanya dalam waktu yang pendek itu membantu mempersiapkan sekelompok anak-anak muda pilihan agar mereka dapat membantu menjaga dan melindungi padukuhan itu dari ancaman siapapun. Meskipun Ki Sardapa sadar, bahwa yang dapat dicapai dalam waktu yang pendek itu tidak terlalu banyak, tetapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali.

Namun Ki Bekel itu pada suatu senja telah dikejutkan oleh kehadiran saudara tertua dari ibu tirinya. Bahkan orang itu telah datang bertiga dengan saudara-saudaranya yang lain. Namun mereka tidak bertemu dengan seorang di antara saudaranya yang telah datang dan memberitahukan apa yang akan mereka lakukan atas Ki Bekel, karena saudaranya itu telah kembali setelah diketahuinya bahwa Ki Bekel selamat setelah mengunjungi saudara tertuanya. Pada suatu kesempatan yang baik, ia memang ingin berbicara dengan saudara-saudaranya tentang hubungan mereka dengan Ki Sardapa.

Dengan jantung yang berdebaran, Ki Bekel menemui paman-pamannya bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Ia sama sekali tidak dapat menduga, apakah keperluan mereka datang menemuinya.

Karena itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun tidak melepaskan kewaspadaan. Apa pun yang akan dilakukan oleh ketiga orang itu.

Sementara itu ketika ketiga orang itu sudah dipersilahkan duduk di pendapa, maka Ki Sardapa pun segera ingin tahu, apa yang akan dikatakan oleh ketiga orang pamannya itu.

Dengan hati-hati, maka Ki Sardapa pun telah bertanya, “Paman, apakah keperluan Paman bertiga datang ke rumahku? Aku kira Paman tidak sekedar ingin berkunjung.”

Saudara tertua di antara mereka itu pun berkata dengan nada berat, “Ya Sardapa. Kami memang tidak sekedar berkunjung. Tetapi kami ingin menyampaikan sesuatu kepadamu.”

“Maksud paman?” bertanya Ki Bekel.

“Aku ingin berbicara kepadamu,” jawab pamannya itu, “mudah-mudahan kau masih mempunyai sisa kepercayaan kepadaku.”

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Paman. Sebenarnya aku sama sekali tidak kehilangan kepercayaan kepada Paman. Aku yakin bagaimanapun juga, tentu masih ada sepercik sinar bening di hati Paman. Karena itu maka kami telah datang kepada Paman dan jika aku benar-benar telah kehilangan kepercayaan maka aku tentu akan sampai hati membunuh Paman, bahkan bersembilan, karena pada saat itu Paman telah tidak mempunyai kekuatan sama sekali. Tetapi aku tidak berbuat demikian, karena aku menginginkan bentuk penyelesaian yang lain.”

Paman tertuanya itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan suara berat, “Aku mengerti Sardapa. Karena itu, maka aku telah datang menemuimu. Agar kau percaya, maka aku sengaja datang bersama paman-pamanmu yang lain. Dengan demikian kau akan lebih yakin akan sikap kami.”

Ki Sardapa termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dengan ragu-ragu ia bertanya, “Jadi, apakah sebenarnya yang akan Paman katakan?”

“Sardapa,” berkata Pamannya yang tertua, “sejak kau meninggalkan kami, maka kami mulai berpikir tentang persoalan yang sedang kita hadapi. Ternyata bahwa jalan pikiran kami telah berkembang,” pamannya itu berhenti sejenak. Tiba-tiba saja ia bertanya, “Dimana Ki Panonjaya?”

Hijaunya Lembah, Hijaunya Lereng Pegunungan
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger