logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Hijaunya Lembah, Hijaunya Lereng Pegunungan Jilid 083


Namun dalam pertempuran selanjutnya, gegedug itu ternyata tidak lagi mampu bergerak secepat sebelumnya. Mahisa Murti tidak lagi selalu terlambat. Hampir semua serangan-serangannya telah dapat ditangkis oleh Mahisa Murti, sisanya dapat dielakkan.

Sembilan orang kawan gegedug itu masih melihat beberapa kelebihan dari gegedug itu. Serangan-serangannya masih selalu mengenai lawannya. Sekali-sekali memang dapat ditangkis oleh anak muda itu, sehingga keduanya tergetar surut. Namun sebagian terbesar dari serangan-serangan gegedug itu telah menggapai sasarannya.

Namun pertempuran itu semakin lama tidak menjadi semakin cepat. Tetapi sebaliknya. Seakan-akan kedua orang yang sedang bertempur itu telah sampai ke puncak kemampuan mereka, sehingga perlahan-lahan mulai menurun kembali.

Sebenarnyalah gegedug dari Bukit Palang itu menjadi gelisah. Ia tidak lagi mampu bergerak secepat sebelumnya. Tenaganya terasa menjadi semakin jauh susut. Bahkan kemudian sendi-sendi tulangnya mulai terasa semakin sendat.

“Gila. Apa yang terjadi?” orang itu justru bertanya kepada diri sendiri.

Namun dalam pada itu, ternyata lawannya masih mampu bertahan. Meskipun kekuatan anak muda itu juga susut, tetapi masih nampak tegar di dalam pertempuran itu. Bahkan kemudian anak muda itulah yang lebih sering mengenai tubuh lawannya.

Sembilan orang kawan gegedug itu mulai gelisah. Beberapa orang telah mulai bersiap-siap. Nampaknya mereka tidak dapat membiarkan kesulitan terjadi pada pemimpinnya.

“Tidak masuk akal,” berkata salah seorang di telinga kawannya, “keadaannya sudah begitu meyakinkan. Tidak mungkin Ki Lurah tiba-tiba kehilangan kekuatannya. Ia dapat bertempur sehari semalam tanpa berhenti, tanpa harus menjadi lemah seperti itu.”

“Ada yang tidak wajar,” sahut kawannya.

Mereka memang tidak dapat membiarkan kesulitan pada pemimpinnya itu berkepanjangan. Namun mereka pun harus berpikir ulang untuk melakukan satu langkah tertentu.

Dalam pada itu, Mahisa Pukat telah minta Wantilan untuk menggantikan tempatnya. Sementara itu, maka ia telah turun ke halaman.

Adalah diluar dugaan sembilan orang yang dengan tegang mengamati perkembangan pertempuran antara gegedug Bukit Palang melawan anak muda yang mengaku anak gegedug dari Pagar Rampak itu, bahwa seorang anak muda yang lain telah datang dan berdiri di belakangnya. Sambil memegang bahu seorang di antara mereka anak muda itu berbisik, “satu pertempuran yang sangat menegangkan.”

Orang itu belum sempat menjawab, ketika Mahisa Pukat telah beralih kepada orang yang lain. Sambil mengguncang lengannya ia bertanya, “he, apakah kau juga memiliki ilmu seperti itu?”

Orang itu pun tidak sempat menjawab, karena Mahisa Pukat telah berpindah kepada orang lain lagi.

Ternyata Mahisa Pukat sempat menyentuh enam orang di antara sembilan orang itu. Bahkan tiga orang di antaranya justru agak lama. Sambil menyaksikan pertempuran yang keseimbangannya pula berubah itu, Mahisa Pukat sempat berdiri di sebelah orang yang keenam.

Karena beberapa orang memang berdesakan menyaksikan pertempuran itu, maka orang itu tidak begitu menghiraukan ketika Mahisa Pukat berdiri dekat di sebelahnya.

Namun ketika orang itu menyadari bahwa yang berdiri didekatnya adalah Mahisa Pukat, maka orang itu menggeram, “Kau akan berbuat curang he?”

“Tidak,” jawab Mahisa Pukat yang berpindah ke dekat orang yang lain, “aku hanya ingin meyakinkan apa yang telah terjadi sehingga karena itu aku telah mendekat.”

Mahisa Pukat tidak sempat berbuat apa-apa lagi. Sembilan orang itu tiba-tiba telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Namun Ki Bekel pun telah bersiap pula. Bahkan beberapa orang yang berdiri di dekat sembilan orang itu telah bergeser surut. Para bebahu dan anak-anak muda yang berdiri di seputar arena itu pun semakin memperhatikan mereka, ketika mereka melihat bahwa Mahisa Murti kemudian tidak lagi sekedar menjadi sasaran serangan gegedug dari Bukit Palang itu.

Tetapi Mahisa Murti tidak membiarkan orang itu terjatuh dan benar-benar kehilangan seluruh kekuatannya. Ketika orang itu mulai goyah, maka Mahisa Murti pun berkata, “Nah, sadari. Apakah kau benar-benar akan mengalahkan anak gegedug dari Pagar Rampak.”

“Iblis kau,” geram orang itu. Tetapi tubuhnya memang terasa lemah sekali. Jika ia memaksa meloncat menyerang, maka ia akan dapat terjatuh.

“Apa yang sebenarnya telah terjadi,” geram orang itu di dalam hatinya.

Sementara itu, Ki Bekel benar-benar telah bersiap. Sembilan orang yang berdiri di tepi arena itu, rasa-rasanya tidak tahan melihat pemimpinnya yang tidak berdaya lagi.

Orang ketujuh yang hampir saja meloncat memasuki arena terkejut ketika tiba-tiba saja Mahisa Pukat datang mendekatinya, memegang pergelangan tangannya erat-erat sambil berkata, “Sebaiknya kau tidak usah ikut campur. Beritahu kawan-kawanmu yang delapan itu. Setiap usaha untuk mencampuri persoalan itu, maka kalian akan berhadapan dengan kekuatan di seluruh padukuhan ini.”

Orang itu akan menjawab. Namun Mahisa Pukat berkata selanjutnya, “Kenapa kalian tidak menawarkan pendekatan yang lebih baik daripada cara yang kasar itu.”

Orang itu merenggut tangannya. Dengan kasar ia berkata, “Aku bunuh orang yang menghalangi kami.”

Tetapi Mahisa Pukat tersenyum sambil menepuk bahunya. Menurut pengamatan Mahisa Pukat, orang ketujuh itu adalah orang yang terkuat dari antara sembilan orang yang berdiri di luar arena.

“Jangan cepat marah,” berkata Mahisa Pukat, “sebaiknya kau berpikir dengan tenang. Sekali lagi aku peringatkan, perhatikan keadaan disekelilingmu. Ki Bekel dan bebahunya telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Kau lihat anak-anak muda yang jumlahnya begitu banyak. Semuanya bersenjata. Orang-orang yang siap menawar pusaka-pusaka itu pun telah bersiap pula. Karena itu, pikirkan masak-masak.”

Orang itu mengibaskan tangan Mahisa Pukat sambil berkata kasar, “Kau jangan mencoba membujukku anak iblis. Aku sudah bertekad untuk membunuh semua orang.”

“Bagaimana jika gegedugmu itu dapat dikalahkan atau bahkan terbunuh di arena? Bukankah kau melihat ia sudah tidak berdaya lagi?” bertanya Mahisa Pukat.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Sementara itu, ia melihat gegedug dari Bukit Palang itu memang sudah menjadi sangat lemah. Bagaimanapun juga kemenangan atau kekalahannya akan berpengaruh atas kesembilan orang-orangnya.

Namun dalam pada itu, selagi orang ketujuh itu termangu-mangu, terdengar gegedug Bukit Palang itu berteriak, “He, kalian menunggu apa lagi.”

“Cukup,” tiba-tiba Mahisa Pukat juga berteriak, “jangan paksa kawan-kawanmu mati di sini. Kenapa kau tidak memerintahkan saja mereka menyingkir dari tempat ini?”

“Persetan,” geram gegedug itu. Lalu katanya, “Bunuh semua orang yang menghalangi kalian.”

“Kau sendiri bagaimana?” bertanya Mahisa Pukat dengan nada tinggi, “apakah kau juga akan terbunuh di sini? Bukankah kau tidak akan dapat mengingkari kenyataan tentang kekalahanmu?”

“Tutup mulut,” teriak gegedug dari Bukit Palang itu, “koyak mulut anak muda itu.”

Tetapi Mahisa Murti tiba-tiba bertanya, “Bagaimana dengan kau sendiri? Apakah kau masih akan bertempur? Jika kau jantan, akui dahulu bahwa ilmu Pagar Rampak jauh lebih baik dari ilmu Bukit Palang. Meskipun aku hanya anak gegedug dari Pagar Rampak, namun aku sudah dapat membuktikan kelebihan itu. Apalagi jika ayahku sendiri datang.”

Gegedug dari Bukit Palang itu menjadi semakin marah. Dengan keadaannya yang kurang menguntungkan itu, ia meloncat menyerang. Namun serangannya sama sekali tidak berarti. Bahkan Mahisa Murti sempat mendorong orang itu searah dengan garis serangannya.

Ternyata orang itu sudah kehilangan kekuatannya untuk bertahan pada keseimbangannya. Dorongan Mahisa Murti telah membuat orang itu terjerembab di arena.

Tetapi ia tidak lagi mampu dengan sigap melompat bangkit.

Ketika ia mencobanya juga, maka tulang-tulangnya justru serasa berpatahan.

Memang dengan susah payah ia dapat juga berdiri. Tetapi orang itu sama sekali sudah tidak mampu lagi untuk berbuat sesuatu.

Namun ternyata orang itu masih mampu berteriak, “Hancurkan seisi padukuhan ini.”

Sembilan orang kawan-kawannya memang serentak bergerak. Tetapi bersamaan dengan itu, Ki Bekel dan para bebahu-pun telah siap pula menghadapi mereka. Mereka justru telah mencabut senjata-senjata mereka. Ki Bekel dan para bebahu tidak yakin bahwa lawan-lawan mereka akan bertempur seperti gegedug Bukit Palang.

Tetapi gegedug Bukit Palang itu justru mempunyai perhitungan lain. Jika ia mempergunakan senjatanya, maka ia akan menjadi lebih cepat mati, karena lawannya tentu akan mempergunakan senjatanya pula.

Gegedug Bukit Palang yang tidak menyadari apa yang terjadi atas dirinya itu berharap bahwa beberapa saat kemudian, tenaganya akan dapat tumbuh kembali. Setidak-tidaknya cukup untuk menghadapi orang-orang padukuhan itu jika Mahisa Murti sudah terhisap oleh pertempuran melawan kawan-kawannya.

Sebenarnyalah, sejenak kemudian maka pertempuran telah terjadi dengan sengitnya. Sembilan orang itu harus bertempur melawan orang-orang padukuhan yang jumlahnya jauh lebih banyak.

Tetapi orang-orang padukuhan itu pada umumnya tidak memiliki dasar pengetahuan tentang olah kanuragan. Karena itu, meskipun sembilan orang itu harus melawan orang yang jumlahnya jauh lebih banyak, namun sembilan orang itu telah sempat dalam waktu pendek melukai beberapa orang.

Namun orang ketujuh yang dianggap paling garang itu, justru merasa aneh dengan dirinya sendiri. Ia merasa bahwa ia tidak berada pada puncak kemampuannya meskipun ayunan pedangnya masih menyebarkan udara maut.

Beberapa orang yang lain pun merasa aneh dengan diri mereka sendiri. Seandainya mereka berada dalam puncak kemampuan mereka, maka dalam waktu yang pendek, orang-orang padukuhan itu akan segera dapat mereka selesaikan.

Tetapi masih harus mereka perhitungkan pula anak muda yang telah mengalahkan gegedug dari Bukit Palang, sehingga seorang di antara sembilan orang itu dengan garangnya telah menyerang Mahisa Murti yang masih berdiri termangu-mangu.

Mahisa Murti meloncat mundur. Namun dengan nada rendah ia berkata, “Jika gegedug itu tidak kalian selamatkan, maka ia akan dibantai oleh orang-orang padukuhan. Ia sudah tidak bertenaga sama sekali.”

Orang yang menyerang Mahisa Murti itu memang berpikir sejenak. Agaknya ia sependapat dengan Mahisa Murti, sehingga ia telah berusaha membawa gegedug yang sudah tidak bertenada itu menepi. Sebuah isyarat telah dilontarkannya, sehingga seorang kawannya telah datang membantunya.

Dua orang telah berusaha melindungi gegedug itu. Beberapa orang bebahu dan penghuni padepokan itu memang berniat untuk menyerang gegedug yang sudah tidak berdaya itu. Namun dua orang pengikutnya, ternyata sulit untuk ditembus oleh orang-orang padukuhan. Namun kedua orang pengikut gegedug dari Bukit Palang itu tidak dapat dengan leluasa bertempur dan memburu lawan-lawannya karena mereka harus tetap berada di dekat gegedug yang sudah tidak berdaya sama sekali itu.

Meskipun demikian, kedua orang itu ternyata masih juga berhasil melukai beberapa orang lawan-lawan mereka, meskipun sekedar goresan-goresan di tubuhnya.

Sementara itu tujuh orang yang lain telah mengamuk seperti serigala yang terluka. Senjata mereka terayun-ayun mendebarkan jantung. Meskipun terasa urat-urat darah mereka seakan-akan telah menghambat gerakan-gerakan mereka.

Beberapa orang memang menjadi gentar melihat sikap orang orang itu. Tetapi beberapa orang yang lain masih bertempur dengan sengitnya. Kedua orang adik bebahu yang merasa terancam itu pun telah turun pula dalam pertempuran itu bersama dengan kakaknya. Ternyata adiknya yang bungsu itu memang memiliki kemampuan untuk menghadapi pengikut pengikut gegedug dari Bukit Palang itu.

Namun dalam kekalutan itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak tinggal diam. Mereka pun telah berusaha untuk mengekang kekerasan orang-orang yang bagaikan telah mengamuk itu.

Bahkan seorang di antara sembilan orang itu telah meloncat naik ke pendapa langsung menyerang nenek tua yang berdiri ketakutan.

Tetapi Mahisa Semu ada di dekatnya. Karena itu, maka Mahisa Semu yang melihat kemungkinan serangan itu, justru telah menyongsongnya.

Sejenak kemudian, telah terjadi pertempuran yang sengit di pendapa yang cukup luas itu. Wantilan yang menjaga pusaka-pusaka tidak berani beranjak dari tempatnya meskipun ia melihat perempuan tua itu sendiri. Tetapi agaknya Mahisa Amping-pun merasa bertanggung jawab. Anak itu telah berdiri tegak di hadapan nenek tua itu sambil menggenggam luwuknya.

Tetapi enam orang yang bertempur di halaman serta dua orang yang melindungi gegedug yang lemah itu tidak cukup kuat untuk menghadapi jumlah yang tidakterhitung. Apalagi beberapa orang di antara mereka yang telah membentur senjata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, merasakan perubahan di dalam diri mereka.

Sementara itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang berloncatan menghadapi orang-orang itu berganti-ganti. Setelah bertempur beberapa lama dengan seorang di antara mereka, serta membenturkan senjatanya beberapa kali, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu telah berganti lawan.

Benturan-benturan itulah yang sangat mempengaruhi pertempuran itu dalam keseluruhannya. Orang-orang itu menjadi semakin lemah dan anggauta tubuhnya rasa-rasanya menjadi semakin berat, sehingga mereka tidak mampu lagi bergerak cepat.

Dengan demikian, maka orang-orang itu tidak lagi menakutkan bagi para penghuni padukuhan itu. Para bebahu pun menjadi semakin berani serta merekalah yang kemudian justru mulai mendesak.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melihat perubahan itu. Bahkan Mahisa Pukat sempat juga ikut bertempur melawan dua orng yang melindungi gegedug dari Bukit Palang. Sehingga dengan demikian maka kedua orang itu pun tidak lagi dapat bertempur dengan garang.

Sementara itu, Mahisa Semu yang bertempur di pendapa, memang tidak memerlukan bantuan siapapun. Karena Mahisa Semu sendiri telah memiliki kemampuan ilmu pedang yang memadai. Apalagi lawannya adalah seorang di antara mereka yang sebelumnya telah disusut kemampuannya oleh Mahisa Pukat.

Wantilan masih saja berdiri di tempatnya. Ternyata tidak ada orang yang berani mengganggu pusaka-pusaka iu. Demikian pula tidak ada di antara sembilan orang itu yang berusaha sekali lagi menyerang nenek tua yang hanya dijaga oleh anak-anak yang menggenggam luwuk di tangannya.

Namun yang kemudian menjadi cemas adalah Mahisa Murti. Jika orang-orang padukuhan itu kehilangan kekang diri, maka mereka akan dapat melakukan tindakan yang berlebihan atas kesepuluh orang itu. Jika hal itu terjadi, maka telah terbakar dendam di hati orang-orang Bukit Palang, sehingga pada kesempatan lain akan membahayakan padukuhan itu.

Namun dalam pada itu, pertempuran nampaknya masih saja berlangsung. Bagaimanapun juga, orang-orang dari Bukit Palang itu masih berusaha untuk bertahan. Meskipun tubuh mereka menjadi semakin lemah, namun kemampuan mereka bermain pedang masih juga sempat membuat orang-orang padukuhan itu berloncatan surut.

Tetapi dalam satu kesempatan, Mahisa Murti telah meloncat ke tengah-tengah arena sambil berteriak, “Cukup. Kita tidak boleh membuang waktu terlalu banyak untuk satu persoalan yang tidak ada ujung pangkalnya.”

Teriakan Mahisa Murti cukup menggetarkan jantung sembilan orang dari Bukit Palang itu. Mereka memang bergeser surut serta mengambil jarak dari lawan-lawan mereka. Demikian pula orang yang telah bertempur melawan Mahisa Semu serta kedua orang yang melindungi gegedug yang telah kehilangan tenaga itu.

“Satu kesempatan terakhir bagi kalian, orang-orang yang datang bersama gegedug dari Bukit Palang. Tinggalkan tempat ini, sebelum kami, orang-orang padukuhan ini kehilangan kesabaran.”

Orang-orang dari Bukit Palang itu termangu-mangu. Namun ternyata gegedug yang sudah tidak berdaya itu pun berteriak pula meskipun suaranya sudah tidak begitu lantang, “Bunuh semua orang. Ambil pusaka-pusaka itu. Mereka telah menghinakan kita.”

“Jangan kehilangan akal,” sahut Mahisa Murti, “kau sendiri sudah tidak mampu berbuat sesuatu. Orang-orangmu pun menjadi semakin lemah. Betapapun tinggi tingkat ilmunya, namun mereka tidak akan dapat melawan orang sepadukuhan. Sebagai seorang yang berilmu tinggi, maka kau tentu dapat melihat satu kenyataan, bahwa orang-orangmu telah terdesak dan jika kau tidak mengambil satu kebijaksanaan, maka orang-orangmu yang hanya sembilan orang itu akan musnah. Tentu termasuk kau sendiri akan hancur bersama mereka.”

Orang itu termangu-mangu sejenak.

Sementara Mahisa Murti berkata, “Dengar gegedug dari Bukit Palang. Kami tahu bahwa kalian tentu merasa tersinggung atas tawaran kami. Harga diri kalian akan menghambat kebijaksanaan yang akan kalian ambil. Tetapi dengarlah dengan baik. Kami telah berusaha untuk menahan diri, sehingga kami akan membiarkan kalian pergi. Kalian tentu akan dapat menghargai sikap kami, karena jika tidak demikian, maka sebentar lagi kalian akan mati di sini.”

Gegedug itu masih juga berkata, “Jika kalian memang merasa tidak dapat lagi melawan kami, semuanya harus berlutut, mohon ampun dan menyerahkan pusaka-pusaka itu.”

Tetapi Mahisa Murti menjawab, “Kau jangan berpura-pura lagi. Kita semua tahu, apa yang sebenarnya telah terjadi di halaman dan di pendapa rumah ini. Sebaiknya kau tidak usah membuang-buang waktu. Perintahkan orang-orangmu pergi, atau mereka akan mati di sini dengan cara yang pahit.”

Gegedug itu berpikir sejenak. Namun ternyata justru seorang bebahu berteriak, “Apa yang sebenarnya akan kau lakukan?”

“Biarlah mereka meninggalkan tempat ini,” jawab Mahisa Murti.

“Tidak,” teriak bebahu itu, “kita bunuh mereka di sini. Mereka telah menghinakan kami pula. Mereka datang hanya dengan sepuluh orang. Tetapi mereka merasa bahwa mereka akan dapat mengalahkan kami.”

“Aku ada di pihakmu,” jawab Mahisa Murti, “tetapi aku tidak merasa terhina jika mereka bersedia meninggalkan tempat ini.”

“Jangan biarkan mereka pergi,” teriak yang lain.

“Apa maksudmu sebenarnya?” bertanya Ki Bekel.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun Mahisa Pukat yang tanggap akan maksud Mahisa Murti telah mendekatinya sambil berteriak, “Ki Bekel. Kita harus menghindarkan perasaan dendam yang berlebihan dari orang-orang Bukit Palang. Jika kita membunuh sepuluh orang di sini, maka sisa-sisa mereka akan berusaha untuk melakukan lebih banyak lagi. Jika mereka tidak berani dengan terang-terangan menyerang padukuhan ini, maka mereka akan dapat mempergunakan cara lain. Membunuh seorang demi seorang. Merusak sawah dan pategalan, serta perbuatan-perbuatan lain yang dapat merusak ketenangan hidup di padukuhan ini.”

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Namun ia dapat mengerti jalan pikiran anak-anak muda itu.

Karena itu, maka Ki Bekel pun berkata lantang, “Baiklah. Cepat, tinggalkan tempat ini sebelum aku berubah sikap.”

“Kalian dengar pernyataan Ki Bekel?” bertanya Mahisa Murti.

Sepuluh orang itu termangu-mangu. Namun mereka semuanya memang tidak dapat mengingkari kenyataan, betapapun mereka akan berjuang, tetapi mereka akan benar-benar dapat dibantai oleh orang-orang padukuhan itu. Sebagian besar dari mereka merasa bahwa tenaga mereka menjadi semakin lemah. Mereka merasa ada yang tidak wajar pada diri mereka. Sementara itu, mereka harus mengakui bahwa anak-anak muda itu memang berilmu tinggi.

Untuk beberapa saat gegedug itu merenung. Ia berdiri di antara kenyataan yang dihadapinya dengan harga diri seorang gegedug.

Namun bagaimanapun juga, seseorang akan membuat perhitungan ulang jika nyawanya terancam. Apapun yang akan dilakukan, jika itu akan dapat mengakhiri hidupnya, maka selama ini masih mampu berpikir wajar, ia tentu akan memilih jalan lain.

Karena itu, maka gegedug itu telah mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang akan dapat terjadi atas dirinya dan orang-orangnya.

Sementara itu Mahisa Murti pun berkata, “Cepat. Persoalan akan dapat berkembang menjadi lebih buruk. Karena itu, maka tinggalkan tempat ini selagi kalian masih sempat.”

Akhirnya gegedug itu memang memilih untuk meninggalkan tempat itu meskipun ia harus mengorbankan harga dirinya. Ia memilih untuk tetap hidup daripada dibantai oleh orang-orang padukuhan.

Meskipun demikian ia masih juga berkata, “Baiklah. Kali ini aku memaafkan kalian.”

“Pakai kata-kata yang lain,” berkata Mahisa Pukat.

“Jangan biarkan mereka pergi,” teriak seseorang.

“Kita hukum mereka di sini,” sahut yang lain.

Namun Ki Bekel berkata, “Kita adalah orang-orang yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Biarkan mereka pergi, merenungi tingkah, lakunya dan membandingkannya dengan keputusan yang kita ambil sekarang. Tetapi jika pada kesempatan lain mereka datang kembali, maka sikap kita akan berbeda.”

Orang-orang padukuhan itu termangu-mangu. Sementara Mahisa Murti berkata, “Jika kesempatan yang diberikan oleh Ki Bekel lewat, maka persoalannya akan lain.”

Gegedug itu menggeram. Namun ia pun kemudian minta orang-orangnya meninggalkan tempat itu. Dua orang di antara para pengikutnya telah membantu berjalan meninggalkan halaman rumah itu.


Beberapa orang di antara pengikutnya masih sempat mengumpat kasar. Sementara beberapa orang bebahu atas perintah Ki Bekel telah mencegah orang-orang padukuhan yang masih saja tidak puas dengan keputusan Ki Bekel dan anak-anak muda yang mengaku pengembara itu.

Namun ketika orang-orang itu menjadi semakin jauh, maka Ki Bekel pun telah berbicara terus terang dengan orang-orang padukuhan, bahwa ia berusaha untuk tidak menanamkan dendam di hati orang-orang Bukit Palang.

“Jika anak-anak muda itu telah meneruskan perjalanan, kemudian orang-orang Bukit Palang itu datang untuk melepaskan dendamnya, apa yang akan dapat kita lakukan? Jika yang datang lebih dari sepuluh orang. Tetapi duapuluh atau duapuluh lima. Atau seorang demi seorang dengan diam-diam menerkam para penghuni padukuhan ini yang sedang pergi ke sawah atau mengambil perempuan yang pergi ke pasar.”

Para penghuni padepokan itu termangu-mangu.

Sementara itu Mahisa Murti berkata, “Karena itu, selama ini kalian harus menyadari kedudukan kalian. Padukuhan ini harus memiliki kekuatan yang siap menghadapi kesulitan-kesulitan seperti ini. Sebelum padukuhan ini bersiap, sebaiknya kalian menjauhi kemungkinan buruk yang dapat terjadi. Karena itu, maka sebaiknya mulai besok, kalian menghimpun tenaga. Berlatih menurut tataran kemampuan kalian. Di sini ada Ki Bekel dan para bebahu yang memiliki dasar-dasar kemampuan olah kanuragan. Baru setelah padukuhan ini siap, maka kalian akan dapat bertindak dengan tegas terhadap sekelompok pelaku kejahatan seperti orang-orang Bukit Palang. Mungkin kalian sekarang dapat bertindak atas dua atau tiga orang pencuri. Tetapi masih sulit untuk menghadapi kekuatan perguruan Bukit Palang itu.”

Orang-orang padukuhan itu mengangguk-angguk.

Sementara Ki Bekel berkata, “Nah, kalian dengar. Sejak besok pagi, aku akan menghimpun dan mengatur pengawalan padukuhan ini dengan menggerakkan anak-anak muda tanpa mengganggu kerja kita di sawah dan ladang. Kita akan mengatur waktu sebaik-baiknya agar semua tanggung jawab yang dibebankan kepada kita dapat kita lakukan. Kesejahteraan hidup keluarga padukuhan ini, sekaligus pengamanannya sehingga padukuhan ini akan dapat menjadi padukuhan yang berkecukupan namun juga merupakan padukuhan yang tenang dan tenteram meskipun bukan berarti mati tanpa derap.”

Orang-orang padukuhan itu mengangguk-angguk. Sementara itu, Mahisa Murti telah mengungkapkan pula, ilmu sirep yang ditebarkan oleh orang-orang Bukit Palang itu.

“Ternyata anak-anak muda yang berada di pendapa sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi,” berkata Mahisa Murti.

Anak-anak muda yang bertugas semalam memang termangu-mangu. Tetapi mereka menyadari bahwa semuanya di antara mereka telah tertidur lelap.

Namun dalam pada itu, maka Ki Bekel telah mempersilahkan orang-orang yang akan ikut dalam penawaran atas pusaka-pusaka,yang akan dijual atas dasar penawaran tertinggi itu untuk naik ke pendapa. Acara itu akan segera diteruskan. Pusaka-pusaka yang tidak saja bernilai karena dianggap memiliki nilai tertentu, juga karena bahannya adalah logam-logam mulia serta beberapa buah permata.

“Marilah. Ternyata hari telah menjadi semakin siang. Kita terhambat sejenak karena kehadiran orang-orang yang sama sekali tidak kita kehendaki itu,” berkata Ki Bekel. Lalu katanya pula,”tetapi kita masih mempunyai cukup waktu.”

Untuk beberapa saat orang-orang yang berada di halaman rumah itu masih termangu-mangu. Mereka sedang berusaha untuk mencoba menyesuaikan diri dengan keadaan yang mereka hadapi. Masih ada di antara mereka yang tidak menerima kenyataan yang dihadapinya, bahwa Ki Bekel telah membiarkan orang-orang itu pergi.

Tetapi satu dua orang telah mulai naik ke pendapa, sehingga ketika Ki Bekel sekali lagi mempersilahkan, maka orang-orang yang berkepentinganpun telah naik pula.

“Lupakan orang-orang itu,” berkata Ki Bekel, “yang penting kita bersiap-siap menghadapi kemungkinan buruk jika hal itu akan terjadi lagi. Tetapi kita tidak memancing dendam yang akan dapat lebih memburuk keadaan.”

Orang-orang itu tidak menjawab. Mereka mencoba untuk mengerti, bahwa padukuhan mereka jangan menjadi sasaran dendam orang-orang Bukit Palang.

Dalam pada itu maka Ki Bekel pun telah mulai berbicara tentang pusaka-pusaka itu. Ki Bekel mulai menawarkan pusaka-pusaka itu kepada orang-orang yang termasuk orang-orang berada di padukuhan itu.

Mula-mula sebuah keris yang berpendok emas. Keris yang dianggap mempunyai pengaruh untuk menenangkan kehidupan keluarga. Namun seandainya orang tidak memperhitungkan tuah itu, emas itu pun tentu sudah bernilai tinggi.

Demikianlah, satu demi satu pusaka-pusaka itu telah terjual kepada penawar tertinggi, sehingga akhirnya dapat terkumpul uang cukup banyak.

“Akhirnya, kita berhasil,” berkata Ki Bekel, “selama ini kita tidak pernah membayangkan bahwa kita akan dapat membuat padukuhan ini menjadi padukuhan yang terbaik bukan saja di seluruh Kademangan, tetapi di seluruh Pakuwon ini.”

Orang-orang padukuhan itu pun ikut merasa bangga, bahwa hari itu mereka telah dapat mengumpulkan uang yang akan dapat mereka pergunakan sebaik-baiknya. Sementara itu pusaka-pusaka nenek tua itu tidak terlepas dari padukuhan itu, karena akhirnya semuanya jatuh ke tangan orang-orang padukuhan itu yang berani memberikan penawaran tertinggi. Mereka menganggap bahwa uang yang mereka serahkan untuk membeli pusaka-pusaka itu akhirnya sebagian akan kembali kepada mereka pula meskipun dalam ujud yang lain.

Demikianlah, maka menjelang senja, semuanya telah selesai.

Uang telah terkumpul dan orang-orang pun telah meninggalkan halaman rumah itu.

Ki Bekel yang masih tinggal bersama beberapa orang bebahu, sempat minum minuman panas bersama anak-anak muda yang mengaku pengembara itu.

“Maaf nek,” berkata Ki Bekel sambil menghirup minuman hangatnya, “menurut rencana kami, lewat tengah hari semuanya harus sudah selesai. Tetapi penjualan pusaka-pusaka itu ternyata tertunda. Menjelang tengah hari kita baru dapat mulai sehingga hampir senja kita baru selesai.”

“Justru tengah hari baru bersiap-siap,” berkata salah seorang bebahu.

Ki Bekel mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “Namun kita berhasil dengan baik. Uang terkumul cukup banyak. Sementara itu kita mempunyai banjar padukuhan yang besar dan tidak ada duanya. Ukiran dengan prada dan sungging yang rumit. Sementara kita dapat melengkapi yang masih diperlukan sebagai banjar padukuhan dengan uang yang kita dapatkan hari ini.”

“Bahkan kita akan dapat memperbaiki pintu gerbang padukuhan,” berkata seorang bebahu.

“Ya. Kita dapat membuat apa saja yang kita inginkan,” berkata yang lain.

Tetapi Ki Bekel berkata, “benar. Tetapi kita harus membuat perencanaan yang matang. Apa yang akan kita buat lebih dahulu. Gapura? Menghiasi padukuhan ini dengan rontek dan umbul-umbul sepanjang tahun? Atau kita lebih mementingkan kepentingan yang lebih mendesak misalnya memperbaiki parit dan jembatan, sehingga pedati kita akan dapat menjelajahi keluar padukuhan dengan membawa hasil bumi? Atau membuat apa saja. Nah, kita tidak perlu tergesa-gesa. Uang ini tidak akan hilang. Kita akan menyimpan sebaik-baiknya dibawah pengawasan yang benar-benar meyakinkan.”

Beberapa orang bebahu itu saling berpandangan. Sementara Ki Bekel berkata, “Kita akan menitipkan uang ini di rumah yang akan kita jadikan banjar ini. Anak-anak muda yang tinggal di rumah ini akan dapat kita percaya sepenuhnya, sehingga tidak seorang pun yang akan pernah dapat mengambil uang itu.”

Tetapi tiba-tiba saja Mahisa Murti menyahut, “Nanti dulu Ki Bekel. Kami berterima kasih atas kepercayaan Ki Bekel. Tetapi dalam waktu dekat, kami akan meninggalkan padukuhan ini. Meneruskan perjalanan kami yang masih jauh.”

Ki Bekel tertawa. Katanya, “Anak-anak muda akan menjadi penghuni padukuhan ini. Kalian tidak usah kembali ke Pagar Rampak.”

Mahisa Murti tersenyum. Katanya, “Kami bukan orang dari Pagar Rampak. Bahkan agaknya nama itu pun tidak pernah didengar orang sebelumnya, karena aku asal saja mengucapkannya.”

Orang-orang yang mendengarnya menjadi termangu-mangu sejenak. Bahkan Ki Bekel seakan-akan tidak percaya mendengar keterangan itu. Karena itu, maka ia pun telah bertanya, “Jadi darimana sebenarnya anak-anak muda ini?”

“Kami adalah pengembara yang tidak berasal dari tempat yang banyak dikenal orang. Karena itu, maka kami dapat menyatakan diri kami sebagai orang-orang kabur kanginan,” jawab Mahisa Murti.

“Jika demikian maka kenapa kalian tidak bersedia tinggal di padukuhan ini saja?” bertanya Ki Bekel pula.

“Maaf Ki Bekel,” jawab Mahisa Murti, “kami tidak akan dapat hinggap terlalu lama di satu tempat.”

“Tetapi jika kalian meninggalkan tempat ini, maka kemungkinan buruk akan terjadi di sini,” berkata Ki Bekel, “uang hasil penjualan benda-benda berharga itu dan bahkan orang-orang yang telah membeli benda-benda berharga itu pun terancam.”

“Tentu tidak,” berkata Mahisa Murti, “jika orang-orang padukuhan ini menyadari, maka akan tersusun kekuatan yang sangat besar. Orang-orang yang berhasil memiliki benda-benda berharga itu akan ikut mempertahankan hak mereka bersama semua anak-anak muda di padukuhan ini.”

“Tetapi sebagaimana kalian lihat, apa yang dapat mereka lakukan adalah sekedar berteriak-teriak, mengacukan senjata dan kemudian berloncatan surut jika kulitnya terluka,” berkata Ki Bekel.

Mahisa Murti mengerti pernyataan Ki Bekel itu. Di padukuhan itu memang tidak banyak orang yang memiliki kemampuan bermain senjata.

Tetapi tiba-tiba Mahisa Murti teringat dua orang yang memiliki kelebihan. Bahkan mungkin lebih baik dari Ki Bekel sendiri.

Karena itu, maka Mahisa Murti pun telah menyebut kedua orang itu dengan ciri-cirinya.

“Mereka akan dapat menuntun kawan-kawannya mempelajari olah kanuragan,” berkata Mahisa Murti.

Ki Bekel menjadi agak bingung. Ia tidak tahu siapa yang dimaksudkan oleh anak muda itu.

Namun seorang bebahu telah menjawab, “Keduanya adalah adik-adikku.”

“Nah,” berkata Mahisa Murti pula, “satu kebetulan. Keduanya tentu akan bersedia menjadi kiblat kekuatan padukuhan ini.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Ia pun kemudian bertanya kepada bebahu itu, “Bagaimana pendapatmu?”

Bebahu itu menarik nafas dalam-dalam. Hampir saja kedua adiknya harus bertempur sebelum peristiwa itu terjadi.

Namun bahwa Mahisa Murti telah menunjuk kedua adiknya itu pun telah memberikan kebanggaan kepadanya.

Ternyata kemudian bagaimanapun juga Ki Bekel mencoba untuk menahan, namun Mahisa Murti terpaksa berkeberatan.

Tetapi Mahisa Murti itu pun kemudian berkata, “Aku mohon kedua orang yang aku sebut, bersedia besok pagi-pagi datang kemari. Aku ingin berkenalan. Sementara itu, aku dapat memberikan beberapa pesan kepada mereka sebelum kami meninggalkan tempat ini.”

Ki Bekel pun telah meneruskan hal itu kepada bebahu itu. Katanya, “Usahakan, agar kedua adikmu itu tahu apa yang harus mereka lakukan.”

“Besok mereka akan datang,” berkata bebahu itu.

Demikianlah, maka malam itu, uang hasil penjualan benda-benda berharga itu telah dititipkan di rumah itu. Ki Bekel minta agar Mahisa Murti dapat memberikan petunjuk, bagaimana mereka akan menyimpan uang itu.

“Besok, sebelum kami pergi, maka aku akan memberikan pesan-pesan itu,” berkata Mahisa Murti.

Sejenak kemudian, maka Ki Bekel dan para bebahupun telah minta diri. Rumah tua yang besar itu telah menjadi sepi kembali.

Nenek tua itu pun kemudian telah mengulangi pula permintaannya agar anak-anak muda yang mengaku pengembara itu bersedia untuk tinggal di rumahnya.

Namun Mahisa Murti pun berkata, “sayang sekali nek. Kami harus meneruskan perjalanan. Tetapi sepeninggal kami ada dua orang anak muda yang akan menggantikan kami. Keduanya adalah justru adik salah seorang bebahu dari padukuhan ini. Mudah-mudahan keduanya akan bersedia memikul tanggung jawab atas ketenangan dan ketenteraman di padukuhan ini bersama Ki Bekel dan para bebahu yang lain termasuk saudara mereka sendiri.”

Nenek tua itu mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian, “Aku yakin, bahwa sulit untuk menemukan orang sebagaimana anak-anak muda ini. Ilmunya, kemampuannya dan terutama adalah sikapnya yang jujur dan tidak mempunyai pamrih sama sekali.”

“Ah, tentu ada nek. Ki Bekel juga seorang yang sangat baik. Ia pun jujur dan tanpa pamrih. Nampaknya ia menjadi sangat bergembira ketika timbul harapan bagi padukuhannya untuk menjadi padukuhan yang semakin baik.”

Nenek tua itu pun mengangguk-angguk. Ia pun kemudian berdesis, “Ya. Ki Bekel adalah orang yang sangat baik.”

Meskipun demikian wajah orang tua itu nampak muram. Bagaimanapun juga anak-anak muda itu telah memberikan kesan tersendiri pada bagian akhir dari perjalanan hidup orang tua itu. Satu kenangan yang justru terasa sangat pahit atas keluarganya yang tidak tersisa.

Nenek tua itu tiba-tiba telah merindukan kehadiran seorang atau dua orang anak di dalam kehidupannya. Namun ia tidak dapat menentang kenyataan bahwa ia memang tidak mempunyai anak lagi.

Demikianlah, ketika malam menjadi semakin malam, maka nenek itu pun telah masuk ke dalam biliknya. Mahisa Murti dan saudara-saudaranya pun telah berbaring pula di ruang tengah, di-sebuah amben yang besar. Di antara mereka terdapat sebuah peti untuk menyimpan uang hasil penjualan benda-benda berharga yang dilakukan di pendapa rumah itu, setelah tertunda beberapa saat karena terjadi kerusuhan.

Sementara itu, Ki Bekel telah memerintahkan anak-anak muda untuk berada di pendapa rumah itu.

Meskipun demikian, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telahmembagi waktu untuk berjaga-jaga. Apalagi di rumah itu tersimpan uang cukup banyak.

Namun sampai saatnya matahari membayang, tidak ada sesuatu yang terjadi. Ketika Mahisa Pukat keluar pintu pringgitan, maka anak-anak muda yang berada di pendapa telah bersiap-siap untuk pulang. Tiga orang di antara mereka yang tertidur telah dibangunkannya pula.

Ketika fajar kemudian menyingsing, maka nenek tua itu pun telah terbangun pula dan setelah pergi pakiwan, maka ia pun telah mengisi tempayan dengan air. Sejenak kemudian nenek tua itu telah merebus air dan bahkan menanak nasi.

Sementara itu, maka Mahisa Semu, Wantilan dan Mahisa Amping pun telah terbangun pula. Ketika matahari kemudian terbit, maka mereka telah selesai berbenah diri.

Nenek tua itu pun telah selesai pula menyiapkan makan pagi dan minuman hangat. Karena itu, maka ketika matahari mulai memanjat naik, anak-anak muda yang mengaku pengembara itu pun telah dipersilahkan untuk makan pagi dan minum minuman hangat.

“Tetapi bukan berarti bahwa kalian akan berangkat pagi-pagi,” berkata nenek tua itu.

“Tidak nek,” jawab Mahisa Murti, “kami masih menunggu kedua orang adik bebahu yang menurut penglihatan kami memiliki kemampuan yang memadai.”

“Syukurlah. Jika demikian maka kalian tentu akan berangkat esok pagi,” berkata nenek tua itu.

“Belum tentu nek,” jawab Mahisa Murti, “jika kedua orang itu datang pagi-pagi, maka kami masih mempunyai kesempatan untuk berangkat hari ini.”

“Tidak. Kalian tidak akan berangkat hari ini,” jawab nenek itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hanya saling berpandangan sejenak. Namun agaknya mereka memang tidak akan berangkat pada hari itu.

Seperti yang dijanjikan oleh bebahu itu, maka kedua orang adiknya benar-benar telah datang. Bukan hanya mereka berdua, tetapi bebahu itu pun telah mengantarkan kedua adiknya untuk menemui anak-anak muda yang mengaku pengembara itu.

“Kami telah datang memenuhi permintaan kalian,” berkata bebahu itu.

“Ya,” jawab Mahisa Murti, “aku mengucapkan terima kasih.”

“Selanjutnya terserah kepada anak-anak muda. Aku hanya akan menjadi saksi, apa yang akan kalian pesankan kepada kedua adikku.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Namun sebelumnya kami ingin tahu tataran kemampuan kedua adikmu. Dengan demikian kami akan dapat mengambil kesimpulan, di tataran manakah kami akan menarik garis pesan kepada mereka.”

“Silahkan. Silahkan,” berkata bebahu itu.

Mahisa Murti telah mengajak kedua orang adik bebahu itu pergi ke kebun belakang, agar segala sesuatunya tidak dilihat orang yang berjalan di luar regol. Meskipun seandainya regol itu ditutup, namun suaranya tentu akan terdengar dari luar dinding halaman itu.

Di belakang rumah, kedua orang itu telah berhadapan dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

“Marilah,” berkata Mahisa Murti, “kami akan melihat, sampai di mana tingkat kemampuan kalian.”

Tawaran untuk menjajagi kemampuan kedua adik bebahu itu telah menggembirakan hati mereka. Sebenarnyalah ada keinginan mereka untuk membuat perbandingan ilmu dengan anak-anak muda yang mengaku pengembara itu.

“Apakah benar ilmu mereka cukup tinggi sehingga keduanya pantas untuk dikagumi?” pertanyaan itu telah bergejolak di dalam hati kedua orang adik bebahu itu.

Mereka masih juga beranggapan ada kemungkinan mereka akan dapat mengalahkan keduanya. Apabila salah seorang dari mereka menang atas orang yang menyebut dirinya gegedug dari Bukit Palang, sebenarnyalah ilmu gegedug itulah yang masih sangat dangkal. Selain itu, ternyata orang-orang dari Bukit Palang memang tidak memiliki daya tahan tubuh yang memadai, sehingga mereka cepat sekali menjadi letih.

Demikianlah, maka Mahisa Murti telah berhadapan dengan yang tertua di antara keduanya, sementara Mahisa Pukat berhadapan dengan yang muda.

Sejenak mereka masih berdiri tegak sambil mempersiapkan diri. Dengan nada rendah Mahisa Murti berkata, “Kita hanya akan melihat tataran dari kemampuan kita. Karena dengan demikian kita sudah dapat menjajagi kemampuan kita masing-masing.

Kedua orang itu tidak menjawab. Tetapi mereka agaknya berpendirian lain. Mereka tidak hanya sekedar ingin menjajagi tataran ilmu mereka, namun mereka benar-benar ingin melakukan perbandingan ilmu, siapakah yang terbaik di antara mereka.

Demikianlah, sejenak kemudian maka keduanya mulai bergerak. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah mempersiapkan diri. Ketika yang tertua diatara kedua orang itu mulai meloncat menyerang, maka Mahisa Murti pun mulai bergerak pula bukan saja menghindar, tetapi juga mulai menyerang meskipun terbatas pada sekedar penjajagan.

Semakin lama mereka pun bergerak semakin cepat. Baik Mahisa Murti maupun Mahisa Pukat telah mencoba meningkatkan kecepatan gerak mereka untuk memancing tingkat kemampuan kedua orang kakak beradik itu.

Tetapi baik Mahisa Murti maupun Mahisa Pukat terkejut ketika mereka mengalami serangan yang bukan saja cepat, tetapi juga kuat. Ayunan serangan yang menggetarkan udara sehingga dengan demikian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menyadari, bahwa lawannya telah berusaha untuk menunjukkan bukan saja tataran kemampuan mereka, tetapi juga tingkat kemampuan dan ilmu mereka dalam olah kanuragan.


Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih menganggap hal itu wajar, karena keduanya ingin menunjukkan segala-galanya yang mereka miliki. Keduanya agaknya ingin menunjukkan segenap kemampuan dan ilmu mereka karena mereka merasa ragu bahwa sekedar mengenal tataran ilmu masih belum cukup meyakinkan.

Dengan demikian, maka baik Mahisa Murti maupun Mahisa Pukat masih saja memancing agar kedua orang itu melepaskan landasan ilmu mereka sampai tingkat yang tertinggi.

Namun kemudian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat merasa bahwa serangan-serangan kedua orang itu nampak semakin keras. Mereka bergerak semakin cepat dan terasa mereka telah menjadi semakin bersungguh-sungguh.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih selalu menyesuaikan diri. Namun akhirnya keduanya menyadari, bahwa kedua orang itu bukan saja ingin menunjukkan tataran tertinggi dari kemampuannya, tetapi mereka benar-benar ingin memperbandingkan ilmu mereka dengan kedua orang anak muda itu.

Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, pada usianya yang masih muda itu telah menjadi cukup dewasa dalam olah kanuragan. Karena itu, mereka tidak cepat menjadi terbakar karena tingkah laku kedua orang kakak beradik itu. Bahkan keduanya berniat untuk melayani mereka sampai ke batas yang tertinggi dari keduanya.

Namun dengan demikian baik Mahisa Murti maupun Mahisa Pukat tidak lagi memancing keduanya dengan meningkatkan ilmu mereka mendahului keduanya. Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat kemudian cenderung untuk mengikuti tingkat kemampuan kedua orang kakak beradik itu.

Sebenarnyalah kedua orang itu telah berusaha mengatasi kemampuan ilmu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk tampil sebagaimana kedua orang anak muda yang mengaku pengembara iu. Seandainya tanpa mereka, kedua orang itu akan dapat mengatasi orang yang menyebut dirinya gegedug dari Bukit Palang itu.

Dengan demikian maka kedua orang itu telah meningkatkan dan meningkatkan kemampuan mereka sehingga akhirnya mereka benar-benar telah sampai ke puncak.

Namun keduanya sama sekali tidak berhasil mengatasi dan apalagi menguasai kedua orang anak muda pengembara itu. Bahkan meskipun keduanya sudah sampai pada tingkat tertinggi dari kemampuan mereka, kedua anak muda itu nampaknya masih belum bersungguh-sungguh.

Keringat telah membasahi seluruh tubuh kedua orang itu. Bukan saja karena mereka telah mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan mereka, tetapi juga karena mereka merasa gelisah. Mereka merasa semakin lama justru menjadi semakin kecil di hadapan anak-anak muda pengembara yang masih saja tersenyum-senyum melihat kedua orang itu hampir kehabisan nafas.

Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak berniat untuk berhenti. Mereka pun tidak berusaha untuk menghentikan perlawanan keduanya dengan serangan-serangan yang langsung mengenai tubuh mereka. Sekali-sekali Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang telah menyentuh tubuh kedua orang itu. Tetapi tanpa menyakitinya. Mereka hanya ingin menunjukkan, bahwa anak-anak muda itu tanpa mengalami kesulitan dapat mengenai mereka jika dikehendaki.

Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat kemudian hanya sekedar menunggu saatnya saja, sampai kapan keduanya akan menghentikan pertempuran itu.

Untuk beberapa saat kedua orang itu masih bertahan. Mereka berusaha untuk sekali-sekali dapat mengenai tubuh anak-anak muda itu. Namun ternyata sulit untuk dapat berhasil.

Bahkan justru anak-anak muda yang mengaku pengembara itulah yang justru semakin sering menyentuh tubuh mereka. Mahisa Pukat yang agak terlalu keras mendorong lawannya, telah membuatnya hampir saja jatuh terjerembab. Meskipun sentuhan tangan Mahisa Pukat itu tidak membuatnya kesakitan, tetapi terasa kekuatan yang sangat besar yang sulit baginya untuk menahannya.

Kedua orang adik bebahu itu semakin lama semakin menyadari bahwa mereka memang tidak akan dapat mengimbangi kemampuan kedua orang pengembara itu. Semakin lama tenaga mereka menjadi semakin susut. Sementara itu kedua anak muda itu masih saja seakan-akan sedang bermain-main.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun menyadari, bahwa kedua orang lawannya telah menjadi semakin lemah. Beberapa saat kemudian mereka berdua akan menjadi sangat letih dan akan menghentikan perlawanan mereka.

Baik Mahisa Murti maupun Mahisa Pukat sama sekali tidak mengetrapkan ilmunya untuk menyusut tenaga lawan. Keduanya bertempur dengan kemampuan wajar mereka. Namun mereka memang bergerak semakin lama semakin cepat, sehingga kedua orang adik bebahu itu pun telah meningkatkan kecepatan geraknya pula. Namun dengan demikian maka keduanya pun semakin cepat menjadi letih dan akhirnya keduanya tidak lagi mampu melawan lagi. Nafas mereka menjadi tersengal-sengal dan tulang-tulang mereka bagaikan telah kehilangan tenaga.

Lawan Mahisa Murti lah yang lebih dahulu kehabisan tenaga dan menghentikan perlawanannya. Baru kemudian adiknya-pun telah menjadi semakin terengah-engah.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tersenyum melihat kedua orang itu kelelahan. Dengan nada rendah Mahisa Murti berkata, “Nah, sudah letih?”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Ia berusaha untuk mengatur pernafasannya. Sambil berpaling kepada adiknya ia berkata, “Nafasku hampir putus. Aku tidak mengira bahwa ilmuku tidak ada sehitam kukumu. Aku kira, bahwa aku akan mampu setidak-tidaknya mendekati kemampuanmu. Namun ternyata bahwa aku belum apa-apa di hadapmu.”

“Ah, jangan terlalu memuji. Kita memang hanya ingin menjajagi tingkat kemampuan kita. Dengan demikian maka kita akan dapat merencanakan, apa yang sebaiknya harus kalian lakukan sepeninggal kami,” berkata Mahisa Murti.

Kedua orang itu mengangguk-angguk. Namun yang muda di antara mereka bertanya, “Ada sesuatu yang tidak aku mengerti. Apakah orang-orang dari Bukit Palang itu tidak lebih dari kami berdua, sehingga mereka pun telah kehilangan kemampuan dan kekuatan untuk melawan. Mereka nampaknya juga kehabisan tenaga sehingga gegedug dari Bukit Palang itu seakan-akan untuk melangkahpun tidak lagi dapat dilakukannya.”

“Tidak,” Mahisa Murti menggeleng, “orang itu memiliki ilmu yang tinggi. Yang tidak akan mudah dapat kalian lawan meskipun dengan sekelompok orang sekalipun.”

“Tetapi bukankah mereka juga menjadi letih dan nafasnya hampir terputus?” bertanya yang muda di antara kedua orang itu.

“Tetapi bukan karena ia tidak berilmu. Jika ia menjadi kelelahan dan tidak berdaya, itu karena ada sebab yang lain,” jawab Mahisa Murti.

“Jadi kenapa?” bertanya yang tua.

Mahisa Murti tersenyum. Katanya, “Sudahlah. Kau tidak perlu memikirkannya. Kau tidak dapat mengerti. Yang penting, apa yang sebaiknya kalian lakukan. Besok kami akan meninggalkan padukuhan ini.”

“Tetapi kenapa kita tidak membinasakan orang-orang Bukit Palang itu? Bukankah dengan demikian kekuatan mereka akan berkurang?” bertanya salah seorang dari kedua orang itu.

“Bukankah Ki Bekel sudah memberikan penjelasan? Kita tidak membakar dendam dihati orang-orang Bukit Palang, jika mereka mendendam, maka akibatnya akan parah,” berkata Mahisa Murti.

“Tetapi kekuatan mereka telah jauh berkurang,” berkata yang muda dari antara kedua orang itu.

“Jika dendam itu membakar sisa-sisa orang-orang Bukit Palang, maka mereka tidak akan segan-segan minta bantuan kepada gerombolan-gerombolan yang lain. Mereka akan datang dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlawan oleh orang-orang padukuhan ini. Tetapi yang kita lakukan adalah lain. Bagaimanapun juga tentu masih ada sisa-sisa perasaan di dalam dada orang-orang Bukit Palang itu. Mereka sadari, jika kita ingin membunuh mereka, maka sepuluh orang itu tentu akan mati. Tetapi kita tidak melakukannya,” berkata Mahisa Murti.

“Apakah dengan demikian persoalan dengan Bukit Palang telah dapat dianggap selesai?” bertanya orang itu.

“Tentu tidak,” jawab Mahisa Murti, “itulah yang akan kita bicarakan kemudian.”

Kedua orang itu mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Murti berkata, “Marilah. Kita duduk di pendapa. Kita akan dapat berbicara dengan tenang.”

Demikianlah, Mahisa Murti dan saudara-saudaranya, termasuk Mahisa Amping serta bebahu dan kedua adiknya telah berada di pendapa. Namun nenek tua itu pun kemudian telah memanggil Mahisa Amping untuk membantunya di dapur.

Dengan nada rendah nenek itu bertanya, “Amping, apakah kau perlu ikut berbincang?”

“Tidak nek, tidak,” jawab Mahisa Amping.

“Nah, kau bantu nenek mempersiapkan minuman dan makanan, ya?” minta nenek itu.

“Ya, ya nek. Aku bantu nenek,” jawab Mahisa Amping.

“Bagus,” jawab nenek. Lalu katanya, “Nah, kau sekarang mempersiapkan mangkuk.”

Mahisa Amping ternyata cukup cekatan. Ia telah mempersiapkan mangkuk-mangkuk untuk dihidangkan di pendapa.

Sementara itu di pendapa, Mahisa Murti memberikan beberapa petunjuk kepada kedua orang adik bebahu itu. Namun kepada bebahu yang menyertainya, Mahisa Murti minta agar hal itu juga disampaikan kepada Ki Bekel.

“Sebelum pergi, aku persilahkan kalian singgah di rumah Ki Bekel,” bekata bebahu itu, “bukankah kalian juga akan menyerahkan uang yang masih dititipkan di sini?”

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian, “Baiklah, aku Akan bertemu dengan Ki Bekel sebelum aku meninggalkan rumah ini. Ki Bekel memang masih harus memikirkan uang itu sejalan dengan pesan-pesan yang aku berikan kepada kedua adik Ki Sanak.”

“Aku akan menyampaikannya kepada Ki Bekel. Namun sekarang, kalian dapat memberikan petunjuk-petunjuk, apa yang sebaiknya harus dilakukan oleh kedua adikku,” berkata bebahu itu.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Semuanya tidak akan dapat dilakukan oleh kedua orang tanpa bantuan orang lain. Yang harus kalian lakukan adalah menghimpun kekuatan yang ada di padukuhan ini. Kau harus memilih menurut tataran kemampuan dan umur. Kau harus mengumpulkan semua laki-laki di padukuhan ini.”

“Itu wewenang Ki Bekel,” berkata bebahu itu.

“Karena itu harus ada limpahan wewenang. Tanpa limpahan wewenang maka semuanya harus dilakukan oleh Ki Bekel. Betapapun besar kemauan Ki Bekel untuk melakukannya, namun tentu ia memiliki keterbatasan,” sahut Mahisa Murti.

Bebahu itu mengangguk-angguk. Namun ia pun masih bergumam, “Sebaiknya kalianlah yang menyampaikannya. Mudah-mudahan tidak terjadi salah paham.”

“Tentu tidak,” jawab Mahisa Murti, “menurut penglihatanku, Ki Bekel termasuk orang yang berhati longgar. Ia tidak memegang satu pilihan tanpa pertimbangan.”

Bebahu itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kami, penghuni padukuhan ini pun berpendapat demikian. Namun sekali-sekali Ki Bekel juga bertindak keras sehingga sulit untuk dipahami.”

“Baiklah, aku akan berbicara dengan Ki Bekel,” jawab Mahisa Murti. Lalu katanya pula, “tetapi baiklah kau memberikan beberapa pesan kepada kedua orang ini.”

“Silahkan,” sahut bebahu itu.

Mahisa Murti pun telah memberikan beberapa petunjuk yang dapat dilakukan oleh kedua orang itu. Mereka akan diusulkan, disamping Ki Bekel dan para bebahu, untuk mendapat kesempatan menyiapkan anak-anak muda padukuhan itu untuk jangka panjang.

“Padukuhan ini akan menjadi padukuhan yang paling kaya di sekitar daerah ini. Banjarnya akan menjadi banjar yang paling baik. Kemudian jaringan parit-parit, bendungan-bendungan dan jembatan-jembatan. Uang yang ada dapat memacu kerja keras para penghuni padukuhan ini. Bukan sebaliknya, uang itu justru akan menjadi rebutan. Tetapi memancing pengumpulan uang lebih banyak lagi dari para penghuni padukuhan ini, sehingga akan menjadikan padukuhan ini lain dari sebelumnya dalam arti yang baik. Baik bentuknya dan baik isinya.”

Bebahu dan kedua adiknya itu mengangguk-angguk. Tetapi Mahisa Murti berkata selanjutnya, “Namun hal itu akan dapat mengundang kesulitan. Iri hati atau bahkan mungkin usaha untuk menguasai harta benda yang ada di padukuhan ini.” Mahisa Murti berhenti sejenak, lalu, “Karena itu, maka anak-anak muda di padukuhan ini perlu dipersiapkan. Tentu saja sejauh dapat kalian lakukan. Namun sudah tentu dengan kerja keras. Kemudian orang-orang yang lebih tua harus merupakan bagian yang berarti pula dalam bidang pengawalan padukuhan ini. Meskipun terbatas pada dasar-dasarnya saja, namun mereka perlu mendapat bimbingan cara mempergunakan senjata. Sedangkan yang lebih tua lagi, merupakan tenaga suka rela. Mereka yang memiliki ilmu serba sedikit, diminta untuk menularkan kepada orang lain dibawah pengawasan Ki Bekel. Nah, jika demikian, maka Bukit Palang tidak lagi akan menjadi hantu. Gegedug Bukit Palang yang berilmu tinggi itu, tentu tidak akan dapat menghindari sepenuhnya jika ia ia bertempur melawan sepuluh orang bertombak dan bersama-sama melemparkan lembingnya itu. Asal orang-orang itu tahu caranya, bagaimana harus melemparkan lembing. Atau bahkan mungkin anak panah dan pisau-pisau belati. Tetapi sekali lagi, beri mereka sedikit pengetahuan tentang penggunaan senjata itu.”

Bebahu dan kedua adiknya itu mengangguk-angguk. Mereka tahu maksud anak-anak muda itu. Karena itu, maka bebahu itu-pun berkata, “Jika hal seperti ini kau katakan kepada Ki Bekel, maka ia tentu akan melaksanakannya.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia bergumam, “Aku kira aku cukup memberikan petunjuk dan kalian akan melakukannya termasuk mohon kepada Ki Bekel kesempatan untuk itu.”

“Ah. Tentu berbeda akibatnya jika kalian sendiri yang menyampaikannya,” berkata bebahu itu.

“Tetapi aku mohon kesediaan adikmu berdua. Seandainya tidak ada orang lain, apakah berdua mereka bersedia bekerja keras memberikan tuntunan kepada anak-anak muda di padukuhan ini,” bertanya Mahisa Murti.

Sebelum bebahu itu menjawab, maka kedua orang itu hampir bersamaan telah menjawab, “Ya. Kami bersedia asal anak-anak muda itu bersedia pula.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita akan membicarakan dengan Ki Bekel.”

Mahisa Murti pun kemudian minta agar Mahisa Pukat bersama Mahisa Semu dan Wantilan menjaga uang yang dititipkan oleh Ki Bekel di rumah itu.

“Aku akan menemui Ki Bekel bersama bebahu dan kedua adiknya ini,” berkata Mahisa Murti kemudian.

Mahisa Pukat mengangguk sambil menjawab, “Baiklah. Mudah-mudahan kita akan segera mendapat kesempatan untuk meneruskan perjalanan.”

Mahisa Murti tersenyum. Dengan nada rendah ia menjawab, “Aku juga berharap demikian.”

Setelah minta diri kepada nenek pemilik rumah itu, maka Mahisa Murti bersama bebahu dan kedua adiknya itu pun telah pergi ke rumah Ki Bekel untuk memberitahukan rencananya.

Ternyata Ki Bekel menjadi sangat tertarik kepada rencana itu. Dengan tegas ia berkata, “Aku akan berusaha sejauh dapat aku lakukan. Padukuhan ini akan menjadi padukuhan terbaik sehingga memerlukan penjagaan yang paling kuat. Orang-orang lain akan dapat menjadi dengki dan iri hati. Apalagi jika kita kemudian menjadikan pasar kecil kita yang semakin berkembang itu menjadi pasar yang lebih besar. Dengan memperbaiki jalan-jalan dan jembatan di sekitar padukuhan ini, maka pasar itu tentu akan cepat menjadi besar. Untuk itu memang diperlukan pengamanan.”

“Ya Ki Bekel,” sahut bebahu itu, “padukuhan kita akan berkembang. Kesejahteraan hidup penghuninya pun akan berkembang semakin pesat.”

“Bagus,” jawab Ki Bekel, “kita akan mengatur segala sesuatunya.”

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian berkata, “Jika demikian, kami telah dapat mohon diri untuk meninggalkan padukuhan ini.”

“Jangan,” jawab Ki Bekel, “kau harus memberikan latihan-latihan kepada anak-anak muda itu.”

Tetapi Mahisa Murti menggeleng. Katanya, “Maaf Ki Sanak. Kami harus segera berangkat. Di sini sudah ada dua orang yang akan dapat menuntun anak-anak muda mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan. Disamping itu tentu Ki Bekel sendiri dan beberapa orang bebahu. Bahkan mungkin penghuni padukuhan ini yang pernah mempelajari olah kanuragan.”

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia bertanya, “Kenapa anak-anak muda tidak mau tinggal di padukuhan ini saja daripada mengembara tanpa tujuan. Bukankah di sini anak-anak muda juga mendapat kesempatan untuk berbuat kebajikan, karena menurut pendengaranku kalian sedang melakukan Tapa Ngrame sebagai satu laku yang harus kalian jalani.”

“Ya, Ki Bekel,” jawab Mahisa Murti, “kecuali menjalani laku dengan Tapa Ngrame, kamipun sebenarnya sedang dalam perjalanan kembali ke padepokan kami.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Agaknya anak-anak muda yang diwakili oleh Mahisa Murti itu sudah tidak akan dapat dihentikan lagi. Karena itu, maka Ki Bekel pun berkata, “Jika demikian, maka aku akan minta kalian menunda satu hari saja. Besok pagi-pagi aku akan mengumpulkan anak-anak muda. Kalian akan dapat melihat, kemungkinan yang dapat dibangunkan oleh mereka bagi pengamanan padukuhan ini. Bahkan jika perlu kami dapat mengupah beberapa orang yang memang memiliki kemampuan untuk ikut menjaga padukuhan ini.”

“Ki Bekel agaknya kurang yakin akan kemampuan diri,” berkata Mahisa Murti, “itu adalah permulaan yang kurang baik. Jika Ki Bekel mengupah orang untuk melindungi padukuhan ini, maka kemungkinan yang buruk akan dapat terjadi. Anak-anak muda padukuhan ini, dan bahkan juga para bebahu menjadi malas, karena mereka merasa bahwa mereka telah mendapat perlindungan. Sedangkan kemungkinan buruk yang lain, justru orang-orang yang diminta untuk melindungi padukuhan itulah yang akan menghancurkan padukuhan ini sendiri tanpa perlawanan. Jika mereka pada suatu saat didesak oleh nafsu yang tidak terlawan, maka mereka pun akan dapat tergelincir ke dalam langkah-langkah yang buruk.”

Ki Bekel mengangguk-angguk, sementara Mahisa Murti berkata, “Yakinkan diri Ki Bekel sendiri, bahwa padukuhan ini akan dapat menyelesaikan segala masalahnya sendiri. Sudah tentu dengan memberikan laporan kepada Ki Buyut serta mohon perlindungannya secara wajar sesuai dengan tatanan pemerintahan. Tetapi lebih dari itu, padukuhan ini akan dapat menyelamatkan dirinya sendiri.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Kau benar anak muda. Aku kadang-kadang kurang yakin akan kemampuan diri sendiri. Menghadapi perkembangan padukuhan ini yang aku bayangkan akan terjadi, maka kepercayaanku kembali terguncang.”

“Tetapi segala sesuatunya masih belum terlambat. Ki Bekel masih dapat memulainya sejak hari ini,” berkata Mahisa Murti.

Ki Bekel tersenyum sambil menjawab, “Ya. Ya. Kita akan memulainya.”

“Bukankah masih banyak waktu?” bertanya Mahisa Murti.

Tetapi Ki Bekel menjawab, “Tidak. Sebenarnya waktunya tinggal sedikit. Sepanjang kau sempat tinggal di sini. Setelah itu, kami akan selalu gelisah selama kami masih belum tegak benar.”

“Itu adalah bagian dari ketidak percayaan kepada diri sendiri, Ki Bekel. Lupakanlah,” berkata Mahisa Murti.

“Tetapi kita jangan mengingkari kenyataan,” jawab Ki Bekel, “Jika besok kita baru mulai dengan mengumpulkan anak-anak muda, apakah itu berarti bahwa kita sudah mampu berdiri tegak?”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun katanya, “Ki Bekel benar. Tetapi masih ada jalan lain. Selama ini, seperti aku katakan sudah ada beberapa orang yang pantas diandalkan. Ki Bekel dan para bebahu. Beberapa orang anak muda dan bahkan orang-orang tua yang pernah dikenal di padukuhan ini. Meskipun usianya sudah merambat naik, tetapi mereka akan dapat memberikan sisa-sisa pengabdiannya bagi padukuhan ini.”

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Ya. ya. Aku mengerti.”

“Bukankah Ki Bekel mengenal semua orang di padukuhan ini?” bertanya Mahisa Murti.

“Ya. Besok aku akan memanggil mereka. Tetapi permintaanku aku ulangi, kalian jangan pergi sampai pertemuan itu,” minta Ki Bekel.

Mahisa Murti tersenyum sambil mengangguk. Katanya, “Baiklah Ki Bekel. Aku harus menunda lagi keberangkatanku. Tetapi tidak lebih dari satu hari.”

Demikianlah, maka anak-anak muda pengembara itu, masih harus menunggu. Mahisa Pukat pun harus bersabar lagi. Sementara Mahisa Amping justru merasa senang, bahwa ia masih dapat tinggal bersama nenek yang baik itu sehari lagi.

“Apakah kau akan tinggal di sini saja?” bertanya nenek itu ketika Mahisa Amping berada di dapur.


Mahisa Amping menggeliat. Katanya, “Sebenarnya aku senang di sini nek. Tetapi aku tidak dapat berpisah dari saudara-saudaraku.”

Nenek itu tersenyum. Sambil mengusap kepala anak itu, ia berkata, “Kau benar ngger. Kau harus selalu bersama saudara-saudaramu. Di sini kau akan terlantar. Nenek tidak akan lama lagi melihat matahari terbit. Jika kau tinggal, maka tidak akan ada lagi yang menemanimu.”

Mahisa Amping mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Tetapi nenek tidak akan segera meninggalkan rumah ini, padukuhan ini dan para penghuninya.”

Nenek itu masih tersenyum. Sambil menuang minuman di mangkuk nenek itu berkata, “Nenek sudah merasa lapang. Tidak ada lagi beban yang terasa di pundak. Semuanya sudah selesai.”

Mahisa Amping yang kecil itu menarik nafas dalam-dalam. Meskipun masih agak kabur, tetapi ia mengerti serba sedikit jawaban nenek tua itu.

Demikianlah, seperti yang dikatakan oleh Ki Bekel, maka di padukuhan itu telah diselenggarakan pertemuan antara beberapa pihak yang mewakili orang-orang tua, orang-orang muda dan anak-anak muda. Mereka membicarakan tentang padukuhan mereka di masa mendatang. Bukan saja bagaimana mereka mengamankan padukuhan mereka, tetapi apa yang sebaiknya mereka lakukan dengan modal yang telah tersedia.

Ternyata dalam pertemuan seperti itu Ki Bekel mendapat banyak bahan yang akan menjadi bekal langkah-langkahnya. Kedua orang adik bebahu yang memiliki kemampuan olah kanuragan itu telah mendapat tugas untuk membimbing anak-anak muda di padukuhan itu dalam olah kanuragan. Seorang yang mengaku bekas prajurit, bersedia memberikan tuntunan kepada orang-orang muda yang memiliki kemauan dan tenaga yang cukup. Sementara itu Ki Bekel dan beberapa bebahu akan mengatur segala-galanya agar rencana itu dapat berlangsung dengan baik. Sementara tiga orang bebahu mendapat tugas menyusun perencanaan penggunaan uang yang telah tersedia.

Hari itu juga, Ki Bekel bersama beberapa orang telah mendengarkan secara khusus petunjuk-petunjuk Mahisa Murti dan bahkan kemudian mereka telah menentukan bahwa pada hari juga dikirim utusan untuk menemui Ki Demang.

Ki Bekel, dua orang bebahu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah diminta untuk menghadap Ki Demang, dan menyampaikan segala rencana yang telah disusun sebelumnya.

Mahisa Murti tidak berkeberatan, asal semuanya akan dapat diselesaikan pada hari itu.

“Besok kami sudah meninggalkan padukuhan ini,” berkata Mahisa Murti.

Ki Bekel tersenyum. Ia mengerti perasaan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang sudah tertunda-tunda waktunya berada di padukuhan itu. Karena itu, maka katanya kemudian, “Kita akan segera berangkat untuk menemui Ki Buyut.”

Demikianlah, maka orang-orang yang telah ditentukan itu-pun telah pergi ke rumah Ki Buyut yang berada di padukuhan yang di antarai oleh beberapa bulak pendek dan panjang. Namun Ki Bekel dan sekelompok orang yang menyertainya itu pun telah berjalan denan cepat, sehingga mereka tidak memerlukan waktu terlalu lama di perjalanan.

Kedatangan Ki Bekel dan beberapa orang itu memang mengejutkan Ki Buyut. Dipersilahkan sekelompok orang itu duduk di pendapa, sementara Ki Buyut berbenah diri. Baru beberapa saat kemudian, Ki Buyut telah berada di pendapa pula untuk menemui tamu-tamunya itu.

Nampaknya Ki Buyut adalah orang yang terbuka dan berterus terang. Karena itu, maka tidak ada kata-kata yang melingkar-lingkar. Ki Buyut itu pun langsung bertanya, “Nampaknya ada keperluan yang penting Ki Bekel. Begitu tiba-tiba Ki Bekel datang di hari yang bukan hari pertemuan.”

Ki Bekel pun langsung ke persoalannya pula. Maka jawabnya kemudian, “Aku ingin melaporkan satu perkembangan yang begitu tiba-tiba saja melonjak di padukuhan kami Ki Buyut.”

“Begitu tergesa-gesa kau sampaikan sehingga tidak sabar menunggu hari pertemuan?” bertanya Ki Buyut.

“Mungkin begitu, karena menyangkut ketenteraman hidup orang-orang di padukuhan kami,” jawab Ki Bekel.

Ki Demang mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Jika persoalannya penting, biarlah tiga atau ampat orang bebahu dipanggil. Mungkin mereka akan dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan yang berarti bagi Ki Bekel. Apakah menurut Ki Bekel perlu?”

“Aku kira ada juga baiknya Ki Buyut,” jawab Ki Bekel.

“Nah, jika demikian, tunggulah sebentar. Aku akan memanggil beberapa orang bebahu yang terdekat saja,” berkata Ki Buyut.

Namun sambil menunggu kehadiran beberapa orang bebahu yang dipanggilnya, maka Ki Bekel telah menceriterakan persoalan yang dihadapinya dari awal sampai saat-saat ia menghadap Ki Buyut.

“Kau beruntung Ki Bekel,” berkata Ki Buyut, “jarang, bahkan tidak ada padukuhan yang mendapatkan limpahan benda-benda berharga seperti itu. Apalagi sebuah rumah yang baik dan besar sehingga akan dapat dipergunakan sebagai banjar padukuhan. Yang tidak dipunyai oleh padukuhan yang manapun, karena aku pernah melihat rumah itu pula.”

“Ya Ki Buyut. Namun justru karena itu, maka telah timbul satu masalah. Apalagi ketika ternyata perempuan tua itu diketahui masih mempunyai beberapa buah benda-benda berharga, terutama berujud senjata. Keris, luwuk, pedang dan mata tombak serta bentuk-bentuk pusaka yang lain. Yang setelah kami jual atas dasar penawaran tertinggi, maka kami telah mengumpulkan uang cukup banyak untuk membuat padukuhan kami menjadi padukuhan yang besar sehingga kehidupan di dalamnya akan merupakan kehidupan yang baik dan sejahtera,” desis Ki Bekel kemudian.

Ki Buyut pun mengangguk-angguk. Sementaraitu, beberapa bebahu telah datang pula untuk ikut membicarakan kemungkinan kemungkinan yang dapat terjadi di padukuhan yang menjadi cukup kaya itu.

Ki Buyut sempat mengulangi laporan Ki Bekel dengan singkat. Kemudian memberikan sedikit gambaran tentang kekayaan yang kemudian ada di padukuhan itu.

Ternyata para bebahu di Kabuyutan juga pernah melihat rumah yang bagus dan besar itu. Namun mereka mendapatkan kesan bahwa rumah itu kotor dan tidak terpelihara, sehingga saat-saat yang jaya bagi rumah itu telah lewat. Namun mereka tidak pernah mendengar bahwa di dalam rumah itu masih terdapat benda-benda berharga setelah seisi rumah itu mendapat kutukan dari ilmu hitam tempat mereka mencari kekayaan.

“Rumah itu masih belum dibersihkan,” berkata Ki Bekel, “masih ada kesan wingit. Tetapi setiap malam anak-anak muda sudah bermain-main di pendapa rumah itu sebelum secara resmi dipindahkan dari banjar yang lama ke banjar yang baru. Rumahitu masih perlu dibersihkan. Ilalang yang tumbuh liar akan dibabat serta pepohonan di kebunpun akan dijarangkan sesuai dengan kebutuhan.”

“Bagus,” berkata Ki Buyut, yang kemudian katanya, “Aku ikut merasa senang bahwa padukuhan Ki Bekel akan segera menjadi sebuah padukuhan yang besar.”

“Namun demikian, ada persoalan yang ingin aku sampaikan kepada Ki Buyut untuk melengkapi laporan kami serta, selanjutnya mohon petunjuk dan perlindungan,” berkata Ki Bekel.

“Persoalan apa?” bertanya Ki Buyut.

“Justru karena padukuhan kami akan menjadi padukuhan yang terhitung kaya, maka kami merasa terancam oleh orang-orang yang berniat jahat Ki Buyut,” ulang Ki Bekel yang kemudian telah menceriterakan apa yang telah terjadi. Namun juga rencana yang telah disusun bersama para bebahu dan anak-anak muda padukuhan.

Ki Buyut mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Ternyata rencana kalian cukup baik. Kalian akan berusaha untuk melindungi padukuhan kalian dari kemungkinan buruk justru karena kalian menemukan kesempatan untuk berkembang.”

“Ya Ki Buyut,” jawab Ki Bekel, “namun sebelum kami memiliki kemampuan untuk dapat melindungi diri sendiri, maka kami akan mohon dengan sangat perlindungan dari Ki Buyut atas padukuhan kami. Tetapi bukan berarti bahwa kami akan berpangku tangan sambil menikmati keberuntungan yang kami dapatkan itu. Kami akan berusaha dalam waktu yang sesingkat-singkatnya untuk dapat menjaga diri sendiri.”

Ki Buyut mengangguk-angguk. Sambil tersenyum ia berkata, “Tentu. Kami tidak akan berkeberatan. Aku akan mengirimkan ampat orang pengawal setiap malam ke padukuhanmu. Meskipun hanya ampat, namun bersama-sama dengan orang-orang padukuhanmu akan dapat tersusun kekuatan yang akan dapat menjadi pelindung bagi padukuhan Ki Bekel.”

“Terima kasih Ki Buyut,” jawab Ki Bekel sambil mengangguk-angguk, “sementara itu, kami akan menyusun kekuatan untuk melindungi diri sendiri.”

“Biarlah sejak nanti malam aku akan mengirimkan ampat orang pengawal,” berkata Ki Buyut.

Namun tiba-tiba salah seorang bebahu telah memotong, “Ki Buyut. Jika Ki Buyut berkenan, aku ingin menyatakan satu pendapat.”

“Katakan,” sahut Ki Buyut.

“Kekayaan yang ada di padukuhan itu sebenarnya tidak seimbang dengan kemampuan padukuhan itu untuk melindunginya. Karena itu, maka aku ingin mengusulkan, agar rumah dan segala isinya itu, diambil alih saja oleh Kabuyutan. Bukankah padukuhan itu juga merupakan bagian dari sebuah Kabuyutan? Adalah tidak masuk akal bahwa banjar padukuhan akan lebih baik dan lebih besar dari banjar Kabuyutan. Karena itu, maka aku mohon Ki Buyut mempertimbangkan sebuah kemungkinan, bahwa rumah itu dengan segala isinya harus diserahkan kepada Kabuyutan. Penggunaannyapun akan menjadi lebih luas. Demikian pula uang hasil penjualan pusaka-pusaka itu akan lebih bermanfaat jika dipergunakan untuk membangun seluruh Kabuyutan daripada hanya sebuah padukuhan,” berkata bebahu itu.

Ki Buyut termangu-mangu sejenak. Sementara itu wajah Ki Bekel nampak menjadi tegang.

Namun ternyata Ki Buyut pun kemudian berkata dengan nada rendah, “Tidak selalu bahwa apa yang diperuntukkan bagi Kabuyutan harus lebih baik dan lebih besar dari milik padukuhan. Karena itu, tidak apa jika banjar desa sebuah padukuhan ternyata lebih besar dari banjar Kabuyutan.”

“Tetapi seandainya Ki Buyut minta Ki Bekel menyerahkanrumah itu dengan segala isinya adalah wajar. Kecuali jika padukuhan itu berada diluar Kabuyutan ini, maka kita tidak berhak untuk berbuat sesuatu. Tetapi selama padukuhan itu berada di daerah kabuyutan, maka padukuhan itu harus tunduk kepada keputusan Kabuyutan,” berkata bebahu itu.

Bahkan bebahu yang lain pun berkata, “Aku sependapat Ki Buyut. Padukuhan itu harus menunjukkan kesetiaannya sebagai warga dari keluarga besar Kabuyutan ini. Padukuhannya tidak boleh mementingkan dirinya sendiri. Bahkan minta perlindungan dari Kabuyutan.”

“Bukankah yang diminta itu wajar? Kita memang harus melindungi padukuhan yang memerlukan perlindungan. Bukan sebaliknya kita berbuat sewenang-wenang karena kebetulan kita memegang kekuasaan. Lagi pula kita tidak akan dapat memindahkan rumah sekaligus halamannya yang luas itu ke padukuhan induk ini. Adalah tidak pantas pula jika banjar Kabuyutan terletak tidak di padukuhan induk,” jawab Ki Buyut.

“Tidak apa-apa Ki Buyut,” sahut bebahu itu, “di padukuhan induk ini akan memiliki banjar padukuhan. Sementara banjar Kabuyutan terletak di padukuhan lain asal masih berada di Kabuyutan ini.”

“Tidak,” jawab Ki Buyut, “aku tidak sependapat. Biarlah banjar Kabuyutan kita tetap banjar yang lama, yang sudah cukup luas dan cukup baik. Sedangkan rumah hantu itu akan menjadi banjar padukuhan. Biarlah orang-orang padukuhan memeliharanya dan jika mampu mengembangkannya lagi. Apa salahnya. Juga kemungkinan-kemungkinan yang lain yang dapat diterapkan pada banjar padukuhan itu.”

Namun bebahu yang seorang lagi tiba-tiba berkata, “Seandainya kita berpegang kepada pendapat Ki Buyut bahwa tidak sepantasnya banjar Kabuyutan tidak berada di Kabuyutan induk, lalu bagaimana dengan uang hasil penjualan pusaka-pusaka atas dasar penawaran tertinggi itu.”

“Hasilnya adalah hak padukuhan,” jawab Ki Buyut.

“Kita dapat berpikir lain,” jawab bebahu itu, “kita memang tidak akan mungkin memindahkan rumah dan halaman rumah hantu itu kemari. Tetapi uang sebagai hasil penjualan isi dari rumah itu akan dapat kita anggap milik Kabuyutan. Dengan demikian maka rencana penggunaannyapun akan ditentukan oleh Kabuyutan. Bukan padukuhan. Dengan demikian nampaknya sudah menjadi adil. Bentuk kewadagan rumah itu akan tetap berada dipadukuhan, tetapi uang hasil penjualan pusaka-pusaka atas dasar penawaran tertinggi itu akan menjadi milik Kabuyutan.”

Ki Buyut termangu-mangu sejenak. Nampak kebimbangan mulai membayang di wajahnya. Namun kemudian ia berkata, “Biarlah semuanya diatur oleh padukuhan itu sendiri.”

“Itu tidak adil,” desis bebahu yang lain, “padukuhan itu merupakan bagian dari Kabuyutan. Kabuyutan memiliki kewenangan lebih tinggi dari padukuhan. Kabuyutan dapat mengatur segala sesuatu yang ada di dalam Kabuyutan, termasuk yang berada di padukuhan-padukuhan.”

Ki Buyut tidak segera menjawab. Ia memang menjadi bimbang.

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti pun berkata, “Ki Buyut. Mohon maaf jika aku ikut memberikan sedikit penjelasan. Rumah dan beberapa buah pusaka itu adalah sebuah pemberian. Seseorang memberikan haknya kepada padukuhannya. Karena itu, maka kita pun harus menghormati orang mempunyai hak itu. Bukankah nenek tua itu mempunyai hak untuk memberikan kepada siapa saja sesuai dengan kehendaknya.”

“Tetapi ia adalah penghuni Kabuyutan ini,” jawab bebahu itu.

“Bagaimana sikap Ki Sanak jika rumah dan benda-benda berharga itu diberikan kepada seseorang? Apalagi jika seseorang itu penghuni Kabuyutan ini? Apakah Kabuyutan juga berhak mengambilnya dengan alasan seperti yang Ki Sanak katakan?” bertanya Mahisa Murti.

“Kau memang bodoh anak muda,” bentak bebahu itu, “kau tidak dapat membedakan antara pribadi dan sekelompok orang yang menyusun diri dalam satu himpunan. Dalam hal ini penghuni padukuhan.”

“Ya. Sekelompok orang itu telah mendapat limpahan hak dari nenek itu. Dan sudah barang tentu nenek tua itu tidak akan rela jika hak yang dilimpahkan itu harus dipindahkan meskipun kepada satu lingkungan masyarakat yang lebih besar,” berkata Mahisa Murti.

“Belum tentu,” jawab bebahu itu, “itu masih harus dibuktikan. Tetapi aku yakin bahwa nenek tua itu tentu akan menjadi lebih berbangga hati jika rumahnya menjadi banjar Kabuyutan serta uang yang disumbangkan dapat dipergunakan dengan kebijaksanaan Kabuyutan.”

“Kami tidak yakin,” sahut Mahisa Pukat, “jika kalian berkeras, sebaiknya kalian berbicara langsung dengan nenek itu. Dengan menghormati haknya, maka kalian tidak dapat merubah sikapnya dengan paksa.”

“Kau jangan membual,” bentak bebahu itu, “sebaiknya kalian tidak ikut dalam pembicaraan ini. Kalian belum tahu apa-apa. Barangkali kalian baru pantas untuk berada di gardu meronda bersama kawan-kawan sebayamu.”

Namun yang menjawab adalah Ki Bekel, “Aku membawa mereka berdua. Mereka berdua adalah penasehat-penasehatku yang paling aku percaya.”

“Kau bermimpi Ki Bekel,” geram salah seorang di antara para bebahu itu, “atau barangkali karena penasehat-penasehatmu adalah anak-anak ingusan, maka kau tidak lagi dapat membedakan yang mana yang baik bagi Kabuyutan dan yang mana yang tidak.”

Tetapi para bebahu itu terkejut ketika Ki Buyut berkata, “Baiklah. Aku ambil semuanya itu bagi Kabuyutan. Namun kemudian aku serahkan penggunaannya kepada padukuhan itu.”

Para bebahu itu hampir bersamaan menjawab, “Itu tidak adil.”

Namun Ki Bekelpun berkata, “Aku berkeberatan Ki Buyut. Jika demikian, maka kami hanya sekedar merawat dan mempergunakannya, sementara haknya ada di Kabuyutan.”

“Itu adalah yang paling baik yang dapat aku lakukan sekarang ini,” berkata Ki Buyut.

“Ki Buyut,” berkata Ki Bekel, “aku mohon Ki Buyut menghormati hak orang lain itu. Sebaiknya Ki Buyut berbicara dengan nenek pemilik rumah itu.”

Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan berbicara dengan nenek tua itu.”

“Tidak ada gunanya Ki Buyut,” berkata salah seorang bebahu itu, “nenek tua itu tentu sudah ditakut-takuti lebih dahulu oleh Ki Bekel dan anak-anak muda yang disebutnya sebagai penasehatnya itu.”

“Jika demikian, maka pembicaraan ini tentu tidak akan selesai,” berkata Ki Buyut, “karena itu, aku akan bertemu dengan nenek itu. Aku akan tahu, apakah ia telah ditakut-takuti atau tidak.”

“Ki Buyut telah terjebak,” desis salah seorang yang lain.

Tetapi Ki Buyut berkata, “besok aku akan datang ke rumah nenek tua itu. Menjelang tengah hari, aku harap Ki Bekel sudah berada di rumah itu.”

Ki Bekel mengangguk kecil sambil menjawab, “Baik Ki Buyut. Besok sebelum tengah hari aku sudah berada di rumah nenek tua itu.”

Demikianlah, maka Ki Bekel dan orang-orang yang menyertainya itu pun telah mohon diri. Dengan nada rendah Ki Bekel berkata, “Tetapi sementara itu Ki Buyut, kami tetap mohon perlindungan sejak malam ini, apapun keputusan Ki Buyut kemudian.”

“Baik,” jawab Ki Buyut, “aku tetap pada janjiku. Aku akan mengirim pengawal untuk ikut mengawal kekayaan yang besar itu. Malam nanti mereka akan berada di rumah nenek tua itu.”

Ki Bekel dan beberapa orang yang menyertainya pun telah meninggalkan rumah Ki Buyut. Dengan gelisah Ki Bekel berkata kepada orang-orang yang menyertainya, “Ki Buyut memang kurang tegas pada satu sikap. Ia sudah dipengaruhi oleh orang lain. Kemudian menjadi ragu-ragu atas sikap yang diambilnya sebelumnya.”

“Tetapi ia tidak begitu saja menerima pendapat para bebahu itu,” berkata Mahisa Murti.

“Sikapnya kali ini memang agak baik meskipun terguncang juga. Kita akan melihat esok. Apakah Ki Buyut masih seperti Ki Buyut yang sekarang, atau sudah berubah lagi,” berkata Ki Bekel.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Sikap Ki Buyut itu juga berarti keberangkatan mereka akan tertunda lagi meskipun hanya satu hari.

Dari rumah Ki Buyut Ki Bekel ternyata langsung pergi kerumah nenek itu. Dengan hati yang berdebar-debar ia menceriterakan sikap Ki Buyut dan beberapa orang bebahu Kabuyutan terhadap rumah dan barang-barang peninggalan suami nenek tua itu.

“Tetapi,” berkata nenek tua itu, “aku tidak memberikannya kepada orang lain. Aku memberikannya kepada sanak kadang di padukuhan ini. Tetangga-tetangga yang baik, yang selama ini aku anggap orang asing yang selalu memusuhiku. Justru karena itu maka aku menyerahkan segalanya kepada padukuhan ini.”

“Katakan besok kepada Ki Buyut,” berkata Ki Bekel, “ tetapi para bebahu itu tentu tidak percaya. Mereka mengira bahwa aku akan memerintahkan orang-orangku untuk menakuti-nakuti nenek. Karena itu, terserahlah kepada nenek untuk meyakinkan Ki Buyut, bahwa segala sesuatunya memang atas kehendak nenek sendiri.”

Nenek itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku kira segala sesuatunya akan berjalan rancak. Namun ternyata beberapa kesulitan telah aku alami. Semula orang yang mengaku pewaris kekayaan yang tertinggal dari suamiku yang telah meninggal. Kemudian gegedug dari Bukit Palang. Sekarang, justru Ki Buyut sendiri.”

“Sudahlah nek,” berkata Mahisa Murti, “jika nenek bersikap wajar sebagaimana yang sebenarnya, maka agaknya Ki Buyut akan mengetahui bahwa nenek tidak berpura-pura, atau dibawah ancaman siapapun.”

Nenek itu mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “Aku tidak terbiasa berhadapan dengan siapapun. Karena itu, aku akan dapat menjadi gemetar jika aku harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh Ki Buyut.”

“Nenek harus tetap tenang. Kami akan mendampingi nenek,” berkata Mahisa Murti.

Nenek itu memandang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berganti-ganti. Lalu katanya dengan nada rendah, “Dalam keadaan seperti ini, kalian memang tidak boleh pergi.”

“Kami telah memutuskan untuk menunda keberangkatan kami nek,” sahut Mahisa Pukat.

Nenek itu menjadi sedikit tenang. Namun bagaimanapun juga ia merasa gelisah jika harus berhadapan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan Ki Buyut dan beberapa orang bebahu.

Tetapi Ki Bekel yang kemudian minta diri masih juga berkata, “Kita akan bersikap sejujur-jujurnya nek. Tidak ada niat dihati kita untuk berbuat curang. Apalagi nenek. Bukankah semuanya itu milik nenek?”

Nenek tua itu mengangguk-angguk. Sebenarnya ia tidak ingin terlibat kedalam kesulitan seperti itu. Tetapi ia memang tidak akan dapat mengelak.

Karena itu, yang terbaik dilakukan adalah berbuat sejujur-jujurnya. Nenek itu sudah bertekad untuk menceritakan apa yang telah terjadi atas dirinya dari awal sampai akhir.

Ketika lampu-lampu telah menyala, maka ampat orang pengawal memang sudah berada di rumah nenek tua itu. Mahisa Ampinglah yang kemudian menghidangkan suguhan bagi mereka. Sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah duduk menemui para pengawal Kabuyutan itu.

“Menarik sekali,” berkata salah seorang di antara para pengawal itu.

“Apa yang menarik?” bertanya Mahisa Murti.

“Rumah ini. Rumah yang akan menjadi banjar yang besar dan bagus. Bahkan terlalu bagus,” jawab pengawal itu.

Mahisa Murti mengangguk kecil. Katanya, “Ya. Memang terlalu bagus.”

“Kenapa tidak diserahkan saja kepada Ki Buyut yang akan mampu memelihara dan merawatnya?” bertanya pengawal itu.

“Tidak,” jawab Mahisa Murti, “isi padukuhan ini akan dapat merawatnya dengan baik.”

“Jika demikian, kenapa padukuhan ini harus minta pengawalan dan perlindungan Ki Buyut?” bertanya pengawal yang lain.

“Bukankah itu wajar sekali,” Mahisa Pukat lah yang menyahut, “jika tidak kepada Ki Buyut, kepada siapa kita minta perlindungan.”

“Tetapi bukankah banjar ini berlebihan bagi sebuah padukuhan?” berkata pengawal yang lain.

Mahisa Pukat menggeleng sambil tersenyum, “tentu tidak. Banjar ini akan merupakan wadah dari segala kegiatan padukuhan ini.”

Para pengawal itu termangu-mangu sejenak. Mereka kemudian melihat beberapa orang anak muda yang berdatangan. Selain anak muda yang memang mendapat giliran meronda, maka beberapa orang kawannya telah ikut pula untuk sekedar duduk-duduk dan berbincang di regol halaman rumah yang disiapkan untuk menjadi banjar padukuhan itu.

“Anak-anak muda padukuhan itu merasa ikut bertanggung jawab atas banjar mereka yang baru ini,” berkata Mahisa Murti.

Pengawal yang nampaknya pemimpin di antara keempat orang itu berkata, “Mereka ternyata memiliki rasa tanggung jawab yang besar. Tetapi tanggung jawab saja tidak cukup untuk memelihara sebuah bangunan yang baik seperti ini.”

“Maksud Ki Sanak?” bertanya Mahisa Murti.

“Mereka harus mampu menjaga dan melindungi miliknya,”jawab pengawal itu.

“Mereka akan menjaga dan melindungi milik mereka,” jawab Mahisa Murti pula.

“Mereka tidak akan mampu. Ternyata mereka memerlukan kami,” berkata pengawal itu.

“Bukankah aku telah mengatakannya, adalah wajar sekali jika kami mohon perlindungan kepada Ki Buyut,” jawab Mahisa Murti, “tetapi itu hanyalah basa-basi saja.”

“Maksudmu?” bertanya orang itu.

“Aku memang orang baru di sini. Tetapi aku mengetahui banyak tentang mereka,” jawab Mahisa Murti.

“Kau jangan membual. Aku lahir di Kabuyutan ini. Karena itu, aku mengenal sebagian dari mereka. Terutama anak-anak muda yang memang lahir di sini,” jawab pengawal itu.

“Jika demikian, marilah kita duduk-duduk bersama mereka,” ajak Mahisa Murti.

“Nanti dulu,” sahut pengawal itu, “aku ingin penjelasanmu, bahwa permintaan perlindungan kepada Ki Buyut itu hanya basa-basi.”

Mahisa Murti tersenyum. Katanya, “Kami memiliki kemampuan cukup untuk melindunginya. Ki Bekel telah melaporkan, bahwa kami telah mengembalikan gegedug dari Bukit Palang.”

Pengawal itu tertawa. Katanya, “Satu permainan yang tentu mengasyikkan. Gegedug Gunung Palang adalah sekelompok orang-orang yang kehilangan akal dan menganggap dirinya memiliki kemampuan yang tinggi. Jika benar gegedug itu datang lagi, maka untuk melawan sepuluh orang kami tidak perlu mengerahkan orang sepadukuhan. Tetapi kami berempat akan dapat mengusir mereka.”

“Tetapi kami memiliki kepercayaan kepada diri sendiri,” jawab Mahisa Murti.

“Sekali lagi aku peringatkan, kau jangan membual,” geram pengawal itu, “Aku dapat menjadi muak mendengarnya.”

“Ah,” desis Mahisa Murti, “kau menjadi cepat marah. Bukankah kita ingin melihat satu kenyataan?”

“Kau membuat telingaku merah. Tunjukkanlah kepadaku, anak muda yang manakah yang kau sebut mampu melindungi banjar ini dari kemungkinan buruk sebagaimana dapat dilakukan oleh para pengawal,” berkata pengawal itu.

Mahisa Murti tertawa. Namun seorang di antara para pengawal itu membentak, “Kau sangat memuakkan. Apakah kau merasa dirimu memiliki kemampuan itu? Jika memang demikian katakanlah bahwa kau ingin menjajagi kemampuan kami.”

“Terbalik Ki Sanak,” berkata Mahisa Murti, “bukan kami yang akan menjajagi kemampuan kalian.”

“Bagus,” sahut pengawal yang bertubuh tinggi tegap, “apapun namanya bukan soal bagi kami. Yang penting kalian dapat membuktikan kata-kata kalian.”

“Baiklah. Aku tidak ingin mengganggu anak-anak muda itu,” berkata Mahisa Murti, “karena itu, biar aku sajalah yang mewakili mereka. Marilah, kita pergi ke kebun belakang, agar tidak meresahkan anak-anak muda itu, sehingga mereka melakukan tindakan yang kurang terpuji.”

Para pengawal itu tidak menunggu lagi. Kemarahan telah mencengkam jantung mereka. Anak muda itu telah merendahkan kemampuan para pengawal yang sudah terlatih secara khusus untuk menjadi pengawal Kademangan.

Beberapa saat kemudian, para pengawal itu telah berada di kebun belakang bersama Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu. Sementara Wantilan dan Mahisa Amping diminta untuk tetap berada di ruang dalam menemani nenek tua yang selalu merasa gelisah karena Ki Buyut akan menemuinya besok.

“Nah,” berkata salah seorang pengawal, “siapa di antara kalian yang akan menunjukkan kemampuan kalian, sehingga berani menganggap bahwa perlindungan dari Ki Buyut hanya sekedar basa-basi?”

“Tunjuklah salah seorang di antara kami,” berkata Mahisa Murti, “karena kemampuan kami tidak jauh berbeda.”

Pengawal yang bertubuh tinggi tegap maju selangkah sambil menunjuk kepada Mahisa Murti, “Kau sajalah yang terlalu banyak bicara. Kau pulalah yang telah menghina kami.”


“Bukan maksud kami menghina,” jawab Mahisa Murti.

“Cukup. Kita tidak akan membuang-buang waktu. Rasa-rasanya menjajagi kemampuan merupakan sambilan yang menarik daripada sekedar untuk berjaga-jaga di sini,” geram anak muda yang bertubuh tinggi tegap itu.

Mahisa Murti pun tersenyum. Agaknya anak muda itu terlalu yakin akan dirinya. Di antara anak-anak muda Kabuyutan, ia memang dianggap anak muda yang terbaik, bahkan di antara para pengawal ia termasuk disegani sebagaimana anak muda yang menjadi pemimpin di antara mereka berempat.

Tetapi Mahisa Murti sudah siap untuk menghentikan kesombongannya. Anak muda yang dianggap pengawal yang baik itu, agaknya belum banyak mengenal dunia kanuragan di luar Kabuyutan itu.

Meskipun Mahisa Murti sama sekali tidak merendahkannya, tetapi Mahisa Murti mampu menilai sikap, tingkah laku dan tata gerak anak muda itu, sehingga menurut penilaian Mahisa Murti, tataran kemampuannya masih berada dibawah kedua orang anak muda adik bebahu padukuhan itu, yang telah diserahi oleh Mahisa Murti untuk menuntun anak-anak muda padukuhan itu.

“Bersiaplah,” berkata pengawal yang bertubuh tinggi tegap itu. Lalu, “tetapi jangan salahkan aku jika aku sedikit lepas kendali. Agaknya memang sulit untuk terlalu berhati-hati sehingga aku akan dapat meyakinkanmu bahwa kau terlalu sombong tanpa menyakitimu.”

Mahisa Murti masih saja tersenyum. Sinar oncor dikejauhan masih juga menggapai wajahnya meskipun lemah. Namun dalam kemerahan bayangan oncor itu, masih nampak senyum di bibir Mahsia Murti.

Senyum itu memang terasa menyakitkan hati. Karena itu, maka pengawal itu pun mulai bergerak selangkah maju.

Mahisa Murti memang melangkah surut.

Sementara pengawal itu berdesis, “jangan takut. Aku tidak akan membunuhmu, meskipun sedikit menyakitimu.”

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak bergeser lagi ketika lawannya mendekat. Tetapi ia menunggu serangan yang bakal datang. Ia ingin menunjukkan tataran kemampuan lawannya yang sebenarnya dalam olah kanuragan.

Karena itu, maka ketika lawannya itu meloncat sambil menjulurkan tangannya Mahisa Murti sama sekali tidak menghindar. Ia menahan serangan itu dengan telapak tangannya.

Pengawal itu menjadi sangat terkejut. Ia memang belum mengerahkan segenap kekuatannya, karena maksudnya ia baru sekedar memancing perlawanan Mahisa Murti. Namun ternyata tangannya itu bagaikan membentur sebatang pokok kayu.

Tetapi pengawal itu segera menyembunyikan keheranannya. Bahkan tangannya yang terasa sakit. Dengan mengerahkan kekuatan yang lebih besar, maka pengawal itu ingin segera membuktikan bahwa ia jauh lebih baik dari Mahisa Murti yang dianggapnya terlalu sombong itu.

Dengan cepat pengawal itu meloncat dan langsung menyerang dada Mahisa Murti dengan kakinya.

Sekali lagi Mahisa Murti menunggu. Ia tidak menghindar. Tetapi ia melindungi dadanya dengan menyilangkan kedua tangannya.

Dan sekali lagi serangan itu bagaikan membentur pokok sebatang pohon raksasa yang sama sekali tidak terguncang oleh serangannya. Benturan yang terjadi justru telah mendorongnya beberapa langkah surut. Hampir saja pengawal itu kehilangan keseimbangannya.

Kemarahan pengawal itu pun telah memuncak sampai ke ubun-ubun. Ia tidak mau kehilangan kewibawaannya sebagai seorang pengawal. Apalagi lawannya itu pun masih belum lebih tua dari padanya.

Dengan demikian, maka pengawal itu benar-benar telah mengerahkan segenap kemampuannya. Ia ingin melemparkan anak muda yang dinilainya sangat sombong, tanpa berusaha menghindar, justru membentur serangannya.

Anak muda itu telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Dengan sepenuh tenaga ia meloncat sambil menjulurkan tangannya menyerang ke arah kening.

Mahisa Murti ternyata juga berniat untuk segera mengakhiri pertempuran, agar anak muda itu menyadari, sampai di mana tataran kemampuannya. Sehingga karena itu, ketika tangan anak muda itu terayun, Mahisa Murti merendahkan kepalanya sehingga ayunan serangan yang deras itu tidak menyentuhnya. Namun demikian tangan itu lewat, maka dengan cepat, Mahisa Murti telah menangkap pada pergelangan tangannya.

Yang dilakukan Mahisa Murti kemudian adalah diluar kuasa pengawal itu untuk mencegah. Tangan itu tiba-tiba saja telah terpilin di punggungnya. Ketika Mahisa Murti menekan tangan itu, serta pundak kirinya, maka pengawal itu menyeringai menahan sakit.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan nada rendah, “Nah, apakah penjajagan ini sudah selesai.”

“Gila kau. Kau curang,” geram anak muda itu.

“Kenapa aku curang?” bertanya Mahisa Murti, “apakah ada yang tidak sewajarnya yang aku lakukan?”

“Kau memanfaatkan satu kebetulan,” berkata pengawalitu.

“Apa yang kebetulan menurut pendapatmu?” bertanya Mahisa Murti.

“Persetan. Lepaskan, kita akan mulai lagi. Kau tidak akan dapat mencurangiku lagi,” geram pengawal itu pula.

Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian berkata, “Baiklah. Kita akan mulai dari permulaan lagi.”

Mahisa Murti telah melepaskan tangan pengawal itu. Selangkah Mahisa Murti mundur. Sementara itu, pengawal itu pun telah mengibaskan tangannya yang terasa agak sakit.

“Nah, silahkan,” berkata Mahisa Murti, “kita akan mulai sejak permulaan.”

“Bagus,” geram pengawal itu sambil sekali lagi mengibaskan tangannya yang dipilin oleh Mahisa Murti. Kemudian katanya, “Bersiaplah. Kau akan tahu siapakah yang kau hadapi.”

Mahisa Murti tidak menjawab. Ia pun segera bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan. Bahkan Mahisa Murti pun sempat menduga bahwa pengawal itu masih mempunyai ilmu yang belum sempat dipergunakan. Mungkin pengawal itu terlalu merendahkannya, sehingga tiba-tiba saja ia terkejut menghadapi satu kenyataan.

Tetapi Mahisa Murti tidak melihat bahwa pengawal itu memusatkan nalar budinya untuk menghimpun kemampuannya dalam ungkapan ilmu.

Meskipun demikian Mahisa Murti masih tetap berhati-hati menghadapi pengawal itu.

Sejenak kemudian, maka pengawal itu telah mulai menyerangnya lagi. Satu sambaran kaki yang cepat dan keras. Namun benar-benar hanya tenaga wantahnya.

Mahisa Murti ternyata mulai digelitik lagi oleh keinginannya untuk dengan cepat menundukkan pengawal itu. Karena itu, maka demikian kaki itu terjulur, Mahisa Murti dengan cepat telah bergeser. Dengan cepat pula ia telah menangkap kaki itu dan mengangkatnya. Dengan satu gerakan yang sederhana kakinya Mahisa Murti menyentuh kaki yang lain dari pengawal itu. Demikian ia melepaskan tangannya, maka pengawal itu telah jatuh terbanting di tanah. Namun pengawal itu tidak membiarkan dirinya terbaring. Dengan cepat ia meloncat bangkit dan berdiri tegak. Namun Mahisa Murti bergerak lebih cepat lagi. Sebelum pengawal itu menydari keadaannya, maka kedua tangan Mahisa Murti telah membelit dibawah kedua lengannya dan kemudian menelungkup di belakang tengkuknya.

Kepala pengawal itu tertunduk. Tangan di tengkuknya itu menekan keras, sementara kedua tangan pengawal itu seakan-akan telah terangkat.

Pengawal itu sama sekali tidak mampu lagi berbuat sesuatu. Sementara tangan Mahisa Murti menekan tengkuknya, Mahisa Murti itu pun bertanya, “Bagaimana menurut pendapatmu? Apakah juga satu kebetulan, atau kecurangan atau apa?”

Pengawal itu menggeram. Tetapi Mahisa Murti yang sudah jemu bermain-main itu berkata, “Katakan, apakah kita akan mulai lagi dari permulaan?”

Pengawal itu tidak menjawab. Tetapi ketika Mahisa Murti menekan tengkuknya lebih keras, maka pengawal itu telah mengaduh tertahan.

Semula Mahisa Murti ingin memaksa pengawal itu mengakui kekalahannya. Tetapi niatnya diurungkan. Demikian pengawal itu mengaduh, maka Mahisa Murti pun segera melepaskannya.

Pengawal itu hampir jatuh terjerembab. Tetapi ia tidak dapat ingkar lagi dari kenyataan, bahwa ia telah ternyata tidak berdaya sama sekali di hadapan anak muda padukuhan itu. Dua kali ia mencoba melawannya. Namun dua kali pula ia dikuasainya. Begitu cepatnya dan sama sekali tidak sempat melakukan perlawanan yang berarti.

Namun kawannya telah menggeram. Orang yang dianggap memimpin ketiga kawannya yang lain itu pun kemudian melangkah maju sambil berkata, “Aku tidak mengerti apa yang telah terjadi. Tidak lebih dari permainan sihir yang memuakkan. Nah, sekarang aku yang akan mencoba kemampuan sihirmu itu.”

Tetapi Mahisa Murti menjawab, “jangan aku. Pilihlah saudaraku yang lain. Kami memiliki kemampuan yang tidak jauh berbeda. Untuk menilai kemampuan kami, maka kalian harusmelakukan penjajagan dari lebih seorang saja.”

Pengawal itu menggeram.

Namun Mahisa Pukat telah melangkah maju sambil berkata, “Aku menawarkan diri. Aku juga dapat menyihirmu sehingga kau harus menyerah kepadaku sebagaimana kawanmu itu.”

“Tutup mulutmu,” geram pengawal itu, “kau tidak akan mampu mengalahkan aku dengan sihirmu.”

Mahisa Pukat tertawa. Katanya, “Persoalannya bukan permainan sihir. Tetapi siapakah di antara kita yang memiliki kemampuan lebih tinggi. Bukankah sejak semula kau ingin men-jajagi kami, karena kami terlanjur mengatakan bahwa permohonan kami perlindungan kepada Ki Buyut hanya basa-basi?”

“Cukup,” geram pengawal itu, “bersiaplah. Aku akan mulai.”

“Tunggu,” berkata Mahisa Pukat, “agar salah seorang di antara kita tidak dituduh curang, sihir atau kebetulan atau alasan lain, kita akan mulai setelah hitungan ketiga. Biarlah salah seorang kawanmu menghitungnya.”

Pengawal itu termangu-mangu. Namun ia pun kemudian berkata kepada seorang kawannya, “Hitung sampai tiga.”

Kawannya itu memang menjadi ragu-ragu. Namun kemudian ia pun mulai menghitung, “satu, dua, tiga.”

Pengawal itu segera bergeser. Ia telah siap untuk meloncat menyerang. Serangan yang dianggapnya langsung melumpuhkan perlawanannya.

Namun dengan tidak disangka-sangka, Mahisa Pukat telah meloncat begitu cepatnya. Tangannya yang terbuka telah mendorong dada pengawal itu dengan kuat, sehingga ia pun telah jatuh terlentang.

Serangan itu memang tidak menyakitinya. Tetapi mengejutkannya. Karena itu, dengan serta merta ia telah meloncat bangkit. Tetapi demikian ia tegak, maka serangan Mahisa Pukat telah datang lagi. Dorongan yang kuat dari samping pada pundaknya, sehingga pengawal itu pun telah terhuyung-huyung. Beberapa saat ia mencoba bertahan. Tetapi akhirnya ia terjatuh juga.

Pengawal itu menggeram. Ia tidak ingin hal itu terulang lagi. Karena itu, maka ia tidak dengan serta merta meloncat bangkit, tetapi ia menunggu beberapa saat.

Kemarahan pengawal itu menyala sampai ke ujung rambutnya ketika ia melihat Mahisa Pukat berdiri di dekatnya, sehingga tumitnya hampir saja menginjak hidungnya.

Namun hal itu dianggapnya sebagai satu kesempatan. Dengan sekuat tenaganya pengawal itu telah berusaha menyapu kaki Mahisa Pukat. Sambil bergeser agar ia mendapat kesempatan yang baik, maka kakinya telah menghantam ke arah kaki Mahisa Pukat. Jika pengawal itu berhasil, maka Mahisa Pukat lah yang akan terjatuh, sementara ia akan dapat lebih dahulu meloncat bangkit dan mempergunakan setiap kesempatan untuk menjatuhkan lawannya itu.

Tetapi pengawal itu terkejut bukan buatan. Sapuan kakinya sama sekali tidak menyentuh apapun juga. Ternyata dengan gerak yang sederhana Mahisa Pukat berhasil menghindari sapuan kaki pengawal itu. Dengan meloncat kecil, maka sapuan kaki itu lewat dibawah telapak kakinya tanpa menyentuhnya. Bahkan tiba-tiba saja Mahisa Pukat justeru telah menekan kakinya dengan telapak kakinya pula.

Pengawal itu ternyata mengalami kesulitan untuk melepaskan tekanan kaki Mahisa Pukat. Ketika ia mencoba mengungkitnya, maka justru kakinya menjadi semakin sakit.

“Nah,” berkata Mahisa Pukat, “apakah kita akan mulai lagi dari permulaan? Kebetulan atau sihir atau apa lagi?”

Pengawal itu menggeram. Namun ia memang sudah tidak dapat berbuat sesuatu. Jika Mahisa Pukat menghendaki, maka kedua tangannya akan dapat menyerangnya. Tetapi Mahisa Pukat tidak melakukannya. Ia hanya bertanya saja kepada pengawal itu, apakah yang dikehendaki.

Untuk beberapa saat pengawal itu tidak menjawab. Tetapi tekanan telapan kaki Mahisa Pukat menjadi semakin keras sehingga pengawal itu harus mengaduh.

Namun akhirnya Mahisa Pukat tidak menunggu pengawal itu menjawab. Ia pun kemudian telah melepaskan kaki itu dan bergeser menjauh.

Pengawal itu pun kemudian telah tertatih-tatih berdiri. Namun Mahisa Pukat tidak bertanya lagi. Ia tahu bahwa pengawal itu tentu akan berusaha untuk tetap mempertahankan harga dirinya.

Namun Mahisa Murti lah yang kemudian bertanya, “Apakah masih ada permainan lagi. Masih ada seorang di sini yang belum mendapat kesempatan. Bahkan jika perlu, aku akan mengundang seorang lagi, sehingga semuanya akan mendapat kesempatan.”

Untuk beberapa saat para pengawal itu termangu-mangu. Mahisa Semu telah bersiap-siap jika saja ia mendapat tantangan. Meskipun ia tidak akan dapat dengan mudah mengalahkan pengawal-pengawal itu sebagaimana dilakukan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, namun ia pun merasaa bahwa ia akan dapat menang atas pengawal-pengawal itu dengan cepat.

Tetapi setelah sempat merenung sejenak, pemimpin pengawal itu berkata, “Tidak. Permainan ini sudah selesai.”

“Baiklah,” berkata Mahisa Murti, “jika demikian, kita dapat duduk di serambi. Kita memang tidak perlu tergesa-gesa bergabung dengan anak-anak muda yang bertugas meronda itu.”

Para pengawal itu tidak menjawab. Mereka pun kemudian telah pergi ke serambi. Sementara Mahisa Pukat minta Mahisa Amping untuk menghidangkan minuman bagi mereka.

Sambil minum minuman hangat, maka Mahisa Murti sempat bertanya, “Apakah kalian mengerti maksud kami? Bahwa permohonan kami kepada Ki Buyut itu sekedar basa-basi?”

Para pengawal itu mengangguk-angguk. Sementara Mahisa Pukat berkata, “Jika ada di antara para bebahu dan berhasil mempengaruhi Ki Buyut untuk menjadikan rumah ini milik Kabuyutan, kau akan dapat membayangkan akibatnya. Kita tidak akan bersedia menyerahkannya, sementara keputusan Ki Buyut harus dilaksanakan. Kau tentu akan dapat mengurai persoalan yang berkembang selanjutnya. Mungkin beberapa padukuhan di Kabuyutan ini dapat digerakkan bersama-sama untuk melaksanakan keputusan Ki Buyut dengan paksa, sementara anak-anak muda padukuhan ini mempertanyakannya. Jumlah kalian akan lebih banyak, tetapi kau akan dapat mengukur perbandingan kemampuan kalian dengan kami, anak-anak muda Kabuyutan yang kebetulan tinggal di padukuhan ini.”

“Kami dapat mengerti,” jawab pemimpin di antara ampat orang pengawal itu.

“Jika demikian, sampaikan kepada Ki Buyut apa yang kalian ketahui untuk kepentingan ketenangan Kabuyutan ini sendiri,” berkata Mahisa Pukat, “sementara itu, Ki Buyut dapat berbicara langsung dengan nenek yang menyerahkan rumah ini kepada Ki Bekel dari padukuhan ini.”

Para pengawal itu mengangguk-angguk. Ia melihat kesungguhan pada kata-kata kedua orang anak muda yang ternyata memiliki kemampuan yang tinggi itu. Meskipun para pengawal itu mengerti bahwa tidak banyak anak-anak muda padukuhan itu yang memiliki kemampuan seperti itu, namun nampaknya mereka akan benar-benar mempertahankan rumah itu bagi padukuhannya. Rumah yang memang terlalu bagus dan besar. Tetapi karena itu adalah sebuah pemberian, maka orang-orang padukuhan itu bertekad untuk tidak melepaskannya.

Malam itu, para pengawal itu melihat bahwa anak-anak muda padukuhan itu telah berkumpul di rumah itu. Bukan hanya mereka yang mendapat giliran meronda. Tetapi mereka yang tidak sedang merodanpun telah ikut pula datang untuk berjaga-jaga. Meskipun bagi yang tidak bertugas, lewat tengah malam mereka telah terbaring tidur di pendapa. Tetapi kehadiran mereka telah ikut membantu agar mereka yang meronda tidak merasa kesepian berada di pendapa rumah yang besar itu.

Para pengawal Kabuyutan pun telah berada pula di antara anak-anak muda padukuhan itu. Sebagian terbesar dari mereka memang sudah saling mengenal meskipun tidak begitu akrab.

Menjelang fajar, maka para pengawal dari Kademangan itu telah minta diri. Pemimpin di antara mereka telah berjanji kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bahwa ia akan bertemu dengan Ki Buyut langsung dari tugas itu.

Seperti yang dikatakan, maka keempat orang pengawal yang pertama kali mendapat tugas untuk melindungi padukuhan yang mendapat kesempatan untuk berkembang itu telah langsung menghadap Ki Buyut. Dengan jujur mereka menceriterakan apa yang telah mereka alami. Karena itu, maka mereka pun sependapat dengan Ki Buyut, bahwa sebaiknya rumah dan apapun yang memang telah diberikan oleh nenek tua itu kepada padukuhan, biarlah menjadi hak padukuhan itu.

“Jika terjadi kekerasan, maka Kabuyutan ini akan mengalami kesulitan,” berkata pengawal itu.

“Kau tahu pasti?” bertanya Ki Buyut.

“Ya Ki Buyut,” jawab pemimpin dari para pengawal itu, “apapun akhir dari pertentangan yang apalagi dengan kekerasan itu tentu tidak akan menguntungkan kita semuanya. Karena itu, maka apa salahnya jika keinginan Ki Bekel itu dipenuhi. Kabuyutan tidak pernah dirugikan, karena yang diambil oleh padukuhan itu sejak semula memang bukan milik Kabuyutan.”

Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya, “Menjelang matahari naik, para bebahu akan datang untuk berbincang-bincang. Aku juga sudah berjanji untuk menemui perempuan tua itu. Dengan demikian aku akan mendapatkan satu keyakinan, apakah rumah dan pusaka-pusaka itu memang diserahkan atau diambil dengan paksa oleh Ki Bekel dan para bebahu padukuhan itu.”

Pemimpin pengawal itu pun kemudian telah menyahut, “Aku juga sempat berbicara dengan nenek tua pemilik rumah itu, Ki Buyut. Nampaknya nenek itu memang menyerahkannya dengan ikhlas. Ia berbicara dengan lancar dan tidak dibuat-buat, bagaimana ia merasa menemukan kembali tetangga-tetangganya yang hilang. Bagaimana ia merasa hidup lagi dalam satu pergaulan sesamanya. Karena semula ia merasa menjadi orang asing di rumahnya sendiri, karena lingkungannya yang tidak dikenalnya sama sekali.”

Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan mempertimbangkan pendapat kalian.”

Sebelum matahari terbit, maka para pengawal itu telah meninggalkan rumah Ki Buyut, kembali ke rumah masing-masing.

Seperti yang dikatakan oleh Ki Buyut, maka ketika matahari mulai naik, para bebahu pun telah berdatangan di rumah Ki Buyut. Bukan hanya bebahu yang sehari sebelumnya sudah ikut berbincang dengan Ki Bekel yang mendapat limpahan sebuah rumah yang besar beserta beberapa buah pusaka yang berharga itu, karena bahannya memang logam yang berharga serta permata yang mahal.

Ternyata bahwa pendapat para bebahu itu pun berbeda-beda. Ada yang berpendapat, bahwa sebaiknya rumah itu dibiarkan saja menjadi kebanggaan padukuhan. Namun beberapa orang bebahu memang telah terpengaruh oleh pendapat beberapa orang kawan-kawannya yang berniat mengambil rumah itu.

Tetapi ternyata Ki Buyut kemudian berkata, “Aku lebih condong untuk menyerahkan rumah dengan segala isinya kepada padukuhan itu jika perempuan tua pemilik rumah itu memang mengatakan demikian. Aku tidak ingin terjadi perpecahan di antara para penghuni padukuhan-padukuhan di Kabuyutan ini. Apalagi persoalannya adalah rumah dan benda-benda berharga. Seakan-akan orang-orang padukuhan ini sudah demikian miskinnya sehingga ketika ada seseorang yang akan meninggalkan harta miliknya semua orang berebut untuk mewarisi. Bukankah itu sangat memalukan? Jika didengar oleh Kabuyutan lain, maka dalam pertemuan-pertemuan para Buyut, aku akan menjadi bahan ejekan kawan-kawan Buyut dan Kabuyutan-Kabuyutan lain.”

Namun seseorang di antara para bebahu itu berkata, “Ki Buyut. Sebaiknya Ki Buyut memperhatikan suara kami. Ki Buyut jangan mengambil sikap mati seperti itu. Kita berbicara agar kita mendapatkan keputusan yang paling baik.”

“Aku akan mendengarkannya. Aku memang memerlukan pendapat-pendapat kalian. Tetapi keputusan terakhir ada di tanganku,” jawab Ki Buyut.

Beberapa orang bebahu memang sependapat dengan Ki Buyut. Tetapi bebahu yang menganggap bahwa sebuah padukuhan mutlak tunduk kepada Kabuyutan tetap pula pendiriannya. Karena itu maka salah seorang dari mereka berkata, “Baiklah. Keputusan terakhir memang ada pada Ki Buyut. Tetapi kita akan mendengar keterangan perempuan tua itu.”

“Aku akan menemuinya,” berkata Ki Buyut.

“Ki Buyut akan pergi ke rumahnya?” bertanya bebahuitu.

“Ya. Aku sudah berjanji dengan Ki Bekel,” jawab Ki Buyut.

“Kenapa Ki Buyut harus pergi ke rumahnya? Kenapa Ki Buyut tidak memerintahkan saja kepada Ki Bekel untuk membawa perempuan tua itu kemari?” bertanya bebahu itu.

“Perempuan itu sudah terlalu tua,” jawab Ki Buyut, “biarlah aku yang leibh muda datang kepadanya, meskipun aku-pun sudah terhitung tua.”

“Tetapi Ki Buyut berhak memanggil siapa saja yang Ki Buyut perlukan dari penghuni Kabuyutan ini,” jawab bebahu itu.

“Aku memang berhak memanggil. Setiap orang yang tinggal di Kabuyutan ini harus memenuhi panggilanku. Tetapi kali ini aku memang tidak memanggilnya, sehingga perempuan tua itu tidak berkewajiban untuk datang menghadapku,” jawab Ki Buyut.

“Untuk menjaga kewibawaan Ki Buyut, sebaiknya Ki Buyut memanggilnya,” berkata bebahu itu.

“Tetapi aku harus menunjukkan sikap hormatku kepada orang tua. Apalagi orang tua yang sudah berbaik hati memberikan rumahnya dan segala milik yang masih ada padanya, karena kekayaannya yang lain yang tidak terhitung banyaknya, termasuk anak-anaknya sudah ditelan oleh ilmu hitamnya,” berkata Ki Buyut.

Bebahu itu tidak dapat mengatasinya lagi. Namun ia masih minta kepada Ki Buyut, “Ki Buyut, aku mohon agar aku diperkenankan ikut bersama Ki Buyut. Aku ingin tahu, apakah nenek tua itu tidak ditakut-takuti oleh Ki Bekel.”


Ki Bekel termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baik. Siapa yang ingin ikut aku, ikutlah.”

Beberapa orang bebahu memang menyatakan untuk ikut serta. Tetapi ada di antara mereka yang bersikap sebagaimana sikap Ki Buyut. Sementara itu yang lain menginginkan agar apa yang diserahkan oleh nenek tua itu diambil oleh Kabuyutan.

Sebagaimana yang telah disepakati, maka menjelang tengah malam Ki Buyut telah pergi ke rumah nenek tua itu. SedangkanKi Bekel telah lebih dahulu datang bersama beberapa bebahu padukuhan.

Ketika Ki Buyut datang, maka Ki Bekel telah mempersilahkannya untuk naik ke pendapa.

Mahisa Amping ternyata masih sempat menghidangkan minuman bagi para tamu dengan mangkuk yang sengaja telah dibawa oleh seorang pembantu Ki Bekel, karena di rumah tua itu tidak tersedia mangkuk minuman cukup banyak.

“Ki Bekel,” bertanya Ki Buyut kemudian, “aku datang untuk memenuhi kesepakatan kita kemarin. Aku akan bertemu dengan perempuan tua pemilik ruamh ini. Aku ingin berbicara serba sedikit mengenai rumahnya ini.”

“Baik Ki Buyut. Aku pun sudah memberitahukan kepada nenek tua itu, bahwa hari ini Ki Buyut akan menemuinya,” berkata Ki Bekel.

“Dan kau tentu sudah mengancamnya pula,” tiba-tiba saja bebahu Kabuyutan yang menginginkan rumah itu menjadi milik Kabuyutan memotong.

Ki Bekel memandangi orang itu dengan sorot mata yang tajam. Dengan nada rendah ia berkata, “Ki Buyut. Apakah aku harus melayaninya?”

Tetapi Ki Buyut menjawab, “Aku ingin berbicara dengan perempuan itu.”

“Baiklah,” jawab Ki Bekel. Lalu katanya kepada Mahisa Murti yang hadir pula di pendapa itu, “Tolong, panggil perempuan tua itu.”

Sejenak kemudian Mahisa Murti sudah menemui nenek tua itu di ruang tengah. Dengan nada rendah Mahisa Murti bertanya, “Kau dengar pendapat salah seorang bebahu itu nek?”

Nenek tua itu mengangguk, “Bebahu itu menuduh Ki Bekel telah mengancam nenek, sehingga jawaban nenek seolah-olah telah dipersiapkan lebih dahulu,” berkata Mahisa Murti, “karena itu tolong nek, bersikaplah wajar. Jangan gelisah. Kami ada di sini. Bahkan kami akan berada di pendapa. Jika terjadi sesuatu, kami tidak akan membiarkan nenek dalam kesulitan.”

Nenek tua itu mengangguk-angguk.

“Bukankah nenek mengerti maksudku?” bertanya Mahisa Murti.

Nenek itu mengangguk-angguk pula.

Demikianlah, sejenak kemudian nenek itu pun telah berada di pendapa menghadap Ki Buyut. Mahisa Murti, Mahisa Pukat, Mahisa Semu, Wantilan dan Mahisa Amping telah berada pula di pendapa itu. Bahkan Mahisa Amping sempat duduk di sebelah nenek tua itu. Justru agak mendesaknya.

Dengan ramah Ki Buyut pun telah menanyakan keselamatan nenek tua itu, yang ternyata sikap Ki Buyut itu dapat sedikit meredakan ketegangan jiwa perempuan tua itu.

Bahkan Ki Buyut memang tidak langsung bertanya tentang niat perempuan tua itu menyerahkan rumahnya.

Dengan demikian, maka perempuan itu tidak lagi merasa ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Ki Buyut. Apalagi setiap kali Ki Buyut nampak tersenyum dan bahkan tertawa.

Baru ketika Ki Buyut yakin bahwa perempuan tua itu telah menjadi lebih terbuka, pertanyaannya mulai mengarah pada persoalan yang sesungguhnya.

Namun dengan cerdik Ki Buyut memancing jawaban nenek tua itu sehingga dapat meyakinkan dirinya.

Beberapa orang bebahu yang ikut mendengarkan pembicaraan itu menjadi tegang. Mereka mengerti bahwa cara yang paling baik telah dilakukan oleh Ki Buyut. Jawaban-jawaban perempuan itu akan merupakan pernyataan yang sebenarnya dari niatnya sendiri, karena nenek tua itu tidak lagi dikekang oleh ketegangan jiwanya.

Ki Buyut sendiri tidak terkejut ketika ia mendengar jawaban-jawaban nenek tua itu. Juga jawaban atas pertanyaannya, “Jadi, kepada siapa sebenarnya nenek ingin menyerahkan rumah nenek?”

Perempuan tua itu menarik nafas dalam-dalam. Sambil memandang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, ia menjawab dengan jujur, “Mulanya aku ingin memberikan warisanku kepada anak-anak muda itu. Mereka adalah anak-anak yang baik. Disaat aku sendiri dan merasa asing dari kehidupan ini, mereka datang kepadaku. Mengisi kekosongan hatiku dan dengan kehadirannya di dalam hidupku, maka aku merasa bahwa aku masih penghuni dunia ini.”

“Dengan demikian, maka rumah dan isinya kelak akan menjadi milik anak-anak muda itu sepeninggal nenek,” berkata Ki Buyut.

“Tidak. Anak-anak itu telah menghubungkan aku dengan dunia di sekitarku. Merekalah yang kemudian menuntun aku untuk menyerahkan rumah dan segala isinya kepada lingkunganku. Kepada satu keluarga yang sebenarnya merupakan keluarga besar dimana aku berada di dalamnya,” jawab nenek tua itu.

“Siapakah yang kau maksudkan?” bertanya Ki Buyut.

“Kepada padukuhan ini. Sudah tentu aku tidak dapat menyerahkan kepada orang-orang yang lewat, orang-orang yang kemudian telah memasuki duniaku yang semula kosong sama sekali, seorang demi seorang. Karena itu, maka aku telah menyerahkannya kepada orang yang mampu mewakili seluruh keluaga padukuhan ini. Ki Bekel,” berkata nenek tua itu.

Ki Buyut mengangguk-angguk. Kemudian ia berpaling kepada para bebahu sambil berkata, “Aku percaya kepada kata-katanya. Ia mengatakannya dengan jujur.”

“Ya,” jawab bebahu yang menginginkan rumah itu menjadi milik Kabuyutan, meskipun ada unsur pamrih pribadi. Katanya lebih lanjut, “Namun sebaiknya Ki Buyut bertanya, apakah nenek itu tidak lebih berbangga jika rumah dan isinya menjadi milik Kabuyutan serta digunakan untuk kepentingan Kabuyutan meskipun letaknya dipadukuhan ini, karena padukuhan ini juga merupakan bagian dari Kabuyutan.”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Nek, kau sudah mendengar sendiri pertanyaan itu. Bagaimanakah jawabmu atas pertanyaan itu?”

Perempuan itu termungu-mangu sejenak. Ketegangan jiwanya mulai lagi mencengkamnya. Namun ia masih sempat menjawab, “Ki Buyut. Aku sudah menyerahkannya kepada Ki Bekel. Segala sesuatunya terserah kepada Ki Bekel. Tetapi bagiku, aku merasa lebih akrab dengan padukuhan ini daripada dengan seluruh Kabuyutan. Baru saja aku sempat kembali memasuki pergaulan hidup wajar di padukuhan ini. Karena itu, maka sebaiknya aku tidak menyakiti hatinya. Jika aku mengambil kembali apa yang sudah aku serahkan.”

“Apakah Ki Bekel sudah menakut-nakutimu nek? Mengancammu? Jangan takut bahwa kau akan mengalami kesulitan jika kau ambil lagi rumah ini dan kau serahkan kepada Ki Buyut yang mempunyai wewenang jauh lebih besar dari Ki Bekel,” berkata bebahu itu.

Nenek tua itu mulai menjadi bingung. Tetapi ia menjawab, “Segala sesuatunya telah aku serahkan kepada Ki Bekel. Aku tidak memilikinya lagi.”

“Tetapi bukankah rumah ini baru dianggap sah untuk diwarisi setelah nenek meninggal?” bertanya bebahu itu.

“Tidak. Aku sudah menyerahkannya. Sebenarnya aku sudah mati sejak beberapa tahun yang lalu. Aku sekarang sudah tidak memerlukan apa-apa lagi kecuali diakui kehadiranku di padukuhan ini,” berkata nenek tua itu.

“Nah, semuanya sudah jelas,” berkata Ki Buyut.

“Belum,” jawab bebahu itu, “aku sudah mengatakan, bahwa sebaiknya Ki Buyut memanggil nenek itu dan berbicara dengannya tanpa kehadiran Ki Bekel.”

“Jadi, jika bukan Ki Bekel, kitakah yang akan menakut-nakutinya?” bertanya Ki Buyut.

Bebahu itu terdiam. Tetapi agaknya masih ada sesuatu yang tersimpan di dalam hatinya. Ia masih tidak rela jika rumah itu akan menjadi banjar bagi sebuah padukuhan, sehingga banjar itu akan menjadi jauh lebih baik dari banjar Kabuyutan. Demikian pula hasil penjualan benda-benda berharga itu.

Namun bebahu itu tidak dapat mengatasi keputusan yang sudah ditetapkan oleh Ki Buyut, bahwa nenek tua itu menyerahkan warisannya kepada Ki Bekel atas nama seluruh padukuhan. Bahkan hal itu merupakan rangkaian dari sikap anak-anak muda yang menurut nenek itu berbuat sangat baik kepadanya, justru saat ia masih dianggap orang asing.

Karena itu, maka untuk sementara bebahu itu harus menerima satu kenyataan tentang sikap Ki Buyut.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, maka Ki Buyut itu-pun telah minta diri. Ia sudah merasa menyelesaikan satu masalah yang rumit justru karena sikap beberapa orang pembantunya sendiri.

Ki Buyut sama sekali sudah tidak memikirkan bahwa hal itu masih akan berekor lagi.

Tetapi dalam pada itu, bebahu yang menganggap sikap Ki Buyut itu terlalu lemah, telah berusaha untuk mengambil jalannya sendiri.

Sepeninggal Ki Buyut, maka Ki Bekel pun telah minta diri.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat juga sudah menyatakan bahwa mereka besok akan segera berangkat meninggalkan padukuhan itu.

“Bukankah sudah tidak ada masalah lagi Ki Bekel?” bertanya Mahisa Murti.
“Nampaknya semuanya sudah teratasi,” berkata Ki Bekel, “tapi kita masih harus berhati-hati.”
“Namun, maaf bahwa kami tidak akan dapat tinggal di padukuhan ini lebih lama lagi,” berkata Mahisa Murti.

Hijaunya Lembah, Hijaunya Lereng Pegunungan
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger