logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Hijaunya Lembah, Hijaunya Lereng Pegunungan Jilid 070


Semua orang dengan serta merta telah bangkit dari tempat duduknya. Demikian pula dua orang yang garang, yang duduk di tengah. Dengan tajamnya kedua memandangi Mahisa Semu dan sekali-kali pengikutnya yang dengan susah payah berusaha untuk bangkit.

“Anak iblis,” geram orang itu.

Namun tiba-tiba saja kedua orang yang garang itu tertawa. Seorang di antara mereka berkata, “Apakah anak itu telah memukulmu?”
“Ya Ki Lurah,” sahut orang yang telah berhasil bangkit berdiri itu.
“Lalu apa yang harus kau lakukan?” bertanya orang yang garang itu.
“Membunuhnya dan mengambil perempuan itu daripadanya,” jawab pengikutnya.
“Bagus,” berkata orang yang garang itu sambil tertawa, “jika demikian kau masih tetap sahabatku. Bunuh orang itu dan ambil perempuan itu untukku. Perempuan itu ternyata cantik sekali.”

Gadis itu menjadi semakin ketakutan. Tetapi Mahisa Murti berbisik, “jangan takut. Kita yakin akan pertolongan Yang Maha Agung. Kau harus pasrah. Dengan demikian kita tentu akan dibebaskan-Nya.”

Gadis itu mengangguk. Tetapi tubuhnya tetap gemetar.

Sementara itu, orang yang telah dipukul oleh Mahisa Semu itu telah melangkah setapak demi setapak mendekatinya.

Namun orang yang garang itu berteriak, “jangan di dalam. Kalian akan merusakkan isi kedai itu. Diluar tempatnya luas. Mumpung belum gelap, dan ditempat pemberhentian pedati itu belum banyak terisi.”

“Baik,” berkata pengikutnya, “Kita berkelahi diluar.”

Mahisa Semu tidak menjawab. Namun ia berdesis kepada Mahisa Pukat, “Terserah gadis itu.”

“Aku akan menjaganya bersama Mahisa Murti, “Jawab Mahisa Pukat.

Demikianlah, mereka pun telah pergi keluar kedai itu dan berada ditempat terbuka yang luas. Tempat pemberhentian pedati yang belum banyak terisi.

Orang berwajah garang itu pun telah keluar pula. Seorang di antara mereka berteriak, “Awasi gadis itu. Jangan sampai lari. Jika gadis itu hilang, maka aku akan membunuh tiga orang di antara kalian.”

Para pengikutnya memang menjadi ketakutan. Karena itu, maka mereka pun telah mengawasi gadis itu dengan sungguh-sungguh.

Sejenak kemudian, di tengah-tengah arena yang dilingkari oleh orang-orang yang keluar dari kedai itu, Mahisa Semu telah bersiap menghadapi orang yang telah dipukulnya. Sementara itu beberapa orang laki-laki yang semula selalu mengganggu telah terdiam. Mereka tidak mengira bahwa anak-anak muda yang bersama dengan gadis itu telah berani memukul pengikut kedua orang yang garang, yang ditakuti oleh setiap orang itu. Bahkan kelompok-kelompok penjahat sekalipun.

“Cepat. Kenapa kalian belum mulai,” teriak salah seorang di antara kedua orang yang garang itu.

“Baik,” jawab pengikutnya yang kemudian telah siap untuk menyerang Mahisa Semu.

Tetapi Mahisa Semu pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Meskipun ia tidak memiliki ilmu sebagaimana Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, tetapi ia sudah membawa bekal olah kanuragan yang cukup.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat juga berdiri di pinggir arena. Mereka menganggap bahwa peristiwa itu justru telah memberikan kesempatan Mahisa Semu berlatih. Asal saja tidak berbahaya bagi keselamatan jiwanya, maka kedua anak muda itu tidak akan mencampurinya.

Sejenak kemudian orang yang telah dipukul oleh Mahisa Semu itu mulai meloncat menyerang. Ternyata orang itu cukup garang. Dengan loncatan panjang maka orang itu telah menerkam lawannya. Tangannya terjulur lurus mengarah ke wajah Mahisa Semu dengan jari-jari yang mengembang.

Tetapi Mahisa Semu dengan tangkas telah mengelak. Selangkah ia meloncat ke samping.

Ternyata hal itu sudah diperhitungkan oleh lawannya. Karena itu dengan tiba-tiba, hampir di luar perhitungan Mahisa Semu orang itu telah menjulurkan kakinya ke samping.

Bagaimanapun juga, pengalaman yang luas telah ikut berbicara dalam benturan olah kanuragan. Ternyata bahwa Mahisa Semu yang belum berpengalaman itu tidak mampu menghindari serangan yang sangat tiba-tiba itu. Anak muda itu hanya sempat melindungi dadanya yang menjadi sasaran lawannya dengan menyilangkan tangannya.

Namun serangan itu cukup keras, sehingga Mahisa Semu telah terlempar beberapa langkah dan bahkan jatuh terguling.

Untunglah, bahwa anak muda yang tubuhnya memang sedang berkembang itu cukup tangkas. Dengan serta merta ia telah meloncat bangkit dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Tetapi ternyata lawannya tidak memburunya. Ia justru berdiri tegak sambil bertolak pinggang. Sambil tertawa berkepanjangan ia berusaha untuk menikmati kemenangannya.

Tetapi ternyata bahwa Mahisa Semu telah maju selangkah demi selangkah. Dengan mengerahkan daya tahannya, maka Mahisa Semu telah mengatasi rasa sakit pada punggungnya karena ia telah terbanting jatuh.

Kemarahan telah menyala di dadanya. Namun ia masih saja selalu ingat setiap kali Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memberikannya peringatan, bahwa dalam benturan kekerasan betapa pun kemarahan mencengkam jantungnya, tetapi ia tidak boleh kehilangan akal.

Karena itu, maka menghadapi orang itu, Mahisa Semu harus tetap mempergunakan penalarannya. Ternyata lawannya mampu bergerak cepat sehingga ia pun harus memperhitungkan setiap langkahnya.

“Marilah anak manis,” berkata orang itu sambil tertawa.

Mahisa Semu tidak menjawab. Tetapi ia masih melangkah mendekat. Sementara orang itu berkata selanjutnya, “Serahkan saja adikmu itu kepadaku.”

“Tidak untukmu. Tetapi untukku.”

Lawan Mahisa Semu itu terkejut. Hampir diluar sadarnya ia berpaling sambil menjawab, “Ya, ya Ki Lurah. Aku minta untuk menyerahkan kepadaku dan selanjutnya aku serahkan kepada Ki Lurah.”

“Cukup,” Mahisa Semu berteriak. Dadanya bagaikan pecah karena ia menahan kemarahannya untuk tidak menyerang di saat lawannya tidak bersiap. Rasa-rasanya ia ingin meloncat menerkam dan membantingnya jatuh. Katanya kemudian, “bersiaplah. Aku akan membalasmu.”

Orang itu pun terkejut. Ia memang merasa heran, bahwa lawannya yang masih muda itu sempat memperingatkannya.

Namun demikian ia bersiap, maka Mahisa Semu lah yang telah menyerangnya. Dengan cepat ia meloncat menyerang dengan kakinya mengarah ke dada lawan. Namun lawannya sempat mengelak. Bahkan sekaligus bersiap untuk mengatasi setiap serangan anak itu berikutnya.

Tetapi Mahisa Semu tidak menyerangnya dengan serta merta. Ia telah meloncat selangkah ke samping. Kemudian berputar cepat berporos pada tumit kakinya, sementara kakinya yang lain terayun mendatar.

Lawannyalah yang kemudian harus meloncat surut. Namun demikian kaki Mahisa Semu yang terayun itu diletakkan, maka lawannya itulah yang meloncat menyerang. Sambil meloncat maju dengan loncatan panjang, maka tangannya telah terjulur lurus ke depan, mengarah ke kening Mahisa Semu.

Ternyata Mahisa Semu masih mempergunakan penalarannya. Demikian serangan itu menyambarnya, maka ia pun telah bergeser cepat sambil merendahkan diri. Namun demikian tangan lawannya terjulur, maka kakinyalah yang telah menyambar lambung orang yang menyerangnya itu.

Orang itu terkejut. Namun ia tidak sempat berbuat sesuatu. Bahkan sikunya pun tidak dapat melindungi lambungnya itu, karena tumit Mahisa Semu lebih cepat mencapai lambungnya.

Terdengar keluhan tertahan. Lawan Mahisa Semu itulah yang terdorong beberapa langkah surut. Sejenak ia telah kehilangan keseimbangannya sehingga ia telah terhuyung-huyung. Dengan susah payah orang itu berusaha untuk memperbaiki keadaannya. Namun tiba-tiba saja jantungnya bagaikan berhenti berdetak, ketika ia melihat lawannya itu bagaikan terbang meluncur dengan kakinya terjulur lurus ke depan.

Sejenak kemudian, rasa-rasanya sebongkah batu hitam telah menghantam dadanya. Karena itu, maka ia pun telah terlempar beberapa langkah surut pula. Bahkan ternyata orang itu tidak mampu mempertahankan keseimbangannya sehingga akhirnya ia pun telah terjatuh pula.

Namun ia pun telah dengan cepat berusaha bangkit. Meskipun ia tidak segera dapat tegak, namun orang itu berhasil berdiri diatas kedua kakinya.

Mahisa Semu ternyata tidak mempergunakan kesempatan itu untuk menghancurkan lawannya. Ia justru menunggu sambil berkata, “Aku tidak tergesa-gesa Ki Sanak. Kau dapat memperbaiki keadaanmu tanpa aku ganggu. Jika kau sudah siap, baru kita mulai lagi permainan yang mulai menjemukan ini.”

“Persetan,” geram orang itu, “kau terlalu sombong.”

Tetapi Mahisa Semu berkata, “Aku justru memberimu kesempatan. Aku tidak mau dianggap curang karena menyerang orang yang sedang tidak berdaya.”

Wajah orang itu menjadi merah. Namun terasa bahwa jalan pernafasannya menjadi tersendat-sendat.

Sementara itu, yang tertua di antara orang-orang yang berwajah garang itu berkata, “He, kenapa kau? Jika kau tidak berhasil membunuhnya, maka kaulah yang akan mati terbunuh.

Lawan Mahisa Semu itu menggeram. Ia sadar, jika ia tidak memenangkan perkelahian itu, maka kepercayaan orang-orang berwajah garang itu tentu akan susut. Bahkan mungkin lenyap sama sekali. Apalagi melawan anak-anak muda dan untuk mengambil seorang perempuan yang dikehendaki oleh pemimpinnya itu.

Karena itu, maka ketika ia sudah berhasil memperbaiki keadaannya, maka ia pun segera melangkah maju.

“Kau harus membayar kesombonganmu dengan harga yang sangat mahal. Kau harus memberikan nyawamu. Aku benar-benar akan membunuhmu,” berkata lawan Mahisa Semu itu.

Mahisa Semu tidak menjawab. Tetapi ia sudah bersiap.

Sejenak kemudian, maka lawan Mahisa Semu itu telah melangkah semakin dekat. Bahkan tangannya sudah bersiap untuk menyerang sementara kakinya mulai merendah.

Tetapi benar-benar tidak diduga, bahwa Mahisa Semu telah meloncat maju. Kakinya terayun cepat sekali menyambar ke arah dagu.

Lawannya yang tidak menduga bahwa serangan itu datang demikian cepatnya. Karena itu, maka geraknya pun kemudian adalah gerak naluriah. Lawan Mahisa Semu itu telah menarik kepalanya menengadah sehingga kaki Mahisa Semu tidak menyentuh dagunya. Namun Mahisa Semu tidak melepaskan lawannya pada kesempatan itu. Ia bukannya mempergunakan saat lawannya tidak menyadari keadaannya, tetapi justru ia tengah bertempur melawannya. Karena itu, demikian kakinya luput dari sasarannya, maka Mahisa Semu itu telah melenting dan berputar di udara. Kakinya ikut berputar mendatar.

Ternyata satu sambaran yang cepat dan keras telah mengenai kepala lawannya yang sedang tegak. Demikian kerasnya, sehingga lawannya itu dengan serta merta telah terbanting jatuh dan nasib yang buruk ternyata telah menimpanya pula. Kepalanya telah membentur sebongkah batu padas sehingga dengan serta merta orang itu telah menjadi pingsan.

Mahisa Semu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia- pun melangkah mendekati orang yang terbaring diam itu. Namun Mahisa Semu pun kemudian mengerti, bahwa lawannya tidak mati.

Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Namun kemudian tanpa berpaling, ia pun telah melangkah menuju ke arah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berdiri di sebelah menyebelah gadis yang mereka antar kepada orang tuanya itu.

Demikian Mahisa Semu berdiri di sebelah mereka, maka Mahisa Murti pun berkata kepada orang-orang yang ada di sekitar arena itu, “Ki Sanak. Bukan salah kami jika kami terpaksa berkelahi. Tetapi kami tidak ingin memperluas persoalan. Karena itu maka kami mohon diri. Semoga tidak terjadi sesuatu di tempat ini untuk selanjutnya. Orang yang terbaring itu harus segera mendapat penanganan. Tetapi jika ia mati karena benturan kepalanya dengan batu padas, itu sama sekali tidak disengaja oleh adikku.”

“Ia tidak mati,” berkata Mahisa Semu.

“Nah, ternyata ia tidak mati. Terserah kepada kawan-kawannya. Mudah-mudahan ia lekas sembuh,” berkata Mahisa Murti pula.

Tetapi dahi Mahisa Murti pun segera berkerut. Orang yang berwajah garang itu ternyata tidak mau melepaskan anak-anak muda itu begitu saja. Karena itu yang tertua berkata, “Jangan begitu saja meninggalkan tanggung jawab. Ada dua hal yang harus kalian penuhi. Aku harus memukuli orang yang telah melawan orangku itu sampai pingsan, sebagaimana orangku itu pingsan. Kedua, perempuan itu harus kalian serahkan kepadaku. Ia akan ikut bersamaku ke rumahku.”

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia menengadahkan wajahnya, maka dilihatnya langit telah menjadi kelabu. Sebentar lagi, malam akan turun. Karena itu, maka di beberapa buah rumah, telah nampak obor menyala di regol. Serta di rumah-rumah pun lampu minyak telah menyala.

Baru sejenak kemudian Mahisa Murti berkata, “Jangan memperluas persoalan. Kita akhiri persoalan ini sampai sekian.”

“Persetan,” geram orang yang berwajah garang itu, “jika dua hal itu kau penuhi, maka persoalan di antara kita sudah selesai.”

“Kita Sanak,” berkata Mahisa Murti, “kami bukan orang-orang yang senang berkelahi. Tetapi jika terpaksa, maka kami pun tidak segan-segan membunuh kalian. Jangan dikira bahwa kami tidak mampu berbuat kasar.”

“Anak iblis,” geram orang berwajah kasar. “Siapakah kalian sebenarnya?”

“Kami adalah saudara-saudara seperguruan Miyatsangka,” jawab Mahisa Murti. Ia sengaja menyebut nama itu, barangkali nama Miyatsangka dikenal di tempat itu. Namun dengan perhitungan, seandainya nama Miyatsangka justru dimusuhi, Mahisa Murti sudah siap menghadapinya.

Namun adalah di luar dugaan. Orang-orang itu terkejut karenanya, sehingga untuk sesaat kedua orang berwajah garang yang disebut Ki Lurah itu berdiri termangu-mangu.

Namun kemudian seorang di antara mereka melangkah maju. Diamatinya anak-anak muda yang membawa seorang gadis itu.

“Kenapa?” bertanya Mahisa Murti, “kau ragu-ragu?”

Orang itu tidak menjawab. Namun dengan demikian anak-anak muda itu mendapat kesan, bahwa nama Miyatsangka mempunyai pengaruh yang besar di tempat itu. Apalagi tempat itu memang tidak terlalu jauh dari rumah yang diperebutkan oleh saudara-saudara seperguruan Miyatsangka itu. Jarak yang jika ditempuh dengan berjalan cepat, akan dapat dicapai kurang dari setengah hari. Apalagi jika berkuda.

Namun tiba-tiba orang berwajah garang itu berkata, “Tidak. Kau bukan saudara seperguruan Miyatsangka. Aku pernah melihat beberapa orang di antara mereka. Tetapi aku belum pernah melihat kalian.”

“Aku percaya bahwa kau pernah melihat saudara-saudara seperguruanku. Tetapi aku pun percaya bahwa kita memang belum pernah bertemu,” jawab Mahisa Murti.

“Kau jangan mengaku saudara seperguruan Miyatsangka. Miyatsangka adalah orang yang berilmu sangat tinggi. Ia adalah murid tertua dari perguruannya dan telah mewarisi segenap ilmu gurunya. Antara lain ilmu yang dapat membuat telapak tangannya itu membara. Nah, jika kau dapat memperlihatkannya, maka aku percaya bahwa kau adalah saudara seperguruannya,” berkata orang berwajah garang itu.

Mahisa Murti termangu-mangu. Ia memang tidak memiliki ilmu seperti itu sebagaimana pernah dilihatnya pada kedua orang paman Miyatsangka itu. Seperti yang sudah dikatakan, Miyatsangka pun dapat pula mengetrapkan ilmu semacam itu meskipun belum setingkat kedua paman gurunya itu.

Beberapa saat Mahisa Murti berpikir. Ada niatnya untuk menunjukkan ilmu yang lain, meskipun sama-sama bersumber pada inti panas.

Namun nampaknya Mahisa Pukat yang kurang sabar berkata, “Kami akan menunjukkan kemampuan ilmu itu. Tetapi kalian harus mengerti, bahwa jika ilmu itu sudah kami trapkan, maka harus ada korban yang jatuh di antara kalian, karena setiap pancaran ilmu harus ditebus dengan kematian lawan.”

Ancaman Mahisa Pukat itu memang berpengaruh. Orang yang dipanggil Ki Lurah itu termangu-mangu. Namun ia pun kemudian berkata, “Baik. Aku akan mengorbankan orang yang pingsan itu jika kau memang dapat menunjukkan ilmu itu.”

“Cara yang licik dan pengecut,” berkata Mahisa Pukat, “mati yang dituntut oleh ilmuku adalah mati seorang laki-laki.”

“Cobalah. Lakukan. Aku yakin, kalian bukan saudara-saudara seperguruan Miyatsangka,” sahut orang berwajah garang yang lain. “Jika kalian adalah saudara-saudara seperguruan Miyatsangka, kalian tentu tidak akan berlaku seperti orang yang sangat asing disini. Kalian tentu tidak akan membawa seorang perempuan masuk ke dalam kedai ini jika perempuan itu adalah perempuan baik-baik. Karena itu, kau mencoba menakut-nakuti kami dengan menyebut nama itu, tanpa kau sadari bahwa dengan demikian kau akan dapat dicekik sendiri oleh Miyatsangka atau saudara-saudara seperguruannya.”

Mahisa Pukat menggeram. Ia memang menjadi marah. Tetapi ia masih mencoba mengekang diri.

Sementara itu beberapa orang menjadi semakin cemas melihat keadaan itu. Apalagi ketika orang yang garang itu berteriak, “Cari obor. Bawa kemari. Arena ini harus tetap terang agar semua orang dapat melihat, bagaimana aku membunuh anak-anak muda yang telah berani mengaku saudara-saudara seperguruan Miyatsangka.”

Meskipun demikian, para pengikutnya masih juga merasa ragu, jika anak-anak muda itu benar-benar saudara seperguruan Miyatsangka. Bahkan kedua orang berwajah garang itu sebenarnya masih juga dibayangi keragu-raguan. Jika benar anak-anak muda itu saudara seperguruan Miyatsangka, maka akibatnya akan sangat parah bagi mereka.

Namun keduanya yang berpengalaman luas itu memang tidak mau ditakut-takuti. Karena itu, mereka justru mencoba untuk menakut-nakuti anak-anak muda itu. Seorang di antara mereka berkata, “Jika kau memang benar saudara seperguruan Miyatsangka, kenapa ragu-ragu? Tetapi jangan menyesal atas pengakuanmu. Karena sampai kapan pun kau tidak akan dilepaskan dari tangannya. Seandainya kau luput dari kematian malam ini karena kau berhasil melarikan diri, maka dalam waktu dekat, kau akan berhadapan sendiri dengan Miyatsangka atau saudara-saudara seperguruannya.”

Tetapi Mahisa Pukat justru tertawa. Katanya, “Menarik sekali. Aku bahkan berharap ada di antara kalian yang saat ini memanggil Miyatsangka. Ia tentu akan melindungi kami.”

“Tidak seorang pun dari saudara-saudara seperguruannya yang menyebut namanya saja tanpa sebutan. Semuanya memanggilnya kakang,” berkata salah seorang dari kedua orang-yang garang itu.

Mahisa Pukat termangu-mangu. Tetapi ia tidak mau berputar-putar lagi. Katanya, “Terserah kepada kalian. Percaya atau tidak percaya. Kami sudah siap menghadapi kesimpulan kalian. Karena kami yakin, bahwa perguruan kami tidak akan tinggal diam. Lebih dari itu, kami yakin, bahwa saudara seperguruan Miyatsangka tentu akan dapat menyelesaikan masalah yang dihadapinya tanpa mengecewakan nama perguruannya. Meskipun demikian, kami masih menawarkan kemungkinan terbaik bagi kalian.”

Orang yang disebut Ki Lurah itu nampaknya semakin yakin bahwa mereka tidak berhadapan dengan saudara-saudara seperguruan Miyatsangka. Apalagi ketika Mahisa Pukat mengatakan bahwa setiap orang akan dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Karena itu, maka kedua orang yang disebut Ki Lurah itu- pun melangkah semakin dekat dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Dengan garang yang tertua di antara mereka berkata, “Kalian sudah cukup banyak berbohong. Sekarang kalian harus menebus segala tingkah laku kalian dan menyerahkan perempuan itu kepadaku.”


Mahisa Murti telah menggamit Mahisa Pukat, sehingga keduanya pun telah melangkah maju. Mahisa Murti menghadapi yang tertua, sedang Mahisa Pukat menghadapi yang seorang lagi, yang tidak kalah garangnya dari yang tertua.

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti memang tidak ingin memperluas perselisihan itu. Karena itu, maka ia pun berbisik kepada Mahisa Pukat, “Kita selesaikan saja persoalan ini dengan cepat.”

“Kita hentikan saja kesombongan dan tingkah laku mereka dengan melumpuhkan mereka, atau cara lain?” desis Mahisa Pukat.

“Dengan cara itu. Semakin cepat semakin baik. Kita akan segera pergi dan mencari tempat bermalam di padukuhan sebelah,” jawab Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ia pun segera mempersiapkan diri untuk dengan cepat menyelesaikan persoalan itu.

Sementara itu, kedua orang berwajah garang itu pun telah berada dua langkah dihadapan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Dengan nada berat seorang di antara mereka berkata, “bersiaplah. Kalian akan segera kehilangan segala-galanya.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Namun keduanya telah bersiap sebaik-baiknya untuk menyelesaikan pertempuran itu dengan cepat.

Karena kedua anak muda itu tidak menjawab, maka kedua orang itu pun telah bersiap pula. Yang tertua di antara mereka berkata, “Kenapa kau diam saja?”

“Maksudmu?” bertanya Mahisa Murti.

“Kenapa kau tidak menyerang?” orang itu hampir berteriak. Sengaja hal itu dilakukannya, agar orang-orang yang ada di arena itu mendengarnya.

Tetapi sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti tidak menunggu. Demikian mulutnya terkatub, maka serangan Mahisa Murti pun telah datang. Demikian cepat dan meyakinkan. Kaki Mahisa Murti dengan tepat mengarah ke dadanya.

Orang itu tidak sempat mengelak. Ia hanya dapat menyilangkan tangan di dadanya.

Tetapi serangan Mahisa Murti datang terlalu kuat, sehingga orang itu, yang ditakuti dan dianggap tidak terkalahkan oleh orang-orang di sekitar lingkungan itu, telah terlempar beberapa langkah surut. Kaki Mahisa Murti memang tidak langsung mengenai dadanya yang terlindung oleh tangannya yang bersilang. Tetapi kekuatan yang sangat besar, ternyata tidak dapat dilawannya.

Beberapa saat orang itu terhuyung-huyung. Namun Mahisa Murti tidak memberinya kesempatan. Ia pun segera memburunya dengan serangan berikutnya. Tidak terlalu keras, namun Mahisa Murti telah sempat menyentuh pundaknya.

Orang yang bertubuh tegap dan berwajah garang itu berusaha untuk membebaskan dirinya dari jangkauan serangan Mahisa Murti. Dengan serta ia telah meloncat ke samping. Namun Mahisa Murti tidak membiarkannya. Ia pun telah meloncat mendekat, kemudian berputar diatas tumitnya, sementara kakinya yang lain telah menyerang mendatar.

Tetapi serangan itu tidak terlalu keras. Lawannya sempat merendahkan dirinya sambil menangkis serangan itu dengan sikunya. Bahkan ketika kaki Mahisa Murti terlempar ke samping, orang itulah yang telah menyerang dengan ayunan tangan ke kening.

Mahisa Murti telah siap menghadapi serangan itu. Karena itu, maka ia tidak sekedar membenturkan kekuatannya melawan orang itu. Tetapi ia memang sudah bersiap untuk menghentikan perlawanannya.

Karena itu, maka dengan tangkasnya, Mahisa Murti menangkap pergelangan tangan orang itu dan dengan sekuat tenaga memilinnya.

Tentu saja serangan Mahisa Murti itu telah menimbulkan perlawanan. Orang yang bertubuh tinggi tegap dan berwajah garang itu, memang tidak menduga, bahwa Mahisa Murti lebih senang mempergunakan ilmu tangkapan dalam olah kanuragan. Salah satu unsur yang jarang dipergunakan.

Dengan tangkas pula orang itu memutar tubuhnya, mempergunakan siku tangannya yang lain untuk menghantam lambung Mahisa Murti.

Serangan itu memang sudah diperhitungkan. Mahisa Murti memang melepaskan tangan orang itu dan dengan sigapnya menangkis serangan lawannya dengan siku atas lambungnya.

Namun dengan demikian, sentuhan-sentuhan tubuh Mahisa Murti menjadi semakin sering terjadi dengan lawannya.

Sementara itu, Mahisa Pukat lah yang telah mendahului menyerang lawannya. Ia pun tidak mempergunakan kekuatan ilmu yang diwarisi dari ayahnya, karena ia tidak ingin menghancurkan lawannya itu. Tetapi ia hanya ingin menghentikan perlawanannya saja.

Karena itu, maka Mahisa Pukat pun telah berusaha untuk lebih banyak berbenturan dengan lawannya. Karena dengan demikian, maka ia akan dapat lebih cepat menyusut kekuatan lawannya.

Namun ternyata bahwa jika Mahisa Pukat mengerahkan kekuatannya, maka ia terlalu kuat bagi lawannya. Sebelum lawannya tersusut kekuatannya, ia sudah tidak terlalu banyak dapat berbuat.

Tetapi Mahisa Pukat merasa perlu untuk mengurangi kekuatan orang itu agar sepeninggalnya, ada kesan yang tidak akan dapat dilupakannya dan akan dapat menjadi pelajaran baginya.

Arena itu memang menjadi tegang. Orang-orang yang mengitarinya melihat kemungkinan buruk bagi anak-anak muda itu, terutama perempuan yang datang bersamanya. Apalagi karena mereka telah mengadakan perlawanan. Maka memang mungkin saja terjadi, anak-anak muda itu terbunuh di arena, sementara gadis itu akan menderita untuk waktu yang lama.

Tetapi yang tidak terduga itu pun telah terjadi. Bahkan hampir diluar jangkauan nalar orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu.

Ternyata dalam waktu yang sangat pendek pertempuran itu akan berakhir. Kedua orang berwajah garang itu sama sekali tidak berarti bagi anak-anak muda itu. Keduanya dalam waktu yang singkat telah terdesak dan bahkan keduanya menjadi sangat lemah karena tenaganya telah terlalu banyak menyusut, sehingga akhirnya, untuk berdiri saja mereka tidak lagi dapat tegak. Rasa-rasanya tulang-tulang mereka bagaikan dilepas dari sendi-sendinya, sehingga kulit daging mereka tidak lagi mempunyai kekuatan.

Sejenak kemudian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berdiri sambil bertolak pinggang dihadapan lawan-lawan mereka.

Dengan nada rendah Mahisa Murti bertanya, “Nah, bagaimana Ki Sanak. Apakah kau sekarang percaya bahwa kami adalah saudara-saudara seperguruan Miyatsangka? Kami adalah saudara-saudara mudanya. Tetapi kami memiliki tataran ilmu yang sederajat dengan Miyatsangka, sehingga kami tidak perlu memanggil dengan sebutan apa pun sebagaimana Miyatsangka memanggil kami. Hanya mereka yang tidak memiliki ilmu yang sederajat, mereka memang harus memanggil dengan sebutan itu.”

Orang-orang berwajah garang itu tidak segera menjawab. Tetapi mereka tidak lagi dapat menyangkal bahwa keduanya bukan saudara seperguruan Miyatsangka. Bahkan seandainya bukan sekalipun, namun keduanya telah mampu menunjukkan ilmu yang sangat tinggi.

Namun ternyata orang-orang itu tidak tahu, ilmu apa yang ada di dalam diri anak-anak muda itu. Yang mereka rasakan adalah semacam kelumpuhan yang dengan perlahan-lahan mencengkam seluruh tubuh mereka.

Karena orang-orang itu tidak segera menjawab, maka Mahisa Murti berkata selanjutnya, “Hal ini tentu saja akan segera sampai ke telinga Miyatsangka. Dengan demikian, maka daerah ini akan menjadi daerah pengawasannya. Jika kami yang mendapat tugas untuk mengawasi daerah ini, kami masih akan dapat menahan diri seperti sekarang ini. Tetapi jika yang harus mengawasi daerah ini saudara muda kami yang kami panggil Kepala Batu dan barangkali Gondang Pari, maka aku tidak tahu, apa yang terjadi atas kalian. Mungkin saat ini kalian telah menjadi lumat karena kalian telah berani mengganggu gadis itu. Gadis itu sebenarnya memang bukan adikku. Tetapi adik Miyatsangka itu sendiri yang diserahkan kepada kami untuk kami antarkan ke tempat salah seorang saudaranya. Beberapa hari lagi aku akan kembali lewat jalan ini untuk mengantar adik Miyatsangka itu kembali kepada kakaknya jika ia tidak berniat tinggal lebih lama di tempat saudaranya itu.”

Wajah orang yang garang itu menjadi semakin tegang. Bahkan seorang di antara mereka berkata, “Aku tidak tahu bahwa gadis itu adik Miyatsangka.”

“Tetapi bukankah aku sudah mengatakan, bahwa aku adalah saudara seperguruannya? Ternyata kalian tidak percaya, sehingga kami harus membuktikannya. Adalah salah kalian sendiri bahwa untuk beberapa hari kalian tidak akan mampu berbuat apa pun juga, karena kekuatan kalian telah menjadi susut hampir tuntas. Tetapi kami masih berbaik hati tidak membunuh kalian meskipun kalian telah menghina kami dan menghina adik Miyatsangka itu sendiri,” sahut Mahisa Murti.

“Kami mohon maaf,” berkata salah seorang dari kedua orang itu.

“Apakah itu penting?” bertanya Mahisa Pukat.

“Aku mohon,” orang itu menegaskan.

“Permohonan maaf hanya berarti jika permohonannya benar-benar menyadari kesalahanannya dan tidak akan melakukannya lagi. Jika kali ini kami memaafkan kalian, tentu dengan janji, bahwa jika kalian melanggarnya, kami tidak akan segan-segan mengambil langkah-langkah yang barangkali tidak akan kalian duga. Mungkin kami, tetapi mungkin orang lain. Mungkin Kepala Batu, mungkin Gondang Pari, mungkin Aparimita atau mungkin Pituwun atau yang lain. Mungkin orang lain itu bersikap lain pula dari sikap kami. Karena mungkin saja seorang di antara mereka menganggap bahwa untuk menghentikan kegiatan kalian tidak ada cara lain kecuali melenyapkan kalian,” berkata Mahisa Pukat.

Kedua orang itu menjadi semakin tegang. Namun yang tertua berkata, “Kami benar-benar mohon maaf. Bukan hanya kami berdua, tetapi juga orang-orang kami yang lain.”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “Yang akan kami nilai bukan kesediaan dan janji kalian. Tetapi apa yang akan kalian lakukan kemudian.”

Kedua orang berwajah garang itu tiba-tiba saja telah berubah seperti seekor tikus yang terjerumus ke parit. Mereka menunduk dengan tubuh gemetar. Dengan suara bergetar yang tertua berkata, “Kami memang tidak sekedar berjanji. Kami akan benar-benar melakukannya.”

“Baiklah,” berkata Mahisa Murti, “kami akan mengampunimu. Tetapi kami akan selalu mengikuti tingkah lakumu. Mungkin aku, mungkin saudara-saudaraku ini, tetapi mungkin orang lain di antara saudara-saudara seperguruan kami.”

“Jika kami membuat kesalahan yang sama, maka kami akan bersedia dihukum dengan cara apapun,” berkata orang itu.

“Bagaimana jika melakukan kesalahan yang lain? Yang tidak sama dengan yang pernah kau lakukan?” bertanya Mahisa Murti.

“Aku akan berusaha untuk tidak melakukan kesalahan. Demikian pula saudaraku itu dan orang-orangku,” berkata orang itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Mahisa Murti pun berkata, “Baiklah. Kita tinggalkan tempat ini.”

“Marilah,” Mahisa Pukat mengangguk-angguk, “kita akan mencapai padukuhan sebelah.”

Demikianlah, maka Mahisa Murti, Mahisa Pukat, Mahisa Semu dan gadis yang bersama mereka telah meninggalkan karena itu. Orang-orang yang menyaksikan di tempat pemberhentian pedati itu pun menyibak. Sementara itu, beberapa buah pedati ternyata telah berhenti berderet-deret di sepanjang jalan menunggu kesempatan untuk dapat masuk ke tempat pemberhentian.

Beberapa buah pedati yang baru saja datang pemiliknya tidak sempat menyaksikan apa yang telah terjadi. Beberapa di antara mereka sempat mengumpat-umpat karena mereka harus menunggu deretan yang memanjang.

Seorang pemilik pedati yang bertubuh raksasa dan berkepala botak tiba-tiba saja berteriak, “He, kenapa berhenti?”

“Ada yang berkelahi,” jawab seseorang di kejauhan.

“Persetan,” geram pemilik pedati itu.

Namun seorang yang terbiasa menjaga pedati yang berhenti di pemberhentian itu berlari-lari mendekat dan memberitahukan, bahwa yang berkelahi adalah dua orang yang berwajah garang yang menguasai tempat itu.

“Oo,” pemilik pedati itu mengangguk-angguk, “aku tidak tahu. Tetapi siapa lawannya?”

Tiba-tiba saja dibawah sorot obor di pinggir jalan, di regol halaman penunggu pedati itu melihat anak-anak muda dan seorang gadis berjalan meninggalkan tempat pemberhentian pedati itu.

“Merekalah yang berkelahi,” bisik penunggu pedati itu.

“Mereka atau Ki Lurah,” bertanya pemilik pedati yang berkepala botak itu.

“Mereka melawan Ki Lurah,” jawab penunggu pedati itu.

Pemilik pedati itu mengerutkan keningnya. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Mereka berani melawan Ki Lurah kedua-duanya?”

“Ya,” jawab penunggu pedati itu.

“Kenapa mereka dibebaskan? Biasanya orang-orang yang berani melawan Ki Lurah, tidak akan sempat keluar sambil berjalan tegak. Biasanya mereka akan merangkak dan bahkan untuk selanjutnya tidak akan mungkin dapat berdiri tegak lagi,” berkata pemilik pedati itu. Lalu “Jika demikian, perempuan itu tidak lagi dikehendaki oleh Ki Lurah kedua-duanya.”

“Memang tidak,” jawab penunggu pedati itu.

“Bagus,” desis pemilik pedati yang bertubuh raksasa dan berkepala botak itu, “jika demikian, aku akan mengambilnya.”

“Kau akan mencobanya?” bertanya penunggu pedati itu.

“Selagi belum jauh,” jawab pemilik pedati itu.

“Cobalah. Kaulah yang akan merangkak kembali menuju ke pedatimu ini,” jawab penunggu pedati itu.

Orang berkepala botak itu termangu-mangu. Dengan heran ia bertanya, “Kenapa? Apakah Ki Lurah tidak berkenan?”

“Mereka telah mengalahkan Ki Lurah kedua-duanya. Lihat, bahwa Ki Lurah sampai sekarang, masih belum dapat berdiri dengan tegak. Untunglah bahwa anak-anak muda itu bukan pembunuh-pembunuh yang kejam, sehingga mereka masih tetap membiarkan Ki Lurah tetap hidup meskipun dengan berbagai macam janji,” berkata penunggu pedati itu.

Orang bertubuh raksasa itu mengangguk-angguk. Tiba-tiba saja ia tersenyum. Katanya, “Jika demikian, Ki Lurah tidak akan lagi menguasai lingkungan ini. Begitu? Atau janji yang lain?”

“Ki Lurah memang tidak akan melakukan sebagaimana dilakukan sebelumnya,” berkata penunggu pedati itu.

“Jika demikian, tidak akan ada orang yang akan dapat melarang aku berbuat apa saja disini,” berkata orang berkepala botak itu.

“Tentu ada,” jawab penunggu pedati itu.

“Siapa?” bertanya orang itu.

“Ki Lurah. Ia tentu tidak akan membiarkan daerah ini dikuasai orang lain. Ki Lurah akan tetap berkuasa di sini, tetapi Ki Lurah tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji. Sedangkan jika ada orang lain yang melakukannya, maka mereka tentu akan mencegahnya,” berkata penunggu pedati itu.

“Terkutuk orang itu. Kenapa mereka tidak dibunuh saja?” geram orang bertubuh raksasa itu.

“Kau mengumpatinya? Aku akan mengatakannya,” berkata penunggu pedati itu.

“Jangan, jangan,” cegah orang berkepala botak itu dengan serta merta,” jangan katakan.”

“Itu kewajibanku,” penunggu pedati itu mulai beringsut.

Wajah orang berkepala botak itu menjadi tegang. Dengan sorot mata yang menusuk ia bertanya, “Kewajibanmu apa?”

“Memberikan keterangan kepada Ki Lurah jika ada orang yang bersikap seperti kau,” jawab penunggu pedati itu.

“Kau sadari bahwa aku dapat membunuhmu?” bertanya orang berkepala botak.

“Dihadapan saksi-saksi? Apakah tidak kau sadari bahwa Ki Lurah juga dapat membunuhmu? Apalagi aku mampu berlari cepat, sehingga jika kau ingin membunuhku, aku tidak akan dapat kau tangkap sekarang,” berkata penunggu pedati itu.

“Kapan saja dapat aku lakukan,” geram orang berkepala botak itu.

“Terlambat. Sebab semua orang akan tahu. Jika terjadi apa-apa atasku, tentu kaulah yang dipersalahkan. Juga oleh Ki Lurah. Kau tahu, aku sangat dikasihi oleh Ki Lurah,” berkata penunggu pedati itu.

“Setan kau. Pergi,” bentak orang berkepala botak itu.

“Pergi untuk melapor,” bertanya penunggu pedati itu.

Wajah orang berkepala botak itu menjadi merah. Dengan geram ia berkata, “Apa maumu sebenarnya?”

“Kau harus memberiku upah penitipan pedatimu tiga kali lipat, disamping upah yang biasanya kau berikan, karena sebagian harus aku serahkan kepada pemilik tempat ini,” berkata penunggu pedati itu.

“Gila. Kau benar-benar sudah gila,” geram orang berkepala botak itu.

Penunggu pedati itu justru melangkah surut. Katanya, “Baiklah. Jika kau berkeberatan, maka sudah sepantasnya umpatanmu terhadap Ki Lurah keduanya itu aku sampaikan.”

“Tunggu. Tunggu iblis,” geram orang itu.

“Kau bayar atau tidak?” berkata penunggu pedati itu sambil tersenyum.

“Kau mencoba memerasku he?” rasa-rasanya tangan orang berkepala botak itu ingin meremas wajah orang ya«g memerasnya itu. Tetapi bagaimana pun juga akhirnya ia tidak berani menolaknya. Karena itu, sambil mengumpat-umpat ia pun telah membayar sebagaimana diminta oleh penunggu pedati itu.

“Tidak seberapa,” berkata penunggu pedati itu, “kali ini kau membawa segerobak kelapa yang akan menjadi minyak kelentik yang mahal. Kau tentu mendapat upah yang banyak, sehingga yang kau berikan ini hanya sekuku ireng dari yang kau terima. Terima kasih. Aku tidak akan mengganggumu lagi.”

Orang berkepala botak itu termangu-mangu ketika ia melihat penunggu pedati itu meninggalkannya. Sementara itu, dari pedati yang ada di depan pedatinya ia mendengar seseorang tertawa.

Orang berkepala botak itu melangkah mendekatinya sambil berkata, “Orang itu memang anak iblis.”

“Ia telah memerasmu?” bertanya orang yang tertawa itu.

“Ya.,” jawab orang berkepala botak.

“Kali ini kau yang diperas. Aku juga pernah mengalami,” berkata orang yang ada di dalam pedati.

“Suatu ketika orang itu memang harus dibunuh,” geram orang yang marah karena pemerasan itu.

Tetapi kawannya yang masih ada di dalam pedati masih saja tertawa. Katanya, “Jangan terlalu pelit. Bukankah ia masih terlalu bodoh untuk memerasmu jauh lebih banyak dari yang diminta? Hanya tiga kali upah dari penitipan pedatimu? Berapa itu? Kenapa tidak seratus keping atau lebih yang tentu akan kau bayar juga karena kau tidak mau mati karena Ki Lurah keduanya marah kepadamu?”

“Persetan,” geram orang botak itu.

“Lain kali berhati-hatilah. Jangan pernah mengumpannya lagi. Aku yang berhati-hati ini pun telah terkena pula,” berkata orang yang ada di dalam pedati itu.

Orang berkepala botak itu masih akan berbicara lagi. Tetapi pedati-pedati itu pun mulai bergerak. Tempat penitipan pedati itu telah dapat dipergunakan untuk pemberhentian setelah orang-orang yang ada di dalamnya yang menunggui arena pertempuran telah menyingkir.

Dalam pada itu, Mahisa Murti, Mahisa Pukat, Mahisa Semu yang mengantar seorang gadis itu telah keluar dari padukuhan. Sementara malam terasa menjadi sangat gelap, karena tidak ada lagi cahaya lampu-lampu minyak maupun oncor yang menerangi jalan di luar padukuhan.

Tetapi malam belum terlalu dalam. Sementara di langit bintang gemerlapan.

“Gelap sekali,” desis gadis yang diantar kembali kepada orang tuanya itu.

“Tetapi itu lebih baik daripada di padukuhan yang baru saja kita tinggalkan itu, “sahut Mahisa Pukat.

“Ya,” gumam gadis itu hampir kepada diri sendiri.

Sementara itu Mahisa Murti pun berkata, “Mudah-mudahan di padukuhan sebelah tidak terjadi sesuatu. Menurut pengenalan kita, ketika kita menuju ke rumah Miyatsangka, kita tidak melalui padukuhan ini.”

“Ya. Kita waktu itu memang menghindari. Tetapi kita mengenali lingkungan ini,” sahut Mahisa Pukat.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Dengan ketajaman penglihatannya, maka di keremangan malam Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih mampu mengenali arah sehingga mereka tidak tersesat, meskipun perjalanan mereka menjadi bertambah jauh. Apalagi mereka merasa tidak tergesa-gesa sebagaimana saat mereka bersama-sama dengan sekelompok saudara seperguruan Miyatsangka yang sedang kehilangan penalaran sehingga mereka telah menculik seorang gadis.

Beberapa saat lamanya mereka berjalan menyeberangi bulak yang memang agak panjang. Namun kemudian mereka telah memasuki sebuah padukuhan.

“Kita akan mencoba menghubungi petugas yang ada di banjar padukuhan. Jika diijinkan, kita akan bermalam di banjar. Tetapi jika tidak, maka kita akan bermalam di mana saja,” berkata Mahisa Murti.

“Ya.” Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak berbicara lebih lanjut. Namun ketika berpaling kepada Mahisa Semu, maka Mahisa Semu lah yang menyahut, “Kita dapat bermalam di mana saja. Bukankah ketika kita berangkat, kita- pun bermalam di mana saja?”

“Kita tidak bermalam di mana-mana. Kita berjalan terus,” desis Mahisa Pukat.

Mahisa Semu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menyahut lagi.

Ketika mereka menyusuri jalan padukuhan, maka keadaan memang sudah menjadi sepi. Karena itu, maka mereka tidak dapat bertanya kepada siapapun, di manakah letaknya banjar padukuhan. Mereka memang agak segan mengetuk pintu rumah yang sudah tertutup, agar mereka tidak mengganggu keluarga yang tinggal di rumah itu. Bahkan mungkin keluarga itu akan terkejut dan menjadi ketakutan.

Karena itu, maka mereka berempat mengharap akan melewati sebuah gardu yang telah terisi sehingga mereka akan sempat bertanya kepada mereka yang ada di gardu itu, di manakah letak banjar padukuhan.

Ketika mereka sampai di simpang empat, mereka menjadi kecewa. Gardu di simpang empat itu kosong meskipun oncor telah dinyalakan.

“Kita sekarang ke mana?” bertanya Mahisa Semu.

“Tentu jalan inilah jalan induk padukuhan. Kedua jalan simpang itu lebih sempit,” jawab Mahisa Pukat.

Mahisa Semu mengangguk-angguk. Ia pun bersama dengan ketiga orang yang lain telah berjalan terus. Mereka berharap bahwa banjar padukuhan itu berada di pinggir jalan induk. Jika bukan banjarnya, maka tentu rumah Ki Bekel yang terletak di pinggir jalan itu.

Beberapa saat kemudian, maka mereka memang melihat regol yang nampaknya lebih besar dari regol-regol yang lain.

Oncor yang menyala di regol itu pun memberikan isyarat, bahwa tempat itu berbeda dengan rumah orang kebanyakan. Apalagi ketika mereka menjadi semakin dekat, maka mereka melihat beberapa orang berada di belakang pintu regol yang terbuka.

“Kita dapat bertanya sekarang,” berkata Mahisa Pukat.

Mahisa Pukat lah yang kemudian berjalan di depan. Ketika ia berhenti di depan pintu, maka orang-orang di pintu itu pun telah berpaling kepadanya.

“Ki Sanak,” bertanya Mahisa Pukat, “apakah disini banjar padukuhan atau rumah Ki Bekel?”

Orang-orang itu termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja dua orang telah menyibak mereka dan melangkah mendekati Mahisa Pukat. Seorang di antaranya menjawab, “Ini banjar padukuhan Ki Sanak. Apakah maksud Ki Sanak?”

“Kami ingin bertemu dengan petugas di banjar ini. Kami dalam perjalanan jauh ingin mohon untuk diijinkan menginap di banjar ini semalam ini saja,” minta Mahisa Pukat.

“Marilah. Silahkan masuk-masuk,” orang itu ternyata sangat ramah.

Mahisa Pukat justru termangu-mangu. Namun kemudian ia pun berpaling kepada Mahisa Murti, Mahisa Semu dan gadis yang diantarkannya itu.

“Marilah,” desis Mahisa Pukat.

Demikianlah, maka mereka berempat pun telah masuk ke halaman banjar, sementara orang-orang yang ada di pintu telah menyibak.

Ternyata sambutan atas keempat orang itu begitu baik sehingga keempatnya justru menjadi termangu-mangu. Ketika mereka kemudian dipersilahkan naik ke pendapa, dua orang yang telah separuh baya menemui mereka dengan sangat hormat.

“Anak-anak muda,” berkata salah seorang dari mereka, “kami berharap bahwa apa yang pernah anak-anak muda lakukan, adalah satu kurnia bagi kami.”


Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu saling berpandangan sejenak. Sebagian dari keheranan mereka, mengapa mereka disambut dengan sangat baik, telah terjawab. Agaknya orang-orang padukuhan itu telah mendengar apa yang telah terjadi.

Sebenarnyalah bahwa orang itu berkata selanjutnya, “Ketika anak-anak muda bertempur di padukuhan sebelah, kebetulan aku telah melihatnya tanpa sengaja, karena aku sedang mempunyai kepentingan di padukuhan itu. Aku melihat semuanya yang terjadi. Dan aku mendengar bahwa anak-anak muda adalah saudara seperguruan Miyatsangka. Adalah kebetulan bahwa secara pribadi aku mengenal Miyatsangka yang memiliki ilmu yang sangat tinggi itu dan yang telah mempersiapkan diri untuk memimpin sebuah perguruan. Tetapi aku sama sekali bukan orang berilmu. Jika aku kenal secara pribadi, adalah karena aku masih mempunyai hubungan darah meskipun agak jauh.”

Ketiga anak muda yang mengantarkan seorang gadis itu termangu-mangu. Mereka justru menjadi ragu-ragu. Meskipun Miyatsangka tidak akan- mengingkari pertolongannya, tetapi Miyatsangka tentu akan menjadi bingung jika ditanyakan kepadanya tentang tiga orang anak muda yang mengaku saudara seperguruannya.

Tetapi mereka pun berharap bahwa kehadiran seorang gadis di antara mereka akan selalu mengingatkan Miyatsangka kepada mereka berempat dan tidak ingkar tentang mereka.

Karena anak-anak muda itu tidak menanggapinya dengan segera, maka orang itu berkata pula, “Karena itu, maka kedatangan kalian kami terima dengan senang hati.”

Mahisa Murti pun kemudian sambil mengangguk-angguk menjawab, “Terima kasih Ki Sanak. Tetapi jika Ki Sanak tadi berada di padukuhan sebelah, agaknya begitu cepat telah berada di padukuhan ini.”

Orang itu tersenyum. Katanya, “Aku berlari melalui jalan pintas dan pematang setelah aku mendengar bahwa Ki Sanak akan pergi ke padukuhan sebelah. Ki Sanak berada di padukuhan itu, sebelum meninggalkan orang-orang tamak yang menakutkan lingkungan di sekitar tempat ini. Aku memang berharap Ki Sanak akan singgah di banjar ini. Kami sudah memberitahukan kepada Ki Bekel, sehingga sebentar lagi Ki Bekel tentu akan datang.”

“Ah, merepotkan sekali,” jawab Mahisa Murti, “Kami memang ingin mohon untuk diperkenankan bermalam di banjar ini. Tetapi anggap saja kami pengembara yang lewat, sehingga dengan demikian Ki Sanak tidak perlu menyambut kedatangan kami seperti menyambut seorang tamu.”

“Kalian memang tamu kami,” berkata orang itu, “kami memang harus menyambut dengan sebaik-baiknya. Apalagi yang dapat melihat langsung bagaimana kalian mengalahkan orang-orang tamak itu. Nampaknya begitu mudahnya dan begitu cepat terjadi. Padahal kedua orang itu adalah orang yang sangat ditakuti, sehingga seakan-akan apa yang dikatakan merupakan peraturan dan paugeran yang tidak dapat dilanggar oleh siapapun. Serta apa pun yang mereka kehendaki harus terjadi. Apa yang mereka minta harus diberikan.”

“Mereka tidak akan melakukan lagi,” berkata Mahisa Murti.

“Ya. Nampaknya mereka benar-benar menjadi jera. Apalagi para pengikutnya. Mereka tidak akan berani berbuat apa pun di daerah ini, setelah mereka tahu, bahwa Miyatsangka telah ikut campur,” berkata orang itu.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Ternyata nama Miyatsangka masih sangat disegani. Namun beberapa saat terakhir, Miyatsangka agaknya terlalu sibuk dengan lingkungannya sendiri. Sehingga ia dan saudara-saudara seperguruannya tidak menyadari bahwa mereka sangat diperlakukan oleh banyak orang.

Dengan demikian maka Mahisa Murti sudah bertekad untuk menemuinya kembali setelah ia menyerahkan gadis itu kepada orang tuanya.

Namun dalam pada itu, sejenak kemudian. Ki Bekel pun telah datang. Ternyata Ki Bekel sudah mendapat keterangan tentang semua peristiwa yang terjadi, sehingga karena itu, maka Ki Bekel pun nampaknya sangat hormat kepada anak-anak muda itu.

“Selamat datang di padukuhan yang miskin dan kotor ini anak-anak muda,” berkata Ki Bekel.

Ketiga anak muda yang mengantar gadis itu justru merasa segan atas sambutan yang berlebihan itu. Namun mereka tidak ingin menyakiti hati Ki Bekel dan para bebahu. Juga orang-orang padukuhan yang telah bersusah payah berkumpul di banjar itu.

Beberapa saat anak-anak muda itu telah berbincang dengan Ki Bekel dan para bebahu. Sementara itu, beberapa orang perempuan telah sibuk di dapur untuk menjamu orang-orang yang dianggap luar biasa itu.

Ternyata sejenak kemudian, maka beberapa orang telah menghidangkan makan dan minuman hangat bagi anak-anak muda yang telah merubah keadaan untuk satu lingkungan yang luas.

Meskipun anak-anak muda itu sudah singgah di sebuah kedai, namun sebenarnyalah mereka telah menjadi lapar kembali. Apalagi di kedai yang mereka singgahi, mereka belum sempat makan dan minum sebaik-baiknya.

Namun anak-anak muda itu, berusaha untuk menempatkan diri mereka. Betapa pun juga, mereka harus menahan diri. Mereka makan dan minum seperti orang-orang yang tidak kelaparan dan kehausan.

Beberapa saat kemudian, maka mereka telah selesai dengan makan dan minum. Ternyata Ki Bekel mengerti, bahwa anak-anak muda itu tentu merasa letih. Karena itu, maka mereka pun telah dipersilahkan untuk beristirahat.

“Ada beberapa bilik yang dapat kalian tempati di bagian belakang banjar ini,” Ki Bekel mempersilahkan.

Tetapi gadis itu nampak tidak bersedia tidur seorang diri. Ia masih selalu dibayangi oleh ketakutan, sehingga karena itu maka Mahisa Murti pun berkata, “Kami akan tidur di pendapa ini saja Ki Bekel, atau barangkali di serambi. Gadis yang kami antarkan ini nampaknya masih dibayangi oleh ketakutan karena tingkah laku kedua orang yang disebut Ki Lurah itu.”

“Tetapi anginnya keras sekali,” berkata Ki Bekel.

“Kami sudah terbiasa tidur di tempat terbuka. Sebagai pengembara kami memang dapat tidur di mana saja,” jawab Mahisa Murti.

Namun berdasarkan beberapa pertimbangan, maka akhirnya mereka dipersilahkan tidur di serambi samping, di sebuah amben yang cukup besar, yang terbiasa dipergunakan oleh anak-anak muda yang tidak mendapat tempat di gardu yang sempit.

“Silahkan anak-anak muda,” berkata Ki Bekel, “mudah-mudahan sambutan kami dapat memadai dengan kebesaran kalian.”

“Kebesaran apa?” bertanya Mahisa Murti.

“Orang yang mampu mengalahkan Ki Lurah kedua-duanya adalah orang-orang yang jarang ada duanya. Jika bukan saudara-saudara seperguruan Miyatsangka, tidak akan dapat melakukannya,” berkata Ki Bekel.

Anak-anak muda itu hanya menarik nafas saja. Mereka sudah terlanjur mengatakannya. Karena itu, mereka tidak akan mudah mencabutnya meskipun bagi mereka, tataran ilmu tertinggi dari perguruan Miyatsangka itu masih belum berarti. Bahkan paman gurunya pun tidak mampu mengatasi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, sehingga dengan jujur Miyatsangka harus mengakui, bahwa gurunya pun belum tentu dapat mengimbangi anak-anak muda itu.

Meskipun demikian, anak-anak muda itu tidak ingin mendapat tanggapan yang berlebihan. Karena itu, maka Mahisa Murti pun berkata, “Sambutan yang kami terima ternyata sangat berlebihan. Bukannya kami tidak berterima kasih atas sambutan ini. Tetapi bagi pengembara seperti kami, sambutan ini agak berlebihan, sehingga dapat membuat kami malas beranjak dari tempat ini.”

“Tetapi maksud kami adalah untuk menyatakan kegembiraan kami atas peristiwa yang terjadi, karena akan memberikan warna baru dalam kehidupan di lingkungan ini,” berkata Ki Bekel.

“Kami mengerti Ki Bekel. Kami pun menyadari, bahwa kami harus mengucapkan terima kasih atas sambutan ini,” jawab Mahisa Murti.

Demikianlah, maka keempat orang itu pun kemudian telah diantar ke serambi. Ternyata beberapa lembar selintru telah dipasang, sehingga serambi itu tidak lagi terbuka seluruhnya. Dengan demikian angin yang memang agak besar, telah tertahan.

Gadis yang bersama dengan ketiga anak muda itu merasakan sedikit kehangatan di serambi itu. Karena itu, maka ia pun segera membaringkan dirinya di sudut sebuah amben yang besar.

Ia menjadi semakin tenang karena ia menjadi semakin yakin akan kemampuan ketiga orang anak muda yang mengantarkannya.

Bukan saja kemampuan mereka, tetapi juga sikap dan tanggung jawab mereka, sehingga gadis itu merasa telah benar-benar mendapatkan perlindungan.

Dalam pada itu, sebagai biasa maka Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah bersepakat untuk berganti-ganti berjaga-jaga. Bagaimanapun juga mereka harus tetap berhati-hati menghadapi keadaan. Mereka tidak dapat percaya sepenuhnya kepada orang-orang yang nampaknya sangat baik kepada mereka.

Yang mendapat giliran paling ringan, yaitu giliran pertama adalah Mahisa Semu. Sementara di pendapa, anak-anak muda masih terdengar berkelakar.

Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah berbaring di sudut lain dari amben yang besar itu, sedangkan Mahisa Semu duduk bersandar dinding.

Demikianlah malam itu, keempat orang anak muda itu ternyata dapat tidur nyenyak. Mahisa Semu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bergantian duduk bersandar dinding. Namun mereka terlindung? oleh beberapa selintru yang dipasang, sehingga meskipun mereka berada di serambi, tetapi seakan-akan mereka berada di dalam bilik.

Pagi-pagi benar keempat orang itu telah bangun. Mereka bergantian pergi ke pakiwan.

Namun ternyata pagi-pagi pula Ki Bekel telah datang ke banjar. Demikian anak-anak muda itu selesai membenahi diri, maka bagi mereka telah disediakan hidangan di pendapa. Makan pagi, minuman hangat dan beberapa jenis makanan.

“Kami tahu,” berkata Ki Bekel, “bahwa anak-anak muda akan melanjutkan perjalanan. Karena itu, maka kami telah menyediakan hidangan pagi-pagi pula. Aku pun tidak mau terlambat melepas kalian meninggalkan banjar ini.”

Mahisa Murti mengangguk hormat. Katanya, “Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Segalanya melampaui dugaan dan harapan kami.”

Namun Mahisa Murti sempat bertanya kepada diri sendiri, “Seandainya kami tidak mengaku saudara seperguruan Miyatsangka, apakah kami akan mendapat sambutan seperti ini meskipun kami telah melakukan hal yang sama?”

Tetapi Mahisa Murti tidak mengucapkannya.

Sejenak kemudian, bersama-sama dengan Ki Bekel, orang yang melihat anak-anak muda itu menundukkan Ki Lurah serta beberapa orang bebahu, maka anak-anak muda itu telah makan pagi. Minum minuman hangat dan kemudian setelah duduk-duduk sejenak, mereka pun telah mohon diri.

Ki Bekel dan orang-orang padukuhan itu tidak menahan mereka, karena Ki Bekel tahu, bahwa anak-anak muda itu harus melanjutkan perjalanan, meskipun Ki Bekel mempunyai pengertian yang salah tentang perjalanan mereka.

Demikianlah maka beberapa saat kemudian, Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu serta gadis yang diantarkanya itu telah meninggalkan padukuhan itu. Sampai beberapa lama di perjalanan mereka masih membicarakan sambutan yang berlebihan di padukuhan yang baru saja mereka tinggalkan. Rasa-rasanya mereka justru menjadi asing atas diri mereka sendiri di hadapan Ki Bekel dan para bebahu.

“Sekarang, kita kembali kepada diri kita sendiri. Pengembara yang menempuh perjalanan panjang,” berkata Mahisa Pukat.

“Tetapi kita adalah pengembara yang terhormat,” sahut Mahisa Semu.

“Ya. Kita memang memiliki kelebihan. Kita mempunyai bekal yang cukup bagi perjalanan kita, sehingga meskipun kita tidak dijamu lagi sebagaimana dilakukan oleh orang-orang padukuhan itu, namun kita akan dapat membelinya. Bahkan lebih baik lagi,” sahut Mahisa Pukat.

Mahisa Murti tersenyum. Namun mereka memang tidak akan merasa cemas diperjalanan yang betapa pun panjangnya, karena mereka memang mempunyai bekal yang cukup banyak.

Demikianlah, maka mereka pun telah menempuh perjalanan kembali ke rumah gadis itu. Meskipun jalan yang mereka tempuh sedikit menyimpang dan menjadi panjang, tetapi naluri pengembaraan akan dapat mengenali lingkungan sehingga mereka tidak akan tersesat.

Ternyata mereka tidak menemui hambatan apa pun lagi di perjalanan. Meskipun perjalanan kembali itu mereka tempuh lebih lama, namun mereka semakin lama menjadi semakin dekat dengan padukuhan gadis itu.

Kedatangan mereka telah mengejutkan, bukan saja seisi rumah. Tetapi demikian mereka memasuki padukuhan, maka orang-orang padukuhan itu pun telah menyapa mereka dengan nada ucapan syukur. Agaknya orang-orang padukuhan itu sudah mendengar, bahwa gadis itu telah diculik sebagai taruhan agar anak-anak muda yang pada saat itu ada di rumahnya bersedia mengikuti orang-orang yang menculiknya.

“Syukurlah, bahwa kau telah kembali,” berkata seorang perempuan yang bertemu dengan mereka di tikungan, beberapa puluh langkah dari regol padukuhan.

“Terima kasih bibi,” jawab gadis itu.

“Ibumu setiap hari hanya menangis. Bahkan kadang-kadang telah menjadi pingsan,” berkata perempuan itu, “kedatanganmu tentu akan membuatnya hidup kembali.”

“Kami akan segera menemuinya bibi,” berkata gadis itu.

“Semakin cepat semakin baik,” berkata perempuan itu pula.

Gadis itu tiba-tiba telah menjadi tergesa-gesa. Padukuhannya tinggal beberapa puluh langkah.

Demikian mereka memasuki regol padukuhan, maka beberapa orang justru telah mengerumuni mereka. Namun seorang perempuan yang sudah separuh baya berkata, “Biarlah gadis itu cepat pulang. Ibunya sangat memerlukannya. Jika ia datang lambat, maka mungkin ia benar-benar akan terlambat. Ibunya menjadi semakin parah.”

Karena itu, maka orang-orang yang berkerumun itu tidak lagi menahan mereka dengan pertanyaan-pertanyaan. Bahkan beberapa orang telah berkata, “Cepatlah pulang.”

Keempat orang itu pun berjalan semakin cepat. Bahkan gadis itu seakan-akan telah berlari-lari. Bagaimanapun juga ibunya adalah perempuan yang telah melahirkannya. Betapa pun besarnya kesalahan yang pernah dibuatnya, tetapi ia tetap ibunya.

Demikian gadis itu berlari melintasi tlundak regol halaman rumahnya yang tua, ia pun telah berteriak, “Ibu, ayah.”

Suaranya melengking menyusup dinding rumahnya yang berlubang-lubang menyentuh telinga kedua orang tuanya.

Karena itu, maka kedua orang tuanya itu pun dengan serta merta telah bangkit. Ibunya yang lemah dan beberapa kali telan jatuh pingsan, ditunggui oleh kedua orang tetangganya, telah meloncat berlari keluar biliknya.

Kedua tetangganya yang menungguinya juga mendengar suara memanggil. Karena itu, maka mereka tidak mencegah perempuan yang lemah itu berlari keluar, disusul oleh suaminya.

Kedua orang tetangganya itu hanya menarik nafas dalam-dalam. Bagaimanapun juga mereka membenci tingkah laku perempuan itu, namun pada saat-saat gawat, mereka tidak sampai hati membiarkannya. Demikian pula tetangga-tetangganya yang lain, sehingga bergantian mereka menungguinya, menghiburnya dan berusaha untuk meringankan penderitaan wadagnya.

Kedua orang tua itu tidak dapat menahan dirinya. Di telinganya suara itu pasti suara anak gadisnya. Karena itu, maka mereka pun tiba-tiba seakan-akan telah menemukan kekuatan mereka kembali, terutama ibunya, sehingga ia mampu berlari keluar rumah, betapa pun sebelumnya tubuhnya seakan-akan tidak lagi dapat bergerak.

Demikian perempuan itu keluar pintu rumahnya, maka anak gadisnya telah berlari hampir mencapai pintu rumahnya pula, sehingga seakan-akan keduanya telah bertemu di depan pintu.

Sekejap kemudian, maka keduanya pun telah berpelukan. Keduanya menangis bersama-sama. Sementara itu ayahnya telah berdiri pula termangu-mangu.

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu berdiri beberapa langkah dari mereka. Rasa-rasanya jantung mereka pun berdegup semakin cepat menyaksikan pertemuan antara kedua orang tua dan anak gadisnya itu.

Sementara itu, beberapa orang tetangganya telah berkerumun di halaman rumah itu pula.

Baru beberapa saat kemudian, kedua orang tua gadis itu ingat akan anak-anak muda yang mengantar gadis mereka.

Karena itu, maka ayah gadis itu pun kemudian berkata kepada mereka, “Marilah anak-anak muda. Kami persilahkan kalian masuk.” Lalu katanya kepada tetangga-tetangganya, “Marilah. Silahkan.”

Tetapi tetangga-tetangganya tahu bahwa ruangan di dalam rumah itu tidak akan memuat mereka. Karena itu, seorang yang rambutnya telah memutih berkata, “Sudahlah. Kami akan berada disini. Udara tentu panas di dalam. Silahkan menemui anak-anak muda itu di dalam. Nanti kami juga ingin tahu apa yang telah terjadi. Tetapi jangan terlalu kau risaukan kehadiran kami, karena kami sekedar ingin menyatakan rasa syukur kami.”

Ayah gadis itu termangu-mangu. Namun katanya kemudian, “maafkan kami yang tidak dapat menerima kalian dengan baik.”

“Jangan pikirkan itu. Bergembiralah bahwa anak gadismu telah kembali dengan selamat,” berkata orang yang rambutnya memutih itu.

Laki-laki itu mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Kami akan menemui anak-anak muda itu.”

“Silahkan,” jawab orang berambut putih itu.

Demikianlah, maka kedua orang tuanya, gadis itu sendiri dan ketiga orang anak muda yang mengantarnya itu telah masuk ke ruang dalam yang tidak cukup luas. Mereka pun kemudian telah duduk di sebuah amben yang besar, yang pernah dikenal oleh ketiga orang anak muda itu sebelumnya.

“Apa yang terjadi dengan anakku?” bertanya perempuan yang seakan-akan telah menemukan kekuatannya kembali itu.

“Tidak terjadi apa-apa Nyi,” jawab Mahisa Murti,” bertanyalah kepadanya. Yang kami lakukan adalah semacam perjalanan panjang saja.”

Perempuan itu memandangi anak gadisnya dengan ragu-ragu. Namun kemudian ia bertanya juga, “Kau tidak apa-apa?”

Anak gadisnya mencoba tersenyum. Namun ternyata ia tidak dapat menahan diri. Tiba-tiba tangisnya telah meledak lagi.

Beberapa saat orang-orang yang ada di ruang itu harus menunggu menjadi tenang. Ibunya memang ikut menangis lagi meskipun ditahankannya kuat-kuat. Bahkan ia masih juga sempat menghibur anak gadisnya, “Jangan menangis lagi anakku. Kau sudah kembali bersama kami di rumah ini. Betapa pun buruknya, tetapi rumah ini adalah rumah kita.”

Beberapa saat kemudian tangis itu pun mereda. Tersendat-sendat gadis itu mulai berceritera, “Mengerikan sekali.”


Ibunya menjadi semakin tegang. Dengan dahi berkerut ia bertanya, “Apa yang mengerikan?”

Gadis itu pun telah berceritera dari awal, sejak mereka meninggalkan rumah itu, sampai mereka kembali ke rumah itu.

Demikianlah ia selesai berceritera, maka sekali lagi tangisnya tidak dapat ditahankannya.

Ayahnyalah yang kemudian bergumam, “Terpujilah Yang Maha Agung. Ternyata kau masih dilindunginya. Apa pun yang terjadi atasmu, namun ternyata kau selamat dan kembali dalam keadaan utuh.”

Orang itu berhenti sejenak, lalu “Kalian telah menyelamatkan anakku lagi. Bahkan dengan demikian kau telah menyelamatkan keluargaku. Dalam kesedihan yang sangat, aku dan isteriku, merasa senasib dan sepenanggungan, sehingga sisa-sisa gangguan perasaan yang masih ada telah kami hapuskan seluruhnya. Kedatangan anak gadisku telah membuat keluarga ini utuh kembali.”

“Syukurlah,” berkata Mahisa Murti, “dengan demikian, maka apa yang telah kami lakukan, bukannya sia-sia, sehingga rasa-rasanya segala kelelahan dan keletihan telah lenyap seketika.”

“Kami akan menjamu kalian. Kami akan berbuat apa saja yang kalian kehendaki untuk menyatakan terima kasih kami,” berkata ayah gadis itu.

“Tidak ada yang harus kalian lakukan,” jawab Mahisa Murti.

“Tentu ada,” jawab ayah gadis itu.

Mahisa Murti tersenyum. Katanya, “Jika keluarga kecil ini dapat utuh kembali, maka kami sudah merasa puas. Kalian tidak perlu menambah dengan apa-apa lagi.”

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku akan mencoba mengerti atas kejadian ini. Tetapi aku minta kalian tinggal di rumah ini untuk dua tiga hari.”

Mahisa Murti tertawa. Tetapi ia pun kemudian berpaling kepada Mahisa Pukat dan Mahisa Semu. Namun nampaknya mereka pun tidak dapat memberikan pertimbangan. Bahkan Mahisa Semu telah berpaling dan memandang ke kejauhan.

Karena itu, maka Mahisa Murti lah yang menjawab, “Baiklah. Kami malam ini akan bermalam di rumah ini. Besok kita berbicara lagi tentang kemungkinan berikutnya,” Mahisa Murti berhenti sejenak, lalu “diluar terdapat banyak orang yang ingin mendengar ceritera tentang anak gadismu.”

“Oo,” orang tua itu mengangguk-angguk, “aku akan menemui mereka.”

Setelah mempersilahkan Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu duduk, maka ayah gadis itu pun telah keluar dari rumahnya. Ternyata beberapa orang masih berada di halaman.

Kecuali ikut menyatakan kegembiraan mereka, maka mereka- pun ingin mendengar apa yang telah terjadi dengan gadis yang malang itu.

Ayah gadis itu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian telah berceritera sebagaimana diceriterakan oleh gadis itu.

Beberapa orang di halaman itu memperhatikan ceritera ayah gadis itu dengan saksama. Terbayang di angan-angan mereka, ketakutan, kecemasan dan kecurigaan telah memilih jantung gadis itu.

Namun seorang di antara mereka berkata, “Semuanya sudah berlalu. Bukankah mereka yang mengganggumu itu tidak akan pernah melakukannya lagi atasmu? Isterimu dan anakmu?”

Ayah gadis itu termangu-mangu. Namun justru orang lainlah yang menjawab, “Mereka jugalah yang menyelamatkan gadis itu dari tangan orang tamak yang telah mengambil ibunya.”

Ayah gadis itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Demikianlah ceritera tentang anakku Ki Sanak. Betapa mengerikan perjalanan mereka. Namun ia sudah kembali.”

“Terima kasih atas perhatian kalian,” berkata laki-laki itu.

Demikianlah maka beberapa orang yang berkerumun itu pun telah minta diri. Satu-satu mereka keluar dari regol halaman.

Namun pandangan mereka terhadap regol halaman dan rumah tua itu sudah berbeda. Setidak-tidaknya selama Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu di rumah itu.

Sejenak kemudian rumah itu memang telah menjadi sepi. Meskipun jika ada orang yang lewat di jalan di depan rumah itu ia masih saja menengok dan memperlambat langkahnya.

Hari itu, Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu bermalam di rumah gadis yang telah mereka janjikan. Namun meskipun mereka berada di dalam rumah, namun mereka tetap berhati-hati. Seperti malam-malam sebelumnya, maka bergantian seorang di antara mereka bertiga telah berjaga-jaga.

Namun ternyata malam itu tidak terjadi sesuatu atas mereka dan seisi rumah itu. Pagi-pagi benar anak-anak muda itu sudah pergi ke pakiwan dan berbenah diri. Sehingga ketika matahari terbit, mereka sudah siap untuk melakukan kewajiban mereka.

Tetapi ayah gadis yang telah mereka selamatkan itu pun telah siap pula menjamu mereka. Karena itu, maka ia pun bergegas menemui ketiga anak muda itu dan mempersilahkannya duduk di ruang dalam.

Demikian ketiganya duduk, maka telah dihidangkan minuman hangat dan beberapa potong makanan.

“Aku menjadi curiga,” berkata ayah gadis itu.

Ketiga anak muda itu mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu Mahisa Murti bertanya, “Apakah yang mencurigakan?”

“Kami menjadi curiga bahwa kalian akan meninggalkan rumah ini,” jawab orang itu.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Demikian pula kedua anak muda yang lain pun merasa lega, bahwa laki-laki itu tidak bermaksud lain.

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti pun berkata, “Kami memang akan mohon diri. Agaknya segala sesuatunya telah selesai dengan baik. Tidak ada kesulitan lagi yang bakal datang. Sebaiknya, kalian yang ternyata bertetangga dengan akrab dapat bersama-sama membangun kekuatan yang betapa pun kecilnya, namun jika hal itu dipikul oleh sekelompok orang, akan menjadi kuat juga.”

Laki-laki itu mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “Kami masih ingin menahan kalian agar tidak meninggalkan rumah ini begitu tergesa-gesa, karena kami masih ingin menyatakan terima kasih kami kepada kalian.”

Mahisa Murti tersenyum. Katanya, “Terima kasih. Aku kira sudah cukup. Sementara itu, kami harus melakukan tugas-tugas yang lain. Terutama, karena kami sudah terlalu lama meninggalkan lingkungan kami.”

“Lingkungan yang mana?” bertanya orang tua itu.

Mahisa Murti menggeleng sambil menjawab, “belum kau ketahui meskipun aku berusaha untuk mengatakannya yang sebenarnya.”

Laki-laki tua itu memang merasa tidak dapat menahan ketiga anak muda itu lagi. Laki-laki itu memang merasakan bahwa ketiganya bukan orang kebanyakan. Karena itu, maka katanya, “Jika demikian anak-anak muda, kami memang tidak dapat menahan kalian lebih lama lagi. Namun demikian, jika ada kesempatan, kami mohon kalian dapat singgah lagi di rumah ini.”

“Mudah-mudahan,” jawab Mahisa Murti, “pada saat-saat tertentu kami memang melakukan pengembaraan seperti ini.”

Demikianlah, setelah minum dan makan beberapa potong makanan, maka mereka pun minta diri kepada seisi rumah itu. Gadis yang telah mereka selamatkan itu tidak dapat menahan air matanya. Betapa ia merasa berhutang budi kepada ketiga orang anak muda yang tidak dikenalnya dengan sungguh-sungguh itu.

Tetapi ketiga orang anak muda itu memang harus meninggalkan rumah itu.

Beberapa saat kemudian, ketiganya telah berada dalam perjalanan. Mereka telah meninggalkan padukuhan tempat tinggal gadis yang telah menahan mereka untuk beberapa lama karena peristiwa yang beruntun terjadi atasnya.

“Kita akan kembali ke padepokan,” berkata Mahisa Murti.

“Tentu,” jawab Mahisa Pukat.

“Tidak berhenti lagi di perjalanan. Kita sudah terlalu lama pergi. Kita tidak tahu apa yang terjadi dengan ayah kita yang sudah tua itu,” berkata Mahisa Murti pula.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tetapi ia bertanya, “Bagaimana jika kita menjumpai satu peristiwa yang memerlukan campur tangan kita?”

“Sekedarnya saja. Tetapi tidak menahan kita sampai berhari-hari,” jawab Mahisa Murti.

Mahisa Pukat tidak menjawab. Sebenarnyalah ia pun telah digelitik oleh keinginan untuk kembali ke padepokannya itu.

Namun dalam pada itu, mereka sepakat untuk singgah di perguruan Miyatsangka. Apalagi jalan yang mereka tempuh tidak akan terlalu menyimpang jika mereka singgah barang sehari.

Mereka harus menjelaskan sikap mereka yang telah mempergunakan nama perguruan Miyatsangka itu.

Karena mereka berjalan bertiga tanpa seorang gadis, maka perjalanan mereka ternyata lebih cepat dari perjalanan yang pernah mereka tempuh. Baik di saat gadis itu diculik, apalagi saat mereka mengantar kembali, karena mereka harus berhenti untuk berkelahi.
Dengan demikian maka menjelang senja, mereka telah sampai ke tempat yang mereka tuju, meskipun mereka telah berhenti dua kali di perjalanan untuk singgah di kedai makan.

Namun demikian mereka melangkah masuk ke regol halaman, maka mereka terkejut melihat keadaan di halaman itu. Beberapa orang telah berloncatan sambil mengacukan senjata. Namun ketika mereka melihat ketiga anak muda itu, maka mereka pun segera mempersilahkan mereka dengan ramah.

“Silahkan. Aku beritahukan kakang Miyatsangka,” berkata salah seorang di antara mereka.

“Apa yang telah terjadi?” bertanya Mahisa Pukat.

“Biarlah kakang Miyatsangka memberikan keterangan,” jawab orang itu.

Ketiga orang anak muda itu pun kemudian telah naik dan duduk di pendapa. Mereka melihat beberapa orang yang terluka terbaring di pringgitan. Sementara itu agaknya ada beberapa sosok mayat yang sedang diangkat dan dibaringkan di serambi gandok.

Beberapa saat kemudian, barulah Miyatsangka keluar. Ternyata Miyatsangka pun telah terluka, meskipun tidak terlalu parah. Namun lukanya telah mendapat perawatan yang baik, sehingga darah tidak lagi menitik dari luka di pundaknya itu.

Miyatsangka pun dengan tergopoh-gopoh telah menemui ketiga anak muda itu. Sementara Mahisa Murti pun segera bertanya, “Apa yang telah terjadi disini?”

Wajah Miyatsangka menjadi buram. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Persoalan dengan kedua orang paman guru yang berniat mengambil alih pimpinan itu ternyata belum selesai.”

“Saudara-saudara seperguruannya datang kemari?” bertanya Mahisa Murti.

“Tidak. Tetapi murid-muridnya,” jawab Miyatsangka, “ternyata dua kelompok para murid dari kedua orang paman itu telah datang bersama-sama.”

“Apakah kalian belum pernah mengetahui sebelumnya, bahwa kedua orang pamanmu itu memiliki perguruan masing-masing?” bertanya Mahisa Pukat.

“Sama sekali belum,” jawab Miyatsangka, “sebenarnyalah bahwa kami tidak banyak mengetahui tentang kedua orang paman itu.”

“Sekarang, di mana pamanmu yang masih hidup, tetapi tidak lagi dapat memiliki kembali ilmunya itu?” bertanya Mahisa Pukat.

“Paman telah dibawa oleh mereka,” jawab Miyatsangka.

Ketiga orang anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Namun Mahisa Murti sempat bertanya, “Apakah kekuatan mereka jauh berada diatas kekuatan kalian?”

“Tidak,” jawab Miyatsangka, “meskipun jumlah mereka lebih banyak, tetapi kekuatan kami agaknya mampu mengimbangi mereka. Tetapi di antara mereka sempat mengambil paman dan mereka bawa di saat mereka-melarikan diri. Sementara itu, dua orang di antara mereka terbunuh disamping beberapa orang yang terluka, sedangkan saudara kami seorang terbunuh dan beberapa orang yang lain terluka pula. Termasuk aku sendiri.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Syukurlah bahwa kalian dapat mengatasi kesulitan itu.”

“Tetapi semuanya masih belum tuntas. Masih ada yang tertinggal. Agaknya mereka tetap mendendam karena keadaan kedua orang guru dari kedua kelompok itu,” berkata Miyatsangka.

“Apakah mereka masih akan kembali?” bertanya Mahisa Pukat.

“Nampaknya begitu,” jawab Miyatsangka, “mereka memang mengancam akan kembali dan menghancurkan rumah ini. Tentu saja maksudnya adalah perguruan ini.”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk kecil. Ketika ia memandang berkeliling, maka dilihatnya saudara-saudara seperguruan Miyatsangka benar-benar dalam kesiagaan tertinggi sambil membenahi keadaan, sementara Miyatsangka sendiri telah terluka meskipun luka itu sudah diobati.

“Kapan mereka akan kembali?” bertanya Mahisa Pukat kemudian.

“Kami tidak tahu,” jawab Miyatsangka, “tetapi tentu segera setelah mereka mendapat bantuan. Mereka benar-benar mendendam.”

“Di mana kedua orang saudara kandungmu?” bertanya Mahisa Murti.

“Ada. Untunglah keduanya belum meninggalkan tempat ini,” jawab Miyatsangka, “sekarang keduanya sedang beristirahat. Keduanya telah mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuan mereka, sehingga demikian lawan-lawan kami meninggalkan tempat ini, keduanya hampir menjadi pingsan.

“Berbahaya sekali,” sahut Mahisa Murti, “jika saja lawan-lawan kalian sempat bertahan untuk beberapa saat, maka kedua saudaramu itu tentu akan mengalami bencana.”

“Aku sudah mengatakannya. Sekarang keduanya dan beberapa orang yang benar-benar kehabisan tenaga baru beristirahat penuh. Mereka aku biarkan untuk tidur setelah makan dan minum secukupnya. Jika lawan itu kembali, hendaknya mereka sempat ikut bertempur dengan sebaik-baiknya,” berkata Miyatsangka.

“Termasuk kau sendiri?” bertanya Mahisa Murti.

“Tetapi keadaanku lebih baik dari kedua saudara kandungku itu. Mereka memang tidak terluka separah aku, meskipun ada beberapa goresan senjata di kulitnya. Tetapi mereka benar-benar kehabisan tenaga,” berkata Miyatsangka.

“Apakah mereka telah minum obat-obatan yang dapat membantu menumbuhkan kembali kekuatan mereka?” bertanya Mahisa Murti.

“Kami tidak mempunyai obat semacam itu,” jawab Miyatsangka.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Ia mempunyai obat yang dapat membantu mempercepat pulihnya kembali kekuatan.

Tetapi tidak terlalu banyak. Karena itu, maka katanya, “Barangkali aku dapat membantu untuk lima orang yang paling penting di antara kalian.”

“Membantu apa?” bertanya Miyatsangka.

“Obat itu. Karena itu hanya mempunyai sedikit,” jawab Mahisa Murti.

Wajah Miyatsangka menjadi cerah. Katanya, “Sudah cukup untuk lima orang. Aku dan kedua orang saudara kandungku ditambah dua orang terbaik di antara kami yang juga mengalami kelelahan seperti aku.”

Mahisa Murti pun kemudian memberikan lima butir obat yang dimaksudkan untuk lima orang sebagaimana dikatakan oleh Miyatsangka. Obat yang harus dicairkan dahulu dengan minuman yang harus diminum sampai habis.

Dengan segera Miyatsangka membagikan obat itu. Dibangunkannya kedua orang saudaranya yang benar-benar baru tidur nyenyak untuk minum obat itu.

“Nanti kalian dapat tidur lagi,” berkata Miyatsangka.

Sementara itu saudara-saudaranya yang lain telah mengatur diri sebaik-baiknya sehingga semuanya akan mendapat kesempatan untuk beristirahat, karena sebenarnyalah semua orang merasa letih menghadapi pertempuran yang keras dan lama itu.

Seperti yang dikatakan oleh Mahisa Murti, maka lima orang telah minum obat yang dapat membantu mempercepat pulihnya kembali kekuatan mereka setelah dalam pertempuran yang sengit memeras tenaga mereka sampai tuntas. Untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya, maka kelima orang itu termasuk Miyatsangka telah diminta untuk tidur barang sejenak. Jika mereka nanti bangun dari tidur, maka mereka tentu sudah mendapatkan kekuatan mereka kembali sebagaimana sebelumnya.

“Tetapi aku harus menemui kalian. Tidak pantas jika aku membiarkan kalian duduk di sini sementara aku pergi tidur,” berkata Miyatsangka.

“Keadaannya menuntut demikian,” berkata Mahisa Murti, “tidurlah. Tidak perlu terlalu lama. Dalam tidur kau beristirahat sepenuhnya sementara obat itu mendapat kesempatan sebaik-baiknya bekerja di tubuhmu.”

Miyatsangka mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Tetapi kalian harus berjanji.”

“Kenapa kami yang justru harus berjanji?” bertanya Mahisa Murti.

“Berjanji untuk tidak meninggalkan tempat ini selama aku tidur,” berkata Miyatsangka.

Mahisa Murti termangu-mangu. Namun Mahisa Pukat lah yang menyahut, “Kami akan menunggu.”

“Terima kasih,” berkata Miyatsangka, “biarlah saudara-saudara seperguruanku menemani kalian duduk disini.”

Miyatsangka pun kemudian telah masuk kembali ke dalam rumah. Nampak sekali betapa ia pun merasa sangat letih. Langkahnya memang gontai dan kakinya seakan-akan menjadi sangat berat.

Beberapa saat kemudian, ketiga orang anak muda itu. duduk di pendapa. Sementara itu Mahisa Murti berdesis, “Apakah kita akan tertahan lagi disini? Bukankah kita telah memutuskan untuk segera kembali ke padepokan Bajra Geni?”

“Hanya tertunda beberapa saat selama mereka tidur,” jawab Mahisa Pukat, “apakah kita akan sampai hati meninggalkan mereka dalam keadaan seperti ini?”

Ternyata Mahisa Murti pun mengangguk. Katanya, “Aku mengerti.”

Namun dalam pada itu, Mahisa Semu lah yang bertanya, “Di manakah letaknya Padepokan Bajra Geni itu?”

“Kita akan segera menuju ke padepokan itu,” berkata Mahisa Murti dengan nada rendah.

Dalam pada itu, maka beberapa orang masih nampak sibuk di halaman. Seorang di antara mereka telah menghidangkan minuman dan makanan bagi ketiga orang anak muda itu.

Meskipun saudara-saudara seperguruan Miyatsangka dalam kesiagaan penuh, namun mereka memang sudah mengatur diri. Berganti-ganti mereka beristirahat untuk mendapatkan kembali kekuatan mereka setelah diperas habis-habisan.

Namun ketiga orang anak muda yang ada di pendapa itu tidak terlalu lama tahan untuk duduk-duduk saja. Mereka pun kemudian turun pula ke halaman dan melihat-lihat apa yang baru saja terjadi di halaman rumah itu.

Ternyata bahwa pertempuran telah terjadi di sekitar rumah itu. Halaman samping, kebun dan bagian-bagian lain dari kebun belakang nampak bekas pertempuran yang sengit.

“Kita lihat dua orang suami isteri yang tua itu,” desis Mahisa Murti.

Ketiganya pun kemudian mendekati pondok kecil itu di belakang rumah. Perlahan-lahan mereka mengetuk pintu rumah itu.

“Siapa?” terdengar suara yang bergetar.

“Aku,” jawab Mahisa Murti.

Terdengar langkah ragu mendekati pintu. Namun kemudian pintu itu pun telah terbuka.

“Oo,” orang tua itu menarik nafas dalam-dalam, “kalian telah berada di sini lagi?” bertanya orang tua itu.

“Halaman rumah ini tidak ubahnya telah menjadi neraka,” berkata orang tua itu.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Miyatsangka telah menceriterakan.”

“Kalian hanya bertiga?” bertanya orang tua itu.

“Ya. Kami memang hanya bertiga,” jawab Mahisa Murti.

“Gadis itu?” bertanya orang tua itu pula.

“Tinggal bersama keluarganya. Kami telah menyerahkannya kembali,” jawab Mahisa Murti pula.

“Syukurlah jika gadis itu selamat sampai kepada orang tuanya,” berkata orang tua itu. Lalu katanya, “Tetapi nampaknya api neraka akan membakar halaman ini kembali.”

“Mudah-mudahan tidak,” berkata Mahisa Murti.

“Ya. Mudah-mudahan tidak,” terdengar suara seorang perempuan tua yang ketakutan.

“Apakah kalian akan tinggal disini untuk sementara?” bertanya laki-laki tua itu.

“Mungkin hanya malam ini,” berkata Mahisa Murti.

Orang tua itu menarik nafas. Sementara itu, senja memang telah menjadi semakin gelap. Beberapa orang telah menyalakan obor-obor di sudut-sudut rumah, di regol dan di serambi, sementara lampu minyak pun telah dinyalakan pula di dalam rumah.

Orang tua itu telah menyalakan lampu pula. Sementara itu ia pun telah bertanya, “Dimanakah Miyatsangka sekarang?”

“Ia sedang beristirahat. Nampaknya ia menjadi sangat letih, sementara ia telah terluka meskipun tidak terlalu parah.” jawab Murti.

“Ya. Ia memang terluka. Gelombang itu sangat menakutkan. Bergulung-gulung datang dalam jumlah yang terlalu banyak,” berkata orang tua itu.

Yang mendapat pertanyaan itu pun telah menunjukkan di mana ketiga orang anak muda itu sedang beristirahat.

“Jadi mereka belum meninggalkan rumah ini?” bertanya Miyatsangka.

“Belum,” jawab pemimpin dari yang sedang bertugas itu.

Miyatsangka mengangguk-angguk.

“Apakah kakang Miyatsangka akan menemui mereka?” bertanya yang sedang bertugas.

“Tidak. Biarlah mereka beristirahat,” jawab Miyatsangka.

Demikianlah, maka Miyatsangka dan kelima orang yang telah minum obat yang diberikan oleh Mahisa Murti itu telah bersiap sepenuhnya di pendapa. Jika terjadi sesuatu, mereka telah siap untuk bertempur dan memeras tenaga mereka sekali lagi.

Beberapa orang memang menjadi heran melihat keadaan Miyatsangka dan keempat orang yang lain. Di sore hari, mereka seakan-akan sudah tidak mampu lagi bangkit berdiri. Namun ternyata setelah beristirahat sejenak, bekas-bekas keletihan itu sama sekali sudah tidak nampak lagi.

Namun ternyata sampai menjelang pagi, tidak terjadi sesuatu di rumah itu. Tidak ada kelompok-kelompok yang datang menyerang.

Meskipun demikian, banyak hal yang masih dapat terjadi. Agaknya kelompok-kelompok itu mempunyai kebiasaan untuk menyerang di siang hari sebagaimana telah dilakukan.

Sementara itu, beberapa petugas telah bergiliran. Yang sudah sempat tidur, telah mendapat tugas menjelang fajar. Sementara yang baru saja bertugas telah mendapat kesempatan untuk beristirahat.

Menjelang matahari terbit, maka ketiga orang anak muda yang tidur di gandok pun telah terbangun. Bergantian mereka pergi ke pakiwan. Setelah membenahi diri, maka mereka bertiga pun telah dipersilahkan pula naik ke pendapa, duduk bersama Miyatsangka bersama empat orang lainnya yang telah minum obat yang diberikan oleh Mahisa Murti sehingga kekuatan mereka telah menjadi pulih kembali.

“Nampaknya segala sesuatunya telah menjadi terang,” berkata Mahisa Murti. Lalu “tugas-tugas kalian tinggal menguburkan mereka yang meninggal.”

Tetapi Miyatsangka menggeleng. Katanya, “Tidak. Masih banyak kemungkinan yang terjadi. Sebagaimana pernah terjadi, kedua paman itu selalu bergerak di siang hari. Karena itu, maka kami sedang menunggu, apakah hari ini mereka akan bergerak atau tidak.”

Ketiga anak muda itu mengangguk-angguk. Sementara itu, kesiagaan di halaman, halaman samping dan kebun di belakang semakin dipertinggi. Beberapa orang dengan senjata telanjang berjalan mondar-mandir sambil mengawasi keadaan. Sementara itu, di setiap sudut terdapat panggung yang disiapkan dengan tergesa-gesa.

Di atas setiap panggung itu seorang di antara saudara seperguruan Miyatsangka bertugas mengawasi keadaan.


Beberapa saat kemudian, maka langit pun menjadi semakin terang. Sebentar lagi matahari tentu akan segera terbit.

Pada saat yang demikian itulah maka Miyatsangka berkata, “Kita berada dalam keadaan yang paling gawat. Jika saat matahari terbit kita tidak mengalami sesuatu, maka hari ini kita akan dapat bernafas. Namun kita harus siap menghadapi saat matahari terbit.”

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu mengerti arti dari kata-kata Miyatsangka itu. Karena itu, maka mereka tidak bertanya lagi ketika Miyatsangka kemudian minta diri untuk turun ke halaman dan berada di antara saudara-saudara seperguruannya bersama dengan keempat orang yang paling dipercayainya itu. Dua orang saudara kandungnya dan dua orang saudara seperguruannya.

Dalam pada itu, Miyatsangka dan keempat orang kepercayaannya telah mengatur saudara-saudara seperguruannya. Mereka telah menyebar di seluruh halaman, halaman samping dan kebun belakang. Namun sebagian terbesar dari saudara-saudara seperguruan Miyatsangka memang berada di halaman depan.

Beberapa orang di antara mereka justru telah membawa senjata terhunus, seakan-akan mereka tidak mau terlambat menebas leher lawannya jika tiba-tiba saja mereka muncul. Sementara itu, orang yang berdiri di belakang dinding halaman itu telah bersiap-siap dengan tombak pendek. Jika seseorang meloncati dinding itu dari luar, maka ia akan langsung jatuh ke ujung tombak itu.

Saat-saat yang menegangkan itu pun sampai ke puncaknya di saat matahari mulai melemparkan cahayanya yang pertama.

Semua orang di halaman, halaman samping dan kebun belakang menjadi tegang. Miyatsangka berdiri di tengah-tengah halaman depan bersama dua orang saudara kandungnya, sementara kedua orang saudara seperguruannya yang telah memulihkan kembali kekuatannya itu berada di sebelah menyebelah rumah itu.

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu juga berada di halaman meskipun mereka bertiga berada tepat di bawah tangga pendapa.

Dalam ketegangan itu, darah pun rasa-rasanya telah berhenti mengalir. Miyatsangka dan saudara-saudara seperguruannya berdiri tegak bagaikan patung. Orang-orang yang bertugas berdiri diatas panggungan kecil di sudut-sudut halaman itu pun menjadi sangat tegang. Sekali-sekali mereka memandang berkeliling.

Namun sekali-sekali mereka memandang langit di ujung timur, seolah-olah mereka ingin memberikan kesaksian yang tepat, siapakah yang muncul lebih dahulu. Matahari, atau orang-orang yang mungkin akan menyergap rumah itu.

Di saat detak-detak jantung orang-orang yang ada di halaman itu berdegupan semakin cepat, maka seorang di antara mereka yang bertugas di sudut halaman depan rumah itu menjadi sangat tegang. Ia melihat dua orang yang tiba-tiba saja muncul dari balik pepohonan. Dengan cepat orang yang telah menyiapkan anak panah dan busur itu telah membidiknya. Hanya sesaat, karena sesaat kemudian sebuah anak panah telah meluncur.

Tetapi untunglah bahwa orang yang berdiri diatas panggungan itu melihatnya. Karena itu, maka dengan serta-merta, ia pun telah berjongkok menghindari anak panah itu. Hampir di luar sadarnya, setelah ia terlindung oleh dinding halaman, maka tangannya telah meraih pemukul sebuah kentongan kecil.

Sejenak kemudian, suara kentongan itu telah bergema di seluruh lingkungan dinding halaman rumah itu, sementara sebuah anak panah yang tidak mengenai sasaran telah meluncur dan jatuh di halaman, tidak terlalu jauh dari Mahisa Murti.

Suara kentongan itu memang menjadi jawaban atas ketegangan yang telah terjadi. Ternyata yang mereka tunggu telah datang.

Orang-orang yang ada di halaman itu pun segera telah menarik senjata mereka. Mereka tidak perlu menunggu lagi. Jika orang-orang dari luar halaman itu berloncatan masuk, maka mereka tidak akan segan-segan lagi menghunjamkan senjata mereka ke dalam tubuh lawan. Keragu-raguan sebagaimana pernah terjadi, hanya akan menyulitkan kedudukan mereka sendiri.

Miyatsangka masih berdiri di halaman. Ia berusaha untuk dapat melihat seluas-luasnya medan yang bakal terjadi di halaman rumah itu demikian lawan mereka meloncat masuk. Namun demikian kedua orang saudara kandungnya telah bergeser memencar. Yang pernah terjadi merupakan pengalaman bagi mereka.

Sejenak kemudian, yang mereka tunggu itu benar-benar telah berloncatan keatas dinding halaman. Mereka tidak segera meloncat masuk. Satu-satu di antara mereka jika memasuki halaman, akan dapat menjadi korban. Tetapi mereka harus meloncat bersama-sama sehingga dengan demikian, maka mereka tidak akan mudah untuk dibantai oleh orang-orang yang ada di bawah dan menunggu mereka dengan senjata terhunus.

Namun yang tidak terduga adalah jumlah mereka. Ketika orang-orang yang datang itu telah berloncatan keatas dinding, maka ternyata dari ujung ke ujung halaman depan, dinding itu telah penuh dengan orang yang berjongkok berhimpitan. Bahkan ternyata diatas dinding di halaman samping pun telah terdapat pula beberapa orang di antara mereka.

Miyatsangka menarik nafas dalam-dalam. Jumlah mereka justru bertambah. Nampaknya mereka harus bekerja lebih keras untuk dapat bertahan.

“Untunglah bahwa tenagaku dan beberapa orang kepercayaanku telah pulih kembali,” berkata Miyatsangka di dalam hatinya.

Hampir di luar sadarnya ia berpaling ke arah ketiga orang anak muda yang menjadi tamu di rumah itu. Namun nampaknya ketiga orang anak muda itu lagi memperhatikan keadaan dengan sungguh-sungguh.

Sebenarnyalah Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu menjadi berdebar-debar pula. Jumlah mereka yang datang itu memang terlalu banyak, sehingga dengan demikian telah mendorong orang-orang yang bertahan, .tidak lagi memperhitungkan apa yang mereka lakukan selain mengurangi jumlah lawan.

Tetapi orang-orang di rumah itu memang tidak mempunyai pilihan lain kecuali benar-benar berusaha untuk bertahan dengan menghancurkan lawan yang menyerang.

Namun orang-orang itu tidak segera berloncatan turun. Seorang di antara mereka, yang nampaknya menjadi pemimpin dari orang-orang yang datang itu berkata lantang, “He, Miyatsangka. Apa katamu sekarang? Jika kali ini kau mampu bertahan, maka kami semuanya akan merelakan leher kami untuk kau penggal.”

Terdengar beberapa orang tertawa berkepanjangan. Seorang yang berkumis tebal berjambang panjang dan rambutnya terurai menjurai dibawah ikat kepalanya, telah berteriak, “Kau mulai gemetar Miyatsangka. Jika kemarin kami gagal, maka sekarang kami akan berhasil. Menyesal, bahwa kau dan saudara-saudara-mu telah menyakiti hati kami sehingga kami datang untuk membalas dendam. Seorang di antara kami yang terbunuh, maka nilainya akan sama dengan sepuluh orang di rumah ini. Dua orang di antara kami telah terbunuh, berarti duapuluh orang di antara kalian akan mati. Tetapi agaknya aku ragu, apakah jumlah kalian ada dua puluh orang.”

Beberapa orang telah tertawa lagi. Sementara itu pemimpin mereka telah berkata, “Aku tidak akan mempergunakan istilah yang berbelit-belit. Kami datang untuk membunuh kalian semuanya. Aku sudah memutuskan bahwa tidak seorang pun di antara kalian boleh tinggal hidup. Yang dapat kalian lakukan adalah tinggal memilih. Mati dengan cara yang baik atau dengan cara yang sulit dan lama. Jika kalian memilih mati dengan cara yang baik, maka kalian tinggal duduk berjajar di halaman. Kami akan memenggal leher kalian satu demi satu. Kalian tidak akan merasakan betapa pedihnya luka yang menganga di perut kalian atau bagaimana sakitnya kepala yang retak. Tetapi jika kalian tidak memilih cara itu, maka kalian akan mengalami cara yang lain. Cara yang lebih pahit. Kematian yang lama. Kami akan membiarkan kalian tinggal di tempat ini dalam keadaan luka parah. Yang tidak terluka, akan kami lukai sehingga tidak seorang pun akan dapat menolong yang lain. Kalian semuanya akan mati dengan lambat. Mungkin kehausan selain kesakitan. Mungkin kelaparan. Mungkin tempat ini akan didatangi anjing liar atau binatang yang lain.”

Orang-orang yang duduk diatas dinding itu pun tertawa semakin keras. Bahkan seorang yang bertubuh gemuk, berkepala botak tanpa ikat kepala dan seorang lagi yang wajahnya bergaris-garis bekas luka silang melintang, tertawa sangat keras sambil berteriak-teriak, “Serahkan kepada kami.”

Yang lain pun telah berteriak pula sahut-menyahut.

Miyatsangka masih tetap berdiri di tempatnya. Ia tidak segera menanggapi. Sikap tenangnya memang mengagumkan. Bahkan pemimpin dari orang-orang yang datang itu pun merasa heran juga akan sikap itu.

Baru sejenak kemudian, Miyatsangka berkata lantang, “Apakah kalian sudah puas berbicara? Jika belum puas, berbicaralah. Kami tidak berkeberatan. Tetapi jika kalian sudah puas, kami persilahkan kalian pergi meninggalkan tempat ini. Siapa yang menginjakkan kakinya di halaman rumah kami, akan kami bunuh tanpa ampun.”

Pernyataan Miyatsangka itu memang mengejutkan. Mereka tidak mengira bahwa Miyatsangka masih juga dapat mengancam mereka seperti itu.

Justru karena itu, untuk sesaat orang-orang yang berada diatas dinding itu terdiam. Namun pemimpin mereka kemudian berkata, “Miyatsangka. Nampaknya kau memang sedang mengigau menjelang kematianmu. Apa yang dapat kau harapkan dengan orang-orangmu itu? Jumlah kami jauh lebih banyak dari jumlah orang-orangmu. Sementara itu kami sudah menjajagi kemampuanmu dan orang-orangmu. Kau sudah terluka dan beberapa orang kepercayaanmu tentu sudah menjadi sangat letih sehingga jika kami memaksa kalian bertempur sekali lagi sekarang ini, maka akan terjadi apa yang telah kami katakan.”

Tetapi Miyatsangka masih menjawab, “Kenapa tidak segera saja kalian lakukan? Aku sudah muak mendengar kalian berbicara tanpa ujung pangkal. Sudah saatnya kita menguji kebenaran dari apa yang sudah kita ucapkan.”

“Anak setan kau Miyatsangka,” geram pemimpin dari orang-orang yang berjongkok diatas dinding halaman itu, “ternyata kau memilih cara mati yang pahit itu. Baiklah. Sebentar lagi apa yang kau inginkan itu akan terjadi. Jangan menyesal di saat-saat kesakitan, kelaparan dan kehausan mencekikmu perlahan-lahan.”

“Jangan takut aku menyesal,” berkata Miyatsangka, “agaknya lebih baik kau dan orang-orangmu berdoa menjelang saat-saat kematian. Nampaknya korban akan jatuh berlipat ganda dari yang pernah terjadi. Tetapi apa boleh buat. Itu bukan salah kami, karena kami sekedar mempertahankan diri.”

Pemimpin dari orang-orang yang duduk diatas dinding itu memang menjadi sangat marah. Karena itu, maka ketika Miyatsangka sama sekali tidak menjadi takut atas ancamannya, maka ia pun benar-benar akan melakukannya.

Sejenak kemudian, maka terdengar pemimpin dari orang-orang yang duduk diatas dinding itu berteriak, “Marilah. Kita tidak ingin kehilangan waktu lagi. Bunuh semua orang yang ada di dalam lingkungan dinding halaman ini. Jumlah kita berlipat ganda, sehingga kalian akan dapat melakukannya dengan senang hati. Sambil menari, atau sambil berdendang atau sambil makan sekalipun. Tidak akan orang yang dapat menahan kalian.”

Sebenarnyalah bahwa Miyatsangka memang menjadi cemas. Ia sadar bahwa orang-orang yang ada di halaman itu tidak mampu mengatasi sekian banyak orang, kecuali jika ketiga orang anak muda itu bersedia ikut campur. Anak-anak muda itu ternyata telah mampu mengalahkan paman gurunya, orang yang memiliki ilmu tanpa ukuran.

Hampir di luar sadarnya Miyatsangka telah berpaling ke arah Mahisa Murti yang nampaknya juga menjadi tegang.

Sebenarnyalah ketiga orang anak muda itu menjadi tegang. Mahisa Murti sedang memikirkan kemungkinan yang paling baik yang dapat dilakukan. Nampaknya ketiganya memang tidak mempunyai pilihan lain kecuali melibatkan diri.

Mahisa Pukat yang berdiri dengan tegang, sudah berpikir untuk mempergunakan kekuatan ilmunya, menyerang orang-orang itu dari jarak jauh. Dengan demikian, maka ia akan dapat menahan arus serangan yang datang seperti gelombang yang didorong oleh angin prahara itu.

Namun dengan demikian, orang-orang itu tentu mempunyai penilaian tersendiri atas Miyatsangka dan saudara-saudara seperguruannya serta orang lain yang kebetulan sedang ada di tempat itu, karena tidak seorang pun dari keluarga perguruan Miyatsangka yang mampu melontarkan ilmu seperti ilmunya itu.

Karena itu, maka Mahisa Pukat harus tidak mempergunakannya. Jika ia mencobanya juga, maka pada kesempatan lain, perguruan Miyatsangka justru akan mengalami kesulitan. Jika orang-orang itu memperhitungkan bahwa orang lain itu sudah pergi, mereka akan datang menyerang lagi.

Dalam pada itu, ketiga orang anak muda itu tidak mempunyai kesempatan lebih lama untuk merenung. Mereka pun telah mendengar pemimpin dari orang-orang yang berada diatas dinding itu berteriak, “Cepat, lakukan sekarang.”

Sejenak kemudian, maka orang-orang itu telah berloncatan turun. Miyatsangka yang menjadi sangat tegang melihat jumlah yang terlalu banyak itu, menjadi mantap ketika Mahisa Murti mendekatinya dan berkata, “Aku berada di pihakmu.”

Sementara itu Mahisa Pukat pun telah berbisik di telinga Mahisa Semu, “Hati-hatilah. Jumlah mereka terlalu banyak.”

Sebenarnyalah pertempuran yang sesungguhnya telah dimulai. Korban memang telah mulai jatuh ketika dua tiga orang yang meloncat turun itu langsung diterima oleh ujung tombak. Luka pun segera menganga di tubuh mereka.

Tetapi yang meloncat turun memang terlalu banyak. Tidak semua orang saudara seperguruan Miyatsangka mampu mendahului mereka. Beberapa orang di antara mereka dengan tangkas telah meloncat dan langsung siap untuk bertempur.

Karena itu, maka saudara-saudara Miyatsangka pun justru mulai menarik diri. Karena jumlah mereka terlalu sedikit, maka mereka tidak berpencar. Mereka bertempur pada dua lingkaran pertempuran yang sempit.

Tetapi lingkaran ketiga terdiri hanya oleh tiga orang saja. Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu. Namun ternyata bahwa ketiganya telah berhasil mengikat beberapa orang sehingga dapat mengurangi jumlah orang yang berada pada kedua lingkaran pertempuran yang lain.

Mahisa Semu memang langsung mempergunakan senjata kepercayaannya. Senjata yang di tangan Mahisa Semu yang telah menyadap ilmu pedang dari kedua saudara angkatnya memang menjadi senjata yang sangat garang.

Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang mempergunakan pedang kebanyakan, telah langsung mempergunakan kemampuan ilmunya yang dapat menghisap kekuatan lawan-lawannya.

Dengan demikian, maka mereka yang tersesat ke lingkaran ketiga itu pun telah menemui nasib yang buruk. Dalam pertempuran yang keras, ketiga anak muda itu sulit untuk mengekang diri mereka. Sehingga dengan demikian, maka ujung senjata Mahisa Semu kadang-kadang memang telah melukai lawannya di tempat yang berbahaya.

Beberapa orang terpaksa bergeser keluar dari arena. Mereka harus mengobati luka-luka mereka lebih dahulu, karena mereka memang dibekali dengan obat-obatan yang bukan saja memampatkan darah, tetapi juga dapat menahan kekuatan bisa dan racun.

Seorang yang terluka lengannya setelah mengobatinya lukanya berteriak, “jangan merasa bangga atas kemenangan semu itu. Jika senjatamu beracun, maka racun itu tidak akan berarti apa-apa atasku.”

Namun orang itu menjadi heran. Ketika ia memasuki arena itu lagi, setelah senjatanya berbenturan dengan pedang lawannya yang tidak lebih daripada pedang buatan pande besi di sudut pasar, maka kekuatannya dengan cepat telah menjadi susut.

Karena itulah, maka lawan-lawan yang berada pada lingkaran ketiga yang hanya terdiri dari tiga orang itu justru mengalami kesulitan lebih cepat dari yang lain. Beberapa orang tiba-tiba menjadi tidak berdaya dan jatuh dengan lemahnya sehingga mereka harus merangkak menepi agar mereka tidak terinjak-injak.

Sebenarnyalah orang-orang yang tidak memiliki ilmu yang cukup kuat, dalam benturan senjata beberapa kali saja dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, kekuatan mereka seakan-akan telah menjadi lenyap.

Karena itu, setiap kali satu dua orang telah meninggalkan lingkaran pertempuran pertama dan kedua untuk membantu kawan-kawan yang cepat susut di lingkaran pertempuran ketiga.

Meskipun demikian, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih saja merasa cemas, bahwa keadaan Miyatsangka dan saudara-saudara seperguruannya mengalami kesulitan.

Miyatsangka dan saudara-saudara seperguruannya memang mengalami kesulitan. Lawan mereka terlalu banyak. Namun mereka pun menyadari, bahwa setiap kali lawan mereka telah berkurang satu dua orang.

Namun demikian, keadaan mereka memang terlalu berat. Tekanan dari segala arah hampir tidak tertanggungkan lagi, sehingga mereka harus mengerahkan segenap kemampuan yang ada di dalam diri mereka. Miyatsangka yang meskipun tenaganya telah pulih kembali, namun luka-lukanya memang berpengaruh atas kemampuannya.

Karena itu, sebelum ia kehabisan kesempatan, maka ia pun telah mempergunakan ilmunya. Tangannya tiba-tiba saja telah menjadi merah membara. Meskipun ilmu itu belum sempurna dan masih harus dikembangkan, namun ternyata ilmu itu sangat berbahaya bagi lawan-lawannya.

Dengan tangan kanannya Miyatsangka menangkis senjata lawan-lawannya. Namun jika ia sempat meraba lawannya tangan kirinya, maka lawannya itu akan mengalami luka bakar yang sangat parah.

Di lingkaran pertempuran yang kedua, seorang saudara Miyatsangka juga sudah memiliki kemampuan dasar ilmu itu. Meskipun masih terlalu muda, namun ilmu itu sudah sempat menggetarkan lawan-lawan mereka.

Ketika satu dua orang saudara seperguruan Miyatsangka mulai terluka, maka sebenarnyalah telah terjadi kegelisahan di antara mereka. Namun justru karena itu, maka mereka pun telah mengerahkan segenap kemampuan yang ada untuk mempertahankan diri mereka.

Beberapa orang lawan mereka memang menjadi heran melihat pertempuran di lingkaran ketiga. Kawan-kawan mereka ternyata terlalu cepat susut. Dalam waktu yang pendek, beberapa orang telah merangkak menjauhi arena dan terkapar tidak berdaya dibawah tangga pendapa atau di bawah sebatang pohon yang tumbuh di pinggir halaman.

“Setan,” geram pemimpin mereka, “apa yang telah terjadi di lingkaran pertempuran itu?”

Namun ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak bertahan untuk terus bertempur dalam lingkaran tersendiri. Mereka melihat kesulitan yang terjadi di kedua lingkaran yang lain. Seandainya mereka bertahan, maka mereka memang akan dapat menghisap lawan. Tetapi apakah kemenangan mereka itu akan terjadi lebih cepat dari kekalahan di kedua lingkaran yang lain.

Karena itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sepakat untuk berbagi. Mereka masing-masing akan memasuki lingkaran yang berbeda, sementara Mahisa Semu akan bersama dengan Mahisa Pukat.

Sejenak kemudian, maka Mahisa Murti telah melenting keluar dari lingkaran pertempuran yang ketiga, yang menjadi semakin tipis karena lawan-lawan mereka telah banyak yang kehilangan kekuatan dan kemampuan.

Namun dalam pada itu, kedua lingkaran yang lain, Miyatsangka dan saudara-saudara seperguruannya mengalami kesulitan.

Mahisa Murti yang telah meninggalkan lingkaran pertempurannya telah meloncat secepatnya ke lingkaran kedua yang nampaknya menjadi sangat berat menghadapi tekanan dari orang-orang yang jumlahnya jauh lebih banyak. Kepungan menjadi semakin rapat dan ujung-ujung senjata hampir menggapai tubuh-tubuh orang yang ada di dalam kepungan itu.

Dengan tangkasnya Mahisa Murti telah menyerang kepungan yang semakin rapat itu. Namun Mahisa Murti tidak mulai dengan mempergunakan senjatanya. Tetapi dengan sentuhan-sentuhan tubuhnya atas tubuh lawannya untuk menghisap kekuatannya.

Dengan tangkasnya Mahisa Murti telah menangkap tengkuk dua orang di antara mereka yang mengepung saudara-saudara seperguruan Miyatsangka itu. Keduanya telah ditarik keluar dari kepungan.


Keduanya memang terkejut. Betapa kemarahan telah bergejolak di dalam dada mereka. Dengan serta merta keduanya telah menghentakkan diri melepaskan pegangan tangan Mahisa Murti.

Mahisa Murti memang melepaskan mereka. Dengan garangnya keduanya telah menyerang Mahisa Murti. Namun ketika senjata mereka terayun, terasa tenaga mereka tiba-tiba saja telah jauh susut. Mahisa Murti telah menarik lagi senjatanya yang disarungkannya. Dua kali ia menangkis serangan kedua orang itu. Tiba-tiba saja keduanya telah menjadi sangat lemah dan tidak berdaya lagi untuk melawan.

Demikianlah, kedatangan Mahisa Murti yang telah menyibak kepungan itu dan bergabung dengan saudara-saudara seperguruan Miyatsangka telah merubah keseimbangan pertempuran.

Tekanan yang sangat berat itu telah menjadi sedikit ringan. Ilmu pedang Mahisa Murti ternyata sangat baik dibandingkan dengan siapa pun di lingkaran pertempuran itu. Karena itu, maka orang-orang yang mengepung saudara-saudara seperguruan Miyatsangka pada lingkaran kedua itu harus menjadi lebih berhati-hati menghadapi orang baru di lingkaran pertempuran itu, yang telah berhasil menyibak kepungan dan masuk ke dalamnya.

Sementara itu, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah masuk ke dalam lingkaran pertempuran pertama. Sebagaimana dilakukan oleh Mahisa Murti, maka Mahisa Pukat pun telah memasuki lingkaran pertempuran dengan menyibak kepungan bersama Mahisa Semu.

Demikian Mahisa Pukat dan Mahisa Semu ada di dalamnya, maka perubahan pun segera terjadi pula.

Namun yang terjadi adalah sangat mengherankan orang-orang yang datang menyerang itu. Bukan saja ilmu pedang kedua anak muda itu yang menggetarkan jantung mereka, tetapi ternyata beberapa orang yang bertempur itu merasakan kelainan pada tenaga dan kemampuan mereka.

Semakin lama pertempuran itu berlangsung, maka keadaan yang tidak mereka ketahui sebabnya itu pun menjadi semakin nyata. Seperti yang telah terjadi pada lingkaran ketiga, maka satu dua orang benar-benar telah terlempar dari arena. Mereka yang hampir kehilangan kekuatan dan ilmu mereka, sama sekali tidak mampu lagi menangkis atau menghindari ujung senjata yang mengarah ke tubuh mereka.

Berbeda dengan Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu, maka saudara-saudara seperguruan Miyatsangka tidak dapat mengekang senjata mereka. Apalagi ketika mereka menyadari, bahwa satu dua orang saudara-saudara seperguruan mereka telah terluka.

Karena itu, maka satu, dua, tiga, empat orang telah terkapar di luar lingkaran pertempuran. Kawan-kawan mereka telah menarik mereka dan membawanya menepi.

Orang-orang yang datang itu masih merasa jumlah mereka lebih banyak. Karena itu, maka mereka tidak merasa berputus asa. Mereka masih berharap untuk dapat membunuh semua orang yang ada di halaman itu.

Tetapi keinginan itu semakin lama menjadi semakin jauh dari kemungkinan dapat berhasil. Ketika korban jatuh semakin banyak, maka akhirnya pemimpin dari orang-orang yang menyerang perguruan itu tidak dapat menghindari kenyataan.

Karena itu, maka mereka merasa tidak akan mampu berbuat lebih banyak lagi selain mengorbankan kawan-kawan mereka.

“Ada yang aneh dalam pertempuran itu,” berkata pemimpin itu di dalam hatinya. Tetapi ia tidak tahu, apa yang aneh itu.

Karena itu, maka ketika harapan sama sekali sudah tidak ada lagi, maka pemimpin dari orang-orang yang datang menyerang itu telah meneriakkan aba-aba yang tidak pernah dipikirkan akan diteriakkannya.

Aba-aba itu ternyata memang telah ditunggu oleh orang-orangnya. Karena itu, demikian aba-aba itu terdengar, maka orang-orangnya telah berebut berlari-larian. Namun ada di antara mereka yang ternyata tidak mampu lagi meloncati dinding halaman rumah itu, meskipun hal itu dilakukannya dengan mudah saat mereka datang.

Kilatan pedang pun menjadi sangat mengerikan. Namun kemudian terdengar suara Mahisa Murti yang mencegah orang-orang yang marah itu kehilangan nalar budi.

Miyatsangka yang mendengar Mahisa Murti berteriak, telah meneriakkan aba-aba yang sama. Dipanggilnya semua saudara-saudaranya untuk tidak usah mengejar lawan mereka.

Saudara-saudara seperguruan Miyatsangka memang mematuhi perintah itu. Tetapi beberapa orang telah bertanya kepadanya, “Kenapa?”

Miyatsangka termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menjawab, “Seperti yang selalu kita dengar pesan guru. Kita tidak boleh menganiaya orang yang sudah tidak berdaya.”

“Mereka bukannya tidak berdaya,” berkata salah seorang dari mereka, “tetapi mereka ingin melarikan diri. Lain kali mereka akan datang lagi untuk membunuh kami.”

“Lihat,” berkata Miyatsangka sambil menunjuk seorang yang demikian ketakutan sehingga ia tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Orang itu masih saja berusaha untuk memanjat dan meloncati dinding. Tetapi ia selalu gagal.

“Ia berada dalam ketakutan yang sangat,” berkata Mahisa Murti, “karena itu, maka ia termasuk orang yang pantas dikasihani.”

Sebenarnyalah beberapa orang telah kehilangan kepribadiannya. Pertempuran yang baru saja terjadi, membuat mereka kehilangan kesempatan untuk mempergunakan nalar mereka. Mereka tidak tahu dengan pasti, apakah yang sebenarnya telah terjadi dengan diri mereka.

Dalam pada itu, maka seorang di antara saudara-saudara Miyatsangka itu bertanya, “Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang.”

Miyatsangka termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Pertempuran telah berakhir. Kita tahu, apa yang harus kita lakukan.”

Saudara-saudara seperguruan mengangguk-angguk. Mereka memang tahu apa yang harus mereka lakukan.

Karena itu, maka mereka pun mulai membenahi keadaan. Mereka mulai mengumpulkan orang-orang yang terluka dan menjadi korban. Mereka harus menghitung, berapa orang saudara seperguruan mereka yang tidak ada sehingga mereka harus mencarinya sampai mereka ketemu dengan jumlah yang genap.

Ternyata korban yang jatuh memang lebih banyak dari pertempuran yang terjadi sebelumnya. Bukan saja saudara-saudara seperguruan Miyatsangka, tetapi korban di antara lawan mereka ternyata menjadi berlipat. Bahkan ada di antara mereka yang sama sekali tidak terluka, tetapi tidak mampu meninggalkan halaman rumah itu lagi.

Miyatsangka dan beberapa orang saudaranya pernah menyaksikan bagaimana anak-anak muda itu melawan paman guru mereka. Miyatsangka tahu apa yang telah terjadi dengan lawan-lawan mereka yang menjadi lemah dan kehilangan tenaga.

Karena itu, disamping beberapa sosok mayat lawan, mereka yang terluka, Miyatsangka juga harus mengumpulkan orang-orang yang meskipun tidak terluka, tetapi tidak lagi mempunyai kemampuan untuk berbuat sesuatu.

Ketika Miyatsangka duduk di pendapa dengan orang-orang yang menjadi kepercayaan bersama tiga orang anak muda yang menyebut diri mereka sebagai pengembara itu, maka salah seorang di antara saudara seperguruannya memang bertanya, “Apakah pada suatu saat mereka tidak akan kembali?”

Yang menjawab adalah Mahisa Murti, “Aku kira mereka tidak akan kembali. Apalagi jika pada saatnya kalian lepaskan orang-orang yang kalian tawan itu. Yang telah mengalami ketakutan yang amat sangat. Mereka tentu akan berceritera apa yang telah mereka alami. Perasaan apakah yang pernah mencengkam jantung mereka. Sehingga dengan demikian, maka orang-orang lain tentu akan berpikir berulang kali, jika mereka ingin mencoba untuk memasuki halaman rumah ini kembali.”

Miyatsangka dan saudara-saudara seperguruannya mengangguk-angguk. Bahkan salah seorang dari kedua saudara kandungnya itu pun menyahut, “Aku sependapat dengan Ki Sanak.”

Miyatsangka mengangguk-angguk kecil. Katanya dengan nada datar, “Ya. Aku pun sependapat. Mereka tidak akan datang lagi dengan kekalahan mereka kali ini. Kemudian disusul dengan ceritera orang-orang yang akan kita bebaskan jika keadaan mereka bertambah baik. Satu sikap dengan keyakinan yang sangat tinggi.”

Yang lain pun mengangguk-angguk. Akhirnya mereka telah bersepakat untuk melepaskan orang-orang yang mereka tawan, meskipun mereka tidak akan meluapkan saudara-saudara mereka yang terbunuh dalam pertempuran itu.

Namun, dengan penjelasan yang panjang, akhirnya saudara-saudara seperguruan Miyatsangka yang lain pun bersedia melepaskan mereka yang tertawan dan mengalami ketakutan yang luar biasa. Mereka yang dengan tidak berdaya berusaha untuk keluar dari halaman itu.

Tetapi Miyatsangka harus merawat mereka sampai mereka mampu berjalan keluar dari regol halaman dengan tegak.

Namun hari itu Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu tidak dapat meninggalkan tempat itu. Miyatsangka dan saudara-saudara seperguruannya bahkan saudara-saudara kandungnya mengharap mereka berada di rumah itu setidak-tidaknya sampai hari berikutnya.

“Kita akan melihat, apakah yang terjadi besok saat fajar menyingsing,” berkata Miyatsangka.

Ketiga orang anak muda itu mengangguk kecil. Mereka mengerti, bagaimanapun juga masih ada perasaan cemas di hati Miyatsangka tentang orang-orang yang telah menyerang mereka dengan kekuatan yang sangat besar.

Karena itu, maka Mahisa Murti pun berkata, “Baiklah. Meskipun sebenarnya kami ingin segera sampai ketujuan, tetapi kami akan memaksa diri untuk tinggal hari ini.”

“Besok kita akan menyelenggarakan korban-korban yang telah jatuh,” berkata Miyatsangka.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Mereka memang merasa wajib untuk tinggal sampai hari berikutnya, untuk tidak merasa bersalah jika terjadi sesuatu.

Namun ternyata bahwa tidak terjadi sesuatu atas perguruan yang masih terguncang-guncang itu. Ketika matahari terbit, terjadi ketegangan sebagaimana hari berikutnya. Namun tidak seorang pun yang datang memasuki halaman rumah itu.

Dengan demikian maka nampaknya sebagaimana dikatakan oleh Mahisa Murti, bahwa orang-orang yang datang menyerang halaman rumah itu tidak akan pernah kembali. Kekuatan mereka telah jauh susut. Beberapa orang di antara mereka telah terbunuh.

Yang lain luka-luka dan yang lain lagi tertawan karena kehilangan kekuatan dan kemampuannya.

Karena itu, maka akhirnya ketiga orang anak muda itu telah minta diri. Tetapi mereka sadar, bahwa sebaiknya orang-orang yang tertawan, yang terluka dan yang kehilangan kekuatan dan kemampuan mereka tidak mengetahui bahwa ketiga orang anak muda itu telah meninggalkan rumah itu, karena dengan demikian mereka akan tahu bahwa kekuatan di rumah itu akan jauh susut.

“Aku akan meninggalkan rumah ini lewat pintu butulan saja,” berkata Mahisa Murti.

Setelah minta diri kepada orang tua yang tinggal di rumah kecil di belakang rumah induk, maka ketiga orang anak muda itu meninggalkan rumah Miyatsangka dan saudara-saudaranya untuk meneruskan perjalanan pulang ke sebuah padepokan kecil.

Demikian mereka memasuki bulak panjang, maka Mahisa Murti pun berkata, “Mudah-mudahan kita tidak harus berhenti lagi.”

“Mudah-mudahan,” berkata Mahisa Pukat.

“Semalam aku ragu-ragu ketika kita menyampaikan keperluan kita singgah. Namun nampaknya Miyatsangka justru merasa senang,” berkata Mahisa Pukat.

“Ya,” jawab Mahisa Murti, “nampaknya ia benar-benar akan melakukan sebagaimana kita katakan terhadap orang-orang yang merasa dirinya berkuasa di penginapan itu.”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Jika ia sempat, ia tentu akan datang ke tempat itu.”

“Tetapi bagaimana dengan perguruannya yang nampaknya masih selalu diguncang-guncang itu?” bertanya Mahisa Semu.

“Tentu tidak lagi,” sahut Mahisa Murti, “kita yakin.”

Mahisa Semu mengangguk-angguk. Tetapi ia pun telah mencoba meyakinkan dirinya, bahwa tidak akan terjadi sesuatu atas Miyatsangka dan saudara-saudaranya.

Demikianlah, maka ketiga orang anak muda itu telah melanjutkan perjalanan mereka. Mereka berusaha untuk tidak salah arah, kembali ke padepokan kecil yang mereka beri nama Bajra Seta.

Tetapi mereka sadar, bahwa mereka telah berjalan cukup jauh. Sehingga mereka memerlukan waktu yang panjang untuk sampai ke padepokan kembali. Dengan demikian mereka harus bermalam beberapa malam di perjalanan.

Satu dua hari di perjalanan kembali, mereka memang tidak terhambat oleh apa pun juga. Meskipun mereka tidak sempat bermalam di tempat yang lebih baik dari sebuah pategalan yang terbuka.

Di malam ketiga mereka berniat untuk mohon kepada para bebahu padukuhan yang mereka lewati untuk dapat bermalam di banjar. Agar mereka dapat beristirahat lebih baik dari dua malam sebelumnya.

Demikian mereka bertiga diterima oleh beberapa orang yang ada di banjar, termasuk beberapa bebahu padukuhan, sebenarnyalah mereka sudah merasakan sesuatu yang agak mendebarkan. Namun ternyata kemudian bahwa orang-orang itu memutuskan untuk menerima mereka bermalam di banjar itu.

Malam itu ketiga orang anak muda itu bermalam di sebuah banjar padukuhan. Mereka mendapat tempat sebuah bilik yang ada di serambi belakang.

Menjelang saatnya sepi uwong, mereka masih mendapat makan dan minuman panas bersama-sama dengan para peronda yang ada di banjar itu. Seorang petugas yang kemudian menyingkirkan mangkuk-mangkuknya, berkata, “Silahkan beristirahat Ki Sanak.”

“Terima kasih atas kebaikan para bebahu padukuhan ini,” sahut Mahisa Murti.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, malam pun menjadi semakin sepi. Yang masih terdengar dikejauhan, kadang-kadang suara tertawa orang-orang yang meronda. Mereka berusaha untuk mengusir kantuk yang kadang-kadang terasa sangat mencengkam.

Ketiga orang anak muda yang ada di dalam biliknya, di serambi belakang itu pun telah mengatur waktu. Dua di antara mereka telah tidur nyenyak, sementara Mahisa Semu mendapat giliran yang pertama karena menurut perhitungan mereka, tugas itu adalah tugas yang paling ringan.

Lewat tengah malam, maka Mahisa Semu telah membangunkan Mahisa Pukat yang mendapat giliran kedua.

Sambil menguap Mahisa Pukat berdesis, “Tidurlah. Aku akan menggantikanmu.”

Mahisa Semu pun kemudian telah berbaring di sebelah Mahisa Murti dan kantuknya rasa-rasanya memang telah membuatnya tidak sempat untuk menguap. Dalam waktu yang singkat, maka nafasnya pun telah mengalir dengan lancar lewat lubang hidungnya.

Mahisa Pukat lah yang kemudian duduk sendiri bersandar dinding. Sekali-sekali ia pun merasa mengantuk juga. Tetapi ia pun telah terbiasa melakukan tugas-tugas seperti yang dilakukannya itu, sehingga ia pun mampu mengatasinya.

Orang-orang yang berdiri didekat dinding halaman menjadi berdebar-debar melihat ketiga orang anak muda itu mendekati mereka.

Seorang yang mewakili orang-orang itu telah maju selangkah mendapatkan ketiga orang anak-anak muda itu. Bahkan dengan senjata yang telah siap terayun.

“Apa yang telah terjadi?” bertanya Mahisa Murti.

Orang yang mewakili orang-orang padukuhan itu pun berkata, “Kau tidak perlu bertanya lagi. Kau harus menyadari, bahwa permainan kalian akan berakhir disini.”

“Permainan apa? Kami tidak pernah merasa berbuat sesuatu yang tidak pantas bagi padukuhan ini,” berkata Mahisa Murti.
“Memang tidak bagi padukuhan ini,” jawab orang itu.
“Tolong Ki Sanak. Katakan kepada kami, apakah salah kami?” berkata Mahisa Murti.

Hijaunya Lembah, Hijaunya Lereng Pegunungan
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger