logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Hijaunya Lembah, Hijaunya Lereng Pegunungan Jilid 063


Karena itu maka kedua anak muda itu masih akan mencoba melawan mereka dengan pedang pula.

Namun Ki Buyut serta para pengawal upahannya, memiliki ilmu pedang yang sangat baik. Mereka mampu bergerak dengan cepat saling mengisi, sehingga hampir setiap saat, baik Mahisa Murti maupun Mahisa Pukat telah menerima serangan dari lawan-lawan mereka.

Oleh karena itu maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harus mengerahkan kemampuan mereka bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, sehingga mereka dapat mengimbangi kecepatan gerak lawan-lawan mereka.

Namun meskipun lawan-lawan mereka menjadi heran akan kemampuan kedua anak muda itu, namun akhirnya dengan mengerahkan ilmu pedang mereka yang tinggi, keenam orang itu berhasil menekan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Dengan demikian maka sudah barang tentu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak akan membiarkan diri mereka mengalami kesulitan. Justru merekalah yang harus menghukum Ki Buyut dengan para pengawalnya, meskipun mereka masih belum tahu latar belakang dari pergolakan yang terjadi di padukuhan itu. Tetapi, sikap Ki Buyut itu sendiri telah membuat kedua orang anak muda itu tidak senang.

Karena itu, ketika ternyata bahwa lawan-lawan mereka memiliki kemampuan ilmu pedang yang tinggi, Mahisa Murti- pun telah berteriak untuk memberikan isyarat kepada Mahisa Pukat, “Biarlah kita mengambil apa yang mereka miliki.”

Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun Mahisa Pukat pun segera mengerti apa yang harus dikerjakannya.

Demikianlah pertempuran itu seakan-akan menjadi semakin cepat. Benturan-benturan menjadi sering terjadi. Dengan mengerahkan segenap kemampuan ilmu pedangnya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat selalu menangkis dan membenturkan serangan-serangan yang datang dari lawan-lawan mereka.

Di seputar arena itu, para pengawal menyaksikan pertempuran itu dengan mulut yang menganga. Mereka memang belum pernah menyaksikan pertempuran sedahsyat itu. Kelima pengawal upahan Ki Buyut ditambah dengan Ki Buyut sendiri, ternyata tidak segera dapat mengalahkan kedua orang anak muda itu. Bahkan ternyata ilmu pedang kedua orang anak muda itu tidak kalah dahsyatnya dengan ilmu pedang para pengawal Ki Buyut, karena ternyata mereka berdua mampu mengimbangi enam orang sekaligus.

Namun Ki Buyut dan para pengawalnya, mula-mula menganggap bahwa mereka akan segera berhasil. Kedua anak muda itu telah dapat mereka tekan, sehingga ujung-ujung pedang mereka menjadi semakin dekat dengan kulit kedua anak muda itu.

Tetapi ternyata rencana mereka untuk mengalahkan kedua anak muda itu menjadi semakin jauh dari kemungkinan untuk dapat dilaksanakan.

Dalam pertempuran yang semakin cepat dan keras, keenam orang itu tidak dapat menangkap arti pesan Mahisa Murti bagi Mahisa Pukat. Meskipun mereka dapat menduga, bahwa akan dapat terjadi peningkatan kemampuan kedua anak muda itu.

Tetapi demikian kelima orang pengawal bersama Ki Buyut itu semakin menjadi berhati-hati, ternyata perlawanan kedua anak muda itu justru tidak berubah. Bahkan keduanya menjadi semakin sulit untuk bergerak di arena yang menjadi semakin sempit. Yang dapat mereka lakukan adalah sekedar menangkis setiap serangan meskipun untuk beberapa saat kemudian mereka mengalami kesulitan. Ruang bergerak rasa-rasanya menjadi semakin sempit dipagari oleh putaran ujung-ujung pedang keenam lawan mereka.

Namun hal itu tidak berlaku lama. Keenam orang itu merasa betapapun kekuatan mereka menjadi susut dengan cepat. Tanpa mereka ketahui sebabnya, maka mereka seakan-akan tidak lagi mampu bergerak cepat.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih saja berusaha untuk menangkis setiap serangan. Bahkan rasa-rasanya mereka tidak menyerang sama sekali. Seakan-akan keduanya tidak lagi mempunyai kesempatan.

Namun, sementara itu keenam orang yang telah bertempur melawan mereka itu pun dengan cepat telah kehilangan kekuatan mereka. Bahkan rasa-rasanya tulang-tulang mereka pun telah terlepas pada sendi-sendinya.

Ki Buyut sempat merenungi keadaannya. Justru pada saat-saat yang sangat gawat. Pada saat Ki Buyut dan kawan-kawannya merasa hampir menguasai keadaan, maka tiba-tiba saja kekuatan dan kemampuannya susut dengan cepat.

Sejenak kemudian, maka keenam orang lawan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu benar-benar telah kehilangan kemampuan mereka untuk bertempur. Keenam orang itu berdiri dengan lemahnya. Bahkan untuk mempertahankan keseimbangannya pun mereka harus mengerahkan sisa kemampuan yang ada.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian berdiri di hadapan mereka dengan kerut di dahi. Dengan lantang Mahisa Murti pun kemudian berkata, “Aku akan mengetrapkan hukuman sebagaimana akan kalian lakukan atas kami.”

Ki Buyut memang menjadi bingung menanggapi keadaan itu. Nalarnya tidak mampu untuk mengurai, apakah yang sebenarnya telah terjadi atas dirinya dan kelima orang pengawalnya.

Sementara itu, Mahisa Pukat pun berkata, “Aku akan mengikat kalian pada tiang-tiang di pendapa. Semua orang harus ikut menghukum kalian. Hukum picis.”

“Jangan,” Ki Buyut hampir berteriak.

“Aku tidak peduli. Selama ini kau telah menganggap dirimu mempunyai kedudukan yang sangat tinggi, sehingga tidak pantas berhubungan dengan orang-orang padukuhanmu sendiri. Sekarang kau harus menyadari, bahwa kau tidak mempunyai kelebihan apa-apa,” bentak Mahisa Pukat.

“Tetapi jangan dihukum picis,” minta Ki Buyut dengan suara bergetar.

“Kau akan dihukum picis sampai mati,” Mahisa Pukat justru membentak semakin keras.

Wajah Ki Buyut memang menjadi sangat pucat. Demikian pula kelima orang pengawalnya.

Dalam pada itu Mahisa Pukat berkata, “Jika kalian tidak mau dihukum, bertahanlah. Kenapa kalian berhenti bertempur?”

Ki Buyut tidak dapat menjawab. Tetapi tenaga dan kemampuannya rasa-rasanya benar-benar lenyap.

“Kenapa kau diam saja Ki Buyut? Marilah. Bukankah kau hanya melawan pengemis yang derajadnya tidak lebih dari seekor cacing?,” geram Mahisa Pukat. Namun tiba-tiba katanya, “Ki Buyut. Aku sudah berjanji untuk memukulimu jika kau menghina kami.”

Wajah Ki Buyut yang pucat menjadi semakin pucat. Ia memang sudah tidak mempunyai kekuatan untuk melawan. Demikian pula agaknya orang-orang upahannya. Mereka sama sekali sudah tidak berdaya.

Karena itu, maka dengan cemas Ki Buyut hanya dapat menunggu apa yang akan dilakukan oleh anak-anak muda itu. Namun ia pun masih juga berkata, “Aku tidak akan menghinamu lagi anak-anak muda.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Ketika mereka memandang orang-orang yang ada di halaman itu, maka mereka pun segera teringat kepentingan mereka datang di Kabuyutan itu.

“Nah Ki Buyut, sekarang katakan kepada kami, apakah kau dapat berbicara dengan kami atau tidak? Atau kami harus memaksamu untuk berbicara?” bertanya Mahisa Pukat.

Ternyata Ki Buyut tidak segera menjawab. Bagaimanapun juga harga dirinya yang berlebihan itu masih juga membayangi sikapnya.

Karena Ki Buyut tidak segera menjawab, maka Mahisa Pukat pun telah membentak, “Jika demikian, apakah aku harus benar-benar memukulimu? Bagiku, kau tidak lebih dari kami. Karena itu, jangan terlalu sombong akan kedudukanmu. Jangankan kau seorang Buyut, bahkan seorang Akuwu pun menurut pendapatku, tidak berbeda dengan kami. Hanya kebetulan ia mengemban tugas yang barangkali lebih penting dari tugas kami. Namun baik Akuwu Lemah Warah maupun Akuwu Sangling, tidak terlalu sombong seperti kau Ki Buyut. Aku tidak tahu apakah daerah ini termasuk lingkungan Pakuwon mana. Atau bahkan mungkin Pakuwon Pitrang. Tetapi kami, pengembara yang kau anggap tidak lebih dari pengemis atau bahkan cacing ini, mempunyai kesempatan untuk keluar masuk istana Pakuwon yang mana pun dengan bebas. Bukan hanya kami berdua, tetapi rakyat yang mana pun juga, akan mendapat kesempatan untuk menghadap apabila ia memang membawa persoalan yang penting.”

Ki Buyut itu menjadi semakin gelisah. Melihat ketegasan kata-kata Mahisa Pukat, maka rasa-rasanya apa yang dikatakannya itu benar. Bahkan Mahisa Pukat itu pun kemudian berkata, “Ki Buyut. Apa artinya kedudukanmu dibanding dengan kedudukan Sri Maharaja di Singasari. Tetapi Sri Maharaja di Singasari itu tidak sombong sebagaimana kau lakukan. Sri Baginda akan dengan senang hati menerima siapa saja yang ingin menemuinya sebagai layaknya sesama. Jika seseorang tidak dapat menghadap bukan karena ada jarak antara mereka dengan Sri Maharaja, tetapi semata-mata karena kesibukan Sri Maharaja itu, sehingga harus dicari waktu yang benar-benar luang. Tidak seperti yang kau katakan. Aku tahu kau hanya duduk sambil makan dan minum. Sementara itu kau menolak membicarakan persoalan penting yang menyangkut Kabuyutan ini.”

Ki Buyut tidak menjawab. Tetapi Ki Buyut melihat kesungguhan di wajah anak-anak muda itu. Karena itu, maka jantungnya pun menjadi semakin berdebar-debar.

“Kau belum menjawab Ki Buyut,” Mahisa Pukat hampir berteriak.

Jika semula anak-anak muda itu dengan rendah hati minta bertemu dengan Ki Buyut, maka kata-katanya kemudian menjadi lebih mirip dengan perintah.

Karena itu, Ki Buyut memang tidak mempunyai pilihan lain. Karena itu, maka katanya kemudian, “Marilah, silahkan duduk.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian telah naik ke pendapa. Ki Buyut yang lemah itu hampir tidak lagi mampu naik tangga pendapa rumahnya sendiri yang setiap hari diinjaknya itu.

Sementara itu, pengawal-pengawal upahannya pun sudah menjadi tidak berdaya. Mereka duduk dengan lemahnya di bibir pendapa. Dengan penuh keheranan mereka mencoba untuk mengerti apa yang terjadi atas diri mereka dan Ki Buyut. Tetapi ternyata penalaran mereka tidak dapat menjamah kemampuan ilmu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu.

Sementara itu, Ki Buyut telah duduk bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, sementara Ki Bekel, pemimpin pengawal Kabuyutan itu dan beberapa orang bebahu berada di halaman dan di serambi gandok. Para pengawal memang bersiap-siap sepenuhnya, tetapi mereka pun sadar, bahwa mereka tidak akan dapat berbuat sesuatu atas kedua orang anak muda itu.

Di pendapa, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berbicara dengan Ki Buyut tentang satu di antara padukuhan di Kabuyutan itu yang memerlukan perhatian khusus dari Ki Buyut.

“Aku telah membatasi persoalannya,” berkata Ki Buyut, “kedua orang yang berselisih itu tidak akan dapat memperluas persoalan mereka keluar dari padukuhan itu.”

“Sekarang memang begitu,” berkata Mahisa Murti, “tetapi apakah persoalan di antara mereka itu akan kau biarkan saja berlarut-larut tanpa penyelesaian?”

“Mereka akan dapat menyelesaikan persoalan mereka sendiri,” jawab Ki Buyut.

“Tentu tidak,” bentak Mahisa Pukat, “kau harus turun ke padukuhan itu dan berusaha menyelesaikan persoalan yang tidak ada ujung pangkalnya itu.”

“Anak-anak yang keras kepala,” berkata Ki Buyut, “mereka tidak mau mendengar pendapat orang lain.”

“Aku sudah bertemu dengan mereka,” berkata Mahisa Pukat, “mereka akan bersedia berbicara dengan Ki Buyut. Jika persoalan mereka tidak mendapatkan penyelesaian, maka akhirnya akan meningkat pada penyelesaian yang kasar dan dengan kekerasan. Salah seorang di antara mereka telah menyewa beberapa orang untuk mencampuri persoalan mereka, meskipun dari mulut mereka selalu diucapkan kata-kata, agar orang lain tidak mencampuri persoalan mereka.”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Seandainya kita berbicara tentang mereka, namun mereka tentu tidak akan mau mengerti, bahwa kita berbicara bagi kebaikan mereka. Justru karena itu, maka aku biarkan saja mereka berusaha untuk mencari penyelesaian sendiri. Tetapi aku tidak mau pertentangan di antara mereka itu merembes keluar padukuhan mereka.”

“Itu bukan penyelesaian. Justru kau berusaha mengadu mereka agar kedua-duanya menjadi lemah dan tidak berdaya,” berkata Mahisa Pukat. Namun tiba-tiba saja ia bertanya, “Ki Buyut, ada apa sebenarnya di padukuhan itu, sehingga Ki Buyut seakan-akan telah membiarkan saja apa yang terjadi? Bahkan sampai hancur sekalipun.”

Ki Buyut termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya, “Aku sudah jemu membicarakan persoalan mereka. Aku sudah jemu pula menawarkan kemungkinan penyelesaian yang sebaik-baiknya. Tetapi mereka tidak pernah mendengarkannya. Bahkan mereka menganggap bahwa aku menjadi berat sebelah. Yang di sebelah kiri menganggap aku berpihak kepada yang sebelah kanan, sementara yang sebelah kanan menganggap aku berpihak yang sebelah kiri. Karena itu, maka usaha-usahaku tidak pernah mereka tanggapi dengan baik.”

“Jika demikian,” lalu katanya, “Karena itu, maka marilah, kita bertemu dan berbicara dengan mereka.”

Ki Buyut yang pucat itu termangu-mangu. Tubuhnya benar-benar telah basah oleh keringat. Sementara itu, tubuhnya yang sangat lemah masih terasa belum menjadi bertambah baik.

Karena Ki Buyut tidak segera menjawab, maka Mahisa Pukat mulai membentak, “Kau tahu Ki Buyut. Kau tidak mempunyai pilihan lain. Jika semula kami benar-benar ingin berbicara dengan baik, maka keadaannya sekarang telah berbeda. Kami tidak minta kesediaan Ki Buyut. Tetapi kami akan memaksa Ki Buyut untuk melakukannya. Jika tidak, maka kami akan dapat berbuat lebih kasar dari yang pernah kami lakukan, sementara keadaan Ki Buyut justru bertambah buruk. Jika Buyut dapat berbuat sesuka hati, maka kami berdua pun akan berbuat sesuka hati. Tidak seorang pun yang akan dapat menghalangi kami apa pun yang kami lakukan, termasuk mengikat Ki Buyut dan menyeret Ki Buyut ke padukuhan itu.”

Wajah Ki Buyut menjadi merah. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa mengalami perlakuan yang begitu buruknya. Para pengawal upahan yang dibanggakannya pun telah tidak mampu berbuat apa-apa pula. Sehingga karena itu, memang sudah tidak ada pilihan lain bagi Ki Buyut kecuali menuruti keinginan kedua anak muda yang tidak terkalahkan itu.

Karena itu, maka Ki Buyut memang tidak dapat berbuat lain dari pada menuruti kehendak Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu. Namun demikian ia masih juga berkata, “Baiklah. Aku memang tidak dapat menolak. Tetapi tubuhku sangat lemah, sehingga aku tidak akan dapat berjalan sedemikian jauhnya.”

Mahisa Murti lah yang menjawab, “Perintahkan menyediakan seekor kuda.”

Ki Buyut memang tidak membantah. Ia pun memberi isyarat kepada seorang pengawalnya untuk mendekat. Kepada pengawal itulah Ki Buyut telah memerintahkan menyediakan seekor kuda.

Demikianlah, maka dalam keadaan yang lemah itu Ki Buyut sudah siap untuk berangkat. Seorang pengawalnya telah menuntun kuda itu, sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berjalan di belakangnya. Ketika Ki Bekel dan pemimpin pengawal yang kesakitan ingin mengikuti mereka, Mahisa Murti telah membentak, “Tidak seorang pun yang perlu ikut.”

“Tetapi, siapakah yang menjaga keselamatan Ki Buyut?” bertanya Ki Bekel.

“Kami,” jawab Mahisa Murti pula.

“Tetapi kalian bukan warga Kabuyutan kami. Apakah kalian dapat mempertanggung jawabkan keselamatan Ki Buyut sehingga ia kembali tanpa cidera di rumah ini?,” desak Ki Bekel.

“Jika bukan kami, siapakah yang dapat melakukannya? Siapa yang dapat mempertanggungjawabkan keselamatan Ki Buyut sehingga Ki Buyut kembali ke rumahnya ini. Jika ada orang yang mengaku dapat melakukannya, maka akulah yang akan membunuh Ki Buyut di perjalanan. Nah, cobalah menyelamatkannya,” teriak Mahisa Pukat.

Tidak seorang pun yang menjawab. Sementara Mahisa Pukat berteriak pula, “Jika ada yang mengikuti perjalanan kami, maka orang itu akan aku bunuh. Jika aku gagal, maka aku akan membunuh Ki Buyut.”

Ki Bekel itu pun terdiam. Tidak seorang pun yang bergerak.

Karena itu, maka Ki Buyut pun segera berangkat. Hanya seorang pengawal yang boleh ikut. Pengawal yang menuntun kuda Ki Buyut itu.

Di luar regol Kabuyutan, Ki Buyut itu berkata, “Kau memaksakan kehendakmu dengan kekerasan dan kekuasaan. Orang-orang yang mempunyai ilmu yang tinggi dengan demikian akan selalu berkuasa atas orang-orang yang lebih lemah.”

“He, kaukah itu yang berbicara Ki Buyut?” bertanya Mahisa Murti.

Ki Buyut termangu-mangu. Sementara Mahisa Murti berkata lebih lanjut, “Bagaimana jika orang lain yang mengatakannya hal itu kepadamu?”

Ki Buyut itu pun justru terdiam.

“Aku tidak senang terhadap sikap seperti itu Ki Buyut,” berkata Mahisa Murti, “karena itu aku sama sekali tidak senang melihat sikapmu. Jika kemudian aku melakukannya, justru karena aku mengira, sikap itulah yang paling baik bagi Ki Buyut.”

Ki Buyut menundukkan kepalanya. Ia tidak menjawab. Sementara itu kuda Ki Buyut itu pun berjalan lambat, dituntun oleh seorang pengawal.

Untuk beberapa saat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun berdiam diri pula. Mereka berjalan menyusuri jalan induk padukuhan itu. Beberapa orang yang sempat melihat Ki Buyut justru bertanya-tanya di dalam hati. Apa yang telah terjadi?

Mereka tidak pernah melihat Ki Buyut hanya dikawal oleh seorang pengawal saja. Biasanya Ki Buyut selalu diikuti oleh kelima orang pengawalnya yang mempunyai kemampuan yang sangat tinggi.

Tetapi tidak seorang pun yang berani dengan terang-terangan melihat perjalanan yang aneh dari Ki Buyut itu. Beberapa orang yang kebetulan berpapasan, justru telah mencari jalan untuk menyimpang atau masuk ke regol halaman orang di pinggir jalan itu.

Sebenarnyalah, apa yang terjadi segera menjadi bahan pembicaraan yang ramai. Peristiwa yang terjadi di rumah Ki Buyut, perjalanan Ki Buyut yang aneh serta peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelumnya benar-benar telah menggemparkan padukuhan induk itu.

Namun akhirnya setiap orang pun tahu, bahwa tidak ada orang yang dapat mencegah dua orang anak muda yang telah memperlakukan Ki Buyut dengan kasar dan keras.

Namun peristiwa itu telah membuka pikiran beberapa orang tua di Kabuyutan itu. Mereka mulai mencoba menilai kembali, apakah yang pernah terjadi.

Mereka pun sempat menilai kembali, apa saja yang pernah dilakukan oleh Ki Buyut di saat ia memegang jabatannya itu.

Sehingga akhirnya datang dua orang anak muda yang telah memperlakukannya dengan kasar dan keras. Bahkan condong untuk merendahkan derajatnya.

Tetapi masih belum ada seorang pun yang berani mengatakan sesuatu tentang Ki Buyut itu. Sebelum datang kedua orang anak muda itu, kuasanya memang terlalu besar. Tidak ada seorang pun yang dapat menentangnya. Bahkan tidak seorang pun yang berani menanyakan sesuatu tentang kebijaksanaannya.

Orang-orang Kabuyutan itu menganggap bahwa semua keputusan yang diambil oleh Ki Buyut adalah keputusan yang bijaksana, dilandasi dengan wibawanya yang tinggi.

Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah membawa Ki Buyut ke padukuhan yang sedang dibelah oleh perpecahan itu. Betapa pun kegelisahan mencengkam jantungnya, tetapi Ki Buyut tidak dapat menolak. Ia harus memasuki satu lingkungan yang sangat dibencinya.

Tetapi tidak ada jalan untuk menghindar. Karena itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengikuti Buyut yang berada diatas punggung kuda memasuki padukuhan yang terbagi itu.

Semula tidak ada orang yang memperhatikan di sebelah menyebelah. Di balik pagar orang-orang tidak menghiraukan jika ada orang yang lewat di jalan induk padukuhan mereka. Bagi mereka orang-orang lewat itu sama sekali tidak ada artinya, karena mereka tidak akan mempunyai pengaruh apa pun bagi padukuhan mereka.

Namun akhirnya ada juga orang yang memperhatikan mereka. Orang yang pertama melihat orang berkuda itu terkejut. Orang itu adalah Ki Buyut.

Karena itu, maka orang-orang di sebelah menyebelah pun menjadi ribut. Orang-orang yang melihat Ki Buyut memasuki padukuhan itu telah memberitahukan kepada tetangga-tetangga dan kawan-kawannya, sehingga akhirnya kedua belah dari padukuhan itu menjadi ramai. Orang-orang dari kedua bagian padukuhan itu telah berlari-lari melihat dari balik-balik pagar yang terdapat di jalan-jalan simpang.

“Benar, orang itu adalah Ki Buyut,” berkata seseorang.

“Ia datang tanpa pengawal,” berkata yang lain.

“Hanya seorang yang menuntun kudanya serta kedua orang anak muda itu,” berkata yang lain pula.

Demikianlah akhirnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah membawa Ki Buyut yang duduk diatas punggung kuda itu berhenti di simpang empat. Kedua arah yang memasuki belahan padukuhan itu telah ditutup dengan pagar.


Namun dalam pada itu, Mahisa Murti pun berkata kepada orang-orang di sebelah menyebelah pagar itu, “Panggil pemimpin kalian masing-masing. Di sini ada Ki Buyut.”

Orang-orang itu saling berpandangan sejenak. Namun kemudian beberapa orang pun telah berlari-lari mencari pemimpin mereka masing-masing.

Rasa-rasanya begitu lama mereka menunggu di simpang empat itu. Baru kemudian kedua orang pemimpin dari belahan padukuhan itu menguak orang-orang yang berdiri berjejal-jejal di belakang pagar.

“Nah,” berkata Mahisa Pukat kemudian, “aku telah membawa Ki Buyut kemari. Aku minta kalian, yang mengaku pemimpin dari padukuhan ini keluar untuk menemui Ki Buyut dan berbicara dengannya.”

Para pemimpin di kedua belahan padukuhan itu termangu-mangu. Mereka merasa ragu-ragu melihat kenyataan itu, bahwa Ki Buyut telah bersedia datang ke padukuhan itu. Tetapi Ki Buyut itu benar-benar telah ada di hadapan mereka.

Karena itu, maka mereka pun telah meloncati pagar yang menutup simpang empat itu. Meskipun mereka nampak ragu-ragu, namun mereka pun telah melangkah mendekat. Ternyata bahwa mereka masih menaruh kepercayaan kepada kedua orang anak muda yang menyertai Ki Buyut itu. Apalagi karena Ki Buyut datang seorang diri tanpa pengawal selain yang menuntun kudanya.

“Nah,” berkata Mahisa Pukat, “sekarang Ki Buyut sudah ada di antara kalian. Kalian dapat membicarakan kemungkinan-kemungkinan untuk menyatukan padukuhan kalian.”

Kedua orang pemimpin dari belahan padukuhan itu saling berpandangan sejenak. Kehadiran Ki Buyut itu tidak diduganya sama sekali. Karena itu untuk sesaat mereka justru agak kebingungan. Mereka tidak segera tahu, apa yang sebaiknya mereka lakukan.

Mahisa Pukat lah yang kemudian berbicara, “Kita sudah bertemu. Kita akan berbicara tentang padukuhan ini. Biarlah Ki Buyut mengatakan kebijaksanaannya.”

Tetapi Ki Buyut itu pun berkata, “Apakah aku harus mengambil satu keputusan sekarang?”

“Kau memang harus mengambil satu sikap untuk mengatasi persoalan yang menyangkut padukuhan ini,” berkata Mahisa Pukat.

“Aku mengerti, “jawab Ki Buyut, “tetapi sudah tentu tidak sekarang. Aku perlu pembicaraan-pembicaraan yang mungkin panjang dengan kedua belah pihak. Baru kemudian aku akan dapat membuat satu keputusan.”

Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun ia dapat mengerti keterangan Ki Buyut itu. Ki Buyut memang tidak akan dapat dengan tiba-tiba saja mengambil sikap untuk mengatasi kemelut di padukuhan itu tanpa berbicara lebih dahulu dengan mereka yang berkepentingan. Seandainya Ki Buyut menentukan satu keputusan, tetapi orang-orang padukuhan itu tidak dapat menerimanya, maka keputusan itu tentu akan tidak berarti pula.

Karena itu, maka Mahisa Pukat pun berkata, “Baiklah. Kalian akan dapat berbicara sebaik-baiknya. Aku tidak akan memaksakan sesuatu kepada kalian. Kami berdua hanya akan menjadi saksi. Tetapi jika kalian tidak jujur, maka aku akan melakukan apa saja yang aku sukai.”

“Jadi, apakah yang harus aku lakukan sekarang?” bertanya Ki Buyut.

“Kalian harus membuat perjanjian, kapan kalian akan membicarakan persoalan yang menyangkut padukuhan dan bahkan mungkin Kabuyutan ini,” berkata Mahisa Pukat.

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya kedua orang pemimpin dari belahan padukuhan itu. Lalu katanya, “Aku minta kalian datang ke Kabuyutan dua hari yang akan datang.”

“Kenapa dua hari yang akan datang?” Mahisa Pukat lah yang bertanya, “Kenapa tidak besok pagi?”

“Aku masih terlalu lemah,” jawab Ki Buyut, “dua hari mendatang, keadaanku akan bertambah baik.”

“Terserah kepada kalian,” berkata Mahisa Pukat, “aku akan menunggu.”

“Kalian akan menunggu sampai pembicaraan itu berakhir?” bertanya Ki Buyut.

Mahisa Pukat mengangguk. Katanya kemudian, “Kami akan menjadi saksi dari pembicaraan kalian. Kami akan mengikuti setiap pembicaraan kalian tanpa mencampuri jika kalian masing-masing pihak berlaku wajar. Kecuali jika ada di antara kalian yang bertindak tidak wajar, maka kami akan berbuat sesuatu. Mungkin lunak, tetapi mungkin juga keras. Kalian sudah tahu siapa kami dan apa yang dapat kami lakukan. Jika sejak semula kalian bersikap baik dan wajar, aku kira kami tidak akan banyak bertingkah. Tetapi kalian telah memancing kami untuk berlaku keras dan kasar seperti ini.”

Ki Buyut termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Kehadiran orang lain dapat membuat kami masing-masing tidak dapat mengatakan persoalan kami dengan terbuka.

“Aku hanya ingin melihat dan mendengar,” berkata Mahisa Pukat. Namun kemudian, “jangan dipersoalkan lagi.”

Ki Buyut termangu-mangu. Mahisa Pukat dan Mahisa Murti pun tahu benar bahwa sebenarnya Ki Buyut keberatan. Tetapi mereka tidak menghiraukannya.

Dengan demikian maka Ki Buyut memang tidak dapat berbuat lain. Ia harus berbicara dengan kedua arang yang bermusuhan itu dua hari yang akan datang di rumahnya disaksikan oleh kedua orang anak muda yang tidak disukainya itu.

“Kalian harus datang pada saatnya,” berkata Mahisa Pukat, “jika tidak, maka hal itu akan dijadikan alasan Ki Buyut untuk menunda pembicaraan lagi. Di saat matahari naik, kalian harus sudah berada di rumah Ki Buyut.”

Kedua orang yang mengaku pemimpin di belahan dari padukuhan mereka itu tidak menjawab. Sementara Ki Buyut berkata, “Aku akan pulang sekarang.”

“Kalian telah membuat janji. Janji itu harus ditepati,” berkata Mahisa Pukat, “jika salah satu pihak tidak menepati janji itu, kami berdua akan mengambil langkah-langkah tertentu menurut kemauan kami sendiri.”

Tidak ada yang menjawab. Sementara itu Mahisa Pukat itu pun berkata, “Marilah, aku antar kau kembali.”

Ki Buyut pun tidak menjawab. Pengawal yang menuntun kudanya itu telah menuntun kuda itu pula kembali ke padukuhan induk. Sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengikutinya.

Namun ketika Ki Buyut itu memasuki regol halaman rumahnya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru berhenti. Dengan lantang Mahisa Pukat berkata, “Ki Buyut. Aku tidak akan bermalam di rumahmu. Aku akan bermalam di mana saja. Tetapi dua hari lagi, aku akan menjadi saksi pertemuan kalian. Sementara itu, kami akan melihat-lihat lingkungan di sekitar Kabuyutan ini. Apakah rakyat Buyut juga mempunyai tingkah laku seperti kau.”

Ki Buyut itu hanya dapat menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak dapat mencegah kedua orang itu berbuat apa saja betapa pun menyakitkan hati.

Sebenarnyalah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah meninggalkan padukuhan induk itu. Mereka berjalan menyusuri jalan yang menghubungkan padukuhan induk itu dengan padukuhan yang sedang terbelah. Tetapi keduanya memang tidak pergi ke padukuhan itu.

Ketika keduanya melihat seorang tua yang bekerja di sawah, maka keduanya pun berhenti. Keduanya kemudian duduk di pematang sambil memperhatikan orang tua yang bekerja itu.

Ketika orang tua yang bekerja itu melihat keduanya, maka ia pun telah mendekatinya sambil bertanya, “Apa yang kalian inginkan anak-anak muda?”

Mahisa Murti lah yang menjawab, “Tidak apa-apa kek. Kami hanya melihat kakek bekerja. Kenapa kakek bekerja sendiri tanpa orang lain. Mungkin anak atau cucu atau barangkali kemanakan kakek?”

Orang tua yang ternyata pendengarannya masih utuh itu tertawa. Katanya, “Aku masih kuat bekerja sendiri.”

“Lalu apa kerja anak-anak kakek atau cucu-cucu kakek?” bertanya Mahisa Murti.

Orang tua itu menggeleng. Katanya, “Aku tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai cucu. Aku hidup sendiri. Aku mengerjakan sawahku sendiri. Tetapi sawahku tidak terlalu luas.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk.

Ternyata orang tua itu pun kemudian berkata, “Marilah. Duduk di dalam gubugku. Aku juga ingin beristirahat. Sudah waktunya aku pulang.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menolak. Mereka- pun kemudian telah mengikuti orang tua itu menyusuri pematang menuju ke sebuah gubug kecil beratap ilalang.

Di dalam gubug itu ternyata terdapat sebuah kendi air dan beberapa potong makanan.

“Tidak ada orang yang dapat mengirimkan makanan bagiku. Karena itu aku telah membawa sendiri dari rumah,” berkata orang tua itu.

“Kakek benar-benar hidup sendiri?” bertanya Mahisa Pukat.

“Ya. Aku benar-benar hidup sendiri. Tanpa anak, tanpa cucu dan isteriku sudah mati beberapa tahun yang lalu,” berkata orang tua itu. Lalu tiba-tiba saja ia menyodorkan makanannya sambil berkata, “Marilah. Aku senang jika ada orang yang bersedia menemani aku makan. Rasa-rasanya menjadi bertambah enak.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak dapat menolak. Meskipun hanya sepotong kecil, keduanya ikut makan bersama orang tua itu.

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti telah bertanya, “Kakek agaknya sudah tua. Karena itu, kakek tentu melihat perkembangan Kabuyutan ini untuk waktu yang panjang, sepanjang umur kakek. Bukankah begitu?”

Kakek tua itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku termasuk orang tertua di Kabuyutan ini ngger. Mungkin hanya tinggal dua tiga orang saja yang seumur dengan aku.”

“Nah, kek. Apakah kakek dapat berceritera tentang mereka yang pernah memimpin Kabuyutan ini?” bertanya Mahisa Murti.

Orang tua itu mengangguk-angguk. Namun ia pun justru bertanya, “Maksud angger, siapa-siapa yang pernah menjabat kedudukan tertinggi di Kabuyutan ini?”

“Begitulah kek,” jawab Mahisa Murti.

Kakek itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ceritera itu panjang. Terlalu panjang jika aku ceriterakan di sini. Sebentar lagi matahari akan terbenam.”

“Jadi kapan kakek dapat menceriterakan tentang hal itu?” bertanya Mahisa Murti pula.

“Kalau kau mau singgah di rumahku, maka aku akan berceritera panjang lebar. Mungkin ada orang yang tidak senang mendengar ceriteraku jika aku mengatakan apa yang memang telah terjadi. Tetapi itu tidak apa-apa,” berkata kakek itu kemudian.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Agaknya keduanya sepakat untuk singgah di rumah kakek tua itu. Tetapi menilik ungkapannya, kakek tua itu tentu mengerti, bahwa ada beberapa kemungkinan dapat terjadi atasnya jika ia berceritera dengan terus terang. Karena kakek itu menyadari bahwa ada orang yang tidak senang jika ia berkata yang sebenarnya.

Karena itu, agar mereka tidak menimbulkan kesulitan kepada kakek itu, maka mereka harus berusaha mengurangi kemungkinan buruk itu sejauh mungkin. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun tidak tahu, siapakah yang dimaksud oleh kakek tua itu, bahwa mereka tidak akan senang jika ia berkata apa adanya.

Karena itu, maka Mahisa Murti pun kemudian berkata, “Kek. Kami akan sangat berterima kasih kepada kakek atas kesempatan itu. Tetapi kami berdua akan datang ke rumah kakek setelah gelap.”

Kakek tua itu mengerutkan keningnya. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Kenapa? Kalian dapat bersamaku sekarang, sehingga kalian tidak perlu mencari-cari lagi.”

“Terima kasih kek. Masih ada yang harus kami lakukan. Karena itu, berilah kami ancar-ancar. Kami akan datang nanti malam,” jawab Mahisa Murti.

Orang tua itu tertawa. Katanya, “Aku pantas mengucapkan terima kasih atas perhatian kalian tentang keselamatanku. Aku tahu, kalian tidak mau meninggalkan kesan buruk tentang diriku bagi orang yang tidak senang jika aku berkata sebenarnya. Agaknya kalian telah memperhitungkannya baik-baik. Namun sudah tentu karena pengalaman kalian yang panjang.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Keduanya memang merasa heran atas tanggapan orang tua itu. Namun demikian Mahisa Murti masih juga berkata, “Mungkin dugaan kakek benar. Karena itu, justru membuat kami semakin yakin, bahwa sebaiknya kami berhati-hati. Bukan untuk kepentingan kami, tetapi untuk kepentingan kakek.”

“Baiklah. Datanglah setelah gelap,” berkata kakek itu, “sekarang aku mau pulang. Aku tahu, bahwa kalian menunggu tidak ada yang kalian lakukan.”

Kedua orang anak muda itu termangu-mangu. Namun kakek tua itu pun segera memberikan ancar-ancar letak rumahnya. Tidak terlalu sulit bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Sejenak kemudian kakek tua itu telah meninggalkan gubug itu menyusuri pematang dan kembali ke rumahnya. Sementara langit semakin lama menjadi semakin suram.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang tidak mempunyai keperluan lain. Karena itu, maka keduanya justru tidak meninggalkan gubug itu. Keduanya malahan berbaring sambil menunggu matahari tenggelam di belakang cakrawala.

Ketika angin yang sejuk dan basah menyentuh tubuh mereka, maka langit telah menjadi hitam. Bintang-bintang bergayutan sambil berkeredipan dengan tabiatnya masing-masing.

“Sudah gelap,” desis Mahisa Murti, “marilah. Kita pergi ke rumah kakek tua itu.”

Tetapi Mahisa Pukat menggeliat. Katanya, “Mataku justru mulai terpejam.”

“Jangan terlalu malam,” berkata Mahisa Murti, “nanti kakek itu sudah tidur, sehingga kita harus membangunkannya.”

Dengan malas Mahisa Pukat pun akhirnya bangkit juga, sementara Mahisa Murti sudah duduk di bibir gubug kecil itu.

Keduanya pun kemudian telah turun dari gubug itu dan melangkah menyusuri pematang menuju ke padukuhan, ke rumah kakek tua yang tidak begitu sulit dicari oleh kedua orang yang sudah terbiasa melakukan pengembaraan itu.

Tetapi keduanya memang tidak ingin diketahui oleh seorang pun bahwa keduanya mengunjungi kakek tua yang bersedia menceriterakan urutan peristiwa di Kabuyutan itu meskipun ia sadar, bahwa tentu ada pihak yang tidak menyukainya.

Karena itulah, maka keduanya tidak memasuki padukuhan tempat tinggal kakek itu lewat mulut lorong. Mereka tidak mau berpapasan dengan siapa pun juga, meskipun kedua anak muda itu yakin, bahwa setiap orang di Kabuyutan itu telah membicarakan nama mereka, serta peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di Kabuyutan itu.

Tetapi dengan demikian maka mereka akan merasa terganggu, sehingga karena itu, mereka telah memilih untuk memasuki padukuhan itu dengan diam-diam.

Bukan pekerjaan yang sulit bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Demikian pula ketika mereka memasuki halaman rumah kakek tua itu sesuai dengan ancar-ancar yang telah diberikan.

Perlahan-lahan Mahisa Murti telah mengetuk pintu rumah orang tua itu. Tetapi ia tidak perlu mengulanginya. Ternyata orang tua itu masih belum tidur. Karena itu, maka ia pun segera mendengar bahwa pintunya telah diketuk.

Tergesa-gesa orang tua itu pergi ke pintu. Ketika ia membuka pintu itu, maka ia pun tersenyum sambil berkata, “Aku sudah mengira bahwa kalianlah yang datang.”

“Ya kek,” jawab Mahisa Pukat, “kami menepati janji.”

“Marilah, masuklah. Aku sendiri di rumah ini,” berkata kakek itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian melangkah masuk, sementara kakek itu telah menutup pintu rumahnya itu kembali.

“Dingin,” berkata kakek tua itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian telah dipersilahkan duduk di ruang dalam. Ternyata kakek tua itu telah merebus air dan bahkan membuat wedang jahe hangat.

“Marilah, kita minum,” berkata orang tua itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian duduk bersama kakek tua itu sambil minum wedang jahe hangat.

Namun tiba-tiba saja kakek tua itu bertanya, “Nah, bukankah maksud kedatangan kalian sekedar untuk mendengarkan sebuah ceritera tentang Kabuyutan ini?”

“Ya kek. Barangkali aku dapat mendengar ceritera yang lebih jelas daripada yang pernah aku dengar sebelumnya,” jawab Mahisa Murti.

Sambil meneguk minuman hangatnya kakek tua itu kemudian telah berceritera tentang Kabuyutan yang sedang dihangatkan oleh persoalan sebuah padukuhan yang terbelah.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mendengarkan ceritera itu dengan sungguh-sungguh. Mereka seakan-akan dapat melihat apa yang telah terjadi. Namun apa yang mereka lihat ternyata hanya permukaannya saja.

Karena itu, maka Mahisa Murti pun kemudian bertanya, “Tetapi apakah yang sebenarnya terjadi dengan kedua anak Ki Buyut itu? Apakah mereka memang meninggal karena sakit, atau karena perbuatan seseorang?”

“Menurut penglihatan orang-orang Kabuyutan ini mereka meninggal karena sakit,” jawab orang tua itu.

“Apa maksud kakek dengan penglihatan orang Kabuyutan ini? Apakah mungkin ada penglihatan lain yang berbeda?” bertanya Mahisa Murti pula.

Orang tua itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak tahu.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun Mahisa Murti pun kemudian berkata, “Jika hanya itu yang kakek ketahui, maka aku telah mendengarnya seluruhnya. Aku telah berbicara dengan orang-orang di gardu dan di halaman rumah Ki Buyut, pada waktu itu.”

Tetapi orang tua itu tertawa. Katanya, “Kau bohong. Kau tentu tidak mempunyai waktu untuk mendengarkan ceritera ini siang tadi. Tetapi baiklah. Seandainya kau sudah mendengarnya, syukurlah. Barangkali ceriteraku cocok dengan ceritera yang pernah kau dengar itu.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian Mahisa Pukat berkata, “Sudahlah kek. Sebaiknya kau katakan apa yang kau ketahui. Kami tidak ingin berbuat apa-apa. Jika kami ingin mendengarnya itu semata-mata karena kami ingin mendapatkan penyelesaian yang adil di Kabuyutan ini.”

Kakek tua itu termangu-mangu. Beberapa saat ia merenung. Dipandanginya api pada lampu minyaknya yang menyala redup, sementara malam pun menjadi semakin dingin.

“Apakah sebenarnya yang ingin kalian ketahui?” bertanya kakek tua itu.

“Yang ingin aku ketahui adalah semuanya yang kakek ketahui,” jawab Mahisa Pukat.

Kakek tua itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tertawa. Katanya, “Kalian aneh anak-anak muda. Apakah sebenarnya keuntungan kalian mencampuri persoalan yang terjadi di Kabuyutan ini?”

“Tidak ada kek,” jawab Mahisa Pukat, “kami tidak akan mendapat keuntungan apa-apa, selain kami akan merasa puas bahwa perpecahan di padukuhan ini dapat teratasi. Semula kami tidak mengira bahwa persoalannya akan menjadi keras, karena kami tidak mengira pula bahwa sikap Ki Buyut sekeras itu.”

“Ternyata yang terjadi adalah sikap-sikap yang keras dan kasar, sombong dan tidak berperasaan. Begitu?” bertanya kakek tua itu.

“Ya,” jawab Mahisa Murti. Lalu katanya pula, “Nah, karena itu kami ingin tahu peristiwa-peristiwa penting sebelum kejadian ini, tetapi bukan sekedar kulitnya.”

Orang tua itu tertawa pula. Katanya, “Kau ingin tahu, apakah Ki Buyut itu pantas untuk menjadi pemimpin di sini atau tidak. Begitu?”

“Tidak. Tetapi kami ingin tahu, apakah kedua anak Ki Buyut yang meninggal itu wajar atau tidak,” desak Mahisa Murti.


“Sekali lagi aku jawab bahwa aku tidak tahu,” berkata orang tua itu, “jika ada yang tahu, maka persoalannya tentu akan diusut lebih mendalam lagi.”

“Baiklah kek,” berkata Mahisa Pukat, “jika demikian besok kami akan minta kedua orang yang berselisih paham itu berbicara tentang pengetahuan mereka masing-masing tentang padukuhannya.”

Orang tua itu termangu-mangu. Dengan ragu-ragu kakek tua itu pun bertanya, “Apakah kau akan bertanya langsung kepada kedua cucu Ki Buyut yang lama itu?”

“Ya. Kami akan bertanya langsung kepada mereka,” jawab Mahisa Pukat.

“Pengetahuanku tentang peristiwa itu jauh lebih banyak dari kedua orang cucu Ki Buyut yang lama itu,” berkata orang tua itu.

“Mungkin mereka mendapatkan bahan yang lebih banyak dari yang kau ketahui Kakek,” gumam Mahisa Pukat.

Tetapi Kakek tua itu menggeleng. Katanya kemudian, “Anak-anak muda. Apakah kalian benar-benar ingin menolong padukuhan-padukuhan di Kabuyutan ini. Terutama padukuhan yang telah dibelah menjadi dua itu.”

“Jika tidak, untuk apa aku bersusah payah serta memaksa Ki Buyut untuk menerima kedua orang anak muda itu?” sahut Mahisa Murti.

Orang tua itu mengangguk-angguk pula. Katanya, “Jika demikian, baiklah. Biarlah aku membantumu.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun kemudian dengan nada rendah Mahisa Murti berkata, “Terima kasih Kek. Bantuan Kakek akan dapat mempermudah penyelesaian tentang padukuhan yang terbelah itu.” Namun kemudian Mahisa Murti pun bertanya, “Tetapi bantuan apa yang akan Kakek berikan?”

Kakek tua itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Anak-anak muda. Aku adalah salah seorang yang pernah menjadi bebahu Kabuyutan ini semasa Ki Buyut yang tua memerintah. Itulah sebabnya aku dapat berceritera tentang urutan keluarga Ki Buyut sampai kepada kedua orang yang berselisih dan membelah padukuhan yang satu itu menjadi dua. Kemudian mereka pun telah mendirikan kubu-kubu mereka masing-masing. Memang ada yang belum aku katakan. Aku ingin tahu kesungguhan kalian, sehingga dengan demikian jika terjadi sesuatu kita tidak akan saling menyalahkan,” berkata orang tua itu pula.

“Jika demikian, katakan Kek,” desak Mahisa Murti.

Kakek tua itu menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia pun berkata, “Padukuhan yang terbelah itu dahulu adalah induk padukuhan. Rumah Ki Buyut tua pun ada di padukuhan itu pula. Karena perselisihan yang terjadi berlarut-larut, maka akhirnya Ki Buyut yang sekarang telah memindahkan Kabuyutan itu.”

“Terima kasih. Tetapi apa lagi yang penting?” bertanya Mahisa Murti.

“Kematian anak sulung Ki Buyut memang agak aneh,” berkata kakek tua itu, “nampaknya ia telah terkena racun yang sangat kuat.”

“Ah,” desah Mahisa Murti, “jika demikian kenapa tidak seorang pun yang mengusut waktu itu?”

“Tidak ada tanda-tanda keracunan pada tubuh itu. Racun yang tajam itu hanya bekerja pada darah tanpa menodai warna kulit penderita. Biasanya orang-orang yang keracunan telah menampakkan tanda-tanda tertentu. Tetapi tidak pada anak Ki Buyut yang sulung itu,” berkata kakek tua itu.

“Darimana kau tahu? Kau jangan asal saja mengigau tidak menentu,” desis Mahisa Pukat.

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ““Orang yang melakukannya pernah mengatakan langsung kepadaku. Belum terlalu lama. Beberapa bulan yang lalu. Saat kematian menjemputnya,” jawab kakek tua itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Mahisa Pukat pun bertanya, “Tidak adakah seorang pun yang tahu tentang racun itu?”

Orang tua itu menggeleng. Katanya, “Karena itu, tidak ada kecurigaan sama sekali bahwa kematian anak sulung Ki Buyut itu memang telah diatur.”

“Apakah terjadi hal yang sama atas anak Ki Buyut yang sudah pernah diangkat meskipun hanya beberapa saat itu?” bertanya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

“Ya. Tetapi dengan jenis racun yang berbeda. Karena itu tidak ada orang yang curiga pula akan kematiannya,” jawab kakek tua itu.

“Apakah keduanya tidak mempunyai tanda-tanda yang sama?” bertanya Mahisa Murti.

“Tidak. Racun yang dipergunakannya adalah racun yang berbeda. Anak Ki Buyut yang pernah menggantikan kedudukannya meskipun hanya sebentar itu, telah dikenai oleh sebangsa racun yang bekerja perlahan-lahan. Itulah sebabnya ia tidak segera meninggal. Tetapi ia nampaknya menjadi sakit beberapa hari. Namun kemudian ia pun telah meninggal pula.”

“Apakah kematian mereka ada hubungannya dengan menantu Ki Buyut yang kemudian memegang pimpinan?” bertanya Mahisa Pukat.

“Nah, itulah yang aku tidak tahu. Apakah yang telah membuat itu Ki Buyut yang sekarang atau bukan, itulah yang perlu diselidiki meskipun waktunya yang berlalu beberapa tahun,” jawab orang tua itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Menurut tanggapan mereka, orang tua itu adalah orang tua yang jujur, meskipun dibalik kejujurannya itu nampak beberapa persoalan yang agaknya tersembunyi.

Namun terhadap orang tua itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harus berlaku sabar.

Karena itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih harus menahan diri. Mereka tidak berniat untuk memaksa orang tua itu berbicara, karena menurut pertimbangan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka ia tentu akan mengatakan apa yang baik dikatakan dan ia tidak akan mengatakan apa yang tidak baik dikatakan menurut pertimbangannya.

Dengan demikian maka yang dapat diajukan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hanyalah sekedar pertanyaan-pertanyaan saja.

Dengan ragu-ragu Mahisa Murti pun bertanya, “Kakek, apakah sebabnya maka orang yang melakukan itu akhirnya mengatakan kepada kakek?”

Orang itu termangu-mangu. Tetapi ialah yang justru bertanya, “Anak-anak muda. Siapakah yang menunjukkan kepadamu bahwa aku sedikit banyak mengetahui persoalan ini?”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Mahisa Murti lah yang menjawab dengan jujur pula, “Tidak ada kek.”

“Jadi bagaimana kau langsung menemui aku dan bertanya tentang pengenalanku atas padukuhan ini dari waktu ke waktu?” bertanya orang itu pula.

Kedua anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah Mahisa Murti menjawab pula, “benar kek. Tidak ada yang memberikan petunjuk apa pun kepada kami. Adalah kebetulan saja bahwa kami melihat kakek bekerja. Menurut penglihatan kami kakek memang sudah cukup tua untuk dimintai keterangan.”

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Jadi kalian datang saja kepadaku dengan tidak sengaja?”

“Begitulah kek,” jawab Mahisa Murti.

Sambil mengangguk-angguk orang tua itu kemudian berkata, “Baiklah. Aku telah salah duga. Aku kira seseorang telah memberitahukan kepada kalian. Justru karena kalian telah berbuat sesuatu di Kabuyutan ini.” Orang itu berhenti sejenak.

Lalu katanya pula, “Tetapi semuanya sudah terlanjur. Sementara itu, agaknya kalian benar-benar ingin membuat penyelesaian yang tuntas di Kabuyutan ini.”

“Kami datang kepada kakek memang secara kebetulan. Tetapi niatku, untuk memecahkan masalah yang timbul di Kabuyutan ini adalah sungguh-sungguh,” berkata Mahisa Pukat.

“Baiklah. Aku sudah mulai. Agaknya memang lebih baik jika aku mengatakan selanjutnya sesuai dengan pengetahuanku,” berkata orang tua itu.

“Terima kasih kek,” desis Mahisa Murti.

Orang tua itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Orang yang meninggal itu ingin melepaskan beban yang rasa-rasanya selalu menghambatnya. Ia sudah lama sakit. Tetapi sakitnya tidak dapat diobati lagi, sehingga tidak ada lagi harapan baginya untuk tetap hidup. Kekayaannya yang besar sama sekali tidak mampu menolongnya. Tetapi harapannya untuk cepat mati pun tidak terpenuhi, sementara perasaannya selalu menyiksa dirinya. Karena itu, maka untuk mengurangi beban yang menekan perasaannya itu, ia pun telah mengatakan apa yang pernah dilakukannya. Ia telah memberikan racun yang khusus kepada anak sulung Ki Buyut. Kemudian memberikan racun yang lain untuk membunuh adiknya yang sempat menjadi Buyut beberapa lama.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun kemudian Mahisa Murti telah bertanya pula, “Tetapi orang itu melakukannya bukan karena kehendaknya sendiri. Jika ada yang mengupah, siapakah yang telah mengupahnya itu?”

Orang tua itu menggeleng. Katanya, “Itulah yang tidak dikatakannya. Meskipun ingin meringankan beban perasaannya, namun ia tetap melindungi nama orang yang memerintahkan kepadanya untuk melakukan pembunuhan itu. Tetapi sudah pasti bukan karena kehendaknya sendiri. Hal itu ternyata bahwa setelah kematian-kematian itu, orang itu dengan cepat menjadi kaya raya. Tetapi kekayaannya sama sekali tidak dapat memberikan ketenangan pada jiwanya. Justru jiwanya merasa selalu dikejar-kejar oleh dosa yang pernah dilakukannya itu.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka mempercayai keterangan orang tua itu. Karena itu, maka katanya, “Jika demikian orang yang mengupah orang itu masih harus dicari. Tetapi bukankah kita dapat mencurigai seseorang karena keadaan yang menyusul kemudian?”

“Kita dapat saja mencurigai seseorang. Tetapi kita tidak akan dapat bertindak apa pun terhadap orang itu tanpa bukti dan saksi atau pengakuannya sendiri. Bahkan pengakuan seseorang belum merupakan kepastian kebenaran. Mungkin saja seseorang mengaku melakukan kesalahan karena ia ingin menyelamatkan orang lain,” berkata orang tua itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun kemudian Mahisa Pukat pun bertanya, “Kakek, apakah masih ada orang lain yang seumur kakek yang kira-kira dapat memberikan keterangan lebih panjang?”

“Aku tidak yakin bahwa orang itu ada,” jawab kakek tua itu. “Aku adalah satu-satunya orang yang mendengarkan pengakuan orang yang telah meracuni kedua anak Ki Buyut tua itu. Karena itu tentu tidak ada keterangan yang dapat selengkap keteranganku.”

“Maksudku kek, apakah dari orang-orang itu akan didapat sedikit petunjuk tentang orang yang mengupah pembunuh itu,” berkata Mahisa Pukat.

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Sambil menggeleng orang tua itu menjawab, “Aku tidak tahu anak-anak muda.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun Mahisa Murti pun kemudian bertanya, “Bagaimana dengan keluarga orang yang meninggal itu? Apakah mungkin mereka tahu atau mendengar atau pernah melihat orang yang meninggal itu berhubungan dengan siapa saja?”

“Anak-anak muda,” berkata orang tua itu, “karena aku tidak pernah berniat untuk mengusutnya, maka aku tidak pernah mencoba mengetahuinya.”

“Baiklah kek. Biarlah aku mencobanya. Dua hari lagi Ki Buyut akan berbicara dengan kedua orang yang bermusuhan itu, yang ternyata keduanya adalah saudara sepupu,” berkata Mahisa Pukat.

“Sudahlah anak muda. Biarlah keterlibatanku sampai di sini saja. Seandainya aku tidak salah paham dan tahu bahwa tidak ada seorang pun yang mengirim kalian berdua menemui aku, maka aku tidak akan mengatakan seluruhnya yang aku ketahui kepada kalian,” berkata orang tua itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Mahisa Murti berkata, “Kami mengucapkan terima kasih kek. Tetapi yang kami ketahui itu tidak akan kami pergunakan untuk niat-niat buruk. Mudah-mudahan kami akan dapat membantu memecahkan persoalan ini.”

“Mudah-mudahan anak muda,” berkata orang tua itu.

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti justru merenungi persoalan yang mereka hadapi. Bahkan tiba-tiba saja, Mahisa Murti bertanya, “Kakek, apakah kakek masih bersedia menjawab, jika aku mengajukan satu pertanyaan lagi?”

Orang tua itu mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya pula, “bertanya apa lagi anak muda?”

Mahisa Murti memang menjadi ragu-ragu juga. Meskipun demikian ia pun telah bertanya pula, “Kakek. Semula kakek mengira bahwa seseorang telah mengirim kami menemui kakek. Hal ini sebenarnya telah menimbulkan pertanyaan di hati kami kek. Tentu ada seseorang yang mungkin melakukan hal itu. Jika tidak, maka kakek tidak akan pernah berpikir bahwa seseorang telah mengirimkan kami kepada kakek.”

“Tidak. Aku tidak pernah menduga seseorang akan melakukannya,” jawab kakek itu.

“Tetapi kakek dengan serta merta telah mempercayai kami sebelum kakek mempertanyakan tentang orang yang mengirim kami,” berkata Mahisa Murti pula.

Orang tua itu menggeleng. Tetapi sebelum orang tua itu menjawab, maka Mahisa Pukat telah mendahuluinya, “Agaknya memang masih ada yang kakek sembunyikan. Tetapi terserahlah kepada kakek. Apakah kakek akan membantu kami atau tidak. Apakah kakek ingin melihat persoalan yang selama ini membuat Kabuyutan kakek ini keruh, dapat diuraikan?”

Kakek tua itu tidak segera menjawab. Namun nampak betapa wajahnya dibayangi oleh kebingungan. Ia merasa sulit untuk memilih langkah yang paling tepat dilakukan.

“Sudahlah kek, jika kakek berkeberatan, kami tidak akan memaksa. Karena dengan demikian akan dapat membuat hati kakek tertekan. Keterangan yang kakek berikan sudah cukup luas dan cukup bagi kami untuk landasan usaha kami selanjutnya. Bahkan kakek sudah membuka jalan-jalan yang paling dekat untuk sampai kepada satu kesimpulan,” berkata Mahisa Murti kemudian.

Tetapi kakek tua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Anak-anak muda. Sebenarnya aku tidak ingin menyembunyikan sesuatu. Tetapi karena hal ini menyangkut keselamatan seseorang, maka aku menjadi ragu-ragu menyebutnya.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Dengan nada rendah Mahisa Murti pun kemudian bertanya, “Apakah keselamatan orang itu akan terancam?”

“Jika ia dianggap berkhianat, maka nyawanya akan terancam,” jawab orang tua itu.

“Tetapi kenapa kakek sendiri telah membuka satu rahasia, bahwa kedua anak Ki Buyut itu mati kena racun yang tidak dapat diketahui oleh orang lain? Bukankah dengan demikian, kakek juga dapat dianggap berkhianat apabila penyelidikanku nanti sampai pada hasil yang benar?” berkata Mahisa Murti.

“Aku sudah tua anak muda. Seandainya aku akan mati karena pengakuan ini, maka biarlah aku mati. Tetapi sedikit banyak, pengakuanku ini juga telah meringankan beban perasaanku. Sebenarnya aku juga selalu dibayangi oleh perasaan bersalah karena aku telah menyembunyikan satu kesalahan yang sepantasnya tidak terjadi,” jawab orang tua itu.

Kedua orang anak muda itu justru terdiam. Ternyata ia berhadapan dengan seorang tua yang merasa hidupnya telah dibebani oleh pengetahuannya tentang kecurangan yang telah terjadi di Kabuyutan itu.

“Anak-anak muda,” berkata orang tua itu kemudian, “aku bersedia menyebut orang itu. Tetapi kau harus melindunginya. Kau tidak boleh mengorbankan keselamatan seseorang untuk menyelesaikan persoalan yang menggelitik hatimu, meskipun usaha itu merupakan usaha yang luhur. Yang sangat berharga bagi Kabuyutan ini.”

“Kami akan berusaha kek. Kami tidak akan mempertaruhkan seseorang untuk kepentingan ini,” desis Mahisa Pukat.

“Baiklah,” orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian masih minum beberapa teguk minuman dari mangkuknya. Katanya, “Aku menjadi berdebar-debar, karena aku tidak yakin bahwa langkahku ini benar.”

“Kakek harus meyakinkan diri,” berkata Mahisa Murti, “tetapi sebenarnyalah kami berjanji untuk berbuat sebaik-baiknya bagi semua pihak.”

Orang tua itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya dengan suara yang sendat, “Anak-anak muda. Orang yang akan aku sebut namanya adalah seorang perempuan. Ia adalah adikku. Adik kandungku. Setelah suaminya meninggal maka hidupnya benar-benar tertumpu kepadaku. Sementara itu, dua anaknya yang tumbuh dewasa kurang dapat menempatkan dirinya. Seorang laki-laki dan seorang perempuan. Keduanya tumbuh dalam suasana yang serba kecukupan sehingga keduanya menjadi manja. Pada saat ayahnya meninggal maka seakan-akan hilanglah segala-galanya. Keduanya merasa dirinya kehilangan sandaran. Jika sebelumnya kedua anak-anak itu merasa dirinya anak seorang yang kaya dan berpengaruh, maka sepeninggal ayahnya, keduanya tiba-tiba telah menjadi sangat kecil. Mereka tidak mempunyai kepercayaan kepada diri mereka sendiri, karena segala-galanya adalah ayahnya. Mereka merasa seakan-akan orang-orang lain telah menyingkir dari mereka. Kawan-kawannya tidak lagi menghormatinya karena sebelumnya mereka hormat kepadanya karena pengaruh ayahnya. Tanpa ayahnya, maka kekayaan mereka tentu akan segera susut dan mereka takut menjadi melarat.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Hampir di luar sadarnya Mahisa Murti berkata, “Kasihan anak-anak muda yang demikian.”

“Karena itu aku iri hati melihat kalian berdua. Selisih umur kalian dengan kemenakanku itu tentu tidak terlalu banyak. Tetapi kalian berdua sudah nampak jauh lebih dewasa. Kalian memandang dunia ini seluas adanya. Bukan hanya sesempit pelukan ayah ibunya,” berkata orang tua itu.

Sementara itu, Mahisa Pukat telah berdesis meskipun ragu-ragu, “Adik kakek itukah isteri laki-laki yang meninggal enam bulan yang lalu setelah membuka rahasia hidupnya kepada kakek?”

“Kalian memang anak-anak muda yang cerdas. Sulit bagiku untuk bersembunyi dari pengamatan kalian,” berkata orang tua itu. Lalu katanya pula, “Karena itulah, maka ketika kalian bertanya apakah keluarga dari orang yang meninggal itu mengetahui serba sedikit tentang persoalannya, aku sudah menjadi berdebar-debar. Namun akhirnya segalanya memang harus aku katakan.”

“Jadi menurut pengamatan kakek, adik perempuan kakek itu mengetahui serba sedikit tentang kematian-kematian yang telah terjadi di Kabuyutan ini?” bertanya Mahisa Pukat.

Orang tua itu mengangguk. Tetapi katanya kemudian, “Namun seperti yang aku katakan, perempuan itu tentu memerlukan perlindungan.”

“Aku mengerti,” berkata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hampir berbareng.

Namun Mahisa Murti pun kemudian berdesis, “Apakah waktu yang diminta oleh Ki Buyut itu ada hubungannya dengan penghapusan jejak?”

Wajah Mahisa Pukat menegang. Tetapi keduanya tidak menunjukkan kegelisahan lebih lanjut, karena keduanya menyadari bahwa kakek tua itu tentu akan menjadi gelisah.

Tetapi pertanyaan Mahisa Murti yang mengalir begitu saja di sela-sela bibirnya telah didengar oleh kakek tua itu. Karena itu maka ia pun justru berkata dengan cemas, “Mungkin kalian benar. Ki Buyut akan dapat menghapuskan jejak.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Di luar dugaan kakek tua itu Mahisa Murti bertanya, “jadi kakek setuju?”

“Setuju tentang apa?” bertanya kakek tua itu.

“Bahwa Ki Buyut lah yang akan menghapuskan jejak?” Mahisa Murti melanjutkan pertanyaannya.

Kakek tua itu tersentak. Katanya, “Bagaimana kalian berhasil memancing keteranganku meskipun aku sudah menjadi sangat berhati-hati?”

“Sudahlah kek. Semuanya memang sudah jelas. Sebenarnya aku tidak memerlukan orang lain. Soalnya tinggal membuktikan apakah tuduhan-tuduhan itu benar. Tanpa bukti kita memang tidak akan dapat berbuat apa-apa,” berkata Mahisa Pukat.

“Tetapi aku tetap sependapat dengan anak-anak muda. Mungkin Ki Buyut akan berusaha menghapuskan jejak,” berkata kakek tua itu.

“Baiklah. Biarlah kami sekarang pergi ke rumah adik kandung kakek itu,” berkata Mahisa Murti.

“Marilah kita pergi. Tanpa aku, perempuan itu akan mati ketakutan. Tetapi apakah harus malam ini?” bertanya kakek tua itu.

“Kita tidak tahu, kapan Ki Buyut akan menghapus jejak itu. Bagaimana jika sekarang?” sahut Mahisa Murti. Tetapi ia pun berkata lebih lanjut, “Tetapi jika yang terjadi demikian, maka kesulitan adik perempuan kakek itu bukannya karena ia memberikan keterangan kepada kami. Tetapi Ki Buyut memang berniat menghapuskan jejak.”

“Aku mengerti, “desis kakek tua itu, “tetapi baiklah, kita pergi sekarang.”

“Bagaimana dengan rumah kakek?” bertanya Mahisa Pukat.

“Biar saja. Rumah ini tidak ada isinya yang berharga,” jawab kakek tua itu.

Dengan demikian maka mereka bertiga pun telah meninggalkan rumah kakek tua itu. Dengan hati-hati mereka telah menyusuri lorong-lorong sempit menuju ke rumah adik perempuan kakek tua yang telah memberikan beberapa keterangan tentang persoalan yang timbul di Kabuyutan itu.


Untunglah bahwa peristiwa yang terjadi di rumah Ki Buyut membuat padukuhan induk itu menjadi bagaikan ketakutan.

Anak-anak muda tidak berada di gardu-gardu. Bahkan para pengawal hanya berkumpul saja di halaman rumah Ki Buyut yang terasa gelisah.

Dengan demikian maka perjalanan mereka menyusup di jalan-jalan padukuhan tidak dilihat oleh para pengawal Kabuyutan itu. Bahkan anak-anak muda yang biasanya ikut meronda, sama sekali tidak melihat mereka, karena pada umumnya mereka tidak keluar dari rumah mereka. Dengan cemas mereka justru menutup pintu-pintu rumah mereka.

Orang-orang tua pun telah menjadi gelisah. Mereka telah mendengar apa yang terjadi di halaman rumah Ki Buyut. Menurut pengertian mereka, dua orang anak muda telah mengamuk.

Bahkan Ki Buyut dan para pengawal pribadinya tidak mampu mencegah mereka berdua, sehingga mereka berdua telah memaksa Ki Buyut untuk pergi ke padukuhan yang sedang dibagi oleh perpecahan itu.

Karena itu, maka perjalanan ketiga orang itu pun sama sekali tidak terganggu. Beberapa saat kemudian, maka ketiganya telah memasuki halaman rumah perempuan yang disebut sebagai adik kakek tua itu.

Kedatangan mereka memang sangat mengejutkan. Seandainya kakek tua itu tidak ikut bersama mereka, maka agaknya perempuan itu akan dapat menjadi sangat ketakutan. Sementara itu kedua anaknya sama sekali tidak dapat membantu ibunya, karena mereka berdua justru telah menjadi beban.

Tetapi ketika perempuan itu mengetahui bahwa yang datang adalah kakaknya, maka hatinya pun menjadi lega. Dadanya tidak lagi terasa terhimpit oleh kecemasan yang sangat.

Meskipun demikian perempuan itu tidak mau membuka pintu depan. Pintu pringgitan. Tetapi ia minta kakaknya itu masuk melalui seketheng kemudian lewat pintu samping.

Namun demikian perempuan itu terkejut juga ketika ia melihat kakaknya datang bersama dengan dua orang anak muda.

“Siapakah mereka kakang?” bertanya perempuan itu demikian pintu terbuka.

“Keduanya adalah anak muda yang telah mengajak Ki Buyut ke padukuhan yang terbelah itu,” jawab kakek tua itu.

“Jadi keduanya yang telah mengamuk di halaman rumah Ki Buyut dan memaksa Ki Buyut pergi bersama mereka?” bertanya perempuan itu.

“Mereka tidak mengamuk,” jawab kakek tua itu.

“Tetapi semua orang mengatakan, bahwa kedua anak muda itu telah mengamuk. Bukankah kakang tidak melihatnya?” berkata perempuan itu pula.

“Aku memang tidak melihat. Tetapi biarlah kami masuk dahulu,” sahut kakek tua itu.

Perempuan itu ragu-ragu. Tetapi kakek tua itu berkata, “Aku yang akan bertanggung jawab atas mereka berdua,” berkata kakek tua itu.

Akhirnya mereka bertiga pun telah masuk ke dalam rumah yang besar itu lewat pintu samping.

Ketika mereka bertiga telah duduk di ruang dalam, maka perempuan yang juga telah menunjukkan tanda-tanda ketuaannya itu bertanya, “Kenapa kakang datang malam-malam begitu? Kakang membuat aku terkejut dan sangat ketakutan.”

“Sehari aku bekerja di sawah. Karena aku tiba-tiba saja ingin menengokmu, maka aku datang di malam hari. Besok siang aku pun tidak akan sempat datang lagi menengokmu, karena kerjaku di sawah belum selesai,” jawab kakek tua itu.

Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sempat melihat keadaan di ruang dalam rumah yang besar itu. Adik kakek tua itu memang seorang yang kaya.

Tetapi nampaknya kekayaan itu tidak membuatnya bahagia. Bahkan ia selalu berada dalam ketakutan.

Tanpa diminta oleh kedua anak muda itu, kakek tua itu pun bertanya, “Kenapa nampaknya kau ketakutan?”

“Aku terkejut karena kedatangan kakang,” jawab perempuan itu.

“Kau memang terkejut. Tetapi juga ketakutan,” berkata kakek tua itu lagi.

Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Seperti kakang ketahui, aku telah hidup sendiri. Sebagai seorang janda yang kaya, aku memang selalu ketakutan. Tidak mustahil bahwa sekelompok perampok akan datang untuk merampokku. Karena itu, aku telah menempatkan kentongan itu di ruang dalam.”

Laki-laki tua itu mengangguk-angguk. Tetapi kemudian ia- pun bertanya, “Hanya karena perampokan? Nyai, baiklah aku berterus terang. Kami datang untuk satu keperluan yang penting. Karena itu berkatalah dengan jujur. Apakah kau ketakutan karena sebab yang lain?”

Perempuan itu memandangi kakaknya dengan ragu-ragu. Namun kemudian ia pun berkata dengan suara lemah, “Ya kakang. Aku selalu merasa ketakutan. Bukan saja sejak aku menjadi janda. Tetapi sejak sebelumnya hidupku telah goyah. Kami sekeluarga tidak pernah merasa tenang, sehingga pada suatu saat suamiku jatuh sakit dan meninggal.”

“Setelah ia mengungkapkan kegelisahannya kepadaku,” berkata kakek tua itu.

“Kakang,” potong perempuan itu sambil memandangi kedua anak muda yang datang bersama kakek tua itu.

“Mereka sudah tahu segala-galanya,” berkata kakek tua itu, “mereka justru datang untuk membantumu mengurangi kegelisahan dan ketakutanmu.”

“Maksudmu?” bertanya perempuan itu.

Kakek tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Bukankah kau merasa terancam oleh Ki Buyut?”

“Sudahlah kakang,” potong perempuan itu.

“Kau tidak usah berahasia lagi. Anak-anak muda itu sudah tahu segala-galanya,” berkata kakek tua itu.

Perempuan itu termangu-mangu. Ia memang tidak segera mengerti apa yang dikatakan oleh kakaknya itu. Karena itu, maka kakaknya pun kemudian berkata, “Kepada kedua anak muda itu kita tidak usah menyembunyikan kenyataan yang telah terjadi. Kau tidak perlu menyembunyikan kesalahan suamimu yang telah menerima upah untuk membunuh kedua anak Ki Buyut tua. Tingkah lakunya yang tidak terpuji itu harus ditebusnya dengan seluruh sisa hidupnya, karena ia dan bahkan seluruh keluarganya, termasuk kau dan anak-anakmu, tidak pernah lagi menikmati hidup ini. Suamimu selalu diburu oleh dosa-dosa yang pernah dilakukannya, sehingga pada suatu saat, suamimu harus mengurangi beban deritanya dan mengatakan persoalannya kepadaku.”

“Ya kakang,” jawab perempuan itu.

“Sekarang, kau yang ditinggalkan masih juga selalu dibayangi oleh kecemasan karena hidupmu rasa-rasanya terancam oleh Ki Buyut yang ingin menyembunyikan rahasianya,” berkata kakek tua itu.

“Ya kakang,” berbicara perempuan itu, “apalagi ketika aku mendengar bahwa kedudukan Ki Buyut dipersoalkan. Menurut pendengaranku, dari tetangga di sebelah Ki Buyut akan dipertemukan dengan kedua orang kemanakannya yang telah saling bermusuhan di sebuah padukuhan yang dahulu justru merupakan padukuhan induk.”

“Ya. Ki Buyut memang sedang gelisah. Dua hari lagi ia akan mengadakan pertemuan dengan kedua orang kemanakannya itu,” berkata kakek tua itu, “sehingga kemungkinan bahwa Ki Buyut akan menghilangkan jejak itu menjadi semakin kuat.”

“Jika demikian, bagaimana dengan aku dan anak-anakmu itu kakang? Apakah sebaiknya aku pergi saja jauh-jauh bersama kedua anak-anakmu itu? Rumah, harta benda dan kekayaan yang diterima sebagai upah ini tidak akan berarti apa-apa. Kekayaan ini sama sekali tidak mendatangkan ketenangan dan kedamaian hati,” berkata perempuan itu.

“Kau tidak usah melarikan diri ke mana-mana. Aku justru akan berada di sini bersama kedua orang anak muda ini,” berkata kakek tua itu. Namun kemudian katanya, “Tetapi, apakah kau dapat mengatakan, apakah yang mengupah suamimu untuk membunuh kedua anak Ki Buyut tua itu benar-benar Ki Buyut yang sekarang? Atau orang lain yang mempunyai kepentingan dengan Ki Buyut? Aku tahu bahwa kau mengerti persoalannya dengan pasti, karena kau mendengar pembicaraan mereka waktu itu. Tetapi agaknya suamimu masih melindungi nama seseorang.”

“Jangan kau tanyakan kepadaku kakang. Aku adalah seorang perempuan yang tidak tahu apa-apa. Aku akan mengikuti saja keputusan suamiku,” berkata perempuan itu.

“Aku tahu, bahwa suamimu telah berbicara denganmu waktu itu. Kau setuju karena kau tidak kuat mengalami kesulitan hidup yang menekan. Pengetahuan suamimu tentang obat-obatan dan racun telah menyeret suamimu ke dalam dosa itu,” berkata kakek tua itu.

Perempuan itu mulai menangis.

Sementara itu kakek tua itu pun berkata, “Jangan menangis. Kau harus berterima kasih kepada kedua orang anak muda itu.”

“Kakang,” desis perempuan itu di sela-sela isak tangisnya, “jika kakang menganggap demikian, maka biarlah aku mengatakannya.”

“Katakan,” berkata kakek tua itu, “siapa saja yang telah datang kepada suamimu ketika mereka minta agar suamimu membunuh kedua anak Ki Buyut itu dengan racun berturut-turut?”

“Ki Buyut yang sekarang memang datang kemari. Tetapi selain Ki Buyut telah datang pula ayah Ki Buyut itu. Orang itulah yang nampaknya memegang peranan atas rencana yang kemudian berlaku. Ki Buyut yang waktu itu belum menjabat, justru merasa agak ketakutan. Tetapi ayahnya mendesaknya dan ia tidak dapat menentangnya,” berkata perempuan itu. Lalu, “Ayah Ki Buyut itu memang seorang yang kaya. Dari segi kekayaan, maka jabatan Buyut bagi anaknya tidak akan banyak berpengaruh. Tetapi yang dikehendakinya adalah kedudukan yang akan dapat menjamin hari depan cucu-cicitnya karena kedudukan Buyut itu turun temurun.”

Kakek tua itu mengangguk-angguk. Kemudian katanya kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, “Nah, bukankah sudah jelas. Ternyata Ki Buyut itu sendiri bukan orang yang utama, yang merencanakan pembunuhan-pembunuhan itu. Tetapi kemudian ia telah hanyut ke dalam tingkah laku yang tidak sepantasnya bagi seorang Bapa bagi Kabuyutan ini. Pertentangan yang tidak berkesudahan itu tentu sudah diatur pula oleh Ki Buyut justru untuk memperkuat kedudukannya.”

“Kek,” sahut Mahisa Murti, “masih perlu dipertanyakan. Apakah benar Ki Buyut berniat berbuat demikian, atau orang-orang yang ada di sekitarnyalah yang telah mengaturnya demikian.”

Kakek tua itu termangu-mangu. Tetapi kemudian katanya, “Ternyata penalaranmu memang lebih tajam dari aku, meskipun aku sudah tua dan memiliki pengalaman yang luas sebagai bebahu di Kabuyutan ini.”

“Siapakah Ki Bekel yang berada di rumah Ki Buyut itu?” bertanya Mahisa Pukat.

Kakek tua itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat. Ki Bekel yang di rumah Ki Buyut itu adalah kepercayaan ayahnya. Menurut pendengaranku, ia adalah adiknya.”

“Maksud kakek, Ki Bekel itu adalah paman Ki Buyut?” bertanya Mahisa Pukat pula.

“Ya. Karena itulah maka aku sependapat, nampaknya orang-orang di sekitar Ki Buyut itu pun ikut menentukan,” berkata kakek tua itu.

“Kalau begitu, maka sebaiknya kita berada di sini. Jika tidak malam ini, maka besok mereka tentu akan datang,” berkata Mahisa Pukat.

Kakek tua itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Ki Buyut tentu telah melaporkan persoalannya kepada ayahnya. Bahkan sebelum Ki Buyut, Ki Bekel tentu telah menyampaikannya lebih dahulu.”

“Di mana rumah ayah Ki Buyut itu?” bertanya Mahisa Pukat.

“Di padukuhan di ujung Kabuyutan ini,” jawab kakek tua itu, “tetapi berhati-hatilah. Jika Ki Buyut itu telah menyeret ayahnya ke dalam persoalan ini, maka kalian harus benar-benar bersiap. Ayah Ki Buyut itu adalah salah satu dari dua orang kembar dampit. Seorang laki-laki dan seorang perempuan. Tetapi yang perempuan ternyata tidak mempunyai anak meskipun ia sudah kawin berpuluh tahun. Karena itu, maka Ki Buyut itu telah diakunya sebagai anaknya pula.”

“Kenapa aku harus berhati-hati terhadap ayah dan bibi Ki Buyut?” bertanya Mahisa Pukat pula.

“Keduanya adalah orang yang berilmu tinggi,” jawab kakek tua itu, “meskipun keduanya sudah tua, tetapi keduanya masih mampu menunjukkan kelebihannya.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Murti berkata, “Anaknya telah menjadi seorang Buyut. Memang orang itu tentu sudah tua.”

“Memang sudah tua, tetapi tubuh mereka masih menunjukkan kemampuan yang tersimpan di dalam dirinya. Karena itu, berhati-hatilah. Mereka tidak akan menunggu sampai terlambat. Karena itu, jika mereka menganggap perlu menghilangkan jejak, maka malam ini mereka agaknya akan datang,” berkata kakek tua itu.

“Kakang,” perempuan itu menjadi semakin ketakutan.

Tetapi kakek tua itu berkata, “Apa pun yang terjadi. Aku ada di sini.”

“Sudahlah,” berkata Mahisa Murti, “silahkan beristirahat. Rumah ini harus nampak sepi. Jika mereka benar-benar datang, mereka tidak akan mengurungkan niatnya karena mereka mengetahui bahwa di sini ada orang lain.”

Kakek tua itu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Tidurlah. Kami akan berjaga-jaga.”

“Aku takut kakang,” desis perempuan itu.

“Jangan takut. Di mana anak-anakmu?” bertanya kakek tua itu.

“Mereka sudah tidur,” jawab perempuan itu.

“Tidurlah bersama anakmu. Biarlah kami menunggu. Percayalah kepada kami,” berkata kakek tua itu.

Perempuan itu pun kemudian dengan ragu-ragu telah pergi ke bilik anak-anaknya. Meskipun mereka sudah meningkat menjelang dewasa, tetapi mereka adalah beban bagi ibunya.

Sementara itu, kakek tua bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tetap berada di ruang dalam. Mereka telah memadamkan lampu minyak, sehingga ruang itu menjadi gelap. Hanya di bilik sajalah yang nampak terang, selain justru diluar. Di Pringgitan rumah itu di setiap malam memang selalu dinyalakan lampu minyak.

Sejenak kemudian rumah itu benar-benar menjadi sepi. Rasa-rasanya suara nafas pun tidak terdengar. Apalagi mereka yang berada di ruang dalam.

Ternyata bahwa kakek tua itu justru telah tertidur. Untunglah bahwa kakek tua itu sama sekali tidak mendengkur, sehingga dalam tidur justru suara nafasnya tidak begitu terdengar lagi. Bahkan tidak dapat dibedakan antara tarikan nafas orang lain atau penghuni rumah itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang heran. Justru mereka berdua yang menjadi gelisah dan tidak akan mungkin dapat tidur meskipun keduanya berjanji untuk bergantian berjaga-jaga.

Tetapi keduanya tidak berbicara apa pun juga. Keduanya justru telah bersandar tiang sambil duduk diatas sebuah amben bambu yang memang agak besar.

Meskipun sampai lewat tengah malam tidak terjadi sesuatu, namun kedua anak muda itu seakan-akan sama sekali tidak mengantuk. Keduanya masih duduk saja bersandar tiang tanpa berbicara apa pun juga. Bahkan keduanya telah mempertajam pendengaran mereka kalau-kalau terdengar sesuatu di luar rumah itu.

Beberapa saat kemudian terdengar ayam jantan berkokok di kejauhan. Beberapa saat kemudian maka dini hari akan segera turun. Tetapi tidak terdengar sesuatu yang mencurigakan.

Pada saat dinginnya malam mulai menusuk tulang, maka Mahisa Pukat tiba-tiba saja telah menguap. Dengan hati-hati ia telah berbaring sambil memberi isyarat agar Mahisa Murti tetap berjaga-jaga.

Mahisa Murti yang memang tidak mengantuk telah mengangguk. Ia akan berjaga-jaga sampai menjelang pagi. Jika tidak terjadi sesuatu, maka ia akan minta Mahisa Pukat bergantian bangun meskipun waktunya tinggal sedikit.

Namun justru pada saat Mahisa Pukat mulai memejamkan matanya, Mahisa Murti telah mendengar sesuatu yang mencurigakan di sudut rumah itu. Karena itu, maka ia justru menggamit Mahisa Pukat dan memberi isyarat agar ia berdiam diri saja.

Mahisa Pukat telan memaksa matanya terbuka, ia memaksa pula mempertajam pendengarannya. Sebenarnyalah ia pun telah mendengar sesuatu.

Mahisa Pukat berusaha untuk mendengar suara itu. Nampaknya suara itu memang bergerak dari sudut rumah, menuju ke pintu butulan.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dapat membayangkan di mana sumber bunyi itu berada. Dengan demikian maka perhatian mereka pun telah mereka tujukan sepenuhnya ke arah sumber bunyi yang ternyata bergerak itu.

Beberapa saat kemudian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mendengar dinding di sebelah telah diraba oleh tangan seseorang. Dengan demikian maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengetahui bahwa seseorang telah berada di longkangan. Nampaknya orang itu telah mendekati pintu butulan.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bagaikan menghentikan pernafasan mereka. Apalagi ketika pintu butulan itu mulai bergerak-gerak.

Namun sejenak kemudian, terdengar langkah seseorang justru menjauh.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat seakan-akan telah mendapat kesempatan untuk turun dari amben itu dan bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.

“Bagaimana dengan kakek tua itu?” Mahisa Pukat berbisik.

“Kita bangunkan sekarang agar ia tidak melakukan sesuatu yang justru dapat merugikan tanpa sengaja jika orang itu dibiarkan tidur,” sahut Mahisa Murti.

Mahisa Pukat lah yang kemudian dengan sangat berhati-hati membangunkan orang tua itu. Demikian orang tua itu bangkit, maka Mahisa Pukat pun berbisik, “berhati-hatilah.”

Agaknya orang tua itu mengerti apa yang telah terjadi. Karena itu maka ia pun telah turun pula dari amben dengan sangat berhati-hati.

Beberapa saat ketiga orang itu menunggu. Ternyata bahwa yang mereka tunggu itu akhirnya telah datang pula.

Di longkangan memang telah terdengar langkah beberapa orang. Tidak hanya seorang. Mereka nampaknya langsung menuju ke pintu. Mereka sama sekali tidak berusaha untuk menghapuskan suara langkah mereka di longkangan.

Sesaat kemudian mereka telah berhenti di depan pintu butulan. Tanpa menunggu lagi, maka segera terdengar pintu butulan itu diketuk orang.

Diam-diam kakek tua itu pun telah pergi ke bilik adiknya. Ternyata perempuan itu memang belum tidur. Tetapi tubuhnya justru telah menggigil ketakutan. Apalagi ketika didengarnya pintu butulan telah diketuk orang.

“Jawablah,” berkata kakek itu sangat perlahan di telinga adiknya.

“Aku takut kakang,” desis perempuan itu.


“Jangan takut,” kakek tua itu berbisik, “kedua anak muda itu ada di ruang dalam.”

Perempuan itu termangu-mangu. Sementara itu telah terdengar lagi ketukan di pintu butulan itu.

Ternyata bahwa sejenak kemudian, terdengar perempuan yang ada di dalam biliknya itu menyapa, “Siapa di luar?”

“Aku Nyi,” sahut orang yang mengetuk pintu, “bukalah.”

“Sudah terlalu malam Ki Sanak,” berkata perempuan itu pula, “kenapa tidak besok saja?”

“Aku ingin berbicara sedikit Nyi,” berkata suara itu pula.

“Aku mohon datanglah besok siang,” jawab perempuan itu.

Tetapi terdengar jawaban, “Bukalah pintu. Aku hanya ingin menyampaikan pesan sedikit. Tetapi sangat penting bagimu Nyi. Bagi keselamatanmu.”

“Maaf Ki Sanak,” berkata perempuan itu dari biliknya dengan suara yang cukup keras, namun bergetar, “aku tidak dapat menerima kalian malam-malam begini. Bukan waktunya untuk datang ke rumah seseorang.”

“Nyi,” terdengar suara di luar pintu, “sebenarnya aku tidak perlu minta ijin kepadamu. Aku dapat membuka pintu ini sendiri dan masuk sesuai dengan keinginanku. Kau tidak dapat menolakku. Tetapi daripada pintumu rusak, biarlah kau membukakannya.”

Perempuan itu tidak menjawab lagi. Tetapi terdengar langkah menuju ke pintu.

Namun kakek tua itulah yang sebenarnya menuju ke pintu butulan, sementara adiknya masih tetap berada di dalam biliknya. Bahkan perempuan itu telah menutup dan menyelarak pintu biliknya dari dalam.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian telah berdiri di sebelah menyebelah pintu itu pada jarak yang cukup. Mereka siap untuk berbuat sesuatu jika diperlukan.

Sesaat kemudian, maka kakek tua itu telah membuka selarak pintu perlahan-lahan. Namun demikian selarak itu terlepas, ternyata bahwa orang yang ada diluar tidak sabar lagi. Dengan kuatnya pintu lereg itu telah didorong ke samping sehingga terbuka lebar-lebar.

Beberapa orang dengan serta merta telah meloncat masuk. Namun agaknya kakek tua itu sudah memperhitungkannya, sehingga karena itu maka ia pun telah bertindak cepat. Demikian selarak pintu terbuka, maka ia pun dengan cepat telah meloncat ke samping.

Ternyata bahwa ruang tengah yang gelap itu telah membantu mereka. Beberapa orang yang meloncat masuk itu untuk beberapa saat masih harus menyesuaikan diri. Apalagi diluar pintu justru telah diterangi oleh lampu minyak di sudut rumah itu.

“He, di mana kau Nyi?” terdengar suara yang berat.

Kakek tua yang telah berdiri di sebelah Mahisa Murti itu termangu-mangu. Namun ia memang harus menarik perhatian.

Karena itu, maka ia pun telah menggamit Mahisa Murti serta menariknya ke pintu.

Mahisa Murti mengerti maksud kakek tua itu. Karena itu, mereka justru telah bergeser ke pintu dan meloncat keluar.

Orang-orang yang sudah berada di ruang dalam itu terkejut. Mereka pun dengan tergesa-gesa telah kembali menghambur keluar.

Mahisa Pukat yang masih berada didalam tidak bergesar dari tempatnya. Ia tidak ikut meloncat keluar. Tetapi ia menunggu perkembangan kemudian.

Yang dilakukan kemudian hanyalah perlahan-lahan bergeser mendekati pintu butulan yang terbuka. Dengan sangat berhati-hati ia menjenguk keluar. Ternyata bahwa Mahisa Murti dan kakek tua itu berdiri di tengah-tengah longkangan berhadapan dengan empat orang yang berpencar. Tidak seorang pun lagi yang berada di pintu butulan itu. Agaknya orang-orang itu mengira bahwa di dalam rumah itu sudah tidak ada orang lagi yang tinggal.

Dengan demikian, maka Mahisa Pukat yang ada didalam kegelapan itu justru dapat mengamati apa yang terjadi di longkangan tanpa dilihat oleh orang-orang yang diamatinya, karena justru longkangan rumah itu diterangi oleh lampu minyak di sudut rumah.

Ketika keempat orang itu bergerak, maka dalam keremangan cahaya lampu minyak yang terletak agak jauh, Mahisa Pukat mencoba mengenali orang-orang itu. Tetapi dua orang ternyata membelakangi sehingga Mahisa Pukat tidak dapat melihat wajah mereka. Sedangkan yang dua, nampak dari samping.

Mahisa Pukat segera mengenali mereka. Seorang di antara mereka adalah Ki Buyut sedangkan yang lain adalah Ki Bekel. Penglihatannya itu ternyata dikuatkan oleh sapaan Mahisa Murti di luar, “Selamat malam Ki Buyut dan Ki Bekel. Ternyata kita bertemu lagi di sini.”

Wajah Ki Buyut menjadi pucat. Tenaganya memang masih belum pulih kembali, sementara itu ia telah bertemu lagi dengan anak muda yang menggetarkan jantungnya itu.

“Siapakah orang itu?” bertanya laki-laki yang membelakangi pintu butulan.

“Anak itulah yang aku katakan telah mengamuk di rumahku ayah,” jawab Ki Buyut.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa orang itu adalah ayah Ki Buyut sebagaimana pernah disebut oleh kakek tua itu. Sedangkan yang seorang lagi Mahisa Pukat langsung dapat menebaknya, bahwa ia tentu saudara kembar dampit dari ayah Ki Buyut itu.

“Luar biasa,” berkata Mahisa Pukat didalam hatinya, “kedua orang itu tentu sudah tua. Tetapi tubuhnya dan geraknya masih menunjukkan kesigapan seorang yang berilmu tinggi.”

Sementara itu terdengar laki-laki itu berkata, “Jadi anak inilah yang telah mengguncang ketenangan hidup di kabuyutan ini? Anak muda yang memiliki kemampuan ilmu yang sangat tinggi.” Namun kemudian ia pun telah bertanya, “Tetapi di manakah yang seorang lagi? Bukankah anak muda yang kau katakan itu berdua?”

“Ya,” jawab Ki Buyut, “aku tidak tahu di mana yang seorang lagi menyembunyikan dirinya.”

Mahisa Murti dan kakek tua itu tidak mengatakan sesuatu tentang Mahisa Pukat. Namun yang ditanyakan oleh Mahisa Murti kemudian adalah, “Apakah maksud kalian datang kemari?”

Ki Buyut dan Ki Bekel justru terdiam. Mereka memandang kedua orang laki-laki dan perempuan yang menyertai mereka.

Karena Ki Buyut dan Ki Bekel berdiam diri, maka laki-laki yang membelakangi pintu butulan, yang ternyata adalah ayah Ki Buyut itu berkata, “Baiklah anak muda. Agaknya kau sudah tahu apa yang terjadi di sini. Karena itu, kau telah berada di rumah ini untuk melindungi seorang perempuan yang telah berkhianat dan mencoba memfitnah kami.”

“Fitnah apa?” bertanya Mahisa Murti, “kau belum tahu apa yang diceriterakan kepada kami.”

“Sudahlah. Jangan menganggap aku terlalu bodoh tanpa dapat mengetahui langkah-langkah yang kau ambil,” berkata laki-laki yang disebut ayah itu.

“Jika demikian maka kita tidak usah bertanya-tanya lagi. Sekarang, kau mau apa?” bertanya Mahisa Murti.

Pertanyaan itu justru telah menggetarkan jantungnya. Namun ia menjawab dengan garang pula, “Kami datang untuk membunuh perempuan itu. Kematiannya akan menghapus jejak yang pernah kami lakukan. Tetapi karena kau ada di sini bersama kakak perempuan itu, maka kalian semua juga akan mati.”

“Bagaimana jika kalian yang mati?” bertanya Mahisa Murti.

“Persetan,” geram ayah Ki Buyut, “bersiaplah. Kami akan segera mulai. Kami akan membunuh kalian, mencincangnya dan menguburnya di sini juga. Dengan demikian maka tidak ada orang yang tahu apa yang pernah terjadi di sini.”

Mahisa Murti memang sudah siap. Ia pun kemudian berkata kepada kakek tua itu, “minggirlah. Biar aku selesaikan kedua orang ini. Kau tidak perlu cemas dengan Ki Buyut kek. Tenaganya masih belum pulih kembali. Ia masih terlalu lemah, sehingga jika ia membawa senjata, maka ia tidak akan kuat lagi mengangkatnya.”

Kakek tua itu mengangguk-angguk. Hampir di luar sadarnya ia berkata, “Baiklah. Jika kemudian ternyata Ki Bekel juga akan ikut campur, maka meskipun aku sudah terlalu tua, tetapi aku masih sanggup melawannya.”

“Bagus. Tetapi berhati-hatilah. Bukankah Ki Buyut dan Ki Bekel terlalu lemah untuk berani berbuat sesuatu?” sahut Mahisa Murti.

Kedua orang laki-laki dan perempuan itu ternyata mulai bergeser. Sementara itu kakek tua itu pun mulai menjauh. Tetapi ia yang memperhatikan batang-batang perdu yang ditanam sebagai pohon hias di longkangan yang roboh disentuh oleh kaki-kaki mereka yang sudah siap untuk bertempur.

Tetapi kakek tua itu tidak dapat mencegahnya. Apalagi ketika mereka benar-benar mulai bertempur.

Yang mula-mula meloncat menyerang adalah laki-laki yang disebut ayah oleh Ki Buyut itu. Laki-laki tua namun geraknya masih secekatan burung sikatan menyambar bilalang. Tangannya terayun mendatar di saat tubuhnya meloncat ke depan.

Tetapi Mahisa Murti memang sudah bersiap sepenuhnya. Ia dengan tangkas pula telah menghindari serangan itu. Satu loncatan kecil telah membebaskannya dari sentuhan tangan orang tua itu. Namun ayunan tangan yang menggetarkan udara itu seakan-akan telah memberikan peringatan kepadanya, bahwa ayah Ki Buyut itu tentu memiliki kemampuan melampaui Ki Buyut sendiri. Sehingga dengan demikian, maka Mahisa Murti harus berhati-hati.

Sementara itu perempuan tua yang merupakan saudara kembar dampit dari ayah Ki Buyut itu masih saja belum melibatkan diri meskipun ia bergeser beberapa langkah ke samping serta seakan-akan telah siap pula untuk menerkam.

Kakek tua yang mengajak Mahisa Murti datang ke rumah itu pun menjadi semakin berhati-hati. Meskipun ia nampaknya lebih tua dari ayah Ki Buyut itu, tetapi agaknya ia tidak akan berdiam diri jika keadaan memang memaksa.

Untuk beberapa saat lamanya Mahisa Murti telah melayani ayah Ki Buyut itu. Semakin lama maka pertempuran itu pun menjadi semakin cepat. Ayah Ki Buyut telah meningkatkan ilmunya semakin tinggi. Namun ia sama sekali tidak mampu untuk menekan Mahisa Murti. Bahkan rasa-rasanya semakin tinggi ia meningkatkan ilmunya, maka ilmu anak muda itu selalu ada pada tataran yang sama.

Pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin sengit. Ayah Ki Buyut itu berusaha untuk dengan segera mengalahkan lawannya yang masih muda itu. Ayah Ki Buyut itu menganggap bahwa pengalamannya tentu jauh lebih banyak dari pengalaman anak muda itu. Sehingga meskipun darah kemudaan lawannya itu masih bergelora, namun justru ia akan dengan mudah menemukan titik-titik kelemahannya.

Tetapi ternyata yang terjadi adalah jauh dari dugaannya itu. Anak muda itu mampu mengimbangi ilmunya yang telah dikembangkannya berdasarkan pengalamannya yang panjang itu. Bahkan kadang-kadang kemampuan anak muda itu terasa telah mendesaknya.

Karena itu maka orang tua itu tidak lagi berniat untuk mengekang diri. Ia memang berniat untuk membunuh semua orang yang ditemuinya di rumah itu. Sambil menggeram maka ia pun telah mengambil jarak dari lawannya. Namun ternyata orang tua itu berusaha mengambil kesempatan untuk mencapai tataran ilmunya yang dibanggakannya.

Mahisa Murti melihat sikap orang tua itu. Dengan demikian maka ia pun menyadari, bahwa orang tua itu akan meningkatkan ilmunya sampai ke tataran yang terbaik.

Dengan demikian maka Mahisa Murti pun telah mempersiapkan diri pula untuk menghadapi segala kemungkinan.

Tetapi sebelum ayah Ki Buyut itu bertempur kembali, maka tiba-tiba saja ia berteriak, “Tinggalkan aku. Cari perempuan itu. Ia harus mati lebih dahulu dari yang lain. Jika ada orang lain di rumah itu, maka kau harus membunuhnya pula.”

Semua orang tahu, bahwa perintah itu ditujukan kepada saudara perempuannya, yang semula sudah siap untuk bertempur. Sementara itu perempuan tua yang garang itu pun telah bergeser pula mendekati pintu butulan.

“Jangan masuk,” teriak kakek tua.

Namun demikian kakek tua itu bergerak, maka Ki Buyut dan Ki Bekel pun telah mendekatinya.

“Kau tidak akan berdaya apa pun Ki Buyut,” berkata kakek tua itu, “dengan sentuhan satu jari kau akan terjatuh.”

“Keadaanku sudah berangsur baik,” berkata Ki Buyut. Sementara itu Ki Bekel berkata, “Aku sehat sepenuhnya. Akulah yang akan membunuhmu.”

Tetapi kakek tua itu tertawa. Katanya, “jangan berpura-pura seperti itu. Kau mengenalku dengan baik, meskipun umurmu belum setua aku. Kau dapat bertanya kepada dirimu sendiri, apakah kira-kira kau dapat mengalahkan aku. Meskipun aku sudah terlalu tua menurut ukuranmu, tetapi aku masih mampu membajak sawahku yang beberapa kotak itu tanpa bantuan orang lain.”

Ki Bekel termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Aku memang sudah mengira bahwa kau tentu akan turut campur. Tetapi kau tidak akan mendapat kesempatan kali ini.”

“Jangan mengigau seperti itu,” berkata kakek tua itu.

Namun dalam pada itu, ayah Ki Buyut itu mengulangi perintahnya, “Cepat. Jangan hiraukan orang tua gila itu.”

Saudara perempuannya itu memang tidak menunggu lagi. Ia pun dengan serta merta telah meloncat berlari ke pintu butulan.

Tetapi tiba-tiba saja ia telah terdorong keluar dan bahkan diluar dugaannya, maka perempuan itu telah jatuh terguling di tanah. Hanya karena kemampuannya yang tinggi, maka dengan tangkasnya ia telah melenting berdiri.

“Setan alas,” perempuan itu mengumpat. Sementara itu ayah Ki Buyut itu pun terkejut pula.

Sejenak kemudian, maka dari pintu butulan itu melangkah keluar seorang anak muda yang lain, yang telah menjadi pusat perhatian bersama anak muda yang telah bertempur melawan ayah Ki Buyut di Kabuyutan itu.

“Kau curang,” geram perempuan itu, “jika kau memang seorang laki-laki, maka kau tidak akan menyerang dari persembunyianmu seperti itu.”

Tetapi Mahisa Pukat tertawa. Katanya, “Kau kira kau dan ayah Ki Buyut itu tidak berbuat curang? Bukan hanya kali ini, tetapi sejak semula kau memang sudah curang.”

Wajah perempuan itu menjadi tegang. Sekilas ia berpaling kepada saudara kembarnya.

Ternyata saudara kembarnya itu telah menggeram, “Setan kau anak iblis. Jangan banyak cakap. Sebentar lagi kau akan mati. Semua orang yang ada di rumah ini pun akan kami bunuh.”

“Kau salah Ki Sanak,” jawab Mahisa Pukat, “kami akan menyelesaikan persoalan yang timbul di Kabuyutan ini. Bagi kami semuanya sudah jelas. Karena itu, menyerahlah. Kalian tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mengelakkan tanggung jawab kalian.”

“Tutup mulutmu,” potong laki-laki tua itu. Lalu katanya kepada saudara kembarnya, “Kita bunuh semuanya sekarang.”

Perempuan tua yang ternyata juga memiliki ilmu yang tinggi itu pun segera bersiap. Sementara saudaranya akan menghadapi Mahisa Murti, maka ia pun telah siap menghadapi Mahisa Pukat.

Demikianlah, maka sejenak kemudian mereka pun telah bertempur kembali. Dengan garangnya perempuan tua itu telah menyerang Mahisa Pukat. Namun seperti saudaranya yang laki-laki, maka Mahisa Pukat berhasil mengimbangi kegarangannya, sehingga serangan-serangannya tidak dapat menyentuh tubuh anak muda itu.

Dalam pada itu, ayah Ki Buyut memang telah berusaha untuk mencapai tataran ilmu kebanggaannya. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia telah melenting dengan cepatnya. Tubuhnya menjadi ringan seperti kapas. Loncatan-loncatan panjang telah membuatnya Mahisa Murti kadang-kadang kehilangan jejak.

Mahisa Murti ternyata beberapa kali dapat dibingungkan oleh gerak lawannya. Sekali menyerang, kemudian meloncat menjauh. Namun tiba-tiba saja bagaikan terbang orang tua itu menyambarnya dengan tangan terayun mendatar. Dengan tergesa-gesa setiap kali Mahisa Murti harus menghindari serangan-serangan itu. Namun ternyata serangan itu mengalir seperti ombak di lautan. Terus menerus, susul menyusul menghantam tebing.

Semakin lama Mahisa Murti memang menjadi semakin bingung. Orang tua itu bergerak semakin cepat. Betapa pun Mahisa Murti mengerahkan tenaga cadangannya, namun kecepatan geraknya tidak dapat mengimbangi kecepatan gerak lawannya. Bahkan sekali dua kali serangan lawannya itu telah mengenai tubuhnya.

Tetapi bagi Mahisa Murti, ternyata sentuhan-sentuhan tangan dan kaki lawannya tidak terlalu berbahaya baginya. Meskipun terasa juga sakit, tetapi ketahanan tubuhnya mampu mengatasi rasa sakit itu. Karena itu, Mahisa Murti tidak menjadi kehilangan akal. Ia masih sempat membuat pertimbangan-pertimbangan yang mapan untuk mengatasi kebingungannya karena arah lawannya yang tiba-tiba berubah. Mahisa Murti masih sempat memperhitungkan kemampuan lawannya yang karena bergerak terlalu cepat, maka pengerahan tenaganya justru menjadi susut, sehingga serangannya yang membingungkan itu tidak dapat didukung oleh pengerahan tenaga sepenuhnya.

Untuk mengatasi keadaan itu, maka Mahisa Murti tidak lagi berniat untuk menghindari setiap serangan. Ia akan membenturkan kekuatannya melawan setiap serangan yang datang. Mahisa Murti merasa bahwa tenaganya masih cukup kuat untuk melakukannya.

Sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti pun kemudian tidak lagi berusaha untuk membenturnya dan melawan kekuatan dengan kekuatan.

Ternyata bahwa kekuatan Mahisa Murti masih mampu mengatasi kekuatan lawannya. Lawannya yang semula menduga bahwa anak muda itu menjadi kebingungan dan kehilangan akal, ternyata tidak demikian. Mahisa Murti telah mencoba untuk beradu kekuatan pada benturan-benturan yang terjadi kemudian.

Di lingkaran pertempuran yang lain, Mahisa Pukat tidak banyak mengalami kesulitan pula. Ketika ia melihat Mahisa Murti selalu membenturkan kekuatannya melawan serangan-serangan lawannya maka ia mula-mula mengira bahwa saudaranya telah mempergunakan ilmunya yang menggetarkan itu. Menghisap kekuatan lawannya.

Tetapi ternyata bahwa kekuatan lawannya sama sekali tidak berubah, sehingga Mahisa Pukat pun mengetahui, bahwa Mahisa Murti hanya membentur saja serangan-serangan lawannya dengan kekuatannya.

Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat pun sudah memperhitungkan, bahwa pada suatu saat, lawannya itu pun tentu akan mempergunakan ilmu yang sama dengan saudara kembarnya, karena menilik unsur-unsur gerak kedua orang itu, maka mereka telah berguru pada orang yang sama yang memberikan ilmu yang sama pula.

Sebenarnyalah, ketika perempuan tua itu tidak juga segera dapat mengatasi lawannya, maka tiba-tiba saja ia pun telah melenting mengambil jarak.

Mahisa Pukat pun segera mengetahui bahwa lawannya itu tentu akan mempersiapkan diri sebagaimana dilakukan oleh saudara kembarnya. Karena itu, maka Mahisa Pukat pun telah bersiap-siap menghadapi kemungkinan itu. Nampaknya cara yang dilakukan oleh Mahisa Murti mampu mengatasi kesulitan yang dialaminya karena kecepatan gerak lawannya, bahkan membingungkannya.

Itulah sebabnya maka Mahisa Pukat justru telah menghimpun tenaganya untuk melawan perempuan tua yang garang itu.

Ketika kemudian perempuan itu siap dengan ilmunya, maka ia pun dengan kecepatan yang sangat tinggi telah menyerang Mahisa Pukat. Namun Mahisa Pukat sama sekali tidak berusaha untuk menghindar. Sebagaimana dilakukan oleh Mahisa Murti, maka ia justru telah meloncat pula menyongsong lawannya.


Namun agak berbeda dengan Mahisa Murti, maka Mahisa Pukat justru telah mengerahkan tenaganya. Ia memang ingin mengatasi kekuatan lawannya, sehingga karena itu, maka ia telah mengungkapkan tenaga cadangannya sepenuhnya.

Sejenak kemudian telah terjadi benturan yang keras sekali. Benturan antara dua kekuatan yang sangat besar. Mahisa Pukat ternyata telah terpental dua langkah surut. Hampir saja ia telah kehilangan keseimbangannya. Namun dengan tangkas ia telah mampu memperbaiki keadaannya justru dengan melompat selangkah lagi surut.

Namun dalam pada itu, ternyata lawannya telah terlempar beberapa langkah. Bahkan perempuan tua itu tidak mampu lagi mempertahankan keseimbangannya, sehingga ia pun telah terbanting jatuh dan berguling beberapa kali.

Tetapi Mahisa Pukat yang telah menguasai keseimbangannya sepenuhnya tidak meloncat memburunya. Dibiarkannya perempuan itu tertatih-tatih berdiri dengan susah payah.

Saudara kembarnya, ayah Ki Buyut, melihat apa yang terjadi. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu untuk membantunya. Lawannya yang dianggapnya masih terlalu muda dan tidak berpengalaman itu ternyata memiliki kekuatan melampaui kekuatannya. Anak muda itu justru telah membentur hampir setiap serangannya sehingga dengan demikian, maka ayah Ki Buyut itu justru mengalami banyak kesulitan. Tenaga dan kekuatan anak muda itu semakin lama seakan-akan justru menjadi semakin besar. Sehingga benturan-benturan yang terjadi justru telah menyakitinya. Sedangkan anak muda itu sama sekali tidak terganggu karenanya. Seakan-akan setiap benturan itu tidak terasa olehnya.

Dengan demikian, maka ayah Ki Buyut itu benar-benar tidak mempunyai pertimbangan lain kecuali dengan secepat-cepatnya membunuh orang-orang itu-dengan cara apa pun juga.

Karena itu, maka ketika ia mendapat kesempatan, ia pun dengan serta merta telah menyerang lawannya yang muda itu dengan senjatanya. Sebilah keris yang besar yang diselipkan pada wrangkanya di punggungnya.

Mahisa Murti telah meloncat beberapa langkah surut. Dengan saksama ia telah memperhatikan keris yang besar itu. Namun karena keris itu selalu bergerak, maka Mahisa Murti tidak dapat melihat ujudnya dengan jelas. Apalagi cahaya lampu minyak yang hanya remang-remang sampai di longkangan itu.

Tetapi keris itu menurut penglihatan Mahisa Murti, tentu bukan keris kebanyakan, karena di ujung keris itu seakan-akan nampak cahaya kemerah-merahan.

“Kau telah terjerat oleh kesombonganmu sendiri anak muda,” geram ayah Ki Buyut itu, “darahmu akan dihisap oleh ujung kerisku yang ternyata memang sudah haus. Cahaya merah di ujung keris itu adalah pertanda bahwa kerisku memerlukan minum darah anak muda seperti kau ini.”

Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian menarik pedangnya sambil berkata, “Aku tidak peduli cahaya kemerahan di ujung kerismu itu. Tetapi jika tanganku lebih terampil dari tanganmu, maka pedangkulah yang akan meneguk darahmu.”

“Persetan,” geram ayah Ki Buyut yang sudah tua itu. Ternyata anak muda itu memang tidak dapat ditakut-takuti dengan cara apa pun juga.

Sementara itu, saudara kembar perempuannya itu pun tidak mempunyai pilihan lain pula. Ia pun telah menarik kerisnya yang sama besar dengan keris saudara kembarnya itu, yang juga dilekatkan pada punggungnya. Dengan demikian, maka sejenak kemudian, perempuan tua itu pun telah melangkah setapak demi setapak maju mendekati Mahisa Pukat dengan keris yang teracu. Ternyata bahwa bukan saja mereka adalah saudara kembar. Keris yang dipegang oleh kedua orang itu pun nampaknya juga kembar. Di ujung keris perempuan tua itu juga nampak cahaya yang kemerah-merahan.

Mahisa Pukat pun kemudian telah mencabut pedangnya pula. Bahkan ia pun berkata, “Bagus. Kau nampaknya sudah jemu bertempur malam ini. Karena itu, kau telah berusaha untuk mempercepat kematianmu sendiri. Kau pancing aku menarik senjataku. Dan itu berarti bahwa kau akan segera mati.”

Perempuan itu menggeram. Dengan cepat pula ia telah menyerang Mahisa Pukat.

Ternyata bahwa perempuan tua itu masih juga mampu bergerak dengan cepat sambil memutar kerisnya. Kecepatan geraknya yang dilandasi dengan ilmunya. Karena itu, maka Mahisa Pukat harus benar-benar mengerahkan kemampuannya. Ia tidak dapat membiarkan ujung keris lawannya itu menyentuh kulitnya. Sentuhan ujung keris itu akan dapat mengoyakkan kulitnya. Jika hal itu terjadi beberapa kali, maka ia akan terluka arang kranjang.

Karena itu, maka Mahisa Pukat pun harus mengerahkan segenap kemampuan ilmu pedangnya.

Nampaknya Mahisa Murti pun harus bekerja keras untuk dapat mengimbangi lawannya. Sebagaimana sebelumnya, maka Mahisa Murti berusaha untuk mengurangi kecepatan gerak lawannya dengan mengerahkan kekuatannya. Mahisa Murti berusaha membenturkan kekuatannya pada setiap kesempatan. Ia tidak terlalu banyak menghindar karena kadang-kadang memang tidak ada kesempatan. Tetapi pada setiap benturan, terasa senjata lawannya telah bergetar.

Dengan memperhitungkan kelemahan lawannya itulah, maka Mahisa Murti telah bertempur dengan sengitnya melawan ayah Ki Buyut yang sudah tua namun yang justru memiliki pengalaman yang bertimbun di dalam dirinya.

Dalam pada itu, selagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bertempur melawan kedua orang saudara kembar dampit itu, maka Ki Bekel dan Ki Buyut seakan-akan jadi membeku. Namun dalam keadaan yang semakin rumit bagi ayah Ki Buyut itu, maka Ki Bekel mulai memperhatikan kakek tua yang masih juga berdiri termangu-mangu.

Dengan hati-hati agar tidak menarik perhatian kakek tua itu, maka Ki Bekel telah mendekati Ki Buyut. Kemudian ia pun telah berbisik di telinganya, “Kita selesaikan kakek tua itu. Kemudian kita cari perempuan yang berkhianat itu di dalam.”

Ki Buyut termangu-mangu. Katanya, “Tetapi tubuhku masih belum pulih.”

“Kau bantu aku. Aku yang akan menyelesaikan mereka,” berkata Ki Bekel.

“Tetapi bukankah kau kenal laki-laki tua itu? Ia memiliki kemampuan meskipun tidak terlalu tinggi. Seandainya keadaanku tidak seperti sekarang ini, maka aku akan dapat menyelesaikannya,” berkata Ki Buyut.

“Kita harus berbuat sesuatu. Kita tidak dapat sekedar menjadi penonton seperti sekarang ini, sementara ayah dan bibimu ada dalam kesulitan,” bertanya Ki Bekel.

Ki Buyut masih tetap termangu-mangu. Sebenarnya ia sependapat dengan Ki Bekel. Tetapi Ki Buyut itu tidak mempunyai kekuatan dan kemampuan untuk melakukannya.

“Baiklah,” berkata Ki Bekel, “jika kau masih belum dapat berbuat sesuatu, biarlah aku saja yang melakukannya. Aku memang harus berbuat sesuatu. Kakek itu sudah terlalu tua. Ia tidak akan menyimpan tenaga lagi didalam dirinya. Meskipun ia berilmu sekalipun, namun ia tidak akan dapat mendukung ilmunya dengan tenaga wadagnya lagi.”

Ki Buyut termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Lakukan. Aku akan mencoba untuk ikut berbuat sesuatu.”

Ki Bekel itu mengangguk kecil. Sementara itu pertempuran antara kedua orang anak muda itu melawan kedua orang bersaudara kembar dampit itu masih berlangsung pula. Namun semakin lama semakin jelas, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mempunyai kekuatan yang lebih besar dari lawannya, sehingga setiap terjadi benturan, maka lawannyalah yang terdesak surut.

Sejenak Ki Bekel memperhatikan pertempuran itu. Namun kemudian perhatiannya pun mulai tertuju sepenuhnya kepada kakek tua yang seakan-akan tidak menghiraukannya. Setapak demi setapak ia bergeser mendekatinya. Ki Bekel itu tidak perlu menjajagi lagi kemampuan orang tua itu. Yang ingin dilakukannya adalah dengan serta merta membunuhnya. Kemudian akan dicarinya adik perempuan laki-laki tua itu, yang menjadi sasaran utama mereka malam itu, karena perempuan itu dianggap mengetahui rahasia Ki Buyut dan Ki Bekel.

Ketika Ki Bekel itu setapak demi setapak menjadi semakin dekat maka tiba-tiba saja orang tua itu justru berkata, “Marilah Ki Bekel. Aku sudah siap menunggu, kapan kau akan mulai. Jika kau tidak berkeberatan, biarlah Ki Buyut itu ikut serta.”

Ki Bekel itu menggeram. Namun ia tidak menunggu lagi. Tiba-tiba saja ia telah meloncat menyerang.

Tetapi kakek tua itu tidak membiarkan dirinya dibantai tanpa melawan. Dengan sisa tenaga tuanya, maka kakek tua itu telah bersiap mempertahankan dirinya.

Dengan demikian maka kakek tua itu pun telah bertempur pula melawan Ki Bekel. Meskipun ia sudah tua, tetapi karena ia terbiasa bekerja keras di sawahnya, maka tenaganya ternyata masih cukup besar.

Ki Bekel yang mengharap tenaga kakek tua itu sudah jauh menyusut, ternyata telah salah hitung. Kakek tua itu masih dengan sigap melayaninya.

Dalam pada itu, Ki Bekel itu masih dapat juga berteriak, “Cari perempuan itu Ki Buyut. Bunuh perempuan itu. Ia akan dapat menjadi sumber malapetaka.”

Ki Buyut termangu-mangu. Tubuhnya masih terlalu letih rasanya seakan-akan tulang-tulangnya menjadi lunak dan tidak berdaya.

Namun ia tidak dapat menunggu lagi. Apalagi ketika ia melihat bahwa benturan-benturan kekuatan kedua anak muda yang melawan ayah dan bibinya itu tidak dapat diatasi oleh kedua orang tua itu.

Karena itu, maka Ki Buyut itu pun telah mempergunakan sisa tenaga yang ada padanya. Selangkah demi selangkah ia menuju ke pintu butulan.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Ki Buyut. Karena itu, maka mereka merasa perlu untuk bertindak. Mereka pun mencemaskan kakek tua yang harus bertempur melawan Ki Bekel. Sehingga karena itu, maka keduanya harus berusaha untuk dengan cepat menyelesaikan pertempuran.

Namun ternyata bahwa ayah Ki Buyut itu masih saja mampu bergerak sangat cepat. Bahkan rasa-rasanya setelah benturan-benturan yang keras terjadi sehingga menyulitkan kedudukan ayah Ki Buyut dan saudara kembarnya, maka mereka menjadi semakin berhati-hati. Mereka sadar, bahwa kekuatan mereka tidak akan mampu mengimbangi kekuatan kedua anak muda itu. Namun kecepatan gerak merekalah yang akan dapat mereka manfaatkan untuk melawan keduanya.

Akhirnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang tidak mempunyai pilihan lain. Mereka harus menghentikan pertempuran itu sebelum Ki Buyut yang lemah itu benar-benar telah memasuki pintu butulan dan membunuh perempuan tua itu.

Mula-mula memang ada niat untuk menghancurkan saja kedua orang bersaudara kembar dampit itu. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ternyata memang bukan pembunuh-pembunuh yang tidak berperasaan. Keduanya ternyata masih tetap mempunyai pertimbangan-pertimbangan kemanusiaan.

Namun ketika keduanya melihat Ki Buyut betapa pun lemahnya akan mempergunakan kesempatan untuk membunuh perempuan yang ada di rumah itu bersama kedua anaknya yang tidak mempunyai keberanian untuk berbuat sesuatu, mereka pun menjadi gelisah.

Mahisa Pukat lah yang lebih dahulu mengambil sikap. Cara yang paling lunak bagi lawannya, adalah membuatnya kehilangan kekuatan dan kemampuannya. Karena itu, maka ia pun telah mengetrapkan ilmunya untuk menghisap kemampuan ilmu dan kekuatan tenaga lawannya.

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti tidak mau membiarkan Ki Buyut memasuki pintu butulan. Karena itu, demikian langkah Ki Buyut hampir mencapai pintu butulan itu, maka Mahisa Murti telah meloncat mengambil jarak dari lawannya. Dengan menghentakkan daya kekuatan ilmunya, maka telah menjulurkan tangannya dengan telapak tangan terbuka ke arah tlundak pintu butulan itu.

Akibatnya memang dahsyat sekali. Sebuah cahaya seakan-akan telah terlontar dari telapak tangan Mahisa Murti, meluncur dan mengenai tlundak pintu butulan itu.

Tlundak pintu butulan itu seakan-akan telah meledak. Bahkan tanah di bawah pintu itu pun bagaikan memencar ke udara, menghambur ke sekitarnya.

Ki Buyut yang terkejut bukan buatan, dengan serta merta telah meloncat mundur. Tetapi karena tubuhnya yang masih sangat lemah itu, maka ia pun telah terjatuh di dorong oleh getaran udara di saat kemampuan ilmu Mahisa Murti menghantam tlundak pintu.

Rumah yang besar itu seakan-akan telah terguncang oleh gempa. Sementara uger-uger pintu itu sebelah menyebelah telah runtuh pula.

Semua orang yang mendengar ledakan dan menyaksikan pintu yang bagaikan dikoyak-koyak itu pun terkejut bukan buatan. Bahkan ayah Ki Buyut yang berilmu tinggi beserta saudara kembar perempuannya itu pun terkejut bukan buatan. Keduanya telah melenting menjauhi lawan-lawan mereka untuk dapat melihat apa yang telah terjadi.

Sejenak mereka termangu-mangu. Namun kemudian ayah dan bibi Ki Buyut itu telah berlari dan kemudian berjongkok di sisi Ki Buyut.

“Bagaimana keadaanmu?” bertanya ayahnya.

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Ia memang tidak apa-apa selain terlempar jatuh. Tubuhnya memang terasa sakit.

Tetapi ia tidak terluka sama sekali selain sedikit pada lututnya yang terkelupas.

Dengan lemah Ki Buyut pun telah bangkit dan berusaha untuk berdiri.

“Aku tidak apa-apa,” desis Ki Buyut.

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian segera berpaling kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang masih berdiri tegak. Sementara itu, kakek tua dan Ki Bekel pun telah berhenti pula bertempur.....

Hijaunya Lembah, Hijaunya Lereng Pegunungan
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger