logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Hijaunya Lembah, Hijaunya Lereng Pegunungan Jilid 100


Karena itulah, maka ketika orang-orang Larah dan para gegedug mendekati padukuhan induk, maka anak-anak muda pun telah berada di belakang mereka pada jarak beberapa puluh patok.

“Kita akan memasuki padukuhan dengan diam-diam,” berkata pemimpin orang-orang Larah itu.

Seperti yang dikehendaki oleh pemimpinnya, maka orang-orang Larah itu pun telah memasuki padukuhan induk dengan diam-diam. Mereka berusaha untuk dapat langsung menuju ke rumah Ki Buyut Bumiagara.

Namun, ternyata bahwa mereka tidak dapat menyergap rumah itu sebagaimana mereka kehendaki. Ternyata di dekat regol rumah Ki Buyut terdapat sebuah gardu. Satu dua orang yang pernah melihat-lihat keadaan rumah Ki Buyut dimalam hari, dapat menyingkir dari pengamatan orang-orang di gardu itu. Namun yang dapat adalah terlalu banyak orang untuk dapat menghindarkan diri dari penglihatan orang-orang di gardu itu.

Karena itu, maka pemimpin dari orang-orang Larah itu justru memerintahkan beberapa orangnya untuk menyergap gardu itu dan membungkam orang-orang yang ada di dalamnya.

“Jika mereka melawan, apa boleh buat,” berkata gegedug itu. Baginya nyawa orang memang tidak begitu berharga.

Sebenarnyalah, tiba-tiba saja lima orang telah muncul di depan gardu itu sambil mengacukan senjata mereka. Dengan lantang salah seorang dari mereka berkata geram, “Kalian tidak akan dapat melawan kami. Jika kalian mencoba, maka berarti kalian akan mati. Aku tidak bermain-main. Kematian bagi kami tidak akan membekas apa-apa.”

Anak-anak muda itu memang terkejut. Mereka ternyata terlalu asik bermain-main untuk mengusir kantuk, sehingga mereka tidak melihat orang-orang yang sudah mereka duga sebelumnya itu datang dengan tiba-tiba.

Untuk beberapa saat anak-anak muda itu berdiam diri. Sementara orang yang mengancam itu berkata, “berikan senjata kalian.”

Anak-anak muda itu termangu-mangu. Senjata-senjata mereka adalah senjata-senjata yang diterimanya dari Padepokan Bajra Seta sehingga bagi mereka senjata itu merupakan senjata yang sangat berarti.

Sementara itu, kawan-kawan orang yang mengancam itu telah memasuki halaman Kabuyutan. Mereka meloncati dinding halaman dan langsung turun di halaman samping.

Tetapi yang tidak mereka duga, bahwa mereka ternyata telah berada di belakang gandok tempat para cantrik tinggal selama mereka berada di Bumiagara.

Karena itu, maka para cantrik pun telah terbangun. Telinga mereka yang tajam, telah menangkap langkah orang yang tidak hanya satu dua di belakang gandok itu.

“Mereka telah datang,” berkata salah seorang di antara para cantrik.

Karena itu, dengan tangkasnya, para cantrik itu telah berbenah diri. Mereka segera menyangkutkan pedang mereka dilambung.

Sejenak mereka mendengarkan derap kaki di belakang gandok itu dengan saksama. Namun orang-orang itu telah menebar.

“Mereka cukup banyak,” desis salah seorang dari mereka.

Kelima cantrik itu pun segera membuka pintu bilik mereka dengan sangat berhati-hati. Ternyata belum ada di antara orang-orang yang datang itu di halaman depan. Karena itu, maka berlima mereka pun segera berlari keluar dan naik ke pendapa.

“Kenapa anak-anak muda yang berada di gardu tidak membunyikan isyarat?” desis para cantrik.

Beberapa orang pengawal yang ada di pringgitan memang terkejut melihat para cantrik itu. Seorang di antara para cantrik itu berkata, “bersiaplah. Mereka telah datang.”

“Regol halaman itu masih tertutup,” jawab pemimpin sekelompok anak muda yang ada dipringgitan.

“Mereka tidak masuk melalui regol. Tetapi mereka masuk melalui dinding halaman di belakang gandok,” jawab cantrik itu.

Anak-anak muda itu pun segera bangkit. Senjata mereka pun dengan cepat telah berada di tangan. Namun cantrik itu berkata, “Kita tidak mau terlambat. Bunyikan isyarat.”

Dua orang di antara anak-anak muda itu telah meloncat berlari untuk membunyikan kentongan yang tergantung di serambi gandok. Namun langkah mereka terhenti. Ternyata orang-orang yang memasuki halaman samping di belakang gandok itu telah mulai mengalir ke halaman.

“Bangunkan Ki Buyut,” desis salah seorang cantrik yang telah mempersiapkan diri.

Seorang di antara para cantrik itu telah memukul daun pintu pringgitan. Mula-mula memang hanya perlahan-lahan. Namun ketika orang-orang yang berada di halaman itu mulai bergerak, maka ketukan pintu itu menjadi semakin keras.

Ki Buyut pun terkejut. Dengan cepat ia tanggap. Karena itu, maka ia pun telah mempersiapkan diri.

Ketika ia berdiri dipintu. Ki Buyut memang ragu-ragu. Karena itu, maka ia pun bertanya, “Siapa di luar.”

“Kami, para pengawal Ki Buyut,” jawab salah seorang di antara anak-anak muda itu.

Ki Buyut pun telah membuka pintu. Namun pedangnya telah teracu.

“Ada apa?” bertanya Ki Buyut yang belum melihat beberapa orang yang bergerak di halaman.

“Mereka telah berada di halaman,” jawab pengawal itu.

“Kenapa kalian tidak membunyikan isyarat?” bertanya Ki Buyut.

“Kami terlambat. Kentongan itu telah mereka kuasai,” jawab pengawal itu.

“Ada kentongan kecil di longkangan,” desis Ki Buyut.

Pengawal itu ragu-ragu, sementara Ki Buyut telah keluar dan berdiri di antara para cantrik. Orang-orang yang berada di halaman itu mulai bergerak mendekati pendapa. Sementara yang lain telah berada di serambi gandok dan selebihnya mencoba mengepung rumah itu.

Namun akhirnya pengawal itu masuk ke rumah Ki Buyut dan pergi ke pintu butulan.

Seorang anak muda yang sehari-hari memang bekerja pada Ki Buyut bertanya, “Kau mau mencari apa?”

“Kentongan,” jawab pengawal itu.

Anak muda yang juga telah bersenjata itu pun membawa pengawal itu ke longkangan. Seorang laki-laki yang sudah separuh baya telah terbangun pula dan bertanya, “Ada apa?”

“Cepat, bangunkan para pembantu di rumah ini,” berkata anak muda itu.

Pengawal itu pun segera menemukan kentongan kecil yang tergantung di longkangan. Namun sebelum ia mengayunkan pemukul, ia berkata, “Amankan Nyi Buyut dan keluarga yang lain.”

“Mereka tidak ada di rumah. Sejak kemarin mereka telah diungsikan. Memang tidak ada yang tahu,” jawab anak muda itu.

Pengawal yang sudah memegang pemukul kentongan itu mengangguk kecil. Namun tangannya pun kemudian telah terayun memukul kentongan itu dengan nada titir.

Orang-orang yang ada di halaman memang terkejut mendengar suara kentongan itu. Namun suara itu seakan-akan merupakan perintah bagi mereka untuk segera menyergap.

Ternyata suara kentongan itu juga mengejutkan orang-orang Larah yang mengancam anak-anak muda yang ada di gardu di luar regol rumah Ki Buyut. Namun saat yang sekejap itu telah dimanfaatkan oleh anak-anak muda yang ada di gardu. Seorang di antara mereka dengan cepat meloncat ke samping sambil menarik pedangnya. Sedangkan yang lain pun telah bangkit berdiri dilantai gardu yang agak tinggi itu. Dengan cepat senjata mereka pun telah terayun, sementara seorang di antara mereka telah memukul lampu oncor yang dipasang, di emper gardu itu, sehingga oncor itu pun telah terjatuh hampir menimpa orang-prang yang sedang mengancam itu.

Karena itu, maka orang-orang yang mengancam anak-anak muda itu pun berloncatan surut, sehingga oncor itu tidak mengenai dan membakar kulit mereka.

Namun dengan demikian, maka anak-anak muda yang ada di gardu itu telah luput dari tangan mereka. Kegelapan yang tiba-tiba saja mencengkam setelah oncor itu padam, dipergunakan oleh anak-anak muda itu dengan sebaik-baiknya, sehingga sejenak kemudian, mereka telah berada di luar gardu itu. Dengan demikian maka mereka pun telah siap untuk bertempur melawan orang-orang yang mengancam itu.

Tetapi dalam pada itu, maka orang-orang yang menyerang rumah Ki Buyut pun telah mulai menyerang. Yang ada di pendapa adalah lima orang cantrik, Ki Buyut dan beberapa orang pengawal. Sementara itu, para pembantu Ki Buyut juga sudah bersenjata apa saja yang dapat mereka pegang. Parang, linggis atau kapak pembelah kayu.

Namun suara kentongan itu telah terdengar oleh anak-anak muda yang ada di gardu di mulut lorong. Apalagi ketika dalam kegelapan, seorang anak muda yang berada di gardu di depan regol Ki Buyut itu pun sempat memukul kentongan pula, sementara yang lain mulai memancing pertempuran.

Demikianlah, maka pertempuran pun segera berkobar. Di luar dan di dalam halaman rumah Ki Buyut. Namun agaknya lima orang cantrik Ki Buyut dan para pengawal masih terlalu sedikit untuk menghadapi orang-orang yang menyerang padukuhan induk itu.

Karena itu, maka para cantrik dan pengawal itu pun segera terdesak mundur ke pringgitan. Sementara itu, beberapa orang penyerang yang lain berusaha untuk memecahkan pintu seketheng untuk membungkam suara kentongan yang dipukul di longkangan. Meskipun kentongan itu kecil, tetapi suaranya justru melengking tinggi menggetarkan udara malam di padukuhan induk Kabuyutan Bumiagara.

Ternyata pada saat yang demikian, anak-anak muda yang menunggu isyarat di luar padukuhan telah berlari-lari ke regol padukuhan. Namun kemudian bersama dengan anak-anak muda yang berada di regol, mereka telah menuju ke rumah Ki Buyut.

Kedatangan mereka telah mengejutkan orang-orang Larah dan para gegedug yang telah ada di halaman rumah itu. Begitu banyak anak muda yang datang.

Namun orang-orang yang datang menyerang itu menganggap bahwa mereka tidak lebih dari anak-anak pedesaan yang hanya pandai menyambit rumput.

Namun setelah senjata mereka mulai beradu, maka anggapan mereka pun segera berubah. Apalagi mereka yang telah bersentuhan dengan para cantrik yang ada di pendapa. Meskipun semula mereka mampu mendesak para cantrik dan Ki Buyut ke pringgitan, namun mereka tidak dapat mengingkari, betapa kemampuan para cantrik itu telah mengguncangkan senjata-senjata mereka.

Namun ketika anak-anak muda Bumiagara mulai memasuki halaman Ki Buyut, maka keseimbangan pun segera berubah. Orang-orang Larah itu harus turun lagi dari pendapa untuk melawan anak-anak muda itu. Bahkan mereka yang sedang berusaha merusak pintu seketheng pun harus turun pula ke halaman.

Seorang di antara mereka yang menyerang rumah itu telah berusaha memanjat dinding di sebelah seketheng dan masuk ke longkangan. Dengan serta merta ia menyerang anak muda yang masih saja membunyikan kentongan dan bahkan telah disahut oleh kentongan di gardu-gardu dan rumah-rumah di padukuhan itu sehingga suaranya menjadi sangat riuh.

Namun orang itu ternyata bernasib sangat buruk. Anak muda yang memukul kentongan itu memang meletakkan pemukul kentongannya, namun langsung mencabut pedangnya. Ia pun segera menyambut orang itu sehingga keduanyapun segera bertempur di longkangan. Namun dua orang pembantu di rumah Ki Buyut itu telah ikut pula memasuki lingkaran pertempuran. Seorang di antaranya membawa kapak dan yang lain membawa sepotong besi yang tajam untuk mengupas kelapa.

Yang mula-mula melukai orang itu adalah anak muda yang bersenjata pedang dan yang telah ditempa oleh para cantrik dari Padepokan Bajra Seta. Namun kemudian, orang itu kehilangan keseimbangan ketika ujung pedang anak muda itu masih saja memburunya. Dalam keadaan yang demikian, orang itu tidak sempat mengelakkan pukulan yang mempergunakan sepotong besi pengupas kelapa itu, sehingga sepotong besi itu telah mengenai punggungnya.

Orang itu mengaduh kesakitan. Tubuhnya langsung jatuh terjerembab.

Pada saat itu orang yang membawa kapak pembelah kayu itu telah mengangkat kapaknya dan diayunkannya ke leher orang yang belum sempat bangkit itu.

Namun ternyata kapak itu bagaikan didorong menyamping sehingga tidak mengenai sasarannya. Kapak itu terhunjam dalam-dalam di tanah, hanya sejengkal dari leher orang yang jatuh terjerembab itu.

“Kau tidak perlu membunuhnya,” berkata anak muda itu kepada orang yang telah mengayunkan kapaknya itu.

“Tetapi ia telah menyerang rumah ini,” jawab orang yang memegang kapak itu.

“Ia tidak akan dapat bangkit lagi. Punggungnya tentu sudah patah,” berkata anak muda itu.

Anak muda itu masih ragu-ragu. Namun pengawal itu berkata, “Betapapun kuatnya tulang-tulangnya, tetapi dihantam dengan linggis sekuat itu, tentu tidak akan dapat tahan. Jika tulang punggungnya tidak patah, tentu sudah retak.”

Anak muda itu mengangguk-angguk. Namun ia pun segera mengangkat kapaknya dan melangkah ke seketheng.

“Kau akan ke mana?” bertanya pengawal itu.

“Aku akan turun ke halaman. Aku ingin turut bertempur,” jawab orang yang membawa kapak itu.

“Kemarilah. Kita keluar lewat ruang dalam. Jangan membunuh diri. Demikian kau keluar lewat seketheng, kepalamu akan dipenggal putus oleh orang-orang yang sudah berada di luar seketheng itu.”

Orang yang membawa kapak itu termangu-mangu. Namun kemudian ia pun telah mengurungkan niatnya.

“Sebaiknya kalian berjaga-jaga di sini. Jika ada orang memanjat dinding di sebelah menyebelah seketheng itu, hentikan dengan caramu.”

“Bagus,” berkata orang yang membawa kapak, “aku akan menyelesaikan mereka.”

“Tetapi kau jangan bersikap seperti itu. Kau akan terkejut mengalami kenyataan yang tidak kau duga sebelumnya. Karena itu lebih baik kau bersikap berhati-hati dan mempergunakan penalaranmu dengan baik. Simpanlah sedikit gejolak perasaanmu sehingga ada keseimbangan antara perasaan dan penalaran,” berkata pengawal itu.

Orang yang membawa kapak itu mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Aku mengerti.”

Demikianlah pengawal itu pun segera masuk ke ruang dalam. Sementara itu, di pendapa telah terjadi pertempuran.

Namun pertempuran yang sengit telah terjadi pula di halaman. Anak-anak muda yang datang dari padukuhan-padukuhan telah berada di halaman itu pula. Demikian pula anak-anak muda yang telah ditempa secara khusus oleh para cantrik serta para bebahu yang telah meningkatkan ilmunya.

Para gegedug yang ada di halaman, memang tertahan oleh para cantrik yang memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari anak-anak muda Bumiagara. Dengan senjata yang mereka buat secara khusus, maka para cantrik itu seakan-akan memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi dari kemampuan mereka yang sebenarnya.

Namun gegedug yang menyerang Kabuyutan Bumiagara yang diminta membantu orang-orang Larah itu adalah orang-orang yang telah memiliki pengalaman yang sangat luas. Karena itu, meskipun dengan susah payah, mereka mampu mengimbangi para cantrik yang terpilih dari Padepokan Bajra Seta itu.

Dengan demikian, maka pertempuran pun semakin lama menjadi semakin sengit. Anak-anak muda Bumiagara masih saja berdatangan. Bahkan mereka yang masih belum sempat meningkatkan kemampuan telah datang pula ke halaman.

Namun kawan-kawan mereka yang telah memiliki senjata khusus yang mereka terima dari Padepokan Bajra Seta itu berusaha untuk menahan mereka, agar mereka berjaga-jaga saja jika ada di antara lawan-lawan mereka yang akan melarikan diri.

Orang-orang Larah yang datang untuk menebus kegagalan mereka, serta melepaskan dendam atas kematian beberapa orang di antara mereka termasuk yang terluka parah dan menjadi cacat seumur hidupnya, serta rencana mereka untuk merampok seisi padukuhan induk Kabuyutan Bumiagara, telah mengerahkan kemampuan mereka. Sebagaimana kebiasaan mereka, maka mereka telah bertempur dengan garangnya. Bahkan semakin lama menjadi semakin keras dan kasar.

Para gegedug pun telah menghentakkan kemampuan mereka. Mereka memang tidak mengira bahwa di Bumiagara ada anak-anak muda yang memiliki kemampuan demikian tinggi. Mereka tidak tahu bahwa mereka adalah para cantrik dari Padepokan Bajra Seta. Bahkan juga mereka tidak tahu bahwa di antara anak-anak muda Bumiagara sendiri dengan senjata yang mereka terima dari Padepokan Bajra Seta telah mampu bertempur dengan garangnya.

Namun, ternyata bahwa orang-orang Larah segera menemui kesulitan. Anak-anak muda yang berdatangan telah mendesak maju, sementara orang-orang Larah dan para gegedug yang datang tidak mampu mendesak orang-orang yang berada di pendapa.

Dengan demikian orang-orang Larah dan para gegedug itu justru telah terjepit. Para cantrik, beberapa pengawal dan beberapa orang bebahu yang kemudian juga telah berdatangan di rumah Ki Buyut telah mendesak mereka dari pendapa.

Sementara anak-anak muda telah mengepung halaman itu dan menekan orang-orang Larah dari segala penjuru.

Orang-orang Larah dan para gegedug itu memang mulai menjadi gelisah. Namun kegelisahan orang-orang yang kasar dan bahkan buas itu telah terungkap dalam sikap mereka.

Orang-orang yang menyerang padukuhan induk Kabuyutan Bumiagara itu memang semakin lama menjadi semakin keras, kasar dan bahkan buas. Mereka sama sekali tidak lagi berpijak pada paugeran perang. Apapun yang dapat mereka lakukan telah mereka lakukan untuk menghalau serangan anak-anak muda yang masih mereka anggap belum waktunya untuk turun ke medan pertempuran.

Namun ternyata mereka memang mampu. Mereka justru telah mengejutkan orang-orang Larah dan para gegedug, karena mereka mampu mengimbangi dan bahkan ada di antara mereka yang mendesak lawan mereka.

Apalagi para cantrik yang mendesak lawan-lawannya turun dari pendapa.

Namun, dengan demikian maka para gegedug dan orang-orang yang merasa telah terbiasa hidup di antara garangnya tindak kekerasan itu, sama sekali tidak mau melihat kenyataan, bahwa anak-anak muda Bumiagara mampu melawan mereka. Mereka juga tidak tahu bahwa ada lima orang cantrik terpilih dari Perguruan Bajra Seta yang berada di Kabuyutan itu justru untuk meningkatkan kemampuan anak-anak muda di Kabuyutan itu. Kabuyutan yang pernah minta bantuan beberapa pihak untuk menyerang Padepokan Bajra Seta itu sendiri.

Lebih-lebih lagi para gegedug yang datang dengan dada tengadah serta menyatakan kesediaan mereka membantu orang-orang Larah, meskipun dengan pamrih, merampok isi Kabuyutan Bumiagara, khusus di padukuhan induk.

Para gegedug itu telah bertempur dengan garangnya bagaikan orang kehilangan nalar. Senjata mereka terayun-ayun mengerikan. Seorang di antara mereka membawa canggah yang ujungnya justru berkait dengan tangkai yang tidak begitu panjang. Kemampuannya mempermainkan senjatanya yang mengerikan itu, membuat beberapa anak muda terdesak minggir.

Namun seorang cantrik yang melihatnya, segera meloncat ke arahnya dengan membawa tombak pendek di tangannya. Ketika mulut canggah yang bercabang dua itu hampir menjepit leher seorang anak muda, maka dengan tangkasnya cantrik itu telah memukulnya sehingga ujung canggah itu terangkat. Meskipun mata canggah itu masih juga menyentuh dan menyambar ikat kepala anak muda itu, namun kepala anak muda itu masih dapat diselamatkan.

Tetapi anak muda itu justru hanya dapat memejamkan matanya. Ketika ikat kepalanya terbang, maka rasa-rasanya kepalanyalah yang terlepas dari lehernya.

Tetapi anak muda itu menyadari keadaannya, ketika seorang kawannya mendorongnya sambil berkata, “Awas. Kau dapat kehilangan kepalamu jika kau termenung saja seperti itu.”

Anak muda itu meraba kepalanya. Ternyata kepalanya masih ada di tempatnya. Hanya ikat kepalanya sajalah yang terlempar jatuh, sementara rambutnya yang memanjang terurai kusut.

Anak muda itu sempat mengikat rambutnya. Kemudian dengan menggeretakkan giginya menyerbu ke medan pertempuran yang menjadi semakin keras dan kasar. Namun anak muda yang kepalanya ternyata masih melekat di tubuhnya itu, justru telah kehilangan rasa takutnya. Senjatanya telah berputar dengan cepatnya. Sambil berteriak, maka ia telah menyerang salah seorang perampok dari Larah itu.

Sementara itu, gegedug yang kehilangan korbannya menjadi sangat marah. Ia merasa berhak untuk mendapatkan gantinya.

Anak muda yang membawa tombak itu harus dapat dibunuhnya dengan senjatanya yang mengerikan itu. Ia harus dapat menjepit lehernya kemudian memutarnya, sehingga kepala itu akan terlepas dari lehernya.

Tetapi ternyata anak muda yang membawa tombak itu demikian tangkasnya. Setiap kali senjatanya justru berbasil ditepis menepi, sehingga sama sekali tidak mampu menyentuh sasaran. Bahkan semakin lama rasa-rasanya ujung tombak anak muda itu justru semakin dekat dengan kulitnya.

Dengan menggeram marah, orang itu telah menghentakkan kemampuannya. Namun ternyata lawanya juga masih mampu mengimbanginya. Bahkan dengan menghentakkan kemampuannya, orang itu telah kehilangan banyak tenaga tanpa menghasilkan apa-apa.

Di sebelah lain, dua orang anak muda dari Kabuyutan Bumiagara tengah bertempur dengan seorang gegedug yang bertubuh tinggi berdada bidang dan berkumis lebat. Di kening gegedug itu membekas sebuah luka memanjang. Sementara di dadanya, nampak pula bekas luka bakar yang kehitam-hitaman.


Dengan kasar orang itu mengumpat-umpat sejadi-jadinya ketika kedua orang anak muda yang melawannya itu masih saja mampu bertahan.

Namun akhirnya kedua orang anak muda itu pun telah mengalami kesulitan pula. Gegedug itu benar-benar seorang yang pilih tanding. Meskipun kedua orang anak muda yang melawanya itu telah mempergunakan senjata yang diterimanya dari Padepokan Bajra Seta, namun ternyata bahwa kemampuan orang itu terlalu tinggi bagi anak-anak muda Kabuyatan Bumiagara.

Ketika kedua orang anak muda itu terdesak, maka seorang telah tampil pula menghampirinya. Bahkan dengan lantang anak muda itu berkata, “Lepaskan orang ini. Di sebelah pendapa masih memerlukan bantuanmu.”

Kedua orang anak muda itu meloncat mengambil jarak serta mencari kesempatan untuk berpaling. Ternyata yang datang itu adalah salah seorang di antara kelima cantrik Padepokan Bajra Seta yang berada di Bumiagara.

Karena itu, maka kedua orang anak muda itu pun segera meninggalkan lawannya yang berteriak marah, “Jangan lari tikus-tikus kecil yang sombong.”

“Mereka tidak lari,” jawab cantrik itu, “sudah menjadi kebiasaan kami untuk berganti lawan. Aku sudah jemu melawan seseorang yang tidak mampu mengimbangi kemampuanku. Dibiarkannya senjataku melukainya di beberapa tempat. Sehingga dengan demikian aku akan mencoba mencari lawan yang lebih mengasikkan.”

“Ternyata kau lebih sombong lagi dari kedua cucurut itu,” geram gegedug itu.

Cantrik itu tertawa. Katanya, “Bumiagara memang tempatnya. Sejak kecil kami telah mendapat latihan untuk menyombongkan diri, sehingga karena itu, maka kami memiliki kemampuan yang tinggi.”

“Apa gunanya kemampuan yang tinggi sekedar untuk menyombongkan diri?” geram orang itu.

“Sedikitnya kami dapat membuat kau marah,” jawab cantrik itu.

Orang itu tidak dapat menahan diri lagi. Gegedug yang bertubuh tinggi dan besar, serta berkumis lebat itu telah meloncat menyerang. Senjatanya memang mendebarkan. Sebuah golok yang besar dan berat.

Cantrik itu ternyata cukup tangkas. Dengan cepat pula ia melenting menghindari serangan itu. Bahkan pedangnya yang juga terhitung besar dan panjang dengan cepat bergerak pula.

Sejenak kemudian, keduanya telah bertempur dengan sengitnya. Namun gegedug itu segera mengerahkan kemampuannya untuk mendesak lawannya. Tetapi ternyata cantrik itu tidak membiarkan dirinya didesak terus-menerus oleh gegedug yang bertubuh raksasa itu. Dengan tangkasnya cantrik itu berloncatan sehingga lawannya justru kadang-kadang menjadi bingung.

Gegedug yang lain pun tidak mampu berbuat banyak. Seorang di antara mereka telah dikurung oleh ampat orang anak-anak muda, sehingga tidak lagi mampu memamerkan kelebihannya di antara kawan-kawannya yang lain. Bahkan empat orang anak muda itu telah membuatnya terlalu sibuk.

Dengan demikian, maka orang-orang Larah dan para gegedug dan kawan-kawannya semakin lama merasa semakin sulit. Kekasaran mereka telah membuat anak-anak muda Bumiagara menjadi semakin marah, sehingga mereka tidak lagi dapat mengekang diri. Beberapa orang Larah telah terluka dan bahkan di antara para gegedug pun telah ada yang tergores ujung senjata. Gegedug yang bersenjata canggah, ternyata sulit untuk mengimbangi kemampuan lawannya. Anak muda yang sebenarnya adalah seorang cantrik dari Padepokan Bajra Seta yang bersenjata tombak pendek.

Ternyata canggah yang mengerikan itu, tidak dapat bergerak secepat tombak pendek. Setiap kali serangan-serangan gegedug itu tidak mampu mengenai sasaran. Lawannya dapat berloncatan dengan tangkasnya, sementara tombak pendeknya berputaran, bergetar, terayun dail sekali-sekali mematuk dengan garangnya. Benturan-benturan yang terjadi memberikan isyarat kepada gegedug itu, bahwa anak muda yang menjadi lawannya itu ternyata memiliki kekuatan yang sangat sangat besar serta ilmu yang mapan.

Namun akhirnya, orang-orang Larah itu tidak lagi melihat kemungkinan untuk dapat mengalahkan orang-orang Bumiagara.

Ki Buyut Bumiagara dan para bebahu serta anak-anak muda yang telah mendapat latihan khusus merupakan lawan yang sangat berat, di samping jumlah mereka yang memang lebih banyak. Betapapun kuatnya dan besarnya kemampuan seorang gegedug, namun menghadapi ampat orang anak muda yang terlatih dengan senjata yang khusus, mereka mengalami kesulitan. Sementara itu para cantrik ternyata mampu menghadapi beberapa orang Larah sekaligus.

Namun orang-orang Larah itu pun tidak lagi melihat kemungkinan untuk melarikan diri. Mereka melihat cahaya api dibalik dinding halaman rumah Ki Buyut Bumiagara. Dengan demikian mereka menyadari, bahwa di belakang dinding itu terdapat beberapa buah obor yang dipasang. Bahkan di belakang dinding halaman samping. Namun ternyata bukan hanya dinding depan dan samping, bahkan di balik dinding kebun di belakang pun telah dinyalakan obor pula.

Obor-obor itu merupakan isyarat, bahwa halaman rumah Ki Buyut itu telah dikepung rapat. Tidak ada lagi lubang yang dapat dipergunakan untuk meloloskan diri dari tangan Ki Buyut Bumiagara dan rakyatnya yang marah.

Namun dalam pada itu, Ki Buyut Bumiagara setelah melihat keseluruhan medan pun telah berteriak nyaring, “Masih ada kesempatan bagi kalian yang telah datang menyerbu Kabuyutan ini dengan membawa dendam di hati untuk menyerah.”

Tetapi teriakan itu sama sekali tidak mendapat tanggapan. Para gegedug justru telah mengamuk dengan garangnya. Namun mereka memang tidak dapat berbuat banyak. Gegedug yang membawa canggah itu telah terluka di dadanya. Darah telah mulai mengalir dari lukanya itu. Sementara gegedug yang melawan ampat orang anak muda yang sudah ditempa oleh para cantrik dari Padepokan Bajra Seta itu pun telah tergores pula di lengan dan punggungnya.

Berbeda dengan para gegedug, maka orang-orang Larah sama sekali telah kehilangan keberanian. Apalagi mereka yang di tubuhnya telah menganga luka yang parah. Bahkan ada di antara mereka, sengaja atau tidak sengaja, telah terbaring dan tidak akan bangkit lagi untuk selama-lamanya.

Karena itu, maka orang-orang Bumiagara yang semakin lama semakin menguasai medan, mampu memilih lawan. Para cantrik dan bebahu Bumiagara telah mampu membedakan, bahwa di antara orang-orang yang menyerang itu terdapat orang-orang berilmu yang pantas mendapat perhatian khusus. Yaitu para gegedug yang terbiasa merampok, merampas dan membunuh.

Karena itu, maka mereka pun telah menempatkan diri untuk melawan orang-orang yang garang itu. Sedangkan orang-orang Larah yang memang termasuk juga kawanan perampok dan pencuri, tetapi mereka bukan orang-orang yang ditakuti karena namanya yang bergetar di bulak-bulak panjang dan tempat-tempat yang sepi. Bahkan memasuki padukuhan-padukuhan yang dihuni oleh orang-orang yang kaya.

Tetapi, para bebahu dan para cantrik sama sekali tidak gentar melihat bagaimana mereka bermain senjata. Bahkan gegedug yang bersenjata canggah itu telah benar-benar terdesak. Canggah yang dibangga-banggakan itu seakan-akan tidak berarti apa-apa di hadapan cantrik yang bersenjata tombak itu. Karena setiap kali tombak pendek itu, mampu mendahului putaran canggah gegedug itu.

Sedangkan yang lain pun hampir tidak mendapat kesempatan lagi. Ruang gerak mereka menjadi semakin sempit. Meskipun mereka tidak mau melihat kenyataan yang sama sekali tidak diduga sebelumnya, namun tubuh mereka memang telah tersentuh oleh senjata.

Akibatnya, para bebahu dan para cantrik memang menjadi marah pula. Apalagi dalam keadaan yang terdesak itu, mereka sama sekali tidak berniat untuk menyerah. Bahkan masih juga di antara mereka yang diberi kesempatan untuk meletakkan senjata, justru telah memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang.

Seorang bebahu, yang kebetulan adalah Ki Jagabaya terkejut ketika ujung senjata lawannya justru mengenai lengannya pada saat ia berkata, “Letakkan senjata. Menyerahlah, agar kau mendapat pengampunan.”

Namun kata-katanya patah karena serangan orang yang diberikan kesempatan menyerah itu.

Karena itu, maka Ki Jagabaya menjadi sangat marah. Ia tidak mau lagi lengah dan apalagi menawarkan pengampunan. Dengan garangnya, maka ia telah bertempur dengan segenap kemampuannya. Kemampuan yang memang telah dimiliki ditambah dengan latihan-latihan yang keras dibawah tuntutan para cantrik di Padepokan Bajra Seta.

Apalagi seorang anak muda yang melihat Ki Jagabaya terluka telah terpancing untuk ikut bertempur bersamanya.

Maka lawan Ki Jagabaya itu tidak mempunyai kesempatan lagi. Gegedung yang telah menjelajahi bulak-bulak panjang itu ternyata tidak mampu melawan kegarangan Ki Jagabaya, orang yang mendapat kepercayaan dari seisi Kabuyutan Bumiagara untuk menjaga ketenteraman dan ketenangan Kabuyutan. Apalagi Ki Jagabaya telah dibantu oleh seorang anak muda yang telah membatasi ruang gerak gegedug itu.

Dengan kemarahan yang membakar seisi dadanya, apalagi ketika keringatnya membasahi lukanya sehingga lukanya terasa sangat pedih, Ki Jagabaya telah menyerang lawannya tanpa memberinya kesempatan untuk membalas. Dalam keadaan yang sulit itu, anak muda yang bertempur bersama-sama dengan Ki Jagabaya telah menjulurkan senjatanya, sebatang tombak pendek ke arah dada gegedug itu. Namun ternyata tombak pendek ke arah dada gegedug itu. Namun ternyata gegedug itu sempat melihat serangan itu, sehingga dengan tangkasnya ia sempat menghindar. Sambil bergeser ke samping gegedug itu telah merendahkan dirinya. Dengan ayunan mendatar ia telah menyerang anak muda itu ketika tombaknya terjulur tanpa mengenai sasaran. Anak muda itu mengaduh tertahan. Ujung senjata gegedug itu telah menggores lambungnya, sehingga kulitnya telah terkoyak memanjang.

Ki Jagabaya melihat sambaran pedang yang mengenai lambung anak muda itu. Kemarahannya pun tidak tertahankan lagi. Dengan serta merah ia telah meloncat sambil menjulurkan senjata lurus-lurus ke dada lawannya.

Gegedug yang sedang bergerak untuk berdiri tegak itu tidak sempat menghindar. Ia memang berusaha untuk meloncat. Tetapi Ki Jagabaya pun telah meloncat pula memburunya, sehingga ujung senjatanya telah menghunjam ke dada gegedug itu. Gegedug itu memang berusaha mengangkat tangannya untuk menangkis serangan itu. Tetapi sama sekali tidak berarti apa-apa. Ujung senjata Ki Jagabaya sudah terlanjur terhunjam dalam-dalam.

Orang itu terdorong beberapa langkah mundur. Namun ketika Ki Jagabaya menarik senjatanya, maka orang itu pun telah terhuyung-huyung jatuh terjerembab.

Sementara itu, pemimpin orang-orang Larah itu pun menyadari keadaannya. Tetapi memang tidak ada pilihan lain baginya. Apalagi setelah ia melihat beberapa orang memang telah menjadi korban dan terbunuh di pertempuran. Termasuk beberapa orang di antara para gegedug dan kawan-kawannya.

Karena itu, maka ia pun telah dicengkam oleh kenyataan tentang kekalahan yang diderita oleh orang-orang Larah dan para gegedug itu. Betapa ia mencoba mengingkarinya, namun yang terjadi itu telah terjadi. Sementara ia yakin di luar dinding halaman rumah Ki Buyut orang-orang Bumiagara telah menunggu mereka yang mencoba melarikan diri. Mungkin yang berdiri di luar dinding itu tidak lebih dari orang-orang tua yang sudah tidak mampu bertempur atau justru anak-anak remaja yang baru sekali itu meraba senjata. Namun mereka justru akan dapat membunuh di antara mereka yang melarikan diri dengan semena-mena.

Betapapun sakit hatinya menghadapi kenyataan itu, tetapi ia masih sempat berpikir tentang orang-orang Larah yang sudah tidak berdaya itu.

Karena itu, maka ia pun telah disentuh oleh sisa-sisa naluri kemanusiaannya. Betapapun juga ia dapat berbuat paling kejam di pertempuran bahkan disaat-saat ia melakukan pekerjaannya sebagai perampok dan penyamun, namun baginya masih lebih baik mengusahakan agar kawan-kawannya tetap hidup daripada ditumpas di pertempuran itu.

Dengan demikian, betapa pedih dadanya ketika ia terpaksa meneriakkan aba-aba agar orang-orang Larah itu menyerah.

Namun teriakan yang lain pun segera terdengar, “Pengecut. Kenapa kau ajari orang-orangmu menjadi licik dan penakut.”

Orang itu tidak menjawab. Namun orang-orangnya pun segera menyerahkan diri. Mereka telah melemparkan senjata-senjata mereka dan sama sekali tidak melawan, ketika mereka digiring dikumpulkan di depan gandok sebelah kiri.

Tetapi sementara itu, dua orang gegedug dan tiga orang pengikutnya masih bertempur. Sementara seorang gegedug terluka parah dan ternyata dua orang yang lain tidak lagi dapat tertolong jiwanya.

Sambil bertempur dua orang gegedug dan tiga orang pengikutnya mengumpat-umpat tanpa menghiraukan lagi kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Bagi mereka menyerah adalah lebih buruk dari mati di pertempuran. Karena itu, maka kedua orang gegedug dan tiga orang pengikutnya itu sama sekali tidak ingin menyerahkan diri.

Bahkan sekali lagi salah seorang dari kedua gegedug itu berteriak, “He orang-orang Larah. Inikah harapan yang kau janjikan bagi kami? Pengkhianatan?”

Pemimpin orang-orang Larah itu masih tetap tidak menjawab. Ia memang merasa bersalah kepada para gegedug itu. Tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain, karena ia tidak mau melihat orang-orang Larah itu ditumpas habis.

Namun yang menjawab adalah Ki Buyut Bumiagara, “Ternyata nalar mereka masih sempat bergerak. Namun ada juga di antara mereka, yang barangkali justru bukan orang-orang Larah, yang tidak mampu lagi mempergunakan otaknya sehingga mereka memilih membunuh diri.”

“Kami bukan pengecut seperti pengkhianat-pengkhianatan itu,” teriak gegedug itu.

“Mereka bukan pengkhianat,” jawab Ki Buyut, “mereka adalah laki-laki jantan yang berani mengakui kenyataan? Nah, bukankah kalian menjadi ketakutan melihat kenyataan itu.”

“Persetan kau tikus-tikus Bumiagara. Jika kalian inginkan kematian kami, maka kalian harus mengorbankan sepuluh orang bagi setiap jiwa kami,” teriak gegedug itu.

Tetapi Ki Buyut Bumiagara tertawa. Katanya, “Pada saat-saat terakhir, kau masih juga berkhayal? Adakah pantas bagi seorang yang pilih tanding seperti kalian itu masih juga berkhayal tentang sebuah pertempuran? Tidak Ki Sanak. Mau tidak mau kau harus melihat kenyataan, bahwa kalian tidak akan dapat banyak berbuat lagi. Karena itu, sebaiknya, menyerahlah.”

Namun kedua orang gegedug yang masih bertahan itu berteriak keras-keras, sehingga suara mereka bagaikar menggapai langit. Orang-orang yang ada di halaman itu terkejut.

Namun jantung mereka pun segera berdegupan. Teriakan mereka bagaikan teriakan hantu dari dasar neraka yang paling dalam.

Meskipun demikian, Ki Buyut Bumiagara, para bebahu dan para cantrik dari Padepokan Bajra Seta yang ada di halaman itu sama sekali tidak menjadi gentar. Dua orang gegedug dan tiga orang pengikutnya yang kemudian telah bertempur dalam satu kelompok kecil itu, telah terkepung. Ujung-ujung senjata mereka teracu mengarah kepada kelima orang itu.

Kedua orang gegedug itu memang termangu-mangu sejenak. Mereka melihat ujung pedang, ujung tombak, trisula bertangkai sepanjang tangkai tombak pendek. Bahkan ada yang bersenjata kapak dan cambuk.

Namun agaknya mereka telah benar-benar kehilangan akal, sehingga sekali lagi salah seorang gegedug itu berteriak yang ternyata mereka anggap sebagai aba-aba. Dengan serta mereka kelima orang itu telah bergerak serentak. Senjata-senjata mereka mulai terayun, berputar, mematuk dan berusaha menggapai tubuh orang-orang yang telah mengepung mereka.

Tetapi usaha mereka sia-sia. Yang mengepung mereka adalah para cantrik dan para bebahu yang telah meningkatkan kemampuan mereka bahkan dengan senjata khusus di tangan mereka.

Tetapi kedua orang gegedug dan pengikutnya itu telah membuktikan sikapnya. Mereka memang memilih mati daripada menyerah.

Sebenarnyalah, orang-orang Bumiagara itu seakan-akan juga tidak dapat memilih. Karena sikap dan pilihan orang-orang yang terkepung itu sendiri, maka ujung-ujung senjata telah mengoyakkan kulit daging mereka, sehingga akhirnya kelima orang itu pun menyusul kawan-kawan mereka yang telah terbunuh di pertempuran.

Memang mengerikan. Kematian yang demikian banyaknya.

Sementara orang-orang Larah duduk dengan gemetar menyaksikan akhir dari serangan mereka ke Bumiagara.

Ki Buyut Bumiagara berdiri mematung memandangi tubuh yang terbujur lintang di halaman rumahnya.

Bagaimanapun juga ia merasa ngeri mengenang apa yang telah terjadi. Sedangkan kemudian ia masih harus melihat tubuh kawan dan lawan yang terbaring membeku.

Tetapi Ki Buyut dari Bumiagara itu tidak dapat memutar waktu kembali. Ia hanya dapat menyesali, apa yang telah dilakukannya sejak semula ia memilih mempergunakan kekerasan untuk memenuhi keinginannya.

“Seandainya aku tidak mulai dengan berusaha mengambil seorang cantrik dari Padepokan Bajra Seta dengan kekerasan. Seandainya aku tidak berhubungan dengan prajurit Kediri yang menentang pemerintahannya yang sekarang. Seandainya aku tidak melakukan itu semua.” keluh Ki Buyut di dalam hatinya.

Tetapi ia tidak dapat memutar waktu kembali. Dengan jantung yang berdebar debar ia mengenang bahaya yang sebenarnya akan datang ke Kabuyutan itu. Prajurit-prajurit Kediri yang pernah mengancamnya.

Sekali lagi Ki Buyut memperhatikan tubuh yang terbaring membeku di halaman rumahnya. Jika prajurit Kediri yang tidak patuh kepada rajanya itu datang, maka kematian-kematian itu tentu akan terulang lagi. Bahkan tentu lebih mengerikan lagi. Mungkin seisi Kabuyulan Bumiagara akan ditumpasnya karena Bumiagara tentu tidak akan dengan patuh menundukkan kepalanya untuk diinjak oleh prajurit-prajurit Kediri yang tidak patuh itu.

Ki Buyut seakan-akan tersadar dari mimpi ketika ia melihat kelima orang cantrik dari padepokan Bajra Seta itu mendekatinya. Bahkan Ki Jagabaya yang terluka serta para bebahu Kabuyutan itu. Sementara itu beberapa orang pengawal Kabuyutan masih sibuk dengan orang-orang padukuhan Larah yang menyerah.

Dengan nada datar Ki Buyut itu pun berkata, “Kumpulkan semua korban pertempuran ini.”

“Bagaimana dengan orang-orang yang menyerah?” bertanya seorang pengawal.

Ki Buyut termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Kumpulkan pula mereka. Kita akan memikirkan kemudian.”

Ternyata Ki Buyut benar-benar menjadi letih. Bukan wadagnya, ia masih akan sanggup bertempur beberapa lama lagi. Tetapi nalarnyalah yang seakan-akan telah menjadi buntu. Karena itu, maka katanya kemudian, “Aku akan berada di pendapa. Aku akan minum.”

Para bebahu yang telah mengenal sifat Ki Buyut pun mengetahui bahwa Ki Buyut sedang dibebani oleh pikiran yang rumit, sehingga mereka tidak mengganggunya lagi. Bahkan seorang pengawal telah pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman bagi Ki Buyut Bumiagara itu.

Namun dalam pada itu, para pengawal Bumiagara telah menjadi sibuk mengumpulkan kawan-kawan mereka yang terluka di pertempuran. Bahkan mereka yang telah gugur. Tubuh-tubuh yang mulai membeku itu telah dibawa naik ke pendapa dan dibaringkannya di pringgitan.

Ki Buyut melihat tubuh-tubuh itu dengan hati yang terasa sangat pahit. Tetapi ia pun menyadari bahwa korban-korban itu memang harus diserahkan untuk kepentingan kampung halaman mereka. Tanah kelahiran. Namun Ki Buyut pun sadar, bahwa akan jatuh derai air mata para ibu dan gadis-gadis yang kehilangan kekasihnya di medan pertempuran.

Dalam pada itu, dibawah pengawasan para pengawal, maka orang-orang Larah yang menjadi tawanan, harus mengumpulkan kawan-kawan mereka yang juga terbunuh di peperangan itu. Tetapi bukan sebagai pahlawan yang mempertahankan martabat Tanah Kelahiran. Mereka adalah perampok-perampok yang terbunuh karena mereka telah gagal untuk melakukan pekerjaan mereka.

Setelah tugas mereka selesai, barulah Ki Jagabaya dan beberapa orang bebahu naik juga ke pendapa dan duduk di hadapan Ki Buyut yang telah minum minuman panas beberapa teguk.

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berdesis, “Lalu kita apakan orang-orang Larah yang tertawan itu?”


“Apa yang baik menurut pendapat Ki Buyut,” berkata Ki Jagabaya.

Ki Buyut mengangguk-angguk kecil. Di luar sadarnya tangannya telah meraih mangkuk minumannya dan mengangkatnya ke bibirnya.

Setelah meneguk minumannya ia berkata, “Kita akan berhubungan dengan Ki Bekel di Larah.”

“Apakah tidak akan terjadi salah paham, sehingga persoalannya justru akan berkembang menjadi semakin buruk?” sahut Ki Jagabaya.

“Tidak. Ki Bekel di Larah tentu sudah mengetahui sifat dan kebiasaan orang-orangnya. Ia tentu akan mengerti apa yang telah terjadi di sini, dan ia pun tentu akan mengakui cacad dan cela padukuhannya,” jawab Ki Buyut Bumiagara.

Ki Jagabaya dan para bebahu Bumiagara yang lain mengangguk-angguk. Mereka memang sependapat, bahwa Ki Bekel di Larah seharusnya mengetahui, apa yang telah terjadi di padukuhan induk Kabuyutan Bumiagara, sehingga ia tidak akan justru membuat persoalannya semakin berkembang.

“Kuminta Ki Jagabaya sendiri dan beberapa orang bebahu datang ke Larah dan mengundang Ki Bekel di Larah untuk menyaksikan apa yang telah terjadi di sini.”

Ki Jagabaya mengangguk sambil menjawab, meskipun agak ragu.

“Baiklah Ki Buyut. Aku akan pergi bersama dua orang bebahu dan dua orang cantrik dari padepokan Bajra Seta.”

Ki Buyut termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah Ki Jagabaya, kau dapat membawa dua orang bebahu dan bila bersedia dua orang cantrik dari padepokan Bajra Seta. Tetapi mereka mewakili anak-anak muda Bumiagara.”

“Aku akan menemui mereka,” desis Ki Jagabaya. Namun kemudian ia pun bertanya, “Kapan sebaiknya kami berangkat?”

“Tentu sekarang,” jawab Ki Buyut, “segala sesuatunya harus segera menjadi jelas. Jika tertunda, maka keadaannya tentu akan lain. Mungkin Ki Bekel di Larah akan mempunyai tanggapan yang berbeda.”

Ki Jagabaya pun mengangguk-angguk. Jawabnya, “Baiklah. Aku akan segera berangkat setelah semua persiapan seleseai kami lakukan.”

Ki Jagabaya kemudian bersama dua orang bebahu yang ditunjukkan telah menemui para cantrik dari padepokan Bajra Seta, untuk menyampaikan keinginannya mengajak dua orang dari antara para cantrik itu pergi ke padukuhan Larah untuk mengundang Ki Bekel di Larah datang dan menyaksikan apa yang telah terjadi di Kabuyutan Bumiagara.

Ternyata para cantrik itu tidak berkeberatan. Mereka telah menunjuk dua orang di antara mereka untuk pergi bersama Ki Jagabaya ke Larah. Mereka menyadari, bahwa persoalannya memang harus dapat diselesaikan dengan tuntas.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, lima ekor kuda telah berderap meninggalkan padukuhan induk Kabuyutan Larah.

Mereka berpacu di dinginnya dini hari menuju ke Larah yang letaknya memang agak jauh dari Bumiagara.

Ki Jagabaya memang menjadi berdebar-debar. Kemungkinan salah paham dapat terjadi. Tetapi bagaimanapun juga persoalannya memang harus diselesaikan dengan tuntas. Jika hal itu tidak dilakukan, maka persoalan itu akan tetap menjadi semacam bara api di dalam sekam.

Ketika matahari mulai naik, maka Ki Jabagaya dengan ampat orang pengiringnya telah memasuki padukuhan Larah yang letaknya tidak terlalu jauh dari tikungan yang menanjak di lereng sebuah bukit kecil yang dibelah oleh jalan yang menuju ke Bumiagara. Di tempat itu orang-orang Larah pernah gagal merampok orang-orang Bumiagara yang lewat membawa pedati.

Kedatangan kelima orang Bumiagara di rumah Ki Bekel itu telah membuat Ki Bekel menjadi berdebar-debar. Namun sebenarnyalah bahwa Ki Bekel sudah menduga, tentu terjadi sesuatu di Bumiagara yang menyangkut orang-orangnya, karena Ki Bekel tahu pasti, apa saja yang telah dilakukan oleh sebagian dari orang-orangnya.

Namun Ki Bekel telah menerima kedatangan Ki Jagabaya dan pengiringnya yang nampak lebih itu dengan ramah, seakan-akan Ki Bekel tidak tahu apapun juga tentang kemungkinan yang dilakukan oleh orang-orangnya.

Ternyata Ki Bekel memang menunggu, sampai saatnya Ki Jagabaya berkata, “Ki Bekel. Kedatanganku bukan sekedar memperkenalkan diri. Tetapi aku memang membawa persoalan yang barangkali penting Ki Bekel ketahui.”

“Persoalan apa Ki Jagabaya?” bertanya Ki Bekel.

“Aku yakin bahwa Ki Bekel telah mengenali dengan baik sifat dan tabiat orang-orang Padukuhan yang Ki Bekel pimpin. Karena ternyata mereka mempunyai kebiasaan yang khusus,” berkata Ki Jagabaya.

Sambil mengerutkan keningnya Ki Bekel bertanya, “Kebiasaan khusus yang manakah yang Ki Jagabaya maksudkan?”

Ki Jagabaya termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak sempat untuk melingkar-lingkar berbicara. Karena itu, maka ia pun kemudian telah mengatakan apa yang terjadi di Bumiagara serta peristiwa yang mendahuluinya. Percobaan perampokan atas barang-barang yang dibawa oleh orang-orang Bumiagara dari Padepokan Bajra Seta.

Ki Bekel nampak terkejut dan bertanya, “Benarkah yang kau katakan itu?”

“Sudahlah Ki Bekel. Sebaiknya kita tidak usah berpura-pura. Jika aku datang kemari, aku bermaksud baik. Aku atas nama Ki Buyut menyatakan, bahwa Kabuyutan Bumiagara ingin agar persoalan ini cepat selesai dan tidak berkepanjangan.”

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Keningnya berkerut semakin dalam.

Dengan nada rendah Ki Bekel itu pun kemudian berkata, “Baiklah Ki Jagabaya. Seharusnya aku memang tidak usah berpura-pura.”

“Nah. Jika demikian aku datang atas nama Ki Buyut Bumiagara untuk mengundang Ki Bekel agar bersedia datang ke Bumiagara. Ki Bekel akan melihat sendiri apa yang telah terjadi. Ki Bekel akan bertemu dan berbicara dengan orang-orang Bumiagara dan lebih daripada itu, maka Ki Bekel akan berbicara terutama dengan orang-orang Larah sendiri.”

“Kenapa aku harus datang ke Bumiagara?” bertanya Ki Bekel.

…. Sepertinya ada bagian cerita yang hilang di sini ….

Ki Bekel Larah menarik nafas dalam-dalam, sementara Ki Buyut berkata lebih lanjut, “Agaknya bukan hanya itu. Tetapi beberapa orang Larah memang telah menjadi korban.”

“Apaboleh buat,” berkata Ki Bekel. Lalu hampir kepada diri sendiri, ia berkata, “Aku sudah kehilangan wibawaku di padukuhanku sendiri. Mereka tidak lagi dapat aku kendalikan.”

“Tentu ada sebabnya, kenapa hal seperti itu telah terjadi,” berkata Ki Buyut Bumiagara.

Ki Bekel termangu-mangu. Namun kemudian ia pun bertanya, “Apakah Ki Buyut dapat mengatakan, apakah sebabnya?”

“Aku tidak melihat sendiri apa yang telah kau lakukan. Tetapi aku sudah berbicara dengan lebih dari lima orangmu yang tertawan. Aku berbicara dengan mereka dalam waktu yang terpisah. Namun jawaban mereka serupa tentang Ki Bekel. Tetapi Ki Bekel tidak usah marah kepada mereka. Aku pun tidak akan mengatakan, yang manakah lima orang di antara mereka yang telah berbicara tentang Ki Bekel itu. Bahkan kawan-kawan mereka yang lain pun tidak tahu siapakah di antara kawan-kawan mereka yang telah berbicara dengan aku,” jawab Ki Buyut.

Ki Bekel memandang Ki Buyut sekejap. Namun kemudian ia pun telah menundukkan wajahnya sambil berkata, “Aku tidak akan mendendam kepada mereka. Aku pun tahu apa yang telah mereka katakan kepada Ki Buyut. Bukankah mereka mengatakan bahwa pada satu saat aku pun seorang perampok seperti mereka. Bahwa aku seorang yang ditakuti sehingga tidak seorang pun berani menentang aku di Kabuyutan Sembaga sehingga aku berhasil merebut kedudukan tertinggi di padukuhan Larah? Namun keadaan sekarang memang sudah berbeda. Buyut Sembaga telah diganti oleh anaknya yang tidak silau melihat kemampuanku, sehingga akulah yang terpaksa mengalah dan mengikuti petunjuknya, merubah sikap dan kebiasaanku itu.”

“Kau sendiri telah melengkapi ceritera orang-orang Larah yang tertawan itu Ki Bekel,” desis Ki Buyut.

“Apa salahnya?” berkata Ki Bekel, “tanpa aku lengkapi, maka Ki Buyut tentu sudah mengetahui sebagian besar dari jalan hidupku itu. Bahkan mungkin justru karena keterangannya kurang lengkap, Ki Buyut akan mempunyai pandangan yang jauh lebih buruk dari yang sebenarnya.”

Ki Buyut mengangguk-angguk. Namun kemudian ia bertanya, “Kenapa Ki Bekel yang ditakuti di Sembaga, kemudian setidak-tidaknya di Larah setelah Ki Buyut di Sembaga berganti orang yang justru tidak sependapat dengan Ki Bekel. Bukankah dengan dukungan Ki Buyut, Ki Bekel dapat berbuat banyak untuk menegakkan wibawa Ki Bekel?” bertanya Ki Buyut.

Ki Bekel mengangkat wajahnya. Sekali lagi dipandangnya wajah Ki Buyut justru dengan pandangan mata yang tajam. Namun kemudian jawabnya lirih, “Ki Buyut tentu sudah mengetahui jawabnya.”

“Tetapi aku ingin mendengar dari Ki Bekel sendiri,” jawab Ki Buyut.

“Inikah cara Ki Buyut menghukum aku?” bertanya Ki Bekel.

“Tidak. Tetapi aku ingin mendapatkan kebenaran jawaban yang pernah aku dengar dari orang-orang yang telah tertawan itu,” sahut Ki Buyut.

“Baiklah, jika jawabanku akan dapat memberikan kepuasan kepada Ki Buyut.”

Ki Bekel itu pun telah menunduk pula. Katanya, “dalam beberapa hal aku memang telah menyetujui langkah-langkah mereka. Namun tidak dalam segala hal. Mereka sama sekali tidak menghubungi aku ketika mereka berangkat ke Bumiagara.”

“Tetapi Ki Bekel mengetahuinya?” desak Ki Buyut.

Ki Bekel tidak menjawab. Tetapi kepalanya justru menjadi semakin menunduk.

“Baiklah Ki Bekel,” berkata Ki Buyut kemudian, “jika demikian halnya, maka segala sesuatunya aku kembalikan kepada Ki Bekel. Apakah Ki Bekel ingin menyelesaikan persoalan ini dengan baik atau tidak.”

“Aku tidak mempunyai pilihan Ki Buyut. Seharusnya Ki Buyut tidak usah minta pertimbanganku. Sekarang katakan saja apa yang dikehendaki oleh Ki Buyut. Sudah tentu aku tinggal menjalaninya, karena setiap usaha untuk menentangnya, berarti aku harus berhadapan dengan dua kekuatan. Kabuyutan Bumiagara dan Kabuyutan Sembaga sendiri,” jawab Ki Bekel.

“Baiklah,” jawab Ki Buyut. Lalu katanya meneruskan, “Jika demikian, maka aku akan mengambil sikap. Aku percaya kepada Ki Bekel justru karena Ki Bekel tidak lagi berani menentang kekuasaan Ki Buyut di Sembaga.”

“Aku sudah terjepit oleh keadaan,” jawab Ki Bekel, “langkah orang-orang Larah kali ini ternyata akan membawa perubahan dalam kehidupan mereka selanjutnya.”

“Mudah-mudahan Ki Buyut.”

“Tetapi aku yakin, bahwa yang dikatakan Ki Bekel itu akan benar-benar terjadi,” desis Ki Buyut.

“Mudah-mudahan Ki Buyut,” sahut Ki Bekel.

“Jika demikian aku akan menyerahkan orang-orang Larah yang tertawan itu kepada Ki Bekel. Bawalah mereka. Namun dengan pengertian, bahwa mereka akan menjadi jera. Ki Bekel yang mereka takuti akan membina mereka, agar mereka menjadi orang yang baik,” berkata Ki Buyut kemudian.

Sementara itu, Ki Bekel pun telah berada di antara orang-orangnya yang tertawan. Dengan pandangan kosong orang-orang Larah itu mengikuti langkah dan gerak pimpinan padukuhannya. Mereka sama sekali tidak dapat mengharapkan apapun juga dari Ki Bekel di Larah, karena mereka menyadari, bahwa Ki Bekel tidak membawa kekuatan apapun untuk membebaskan mereka. Seandainya Ki Bekel datang dengan membawa ancaman, maka mereka pun tahu tidak ada kekuatan yang akan mampu membebaskan mereka dari tangan orang-orang Bumiagara. Bagi orang-orang Larah itu, maka kekuatan Kabuyutan Sembaga, meskipun padukuhan Larah itu termasuk Kabuyutan Sembaga.

Ketika Ki Bekel kemudian duduk di antara orang-orang Larah yang berada di serambi gandok itu, maka suasanapun menjadi hening. Bebahu yang mengantarkan Ki Bekel itu pun kemudian berkata. “Silahkan Ki Bekel. Aku akan kembali ke pendapa.”

“Terima kasih Ki Sanak,” jawab Ki Bekel ragu.

Bebahu itu memang pergi. Namun Ki Bekel sadar, bahwa para pengawal Kabuyutan Larah mengawasi mereka dari kejauhan.

Setelah bebahu itu pergi meninggalkan orang-orang Larah itu, maka Ki Bekel pun segera memecahkan keheningan, “Kalian kali ini ternyata gagal.”

Pemimpin orang-orang Larah yang datang ke Bumiagara itu menjawab, “Ya. Dan aku sendiri telah terluka.”

“Bagaimana dengan para gegedug?” bertanya Ki Bekel.

“Mereka telah disapu bersih. Ternyata Kabuyutan Bumiagara mempunyai kekuatan yang sangat besar. Jauh dari perhitungan kami semula.”

“Apa rencana kalian selanjutnya?” bertanya Ki Bekel.

“Mencari kesempatan untuk membalas dendam. Betapapun kuatnya Kabuyutan Bumiagara, namun kami akan mencari kawan dan mempersiapkan diri jauh lebih matang dari sekarang,” jawab pemimpin orang-orang Larah itu.

“Bagaimana jika kalian dihukum mati atau diserahkan kepada para prajurit Singasari?” bertanya Ki Bekel.

Wajah mereka menjadi tegang. Seorang di antara mereka bertanya, “Apakah benar mereka akan menghukum mati kita atau menyerahkan kepada para prajurit Singasari?”

“Aku tidak mengatakan demikian. Aku hanya menduga-duga,” berkata Ki Bekel.

Pemimpin orang-orang Larah yang menyerang Kabuyutan Bumiagara itu menarik nafas panjang. Katanya, “Ki Bekel jangan menakut-nakuti kami. Aku kira mereka tidak akan berani menjatuhkan hukuman mati atas kami semuanya juga tidak akan menyerahkan kami kepada para prajurit Singasari, karena dengan demikian, mereka harus mempertanggung jawabkan kawan-kawan kami yang telah mereka bunuh di sini.”

“Mereka akan mempertanggung jawabkannya. Seandainya disebut bertanggung jawab, maka mereka cukup membuat laporan apa yang telah terjadi di padukuhan induk Kabuyutan Bumiagara ini. Mereka tidak akan dianggap bersalah meskipun mereka telah membunuh beberapa orang gegedug dan juga orang-orang Larah. Mereka tentu dianggap membela diri.”

Pemimpin orang-orang Larah itu memang menjadi gelisah. Untuk beberapa saat ia justru terdiam. Pernyataan Ki Bekel itu benar-benar membuatnya berdebar-debar.

Namun jantungnya bagaikan terhenti berdenyut ketika ia mendengar Ki Bekel itu berkata, “Dengarlah. Hukuman yang akan dijatuhkan atas kalian justru lebih dari hukuman yang aku katakan itu.”

Pemimpin dari orang-orang Larah yang datang ke Bumiagara itu memandang Ki Bekel dengan wajah yang tegang. Hampir tidak terdengar ia berkata, “Jika kami masih harus menerima hukuman yang lebih berat daripada diserahkan prajurit Singasari atau hukuman mati, hukuman apakah yang harus kami jalani? Dan apakah arti kedatangan Ki bekel ke mari? Apakah Ki Bekel tidak dapat berbuat apa-apa sama sekali sehingga akan dapat memperingan hukuman kami? Tentu kami tidak akan melupakan jasa Ki Bekel. Mungkin Ki Bekel dapat mengancam orang-orang Bumiagara dengan kekuatan Kabuyutan Sembaga atau ancaman apapun yang dapat memperingan hukuman kami.”

Ki Bekel menggeleng. Katanya, “Tidak seorang pun yang dapat memperingan hukuman atas kalian.”

“Hukuman apa yang akan mereka bebankan kepada kami? Kerja paksa seumur hidup atau hukuman picis?”

Ki Bekel menggeleng. Katanya, “Tidak.”

“Jadi hukuman apa?” desak orang itu.

“Kalian telah dibebaskan dan diserahkan kepadaku,” jawab Ki Bekel.

“Dibebaskan?” beberapa orang bertanya bersama-sama.

“Ya.” jawab Ki Bekel.

“Aku tidak mengerti,” desis seorang di antara mereka, “nampaknya dalam keadaan seperti ini Ki Bekel masih bergurau.”

“Aku tidak bergurau. Aku berkata sebenarnya. Kalian telah dibebaskan dan diserahkan kepadaku,” jawab Ki Bekel tegas.

Orang-orang Larah yang menjadi tawanan itu termangu-mangu. Antara percaya dan tidak mereka saling berpandangan. Namun mereka mendengar lagi Ki Bekel itu berkata dengan tegas, “Kalian telah dibebaskan. Ki Buyut di Bumiagara telah menyerahkan kalian kepadaku. Kalian dengar?”

“Apakah artinya itu Ki Bekel? Apakah Ki Buyut di Bumiagara menyerahkan pelaksanaan hukuman atas kami kepada Ki Bekel atau bahkan memberikan kebebasan kepada Ki Bekel untuk menghukum kami?” bertanya salah seorang dari orang-orang Larah yang tertawan itu.

Ki Bekel memandang orang itu dengan mata yang redup. Dengan nada dalam ia kemudian berkata, “Tidak. Itulah yang justru membuat aku selalu merenung tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atas kalian.”

“Maksud Ki Bekel?” bertanya pemimpin orang-orang Larah.

“Ki Buyut di Bumiagara telah menyerahkan kalian kepadaku. Tidak ada syarat hukuman apapun. Tetapi syaratnya justru sangat berat. Bukan bagi kalian. Tetapi bagi aku,” desis Ki Bekel.

“Kenapa justru bagi Ki Bekel?” bertanya pemimpin sekelompok orang-orang Larah yang berusaha merampok di Kabuyutan Bumiagara itu.

“Ki Buyut telah membebaskan kalian dari segala hukuman dan menyerahkan kalian kepadaku dengan syarat, agar orang-orang Larah menghentikan kebiasaan buruk yang selama ini kita lakukan,” jawab Ki Bekel.

“Kebiasaan buruk?” desis pemimpin sekelompok orang-orang Larah itu.

“Ya. Kebiasaan buruk. Merampok, menyamun dan sebagainya,” jawab Ki Bekel.

“Kebiasaan buruk,” desis pemimpin kelompok orang-orang Larah itu, “selama ini kita tidak menyebutnya demikian.”

Tetapi Ki Bekel dengan cepat menyahut, “Kita memang tidak menyebutnya demikian. Tetapi kita tidak berhati batu. Kita tahu apa yang baik dan apa yang buruk, meskipun kita telah membutakan hati kita. Sebenarnyalah kita tahu bahwa apa yang sering kita lakukan itu adalah satu kebiasaan yang buruk.”

Orang-orang Larah itu saling berdiam diri. Namun sebenarnyalah bahwa mereka pun mengakui bahwa apa yang dikatakan oleh Ki Bekel itu benar adanya.

Sementara itu, Ki Bekel pun berkata selanjutnya, “Nah, adalah bebanku kemudian untuk melaksanakan syarat yang diberikan oleh Ki Buyut di Bumiagara itu.”

Orang-orang Larah itu termangu-mangu sejenak. Mereka menyadari bahwa tugas Ki Bekel memang menjadi terlalu berat. Apalagi ketika Ki Bekel berkata, “Soalnya bukan hanya menguasai kalian dan orang-orang Larah yang lain, tetapi kalian telah berhubungan dengan orang-orang di luar Larah. Orang-orang yang tentu sulit untuk mengerti seandainya kalian benar-benar berubah.”

“Apakah kita akan berubah?” tiba-tiba seorang di antara para tawanan itu bertanya.

“Bukankah kita justru akan mencari kesempatan untuk menebus kegagalan kita?” bertanya yang lain.

“Kalian jangan berusaha untuk dengan tergesa-gesa menggali kubur kalian sendiri. Kalian sudah mengetahui kekuatan Bumiagara yang telah menghancurkan kalian sekarang ini. Apalagi jika Bumiagara sudah menghimpun seluruh kekuatannya, maka Larah dan bahkan kekuatan yang akan disusunpun akan dihancurkannya pula. Apalagi jika Kabuyutan Bumiagara benar-benar menghubungi Kabuyutan Sembaga. Maka kita tentu akan menjadi lumat,” jawab Ki Bekel.

Orang-orang Larah itu mengangguk-angguk. Mereka menyadari kelemahan mereka. Namun seorang di antara mereka bertanya, “Jadi bagaimana sikap Ki Bekel?”

“Aku tidak mempunyai pilihan. Jika aku tidak bersedia memenuhi syarat Ki Buyut Bumiagara, maka kalian tentu tidak akan diserahkan kepadaku. Karena itu, maka aku telah menyatakan kesediaanku untuk merubah tatanan hidup dan kehidupan di padukuhan Larah. Tentu saja aku tidak dapat melakukannya sendiri tanpa kesediaan kalian untuk membantuku,” berkata Ki Bekel itu kemudian.

“Apa yang harus kami lakukan Ki Bekel,” bertanya pemimpin sekelompok orang-orang Larah itu.

“Membantu aku. Menghentikan segala perbuatan buruk,” jawab Ki Bekel.

Beberapa orang saling berpandangan. Namun tidak seorang pun yang menjawab.

Namun Ki Bekel itu bertanya sekali lagi, “Aku ingin bantuan kalian. Apakah kalian bersedia menghentikan kelakuan buruk kalian untuk seterusnya. Jawaban kalianlah yang akan aku sampaikan kepada Ki Buyut di Bumiagara. Jika kalian bersedia menghentikan tingkah laku kalian, maka kalian benar-benar akan bebas. Jika tidak, maka kita semuanya akan dihancurkan sama sekali. Bahkan mungkin bersama-sama dengan kekuatan dari Kabuyutan Sembaga sendiri.”

“Tetapi kami tidak berdiri sendiri,” jawab pemimpin kelompok orang-orang Larah itu.

Ki Bekel mengangguk-angguk sambil berkata, “Aku tahu. Karena itu maka sudah aku katakan, bahwa bebanku akan menjadi sangat berat. Tetapi jika kita semuanya berani memanggul beban itu, maka aku tidak akan ragu-ragu.”

“Kematian para gegedug itu tentu akan membawa akibat,” desis pemimpin kelompok orang-orang Larah yang tertawan itu.

“Aku menyadari. Kawan-kawan mereka, para gegedug yang lain tentu akan menuntut. Jika kalian tidak bersedia bersama mereka untuk membalas dendam kepada orang-orang Bumiagara maka mereka justru akan mendendam kalian,” sahut Ki Bekel. Lalu katanya pula, “Kita memang harus memilih. Menghentikan tingkah laku kita yang buruk, atau berpihak kepada para gegedug yang mendendam itu. Tetapi kitapun harus mampu memperhitungkan keadaan. Siapakah yang lebih kuat. Para gegedug itu atau Kekuatan Kabuyutan Bumiagara yang bergabung dengan kekuatan Kabuyutan Sembaga.”

“Kita akan benar-benar menghadap kesulitan,” desis pemimpin dari orang-orang Larah yang tertawan itu.

“Masih ada satu hal lagi. Jika kalian bersedia bekerja sama dengan aku, maka persoalan kita dengan Bumiagara sudah selesai. Tetapi jika kalian tidak bersedia maka kalian tentu akan menjalani hukuman yang berat. Setelah kalian selesai dengan hukuman itu, maka kalian akan berhadapan dengan aku dan seluruh Kabuyutan Sembaga. Kalian tentu tahu, siapakah aku dan kalianpun tentu tahu, apa saja yang dapat aku lakukan. Apalagi dengan dukungan Ki Buyut di Sembaga yang sekarang.”


“Kalian tentu tidak akan mampu berbuat apa-apa meskipun kalian mendapat bantuan dari gegedug darimanapun juga,” ternyata Ki Bekel juga mengancam.

Orang-orang Larah yang tertawan itu memang tidak dapat lagi memilih. Mereka tidak akan mampu melawan niat Ki Bekel yang mereka ketahui memiliki kemampuan jauh lebih besar dari mereka semuanya.

Karena itu, maka pemimpin orang-orang Larah itu pun kemudian berkata, “Kami serahkan segala sesuatunya kepada Ki Bekel.”

“Jangan berkata begitu,” jawab Ki Bekel, “dengan demikian kau seakan-akan tidak ikut bertanggung jawab atas keputusan kita bersama.”

“Kau akan dapat berkata, “Ki Bekellah yang mengambil keputusan. “Aku minta kau menjawab dengan tegas. Ya atau tidak. Dengan demikian maka kau ikut bertanggung jawab atas keputusan kita bersama.”

Orang-orang Larah itu saling berpandangan sejenak. Namun kemudian pemimpin kelompok itu pun berkata, “Baiklah Ki Bekel. Kami sependapat dengan Ki Bekel.”

“Sependapat apa?” bertanya Ki Buyut.

Pemimpin orang-orang Larah yang tertawan di Bumiagara itu pun menjadi termangu-mangu.

Sementara Ki Bekel berkata selanjutnya, “Kau harus berkata dengan tegas.”

“Baiklah Ki Bekel. Kami sependapat dengan Ki Bekel. Bahwa kami akan merubah tingkah laku kami. Bahkan kami akan membantu Ki Bekel untuk membuat orang-orang Larah bertingkah laku baik,” jawab pemimpin orang-orang Larah yang tertawan itu.

“Bagus,” jawab Ki Bekel, “dengan demikian kita semuanya akan bertanggung jawab terhadap persetujuan kita. Kita semua akan berusaha agar orang-orang Larah tidak lagi bertingkah laku buruk seperti sebelumnya. Aku akan memulainya bersama kalian. Kemudian orang-orang lain sepadukuhan. Siapa yang menolak akan dipaksa dengan kekerasan. Agaknya kita memang terbiasa mempergunakan kekerasan. Namun mudah-mudahan lambat laun akan dapat berubah.”

Orang-orang Larah itu tidak menjawab lagi. Memang tidak ada yang lain yang dapat mereka katakan kepada Ki Bekel di Larah yang sedang dibebani oleh tugas yang berat.

“Jika kalian tidak mempunyai pendapat lain, baiklah aku berbicara lagi dengan Ki Buyut di Bumiagara,” berkata Ki Bekel. Namun katanya kemudian, “Tetapi akibat dari keputusan ini, kita harus bersiap melakukan apa saja untuk menghadapi para gegedug atau pengikut-pengikut mereka yang mendendam, karena beberapa orang yang telah terbunuh di sini karena mereka membantu kalian.”

Orang-orang Larah itu tidak menjawab. Tetapi Ki Bekel tidak menghiraukan lagi. Ia pun segera bangkit berdiri dan melangkah menuju ke pendapa.

Seorang bebahu yang mempersilahkannya duduk berkata, “Ki Buyut baru masuk ke ruang dalam, sedangkan Ki Jagabaya sedang merawat luka-lukanya. Meskipun tidak parah, tetapi luka-luka itu akan dapat berbahaya jika tidak terawat dengan baik.”

“Aku akan menunggu di sini,” jawab Ki Bekel.

Ki Bekel ternyata harus bermalam di Kabuyutan Bumiagara semalam. Pagi-pagi benar Ki Bekel sudah mempersiapkan diri. Demikian pula para tawanan yang benar-benar telah dibebaskan sebagaimana dikatakan oleh Ki Bekel. Namun dengan satu sarat yang cukup berat, karena sarat itu menyangkut sikap dan tingkah laku mereka untuk selanjutnya.

Ketika matahari terbit, maka Ki Bekel telah membawa orang-orangnya keluar dari Kabuyutan Bumiagara. Dengan ucapan terima kasih yang berulang kali diucapkan, Ki Bekel minta diri kepada Ki Buyut dan para bebahu yang mengantarnya sampai ke regol padukuhan induk Kabuyutan Bumiagara.

Iring-iringan orang-orang Bumiagara yang kembali ke padukuhannya itu memang menarik perhatian banyak orang. Tetapi demikian iring-iringan itu lewat, maka orang-orang itu pun tidak menghiraukannya lagi.

Tetapi karena orang-orang Larah itu hanya berjalan kaki, maka Ki Bekel dan pengiringnya yang berkuda harus dengan telaten mengikuti mereka.

Namun akhirnya setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, iring-iringan itu akhirnya sampai pula ke padukuhan Larah.

Kedatangan mereka memang sempat mengejutkan. Beberapa orang yang sempat melihat iring-iringan itu segera mengikutinya sampai ke rumah Ki Bekel. Namun mereka tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi atas mereka. Satu dua orang mengetahui, bahwa sekelompok orang Larah telah pergi keluar untuk melakukan pekerjaan mereka sebagaimana sering mereka lakukan.

Tetapi apa yang terjadi kemudian itulah yang menarik perhatian mereka. Sehingga karena itu, maka mereka pun berusaha untuk segera dapat mendengar keterangan tentang sekelompok orang yangpulang bersama Ki Bekel itu.

Ternyata Ki Bekel tidak menahan orang-orang itu terlalu lama di rumahnya. Setelah ia berbicara beberapa patah kata, mengingatkan syarat yang telah dibebankan kepada mereka oleh Ki Buyut di Bumiagara, maka orang-orang Larah itu pun segera diijinkannya pulang ke rumah mereka masing-masing.

Pada saat mereka keluar dari regol halaman Ki Bekel, orang-orang Larah yang lain, yang ingin segera mengetahui apa yang telah terjadi, telah menyongsong orang-orang yang nampak letih itu. Bahkan sebagian dari mereka masih nampak ternpda darah pada pakaian mereka.

“Apa yang telah terjadi?” bertanya seseorang kepada seorang yang telah terluka.

“Kami telah dihancurkan,” jawab orang itu.

“Tetapi kenapa kalian dapat segera pulang? Apakah Ki Bekel telah datang menyusul kalian dan minta kalian dibebaskan,” bertanya orang itu pula.

Orang yang terluka itu termangu-mangu. Namun kawannya yang bertanya itu mendesak, “Apakah demikian besar pengaruh Ki Bekel, sehingga orang-orang Bumiagara tidak berani menahan dan menghukum kalian jika benar kalian telah dihancurkan? Atau barangkali ada sebab lain?”

“Tidak,” jawab orang yang terluka itu, “kami memang dibebaskan. Bukan karena pengaruh Ki Bekel.”

“Jadi?”

Orang yang terluka itu pun segera menceriterakan syarat yang diberikan oleh Ki Buyut di Bumiagara kepada para tawanan yang dibebaskannya.

Yang mendengarkan ceritera itu justru mengerutkan keningnya. Dengan nada dalam ia bertanya, “Kalian bersedia melakukannya?”

“Disaat itu, kami tidak mempunyai pilihan lain. Tetapi nampaknya Ki Bekel benar-benar akan melaksanakannya,” jawab orang yang terluka itu.

“Tetapi bagaimana dengan para gegedung yang terbunuh itu? Mereka tidak berdiri sendiri. Di belakangnya terdapat kekuatan yang akan dapat mengguncang ketenangan padukuhan Larah,” berkata orang yang minta keterangan itu.

Orang yang terluka itu pun segera memberikan keterangan pula tentang berbagai macam kemungkinan seperti yang dikatakan oleh Ki Bekel.

Kawannya itu pun menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita akan terjepit oleh kekuatan-kekuatan yang dapat menghancurkan kita.”

“Itu adalah tantangan yang harus kita hadapi,” jawab orang yang terluka itu.

Percakapan mereka pun terhenti, karena orang yang terluka itu telah sampai ke rumahnya. Namun ia telah memberikan banyak keterangan kepada kawannya yang telah menyongsongnya itu.

Sebenarnyalah orang-orang Larah pun menjadi gelisah. Mereka seakan-akan telah berdiri disimpang jalan yang kedua-duanya menuju ke sarang serigala. Padahal mereka sudah tidak dapat kembali lagi.

Namun nampaknya Ki Bekel tanggap akan kegelisahan orang-orangnya itu. Karena itulah, maka dihari berikutnya ia telah memanggil semua anak-anak muda dan laki-laki yang masih memiliki kemampuan untuk memegang senjata.

“Kita harus memilih,” berkata Ki Bekel, “dan aku telah memilih berpihak kepada orang-orang Bumiagara yang mempunyai kemungkinan yang besar akan menghubungi Kabuyutan Sembaga. Sehingga dengan demikian, maka kita harus berani menanggung akibatnya.”

“Tetapi para gegedug itu juga memiliki kekuatan yang sangat besar,” berkata salah seorang di antara mereka yang ada di pertemuan itu.

“Kita bersama-sama akan menghadapi mereka. Jika kita sependapat, maka aku yakin, kita akan memiliki kekuatan yang lebih besar dari para gegedug itu. Kita akan mampu mempertahankan diri menghadapi mereka. Jika ternyata kita mengalami kesulitan, maka kita akan dapat bekerja sama dengan seisi Kabuyutan Sembaga.”

“Tetapi apakah mereka masih mempercayai kita?” bertanya orang lain.

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah ia pun merasa ragu, apakah Ki Buyut di Sembaga masih mempercayainya. Namun kemudian ia menjawab, “Segala sesuatunya tergantung kepada kita. Jika kita melaksanakannya dengan sungguh-sungguh, maka Ki Buyut di Sembaga tentu bersedia membantu kita.”

Ki Bekel berhenti sejenak. Ia nampak merenung dalam. Baru kemudian ia berkata, “Karena itu, aku akan dengan segera memberikan laporan kepada Ki Buyut di Sembaga. Aku akan melaporkan apa yang telah terjadi dengan sejujurnya. Aku mengharap bahwa Ki Buyut akan melihat niat kita yang jujur itu dan bersedia membantunya jika kita benar-benar mengalami kesulitan.”

Orang-orang Larah itu hanya dapat mengangguk-angguk saja. Namun salah seorang dari mereka bertanya, “Tetapi apakah yang kemudian akan kita makan bersama keluarga kita?”

Ki Bekel mengerutkan dahinya. Dengan lantang ia menjawab, “Tanah kita masih luas. Hutan kita membentang dari ujung sampai ke ujung bahkan memanjat lereng pegunungan. Asal kita tahu diri maka sebagian hutan itu dapat dibuka tanpa menimbulkan akibat buruk. Soalnya, apakah kita mau bekerja keras atau tidak. Bekerja keras mengolah tanah adalah jauh lebih baik dari melakukan pekerjaan yang kadang-kadang harus mempertaruhkan nyawa kita. Meskipun secara wadag kita bekerja keras, tetapi kita akan mendapat ketenangan jiwa. Meskipun kita menjadi letih, tetapi hidup kita akan tenteram. Kita akan mendapatkan kedamaian di hati kita. Kita tidak akan merasa diburu dan dimusuhi oleh sesama. Dalam keletihan tubuh kita, kita akan dapat tidur nyenyak di antara keluarga kita.”

Orang Larah itu pun mengangguk-angguk. Mereka mengerti arti kata-kata Ki Bekel. Namun ada pula di antara mereka yang masih saja merasa bahwa kehidupan mereka akan menjadi lebih buruk di masa mendatang. Mereka tidak akan dapat lagi melihat kilauan permata dan mengkilapnya emas yang dapat mereka rampas dari orang lain. Mereka hanya akan bergulat dengan lumpur dan batu-batu padas.

Namun satu pertanyaan akan timbul, “Apakah benar mereka akan dapat hidup tenang dan tenteram serta kedamaian hati meskipun wadag mereka menjadi letih oleh kerja keras.”

Ketika pertemuan itu kemudian ditutup oleh Ki Bekel dengan janji yang sama-sama mereka ucapkan untuk merubah tatanan hidup mereka serta bersama-sama menghadapi kemungkinan buruk yang dapat ditimbulkan oleh para gegedug, maka pertemuan itu pun segera dibubarkan.

“Aku akan menghadap Ki Buyut di Sembaga,” berkata Ki Bekel.

Sebenarnyalah, Ki Bekel pun kemudian telah pergi ke Kabuyutan Sembaga untuk menghadap Ki Buyut. Meskipun Ki Buyut tetap mencurigainya, namun Ki Bekel telah diterimanya dengan baik.

Dengan jujur Ki Bekel menceriterakan apa yang telah terjadi atas orang-orangnya di Kabuyutan Bumiagara. Dengan jujur pula Ki Bekel menyampaikan niat orang-orang Larah untuk merubah tatanan hidup mereka.

“Peristiwa di Bumiagara merupakan peringatan yang sangat keras bagi kami Ki Buyut,” berkata Ki Bekel kemudian.

Ki Buyut yang terhitung masih muda itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku sebenarnya sudah jemu memikirkan orang-orang Larah. Aku bahkan sudah memutuskan untuk tidak peduli lagi, apa saja yang terjadi dan apa yang diperbuat oleh orang-orang Larah. Bahkan aku sudah bertekad, jika orang-orang Larah melakukan satu kejahatan atas padukuhan-padukuhan lain di lingkungan Kabuyutan Sembaga, maka padukuhan Larah akan aku hancurkan sendiri. Tetapi ternyata orang-orang Larah telah mendapat peringatan langsung dari Yang Maha Agung dengan lantaran Kabuyutan Bumiagara.”

“Agaknya memang demikian Ki Buyut. Peringatan itu demikian kerasnya sehingga harus dikorbankan beberapa orang Larah yang terbunuh di Kabuyutan Bumiagara. Selain itu beberapa orang gegedug yang bersama-sama kami datang di Bumiagara malam itu juga terbunuh,” berkata Ki Bekel sambil menundukkan kepalanya.

Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya, “Syukurlah. Mudah-mudahan apa yang dikatakan Ki Bekel itu benar-benar akan mendapat dukungan sepenuhnya dari orang-orang Larah. Tetapi apakah Ki Bekel telah memperhitungkan kawan-kawan dari para gegedug yang terbunuh itu? Jika Ki Bekel menolak untuk membalas dendam atas orang-orang Bumiagara, maka dendamnya akan diarahkan kepada orang-orang Larah.”

“Ya Ki Buyut,” jawab Ki Bekel, “kami, orang-orang Larah menyadari kemungkinan buruk yang dapat terjadi. Tetapi kami sudah bertekad untuk menghadapi kemungkinan itu. Namun jika kami mengalami kesulitan, maka sudah sepantasnya kami mohon perlindungan kepada Ki Buyut di Sembaga.”

Ki Buyut mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian katanya dengan nada rendah, “Segala sesuatunya tergantung kepada orang-orang Larah sendiri. Jika orang-orang Larah memegang janjinya, maka aku tidak akan berkeberatan untuk memenuhinya.”

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Terima kasih Ki Buyut. Aku berjanji, bahwa Larah akan berubah. Leherku akan aku pertaruhkan untuk itu.”

Namun pembicaraan mereka terputus ketika mereka mendengar derap kaki kuda yang berhenti di depan regol halaman Kabuyutan Sembaga.

Ternyata tidak hanya seekor kuda. Tetapi tiga ekor kuda.

Orang-orang yang ada di pendapa rumah Ki Buyut di Sembaga itu pun segera bangkit berdiri untuk menyongsong orang-orang berkuda yang kemudian menuntun kuda-kuda mereka memasuki halaman.

Ki Bekel di Larah terkejut melihat orang itu. Orang itu adalah Ki Buyut di Bumiagara bersama dua orang pengiringnya.

Ki Buyut Bumiagara yang melihat kehadiran Ki Bekel itu pun tersenyum sambil berkata, “Ternyata Ki Bekel telah lebih dahulu menghadap Ki Buyut di Sembaga.”

“Ya. Ki Buyut. Aku ingin menyatakan kesungguhan hatiku untuk memenuhi syarat yang diberikan oleh Ki Buyut Bumiagara.”

Sementara itu Ki Buyut di Sembaga pun telah mempersilahkan Ki Buyut Bumiagara untuk naik dan duduk di pendapa bersama kedua orang pengiringnya. Setelah saling memperkenalkan diri, maka mereka pun mulai berbicara tentang keperluan Ki Buyut di Bumiagara datang ke Kabuyutan Sembaga.

“Adalah kebetulan bahwa Ki Bekel Larah ada di sini,” berkata Ki Buyut Bumiagara.

Ki Buyut di Sembaga pun mengangguk-angguk. Dengan demikian maka ia pun segera mengetahui, arah pembicaraan mereka selanjutnya.

“Aku mengucapkan terima kasih atas langkah-langkah bijaksana yang telah Ki Buyut ambil,” berkata Ki Buyut Sembaga, “mudah-mudahan, dengan demikian orang-orang Larah benar-benar akan berubah. Selama ini aku telah kehabisan akal untuk mengendalikan tingkah laku orang-orang Larah. Bahkan aku pernah berpikir untuk menghancurkan sama sekali padukuhan Larah. Namun ternyata bahwa Ki Buyut Bumiagara dapat membantu kami, orang-orang Sembaga, untuk merubah sikap dan pandangan hidup orang-orang Larah.”

“Hanya satu kebetulan Ki Buyut,” jawab Ki Buyut Bumiagara, “jika aku datang sekarang ini, maksudku untuk mohon agar Ki Buyut di Sembaga bersedia untuk ikut mengawasi tingkah laku orang-orang Larah.”

“Aku akan melakukannya,” jawab Ki Buyut. Lalu katanya, “Bahkan aku sudah berjanji untuk membantu padukuhan Larah jika kawan-kawan para gegedug yang terbunuh di Larah mendendam bukan saja kepada orang-orang Bumiagara, tetapi juga kepada orang-orang Larah yang tentu akan dianggap berkhianat jika mereka merubah sikap dan pandangan hidup mereka.”

“Syukurlah,” jawab Ki Buyut Bumiagara, “kami pun tentu tidak akan tinggal diam atau membiarkan saja kesulitan yang akan dialami oleh padukuhan Larah jika para gegedug itu kemudian benar-benar datang untuk melepaskan dendamnya. Namun jarak antara Larah dan Bumiagara memang cukup jauh. Lebih daripada itu Bumiagara sendiri sekarang sedang berada dalam ancaman sekelompok prajurit Kediri yang tidak mau tunduk kepada Sri Baginda di Kediri. Mereka telah mencoba untuk memeras Kabuyutan Bumiagara. Mereka mengancam untuk mengambil padi kami dan bahkan anak-anak muda kami.”

Ki Buyut Sembaga mengangguk-angguk kecil. Namun nampak di wajahnya kerut-kerut yang dalam. Dengan nada rendah Ki Buyut Sembaga itu bertanya, “Untuk apa mereka memeras Kabuyutan Bumiagara?”

Pertanyaan itu memang membuat dahi Ki Buyut Bumiagara berkeringat. Bagaimanapun juga perasaan bersalah masih belum dapat dihapuskannya dari ingatannya.

Namun Ki Buyut Bumiagara itu menjawab, “Aku tidak tahu pasti, kenapa para prajurit yang melawan pimpinannya itu memilih Bumiagara. Agaknya karena Bumiagara termasuk Kabuyutan yang subur dan memiliki anak-anak muda yang sedikit banyak mempunyai kemampuan bermain senjata.”

“Lalu, bagaimana sikap Ki Buyut?” bertanya Ki Buyut di Sembaga.

“Itulah sebabnya, kami merasa sangat terpukul dengan serangan yang dilakukan oleh orang-orang Larah justru saat kami sedang menyusun kekuatan. Kami harus melepaskan beberapa anak muda yang gugur dan sebagian lagi terluka. Namun dengan demikian orang-orang Larah pun telah membentur Kabuyutan yang telah mempersiapkan diri untuk melawan kekuatan para prajurit Kediri itu, sehingga orang-orang Larah dapat kami tundukkan dengan cepat. Tetapi sudah tentu kami tidak akan menambah lawan justru kami berada dalam saat yang gawat. Kami lepaskan orang-orang Larah dengan janji.”

Ki Buyut di Sembaga mengangguk-angguk. Katanya, “Aku dapat mengerti, bahwa Bumiagara sedang menghadapi kesulitan. Namun agaknya kami tidak dapat berbuat apapun juga.”

“Aku mengerti Ki Buyut,” jawab Ki Buyut di Bumiagara, “aku sudah merasa berterima kasih jika Ki Buyut Sembaga bersedia mengawasi orang-orang padukuhan Larah. Kami akan mencoba untuk mengatasi sendiri para prajurit Kediri yan memberontak itu. Aku tahu bahwa itu adalah tugas yang berat sekali. Namun kami mempunyai harga diri sehingga apapun yang terjadi kami harus menunjukkan bahwa kami akan mempertahankan hak kami dengan segenap kemampuan kami.”

“Apakah Ki Buyut sudah menghubungi prajurit Singasari untuk mohon perlindungan?” bertanya Ki Buyut di Larah.

“Aku akan mencobanya.Tetapi apakah Singasari akan mempercayainya.”

Ki Buyut di Sembangapun merenung sejenak. Tetapi kemudian ia pun menjawab, “Apakah ada alasan Singasari untuk tidak mempercayainya?”

Ki Buyut di Bumiagara menarik nafas dalam-dalam. Ia memang tidak dapat segera menjawab pertanyaan itu. Yang terbayang adalah justru apa yang telah dilakukannya. Jika ia menghubungi Singasari, maka Singasari tentu akan mencari sebab, kenapa Bumiagara yang justru menjadi sasaran orang2 Kediri yang memberontak itu.

“Jika Singasari mengetahui, bahwa kami pernah berhubungan dengan orang-orang Kediri yang memberontak itu, maka Singasari tentu akan mengusutnya lebih jauh,” berkata Ki Buyut itu di dalam hatinya.

Namun jawaban yang kemudian diucapkan, “Aku akan mencoba. Ya. Aku harus mencobanya.”

“Mudah-mudahan Ki Buyut mendapat perhatian sehingga Bumiagara tidak mengalami kesulitan. Orang-orang Kediri yang tidak tunduk kepada para pemimpinnya itu tentu mempunyai sikap yang akan dapat membuat Bumiagara mengalami bencana.” berkata Ki Buyut Sembaga.

Pembicaraan mengenai orang-orang Kediri yang tidak tunduk kepada para pemimpinnya itu tentu mempunyai sikap yang akan dapat membuat Bumiagara mengalami bencana,” berkata Ki Buyut Sembaga.

Pembicaraan mengenai orang-orang Kediri yang tidak tunduk kepada para pemimpinnya itu, apalagi mereka adalah prajurit, telah membuat Ki Buyut Bumiagara menjadi gelisah. Ia tidak ingin berbicara lebih panjang lagi, karena setiap kali ia menyebut para prajurit Kediri yang melawan atasannya itu, rasa-rasanya jantungnya bagaikan tertusuk duri.

Karena itu, setelah Ki Buyut mendapat hidangan minum dan makanan, ia pun segera minta diri.

“Agaknya apa yang akan aku sampaikan, telah Ki Buyut ketahui,” berkata Ki Buyut Bumiagara, “bahkan kebetulan sekali Ki Bekel di Larah juga ada di sini. Dengan demkian maka kewajibanku rasa- rasanya memang sudah selesai, sehingga aku dan para pengiringku akan mohon diri.”

“Begitu tergesa-gesa?” bertanya Ki Buyut di Sembaga.

Sementara Ki Bekel di Larah berkata, “Aku ingin mempersilahkan Ki Buyut bermalam barang semalam di Larah.”

“Terima Kasih Ki Bekel,” jawab Ki Buyut Bumiagara, “seperti aku katakan, bahwa mendung sedang bergantung di atas Kabuyutan Bumiagara. Aku tidak dapat terlalu lama meninggalkan Kabuyutanku. Sesuatu akan dapat terjadi setiap saat. Jika kebetulan aku tidak ada di rumah, sementara prajurit Kediri yang melawan atasannya itu datang, maka keadaan Kabuyutan Bumiagara akan menjadi kalut.”

Ki Buyut Sembaga dan Ki Bekel Larah mengangguk-angguk. Mereka dapat mengerti keberatan Ki Buyut Bumiagara itu.

Demikianlah, maka Ki Bekel dan Ki Buyut Sembaga mengantar Ki Buyut Bumiagara dengan pengiringnya sampai ke regol halaman. Sambil memandang langit Ki Buyut berkata, “Ki Buyut akan kemalaman di perjalanan.”

Ki Buyut Bumiagara pun memandang langit. Matahari telah jauh turun ke Barat. Namun katanya, “Ya. Tetapi aku sudah terbiasa menempuh perjalanan di malam hari.”

Demikianlah maka sejenak kemudian tiga ekor kuda telah berpacu membelah padukuhan induk Kabuyutan Sembaga langsung menuju ke Kabuyutan Bumiagara.


Disepanjang jalan tidak banyak yang mereka percakapkan. Hanya sekali-sekali Ki Buyut berbicara disela-sela angan-angannya yang menerawang menembus dadanya sendiri. Pendapat Ki Buyut Sembaga memang masuk akal. Agar ia menyampaikan persoalannya kepada para pemimpin di Singasari. Namun Ki Buyut meragukan kemungkinan yang justru akan dapat menjeratnya dalam kesulitan.

Karena itu, maka katanya kepada diri sendiri, “Aku akan menyelesaikannya sendiri. Jika aku minta pertolongan, maka lebih baik aku pergi ke Padepokan Bajra Seta yang telah dengan pasti berniat membantu Bumiagara, meskipun aku pernah berniat menghancurkan Padepokan itu. Apalagi Padepokan itu telah mengirimkan cantrik-cantriknya disertai dengan segerobag senjata untuk Kabuyutan Bumiagara.”

Sambil menganyam angan-angannya Ki Buyut berpacu terus menuju ke Kabuyutan Bumiagara. Mereka berpacu di keremangan senja yang bahkan kemudian gelap malampun telah menyelimuti jalan-jalan yang dilalui oleh Ki Buyut Bumiagara bersama pengiringnya.

Namun akhirnya ketiga orang itu pun memasuki Kabuyutan Bumiagara dengan selamat. Mereka tidak mendapat gangguan apapun juga di perjalanan.

Tetapi Ki Buyut harus menghadapi kenyataan yang mengguncangkan perasaannya ketika ia sampai di rumahnya. Seorang bebahu yang ada di rumahnya, menyongsongnya dengan tergesa-gesa.

“Ada apa?” bertanya Ki Buyut yang baru saja meloncat dari punggung kudanya bersama kedua orang pengiringnya.

“Di gandok ada lima orang yang bermalam,” jawab bebahu itu.

Ki Buyut mengerutkan keningnya. Dengan ragu ia bertanya, “Siapa?”

“Prajurit-prajurit Kediri,” jawab bebahu itu.

“Prajurit Kediri? Maksudmu prajurit Kediri yang pernah datang kemari?” bertanya Ki Buyut.

“Ya. Mereka yang melawan atasan mereka,” jawab bebahu itu.

Jantung Ki Buyut bagaikan berhenti. Ia sadar, bahwa prajurit-prajurit itu tentu datang dengan maksud tertentu sebagaimana pernah mereka katakan. Jika kemudian terjadi kekerasan, maka Bumiagara benar-benar belum siap, apalagi setelah baru saja Bumiagara menyerahkan beberapa orang anak mudanya yang terbaik karena kedatangan orang-orang Larah dan para gegedug yang ingin merampok padukuhan induk Bumiagara habis-habisan.

Karena itu, maka Ki Buyut itu pun berkata, “Sebaiknya aku tidak menemui mereka. Aku akan pergi saja sampai mereka meninggalkan Bumiagara.”

“Tetapi Ki Buyut akan pergi ke mana?” bertanya bebahu itu.

“Aku akan bersembunyi di salah satu padukuhan di Kabuyutan ini. Setiap kali aku akan menghubungimu lewat seorang penghubung untuk menanyakan apakah mereka sudah pergi,” jawab Ki Buyut.

“Tetapi itu tidak menyelesaikan persoalan,” sahut bebahu itu.

“Setidak-tidaknya memberi kesempatan kepada para pengawal dan anak-anak muda untuk bersiap-siap. Aku akan memimpin langsung persiapan itu dari tempat persembunyianku,” berkata Ki Buyut dengan suara bergetar.

Karena sebenarnyalah ia menyadari bahwa bersembunyi bukan penyelesaian terakhir dari persoalan Kabuyutan Bumiagara dengan para prajurit Kediri yang tidak mau tunduk kepada atasannya itu.

Bebahu yang ada di Kabuyutan itu tidak dapat membantah lagi. Karena itu maka katanya, “Segala sesuatunya terserah kepada Ki Buyut.”

Ki Buyut memang menjadi ragu-ragu. Namun kemudian ia pun berdesis, “Baiklah. Aku akan pergi. Setidak-tidaknya aku sempat berpikir dan mempersiapkan diri untuk berbicara dengan mereka.”

Namun yang terjadi tidak seperti yang dikehendaki oleh Ki Buyut. Demikian ia menarik kudanya, maka pintu bilik pringgitan pun telah terbuka. Dua orang prajurit muncul dari pintu itu.

“Selamat malam Ki Buyut,” berkata salah seorang dari prajurit itu.

Ki Buyut hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian menyahut, “Selamat malam Ki Sanak.”

“Kami sudah lebih menunggu Ki Buyut,” berkata prajurit itu, “bahkan kami harus bermalam di sini, karena kami bertekad untuk tidak meninggalkan Kabuyutan ini sebelum kami bertemu dengan Ki Buyut.”

“Marilah,” berkata Ki Buyut, “silahkan naik ke pendapa, atau kita akan berbicara besok saja setelah lewat malam.”

Kedua orang prajurit itu saling berpandangan sejenak. Namun keduanya berpaling ke dalam bilik. Agaknya mereka ingin mendapat pertimbangan dari kawan-kawannya yang ada di dalam.

Sementara itu, Ki Buyut masih saja berdiri sambil berharap, agar para prajurit itu memberinya kesempatan berpikir di sisa malam itu sebelum ia berbicara dengan para prajurit itu.

Namun Ki Buyut pun menarik nafas panjang ketika salah seorang prajurit itu berkata, “Baiklah. Besok pagi-pagi saja kita berbicara. Agaknya Ki Buyut masih letih dan perlu beristirahat.”

“Terima kasih atas kesempatan ini Ki Sanak. Silahkan Ki Sanak juga beristirahat,” berkata Ki Buyut.

Kedua orang prajurit itu pun segera kembali memasuki biliknya di gandok. Sementara Ki Buyut pun berkata kepada bebahu itu, “Panggil Ki Jagabaya. Masuk ke serambi samping. Jangan lewat regol depan, tetapi bawalah ia masuk lewat pintu butulan dinding halaman samping sebelah kiri.”

“Ki Jagabaya juga belum lama meninggalkan pendapa ini,” jawab bebahu itu.

“Aku akan berbicara dengannya. Namun sebelum datang kemari, mintalah Ki Jabagaya menemui para cantrik. Aku ingin mendengar pendapatnya,” pesan Ki Buyut.

Bebahu itu pun kemudian telah meninggalkan rumah Ki Buyut, sementara Ki Buyut pun telah menyerahkan kudanya kepada pengiringnya yang membawa kuda-kuda itu langsung ke kandang.

Ki Buyut yang naik ke pendapa itu langsung melewati pringgitan. Beberapa kali ia mengetuk pintu. Demikian pintu dibuka, Ki Buyut pun segera masuk ke ruang dalam. Namun Ki Buyut itu langsung menuju ke serambi samping.

Dalam keadaan demikian, maka Nyi Buyut Bumiagara tidak dapat banyak berbuat. Namun Nyi Buyut yang gelisah melihat sikap Ki Buyut itu sempat bertanya, “Apakah Ki Buyut tidak makan dahulu?”

Ki Buyut termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Bawa makan itu ke serambi.”

“Biarlah nasi dan sayurnya dipanasi sebentar. Sudah dingin, karena makan Ki Buyut sudah disiapkan sejak malam turun.” berkata Nyi Buyut.

“Tidak usah. Aku akan makan di serambi,” jawab Ki Buyut.

Sambil menghidangkan makan dan minuman yang sempat dihangatkan sedikit, Nyi Buyut bertanya, “Ki Buyut masih nampak gelisah saja. Bukankah para perampok itu sudah berjanji untuk tidak melakukannya lagi?”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak ingin membuat keluarganya juga gelisah. Karena itu, maka katanya, “Tidak apa-apa. Aku menunggu Ki Jagabaya. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan.”

Seperti biasanya, Nyi Buyut memang tidak banyak mencampuri persoalan-persoalan suaminya. Namun bagaimanapun juga sebagai seorang isteri ia merasakan, bahwa Ki Buyut masih saja dicengkam oleh kegelisahan yang sangat.

Untuk beberapa saat Nyi Buyut masih sibuk melayani Ki Buyut yang sedang makan. Tetapi nasi yang dikunyahnya rasa-rasanya tidak tertelan.

“Aku sudah kenyang,” tiba-tiba saja Ki Buyut meletakkan mangkuk nasinya.

“Justru dalam kesibukan, Ki Buyut sebaiknya makan cukup banyak,” berkata Nyi Buyut.

Ki Buyut menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku sudah makan di Kabuyutan Sembaga.”

Nyi Buyut tidak dapat memaksanya. Jika ia mencoba memaksa, maka Ki Buyut justru dapat menjadi marah.

Karena itu, maka Nyi Buyut itu pun segera menyingkirkan mangkuk-mangkuk yang masih berisi. Namun sementara itu, Nyi Buyut sempat membangunkan pembantunya untuk merebus air.

“Nampaknya akan ada tamu,” bertanya Nyi Buyut.

“Bukankah tamunya bermalam di gandok?” sahut pembantunya.

“Maksudku tamu yang lain,” desis Nyi Buyut.

Pembantunya tidak menjawab lagi. Namun ia pun segera mengisi kuali untuk merebus air, sementara apipun telah dinyalakan oleh Nyi Buyut sebelumnya.

“Nyi Buyut telah merebus air,” desis pembantunya kemudian.

“Hanya sedikit, untuk Ki Buyut,” jawab Nyi Buyut.

Di serambi Ki Buyut hampir kehilangan kesabaran menunggu kedatangan Ki Jagabaya. Nyi Buyut setelah memberikan beberapa pesan kepada pembantunya, telah menemani suaminya duduk. Namun tidak banyak yang mereka percakapkan. Ki Buyut hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan isterinya sepatah-sepatah.

Demikianlah, ketika Ki Buyut tidak sabar lagi menunggu, bebahu yang diperintahkannya menyusul Ki Jagabaya telah datang melalui pintu butulan yang tidak diselarak dari dalam Bersama Ki Buyut telah datang pula seorang dari antara para cantrik Padepokan Bajra Seta yang ada di Kabuyutan Bumiagara.

“Aku mewakili kawan-kawanku,” berkata cantrik itu. Lalu katanya pula, “jika kami datang berlima, maka agaknya akan dapat menarik perhatian.”

“Ya, ya,” jawab Ki Buyut, “agaknya memang sudah cukup, karena kau mewakili para cantrik yang lain.”

“Mereka tidak mau berkata apa-apa. Mereka hanya akan berbicara dengan Ki Buyut. Karena itu, maka mereka akan menunggu sampai Ki Buyut datang. Kapanpun.” jawab Ki Jagabaya.

Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi kita sudah mengetahui, apa yang akan mereka katakan.”

“Ya,” sahut Ki Jagabaya, “kami menunggu perintah Ki Buyut.”

“Bagaimana pendapat kalian? Apakah kita akan menyerahkan beras dan anak-anak muda kita. Seandainya mereka hanya menuntut beras berapa pedati pun, mungkin kita akan dapat memenuhinya. Tetapi jika mereka minta sejumlah anak-anak muda kita, maka kita tentu akan berkeberatan.”

Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Namun cantrik yang ada di antara mereka pun bertanya, “Apa yang sebenarnya terjadi di Kabuyutan ini?”

Ki Buyut tidak dapat bersembunyi lagi. Ia pun telah menceriterakan apa yang sebenarnya telah terjadi, yang sebagian memang sudah didengarnya.

“Sekarang mereka datang untuk menagih hutang yang telah mereka berikan,” berkata Ki Buyut kemudian.

Cantrik itu mengangguk-angguk. Dengan ragu ia pun kemudian bertanya, “Apa yang akan Ki Buyut lakukan?”

“Sebenarnyalah aku tidak rela. Itulah sebabnya, kami telah bersiap-siap menempa anak-anak muda di Bumiagara. Tetapi ternyata bahwa yang kami hadapi pertama kali adalah orang-orang Larah.”

“Tetapi pertempuran dengan orang-orang Larah itu dapat dianggap sebagai pemanasan,” berkata cantrik itu.

“Tetapi prajurit Kediri yang menolak perintah atasannya itu tentu jauh lebih kuat dari orang-orang Larah. Jauh lebih kuat pula dengan orang-orang Bumiagara,” berkata Ki Buyut.

“Jika demikian, aku akan kembali ke Padepokan untuk memanggil bantuan agar Bumiagara sempat diselamatkan.” berkata cantrik itu.

“Terlambat,” jawab Ki Buyut, “mereka telah berada di sini. Selain kelima orang itu, maka pasukannya tentu sudah berada di sekitar Kabuyutan ini.”

Cantrik itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Jagabaya pun berkata, “Apapun yang terjadi, kita akan melawan. Aku akan menghubungi setiap padukuhan, agar mereka bersiap. Kita kumpulkan semua kekuatan yang ada. Bukan sekedar para pengawal dan anak-anak mudanya saja. Tetapi semua laki-laki yang masih sanggup bertempur akan turun ke medan. Mungkin akan terjadi pembantaian besar-besaran. Tetapi kita mempertahankan harga diri kita.”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Setiap kali maka ia selalu dibayangi oleh perasaan bersalah. Karena itu, maka beberapa saat Ki Buyut justru menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Agaknya Ki Jagabaya mengerti bahwa ki Buyut masih saja dihantui oleh perbuatannya sendiri. Karena itu maka Ki Jagabaya pun berkata, “Kita tidak perlu menyesali apa yang telah terjadi. Hal itu tidak akan menolong keadaan. Kita harus melihat, apa yang sekarang sedang kita hadapi.”

Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sudah mencoba. Tetapi sulit bagiku untuk melupakannya.”

“Ki Buyut. Jika kita selalu berpaling, maka kita tidak akan bergerak maju. Apapun yang terjadi, kita harus menghadapi mereka. Bukan sekedar menyesali masa lalu,” berkata Ki Jagabaya.

“Aku mengerti,” berkata Ki Buyut.

“Bahkan bukan hanya sekedar harga diri. Tetapi kita harus berbuat apa saja untuk melindungi kampung halaman kita. Apa yang dilakukan oleh para prajurit yang menolak perintah atasan mereka itu jauh lebih buruk dari perbuatan orang-orang Larah. Sehingga kitapun harus melayani mereka. Jika harus jatuh korban yang tidak terhitung jumlahnya, apa boleh buat. Bahkan mungkin seisi padukuhan ini akan mereka bantai. Tetapi kita tidak mati sambil berpeluk tangan.”

Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Ki Bekel. Siapkan seluruh kemampuan yang ada di Kabuyutan ini. Kita akan melawan sampai orang yang terakhir.” Ki Buyut terhenti sejenak, lalu katanya kepada cantrik Padepokan Bajra Seta itu, “Tinggalkan Kabuyutan ini selagi masih sempat. Keluarlah dari Bumiagara agar kalian tidak ikut menjadi korban ketamakanku.”

Tetapi cantrik itu menggeleng. Katanya, “Aku sudah terlanjur ada di sini. Aku akan tetap berada di sini.”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau seharusnya tidak ikut terlibat.”

“Kami sengaja melibatkan diri,” jawab cantrik itu.

“Jika demikian, aku hanya dapat mengucapkan terima kasih. Hutangku bertimbun terhadap Padepokan Bajra Seta. Tetapi seharusnya kalian tidak usah berkorban dengan mempertaruhkan nyawa,” berkata Ki Buyut

“Jangan pikirkan itu Ki Buyut,” jawab cantrik itu, “aku sudah siap menghadapi segala kemungkinan.”

“Baiklah. Jika demikian, bersiaplah. Baru besok aku akan berbicara dengan para prajurit itu. Mungkin pembicaraan kami akan menemui jalan buntu, sehingga akan terjadi kekerasan.” Berkata Ki Buyut dengan wajah yang muram.

“Baiklah,” berkata Ki Jagabaya, “aku mohon diri.”

Bersama cantrik Padepokan Bajra Seta maka Ki Jagabaya pun segera meninggalkan rumah Ki Buyut. Mereka langsung pergi ke padukuhan-padukuhan untuk mempersiapkan segenap kekuatan yang dapat dihimpun di Kabuyutan itu.

Ternyata para Bekel di padukuhan-padukuhanpun telah menyediakan diri untuk memimpin pengawal, anak-anak muda dan bahkan setiap orang yang masih sanggup turun ke medan.

“Aku akan mengumpulkan mereka menjelang pagi,” berkata para Bekel.

Namun Ki Jagabaya berpesan agar mereka tidak membuat penduduk menjadi gelisah, karena segala sesuatunya masih belum pasti.

“Mereka tidak akan menjadi gelisah. Tetapi mereka justru akan bersiap-siap menghadapi kemungkinan yang mungkin harus mereka hadapi,” berkata para Bekel.

Ki Jagabaya tidak berkeberatan. Namun ia berpesan, “Tetapi apa yang kalian lakukan jangan memancing persoalan. Jika kekerasan harus terjadi, bukan kita yang memulainya.”

Ternyata Ki Jagabaya memerlukan waktu yang cukup lama. Ketika ia sampai ke rumahnya, maka haripun menjelang pagi. Bahkan Nyi Jagabaya telah sibuk menyiapkan makan pagi.

Ki Jagabaya masih sempat berbaring sejenak. Tetapi matanya tidak mau dipejamkan. Seakan-akan terbayang diangan-angannya, para prajurit Kediri yang melawan atasannya itu tengah sibuk membantai orang-orang Bumiagara. Kadang-kadang Ki Jagabaya memang menyesali tindakan Ki Buyut yang telah menjerumuskan Kabuyutannya ke dalam kesulitan. Bahkan mungkin kemusnahan. Tetapi penyesalan itu tidak akan menyelesaikan persoalan. Para prajurit Kediri yang menolak tunduk kepada pimpinannya itu harus dihadapi dengan kekuatan meskipun akhirnya kekuatan itu akan lebur menjadi debu.

Sementara itu, ketika matahari terbit, maka padukuhan-padukuhan di seluruh Kabuyutan Bumiagara sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Anak-anak muda tidak pergi ke sawah. Tetapi mereka bersiap-siap di rumah mereka masing-masing. Jika terdengar isyarat maka mereka pun akan menghambur berkumpul di banjar. Bukan hanya anak-anak muda dan para pengawal. Tetapi semua laki-laki yang masih sanggup turun kemedan pertempuran.

Setelah membenahi diri, maka Ki Jagabaya pun segera pergi ke Kabuyutan. Ketika ia memasuki halaman Kabuyutan, dilihatnya beberapa orang bebahu sudah berada di pendapa. Namun Ki Jagabaya belum melihat Ki Buyut dan juga para prajurit Kediri yang bermalam di rumah Ki Buyut itu.

“Mereka baru makan di dalam biliknya,” berkata seorang bebahu yang duduk di pendapa.

Ki Jagabaya mengerutkan dahinya. Dengan heran ia bertanya, “Kenapa mereka makan di dalam biliknya? Bukankah itu tidak biasa? Kenapa mereka tidak makan bersama Ki Buyut diruang dalam?”

“Mereka minta makan di dalam biliknya. Merekalah yang minta makan dan minum mereka diantar,” jawab bebahu yang semalam juga berada di rumah Ki Buyut itu.

“Ki Buyut ada dimana?” bertanya Ki Jagabaya.

“Ki Buyut masih ada di dalam bersama salah seorang cantrik dari padepokan Bajra Seta,” jawab bebahu itu.

“Hanya seorang?” bertanya Ki Jagabaya selanjutnya.

“Ya. Yang lain ada di antara para pengawal yang masih tersebar di padukuhan induk. Namun setiap saat mereka dapat digerakkan. Sementara Ki Jagabaya pergi ke padukuhan-padukuhan, para pengawal di padukuhan induk telah di tangani oleh para cantrik,” jawab bebahu itu pula.

Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Ia pun telah duduk pula di antara beberapa orang bebahu yang duduk di pendapa.

Baru sejenak kemudian Ki Buyut keluar dari ruang dalam dan duduk pula di antara para bebahu. Dengan nada berat ia bertanya, “Apakah mereka belum selesai?”

“Nampaknya belum Ki Buyut,” jawab seorang bebahu.

“Akulah yang justru menjadi tidak sabar lagi. Aku ingin segera berbicara dengan mereka. Kemudian menentukan sikap dan biarlah terjadi apa yang harus terjadi.” berkata Ki Buyut.

Para bebahu itu pun terdiam. Bahkan kepala mereka pun menunduk seakan-akan mereka menghindar dari tatapan mata Ki Buyut yang tajam.

Namun mereka tidak perlu menunggu terlalu lama. Beberapa saat kemudian, maka lima orang prajurit, lengkap dengan senjata mereka telah keluar dari dalam biliknya. Seorang yang bertubuh tinggi dan berdada lebar, mengusap kumisnya yang tebal sementara mulutnya masih berkumat-kamit mengunyah sisa makanan yang ada di dalam mulutnya.

Ki Buyut berserta beberapa orang bebahu itu pun segera bangkit berdiri menyongsong kelima orang prajurit dari Kediri yang menentang kebijaksanaan Sri Baginda di Kediri itu.

Sejenak kemudian, mereka pun telah duduk dii pendapa bersama Ki Buyut dan para bebahu yang telah lebih dahulu berada di pendapa.

“Agaknya kalian sudah menunggu,” berkata prajurit yang tertua di antara mereka.

“Ya. Kami sudah beberapa saat menunggu,” jawab Ki Buyut.

“Kami sedang menikmati hidangan yang Ki Buyut berikan. Jarang kami menjumpai masakan yang demikian lezatnya, sehingga kami terpaksa makan terlalu banyak.”

“Ah. Hanya seadanya saja,” sahut Ki Buyut.

Para prajurit itu mengangguk-angguk. Sambil memandang berkeliling prajurit yang tertua di antara mereka itu pun berkata, “Agaknya para bebahu berkumpul di sini.”

“Hanya sebagian saja Ki Sanak,” jawab Ki Buyut. Kemudian katanya, “semalam aku belum sempat bertanya, siapakah Ki Sanak berlima dan apakah keperluan Ki Sanak?”

“Aku sudah mengatakan siapakah kami kepada para bebahu yang ada di sini semalam. Tetapi aku memang belum mengatakan, untuk apa kami datang kemari,” jawab prajurit itu.

“Ya, mereka telah mengatakan, siapakah Ki Sanak. Tetapi aku masih ingin meyakinkan keterangan bebahu Bumiagara itu.” berkata Ki Buyut kemudian.

“Baiklah. Aku ingin mengulangi keterangan kami tentang diri kami. Kami adalah prajurit-prajurit Kediri. Kami pernah bekerja bersama dengan Ki Buyut melawan Padepokan Bajra Seta. Sementara petugas kami pun pernah datang ke Kabuyutan ini untuk menyampaikan beberapa pesan dari pimpinan kami,” jawab prajurit itu. Lalu katanya, “Nah, dengan demikian, bukankah persoalannya menjadi lebih jelas.”

“Ya. Kami ingat. Tetapi silahkan mengatakan, bagaimanakah jelasnya tugas Ki Sanak datang ke Kabuyutan ini,” desis Ki Buyut yang jantungnya berdetak semakin cepat.

“Baiklah. Baiklah. Nampaknya Ki Buyut adalah seorang yang sulit mempercayai orang lain atau mungkin seorang yang harus mendapatkan kepastian sebelum menentukan satu keputusan.” berkata prajurit yagn tertua. Lalu setelah mengambil nafas panjang ia pun berkata, “Ki Buyut. Kami memandang perlu untuk datang ke Kabuyutan ini pada saat ini. Kami tahu bahwa baru saja Ki Buyut mengalami cobaan yang berat karena sekelompok perampok telah mencoba untuk merampok Kabuyutan Bumiagara. Untunglah bahwa Bumiagara telah siaga. Lima orang cantrik dari Padepokan Bajra Seta yang ada di Kabuyutan ini telah berusaha untuk meningkatkan kemampuan para pengawal dan anak-anak muda di Kabuyutan ini. Untuk itu, bukan saja Bumiagara yang berterima kasih tetapi kami pun sangat berterima kasih untuk itu. Karena itu, maka setelah peristiwa dengan orang-orang Larah itu selesai, kami pun dengan segera datang kemari. Kami ingin menagih janji orang-orang Bumiagara beberapa saat yang lalu. Kami sekarang memerlukan bahan makanan dan tenaga. Semula hanya tenaga untuk mengangkut barang-barang dan perbekalan, karena kami memang kekurangan tenaga. Tetapi setelah kami ketahui bahwa anak-anak muda Bumiagara justru memiliki kemampuan sebagaimana seorang prajurit, maka kami justru semakin memerlukan mereka.”

Jantung Ki Buyut bagaikan berhenti berdenyut. Ternyata prajurit Kediri yang tidak patuh kepada atasannya itu tahu benar apa yang terjadi di Bumiagara. Mereka tahu bahwa orang-orang Larah telah menyerang Kabuyutan itu. Mereka pun tahu bahwa lima orang cantrik dari Padepokan Bajra Seta ada pula di Kabuyutan itu.

Karena Ki Buyut tidak segera menjawab, maka orang tertua dari antara orang-orang Kediri itu berkata, “Ki Buyut tidak usah heran jika aku tahu banyak hal tentang Kabuyutan ini. Karena itu Ki Buyut tidak usah berusaha membohongi kami.”


Ki Buyut masih termangu-mangu sejenak. Ia memang tidak segera menemukan jawaban atas permintaan orang-orang Kediri yang tidak tunduk kepada Sri Baginda di Kediri itu.

Sementara itu orang tertua itu masih berkata pula, “Kami tahu apa saja yang kalian lakukan. Sekarang Ki Buyut tidak dapat berbuat lain. Ki Buyut hanya dapat memenuhi permintaan kami. Ki Buyut tidak dapat mengirimkan orang kemanapun untuk minta bantuan. Para Cantrik itu pun tidak akan dapat meninggalkan Kabuyutan ini, karena Kabuyutan ini sudah diawasi di segala penjuru.”

Ki Buyut Bumiagara kemudian justru mengangguk-angguk. Katanya, “Apa yang kau katakan benar Ki Sanak. Juga tentang kelima orang cantrik itu.”

“Syukurlah jika Ki Buyut tidak berniat untuk ingkar,” berkata orang tertua di antara kelima orang itu, “agaknya persoalan di antara kita akan cepat selesai.”

“Aku ingin mendengar, apa saja yang kau minta dari Kabuyutan Bumiagara ini Ki Sanak?” bertanya Ki Buyut.

“Menurut pengetahuanku, Bumiagara terdiri dari delapan padukuhan. Setiap padukuhan terdiri atas tiga atau ampat padesan sehingga seluruhnya Kabuyutan Bumiagara terdiri lebih dari duapuluh lima padesan. Jika dari setiap padesan aku minta lima orang saja, maka akan terkumpul seratus duapuluh lima orang. Sementara itu Kabuyutan ini mempunyai padukuhan induk yang lebih padat penduduknya dari padesan yang lain. Karena itu, maka aku minta seluruhnya seratus lima puluh orang berserta seluruh padi yang tersimpan dilumbung Kabuyutan. Sedangkan setiap orang akan aku minta menurut kerelaan mereka masing-masing, karena kami bukan orang yang dapat berbuat sewenang-wenang terhadap orang lain.”

Wajah Ki Buyut menjadi merah. Ia sadar, bahwa yang dilakukan itu adalah satu pemerasan. Namun orang-orang Kediri itu tentu benar-benar sudah siaga untuk memaksakan kehendaknya.

Sebelum Ki Buyut menjawab, orang tertua itu sudah mendahuluinya berkata, “Maaf Ki Buyut. Yang kami ajukan bukan semacam tawaran yang dapat diterima oleh Ki Buyut atau barangkali Ki Buyut ingin menawarnya. Yang kami ajukan kepada Ki Buyut adalah satu hal yang sudah pasti harus dipenuhi.”

Ki Buyut mengatupkan giginya rapat-rapat. Sementara para bebahu yang lain pun telah menahan diri untuk tidak mencampuri pembicaraan yang membuat darah mereka menjadi panas.

“Ki Sanak,” berkata Ki Buyut kemudian, “permintaan kalian tidak masuk akal.”

“Kenapa?” bertanya orang tertua di antara kelima orang itu, “kami sudah membuat perhitungan yang cermat. Kami sudah mempelajari apa saja yang ada di Kabuyutan ini serta apa saja yang terjadi. Karena itu, permintaan kami sudah kami pertimbangkan masak-masak. Karena itu, maka tugas Ki Buyut adalah memenuhi permintaan kami. Tidak lebih dan tidak kurang. Perlu kami beritahukan bahwa di padukuhan-padukuhan lain pun kami telah melakukannya pula. Tetapi karena tidak ada persoalan yang pernah timbul di antara kami dan padukuhan-padukuhan itu, maka kami hanya minta disediakan bahan makanan dan beberapa orang anak muda yang akan membawa bahan makanan itu ke barak kami. Tidak lebih dari ampat atau lima orang. Mungkin sebuah pedati dengan dua ekor lembu. Hanya itu. Tetapi Kabuyutan Bumiagara adalah Kabuyutan yang telah lama bekerja bersama kami dalam suka dan duka. Karena itu, maka kami mengajukan permintaan khusus yang agak lain dengan padukuhan atau Kabuyutan yang lain.”

“Kami akan membicarakannya Ki Sanak,” berkata Ki Buyut.

“Permintaan kami tidak untuk dibicarakan seperti sudah aku katakan,” jawab orang itu.

“Maksudku, tentu harus menentukan, siapa yang akan pergi bersama kalian,” sahut Ki Buyut.

“Tidak. Aku minta Ki Buyut memanggil para Bekel sekarang. Kemudian memerintahkan mereka datang kembali dengan membawa masing-masing lima orang anak muda. Kemudian akan terkumpul di halaman Kabuyutan ini seratus limapuluh orang anak muda yang akan ikut bersama kami. Mungkin lima atau enam pedati padi dan jagung serta mungkin ada bahan-bahan lain yang dapat Ki Buyut sumbangkan kepada kami. Kawan seperjuangan Ki Buyut. Ingat. Jangan berbuat apa-apa yang dapat meretakkan persahabatan kita. Sebenarnyalah Kabuyutan ini sudah diawasi dari segala sudut. Kami tinggal bersuit saja untuk menggerakkan pasukan kami jika Ki Buyut membuat persoalan. Terus-terangnya Kabuyutan ini telah terkepung rapat.”

“Itukah cara yang ditempuh oleh seorang sahabat?” bertanya Ki Buyut.

Orang itu tertawa. Katanya, “Apakah kau tersinggung dengan cara yang kami tempuh? Apa boleh buat.”

Darah Ki Buyut serasa mendidih di dalam jantungnya. Tetapi ia tidak boleh tergesa-gesa bertindak. Ia memang percaya bahwa Kabuyutan Bumiagara memang sudah terkepung.

“Jika aku tidak mempunyai pilihan lain, baiklah. Aku harus memanggil para bekel untuk berkumpul di sini,” berkata Ki Buyut kemudian.

“Terima kasih atas kesediaan Ki Buyut,” berkata orang itu.

“Jika demikian, kami persilahkan kalian beristirahat di gandok. Kami akan mengatur tugas-tugas kami,” berkata Ki Buyut.

“Apa salahnya aku berada di sini? Apakah aku mengganggu?” bertanya orang tertua itu.

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian, “Baiklah. Jika Ki Sanak memang ingin menunggui pembagian tugas yang akan kami lakukan.”

“Terima kasih atas persetujuan ini Ki Buyut,” berkata orang itu sambil tersenyum.

Ki Buyut pun kemudian berkata kepada Ki Jagabaya dan para bebahu yang ada di pendapa, “Panggil para Bekel untuk datang kemari. Aku akan berbicara dengan mereka.”

Ki Jagabaya termangu-mangu sejenak. Agaknya ada yang ingin ditanyakan. Tetapi kelima orang prajurit Kediri yang tidak tunduk kepada atasannya itu membuat ragu-ragu.

Sementara itu Ki Buyut berkata selanjutnya, “Kita memang tidak mempunyai pilihan. Tetapi kita tetap pada pendirian kita.”

Dengan dahi berkerut prajurit tertua itu bertanya, “Apa maksud Ki Buyut?”

“Sebenarnya sejak semula kami sudah tidak mempunyai pilihan. Tetapi menurut dugaan kami, tuntutan kalian tidak sejauh yang kalian berikan sekarang. Namun apa boleh buat. Kita tidak dapat berbuat lain,” jawab Ki Buyut.

Jangan mencoba untuk melakukan perlawanan meskipun Ki Buyut sudah mempersiapkan anak-anak muda Bumiagara, karena Ki Buyut tidak boleh mengukur kekuatan kami dengan kekuatan orang-orang Larah,” berkata orang itu pula.

“Aku tahu,” jawab Ki Buyut, “karena itu, maka aku perintahkan untuk memanggil para bekel sebagaimana kau minta.”

Ki Jagabaya tidak bertanya apapun juga. Ia pun kemudian bangkit bersama beberapa orang bebahu yang ada di pendapa itu.

“Kami minta diri Ki Buyut,” berkata Ki Jagabaya.

“Baiklah. Lakukan tugas kalian sebaik-baiknya.” pesan Ki Buyut.

Sejenak kemudian, maka Ki Jagabaya itu pun telah meninggalkan halaman rumah Ki Buyut Bumiagara. Namun ia masih sempat berbicara dengan para bebahu yang pergi bersamanya untuk memanggil para Bekel, “Apa maksud Ki Buyut sebenarnya dengan pesan-pesannya?”

“Aku kira Ki Buyut ingin mengingatkan kita, bahwa kita harus siap melawan, apapun yang terjadi,” jawab salah seorang bebahu.

“Ya. Aku juga berpendirian seperti itu,” berkata Ki Jagabaya kemudian, “seandainya seisi Kabuyutan ini akan dibantai, apa boleh buat. Kita tidak mau mengorbankan seratus lima puluh orang anak-anak muda kita. Itu sesuatu yang gila. Yang tidak masuk akal. Kita akan kehabisan orang daripada kita kehilangan seratus limapuluh orang anak muda, lebih baik kita melawan apapun yang terjadi. Lima atau sepuluh pedati padi dan jagung bukan soal bagi kami. Tetapi anak-anak muda itu.”

Para bebahu itu pun mengangguk-angguk. Seorang di antara mereka berkata, “Kita akan berbicara dengan para Bekel.”

Sejenak kemudian mereka pun telah berpisah. Masing-masing pergi ke padukuhan yang berbeda untuk memanggil para Bekel. Namun mereka ternyata telah menetapkan satu sikap yang sama, yang akan mereka sampaikan kepada para Bekel.

Beberapa saat kemudian, maka para bebahu itu pun telah selesai dengan tugas mereka. Mereka semua telah menghubungi para bekel dengan pesan yang sama. Para Bekel harus datang ke Kabuyutan namun setelah menyiapkan para pengawal dan anak-anak mudanya. Bahkan semua laki-laki yang masih sanggup bep tempur untuk mempertahankan harga diri serta hak Kabuyutan mereka.

Di Kabuyutan, kelima orang prajurit Kediri yang memberontak itu hampir kehilangan kesabaran mereka. Namun kemudian seorang demi seorang para Bekel pun berdatangan.

“Aku hampir tidak sabar,” berkata salah seorang dari para Prajurit itu.

Ki Buyut hanya berdiam diri saja. Sementara para Bekel pun telah dipersilahkan duduk di pendapa.

Beberapa saat kemudian, para Bekel pun telah berada di pendapa. Semuanya hadir. Sementara kelima orang cantrik Padepokan Bajra Seta telah ada di Kabuyutan itu pula, meskipun mereka berada di ruang dalam.

“Semua sudah berkumpul,” berkata Ki Buyut kepada para prajurit itu.

“Kaulah yang berkepentingan dengan mereka Ki Buyut,” berkata prajurit yang tertua itu.

“Baiklah,” sahut Ki Buyut, “aku akan berbicara dengan mereka.”

Orang tertua di antara kelima orang itu tersenyum. Katanya, “Mudah-mudahan Ki Buyut tidak menjadi bingung berbicara di hadapan para Bekel. Tetapi aku yakin bahwa para Bekel sudah tahu apa yang akan Ki Buyut katakan setelah mereka melihat aku di sini. Tetapi sudah tentu bahwa Ki Buyut tidak akan salah lidah meskipun Ki Buyut telah mempersiapkan anak-anak muda Kabuyutan ini bahkan dengan memanggil lima orang cantrik dari Padepokan Bajra Seta.”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Namun wajahnya memang nampak menjadi tegang, karena jantungnya yang berdegup semakin keras. Sejenak ia bergeser membetulkan letak duduknya menghadap kepada para Bekel yang juga menunggu perintah Ki Buyut dengan tegang.

Baru sejenak kemudian Ki Buyut berkata, “Saudara-saudaraku para Bekel di lingkungan Kabuyutan Bumiagara. Hari ini kita mendapat lima orang tamu dari Kediri. Mereka adalah prajurit-prajurit yang pernah bekerja bersama dengan kita beberapa saat yang lampau. Kini mereka datang untuk melanjutkan hubungan di antara kita dengan para prajurit Kediri itu,” Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dilanjutkannya, “Namun cara yang akan ditempuh agak berbeda dengan cara yang pernah kita lakukan. Karena kerja sama yang sekarang akan kita lakukan sifatnya memang berbeda dengan cara yang pernah kita lakukan sebelumnya.”

Ki Buyut pun kemudian menguraikan apa yang diminta oleh para prajurit Kediri yang tidak tunduk kepada pimpinannya itu. Mereka memerlukan seratus limapuluh orang dan beberapa pedati beras dan jagung. Bahkan dengan pedatinya dan dengan lembunya sekaligus.

Para Bekel pun terkejut mendengar permintaan itu. Seorang di antara mereka dengan serta merta berkata, “Kami tidak merelakannya.”

Beberapa orang yang lain pun telah menyatakan sikapnya pula. Bahkan ada pula yang berteriak nyaring, “Kita menolaknya.”

Wajah kelima orang prajurit itulah yang kemudian menjadi tegang. Yang tertua di antara mereka berkata, “Segala sesuatunya terserah kepada Ki Buyut. Jika Ki Buyut salah lidah, maka Kabuyutan ini akan lumat menjadi debu.”

Ki Buyut berusaha untuk menenangkan hatinya. Tetapi kegelisahannya telah membuat suaranya menjadi bergetar, “Saudara-saudara para Bekel yang memimpin padukuhan-padukuhan di Kabuyutan Bumiagara. Tegak dan runtuhnya Kabuyutan ini tergantung kepada kalian dan rakyat Bumiagara. Karena itu, maka aku hanya akan mendengarkan suara kalian yang mewakili rakyat Bumiagara.”

Wajah para prajurit itu pun menjadi semakin tegang. Mereka tidak segera tahu maksud kata-kata Ki Buyut itu.

Sementara itu para Bekel pun telah berteriak-teriak dengan riuhnya, “Kami menolak. Kami menolak.”

Kelima orang prajurit yang berada di pendapa itu bergeser mendekati Ki Bekel. Seorang di antara mereka berkata, “Ingat Ki Buyut. Kami tidak sekedar mengancam atau bahkan main-main. Apa yang kami katakan akan kami lakukan. Kami benar-benar telah siap.”

Namun kelima orang itu terkejut ketika Ki Buyut kemudian berkata, “Kabuyutan ini bukan milikku. Kabuyutan ini milik seluruh rakyat, sehingga aku akan tunduk kepada kehendak mereka sementara kalian mendengar sendiri apa yang mereka katakan.”

Hijaunya Lembah, Hijaunya Lereng Pegunungan
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger