logo blog
Selamat Datang
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog ini,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Panasnya Bunga Mekar Jilid 17


Dengan penuh kewaspadaan iring-iringan itu pun melanjutkan perjalanan. Perjalanan yang masih panjang. Bahkan mereka masih harus menginap satu malam lagi di perjalanan, meskipun sudah tidak terlalu jauh dari Kediri. Namun mereka tidak akan memaksa diri untuk mencapai kota itu.

Tetapi, bahwa mereka harus bermalam lagi di perjalanan meskipun sudah tidak terlalu jauh dari Kediri, namun hal itu harus mereka perhitungkan sebaik-baiknya.

Dalam pada itu, ketiga orang pemimpin dari lingkungan hitam itupun telah berhasil melepaskan diri dari tangan lawan-lawannya yang garang. Namun demikian, terasa pada Ki Gampar Wulung, Ki Benda dan Ki Walikat, bahwa tubuh mereka yang tidak terluka itu bagaikan remuk di dalam. Tulang-tulang mereka bagaikan retak dan ruas-ruasnya bagaikan saling terlepas.

“Gila” geram Ki Walikat, “apakah orang itu anak iblis”

“Diluar dugaan” berkata Ki Benda, “orang-orang yang kita anggap sebagai sais itu justru orang yang berilmu iblis seperti yang kau katakan itu”

“Mereka dengan sengaja mengelabui kita” berkata Gampar Wulung, “aku sama sekali tidak terluka. Tetapi rasa-rasanya aku sudah memeras semua tenaga dan kemampuanku. Jika aku harus bertempur beberapa kejap lagi, mungkin aku tidak akan mampu bertahan sama sekali. Bahkan rasa-rasanya sais kereta yang langsung aku hadapi itu, masih belum sampai ke puncak ilmunya”

“Beruntunglah bahwa kita masih sempat melarikan diri” sahut Ki Benda, “kita harus cepat menghubungi Ki Macan Wahan”

“Untuk apa cepat-cepat?“ bertanya Ki Walikat, “rasa-rasanya malas aku berjalan”

“Bodoh” geram Ki Benda, “kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas dendam malam nanti. Jika dua orang di antara kita sempat menemui Macan Wahan dan minta ia datang bersama Ki Dukut dan sepuluh orang lagi, maka aku kira, kita akan berhasil”

Kedua orang kawannya mengerutkan keningnya. Nampaknya mereka sedang berpikir.

Tiba-tiba saja Gampar Wulung berkata, “Mungkin kau benar. Tetapi Macan Wahan dan Ki Dukut itulah yang penting”

“Juga yang sepuluh orang. Lihat, kawan-kawan kita sudah berkurang. Meskipun lawan juga berkurang, tetapi nempaknya setiap orang di dalam pasukan lawan memiliki-kelebihan. Karena itulah maka aku kira Macan Wahan dan Ki Dukut perlu membawa sepuluh orang lagi atau lebih. Sementara ketiga orang sais dan pembantu-pembantunya itu akan kita hadapi bersama Macan Wahan dan Ki Dukut sendiri”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Tetapi Ki Walikat berkata, “Aku sependapat. Tetapi jangan hanya sepuluh orang. Kita tidak boleh terjebak lagi. Meskipun kekuatan lawan sudah berkurang, tetapi mereka benar-benar memiliki ilmu iblis. Jika kita menyuruh dua orang di antara kita menemui Ki Macan Wahan, maka biarlah kita pesankan agar ia membawa orang sebanyak-banyaknya dan tidak kurang dari sepuluh di samping Macan Wahan dan Ki Dukut sendiri”

“Baiklah. Kita akan segera menyuruh dua orang di antara kita untuk menemui mereka. Berkuda dan secepatnya” desis Gampar Wulung.

“Bagaimana dengan kita?“ bertanya yang lain.

Gampar Wulung termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Ki Benda dan Ki Walikat berganti-ganti. Baru sejenak kemudian ia berkata, “Bukankah sebaiknya kita memperhitungkan kemungkinan, sampai dimana iring-iringan itu akan berhenti lagi nanti malam”

“Ya. Kita akan berada ditempat itu. Tengah malam kita menyerang mereka sekali lagi dengan kekuatan yang lebih besar, sementara kekuatan lawan telah berkurang. Apalagi di antara kita terdapat Macan Wahan dan Ki Dukut Pakering sendiri, selain sepuluh orang kawan atau lebih akan datang bersama mereka”

Demikianlah, maka mereka telah menunjuk dua orang yang harus berkuda secepatnya kembali ke padukuhan Macan Wahan. Keduanya harus melaporkan apa yang terjadi. Dan Mereka pun harus kembali bersama Macan Wahan dan Ki Dukut bersama paling sedikit sepuluh orang kawan lagi.

Setelah semua pesan diterima dengan jelas, maka dua orang di antara mereka telah berpacu kembali ke padepokan Macan Wahan. Keduanya pun mendapat pesan, dimana kira-kira pasukan yang gagal itu akan menunggu.

“Kegagalan ini bagikan membakar jantungku“ berkata Ki Benda, “aku benar-benar ingin mencincang orang yang menyebut dirinya pedagang besi betuah dan batu-batu ber harga itu”

“Bukan hanya orang itu” geram Ki Walikat, “semua orang di dalam kelompok itu. Mereka harus mengerti bahwa kita mempunyai kemampuan untuk melakukannya. Jika kita gagal itu semata hanya karena kelengahan kita saja”

Gampar Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Jangan cemas, Malam nanti kita akan dapat melepaskan dendam kita bersama Ki Dukut dan Mancan Wahan. Pasukan kecil yang membawa perempuan dari Singasari ke Kediri itu ten tu tidak akan mampu berbuat apa-apa”

“Kita akan melakukannya” sahut Ki Benda, “dan sekarang kita masih mempunyai waktu untuk beristirahat. Pedati-pedati itu merayap seperti siput. Sementara kita akan tidur barang sekejap untuk melupakan sakit hati sambil memberikan kesempatan orang-orang kita yang terluka, untuk sedikit mendapatkan kesegaran baru, sebelum kita bersama-sama melepaskan dendam yang membara di hati”

Demikianlah, maka orang-orang dari lingkungan ilmu hitam itu masih sempat beristirahat, yang terluka masih sempat mendapat perawatan dan pengobatan, sementara mereka harus bersiap-siap untuk bertempur lagi malam nanti. Namun dengan beberapa orang kawan yang masih segar dan dua orang yang pilih tanding.

“Tugasku tidak akan terlalu berat malam nanti” berkata salah seorang dari mereka yang terluka di lengan.

“Mudah-mudahan yang kita harapkan benar-benar akan datang” berkata yang lain, “jika benar, maka jumlah kita akan berlipat. Dan orang-orang Kediri itu sudah semakin surut. Apalagi mereka tentu akan ketakutan melihat Ki Dukut diantara kita”

“Kita pergunakan waktu ini sebaik-baiknya, “lewat tengah hari kita akan menyusul mereka, dan menemukan tempat yang kita harapkan dapat menjadi tempat persembunyian yang baik sebelum kita menyerang”

“Sebaiknya kita berangkat menjelang senja. Kita mempunyai waktu banyak. Berapa jarak yang dapat dicapai oleh pedati-pedati itu?” berkata yang lain pula.

Tetapi mereka tidak dapat mengatur segalanya. Mereka harus tunduk perintah pemimpin mereka. Apapun yang harus mereka lakukan, harus mereka lakukan.

Sementara itu, dua orang kawan mereka telah berpacu sekencang-kencangnya. Mereka berusaha untuk tidak terlambat, karena kesempatan mereka untuk menyerang iring-iringan itu memang tidak terlalu panjang lagi. Semalam mereka harus melakukannya sebelum iring-iringan itu memasuki tlatah Kediri.

Dalam pada itu, perlahan-lahan pedati-pedati yang diiringi oleh para pengawal itupun maju terus. Beberapa orang yang terluka mengerang di dalamnya. Sementara isteri Pangeran Kuda Padmadata yang terpaksa menunggang kuda dengan tubuh yang miring, cepat menjadi letih. Karena itu, maka kadang-kadang justru ia lebih senang berjalan bersama Pangeran Kuda Padmadata yang menyerahkan kudanya kepada orang lain.

Namun dalam pada itu, ketika perjalanan itu menjadi semakin jauh, maka Mahisa Agni pun kemudian mendapatkan Pangeran Kuda Padmadata untuk memberikan beberapa pertimbangan mengenai perjalanan yang gawat itu.

“Pangeran” berkata Mahisa Agni, “semalam kita masih akan bermalam diperjalanan”

“Ya” sahut Pangeran Kuda Padmadata.

“Bukankah dengan demikian masih akan dapat terjadi beberapa hal yang tidak kita inginkan” berkata Mahisa Agni lebih lanjut.

“Ya, agaknya memang demikian” jawab Pangeran Kuda Padmadata, “bukankah dengan demikian kita harus berhati-hati”

“Tidak cukup sekedar berhati-hati” berkata Mahisa Agni kemudian.

“Jadi?“

“Pangeran” berkata Mahisa Agni lebih lanjut, “orang yang gagal itu akan dapat menghimpun kekuatan lagi setelah mereka mengetahui kekuatan kita. Mereka akan dapat datang lagi dengan kekuatan yang jauh lebih besar untuk menghancurkan kita”

Pangeran Kuda Padmadata mengerutkan keningnya. Namun iapun mengangguk-angguk sambil menjawab, “Memang benar. Kemungkinan itu besar sekali”

“Nah, karena itu, kita harus berjaga-jaga” Mahisa Agni menambahkan.

“Apa yang baik kita lakukan?“ bertanya Pangeran Kuda Padmadata, “mempercepat perjananan ini, dan memaksa memasuki Kediri, meskipun lewat malam?“

Tetapi Mahisa Agni menggeleng sambil menjawab, “Tidak perlu Pangeran. Isteri Pangeran dan putera Pangeran akan terlalu letih.”

Pangeran Kuda Padamata mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bertanya., “Jika kita tidak dapat memaksa diri memasuki kota, apa yang harus kita lakukan?”

“Pangeran sebaik mengutus dua atau tiga orang mendahului perjalanan ini dengan nama Pangeran Kuda Padmata, kedua atau tiga orang itu dapat memerintahkan sepasukan pengawal untuk menjemput atau menyongsong iring-iringan ini”

Pangeran Kuda Padmata mengangguk-angguk. katanya, “Tepat sekali, ternyata pikiranku tidak cukup jernih menanggapi keadaan seperti ini”

Dengan demikian maka Pangeran Kuda Padmata pun segera memerintahkan tiga orang pengawalnya untuk mendahului memasuki kota. Meraka dapat berkuda secara cepat. Mereka dapat berpacu sehingga mereka akan segera sampai ke kota. Dengan cepat pasukan pengawal akan disiapkan untuk segera menyongsong iring-iringan yang berjalan lambat, justru karena ada beberapa buah pedati di dalamnya.

Di perjalanan, keduanya tidak terlalu banyak yang dipercakapkan. Rasa-raanya mereka ingin segera sampai ke padepokan. Menyampaikan persoalannya, kemudian kembali dengan sekelompok kawan-kawannya yang kuat, yang akan sanggup mencincang para pengawal dari Kediri yang jumlahnya sudah susut, meskipun sedikit.

”Mereka terlalu sombong” geram yang seotang di dalam hatinya, ”Mereka harus mendapat hukuman setimpal”

Demikianlah, maka akhirnya mereka pun berhasil mencapai padepokan Macan Wahan. Dengan tergesa-gesa mereka memasuki regol tanpa meloncat turun dari kuda mereka. Baru ketika mereka sudah sampai ke seketeng, mereka baru menghentikan kuda mereka dan berloncatan turun.

Macan Wahann yang mendengar derap kaki kuda itu pun terkejut. Dengan tergesa-gesa, ia keluar dari ruang dalam. Di pendapa, ia berdiri termangu-mangu. Dilihatnya, dua orang yang datang itu dengan tergesa-gesa pula mendapatkannya.

Ketika mereka sudah duduk di pendapa, maka Macan Wahan pun segera bertanya, apakah yang telah terjadi.

Kedua orang itu kemudian berceritera berganti-ganti. Mereka menceriterakan kegagalan mereka. Karena itu, maka serangan itu harus diulangi.

Macan Wahan menggeretakkan giginya. Ia rasa-rasa nya ikut terjebak bersama ketiga orang kawannya itu.

“Untunglah, mereka bertiga selamat” berkata Ki Macan Wahan, “dengan demikian mereka masih mendapat kesempatan untuk melepaskan dendam mereka kepada orang-orang Kediri itu”

“Ya” jawab salah seorang yang datang menghubungi Macan Wahan, “ kita harus berangkat dengan pasukan yang kuat. Paling sedikit sepuluh orang ditambah Ki Macan Wahan dan Ki Dukut sendiri”

“Tidak hanya sepuluh” berkata Macan Wahan, “kita akan pergi dengan lima belas orang atau lebih. Semua orang yang sekarang ada di padepokan, akan aku bawa bersama kita”

“Bagus” geram salah seorang dari kedua penghubung itu, “kita akan dapat melepaskan dendam atas kematian kawan-kawan kita yang terjebak itu”

“Kita akan segera memberitahukan kepada Ki Dukut“ berkata Macan Wahan.

“Ya. Dan kita memang harus segera berangkat” berkata salah seorang dari kedua orang penghubung itu, “menjelang tengah malam kita akan sampai”

Macan Wahan itupun kemudian telah menyuruh seseorang memanggil Ki Dukut yang masih berada di padepokan itu untuk diberi tahu masalah yang sedang mereka hadapi.

Namun demikian Ki Dukut yang kemudian duduk di pendapa itu mendengar rencana Macan Wahan untuk mengirimkan beberapa orang itupun berkata, “Rencana itu sangat tergesa-gesa”

“Ya, Kita harus dengan cepat melakukannya” berkata Macan Wahan.

“Ya. Menurut perhitunganku, ia akan berbuat demikian” jawab Ki Dukut.

Macan Wahan menjadi tegang. Katanya, “Tetapi hal itu masih belum tentu. Kita dapat mencoba. Mungkin mereka tidak berbuat demikian, sehingga kita mendapat kesempatan yang baik untuk membinasakan seorang Pangeran dan merampas segala miliknya yang dibawanya. Bukankah sejalan dengan rencana Ki Dukut untuk mengguncang Kediri, agar mereka terbangun dari mimpi yang manis, sementara angin yang sejuk masih ditiupkan oleh orang-orang Singasari”

Ki Dukut tertawa. Katanya, “Kau sudah mulai menyadari, betapa rendahnya martabat Kediri dimata orang Singasari. Karena itu, maka kita harus menjaga diri, agar kita tidak terperosok kedalam kesalahan demi kesalahan. Percayalah kepadaku, menurut perhitunganku. Pangeran Kuda Padmadata pun akan berbuat seperti yang kita lakukan. Menjemput sepasukan pengawal. Jika kita akan terjebak dan hancur sama sekali, maka tidak akan ada orang yang masih bercita-cita untuk memulihkan kebesaran Kediri dan memaksa Singasari mempersempit kekuasaannya kembali menjadi Pakuwon seperti masa Tunggul Ametung menjadi seorang Akuwu”

Macan Wahan terdiam. Namun masih nampak di wajahnya. betapa dendam menyala dihatinya. Betapa ia ingin menumpahkan dendamnya dengan memusnahkan iring-iringan Pangeran Padmadata yang telah berhasil mengelabui kawan-kawannya dan menjebaknya. Untunglah bahwa tiga orang kawannya berhasil menyelamatkan diri.

Tetapi ia pun dapat mengerti, keterangan yang dikata kan oleh Ki Dukut. Kemungkinan itu memang dapat terjadi. Jika sekali lagi ia terjebak, maka mungkin sekali orang-orangnya akan benar-benar dihancurkan.

Meskipun demikian, Macan Wahan tidak ingin melepaskan kemungkinan yang baik itu. Maka katanya, “Kita Dukut, biarlah kita melihat kemungkinannya. Kita akan pergi. Tetapi kita pun akan melihat, apakah pasukan Kediri itu datang atau tidak. Jika pasukan Kediri itu datang, kita tidak akan berbuat apa-apa. Tetapi jika tidak, maka kita akan memusnahkan iring-iringan itu sampai lumat”

Ki Dukut tertawa. Katanya, “Baiklah. Mungkin hal ini memang dapat dicoba”

“Jika demikian, kita harus segera berangkat, semua orang yang ada akan kita bawa. Kita hanya perlu tiga orang untuk menunggui padepokan ini, disamping beberapa orang perempuan” berkata Macan Wahan.

Demikianlah, maka dengan tergesa-gesa padepokan itu bersiap-siap. Bagaimanapun juga, masih tersimpan harapan dihati Macan Wahan, bahwa ia akan dapat membalas sakit hati kawan-kawannya yang terjebak. Bahkan masih ada harapan Untuk dapat mencincang iring-iringan dari Singasari ke Kediri itu sampai lumat.

Sejenak kemudian, maka pasukan dari padepokan yang diselimuti oleh ilmu hitam itu sudah siap. Ternyata masih ada sembilan orang ditambah dengan sisa orang-orang Ki Benda, Ki Walikat dan Ki Gampar Wulung yang memang tidak dibawa, karena mereka telah membawa orang berlebihan dari padepokannya dan mereka harus mempersiapkan segala sesuatu jika diperlukan.

“Semua ada tigabelas orang” berkata Macan Wahan, “ditambah kita berdua. Nampaknya kita akan dapat berhasil”

“Apa yang berhasil?“ bertanya Ki Dukut.

Macan Wahan menegang. Namun iapun tersenyum pahit sambil menjawab, “Aku masih mengharap hal itu terjadi. Mencincang sampai lumat”

“Mudah-mudahan harapan itu akan dapat kita lakukan” sahut Ki Dukut, “tetapi kita tidak boleh terseret oleh arus perasaan. Kita harus mempertimbangkan tingkah laku kita dengan nalar. Sehingga kita tidak akan kehilangan perhitungan yang mapan”

Macan Wahan menarik nafas. Namun ia tetap berniat untuk melepaskan dendamnya. Apapun yang akan terjadi, jika orang-orang Kediri itu tidak memanggil pasukan yang kuat dari kota.

Demikian, maka iring-iringan sekelompok orang-orang berilmu hitam itupun kemudian berangkat dari padepokan Macan Wahan. Mereka langsung menuju tempat yang sudah ditunjuk lewat penghubung yang kembali ke padepokan itu.

Dalam pada itu, ternyata kawan-kawan Macan Wahan yang gagal, masih saja beristirahat di tempatnya. Mereka merasa tidak perlu tergesa-gesa, karena mereka masih mempunyai banyak waktu. Jika iring-iringan yang lebih lambat dari berjalan kaki, karena ada beberapa buah pedati bersama mereka itu menempuh satu hari perjalanan, maka mereka akan dapat menyusul jarak itu beberapa saat saja dengan kuda yang berpacu.

“Kita tidak usah membuang banyak waktu“ berkata Ki Benda, “kita sudah dapat memperhitungkan, sampai di mana kira-kira perjalanan pedati itu dalam satu hari”

Karena itulah, maka orang-orang berilmu hitam itu dapat tidur dengan nyenyak. Mereka benar-benar dapat beristirahat untuk pada malam harinya kembali mengerahkan kemam puan untuk bertempur melawan para pengawal dari Kediri. Tetapi kekuatan pengawal itu sudah berkurang, sementara kekuatan orang berilmu hitam itu tentu akan bertambah. Meskipun ada diantara mereka yang terbunuh atau terluka parah, tetapi yang akan datang, jumlahnya tentu akan lebih banyak.

Baru pada saat yang diperkirakan sudah cukup, maka orang-orang berilmu hitam itupun mulai mengemasi diri. Mereka membenahi pakaian dan senjata mereka. Kemudian mereka pun berusaha untuk mendapatkan air pada sebatang sungai untuk menyegarkan tubuh mereka.

Agar tidak menimbulkan kecurigaan di sepanjang jalan yang akan mereka lewati, maka orang-orang berilmu hitam itu pun telah membagi diri ke dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil. Mereka telah membagi pula arah yang akan mereka lalui. Sesuai dengan pengembaraan mereka dalam kehidupan mereka yang hitam, maka sebagian dari mereka telah dapat mengenali daerah itu dengan cukup baik, sehingga orang-orang itulah yang akan menjadi penunjuk jalan menuju ke tempat yang sudah mereka tentukan.

Ki Walikat tertawa. Katanya, “Kau benar. Mereka tentu lebih senang bermimpi indah daripada menjaga kemungkinan kedatangan kita, karena mereka mengira bahwa kita sudah berhasil mereka hancurkan”

“Kita akan sampai ke tempat itu menjelang tengah malam” berkata Ki Gampar Wulung, “dengan demikian maka kewaspadaan orang-orang Kediri itu sudah mulai susut. Seperti semalam, jika bukan karena mereka memiliki kemampuan yang jauh melampaui kemampuan kita, maka mereka sudah mulai menjadi lengah. Apalagi malam nanti. Mereka tentu mengira bahwa kita tidak akan kembali”

“Pasukan pengawal itu tentu akan dapat mencapai tempat kita bermalam sebelum tengah malam” berkata Mahisa Agni kemudian.

Pangeran Kuda Padmadata mengangguk-angguk. Beberapa orang yang kemudian mengetahui pula rencana itu, telah sependapat. Karena orang-orang yang menyerang itu akan dapat berbuat apa saja untuk kepentingan mereka yang tidak lagi mempertimbangkan martabat kemanusiaan mereka lagi.

Ketika tiga orang itu berpacu menuju ke Kediri, maka dua orang dari antara yang berilmu hitam itu pun telah berpacu pula menuju ke padepokan Macan Wahan. Dengan tangkasnya kuda-kuda mereka menyusup, di antara gerumbul-gerumbul dan hutan. Karena penjelajahan yang pernah mereka lakukan, maka mereka pun dapat memilih jalan memintas yang akan dapat memperpendek jarak.

“Kita harus sampai ke padepokan dan kemudian membawa sekelompok kawan-kawan kita dengan cepat. Kita harus sampai ketempat yang ditunjuk itu sebelum tengah malam. Beristirahat sejenak. Kemudian dia lewat tengah malam, menyerang iring-iringan yang tentu sedang beristirahat seperti semalam” berkata salah seorang dari mereka.

“Tentu” jawab yang lain, “Kita akan segera sampai dan kitapun akan segera berangkat lagi”

“Tetapi kita masih harus berpikir dengan bening. Apakah kau pikir rencana itu akan berhasil?“ bertanya Ki Dukut.

“Tentu. Kenapa tidak? Orang-orang Kediri itu telah susut, mungkin terbunuh, mungkin terluka. Sementara jumlah kita bertambah. Bahkan kita berdua pun ikut bersama mereka”

Ki Dukut merenungi kata-kata Macan Wahan itu sejenak. Namun rasa-rasanya ia tidak sependapat. Karena itu. maka katanya, “Sebaiknya kita berpikir dua tiga kali
lagi”

Jawaban itu mengejutkan. Dengan dahi yang berkerut, Macan Wahan bertanya kepada Ki Dukut, “Kenapa kita masih harus ragu-ragu. Persoalannya sudah jelas. Dan kita tidak dapat menunggu lagi”

Tetapi Ki Dukut masih menggeleng sambil berkata, “Persoalannya masih belum jelas”

“Yang mana yang belum jelas?“ bertanya Macan Wahan.

“Kau kira, bahwa Pangeran Kuda Padmadata tidak dapat minta bantuan ke Kediri, seperti kawan-kawan kita minta bantuan kepada kita?”

Macan Wahan tertegun sejenak. Namun kemudian katanya, “Apakah meraka sempat juga berpikir seperti itu?”

“Tentu. Ia tentu berpikir tangkas seperti kawan-kawan kita. Dua orang di antara mereka pergi ke Kediri untuk menjemput sekelompok pengawal, jika kita masih harus menghitung, berapa orang kawan kita yang dapat melakukan hal itu, maka di Kediri, Pangeran Kuda Padmadata tinggal menyebut, berapa orang pengawal yang diinginkannya. Sepuluh, dua puluh, tiga puluh, bahkan seratus. Meskipun yang seratus itu bukan pengawal pilihan seperti yang sepuluh orang dan para sais yang telah menjebak kawan-kawan kita itu, namun mereka adalah pengawal-pengawal yang terlatih baik” jawab Ki Dukut.

Macan Wahan menjadi tegang. Katanya, “Memang mungkin. Tetapi, apakah kira-kira Pangeran Kuda Padmadata akan berbuat demikian”

“Kita akan mencincang setiap orang dari para pengawal itu” sahut Ki Benda, “hatiku masih terlalu pedih melihat kesombongan Mahendra dengan pedangnya yang mampu mengimbangi pusakaku. Jika aku tidak mengingat nasib orang-orang kita yang seolah-olah kehilangan kesempatan sama sekali, maka aku tentu sudah berhasil membunuhnya”

Tetapi Ki Gampar Wungkul menyahut, “Bagaimana anggapan kita, tetapi ternyata kita telah gagal. Sebaiknya kita menjadi lebih berhati-hati dan berbuat lebih banyak lagi, agar kita akan dapat berhasil”

Ki Benda menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun mengangguk-angguk sambil berkata, “Kau benar. Dan aku akan menebus kegagalan itu”

Demikianlah maka kelompok-kelompok kecil itu pun segera berangkat menuju ke tempat yang telah mereka sepakati. Mereka telah menebar melalui jalan masing-masing. Justru mereka memilih jalan yang tidak banyak dilalui orang, dan jalan-jalan setapak. Meskipun kadang-kadang kuda mereka tidak dapat berlari kencang, namun perjalanan mereka tidak banyak bertemu dengan orang-orang yang bagaimanapun juga akan memperhatikan mereka.

Dalam pada itu, di Kediri, seorang perwira pengawal tengah sibuk menyiapkan sepasukan pengawal yang akan menjemput Pangeran Kuda Padmadata. Tiga orang utusan Pangeran Kuda Padmadata telah menghadap dan menyampaikan apa yang telah terjadi.

“Pangeran Kuda Padmadata telah bermain dengan api” berkata perwira itu, “kenapa Pangeran hanya membawa sepuluh orang pengawal. Untunglah, diantara mereka terdapat tiga orang Singasari yang bersedia membantu mereka, meskipun mereka hanya sais pedati”

“Mereka bukan sebenarnya sais” sahut seorang utusan.

“Aku tahu” jawab perwira itu. Lalu, “Aku siapkan sekarang sepuluh orang pengawal lagi. Tetapi bersama mereka akan ikut serta tiga orang perwira, sehingga jumlahnya akan menjadi tiga belas orang. Dan akupun masih mengirimkan pengganti kawan-kawanmu yang terluka sebanyak tiga orang. Dengan demikian, maka kami semuanya akan berjumlah enam belas orang. Kami akan bersamamu menyongsong Pangeran Kuda Padmadata”

“Marilah. Kita harus bertemu dengan iring-iringan itu tidak terlalu jauh memasuki malam hari” berkata salah seorang utusan itu.

Ternyata para pengawal itu pun segera dapat mempersiapkan diri. Dalam waktu yang pendek, maka iring-iringan itu pun telah siap untuk berangkat. Sepuluh orang pengawal pilihan, tiga orang perwira dan tiga orang pengawal lagi untuk meggantikan tiga pengawal yang terluka. Bersama dengan tiga orang utusan, maka mereka akan berjumlah sembilan belas orang”

“Apakah jumlah ini terlalu kecil?“ bertanya perwira pengawal itu.

“Aku kira tidak. Dan aku pun tidak pasti, apakah mereka masih akan mengganggu” berkata utusan itu.

“Siapa tahu. Mungkin mereka sempat memanggil kawan-kawannya yang lain. Tetapi pasukan yang aku bawa ini cukup kuat menghadapi jumlah orang berlipat dua” berkata perwira itu.

Demikianlah, maka sepasukan kecil pengawal dari Kediri itu pun segera berpacu menyongsong Pangeran Kuda Padmadata. Mereka tidak ingin terlambat, dan tinggal menemukan sisa-sisa pasukan dan iring-iringan Pangeran Kuda Padmadata. Karena itu, maka mereka pun telah berpacu secepat-cepatnya menyusuri jalan yang menghubung kan jarak yang cukup panjang, Kediri dan Singasari.

Dalam pada itu, Pangeran Kuda Padmadata masih merayapi jalan yang berdebu. Di siang hari matahari bagaikan membakar kulit. Pada keadaan yang terpaksa, maka isteri Pangeran Kuda Padmadata dan anak laki-lakinya telah berada di dalam pedati yang membawa bekal dan barang-barang yang lain. Lebih baik berada di dalam satu pedati meskipun berdesakan dengan barang-barang, daripada berada di dalam satu pedati dengan orang-orang yang terluka.

Ketika langit menjadi buram, maka isteri dan anak Pangeran Kuda Padmadata itu menjadi berdebar-debar kembali. Rasa-rasanya peristiwa semalam masih akan terulang lagi. Apalagi pengawal yang berada di antara mereka tinggal empat orang. Tiga orang terluka, dan tiga yang lain menghubungi pengawal di Kediri. Dalam keadaan yang demikian, maka kemungkinan yang paling pahit akan dapat terjadi.

Meskipun demikian, Pangeran Kuda Padmadata sempat juga menenangkan hati mereka. Bahwa orang-orang yang telah mencegat iring-iringan itu benar-benar telah dihancurkan.

“Seandainya mereka akan melakukannya lagi, mereka tentu memerlukan bantuan. Untuk mendapatkan bantuan itu mereka memerlukan waktu yang tidak kalah panjangnya dengan perjalanan pengawal-pengawal kita ke Kediri”

Isteri Pangeran itu pun mengangguk-angguk. Tentu ia percaya kepada suaminya. Suaminya adalah seorang Pangeran yang memiliki ilmu yang cukup dan pengetahuan serta pengalaman yang luas. Meskipun pada suatu saat, perempuan itu pernah berprasangka bahwa suaminya dianggapnya tidak setia. Namun ternyata bahwa dugaan itu salah. Suaminya pun telah terjerat ke dalam satu permainan yang hampir saja menelan nyawanya.

Waktu rasa-rasanya berjalan dengan lamban dan mendebarkan. Ketika malam turun, maka iring-iringan itupun segera mencari tempat yang paling baik untuk berhenti. Seperti malam sebelumnya mereka lebih senang berada di tempat yang terbuka dan dapat memandang ke arah yang jauh, sehingga mereka akan segera dapat melihat, jika ada orang-orang yang dengan maksud buruk mendekati mereka.

“Kita tidak dapat bersembunyi” berkata Pangeran Kuda padmadata, “karena itu, buatlah perapian. Biarlah malam menjadi sedikit hangat”

Ketika dingin malam mulai menyentuh kulit, maka di tengah-tengah lingkaran peristirahatan itu, terdapat sebuah perapian yang cukup besar, sehingga panasnya dapat menghangatkan keadaan di seputarnya. Bahkan pedati-pedati yang berada beberapa langkah dari perapian itu pun telah dihangatkan pula. Orang-orang yang terluka, yang berada di dalam pedati itu pun merasa, hangatnya perapian yang menyala cukup besar.

Para pengawal telah melemparkan beberapa potong kayu, ranting-ranting kering dan batang-batang perdu. Sehingga api itu dapat dipertahankan nyalanya.

Sementara itu, langit menjadi cerah. Bulan yang masih cukup bulat mulai menerangi alam yang terbentang dari ujung ke ujung cakrawala.

Anak laki-laki Pangeran Kuda Padmadata di saat-saat melupakan kegelisahannya berbicara juga tentang langit, bulan dan bintang-bintang. Bahkan rasa-rasanya tidak jemu-jemunya ia memandang cahaya bulan yang kekuningan jatuh di atas dedaunan dan rerumputan. Tetapi derik cengkerik dan belalang, terasa membuat kulitnya berkerut.

Karena para pengawal tinggal empat orang, maka mereka telah membagi tugas mereka dengan Mahisa Bungalan, Mahisa Pukat dan Mahisa Murti. Sementara Ki Wastupun telah menghitung dirinya sendiri untuk ikut serta berjaga-jaga.

“Setiap saat, empat orang harus siap mengamati empat arah” berkata Ki Wastu.

Mahisa Bungalan dan kedua adiknya sama sekali tidak berkeberatan. Bahkan kemudian Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra pun telah bersedia pula ikut berjaga-jaga.

“Biarlah, empat orang pengawal dan anak-anak muda itu berjaga-jaga bergantian bersama aku” berkata Ki Wastu.

Tetapi Mahisa Agni manjawab, “Kami akan membuat giliran tersendiri”

Ki Wastu tersenyum, jawabnya, “Terima kasih. Dengan demikian, kami akan merasa semakin tenang”

Namun dalam pada itu, Pangeran Kuda Padmadata menjadi gelisah, karena utusannya ke Kediri masih belum kembali. Apakah mereka selamat sampai ke Kediri atau tidak. Jika ketiganya sampai ke Kediri, maka para pemimpin pengawal di Kediri tentu tidak akan berkeberatan.

Tetapi kegelisahan itu tidak berlangsung terlalu lama. Ketika bulan naik sepenggalah, maka terdengar derap kaki kuda gemuruh dari arah Kediri.

“Apakah mereka datang?“ desis Mahisa Agni. Sementara itu, Pangeran Kuda Padmadata pun telah berdiri di dekat perapian. Ketika Mahisa Agni, Witantra dan Mehendra datang mendekatinya, ia berkata, “Agaknya mereka telah datang”

“Tetapi berhati-hatilah Pangeran” desis Ki Wastu, “mudah-mudahan mereka. Tetapi jika bukan kita jangan lengah”

Derap kaki kuda itu terdengar semakin lama menjadi semakin dekat. Dalam keremangan cahaya bulan, iring-iringan itu mulai nampak bergerak di sepanjang jalan dari arah Kediri.

Karena itu, maka para pengawal Kediri yang tinggal empat orang itupun rasa-rasanya menjadi semakin tenang. Mereka akan mendapat kawan-kawan baru yang akan dapat berbuat lebih banyak dari mereka sendiri.

Namun agaknya Pangeran Kuda Padmadata sendiri benar-benar tidak ingin terjebak. Karena itu, maka iapun kemudian melangkah mendekati seorang pengawalnya sambil berkata, “Hati-hatilah”

“Kami yakin” desis pengawal itu.

Sebenarnyalah, bahwa di dalam keremangan bulan, iring-iringan itu sudah nampak semakin jelas. Mereka-adalah para pengawal dari Kediri, yang datang lebih cepat yang diduga.

Para pengawal dari Kediri itu pun segera melihat perapian yang menyala tidak terlalu jauh dari jalan yang mereka lalui. Sesuai dengan perhitungan para pengawal menghubungi mereka, maka di sekitar daerah itulah, iring-iringan Pangeran Kuda Padmadata akan berhenti.

Kedatangan para pengawal itu telah disambut dengan gembira oleh setiap orang yang berada di dalam iring-iringan itu. Para perwira yang datang bersama para pengawal itupun segera diperkenalkan dengan orang-orang yang berada di dalam iring-iringan Pangeran Kuda Padmadata.

Namun seorang dari para perwira itupun tiba-tiba berdesis, “Aku sudah mengenal Senapati Agung dari Singasari yang pernah berada di Kediri ini”

“Sstt” desis Pangeran Kuda Padmadata, “jangan sebut itu. Ia tidak ingin hal itu diketahui banyak orang. Ada dua orang yang pernah mendapat kedudukan seperti itu di sini. Mahisa Agni dan Witantra”

“Ya” berkata Perwira itu, “tetapi bagaimana aku harus bersikap”

“Bersikaplah biasa saja seperti kalian bersikap dengan orang-orang lain yang pantas mendapat kehormatan sewajarnya, tidak berlebih-lebihan”

Perwira itu mengangguk-angguk. Namun rasa-rasanya segan juga ia menghadapi Mahisa Agni dan Witantra.

Dalam pada itu, maka para pengawal yang baru datang itupun dipersilahkan beristirahat barang sejenak. Para pengawal yang terdahulu ternyata sudah mempersiapkan air hangat dengan gula kelapa yang dapat membuat para pengawal yang baru datang itu menjadi segar.

“Beristirahatlah” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu. Sehingga kalian tidak perlu bersusah payah mempermainkan senjata kalian. Tetapi jika hal itu harus terjadi, maka kalian sudah mendapat kesempatan beristirahat barang sejenak”

Para pengawal itu pun kemudian berpencar setelah minum beberapa teguk. Mereka benar-benar ingin beristirahat. Bagaimanapun juga perjalanan mereka, memang perjalanan yang melelahkan karena mereka harus berpacu secepat-cepatnya agar mereka tidak terlambat. Ternyata yang mereka temukan, iring-iringan yang masih utuh.

Beberapa orang diantara pengawal itu pun telah berbaring di atas rerumputan di sebelah pedati yang berhenti dalam lingkaran. Orang-orang yang terluka, masih berada di dalamnya. Namun ada juga di antara mereka yang merasa dirinya masih mampu, merasa lebih senang turun dari pedati dan berbaring di atas rerumputan pula. Udara malam yang sejuk telah membuat tubuh mereka serasa bertambah segar.

Namun bagaimanapun juga. Orang-orang yang berilmu hitam itu masih juga perlu mendapat pengawasan, meskipun mereka terluka.

Dalam pada itu, Ki Benda, Ki Walikat dan Ki Gampar Wungkul semakin lama menjadi semakin dekat pula. Mereka benar-benar merasa tidak perlu tergesa-gesa. Mereka menganggap perlu untuk manghemat tenaga mereka, karena mereka masih akan mempergunakannya lewat tengah malam.

Ternyata perhitungan mereka tidak terlalu jauh meleset. Setelah berusaha menemukan tempat bagi mereka sesuai dengan pembicaraan di antara mereka, maka orang-orang berilmu hitam itupun mulai mengatur diri. Mereka menugaskan dua orang di antara mereka untuk meyakinkan, tempat peristirahatan iring-iringan Pangeran Kuda Padmadata.

Usaha itu tidak terlalu sulit. Perapian yang menyala di antara para pengawal itu segera menarik perhatian kedua orang itu. Karena itu, maka dengan hati-hati mereka pun merayap mendekat sedapat mereka capai. Karena merekapun sadar, bahwa di antara orang-orang yang berada di dalam iring-iringan itu adalah orang-orang berilmu tinggi.

“Nampaknya sepi-serpi saja” desis yang seorang.

“Aku tinggal di sini. Berikan laporan, bahwa kami telah menemukan tempat itu, tidak terlalu jauh dari tempat yang kita perkirakan. Aku akan mengawasi jika ada perubahan terjadi pada mereka” sahut yang seorang.

Yang lain pun segera memberikan laporan, sementara kawannya tetap mengawasinya.

Namun karena ternyata kedatangan para pengawal dari Kediri lebih dahulu dari mereka, maka orang berilmu hitam itu tidak sempat melihat, sebuah iring-iringan telah berada di dalam lingkungan iring-iringan dari Singasari itu pula.

Sementara itu. Macan Wahan dan Ki Dukut Pakering pun telah sampai ke tempat yang disebut-sebut oleh para penghubung. Mereka pun tidak terlalu sulit untuk menemukan kawan-kawan mereka, karena satu dua orarig di antara mereka telah mengenal daerah itu.

“Kita cukup kuat” desis Macan Wahan kemudian setelah ia mendengar laporan Ki Walikat.

“Sekali lagi aku peringatkan, apakah orang-orang Kediri itu tidak mendapat bantuan dari kawan-kawan mereka” berkata Ki Dukut.

Macan Wahan menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada berat ia berkata, “Ternyata Ki Dukut Pakering adalah orang yang sangat berhati-hati. He, apakah Kalian yang berada di sini dapat mengatakan, apakah orang-orang Kediri itu telah memanggil kawan-kawannya?“

Ki Benda, Ki Walikat dan Ki Gampar Wungkul termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Ki Walikat bertanya kepada orang yang telah melihat keadaan tempat peristirahatan Pangeran Kuda Padmadata itu, “Sepengetahuanku, keadaan di tempat itu terasa sangat sepi. Aku hanya melihat api yang menyala di antara tiga buah pedati yang melingkarinya”

“Agaknya Pangeran Kuda Padmadata menjadi ketakutan” berkata Ki Benda, “untuk membesarkan hatinya ia telah membuat perapian sebesar-besarnya”

Ki Gampar Wungkul mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat. Tetapi sebaiknya, biarlah kita melihat sekali lagi. Mungkin sepeninggal pengamat itu, pengawal dari Kediri telah berdatangan”

“Aku sependapat” desis Macan Wahan, “perintahkan kepada dua orang untuk melihat kembali di tempat itu”

“Aku akan berangkat” berkata Ki Dukut, “aku ingin melihat apakah kita akan mampu berbuat sesuatu”

Macan Wahan mengerutkan keningnya. Ia melihat kesungguhan pada Ki Dukut menghadapi orang-orang Kediri. Karena itu. maka katanya, “Aku akan pergi bersama Ki Dukut. Aku pun ingin melihat apakah kekuatan kita cukup memadai”

Ternyata bahwa Ki Dukut benar-benar telah pergi untuk meyakini segala keterangan yang didengarnya tentang orang-orang Kediri itu. Dangan diantar oleh pengawas yang semula telah datang bersama seorang kawannya, maka mereka pun menemui pengawas yang seorang lagi, yang ditinggalkannya untuk selalu mengamati keadaan.

“Apakah kau melihat satu peruhahan?“ bertanya pengawas yang melapor kepada para pemimpin orang-orang berilmu hitam itu.

“Tidak” jawab kawannya.

“Apakah tidak ada orang-orang Kediri yang datang?“ bertanya Macan Wahan.

“Tidak” jawab pengawas itu.

“Nah. Bukankah sudah pasti” berkata Macan Wahan, “apa lagi yang kita ragukan?“

Tetapi nampaknya Ki Dukut masih belum puas. Katanya, “Aku akan berusaha merayap lebih dekat”

“Berbahaya sekali” desis pengawas yang telah berada di tempat itu.

Ki Dukut pun menyadari, bahwa terlalu sulit untuk dapat merapat lebih dekat lagi. Namun ia tidak akan dapat mengambil satu sikap tanpa mengetahui keadaan yang agak lebih mantap tentang sasarannya.

Karena itu, maka ia pun berusaha untuk bergeser sambil menelengkup di balik batang rerumputan liar. Namun karena Ki Dukut juga seorang yang memiliki ilmu yang tinggi, maka ia pun cukup cermat memperhitungkan keadaan.

Meskipun Ki Dukut tidak dapat mendekat, tetapi dari jarak yang lebih dekat dari tempat para pengawas, maka ia dapat melihat kuda yang cukup-banyak. Karena itu, ia berkesimpulan, meskipun hanya sedikit, tetapi Kediri telah mengirimkan bantuan kepada Pangeran Kuda Padmadata.

“Kuda itu tidak hanya sepuluh atau dua belas. Tetapi lebih banyak dari itu” berkata Ki Dukut di dalam hatinya.

Karena itu, ketika ia kembali kepada Macan Wahan, ia berkata, “Macan Wahan, jika kau sempat memperhatikan jumlah kuda mereka, maka kau tentu akan mengambil kesimpulan yang sama dengan aku. Kediri telah mengirimkan pengawal-pengawalnya kepada Pangeran Kuda Padmadata”

“Tetapi berapa banyak? Seratus? Lima puluh?“ bertanya Macan Wahan.

“Tentu tidak sebanyak itu. Tetapi cobalah. Jika kau cukup berhati-hati, kau akan dapat mencapai jarak seperti yang dapat aku lakukan. Tahankan ilmumu sedikit sehingga kau tidak bertindak dengan kasar dan tergesa-gesa” berkata Ki Dukut.

Macan Wahan pun melakukannya. Ia pun merayap seperti yang dilakukan cleh Ki Dukut, dengan lindungan batang rumput liar yang cukup tinggi, maka ia dapat mendekat, meskipun tidak terlalu dekat. Dan seperti Ki Dukut, maka Macan Wahan pun dapat melihat kuda-kuda yang tertambat. Memang lebih banyak dari sepuluh atau duabelas ekor kuda.

Macan Wahan pun agaknya mengakui, tentu ada sekelompok pengawal baru yang datang. Tetapi menilik pengamatannya, jumlahnya tentu tidak terlalu banyak. Kuda-kuda itu pun tidak terlalu banyak.

Karena itu. ketika ia kembali kepada Ki Dukut, Ia pun berkata, “Tidak ada yang perlu dicemaskan Ki Dukut. jumlah mereka tidak terlalu banyak seandainya ada sekelompok pengawal yang baru dalang dari Kediri. Kedatangan pengawal itu tentu bukan karena peristiwa yang baru terjadi. Mungkin dalam rangka upacara atau dalam rangka apapun juga. Jika Kediri sengaja mengirimkan bantuan karena peristiwa yang baru terjadi semalam, maka yang datang tentu segelar sepapan. Agaknya pengawal-pengawal itu datang secara kebetulan dalam persoalan yang tidak ada hubungannya dengan peristiwa semalam, meskipun secara kebetulan pula mereka akan dapat membantu. Tetapi kekuatan mereka tidak akan berarti apa-apa bagi kami”

“Jangan mengabaikan peristiwa yang sedang kita hadapi ini Macan Wahan” berkata Ki Dukut, “lebih baik kita berhati-hati agar kita tidak terperosok ke dalam kegagalan lagi”

Ki Dukut masih selalu dibayangi oleh seribu kegagalan yang pernah dialami. Karena itu, ia menjadi semakin berhati-hati untuk bertindak lebih jauh lagi dalam persoalan dengan orang-orang Kediri itu.

Tetapi agaknya sikap Macan Wahan agak berbeda. Ia tidak lagi berpikir tentang rencananya seperti yang di katakan oleh Ki Dukut, ia tidak lagi berpijak kepada keinginannya untuk membantu Ki Dukut mengguncang Kediri agar Kediri terbangun dari tidurnya yang terlalu nyenyak dibuai oleh sejuknya kipas orang-orang Singasari. Meskipun makna yang paling dalam tentang hal itu pun tidak banyak dimengertinya.

Namun yang ada kemudian di dalam kepalanya adalah nyala api dengan semata-mata. Seakan-akan orang berilmu hitam menurut penilaian orang lain itu tidak mampu berbuat apa-apa menghadapi para pengawal di Kediri. Selebihnya, di pedati itu tentu terdapat barang-barang yang cukup berharga.

Karena jtu, maka katanya, “Ki Dukut. Jangan mengecilkan tekad kami yang sudah menyala sampai ke ubun-ubun. Biarlah kami menentukan sikap menghadapi orang-orang Kediri yang sombong itu. Kami tentu akan dapat menghancurkannya. Aku bukan anak-anak lagi yang hanya mampu berteriak tanpa arti. Tetapi tangan dan kakiku telah pernah aku parami dengan darah orang yang paling ditakuti oleh beberapa pihak”

“Kau terburu nafsu” desis Ki Dukut, “menurut pendapatku, niat ini harus ditunda. Kita mencari kesempatan lain. Mungkin kita justru akan datang ke istananya pada suatu saat, karena orang-orang yang memiliki kemampuan tinggi, yang telah menjebak kalian dengan berpura-pura menjadi sais itu pun tidak akan terlalu lama berada di Kediri”

“Aku sudah cukup bersabar. Aku akan berbicara dengan kawan-kawanku itu” desis Ki Macan Wahan.

Ki Dukut tidak dapat mencegah. Tetapi dihadapan Ki Benda, Walikat dan Gampar Wungkul ia ingin mencoba memberikan penjelasan tentang orang-orang Kediri itu.

Namun agaknya api dendam yang sudah menyala di hati orang-orang berilmu hitam itu sulit untuk disurutkan barang sedikit. Mereka menganggap bahwa mereka terlalu kuat untuk melakukan pembalasan. Apalagi menurut kesaksian Macan Wahan, jumlah orang-orang Kediri itu tidak cukup banyak menghadapi meraka.

“Jumlah kita berlipat. Betapapun tinggi ilmu para pengawal kebanyakan itu, orang-orang kita akan dapat menghancurkannya. Sementara kita akan menghadapi orang-orang yang menyebut dirinya sais pedati, sementara Ki Dukut akan Berurusan dengan Pangeran itu dan isteri serta anaknya laki-laki” berkata Macan Wahan.

Ki Dukut hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Namun ia benar-benar tidak berdaya lagi untuk mencegah orang-orang itu melepaskan dendamnya kepada orang-orang Kediri dengan tanpa perhitungan dan pertimbangan sebaik-baiknya.

Karena itu, maka ia pun hanya dapat menyerahkan segala sesuatunya kepada Macan Wahan yang juga sudah terbakar hatinya mendengar ceritera penghubung yang telah datang menjemputnya.....
Ternyata Ki Benda, Ki Walikat dan Gampar Wungkul telah berbulat tekad. Mereka akan menyerang orang-orang Kediri itu dengan segenap kekuatan yang ada dengan taruhan yang paling mahal yang akan dapat mereka berikan. Jika mereka gagal, maka mereka tidak akan dapat melepaskan diri dari maut, tetapi jika mereka berhasil maka di samping dendam yang dapat mereka lepaskan, juga isi pedati itu akan sangat menarik perhatian.

“Kita akan mengepung mereka” berkata Ki Benda, “kita akan menyerang dari arah yang berbeda”

“Seperti yang pernah kita lakukan” sahut Ki Walikat.

“Mereka akan kebingungan“ sambung Ki Gampar Wungkul.

“Dan yang pernah kalian lakukan itu ternyata gagal“ potong Ki Dukut.

“Jumlah kami tidak memadai” sahut Macan Wahan, “sekarang. orang-orang yang menyebut dirinya sais itu tidak akan dapat berbuat banyak. Mereka akan kita hadapi, dan mereka akan mati di ujung senjata kami”

“Aku masih tetap ingin mencincang orang yang bernama Mahendra” berkata Ki Benda, “jika saat itu perhatianku tidak terpecah melihat kekalahan pasukanku, maka aku tidak akan melepaskan orang yang bernama Mahendra, yang mengaku sebagai pedagang besi bertuah dan batu-batu berharga itu”

“Siapapun lawanmu, namun sasaran utama adalah Pangeran Kuda Padmadata, isteri dan anak laki-lakinya” berkata Macan Wahan.

“Dendam dan ketamakan” desah Ki Dukut.

“Ki Dukut” berkata Macan Wahan, “yang mendorong kami untuk melakukan hal ini adalah Ki Dukut sendiri. Karena itu, sekarang Ki Dukut jangan menghalangi kami”

“Bukan menghalangi, tetapi aku ingin kalian belajar mempergunakan nalar. Bukan hanya kemampuan tenaga dan kekuatan ilmu kanuragan tanpa nalar” Ki Dukut hampir berteriak.

Tetapi jawab Macan Wahan, “Marilah. Kami sudah terlanjur basah. Tidak sebaiknya kita melangkah kembali”

Ki Dukut hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Dengan, jantung yang serasa berdegup semakin keras, ia mengikuti orang-orang berilmu hitam itu mempersiapkan diri. Mereka kemudian telah membagi diri menjadi empat kelompok. Mereka akan menyerang dari segenap jurusan. Jika jatuh perintah Macan Wahan, maka mereka serentak akan menyerang, termasuk Ki Dukut Pakering.

“Apakah aku juga harus ikut membunuh diri?“ bertanya Ki Dukut kepada diri sendiri. Meskipun ia tidak pasti, bahwa orang-orang yang berilmu hitam itu akan kalah, namun itulah kemungkinan terbesar yang dapat terjadi. Para pengawal Kediri bukan orang-orang yang dipungut begitu saja di pinggir jalan, kemudian diletakkan pedang di lambungnya dan diberi berpakaian seorang pengawal.

Tetapi Macan Wahan, Ki Benda, Ki Walikat dan Gampar Wungkul itu sudah mengambil sikap. Dendam yang menyala di hati mereka, tidak lagi dapat memberikan kesempatan kepada meraka untuk berpikir lebih panjang. Apalagi Macan Wahan sudah merasa dirinya mengetahui dengan pasti persoalan yang dihadapinya. Ia merasa sudah melihat dengan matanya sendiri, bahwa jumlah orang-orang Kediri itu tidak terlalu banyak.

Betapapun juga ia mengusahakan, namun Macan Wahan nampaknya justru sudah memerintahkan kepada kawan-kawannya untuk bersiaga.

“Kita akan segera melakukannya. Bulan sudah melewati puncak langit” berkata Macan Wahan.

Ki Benda, Ki Walikat dan Ki Gampar Wungkul pun segera bersiap. Mereka telah membagi kekuatan yang ada dalam empat kelompok yang akan dipimpin oleh Ki Benda, Ki Walikat, Ki Gampar Wungkul dan Macan Wahan sendiri.

Sementara itu Ki Dukut sudah tidak dapat berbuat sama sekali. Apalagi ketika Macan Wahan berkata, “Ki Dukut. Kami serahkan Pangeran, isteri dan anaknya kepada Ki Dukut. Kami akan menghancurkan semuanya. Sementara Ki Dukut kami persilahkan untuk langsung menusuk sampai ke pusat jantung dari persoalan yang sedang kita hadapinya, sekaligus memberikan satu peringatan kepada para bangsawan Kediri, bahwa mereka harus bangun dari tidur mereka yang nyenyak. Pangeran Kuda Padmadata adalah satu contoh dari seorang bangsawan yang menjilat kekuasaan Singasari atas Kediri”

Ki Dukut tidak dapat berbuat lain kecuali mengangguk-angguk, betapapun keragu-raguan telah mencengkam dadanya.

Debar jantung Ki Dukut menjadi semakin keras, ketika orang-orang berilmu hitam itu mulai bergerak. Mereka sudah mendapat petunjuk, bagaimana mereka harus menyerang.

Beberapa kelompok di antara mereka telah melingkar untuk mengambil jarak. Sementara Macan Wahan sendiri akan memimpin sergapan itu dengan memberikan isyarat, kapan mereka mulai menyerang.

“Ki Dukut” berkata Macan Wahan, “terserahlah kepada Ki Dukut dari mana Ki Dukut akan menyerang. Apakah Ki Dukut akan berada di dalam kelompokku, atau berada di kelompok yang lain”

Ki Dukut merenung sejenak. Kemudian katanya, “Aku akan berada di dalam kelompok Ki Benda”

“Bagus” sahut Ki Benda, “kita akan menyerang mereka dari arah bintang Gubug Penceng”

Demikianlah, maka empat kelompok orang-orang berilmu hitam itu telah mendekati tempat peristirahatan Pangeran Kuda Padmadata dengan para pengawalnya. Mereka telah memperhitungkan waktu yang paling tepat. Beberapa saat, kelompok-kelompok itu telah berada di tempatnya sambil menunggu isyarat dari Macan Wahan.

Dalam pada itu, Ki Dukut memang berada di antara kelompok yang dipimpin oleh Ki Benda. Tetapi nampaknya ia selalu digelisahkan oleh karagu-raguannya. Menurut perhitungannya, sulit bagi orang-orang berilmu hitam itu untuk dapat mengatasi kemampuan para pengawal meskipun mungkin jumlah mereka lebih banyak.

Sementara itu bulan telah mulai turun. Malam menjadi semakin dingin. Sementara perapian di antara para pengawal dari Kediri itu masih tetap menyala. Mereka yang menunggui perapian itu selalu melontarkan kekayuan dan ranting-ranting kering yang mereka dapatkan di sekitar tempat itu ke dalam api.

Sejenak Macan Wahan menunggu untuk meyakinkan bahwa kawan-kawannya telah berada di tempat yang ditentukan Baru setelah ia menunggu sejenak dan yakin, maka ia pun segera melontarkan isyarat bunyi kepada kawan-kawannya.

“Tidak usah dengan bunyi tersamar. Pukul saja kentongan kecil atau berteriak sajalah” berkata Macan Wahan kepada pengikutnya yang terdekat.

Ternyata orang-orang berilmu hitam itu memang sudah menyiapkan sebuah kentongan kecil. Karena itu, maka ia pun kemudian telah memukul kentongan itu sekuat-kuatnya.

Hampir serentak, terdengar orang-orang itu bersorak dan berteriak sekuat-kuatnya. Suaranya meledak seakan-akan memecahkan langit.

Teriakan-teriakan itu benar-benar telah mengejutkan. Namun dengan serentak pula, para pengawal dari Kediri itu pun segera bersiap. Mereka yang sempat tertidur pun segera bangkit. Sambil menyambar senjata masing-masing maka mereka pun segera bersiap menurut kelompok mereka masing-masing.

“Mereka datang dari empat arah“ seorang pengawas telah berteriak.

Ki Wastu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kepada Pangeran Kuda Padmadata, “Pangeran kembali kepada tugas Pangeran. Tetapi nampaknya mereka datang dengan kekuatan yang lebih besar. Karena itu, biarlah mahisa Bungalan berada bersama Pangeran dengan kedua adik-adiknya beserta seorang pengawal.

Mahisa Bungalan yang diberi tahu kemudian tidak membantah. Iapun segera minta kepada Mahisa Pukat dan Mahisa Murti untuk bersamanya menjaga Pangeran Kuda Padmadata bersama isterinya, ditambah dengan seorang pengawal yang pilih tanding.

Mahisa Agni, Mahendra, Witantra dan Ki Wastupun segera menempatkan dirinya. Mereka telah berada di dalam kelompok-kelompok yang akan menghadapi serangan lawan yang datang dari empat arah.

“Mereka memang sudah memperkuat diri“ gumam Mahisa Agni kepada seorang pengawal yang berdiri di sisinya.

“Ya, jumlah itu tidak susut. Justru telah bertambah” berkata pengawal itu yang kebetulan adalah pengawal yang mengikuti Pangeran Kuda Padmadata sejak dari Kediri, ke Singasari dan kembali lagi ke Kediri.

Dalam pada itu, Witantra, Mahendra dan mereka yang telah mengikuti iring-iringan itu dari Kediri telah melihat, bahwa orang-orang berilmu hitam itu memang menjadi semakin kuat. Karena itu, maka mereka pun telah memperingatkan para pengawal, agar mereka menjadi semakin berhati-hati.

“Kita tidak boleh kehilangan mereka lagi” berkata Witantra kepada para pengawal yang bersamanya, “demikian kita kehilangan mereka, maka mereka datang lagi dengan kekuatan yang lebih besar”

Para Pengawalnya mengangguk-angguk. Yang tidak melihat orang-orang berilmu hitam itu pada serangan pertama, mencoba membayangkan, apa yang teriah” terjadi. Sementara mereka yang mengetahui serangan sebelumnya, memang dapat melihat, bahwa jumlah lawan nampaknya semakin kuat.

Karena itulah, maka mereka pun menjadi semakin berhati-hati.

Namun dalam pada itu, ternyata Pangeran Kuda Padmadata yang berada di pusat lingkaran itu pun mempunyai perhitungan seperti Witantra. Karena itu, maka iapun segera meneriakkan perintah kepada para pengawalnya, “Jangan sampai mereka terlepas. Yang menyerah kalian tangkap, yang melawan terpaksa kalian selesaikan”

Perintah itu telah memberikan kemantapan kepada para pengawal. Mereka mengerti sepenuhnya, apa yang harus mereka lakukan menghadapi orang-orang berilmu hitam itu.

Sejenak kemudian maka para pengawal Kediri itu pun maju menyongsong orang-orang berilmu hitam itu. Pada benturan pertama, ternyata kedua pasukan itu merasakan bahwa mereka tidak dapat mengabaikan kekuatan lawan.

Pertempuran yang sengit pun segera terjadi. Ki Benda yang kebetulan harus bertemu dengan Witantra berteriak, “He, dimana pedagang besi karatan yang mengaku bernama Mahendra itu he? Yang terkenal di Kediri sebagai pedagang barang berharga, tetapi sama sekali tidak berharga itu?“

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kenapa kau mencari Mahendra? Kau di sini bertemu dengan aku”

“Aku tidak peduli. Panggil Mahendra” bentak Ki Benda.

Tetapi Witantra tidak menghiraukannya. Ia pun bertempur semakin cepat, agar lawannya tidak terpancang kepada orang lain, meskipun dengan demikian ia akan lengah. Namun Witantra tidak ingin berbuat licik.

Karena Witantra bertempur semakin cepat itulah, maka Ki Benda terpaksa memperhatikan lawannya. Ternyata ia pun kemudian mulai meyakini bahwa lawannya yang inipun memiliki kemampuan yang tinggi.

“Ki Sanak” berkata Witantra, “mungkin Mahendra terlalu baik hati sehingga ia telah melepaskan para benturan yang pertama jika kau sudah ikut pula. Tetapi sekarang aku akan berbuat lain. Aku tidak akan melapaskanmu, karena perintah yang aku terima adalah, menangkap kalian semuanya, karena kalian telah berbuat kesalahan sampai dua kali”

“Persetan” geram Ki Benda, “aku akan membunuhmu, kemudian aku akan mencincang pedagang besi tua itu sampai lumat dengan kerisku ini”

Witantra sama sekali tidak menjawab, karena ia mengerti bahwa jawabannya itu tidak akan ada gunanya sama sekali. Namun dalam pada itu. iapun segera meningkatkan ilmunya sehingga Ki Benda mulai terdesak karenanya.

“Anak iblis” berkata Ki Benda di dalam hatinya, “aku kehilangan Mahendra, justru mendapat lawan yang semakin gila”

Sebenarnyalah bahwa Witantra memang ingin untuk tidak melepaskan lawannya seperti yang dimaksud oleh Pangeran Kuda Padmadata. Karena jika mereka terlepas, ada kemungkinan bahwa mereka akan datang lagi dengan kekuatan yang lebih besar.

Demikianlah pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin seru. Macan Wahan tiba-tiba saja telah berhadapan dengan Mahisa Agni, dan Ki Gampar Wungkul lah yang berada di arena melawan Mahendra. Sementara Ki Walikat bertempur mempertaruhkan nyawanya melawan Ki Wastu.

Mahisa Bungalan hanya dapat menggeram ketika ia menyaksikan pertempuran berlangsung dengan sengitnya. Ia tidak dapat meninggalkan Pangeran Kuda Padmadata hanya dengan adik-adiknya saja. Setiap saat, orang yang tidak terduga kemampuannya dapat saja menyusup untuk sengaja membunuh isteri Pangeran Kuda Padmadata dan anak laki-lakinya itu.

Namun dalam pada itu, ternyata tidak ada seorang pun yang menyusup pertahanan para pengawal. Pertempuran masih tetap berlangsung dalam lingkaran yang menjadi bulat, karena mereka yang datang dan mereka yang bertahan telah menebar.

Sementara itu, Macan Wahan bertempur dengan garangnya. Ia mencoba untuk memaksa lawannya terdesak pada benturan-benturan pertama. Namun ketika pertempuran itu berlangsung beberapa saat, maka mulailah Macan Wahan merasa, bahwa yang dihadapi itu tentu salah seorang dari sais yang pernah ditatokan oleh ketiga orang kawannya yang terdahulu.

Karena itu, maka iapun menjadi semakin berhati-hati. Ia meningkatkan kemampuannya selapis demi selapis.

Namun ternyata bahwa ia tidak mempunyai kesempatan untuk mendesaknya. Meskipun ia sudah sampai kepada tataran tertinggi dari ilmunya, namun lawannya masih tetap bertahan.

“Gila” geram Macan Wahan, “namun jika setitik darahnya sempat membasahi senjataku dan kuku ibu jariku, maka akan berarti sekali bagi peningkatan tuah senjata dan kemampuanku”

Karena itu, maka Macan Wahan pun mulai berusaha untuk dapat melukai Mahisa Agni dan kemudian menggoreskan darah orang itu pada jari-jarinya, sesuai dengan kepercayaan hitamnya.

Sementara itu Gampar Wungkul pun telah bertemu dengan Ki Wastu yang menyongsongnya. Ternyata bahwa keduanya segera terlibat kedalam satu pertempuran yang seru. Masing-masing langsung mengerahkan kemampuan mereka, karena masing-masing ingin segera menyelesaikan pertempuran itu. Tetapi ternyata bahwa keduanya harus mengakui, bahwa mereka telah membentur kekuatan yang seimbang.

Dalam hiruk pikuknya pertempuran itu. ternyata Ki Dukut masih lagi ikut bersama-sama orang hitam itu menyerang. Keragu-raguannya benar-benar telah mencengkam jantung. Bahkan menurut perhitungannya, orang-orang dari lingkungan hitam itu tidak akan dapat memenangkan pertempuran.

Sejenak Ki Dukut itu memandangi pertempuran yang menjadi semakin dahsyat. Di tengah-tengah lingkaran pertempuran itu masih terdapat perapian yang menyala, sehingga di depan api yang menyala itu seakan-akan ia melihat bayangan-bayangan hitam yang sedang menarikan tarian maut dengan sangat mengerikan.

Untuk beberapa saat Ki Dukut benar-benar dicengkam oleh keragu-raguan. Kadang-kadang ia pun menganggap bahwa orang-orang berilmu hitam itu tentu akan menang. Pemimpin-pemimpinnya akan segera dapat mengalahkan lawan-lawannya. Jika seorang melawan seorang, mereka ternyata tidak mampu berbuat apa-apa seperti yang sudah terjadi, maka bersama-sama dengan satu dua orang pengikutnya, mereka akan segera dapat membunuh lawannya.

“Jika aku ikut pula tampil di arena, maka pekerjaan itu akan dipercepat. Apa artinya pengawal-pengawal yang lain, jika salah seorang diantara kami sudah berhasil melepaskan diri dari lawan yang memiliki kemampuan seimbang” berkata Ki Dukut di dalam hatinya.

Namun demikian ia tidak bergerak. Ia tidak berlari nenyusul orang berilmu hitam itu dan langsung menusuk sampai kepusat lingkaran pertempuran.

Sebenarnyalah bahwa perhitungan Ki Dukut itu memang memiliki kebenaran. Ketika benturan itu berlangsung semakin lama, maka semakin jelas, bahwa para pengawal dari Kediri yang jumlahnya lebih sedikit itu telah berhasil mendesak lawannya. Para perwira dari para pengawal ternyata dengan cepat telah menyapu lawan-lawannya. Meskipun mereka bukannya pembunuh-pembunuh yang tidak berjantung, namun di dalam hiruk pikuknya pertempuran, akan segera terjadi benturan kekerasan yang mungkin akan memaksa seseorang untuk menjadi pembunuh.

Ki Dukut yang mencoba mendekati pertempuran itupun kemudian melihat, sebenarnyalah bahwa orang-orang berilmu hitam itu tidak cukup kuat untuk melawan orang-orang Kediri. Bahkan kemudian ia pun mendapatkan satu kesimpulan, seandainya ia sendiri ikut pula di dalam pertempuran itu, maka akibatnya tidak akan jauh berbeda, karena orang Kediri itupun memiliki pemimpin-pemimpin yang dapat dibanggakan.

Karena itu, maka Ki Dukut pun akhir memutuskan, bahwa ia lebih baik menghindar saja dari pertempuran itu. la masih merasa segan untuk menyerahkan lehernya kepada orang-orang Kediri. Khususnya kepada Pangeran Kuda Padmadata, bekas muridnya yang pernah menjadi Y sasaran ketamakan dan nafsunya.

Dengan demikian, maka yang dilakukannya kemudian malah justru sekedar melihat pertempuran itu. Kadang-kadang ia berhasil melihat satu dua orang berilmu hitam jatuh terbanting di tanah. Nampaknya hanya orang-orang berilmu hitam sajalah yang terluka dan terbunuh. Seolah-olah orang-orang Kediri itu sama sekali tidak berkurang satu pun meskipun ada diantara mereka yang telah tergores senjata.

Dalam pada itu, pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin seru. Tidak seorangpun dari antara orang-orang berilmu hitam itu yang sempat bertanya meski kepada diri sendiri, apakah Ki Dukut telah melibatkan riri ke dalam pertempuran itu.

Sementara itu, para pengawal dari Kediri termasuk Mahisa Agni, Witantra, Mahendra dan Ki Wastu, telah mendapat perintah untuk melakukan segala usaha, agar orang-orang berilmu hitam itu tidak sempat melarikan diri seperti yang pernah terjadi. Jika terjadi demikian, maka mereka akan menjadi semakin berbahaya, karena mereka mendapat pengalaman yang lebih banyak dalam menghadapi orang-orang Kediri. Mereka akan datang dalam jumlah yang berlipat ganda untuk menjamin bahwa mereka tidak akan mengalami kegagalan lagi.

Dengan demikian, maka para pengawal yang sedang bertempur itu pun telah mengambil langkah-langkah agar mereka dapat menguasai seluruh medan, sehingga bukan saja melumpuhkan perlawanan lawan, namun juga agar lawan mereka tidak sempat melarikan diri.

Beberapa orang pengawal justru telah menyusup di antara lawan mereka dan berusaha mencapai lingkaran di luar lingkar pertempuran itu. Dengan demikian, maka orang-orang berilmu hitam itu telah bertempur menghadap dua arah. Di dalam lingkaran dan di luar lingkaran.

Kebingungan mulai membayang di wajah orang-orang berilmu hitam. Meskipun jumlah mereka lebih banyak, namun mereka sama sekali tidak mampu berbuat banyak menghadapi para pengawal. Apalagi para pengawal itu telah mengambil langkah-langkah untuk berusaha menahan mereka melepaskan diri dari arena.

Sementara itu, Ki Benda, Ki Walikat, Ki Gampar Wungkul dan Macan Wahan pun segera merasa, betapa beratnya tekanan para pengawal.

“Gila” berkata Macan Wahan di dalam hatinya, “ternyata perhitungan Ki Dukut mendekati kebenaran. Kita tidak akan dapat mengalahkan para pengawal dari Kediri itu, meskipun jumlah kita jauh lebih besar”

Sementara itu. setiap orang di lingkungan ilmu hitam itu menduga, bahwa Ki Dukut telah terlibat pertempuran melawan bekas muridnya.

Tidak seorang pun yang mengetahui, banwa sebenarnya Ki Dukut masih saja berada di tempatnya sambil mengamati pertempuran. Ia telah mengambil keputusan untuk tidak menampakkan dirinya sama sekali.

Karena itulah, maka Ki Dukut Pakering itu pun telah melepaskan orang-orang berilmu hitam itu. Mereka tidak mendengarkan nasehat yang telah diberikan. Dan hal itu harus mereka tebus dengan harga yang sangat mahal.

Ki Benda yang mendendam Mahendra sampai ke ujung rambut, tetap tidak mendapat kesempatan untuk bertemu dengan orang yang dikenalnya sebagai pedagang besi-besi bertuah itu.

Dalam pada itu, di antara orang-orang yang berada didalam iring-iringan orang-orang Kediri itupun sebenarnya telah mengamati keadaan dengan saksama. Mereka sebenarnya menunggu, apakah di antara lawan-lawannya terdapat seorang yang bernama Ki Dukut Pakering.

Ki Wastu yang mempunyai persoalan yang mendalam dengan Ki Dukut itu justru telah mencarinya di antara pertempuran itu. Bahkan ia telah meninggalkan lawannya dan menyongsong lawannya yang lain. Ia percaya bahwa dua tiga orang prajurit dipimpin oleh seorang perwira Kediri akan berhasil membatasi gerak lawannya. Ia telah mendekati lingkaran pertempuran yang lain, sementara ia mengambil seorang dari antara orang berilmu hitam itu dari lawannya.

Ketika ia mengambil Gampar Wungkul dari lawannya setelah ia menyerahkan Ki Walikat kepada sekelompok pengawal, maka iapun berusaha untuk mendapat keterang an dari lawannya itu tentang Ki Dukut. Sementara Mahendra harus berganti lawan.

“Kenapa tidak aku temukan seorang berkeris itu lagi” berkata Mahendra di dalam hatinya.

Namun yang dijumpainya kemudian adalah Ki Walikat.

“Dalam pada itu, maka ki Wastu pun mencoba untuk mendengar, apakah dalam keadaan yang demikian Gampar Wungkul bersedia menyebut Ki Dukut Pakering.

Namun ternyata Gampar Wungkul pun tidak mengatakan apa-apa Bahkan sambil tertawa ia berkata, “Bersiap-siaplah untuk mati. Jangan bertanya tentang sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan perkelahian ini“

Ki Wastu menggeram. Tetapi ia tidak puas dengan lawannya. Meskipun untuk beberapa saat ia harus bertampur dengan segenap ilmunya, namun iapun mulai diusik lagi oleh keinginannya untuk bertemu dengan Ki Dukut Pakering. menurut perhitungannya, orang itu adalah sumber dari setiap usaha untuk memusnahkan anak perempuannya yang telah menjadi isteri Pangeran Kuda Padmadata itu.

Sejenak kemudian, maka Ki Wastu pun telah meninggalkan lawannya pula dan menyerahkannya kepada sekelompok prajurit yang telah kehilangan lawannya, karena orang-orang berilmu hitam itupun semakin lama menjadi semakin berkurang.

Betapapun juga, maka akhir dari pertempuran itu sudah membayang. Para pengawal Kediri benar-benar berusaha, agar tidak seorang pun dari orang-orang berilmu hitam itu yang dapat terlepas dari kepungan mereka.

Sementara itu, Ki Wastu telah bergeser ke tempat lain. Ketika ia melihat benturan yang seru melampaui para pengawal yang lain, iapun mendekatinya. Ternyata Ki Wastu telah menjumpai Macan Wahan yang sedang bertempur melawan Mahisa Agni.

“Lepaskan orang ini” berkata Ki Wastu, “aku ingin bertanya kepadanya menjelang saat matinya, apakah ia tahu serba sedikit tentang Ki Dukut Pakering”

Mahisa Agni ragu-ragu sejenak. Namun iapun kemudian memberikan kesempatan kepada Ki Wastu sambil berkata, “Berhati-hatilah orang ini sangat berbahaya”

“Kenapa tidak kalian berdua sajalah yang menghadapi aku” teriak Macan Wahan.

Tetapi Mahisa Agni tidak menghiraukannya. Ia pun kemudian meninggalkan Macan Wahan yang kemudian berhadapan dengan Ki Wastu.

“Dimana Ki Dukut Pakering?“ tiba-tiba saja Ki Wastu bertanya.

“Kenapa kau cari orang itu” bertanya Macan Wahan.

“Aku mempunyai persoalan pribadi. Ialah tentu orangnya yang menggerakkan kalian menyerang iring-iringan ini. Berapa kalian diupah untuk membunuh Pangeran Kuda Padmadata bersama anak isterinya”

“Gila” teriak Macan Wahan semakin keras.

“Sebut jika kau tahu, dimana Ki Dukut” bertanya Ki Wastu.

Macan Wahan menjadi heran mendengar pertanyaan itu. Karena itu iapun menjawab, “Ia berada di pertempuran ini. Mungkin kini ia sedang membantai Pangeran Kuda Padmadata, isteri dan anaknya itu”

“Jangan mengigau. Bersama Pangeran Kuda Padmadata adalah seorang anak muda yang tidak terkalahkan, di samping kedua orang adiknya dan seorang pengawal pilihan” jawab Ki Wastu, “cepat, sebut dimana Ki Dukut”

Macan Wahan menjadi termangu-mangu. Ia mulai curiga, bahwa Ki Dukut memang tidak ada di pertempuran itu. Namun untuk sesaat ia mencoba menghapus kesan kecurigaannya itu.

Sementara itu, Mahisa Agni pun telah berganti lawan. Lingkaran pertempuran itu menjadi semakin sempit. Bukan karena orang berilmu hitam itulah yang mendesak. Tetapi justru para pengawal berusaha untuk mempersempit gerak mereka.

Dalam pada itu, Mahisa Agni yang kehilangan lawan telah menemukan Gampar Wungkul yang bertempur melawan tiga orang pengawal terpilih

Demikian Mahisa Agni hadir dan menghadapi Gampar Wungkul, maka keadaan orang-orang berilmu hitam di sekitarnya menjadi semakin sulit.

Dalam pada itu, pertahanan para pengawal ternyata cukup rapat. Tidak ada orang yang dapat manyusup seperti yang pernah terjadi. Karena itu, orang-orang yang berada di pusat lingkaran itupun masih saja berdiri menunggu dengan kesiagaan sepenuhnya.

Isteri dan anak laki-laki Pangeran Kuda Padmadata benar-benar menjadi ketakutan. Mereka tidak habis berpikir kenapa peristiwa seperti itu harus terulang dan seselalu terulang kembali.

Ki Wastu yang menganggap bahwa sumber dari peristiwa itu adalah Ki Dukut, masih belum puas jika ia masih belum berhasil menemukannya dan membuat perhitungan. Betapa tinggi ilmu Ki Dukut, namun dengan jantan akan dihadapinya, justru karena sikap Ki Dukut terhadap anak perempuannya.

Pertempuran yang menjadi semakin sempit itu semakin tidak menguntungkan bagi orang-orang berilmu hitam. Sementara itu, Ki Wastu masih saja mengitari pertempuran itu. Ketika ia meninggalkan Macan Wahan, maka ia memberi isyarat kepada beberapa orang pengawal untuk membatasi geraknya sebelum orang lain yang dapat mengimbanginya datang kepadanya.

Sepeninggal Ki Wastu, Macan Wahan mulai berpikir tentang Ki Dukut. Agaknya Ki Wastu tidak bermain-main atau sekedar mempengaruhi perasaannya. Karena itu, maka tiba-tiba saja Macan Wahan itupun berteriak, “Temukan Ki Dukut”

Perintah itu pun segera mengumandang. Ki Benda, Ki Walikat dan Ki Gampar Wungkulpun akhirnya mendengar pula pertanyaan yang dilontarkan oleh Macan Wahan itu. Namun tidak seorang pun di antara mereka yang dapat menemukan Ki Dukut dipertempuran itu. Bahkan hampir setiap orang dari antara mereka yang berilmu hitam itupun saling bertanya, “Dimanakah Ki Dukut?”

Ternyata Ki Dukut memang tidak ada di pertempuran itu.

Orang-orang berilmu hitam itu mengumpat-umpat, te tapi mereka sudah terlambat. Betapapun kemarahan mereka mencengkam jantung, namun mereka sudah terlanjur berada di dalam kepungan yang ketat, bahkan seolah-olah berada di dalam satu lapisan kulit lingkaran yang dibatasi diluar dan di dalam.

Ki Wastu yang kemudian tidak menemukan Ki Dukutpun menjadi sangat kecewa. Ia tidak ingin merampas lagi lawan dari siapapun juga. Dengan tergesa-gesa, menyusup diantara pertempuran, ia kembali kepada Macan Wahan.

Namun ternyata Macan Wahan sudah tidak berada di tempatnya.

Macan Wahan yang dibakar oleh kemarahannya karena ia tidak melihat Ki Dukut, maka ia pun telah menyusup pula di antara orang-orangnya mencari di seluruh arena untuk meyakinkan apakah Ki Dukut ada di pertempuran itu atau tidak.

Ketika ia yakin bahwa Ki Dukut memang tidak ada, maka darahnya bagaikan mendidih. Meskipun ia sadar, bahwa sejak semula Ki Dukut sudah mencegahnya, tetapi tingkah lakunya itu benar-benar merupakan suatu pengkhianatan, karena sampai saat terakhir ia tidak mengatakan, bahwa ia menolak untuk ikut serta memasuki arena pertempuran.

Karena itu, maka kemarahan itu telah mempengaruhi nalar Macan Wahan. Ia tidak lagi berusaha kembali ke tempatnya. Ketika ia melihat bahwa Gampar Wungkul sedang bertempur melawan seseorang, maka tiba-tiba saja telah timbul niatnya untuk bertempur bersamanya. Jika mereka berdua dengan cepat dapat membunuh orang itu, maka Gampar Wungkul dan dirinya sendiri akan melakukan hal yang serupa lagi terhadap orang yang lain. Dengan demikian, maka orang-orang yang dianggap pemimpin didalam lingkungan pengawal dari Kediri itu akan segera dihabisinya.

Karena itulah, maka sejenak kemudian Macan Wahan telah bertempur berpasangan bersama Gampar Wungkul.

Dalam pada itu, yang dihadapinya ternyata adalah Mahisa Agni. Mendapat dua orang, lawan yang berilmu tinggi dalam jenis ilmu hitam itu, Mahisa Agni pun segera merasakan tekanan yang berat. Namun dalam pada itu, Mahisa Agni tidak lagi berusaha mengekang dirinya dalam batas-batas tertentu dari ilmunya. Sebenarnyalah Mahisa Agni masih selalu membatasi diri untuk tidak menjadi pembunuh yang kejam di peperangan. Ia masih selalu membuat pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Namun ketika ia harus melawan dua orang sekaligus, maka Mahisa Agni pun mulai mempertimbangkan segala keadaan.

Namun dalam pada itu, sebelum Mahisa Agni sampai kepada ilmu Pamungkasnya, maka tiba-tiba saja Ki Wastu telah mendekatinya. Demikian ia melihat Mahisa Agni bertempur melawan dua orang pada tataran tertinggi dari golongan hitam itu, iapun segera mendekatinya.

Tetapi yang kemudian menyongsong Ki Wastu bukan Macan Wahan namun Ki Gampar Wungkul lah yang telah meninggalkan Mahisa Agni langsung menghadapi Ki Wastu.

Dalam pada tu, ternyata pertempuran itu sudah mendekati akhirnya. Para pengawal orang-orang berilmu hitam Seperti yang diperintahkan Pangeran Kuda Padmadata, maka para pengawalnya itu pun berusaha agar tidak seorang pun di antara mereka yang dapat melarikan diri.

“Semua harus ditangkap“ terdengar peringatan ulang. Lalu, “jika tidak dapat ditangkap hidup, tangkap mati”

Perintah itu sudah tegas. Dan para pengawal pun akan melakukan perintah itu sebaik-baiknya. Karena jika mereka terlepas, malapetaka masih akan selalu mengikutinya.

Namun dalam pada itu, orang-orang berilmu hitam yang tersisa itupun telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Mereka berusaha untuk memecahkan kepungan. Namun, jika hal itu tidak mungkin, maka mereka menganggap bahwa lebih baik mereka hancur sama sekali.

Karena itulah, maka para pemimpin dari orang-orang berilmu hitam itu pun segera telah mengerahkan kemampuannya pula. Kekecewaan dan kemarahan yang menggelegak dihatinya telah terungkap dalam tingkah mereka di saat-saat terakhir dari perlawanan mereka itu.

Ternyata tidak seorang pun di antara orang-orang berilmu hitam itu yang sempat meninggalkan arena. Para pengawal telah mengepung mereka dengan rapat. Jika seseorang berusaha menembus kepungan itu, maka akhirnya ia harus terkapar tidak bernyawa lagi.

Demikian pula bagi para pemimpin mereka. Masing-masing tidak akan dapat terlepas dari tangan lawannya.

Macan Wahan yang dibakar oleh kemarahannya kepada orang-orang Kediri dan terutama kepada Ki Dukut itu telah mengamuk seperti seekor harimau lapar. Tangannya yang sebelah menggenggam senjatanya erat-erat. sementara yang lain jari-jarinya telah mengembang dan siap menerkam lawannya.

Mahisa Agni yang melawannya, melihat betapa kemarahan menghentak jantung lawannya. Kemarahan, namun juga putus asa membayang pada wajahnya. Sekali-kali terdengar Macan Wahan menggeram. Namun kemudian iapun mengumpat dengan kasalnya.

Dalam keadaan yang demikian, maka Mahisa Bungalan yang seolah-olah tidak berbuat apa-apa, merasa tidak terikat lagi dengan tugasnya, la sadar, bahwa sisa orang-orang berilmu hitam itu tidak akan mampu lagi menyusup dan berbuat sesuatu atas Pangeran Kuda Padmadata serta isteri dan anaknya. Seandainya ada juga satu dua yang berbuat demikian, maka mereka sama sekali tidak akan berbahaya lagi bagi Pangeran itu.

Karena itu, maka Mahisa Bungalan pun kemudian bergeser ke arena pertempuran. Ternyata ia mempercepat panyelesaian pertempuran itu.

Orang-orang berilmu hitam yang tersisa itu, ternyata tidak bersedia untuk menyerah. Mahisa Agni yang bertempur melawan Macan Wahan berkata sambil menahan serangan-serangan lawannya itu, “Kau tidak mempunyai kesempatan lagi. Kenapa kau tidak menyerah saja?“

Macan Wahan menggeram. Katanya, “Persetan dengan kalian”

“Nampaknya kau sudah dijerumuskan dengan licik oleh orang yang bernama Ki Dukut” berkata Mahisa Agni kemudian, “menyerahlah. Kita akan berbicara tentang orang yang bernama Ki Dukut Pakering agar kau tidak mendapat gambaran yang salah dari keadaannya yang sebenarnya”

“Persetan” geram Macan Wahan, “apapun yang terjadi, tetapi kami, tidak sudi menyerah kepada siapapun juga. Apalagi kepada orang-orang Kediri yang telah kehilangan harga dirinya”

Mahisa Agni terkejut mendengar jawaban itu. Apalagi ketika Macan Wahan melanjutkan, “Orang-orang Kediri yang sudah terbius oleh kepentingan dirinya sendiri untuk mendapatkan kemurahan dan belas kasihan dari orang-orang Singasari. He, orang-orang Kediri, kenapa kau telah merendahkan dirimu, menjilat telapak kaki orang-orang Singasari yang telah merampas kebesaran martabat nenek moyangmu”

Terasa jantung Mahisa Agni berdebaran mendengarnya. Dengan nada datar ia bertanya, “Siapakah yang mengajarimu berkata demikian?“

“Aku adalah orang Kediri yang tahu akan harga diriku” berkata Macan Wahan sambil menyerang.

Mahisa Agni mengelak. Ternyata kata-kata itu sangat menarik perhatiannya.

Namun dalam pada itu, di bagian lain lagi pertempuran itu. beberapa orang pemimpin dari orang-orang berilmu hitam itu sudah tidak mampu bertahan lagi. Namun ternyata merekapun telah menjadi berputus asa. Mereka menganggap bahwa menyerah kepada orang-orang Kediri itu adalah satu penderitaan yang akan berkepanjangan seolah-olah tanpa akhir. Meskipun demikian akhirnya merekapun akan mati juga dalam keadaan yang paling menyedihkan.

Karena itulah, maka mati di peperangan dengan pedang di tangan adalah cara untuk mati yang paling terhormat yang dapat mereka jangkau pada saat-saat yang demikian. Karena itulah, meskipun mereka merasa diperlakukan tidak sewajarnya oleh orang yang bernama Ki Dukut, namun mereka pantang untuk menyerah.

Ki Wastu yang juga dibakar oleh kekecewaan karena ia tidak berhasil menemukan Ki Dukut di antara lawannya, telah berusaha mendesak lawannya. Ternyata bahwa lawannya tidak sempat berbuat banyak. Ketika ia surut beberapa langkah, maka ia telah melampaui garis kepungan para pengawal. Seolah-olah tanpa sengaja, pengawal yang terdekat, telah menahannya dengan senjatanya. Meskipun senjata pengawal yang mematuk pemimpin dari orang-orang berilmu hitam itu dapat dihindari, namun perhatiannya yang sesaat tertuju kepada pengawal itu, telah membuatnya lengah.

Dalam pertempuran yang riuh itu, agaknya telah membuat masing-masing tidak lagi menghiraukan, apakah sebenarnya mereka sedang bertempur seorang melawan seorang atau terlibat kedalam perang brubuh. Demikian pula yang terjadi atas Ki Wastu yang tidak sempat lagi menghiraukan apakah lawannya sedang terganggu oleh serangan seorang pengawal.

Karena itulah, maka tiba-tiba saja telah terdengar salah seorang pemimpin dari orang-orang berilmu hitam itu mengaduh. Ternyata Ki Wastu yang marah itu tidak lagi mengendalikan dirinya.

Sesaat Ki Wastu melihat lawannya menggeliat. Namun kemudian orang berilmu hitam itupun telah menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Kematian itu benar-benar telah menggunakan kawan-kawannya. Mereka menjadi semakin berputus asa dan bertempur tidak menentu.

Meskipun demikian, para pemimpin orang-orang berilmu hitam itu tidak menyerah. Mereka bertempur sampai kemampuan mereka terkuras habis. Satu-satu mereka tidak dapat lagi mempertahankan dirinya. Ki Gampar Wungkul yang telah mati itu segera disusul oleh Ki Benda yang mengamuk seperti orang gila. Ki Walikat dan yang kemudian adalah Macan Wahan. Untuk beberapa saat ia masih bertahan. Namun akhirnya ia tidak lagi dapat menghindarkan dirinya. Sementara itu, ia benar-benar tidak mau menyerah. Ia memilih mati dengan pedang di tangan daripada hidup untuk melepaskan senjatanya.

Karena itulah, maka pertempuran itu pun perlahan-lahan telah terhenti. Orang-orang berilmu hitam itu sama sekali tidak berdaya ketika mereka sudah kehilangan para pemimpinnya.

Namun dalam pada itu, betapapun rapatnya kepungan para pengawal dari Kediri, namun ternyata ada juga dua orang dari antara orang-orang berilmu hitam itu yang berhasil lolos. Dengan sekuat tenaga mereka melarikan diri menjauhi pertempuran yang baginya seperti neraka itu. Kawannya telah terbunuh. Bahkan para pemimpinya telah terbunuh pula.

Namun demikian kedua orang itu berlari melingkari segerumbul perdu, keduanya terkejut. Tiba-tiba saja mereka sudah berhadapan dengan seseorang.

Tetapi keduanya pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Yang ada dihadapannya saat itu adalah Ki Dukut Pakering.

“Ki Dukut” berkata salah seorang dari kedua orang itu, “semua kawan-kawan mencari Ki Dukut”

Ki Dukut mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Akupun mengerti. Kenapa Ki Dukut tidak hadir di dalam pertempuran itu?“ bertanya salah seorang dari mereka.

“Aku tidak mau membunuh diri” jawab Ki Dukut Aku sudah memperingatkan kepada kawan-kawanmu, bahwa sangat berbahaya untuk menyerang orang-orang Kediri itu. Aku susah melihat bahwa mereka terlalu kuat. macan Wahan pun telah melihatnya pula. Namun kawan-kawanmu yang gila itu sama sekali tidak menghiraukan peringatanku”

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Sekali mereka berpaling. Namun nampaknya para pengawal dari Kediri itu tidak sempat mengejarnya, karena mereka harus mengawasi dan mungkin menangkapi orang-orang yang tersisa.

Dalam pada itu, salah seorang dari kedua orang yang berhasil melarikan diri itupun bertanya, “Tetapi bukankah dalam keadaan yang gawat itu Ki Dukut dapat membantu kami?“

“Buat apa?“ bertanya Ki Dukut, “semuanya sudah tidak ada artinya. Pemimpin-pemimpinmu ternyata orang-orang dungu yang tidak berotak. Mereka didorong saja oleh perasaan. Tetapi nalar mereka membeku seperti batu padas”

Kedua orang berilmu hitam itu termangu-mangu.

“Aku akan kembali ke padepokan” desis Ki Dukut.

“Dan meninggalkan kawan-kawan kita mati dan tertangkap?“ bertanya salah seorang dari kedua orang itu.

“Lalu apa yang harus aku kerjakan?“ bertanya Ki Dukut.

“Itu tidak semestinya“ yang lain menyahut, “apakah kita masih mungkin mencari kawan untuk membebaskan mereka yang tertangkap?”

“Itu pikiran lebih gila lagi. Kau akan semakin banyak menyeret kawan-kawanmu kedalam tangkapan maut” jawab Ki Dukut.

“Namun kematian yang demikian akan lebih baik” jawab salah seorang dari keduanya.

“Jika demikian, kenapa kalian lari? Kenapa kalian tidak membunuh diri saja bersama kawan-kawanmu” bertanya Ki Dukut.

“Aku mendapat kesempatan hidup. Aku akan mencari kesempatan untuk berbuat sesuatu atas kawan-kawan kami itu” jawab orang itu.

“Itu adalah pikiran gila yang sangat kerdil” geram Ki Dukut, “bagaimana mungkin kau dapat melepaskan kawan-kawanmu ditangan orang-orang terbaik dari Kediri. Bahkan hidup kalian berduapun sama sekali sudah tidak berarti lagi“

Kedua orang itu terkejut. Salah seorang dari mereka bertanya dengan serta merta, “apa maksudmu”

“Kenapa kalian berdua tidak mati saja?“ bertanya Ki Dukut

“Kami mendapat kesempatan untuk melepaskan diri. Kesempatan itu aku pergunakan sebaik-baiknya” jawab yang seorang, “mungkin dengan demikian kami akan mendapat kesempatan berbuat sesuatu. Kami akan segera kembali ke tempat tinggal kami. Selain keempat orang pemimpin kami dari empat padepokan itu terbunuh, kami masih akan dapat menghubungi beberapa orang lagi yang mungkin mempunyai kekuatan yang seimbang”

Bukan kau yang harus melakukannya” sahut Ki Dukut.

“Maksudmu?“ bertanya orang yang berhasil membebaskan dirinya itu.

“Akulah yang akan datang kepada mereka untuk kepentingan itu” geram Ki Dukut.

Kedua orang itu termangu-mangu. Sekilas mereka saling berpandangan. Namun kemudian salah seorang berkata, “Apa maksud Ki Dukut?”

Ki Dukut memandang, kedua orang berilmu hitam dengan sorot mata yang membara. Sejenak ia tidak berkata sesuatu. Namun wajah Ki Dukut itu menjadi aneh bagi kedua orang berilmu hitam itu.

Orang-orang yang menyadap ilmu hitam itu adalah orang-orang yang kasar. Orang-orang yang sama sekali tidak mengindahkan lagi martabat kemanusiaan mereka. Bahkan kadang-kadang mereka tidak mengerti lagi arti tentang diri mereka sendiri bagi sesamanya. Karena justru dari sesamanya mereka mencari landasan bagi ilmunya, dalam arti yang sangat buruk. Mereka telah mengorbankan orang lain bagi kepentingan keyakinan mereka untuk menyadap ilmu mereka.

Namun demikian, berhadapan dengan Ki Dukut yang memandang kedua orang itu dengan tatapan mata yang bagaikan menyala itu terasa kedua orang itu menjadi berdebar-debar.

“Orang-orang dungu” geram Ki Dukut, “kalian memang seharusnya mati bersama-sama dengan kawan-kawanmu. Kalian ternyata tidak mempunyai setia kawan sama sekali. Jika kawan-kawanmu mati dan tertangkap, kenapa kau justru melarikan diri?”

Kedua orang itu termangu-mangu. Namun salah seorang kemudian berusaha menjawab, “Sudah aku katakan. Aku akan berusaha melepaskan kawan-kawanku itu, atau setidak-tidaknya membalas dendam akan kematian mereka”

“Aku yang akan melakukannya semua itu” geram Ki Dukut, “kalian berdua sudah tidak ada artinya lagi”

“Aku tidak mengerti” desis salah seorang dari keduanya.

“Kalian memang terlalu bodoh” geram Ki Dukut, “dengarlah. Kalian harus mati. Jika kalian tidak mati di medan pertempuran itu, maka akulah yang akan membunuh kalian berdua”

Kedua orang itu terkejut. Selangkah mereka surut. Seorang di antara meraka bertanya, “Apakah kau sudah gila? Apakah artinya kematian yang demikian. Jika aku tetap hidup, maka aku masih akan mempunyai arti. Mungkin aku masih akan dapat membalas dendam”

“Sudah aku katakan, akulah yang akan melakukannya” geram Ki Dukut.

“Kau dapat melakukan, dan aku dapat pula melakukannya” sahut salah seorang dari kedua orang itu.

“Itu tidak perlu” jawab Ki Dukut, “satu orang saja di antara kalian tetap hidup, maka kalian akan dapat memfitnah aku dihadapan kawan-kawan Macan Wahan, atau Ki Benda, Ki Walikat dan Ki Gampar Wungkul, bahwa aku telah mengkhianatinya. Padahal aku berusaha untuk mencegah mereka dari kemusnahan”

Wajah kedua orang itu menegang. Salah seorang kemudian berkata, “Jangan bodoh Ki Dukut. Aku tahu kau adalah orang yang luar biasa. Tetapi kau bagiku tidak lebih dari manusia biasa. Karena itu jangan berbuat sesuatu yang dapat merugikan dirimu sendiri”

“Persetan” geram Ki Dukut, “bersiaplah untuk mati, agar tidak seorang pun yang akan dapat memfitnah aku”

Kedua orang berilmu hitam itu nampaknya memang sudah tidak mempunyai pilihan lain. Karena itu, maka keduanya pun segera bersiap menghadapi segala kemungkinan. Salah seorang dari keduanya pun kemudian berkata, “Aku sekarang mengerti Ki Dukut. Ternyata kau sengaja menjerumuskan kami, pemimpin-pemimpin kami ke dalam kematian. Kemudian kau akan dapat membuat ceritera tentang apa saja yang akan dapat mengangkat namamu di antara kawan-kawan kami yang masih hidup”

Ki Dukut tertawa. Katanya, “Setan alas. Apapun yang kau igaukan tidak berarti apa-apa. Katakan yang ingin kau katakan sebelum kalian akan mati”

Kedua orang itu tidak menjawab. Namun kemudian keduanya telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Nampaknya Ki Dukut benar-benar akan membunuh keduanya. Sejenak kemudian ia pun bergeser selangkah siap untuk menyerang.....
Tetapi salah seorang dari kedua lawannya telah meloncat dengan senjata terjulur, sehingga Ki Dukut harus menghindarinya. Namun demikian ia menghindar yang seorang telah menyerangnya sambil berteriak nyaring.

“Gila,” bentak Ki Dukut, “kau akan memanggil orang-orang Kediri itu”

“Apa pedulimu“ yang lain justru berteriak pula, “aku memang sudah siap untuk mati. Mati di tanganmu atau mati di tangan orang-orang Kediri”

Ki Dukut mengumpat. Katanya, “Licik. Kau sengaja memancing agar orang-orang Kediri itu datang kemari”

“Aku tidak takut terhadap orang-orang Kediri“ salah seorang dari kedua lawan Ki Dukut itu berteriak, “salah seorang dari kedua lawan Ki Dukut itu berteriak semakin keras, “apa artinya mati bagiku. Kawan-kawanku sudah mati semuanya. Dan kami berdua pun tidak akan takut lagi untuk mati”

Ki Dukut menjadi semakin marah. Ia pun kemudian berusaha membunuh keduanya semakin cepat.

Tetapi kedua orang itu telah dengan sengaja menarik diri keluar dari gerumbul-gerumbul perdu, justru mendekati lingkaran pertahanan orang-orang Kediri. Apalagi mereka masih saja berteriak-berteriak tidak menentu”

Ki Dukut menjadi berdebar-debar. Ia gelisah bukan karena kemampuan lawannya. Tetapi jika orang-orang. Kediri itu mendengar, maka mereka akan berdatangan.

Sebenarnyalah teriakan-teriakan itu lamat-lamat terdengar oleh orang Kediri. Meskipun mereka tidak segera menyadari keadaan, namun mereka segera tertarik kepada suara yang bagi mereka terdengar sangat aneh itu. Apalagi ketika teriakan-teriakan itu rasa-rasanya saling susul menyusul dibarengi dengan umpatan-umpatan kasar.

“Suara apakah sebenarnya itu“ seorang pengawal yang sedang bertugas berdesis kepada kawannya.

“Kita wajib mengetahuinya. Tetapi kita harus berhati-hati. Siapa tahu, sekelompok lawan sedang memancing kita” jawab yang lain.

Belum lagi pengawal-pengawal itu mengambil sikap, Mahisa Agni dan Witantra mendekati mereka sambil bertanya, “Apakah yang kalian dengar?”

“Teriakan-teriakan dan umpatan-umpatan kasar. Tetapi lamat-lamat“ jawabpengawal itu.

“Aku juga mendengar” jawab Mahisa Agni, “biarlah kami berdua melihatnya, hati-hati. Biarlah para pengawal menyelesaikan tugas mereka di sini”

“Apakah kami berdua perlu ikut serta?“ bertanya pengawal itu.

Tetapi Mahisa Agni menggeleng, “Tidak. Biarlah kami berdua saja menengoknya. Lakukanlah tugas kalian disini sebaik-baiknya. Aku sudah minta diri kepada Pangeran yang sedang sibuk”

Dengan tergesa-gesa Mahisa Agni dan Witantra pun kemudian pergi ke arah suara itu. Para pengawal hanya dapat memandanginya dengan hati yang berdebar-debar. Namun mereka pun tahu, siapakah kedua orang itu. Meskipun para pengawal itu tidak tahu latar belakang dari kehidupan Mahisa Agni dan Witantra yang sebenarnya, namun mereka mengetahui bahwa keduanya adalah 6rang yang pilih tanding.

Sementara itu Mahisa Agni dan Witantra pun menjadi semakin dekat dengan sumber suara itu. Karena itu, maka merekapun mendengar semakin jelas. Seperti yang mereka duga, maka telah terjadi pertempuran yang sengit, dibalik gerumbul-gerumbul perdu. Namun demikian, keduanya tidak segera mengetahui, siapakah yang telah bertempur itu.

Tetapi dengan umpatan-umpatan kasar, Mahisa Agni dan Witantrapun segera mengetahui, bahwa salah satu pihak dari mereka yang bertempur itu adalah Ki Dukut.

Ki Dukut pun bertempur dengan marahnya. Semakin keras lawannya berteriak, jantung Ki Dukut pun semakin cepat berdentang. Namun dengan demikian, maka ia pun bertempur semakin garang.

Dua orang berilmu hitam itu ternyata bukan lawannya. Keduanya segera terdesak. Karena itu, maka kedua orang itupun berusaha untuk memperpanjang umur mereka dengan berloncat-loncatan dan bahkan memancing Ki Dukut untuk keluar semakin jauh dari gerumbul-gerumbul perdu itu.

Untuk bertahan, agar mereka tidak terlempar terlalu jauh keluar lindungan batang-batang perdu itulah yang menyebabkan Ki Dukut tidak segera dapat membunuh lawannya. Ia berusaha agar tidak terpancing terlalu jauh. Namun dengan demikian, maka geraknya pun menjadi semakin terbatas.

Mahisa Agni dan Witantra menjadi semakin dekat dengan arena perkelahian itu. Namun demikian keduanya melihat bayangan yang berputar-putar dalam arena perkelahian, maka Ki Dukut pun sempat melihatnya pula.

Secara naluriah, jantung Ki Dukut menjadi berdebaran. Kedua orang yang datang itu menurut tanggapan perasaan Ki Dukut. tentu bukan orang kebanyakan. Langkah mereka ringan seperti kapas, sementara dengan yakin keduanya mendekati pertempuran, yang kasar itu.

Pada saat terakhir itu, yang dapat dilakukan Ki Dukut adalah mempercepat penyelesaian. Ia berusaha untuk saat yang terakhir kalinya, menyelesaikan kedua orang lawannya, sehingga dengan demikian kedua orang itu tidak akan dapat memberikan kesaksian kepada siapapun, apa yang telah dilakukannya di arena pertempuran itu.

Tetapi kedua orang itu pun tidak menyerah begitu saja kepadanya. Keduanya masih tetap bertahan dengan gigihnya.

Meskipun demikian, ternyata kecepatan bergerak Ki Dukut telah berhasil mendesak keduanya. Terdengar salah seorang dari kedua orang itu mengeluh. Nampak dalam kegelapan, orang itu terhuyung-huyung. Namun sejenak kemudian ia telah berdiri tegang. Senjatanya masih berada di tangannya meskipun ternyata ia telah terluka di pundaknya.

Ki Dukut masih ingin meloncat menyerang dan segera membunuh yang lain pula. Namun bayangan yang datang itu sudah terlalu dekat, sehingga Ki Dukut itu pun mengumpat, “Pengecut. Orang-orang itu tentu orang-orang Kediri yang mendengar teriakan-teriakan pengecut itu. Dengan sengaja kalian telah mengundang mereka. Ternyata kalian lebih senang ditangkap, diikat di belakang punggung kuda dan diseret sampai ke Kota Raja Kediri”

Kedua orang itu tidak menjawab. Namun Ki Dukut ti dak sempat lagi berbuat sesuatu.

Agaknya Ki Dukut itu telah mempunyai perhitungan tersendiri melihat kehadiran kedua orang Kediri itu. Siapapun keduanya, namun itu berarti bahwa Ki Dukut harus bertempur melawan empat orang, Namun jika benar-benar tertangkap oleh orang-orang Kediri, maka ia akan menjadi bertambah malu, sementara dendamnya masih belum dapat diselesaikan. Dendamnya kepada Pangeran Kuda Padmadata dengan keluarganya, dan dengan orang-orang yang telih berpihak kepada Pangeran itu.

Dengan demikian, maka Ki Dukut pun harus cepat mengambil keputusan pula. Demikian kedua orang itu mendekat maka Ki Dukut yang belum berhasil membunuh lawannya itupun segera meloncat meninggalkan kedua lawannya yang seorang diantaranya mereka telah terluka”

Mahisa Agni dan Witantra termangu-mangu. Mereka tidak mengetahui medan yang mereka hadapi. Karena itu mereka tidak mengejar seseorang yang telah melarikan diri itu. Yang mereka jumpai kemudian adalah dua orang berilmu hitam, sementara yang seorang telah terluka karenanya.

Ternyata kedua orang itu pun tidak lagi mempunyai niat untuk melawan. Karena itu, maka mereka pun segera menyatakan menyerahkan diri mereka kepada kedua orang yang mereka duga juga orang Kediri pula.

Mahisa Agni dan Witantra pun kemudian mengambil senjata kedua orang itu, yang telah dilemparkannya. Sejenak mereka saling memandang, namun kemudian Mahisa Agni bertanya, “Siapakah kalian berdua?”

“Aku adalah pengikut pemimpin-pemimpin kami yang telah kalian bunuh di medan” jawab salah seorang dari keduanya, “kami berdua berhasil melarikan diri. Tetapi kami telah bertemu dengan orang yang akan membunuh kami”

“Siapakah orang itu?“ bertanya Witantra.

“Ki Dukut Pakering” jawab orang yang terluka.

“Mahisa Agni dan Witantra terkejut mendengar jawaban itu. Ternyata orang itu adalah Ki Dukut Pakering.

Namun orang itu tentu sudah jauh. kesempatan yang cukup itu tentu akan berhasil menyelamatkannya.,

“Sayang” desis Mahisa Agni, “aku tidak tahu sebelumnya. Jika saja aku tahu bahwa orang itu adalah Ki Dukut Pakering, maka aku berkepentingan”

“Kami pun berkepentingan. Tetapi ternyata kemampuan kami berdua di bawah kemampuannya. Jika saja kalian tidak datang kemari, mungkin kami sudah mati. Bahkan jika saja Ki Dukut bertahan melawan kita berempat, maka kitapun akan mati pula” jawab salah seorang dari kedua orang itu.

Mahisa Agni menarik natas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa Ki Dukut mempunyai kemampuan yang tinggi. Tetapi Mahisa Agni pun mengerti, bahwa ki Dukut bukan orang yang tidak terlawan.

Namun ia tidak mengatakannya kepada kedua orang yang sudah menyerah itu. Bahkan kemudian iapun berkata, “Marilah. Kalian akan aku serahkan kepada para pengawal”

Kedua orang itu tidak membantah. Keduanya pun kemudian berjalan di depan, menuju ke tempat orang-orang Kediri sibuk dengan bermacam-macam kewajiban. Mengurusi orang-orang yang terbunuh, yang menyerah dan mengurusi mereka yang terluka.

Namun dalam pada itu, para pengawal yang bertugas berjaga-jaga pun tidak lengah mengamati keadaan. Apalagi mereka masih memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan lain yang akan dapat terjadi.

Kedatangan Mahisa Agni dan Witantra membawa dua orang tawanan itu sangat menarik. Apalagi ketika kemudian Mahisa Agni mengatakan bahwa mereka telah melihat Ki Dukut Pakering. Tetapi karena mereka tidak menyadarinya, maka orang itu dibiarkannya melarikan diri.

“Sayang” desis Ki Wastu, “kenapa orang itu tidak dapat kita tangkap. Ia akan tetap merupakan ancaman bagi kita samuanya dimasa mendatang”

“Perburuan itu harus dilanjutkan“ Mahisa Bungalan lah yang menyahut.

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Meskipun ia pun sadar, bahaya yang akan dapat ditimbulkan oleh Ki Dukut Pakering, namun tidak akan dapat diambil keputusan dengan tergesa-gesa.

Dalam pada itu, Pangeran Kuda Padmadata yang masih muda seperti juga Mahisa Bungalan, apalagi ia merasa mempunyai kepentingan langsung, maka dengan suara yang bergetar oleh kemarahan berkata, “Apapun caranya, orang itu harus tertangkap. Aku berterima kasih, bahwa Ki Dukut telah memberikan ilmu kepadaku. Namun apa yang dilakukan pada saat-saat terakhir benar-benar sudah-melampaui batas-batas kemanusiaan. Karena itu, maka apapun caranya, orang itu harus tertangkap. Hidup atau mati”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Kita akan memikirkan caranya. Sementara ini, kita bersiap-siap untuk kembali ke Kediri esok pagi-pagi”

Pangeran Kuda Padmadatapun tidak menjawab lagi. Betapapun jantungnya bergejolak, namun ia pun menyadari apa yang sedang dihadapinya. Apalagi saat itu ia bersama dangan isteri dan anaknya laki-laki, yang termasuk menjadi sasaran dendam Ki Dukut yang nampaknya tidak akan kunjung padam.

Dalam pada itu, maka Pangeran Kuda Padmadata pun kembali sibuk dengan keadaan yang dihadapinya waktu itu. Ia memerintahkan mengubur orang-orang yang terbunuh di peperangan, yang semuanya adalah orang-orang berilmu hitam. Para pengawal Kediri seperti yang sudah terjadi, tidaklah berkurang. Ada beberapa orang terluka parah. Sementara ada pula yang luka-luka ringan, namun masih dapat melakukan tugasnya. Sementara di antara orang-orang berilmu hitam yang terluka, tetapi masih dapat ditolong jiwanya pun telah mendapat perawatan seperlunya.

“Untunglah, Kediri tidak terlalu jauh lagi” desis Mahendra kepada kedua anak-anaknya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

“Ya” jawab Mahisa Murti, “nampaknya tugas para pengawal manjadi semakin berat. Kecuali kekuatan mereka berkurang karena di antara mereka telah terluka, agaknya mereka mendapat tugas yang terlalu berat”

“Besok kita akan mencapai Kediri” berkata Mahisa Pukat, “aku kira benar kakang Mahisa Bungalan yang menganggap bahwa perburuan harus segera dilakukan selagi Ki Dukut masih berada di sekitar tempat ini”

“Malam ini Ki Dukut sudah berada di tempat yang sama sekali tidak kita kenal, dan tidak kita duga” berkata Mahendra, “memang agak berbeda dengan berburu harimau”

Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Tentu semakin cepat semakin baik”

“Nampaknya kau sudah terpengaruh sikap kakakmu. Sudah aku katakan, kita harus berhati-hati manghadapi orang seperti Ki Dukut. Ternyata ia licin seperti belut. Meskipun tidak merupakan wataknya sejak semula, namun ia sekarang menjadi sangat licik. Agaknya keadaan telah memaksanya, dan ia tidak dapat mengelak lagi” berkata Mahendra kemudian.

Kedua anak-anaknya tidak membantah lagi. Mereka pun mengerti, bahwa orang itu adalah orang yang sangat berbahaya.

Sebenarnyalah, bahwa Ki Dukut yang berhasil melepaskan diri itu, benar-benar telah meniadi seorang yang kehilangan dirinya sendiri. Semakin lama ia telah terperosok semakin dalam ke lubang yang digalinya sendiri, sehingga ia tidak akan mungkin keluar lagi. Semakin lama dan pasti, maka Ki Dukut telah berubah menjadi orang lain, yang tidak kurang kasar, buas dan liar dari orang-orang berilmu hitam itu sendiri. Nalar dan pertimbangan perasaannya bagaikan telah menjadi kelam, seperti kelamnya malam di musim basah, di saat langit disaput oleh mendung yang tebal.

Dalam pada itu, Ki Dukut itu pun kemudian seorang diri berusaha untuk kembali ke padepokannya. Meskipun ia tidak dapat membunuh kedua orang pengikut ilmu hitam itu, namun ia yakin bahwa kedua orang itu tentu akan ditangkap oleh para pengawal dari Kediri.

“Akulah yang akan menjadi pemimpin mereka” berkata Ki Dukut, “aku akan memerintah mereka. Aku tidak akan bertindak dungu seperti Macan Wahan. Jika saja ia mendengarkan nasehatku, maka orang-orangnya tidak akan hancur menjadi debu”

Ki Dukut menggeretakkan giginya dan menghentakkan tangannya. Tetapi semuanya itu telah terjadi. Betapapun ia menyesali, namun orang-orang terbaik dari padepokan Macan Wahan dan tiga orang kawannya telah mati dan tertangkap.

Tetapi Ki Dukut telah mengenal beberapa orang lain di lingkungan orang-orang berilmu hitam. Ia akan menghubungi mereka dengan modal padepokan Macan Wahan yang telah menjadi lumpuh itu.

“Aku harus berbuat dengan cepat, sebelum orang-orang Kediri melacak aku sampai ke padepokan itu” berkata Ki Dukut di dalam hatinya.

Sementara Ki Dukut berjalan seorang diri di dalam keremangan cahaya ujung malam menjelang pagi, maka para pengawal Kediri pun masih sibuk mengemasi pasukannya. Orang-orang yang meninggal untuk sementara telah dikuburkan. Sedangkan yang terluka parah, telah dibaringkan ke dalam pedati meskipun harus saling berdesakan.

Sejenak para pengawal memeriksa segala sesuatu tentang bekal dan keadaan mereka, sementara dua orang pengawal sempat menyiapkan air panas dan menanak nasi bagi kawan-kawan mereka. Sebelum mereka berangkat menyelesaikan perjalanan mereka, maka mereka akan makan pagi lebih dahulu. Setelah semalam suntuk mereka hampir tidak sempat memejamkan mata, maka rasa-rasanya di dini hari, perut mereka memang menjadi lapar.

Demikianlah ketika langit menjadi terang, serta segalanya telah siap, maka iring-iringan itu pun telah meninggalkan tempat pemberhentian yang tidak akan pernah dilupakan oleh isteri dan anak Pangeran Kuda Padmadata itu.

Betapa mereka diguncang oleh peristiwa yang sangat mengerikan. Di bawah cahaya bulan yang bulat di langit, mereka menyaksikan senjata beradu, dan bahkan darah mengalir.

Namun setelah malam itu, mereka tidak akan bermalam lagi di perjalanan. Mereka berharap untuk dapat mencapai tujuan sebelum matahari tenggelam.

Sementara itu, ternyata di Kediri telah terdengar berita, bahwa Pangeran Kuda Padmadata akan datang mambawa isteri dan anaknya laki-laki. Berita itu telah merambat dari mulut ke mulut. Meskipun Pangeran Kuda Padmadata bukan seorang Pangeran yang paling dikenal di Kediri, namun banyak pula orang yang mengetahuinya. Apalagi setelah adiknya terbunuh di istananya, yang menurut berita yang tersiar saat itu, karena terjadi perampokan yang paling mengejutkan di Kediri pada sebuah istana seorang Pangeran. Apalagi seorang Pangeran yang kaya raya seperti Pangeran Kuda Padmadata, yang memiliki berbagai sumber bagi kekayaannya itu.

Meskipun tidak terlalu banyak, tetapi ada juga beberapa kelompok manusia yang ingin melihat iring-iringan yang akan datang dari Kediri itu.

Namun dalam pada itu, beberapa orang di istana Pangeran Kuda Padmadata telah menjadi sibuk karenanya. Di istana itu pernah tinggal seorang puteri yang disebut isteri Pangeran Kuda Padmadata, namun yang kamudian telah diantarkan kembali kepada orang tuanya. Beberapa orang terdekat memang mempunyai dugaan yang kurang mapan terhadap puteri itu, karena ia lebih banyak berada bersama adik Pangeran Kuda Padmadata yang terbunuh itu daripada bersama Pangeran Kuda Padmadata sendiri yang agaknya acuh tidak acuh saja terhadap puteri itu.

“Bagaimana hubungan isteri Pangeran yang datang dari Kediri ini dangan puteri itu?“ bertanya seseorang kepada kawannya.

“Seperti kau, akupun tidak tahu” jawab kawannya.

“Puteri yang pernah tinggal di istana ini“ sambung kawannya yang pertama.

“Ya. Aku mengerti. Tetapi aku tidak mengerti” jawab yang lain itu.

Kawannya mengerutkan keningnya. Seolah-olah kepada diri sendiri ia berkata, “Aku mengerti. Tetapi aku tidak mengerti”

Yang lain itu segera menyahut, “Maksudku, aku mengerti maksudmu. Tetapi aku tidak mengerti jawabnya”

Kawannya mengangguk-angguk. Sekali lagi ia berdesis seolah-olah kepada diri sendiri, “Kita akan menghadapi masalah baru yang cukup rumit. Menurut pendengaranku, yang akan datang dari Kediri itu bukan seorang puteri. Tetapi ia adalah seorang perempuan pedesaan yang tidak pernah mengenal istana seperti ini. Apakah dengan demikian bukan berarti, bahwa sikapnya pun akan terasa aneh dan hambar oleh kita”

Para abdi di Istana itu pun kemudian terdiam. Mereka seolah-olah sedang merenungkan, apa yang akan mereka lihat nanti. Seorang perempuan pedesaan yang dengan canggung memasuki istana Pangeran yang kaya raya itu.

Namun demikian, para abdi itu tentu tidak akan dapat berbuat apa-apa. Jika hal itu memang dikehendaki oleh Pangeran Kuda Padmadata, maka hal itu tentu akan terjadi. Dan apakah hak mereka untuk menggugat kehadiran perempuan pedesaan itu di dalam istana Pangeran Kuda Padmadata, jika kehadiran itu memang diinginkan oleh Pangeran itu.

Meskipun demikian, orang-orang di istana itu pun mulai membayangkan, apa yang akan dilakukan oleh perempuan pedesaan itu. Apakah ia akan memasuki gerbang dengan wajah tengadah dan mata terpejam tanpa menghiraukan para abdi yang tentu akan menyongsongnya, atau ia justru menjadi sangat kecil memandang pendapa yang megah itu.

“Kenapa kita harus berteka-teki” desis seorang abdi yang sudah agak tua, “kita akan menerima apa adanya. Itulah hak yang ada pada kita”

“Ya” sahut kawannya, “kita akan menerima apa adanya”

Dengan demikian, maka kesibukan di istana itu pun menjadi semakin meningkat. Para abdi telah menyediakan apa saja yang mungkin diperlukan.

Dalam pada itu, bilik yang pernah dipergunakan oleh puteri yang pernah disebut isteri Pangeran Kuda Padma data itupun telah dipersiapkan, seperti di saat-saat bilik itu masih dipergunakan oleh puteri yang disebut isteri Pangeran Kuda Padmadata itu.

Dalam pada itu, iring-iringan Pangeran Kuda Padmadata itu pun semakin mendekati Kota Raja. Pangeran Kuda Padmadata telah memerintahkan dua orang pengawal untuk mendahului dan melaporkan bahwa mereka telah membawa tawanan. Juga mereka yang terluka parah.

Karena itulah, maka sepasukan pengawal dengan segala macam perlengkapan yang jauh lebih memadai telah diperintahkan untuk menyongsong iring-iringan Pangeran Kuda Padmadata, yang sedang membawa isterinya dari Singasari ke Kediri itu.

Pasukan pengawal yang membawa beberapa buah pedati dan tandu itu telah bersiap dan menunggu di gerbang kota sampai saatnya iringan Pangeran Kuda Padmadata itu datang.

Namun yang demikian itu agaknya telan mengundang perhatian orang-orang Kediri semakin banyak. Jika semula hanya beberapa orang saja yang menggerombol di beberapa tempat maka dengan kehadiran pasukan pengawal yang menyongsong iring-iringan yang datang itu, maka perhatian orangpun menjadi semakin besar. Di pintu gerbang kota, nampak orang-orang Kediri berkerumun menunggu Pangeran Kuda Padmadata lewat.

Karena itu, maka ketika dari kejauhan iring-iringan itu mulai nampak, maka orang-orang yang berkerumun itu pun mulai bergerak mendekat jalan diluar pintu gerbang. Nampaknya mereka ingin melihat iring-iringan itu berhenti dan menyerahkan beberapa orang tawanan kepada para pengawal yang menjemput, sementara isteri Pangeran itu akan diterima dengan sebuah tandu.

Ketika iring-iringan itu menjadi semakin dekat, maka para pangawal yang menjemput mereka di luar pintu gerbang Kota Raja itu pun mulai mengatur diri. Mereka menyiapkan segala sesuatunya yang mungkin akan dipergunakan oleh Pangeran Kuda Padmadata itu.

Sebenarnya, ketika iring-iringan itu sampai kedepan pintu gerbang, mereka pun telah berhenti. Pangeran Kuda Padmadata yang memimpin langsung iring-iringan itu pun segera melangkah maju menemui perwira yang memimpin para pengawal yang siap menyongsong kedatangan mereka itu.

“Ampun Pangeran” berkata perwira itu, “hamba yang mendapat tugas untuk menyongsong kehadiran Pangeran di sini”

Pangeran Kuda Padmadata mengangguk-angguk. Jawabnya, “Terima kasih. Aku senang sekali dapat bertemu dengan kalian setelah kami mengalami bencana sampai dua Kali di sepanjang jalan oleh pihak yang sama”

Perwira itu mengangguk-angguk. Katanya, “Utusan Pangeran sudah menceriterakan, apa yang telah terjadi dangan iring-iringan tuan. Karena itulah, maka kami telah menyiapkan segala sesuatu yang barangkali tuan perlukan”

“Aku menyerahkan para tawanan. Yang terluka dan yang tidak terluka” berkata’Pangeran Kuda Padmadata.

“Akan hamba terima dengan senang hati” berkata perwira itu, “memang itu adalah kewajiban kami”

“Selebihnya, para pengawal sendiri yang terluka. Kalian akan menerima mereka, dan mempertanggung-jawabkan mereka, agar mereka tidak mengalami sesuatu yang justru dapat mempersulit keadaan mereka”

“Hamba tuan. Semuanya akan hamba lakukan sebaik-baiknya” berkata perwira itu, lalu, “selebihnya, karena hamba tahu bahwa Pangeran sedang menyongsong seorang puteri, maka aku pun telah menyiapkan sebuah tandu”

“Tandu“ Pangeran Kuda Padmadata mengulangi.

“Ya. Tandu, Bukankah sudah semestinya jika seorang puteri menempuh perjalanan, biasanya memang mempergunakan tandu. Bukan pedati”

Pangeran Kuda Padmadata menarik nafas dalam-dalam. Ia pun segera merasa satu kelainan dari saudara-saudaranya, para Pangeran di Kediri. Mungkin mereka akan dengan garangnya minta agar isteri-iseri mereka yang pada umumnya juga puteri-puteri Kediri itu dapat disediakan sebuah tandu yang cantik.

Meskipun demikian Pangeran Kuda Padmadata tidak menolak. Para pengawal itu telah membawa tandu untuk menjemput isterinya. Siapapun perempuan itu.

Namun, Pangeran Kuda Padmadata tidak segera menyuruh isterinya naik ke atas tandu itu. Yang pertama-tama diselesaikan adalah masalah tawanan dan para pengawal yang terluka.

“Bawalah mereka“ perintah Pangeran Kuda Padmadata.

“Baiklah Pangeran. Silahkan Pangeran berjalan dahulu” jawab perwira yang menjemputnya.

“Tidak” jawab Pangeran Kuda Padmadata, “bawalah mereka lebih dahulu. Aku akan berjalan kemudian langsung kembali ke istanaku”

Perwira itu tidak mengerti, kenapa Pangeran Kuda Padmadata memerintahkannya berjalan lebih dahulu. Namun ia tidak dapat menolak. Ia pun kemudian menyiapkan para pengawal untuk membawa para tawanan dan para pengawal yang terluka. Para tawanan dan para pengawal yang terluka telah dipindahkan dari pedati yang dibawa dari Kediri ke pedati para pengawal.

Baru setelah para pengawal yang menjemput mereka meninggalkan pintu gerbang, maka Pangeran Kuda Padmadata telah bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Namun iapun mengerutkan keningnya ketika dilihatnya sebuah tandu yang cukup baik dengan dua belas orang yang siap untuk membawanya berganti-ganti.

“Tandu itu“ ia berdesis.

Mahisa Agni yang kemudian mendekatinya berkata, “sebaiknya tandu itu dipergunakan agar tidak menimbulkan pertanyaan yang sangat menarik bagi orang-orang yang sedang menyaksikan”

Diluar sadarnya Pangeran Kuda Padmadata berpaling kepada isterinya. Namun kemudian iapun mendekatinya sambil berkata, “Tandu itu diperuntukkan bagimu”

“Ah” desah isterinya, “lebih baik hamba berada di dalam pedati Pangeran”

“Jangan“ Pangeran Kuda Padmadata menggeleng, “kau harus menyesuaikan dirimu. Apalagi dihadapan orang-orang yang sengaja ingin melihat tingkah laku kita”

Isteri Pangeran Kuda Padmadata itu tidak dapat membantah. Namun ia masih juga memandangi ayahnya untuk mendapatkan pertimbangan.

Ki Wastu mengangguk kecil. Memang tidak ada pilihan lain, kecuali melakukan apa yang seharusnya dilakukan sebagai seorang isteri Pangeran”

Karena itu, maka dibimbing oleh suaminya, maka isteri Pangeran itu pun kemudian naik ke atas tandu. Delapan orang sudah siap untuk mengangkatnya, sementara empat orang lainnya akan secara bergantian mengangkat tandu itu pula.

Rasa-rasanya memang canggung sekali. Duduk di atas sebuah tandu yang diangkat oleh delapan orang, sementara empat orang lainnya mengiring di sebelah menyebelah.

Sejenak kemudian iring-iringan itu pun mulai bergerak. Pangeran Kuda Padmadata berada di atas punggung kuda, sementara isterinya berada di dalam tandu. Anak laki-laki Pangeran itu berada di dalam pedati bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang sengaja mengawaninya. Kuda mereka telah mereka ikatkan pada pedati itu pula yang saisnya adalah Mahendra sendiri.

Bagaimanapun juga, maka orang-orang yang menyaksikan iring-iringan itu harus berbisik di antara mereka, “Perempuan itu memang cantik sekali. Sayang, agak kurus dan pucat”

“Justru ia pucat, maka wajahnya nampak semakin cantik” sahut yang lain.

Dalam pada itu, isteri Pangeran Kuda Padmadata itu hanya dapat menundukkan kepalanya. Rasa-rasanya berpuluh-puluh pasang mata sedang mengamatinya. Melihat cacat celanya, justru karena ia adalah seorang perempuan dari padepokan kecil.

Karena itulah, maka isteri Pangeran Kuda Padmadata itu rasa-rasanya tidak berani bergerak sama sekali. Apalagi mengangkat wajahnya. Bahkan ketika ujung jarinya terasa gatal, maka ia sama sekali tidak berani menggerakkannya.

Meskipun tidak terlalu banyak, tetapi ada juga orang-orang yang menunggu iring-iringan itu di sepanjang jalan menuju ke istana Pangeran Kuda Padmadata. Pada umumnya, merekapun berbisik, “Perempuan itu memang cantik sekali”

Sebenarnya perempuan itu memang cantik sekali. Wajahnya yang nampak pucat dan tubuhnya yang kekurus-kurusan, justru membuatnya lebih manis. Sementara Pengeran Kuda Padmadata sendiri, seorang Pangeran yang kaya raya, duduk diatas punggung kudanya, Seperti seorang Senopati yang pulang dari medan, membawa boyongan puteri dari negeri yang ditaklukkannya

Perjalanan menyusur jalan kota itu rasa-rasanya terlalu panjang bagi isteri Pangeran Kuda Padmadata. Ia memang lebih senang berada di dalam pedati yang agak tertutup daripada diatas tandu yang terbuka.

Ketika tandu itu memasuki pintu gerbang istana Pangeran Kuda Padmadata, maka isterinya itu pun menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya ia telah terlepas dari satu beban yang sangat berat. Wajahnya yang terasa menjadi sangat panas itu, mulai terasa sejuk. Di dalam istana itu. tentu tidak akan banyak orang yang memperhatikannya.

Tetapi perempuan itu menjadi berdebar-debar kembali. Ternyata di depan pendapa, dilihatnya beberapa orang pelayan telah siap menyambutnya. Mereka telah menunggu beberapa saat dengan hati yang berdebar-debar pula. Mereka segera ingin melihat, bagaimanakah ujud perempuan yang disebut isteri Pangeran Kuda Padmadata itu. Sementara mereka pernah mengenal seorang puteri yang disebut isteri Pangeran Kuda Padmadata itu pula.

Demikian tandu itu mendekati, maka perempuan-perempuan dan para abdi yang menyambut itupun berbisik, “Betapa cantiknya perempuan itu”

Semua orang di antara para abdi itu mengakui, betapa cantiknya perempuan itu. Selagi ia mengenakan pakaian yang tidak berlebih-lebihan. Jika ia mengenakan pakaian kebesaran seorang puteri, maka ia benar-benar akan melampaui kecantikan setiap puteri Kediri yang terkenal.

Namun justru karena itu, maka setiap mata telah melekat kepada perempuan itu. Karena itulah, rasa-rasanya, jantung isteri Pangeran Kuda Padmadata itu menjadi semakin cepat berdentang.

Perempuan itu menjadi semakin canggung, ketika para pelayan itupun segera berjongkok ketika tandu itu diletakkan di bawah tangga pendapa. Karena itu, maka untuk sejenak, ia bagaikan membeku ditempatnya.

Pangeran Kuda Padmadata lah yang kemudian meloncat turun. Setelah menyerahkan kudanya kepada orang lain, maka iapun segera mendekati isterinya.

“Marilah” berkata Pangeran itu kemudian sambil membimbing isterinya turun dari tandu yang sudah diletakkan.

Sebenarnyalah bahwa hati isteri Pangeran Kuda Padmadata itu menjadi semakin bergetar. Ia menyangka bahwa jika ia sampai di istana maka ia pun akan segera di luar pengamatan banyak orang. Namun ternyata bahwa dugaan itu keliru. Masih berpasang-pasang mata yang mengawasinya. Bahkan ada di antara sorot mata itu menunjukkan kecurigaan, penghinaan dan yang lain ingin menjajagi ketabahan hatinya.

Tiba-tiba saja terasa kakinya menjadi gemetar. Namun ketika ia sadar, bahwa ia telah dibimbing oleh suaminya, maka hatinya pun telah menjadi agak kembang. Bagaimanapun juga ia merasa bahwa ia benar-benar telah mendapat pegangan. Bukan saja pegangan wadag karena suaminya telah membimbingnya, namun ia merasa bahwa suaminya itu benar-benar akan melindungi dan membimbingnya untuk selanjutnya.

Dengan langkah-langkah ragu ia pun kemudian mengikuti kemana suaminya membawanya. Ketika mereka naik ke pendapa, maka Pangeran Kuda Padmadata telah memanggil anak laki-lakinya untuk mengikutinya pula.

Anak laki-laki itu pun ragu-ragu seperti ibunya. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mendorongnya sambil berkata, “Pergilah. Ayahandamu memanggilmu”

“Marilah“ anak itu mengajak Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk mengikutinya.

Tetapi Mahisa Murti menjawab, “Aku menunggu di sini”

Meskipun ragu-ragu, tetapi akhirnya anak itu naik pula ke pendapa mengikuti ibu dan ayahnya.

Demikian mereka masuk ke ruang dalam, dua orang pelayan telah menunggu. Mereka berjongkok di sebelah menyebelah sambil menunggu perintah.

Tetapi Pangeran dan isterinya yang diikuti oleh puteranya itu tidak memberikan perintah sesuatu. Mereka berjalan terus menuju ke sebuah bilik yang memang sudah dipersiapkan. Bilik yang pernah dihuni oleh seorang puteri yang disebut isteri Pangeran Kuda Padmadata.

Demikian perempuan itu memasuki bilik yang sudah diatur sebaik-baiknya itu, debar jantungnya serasa menjadi bertambah cepat. Perabotnya yang serba indah membuatnya menjadi silau. Kantil yang terukir halus. Geledeg kayu dan selintru yang juga terukir dan disungging dengan warna-warna cerah.

“Ini adalah bilikmu bersama anak kita” berkata Raden Kuda Padmadata.

Perempuan itu tidak menjawab. Namun di pipinya telah meleleh setitik air.

Anak laki-lakinya pun Bagaikan kebingungan berada di dalam bilik itu. Namun ia pun kemudian duduk di sisi ibunya di atas bibir pembaringan yang berukir.

“Aku mengerti perasaanmu” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “tetapi berusahalah menyesuaikan diri. Aku akan membimbingmu sejak hari ini untuk seterusnya, sehingga akhirnya kau akan menguasi segala-galanya”

Rasa-rasanya ada seberkas kata-kata yang akan dikatakannya. Tetapi mulut perempuan itu bagaikan membeku, sehingga kata-kata itu hanya berputaran didadanya, ”Aku adalah anak padepokan kecil yang tidak pernah mengenal segalanya ini”

Sementara itu. Pangeran Kuda Padmadata pun kemudian berkata, “Tinggallah disini. Aku akan mempersilahkan tamu-tamuku untuk naik ke serambi samping”

Perempuan itu hanya dapat mengangguk. Sementara itu Pangeran Kuda Padmadata pun telah meninggalkan mereka. Ketika di luar pintu ia melihat emban yang duduk bersimpuh, maka ia pun berpesan, “Biarlah kau menunggu. Jika tidak ada perintah, kau tidak usah menghadap. Puteri masih sangat lelah”

“Hamba Pangeran” jawab emban itu.

Sementara itu Pangeran Kuda Padmadata pun telah ke luar lagi ke pendapa. Dilihatnya para pengawal dan tamu-tamunya yang mengikutinya dari Singasari masih berada di halaman sambil mengemasi kuda dan pedati yang mereka bawa dari Singasari.

“Sudahlah” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “marilah. Silahkan naik ke serambi samping. Biarlah pedati dan kuda-kuda itu diurusi oleh para pengawal”

Dengan demikian, maka Mahisa Agni, Witantra, Mahendra dan ketiga anak-anaknya serta Ki Wastu bersama perwira pasukan pengawal itupun segera naik ke serambi samping, sementara beberapa orang pengawal telah membenahi kuda dan pedati serta lembu penariknya.

Sementara itu, di belakang, para pelayan menjadi sibuk menyiapkan jamuan bagi para tamu dan para pengawal. Meskipun mereka sudah sedia, tetapi mereka nampaknya menjadi tergesa-gesa pula.

Demikianlah, maka akhirnya para pengawal dan mereka yang ikut mengantarkan Pangeran Kuda Padmadata serta isteri dan anaknya telah dijamu di serambi samping. Mereka ikut dalam bujana, setelah mereka berhasil membawa isteri Pangeran itu ke istananya di Kediri.

Namun sementara itu, Pangeran Kuda Padmadata lah yang mengatur, bagaimana para pelayan harus melayani isterinya, agar isterinya tidak justru menjadi bingung menghadapi makanan dan minuman yang akan dihidangkan bagi isteri dan putera Pangeran Kuda Padmadata itu.

Setelah semuanya selesai, maka Pangeran Kuda Padmadata memerintahkan agar para pengawal kembali kepada ke satuan induknya dan melaporkan apa yang terjadi dalam perjalanan.

“Sampaikan terima kasihku kepada Senopati yang telah memberikan sepasukan pengawal kepadaku“ pesan Pangeran Kuda Padmadata, “besok aku akan menemui mereka”

Dengan dipimpin oleh perwira yang berada di dalam pasukan pengawal itu, maka para pengawal pun kemudian minta diri, kembali ke pasukan induknya untuk melaporkan apa yang terjadi dalam tugas mereka.

Dalam pada itu, Mahisa Agni, Witantra, Mehendra dan anak-anaknya serta Ki Wastu masih tetap berada di istana itu. Mereka masih diminta oleh Pangeran Kuda Padmadata untuk bermalam.

“Aku mohon kalian tinggal barang satu dua malam” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “selama dua malam kalian berada di perjalanan yang cukup berat. Dan di dua malam itu pula kalian mengalami peristiwa yang mendebarkan. Karena itu, aku ingin mempersilahkan kalian tidur dengan tenang, sedikitnya untuk dua malam pula di rumah ini”

Mahisa Agni dan yang lain tidak menolak. Mereka pun masih merasa perlu untuk berbicara tentang Ki Dukut Pakering yang masih sempat melepaskan diri dari tangan para pengawal, sehingga dengan demikian, maka orang itu masih tetap merupakan orang yang berbahaya, bukan saja bagi Pangeran Kuda Padmadata serta isteri dan anaknya, tetapi juga bagi lingkungan yang lebih luas.

Karena itu, ketika mereka berkumpul setelah mereka beristirahat semalam suntuk dengan tenang, maka mulailah mereka berbicara tentang Ki Dukut Pakering.

“Perburuan itu harus dilanjutkan” berkata Mahisa Bungalan.

“Tetapi kalian tidak akan dapat membawa Pangeran Kuda Padmadata lagi” berkata Mahendra sambil tersenyum.

“Kenapa tidak” jawab Pangeran itu, “aku masih selalu siap melakukan tugas itu”

“Tetapi bagaimana jadinya, jika justru pada saat Pangeran pergi, Ki Dukut itulah yang datang ke istana ini” berkata Witantra.

Pangeran Kuda Padmadata mengerutkan keningnya. Kemungkinan itu memang dapat terjadi. Namun iapun kemudian menjawab, “Aku dapat menyerahkan pengamanan rumah ini kepada para pengawal di Kediri. Aku dapat mengundang satu dua orang Senapati yang memiliki kemampuan cukup untuk menghadapi Ki Dukut, meskipun tidak harus seorang melawan seorang. Namun agaknya jumlah pengawal di Kediri cukup memadai”

Tetapi Mahisa Agni menyahut, “Mungkin yang akan datang bukan hanya Ki Dukut Pakering seorang diri seperti yang dilakukannya atas iring-iringan kita dari Singasari”

“Para pengawal di rumah ini akan dapat membunyikan isyarat untuk memanggil para pengawal yang sedang bertugas dimanapun yang dapat mendengarnya” jawab Pangeran Kuda Padmadata.

“Namun hal itu akan memerlukan waktu” sahut Mahendra, “sehingga karena itu, maka aku kira lebih baik Pangeran berada di istana ini untuk beberapa saat. Mungkin pada satu kesempatan yang tepat. Pangeran akan ikut pula bersama kami”

Pangeran Kuda Padmadata mengerutkan keningnya. Katanya, “Sumber masalah ini adalah aku. Bagaimanakah perasaanku, jika justru aku tinggal di rumah dengan tenang, sementara orang lain yang semula tidak berkepentingan, harus bertaruh nyawa untuk menemukan orang yang bernama Ki Dukut Pakering itu”

“Kita semua berkewajiban” sahut Mahisa Bungalan, “apapun sumbernya, kita tidak akan dapat membiarkan kejahatan berlangsung dimanapun dan apapun alasannya. Karena itu, maka setiap orang merasa bertanggung jawab, bahwa Ki Dukut Pakering itu harus tertangkap”

Pangeran Kuda Padmadata menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Tidak ada kata-kata yang dapat aku pergunakan untuk menyatakan terima kasihku yang tiada terhingga”

“Itu tidak perlu” berkata Witantra, “sudah seharusnya kita melakukannya seperti yang dikatakan Mahisa Bungalan. Akupun berpendirian, bahwa biarlah Pangeran dan Ki Wastu tinggal di istana Ini. Aku kira, aku dapat mengusulkan agar rencana perburuan itu dikembangkan. Bukan saja kita yang akan menanganinya, tetapi akan menjadi kewajiban para prajurit di Singasari dan para pengawal di Kediri. Namun demikian, kita harus menemukan cara yang tepat untuk melakukannya. Kita tentu tidak akan mengulangi cara yang sudah kita lakukan, namun tidak berhasil. Kita tidak akan dapat menjelajahi daerah yang luas karena justru sarang orang yang bernama Ki Dukut itu menjadi makin kabur. Sehingga karena itu, kita harus menemukan cara lain yang lebih baik”

Pangeran Kuda Padmadata menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah mendengar seluruh ceritera tentang orang-orang yang pemula tidak dikenalnya, namun yang kemudian tanpa menghiraukan kemungkinan yang paling pahit bagi diri mereka sendiri, telah membebaskan isteri dan anak laki-lakinya. Terutama, Mahisa Bungalan. Isterinya yang sudah terkurung di hutan peliharaan itu akhirnya dapat dibebaskannya.

Justru karena itu, untuk beberapa saat, Pangeran Kuda Padmadata tunduk terdiam. Diluar sadarnya, ia mulai membayangkan apa saja yang telah terjadi dengan isterinya, dan apa pula yang telah dilakukan oleh Mahisa Bungalan untuk membebaskan isterinya.

“Ia sudah mempertaruhkan nyawanya” berkata Pangeran Kuda Padmadata di dalam hatinya.

Namun dalam pada itu, ia tidak dapat menolak keputusan orang-orang Singasari itu, bahwa untuk menemukan Ki Dukut, diperlukan cara yang masih harus dipelajarinya, sementara Pangeran Kuda Padmadata dan Ki Wastu dipersilahkan untuk tetap berada di istananya untuk menjaga segala kemungkinan yang dapat terjadi.

“Baiklah“ berkata Pangeran Kuda Padmadata kemudian, “tetapi aku tidak akan mencuci tangan. Segalanya akan dapat dikembalikan kepadaku. Karena itu, jika ada sesuatu yang menuntut agar aku ikut serta melaku kannya, jangan segan-segan. Panggillah aku, dan aku akan segera datang kemanapun juga”

“Terima kasih Pangeran” jawab Mahisa Agni, “kami mengerti bahwa Pangeran akan tetap bertanggung jawab. Dan itu akan sangat membesarkan hati kami, sehingga kami tidak akan ragu-ragu untuk melakukan apa saja”

“Mudah-mudahan usaha kita akan berhasil” desis Pangeran Kuda Padmadata, “meskipun Ki Dukut adalah guruku, namun ia telah menyimpang dari sifat seorang guru. Bahkan ia telah terjerumus kedalam tindakan yang dapat disebut satu kejahatan”

Namun demikian, Pangeran Kuda Padmadata masih minta tamu-tamunya dari Singasari untuk tinggal. Rasa-rasanya ia masih belum puas mengucapkan terima kasih dengan cara apapun juga yang dapat dilakukan.

Dalam pada itu, kehadiran isteri Pangeran itu pun telah menumbuhkan persoalan bagi para pelayan. Emban yang akan melayaninya pun menjadi bingung. Kadang-kadang puteri itu tidak dapat dimengerti kehendaknya. Bahkan kadang-kadang ia lebih senang berada dibalik pintu tertutup tanpa memberikan perintah apapun juga. Bahkan kadang-kadang ia telah mengerjakan sesuatu yang tidak pantas dikerjakannya, sehingga para emban menjadi bingung. Dan bahkan ada di antara mereka yang menangis di belakang dengan tubuh gemetar, karena ia mengira bahwa puteri itu telah marah, karena ia salah melakukan salah satu perintahnya.

Tetapi satu hal yang telah dikagumi oleh setiap orang. Apalagi ketika puteri itu mulai mengenakan pakaian yang lebih pantas bagi seseorang isteri Pangeran. Maka mereka telah sependapat, bahwa puteri itu memang sangat cantik, jauh lebih cantik dari puteri yang pernah tinggal di istana itu, dan yang pernah disebut isteri Pangeran Kuda Padmadata, tetapi yang dalam kehidupannya sehari-hari lebih dekat dengan adik Pangeran Kuda Padmadata itu.

Ternyata bukan saja para pelayan, emban dan dayang-dayang yang mengagumi kecantikan puteri itu. Di luar sadarnya, ketika sepintas Mahisa Bungalan yang masih berada di istana itu melihat puteri itu dalam pakaian dan riasnya sebagai isteri seorang Pangeran, maka jantungnya telah berdenyut. Ia telah berbuat terlalu banyak bagi purempuan itu. Ia telah membebaskannya dari sarang para penculiknya dan perbuatan lain yang dapat mengancam keselamatannya.

Namun anak muda itu cepat menyadari. Perempuan itu adalah isteri Pangeran Kuda Padmadata. Yang dilakukannya itu adalah semata-mata karena sentuhan peri kemanusiaan yang menjadi kewajiban setiap orang.

Tetapi ia tidak dapat begitu saja menghapus kesan kecantikan yang dilihatnya. Di luar sadarnya, maka tiba-tiba saja Mahisa Bungalan itu pun teringat kepada seorang gadis padepokan yang menurut penglihatannya juga sangat cantik, justru dalam keadaan wajarnya. Ken Padmi.

Bagaimanapun juga, bayangan wajah itu kadang-kadang masih saja kembali di angan-angannya. Ia mengerti, bahwa hubungannya dengan gadis itu pada saat terakhir menjadi baur. Tetapi ia tidak yakin bahwa sebenarnya hati gadis itu telah benar-benar tertutup terhadapnya.

Dalam saat-saat tertentu, ketika ia melihat Pangeran Kuda Padmadata berdua dengan isterinya dan kemudian datang anak laki-lakinya, maka hatinya pun telah bergejolak. Kenangannya terhadap gadis padepokan kecil itu justru semakin membayang.

Tetapi Mahisa Bungalan berusaha menekan perasaan itu di dalam dadanya. Ia tidak mengatakannya kepada siapapun juga. Ia tidak mengatakannya kepada ayahnya, dan kepada adik-adiknya.

Yang justru diharapkan kemudian, segera meninggalkan istana itu. Ia akan kembali ke Singasari. Dan ia pun masih menunggu keputusan, cara yang manakah yang dapat ditempuhnya untuk mencari orang yang bernama Ki Dukut Pakering.

“Aku akan mempergunakan kesempatan itu untuk melihat satu kemungkinan tentang gadis padepokan itu” berkata Mahisa Bungalan di dalam hatinya. Meskipun ia pun selalu dibayangi oleh satu kecemasan, bahwa gadis itu telah menentukan jalan hidupnya, setelah ia tidak dapat berharap untuk bertemu dengan Mahisa Bungalan kembali.....

PANASNYA BUNGA MEKAR : JILID 18

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Copyright © 2007-2020. ZHERAF.NET - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger