logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Hijaunya Lembah, Hijaunya Lereng Pegunungan Jilid 094


Tetapi kecepatan gerak orang itu seakan-akan semakin bertambah-tambah. Nampaknya orang itu tidak ingin berlama-lama. Ia ingin dengan cepat mengakhiri pertempuran itu dan kemudian membunuh orang bertubuh raksasa itu.

Sebenarnyalah orang itu memang memiliki kecepatan gerak yang luas. Bahkan rasa-rasanya orang itu bertempur dengan jarak loncatan-loncatan yang panjang, sehingga kadang kadang Mahisa Murti memang terlambat.

Namun kemantapan gerak Mahisa Murti kadang-kadang membuat orang itu terdesak.

Tetapi dalam pada itu, Mahisa Murti pun mulai mencoba menilai kemampuan orang itu seutuhnya. Satu pertanyaan telah bergejolak di hati Mahisa Murti, kenapa orang itu merasa tidak sanggup membunuh orang bertubuh raksasa itu. Namun ia telah berani melawan Mahisa Murti meskipun ia tahu bahwa orang bertubuh raksasa itu telah dikalahkan oleh Mahisa Pukat. Sementara orang itu belum mengetahui dengan pasti, apakah kemampuan Mahisa Pukat melampaui kemampuan Mahisa Murti.

Namun sebenarnyalah, apa yang diduga oleh Mahisa Murti. Orang itu sama sekali tidak ingin bertempur sampai tuntas. Hanya nampaknya saja ia ingin dengan cepat menyelesaikan pertempuran itu. Tetapi ketika Mahisa Murti sempat didesaknya beberapa langkah, maka orang itu pun telah meloncat menjauh dan bahkan kemudian hilang menyusup di antara pepohonan hutan.

Mahisa Murti memang mencoba memburunya. Namun orang itu bergerak cepat sekali, sehingga beberapa saat kemudian ia pun telah kehilangan jejak.

Mahisa Murti memang kecewa telah kehilangan lawannya menyusup ke dalam lebatnya hutan. Ia pun tidak dapat mencegahnya dengan serangannya pada jarak jauh dengan menghentikannya.

Karena itu, maka Mahisa Murti pun kemudian telah melangkah kembali ke tempatnya semula.

Namun ia menjadi terkejut ketika ia melihat Mahisa Pukat berjongkok di dekat orang yang bertubuh raksasa yang mengaku sebagai petugas sandi dari Kediri itu.

Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi ia pun telah menunjuk sebuah benda kecil yang melekat di pipi orang itu.

Ketika Mahisa Murti kemudian berjongkok pula di sisi orang itu, maka ia pun melihat, bahwa benda kecil yang melekat di pipi orang itu adalah paser kecil yang jarumnya tentu beracun keras sekali.

“Ia telah mati,” desis Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Begitu cepatnya ia melakukannya. Aku juga terlambat melihat.”

“Orang itu memang sangat licik,” berkata Mahisa Murti.

“Tetapi ia menganggapnya sebagai satu kecerdikan. Ternyata ia sama sekali tidak menyesali sebutan bahwa ia dianggap seorang yang licik,” jawab Mahisa Pukat.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun katanya, “Bagaimana dengan orang ini?”

“Kita akan menguburkannya,” sahut Mahisa Pukat.

Namun mereka tidak mempunyai alat yang cukup baik untuk menggali tanah yang lembab di hutan itu kecuali sebilah pisau belati yang terselip di ikat pinggang raksasa itu.

Karena itu, maka dengan lubang yang sempit dan dangkal, maka mayat itu pun kemudian telah ditimbun dengan batu-batu yang besar agar tidak menjadi sasaran binatang buas.

Baru kemudian keduanya meninggalkan tempat itu dan kembali ke padepokan.

Mahisa Semu dan Mahisa Amping yang menyongsongnya segera bertanya tentang usaha mereka mengamati tingkah laku orang-orang yang baru saja meninggalkan padepokan itu.

Mahisa Murti sempat menceriterakan dengan singkat. Namun katanya kemudian, “Aku akan ke pakiwan.”

Ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah membersihkan diri mereka sebelum mereka memasuki bangunan induk padepokan mereka.

Namun dalam pada itu, usaha mereka mengamati kedua orang yang memang dianggap agak menarik perhatian itu telah memberikan sedikit gambaran tentang sikap Kediri. Setidaknya-tidaknya beberapa orang bangsawan di Kediri.

Sebagaimana yang mereka ketahui sebelumnya, bahwa Kediri tidak pernah merasa pantas untuk berada di bawah kepemimpinan Singasari. Hampir di setiap masa pemerintahan di Kediri terjadi pergolakan. Beberapa orang di antara para pemimpin Kediri selalu berusaha untuk membuat persoalan dengan Singasari. Setidak-tidaknya mereka berusaha untuk menjajagi kekuatan Singasari.

“Apakah hal ini perlu dilaporkan?” bertanya Mahisa Pukat.

Tetapi Mahisa Murti menggeleng sambil berkata, “belum sekarang. Kita harus melihat perkembangan lebih luas. Jika kita laporkan sekarang, maka mungkin Singasari akan terlalu awal melakukan tindakan yang kurang sesuai dengan langkah-langkah yang telah diambil oleh Kediri.”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun ia masih bertanya, “Bagaimana jika hal ini kita sampaikan kepada ayah?”

“Ayah sebagai apa?” bertanya Mahisa Murti.

“Ya. Kita sampai sekarang tidak mengetahui, apa yang terjadi dengan ayah di Singasari,” desis Mahisa Pukat.

“Kita akan mencari kesempatan yang paling baik untuk pergi ke Singasari. Kita memang perlu mengetahui, apa yang terjadi atas ayah di Singasari,” berkata Mahisa Murti, “tetapi sudah tentu kita harus mempertimbangkan segala kemungkinan yang dapat terjadi dengan padepokan kita ini jika kita meninggalkannya.”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kita memang tidak dapat begitu saja meninggalkan padepokan dan perguruan ini.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang sepakat untuk pergi ke Singasari. Tetapi mereka pun sepakat untuk tidak dengan serta merta meninggalkan padepokan serta perguruannya.....


********************
Namun dalam pada itu petugas sandi dari Kediri yang mendapat tugas untuk membunuh kawannya sendiri tanpa dikenali oleh sasarannya, telah keluar dari hutan yang lebat dan menemui kawannya yang lain untuk memberitahukan hasil tugasnya.

“Tetapi anak-anak muda di padepokan itu ternyata memang berilmu sangat tinggi. Aku tidak mengetahui bahwa keduanya mengikuti aku dan mendengar apa yang aku katakan kepada Lintang Johar. Aku kira tidak seorang pun yang mendengar kecuali petugas yang dungu tetapi sombong itu. Aku telah mengatakan alasan kenapa ia harus dibunuh. Aku menganggap bahwa semuanya itu akan dibawanya mati tanpa ada orang lain yang akan mengetahuinya. Tetapi ternyata aku keliru. Kedua anak muda itu mendengar dan mereka hadir untuk melindungi Lintang Johar. Untunglah bahwa sedikit ilmuku mampu untuk mengelabui anak-anak muda itu. Aku sempat melemparkan paser beracun sangat tajam sebelum aku harus melarikan diri. Jika aku bertempur terus, maka aku pun tentu akan mati pula, meskipun nampaknya anak-anak muda itu tidak begitu bernafsu membunuh lawan-lawannya.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Katanya, “Ternyata hal ini akan dapat menjadi gawat. Mungkin kedua orang anak muda itu akan sampai juga ke Singasari. Apalagi Mahendra telah berada di Singasari pula.”

“Jadi?” bertanya Kecubung Ungu.

“Keduanya harus dihancurkan. Lebih baik dengan seluruh padepokannya,” berkata kawannya.

“Kita membawa sepasukan prajurit Kediri?” bertanya Kecubung Ungu.

“Ternyata kau juga dungu,” jawab kawannya. Lalu katanya, “jangan libatkan prajurit Kediri.”

“Lalu?” bertanya Kecubung Ungu.

“Mulai kapan kau menjadi prajurit sandi. Kau cukup cerdik meskipun licik, meminjam tangan orang lain untuk membunuh Lintang Johar. Tetapi kau kehilangan akal menghadapi anak-anak muda itu,” berkata kawannya.

“Mungkin akalku sudah habis sekarang,” jawab Kecubung Ungu.

Kawannya tersenyum. Katanya, “Kita gerakkan sebuah perguruan yang memadai. Jika terjadi benturan, maka persoalannya adalah persoalan antara perguruan. Orang lain tidak akan menarik garis ke Kediri.”

Orang yang mempergunakan pertanda Kecubung Ungu itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kau memang selalu lebih cerdik.”

“Kau harus lebih memperhatikan segala segi kemungkinan,” berkata kawannya.

“Baik. Pikiranmu cemerlang. Kita gerakkan sebuah perguruan. Mungkin Kediri harus mengeluarkan uang, untuk itu dan setumpuk janji-janji,” berkata Kecubung Ungu.

“Ya. Kita akan minta salah seorang yang cukup berpengalaman untuk melakukannya. Kita tidak boleh terlambat. Sebelum kedua orang anak muda itu memberikan laporan,” berkata kawannya.

“Siapakah yang pantas untuk membujuk sebuah perguruan yang meyakinkan untuk menyerang perguruan Bajra Seta? Alasannya dapat saja dibuat-buat. Tetapi yang penting perguruan itu harus meyakinkan,” berkata prajurit sandi yang memperkenalkan gelar Kecubung Ungu.

“Kita minta Akuwu Kuda Paningal dari Pakuwon Sangotan. Aku mengenalnya dengan baik dan aku yakin bahwa Akuwu Kuda Paningal akan dapat bekerja sama dengan baik untuk kepentingan ini,” berkata kawannya.

“Terserah kepadamu. Tetapi laporan tentang tugas-tugas sandi itu harus dipotong sebelum kedua anak muda itu pergi ke Singasari,” berkata kawannya.

“Seorang di antara kita harus mengawasi mereka,” berkata Kecubung Ungu, “tentu bukan aku, karena aku telah dikenal bukan saja oleh kedua orang itu. Tetapi para cantrik pun telah mengenal aku pula.”

“Baiklah,” berkata kawannya, “kita akan bekerja sebaik-baiknya agar tugas ini dapat berjalan dengan baik. Kita tidak boleh gagal. Meskipun lawan kita terlalu berat. Kita harus melawan orang-orang Kediri yang lemah hati dan terbius oleh sikap baik orang-orang Singasari dan kemudian Singasari sendiri. Tetapi orang-orang Kediri sudah semakin banyak yang bangkit. Jika rencana sebelumnya pernah gagal, itu karena beberapa orang menjadi ragu-ragu.”

Orang yang berciri sandi Kecubung Ungu itu mengangguk-angguk. Sementara kawannya berkata lebih lanjut, “Aku akan mencari orang yang akan dapat mengawasi dengan baik padepokan dan perguruan Bajra Seta. Sementara itu, kita akan mempersiapkan rencana yang besar itu.”

Dengan demikian, maka kedua orang itu pun dengan tergesa-gesa telah melakukan langkah-langkah yang menurut pendapat mereka akan berarti bagi rencana besar beberapa orang pemimpin dari Kediri.

Yang mereka lakukan pertama-tama adalah menemui Sang Akuwu Kuda Paningal. Seorang Akuwu yang akan bersedia membantu mereka memotong hubungan antara padepokan Bajra Sela dengan Singasari.

Namun sementara itu, dua orang prajurit sandi yang lain telah mendapat perintah untuk mengamati keadaan padepokan itu. Mereka ditugaskan untuk mengamati terutama kedua orang anak muda yang memimpin padepokan Bajra Seta.

“Mereka tidak akan begitu saja pergi,” berkata petugas sandi yang akan berhubungan dengan Akuwu Kuda Paninggal. “Mereka harus memperhitungkan berbagai segi jika mereka akan meninggalkan padepokannya, karena mereka adalah pemimpin yang bertanggung jawab.”

Sementara itu, ternyata Akuwu Kuda Paningal, sebagaimana diperhitungkan bersedia membantu kedua petugas sandi itu. Ia sependapat bahwa memang sebaiknya tidak perlu menarik langsung jalur ke Kediri. Orang-orang yang yakin akan tujuan perjuangan mereka, maka orang itu tentu akan bersedia menanggung akibat dari setiap langkah yang mereka ambil tanpa haru menarik garis ke Kediri.

Demikianlah, maka Akuwu Kuda Paningal telah mempersilahkan kedua orang petugas sandi itu tinggal di Pakuwon. Akuwu sendiri telah memanggil dua orang pemimpin dari dua buah perguruan yang terbaik di Pakuwon itu.

“Aku tidak yakin bahwa satu perguruan akan dapat berhasil. Karena itu, agar tidak usah mengulang lagi, aku akan menggerakkan dua perguruan yang besar yang sudah jelas berdiri di sisi kita.” berkata Akuwu Kuda Paningal.

“Itu tentu lebih baik Akuwu,” berkata petugas sandi itu, “dengan demikian Bajra Seta akan benar-benar dihancurkan sehingga mereka tidak akan memberikan laporan ke Singasari apa yang telah mereka dengar. Karena jika hal ini didengar oleh Singasari dan mereka mulai melakukan persiapan yang sebenarnya, maka kita justru akan terpukul.”

Ketika kedua Pemimpin padepokan itu telah menghadap, maka Akuwu pun telah memberitahukan, bahwa Akuwu akan minta mereka melakukan tugas yang sangat berat.

“Dua buah padepokan aku kira cukup memadai,” berkata Akuwu Kuda Paningal.

Empu Angin, salah seorang pemimpin dari kedua perguruan itu dengan serta merta berkata, “Serahkan kepada perguruan kami. Kami akan menghancurkan padepokan itu dan menumpas segala isinya.”

Tetapi Empu Pitrang, pemimpin yang seorang lagi berkata lebih lantang, “Serahkan kepadaku. Aku akan memimpin dengan bijaksana dan bertanggung jawab. Kedua orang anak muda itu akan aku tangkap hidup atau mati.”

Akuwu Kuda Paningal tersenyum. Katanya, “Aku memang menjadi bangga bahwa kalian menyatakan kesediaan kalian. Tetapi tentu saja hanya seorang di antara kalian yang akan memimpin.”

“Serahkan kepadaku Sang Akuwu,” berkata Empu Angin.

“Akuwu tidak akan pernah melupakan kemampuanku,” sahut Empu Pitrang dengan serta merta.

“Ya, ya,” jawab Akuwu Kuda Paningal, “aku akan memilih seorang di antara kalian. Bukan soal apa-apa. Aku yakin akan kemampuan kalian masing-masing. Kalian berilmu tinggi sehingga sulit untuk mengimbangi kemampuan masing-masing. Karena itu akan memilih kalian berdasarkan atas umur kalian. Empu Angin tentu lebih tua dari Empu Pitrang. Karena itu, maka aku minta Empu Angin akan memimpin tugas ini. Aku sama sekali tidak merendahkan Empu Pitrang. Tetapi seperti yang aku katakan, aku hanya mengingat umur kalian.”

Empu Pitrang mengangguk kecil. Katanya, “Apa boleh buat.”

“Nah. Kalian akan menjalankan tugas yang aku bebankan kepada kalian. Ingat, tugas ini adalah tugas negara. Karena itu, siapa yang tidak melakukannya dengan sungguh-sungguh, maka akibatnya akan tidak menyenangkan. Bersama kalian, aku akan mengirim sekelompok petugas sandi untuk mengamati apa yang terjadi dan akan selalu memberikan laporan kepadaku,” berkata Akuwu Kuda Paningal.

Kedua orang pemimpin padepokan itu mengangguk. Empu Angin dengan nada tinggi berkata, “Aku akan menjunjung segala tugas dengan sebaik-baiknya.”

“Nah,” berkata Akuwu Kuda Paningal, “biarlah petugas sandi dari Kediri yang akan menyertai kalian memberikan sedikit gambaran tentang tugas kalian.”

Prajurit sandi yang bergelar sandi Kecubung Ungu itu pun segera memberitahukan tentang medan yang akan mereka hadapi. Tentang perguruan Bajra Seta dan tentang para pemimpinnya yang sangat berwibawa dan berilmu tinggi.

“Kau sengaja menakut-nakuti kami,” berkata Empu Angin sambil tertawa.

“Tidak,” jawab Kecubung Ungu.

“Atau merendahkan kami,” sahut Empu Pitrang.

“Juga tidak. Tetapi apakah kalian ingin aku mengatakan yang tidak sebenarnya, sehingga kalian tidak dapat menilai kekuatan yang sebenarnya akan kalian hadapi? Kepura-puraan seperti itulah yang sering menghancurkan kita sebelum kita mulai dengan satu tugas yang besar,” sahut Kecubung Ungu, “Aku adalah seorang prajurit. Aku tahu bagaimana bersikap menghadapi kekuatan lawan.”

“Baiklah,” berkata Empu Angin, “kami berterima kasih atas keterangan yang kau berikan.”

Namun dalam pada itu, Akuwu Kuda Paningal telah bertanya kepada Empu Angin, “Apakah petugas sandi itu sebaiknya menyertai kalian ke padepokan Bajra Seta? Orang itu pernah langsung berada di dalam padepokan itu dan karena itu, ia mampu berceritera tentang isi dari padepokan itu.”

“Mungkin sebagai petunjuk jalan,” berkata Empu Angin, “dengan kehadirannya, maka kami tidak perlu mencari-cari di mana letak padepokan Bajra Seta.”

“Baiklah,” berkata Akuwu Kuda Paningal, “ia akan menyertaimu. Kau dapat berbicara tentang banyak hal dengan petugas sandi itu. Ia tahu benar garis-garis keinginan para pemimpin di Kediri. Meskipun aku juga pernah berbicara langsung dengan mereka, namun petugas sandi itu adalah pengemban perintah mereka langsung.”

“Kami sama sekali tidak berkeberatan. Tetapi kami tidak mau dicampuri, cara yang akan kami ambil untuk menghancurkan padepokan itu,” jawab Empu Angin.

Akuwu Kuda Paningal mengangguk-angguk. Katanya kepada Kecubung Ungu, “Kau mendengar langsung dari orang-orang yang akan memimpin pasukan menuju ke padepokan dan perguruan Bajra Seta. Lakukan sebagaimana persetujuan kita kali ini.”

Demikianlah, maka kedua orang pemimpin padepokan itu telah mempersiapkan diri. Mempersiapkan orang-orangnya yang terpilih. Para cantrik dibawah pimpinan beberapa orang Putut yang memiliki ilmu yang mencuat lebih tinggi dari para cantrik yang lain.

Pada hari yang sudah ditentukan, dua hari setelah perintah Akuwu jatuh, maka kedua pasukan itu pun telah berangkat dari Pakuwon Sangotan. Petugas sandi dari Kediri yang mendapat gelar sandi Kecubung Ungu itu telah menyertai mereka sebagai petunjuk jalan. Namun sebagaimana diminta oleh para pemimpin dari kedua padepokan yang terlibat petugas sandi itu tidak boleh mencampuri kepemimpinan Empu Angin dan Empu Pitrang atas para putut dan cantrik mereka masing-masing.

Perjalanan yang ditempuh oleh pasukan itu tidak satu perjalanan panjang. Mereka semula berusaha untuk tidak menimbulkan persoalan di perjalanan. Sehingga tidak ada berita yang akan menjalar mendahului pasukan itu sampai ke padepokan.

Namun Empu Angin pun berkata, “Apa salahnya jika mereka tahu bahwa kita akan datang? Biarlah mereka bersiap dan berbenah diri. Namun mereka akan segera kami hancurkan. Bukahkah menurut Kecubung Ungu jumlah kita cukup besar dan menurut perkiraannya lebih banyak dari orang-orang Bajra Seta?

“Apakah mereka tidak akan sempat minta bantuan kepada Singasari, misalnya?” bertanya seorang putut.

“Tentu tidak. Jaraknya terlalu jauh. Untuk mendapat bantuan dari Singasari diperlukan waktu lebih dari dua hari. Seandainya seorang cantrik berkuda berangkat ke Singsari, maka prajurit berkuda Singasari akan datang setelah padepokan itu menjadi karang abang. Aku memang ingin membakar seluruh padepokan itu dan memusnahkan segala isinya,” jawab Empu Angin.

Pututnya mengerutkan keningnya. Wajahnya membayangkan keragu-raguan. Namun Empu Angin berkata, “Persoalannya adalah persoalan yang cukup gawat. Jika persoalannya hanya menyangkut padepokan kita dengan padepokan Bajra Seta saja, maka aku tidak akan sampai sejauh itu. Tetapi persoalannya adalah persoalan yang sangat gawat karena taruhannya adalah Kediri dengan isinya.”

Putut itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.

Demikian perjalanan mereka pun semakin lama menjadi semakin mendekati padepokan Bajra Seta. Seperti yang dikatakan oleh Empu Angin, mereka sama sekali tidak perlu cemas bahwa orang-orang Bajra Seta akan mengetahui kedatangan mereka.

Mereka itu, maka tanpa ragu-ragu, pasukan yang datang dari dua padepokan itu pun telah membuat perkemahan untuk bermalam di tempat yang terbuka. Mereka sama sekali tidak berusaha mencari tempat yang terlindung atau tidak banyak dilihat orang.

“Mereka tidak tahu siapa kita dan seandainya tahu pun, kita tidak berkeberatan,” berkata Empu Angin, “besok kita akan meneruskan perjalanan. Kita sudah tidak terlalu jauh lagi. Kita besok akan membuat perkemahan pula di sekitar padepokan itu. Baru hari berikutnya kita akan menghancurkan padepokan Bajra Seta.

Beberapa orang putut dan cantrik mencoba untuk memberikan beberapa peringatan tentang bahaya yang mungkin akan menyergap mereka. Bagaimana pun juga padepokan Bajra Seta adalah padepokan yang besar.

Tetapi Empu Angin dan Empu Pitrang menjadi terlalu yakin akan diri mereka sendiri, sehingga mereka agak mengesampingkan bahaya sebagaimana dikatakan oleh putut dan cantrik itu.

“Menyenangkan sekali untuk memberi kesempatan kepada para penghuni padepokan Bajra Seta untuk menjadi cemas dan ketakutan,” berkata Empu Angin.


Kehadiran sebuah pasukan yang besar memang telah menarik perhatian orang-orang padukuhan. Karena itu, maka beberapa orang anak muda telah berusaha untuk melihat sendiri perkemahan itu, meskipun dari kejauhan.

Sebenarnyalah mereka melihat satu daerah yang luas yang diperuntukkan bagi perkemahan itu. Di beberapa tempat nampak beberapa orang berkerumun sambil membuat perapian.

“Satu pasukan yang besar,” berkata seorang anak muda kepada kawannya, yang bersama-sama melihat perkemahan itu dari sebuah bukit kecil tidak terlalu jauh dari padukuhan mereka.

“Apakah mereka mendendam kepada orang-orang yang telah membuat padukuhan baru itu sebagaimana yang terjadi beberapa saat yang lalu?” desis kawannya.

“Mungkin. Tetapi pasukan itu terlalu besar. Jika padukuhan itu tidak minta bantuan padepokan Bajra Seta, maka padukuhan itu tidak akan mampu bertahan,” berkata anak muda yang pertama.

“Tetapi beberapa waktu yang lalu, mereka mampu mengusir orang-orang yang menyerang padukuhan itu,” sahut yang lain.

“Pasukan yang datang saat itu tidak sebesar sekarang ini. Lihat, berapa kelompok di antara mereka membuat perapian. Yang lain berserakan dimana-mana,” berkata anak muda yang pertama.

“Jadi, apa yang sebaiknya kita lakukan?” bertanya kawannya.

“Kita sampaikan hal ini kepada orang-orang di padukuhan baru itu dan sekaligus ke padepokan,” jawab anak muda yang pertama.

Demikianlah, bersama-sama dengan beberapa orang anak muda yang lain mereka telah pergi ke padukuhan baru yang dihuni oleh orang-orang yang semula merupakan tawanan di padepokan Bajra Seta, namun yang benar-benar telah menyadari kesesatan jalan hidup mereka dan berusaha untuk meniti jalan kembali.

Bahkan di sepanjang perjalanan, mereka telah memberitahukan kepada padukuhan-padukuhan yang mereka lewati.

Beberapa padukuhan ternyata telah menaruh perhatian yang sangat besar terhadap peristiwa itu. Apalagi padukuhan-padukuhan yang telah mengirimkan anak-anak mudanya untuk belajar ke padepokan Bajra Seta.

Tetapi agaknya persoalannya masih belum jelas, sehingga mereka tidak segera mengambil langkah-langkah tertentu. Seorang yang berpengaruh atas anak-anak muda di padukuhan-nya berkata, “Kita tidak dapat berbuat apa-apa malam ini. Besok pagi-pagi kita akan pergi ke padepokan.”

Namun dalam pada itu, beberapa anak muda telah menempuh perjalanan dimalam hari. Mereka telah mendatangi padukuhan baru yang beberapa saat sebelumnya telah membuat serangan dari orang-orang yang mendendam.

“Mungkin mereka yang terusir dari pertempuran saat itu datang lagi membawa kawan-kawan mereka,” berkata anak muda itu kepada orang-orang padukuhan baru itu.

Orang yang dianggap pemimpin dari padukuhan baru itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kenapa mereka masih saja mengganggu kami di sini. Sebenarnya kami dapat menempuh jalan kita masing-masing. Kami tidak pernah mengganggu mereka, hendaknya mereka juga tidak mengganggu kami.”

Anak-anak muda itu hanya dapat mengangguk-angguk saja. Namun pemimpin padukuhan baru itu berkata, “Ketika mereka menyerang beberapa waktu yang lampau sementara kami mencoba menghadapi mereka dengan kekuatan kami sendiri, pemimpin padepokan Bajra Seta telah menyesalkan hal itu. Korban ternyata cukup banyak yang jatuh. Sementara kami saat itu juga tidak terkendali lagi.”

“Yang datang kali ini jumlah cukup besar,” berkata anak muda itu, “karena itu, maka sebaiknya hal ini disampaikan kepada padepokan Bajra Seta.”

“Kami sependapat,” jawab pemimpin padukuhan itu, “agar kami tidak dianggap melakukan kesalahan lagi jika kami menghadapi mereka sendiri.”

“Agaknya jumlahnya pun sama sekali tidak seimbang,” berkata anak muda yang mewakili kawan-kawan mereka itu.

Demikianlah, maka anak-anak muda itu pun telah pergi ke padepokan bersama dengan beberapa orang padukuhan. Mereka telah bertemu langsung dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

“Apakah kalian dapat melihat langsung ke perkemahan itu?” bertanya Mahisa Murti.

“Ya,” jawab anak muda yang melihat perkemahan itu dari bukit kecil didekat padukuhannya.

“Terima kasih atas pemberitahuan ini,” berkata Mahisa Murti, “nampaknya mereka terlalu yakin akan kekuatan mereka. Tetapi kami belum dapat mengatakan apa-apa. Namun kami tahu, bahwa kami harus mempersiapkan diri. Jika mereka berkepentingan dengan padepokan kami, maka besok mereka tentu akan maju lagi semakin dekat,” berkata Mahisa Murti. Lalu katanya pula, “Namun kami harus sudah bersiap-siap sejak sekarang. Demikian pula padukuhan baru itu. Jika besok kita dapat mengetahui sasaran utama dari pasukan yang besar itu, maka kita akan dapat mempersiapkan diri baik-baiknya. Apakah padepokan ini atau padukuhan itu.”

Demikianlah, maka anak-anak muda itu pun telah minta diri. “Kami akan kembali ke padukuhan kami dan ikut bersiap-siap pula.”

Mahisa Murti tersenyum. Katanya, “Terima kasih. Tetapi jika yang datang itu orang-orang yang membawa dendam, kalian harus sangat berhati-hati.”

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan segala kesulitan dapat di atasi oleh padepokan ini.”

Sepeninggal anak-anak muda itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang memberikan perintah-perintah kepada para cantrik. Mereka harus bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Menurut perhitungan sekelompok orang yang tidak diketahui dengan jelas itu tentu tidak akan datang ke padepokan malam itu. Tetapi bagaimanapun juga segalanya harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya.

“Lipatkan jumlah para cantrik yang berada di panggungan pengawasan. Sehingga mereka dapat berjaga-jaga bergantian,” perintah Mahisa Murti.

Sementara itu, semua penjagaan pun semakin ditingkatkan. Pintu-pintu butulan mendapat pengawasan, baik dari panggungan di belakang dinding padepokan, maupun dari dalam padepokan. Apalagi pintu gerbang padepokan itu.

Selain padepokan itu, maka di padukuhan baru itu pun telah terjadi persiapan yang melibatkan hampir semua orang laki-laki. Bahkan mereka yang rambutnya telah berwarna rangkap, namun masih mampu memegang senjata dengan kokoh, telah ikut pula berjaga-jaga.

“Tetapi kita jangan terpancing untuk menghamburkan tenaga tanpa arti,” berkata pemimpin padukuhan itu, “sebagian dari kita harus sempat beristirahat bergantian. Meskipun harus tidur di gardu-gardu.”

Dengan demikian maka suasana di padepokan dan di padukuhan baru itu memang menjadi agak tegang. Tetapi dengan hati yang mantap penghuninya telah bersedia menghadapi segala kemungkinan untuk menyelamatkan padepokan dan padukuhan mereka yang letaknya memang tidak begitu jauh itu.

Seperti yang diperhitungkan, maka malam itu memang tidak terjadi sesuatu. Ternyata orang-orang yang berkemah itu tidur dengan nyenyak semalam suntuk kecuali yang bertugas berjaga-jaga. Mereka membuat perapian untuk menghangatkan badan mereka. Bahkan beberapa orang di antara mereka telah sempat mengambil ketela pohon yang ditanam di pategalan di dekat tempat mereka berkemah.

Pagi-pagi orang-orang itu pun tidak bergegas meninggalkan perkemahan mereka dan melanjutkan perjalanan. Tetapi dengan seenaknya mereka menunggu makanan mereka dipersiapkan oleh para petugas yang memang khusus untuk itu.

Baru setelah matahari naik, pasukan itu mulai bergerak meneruskan perjalanan mereka.

“Kita sudah tidak begitu jauh lagi,” berkata petugas sandi dari Kediri yang mempunyai gelar sandi Kecubung Ungu.

“Apakah tengah hari kita akan sampai,” bertanya Empu Angin.

“Tengah hari kita akan sampai,” jawab Kecubung Ungu.

“Bagus,” jawab Empu Angin, “ada kesempatan untuk melihat-lihat padepokan itu sebelum kita menghancurkannya.”

“Maksudmu?” bertanya Kecubung Ungu.

“Melihat-lihat,” jawab Empu Angin.

Kecubung Ungu tidak bertanya lagi. Ia mencoba mengerti maksud Empu Angin. Namun ia pun menangkap sikap yang akan dapat merugikan diri sendiri. Baik Empu Angin maupun Empu Pitrang terlalu yakin akan kemampuan diri dan kelebihan kekuatan para cantrik padepokan mereka masing-masing, sehingga dengan demikian mereka telah merendahkan kekuatan padepokan Bajra Seta.

Tetapi Kecubung Ungu tidak merasa perlu untuk berkali-kali memberikan peringatan. Ia sudah pernah memberitahukan kelebihan para pemimpin padepokan Bajra Seta. Dan ia menganggap bahwa itu sudah cukup.

Seperti yang mereka perhitungkan, maka mereka mendekati padepokan menjelang matahari sampai ke puncak. Beberapa orang di antara mereka mendapat perintah untuk mencari tempat berkemah yang paling baik.

“Ingat, besok pagi-pagi sebelum matahari terbit kita akan bergerak. Kita akan menyerang mereka dan menghancurkannya,” berkata Empu Angin kepada orang yang mendapat perintah untuk mencari tempat berkemah, “karena itu, tempat berkemah itu jangan terlalu jauh dari padepokan. Sore nanti aku sendiri akan melihat-lihat padepokan itu sambil memperingatkan agar padepokan Bajra Seta bersiap-siap menghadapi sergapan kami esok pagi-pagi.”

Kecubung Ungu seakan-akan tidak peduli lagi terhadap sikap Empu Angin itu. Meskipun sebenarnya ia menjadi cemas.

Dalam pada itu, sudah dipersiapkan sejak malam harinya, anak-anak muda dari beberapa padukuhan. Demikian matahari terbit mereka telah pergi ke padepokan untuk mencari keterangan tentang kemungkinan yang bakal terjadi. Tetapi mereka sekaligus telah minta diri karena mungkin mereka tidak akan kembali lebih dahulu menjelang pertempuran yang dapat saja terjadi setiap saat.

Sebelum tengah hari, anak-anak muda itu memasuki padepokan. Beberapa saat lebih dahulu dari kehadiran pasukan yang akan menyerang padepokan itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menerima mereka dengan baik. Tetapi setiap kali kedua anak muda itu selalu memperingatkan bahwa mereka belum tahu siapakah yang bakal datang.

“Kita harus sangat berhati-hati,” pesan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Ternyata beberapa saat kemudian, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mendapat laporan, bahwa sebuah pasukan yang kuat telah berkemah tidak jauh dari padepokan itu.

“Mereka telah datang,” berkata Mahisa Murti.

Diperintahkannya beberapa orang cantrik untuk mengamati orang-orang itu. Namun ia selalu berpesan, “berhati-hatilah. Kita tidak tahu, siapakah mereka dan kita pun belum dapat menduga, sejauh manakah kemampuan mereka. Baik secara pribadi maupun sebagai satu kesatuan.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah memberikan perintah lewat dua orang cantrik kepada orang-orang yang tinggal di padukuhan agar bersiap sepenuhnya. Mereka harus siap untuk bergerak dengan cepat. Namun mereka pun harus memberikan isyarat jika justru mereka yang menjadi sasaran.

“Menilik perkemahan yang mereka buat, mereka nampaknya berkepentingan dengan padepokan ini,” berkata cantrik yang memberikan laporan.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian berdesis kepada Mahisa Pukat, “Nampaknya ada hubungannya dengan petugas sandi yang terlepas itu. Ia benar-benar ingin memotong laporan yang mungkin akan kita sampaikan tentang sikap beberapa orang pemimpin di Kediri.”

“Apakah pasukan itu pasukan Kediri yang tidak mengenakan kelengkapan dan pertanda keprajuritan?” desis Mahisa Pukat.

“Memang mungkin. Tetapi mungkin juga tidak. Nampaknya Kediri atau katakanlah beberapa orang pemimpin Kediri tentu akan berusaha untuk mencuci tangan seandainya langkah-langkah yang diambil ini gagal,” sahut Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun ia sadar, bahwa pasukan itu tentu pasukan yang kuat, karena mendukung satu usaha yang besar, menghapus jejak dari satu sikap yang ada di Kediri.”

Namun Mahisa Murti masih menunggu laporan orang-orangnya yang diperintahkannya untuk mengamati pasukan yang sedang berkemah itu. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menyusun semua kekuatan yang ada di padepokannya. Kedua anak muda itu tidak dapat menganggap kehadiran pasukan itu sebagaimana pasukan dari penjahat yang ingin membalas dendam beberapa saat yang lalu.

Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat juga tidak dapat menggantungkan keselamatan padepokannya kepada orang lain. Mereka harus tampil sebagai pemimpin yang bertanggung jawab, karena mereka tidak akan dapat minta bantuan kepada Pakuwon Sangling atau ke Singsari.

Dalam keadaan yang demikian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat merasa bahwa hubungan mereka yang akrab dengan padukuhan di sekitarnya telah memberikan banyak arti bagi padepokannya. Dalam keadaan yang gawat, ternyata padukuhan-padukuhan yang merasa pernah mendapat bantuan dalam ujud apa pun juga dari padepokan Bajra Seta, telah ikut berusaha memperingan beban padepokan itu.

Namun sebenarnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat merasa sangat gelisah dengan anak-anak muda itu. Jika yang datang adalah sepasukan prajurit Kediri dengan tataran kemampuan yang tinggi, maka anak-anak muda itu harus mendapat sandaran kekuatan dari para cantrik yang terlatih. Demikian pula sekelompok cantrik yang masih baru, yang baru mengenal dasar-dasar olah kanuragan.

Sementara itu, orang-orang yang tinggal di padukuhan yang baru telah menghim pun kekuatan pula. Meskipun tidak terlalu besar, namun mereka yakin bahwa bantuan mereka akan berarti bagi padepokan Bajra Seta. Namun mereka masih mencari cara yang paling baik yang dapat mereka pergunakan.

Ketika dua orang di antara orang-orang padukuhan yang baru itu datang ke padepokan untuk mendapatkan perintah-perinlah, maka Mahisa Murti berpesan kepada mereka, “bersiap sajalah sebaik-baiknya. Nanti malam, aku akan memberikan petunjuk apa yang harus kalian lakukan. Sementara ini kami sedang berusaha menilai keadaan.”

Sebenarnyalah padukuhan itu sudah bersiap. Berbagai macam senjata telah di tempatkan di tempat yang paling mapan. Baik untuk dipergunakan maupun untuk dibawa ke padepokan. Mereka mempunyai beberapa ikat senjata cadangan. Namun mereka pun telah menyiapkan busur dan anak panah. Mungkin senjata jarak jauh itu akan berarti bagi mereka.

Namun dalam pada itu, di sore hari, para petugas yang mengamati keadaan di panggungan di belakang dinding padepokan terkejut ketika mereka melihat sekelompok orang yang mendekati dinding padepokan. Mereka memang berhenti agak jauh. Namun dengan tenangnya mereka berjalan hilir mudik di arah pintu gerbang padepokan itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang mendapat laporan segera naik keatas pintu gerbang. Mereka melihat orang-orang itu yang nampaknya sedang menilai kekuatan dinding dan pintu gerbang padepokan itu.

“Mereka tentu bagian dari orang-orang yang berkemah itu,” berkata cantrik yang telah mengamati tempat orang-orang yang berkemah tidak jauh dari padepokan itu.

“Jika demikian, aku akan turun dan menemui mereka,” berkata Mahisa Murti.

Para cantrik termangu-mangu sejenak. Mereka menyadari, bahwa langkah itu sangat berbahaya bagi kedua pemimpin mereka. Namun Mahisa Murti berkata, “Mereka juga hanya sekelompok kecil. Aku juga akan membawa beberapa orang cantrik.”

Demikianlah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bersiap-siap untuk keluar dari regol padepokannya. Mahisa Semu telah dibawanya pula bersama Wantilan. Namun Mahisa Amping tidak diijinkan ikut keluar regol padepokan.

“Kau melihat saja dari atas pintu gerbang,” berkata Mahisa Murti.

Sejenak kemudian, maka pintu gerbang padepokan itu terbuka. Orang-orang yang sedang melihat-lihat dan dengan sengaja menunjukkan satu sikap yang terlalu yakin akan kemampuan diri, telah terkejut. Apalagi ketika mereka melihat beberapa orang keluar dari padepokan. Tidak lebih banyak dari orang-orang yang dibawanya.

Empu Angin memandang sekelompok orang itu dengan mata yang tidak berkedip. Sementara Empu Pitrang berdesis, “Alangkah sombongnya mereka.”

“Mereka masih terlalu muda untuk menghadapi bahaya yang sebenarnya sebagaimana sekarang ini,” berkata Empu Angin, “seperti kanak-kahak yang tidak tahu, betapa panasnya bara.”

“Aku ingin menangkap mereka sekarang,” berkata Empu Pitrang.

“Jangan tergesa-gesa. Kita tidak membawa kekuatan cukup. Jika para cantrik itu menghambur keluar, kita akan mengalami kesulitan.” cegah Empu Angin.

“Sementara itu kita panggil orang-orang kita,” jawab Empu Pitrang.

“Mereka belum siap, karena mereka baru akan bergerak besok pagi-pagi,” jawab Empu Angin pula.

Empu Pitrang tidak berkata lebih lanjut. Namun terdengar giginya gemeretak. Sikap para pemimpin padepokan itu benar-benar telah menyinggung perasaannya.

“Seharusnya mereka tidak berani keluar dari gerbang padepokannya,” geram Empu Pitrang kemudian.

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menjadi semakin dekat. Dengan tanpa ragu-ragu, maka kedua anak muda bersama beberapa orang cantrik itu berhenti hanya beberapa langkah saja di hadapan Empu Angin dan Empu Pitrang.

“Luar biasa,” desis Empu Angin.

“Apa yang luar biasa?” bertanya Mahisa Murti.

“Ternyata kalian adalah anak-anak muda yang sangat berani,” berkata Empu Angin selanjutnya.

“Kenapa?” bertanya Mahisa Murti.

“Kalian memang terlalu sombong. Kau kira pada saat seperti ini kami tidak dapat membunuh kalian?” bertanya Empu Angin.

Namun jawab Mahisa Murti benar-benar mengejutkan. Katanya, “Tidak. Kalian tidak dapat membunuh kami. Tetapi jika kami mau, kamilah yang akan dapat membunuh kalian. Kami dapat mengerahkan seluruh kekuatan di padepokan ini langsung menyerang kalian. Betapa pun tinggi ilmu kalian, namun kalian tidak akan mampu melawan. Nah, tanpa kalian, apakah artinya pasukanmu diperkemahan itu? Tetapi kami bukan orang yang licik, yang menyerang justru kalian sedang dalam puncak kelemahan.”

“Setan kau,” geram Empu Pitrang, “jika saja aku tidak mengingat harga diri, maka kalian akan menjadi lumat sekarang ini.”

“Sebenarnya apa yang kalian maui?” Mahisa Murti mendahului Mahisa Pukat yang telah bergeser maju.

Mahisa Pukat hanya dapat menarik nafas panjang untuk mengendapkan hatinya yang bergejolak.

“Anak-anak muda,” berkata Empu Angin, “Aku datang untuk melihat-lihat padepokanmu. Aku pun datang untuk memberitahukan kepadamu, bahwa besok kami akan memasuki padepokanmu dan membakar segala isinya. Membunuh segala penghuninya. Maaf, hal ini terpaksa kami lakukan, karena kami merasa wajib untuk melakukan. Kecuali jika kalian memang orang-orang yang sangat licik dan pengecut, sehingga kalian akan lari mengungsi malam nanti. Kami tidak akan berkeberatan. Tetapi kami akan menutup semua jalan dari dan menuju ke padepokan ini.”

Tanggapan anak-anak muda itu pun sangat mengejutkan Empu Angin dan Empu Pitrang. Kedua anak muda itu tetap tenang tanpa menunjukkan kegelisahan dan gejolak perasaannya. Seakan-akan yang dikatakan oleh Empu Angin itu tidak lebih sebuah desah angin didedaunan.

“Kau dengar kata-kataku anak muda?” bentak Empu Angin yang menjadi marah.


“Aku mendengar,” jawab Mahisa Murti, “tetapi belum saatnya membacakan dongeng bagi anak-anak menjelang tidur. Nanti jika matahari terbenam dan wajah sepi bocah telah sampai, ulangi dongeng itu. Anak-anak akan segera tertidur nyenyak.”

Empu Pitrang hampir tidak dapat menguasai diri. Tetapi ketika ia bergerak, Mahisa Pukat pun telah bergerak pula.

Namun ternyata Empu Angin masih dapat menahan diri. Dengan nada mengancam ia berkata, “Baiklah. Aku akan kembali ke perkemahan. Tetapi ingat, besok pagi-pagi sekali aku sudah datang lagi untuk menghancurkan padepokanmu. Membakar semua bangunan yang ada dan membunuh semua orang di dalamnya.”

Tetapi Mahisa Murti tersenyum. Katanya, “Selamat sore Ki Sanak. Besok pagi-pagi kami menunggu kehadiranmu. Sebaiknya jangan terlalu pagi agar kami sempat makan dan minum.”

Jantung Empu Pitrang memang akan pecah mendengar kata-kata yang sangat menyakitkan itu. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa karena Empu Angin justru mengajaknya pergi.

Di sepanjang jalan kembli ke perkemahan Empu Pitrang mengumpat-umpat sejadi-jadinya. Seakan-akan tidak ada kata-kata kotor lagi yang dapat diucapkan untuk melepaskan kemarahannya yang bagaikan menyumbat jalur pernafasannya.

Tetapi Empu Angin berkata, “besok aku ingin menangkap anak-anak itu hidup-hidup. Mereka tentu akan dapat menjadi permainan yang menyenangkan sekali.”

“Ya. Aku setuju,” berkata Empu Pitrang, “aku memerlukan mereka.”

Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang masih berada di luar dinding padepokannya telah memerintahkan orang-orang padukuhan baru itu untuk bersiap-siap. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melihat, betapa pasukan yang datang itu merupakan pasukan yang sangat berbahaya.

Beberapa orang cantrik terpilih telah diperintahkan pula untuk mengamati keadaan dan memberikan laporan terus-menerus tidak usah menunggu perkembangan apa pun yang terjadi.

Sejenak kemudian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berbicara dengan sungguh-sungguh bersama beberapa orang cantrik tertua, Wantilan dan Mahisa Semu. Kemudian menyusul pula pemimpin dari padukuhan baru yang tumbuh semakin subur itu. Beberapa orang pemimpin kelompok anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan yang ada di padepokan itu telah diajak berbicara pula.

Namun perintah yang keluar dari bilik pembicaraan adalah, semua orang harus segera beristirahat. Mereka supaya makan lebih awal dan kemudian tidur barang sejenak.

“Kita harus bersiap-siap di tengah malam,” para pemimpin kelompok dari para cantrik itu memberikan perintah.

Para cantrik itu pun menduga, bahwa orang-orang yang sedang berkemah itu dapat saja bergerak di tengah malam. Karena itu, maka mereka harus berhati-hati. Mereka harus mempergunakan waktu sebaik-baiknya untuk beristirahat.

Namun dalam pada itu, di sebuah bangsal para pemimpin padepokan itu masih berunding dengan sungguh-sungguh. Bahkan beberapa saat kemudian, mereka telah berpindah ke sanggar terbuka. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memberikan beberapa petunjuk dan peragaan, apa yang harus mereka lakukan. Bahkan ketika hari menjadi gelap, mereka telah memasang obor-obor untuk menerangi sanggar terbuka itu.

“Semua pemimpin kelompok harus memahami,” berkata Mahisa Murti, “kita memiliki satu kelebihan. Kita lebih menguasai medan dari mereka. Sementara itu, para cantrik yang mengamati mereka telah dapat memberikan laporan lebih terperinci. Agaknya mereka dengan sengaja membiarkan perkemahan mereka diawasi. Namun ingat, setelah gelap, mereka pun tentu akan mengawasi semua jalan menuju ke padepokan ini. Mereka tidak akan membiarkan kita mengungsi meninggalkan padepokan ini. Tetapi sekali lagi. Kita lebih menguasai medan.”

Ketika segalanya sudah jelas, maka pertemuan itu pun telah dibubarkan. Para pemimpin kelompok kemudian kembali ke kelompok mereka masing-masing. Namun mereka tidak memberitahukan apa pun juga kepada para cantrik. Apalagi sebagian dari mereka telah berbaring di pembaringan untuk secepatnya beristirahat. Demikian pula anak-anak muda yang datang dari padukuhan-padukuhan. Mereka telah mendapat tempat khusus untuk bermalam.

Menjelang tengah malam, maka para pemimpin kelompok telah berbenah diri. Sejenak kemudian, maka mereka pun telah mempersiapkan kelompok masing-masing. Mereka harus bersiap untuk bertempur menghadapi lawan yang harus dianggap mempunyai kekuatan yang sangat besar.

Selagi kelompok-kelompok itu bersiap, maka sekelompok cantrik terpilih telah bersiap untuk menjalankan tugasnya. Tetapi mereka tidak segera berangkat meninggalkan padepokan itu lebih dahulu.

Baru ketika semuanya sudah siap, maka perintah pun telah diberikan berantai.

Ternyata para cantrik akan keluar dari padepokan. Mereka akan menempuh jalan yang berada di luar jangkauan pengawasan orang-orang yang ada di perkemahan.

Meskipun demikian, namun beberapa orang akan bertugas untuk mendahului setiap jalur jalan yang akan ditempuh oleh para cantrik itu.

Namun perintah itu pun belum jelas benar. Para pemimpin kelompok baru mengumpulkan dan mengatur kelompok-kelompok mereka masing-masing.

Malam pun menjadi semakin dalam. Tengah malam pun telah dilewati.

Ketika isyarat terakhir telah diberikan, maka beberapa orang pengamat khusus telah keluar dari padepokan. Mereka tidak keluar regol depan. Tetapi mereka mempergunakan, tali turun dari bagian belakang padepokan.

Sejenak kemudian maka mereka pun telah menyebar. Mereka melihat keadaan di sekitar padepokan dengan sebaik-baiknya. Mereka meyakinkan diri bahwa jalan-jalan yang akan ditempuh oleh para cantrik tidak ada dalam jangkauan pengamatan orang-orang perkemahan.

Kelebihan para cantrik dengan menguasai medan lebih baik dan orang-orang di perkemahan memungkinkan para cantrik yang mengamati keadaan itu melihat lingkungan dengan tuntas. Mereka dapat mengetahui di mana orang-orang yang datang dan mengancam padepokan mereka itu melakukan pengamatan.

Seperti yang diperhitungkan, hanya jalan-jalan yang cukup pantas untuk dilalui sebuah iring-iringan sajalah yang mereka amati. Mereka tidak mengamati jalan-jalan setapak atau bahkan pematang-pematang sawah dan lorong-lorong pategalan.

Dalam waktu yang ditentukan, maka para pengamat itu telah kembali dan memberikan isyarat kepada para pemimpin padepokan itu untuk mulai dengan sebuah tindakan yang sudah diperhitungkan masak-masak.

Sebenarnyalah sejenak kemudian, maka sebuah regol butulan telah terbuka. Sekelompok kecil cantrik telah keluar dari pintu butulan itu. Sementara itu, kelompok-kelompok yang lain telah keluar pula lewat tiga pintu butulan.

Malam itu para cantrik telah menempuh sebuah perjalanan pendek. Tetapi mereka memang tidak melalui jalan sewajarnya. Mereka justru telah melalui jalan-jalan setapak dan lorong-lorong di antara pategalan. Sementara itu, di depan setiap kelompok yang menempuh jalan berbeda telah berjalan lebih dahulu dua orang cantrik yang harus mengamati keadaan.

Ketika para cantrik itu sampai di tempat masing-masing, barulah mereka tahu apa yang harus mereka lakukan. Di hadapan mereka nampak perkemahan orang-orang yang telah berniat untuk menghancurkan padepokan dan perguruan Bajra Seta.

Ternyata para cantrik dari padepokan itu justru telah berada di seputar perkemahan orang-orang itu itu meskipun pada jarak yang masih belum terlalu dekat, sehingga belum sampai pada tangkapan pengamatan para petugas mereka.

Demikian mereka berada di tempat yang telah ditentukan, maka para pemimpin kelompok telah memberikan beberapa petunjuk kepada mereka, apa yang harus mereka lakukan.

“Yang akan bergerak lebih dahulu adalah sekelompok cantrik yang telah terpilih,” berkata seorang pemimpin kelompok, “jika mereka berhasil, maka giliran yang kemudian adalah kita.”

Dengan demikian beberapa saat lamanya para cantrik itu menunggu. Sementara itu, beberapa orang cantrik yang dipimpin oleh Mahisa Semu telah merayap mendekati perkemahan. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan sengaja telah melepaskan Mahisa Semu yang sudah cukup lama ditempa. Sebelum di padepokan itu, ia sudah mengalami latihan-latihan yang berat di sepanjang perjalanan, sehingga sekaligus menimba pengalaman.

“Hati-hati,” pesan Mahisa Murti, “kalian memiliki pengenalan atas medan jauh lebih baik dari mereka.”

Mahisa Semu mengangguk. Katanya, “Aku mohon kakang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat serta para cantrik berdoa untuk kami.”

Mahisa Murti menepuk bahu anak muda itu. Katanya, “’Tentu. Setiap kali kita semuanya berdoa untuk keselamatan kita.”

Sejenak kemudian Mahisa Semu telah bergerak bersama sepuluh orang cantrik pilihan. Tugas mereka mengacaukan perkemahan itu. Jika mungkin mereka harus membakar tempat persediaan makan dan perlengkapan mereka, yang sudah dapat diketahui tempatnya oleh orang-orang yang mengamati perkemahan itu dengan saksama.

Sebelas orang telah merangkak mendekati perkemahan. Mereka membawa beberapa buah obor minyak serta beberapa ikat blarak kering. Beberapa kampil biji jarak yang akan dilemparkan di tempat api yang sudah menyala.

Dengan sangat hati-hati sebelas orang itu berhasil mendekati perkemahan. Mereka berputar ke arah belakang perkemahan mendekati tempat persediaan bahan makanan dan perlengkapan. Beberapa saat lagi, para petugas di dapur itu tentu sudah akan terbangun. Mereka harus menyiapkan makan bagi para cantrik kedua padepokan yang akan menyerang padepokan Bajra Seta itu.

Demikian mereka berada di belakang sebuah gubug kecil tempat mereka menyimpan bahan makanan dan perlengkapan, maka para cantrik itu pun telah membuat api. Dengan batu titikan dan seonggok amput aren. Dengan cepat mereka harus meniup api yang sepeletik itu sehingga menjadi besar. Seorang harus melindungi api itu sehingga tidak nampak dari lingkungan di sekitarnya. Baru ketika api itu mulai menyala dan membakar sebuah obor blarak maka obor-obor minyak pun dengan cepat pula menyala. Beberapa onggok blarak yang diletakkan di belakang gubug kecil itu pun dengan cepat terbakar. Sementara itu, sekampil biji jarak kering telah dilemparkan pada nyala api yang mulai menjilat.

Tetapi nyala api obor belarak itu tentu akan dengan cepat surut. Namun sebelum api itu surut, maka biji jarak yang dilempar itu pun telah mulai menyala. Demikian pula gubug kecil itu.

Namun api itu pun dengan cepat diketahui pula. Beberapa orang yang bertugas pun berlari-larian sambil berteriak-teriak.

Namun beberapa orang cantrik yang lain telah mendapat tugas mereka masing-masing. Empat orang di antara mereka dengan tangkas telah melepaskan anak panah dari busur mereka.

Para petugas yang sedang berjaga-jaga itu pun tidak sempat berteriak lagi, ketika anak panah para cantrik dari Bajra Seta itu mengenai dada mereka.

Meskipun demikian beberapa orang yang lain pun segera telah berlari-larian pula mendekat, namun beberapa anak panah yang menyusul telah sempat memberikan waktu bagi api yang menyala itu membakar gubug kecil dan kemudian menjilat segala isinya.

Tetapi perkemahan itu pun kemudian telah terbangun. Semua orang telah bangkit dan bergegas pergi ke tempat api yang menyala semakin besar. Onggokan-onggokan belarak, ranting-ranting kecil yang diambil dari persediaan di perkemahan itu sendiri, beberapa kampil biji jarak yang telah kering, obor-obor minyak yang dilemparkan pula ke gubug kecil itu dan gubug kecil itu sendiri yang terbuat dari kayu, bambu dan batang ilalang, telah membuat api itu dengan cepat menjilat bagaikan ingin menggapai langit, meskipun api itu tidak akan bertahan lama. Namun jika kemudian api itu surut, maka semua persediaan bahan makanan dan perlengkapan bagi orang-orang yang sedang berkemah itu telah habis. Tidak ada yang akan dapat mereka makan. Minum pun mereka akan minum air yang harus mereka lakukan. Demikian api menyala semakin besar, maka pasukan para cantrik dari padepokan Bajra Seta, anak-anak muda dari beberapa padukuhan dan orang-orang padukuhan baru itu pun mulai bergeser mendekat. Tetapi mereka belum mendapat isyarat untuk bergerak.

Sementara itu, orang-orang Bajra Seta yang telah berhasil membakar segala persediaan bahan makan dan perlengkapan itu- pun telah berhasil meloloskan diri. Sebagaimana dikatakan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, bahwa mereka mengenal medan jauh lebih baik, telah membuat mereka mampu melepaskan diri dari kejaran orang-orang yang ada di perkemahan itu.

Empu Angin dan Empu Pitrang hanya dapat mengumpat-umpat saja. Dengan nada tinggi Empu Angin berkata hampir berteriak, “besok, pagi-pagi benar kita balas sakit hati kita.”

Para cantrik dari perguruan yang dipimpin oleh Empu Angin dan Empu Pitrang itu memang hanya dapat menyesali kelengahan para petugas, terutama para petugas di dapur. Seorang cantrik hampir tidak dapat menguasai dirinya dan menyerang pemimpin dari mereka yang berjaga-jaga di dapur malam itu. Untunglah beberapa orang kawannya sempat melerai mereka.

Dalam pada itu, Empu Angin berteriak pula, “Lupakan persediaan makanan yang terbakar itu. Besok kita akan mengambil persediaan makanan yang lebih banyak dan lebih baik di padepokan. Kita tentu tidak akan pernah kelaparan. Apalagi di sekitar tempat itu terdapat banyak padukuhan-padukuhan yang akan dapat memberikan beras lebih banyak dari yang kita perlukan.”

Pernyataan Empu Angin itu memang dapat membuat para cantriknya menjadi tenang.

Sementara itu, petugas sandi Kediri yang ada di dalam perkemahan itu pula menjadi semakin yakin akan kemampuan para pemimpin padepokan Bajra Seta. Tanpa persediaan makanan meskipun hanya untuk esok pagi, kekuatan pasukan yang dipimpin Empu Angin dan Empu Pitrang itu tidak akan memiliki ke kuatan utuh. Jika besok pertempuran terjadi, menjelang tengah hari, para cantrik yang dipimpin oleh Empu Angin dan Empu Pitrang itu tentu sudah mulai dipengaruhi oleh perasaan lapar mereka. Mungkin perasaan lapar itu sendiri akan dapat dilupakan jika mereka menghadapi senjata terhunus. Namun kekuatan mereka tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi jika keringat telah mengalir.

Tetapi petugas sandi dari Kediri itu telah menjadi kecewa atas tanggapan kedua orang pemimpin dari pasukan yang akan menyerang padepokan Bajra Seta itu. Karena itu, maka ia pun justru telah kembali ke pembaringan.

Ketika keadaan sudah menjadi tenang serta api pun mulai susut, para cantrik telah mencari tempat untuk berbaring lagi meskipun waktunya telah hampir habis. Namun rasa-rasanya malam-malam yang dingin itu telah membuat mata mereka melekat kembali.

Beberapa saat kemudian, perkemahan itu telah menjadi sepi kembali. Tetapi para petugas telah mendapat perintah untuk lebih berhati-hati. Beberapa saat lagi, para penjaga itu harus sudah membangunkan semua orang di perkemahan itu. Karena tidak ada lagi yang akan dimasak dan dimakan pagi itu, maka para petugas yang seharusnya berada di dapur, harus ikut bersama para cantrik yang lain menghancurkan pertahanan padepokan Bajra Seta. Sekaligus mereka akan mendapatkan bahan makanan untuk persediaan mereka selama berada di padepokan itu.

Untuk menghilangkan kejengkelan dan kemarahan, maka para cantrik dibawah pimpinan Empu Angin dan Empu Pitrang itu telah dibiarkan tertidur kembali. Menjelang fajar mereka akan dengan cepat dapat mempersiapkan diri, karena mereka tidak perlu lagi menunggu makanan dan minuman mereka.

Saat itulah yang ditunggu oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Suasana di padepokan itu telah diwarnai dengan kecemasan, kemarahan dan dendam.

Tetapi Empu Angin dan Empu Pitrang sendiri sama sekali tidak ingin tertidur kembali. Mereka menyesali apa yang terjadi. Tetapi mereka tidak dapat menghukum siapa pun karena dengan demikian hanya akan mengurangi kekuatan pasukan itu sendiri. Namun sudah terbersit di kepala mereka, jika mereka telah berhasil menduduki padepokan dan merebut segala persediaan makan dari perbekalan, maka yang bersalah tentu akan diusut kembali dan hukuman pun tidak akan dapat dihindarkan.

Sementara itu, Empu Angin dan Empu Pitrang memang membiarkan orang-orangnya tertidur. Mereka harus melupakan kebakaran yang baru-saja terjadi serta akibatnya. Nanti, demikian mereka bangun, maka mereka pun harus segera bersiap dan menyerang padepokan Bajra Seta.

mPu Angin dan Empu Pitrang tidak mempersiapkan peralatan apa pun untuk memecahkan pintu gerbang. Mereka juga tidak membawa tampar dan tali apa pun untuk memanjat. Keduanya telah memutuskan untuk membakar saja dinding padepokan, terutama pintu-pintunya. Pintu gerbang dan pintu butulan. Yang mereka persiapkan adalah ranting dan kayu-kayu kering, minyak yang tersisa serta semua oncor dan obor, serta blarak. Mereka ingin membalas kebakaran yang telah terjadi di perkemahan itu. Empu Angin dan Empu Pitrang telah mempersiapkan kelompok-kelompok yang harus melindungi kawan-kawannya yang membakar dinding yang paling lemah serta pintu-pintunya. Mereka telah dipersiapkan dengan busur dan anak panah serta lembing-lembing yang tajam.

Menjelang pagi, maka semua orang di perkemahan itu telah dibangunkan. Dengan cepat mereka bersiap. Tidak ada makanan dan tidak ada minuman hangat. Semua persediaan dan peralatan telah terbakar.

Dengan singkat Empu Angin dan Empu Pitrang telah memberikan perintah-perintah. Beberapa orang Putut yang memiliki kemampuan lebih tinggi dari para cantrik segera tanggap. Beberapa orang cantrik telah ditunjuk untuk membawa kayu-kayu kering, belarak, ilalang kering, minyak yang masih tersisa serta semua obor dan oncor.

Beberapa saat kemudian, maka pasukan itu telah mulai bergerak. Pasukan yang telah dibekali dengan kejengkelan dan kecewa, karena sama sekali tidak ada persediaan makan dan minum.

Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memberikan isyarat kepada para cantrik, anak-anak muda yang bergabung dengan pasukannya serta orang-orang yang berada di padukuhan yang baru itu. Mereka harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Justru saat pasukan lawan itu mulai bergerak.

Sebenarnyalah, ketika iring-iringan itu lepas dari perkemahan dan merayap di sepanjang jalan menuju ke padepokan, maka perintah Mahisa Murti pun telah dijatuhkan. Para cantrik, anak-anak muda dari beberapa padukuhan yang bersama dengan mereka serta para penghuni padukuhan yang baru, dengan serta merta telah menyerang iring-iringan yang sama sekali tidak mengira bahwa serangan yang tiba-tiba itu akan datang. Para petugas yang mengamati keadaan pun telah berada di dalam iring-iringan itu pula, sehingga mereka tidak melihat kedatangan pasukan yang tiba-tiba saja telah menyerang.

Medan pertempuran yang terjadi memang menjadi panjang. Mahisa Murti memang menghendaki hal yang demikian. Sementara itu, para cantriknya telah mempersiapkan serangan dengan cara yang tidak diperhitungkan sama sekali oleh pasukan Empu Angin dan Empu Pitrang, yang jumlahnya memang lebih besar dari pasukan yang dipimpin langsung oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu.

Ketika pasukan Empu Angin dan Empu Pitrang terkejut mendapat serangan yang tiba-tiba serta dengan serta merta bersiap menghadapi mereka, maka dari sisi yang lain, beberapa orang cantrik yang bertugas telah menyerang iring-iringan yang panjang itu dengan busur dan anak panah.

Beberapa orang di dalam iring-iringan itu tidak sempat berbuat sesuatu. Punggung mereka tiba-tiba saja telah tertembus anak panah. Hampir berbareng, mereka yang terkena anak panah itu pun telah terjatuh di tanah sambil berteriak kesakitan. Bahkan ada di antara mereka yang justru tidak sempat berteriak lagi.


Dalam keadaan yang demikian, maka pasukan Empu Angin dan Empu Pitrang memang menjadi bingung. Mereka benar-benar tidak mengira bahwa mereka akan menghadapi serangan yang membingungkan itu. Empu Angin dan Empu Pitrang yang telah merendahkan orang-orang padepokan Bajra Seta, tidak sempat menyesali diri. Keadaan telah menjadi sangat rumit.

Empu Angin yang berusaha untuk mengatasi keadaan telah berteriak, “jangan hiraukan orang-orang licik yang menyerang kalian dengan anak panah dari belakang. Jumlah mereka tidak banyak, yang berperisai harus berusaha melindungi diri dan kawan-kawannya. Sementara seluruh pasukan harus menghadapi serangan dari induk pasukan.”

Sebenarnyalah para Putut telah meneriakkan perintah itu sambung bersambung sampai ke ujung. Dengan geram para cantrik itu pun telah berlari-larian menyongsong serangan dari induk pasukan yang dipimpin langsung oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Namun beberapa orang telah berusaha melindungi kawan-kawannya dengan perisai. Sementara para cantrik yang dipersiapkan oleh Empu Angin dan Empu Pitrang melindungi kawan-kawannya yang akan membakar pintu gerbang telah mempergunakan anak panah dan busur mereka untuk melawan serangan yang datang dari belakang, meskipun mereka harus bergerak mundur mengikuti gerak seluruh pasukan.

Tetapi dengan demikian, maka lontaran anak panah dari pasukan Empu Angin dan Empu Pitrang itu mampu menyusut tekanan para cantrik dari perguruan Bajra Seta.

Sebenarnyalah yang terjadi itu telah menggetarkan jantung Empu Angin dan Empu Pitrang. Ternyata anak-anak muda yang ditemuinya di muka pintu gerbang padepokan Bajra Seta bukan hanya mampu berbicara dengan sombong dan bahkan membual untuk menutupi kelemahannya. Mereka ternyata memiliki keberanian yang luar biasa yang tidak diperkirakan sama sekali sebelumnya.

Bahkan Empu Angin dan Empu Pitrang pun mulai mempertimbangkan pendapat prajurit sandi dari Kediri yang semula dianggapnya tidak lebih dari sikap sangat berhati-hati.

Menghadapi serangan yang tiba-tiba dan tidak diperhitungkan sama sekali itu, Empu Angin dan Empu Pitrang hanya dapat menyesuaikan diri. Ternyata para cantrik dari padepokan Bajra Sela dalam keremangan fajar telah sempat menyusun gelar yang melebar.

Empu Angin dan Empu Pitrang sama sekali tidak mempersiapkan diri untuk bertempur di tempat terbuka. Mereka sejak semula telah mempersiapkan diri untuk mengepung sebuah padepokan dan menghancurkannya. Terakhir kedua pemimpin itu sepakat untuk membakar pintu gerbang padepokan Bajra Seta yang terbuat dari kayu yang tebal. Namun Empu Angin dan Empu Pitrang memperhitungkan bahwa pintu itu akan dapat dibakarnya bersama panggungan di atasnya. Demikian pula pintu-pintu gerbang butulan yang lebih kecil.

Tetapi justru orang-orang padepokan itulah yang telah ke luar dari sarang mereka dan menyerang pasukan yang sedang merayap dalam bentangan yang melebar.

Empu Angin dan Empu Pitrang memang berusaha menyusut bentangan itu. Satu-satunya gelar yang dapat dipersiapkan dalam waktu dekat adalah gelar Emprit Neba. Gelar yang memang paling sesuai dengan sifat dan watak para cantrik kedua padepokan itu. Keras dan kasar. Terlalu percaya kepada diri sendiri dan kemampuan mereka secara pribadi.

Empu Angin dan Empu Pitrang berharap bahwa benturan yang akan terjadi, tentu akan merusak gelar lawan serta memancing mereka untuk bertempur dalam lingkaran-lingkaran pertemuran yang terpecah-pecah. Sehingga akan terjadi perang brubuh. Dalam keadaan yang demikian, maka para cantrik yang melontarkan anak panah dari belakang tidak akan berani menyerang mereka lagi, karena para cantrik itu tidak akan mau memikul akibat bahwa anak panah mereka akan mengenai kawan-kawan mereka sendiri.

Demikianlah, maka Empu Angin dan Empu Pitrang pun telah meneriakkan aba-aba kepada seluruh pasukannya untuk menyerang para cantrik dari perguruan Bajra Seta dengan gelar Emprit Neba.

Dengan demikian, maka seluruh kekuatan pasukan itu pun telah berlari-larian sambil mengacu-acukan senjata mereka menyerang para cantrik dari perguruan Bajra Seta yang memasang gelar Wulan Tumanggal.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang melihat serangan itu pun dengan segera telah memberikan aba-aba untuk mengisi gelar Wulan Punanggal itu dengan gelar yang lain. Gelar Jurang Grawah, justru pada saat lawan mempergunakan Gelar Emprit Neba.

Sementara itu, ketika pasukan Empu Angin dan Empu Pitrang berlari-larian menyerang, maka para cantrik yang mempergunakan busur dan anak panah telah mempergunakan saat yang pendek itu untuk mengurangi jumlah lawan mereka. Beberapa orang memang jatuh tertelungkup ketika punggung mereka tertusuk anak panah.

Ketika kedua pasukan itu berbenturan, maka langit pun menjadi semakin terang. Kedua belah pihak menjadi semakin jelas, siapa-siapa yang mereka hadapi. Sebuah perguruan yang harus membela diri melawan dua perguruan yang cukup besar di bawah pimpinan Empu angin dan Empu Pitrang.

Beruntunglah perguruan Bajra Seta bahwa anak-anak muda dari beberapa perguruan telah membantu mereka mempertahankan perguruan dan padepokan Bajra Seta. Demikian pula orang-orang yang telah membangunkan sebuah padukuhan baru. Meskipun jumlah mereka tidak begitu banyak, tetapi mereka adalah orang-orang yang memiliki pengalaman yang luas ditambah dengan pengetahuan olah kanuragan yang lebih mapan, sehingga dengan demikian, mereka adalah orang-orang yang tangguh menghadapi keadaan yang betapa pun sulitnya.

Ternyata Empu Angin dan Empu Pitrang yang langsung turun di arena pertempuran itu, sama sekali tidak mengekang diri. Tanpa ampun, orang-orang yang menghalangi geraknya telah dilumpuhkannya.

Tetapi mereka tidak terlalu lama berkesempatan untuk membantai lawan-lawannya. Dengan segera Mahisa Murti telah menghadapi Empu Angin, sementara Mahisa Pukat telah berada di hadapan Empu Pitrang.

Meskipun kedua orang pemimpin padepokan yang menyerang perguruan Bajra Seta itu telah melihat kenyataan, ketangkasan berpikir dan menentukan sikap dari dari para pemimpin perguruan Bajra Seta, namun melihat kehadiran anak-anak muda itu, keduanya masih saja menganggap mereka masih kanak-kanak.

Karena itu, ketika Mahisa Murti berdiri tegak di hadapan Empu Angin, maka Empu Angin itu pun berkata, “sayang. Kau ternyata harus mati muda. Tetapi yang terjadi itu adalah buah dari biji yang pernah kau taburkan. Jika kau tidak dengan sombong mengganggu orang lain, maka kami tidak akan datang mengadilimu sekarang ini.”

“Aku tidak tahu apa yang kau katakan. Aku tidak mengerti yang kau maksud dengan ceriteramu itu,” jawab Mahisa Murti.

“Jika demikian, sebaiknya kau mati dalam kedunguanmu. Mungkin kau akan merasa lebih berbahagia karena jika kau mengerti, betapa dungunya kau, maka kau tentu akan menyesal,” berkata Empu Angin.

Mahisa Murti memang tidak mengerti maksud Empu Angin. Karena itu maka ia pun tidak menjawab. Tetapi ia sudah mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk melawannya.

Sementara itu Empu Pitrang yang lebih garang dari Empu Angin telah bersiap pula menghancurkan Mahisa Pukat. Dengan kasar ia membentak, “Kau anak iblis, menyerahlah. Kau akan mendapat jalan kematian yang terbaik. Tetapi jika kau ingin melawan aku, maka kau akan menyesal di saat-saat terakhir dari hidupmu.”

Mahisa Pukat memang tersinggung mendengar kata-kata itu. Dengan lantang pula ia menjawab, “Kenapa bukan kau saja yang berlutut di hadapanku sambil menunduk? Aku akan memenggal lehermu seperti memenggal batang pisang.”

Empu Pitrang itu menggeretakkan giginya. Dengan garangnya ia pun meloncat menyerang Mahisa Pukat. Senjatanya, sebuah tombak pendek telah berputar dan menyambar dalam ayunan mendatar. Namun ketika Mahisa Pukat meloncat surut, ujung tombak itu telah mengejarnya.

Tetapi Mahisa Pukat cukup tangkas untuk menghindari kejaran ujung tombak itu.

Sejenak kemudian, maka pertempuran pun telah menjadi semakin sengit. Para cantrik dari perguruan Bajra Seta telah mengetrapkan gelar Jurang Grawah dengan baik. Ketika benturan antara kedua pasukan terjadi, maka lapisan pertama dari gelar Wulan Tumanggal pasukan perguruan Bajra Seta telah terbuka. Demikian beberapa orang lawan menyusup masuk, maka lapisan pertama itu telah menutup kembali. Sementara itu, maka para cantrik dalam gelar Emprit Neba yang terserap dalam gelar Jurang Grawah harus menghadapi lawan pada lapisan berikutnya yang dengan tiba-tiba saja menyerang mereka.

Ketika matahari kemudian memanjat semakin tinggi, maka pertempuran pun menjadi semakin seru. Ternyata di saat benturan kedua pasukan terjadi, para cantrik dari perguruan Empu Angin dan Empu Pitrang telah banyak susut. Kecuali serangan anak panah para cantrik dari arah yang berseberangan induk pasukannya, maka sergapan yang tiba-tiba dari pasukan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, telah sempat menguasai kesempatan-kesempatan pertama dalam pertempuran itu. Selanjutnya gelar tangkap pada pasukan dari perguruan Bajra Seta telah membingungkan lawan-lawan mereka pula.

Empu Angin dan Empu Pitrang benar-benar tidak mengira bahwa pasukannya yang dianggapnya cukup tangguh itu akan mengalami kesulitan menghadapi perguruan Bajra Seta yang dipimpin oleh anak-anak muda.

Tetapi Empu Angin dan Empu Pitrang masih mempunyai satu keyakinan bahwa kemenangan terakhir akan ada pada mereka.

“Jika anak ini telah kehilangan kemampuannya untuk melawan, maka cantrik-cantriknya akan dengan cepat dapat dibinasakannya,” berkata Empu Angin di dalam hatinya. Namun ia masih juga ingin menangkap Mahisa Murti hidup-hidup jika mungkin.

“Jika aku dapat menangkapnya hidup-hidup, maka anak itu akan dapat menjadi permainan yang menyenangkan,” berkata Empu Angin di dalam hatinya.

Sementara itu Empu Angin ternyata masih belum mempergunakan senjatanya. Ia masih berusaha untuk mengalahkan lawannya, tetapi tidak membunuhnya.

Tetapi ternyata Mahisa Murti bukan anak muda yang dengan mudah dapat dikuasainya. Bahkan karena Empu Angin masih belum bersenjata, Mahisa Murti pun masih belum mempergunakan senjatanya pula.

Dengan tangkasnya Empu Angin berloncatan menyerang Mahisa Murti. Semakin lama semakin cepat. Ayunan tangannya rasa-rasanya menjadi semakin berat pula.

“Kenapa kau tidak mempergunakan senjatamu?” bertanya Empu Angin.

Jawaban Mahisa Murti memang membuat telinganya menjadi merah. Katanya, “Tanganku lebih tajam dari pedangku. He, kenapa kau juga tidak bersenjata?”

mPu Angin mengeram. Namun serangannya pun menjadi semakin garang. Tangannya bergerak berputaran. Namun kemudian menebas dengan cepatnya. Jari-jarinya yang lurus merapat, mematuk ke arah lambung.

Namun dengan tangkas Mahisa Murti berloncatan menghindari serangan-serangan itu. Bahkan tiba-tiba saja dengan gerak berputar kakinya terayun menyambar ke arah kening.

Jika mereka berhasil, maka daya tahan orang-orang yang menyerang padepokan Bajra Seta itu tentu akan dengan cepat susut.

Namun sebenarnyalah, bahwa jumlah pasukan yang menyerang perguruan Bajra Seta itu memang cepat susut. Dalam laku tangkap Jurang Grawah, setiap kali cantrik dari perguruan yang dipimpin oleh Empu Angin dan Empu Pitrang itu hilang seorang demi seorang.

Tetapi sementara itu, beberapa orang Putut dalam pasukan yang menyerang perguruan Bajra Seta itu memang memiliki kelebihan dari para cantrik kebanyakan. Cantrik-cantrik terpilih sajalah yang harus melawan mereka agar Putut-putut yang bagaikan mengamuk itu tertahan. Jika seorang cantrik tidak mampu menahannya, maka dua orang cantrik dari perguruan Bajra Seta ikan bersama-sama menghadapi mereka.

Sementara itu, seorang di antara para Putut yang memiliki ilmu yang mulai mapan masih saja bertempur melawan Mahisa Semu. Ternyata bahwa ilmu yang telah diwarisi oleh Mahisa Semu telah cukup dipergunakannya sebagai bekal untuk menghadapi pertempuran yang sesungguhnya.

Dengan ilmu pedangnya yang mapan, maka Mahisa Semu telah menghadapinya dengan darah yang hampir mendidih. Tongkat baja yang dipergunakannya sebagai senjata telah terayun-ayun mengerikan. Namun pedang Mahisa Semu pun bergerak cepat sekali. Beberapa kali benturan telah terjadi. Meskipun menghantam tongkat baja yang keras, namun pedang Mahisa Semu sama sekali tidak menjadi cacat, karena pedangnya itu pun telah dibuat dari besi baja pilihan.

Pertempuran antara keduanya memang menjadi semakin sengit. Putut itu semakin lama menjadi semakin marah. Ia tidak dengan cepat menguasai lawannya yang masih sangat muda itu. Bahkan sekali-sekali ia justru mulai terdesak surut.

“Anak iblis,” Putut itu menggeram.

“Kenapa?” bertanya Mahisa Semu, “apakah kau mulai letih?”

“Tutup mulutmu,” bentak Putut itu, “atau aku akan mengoyakannya.”

“Kau tidak usah terlalu bernafsu,” berkata Mahisa Semu, “nikmati saja kenyataan yang kau hadapi. Bukankah kita memiliki kesempatan yang sama?”

“Aku bunuh kau dengan caraku,” geram Putut itu sambil menghentakkan tongkat bajanya.

“Kau atau aku,” sahut Mahisa Semu, “semuanya tergantung sekali kepada Yang Maha Agung.”

Putut itu berusaha untuk memaksakan kemampuannya mengakhiri perlawanan Mahisa Semu yang masih sangat muda itu. Namun Mahisa Semu justru memanfaatkan kemarahan Putut itu untuk memancingnya mengerahkan kekuatannya.

Namun ketangkasan permainan pedang Mahisa Semu memang sulit untuk di atasi. Meskipun Putut itu kemudian telah sampai pada tataran tertinggi dari ilmunya.

Di induk pasukan Empu Angin masih bertempur melawan Mahisa Murti dengan sengitnya. Keduanya adalah orang-orang yang memiliki kelebihan yang bahkan di luar penalaran orang kebanyakan. Empu Angin yang mampu bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi itu, ternyata tidak mampu melampaui tataran kemampuan Mahisa Murti.

Namun Empu Angin adalah bukan orang kebanyakan. Di saat yang paling gawat, maka ia pun telah mengerahkan kemampuannya yang tertinggi.

Tetapi, Mahisa Murti pun telah meningkatkan kemampuannya pula sehingga mampu mengimbangi kecepatan gerak Empu Angin. Dengan demikian maka pertempuran di antara mereka masih saja berlangsung dengan sengitnya.

Dalam keadaan yang semakin sulit bagi pasukannya, maka Empu Angin tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus dengan secepatnya menghancurkan lawannya yang masih muda itu dan menolong seluruh pasukannya yang semakin terjepit. Empu Angin mengerti bahwa satu-satu orangnya terjebak dalam gelar Jurang grawah yang merupakan gelar rangkapan dari gelar Wulan Tumanggal yang semakin mencengkam. Kedua ujung gelar itu rasa-rasanya menjadi semakin menjepit pasukan Empu Angin dan Empu Pitrang yang memilih gelar Emprit Neba.

Ternyata Empu Angin masih memiliki ilmu simpanan yang mendebarkan. Sebagai seorang yang dikagumi dan dihormati oleh seisi padepokannya, maka Empu Angin tidak akan membiarkan dirinya dikalahkan hanya oleh seorang anak muda. Karena itu, maka sejenak kemudian, Empu Angin telah mengetrapkan ilmu simpanannya.

Ketika Empu Angin itu semakin terdesak oleh kesulitan atas seluruh pasukannya, maka Empu Angin telah melontarkan ilmu pamungkasnya.

Mahisa Murti yang melihat Empu Angin itu berdiri tegak di atas kedua kakinya, kemudian mengangkat tangan kanannya, telah mempersiapkan diri pula menghadapi lontaran ilmu yang sudah diduganya.

Sebenarnyalah, dari telapak tangan Empu Angin itu telah meloncat lidah api, yang menyambar ke arah lawannya bagaikan petir kecil yang meloncat menyambar dengan dahsyatnya.

Mahisa Murti yang telah bersiap menghadapi kemungkinan ini telah meloncat menghindar. Loncatan lidah api yang meskipun nampaknya hanya seleret kecil itu ternyata telah mengejutkannya. Lidah api yang tidak mengenainya itu telah menyentuh tanah dan sebuah ledakan telah terjadi. Segumpal tanal bagaikan dilempar ke udara dan runtuh menghambur di sekitarnya.

Beberapa orang yang sedang bertempur di sekitarnya telah menyibak. Bukan saja orang-orang padepokan Bajra Seta, tetapi juga para cantrik dari padepokan Empu Angin sendiri.

“Dari iblis mana kau mendapat kemampuan bergerak begitu cepat,” geram Empu Angin. Lalu katanya, “Tetapi bagaimanapun juga kau mampu menghindar, namun akhirnya petirku akan menyambar kepalamu hingga pecah.”

Mahisa Murti yang telah melenting berdiri termangu-mangu sejenak. Ia sadar, bahwa lidah api itu benar-benar akan dapat membakar tubuhnya dan barangkali memecahkan kepalanya seperti yang dikatakan oleh Empu Angin itu.

Namun sebelum hal itu terjadi, maka Mahisa Murti tentu akan berusaha mencegahnya.

Dalam pada itu, maka Mahisa Murti itu pun kemudian berkata, “Ki Sanak. Apakah yang sebenarnya dapat kau lakukan. Meskipun kau berilmu rangkap tujuh, namun orang-orangmu sudah menjadi semakin tidak berdaya. Jika kau mau melihat kenyataan, maka aku kira, kita masih mempunyai kesempatan untuk berbicara.”

Tetapi Empu Angin sama sekali tidak mendengarkannya. Sekali lagi ia mengangkat tangannya dan seleret lidah api telah meloncat menyambar.

Namun Mahisa Murti pun cukup tangkas. Dengan kecepatan yang sangat tinggi, ia pun telah meloncat dan berguling di tanah. Kemudian melenting berdiri.

Namun sekali lagi tanah tempat Mahisa Murti semula berpijak bagaikan meledak dan menghamburkan gumpalan-gumpalan tanah ke udara.

Para cantrik dari Padepokan Empu Angin yang semula telah berputus asa telah bangkit kembali. Meskipun jumlah mereka telah jauh berkurang, namun bahwa pemimpin mereka telah melepaskan ilmu simpanannya, telah membuat para cantrik itu berpengharapan. Menurut pengertian mereka tidak ada orang yang mampu melepaskan diri dari serangan ilmu Empu Angin itu. Menurut pengalaman para cantrik, yang terlontar dari tangan Empu Angin itu adalah inti dari arus angin yang dahsyat yang menggumpal menyatu memadat menjadi lidah api yang menggetarkan.

Namun para cantrik yang sempat menyaksikan lontaran ilmu Empu Angin itu pun terkejut. Ternyata pimpinan padepokan Bajra Seta itu mampu menghindarkan diri dari sambaran kekuatan ilmu Empu Angin itu.

Meskipun kemudian Empu Angin mengulanginya, tetapi ilmu yang dahsyat itu ternyata tidak menyentuh sasarannya.

Empu Angin sendiri menjadi semakin marah. Namun justru karena itu, maka ia menjadi semakin tergesa-gesa melontarkan ilmunya sehingga bidikannya pun menjadi semakin kurang terarah.

Sementara itu, medan pertempuran itu pun benar-benar telah dikuasai oleh para cantrik, dari padepokan Bajra Seta, anak-anak muda padukuhan di sekitarnya dan orang-orang yang tinggal di padukuhan baru. Para cantrik dari dua padepokan yang menyerang padepokan Bajra Seta itu ternyata tidak berdaya lagi. Bukan saja untuk menghancurkan padepokan Bajra Seta, bahkan untuk melindungi diri sendiri pun nampaknya mereka sudah mengalami kesulitan.

Namun para penghuni padukuhan baru itu pun ternyata telah terkendali. Tidak seperti saat mereka bertempur melawan orang-orang yang mendendam kepada mereka. Bersama para cantrik dari padepokan Bajra Seta maka mereka telah berusaha untuk mengekang diri sejauh dapat mereka lakukan.

Sementara itu, Mahisa Pukat yang bertempur melawan Empu Pitrang telah berusaha memperingatkan pula, bahwa orang-orangnya telah tidak berdaya lagi.

“Jika kau dan saudaramu itu terbunuh, maka para cantrik dari perguruan Bajra Seta pun tidak akan berarti apa-apa lagi. Dalam waktu sekejap, mereka akan segera kami bantai sampai orang yang terakhir,” berkata Empu Pitrang.

“Nampaknya kau sempat mengigau meskipun kau tidak tidur,” berkata Mahisa Pukat.

Empu Pitrang yang merasa tersinggung telah melompat sanibil menebas dengan ujung senjatanya. Tetapi Mahisa Pukat dengan tangkas bergeser surut.

“Kau pun akan segera mati,” geram Empu Pitrang, “saudaramu tidak akan berumur sampai sepenginang lagi. Apalagi Empu Angin telah melepaskan ilmu pamungkasnya. Saudaramu tentu akan segera menjadi lumat.”

Demikian kata-kata itu selesai, terdengar ledakkan ilmu Empu Angin yang melontarkan debu berhamburan. Sementara Mahisa Murti masih berdiri tegak beberapa langkah dari ledakan tanah yang menghambur itu.

“Nah, lihat,” berkata Mahisa Pukat, “saudaraku masih tetap tegar.”

“Tetapi kau tidak akan dapat bertahan,” geram Empu Pitrang.

Mahisa Pukat pun telah dengan sungguh-sungguh memperhatikan setiap gerak lawannya yang menurut perhitungannya tentu akan segera sampai pada ilmu pamungkasnya, sebagaimana Empu Angin.

Sebenarnyalah bahwa Empu Pitrang pun telah mempertimbangkan untuk membunuh saja anak muda itu dengan ilmu pamungkasnya. Agaknya sulit baginya untuk berusaha menangkap anak itu hidup-hidup. Sebagaimana Empu Angin pun telah melontarkan ilmu tertinggi yang dimilikinya tanpa mempertimbangkan lagi usaha untuk menangkapnya hidup-hidup.

Karena itu, ketika Empu Pitrang mendapat kesempatan, maka ia pun telah mengacukan tombaknya ke arah Mahisa Pukat. Dengan satu hentakan ilmu, maka tombak itu seakan-akan telah menyemburkan api yang mematuk ke arah tubuh Mahisa Pukat.

Mahisa Pukat yang telah bersedia menghadapi serangan itu pun dengan serta merta telah meloncat menghindar, sehingga api yang meluncur itu tidak mengenainya.

Namun Mahisa Pukat pun mengetahui, betapa dahsyatnya serangan itu. Jika api yang menyembur dan meluncur cepat itu mengenainya, maka tubuhnya tentu akan menjadi hangus terbakar.

Namun, dalam keadaan yang gawat itu Mahisa Pukat masih mampu menilai bahwa serangan Empu Angin nampaknya lebih berbahaya dari serangan Empu Pitrang.

Untuk beberapa saat Mahisa Pukat masih berusaha mengatasi ilmu itu dengan kemampuan ilmu pedangnya. Jika serangan itu datang, maka Mahisa Pukat telah meloncat melenting untuk menghindar. Namun tiba-tiba saja ia telah meloncat menyerang dengan pedangnya yang terjulur panjang.

Tetapi ternyata sulit juga bagi Mahisa Pukat untuk menggapai orang itu dengan ujung pedangnya.


Sementara itu, pertempuran pun sudah menjadi semakin pasti. Keseimbangannya telah banyak berubah. Mahisa Semu yang bertempur melawan seorang Putut ternyata menunjukkan kemampuan ilmu pedangnya yang tinggi.

Dengan demikian, maka disaat-saat terakhir, Mahisa Semu telah berhasil mendesak lawannya sehingga pada suatu saat, Putut itu tidak lagi mampu mengelakkan serangan Mahisa Semu. Ketika pedang Mahisa Semu terayun dengan deras menyilang, maka ujung pedang itu telah menyentuh dada lawannya.

Kulit Putut itu pun telah terkoyak karenanya. Sebuah luka telah menganga.

Namun Putut itu ternyata memiliki daya tahan yang sangat kuat. Meskipun dari lukanya darah telah mengalir, namun ia masih bertempur dengan sengitnya.

“Menyerahlah,” berkata Mahisa Semu, “atau kau akan kehabisan darah.”

“Persetan,” geram Putut itu, “aku akan memenggal lehermu.”

Tetapi ternyata bahwa Mahisa Semu bergerak jauh lebih cepat dari Putut itu. Mulutnya belum lagi terkatub, ujung pedang Mahisa Semu telah menggapai tubuh itu. Meskipun Putut itu meloncat mengelak, tetapi pundaknya masih juga tergores sehingga terluka.

Putut itu mengumpat semakin kasar. Namun serangan Mahisa Semu menjadi semakin menekan pula.

Namun Mahisa Semu masih juga memperingatkannya kembali, “Masih ada kesempatan untuk menyerah.”

Tetapi orang itu sama sekali tidak mau menyerah. Ia ingin mempergunakan saat Mahisa Semu memperingatkannya itu. Dengan serta merta ia meloncat sambil menebas dengan pedangnya mendatar ke arah leher.

Jika pedang itu dapat mengenai sasarannya, maka Mahisa Semu benar-benar akan kehilangan kepalanya. Serangan itu ternyata disertai dengan hentakkan kekuatannya yang tersisa. Meledak dan begitu tiba-tiba.

Namun Mahisa Semu yang telah bersiaga sepenuhnya itu melihat kedatangan serangan itu. Karena itu, dengan tangkasnya, hampir di luar sadarnya, anak muda itu telah mengelak sambil merendah. Namun tangannya telah menjulurkan pedangnya justru menyongsong loncatan tubuh lawannya yang mengayunkan senjatanya.

Yang terdengar adalah jerit kesakitan. Ujung pedang Mahisa Semu yang teracu lurus ke depan itu telah menghunjam ke tubuh Putut itu justru karena dorongan tubuh Putut itu sendiri.

Mahisa Semu pun kemudian dengan tangkasnya meloncat bangkit sambil menarik pedangnya.

Sejenak Putut itu terhuyung-huyung. Namun kemudian ia- pun telah terjatuh seperti sebatang pohon pisang. Tidak bertenaga sama sekali.

Mahisa Semu termangu-mangu sejenak. Ujung pedangnya ternyata sempat menembus dada orang itu sampai ke jantung. Ketika pedang itu ditarik, maka tubuh itu sudah tidak bernyawa lagi.

Sementara itu, maka pasukan Empu Angin dan Empu Pitrang benar-benar sudah tidak mampu lagi mempertahankan dirinya. Karena itu, maka beberapa orang dengan licik justru berusaha untuk menghindari pertempuran. Mereka justru menjauhi para cantrik dan lawan-lawan mereka yang lain. Bahkan kemudian, mereka menjadi putus asa.

Namun ternyata mereka masih mencoba untuk menunggu sambil berusaha menyelamatkan diri mereka. Jika saja Empu Angin dan Empu Pitrang berhasil, maka dalam keadaan yang gawat sekalipun, mereka akan dengan cepat dapat menyapu lawan-lawan mereka.

Tetapi yang terjadi tidak seperti yang dikehendaki. Para cantrik Bajra Seta justru semakin menguasai medan yang mereka kenal dengan baik itu.

Gelar Wulan Tumanggal rasa-rasanya menjadi semakin menjepit mereka. Orang-orang yang berusaha menghindari benturan kemampuan dengan para cantrik Bajra Seta dan bersembunyi di belakang kawan-kawan mereka yang masih mempunyai keberanian untuk bertempur, tidak mendapat tempat lagi.

Karena itu, maka di luar kehendak mereka, maka mereka berusaha untuk tetap hidup dengan mempertahankan diri mereka masing-masing.

“Menyerah sajalah,” berkata para cantrik yang telah menguasai medan.

Memang ada di antara mereka yang berpendapat, lebih baik menyerah daripada jantung mereka ditembus oleh ujung senjata.

Tetapi hal itu sama sekali tidak dikehendaki oleh Empu Angin maupun Empu Pitrang. Dengan lantang Empu Angin berteriak, “Siapa yang berkhianat akan aku bunuh bersama orang-orang dari padepokan Bajra Seta.”

Namun untuk membunuh seorang lawannya yang masih muda, Empu Angin tidak mampu melakukannya. Serangannya dengan sambaran petir yang mendebarkan jantung itu tidak mampu mengenai sasarannya. Semakin menghentak-hentak kemarahan di dadanya, serta semakin gelisah Empu Angin karena keadaan pasukannya, maka serangannya justru menjadi semakin jauh dari sasaran.

Tetapi Empu Angin benar-benar tidak mau berhenti. Semakin lama serangannya menjadi semakin sering. Bahkan kemudian serangannya datang susul menyusul tidak henti-hentinya.

Betapa pun Mahisa Murti memiliki kemampuan untuk menghindari serangan itu, namun jika sambaran lidah api yang meloncat dari tangannya itu datang beruntun, susul menyusul, maka Mahisa Murti pun mengalami kesulitan pula. Ia harus meloncat, berguling, melenting berdiri dan menjatuhkan dirinya lagi. Sementara itu nampaknya Empu Angin itu sama sekali tidak berniat untuk menyerah meskipun pasukannya benar-benar telah dihancurkan.

Karena itu, maka Mahisa Murti pun tidak lagi memperpanjang kesempatan lagi bagi Empu Angin. Ia sudah cukup lama menunggu, namun justru serangan-serangannya sajalah yang menjadi semakin deras datang susul-menyusul.

Dengan demikian, maka Mahisa Murti pun akhirnya sampai kepada satu keputusan untuk menghentikan serangan-serangan itu.

Sementara Empu Angin masih aja menyerang dengan sengitnya, maka Mahisa Murti masih mencoba untuk sekali lagi berteriak, “Empu. Kau sudah kehabisan kekuatan. Menyerahlah.”

Namun Empu Angin telah menjawab dengan lontaran ilmunya yang garang. Serangan lidah api yang meluncur dari telapak tangannya.

Mahisa Murti masih juga harus meloncat menghindari serangan itu dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Namun serangan itu merupakan serangan yang terakhir. Mahisa Murti benar-benar tidak memberi kesempatan lagi kepada Empu Angin yang menganggap bahwa anak muda itu hanya mampu berloncatan menghindari serangan-serangannya.

Ketika kemudian Empu Angin menyerangnya sekali lagi, Mahisa Murti tidak berusaha untuk menghindarinya. Tetapi ia telah membalas serangan itu dengan serangan pula. Ketika Mahisa Murti kemudian juga mengangkat tangannya, maka ilmunya pun telah meloncat meluncur menyambar serangan Empu Angin yang menyambar ke arahnya.

Dengan demikian, dua kekuatan ilmu telah saling berbenturan dengan dahsyatnya di udara. Namun yang getarannya telah memental kembali memukul ke arah sumbernya.

Mahisa Murti memang terdorong selangkah surut. Dadanya terasa dihentak oleh kekuatan yang besar, sehingga terasa menjadi sesak. Namun Mahisa Murti dengan cepat berusaha mengatasinya dengan daya tahan tubuhnya yang sangat tinggi.

Sementara itu, yang terjadi pada Empu Angin adalah bencana yang mengakhiri bukan saja perlawanannya, tetapi juga hidupnya.

Dengan kerasnya Empu Angin telah terhempas beberapa langkah surut. Kemudian seakan-akan telah terbanting jatuh berguling beberapa kali. Ia hanya dapat menggeliat. Namun kemudian, nafasnya pun telah terputus di kerongkongan.

Kematian Empu Angin adalah satu pukulan yang sangat pahit bagi Empu Pitrang. Meskipun ia masih melawan dengan tombak pendeknya dan dengan ilmunya yang garang, namun Mahisa Pukat ternyata tidak dapat ditundukkannya. Semburan api dari senjatanya sama sekali tidak mampu mematahkan perlawanan Mahisa Pukat dengan ilmu pedangnya. Bahkan semakin lama ujung pedang itu menjadi semakin dekat berterbangan seperti seekor nyamuk di telinganya.

Mahisa Pukat mempergunakan setiap kesempatan untuk meloncat mengurangi jarak. Meskipun setiap kali Empu Pitrang berusaha menjauh dan menyerang dengan semburan api dari ujung senjatanya, namun ia memang tidak dapat mengatasi kemampuan ilmu pedang lawannya yang masih muda itu. Demikian serangan apinya meluncur lepas dari sasaran, maka Mahisa Pukat telah meloncat dan menyerang dengan ujung pedangnya. Beberapa kali Mahisa Pukat berhasil menekan Empu Pitrang sehingga tidak sempat mempergunakan ilmunya. Namun pada kesempatan lain, ia masih mampu melepaskan diri dari libatan pedang Mahisa Pukat dan kembali menyerang dengan ilmunya yang mendenbarkan itu.

Namun Mahisa Pukat masih mempunyai keyakinan, bahwa ia akan mampu menghentikan perlawanan itu dengan ilmu pedangnya saja, tanpa ilmu pamungkasnya.

Tetapi ternyata usaha Mahisa Pukat tidak segera berhasil. Meskipun dalam keadaan yang sulit, namun Empu Pitrang masih juga mampu melepaskan ilmunya yang akan dapat membakar tubuh Mahisa Pukat.

Sementara itu pertempuran yang sebenarnya sudah hampir berhenti sama sekali. Hanya sekelompok orang yang seakan-akan berniat untuk membunuh dirinya sajalah yang masih memberikan perlawanan. Terutama para pengikut Empu Pitrang.

Seperti Empu Angin, maka Empu Pitrang sama sekali tidak menghiraukan ketika Mahisa Pukat memberinya peringatan untuk menyerah. Sehingga karena itu, maka Mahisa Pukat pun menjadi jemu untuk bertempur terus berlama-lama.

Dengan demikian maka Mahisa Pukat telah merubah niatnya untuk menundukkan lawannya dengan ilmu pedangnya. Selain memerlukan waktu yang panjang, maka jika ia lengah sedikit saja, maka ilmu lawannya akan dapat membakarnya.

Karena itu, maka ketika beberapa kali serangan Empu Pitrang harus dihindari dengan loncatan-loncatan panjang serta sekali-sekali menjatuhkan diri dan berguling di tanah, maka Mahisa Pukat pun kemudian telah mengetrapkan ilmunya yang paling menggetarkan.

Dengan tangkas Mahisa Pukat mengelakkan serangan terakhir Empu Pitrang yang meluncur ke arahnya. Mahisa Pukat yang menjatuhkan dirinya itu berguling sekali. Namun tanpa bangkit lagi, diacukannya ujung pedangnya, mengarah ke tubuh Empu Pitrang. Seberkas sinar yang kehijau-hijauan telah meluncur dari ujung pedang itu menyambar ke arah lawannya.

Empu Pitrang melihat serangan itu. Namun, dengan menengadahkan dadanya Empu Pitrang tidak berniat menghindar. Bahkan dengan hentakkan yang dilandasi dengan segenap kekuatannya yang tersisa serta kemampuannya pada puncak ilmunya, Empu Pitrang membentur serangan itu dengan ilmunya pula. Api yang merah menyembur dari ujung senjatanya menyongsong serangan Mahisa Pukat.

Kedua kekuatan ilmu itu pun berbenturan, Empu Pitrang bahkan Sempat berteriak dengan kerasnya, “Kau akan menjadi lumat karenanya.”

Mahisa Pukat masih bertiarap sambil mengacukan ujung pedangnya. Dilihatnya sekejap kemudian benturan yang dahsyat telah terjadi, ia pun merasakan getaran dari benturan itu seakan-akan telah terpental menghantam dirinya sendiri.

Namun dengan kekuatan daya tahannya, Mahisa Pukat tetap tidak tergeser dari tempatnya, meskipun nafasnya menjadi sesak.

Tetapi sementara itu, terdengar teriakan yang bagaikan menghentak langit, Empu Pitrang yang marah, dendam dan kecewa itu telah terlempar beberapa langkah surut. Namun getaran yang membentur dadanya seakan-akan telah meremas jantung.

Ternyata Empu Pitrang pun tidak mampu bertahan. Dadanya seakan-akan telah menjadi hangus. Karena itu, maka seperti Empu Angin, maka Empu Pitrang pun kemudian terbaring diam. Jantungnya yang terbakar tidak lagi berdetak di dadanya.

Dengan demikian maka pertempuran pun telah berhenti. Satu dua orang cantrik kedua orang yang terbunuh itu, masih saja dengan mengamuk sejadi-jadinya, justru dengan tekad untuk mati bersama-sama guru mereka.

Namun sejenak kemudian, maka pertempuran itu pun benar-benar telah berhenti. Beberapa orang justru tertawan. Namun dalam keadaan yang terakhir, justru ketegangan mencengkam di saat-saat kedua pemimpin padepokan yang menyerang perguruan Bajra Seta itu terbunuh, disamping orang-orang yang sengaja membunuh diri untuk membela kematian pemimpin mereka, ternyata ada juga di antara para cantrik yang sempat melarikan diri. Di antara mereka yang hilang dari pertempuran adalah petugas sandi dari Kediri yang disebut Kecubung Ungu.

Ternyata petugas sandi itu memang licin. Ia masih mampu melepaskan diri dari tangan para cantrik di padepokan Bajra Seta itu. Apalagi ia memang sudah memperhitungkan, bahwa kesombongan Empu Angin dan Empu Pitrang akan menyeret mereka ke dalam kesulitan. Bahkan kemusnahan.

Dalam pertempuran itu, ternyata beberapa korban memang telah jatuh. Seperti yang terdahulu, maka di antara anak-anak muda yang dengan suka-rela membantu padepokan Bajra Seta itu pun telah jatuh korban pula.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sempat menundukkan kepala mereka. Dengan nada dalam Mahisa Murti berkata, “Apa yang dapat aku katakan kepada keluarga mereka yang gugur? Dahulu aku pernah mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga atas pengorbanan anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan itu. Apakah sekarang aku cukup mengulangi pernyataan terima kasih itu? Sementara itu, keluarga mereka benar-benar telah gugur di padepokan ini?”

“Kita saling memerlukan,” berkata salah seorang di antara pemimpin anak-anak muda dari padukuhan itu, “karena itu, maka kita memang saling membantu dan saling berkorban.”

“Pengorbanan apa yang pernah kami berikan kepada kalian?” desis Mahisa Murti.

“Kami mendapat banyak sekali ilmu dan pengetahuan dari padepokan ini meskipun kami tidak menyatakan diri sebagai cantrik dari perguruan Bajra Seta. Tetapi kami merasa bahwa kami adalah keluarga dari padepokan Bajra Seta. Sehingga dengan demikian kami memang wajib untuk ikut mempertahankannya.”

Mahisa Murti tidak menjawab. Tetapi pengertian semacam itu telah didengarnya sejak semula, mereka ikut dalam kegiatan padepokan Bajra Seta. Tetapi sudah tentu tidak harus dibayar dengan jiwa mereka.

Untunglah bahwa sebagian besar korban di antara anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan itu hanya terluka. Namun ada juga yang ternyata telah gugur di pertempuran. Meskipun hanya tiga orang. Sedangkan yang terluka cukup parah empat orang, sedangkan yang terluka ringan terdapat duabelas orang.

Jumlah cantrik padepokan yang menjadi korban memang lebih banyak. Tetapi itu adalah memang tanggung jawab mereka untuk mempertahankan perguruan mereka.

Dengan wajah murung Mahisa Murti itu berdesis di telinga Mahisa Pukat, “Jika hal seperti ini sering terjadi, maka orang-orang padukuhan di sekitar padepokan ini akan mengutuk kehadiran padepokan ini, karena setiap saat ada saja anak-anak muda mereka yang terbunuh.”

“Kita harus berusaha bahwa jika terjadi benturan kekuatan di waktu-waktu mendatang, kita tidak usah membiarkan anak-anak muda itu berada di padepokan,” berkata Mahisa Pukat, “kita berterima kasih atas kesediaan mereka. Tetapi mereka tidak seharusnya gugur dalam pertempuran seperti ini. Mereka masih muda sehingga mereka merupakan harapan bagi keluarga mereka. Agak berbeda dengan keadaan kita yang memang telah bulat menyerahkan diri bagi sebuah perguruan.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun sekali lagi ia harus menemui orang tua anak-anak muda yang menjadi korban. Yang gugur, maupun yang luka-luka.

Sementara itu, para cantrik pun menjadi sibuk. Mereka harus mengumpulkan kawan-kawan mereka yang terluka dan yang telah gugur. Demikian pula orang-orang yang tinggal di padukuhan yang baru itu.

Selain itu, para cantrik pun harus mengurus orang-orang yang menyerah. Tetapi juga di antara lawan mereka yang terbunuh dan terluka.

Hari itu seisi padepokan memang menjadi sibuk. Baru menjelang tengah malam kesibukan mereka berkurang. Namun mereka masih harus mengawasi para tawanan yang hampir kelaparan, sekaligus menyediakan makan dan minum buat mereka.

“Jika mereka sempat makan sebelum bertempur, mungkin tenaga mereka akan jauh lebih besar dari yang kita hadapi hari ini,” berkata salah seorang cantrik yang ikut membakar persediaan makanan dan perbekalan pasukan yang hendak menyerang padepokan Bajra Seta itu.

“Ya, terutama setelah matahari mencapai puncak langit,” jawab kawannya.

Sebenarnyalah bahwa tanpa persediaan makan dan minum menjelang pasukan itu berangkat ke medan, ternyata pengaruhnya cukup besar bagi ketahanan pasukan.

Namun dalam pada itu, ketika sebagian besar dari para cantrik beristirahat, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tengah membicarakan persoalan yang mereka hadapi. Keduanya menyadari, bahwa kehadiran pasukan itu tentu ada hubungannya dengan pendengaran mereka atas sikap Kediri sebagaimana dikatakan oleh petugas sandi yang akan membunuh kawannya sendiri itu.

“Kita tidak dapat cukup bahan dari orang-orang yang tertawan,” berkata Mahisa Pukat, “yang mereka ketahui adalah pemimpin mereka masing-masing. Empu Angin dan Empu Pitrang. Selebihnya mereka tidak tahu apa-apa.”

“Ya. Meskipun satu dua di antara mereka sadar atau tidak sadar telah mengatakan hubungan antara serangan mereka dengan sikap Kediri. Tetapi yang mereka ketahui memang terlalu sedikit,” jawab Mahisa Murti.

“Sekarang, bagaimana sikap kita selanjutnya? Apakah kita tidak akan melaporkan hal ini kepada Singasari. Tetapi jika kita pergi ke Singasari, bagaimana dengan padepokan ini sepeninggal kita? Atau seorang dari kita pergi ke Singasari, yang lain menunggui padepokan ini,” berkata Mahisa Pukat.

“Mungkin itu adalah satu-satunya jalan,” jawab Mahisa Murti, “salah seorang dari kita pergi ke Singasari.”

“Baiklah,” desis Mahisa Pukat, “biarlah aku pergi ke Singasari. Kau tinggal di sini, menyelesaikan persoalan yang sedang kita hadapi. Namun jika terjadi sesuatu, padepokan ini tidak kosong sama sekali.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “berapa orang kau perlukan untuk menyertaimu dalam perjalanan ke Singasari?”

“Aku hanya memerlukan Mahisa Semu. Biarlah ia ikut pergi ke Singasari. Sementara paman Wantilan dapat kau jadikan kawan berbincang-bincang di Samping para cantrik yang sudah dianggap memiliki wawasan yang cukup luas,” jawab Mahisa Pukat.

Mahisa Murti termangu-mangu. Rasa-rasanya memang sulit untuk melepas Mahisa Pukat hanya dengan Mahisa Semu pergi ke Singasari justru dalam keadaan yang gawat itu.

Namun agaknya Mahisa Pukat sudah membulatkan hati untuk melakukannya. Ia menolak ketika Mahisa Murti menawarkan beberapa orang cantrik terpilih untuk menyertai perjalanannya.

“Semakin banyak orang akan semakin menarik perhatian,” jawab Mahisa Pukat.

Namun akhirnya Mahisa Murti berkata, “Sebaiknya kau membawa sepasang pedang kita. Jika sepasang pedang itu menyatu, maka kekuatannya akan bertambah. Demikian pula jika kau pergunakan sebagai pintu lontaran ilmumu.”

Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Kau memerlukannya. Agaknya padepokan ini masih saja diintai oleh kekuatan-kekuatan yang tidak kita ketahui sebelumnya.”

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Sementara Mahisa Pukat berkata, “Agaknya di perjalanan aku akan lebih aman daripada kau yang tinggal di padepokan.”

Mahisa Murti memang tidak memaksa Mahisa Pukat untuk membawa sepasang pedang. Agaknya Mahisa Pukat merasa bahwa ia cukup membawa sebuah saja dari sepasang pedang itu.

Akhirnya kedua anak muda itu memutuskan bahwa Mahisa Pukat dan Mahisa Semu akan pergi ke Singasari berselang sehari setelah segala sesuatunya diselesaikan.

Sebenarnyalah dihari yang sudah ditentukan Mahisa Pukat dan Mahisa Semu pun telah siap untuk berangkat. Bukan saja siap dengan segala macam bekal yang diperlukan. Tetapi juga siap untuk melakukan tugas mereka sebaik-baiknya.

Satu hal yang jarang terjadi bahwa Mahisa pukat akan melakukan tugasnya tanpa Mahisa Murti. Demikian pula sebaliknya. Namun keduanya sadar, bahwa mereka tidak akan dapat selalu bersama-sama. Pada suatu saat maka mereka memang harus melakukan tugas yang berbeda meskipun untuk kepentingan bersama.

Mahisa Semu memang merasa bangga, bahwa ia mendapat kepercayaan untuk bersama-sama dengan Mahisa Pukat melakukan tugas yang penting. Namun Mahisa Semu pun sadar, bahwa ia harus ikut bertanggung jawab agar tugasnya dapat berhasil dengan baik.

Sebelum matahari terbit, maka keduanya telah meninggalkan padepokan. Mahisa Murti, Wantilan dan para cantrik melepaskan mereka sampai ke regol.

Dalam keremangan pagi keduanya berpacu menembus kabut yang turun perlahan-lahan menjelang matahari terbit di sebelah Timur.

Demikian keduanya hilang dari pandangan mereka yang berdiri diregol padepokan, maka pintu gerbang padepokan itu pun telah ditutup kembali. Mereka yang tinggal di padepokan hanya dapat berdoa, semoga perjalanan Mahisa Pukat dan Mahisa Semu mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung.

Sementara itu, kedua orang anak muda yang meninggalkan gerbang padepokan itu meluncur seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Mereka berpacu disepanjang jalan, meskipun tidak terlalu kencang agar kuda mereka tidak cepat menjadi letih.


Namun demikian, maka keduanya telah memilih jalan yang tidak terlalu ramai agar perjalanan mereka tidak banyak mendapat hambatan. Mereka menyadari sepenuhnya, bahwa mereka akan menempuh jalan yang panjang.

Disaat Mahisa Pukat dan Mahisa Semu berpacu di atas punggung kudanya, maka Mahisa Murti masih saja sibuk dengan para cantrik yang terluka. Bahkan anak-anak muda padukuhan di sekitar padepokan itu yang terluka masih pula di rawat di padepokan itu agar mereka mendapat pengobatan yang baik dan teratur. Sedangkan di antara mereka yang terluka adalah para cantrik dari kedua padepokan yang telah menyerang padepokan Bajra Seta itu.

Namun Mahisa Murti berharap, bahwa para tawanan itu akan dapat bersikap lebih baik dari para tawanan yang terdahulu, yang terdiri dari para penjahat yang mendendam. Sedangkan para penjahat itu pun ternyata mampu dijinakkannya. Sehingga karena itu, maka Mahisa Murti pun berharap bahwa para cantrik itu pun akan dapat dijinakkannya pula.....


********************
Ketika kemudian matahari menjadi semakin tinggi, Mahisa Pukat telah menjadi semakin jauh. Mereka telah berada di lingkungan yang tidak banyak mereka kenal. Namun Mahisa Pukat sebagai pengembara tidak akan menjadi bingung dan kehilangan arah.

Ditengah hari saat matahari ada dipuncak langit, maka keduanya telah beristirahat disebuah kedai yang cukup besar di sudut sebuah pasar yang ramai. Meskipun matahari sudah tepat berada di atas kepala, tetapi masih saja ada orang yang keluar masuk pasar itu. Tetapi semakin lama memang menjadi semakin jarang. Orang-orang yang berjualan pun mulai membenahi barang-barang dagangannya. Namun demikian kedai itu masih banyak dikunjungi orang.

Mahisa Pukat dan Mahisa Semu ternyata mendapat kedai yang pelayanannya cukup baik. Kuda mereka pun mendapatkan minum air jernih dan mendapat rumput yang segar.

Tetapi selagi mereka meneguk minuman hangat yang telah dihidangkan oleh pelayan kedai itu serta mulai menyuapi mulut mereka dengan nasi yang masih hangat pula, mereka dikejutkan oleh kedatangan beberapa orang yang memasuki kedai itu. Seorang anak muda dengan pakaian yang lebih baik dari orang kebanyakan diiringi oleh tiga orang pengawalnya. Sikap anak muda itu juga menunjukkan bahwa ia memiliki kelebihan dari orang kebanyakan.

Sebenarnyalah beberapa orang yang sudah ada di kedai itu serentak bangkit berdiri sambil membungkuk hormat.

Mahisa Pukat dan Mahisa Semu yang tidak mau menimbulkan persoalan telah bangkit pula sebagaimana orang lain serta membungkuk hormat pula.

Tanpa menghiraukan orang-orang yang menghormatinya, anak muda itu pun telah mengambil tempat ditengah-tengah bersama ketiga orang pengawalnya. Dengan tergopoh-gopoh pelayan kedai itu mendekatinya menunggu perintah anak muda itu.

Yang memberikan pesanan kepada pelayan itu ternyata bukan anak itu sendiri. Tetapi seorang di antara para pengawalnya berkata, “Bukankah kau sudah terbiasa dengan kesenangannya? Nah, berikan semangkuk wedang asem. Ingat, jangan terlalu asam. Gulanya gula aren. Bukan gula kelapa. Mengerti.”

“Ya, ya Ki Sanak,” jawab pelayan itu.

“Kemudian tiga mangkuk wedang sere untuk kami bertiga,” berkata orang itu pula.

“Ya. Ya Ki Sanak. Tetapi apakah aku juga harus menyediakan makan?” bertanya pelayan itu.

Pengawal itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian bertanya, “Apakah anakmas ingin makan?”

“Ya,” jawab anak muda itu pendek.

Orang itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian kepada pelayan kedai itu, “Ya. Seperti biasanya. Nasi hangat. Jangan diberi sayur atau lauk yang pedas.”

“Daging ayam yang basah atau yang kering?” bertanya pelayan itu.

“Kau sudah tahu kebiasaannya,” desis pengawal itu.

“Jeroan basah,” berkata pelayan itu.

“Nah, ternyata kau masih mengingatnya,” jawab pengawal itu.

Mahisa Pukat dan Mahisa Semu sempat memperhatikan sejenak. Tetapi tidak ada masalah apa pun yang terjadi. Anak muda yang nampaknya terhormat itu pun tidak berbuat apa-apa kecuali duduk diam menunggu pesannya. Para pengawalnya tidak menunjukkan sikap yang menarik perhatian. Seorang dari antara para pengawal itu berpesan minuman dan makanan secara wajar.

Sementara itu pengawalnya itu pun berkata, “jangan lupa. Kami pun ingin makan. Tiga mangkuk nasi dengan sambal. Dendeng ragi dan lalapan. Ingat?”

“Ya. Ya Ki Sanak,” pelayan itu mengangguk-angguk.

Mahisa Pukat dan Mahisa Semu tidak memperhatikan mereka lagi. Biasa saja. Tidak ada yang menarik perhatian.

Orang-orang lain yang ada di kedai itu pun nampaknya tidak memberikan perhatian khusus kecuali saat anak muda itu masuk. Mereka berdiri dan menghormat. Termasuk Mahisa Pukat.

Tetapi yang menarik perhatian Mahisa Pukat justru orang-orang yang ada di kedai itu satu-satu telah meninggalkan tempat duduk mereka. Seorang demi seorang telah membayar makanan dan minuman mereka untuk seterusnya bangkit berdiri dan melangkah keluar lewat pintu samping.

Bahkan kemudian kedai itu menjadi hampir kosong karenanya. Dua orang yang telah berhenti di depan pintu pun mengurungkan niatnya untuk masuk.

Mahisa Pukat dan Mahisa Semu yang masih makan itu pun saling berpandangan sejenak. Namun karena mereka tidak tahu kenapa hal itu terjadi, maka mereka masih saja melanjutkan makan dan minum.

Sesaat kemudian, maka pelayan kedai itu pun telah menghidangkan pesanan anak muda dengan ketiga pengawalnya. Minuman dan makan. Mereka nikmati pesanan mereka itu tanpa menghiraukan keadaan di sekitarnya.

Anak muda itu ternyata bukan anak muda yang banyak tingkah. Ia terima saja minuman dan makan yang dihidangkan oleh pelayan kedai itu. Nampaknya pelayan itu pun telah terbiasa dengan kesukaan anak muda itu.

Namun yang Mahisa Pukat dan Mahisa Semu menjadi heran, pelayan itu kemudian telah menghidangkan minuman pula kepada mereka tanpa diminta.

Tetapi sebelum Mahisa Pukat dan Mahisa Semu bertanya, pelayan itu telah berbisik, “Akan terjadi kerusuhan di sekitar tempat ini.”

“Kenapa?” desis Mahisa Pukat.

“Anak muda itu datang untuk memenuhi tantangan sekelompok anak muda yang lain,” jawab pelayan itu.

“Siapakah anak muda itu?” bertanya Mahisa Semu perlahan-lahan.

“Putera Ki Buyut,” jawab pelayan itu. Lalu katanya pula sambil memungut mangkuk-mangkuk yang kotor, “Lawannya anak muda saudagar yang kaya dari Kabuyutan sebelah. Daerah ini adalah daerah perbatasan.”

“Apakah soalnya?” bertanya Mahisa Semu.

“Kedua-duanya masih muda. Kedua-duanya mencintai gadis yang sama. Tanpa sepengetahuan gadis itu, mereka bertaruh di perbatasan ini,” jawab pelayan itu, “karena itu orang-orang lain memilih telah menyingkir.”

Mahisa Pukat masih ingin bertanya lagi. Tetapi pelayan itu sudah menjadi gelisah. Dengan cepat ia benahi mangkuk-mangkuk kotor dan bahkan mangkuk minuman kedua anak muda itu meskipun masih belum dihabiskan. Tetapi mereka sudah diganti minuman yang baru.

Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat berbisik di telinga Mahisa Semu, “Apakah mereka hanya berempat?”

Mahisa Semu justru ingin melihat apa yang telah terjadi. Karena itu maka katanya, “Kita duduk saja di sini.”

Ternyata Mahisa Pukat mengangguk kecil. Namun dalam pada itu, salah seorang pengawal anak muda itu tiba-tiba saja berkata, “Yang dikatakan oleh pelayan kedai itu memang benar anak-anak muda.”

Mahisa Pukat dan Mahisa Semu terkejut. Ternyata orang itu mengerti apa yang diberitahukan oleh Pelayan itu.

Ketika Mahisa Murti dan Mahisa Semu memandang pelayan yang membawa mangkuk-mangkuk kotor itu, nampak bahwa pelayan itu pun terkejut.

Tetapi pengawal anak muda itu berkata, “Meskipun aku tidak mendengar apa yang kalian bicarakan, tetapi menilik sikap kalian, maka aku tahu bahwa pelayan itu memberitahukan, bahwa kami sedang menunggu orang yang menantang kami. Agaknya pelayan itu juga minta kalian meninggalkan tempat ini agar kalian tidak terlibat.”

Mahisa Pukat dan Mahisa Semu tidak menjawab. Sementara orang itu berkata selanjutnya, “Jika kalian tidak ingin mengalami kesulitan, sebaiknya kalian memang menyingkir. Orang-orang yang menantang kami adalah orang-orang yang kadang-kadang tidak sempat berpikir panjang. Karena itu, aku pun sependapat dengan pelayan itu, tinggalkan tempat ini jika kalian sudah merasa cukup makan dan minum.”

Mahisa Pukat dan Mahisa Semu justru mendjapat kesan yang baik pada orang-orang itu. Anak muda itu memang agaknya tidak peduli kepada keadaan di sekitarnya. Tetapi mungkin karena ia terlalu manja atau sedikit sombong. Tetapi ia bukan orang yang sering membuat kesulitan pada orang lain.

Karena itu, maka Mahisa Pukat pun menjawab, “Terima kasih Ki Sanak. Tetapi perkenankan kami menghabiskan minuman kami.”

“Silahkan. Kami memang tidak mengusir kalian,” jawab pengawal itu, “tetapi kami tidak mau menyeret kalian dalam kesulitan karena kalian tidak tahu menahu persoalan yang sedang kami hadapi.”

“Terima kasih Ki Sanak,” jawab Mahisa Pukat.

Di luar dugaan, anak muda itu justru telah bangkit dan melangkah mendekati Mahisa Pukat dan Mahisa Semu. Bahkan ia pun telah duduk bersama mereka.

“Sebenarnya aku tidak menghendaki penyelesaian cara ini,” berkata anak muda itu.

“Apa yang terjadi?” di luar sadarnya Mahisa Pukat telah bertanya.

“Persoalan yang sebenarnya memalukan. Seorang gadis. Tetapi aku pun merasa malu jika tantangannya tidak aku terima. Ia menantang aku berkelahi. Siapa yang kalah harus minggir,” jawab anak muda itu. Lalu katanya, “Tetapi jika hal ini diketahui gadis yang sama-sama kami cintai itu, maka aku justru menduga, bahwa gadis itu akan meninggalkan kami berdua.”

“Sebaiknya kau abaikan saja tantangan itu,” berkata Mahisa Pukat.

“Mereka akan menghina aku. Bukan saja aku, tetapi seluruh anak muda di Kabuyutanku, karena aku adalah anak Ki Buyut yang dianggap mewakili semua anak-anak muda di seluruh Kabuyutan.”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ia memang tidak dapat melihat kemungkinan lain kecuali menerima tantangan itu.

Namun dalam pada itu, seorang pengawalnya telah mendekatinya sambil berkata, “Marilah. Duduklah di sana agar anak-anak muda itu tidak terlibat.”

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya sambil bangkit berdiri, “Hati-hatilah. Tetapi sebaiknya kau menyingkir.”

“Terima kasih. Nanti jika minumku habis,” jawab Mahisa Pukat.

Anak muda itu tidak menghiraukannya lagi. Tetapi ia kembali duduk di tengah-tengah kedai itu. Diteguknya minumannya yang masih tersisa. Namun kemudian ia duduk saja sambil memandang kekejauhan.

Tetapi mereka terkejut ketika tiba-tiba muncul dari pintu samping seorang bertubuh tinggi tegap membawa tongkat baja yang kehitam-hitaman.

“Ternyata kau datang,” geramnya.

Anak muda itu berpaling. Dahinya berkerut. Katanya, “Di mana anak itu?”

“Ia ada di sebelah. Ia sudah menunggu,” jawab orang bertubuh tinggi tegap itu.

Anak muda itu tidak menunggu lagi. Ia pun segera bangkit dan melangkah keluar kedai itu lewat pintu samping.

Mahisa Pukat dan Mahisa Semu pun telah beringsut pula. Mereka membayar makanan dan minuman mereka.

“Kalian akan ke mana?” bertanya pelayan kedai itu.

“Melihat,” jawab Mahisa Pukat.

“Jangan. Lebih baik kau menyingkir saja. Kau jangan main-main dengan persoalan seperti ini. Mungkin anak Ki Buyut itu tidak berbuat apa-apa atas kalian. Tetapi para pengawal anak saudagar itu sering berbuat aneh-aneh di sini,” jawab pelayan itu.

Tetapi Mahisa Pukat menjawab, “Terima kasih. Tetapi kami ingin melihat apa yang terjadi. Kami memang tidak akan ikut campur.”

Pelayan itu tidak mencegah mereka lagi. Sementara Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah masih di dalam kedai, tetapi di depan pintu samping.

Ternyata seseorang telah memindahkan kuda mereka ke sebelah lain. Agaknya tempat itu akan dipergunakan untuk melakukan perkelahian antara kedua orang anak muda.

Ternyata yang disebut anak saudagar kaya itu memang seorang yang berwajah keras. Juga masih muda. Sambil tersenyum ia melangkah ke tengah-tengah halaman samping yang agak luas.

“Ternyata kau juga laki-laki,” katanya.

Anak Ki Buyut itu tidak menjawab. Ia masih berdiri saja memandangi anak muda yang menantangnya itu.

“He, kau sudah menjadi tuli atau bisu?” geram anak Ki Saudagar itu.

Anak Ki Buyut itu tidak menyahut.

Namun justru karena itu, maka anak saudagar itu menjadi marah dan berkata, “Baik. Kalau kau tidak dapat lagi mengatakan sepatah kata pun, maka kau akan menyesal, karena kau tidak dapat memberikan pesan apa pun juga kepada pengawal-pengawalmu.”

Anak Ki Buyut masih tetap berdiam diri. Namun tiba-tiba ia bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Satu kakinya maju setengah langkah. Kedua tangannya bersilang di depan dadanya sambil sedikit merendah pada lututnya.

“Anak iblis,” geram anak saudagar kaya di Kabuyutan sebelah, “kau kira kuasa ayahmu dapat menolongmu?”

Anak Ki Buyut itu justru maju selangkah sambil mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Sikap itu membuat anak saudagar kaya itu gelisah. Namun kemudian tiba-tiba anak saudagar itu telah menyerang dengan kakinya.

Tetapi anak Ki Buyut sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Karena itu ketika serangan itu datang, maka anak Ki Buyut itu dengan cepat dapat mengingkarinya. Bahkan ia tidak saja bergeser menyamping. Namun tiba-tiba saja ia meloncat maju sambil mengayunkan tangannya mendatar ke samping.

Tetapi anak saudagar itu pun telah, mampu mengelak pula.

Dengan demikian, maka perkelahian di antara kedua orang anak muda itu dengan cepat telah berkembang. Keduanya mengerahkan kemampuan masing-masing. Semakin cepat perkelahian itu berlangsung, maka yang menang akan merasa semakin dihormati oleh anak-anak muda dari kedua Kabuyutan itu.

Namun siapakah yang menang dan siapakah yang kalah masih belum nampak jelas. Keduanya masih saling menyerang dan saling menghindar.

Tiga orang pengawal anak Ki Buyut memperhatikan perkelahian itu dengan seksama. Sementara itu sesuai dengan tantangan anak saudagar itu, pengawal anak saudagar itu juga tiga orang. Termasuk seorang yang bertubuh raksasa.

Sejenak keduanya tenggelam dalam perkelahian yang sengit. Keduanya masih muda. Keduanya memiliki bekal ilmu yang mapan sehingga dengan demikian maka perkelahian itu semakin lama menjadi semakin sengit.

Dalam kekalutan gerak, maka masing-masing telah mampu mengenai tubuh lawannya. Namun pukulan sisi telapak tangan anak Ki Buyut itu telah mampu menggoyahkan pertahanan anak Ki Saudagar, sehingga hampir saja anak Ki Saudagar itu jatuh terjerembab. Namun ternyata ia cukup tangkas. Ia justru telah menjatuhkan dirinya dan berguling beberapa kali. Tetapi dengan tangkas pula ia pun telah melenting bangkit berdiri.

Anak Ki Buyut ternyata telah memburunya. Tetapi lawannya sudah siap menghadapinya.

Pertempuran pun telah berlanjut. Keduanya benar-benar mengerahkan segenap kemampuan mereka. Dengan penuh kebencian masing-masing telah berusaha untuk memenangkan perkelahian itu.

Tetapi semakin lama ternyata ketahanan tubuh anak Ki Buyut itu nampak lebih baik. Keduanya yang memiliki kemampuan yang seimbang itu, telah terpengaruh oleh kelebihan daya tahan tubuh anak Ki Buyut itu.

Karena itu, maka keseimbangan perkelahian itu pun telah berubah. Jika semula keduanya saling menyerang dan saling mempertahankan diri dengan seimbang, lambat laun maka anak Ki Saudagar itu mulai bergeser beberapa langkah surut.

Daya tahan anak Ki Buyut bukan saja mampu mengatasi perasaan sakit dan lelah, namun juga mampu bertahan untuk berkelahi dengan kekuatan dan tenaga yang hampir tidak berubah. Keringat yang mengalir dari tubuhnya tidak mempengaruhi kekuatan dan kemampuannya. Karena itu, ketika ketahanan tubuh lawannya mulai mengendor, kekuatan dan kemampuan anak Ki Buyut itu seakan-akan telah meningkat.

Anak Ki Saudagar itu sempat mengumpat-umpat. Namun tiba-tiba saja suaranya terputus. Ternyata bibirnya telah tersentuh tangan anak Ki Buyut yang menyerangnya dengan tiba-tiba. Untunglah bahwa sentuhan itu tidak mengakibatkan giginya berpatahan, meskipun terasa sedikit sakit.

Para pengawal anak Ki Saudagar dan pengawal anak Ki Buyut yang masing-masing berjumlah tiga orang memang menjadi tegang. Tetapi setiap kali ketiga orang pengawal anak Ki Buyut itu bersorak kegirangan jika tangan anak Ki Buyut itu mengenai tubuh lawannya.

Ketiga orang pengawal anak Ki Saudagar pun berbuat pula demikian. Tetapi sorak yang menghentak semakin lama semakin sering dilakukan oleh anak Ki Buyut.

Ketiga orang pengawal anak Ki Saudagar itu menjadi cemas. Mereka tidak dapat membiarkan momongan mereka kalah. Karena jika demikian, akibatnya akan buruk sekali bagi mereka. Ki Saudagar tentu akan menjadi sangat marah.

“Kenapa aku tidak berbuat sesuatu,” berkata pengawal anak Ki Saudagar.

Hijaunya Lembah, Hijaunya Lereng Pegunungan
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger